The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by agnestrimaryunani, 2022-02-09 20:11:41

LO Urban Legend

LO Urban Legend

Ternyata, gelar kuper yang tersemat tidak salah. Aku
belum pernah merasakan udara dingin buatan. Untung saja
Aryo mengingatkan untuk membawa jaket lebih tebal.

Film yang diputar ternyata dibintangi oleh aktor
papan atas. Lumayan, akhirnya aku merasakan suasana
menonton di bioskop dengan layar yang sangat lebar. Satu
lagi yang membuat bahagia, semuanya gratis.

Suasana tiba-tiba berubah. Film laga yang
ditanyangkan berubah menjadi horor. Suhu ruangan
menjadi lebih dingin. Asap muncul dari balik layar berubah
menjadi api kecil dan dalam waktu singkat langsung
membesar. Teriakan panik penonton bersahutan dan
berebut ingin keluar.Desakan di pintu membuatku nyaris
terjatuh.

Api semakin membesar, menyambar setiap sudut
ruang. Aku semakin terdesak dan sulit bernapas.
Pandangan mulai kabur, tetapi masih bisa melihat ke
belakang. Gadis yang memberiku tiket ada di antara orang-
orang panik yang tertinggal di tengah ruangan.

Dengan susah payah, aku berhasil keluar dari
ruangan itu. Mata terasa pedih dan napas tersenggal karena
gas karbon di mana-mana. Kusempatkan untuk melihat ke
sekeliling. Gadis penjaga loket itu tidak tampak di
kerumunan orang di luar ruangan.

Perlahan pandangan menjadi kabur seiring makin
tebalnya asap dan kobaran api. Aku tersungkur dan
semuanya menjadi gelap. Samar-samar terdengar sirine

93

ambulan saling bersahutan. Selanjutnya aku tak sadarkan
diri.

***
“Mas, bangun. Ini orang mabuk atau pingsan, yah?”
Sayup-sayup terdengar seseorang bicara.
Di mana ini, batinku. Semburat cahaya matahari
menerpa, membuat mata mengerjap berkali-kali.
“Mas, semalam mabuk atau pingsan?” Seorang
berpakaian satpam, menatap tajam.
Kuedarkan pandangan menuju gedung bioskop.
Bangunan itu masih utuh, tidak terbakar sedikit pun.
“Mas ... Mas.” Satpam itu melambaikan tangannya di
depan mataku.
“Pak, kenapa gedung itu masih utuh? Bukankah
semalam terbakar,” tuturku saat nyawa sudah terkumpul.
Satpam bernama Maryanto, sesuai yang tertulis di
seragamnya mengernyitkan dahi, lantas menoleh ke
gedung yang kutunjuk.
“Gedung itu pernah terbakar lima belas tahun yang
lalu. Sekarang dibangun lagi menjadi gedung yang lebih
bagus.”
Mendengar penuturan Pak Maryanto, membuatku
terkejut. Pak Maryanto membawaku ke pos jaga. Beliau
menyimak ceritaku soal semalam.

94

“Sudah sebulan ini manajemen meniadakan
midnight. Tidak ada karyawati yang rumahnya di sekitar
pasar unggas.”

Penuturan Pak Maryanto membuatku tercengang.
Jantung berdetak sangat cepat. Bulu kuduk mulai
menegang. Saat merogoh saku celana, tangan menyentuh
lembaran tiket. Seketika kuperlihatkan tiket yang semalam.
Wajah Pak Maryanto mendadak kaget.

“Lihat ini,” ucapnya sambil menunjukkan tulisan
dalam kertas tiket. “tanggal yang tertera di sini adalah
tanggal, bulan dan tahun gedung yang sebelumnya,
terbakar.”

Aku nyaris pingsan kembali, setelah membaca tiket
yang di tangan Pak Maryanto. Masih menurut beliau, ada
salah satu korban yang dimakamkan di pemakaman umum
di seberang pasar unggas. Gadis itu penjaga loket tiket. Saat
kebakaran terjadi, dia terjebak di dalam ruangan, tidak bisa
menyelamatkan diri. [tamat]

95

Imas Nurhayati

S udah hampir dua bulan aku belum menjenguk Syifa—
anakku di pesantren. Biasanya, paling lama dua
minggu sekali kami mnyempatkan diri mengunjungi anak
gadis yang sudah mulai beranjak dewasa itu. Kesibukan
yang tidak ada hentinya membuat jadwal kunjungan
tergeser.

“Besok bisa enggak, Kang?” tanyaku pada Kang
Ale—suamiku. “Ambu udah kangen sama Eneng.”

“Insyaallah, Ambu. Semoga besok jam sepuluh
udah beres kerjaan Akang,” jawabnya.

Aku hanya tersenyum tipis, tidak yakin dengan
jawabannya. Akhir-akhir ini proyek yang ditangani Kang
Ale memang sedikit lebih banyak. Tak jarang pula dia harus
ke luar kota untuk menyelesaikannya.

Jam sepuluh, keesokan harinya, aku sudah siap
berangkat menuju Ciamis. Namun, Kang Ale belum

96

menunjukkan batang hidung. Suara mobilnya baru
terdegar masuk ke garasi hampir pukul 13.00.

“Maaf, Ambu. Tadi ada yang harus diberesin
segera.” Senyuman dengan sorot mata yang terlihat seperti
rasa bersalah tergambar di wajah tampan itu.

Aku membalas dengan helaan napas dan bibir yang
mengatup rapat. Tidak ada yang bisa disanggah. Semua
sudah terjadi.

“Akang ganti baju dulu. Kita berangkat sekarang,
ya,” ujarnya kemudian.

Aku terkejut mendengarnya. Mata langsung
melihat ke arah jam dinding. Pukul 13.40.

“Besok aja, Kang.” Selain malas karena hari sudah
siang dan terik, pasti menjelang magrib kami akan melewati
Desa Anom.

Desa Anom sangat terkenal dengan aneka kejadian
aneh. Tak jarang orang akan tersesat jika memasuki wilayah
itu saat malam tiba. Selain itu banyak makhluk astral yang
menghuni desa itu. Aku bergidik membayangkan
semuanya.

“Besok takutnya Pak Hanif nyuruh Akang untuk
beresin yang lain, Ambu,” ujar Kang Ale. “Kan kalo beliau
nelpon dan posisi Akang sudah di Ciamis, lebih enak
nolaknya.”

“Tapi, Kang … nanti kita lewat daerah Anom
gimana?” tanyaku dengan nada cemas.

97

“Aih ari Ambu masih keneh percaya kanu kitu.1” Kang
Ale menepuk kepalaku. “Ntos ah da moal aya nanaon. Pan aya
Gusti Alloh.2”

Tepat pukul 14.00 kami berangkat menuju Ciamis,
walapun hati bergejolak. Berkali-kali Kang Ale meyakinkan
bahwa semua itu hanya mitos. Jika kita tidak terlalu
menganggap pasti tidak akan terjadi.

“Allah mengikuti prasangka hambanya. Jika kita
yakin tidak akan terjadi apa-apa, Insyaallah semua aman,”
kata Kang Ale.

“Bismillah. Semoga, Kang.” Aku membalas
dengan komentar singkat. Namun, hati masih juga tidak
tenang.

Sepanjang jalan menuju Ciamis sebenarnya
menyuguhkan pemandangan yang cukup menyejukkan
dan menenangkan. Namun, pikiran dan hati bergelut
dengan kecemasan. Berkali-kali pandangan melirik ke arah
jam yang menempel di dasbor.

“Tenang, Ambu,” kata Kang Ale. Tangan kirinya
menggenggam jemariku yang mulai basah oleh keringat.

Aku membalas dengan senyuman datar. Hati masih
kebat-kebit, terlebih ketika memasuki Waduk Darma.
Langit perlahan mulai berubah. Senja berganti malam.
Kumandang azan Magrib mulai bersahutan. Perjalanan
kami masih setengahnya menuju pondok Neng Syifa.

“Netepan heula, yuk.3” Kang Ale mengarahkan
mobil ke halaman surau tak jauh dari waduk.

98

Rasa enggan beranjak dari tempat itu. Kembali ke
rumah lebih tidak mungkin. Tersisa dua jam lagi untuk
bertemu dengan anak gadisku. Namun, satu kilometer di
depan adalah Kampung Anom.

“Ambu, hayu,” ajak Kang Ale setelah menunaikan
kewajiban salat.

Aku memnadang ke langit yang sudah gelap dan
melangkah gontai menuju mobil.

“Tos, ah. Moal aya nanaon.4 Allah bersama kita,” kata
lelaki tampan itu sambil menggandeng tanganku.

***
Jalanan sepanjang sepuluh kilometer itu sebenarnya
biasa saja, sama seperti yang lain. Hanya saja deretan rumah
di Kampung Anom tidak berpenghuni. Dari sekian banyak
penerangan, hanya beberapa yang menyala dan itu pun
tidak terlalu terang.

Aku cukup sering melintasinya, saat mengunjung
Syifa atau ketika berkunjung ke rumah Teh Arum—
sepupuku. Namun, itu semua selalu di siang hari. Aku tidak
pernah melintasi jalan itu di malam hari. Kabar yang
beredar, membuat bulu-bulu halus di sekujur tubuh
merinding.

“Mun ngalangkung ka dinya ntos wengi, osok disasabkeun
ku nu gaduh jalan,5” kata Teh Arum.

99

Tak jarang pula yang melewati jalan itu melihat
beberapa makhluk astral. Ada yang bergantungan di salah
satu pohon, berdiri di sisi jalan, atau mengikuti.

Aku berusaha untuk tidak percaya pada semua
cerita itu. Namun, tetap saja bulu-bulu halus di sekujur
tubuh menegang. Bibir tak henti mengucap kalimat suci
yang sudah melekat.

“Kenapa, Kang?” tanyaku, ketika Kang Ale
menghentikan mobilnya.

Keningnya berkerut. Berkali-kali menoleh ke
kanan dan kiri. Sesekali tangan kekar itu menggaruk kepala
yang terlihat tidak gatal.

“Perasaan tadi udah belok ke kiri setelah waduk,
tapi kok beda ya, Ambu?” Kang Ale malah balik bertanya.

Detak jantung langsung memburu. Embusan udara
pun menjadi digin. Bibir mengatup rapat.

“Coba cek GPS-nya, Kang.” Aku menyarankan.

“Udah, dan bener,” ujar Kang Ale.

Tak lama kemudian ada mobil melintas. Kang Ale
memutuskan untuk mengikutinya.

Hebat juga itu mobil. Tua-tua keladi, batinku.

Mobil Carry produksi tahun delapan puluh itu
melaju cukup kencang. Berkali-kali kami ketinggalan saat
mengikutinya. Anehnya, saat tertinggal mobil itu seolah
melambat. Ketika sudah berada tepat di belakang, mobil
itu melaju kembali.

100

“Dari tadi kok enggak nemu persimpangan,”
gumam Kang Ale sambil mengelus dagu.

Kuedarkan pandangan ke samping kiri. Tiba-tiba
mata menangkap sosok berbaju putih sedang duduk di atas
pohon.

“Astagfirullah.” Aku langsung memalingkan
wajah.

Tak cukup sampai di situ. Aku melihat nenek-
nenek berdiri di tepi jalan. Matanya merah tersorot lampu
mobil.

“Ambu, baca Ayat kursi dan tiga Qul terus, ya,”
pinta Kang Ale.

Jantung terus terpacu membuat keringat semakin
deras membasahi selurih tubuh. Rasanya ingin sekali
menangis. Takut jika kami tidak bisa keluar dari jalanan
misterius itu.

Entah sudah berapa lami terjebak di jalanan
Kampung Anom. Tiba-tiba seberkas cahaya terlihat lima
ratus di depan. Tanpa pikir panjang Kang Ale menginjak
gas menuju titik terang itu.

Aku dan Kang Ale mendesah bersamaan begitu
melihat pom bensin di sisi kanan. Mata melirik jam di
dasbor mobil. Pukul 1.30 dini hari dan masih belum sampai
di pesantren. Seharusnya saat ini kami sudah terlelap di
rumah Teh Arum setelah bertemu Syifa.

101

“Alhamdulilah, Ambu. Kita selamat,” kata Kang
Ale setelah menghentikan mobil di SPBU.

“Akang tadi cemas. Takut kalau kita kehabisan
bensin di jalan itu,” lanjutnya.

“Maafkan Akang tidak percaya omongan Ambu.”
Kang Ale meremas jemariku dengan lembut.

Menurut pandangannya, suamiku melihat
beberapa makhluk dengan aneka rupa tak lama setelah
mengecek GPS. Keanehan semakin terasa ketika berusaha
mengikuti Mobil Carry jadul. Berkali-kali konsentrasi Kang
Ale terpecah, karena ada yang meniup telinga kanannya.
Padahal kaca mobil tertutup rapat.

“Yang penting kita sudah bisa keluar dari jalan itu,”
ujarku. “Usahakan lewat Waduk Darma saat ashar.”

Pengalaman yang benar-benar membuat jantung
berpacu. Aku sendiri takut jika kami akan terjebak
selamanya di Kampung Anom. Alhamdulillah, berkat
pertolongan Yang Maha Kuasa, kami bisa keluar dengan
selamat dari sana. [tamat]

Ih, Ambu masih juga percaya sama yang begitu
Udah ah, tidak akan ada apa-apa.
Kan ada Gusti Allah
Salat dulu, yuk
Udah, ah. Tidak aka nada apa-apa
Kalau lewat jalan itu malam hari, suka dibuat nyasar oleh yang punya
jalan

102

Dha Yu

K entongan ditabuh berkali-kali dengan cepat. Pertanda
sesuatu yang buruk tengah terjadi. Riuh suara warga
lamat laun kian terdengar jelas.

Aku mengintip dari balik pintu yang terbuka
separuh. Samar-samar mendengar desas-desus tentang
makhluk gaib yang konon menjadi penyebab seseorang
warga gantung diri kembali mencuat. Kabarnya orang itu
dirasuki dan dibisiki agar melakukan gantung diri saja.

Malam semakin terasa mencekam ketika angin
dingin berembus kencang menusuk-nusuk kulit ari. Aku
menutup pintu rapat. Namun, telinga tetap menempel di
daun pintu.

Suara sumbang burung-burung malam pun ikut
gaduh mengisi angkasa. Aku berpikir mungkin mereka
tahu atau bahkan melihat seperti apa makhluk gaib itu.
Barangkali pula turut berduka. Setelahnya gerimis turun
dengan deras.

Aku masih termenung di ranjang, memikirkan sebab
akibat kejadian gantung diri Pak Kasirun. Aneka duagaan

103

membuat gambar di kepala semakin rumit seperti benang
kusut. Berpikir terus hingga lelah lalu tertidur.

***

“Pak Kasirun itu buta udah lama, jalan aja harus
digandeng. Lha kok ini bisa gantung diri. Aneh ‘kan?”

“Betul! Betul banget. Ini pasti ulah Pulung
Gantung.”

“Eh, jangan keras-keras ngomongnya.”

Aku melihat Mbak Minah dan Mbak Andri
mengusap tengkuk masing-masing sambil menoleh ke
kakan-kiri dan bergidik. Bahkan mengusap kedua tangan
seolah ada serangga yang hinggap di sana. Rumor itu
semakin menyebar kemana-mana.

Hari ini aku sengaja menyiapkan beberapa camilan
untuk disuguhkan kepada siapa saja yang kebagian ronda.
Pukul sembilan malam aku mengantarkannya ke pos
kamling. Alih-alih mendengarkan pembicaraan Surip dan
Agus

“Katanya Mbok Darmini, itu lho tetangga sebelah
Pak Kasirun. Dia liat bola api berpijar berwarna merah
kekuningan dengan buntut panjang melayang di atas
rumah Pak Kasirun. Lha, itu beberapa menit sebelum istri
Pak Kasirun teriak-teriak minta tolong,” ujar Surip

“Itu, Kang. Itu pasti Pulung Gantung. Kata Simbah
makhluk itu jelmaan dari roh leluhur yang tidak diterima di
akhirat karena memilih untuk mengakhiri hidup dengan

104

menggantung diri. Sehingga roh-roh itu marah. Sampai
sekarang masih menghantui, mencari jiwa-jiwa frustrasi.”
Agus menimpali.

Apakah ini semacam kutukan? Tak henti aku bertanya
dalam hati.

Pulung Gantung dibicarakan terus menerus
meninggalkan energi negatif. Gunung kidul semakin
mencekam karena cerita mistis itu.

Sepinya daerah pegunungan, jarak antar rumah yang
berjauhan. Ranting-ranting pohon besar bergerak tak
beraturan tertiup angin menjadikan malam terasa begitu
lama menjemput pagi. Langit terlihat menghitam. Lebih
hitam dari malam lalu.

Aku sendiri masih heran. Apa betul ada makhluk
gaib seperti itu. Terlalu usil untuk mencampuri hidup
manusia. Namun, memang begitu adanya. Mereka ada
untuk menggoda iman manusia.

Ah, bisa saja Pak Kasirun sudah tidak betah dengan
beratnya beban hidup. Anak yang harus dikasih makan,
serta istrinya tukang ngomel karena kekurangan uang.
Sedangkan dia hanya bekerja sebagai dukun pijat dengan
upah seikhlasnya.

Malam ketiga belas setelah kematian Pak Kasirun,
desa dihebohkan lagi dengan kematian seorang bujang
lapuk. Lelaki itu bernama Ahlun yang pernah aku tolak
cintanya. Tragis, tak menyangka dia akan mati dengan cara
seperti ini.

105

Dia ditemukan tergantung di dekat sumur. Aku
melihat bibirnya yang membiru, mata melotot dengan urat-
urat hijau kehitaman menonjol di kedua pipi. Jeratan tali
tampak jelas membekas di leher.

Lagi-lagi Pulung Gantung disebut-sebut sebagai
penyebab kematian Ahlun. Bagimana tidak, bujang lapuk
itu kehilangan kedua kakinya dua tahun lalu karena
kecelakan motor. Infeksinya berakhir dengan amputasi.

Menurut pihak keluarga, tidak ada hal aneh. Setelah
makan Ahlun berpamitan untuk tidur. Melangkah
perlahan menggunakan kruk penopang tubuhnya.
Bahkan kruk itu masih bersandar santai di balik pintu
kamar. Lalu, bagaimana bisa dia tergantung di sumur?
Mereka menerka-nerka. Begitu juga aku. Kegiatan siaga
malam semakin diperketat. Dua nyawa telah melayang
dalam waktu berdekatan.

Masih basah tanah kuburan Pak Kasirun, pagi ini,
sudah ada lagi gundukan tanah merah di pekuburan yang
sama. Batang-batang bambu di pinggir sungai dekat
pekuburan bergesekan satu dengan yang lain saat diterpa
angin. Terdengar seperti suara-suara aneh, membuatku
bergidik. Manti, adik perempuan Ahlun menatap dingin ke
arahku, sebelum pergi setelah mengusap bulir bening di
ujung mata.

Malam berikutnya, aku termenung kembali di
ranjang. Memutar kembali memori tentang mereka yang
telah tiada. Apakah benar ini akibat Pulung Gantung?

106

Atau semacam frustrasi akut yang mengakibatkan mereka
hilang akal? Memperdaya alam bawah sadar. Tanpa
disadari memberi kekuatan pada tubuh mereka yang
lemah. Namun, mengapa memilih untuk gantung diri?
Bukan hal lainn. Misalnya minum racun atau memotong
urat nadi di pergelangan tangan. Lagi-lagi aku lelah
memikirkan semua itu hingga tertidur.

***

Hari berganti terasa begitu lambat. Berita kematian
semakin banyak terdengar. Hingga suatu keputusan
diambil oleh kepala desa. Ritual bersih desa akan dilakukan.
Dengan harapan menolak kesialan atau menjauhkan warga
desa dari hal-hal mistis yang mengerikan seperti pulung
gantung.

Para peneliti bahkan wartawan mulai berdatangan
untuk mencari berita tentang pulung gantung. Sebagian
peneliti berasumsi bahwa bunuh diri disebabkan oleh
frustrasi. Beban hidup yang berat karena kemiskinan atau
penyakit menahun. Namun, tetap saja banyak warga tidak
percaya akan hal itu. Mereka meyakini bahwa pulung
gantung penyebab utama, menilik dari banyaknya
kejanggalan.

Aku menutup mata dan juga telinga, tak ingin lagi
melihat jasad kaku nan biru akibat gantung diri.

“Malam ini kita gantian jaga rumah Dek Lastri.”

“Betul. Tadi ada warga yang liat pulung gantung
melayang di atas rumahnya.”

107

“Kasian dia, suaminya kabur dengan wanita lain dan
meninggalkan hutang puluhan juta atas nama Lastri.”

“Ajak istrimu, Mat. Suruh nemenin Lastri juga.”
Lagi, suara kentongan ditabuh berkali-kali dengan
keras. Terdengar tangis, dan jerit histeris.
“Aku mung lungo sedelo njupuk banyu, Mas.” Mbak
Arni, istri Kang Mamat menangis tersedu. Dia terus
mengatakan bahwa dia hanya pergi sebentar untuk
mengambil air. Wajah Mbak Arni terlihat sangat pucat
memandang jasad Lastri. Badannya bergetar hebat.
Meskipun sudah ditunggui dan dijaga bergantian, tragedi
bunuh diri tetap terjadi. Apa pun cara untuk mencegah
Pulung Gantung memakan nyawa terus saja kecolongan.
Aku hanya terdiam, melihat dari jauh. Bagaimana
lagi, rayuan itu terus merayu di telinga. Aku, Lastri. Tak
tahan lagi saat melihat seutas tali telah terpancang di pintu
rumah.
“Bebaskan bebanmu, Lastri! Suamimu sangat
keterlaluan.”
Gundukan merah di samping pohon kemboja
kuning. Bila rindu, temui aku di sana, Kangmas! [tamat]

108

Derin Septiani

S ejak COVID-19 melanda, Darlan tak pernah pulang
sebelum jam delapan malam. Orderan yang masuk
melaluli aplikasi ojek daring merosot drastis. Sedangkan
harga kebutuhan pokok terus meroket. Sudah pasti dia
harus berjuang lebih giat untuk menghidupi istri dan
anaknya. Sementara, tanda-tanda berakhirnya pandemi
masih belum terlihat.

Darlan selalu berhenti sejenak di ujung jembatan
sebelum melintasinya. Jantung lelaki itu berdetak lebih
cepat. Berkali-kali dia melihat jam yang tertera di gawainya,
pukul 21.00.

“Tong ngaliwat ka Dam Ipeut mun geus peuting.1”
Nasehat Bapaknya tak pernah dilupakan.

Namun, Dam Ipeut adalah jalan terdekat menuju
rumahnya. Sedangkan melalui Desa Tugu, jaraknya tiga kali
lipat. Selain itu, jika malam banyak preman nongkrong di
sepanjang jalan.

Cerita turun temurun seputar Dam Ipeut sangat
menyayat hati. Dulu ada sepasang suami istri dengan dua

109

anak laki-laki yang hidup sangat harmonis dan bahagia.
Suatu hari sang istri sakit keras dan meninggal dunia. Si
suami merasa sangat kehilangan dan terguncang hingga
kehilangan akal. Dia membawa dua buah hatinya ke Dam
Ipeut.

Sesampainya di sana sang ayah mengikat dua batu
besar ke kaki anak-anaknya dan mendorong mereka ke air.
Setelah yakin tubuh kedua mungil itu tak terlihat, dia
menceburkan diri sambil berkata, “Istriku sayang, aku dan
anak-anak akan menyusulmu.”

Sejak saat itu, banyak kejadian mistis yang terjadi.
Laki-laki yang melewati Dam Ipeut akan diikuti oleh dua
hantu anak-anak. Beberapa hari kemudian akan dihantui
oleh sang ayah.

Sudah tiga kali Darlan melintasi Dam Ipeut kala
bulan sudah bertugas. Selama itu pula tidak ada makhluk
astral jenis apa pun yang mengganggunya. Namun, tetap
saja ada keraguan saat akan melewati bendungan itu.

“Bismillah,” ujar lelaki itu. Motor pun melaju.

***

Sejak sore hujan cukup deras. Entah sudah berapa
jam Darlan duduk sambil bermain gawai di pangkalan—
tempatnya biasa mangkal menunggu orderan. Tidak ada
orderan yang masuk melalui aplikasi ojek daring.

Pukul 21.00 menyisakan gerimis kecil. Darlan
menghentikan motornya tepat di ujung Dam Ipeut.

110

Lanjut atau muter, ya? Lelaki itu bimbang.

Melewati bendungan, hanya membutuhkan waktu
sepuluh menit dengan resiko diikuti oleh hantu anak-anak.
Jika memutar butuh lebih dari satu jam, belum tentu bebas
dari preman-preman di sana.

Biarlah lebih baik diikuti hantu dari pada dihajar preman,
batin Darlan. Kemudian dia pun memacu kuda besinya.

Menjelang tengah malam, gemercik hujan belum
usai, tetapi bukan itu yang membuat Darlan terjaga, tawa
Jaka-anaknya—yang membuat matanya terbuka.

“Sudah lima belas menit dia tertawa, Kang.”
Mimin—istrinya—terlihat cemas.

“Enggak berhenti sama sekali?” tanya Darlan.
Mimin menggeleng.

Darlan menggendong dan membawa anaknya keluar
kamar. Namun, Jaka justru menangis kencang. Bocah itu
kembali tertawa ketika masuk kembali ke dalam kamar.
Matanya terus melihat ke sudut. Cukup lama Jaka tertawa
dan bermain sendiri, akhirnya kelelahan.

Tengah malam berikutnya, Jaka kembali terjaga.
Setengah sadar, Darlan melihat dua sosok anak lain yang
sedang bermain bersama Jaka.

“Kalian kenapa belum pulang?” tanya Darlan yang
belum sepenuhnya bangun. “Ini sudah malam.”

Setelah bangun dan sadar, tiba-tiba bulu-bulu halus
di sekujur tubuh Darlan menegang. Jantungnya berdetak

111

cepat saat beradu pandang dengan dua anak itu. Ada
lingkaran hitam yang mengelilingi mata mereka. Taring
menyembul di antara bibir.

“S-siapa kalian?” tanya Darlan. Jantungnya
berdetak cepat.

Dua anak laki-laki itu tidak menjawab dan langsung
menghilang.

Semalaman mata Darlan tak bisa terpejam.
Otaknya sibuk memikirkan dua sosok bocah yang tiba-tiba
menghilang. Dia bingung antara kenyataan atau mimpi.

“Bisa aja Akang mimpi karena capek,” kata Mimin
meyakinkan Darlan.

“Mungkin. Tapi, Neng kayak yang beneran, lo.”
Masih ada keraguan di hati lelaki itu.

“Mimpi kan kayak nyata, Kang.” Mimin kembali
berpendapat.

Mungkin apa yang dikatakan istrinya benar. Sudah
tiga hari Jaka tidak bangun tengah malam dan tertawa
sendiri. Perlahan wajah dua bocah itu mulai sirna dari
benaknya.

***

“Kembalikan anak-anakku!”

Darlan langsung terduduk dan mengedarkan
pandangan ke sekeliling kamar. Tidak ada orang sama
sekali. Namun, suara itu begitu jelas menerpa gendang
telinganya.

112

Jam di dinding menunjukkan pukul 00.45, waktu
subuh masih lama. Lelaki itu berusaha untuk memejamkan
mata kembali. Tiba-tiba seseorang menggedor pintu
rumahnya.

“Siapa, sih malam-malam gini?” gumam Darlan.

Tidak ada siapa-siapa saat dia menyingkap jendela
dan melihat ke luar. Lelaki itu mendengkus kesal karena
jam tidurnya berkurang.

Saat berbalik, mata Darlan langsung terbelalak.
Bibirnya bergetar hebat dan langsung terperenyak.

“A … a ….” Hanya itu yang bisa dia ucapkan.

Makhluk pucat dengan wajah penuh luka sudah
berdiri di tengah ruang tamu. Mata membelalak lebar
dengan lingkaran hitam di sekitarnya menatap Darlan
penuh kebencian. Bibir menyeringai menampakkan taring
yang sangat tajam. Lidah menjulur nyaris menyentuh
perutnya.

“Kembalikan anak-anakku.” Suara makhluk itu
menggema

Angin kencang menerpa wajah Darlan. Suhu
dingin membuat sekujur tubuhnya menggigil. Lelaki itu
sangat ingin menutup mata, tetapi tidak bisa. Seolah ada
yang memaksanya untuk terus menatap makhluk yang
mengerikan itu.

“Di mana anak-anakku?” tanya makhluk itu.

113

Tangan berjari panjang dan berkuku hitam terulur
mengarah ke leher Darlan. Wajah makhluk itu semakin
mengerikan. Matanya merah menyala menatap penuh
amarah. Seringai lebar dengan gigi kuning siap menerkam.

“Tidaaak ….!” Darlan berteriak dengan sekuat
tenaga dan semua menjadi gelap.

***

“Kang … bangun,” kata Mimin. “Ari Akang naha
bobo di dieu?2”

Darlan membuka mata dan langsung terduduk.
Badannya bergetar dan basah oleh keringat. Dia menoleh
ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan makhluk itu.

“Ke mana setan tadi?” tanya Darlan.

“Ih, Akang mah. Bangun-bangun nanyain setan,”
ujar Mimin sambil menepuk pundak suaminya. “Salat
Subuh dulu.”

Darlan bangkit dan segera membersihkan diri
untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim.
Benaknya sibuk memikirkan semua kejadian yang dialami
semalam.

Hantu Dam Ipeut kah? tanya Darlan dalam hati.

Usai salat Subuh, Darlan menceritakan semua
kejadian yang dialaminya semalam. Bulu-bulu halus di
sekujur tubuhnya kembali menegang.

“Masa sih, Kang?” Mimin memicingkan mata dan
mengerutkan dahi saat memandang suaminya.

114

“Euh, Neng mah dikasih tau, ga percaya.” Darlan
sedikit kesal melihat reaksi istrinya.

“Akang mau ke Wak Haji, siapa tau bisa ngusir
semua hantu dari rumah ini.”

Benar saja, menurut Wak Haji—paranormal
kampung—hantu anak-anak yang tenggelam di Dam
Ipeut, sudah satu minggu mengikuti Darlan. Kadang
mereka bermain bersama Jaka. Makanya beberapa malam
sebelumnya bocah berusia dua tahun itu terjaga di tengah
malam dan tertawa.

Semalam, hantu sang ayah mencari keberadaan
anak-anaknya dan meneror. Makhluk itu menganggap
Darlan sebagai penculik.

“Siapa juga yang tau kalo hantu-hantu bocah itu
ngikutin,” ucap Darlan

Dengan bantuan Wak Haji, akhirnya hantu-hantu
itu bisa diusir dari kehidupa Darlan dan kembali ke Dam
Ipeut. Entah siapa lagi yang menjadi korban. Satu hal yang
pasti sosok tak kasat mat aitu hidup berdampingan dengan
manusia.[tamat]

1. Jangan lewat ke Dam Ipeut kalau sudah malam.

2. Akang kenapa tidur di sini?

115

NL. Handayani

H ampir tengah malam, tetapi Rama belum juga pulang.
Tadi sore, suaminya memang sudah menelepon untuk
mengabarkan akan pulang terlambat, karena percetakan
sedang banyak orderan. Bagi Laras itu adalah hal yang
biasa.

Namun, beberapa malam sungguh berbeda. Laras
yang baru kembali ke rumah setelah tiga bulan tinggal di
rumah orang tuanya karena baru saja melahirkan. Dia
merasa ada yang lain dengan lingkungan rumahnya. Seolah
ada yang mengganggu hampir setiap malam.

Sejak mempunyai bayi, perempuan itu
menyelesaikan pekerjaan rumah ketika anaknya tidur. Tak
heran jika dia sering menjemur pakaian di malam hari.

“Kok malam ini rasanya beda, ya,” gumam Laras.
Bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya tiba-tiba berdiri
tegak. Embusan udara dingin terasa di tengkuk. Dengan
cepat Laras menyelesaikan pekerjaannya.

116

Tiba-tiba terdengar suara lengkingan mendekat.
Jantung Laras berdetak lebih cepat. Tak lama kemudian,
sudut matanya menangkap cahaya merah yang melayang
mengelilingi lingkungan komplek.

Bersamaan dengan itu, Alfa—anaknya—menangis
keras. Laras segera berlari menuju kamar. Dia langsung
memeluk dan menenangkan. Namun, tangisan Alfa
berbeda. Bukan seperti kesakitan atau menyusu.

“Astagfirullah, kenapa, sih, Sayang?” Laras setengah
putus asa. Berkali-kali mencoba untuk menyusui Alfa,
tetapi bayi itu menolak.

Tiba-tiba terdengar suara bebek tepat dari samping
kamar. Ada parit kecil yang membatasi dengan rumah
tetangganya.

“Ih, bebek siapa sih malam-malam gini
berkeliaran?” tanya Laras.

Embusan udara dingin terasa menegangkan
rambut-rambut halus di sekitar tengkuknya. Jantung Laras
kembali berdetak cepat, membuat keringat dingin mulai
muncul membasahi punggung. Seingatnya tidak ada yang
memelihara bebek di komplek. Perempuan itu segera
menambah volume speaker murotal Al-Qur’an untuk
mengusir rasa takut sekaligus menenangkan Alfa.

***

“Ayo lah, Yu. Temenin Mbak. Paling enggak
sampai Mas Rama beres lembur,” pinta Laras pada Bayu—
adiknya.

117

“Tumben Mbak Laras jadi penakut,” ledek Bayu.

Laras memang terkenal lebih berani ketimbang
adiknya. Namun, sejak memiliki Alfa dan kejadian
beberapa malam di sekiar komplek, membuat rasa takutnya
meningkat.

Akhirnya dengan rayuan sedemikan rupa, Bayu
mau tinggal sementara di rumah mungilnya. Sebenarnya
kehadiran adiknya tidak banyak membantu, karena lebih
sering menghabiskan waktu di kamarnya. Paling tidak,
dengan adanya Bayu Laras bisa lebih fokus menjaga Alfa.

Kejadian aneh kembali terulang. Kali ini
perempuan berambut pendek itu mendengar suara papan
yang dipukul, sesaat setelah menidurkan Alfa. Tak lama
kemudian, ada suara bebek, seperti beberapa malam lalu,
tetapi kali ini diselingi erangan dan tawa seorang wanita.

“Yu … Bayu.” Laras mengetuk pintu kamar depan,
tempat adiknya tidur.

Diliriknya jam yang menempel di dinding ruang
keluarga. Pukul 10.30, dia yakin Bayu masih belum tidur.

“Kamu dengar suara aneh barusan enggak?” tanya
Laras begitu Bayu muncul sambil melepaskan earphone dari
telinganya.

“Denger lah, Mbak. Malah sejak Bayu nginep di
sini,” katanya.

Samar-samar Laras melihat kerutan di kening
adiknya. Berkali-kali tangan Bayu menggosok tengkuk.

118

“Makanya, Bayu pasang musik kenceng.” Bayu
meringis sambil menggoyangkan earphonenya.

Lelaki muda itu tahu betul, Laras tidak begitu
menyukai musik. Untuk mengusir suara aneh dan tidak
mengganggu kakaknya, dia menggunakan pengeras suara
kecil berwarna putih yang diselipkan di telinga.

“Kenapa kamu ga bilang,” ujar Laras sedikit kesal.
“Tolong jaga Alfa. Mbak mau ngecek dulu.”

Laras yakin suara itu berasal dari dari parit yang
menjadi pembatas antar rumah bagian belakang. Dia ragu
untuk membuka jendela, takut jika maling yang muncul.
Keahlian bela diri belum bisa digunakan. Bekas operasi
Caesar saat melahirkan Alfa, masih sering terasa. Selain itu,
dokter menyarankan untuk tidak banyak bergerak selama
enam hingga satu tahun.

Perlahan Laras mengintip melalui jendela. Namun,
gelapnya malam membuat semuanya terlihat samar. Dia
yakin ada sesuatu di sekitar parit. Untuk meyakinkan
pandangan, perlahan dibukanya jendela itu.

Di saat yang bersamaan, ada sosok yang terbang
sambil tertawa cekikikan selanjutnya mengerang. Bola
mata Laras membesardan mulut menganga. Dia tidak
percaya dengan apa yang dilihatnya.

Cepat-cepat dia menutup jendela dan bergerak
mundur. Jantung berdegup kencang dan badannya
bergetar hebat. Selama ini Laras hanya mendengar cerita
dari tetangga sekitar, bahwa ada kuyang yang menghantui

119

komplek. Perempuan itu acuh tak acuh. Namun, malam
itu, dia menyaksikan sendiri makhluk astral dengan organ
tubuh bagian dalam yang menggantung di kepala.

Tok … tok … tok …

“Siapa?” Laras tersadar saat mendengar ketukan
pintu.

“Mas Rama.” Perempuan itu langsung mendesah
lega mendengar suara berat yang sangat dikenalnya.

“Kenapa, Dek?” tanya Rama sesaat setelah bersalam
dengan Laras. “Tanganmu dingin dan keringetan.”

“Mana Alfa?” tanya Rama.

“Di kamar sama Bayu,” jawab Laras.

“Barusan Mas lihat ada cahaya merah melintas ….”
Rama menceritakan apa yang dilihatnya saat memasuki
gerbang komplek.

Lelaki itu awalnya berpikir jika cahaya itu berasal dari
obor yang sering dibawa oleh penjaga keamanan komplek.
Namun, suara erangan diiringi suara cekikikan dan tawa
yang terdengar bersamaan dengan kemuncuan cahaya itu,
membuat Rama menajamkan pandangan.

“Setelah Mas perhatikan, ternyata itu kuyang. Mas
khawatir takutnya makhluk itu masuk ke rumah kita,” kata
Rama.

Laras mengernyit. Seingatnya tidak ada wanita hamil
di sekitar komplek. Lagi pula masa nifas setelah melahirkan
pun telah berlalu.

120

“Siapa kira-kira yang mempunyai ilmu mengerikan
itu ya, Mas?” tanya Laras. Rama mengangkat bahunya.

Tak lama kemudian, terdengar suara rebut di depan
rumah. Beberapa warga terlihat berkumpul sambil
membawa senter dan batang lidi. Benda itu dipercaya bisa
mengusir kuyang. Senter diarahkan ke ke sudut-sudut gelap
yang mungkin menjadi tempat persembunyian makhluk
astral itu.

“Pak Rama, rumah Bapak aman? Tadi kami liat
kuyang itu menuju ke arah sini” tanya Pak RT.

“Alhamdulillah aman, Pak,” jawab Rama.

“Sudah hampir dua minggu kami mencari kuyang
itu. Semua warga jadi resah,” kata Pak RT. “Sepertinya dia
mencium aroma ibu hamil di sekitar sini.”

“Tapi istri saya tidak hamil. Kenapa dia hilang di
sekitar sini?” tanya Rama.

“Memang bukan Bu Laras. Suara mengaji yang
sering berkumandang di rumah ini sepertinya mengganggu
kuyang itu. Mungkin ia berusaha membuat ibu tidak betah
di rumah” jelas Pak Roy—sesepuh komplek.

“Sebelumnya, sewaktu Bu Laras hamil memang
diincar tetapi ia tidak bisa masuk ke rumah ibu. Begitu tahu
ada yang hamil di belakang, dia mencoba membuat Ibu
tidak betah di rumah”

Dari penjelasan Pak Roy diceritakan sebenarnya
mereka sudah mencurigai satu orang yang terlihat mondar

121

mandir di komplek. Bisanya jika kuyang muncul, siang hari
sebelumnya ada orang yang berkeliling. Mungkin dia
mencari wanita hamil yang akan dijadikan mangsa. Namun,
warga tidak bisa menuduh, karena bukti-bukti itu tidak
kasat mata.

Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan warga
bergiliran melakukan ronda malam, berjaga dan berharap
dapat menangkap kuyang yang meresahkan itu. Semuanya
berharap agar makhluk itu segera ditangkap karena ada
lima wanita hamil yang mungkin akan dijadikan mangsa.
Ternyata salah satunya tinggal di belakang rumah Laras.
[tamat]

122

Hariyah

S ebagai warga yang baru pindah ke Depok, Jawa Barat,
Bu Sugi termasuk orang yang cepat beradaptasi
dengan lingkungannya. Rumah yang baru saja ditempati,
sudah kosong tiga bulan. Walaupun demikian dia sudah
merenovasinya sehingga lebih enak dan nyaman.

Pada awal-awal kepindahan, Bu Sugi mendengar ada
saja cerita-cerita aneh tentang rumah itu. Beberapa
tetangga bilang sering melihat penampakan seorang
perempuan dengan rambut panjang. Dia suka sekali
menyisir rambut panjang hingga menjuntai ke bawah.
Wajah perempuan itu tidak pernah kelihatan karena
tertutup rambut. Begitu pun pakaiannya, tidak identik
putih seperti halnya sering digambarkan orang-orang
tentang kuntilanak. Penampakan perempuan itu tidak bisa
diprediksi. Kapan saja bisa muncul.

Di depan rumah Bu Sugi, tumbuh tanaman
Srigading. Setiap subuh bunganya mekar dan harum.
Beberapa tetangga kadang memanfaatkan bunga-bunga
yang berguguran untuk dibuat jamu atau campuran

123

minuman. Apakah keharuman bunga ini mengundang
sosok misterius tersebut?

Alhamdulillah, rumah Bu Sugi tidak pernah sepi dari
aktivitas ibadah seperti salat berjamaah, membaca Al-
Qur’an dan pengajian, hal-hal aneh tersebut tidak pernah
mereka temukan. Peremuan paruh baya itu malah
penasaran dengan tetangganya yang terkena penyakit tetapi
sudah sekian lama tidak sembuh juga. Si tetangga sudah
berobat ke mana-mana tetapi kesembuhan belum berpihak
padanya.

“Dia itu kena karma, Bu. Kami udah bilang, jangan
pacaran atau berdua-duaan dengan lelaki yang bukan
muhrim di situ. Eh dia malah nekat aja. Ya jadi begitulah
akibatnya,” jelas Bu Ita menggebu-gebu.

“Ah, di mana maksudnya Bu? Saya jadi kepo,” balas
Bu Sugi penasaran.

“Di Sumur Bandung, Bu. Dilarang maksiat di situ.
Bu Sugi tau gak Sumur Bandung? Deket loh dari sini. Dah
pernah ke sana belum?” tanya bu Enci to the point.

“Hihihi belum, Bu. Saya emak-emak pekerja.
Kadang udah sampe rumah capek, gak sempat ke mana-
mana,” timpal bu Sugi sambil tersenyum.

***

Siang itu setelah membereskan rumah, Bu Sugi siap
menuju lokasi dengan berjalan kaki santai. Dia menyusuri
jalan aspal yang mulus dan rapi. Di kiri dan kanan jalan

124

masih banyak pepohonan rindang. Ada jalan besar yang
dilalui kendaraan angkot yang harus diseberangi.

Mendekati lokasi Sumur Bandung, hawa segar
semakin terasa karena semakin banyak pepohonan rindang
yang berjejer. Suasana pun semakin sepi dari aktivitas
warga dan lalu-lalang kendaraan. Bu Sugi bertemu salah
satu warga yang rumahnya dekat sekali dengan Sumur
Bandung. Mereka berkenalan dan terjadilah obrolan
diantara mereka.

“Sudah lama Mak Ana, tinggal di sini?” tanya bu Sugi
mengawali obrolan.

“Sudah hampir 50 tahunan, Bu,” jawab Mak Ana
dengan senyum mungilnya sambil menawarkan duduk
lesehan di terasnya. “Bu Sugi mau ke Sumur Bandung ya.
Kok sendirian aja,” tanya Mak Ana.

“Iya, Mak. Iseng-iseng aja. Lagian kerjaan rumah
udah selesai. Pengen jalan-jalan cari kesegaran. Pengen tau
Sumur Bandung juga Mak. Penasaran, belum pernah ke
sini soalnya,” jelas Bu Sugi sambil memandang ke halaman
teras yang sejuk.

Mendengar nama Sumur Bandung ingatan Mak Ana
melayang ke masa puluhan tahun yang lalu. Sebuah sumur
di wilayah Kecamatan Cipayung yang terkenal dengan
lokasinya yang angker. Dahulu daerah ini masih hamparan
rawa yang ditumbuhi semacam pohon beringin besar. Di
bawahnya terdapat mata air yang tidak pernah kering.

125

Saat itu orang-orang sekitar sangat takut jika
melewati daerah ini, karena terpengaruh cerita mistis yang
selalu digemborkan warga sekitar. Mereka enggan melewati
daerah di sekitar Sumur Bandung ini karena tempatnya
yang angker.

“Dulu di Sumur Bandung ini ada penunggunya. Ada
binatas bulusnya (kura-kura) yang sangat besar. Dia keluar
dari mata air itu,” jelas Mak Ana sambil memandang ke
arah Sumur Bandung. “Banyak makhluk gaib juga di situ.
Makhluk penunggu Sumur Bandung.”

“Banyak yang lihat ya, Mak?” tanya Bu Sugi mulai
menyelidik.

“Ya, Mak juga cuma denger-denger doang. Belum
pernah ngeliat. Jaman Mak masih kecil, emang ini sumur
keliatan gak terawat, banyak rumput-rumput liar, semak
belukar, gelap, masih banyak pohon-pohon gede kayak
pohon beringin. Dan memang banyak rawa di sni. Ya
angker dah. Banyak juga para peziarah yang datang untuk
melakukan ritual tertentu”, tambah Mak Ana mulai
mengingat-ingat situasi saat itu.

Mak Ana meneruskan ceritanya. “Waktu itu ada
cerita, orang pergi ke sumur ini, dia mandi di situ. Memang
sumurnya cetek dan airnya banyak alias luber jadi kayak
ngebentuk kolam gitu. Nah, abis dia mandi. Dia berdoa di
situ, komat-kamit, tapi terus orang itu jadi kayak orang gila.
Dia muter-muterin area lokasi sumur ini setiap hari.
Kelanjutannya Mak gak tau sih.” Mak Ana mengingat-ingat

126

cerita lain lagi. Sementara Bu Sugi memperhatikan dengan
seksama.

“Pernah juga ada kejadian nih. Seekor sapi mati
mendadak deket tuh sumur. Jadi sebenarnya gak jauh dari
sumur itu ada kandang sapi milik warga. Nah, ini sapi
makan sesajenan yang di taro di bawah pohon besar, yang
persis berada di sumur itu. Keeseokan harinya tuh sapi
mati, tetapi isi perutnya hilang, ludes, entah kemana,” jelas
Mak Ana sambil terus mengingat-ingat kejadian yang dia
pernah dengar dahulu kala.

“Hmm kok bisa begitu ya, Mak?” tanya Bu Sugi
singkat.

“Tapi, ini sumur katanya bisa juga ngubah nasib. Cari
keberuntungan. Katanya kalo ngejatuhin koin di situ,
segala hajat niat yang ngelemparin koin itu bakal terkabul,
begitu”, Mak Ana menambahkan.

“Hmmm ….” Bu Sugi manggut-manggut seolah
memikirkan koin ajaib apa yang bisa seperti itu. Bu Sugi
beruntung juga ketemu Mak Ana. Banyak cerita-cerita yang
dia dapat meskipun belum tentu kebenarannya. Lalu, Mak
Ana masih semangat melanjutkan ceritanya.

“Mak juga pernah denger. Ada yang bilang bahwa air
Sumur Bandung yang tak pernah kering itu karena Tuhan
menangis,” jelas Mak Ana sambil terkekeh. “Tapi masa iya
Tuhan menangis ya, Bu?’ tanya Mak Ana pada Bu Sugi
yang ikut tertawa kecil sambil heran memikirkan istilah
tersebut. Lalu lanjutnya.” Manusia gak menyadari banyak

127

sekali dosa-dosa yang diperbuatnya. Manusia gak takut
sama dosanya. Inilah katanya yang bikin Tuhan menangis.
Nah, air mata Tuhan inilah katanya yang berwujud air
Sumur Bandung yang selama ini emang gak pernah kering.
Begitu Bu Sugi kata orang-orang tetua dulu.”

Bu Sugi jadi teringat lagu ciptaan Ebit G. Ade.
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita. Yang selalu
salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan
bersahabat dengan kita. Coba kita tanya pada rumput yang
bergoyang.

Bu Sugi pun bangkit dari duduknya mengiringi Mak
Ana. Dia mengucapkan terima kasih dan mohon pamit
pada Mak Ana untuk meneruskan perjalanan menuju
Sumur Bandung.

“Hmm, sekarang mah udah bagus, Bu. Udah enak,
lebih tertata rapi. Udah jadi tempat wisata. Saban Sabtu-
Minggu rame aja orang ke sini. Pada bawa keluarga. Piknik.
Jauh-jauh ada yang dari Jakarta, Bogor, Bandung malah,
dan banyak lagi dah. Beda banget emang ama yang dulu,”
jelas Mak Ana bersemangat.

Sumur Bandung kini menjadi Cagar Budaya.
Kondisinya cukup terawatt dan asri. Suara gemericik air
dan gelak tawa riuh terdengar dari pengunjung saat mulai
memasuki pintu Cagar Budaya Taman Sumur Bandung.
Suasana asri dan udara yang segar membuat nyaman
pengunjung menikmati kejernihan air dari mata air yang
terdapat di kolam Sumur Bandung. Meski demikian masih

128

ada saja kesan angker dari warga setempat. Sepasang
ayunan yang ada di dekat Sumur Bandung seringkali
bergerak sendiri pada malam-malam tertentu. Menurut
warga ini, ayunan tersebut sedang dimainkan oleh para
penunggu Sumur Bandung.

Sesampainya di sana Bu Sugi melihat sendiri betapa
jenih dan segarnya air Sumur Bandung itu. Saat ini tempat
tersebut menjadi salah satu lokasi favorit masyarakat, walau
pun hanya sekedar bercengkrama. Dengan konsep
melingkar dan santai para pengunjung begitu mudah
menikmati jernihnya aliran air Sumur Bandung. Suasana ini
sangat berbeda dengan kondisi yang diceritakan Mak Ana
puluhan tahun lalu.

Bu Sugi mencari informasi di internet. Dari
pencariannya internet segala informasi terkait Sumur
Bandung, Depok. Dia membaca ada seorang warga yang
telah mengubah kondisi tempat itu yang menyeramkan
tersebut menjadi objek wisata yang menarik. Beberapa
tahun lalu pemilik tanah, Hamzah mengatakan, dia sengaja
mengambil alih lahan tersebut dan mengubahnya
sedemikian rupa hingga menjadi tempat yang nyaman
untuk disinggahi.

“Imej petilasan akan saya bangun lagi di sini,”
tuturnya.

Selain itu, Hamzah juga ingin melestarikan dan
menjaga situs-situs budaya di Kota Depok. Ia
menganggap, Budaya Taman Sumur Bandung merupakan

129

saksi sejarah, dan harus dilestarikan. Hamzah mengatakan,
dahulu tempat tersebut menjadi petilasan para wali dari
empat penjuru, yakni Cirebon, Banten, Bandung dan
Bogor. Dari cerita pendahulu, founding father bangsa
Indonesia, Soekarno pun pernah singgah. Kini, cerita dan
kesan angker itu pun lambat laun mulai pudar. Ini ditandai
dengan banyaknya masyarakat yang datang berkunjung.

“Sekarang sudah ramai dikunjungi, sebagai tempat
istirahat. Seperti tempat wisata saja,” kata Hamzah.

Sejarah Sumur Bandung Depok sendiri terdiri dari
dua versi berbeda, menurut Hamzah yang membeli lahan
Sumur Bandung pada tahun 2012 dan memberikan
sebagian tanahnya kepada Pemkot untuk dijadikan cagar
budaya, sejarah Sumur Bandung mulanya merupakan
hutan belantara dan ladang persawahan.

Soal penamaan Sumur Bandung, ditengarai mulai muncul
pada saat ada seorang pengusaha dari Bandung yang ingin
membeli tanah itu pada tahun 1983, berdasar kota asal
pembeli tersebutlah nama kobakan taman berubah
menjadi Sumur Bandung yang akhirnya dikenal luas oleh
masyarakat sekitar. Lebih lanjut, nama Sumur Bandung
juga bermuasal dari istilah air yang dibendung.

Versi lain sejarah Sumur Bandung dituturkan Toyim
sebagai juru kunci Sumur Bandung Depok. Menurutnya,
penamaan Sumur Bandung diberikan oleh seorang
peziarah dari Cirebon sekitar tahun 1985. Toyim kala itu
merasa bingung karena si peziarah menanyakan lokasi
Sumur Bandung di daerah Cipayung Depok, sementara

130

tentang sebab musabab munculnya mata air konon lokasi
Sumur Bandung yang sekarang adalah bekas kubangan
kerbau masa lalu. Pada suatu ketika ada seekor kerbau yang
terperosok kedalam kubangan yang kemudian
menciptakan mata air yang akhirnya disebut Sumur
Bandung Depok.

Hal yang hampir senada juga disebutkan oleh
sejarawan dan beberapa literatur sejarah bahwa, Sumur
Bandung Cipayung Depok pada masa lalu merupakan
lokasi petirtaan atau pemandian para dewa-dewa serta
orang sakti mandraguna.

Setelah membaca-baca sumber dari internet Bu Sugi
mulai pahan perkembangan Sumur Bandung yang tadinya
terkesan angker menjadi tempat wisata yang menarik.
Berangsur-angsur cerita-cerita mistis dan mitos tentang
Sumur Bandung mulai pudar. Orang boleh percaya boleh
tidak. Tetapi bagi Bu Sugi wajah Sumur Bandung saat ini
seolah menghilangkan cerita mistis masa lalu yang beredar
dan berlebih-lebihan di masyarakat. Seiring pengetahuan
masyarakat yang berkembang dan pemahaman yang
realistis dan objektif terhaddap suatu tempat disertai
pemahaman agama yang baik, maka hal-hal mistis tersebut
cukup disikapi secara wajar saja. [tamat]

131

Iffada_Ally

D eretan pohon asem di kanan kiri jalan besar itu
tumbuh subur. Daun-daunnya menyatu, sehingga
membentuk lorong. Jika pagi sinar matahari mengintip di
sela-sela dedaunan. Siangnya kandungan oksigen yang
berlimpah membuat orang ingin berlama-lama berada di
sana. Tak heran jalanan itu menjadi salah satu ikon wisata
di Tuban dan dikenal dengan sebutan Lorong Asem
Pelangi.

Sebagai pengusaha muda, Qosim melihat peluang
bisnis dan ingin segera membuka kafe di sekitar Lorong
Asem Pelangi.

Mumpung belum ada yang buka, batin pemuda itu saat
otak bisnisnya mulai bekerja.

Ternyata izin untuk membuka usaha di tempat itu
tidak semudah yang dibayangkan. Qosim tak hanya
menyiapkan aneka berkas yang harus diserahkan ke dinas

132

terkait. Dia harus meminta izin kepada penduduk
setampat, terlebih sesepuhnya.

“Sebelum jam delapan malam harus tutup, ya, Mas,”
ujar Pak Shaiku—kuncen Lorong Asem Pelangi.

Sebenarnya Qosim ingin membuka usahanya lebih
lama. Pengalaman yang sudah-sudah, kafe semakin ramai
menjelang tengah malam, apalagi di daerah itu. Namun,
daripada izin usaha tidak didapat, dia menyetujui syarat
utamanya.

Benar saja, insting bisnis Qosim memang tajam.
Dalam waktu tiga bulan modal yang digunakan untuk
membuka kafe sudah kembali.

“Mas, kenapa enggak buka sampe malem?” tanya
Andi—salah satu pelanggan kafe Qosim. “Kadang kalo
lembur kami pengen nongkrong di sini.”

“Iya, Mas. Kafe ini paling enak posisinya. Pas di
tengah antara rumah dan kantor,” ujar pelanggan yang lain.

Qosim menjawab dengan senyuman. Otak bisnisnya
kembali bekerja.

Bener juga. Kalo aku tambahin buka dua jam lagi, mungkin
tiga bulan ke depan bisa memperluas kafe ini, batin pengusaha
muda itu.

Namun, dia ingat perjanjian dengan Pak Saikhu
untuk tutup tidak lebih dari jam delapan malam.

“Ah, hanya perjanjian tak tertulis. Enggak masalah
kali, Mas,” kata Ida—istrinya.

133

Kafe tutup secara bertahap. Dua minggu pertama,
tempat nongkrong itu tutup tepat pukul 20.30. Begitu
seterusnya, hingga mereka tidak lagi menerima pelanggan
setelah jam sepuluh malam.

“Tuh, kan, Mas. Semakin malam justru banyak
pelanggan,” ucap Ida sambil tersenyum.

Qosim mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan
kafe. Semua meja nyaris terisi. Namun, batinnya tidak
tenang.

***

Hampir tujuh bulan Qosim membuka kafe di daerah
Lorong Asem Pelangi. Kini tempat itu beroperasi hingga
pukul 23.30 malam.

“Mas, kenapa bukanya sampai malam?” tanya Pak
Shaiku. “Kalau ada apa-apa saya tidak tanggung jawab, ya.”

Menurut Pak Shaiku, dulu ada perjanjian antara
manusia dengan makhluk astral di sekitar Lorong Asam
Pelangi. Manusia hanya boleh berkatifitas tidak lebih dari
jam delapan malam. Jika melanggar, akan tersesat dan tidak
bisa kembali.

“Aduh, Mas. Zaman sudah smartphone, sudah ada
android TV, masih juga percaya sama mitos,” cemooh Ida.

Iya juga, sih. Lagian selama ini enggak ada apa-apa, batin
Qosim.

***

134

“Pak, persediaan kopi habis.” Qosim mengerutkan
alis ketika Arya—karyawan yang bertugas di bagian gudang
melaporkan,

“Masak, sih? Kan dua hari lalu baru dikirim,” kata
Qosim tidak percaya.

Benar saja, stok kopi untuk dua minggu tidak ada di
tempat biasanya. Selama ini tidak ada stok bahan dan
barang yang hilang. Selain itu, hanya Arya yang diberi
kepercayaan untuk mengawasi dan memegang kunci
gudang.

Qosim lagsung mengecek rekaman CCTV di
kantornya. Semua karyawan tidak ada yang mengetahui
bahwa sudut-sudut strategis kafe dipasang kamera
pengawas. Berkali-kali pengusaha muda itu melihat
rekaman, tetapi tidak ada seorang pun yang masuk ke
ruangan itu sejak karung kopi dikirim.

“Min … Jimin ….” Suara beberapa orang
menyadarkan Qosim dari lamunannya.

“Ada apa?” tanya Qosim kepada salah satu
karyawannya.

“Jimin enggak ada, Pak,” jawab salah satu dari
mereka.

“Tadi bukannya lagi bersihin sampah?” Qosim
kembali bertanya.

135

Semua karyawan sibuk mencari keberadaan Jimin.
Beberapa menghubungi orang tua, saudara, dan teman
Jimin. Namun, keberadaan pemuda itu masih misterius.

Kafe berjalan seperti biasa. Qosim menggantikan
tugas Jimin sebagai pramusaji. Persediaan kopi pun sudah
bisa diatasi.

“Loh, Min, ngapain kamu duduk di sini?” tanya
Arya.

Jimin tak menjawab. Sekujur tubuhnya bergetar
hebat. Wajah berkulit gelap itu terlihat pucat.

“Tadi pas buang sampah, ada orang tinggi besar.”
Jimin mulai bercerita setelah tubuhnya normal.

Orang besar itu memaksa Jimin untuk ikut ke
kampungnya. Sudah pasti pemuda itu menolak karena
tidak kenal. Namun, orang itu terus memaksa.

“Aku liat Mas Arya bolak balik ke deket tong
sampah. Aku mau teriak minta tolong, tapi orang itu terus
membekap mulutku.”

Qosim percaya bahwa yang diceritakan Jimin
adalah genderuwo. Peringatan Pak Shaiku kembali
melintas di benaknya.

Apa mereka marah? tanya Qosim dalam hati.

Sejak saat itu, banyak kejadian yang tak masuk akal
terjadi. Barang yang hilang ditemukan di plafon. Tak jarang
karyawan melihat sosok menyeramkan di beberapa sudut

136

gelap kafe. Hampir setiap hari ada saja yang kesurupan baik
dari karyawan atau pengunjung.

Malam itu, Qosim berencana untuk mengunjungi
Pak Shaiku. Namun, pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan.
Menjelang dini hari, dia baru bisa meninggalkan kafe.

Baru beberapa langkah meninggalkan kafe, Qosim
mendengar suara gending yang sangat merdu. Tak lama
kemudian, sebuah kereta kencana berlapis emas melintas
dihadapannya. Cahaya bulan menambah kesan mewah.

Di dalamnya, seorang pemuda dengan wajah
penuh wibawa. Dari kostum dan mahkota yang dikenakan,
terlihat jelas bahwa dia adalah raja atau pangeran. Selain itu,
baju para pengawal berkudanya juga tak kalah indah.
Belum lagi aneka warna umbul-umbul yang mengiringi.

Tanpa sadar Qosim mengikuti rombongan
kerajaan itu. Decak kagum tak henti-hentinya dia
gumamkan. Senyuman lebar terkembang dari bibirnya.

Mendekati gapura kampung, ada rombongan
nyaris serupa dari arah utara. Kereta kencana yang mewah
itu berisi perempuan cantik mendekat. Aroma harum
menguar dari bunga-bunga yang bermekaran.

Wah, cantik sekali. Mungkin ini prosesi pernikahan,
batin Qosim.

Seseorang menepuk pundaknya, ketika dia belum
puas mengagumi segala bentuk kemewahan itu. Qosim
enggan mengalihkan pandangannya. Berkali-kali dia
menepis tangan yang menepuknya.

137

“A’udzu billahi minasy syaithonir rojim.”

Kalimat Taawuz terasa nyaring di telinga Qosim.
Pemuda itu langsung menutup telinga. Ternyata Pak
Shaiku yang menepuk pundaknya.

“Eh ada Pak Shaiku juga,” sapa Qosim.

“Mas Qosim ngapain di sini?” tanya sesepuh Lorong
Asem Pelangi itu.

“Lihat pernikahan kerajaan, Pak. Mewah sekali,”
jawab Qosim dengan mata bercahaya dan tersenyum lebar.

Pak Shaiku langsung menutup mata Qosim dan
merapal beberapa ayat suci Al-Qur’an. Setelah
menyelesaikan bacaannya, perlahan tangan lelaki paruh
baya itu melepaskan cegkramannya. Napasnya terengah.

Qosim mengerjap dan memandang ke sekeliling.
Keningnya berkerut. Dia terlihat bingung dan ingin sekali
bertanya. Namun, tenggorokan pemuda itu tercekat dan
hanya mengeluarkan suara aneh.

Pemandangan indah kereta kencana berlapis emas
berubah menjadi dua gubuk reot. Umbul-umbul aneka
warna berganti daun kering yang nyaris gugur dari dahan
pohon. Ilalang setinggi perut menggantikan padang bunga
yang bermekaran.

“Mas Qosim sudah satu minggu menghilang.” Pak
Shaiku menjelaskan setelah pemuda bisa diajak
berkomunikasi.

138

“Satu minggu?” Qosim tak percaya mendengarnya.
Padahal baru beberapa menit dia mengikuti iring-iringan
pengantin kerajaan yang melintas di depan kafenya.

“Untung saya masih bisa ketemu Mas Qosim. Kalau
tidak mungkin Mas Qosim akan bertahan di alam mereka.”

Penjelasan Pak Shaiku sontak membuat buku kuduk
Qosim menegang. Jantungnya berdetak cepat dan keringat
mulai membasahi punggung.

Pengalaman berada di dunia astral membuatnya
merubah kebijakan. Kafe tutup jam delapan tepat dan
karyawan harus pulang paling lambat jam setengah
sembulan.

Sejak perubahan itu, barang-barang tidak lagi
berpindah tempat. Suasana kafe terasa damai. Kasus
kesurupan yang menimpa karyawan atau pengunjung pun
lenyap. [tamat]

139

Tri Setyaningsih

M ungkin kalian tidak asing lagi dengan sebutan Lampor
atau yang kita kenal dengan keranda terbang. Bagi
yang sering nonton bioskop pasti tahu, karena kisahnya
pernah difilmkan. Bedanya dalam cerita film tersebut,
Lampor dijadikan pesugihan.

Kejadian ini kualami sendiri saat masih remaja.
Di kampungku, sebuah desa kecil yang penduduknya
saat itu hanya sekitar lima puluh kepala keluarga. Belum ada
listrik dan masih banyak kebun, tentu sangat mengerikan
jika malam hari. Udara yang begitu dingin, dan kicauan
burung ulik-ulik menambah suasana makin mencekam.
Aku tinggal bersama Bapak, Emak, dan Adik. Saat
Ayah pergi bekerja keluar kota, kami hanya bertiga dan
perempuan semua. Kadang rasa takut dan khawatir
menghampiri bila menjelang malam.

***

140

Cerita tentang Lampor santer terdengar. Menurut
almarhum Kakek, jalanan kecil di depan rumah adalah jalan
utama para lelembut atau setan, yang menghubungkan dua
sungai besar yang terkenal angker. Bahkan bukan cuma
Lampor yang melewati jalan itu ada juga Keblek (sejenis
setan yang menyerupai bebek) dan lain-lain.

Lampor sering disebut keranda terbang, semacam
makhluk astral yang berbentuk keranda melayang.
Kedatangannya diawali dengan sebuah api seperti lilin yang
berjalan paling depan, diikuti keranda terbang dan gentong
berisi air disertai bunyi ‘ngeet ... ngeet ... ngket ...’ seperti
ada gesekan besi.

Bukan sesuatu yang aneh di kampung kami jika ada
Lampor, tapi tetap aja menakutkan. Bila lengah maka
keranda itu akan membawa kita pergi ke alam ghaib.
Kemungkinan tidak akan kembi lagi. Jika bisa kembali,
biasanya dalam keadaaan linglung atau gila.

Saking jahatnya, kadang ada yang dipulangkan di atas
pohon, di sungai, bahkan di tengah ladang. Sudah banyak
pula yang menjadi korban.

***

Pagi itu, saat sedang menyapu halaman, Mbah
Juminah tergopoh-gopoh menghampiri. Wajahnya terlihat
pucat.

“Nok, mau bengi aku weruh Lampor1,” ujar nenek itu,
kemudian bergidik.

“Terus pripun, Mbah?2” tanyaku.

141

Semalam, saat ingin ke kamar mandi, Mbah Juminah
melihat keranda melayang. Tanpa pikir Panjang dia
langsung melemparkan ember dan gayung dan bergegas
masuk ke rumah. Untung saja Lampor tidak melihatnya.

Di kampung kami, kebanyakan posisi kamar mandi
terpisah dengan rumah utama. Letaknya agak sedikit jauh.
Jika ingin buang hajat atau mandi, ember dan gayung tidak
boleh ketinggalan.

Semoga aku tidak bertemu dengan makhluk itu, batinku
sambil menggosok lengan.

Kemunculan Lampor hampir setiap malam, semakin
meresahkan. Menjelang magrib, kampung bak kota mati.
Semua warga berusaha untuk tidak keluar, jika tidak ada
urusan mendadak. Semua mengunci pintu dan jendela
rapat-rapat.

Anak-anak yang biasanya ramai bermain hingga
senja, tak lagi terlihat. Mereka memang lebih rentan diculik
Lampir karena kepolosannya. Para orang tua melarang
keras keluar rumah jika sudah pukul 16.30.

“Bimo … Bimo …!” seru Bu Sri memanggil
anaknya.

Dia menoleh ke segala arah. Berkali-kali menggigit
bibir bawah. Wajahnya terlihat pucat.

“Mbak, lihat Bimo enggak?” tanya Bu Sri.

Aku menggeleng dan ikut merasakan kecemasan.
Pasalnya, azan magrib sudah berkumandang dan Bimo

142


Click to View FlipBook Version