The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by agnestrimaryunani, 2022-02-09 20:11:41

LO Urban Legend

LO Urban Legend

mengembuskan napas. Terlihat jelas sekali dari raut
wajahnya, jika makhluk itu kesal.

“Jangan sentuh bukuku!” Suaranya yang
menggema membuat detak jantung Dian semakin tak
terkontrol.

Gadis itu mundur beberapa langkah. Keringat
dingin pun tak terbendung membasahi punggungnya.
Napas mulai sesak karena menghirup bau busuk yang
menguar dari tubuh makhluk itu.

Sosok astral itu perlahan mengikuti pergerakan
Dian. Tangan berjari panjang dan berkuku hitam,
mengincar lehernya. Entah sudah berapa surat pendek
yang dia lafazkan, tetapi hantu buku itu tidak mau
menghilang.

“STOOOP. HENTIKAN!” teriak Dian sebelum
tangan mengerikan itu menyentuh lehernya.

Sebenarnya rasa takut masih menjalar di sekujur
tubuh Dian. Bulu kuduk tidak melemas. Detak jantung pun
belum normal. Namun, dia harus menyelamatkan lehernya
dari tangan mengerikan itu.

Giliran makhluk itu bergerak mundur, sedikit
menjauh. Mata yang masih utuh terbelalak, tidak lagi
menyorot merah. Mungkin dia terkejut melihat reaksi
Dian.

“Apa maumu?” tanya Dian dengan nada agak
tinggi.

193

Mata dengan lingkaran hitam itu memicing. Jari
telunjuk berkuku panjang dan hitam menggaruk pinggir
kening. Lidah yang terjulur panjang perlahan mulai
memendek.

Setelah beberapa saat wajah hantu itu lebih enak
dilihat. Meskipun masih membuat bulu kuduk Dian
berdiri. Mata yang nyaris terlepas sudah kembali ke
kelopaknya dan lingkaran hitam pun mulai menipis.

“Sebenarnya ada sesuatu di dalam buku ini ….”
Makhluk tak kasat mata itu memulai komunikasi. Hawa
dingin semakin menusuk hingga lapisan kulit terdalam.

Hantu itu adalah Pak Wijaya, salah satu milyarder
Indonesia. Di dalam buku itu ada cek senilai satu milyar
yang akan diserahkan untuk anak angkatnya. Belum sempat
bertemu dengan anaknya, beliau meninggal dunia. Buku itu
disumbangkan oleh keluarga besar ke perpustakaan
kampus. Agar cek itu tidak jatuh ke tangan siap pun, Pak
Wijaya menjaga buku itu.

“Saya mau minta tolong Mbak Dian, untuk
menyerahkannya kepada anak angkat saya,” pinta arwah
Pak Wijaya.

Dengan tangan gemetar, Dian mengambil buku
hantu dan mengamankan cek yang dimaksud Pak Wijaya.
Detak jantungnya pun perlahan mulai normal. Namun, dia
masih merasakan embusan udara dingin.

Keesokan harinya, saat jam istirahat Dian menuju
rumah anak angkat Pak Wijaya. Bangunan sederhana

194

terlihat asri dengan aneka tanaman di halamannya. Suasana
haru langusng menyelimuti ruang tamu, begitu Dian
menyerahkan amanat dari Pak Wijaya.

“Terima kasih, Mbak Dian,” ujar anak angkat Pak
Wijaya. “Begitu Bapak meninggal saya langsung diusir dari
rumah, karena hanya anak angkat.”

“Enggak nyangka, ternyata Bapak sangat
memprhatikan saya,” lanjutnya.

Sejak saat itu, tidak ada lagi buku hantu di
perpustakaan. Namun, suara-suara misterius masih sering
terdengar saat Dian pulang terlambat. Tak jarang pula
kelebat bayangan makhluk astral tertangkap oleh sudut
mata gadis itu. Mungkin mereka ingin meminta
bantuannya, seperti yang dilakukan hantu Pak Wijaya.

Pura-pura enggak denger dan enggak liat, batinnya
ketika para makhluk itu mulai muncul.

Baginya, cukup Pak Wijaya saja yang menghantui.
Itu adalah pengalaman pertama dan terakhir. [tamat]

Jangan takut sama begitu. Kalau kamu takut dia jadi tambah seneng.

195

Agnes Tri Maryunani

D i dunia, manusia tidak hidup sendiri. Ada makhluk
lain yang juga berhak untuk tinggal di bumi. Hewan,
tumbuhan, dan tentu saja makhluk yang tak kasat mata.
Sudah sepantasnya semua makhluk Tuhan harus saling
menghormati.

Kejadian saat liburan beberapa waktu lalu,
mungkin tdak akan pernah hilang dan akan selalu menjadi
pelajaran dalam hidup, Aku nyaris kehilangan Adi—anak
bungsuku.

Berawal ketika kami sekeluarga mengunjungi
Bapak di Klaten. Hampir setiap liburan, pulang kampung
sudah menjadi agenda wajib. Terlebih Aron dan Adi sangat
senang ketika berada di kota kelahiranku.

“Ma, kami mandi di Umbul Geneng, ya,” ujar Adi
tak lama setelah bangun tidur.

Umbul adalah tempat pemandian yang airnya
bersumber langsung dari mata air. Di Klaten banyak sekali,
sehingga dikenal dengan kota 1001 Umbul.

196

Umbul Geneng adalah yang terdekat dengan
rumah Bapak. Airnya sangat jernih dan segar. Suasana
sekitar yang masih asri menjadi daya tarik tersediri. Tak
heran umat Hindu dan Buddha sering menggelar upacara
keagamaan di tempat itu.

Dulu saat masih SMP, hampir setiap minggu atau
libur sekolah aku dan teman-teman sering bermain di sana.
Banyak cerita yang beredar bahwa tempat itu terkenal
angker, karena sering ada orang yang bersemedi dan
berendam dengan tujuan membuang ilmu atau guna-guna.
Namun, kami tidak takut. Bahkan kemahiranku berenang
berasal dari sana. Asalkan kita bertingkah laku sopan dan
tidak berbuat onar, pasti aman.

“Yan, anak-anak dan suamimu ke mana?” tanya
Bapak.

“Ke Umbul Geneng, Pak,” jawabku sambil
menyiapkan makan siang.

“Jam segini kok belum pulang?” Sekilas aku
melihat kekhawatiran di wajah yang nyaris keriput itu.

Jika bermain di kolam renang, Adi dan Aron
memang tak pernah mengenal waktu dan tak pernah
bosan. Mereka bisa satu hari di tempat itu. Hatiku tetap
tenang, karena ada ayahya yang menemani. Menu makan
siang pun hanya aku dan Bapak yang menikmati.

Kecemasan melanda. Matahari hampir tergelincir,
tetapi anak-anak dan Mas Danu belum juga kembali. Dulu
Bapak sering berpesan untuk segera beranjak dari Umbul

197

Geneng, saat sore. Kata beliau tidak baik berkeliaran di
sekitar situ, apalagi untuk anak gadis.

“Anak-anak sama Danu kok belum pulang, Yan?”
tanya Bapak.

Wajahnya terlihat pucat. Bibir mengatup rapat.
Berkali-kali beliau keluar masuk rumah.

Tiba-tiba gawai di tanganku berdering. Tulisan
Papa terpampang di layarnya.

“Ma, kami ada di rumah sakit,” ujar Mas Danu.
“Tadi adi terpeleset dan sedikit luka. Ga usah khawatir,
sudah ditangani dokter dan kami sudah mau pulang.”

Aku terkulai lemas di kursi. Ingin rasanya menyusul
ke rumah sakit, tapi apa daya tidak ada kendaraan yang bisa
membawaku ke sana.

“Gimana, Yan? Sudah ada kabar dari suami dan
anak-anakmu?” tanya Bapak.

“Mereka di rumah sakit dan sudah dalam
perjalanan pulang, Pak,” jawabku lirih.

Bapak hanya menghela napas. Wajahnya terlihat
menegang, seolah sedang memikirkan sesuatu. Aku
semakin cemas melihat reaksi beliau.

Dulu saat masih remaja, Bapak pernah memasang
wajah seperti itu. Ternyata, Mas Yanto—kakakku—
membawa pulang makhluk astral dari Umul Geneng.
Semoga Mas Danu dan anak-anak tidak mengalami hal
serupa.

198

“Yan, minum ini.” Bapak menyodorkan segelas air
mineral yang sejak tadi dibawanya keluar masuk rumah.

Tanpa bertanya panjang lebar, aku menurut.

Indera keenam Bapak aktif. Beliau bisa melihat
bahkan berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata.
Ada ritual khusus yang dijalani. Senin dan Kamis selalu
puasa, Tiap bulan tertentu puasa mutih, hanya makan nasi
putih dan minum air mineral saja, selama beberapa hari.
Tak jarang pula Bapak berdiam diri di teras hingga pagi
menjelang.

Cahaya lampu mobil menyorot ke dalam rumah.
Aku mengintip melalui jendela. Benar, itu Mas danu dan
anak-anak. Tanpa pikir panjang, aku berlari menyambut
mereka.

Setelah memarkirkan mobil, Mas Danu
membopong Adi yang terlihat masih kesakitan. Kaki Si
Sulung, dibalut perban elastis. Untungnya, tidak perlu
digips. Namun, tetap saja sebagai seorang ibu ada rasa
cemas yang menekan di dada.

“Yanti, berhenti!” seru Bapak saat aku akan
mendekati Mas Danu dan anak-anak.

“Danu, dudukkan Adi di teras.” ujar Bapak. Aku
dan Mas Danu saling pandang.

“Ayo cepat!” Wajah Bapak menegang.

Mas Danu menuruti perintah Bapak dengan kening
berkerut. Dari raut mukanya, aku yakin ada banyak

199

pertanyaan yang akan diajukan. Namun, aku memberinya
isyarat untuk tetap diam.

“Bawa Aron masuk dan mandikan dia dengan air
yang sudah Bapak siapkan di kamar mandi,” perintah lelaki
bertubuh kekar itu.

“Ada apa sih, Pak?” Aku tak bisa menahan rasa
ingin tahu.

Sejak mobil memasuki halaman tingkah Bapak
semakin aneh. Aku yakin ada yang disembunyikan.

Tiba-tiba Bapak menutup mataku dengan kedua
tangannya. Samar-samar terdengar beliau menggumamkan
kalimat asing, seperti sedang merapal mantra. Sesaat
kemudian, aku diperintahkan untuk membuka mata dan
melihat ke arah Adi.

Aku langsung tersentak begitu melihat sosok di
dekat Adi. Makhluk itu berambut ular. Cahaya merah
keluar dari matanya. Ujung lidah terbelah persis seperti
lidah ular dan mengeluarkan suara mendesis. Hal lain yang
membuatku bergidik adalah tubuh bagian bawah makhluk
itu melilit pinggang Adi hingga menutupi kakinya.

“A … a … apa it ….” Bapak memberi isyarat untuk
tetap diam sebelum aku menyelesaikan kata-kata.

Sebenarnya aku tak mau melihat ke arah makhluk
yang mengerikan itu, tetapi Adi berada dalam
cengkaramannya. Mau tak mau mata terfokus pada sosok
itu, memastikan agar anakku baik-baik saja.

200

“Lepaskan cucuku!” perintah Bapak.

“Kenapa aku harus melepaskannya?” tanya sosok
setengah ular itu dengan suara yang mengerikan. “Dia
sendiri yang ingin ikut denganku.”

Aku terkejut mendengar pernyataannya. Jantung
berdetak tak berirama. Dada terasa sesak. Mana mungkin
Adi mau ikut dengan makhluk yang menakutkan seperti
itu. Berpisah sebentar saja dengan salah satu dari kami—
mama dan papanya—sebentar saja sudah bingung dan tak
jarang pula menangis.

“Lagi pula aku menyukai anak ini. Dia akan
kujadikan salah satu pengawal terbaik di kerajaan.”
Makhluk itu tertawa sekaligus mendesis.

Bulu di tengkuk menegang. Embusan udara terasa
lebih dingin dari sebelumnya. Namun, keringat membasahi
seluruh tubuh. Tak bisa kubayangkan jika semua yang
dikatakan manusia setengah ular itu benar.

Adi mengerang. Wajahnya meringis seolah
merasakan kesakitan yang amat sangat. Di saat yang sama,
aku melihat tubuh bagian bawah makhluk itu bergerak
merapatkan lilitan ke kaki Adi.

Tak lama kemudian cahaya menyilaukan
menghantam makhluk itu. Lilitan ekornya di kaki Adi
terlepas. Tanpa pikir panjang aku segera menarik anak itu
menjauh dari penyanderanya.

Blaaar ….

201

“Uugghh ….”

Bapak terhuyung ke belakang bersamaan dengan
suara menggelegar. Tangannya memegang dada. Tak ada
yang bisa kuperbuat. Adi harus tetap berada dalam pelukan
agar tidak diambil oleh makhluk itu.

Suara-suara yang dihasilkan Bapak dan makhluk itu
sangat keras, hingga memekakkan telinga. Namun, Mas
Danu, Aron, bahkan Adi seolah tidak mendengarnya.
Suami dan anak bungsuku sama sekali tidak muncul ke
ruang tamu. Sedangkan Adi yang sejak tadi bersamaku,
masih merintih kesakitan.

Adu kekuatan antara Bapak daan makhluk
supranatural itu masih berlangsung cukup sengit.
Akhirnya, Bapak berhasil mengalahkan manusia setengah
ular.

“Awas jika kau mengganggu anak, cucu dan
keturunanku. Pergi sana!” seru Bapak.

Makhluk itu menghilang di balik kepulan asap tebal.
Jantungku masih belum berdetak normal. Namun, lega
rasanya melihat bahaya sudah pergi.

“Kamu seka anakmu dengan air garam. Semoga
tidak ada gangguan lain,” kata Bapak. “Besok setelah
Subuh kita bereskan semuanya.”

Aku mengangguk tanpa berkomentar. Terlihat jelas
di wajahnya, Bapak lelah dan kesakitan setelah bertempur
dengan makhluk gaib itu.

202

***

“Jadi, apa yang terjadi Umul Geneng kemarin?”
tanya Bapak kepada Adi.

Adi menceritakan semua yang terjadi. Dia hanya
menunjukkan pada adiknya jika bisa berenang lebih lama.
Selain itu, anak itu juga memetik beberapa bunga yang akan
diserahkan padaku. Ternyata, bunga itu milik makhluk
penunggu Umbul Geneng. Tak lama kemudian Adi
terpelset dan nyaris tenggelam. Untung Mas Danu selalu
mengawasi dan sigap. Jika terlambat sedikit saja, mungkin
Adi akan menjadi pengawal makhluk itu.

“Lain kali, di mana pun kamu berada, jika memetik
atau mengambil sesuatu dari tempat umum, minta izin
dulu,” kata Bapak.

“Iya, Kek. Maaf. Adi janji akan selalu ingat pesan
Kakek.”

Kami semua menghela napas lega dan menikmati
sarapan.

“Yanti, gimana?” tanya Bapak, saat aku
membereskan bekas sarapan.

“Gimana apanya?” Aku balik bertanya.

“Pengelihatanmu. Apa kamu masih mau bisa
melihat hal gaib?”

“Enggak deh, Pak. Rasanya Yanti ga kuat. Yanti
pengen jadi guru, istri, sekaligus ibu yang baik.”

203

Bapak tersenyum dan memintaku untuk duduk.
Selanjutnya, tangan kekar beliau menutup mataku dan
merapal mantra.

“Semoga niat dan keinginanmu tercapai,” kata
Bapak.

Semoga, Pak. Restu orang tua adalah yang paling
penting. Aku yakin Tuhan akan mengabulkannya. [tamat]

204

Profil Penulis

Penulis ini bernama asli Rr.
Poetri Kartika Kusumah
Wardhani, lahir di kota Cirebon
30 tahun lalu. Menulis adalah
hobinya dari sejak SD, namun
untuk menggeluti dunia literasi
ini dimulai pada tahun 2017.
Hingga kini sudah ada kurang
lebih 6 judul antologi yang sudah cetak dan 4 antologi lagi
yang sedang diproses. Karya-karya ini kupersembahkan
untuk anak-anakku, Kakak Annisa Dewi Kinasih dan Mas
Banyu Aji Setiawan. Tak lupa juga belahan jiwaku tercinta
Pak Kismamo, my husband.

---

Wardhaniasih, akrab dipanggil Dhani atau Bu Nik, lahir
di Wonogiri pada tanggal 1 Februari 1978 mempunyai
suami Jarmuji, S.Pt. M.Si dan dua anak lelaki (Adham Aji
Nugrahaningtyas dan Arjuna Aji Dwinugraha).

Hobi menulis fiksi mulai SMP. Penulis menuliskan
semua keluh kesah di buku harian dan cerpen-cerpen
hanya berserakan tidak terdokumentasi.

Harapan saya cerpen ini menjadi penyemangat
dalam berkarya. Salam literasi.

---

205

Shanti Izzaku, seorang guru matematika yang mencintai
literasi sejak Mei 2019. Menulis untuk meninggalkan
kenangan semangat belajar untuk tiga anak, Izzaku Team.
Lahir dan tinggal di Salatiga, aktif menulis di FB Shanti
Izzaku.

---
Nizma Tyara, ibu rumah tangga yang punya hobby corat
coret di notes gadgetnya, Mamak Gahoel yang menolak
tua. Penulis dari cerita : Cerbung - Lonceng Hidup, Jangan
Tanya Ikhlasku, Ketika Kecoak Menabuh Genderang
Perang, Namaku Di Cemburui Istri Driver Grab, Cerbung
- Jodoh Dari Group Facebook, Creepy Pasta - Cinta Mati,
Horor Fiksi - Klepon Berdarah

---
Riyska Intan Permatasari, atau biasa dikenal dengan
nama pena Hana Rizuka, lahir pada 4 Februari 1993 di
Madiun. Namun, wanita melepaskan masa lajangnya pada
Desember 2019 lalu ini, berdomisili di Ponorogo. Ia
memiliki 5 novel karyanya dengan genre horor misteri.
Selain menulis, ia juga suka membaca.

---

206

Lahir dengan nama lengkap
Brytje Kapa’ Geradus, di
Makassar, 13 Agustus 1969.
Tinggal di Polewali, Sulawesi
Barat. Mengab-di pada SMP
Kartika Wirabuanan XX-5
Polewali. Istri dari seorang
suami dan empat orang anak.
Menyukai olahraga, ingin
meninggalkan jejak dan
mengisi waktu kosong
dengan menulis sambil mengurus anak.

---

Chusnul Chatimah Asmad, biasa disapa Chacha. Penulis
kelahiran Jeneponto, salah satu kabupaten di Sulawesi
Selatan. Sejak tahun 2016 hingga sekarang, penulis bekerja
sebagai staf perpustakaan UIN Alauddin Makassar. Saat
ini, penulis aktif sebagai administrator pada unit digital
literacy, repositori, jurnal, dan deteksi plagiat. Kedepannya,
penulis ingin fokus melebarkan sayap di dunia
writerpreneurship

---

Endang Fatmawati adalah seorang Ibu yang baru belajar
menulis karya fiksi. Bagi saya belajar tidak mengenal kata
terlambat, sehingga upaya menulis cerita ini menjadi cara
untuk memulai belajar menulis cerita fiksi. Kontak
silaturahmi bisa melalui [email protected].

207

---

Purwati Idamaningsih atau yang
lebih sering disapa Bu Ida oleh
para siswanya, adalah seorang
pengajar di MA Masyithoh
Gamping dan Di MA
Muhammadiyah 1 Yogyakarta.
Pengampu mata pelajaran Bahasa
Indonesia.

Dunia literasi sudah digeluti sejak masa kuliah di
Universitas Tidar Magelang sampai sekarang ini, Beberapa
tulisannya berupa cerpen, opini, SST, serta Citizen Jurnalis
pernah dimuat di berbagai media seperti Kedaulatan
Rakyat, Bernas, Harian Yogya, Tribun, Majalah Candra,
majalah Dinas Pendidikan dan Pemuda DIY.

Tulisannya juga ada yang sudah dibukukan dalam bentuk
antologi salah satu tulisannya ada didalam buku yang
berjudul Mozaik Pendidikan kumpulan tulisan penulis
Sahabat Candra, Maaf Aku Bukan Super Mom, Buku Haru
Biru dari Kementerian Agama serta membuat modul
Bedah Soal UN dan Modul Pelajaran Bahasa Indonesia
SMA, ditambah buku Antologi yang berjudul Di Balik
Sosok Kartini Kementerian Agama DIY, The Dear
Teacher, Antologi Badai Corona, Merajut Aksara dan ada
beberapa buku yang masih menunggu penerbitannya.
Untuk mengenal lebih jauh dengan penulis bisa mengakses
medsosnya melalui FB Purwatiidamaningsih, IG

208

Pur_idaman, WA 081391428705. Email:

[email protected]

---

Romi Windartono adalah
karyawan PT.Bank BNI (Persero)
Tbk. Kantor Wilayah Papua.
Pegiat Pesepeda di Jayapura
Cycling Club dan 46 Cycling
Club. Tulisannya: Antologi Badai
Corona berjudul “Nanti Kita
Pamer Tentang Hari Ini”
Barengan bikin buku Lagu-lagu
Didi Kempot berjudul “Kopi Lampung” dan “Tanpo
Sliramu” Medsos Instagram romi_windartono; Whatapp
0821-4234-1146; email [email protected]

---

Muslimah, lahir dan besar di Jogjakarta. Suka traveling,
makan dan rebahan. Seorang introvert, yang suka menulis
untuk mengeluarkan rasa yang tidak bisa dikeluarkan
secara lisan. Ini adalah kali keempat menulis cerita horor.
Setelah antologi Prone to Death dan Tamu Tak Di
Undang. Satu lagi masih dalam kurasi PJ. Penulis memiliki
akun FB dan Ig Yusniwan malay. Bergabung di KPK sejak
Maret 2019

209

Imas Nurhayati, lahir dikota
Bandung, 18 Maret 1983, dari
pasangan Ely Sukaesih dan Yaya
Sutarna. Selain menjadi penulis,
anak ketiga dari empat bersaudara
ini juga berprofesi sebagai
Ka.LAB di sebuah perusahaan
swasta di kawasan delta silicon.

Semoga tulisan cerpen ini
bisa menambah kewaspadaan
ataupun wawasan tentang segala
issue yang berkembang di suatu daerah. Ambil hal yang
positifnya, buang hal yang negatifnya. Penulis masih terus
belajar dan belajar menorehkan karya yang dapat dinikmati
dan dinanti para pembaca.

---

Sedayu Peni A (Dha Yu) Seorang ibu muda berasal dari
Purbalingga, Jawa Tengah. Lahir di bulan Agustus, 29
tahun lalu. Tidak pernah menyangka akan menggeluti
dunia kepenulisan. Takut gelap dan ketinggian.

---

Perkenalkan namaku Derin Septiani, berasal dari Kota
Kembang. Selain berbisnis hobiku yaitu menulis, karena
menulis bagiku adalah salah satu cara berteriak dalam
diam. Menulis adalah caraku menjejak lewat sajak, caraku
mempererat silaturahmi lewat diksi. Juga, menulis adalah

210

caraku menghentikan tangis. Mari berkarya, selama kita
masih berpijak dalam semesta. Fb Derin_Sipencoret

---

NL Handayani lahir di Semarang, 1 Mei 1989.
Aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga dan seorang guru.
Kembali aktif di dunia literasi setelah bergabung dalam
Kelas Pena Kreatif. Tulisannya ada dalam buku antalogi
Jalan Cinta. Kini sedang menyelesaikan empat naskah
antalogi lainnya. Baginya menulis adalah wadah untuk
menuangkan segala isi hati.

---

HARIYAH, ibu rumah tangga
yang satu ini lahir di sebuah desa
kecil di Sukoharjo 43 tahun lalu.
Kesukaannya menulis walaupun
masih amatiran sudah dimulai
sejak kuliah dan semakin di asah
hingga kini. Ia senang mengikuti
klub menulis buku bareng.
Beberapa buku antologi sudah

dihasilkannya kini.

Ia adalah seorang pustakawan di sebuah instansi
pemerintah. Selain sebagai pengurus forum perpustakaan,
ia sering mengikuti seminar, workshop dan training
kepustakawanan. Silakan bersilaturahim dengannya di
[email protected]

211

Penulis yang memiliki nama kecil Iffada_Ally ini, lahir 22
Agustus tiga puluh tahun yang lalu, memiliki hobi
membaca novel, dan penyuka kopi, serta seblak. Beberapa
bulan ini sedang aktif mengikuti kelas menulis, dan telah
menerbitkan beberapa Antologi baik cerpen, puisi, Quote,
maupun motivasi menulis.

Penulis bisa di hubungi di
FB : Iffada_Ally
WA : 085330009345

---

Tri Setyaningsih, seorang ibu
rumah tangga, hobby baca, corat
coret, memasak, dan nakutin
kamu dengan yang serem- serem.
Kamu ... Iya kamu!

---

212

Ani_ibon

Nama: Lisana Fajarwati
Lahir: Cilacap, Jawa Tengah
Hobby: Menulis, Membaca dan
Jalan-jalan. Fb: Lisana Fajarwati
E-mail: [email protected]
Buku: Antologi The Writers Goes
Story, Antologi Jejak Langkah
Kedua, Antologi Di Balik Profesi

---

Sri Rahayu, S.Pd. kelahiran
Balikapan, 10 Februari 1987
merupakan salah seorang guru di
SMAN yang ada di pesisir selatan
Kabupaten Paser, Kalimantan
Timur. Saat ini ia mengajar Bahasa
Indonesia. Ibu guru penyuka biru
ini telah menikah dan dikaruniai
dua orang putra yang saleh-saleh, InsyaAllah. Hobi ibu
dua anak ini tidak jauh dari mata pelajaran yang
diampunya. Ia suka membaca, menonton film, dan
menulis. Salah satu karyanya pernah nimbrung di antologi
berjudul Jejak Pena Sahabat pada tahun 2018. Mau kenal

213

lebih jauh dengan ibu satu ini boleh pantengi
facebooknya “Sri Rahayu” atau untuk interaktif boleh
sapa di +6282251123434

---

Nana Modest, adalah nama
penaku. Aku lahir di Desa
Kopeng-Salatiga, tapi sejak tahun
2015 aku pindah dan menetap di
Semarang, Jawa Tengah.
Pendidikan yang kudapatkan di
SMK PIUS X Magelang, telah
menjadikanku sebagai owner
sebuah butik jahit di Semarang. Status menikah dikaruniai
5 Putri dan 1 Putra. Menjadi penulis adalah salah satu
impianku sejak bangku SD. Tapi hanya tertoreh dalam
lembaran kertas bergaris saja. Hingga aku bisa menerbitkan
buku antologi pertama melalui sebuah komunitas menulis
yaitu KPK.

---

Daloha Dara adalah nama pena dari Lami Pinang. Setelah
berhenti bekerja ia menekuni hobi menulis di sela-sela
waktunya menjalankan usaha kecilnya Daloha Food.
Bergabung di komunitas Pena Kreatif ia seolah
menemukan wadah untuk belajar dan menyalurkan
hobinya. Dua buku antologi bersama sahabat KPK yang
sudah terbit "Romansa di Ujung Pena' serta 'Jarak dan
Rindu' menjadi langkah awal torehan penanya. Beberapa

214

naskah antologi lainnya yang tengah ditulis juga dalam
proses editing oleh editor. Semoga tulisannya dapat
memberi inspirasi bagi para pembaca.

---

Endang Fatmawati adalah seorang Ibu yang baru belajar
menulis karya fiksi. Bagi saya belajar tidak mengenal kata
terlambat, sehingga upaya menulis cerita ini menjadi cara
untuk memulai belajar menulis cerita fiksi. Kontak
silaturahmi bisa melalui [email protected].

---

Agnes Tri Maryunani lahir di

Klaten, Jawa Tengah 29 Juli 1974,

bekerja sebagai tenaga

perpustakaan di salah satu sekolah

swasta di Sukabumi. Ia aktif

menulis berita kegiatan sekolah

untuk media online maupun cetak

lokal. Menulis buku adalah

keinginannya yang belum terwujud.

Melalui berbagai kegiatan menulis, ia coba
mewujudkannya.

215


Click to View FlipBook Version