belum pulang. Tak lama lagi kemungkinan Lampor akan
muncul.
Semua warga sibuk mencari keberadaan anak itu.
Namun, hingga malam, Bimo tak kunjung ditemukan.
Tentu saja sebagai ibu,Bu Sri hanya bisa menangis.
Hari keempat hilangnya Bimo, salah satu warga
melihatnya di atas pohon besar dekat pematang sawah
menuju hutan. Wajahnya pucat dan terlihat ketakutan. Dia
sama sekali tak bisa berbicara hingga beberapa hari.
Setelah kondisinya normal, Bimo berkisah bahwa dia
dibawa oleh Lampor, si keranda melayang. Kala itu dia
sedang bermain petak umpet bersama teman-temannya.
Aku semakin penasaran dengan Lampor, walaupun
bulu langsung menegang saat membayangkan. Berbagai
tanya muncul di benak. Seperti apa penampakan makhluk
astral yang semakin meresahkan itu? Bagaimana caranya dia
menculik dan mengembalikan orang? Apa yang sudah
dilakukan terhadap korbannya hingga kembali dalam
keadaan linglung?
***
“Nok, garam di dapur habis, mau nyuruh kamu beli
di warungnya Mbok Sari,” ujar Emak. “Tapi Emak
khawatir.”
Kala itu memang sudah sore, tetapi magrib masih
setengah jam. Jarak warung Mbok Sari agak jauh. Mungkin
aku bisa sampai rumah saat kumandang azan.
143
“Ndak apa-apa, Mak. Lagian ini langit belum
gelap.” Aku menawarkan diri.
Wajah Emak terlihat bingung. Bibirnya bergerak ke
segala arah. Kerutan di kening semakin jelas.
Aku tersenyum dan merebut uang di tangan Emak.
Sekilas ada senyuman getir di wajahnya. Maklum, teror
Lampor belum mereda, justru semakin meresahkan.
Sepanjang jalan menuju warung Mbok Sri, lantunan
salawat tidak pernah lepas dari bibir. Pesan Bapak selalu
terpatri di hati dan pikiran.
“Ojo wedi karo Lampor, Nduk. Nek koe wedi, de è soyo
seneng.3” kata Bapak begitu mendengar Lampor muncul di
kampung. “Akehi lek mu ndungo. Engko yo lungo dewe
Lamporè.4”
Warung Mbok Sri sedikit berbeda dar hari biasa.
Kala itu pengunjung sangat ramai. Mungkin orang-orang
takut untuk keluar malam. Jadi semua kebutuhan rumah
mereka penuhi sebelum langit gelap.
Sesuai antrian, aku dilayani paling akhir, sebelum
warung tutup. Perkiraan sampai rumah sebelum azan pun
meleset. Saat panggilan Allah untuk salat berkumandang,
aku masih setengah perjalanan menuju rumah.
Tiba-tiba bulu kuduk meremang saat aku berusaha
mempercepat langkah. Sudut mata melihat bola api
melayang di kebun sebelah kiri. Kaki mendadak kaku,
tubuh pun tak bisa bergerak.
144
Bola api itu bergerak perlahan ke arahku dan
berhenti beberapa meter di hadapan. Mata terus melihat
pergerakan benda itu, seolah ada yang menahan untuk
tidak terpejam. Detak jantung lebih cepat, membuat
keringat bercucuran.
Ngkeeet … ngkeeet … ngkeeet …
Suara khas yang diceritakan orang jika Lampor
mendekat, mulai terdengar. Aroma asing menusuk indera
penciuman. Embusan udara dingin menusuk hingga ke
lapisan kulit terdalam. Bulu-bulu halus menegang.
Benar saja, tak lama kemudian keranda melayang
tak jauh dari tempatku berdiri. Lafalan ayat-ayat suci Al-
Qur’an terhenti begitu benda itu perlahan mendekat.
Namun, dengan sekuat tenaga aku membuka bibir yang
terkunci. Entah berapa ayat yang bisa kuteriakan.
Keranda yang tadinya melayang tenang, bergerak.
Seolah ada yang membebaskan kerongkongan yang
sebelumnya tercekat, aku langsung mengeraskan bacaan
firman Allah. Pergerakan benda mistis itu semakin kencang
dan tidak beraturan.
Aku merasakan tubuh tak lagi terkunci. Kaki mulai
bisa melangkah. Sambil terus membaca surat-surat Al-
Qur’an, aku berlari sekencang-kencangnya tanpa menoleh
ke belakang.
Braaak!
Aku membuka pintu dan langsung menutupnya.
Napas terengah. Tubuh melorot, seolah kehilangan daya.
145
“Kenapa, Nduk?” tanya Emak dengan mata
menyipit saat melihatku. “Jangan-jangan ….”
“I-iya … Mak … Rat … na … di … ke …jar …
Lampor.” Aku menjawab sambil menata napas.
Mata Emak terbelalak dan langsung menghampiri
dan memelukku.
“Kamu gak apa-apa?” Aku menggeleng. Napas
perlahan mulai normal.
Kami mengintip, memastikan jika benda itu tidak
mengikutiku. Alhamdulillah, halaman depan kosong. Tidak
terlihat tanda-tanda keberadaan Lampor.
“Alhamdulillah, Nduk.” Emak pun mendesah lega.
“Garamnya?” tanya Emak.
“Jatuh, Mak,” jawabku lirih. Aku merasa bersalah
tidak bisa memenuhi perintah Emak.
“Yo wes ra po po. Seng penting kamu selamat,”
ujar Emak.
Gara-gara makhluk terkutuk itu, makan malam
kami terasa hambar. Biarlah, yang penting aku bisa
melarikan diri dari Lampor.
***
Seminggu berlalu. Sore itu Bapak pulang dari luar
kota. Kami menyambutnya dengan rasa bahagia. Aku
sudah tidak sabar ingin menceritakan tentang Lampor itu
kepada beliau.
146
Setelah selesai makan malam, saat kami sedang
berkumpul di ruang tengah, aku sengaja mengambil duduk
di samping Bapak dan mulai bercerita.
“Lho, terus koe ora popo5?”(Lho, terus kamu tidak apa-
apa?). Bapak menoleh ke arahku dengan mata sedikit
melebar
“Ratna ora po po, Pak. Langsung moco-moco surat pendek.
Sik wis tau Bapak ajarin.6” Ibu yang menjawab pertanyaan
itu.
Bapak tersenyum mengangguk. Mungkin ada rasa
bangga dalam hati, karena putri tercintanya mengamalkan
apa yang sudah ia ajarkan.
***
Sekarang, seiring perkembangan zaman. Juga karena
sudah adanya pengerangan listrik di kampungku. Sedikit
demi sedikit kabar tentang Lampor pun mulai menghilang.
Entah mereka pergi atau kami yang tak menghiraukannya
lagi. Namun, pengalaman pernah dikejar Lampor, terus
membekas dalam ingatanku. [tamat]
1. Nok tadi malam aku melihat Lampor
2. Terus gimana, Mbah?
3. Jangan takut sama Lampor. Kalau kamu takut, dia senang
4. Banyakin berdoa, nanti Lampornya pergi sendiri
5. Lho, terus kamu tidak apa-apa?
6. Ratna tidak apa-apa, Pak. Langsung membaca surat-surat pendek. Sesuai
ajaran Bapak.
147
Ani_ibon
T iba saatnya yang ditunggu-tunggu, pertemuanku
dengan Mas Adit setelah hampir enam bulan tidak
bertemu. Ya, setelah dia dipindah tugaskan ke daerah
terpencil, lebih tepatnya di pulau kecil di daerah Sumatra.
Saat surat tugasnya terbit, aku tengah hamil delapan bulan
dan tidak bisa diajak kompromi.
Aku turun dari pesawat sambil menutup Diaz di
gendongan dengan selimut kecil untuk melindunginya dari
panas matahari dan bergegas menuju gedung bandara. Mas
Adit sudah siap dengan trolley di pengambilan barang.
Dengan senyum lebar lelaki itu memberi kode isyarat
agar aku duduk istirahat menunggunya mengambil barang.
Setelah lengkap, Mas Adit menghampiri dan memeluk
sambil berbisik, “Capek, Bun?”
Aku menggeleng pelan sambil tersenyum. Kemudian
Mas Adit mencium Diaz yang ada digendongan.
“Hai jagoan Ayah, tadi nakal nggak di jalan?” tanya
Mas Adit.
148
Diaz yang berumur empat bulan itu menjawab
dengan senyuman dan celoteh ala bayi, seolah tahu apa
yang dimaksud ayahnya.
Mobil melaju santai. Kami mengobrol santai,
melepas kerinduan sambil menikmati pemandangan.
“Bun, diam dulu ya ….” Mas Adit tiba-tiba
menghentikan celotehanku tentang anaknya.
Aku mengedarkan pandangan. Keadaan tampak
biasa saja, sepi dan tidak ada orang yang melintas. Di
kanan-kiri jalan hanya perbukitan dengan hutan liar yang
rimbun dan dua tikungan tajam. Ada rumah kecil dari kayu
di atas bukit tanpa penghuni.
“Kenapa, Yah? tanyaku “Kan nggak …. ”
Mas Adit langsung menutup mulutku sambil
memberikan kode untuk diam.
“Bun, maaf ya kalau bikin kaget. Mungkin nggak
masuk akal tapi nurut saja ya,” kata Mas Adit setelah
melewati jalan itu.
Lelaki itu bercerita, kalau di daerah itu dikenal
dengan nama Genting Apit dan terkenal angker. Banyak
laporan orang yang diganggu oleh makhluk tak kasat mata,
hingga kecelakaan di sana.
“Ayah … Ayah, masih juga percaya begituan sih.
Orang tu sekarang mikir gimana caranya tinggal di Planet
Mars, bukan takhayul begituan,” ujarku menanggapi cerita
Mas Adit yang di luar nalar.
149
“Bun, tolong kali ini nurut ya.” Wajah Mas Adit
terlihat serius. Aku mengangguk dan mengalihkan
perhatian dengan ngobrol sama Diaz.
Rumah dinas Kapolres di wilayah Belitung Timur
terletak di perbukitan. Bangunannya cukup besar dengan
halaman luas dan jauh dari tetangga. Ada dua pos penjaga
yang selalu terisi di samping gerbangnya yang kokoh.
***
Hari pertama di kota baru, kegiatan sebagai Ibu
Bhayangkari sudah sangat padat. Aku harus menghadiri
acara giat panen raya di Desa Simpang Tiga.
“Tempatnya dekat jalan Genting Apit yang kita
lewati kemaring, Bun.” Mas Adit menerangkan detail
lokasinya.
Seilas aku melihat alis Mas Adit mengkerut dan
sedikit naik. Bibirnya terkatup rapat.
“Buk, ati-ati ye… mun lewat Genting Apit, usa becakap
dulu. Ikam kan orang baru di sinek, mungkin ndak tau,1” celetuk
Mak Jannah, wanita paruh baya yang akan menjaga Diaz
selama aku pergi.
Benar kata Mas Adit, kalau orang sini masih percaya
dengan begituan, batinku.
Mobil jemputan sudah menunggu, jadi aku tak
sempat mencari tahu tentang cerita Genting Apit pada Mak
Jannah.
150
Selama perjalanan ke simpang tiga, kami saling
memperkenalkan diri dan bercerita tentang keadaan
Bhayangkari di sini.
“Ibu, nanti kalau sampai di depan itu kita diam dulu
ya,” ucap salah satu anggoa rombongan di mobil.
“Kenapa, Bu?” tanyaku.
“Nanti saya ceritakan,” jawabnya singkat. Suasana di
mobil pun langsung hening.
Meskipun tidak begitu mempercayai hal-hal gaib dan
sejenisnya, aku penasaran dengan kisah Genting Apit.
Padahal jika diihat daerah itu sama dengan yang lain. Tidak
ada yang istimewa selain lebih rindang karena pepohonan
berdaun lebat dan dua tikungan tajam.
Dalam perjalanan pulang, kami bercerita tentang
Genting Apit.
“Kik Cuan berhasil mengalahkan Limpai ….” Salah
satu ibu memulai cerita.
Menurut cerita yang beredar, kala itu Kik Cuan
mendapat undangan hajatan. Dia mnyuruh istri dan
anaknya untuk berangkat terlebih dahulu, karena masih
sibuk. Saat sampai di tempat hajat, Kik Cuan tidak
mendapati keluarganya.
Dukun itu kembali menyusuri jalan yang dilalui anak
dan istrinya. Dia menemukan baju mereka penuh dengan
darah. Ternyata keluarganya dibunuh dan dimakan olah
151
Limpai—siluman babi. Kik Cuan marah, menantang
siluman itu dan berhasil menang.
“Jadi jangan pernah menyebut nama Kik Cuan atau
Limpai melintas di Genting Apit.” Ibu itu mengakhiri
ceritanya.
“Memangnya kenapa kalau kita menyebut nama Kik
Cuan atau Limpai?” Aku bertanya.
Tidak ada yang menjawab, karena saat iu mobil kami
akan memasuki jalan Genting Apit. Suasana menjadi
hening.
“Kalau kita menyebut salah satu nama mereka,
Limpai akan mengikuti,” jawab salah satu anggota
rombongan.
***
[Bun, Ayah pulang terlambat. Ada rapat untuk
persiapan kunjungan kerja Kapolwil.]
Pesan singkat Mas Adit melalui aplikasi hijau terbaca
menjelang magrib. Aku hanya mendesah. Resiko menjadi
istri Kapolres harus selalu siap ditinggal walaupun belum
terbiasa di rumah baru. Namun, aku tidak terlalu khawatir
karena ada dua ajudan yang selalu siap di pos jaga. Tinggal
teriak mereka langsung datang.
[Oke.] Aku menambahkan emotikon senyum dan
kecupan.
152
Selepas isya Mas Adit belum pulang. Untung Mak
Jannah mau menemani. Aku merasa malam ini sedikit
berbeda. Udara lebih dingin, padahal hujan tidak turun.
Tiba-tiba bulu kuduk meremang, seolah ada sesuatu
yang mengawasi. Kuberanikan diri memeriksa semua
ruangan sebelum memanggil ajudan di pos jaga. Namun,
tak ada apa-apa. Semuanya terlihat seperti biasa.
“Buk … Dek Diaz … itu … anu …,” ujar Mak
Jannah dengan wajah pucat.
Tanpa bertanya aku langsung menuju kamar, di
mana Diaz berada.
Anak itu sedang berceloteh dengan bahasanya,
seperti sedang berbincang dengan seseorang. Matanya
terus memandang ke kiri dan sesekali tersenyum. Tiba-tiba
dia tertawa, persis saat Mas Adit menggelitik badannya.
“Sayang, ada apa?” tanyaku. Namun, Diaz semakin
terpingkal.
Tengkuk mulai terasa dingin dan bulu kuduk pun
meremang. Detak jantung semakin tak beraturan. Aku
yakin ada makhluk tak kasat mata yang sedang bermain
dengan Diaz. Saat kusentuh, tubuh bayi itu tidak beraturan.
Sebentar panas, tak lama kemudian dingin.
“Buk, ayo.” Mak Jannah tiba-tiba menarikku
menjauhi Diaz.
Tiba-tiba seseorang dengan penampilan aneh
menggantikan posisiku. Bibirnya komat-kamit
153
menggumamkan mantra. Sesekali dia mengibaskan
tanggan ke sekililing Diaz.
“Pergi dari sini. Kau tak layak mendekati anak ini!”
seru orang itu.
Lelaki itu menutup mata dan mengarahkan telunjuk
ke tembok kosong. Tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat dan
terlempar agak jauh dari posisinya semula, seperti ada yang
mendorong.
“Diaz!” Aku bergegas menghampirinya, tetapi Mak
Jannah dengan sigap menahan.
Perempuan paruh baya itu menggelengkan kepala.
Terpaksa aku menurut walaupun dengan perasaan cemas
yang amat sangat. Takut sesuatu menimpa Diaz.
Cukup lama, akhirnya lelaki dengan gelang hitam itu
mendesah. Dia terduduk lemas di dekat pintu. Bajunya
basah oleh keringat.
“Tadi ada Limpai di dekat anak Ibu,” ujar Kik
Sadikin—dukun di Manggar. “Untung Jannah segera
memanggil saya.”
Rupanya saat aku sibuk menenangkan Diaz, Mak
Jannah langsung memanggil Kik Sadikin. Salah satu ajudan
mengantarnya.
“Kenapa Limpai bisa ke mari, Kik?” tanyaku
dengan kening berkerut. Sepanjang ingatan, aku tak pernah
menyebut Limpai atau Kik Cuan.
154
“Mungkin Ikam lupa, tadi siang kan lewat Genting
Apit.” Mak Jannah mengingatkan.
Aku menggali kembali memori. Benar, saat acara
bersama ibu-ibu Bhayangkari, kami sempat bercerita
tentang mitos seputar Genting Apit. Mungkin saat aku
bertanya tentang kedua nama itu, posisi mobil memasuki
jalan itu.
Peristiwa ini menjadi pelajaran yang sangat
berharga. Makhluk ciptaan Tuhan tidak hanya manusia,
hewan, dan tumbuhan. Namun, ada makhluk lain yang
hidup berdampingan dengan kita. Meskipun tak kasat mata
aku harus menghormati keberadaan mereka. [tamat]
155
Mangunah Widiyaningsih
M atahari masih belum memulai tugasnya. Terpaan
udara dingin menusuk hingga lapisan kulit terdalam.
Sebagian besar orang enggan turun dari pembaringan.
Salman, Udin, dan Darmin sudah berjalan
menyusuri rel bekas angkutan pertambangan. Berbekal
peralatan sederhana, ketiganya hendak mencari kayu
gaharu hutan tumbuh di selatan hutan. Tak lupa sayur
acang semah untuk memenuhi kebutuhan perut mereka.
Kayu gaharu berwarna kehitaman dan
mengandung getah khas yang dihasilkan oleh jenis pohon
Aquliria Malaccensis. Getah dari pohon itu beraroma harum
dan sangat khas, digunakan sebagai salah satu bahan
pembuatan parfum. Oleh karena itu, kayu tersebut
mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi, bahkan
menjadi salah satu jenis kayu termahal di dunia. Indonesia
adalah salah satu pengasilnya.
156
Sebenarnya banyak pohon di hutan dekat Desa
Napal Putih, di pedalaman Bengkulu yang menghasilkan
kayu gaharu. Namun, jarang sekali penduduk desa yang
mau berjuang untuk mencarinya. Lokasi yang harus
ditempuh dengan berjalan kaki dan membutuhkan waktu
cukup lama, tiga hingga empat hari.
“Kamu yakin?” tanya Udin saat Salman
mengutarakan niatnya.
“Yakin banget,” ujar Salman dengan mata bersinar.
“Kemarin Pak Solihun sama kawannya bisa bawa pulang
masing-masing sepuluh kilo.”
“Bayangin, Din, sepuluh kilo dikali seratus ribu
dollar …,” lanjut pemuda berkepala plontos itu. Alisnya
bergerak naik turun.
Bibir Udin mengatup rapat. Uang yang dihasilkan
memang sangat banyak. Namun bukan materi yang
membuatnya ragu atas usul Salman. Lokasi pencarian kayu
gaharu membuat pemuda berjanggut tipis itu membisu.
Hutan di selatan kampung penuh dengan misteri.
Menurut kakek Udin, di tempat terdapat batas antara dunia
manusia dengan dunia makhluk halus. Tidak sedikit yang
pernah melewatinya dan jarang yang bisa kembali.
“Harus atas izin mereka baru bisa kembali ke dunia
manusia,” kata kakeknya kala itu.
Namun, sejak Udin mendengar cerita itu tidak ada
warga desa yang tersesat atau hilang. Entah karena mereka
157
tidak masuk ke hutan itu atau memang mereka bisa pulang
dengan selamat.
“Tapi, Man, hutan itu ada ….” Wajah Udi
menyiratkan kekhawatiran.
“Buahahaha … kamu pasti masih percaya mitos
itu, ‘kan?” Darmin memastikan dengan nada mengejek.
“Udin … udin … kau tau, cerita itu dibuat agar
anak-anak tidak masuk ke hutan,” lanjut Darmin. “Kau
lihat Pak Solihun, widih sudah jadi saudagar dia.”
“Lagian dia juga kembali dengan selamat.” Salman
menambahkan.
Udin kembali mematung. Keraguan mulai menjalar
di hatinya. Mungkinkah kisah itu hanya mitos belaka?
“Oke, besok kita berangkat setelah salat Subuh.”
Salman langsung memutuskan sebelum Udin menyetujui
rencana itu.
***
“Man, pasang tenda di sini aja. Kayaknya tempat
ini lebih bersih dari yang lain,” ujar Darmin. “Lagian
kayaknya ini tempat Pak Solihun masang tenda juga.”
Udin mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ada
tanah yang menghitam dan sedikit katu yang sudah
menjadi arang. Mungkin itu sisa pembakaran dari orang-
orang yang pernah bermalam di sana. Keraguan masih
tergambar di wajah pemuda itu.
158
“Tenang, Din. Ga akan terjadi apa-apa,” kata
Salman sambil menpuk pindak Udin. “Ayo, kita dirikan
tenda.”
Ketiga pemuda itu membongkar segala
perlengkapan untuk keperluan menginap di alam bebas.
Sebelum matahari berada di titik tengah bumi, tenda sudah
berdiri dengan kokoh. Setelah salat mereka kembali
mengisi tenaga sebelum melanjutkan pencarian kayu
gaharu.
“Gimana kalau kita berpencar nyarinya?” usul
Salman saat makan siang.
“Jangan, nanti kalau ada apa-apa sudah nyarinya,”
kata Udin.
“Ya bener, Man. Pokoknya harus selalu
komunikasi. Jadi jangan terlalu jauh,” ujar Darmin.
“Dalam waktu tiga hari kita harus pulang,” tegas
Salman. “Berapa pun yang kita dapat.”
Hari pertama, mereka memutuskan untuk tidak
terlalu jauh dari tenda. Kayu yang didapat pun tidak terlalu
banyak.
“Besok kita mencari agak jauh …,” ujar Salman.
“Tapi jangan berpencar.” Suara Udin sedikit
bergetar.
“Iya … iya …,” ucap Salman dan Darmin
bersamaan. Keduanya lalu tertawa. Sementara Udin hanya
mengatupkan bibir rapat-rapat.
159
Perolehan kayu gaharu di hari kedua lebih banyak
tiga kali lipta dari hari pertama. Ketiga pemuda itu terlihat
sangat puas dengan perjuangan mereka.
“Selepas ini, aku akan melamar Sari,” kata Darmin
saat duduk mengelilingi api unggun.
“Aku akan membeli rumah di kota dan keliling
dunia.” Salman langsung menutup mata. Mungkin
membayangkan masa depan setelah menjual kayu
gaharung.
Udin tersenyum melihat tingkah teman-temannya.
Entah apa yang menjadi keinginannya setelah menjual kayu
gaharu. Satu hal yang pasti, pemuda itu ingin segera
kembali ke Desa Napal Putih.
***
Malam itu terdegar orang bercakap-cakap di luar
tenda. Udin bangun dan melihat Salman tidak ada.
Salman ngobrol sama siapa? tanya Udin dalam hati.
Udin bergidik saat melihat sosok yang sedang
mengobrol dengan Salman. Bulu hitam dan lebat nyaris
menutupi wajahnya, hanya menyisakan bagian mata dan
mulut saja. Ujung telinga bagian atas runcing. Jemari
tangan berkuku panjang dan hitam.
Udin merasa aneh melihat Salman. Dia sama sekali
tidak terlihat takut dengan makhluk itu, bahkan terkesan
sangat akrab.
160
“Min … Darmin. Bangun.” Darmin hanya
mengubah posisi tidurnya sambil berdehem. “Bangun,
Min. Salman …,” kata Udin dengan suara lirih. Dia terus
berusaha membangunkan Darmin.
“Ayo.” Terdengar suara Salman dan Udin segera
mengintip. Dilihatnya pemuda pemuda berkepala plontos
itu bangkit dan mengikuti makhluk itu.
“Bangun. Itu Salman ….!” Udin langsung menarik
temannya. Mereka segera mengikuti Salman, tak lama
setelah Darmin terjaga.
“Makhluk apa itu?” tanya Darmin dengan suara
lirih. Dia bergidik. “Hiii …!”
Mereka berjalan beberapa meter di belakang
Salman dan makhluk itu tanpa suara.
Baru beberapa langkah, keanehan terjadi. Langit
yang semula gelap mendadak berubah terang. Hutan
dengan pepohonan rapat berganti dengan perkampungan.
Tumpukan kayu gaharu kualitas tinggi di sepanjang jalan.
Entah berapa ton berat kayu-kayu itu.
Mata Darmin bercahaya begitu melihat tumpukan
kayu-kayu itu. Mungkin ratusan milyar, bahkan triliun
mengalir di otaknya.
“Salman, tunggu!” teriak Darmin, sambil berlari ke
arah pemuda plontos itu.
Udin tak bisa mencegah Darmin. Dia hanya
mematung melihat teman-temannya berjalan mengikuti
161
makhluk misterius itu. Pasrah, hanya itu yang bisa
dirasakannya.
“Udin.” Sentuhan lembut di pundak
mengembalikan kesadaran Udin.
Pemuda itu menoleh dan bingung. Banyak kerutan
di kening dan matanya memicing. Ingin sekali berucap,
tetapi mulutnya terkunci.
Orang yang menepuknya menyodorkan air bening.
Dalam kebingungan Udin menegak air itu. Tenggorokan
langsung basah. Rasanya seperti gurun sahara yang tiba-
tiba diguyur hujan.
“Pak Ustaz, kok bisa ke sini?” tanya Udin sambil
mengedarkan pandangan ke sekeliling. “Loh, mana tenda
kami?”
“Alhamdulillah kamu tidak masuk terlalu dalam ke
dalam hutan larangan.” Pernyataan Pak Ustaz membuat
Udin bingung.
“Kamu sudah satu minggu hilang.” Udin semakin
tidak mengerti maksud Pak Ustaz. Dia baru tiga hari
meninggalkan Desa Napal Putih.
“Jadi ….” Menurut cerita Pak Ustaz, Udin dan
teman-temannya sudah satu minggu lebih hilang. Janji tiga
hari akan kembali dari berburu kayu gaharu, tidak kunjung
datang. Pak Ustaz curiga jika mereka terjebak di hutan
larangan. Ternyata dugaannya benar.
162
“Tapi, Pak Ustaz, saya baru semalam tiba di tempat
ini,” ujar Udin.
“Alam mereka dengan alam kita tentu saja
berbeda,” kata lelaki paruh baya itu.
“Lalu, Salman dan Darmin?” tanya Udin.
“Semoga makhluk di hutan itu mau
mengembalikan mereka,” jawab Pak Ustaz.
Tubuh Udin langsung lemas, tanpa daya. Seolah
ada yang mencabut otot dan tulangnya. Wajah Salman dan
Darmin melintas di benak pemuda itu. Tak terasa air mata
menetes di pipinya. Dua teman kecilnya hilang ditelan
hutan larangan.
***
Tiga bulan kemudian Darmin berjalan gontai dan
tanpa alas kaki. Pandangannya kosong. Dia tak mengenali
semua penduduk desa yang menyapanya.
Udin langsung berlari menuju rumah Pak Ustaz
begitu mendengar kabar Darmin kembali.
“Butuh waktu cukup lama membuatnya kembali
seperti semua,” ujar Pak Ustaz. “Mungkin dia terlalu lama
berada di sana.”
“Lalu bagaimana dengan Salman?” tanya Udin.
“Wallahualam bi sawab.” Jawaban Pak Ustas
membuat pemuda itu memantung.
Semoga kamu baik-baik saja di sana, Teman, batin
Udin.
163
Lisana Fajarwati
B urung besi telah mendarat sempurna di Adisucipto.
Aku menarik nafas panjang. Masih kubaca surat dari
pimpinan tentang pemindahan tugas ke kota gudeg ini.
Rasanya tak percaya. Berat langkah meninggalkan
Balikpapan, karena ada hati yang tertingal.
***
Brrr ... dingin menggelayut. Aku masih ingin
menarik selimut, menutupi tubuh ini dari sergapan hawa es
yang menusuk. Yogyakarta berbeda dengan Balikpapan.
Berada di garis khatulistiwa, cuaca Balikpapan cenderung
lebih hangat. Sedangkan di kota Sultan Hamengkubuwono
ini, bila telah datang musim pancaroba dinginnya terasa
menyiksa.
Aku melongok ke jam dinding yang tergantung di
dinding kamar. Jam tiga dini hari. Ingin rasanya bangkit
dan mengoyak rasa malas untuk sholat malam. Namun,
164
badan enggan berpisah dari selimut tebal yang
membungkusnya.
Dung ... dung ... dung!
Sayup-sayup terdengar suara dentuman seperti
pasukan pemain drum.
Ada pawai apa, malam-malam begini? tanyaku dalam
hati. Ah, mungkin cuma halusinasiku aja.
Namun, suara itu semakin jelas terdengar. Kusibak
tirai yang menutup jendela guna mengurai rasa penasaran.
Jalanan kosong. Jangankan rombongan pawai, tikus got
pun tak ada yang melintas.
Bulu di tengkuk tiba-tiba menegang. Jantung
berdetak tak berirama. Aku segera berlari pojok kamar dan
menutupkan selimut ke sekujur tubuh. Suara itu masih saja
jelas terdengar, bahkan semakin kencang, meskipun aku
sudah menutup telinga. Bayangan-bayangan aneh muncul
ketika mata terpejam.
***
Mata terbuka perlahan. Kulirik jam Hello Kitty di
dinding, lima lebih sepuluh menit. Astagfirullah, terlambat
salat Subuh! Aku segera melesat untuk menunaikan
kewajiban utama sebagai seorang muslim.
“Sabar, Mbak e,” kata Laras saat aku menyelanya
menempelkan jempol di mesin abu-abu.
“Sori-sori. Hari ini aku piket,” balasku.
165
Untung jarak tempat kos-kosan dengan tempat
kerja tak begitu jauh, hanya mebutuhkan waktu lima belis
menit. Namun tetap saja jika terlambat bangun pasti ngos-
ngosan sampai di mesin finger print. Jam di mesin itu masih
menunjukkan pukul 05.55. Masih ada waktu lima menit
menjelang pukul 06.00, jadwal paling telat untuk karyawan
yang piket.
“Kebanyakan nonton drakor, ya.” Laras menebak.
“Eng ....” Alih-alih menceritakan kejadian
semalam, aku tersenyum masam.
Entah sudah berapa hari suara orkestra itu
mengganggu malamku. Semakin lama semakin aneh
terdengar. Awal kemunculannya mirip dengan suara
marching band, kini lebih sering terdengar gending jawa yang
membuat bulu kuduk semakin meregang.
Semua penghuni di sini denger enggak, ya? aku
membatin.
“Mas ... Mas Roni.” Aku memutuskan untuk
bertanya pada anak ibu kos dan berharap dia bisa
memecahkan misteri orkestra malam.
“Ya ... ada apa, Mbak?” tanya lelaki berkulit sawo
matang itu.
Aku menceritakan kejadian yang terjadi hampir
setiap malam. Mas Roni mendengarkan dengan seksama.
Matanya sesekali memicing. Bibir dengan kumis tipis itu
mengerucut. Mungkin dia bingung mendengar semua
ceritaku.
166
“Seumur-umur saya ga pernah denger, Mbak,” kata
Mas Roni.
Jantung berdetak lebih cepat. Keringat dingin
mulai membasahi punggung. Bibirku terkunci rapat.
“Tapi ....”
“Tapi apa, Mas?” Aku langsung menyela.
“Beberapa teman saya pernah cerita, jika
pendatang kadang mendengar suara yang Mbak Hani
maksud.”
Penjelasan lelaki bertubuh kekar itu semakin
membuat bingung. Aku teringat kata-kata Riana saat
mengetahui pemindahan tugas ke Yogyakarta.
“Ingat, Han. Jangan pernah pakai baju hijau ke
ParangTritis. Kamu bakal terseret ombak dan masuk ke
dunianya Nyi Roro Kidul,” ujar Riana.
Aku menanggapi dengan senyuman. Jujur, aku
sama sekali tidak percaya dengan hal-hal yang berbau
mistis. Konon di Kalimantan banyak hal mistis. Namun,
selama aku tinggal di sana tak pernah mengalami kejadian
yang di luar nalar.
“Masih pagi kok sudah ngelamun,” sapa Laras.
“Ras, kamu kan bukan asli Jogja. Saat kamu tinggal
pertama kali pernah denger suara kayak pertunjukan
marching band, enggak?”
167
Laras diam, memainkan bibirnya yang terkatup
rapat. Ekspresi wajah perempuan itu membuatku
penasaran. Sepertinya dia tahu sesuatu.
“Sejak kapan kamu denger suara itu?” tanya Laras.
“Beberapa hari setelah aku sampai. Kenapa?” Aku
balik bertanya.
“Lama kelamaan musiknya berubah jadi gending
jawa ‘kan?” Perempuan berkacamata itu memastikan.
Aku mengangguk dan antusias menunggu
penjelasan.
Rupanya, Laras pun mengalami hal yang sama. Hal
itu sangat menganggu hari-harinya. Hampir setiap malam
dia tak bisa tidur nyenyak. Berkali-kali mengintip, tetap saja
hanya suara yang semakin kencang. Tidak ada rombongan
orkestra yang memainkan musik aneh itu.
Laras memang terkenal pemberani. Pernah suatu
malam, dia sengaja menanti suara di teras, untuk melihat
makhluk jenis apa yang mengganggunya. Begitu suara itu
terdengar, udara di sekitarnya yang semula hangat, berubah
menjadi dingin. Bulu kuduk pun langsung berdiri tegak.
Tanpa menunggu suara itu mendekat, Laras
mengurungkan niatnya.
“Tapi setelah aku menikah dengan orang asli Jogja
dan menetap di sini, suara itu hilang. Sampai sekarang aku
enggak pernah denger lagi.” Laras mengkahiri kisahnya.
“Kali aja kamu bakal nikah sama orang Jogja,
Han,” celetuk Laras sambil berlalu. “Sama kayak aku.”
168
“Terus Mas Bayu mau dikemanain.” Aku
melempar gulungan kertas ke arahnya.
Sedikit banyak aku termakan dengan cerita Laras.
Takut jika hubungan dengan Mas Bayu yang sudah terjalin
selama lima tahun harus kandas. Segera kutepis bayangan
itu jauh-jauh.
Tahun ini sebenarnya kami akan menikah. Rencana
itu harus tertunda karena aku harus pindah tugas,
sedangkan Mas Bayu masih bekerja di Balikpapan.
Sebenarnya aku bersiap resign kapan pun jika menikah,
tetapi Mas Bayu melarang.
“Sayang, Dek. Karir kamu masih bisa berkembang.
Aku akan mengajukan mutasi ke Jogja dalam waktu dekat,”
ujarnya kala itu.
Di lubuk hati yang paling dalam pun, aku
menginginkan hal yang sama, tetap bekerja dan mengejar
karir. Alhamdulillah jika calon suami mengizinkan, karena
sebagian besar teman-teman banyak yang berhenti bekerja
dengan alasan tak mendapat restu dari pasangan hidup
mereka.
***
“Sendiri aja, Mbak?” tanya Mas Roni. “Yang lain
ke mana?”
Aku tahu dia hanya sekedar basa-basi. Mungkin
lelaki itu pun kesepian, ingin mencari teman untuk
mengobrol.
169
“Iya, Mas. Sebagian masih lembur dan sisanya
mudik.” jawabku sambil tersenyum.
“Boleh aku temenin?”
“Eh, iya. Silakan.”
Lumayan ada temen ngobrol. Paling tidak bisa
melupakan kejadian sore tadi. Pembicaraan dengan Mas
Bayu agak kurang mengenakkan.
Tiga hari yang lalu, Mas Bayu bertugas ke Surabaya.
Tidak ada keinginannya untuk menengokku. Alasannya
sibuk. Padahal jarak Surabaya-Yogyakarta hanya lima
sampai enam jam. Dia memang lelaki pekerja keras. Jika
tidak penting, enggan untuk mengajukan cuti.
Sempat terbesit tanya, apakah Mas Bayu masih
mau menikah denganku? Selama enam bulan terakhir—
sejak aku mutasi dari Balikpapan—dia menelepon
sebanyak dua puluh lima kali dan mengirim pesan satu hari
tiga kali. Itu pun menanyakan aku sudah makan atau
belum. Mungkin karena terlalu giat bekerja, mengikis sisi
romantisnya.
Entah apa yang aku dan Mas Roni obrolkan.
Banyak topik yang kami bahas malam itu. Tiba-tiba
telingaku menangkap suara yang tidak asing. Gending jawa
yang selama ini jarang terdengar, kini muncul kembali.
“Mas, dengar enggak?” Aku memasang telinga.
“Eh, iya ... Suara gending,” jawab Mas Roni.
170
“Penasara aku, Mbak. Kita cari, yuk,” ajak lelaki itu.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengiyakan.
Kami berkeliling kota mencari sumber suara. Alun-
alun, Malioboro, hingga bandara. Namun, hasilnya nihil.
Semakin mendekat, suara itu semakin menjauh. Begitu
seterusnya, hingga kami sampai kembali ke rumah.
Peristiwa malam itu membawa banyak perubahan.
Mas Roni yang tadinya biasa saja, kini lebih sering
menghabiskan waktu malamnya untuk mengobrol
denganku. Tak jarang kami berboncengan keliling kota,
ketika sedang libur hanya sekedar untuk melepas
kepenatan usai bekerja.
Hubunganku dengan Mas Bayu semakin tak
menentu. Dia semakin jarang menelepon atau mengirim
pesan. Entah bagaimana kelanjutan rencana pernikahan
kami. Aku pun nyaris tidak ada waktu untuk
menghubunginya. Biarlah Sang Maha Pengatur yang
memutuskan.
“Mbak Hani, ada waktu?” tanya Mas Roni suatu
hari.
Aku menatapnya penuh curiga. Ada gelagat aneh
yang tidak biasa dari lelaki berkulit sawo matang itu.
“Ada apa, Mas?”
Perlahan dia duduk di kursi yang berada tepat di
depanku. Samar-samar terlihat keringat mulai muncul di
keningnya. Berkali-kali dia menghela napas memainkan
jemari tangannya.
171
“Kenapa, Mas?” Aku berusaha mengurai suasana
yang terasa semakin kaku.
“Ehm ... maaf bila aku lancang, Mbak. Setelah
mengenal Mbak Hani lebih lama, ada rasa yang tak bisa lagi
kusembunyikan. Dan karena niatku tulus ... maukah Mbak
Hani mejadi pendamping hidupku?”
Aku terkejut. Kata-kata yang terakhirnya penuh
keyakinan Tak tahu harus berkata apa. Bayangan masa
depan terbelah antara Mas Bayu dan Mas Roni. Teringat
kelakar Laras tempo hari. Tiba-tiba suara genderang malam
itu berbunyi dalam relung hati. [tamat]
172
Nana Modest
M asih saja kulihat Eyang Kakung termenung di kamar
yang tak begitu luas. Ruangan itu terlihat biasa saja.
Ada ranjang kayu jati kuno berhias ukiran kepala ular di
setiap sudutnya. Namun, yang membuatku merinding
adalah sebuah lukisan seorang wanita cantik berambut
panjang.
Wanita dalam lukisan itu berbusana kemben khas
Jawa berwarna hijau dengan selendang yang mengibar.
Tangan kanan memegang tongkat berkepala ular. Sorot
mata itu membidik tajam saat aku memandangnya.
Tiap malam tertentu Eyang selalu membakar dupa di
depan lukisan itu. Setiap kubertanya tentang siapa
sebenarnya dalam lukisan itu, Eyang selalu menjawab, itu
adalah lukisan Nyi Roro Kidul—penguasa pantai selatan.
173
Aku pernah melihat Eyang berbicara dengan wanita,
tetapi tidak bisa melihat wajahnya. Sosok itu selalu
membelakangi pintu ketika aku mengintip.
Suatu kali aku juga pernah menangkap pembicaraan
mereka. Namun, yang terdengar hanya satu kata, yaitu
Suro!
***
Liburan kali ini aku, Lea dan Nocik memutuskan
untuk bermalam di pantai Parangkusumo. Tempat itu tak
asing bagiku karena Eyang sering mengajak untuk
mengikuti Larung di malam satu Suro.
“Tenang aja. Aku kenal betul pantai itu. Aman
kok.” Aku meyakinkan dua gadis itu, ketika melihat
keraguan di mata mereka.
Senja pergi berganti malam. Suasana pantai sedikit
ramai karena besok ada peringatan satu Suro. Ada
beberapa tenda yang sudah terpasang tak jauh dari tempat
kami mendirikian tenda.
“Cepat rapikan tasmu, Lea. Jangan lupa masukkan
rangsel Nocik juga!” perintahku sembari melihat Nocik
yang masih sibuk menyalakan kompor batu bara di depan
tenda.
Setelah matras dan isi tenda tertata rapi, kami bertiga
hanya duduk mengepung kompor batu bara. Tiga cangkir
berisi bubuk kopi siap menunggu air yang mendidih.
174
“Kalian tau. Nggak? Kata Eyang, kita nggak boleh
memakai baju warna hijau?” Aku awali cerita malam itu.
Angin kencang menyibakkan rambut panjangku.
Bulan seolah memandang dari kejauhan. Bintang pun
seakan ikut mendengarkan ceritaku untuk dua gadis itu.
“Kenapa gak boleh?” tanya keduanya kompak.
Wajah mereka menciut menyiratkan seribu tanya.
Saat yang bersaamaan air di panci mendidih. Dengan
sigap Nocik menuang air itu ke cangkir-cangkir. Aroma
kopi menguar dari kepulan asap membuatku bersemangat
untuk melanjutkan cerita.
“Katanya, warna hijau itu adalah warna kesukaan
Nyi Roro Kidul. Kalian bisa terseret ke tengah laut.”
jawabku menakuti mereka.
Gadis berhidung mancung itu langsung memeluk
memeluk lenganku, sampai kopi di cangkirnya tercecer.
Sementara Lea memasang serius.
“Gimana kalo besok kita pake baju hijau?” Nada
suara Lea seolah menantangku.
Tanpa pikir panjang aku menyetujuinya.
***
Dering alarm di ponsel membangunkanku di
sepertiga malam terakhir. Cahaya ponsel menerangi
langkah menuju kamar mandi umum, tak jauh dari tenda
kami. Keruhnya air tak mengurungkan niat untuk bersuci.
175
Salat malam kali ini berbeda dengan biasanya.
Deburan ombak membuatku semakin khusyuk bermunajat
kepada Sang Pencipta. Kekaguman semakin besar atas
segala ciptaan dan kuasa-Nya.
“Anna ….” Seseorang memanggil ketika aku sedang
berzikir.
Kutengok Lea dan Nocik. Mereka masih tertidur
pulas.
“Anna.” Suara itu memanggil lagi. Kali ini aku yakin
suara itu berasal dari luar tenda.
Mata langsung terbelalak ketika melihat sosok yang
berdiri anggun di luar tenda. Dia sama persis dengan
wanita di dalam lukisan Eyang. Sorot matanya menatap
tajam ke arahku. Senyumnya begitu cantik penuh pesona.
Aku yakin, sosok itu bukan manusia.
Detak jantung yang memburu membuat dada terasa
sesak. Aku ingin sekali berbalik, enggan menyaksikannya.
Namun, tubuh tak bisa bergerak, seolah ada yang
menahan.
Ya, Allah … tolong aku, batinku sambil memejamkan
mata.
***
Pipi terasa panas dan ada yang menepuknya. Aku
mengerjap, mengatur cahaya yang masuk ke retina.
“Anna, kamu nggak pa pa, kan?” tanya Lea. Ada
kerutan di keningnya.
176
Nocik pun memandangku dengan tatapan penuh
tanya. Setelah duduk, kuedarkan pandangan ke sekeliling.
Mukena penuh dengan pasir. Menurut mereka, aku tertidur
di luar tenda.
“Semalam aku ketemu Nyi Roro Kidul.” Lea dan
Nocik terbelalak dan mulut mereka menganga. “Dia mirip
sekali dengan lukisan di kamar Eyang.”
Bibir Lea mengatup rapat. Kerutan di keningnya
semakin banyak. Sedangkan Nocik langsung mendekat dan
mengamit lenganku erat dengan wajah yang terlihat
ketakutan.
***
Setelah membersihkan diri, kami sepakat untuk
memakai kaos berwarna hijau. Semua orang melihat
dengan mata memicing. Aku enggan mengira-ngira apa
yang ada dalam pikiran mereka. Satu hal yang pasti, kami
ingin membuktikan mitos tentang larangan mengenakan
baju berwara hijau.
Semakin malam, bibir pantai penuh dengan orang
dan sesajen. Sebagian besar memakai baju adat Jawa Kuno
lengkap dengan keris yang terselip di pinggang. Aroma
aneka bunga berpadu menusuk hidung.
Mata beradu pandang dengan seorang nenek, dan
kami saling melepar senyuman. Dia menyodorkan nampan
kuningan berisi jajanan pasar dan untaian bunga melati.
Tangan renta itu memasangkan rangkaian bunga melati di
rambut yang kuikat mirip gelungan. Lea dan Nocik pun
177
diperlakukan serupa. sekilas aku melihat tatapan mereka
yang kosong.
Selanjutnya, beberapa orang menuntun kami,
menjauhi bibir pantai. Berkali-kali ombak menghantam
tubuh. Anehnya aku sama sekali tidak meras kesakitan dan
kedinginan.
Tak lama kemudian, aku mendengar ringkikan kuda.
Sudut mata menangkap bayangan gelap yang mendekat.
Perlahan benda itu mewujud di terangi cahaya bulan dan
obor.
Aku terkagum begitu melihat wujud asli bayangan
itu. Sebuah kereta kencana nan megah dan bercahaya.
Tidak ada kuda atau kusir yang mengendalikannya. Aku
berpikir, mungkin itu kereta keraton yang menjadi bagian
acara pelarungan.
“Anna … Anna, di mana kita?” Suara Lea kembali
menyadarkanku.
Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Tak ada orang
yang berjubel membawa sesajen. Kami seperti berada di
hutan belantara dengan pepohonan besar berdaun lebat.
Udara dingin menusuk hingga ke tulang. Ternyata kami
basah kuyup.
Tak jauh dari tempat kami berdiri, ada sebuah
rumah megah. Samar-samar terdengar alunan gamelan dari
dalam.
178
“Ayo!” Aku mengajak Lea dan Nocik berjalan
menuju rumah itu, berharap bertemu seseorang yang bisa
menjelaskan semuanya.
Namun, tidak ada seorang pun di bangunan megah
itu. Suasana justru semakin senyap. Rumupu panjang
tumbuh di halaman. Jelas sekali rumah itu tidak terawat.
Selain itu, lantai terasnya kotor dan berbau amis.
“Tempat apa ini?” tanya Nocik. Dia mulai
menangis
“Kalian tunggu di sini.” Lea dan Nocik terlihat
lelah dan ketakutan. Membawa mereka berkeliling akan
menghambat.
Aku berkeliling ke segala penjuru rumah. Detak
jantung semakin memburu seiring kaki melangkah. Aku
harus menemukan jalan keluar atau paling tidak seseorang
yang bisa membantu.
Aku menemukan ruangan yang mirip kamar tidur
Eyang. Tempat tidur dengan hiasan ular di setiap sudut.
Lukisan wanita cantik juga tergantung di dinding. Bulu
kuduk semakin meremang.
“Nduk, dadio manungso sing nrimo. Ojo leno anggoning
urusan ndonyo. (Nduk, jadilah manusia yang bersyukur,
jangan terlena dengan urusan dunia).”
Saat akan keluar, tiba-tiba terdengar suara wanita
yang lembut dan penuh wibawa. Dada terasa sesak dan
keringat dingin meluncur deras membasahi tubuh.
179
“Tidak udah takut. Kita pernah bertemu
sebelumnya,” ujar wanita itu.
Kekaguman kembali menbuncah. Dia wanita di
dalam lukisan itu. Tampak lebih cantik dari aslinya.
Rambut hitam panjangnya tergerai indah.
“Apakah anda Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul?”
Aku memberanikan diri bertanya.
Wanita itu hanya tersenyum dan mengelus lembut
rambutku. Perlahan mata terasa berat dan ingin sekali
terpejam. Namun, aku masih ingin berada dalam
buaiannya.
“Nduk … An … Anna. Bangun, Nggèr.”
Aroma bunga melati menusuk hidung. Samar-
samar suara Eyang tertangkap gendang telinga. Perlahan
aku membuka mata. Pancaran sinar matahari langsung
sedikit demi sedikit masuk ke retina.
“Lea … Nocik.” Aku langsung teringat mereka.
“Mereka aman. Itu sedang minum teh hangat,” ujar
Eyang sambil menunjuk ke arah dua sahabatku.
Menurut kisah Eyang, kami berada di dimensi milik
Nyi Roro Kidul. Nyaris tak ada yang bisa keluar dari sana.
Eyang sendiri tak tahu kenapa kami bisa keluar dengan
selamat dari tempat itu.
Terima kasih, Kanjeng Ratu. Kau telah mengantar kami
pulang kembali, batinku sambil membayangkan wajah cantik
dan belaiannya yang hanga.
180
Daloha Dara
H ari menjelang senja ketika taksi yang kutumpangi tiba
di sebuah rumah besar bercat krem. Sebagian
dindingnya yang terbuat dari batu alam ekspos berwarna
abu-abu. Pagar hitam kokoh dan tinggi, terbuat dari besi
tempa itu, terlihat dalam posisi sedikit terbuka.
Aku menyerahkan uang pas kepada pengemudi.
Laki-laki berperawakan kurus itu cukup lama menatap
rumah Tante Irma—kerabat ayahku.
“Rumah ini satu-satunya yang belum digusur
didaerah ini ya, Mbak?” tanya pengemudi taksi sambil
melihat ke arahku.
“Sepertinya begitu,” jawabku sambil membereskan
tas dan bersiap turun.
“Kabarnya tiap ada petugas yang mau mengukur
pasti diganggu. Bener enggak, Mbak?” tanya pengemudi
itu.
181
Mata laki-laki itu terus menatap rumah besar dengan
pepohonan yang tinggi dan rimbun. Aku pura-pura tidak
mendengar dan segera turun.
Perkataan supir taksi tadi sangat mempengaruhiku.
Suasana rumah Tante Irma memang membuat bulu kuduk
berdiri. Andai bisa menolak, aku tidak akan datang.
Namun, apa daya, besok anak bungsu Tante Rima disunat.
Sudah menjadi tradisi di keluarga besar, semua anggota
harus datang tanpa kecuali untuk membantu
mempersiapkan semuanya. Sekaligus menjadi ajang
silaturahmi.
Pintu ruang tamu terbuka, sebelum jemari menekan
bel. Heri—salah satu sepupuku—muncul dari baliknya dan
langsung menarikku.
“Fia, mamahmu ada di dapur. Tapi kamu jangan ke
sana. Pembantu Tante Irma baru aja kerasukan,” kata Heri
dengan mimik wajah tanpa senyuman.
Sejenak aku terpaku kemudian mendesah. Sudah
menjadi cerita lama jika penghuni baru rumah itu pasti
mengalami hal-hal di luar nalar. Kabarnya ada beberapa
makhluk halus yang ikut tinggal bersama Tante Irma dan
keluarganya.
Aku masuk dan melangkah menuju ruang tengah,
Setelah menyalami kerabat satu persatu, aku duduk di salah
satu sofa untuk melepas lelah dan mengedarkan
pandangan. Perabot besar-besar disesuaikan dengan luas
ruangan, membuat suasana terasa sedikit mencekam.
182
“Katanya sih kerasukan hantu wanita,” kata salah
satu sepupuku sambil bergidik. Raut ketakutan tergambar
dari wajahnya.
“Hantu wanita bergaun hitam, bukan?” tanya
sepupuku yang lain.
Aku semakin penasaran dengan cerita itu dan ikut
mencuri dengar. Dari penuturan mereka, makhluk astral
bergaun hitam itu paling sering menampakkan diri dan
tidak mengenal suasana. Kadang malam, sore menjelang
magrib bahkan siang hari.
Untuk memastikan kebenaran berita itu, aku
bangkit dan melangkah menuju dapur, sekalian mencari
Mama.
“Eh ada Fia,” sapa Tante Irma. “Wah, kamu
semakin tinggi dari terakhir kita bertemu.”
Wanita paruh baya itu memelukku hangat. Aku
membalas pelukan itu dan mencium tangannya dengan
takzim. Meskipun tinggal satu kota, kami nyaris tidak
pernah bertemu. Kesibukan menjadi alasan utama.
“Kelas berapa sekarang?” tanya Tante Irma.
“Kelas tiga, Tante.” Aku menjawab sambil
mengedarkan pandangan mencari sosok Mama.
“Sudah punya pacar?” tanya Tante Irma lagi.
Matanya seolah menyelidiki.
183
“Belumlah, Tan,” jawabku sambil tertwa. “Kata
Mamah, pacarannya nanti saja, kalau sudah kerja pasti
banyak yang antri.”
“Bagus, betul itu. Ayo ikut Tante, pasti kamu
mencari mamahmu, kan?”
Di belakang rumah, ada sebuah teras besar lengkap
dengan taman dengan air mancur. Mamah tersenyum kala
menyadari kehadiranku.
Pembantu rumah tangga yang kerasukan itu
sepertinya sudah sadar. Ia terlihat lemah dan pucat.
Beberapa ibu-ibu lainnya yang juga masih kerabat jauh
terlihat menenangkannya.
“Mah, kita pulang aja, yuk,” ajakku sambil berbisik.
“Perasaan Fia kok rasanya ga enak."
“Sssttt … jangan begitu.” Mama menempelkan
telunjuk ke bibir. “Kasian tantemu, gara-gara kejadian tadi,
Tante Su dan Tante Rahma tidak jadi menginap. Ga enak
kalau kita harus pulang juga.” Mamah menatapku dalam.
Bibir mengerucut mendengar perkataan Mama. Aku
semakin gelisah. Semoga kami tidak mengalami hal-hal
buruk.
“Ya udah, deh. Fia mau ke kamar mandi dulu,
sekalian wudhu sebentar lagi Maghrib.”
“Kamar mandi yang di sudut, di ruangan sebelah ya,
Sayang. Tahu ‘kan?” Aku mengangguk.
184
Rumah Tante Irma benar-benar luas. Kamar
tidurnya saja ada sembilan, lengkap dengan kamar mandi.
Belum lagi tiga kamar pembantu dan wc yang terpisah.
Kamar mandi yang aku tuju terletak di sudut rumah.
Tanpa perasaan apa pun, aku masuk ke bilik itu. Tiba-tiba
bau amis dan busuk menusuk penciuman.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan
kecil itu. Jantung berdetak cepat dan lidah tiba-tiba kelu.
Aku berteriak sekuat tenaga. Namun, tak ada suara yang
keluar.
Sudut mata menangkap sesuatu. Keringat dingin
langsung membasahi punggung saat melihat kepala dengan
rambut terurai panjang menutupi wajah, yang tiba-tiba
muncul dari lubang udara di atas tembok kamar mandi.
Ketakutan dan rasa ngeri menguasai diri. Cepat-
cepat aku menyelesaikan hajat yang sudah terlanjur keluar.
Dengan panik aku berusaha membuka pintu kamar mandi,
tapi tak berhasil.
“Tolong! Buka pintunya!” teriakku. Hening.
“Mah, buka pintunya. Tolong Fia!” jeritku berkali-
kali sambil menggedor pintu kamar mandi sekuat mungkin.
Kepala tanpa tubuh itu masih menggantung di
lubang ventilasi. Kilatan matanya yang merah menyala kini
seolah membelalak marah. Kaki rasanya lemas tanpa daya,
tubuh gemetar. Aku mencoba menggedor pintu kamar
mandi sekali lagi.
185
“Fia, minggir! Om akan dobrak pintunya!” teriak
Om Leo—suami Tante Irma.
Brakk …
Pintu kamar mandi pun terbuka. Aku langsung
menghambur ke pelukan Mamah dan menangis sejadinya.
“Ada apa Fia? Kenapa menjerit-jerit? Kamu lihat
apa?” tanya Tante Irma sambil mengusap punggungku.
“Ke … kepala, Tante. Ada kepala tanpa tubuh.” Aku
menjawab dengan tubuh yang masih gemetar.
“Ini darah apa? Fia, kamu sedang haid?” tanya Om
Leo sambil berteriak.
Semua mata memandang ke arah yang ditunjuk Om
Leo, tepat di bawah kepala tanpa tubuh tadi berada yang
kini entah hilang ke mana.
“Fia sedang tidak haid, Om,” jawabku ngeri sambil
melihat ke arah genangan darah yang cukup banyak di
lantai. Sontak bulu kuduk meremang lagi.
“Mah, ayo kita pulang,” bisikku di telinga Mamah
yang masih memeluk erat.
***
Malam pun tiba, aku berusaha untuk melupakan
kejadian menyeramkan sore tadi. Di sampingku sudah
tertidur pulas kakak sepupuku—Dini—dan putri Tante
Su—salah satu kerabat ayahku.
Aku terbangun, seolah ada yang mengusap wajah.
Dalam keremangan cahaya lampu kamar, aku berusaha
186
untuk bangkit dan mengambil posisi duduk. Tirai jendela
tiba-tiba terangkat seolah ada angin kencang yang
meniupnya. Kerongkongan tercekat setelah menyadari
jendela dalam kondisi tertutup rapat.
Bau harum bunga melati memenuhi kamar. Bulu
kuduk kembali meremang detak jantung pun terpacu.
Ketika hendak berbalik untuk membangunkan Dini, sosok
kepala tanpa badan itu muncul. Kali ini berada di perut
sepupuku. Mata merahnya menatap tajam.
Lagi-lagi lidah menjadi kelu. Dalam ketakutan dan
kengerian yang amat sangat, aku menjatuhkan diri ke lantai
dan merangkak sekuat tenaga ke arah pintu. Aku
melafalkan semua doa yang terlintas di dalam hati.
“llahu Akbar!” teriakku kaget saat melihat tubuh
dengan gaun berwarna putih transparan tanpa kepala
berdiri tanpa kaki yang menyentuh lantai di depan pintu.
Mungkin kepalanya masih di atas perut Dini yang tertidur
pulas. Aku menangis dan menjerit-jerit sejadinya saat
kepala yang menyeramkan itu menggelinding.
Tepat di saat yang sama, Mama masuk dengan
beberapa orang dewasa lainnya. Wajah semua orang itu
terlihat pucat. Mama langsung memeluk yang dalam posisi
bersujud di atas lantai yang dingin. Sesaat kemudian semua
menjadi gelap.
***
Tante Irma dan anak-anaknya pindah ke kota lain
paska meninggalnya Om Leo, tidak lama setelah acara
187
sunatan. Saat itu anak tertua Tante Irma melihat papanya
yang tiba-tiba terbangun saat tidur di sofa ruang tamu
sambil memegang leher. Kakinya menendang-nendang,
seolah hendak melepaskan cekikikan seseorang. Namun,
nahas, Om Leo tidak tertolong.
Beberapa tahun kemudian, rumah besar Tante Irma
di Jalan Veteran nomor empat belas itu, akhirnya berhasil
diratakan dengan tanah. Meskipun memakan korban jiwa
yang mati dalam kondisi tidak wajar dan kejadian aneh
lainnya. Hantu wanita yang menyeramkan dan ganas tetap
menghantui daerah itu dan menjadi misteri. [tamat]
Sudut Kampung, 30 Juli 2020
188
Endang Fatmawati
S udah hampir lima bulan Dian menjadi pustakawati di
perpustakaan sebuah kampus ternama di Yogyakarta.
Pekerjaan yang sangat disukainya, karena dia bisa
memuaskan hobinya membaca buku secara gratis. Tak
heran jika perempuan itu sering membawa buku untuk
dibacanya di rumah.
Dari semua koleksi perpustakaan, ada satu buku
yang menjadi bahan perbincangan. Dari judulnya, buku itu
sama sekali tidak menarik. Namun, hampir seluruh
pengunjung dan petugas perpustakaan selalu membi-
carakannya.
“Setiap kali ke lorong itu, kayak ada yang niup
tengkuk,” kata Anna—rekannya di perpustakaan.
Ada yang bercerita bahwa buku itu tak bisa diambil
dari rak. Seolah ada yang menahan. Tak jarang pula
pengunjung yang sengaja datang untuk membuktikan
kebenaran cerita itu. Semua berakhir dengan wajah pucat
dan berjalan cepat meninggalkan perpustakaan tanpa
menoleh.
189
Selama bekerja, jangankan menyentuh buku hantu,
berjalan di lorongnya saja gadis itu tidak pernah sama
sekali. Jika ada buku yang harus disusun di sekitar lorong
berhantu itu, dia memilih untuk melakukan hal lain.
Biar Anna aja, ah, batin Dian.
***
Sejak pagi hujan nyaris tidak berhenti, sebentar
deras lalu berubah gerimis. Pengunjung perpustakaan pun
tidak begitu ramai. Sebagian besar adalah pengunjung
rutin.
“Alhamdulillah, saat Anna izin, kok ya ndilalah ga
begitu ramai,” gumam Dian sambil tersenyum
Jantung Dian berdetak lebih cepat, ketika melihat
kotak berisi buku-buku yang harus dikembalikan ke
raknya. Sebagian besar dari lembaran berjilid itu adalah
penghuni rak di sekitar lorong berhantu.
Biasanya Anna yang membereskan dan mengatur
di sana. Namun, gadis mungil itu kembali bekerja hari
Senin. Tidak mungkin membiarkan buku tetap berada di
kotak itu sampai Anna masuk.
Sebenarnya, Dian bukan gadis penakut. Dia selalu
ingat pesan kakeknya.
“Ojo wedhi karo ‘ngonokan’. Lek awakmu wedhi, de è
malah tambah seneng.1”
Namun, gadis itu merasakan aura yang berbeda
dari biasanya. Perpustakaan terasa lebih dingin apalagi
190
menjelang tutup. Mungkin karena cuaca mendung dan
embusan udara yang masuk melalui lubang ventilasi,
membuat bulu halus di tengkuknya menegang.
Dian mematung di ujung lorong. Di hadapannya
sudah siap satu troli buku yang siap untuk disusun.
“Bismillah,” ujarnya lirih dan mulai melangkah
perlahan.
Kreeek ….
Ada yang masuk ke ruangan besar itu. Dian yakin
sudah mengunci pintu. Napas tercekat dan jantungnya
berdetak cepat.
Suara langkah kaki terdengar sangat jelas mengitari
ruangan penuh buku itu. Sesekali mata Dian menangkap
pergerakan cahaya putih. Detak jantungnya semakin tak
memburu.
“Oh, masih ada Mbak Dian, toh,” ujar sosok itu
sambil meyorotkan senter tepat ke wajahnya.
“Pak Sardi ….” Gadis itu mendesah lega, begitu
mengetahui pemilik langkah kaki da berkas cahaya itu.
“Maaf, Mbak. Saya pikir sudah kosong.” Penjaga
kampus itu tersenyum. “Mbak pikir saya hantu, ya.”
“Ih, Pak Sardi ….” Dian memajukan bibir. Pipinya
menghangat karena malu.
“Mau saya bantu, Mbak?” tanya lelaki paruh baya
itu.
“Nggak usah, Pak. Terima kasih,” jawab Dian.
191
Pekerjaan ringan, tetapi cukup sulit bagi orang
awam. Mengembalikan buku ke rak butuh ketelitian karena
kode rak dan buku harus sesuai dengan daftar yang ada di
komputer. Jika tidak terbiasa, pasti akan kesulitan.
Dian merasa lebih tenang sejak kehadiran Pak
Sardi. Dia bisa kembali fokus menyelesaikan pekerjaannya.
Satu demi satu buku di troli berpindah ke rak.
Dua buku tersisa. Dian kembali mematung.
Matanya bergantian melihat ke arah rak dan benda yang
berada di tangan. Menurut kode yang tertera, lembaran
berjilid itu terletak tak jauh dari buku hantu. Tangan gadis
itu mulai basah oleh keringat.
Dengan sangat hati-hati Dian menyelipkan buku
yang ada di tangannya ke rak. Tiba-tiba dia merasakan
seluruh bulu halus di tubuh menegang, terutama di bagian
tengkuk. Sudut mata gadis itu menangkap tangan berjari
panjang dengan kuku hitam, tengah memegang buku
bersampul hijau.
“Astagfirullah!” seru gadis itu begitu melihat wajah
sang pemilik tangan.
Satu bola mata di wajah pucat itu nyaris terlepas
dari kelopaknya. Satu lagi memancarkan cahaya merah dan
menatap tajam ke arah Dian. Rambutnya acak-acakan.
Lingkaran hitam mengelilingi bibir dengan taring yang
keluar dan lidah yang menjuntai keluar. Kepulan asap
keluar dari lubang hidung setiap kali hantu itu
192