Sepertinya makhluk-makhluk astral di rumah dan
tanah itu tidak ingin ada orang lain yang mendekati bahkan
menempatinya. [tamat]
43
Brytje Geradus
D ari punggug Gunung Gandang Dewata, aku duduk
memandang perkampungan di tepi sebuah sungai
yang mengalir dan berkelok tenang. Pantulan cahaya
kemerah-merahan saat senja sebelum matahari terbenam
sangat memesona
“Blum ….” Seekor binatang serupa anak sapi,
berbulu coklat gelap tetapi memiliki tanduk pendek, lurus
dan sudutnya mengarah kebelakang, melintas perlahan
menyeberangi suangai…anoa, binatang itu mengagetkan
aku.
“Malam hampir turun, kita harus pulang.” kata Uto
Petu’ sambil berdiri. Ia berjalan mendahului kami.
Dengan rasa enggan aku dan Uto Yunus berdiri
mengikuti berjalan ke balik batu yang besar.
***
Aku, Ronny, Basri, Kalvin dan Oscar akan mengisi
libur semester, dengan mendaki gunung di kampung
44
Oscar. Keluarga besar Oscar berasal dari Mamasa, salah
satu kabupaten diprovinsi Sulawesi Barat. Di desa Buntu
Buda, desa yang letaknya paling akhir sebelum pegunungan
Gandang Dewata yang berstatus Taman Nasional.
Kami disambut dengan hangat, di rumah panggung
yang berjarak kurang lebih lima puluh meter dari jalan desa.
Hamparan sawah luas menghijau mengelilinginya. Ada
kolam berisikan ikan emas dan ikan nila. Gemerincik air
pancuran sayub-sayub terdengar dari bagian belakang
rumah.
Sehabis makan Oscar meminta restu pada
kakeknya untuk mendaki.
“Boleh, siapa pun boleh mendaki gunung itu” kata
Kakek, “Sebaiknya bersama Tommy. Dia kenal jalur ke
atas.”
Pria tua itu menggulung lintingan sembakau daun
jagung yang diambilnya dari sepu’ pangngan berwarna merah,
“Tommy solannia’i langngan le!” perintah kakek Oscar
pada Tommy, dengan suara agak bergetar, termakan usia.
“O… iya, kalau kalian naik, jangan membawa niat
buruk ya,” kata Tommy sambil tersenyum.
“Kalau sampai ada niat buruk, kami khawatir kalian
akan mendapat musibah.” ucap Om Daud, ayah Tommy,
sambil memetik gitar. ”Jika tersesat, tajamkan pendengaran
kalian, jangan dengarkan suara apa pun yang berasal dari
dalam hutan, agar bisa kembali ke rumah ini.”
45
Malam semakin larut, dawai gitar Om Daud
mengantar kami keperaduan. Dinginnya udara Mamasa,
membenamkanku dalam sambu’ barumbun.
***
Berenam membelah pagi, saat embun masih
menggantung. Kaki gunung yang dikelilingi persawahan,
hutan damar dan perkebunan kopi dilereng membuat jalur
memasuki hutan ini terasa sangat sejuk. Naik lewat jalur
Rante Pongko yang biasa dilalui para pendaki. Perjalanan
akan memakan waktu delapan sampai sembilan hari, Jalur
pendakian cukup panjang dan melewati punggung gunung
yang agak landai serta sepuluh pos pendakian. Kami
berharap tiba dihari ke delapan.
Hari kelima, mendekati pos delapan, ransel kami
mulai terasa ringan, tetapi langkah mulai melambat karena
udara yang menusuk tulang. Oksigen pun terasa mulai
berkurang di ketinggian menuju 3.074 meter di atas
permukaan laut. Hutan adat ini terasa mencekam walau
siang hari. Suara satwa menjelang sore terdengar seperti
rintihan. Gesekan dedaunan bagaikan bisikan-bisikan
halus, menyuruh untuk mencari asal suara itu.
“Di pos delapan ini kita istirahat. Besok kita lanjut”
kata Tommy, “Punggung gunung menuju pos sembilan
agak curam. Hanya area ini yang ada tanah datar untuk
mendirikan tenda.”
Setelah menurunkan ransel, Ronny, Basri, dan Oscar
membersihkan lokasi untuk mendirikan tenda. Tommy
46
menyisir area pos delapan, kalau-kalau ada sarang semut di
sekitar pos. Kalvin dan aku mencari bunga cerek-cerek
berisi air hujan dan memasukkan ke dalam botol minuman
yang mulai menipis persediaannya. Tak lupa kami
memunguti jamur kuping dan jamur merang untuk
dijadikan lauk.
“Dan … lihat, ini jamur russula.” Kalvin berteriak
kegirangan, “Jamur ini hanya tumbuh diatas ketinggian
2.000 kaki lebih … gila mereka tumbuh subur disini.”
Russula jenis jamur keluarga Amanita, tingginya lima
sampai sepuluh sentimeter. Batang tumbuhan itu tegak dan
berongga di bagian dalam. Tepinya berbentuk cela. Bentuk
tudung cembung agak datar berwana pink saat masih muda
dan ketika tua berubah merah. Tudung licin dan mengkilap
itu membuat siapa saja tertarik untuk menyentuhnya.
Sayangnya, jamur itu adalah jenis jamur beracun. Baunya
tidak sedap, dapat membuat nasi menjadi kuning.
Russula tumbuh di atas lumut membentang seolah
mengelilingi batu besar tak jauh dari pos delapan
“Jangan disentuh Vin!” Aku melarang Kalvin yang
menjulurkan tangannya. “Racunnya bisa bertahan lama
ditanganmu!”
“Iya ... aku tahu, hanya membersihkan ini saja.”
balasnya sambil memindahkan batang kayu penuh lumut.
Letaknya hampir menindih tujuh batang jamur beracun itu
yang berjejer rapi.
47
“Ayo, kuping dan merang ini sudah cukup.” ajakku,
Kalvin berjalan disampingku.
Kutoleh russula merah muda di bawah batu hitam
besar.
Pulang nanti aku akan membawa russula merah muda
untuk Clara, batinku.
***
Hujan deras tak kunjung reda menjelang
terbenamnya matahari. Malam itu enam pasang mata
terjaga dari mulut tenda. Mungkin menggumamkan doa
yang sama. Semoga hujan segera berhenti.
“Beruntunglah kita, sampai di pos delapan baru
diguyur hujan. Biasanya di pos lima para pendaki sudah
merasakan hujan deras yang turun tiap hari.” Tommy
memecah kesunyian.
“Itu sebabnya meskipun hujan tidak turun berbulan-
bulan di Mamasa, mata air perkampungan di bawah
gunung tak pernah kering,” sambung Oscar. “Hutan lumut
menyimpan air yang banyak bagi satwa yang hidup
digunung ini. Kalau beruntung kita akan melihat Anoa.
Biasa berkeliaran di tengah hutan sekitar pos delapan dan
sembilan.”
“Biasanya setelah hujan deras, cuaca akan terasa
hangat.” timpal Ronny. Nada suaranya terdengar penuh
harap. Suasana menjadi hening.
48
“Sssttt … kalian dengar sesuatu?” Basri beringsut ke
depan tenda, Memicingkan mata mencoba menembus
gelap malam yang masih dibasahi hujan gerimis. Saat itu,
seekor tikus datang mengendus-endus beberapa butir nasi
dan mie instan sisa makan malam.
“O … hanya tikus, biasanya kalau tikus sudah keluar
dari sarangnya, menandakan sebentar lagi hujan akan
reda.” jelas Tommy
Benar saja beberapa menit kemudian hujan mulai
berhenti. Udara pun tidak sedingin malam-malam
sebelumnya. Kami terlelap dalam tenda setelah tidak ada
lagi air yang turun dari langit.
Aku terbangun ketika mendengar suara orang
berbicara. Tidak jelas apa yang mereka bicarakan.
Kulayangkan pandangan sambil duduk memperhatikan
Kalvin, Oscar, dan Ronny yang terlelap.
Mungkin Tommy dan Basri lagi ngobrol, batinku.
Aku bergerak keluar tenda, tetapi keduanya tak ada.
Namun, suara itu terdengar jelas. Aku berjalan mengikuti
arah datangnya suara, mungkin berasal dari lading jamur.
Dipekatnya malam aku masih bisa menangkap
bayang mereka berjalan di depan. Mengenakan jaket hitam
dan penutup kepala, mereka berjalan tanpa alas kaki
menuju ke belakang batu hitam. Aku mendengar suara
seperti burung berkicau. Salah seorang mengangkat kayu
penuh lumut ke tempat yang dipindahkan Kalvin, tadi
siang.
49
Saat mengikuti mereka, kuperhatikan dua jamur
Russula berubah warna menjadi merah tua. Kulanggkahi
kayu yang berlumut itu, Kaki terasa menginjak air sedingin
es. Ternyata aku berdiri di tepi anak sungai yang tampak
jernih, sehingga bebatuan di dasarnya tampak jelas diterpa
cahaya bulan.
Kulayangkan pandangan ke segala penjuru. Tampak
perkampungan dengan cahaya lentera yang ditiup angin,
berkedap-kedip bagai kunang-kunang dipekatnya malam.
“Kalian dari mana?” Terdengar suara lembut
seorang perempuan, bertubuh tinggi langsing tiba-tiba saja
berjalan sedepa di hadapanku. Aroma bunga mawar
menguar dari tubuh yang berbalut kain putih.
“Kenapa membawa masuk orang luar?” Perempuan
itu berbalik. Wajahnya tertutup selendang.
Kedua orang yang kuikuti tadi berbalik. Walaupun
dengan wajah yang tertupu, aku yakin kalau mereka bukan
Tommy dan Basri. Keduanya jauh lebih tinggi.
Siapa mereka? Aku hanya bisa membatin di tengah
kebingungan.
***
Dalam perkampungan ini hanya ada delapan rumah
panggung tinggi dan besar. Tiap rumah berisi tiga belas
sampai tujuh belas penghuninya. Anak-anaknya seperti
seumuran semua.
50
Sejak pertama berjumpa, aku tak pernah melihat
wajah mereka karena jubah putih atau jaket hoodie hitam
menutupi kepala. Tak ketinggalan syal hitam halus untuk
menutupi mata yang peka terhadap matahari.
“Yang pertama di bawa Indo kekampung ini, Odo
Bulawan,” kata Uto Tandi. “Lalu tiap hari pasar Indo
membawa kami satu persatu ke rumah ini,”
“Kami berjumlah tujuh belas, hanya Odo Bulawan
sendiri perempuan. Kami senang tinggal di sini.” Suara Uto
Medi terdengar dari belakang, seperti suara angin yang
berbisik.
“Sebentar malam ada tamu yang datang ke rumah
sebelah. Odo akan menari di pekarangan, Kau boleh
duduk di anak tangga kalau mau ikut menyambut tamu,”
ajaknya.
***
Malam ini purnama tertutup awan tipis. Sebagian
penghuni kampung duduk ditangga rumah untuk
menyaksikan tarian malam serta menyambut tamu. Odo
Bulawan mulai menari dengan gerak yang gemulai
mengikuti suara gendang yang ditabuh. Aku kembali
mengedarkan pandangan, tetapi tidak menemukan si
penabuh gendang.
Selendang dikibaskan, aroma bunga mawar tersebar.
Irama gendang yang ditabuh berirama. Setiap sebelas
pukulan akan kembali ke pukulan irama awal. Cahaya api
51
unggun berayun ditiup semilir angin membuat sukmaku
terperangkap.
Aku hanyut dalam tarian itu. Akhirnya tampak dalam
temaran api Ambe To Matua yang bertubuh tinggi besar
datang beriringan dengan seseorang yang menggunakan
ransel, sepertinya ia seorang pendaki.
Odo Bulawan menyelesaikan tariannya sambil
bersedekap tepat depan tangga. Lengan jubah melorot
sampai siku tangan yang bekulit putih pucat. Kerudungnya
tersingkap dan aku bisa melihat wajah bundar seperti
bulan. Perempuan itu punya alis seperti bulan sabit dan
sepasang mata indah berwarna kuning tembaga yang
berkilau keemasan tertimpa cahaya api unggun. Namun,
pandangan matanya tanpa makna. Tidak ada tanda-tanda
kehidupan dari pandangan mata itu.
“Besok aku akan turun gunung, kepasar bersama
Odo, kau mau ikut?” kata Uto Tandi, dari anak tangga
paling atas.
Aku mengangguk tanpa suara.
“Tapi ingat jangan sekali-kali mengangkat wajah
pada orang yang kita temui dijalan,” jelasnya,
***
Aku berjalan setengah berlari mengikuti langkah
Odo dan Uto Tandi, mereka berjalan cepat seakan tidak
berpijak pada tanah. Cahaya matahari yang masuk
menembus lebatnya hutan melelehkan embun yang
melekat pada pohon-pohon pakis. Kaki mulai terasa basah.
52
Kami berpapasan dengan beberapa penduduk yang
memulai pagi dengan mencari damar di hutan. Mereka
seolah tak terusik dengan kehadiran kami, dan terus
bekerja. Setiba di bawah kaki Gunug Gandang Dewata aku
melihat jubah yang dikenakan Odo dan Uto Tandi tak
tersentuh air bahkan kotoran. Tidak seperti celanaku yang
kotor. Padahal kami melewati jalan yang sama.
Tiba-tiba aku mendengar suara gitar
“Uto Tandi … dengar itu? Ada yang bermain gitar
sepagi ini,” ujarku sambil berusaha menajamkan
pendengaran.
Odo menahan langkahnya berbalik pada Uto Tandi
sambil berbicara. Namun, yang tertangkap olehku, seperti
suara burung yang riuh berkicau.
“Kau tunggu di sini sebentar. Kami kembali, mau
berganti pakaian dulu.” kata Uto Tandi sambil menunjuk
bangku kayu dari batang pohon pinus besar.
“Ya, jubah ini menghalangi gerakanku.” kata Odo
Bulawan sambil menenggelamkan wajah dalam kerudung
yang dipakainya.
Aku melangkah menuju bangku dan duduk disana,
sambil terus mendengar suara gitar yang mengalun lembut.
***
Aku terbangun mendengar suara ribut di
sekelilingku.
53
“Ketemu. Ini Dani teman Oscar yang minggu lalu
hilang di pos delapan.” Suaranya seperti om Daud. “Misi
pertama berhasil.”
“Ya, itu Dani.” suara Kalvin dan Ronny serempak
“Tapi pencarian akan kita lanjutkan terhadap
seorang pendaki lainnya, yang hilang tiga hari lalu di pos
lima,” ujar seorang yang berbaju tim SAR.
“Kita harus naik sebelum jam tujuh pagi agar bisa
kembali sebelum malam!” perintahnya, “Antar turun anak
ini ke pos induk dipinggir jalan.”
Aku dipapah Basri dan Tommy, ke pos induk. Tak
habis pikir bagaimana bisa tertidur di pos satu? Seminggu
hilang? Padahal aku baru dua hari di kampung itu.
Aku dengar mereka mencari pendaki yang hilang
sudah tiga hari. Padahal, baru semalam pendaki itu tiba di
kampung.
Aku memasukkan tangan ke dalam saku jaket. Ada
sesuatu yang tajam mengenai jari, ternyata setangkai bunga
mawar kecil. Aromanya menyebar menyertaiku sampai ke
pos induk. [tamat]
Quote: Jendela adalah batas aku memandangmu.
Makassar, 8 Agustus 2020
54
Chusnul Chatimah Asmad
M alam ini, aku dan Fia tak lagi diantar Daeng Dedi ke
vila. Kami memberanikan diri berjalan melewati
pohon bunga melati yang tadi malam hampir membuat
jantung copot. Bagaimana tidak, Arman tiba-tiba saja
muncul di balik pohon dengan kostum pocong. Nyaris
saja, aku tersandung batu besar yang berada dipinggir jalan.
Untung, Daeng Dedi dengan sigap mendekap dan
mengembalikan kesadaran, kalau yang terlihat itu hanya
candaan Arman.
Fia menghela napas panjang, seraya memasang mata
marah kepada Arman yang masih tertawa cekikikan. Aku
sendiri juga jengkel melihat tingkahnya itu. Kalau saja,
kemarin sore kami tidak mendengar cerita legenda pohon
keramat dari Kak Mail, melewati pohon melati bukan hal
yang harus ditakuti.
“Ima, apa villa sudah dekat?” tanya Fia, sambil
celingak celinguk.
55
“Tinggal sepuluh langkah lagi, kenapa?” tanyaku
balik.
“Kalau begitu, ayo ...,” Fia berlari masuk ke dalam
lorong vila. Aku sempat kaget dibuatnya, tetapi seketika
kaki kecil refleks berlari kencang menyusuln.
Pak Nurman yang sedang membakar api unggun di
depan vila, dibuat heran. Dia sempat bertanya, ada apa
gerangan yang membuat kami berlari, tetapi tak ada yang
menghiraukannya. Segera masuk ke dalam kamar,
mengambil selimut, lalu berbaring, menjadi keinginan yang
muncul dalam benak.
“Alhamdulillah akhirnya sampai kamar juga,” ujar
Fia seraya merebahkan badan ke sandaran kasur.
Aku masih gerah karena berlari, tapi anehnya
penglihatan jadi agak buram. Aku menatap lampu, berpikir
jika cahanyanya redup. Namun, lampu itu sendiri terlihat
remang-remang. Fia tak lagi terjaga, saat kepalanya sudah
bertemu bantal, ia tidur dalam hitungan lima detik. Aku
merasa ada yang salah.
Bersama rasa takut yang masih memenuhi isi kepala,
kuberanikan diri menuju kamar mandi. Berharap dengan
mengambil air wudhu lalu salat Sunnah, aku akan lebih
tenang.
“Mau ke mana nak?” suara istri Pak Nurman sedikit
mengagetkan.
“Mau ke belakang Bu, mau wudhu,” jawabku lalu
kembali melangkahkan kaki.
56
“Kolam kamar mandi baru saja selesai dikuras, kalau
mau berwudhu, Nak Ima pakai saja kamar mandi yang di
samping kamar Ibu,” ujar Bu Nurman, sambil menutup
kembali gorden kamarnya.
Aku berhenti sejenak, memikirkan air kolam yang
dikuras malam hari.
Kenapa harus malam hari? Kenapa bukan tadi siang?
Tiba-tiba saja aku memikirkan hal aneh, lalu
perhatian tertuju pada foto perempuan yang menggunakan
adat jawa. Aku mendekat dan memandangi wajah
perempuan yang tersenyum indah dalam foto. Kaki
melangkah tanpa sadar kalau harusnya pergi ke kamar
mandi.
“Nak Ima, sedang apa?” tanya Pak Nurman, tapi
pendengaranku samar. Mata hanya tertuju pada foto itu,
sampai-sampai tak ingin mengedipkan mata.
Kening Pak Nurman mengerut. Ia pun mendekatiku
seraya membaca surah An-Naas dan Al-Falaq.
“Pakk!”
Pak Nurman menepuk pundak. Seketika aku sadar
dan merasa heran karena sudah berdiri di depan foto
perempuan bersanggul. Mata tua itu menatap tajam, hingga
aku sedikit takut. Namun entah kenapa rasanya adem
melihat Pak Nurman di hadapan.
57
“Tadi sewaktu lewat pohon keramat, Nak Ima tidak
ucap salam atau baca tiga kul atau ayat kursi?” tanya Pak
Nurman.
“Tidak pak, kami hanya lewat begitu saja. Apa pohon
keramat itu sungguhan Pak? Bukannya hanya mitos saja?”
tanyaku balik.
Pak Nurman mempersilakan duduk. Aku pun
menuruti, tetapi ia sendiri justru masuk ke dalam dapur.
Entah apa yang terjadi, rasa takut hilang seketika, seolah
ada sesuatu.
Saat masih memikirkan apa yang terjadi, Pak
Nurman keluar dari dapur. Rupanya dia mengambil
secangkir teh hangat.
“Minumlah, jangan lupa baca basmalah,” ujar Pak
Nurman seraya menyimpan badik yang ia bawa ke mana
pun.
Badik itu selalu berada di balik sarungnya, tepat di
pinggang kanan. Sewaktu-waktu, badik itu keluar jika pak
Nurman hendak memotong sesuatu atau hendak menakut-
nakuti para pendatang di kota Malino yang tidak
mengindahkan tata karma.
“Apa Nak Ima, tidak pernah mendengar cerita
pohon keramat,” tanya Pak Nurman, sambil mengambil
badik-nya kembali.
“Sudah dengar Pak, Kak Mail yang cerita. Tapi,
bukannya itu hanya mitos saja ya Pak? Lagi pula tidak jelas
kan yang mana pohon keramatnya,” jawabku sambil
58
meniup uap teh yang dibuat dari pucuk asli daun teh khas
Malino.
Pak Nurman bersandar sambil mengelus-elus badik-
nya. Dia menghela napas, lalu mulai bercerita.
***
Pagi buta, Bu Nurman sudah membuatkan kami teh
dan pisang goreng. Pelayanan yang cukup prima bagiku,
soalnya kami hanya membayar sewa vila, tetapi Bu Nurman
dengan hangat melayankan kami makanan pagi hingga
siang. Malam hari, kami makan di rumah Daeng Dedi.
“Ima, tadi malam kamu tidur di mana? Kenapa tidak
saya temukan saat saya terbangun tengah malam?”
“Aku tidurnya jam dua, soalnya cerita pohon
keramat dari pak Nurman sangat seru, hingga membuat
saya terjaga,” jawabku sambil menikmati renyangnya
pisang goreng.
Fia memandang dengan tatapan aneh, seperti tak
menyangka aku menganggap seru cerita urban legend.
Mulutku memang berkata begitu, tetapi yang terjadi justru
sebaliknya. Saat pak Nurman bercerita, seluruh bulu kuduk
merinding. Merasa perempuan yang meninggal tertabrak
lagi tepat di depan pohon bunga melati, sedang berada di
sekitarku. Tiba-tiba tersebar di seluruh ruangan, seakan
memberi tahu kehadiran perempuan itu.
Pikiran bahkan teralihkan dengan kolam kamar
mandi yang luasnya 2x3 dan dalamnya di atas kepala orang
dewasa. Kolam itu surut tanpa ada air yang keluar, tetapi
59
bunga melati terapung di atasnya. Saat mulai kehilangan
kendali pikiran, Pak Nurman memercikkan air ke wajahku.
Ketika tersadar mulut Pak Nurman masih berkomat-kamit.
Tak terasa, ternyata sudah berjam-jam lelaki tua itu
bercerita, hingga ia meminta istrinya menemaniku pergi ke
kamar mandi untuk berwudhu. Menurutnya, agar aku lupa
akan cerita itu dan juga menghilangkan ganggungan gaib.
Setelah salat berjamaah dengan Pak Nurman dan
istrinya, aku pun kembali ke kamar.
“Assalamualaikum!” Suara berat dari luar pintu
membuat Fia langsung memasang muka ceria.
Kami membalas salam diiringi sapaan selamat fajar
dari laki-laki bersuara bas. Rupanya itu Kak Mail dan
Daeng Dedi. Fia langsung mempersilakan Daeng Dedi
duduk, tanpa memerdulikan Kak Mail yang sepatutnya juga
mendapat penghormatan yang sama.
“Duduk Kak Mail,” sahutku, seraya melihat keluar
pintu. Aku merasa masih ada orang di luar, tetapi belum
menampakkan batang hidungnya.
“Di luar masih ada Arman, tapi dia dicegat Pak
Nurman, katanya ada yang hendak dibicarakan,” ujar
Daeng Dedi.
Aku pun mengangguk dan duduk di samping Fia. Bu
Nurman menambahkan pisang goreng dengan dua gelas
kopi susu. Kak Mail dan Daeng Dedi menyambutnya
dengan hangat.
60
“Kalian selamat sampai vila kan tadi malam?” tanya
Kak Mail.
“Alhamdulillah, tapi kami tidak bisa menyangkal,
kalau kami ketakutan,” ujarku.
Fia tak ikut merespon. Tatapannya terus tertuju pada
Daeng Dedi, hingga membuat aku dan Kak Mail geleng-
geleng kepala.
“Cerita itu urban legend yang masih dipercaya warga
setempat, tapi sebenarnya bukan masalah pada pohon
keramatnya. Melainkan perempuan yang suka menunggu
di bawah pohon melati,” ujar Daeng Dedi.
Kejadian semalam kembali teringat, tetapi segera
kutepis dengan ucapan ta’awudz. Namun, rasa penasaran
masih ada, karena Pak Nurman tidak bercerita dengan jelas
siapa perempuan itu. Dia hanya meminta agar selalu
membaca ayat kursi atau tiga qul jika melewati pohon
melati atau pohon besar.
“Oh yah, besok teman-teman saya sudah balik ke
Makassar, sehingga kalian sudah bisa pindah ke rumah,”
ujar Daeng Dedi.
Fia dan aku saling berpandangan lalu berteriak
“Alhamdulillah”. Aku merasa lega mendengar berita itu.
Sudah seharusnya, kami tinggal satu atap sebagai anggota
organisasi UEF. Namun, karena kamar di rumah Daeng
Dedi hanya ada dua, sehingga sulit bagi anggota
perempuan untuk menginap. Sementara, satu kamar sudah
ditempati kawan Daeng Dedi dari Makassar.
61
Aku merasa sangat senang, sebab bayang-bayang
cerita perempuan gentayangan, pohon keramat, tak lagi
menghantui pikiran. Sekarang, aku hanya perlu
memikirkan raker organisasi UEF.
== TAMAT ==
Source: Urband Legend Villa Malino, namun masih perlu
ditelusuri kebenarannya. Peristiwa, terjadi tahun 2016.
62
Endang Fatmawati
S udah hampir lima bulan Dian menjadi pustakawati di
perpustakaan sebuah kampus ternama di Yogyakarta.
Pekerjaan yang sangat disukainya, karena dia bisa
memuaskan hobinya membaca buku secara gratis. Tak
heran jika perempuan itu sering membawa buku untuk
dibacanya di rumah.
Dari semua koleksi perpustakaan, ada satu buku
yang menjadi bahan perbincangan. Dari judulnya, buku itu
sama sekali tidak menarik. Namun, hampir seluruh
pengunjung dan petugas perpustakaan selalu
membicarakannya.
“Setiap kali ke lorong itu, kayak ada yang niup
tengkuk,” kata Anna—rekannya di perpustakaan.
Ada yang bercerita bahwa buku itu tak bisa diambil
dari rak. Seolah ada yang menahan. Tak jarang pula
pengunjung yang sengaja datang untuk membuktikan
kebenaran cerita itu. Semua berakhir dengan wajah pucat
dan berjalan cepat meninggalkan perpustakaan tanpa
menoleh.
63
Selama bekerja, jangankan menyentuh buku hantu,
berjalan di lorongnya saja gadis itu tidak pernah sama
sekali. Jika ada buku yang harus disusun di sekitar lorong
berhantu itu, dia memilih untuk melakukan hal lain.
Biar Anna aja, ah, batin Dian.
***
Sejak pagi hujan nyaris tidak berhenti, sebentar
deras lalu berubah gerimis. Pengunjung perpustakaan pun
tidak begitu ramai. Sebagian besar adalah pengunjung
rutin.
“Alhamdulillah, saat Anna izin, kok ya ndilalah ga
begitu ramai,” gumam Dian sambil tersenyum
Jantung Dian berdetak lebih cepat, ketika melihat
kotak berisi buku-buku yang harus dikembalikan ke
raknya. Sebagian besar dari lembaran berjilid itu adalah
penghuni rak di sekitar lorong berhantu.
Biasanya Anna yang membereskan dan mengatur
di sana. Namun, gadis mungil itu kembali bekerja hari
Senin. Tidak mungkin membiarkan buku tetap berada di
kotak itu sampai Anna masuk.
Sebenarnya, Dian bukan gadis penakut. Dia selalu
ingat pesan kakeknya.
“Ojo wedhi karo ‘ngonokan’. Lek awakmu wedhi, de è
malah tambah seneng.1”
Namun, gadis itu merasakan aura yang berbeda
dari biasanya. Perpustakaan terasa lebih dingin apalagi
64
menjelang tutup. Mungkin karena cuaca mendung dan
embusan udara yang masuk melalui lubang ventilasi,
membuat bulu halus di tengkuknya menegang.
Dian mematung di ujung lorong. Di hadapannya
sudah siap satu troli buku yang siap untuk disusun.
“Bismillah,” ujarnya lirih dan mulai melangkah
perlahan.
Kreeek ….
Ada yang masuk ke ruangan besar itu. Dian yakin
sudah mengunci pintu. Napas tercekat dan jantungnya
berdetak cepat.
Suara langkah kaki terdengar sangat jelas mengitari
ruangan penuh buku itu. Sesekali mata Dian menangkap
pergerakan cahaya putih. Detak jantungnya semakin tak
memburu.
“Oh, masih ada Mbak Dian, toh,” ujar sosok itu
sambil meyorotkan senter tepat ke wajahnya.
“Pak Sardi ….” Gadis itu mendesah lega, begitu
mengetahui pemilik langkah kaki da berkas cahaya itu.
“Maaf, Mbak. Saya pikir sudah kosong.” Penjaga
kampus itu tersenyum. “Mbak pikir saya hantu, ya.”
“Ih, Pak Sardi ….” Dian memajukan bibir. Pipinya
menghangat karena malu.
“Mau saya bantu, Mbak?” tanya lelaki paruh baya
itu.
“Nggak usah, Pak. Terima kasih,” jawab Dian.
65
Pekerjaan ringan, tetapi cukup sulit bagi orang
awam. Mengembalikan buku ke rak butuh ketelitian karena
kode rak dan buku harus sesuai dengan daftar yang ada di
komputer. Jika tidak terbiasa, pasti akan kesulitan.
Dian merasa lebih tenang sejak kehadiran Pak
Sardi. Dia bisa kembali fokus menyelesaikan pekerjaannya.
Satu demi satu buku di troli berpindah ke rak.
Dua buku tersisa. Dian kembali mematung.
Matanya bergantian melihat ke arah rak dan benda yang
berada di tangan. Menurut kode yang tertera, lembaran
berjilid itu terletak tak jauh dari buku hantu. Tangan gadis
itu mulai basah oleh keringat.
Dengan sangat hati-hati Dian menyelipkan buku
yang ada di tangannya ke rak. Tiba-tiba dia merasakan
seluruh bulu halus di tubuh menegang, terutama di bagian
tengkuk. Sudut mata gadis itu menangkap tangan berjari
panjang dengan kuku hitam, tengah memegang buku
bersampul hijau.
“Astagfirullah!” seru gadis itu begitu melihat wajah
sang pemilik tangan.
Satu bola mata di wajah pucat itu nyaris terlepas
dari kelopaknya. Satu lagi memancarkan cahaya merah dan
menatap tajam ke arah Dian. Rambutnya acak-acakan.
Lingkaran hitam mengelilingi bibir dengan taring yang
keluar dan lidah yang menjuntai keluar. Kepulan asap
keluar dari lubang hidung setiap kali hantu itu
66
mengembuskan napas. Terlihat jelas sekali dari raut
wajahnya, jika makhluk itu kesal.
“Jangan sentuh bukuku!” Suaranya yang
menggema membuat detak jantung Dian semakin tak
terkontrol.
Gadis itu mundur beberapa langkah. Keringat
dingin pun tak terbendung membasahi punggungnya.
Napas mulai sesak karena menghirup bau busuk yang
menguar dari tubuh makhluk itu.
Sosok astral itu perlahan mengikuti pergerakan
Dian. Tangan berjari panjang dan berkuku hitam,
mengincar lehernya. Entah sudah berapa surat pendek
yang dia lafazkan, tetapi hantu buku itu tidak mau
menghilang.
“STOOOP. HENTIKAN!” teriak Dian sebelum
tangan mengerikan itu menyentuh lehernya.
Sebenarnya rasa takut masih menjalar di sekujur
tubuh Dian. Bulu kuduk tidak melemas. Detak jantung pun
belum normal. Namun, dia harus menyelamatkan lehernya
dari tangan mengerikan itu.
Giliran makhluk itu bergerak mundur, sedikit
menjauh. Mata yang masih utuh terbelalak, tidak lagi
menyorot merah. Mungkin dia terkejut melihat reaksi
Dian.
“Apa maumu?” tanya Dian dengan nada agak
tinggi.
67
Mata dengan lingkaran hitam itu memicing. Jari
telunjuk berkuku panjang dan hitam menggaruk pinggir
kening. Lidah yang terjulur panjang perlahan mulai
memendek.
Setelah beberapa saat wajah hantu itu lebih enak
dilihat. Meskipun masih membuat bulu kuduk Dian
berdiri. Mata yang nyaris terlepas sudah kembali ke
kelopaknya dan lingkaran hitam pun mulai menipis.
“Sebenarnya ada sesuatu di dalam buku ini ….”
Makhluk tak kasat mata itu memulai komunikasi. Hawa
dingin semakin menusuk hingga lapisan kulit terdalam.
Hantu itu adalah Pak Wijaya, salah satu milyarder
Indonesia. Di dalam buku itu ada cek senilai satu milyar
yang akan diserahkan untuk anak angkatnya. Belum sempat
bertemu dengan anaknya, beliau meninggal dunia. Buku itu
disumbangkan oleh keluarga besar ke perpustakaan
kampus. Agar cek itu tidak jatuh ke tangan siap pun, Pak
Wijaya menjaga buku itu.
“Saya mau minta tolong Mbak Dian, untuk
menyerahkannya kepada anak angkat saya,” pinta arwah
Pak Wijaya.
Dengan tangan gemetar, Dian mengambil buku
hantu dan mengamankan cek yang dimaksud Pak Wijaya.
Detak jantungnya pun perlahan mulai normal. Namun, dia
masih merasakan embusan udara dingin.
Keesokan harinya, saat jam istirahat Dian menuju
rumah anak angkat Pak Wijaya. Bangunan sederhana
68
terlihat asri dengan aneka tanaman di halamannya. Suasana
haru langusng menyelimuti ruang tamu, begitu Dian
menyerahkan amanat dari Pak Wijaya.
“Terima kasih, Mbak Dian,” ujar anak angkat Pak
Wijaya. “Begitu Bapak meninggal saya langsung diusir dari
rumah, karena hanya anak angkat.”
“Enggak nyangka, ternyata Bapak sangat
memprhatikan saya,” lanjutnya.
Sejak saat itu, tidak ada lagi buku hantu di
perpustakaan. Namun, suara-suara misterius masih sering
terdengar saat Dian pulang terlambat. Tak jarang pula
kelebat bayangan makhluk astral tertangkap oleh sudut
mata gadis itu. Mungkin mereka ingin meminta
bantuannya, seperti yang dilakukan hantu Pak Wijaya.
Pura-pura enggak denger dan enggak liat, batinnya
ketika para makhluk itu mulai muncul.
Baginya, cukup Pak Wijaya saja yang menghantui.
Itu adalah pengalaman pertama dan terakhir. [tamat]
1. Jangan takut sama begitua. Kalau kamu taku dia jadi tambah seneng.
69
Idamaningsih
S elepas salat Isya dan makan malam, aku, suami dan
anak-anak selalu menghabiskan waktu di ruang
keluarga. Meskipun rumah kontrakan yang cukup mungil,
asalkan kita selalu bersama, seolah berada di istana yang
sangat megah.
“Dek, temenku nawarin rumah di daerah Gumuk,
Kalibiyen. Harganya murah,” kata Mas Sapto—suamiku.
“Katanya, orang yang mau jual butuh uang buat nyusul
anaknya ke Sumatera.”
Baru delapan bulan, Mas Sapto dimutasi ke Kota
Gudeg. Namun, suasana kota dan keramahan
penduduknya membuatku merasa sangat betah dan ingin
menetap. Mungkin rumah di daerah itu adalah pertanda
bahwa Allah mengabulkan keinginanku.
“Walaupun di pinggiran kota, tapi lokasinya
rumahnya di pinggir jalan raya. Kamu nanti bisa
meneruskan usaha rias pengantin, di sana.” Mas Sapto
semakin membuat hatiku berbunga-bunga.
Di akhir pekan, aku dan Mas Sapto menyempatkan
diri melihat rumah yang dimaksud. Bangunan itu tidak
70
terlalu besar, tapi mempunyai pekarangan yang luas. Benar
kata suamiku, bahwa posisi rumah tepat di pinggir jalan
raya. Cocok sekali untuk membuka usaha.
Setelah mengecek kelengkapan surat-surat, rumah
itu resmi menjadi milik kami. Ada rasa bangga karena bisa
membeli tempat tinggal dari hasil tabungan selama lima
tahun. Satu hal yang pasti, kemungkinan besar kami akan
menetap di Yogyakarta.
“Sampeyan pemilik baru rumah ini?” tanya lelaki tua,
tetapi masih terlihat gagah. “Oh iya nama saya Slamet,
panggil saja Pakde Slamet.
Pakde Slamet cukup ramah. Lelaki itu bersedia
membantu dalam urusan renovasi. Hal yang sedikit
mustahil kami lakukan sebagai warga baru. Pak Slamet
bersedia mencarikan tukang bangunan dan mengawasi
kerja mereka. Aku dan Mas Sapto cukup menyediakan
anggaran saja.
***
Akhir minggu Mas Sapto mengajakku untuk
mengecek pekerjaan Pakde Slamet. Saat tiba di sana, lelaki
tua itu tidak ada. Tentu saja kami tak bisa masuk, karena
kunci rumah dibawa Pakde Slamet. Kami hanya berkeliling
mengitari bangunan hingga kumandang azan Magrib.
“Kita salat dulu di sini, Dek. Sekalian kenalan sama
tetangga.” Aku setuju dengan usulan itu.
“Sampeyan yang beli rumah di ujung jalan itu, ya?”
tanya Pak Yadi—salah satu jemaah masjid—saat Mas
71
Sapto memperkenalkan diri. “Kapan mau ditempati
rumahnya?”
“Insyaallah satu minggu lagi, Pak. Sekarang sedang
direnovasi oleh Pakde Slamet,” jawab suamiku.
Pak Yadi mengernyit. Terlihat jelas kebingungan di
wajahnya.
“Pakde Slamet sopo?” tanya Pak Yadi.
Mas Sapto menjelaskan ciri-ciri lelaki tua yang
dipercaya untuk mengawasi pekerjaan renovasi itu. Aku
terus memperhatikan Pak Yadi. Keriput di keningnya
semakin kentara.
“Kok saya enggak kenal, ya? Padahal saya ketua RW
di sini, lo,” ujar Pak Yadi.
“Mungkin Pakde Slamet tidak bergaul dengan
mereka, Mas,” kataku saat perjalanan pulang.
Minggu berikutnya kami mengecek kembali rumah
Kalibayem. Ternyata selesai lebih cepat tiga hari dari
perkiraan. Pakde Slamet sudah duduk di teras sambil
ditemani rokok, singkong bakar dan kopi hitam.
Aku berkeliling melihat seluruh ruangan rumah itu.
Kerja Pakde Slamet sangat memuaskan. Rumah yang
tadinya berantakan terkesan sedikit menyeramkan, kini
berubah menjadi lebih indah.
“Wah, Pakde, kami jadi ingin segera pindah,” ujar
Mas Sapto setelah berkeliling. Wajah Mas Sapto pun
menyiratkan kepuasan.
72
“Kapan pindah ke sini?” tanya Pakde Slamet.
“Mungkin minggu depan, Pakde. Besok kami mulai
mengemas barang-barang,” jawab suamiku.
Pakde Slamet menawarkan bantuan tenaga untuk
membantu merapikan barang-barang, saat kami sampai
nanti. Dengan senang hati Mas Sapto menyambut usulan
itu.
“Nanti ongkosnya sekalian, ya, Pakde.”
“Gampang. Itu bisa dibicarakan nanti. Yang penting
pindah ke sini dulu,” ucap Pakde Slamet.
Wah, baik sekali orang ini. tidak seperti tukang pada
umumnya, batinku. Tidak seperti tukang pada umumnya. Belum
beres kerja sudah minta upah.
***
Hari kepindahan ke Kalibayem pun tiba. Sesuai janji,
Pakde Slamet membawa anak buahnya untuk membantu
kami memindahkan barang dari truk ke dalam rumah
sekaligus menatanya. Dalam waktu singkat, barang-barang
besar seperti lemari dan dipan sudah di posisi masing-
masing. Tinggal membereskan barang kecil-kecil seperti
baju, peralatan dapur, dan sebagainya.
“Ga usah, Nak Sapto. Pakde senang bantu-bantu,”
kata Pakde Slamet saat Mas Sapto menyerahkan amplop
berisi uang jasa.
“Lo, Pakde ini gimana toh? Kan bahan bangunannya
beli pakai uang. Ini saya ganti semua sesuai kwitansinya.”
73
Mas Sapto terlihat heran dengan penolakan lelaki tua itu
dan terus memaksa untuk menerima uang itu.
“Gini aja. Saya mau minta tolong Nak Ida untuk
merias anak saya di hari pernikahannya.”
Tanpa pikir panjang aku langsung menyetujui dan
berjanji akan memberikan yang terbaik untuk acara itu.
Apalagi pernikahan akan digelar selama tiga hari, tiga
malam.
***
“Aku temani, Bu?” tanya Ridwan—anakku. Biasanya
jika ada panggilan merias dia yang selalu mengawal.
“Ga usah. Ibu diantar jemput anak buahnya Pakde
Slamet. Insyaallah aman.” Aku menolak tawarannya.
Aku hanya membawa tas berisi peralatan rias dan
rangkaian bunga melati. Baju dan perlengkapan lain sudah
disiapkan.
Dua anak buah Pakde Slamet sudah menunggu di
halaman. Badan mereka tinggi besar, mirip pengawal mafia
di film-film. Jarak rumah Pakde Slamet tidak terlalu jauh,
bisa berjalan kaki. Sepanjang perjalanan sangat hening.
Biasanya aku banyak bicara, walaupun sekedar basa-basi.
Namun, kala itu mulut rasanya terkunci. Bulu kuduk tak
berhenti menegang. Hawa dingin terasa menusuk hingga
ke tulang. Mungkin karena sisa hujan yang turun
Rumah Pakde Slamet cukup besar. Bangunan
dengan pendopo yang sangat kuno, tetapi terawat dan
74
halaman luas. Terlihat kesibukan di semua sudut.
Sepertinya, Pakde Slamet adalah orang yang berpengaruh
di daerah itu.
Asap tebal dari beberapa tungku membuat
pandangan menjadi kabur. Aroma umbi-umbian bakar
yang menguar, menusuk hidung membuatku merinding.
Konon, jika tercium bau singkong bakar makhluk astral
sejenis genderuwo sedang berada di sekitar kita. Ditambah
suara tabuhan gamelan, mirip musik jatilan. Namun, segera
kutepis pikiran itu.
Astagfirullahalazim, batinku.
Pakde Slamet dan istrinya sendiri yang
menyambutku. Kami berbicang sebentar di ruang tengah
bangunan. Aneka umbi-umbian bakar, camilan, dan
minuman hangat menjadi teman mengobrol. Rasanya agak
hambar saat menyentuh lidah.
Setelah cukup berbincang, aku diantar ke setong atau
kamar pengantin. Bau dupa menguar dari dalam. Bulu
kuduk kembali menegang. Ada rasa sesal, kenapa kutolak
tawaran Ridwan tadi?
Ah hanya perasaanku saja, batinku menghibur diri.
“Assalamualaikum,” sapaku pada pengantin
perempuan, saat memasuki kamar. Taka da jawaban. Dia
langsung bangkit dan meminta untuk segera dirias.
Aku terkejut begitu melihat postur gadis itu.
Tinggiku tidak sampai sebahunya.
75
“Bu, tolong segera merias. Dan saya mohon, jangan
terlalu banyak tanya,” ucap gadis itu dengan penuh
penekanan.
Agak kesal juga mendengar kata-katanya. Tahu saja
dia kalau aku cerewet. Tanpa banyak bicara, aku langsung
memulai dengan menyisir rambut hitam dan panjangnya.
Sudah tiga puluh tahun bergelut di bidang rias
pengantin, baru kali ini aku mengalami kesulitan. Bedak
yang biasa kupakai susah menepel di wajah gadis itu. Setiap
kali memalingkan pandangan, aku merasa raut mukanya
berubah-ubah.
Aku tertegun saat akan memakaikan lipstik. Antara
bibir atas dan hidung tidak ada cekungan. Jantung kembali
terpacu dan tangan bergetar. Segera kubatin ayat-ayat suci
Al-Qur’an untuk mengatasinya. Akhirnya, dengan penuh
perjuangan riasan midodareni selesai. Masih ada dua riasan
lagi.
Istri Pakde Slamet memintaku untuk beristirahat
sambil menunggu acara selanjutnya. Sesaat kulihat bagian
diantara bibir atas dan hidungnya—persis sama dengan si
pengantin—rata, tidak ada cekungan. Bulu kuduk kembali
menegang ketika teringat mitos, bahwa orang tanpa
cekungan di antara bibir atas dan hidung, dia adalah
genderuwo.
Mungkin salah liat, batinku, menenangkan diri.
76
Riasan untuk acara selanjutnya adalah daup manten
gaya putri solo. Kali ini tidak ada kesulitan sama sekali. Aku
cukup puas dengan hasilnya. Si pengantin terlihat cantik.
“Nak Ida, sudah cukup meriasnya. Sekarang Nak Ida
boleh pulang,” ujar Pakde Slamet.
Seelum pulang, istri Pakde Slamet membawakan
sekantong keresek buah tangan yang lumayan berat. Entah
apa saja yang dimasukkan ke dalamnya.
Aku diantar oleh dua orang yang sama dengan yang
menjemput waktu itu. Namun, kali ini aku disuruh berjalan
di depan.
“Jalan lurus saja. Jangan menengok ke belakang.
Nanti ada lampu di depan, itu rumah Ibu.” Aku menuruti
perintah mereka.
Baru beberapa langkah, bau tidak sedap seperti
bangkai menusuk saraf hidung. Kantong kresek dari Pakde
Slamet semakin lama semakin berat, membuatku terpaksa
berhenti. Pengawal itu berdehem, menyuruh untuk terus
berjalan. Namun, aku tak kuat mengangkat kantong itu.
Dengan kesal kubalikkan badan, dengan tujuan
untuk memarahi keduanya. Tiba-tiba mata terbelalak,
mulut menganga saat melihat dua sosok itu. Tubuh mereka
besar dan tinggi dengan kepala yang tidak berbentuk. Mata
menatap tajam ke arahku.
Detak jantung terpacu sangat cepat, membuat napas
terengah-engah. Aku terduduk tak berdaya saat mereka
77
bergerak perlahan sambil menjulurkan tangan. Sesaat
kemudian semua menjadi semakin gelap.
***
“Loh, Bu Ida, kenapa bisa sampai di sini?” tanya Pak
Yadi.
Menurut cerita, aku ditemukan oleh orang-orang
yang mencari belut di pematang sawah, tak jauh dari batas
desa. Oleh karena warga baru, tidak ada yang mengenaliku,
sehingga mereka membawa ke balai RW. Untung ada Pak
Yadi. Aku pun diantar pulang oleh beberapa warga
kampung.
Begitu sampai, aku terkejut melihat keadaan rumah.
Bangunan yang rapi dan cantik berubah seperti sedia kala.
Barang-barang berantakan. Mas Sapto dan Ridwan tidur
beralaskan tikar. Mereka langsung bangun saat mendengar
suaraku.
“Gimana meriasnya, Dek?” tanya Mas Sapto. “Loh,
kok ….?”
Kerutan di kening Mas Sapto terlihat jelas. Dia
mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Pak Yadi dan beberapa orang kembali menjelaskan,
bahwa orang yang tinggal di daerah gumuk sering menjadi
sasaran kejahilan makhluk tak kasat mata, terutama para
pendatang. Tak jarang dari mereka mengalami kejadian
seerti yang kami alami. Pantas saja, Pak Yadi tidak
mengenal Pakde Slamet.
78
Ternyata Mas Sapto dan aku terkena sihir
genderuwo. Sebenarnya rumah kami belum direnovasi dan
barang-barang pun berantakan. Tentu saja, pengantin yang
kurias adalah pengantin genderuwo.
Kami memutuskan untuk menjual kembali rumah di
Kalibayem. [tamat]
79
Romi Windartono
K onflik keluarga yang terjadi secara turun menurun
sejak Kakek dan Nenek Buyut disebabkan karena
perebutan hak akulayat*2 atas tanah dan bukit di kampung
Yapen Timur. Cerita puluhan tahun itu telah membuat
perpecahan di keluarga besar kami. Dari sepenggal kisah
yang kudengar saat Mama bercerita dengan saudaranya,
ternyata perseteruan itu sudah banyak memakan korban
jiwa yang meninggal secara tidak wajar. Apakah semua ini
karena ulah Suanggi?
***
“Theo! Pulang tempo! Matahari su mo tenggelam ini, cepat
masuk rumah!”*3 teriak Mama dari jendela rumah kayu
memanggil. Kala itu, aku masih asik bermain lempar batu
bersama teman-teman di halaman tepat di depan rumah.
“Tuher! Ko macam tra takut kapa sama suanggi, ka?”*4
Mama berbicara dengan nada yang sangat pelan dan nyaris
tidak terdengar.
80
Ekspresiku langsung berubah. Dahi berkerut, mata
menyipit. Jantung berdetak lebih cepat ketika Mama
menyebut suanggi. Tanpa pikir panjang kami langsung
membubarkan diri.
Sebenarnya pantang bagi kami menyebut suanggi,
apalagi bagi masyarakat yang tinggal di kepulauan Yapen,
salah satu kabupaten di propinsi Papua Barat yang berada
di sebelah utara teluk Cendrawasih, Papua. Suanggi adalah
semacam ilmu hitam yang biasa digunakan untuk
membunuh sesamanya terutama orang yang tidak disukai.
Suanggi adalah manusia yang memiliki ilmu tinggi
untuk berubah wujud di malam hari menjadi bola api yang
melayang-layang. Ilmu hitam itu juga bisa berupa bayangan
yang masuk ke dalam tubuh orang yang menjadi
incarannya. Jika sudah masuk, dia akan memakan organ
dalam tubuh hingga mengakibatkan meninggal secara tidak
wajar dengan tubuh mengeras seperti batu. Korban akan
menderita sakit yang tidak terdeteksi oleh medis dalam
beberapa hari.
Sangat sulit membedakan seseorang yang memiliki
ilmu suanggi dengan orang kebanyakan secara kasat mata.
Suanggi hidup berbaur bersama warga di siang hari,
meskipun ada juga yang hidup menyendiri di dalam hutan.
Seseorang yang sudah berniat untuk mempelajari ilmu itu
harus melalui proses ritual yang panjang dengan resiko
tinggi bahkan harus rela mengorbankan keluarga dan
keturunannya untuk dijadikan tumbal. Tidak sedikit orang
yang gagal dan akhirnya menjadi gila seumur hidupnya.
81
“Pokoknya kalau lihat ada orang yang matanya
menyala, dan bau kuskus, kau harus berhati-hati. itu
suanggi,” kata Mama. “Lebih baik menjauhinya.”
“Kalau tiba-tiba ada di depan kita, gimana?” tanyaku.
“Kau harus selalu membawa batu coral laut, ikan
poro bibi dan jetuk purut,” jawab Mama. “Suanggi tidak
suka dengan benda-benda itu.”
Di balik keangkeran dan semua kisah yang
mengerikan, sebenarnya Suanggi tidak mengganggu.
Kecuali memang ada permintaan untuk membunuh
dengan imbalan sejumlah uang.
***
Hari Minggu pagi Mama sudah sibuk memastikan
bekal sagu, ikan asar, daging babi dan pinang yang telah
disiapkan dari semalam untuk dibawa ke rumah Tete—
kakekku—di kampung Poom, dekat kawasan hutan yang
masih perawan dan belum terjamah manusia. Sudah
menjadi tradisi keluarga kami setiap ada waktu luang
berkunjung ke rumah itu. Perjalanan ditempuh dengan
berjalan kaki seharian, menjelang sore hari kami baru tiba.
Rumah Tete adalah rumah kayu sederhana, sejuk
karena menyatu dengan alam. Penerangan dengan miyak
babi membuat rumah itu terasa menyeramkan.
“Wah, kalian sudah datang.” Mata yang mulai renta
itu terlihat bercahaya ketika melihat kami.
82
Tete memang hidup seorang diri. Tidak ada yang
mengunjungi selain kami. Tak heran jika anak dan cucunya
berkunjung senyuman tak pernah hilang dari wajah keriput
itu.
Rumah kayu kecil sempit yang sebelumnya sunyi,
menjadi ceria dan ramai dengan tawa, canda, serta cerita.
Makan malam dengan menu papeda sop ikan asar sungguh
nikmat. Sudah dapat dipastikan masakan Mama bakal
membuat tidurku nyenyak malam ini.
“Theo cucuku, jang ko takut, sa ko pu Tete yang datang ke
mimpimu ....”*5 Suara berat dan datar yang tiba-tiba saja
terdengar antara sadar dan mimpi.
Dengan mata yang masih berat karena kantuk, aku
memastikan semua orang ada di ruangan itu. Kutarik
selimut dan melanjutkan tidur.
“Bangun Cucu, ayo kitong keluar rumah, ada Tete mo kas
lihat ko diluar.”*6 Suara itu muncul lagi.
Tete? Di mana? tanyaku dalam hati.
Mata masih lengket, tetapi kupaksa untuk
mengedarkan pandangan ke seluruh kamar hingga ke
sudut. Perlahan pengelihatan mulai normal, tetapi Tete
tidak ada. Rasa haus membuatku bangkit.
Aku mendengar suara sedikit gaduh di halaman
rumah Tete begitu keluar kamar. Tujuh hingga sembilan
orang mengelilingi api unggun, saat membuka pintu.
Sepengetahuanku, Tete tidak mempunyai teman atau
tetangga. Namun, malam itu orang-orang berkumpul.
83
Semua yang hadir malam itu berbadan kurus,
berkulit hitam, seperti orang sakit yang tidak mampu
berdiri. Kepala tertunduk dan rambut gimbal membuat
wajah mereka tidak terlihat samar. Mereka bertelanjang
dada. Bagianbawah tubuh hanya ditutup dengan koteka.
Aroma busuk seperti kotoran kuskus terasa pekat sekali di
hidung.
Semilir angin malam terasa lebih dingin, membuat
bulu-bulu halus di sekujur tubuh menegang. Jantung
terpacu. Keringat dingin mulai membasahi tubuh. Terlebih
ketika Tete menghampiri. Jemari kurus dan berkuku
memegang tanganku dan menarik ke dekat api unggun.
“Ini sa pu cucu, Theo pu nama, torang semua harus tau Theo
kelak yang akan mewarisi sa pu ilmu, jadi torang semua harus baku
jaga supaya Theo dan dorang pu sodara semua selamat sampai
kelak tiba saatnya sa kas turun semua ilmu ke cucuku ini,”*7 ujar
Tete dengan nada berat dan berwibawa memecahkan
keheningan malam. Semua yang berkumpul dalam
lingkaran api unggun saling bertatapan sambil mengguman
tidak jelas.
Apa maksud Tete? Ilmu apa yang akan diturunkan
kepadaku? Batinku pebuh tanya.
Aku menoleh ke arah Tete yang berdiri tegap. Badan
kurus kerempeng dengan tulang bahu besar membuatnya
terlihat gagah dan berwibawa. Namun, saat melihat mata
Tete yang merah menyala, Aku hanya tertunduk lemas,
menatap tanah hitam yang dingin.
84
Ritual malam itu berlanjut dengan nyanyian dan
tarian bagaikan daun ilalang yang tertiup angin. Gumaman
dari semua orang tidak jelas tetapi berirama, membuat bulu
kuduk berdiri. Saat bulan purnama mulai menghilang maka
berakhir pula ritual malam itu. Dalam sekejap semua orang
hilang bersamaan dengan kemunculan gumpalan-
gumpalan bola api yang terbang berputar-putar dan
meluncur ke segala arah.
***
“Theo bangun! Alee ko tidur macam orang mati
saja.” Mama membangunkanku.
Pagi itu kami harus kembali ke Kampung Yapen
Timur.
“Aih, Mama sa masih mengantuk ini, baru sa pu
badan rasa pegal-pegal semua,” jawabku sekenanya karena
masih didera rasa kantuk yang sangat.
“Oiyo eee, ko tinggal di sini sama Tete saja sudah
eee. Kitong mo pulang sekarang.”
Tiba-tiba aku teringat kejadian semalam dan segera
bangkit dari tempat tidur, bergegas menyiapkan barang-
barang yanag dibawa pulang. Masih antara sadar dan
mengantuk aku mencoba mengingat-ingat lagi kejadian
semalam.
Setelah semua bersiap pergi meninggalkan rumah
dan berpamitan,aku menyempatkan melirik Tete dari
kejauhan. Pria tua itu tersenyum sambil menyilangkan jari
telunjuk di bibirnya. Aku bergidik.
85
Tuhan, benarkah sa pu Tete, suanggi? Apa benar Tete yang
membunuh saudara-saudara sekandungnya? Apakah karena
dendam Hak Akulayat? Apa benar aku yang menjadi penerus ilmu
itu?
Biarlah waktu berjalan seiring dengan kearifan
budaya lokal di tanah Yapen, Papua. Jangan pernah
membicarakan tentang Suanggi di siang hari. Siapa tahu
malam harinya dia akan datang dan masuk dalam
rumahmu. [tamat]
86
1) Kakekku Suanggi: Manusia jadi-jadian.
2) Hak pelepasan tanah adat.
3) “Theo pulang cepat, matahari sudah mau tenggelam, cepat masuk
rumah”
4) “Tuher (tanda keheranan) kau seperti tidak takut dengan Suanggi,
kah?”
5) “Cucuku, janganlah kau takut, saya kakekmu yang hadir dalam
mimpi”
6) “Bangun cucuku, ayo kita keluar rumah, ada kakek mau kasih lihat
di luar”
7) “Ini Cucuku namanya Theo, kalian harus tahu kelak Theo yang
mewarisi ilmuku, jadi kalian harus menjaga Theo dan keluarganya
hingga tiba saatnya saya turunkan ilmu ke dia”
Glosarium Papua:
Sa Pu = Saya punya
Tete = Kakek
Tempo = Cepat
Tuher = Tuhan saja heran; menyatakan keheranan
Ko Tra = Kau tidak
Jang Ko = Jangan kau
Kitong = Kita orang
Dorang = Mereka semua
Torang = Kita semua
Tra/ Trada = Tidak ada
Sa Kas = Saya kasih; Saya beri
Baku Jaga = Saling menjaga
Koteka = Buah labu yang dikeringkan untuk menutup
kemaluan laki-laki.
87
Muslimah
M alam belum begitu larut. Di jalanan masih
berseliweran kendaraan. Kondisi badan yang letih,
membuat konsentrasi berkurang. Seharusnya aku belok
kanan di pertigaan tadi, agar cepat sampai ke kos-kosan,
tapi malah lurus. Tidak mungkin berbalik arah, ini jalan
satu jalur. Di atas tengah malam, baru bisa dua jalur.
Kupelankan laju motor, untuk mengamati, adakah
kendaraan yang berlawanan arah. Misalkan ada, akan
kuikuti. Sampai dua ratus meter, tak ada kendaraan yang
berlawanan arah. Hingga di depan sebuah gedung yang
lampunya sudah padam, tampak seorang gadis
melambaikan tangan.
Rupanya dia mengira aku tukang ojek. Meminta
untuk diantar pulang. Tak apalah, hanya berjarak lima
kilometer dari kos-kosan.
“Sebelah pasar unggas, ya, Mas.”
88
“Pulang kerja ya, Mbak? Kerja di mana?” tanyaku
memecah keheningan.
“Iya Mas. Kerja di bioskop. Mas dari narik atau ...”
“Dari perpustakaan, cari wi-fi gratis,” potongku,
sekaligus memberi tahu kalau aku bukan tukang ojek.
Aku mahasiswa yang harus berhemat, karena bukan
dari kalangan orang mampu. Bisa kuliah juga berkat
beasiswa. Kos-kosan pun yang murah dan tidak ada
fasilitas wi-fi. Dia pun meminta maaf, tetapi tetap minta
diantar sampai ke tujuan.
Sebagai permintaan maaf, gadis itu menawarkan
tiket nonton film gratis di bioskop tempatnya bekerja.
“Mas belum pernah nonton?” Keningnya berkerut
saat mendengar aku belum pernah nonton.
Jangankan nonton, masuk ke dalam gedung bioskop
saja belum pernah. Maklum, di kabupaten asalku terlalu
kecil, sehingga pengusaha bioskop tidak ada yang mau
berinvestasi. Selain itu, perekonomian keluargaku biasa-
biasa saja. Penghasilan Bapak hanya cukup untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari dan keperluan sekolah
anak-anaknya.
“Sekali lagi aku minta maaf, ya, Mas,” ujar gadis itu
setelah sampai di tempat tujuannya sambil menyodorkan
selembar uang dua puluh ribuan.
89
“Terima kasih, Mbak. Tapi maaf saya bukan tukang
ojek.” Aku menolak lembaran itu, walaupun sebenarnya
lumayan bisa menambah uang saku.
“Kalau gitu …,” kata gadis itu. “Malam Minggu aku
tunggu di bioskop. Tengah malam aja.”
Aku mengernyit, tak tahu kalau ada pertunjukan
tengah malam. Gadis itu meyakinkan bahwa ada film yang
diputar jam dua belas malam. Penontonnya pun selalu
penuh.
“Oke deh.” Gadis itu berlalu menyeberang jalan,
setelah mendengar persetujuanku.
Eh ... setahuku, di seberang pasar unggas ini tak ada
perumahan. Apa aku yang kurang piknik ya? Tahu pasar ini
saat mengantar teman satu kos-kosan yang akan berpesta
ulang tahun.
***
Aku pernah ditertawakan oleh teman-teman sekos-
kosan, gara-gara belum pernah nonton film di bioskop.
Mungkin tawaran dari gadis semalam bisa menghilangkan
gelar kuper yang aku sandang. Aryo—teman di kamar
sebelah—tertawa terpingkal-pingkal saat bertanya tentang
pemutaran film tengah malam.
“Namanya midnight, yang nonton banyak. Biasanya
film baru. Apalagi kalau film box office, sampai harus pesan
tiket segala,” tuturnya panjang lebar.
90
“Ada baiknya sekali-kali pergi ke bioskop. Nonton
film. Jangan belajar terus. Cari hiburan,” ucap Aryo sok
bijak.
Rasa penasaran semakin membuncah. Seperti apa
ruangan dalam gedung bioskop? Namun, ada yang
mengganjal di hati, aku lupa menanyakan nama gadis itu.
Bagaimana menghubunginya untuk bisa bertemu?
Mencari di tempat aku mengantar adalah hal yang tak
mungkin. Kami hanya berhenti di pinggir jalan. Gadis itu
tak mau diantar sampai rumahnya. Kampung sebelah pasar
unggas, sarang para preman dan tukang palak. Sedangkan
di seberang jalan, ada rumah sakit dan pemakaman umum.
Sudah pasti tidak ada yang bisa aku tanyai tentang gadis
penjaga loket bioskop itu.
Siang yang terik, selepas jam kuliah, aku
menyempatkan untuk berjalan di depan gedung bioskop di
jalan searah itu. Siapa tahu gadis itu ada di sekitar sana.
Gedung tampak sepi. Di papan pengumuman, tertulis
jadwal pertunjukan film. Tertulis ada pertunjukan tengah
malam di Sabtu malam. Semoga dia tidak lupa janjinya kala
itu.
***
Malam yang ditunggu akhirnya tiba. Demi janji
dengan gadis penjaga loket bioskop, aku rela tidak pulang
kampung dan sendirian di kos-kosan. Aku memang jarang
pulang kampung jika liburan tiba. Selain memakan waktu
tujuh jam hingga sampai ke kampung, rasanya sayang
91
mengeluarkan uang untuk membayar ongkos. Alhasil,
hampir setiap malam minggu aku menghabiskan waktu di
perpustakaan kampus dan menginap di secretariat UKM
atau masjid.
Menjelang tengah malam, aku sudah sampai di
parkiran gedung bioskop. Benar juga kata Aryo, di loket
tampak antrian penonton. Agak ragu ketika melangkah ke
sana.
“Mas.” Seseorang mencolek bahuku sebelum masuk
ke antrian penonoton.
Senyum terkembang dari bibir tipis bergincu warna
pastel. Ada getaran aneh di dada. Rasanya tak ingin
melepaskan pandangan dari wajah gadis itu.
Cantik banget, batinku.
“Ini tiketnya. Nanti ketemu di dalam ya. Aku mau
tugas dulu.”
Gadis itu bergerak cepat menuju tempat tugasnya
setelah menyerahkan selembar tiket, sekotak popcorn dan
minuman. Aku hanya melongo memandang bergantian
semua benda di tangan dan punggung gadis penjaga loket.
Aku bahkan tidak sempat menanyakan namanya.
Di dalam ruangan aku kembali mengedarkan
pandangan ke sekeliling. Bangku bersusun berundak dan
ada layar putih besar di bagian depan. Embusan udara dari
pendingin ruangan membuat tubuhku sedikit mengigil.
92