The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Laporan Kelompok PLP Universitas Muhammadiyah Palangka Raya Tahun 2020.
Terima Kasih kepada pihak yang telah membantu kami selama PLP di SMK Karsa Mulya Palangka Raya.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Triafriady, 2020-10-11 09:40:56

Laporan Kelompok PLP UMP Tahun 2020

Laporan Kelompok PLP Universitas Muhammadiyah Palangka Raya Tahun 2020.
Terima Kasih kepada pihak yang telah membantu kami selama PLP di SMK Karsa Mulya Palangka Raya.

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN KELOMPOK
PENGENALAN LAPANGAN PERSEKOLAHAN (PLP)

DI SMK KARSA MULYA

Disusun Oleh:

Nama Anggota Kelompok:

DEDY MULYONO 17.24.018571
TRIAFRIADY 17.24.018335
BAHRUL ELMI 17.24.018565
PRIATAMA ARDIANTO 17.24.018337
NANDA LAILI NURSAFITRI 17.24.018330
FEBRILIANTI 17.24.018338
QURROTA A’YUNI 17.24.018578
RAHMI 17.24.018573
NENSI UTAMI 17.24.018572

LEMBAGA PELAKSANA PENGENALAN LAPANGAN PERSEKOLAHAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKA RAYA

TAHUN AKADEMIK 2020/2021





DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...................................................................................................................ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN

A. Sejarah Perkembangan Sekolah..........................................................................1
B. Struktur Organisasi Sekolah ...............................................................................2
C. Denah Lokasi Sekolah ........................................................................................3
D. Keadaan Fisik Sekolah........................................................................................3
E. Keadaan Fasilitas Civitas Akademik Sekolah ....................................................3

BAB II MASALAH KEPENDIDIKAN
A. Pengelolaan/ Pelaksanaan Kurikulum.................................................................6
B. Pembinaan Kesiswaan ........................................................................................17
C. Penyelenggaraan Kegiatan Ekstrakulikuler ........................................................25
D. Pembinaan Kerjasama dengan Orang Tua ..........................................................25
E. Pengelolaan Fasilitas Pembelajaran ....................................................................27
F. Pengelolaan Kesejahteraan Civitas Akademik ...................................................28

BAB III PENANGGULANGAN MASALAH KEPENDIDIKAN
A. Upaya Penanggulangan Pengelola/ Pelaksanaan Kurikulum .............................29
B. Upaya Penanggulangan Pembinaan Kesiswaan..................................................29
C. Upaya Penanggulangan Penyelenggaraan Kegiatan Ekstrakulikuler .................30
D. Upaya Penanggulangan Pembinaan Kerja Sama Dengan Orang Siswa .............31
E. Upaya Penanggulangan Pengelola Fasilitas Pembelajaran.................................32
F. Upaya Penanggulangan Pengelola Kesejahteraan Civitas Akademik ................32

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan .........................................................................................................33
B. Saran ...................................................................................................................33

DAFTAR PUSTAKA
RPP
LAMPIRAN – LAMPIRAN

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Sejarah Perkembangan Sekolah
Yayasan Karsa Mulya Palangka Raya merupakan gagasan luar biasa Ibu

Hj. Soedati Warsito Rasman (istri H. Warsito Rasman, M.A / Gubernur Kalimantan
Tengah tahun 1993 – 2000) dengan unit kegiatan Pelatihan bagi Pemuda Pemudi
(khususnya yang putus sekolah) yang berkeinginan untuk maju dan berkarir
dan mandiri. Peserta pelatihan dimaksud dibekali dengan berbagai ketrampilan
teoritis maupun praktis kejuruan sesuai program dengan fasilitas asrama, makan dan
transport. Program yang disajikan Yayasan Karsa Mulya pada saat itu antara lain
ketrampilan : Otomotif, Wirausaha, Komputer, Batik, Perikanan dan Peternakan,
Pembuatan Batako, Las, Menjahit, Kecantikan, Jasa Boga. Harapannya adalah
setelah peserta diklat selesai mengikuti program dimaksud dan dinyatakan
lulus, langsung bisa terjun di masyarakat dengan berwirausaha atau bekerja sesuai
dengan bidang pelatihan yang diikutinya. Program ini terealisasi pada tahun 1996
sampai dengan tahun 2000 yang terbagi menjadi 10 angkatan pelatihan. Sesuai dengan
perkembangannya, demi peningkatan pelayanan Yayasan yang lebih baik dan
formal maka pada Tanggal 11 Agustus 2000 atas prakarsa Ibu Soedati Warsito
Rasman dan diamanatkan kepada Tim Pendiri SMK Karsa Mulya yang terdiri dari :
1. Ny. Netty F. Dirun, BA (Penanggung Jawab)
2. Suprapto Wahyunianto, S.Pd ( Koordinator )
3. Marsiyo ( Sekretariat)
4. Yakup Prio Sudarmono ( Anggota Sekretariat )
bertempat di Gedung Wanita Jl. Diponegoro Palangka Raya , disepakati bahwa unit
kegiatan Yayasan Karsa Mulya dikembangkan dengan membuka unit kegiatan SMK
Otomotif dengan nama “SMK Karsa Mulya“, hal ini dikarenakan pada saat itu potensi
sarana dan prasarana serta sumber daya manusia relatif lebih siap dan memenuhi
standar pendirian sebuah SMK Otomotif. Setelah seluruh prosedur pendirian sekolah
dilengkapi , maka tertanggal 14 Pebruari 2001 Ijin Operaional SMK Karsa Mulya terbit
dengan SK Kepala Kanwil Depdiknas Prop. Kalimantan Tengah Nomor:
18/KPTS.10/MN/2001 tanggal 14 Pebruari 2001

1

B. Stuktur Organisasi Sekolah
Pada Struktural Utama dapat diuraikan sebagai berikut :
1. PENGURUS YAYASAN, berwenang untuk kebijakan yang diamanatkan dalam
AD/ART/Putusan/Ketetapan Yayasan.
2. PENANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN FORMAL, berwenang untuk
kebijakan yang diamanatkan dalam AD/ART/Putusan/Ketetapan Yayasan.
3. KEPALA SEKOLAH, melaksanakan dan menjalankan kebijakan Sekolah
berdasarkan ketentuan yang mengikatnya, dan bertanggung jawab kepada Yayasan
maupun Kedinasan lainnya yang ditentukan.
4. WAKIL KEPALA SEKOLAH, bersama-sama dengan Kepala Sekolah
melaksanakan tugas sesuai dengan kewenanganya dan bertanggung jawab kepada
Kepala Sekolah. Terdiri dari : Waka Kesiswaan, Kurikulum, Humas, Sarana
Prasarana
5. KETUA KOMPETENSI KEAHLIAN, bersama – sama Guru sesuai dengan
kompetensinya, menyelenggarakan proses diklat agar berjalan dengan baik,
bertanggungjawab kepada Kepala Sekolah dengan berkoordinasi dengan Wakil
Kepala Sekolah; bertanggung jawab kepada Kepala Sekolah. Terdiri dari
Kompetensi : Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Sepeda Motor, Multimedia,
Bisnis dan Tata Niaga
6. KEPALA LABORATORIUM / BENGKEL, bersama – sama Guru produktif atau
pratikan menyiapkan dan mendukung seluruh proses diklat yang menjadi
kewajibanya dengan selalu berkoordinasi dengan Ketua Kompetensi Keahlian
masing masing; bertanggung jawab kepada Kepala Sekolah. Terdiri dari :
Laboratorium KKPI, Multimedia, Bengkel Mobil, Bengkel Sepeda Motor, Bisnis
Center.
7. WALI KELAS, bersama-sama Guru bekerja sama mendukung secara
administrasi dan manajemen agar manajemen kelas yang menjadi kewenanganya
dapat berlangsung dengan tertib, aman, nyaman dan kondusif; bertanggung jawab
kepada Kepala Sekolah

2

Pada Struktur Staff dapat diuraikan sebagai berikut :
1. SEKRETARIS, melaksanakan kegiatan bersama staff sekretariat dalam

pengelolaan administrasi sekolah untuk mendukung kelancaran administrasi
organisasi / sekolah
2. BP/BK, bersama- sama dengan Wakil Kepala Sekolah/Guru/ melaksanakan
program bimbingan siswa, yang dipertanggungjawabkan kepada Kepala Sekolah.

C. Denah Lokasi Sekolah
1. Waktu
Pelaksanaan PPL berlangsung selama 2 Bulan, yaitu bulan Agustus - September
2020
2. Tempat
Kegiatan PPL ini dilaksanakan di SMK Karsa Mulya Palangka Raya, salah satu
sekolah swasta di kota Palangka Raya yang terletak di jalan G. Obos Km. 5 No.
130.

D. Keadaan Fisik Sekolah : 9845 m2
1. Luas Tanah

2. Jumlah ruang kelas : 14 Kelas
3. Ukuran ruang kelas : 9x36 m2 (berbeda)

4. Bangunan lain yang ada

a. Mushola ukuran : 11x11 m2

b. Aula : 15x27 m2

c. Lab mobil : 18x22 m2

d. Lab muultimedia : 11x15 m2

5. Lapangan olahraga (Jenis, ukuran)
Basket/Futsal ukuran : 18x34 m2

E. Keadaan Fasilitas Sivitas Akademik Sekolah
1. Jenis Lingkungan yang Mengelilingi Sekolah
Jenis bangunan sekolah ynag mengelilingi sekolah lapangan kosong dan rumah
penduduk.

3

2. Kondisi lingkungan sekolah

Lingkunag sekolah terlihat bersih, asri dan teratur.

a. Perpustakaan : Baik dan terawat.

b. Laboratorium : Baik dan terawat.

c. Ruang BP: : Baik dan terawat.

d. Ruang Serbaguna : Baik dan terawat

e. Lain-lain

- Ruang kepala sekolah : Baik dan terawat.

- Ruang Tata Usaha : Baik dan terawat.

- Wc guru : Baik dan terawat.

- Wc siswa/i : Baik dan terawat.

3. Penggunaan sekolah

a. Jumlah sekolah yang menggunakan bangunan ini :1 Sekolah
b. Jumlah “shift” tiap hari : 1 kali, 2 kali pada jam normal tidak saat pandemi

4. Guru dan Siswa

a. Jumlah guru : 8 pegawai dan guru tetap yayasan, 11 guru ASN

DPK,20 guru tidak tetap,dan 1 tenaga Honorer

yayasan

b. Jumnlah kelas : 23 Kelas

c. Jumlah siswa per kelas : ±30 siswa

d. Jumlah siswa seluruhnya : 616 orang

5. Interaksi Sosial

Tuliskan dengan singkat kesan anda tentang hubungan guru-guru, guru-siswa,

siswa-siswa, dan hubungan antara personil di sekolah tersebut :

a. Hubungan guru-guru : Hubungan terjalin sangat baik

b. Hubungan guru-siswa : Siswa menghormati guru-guru

c. Hubungan siswa-siswa : Hubungan baik dengan yang lain

d. Hubungan guru dengan tata usaha : Hubungan sangat baik dan saling

membantu

e. Hubungan sosial secara keseluruhan : Pihak sekolah dan siswa berhubungan

baik

4

6. Tata tertib

a. Untuk siswa : Ada

b. Untuk guru : Ada

c. Untuk Pegawai : Ada

7. Kesan umum

Tuliskan kesan umum anda terhadap sekolah yang diamati :

Hubungan antara guru dan siswa terjalin sangat baik, dimana guru ramah dengan

semua siswanya tidak saling membedakan.

5

BAB 2
MASALAH-MASALAH KEPENDIDIKAN

A. Pengelolaan/Pelaksanaan Kurikulum
1. Pengertian Kurikulum
Kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu jarak yang harus ditempuh.Secara
sempit atau tradisional, kurikulum adalah sekedar memuat dan dibatasi pada sejumlah
mata pelajaran yang diberikan guru pada siswa guna mendapatkanijazah. Sedang secara
modern, kurikulum adalah semua pengalaman yangdiharapkan dimiliki peserta didik
dibawah bimbingan guru. Administrasikurikulum adalah administrasi yang ditunjukkan
untuk keberhasilan kegiatan belajar mengajar secra maksimal, dengan titik berat pada
usaha meningkatkankualitas interaksi belajar-mengajar.
Kegiatan yang dimaksud yaitu kegiatan intra kurikuler adalah kegiatan
yangdilaksanakan dalam jadwal bagi struktur program yang ditentukan secara
nasional,dan kegiatan ekstra kukurikuler adalah kegiatan tambahan diluar struktur
programyang merupakan kegiatan pilihan.Kurikulum sebagai sejumlah mata pelajaran
yang harus ditempuh oleh pesertadidik, merupakan konsep kurikulum yang sampai saat
ini banyak mewarnai teori teori dan praktik pendidikan ( Saylor Alexander & Lewis,
1981).Pengertian kurikulum menurut Taylor dalam Nanang Fatah dan AcengMuhtaram
(1991) yaitu :
a. Perangkat bahan ajar
b. Rumusan hasil belajar yang dikehendaki
c. Penyediaan kesempatan belajard)
d. Kewajiban peserta didik
Berdasarkan pengertian diatas maka ada 2 aspek penting yang harus dipahami
yaitu:
a. Isi kurikulum
b. Proses kurikulum
Unsur-unsur pokok yang terkandung dalam kurikulum meliputi tujuan,materi,
strategi kegiatan pembelajaran, dan sistem evaluasi.Kurikulumdimaksudkan untuk dapat
mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yangdimaksudkan dalam kegiatan
pembelajaran secara menyeluruh.

6

2. Pengelolaan kurikulum
Pengelolaan kurikulum merupakan suatu pola pemberdayaan tenaga pendidikan

dan sumberdaya pendidikan lainnya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Kurikulum
itu sendiri hal yang sangat menetutukan kebehasilankegiatan belajar mengajar secara
maksimal, sehingga perlu adanya pengelolaanyang meliputi:

a. Kegiatan perencaan
b. Kegiatan pelaksanaan
c. Kegiatan penilian
Kegiatan penilaian.Sesuai dengan kegiatan pengelolaan kurikulum tersebut,
penyajiaanya akandiurutkan mulai dari perencaan.Namun terlebih dahulu akan
dijelaskan dandibatasi oleh pengertian kurikulum.Pengelolaan kurikulum berkaitan
dengan pengelolaan pengalaman belajaryang membutuhkan stretegi tertentu sehingga
menghasilkan produktifitas belajar bagi siswa.Dengan demikian, pengelolaan kurikulum
adalah upayamengoktimalkan pengalaman-pengalaman belajar siswa secara produktif.

3. Ruang lingkup
Ruang lingkup administrasi pendidikan meliputi:
a. Perencanaan Kurikulum
Perencanaan kurikulum adalah perencanaan kesempatan belajar yang
bertujuan untuk membina peserta didik kearah perubahan tingkahlaku
yangdiinginkan. Perencanaan merupakan proses seseorang dalam menentukan
arah,dan menentukan keputusan untuk diwujudkan dalam bentuk kegiatn atau
tindakanyang berorientasi pada masa depan. Prinsip-prinsip perencanaan
kurikulum:
1) Perencanaan krikulum berkenaan dengan pengalaman-pengalaman para
siswa.
2) Perencanaan kurikulum dibuat berdasarkan berbagai keputusan tentang
kontendan proses.
3) Perencanaan kurikulum mengandung keputusan-keputusan tentang
berbagaiisu yang aktual.
4) Perencanaan kurikulum melibatkan banyak kelompok
5) Perencanaan kurikulum dilaksanakan pada berbagai tingkatan

7

6) Perencanaan kurikulum adalah sebuah proses yang berkelanjutan.
Adapun sifat-sifat perencanaan kurikulum sebagai berikut:
1) Komprehensif artinya kurikulum tersebut mempunyai arti yang luas

danmenyelurah, bukan sebatas pada jadwal pelajaran saja.
2) Integratif artinya satu kesatuan yang utuh.
3) Realistik artinya terlihat jelas atau kurikulum disusun sesuai dengan

keadaanyang sebenarnya.
4) Humanistik artinya kurikulum disusun untuk kepentingan kemanusian

baik bagi peserta didik maupun bagi masyarakat.
5) Futuralistik artinya kurikulum sebagai pandangan yang mendorong

pendidikan yang mengarah ke masa depan.
6) Mengacu pada pengembangan kompetensi sesuai dengan standar

nasional.
7) Berderisifikasi.
8) Desentralistik artinya kurikulum bersifat merata artinya kurikulum tidak

hanyadisusun oleh pusat saja tapi juga pemerintah daerah hingga guru pun
diberiwewenang untuk menyusun kurikulum.
Dalam perencanaan kurikulum terdiri dari atas:
a. Isi kurikulum
a) Kurikulum harus terdiri atas berbagai mata pelajaran yang urutannya

harusdisusun secara logis dan terperinci.
b) Kurikulum harus mencakup seperangkat masalah-masalah yang

berkaitandengan masalah kehidupan yang selalu muncul.
c) Kurikulum mencakup masalah-masalah kehidupan anak-anak sehai-

hariyang berbeda-beda pada tiap kelompok umur.
d) Kurikulum merupakan modifikasi atau variasi dari pendapat

mengenaikurikulum
b. Bahan pelajaran

a) Urutan pelajaran ditentukan menurut jalan pikiran yang terkandung
dalammata pelajaran yang harus diberikan

b) Urutan pelajaran dimulai dari satuan mata pelajaran yang paling
mudah dan berangsur-angsur menuju pelajaran yang sukar.

8

c) Urutan pelajara dtentukan oleh cara-cara yang paling baik
dalammengajarkan tiap mata pelajaran yang dapat ditemukan dengan
jalanmelakukan metode ilmiah.

Perencanaan kurikulum dilakukan ditingkat pusat, daerah, maupun sekolah.
Adapun tingkat tersebut sebagai berikut:
1) Perencanaan kurikulum ditingkat pusat meliputi. Tujuan pendidikan,

bahanmateri yang dikeluarkan dalam bentuk buku GBPP, pedoman-
pedomansebagai pelengkap buku GBPP, struktur program.
2) Perencanaan kurikulum ditingkat propinsi meliputi kalender akademik,
petunjuk pelaksanaan, bimbingan dan penyuluhan, dan petunjuk
pelaksanaan penilaian.
3) Perencanaan kurikulum di sekolah antara lain penyusunan kalender
pendidikan, penyusunan jadwal pelajaran, pembagian tugas mengajar,
penempatan murid di kelas.
4) Hal-hal yang direncanakan guru sehubungan administrasi kurikulum
adalah penyusunan program pengajaran, penyusunan satuan pelajaran,
dan perencanaan penilaian hasil belajar.

4. Pelaksanaan dan Bentuk Pengorganisasian Kurikulum
Pelaksanaan kurikulum adalah penerapan program kurikulum yang telah

dikembangkan yang kemudian diujicobakan dengan pelaksanaan dan
pengelolaandengan menyesuaikan terhadap situasi dilapangan. Prinsip-prinsip
pelaksanaan kurikulum :

a. Perolehan kesempatan yang sama
b. Berpusat pada anak
c. Pendekatan dan kemitraan
d. Kesatuan dalam kebijakan dan keberagaman dalam pelaksanaan
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kurikulum :
a. Kararakteristik kurikulum, yang mencakup ruang lingkup bahan ajar, tujuan

fungsi, sifat, dll.
b. Strategi pelaksanaan, strategi yang digunakan dalam pelaksanaan

kurikulum.Seperti diskusi profesi, seminar, penataran dan lain-lain

9

c. Karakteristik penggunaan yang meliputi pengetahuan, ketrampilan, serta
nilaidan sikap guru terhadap kurikulum dalam pembelajaran.

Dalam Pelaksanaannya kurikulum dibagi menjadi dua tingkatan yaitu sebagai
berikut:
a. Pelaksanaan kurikulum tingkat sekolah

Pelaksanaan kurikulum dalam tingkat sekolah, kepala sekolah bertanggung
jawab untuk melaksanakan kurikulum dilingkungan sekolah yang
dipimpinnya.Kewajiban kepala sekolah antara lain menyusun rencana
tahunan, menyusun jadwal pelaksanaan kegiatan, memimpin rapat dan
membawa notula rapat,membuat statistik dan menyusun laporan-laporan.
b. Melaksakan kurikulum tingkat kelas
Pada pelaksanaan ini yang berperan besar adalah guru yang eliputi
jeniskegiatan administrasi yaitu:
1) Kegiatan dalam bidang proses belajar mengajar, tugas guru terdiri dari.

a) Menyusun rencana pelaksanaan program
b) Menyusun jadwal pelaksanaan kegiatan dan jadwal pelajaran
c) Pengisian daftar penilaian kemajuan belajar dan perkembangan

siswa.
d) Pengisian buku laporan pribadi siswa
2) Kegiatan ekstra kurikuler adalah kegiatan pendidikan diluar ketentuan
kurikulum yang berlaku, besifat pedagogis dan menunjang pendidikan
dalamrangka menunjang ketercapaian sekolah.
3) Pembimbing dalam kegiatan belajar, tujuan utama pembimbingan
yangdiberikan guru adalah untuk mengembangkan semua kemampuan
siswa agarsiswa berhasil mengembangkan hidupnya. Bimbingan seorang
guru berupa bantuan untuk menyelesaikan masalah peserta didik
sehingga peserta didik dapat menyelesaikan masalahnya sendiri dan
mampu dalam menyesuaikan diri denganlingkungan sekitarnya.
Adapun empat bentuk pengorganiasasian kurikulum yang bisa diterapkan
dilembaga pendidikan yaitu :

10

1) Separated subject curriculum.
Kurikulum ini menyjikan segala bahan pelajaran dalam bernagai macam
mata pelajaran yang tepisah-pisah satu sama lain dan juga antara satu
kelas dengan kelas yang lain.

2) Correlated curriculum
Bentuk ini menghendaki agar mata pelajaran satu sama lain ada
hubunganwalaupun mungkin batas-batas yang satu ddengan yang lain
masih dipertahankan
Korelasi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara.
a) Antara dua mata pelajaran diadakan hubungan secara incidental.2)
b) Terdapat hubungan yang lebih erat apabila suatu pokok bahasan
tertentudibahas dalam berbagai mata pelajaran.3)
c) Mempersatukan beberapa mata pelajaran dengan menghilangkan
batasmasing-masing.

3) Integrated curriculum
Integrated curriculum meniadakan batas-batas antara berbagai mata
pelajarandan menyajikan pelajaran dalam bentuk unit atau keseluruhan.
Semua inidimaksudkan agar anak dapat dibentuk menjadi pribadu yang
integrated yaknimanusia yang selaras dengan lingjungan hidupnya

4) Core curriculum
Pada prinsipnya core curriculum memberikan pelajaran yang umum.

5. Peran dan Fungsi Kurikuum
Sebagai salah satu komponen dalam sistem pendidikan, kurikulum memilik itiga

peran, yaitu peran konservatif, peran kreatif serta peran kritis dan evaluatif.
a. Peran Konsevatif Peran Konservatif
Kurikulum adalah melestarikan berbagai nilai budaya sebagai warisan masa
lalu. Dokaotkan dengan era globalisasi sebagai akibat kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, yang memungkinkan mudahnya pengaruh budaya
asing menggerogoti budaya local, maka peran konservatif dalam kurikulum
memiliki arti ynag sangat penting. Melalui peran konservatif, kurikulum
berperan dalam menangkal berbagai pengaruh yang dapat merusak nilai nilai

11

luhur masyarakat, sehingga identitas masyarakat akan tetap terpelihara
dengan baik.
b. Peran kreatif
Dalam peran kreatif, kurikulum harus mengandung hal hal baru sehingga
dapat membantu siswa untuk dapat mengembangkan setiap potensi yang
dimilikinya agar dapat berperan aktif dalam kehidupan sosial masyarakat
yang senantiasa bergerak maju secara dinamis..
c. Peran Kritis dan Evaluatif
Kurikum berperan untuk menyeleksi nilai dan budaya mana yang perlu
dipertahankan, dan nilai atau budaya baru yang mana yang harus dimiliki
anak didik. Daam rangka ini peran peran kritis dan evaluatif kurikulum
diperlukan. Kurikulum harus berperan dalam menyeleksi dan mengevaluasi
segala sesuatu yang dianggap bermanfaat untuk kehidupan anak didik.
Sesuai dengan peran yang harus dimainkan kurikulum sebagai alat dan pedoman
pendidikan, maka isi krikulum harus berjalan dengan tujuan pendidikan itu sendiri.
Menurut McNeil (1990) isi kurikulum memiliki empat fungsi, yaitu :
a. Fungsi Pendidikan Umum
Fungsi Pendidikan Umum yaitu fungsi kurikulum untuk mempersiapkan
peserta didik agar mereka menjadi anggota masyarakat yang
bertanggungjawab sebagai warga negara yang baik
b. Suplementasi
Setiap peserta didik memiliki perbedaan, baik perbedaan minat,
perbedaankemampuan, maupun perbedaan bakat. Dengan demikian setiap
anak memilikikesempatan untuk menambah kemampuan dan wawasan yang
lebih baik sesuaidangan minat dan bakatnya
c. Eksplorasi
Fungsi Eksplorasi memiliki makna bahwa kurikulum harus dapat
menemukandan mengembangkan bakat minat masing masing siswa. Namun
proseseksplorasi minat dan bakat siswa harus ada pemaksaan dari pihak luar,
misalnya para orangtua yang sebenarnya anak tidak memiliki bakat dan minat
terhadap bidang tertentu mereka dipaksa untuk memilihnya hanya karena
alasanalasantertentu yang sebenarnya tidak rasional.

12

d. Keahlian
Kurikulum berfungsi untuk mengembangkan kemampuan anak
sesuaiddengan keahlian yang didasrkan atas minat dan bakat siswa. Dengan
demikian,kurikulum harus memberikan pilihan berbagai bidang keahlian
misalnya perdagangan, pertanian, industri atau disiplin akademik.
Bagi guru kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan proses
pembelajaran. Bagi kepala sekolah kurikulum berfungsi untuk menyusun
perencanaan dan program sekolah.Bagi pengawas, kurikulum akan berfungsi
sebagai panduan dan melaksanakan supervisi. Sedangkan bagi siswa itu
sendiri kurikulum berfungsi sebagai pedoman belajar.

Alexander Inglis (dalam Hamalik, 1990) mengemukakan enam fungsi kurikulum
untuk siswa:

a. Fungsi integrasi, yaitu kurikulum harus dapat mengembangkan pribadi siswa
secara utuh.

b. Fungsi diferensiasi, yaitu kurikulum harus dapat melayani siswa dengan
segala keunikannya.

c. Fungsi persiapan, yaitu kurikulum harus dapat memberikan pengalaman
belajar bagi anak, baik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang
lebihtinggi maupun untuk kehidupan di masyarakat.

d. Fungsi pemilihan, yaitu kurikulum yang dapat memberikan kesempatan
kepada setiap siswa untuk belajar sesuai bakat dan minatnya.

e. Fungsi Diagnostik, yaitu fungsi untuk mengenal berbagai kelemahan
dankekuatan siswa

f. Fungsi penyesuaian, yaitu kurikulum harus dapat mengantarkan siswa agar
mampu menyesuaikan diri dalam kehidupan sosial masyarakat.

6. Landasan Pengembangan Kurikulum
a. Landasan Filosofis
Filsafat berasal dari Yunani kuno, yaitu dari kata “philos” dan
“sophia”.Philos artinya cinta yang mendalam dan sophia artinya kearifan atau
kebijaksanaan. Filsafat secara harfiyah diartikan sebagai cinta yang

13

mendalamakan kearifan. Secara popular Filsafat sering diartikan sebagai
pandangan hidup suatu masyarakat atau pendirian hidup bagi individu.
Ada empat fungsi filsafat dalam proses pengembangan kurikulum.
Pertama,filsafat dapat menentukan arah dan tujuan pendidikan. Kedua,
filsafat dapat menentukan isi atau materi pelajaran yang harus diberikan
sesuai debgan tujuan yang ingin dicapai. Ketiga, filsafat dapat menentukan
srategi atau cara penyampaian tujuan. Keempat, melalui filsafat dapat
ditentukan bagaimana menentukan tolok ukur keberhasilan proses
pendidikan.
1) Filsafat dan Tujuan Pendidikan

Hummel (1977) mengemukakan ada tiga hal yang harus diperhatikan
dalam mengembangkan tujuan pendidikan :

a) Autonomy, artinya memberi kesadaran, pengetahuan dan
kemampuan yang primakepada setiap individu dan kelompok untuk
dapat mandiri dan hidup bersama dalam kehidupan yang lebih baik.

b) Equity, artinya pendidikan harus dapat memberi kesempatan
kepada seluruhwarga masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam
kebudayaan dan ekonomi.

c) Survival, artinya pendidikan bukan saja harus menjamin terjadinya
pewarisandan memperkaya kebudayaan dari generasi ke generasi
akan tetapi harusmemberikan pemahaman akan saling
ketergantungan antar manusia.

Menurut Bloom (1965), tujuan pendidikan dapat digolongkan kedalam
tiga klasifikasi atau tiga domain (bidang), yaitu domain kognitif, afektif
dan psikomotor. Domain kognitif berhubungan dengan pengembangan
intelektual ataukecerdasan. Bidang afektif berhubungan dengan
pengembangan sikap dan bidang psikomotor berhubungan dengan
keterampilan
2) Filsafat dalam Proses Berfikir
Filsafat sering diartikan sebagai cara berfikir. Sidi Gazalba,
mengemukakanciri ciri berfikir filosofis sebagai berfikir yang radikal,
sistematis dan universal.Befikir radikal (radikal thinking), yaitu berfikir

14

sampai ke akar-akarnya sampai pada konsekuensi yang terakhir. Berfikir
sistematis adalah berfikir logis yang bergerak selangkah dengan penuh
kesadaran denagn urutan yang bertanggungjawab dan saling
berhubungan yang teratur. Berfikir universal, artinya tidak berfikir secara
khusus melainkan mencakup keseluruhan secara sistematis dan logis
sampai ke akar-akarnya. Orang yang berfilsafat yaitu orang yang berfikir
secara mendalam tentang masalah secara menyeluruh sebagai upaya
mencari dan menemukan kebenaran.
Menurut Nasution (1989), ada empat aliran utama dalam filsafat, yaitu
idealisme, relisme, pragmatisme, dan eksistensialisme. Idealisme,
memandang bahwa kebenaran itu datang dari Yang Maha Kuasa.
Manusia tidak perlu meragukan kebenarannya selain harus mematuhinya.
Aliran Realis mememandang bahwa manusia pada dasarnya dapat
menemukan dan mengenal realitas sebagai hukum-hukum universal,
hanya saja dalam menemukannya itu dibatasi oleh kelambanan sesuai
dengan kemampuannya. Aliran progmatisme berpendapat bahwa
kenyatan itu pada hakikatnya berada pada hubungan sosialantara manusia
dengan manusia lainnya. Aliran Eksistensialis mengakui bahwa sebagai
individu setiap manusia memiliki kelemahan -kelemahan.
b. Landasan Psikologis
1) Psikologi Perkembangan Anak Untuk memahami perkembangan siswa,
Piaget mengemukakan teori perkembangan kognitif (intelektual).
Kemampuan kognitif merupakan suatu yangfundamental yang
mengarahkaan dan membimbing perilaku anak. Tahapan
perkembangannya yaitu:
a) Tahap sensorik motorik : 0-2 tahun yaitu Mulai meniru, berbicara,

dan meniru suara binatang.
b) Tahap pra operasi : 2-7 tahun yaitu Berupa tindakan-tindakan

kognitif: mengklasifikasikan sekelompok objek, menata letak benda-
banda menurut urutan tertentu dan membilang.
c) Tahap operasi konkrit : 7-11 tahun yaitu Konsep kekekalan yang
berkembang yaitu:

15

 Kekekalan banyak (6 - 7 tahun)
 Kekekalan materi (7 - 8 tahun)
 Kekekalan panjang (7 - 8 tahun)
 Kekekalan luas (8 - 9 tahun)
 Kekekalan berat (9 - 10 tahun)
 Kekekalan volum (11 - 12 tahun)
d) Tahap operasi formal : 11 tahun dst yaitu Kemampuan penalaran
hipotek-deduktif, yaitu kemampuan untuk menyusun serangkaian
hipotesa dan mengujinya. Kemampuan berfikir kombinatorial, yaitu
kemampuan menyusun kombinasi-kombinasi yang mungkin dari
unsur-unsur dalam suatu system.
2) Psikologis belajar
Menurut aliran Behavioristik, Belajar pada hakikatnya adalah
pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap pancaindra dengan
kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan
respon. Karenaitu teori ini dinamakan teori Stimulus – respons.

7. Penilaian Kurikulum
Penilaian kurikulum adalah proses pembuatan pertimbangan

berdasarkanseperangkat kriteria yang disepakati dan dapat dipertanggungjawabkan
untukmembuat keputusan mengenai suatu kurikulum. Prinsip-prinsip
penilaiankurikulum:

a. Tujuan tertentu, artinya setiap program penilaian kurikulum terarah
dalammencapai tujuan yang telah ditentukan secara jelas.

b. Bersifat objektif, berpijak pada keadaan yang sebenarnya, bersuber dari
datayang nyata dan akurat.

c. Bersifat komprehensif, mencakup semua dimensi atau aspek yang
terdapatdalam ruang lingkup kurikulum.

d. Kooperatif, dan bertanggung jawab dalam perencanaan.
e. Efesien dalam penggunaaan waktu, biaya, tenaga dan peralatan yuangmenjadi

sarana penunjang.
f. Berksinambungan.

16

Penilaian kurikulum memiliki tujuan sebagai berikut:
a. Secara umum penilaian kurikulum bertujuan untuk memperoleh
informasimengenai pelaksanaan kurikulum di sekolah, dimana informasi ini
akan bermanfaat sebagai dasar pertimbangan bagi pengambil keputusan
untukmemecahkan masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan kurikulum di
sekolah.
b. Secara khusus penilaian kurikulum bertujuan untuk memperoleh jawaban
darikelengkapan komponen kurikulum di sekolah, efektivitas
pelaksanaankurikulum, efektivitas pelaksanaan sarana penunjang, tingkat
pencapaian hasil belajar ditinjau dari kesesuaian dengan tujuan, dan dampak
pelaksanaankurikulum baik positif atau negatif.Ruang lingkup yang dikaji
dalam penilaian kurikulum adalah:
c. Tersedianya dan kelengkapan komponen kurikulum.
d. Pemahaman buku kurikulum.
e. Pelaksanaan kurikulum sekolah.
f. Pemanfaatan sarana penunjang

B. Pembinaan Kesiswaan
1. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 39 Tahun
2008 Tentang Pembinaan Kesiswaan :
Pasal 1
Tujuan pembinaan kesiswaan:
1) Mengembangkan potensi siswa secara optimal dan terpadu yang meliputi
bakat, minat, dan kreativitas;
2) Memantapkan kepribadian siswa untuk mewujudkan ketahanan sekolah
sebagai lingkungan pendidikan sehingga terhindar dari usaha dan pengaruh
negatif dan bertentangan dengan tujuan pendidikan;
3) Mengaktualisasikan potensi siswa dalam pencapaian prestasi unggulan sesuai
bakat dan minat

17

4) Menyiapkan siswa agar menjadi warga masyarakat yang berakhlak mulia,
demokratis, menghormati hak-hak asasi manusia dalam rangka mewujudkan
masyarakat madani (civil society)

Pasal 2
Sasaran pembinaan kesiswaan meliputi siswa taman kanak-kanak (TK), taman
kanak-kanak luar biasa (TKLB), sekolah dasar (SD), sekolah dasar luar biasa
(SDLB), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah pertama luar biasa
(SMPLB), sekolah menengah atas (SMA), sekolah menengah atas luar biasa
(SMALB), dan sekolah menengah kejuruan (SMK).

Pasal 3
1) Pembinaan kesiswaan dilaksanakan melalui kegiatan ekstrakurikuler dan

kokurikuler;
2) Materi pembinaan kesiswaan meliputi :

a. Keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa;
b. Budi pekerti luhur atau akhlak mulia;
c. Kepribadian unggul, wawasan kebangsaan, dan bela negara;
d. Prestasi akademik, seni, dan/atau olahraga sesuai bakat dan minat;
e. Demokrasi, hak asasi manusia, pendidikan politik, lingkungan hidup,

kepekaan dan toleransi sosial dalam konteks masyarakat plural;
f. Kreativitas, keterampilan, dan kewirausahaan;
g. Kualitas jasmani, kesehatan, dan gizi berbasis sumber gizi yang

terdiversifikasi ;
h. Sastra dan budaya;
i. Teknologi informasi dan komunikasi;
j. Komunikasi dalam bahasa Inggris;
3) Materi pembinaan kesiswaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dijabarkan
lebih lanjut dalam jenis-jenis kegiatan sebagaimana tercantum dalam
Lampiran Peraturan ini.
4) Jenis kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dikembangkan oleh
sekolah.

18

Pasal 4
1) Organisasi kesiswaan di sekolah berbentuk organisasi siswa intra sekolah.
2) Organisasi kesiswaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan

organisasi resmi di sekolah dan tidak ada hubungan organisatoris dengan
organisasi kesiswaan di sekolah lain.
3) Organisasi siswa intra sekolah pada SMP, SMPLB, SMA, SMALB dan SMK
adalah OSIS.
4) Organisasi siswa intra sekolah pada TK, TKLB, SD, dan SDLB adalah
organisasi kelas.

Pasal 5
1) Pembinaan kesiswaan di sekolah menjadi tanggung jawab kepala sekolah.
2) Pembinaan kesiswaan di kecamatan menjadi tanggung jawab unit kerja yang

menangani pendidikan di kecamatan.
3) Pembinaan kesiswaan di kabupaten/kota menjadi tanggung jawab unit kerja

yang menangani pendidikan di kabupaten/kota.
4) Pembinaan kesiswaan di propinsi menjadi tanggung jawab unit kerja yang

menangani pendidikan di propinsi.
5) Pembinaan kesiswaan secara nasional menjadi tanggung jawab Direktorat

Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen
Pendidikan Nasional.

Pasal 6
1) Pendanaan pembinaan kesiswaan di sekolah dibebankan pada Anggaran

Pendapatan dan Belanja Sekolah (APBS).
2) Pendanaan pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat bersumber

dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan sumber lain yang tidak
mengikat.

19

2. Pengertian Analisis SWOT
SWOT adalah singkatan dari Strengths (kekuatan), Weakness (kelemahan),

Opportunities (peluang), Threats (tantangan). Analisa SWOT adalah alat yang
digunakan untuk mengidentifikasi isu-isu internal dan eksternal yang mempengaruhi
kemampuan kita dalam memasarkan event kita. Analisa SWOT adalah sebuah bentuk
analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif (memberi gambaran).
Analisa ini terbagi atas empat komponen dasar yaitu :

a. S = Strength, adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari
organisasi atau program pada saat ini.

b. W = Weakness, adalah situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan dari
organisasi atau program pada saat ini.

c. O = Opportunity, adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang di
luar organisasi dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi di
masa depan.

d. T = Threat, adalah situasi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang
datang dari luar organisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi di
masa depan.

Dalam dunia pendidikan analisis ini digunakan untuk mengevaluasi fungsi
pengembangan kurikulum, fungsi perencanaan dan evaluasi, fungsi ketenagaan, fungsi
keuangan, fungsi proses belajar mengajar, fungsi pelayanan kesiswaan, fungsi
pengembangan iklim akademik, fungsi hubungan sekolah dengan masyarakat dan
sebagainya dilibatkan. Maka untuk mencapai tingkat kesiapan setiap fungsi dan
faktorfaktornya dilakukanlah analisis SWOT (Depdiknas, 2002). Makalah ini akan
membahas lebih jauh tentang kebijakan pendidikan dalam bidang kesiswaaan
menggunakan analisis SWOT.
3. Permendiknas No. 39 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kesiswaan

Untuk mengembangkan potensi siswa sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan
nasional, yaitu siswa yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang

20

demokratis serta bertanggungjawab, diperlukan pembinaan kesiswaan secara sistematis
dan berkelanjutan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka muncullah permendiknas
nomor 39 Tahun 2008 tentang pembinaan kesiswaan. Pada bab 1 permendiknas ini
disebutkan bahwa tujuan pembinaan kesiswaan adalah:

a. Mengembangkan potensi siswa secara optimal dan terpadu yang meliputi
bakat, minat, dan kreativitas;

b. Memantapkan kepribadian siswa untuk mewujudkan ketahanan sekolah
sebagai lingkungan pendidikan sehingga terhindar dari usaha dan pengaruh
negatif dan bertentangan dengan tujuan pendidikan;

c. Mengaktualisasikan potensi siswa dalam pencapaian prestasi unggulan
sesuai bakat dan minat;

d. Menyiapkan siswa agar menjadi warga masyarakat yang berakhlak mulia,
demokratis, menghormati hak-hak asasi manusia dalam rangka mewujudkan
masyarakat madani (civil society).

Sementara itu sasaran pembinaan kesiswaan meliputi siswa taman kanak-kanak
(TK), taman kanak-kanak luar biasa (TKLB), sekolah dasar (SD), sekolah dasar luar
biasa (SDLB), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah pertama luar biasa
(SMPLB), sekolah menengah atas (SMA), sekolah menengah atas luar biasa (SMALB),
dan sekolah menengah kejuruan (SMK).

Pasal 3 menjelaskan bahwa Pembinaan kesiswaan dilaksanakan melalui kegiatan
ekstrakurikuler dan kokurikuler. Materi pembinaan kesiswaan meliputi :

a. Keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa;
b. Budi pekerti luhur atau akhlak mulia;
c. Kepribadian unggul, wawasan kebangsaan, dan bela negara
d. Prestasi akademik, seni, dan/atau olahraga sesuai bakat dan minat;
e. Demokrasi, hak asasi manusia, pendidikan politik, lingkungan hidup,

kepekaan dan toleransi sosial dalam konteks masyarakat plural;
f. Kreativitas, keterampilan, dan kewirausahaan;
g. Kualitas jasmani, kesehatan, dan gizi berbasis sumber gizi yang

terdiversifikasi;
h. Sastra dan budaya;
i. Teknologi informasi dan komunikasi;

21

j. Komunikasi dalam bahasa Inggris.

4. Analisis SWOT Bidang Kesiswaan
Analisis SWOT Dalam Program Pembinaan kesiswaan yang disarikan oleh

penulis.
a. Strengths (Kekuatan)
1) Tujuan pembinaan siswa yang menyeluruh secara jasaman dan rohani
2) Pengembangan potensi siswa secara optimal dan terpadu yang meliputi
bakat, minat, dan kreativitas
3) Aktualisasi potensi siswa dalam pencapaian prestasi unggulan sesuai
bakat dan minat.
4) Kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler yang sangat efektif dengan
tenaga operasional yang memadai untuk meningkatkan prestasi siswa
sesuai dengan bakat, minat dan kreativitas.
5) Adanya wali kelas dalam organisasi kelas memudahkan koordinasi
dengan kepala sekolah.
6) Materi pembinaan kesiswaan didasarkan pada tujuan pembinaan
7) Materi pembinaan kesiswaan dijabarkan dalam jenis kegiatan yang
dikembangkan oleh masing-masing sekolah.
8) Organisasi sekolah adalah OSIS dan terdiri atas beberapa organisasi
kelas pada setiap kelas.
9) Tanggung jawab pembinaan siswa adalah tanggung jawab adalah
tanggung jawab Kepala Sekolah pada tingkat sekolah.
10) Pendanaan pembinaan kesiswaan dapat juga bersumber dari dana lain
(sponsor kegiatan siswa).
b. Weakness (Kelemahan)
1) Secara organisasi lembaga OSIS masih bergantung kepada kebijakan
Kepala Sekolah.
2) Tanggung jawab Kepala Sekolah terhadap pembinaan kesiswaan belum
optimal sehingga dampak kepada siswa masih rendah.

22

3) Pendanaan untuk pembinaan kesiswaan untuk mencapai tujuan
pembinaan belum optimal. Jenis kegiatan kesiswaan disesuaikan
dengan dana yang tersedia.

4) Banyak kegiatan sekolah mengurangi waktu belajar dan memengaruhi
konsentrasi anak dalam belajar.

5) Potensi siswa yang belum maksimal dikembangkan karena Kepala
Sekolah dan guru belum memiliki program pegembangan bakat siswa.

6) Tanggung jawab pembinaan kesiswaan masih terpusat pada kepala
sekolah saja.

7) Pendanaan masih bergantung pada dana yang ada di sekolah.
8) Belum optimalnya peran OSIS untuk mencapai sasaran pembinaan

kesiswaan.
c. Opportunity (Peluang)

1) Potensi siswa yang majemuk dapat mewakili sekolah untuk berprestasi
di tingkat nasional dan internasional.

2) Dukungan pemerintah daerah untuk pengembangan pembinaan
kesiswaan dan didukung oleh tuntutan pemerintah pusat tentang
penguatan pendidikan karakter di setiap jenjang pendidikan.

3) Dukungan masyarakat yang peduli pendidikan dapat membantu
pembinaan kesiswaan.

4) Peran aktif orang tua dalam pendanaan untuk mendukung kegiatan
pembinaan kesiswaan yang selama ini menjadi tanggung jawab penuh
sekolah.

5) Peran aktif siswa yang berbakat, kreatif, dan berwawasan wirausaha
dapat dikembangkan menjadi unit-unit kegiatan mahasiswa.

6) Daya dukung orang tua tinggi dan terbukti dengan mendaftarkan
anaknya di sekolah tersebut.

7) Program pembinaan kesiswaan sangat mendukung pengembangan
karakter anak, kemampuan, dan minat/bakat siswa.

d. Threat (Ancaman)
1) Pengaruh negatif yang masuk ke sekolah yang tidak diimbangi dengan
pembinaan kesiswaan yang baik.

23

2) Dukungan berbagai pihak yang minim dapat menyebabkan pelaksanaan
pembinaan kesiswaan terkendala.

3) Kegiatan kesiswaan yang padat di luar sekolah dapat memengaruhi
prestasi akademik siswa.

4) Orang tua siswa yang tidak mengizinkan anaknya melakukan kegitan
pembinaan di luar jam sekolah.

5) Pelaksanaan kegiatan pembinaan siswa diatur secara ketat oleh kepala
sekolah dan siswa dapat menghambat minat, dan kreativitas siswa.

6) Penyalahgunaan dana yang seharusnya digunakan untuk kegiatan
kesiswaan dialokasikan untuk yang lainnya.

7) Keteladanan kepala sekolah dan guru yang rendah dapat berdampak
pada kepercayaan siswa kepada gurunya.

8) Keterbebanan guru akan kebutuhan pembinaan siswa secara pribadi
yang rendah.

Berdasarkan analisis SWOT maka penulis memaparkan kendala-kendala
yang dihadapi dalam melakukan kegiatan pembinaan siswa yaitu:
1) Faktor dalam diri siswa sendiri (faktor anak didik)

Peran aktif siswa dalam organisasi setingkat OSIS dan pembinaan
kesiswaan yang rendah dapat menjadi kendala untuk mewujudkan
tujuan pembinaan kesiswaan itu sendiri.
2) Faktor dari Pendidik
Kurangnya kekompakan dalam melaksanakan program pembinaan
siswa maka hasil yang berdampak masih belum optimal
3) Faktor kurangnya keaktifan orang tua
Kendala yang banyak dihadapi disini adalah kecenderungan orang tua
yang tidak proaktif dalam mendukung pembinaan kesiswaan dalam hal
dana, kepedulian pengembangan minat, bakat, dan karakter anaknya.
Orang tua pada umumnya menyerahkan persoalan pendidikan kepada
sekolah (Kepala sekolah, guru, dan karyawan).
Sekolah sebagai organisasi kerja terdiri dari beberapa komponen yang harus
dikelola dengan sebaik mungkin. Salah satunya organisasi sekolah yaitu
OSIS dan organisasi kelas. Analisis SWOT dapat digunakan sebagai salah

24

satu cara untuk memanajemen pembinaan kesiswaan. Peluang-peluang yang
ada dapat mengurangi faktor ancaman dengan mengoptimalkan peluang dan
meminimalkan ancaman. Kerjasama berbagai pihak dalam hal ini kepala
sekolah, guru, orang tua, siswa, pemerintah dan masyarakat yang bersinergis
dapat mewujudkan tujuan pembinaan kesiswaan yang tertuang dalam
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 39
Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kesiswaan.
C. Penyelenggaraan Kegiatan Ekstrakurikuler
Penyelenggaraan ini disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah dan
masyarakat, dengan memperhatikan kebutuhan siswa. Berkaitan dengan kegiatan
tersebut, praktikan harus memiliki buku catatan berisi perencanaan kegiatan, nama
kegiatan, jadwal kegiatan, daftar hadir/daftar nilai siswa peserta kegiatan.
D. Pembinaan Kerja Sama dengan Orang Tua Siswa
1. Pengertian Kerjasama
Kerjasama adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok
untuk mencapai tujuan bersama. Kerjasama merupakan interaksi yang paling penting
karena pada hakikatnya manusia tidaklah bisa hidup sendiri tanpa orang lain sehingga ia
senantiasa membutuhkan orang lain. kerjasama dapat berlangsung manakala individu-
individu yang bersangkutan memiliki kepentingan yang sama dan memiliki kesadaran
untuk bekerjasama guna mencapai kepentingan mereka.
Kerjasama orang tua dengan guru adalah suatu usaha atau kegiatan bersama antara
orang tua dengan guru dalam mencapai tujuan bersama yaitu meningkatkan dan
mengembangkan akademik siswa sehingga akan berakibat pada pendidikan dan
perkembangan peserta didik. Menurut Slamet PH, kerjasama merupakan suatu usaha
atau kegiatan bersama yang dilakukan oleh kedua belah pihak dalam rangka untuk
mencapai tujuan bersama.
Guna meningkatkan dan mengembangkan akademik siswa sehingga akan
berakibat pada pendidikan dan perkembangan anak. Kerjasama tersebut lebih dari
sekedar pertemuan orangtua-guru dalam pembagian laporan tahunan, namun
mengikutsertakan orangtua dalam berbagai peran sepanjang waktu.
2. Orang Tua

25

Orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Apabila anak telah masuk
sekolah, orang tua adalah mitra kerja yang utama bagi guru anaknya. Bahkan sebagai
orang tua, mereka mempunyai berbagai peran pilihan yaitu: orang tua sebagai pengajar,
orang tua sebagai relawan, orang tua sebagai pembuat keputusan, orang tua sebagai
anggota tim kerjasama guru-orang tua.

Dalam peranan tersebut orang tua membantu meningkatkan perkembangan dan
pertumbuhan anak-anak mereka. Orang tua tidak hanya sekedar memberikan kasih
sayang, fasilitas yang cukup serta memberikan nafkah akan tetapi orang tua juga
sebagai guru untuk anak anaknya, karena pendidikan yang diterima oleh anak dari lahir
hingga dewasa pada awalnya adalah dari orang tua itu sendiri.
3. Guru

Dalam paradigma Jawa, pendidik diidentikan dengan (gu dan ru) yang berarti
“digugu dan ditiru”. Dikatakan digugu (dipercaya) karena guru mempunyai seperangkat
ilmu yang memadai, yang karenanya ia memiliki wawasan dan pandangan yang luas
dalam melihat kehidupan ini. Dikatakan ditiru (diikuti) karena guru mempunyai
kepribadian yang utuh, yang karenanya segala tindak tanduknya patut dijadikan panutan
dan suri tauladan oleh peserta didiknya.

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peseta didik pada
pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah. Guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik.
4. Kerjasama Orang Tua dengan Guru

Ada alasan yang kuat mengapa para guru selalu menginginkan para orang tua
melibatkan diri dalam pendidikan anak mereka. Menurut Greenberg, percaya bahwa
keterlibatan orang tua di sekolah akan meringankan guru dalam membina kepercayaan
diri anak, mengurangi masalah disiplin murid dan meningkatkan motivasi anak. Para
guru yang menganggap orang tua sebagai pasangan atau rekan kerja yang penting dalam
pendidikan anak, akan makin menghargai dan makin terbuka terhadap kesediaan
kerjasama orang tua.

a. Tujuan Hubungan sekolah dengan Orang Tua
Hubungan kerjasama antara sekolah dan orang tua peserta didik antara lain
bertujuan sebagai berikut :

26

1) Saling membantu dan saling isi mengisi
2) Bantuan keuangan dan barang-barang
3) Untuk mencegah perbuatan-perbuatan yang kurang baik
4) Bersama-sama membuat rencana yang baik untuk sang anak
b. Cara menjalin Hubungan Sekolah dengan Orang Tua
Untuk menjalin hubungan sekolah dengan orang tua siswa dapat dilakukan
melalui dewan sekolah, pertemuan penyerahan buku laporan pendidikan,
dan ceramah ilmiah. Sedangkan hubungan sekolah dengan orang tua siswa
dapat dilakukan dalam berbagai kehidupan, seperti proses belajar-mengajar,
pengembangan bakat, pendidikan mental, dan kebudayaan.
Menurut Mansur ada beberapa kerjasama bisa dilakukan untuk menjamin
hubungan sekolah dengan masyarakat tumbuh dengan baik di antaranya melibatkan
orang tua dalam perencanaan dan pelaksanaan program sekolah dengan cara:
a. Mengadakan open house
b. Mengundang tokoh masyarakat untuk menjadi pembicara atau pembina.
c. Membuat kerjasama sekolah dengan masyarakat.
E. Pengelolaan Fasilitas Pembelajaran
1. Melaksanakan Administrasi Kelas
Setiap praktikan harus memiliki buku administrasi kelas sendiri, selain yang
dimiliki Guru Pamong. Buku administrasi kelas yang harus dimiliki sekurang-
kurangnya terdiri atas:
a. Buku Administrasi Pengajaran
1) Jadwal pelajaran
2) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
3) Buku daftar hadir siswa
4) Buku daftar nilai siswa
5) Buku batas pelajaran

27

b. Administrasi Kesiswaan
1) Daftar kelas (daftar siswa yang lengkap dengan data-data)
2) Daftar mutasi siswa
3) Buku bimbingan siswa
4) Daftar peserta kegiatan ekstrakulikuler

c. Administrasi Sarana, minimal buku inventaris barang di kelas.

F. Pengelolaan Kesejahteraan Civitas Akademika
Kesejahterraan sivitas akademika merupakan segala sesuatu yang menunjang

personel di SMK Karsa Mulya Palangka Raya agar dapat melaksanakan segala
tanggung jawab masing-masing personel. Fasilitas personel di SMK Karsa Mulya
Palangka Raya cukup lengkap. Dengan adanya ruang kelas, ruang guru,mushola,
perpustakaan, kantin, laboratorium, ruang piket, ruang tata usaha, dan kamar mandi
cukup membuktikan bahwa kesejahteraan dalam hal sarana SMK Karsa Mulya
Palangka Raya sudah mencukupi.Namun ada beberapa permasalahan dalam
kesejahteraan sivitas SMK Karsa Mulya Palangka Raya. Diantaranaya adalah :
1. Pembayaran Iuran Sekolah

Pembayaran Iuran Sekolah yang menjadi kewajiban siswa sering mengalami
hambatan. Hambatan yang terjadi adalah banyak siswa yang menunggak
Iuran hingga mencapai 1 atau 2 bulan. Salah satu penyebab terjadinya hal ini
adalah karena adanya pandemi dan kebanyakan siswa berasal dari keluarga
yang berekonomi menengah kebawah. Keterlambatan siswa membayar Iuran ini
tentu berdampak pada pengelolaan keuangan sekolah secara keseluruhan.

28

BAB III

UPAYA PENANGGULANGAN MASALAH KEPENDIDIKAN

A. Upaya Penanggulangan Pengelolaan/Pelaksanaan Kurikulum
Beberapa permasalahan yang muncul dalam dunia pendidikan bukan hanya

permasalahan kecil yang membutuhkan perbaikan kecil, melainkan merupakan
permasalahan sistematik sehingga penanganan yang perlu dilakukan adalah penanganan
yang komprehensif seperti perbaikan atau pengembangan kurikulum.

Proses pengembangan kurikulum ini dilakukan ketika dijumpai adanya jurang
yang besar antara tujuan pendidikan yang dirancang dalam kurikulum dengan capaian
pendidikan yang diperoleh. Dalam kondisi demikian, bagian yang menjadi focus
perhatian terletak pada bagaimana kurikulum tersebut diimplementasikan.

Pengembangan kurikulum adalah proses pengambilan keputusan dan
pengorganisasian dari empat elemen kurikulum, yaitu learning intent, learning content,
approach dan evaluation. Dalam system pendidikan di Filipina, masing-masing elemen
ini diurusi secara khusus oleh satu departemen tertentu dengan harapan akan dihasilkan
kebijakan-kebijakan yang mendalam dan terfokus pada elemen tersebut. Sebagai
konsekuensi dari hal tersebut, proses pengembangan kurikulum akan melibatkan
berbagai departemen sehingga memakan waktu yang cukup panjang.

B. Upaya penanggulangan Pembinaan Kesiswaan
Peningkatan mutu pendidikan di sekolah tidak hanya terpaku pada pencapaian

aspek akademik, melainkan aspek non-akademik juga; baik penyelenggaraannya dalam
bentuk kegiatan kurikuler ataupun ekstrakurikuler, melalui berbagai program kegiatan
yang sistematis dan sistemik. Dengan upaya seperti itu, peserta didik (siswa) diharapkan
memperoleh pengalaman belajar yang utuh; hingga seluruh modalitas belajarnya
berkembang secara optimal. Di samping itu, peningkatan mutu diarahkan pula kepada
guru sebagai tenaga kependidikan yang berperan sentral dan strategis dalam
memfasilitasi perkembangan pribadi peserta didik di sekolah. Peningkatan mutu guru
merupakan upaya mediasi dalam rangka.

Tujuan dari peningkatan mutu guru adalah pengembangan kompetensi dalam
layanan pembelajaran, pembimbingan, dan secara terintegrasi dan bermutu. Dengan
demikian, dalam terlingkup program kegiatan yang langsung melibatkan peserta didik

29

(siswa) sebagai sasaran; ada pula program yang melibatkan guru sebagai mediasi atau
sasaran antara (tidak langsung). Namun, sasaran akhir dari kinerja adalah perkembangan
siswa yang optimal; sesuai dengan karakteristik pribadi, tugas perkembangan,
kebutuhan, bakat, minat, dan kreativitasnya.

Bentuk kegiatannya antara lain:

1. Pelaksanaan ibadah yang sesuai dengan ajaran agama masing-masing
2. Kegiatan-kegiatan keagamaan
3. Peringatan hari-hari besar keagamaan
4. Perbuatan amaliyah
5. Bersikap toleran terhadap penganut agama lain
6. Kegiatan seni bernafaskan keagamaan
7. Lomba yang bersifat keagamaan
8. Kepribadian yang utuh dan budi pekerti yang luhur.

Kegiatannya dapat dalam bentuk pelaksanaan :

1. Tata tertib sekolah
2. Tata krama dalam kehidupan sekolah
3. Sikap hormat terhadap guru, orangtua, sesama siswa, dan lingkungan

masyarakat

Kegiatan kepemimpianan antara lain siswa dapat berperan aktif dalam OSIS,
kelompok belajar, kelompok ilmiah, latihan dasar kepemimpinan, forum diskusi, dan
sebagainya.

C. Upaya Penanggulangan Penyelenggaraan Kegiatan Ekstrakurikuler
Sekolah hendaknya membuat laporan, baik laporan untuk keseluruhan program

kegiatan ekstrakurikuler dan untuk setiap jenis kegiatan ekstrakurikuler ataupun untuk
pertanggung jawaban keuangan yang telah dialokasikan/ digunakan untuk kegiatan yang
dimaksudkan. Untuk laporan kegiatan, hendaknya dibuat format yang sederhana tetapi
cukup komprehensif dan mudah dipahami, misalnya mencakup: kata pengantar, hasil
yang diharapkan, organisasi penyelenggaraan, jadwal dan mekanisme pelaksanaan,
bentuk penghargaan, hasil yang diperolah, kesulitan yang dijumpai dan usaha mengatasi
kesulitan itu, kesimpulan keseluruhan dan saran-saran yang diajukan, serta lampiran-

30

lampiran yang diperlukan. Dan sebaiknya pihak sekolah menyediakan tempat atau
ruangan khusus untuk kegiatan ekstrakurikuler.

D. Upaya penanggulangan Pembinaan Kerja Sama dengan Orang Tua Siswa
1. Parenting atau Kelas Orangtua
Parenting ini merupakan kegiatan mengumpulkan para orangtua siswa dengan
tujuan untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang tumbuh kembang anak hingga
dewasa. Hal ini sangat penting agar para orangtua siswa dapat memberikan bantuan
yang tepat bagi percepatan tumbuh kembang anak sesuai dengan usianya masing-
masing. Kegiatan parenting ini bisa berupa diskusi, ceramah, seminar dan lain-lain
kegiatan dengan menghadirkan narasumber yang kompeten, seperti psikolog, atau
pendidik.

2. Dialog
Kegiatan dialog ini adalah upaya yaang dilakukan sekolah untuk meningkatkan

komunikasi timbal balik atau komunikasi dua arah dengan para orangtua siswa tentang
hal-hal yang berkaitan dengan program sekolah dalam meningkatkan hasil belajar dan
karakter siswa serta kemajuan/ prestasi yang sudah dicapai oleh sekolah dan siswa.
Contoh kegiatan ini misalnya sekolah melakukan komunikasi secara teratur, sistematis
dan terencana. Dalam kegiatan ini juga terbuka peluang dialog melalui sarana teknologi,
seperti telepon, SMS, atau media sosial.

3. Ikut terlibat keputusan penting
Orangtua siswa diberi peluang untuk terlibat dalam proses pembuatan keputusan

di sekolah yang berkaitan dengan program sekolah. Pelibatan orangtua siswa dalam
pengambilan keputusan ini menjadi sangat strategis dan bermakna karena mereka
merasa dilibatkan dan pada gilirannya mereka merasa memiliki sekolah. Hal ini akan
mendorong mereka ikut bertanggung jawab dalam melaksanakan keputusan bersama
tersebut

E. Upaya Penanggulangan Pengelolaan Fasilitas Pembelajaran

31

Upaya penanggulangan pengelolaan fasilitas pembelajaran disekolah sebaiknya
dibuat tata tertib terkhusus untuk pemakaian fasilitas pembelajaran di sekolah. Hal ini
juga melatih peserta didik untuk bertanggung jawab terhadap apapun yang
dilakukannya.
F. Upaya Penanggulangan Pengelolaan Kesejahteraan Civitas Akademika

Upaya penanggulangan pengelolaan kesejahteraan civitas akademika yang dapat
dilakukan dengan cara mewajibkan siswa untuk membayar iuran sekolah untuk
memajukan pengelolaan peningkatan kesejahteraan sekolah.

32

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diosimpulkan bahwa PLP ini memberikan
kesempatan kepada calon guru untuk melakukan refleksi atas petunjuk kinerjanya.
Dengan refleksi tersebut calon guru tahu dimana kelemahan – kelemahannya selama
pelatihan baik melalui analisis maupun melalui observasi yang dilakukan. Dengan
mengetahui kelemahannya maka guru dapat memperbaiki kelemahan tersebut. Dengan
cara ini diharapkan calon guru terus berusaha untuk memperbaiki diri sehingga kelak
akan menjadi guru yang profesional, yaitu guru yang sadar akan kemampuan dan
keterbatasan serta dapat memprakarsai kebaikannya.
B. Saran
1. Siswa yang kurang dalam pelajaran diberi perhatian lebih agar mereka tidak
merasa rendah diri dari teman-temannya yang lain.
2. Guru-guru lebih giat lagi dalam memberikan bimbingan dan motivasi belajar
siswa supaya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
3. Hendaknya kegiatan kesiswaan ditingkatkan terutama penyaluran minat dan bakat
siswa.
4. Tata tertib sekolah hendaklah dijaga dan tidak pandang bulu bagi siapapun yang
melanggarnya.
5. Hendaklah SMK Karsa Mulya Palangka Raya dapat mempertahankan
keberhasilan dalam segala bidang.

33

DAFTAR PUSTAKA
https://www.researchgate.net/profile/Hengki_Wijaya3/publication/325493778_Analisis
_SWOT_Tentang_Pembinaan_Kesiswaan_dan_Pengembangan_Program_Pembinaan_S
iswa/links/5b113deaaca2723d997979ac/Analisis-SWOT-Tentang-Pembinaan-
Kesiswaan-dan-Pengembangan-Program-Pembinaan-Siswa.pdf.com
https://kuliahku96.blogspot.com/2019/09/kerjasama-orang-tua-dan-sekolah-dalam.html

34

RPP
35

36

37

38

39

40

41

42

43

44

45

46


Click to View FlipBook Version