The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

EBOOK Evaluasi Program & Pembelajaran PAI - Mahasiswa MPAI UNISMA

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by PERPUSTAKAAN DIGITAL, 2023-05-29 21:19:21

EBOOK Evaluasi Program & Pembelajaran PAI - Mahasiswa MPAI UNISMA

EBOOK Evaluasi Program & Pembelajaran PAI - Mahasiswa MPAI UNISMA

Keywords: Evaluasi

Bunga Rampai Pendidikan Evaluasi Program & Pembelajaran PAI Mahasiswa MPAI UNISMA


PENERBIT KAMPUS adalah penerbit dengan misi memudahkan proses penerbitan buku-buku penulis di tanah air Indonesia. Serta menjadi media sharing proses penerbitan buku.


Bunga Rampai Pendidikan “Evaluasi Program & Pembelajaran PAI” Copyright2022 By Mahasiswa MPAI UNISMA All rights reserved ISBN 978-623-5638-38-6 14 x 21 cm, xii + 244 halaman Cetakan ke-1, April 2022 Penyusun : Mahasiswa MPAI UNISMA Pengarah : Dr. Eko Setiawan, S.Pd.I., M.Pd Desain Sampul : Danillstr Tata Letak : Ainur Rochmah Editor Naskah : Sutarno, S.Pd | Sariman, S.HI | Yuni Irawati, S.Pd Moh. Abdus Salam, S.Pd | Uky Fatanun Fiqih, S.Pd Sumber Gambar : https://www.freepik.com/ https://www.vecteezy.com/ Penerbit PENERBIT KAMPUS Banguntapan, Bantul-Jogjakarta (Kantor I) Balen, Bojonegoro-Jawa Timur, Indonesia (Kantor II) 081357517526 (Tlpn/WA) Website: www.penerbitbukumurah.com Email: [email protected] Youtube: Penerbit Sastrabook Instagram: @penerbit.sastrabook | @penerbitbukujogja Anggota IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) Isi buku diluar tanggungjawab penerbit Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau Memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini Tanpa izin dari penerbit


UU No 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta Fungsi dan sifat hak cipta Pasal 4 Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi. Pembatasan Pelindungan Pasal 26 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 tidak berlaku terhadap: i. penggunaan kutipan singkat Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait untuk pelaporan peristiwa aktual yang ditujukan hanya untuk keperluan penyediaan informasi aktual; ii. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk kepentingan penelitian ilmu pengetahuan; iii. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk keperluan pengajaran, kecuali pertunjukan dan Fonogram yang telah dilakukan Pengumuman sebagai bahan ajar; dan iv. penggunaan untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memungkinkan suatu Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait dapat digunakan tanpa izin Pelaku Pertunjukan, Produser Fonogram, atau Lembaga Penyiaran. Sanksi Pelanggaran Pasal 113 1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah). 2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).


vii Kata Pengantar Assalamualaikum Wr. Wb. Puji syukur kami panjatkan kepada Allah Swt. atas anugerah dan perkenan-Nya sehingga luaran mata kuliah Evaluasi Program dan Pembelajaran PAI dalam bentuk Buku Bunga Rampai (Book Chapter) ini dapat diselesaikan. Buku ini hadir dengan pembahasan sederhana tentang bagaimana evaluasi sebuah program dan pembelajaran dilaksanakan di lembaga pendiidkan. Kami menghaturkan terima kasih kepada Universitas Islam Malang, terkhusus Prodi Pendidikan Agama Islam Pascasarjana Unisma. Selanjutnya kami juga menyampaikan terima kasih kepada Dosen pengampu mata kuliah Evaluasi Program dan Pembelajaran PAI Dr. Eko Setiawan, M. Pd. serat teman-teman mahasiswa yang telah ikut bersama-sama dalam penyusunan buku bunga rampai ini dengan penuh suka cita. Kami berharap hasil luaran kumpulan book chapter ini akan bermanfaat serta memberikan kemuliaan terutama dalam rangka peningkatan keilmuan pendidikan agama islam di masa yang akan datang. Semoga setetes ilmu ini bermanfaat dan mendapatkan keberkahan dari Allah Swt. … aamiiin. Wassalamualaikum Wr. Wb. Malang, 24 maret 2022 Penulis


viii Apresiasi Kepada Mahasiswa atas Bunga Rampai Bismillahirrahmanirrahim,,,, Salah satu unsur penting dalam kemajuan pendidikan adalah kurikulum. Kurikulum menjadi ruh utama pada lembaga pendidikan dan proses pembelajaran. Orientasi, evaluasi, dan implementasi kurikulum menjadi pijakan utama dalam melakukan evaluasi program dan pembelajaran. Buku bungai rampai ini hadir memberikan wawasan tentang pelaksanaan evaluasi sebuah program dan pembelajaran pada pelaksanaa pendidikan dan pengajaran. Mahasiswa Pascasarjana Unisma Prodi PAI memberikan strategi penting dalam proses perkuliahan untuk mengembangakan keterampilannya menjadi sesuatu yang berbeda demi kesuksesan dunia penididikan. Rasa cinta dan semangat belajarnya dituangkan dalam buku ini sebagai pematik dalam proses menemukenali evaluasi program dan pembelajaran PAI. Akhir kata sukses selalu dan semoga keberkahan ilmu senantiasa menyertai… Alhamdulillahirabbil’alamin,,,. Dr. Eko Setiawan, M.Pd.


ix Daftar Isi KATA PENGANTAR ................................................................ vii APRESIASI KEPADA MAHASISWA ATAS BUNGA RAMPAI....... viii DAFTAR ISI............................................................................. ix BAB I MODEL-MODEL EVALUASI PROGRAM......................................1 A. Definisi Model – Model Evaluasi Program dan Pembelajaran ..............................................................1 B. Model – Model Evaluasi Program .................................3 C. Pemilihan Model Evaluasi Program..............................5 BAB II .................................................................................... 13 EVALUASI PROGAM PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN ....... 13 A. Analisis Kebutuhan.................................................... 13 B. Penyusunan Instrument Evaluasi............................... 19 C. Contoh rancangan evaluasi ....................................... 32 BAB III LANGKAH-LANGKAH EVALUASI PROGRAM ........................... 43 A. Persiapan Evaluasi Program Pendidikan.................... 43 B. Pelaksanaan Evaluasi/Penilain Program Pendidikan . 47 C. Monitoring Pelaksanaan Evaluasi Program ................ 49


x BAB IV MENGANALISIS DAN INTEPRETASI DATA .............................. 55 A. Kebutuhan Analisis dan Intepretasi Data ................... 55 B. Praktik Analisis dan Pengolahaan Data ...................... 60 C. Kesimpulan dan Tindak lanjut ................................... 62 BAB V MEMBUAT LAPORAN EVALUASI ............................................ 65 A. Permasalahan Evaluasi.............................................. 65 B. Metodologi Evaluasi .................................................. 74 C. Hasil dan Kesimpulan Evaluasi .................................. 84 BAB VI TUJUAN PENDIDIKAN DAN HASIL BELAJAR.......................... 97 A. Tujuan Pendidikan .................................................... 97 B. Hasil Belajar ............................................................ 105 C. Domain Dan Taksonomi........................................... 113 BAB VII KONSEP EVALUASI DAN PENILAIAN HASIL PEMBELAJARAN ....................................................... 125 A. Hakikat Evaluasi dan penilaian Pembelajaran ......... 125 B. Ruang Lingkup Evaluasi dan penilaian pembelajaran ................................................................................ 133 C. Jenis, Prinsip Penilaian Hasil Pembelajaran ............ 140 BAB VIII PENILAIAN TES DAN NON TES............................................. 149 A. Hakikat Penilaian .................................................... 149 B. Contoh Penilaian ..................................................... 153


xi BAB IX PENGEMBANGAN TES HASIL BELAJAR................................ 159 A. Hakikat Pengembangan Tes Hasil Belajar ................ 159 B. Prosedur Pengembangan Tes Hasil Belajar .............. 171 BAB X PENILAIAN HASIL BELAJAR ................................................ 183 A. Hakikat Hasil Belajar ............................................... 183 B. Pengukuran Hasil Belajar......................................... 186 BAB XI KISI-KISI SOAL.................................................................... 201 A. Penyusunan Kisi-kisi Soal ........................................ 201 B. Analisis Soal ............................................................ 205 C. Kesimpulan ............................................................. 210 BAB XII MENYUSUN INSTRUMEN TES & NON TES PAI ..................... 211 A. Hakikat Instrumen................................................... 211 B. Contoh-contoh Tes dan Non Tes PAI ........................ 215 BAB XIII PELAPORAN DAN PEMANFAATAN HASIL PENILAIAN........... 225 A. Hakikat Pelaporan ................................................... 225 B. Bentuk Laporan Penilaian........................................ 228 C. Pemanfaatan Hasil Penilaian ................................... 229 BIODATA PENYUSUN BUNGA RAMPAI................................. 233


xii


Bunga Rampai Pendidikan Evaluasi Program & Pembelajaran PAI 1 EVALUASI PROGRAM & PEMBELAJARAN PAI BAB I MODEL-MODEL EVALUASI PROGRAM Jakfar Al Mansur, S.Pd Muhammad Syukri Afkarul Huda, S.Pd A. Definisi Model – Model Evaluasi Program dan Pembelajaran Pengertian model pembelajaran menurut Adi (2000) adalah model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang memberikan gambaran prosedur pengorganisasian pengalaman dalam pengajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran adanya kesinambungan antara model dengan tujuan (Nurdyansyah & Fahyuni, 2016a). Sedangkan pendapat Trianto (2010:51) adalah suatu rencana atau metodologi yang berfungsi sebagai pedoman untuk merencanakan pembelajaran di kelas atau bimbingan belajar” (Nurdiyansyah, 2019). Dari pengertian di atas maka penulis memberikan pemahaman bahwa pengertian model pembelajaran adalah suatu konsep pembelajaran yang mencakup kerangka pembelajaran, metode, strategi untuk mencapai tujuan pendidikan.


Evaluasi Program & Pembelajaran PAI Bunga Rampai Pendidikan 2 Model pembelajaran merepresentasikan pendekatan pembelajaran yang digunakan, meliputi: tujuan pembelajaran, metode pembelajaran, lingkungan belajar, dan pengelolaan kelas. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru hendaknya menggunakan metode yang berbeda-beda sesuai dengan apa yang harus dilakukan setelah lulus. Berdasarkan konsep, model, dan pedagogi pembelajaran, suatu model pembelajaran dapat ditentukan sebagai suatu proses atau penilaian dan perlengkapan yang sistematis. Gronlund dan Lynn (1990:5) mendefinisikan penilaian sebagai "proses sistematis mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan informasi untuk menentukan seberapa baik seorang siswa mencapai tujuan pendidikan" dan data atau informasi meningkat. Ini mengacu pada proses sistematis mengumpulkan, menganalisis, menafsirkan, dan menentukan seberapa baik seorang siswa telah mencapai tujuan belajarnya. Dari definisi di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa kegiatan evaluasi adalah membandingkan hasil program dengan apa yang seharusnya dicapai sesuai dengan kriteria/ kriteria yang telah ditetapkan. Kriteria keberhasilan implementasi disebut sebagai kriteria yang berkaitan dengan pelaksanaan program dan mengevaluasi hasil dari proses dan pengambilan keputusan. Evaluasi memungkinkan Anda untuk menentukan seberapa sukses program tersebut dan kemudian memutuskan apakah akan melanjutkan, menunda, memperpanjang, memperpanjang, menerima, atau menolak program.


Bunga Rampai Pendidikan Evaluasi Program & Pembelajaran PAI 3 B. Model – Model Evaluasi Program Terdapat tiga nama yang mempunyai kesamaan makna dalam evaluasi yaitu: inspeksi. mengukur dan mengevaluasi. Tes merupakan alat pengujian untuk menilai tingkat keahlian melalui suatu rangsangan atau pertanyaan (Djemari Mardapi, 2008) pengertian tes adalah alat ukur dalam arti alat yang mengumpulkan semua informasi tentang karakteristik mata pelajaran, kemampuan, minat, sikap dan motivasi siswa. Langkah-langkah dapat ditentukan dengan menetapkan angka secara sistematis untuk menunjukkan keadaan individu, keadaan yang dapat berupa kognitif, kinerja, dan kesejahteraan psikologis. Dalam istilah pengukuran memiliki konsep yang lebih mendalam daripada pengujian. Kita dapat melakukan mendeteksi kemampuan siswa tanpa harus lulus ujian. Misalnya dengan pengamatan, skala cabang pohon dan metode yang lain untuk mengumpulkan informasi dalam bentuk kuantitatif. Evaluasi adalah proses memberikan informasi tentang siswa individu, kurikulum, atau program lain. Model penetapan harga yang dikembangkan oleh Kirkpatrick telah mengalami beberapa perbaikan. Evaluasi program pelatihan meliputi empat tingkatan penilaian, yaitu: tanggapan, peringatan, perilaku, dan hasil. 1. Penilaian Tanggapan Catalanello dan Kirkpatrick (1968:29) menjelaskan bahwa menilai respons peserta melibatkan ukuran kepuasan. Suatu kurikulum dianggap efektif jika proses pembelajaran melibatkan siswa dan memotivasi, serta memotivasi mereka untuk belajar dan berlatih. Di sisi lain, jika siswa tidak puas dengan pembelajaran yang diterimanya, mereka tidak termotivasi untuk terus belajar. Keberhasilan


Evaluasi Program & Pembelajaran PAI Bunga Rampai Pendidikan 4 penyelenggaraan pembelajaran tidak terlepas dari minat. Minat dan motivasi para peserta didik yang mengikuti pembelajaran, kategori orang belajar paling baik ketika mereka berbicara positif tentang lingkungan belajar mereka. Kepuasan mereka dapat dievaluasi berdasarkan berbagai aspek seperti materi yang diberikan, strategi penyebaran bangunan yang tersedia, dan peralatan yang digunakan. (Haryanto, 2007) 2. Penilaian hasil belajar Kirkpatrick dan Kirkpatrick (2008:42) berpendapat bahwa: “Dalam menilai hasil belajar, perlu mengamati perubahan sikap, pengetahuan, dan pengembangan keterampilan siswa setelah menyelesaikan program Peserta program, sikap, pengetahuan, selama periode pemagangan. Atau jika peningkatan keterampilan tidak berubah, program dapat dianggap gagal. (Nurdyansyah & Fahyuni, 2016b) 3. Penilaian Perilaku Menurut Kirkpatrick & Kirkpatrick (2008:53), “Penilaian perilaku dapat dilakukan dengan cara: (a) membandingkan perilaku kelompok kontrol dengan perilaku peserta program, (b) membandingkan perilaku sebelum dan sesudah mengikuti program, atau (c) survey/ wawancara dengan dosen, pembimbing dan peserta program setelah kembali bekerja”. Dengan demikian evaluasi yang memfokuskan pada perubahan perilaku disebut juga sebagai penilaian hasil kegiatan pelatihan. Harapannya adalah terjadinya perubahan setelah mengikuti kegiatan program, baik dari segi pengetahuan, sikap, maupun keterampilan.


Bunga Rampai Pendidikan Evaluasi Program & Pembelajaran PAI 5 4. Hasil. Tahap ini tujuan utamanya adalah hasil akhir yang diperoleh peserta setelah mengikuti suatu program. Beberapa contoh hasil yang didaapt setelah mengikuti program adalah meningkatnya produksi, kualitas, mengurangi biaya, mengurangi kecelakaan kerja, meningkatkan keuntungan. Selanjutnya Kirkpatrick & Kirkpatrick (2008:63) memberikan penjelasan cara mengevaluasi hasil akhir sebagai berikut : a) Melakukan pembandingan antara kelompok kontrol dan program-program; b) Mengadakan tes awal dan tes akhir; c) Membandingkan biaya yang dikeluarkan dengan manfaat yang didapatkan setelah pelatihan dan bagaimana dapat meningkatkannya. Evaluasi program dengan model Kirkpatrick (Badu, 2013) dapat juga di terapkan pada kurikulum sekolah karena: a) Tujuan yang sama, baik terhadap proses pembelajaran maupun hasil; dan b) Bakat untuk belajar juga tergantung pada tingkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Namun, penerapan model penilaian ini dalam kurikulum harus disesuaikan dengan situasi sekolah. C. Pemilihan Model Evaluasi Program Mutu pendidikan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain siswa, kepala sekolah, guru sekolah, staf/ TU, lingkungan, orang tua, masyarakat, mutu pendidikan, kurikulum, dan lainnya. Mardapi (2003:8) Upaya untuk meningkatkan mutu dari pendidikan dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas pendidikan dan sistem evaluasi. Keduanya saling berhubungan dan meningkatkan sistem


Evaluasi Program & Pembelajaran PAI Bunga Rampai Pendidikan 6 pendidikan yang baik memberikan kualitas pendidikan. Selain itu, sistem penilaian nilai yang baik mendorong pengajar untuk menemukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi peserta didik untuk mencapai nilai yang lebih baik. Oleh karena itu, program pendidikan membutuhkan pendidik yang mempunyai kompetensi pedagogik dengan baik, tetapi juga dapat melaksanakan penilaian dengan benar, yang diperlukan untuk mengoptimalkan kegiatan penilaian dalam program pembelajaran dan kurikulum. Evaluasi dilakukan mulai dari evaluasi kualitas proses input dan output dari program pendidikan dan pelatihan serta evaluasi hasil pembelajaran. Menurut Jemari Mardapi (2003:12), sistem evaluasi yang optimal adalah (a) adanya sistem evaluasi yang memberikan informasi yang optimal, dan (b) pendidikan untuk meningkatkan mutu dan mutu pendidikan. Kemudian membandingkan rating dengan target. Ada skala makro dan ada skala mikro. Studi makro berkaitan dengan program pendidikan, yaitu program untuk meningkatkan sektor pendidikan. Adapun tujuan dari penilaian mikro adalah kurikulum yang kerap digunakan untuk meningkatkan pembelajaran di kelas, terutama untuk mengukur hasil belajar siswa (Djemari Mardapi, 2008). Oleh karena itu, salah satu dari faktor penting untuk mencapai tujuan pendidikan adalah proses pendidikan dan pelatihan yang dilakukan dan salah satu dari faktor penting yang membuat efektivitas program pendidikan adalah: (a) penilaian pembelajaran dan pendidikan, (b) penilaian mempengaruhi, (c) penghargaan siswa agar terus belajar giat, (d) mendorong guru untuk memperbaiki proses pembelajaran, dan (5) mendorong sekolah untuk lebih memperbaiki lingkungan.


Bunga Rampai Pendidikan Evaluasi Program & Pembelajaran PAI 7 Pembagian dari model evaluasi adalah sebagai berikut: 1) Evaluasi Model CIPP Model penilaian ini digunakan secara luas oleh para reviewer. Konsep evaluasi model konteks, input, proses, dan produk (CIPP) pertama kali diperkenalkan oleh Stufflebeam (1985:153) pada tahun 1965 sebagai hasil dari upaya evaluasi ESEA (Pendidikan Dasar) di sekolah dan sekolah menengah. Menurut Madaus, Scriven, dan Stufflebeam (1993:118), tujuan utama dari evaluasi model ini adalah untuk meningkatkan empat dimensi konteks, masukan, proses, dan produk, sehingga model ini di namakan CIPP (Ananda & Tien Rafida, 2017). a) Penilaian Konteks Ada banyak rumusan penilaian konteks yang dikemukakan oleh para evaluator, salah satunya Sax (1980:595). Dia menjelaskan bahwa penilaian konteks digunakan untuk menilai kondisi umum subjek, mengidentifikasi kelemahan, kekuatan, mendiagnosis masalah dan memberikan solusi, memeriksa apakah tujuan dan apakah prioritasnya sesuai dengan kebutuhan yang harus dipenuhi. b) Penilaian Masukan Orientasi primer penilaian input merupakan memilih cara bagaimana tujuan acara dicapai (Stufflebeam & Shinkfield (1985:173). Fungsi evaluasi input adalah untuk mengatur pengambilan keputusan, menyeleksi talenta, merencanakan rencana dan strategi apa untuk mencapai tujuan tersebut, dan menggunakan mekanisme untuk mencapai tujuan tersebut. Komponen evaluasi awal adalah:


Evaluasi Program & Pembelajaran PAI Bunga Rampai Pendidikan 8 1) Staf 2) Pendukung kendaraan dan alat, 3) Dana/Anggaran 4) Banyak mekanisme dan anggaran yang dibutuhkan. c) Evaluasi Proses Evaluasi proses digunakan untuk mengidentifikasi atau memprediksi desain proses atau konsep implementasi selama fase implementasi, untuk menyediakan informasi untuk keputusan program, dan untuk merekam atau mengarsipkan langkah-langkah yang terjadi. Evaluasi proses melibatkan pengumpulan data evaluasi yang diidentifikasi dan diterapkan dalam praktik pelaksanaan program. d) Evaluasi Hasil Pada penyelenggaraan evaluasi hasil meliputi: mengukur, menafsirkan dan menentukan pencapaian hasil program, dan memastikan seberapa baik program memenuhi kebutuhan kelompok program. 2) Evaluasi Model Provus Contoh dari Madaus, Sriven & Stufflebeam (1993:7999) mengasumsikan bahwa evaluator dapat membandingkan apa yang terjadi (standar) dengan apa yang sebenarnya terjadi (kinerja) untuk menentukan kelayakan acara. Dengan membandingkan keduanya, Anda dapat melihat apakah ada penyimpangan dalam kinerja aktual dari standar yang ditetapkan (Wahyudhiana, 2015). Contoh ini dikembangkan oleh Malcolm Provus untuk menganalisis suatu peristiwa


Bunga Rampai Pendidikan Evaluasi Program & Pembelajaran PAI 9 untuk melihat apakah itu layak untuk dilanjutkan, ditingkatkan, atau dihentikan. Hal tersebut menekankan membangun standar kinerja dan penyimpangan secara terperinci serta dapat diukur. Evaluator dalam melakukan evaluasi program dengan tujuan mengukur sejauh mana kerentanan yang ada pada setiap komponen program. Ketika kerentanan berkembang di setiap komponen program, tindakan korektif yang jelas dapat diambil. 3) Evaluasi Model Stake Menurut Worthen & Sanders (1981:113), Stake membagi dua kegiatan dasar dalam evaluasi yaitu deskripsi dan penilaian, Sedangkan tahapan dari evalusi beliau membagi menjadi tiga tahap yaitu; premis (konteks), transaksi (proses) dan hasil. Deskripsi mengacu pada kedua hal yang menunjukkan sesuatu menjadi tujuan penilaian tentang apa tujuan yang dimaksudkan dan apa yang sebenarnya terjadi. Reviewer menampilkan periode review sesuai standar. Sedangkan untuk fase evaluasi Stufflebeam & Shinkfield (1985: 217- 219) membagi menjadi tiga tahapan yaitu; premis, transaksi, dan hasil. Anteseden mengacu pada data fundamental tentang kondisi/peristiwa yang ada sebelum pelaksanaan program. Sementara itu, menurut Stake, informasi ini terkait, misalnya, dengan kegiatan dan hasil pendidikan dan pembelajaran sebelumnya. Misalnya, siswa sarapan sebelum berangkat sekolah dan mengerjakan PR yang cukup di sore hari. atau tidak. Hasil tersebut digambarkan dan diidentifikasi satu per satu peristiwa secara lengkap. Evaluator mengidentifikasi dan menganalisis kondisi yang relevan secara historis.


Evaluasi Program & Pembelajaran PAI Bunga Rampai Pendidikan 10 4) Evaluasi Model Kirkpatrick Kirkpatrick (1998) telah merevisi kegiatan penilaian hasil perbaikan terakhir dikenal sebagai evaluasi program pelatihan yang mencakup model penilaian empat tingkat, atau Kirkpatrick dan selanjutnya di kenal dengan evaluasi program pelatihan meliputi empat level penilaian, yaitu: (a) jawab, (b) studi, (c) aksi, dan (d) hasil. REFERENSI Ananda, R., & Tien Rafida. (2017). Pengantar Evaluasi Prgram Pendidikan. Perdana Publising. Badu, S. Q. (2013). Implementasi Evaluasi Model Kirkpatrick Pada Perkuliahan Masalah Nilai Awal Dan Syarat Batas. Jurnal Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan, 16, 102–129. https://doi.org/10.21831/pep.v16i0.1108 Djemari Mardapi. (2008). Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Nontes. Mitra Cendikia. Haryanto, D. P. (2007). Inovasi Pembelajaran. Perspektif Ilmu Pendidikan, 16(VIII), 102–119. https://doi.org/10.21 009/pip.162.11 Nurdiyansyah. (2019). Media Pembelajaran Inovatif (Pandi Rais (ed.); 1st ed.). UMSIDA Press. Nurdyansyah, & Fahyuni, E. F. (2016a). Inovasi Model Pembelajaran sesuai Kurikulum 2013. In Nurdyansyah (Ed.), Nizmania Learning Center. Nizamia Learning Center. Nurdyansyah, & Fahyuni, E. F. (2016b). Inovasi Model


Bunga Rampai Pendidikan Evaluasi Program & Pembelajaran PAI 11 Pembelajaran Sesuai kurikulum 2013. In Nizamial Learning Center. Nizamial Learning Center. Wahyudhiana, D. da. (2015). Model Evaluasi Program Pendidikan. Islamadina, 1(1), 1–28.


Evaluasi Program & Pembelajaran PAI Bunga Rampai Pendidikan 12


Bunga Rampai Pendidikan Evaluasi Program & Pembelajaran PAI 13 EVALUASI PROGRAM & PEMBELAJARAN PAI BAB II EVALUASI PROGAM PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN Sutarno, S.Pd Uky Fananun Fiqih, S.Pd A. Analisis Kebutuhan Mutu pendidikan erat kaitannya dengan proses belajar mengajar, dan evaluasi menjadi salah satu bagian penting dalam melihat ketercapaian proses tersebut. Dengan melakukan penilaian, seorang pendidik mendapatkan gambaran yang jelas tingkat ketercapaian prosesnya dan ketepatan ketrampilan siswa dan metode pembelajaran yang digunakan. Selain itu, penilaian dapat digunakan sebagai sarana memotivasi siswa dalam mencapai nilai yang lebih baik. Untuk menentukan keberhasilan belajar seorang siswa, konsep penilaian memiliki istilah pengukuran, penilaian, dan evaluasi. Pengukuran merupakan proses mendapatkan angka yang dilakukan menurut aturan tertentu. Dalam Pendidikan,


Evaluasi Program & Pembelajaran PAI Bunga Rampai Pendidikan 14 pengukuran dilakukan untuk mengumpulkan data melalui pengamatan empiris seperti mengamati kinerja siswa, mengamati apa yang siswa katakan dan dilakukan siswa. Untuk instrument yang dilakukan, pendidik menggunakan tes maupun nontes. Penilaian merupakan langkah lanjutan setelah pengukuran. Penilaian merupakan kegiatan mengumpulkan dan mengolah informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sejauh mana prestasi atau kemampuan yang dimiliki siswa. Informasi yang didapat dari penilaian dapat berupa kualitatif dan kuantitatif. Evaluasi merupakan kegiatan mengidentifikasi apakah suatu program yang telah direncakan telah tercapai atau belum. Menurut Suharsini Arikunto (2004) evaluasi merupakan kegiatan dalam mengumpulnya informasi tentang bekerjanya sesuatu, untuk selanjutnya digunakan sebagai alternatif pengambilan keputusan. 1. Pengertian Anderson (Arikunto, 2009) mengemukakan bahwa analisis kebutuhan merupakan suatu proses yang dilaksanakan untuk menganalisis kebutuhan serta menentukan prioritas keduanya.. Berbeda dengan Kaufman dan English (Kaufman, 1979) yang membuat definisi bahwa analisis kebutuhan merupakan bentuk proses formal dalam upaya menentukan jarak antara output dengan dampak yang ditimbulkan dan yang diharapkan, selanjutnya menempatkan deretan kesenjangan yang dihasilkan tersebut dalam skala prioritas untuk mendapatkan pilihan permasalahan mana yang harus sehera diselesaikan.


Bunga Rampai Pendidikan Evaluasi Program & Pembelajaran PAI 15 Selanjutnya menurut Hardjodipuro (Hardjodipuro, 1982, p. 22) bahwa analisis kebutuhan adalah sebuah proses identifikasi untuk mendapatkan perbedaan. Perbedaan yang didapat selanjutnya dinyatakan dengan skala prioritas dan menunjukkan persyaratan agar suatu sistem dapat berjalan secara keseluruhan bagi sistem pendidikan. Menurut Briggs (Briggs, 1977, p. 24) analisis kebutuhan merupakan proses yang dilakukan secara sistematis untuk merumuskan tujuan, mengidentifikasi kesenjangan antara tujuan dengan kondisi saat ini dan menentukan sebuah prioritas untuk menentukan tindakan yang diambil sebagai bentuk pemecahan kesenjanagan tersebut. Selanjutnya Witkin (Sagala, 2010, p. 144) mengungkapkan bahwa analisis kebutuhan merupakan proses atau kegiatan untuk mendapatkan data besar kecilnya atau banyak sedikitnya gap (kesenjangan) yang muncul. Beberapa pendapat para ahli tentang analisis kebutuhan di atas maka dapat disimpulkan bahwa analisis kebutuhan ialah sebuah proses menemukan, menganalisis, memilah, menyisihkan, kemudian mengelompokkannya dalam skala prioritas untuk mendapatkan gambaran kebutuhan mana yang masuk kategori jangka panjang, menengah, dan pendek sekaligus merumuskan solusi pemecahannya agar mencapai tujuan yang diharapkan. 2. Peranan Analisis Kebutuhan Kaufman mengemukakan (Kaufman, 1979) bahwa di dalam sistem pendidikan, prestasi belajar siswa merupakan sebuah tujuan sedangkan pendidikan merupakan alat, proses dan langkah untuk membantu siswa agar memiliki kompetensi individu serta memiliki terhadap masyarakat sekitar serta dimungkinkan memiliki peran bagi umat secara luas ketika


Evaluasi Program & Pembelajaran PAI Bunga Rampai Pendidikan 16 mereka telah menyelesaikan proses pendidikannya di bangku sekolah. Dalam mencapai tujuan pembelajaran, maka dibutuhkan kompetensi dalam menguasi penggunaan yang ada di dalam sekolah dankemeampuan dalam memanfaatkan sumber belajar serta memiliki upaya untuk membuat rencana, melaksanakan, dan mengevaluasi hasil yang diperoleh. Perlu digarisbawahi bahwa meskipun upaya tersebut telah dilaksanakan masih terdapat keluhan yang dialami oleh para pendidik disebabkan hasil yang diperoleh belom optimal. Analisis kebutuhan berperan sebagai alat untuk memperbaiki dan positif dalam melakukan perubahan. Perlu diingat bahwa perubahan disini bukan perubahan yang radikal dan tidak mendasar, namun perubahan disini didasarkan atas logika yang bersifat fungsional dan mengarah pada perubahan fungsional yang dapat memenuhi kebetuhan. Perubahan itu menunjukkan upaya formal yang sistematis menentukan dan mendekatkan jarak kesenjangan antara seperti apa yang ada dengan bagaimana seharusnya. (Arikunto, 2009, p. 72) Kaufman dan English menjelaskan bahwa analisis kebutuhan diseskripsikan sebagai sebuah perbandingan antara usaha dalam memecahkan masalah secara tradisional dengan cara yang inovatif. Mereka menggambarkan perbandingan tersebut dengan sebuah diagram atau bagan proses penyusunan sebuah rencana pembelajaran yang menunjukkan letak analisis kebutuhan secara jelas. Seorang guru inovatif akan melakukan tiga hal penting dalam menyiapkan sebuah proses pembelajaran, diantaranya dengan tahap perencanaan yang mencantumkan kebutuhan dan pemilihan metode, langkah selanjutnya yang dilakukan adalah menyiapkan materi, dan yang terakhir memilih strategi yang tepat sesuai dengan karakter materi yang akan diajarkan.


Bunga Rampai Pendidikan Evaluasi Program & Pembelajaran PAI 17 Analisis kebutuhan bertujuan untuk mengurangi bahkan dapat meniadakan kesenjangan antara kemampuan yang dimiliki dengan kemampuan yang diperlukan oleh organisasi. Kebutuhan dalam organisasi dapat diketahui melalui beberapa indicator yang ditetapkan. Analisis kebutuhan merupakan sebuah tahap awal, sehingga evaluator perlu menentukan masalah pertanyaan terkait dengan pertimbangan beberapa program, kebutuhan yang terpenuhi sehubungan dengan adanya pelaksanaan program yang dibuat dan tujuan jangka panjang yang dapat dicapai dari program yang ditetapkan. 3. Pelaksanaan Analisis Kebutuhan Menurut Anderson, (Arikunto, 2009) untuk melaksanakan analisis kebutuhan dilakukan dengan cara dua teknik. Teknik yang pertama merupakan analisis kebutuhan secara objektif, sedangkan yang kedua analisis kebutuhan secara subjektif. Berikut pemaparannya: a. Analisis kebutuhan secara objektif Analisis kebutuhan secara objektif berarti seorang evaluator membandingkan sesuatu kebutuhan dengan kondisi yang dapat diterima keduanya. Analisis keutuhan secara objektif dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1) Menganalisis tujuan-tujuan dalam sebuah program yang akan dievaluasi; 2) Menyusun indikator evaluasi dan metode pengukuran yang tepat; 3) Menyusun standarisasi nilai untuk setiap indikator yang akan dievaluasi sebagai pedoman bagi evaluator; 4) Menyusun instrument sebagai alat alat ukur tiap-tiap indikator.


Evaluasi Program & Pembelajaran PAI Bunga Rampai Pendidikan 18 5) Membuat perbandingan kondisi yang diperoleh dengan standarisasi yang telah dibuat, lebih tinggi atau lebih rendah untuk mendapatkan skala prioritas kebutuhan. b. Analisis kebutuhan secara subjektif Analisis kebutuhan secara subjektif dilaksanakan karena kebutuhan yang diukur oleh evaluator dibandingkan dengan besarnya kebutuhan seuatu bidang terkait dan sesuatu dengan bidang yang akan dievaluasi. Analisis keutuhan secara objektif dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1) Mengidentifikasi tujuan-tujuan penting dalam program untuk mendapatkan data yang akan dievaluasi. 2) Menyusun kriteria tiap tujuan dari masing-masing bidang dan menentukan indikatornya. Pada tahap ini evaluator mengumpulkan sebanyak mungkin bukti formal sebagai bahan pertimbangan menyusun kebutuhan. 3) Menyusun skala bertingkat sesuai dengan tingkat indikator mulai dari yang paling tinggi menuju yang paling rendah dengan menggunakan interval. 4) Setelah selesai membuat skala, selanjutnya mengumpulkan semua calon evaluator untuk bersamasama menentukan urutan kebutuhan dan skala prioritas kebutuhan. Jika terjadi dua kebutuhan yang sejajar (bernilai sama) maka perlu dibahas lagi sampai benarbenar mendapatkan prioritas kebutuhan dengan masa yang lebih mendesak untuk diprioritaskan dalam penyelesaiannya. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika mengevaluasi kebutuhan jangan sampai memasukkan unsur subjektivitas karena dapat menyebabkan hasilnya menyimpang dari kenyataan yang ada


Bunga Rampai Pendidikan Evaluasi Program & Pembelajaran PAI 19 Menurut Suharsimi Arikunto, dua cara tersebut memiliki Langkah awal yang sama, yaitu dimulai dari: (Arikunto, 2009) 1) Identifikasi lingkup tujuan penting dalam program menentukan indicator dan cara pengukuran tujuan, 2) Menyusun kriteria atau standar untuk tiap-tiap indikator dan membandingkan kondisi yang diperoleh dengan kriteria. Selain dua cara tersebut, seorang evaluator dapat menggunakan gabungan dari keduanya yaitu campuran antara mrnggunakan cara objective dengan menggunakan cara subjective. Disamping itu seorang evaluator juga dapat menambahkan bahan lain yan diambil dari pihak luar luar seperti teman dekat atau anggota keluarga lain yang memang data yang dioerkukan dan data yang diterima dapat dipercaya. Apapun pendekatan yang diambil, bagi evaluator yang terpenting adalah menentukan prioritas sesuai dengan tujuan untuk menetukan rekomendasi dalam mengambil keputusan demi tindak lanjut program. Perlu diingat bahwa para evaluator tidak memiliki hak untuk mengubah program, namun para evaluator hanya memiliki hak untuk merekomendasikan kepada pengambil keputusan untuk menentukan tindak lanjut. B. Penyusunan Instrument Evaluasi Evaluasi adalah bagian dari program Pendidikan yang dilakukan dalam upaya melihat tingkat ketercapaian sebuah program. Evaluasi program pendidikan dapat dimaknai sebagai proses monitoring untuk mendapatkan gambaran ketercapaian sebuah proses. Hasil evaluasi dapat dijadikan sebagai dasar perbaikan (remidial) dan penambahan (pengayaan) program-program berikutnya. Kegunaan evaluasi


Evaluasi Program & Pembelajaran PAI Bunga Rampai Pendidikan 20 dalam pendidikan dan pembelajaran adalah untuk untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran tersebut dicapai. Apabila evaluasi dijadikan sebagai alat ukur keberhasilan sebuah program, maka diperlukan instrument sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai sehingga benar-benar mendapatkan apa yang diinginkan. Secara garis besar, instrument evaluasi dapat dikelompokkan menjadi tes dan non-tes. 1. Pengertian Instrumen Menurut Ratnawulan (Ratnawulan & Rusdiana, 2014) secara umum yang dimaksud dengan istrumen adalah suat alat yang digunakan untuk mengukur ketercapaian persyaratan akademis, sehingga dapat digunakan sebagai alat ukur seberapa berhasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengertian tersebut menegaskan bahwa instrument adalah suatu alat yang sengaja dibuat dengan tujuan tertentu dan tidak dapat digunakan untuk mengukur variabel lainnya. Instrumen evaluasi pendidikan digunakan untuk mengukur ketercapaian program pendidikan secara umum, meliputi aspek-aspek dalam proses Pendidikan secara keseluruhan. Aspek tersebut terdiri dari manajemen, pendidik, peserta didik, sarana, dan faktor pendukung lainnya. Manajemen perlu dievaluasi karena aspek ini memiliki peran vital sebagai penentu kebijakan program dan proses pendidikan secara keseluruhan. Pendidik bersama peserta didik menjadi aspek utama keberhasilan program pendidikan yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Aspek sarana menjadi salah satu pendukung tercapainya tujuan sebuah pendidikan baik bersifat langsung maupun tidak langsung.


Bunga Rampai Pendidikan Evaluasi Program & Pembelajaran PAI 21 Instrument pembelajaran lebih bersifat spesifik disusun dengan memerhatikan program pembelajaran dalam perangkat pembelajaran atau lebih dikenal dengan Rencana Program Pembelajaran (RPP). Setiap RPP yang baik tentu mencantumkan bagaimana kegiatan pembelajaran tersebut dievaluasi disertai dengan ketentuan instrument yang disebut dengan pedoman penskoran dan rubrik penilaian. 2. Jenis-jenis Instrumen Evaluasi Instrument evaluasi secara garis besar dikelompokkan menjadi dua, yaitu tes dan non-tes. Instrumen bentuk tes digunakan untuk mengukur kemampuan aspek kognitif, prestasi belajar, tes bakat, dan tes kemampuan akademik. Instrumen bentuk non-tes difungsikan untuk mengukur sikap sikap, observasi, wawancara, angket, dan sejenisnya. a. Instrumen Tes Menurut Sudijono (1996) instrumen tes merupakan prosedur yang digunakan untuk melakukan pengukuran dan penilaian. Instrument ini dapat diartikan juga sebagai alat pengukur yang memiliki sifat objektif, sehingga dapat digunakan secara luas, serta benar-benar mampu digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu (Ananda & Rafida, 2015). Instrumen tes merupakan salah satu bentuk prosedur evaluasi yang paling sering digunakan. Instrumen ini memiliki kecenderungan lebih mudah digunakan dibanding dengan instrument lainnya karena memiliki aturan dan ukuran yang pasti sesuai indikator yang telah ditetapkan dalam program pembelajaran. Berdasarkan waktu dan cakupan materinya, instrument tes dikelompokkan menjadi tes formatif dan sumatif. Tes


Evaluasi Program & Pembelajaran PAI Bunga Rampai Pendidikan 22 formatif atau lebih dikenal dengan ulangan harian memiliki cakupan yang spesifik dengan batasan kompetensi dasar, bahkan ada yang menggunakan untuk satu kali proses pembelajaran (tatap muka). Dalam praktiknya, tes formatif digunakan untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran sampai tingkat indikator. Hasil tes formatif dianalisis sebagai dasar penentuan remidial dan pengayaan materi. Tes formatif dilaksanakan dengan tujuan untuk mendapatkan umpan balik dari peserta didik dalam usaha memperbaiki kualitas pembelajaran dalam konteks kelas. Sebuah kualitas pembelajaran dalam kelas ditentukan dengan intensitas proses belajar yang dilakukan oleh setiap peserta didik sebagai subjek belajar (Ratnawulan & Rusdiana, 2014). Berbeda dengan tes formatif, tes sumatif memiliki cakupan materi lebih luas yakni mengukur ketercapaian proses pembelajaran sebuah mata pelajaran. Tes sumatif dilaksanakan secara blok dengan istilah ulangan tengah semester, ulangan semester, atau ujian akhir. Hasil tes sumatif digunakan sebagai syarat untuk kenaikan kelas maupun kelulusan sebuah lembaga pendidikan pada tingkat tertentu. Menurut Djaali dan Pudji Mulyono dalam Ratnawulan (Ratnawulan & Rusdiana, 2014) hasil dari tes sumatif dapat digunakan untuk (a) dasar penentuan ranking peserta didik dalam kelas, (b) dasar penentuan dapat atau tidaknya melanjutkan program pembelajaran berikutnya, dan (c) memberi informasi tentang kemajuan peserta didik kepada orang tua, sekolah, masyarakat, dan lapangan kerja. Berdasarkan bentuknya, tes dibagi menjadi 2 (dua) yaitu tes tertulis dan tes lisan: 1) Tes tertulis Tes ini memiliki ciri utama adalah instrumennya dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik tidak


Bunga Rampai Pendidikan Evaluasi Program & Pembelajaran PAI 23 selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar dan lain sebagainya (Tune Sumar & Tune Sumar, 2020). Jenis tes ini terdiri dari: a) Pilihan ganda Tes pilihan ganda digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat rendah, yakni pada tingkat pengetahuan dan pemahaman, sampai pada tingkat berpikir kritis seperti aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Jenis tes ini memudahkan guru dalam mengoreksi karena memiliki satu jawaban yang sudah pasti. Agar soal pilihan ganda yang disusun memiliki standar, perlu memerhatikan beberapa hal yang perlu dipedomani: (1) pola kalimat dalam menyusun soal harus jelas dan tidak boleh mengandung ambiguitas makna; (2) isi pilihan jawaban memiliki kemiripan atau bersifat homogen agar tidak menjadi petunjuk jawaban; (3) apabila jawaban berupa kalimat atau susunan kata maka jumlah kata relatif sama; (4) apabila jawaban berupa angka maka diurutkan baik dari kecil ke besar maupun sebaliknya; (5) tidak ada kata dalam soal yang menunjukkan salah satu pilihan jawaban benar; (6) semaksimal mungkin menghindati pilihan jawaban: semuanya benar atau semuanya salah; (7) memiliki satu jawaban benar, satu jawaban salah, dan jawaban pengecoh yang kemungkinan menjadi jawaban benar ketika menggunakan cara lain yang tidak sesuai dengan petunjuk soal;


Evaluasi Program & Pembelajaran PAI Bunga Rampai Pendidikan 24 (8) semua pilihan jawaban adalah logika, bukan jawaban yang dipaksakan hanya untuk mencukupi pilihan jawaban. b) Pilihan ganda kompleks Jenis tes ini mirip dengan pilihan ganda di atas tetapi lebih bersifat kompleks. Pilihan ganda kompleks memungkinkan terdapat jawaban lebih dari satu. Instrument jenis ini dibuat dengan tuuan untuk menguji pemahaman peserta didik terhadap suatu masalah secara komprehensif yang terkait antara pernyataan satu dengan yang lainnya (Widana, 2017). Seperti halnya soal pilihan ganda biasa, pada soal ini juga memuat stimulus bersumber pada kontekstual. Peserta didik diberikan kesempatan untuk memilih beberapa pernyataan yang berhubungan dengan stimulus pada soal, baik berupa pilhan benar/ salah, ya/ tidak, maupun opsi pilihan jawaban yang memungkinkan untuk memilih lebih dari satu jawaban. Dalam Menyusun pilihan jawaban dibuat secara acak untuk menguji kemampuan peserta didik dalam menganalisis permasalahan dalam soal. Apabila dalam pilihan ganda biasa susunan pilihan jawaban dibuat sistematis, maka pada instrument ini justru pilihan jawaban disusun tidak sistematis. c) Menjodohkan Menjodohkan dapat dimaknai sebagai usaha memasangkan dua pernyataan yang memiliki keterkaitan. Instrument ini digunakan untuk mengetahui pemahaman peserta didik atas fakta dan konsep. Cara mengerjakan soal ini hanya dengan menjadohkan atau memasangkan antara masing-masing istilah dalam dua kelompok sesuai petunjuk yang dibuat.


Bunga Rampai Pendidikan Evaluasi Program & Pembelajaran PAI 25 d) Uraian singkat Tes bentuk uraian singkat digunakan untuk mengukur seberapa tingkat pengetahuan dan pemahaman peserta didik terhadap materi yang diajarkan. Dalam tes ini, soal dibuat dalam bentuk uraian merujuk pada indikator yang ditentukan tetapi pada tingkat berpikir yang diukur pada tingkatan rendah. Instrument tes uraian singkat memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) kalimat yang digunakan adalah kalimat pertanyaan langsung atau kalimat perintah; (2) pertanyaan atau instruksi disusun secara sistematis agar memiliki jawaban yang singkat; (3) jawaban peserta didik dimungkinkan antara satu sampai tiga kata; (4) penyusunan soal semaksimal mungkin tidak mengambil kalimat yang ada di buku agar peserta didik tidak mengingat atau menghafal apa yang ada dalam buku tetapi disusun dengan pola kalimat baru dengan konteks yang tidak ada dalam buku. Jenis soal jawaban singkat ini menggunakan penskoran sederhana yaitu dapat dengan memberikan poin 1 untuk jawaban benar dan poin 0 untuk jawaban salah. Untuk membatasi peserta didik dalam memberi jawaban atas soal yang dibuat, maka karakter soal ini lebih tepat digunakan pada materi-materi yang sifatnya pasti.


Evaluasi Program & Pembelajaran PAI Bunga Rampai Pendidikan 26 e) Uraian objektif Ciri utama instrument tes bentuk ini adalah memberi peluang kepada peserta didik untuk menjawab pada level atas, yakni dengan memadukan antara ingatan, analisis, dan asosiasi. Meskipun peserta didik memiliki peluang menyampaikan pendapatnya, tetapi peluang jawaban bersifat pasti. Untuk menjaga objektifitas dalam melakukan penskoran perlu dibuat rubrik penilaian/ pedoman penskoran sehingga siapapun yang mengoreksi akan mendapat pedoman penilaian yang sama. Instrument ini dapat digunakan dapat digunakan untuk segala level kognitif, mulai yan paling rendah sampai pada level paling tinggi. Jenis pertanyaan yang sering dipakai dalam soal ini adalah “simpulkan” dan “tafsirkan”. Tahapan dalam Menyusun intrumen tes uraian objektif adalah: (a) menulis soal berdasarkan indikator pada kisi-kisi dan (b) mengedit pertanyaan. Untuk mendapatkan sebuah pertanyaan yang baik, hal yang perlu diperhatikan adalah: (1) pertanyaan mudah dipahami; (2) pilihan jawaban yang dicantumkan sudah benar; (3) memastikan tata letak sudah baik; (4) penentuan bobot sudah tepat; (5) kunci jawaban dipastikan sudah benar; dan (6) mengalisis waktu yang tersedia cukup untuk menyelesaikan soal-soal. f) Uraian bebas Jenis tes ini memberi kebebasan kepada peserta didik untuk berekspresi menyampaikan pendapatnya untuk menjawab soal. Untuk menjaga keobjektifan penilaian pada jenis tes ini diperlukan pedoman penskoran atau rubrik penilaian yang jelas. Instrument ini dapat digunakan untuk


Bunga Rampai Pendidikan Evaluasi Program & Pembelajaran PAI 27 mengukur seluruh tingkat kemampuan, mulai dari tingkat berpikir rendah sampai tingkat berpikir tinggi. Dalam menyusun soal uraian bebas perlu memerhatian hal-hal sebagai berikut: (1) menggunakan kata tanya atau perintah tak terbatas, misalnya mengapa, bagaimana, uraikan, jelaskan, dan buktikan; (2) menggunakan tata bahasa baku; (3) menghindari ambiguitas atau bermakna ganda; (4) membuat petunjuk pengerjaan soal; (5) membuat kunci jawaban; (6) membuat rubrik penilaian. 2) Tes lisan Menurut Thoha (2011) tes lisan terkategori tes verbal, tes dimana soal dan jawabannya diberikan secara lisan (Widana, 2017). Tes lisan merupakan sekumpulan item pertanyaan atau pernyataan yang disusun secara terencana, diberikan oleh seorang guru kepada peserta didik tanpa melalui media tulis. Jenis tes ini dapat berbentuk tes unjuk kerja (performance), presentasi, maupun tanya jawab langsung. Pelakasanaan tes lisan ini dapat dilaksanakan saat pembelajaran maupun setelah pembelajaran. Ketika tes lisan dilaksanakan dalam pembelajaran dimaksudkan untuk mendapatkan gambar tingkat ketercapaian indikator sebelum masuk pada indikator berikutnya. Tes lisan yang dilaksanakan setelah kegiatan pembelajaran lebih bersifat praktis dibandingkan dengan tes tulis karena pertanyaan dapat berdifat acak dan peserta didik akan lebih memerhatikan pertanyaan yang diberikan karena tidak memiliki waktu untuk mencari bantuan.


Evaluasi Program & Pembelajaran PAI Bunga Rampai Pendidikan 28 Tes lisan memang dilaksanakan secara verba, tetapi seorang guru tetap harus memiliki pedoman penskoran atau rublik penilaian untuk memberikan nilai kepada peserta didik yang dapat menjawab atau menjalankan petunjuk. Misalnya, dalam tes unjuk kerja peserta didik diminta mendemontrasikan kemampiuannya maka guru harus memiliki pedoman yang jelas. b. Instrument Non-Tes Instrument evaluasi non-tes merupakan jenis instrument yang disusun dalam upaya untuk mendapatkan data tentang apsek sikap atau perilaku, tanggapan, pendapat, observasi, survey, atau angket yang bertujuan untuk mengukur aspek afektif dan psikomotorik. Instrument ini tidak ada hubungannya dengan kemampuan kognitif. Menurut Anas Sudijono (Ratnawulan & Rusdiana, 2014) bahwa evaluasi non-tes merupakan jenis penilaian hasil belajar peserta didik yang didapat tanpa menguji, melainkan dengan pengamatan sistematis, wawancara, angket, memeriksa dokumen. Instrument evaluasi non-tes bertujuan untuk mengukur hasil belajar siswa yang berhubungan dengan soft skill, pengalaman belajar, dan dampak dari proses pembelajaran, beberapa jenis instrument evaluasi non-tes diantaranya: 1) Observasi Observasi juga dapat dikatakan sebagai pengamatan, dalam melaksanakan teknik ini perlu disusun panduan observasi untuk observer. Observer adalah orang yang melakukan observasi, dalam hal ini adalah seorang guru atau orang yang ditunjuk sebagai penggantinya dan mendapat


Bunga Rampai Pendidikan Evaluasi Program & Pembelajaran PAI 29 tugas untuk melakukan pengamatan berdasarkan panduan yang ditetapkan. Menurut Susilo Surya dan Natawidjaja (Ratnawulan & Rusdiana, 2014) observasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, diantaranya: a) Observer, pendidik melakukan observasi di tengah-tengah peserta didik yang sedang diobservasi; b) Non partisipatif, observer hanya sebagai penonton; c) Eksperimental, observasi dilakukan pada kondisi atau situasi yang dibuat; d) Non-eksperimental, observasi dilakukan pada situasi yang wajar tanpa rekayasa. 2) Angket Angket adalah teknik untuk memahami peserta didik secara tertulis, peserta didik menerima daftar pertanyaan yang wajib dijawab atau dikerjakan secara tertulis juga. Susilo Rahardjo & Gudnanto (2011: 95-97) membedakan jenis angket berdasarkan bentuk pertanyaannya: a) Angket terbuka, pertanyaan dibuat dengan bentuk terbuka, responden berhak menjawab sebebas-bebasnya; b) Angket tertutup, pertanyaan dibuat tertutup, responden hanya dapat memilih jawaban yang telah ditentukan; c) Angket terbuka dan tertutup, pertanyaan dibuat campuran antara terbuka dan tertutup dan sering digunakan dalam upaya bimbingan konseling. 3) Wawancara Teknik wawancara digunakan oleh pendidik untuk mendapatkan informasi secara langsung dari peserta didik. Agar mencapai tujuan yang jelas, maka wawancara diperlukan


Evaluasi Program & Pembelajaran PAI Bunga Rampai Pendidikan 30 pedoman. Pedoman sederhana dalam melakukan wawancara adalah: a) menentukan tujuan; b) menentukan aspek yang akan diungkap; c) menentukan bentuk wawancara, terstrukur atau terbuka; d) menyusun pedoman pengolah hasil wawancara. 4) Skala nilai Skala adalah alat ukur dengan menerapkan rentang tertentu untuk mendapatkan nilai yang dikehendaki. Penyusunan skala tidak harus menggunakan angka atau huruf tetapi dapat menggunakan symbol-simbol seperti gambar bintang, beberapa jenis skala yang sering digunakan adalah skala penilaian yang menggunakan rating angka dan skala sikap yang menunjukkan tingkat kesukaan atau kefahaman. 3. Langkah-langkah Menyusun Instrumen Evaluasi Evaluasi merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Evaluasi program pendidikan dapat dimaknai sebagai proses monitoring untuk mendapatkan gambaran ketercapaian sebuah proses. Hasil evaluasi dapat dijadikan sebagai dasar perbaikan (remidial) dan penambahan (pengayaan) programprogram berikutnya. Dalam upaya mendapatkan instrument valid dan sesuai dengan tujuan pembelajaran, maka dalam menyusun instrument perlu memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut (Tune Sumar & Tune Sumar, 2020): a. Menganalisis kompetensi dasar Kompetensi dasar merupakan standar kompetensi yang harus dipelajari untuk mendapatkan kompetensi tertentu.


Bunga Rampai Pendidikan Evaluasi Program & Pembelajaran PAI 31 Bermula dari kompetensi dasar inilah seorang guru dapat mengembangkan menjadi indikator-indikator ketuntasan dalam pembelajaran. Menganalisis kompetensi dasar berarti menemukan bentuk soal yang tetap sesuai tujuan yang ingin dicapai dalam kompetensi tersebut sehingga dapat disusun instrument yang tepat. b. Menyusun kisi-kisi soal Langkah berikutnya setelah menganalisis kompetensi dasar adalah menyusun kisi-kisi soal atau rancang soal. Penyusunan kisi-kisi soal harus disesuaikan dengan indikator dan tujuan, dimulai dari level kognitif rendah menuju tinggi, dan memperhatikan tingkat kesulitan soal. Kisi-kisi yang baik mencakup heterogenitas bentuk soal disesuaikan indikator sehingga dapat digunakan untuk mengukur seluruh kompetensi yang dibutuhkan. c. Memilih stimulus yang tepat dan kontekstual Stimulus adalah rangsangan yang berupa contoh-contoh peristiwa yang dibuat dengan tujuan mengarahkan peserta didik kepada fokus. Kontekstual dapat dimaksudkan sebagai keterkaitan dengan konteks tertentu yang mudah dipahami oleh peserta didik setempat dan memiliki hubungan dengan inti materi yang akan disusun sebagai soal. d. Menyusun butir pertanyaan sesuai kisi-kisi yang dibuat Langkah yang paling krusial dalam menyusun instrument adalah menysun butir soal. Penyusunan butir pertanyaan sedapat mungkin menggunakan pedoman ABCD, yakni actual (terbaru), behavior (sikap yang hendak dicapai), communicatif (mudah dipahami), dan degree (ukurannya jelas).


Evaluasi Program & Pembelajaran PAI Bunga Rampai Pendidikan 32 e. Menyusun pedoman penskoran dan kunci jawaban Pedoman peskoran dibuat untuk menghindari subjektifitas penilaian. Pedoman ini dapat berupa skala nilai (poin) dalam satu soal apabila berupa uraian atau dapat berupa pembobotan yang meliputi seluruh soal yang dibuat berdasarkan tingkat kesulitan soal. Hal yang tidak tidak boleh dilewatkan dalam Menyusun pedoman penskoran adalah mencantumkan kunci jawab, baik yang bersifat pasti maupun kunci jawaban alternatif bagi soal yang berbentuk uraian. C. Contoh rancangan evaluasi Merancang sebuah evaluasi berarti merencanakan dan menyusun instrument evaluasi untuk mendapatkan hasil maksimal. Sebagaimana pembahasan sebelumnya, pada bagian ini lebih spesifik pada contoh-contoh melakukan evaluasi dengan berbagai macam jenis instrument. Berikut ini adalah tahapan-tahapan dalam menyusun rancangan evaluasi. 1. Merancang evaluasi tes koginitif Berikut contoh merancang evaluasi pada mata pelajaran Fiqih kelas 10 tingkat Madrasah Aliyah sesuai kurikulum 2013 yang bersumber pada Keputusan Menteri Agama Nomor 183 tahun 2019 (Madrasah et al., 2019) dengan spesifikasi evaluasi high order thinking skill (HOTS): a. Menganalisis kompetensi dasar 1) Kompetensi dasar yang akan dievaluasi Kompetensi dasar diambil dari kurikulum satuan pendidikan yang ditetapkan melalui dokumen kurukulum tingkat satuan pendidikan (KTSP): KD.1.2 KD. 2.2 KD. 3.2 KD. 4.2 Menghayati pentingnya syariat Islam Mengamalka n sikap tanggung Menganalisis ketentuan pemulasaraa Mengomunikasika n hasil analisis tata cara pemulasaraan


Bunga Rampai Pendidikan Evaluasi Program & Pembelajaran PAI 33 KD.1.2 KD. 2.2 KD. 3.2 KD. 4.2 tentang kewajiban pemulasaraa n jenazah jawab, peduli dan gotong royong dalam kehidupan sehari-hari n jenazah jenazah 2) Analisis tingkat kognitif yang akan dievaluasi Pengelompokan tingkat kognitif terdiri dari pengetahuan dan pemahaman; aplikasi; dan penalaran. No. Level Kognitif Karakteristik Soal 1 pengetahuan dan pemahaman Soal digunakan untuk mengukur pengetahuan faktual, konsep, dan prosedural 2 aplikasi a. Menggunakan kemampuan pengetahuan faktual, konsep, dan prosedural pada konsep lain b. Menggunakan kemampuan pengetahuan faktual, konsep, dan prosedural pada permasalahan lain 3 penalaran Soal dibuat untuk mengukur kemampuan logika dalam mengambil keputusan, memprediksi, dan Menyusun strategi baru. 3) Perumusan indikator pencapaian kompetensi (IPK) Indikator terdiri dari 3 (tiga) jenis, yakni: (a) indikator pendukung, (2) indikator inti, (3) indikator pengayaan. Indikator inti dapat diambil dari KTSP sedangkan indicator pendukung dan pengayaan disusun sendiri oleh guru.


Evaluasi Program & Pembelajaran PAI Bunga Rampai Pendidikan 34 Contoh: KD. 3.2: Menganalisis ketentuan pemulasaraan jenazah IPK Pendukung IPK Inti IPK Pengayaan 3.2.1 Mengetahui hakikat pemulasaraan jenazah 3.2.2 Memahami hukum pemulasyaraan jenazah 3.2.3 Menganalisis tatacara pemulasaraan jenazah KD. 4.2: Mengomunikasikan hasil analisis tata cara pemulasaraan jenazah IPK Pendukung IPK Inti IPK Pengayaan 4.2.1. Praktik tatacara pemulasaraan jenazah 4.2.2. Mempresentasikan pengalaman praktik pemulasaraan jenazah


Bunga Rampai Pendidikan 3 b. Menyusun kisi-kisi soal Contoh: Nama Lembaga : Madrasah Aliyah Kelas : X (sepuluh) Mata Pelajaran : Fiqih No Kompetensi Dasar Lingkup Materi Materi 1 2 3 4 1 3.2.3 Menganalisis tatacara pemulasaraan jenazah pemulasaraan jenazah mengkafa 2 shalat jenazah


Evaluasi Program & Pembelajaran PAI 5 Indikator Soal No. Soal Level Bentuk Soal 5 6 7 8 ni disajikan stimulus berita kematian, siswa diminta menentukan pengkafanan sesuai jenis kelamin jenazah 1 1 PG disajikan stimulus berupa pernyataan dalam shalat jenazah, peserta diminta mengonstruksi rukun shalat jenazah 2 3 Uraian


Evaluasi Program & Pembelajaran PAI Bunga Rampai Pendidikan 36 Catatan pengisian format kisi-kisi soal: Kolom 1: diisi nomor urut kisi-kisi Kolom 2: diisi KD dari kurikulum atau dokumen KTSP Kolom 3: diisi dari kurikulum atau dokumen KTSP Kolom 4: diisi dari bagian materi dalam kolom 3 Kolom 5: diisi dari indikator yang diturunkan. Kolom 6: diisi sesuai nomor urut soal yang diinginkan Kolom 7: diisi berdasarkan analisis level kognitif Kolom 8: diisi berdasarkan bentuk soal yang akan dibuat c. Memilih stimulus yang tepat dan kontekstual No. Indikator Soal Stimulus 1 disajikan stimulus berita kematian, siswa diminta menentukan pengkafanan sesuai jenis kelamin jenazah Seorang dokter yang merawat pasien bencana alam dinyatakan meninggal dunia setelah dirawat selama 3 hari akibat kelelahan. Dokter tesebut diketahui bernama Anton, petugas kemanusiaan pada daerah rawan bencana. 2 disajikan stimulus berupa pernyataan dalam shalat jenazah, peserta diminta mengonstruksi rukun shalat jenazah Kewajiban seorang muslim ketika ada saudara muslim lain yang meninggal dunia adalah menyolati. d. Menyusun butir pertanyaan No. Stimulus Butir Soal Kunci 1 Seorang dokter yang merawat pasien bencana alam dinyatakan meninggal dunia setelah dirawat Berdasarkan ilustrasi di atas, maka kain kafan yang dibutuhkan adalah…. C


Bunga Rampai Pendidikan Evaluasi Program & Pembelajaran PAI 37 No. Stimulus Butir Soal Kunci selama 3 hari akibat kelelahan. Dokter tesebut diketahui bernama Anton, petugas kemanusiaan pada daerah rawan bencana. a. 3 helai karena jihat b. 3 helai karena sedang bertugas c. 3 helai karena laki-laki d. 5 helai karena laki-laki e. 5 helai karena mati syahid 2 Kewajiban seorang muslim ketika ada saudara muslim lain yang meninggal dunia adalah menyolati. Ketika anda diminta untuk menjadi imam dalam shalat jenazah, jelaskan urutan melaksanakan shalat jenazah sesuai dengan syariat Islam! 1. Niat 2. Takbiratul ihram 3. Membaca alfatihah 4. Takbir kedua 5. Membaca shalawat 6. Takbir ketiga 7. Membaca doa mayit 8. Takbir keempat 9. Membaca doa qubur 10. salam e. Menyusun pedoman penskoran dan kunci jawaban Soal nomor 1: Soal Jawaban Skor Seorang dokter yang merawat pasien bencana alam a. 3 helai karena jihat Benar: 1


Click to View FlipBook Version