The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by SARIKUN IKUN, 2020-09-22 21:16:08

Modul Diklat Perpustakaan

Modul Diklat Perpustakaan

BAB II

LAYANAN PERPUSTAKAAN

A. Pengertian Layanan

Layanan perpustakaan berarti penyediaan bahan pustaka secara tepat dan
akurat, sesuai dengan kebutuhan pemustaka jasa perpustakaan. Ada
berbagai pendapat yang mengatakan bahwa layanan perpustakaan
merupakan citra dari lembaga perpustakaan. Dengan kata lain perpustakaan
sangat identik dengan layanan, karena tidak ada perpustakaan jika tidak ada
layanan. Sebab bagaimanapun hebatnya suatu lembaga perpustakaan,
namun apabila layanannya sangat buruk, maka citra perpustakaan itupun
akan sangat buruk, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, ada juga yang
menyebutkan bahwa layanan merupakan ujung tombak dari suatu
perpustakaan.

B. Tujuan dan Fungsi Layanan

Tujuan perpustakaan memberikan layanan bahan pustaka kepada
masyarakat pemustaka adalah memenuhi kebutuhan informasi masyarakat,
dan agar koleksi perpustakaan yang telah dimiliki perpustakaan dapat
dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh pemustaka. Layanan perpustakaan
berfungsi mempertemukan pemustaka dengan bahan pustaka yang
dibutuhkan dan diminati. Hal itu sesuai dengan pasal 14 ayat (1) dan (3)
dalam Undang-undang No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan yang
menyebutkan secara jelas bahwa layanan perpustakaan dikembangkan
melalui pemanfaatan sumber daya perpustakaan untuk memnuhi kebutuhan
pemustaka.

1. Tujuan dan fungsi layanan perpustakaan sekolah

Tujuan dan fungsi perpustakaan sekolah adalah menyediakan informasi
untuk kepentingan pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar dan
rekreasi bagi siswa siswi dan guru di sekolah tersebut. Pada pasal 23,
ayat (5) menyebutkan bahwa perpustakaan sekolah/madrasah

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 193

mengembangkan layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan
komunikasi.

2. Tujuan dan fungsi layanan perpustakaan perguruan tinggi

Tujuan dan fungsi perpustakaan perguruan tinggi adalah memenuhi
kebutuhan informasi di lingkungan perguruan tinggi (mahasiswa dan
dosen), dalam rangka mendukung pelaksanaan program Tri Dharma
Perguruan Tinggi.

3. Tujuan dan fungsi layanan perpustakaan khusus

Perpustakaan khusus pada umumnya terdapat di berbagai departemen,
lembaga negara, organisasi, rumah ibadah, dan lembaga khusus lainnya.
Istilah khusus tidak hanya menunjukkan pada kekhususan organisasi,
melainkan lebih menitik beratkan koleksinya pada subjek tertentu dari
berbagai disiplin ilmu. Tujuan dan fungsi layanan perpustakaan khusus
adalah memenuhi kebutuhan informasi lembaga induk, dan lingkungan
organisasinya.

4. Tujuan dan fungsi layanan perpustakaan umum

Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diselenggarakan dengan
tujuan melayani masyarakat umum, mulai anak-anak sampai dewasa.
Tujuan dan fungsi layanan perpustakaan umum adalah memberikan
kesempatan bagi umum untuk membaca bahan pustaka, menyediakan
sumber informasi yang tepat dan murah, membantu masyarakat
mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, dan sebagai pusat
budaya bagi masyarakat di sekitarnya.

5. Tujuan dan fungsi layanan perpustakaan nasional

Tujuan utama perpustakaan nasional suatu negara adalah menyimpan
dan melestarikan semua bahan perpustakaan baik tercetak, tertulis,
terekam yang diterbitkan suatu negara. Tujuan dan layanan di
perpustakaan nasional adalah untuk memberikan informasi mengenai
berbagai informasi dan pengetahuan tentang negara yang bersangkutan,
serta berfungsi sebagai perpustakaan rujukan.

194 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

C. Jenis Layanan Perpustakaan

1. Layanan Teknis Perpustakaan merupakan layanan yang tidak langsung
berhubungan dengan pembaca (technical services), yang kegiatannya
meliputi :

a. Pengadaan bahan perpustakaan meliputi pekerjaan seleksi, verifikasi,
pembelian pustaka, dan pemberian hadiah atau tukar menukar.

b. Pengorganisasian bahan pustaka atau pengolahan bahan pustaka
meliputi: pencatatan pada buku induk, pemberian cap atau stempel
pada bahan pustaka, katalogisasi, klasifikasi, pembuatan kantong dan
kartu buku, dan penataan koleksi di rak.

c. Administrasi lainnya.

2. Layanan Pembaca merupakan layanan yang langsung berhubungan
dengan pembaca atau pemakai jasa Perpustakaan, yang pekerjaannya
meliputi:

a. Layanan sirkulasi adalah layanan peminjaman dan pengembalian
bahan pustaka (sirkulasi perpustakaan adalah peredaran atau keluar
masuknya bahan pustaka).

b. Layanan referensi adalah layanan yang diberikan oleh pustakawan
dalam rangka memberikan bantuan jasa kepada pengguna untuk
mendapatkan informasi atau data dengan menggunakan sumber-
sumber referensi, untuk keperluan studi, penelitian, atau kepentingan
lain secara cepat, efektif, dan efisien.

c. Layanan silang atau layan silang adalah layanan peminjaman ke
perpustakaan yang dilakukan atas nama perpustakaan, bukan atas
nama pribadi atau pengguna yang membutuhkannya. Juga disebut
pinjam antarperpustakaan (interlibrary loan).

D. Unsur Layanan

Berbagai sarana dan program di rancang dengan harapan agar pemustaka
senang datang ke perpustakaan. Dalam kaitannya menciptakan kegiatan

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 195

layanan perpustakaan yang baik, di perlukan unsur-unsur penunjang yang
mendukung kelancaran kegiatan layanan di perpustakaan, antara lain:

1. Fasilitas/ Sarana Layanan

Kegiatan layanan harus dilengkapi dengan fasilitas yang baik, sarana dan
prasarana yang memadai agar tujuan dan fungsi perpustakaan dapat
terpenuhi. Sebagai sarana utama adalah ruangan yang sesuai dengan
jumlah koleksi dan jumlah pemustakanya. Selain itu juga diperlukan
perabotan atau perlengkapan untuk layanan seperti rak buku, kursi baca,
meja, dan tempat sirkulasi.

2. Koleksi perpustakaan

Koleksi perpustakaan merupakan unsur utama dalam penyelenggaraan
kegiatan layanan di perpustakaan. Keberadaan koleksi di layanan harus
dibina, dirawat, dan diatur secara tepat sehingga memudahkan
pemustaka dalam mencari koleksinya. Isi koleksi harus disesuaikan
dengan tujuan layanan dan siapa pemustakanya. Jumlah koleksi harus
selalu dikembangkan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Koleksi
dapat berupa buku, majalah, surat kabar, Compact Disc, peta, dan
lukisan.

3. Pustakawan

Pustakawan atau petugas layanan merupakan penggerak dan
penyelenggara kegiatan layanan. Pustakawan di bagian layanan di tuntut
cekatan, terampil, ramah, berwawasan luas, rajin, cepat tanggap, dan siap
membantu pemustaka dalam menemukan informasi yang dibutuhkan.

4. Pemustaka

Pemustaka merupakan unsur pendukung dan penentu dalam kegiatan
layanan perpustakaan. Pemustaka sebagai anggota masyarakat
memerlukan layanan perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan
informasinya. Pemustaka berasal dari berbagai latar belakang yang
berbeda-beda, oleh karena itu pustakawan harus mampu mengenali
kebutuhan informasi bagi pemustakanya.

196 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

E. Sistem Layanan Perpustakaan

Yang dimaksud dengan sistem layanan perpustakaan adalah pola layanan
yang diterapkan di suatu perpustakaan. Pada umumnya terdapat dua sistem
layanan di perpustakaan, yaitu sistem layanan terbuka (open access) dan
sistem layanan tertutup (close access).

1. Sistem Layanan Terbuka (Open Access)

Sistem layanan ini memberikan kebebasan kepada pemustaka untuk
menemukan dan mencari koleksi perpustakaan yang diperlukan. Ada
beberapa kelebihan yang dapat diambil, apabila perpustakaan
mengguna-kan akses layanan terbuka, antara lain:

a. Pemustaka bebas memilih bahan pustaka di rak.

b. Pemustaka tidak harus menggunakan catalog.

c. Pemustaka dapat mengganti bahan pustaka yang isinya mirip, jika

d. bahan pustaka yang dicari tidak ada.

e. Pemustaka dapat membandingkan isi bahan pustaka dengan judul
yang dicarinya.

f. Bahan pustaka lebih bermanfaat dan didayagunakan.

g. Menghemat tenaga pustakawan.

Selain kelebihan tersebut, akses layanan terbuka juga memiliki beberapa
kelemahan antara lain:

a. Pemustaka cenderung mengembalikan bahan pustaka seenaknya,
b. sehingga mengacaukan dalam penyusunan bahan pustaka di rak.
c. Lebih besar kemungkinan kehilangan bahan pustaka.
d. Tidak semua pemustaka paham benar dalam mencari bahan pustaka

di rak apalagi jika koleksinya sudah banyak.
e. Bahan pustaka lebih cepat rusak.
f. Terjadi perubahan susunan bahan pustaka di rak, sehingga perlu

pembenahan terus menerus.

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 197

2. Sistem Layanan Tertutup (Close Access)
Pada sistem layanan tertutup, pemustaka tidak boleh langsung
mengambil bahan pustaka di rak, tetapi petugas perpustakaan yang akan
mengambil. Oleh karena itu, pemustaka harus mencari nomor panggil
bahan pustaka melalui katalog yang disediakan.
Kelebihan dengan menggunakan akses layanan tertutup adalah sebagai
berikut:
a. Bahan pustaka tersusun rapi di rak, karena hanya petugas yang
mengambil.
b. Kemungkinan kehilangan bahan pustaka sangat kecil.
c. Bahan pustaka tidak cepat rusak
d. Penempatan kembali bahan pustaka yang telah digunakan ke rak lebih
cepat
e. Pengawasan dapat dilakukan secara longgar.
f. Proses temu kembali lebih efektif.

Kekurangan dengan menggunakan akses layanan tertutup adalah
sebagai berikut:
a. Pemustaka tidak bebas dan kurang puas dalam menemukan bahan

pustaka
b. Bahan pustaka yang didapat kadang-kadang tidak sesuai dengan

kebutuhan pemustaka
c. Katalog cepat rusak
d. Tidak semua pemustaka paham dalam menggunakan teknik mencari

bahan pustaka melalui katalog
e. Tidak semua koleksi dimanfaatkan dan didayagunakan oleh

pemustaka
f. Perpustakaan lebih sibuk.

198 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

F. Sistem Peminjaman

1. Tujuan Sistem Peminjaman

Perpustakaan dengan sistem layanan terbuka memungkinkan pemakai
dapat meminjam bahan pustaka untuk dibawa pulang. Tujuan dalam
penggunaan sistem peminjaman di perpustakaan adalah untuk
mempermudah proses administrasi dan prosedur peminjaman.

2. Jenis Sistem Peminjaman

a. Sistem Ledger

Sistem ini menggunakan catatan peminjaman melalui pencatatan
dalam buku khusus.

b. Sistem Browne

Sistem ini menggunakan tiket yang diberikan kepada setiap anggota
perpustakaan. Jumlah buku yang boleh dipinjam setiap anggota
bervariasi, bergantung pada kebijakan masing-masing perpustakaan.
Tiket anggota ini berisi nomor anggota, nama, serta alamat yang
diketik pada masing-masing tiket.

c. Sistem Detroit

Sistem ini hampir sama dengan sistem peminjaman Browne, hanya
berbeda pada slip batas kembali diganti dengan kartu yang diberi
tanggal terlebih dahulu. Sistem ini sangat praktis dan menghemat
waktu, baik untuk petugas maupun pemustaka. Pada sistem ini
peminjam sendiri yang mengisi dan menuliskan bahan pustaka apa
yang dipin-jam.

d. Sistem Newark

Sistem ini mulai digunakan pada tahun 1900 oleh perpustakaan umum
New Jersey, perpustakaan umum di Amerika serikat kebanyakan
menggunakan sistem ini karena dianggap paling mudah, aman, dan
efektif. Sistem ini memerlukan beberapa peralatan seperti berikut:

1) Kartu peminjam untuk anggota perpustakaan yang berisi nama,
alamat, nomor pendaftaran, tanggal berakhirnya kartu anggota,
tanda tangan anggota, kolom tanggal pinjam, dan tanggal harus

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 199

kembali. Rincian data-data tersebut ditulis dalam kolom-kolom
pada kartu peminjam.

2) Kartu buku berisi keterangan mengenai buku, termasuk di dalam-
nya nomor panggil, pengarang, judul, nomor induk, dan kolom
untuk tanggal harus kembali, serta nama peminjam.

3) Kantong buku merupakan kantong yang dilekatkan pada akhir
buku, pada kantong ini diketik nama pengarang, judul, serta nomor
induk.

4) Slip tanggal dilekatkan di bagian buku pada bagian akhir buku. Slip
tanggal berisi nomor panggil, nomor induk, dan kolom tanggal
peminjaman.

5) Sistem Elektronik

Sistem ini merupakan sistem berbasis komputer. Ada beberapa
keun-tungan menggunakan sistem ini antara lain terpadu dan
mudah, praktis dan cepat, serta fungsional dan akurat.

G. Rangkuman

Dari uraian mengenai layanan perpustakaan dapat dibuat rangkuman
sebagai berikut .

1. Layanan perpustakaan merupakan tolok ukur keberhasilan suatu lembaga
perpustakaan dalam mencukupi kebutuhan informasi pemustaka.

2. Ada dua jenis layanan perpustakaan yaitu layanan teknis dan layanan
pembaca.

3. Unsur-unsur layanan yang terdiri atas fasilitas, koleksi perpustakaan,
pustakawan, dan pemustaka, sangat penting dalam pengaruhnya
terhadap keberhasilan suatu layanan di lembaga perpustakaan.

4. Dalam layanan perpustakaan terdapat dua sistem layanan, yaitu sistem
layanan terbuka (open access) dan sistem layanan tertutup (close
access).

5. Sistem peminjaman di perpustakaan sangat bervariasi, antara lain sistem
ledger, browne, detroit, newark, dan elektronik.

200 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

BAB III

PENUTUP

Layanan perpustakaan merupakan tugas pokok dalam penyelenggaraan
perpustakaan. Oleh karena itu, pemberian layanan yang prima adalah suatu
hal yang sangat penting. Pengetahuan tentang berbagai aspek dalam layanan
sangat diperlukan oleh para petugas layanan. Dalam buku ajar ini diberikan
beberapa hal yang berkaitan dengan pengetahuan tentang layanan, memang
masih belum sempurna penyajian buku ajar ini, namun demikian penulis
berharap buku ini dapat bermanfaat menambah wawasan bagi para calon
pengelola perpustakaan.

Karena penulis percaya bahwa tiada gading yang tak retak, maka kritik
dan saran dari berbagai pihak sangat penulis harapkan demi perbaikan buku
ajar ini dan demi kemajuan dunia perpustakaan di negeri tercinta Indonesia.

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 201

202 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

DAFTAR PUSTAKA

Bawden , David. The Nature of prediction and information future: Arthur C.
Clarke`s Oddsey Vision. ASLIB Proceedings. Vol 49,No.3 March 1997:
p.57-60

Beenham, Rosemary & Colin Harrison. The Basics of Librarianship. Third ed.
London :Clive Bingley,1990.

Fosket,D..J. Information service in libraries – New Delhi : Akashdeep Publshing
House,1992.

Nasution, AS. Petunjuk untuk membina, memakai, dan memelihara perpustakaan
sekolah. Jakarta: Pusat Pembinaan Perpustakaan,1990.

Standardization In Library and Information Work and Service. Edited by C.P
Vashishth – Delhi: Indian Library Assocation,1989.

Sulistyo – Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama,1993.

Sumardji, P. Pelayanan Referensi di Perpustakaan. Yogyakarta: Kanisius,1992.

Undang-undang Republik Indonesia Nmor. 43 Tahun 2007 Tentang
Perpustakaan. Jakarta : Perpustakaan Nasional, 2007.

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 203

204 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 205

206 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .................................................................................................................. 207

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 209

A. Latar Belakang ................................................................................ 209

B. Deskripsi Singkat............................................................................. 210

C. Tujuan Pembelajaran Umum.......................................................... 210

D. Tujuan Pembelajaran Khusus ........................................................ 210

BAB II PERAWATAN BAHAN PERPUSTAKAAN .......................................... 213

A. Pengertian Pemeliharaan dan Perawatan Bahan

Perpustakaan ................................................................................. 213

B. Jenis Karakteristik dan Komponen Bahan

Perpustakaan .................................................................................. 215

C. Penyebab Kerusakan...................................................................... 219

D. Pemeliharaan dan Perawatan Bahan Perpustakaan.................... 226

E. Rangkuman ..................................................................................... 237

BAB III PENUTUP ............................................................................................. 239

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 241

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 207

208 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perpustakaan pada umumnya memiliki koleksi yang terbuat dari kertas,
baik dalam bentuk surat kabar, buku, serial, naskah, peta, gambar, dokumen,
maupun bahan cetakan lainnya. Selain itu, beberapa perpustakaan memiliki
koleksi foto dan negatif foto. Karena cepatnya perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, koleksi perpustakaan ikut berkembang sehingga
sekarang sudah banyak perpustakaan yang memiliki koleksi media baru
lainnya, seperti bentuk mikro (microfilm dan microfis), rekaman suara (kaset
dan piringan hitam), film (hitam putih dan berwarna), video dan penyimpanan
elektronik, seperti pita dan disket komputer. Semua koleksi tersebut akan
mengalami kerusakan apabila tidak dirawat dengan baik. Kerusakan bahan
perpustakaan dapat disebakan karena faktor dari dalam bahan
pembentuknya sendiri maupun dari luar (lingkungan dan manusia)

Salah satu problem utama yang dihadapi oleh perpustakaan di seluruh dunia
adalah laju kerusakan koleksi jauh lebih cepat dari laju koleksi yang ditangani
melalui pemeliharaan, perawatan dan perbaikan bahan perpustakaan. Hal ini
disebabkan oleh bahan yang umum dijadikan koleksi perpustakaan berasal
dari substrat kertas atau plastik.

Bahan utama untuk membuat bahan perpustakaan kertas adalah selulosa.
Bahan ini terdiri atas hidrogen, karbon, dan oksigen, merupakan
polysaccharide stabil yang bertindak sebagai elemen yang terdapat pada
dinding sel tumbuh-tumbuhan. Di samping selulose, serat tumbuhan
mengandung perekat, karbohidrat, dan lignin (yang secara alami akan
menimbulkan asam). Dan hal yang tidak menguntungkan adalah bahwa
mutu kertas telah merosot sejak abad ke-18, terutama dalam kaitan dengan
peningkatan permintaan yang memaksa pembuatan kertas secara besar-
besaran sehingga mutu kertas menurun. Pada abad tersebut terjadi
perubahan dalam membuat bubur kertas dari kayu, yang dalam hal ini kertas
yang dihasilkan sedikit kurang kuat, bahan pengelantang seperti klorin terus

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 209

meningkat penggunaannya untuk memutihkan kertas. Residu bahan kimia
seperti ini menyebabkan kertas untuk secara lebih awal menjadi asam.
Perpustakaan yang memiliki unit yang mengurus pelestarian biasanya
mempertimbangkan periode mulai tahun 1850 sebagai zaman "kertas
berkualitas tidak baik". Hal ini terutama disebabkan oleh penggunaan rosin
sizing dan kayu lunak untuk membuat bubur kayu kertas. Tawas adalah suatu
bahan ditambahkan untuk membantu mempercepat pengeringan rosin, yang
dipakai untuk melapis permukaan kertas (sizing) sehingga disebut alum-rosin
sizing (yang diperkenalkan pada 1827). Bahan ini menghasilkan asam
belerang yang dapat merusak kertas. Lignin ditemukan dalam jumlah lebih
besar di dalam kayu lunak (groundwood). Lignin tidak bersifat asam, ketika
kertas terkena cahaya, bahan ini bereaksi dengan campuran lain di dalam
kertas, menyebabkan kertas menjadi rapuh. Kebanyakan kertas yang bernilai
ekonomi rendah dibuat dengan bubur kayu groundwood dan tidak
dibersihkan dari lignin (seperti kertas koran) yang mempunyai harapan
bertahan kurang dari 50 tahun.

B. Deskripsi Singkat
Mata ajar diklat ini membekali peserta dengan pengetahuan tentang
pengertaian pemeliharaan dan perawatan bahan perpustakaan, jenis,
karektiristik dan komponen bahan perpustakaan, penyebab kerusakan serta
melakukan pemeliharaan dan perawatan bahan perpustakaan yang disajikan
dengan menggunakan pendekatan pelatihan andragogi yang meliputi metode
ceramah, diskusi, dan demonstrasi.

C. Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti mata ajar diklat ini, peserta diharapkan mampu memahami
pemeliha-raan dan perawatan bahan perpustakaan dengan benar.

D. Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti mata ajar diklat ini, peserta diharapkan mampu:

210 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

1. menjelaskan pengertian pemeliharaan dan perawatan bahan perpustakaan;
2. menjelaskan jenis-jenis, karakteristik dan komponen bahan perpustakaan;
3. menjelaskan penyebab kerusakan bahan perpustakaan;
4. menjelaskan cara pemeliharaan dan perawatan bahan perpustakaan.

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 211

212 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

BAB II
PERAWATAN BAHAN PERPUSTAKAAN

A. Pengertian Pemeliharaan dan Perawatan Bahan Perpustakaan

Kata pelestarian oleh kalangan perpustakaan, arsip, dan museum
diterjemahkan dari kata preservasi (preservation) dan konservasi
(conservation). Menurut The American Institute for Conservation, yang
selanjutnya disingkat AIC, preservasi mempunyai pengertian yang lebih luas
jika dibandingkan dengan pengertian konservasi. Preservasi adalah aktivitas
memperkecil kerusakan secara fisik dan kimiawi dan mencegah hilangnya
kandungan informasi. Tujuan utama preservasi adalah memperpanjang
eksistensi benda budaya, sedangkan konservasi merupakan istilah yang
lebih spesifik, yaitu menyangkut penanganan secara fisik pada masing-
masing benda budaya, biasanya setelah benda budaya tersebut sudah
mengalami kerusakan.

Demikian juga pengertian yang dikemukakan oleh Dureau dan Clements,
preservasi mencakup unsur pengelolaan keuangan, cara penyimpanan,
tenaga, teknik dan metode untuk melestarikan bentuk fisik dan kandungan
informasi bahan perpustakaan. Konservasi adalah teknik yang dipakai untuk
melindungi bahan perpustakaan dari kerusakan dan kehancuran.

Lain halnya dengan pengertian yang dikemukakan oleh Feilden, konservasi
mempunyai pengertian yang lebih luas jika dibandingkan dengan preservasi.
Menurut sumber ini, ada beberapa tingkatan dalam kegiatan konservasi,
yaitu: prevention of deterioration, preservation, consolidation, restoration and
reproduction yang masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut:
prevention of deterioration: tindakan preventif untuk melindungi benda
budaya dengan mengendalikan kondisi lingkungan dan kerusakan lainnya,
termasuk cara penanganan; preservation: penanganan yang berhubungan
langsung pada benda budaya. Kerusakan karena udara lembab, faktor kimia,
serangga dan mikroorganisme harus dihentikan untuk menghindari
kerusakan lebih lanjut; consolidation: memperkuat bahan yang rapuh
dengan memberikan perekat (adhesive) atau bahan penguat lainnya;
restoration: memperbaiki koleksi yang telah rusak dengan mengganti bagian

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 213

yang hilang agar bentuknya mendekati keadaan semula; reproduction:
membuat copy dari bahan asli, termasuk membuat bentuk mikro, foto repro
dan replica, serta transformasi ke dalam bentuk digital.

Yang lebih mirip dengan pengertian yang dikemukakan oleh AIC dan Dureau
adalah yang dikemukakan oleh Teygeler, bahwa preservasi terdiri dari empat
komponen, yaitu: preventive conservation, passive conservation, active
conservation and restoration, yang pengertiannya dapat dijelaskan sebagai
berikut:

1. Preventive conservation, yaitu tindakan dalam mengoptimalkan kondisi
lingkungan untuk memperpanjang umur koleksi. Tindakan ini dimulai
dengan menyusun kebijakan yang jelas. Kebijakan tersebut mencakup
pelatihan, membangun kesadaran dan adanya staf yang profesional.

2. Passive conservation, yaitu kegiatan untuk memperpanjang umur
koleksi yang mencakup memonitor kebersihan, udara bersih,
penggunaan AC. Hal yang tidak kalah pentingnya dalam passive
conservation ini adalah melaksanakan survei untuk mengetahui kondisi
fisik koleksi dan kondisi lingkungan tempat koleksi disimpan.

3. Active conservation, yaitu tindakan yang berhubungan langsung
dengan koleksi. Tindakan ini meliputi: membuat kotak pelindung dan
membungkus ulang koleksi, menjilid ulang dengan mengganti lembar
pelindung (end paper) dengan kertas bebas asam, membersihkan
koleksi, menetralkan asam (deacidification) dan lain-lain.

4. Restoration, yaitu tindakan untuk memperpanjang umur koleksi dengan
memperbaiki tampilan fisik koleksi agar mendekati keadaan semula
sesuai dengan aturan dan etika konservasi.

Pengertian konservasi dan preservasi masih rancu, tetapi dianggap saja
kedua kata ini mempunyai pengertian yang sama, yaitu ‘pelestarian’.
Selanjutnya, pelestaraian ini meliputi kegiatan pemeliharaan, perawatan,
perbaikan, dan reproduksi.

Berdasarkan kenyataan yang ada di beberapa perpustakaan besar seperti
Library of Congress, National Library of Australia, Diet Library, British Library,
The Royal Library of Netherlands, dan Perpustakaan Nasional RI, lembaga
tersebut memiliki unit yang melaksanakan kegiatan preventive conservation

214 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

(pemeliharaan dan perlindungan) dan unit yang melaksanakan kegiatan
active conservation dan restoration (perawatan, pengawetan dan perbaikan)
serta pelestarian informasi melalui alih media ke bentuk mikro dan digital.

Pemeliharaan bahan perpustakaan: pelaksanaan program prioritas seperti
pembersihan bahan perpustakaan secara benar, memonitor dan
mengendalikan kondisi lingkungan tempat penyimpanan bahan
perpustakaan, membuat dan mengevaluasi kebijakan pelestarian serta
mengadakan penyuluhan kepada staf dan pengguna perpustakaan tentang
cara penanganan dan penggunaan bahan pustaka secara benar.

Perawatan dan perbaikan bahan perpustakaan melaksanakan program
penanganan konservasi dan restorasi, mencakup konservasi dan restorasi
peta, manuskrip. Buku langka, surat kabar, foto, dan lain-lain.

Reprografi dan trasformasi melaksanakan program-program alih media
bahan perpustakaan konvensional ke bentuk mikro dan digital.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan utama program
pelestarian bahan perpustakaan adalah`mengusahakan agar koleksi bahan
perpustakaan selalu tersedia dalam keadaan siap pakai. Hal ini dapat
dilakukan dengan melestarikan bentuk asli dengan cara memelihara,
merawat, mengawetkan dan memperbaiki bahan perpustakaan serta
melestarikan kandungan informasi melalui alih media ke dalam bentuk mikro,
fotografi dan transformasi ke dalam bentuk digital.

B. Jenis, Karakteristik, dan Komponen Bahan Perpustakaan

1. Kertas

Kebanyakan bahan perpustakaan masih menggunakan kertas sebagai
media penyimpan informasi. Kertas terbuat dari serat selulosa yang
berasal dari batang tumbuhan seperti kayu, bambu dan merang.
Selulosa murni adalah senyawa yang sangat stabil. Oleh sebab itu,
kertas yang dibuat dari serat selulosa murni akan bertahan sampai
ratusan tahun apabila disimpan pada kondisi lingkungan yang baik.

Kertas yang beredar dipasaran saat ini pada umumnya terbuat dari serat
selulosa yang tidak murni, umumnya tercampur dengan lignin,

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 215

hemiselulosa dan bahan tambahan lain, sehingga kertas menjadi lebih
cepat rapuh.

Untuk mengetahui karakteristik bahan kertas, di bawah ini akan
dijelaskan proses pembuatan kertas:

a. Bahan Baku Kertas

Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan kertas adalah serat
selulosa yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan, seperti kayu,
bambu, merang, ampas tebu, dan kapas. Selulosa ini terbagi dalam
tiga bentuk, yaitu: alpha selulosa, beta selulosa dan gamma selulosa.
Alpha selulosa mempunyai derajat polimerisasi paling tinggi dan
biasa dipakai untuk membuat bubur kertas, sedangkan beta dan
gamma selulosa mempunyai derajat polimerisasi yang lebih rendah
dan merupakan senyawa hemiselulosa. Kayu dan merang selain
mengandung selulosa murni juga mengandung lignin dan
hemiselulosa. Lignin dan hemiselulosa dalam kayu terikat satu sama
lain di antara selulosa. Pada pembuatan kertas, lignin dan
hemiselulosa harus dipisahkan dan dihilangkan karena adanya
bahan ini akan menyebabkan kertas selalu bersifat asam.

Dari bahan-bahan tersebut di atas terdapat bahan tambahan yang
dipergunakan untuk membuat kertas. Bahan-bahan tersebut dapat
dibagi menurut fungsinya, yaitu:

1) bahan penambah volume, seperti kaolin, kalsium sulfat, kalsium
karbonat, dan titanium oksida;

2) bahan penahan penyebaran tinta di atas kertas dan bahan
penahan penyerapan uap air seperti: alum rosin, malam, tepung
dan sodium silikat;

3) zat warna seperti pigmen dan zat warna tumbuhan untuk memberi
warna yang diinginkan;

4) perekat untuk memberi lapisan pelindung pada kertas, seperti
resin dan polyvinyl alkohol;

5) bahan untuk memberi daya tahan pada kertas, seperti:
formaldehide untuk melindungi kertas dari jamur.

216 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

b. Proses Pembuatan Kertas

1) Proses Pembuatan Bubur Kertas

Proses pembuatan bubur kertas dapat dibagi menjadi tiga
macam cara, yaitu proses mekanis, proses semikimia dan
proses kimia. Pada proses mekanis, bahan baku kayu digiling
dengan batu besar sambil dibasahi dengan air. Bubur kertas
yang dihasilkan kurang murni dan seratnya banyak yang rusak
serta kekuatannya rendah. Pada proses semikimia bahan baku
kayu direndam dan dipanaskan dengan larutan bahan kimia
sampai lunak, baru kemudian digiling. Dengan cara ini diperoleh
bubur kertas yang dihasilkan yang lebih baik walaupun masih
kurang murni.

Proses pembuatan bubur kertas dengan cara kimia, bahan baku
kayu dimasak dengan bahan kimia tertentu sampai lignin dan
hemiselulosa yang tidak diinginkan terpisah dari serat selulosa.
Bubur kertas yang dihasilkan dengan proses ini lebih murni dan
seratnya tidak rusak. Berdasarkan perbedaan bahan

pemasak yang dipakai, dikenal 3 cara pembuatan bubur kertas
dengan proses kimia, yaitu:

a) Proses soda: bahan pemasak yang dipakai adalah natrium
karbonat dan natrium hidroksida. Pemasakan dilakukan
pada suhu 160 – 170O C selama 6 – 8 jam. Bubur kertas
(Pulp) yang dihasilkan berwarna cokelat dan dapat
diputihkan. Biasanya bubur kertas ini ditambah dengan
bubur kertas dari bahan lain untuk membuat kertas tulis.

b) Proses sulfat: bahan pemasak yang dipakai adalah natrium
hidroksida, natrium sulfit dan natrium karbonat.
Pemasakan dilakukan pada suhu 170O C selama 2 – 5 jam.
Bubur kertas yang dihasilkan berwarna coklat, sukar
diputihkan, tetapi seratnya kuat. Bubur kertas ini dipakai
untuk membuat kertas kantung.

c) Proses sulfit: bahan yang dipakai adalah garam-garam
sulfit seperti natrium sulfit, natrium sulfit asam dan kadang

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 217

kadang dipakai garam-garam kalsium dan magnesium.
Bubur kertas yang dihasilkan dapat diputihkan dan
biasanya dipakai untuk membuat kertas tulis.

Untuk menghilangkan bahan-bahan berwarna lain yang
tidak diinginkan, bubur kertas diputihkan dengan bahan
pengelantang, seperti kaporit, klor dioksida dan hidrogen
peroksida.

2) Proses Pembuatan Lembaran Kertas

Pada dasarnya proses pembuatan lembaran kertas dari bubur
adalah pengolahan bahan tersebut dengan menambahkan
bahan pengisi, zat warna dan bahan tambahan lain untuk
memperbaiki mutu kertas. Bubur kertas yang dihasilkan
menurut salah satu proses di atas dipotong-potong menjadi
bagian yang kecil dan diaduk hingga menjadi bubur kertas yang
homogen, kemudian ditambah dengan bahan pengisi, seperti
tawas, kaolin, tapioka, kalsium sulfat, rosin dan lain-lain.
Penambahan ini untuk memperbaiki sifat kertas, misalnya
merapatkan pori-pori, menambah kekuatan dan melicinkan
permukaan kertas.

Bubur kertas yang telah homogen itu dituangkan ke dalam alat
pembentuk lembaran kertas dengan ukuran lebar dan ketebalan
tertentu., kemudian dikeringkan dengan rol-rol baja yang
dipanaskan dengan uap air. Pemanasan dilakukan bertingkat
untuk menjaga mutu kertas yang dihasilkan.

2. Bentuk Lain

a. Fotografi: Bahan fotografi dalam pengertian yang lebih luas di
perpustakaan mencakup film gambar hidup, (film hitam putih dan
film berwarna), bentuk mikro (mikrofilm dan mikrofis), koleksi foto
(hasil cetakan dan negatif foto). Koleksi tersebut terbuat dari plastik
film (selulosa nitrat, selulosa asetat, polyester) yang pada
permukaannya dilapisi dengan emulsi senyawa perak yodida.
Untuk mendapatkan gambar akhir dari fotografi diperlukan proses

218 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

yang terdiri dari: pengembangan (developing), pemantapan
(fixation), pencucian dan pengeringan.

b. Pita Magnetik: Pita magnetik digunakan untuk merekam data dan
suara, contohnya pita kaset dan pita komputer. Keawetan dan daya
tahan rekaman suara tidak menjadi bahan pertimbangan utama,
karena biaya produksi pita suara tersebut rendah.

c. Piringan (disk): Piringan adalah lembaran plastik atau ebonite
yang berbentuk bulat (sirkular) yang digunakan untuk merekam
suara dan digital komputer. Biasanya piringan ini dilapisi dengan
oksida besi seperti pada pita rekaman. Piringan yang biasa
digunakan sebagai koleksi perpustakaan adalah flopi disk, VCD,
CD-ROM dan lain-lain.

C. Penyebab Kerusakan

1. Faktor Lingkungan

Seperti bahan organik lainnya, kertas merupakan bahan yang sensitif
terhadap pengaruh lingkungan, terutama jika kertas mengandung asam,
lignin dan hemiselulosa. Kerusakan bahan perpustakaan dapat
disebabkan oleh hal berikut.

a. Temperatur dan Kelembaban Udara

Kelembaban nisbi atau relative humidity dapat didefinisikan sebagai
perbandingan antara berat uap air yang terkandung dalam udara
pada volume tertentu dengan kandungan uap air maksimum yang
dapat diserap oleh udara pada volume dan temperatur yang sama.
Udara panas dapat menyerap lebih banyak uap air jika dibandingkan
dengan udara dingin. Oleh sebab itu, kelembaban udara akan naik
jika temperatur turun dan sebaliknya kelembaban udara akan turun
jika temperatur naik selama kandungan uap air tidak berubah.

Jumlah kandungan uap air dalam udara sangat penting diketahui
karena dengan adanya uap air ini akan menambah kecepatan reaksi
yang akan memacu kecepatan pelapukan bahan perpustakaan.

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 219

Seperti hidrolisa asam dalam kertas akan bertambah cepat jika
temperatur dan kelembaban tinggi.

Kelembaban udara yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan
menimbulkan beberapa masalah. Kombinasi antara temperatur yang
tinggi dan kelembaban yang tinggi akan menyuburkan pertumbuhan
jamur dan serangga. Pada keadaan kelembaban yang terlalu tinggi
akan menyebabkan tinta yang larut dalam air akan menyebar dan
kertas pada buku akan saling menempel, yang akan sulit dilepas
pada saat kering. Sebaliknya, jika kelembaban udara terlalu rendah,
menyebabkan kertas menjadi kering dan getas serta sampul yang
terbuat dari kulit akan menjadi keriput.

Perubahan temperatur akan menyebabkan perubahan kelembaban.
Fluktuasi yang sangat drastis akan besar pengaruhnya terhadap
kerusakan kertas karena kertas akan mengendur dan menegang.
Jika hal ini terjadi berulang kali akan memutuskan ikatan rantai kimia
pada serat selulosa

b. Cahaya

Cahaya atau energi radiasi juga mempunyai efek pada bahan
pustaka. Cahaya akan mempercepat oksidasi dari molekul selulosa
sehingga rantai ikatan kimia pada molekul tersebut terputus. Cahaya
mempunyai pengaruh mengelantang, menyebabkan kertas menjadi
pucat dan tinta memudar. Karena pengaruh cahaya ini, lignin pada
kertas akan bereaksi dengan komponen lain sehingga kertas
berubah menjadi kecoklatan.

Sinar tampak dalam cahaya dapat merusak bahan pustaka, akan
tetapi sinar ultra violet yang tidak tampak lebih reaktif dan lebih
merusak. Radiasi ultra violet dengan panjang gelombang antara 300
- 400 nanometer menyebabkan reaksi fotokimia. Radiasi ultra violet
ini berasal dari cahaya matahari (25 %) dan lampu TL (3 - 7 %).
Kerusakan karena cahaya sangat tergantung dari panjang
gelombang (adanya sinar UV) dan waktu pencahayaan. Makin kecil
panjang gelombang dan makin lama waktu pencahayaan, kertas
makin cepat rusak.

220 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

c. Pencemar Udara

Semua bahan pencemar yang terkandung dalam udara berbahaya
bagi bahan pustaka. Pencemar udara seperti gas sulfur dioksida, gas
hidrogen sulfida dan gas nitrogen oksida yang berasal dari hasil
pembakaran minyak bumi pada pabrik dan kendaraan bermotor
dapat merusak bahan perpustakaan. Gas sulfur dioksida dan
nitrogen oksida bereaksi dengan uap air yang ada di udara
membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang dapat menyebabkan
kertas menjadi rapuh. Gas ozon yang ada pada udara yang terjadi
bersamaan dengan terjadinya halilintar (petir) juga dapat
menyebabkan reaksi oksidasi pada kertas, sehingga kertas menjadi
rapuh.

Debu, kotoran dan partikel lainnya yang berasal dari udara dapat
merusak kertas, yaitu antara lain: kertas mudah tergores karena
gesekan, partikel debu akan masuk ke sela-sela halaman buku.
Partikel debu pada lingkungan yang lembab akan menimbulkan noda
permanen yang sukar dihilangkan. Kotoran dan partikel padat seperti
jelaga dapat menimbulkan suasana asam yang dapat merusak
kertas.

d. Faktor Biota

Jamur, serangga, dan binatang pengerat dapat merusak bahan
perpustakaan. Spora jamur selalu ada dalam udara. Spora ini akan
tumbuh jika kondisi memungkinkan. Kondisi yang hangat dengan
temperatur antara 32o - 35o dan kelembaban di atas 70 % RH, gelap
dan sedikit sirkulasi udara, jamur akan tumbuh dengan subur. Jamur
ini akan melemahkan kertas dan menimbulkan noda permanen.

Serangga dan binatang pengerat men serat dan bahan organik
lainnya pada bahan perpustakaan. Serangga yang biasa menyerang
bahan perpustakaan adalah kacoa, silverfish, booklice, bookworm
dan rayap. Serangga ini memilih hidup di tempat-tempat yang
hangat, gelap dan lembab. Serangga ini men bahan perpustakaan
pada malam hari pada saat orang tidak ada. Kerusakan yang
ditimbulkan biasanya tidak dapat dikembalikan seperti semula,

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 221

karena ada bagian-bagian yang hilang atau berlubang. Binatang
pengerat merusak bahan perpustakaan karena din dan dipakai untuk
membuat sarang. Binatang ini biasanya meninggalkan kotoran yang
menyebabkan bahan perpustakaan menjadi kotor.

e. Rak dan Lemari Buku yang Tidak Memenuhi Syarat

Rak dan lemari buku yang tidak memenuhi syarat dapat merusak
bahan perpustakaan, misalnya ukuran buku lebih besar dari rak dan
lemari buku yang terbuat dari material yang dapat menimbulkan
kerusakan pada bahan perpustakaan. Buku yang diletakkan pada rak
yang lebih kecil dari ukuran buku dapat mengakibatkan kerusakan
fisik, seperti kulit (sampul) buku menjadi patah dan melengkung
sehingga blok buku yang sudah rapuh akan patah dan hancur.

f. Bencana Alam

Bencana alam seperti kebanjiran, gempa bumi, kebakaran dan
kerusuhan merupakan faktor yang sangat sulit dielakkan. Bencana
alam ini dapat memusnahkan bahan pustaka dalam waktu singkat.
Kerusakan yang terjadi karena kebanjiran dan air hujan adalah
timbulnya noda oleh jamur dan kotoran yang dibawa oleh air. Noda
yang ditimbulkan oleh jamur ini sangat sukat dihilangkan karena
jamur berakar di sela-sela serat kertas.

2. Faktor Manusia

Faktor penyebab yang besar bagi kerusakan bahan pustaka
dimungkinkan karena keterlibatan manusia. Keterlibatan tersebut dapat
dilakukan secara langsung (misalnya: pencurian, pengrusakan,
penanganan yang kurang hati-hati) atau kerusakan secara tidak
langsung, misalnya memproduksi kertas dengan kualitas rendah, mutu
jilidan yang rendah dan tidak adanya penyuluhan kepada staf dan
pemustaka.

a. Kualitas kertas

Ada beberapa penyebab kerusakan yang harus diperhatikan di
dalam usaha pelestarian bahan perpustakaan yang terbuat dari

222 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

kertas. Faktor utamanya ialah mutu kertas itu sendiri, selain faktor
kondisi penyimpanan, penjilidan dan seringnya dipakai atau dipinjam.
Kualitas kertas yang baik untuk bahan perpustakaan belum tentu
secara fisik terlihat baik. Kualitas kertas yang baik sebagai bahan
perpustakaan adalah kertas yang bebas dari senyawa asam dan
lignin.

1) Senyawa Asam

Kandungan Senyawa asam di dalam kertas akan mempercepat
reaksi hidrolisis. Makin cepat reaksi hidrolisis, makin cepat terjadi
pelapukan pada kertas tersebut. Senyawa asam banyak
terbentuk di dalam industri kertas pada proses-proses
penghancuran batang kayu menjadi bubur kertas (pulp), proses
sizing (proses di mana agar tinta yang dipakai tidak mengembang
pada kertas), proses pemutihan kertas merupakan senyawa yang
sangat berbahaya bagi daya tahan kertas.

2) Lignin

Lignin adalah zat yang banyak terkandung di dalam serat selulosa
pada kayu. Kertas yang banyak mengandung lignin akan
merubah warna kertas dari putih menjadi kuning kecoklatan dan
kertas menjadi lapuk.

Asam dan lignin banyak dijumpai pada kertas modern yaitu kertas
yang diproduksi setelah tahun 1850. Pada tahun itu dikenal
pembuatan kertas dengan proses pulp, yakni proses pembuatan
kertas dengan mei bahan baku kayu dan mei senyawa kimia
sebagai bahan tambahannya. Yang disebut kertas kuno adalah
kertas yang diproduksi sebelum tahun 1850, dibuat dari bahan
kayu kapas atau serat tumbuhan yang tidak mengandung lignin
sedang zat tambahannya dibuat dari bahan alami yang relatif
sedikit mengandung senyawa asam sehingga kertas kuno relatif
lebih tahan lama dan kuat dari pada kertas modern.

Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai kualitas kertas
yang baik untuk bahan pustaka serta pentingnya peranan bahan
pustaka sebagai media informasi di masa mendatang,

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 223

mengakibatkan sering kita temui bahan pustaka yang belum lama
disimpan sudah dalam kondisi yang kurang baik, kertasnya rapuh
dan berubah warna menjadi kuning kecokelatan, bahkan ada pula
yang hancur sama sekali. Dengan hancurnya kertas tersebut,
berakibat hancur pula informasi yang terkandung di dalamnya dan
hal ini tentunya merupakan kerugian yang tak ternilai.

b. Salah Penanganan

Cara penanganan yang salah dan kurang hati-hati baik yang
dilakukan, baik oleh staf maupun pemustaka, dapat menyebabkan
kerusakan pada bahan perpustakaan. Penanganan tersebut antara
lain sebagai berikut.

1) Penanganan secara umum: Bahan perpustakaan hendaknya
dilindungi dari kerusakan yang disebabkan karena faktor
eksternal, seperti debu, air, nan dan minuman, cahaya langsung.

2) Penataan (shelving): Tindakan yang kurang hati-hati pada saat
penataan akan menyebabkan kerusakan pada bahan
perpustakaan. Menyusun buku terlalu padat dalam rak akan
menyulitkan dalam mengambil bahan perpustakaan yang
berakibat merusak punggung buku. Meletakkan buku tengkurap
(bertumpu pada muka buku) akan menyebabkan isi buku terlepas
dari sampul depan.

3) Kontrol Bibliografi: Bila sebuah buku yang terdapat dalam koleksi
perpustakaan dalam keadaan rusak, hendaknya dipastikan
adanya copy dari buku tersebut dalam kondisi yang lebih baik
atau dibuatkan mikrofilmnya. Seandainya hal tersebut tidak
mungkin, hendaknya dipastikan pula apakah perpustakaan lain
memiliki copy atau mikrofilmnya. Pengecekan tersebut terjadi
hanya bila diadakan kegiatan kontrol bibliografi (bibliography
control).

4) Reproduksi: Kegiatan reproduksi seperti mikrografi, fotografi,
photocopy dan digitalisasi merupakan upaya dalam melestarikan
bahan perpustakaan. Namun, pelaksanaan yang kurang

224 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

terkendali dapat menyebabkan jilidan bahan perpustakaan
menjadi rusak dan bahan pustaka rapuh menjadi hancur.

5) Perbaikan kerusakan kecil pada bahan perpustakaan: Buku atau
bahan perpustakaan yang robek, halaman terlepas dari blok buku
atau menyatukan lembaran-lembaran lepas biasanya
menggunakan selotape atau lackband. Perlakuan ini adalah tidak
benar, karena bahan tersebut justru akan merusak bahan
perpustakaan tersebut. Demikian pula halnya dengan
penggunaan karet gelang sebagai pengikat bahan perpustakaan
yang lepas atau rusak.

c. Mutu Jilidan

1) Untuk mendapatkan jilidan yang sesuai haruslah dipikirkan
maksud dan tujuan serta bentuk jilidannya. Pada umumnya
pustakawan menginginkan bentuk jilidan yang kuat tanpa
memikirkan kesesuaiannya, sehingga seringkali justru dapat
menyebabkan kerusakan. Menjahit kembali akan menghasilkan
jilidan yang sangat kuat, tetapi dengan menjahit kembali
kadangkala buku menjadi tidak dapat dibuka secara penuh. Oleh
karena itu, sedapat mungkin jahitan asli tetap dipertahankan.
Memotong bagian tepi buku biasanya dilakukan agar hasil jilidan
terlihat rapi, tetapi bila suatu saat buku tersebut harus dijilid
kembali volume buku akan berkurang bahkan memungkinkan
hilangnya sebagian tulisan.

2) Penggunaan bahan jilidan seperti karton, kertas pelindung yang
mengandung asam dan lignin akan menyebabkan bahan
perpustakaan menjadi rapuh dan lemah, karena asam yang
terdapat pada karton dan lembar pelindung akan berpindah ke
dalam buku.

d. Penyimpanan

Kesalahan dalam penyimpanan dapat menyebabkan kerusakan fisik
dan kimia pada bahan perpustakaan. Kondisi ruang yang tidak sesuai
akan menyebabkan tumbuhnya jamur, meningkatkan kandungan

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 225

asam dan tempat bersarangnya serangga, tikus maupun
mikroorganisme lainnya yang merugikan.

Kondisi rak yang kurang sesuai, misalnya kurang kuat, mudah
terbakar, mempunyai sudut dan tepi yang tajam akan menyebabkan
kerusakan. Memaksakan penyimpanan buku yang lebih tinggi dari
lebar rak akan merusak jilidan dan kertas menjadi robek, begitu pula
untuk buku yang lebarmya tidak sesuai, mengakibatkan buku akan
terjuntai dan menjadi rusak.

e. Pemakaian yang Berlebih

Bahan perpustakaan yang sering dipakai atau dipinjam akan
menyebabkan jilidan menjadi kendur dan kumal. Bahan
perpustakaan akan semakin rusak apabila berada pada tangan
pengguna/peminjam yang tidak mengerti bagaimana
memperlakukan bahan perpustakaan dengan baik.

D. Pemeliharaan dan Perawatan Bahan Perpustakaan

1. Pemeliharaan dan Penyimpanan Bahan Perpustakaan

Perencanaan pelestarian bahan perpustakaan terdiri dari perencanaan
jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Pada umumnya
hal-hal yang bersifat teknis dan yang diprioritaskan dimasukkan ke
dalam perencanaan jangka pendek dan perencanaan inilah yang
dimasukkan ke dalam program kerja setiap tahun.

Program pelestarian bahan perpustakaan merupakan penjabaran dari
definisi yang dikemukakan yang dikemukakan di atas. Pelaksanaan
pelestarian dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pemeliharaan bahan perpustakaan yaitu: mengoptimalkan (mengukur,
memonitor dan mengendalikan) kondisi lingkungan: pengendalian
udara (kelembaban dan udara bersih, penggunaan AC, memonitor
kebersihan untuk memperpanjang umur bahan pustaka. Kondisi
lingkungan yang ideal bagi suatu perpustakaan adalah temperatur dan
kelembaban yang terkontrol, udara bersih dengan sirkulasi yang
sempurna, bebas dari jamur, serangga, dan binatang pengerat.

226 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

Pemeliharaan dilakukan dengan cara membersihkan bahan
perpustakaan dan ruangan secara teratur, keamanan yang terjamin dan
perlindungan dari banjir dan kebakaran termasuk pengendalian
lingkungan untuk melindungi bahan perpustakaan dari kerusakan.

Pelaksanaan pemeliharaan dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Pemeliharaan Bahan Perpustakaan (Tindakan Preventif)

1) Mencegah Kerusakan Karena Pengaruh Suhu dan Kelembaban
Udara

Suhu dan kelembaban udara yang ideal bagi bahan perpustakaan
adalah 20o - 24o C dan 45 - 60 % RH. Satu-satunya cara untuk
mendapatkan kondisi seperti yang direkomendasikan oleh Ogden
(http://www.nedcc.org/) adalah memasang AC 24 jam sehari
selama 7 hari dalam seminggu. Masalahnya timbul karena tidak
semua perpustakaan mampu memasang AC seperti ini karena
biaya operasionalnya besar. Jika AC dipasang hanya setengah
hari saja, kelembaban akan berubah-ubah. Kondisi seperti ini
malah akan mempercepat kerusakan kertas. Jika dalam suatu
perpustakaan sudah terlanjur memasang AC dan dioperasikan
hanya setengah hari saja karena pertimbangan biaya, sebaiknya
suhu diatur antara 26 o - 28 o C untuk mencegah terjadinya
fluktuasi suhu udarai pada siang dan malam hari, dan suhu
tersebut cukup sejuk bagi manusia dan aman bagi bahan
perpustakaan.

Jika terjadi kelembaban udara yang tinggi, dapat diturunkan
dengan dehumidifier atau silica gel. Dehumidifier digunakan untuk
menurunkan kelembaban udara dalam ruangan yang tertutup,
dan silica gel untuk menurunkan kelembaban udara dalam lemari
atau filing cabinet.

2) Mencegah Kerusakan karena Pengaruh Cahaya

Cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan, baik langsung
atau pantulan harus dihalangi dengan gorden atau disaring
dengan filter untuk mengurangi radiasi ultraviolet. Buku tidak

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 227

boleh diletakkan terlalu dekat dengan jendela. Untuk mencegah
kerusakan karena cahaya lampu listrik adalah dengan
memperkecil intensitas cahaya, memperpendek waktu
pencahayaan dan menghilangkan radiasi ultra violet. Untuk
menghilangkan radiasi UV dari cahaya luar, menggunakan UV
filter film yang direkatkan pada kaca jendela dan pada lampu
menggunakan UV filter tube yang disarungkan pada lampu
TL.Untuk mencegah kerusakan oleh UV ini, Odgen
(http://www.nedcc.org/, 29/03/04) memberikan rekomendasi agar
kandungan UV pada ruang penyimpanan bahan pustaka tidak
lebih dari 75 µwatt/lumen.

3) Mencegah Kerusakan Karena Pencemar Udara

Bahan pencemar udara seperti gas pencemar, partikel debu, dan
logam yang merusak kertas dapat dikurangi dengan langkah-
langkah sebagai berikut:

a) Ruangan menggunakan AC, karena dalam AC terdapat filter
untuk menyaring udara dan ruangan ber AC selalu tertutup
sehingga mengurangi debu.

b) Di dalam ruangan dipasang alat pembersih udara (air cleaner).
Di dalam alat ini terdapat karbon aktif yang dapat menyerap
gas pencemar dan terdapat filter untuk membersihkan udara
dari debu.

c) Menyimpan buku dalam kotak pelindung.

4) Mencegah Kerusakan Karena Faktor Biota

Tindakan preventif untuk mencegah tumbuh dan berkembangnya
jamur dan serangga adalah dengan memeriksa bahan
perpustakaan secara berkala, membersihkan tempat
penyimpanan, menurunkan kelembaban udara dan buku tidak
boleh disusun terlalu rapat pada rak karena menghalangi sirkulasi
udara. Untuk mencegah menularnya jamur dan serangga dari
luar, sebaiknya buku yang baru dibeli atau baru diterima dari pihak
lain difumigasi terlebih dahulu sebelum disimpan bersama-sama
dengan buku yang lainnya. Pada rak diletakkan bahan yang

228 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

berbau untuk mengusir serangga seperti kapur barus, naftalen,
paradichloro benzena atau PBC.

b. Pencegahan Kerusakan Karena Faktor Manusia

Manusia merupakan perusak bahan perpustakaan yang cukup
besar. Pengaruh ini dapat bersifat tak langsung seperti pencemar
udara atau mutu kertas yang rendah yang dihasilkan oleh industri
kertas dan dapat bersifat langsung seperti kebakaran, pencurian dan
salah penanganan. Kerusakan lain pada bahan perpustakaan adalah
rendahnya standar mutu penjilidan. Penggunaan AC yang tidak
kontinyu malah akan mempercepat kerusakan bahan perpustakaan.
Pelaksanaan fotokopi yang tidak benar juga akan merusak bahan
perpustakaan. Teknik penanganan yang salah dapat menimbulkan
kerusakan fisik. Salah pengolahan seperti menyimpan bahan
perpustakaan pada tempat yang mengandung resiko, tidak
dibersihkan secara berkala akan menimbulkan kerusakan fisik
karena kotor dan bahan perpustakaan yang kotor disukai oleh jamur
dan serangga. Kerusakan yang fatal adalah karena lalai dalam
persiapan menghadapi bencana alam.

1) Penataan dan Penyimpanan

Tempat penyimpanan yang tidak memadai dan tidak memenuhi
syarat akan menyebabkan kerusakan fisik dan kimia pada bahan
perpustakaan. Tempat penyimpanan harus terbuat dari bahan
yang tidak membahayakan bahan perpustakaan. Rak-rak buku
harus terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar, cukup lebar
untuk menyangga buku tanpa ada bagian buku yang menonjol.
Rak yang paling bawah sekurang-kurangnya harus berada 10 cm
di atas lantai untuk menjaga kemungkinan terkena air jika ada
pipa air yang bocor. Rak buku harus diletakkan pada ruangan
dengan ventilasi yang baik dan jaraknya cukup supaya dapat
mengambil dan mengembalikan buku dengan leluasa.

a) Penataan buku pada rak secara tegak: Penyusunan buku
pada rak-rak harus ditopang dengan kuat dan sebaiknya tidak
terlalu rapat satu sama lain. Buku hendaknya tidak disusun
pada rak secara longgar karena akan roboh dan menimpa

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 229

satu sama lain. Penyusunan buku pada rak sebaiknya
disesuaikan agar mencukupi ruang tempat menyimpan buku.
Buku hendaknya tidak disusun rapat karena akan menyulitkan
pada waktu pengambilannya. Buku hendaknya tidak ditumpuk
di atas buku lainnya pada waktu menyusun di rak secara
tegak. Jenis buku yang tidak dapat diletakkan secara tegak,
sebaiknya diletakkan secara horizontal di bagian tepi rak. Cara
ini akan menolong agar buku tidak menjadi rusak dan akan
tetap kuat menempel. Metode penyusunan pada rak seperti
ini hanya untuk sementara waktu. Agar jilidan buku tetap baik
hendaknya tidak di susun sampai pada bagian ujung dari rak.

b) Penataan buku secara mendatar: Bahan perpustakaan yang
disusun secara mendatar, seperti map-map tebal dan
lembaran ukuran besar, jangan disusun bertumpuk melebihi
setengah dari tinggi tempat. Dapat juga dimasukkan ke dalam
kotak yang kuat. Bahkan jika perlu apabila hendak
mengangkatnya agar dilakukan secara bersama-sama untuk
menghindari kerusakan. Rak-rak berupa laci yang dangkal
dan dapat ditarik ke luar dapat digunakan untuk penyimpanan
bahan perpustakaan. Jenis rak ini akan menjamin
pemanfaatan rak secara efisien dan juga dapat menghindari
terjadinya masalah pada saat penyusunan dan pengambilan.

c) Menyimpan buku ukuran besar (lebar): Buku yang terlalu lebar
agar tidak diletakkan dengan posisi vertikal pada rak buku
biasa, dan tidak mungkin menyediakan rak khusus untuk
meletakkan buku yang terlalu lebar di ruang pengolahan. Buku
seperti ini harus diletakkan mendatar (direbahkan) di atas
meja. Pada saat mengambil salah satu di antaranya, buku
yang ada di atasnya harus dipindahkan dulu satu persatu,
kemudian setelah buku yang dimaksud diambil, buku yang
dipindahkan tadi dikembalikan seperti susunan semula.

230 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

2) Penjilidan

Penjilidan yang kurang baik sering dilakukan pada buku
perpustakaan tanpa mempertimbangkan keselamatan informasi
yang ada di dalamnya. Pustakawan harus turut memikirkan apa
yang dibutuhkan oleh buku dari jilidannya dan harus tahu tipe
jilidan yang baik bagi bahan pustaka. Memotong bagian pinggir
buku atau punggung buku tidak boleh dilakukan. Jilidan asli
sedapat mungkin harus dipertahankan. Semua bahan yang
digunakan harus bebas asam, kuat dan stabil dan buku dengan
kertas yang sudah rapuh tidak boleh dijilid kembali.

3) Kebersihan

Membersihkan ruangan dan bahan perpustakaan secara teratur
merupakan pekerjaan yang penting. Staf harus diberi informasi
bagaimana cara membersihkan bahan perpustakaan dengan
benar, karena kadang-kadang staf tidak mengetahui caranya.
Monitor terhadap program pembersihan sama pentingnya dengan
pembersihan itu sendiri. Pemeriksaan secara berkala pada
koleksi dan fasilitas penyimpanan dapat mengetahui lebih awal
kerusakan baik disebabkan oleh serangga maupun oleh
kelembaban udara. Kebersihan tangan staf dan pemustaka juga
sangat penting. Tangan dan tempat kerja harus bersih untuk
menjaga agar buku tidak cepat dekil.

4) Penanganan

Cara penanganan bahan perpustakaan tidak dapat dilakukan
dengan baik oleh setiap orang, akan tetapi harus diajarkan,
dibimbing dan dibiasakan. Sikap staf adalah kunci dalam
menerapkan penanganan bahan perpustakaan yang baik dan
benar. Yang lebih penting adalah sikap pengambil kebijakan yang
mempunyai komitmen bahwa pelestarian adalah bagian integral
dari misi perpustakaan.

Penanganan bahan perpustakaan yang baik dan benar adalah
program pelestarian yang murah. Melatih staf dan pemustaka
adalah pekerjaan yang relatif mudah. Hal ini juga akan

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 231

menghemat dana untuk memperbaiki dan merawat koleksi yang
rusak.

a) Sampul/klulit (Cover) buku: Sampul buku dimaksudkan untuk
melindungi blok (teks) buku dari kerusakan fisik. Buku baru
atau buku yang dijilid kembali harus dibuka secara hati-hati.
Buku tidak boleh dibiarkan tertelungkup, dan jilidan tidak boleh
ditekan. Tidak boleh menggunakan karet gelang untuk
mengikat buku dan tidak boleh menggunakan selotape untuk
menambal buku yang robek.

b) Reproduksi: Kegiatan reproduksi seperti reprografi, fotografi,
fotokopi, dan digitalisasi merupakan usaha pelestarian
informasi bahan perpustakaan. Namun, pelaksanaan yang
kurang hati-hati akan dapat menimbulkan kerusakan fisik
bahan pustaka, seperti jilidan buku menjadi rusak dan bahan
perpustakan yang rapuh menjadi hancur.

5) Pencurian dan Vandalisme: Yang tidak kalah pentingnya dari
program pelestarian bahan perpustakaan adalah keamanan dari
pencurian dan pengrusakan. Prosedur pengamanan dapat
dilakukan dengan cara pengawasan dalam ruang baca,
pemeriksaan tas, pemasangan detektor pada pintu ruang baca,
dan lain-lain.

6) Tindakan lain dalam pemeliharaan bahan perpustakaan adalah
dengan meng-implementasikan kebijakan pelestarian yang
mencakup pelatihan, membangun kesadaran pelestarian bahan
pustaka dan adanya staf yang profesional yang menangani
pelestarian, pembentukan tim kesiapan menghadapi bencana
serta mengadakan pelatihan untuk mengadakan respons
terhadap kemungkinan adanya bencana.

2. Perawatan dan Perbaikan Bahan Perpustakaan

Kerusakan bahan perpustakaan adalah suatu phenomena kompleks
yang timbul dari berbagai pengaruh yang menyebabkannya. Pada
umumnya kerusakan ini dapat berupa kertas keriput, rapuh, lengket,

232 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

robek, hilang sebagian, keasaman, adanya noda, adanya jamur,
diserang serangga, warna tinta memudar, warna kertas menjadi kuning
kecokeatan, dan lain-lain.

Untuk memulihkan bentuk dan kekuatan kertas bahan pustaka,
dilakukan upaya perbaikan yang disesuaikan dengan bentuk kerusakan
yang terjadi. Jenis perbaikan kertas bahan perpustakaan tersebut
meliputi menambal, menyambung, lining dan laminasi. Sebelum
perbaikan dilakukan, hendaknya bahan perpustakaan telah mengalami
penanganan di antaranya fumigasi, pembersihan debu dan noda,
pemutihan (bleaching) dan deasidifikasi (untuk menetralkan asam).

a. Membersihkan Debu

Salah satu cara pemeliharaan bahan perpustakaan yang penting
adalah menyimpan di tempat yang bersih dan bebas dari debu.
Apabila bahan perpustakaan sudah kotor oleh debu, hendaknya
dibersihkan sesuai dengan prosedur yang benar dan dilakukan
secara teratur oleh staf yang terlatih agar tidak menimbulkan
kerusakan pada bahan perpustakaan.

Memelihara bahan perpustakaan dalam kondisi yang bersih akan
memberikan dampak yang luas, yaitu bahan perpustakaan tidak
mudah rusak, staf dan pengguna jasa akan senang mengolah dan
membaca, serta kesehatan mereka tidak terganggu karena pengaruh
debu dan asam.

Kerusakan bahan perpustakaan yang akan terjadi karena pengaruh
debu di antaranya adalah sebagai berikut.

1) Debu dapat mengurangi nilai estetika, karena debu akan
memperburuk dan mengaburkan informasi pada cetakan, foto
dan mikrofilm/mikrofis.

2) Partikel debu akan menimbulkan goresan pada microfilm/
mikrofis, negatif foto, lukisan dan dokumen berharga lainnya.

3) Kertas yang kotor oleh debu akan cenderung menimbulkan noda
jika kertas tersebut terkena air dan udara lembab.

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 233

4) Debu akan menyebabkan kertas menjadi asam, karena debu
biasanya bercampur dengan pencemar udara lainnya terutama
yang berasal dari hasil pembakaran bahan bakar minyak bumi.
Asam ini akan menyebabkan kertas menjadi rapuh dan akan
merusak lapisan emulsi pada negatif foto dan microfilm/mikrofis.

Ada dua cara membersihkan bahan perpustakaan, yaitu cara basah
dan cara kering. Cara basah tidak akan dijelaskan dalam buku ini,
karena pekerjaan ini harus dilakukan oleh staf yang telah mendapat
pendidikan dan pelatihan dalam bidang konservasi.

Ada beberapa metode yang dapat dipakai untuk membersihkan
debu pada bahan perpustakaan. Cara yang dipilih harus
mempertimbangkan kondisi bahan perpustakaan, antara lain
kekuatan kertas, ketebalan kertas, kerapian sisi blok buku (terutama
sisi kepala buku) atau ketebalan debu yang menempel pada bahan
perpustakaan.

Peralatan yang diperlukan dalam membersihkan debu adalah kuas,
vacuum cleaner, karet penghapus, bubuk penghapus, hand press,
masker debu, penutup kepala, dan lain-lain.

b. Membasmian Serangga dan Jamur

Metode pembasmian serangga dan jamur dapat dilakukan dengan
cara sebagai beikut.

1) Dengan suntikan (injeksi): cara ini bersifat pencegahan agar
serangga, terutama rayap tidak menyerang bahan pustaka dan
fasilitas perpustakaan. Kusen pintu dan jendela dan lantai
bangunan harus disterilkan dari rayap dengan jalan menyuntikkan
bahan beracun pembasmi serangga untuk mencegah dan
mematikan rayap.

2) Dengan penyemprotan: Untuk mencegah agar bahan pustaka
tidak diserang oleh serangga dan jamur, ruangan dalam
perpustakaan harus disterilkan dengan menyemprotkan larutan
pembasmi serangga dan jamur pada sudut-sudut ruangan dan
rak-rak buku. Jika pada bahan pustaka sudah terlanjur diserang

234 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

oleh rayap, bahan perpustakaan tersebut harus disemprotkan
dengan bahan pembasmi rayap yang dilarutkan dalam alkohol.

3) Fumigasi: Fumigasi bahan perpustakaan adalah mengasapkan
gas beracun pada bahan perpustakaan untuk membasmi
serangga dan jamur. Bahan yang digunakan disebut fumigant,
yang terdiri atas methyl bromide, thymol cristel, formaldehyde
(formalin), carbon tetra chloride, carbon disulfide, phosphine.
Thymol crystal dan formalin adalah bahan untuk membasmi
jamur, sedangkan yang lainnya untuk membasmi serangga.

c. Menghilangkan Selotape

Selotape yang digunakan sebagai perekat pada kertas atau buku
harus dihilangkan karena bahan perekat pada selotape ini bersifat
asam. Biasanya warna kertas akan berubah menjadi kuning
kecokelatan pada daerah yang ditempelkan dengan selotape ini.
Plastik pada selotape dapat dilepas dengan pelarut organik atau
taking iron.

d. Melakukan Enkapsulasi

Enkapsulasi adalah cara memperkuat kertas/dokumen untuk
menghindarkan kerusakan fisik Pada proses enkapsulasi ini setiap
lembar kertas/dokumen dilapisi/diapit dengan dua lembar plastik
film polyester yang pada bagian pinggir plastik dilekatkan dengan
double sided tape.

e. Menambal/Menyambung

Menambal adalah menutup bagian bahan pustaka yang berlubang
dengan japanese tissue paper, bubur kertas atau kertas tissue
berperekat. Bahan perekat yang umum digunakan adalah campuran
kanji dan carboxyl methyl cellulose. Menambal dilakukan untuk
merekatkan bagian yang robek atau patah karena lipatan dengan
kertas tissue dengan perekat seperti tersebut di atas.

Menyambung dilakukan untuk merekatkan bagian yang sobek atau
patah karena lipatan, biasanya diperkuat dengan potongan kertas
dari jenis tertentu, agar bagian yang sobek tidak bertambah lebar.

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 235

Menyambung juga dapat dilakukan dengan kertas Jepang, hand
made, bubur kertas dengan perekat kanji dan CMC. Proses
menyambung dilakukan hampir sama dengan proses menambal.

f. Memperkuat Kertas

Beberapa metode dapat dipertimbangkan untuk memperkuat kertas
rapuh, rusak, dan kertas yang rusak terkena udara lembab atau air
dimana tidak ada local treatment atau metode penguat serat seperti
sizing yang memuaskan. Keputusan apakah memperkuat kertas
dengan restorasi dalam kasus ini bergantung pada beberapa factor.
Pertama adalah koleksi itu sendiri:

1) jenis koleksi itu sendiri, naskah, karya cetak atau ilustrasi;

2) kertas tersebut ditulis, dicetak atau digambar pada satu muka
atau bolak balik;

3) fungsi dari koleksi tersebut, sumber informasi, atau benda seni.

Teknik memperkuat kertas dapat dibedakan menjadi lima metode,
yaitu lining, embedding, laminasi, leafcasting, paper splitting.

g. Memperbaiki Jilidan

Memperbaiki jilidan bahan pustaka merupakan salah satu upaya
melestarikan bentuk fisik agar dapat memperpanjang usia pakai
bahan perpustakaan tersebut. Pada umumnya tindakan perbaikan
jilidan selalu ada hubungannya dengan kerusakan pada jilidan
buku, baik yang berhubungan dengan kekuatan sistem penjilidan
maupun kerusakan pada bagian tertentu seperti lembar pelindung,
engsel buku, punggung buku, dan sampul buku. Perbaikan yang
dapat dilakukan secara sederhana adalah dengan memperkuat
engsel yang longgar, mengganti lembar pelindung yang robek atau
sudah berubah warna menjadi kuning kecokelatan, menempel linen
baru pada punggung buku atau memperbaiki kembali punggung
sampul buku.

236 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

E. Rangkuman

Sebagai penyedia layanan informasi, perpustakaan perlu meningkatkan dan
mengembangkan layanan bahan perpustakaan. Hal ini tidak dapat dicapai
dengan baik tanpa menjaga dan mempertahankan kondisi fisik yang
dilayankan. Kondisi fisik bahan perpustakaan akan terpelihara baik apabila
setiap perpustakaan mampu untuk melaksanakan kegiatan perawatan bahan
perpustakaan sedini mungkin melalui pencegahan, perawatan dan perbaikan
bahan perpustakaan secara baik dan benar.

Dalam kegiatan ini, perpustakaan harus menciptakan kondisi agar koleksi
bahan perpustakaan terhindar dari faktor perusak. Kondisi yang ideal bagi
bahan pustaka adalah lingkungan yang stabil, tidak mengandung gas
pencemat udara dan bebas dari insek dan jamur serta terhindar tangan-
tangan vandalisme.

Bahan perpustakaan yang terlanjur rusak seperti robek, din serangga dan
jamur, atau rapuh karena pengaruh asam, koleksi tersebut harus dirawat dan
diperbaiki agar koleksi bahan pustaka tersebut tersedia secara baik dan siap
pakai. Bahan pustaka yang sudah rapuh dan sudah tua dan tidak dapat
digunakan lagi harus dibuatkan reproduksinya dalam bentuk mikro atau
digital untuk memperlancar kegiatan layanan perpustakaan.

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 237

238 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

BAB III
PENUTUP

Perpustakaan sebagai penyedia layanan informasi hendaknya selalu menjaga
supaya koleksi yang dilayankan terpelihara baik. Oleh sebab itu, staf pengelola
perpustakaan perlu memahami bagaimana cara merawat dan memelihara bahan
perpustakaan secara baik dan benar. Dengan terpeliharanya bahan
perpustakaan, kerusakan dapat dihindari dan koleksi terselamatkan dari
kehancuran.

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 239

240 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

DAFTAR PUSTAKA

Agrawal O.P. Conservation of Manuscripts and Paintings of South-East Asia.
London. 1984.

Baynes-Cope. AD. “Caring for Books and Dokuments”. London: British Museum.
1982.

Child, Margaret. Preservation Assessment and Planning, NDCC. Technical
Leaflet. Section 1 (2), http://www.nedcc.org/plam3/tleaf12.htm, 09/03/04.

Clapp A.F. “Curatorial Care of Works of Art on Paper”. New York. Nick LyoBook.
1982.

Feilden, Bernard M. An Introduction to Conservation of Cultural Property. Unesco,
Rome. 1979.

Mary Lyn Ritzentaler. “Archives & Manuscripts Conservation”. Society of
American Archivests. Chicago. 1983.

Muhammadin Razak. dkk. “Petunjuk Teknis Pelestarian Bahan Pustaka”. .
Jakarta: Perpustakaan Nasional RI. 1995.

Ogden, Sherelyn. Temperatur, Relative Humidity, Light, and Air Quality: Basic
Guidelines for Preservation, Technical Leaflet, Section 2, Northeast
Document Conservation Center, http://www.nedcc.org/, 29/03/04

Teygeler, Rene. Preservation of Archives in Tropical Climate, An Annotated
Bibliography. International Council on Archive, Paris, The Haque, Jakarta.
2001.

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 241

242 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan


Click to View FlipBook Version