The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by SARIKUN IKUN, 2020-09-22 21:16:08

Modul Diklat Perpustakaan

Modul Diklat Perpustakaan

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .................................................................................................................. 143

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 145
A. Latar Belakang ................................................................................ 145
B. Deskripsi Singkat............................................................................. 146
C. Tujuan Pembelajaran Umum.......................................................... 147
D. Tujuan Pembelajaran Khusus ........................................................ 147

BAB II KLASIFIKASI DAN TAJUK SUBJEK ................................................... 149
A. Pengertian, Fungsi dan Tujuan Klasifikasi ................................... 149
B. Jenis Sistem dan Prinsip Klasifikasi............................................... 150
C. Struktur dan Penggunaan DDC...................................................... 153
D. Analisis Subjek ................................................................................ 167
E. Tajuk Subjek.................................................................................... 169
F. Rangkuman ..................................................................................... 181

BAB III PENUTUP ............................................................................................. 183

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 185

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 143

144 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perpustakaan merupakan sistem informasi yang berfungsi menyediakan dan
menyampaikan informasi yang terdapat dalam koleksinya kepada masyarakat.
Oleh karena itu koleksi perpustakaan harus diatur dan diolah sedemikian rupa
sehingga informasi tersebut dapat disimpan serta ditemukan kembali secara
cepat dan tepat. Dengan kata lain dalam perpustakaan diperlukan suatu sistem
temu kembali informasi (information retrieval system). Klasifikasi bahan
pustaka merupakan kegiatan teknis perpustakaan yang memungkinkan koleksi
perpustakaan tertata secara sistematis dan dapat ditemukan kembali secara
efisien dan efektif.

Klasifikasi di perpustakaan adalah proses mengelompokkan buku atau bahan
perpustakaan lainnya dalam suatu cara yang dapat membantu para pemustaka
untuk mengaksesnya. Ini memerlukan waktu yang lama sehingga pustakawan
dapat meyakini bahwa pemakai perpustakaan dapat dilayani dengan baik, bila
jajaran koleksi perpustakaan disusun menurut subjeknya. Buku-buku dengan
cakupan subjek yang sama harus disusun bersama di dalam rak, karena para
pemakai perpustakaan sering ingin mendapatkan beberapa buku mengenai
subjek tertentu dalam waktu yang bersamaan.

Selajutnya penyusunan koleksi bahan pustaka berdasarkan subjeknya menjadi
hampir menyeluruh di perpustakaan. Setiap skema klasifikasi selalu berupaya
untuk menciptakan sistem penyimpanan koleksi perpustakaan berdasarkan
subjeknya. Namun pada kenyataannya selalu ada kelebihan dan kekurangan
dari tiap-tiap skema klasifikasi tersebut. Setiap perpustakaan harus dapat
memilih dan menentukan sistem klasifikasi yang sesuai untuk digunakannya.

Banyak sistem klasifikasi yang dapat digunakan oleh perpustakaan, misalnya
yang sangat terkenal adalah Dewey Decimal Classification (DDC), Universal
Decimal Calssification (UDC) dan Library of Congress Calassification (LCC).
Sistem klasifikasi tersebut merupakan hasil karya para ahli yang telah teruji
efektivitasnya di perpustakaan di seluruh dunia. Dari ketiga sistem klasifikasi

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 145

itu, DDC dapat menjadi pilihan pertama yang lebih mudah diterapkan di
berbagai perpustakaan.

Istilah klasifikasi bahan perpustakaan secara umum sebenarya mencakup pula
kegiatan penentuan tajuk subjek. Tajuk subjek adalah istilah yang
menggambarkan isi bahan perpustakaan yang diolah di perpustakaan.
Tujuannya adalah untuk memberikan sarana akses informasi di perpustakaan
melalui istilah-istilah verbal yang terawasi bagi subjek bahan perpustakaan.
Penentuan tajuk subjek ini pada umumnya menggunakan pedoman berupa
daftar tajuk subjek

Dengan demikian kegiatan klasifikasi dan penentuan tajuk subjek merupakan
proses yang simultan, kedua-duanya dapat dilakukan bersamaan sekaligus
bagi setiap bahan pustaka yang diolah. Klasifikasi dan penentuan tajuk subjek
sama-sama memanfatkan hasil analisis subjek bahan pustaka. Dalam
klasifikasi hasil analisis subjek diterjemahkan ke dalam kode atau notasi
penyimpanan bahan perpustakaan, sedangkan dalam penentuan subjek hasil
analisis subjek diterjemahkan ke dalam tajuk atau istilah verbal yang menjadi
titik akses informasinya.

Untuk membahas lebih lanjut tentang kegiatan klasifikasi dan penentuan tajuk
subjek ini perlu persepsi yang sama terhadap batasan-batasan klasifikasi dan
tajuk subjek. Pengelola perpustakaan disarankan untuk memahami dan
mengerti tentang materi klasifikasi khususnya dengan menggunakan DDC dan
materi penentuan tajuk subjek khususnya dengan menggunakan daftar tajuk
subjek berbahasa Indonesia. Sehingga pada saatnya nanti para pengelola
perpustakaan dapat meningkatkan layanannya, melalui sarana temu kembali
secara cepat dan tepat.

B. Deskripsi Singkat

Mata ajar diklat ini membekali para peserta dengan pengetahuan tentang
pengertian, tujuan, fungsi, jenis sistem dan prinsip klasifikasi DDC, struktur
DDC, dan analisis subjek, serta pengertian, fungsi, prinsip, dan jenis tajuk
subjek yang disajikan dengan pendekatan pelatihan andragogi yang meliputi
metode ceramah, tanya jawab, pemaparan, diskusi, dan praktik.

146 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

C. Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti mata ajar diklat ini peserta diharapkan mampu menentukan
nomor klasifikasi dan tajuk subjek.

D. Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti mata ajar diklat ini, peserta diharapkan mampu:
1. Menyebutkan pengertian, tujuan, dan fungsi klasifikasi
2. Menyebutkan jenis sistem dan prinsip klasifikasi DDC
3. Menjelaskan struktur DDC dan menggunakan DDC
4. Mengetahui analisis subjek
5. Menjelaskan pengertian dan fungsi tajuk subjek
6. Menggunakan daftar tajuk subjek untuk perpustakaan

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 147

148 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

BAB II

KLASIFIKASI DAN TAJUK SUBJEK

A. Pengertian, Fungsi dan Tujuan Klasifikasi

1. Pengertian

Secara harfiah arti klasifikasi adalah penggolongan atau
pengelompokan. Ada beberapa pengertian mengenai klasifikasi,
misalnya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) klasifikasi
adalah penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut
kaidah atau standar yang ditetapkan. Sedangkan Harrods Librarians
Glossary menyebutkan bahwa klasifikasi adalah pengelompokkan
benda secara logis menurut ciri-ciri kesamaannya. Menurut Sulistyo
Basuki, klasifikasi adalah proses pengelompokan/pengumpulan benda
atau entitas yang sama, serta memisahkan benda atas entitas yang
tidak sama.

Dalam pengertian secara umum klasifikasi ialah suatu kegiatan
mengelompokkan benda yang memiliki ciri yang sama dan sekaligus
memisahkan benda yang tidak sama. Dalam kaitannya dengan dunia
perpustakaan klasifikasi diartikan sebagai kegiatan pengelompokan
bahan pustaka berdasarkan ciri-ciri yang sama, misalnya pengarang,
fisik, isi, dan sebagainya .

Pada dasarnya di perpustakaan dikenal ada dua jenis kegiatan
klasifikasi, yaitu:

a. Klasifikasi fundamental (fundamental classification), yaitu

klasifikasi bahan pustaka berdasarkan subjek/isi yang dibahas di
dalamnya. Sebab pada dasarnya pemakai perpustakaan lebih
banyak mencari informasi tentang subjek tertentu.

b. Klasifikasi artifisial (artificial classification), yaitu klasifikasi bahan
pustaka berdasarkan ciri-ciri fisik yang ada pada bahan pustaka.
Misalnya klasifikasi berdasarkan warna, ukuran, dan sebagainya.

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 149

2. Fungsi
Dalam bidang perpustakaan klasifikasi berfungsi antara lain sebagai
berikut:
a. Untuk mengetahui keseluruhan bidang ilmu pengetahuan bahan
pustaka yang dimiliki perpustakaan;
b. Untuk mengetahui keseimbangan bidang ilmu pengetahuan dalam
jajaran koleksi;
c. Untuk mengetahui cakupan bidang ilmu pengetahuan dalam
koleksi perpustakaan;
d. Penuntun berfikir sistematis;
e. Membantu pengelompokkan bidang subjek dalam menyusun
bibliografi.

3. Tujuan
Dalam sistem pengaturan bahan pustaka pada rak koleksi
perpustakaan, klasifikasi bertujuan :
a. Untuk menentukan lokasi penyimpanan bahan pustaka di dalam
jajaran koleksi perpustakaan, sehingga memudahkan pemakai
dalam menemukan kembali informasi yang tersimpan di dalamnya.
b. Mengumpulkan semua bahan pustaka yang memiliki subjek yang
sama dalam satu jajaran koleksi.
c. Memudahkan dalam penempatan buku baru serta untuk
kepentingan penyiangan koleksi perpustakaan.

B. Jenis Sistem dan Prinsip Klasifikasi
1. Jenis sistem klasifikasi
Beberapa jenis sistem klasifikasi yang terkenal dan banyak digunakan
di perpustakaan antara lain:

150 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

a. Dewey Decimal Classification (DDC), yaitu sistem klasifikasi
persepuluhan yang disusun oleh Melvil Dewey pada tahun 1875.
Persepuluhan artinya setiap pembagian bidang ilmu pengetahuan
dilakukan secara hirarki ke dalam sepuluh kelompok yang lebih
spesifik. DDC ini menggunakan notasi angka untuk menyatakan
kelas setiap bahan pustaka.

b. Colon Classifications (CC), yaitu sistem klasifikasi titik dua yang

disusun oleh S.R Ranganathan pada tahun1933. Titik dua yang
dimaksudkan adalah tanda gabung notasi klas untuk berbagai
konsep subyek yang terdapat pada bahan pustaka. Untuk
menyatakan kelas setiap bahan pustaka CC menggunakan notasi
gabungan huruf dan angka.

c. Universal Decimal Classifications (UDC), yaitu sistem klasifikasi

persepuluhan universal yang disusun oleh Paul Otlet (1905). Ini
merupakan modifikasi dari sistem klasifikasi DDC. Universal artinya
klasifikasi itu menyeluruh mencakup semua konsep subjek yang
dibahas di dalam bahan pustaka. Hal ini dimungkinkan karena UDC
mempunyai berbagai tanda gabung notasi kelas untuk berbagai
konsep subjek yang terdapat pada bahan pustaka. Seperti halnya
DDC, UDC juga menggunakan notasi angka untuk menyatakan
kelas setiap bahan pustaka.

d. Bibliographic Classifications, yaitu sistem klasifikasi yang diciptakan
oleh H.E. Bliss di tahun 1935. Sistem klasifikasi ini menggunakan
notasi angka untuk pembagian subjek utama bahan pustaka dan
dilengkapi dengan notasi huruf untuk menyatakan subdivisi
bentuknya.

e. Library of Congress Classifications (LCC), yaitu sistem klasifikasi

yang digunakan perpustakaan nasional utama di Amerika Serikat.
Kerangka skema klasifikasinya disusun oleh Herbert Putnam di
tahun 1897. LCC menggunakan notasi gabungan huruf dan angka
untuk menyatakan kelas setiap bahan pustaka.

f. Subject Classifications yaitu sistem klasifikasi yang diciptakan oleh

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 151

J.D Brown di tahun 1906. Untuk menyatakan kelas setiap bahan
pustaka, sistem klasifikasi ini menggunakan notasi gabungan huruf
dan angka.

2. Prinsip-prinsip klasifikasi

Secara umum kegiatan klasifikasi bahan pustaka dapat
menerapkan prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. Kekhususan

Klasifikasi dapat dilakukan dengan sekhusus mungkin sesuai
dengan subjek yang dibahas di dalam bahan pustaka. Misalnya
bahan pustaka mengenai lalat dikelompokkan langsung ke dalam
kelas lalat dan tidak pada kelas serangga.

b. Kesatuan

Klasifikasi cukup memberikan satu kesatuan kelas secara
rangkuman bagi setiap bahan pustaka yang diklasifikasi. Misalnya
kelas katak merupakan satu kesatuan rangkuman dari berbagai
aspek subjek katak yang diuraikan di dalam buku yang
bersangkutan.

c. Kesamaan

Klasifikasi harus memberikan kelas yang sama terhadap semua
bahan pustaka yang mempunyai subjek yang sama walaupun
dengan berbagai istilah yang berlainan. Misalnya untuk buku
mengenai kodok, katak, atau rana cancrifora harus mempunyai
kelas yang sama dalam satu kelompok.

d. Konsistensi

Klasifikasi harus konsisten dalam memilih dan menentukan kelas
bagi setiap bahan pustaka dengan subjek tertentu. Misalnya sekali
pengklasifikasi menentukan buku mengenai katak pada suatu kelas
tertentu, maka kelas tersebut akan berlaku seterusnya. Konsistensi
berlaku pula dalam menerapkan teknik dan aturan klasifikasi sesuai
dengan sistem yang digunakan. Misalnya dalam menentukan kelas
bagi bahan pustaka dengan subjek yang kompleks harus konsisten
mengikuti kebijakan klasifikasi yang telah ditentukan.

152 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

e. Orientasi pada pemakai

Tujuan akhir suatu perpustakaan adalah memberikan layanan
kepada para pemakai, maka klasifikasi harus memberikan
kemudahan kepada pemakai dalam menemukan kembali informasi
di perpustakaan. Misalnya aturan klasifikasi memungkinkan untuk
memberikan notasi kelas suatu buku selengkap mungkin, tapi untuk
kemudahan pemakai perpustakaan, maka notasi tersebut dapat
lebih disederhanakan tanpa menghilangkan unsur pokok notasi
kelas buku.

C. Struktur dan Penggunaan DDC

1. Struktur Klasifikasi DDC

Sistem klasifikasi DDC terdiri dari bagan klasifikasi, indeks relatif dan
tabel-tabel.

a. Bagan Klasifikasi

Pada prinsipnya DDC memiliki ciri-ciri umum :

1) DDC merupakan klasifikasi ilmu pengetahuan yang melakukan
pembagian subjek secara hirarkis, artinya pembagian subjek
dari umum ke khusus.

2) DDC menggunakan prinsip desimal, artinya DDC membagi
semua bidang ilmu pengetahuan dalam 10 kelas utama.

3) DDC hanya mampu memberikan notasi kelas bagi satu subjek
dalam menghadapi subjek bahan pustaka yang lebih dari satu,
DDC harus memilih salah satu subjek yang paling dominan.

DDC adalah skema klasifikasi yang menganut prinsip “desimal”
untuk membagi semua bidang ilmu pengetahuan secara
persepuluhan. Seluruh ilmu pengetahuan dibagi ke dalam 10 kelas
utama yang diberi kode/lambang (selanjutnya disebut notasi) 000
sampai 900. Pembagian 10 (sepuluh) kelas utama adalah :

000 – Karya umum

100 – Filsafat & psikologi

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 153

200 – Agama
300 – Ilmu-ilmu sosial
400 – Bahasa
500 – Ilmu pengetahuan alam & matematika
600 – Teknologi
700 – Kesenian Seni rupa dan dekoratif
800 – Kesusasteraan & retorika
900 – Geografi & sejarah
Setiap kelas utama dibagi lagi secara decimal menjadi 10 sub kelas,
contohnya :
300 – Ilmu-ilmu sosial
310 – Kumpulan statistik umum
320 – Ilmu politik
330 – Ekonomi
340 – Hukum
350 – Adiministrasi negara & ilmu militer
360 – Masalah dan pelayanan sosial; perkumpulan
370 – Pendidikan
380 – Perdagangan, komunikasi, transportasi
390 – Adat istiadat, etiket, cerita rakyat
Kemudian setiap subkelas dibagi lagi menjadi 10 seksi
Contoh : diambil subkelas 370 Pendidikan
370 – Pendidikan
371 – Sekolah & kegiatannya; pendidikan khusus
372 – Pendidikan dasar
373 – Pendidikan menengah

154 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

374 – Pendidikan dewasa

375 – Kurikulum

376 – [Pendidikan wanita]

377 – [Sekolah keagamaan]

378 – Pendidikan tinggi

379 – Kebijakan publik mengenai pendidikan

Tiap-tiap seksi dibagi lagi secara desimal ke dalam 10 subseksi.
Contoh kelas 371:

371 Hal-hal umum tentang pendidikan

.1 Mengajar dan pengajar

.2 Administrasi pendidikan

.3 Metode mengajar dan belajar

.4 Bimbingan dan penyuluhan

.5 Disiplin sekolah

.6 Gedung dan peralatan

.7 Kesehatan dan keamanan sekolah

.8 Siswa (pelajar, murid)

.9 Pendidikan luar biasa

Dari contoh-contoh di atas dapat diambil kesimpulan bahwa makin
khusus suatu subjek, semakin panjang notasinya, karena banyak
angka yang ditambahkan pada notasi dasarnya. Dan
pembagiannya berlangsung dari umum ke khusus.

b. Indeks Relatif (Relative Index)

Untuk membantu mencari notasi suatu subjek dalam bagan DDC
terdapat “Indeks Relatif”. Pada indeks relatif ini terdaftar sejumlah
istilah yang disusun secara alfabetis. Istilah tersebut mengacu ke
nomor kelas yang terdapat dalam bagan. Dalam indeks ini didaftar

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 155

pula sinonim untuk istilah, dan hubungan-hubungannya dengan
subjek lainnya.

Contoh :

Tanaman

Beracun 581.6

Berbiji 582

Buah-buahan 634

Alpukat 634.6

Anggur 634.8

Apel 634.1

Dengan demikian bila suatu subjek telah ditemukan dalam
Indeks Relatif, hendaklah ditentukan lebih lanjut aspek dari
subjek yang bersangkutan. Contoh di atas subjek “Tanaman”
dapat dilihat dari aspek: beracun, berbiji, buah-buahan, dan
sebagainya.

Cara praktis yang paling tepat untuk menentukan notasi suatu
subjek ialah melalui indeks relatif. Tetapi menentukan notasi
hanya melalui dan berdasarkan indeks relatif saja tidak dapat
dibenarkan. Setelah suatu subjek diperoleh notasinya dalam
indeks relatif, harus diadakan pengecekan dengan notasi yang
terdapat dalam bagan. Dengan demikian dapat diketahui
apakah notasi tersebut betul-betul sesuai dengan karya yang
sedang diklasifikasikan.

c. Tabel - Tabel (Tables)

Kecuali pembagian kelas secara decimal dengan notasi yang
terdapat dalam bagan, DDC juga mempunyai sarana lain membagi
subjek lebih lanjut yaitu dengan tabel-tabel (tables). Notasi pada
tabel-tabel tersebut hanya dapat digunakan dalam rangkaian
dengan notasi yang terdapat dalam bagan. Dengan kata lain notasi
yang terdapat dalam tabel tidak pernah berdiri sendiri selalu
dirangkaikan dengan notasi dalam bagan.

156 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

Dalam DDC edisi ringkas terdapat 6 (enam) tabel pembantu, yakni
:

1) Tabel 1 Subdivisi Standar

2) Tabel 2 Wilayah

3) Tabel 3 Subdivisi Sastra

4) Tabel 4 Subdivisi Bahasa

5) Tabel 5 Ras, Etnik dan Kebangsaan

6) Tabel 6 Bahasa

d. Teknik Menentukan Nomor Klasifikasi

Untuk menentukan nomor kelas dalam DDC, diperlukan teknik
klasifikasi agar diperoleh nomor kelas yang cepat dan tepat, teknik
klasifikasi dimaksud adalah :

1) Tentukan “subjek” suatu bahan pustaka dengan menetapkan
fenomena

2) Telusuri subjek tersebut melalui indeks relatif

3) Setelah mendapatkan nomor kelas, cocokkan nomor kelas
tersebut dalam bagan, agar diperoleh nomor kelas yang lebih
spesifik

4) Apabila dalam bahan pustaka tersebut terdapat aspek lain,
selain nomor kelas subjek, maka tambahkan tabel-tabel dalam
DDC dengan menelusur melalui indeks

5) Setelah nomor diperoleh dari indeks, kemudian cocokkan juga
nomor tersebut ke dalam tabel-tabel pembantu yang dimaksud

6) Kemudian gabungkan antara nomor subjek dengan nomor
yang diperoleh dari tabel, sesuai dengan peraturan yang telah
ditentukan.

2. Penggunaan Tabel Pembantu

Cara penambahan masing-masing notasi dalam tabel pada notasi yang
terdapat dalam bagan adalah sebagai berikut:

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 157

a. Tabel Subdivisi Standar (Tabel 1)

Bila notasi suatu subjek telah ditemukan dalam bagan adakalanya
perlu dicantumkan lebih lanjut notasi tambahan “bentuk” yang
diambil dari notasi yang terdapat dalam tabel “Subdivisi standar”
(selanjutnya disebut Tabel 1). Tabel ini bertujuan untuk menjelas-
kan bentuk suatu karya, misalnya -03 adalah bentuk kamus dan
ensiklopedi, -05 adalah bentuk terbitan berkala/majalah.
Adakalanya juga untuk menjelaskan bentuk penyajian intelektual.
Misalnya -01 untuk bentuk penyajian yang bersifat teori, dan -09
sejarah dan geografi.

Cara pemakaian Tabel 1, antara lain :

1) Tidak ada instruksi

Bila dalam bagan tidak terdapat instruksi bagaimana cara
pemakaian dan penambahan Tabel 1, ini berarti bahwa notasi
tersebut dapat ditambahkan dengan notasi yang terdapat
dalam Tabel 1, misalnya pada notasi 641.5 Cooking tidak
terdapat instruksi cara pemakaian dan penambahan Tabel 1.
Ini berarti pada notasi 641.5 tersebut dapat ditambahkan
dengan salah satu notasi yang terdapat dalam Tabel 1
sehingga notasinya dapat diperluas dengan contoh sbb :

641.5 Masakan (dalam bagan)

-05 Majalah (Tabel 1)

641.505 “Majalah masakan”

2) Ada instruksi pemakaian dua nol (00)

Dalam contoh penambahan notasi tabel 1 (a, b, c) di atas hanya
didahului dengan satu nol (0). Di dalam bagan adakalanya
terdapat instruksi untuk pemakaian dua nol (00) untuk
penambahan notasi Tabel 1. Misalnya pada notasi 636
Peternakan di bawahnya diikuti dengan instruksi “Gunakan
636.001-636.009 untuk subdivisi standar, jika ingin

158 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

memperluas notasi 636 Peternakan dengan Tabel 1, adalah
sebagai berikut :

636 Peternakan (bagan)

Gunakan 636.001–636.009

untuk subdivisi standar

-072 Penelitian (Tabel 1)

636.007 2“Penelitian Peternakan”

3) Instruksi pemakaian tiga nol (000)

Adakalanya untuk penambahan notasi tabel 1 pada notasi
dalam bagan harus didahului dengan tiga nol (000). Hal ini
bergantung pada instruksi yang terdapat dalam bagan dari
subjek yang bersangkutan. Misalnya pada DDC edisi lengkap
notasi 375 Curriculums di bawahnya diikuti dengan notasi 000.1
– 000.9 “Standard Subdivisions” dan dikatakan bahwa notasi ini
berasal dari Tabel 1. Ini berarti bila akan memperluas notasi
375 Curriculum dengan penambahan Tabel 1, harus didahului
dengan tiga nol (000).

b. Tabel Wilayah (Tabel 2)

Ada kalanya suatu subjek perlu dinyatakan aspek
geografisnya (wilayahnya), misalnya “Angkatan Laut Indonesia”
Dalam hal ini notasi subjek “Angkatan Laut” perlu ditambahkan
notasi wilayah (Areas) yang selanjutnya disebut Tabel 2.

Cara penambahan Tabel 2 ini adalah sebagai berikut:

1) Tidak ada instruksi

Dalam bagan tidak terdapat instruksi atau petunjuk bagaimana
cara penambahan Tabel 2. Dalam hal ini, langkah-langkahnya
ialah mula-mula tentukan notasi subjek yang bersangkutan lalu
ditambahkan pada notasi subjek tersebut notasi –09 (aspek
geografis dari Tabel 1), kemudian ditambahkan notasi wilayah
yang diambil dari Tabel 2.

Contoh :

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 159

359 Angkatan Laut

-09 Aspek geografi ( dari Tabel 1 )

-598 Indonesia ( dari Tabel 2 )

359.095 98 berarti “Angkatan Laut Indonesia“

Rumus :

SUBJEK + -09 + TABEL 2

2) Ada Instruksi

Adakalanya dalam bagan terdapat instruksi biasanya berupa
instruksi “Tambahkan notasi wilayah 4-9 dari Tabel 2 pada
angka dasar 324.2 dsb”

Contoh :

324 Proses-proses politik

.1 Organisasi dan kegiatan-kegiatan internasional

.2 Partai politik

Tambahkan notasi wilayah 4-9 dari tabel 2 pada
angka dasar 324.2 umpama Partai politik di Indonesia 324.2598

324.2 Partai politik

- 621 Mesir (dari Tabel 2)

324.2621 berarti “Partai politik di Mesir”

3) Untuk geografi suatu wilayah

Pembahasan diatas yaitu untuk suatu subjek ditambahkan
aspek geografisnya. Dalam bagian (c) ini hanyalah untuk
“geografi” suatu wilayah misalnya “geografi Jepang”, “Geografi
Indonesia” dsb. Cara pembentukan ialah angka dasar geografi
suatu wilayah 91- ditambahkan dengan notasi wilayah yang
diambil dari Tabel 2.

160 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

Rumusnya :

91 + NOTASI WILAYAH ( dari Tabel 2 )

Contoh : “Geografi Indonesia 915.98 “

4) Untuk sejarah suatu wilayah

Dalam subjek “sejarah” suatu wilayah mendapat notasi 930 –
999, sementara geografi suatu wilayah mendapat notasi 913 -
919. Kalau dibandingkan pembentukan notasi geografi suatu
wilayah dengan notasi sejarah suatu wilayah terdapat
persamaan unsur dari angka yang diambil dari Tabel 2.

Bandingkanlah 915.2. Geografi Jepang dan 952 Sejarah
Jepang, kalau diperhatikan dengan seksama notasi di atas
ternyata terdapat persamaan angka pembentukannya.
Pembentukan notasi sejarah suatu wilayah dapat dirumuskan:

9 + NOTASI WILAYAH ( dari Tabel 2 )

Contoh : “Sejarah Indonesia “ 959.8

Bila dirinci adalah sebagai berikut :

9- Angka dasar sejarah suatu wilayah

-598 Wilayah Indonesia (Tabel 2)

959.8 berarti “Sejarah Indonesia”

Sebagian besar notasi sejarah suatu wilayah ini telah terdaftar
dalam bagan, dilengkapi dengan pembagian periode sejarah.

c. Tabel Subdivisi Sastra (Tabel 3)

Dalam kelas 800 (Sastra) dikenal bentuk penyajian khusus yang
disebut “Subdivisi masing-masing sastra” (Subdivisions of
Individual Literatures) selanjutnya tercantum dalam Tabel 3.
Misalnya bentuk-bentuk sastra seperti : -1 Puisi, -2 Drama, -3 Fiksi
dsb.

Notasi yang terdapat dalam Tabel 3 ini hanya dapat ditambahkan
pada notasi dasar suatu sastra di kelas 800. Notasi sastra yang

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 161

berakhiran dengan angka nol (0) notasi dasarnya adalah dua
angka pertama saja : Notasi dasar “Sastra Inggris” 82 bukan 820,
“Sastra Jerman” 83 bukan 830.

Cara pemakaian Tabel 3 ini adalah :

a. Sudah terdaftar dalam bagan tetapi belum lengkap

Dalam bagan sudah terdapat notasi yang ditambahkan bentuk
sastranya tetapi tidak lengkap. Bila dirasa perlu untuk
memperluas notasi tersebut diambilkan dari Tabel 3.

Contoh : 842 Drama perancis, sesungguhnya angka 2 adalah
notasi yang terdapat dalam Tabel 3. Bila ingin memperluas
notasi ini adalah sbb. :

842. Drama Perancis (sudah terdaftar di bagan )

840 Kesusastraan Perancis, nomor dasarnya 84

-2 Drama (Tabel 3)

b. Tidak terdaftar dalam bagan

Bila di dalam bagan belum ditambahkan notasi bentuk sastra,
maka untuk memperluas notasinya adalah dengan mengambil
notasi bentuk sastra yang terdapat dalam Tabel 3

Contoh :

839.31 Sastra Belanda

-3 Fiksi (Tabel 3 )

839.313 berarti “Fiksi Belanda”

Dengan demikian cara penambahan notasi bentuk sastra yang
terdapat dalam Tabel 3 dapat dirumuskan :

NOTASI DASAR SASTRA + NOTASI BENTUK SASTRA (Tabel 3 )

162 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

d. Tabel Subdivisi Bahasa (Tabel 4)

Dalam kelas 400 (bahasa) dikenal subdivisi khusus bahasa yang
disebut “Subdivisi masing-masing bahasa” (Subdivision of
Individual Languages) selanjutnya disebut Tabel 4. Notasi yang
terdapat dalam Tabel 4 ini hanya dapat ditambahkan pada notasi
dasar suatu bahasa dalam kelas 400. Bila notasi suatu bahasa
terdiri dari tiga angka dan berakhiran dengan nol (0), maka notasi
dasarnya hanya dua angka pertama saja. Misalnya notasi dasar
“Bahasa Perancis” 44- bukan 440, “Bahasa Italia”47- bukan 470.

Cara-cara penambahan Tabel 4 adalah sebagai berikut :

1) Sudah terdaftar dalam bagan.

Dalam bagan sudah dicantumkan notasi yang memberikan
bentuk penyajian suatu bahasa. Contoh :

442 Etimologi Bahasa Perancis (dalam bagan),
nomor dasar bahasa perancis 44

-2 Etimologi (dari Tabel 4 )

442 berarti “Etimologi bahasa Perancis”

2) Belum terdaftar dalam bagan

Dalam bagan sama sekali belum dicantumkan notasi bentuk
bahasa. Untuk memperluas notasi dasar suatu bahasa,
diambilkan dari Tabel 4. Misalnya untuk “Tata bahasa
Indonesia” akan mendapatkan notasi 499.2215 bila dirinci
adalah sebagai berikut :

439.3 Bahasa Belanda (dalam bagan)

-5Tata bahasa (dalam Tabel 4 )

439.35 berarti “Tata bahasa Belanda”

Dengan demikian untuk penambahan notasi Tabel 4 ini pada
dasarnya suatu bahasa dapat dirumuskan sebagai berikut :

NOTASI DASAR SUATU BAHASA + NOTASI BENTUK BAHASA ( Tabel 4 )

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 163

3) Kamus dua bahasa

Bagi karya berupa kamus dua bahasa dengan satu bahasa
entri, urutan sitasinya adalah dengan mengutamakan bahasa
entri lebih dahulu, kemudian ditambahkan –3 (dari Tabel 4 ) lalu
menyusul notasi bahasa padanannya (dari Tabel 6). Misalnya
“Kamus Bahasa Indonesia - Cina” notasi kelasnya adalah : 413.
951 Notasi kelas ini terbentuk dari

410 Bahasa Indonesia (bahasa entri), nomor dasarnya
41

-3 Kamus bahasa (Tabel 4)

-951 Bahasa Cina (bahasa padanan dari Tabel 6)

Bagi karya berupa kamus dua bahasa dengan dua bahasa entri
yang bolak balik, urutan sitasinya diuatamakan pada bahasa
yang lebih berguna bagi masyarakat pemakai. Misalnya
“Kamus Bahasa Indonesia-Cina dan Cina-Indonesia”, untuk
perpustakaan di Indonesia lebih berguna dengan
mengutamakan bahasa Cina. Jadi notasi kelasnya adalah :
495.139 1. Notasi kelas ini terbentuk dari :

495.1 Bahasa Cina (bahasa entri yang lebih berguna)

-3 Kamus bahasa (Tabel 4)

-1 Bahasa Indonesia (bahasa padanan dari Tabel
6).

Bila dirumuskan secara umum kamus dua bahasa itu adalah
sebagai berikut:

BAHASA ENTRI + -3 + BAHASA PADANAN ( dari TABEL 6)

4) Kamus banyak bahasa

Bagi kamus banyak bahasa yaitu mencakup 3 bahasa atau
lebih, dimasukkan kedalam “Kamus Poliglot” (Polyglot
Dictionaries) pada notasi 403 (DDC edisi ringkas).

164 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

Contoh: “Kamus Indonesia-Inggris dan Arab” akan mendapat
notai 403 ”Kamus Jepang-Cina-Rusia dan Inggris” juga akan
mendapat notasi 403.

Bila menginginkan lebih spesifik lagi, tambahkan pada angka
dasar 403 notasi 2-9 dari Tabel 6. Misalnya 403.956 untuk
Kamus bahasa Jepang-Cina-Rusia dengan bahas entri dan
definsinya hanya dalam bahasa Jepang.

e. Tabel Ras, Etnik dan Kebangsaan (Tabel 5)

Adakalanya dalam suatu subjek perlu ditambahkan aspek ras, etnik
atau kebangsaan tertentu, misalnya –951 Bangsa Cina, dan -
9921 Bangsa Pilipina. Bila suatu subjek telah ditemukan notasinya
kemudian ditambahkan dengan notasi yang terdapat pada Tabel
ras, ethnik dan kebangsaan (Tabel 5). Ini dilakukan bila dirasa perlu
untuk memperluas subjek yang bersangkutan.

Apabila dalam bagan tidak terdapat instruksi untuk menambahkan
Tabel 5 ini dan dirasa perlu untuk memperluas kelas subjek
tersebut dengan notasi yang terdapat dalam notasi subjek yang
bersangkutan, maka tambahkan –089 (aspek ras, etnik, dsb. dari
Tabel 1) kemudian cantumkan notasi dari Tabel 5.

738 Seni keramik (terdapat
dalam bagan)

-089 Aspek ras ethnik dan kebangsaan (dari Tabel 1)

-951 Cina (dari Tabel 5)

738.089 951 berarti “Seni keramik cina”

f. Tabel Bahasa (Tabel 6)

Suatu subjek adakalanya perlu ditambahkan aspek bahasanya.
Misalnya “Terjemahan Alquran dalam Bahasa Cina”dsb. Terlebih
dahulu harus ditentukan notasi untuk subjek Alquran kemudian
ditambahkan dari notasi Bahasa Cina yang diambilkan dari Tabel 6
Bahasa yang selanjutnya disebut Tabel 6.

Cara pemakaian tabel 6 ini adalah sbb :

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 165

1) Ada instruksi

Dalam bagan yang terdapat instruksi pemakaian Tabel 6 ini
biasanya diikuti kata-kata “Tambahkan notasi bahasa dari
Tabel 6 pada angka dasar 2X1.2”. Misalnya untuk bahan
pustaka “Alquran dalam bahasa Cina” akan mendapat notasi
2X1.2951 bila dirinci adalah sebagai berikut:

2X1 Alquran dan ilmu yang berkaitan (dalam bagan)

.2 Alquran dan terjemahannya (dalam bagan)

Tambahkan notasi bahasa dari Tabel 6 pada
angka dasar 2X1.2

-951 Bahasa Cina (dari Tabel 6)

2X1.2951 berarti “Alquran dalam Bahasa Cina”

2) Tidak ada instruksi

Di dalam bagan tidak terdapat perintah untuk pemakaian tabel
6. Bila diperlukan memperluas notasi suatu subjek dengan
penambahan notasi yang terdapat dalam table 6 ini misalnya
untuk menyatakan dominannya suatu bahasa dalam suatu
wilayah tertentu, maka langkah-langkahnya sebagai berikut:
mula-mula tentukan notasi subjek, kemudian tambahkan aspek
wilayah -09 (dari tabel 1) setelah itu ditambahkan notasi -175
(aspek wilayah suatu bahasa sangat dominan yang diambil dari
table 2). Lalu ditambahkan notasi bahasa yang diambil dari
tabel 6.

Contoh: “Bibel di Wilayah berbahasa Spanyol” akan
mendapatkan notasi 220.509 175 61 bila dirinci notasi tersebut
adalah sebagai berikut :

220 Bible

-5 Modern version and translations

-09 Aspek wilayah (dari table 1)

-175 Aspek wilayah dimana suatu bahasa
tertentu sangat dominan (dari table 2)

166 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

-61 Bahasa Spanyol (dari table 6)

220.509 175 61 Berarti “Bibel di Wilayah berbahasa
Spanyol”

D. Analisis Subjek

1. Pra-analisis

Analisis subjek merupakan langkah awal dalam kegiatan kla-sifikasi,
yaitu proses meneliti, mengkaji dan menyimpulkan isi yang di-bahas
dalam bahan pustaka. Untuk mengetahui subjek suatu bahan
pustaka/dokumen dilakukan dengan analisis subjek. Sebagai langkah
awal dilakukan “pra-analisis” bahan pustaka melalui langkah-langkah
sebagai berikut :

a. Melalui judul buku, seringkali melalui judul saja suatu bahan
pustaka

sudah dapat ditentukan subjeknya, hal ini kebanyakan untuk buku-
buku ilmiah.

b. Melalui daftar isi, adakalanya dengan melihat daftar isi suatu bahan
pustaka/dokumen sudah dapat diketahui subjeknya.

c. Dengan membaca kata pengantar atau pendahuluan dari bahan
pustaka tersebut.

d. Apabila langkah-langkah di atas masih belum dapat membantu
hendaklah dengan membaca sebagian atau keseluruhan dari isi
buku.

e. Melalui daftar bahan pustaka atau bibliografi yang digunakan oleh
pengarang untuk menyusun karyanya.

f. Menggunakan sumber lain seperti bibliografi, ensiklopedi, tinjauan
buku, dan sebagainya.

g. Seandainya cara terdahulu masih belum juga dapat membantu
untuk menentukan subjek bahan pustaka, hendaknya menanyakan
kepada para ahlinya dalam subjek tersebut.

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 167

2. Konsep Subjek

Untuk melakukan analisis subjek pertama-tama perlu dikenali konsep
subjek yang terdiri dari tiga aspek sebagai berikut:

a. Disiplin ilmu, yaitu bidang studi yang mempunyai objek, sistem,
dan metode tertentu untuk memecahkan persoalan yang timbul di
dalamnya. Hal ini digunakan untuk satu bidang atau cabang ilmu
pengetahuan. Disiplin ilmu dapat dibedakan menjadi 2 katagori :

1) Disiplin fundamental, meliputi bagian-bagian utama ilmu
pengetahuan yang menurut para ahli ada 3 kelompok disiplin
fundamental, yakni ilmu-ilmu sosial (social sciences), ilmu-ilmu
alamiah (natural sciences) dan ilmu-ilmu kemanusiaan
(humanities).

2) Subdisiplin, merupakan bidang spesialisasi dalam satu disiplin
fundamental, misalnya dalam disiplin fundamental ilmu-ilmu
alamiah, subdisiplin yang merupakan spesialisasi atau
cabangnya ialah fisika, kimia, biologi dsb. Namun pada
akhirnya sebutan disiplin ilmu menjadi istilah umum yang
berlaku bagi kedua-duanya, baik berupa disiplin fundamental
maupun subdisiplin.

b. Fenomena (topik yang dibahas) merupakan wujud/benda yang
menjadi objek kajian dari disiplin ilmu. Misalnya: Pendidikan remaja.
“Pendidikan” merupakan konsep disiplin ilmu, sedangkan “remaja”
adalah fenomena yang menjadi objek atau sasarannya.

c. Bentuk ialah cara bagaimana suatu subjek disajikan dalam bahan
pustaka. Konsep bentuk ini dibedakan dalam 3 jenis:

1) Bentuk fisik, yakni medium atau sarana yang digunakan
dalam menyajikan suatu subjek. Misalnya dalam bentuk buku,
majalah, pita rekaman, mikrofis, dsb.

2) Bentuk penyajian, yang menunjukan pengaturan atau
organisasai isi bahan pustaka/dokumen. Ada tiga bentuk
penyajian, yaitu:

168 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

a) Menggunakan lambang-lambang dalam penyajiannya,
seperti bahasa, gambar, dan lain-lain.

b) Yang memperlihatkan tata susunan tertentu misalnya
abjad, kronologis, sistematis, dan sebagainya.

c) Yang menyajikannya untuk kelompok tertentu, misalnya
Bahasa Inggris untuk pemula, Psikologi untuk ibu rumah
tangga. Kedua dokumen tersebut adalah mengenai
‘bahasa Inggris’ dan ”Psikologi”, bukan pada ”pemula” atau
”ibu rumah tangga”.

3) Bentuk intelektual, yaitu aspek yang ditekankan dalam
pembahasan suatu subjek. Misalnya “Filsafat Sejarah”, di sini
yang menjadi subjeknya adalah ”sejarah” sedangkan “filsafat”
adalah bentuk intelektual.

E. Tajuk Subjek

1. Pengertian dan Fungsi Tajuk Subjek

a. Pengertian Tajuk Subjek

Tajuk subjek adalah kata, istilah atau frasa atau kosa kata yang
terkendali dan terstruktur yang digunakan untuk menyatakan topik
bahan pustaka. Dengan kata lain tajuk subjek adalah istilah yang
menggambarkan isi bahan perpustakaan.

b. Fungsi Tajuk Subjek

Adapun fungsi dari Tajuk subjek adalah:

1) Mendaftar bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan di bawah
“kata” atau “istilah” atau “frasa” yang menjadi subjeknya.

2) Menyusun suatu entri katalog dengan tajuk subjek sebagai
media penyusunannya (filing)

3) Sebagai titik temu (access point) suatu informasi melalui
subjeknya.

2. Prinsip Penentuan dan Jenis-jenis Tajuk

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 169

a. Prinsip Penentuan Tajuk Subjek

Prinsip dasar penentuan tajuk subjek bahan pustaka adalah
sebagai berikut:

1) Aspek bahasa

Karena tajuk subjek menggunakan kata atau istilah atau frasa,
maka masalah “tajuk subjek’ tidak terlepas dari masalah
bahasa, misalnya; tata bahasa, ejaan, sinonim, semantik, dan
sebagainya. Oleh karena itu, pedoman resmi bahasa yang
digunakan harus diperhatikan. Dalam bahasa Indonesia,
misalnya buku Pedoman Pembentukan Istilah dan Pedoman
Ejaan yang baku harus diperhatikan.

Contoh:

▪ Komoditi atau Komoditas

▪ Tjengkeh atau Cengkeh atau Cengkih

▪ Tarip atau Tarif

2) Keseragaman

Dalam banyak hal, untuk mengutarakan suatu topik atau
pengertain sering terdapat penggunann istilah-istilah yang
berbeda

Contoh: Hukum Dagang atau Hukum Niaga atau
Hukum Perdagangan

Agar tidak membingungkan pemakai perpustakaan, untuk
kasus seperti ini perlu dipilih salah satu istilah yang digunakan
secara taat azas. Dari istilah-istilah lain dibuatkan “penunjukan
atau acuan”.

3) Pemakaian istilah

Dalam menciptakan keseragaman penggunaan istilah yang
digunakan perlu pula diperhatikan pemakaian istilah yang lazim
oleh pemakai perpustakaan.

Contoh : Pernikahan atau Perkawinan

170 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

Sapi atau Lembu

4) Istilah Asing

Apabila menggunakan daftar tajuk subjek dalam bahasa
Indonesia, maka istilah Indonesia yang harus diutamakan.
Istilah asing hanya digunakan bila:

Belum ada istilah Indonesianya. Namun demikian istilah asing
tersebut disesuaikan penulisannya dengan pemakaian di
Indonesia.

Contoh:

▪ Anarkisme bukan Anarchism

• Fasisme bukan Facism

5) Istilah asing yang lebih populer.

Contoh:

▪ Psikologi lebih populer dari Ilmu Jiwa

▪ Anatomi lebih populer dari Ilmu Urai

6) Istilah Indonesia yang lebih panjang dan adakalanya
memerlukan penjelasan atau uraian.

Contoh:

▪ Devisa bukan Alat Pembayaran Luar Negeri

▪ Visa bukan Surat Izin Masuk ke Suatu Negara

7) Kekhususan

Dalam menentukan tajuk subjek suatu dokumen, hendaklah
dipilih tajuk subjek sekhusus mungkin.

Contoh:

▪ Hukuman Mati jangan pada Hukum Pidana atau Hukuman

▪ Mujair jangan pada Ikan atau Ikan Air Tawar

8) Istilah Penjelas

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 171

Adakalanya pada subjek tertentu diperlukan penjelas. Hal ini
disebabkan istilah yang sama dapat ditemukan pada berbagai
disiplin ilmu atau aspek. Istilah penjelas tersbut gunanya untuk
membedakan antara satu sama lain.

Contoh :

▪ Bogor (Kabupaten) – Sejarah

▪ Bogor (Kodya) – Sejarah

b. Jenis-jenis Tajuk

1) Tajuk Utama (Main Headings), yang terdiri dari :

a) Kata benda (noun)

Yaitu tajuk subjek yang terdiri dari kata benda, misalnya,
EKONOMI, AGAMA, PENDIDIKAN. Tajuk subjek jenis ini
disebut dengan “Tajuk Subjek sederhana”. Kadangkala
terdiri dari dua atau lebih kata benda dengan menggunakan
kata penghubung “dan”, misalnya: KEJAHATAN DAN
PENJAHAT, ISLAM DAN POLITIK. Tajuk subjek jenis ini
disebut dengan “Tajuk Subjek Berhubungan”.

b) Tajuk Adjektif (adjective with noun)

Yaitu tajuk subjek yang terdiri dari “kata benda” dan diikuti
dengan “kata sifat”.

Contoh : BANGUNAN LIAR

BINATANG LANGKA

c) Tajuk Frasa (Phrase Headings)

Yaitu tajuk subjek yang terdiri dari dua kata benda yang
dihubungkan dengan kata depan. Penggunaan kata depan
disini adalah untuk :

• Membatasi suatu konsep

Contoh : TELEVISI DALAM POLITIK

• Menyatakan hubungan dua konsep

172 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

Contoh : WANITA SEBAGAI DOKTER

• Menyatakan suatu konsep yang dinyatakan dengan
“frasa”

Contoh : HAK GUNA BANGUNAN

KERJA SAMA ANTAR PERPUSTAKAAN

d) Tajuk Gabungan (Compound Headings)

Yaitu tajuk yang merupakan gabungan dua atau lebih
unsur

yang sederajat.

Contoh : BANK DAN PERBANKAN

AMNESTI DAN ABOLISI

e) Tajuk Kombinasi (Combined Headings)

Dalam tajuk frasa atau gabungan kadangkala diperlukan
kombinasi.

Contoh : DINAS DIPLOMATIK DAN KONSULER

KEJAHATAN TERHADAP HARTA BENDA

f) Tajuk Dibalik (Inverted Headings)

Adakalanya tajuk subjek dibalik dan dipisah dengan
tanda

koma, gunanya adalah untuk :

• Membantu pemakai perpustakaan mencari
koleksi melalui istilah dasar suatu tajuk yang terdiri dari
dua atau lebih kata atau istilah

• Menempatkan istilah atau kata yang mempunyai
arti luas di depan dengan tujuan mengumpulkan
semua aspek dari subjek yang luas.

Contoh : HUKUM, ILMU

HUKUM, KONFLIK

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 173

HUKUM, PEMBAHARUAN
2) Tajuk Tambahan (Sub-Headings)

Penentuan tajuk subjek bahan pustaka sering memerlukan
tajuk tambahan (subdivisi) dalam mengkombinasikan
sejumlah konsep yang berbeda ke dalam satu kesatuan tajuk.
Antara tajuk utama dengan tajuk tambahan dipisahkan
dengan “tanda hubung” berupa strip (-). Adapun tajuk
tambahan ini terdiri dari :

• Subdivisi Bentuk

Pada tajuk tertentu dapat dinyatakan aspek bentuk dari
suatu Dokumen.
Contoh : ARSITEKTUR – ABSTRAK

ARSITEKTUR - KAMUS

• Subdivisi Geografis (wilayah)

Penempatan nama tempat (geografis) pada tajuk subjek
dapat dibedakan antara :
▪ Yang ditempatkan “di belakang” yaitu apabila

nama
tempat tersebut bukan merupakan subjek.
Contoh : PENDIDIKAN TINGGI – INDONESIA
▪ Yang ditempatkan “di depan” yaitu apabila nama
tempat tersebut sebagai subjeknya.
Contoh : AMERIKA SERIKAT – IKLIM,

INDONESIA – SEJARAH

• Subdivisi Waktu/Periode
Aspek waktu digunakan antara lain untuk membatasi
materi suatu subjek pada suatu periode waktu tertentu
Contoh : HUKUM ADAT – ABAD 19

174 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

INDONESIA – SEJARAH – 1942-1945

• Subdivisi Topik/Aspek Khusus

Adakalanya subjek umum diolah dari aspek/topik khusus

Contoh : HUKUM – FILSAFAT

HUKUM – METODOLOGI

3) Tajuk yang Dapat Ditambahkan

Tiga kategori tajuk subjek tidak dicantumkan dalam daftar,
namun dapat ditambahkan langsung secara bebas saat
mengolah bahan pustaka. Adapun tajuk-tajuk tersebut
meliputi:

• Nama-nama

➢ Nama Orang, Contoh : Suharto, 1921-

➢ Nama Keluarga Contoh : Siregar, Hasan

➢ Nama Tempat Contoh : Indonesia.

Jawa Barat

➢ Kebangsaan Contoh : Filipina, India

➢ Bahasa dan Sastra Contoh : Bahasa Arab,

Kesusastraan
Belanda

➢ Nama Perang Contoh : Perang Paderi

➢ Nama Perjanjian Contoh : Linggarjati

➢ Nama Suku Contoh : Sunda

• Nama Badan Korporasi

➢ Perkumpulan / Klub Contoh : PERSAHI, IPI

➢ Lembaga Contoh : Yayasan Idayu

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 175

➢ Badan Pemerintah Contoh : Departemen
Pendidikan
Nasional

➢ Gedung, taman, kapal Contoh : Gedung Joeang,
Tampomas (Kapal)

• Nama-nama lain

➢ Binatang, bunga, ikan, sayur-sayuran, kayu

Contoh : Harimau, Melati, Mujair, Bayam, Jati.

➢ Penyakit / Wabah Contoh : Malaria, Kolera

➢ Bagian Tubuh Contoh : Mata, Hidung.

➢ Nama Kimia Contoh : Asam Sulfat.

➢ Nama Mineral Contoh : Emas, Batubara.

4) Tajuk nama pribadi dan geografi

Apabila nama pribadi dan geografis dijadikan sebagai tajuk,
maka cara penulisannya adalah sebagai berikut :

• Nama Pribadi

Nama tersebut ditulis sesuai dengan peraturan katalogisasi,

misalnya peraturan AACR (Anglo American Cataloguing

Rules)

Contoh : Harun Nasution menjadi Nasution, Harun

Peraturan baru berdasarkan Surat Keputusan Kepala
Perpustakaan Nasional RI No. 20 Tahun 2005 terdapat
perubahan antara lain bahwa kata utama Indonesia yang
memiliki ciri pengenal terbatas seperti nama diri atau yang
ditambah dengan nama ayah dan/atau suami, tajuk pada
unsur nama diri pengarang yang ditulis pertama secara
lengkap.

Contoh: Ahmad Tohari menjadi Ahmad Tohari

176 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

Dewi Fortuna Anwar menjadi Dewi Fortuna
Anwar

• Nama Geografis

Bila menggunakan daftar tajuk subjek dalam bahasa
Indonesia, maka nama disesuaikan dengan nama baku
Indonesia.

Contoh: SELANDIA BARU bukan NEW ZEALAND

INGGRIS bukan ENGLAND.

c. Sistem Sindetik

Sistem sindetik adalah terdiri dari “penunjukkan atau referensi
silang” dan catatan ruang lingkup yang terdapat pada suatu tajuk.
Di samping dapat menghubungkan tajuk yang berkaitan, sistem ini
juga dapat memberikan ruang lingkup yang dicakup oleh suatu
tajuk.

1) Penunjukkan “Lihat”

Penunjukkan ini menuntun pemakai untuk mengalihkan strategi
penelusuran koleksi dari tajuk yang tidak digunakan ke tajuk
yang digunakan. Pada umumnya penunjukkan ini berlaku bagi
tajuk yang memiliki sinonim.

Contoh: Duren lihat DURIAN

Koran lihat SURAT KABAR

Sebaliknya di bawah tajuk subjek yang digunakan diberikan
tanda “X” untuk tajuk yang tidak digunakan tersebut.

Contoh: DURIAN

x Duren

SURAT KABAR

x Koran

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 177

2) Penunjukkan “Lihat Juga”

Penunjukkan ini menuntun pemakai dalam mengembangkan
strategi penelusuran dari tajuk yang umum ke tajuk yang lebih
khusus.

Contoh: IKAN lihat juga IKAN MAS

PADI Lihat juga BERAS

Sebaliknya di bawah tajuk yang khusus tersebut diberi tanda
“xx” untuk tajuk yang lebih luasnya.

Contoh: BERAS

xx PADI

IKAN MAS

xx IKAN

3) Catatan Ruang Lingkup

Untuk memberikan batasan dari suatu tajuk, maka pada tajuk
tersebut diberikan catatan ruang lingkup aspek yang
dicakupnya. Si pemakai dapat mempertimbangkan apakah
tajuk tersebut cocok untuk dokumen yang sedang dicarinya.

Contoh: PENDIDIKAN NASIONAL

“Untuk karya tentang pendidikan untuk
pengertian

nasional, kewarganegaraan Indonesia.”

TENTARA

“Untuk karya tentang anggota angkatan
bersenjata,

termasuk Angkatan Laut, Darat dan Udara.”

3. Praktek Penentuan Tajuk Subjek

Untuk menentukan dan menambahkan tajuk subjek bahan pustaka
yang tepat diperlukan cara penggunaan daftar tajuk subjek. Langkah-
langkahnya adalah sebagai berikut:

178 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

a. Sebelum mengambil suatu tajuk, hendaklah diperiksalah dahulu
“tajuk” apa yang telah digunakan. Bila suatu tajuk pertama kali
digunakan, hendaklah pada tajuk tersebut diberi tanda √ di
depannya.
Contoh: √ CABAI
√ JEMBATAN

b. Buat dan periksa “acuan”(penunjukan) dan diberi tanda √
Contoh: √ PSIKOLOGI BAYI
x Bayi – Psikologi
Dari tajuk Bayi – Psikologi dibuat acuan, yaitu kartu yang isinya :

Bayi – Psikologi

Lihat

PSIKOLOGI BAYI

Begitu juga halnya dengan penunjukkan “lihat juga”
Contoh :
GABUNGAN SERIKAT BURUH ISLAM INDONESIA

xx ISLAM
Acuan “lihat juga” yang harus dibuat adalah :

ISLAM

Lihat juga

GABUNGAN SERIKAT BURUH ISLAM

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 179

c. Apabila pada daftar tajuk subjek yang digunakan tidak/belum
ditemukan suatu tajuk yang diperlukan, maka sisipkan atau
tambahkan “tajuk baru” pada daftar tersebut dan juga beri tanda √.
Pada urutan abjad tajuk baru tersebut juga ditambahkan.

Contoh: √ BUNGA

Tambahkan nama-nama bungan, umpama √ Mawar

Pada abjad MAWAR juga ditambahkan :

Contoh: √ MAWAR

xx Bunga

d. Apabila pada suatu ketika perpustakaan mengadakan penyiangan
atau pencabutan suatu koleksi di perpustakaan, tentu katalognya
juga akan dicabut dari jajaran. Dalam hal ini maka pada daftar tajuk
subjek juga diadakan perubahan, yaitu dengan memberi tanda x di
depan tanda √ yang telah ada.

Contoh:  √ KOMUNISME – INDONESIA

Ini berarti bahwa tajuk KOMUNISME – INDONESIA pernah

digunakan tetapi sekarang tidak lagi

e. Subjek yang berhubungan dengan wilayah bahasa, sastra, dan lain
-lain, yang umum terdapat pada berbagai negara, maka diadakan
perbandingan dengan Indonesia. Contoh untuk negara ambil
Indonesia, untuk propinsi ambil Jawa Barat, untuk kota ambil
Jakarta, untuk bahasa ambil bahasa Indonesia.

Contoh: INDONESIA – SEJARAH maka

SUDAN – SEJARAH

JAWA BARAT – PENDUDUK

maka IRIAN JAYA – PENDUDUK

JAKARTA – PETA maka SERANG – PETA

BAHASA INDONESIA – TATA BAHASA Maka
BAHASA JERMAN – TATA BAHASA

180 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

F. Rangkuman

1. Pengertian klasifikasi adalah kegiatan pengelompokan bahan pustaka
berdasarkan ciri-ciri yang sama.

2. Salah satu fungsi klasifikasi adalah mengetahui keseluruhan bidang ilmu
pengetahuan bahan perpustakaan yang dimiliki.

3. Tujuan klasifikasi dalam perpustakaan antara lain dapat menentukan
lokasi bahan pustaka di dalam jajaran koleksi perpustakaan sehingga
memudahakan temu kembali informasi.

4. Jenis sistem klasifikasi antara lain Dewey Decimal Classifications (DDC),
Colon Classifications (CC), Universal Decimal Classifications (UDC).

5. Prinsip-prinsip klasifikasi adalah menerapkan kekhususan, kesatuan,
kesamaan, konsistensi, dan orientasi pada pemakai.

6. Struktur klasifikasi DDC terdiri dari tiga unsur yaitu bagan, indeks relatif,
dan tabel pembantu.

7. Analisis subjek merupakan langkah awal dalam kegiatan klasifikasi yang
berarti proses meneliti, mengkaji, dan menyimpulkan isi yang dibahas
dalam bahan perpustakan.

8. Tajuk subjek adalah kata, istilah atau frasa, atau kosakata yang terkendali
dan berstruktur yang digunakan untuk menyatakan topik bahan
perpustakan.

9. Salah satu fungsi tajuk subjek adalah sebagai titik temu (access point)
suatu informasi melalui subjeknya.

10. Prinsip penentuan tajuk subjek dapat dilihat dari aspek bahasa,
keseragaman, pemakaian istilah, istilah asing, istilah asing yang lebih
popular, istilah Indonesia yang lebih panjang, kekhususan, dan istilah
penjelas.

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 181

182 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

BAB III

PENUTUP

Dengan mempelajari materi klasifikasi dan tajuk subjek maka diharapkan para
pengelola perpustakaan dapat mengolah bahan pustaka dengan baik terutama
dalam menentukan nomor kelas dan tajuk subjek sesuai dengan pedoman yang
digunakan. Pada dasarnya klasifikasi dan penentuan tajuk subjek merupakan
kegiatan mendeskripsikan bahan pustaka berdasarkan ciri subjek atau isi yang
dibahas di dalamnya. Jadi klasifikasi dan penentuan tajuk subjek merupakan
kegiatan simultan yang dapat dilakukan sekaligus sacara bersamaan. Kedua-
duanya memanfaatkan hasil analisis subjek yang diolah di perpustakaan.

Dalam klasifikasi hasil analisis subjek diterjemahkan ke dalam notasi kelas yang
menjadi dasar penyimpanan bahan pustaka di dalam jajaran koleksi
perpustakaan. Sedangkan di dalam penentuan tajuk subjek hasil analisis subjek
diterjemahkan ke dalam istilah verbal atau tajuk subjek yang menjadi titik akses
informasi di dalam koleksi perpustakaan. Dengan demikian analisis subjek
menjadi titik sentral bagi keberhasilan dan ketepatan proses klasifikasi dan
penentuan tajuk subjek bahan pustaka.

Namun demikian, keberhasilan kegiatan klasifikasi dan penentuan tajuk subjek
ditunjang pula oleh pengetahuan serta keterampilan pengklasifikasi dalam
menggunakan pedoman yang dipakai di perpustakaan. Pengklasifikasi bahan
pustaka dituntut untuk mengenali betul ciri-ciri fisik, susunan, dan teknik
penggunaan setiap pedoman yang berkaitan.

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 183

184 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

DAFTAR PUSTAKA

Ade Kohar & Rina Sufiani Saary. Panduan Klasifikasi menggunakan DDC
edisi 20. Jakarta : PDII-LIPI, 1995.

J.N.B Tairas & Soekarman. Daftar Tajuk Subjek Edisi Ringkas. Jakarta : BPK
Gunung Mulia, 1996.

Melvil Dewey. Dewey Decimal Classification and Relative Index. 20 th. New
York : Forest Press, 1969.

Perpustakaan Nasional RI. Terjemahan Ringkasan Klasifikasi Desimal Dewey
& Indeks Relatif. Jakarta : Perpustakaan Nasional RI, 1993.

Perpustakaan Nasional RI. Daftar Tajuk Subjek untuk perpustakaan. Jakarta
: Perpustakaan Nasional RI, 1996.

Towa P Hamakonda. & JNB Tairas. Pengantar klasifikasi persepuluhan
Dewey, Ed. 3. Jakarta : Gunung Mulia, 1988.

Upriyadi. Klasifikasi dan Tajuk Subjek : Bahan Ajar Diklat Teknis Pengelolaan
Perpustakaan. Jakarta : Perpustakaan Nasional RI, 2004.

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 185

186 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 187

188 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ................................................................................................................. 189
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 191

A. Latar Belakang ................................................................................ 191
B. Deskripsi Singkat............................................................................. 191
C. Tujuan Pembelajaran Umum.......................................................... 191
D. Tujuan Pembelajaran Khusus ........................................................ 192
BAB II LAYANAN PERPUSTAKAAN .............................................................. 193
A. Pengertian Layanan........................................................................ 193
B. Tujuan dan Fungsi Layanan........................................................... 193
C. Jenis Layanan Perpustakaan ......................................................... 195
D. Unsur Layanan................................................................................ 195
E. Sistem Layanan Perpustakaan ...................................................... 197
F. Sistem Peminjaman ........................................................................ 199
G. Rangkuman ..................................................................................... 200
BAB III PENUTUP ............................................................................................ 201
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 203

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 189

190 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagai institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya
rekam, perpustakaan harus dikelola secara profesional dengan sistem yang
baku. Pengelolaan perpustakaan bertujuan memenuhi kebutuhan
pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka
agar semua koleksi perpustakaan didayagunakan semaksimal mungkin.
Pendayagunaan koleksi perpustakaan sangat bergantung pada citra
layanannnya. Artinya bahwa layanan di lembaga perpustakaan dapat
dijadikan tolok ukur keberhasilan suatu perpustakaan dalam melayani
pemustakanya, karena esensi suatu lembaga perpustakaan adalah layanan.

Dalam penyelenggaraan layanan, perpustakaan harus mempertimbangkan
fungsi dan tujuan perpustakaan, karena ada berbagai jenis perpustakaan dan
masing-masing perpustakaan berbeda fungsi dan tujuannya.

Layanan perpustakaan memiliki fungsi dan tujuan yang sangat penting dalam
memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Oleh karena itu setiap
pustakawan atau calon pustakawan perlu dibekali dengan pengetahuan
tentang berbagai aspek yang berkaitan dengan masalah layanan di
perpustakaan.

B. Deskripsi Singkat

Materi buku ini meliputi pengertian layanan, tujuan dan fungsi layanan, jenis
layaann, unsur layanan, sistem layanan, dan sistem peminjaman.

C. Tujuan Pembelajaran Umum

Setelah mengikuti mata ajar ini peserta diharapkan mampu memahami
pengertian layanan, tujuan dan fungsi layanan di berbagai jenis perpustakan,
jenis layanan, unsur layanan, sistem layanan, serta sistem peminjaman.

Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 191

D. Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti mata ajar ini para peserta diharapkan:
1. Peserta mampu menjelaskan pengertian, tujuan, fungsi , dan jenis
layanan di perpustakaan sekolah, perguruan tinggi, umum, khusus, dan
perpustakaan nasional.
2. Peserta mampu menguraikan unsur layanan
3. Peserta mampu menguaraikan sistem layanan
4. Peserta mampu menjelaskan sistem peminjaman

192 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan


Click to View FlipBook Version