BAB III
DESKRIPSI BIBLIOGRAFIS
A. Pedoman Deskripsi Bibliografis
Kegiatan deskripsi bibliografis adalah suatu kegiatan yang mencatat data-
data dari suatu bahan perpustakaan mulai dari judul, pengarang, tempat
terbit, penerbit, dan deskripsi fisik dari bahan tersebut sampai ke nomor
standar bahan perpustakaan. Pencatatan kegiatan tersebut disesuaikan
dengan peraturan ISBD (International Standard Bibliografis Description)
dengan susunan entri-entri katalog berdasarkan AACR2 (Anglo American
Cataloguing Rules Ed rev. 2).
Deskripsi menurut International Standard Bibliographic Description (ISBD)
menggambarkan karakteristik bibliografi berdasarkan ciri fisik bahan
perpustakaan yang sedang diolah, di antaranya adalah:
a. ISBD (M) untuk bahan buku (Monograf)
b. ISBD (S) untuk terbitan berseri (Serials)
c. ISBD (CM) untuk bahan kartografis (Cartographic Materials)
d. ISBD (NBM) untuk bahan nonbuku (Non-Book Materials)
Menurut ISBD tersebut bahan perpustakaann yang akan diolah disusun ke
dalam delapan (8) daerah (area), yang tiap daerah terdiri atas beberapa
unsur. Daerah-daerah dan unsur-unsur dipisahkan oleh tanda baca. Setiap
daerah, kecuali pada daerah pertama, diawali dengan tanda titik, spasi,
garis, spasi “.—“
Kedelapan (8) daerah atau area tersebut adalah:
1. Daerah judul dan pernyataan tanggung jawab
2. Daerah edisi
3. Daerah data khusus
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 93
4. Daerah tempat terbit, penerbit, dan tahun terbit
5. Daerah deskripsi fisik
6. Daerah seri
7. Daerah Catatan
8. Daerah ISBN
B. Tingkatan Deskripsi Katalog
Tanda baca pemisah untuk setiap unsur deskripsi adalah:
No Daerah Tanda baca Unsur
1. Judul & = Judul paralel
penanggung : Subjudul
jawab / Penanggung jawab
; penanggung jawab yang berbeda
kedudukannya
2. Edisi . – Keterangan edisi
/ Penanggung jawab pertama berkaitan
dengan edisi
; Penanggung jawab kedua
3. Data Khusus .-- Hanya digunakan untuk bahan
kartografi, serial, musik, fail komputer
4. Penerbitan dan dan bentuk mikro
distribusi
. – Tempat terbit
5. Deskripsi fisik : Penerbit
, Tahun penerbitan
6. Seri
Jumlah hlm. atau jumlah jilid
: Ilustrasi
, Ukuran
+ Keterangan bahan terlampir
. -- Seri
7. Catatan Judul asli
8. Nomor standar Bibliografi
Indeks
Tesis, dll.
ISBN
94 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
Unsur deskripsi yang terdapat dalam peraturan AACR2 memuat tiga (3)
tingkatan deskripsi yang masing-masing berisi unsur yang memuat batasan
minimal unsur yang harus dicantumkan oleh perpustakaan atau badan
pengatalog lain yang memilih untuk menerapkan tingakatan deskripsi
tersebut. Dalam pemilihan tingkatan deskripsi didasarkan pada tujuan
pembuatan entri katalog. Unsur minimum yang harus ada dalam setiap
tingkatan perlu dicantumkan oleh setiap perpustakaan, sementara unsur
pilihan boleh tidak dicantumkan.
Adapun tingkatan deskripsi tersebut dan unsur-unsur minimumnya adalah
sebagai berikut:
1. Deskripsi tingkat pertama
Untuk deskripsi tingkat pertama, paling sedikit unsur yang harus
tercakup adalah:
Judul sebenarnya/pernyataan tanggung jawab pertama, bila berbeda
jumlah atau bentuk tajuk entri utama atau bila tajuk entri utama tidak
ada. – Pernyataan edisi. – Rincian spesifik materi (penomoran). –
Penerbit pertama dsb., tahun terbit dsb. – Deskripsi fisik. – Catatan. –
Nomor standar.
2. Deskripsi tingkat kedua
Untuk deskripsi tingkat kedua, paling sedikit unsur yang harus tercakup
adalah :
Judul sebenarnya [GMD/pernyataan bahan umum] = judul paralel:
informasi judul lain/pernyataan tanggung jawab pertama; masing-
masing pernyataan tanggung jawab berikutnya. – Pernyataan edisi
pernyataan tanggung jawab pertama berkaitan dengan edisi. – Rincian
spesifik materi (penomoran). – Tempat penerbitan pertama dsb., ;
penerbit pertama dsb., tahun terbit dsb. – Deskripsi fisik: rincian fisik
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 95
lainnya ; ukuran. – (judul seri sebenarnya/pernyataan tanggung jawab
berkaitan dengan seri, ISSN dari seri; penomoran dalam seri. Judul
subseri), ISSN dari subseri; penomoran dalam subseri. – Catatan. –
Nomor standar.
3. Deskripsi tingkat ketiga
Untuk deskripsi tingkat ketiga, masukan semua unsur yang tercakup
dalam peraturan AACR2 yang terdapat dalam karya tersebut
Tingkatan deskripsi yang sesuai untuk diklat tingkat pengelola adalah
deskripsi tingkat pertama, dan penjelasan berikut ini adalah unsur-unsur yang
harus dimuat dalam deskripsi tingkatan pertama tersebut.
C. Sumber Informasi
Sumber informasi utama untuk bahan bentuk buku adalah halaman judul
dari karya tersebut. Untuk lebih jelasnya sumber informasi untuk setiap
unsur adalah sebagai berikut:
1. Judul
Sumber informasi utama untuk judul adalah halaman judul dari karya
tersebut, apabila judul diambil bukan dari halaman judul, maka judul
tersebut ditulis dalam tanda kurung siku [ ] dan perlu dicatatkan pada
unsur daerah catatan sumber pengambilan judul, misalnya judul dari
sampul depan (cover).
2. Pernyataan tanggung jawab
Sumber informasi utama untuk pernyataan tanggung jawab adalah
halaman judul dari karya tersebut, apabila diambil bukan dari halaman
judul, maka nama pernyataan tanggung jawab tersebut ditulis dalam
tanda kurung siku. Misalnya untuk karya berikut nama penanggung
96 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
jawab diambil dari balik halaman judul, cara penulisannya adalah
sebagai berikut:
Sejarah Majapahit / [Slametmuljana]
3. Pernyataan edisi
Sumber informasinya dari bagian manapun dari karya tersebut.
4. Pernyataan keterangan penerbitan
Sumber informasinya dari bagian manapun dari karya tersebut.
5. Catatan
Pada daerah catatan ini catatkanlah hal-hal yang dianggap perlu untuk
diketahui pemustaka.
6. Nomor standar
Untuk bahan perpustakaan bentuk buku nomor standar yang perlu
dicatat adalah nomor ISBN karya tersebut, jika tidak ada nomor ISBN
karya tersebut, maka untuk daerah nomor standar tidak perlu diisi.
D. Susunan Elemen Deskripsi Bentuk Buku (Monograf)
Berdasarkan International Standard Bibliographic Description (ISBD) (M)
untuk buku/monograf susunan elemen deskripsinya untuk tingkatan
pertama adalah sebagai berikut :
1. Judul sebenarnya, atau yang diambil adalah judul utama, sedangkan
judul paralel dan anak judul atau keterangan judul lain tidak perlu
dicatatkan.
2. Pernyataan tanggung jawab, yang diambil hanya pernyataan tanggung
jawab pertama, bila berbeda jumlah atau bentuk tajuk entri utama atau
bila tajuk entri utama tidak ada.
3. Pernyataan edisi, keterangan tentang pernyataan tanggung jawab
berkenaan dengan edisi, nomor edisi tidak perlu dicatatkan
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 97
4. Pernyataan keterangan penerbitan, penerbit pertama dsb., tahun terbit
dsb.
5. Keterangan fisik dokumen
6. Catatan
7. Nomor standar
E. Komponen Wakil Dokumen
Komponen wakil dokumen dapat berupa katalog baik yang berbentuk kartu,
buku maupun OPAC yang berisi data-data bibliografis dari suatu karya.
Untuk wakil dokumen berupa katalog bentuk kartu untuk satu karya oleh
satu penanggung jawab minimal terdiri atas 3 wakil dokumen, yaitu :
1. Wakil dokumen untuk tajuk entri utama nama pengarang,
contoh:
Keterangan :
1. Judul dan penanggung jawab
2. Edisi
3. Penerbitan
4. Deskripsi fisik
98 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
5. Nomor standar
2. Wakil dokumen untuk judul,
contoh:
3. Wakil dokumen untuk subjek,
contoh:
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 99
100 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
BAB IV
ENTRI KATALOG
Sebuah katalog terdiri atas 1). tajuk (tajuk entri utama), 2). deskripsi bibliografi
(yang terdiri atas 8 daerah) dan 3). tajuk tambahan. Tajuk entri utama dan tajuk
entri tambahan dapat berupa:
1. Nama orang
2. Judul
3. Judul seragam
4. Nama badan korporasi
Sumber untuk memperoleh tajuk entri utama dan entri tambahan suatu bahan
perpustakaan adalah bahan perpustakaan itu secara keseluruhan, mulai dari
halaman judul, halaman- halaman depan yang lain, kulit buku, kontainer, teks dan
sebagainya. Sumber dari luar bahan perpustakaan dapat digunakan hanya bila
dari bahan bersangkutan tidak mungkin diperoleh informasi yang jelas.
A. Tajuk Entri Utama dan Tajuk Entri Tambahan
1. Nama diri sebagai tajuk entri utama atau entri tambahan
Dasar Penentuan Tajuk Entri Utama (TEU) dan Tajuk Entri Tambahan
(TET) Nama Orang
a. Karya Pengarang Tunggal
Bila suatu karya ditulis oleh seorang pengarang, maka tajuk entri
utama ditentukan di bawah nama pengarang yang bersangkutan.
Contoh : Pengantar ilmu politik / oleh Eep Saifullah Fatah.
TEU adalah: Eep Saifullah Fatah
TET adalah: Judul
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 101
b. Karya Pengarang Ganda
Bila suatu dokumen disusun oleh dua orang pengarang dan salah
satu pengarang bertindak sebagai pengarang utama, yang lain
sebagai pengarang pembantu, maka tajuk entri utamanya
ditentukan di bawah nama pengarang utama, dan tajuk tambahan
di bawah nama pengarang pembantu.
Contoh:
Politik ekonomi Indonesia / oleh Sjahrir, dibantu oleh Edi
F. Swasono
TEU adalah: Sjahrir
TET adalah: I. Judul
II. Edi F. Swasono
c. Karya 3 (tiga) orang pengarang
Karya yang di dalamnya terdapat nama tiga orang pengarang
dengan kedudukan yang sama, maka tajuk entri utama untuk
nama pengarang yang disebutkan/ditulis dalam urutan pertama
karya tersebut. Sedangkan lainnya sebagai tajuk tambahan.
Contoh:
Budi daya udang windu / disusun oleh Amin Najib, Anis
Masruri dan Budi Santoso
TEU adalah: Amin Najib
TET adalah: I. Judul
II. Anis Masruri
III. Budi Santoso
102 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
d. Karya lebih dari 3 orang pengarang
Bila dalam suatu karya terdapat lebih dari 3 pengarang dengan
kedudukan yang sama, maka untuk pernyataan penanggung
jawab adalah nama pengarang yang disebutkan pertama yang
diikuti dengan tanda titik tiga dan kata et. al. dalam tanda kurung
siku. Tajuk entri utamanya pada judul dan tajuk entri tambahan
pada nama pengarang yang pertama disebut dalam karya.
Contoh:
Pendidikan agama Islam untuk Sekolah dasar
disusun oleh:
Arief Muarif
Abdul Hamid
Syamsudin
Amir Santoso
Cara penulisan deskripsi adalah:
Pendidikan agama Islam / oleh Arief Muarif … [et. al.]
TEU adalah: Pendidikan agama Islam (pada Judul)
TET adalah: I. Arief Muarif
e. Karya Terjemahan
Untuk karya terjemahan, tajuk entri utamanya pada pengarang
asli dan tajuk tambahan pada penterjemah
Contoh:
Harry Potter dan pangeran berdarah campuran / oleh J.K
Rowling ; penterjemah, Listiana Sri Santi
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 103
TEU adalah: Rowling, J.K
TET adalah: I. Judul
II. Listiana Sri Santi
f. Karya Editor
Suatu karya yang dikarang oleh satu orang atau lebih dan ada
editornya, maka penentuan tajuk entri utamanya adalah :
1) Untuk karya yang terdiri dari satu pengarang dan satu editor
TEU adalah: pada nama Pengarang
TET adalah: I. Judul
II. nama editornya
2) Untuk karya yang terdiri dari dua atau tiga pengarang dan
satu atau dua atau tiga editor, maka
TEU adalah: Pada pengarang pertama
TET adalah: I. Judul
II. pengarang kedua
III. Editor pertama
IV. Editor kedua
V. Editor ketiga
3) Untuk karya yang terdiri dari lebih 3 pengarang atau tanpa
pengarang, ada satu orang editornya maka :
TEU adalah: Judul
TET adalah: I. Nama editor
g. Karya Anonim (tanpa pengarang)
Tajuk entri utama ditentukan langsung pada judul.
104 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
2. Judul
Judul akan menjadi tajuk entri utama apabila:
1. Karya tersebut ditulis oleh 4 orang atau lebih
2. Karya editor
3. Karya anonim
4. Pengarang perorangan yang tidak jelas atau tidak diketahui.
5. Tidak termasuk kategori karya perorangan atau badan korporasi.
3. Judul Seragam
Judul seragam sebagai tajuk entri utama apabila karya mengenai:
a. Perundang-undangan, peraturan, keputusan, instruksi
Tajuk untuk karya perundang-undangan ditetapkan di bawah
nama pemerintah sebagai sumber (pengarang atau pencipta)
yang mengeluarkannya ditajukkan di bawah nama negara diikuti
dengan judul seragam dinyatakan dalam kurung siku.
Contoh; Indonesia
[Undang-undang, peraturan, dsb]
b. Perjanjian, persetujuan dan sebagainya antara dua negara atau
lebih. Gunakan nama perjanjian sebagai judul seragam.
Contoh;
▪ Indonesia
[Perjanjian, dsb. Malaysia]
▪ Pakta Warsawa (1945)
c. Kitab-kitab suci
Contoh: Alquran
Alquran. Surat Yasin
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 105
Alkitab
Alkitab. Perjanjian Lama
Tripitaka. Vinayapittaka
Weda. Samaeweda
4. Nama Badan korporasi
Suatu badan korporasi bisa menjadi tajuk entri utama apabila:
a. Karya-karya bersifat administratif tentang suatu badan seperti;
kebijakan internal, prosedur, keuangan, staf, dan sumber-sumber
(katalog, inventaris, direktori, keanggotaan)
b. Karya–karya pemerintah seperti: peraturan perundang-
undangan, dekrit presiden, perjanjian internasional, keputusan-
keputusan pengadilan, dan produk-produk legislatif
c. Karya-karya yang mencatat pemikiran kolektif dari suatu badan
seperti: laporan komisi dsb., pernyataan-pernyatan resmi tentang
kebijakan ekstern, dan laporan penelitian
d. Laporan-laporan pertemuan (konferensi, seminar, lokakarya,
dsb.), laporan ekspedisi, eksibisi, dan lain-lain
e. Rekaman suara, film, video dsb. yang merupakan hasil kegiatan
kolektif suatu kelompok pelaku pertunjukan
f. Bahan-bahan kartografi yang berasal dari badan korporasi,
kecuali bila badan tersebut hanya sebagai penerbit atau
distributor.
B. Penentuan Kata Pertama Pada Nama Perorangan sebagaiTajuk Entri
Utama dan Entri Tambahan
1. Nama pengarang secara umum
106 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
Secara umum dalam penentuan kata pertama nama orang dalam tajuk
adalah dengan cara pembalikan, yaitu kata terakhir menjadi kata
pertama, namun di beberapa negara ada pengecualian dengan tidak
melakukan pembalikan atau dengan kata lain nama pada tajuk ditulis
seperti apa adanya pada karya orang tersebut. Negara yang
menetapkan cara ini adalah; Cina, Malaysia dan Indonesia untuk
nama- nama yang tidak mengandung marga..
Cara penentuan tajuk nama orang
a. Bagian nama terakhir dari nama pengarang ditetapkan sebagai
tajuk
b. Nama yang paling dikenal dan paling sering digunakan dalam
karya-karyanya.
2. Nama pengarang Indonesia
Penerapan untuk nama dengan ciri pengenal terbatas
a. Nama diri Tunggal, ditajukkan menurut nama tunggal dan sesuai
dengan ejaan yang digunakan dalam karya tersebut.
Contoh:
Sukarno, 1901-1970
Koentjaraningrat, 1923-1999
Soedjatmoko, 1922-1989
b. Nama Ganda yang ditulis lengkap
Contoh: Abdullah bin Nuh
x Nuh, Abdullah bin
Mastini Hardjoparkoso, 1923-
x Harjoprakoso, Mastini, 1923-
Pramoedya Ananta Toer, 1925-2006
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 107
x Pramudya Ananta Tur, 1925-2006
x Tur,Pramudya Ananta, 1925-2006
x Tur,Pramudya A., 1925-2006
x Toer,Pramoedya Ananta, 1925-2006
x Toer,Pramoedya A., 1925-2006
Yayat Rukhiyat
x Rukhiyat, Yayat
c. Nama orang Indonesia yang mengandung nama
keluarga/fam/marga dari luar negeri yang merupakan hasil
peniruan nama oleh orang Indonesia tanpa ada hubungan
keluarga atau perkawinan.
Contoh : John Kennedy
x Kennedy, Jonh
Henry Jackson Purba
x Purba, Henry Jackson
d. Nama diri yang mengandung nama jawa sebagai nama keluarga,
namun nama tersebut tetap merupakan nama diri ganda yang
ditulis lengkap.
Contoh: Sumitro Djojohadikusumo, 1917-2001
x Jojohadikusumo, Sumitro, 1917-2001
x Djojohadikoesoemo, Soemitro, 1917-2001
x Djojohadikoesoemo, Soemitro, Raden Mas, 1917-2001
x Soemitro Djojohadikoesoemo, Raden Mas, 1917-2001
108 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
x Soemitro Djojohadi Koesoemo, 1917-2001
x Sumitro Jojohadikusumo, 1917-2001
e. Nama orang Bali, nama orang bali mengandung unsur nama
yang mencirikan jenis kelamin, senioritas dan kasta.
1) Nama orang Bali yang menunjukkan unsur senioritas
a) Putu, Wayan, Gede, Luh untuk anak laki-
laki/perempuan urutan kelahiran pertama, ke-lima, ke-
sembilan, dst
b) Kadek, Made, Nengah untuk anak laki-laki/perempuan
urutan kelahiran ke-dua, ke-enam, ke-sepuluh, dst
c) Komang atau nyoman untuk anak laki-laki/perempuan
urutan kelahiran ke-tiga, ke-tujuh, ke-sebelas, dst
d) Ketut untuk anak laki-laki/perempuan urutan kelahiran
ke-empat, ke-delapan, ke-duabelas, dst
Contoh :
Putu Wijaya, 1944-
x I Gusti Ngurah Putu Wijaya, 1944-
x Ngurah Putu Wijaya, I Gusti, 1944-
x Putu Widjaya, 1944-
x Widjaja, Putu, 1944-
x Wijaya, Putu, 1944-
2) Nama orang Bali yang menunjukkan unsur wangsa
a) Ida Bagus
b) Ida Ayu
c) Anak Agung
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 109
d) I Gusti Agung
e) I Gusti Ngurah
f) Desak
g) I Dewa
h) Ngakan
i) I Pasek
j) Sang Ayu
k) Si
l) Pande
m) Cokorda
Contoh:
Anak Agung Gde Putra Agung, 1937-
x Agung, Anak Agung Gde Putra, 1937-
x Agung, A. A Gde Putra, 1937-
x Agung, Anak Agung Gde Putra, 1937-
x Agung, Gde Putra, Anak, 1937-
x Gde Putra Agung, Anak Agung, 1937-
x Putra Agung, Anak Agung Gde, 1937-
3) Nama diri ganda yang ditulis lengkap, diawali kata
Ahmad atau Muhammad.
Nama diri yang diawali dengan kata
ahmad/Akhamad/Achmad atau Muhammad/Mohammad/
Mochamad, bentuk tajuk tetap pada kata pertama.
Contoh
Achmad Tirtosudiro, 1922-
x Ahmad Tirtosudiro, 1922-
110 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
x Akhmad Tirtosudiro, 1922-
x Tirtosudiro, Achmad 1922-
x Tirtosudiro, Ahmad 1922-
x Tirtosudiro, Akhmad 1922-
Mohammad Hatta, 1902-1980
x Hatta, Mohammad, 1902-1980
x Hatta, Muhammad, 1902-1980
4) Nama diri ganda yang ditulis lengkap, diawali nama
baptis
Kata pertama ditentukan pada nama baptis yang ditulis
lengkap
Contoh :
Blasius Sudarsono, 1948-
x Sudarsono, Blasius 1948-
Kristoforus Sindhunata, 1933-2005
x Sindhunata, Kristoforus 1933-2005
5) Nama diri ganda yang diawali inisial.
Kata pertama pada unsur nama yang ditulis lengkap,
kemudian diikuti dengan nama inisial, jika inisial dapat
diketahui kepanjangannya maka tulis kepanjangan tersebut
dalam tanda kurung setelah inisial tersebut.
Contoh : B. Mustofa, 1956-
W.R. Soepratman
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 111
Bentuk tajuk
Mustofa, B. (Badholahi), 1956-
x B. Mustofa, 1956-
Soepratman, W.R. (Wage Rudolf), 1903-1938
x W.R. Soepratman, 1903-1938
x Supratman, W.R. (Wage Rudolf), 1903-1938
6) Nama diri ganda yang diawali inisial yang ditulis dalam
bentuk pengucapan
Kata pertama pada unsur nama yang ditulis lengkap dalam
bentuk pengucapan.
Contoh: Emha Ainum Nadjib, kata ”Emha” merupakan
bentuk pengucapan yang ditulis dari inisial Mh. yang
merupakan singkatan dari Mohammad.
Bentuk tajuk
Emha Ainum Nadjib, 1953-
x Ainum Nadjib, Emha, 1953-
x Mh. Ainum Nadjib, 1953-
x Mohammad, Ainum Nadjib, 1953-
x Nadjib, Emha Ainum, 1953-
x Nadjib, Mh. Ainum, 1953-
x Nadjib, Mohammad Ainum, 1953-
x Najib, Emha Ainum, 1953-
x Najib, Mh. Ainum, 1953-
x Najib, Mohammad Ainum, 1953-
112 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
3. Nama Frasa
a. Frasa Murni
Nama frasa murni dianggap sebagai nama dengan ciri pengenal
terbatas. Tajuk dibuat sesuai susunan nama dalam karya tersebut
Contoh: Pak Oles
Bentuk tajuk
Pak Oles
x G.N Wididana, 1961-
x Gede Ngurah Wididana, 1961-
x Ngurah Wididana, Gede,1961-
x Wididana, Gede Ngurah, 1961-
x Widadana, G. N., 1961-
Tjamboek Berdoeri
x Berdoeri, Tjamboek 1900-1974
x Berduri, Cambuk 1900-1974
x Cambuk Berduri, 1900-1974
x Kwee Thiam Tjing, 1900-1974
b. Frasa mengandung bagian nama orang
Kata utama pada bagian frasa yang merupakan bagian nama
pengarang.
Contoh: Ibu Sud
Sud, Ibu, 1908-2004
x Ibu Sud, 1908-2004
x Saridjah Niung Bintang Soedibio, 1908-2004
x Soedibio, Saridjah Niung Bintang, 1908-2004
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 113
x Sudibio, Saridjah Niung Bintang, 1908-2004
x Sudibio, Sarijah Niung Bintang, 1908-2004
Sjaugie, Bung
x Bung Sjaugie
x Bustami Sjaugie
x Sjaugie, Bustami
4. Nama memiliki ciri pengenal kolektif marga/fam
a. Nama mengandung nama marga/fam
1) nama marga tunggal
Kata pertama pada bagian nama marga/fam yang tertulis
lengkap
Contoh: Anwar Nasution
Bentuk tajuk
Nasution, Anwar, 1942-
x Anwar Nasution, 1942-
Sarumpaet, Riris K., 1950-
x Riris K.Sarumpaet, 1950-
x Riris K.Toha-Sarumpaet, 1950-
x Toha-Sarumpaet, Riris K., 1950-
Napitupulu, W.P (Washington Pandapotan), 1930-
x W.P Napitupulu, 1930-
Shihab, M. Quraish (Muhammad Quraish), 1944-
114 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
x Haji, M. Quraish Shihab, 1944-
x M. Quraish Shihab, 1944-
x Moh. Quraish Shihab, 1944-
x Shihab, M. Quraish, 1944-
x Shihab, Moh. Quraish, 1944-
x Shihab, Muhammad Quraish, 1944-
x Syihab, M. Quraish, 1944-
Blezinsky, Tamara, 1975-
x Tamara Blezinsky, 1975-
2) nama marga yang ditulis dengan ejaan lama
Kata utama pada nama marga dalam ejaan lama
Contoh: Miranda S. Goeltom, 1949-
Bentuk tajuk
Goeltom, Miranda S. (Miranda Swaray), 1949-
x Goeltom, Miranda S., 1949-
x Miranda S. Goeltom, 1949-
3) nama mengandung nama marga/fam ganda
Kata utama pada nama marga/fam yang pertama
Contoh: A.A.M. Kalangie-Pandey
Bentuk tajuk
Kalangie-Pandey, A.A.M. (Adolfiene Annan Marie),
1935-
x A.A.M. Kalangie-Pandey, 1935-
x A.A.M. Kalangie-P, 1935-
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 115
b. nama mengandung nama marga/fam yang ditulis dalam bentuk
inisial atau penyingkatan lainnya
Kata utama pada nama marga/fam yang pertama
Contoh: Soeman Hs
Bentuk tajuk
Soeman Hs. (Soeman Hasibuan), 1940-1999
x Hasibuan, Soeman 1940-1999
x Hs, Soeman 1940-1999
x Soeman Hs., Haji, 1940-1999
x Suman Hs. (Hasibuan) 1940-1999
x Wahid, Suman Hs. Bin Lebai, 1940-1999
Gelar marga/fam dalam bentuk singkatan tetapi ditulis dalam
bentuk pengucapan, misalnya, Pamusuk Eneste untuk Nst.
(Nasution)
Bentuk tajuk
Pamusuk Eneste
x Pamusuk Nst.
x Nasution, Pamusuk
c. nama mengandung nama marga/fam yang ditulis dalam bentuk
inisial dan sebagian ditulis lengkap
Contoh: Naek L. Tobing
Bentuk tajuk
Lumban Tobing, Naek, 1940-
x Naek L. Tobing, 1940-
x Naek Lumban Tobing, 1940-
x Tobing ,Naek L. (Naek Lumban), 1940-
116 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
d. Nama yang disertai gelar
1) Nama yang mengadung gelar keagamaan
Kata utama ditetapkan pada nama diri atau marga/fam sesuai
ketentuan yang berlaku di atas. Gelar keagaamaan tersebut
antara lain: Haji, Kiai Haji, Kardinal, Ida Pedanda, Pemangku,
dsb., sedangkan sebutan ustad, ustadzah, pendeta, pastur
tidak termasuk gelar keagamaan.
Contoh: KH. Siradjuddin Abbas
Bentuk tajuk
Siradjuddin Abbas, Kiai Haji, 1905-1980
x Abbas, Siradjuddin, Kiai Haji, 1905-1980
x Abbas, Sirajuddin, Kiai Haji, 1905-1980
x Bendaro, Siradjuddin Abbas Datuk, Kiai Haji,
1905- 1980
x Datuk Bendaro, Siradjuddin Abbas, Kiai Haji, 1905-
1980
x KH. Siradjuddin Abbas, 1905-1980
x KH. Siradjuddin Abbas Datuk Bendaro, 1905-1980
x Siradjuddin Abbas, KH., 1905-1980
x Sirajuddin Abbas, Kiai Haji., 1905-1980
Contoh nama lain: Kardinal Julius Darmaatmadja
Bentuk tajuk
Julius Darmaatmadja, Kardinal 1934-
x Darmaatmadja, Julius, Kardinal 1934-
x Kardinal Julius Darmaatmadja, 1934-
x Kardinal Julius, 1934-
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 117
2) Nama yang mengadung gelar adat
a) Nama diri mendahului gelar adat
Contoh: Rustam Sutan Palindih
Bentuk tajuk
Rustam, Sutan Palindih,
x Palindih, Rustam Sutan
x Sutan Palindih, Rustam
b) Gelar dat mendahului nama diri
Contoh: Sutan Perang Bustami
Bentuk tajuk
Bustami , Sutan Perang,1883-1959
x Palindih, Rustam Sutan
Contoh lain: Andi Abdul Muis
Bentuk tajuk
Abdul Muis, Andi,1883-1959
x Palindih, Rustam Sutan
Contoh lain: Teuku Muhammad Daudsjah
Bentuk tajuk
Muhammad Daudsjah, Teuku
x Daudsjah Muhammad, Teuku
x Daudsyah Muhammad, Teuku
x Muhammad Daudsyah, Teuku
3) Nama yang mengadung gelar kebangsawanan
118 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
Kata pertama ditetapkan pada nama diri diikuti gelar
kebangsawanan
Contoh: R. Ng. Ranggawarsita
Bentuk tajuk
Ranggawarsita, Raden Ngabehi, 1802-1874
x R. Ng. Ranggawarsita
Contoh lain: R. A. Kartini
Bentuk tajuk
Kartini, Raden Ajeng, 1879-1904
x Djojoadiningrat, Kartini, Kanjeng Raden Ayu Adipati,
1879-1904
x Djojo Hadiningrat, Kanjeng Raden Ayu Adipati, 1879-
1904
x Gusti Raden Ayu Adipati Kartini Djojodiningrat, 1879-
1904
x Hadiningrat, Djojo, Kanjeng Raden Ayu Adipati, 1879-
1904
x Kanjeng Raden Ayu Adipati Djojo Hadiningrat, 1879-
1904
x Kanjeng Raden Ayu Adipati jojoadiningrat, 1879-1904
x Kartini, Raden Adjeng, 1879-1904
x R.A. Kartini 1879-1904
x Raden Adjeng Kartini, 1879-1904
x Raden Ajeng Kartini, 1879-1904
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 119
3. Nama-nama Arab
a. Unsur-unsur yang membentuk nama Arab sebelum tahun 1800
1) Khitab, sebutan kehormatan, majemuk, terdiri dari suatu kata
yang diikuti oleh al-Din yang berarti kepercayaan. Contoh;
Fakhr al-Din, Rashidd al-Din
2) Kunya, kadang-kadang sebagai nama panggilan, nama ayah
atau nama keluarga, terdiri atas unsur Abu (ayah dari) atau
Umm (ibu dari) yang menunjukan hubungan dan nama dari
anak. Umpama; Abu Bakr; Abu al-Hasan; Abu Abd Allah.
3) Ism, nama diri biasanya mempunyai arti keagamaan, ada yang
tunggal seperti Ahmad, Ali, Umar, Muhammad; ada yang
majemuk, terdiri atas kata depan: Abd (budak) salah satu dari
99 nama Allah. Ump. Abd Allah, Abd al-Qadir; Abd al-Hakim;
Abd al-Rahman.
4) Nasab, patronimik, majemuk dan terdiri atas unsure ibn (anak
lelaki dar) yang menunjukan hubungan anak dan ayah, nama
ayah atau kakek juga didahului oleh ibn, misal Muhammad ibn
Umar ibn al-Hasan ibn Ahmad ibn Nazm.
5) Laqab, kadang-kadang sebagai nama julukan, gelar
kehormatan atau nama panggilan menunjukkan mutu atau
cacat. Ada yang tunggal; seperti, al_A’sha (buta malam), al-
Siddiq (jujur), ada yang majemuk seperti, Mirza Khan
6) Nisba, kata sifat biasa yang berakhiran I, menunjukkan asal
tempat tinggal atau lain-lain keadaan; ump. Al-Hashimi;
al_Mu’tazili; Abbasi, Hilali Nadvi
120 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
b. Nama-nama Arab modern sesudah tahun 1800
Beberapa unsur yang dijelaskan di atas telah menghilang pada
nama-nama Arab modern. Ism sebagai nama pribadi yang
mempunyai arti keagamaan masih banyak dipakai. Nasab telah
menghilang kecuali di Tunisia, Aljazair dan Marokko, dimana nasab
yang tradisional itu didahului bukan oleh ibn tetapi oleh ben. Kunya
dan Khitab juga telah menghilang, tetapi sekali-sekali masih dipakai
sebagai bagian dari ism terutama di Irak. Laqab dan Nisba adalah
unsure-unsur yang masih tetap dipakai.
Urutan unsur-unsur dalam tajuk
Kata utama untuk nama Arab modern adalah bagian yang paling dikenal
umpama :
1. Jenis laqab : Al-Akkab, Abbas Mahmud;
Al-Hakim, Tawfiq;
Al-Haddad, al-Tahir
2. Jenis Nisba : Al-Barudi, Mahmud Sami;
Hilall, Muhammad Amin;
Al-Diwani, Mustafa
3. Jenis Ism : Sammud, Nur al-Din
C. Deskripsi Bibliografi
Untuk bahan perpustakaan bentuk buku (monografi) deskripsi bibliografi
hanya terdiri dari 7 daerah atau area dengan urutan unsurnya sebagai
berikut :
1. Daerah Judul dan pernyataan penanggung jawab
Terdiri dari:
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 121
a. Judul
Judul dideskripsikan sesuai dengan data yang tertera pada
halaman judul. Bila menggunakan ejaan lama, tulislah apa adanya.
Bila tidak ada judul pada halaman judul atau (sumber informasi
utama) atau judul pada kulit buku maka tulislah judul tersebut di
antara kurung siku [……].
Judul dapat dibedakan atas :
1) Judul sebenarnya, untuk deskripsi pertama hanya judul
sebenarnya atau judul utama saja yang digunakan, sedangkan
judul paralel dan anak judul tidak perlu dicantumkan.
2) Judul paralel yaitu judul sebenarnya dalam bahasa lain
3) Anak judul yaitu judul tambahan atau keterangan lebih lengkap
dari judul sebenarnya
4) Judul buatan yaitu judul yang dibuat oleh pengatalog karena
tidak ada judul dari bahan perpustakaan
b. Pernyataan Penanggung Jawab
Ditulis sesuai dengan data yang tercantum pada sumber
informasi utama. Penentuan penanggung jawab karya dapat
terlihat dari cantuman yang diberikan terhadap karya tersebut,
misalnya:
Cinta di atas dawai hati / oleh Fitri R Ghozally.
Buku ini merupakan karya pengarang Fitri R Ghozally.
2. Daerah Edisi
Daerah edisi yaitu daerah yang memberikan pernyataan tentang
edisi, misalnya edisi pertama, edisi kedua, edisi revisi, dan
122 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
sebagainya. Istilah edisi dalam bahasa Inggris perlu diketahui
oleh pustakawan yang akan mengolah bahan tersebut misalnya:
▪ First edition, harus ditulis 1st ed.
▪ Second edition, harus ditulis 2nd ed.
▪ Third edition, harus ditulis 3rd ed.
▪ Untuk edisi lebih dari 3 hanya ditambahkan huruf “th” misalnya 4th
ed.
▪ Edisi Pertama, ditulis Ed. 1
Di daerah ini juga dapat dicantumkan cetakan buku tersebut, misalnya,
Ed.1., cet. 2
3. Daerah penerbitan
Daerah penerbitan adalah daerah penunjukan buku tersebut
diterbitkan, siapa yang menerbitkan, dan kapan dokumen tersebut
diterbitkan. Jadi daerah ini digunakan untuk mencatat informasi
tentang nama penerbit dan tahun terbit bahan perpustakaan tersebut.
Contoh: Alumni, 2002.
Djambatan, 2001.
Nama perusahaan seperti (PT, CV, CO, FA) tidak dicantumkan.
Apabila nama penerbit dan tahun terbit tidak ditemukan dalam bahan
perpustakaan yang akan dideskripsikan, maka gunakan istilah untuk
[s. n.] singkatan dari Sine Nomine untuk nama penerbit yang tidak
diketahui; serta [s. a.] singkatan dari Sine Anno untuk tahun terbit yang
tidak diketahui.
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 123
Untuk tahun terbit yang tidak diketahui dapat juga diperkirakan tahun
terbitnya. Cara penulisan tahun terbit yang diperkirakan tersebut
adalah di dalam tanda kurung siku [….]
Misalnya:
[2005?] tahun terbit kira-kira tahun 2005
[199-] tahun terbit antara 1990-1999
[198-?] tahun terbit kira-kira antara 1980-1989
4. Daerah Keterangan/ deskripsi fisik
Daerah deskripsi fisik adalah daerah berisi data-data tentang fisik
sebuah bahan perpustakaan seperti, jumlah halaman angka
romawi dan jumlah halaman angka arab, ada gambar atau
foto/grafik serta ukuran atau tinggi buku.
a. Jumlah halaman (termasuk halaman pendahuluan)
Nomor halaman dari sebuah terbitan biasanya terdiri atas angka
romawi dan angka arab
contoh: xx, 234 hlm. : ilus, 27 cm.
b. Jumlah Jilid.
Jika diketahui jumlah jilid dari sebuah terbitan, maka jumlah jilid
harus ditulis lengkap. Contoh: 3 jil.: ilus.; 30 cm. Jika tidak diket
ahui jumlah jilidnya ditulis dengan tanda titik sebanyak 3 kali,
misalnya, … jil.: ilus., ; 30 cm.
5. Daerah keterangan seri
Untuk deskripsi tingkatan pertama daerah keterangan seri tidak
diperlukan.
124 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
6. Daerah Catatan
Daerah catatan adalah daerah untuk mencatat informasi yang
dianggap penting untuk diketahui oleh pemustaka dan petugas
perpustakaan dan tidak dapat dimasukkan ke daerah 1 – 5.
Informasi yang dicantumkan pada daerah catatan ini misalnya; sumber
pengambilan informasi judul, Judul dari sampul depan (cover)
7. Daerah nomor standar
Nomor standar untuk buku adalah ISBN (International Standard Book
Number) merupakan suatu nomor atau kode khusus atau identitas
suatu buku yang bersifat internasional. Pada daerah ini penulisannya
dimulai dengan kata ISBN kemudian baru diikuti oleh nomornya.
Mis. ISBN 979-345-217-3
Harga, dapat juga dituliskan setelah nomor ISBN atau boleh juga tidak
yang penting harus ada ke konsistenan dalam penulisannya.
II. Mis. Rp. 25.000
D. Nomor Panggil
Nomor panggil adalah nomor yang terdapat pada bagian atas sebelah kiri
dalam sebuah katalog yang berbentuk kartu dan pada katalog OPAC
terdapat pada ruas nomor panggi itu sendiri. Jumlah unsur nomor panggil
ditentukan oleh bentuk tajuk entri utama . Untuk karya yang memiliki tajuk
entri utama nama orang atau badan korporasi, judul seragam, maka nomor
panggilnya terdiri dari : 3 (tiga) unsur yaitu:
1. Nomor klasifikasi.
2. 3 (tiga) huruf pertama entri utama nama pengarang badan korporasi,
judul seragam.
3. 1 (satu) huruf judul
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 125
Untuk karya yang tajuk entri utamanya pada judul, maka nomor
panggilnya hanya terdiri atas 2 (dua) unsur yaitu:
1. Nomor klasifikasi.
2. 3 (tiga) atau 1 (satu) huruf pertama judul
126 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
BAB V
KEGIATAN PASCAKATALOGISASI
A. Fisik dan Kelengkapan Bahan Perpustakaan
Apabila bahan perpustakaan telah dibuatkan katalognya, maka kegiatan
selanjutnya adalah penyiapan bahan perpustakaan tersebut, yang lazim
disebut kegiatan pascakatalog. Kegiatan ini meliputi:
1. Mengetik kartu
Jumlah kartu yang diketik disesuaikan dengan jajaran yang akan
dibuat. Katalog kartu itu hendaknya terbuat dari kertas yang agak tebal,
agar tahan lama dan tidak mudah robek. Sekarang tersedia kartu
katalog yang dapat diketik melalui komputer dan manual.
2. Persiapan buku, meliputi:
a. Menempelkan label pada punggung buku.
b. Menempelkan kantong buku dan slip tanggal kembali (jika
sirkulasi bahan perpustakaan dilakukan secara manual).
c. Membuat dan memasukkan kartu buku (jika sirkulasi bahan
perpustakaan dilakukan secara manual).
3. Menjajarkan kartu katalog
Tugas penjajaran ini berbeda antara satu perpustakaan dengan yang
lainnya. Adakalanya tugas ini merupakan tugas pengolahan, akan
tetapi ada juga yang diserahkan pada petugas pelayanan. Untuk
penjajaran kartu-kartu katalog diperlukan pula buku pedoman
mengabjad.
4. Menyimpan atau menyusun bahan perpustakaan di rak
perpustakaan
Tugas ini juga sama dengan tugas penjajaran kartu-kartu katalog,
kadang kala oleh petugas pengolahan, akan tetapi ada juga yang
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 127
dilakukan oleh petugas pelayanan atau oleh pustakawan yang
mengerjakan semua kegiatan dilakukan sendiri mengingat terbatasnya
jumlah tenaga yang tersedia.
5. Pada perpustakaan tertentu, bila dianggap perlu juga dilakukan
penjilidan dan penyampulan. Meskipun bukunya baru, akan tetapi
karena buku tersebut digunakan oleh banyak orang, maka perlu dijilid
awal dan disampul. Kekuatan jilidnya harus diperhatikan, terutama
buku-buku rujukan.
B. Pengetikan Kartu Katalog
3 spasi
813
Fit Fitri R. Qhozaly
spasi ke 9 c Cinta di atas dawai hati / Fitri R. Qhozaly. Edisi 1. –
Progres, 2004
huruf ke 5 198 hlm. ; 20 cm.
1,5 spasi
ISBN 979-8154-22-7⁵
1. Fiksi Indonesia I. Judul
1323/PN/05 AD/rm
Keterangan:
• Tajuk Entri Utama dimulai 9 spasi dari tepi kiri, dan 4 spasi dari atas.
• Tajuk Entri Utama pengarang, pengetikan judul dimulai pada ketukan
ke lima dan kembali ke tiga.
128 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
• Tajuk Entri Utama judul, pengetikan dengan hanging (rata pada
ketukan ke tiga)
C. Filing Kartu Katalog
Kartu-kartu katalog yang telah dibuat baik itu kartu katalog judul, pengarang
ataupun subjek perlu disimpan secara baik dan ditempatkan pada laci
katalog. Pengaturan dan penyimpanan kartu katalog atau dokumen/berkas
perlu dilakukan secara cepat dan sistematis sehingga dokumen tersebut
dapat diketemukan kembali dengan cepat sewaktu diperlukan. Tujuannya
adalah untuk mempermudah penemuan kembali informasi/bahan
perpustakaan yang ada dalam jajarannya di rak secara cepat dan tepat.
Untuk pengaturan dan penyimpanan yang cepat dan sitematis tersebut,
terlebih dahulu harus ditetapkan bagaimana cara yang digunakan
perpustakaan untuk penyimpanan tersebut. Cara yang lazim digunakan
adalah sebagai berikut :
1. Mengabjad
Menyusun/menjajarkan kartu katalog berdasarkan abjad A – Z.
Ada dua cara ialah : huruf demi huruf & kata demi kata
Contoh:
Kata demi kata Huruf demi huruf
- Bu Tamrin - Buta aksara
- Buta aksara - Buta ayam
- Buta ayam - Buta huruf
- Buta tuli - Butaria
- Butaria - Buta tuli
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 129
Pelaksanaan mengabjad:
Pehatikan kata pertama sebagai pedoman. Bila kata pertama sama,
maka kata keduanya yang diperhatikan, dst.
2. Menyusun Angka
a. Berfungsi sebagai urutan/kronologi
Di sini angka disusun dari yang bernilai kecil ke yang benilai
besar. misalnya 2,5,6,8,11, dst.
b. Sebagai bagian dari judul atau fungsi yang lain.
Di sini angka disusun sebagaimana ia tertulis dengan huruf
(bunyinya) dalam bahasa teksnya.
Misalnya : Ke.1
Ke. 3
1985
1989
8 (delapan) kambing
7 (pitu) wong kakupeng
7 (sevent) gils
7 (tujuh) penjahat
130 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
CONTOH-CONTOH KARTU KATALOG
1. Contoh tajuk entri utama judul
2. Contoh tajuk entri utama pengarang (1-3 orang)
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 131
3. Contoh tajuk entri utama pengarang lebih dari tiga orang
CONTOH PENGGANDAAN KARTU KATALOG LENGKAP
1. Kartu Utama
132 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
2. Kartu tambahan subjek
3. Kartu tambahan judul
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 133
4. Kartu tambahan pengarang ke 2
5. Kartu tambahan pengarang ke 3
134 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
CONTOH PENJAJARAN KARTU KATALOG SISTEM KAMUS
Kartu judul, Kartu Pengarang, Kartu Subjek disusun dalam satu jajaran
Contoh Kartu Selflist
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 135
Contoh Penjajaran Koleksi di Rak
136 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
BAB VI
PENUTUP
Apa yang diuraikan dalam makalah ini hanyalah sebagian kecil dari peraturan-
peraturan dasar katalogisasi deskriptif. Agar dapat melakukan katalogisasi
deskriptif dengan baik dan benar dituntut penguasaan peraturan secara lebih
mendalam dengan mempelajari “AACR2 atau Peraturan Katalogisasi
Indonesia”.
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 137
138 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA
______________ Anglo American Cataloguing Rules. 2nd ed, Chicago : American
Librarian Association, 2002.
_______________Peraturan Katalogisasi Indonesia, Jakarta : Perpustakaan
Nasional RI, 1994.
_______________Peraturan Penjajaran ALA, Jakarta : Pusat Pembinaan
Perpustakaan, 1986.
______________ Petunjuk Teknis Penentuan Kata Utama Dan Ejaan untuk Tajuk
Nama Pengarang Indonesia. Jakarta : Perpustakaan Nasional RI, 2006.
Sulistyo-Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan, Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama, 1991
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 139
140 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan
Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan 141
142 Modul Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan