Pengantar Manajemen 42 4) Kebisingan Untuk menghindari munculnya kebisingan, perlu menempatkan perangkat dengan suara keras, seperti gawai yang dimaksud adalah telepon, tempat kendaraan baik diletakkan pada ruangan khusus agar karyawan lain tidak terganggu dalam menjalankan tugasnya. Menurut (Sedarmayanti,2018) indikator lingkungan kerja yaitu; 1) Penerangan Penerangan di tempat kerja Penerangan sangat bermanfaat bagi karyawan dalam hal keselamatan dan kelancaran kerja, karena apabila penerangan kurang memadai akan mempengaruhi keterampilan karyawan yang akan banyak melakukan kesalahan dalam melaksanakan tugasnya, yang pada akhirnya akan mempengaruhi . keterampilan kurang efektif, sehingga lebih sulit untuk mencapai tujuan bisnis. 2) Suhu Suhu udara di tempat kerja setiap bagian tubuh manusia memiliki suhu yang berbeda-beda. Manusia selalu menjaga tubuhnya dalam keadaan normal, dengan sistem tubuh yang sempurna untuk memungkinkannya beradaptasi dengan perubahan di luar tubuh. Tetapi kemampuan beradaptasi ini ada batasnya. 3) Kelembapan di tempat kerja merupakan jumlah air di udara, biasanya dinyatakan dalam ukuran tertentu. Kelembapan ini berkaitan dengan suhu udara. Saat suhu udara sangat panas dan kelembapan tinggi, hal ini menyebabkan penurunan suhu tubuh yang drastis. Selain itu, denyut jantung lebih cepat karena aliran darah yang aktif memenuhi kebutuhan oksigen, dan tubuh Pengantar Manajemen 43 manusia selalu berusaha mengimbangi dengan suhu lingkungan yang ada disekitarnya. 4) Sirkulasi udara di tempat kerja berbicara tentang udara yang tercemar ketika kandungan oksigen di udara berkurang dan bercampur dengan gas atau bau berbahaya. Kesehatan karyawan perlu menjadi perhatian bagi pihak manajemen, dengan kualitas oksigen yang baik tentunya memberikan dampak yang baik bagi kesehatan pekerja yang ada didalam ruangan tersebut. kualitas oksegen yang baik berada sekitar tempat kerja akan memberikan kesejukan dan kesegaran bagi tubuh. Kondisi lingkungan yang memiliki udara berkualitas akan membantu karyawan memulihkan diri dari rasa lelah setelah seharian bekerja. Untuk memiliki udara yang bersih bisa dilakukan dengan penanaman serta merawat tumbuhan yang ada di area kerja tersebut dikarenakan tumbuhan merupakan salah satu penghasil oksigen. 5) Kebisingan di tempat kerja. Kebisingan merupakan suara yang tidak dikehendaki oleh telinga, karena lama kelamaan dapat mengusik seseorang dalam bekerja, komunikasi dapat terhambat atau salah di karenakan suara yang mengganggu. Fakta penelitian menunjukkan bahwa paparan atas suara yang berlebihan dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan.. Untuk menjalankan pekerjaan agar berjalan dengan efektif diperlukan konsentrasi maka diperlukan untuk meredam suara yang berlebihan di lingkungan pekerjaan. 6) Hubungan kerja. Ada dua hubungan yang terjadi antara karyawan, yaitu hubungan sebagai individu dan hubungan sebagai
Pengantar Manajemen 44 kelompok. Hubungan manusia sebagai individu, motivasi karyawan berasal dari karyawan dan atasan. Menjadi sumber motivasi ketika hubungan karyawan dengan rekan kerja dan atasan harmonis. Sebaliknya, jika hubungan di antara mereka tidak harmonis, maka hal itu menyebabkan kurangnya gairah dalam melakukan pekerjaan. 7) Dekorasi di tempat kerja. Mengatur letak perkakas kantor serta memilah warna yang menyejukkan pandangan juga merupakan bagian dari dekorasi. Karena dengan tata letak yang rapi akan menimbulkan kenyamanan bagi karyawan yang bekerja pada area tersbut. 8) Musik di Tempat Kerja Menurut para ahli musik yang dimainkan sebaiknya disesuaikan dengan suasana hati para pekerja. Jika tepat menggunakannya maka akan membuat karyawan bergairah dalam melaksanakan pekerjaanya. Maka dari itu diperlukan pemilihan musik yang sesuai untuk dimainkan pada area kerja tersebut. dapat dilihat dari segi rata-rata usia pekerja dan sesuaikan dengan genre musik pada era mereka. 9) Keselamatan kerja Untuk menjaga agar tempat kerja dan lingkungan kerja tetap dalam keadaan aman, maka harus diperhatikan keselamatan kerja. Oleh karena itu, faktor keamanan harus dipahami. Salah satu upaya menjaga keselamatan di tempat kerja adalah melalui penggunaan safety management unit Menurut (Siagian ,2014) mengemukakan bahwa indikator lingkungan kerja fisik terdiri dari beberapa indikator: 1) Bangunan Perusahaan. infrastruktur gedung tidak hanya menarik secara visual, Tetapi harus memiliki kualitas yang
Pengantar Manajemen 44 kelompok. Hubungan manusia sebagai individu, motivasi karyawan berasal dari karyawan dan atasan. Menjadi sumber motivasi ketika hubungan karyawan dengan rekan kerja dan atasan harmonis. Sebaliknya, jika hubungan di antara mereka tidak harmonis, maka hal itu menyebabkan kurangnya gairah dalam melakukan pekerjaan. 7) Dekorasi di tempat kerja. Mengatur letak perkakas kantor serta memilah warna yang menyejukkan pandangan juga merupakan bagian dari dekorasi. Karena dengan tata letak yang rapi akan menimbulkan kenyamanan bagi karyawan yang bekerja pada area tersbut. 8) Musik di Tempat Kerja Menurut para ahli musik yang dimainkan sebaiknya disesuaikan dengan suasana hati para pekerja. Jika tepat menggunakannya maka akan membuat karyawan bergairah dalam melaksanakan pekerjaanya. Maka dari itu diperlukan pemilihan musik yang sesuai untuk dimainkan pada area kerja tersebut. dapat dilihat dari segi rata-rata usia pekerja dan sesuaikan dengan genre musik pada era mereka. 9) Keselamatan kerja Untuk menjaga agar tempat kerja dan lingkungan kerja tetap dalam keadaan aman, maka harus diperhatikan keselamatan kerja. Oleh karena itu, faktor keamanan harus dipahami. Salah satu upaya menjaga keselamatan di tempat kerja adalah melalui penggunaan safety management unit Menurut (Siagian ,2014) mengemukakan bahwa indikator lingkungan kerja fisik terdiri dari beberapa indikator: 1) Bangunan Perusahaan. infrastruktur gedung tidak hanya menarik secara visual, Tetapi harus memiliki kualitas yang Pengantar Manajemen 45 baik secara material sesuai standar tertentu sehingga memberikan rasa aman dan nyaman bagi setiap orang yang ada di dalamnya 2) Peralatan kerja. memadainya peralatan dalam melakukan pekerjaan tentunya akan memberikan dampak bagi hasil kerja mereka. Peralatan yang canggih tentunya dapat membuat pekerjaan terselesaikan dengan cepat sehingga dapat menghemat waktu dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. 3) Karyawan membutuhkan perusahaan untuk mendukung mereka dalam pelaksanaan kegiatan. Selain itu, perusahaan harus mempertimbangkan dan hal-hal yang harus diperhatikan seperti humanisasi karyawan, tersedianya fasilitas rekreasi bagi karyawan setelah bekerja keras dan juga tersedianya layanan keagamaan. Indikator tentunya menjadi suatu tolak ukur yang dapat dipegang dan menjadi panduan untuk memperbaiki maupun meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Dalam hal ini pihak manajemen organisasi serta para pekerja yang ada di dalamnya harus berusaha menciptakan lingkungan kerja yang kondusif. Memperhatikan dengan rinci tentang fasilitas dan peralatan saja apa yang sebaiknya di gunakan dalam melakukan sebuah pekerjaan agar pekerjaaan tersebut dapat terlaksana sesuai yang diinginkan atau yang telah di targetkan. Memperhatikan secara seksama lingkungan kerja tersebut sehingga dapat menimbulkan efek yang positif bagi organisasi. Semakin baik lingkungan yang dimiliki dalam oleh organisasi tersebut, maka diharapkan seluruh pekerjaan yang di lakukan oleh karyawan dapat diselesaikan dengan maksimal.
Pengantar Manajemen 46 2. Budaya Organisasi A. Defenisi Budaya Organisasi Pada dasarnya budaya organisasi dalam suatu perusahaan merupakan alat yang menghubungkan semua orang yang bekerja sama. Menurut (Armstrong,2009) budaya organisasi, nilai, norma, keyakinan, sikap, dan asumsi perusahaan yang menentukan bagaimana orang-orang dalam organisasi berperilaku dan menyelesaikan sesuatu. Nilai adalah apa yang diyakini orang ketika mereka berperilaku dalam organisasi. Norma adalah aturan tidak tertulis yang memandu perilaku. Menurut (Robbins,1996) budaya organisasi adalah pemahaman bersama antara anggota organisasi dan sistem makna bersama. Menurut (Molenaar,2002) budaya memiliki kekuatan penuh yang mempengaruhi individu dan juga kinerja mereka di lingkungan kerja. Setiap organisasi tentunya memiliki budaya dan ciri khasnya masing-masing. Tentunya tidak ada satupun organisasi yang menginginkan mereka memiliki budaya yang buruk melainkan sebaliknya setiap organisasi menginginkan budaya yang baik. Budaya yang ada dalam tubuh organisasi tersebut tentunya tidak lain yaitu sesuatu yang sangat berkorelasi dengan hasil kerja karyawannya. Budaya dalam sebuah organisasi yaitu budaya yang positiv tentunya akan menjadi sebuah keuntungan bagi sebuah organisasi. seperti budaya malu datang terlambat, budaya malu jika tidak menyelesaikan pekerjaan dengan tuntas, budaya berkata jujur serta bertingkah laku sopan antar sesama rekan kerja yang ada di dalamnya dan jujur atas segala perkataan maupun tindakan. Namun tidak semudah itu menumbuhkan budaya-budaya tersebut kedalam jiwa karyawan. Tentunya memerlukan waktu untuk bisa menumbuhkan budaya yang baik tersebut. Biasanya
Pengantar Manajemen 46 2. Budaya Organisasi A. Defenisi Budaya Organisasi Pada dasarnya budaya organisasi dalam suatu perusahaan merupakan alat yang menghubungkan semua orang yang bekerja sama. Menurut (Armstrong,2009) budaya organisasi, nilai, norma, keyakinan, sikap, dan asumsi perusahaan yang menentukan bagaimana orang-orang dalam organisasi berperilaku dan menyelesaikan sesuatu. Nilai adalah apa yang diyakini orang ketika mereka berperilaku dalam organisasi. Norma adalah aturan tidak tertulis yang memandu perilaku. Menurut (Robbins,1996) budaya organisasi adalah pemahaman bersama antara anggota organisasi dan sistem makna bersama. Menurut (Molenaar,2002) budaya memiliki kekuatan penuh yang mempengaruhi individu dan juga kinerja mereka di lingkungan kerja. Setiap organisasi tentunya memiliki budaya dan ciri khasnya masing-masing. Tentunya tidak ada satupun organisasi yang menginginkan mereka memiliki budaya yang buruk melainkan sebaliknya setiap organisasi menginginkan budaya yang baik. Budaya yang ada dalam tubuh organisasi tersebut tentunya tidak lain yaitu sesuatu yang sangat berkorelasi dengan hasil kerja karyawannya. Budaya dalam sebuah organisasi yaitu budaya yang positiv tentunya akan menjadi sebuah keuntungan bagi sebuah organisasi. seperti budaya malu datang terlambat, budaya malu jika tidak menyelesaikan pekerjaan dengan tuntas, budaya berkata jujur serta bertingkah laku sopan antar sesama rekan kerja yang ada di dalamnya dan jujur atas segala perkataan maupun tindakan. Namun tidak semudah itu menumbuhkan budaya-budaya tersebut kedalam jiwa karyawan. Tentunya memerlukan waktu untuk bisa menumbuhkan budaya yang baik tersebut. Biasanya Pengantar Manajemen 47 budaya tersebut muncul karena kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang yang ada didalamnya. Maka dari itu setiap organisasi memiliki sebuah standar pekerjaan yang dimana itu wajib dipatuhi oleh semua orang ada di dalamnya. Lambat laun standar tersebut menjadi kebiasaan dan kebiasaan tersebut akan menjadi budaya di dalam sebuah organisasi. B. Fungsi dan Ciri – Ciri Budaya Organisasi Fungsi budaya organisasi menurut (Robbins ,1996): 1) Ciri khas suatu orgnisasi menjadi sebuah budaya yang mana dapat di bedakan dengan organisasi lainnya. Dalam hal ini yang dimaksud menjadi pembeda adalah dimana setiap organisasi memiliki ciri khasnya tersendiri baik berupa pakaian, bentuk kegiatan dan lainnya. 2) Budaya memberikan identitas kepada para anggota organisasi. 3) Mementingkan kepentingan bersama dan memiliki komitmen akan organisasi tersebut melampaui kepentingan pribadi anggota yang ada di dalamnya 4) memberikan standar kinerja yang tepat kepada karyawan serta membantu menyatukan organisasi sehingga anggota yang ada di dalmnya memiliki hubungan sosial yang erat. 5) Budaya sebagai mekanisme makna dan kontrol yang membentuk sikap dan perilaku anggota organisasi. Sedangkan itu, bagi (Kinick dan Fugate ,2012) guna dari budaya organisasi adalah 1) identitas bagi individu yang ada di dalamnya 2) memfasilitasi perikatan bersama 3) stabilitas serta sistem sosial meningkat 4) membantu anggota organisasi mengenali lingkungan di organisasi tersebut
Pengantar Manajemen 48 Menurut (Ndrahan ,1997) ada juga beberapa fungsi budaya yaitu: 1) Sebagai identitas dan citra masyarakat. 2) Sebagai ikatan masyarakat. 3) Sebagai sumber. 4) sebagai penggerak. 5) Sebagai kemampuan untuk menambah nilai. 6) Sebagai model perilaku. 7) Sebagai ahli waris. 8) Alih-alih formalitas. 9) Sebagai mekanisme untuk beradaptasi terhadap perubahan. 10) Sebagai proses yang membuat bangsa kompatibel dengan negara, maka terbentuklah negara-bangsa. Menurut (Robbins ,1996) adalah ciri-ciri budaya organisasi 1) Inovasi dan risiko, sejauh mana karyawan didukung dalam inovasi dan risiko 2) Perhatian terhadap detail, bagaimana karyawan diharapkan menunjukkan ketelitian, analisis dan perhatian terhadap detail. 3) Orientasi hasil, sejauh mana manajemen terfokus pada hasil tersebut. 4) Orientasi manusia, sejauh mana keputusan manajemen memperhitungkan dampaknya terhadap orang-orang dalam organisasi. 5) Orientasi kelompok, sejauh mana kegiatan dilakuakn secara bersama atau dengan kelompok dari pada di lakukan secara individual 6) Agresivitas, yang mengacu pada karyawan. 7) Stabilitas, organisasi yang menekankan untuk memelihara budaya yang baik
Pengantar Manajemen 48 Menurut (Ndrahan ,1997) ada juga beberapa fungsi budaya yaitu: 1) Sebagai identitas dan citra masyarakat. 2) Sebagai ikatan masyarakat. 3) Sebagai sumber. 4) sebagai penggerak. 5) Sebagai kemampuan untuk menambah nilai. 6) Sebagai model perilaku. 7) Sebagai ahli waris. 8) Alih-alih formalitas. 9) Sebagai mekanisme untuk beradaptasi terhadap perubahan. 10) Sebagai proses yang membuat bangsa kompatibel dengan negara, maka terbentuklah negara-bangsa. Menurut (Robbins ,1996) adalah ciri-ciri budaya organisasi 1) Inovasi dan risiko, sejauh mana karyawan didukung dalam inovasi dan risiko 2) Perhatian terhadap detail, bagaimana karyawan diharapkan menunjukkan ketelitian, analisis dan perhatian terhadap detail. 3) Orientasi hasil, sejauh mana manajemen terfokus pada hasil tersebut. 4) Orientasi manusia, sejauh mana keputusan manajemen memperhitungkan dampaknya terhadap orang-orang dalam organisasi. 5) Orientasi kelompok, sejauh mana kegiatan dilakuakn secara bersama atau dengan kelompok dari pada di lakukan secara individual 6) Agresivitas, yang mengacu pada karyawan. 7) Stabilitas, organisasi yang menekankan untuk memelihara budaya yang baik Pengantar Manajemen 49 C. Unsur-Unsur Pembentukkan Budaya Organisasi Ada beberapa unsur yang mempengaruhi pembentukan budaya organisasi. (Kennedy,2014) membagi lima elemen sebagai berikut: 1) Lingkungan Operasi merupakan tempat ditentukan oleh kemampuan perusahaan untuk menanggapi secara tepat peluang dan tantangan lingkungan. 2) Nilai Setiap perusahaan. memiliki nilai sebagai pedoman berpikir dan bertindak bagi seluruh warga untuk mencapai tujuan/misi organisasi. 3) Pahlawan dapat berasal dari pendiri perusahaan, manajer, kelompok organisasi atau individu yang telah berhasil menciptakan nilai organisasi. Mereka adalah idola yang harus diikuti oleh karyawan perusahaan. 4) Ritual yang merupakan tempat industri secara simbolis menghormati para pahlawannya. Karyawan yang sukses mempromosikan produknya, menerima penghargaan dari tempat ia bekerja biasanya penghargaan ini dilakukan setiap tahun. 5) Jaringan Budaya merupakan jaringan komunikasi yang pada dasarnya ialah saluran komunikasi utama. infromasi akan di sebarkan serta di inpretasikan yang dimana itu merupakan tugas bagi organisasi D. Indikator Budaya Organisasi Menurut (Sulaksono Hari, 2015) dalam bukunya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi, penulis menyebutkan indikator budaya organisasi sebagai langkah-
Pengantar Manajemen 50 langkah implementasi budaya untuk mencapai tujuan. Budaya organisasi memiliki beberapa indikator, yaitu: 1) Inovatif dengan mempertimbangkan risiko yang muncul. 2) Berorientasi pada hasil. 3) Informasi yang memadai tentang manfaat semua karyawan. 4) Instruksi terperinci untuk setiap tugas. Menurut (Mckenna,2012)pakar manajemen hal-hal yang menjadi tolak ukur budaya organisasi menurutnya adalah: 1) Kerjasama 2) Penampilan setiap karyawan 3) Hubungan antara pekerja dalam organisasi Indikator budaya organisasi menurut Victor G. Hajek Dalam bukunya Risk Management, menyebut indikator budaya organisasi ini sebagai risiko. Adapun indikator tersebut antara lain: 1) Toleransi risiko 2) Ikhtisar 3) dukungan manajemen 4) model komunikasi Sedangkan indikator budaya organisasi menurut (Robbins, 1998): 1) Perilaku Kepemimpinan Tindakan aktual pemimpin biasanya merupakan cermin penting bagi karyawan, membimbing karyawan, menjalin komunikasi yang baik dan mendukung ide-ide karyawan.
Pengantar Manajemen 50 langkah implementasi budaya untuk mencapai tujuan. Budaya organisasi memiliki beberapa indikator, yaitu: 1) Inovatif dengan mempertimbangkan risiko yang muncul. 2) Berorientasi pada hasil. 3) Informasi yang memadai tentang manfaat semua karyawan. 4) Instruksi terperinci untuk setiap tugas. Menurut (Mckenna,2012)pakar manajemen hal-hal yang menjadi tolak ukur budaya organisasi menurutnya adalah: 1) Kerjasama 2) Penampilan setiap karyawan 3) Hubungan antara pekerja dalam organisasi Indikator budaya organisasi menurut Victor G. Hajek Dalam bukunya Risk Management, menyebut indikator budaya organisasi ini sebagai risiko. Adapun indikator tersebut antara lain: 1) Toleransi risiko 2) Ikhtisar 3) dukungan manajemen 4) model komunikasi Sedangkan indikator budaya organisasi menurut (Robbins, 1998): 1) Perilaku Kepemimpinan Tindakan aktual pemimpin biasanya merupakan cermin penting bagi karyawan, membimbing karyawan, menjalin komunikasi yang baik dan mendukung ide-ide karyawan. Pengantar Manajemen 51 2) Menangani pernyataan misi Setelah tujuan organisasi ditetapkan, setiap manajer harus dapat memastikan bahwa tugas berjalan lancar. Perusahaan harus memberikan pengawasan dan memiliki aturan yang ketat di dalam perusahaan. 3) Proses pembelajaran Pembelajaran karyawan harus terus berlanjut. Untuk menciptakan budaya kerja yang sesuai, karyawan harus mengembangkan keterampilan dan pengetahuan, manajer harus menawarkan kebebasan untuk menjadi inovatif dan aktif dalam pekerjaannya. 4) Motivasi Karyawan membutuhkan dorongan untuk berpartisipasi dalam memecahkan masalah organisasi dan dalam koordinasi antar unit organisasi. (Amnuai dan schien,1997) dalam buku yang di tulis oleh pahlawansjah indikator budaya organisasi adalah : 1) Aspek Kualitatif 2) Aspek Kuantitatif 3) Aspek Komponen 4) Aspek Adptasi Eksternal 5) Aspek Adaptasi Internal Menurut Hofstede 6 Dimensi dalam budaya organisasi dalam buku pahlawansjah adalah : 1) Proces oriented dan result oriented. Dimana dalam hal ini proces oriented hanya berfokus pada proses berbeda dengan result oriented yang dimana merupakan fokus utamanya pada hasil. Proces oriented dapat menyebabkan organisasi tidak
Pengantar Manajemen 52 berkembang kerena menghambat perubahan dan kemampuan pekerja dalam membuat sesuatu. Sedangkan result oriented membuat organisasi lebih dinamis dikarenakan jika hasil tidak sesuai maka akan terjadi perubahan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. 2) Employee orented dan job oriented. Perbedaan terdapat pada dimensi ini dimana employee oriented memiliki pandangan bahwa kepentingan karyawan lebih di dahulukan dari pada pekerjaannya sedangkan job oriented beranggapan bahwa hasil kerja lebih di utamakan karena dengan menunjukan hasil kerja yang baik maka karyawan akan mendapatkan reward dari organisasi tersebut. 3) Parochial dan Proffesional cumture. Karyawan memiliki tingkat ketergantungan terhadap atasannya serta berperilaku sama didalam maupun diluar tempat mereka bekerja merupakan ciri-ciri tersebut yang dimakasud dengan Parochial culture. sementara untuk proffesional culture dimana kehidupan pribadi menjadi tanggung jawab individu organisasi tidak akan ikut campur dalam hal ini. Tentunya pekerja proffesional ini memiliki kompetensi yang cukup memadai dalam nejalankan tugas yang di berikan oleh organisasi. 4) Open system dan Close System culture. Karyawan terbuka akan kedatangan dari luar organisasi baik itu berupa ide maupun orang-orang yang berada di luar organisasi tempat mereka bekerja adalah Open system. sedangkan untuk close system sebaliknya, dimana
Pengantar Manajemen 52 berkembang kerena menghambat perubahan dan kemampuan pekerja dalam membuat sesuatu. Sedangkan result oriented membuat organisasi lebih dinamis dikarenakan jika hasil tidak sesuai maka akan terjadi perubahan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. 2) Employee orented dan job oriented. Perbedaan terdapat pada dimensi ini dimana employee oriented memiliki pandangan bahwa kepentingan karyawan lebih di dahulukan dari pada pekerjaannya sedangkan job oriented beranggapan bahwa hasil kerja lebih di utamakan karena dengan menunjukan hasil kerja yang baik maka karyawan akan mendapatkan reward dari organisasi tersebut. 3) Parochial dan Proffesional cumture. Karyawan memiliki tingkat ketergantungan terhadap atasannya serta berperilaku sama didalam maupun diluar tempat mereka bekerja merupakan ciri-ciri tersebut yang dimakasud dengan Parochial culture. sementara untuk proffesional culture dimana kehidupan pribadi menjadi tanggung jawab individu organisasi tidak akan ikut campur dalam hal ini. Tentunya pekerja proffesional ini memiliki kompetensi yang cukup memadai dalam nejalankan tugas yang di berikan oleh organisasi. 4) Open system dan Close System culture. Karyawan terbuka akan kedatangan dari luar organisasi baik itu berupa ide maupun orang-orang yang berada di luar organisasi tempat mereka bekerja adalah Open system. sedangkan untuk close system sebaliknya, dimana Pengantar Manajemen 53 mereka tertutup akan pekerjaan mereka bahkan untuk orang-orang yang berada dalam organisasi mereka sendiri. Terdapat kelebihan dan kekurangan pada close sytem ini diamana rahasia penting organisasi dapat terjaga dengan baik sedangkan untuk perubahan mereka cenderung tidak melakukannya. 5) Loose control dan Tight Control. Organisasi yang menganut Loose control cenderung bebas dan sedikit atau bahkan sama sekali tidak meiliki batasanseolah-olah tidak memiliki kendali. Sedangkan untuk Tight Control memiliki jam kerja yang padat, produksi yang tinggi serta kualitas yang terjaga dari hasil pekerjaan karyawannya. aturan yang ketat dimana setiap karyawan harus mematuhi dan tidak memberikan ampunan bagi karyawan yang melanggarnya 6) Pragmatic dan Normative Bagi organisasi pragmatic kepentingan pelanggan harus didahulukan meskipun melanggar peraturan yang ada dalam organisasi tersebut. sedangkan normative harus mentaati aturan yang telah di buat organisasi tersebut. Peraturan tersebut tentun ya menjadi hal mutlak yang harus di ikuti pelanggan. E. Competing Values Framework (CVF) Empat model kriteria keefektifan dalam CVF disebut juga dengan empat tipe budaya organisasi. Berdasarkan bekas studi budaya organisasi dalam literatur (Cameron dan Quinn ,2006) empat jenis budaya ini dikenal dengan Clan, Adhocracy, Market, dan Hierarchy. Implikasi dari masing-masing jenis budaya dirangkum sebagai berikut :
Pengantar Manajemen 54 1) Budaya klan Budaya klan penuh dengan nilai-nilai kebersamaan dalam mencapai tujuan, suasana kolektivitas dan saling membantu, dan sebuah memfokuskan pada pemberdayaan dan pengembangan karyawan. Budaya pada tipe ini dapat dikembangkan di bawah pimpinan tertentu. Hal ini dapat dilihat dari sejarah yang relatif panjang dan keanggotaan yang stabil, tidak adanya alternatif kelembagaan, kental interaksi antar anggota Wilkins dan Ouchi (1983) 2) Budaya adhokrasi merupakan seperti institusi sementara, yang diberhentikan setiap kali tugas organisasi berakhir, dan dibentuk kembali dengan cepat setiap kali tugas baru muncul. Budaya adhocracy sering ditemukan di industri seperti pembuatan film, konsultasi, penerbangan luar angkasa, dan pengembangan perangkat lunak. 3) Budaya pasar. Berfokus pada transaksi dengan lingkungan di luar organisasi bukan di internal pengelolaan. Tujuan organisasi adalah untuk mendapatkan keuntungan melalui persaingan pasar. Konsep ini berasal dari Studi Ouchi (1979, 1984) tentang sistem kontrol pasar. 4) Budaya hirarki. Budaya hierarki memiliki struktur organisasi yang jelas, aturan dan prosedur yang baku, serta memiliki kontrol yang ketat dan tanggung jawab terhadap apa yang di kerjakan. Konsep ini dapat dilacak pada citra “birokrasi” dalam karya awal Weber (1947) tentang manajemen organisasi modern
Pengantar Manajemen 54 1) Budaya klan Budaya klan penuh dengan nilai-nilai kebersamaan dalam mencapai tujuan, suasana kolektivitas dan saling membantu, dan sebuah memfokuskan pada pemberdayaan dan pengembangan karyawan. Budaya pada tipe ini dapat dikembangkan di bawah pimpinan tertentu. Hal ini dapat dilihat dari sejarah yang relatif panjang dan keanggotaan yang stabil, tidak adanya alternatif kelembagaan, kental interaksi antar anggota Wilkins dan Ouchi (1983) 2) Budaya adhokrasi merupakan seperti institusi sementara, yang diberhentikan setiap kali tugas organisasi berakhir, dan dibentuk kembali dengan cepat setiap kali tugas baru muncul. Budaya adhocracy sering ditemukan di industri seperti pembuatan film, konsultasi, penerbangan luar angkasa, dan pengembangan perangkat lunak. 3) Budaya pasar. Berfokus pada transaksi dengan lingkungan di luar organisasi bukan di internal pengelolaan. Tujuan organisasi adalah untuk mendapatkan keuntungan melalui persaingan pasar. Konsep ini berasal dari Studi Ouchi (1979, 1984) tentang sistem kontrol pasar. 4) Budaya hirarki. Budaya hierarki memiliki struktur organisasi yang jelas, aturan dan prosedur yang baku, serta memiliki kontrol yang ketat dan tanggung jawab terhadap apa yang di kerjakan. Konsep ini dapat dilacak pada citra “birokrasi” dalam karya awal Weber (1947) tentang manajemen organisasi modern Pengantar Manajemen 55 Daftar Pustaka Islam, U., Sultan, N. and Hasanuddin Banten, M. (2020) ‘Budaya Organisasi Habudin’, Jurnal Literasi Pendidikan Nusantara, 1(1), pp. 23–32. Available at: http://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/jlpn. Muhammad Ihsan Nasution and Muhammad Ikhsan Harahap (2022) ‘Pengaruh Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Bagian Perencanaan Pembangunan Di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sumatera Utara’, EKOMA : Jurnal Ekonomi, Manajemen, Akuntansi, 1(2), pp. 44–50. Available at: https://doi.org/10.56799/ekoma. v1i2.245. Pramudhietha, G. (2017) ‘Analisis Budaya Organisasi Pemerintah Daerah (Pemda) di Era Otonomi Daerah’, Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi, 9(1), pp. 44–62. Available at: https://doi.org/ 10.23917/komuniti.v9i1.4158. Ratnasari, D. and Firmansyah, I. (2021) ‘Pengaruh Motivasi Kerja Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pt Pratama Abadi Industri Sukabumi (Studi Kasus Pada Divisi Produksi Cell 26)’, Jurnal Mahasiswa Manajemen, 2(1), pp. 145–158. Riyanto, S.. (2018) ‘Analisis Pengaruh Lingkungan Internal Dan Eksternal Terhadap Keunggulan Bersaing Dan Kinerja Usaha Kecil Menengah (Ukm) Di Madiun’, JMBI UNSRAT (Jurnal Ilmiah Manajemen Bisnis dan Inovasi Universitas Sam Ratulangi)., 5(3), pp. 159–168. Available at: https://doi.org/10.35794/jmbi.v5i3.21707.
Pengantar Manajemen 56 Sari, R.W. (2019) ‘Pengaruh Lingkungan Kerja Dan Komunikasi Terhadap Kinerja di BUMN PT. Inhutani IV Kab. Pasaman’, Menara Ekonomi, 5(3), pp. 91–99. Supit, N. (2019) ‘Pengaruh Lingkungan Kerja dan Stress Kerja terhadap Kinerja Pegawai di Balai Pelaksanaan Jalan Nasional XVI Ambon’, Jurnal EMBA, 7(3), pp. 3718–3727. Taha, F. and Jabid, A.W. (2022) ‘Jms : J Urnal M Anajemen S Inergi Jms : J Urnal M Anajemen S Inergi’, 10(1), pp. 74–92. Tampubolon, V. et al. (2019) ‘Pengaruh Budaya Organisasi Dan Karakteristik Individu Terhadap Kinerja Pegawai Pada Upt Sda Bah Bolon, Dinas Sumber Daya Air, Cipta Karya, Dan Tata Ruang Provinsi Sumatera Utara Jl. Asahan Km. 3,5 Pematangsiantar’, Maker: Jurnal Manajemen, 5(2), pp. 85–96. Available at: https://doi.org/10.37 403/maker.v5i2.121. Tontoli, F. et al. (2022) ‘Umum Dan Tata Ruang Daerah Bolaang Mongodow Selatan Effectnof Work Environment , Work Motvation , And Job Satisfaction On Organizational Citizenship Bahvior At Dinas Pekerjaan Umum Dan Tata Ruang Daerah Bolaang Mongondow Selatan Oleh : Jurnal EMBA Vol . 1’, 10(4), pp. 1557–1566. W Enny, M. (2019) Manajemen Sumber Daya Manusia. Available at: http://eprints.ubhara.ac.id/424/31/Buku-MSDM-2019. pdf.
Pengantar Manajemen 56 Sari, R.W. (2019) ‘Pengaruh Lingkungan Kerja Dan Komunikasi Terhadap Kinerja di BUMN PT. Inhutani IV Kab. Pasaman’, Menara Ekonomi, 5(3), pp. 91–99. Supit, N. (2019) ‘Pengaruh Lingkungan Kerja dan Stress Kerja terhadap Kinerja Pegawai di Balai Pelaksanaan Jalan Nasional XVI Ambon’, Jurnal EMBA, 7(3), pp. 3718–3727. Taha, F. and Jabid, A.W. (2022) ‘Jms : J Urnal M Anajemen S Inergi Jms : J Urnal M Anajemen S Inergi’, 10(1), pp. 74–92. Tampubolon, V. et al. (2019) ‘Pengaruh Budaya Organisasi Dan Karakteristik Individu Terhadap Kinerja Pegawai Pada Upt Sda Bah Bolon, Dinas Sumber Daya Air, Cipta Karya, Dan Tata Ruang Provinsi Sumatera Utara Jl. Asahan Km. 3,5 Pematangsiantar’, Maker: Jurnal Manajemen, 5(2), pp. 85–96. Available at: https://doi.org/10.37 403/maker.v5i2.121. Tontoli, F. et al. (2022) ‘Umum Dan Tata Ruang Daerah Bolaang Mongodow Selatan Effectnof Work Environment , Work Motvation , And Job Satisfaction On Organizational Citizenship Bahvior At Dinas Pekerjaan Umum Dan Tata Ruang Daerah Bolaang Mongondow Selatan Oleh : Jurnal EMBA Vol . 1’, 10(4), pp. 1557–1566. W Enny, M. (2019) Manajemen Sumber Daya Manusia. Available at: http://eprints.ubhara.ac.id/424/31/Buku-MSDM-2019. pdf. Pengantar Manajemen 57 Tentang Penulis M Bambang Priatama, SE, MM lahir di pekanbaru tahun 1993. Penulis menempuh pendidikan sarjana dan megister di Universitas Riau. Pengalaman kerja yang dimiliki antara lain: pernah bekerja di perusahaan BUMN PT.Surveyor Indonesia dan Konsultan disalah satu Instansi Pemerintahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Saat ini penulis merupakan salah satu tenaga pengajar di Universitas Terbuka. Penulis juga aktif menulis di bidang keilmuan Manajemen Sumber Daya Manusia, Novel, Cerpen maupun Artikel lainnya. Menulis merupakan salah satu hobby yang dimiliki karena dengan memuat sebuah tulisan seorang penulis harus banyak membaca, dengan membaca dapat menyerap berbagai informasi baru.
Pengantar Manajemen 58 BAB 5 Tanggung Jawab Sosial dan Etika Manajemen Asri Dwi Ariyani, S.E., M.Sc PENDAHULUAN Perusahaan berdiri dan beroperasi di lingkungan yang sifatnya kompleks. Kompleks dari segi pemangku kepentingan dan kompetitor. Jika perusahaan mampu beradaptasi dengan lingkungan perusahaan, maka perusahaan bisa berkembang dan memperbesar peluang keberhasilan dari lingkungannya. Begitu juga sebaliknya jika perusahaan tidak mampu beradaptasi, maka perusahaan tersebut akan tergilas oleh waktu. Perusahaan merupakan bagian dari lingkungannya. Artinya bahwa selain mencapai tujuannya, perusahaan juga harus memiliki kontribusi kepada lingkungannya. Perusahaan dalam menjalankan operasionalnya tidak hanya berfokus pada keuntungan moneter saja, tetapi juga berfokus pada kontribusinya kepada masyarakat dan lingkungan, khususnya sekitar perusahaan beroperasi. Karena itu, perusahaan juga dituntut untuk mempunyai tanggung jawab sosial. Selanjutnya, perusahaan juga dituntut untuk berprilaku etis, dengan memperhatikan norma dan peraturan yang ada dalam masyarakat.
Pengantar Manajemen 58 BAB 5 Tanggung Jawab Sosial dan Etika Manajemen Asri Dwi Ariyani, S.E., M.Sc PENDAHULUAN Perusahaan berdiri dan beroperasi di lingkungan yang sifatnya kompleks. Kompleks dari segi pemangku kepentingan dan kompetitor. Jika perusahaan mampu beradaptasi dengan lingkungan perusahaan, maka perusahaan bisa berkembang dan memperbesar peluang keberhasilan dari lingkungannya. Begitu juga sebaliknya jika perusahaan tidak mampu beradaptasi, maka perusahaan tersebut akan tergilas oleh waktu. Perusahaan merupakan bagian dari lingkungannya. Artinya bahwa selain mencapai tujuannya, perusahaan juga harus memiliki kontribusi kepada lingkungannya. Perusahaan dalam menjalankan operasionalnya tidak hanya berfokus pada keuntungan moneter saja, tetapi juga berfokus pada kontribusinya kepada masyarakat dan lingkungan, khususnya sekitar perusahaan beroperasi. Karena itu, perusahaan juga dituntut untuk mempunyai tanggung jawab sosial. Selanjutnya, perusahaan juga dituntut untuk berprilaku etis, dengan memperhatikan norma dan peraturan yang ada dalam masyarakat. Pengantar Manajemen 59 TANGGUNG JAWAB SOSIAL Tanggung jawab sosial diartikan sebagai pelaksanaan atas tuntutan etika oleh organisasi bisnis maupun non bisnis. Tuntutan dikaitkan pada bentuk kepedulian perusahaan terhadap lingkungan eksternal, misalnya lingkungan, masyarakat, pemegang saham. Tanggung jawab sosial ialah kewajiban yang ditanggung oleh suatu perusahaan di luar tuntutan hukum dan ekonomi untuk mencapai sasaran jangka panjang bagi masyarakat. Tanggung jawab sosial dapat dipahami secara lebih baik dengan cara menilai sebagai kewajiban sosial dan tanggapan sosial. Dua hal ini serupa, namun tidak sama. Secara rinci perbedaan dapat dilihat pada empat cakupan utama yang terinci pada tabel 5.1 Tabel 5.1 Perbandingan Antara Kewajiban Sosial dan Tanggapan Sosial Cakupan Kewajiban Sosial Tanggapan Sosial Pertimbangan Utama Etis Pragmatis Fokus Tujuan Sarana Penekanan Kewajiban Tanggapan Keputusan Jangka Panjang Jangka Pendek dan Menengah Kewajiban sosial ialah landasan dari keterlibatan sosial perusahaan. Perusahaan yang mampu memenuhi tanggung jawab secara hukum dan ekonominya, maka perusahaan dinilai telah memenuhi kewajiban sosialnya. Tanggung jawab sosial
Pengantar Manajemen 60 menuntut perusahaan untuk menentukan hal benar dan salah, serta mengambil keputusan keuangan dan non keuangan yang didasari pada kebenaran-kebenaran yang fundamental. sedangkan tanggapan sosial merujuk pada kemampuan perusahaan dalam beradaptasi dengan kondisi masyarakat, lingkungan, dan teknologi yang terus berkembang. Penekanan lain tanggapan sosial adalah para manajer memuat keputusankeputusan praktis tentang tindakan-tindakan kemasyarakatan dimana mereka terlibat. PENDEKATAN TERHADAP TANGGUNG JAWAB SOSIAL Tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh perusahaan memiliki pola yang berbeda dalam menjalankan. Hal ini dipengaruhi oleh sudut pandang perusahaan itu sendiri. Berikut beberapa pendekatan dalam menjalankan tanggung jawab sosial oleh perusahaan, antara lain: a. Penghindaran Sosial Perusahaan meminimalkan keterlibatan dalam masalahmasalah sosial. Perusahaan melakukan usaha yang minim dalam memecahkan masalah sosial dan lingkungan untuk memenuhi kewajiban hukum dan ekonomi. Jika terjadi pelanggaran, maka perusahaan akan menutup diri dari masalah yang muncul. b. Kewajiban Sosial Perusahaan memiliki pandangan bahwa perusahaan harus memenuhi kewajibal sosial secara legal hukum. Legal hukum dilakukan atas komitmen terhadap individu dan atau kelompok dalam lingkungan sosial perusahaan. Ketika melakukan pelanggaran perusahaan juga akan menutupi
Pengantar Manajemen 60 menuntut perusahaan untuk menentukan hal benar dan salah, serta mengambil keputusan keuangan dan non keuangan yang didasari pada kebenaran-kebenaran yang fundamental. sedangkan tanggapan sosial merujuk pada kemampuan perusahaan dalam beradaptasi dengan kondisi masyarakat, lingkungan, dan teknologi yang terus berkembang. Penekanan lain tanggapan sosial adalah para manajer memuat keputusankeputusan praktis tentang tindakan-tindakan kemasyarakatan dimana mereka terlibat. PENDEKATAN TERHADAP TANGGUNG JAWAB SOSIAL Tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh perusahaan memiliki pola yang berbeda dalam menjalankan. Hal ini dipengaruhi oleh sudut pandang perusahaan itu sendiri. Berikut beberapa pendekatan dalam menjalankan tanggung jawab sosial oleh perusahaan, antara lain: a. Penghindaran Sosial Perusahaan meminimalkan keterlibatan dalam masalahmasalah sosial. Perusahaan melakukan usaha yang minim dalam memecahkan masalah sosial dan lingkungan untuk memenuhi kewajiban hukum dan ekonomi. Jika terjadi pelanggaran, maka perusahaan akan menutup diri dari masalah yang muncul. b. Kewajiban Sosial Perusahaan memiliki pandangan bahwa perusahaan harus memenuhi kewajibal sosial secara legal hukum. Legal hukum dilakukan atas komitmen terhadap individu dan atau kelompok dalam lingkungan sosial perusahaan. Ketika melakukan pelanggaran perusahaan juga akan menutupi Pengantar Manajemen 61 kesalahanya, lalu mengakuinya dan mengambil perbaikan hanya dari sudut pandang perusahaan. c. Tindakan Sosial Perusahaan memiliki pandangan untuk melakukan tanggung jawab sosial melebihi syarat minimal legal hukum. Tindakan yang dilakukan dalam rangka memenuhi komitmennya terhadap kelompok dan individu dalam lingkungan sosialnya. Selanjutnya, tindakan tersebut diyakini dapat memberikan manfaat secara finansial dan non finansial perusahaan. Pendekatan ini memberikan arti bahwa perusahaan akan bergerak pasif, sedangkan pihak laun yang harus aktif jika menginginkan perusahaan berpartisipasi dalam program-program sosial. d. Kontribusi Sosial Pendekatan tertinggi dalam pola tanggung jawab sosial. Perusahaan secara aktif akan mencari peluang untuk melakukan tanggung jawab sosial dan memberikan sumbangan demi kesejahteraan kelompok dan individu dalam lingkungan sosialnya. Hal ini dikarenakan perusahaan memandang dirinya sebagai bagian dari masyarakat dan lingkungan. ARGUMEN PERUSAHAAN ATAS PELAKSANAAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL Tanggung jawab sosial perusahaan adalah bentuk kepedulian perusahaan terhadap lingkungan eksternal perusahaan melalui berbagai kegiatan yang dilakukan dalam rangka penjagaan lingkungan, norma masyarakat, partisipasi pembangunan, serta berbagai bentuk tanggung jawab sosial lainnya. Meskipun nampaknya tanggung jawab sosial
Pengantar Manajemen 62 merupakan sebuah tuntutas perusahaan tetapi masih ada argumen yang berbeda dari perusahaan terhadap pelaksanaan tanggung jawab sosial. Argumen yang setuju pada pelaksanaan tanggung jawab sosial memiliki pandangan bahwa perusahaan merupakan bagian dari masyarakat. Perusahaan yang beroprasi ditengah lingkungan masyarakat memiliki kebijakan yang cukup kuat untuk menarik tenaga kerja dari lingkungan sekitar, sehingga meningkatkan kemakmuran masyarakat. Selanjutnya, perusahaan memiliki kewajiban untuk mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kewajiban-kewajiban perusahaan terinci melalui program sosial yang dijalankan. Argumen umum perusahaan yang setuju terhadap tanggung jawab sosial dari organisasi bisnis antara lain: 1. Kegiatan bisnis seringkali menimbulkan masalah, oleh karena itu sudah semestinyalah perusahaan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. 2. Perusahaan adalah bagian dari lingkungan sosial masyarakat, oleh karena itu sudah semestinya ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab atas apa yang terjadi di masyarakat. 3. Perusahaan biasanya memiliki sumber daya untuk menyelesaikan masalah dilingkungan sosial masyarakat 4. Perusahaan adalah partner dari lingkungan sosial kemasyarakatan, sebagaimana halnya juga pemerintah dan masyarakat lain pada umumnya Selanjutnya untuk pandangan tidak setuju atas tanggung jawab sosial. Perusahaan yang tidak setuju memiliki pandangan bahwa jika perusahaan diharuskan menjalankan program sosial
Pengantar Manajemen 62 merupakan sebuah tuntutas perusahaan tetapi masih ada argumen yang berbeda dari perusahaan terhadap pelaksanaan tanggung jawab sosial. Argumen yang setuju pada pelaksanaan tanggung jawab sosial memiliki pandangan bahwa perusahaan merupakan bagian dari masyarakat. Perusahaan yang beroprasi ditengah lingkungan masyarakat memiliki kebijakan yang cukup kuat untuk menarik tenaga kerja dari lingkungan sekitar, sehingga meningkatkan kemakmuran masyarakat. Selanjutnya, perusahaan memiliki kewajiban untuk mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kewajiban-kewajiban perusahaan terinci melalui program sosial yang dijalankan. Argumen umum perusahaan yang setuju terhadap tanggung jawab sosial dari organisasi bisnis antara lain: 1. Kegiatan bisnis seringkali menimbulkan masalah, oleh karena itu sudah semestinyalah perusahaan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. 2. Perusahaan adalah bagian dari lingkungan sosial masyarakat, oleh karena itu sudah semestinya ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab atas apa yang terjadi di masyarakat. 3. Perusahaan biasanya memiliki sumber daya untuk menyelesaikan masalah dilingkungan sosial masyarakat 4. Perusahaan adalah partner dari lingkungan sosial kemasyarakatan, sebagaimana halnya juga pemerintah dan masyarakat lain pada umumnya Selanjutnya untuk pandangan tidak setuju atas tanggung jawab sosial. Perusahaan yang tidak setuju memiliki pandangan bahwa jika perusahaan diharuskan menjalankan program sosial Pengantar Manajemen 63 yang merupakan tanggung jawab sosial perusahaan, maka akan terjadi konflik baru pada perusahaan antara tujuan ekonomi dengan tujuan sosial. Friedmen tokoh ekonomi dari Amerika Serikat berpendapat bahwa ketika perusahaan harus menjalankan tanggung jawab sosial, maka manajer dipaksa untuk ,mengeluarkan uang yang seharusnya menjadi pemilik pemegang saham. Argumen umum perusahaan yang tidak setuju atas pelaksanaan tanggung jawab sosial dari organisasi bisnis antara lain: 1. Perusahaan tidak memiliki ahli yang mengkhususkan dalam bidang sosial dan kemasyarakatan, oleh karena itu sulit bagi perusahaan untuk ikut bertanggung jawab. 2. Perusahaan yang ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam lingkungan sosial masyarakat justru akan memiliki kekuatan untuk mengontrol masyarakat, dan itu indikasi yang kurang baik secara Sosial. 3. Muncul konflik kepentingan di masyarakat jika perusahaan terlibat dalam aktifitas sosial. 4. Tujuan perusahaan bukan untuk motif sosial, akan tetapi untuk memperoleh keuntungan dan mencapai tujuan yang diharapkan oleh para pemilik perusahaan. ETIKA MANAJEMEN Definisi etika dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Pengertian etika diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kumpulan nilai yang menjelaskan tentang baik dan buruk atas perilaku dan berkaitan dengan kewajiban moral. Definisi etika dari beberapa ahli menjelaskan sebagai berikut:
Pengantar Manajemen 64 a. Post, Lawerence, dan Webel (2002) menjelaskan etika merupakan suatu konsepsi yang berkaitan dengan tindakan untuk menilai benar dan salah. b. Daft (2007) menjelaskan etika adalah kode yang berisi prinsip=prinsip dan nilai-nilai moral yang mengatur perilaku orang atau kelompok terkait dengan apa yang benar atau salah. c. Gibson (2008) mengartikan etika sebagai sebuah kepercayaan, pemikiran, ataupun standar yang memenuhi individu, kelompok ataupun masyarakat. Berdasarkan pada penjelasan di atas dapat dijabarkan bahwa etika berkaitan dengan standar nilai pada individu dan kelompok. Selanjutnya, jika dikaitkan dengan sebuah manajemen dari perusahaan maka etika tidak hanya menyangkut pribadi individu-individu para manajer, karyawan, melainkan juga meliputi organisasi perusahaan secara keseluruhannya. Bagaimana perusahaan misalnya bersikap terhadap besarnya jumlah pajak yang harus dibayar, apakah permasalahan pencemaran lingkungan menjadi isu utama atau sebaliknya, atau bagaimana seorang manajer berperilaku terhadap kelompok-kelompok khusus. Dengan demikian, pada konteks perusahaan yang merupakan sebuah kelompok, pembahasan etika akan mencakup pada satu atau lebih tingkatan etika, seperti individu, kebijakan internal, pemangku kepentingan, dan masyarakat. Etika dalam manajemen perusahaan muncul dari hubungan antara perusahaan dengan pihak eksternal dan internal. Pihak-pihak yang umumnya terlibat adalah karyawan, manajemen, dan pemangku kepentingan eksternal lainnya. Macam-macam etika dalam manajemen organisasi finansial dan
Pengantar Manajemen 64 a. Post, Lawerence, dan Webel (2002) menjelaskan etika merupakan suatu konsepsi yang berkaitan dengan tindakan untuk menilai benar dan salah. b. Daft (2007) menjelaskan etika adalah kode yang berisi prinsip=prinsip dan nilai-nilai moral yang mengatur perilaku orang atau kelompok terkait dengan apa yang benar atau salah. c. Gibson (2008) mengartikan etika sebagai sebuah kepercayaan, pemikiran, ataupun standar yang memenuhi individu, kelompok ataupun masyarakat. Berdasarkan pada penjelasan di atas dapat dijabarkan bahwa etika berkaitan dengan standar nilai pada individu dan kelompok. Selanjutnya, jika dikaitkan dengan sebuah manajemen dari perusahaan maka etika tidak hanya menyangkut pribadi individu-individu para manajer, karyawan, melainkan juga meliputi organisasi perusahaan secara keseluruhannya. Bagaimana perusahaan misalnya bersikap terhadap besarnya jumlah pajak yang harus dibayar, apakah permasalahan pencemaran lingkungan menjadi isu utama atau sebaliknya, atau bagaimana seorang manajer berperilaku terhadap kelompok-kelompok khusus. Dengan demikian, pada konteks perusahaan yang merupakan sebuah kelompok, pembahasan etika akan mencakup pada satu atau lebih tingkatan etika, seperti individu, kebijakan internal, pemangku kepentingan, dan masyarakat. Etika dalam manajemen perusahaan muncul dari hubungan antara perusahaan dengan pihak eksternal dan internal. Pihak-pihak yang umumnya terlibat adalah karyawan, manajemen, dan pemangku kepentingan eksternal lainnya. Macam-macam etika dalam manajemen organisasi finansial dan Pengantar Manajemen 65 non-finansial adalah (1) hubungan organisasi dengan karyawan, (2) hubungan karyawan dengan organisasi, dan (3) hubungan organisasi dengan pihak luar. FAKTOR PEMBENTUK NILAI ETIKA Etika individu sebagai seorang manajer pada organisasi bisnis atau non bisnis merupakan hasil interaksi yang sifatnya kompleks yang dipengaruhi atau dibentuk oleh berbagai hal yang membawa pada suatu sikap perilaku dar seorang manajer. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap etika manajerial pada level individu, yaitu sebagai berikut: 1. Nilai Personal Nilai personal dapat diukur berdasarkan nilai moral dan karakteristik sifat individu. Moral berpengaruh terhadap sikap perilaku manajer dalam pengambilan keputusan. Seorang manajer yang bermoral baik akan melahirkan keputusan-keputusan yang baik. Selanjutnya, karak-teristik manajer merupakan sifat yang akan mempenga-ruhi setiap pengambilan keputusan. Contoh manajer yang memiliki sifat kepedulian terhadap lingkungan limbah hasil produksi akan diproses kembali sehingga tidak membahayakan masyarakat dan lingkungan sekitarnya. 2. Pengaruh Faktor Situasional Siatuasi akan menentukan etika individu.Sebagai contoh, jika seseorangmencuri barangkali mempunyai alasan karena ia membutuhkan uangtersebut karena anakanya sakit.Meskipun nampaknya jalan yang diambilmerupakan jalan pintas, tetapi situasi semacam itu membantu memahamikenapa seseorang dapat melakukan tindakan yang tidak etis.
Pengantar Manajemen 66 3. Desain Struktural Organisasi Struktur organisasi yang mencerminkan pola hubungan tetap, posisi, tugas dan wewenang dari para anggota organisasi merupakan suatu prosedur dan mekanisme yang mengatur jalannya organisasi untuk mencapai tujuannya. Disain struktur ini adalah pedoman yang mengatur perilaku manajer di dalam menjalankan tugas pekerjaannya. Oleh sebab itu bagi manajer yang berperilaku menyimpang dari koridor yang sudah ditentukan, dikatakan sebagai manajer yang tidak etis.
Pengantar Manajemen 66 3. Desain Struktural Organisasi Struktur organisasi yang mencerminkan pola hubungan tetap, posisi, tugas dan wewenang dari para anggota organisasi merupakan suatu prosedur dan mekanisme yang mengatur jalannya organisasi untuk mencapai tujuannya. Disain struktur ini adalah pedoman yang mengatur perilaku manajer di dalam menjalankan tugas pekerjaannya. Oleh sebab itu bagi manajer yang berperilaku menyimpang dari koridor yang sudah ditentukan, dikatakan sebagai manajer yang tidak etis. Pengantar Manajemen 67 Daftar Pustaka Hazizah, S. N., & Aslami, N. (2021). Peranan Etika dan Tanggung Jawab Sosial dalam Bisnis Internasional. Jurnal Ekonomi Manajemen, 78-90. Nurwanto, U. W. (2023). Etika Bisnis & Corporate Social Responsibility. Indramayu: Adanu Abimata. Puwraningsih, A. P. (2022). Etika Bisnis dan CSR. Pekalongan: NEM. Sudarso, A., Chandra, E., Manullang, S. O., Purba, B., Simarmata, H. P., Simanjuntak, A. M., et al. (2021). Etika Bisnis: Prinsip dan Relevansinya. Medan: Yayasan Kita Menulis. Yustiani, S., & Anatan, L. (2010). Etika Bisnis dan Tanggung jawab Sosial Perusahaan Di Indonesia : Teori dan Realitas. Jurnal manajemen, 1-10. Hazizah, S. N., & Aslami, N. (2021). Peranan Etika dan Tanggung Jawab Sosial dalam Bisnis Internasional. Jurnal Ekonomi Manajemen, 78-90. Nurwanto, U. W. (2023). Etika Bisnis & Corporate Social Responsibility. Indramayu: Adanu Abimata. Puwraningsih, A. P. (2022). Etika Bisnis dan CSR. Pekalongan: NEM. Sudarso, A., Chandra, E., Manullang, S. O., Purba, B., Simarmata, H. P., Simanjuntak, A. M., et al. (2021). Etika Bisnis: Prinsip dan Relevansinya. Medan: Yayasan Kita Menulis. Yustiani, S., & Anatan, L. (2010). Etika Bisnis dan Tanggung jawab Sosial Perusahaan Di Indonesia : Teori dan Realitas. Jurnal manajemen, 1-10.
Pengantar Manajemen 68 Tentang Penulis Asri Dwi Ariyani, S.E., M.Sc adalah seorang akademisi yang sehari-hari bekerja di Universitas Alma Ata. Latar belakang pendidikan sarjana Akuntansi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, magister di Akuntansi dari Universitas Gadjah Mada. Konsentrasi pada bidang keilmuannya adalah akuntansi manajemen dan keperilakuan. Buku ini adalah kesempatan pertama saya untuk menghasilkan tulisan dalam bentuk buku.
Pengantar Manajemen 68 Tentang Penulis Asri Dwi Ariyani, S.E., M.Sc adalah seorang akademisi yang sehari-hari bekerja di Universitas Alma Ata. Latar belakang pendidikan sarjana Akuntansi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, magister di Akuntansi dari Universitas Gadjah Mada. Konsentrasi pada bidang keilmuannya adalah akuntansi manajemen dan keperilakuan. Buku ini adalah kesempatan pertama saya untuk menghasilkan tulisan dalam bentuk buku. Pengantar Manajemen 69 Bab 6 Fungsi Perencanaan dan Pengambilan Keputusan Abi Suryono, SE., Ak., M.Ak., AWP., CA. Perencanaan sangat penting dan dilakukan dalam berbagai bentuk organisasi. Hal ini karena perencanaan adalah proses manajemen yang mendasar untuk pengambilan keputusan dan tindakan. Perencanaan sangat penting dalam semua kegiatan organisasi, perusahaan dan sosial dan perencanaan hadir dalam semua fungsi manajemen. Hal ini disebabkan karena fungsi ini hanya dapat mengimplementasikan keputusan yang ditentukan oleh perencanaan. Perencanaan adalah tahap terpenting dari fungsi manajemen, terutama ketika dihadapkan pada lingkungan eksternal yang berubah secara dinamis. Di era globalisasi, perencanaan harus lebih didasarkan pada proses yang rasional dan sistematis daripada hanya berdasarkan intuisi semata. Kehidupan sehari-hari kita pada dasarnya adalah kehidupan yang terus bergelut dengan keputusan. Keputusan adalah kesimpulan terbaik yang kita ambil setelah mengevaluasi berbagai pilihan. Dalam pengertian ini, keputusan mencakup elemen-elemen seperti situasi dasar, pemicu yang menciptakan situasi dasar, dan aktivitas untuk mencapai keputusan. Dengan demikian, keputusan tidak dibuat
Pengantar Manajemen 70 setelah mengevaluasi alternatif, tetapi secara rasional, kesimpulannya tersirat dalam premis dan hanya berupa rumusan. 1. KONSEP DASAR PADA PERENCANAAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN 1.1 Pengertian Dari Perencanaan Perencanaan terjadi di semua jenis kegiatan. Perencanaan adalah proses mendasar yang digunakan manajemen untuk menentukan tujuan dan cara mencapainya. Perbedaan dalam implementasi adalah masalah perbedaan antara tingkat atas dan tingkat perencanaan. Perencanaan dalam organisasi memegang peranan yang lebih besar dibandingkan dengan fungsifungsi manajemen yang lain. Perencanaan adalah sebuah proses yang tidak berakhir setelah rencana tersebut diselesaikan, melainkan rencana tersebut harus diimplementasikan. Selama proses implementasi dan pemantauan, amandemen mungkin diperlukan setiap saat agar rencana tersebut tetap berguna. Perencanaan ulang dapat menjadi faktor penting dalam mencapai keberhasilan akhir. Oleh karena itu, perencanaan harus mempertimbangkan kebutuhan akan fleksibilitas sehingga situasi dan kondisi baru dapat diadaptasi secepat mungkin. George R. Terry menyatakan bahwa untuk mengetahui baik atau buruknya sebuah rencana dapat dijawab dengan pertanyaan dasar mengenai rencana tersebut, yaitu WHAT, WHY, WHERE, WHEN, WHO, dan HOW. Pertanyaan seputar what, misalnya berhubungan dengan apa sebenarnya tujuan perusahaan dan apa yang perlu
Pengantar Manajemen 70 setelah mengevaluasi alternatif, tetapi secara rasional, kesimpulannya tersirat dalam premis dan hanya berupa rumusan. 1. KONSEP DASAR PADA PERENCANAAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN 1.1 Pengertian Dari Perencanaan Perencanaan terjadi di semua jenis kegiatan. Perencanaan adalah proses mendasar yang digunakan manajemen untuk menentukan tujuan dan cara mencapainya. Perbedaan dalam implementasi adalah masalah perbedaan antara tingkat atas dan tingkat perencanaan. Perencanaan dalam organisasi memegang peranan yang lebih besar dibandingkan dengan fungsifungsi manajemen yang lain. Perencanaan adalah sebuah proses yang tidak berakhir setelah rencana tersebut diselesaikan, melainkan rencana tersebut harus diimplementasikan. Selama proses implementasi dan pemantauan, amandemen mungkin diperlukan setiap saat agar rencana tersebut tetap berguna. Perencanaan ulang dapat menjadi faktor penting dalam mencapai keberhasilan akhir. Oleh karena itu, perencanaan harus mempertimbangkan kebutuhan akan fleksibilitas sehingga situasi dan kondisi baru dapat diadaptasi secepat mungkin. George R. Terry menyatakan bahwa untuk mengetahui baik atau buruknya sebuah rencana dapat dijawab dengan pertanyaan dasar mengenai rencana tersebut, yaitu WHAT, WHY, WHERE, WHEN, WHO, dan HOW. Pertanyaan seputar what, misalnya berhubungan dengan apa sebenarnya tujuan perusahaan dan apa yang perlu Pengantar Manajemen 71 dilakukan untuk mencapainya. Pertanyaan seputar why berkaitan dengan mengapa tujuan tersebut harus dicapai dan mengapa kegiatan yang dirumuskan dalam jawaban atas pertanyaan what perlu dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut; pertanyaan where berkaitan dengan di mana kegiatan tersebut akan dilakukan; pertanyaan when berkaitan dengan kapan kegiatan tersebut dilakukan. Pertanyaan who berkaitan dengan siapa yang akan melaksanakannya. Pertanyaan ini berkaitan dengan kualifikasi orang yang melaksanakannya, misalnya dalam hal latar belakang pribadi atau keahlian. Pertanyaan terakhir how berkaitan dengan bagaimana kegiatan tersebut harus dilakukan. 1.2 Alasan Pentingnya Suatu Perencanaan Perencana tidak dapat mengendalikan waktu di masa depan, tetapi harus mencoba mengidentifikasi dan menghindari kegiatan dan hasil saat ini yang diperkirakan akan mempengaruhi waktu di masa depan. Salah satu tujuan utama perencana adalah memastikan bahwa program dan temuan saat ini dapat digunakan untuk meningkatkan kemungkinan tercapainya tujuan di masa depan, yaitu untuk meningkatkan pengambilan keputusan. Ada dua alasan dasar perlunya perencanaan. Perencanaan dilakukan untuk mencapai: 1. Protective benefit, yang timbul dari berkurangnya kemungkinan kesalahan dalam pengambilan keputusan; 2. Positive benefit, berupa peningkatan keberhasilan dalam mencapai tujuan organisasi.
Pengantar Manajemen 72 1.3 Fungsi Perencanaan 1. Perencanaan sebagai arahan adalah hasil dari upaya bersama untuk mencapai sesuatu. 2. Perencanaan untuk meminimalkan ketidakpastian, pada prinsipnya segala sesuatu di dunia ini dapat berubah. 3. Perencanaan sebagai upaya meminimalkan pemborosan sumber daya, perencanaan juga berfungsi untuk meminimalkan pemborosan sumber daya organisasi yang digunakan. 4. Perencanaan sebagai penetapan standar dalam manajemen mutu, perencanaan berperan dalam fungsi pengawasan manajemen, menetapkan standar mutu yang harus dicapai oleh perusahaan dan mengawasi pelaksanaannya. 1.4 Tipe dan Klasifikasi Perencanaan Meskipun proses dasar perencanaan adalah sama untuk semua manajer utama, dalam praktiknya perencanaan memiliki banyak bentuk yang berbeda. Ada beberapa alasan untuk hal ini: 1. Berbagai jenis organisasi nasional memiliki misi (tujuan) yang berbeda dan dengan demikian pendekatan perencanaan yang berbeda pula. 2. Jenis perencanaan yang berbeda diperlukan dalam organisasi nasional yang sama pada waktu yang berbeda; dan 3. Pemimpin manajemen yang berbeda memiliki gaya perencanaan yang berbeda.
Pengantar Manajemen 72 1.3 Fungsi Perencanaan 1. Perencanaan sebagai arahan adalah hasil dari upaya bersama untuk mencapai sesuatu. 2. Perencanaan untuk meminimalkan ketidakpastian, pada prinsipnya segala sesuatu di dunia ini dapat berubah. 3. Perencanaan sebagai upaya meminimalkan pemborosan sumber daya, perencanaan juga berfungsi untuk meminimalkan pemborosan sumber daya organisasi yang digunakan. 4. Perencanaan sebagai penetapan standar dalam manajemen mutu, perencanaan berperan dalam fungsi pengawasan manajemen, menetapkan standar mutu yang harus dicapai oleh perusahaan dan mengawasi pelaksanaannya. 1.4 Tipe dan Klasifikasi Perencanaan Meskipun proses dasar perencanaan adalah sama untuk semua manajer utama, dalam praktiknya perencanaan memiliki banyak bentuk yang berbeda. Ada beberapa alasan untuk hal ini: 1. Berbagai jenis organisasi nasional memiliki misi (tujuan) yang berbeda dan dengan demikian pendekatan perencanaan yang berbeda pula. 2. Jenis perencanaan yang berbeda diperlukan dalam organisasi nasional yang sama pada waktu yang berbeda; dan 3. Pemimpin manajemen yang berbeda memiliki gaya perencanaan yang berbeda. Pengantar Manajemen 73 2. TAHAP-TAHAP PERENCANAAN a. Menetapkan tujuan atau serangkaian dari tujuan. b. Merumuskan keadaan saat ini. c. Mengidentifikasikan semua kemudahan dan hambatan yang bisa terjadi. d. Mengembangkan rencana maupun serangkaian kegiatan dalam mencapai tujuan. 3. KENDALA-KENDALA PADA PERENCANAAN Agar dapat mengimplementasikan rencana yang telah dibuat secara efektif, manajer harus dapat mengidentifikasi dan mencoba mengatasi hambatan potensial tertentu dalam implementasi rencana tersebut. Hambatan-hambatan ini biasanya berupa : a. Ketidakmampuan dalam membuat rencana atau rencana yang kurang baik b. Kurangnya komitmen pada proses pembuatan rencana c. Lemahnya informasi d. Terlalu fokus pada saat ini e. Terlalu mengandalkan diri sendiri dalam bagian perencanaan f. Fokus pada faktor-faktor yang dapat dikendalikan 4. PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN Pengambilan keputusan adalah proses memilih di antara sejumlah alternatif untuk mencapai hasil yang diinginkan. Pada tahap ini, masalah didefinisikan dengan jelas, sehingga perbedaan antara masalah dan bukan masalah menjadi jelas. Tahap pemecahan masalah adalah tahap penyelesaian masalah yang sudah atau telah didefinisikan
Pengantar Manajemen 74 dengan jelas. Tahap pemecahan masalah adalah sebagai berikut: a. Identifikasi opsi untuk menyelesaikan masalah, b. Menghitung faktor-faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya atau dan menentukan kejadian-kejadian dimasa depan (state of nature) c. Menciptakan alat untuk mengevaluasi atau mengukur hasil, biasanya dalam bentuk tabel; d. Pemilihan dan penggunaan model-model pengambilan keputusan. 5. DASAR-DASAR DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN Pengambilan keputusan harus dilandasi prosedur dan teknik serta didukung informasi yang tepat (accurate), benar (reliable) dan tepat waktu (timeliness). Menurut George R.Terry dan Brinckloe di sebutkan bahwa ada pendekatan dasar untuk pengambilan keputusan yang dapat digunakan yakni: a. Intuisi Intuisi adalah istilah untuk kemampuan memahami sesuatu tanpa bantuan akal atau kecerdasan. b. Pengalaman Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis. c. Fakta Pengambilan keputusan empiris juga mendapat manfaat dari pengetahuan praktis. d. Wewenang Pengambilan keputusan atas dasar wewenang dilakukan oleh pimpinan kepada bawahannya.
Pengantar Manajemen 74 dengan jelas. Tahap pemecahan masalah adalah sebagai berikut: a. Identifikasi opsi untuk menyelesaikan masalah, b. Menghitung faktor-faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya atau dan menentukan kejadian-kejadian dimasa depan (state of nature) c. Menciptakan alat untuk mengevaluasi atau mengukur hasil, biasanya dalam bentuk tabel; d. Pemilihan dan penggunaan model-model pengambilan keputusan. 5. DASAR-DASAR DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN Pengambilan keputusan harus dilandasi prosedur dan teknik serta didukung informasi yang tepat (accurate), benar (reliable) dan tepat waktu (timeliness). Menurut George R.Terry dan Brinckloe di sebutkan bahwa ada pendekatan dasar untuk pengambilan keputusan yang dapat digunakan yakni: a. Intuisi Intuisi adalah istilah untuk kemampuan memahami sesuatu tanpa bantuan akal atau kecerdasan. b. Pengalaman Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis. c. Fakta Pengambilan keputusan empiris juga mendapat manfaat dari pengetahuan praktis. d. Wewenang Pengambilan keputusan atas dasar wewenang dilakukan oleh pimpinan kepada bawahannya. Pengantar Manajemen 75 e. Rasional Ketika mengambil keputusan berdasarkan rasio, keputusan akhir lebih mendekati kebenaran atau memenuhi apa yang diinginkan karena objektif, logis, lebih transparan dan konsisten untuk memaksimalkan hasil dan nilai dalam batasan-batasan tertentu. 6. PERTANGGUNGJAWABAN UNTUK PEMBUAT KEPUTUSAN Berbagai keputusan harus dibuat dalam organisasi, seperti bagaimana menghasilkan produk, bagaimana memelihara peralatan, bagaimana memastikan kualitas produk, dan bagaimana membangun hubungan yang menguntungkan dengan pelanggan. Berbagai keputusan ini memerlukan pembenaran, yang menentukan siapa di dalam organisasi yang bertanggung jawab untuk membuat keputusan yang mana.
Pengantar Manajemen 76 DAFTAR PUSTAKA Indartono, Setyabudi. Pengantar Manajemen: Character Inside. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. Lubis, Syaifuddin, dkk. 2019 . Pengantar Manajemen edisi 2 . Medan: Madenatera Qualified Publisher.
Pengantar Manajemen 76 DAFTAR PUSTAKA Indartono, Setyabudi. Pengantar Manajemen: Character Inside. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. Lubis, Syaifuddin, dkk. 2019 . Pengantar Manajemen edisi 2 . Medan: Madenatera Qualified Publisher. Pengantar Manajemen 77 Tentang Penulis Abi Suryono, SE., Ak., M.Ak., AWP., CA. Lahir di Mataram pada tanggal 30 Mei 1989, anak dari ayah bernama Soedjawo (Almarhum) dan Ibu bernama Maesum, anak pertama dari 2 bersaudara. Menamatkan pendidikan dasar di SD Negeri Tanak Tepong lulus pada tahun 2021, setamat dari Sekolah Dasar melanjutkan ke SMP Negeri 2 Mataram lulus tahun 2004, dan selanjutnya menempuh pendidikan di SMA Negeri 5 Mataram lulus tahun 2007. Pada tahun 2007 penulis diterima pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Indonesia. Gelar Sarjana Ekonomi diperoleh pada tahun 2011. Selanjutnya penulis melanjutkan study Pendidikan Profesi Akuntansi dan S-2, Gelar Magister Akuntansi di Universitas Islam Indonesia pada tahun 2015. Saat ini penulis sedang mengambil Program Doktor Ilmu Ekonomi di Universitas Islam Indonesia juga. Pengalaman bekerja diawali di Kantor Konsultan Pajak Hari Triwanta kemudian saat ini penulis menjadi Dosen Prodi Akuntansi Universitas Alma Ata sejak tahun 2016 sampai saat ini.
Pengantar Manajemen 78 BAB 7 MANAJEMEN STRATEGIS PERUSAHAAN Tonny Yuwanda, SE, MM Manajemen Strategi adalah proses pengambilan keputusan dan alokasi sumber daya untuk mencapai tujuan jangka panjang dan sasaran organisasi. Ini melibatkan analisis lingkungan internal dan eksternal organisasi, memformulasikan strategi, melaksanakan strategi tersebut, dan terus memantau dan menyesuaikan strategi untuk memastikan bahwa organisasi tetap berada di jalur untuk mencapai tujuannya. Tujuan manajemen strategi adalah untuk membantu organisasi mencapai keunggulan bersaing yang berkelanjutan dan memaksimumkan nilai bagi pemangku kepentingan. Setelah organisasi memiliki pemahaman yang jelas tentang lingkungannya, mereka dapat mulai memformulasikan strategi. Ini mungkin melibatkan pengaturan tujuan spesifik, seperti memperluas pasar baru atau mengembangkan produk baru, dan menentukan cara terbaik untuk mencapai tujuan tersebut dalam kondisi sumber daya dan batasan organisasi. Setelah strategi telah diformulasikan, mereka harus dilaksanakan dengan efektif. Ini mungkin melibatkan perubahan struktur, budaya, proses, dan sistem organisasi untuk mendukung strategi baru. Penting juga untuk terus memantau dan
Pengantar Manajemen 78 BAB 7 MANAJEMEN STRATEGIS PERUSAHAAN Tonny Yuwanda, SE, MM Manajemen Strategi adalah proses pengambilan keputusan dan alokasi sumber daya untuk mencapai tujuan jangka panjang dan sasaran organisasi. Ini melibatkan analisis lingkungan internal dan eksternal organisasi, memformulasikan strategi, melaksanakan strategi tersebut, dan terus memantau dan menyesuaikan strategi untuk memastikan bahwa organisasi tetap berada di jalur untuk mencapai tujuannya. Tujuan manajemen strategi adalah untuk membantu organisasi mencapai keunggulan bersaing yang berkelanjutan dan memaksimumkan nilai bagi pemangku kepentingan. Setelah organisasi memiliki pemahaman yang jelas tentang lingkungannya, mereka dapat mulai memformulasikan strategi. Ini mungkin melibatkan pengaturan tujuan spesifik, seperti memperluas pasar baru atau mengembangkan produk baru, dan menentukan cara terbaik untuk mencapai tujuan tersebut dalam kondisi sumber daya dan batasan organisasi. Setelah strategi telah diformulasikan, mereka harus dilaksanakan dengan efektif. Ini mungkin melibatkan perubahan struktur, budaya, proses, dan sistem organisasi untuk mendukung strategi baru. Penting juga untuk terus memantau dan Pengantar Manajemen 79 mengevaluasi kinerja strategi untuk memastikan bahwa mereka memberikan hasil yang diinginkan dan melakukan perubahan yang diperlukan. Berikut diuraikan secara terperinci tentang teori, konsep, kasus serta penerapannya. A. Definisi dan Konsep Manajemen Strategi Manajemen strategis adalah istilah yang lebih luas daripada strategi korporat. Manajemen strategis terdiri dari Strategi Korporat (Strategi Portofolio) dan Strategi Bisnis (Strategi Kompetitif). Strategi Korporat adalah rencana induk untuk seluruh organisasi sedangkan strategi bisnis adalah tentang bagaimana cara berhasil dalam bisnis yang dipilih. Strategi sebagai rencana terpadu, komprehensif, dan terintegrasi yang berkaitan dengan keunggulan strategis perusahaan terhadap tantangan lingkungan. Ini dirancang untuk memastikan bahwa tujuan dasar perusahaan tercapai. "Manajemen strategis didefinisikan sebagai "serangkaian keputusan dan tindakan yang mengarah pada pengembangan strategi atau strategi yang efektif untuk membantu mencapai tujuan perusahaan (Glueck, 1976). Selain itu, Chandler menggambarkan manajemen strategis sebagai penentuan tujuan dan objektif jangka panjang dari suatu perusahaan dan pengambilan tindakan serta alokasi sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut (Chandler, 1971). Sedangkan menurut Paine dan Naumes manajemen strategis melibatkan pengambilan keputusan dan kegiatan dalam sebuah organisasi yang: (1) memiliki dampak yang lebih luas, (2) memiliki perspektif waktu yang lama, dan (3) menggunakan sumber daya kritis untuk menghadapi
Pengantar Manajemen 80 peluang atau ancaman yang dirasakan dalam lingkungan yang berubah (Paine and Naumes, 1982). Dapat disimpulkan, manajemen strategis adalah proses penentuan tujuan dan objektif jangka panjang perusahaan dan pengambilan keputusan serta tindakan untuk mengembangkan rencana strategis terpadu dan efektif yang dapat memastikan keunggulan strategis perusahaan dalam menghadapi tantangan lingkungan yang berubah-ubah. Proses ini melibatkan penggunaan sumber daya utama dan memiliki perspektif waktu yang lama, dengan tujuan untuk mencapai tujuan dasar perusahaan. B. Visi, Misi dan Tujuan Visi/misi dan tujuan sangat penting untuk manajemen strategis. Visi yang jelas akan meningkatkan kinerja perusahaan untuk berkembang. Sebuah visi strategis adalah representasi dari keinginan manajemen untuk organisasi yang menyajikan gambaran umum tentang "kemana mereka akan menuju" dari rencana bisnis untuk kedepannya (Harari, 1994). Visi seharusnya mencakup kumpulan nilai dan gambaran tentang apa yang akan terjadi di masa depan, pemahaman tentang keunikan dan keistimewaan perusahaan, satu set prinsip dasar yang mewakili keyakinan perusahaan dan seperangkat kriteria yang komprehensif yang akan berfungsi sebagai tolak ukur kesuksesan organisasi (Collins and Porras, 1997). Sedangkan misi adalah beberapa komponen yang ideal yang mendefinisikan pelanggan, produk atau layanan, pasar, teknologi, filosofi, dan konsep diri. McGinni mengidentifikasi beberapa elemen kunci yang harus ada dalam sebuah misi perusahaan. Pertama, harus jelas mendefinisikan identitas saat ini dan aspirasional dari organisasi. Kedua, harus menemukan
Pengantar Manajemen 80 peluang atau ancaman yang dirasakan dalam lingkungan yang berubah (Paine and Naumes, 1982). Dapat disimpulkan, manajemen strategis adalah proses penentuan tujuan dan objektif jangka panjang perusahaan dan pengambilan keputusan serta tindakan untuk mengembangkan rencana strategis terpadu dan efektif yang dapat memastikan keunggulan strategis perusahaan dalam menghadapi tantangan lingkungan yang berubah-ubah. Proses ini melibatkan penggunaan sumber daya utama dan memiliki perspektif waktu yang lama, dengan tujuan untuk mencapai tujuan dasar perusahaan. B. Visi, Misi dan Tujuan Visi/misi dan tujuan sangat penting untuk manajemen strategis. Visi yang jelas akan meningkatkan kinerja perusahaan untuk berkembang. Sebuah visi strategis adalah representasi dari keinginan manajemen untuk organisasi yang menyajikan gambaran umum tentang "kemana mereka akan menuju" dari rencana bisnis untuk kedepannya (Harari, 1994). Visi seharusnya mencakup kumpulan nilai dan gambaran tentang apa yang akan terjadi di masa depan, pemahaman tentang keunikan dan keistimewaan perusahaan, satu set prinsip dasar yang mewakili keyakinan perusahaan dan seperangkat kriteria yang komprehensif yang akan berfungsi sebagai tolak ukur kesuksesan organisasi (Collins and Porras, 1997). Sedangkan misi adalah beberapa komponen yang ideal yang mendefinisikan pelanggan, produk atau layanan, pasar, teknologi, filosofi, dan konsep diri. McGinni mengidentifikasi beberapa elemen kunci yang harus ada dalam sebuah misi perusahaan. Pertama, harus jelas mendefinisikan identitas saat ini dan aspirasional dari organisasi. Kedua, harus menemukan Pengantar Manajemen 81 keseimbangan dan tumbuh kreatif. Ketiga, organisasi harus berbeda dari pesaingnya. Keempat, harus memberikan kerangka kerja untuk mengevaluasi kegiatan saat ini dan potensial. Terakhir, misi perusahaan harus diungkapkan dalam istilah yang jelas dan mudah dipahami di seluruh organisasi (McGinni, 1981). Selanjutnya adalah objektif dan tujuan. Objektif sangat penting bagi sebuah organisasi untuk beroperasi, karena objektif menyediakan definisi tujuan organisasi dalam hubungannya dengan lingkungannya. Objektif adalah fundamental dalam menentukan identitas perusahaan. Di sisi lain, tujuan adalah hasil menengah yang harus dicapai dalam periode tertentu sebagai bagian dari rencana yang lebih besar, yang dapat memiliki banyak tujuan. Secara mendasar, objektif mengacu pada hasil jangka panjang yang ingin dicapai oleh sebuah organisasi dalam mengejar misi utamanya. Sementara itu, tujuan adalah tonggak atau capaian jangka pendek yang harus dicapai dalam satu tahun atau kurang untuk mencapai objektif jangka panjang. Tujuan harus memenuhi kriteria tertentu seperti dapat diukur, kuantitatif, realistis, menantang, diprioritaskan, dan konsisten dengan tujuan keseluruhan organisasi (David, 1993). FORMULASI PENCAPAIAN Gambar 1. Visi, Misi, Objektif Dan Tujuan Visi Misi Objektif Tujuan
Pengantar Manajemen 82 C. Analisis SWOT dan Perumusan Strategi Analisis SWOT adalah salah satu langkah utama dan mendasar dalam manajemen strategis. Kekuatan (Strengths) merupakan kemampuan internal suatu perusahaan, terutama dibandingkan dengan kompetitor-kompetitornya. Kelemahan (Weaknesses) adalah faktor-faktor yang cenderung mengurangi daya saing perusahaan, terutama dibandingkan dengan kompetitornya. Ancaman (Threats) dan peluang (Opportunities) pada dasarnya bersifat eksternal terhadap organisasi, seperti faktor-faktor lingkungan eksternal, namun tetap mempengaruhi organisasi. S W O T Internal (Organisational) Strengths Weaknesses External (Environmental) Opportunities Threats Gambar 2. SWOT Analisis perbandingan seperti ini adalah bagian penting dalam perumusan strategi di mana kekuatan dan kelemahan suatu organisasi dievaluasi dibandingkan dengan organisasi lain. Sebagai contoh dapat dilihat pada Industri Baja ini : Strengths Weaknesses • Produsen baja dengan biaya terendah di dunia • Teknologi terkini dan pengetahuan yang luas mengenai pembuatan baja • Utang yang besar • Kerugian terakumulasi yang besar di Cabang Eropa
Pengantar Manajemen 82 C. Analisis SWOT dan Perumusan Strategi Analisis SWOT adalah salah satu langkah utama dan mendasar dalam manajemen strategis. Kekuatan (Strengths) merupakan kemampuan internal suatu perusahaan, terutama dibandingkan dengan kompetitor-kompetitornya. Kelemahan (Weaknesses) adalah faktor-faktor yang cenderung mengurangi daya saing perusahaan, terutama dibandingkan dengan kompetitornya. Ancaman (Threats) dan peluang (Opportunities) pada dasarnya bersifat eksternal terhadap organisasi, seperti faktor-faktor lingkungan eksternal, namun tetap mempengaruhi organisasi. S W O T Internal (Organisational) Strengths Weaknesses External (Environmental) Opportunities Threats Gambar 2. SWOT Analisis perbandingan seperti ini adalah bagian penting dalam perumusan strategi di mana kekuatan dan kelemahan suatu organisasi dievaluasi dibandingkan dengan organisasi lain. Sebagai contoh dapat dilihat pada Industri Baja ini : Strengths Weaknesses • Produsen baja dengan biaya terendah di dunia • Teknologi terkini dan pengetahuan yang luas mengenai pembuatan baja • Utang yang besar • Kerugian terakumulasi yang besar di Cabang Eropa Pengantar Manajemen 83 • Rantai pasokan global • Waktu dan biaya yang terlampaui dalam pelaksanaan proyek • Hambatan pasokan bahan baku Opportunities Threats • Tren peningkatan permintaan baja • Potensi manajemen rantai pasok global dan keuntungan efisiensi • Pemasaran global • Meningkatnya persaingan • Isu lingkungan Gambar 3. SWOT di Industri Baja Dalam memformulasikan strategi dapat menggunakan TOWS Matriks yang diperkenalkan oleh Weihrich and Koontz (Weihrich and Koontz, 1993), Matriks TOWS memungkinkan perusahaan untuk mengembangkan strategi berdasarkan hubungan antara faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) dengan cara yang lebih sistematis. Dalam TOWS, kekuatan dan kelemahan dihubungkan dengan peluang dan ancaman untuk menghasilkan empat jenis strategi, yaitu strategi SO (StrengthsOpportunities), WO (Weaknesses-Opportunities), ST (Strengths-Threats), dan WT (Weaknesses-Threats). Sebagai contoh dapat dilihat sebagai berikut :
Pengantar Manajemen 84 Internal \ Eksternal Factors Internal Strengths (S) 1………………… …………... 2………………… …………... 3………………… …………... Internal Weaknesses (W) 1………………… …………... 2………………… …………... 3………………… …………... Eksternal Opportunities (O) 1………………… …………... 2………………… …………... 3………………… …………... SO (Maxi-Maxi) Strategy [Maksimalkan Kekuatan dan Peluang] WO (Mini-Maxi) Strategy [Meminimalkan Kelemahan dan Maksimalkan Kekuatan] Eksternal Threats (T) 1………………… …………... 2………………… …………... 3………………… …………... ST (Maxi-Mini) Strategy [Maksimalkan Kekuatan dan Minimalkan Ancaman] WT (Mini-Mini) Strategy [Meminimalkan Kelemahan dan Ancaman] Gambar 4. TOWS Matriks SO Strategy : Strategi SO (Strengths-Opportunities) adalah sebuah pendekatan dalam formulasi strategi yang memanfaatkan kekuatan internal organisasi (strengths) untuk memanfaatkan peluang eksternal (opportunities). Dalam
Pengantar Manajemen 84 Internal \ Eksternal Factors Internal Strengths (S) 1………………… …………... 2………………… …………... 3………………… …………... Internal Weaknesses (W) 1………………… …………... 2………………… …………... 3………………… …………... Eksternal Opportunities (O) 1………………… …………... 2………………… …………... 3………………… …………... SO (Maxi-Maxi) Strategy [Maksimalkan Kekuatan dan Peluang] WO (Mini-Maxi) Strategy [Meminimalkan Kelemahan dan Maksimalkan Kekuatan] Eksternal Threats (T) 1………………… …………... 2………………… …………... 3………………… …………... ST (Maxi-Mini) Strategy [Maksimalkan Kekuatan dan Minimalkan Ancaman] WT (Mini-Mini) Strategy [Meminimalkan Kelemahan dan Ancaman] Gambar 4. TOWS Matriks SO Strategy : Strategi SO (Strengths-Opportunities) adalah sebuah pendekatan dalam formulasi strategi yang memanfaatkan kekuatan internal organisasi (strengths) untuk memanfaatkan peluang eksternal (opportunities). Dalam Pengantar Manajemen 85 strategi SO, organisasi berusaha untuk memaksimalkan kekuatan internalnya dan mengeksploitasi peluang pasar yang tersedia. Contoh penggunaan strategi SO adalah perusahaan yang memiliki keunggulan dalam teknologi canggih (strength) dan melihat peluang pasar yang berkembang di sektor teknologi tinggi (opportunities). Perusahaan tersebut dapat menggunakan keunggulan teknologi mereka untuk memperluas pangsa pasar di sektor tersebut, meningkatkan daya saing, dan memperoleh keuntungan lebih besar. WO Strategy : Dalam strategi WO, organisasi memfokuskan pada bagaimana mengambil keuntungan dari peluang yang ada di lingkungan eksternal dan sekaligus memperbaiki kelemahan internalnya. Contohnya, jika sebuah perusahaan memiliki kelemahan dalam produksi yang efisien dan ada peluang untuk meningkatkan efisiensi produksi melalui teknologi baru, maka strategi WO yang tepat adalah mengambil keuntungan dari peluang teknologi baru untuk memperbaiki produksi dan meningkatkan efisiensi. ST Strategy : Strategi ST (Strengths-Threats) adalah pendekatan dalam formulasi strategi yang bertujuan untuk memaksimalkan kekuatan internal perusahaan dan meminimalkan ancaman eksternal. Dalam strategi ST, perusahaan menggunakan kekuatan internalnya untuk menangani ancaman eksternal. Contoh penerapan strategi ST adalah ketika perusahaan yang memiliki kekuatan di bidang inovasi teknologi dapat menggunakan keahliannya untuk menghadapi persaingan dari pesaing yang lebih besar. Perusahaan dapat mengembangkan produk baru yang lebih inovatif atau memperbaiki proses produksinya untuk lebih efisien dan mengurangi biaya.
Pengantar Manajemen 86 WT Strategy : Strategi WT (Weaknesses-Threats) adalah suatu strategi yang bertujuan untuk meminimalkan kelemahan organisasi dalam menghadapi tantangan dari lingkungan eksternal. Strategi ini dilakukan dengan cara mencari cara-cara untuk mengurangi dampak kelemahan internal terhadap ancaman eksternal. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk menerapkan strategi WT adalah mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi operasional, meningkatkan kualitas produk dan layanan, serta melakukan restrukturisasi organisasi dan perbaikan manajemen. D. Penerapan Strategi Implementasi strategi sama pentingnya dengan formulasi strategi. Sebuah strategi yang baik tidak menjamin kesuksesan secara otomatis. Kesuksesan sangat tergantung pada bagaimana strategi tersebut diimplementasikan. Banyak strategi yang gagal mencapai hasil yang diharapkan karena kegagalan dalam pelaksanaannya (Hall and Saias, 2006). Pelaksanaan strategi memerlukan penggabungan komponen-komponen strategi pada berbagai tingkat, mobilisasi dan alokasi sumber daya, struktur otoritas, tanggung jawab, tugas, dan aliran informasi, menetapkan kebijakan, serta evaluasi dan pengendalian (Peters, 1992). Berikut diuraikan langkah – langkah dalam penerapan strategi (Peters and Waterman, 1977; Rao and Rao, 1995): 1. Pelaksanaan Kepemimpinan Orang yang tepat, terutama CEO dan manajer kunci, harus ditempatkan untuk memastikan bahwa strategi dijalankan dengan baik. Kemampuan, integritas, dan komitmen CEO sangat penting dalam mendorong organisasi dan menginspirasi karyawan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Nilai,
Pengantar Manajemen 86 WT Strategy : Strategi WT (Weaknesses-Threats) adalah suatu strategi yang bertujuan untuk meminimalkan kelemahan organisasi dalam menghadapi tantangan dari lingkungan eksternal. Strategi ini dilakukan dengan cara mencari cara-cara untuk mengurangi dampak kelemahan internal terhadap ancaman eksternal. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk menerapkan strategi WT adalah mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi operasional, meningkatkan kualitas produk dan layanan, serta melakukan restrukturisasi organisasi dan perbaikan manajemen. D. Penerapan Strategi Implementasi strategi sama pentingnya dengan formulasi strategi. Sebuah strategi yang baik tidak menjamin kesuksesan secara otomatis. Kesuksesan sangat tergantung pada bagaimana strategi tersebut diimplementasikan. Banyak strategi yang gagal mencapai hasil yang diharapkan karena kegagalan dalam pelaksanaannya (Hall and Saias, 2006). Pelaksanaan strategi memerlukan penggabungan komponen-komponen strategi pada berbagai tingkat, mobilisasi dan alokasi sumber daya, struktur otoritas, tanggung jawab, tugas, dan aliran informasi, menetapkan kebijakan, serta evaluasi dan pengendalian (Peters, 1992). Berikut diuraikan langkah – langkah dalam penerapan strategi (Peters and Waterman, 1977; Rao and Rao, 1995): 1. Pelaksanaan Kepemimpinan Orang yang tepat, terutama CEO dan manajer kunci, harus ditempatkan untuk memastikan bahwa strategi dijalankan dengan baik. Kemampuan, integritas, dan komitmen CEO sangat penting dalam mendorong organisasi dan menginspirasi karyawan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Nilai, Pengantar Manajemen 87 pemikiran, dan karakter pemimpin mencerminkan kualitas kepemimpinan mereka dan sangat penting untuk mencapai tujuan strategi. Peran pemimpin dalam manajemen strategis sangat penting untuk kesuksesan. 2. Menkomunikasikan Strategi Komunikasi yang efektif sangat penting untuk memastikan bahwa semua anggota organisasi memahami rencana masa depan, perubahan, tujuan, dan implikasi dari strategi. Komunikasi yang tepat menciptakan rasa memiliki dan mencegah karyawan merasa terasing, yang dapat berdampak negatif pada semangat, motivasi, dan resistensi terhadap strategi. CEO harus berkomunikasi tentang strategi kepada pemangku kepentingan internal dan eksternal, termasuk karyawan, pemegang saham, pemasok, pelanggan, legislator, advokat, dan masyarakat umum. Pemahaman yang jelas tentang strategi memberikan tujuan pada aktivitas organisasi dan memungkinkan individu untuk mengaitkan tugas mereka dengan arah keseluruhan organisasi. 3. Strategi Fungsional Strategi fungsional adalah rencana jangka pendek yang dikembangkan untuk area fungsional utama perusahaan, seperti pemasaran, produksi, R&D, keuangan, dan sumber daya manusia. Strategi ini berfungsi sebagai sarana untuk mencapai rencana tahunan dan mengoperasikan strategi besar (Grand Strategy). Perusahaan menyediakan detail yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka panjang secara sistematis dan menerjemahkan Grand Strategy ke dalam tindakan untuk unit khusus perusahaan (Drucker, 1990). Strategi fungsional mengidentifikasi dan mengkoordinasikan tindakan yang
Pengantar Manajemen 88 mendukung Grand Strategy dan meningkatkan kemungkinan mencapai tujuan tahunan. Sebagai contoh, misalkan tujuan tahunan perusahaan adalah meningkatkan penjualan sebesar 86 juta. Dalam hal ini, strategi fungsional untuk pemasaran dapat melibatkan pengembangan strategi yang saling konsisten untuk masingmasing faktor bauran pemasaran, seperti produk, harga, promosi, dan tempat. Strategi R&D dapat mencakup peningkatan produk atau kemasan atau pengembangan produk baru. Demikian pula, setiap area fungsional utama harus mengembangkan strategi yang sejalan dengan tujuan tahunan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Dengan melakukan hal ini, perusahaan dapat mengorganisir dan mengaktifkan unit khusus untuk mengejar strategi bisnis dalam aktivitas seharihari, memastikan bahwa Grand Strategy diterjemahkan ke dalam tindakan yang dirancang untuk mencapai tujuan tahunan yang spesifik. Gambar 5. Tujuan Fungsional Penjualan Ganda dalam waktu 3 Tahun Meningkatkan Penjualan 86jt Div A Meningkatkan Penjualan 38jt Div B Meningkatkan Penjualan 30jt Div C Meningkatkan Penjualan 18jt R&D Mengembangkan Produk Baru, Meningkatkan Fitur Produk Y Produksi Meningkatkan Produktivitas dan Produksi sebesar 15% Marketing Meningkatkan Jumlah Dealer dan Sales - 10 MSDM Efisiensi Biaya Karyawan
Pengantar Manajemen 88 mendukung Grand Strategy dan meningkatkan kemungkinan mencapai tujuan tahunan. Sebagai contoh, misalkan tujuan tahunan perusahaan adalah meningkatkan penjualan sebesar 86 juta. Dalam hal ini, strategi fungsional untuk pemasaran dapat melibatkan pengembangan strategi yang saling konsisten untuk masingmasing faktor bauran pemasaran, seperti produk, harga, promosi, dan tempat. Strategi R&D dapat mencakup peningkatan produk atau kemasan atau pengembangan produk baru. Demikian pula, setiap area fungsional utama harus mengembangkan strategi yang sejalan dengan tujuan tahunan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Dengan melakukan hal ini, perusahaan dapat mengorganisir dan mengaktifkan unit khusus untuk mengejar strategi bisnis dalam aktivitas seharihari, memastikan bahwa Grand Strategy diterjemahkan ke dalam tindakan yang dirancang untuk mencapai tujuan tahunan yang spesifik. Gambar 5. Tujuan Fungsional Penjualan Ganda dalam waktu 3 Tahun Meningkatkan Penjualan 86jt Div A Meningkatkan Penjualan 38jt Div B Meningkatkan Penjualan 30jt Div C Meningkatkan Penjualan 18jt R&D Mengembangkan Produk Baru, Meningkatkan Fitur Produk Y Produksi Meningkatkan Produktivitas dan Produksi sebesar 15% Marketing Meningkatkan Jumlah Dealer dan Sales - 10 MSDM Efisiensi Biaya Karyawan Pengantar Manajemen 89 E. Evaluasi dan Pengendalian Strategi Mengevaluasi dan mengontrol strategi adalah penting untuk memastikan keberhasilannya, bahkan jika strategi itu sendiri sangat baik. Ada berbagai pendekatan untuk evaluasi dan kontrol strategi, namun tindakan reaktif tradisional yang membandingkan kinerja aktual dengan standar yang telah ditetapkan dan mengambil tindakan korektif jika terjadi penurunan tidak cukup untuk strategi jangka panjang. Lingkungan dinamis yang tidak pasti membutuhkan evaluasi terus-menerus dari perencanaan dan implementasi strategi (Hamel and Prahalad, 1996). Bersaing di era saat ini membutuhkan pengendalian strategis untuk melacak strategi saat sedang diimplementasikan, mendeteksi masalah dan membuat penyesuaian yang diperlukan. Dengan melakukan pengendalian strategis, organisasi dapat memastikan bahwa strateginya berada pada jalur yang tepat untuk mencapai tujuannya dan beradaptasi dengan perubahan dalam lingkungan. Terdapat dua tipe pengendalian yaitu pengendalian strategi dan operasional yang diurai sebagai berikut (Pearce and Robinson, 1988): 1. Pengendalian Strategi Pearce dan Robinson mengidentifikasi empat jenis pengendalian strategis, yaitu pengendalian premis, pengendalian implementasi, pengawasan strategis, dan pengendalian khusus. Pengendalian premis penting untuk terus memeriksa apakah premis yang mendasari strategi masih valid. Pengendalian implementasi mengevaluasi apakah implementasi strategi berjalan sesuai rencana atau apakah
Pengantar Manajemen 90 diperlukan penyesuaian. Pengawasan strategis dirancang untuk memantau peristiwa di dalam dan di luar perusahaan yang dapat mengancam strategi. Terakhir, pengendalian khusus diperlukan untuk mempertimbangkan ulang strategi perusahaan ketika terjadi peristiwa tidak terduga yang dapat memiliki dampak serius. Perusahaan harus melakukan pengendalian strategis untuk menyesuaikan strategi mereka dengan lingkungan yang berubah dan memastikan keberhasilan mereka. 2. Pengendalian Operasional Penting bagi manajemen puncak untuk mengarahkan arah keseluruhan perusahaan, tetapi pengendalian operasional diperlukan untuk mengevaluasi dan mengendalikan kinerja dalam jangka pendek. Sistem pengendalian operasional melibatkan langkah-langkah berikut: menetapkan kriteria dan standar, mengukur dan membandingkan kinerja, melakukan analisis kesenjangan kinerja dan mengambil tindakan korektif. Kriteria dan standar yaitu evaluasi harus dapat diukur dan realistis, dan merupakan faktor kuantitatif dan kualitatif. Tindakan korektif harus diambil tergantung pada tingkat kesenjangan kinerja yang terjadi. Pengendalian yang berkelanjutan sangat penting untuk dilakukan serta menjadi umpan balik terus menerus yang memberi informasi untuk modifikasi strategi kedepannya.
Pengantar Manajemen 90 diperlukan penyesuaian. Pengawasan strategis dirancang untuk memantau peristiwa di dalam dan di luar perusahaan yang dapat mengancam strategi. Terakhir, pengendalian khusus diperlukan untuk mempertimbangkan ulang strategi perusahaan ketika terjadi peristiwa tidak terduga yang dapat memiliki dampak serius. Perusahaan harus melakukan pengendalian strategis untuk menyesuaikan strategi mereka dengan lingkungan yang berubah dan memastikan keberhasilan mereka. 2. Pengendalian Operasional Penting bagi manajemen puncak untuk mengarahkan arah keseluruhan perusahaan, tetapi pengendalian operasional diperlukan untuk mengevaluasi dan mengendalikan kinerja dalam jangka pendek. Sistem pengendalian operasional melibatkan langkah-langkah berikut: menetapkan kriteria dan standar, mengukur dan membandingkan kinerja, melakukan analisis kesenjangan kinerja dan mengambil tindakan korektif. Kriteria dan standar yaitu evaluasi harus dapat diukur dan realistis, dan merupakan faktor kuantitatif dan kualitatif. Tindakan korektif harus diambil tergantung pada tingkat kesenjangan kinerja yang terjadi. Pengendalian yang berkelanjutan sangat penting untuk dilakukan serta menjadi umpan balik terus menerus yang memberi informasi untuk modifikasi strategi kedepannya. Pengantar Manajemen 91 Daftar Pustaka Chandler, A.D.J. (1971) Strategy and Structure: Chapters in the History of Industrial Enterprises. Publishing Industries Pvt. Ltd. Collins, J. and Porras, J.I. (1997) Built to Last: Successful Habits of Visionary Companies. New York: Harper-Collins. David, F.R. (1993) Strategic Management. New York: Macmillan Publishing Co. Drucker, P.F. (1990) The New Realities. London: Mandarin. Glueck, W.F. (1976) Business Policy: Strategy Formulation and Management Action. New York: McGraw-Hill Book Co. Hall, D.J. and Saias, M.A. (2006) ‘Strategy Follows Structure’, Strategic Management Journal, 01(02), pp. 149–163. Hamel, G. and Prahalad, C.K. (1996) Competing for the Future. Boston: Harvard Business School Press. Harari, O. (1994) ‘Beyond “the vision thing.” (management’s new way of looking at strategic planning)’, Management Review, 83(11). McGinni, V. (1981) ‘The Mission Statement: A Key Step in Strategic Planning’, Journal Business, 31(6). Paine, F.T. and Naumes, W. (1982) Organisational Strategy and Policy. Chicago: The Dryden Press. Pearce, J.A.I. and Robinson, R.B.J. (1988) Strategic Management. New Delhi: All-India Traveller Bookseller. Peters, T. (1992) Liberation Management. New York: Fawcett Colmbine. Peters, T. and Waterman, R.H. (1977) In Search of Excellence. New Delhi: Harper Collin Publishers India.
Pengantar Manajemen 92 Rao, M.G. and Rao, S. (1995) Organisation Design and Structure. New Delhi: Kanishka Publishers Distributors. Weihrich, H. and Koontz, H. (1993) Management – A Global Perspective. New York: McGraw-Hill Inc.