The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku Perilaku Organisasi ini terdiri dari empat belas bab, dengan pokok bahasan yang berbeda-beda. Ulasan mengenai Apa itu Perilaku Organisasi berisikan definisi dan sejarah perilaku organisasi, tujuan mempelajari perilaku organisasi, faktor yang mempengaruhi perilaku organisasi serta tantangan dan peluang perilaku organisasi di era disrupsi. Terdapat bahasan mengenai sikap dan kepuasan kerja dalam konteks perilaku organisasi, bagian ini juga membahas mengenai bagaimana sikap dan kepuasan kerja berdampak terhadap kinerja. Materi mengenai emosi dan suasana hati, menekankan bagaimana dua perasaan ini akan mempengaruhi tindakan individu dalam organisasi, baik tindakan positif ataupun tindakan negatif dan akan berdampak pada kinerja seseorang dalam organisasi. Pembahasan mengenai kepribadian dan nilai menjelaskan bagaimana kepribadian dan nilai yang dianut individu dalam organisasi, sehingga akan memperlihatkan gambaran sikap, sifat, etika, dan tingkah laku yang baik/ tidak baik, boleh/ tidak boleh untuk dilakukan. Buku ini juga membahas bagaimana persepsi dapat berhubungan dalam pengambilan keputusan individu.

Materi terkait konsep modal menekankan pentingnya sumber daya keuangan dalam kegiatan operasional organisasi. Bahasan terkait dasar dari perilaku kelompok, mengulas mengenai bagaimana tindakan individu dalam kelompok membentuk perilaku organisasi. Memahami kerja tim menjadi pembahasan menarik dalam studi perilaku organisasi, hal ini dikarena kerja tim diharapkan dapat menjadi sarana efektif untuk mendemokratisasikan organisasi dan meningkatkan keterlibatan karyawan. Topik terkait perilaku organisasi menguraikan bagaimana antar individu saling terhubung dan membutuhkan pola komunikasi yang baik demi tercapainya tujuan organisasi.

Konflik dan Negosiasi tentu akan sering didapatkan dalam organisasi, sehingga uraian mengenai apa itu konflik dan manajemen konflik akan dibahas pada bagian ini, begitu pula dengan negosiasi yang tidak akan terlepas dari aktifitas organisasi juga diuraikan dalam buku ini. Dasar pada Struktur Organisasi melibatkan pemahaman mengenai elemen-elemen dasar yang membentuk organisasi dan bagaimana elemen-elemen tersebut berinterasi satu dengan lainnya. Setiap organisasi akan mengalami perubahan baik yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal yang memaksa perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut. Selain itu, adanya stress di tempat kerja tidak dapat dihindari oleh suatu organisasi sehingga adanya manajemen stres sangat diperlukan untuk keluar dari masalah ini. Dan pembahasan terakhir dari buku ini adalah terkait dengan budaya organisasi yang memiliki peranan penting dalam sebuah organisasi. Budaya organisasi menjadi pembeda organisasi satu dengan yang lainnya.
Demikian topik-topik bahasan dalam buku Perilaku Organisasi ini, semoga materi dalam buku ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan menambah khazanah ilmu pengetahuan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by penamudamedia, 2023-07-26 02:54:24

PERILAKU ORGANISASI

Buku Perilaku Organisasi ini terdiri dari empat belas bab, dengan pokok bahasan yang berbeda-beda. Ulasan mengenai Apa itu Perilaku Organisasi berisikan definisi dan sejarah perilaku organisasi, tujuan mempelajari perilaku organisasi, faktor yang mempengaruhi perilaku organisasi serta tantangan dan peluang perilaku organisasi di era disrupsi. Terdapat bahasan mengenai sikap dan kepuasan kerja dalam konteks perilaku organisasi, bagian ini juga membahas mengenai bagaimana sikap dan kepuasan kerja berdampak terhadap kinerja. Materi mengenai emosi dan suasana hati, menekankan bagaimana dua perasaan ini akan mempengaruhi tindakan individu dalam organisasi, baik tindakan positif ataupun tindakan negatif dan akan berdampak pada kinerja seseorang dalam organisasi. Pembahasan mengenai kepribadian dan nilai menjelaskan bagaimana kepribadian dan nilai yang dianut individu dalam organisasi, sehingga akan memperlihatkan gambaran sikap, sifat, etika, dan tingkah laku yang baik/ tidak baik, boleh/ tidak boleh untuk dilakukan. Buku ini juga membahas bagaimana persepsi dapat berhubungan dalam pengambilan keputusan individu.

Materi terkait konsep modal menekankan pentingnya sumber daya keuangan dalam kegiatan operasional organisasi. Bahasan terkait dasar dari perilaku kelompok, mengulas mengenai bagaimana tindakan individu dalam kelompok membentuk perilaku organisasi. Memahami kerja tim menjadi pembahasan menarik dalam studi perilaku organisasi, hal ini dikarena kerja tim diharapkan dapat menjadi sarana efektif untuk mendemokratisasikan organisasi dan meningkatkan keterlibatan karyawan. Topik terkait perilaku organisasi menguraikan bagaimana antar individu saling terhubung dan membutuhkan pola komunikasi yang baik demi tercapainya tujuan organisasi.

Konflik dan Negosiasi tentu akan sering didapatkan dalam organisasi, sehingga uraian mengenai apa itu konflik dan manajemen konflik akan dibahas pada bagian ini, begitu pula dengan negosiasi yang tidak akan terlepas dari aktifitas organisasi juga diuraikan dalam buku ini. Dasar pada Struktur Organisasi melibatkan pemahaman mengenai elemen-elemen dasar yang membentuk organisasi dan bagaimana elemen-elemen tersebut berinterasi satu dengan lainnya. Setiap organisasi akan mengalami perubahan baik yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal yang memaksa perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut. Selain itu, adanya stress di tempat kerja tidak dapat dihindari oleh suatu organisasi sehingga adanya manajemen stres sangat diperlukan untuk keluar dari masalah ini. Dan pembahasan terakhir dari buku ini adalah terkait dengan budaya organisasi yang memiliki peranan penting dalam sebuah organisasi. Budaya organisasi menjadi pembeda organisasi satu dengan yang lainnya.
Demikian topik-topik bahasan dalam buku Perilaku Organisasi ini, semoga materi dalam buku ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan menambah khazanah ilmu pengetahuan.

Perilaku Organisasi 43 Keadaan itu semua merupakan sumber-sumber penyebab emosi dan suasana hati seseorang. Berkaitan dengan dunia pekerjaan ada istilah Kerja Emosional. Situasi dimana seorang karyawan mengekspresikan emosi-emosi yang diinginkan secara organisasional selama transaksi antarpersonal di tempat kerja. Konsep kerja emosional dimulai dari penelitian-penelitian atas pekerjaan terkait pelayanan. Misalnya, maskapai penerbangan mengharapkan pramugari mereka bersikap ramah kepada penumpang, atau kita mengharapkan rekan kerja bisa diajak bekerjasama dalam menyelesaikan pekerjaan kantor. Namun, di lapangan keadaan itu labil. Ketidaksesuaian emosional dalam diri kita muncul, karena inkonsistensi antara emosi yang kita rasakan dan emosi yang ditampilkan. Ketika para karyawan harus menunjukkan satu emosi sementara pada saat yang bersamaan mengalami emosi yang lain. Kemudian menyembunyikan perasaan terdalam seseorang dan menghilangkan ekspresi-ekspresi emosional sebagai respon terhadap aturan-aturan penampilan yang diwajibkan oleh organisasi. Semua jenis emosi ini bukanlah pembawaan, melainkan harus dipelajari. Ekpresi emosional dan suasana hati seseorang tentu bisa mempengaruhi kepuasan kerja. Sebuah teori peristiwa afektif (Affective Event Teory/AET), menunjukkan bahwa karyawan bereaksi secara emosional pada hal-hal yang terjadi pada


Perilaku Organisasi 44 mereka di tempat kerja dan reaksi ini memengaruhi kinerja mereka. Emosi berfungsi memotivasi manusia untuk terlibat dalam tindakan-tindakan penting agar dapat bertahan hidup, baik dengan emosi positif atau emosi negatif. Kemudian suasana hati menjadi penentu dari kedua emosi tersebut. Jika kita dapat menganggap efek positif (positive affect) sebagai sebuah dimensi hati seperti ketenangan diri, kesenangan maka kegembiraan menjadi ujung tertinggi, dan rasa bosan atau kemalasan terletak paling terendah. Jika kita merasa efek negatif (negative affect) menjadi dimensi suasana hati yang meliputi rasa gugup, stres maka kegelisahan menjadi unggul, dan suasana santai, tenang akan terkikis. Menurut sejumlah peneliti, orang-orang yang berada dalam suasana hati dan emosi yang baik lebih kreatif dibandingkan orang-orang yang berada dalam suasana hati suntuk. Mereka menghasilkan lebih banyak ide, dan cenderung dapat mengidentifikasi lebih banyak pilihan kreatif terhadap masalah. Tinggal kita memilih, efek positif atau efek negatif untuk menjalankan aktifitas sehari-hari. Contohnya, seseorang yang memiliki suasana hati yang baik mungkin merasa bahagia dan puas dengan hidupnya secara keseluruhan, sementara seseorang yang suasana hatinya buruk mungkin merasa sedih dan kecewa dengan hidupnya.


Perilaku Organisasi 45 Suasana hati dapat berlangsung dalam jangka waktu yang lama, bahkan sampai berminggu-minggu atau berminggu-minggu. Perbedaan antara Emosi dan Suasana Hati Perbedaan utama antara emosi dan suasana hati adalah sifatnya yang bersifat sementara dan spesifik untuk emosi, sementara suasana hati bersifat lebih umum dan berkelanjutan. Emosi dapat muncul dan hilang dalam hitungan menit atau jam, sedangkan suasana hati dapat bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama. Selain itu, emosi biasanya dipicu oleh stimulus yang spesifik, sedangkan suasana hati dipengaruhi oleh faktor yang lebih umum. Misalnya, suasana hati seseorang mungkin dipengaruhi oleh kondisi kesehatannya secara umum, bukan hanya oleh satu peristiwa yang spesifik. Emosi dan suasana hati memiliki perbedaan yang signifikan. Emosi lebih berkaitan dengan perasaan sementara yang spesifik, sementara suasana hati lebih berkaitan dengan perasaan yang lebih umum dan berkelanjutan. Penting untuk memahami perbedaan antara keduanya agar dapat mengelola perasaan dan emosi secara tepat. Demikian artikel mengenai perbedaan emosi dan suasana hati. Semoga artikel ini dapat membantumu. Pada perkembangannya, kemampuan untuk memanfaatkan sensasi emosi yang dirasakan akan disertai dengan perencanaan, serta mampu untuk membuat antisipasi pada saat memasuki sekolah baru. Dengan kata lain, terdapat


Perilaku Organisasi 46 sebuah proses dimana emosi dapat dihasilkan, dirasakan, dimanipulasi, serta diuji sehingga emosi tersebut dapat lebih mudah untuk dipahami. Semakin akurat individu merasakan sensasi emosi dan semakin realistis proses tersebut terjadi, individu akan semakin terbantu untuk melakukan pilihanpilihan dalam kehidupan. Perputaran mood yang dirasakan individu dapat merubah cara pandang individu sehingga mendorong individu untuk melihat suatu hal dari berbagai sudut pandang. Lebih lanjut, individu akan mampu untuk memahami bahwa perbedaan pemikiran serta tingkah laku yang ditampilkan disebabkan oleh jenis mood yang berbedabeda. Pemahaman Emosi (Emotional Understanding) “The ability to understand complex emotions and emotional “chains”, how emotions transition from one stage to another”. Kemampuan individu untuk memahami emosi yang dirasakan dan dapat menggunakan pengetahuan mengenai emosi yang dirasakan untuk mengetahui bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari- hari. Cabang ketiga dari emotional intelligence adalah pemahaman emosi yang menitikberatkan pada kemampuan individu untuk Down syndrome mempunyai wajah yang khas, misalnya karena ada gangguan pada pertumbuhan tulang, maka tulang dahinya lebih datar, mata kiri dan mata kanan agak berjauhan,


Perilaku Organisasi 47 posisi daun telinganya lebih rendah. Secara fisik down syndrome memiliki tanda-tanda yang sama meskipun kadar dan kondisinya berbeda antara seorang individu down syndrome dengan individu down syndrome lainnya (Hazmi, 2014). Menurut Blackman dalam Gunarhadi (2015), penyimpangan kromosom trisomi 21 menyebabkan ciri-ciri fisik perkembangan anak down syndrome seperti penyakit jantung bawaan, gangguan mental, tubuh kecil, kekuatan otot lemah, kelenturan yang tinggi pada persendian, posisi. mata miring ke atas, adanya lipatan ekstra pada sudut mata, lubang mulut kecil sehingga lidah cenderung menekuk, tangan pendek tetapi lebar dengan lipatan tunggal pada telapak tangan Interaksi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007), memiliki arti “hal saling melakukan aksi, berhubungan, atau mempengaruhi”. Sedangkan kata sosial memiliki arti “hubungan sosial yang dinamis antara perseorangan dan perseorangan, antara perseorangan dan kelompok, dan antara kelompok dan kelompok”. Menurut Chaplin (2011), interaksi yaitu suatu relasi antara dua sistem yang terjadi sedemikian rupa sehingga kejadian yang berlangsung pada satu sistem dapat mempengaruhi kejadian yang terjadi pada sistem lainnya. Interaksi adalah satu pertalian social antar individu sedemikian rupa sehingga individu yang bersangkutan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.


Perilaku Organisasi 48 Selain faktor kecerdasaan emosional, perilaku belajar yang terdiri dari kebiasaan mengikuti pelajaran, kebiasaan membaca buku,bdan kebiasaan menghadapi ujian pun amat sangat penting peranannya. dalam mendukung program development country. Karena Perilaku belajar merupakan kebiasaan belajar yang dilakukan oleh individu secara berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan berlangsung secara spontan. Intelegensi adalah salah satu faktor internal yang mempengaruhi prestasi akademik seseorang. Intelegensi itu sendiri dalam perspektif psikologi memiliki arti yang berbagai jenis pengertian. Begitu banyak definisi tentang intelegensi yang dikemukakan oleh para ahli. Definisi intelegensi itu mengalami berbagai perubahan dari waktu ke waktu, tetapi sejak dahulu tidak pernah mengurangi penekanan pada aspek kognitif. Salah satu cara yang sering digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya tingkat intelegensi adalah menerjemahkan hasil tes intelegensi ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relatif terhadap suatu norma. Secara tradisional, angka normatif dari hasil tes intelegensi dinyatakan dalam bentuk rasio (quetient) dan dinamakan IO (intelligence Quotient). Dalam dunia pendidikan kemampuan mengedalikan diri dengan penekanan wilyah emosi atau bathin dikenal sebagai


Perilaku Organisasi 49 kecerdasan emosional atau disingkat dengan EQ (Emotional Quentiont). Menurut Goleman dalam (Falah 256:2015) kecerdasan emosional adalah merupakan kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan dalam menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebihlebihkan keseanangan, mengatur suasana hati dan menjaga supaya beban stress tidak melumpuhan kemampuan berfikir, berempati dan berdoa. Pendidikan menjadi sarana mengembangkan berbagai potensi individu secara optimal, potensi tersebut meliputi aspek fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual, sesuai dengan tahap perkembangan serta karakteristik lingkungan dan sosio-kutural di mana individu bertempat. Formulasi pembelajaran sekolah-sekolah dasar hingga menengah, baik di sekolah negeri maupun swasta (madrasah) lebih fokus pada pengembangan aspek intelektual siswa bahkan pelajaran tambahan yang diberikan di sekolah grade A (kelas unggulan), juga memberikan tambahan pengetahuan yang orientasinya pada peningkatan kecerdasan intelektual. Terdapat beberapa penelitian yang mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dan spiritual dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan. Terlebih kecerdasan spiritual yang berfungsi mengontrol kecerdasan intelektual dan


Perilaku Organisasi 50 emosional (Rachmi, 2011). kecerdasan emosi yang ada pada seseorang mencakup pengendalian diri, semangat, ketekunan, serta kemam-puan untuk memotivasi diri sendiri (Hidayati, Purwanto, & Yuwono, 2011; Yantiek, 2014). Adapun kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) merupakan kemampuan individu dalam menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitar(Priatini, Latifah, & Guhardja, 2008). Kemudian kecerdasan mengacu pada kemampuan memberikan alasan terhadap suatu hubungan. Dalam penelitian mutakhir kecerdasan Emosional (EQ) dinilai sebagai potensi yang tidak kalah penting dari kecerdasan intelektual (IQ) serta sebuah penelitian menjelaskan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang (Gusniwati, 2015; Thaib, 2013). Daniel Goeleman dalam (Mashall, 2001) menjelaskan bahwa kecerdasan emosional memungkinkan individu memutuskan suatu hal dengan tepat berdasarkan situasi dan kondisi, dan kecerdasan spiritual mengarahkan pada kesadaran individu terkait dimana dan dalam situasi ia berada. Sekilas dapat diasumsikan bahwa kecerdasan manusia menjadi sempurna dilengkapi dengan potensi kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient/ SQ). Kecerdasan spiritual merupakan kecendasan menghadapi dan


Perilaku Organisasi 51 memecahkan persoalan makna dan nilai dalamhidup, yaitu berupa kecerdasan menempatkan perilaku dalam konteks makna yang lebih luas, sehingga kecerdasan spiritual menjadi landasan pokok yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Mengembangkan Kecerdasan Emosi. Pembelajaran dapat ditingkatkan kualitasnya dengan mengembangkan kecerdasan emosi (emotional guotient), karena ternyata melalui pengembangan intelegensi saja tidak mampu menghasilkan manusia yang utuh, seperti yang harapkan oleh pendidikan nasional. Berbagai hasil kajian, dan pengalaman menunjukkan bahwa dalam Pembelajaran komponen emosional lebih penting daripada intelektual hal yang irasional lebih Penting daripada yang rasional. Hasil penelitian menunjukKan bahwa hal-hal yang irasional dapat Membuka pikiran dan membimbing mental yang memungkinkan tumbuhnya ide-ide baru. Meskipun demikian, pengambilan keputusar Selalu dilakukan secara rasional sedangkan hal-hal yang irasional Merupakan komponen mental yang dapat menggerakkan dan mengembangkan ide, tetapi bukan pengambilan keputusan. Dalam berbagai dimensi kehidupan telah banyak pemecahan masalah yang bersifat rasional dan intelektual jika dibantu irasional lebih memungkinkan bangkitnya ide-ide baru. Bahkan akhir-akhir Ini dalam bidang kesehatan, telah banyak yang memadukan


Perilaku Organisasi 52 ilmu kedokteran dengan supranatural untuk mengobati berbagai penyakit. Sehubungan dengan itu, aspek-aspek emosional dan Irasional harus dipahami untuk meningkatkan keberhasilan dalam pemecahan masalah, dan mendongkrak kualitas pembelajaran. Dengan kata lain, analisis terhadap proses irasional dan emosional tertentu dapat membantu individu dan kelompok untuk meningkatkatkan kecerdasan emosional, karena aspek-aspek irasional dan emosional dapat dipahami dan dikontrol. Oleh karena itu, jika guru dan kepala sekolah mengharapkan pencapaian kualitas pendidikan dan pembelajaran di sekolahnya secara optimal, perlu diupayakan bagaimana membina diri dan peserta didik untuk memiliki kecerdasan emosi yang stabil. Melalui kecerdasan emosi diharapkan semua unsur yang terlibat dalam pendidikan dan pembelajaran dapat memahami diri dan lingkungannya secara tepat, memiliki rasa percaya diri (PD), tidak iri hati, dengki, cemas, takut, murung, tidak mudah putus asa, dan tidak mudah marah. Kecerdasan emosional dapat menjadikan peserta didik: 1) jujur, disiplin, dan tulus pada diri sendiri, membangun kekuatan dan kesadaran diri, mendengarkan suara hati, hormat dan tanggung jawab: 2) memantapkan diri, maju terus, ulet, dan membangun inspirasi secara berkesinambungan: 3) membangun watak dan kewibawaan, meningkatkan potensi, dan mengintegrasikan


Perilaku Organisasi 53 tujuan belajar ke dalam tujuan hidupnya, 4) memanfaatkan peluang dan menciptakan masa depan yang lebih cerah. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan emosi dalam pembelajaran adalah sebagai berikut. 1. Menyediakan lingkungan yang kondusif. 2. Menciptakan iklim pembelajaran yang demokratis. 3. Mengembangkan sikap empati, dan merasakan apa yang sedang 4. Mengembangkan sikap empati, dan merasakan apa yang sedang dirasakan oleh peserta didik. 5. Membantu peserta didik menemukan solusi dalam setiap masalah yang dihadapinya. 6. Melibatkan peserta didik secara optimal dalam pembelajaran, baik secara fisik, sosial, maupun emosional. 7. MeresponMerespon setiap perilaku peserta didik secara positif, dan menghindari respon yang negatif. Menjadi teladan dalam menegakkan aturan dan disiplin dalam pembelajaran. Kecerdasan Emosional dapat dipengaruhi perkembangan anak, kerena jika anak sudah gagal dalam melakukan proses pendidikan, maka dia akan gagal dalam menghadapi tantangan hidup dan tidak dapat merespon dengan positif pada setiap


Perilaku Organisasi 54 emosi yang merangsang munculnya emosi, oleh karena itu peran dalam kecerdasan emosional sangat besar dalam kehidupan seseorang. Kecerdasan emosional adalah salah satu aspek psikis manusia yang sangat penting untuk dikembangkan. Pentingnya kecerdasan emosional dalam menunjang hasil belajar peserta didik, maka setiap guru harus memahami tentang kecerdasan emosional supaya mampu untuk mengembangkan kecerdasan emosional peserta diidk. Peserta didik yang memiliki kecerdasan emosional dapat mengendalikan dirinya dengan baik dalam mengikuti proses pembelajran dan memiliki kesadaran untuk belajar. Hal tersebut bisa menjadi modal besar bagi meraih hasil belajar dengan mendapat ekspeasi tinggi baik akademik maupun non akademik. Kecerdasan emosi sebagai suatu kecerdasan sosial yang berkaitan dengan kemampuan dalam memantai tingkat emosi dirinya Proses sifatnya kompleks dan menyeluruh. Banyak orang berpendapat bahawa dalam meraih prestasi yang tinggi dalam belajar, seseorang harus memiliki Intelligence Quotient (IQ) yang tinggi. Karena intelegensi yang tinggi merupakan bekal potensial yang memudahkan dalam belajar pada gilirannya menghasilkan prestasi belajar yang optimal. Kenyataannya dalam proses belajar mengajar disekolah sering ditemukan siswa yang tidak dapat meraih prestasi belajar yang setara


Perilaku Organisasi 55 dengan kemampuan intelegensi. Karena ada kemampuan intelegnsi tinggi tetapi memperoleh prestasi belajar yang rendah, namun ada siswa yang intelegensinya rendah memiliki prestasi belajar yang relatif tinggi. Maka dal tersebut intelegensi bukan suatu patokan yang menentukan hasil keberhasilan seseorang. Menurut Goleman dalam jurnal (Thaib:2013) kecerdasan intelektual (IQ) menyumbang 20% bagi kesuksesan, sedangkan 80% adlaah sumber faktor kekuatan lain, diantaranya kecerdasan emosional dan emotional Quotient(EQ) yakni kemmapuan dalam memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol desakan hati, mengatur suasana hati, berempati serta kemampuan bekerja sama Kecerdasan emosional mempunyai peran yang sangat penting dalam lingkungan pendidikan baik itu lingkungan pendidikan formal maupun non formal dalam meraih kesuksesan pribadi peserta didik. Kecerdasan emosional yang rendah akan sulit untuk memusatkan perhatian (konsentrasi) pada saat proses belajar mengajar sehingga menyebabkan rendahnya prestasi belajar peserta didik. Jadi kecerdasan emosional pada peserta didik harus menjadi perhatian khusus bagi para pendidik dalam proses pembelajaran. Kecerdasan emosional (EO) adalah jembatan antara apa yang diketahui dan apa yang dilakukan. Semakin tinggi kecerdasan emosional (EO) maka semakin terampil melakukan apa yang diketahui benar.


Perilaku Organisasi 56 Menurut pendapat Riyanto (2012:259), pikiran emosional merupakan radar terhadap bahaya, apabila menunggu pikiran rasional untuk membuat keputusankeputusan ini, barangkali bukan saja keliru, mungkin saja telah mati. Sedangkan menurut Goleman (2012:43), kecerdasan emosional adalah kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih lebihkan kesengangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati dan berdo'a. Howard Gardner, seorang ahli psikologi Harvard School of Education, menjelaskan adanya salah satu kecerdasan yang disebutnya sebagai kecerdasan pribadi. Oleh Salovey dalam jurnal (Imanah:2016), kecerdasan pribadi tersebut dipandang sebagai kecerdasan emosional. Salovey juga mengidentifikasi lima jenis kemampuan yang berkaitan dengan emosi, yaitu mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, dan membina hubungan. Seseorang yang mampu mengenali emosi pada dirinya akan dapat mengambil keputusan dengan tepat karena dia sadar akan emosinya sendiri dan mengetahui bagaimana dia harus berpikir. Selain itu, seseorang yang memiliki keterampilan dalam aspek ini akan tampil lebih percaya diri dalam mengekspresikan perasaannya secara terbuka Hakim dalam


Perilaku Organisasi 57 (Imanah:2016). Goleman menyatakan bahwa keterampilanketerampilan dalam aspek ini adalah perbaikan dalam mengenali dan merasakan emosi diri, mampu memahami penyebab perasaan yang timbul, dan mengenali perbedaan perasaan dengan tindakan.


Perilaku Organisasi 58 Bab 4 Kepribadian Dan Nilai Perilaku organisasi mempunyai cakupan pembicaraan yang luas dimana tidak selalu berbicara secara konseptualnya saja melainkan juga membahas terkait aspek-aspek spesifik yang lebih interpersonal pada diri masing-masing individu yang berada dalam organisasi tersebut. Terdapat dua cakupan yang menjadi pusat utama dari perilaku organisasi yang terdiri dari perilaku individu dan kelompok. Beberapa aspek yang menjadi cakupan perilaku individu dimana salah satunya yaitu dapat mengacu pada kepribadian dan nilai yang dianut individu dalam perilaku organisasi. Pembahasan mengenai kepribadian dan nilai yang dianut individu dalam organisasi sebagai aspek interpersonal specifik akan dibahas secara lebih terperinci dan mendalam pada chapter ini.


Perilaku Organisasi 59 Apa Itu Kepribadian? Pembahasan kepribadian tidak dapat dipisahkan dengan peran manusia. Hal ini dikarenakan hanya manusia sebagai satu-satunya makhluk hidup yang dapat mempunyai kepribadian. Anugrah akal yang cukup sempurna pada manusia dimana dapat membentuk diri setiap individu secara berbeda-beda, Seperti yang dijelaskan oleh Bergson dalam bukunya yang berjudul “Creative Evolution” pada tahun 1977 dimana dijelaskan bahwa manusia adalah makhluk hidup satusatunya mempunyai intelegensi dan intelektualitas. Intelegensi disini dimaksudkan pada kemampuan manusia untuk bermasyarakat, berkomunikasi, dan pengolahan Bahasa dalam menjalankan kendali hidup mereka. Di samping intelegensi, terdapat satu faktor yaitu intelektualitas dimana hal itu mengarah pada kemampuan intuisi manusi untuk mengambil sebuah keputusan dalam kehidupan bermasyarakat manusia. Maka hal itulah yang dapat membedakan antara manusia dan makhluk hidup lain seperti hewan dan tumbuhan. Secara bahasa atau konsep etimologi, kepribadian atau personality berasal dari kata pribadi atau person yang mana secara merujuk pada beberapa pemaknaan, yaitu sosok manusia secara individu (An Individual Human Being), Individu manusia secara umum (A Common Individual), manusia sebagai sosok yang hidup (A Living Human Body), selain itu terdapat istilah


Perilaku Organisasi 60 yang lebih spesifiknya, yaitu eksistensi diri atau identitas pribadi manusia (Existence and Personal Identity), dan kepribadian merujuk pada kekhususan karakter atau karakter khusus manusia (Distinctive Personal Character) (dikutip dari Mujib, 2006). Singkatnya definisi kepribadian mengacu pada sifat-sifat, karakter, dan watak pada pribadi manusia diidentifikasikan sebagai identitas manusia itu sendiri. Berdasarkan konsep terminologi, kepribadian dapat didefinisikan sebagai sifat biologis manusia seperti kecenderungan rasa terhadap individu lainnya, intuisi dan sistem kebiasaan untuk menciptakan cara eksklusif yang berbeda-beda antar individu manusia dimana juga sangat mempengaruhi manusia dalam menentukan keputusan untuk beradaptasi dengan lingkungan kehidupan manusia (Wirawan, 1991 Dikutip dalam Karim, 2020). Jika dapat diinterpretasikan dari konsep terminologi sebelumnya dimana kepribadian adalah kumpulan sifat dan sikap manusia yang dapat mempengaruhi manusia beradaptasi. Beragam perspektif disiplin ilmu berusaha untuk memaknai definisi kepribadian. Namun dalam sudut pandang keilmuan psikologi dijeaskan bahwa kepribadian adalah karakter paling dalam dimana menjadi ciri-ciri bawaan manusia. Hal ini sangat relevant dengan hasil interpretasi yang


Perilaku Organisasi 61 dipelopori oleh Philip Kotler (2005) dijelaskan bahwa kepribadian merupakan salah satu konsep atau teori yang sangat melekat dengan pendekatan disiplin ilmu psikologi manusia yang merujuk pada karakteristik psikologi manusia (Human Psychological Traits) yang mana kepribadian dapat menghasilkan respon atau tanggapan yang konsisten dan berkelanjutan terhadap stimulus yang didapat dari lingkungan sosialnya. Terkait dengan hubungan timbal balik yang kuat antara stimulus dan respon, hal ini dapat dihubungkan dengan teori kepribadian yang dipelopori pertama kali oleh Sigmund Freud. Di dalam teori kepribadian yang dipelopori oleh Sigmund Freud menyatakan bahwa kepribadian terdiri dari tiga unsur yaitu aspek dorongan biologis manusia, seperti rasa lapar dan haus (Id), Aspek dorongan fisiologis namun masih dapat untuk dikontrol dan disadari oleh manusia (Ego), dan aspek dorongan psikologis pada manusia agar senantiasa selalu mengikuti aturan hidup, seperti norma, moral, etika, dan nilainilai pada lingkungan sosialnya (Super Ego) (Freud, 1923). Hal ini dapat dijelaskan secara singkat bahwa kepribadian diartikan sebagai sikap dan karakter manusia yang terdiri dari aspek dorongan biologis, fisiologis, dan psikologis dimana hal itu juga mencakup hubungan intrapersonal atau inner psychological characteristic dan juga hubungan interpersonal yang merujuk pada stimulus dari lingkungan sosialnya.


Perilaku Organisasi 62 Apa Sajakah Faktor Penentu Kepribadian Manusia? Setelah memahami makna atau definisi kepribadian manusia. Selanjutnya mari mengkritisi dari manakah kepribadian tercipta dalam diri manusia? Apakah kepribadian tumbuh sesuai dengan pertumbuhan manusia mulai dari bayi sampai dewasa? Apakah saat bayi lahir sudah memiliki kepribadian? dan apakah kepribadian terbentuk akibat dari interaksi sosial manusia dengan lingkungannya?. Dalam menjawab semua pertanyaan yang diajukan sebelumnya, saat ini peneliti-peneliti telah banyak menyajikan bukti terkait bagaimana kepribadian terbentuk dalam diri setiap individu manusia dan apakah faktor penentu terberntuknya kepribadian. Peneliti-peneliti telah menyatakan bahwa kepribadian terbentuk akibat dari hasil pengaruh sekelompok agents dan juga lingkungan sosialnya. Seperti yang dijelaskan pada salah satu penelitian terdahulu bahwa kepribadian dibentuk oleh sekelompok agents dan lingkungan yang terus-menerus saling mempengaruhi apabila hubungan antara sekolompok agents seperti orang tua dan keluarga baik maka kepribadian yang terbentuk akan sehat namun sebaliknya masalah kepribadian atau penyimpangan kepribadian sering terjadi dikarenakan individu manusia terbeut tumbuh di sekelompok agent yang tidak selaras (Fitriani, 2011). Di sisi lain beberapa peneliti sebelumnya menjelaskan bahwa salah satu faktor penentu


Perilaku Organisasi 63 tidaklah hanya bergantung pada treatment yang individu dapatkan dari sekelompok agent dan lingkungan melainkan faktor penentu dapat merujuk pada faktor genetik atau hereditas yang diwariskan oleh orang tua atau keluarga yang mana beberapa penelitian telah membuktikan bahwa faktor genetik atau hereditas sangatlah berpengaruh dalam mengontrol sistem saraf otak manusia yang bekerja atas perkembangan perilaku manusia itu sendiri (Nerizka, 2021). Berdasarkan konsep pendahuluan yang dijelaskan sebelumnya, terdapat dua faktor inti dan utama yang dapat mempengaruhi dan membentuk kepribadian setiap individu manusia (Sjarkawi, 2008). 1. Faktor Internal Dari konsep namanya yaitu Internal, maka sudah pasti faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu manusia yang mana dapat mempengaruhi dan membentuk kepribadian manusia itu sendiri. Faktor internal sebagai faktor yang dapat menentukan kepribadian sesorang merujuk pada faktor biologis seperti faktor genetis yang berupa bawaan dari lahir yang diwariskan dari orang tua. Selain faktor genetis, terdapat fakto lain seperti faktor prenatal yang mana kondisi jasmani ibu selama mengandung bayi dapat menjadi faktor penentu


Perilaku Organisasi 64 perkembangan bayi, khususnya kepribadian bayi yang akan dilahirkan. • Faktor Prenatal Ketika bayi masih berada di dalam kandungan ibu, maka disitulah perkembangan manusia dimulai yang terdiri dari perkembangan fisik dan juga psikisnya seperti sifat, karakter, dan juga kepribadian. sebagai contohnya apabila seorang ibu yang sedang mengandung mempunyai riwayat sakit yang serius seperti diabetes dan kanker maka bayi yang dikandungnya akan mengalami permasalahan dalam pertumbuhan fisik dan mentalnya. Singkatnya, beberapa indikasi yang dialami saat bayi berada dalam kandungan atau disebut masa prenatal sangat berpengaruh dalam awal pembentukkan manusia dimana tidak hanya fisik melainkan perkembangan kondisi psikis dan mental manusia. • Faktor Hereditas Faktor hereditas merupakan faktor biologis manusia yang sifatnya genetis yang mana terwariskan dari sifat atau karakter orang tua. Hal yang diwariskan orang tua tidak hanya terkait bentuk badan, wajah, warna kulit, bentuk dan warna mata ataupun rambut. Melainkan sifat dasar atau karakter psikologi (kejiwaan juga menjadi salah satu hal yang diwariskan oleh orang tua. Terdapat beberapa aspek


Perilaku Organisasi 65 psikologis yang diwariskan oleh orang tua kepada anaknya, seperti tempramen, emosi, intelegensi, kemampuan dan cara belajar, nafsu, cara berperilaku dan berbicara. Sebagai contoh apabila seorang anak terlahir dari keluarga yang bertempramen tinggi, maka anak tersebut akan mewarisi watak kedua orang tuanya yang bertempramen tinggi. Selanjutnya, apabila seorang anak terlahir dari keluarga dengan intelegensi tinggi, maka anak tersebut pun akan pintar. 2. Faktor Eksternal Berbeda dengan faktor internal yang dijelaskan sebelumnya, faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri individu manusia yang mana dapat berpengaruh dalam pembentukkan dan pengembangan kepribadian seseorang. Faktor dari luar diri seseorang atau faktor eksternal yang dimaksudkan berupa lingkungan keluarga, teman di sekolah, teman di kantor, tetangga, maupun dari media di lingkungan manusia yang dapat mereka tonton, dengar, dan nikmati seperti acara TV, informasi yang barsifat visual, audiovisual, atau pun textual dari Laptop, Komputer, dan Smartphone. • Faktor Lingkungan Faktor lingkungan merupakan salah satu faktor yang sangat membengaruhi pembentukkan dan pengembangan


Perilaku Organisasi 66 kepribadian manusia. Faktor lingkungan terdiri dari segala aspek atau keadaan yang ada di sekitar manusia yang mencakup keadaan fisik, sosial, dan budaya. Faktor lingkungan fisik merujuk pada kondisi alam seperti keadaan iklim, topografi, cuaca, struktur geografis dan fenomena-fenomena alam lainnya. Faktor sosial mencakup pada keadaan atau kondisi interaksi sosial manusia seperti interaksi antara anak dan orang tua, anak dengan anak lainnya di lingkungan sekolah atau tempat bermain, mupun antara orang tua dan orang tua yang terjadi dilingkungan bertetangga dan bisnis/pekerjaan. Beberapa peneliti mengidentifikasi faktor sosial menjadi dua bagian, seperti faktor keluarga dan situasi sosial. Sebagai contoh ciri kepribadian yang dapat dipengaruhi oleh faktor sosial di tingkat keluarga adalah ketika seorang anak memiliki ambisi yang tinggi untuk mencapai impiannya, maka ada peran orang tua yang mendasari ambisi anaknya secara langsung dengan selalu menasihati dan memotivasi ataupun secara tidak langsung melalui pencapaian hidup yang telah dicapai oleh kedua orang tuanya. Di sisi lain, faktor lingkungan yang merujuk pada situasi sosial yaitu merujuk pada dimana karakter kejujuran dan tanggung jawab sebagai salah satu kepribadian dapat dipaksa terbentuk karena adanya situasi


Perilaku Organisasi 67 sosial, seperti rules atau kebijakan yang sifatnya baku dan memaksa untuk berlaku jujur dan tanggung jawab. • Faktor Budaya Selain faktor lingkungan yang dapat membentuk kepribadian seorang manusia, faktor budaya merupakan salah satu aspek penentu yang termasuk kedalam faktor eksternal yang mana berasal dari luar individu manusia. Hal ini mengingat bahwa budaya adalah warisan sosial meliputi pengajaran dan pembentukkan ide, gagasan, norma-norma, dan nilai-nilai yang diajarkan dan diturunkan secara sistematik melalui pengajaran formal dan informal dari generasi ke generasi selanjutnya. Kepribadian dalam Perilaku Organisasi Kepribadian dalam perilaku organisasi memfokuskan pada penjelasan banyaknya ciri kepribadian yang terbentuk ketika individu berada dalam organisasi. Hal ini dikarenakan ketika sesorang berada dalam suatu organisasi seperti dalam lingkup pekerjaan dan kekuasaan pemerintahan, maka pengalaman manusia dalam organisasi tersebut dapat berpengaruh dalam pembentukkan kepribadian yang mana dapat mengarah kepada kepribadian positif dan negatif. Oleh karena itu, penjelasan mengenai kepribadian dalam perilaku organisasi juga menggarisbawahi bagaimana kepribadian manusia saat


Perilaku Organisasi 68 berada dalam suatu organisasi dan apakah kepribadian seseorang dalam organisasi tersebut akan selalu positif atau negatif. Kepribadian manusia pada dasarnya sering mengalami perubahan dan selalu berbeda-beda menyesuaikan situasi. Sebagai contoh, seseorang memiliki kepribadian pendiam dan introvert akan melakukan adaptasi ketika mereka berada dalam suatu organisasi yang mengharuskan mereka untuk lebih bisa berani menyampaikan pendapat dan memimpin, Hal ini merujuk pada tekanan situasional yang mana sangat berpengaruh kuat terhadap kepribadian dalam perilaku organisasi. Berdasarkan penjelasan dari George and Jones (2012) bahwa kepribadian manusia ketika berada di luar organisasi akan berbeda dan tidak bisa menjadi tolak ukur seseorang mempunyai kepribadian pemimpin yang dibutuhkan dalam organisasi apabila suatu organisasi tidak mempunyai tekanan situasional seperti aturan, perjanjian, regulasi yang kuat untuk ditaati oleh setiap individu di dalam organisasi. Meskipun terdapat regulasi sebagi tekanan situasional namun kepribadian yang berbeda antara anggota organisasi dapat menghasilkan Tindakan dan perilaku yang berbeda (George and Jones, 2012). Sebagai contoh regulasi untuk menyampaikan pendapat saat rapat dimana anggotas yang berkepribadian ekstrovert dapat secara langsung berani ketika menyampaikan pendapatnya


Perilaku Organisasi 69 namun berbeda dengan anggota yang berkepribadian introvert akan lebih nyaman ketika menyampaikan pendapat dilur forum rapat atau disampaikan kepada satu atau dua orang anggota dalam rapat tersebut. Oleh karena itu, meskipun regulasi atau peraturan dalam organisasi sama namun tindakan individu sebagai respon akan berbeda tergantung kepribadian seseorang. Menurut buku “Discriminant Validity of NEO-PIR Facet Scales” yang ditulis oleh McCarae and Costa (1992), kepribadian dalam perilaku organisasi diklasifikasikan kedalam dimensi model lima besar kepribadian (Big Five Model Dimension of Personality). Berikut ini adalah lima kepribadian dalam perilaku organisasi, yaitu: 1. Ekstraversi (Extraversion) Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ekstraversi dalam didefinisikan sebagai sikap atau kepribadian manusi yang lebih berminat untuk berinterkasi dengan dunia luar dan fenomena sosial dibandingkan dengan dirinya sendiri. Di sisi lain, ekstraversi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk dapat menjalin hubungan dengan dunia luar dan bersikap aktif dalam merespon perubahan keadaan yang terjadi disekeliling individu tertentu yang berkepribadian ekstraversi (Ciptadi and Selviana, 2020). Sifat-sifat spesifik yang dimiliki oleh orang yang


Perilaku Organisasi 70 berkepribadian ekstraversi dalan perilaku mereka saat berorganisasi, meliputi emosi positif, suka berteman atau ramah, dan kehangatan dalam berinteraksi dengan orang lain termasuk orang yang baru dikenalnya. Kepribadian ekstraversi dalam perilaku organisasi sangatlah dibutuhkan karena hal ini dapat menentukan apakah orang tersebut dapat menjalin hubungan dan beradptasi baik dengan orang lain yang baru dikenal dengan skala yang besar 2. Kecerdasan Emosional (Neuroticism) Menurut Ariski Syifa S. (2020) dalam studinya menjelaskan bahwa kecerdasan emosional pertama kali diperkenalkan oleh psikolog dari University of Hampshire pada tahun 1990 yaitu Salovey dan Mayer tentang bagaimana kecerdasan emosional terlibat dalam pengendalian emosi, pengekspresian emosi secara tepat sesuai dengan situasi, dan penggunaan emosi dalam berpikir, berbicara serta bertindak di lingkungan sosial. Kecerdasan emosional dapat menentukan penggunaan otak dan kecerdasan intelegensi manusia atau yang disebut dengan IQ. Apabila seseorang dalam organisasi memiliki kecerdasan emosional yang baik maka mereka juga akan mampu menghadapi permasalahan dan mengambil keputusan secara tenang dan akurat.


Perilaku Organisasi 71 Kesadaran diri, pengendalian diri, keterampilan dalam komunikasi dan interaksi sosial, motivasi hidup, serta empati atau terbuka dengan permasalahan di lingkungan sekitar menjadi lima komponen utama dalam kecerdasan emosional (Goleman, 2005). 3. Kemampuan Bersepakat (Agreeableness) Kepribadian manusia ke-empat dalam perilaku berorganisasi adalah kemampuan bersepakat. Individu yang memiliki kepribadian agreeableness atau kemudahan dalam bersepakat cenderung ingin menghindari konflik, maka biasanya mereka akan lebih patuh terhadap individu lain yang mempunyai jabatan diatas atau dibawah jabatannya (Simanullang, 2021). Selain itu, individu yang berkepribadian mudah dalam bersepakat akan lebih mudah beradaptasi dengan individu lain dan juga iklim organisasi karena sikap mereka yang kooperatif, suka membantu, serta penuh dengan rasa kepercayaan kepada individu dan tim. 4. Sifat Berhati-hati (Conscientiousness) Sifat berhati-hati merupakan salah satu kepribadian yang harus dimiliki oleh individu yang berada dalam suatu organisasi. Kelebihan individu yang memiliki kepribadian conscientiousness atau sifat berhatihati dalam perilaku organisasi dimana mereka


Perilaku Organisasi 72 cenderung akan lebih bertanggung jawab, tekun, berorientasi pada kualitas kinerja mereka dan dapat diandalkan (Wulandari et al., 2021). Oleh karena itu, sifat berhati-hati sangatlah diperlukan oleh setiap individu yang berada dalam organisasi. 5. Keterbukaan Terhadap Hal Baru (Openness to Experience) Kepribadian openness to experience merujuk pada sifat individu yang memiliki keterbukaan terhadap hal baru, wawasan baru yang berbeda dari pemahamannya dahulu, dan juga rasa keingintahuan yang tinggi terhadap fenomena atau permasalahan baru yang terjadi di sekelilingnya. Individu yang terbuka terhadap hal baru akan lebih imajinatif dan kreatif. Apa yang dimaksud Nilai? Selain kepribadian individu manusia yang sangat berpengaruh dalam pembentukkan perilaku organisasi, terdapat aspek lain yang juga mempengaruhi perilaku organisasi seperti nilai-nilai yang dianut dan dipegang teguh oleh seseorang dalam organisasi. Sebelum menjelaskan lebih mendalam tentang nilai dalam perilaku organisasi maka mari untuk mengkritisi terlebih dahulu ap aitu nilai? Apakah nilai selalu ada dan hadir dalam kehidupan manusia? Bagaimana korelasi dan sifat dari nilai yang dipegang teguh oleh manusia?


Perilaku Organisasi 73 Secara bahasa atau konsep etimologi, kata ‘Nilai’ berasal dari kata bahasa inggris yaitu ‘Moral Value’ yang merujuk pada sesuatu yang berharga, berkualitas, dan berguna bagi banyak orang dalam kehidupan. Terdapat beberapa ciri yang telah disepakati oleh ilmuwan-ilmuwan terdahulu dalam mendeskripsikan nilai, seperti nilai itu ada namun manusia seringkali tidak mudah memahami keberadaannya, nilai sifatnya abstrak dan tersembunyi di balik fakta, nilai berkaitan dengan subjek, nilai merujuk pada konteks praktis dimana terlihat ketika manusia melakukan tindakan, nilai sebagai sifatsifat tambahan yang dimiliki manusia (Mulyana, 2004 dikutip dari Hidayat dkk., 2006). Berdasarkan konsep terminologi, kepribadian dapat didefinisikan sebagai standar tingkah laku yang sifatnya abstrak tentang sesuatu yang mengikat manusia dimana harus dipegang teguh dan dijalankan melalui pikiran atau kebiasaan seseorang yang berupa keindahan, kebenaran dalam etika pola berperilaku dan berlogika, serta keadilan yang ditujukan pada semua orang tanpa memandang apapun (Fraenkel, 1977 dalam Sukitman, 2016). Terdapat empat macam pengertian dari kata nilai berdasarkan kamus filsafat yang diperkenalkan oleh Lorens Bagus (2002), yaitu: 1) Nilai berasal dari bahasa Latin ‘Valere’ yang dapat diartikan berguna, mampu, berdaya, berlaku, berkualitas, dan kuat. 2) definisi dari konsep nilai dapat


Perilaku Organisasi 74 ditinjau dari derajatnya merupakan kualitas sesuatu yang membuatnya menjadi objek yang menyenangkan, diinginkan, berguna, atau menarik. 3) Nilai berdasarkan sifat keistimewaanya dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang harus dihargai, dinilai tinggi, atau dinilai sebagai anugerah. Sesuatu yang berharga dan berguna bisa menjadi sesuatu yang bernilai dan berharga, atau bisa juga sesuatu yang lawannya buruk dan buruk dan menjadi “nilai negatif” atau “tidak berharga”. 4) Nilai beradasarkan tinjauan sudut ekonomis dimana nilai pertama kali digunakan dalam bidang ekonomi untuk mendeskripsikan kegunaan dan nilai tukar benda-benda material yang memiliki berharga, bernilai, dan berguna bagi banyak orang. Berdasarkan penjelasan dari Hidayat dan Mulyadi (2006) dimana mereka mengutip penjelasan dari Hans Jonas dalam bukunya (Bertens, 2004). Ia menjelaskan bahwa nilai adalah sesuatu yang disetujui dengan kata “Iya”. Hal ini diartikan apabila seorang individu menyetujui sesuatu hal untuk dilakukan dan dipertahankan maka hal tersebut adalah nilai. Ia menjelaskan bahwa nilai yang disetujui adalah milai yang sifatnya positif sedangkan nilai yang ditolak atau disetujui dengan kata “tidak” oleh seseorang artinya nilai tersebut sifatnya negatif (Bertens, 2004 dikutip oleh Hidayat dkk., 2006). Di sisi lain. Terdapat pemaknaan yang berbanding terbalik


Perilaku Organisasi 75 bahwa nilai hanyalah dapat merujuk pada keyakinan individu dalam menentukan suatu pilihan dan bukan merujuk pada sesuatu yang hanya disetujui dengan kata “Iya”, namun sesuatu yang disetujui dengan kata “tidak” dapat dimaksudkan ke dalam definisi nilai (Mulyana, 2004 dalam Hidayat dan Mulyadi, 2006). Apa Fungsinya Nilai? Selama ini nilai dianggap dapat menciptakan keteraturan sosial dalam masyarakat. Sebagai contohnya terdapat nilai toleransi yang dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia merupakan masyrakat multikultur dimana banyak sekali perbedaan suku, ras, dan agama. Nilai toleransi sangatlah bagus dipegang teguh pada masyarakat yang multikultur agar tercipta keteraturan dan kedamaian antar masyrakat sehingga terhindar dari konflik yang dapat terjadi di masyarakat pada umumnya. Apabila tidak ada nilai toleransi yang dipegang teguh dan dijalankan oleh seluruh masyarakat, maka kehidupan masyarakat akan tidak teratur yang mana dapat terjadi konflik dan perkelahian antar masyarakat yang berbeda latar belakang suku, ras, budaya, dan agama. Nilai merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam


Perilaku Organisasi 76 berorganisasi. Hal ini dikarenakan nilai yang dianut setiap individu akan menentukkan dan mencerminkan sikap atau sifat individu itu sendiri berdasarkan pada orientasi nilai tersebut. Secara spesifik, menurut Rokeach (1973) menjelaskan beberapa fungsi yang sangat penting dari nilai-nilai dalam kehidupan manusia (dalam Adisubroto, 1993), yaitu: 1. Standar Dalam Berperilaku Nilai berfungsi sebagai standar baku atau patokan dalam berperilaku, bertundak, dan juga berpikir. Terdapat beberapa cara yang dapat diterapkan oleh manusia terkait fungsi nilai sebagai standar dan patokan tingkah laku seseorang, seperti melibatkan individu untuk mengambil keputusan terhadap isu-isu sosial yang terjadi di sekelilingnya, mempengaruhi individu dalam memilih ideologi atau agama, mengevaluasi dan menentukan terkait kebenaran dan kesalahan yang dijalankan dan diterapkan pada diri sendiri ataupun orang lain, menjadikan nilai yang dipegang teguh sebagai pusat penilaian dan proses pembandingan untuk mengidentifikasi individu yang kompeten atau memiliki perilaku yang baik secara moral, dan juga nilai digunakan untuk mempengaruhi atau mengubah kebiasaan, tindakan, dan cara berpikir seseorang.


Perilaku Organisasi 77 2. Rencana Umum Dalam Pengambilan Keputusan Di samping nilai berfungsi sebagai standar manusia dalam bertindak, nilai juga sangat penting karena nilai berisi rencana umum yang digunakan dalam penyelesaian masalah sosial dan pengambilan keputusan. Adisubroto (1993) menjelaskan bahwa nilai dapat mempertimbangkan proses rasionalitas yang mana dapat menentukan cara alternatif atau pilihan yang dapat digunakan dalam penyelesaian konflik. Sebagai contohnya, ketika terdapat pergesekan antar budaya, maka individu yang menjunjung tinggi nilai toleransi budaya akan menyelesaikannya secara damai tanpa kekerasan. Hal ini berbanding terbalik dengan individu yang tidak memperhatikan nila toleransi budaya dimana mereka akan melibatkan emosi dan ego untuk saling membuktikan keunggulan masing-masing budaya atau menjatuhkan budaya lawan. 3. Komponen Motivasi Dalam Mencapai Tujuan Nilai sangatlah penting dan berpengaruh pada kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan nilai tidak hanya berfungsi untuk mngerahkan manusia tentang hal-hal kebenaran dan kesalahan dalam kehidupan bersosialisasi namun juga nilai dapat memberikan dorongan secara sadar ataupun tidak sadar untuk bertindak berdasarkan


Perilaku Organisasi 78 tujuan tertentu. Seperti yang diklaim oleh Rokeach (1973) dijelaskan bahwa nilai merupakan motivator karena nilai dapat dijadikan sebagai alat dan senjata konseptual untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan diri seseorang terhadap sesuatu yang dianggap sebagai kebenaran dan kekeliruan. 4. Penyesuaian Dengan Tekanan Situasional Nilai dianggap berfungsi sebagai proses penyesuaian. Proses penyesuaian yang dimaksud dapt merujuk pada arah berperilaku yang ada pada setiap individu akan berbeda dengan tekanan sosial yang didapatkan. Sebagai contoh, individu memiliki ego untuk meninggalkan ibadah atau selalu berperilaku lalai dalam melaksanakan ibadah, namun individu tersebut akan berperilaku yang disiplin dalam beribadah apabila dirinya memegang nilai agama yang mana memberikan sebuah tekanan situasional. 5. Mekanisme Dalam Pengendalian Ego Nilai-nilai bertindak dan berfungsi sebagai ego defensive atau pengendalian ego. Nilai mewakili konsep yang ada sehingga ketegangan atau permasalah sosial dapat dilepaskan dan diselesaikan dengan lancar dan mudah. Beberapa sikap yang dapat tercermin pada individu yang mempertahankan nilai sebagai mekanisme


Perilaku Organisasi 79 dalam pengendalian ego berupa melayani kebutuhan. perasaan dan perbuatan yang secara pribadi dan sosial tidak dapat diterima 6. Bentuk Aktualisasi Diri Fungsi nilai yang terakhir adalah bentuk aktualisasi diri. Nilai dianggap sangat penting dan berpengaruh dalam meningkatkan pengetahuan untuk menjadi diri sendiri. Hal ini dikarenakan tujuan akhir dari nilai adalah menyadari dan berusaha untuk mengaktualisasi potensinya, rasa berprestasi serta cara berperilaku mandiri, konsisten, otentik, dan kompeten. Hal ini dapat diartikan bahwa realisasi diri berdasarkan jalur logis. cerdas dan banyak akal. Individu yang telah memiliki nilai-nilai dalam hidupnya, maka cenderung akan lebih mengetahui dan mengerti terkait hal-hal apa yang dicari dalam kehidupannya. Nilai dalam Perilaku Organisasi Nilai dalam perilaku organisasi memfokuskan pada gambaran sikap, sifat, etika, dan tingkah laku yang baik/boleh dan tidak baik/tidak boleh untuk dilakukan oleh individu yang berada dalam organisasi. Selain sebagai pemberi gambaran terkait hal yang boleh dan tidak boleh, nilai juga dapat memberikan petunjuk terkait ha-hal apa saja yang benar dan


Perilaku Organisasi 80 salah untuk dilakukan kepada setiap individu pada umumnya dan individu dalam sebuah organisasi pada khususnya. Berdasarkan Endang Pitaloka (2013) dalam salah satu karyanya yang menjelaskan bahwa Nilai merupakan pedoman atau prinsip yang dapat memberikan arah dan menuntun individu berdasarkan pada bagaimana seseorang berpikir, mengambil keputusan, berperilaku dan bertindak ketika berada dalam suatu organisasi. Singkatnya, nilai dapat mempengaruhi sikap dan perilaku serta dapat membentuk persepsi individu dalam organisasi. Berdasarkan Milton Rokeach (1973) dimana ia menjelaskan bahwa terdapat dua macam bentuk nilai pada manusia (yang dikutip dalam Pitaloka, 2013), yaitu: 1. Nilai Terminal (Terminal Value) Nilai terminal merupakan nilai yang dianut manusia berupa keadaan ideal yang diinginkan oleh manusia. Nilai terminal dapat disebut dengan tujuan atau goals manusia (Pitaloka, 2013). Secara lebih jelasnya, nilai terminal seperti keinginan individu untuk memiliki kehidupan yang nyaman dan indah, kehidupan yang adil, atau keinginan untuk dapat bersikap bijaksana dalam berpikir dan bertindak, keinginan mempunyai pertemanan yang sehat, keinginan untuk memiliki keharmonisan dalam hidupnya mungkin dalam


Perilaku Organisasi 81 hubungan dengan dirinya sendiri ataupun hubungan dengan orang lain, dan keinginan untuk memiliki kesenangan dan kebebasan dalam hidupnya. Oleh karena itu, Nilai terminal atau nilai akhir berorientasi pada keadaan akhir yang diinginkan selama siklus kehidupan manusia. Dalam perspektif perilaku organisasi, nilai terminal hadir sebagai penentuan akhir suatu organisasi yang terangkum dalam tujuan organisasi yang berisi halhal yang dapat dicapai selama organisasi berjalan (Sunandar, 2012). 2. Nilai Instrumental (Instrumental Value) Berbanding terbalik dengan pemaknaan dari nilai terminal sebagai hasil akhir yang diinginkan. Sedangkan nilai instrumen atau instrumental values cenderung lebih merujuk pada proses-proses yang berisi cara-cara praktis yang dapat dilakukan seorang individu dalam mencapai nilai terminal atau tujuan akhir yang diinginkan. Hal ini didukung oleh penjelasan dari Endang Pitaloka (2013) yang mengatakan bahwa nilai instrumental mewakili keyakinan pribadi yang dapat tercermin dari cara-cara dan juga perilaku manusia dalam mencapai sesuatu yang diinginkan. Secara lebih jelasnya, nilai instrumental seperti bertingkah laku yang sopan, ambisius, berwawasan luas, memiliki intellectual yang tinggi atau


Perilaku Organisasi 82 cerdas, bertanggung jawab, jujur, dsb. Asep Sunandar (2012) memberikan pemahaman terkait nilai instrumental dalam organisasi yang mana djelaskan bahwa nilai instrumental dapat menentukan perilaku organisasi yang tercermin pada setiap individu anggota organisasi dan nilai-nilai instrumental membantu organisasi dalam mencapai nilai-nilai terminal yang terdapat dalam tujuan organisasi secara operasional.


Perilaku Organisasi 83 Bab 5 Persepsi Dan Pengambilan Keputusan Individu Hubungan Persepsi dan Pengambilan Keputusan Individu Kasus Nicholas D'Aloisio (seorang pemuda 17 tahun yang hasil karyanya dibeli KYahoo! Senilai $30 juta) mengilustrasikan betapa pentingnya dan mungkin langka kreativitas seorang individu bagi sebuah organisasi. Keahlian interpersonal dari beberapa inovator seperti D'Aloisio, yang dideskripsikan rendah hati dan karismatik, dapat membantu mencurahkan ide-ide ke dalam target pasar dari sebuah perusahaan. Seperti yang akan dijelaskan pada bab ini, kreativitas dari seorang individu dapat berdampak pada inovasi yang dilakukan sehingga dapat menyelesaikan suatu masalah. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam, kita perlu memahami terkait apa itu persepsi dan


Perilaku Organisasi 84 bagaimana persepsi tersebut dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan individu. 1. Persepsi Persepsi dalam perilaku organisasi mengacu pada cara individu mempersepsikan dan menginterpretasikan informasi yang ada di sekitar mereka di lingkungan kerja. Persepsi memainkan peran penting dalam membentuk sikap, pemahaman, dan perilaku individu di tempat kerja. Ferdayanti B. Hakim, dkk., Persepsi merupakan sebuah proses yang diawali oleh penginderaan, yakni Persepsi melibatkan proses interpretasi dan penafsiran informasi sensorik yang diterima oleh individu. Proses ini melibatkan penerimaan stimulus, pemrosesan informasi, dan pembentukan persepsi yang akhirnya membentuk persepsi individu tentang dunia di sekitarnya. Persepsi dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pengalaman individu, kepercayaan, nilai-nilai, harapan, dan tujuan mereka. Selain itu, faktor situasional, seperti konteks kerja, komunikasi organisasi, dan interaksi dengan orang lain, juga dapat memengaruhi persepsi individu. Sesuatu yang kita nilai bisa saja berbeda secara substansi dengan realita yang ada pada suatu objek yang dinilai tersebut. Robbins menegaskan bahwa persepsi merupakan bagian yang penting dalam perilaku organisasi sebab perilaku seseorang


Perilaku Organisasi 85 berdasar pada persepsi bagaiamana dan apa yang mereka lihat dari suatu hal tertentu bukan mengenai realita dari suatu hal itu sendiri. 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi Dalam bukunya yang berjudul "Organizational Behavior" karya Stephen P. Robbins, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi individu; Karakteristik Penerima: Karakteristik individu seperti pengalaman, keahlian, kepribadian, dan kepercayaan dapat mempengaruhi cara individu mempersepsikan informasi. Pengalaman masa lalu dan latar belakang pribadi dapat membentuk filter persepsi individu. Karakteristik Sumber: Sumber informasi juga mempengaruhi persepsi. Faktor-faktor seperti kepercayaan, kredibilitas, dan pengetahuan sumber informasi dapat mempengaruhi bagaimana informasi itu diproses dan diterima oleh individu. Karakteristik Situasional: Faktor-faktor situasional termasuk waktu, tempat, konteks, dan kondisi fisik dapat mempengaruhi persepsi individu. Misalnya, suasana yang ramai dan bising dapat mempengaruhi persepsi individu terhadap suatu situasi. Karakteristik Target: Karakteristik dari objek atau individu yang menjadi fokus persepsi juga memainkan peran


Perilaku Organisasi 86 penting. Sifat fisik, perilaku, dan atribut lain dari target dapat mempengaruhi bagaimana individu mempersepsikan mereka. Norma dan Nilai Budaya: Norma dan nilai budaya dapat mempengaruhi persepsi individu. Budaya, keyakinan, dan nilai-nilai yang diinternalisasi oleh individu dapat membentuk persepsi mereka terhadap situasi dan orang-orang di sekitar mereka. Interaksi Sosial: Interaksi sosial dengan orang lain dapat mempengaruhi persepsi individu. Pandangan, pendapat, dan sikap orang lain terhadap suatu situasi dapat mempengaruhi persepsi individu terhadap situasi tersebut. Media dan Teknologi: Media dan teknologi yang digunakan untuk menyampaikan informasi juga dapat mempengaruhi persepsi individu. Format dan cara penyampaian informasi, seperti tulisan, lisan, atau visual, dapat mempengaruhi bagaimana individu mempersepsikan dan memproses informasi. Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi dan kompleks, dan dapat berbeda dalam setiap situasi. Pemahaman terhadap faktor-faktor ini membantu dalam memahami dan mengelola persepsi individu di dalam organisasi. 3. Persepsi Orang: Membuat Penilaian atas Orang Lain Dalam hal ini, Stephen P. Robbins dan Judge, Timothy mengemukakan tentang “teori atribusi”.


Perilaku Organisasi 87 Teori atribusi (attribution theory) merupakan Sebuah percobaan untuk menentukan apakah perilaku seorang individu disebabkan dari internal atau eksternal. Benda-benda mati yang ada disekeliling kita selalu mengikuti hukum alam, namun mereka tidak mempunyai kepercayaan, tujuan, ataupun kehendak layaknya Manusia yang memiliki hal-hal demikian. Saat kita mencoba untuk mengamati orang lain, kita selalu dapat memberikan penjelasan atau penilaian kita terhadap perilaku yang mereka tunjukkan. kemudian Persepsi ataupun penilaian yang kita buat terkait dengan perilaku orang tersebut dipengaruhi oleh asumsi yang kita buat dalam pikirian kita sendiri. Teori atribusi ini berusaha untuk menjelaskan cara kita dalam memberikan penilaian terhadap sesuatu atau seseorang dengan cara yang berbeda. Teori atribusi menekankan inti dari motif sosial untuk memahami satu sama lain dan memiliki kontrol. Artinya, orang perlu memiliki rasa prediksi tentang tindakan orang lain (pemahaman) dan tentang dampak dari mereka sendiri pada tindakan tersebut (kontrol). Secara khusus, teori atribusi menunjukkan bahwa, ketika kita mengamati perilaku individu, kita berusaha untuk menentukan apakah itu disebabkan oleh faktor internal atau eksternal. Penentuan tersebut yang paling utama bergantung pada tiga aspek : (1) perbedaan, (2) konsensus, dan (3) konsistensi.


Perilaku Organisasi 88 Perilaku yang disebabkan secara internal diyakini berada di bawah kendali individu itu sendiri. Adapun Perilaku yang disebabkan secara eksternal dihasilkan dari penyebab di luar; yaitu, orang tersebut dipandang telah dipaksa untuk berperilaku oleh situasi. Misalnya, jika seorang karyawan datang terlambat untuk bekerja hari ini, apakah menurut kita itu disebabkan secara internal (misalnya karena tidur larut malam) atau disebabkan secara eksternal (misalnya oleh kemacetan lalu lintas)?. Penentuan tersebut tergantung pada tiga faktor, berikut adalah penjelasan yang lebih detail. Pertama, Perbedaan mengacu pada apakah seorang individu menampilkan perilaku dalam banyak situasi atau apakah itu khusus untuk satu situasi. Yang ingin kita ketahui adalah apakah perilaku ini tidak biasa. Jika ya, pengamat cenderung memberi perilaku itu atribusi eksternal. Jika tidak, mungkin akan dinilai sebagai tindakan internal. Konsekuensinya, jika karyawan yang datang terlambat untuk bekerja hari ini juga merupakan orang yang dianggap malas oleh rekan kerja, kita cenderung menilai perilaku tersebut (melanjutkan pekerjaan terlambat) sebagai penyebab internal. Kedua, Jika setiap orang yang dihadapkan pada situasi serupa merespons dengan cara yang sama, kita dapat mengatakan bahwa perilaku tersebut menunjukkan konsensus.


Perilaku Organisasi 89 Perilaku keterlambatan karyawan akan memenuhi kriteria apabila semua karyawan yang mengambil rute yang sama untuk bekerja hari ini juga terlambat. Sehingga, jika konsensus tinggi, diharapkan kita memberikan atribusi eksternal terhadap keterlambatan karyawan, sedangkan jika karyawan lain yang mengambil rute yang sama berhasil bekerja tepat waktu, kita akan menyimpulkan alasan internal. Ketiga, seorang manajer mencari konsistensi dalam tindakan karyawan. Apakah individu terlibat dalam perilaku secara teratur dan konsisten?, Apakah karyawan merespons dengan cara yang sama dari waktu ke waktu?. Datang terlambat 10 menit untuk bekerja tidak dilakukan dengan cara yang sama, jika untuk satu karyawan itu merupakan kasus yang tidak biasa (dia belum terlambat selama beberapa bulan), tetapi untuk yang lain itu adalah bagian dari pola rutin (dia adalah terlambat dua atau tiga kali seminggu). Semakin konsisten suatu perilaku, semakin cenderung pengamat mengaitkannya dengan sebabsebab internal. Menariknya, temuan yang diambil dari teori atribusi menunjukkan bahwa kesalahan atau bias dapat mendistorsi atribusi. Misalnya, bukti substansial mendukung hipotesis bahwa, ketika kita membuat penilaian tentang perilaku orang lain, kita cenderung meremehkan pengaruh faktor eksternal dan melebih-lebihkan pengaruh faktor internal atau pribadi.


Perilaku Organisasi 90 Kesalahan atribusi mendasar ini dapat menjelaskan mengapa seorang manajer penjualan mungkin cenderung mengaitkan kinerja buruk agen penjualannya dengan kemalasan daripada lini produk inovatif yang diperkenalkan oleh pesaing. Individu juga cenderung mengaitkan kesuksesan mereka sendiri dengan faktor internal seperti kemampuan atau usaha sambil menyalahkan faktor eksternal seperti keberuntungan atas kegagalan. Bias melayani diri sendiri ini menunjukkan bahwa umpan balik yang diberikan kepada karyawan dalam ulasan kinerja dapat diprediksi akan terdistorsi oleh mereka, apakah itu positif atau negatif. Pintasan perseptual juga dapat mendistorsi atribusi. Kita semua, termasuk para manajer, menggunakan sejumlah jalan pintas untuk menilai orang lain. 4. Jalan Pintas Dalam Menilai Orang Lain Secara Umum Secara umum, Jalan pintas dalam menilai orang lain sering mendorong kita membuat persepsi akurat dengan cepat bahkan dapat menghasilkan data yang valid saat membuat suatu prediksi. Berikut ini, beberapa teori terkait jalan pintas dalam menilai orang lain yang dikemukakan oleh Robbins; a. Persepsi Selektif Efek persepsi selektif adalah kecenderungan individu untuk mempersepsikan informasi yang konsisten dengan keyakinan, nilai, atau harapan mereka


Perilaku Organisasi 91 sendiri, sementara mengabaikan atau mengabaikan informasi yang tidak konsisten. Dalam konteks pengambilan keputusan individu, efek persepsi selektif dapat memiliki implikasi penting dalam cara kita menafsirkan informasi dan membuat keputusan. dalam proses pengumpulan informasi, kita cenderung mencari dan memperhatikan informasi yang mendukung keyakinan atau harapan kita, yang dapat menghasilkan penilaian yang tidak seimbang atau tidak lengkap. Dimana, dalam penafsiran informasi, kita cenderung menginterpretasikan informasi yang mendukung keyakinan kita secara positif, sementara menginterpretasikan informasi yang bertentangan secara negatif atau meragukan. Ini dapat menyebabkan bias penilaian dan mengarah pada keputusan yang mungkin tidak obyektif. Sehingga efek persepsi selektif juga dapat mempengaruhi cara kita memperhatikan dan mengingat informasi. Kita cenderung memberikan perhatian lebih pada informasi yang konsisten dengan pandangan kita, dan kemungkinan besar mengingatnya dengan lebih baik. Sebaliknya, kita mungkin mengabaikan atau melupakan informasi yang bertentangan dengan keyakinan kita.


Perilaku Organisasi 92 b. Efek Halo Efek halo adalah fenomena di mana persepsi seseorang tentang individu atau objek dipengaruhi oleh kesan keseluruhan atau atribut tunggal yang menonjol. Dalam konteks persepsi dan pengambilan keputusan individu, efek halo dapat memiliki dampak signifikan pada cara kita mengevaluasi orang, produk, atau situasi tertentu. Efek halo terjadi ketika kita cenderung menggeneralisasi atribut atau kualitas positif atau negatif dari satu aspek individu atau objek ke aspek lainnya. Misalnya, jika seseorang memiliki penampilan fisik yang menarik, kita mungkin cenderung berasumsi bahwa mereka juga memiliki kepribadian yang menyenangkan atau kualitas lain yang positif. Persepsi dalam efek halo dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pengalaman sebelumnya, pengetahuan kita tentang orang atau objek tersebut, atau pengaruh media dan budaya. Efek halo dapat membuat kita membuat penilaian yang terlalu sederhana atau menyimpang dari realitas yang sebenarnya. Efek halo juga dapat mempengaruhi pengambilan keputusan individu. Ketika kita terpengaruh oleh efek halo, kita cenderung membuat penilaian atau keputusan berdasarkan kesan keseluruhan atau atribut tunggal


Click to View FlipBook Version