The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku Perilaku Organisasi ini terdiri dari empat belas bab, dengan pokok bahasan yang berbeda-beda. Ulasan mengenai Apa itu Perilaku Organisasi berisikan definisi dan sejarah perilaku organisasi, tujuan mempelajari perilaku organisasi, faktor yang mempengaruhi perilaku organisasi serta tantangan dan peluang perilaku organisasi di era disrupsi. Terdapat bahasan mengenai sikap dan kepuasan kerja dalam konteks perilaku organisasi, bagian ini juga membahas mengenai bagaimana sikap dan kepuasan kerja berdampak terhadap kinerja. Materi mengenai emosi dan suasana hati, menekankan bagaimana dua perasaan ini akan mempengaruhi tindakan individu dalam organisasi, baik tindakan positif ataupun tindakan negatif dan akan berdampak pada kinerja seseorang dalam organisasi. Pembahasan mengenai kepribadian dan nilai menjelaskan bagaimana kepribadian dan nilai yang dianut individu dalam organisasi, sehingga akan memperlihatkan gambaran sikap, sifat, etika, dan tingkah laku yang baik/ tidak baik, boleh/ tidak boleh untuk dilakukan. Buku ini juga membahas bagaimana persepsi dapat berhubungan dalam pengambilan keputusan individu.

Materi terkait konsep modal menekankan pentingnya sumber daya keuangan dalam kegiatan operasional organisasi. Bahasan terkait dasar dari perilaku kelompok, mengulas mengenai bagaimana tindakan individu dalam kelompok membentuk perilaku organisasi. Memahami kerja tim menjadi pembahasan menarik dalam studi perilaku organisasi, hal ini dikarena kerja tim diharapkan dapat menjadi sarana efektif untuk mendemokratisasikan organisasi dan meningkatkan keterlibatan karyawan. Topik terkait perilaku organisasi menguraikan bagaimana antar individu saling terhubung dan membutuhkan pola komunikasi yang baik demi tercapainya tujuan organisasi.

Konflik dan Negosiasi tentu akan sering didapatkan dalam organisasi, sehingga uraian mengenai apa itu konflik dan manajemen konflik akan dibahas pada bagian ini, begitu pula dengan negosiasi yang tidak akan terlepas dari aktifitas organisasi juga diuraikan dalam buku ini. Dasar pada Struktur Organisasi melibatkan pemahaman mengenai elemen-elemen dasar yang membentuk organisasi dan bagaimana elemen-elemen tersebut berinterasi satu dengan lainnya. Setiap organisasi akan mengalami perubahan baik yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal yang memaksa perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut. Selain itu, adanya stress di tempat kerja tidak dapat dihindari oleh suatu organisasi sehingga adanya manajemen stres sangat diperlukan untuk keluar dari masalah ini. Dan pembahasan terakhir dari buku ini adalah terkait dengan budaya organisasi yang memiliki peranan penting dalam sebuah organisasi. Budaya organisasi menjadi pembeda organisasi satu dengan yang lainnya.
Demikian topik-topik bahasan dalam buku Perilaku Organisasi ini, semoga materi dalam buku ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan menambah khazanah ilmu pengetahuan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by penamudamedia, 2023-07-26 02:54:24

PERILAKU ORGANISASI

Buku Perilaku Organisasi ini terdiri dari empat belas bab, dengan pokok bahasan yang berbeda-beda. Ulasan mengenai Apa itu Perilaku Organisasi berisikan definisi dan sejarah perilaku organisasi, tujuan mempelajari perilaku organisasi, faktor yang mempengaruhi perilaku organisasi serta tantangan dan peluang perilaku organisasi di era disrupsi. Terdapat bahasan mengenai sikap dan kepuasan kerja dalam konteks perilaku organisasi, bagian ini juga membahas mengenai bagaimana sikap dan kepuasan kerja berdampak terhadap kinerja. Materi mengenai emosi dan suasana hati, menekankan bagaimana dua perasaan ini akan mempengaruhi tindakan individu dalam organisasi, baik tindakan positif ataupun tindakan negatif dan akan berdampak pada kinerja seseorang dalam organisasi. Pembahasan mengenai kepribadian dan nilai menjelaskan bagaimana kepribadian dan nilai yang dianut individu dalam organisasi, sehingga akan memperlihatkan gambaran sikap, sifat, etika, dan tingkah laku yang baik/ tidak baik, boleh/ tidak boleh untuk dilakukan. Buku ini juga membahas bagaimana persepsi dapat berhubungan dalam pengambilan keputusan individu.

Materi terkait konsep modal menekankan pentingnya sumber daya keuangan dalam kegiatan operasional organisasi. Bahasan terkait dasar dari perilaku kelompok, mengulas mengenai bagaimana tindakan individu dalam kelompok membentuk perilaku organisasi. Memahami kerja tim menjadi pembahasan menarik dalam studi perilaku organisasi, hal ini dikarena kerja tim diharapkan dapat menjadi sarana efektif untuk mendemokratisasikan organisasi dan meningkatkan keterlibatan karyawan. Topik terkait perilaku organisasi menguraikan bagaimana antar individu saling terhubung dan membutuhkan pola komunikasi yang baik demi tercapainya tujuan organisasi.

Konflik dan Negosiasi tentu akan sering didapatkan dalam organisasi, sehingga uraian mengenai apa itu konflik dan manajemen konflik akan dibahas pada bagian ini, begitu pula dengan negosiasi yang tidak akan terlepas dari aktifitas organisasi juga diuraikan dalam buku ini. Dasar pada Struktur Organisasi melibatkan pemahaman mengenai elemen-elemen dasar yang membentuk organisasi dan bagaimana elemen-elemen tersebut berinterasi satu dengan lainnya. Setiap organisasi akan mengalami perubahan baik yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal yang memaksa perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut. Selain itu, adanya stress di tempat kerja tidak dapat dihindari oleh suatu organisasi sehingga adanya manajemen stres sangat diperlukan untuk keluar dari masalah ini. Dan pembahasan terakhir dari buku ini adalah terkait dengan budaya organisasi yang memiliki peranan penting dalam sebuah organisasi. Budaya organisasi menjadi pembeda organisasi satu dengan yang lainnya.
Demikian topik-topik bahasan dalam buku Perilaku Organisasi ini, semoga materi dalam buku ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan menambah khazanah ilmu pengetahuan.

Perilaku Organisasi 143 besar terdiri dari orang-orang yang lebih suka bekerja sebagai bagian dari kelompok. Banyak juga karyawan yang akan memilih diri mereka sendiri keluar dari partisipasi tim. Saat orang yang lebih suka bekerja sendiri diharuskan untuk bekerja sama, ada ancaman langsung ke moral tim dan kepuasan anggota individu. 6.3 Proses Tim Kategori terakhir yang terkait dengan efektivitas tim adalah variabel proses seperti komitmen anggota untuk tujuan bersama, pembentukan tim tertentu tujuan, kemanjuran tim, tingkat konflik yang terkelola, dan kemalasan sosial yang diminimalkan. Ini akan sangat penting dalam tim yang lebih besar dan dalam tim yang sangat tinggi saling bergantung. Proses penting untuk efektivitas tim karena tim harus membuat keluaran lebih besar dari jumlah masukan mereka. (1) Rencana Umum dan Tujuan Tim yang efektif mulai dengan menganalisis tim misi, mengembangkan tujuan untuk mencapai misi itu, dan membuat strategi untuk mencapai tujuan. Tim yang secara konsisten berkinerja lebih baik telah membentuk pengertian yang jelas tentang apa yang perlu dilakukan dan bagaimana. (2) Tujuan Khusus Tim yang sukses menerjemahkan tujuan bersama mereka menjadi tujuan khusus, sasaran kinerja yang terukur dan


Perilaku Organisasi 144 realistis. Tujuan khusus memfasilitasi komunikasi yang jelas. Mereka juga membantu tim mempertahankan fokus mereka untuk mendapatkan hasil. Konsisten dengan penelitian tentang tujuan individu, tujuan tim juga harus sesuai menantang. Sasaran yang sulit tetapi dapat dicapai meningkatkan kinerja tim pada tujuan tersebut kriteria yang mereka tetapkan. Jadi, misalnya, tujuan kuantitas cenderung meningkat kuantitas, tujuan untuk akurasi meningkatkan akurasi, dan sebagainya. (3) Kemanjuran Tim (Team efficacy) Tim yang efektif memiliki kepercayaan diri; mereka percaya mereka bisa sukses. Kami menyebutnya kemanjuran tim. Tim yang telah sukses meningkatkan keyakinan mereka tentang kesuksesan masa depan, yang pada gilirannya memotivasi mereka untuk bekerja lebih keras. Apa yang dapat dilakukan manajemen untuk meningkatkan efektivitas tim? Ada dua opsi membantu tim mencapai kesuksesan kecil yang membangun kepercayaan diri dan memberi pelatihan untuk meningkatkan keterampilan teknis dan interpersonal anggota. Lebih besar kemampuan anggota tim, semakin besar kemungkinan tim akan mengembangkan kepercayaan diri dan kemampuan untuk memberikan kepercayaan itu.


Perilaku Organisasi 145 (4) Model Mental Tim yang efektif berbagi model mental yang akurat — terorganisir representasi mental dari elemen kunci dalam lingkungan tim itu anggota tim berbagi. Jika anggota tim memiliki model mental yang salah, yang mana sangat mungkin terjadi dengan tim di bawah tekanan akut, kinerja mereka menderita. Jika anggota tim punya ide yang berbeda tentang bagaimana melakukan sesuatu, tim akan memperebutkan metode sebagai gantinya daripada fokus pada apa yang perlu dilakukan. (5) Tingkat Konflik Konflik dalam tim tidak selalu buruk. Saat kita berdiskusi, konflik memiliki hubungan yang kompleks dengan kinerja tim. Konflik hubungan-yang didasarkan pada ketidakcocokan antarpribadi, ketegangan, dan permusuhan terhadap orang lain — hampir selalu disfungsional. Namun, ketika tim melakukan aktivitas nonrutin, ketidaksepakatan tentang isi tugas (disebut konflik tugas) merangsang diskusi, mempromosikan penilaian kritis masalah dan pilihan, dan dapat mengarah pada keputusan tim yang lebih baik. (6) Kemalasan Sosial Individu dapat terlibat dalam kemalasan sosial dan terus melakukan itu didalam grup karena tidak bisa


Perilaku Organisasi 146 teridentifikasi. Tim yang efektif dapat memperkecil kecenderungan ini dengan membuat anggota secara individu maupun bersama-sama bertanggung jawab atas tujuan, sasaran, dan pendekatan tim. Oleh karena itu, anggota harus jelas tentang apa yang menjadi tanggung jawab mereka secara individu dan untuk apa mereka bersama-sama bertanggung jawab dalam tim. 7. Kontribusi Tim Tim yang efektif dapat memberikan banyak keuntungan. Kontribusi tim ini mengarah pada keunggulan kompetitif yang lebih kuat dan kinerja organisasi keseluruhan yang lebih tinggi. (1) Kreativitas dan inovasi Karena tim mencakup orang-orang dengan keterampilan, kekuatan, pengalaman, dan perspektif yang beragam, mereka berkontribusi pada tingkat kreativitas dan inovasi yang lebih tinggi dalam organisasi. (2) Peningkatan kualitas Salah satu kriteria untuk keefektifan organisasi adalah apakah produk dan layanan memenuhi persyaratan kualitas pelanggan. Mungkin tidak ada tempat yang lebih penting daripada perawatan kesehatan. Hari-hari ketika seorang dokter tunggal dapat menguasai semua keterampilan,


Perilaku Organisasi 147 menyimpan semua informasi di kepala mereka, dan mengelola semua yang diperlukan untuk merawat pasien sudah lama berlalu. Saat ini, organisasi yang memberikan perawatan pasien dengan kualitas tertinggi adalah organisasi di mana tim profesional yang terkoordinasi dengan erat menyediakan sistem perawatan yang terintegrasi. (3) Kecepatan respon Tim yang sangat terintegrasi dapat bermanuver dengan sangat cepat. Selain itu, tim dapat mempercepat pengembangan produk, merespons lebih cepat terhadap perubahan kebutuhan pelanggan, dan memecahkan masalah lintas departemen dengan lebih cepat. (4) Produktivitas lebih tinggi dan biaya lebih rendah. Tim yang efektif dapat mengeluarkan energi yang sangat besar dari fasilitasi sosial mengacu pada kecenderungan kehadiran orang lain untuk meningkatkan kinerja sendiri. Beberapa siswa menemukan bahwa mereka bekerja lebih baik di perpustakaan di sekitar orang lain daripada yang mereka lakukan dengan belajar di rumah. Berada di sekitar orang lain mungkin memiliki efek yang memberi energy tambahan.


Perilaku Organisasi 148 (5) Peningkatan motivasi dan kepuasan. Orang memiliki kebutuhan akan rasa memiliki dan afiliasi. Bekerja dalam tim dapat memenuhi kebutuhan ini dan menciptakan persahabatan yang lebih besar di seluruh organisasi. Tim juga mengurangi kebosanan, meningkatkan rasa martabat dan harga diri orang, dan memberi orang kesempatan untuk mengembangkan keterampilan baru. Individu yang bekerja dalam tim yang efektif mengatasi stres dengan lebih baik, lebih menikmati pekerjaannya, dan memiliki tingkat motivasi dan komitmen yang lebih tinggi terhadap organisasi. Gambar 3. Kontribusi Tim Sumber: Daft (2022) 8. Tahapan Pengembangan Tim Setelah tim dibuat, tim berkembang dengan melewati tahapan yang berbeda. Tantangan bagi para pemimpin adalah


Perilaku Organisasi 149 memahami tahap perkembangan dan untuk mengambil tindakan yang akan mengarah pada kelancaran fungsi. Tim baru berbeda dari tim yang sudah mapan dalam beberapa cara. Saat ketika Anda menjadi anggota tim baru, misalnya sebagai kelas sumpah persaudaraan atau mahasiswi, panitia, atau tim kecil yang dibentuk untuk mengerjakan tugas kelas. Seiring waktu, tim berubah. Pada awalnya, anggota tim harus mengenal satu lain, menetapkan peran dan norma, membagi kerja, dan memperjelas tugas tim. Dengan cara ini, masingmasing anggota menjadi bagian dari tim yang beroperasi dengan lancar. Salah satu model yang berguna untuk menjelaskan tahap-tahap ini ditunjukkan pada gambar 4 dibawah ini. Setiap tahap menghadirkan masalah dan tantangan yang unik. Gambar 4. Tahapan Pengembangan Tim Sumber: Tuckman dan Jensen (1977) dalam Daft dan Marcic (2022)


Perilaku Organisasi 150 Tahap 1. Pembentukan (Forming) Tahap perkembangan pembentukan merupakan masa orientasi dan perkenalan. Anggota memecahkan kebekuan dan menguji satu sama lain untuk kemungkinan pertemanan dan orientasi tugas. Ketidakpastian tinggi selama tahap ini, dan anggota biasanya menerima kekuasaan atau otoritas apa pun ditawarkan oleh pemimpin baik formal maupun informal. Selama tahap pembentukan, pemimpin tim harus menyediakan waktu bagi anggota untuk mendapatkan berkenalan satu sama lain dan mendorong mereka untuk terlibat dalam diskusi sosial informal. Tahap 2. Menyerbu (Storming) Selama tahap menyerbu, kepribadian individu muncul. Orang menjadi lebih tegas dalam mengklarifikasi peran mereka dan apa yang diharapkan dari mereka. Tahap ini ditandai dengan konflik dan perselisihan. Orang mungkin tidak setuju atas persepsi mereka tentang tujuan tim atau bagaimana caranya mencapai mereka. Anggota dapat memperebutkan posisi, dan koalisi atau subkelompok berdasarkan kesamaan kepentingan dapat terbentuk. Kecuali jika tim berhasil melewati tahap ini, mereka mungkin akan macet down dan tidak pernah mencapai kinerja tinggi. Selama tahap storming, pemimpin tim harus mendorong partisipasi setiap tim anggota. Anggota harus mengusulkan ide, tidak setuju satu sama lain, dan mengatasi


Perilaku Organisasi 151 ketidakpastian dan persepsi yang bertentangan tentang tugas dan tujuan tim. Ekspresi emosi, bahkan yang negatif, membantu membangun persahabatan dan pemahaman bersama tentang tujuan dan tugas. Tahap 3. Norma (Norming) Selama tahap norming, konflik diselesaikan dan keharmonisan dan persatuan tim muncul. Konsensus berkembang tentang siapa yang memiliki kekuatan, siapa pemimpinnya, dan apa saja peran berbagai anggota. Anggota datang untuk menerima dan memahami satu sama lain. Perbedaan diselesaikan, dan anggota mengembangkan rasa kohesi tim. Selama tahap norming, pemimpin tim harus menekankan kesatuan dalam tim dan membantu memperjelas norma dan nilai tim. Tahap 4. Melakukan (Performing) Selama tahap melakukan, penekanan utama adalah pada pemecahan masalah dan menyelesaikan tugas yang diberikan. Anggota berkomitmen untuk misi tim. Mereka berkoordinasi satu sama lain dan menangani perbedaan pendapat dengan cara yang matang. Mereka menghadapi dan menyelesaikan masalah demi kepentingan penyelesaian tugas. Anggota tim sering berinteraksi dan mengarahkan mereka diskusi dan pengaruh terhadap pencapaian tujuan tim. Selama tahap ini, pemimpin harus berkonsentrasi pada pengelolaan kinerja tugas yang tinggi. Peran sosioemosional dan spesialis tugas berkontribusi


Perilaku Organisasi 152 pada fungsi tim. Karyawan menjadi lebih berkinerja tinggi, karena tantangan membantu mereka untuk lebih bersatu sebagai sebuah kelompok, seperti yang dijelaskan dalam fitur “Resep Sukses”. 9. Kesimpulan Tim yang efektif memiliki karakteristik yang sama. Mereka memiliki sumber daya yang memadai, kepemimpinan yang efektif, iklim kepercayaan, dan evaluasi kinerja dan sistem penghargaan yang mencerminkan kontribusi tim. Tim-tim ini memiliki individu-individu dengan keahlian teknis serta keterampilan pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan interpersonal dan sifat-sifat yang benar, terutama ketelitian dan keterbukaan. Tim yang efektif juga cenderung kecil - dengan kurang dari 10 orang, lebih disukai dari latar belakang yang beragam. Mereka memiliki anggota yang memenuhi tuntutan peran dan yang lebih suka menjadi bagian dari grup. Dan pekerjaan yang dilakukan anggota memberikan kebebasan dan otonomi, kesempatan untuk menggunakan keterampilan dan bakat yang berbeda, kemampuan untuk menyelesaikan tugas atau produk yang utuh dan dapat diidentifikasi, dan pekerjaan yang memiliki dampak substansial pada orang lain.


Perilaku Organisasi 153 Terakhir, tim yang efektif memiliki anggota yang percaya pada kemampuan tim dan berkomitmen pada rencana dan tujuan bersama, model mental bersama yang akurat tentang apa yang harus dicapai, tujuan tim tertentu, tingkat konflik yang dapat dikelola, dan tingkat minimal. kemalasan sosial. Karena organisasi dan masyarakat individualistis menarik dan menghargai pencapaian individu, mungkin sulit untuk menciptakan pemain tim dalam lingkungan ini. Untuk melakukan konversi, manajemen harus mencoba untuk memilih individu yang memiliki keterampilan interpersonal untuk menjadi pemain tim yang efektif, memberikan pelatihan untuk mengembangkan keterampilan kerja tim, dan memberi penghargaan kepada individu untuk upaya kerja sama.


Perilaku Organisasi 154 Bab 10 Komunikasi Organisasi A. PENDAHULUAN Di dalam sebuah organisasi yang terdiri dari berbagai individu yang memiliki tugas masing-masing dan tentu saling berhubungan antara satu sama lainnya memerlukan suatu sistem dan koordinasi yang baik salah satunya yaitu komunikasi. Komunikasi yang baik akan menghasilkan kinerja organisasi yang berjalan dengan baik pula, sehingga yang menjadi tujuan dari organisasi lebih mudah tercapai. Dalam beberapa kasus komunikasi menjadi penyebab utama yang dapat menentukan banyak hasil produktifitas, misalnya saja strategi dan peran individu dalam organisasi (Anderson et al., 2001). Pada era industri 4.0 komunikasi menjadi suatu kebutuhan organisasi dalam menyampaikan berbagai hal


Perilaku Organisasi 155 informasi, teknologi telah merubah segalanya dalam kehidupan termasuk budaya kerja dan berorganisasi. Era industri 4.0 menjadi proyeksi kemajuan organisasi dalam memanfaatkan teknologi di berbagai bidang industri dan organisasi dengan menggunakan teknologi digita yang semakin signifikan (Purwandini & Irwansyah, 2018). Selain komunikasi memainkan peran dalam pencapaian tujuan organisasi (Rothman & Cooper, 2008), komunikasi juga menjadi salah satu pendorong dalam peningkatan performance kerja dalam berbagai bidang industri dan organisasi (Satata, 2020). Hal tersebut menjadi tolak ukur keberhasilan bahwa komunikasi tidak dapat dipisahkan dalam sebuah organisasi yang berhubungan dengan orang lain maupun kelompok. Dalam bertukar kegiatan komunikasi dan pertukaran informasi dalam organisasi dilakukan secara rutin karena sistem manajerial yang terstruktur di dalamnya. Dengan memberikan informasi dengan cara berkomunikasi maka berfungsi untuk mencapai tindakan yang terkoordinasi antara berbagai bagian organisasi secara terstruktur (Rothman & Cooper, 2008). Berbagai kebutuhan yang berkembangnya saat ini terutama dengan adanya teknologi komunikasi tidak menjadi hal sulit untuk dilakukan, melalui berbagai platform dan internet segala bentuk komunikasi menjadi semakin mudah dan mudah diaplikasikan.


Perilaku Organisasi 156 Hal tersebut menjadi sisi positif dari proses kemajuan komunikasi yang saling berkaitan dengan berbagai bidang yang dapat saling berkoordinasi antara satu bidang dengan lainnya. Tanpa adanya komunikasi maka akan mengalami hambatan dalam segala aspek kegiatan yang berkaitan dengan koordinasi. Dari beberapa hasil temuan menyebutkan bahwa akar persilihan dan konflik antar individu di dalam organisasi merupakan dari hasil komunikasi yang buruk (Bangun, 2012). B. PENGERTIAN DAN PROSES KOMUNIKASI Komunikasi merupakan suatu proses seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi maupun masyarakat membuat dan menggunakan suatu informasi untuk dapat terhubung dengan orang lain atau lingkungan kelompok lainnya. Secara etnologi bahwa komunikasi berasal dari bahasa latin communis yang berarti ‘sama’, beberapa penyebutan juga dapat seperti communico, communicatio atau communicare yang berarti membuat sama (Deddy, 2007). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kamunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan maupun berita dari dua orang atau lebih supaya pesan yang diberikan dapat dipahami oleh lawan bicara. Di dalam buku berjudul Business Communication: Priciple, Method and Techniques komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi antar individu melalui suatu sistem,


Perilaku Organisasi 157 biasanya melalui simbol-simbol, signal, perilaku ataupun tindakan (Singh, 2008). Agar komunikasi dapat dikatakan berhasil maka kedua pihak pemberi dan penerima informasi harus saling dapat memahami dan mengerti dengan cara bahasa yang sama dan dipahami. Komunikasi yang telah sempurna terjadi maka ketika saat terjadi pikiran yang berbeda dapat dipahamkan dalam satu konteks pemikiran yang sama dan menjurus. Hal ini tentu saja dapat mengurangi kesalahan persepsi yang terjadi di dalam kelompok. Komunikasi yang sempurna dapat dikatakan sebagai komunikasi yang efektif karena informasi yang diberikan mampu memberikan pemahaman kepada lawan bicara sehingga sesuatu hal yang diharapkan dapat terlaksana sesuai dengan harapan. Komunikasi merupakan kegiatan mengirim pesan yang disampaikan oleh komunikator melalui berbagai media komunikasi yang dianggap efektif dan efisien. Dapat diibaratkan bahwa sebuah proses komunikasi dapat digambarkan pada Gambar 11.1 sebagai berikut. Gambar 11.1 Proses komunikasi Sender Encoding Media Decoding Receiver feedback


Perilaku Organisasi 158 Sender merupakan pengirim informasi atau pesan yang disebut dengan komunikator, mengirimkan kode atau sinyal yang disebut dengan encoding melalui media yang dianggap efektif dan efisien dalam mengirim mengirim pesan. Media menyalurkan informasi atau pesan dari simbol atau sinyal (encoding) yang kemudian diproses melalui decoding sebagai sarana pengubah simbol atau sinyal sebagai pemaknaan dan pemikiran kepada penerima yang disebut receiver atau komunikan. Setelah receiver mendapat pesan dan mampu memproses pesan yang diterima dari sender melalui media maka akan terjadi feedback (timbal balik) antar sender dengan receiver dan seterusnya. C. FUNGSI DAN UNSUR KOMUNIKASI Komunikasi memiliki beberapa fungsi dalam kehidupan secara luas dalam kehidupan perorangan, sosial masyarakat, maupun organisasi. Organisasi memiliki hirarki kekuasaan serta acuan formal yang harus dilakukan oleh para anggota di dalamnya. Hal tersebut dapat menjadi pendorong dan juga evaluasi agar organisasi dapat tetap berjalan dengan baik sesuai dengan kaidah dan etika berorganisasi. Fungsi komunikasi dalam organisasi memiliki berbagai impak yang baik guna menentukan suatu keputusan yang penting bila suatu organisasi mendapatkan suatu pilihan. Selain itu fungsi


Perilaku Organisasi 159 komunikasi lainnya mampu mendeteksi ekspresi dari setiap individu yang terlibat di dalamnya. Komunikasi memiliki peranan penting di dalam sebuah organisasi, salah satunya sebagai sarana untuk memadukan berbagai tugas yang telah tersusun dan sistematis. Pada hasil temuan penelitian membuktikan bahwa fungsi komunikasi sendiri terbagi dalam empat hal (Bangun, 2012), sebagai berikut: 1. Fungsi Pengawasan Organisasi umumnya memiliki struktur dan perintah atau komando secara hirarki. Komunikasi membantu karyawan mengenai bagaimana dan apa yang seharusnya mereka lakukan guna bekerja sesuai standar yang telah ditentukan. 2. Sebagai Motivasi Melalui penyampaian informasi yang jelas dan bagaimana prestasi serta pencapaian anggota organisasi, serta bagaimana cara memotivasi anggota organisasi agar memiliki dorongan dalam melaksanakan tugas dengan baik. 3. Ungkapan Emosi Komunikasi yang telah terjadi dalam organisasi kerja merupakan sumber utama dalam komunikasi sosial dan merupakan komunikasi fundamental atau mendasar dimana pengungkapan yang dapat menunjukkan suatu ekspresi kecewa atau puas.


Perilaku Organisasi 160 4. Informasi Pada fungsi informasi ini memiliki hubungan dengan pengambilan keputusan. Kegiatan komunikasi yang dilakukan dapat memberikan suatu informasi yang berguna dalam langkah pengambilan keputusan penting dalam suatu permasalahan atau pilihan. Selain itu pendapat lain mengungkapkan dari fungsi organisasi, dalam organisasi apapun komunikasi sangat berperan besar sehingga memiliki empat fungsi sebagai berikut (Sendjaja, 1994): 1. Fungsi Informatif Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi, sehingga seluruh anggota organisasi berhak mendapat informasi yang lebih banyak, lebih baik, dan tepat waktu. Informasi yang diterima oleh setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaan secara lebih terarah dan pasti. 2. Fungsi Regulatif Berkaitan dengan berbagai peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Terdapat dua hal yang memiliki pengaruh terhadap fungsi regulatif yang berkaitan dengan tiap anggota yang berada dalam manajerial dan memiliki wewenang, berikutnya berkaitan dengan orientasi kerja.


Perilaku Organisasi 161 3. Fungsi Persuasif Mengajak tiap anggota dalam organisasi dalam hal mengikuti aatau melaksanakan ide atau gagasan yang berkaitan tugas maupun pekerjaan. 4. Fungsi Integratif Organisasi yang terbagi menjadi berbagai bagian maupun divisi akan tetap merupakan kesatuan utuh serta terpadu melalui pesan atau informasi yang disampaikan. Organisasi yang terbagi menjadi berbagai bagian maupun divisi akan tetap merupakan kesatuan utuh serta terpadu melalui pesan atau informasi yang disampaikan. D. ARAH KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI Berbagai pendekatan yang digunakan antar satu individu dengan individu lain bisa saja terdapat perbedaan persepsi yang diterima oleh atasan dan bawahan di dalam organisasi kerja atau perusahaan. Sebagai contoh bahwa bagi perusahaan dalam skala kecil penyampaian informasi dapat dilakukan secara langsung dari atasan kepada bawahan ataupun sebaliknya. Namun berbeda, bilamana perusahaan skala besar yang memiliki ratusan bahkan ribuan karyawan maupun cabang, maka penyampaian informasi kepada bawahan adalah hal yang cukup rumit untuk dilakukan. Beberapa hal yang menjadi perhatian dalam penyampaian informasi menjadi alternatif yang perlu dijabarkan sebagaimana


Perilaku Organisasi 162 bahwa dalam organsasi terstruktur penyampaian informasi yang efektif menjadi kunci keberhasilan pemikiran yang sama, oleh karena itu arah komunikasi dalam organisasi perlu dilakukan guna keefektifan penyampaian pesan. 1. Komunikasi dari atas ke bawah (top-down atau downward communication) Sistem arah komunikasi top-down ini di dalam organisasi berasal dari dari atasan langsung kepada bawahannya yang memiliki fungsi agar para atasan sebut saja top manajer untuk lebih mudah dalam memberikan instruksi atau komando kepada bawahan langsung. Tujuan komunikasi top-down dalam organisasi yaitu untuk mengarahkan, mengkoordinasi, memberi motivasi, mengendalikan berbagai kegiatan yang ada di level bawah. Gambar 11.2 Arah komunikasi top-down Manajer Umum Manajer Pemasaran Manajer Produksi Manajer Keuangan Bagian Penjualan Bagian Promosi Bagian Pabrik Bagian Riset Bagian Akuntansi Bagian Keuangan Karyawan


Perilaku Organisasi 163 Komunikasi ini dapat dilakukan secara lisan maupun tertulis sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan di dalam organisasi. Bila disampaikan dengan lisan biasanya dengan wawancara resmi antara supervisor dengan bawahan atau juga dengan pertemuan kelompok. Bila komunikasi dilakukan secara tertulis maka dengan menggunakan memo, kotak informasi, papan pengumuman, persuratan, atau buletin. Namun salah satu kelemahan dari arah komunikasi ini, yaitu adanya kemungkinan terjadi penyaringan pesan atau informasi penting yang ditujukan ke bawahan sehingga tidak lengkap seperti dari atasan langsung. Komunikasi top-down memiliki lima tujuan pokok seperti: 1) Memberikan arahan atau perintah; 2) Memberikan informasi tentang suatu pekerjaan yang harus dilakukan; 3) Memberikan tentang prosedur; 4) Memberikan feedback tentang pelaksanaan kerja; dan 5) menyajikan informasi tentang aspek ideologis dalam membantu organisasi menanamkan pengertian tujuan organisasi. 2. Komunikasi dari bawah ke atas (bottom up atau upward communication) Komunikasi yang terjadi dari bawah (low) di dalam organisasi ke tingkat yang lebih tinggi dari jabatan struktural sehingga penggunannya berupa sebuah saran atau ide, kendala,


Perilaku Organisasi 164 kritik, laporan, dan sebagainya. Kekurangan dari sistem komunikasi ini adalah terjadinya risiko disinformasi atau informasi yang disampaikan belum tentu benar adanya, sehingga dapat menimbulkan salah langkah atau pengambilan keputusan yang tidak tepat. Selain itu, kemungkinan pada level bawah penyampaian pesan atau informasi memiliki kesan negatif cenderung tidak tersampaikan dari posisi karyawan level bawah atau bawahan ke atasan dengan baik. Sementara itu juga informasi yang memiliki kesan negatif cenderung tidak tersampaikan oleh bawahan, sehingga terdapat kesan yang baik-baik saja atau asal bapak senang (ABS). hal tersebut dikarenakan karyawan level bawah menganggap jika melaporkan hal yang baik maka posisinya akan aman dibandingkan bila sebaliknya. Gambar 11.3 Arah komunikasi bottom up Manajer Umum Manajer Pemasaran Manajer Produksi Manajer Keuangan Bagian Penjualan Bagian Promosi Bagian Pabrik Bagian Riset Bagian Akuntansi Bagian Keuangan Karyawan


Perilaku Organisasi 165 3. Komunikasi horizontal Komunikasi ini umumnya dilakukan dengan tujuan untuk pengambilan tindakan oleh para manajer yang bersifat koordinatif dan dapat mengondisikan peran antar divisi di dalam organisasi. Maka dari itu, antar divisi dalam organsiasi maupun perusahaan dapat saling berbagi pesan dengan tujuan pencapaian bersama ke depannya. Gambar 11.4 Arah komunikasi horizontal 4. Komunikasi diagonal Pada sistem komunikasi ini melibatkan komunikasi antara dua tingakat atau level organisasi yang berbeda, hal ini membuat sistem komunikasi agak berbeda dibandingkan arah komunikasi lainnya. Sebagai contoh komunikasi yang formal dan resmi antara manajer produksi dengan bagian promosi, Manajer Umum Manajer Pemasaran Manajer Produksi Manajer Keuangan Bagian Penjualan Bagian Promosi Bagian Pabrik Bagian Riset Bagian Akuntansi Bagian Keuangan


Perilaku Organisasi 166 antara manajer keuangan dengan bagian bagian riset pada struktur perusahaan. Gambar 11.5 Arah komunikasi diagonal Bentuk komunikasi diagonal ini menyimpang dari bentuk komunikasi yang sudah dijelaskan sebelumnya. Pada komunikasi diagonal ini lebih banyak diterapkan dalam suatu organisasi perusahaan yang sudah berskala besar. Hal tersebut karena adanya saling ketergantungan di antara bagian-bagian atau departemen yang ada dalam organisasi perusahaan tersebut. Kelebihan dalam komunikasi organisasi ini yaitu dapat mengganggu jalur komunikasi normal, namun meiliki kelebihan peyebaran pesan atau informasi lebih cepat. E. SALURAN KOMUNIKASI Saluran komunikasi merupakan salah satu media atau alat yang memiliki fungsi dan tujuan dalam menyampaikan Manajer Umum Manajer Pemasaran Manajer Produksi Manajer Keuangan Bagian Penjualan Bagian Promosi Bagian Pabrik Bagian Riset Bagian Akuntansi Bagian Keuangan


Perilaku Organisasi 167 informasi secara individu kepada individu atau individu kepada kelompok atau sebaliknya. Saluran komunkasi terbagi menjadi 2 (dua) saluran, yaitu formal serta non-formal (Kreitner & Kinicki, 2014). Pertama, pada saluran komunikasi formal telah sesuai dengan jalur atau asal perintah susunan struktur perusahaan, sehingga informasi yang disampaikan pada saluran formal dianggap hal resmi yang ditransmisikan melalui media pada 3 jalur vertikal, horizontal, dan eksternal. Kedua, pada saluran komunikasi non-formal tidak terikat pada suatu perintah atau komando sehingga informasi dapat melalui berbagai level manapun. Oleh karena pada informasi non-formal ini tiap anggota dapat membandingkan dua saluran non-formal yang digunakan yaitu melalui desas-desus (gosip) dan manajemen dengan berkeliling pada sekitar lingkungan perusahaan. Pada saluran komunikasi sendiri terdapat dimensi sebagai perantara komunikasi dapat berjalan dengan baik, terdapat 6 (enam) dimensi yang dapat diajabarkan secara ringkas, yaitu: 1. Panca indera Komunikasi yang dilakukan secara tatap muka atau langsung memberikan efek individu menggunakan seluruh kelima indera untuk berkomunikasi, sementera bila menggunakan media maka hanya beberap indera saja yang


Perilaku Organisasi 168 digunakan untuk mengirim pesan dan menerima sesuai dengan stimulus pesan dan rangsangan. 2. Umpan balik (feedback) Pertukaran pesan atau informasi melalui dua arah merupakan cara yang maksimal dalam berkomunikasi secara langsung. Feedback sangat penting untuk mengetahui apakah komunikasi telah efektif atau belum terhadap pesan atau informasi yang disampaikan. Maka dari itu dalam suatu organisasi laporan diperlukan untuk mendapat feedback. 3. Kontrol penerima Kontrol atau kendali penerima pesan terdapat media sebagai penyalur pesan, apabila menggunakan media cetak atau media sosial saat ini penerima pesan dapat membaca melalui kecepatan masing-masing individu dan dapat mengulang kembali poin-poin yang disampaikan oleh pengirim pesan. 4. Jenis kode pesan Berkomunikasi secara langsung lebih mudah diekspresikan saat dengan menggunakan berbagai metode secara verbal maupun non-verbal. Hal ini tidak berlaku pada sistem komunikasi dengan menggunakan media, seperti media cetak yang terbatas pada gambar atau tulisan saja, namun pada media massa audio visual (video) dapat memberikan informasi secara konkret.


Perilaku Organisasi 169 5. Kelestarian pesan Kelebihan dari media massa adalah catatan permanen yang tidak terdapat dalam proses komunikasi secara langsung sehingga kelebihan dari sistem informasi melalui media massa dapat didokumentasikan. 6. Aplikatif Melalui berbagai kecanggihan teknologi saat ini penyampaian pesan dan informasi sangat mudah dan cepat, sehingga tidak terbatas pada satu jenis media cetak saja namun dengan berbagai kecanggihan media digital dapat diperluas. F. HAMBATAN KOMUNIKASI Komunikasi dalam organisasi memiliki beberapa faktor penting guna melakukan komunikasi agar efektif. Terdapat dua faktor penting dalam melakukannya yaitu, pertama pengirim pesan menyampaikan informasi secara jelas dan mudah bisa dipahami saat menyampaikan pesan oleh penerima pesan. Kedua penerima pesan merasakan dan dapat menginterpretasikan relasi pesan singkat secara akurat dari penerima pesan yang disampaikan. Setiap individu tentu memiliki keterbatasan dan juga kapasitas terbatas dalam mengolah pesan yang diterima. Ketika pesan yang pesan yang dimiliki untuk bekerja di luar batas kemampuan individu maka hasilnya akan mengalami


Perilaku Organisasi 170 kelebihan pesan yang diterima individu. Sebab saat ini banyak manajer dan profesional yang mengeluh karena merasa terbebani sebab terlalu pesan atau informasi yang diterima melalui berbagai media, sehingga apa yang dirasa akhirnya kurang optimal dan efektif di dalam organisasi (Chen, 2019). Terdapat beberapa hambatan dalam proses komunikasi antara lain 1) Hambatan Personal, yang merupakan atribut individu secara pribadi yang dapat menghambat terjadinya proses komunikasi; 2) Hambatan Fisik yang berupa suara, waktu, ruang, intonasi, nada sehingga orang yang menyampaikan pesan tidak dapat dikonsumsi oleh penerima pesan; dan 3) Hambatan Semantis, yang memiliki pemahaman dalam mengolah dan mengartikan makna kata (Kreitner & Kinicki, 2014). Dalam proses berkomunikasi tidak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan oleh tiap individu dan organisasi. Oleh karena itu, hambatan bukan menjadi penghalang utama dalam menyampaikan informasi secara mutlak, yang berarti banyak opsi lain dalam menyampaikan informasi secara efektif dan efisien menggunakan berbagai media yang mudah diterapkan dalam organisasi seperti penggunaan teknologi.


Perilaku Organisasi 171 Bab 11 Kekuasaan dan Politik A. Pendahuluan Politik dan kekuasaan adalah dua hal yang berkaitan satu sama lain. Baik politik maupun kekuasaan selalu melingkupi berbagai bidang kehidupan, tidak hanya di lingkungan pemerintahan, tapi juga meliputi lingkungan organisasi. Dalam organisasi, politik menjadi hal yang penting karena menyangkut proses berorganisasi yang menimbulkan pada perilaku individu-individu yang tergabung dalam suatu organisasi. Oleh karena itu, politik dan kekuasaan dalam organisasi penting untuk dipelajari. B. Kekuasaan Dalam Organisasi 1. Konsep Kekuasaan Kekuasaan menjadi konsep yang penting dalam organisasi. Kekuasaan adalah kemampuan seorang


Perilaku Organisasi 172 individu untuk memengaruhi perilaku orang lain agar menjadi seperti yang disarankan atau diinginkan oleh individu tersebut (Salsabilah dan Putri, 2022). Kekuasaan tidaklah sama dengan kekuatan. Seorang individu jika mempunyai kekuasan namun tidak mampu menggunakannya, maka itu disebut sebagai potensi saja. Kekuasaan tidak dimaksudkan untuk mengubah perilaku orang lain, namun untuk mengubah orang lain. dalam hal ini, pihak yang dikuasai menganggap pihak yang berkuasa sebagai pihak yang memiliki hal-hal penting sehingga menimbulkan keterikatan dan ketergantungan pihak tersebut terhadap yang berkuasa. Seorang individu dikatakan mempunyai kekuasaan andaikata ia mampu mengatur dan memiliki kontrol terhadap orang lain. Dengan memiliki kekuasaan, seorang individu dimungkinkan untuk memaksakan keinginan atau tujuan-tujuan tertentu kepada orang lain. 2. Sumber Kekuasaan Menurut Gary Yukl dalam Siswanto (2007), sumbersumber kekuasaan dalam organisasi terdiri dari dua macam, yakni: a. Kekuasaan Berdasarkan Kedudukan. Kekuasaan ini bersumber dari kewenangan legal dan karena kedudukan dalam suatu organisasi. Berikut kekuasaan berdasarkan kedudukan:


Perilaku Organisasi 173 1) Kewenangan formal (kewenangan yang berpijak pada kewajiban seorang individu dalam kaitan kedudukannya dalam suatu organisasi). 2) Kontrol terhadap sumber daya dan imbalan (kewenangan terhadap pengelolaan sumber daya yang ada dan imbalan). 3) Kontrol terhadap hukuman (kewenangan terhadap hukuman dan kemampuan mencegah seseorang untuk menerima imbalan). 4) Kontrol terhadap informasi (kewenangan terhadap akses informasi dan pendistribusiannya pada orang lain). 5) Kontrol ekologis (kewenangan pada lingkungan pekerjaan dan teknologi). b. Kekuasaan Pribadi. Kekuasaan ini berupa keunggulan atau potensi diri individu yang dapat mempengaruhi orang lain. Kekuasaan pribadi berupa: 1) Kekuasaan keahlian (kewenangan yang berupa keahlian dalam menyelesaikan tugas yang penting). 2) Kekuasaan karisma (kewenangan atau kekuasaan yang berasal dari kekaguman orang lain hingga membuat orang tersebut memenuhi permintaan yang punya kewenangan).


Perilaku Organisasi 174 3) Kekuasaan kesetiaan (berasal dari kepribadian dan karakter seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain). 3. Praktik Kekuasaan Dalam Organisasi Kekuasaan sangat penting dalam kaitannya dengan organisasi. Hal ini dikarenakan melalui kekuasaan seseorang dapat merumuskan dan menentukan tujuan yang ingin dicapai dalam suatu organisasi. Dalam organisasi, setiap individu berinteraksi dengan menggunakan kekuasaan dan pengaruh yang dimiliki untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kekuasaan dalam organisasi juga berarti peluang seorang individu dalam interaksi sosial untuk memaksakan dan meloloskan keinginannya. Dengan demikian, kekuasaan juga dapat dimaknai sebagai sumber daya yang menggambarkan kapasitas seorang individu untuk mempengaruhi orang lain agar sesuai dengan keinginannya. Menurut Tosi, Rizzo, dan Carrol (dalam Yarkoni, dkk, 2017), ada lima macam kekuasaan, yakni: a) Reward Power: kekuasan ini berfokus pada kemampuan untuk memberikan imbalan atas pekerjaan yang sudah dilakukan oleh orang lain. Misalnya seorang manajer


Perilaku Organisasi 175 memberikan penghargaan kepada bawahannya berupa liburan sebagai reward atas kinerjanya. b) Coercive Power: kekuasaan ini berfokus pada kemampuan memberikan hukuman pada orang lain. Banyak ahli yang menyarankan agar kekuasaan ini tidak terlalu sering digunakan karena dapat berakibat adanya rasa dendam dari karyawan terhadap atasannya. c) Referent Power: kekuasaan ini berhubungan dengan pesona individu. Lebih jauh, kekuasaan ini berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mengetahui dan mengidentifikasi kualitas diri seseorang. Misalnya untuk pekerjaan tertentu seorang pemimpin tentu mempunyai referensi dan catatan khusus terhadap anggotanya yang dianggap mampu melakukan suatu pekerjaan atau penugasan khusus. d) Expert Power: kekuasaan ini berfokus pada anggapan bahwa orang yang mempunyai kekuasaan pasti memiliki keahlian dan pengetahuan tentang berbagai macam persoalan. Seorang bawahan dalam mengerjakan banyak hal dalam organisasi selalu berkonsultasi dan berkoordinasi dengan atasan karena dianggap memahami tentang pekerjaan tersebut. e) Legitimate Power: kekuasaan yang berfokus pada anggapan bahwa kekuasaan yang sah dilaksanakan


Perilaku Organisasi 176 dengan berdasarkan pada nilai-nilai sosial dan kultur dalam masyarakat. Seseorang yang melalui proses persetujuan diberikan hak untuk mengatur orang lain dianggap sebagai kekuasaan sebenarnya. Misalnya orang yang dianggap paling senior dalam organisasi dipercaya sebagai pemimpin dalam organisasi tersebut sehingga ia memiliki kekuasaan secara legitimate dan bisa mengatur orang lain dalam organisasi itu. C. Politik Dalam Organisasi 1. Konsep Politik Istilah politik berasal dari bahasa Yunani yakni dari kata “polis” yang diartikan sebagai city state (kota berstatus negara). Menurut Aristoteles, politik merupakan cara terbaik untuk mewujudkan keinginan bersama dalam masyarakat. Miriam Budiardjo berpendapat bahwa politik adalah kegiatan yang berkaitan dengan proses menentukan dan melaksanakan suatu tujuan dalam sistem politik tersebut. Sementara itu, Rambe, dkk (2019) menyatakan politik sebagai urusan yang berhubungan dengan negara melalui suatu sistem politik dan bagaimana sistem tersebut menentukan dan mencapai tujuan yang diinginkan. Berdasarkan uraian-uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa politik bermakna usaha


Perilaku Organisasi 177 atau kegiatan yang dilakukan dalam suatu sistem untuk menentukan tujuan bersama dan bagaimana mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Paramitha (2011) membatasi konsep politik dan melihat dalam dua sudut pandang: a. Politik sebagai kepentingan umum, Dalam konteks ini, politik menjadi alat untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan dan dikehendaki. Secara sederhana, sebagai kepentingan umum, politik berarti wadah seluruh individu atau kelompok bergerak dan mempunyai kepentingan-kepentingan sendiri. b. Politik sebagai kebijaksanaan politik, Politik dalam konteks kebijaksanaan politik berarti penggunaan pertimbangan-pertimbangan tertentu yang dianggap lebih menjamin terlaksana dan tercapainya keinginan atau cita-cita yang dikehendaki. 2. Praktik Politik Dalam Organisasi Politik dan organisasi adalah dua hal yang tak bias dipisahkan. Politik dalam organisasi merupakan tindakan-tindakan individu-individu disuatu organisasi dalam memperjuangkan kepentingan dan tujuan masingmasing. Politik organisasi muncul sebagai akibat dimungkinkannya kekuasaan dalam organisasi untuk memaksakan kehendak dan tujuan yang diinginkan oleh


Perilaku Organisasi 178 seseorang. Perbedaan kepentingan dan tujuan inilah yang mendorong terjadinya praktik politik dalam organisasi. Oleh karena itu, tak salah kalau dikatakan bahwa organisasi sebagai wahana politik. Sebagai wahana politik, beragam taktik dan strategi tak jarang ditemui dalam organisasi untuk mempengaruhi sumber daya yang ada dalam organisasi. Praktik ini juga menyangkut karir, pendistribusian informasi, penghargaan dan lain sebagainya. Praktik politik ini tidak hanya melibatkan manajemen, namun para karyawan turut dalam praktiknya menggunakan berbagai taktik dalam memanfaatkan sumber kekuasaan yang dimiliki. Secara umum, taktik yang sering dipakai untuk berpolitik dalam organisasi beberapa diantaranya yakni: a) Membuat koalisi dengan orang lain demi meningkatkan dukungan, b) Menciptakan suasana demi membentuk persepsi orang lain sesuai fungsinya. c) Mengubah tindakan pihak lain melalui transformasi kepentingan individu menjadi kepentingan pihak lain. d) Mencari perhatian dengan cara memperbanyak jumlah pihak yang terlibat dalam satu masalah yang menjadi kepentingan suatu seorang individu. e) Bernegosiasi untuk berkompromi dengan pihak lain.


Perilaku Organisasi 179 f) Menimbang waktu yang tepat agar setiap usaha dan tindakan selalu menguntungkan. Politik dalam organisasi dapat membawa dampak positif dalam organisasi jika dikelola dengan baik. Menurut Gunawan dan Santosa (2012), setiap individu yang mempunyai kapasitas dan keahlian politik yang baik harus mampu menggunakan kekuasaannya agar dapat mengontrol sumber daya yang ada dalam organisasi agar dapat menjadi maju dan sesuai keinginan. Meskipun demikian, dalam organisasi haruslah tetap mengedepankan etika berpolitik. Etika berarti ilmu tentang baik dan buruknya suatu hal yang diterima dalam masyarakat (Hudiarini, 2017). Ada tiga prinsip dalam menentukan apakah tindakan seseorang dalam organisasi sesuai dengan etika atau tidak. Ketiga prinsip tersebut yakni: a) Utilitarianisme: prinsip ini bermakna bahwa keputusan yang diambil dalam organisasi harus memberikan manfaat yang besar untuk anggota organisasi. Dengan demikian, kinerja kelompok dalam organisasi lebih ditekankan. b) Hak: prinsip ini menghendaki bahwa setiap individu dalam organisasi mempunyai hak untuk berpendapat dan berbicara secara bebas dan bertanggungjawab. c) Keadilan: prinsip ini menghendaki setiap pemegang kekuasaan harus menegakkan aturan secara adil kepada semua orang.


Perilaku Organisasi 180 Bab 12 Konflik Dan Negosiasi Kemajuan dan perkembangan yang kita rasakan saat ini merupakan hasil dari perbedaan pandangan dan pendapat dari banyak pihak. Perbedaan paradigma dari berbagai pihak bisa menjadi sumber konflik namun dapat menghasilkan solusi yang dapat memberikan dampak perubahan yang lebih baik. Dalam menyikapi perbedaan itu agar tidak berubah menjadi konflik maka diperlukan kemampuan dari para pihak yang saling berinteraksi untuk melakukan negosiasi Konflik Secara harpiah konflik berarti pemogokan, penghancuran atau peremukan yang berasal dari bahasa Latin ‘Confligo’ yaitu kata ‘con’ berarti bersama-sama dan ‘fligo’ peremukan, penghancuran atau pemogokan, Dalam Kamus Umum Bahasa


Perilaku Organisasi 181 Indonesia "konflik" diartikan sebagai "percekcokan" atau "pertentangan". Konflik dan pertentangan dapat bersasal dari dalam diri seseorang (Konflik Internal) maupun berasal dari lingkungan luat yang lebih luas Menurut Robbins dalam Sopiah (2008:57), konflik adalah suatu proses yang dimulai bila satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah mempengaruhi secara negatif atau akan segera mempengaruhi secara negatif pihak lain. dan Alabenes dalam Nimran (1996) mengartikan konflik sebagai kondisi yang dipersepsikan ada diantara pihak-pihak atau lebih merasakan adanya ketidaksesuaian antara tujuan dan peluang untuk mencampuri usaha pencapaian tujuan pihak lain. Beberapa factor yang menjadi penyebabkan terjadinya konflik adalah persaingan untuk memperebutkan sumberdaya yang terbatas, konflik peran, persaingan perebutan dalam organisasi dan sebagainya. Dari fator-faktor tersebut konflik dapat dibagi menjadi beberapa jenis antara lain : 1. Konflik Intrapersonal Konflik yang dialami oleh seseorang atau individu terhadap dirinya sendiri yang disebabkan oleh adanya tekanan serta dorongan dari luar dirinya yang bertentangan dengan keinginannya sendiri. Kondisi ini terjadi apabila bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus. Konflik intrapersonal juga bisa


Perilaku Organisasi 182 disebabkan oleh tuntutan tugas yang melebihi kemampuannya. Jenis-jenis konflik intrapersonal yaitu: 1. Approach-approach Conflict, dimana seseorang mengalami konflik karena diperhadapkan pada dua tujuan yang sama-sama menguntungkan atau samasama disukai, karena memiliki daya tarik yang sama juga. Contoh, di waktu yang sama, seseorang harus membuat pilihan menerima promosi jabatan yang sudah lama didambakan atau pindah tempat tugas ke tempat lain dengan iming-iming gaji yang besar. 2. Avoidance-avoidance Conflict. Seseorang menghadapi situasi yang mengharuskan ia terpaksa memilih di antara dua alternatif yang sama-sama tidak disukai atau sama-sama dianggap buruk. Contoh : Laboratorium Administrasi Perkantoran disediakan opsi untuk pindah ke gedung yang angker atau tetap di gedung yang lama dan sumpek. 3. Approach-avoidance conflict. Pada kasus ini, seseorang harus menghadapi situasi dimana waktu ia memilih, ia harus menghadapi konsekwensi yang saling bertolak belakang. Misalnya, orang itu akan memperoleh gaji yang sangat besar, tapi harus pindah ke tempat terpencil yang sangat tidak disukai.


Perilaku Organisasi 183 2. Konflik Interpersonal Konflik yang disebabkan oleh adanya perbedaan atau pun pertentagan antara satu individu dengan individu lainnya terhadap keinginan maupun tujuannya. Konflik Interpersonal (antar individu) sangat mempengaruhi emosi seseorang, ada kebutuhan untuk melindungi citra diri (self- image) dan harga diri (self-esteem) dalam pandangan orang lain. Adanya kepribadian atau sifat yang berbeda akan menimbulkan konflik begitu pula kalau terjadi kegagalan komunikasi dan adanya perbedaan persepsi yang di timbulkan dari berbagai sumber, seperti perubahan dalam organisasi, perbedaan nilai, perbedaan pandangan, ancaman terhadap status 3. Konflik antar kelompok Konflik ini bersifat kolektif yang terjadi antar organisasi, konflik yang terjadi antar unit organisasi yang bersifat struktural maupun fungsional. Contoh, konflik antara bagian pemasaran dengan bagian produksi. Konflik antar kelompok juga terjadi karena perbedaan pandangan, loyalitas kelompok, dan persaingan untuk memperoleh sumber daya yang terbatas. Dalam penggunaan sumber daya yang sama yang dibutuhkan oleh berbagai kelompok sertahapat sumberdaya yang sama. Kondisi ini mendorong terjadinya konflik antar kelompok damam pemperebutkan nilai sumberdaya sehingga mengalami


Perilaku Organisasi 184 distorsi (gangguan) dalam persepsi dan setiap kelompok cenderung melihat yang baik hanya berdasarkan kelompoknya sendiri sehingga menumbuhkan rasa bermusuhan dgn kelompok lainnya sebagai interaksi dan komunikasi dengan kelompok lain. Sumber-Sumber konflik sebagai berikut: 1. Saling bergantungan Dalam sebuah organisasi saling bergantungan dalam pekerjaan terjadi jika dua kelompok organisasi atau lebih saling membutuhkan satu sama lain guna menyelesaikan tugas. 2. Perbedaan Tujuan Perbedaan tujuan dari masing-masing sub unit atau kelompok mempengaruhi secara dari masing-masing sub unit atau kelompok mengejar tujuannya, dan seringkali tujuan dari masing-masing subunit atau kelompok tersebut saling bertentangan. 3. Perbedaan Persepsi Perbedaan persepsi tentang kenyataan yang terjadi dalam suatu organisasi merupakan penyebab konflik yang cukup potensial. Perbedaan persepsi ini menyebabkan perbedaan pandangan dan pendapat tentang suatu kenyataan (atau kejadian) antara kelompok satu dengan lainnya sehingga terjadi suatu konflik. Perbedaan persepsi ini bisa disebabkan karena perbedaan


Perilaku Organisasi 185 tujuan, horizon waktu, ketidakpastian status, maupun persepsi yang tidak akurat. Manajemen Konflik Proses pengelolaan atau penanganan konflik antara individu, kelompok, atau organisasi dapat dilakukan dengan cara yang konstruktif dan efektif yang bertujuan untuk mengurangi dampak negatif konflik dengan cara memfasilitasi komunikasi secara efektif guna mencapai solusi yang memuaskan untuk memperbaiki hubungan antara pihak yang terlibat terlibat. Berikut ini adalah beberapa tahapan dalam manajemen konflik: 1. Pengenalan konflik: Mengidentifikasi adanya konflik dan menyadari bahwa konflik tersebut memerlukan penanganan. Pemahaman terhadap sumber, karakteristik, dan dampak konflik penting dalam pengenalan ini. 2. Analisis konflik: Melakukan analisis mendalam terhadap sumber konflik, kepentingan, nilai-nilai, dan emosi yang terlibat dalam konflik. Hal ini membantu untuk memahami akar masalah dan mencari solusi yang sesuai. 3. Komunikasi yang efektif: Meningkatkan komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.


Perilaku Organisasi 186 Membuka saluran komunikasi yang jujur, terbuka, dan adil dapat membantu mengurangi kesalahpahaman dan membangun pemahaman yang lebih baik antara pihakpihak yang bertikai. 4. Pencarian solusi: Mengidentifikasi berbagai opsi solusi yang memungkinkan untuk mengatasi konflik. Pihakpihak yang terlibat perlu berkolaborasi dan mencari solusi yang saling menguntungkan dan adil bagi semua pihak. 5. Negosiasi: Melakukan proses negosiasi untuk mencapai kesepakatan yang dapat diterima oleh semua pihak yang terlibat. Negosiasi yang efektif melibatkan kemampuan mendengarkan, memahami, dan menghargai pandangan dan kepentingan pihak lain. 6. Implementasi solusi: Setelah kesepakatan dicapai, langkah selanjutnya adalah menerapkan solusi tersebut. Melibatkan komitmen dari semua pihak untuk menjalankan solusi dengan baik. 7. Evaluasi dan pemantauan: Melakukan evaluasi terhadap solusi yang diimplementasikan dan memantau perkembangan setelah penyelesaian konflik. Jika diperlukan, tindakan korektif dapat diambil untuk memastikan bahwa solusi tetap berfungsi dan hubungan tetap harmonis.


Perilaku Organisasi 187 Manajemen konflik bukan berarti menghindari konflik melainkan mengelolanya dengan cara yang produktif. Konflik dapat menghasilkan perubahan positif dan inovasi jika ditangani dengan baik. Manajemen konflik yang efektif dapat membantu menciptakan lingkungan kerja atau hubungan yang sehat dan produktif. • Metode Penyelesaian dari Konflik Penyelesaian konflik merupakan proses untuk mencapai pemahaman, kesepakatan, dan penyelesaian masalah antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Ada berbagai metode yang dapat digunakan dalam penyelesaian konflik, dan pilihan metode tergantung pada sifat dan tingkat kompleksitas konflik dengan beberapa metode penyelesaian konflik yang umum digunakan dalam penyelesaian konflik antara lain : 1. Negosiasi: Negosiasi melibatkan pembicaraan dan perundingan antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Proses ini melibatkan pertukaran gagasan, kepentingan, dan penawaran kompromi untuk mencapai solusi yang dapat diterima oleh semua pihak. 2. Mediasi: Mediasi melibatkan pihak ketiga yang netral (mediator) yang membantu pihak-pihak yang terlibat dalam konflik untuk mencapai kesepakatan. Mediator bertindak sebagai fasilitator dalam negosiasi dan


Perilaku Organisasi 188 membantu mengidentifikasi masalah, memfasilitasi komunikasi, dan mendorong terciptanya solusi yang saling menguntungkan. 3. Arbitrase: Arbitrase melibatkan pihak ketiga netral yang disebut arbiter atau panel arbiter yang bertindak sebagai pengambil keputusan dalam konflik. Arbiter mendengarkan argumen dari semua pihak yang terlibat dan memberikan keputusan yang mengikat untuk menyelesaikan konflik tersebut. 4. Adjudikasi: Adjudikasi melibatkan pengajuan kasus ke pengadilan atau lembaga hukum yang berwenang. Dalam proses ini, hakim atau arbiter mengambil keputusan berdasarkan hukum yang berlaku untuk menyelesaikan konflik. 5. Kolaborasi: Metode kolaborasi melibatkan kerjasama aktif antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik untuk mencapai solusi yang saling menguntungkan. Pihak-pihak bekerja bersama untuk mengidentifikasi masalah, mengembangkan solusi yang kreatif, dan mencapai kesepakatan yang menguntungkan semua pihak. 6. Diplomasi: Diplomasi adalah upaya penyelesaian konflik yang melibatkan negosiasi politik dan hubungan antarnegara. Negara-negara atau pihak-pihak yang


Perilaku Organisasi 189 terlibat dalam konflik mengadakan perundingan dan dialog untuk mencapai kesepakatan politik yang menguntungkan semua pihak. 7. Restorasi: Pendekatan restoratif melibatkan pemulihan hubungan antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Proses restorasi bertujuan untuk membangun komunikasi, empati, dan pemahaman yang lebih baik antara pihak-pihak tersebut, sehingga memungkinkan rekonsiliasi dan penyelesaian konflik. Metode penyelesaian konflik yang tepat akan bervariasi tergantung pada sifat dan tingkat konflik dimana konflik itu terjadi. Negosiasi Negosiasi adalah proses tawar-menawar dengan jalan berkomunikasi guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak (kelompok atau organisasi) dan pihak (kelompok atau organisasi) yang lain. Negosiasi merupakan bentuk interaksi sosial yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan bersama sehingga kedua pihak saling menyepakati dan diuntungkan. Menurut kamus Oxford, negosiasi adalah suatu cara untuk mencapai suatu kesepakatan melalui diskusi formal. Negosiasi merupakan suatu proses saat dua pihak mencapai perjanjian yang dapat memenuhi kepuasan semua pihak yang


Perilaku Organisasi 190 berkepentingan dengan elemen-elemen kerja sama dan kompetisi termasuk di dalamnya tindakan-tindakan yang dilakukan ketika berkomunikasi, kerjasama atau memengaruhi orang lain dengan tujuan tertentu. Contoh kasus dalam upaya penyelesaian konflik antar suku di Papua dengan melakukan tindakan negosiasi dalam konteks ini seperti dialog dan mediasi antara suku-suku yang terlibat dalam konflik bertujuan untuk memahami permasalahan yang mendasari konflik dan mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat. Penting untuk dicatat bahwa konflik antar suku di Papua adalah masalah yang kompleks dan membutuhkan upaya yang berkelanjutan. Upaya negosiasi dan rekonsiliasi terus dilakukan dengan tujuan mencapai perdamaian yang berkelanjutan dan harmoni di antara sukusuku yang terlibat. Negosiasi dilakukan karena adanya pertentangan yang terjadi antara kedua belah pihak atau lebih. Dalam proses negosiasi harus menghindari sikap atau tindakan yang dapat menimbulkan kerugian kedua belah pihak guna mencapai kesepakatan bersama untuk kesamaan persepsi serta mencapai kondisi saling menguntungkan, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan.


Perilaku Organisasi 191 Manfaat Negosiasi Manfaat negosiasi sangat luas dan mencakup berbagai aspek kehidupan, baik dalam konteks bisnis, hubungan pribadi, maupun di lingkungan sosial. Berikut ini adalah beberapa manfaat utama dari proses negosiasi: 1. Mencapai Kesepakatan: Salah satu manfaat utama negosiasi adalah kemampuannya untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat. Melalui diskusi dan tawar-menawar yang konstruktif, negosiasi memungkinkan pihak-pihak yang memiliki kepentingan yang saling bertentangan untuk menemukan titik temu yang dapat diterima oleh semua. 2. Menyelesaikan Konflik: Negosiasi adalah alat yang efektif untuk menyelesaikan konflik atau perbedaan pendapat. Dalam konteks hubungan pribadi, negosiasi membantu mengurangi ketegangan dan memungkinkan individu atau kelompok untuk mencapai kompromi yang memuaskan. Di tingkat sosial dan politik, negosiasi dapat menjadi sarana untuk mencapai perdamaian, menghindari konfrontasi, dan menyelesaikan sengketa secara damai.


Perilaku Organisasi 192 3. Meningkatkan Kerjasama dan Hubungan: Negosiasi memainkan peran penting dalam membangun kerjasama yang lebih baik antara individu, tim, atau organisasi. Dalam proses negosiasi, pihak-pihak terlibat harus berkomunikasi, mendengarkan, dan memahami kebutuhan satu sama lain. Ini membantu memperkuat hubungan antara mereka dan membangun kepercayaan yang lebih dalam. 4. Mengoptimalkan Hasil Bisnis: Dalam konteks bisnis, negosiasi adalah keterampilan yang penting untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Dengan melakukan negosiasi yang efektif, perusahaan dapat memperoleh harga yang lebih baik, kondisi kontrak yang menguntungkan, atau kesepakatan strategis dengan mitra bisnis. Ini dapat membantu meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi biaya, atau membuka peluang baru. 5. Pengembangan Kemampuan Komunikasi: Negosiasi melibatkan keterampilan komunikasi yang penting, seperti mendengarkan aktif, berbicara dengan jelas, menyampaikan argumen yang persuasif, dan memahami prespektif orang lain. Dengan berpatisipasi dalam negosiasi, individu dapat mengembangkan dan memperkuat keterampilan komunikasi mereka yang


Click to View FlipBook Version