The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Ebook ini merupakan refleksi penulis untuk mengungkapkan perasaan, kegundahan, atau konflik batin tentang fenomena atau kejadian di sekitar kita. Atau, buku ini dapat dimaknai sebagai refleksi penulis berbicara pada diri sendiri.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by irkhammadjid, 2021-07-16 02:39:42

Ebook Senandika

Ebook ini merupakan refleksi penulis untuk mengungkapkan perasaan, kegundahan, atau konflik batin tentang fenomena atau kejadian di sekitar kita. Atau, buku ini dapat dimaknai sebagai refleksi penulis berbicara pada diri sendiri.

Keywords: Self Development,Inspiration,Emotional Intelligence

i

ii

Se.nan.di.ka

wacana seorang tokoh dengan dirinya sendiri. Refleksi.

Desain isi : Suryo Adi Rakhmawan
Desain sampul : Utama Andre Arjita

Diterbitkan pertama kali oleh
Pusdiklat BPS
Jakarta 2019

iii

KATA SAMBUTAN

Alhamdulillah buku yang lama ditunggu-tunggu telah ada di tangan kita.
Buku di tangan anda ini bukanlah kumpulan nasihat, tapi sebagai teman
untuk berdialog dengan diri sendiri. Buku ini merupakan kumpulan catatan
yang penulis bagikan melalui pesan WhatsApp sehari-hari. Tulisan-tulisan
singkat ini merupakan refleksi penulis untuk mengungkapkan perasaan,
kegundahan, atau konflik batin tentang fenomena atau kejadian di sekitar kita.
Atau, buku ini dapat dimaknai sebagai refleksi penulis berbicara pada diri
sendiri.
Harapannya, melalui buku ini, menjadi langkah penulis dalam berbagi
dan menemani para pembaca agar mengenal dan memperbaiki diri. Karena
kebaikan-kebaikan sekecil apapun seyogyanya jangan disimpan sendiri, tetapi
dibagikan seluas-luasnya. Sehingga, kita bersama-sama menjadi baik, bersama-
sama menjadi hamba-Nya yang sejati.
Terima kasih saya sampaikan kepada penulis selaku Widyaiswara BPS
dan berbagai pihak yang terlibat. Karena buku ini juga dapat mengambil peran
dalam pengembangan kompetensi sosio-kultural bagi Aparatur Sipil Negara
(ASN). Bagi ASN kompetensi sosio-kultural melengkapi kompetensi teknis dan
manajerial dalam memberikan pelayanan terbaik terhadap masyarakat. Saya
harapkan, buku perdana ini sebagai pembuka dan stimulus bagi widyaiswara
BPS yang lain membuat buku-buku dalam rangka pengembangan SDM.
Akhirnya, mari kita intropeksi dan memperbaiki diri dalam upaya
menjadi insan yang profesional, berintegritas dan amanah, serta bermanfaat
untuk sesama. Selamat membaca.

Kepala
Pusdiklat BPS

Marsudijono

iv

UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdulillah, atas izin Allah SWT akhirnya penulis dapat
menyelesaikan buku Senandika yang penulis persembahkan untuk Badan
Pusat Statistik (BPS) melalui Pusdiklat BPS sebagai sedikit kontribusi penulis
di mana penulis bekerja. Penulis juga tak lupa menghaturkan ucapan terima
kasih kepada:

Dr. Kecuk Suhariyanto, selaku Kepala BPS yang telah menjadi inspirasi
penulis, mentor, dan mendorong penulis untuk maju terus menyebar kebaikan-
kebaikan untuk BPS dan Pusdiklat BPS banyak perkataan positifnya menjadi
stimulus penulis untuk selalu menulis. Misalnya, bila tidak ada kepentingan
pribadi, kita akan tenang.

Dr. Rusman Heriawan, selaku Mantan Kepala BPS RI periode (2006-
2011) dan Wakil Menteri Pertanian periode (2011-2014). Penulis mengenal
Beliau ketika pertama kali menjadi pegawai negeri sipil (PNS) Tahun 1991.
Saat itu, Beliau menjadi Kepala Sub Direktorat Neraca Badan Usaha dan penulis
menjadi juru ketik tulisan Beliau. Dan saat itu, penulis melihat Beliau sangat
luar biasa ketika menumpahkan pengetahuan-pengetahuan yang ada di
otaknya ke lembaran-lembaran kertas yang tidak pernah ada coretan atau
koreksinya serta sangat mudah dibaca oleh penulis.

Marsudijono, S.Si, MM, selaku Kepala Pusdiklat BPS yang selalu
mengingatkan penulis untuk menjadikan broadcast-broadcast yang disebarkan
melalui WhatsApp untuk dikompilasi menjadi sebuah buku sebagai sebuah
karya Widyaiswara Pusdiklat BPS yang akan menjadi aset Pusdiklat BPS
sebagai center of excellence SDM BPS.

Dr. Tri Widodo Utomo, selaku Deputi Bidang Kajian Kebijakan dan
Inovasi Administrasi Negara, LAN RI yang merupakan inspirasi pertama
penulis untuk terus menulis dan belajar berpikir kreatif dan inovatif. Beliau
adalah orang yang rendah hati dan pembelajar sejati yang pernah menjadi
penguji penulis ketika penulis menjadi peserta calon Widyaiswara.

Sugiharto, S.Si, MAB, selaku Koordinator Widyaiswara Pusdiklat BPS

v

yang telah berpeluh lelah karena lillah untuk merealisasikan buku Senandika
sebagai aset Pusdiklat BPS.

Dr. Ahmadriswan Nasution, selaku si Panda Nyinyir yang sesungguhnya
perkataan-perkataan Beliau kepada orang lain benar adanya agar orang lain
maju dan melakukan sesuatu sesuai kapasitasnya meskipun terasa pahit.

Suryo Adi Rakhmawan, selaku BPS Millenial yang pernah menjadi
coachee penulis dan menjadi inspirasi penulis karena di kala muda sebagai
CPNS telah melanglang buana ke luar negeri atas tulisan-tulisan Beliau tentang
statistik serta mendonasikan seluruh penjualan buku Selaksa Cita karya Beliau
dkk ke sekolah-sekolah di pelosok negeri.

Seluruh Widyaiswara Pusdiklat BPS yang kompetensinya luar biasa
sebagai Guru Bangsa dalam memotivasi dan menginspirasi para peserta
pendidikan dan pelatihan (diklat) sebagai PNS yang profesional dan
berkarakter melayani masyarakat dan agen perubahan di BPS.

Seluruh pegawai Pusdiklat BPS yang mendukung terbitnya buku
Senandika sebagai milik Pusdiklat BPS.

vi

Untuk
Yuni Purnamasari Nasution, Asyraf Ahmad Nadhil, dan Nisrina Tsuraya

Desriani yang penulis cintai karena Allah SWT.

vii

DAFTAR ISI

Nilai-Nilai ....................................................................................................................1
Pola Pikir................................................................................................................... 19
Kehidupan ................................................................................................................ 37
Kesadaran Diri ........................................................................................................ 83
Pengendalian Diri .................................................................................................. 93
Berpikir Kreatif Dan Inovatif............................................................................. 99
Komunikasi .............................................................................................................113
Kepemimpinan ......................................................................................................123
Perubahan ...............................................................................................................137

viii

BAGIAN SATU

NILAI-NILAI

1

Values Awareness

[10:22, 1/23/2018]

Kesadaran akan values (nilai-nilai) itu sangat penting dalam kehidupan
seseorang. Ketika seseorang sadar memiliki values – jelas apa yang terpenting
sehingga kita junjung tinggi- mengambil keputusan menjadi sederhana saja.
Namun banyak orang yang tidak memiliki values sehingga mengambil
keputusan menjadi siksaan batin. Mungkin kita ingat film Stand and Delivery
yang mengisahkan seorang guru Matematika Jaime Escalante yang cara
mendidiknya menjadi inspirasi para guru. Ia menularkan gairah belajar kepada
murid-muridnya yang nakal hingga berhasil dengan metode belajarnya yang
sangat mudah. Guru independent ini juga mengajarkan dan mencontohkan
pentingnya kesadaran nilai-nilai (values awareness) yakni disiplin, pentingnya
kerja sama tim, tekad yang kuat untuk mencapai keinginan

Penulis pun mendengar cerita seorang teman yang memiliki values
Profesional, Integritas dan Amanah. Core values (Nilai-nilai inti) lembaganya
tersebut menjadi kesadaran values yang menuntun dirinya dalam mengambil
keputusan meninggalkan jabatan di mana banyak orang berlomba-lomba
mengincar jabatan tersebut. Beliau meninggalkan jabatannya karena tidak ingin
melanggar nilai profesional, integritas dan amanah yang menjadi core values
instansinya. Ketika mengambil keputusan yang bagi sebagian orang sangat sulit
karena berada di zona nyaman, Ia juga dituntun oleh nilai keyakinan bahwa
yang memberikan rizki dan karir adalah Allah SWT sehingga tidak perlu
khawatir.

Dari dua contoh di atas, kesadaran values yang telah mengkristal dalam
dirinya yang mendikte mereka mudah mengambil keputusan. Kesadaran values
dalam Islam adalah halal dan haram atau terpuji dan tercela yang membimbing
seorang muslim dalam mengarungi atau menjalani kehidupan ini. Mereka yang
memiliki kesadaran values telah tahu ingin menjadi apa dan telah tahu tujuan
hidup di dunia ini. Hidup kita sekarang merupakan hasil dari keputusan-
keputusan masa lalu. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita memiliki
kesadaran values yakni pengkalrifikasian nilai-nilai yang akan mendikte hidup
kita dalam mengarungi kehidupan selanjutnya.

2

PIA

[05:36, 9/6/2018]

Ketika penulis akan mengucap bait-bait Mars Statistik di bawah ini:

Kami Profesional..
Kami Berintegritas..
Kami Amanah..
Itulah Janji kami pada Negeri..

lidah penulis begitu berat mengucapkannya karena rasa malu dan ada kata janji
di sana. Malu karena batin bersuara, “Apakah penulis yang jauh dari sempurna
ini benar-benar profesional, integritas dan amanah? Juga berjanji yang
bermakna hutang yang harus dipenuhi sesuai ayat di Al qur'an yang
berbunyi,”Wahai orang- orang beriman penuhilah janjimu”.

Profesional, integritas dan amanah mudah diucapkan, tetapi sangat sulit
dilakukan. Walaupun sulit, kita harus berupaya untuk memulainya dari
kebaikan- kebaikan kecil terus menerus hingga menjadi kebiasaan dan
akhirnya menuju Profesional, Integritas dan Amanah.

Profesional, Integritas, dan amanah ( PIA) adalah nilai-nilai utama ( core
values) Badan Pusat Statistik yang memiliki visi Pelopor Data Statistik
Terpercaya untuk Semua. Untuk mudah memvisualisasikan Profesional,
Integritas, dan Amanah, penulis memetaforakan PIA sebagai pohon di mana
akarnya adalah integritas, batangnya adalah profesional dan buahnya adalah
amanah.

Integritas memiliki makna kesatuan yang utuh antara niat, ucapan dan
perilaku. Integritas juga bermakna mengamalkan apa-apa yang kita
ucapkan/ajarkan. Integritas merupakan akar yang kokoh dan unsur utama
seseorang untuk dapat dipercaya. Bagi penulis yang berprofesi sebagai
Widyaiswara/fasilitator di mana tugasnya berbagi ilmu nilai-nilai ANEKA,
memiliki tanggung jawab yang sangat berat. Bila penulis tidak melaksanakan
yang diajarkannya, sungguh azab yang pedih dati Allah. Astaghfirullah, Ya Allah
ampuni hamba yang lemahini.

Profesional adalah kapasitas atau kemampuan seseorang untuk
menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya. Kemampuan ini
merupakan kompetensi teknis yang harus dimiliki seseorang untuk
menghasilkan outcome. Contohnya, penulis sebagai widyaiswara/fasilitator,

3

harus berusaha menjadi suri tauladan (lead by example), belajar seni
memotivasi dengan speak tochange, belajar membuat slide powerpoint yang
keren dan menarik, body language, dan sebagainya.

Dua unsur di atas, yakni integritas dan profesional merupakan syarat
untuk seseorang dipercaya (amanah). Seperti sebuah pohon yang ditebang -
hanya berintegritas tanpa profesional-, maka pohon itu tidak berguna. Begitu
juga, ketika pohon tersebut hanya memiliki unsur profesional, pohon tersebut
tak akan kokoh sehingga tak akan menumbuhkan buah yakni amanah.

4

Profesional

[05:14, 12/4/2018]

Seorang pekerja dengan upah yang cukup besar yakni 5 dirham per hari
mendatangi Imam Syafi’i ra untuk meminta nasehat karena kegelisahan jiwa
dan kegalauan hatinya. Ketidaktentraman hatinya disebabkan merasa selalu
tidak cukup, hubungan dengan istri yang tidak harmonis,, anak-anak yang nakal
sehingga tak sedap dipandang mata. “Minta lah kepada majikanmu untuk
menurunkan upahmu menjadi 4 dirham”, kata Imam Syafi’i ra. Walau pun
bingung dan tidak tahu maksud Imam Syafi’i ra, Ia mengikuti nasehat Imam
Syafi’i karena Beliau ra dikenal orang yang ahli agama dan kesalehannya dalam
memberi solusi kehidupan manusia.

Beberapa waktu kemudian, lelaki tersebut datang lagi kepada Imam
Syafi’i ra karena permasalahan yang lama belum terselesaikan. Imam Syafi'i ra
yang terkenal dermawan memberi saran kepada pekerja tersebut untuk
menurunkan upahnya menjadk 3 dirham. Pekerja tersebut mengikuti saran
Imam Syafi'i ra.

Beberapa hari kemudian, Ia mendatangi Imam Syafi’i ra untuk
mengucapkan terima kasih karena keluarganya menjadi sakinah mawaddah
warahmah, merasa cukup dan anak-anak yang sedap dipandang mata. Dalam
kebingungannya, Ia bertanya, “mengapa Imam ra meminta saya menurunkan
upahnya?” Jawab Imam Syafi’i ra, ” Karena kualitas pekerjaanmu
(profesionalitas) hanya layak digaji sebesar
3 dirham". Kelebihan 2 dirham yang bukan hak Anda (haram) yang merusak
keberkahan itu (3 dirham yang halal) sehingga Anda merasa tidak cukup dan
keluarga tak bahagia.

Kisah di atas menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi kita -
khsusnya penulis- untuk instropeksi diri. "Sudahkah kualitas atau kinerja
pekerjaan

5

(profesionalitas) kita layak dibayar dengan gaji dan tunjangan kinerja yang kita
peroleh?" Jangan-jangan kualitas pekerjaan kita sangat rendah karena kita
melakukan pekerjaan dengan terpaksa, tanpa gairah, rutinitas, sekedarnya saja,
kapasitasnya di bawah kapasitas jabatan/gelar kita, dan tidak mau belajar
meningkatkan kemampuan karena sudah nyaman.

Kualitas pekerjaan kita yang rendah, berdampak kita selalu merasa tak
cukup dengan gaji dan tunjangan kinerja yang kita terima sehingga selalu
menuntut lebih dari gaji dan tunjangan kinerja yang kita terima dengan
berbagai cara. Kualitas pekerjaan kita yang rendah, juga berarti ada gaji dan
tunjangan kinerja yang bukan hak kita (haram) mengaliri darah kita, pasangan
dan anak-anak kita (Ya Allah ampuni hamba).

Agar terhindar dari yang haram dan merasa cukup ( qona'ah) serta
keluarga yang penuh keberkahan, kita harus memiliki nilai profesional yakni
harus berupaya meningkatkan kualitas ( itqan) pekerjaan kita dengan selalu
belajar meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri agar pekerjaan kita
sungguh layak mendapatkan gaji dan tunjangan kinerja saat ini.

Membangun Profesionalisme yang Berkarakter

[06:17, 3/28/2017]

“Silahkan angkat tanganya bagi yang mau uang 100 ribu ini?”, kataku
sambil memegang uang Rp. 100.000,-. 31 peserta dari 34 peserta pelatihan
dasar (LatSar) CPNS mengangkat tanganya. Kemudian saya meremas-remas
uang tersebut dengan kuat hingga kumal dan bertanya kembali, “Apakah yang
31 orang ini masih mau uang ini?” Mau pak, jawab mereka. Selanjutnya uang
berwrana merah saya injak-injak dengan sepatu berkali-kali. “Apakah kalian
masih menginginkan uang yang lusuh, kotor dan kumal ini?”, tanyaku kembali.
“Mau pak., sahut mereka.

“Mengapa Anda masih mau uang yang kotor dan kumal ini?”, tanya saya
ke salah satu peserta. “Karena masih memiliki nilai pak.”, jawab peserta. “Benar.
Karena masih memiliki nilai (value).”, jawabku. Apa itu nilai? Nilai adalah
sesuatu yang sangat berharga dan kita junjung tinggi, kemudian kita
memutuskan akan hidup berdasarkan nilai-nilai ini, apa pun yang terjadi.
Dalam Islam, nilai itu halal dan haram serta terpuji dan tercela.

6

Salah satu tujuan dari Latsar ini adalah menginternalisasi nilai-nillai
ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti
Korupsi) ke dalam diri kalian sehingga menjadi perilaku sehari-hari. Nilai-nilai
yang tertanam dalam diri kita (internalisasi) dan menjadi perilaku sehari-hari
(habituasi) ini dinamakan karakter. Agar menjadi kebiasaan (habits), kalian
harus mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut saat melakukan kegiatan dari
sekarang dan 4 bulan di unit kerja kalian setelah LatSar ini. Kekuatan habits ini
sungguh luar biasa karena kita melakukan sesuatu tanpa perlu berpikir lagi
(otomatis/alam bawah sadar).

Ketika kita hidup dengan nilai-nilai mulia, hati dan jiwa kita akan damai
dan tentram. Namun tidak cukup hidup bermodalkan nilai-nilai mulia saja.
Kalian juga harus melengkapi diri dengan keahlian di bidangnya masing-masing
yakni profesional. Sehingga kita akan sukses mulia menjadi ASN yang
profesional dan berkarakter sambil menyerahkan uang tersebut untuk kelas.

Profesionalisme Tukang Semir

[05:33, 2/21/2019]

Seorang anak yang berprofesi tukang semir terlihat sangat berbeda dari
tukang semir lainnya di terminal bus Pulo Gadung. Ada 4 hal yang dapat
diidentifikasi dari tukang semir tersebut. Pertama, Ia bekerja lebih produktif
dibandingkan yang lainnya. Dalam rentang waktu yang sama, anak periang ini
dapat menyelesaikan 2 sepatu. Sedangkan tukang semir lainnya hanya 1 sepatu.

Kedua, Ia memiliki komitmen mutu atau kualitas pada pekerjaannya.
Setelah selesai menyemir, Ia menjadikan sepatu yang telah selesai disemirnya
sebagai cermin. Apabila merasa belum puas, Ia menyemirnya kembali sampai
mengkilap hingga merasa puas. Ketiga, Ia melakukan pekerjaannya dengan
kegembiraan dan antusiasme.

Hasil kerjanya yang memuaskan pelanggan, berdampak banyak calo di
terminal tersebut yang menjadi pelangganya hingga tampak sepatu berjejer di
depannya menunggu untuk disemirnya. Ketika ada sepatu selesai disemirnya
dan harus bersegera menyemir sepatu lainnya, Ia meminta tukang semir
lainnya yang kosong untuk mengantarkan sepatu yang telah selesai kepada
pelanggannya.

7

Kemudian dengan kemurahan hatinya, sebagian upah yang diterimanya
tersebut dibagi kepada temannya yang mengantarkan sepatu tersebut.

Sikap dan perilaku profesionalisme tukang semir di atas yang penulis
peroleh dari story telling Andrias Harefa di www.youtube.com menjadi
inspirasi atau pembelajaran kita semua di mana profesional menjadi salah satu
core values Badan Pusat Statistik (BPS), tetapi nilai terssebut belum menjadi
sikap dan perilaku kita dalam bekerja. Ketika profesionalisme belum menjadi
sikap dan perilaku kita, berarti uang dan tunjangan yang kita peroleh lebih
tinggi dari kinerja kit. Maka gaji dan tunjangan yang kita bawa ke rumah untuk
kita, istri dan anak-anak mengandung keburukan-keburukan.

Kejujuran

[06:33, 2/28/2018]

Berbohong membuat sebuah masalah menjadi bagian dari masa depan.
Kebenaran membuat masalah menjadi bagian dari masalah lalu. (Rick Pitino)

Prinsip kejujuran yang dirangkum secara sederhana dan mendalam di
atas sesuai kenyataan. Misalnya kasus kebohongan yang dilakukan oleh
perusahaan Lehman Brothers dengan memanipulasi laporan keuangan yang
menyatakan sehat. Ternyata menjadi masalah bagi perusahaan tersebut dengan
bangkrutnya perusahaan Lehman Brothers yang telah berusia 100 tahun.

Begitu juga bagi seseorang/organisasi yang melakukan kebohongan
akan menimbulkan masalah nantinya. Dan biasanya, untuk menutupi
kebohongan, kita melakukan kebohongan lagi. Dampaknya, akan muncul
masalah yang tumpang tindih yang akan sulit diselesaikan. Selain itu, dampak
terparah adalah hilangnya kepercayaan yang merupakan pengikat sebuah
hubungan di organisasi/hubungan menjadi satu.

Oleh karena itu, untuk menyelesaikan masalah, cara yang paling mudah
adalah melakukan kejujuran karena dengan kejujuran menjadikan masalah
sebagai masa lalu dan akan muncul kepercayaan sebagai pengikat yang
menyatukan organisasi/hubungan menjadi satu.

8

Meneguhkan Kepercayaan

[05:17, 11/18/2016]

Hanya 36 persen dari karyawan yang meyakini bahwa para pemimpin
mereka bertindak jujur dan berintegritas (Cover Jr, The Speed of The Trust).
Lembaga Transparansi Internasional mengatakan ada krisis kepercayaan
terhadap pemerintah di seluruh dunia dalam menangani korupsi
(www.voaindonesia.com)

Kepercayaan merupakan nilai yang sangat penting dan merupakan satu
hal yang mampu mengubah segalanya ditengah krisis kepercayaan. Formula
Covey Jr tentang kepercayaan adalah sebagai berikut:

Kepercayaan menurun, kecepatan kegiatan akan menurun dan biaya
tinggi. Kepercayaan meningkat, kecepatan kegiatan akan meningkat dan
biaya rendah.

Integritas merupakan akar yang kokoh sebagai pondasi kepercayaan.
Selain itu ada unsur lainnya yakni niat dan kecerdasan emosi. Kecerdasan
emosi merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan dan pekerjaan.
Menurut Goleman, kecerdasan emosi (EQ) menentukan keberhasilan seseorang
sekitar 80%, sedangkan Intelektual (IQ) sebesar 20%.

Seorang yang memiliki kecerdasan emosi tinggi akan menyebabkan
orang mudah menjalin hubungan ( relationship ) dengan orang lain baik di
dunia kerja maupun lingkungan masyarakat karena salah satu unsur
kecerdasan emosi adalah empati. Empati merupakan kemampuan sosial yang
sangat diperlukan dalam kehidupan. Empati juga sangat penting dalam dunian
pekerjaan. Empati merupakan kemampuan dalam meneguhkan kepercayaan.

Bahan bakar empati adalah keikhlasan, kebaikan dan keterbukaan.
Semakin kita menawarkan kebaikan kepada orang lain dengan ikhlas, maka
empati kita akan meningkat juga sehingga hubungan akan terjalin dengan baik
dan akan meneguhkan kepercayaan satu sama lain hingga tercipta lingkungan
kerja yang produktif dan outcome yang telah ditetapkan.

9

Dedikasi

[05:27, 4/6/2017]

Seorang bertanya kepada saya,”Apa dedikasi kamu sebagai
Widyaiswara?” Saya berpikir, mengapa saya menjadi widyaiswara? Saya
menjadi widyaiswara karena selalu ingat akan jawaban saya ketika mengikuti
training of trainer (TOT) calon Widyaiswara di Ciawi, Bogor, Tahun 2014 yakni
sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat untuk banyak orang. Setiap
orang memiliki peluang yang sama menjadi sebaik-baik manusia di mana pun
mereka berada sesuai perannya dan saya memilih menjadi wisyaiswara. Oleh
karena itu, saya akan mencurahkan waktu, tenaga dan pikiran untuk mendidik
para peserta diklat.

Maka, ketika berbagi ilmu mata pelatihan akuntabilitas PNS dan
pemeriksaan general check up kesehatan , saya memilih berbagi ilmu seharian
dengan peserta latihan dasar CPNS BPS di kelas daripada general check up
kesehatan karena sebuah dedikasi. Saat seorang teman bertanya,”Mas Irkham,
tidak periksa kesehatan?” Jawab saya,”tidak pak”. Ia berucar,” Kenapa?” Sambil
senyum, penulis menjawab,”saya sedang mengajar di kelas”. Ujarnya,”Wah
akuntabel ya.”

Memeriksa kesehatan pada saat itu juga pilihan yang baik untuk
kesehatan diri saya. Namun saya lebih memilih bersama-sama peserta diklat di
kelas karena sebuah dedikasi yang pernah saya ucapkan. Hidup itu pilihan dan
tak perlu menyesalinya (life is choice and simple). Dan menurut persepsi saya,
saya telah menerapkan salah satu nilai-nilai publik sebagai akuntabilitas saya
yakni memilih pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi konflik kepentingan.
Dan dedikasi juga sebuah pilihan dan saya hanya berharap semoga Allah selalu
memberi ketetapan hati kepada penulis untuk selalu komitmen dan konsisten
dalam menjalaninya.

Budaya Disiplin

[05:17, 2/1/2019]

Dalan pelatihan dasar (Latsar) calon pegawai negeri sipil (CPNS),
disiplin merupakan salah satu nilai yang harus diterapkan oleh CPNS dalam
bekerja. Disiplin dimasukkan ke dalam nilai dasar anti korupsi di mana definisi

10

disiplin adalah bekerja dengan taat/patuh terhadap segala peraturan/tata
tertib yang berlaku.

11

Disiplin merupakan nilai yang sangat sulit diterapkan, khususnya bagi
penulis. Disiplin juga harus berifat konsisten atau ajek dalam jangka waktu
yang lama atau terus menerus agar menjadi kebiasaan sehingga menjadi
karakter. Sebaiknya disiplin dimulai dari hal-hal kecil, yakni seperti menghadiri
rapat sebelum dimulai, memulai rapat tepat waktu, tidak menggunakan waktu
bekerja untuk kepentingan pribadi dan sebagainya.

Disiplin anggaran berdasarkan peraturan menteri keuangan juga sangat
penting karena akan menjadikan organisasi bersih dan akuntabel. Apabila kita
mengikuti aturan yang berlaku itu sangat mudah. Namun, karena hal ini
berkaitan dengan uang biasanya akan terjadi konflik kepentingan di mana
manusia selalu merasa tidak cukup akan gaji dan tunjangan yang diterimanya.
Dan celakanya, kita akan lebih mementingkan kepentingan pribadi kita
daripada aturan yang berlaku meskipun kita tidak memahami aturan tersebut
sebagai dampak salalu merasa tidak cukup. Ditambah lagi, sifat manusia akan
mengeluh (complaint) apabila kejunya/ penghasilannya berkurang. Misalnya,
seorang pimpinan satuan kerja meminta bendahara menyediakan perjalanan
dinas untuk kepentingan pribadi menengok istri dan anaknya di kota lain.

Sesungguhnya budaya disiplin akan menjadikan suatu organisasi
berkembang serta bersih dan akuntabel. Sebagai sebuah inspirasi - bukan
membandingkan- untuk pembelajaran kita, Jim Collins dalam bukunya Good to
Great mengatakan budaya disiplin - tidak bersifat tirani-yang terdiri dari
pegawai yang disiplin ( discipline people), disiplin pikiran ( discipline though),
dan disiplin tindakan ( discipline act) akan menjadikan organisasi hebat. Hal itu
disebabkan, dengan disiplin pegawai tidak diperlukan hirarki, disiplin pikiran
tidak memerlukan birokrasi, dan disiplin tindakan tidak akan memerlukan
kontrol yang sangat ketat.

Budaya disiplin diajarkan semua agama. Oleh karenanya disiplin pribadi
( self discipline) merupakan sarana menuju keberhasilan yang mulia dan
meningkatkan spiritualitas. Dalam Islam, memenuhi aturan yang berlaku di
organisasi merupakan wujud sikap dan perilaku mentaati dan memenuhi salah
satu aturan Allah SWT yang berbunyi "wahai orang-orang beriman, penuhilah
akad/janjimu". Maknanya, pertama kali bekerja sebagai PNS kita telah
berjanji/berakad akan mentaati dan memenuhi aturan-aturan yang berlaku di
organisasi pemerintah.

12

Budaya Malu

[05:23, 8/4/2017]

Ketika mendampingi kunjungan para peserta pelatihan dasar CPNS ke
instansi PPATK, saya membaca banner 10 budaya malu PPATK. Sebagian
budaya malu dari PPATK dan tambahan dari penulis sebagai berikut:

1. Malu bekerja tanpa prestasi
2. Malu menuntut hak tanpa memenuhi kewajiban
3. Malu melanggar kode etik
4. Malu tidak masuk kerja tanpa alasan
5. Malu sering meninggalkan kantor tanpa alasan
6. Malu gaji maksimal kerja minimal
7. Malu membuat kuitansi fiktif
8. Malu menandatangani SPJ fiktif
9. Malu menggunakan fasiilitas negara untuk kepentingan pribadi
10. Malu melakukan perjalanan dinas tanpa manfaat

Malu merupakan sifat terpuji yang mengendalikan seseorang dari
perbuatan melakukan hal-hal yang buruk/salah. Rasulullah SAW berbda,” Rasa
malu itu hanya mendatangkan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Imron
bin Hushain). dan hadits lain berbunyi,” Rasa malu adalah bagian dari Iman.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut penuturan Imam Ibnul Qoyyim, alhaya’ (rasa malu) diambil
dari kata-kata hayat (kehidupan). Sehingga kekuatan rasa malu itu sebanding
lurus dengan sehat atau tidaknya hati seseorang. Berkurangnya rasa malu
merupakan pertanda dari matinya hati dan ruh orang tersebut. Semakin sehat
suatu hati maka akan makin sempurna rasa malunya. Hakikat rasa malu adalah
suatu akhlak yang mendorong untuk meninggalkan hal-hal yang buruk dan
kurang memperhatikan haknya orang yang memiliki hak.

Rasa malu itu ada dua macam. Yang pertama adalah rasa malu kepada
Allah. Artinya seorang hamba merasa malu jika Allah melihatnya sedang
melakukan kemaksiatan dan menyelisihi perintah-Nya. Yang kedua adalah rasa
malu dengan sesama manusia.

13

Menguji Integritas

[07:49, 6/4/2017]

Saya mungkin telah menyatakan,”sesungguhnya shalatku, ibadahku,
hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam kurang lebih
sekitar
58.400 yang berasal dari 5 (sholat wajib) x 365 x 32 (usia). Apakah dengan
menyatakan sebanyak 58.400 kata-kata tersebut, hidupku hanya untuk Allah?
Jawablah dengan hati nurani kita.

Sesuai dengan pernyataan di atas, klaim seseorang yang menyatakan
saya beriman, ditanggapi Allah dengan pertanyaan, Apakah manusia itu
mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”,
sedang mereka tidak diuji lagi? Maknanya, klaim seorang yang mengaku
beriman belum sah sebelum Ia diuji terlebih dahulu dengan kesulitan,
kenikmatan dan ujian lainnya.

Begitu pula, seseorang yang menyatakan saya mencintai negeri dan
bangsa ini, saya Pancasila dan sebagainya, belum secara otomatis klaim itu sah
sebelum sikap dan perilakunya sesuai dengan apa-apa yang diucapkan. Menguji
integitas seseorang dapat dilihat dengan sikap dan perilaku seorang tersebut.
Misalnya, indikator sikap dan perilaku seseorang PNS mencintai negeri ini
adalah melihat sikap dan perilaku kita di dunia kerja, apakah seorang PNS
melakukan korupsi baik besar dan kecil, melakukan kecurangan,
menyalahgunakan kewenangan, menganggap anggaran POK negara seolah-olah
milik pribadi sehingga dibuat spj fiktif untuk memperkaya dirinya, lebih
memikirkan kepentingan pribadi daripada mengembangkan unit kerja dan
sebagainya.

Menguji kesesuaian antara ucapan dengan perilaku/sikap (integritas)
sebagai indikator apakah yang diucapkan benar atau tidak. Karena banyak
orang yang mudah mengatakan -lidah tak bertulang- tetapi sangat sedikit yang
melakukan apa- apa yang dikatakannya. Padahal integritas ini merupakan
sumber kredibilitas dan kepercayaan seseorang (speed of the trust). Jangan
berharap perkataan kita yang manis dimulut dipercaya orang lain, bila perilaku
kita bertentangan dengan apa-apa yang kita katakan. Selaraskanlah antara
ucapan dan sikap/perilaku kita.

14

Ikhlas dan Karya

[05:32, 7/3/2017]

Ikhlas merupakan amal yang sangat berat karena fitrah manusia ingin
dipuji orang lain saat beramal. Amalnya bukan untuk Allah semata. Cerita yang
berkaitan dengan ikhlas adalah 3 orang yang suka berinfaq/dermawan, berbagi
ilmu dan jihad. Ketika ditanya malaikat penjaga surga dan neraka, mereka
ditanya tentang infaq, berbagi ilmu dan jihadnya masing-masing. Masing-
masing menjawab amal mereka untuk Allah semata. Namun Allah Maha Tahu
bahwa mereka berdusta karena sesungguhnya mereka beramal agar disebut
dermawan, orang pintar dan pemberani sehingga dimasukkan ke neraka.

Amal yang tak ikhlas ini lah yang sering penulis takutkan dan rasakan
saat beramal seperti menulis ini. Seperti ada bisikan halus hampir tak
terdeteksi yang menelusup di relung hati yang paling dalam. Ada perasaan
ingin dipuja puji dan dihargai oleh orang lain. Astaghfirullah. Namun, kata
Ikhlas banyak termaktub dalam firman Allah dan pasti lah ada orang-orang
ikhlas di dunia ini. Saya cemburu pada mereka yang ikhlas.

Berkaitan dengan ikhlas, saya teringat quote Steve Job yakni mencintai
apa- apa yang kita lakukan. Makna Apa-apa di sini adalah sesuatu yang disukai
dan tak disukai. Mencintai sesuatu yang kita sukai akan terasa ringan.
Sebaliknya, mencintai sesuatu yang tidak kita kita sukai sangatlah berat.

Banyak persepsi yang menyatakan, segala amal perbuatan di mana hati
ringan melakukannya disebut ikhlas. Maknanya, bila kita melakukan amal
perbuatan dengan hati merasa berat berarti tidak ikhlas. Persepsi di atas tidak
lah tepat karena perbuatan yang dilakukan dengan berat hati juga disebut
ikhlas. Contohnya adalah Nabi Ibrahim as ketika mendapat perintah Allah SWT
melalui tiga kali mimpinya untuk menyembelih Nabi Ismail as. Apakah Nabi
Ibrahim as melakukan perintah Allah SWT dengan hati yang ringan? Tidak. Nabi
Ibrahim as bapak para Nabi merupakan hamba Allah yang sangat ikhlas. Namun
ketika mendapat perintah untuk mengqurbankan anak yang ditunggu-
tunggunya bertahun-tahun sebagai teman dan penerusnya dan sudah dapat
diajak bicara, Beliau as diperintahkan Allah SWT untuk mengqurbankan
belahan jiwanya yang lama ditunggu. Nabi Ibrahim as pun melaksanakan
perintah Allah SWT dengan berat hati. Apakah Nabi Ibrahim as tidak ikhlas?
Bapak para Nabi itu melakukan perintah Allah SWT sangat ikhlas.

Ikhlas ini sangat terkait dengan karya seperti yang dikatakan Steve Job
yakni mencintai apa-apa yang dilakukan Apa-apa di sini dibatasi dengan

15

pekerjaan di mana kita lebih tahu. Indikator kedua ikhlas sebenarnya sesuai
tuntunan Rasulullah

16

SAW dalam hal ibadah mahdah dan muamalah. Namun dalam urusan dunia
(manajemen/pekerjaan) di mana kita lebih tahu, hal ini boleh kita lakukan
sesuai,”Kamu lebih tahu urusan duniamu.”

Mencintai apa-apa yang kita lakukan merupakan quote alternatif atau
jawaban dari quote lakukan apa-apa yang kamu cintai karena pada realitasnya
sebagian besar tidak melakukan apa-apa yang disukainya. Misalnya, seorang
pegawai yang ditempatkan pada posisi yang tidak sesuai latar belakang
pendidikannya. Sebaiknya sikap pegawai tersebut mensyukuri penempatannya
karena itu lah yang terbaik pada saat itu. Dari sikap rasa syukur dan menerima
ketetapan Allah, Ia akan belajar hal baru (kreativitas) dan harus dipaksakan
seolah- olah ikhlas. Pada.awalnya ikhlas itu sangat berat dilakukan karena
seperti memulai kebaikan. Namun berjalannya waktu dan kita memaksakan
ikhlas untuk belajar hal- hal baru -biasanya tidak disukai- akan menjadi
pekerjaan yang akan kita sukai.

Seorang yang ikhlas dalam bekerja akan menghasilkan sebuah karya
yang bermanfaat untuk orang banyak. Karya di sini tidak harus karya yang
besar seperti yang dihasilkan oleh inovator dunia seperti Imam Syafi'i ra, Ibnu
Sina (semoga Allah memberkahinya), Steve Job, Thomas Alfa Edison, Ford,
Inamori, Bright bersaudara atau yang lainnya. Karya di sini sesuai peran kita
masing-masing, seperti yang dilakukan Kang Ipin, pecinta lingkungan dari
Gunung Papandayan. Dengan ikhlas seseorang akan bekerja dalam keadaan
flow apa pun kondisi lingkungan tempat kerjanya sehingga akan lahir inovasi-
inovasi yang lebih cepat, efesien, mudah dan bukan rutinitas semata serta
bermanfaat untuk banyak orang. Penulis pun mengarahkan agar bimbingan
peserta diklat CPNS dan Pim IV untuk membuat karya yang bermanfaat untuk
unit kerjanya sekecil apa pun karya itu yang berdampak adanyan perubahan.

Antusias

[05:33, 10/30/2017]

I don't like Monday. Begitulah kata-kata yang sering terdengar
menjelang Senin. Sebagian pegawai tak suka Senin yang merupakan hari
pertama kerja di mana sebelumnya dua hari libur. Sehingga sebagian pegawai
agak malas bergerak untuk berangkat kerja. Apalagi di Jakarta, hari Senin,
jalanan macet. Apakah kita termasuk bagian dari pegawai yang berkata,” I don't

17

like Monday?” Jika ya, kita perlu bertanya dalam hati atau instropeksi diri.

18

Instropeksi motivasi dan tujuan kita bekerja. Bila kita belum atau tidak
tahu motivasi/alasan ( why di what I do) dan tujuan bekerja, maka bekerja
akan menjadi rutinitas. Biasanya rutinitas itu membosankan dan membuat kita
enggan pergi kerja. Kita bekerja hanya memenuhi harapan orang lain atau
status saja. Mungkin inilah penyebab munculnya I don't like Monday.

Namun bila kita telah memiliki motivasi dan tujuan bekerja secara jelas
kita akan antusias untuk bekerja. Misalnya, motivasi bekerja kita adalah
ibadah/ruhiyah yakni sebagai perintah Allah memberi nafkah kepada istri dan
anak atau bertebaranlah kalian di atas muka bumi. Sedangkan tujuan bekerja
adalah menggapai ridho Allah dan nilai amal (qimatul amal) berupa materi.
Dengan motivasi dan tujuan bekerja ini, maka kita bekerja tidak akan berharap
materi semata, namun juga menjadi peningkatan spiritualitas diri kita.
Spiritualitas inilah yang menghadirkan Allah saat bekerja sehingga kita tidak
akan melakukan keburukan-keburukan seperti korupsi, rekayasa administrasi,
rapat yang tidak efektif dan lainnya.

Spiritualitas tersebut juga menjadi pendorong kita untuk bekerja secara
sungguh-sungguh dsn profesional. Dengan profesionalitas, kita akan mencari
metode-metode baru untuk menghasilkan kinerja yang optimal. Profesionalitas
akan menghindarkan kita dari rutinitas yang membosankan. Profesionalitas
yang dibangun oleh spiritualitas akan menghasilkan kinerja hari ini lebih baik
dari kemarin.

Oleh karena itu, motivasi, tujuan dan profesionalitas akan membuat kita
antusias memasuki hari pertama bekerja. Dengan antusias kita akan mencapi
kinerja optimal dan meningkatkan keterampilan kita bekerja karena memiliki
pengalaman- pengalaman berbeda setiap harinya ( new thing). Antusias lah
dalam bekerja dan memasuki hari sebagai tanda bersyukur kita kepada Allah.

Membangun Budaya Etika

[05:34, 2/6/2017]

Membangun budaya/kebiasaan baik/benar pada diri sendiri/organisasi
merupakan pekerjaan yang sangat berat, namun in shaa Allah dapat dilakukan
dan akan menjadi kenyataan dengan optimisme dan ketekunan terus menerus.
Dengan budaya/kebiasaan baik/benar seseorang/organisasi akan memiliki

19

karakter yang

20

akan mengembangkan dirinya/organisasi untuk selalu berubah ke arah
yang semakin baik.

Membangun etika/akhlaq baik, selayaknya dibangun sejak kecil. Bangsa
Jepang bisa menjadi contoh sekarang ini, seperti dituturkan teman saya sebagai
berikut,”Ketika orang yg terinjak kaki nya di subway justru minta maaf pada
penginjaknya karena dia merasa salah menempatkan kaki sehingga tidak ada
ruang bagi orang lain untuk berdiri. Sehingga bisa saja orang lain akan terjatuh.
Mereka bukan saling menyalahkan/menghakimi tapi malah sama-sama
menyalahkan diri.”

Empat belas abad yang lalu, Rasulullah SAW yang diutus Allah untuk
menyempurnakan akhlaq di mana akhlaq (etika) diajarkan sejak kecil, seperti
tidak boleh berkata “uh” kepada orang tua, masuk ke toilet dengan kaki kiri,
makan dengan tangan kanan, dsb. Maka pada saat itu, bila ingin mengenal
karakterter anak, lihatlah orang tuanya. Misalnya, ingin tahu sifat Aisyah ra,
lihatlah Abu Bakar As Shiddiq ra. Dan peninggalan etika yang mulia, masih
dapat dilihat di kota Madinah.

Permasalahan etika publik terjadi karena kasus Watergate pada zaman
pemerintahan Richard Nixon pada tahun 1970 an di Amerika Serikat. Skandal
itu memicu pengesahan The Ethics in Government Act of 1978. Sejak itu, orang
menggunakan istilah “etika publik” bukan “etika pemerintahan” karena fokus
pada pelayanan publik. Sejak itu hingga sekarang etika menjadi permasalahan
serius bagi aparatur sipil negara (ASN). Permasalahannya, bagaimana
membangun budaya etika?

Karena etika merupakan transformasi dari nilai menjadi perilaku, maka
sebagai pribadi kita harus dapat memanajemen nilai-nilai baik ke dalam diri
dengan melatih menginternalisasikan nilai-nilai baik ke dalam hati dan pikiran
kita hari demi hari hinga menjadi perilaku sehari-hari (karakter). Ketika kita
memiliki karakter baik, maka kita akan membawa karakter tersebut ke
lingkungan kerja dan tetap berpegang teguh pada karakter tersebut hingga tak
luntur. Bahkan karakter diri tersebut mewarnai lingkungannya.

Sedangkan pada perusahaan/organisasi di mana setiap
perusahaan/organisasi memiliki nilai utama ( core value), agar transformasi
core value menjadi perilaku bersama untuk semua pegawai dari pimpinan
hingga para staf, maka perlu sosialisasi core value melalui pelatihan pada
semua pegawai -baik pimoinan dan staf- dengan modul core value yang
tersedia dan dilakukan secara berkesinambungan. Tentu saja, para pimpinan

21

juga harus menjadi suri tauladan (role model) menerapkan core values
perusahaan/organisasi yang telah dibuatnya. Jika pimpinan tidak menerapkan
core values yang telah dibuatnya, jangan berharap

22

para pegawai akan melaksanakannya karena biasanya para staf melihat
perilaku pimpinannya. Para pimpinan harus memberi keyakinan kepada
pegawainya dengan melakukan apa-apa yang diucapkannya.

Agar perilaku etis menjadi kenyataan, sangat diperlukan suatu
instrumen yang menjembatani nilai-nilai utama ( core values) menjadi
tindakan yakni adanya akuntabilitas dan transparansi. Akuntabilitas dan
transparansi dapat berupa pertanggungjawaban, aturan-aturan dan prosedur
yang bersifat netral dan adil serta dapat diluhat oleh semua pihak.
Akuntabilitas dan transparansi dapat digunakan untuk saling mengingatkan
dengan bijak dan baik untuk perkembangan organisasi.

Membangun budaya etika akan menjadi sebuah keniscayaan bila kita
bersama-sama memiliki tekad bersama untuk mewujudkannya. Budaya etika
harus dimulai dari sekarang dengan menjadikan nilai-nilai yang mulia ke dalam
diri kita pribadi maupun organisasi. Kita yakin budaya etika itu akan tercapai
walapun kita tak melihatnya nanti. Tak perlu kita risaukan, apakah kita akan
melihatnya atau tidak, karena kebaikan yang kita tanamkan akan abadi bila kita
ikhlas melakukannya untuk generasi yang akan datang.

Halal, Akar Kebaikan

[05:15, 5/29/2017]

Etika memiliki arti bagaimana melakukan yang baik/benar. Apakah
etika berlaku absolut atau relatif? Para filusuf berbeda pendapat, ada yang
menyatakan absolut/mutlak dan ada yang menyatakan relatif. Pada zaman
sekarang kita melihat etika berlaku relatif. Artinya suatu sikap atau perilaku di
wilayah tertentu dikatakan baik, tetapi di wilayah lain dapat dikatakan buruk.
Artinya, baik dan buruk tergantung di mana kita berada.

Dalam Islam, 14 abad yang lalu telah dikenal istilah halal dan haram
serta terpuji dan tercela. Standar seorang muslim melakukan halal/terpuji -
dalam etika disebut baik/benar- adalah Al Qur’an dan As Sunnah yang
diturunkan Allah SWT yang tiada dibatasi ruang dan waktu. Sehingga hukum
halal/terpuji ini berlaku di mana pun dan sepanjang jaman. Sangat berbeda
dengan benar/baik yang dibuat oleh manusia yang terbatas ruang dan waktu,
lemah, terbatas dan membutuhkan kepada yamg lain sehingga standar

23

baik/benar bersifat relatif.

24

Halal/haram yamg telah ditetapkan Allah SWT dari 14 abad yang lalu
tetap berlaku hingga sekarang atau kiamat nanti. Misalnya, babi/khamr tertulis
haram dari 14 abad yang lalu akan tetap haram sampai sekarang. Begitu juga
sesuatu yang halal seperti beras dan cara memperolehnya halal akan tetap halal
hingga kini.

Halal, baik benda atau cara memperolehnya merupakan akar kebaikan.
Karena halal tersebut akan membersihkan hati yang ternoktah hitam dan
melembutkan hati yang keras. Diriwayatkan ada seorang yang sedang musafir
yang berada di tengah padang pasir, sedang shaum, bekal terampas dan
tersesat di jalan, lalu dia mengangkat tangannya ke langit untuk berdoa,”Ya
Rabb! Ya Rabb!’ Menurut Rasuluallah SAW,”Doanya tidak dikabulkan karena
yang dimakannya haram, yang dikenakannya pun haram.” Padahal orang yang
disebut dalam kisah, memiliki empat keutamaan yang menjamim doanya
dikabulkan Allah, yakni safar, shaum, dizhalimi, mengangkat tangannya kepada
Allah. Namun, perkara haram yang mengalir dalam tubuhnya, telah
menghalangi doa itu ke sisi Allah ‘azza wa jalla.

Sesungguhnya Allah itu Thayyib. Allah tidak menerima kecuali yang
Thayyib. Thayyib itu yang halal. Yamg halal itu lebih banyak daripada yang
haram. Asupan yang halal ini lah yang akan mengabulkan doa kita. Asupan yang
halal akan membersihkan hati kita seperti lilin yang menerangi hati kita untuk
menolak perilaku buruk. Asupan halal juga akan melembutkan hati kita karena
halal mensucikan darah, lalu pusat peredarannya terbasuh suci sehingga sikap
dan perilaku kita akan lembut. Halal merupakan akar kebaikan seluruh alam
semesta.

25

BAGIAN DUA

POLA PIKIR

26

Pentingnya Pola Pikir

[05:23, 8/10/2018]

Setelah penulis berbagi bagaimana caranya mengubah pola pikir
(mindset), slide selanjutnya adalah Pentingnya Pola Pikir. Pola pikir
menentukan hasil kerja/hidup seseorang. Menurut Kazuo Inamori (
Konglomerat Jepang dan pemilik perusahaan Kyocera) dalam bukunya
Compass to Fulfillment, formula hasil kerja/hidup sukses yang diraih oleh
dirinya, adalah Hasil Kerja/Hidup = Sikap (attitude) × Usaha (effort) ×
Pengetahuan (knowledge).

Formula di atas bermakna bahwa usaha ( effort) lebih berperan
dibandingkan pengetahuan ( knowledge). Contoh, seorang yang memiliki nilai
pengetahuan dan usaha, masing-masing 90 (pintar) dan 30 (tidak tekun), hasil
kerjan/hidup bernilai 2700. Sedangkan orang yang biasa-biasa saja
kepintarannya dengan nilai 60 dan memiliki ketekunan sebesar 90, hasil
kerja/hidup bernilai 5400. Maknanya, hasil kerja orang yang tekun dan biasa-
biasa saja dua kali lipat dibandingkan orang yang pintar dan tidak tekun.

Ketekunan dan pengetahuan tidak akan bermakna apabila kita memiliki
sikap ( attitude) negatif karena hasil kerja/hidup akan bernilai negatif.
Sebaliknya sikap positif akan menciptakan hasil kerja/hidup yang positif.

Sikap ( attitude) merupakan wujud dari pola pikir ( values, persepsi,
dan belief). Pola pikir seseorang menentukan sikap dirinya. Pola pikir negatif
akan menghasilkan sikap negatif yang berakibat hasil kerja/hidup negatif.
Sedangkan pola pikir positif menciptakan sikap positip yang berdampak hasil
kerja/hidup positif. Hal ini dapat digambarkan seperti ini.

Pola Pikir (+) Sikap (+) Hasil kerja/hidup

(+) Pola Pikir (-) Sikap (-) Hasil kerja/hidup (-

)

27

Pemikiran Menarik

[05:18, 8/21/2017]

Membaca buku How to have a beautiful mind karya Edward De Bono
penulis buku best seller lateral thinking dan six thinking hat sungguh menarik.
Ia yang mengkritisi pola pikir argumentatif yang telah lama tertanam di benak
manusia dari 3 gang Yunani ( Socrates, Aristoteles dan Plato) menawarkan pola
pikir lain yakni lateral thinking. Menurut saya Buku How to Have a Beautiful
Mind merupakan cara komunikasi efektif dari sudut pandang berpikir kreatif
karena Beliau salah satu tokoh dunia yang menciptakan berpikir kreatif dan
alternatif dari pola pola pikir argumentatif. Seseorang yang memiliki pemikiran
menarik ( beautiful mind) akan enak diajak berdiskusi dan mengobrol. Seorang
yang memiliki pemikiran menarik, tidaklah harus orang yang memiliki IQ
tinggi, namun cukup kreatif dan empathy (kecerdasan emosi). Dan setiap orang
sebenarnya kreatif karena Allah telah memberikan bungkusan terindah kepada
manusia yakni otak kanan dan otak kiri. Kemanfaatan kedua otak tersebut,
tergantung kita melatihnya sebagai tanda syukur kita kepada Allah.

Memiliki pemikiran menarik juga sangat berguna dalam membaca satu
kesimpulan dari statistik yang dihasilkan. Dengan memiliki pemikiran menarik
sebenarnya ada sangat banyak alternatif dari data yang telah dihasilkan.
Misalnya, kesimpulan bahwa lajang lebih bahagia daripada yang telah menikah;
wanita lebih bahagia daripada laki-laki; Penduduk Provinsi Maluku paling
bahagia di Indonesia atau kesimpulan lainnya. Apakah benar?

Mungkin benar, mungkin tidak. Selain kesimpulan di atas, banyak
alternatif kesimpulan lainnya. Selain itu, statistik merupakan metode ilmiah
berdasarkan data empiris. Indeks kebahagian diperoleh dari Survey
Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) dengan sampel sekitar 75.000
rumahtangga. Menurut De Bono metode ilmiah ini sangat cocok digunakan
bidang sains dan teknologi di mana beberapa sifat merupakan hal yang
permanen. Namun kurang cocok digunakan dalam hal-hal yang berkaitan
dengan hubungan manusia di mana terjadi banyak lompatan interaktif. Seorang
yang dulu Anda panggil bodoh mungkin sudah tidak lagi bodoh.

Terlepas kemungkinan/alternatif di atas, bagi penulis, kebahagiaan
bukanlah tujuan akhir, namun kebahagiaan adalah dampak/akibat perbuatan
kita yang diridhoi Allah. Artinya selama perbuatan tersebut diridhoi Allah
yang merupakan lapis-lapis keberkahan akan berdampak tenangnya hati
nurani dan tentramnya jiwa terlepas konsekuensinya menyenangkan atau
menyulitkan. Ridho Allah itulah yang membuat seorang mukmin bahagia.

28

Pemikiran menarik juga dapat menghubungkan satu hal dengan hal lain
yang awalnya tidak berkaitan namun menjadi berkaitan (connecting the dots).
Contohnya: Dari indeks kebahagiaan yang dirilis BPS, kita dapat
menghubungkan kebahagiaan dengan cuaca, kemiskinan, makanan, dan lainnya
di suatu provinsi.

Salah satu contoh memiliki pemikiran menarik adalah cara
mendengarkan yang disengaja tanpa maksud untuk menjawab pembicaraan
orang lain. Cara mendengarkan yang benar ini sangat sulit dalam komunikasi.
Misalnya, dalam sebuah rapat saat pimpinan rapat berbicara, banyak orang lain
–khususnya penulis- lebih sibuk dengan gadgetnya atau mengobrol dengan
seorang di sebelahnya. Contoh yang lain juga tampak dalam sebuah diskusi di
mana seorang berargumen agar tampak terlihat hebat atau pintar dengan
menolak atau tidak setuju dengan pendapat orang lain dengan anggapan
bahwa.persepsinya yang benar.

Cara untuk memiliki pemikiran menarik adalah mendengarkan dengan
perhatian penuh kepada pembicara karena dengan cara mendengarkan
tersebut kita memperoleh informasi baru yang tidak kita ketahui dan dapat
menjelajah sudut pandang orang lain yang dapat kita kombinasikan dengan
sudut pandang kita agar diperoleh kesepakatan yang saling menguntungkan
semua pihak. Dengan pemikiran menarik kita juga dapat fokus menyelesaikan
masalah yang ada dengan banyak alternatif solusi dari hasil berpikir kreatif.

Pemikiran menarik akan menciptakan diskusi yang menarik dan
menemukan ide-ide baru yang tidak kita duga. Seorang yang memiliki
pemikiran menarik akan lebih menarik banyak orang karena Ianya menghargai
persepsi orang lain yang mungkin saja persepsi orang lain tersebut benar
adanya.

Teknik memiliki.pemikiran menarik ini banyak diulas dalam buku
Edward.De Bono di atas. Memiliki pemikiran menarik sangat bermanfaat dalam
segala aspek kehidupan seperti dakwah, komunikasi efektif, mengajar,
berdiskusi dan obrolan ringan lainnya. Berusahalah untuk memiliki pemikiran
menarik dalam rangka pencapaian hidup kita.

29

Kotak Persepsi

[05:15, 7/5/2017]

Kotak persepsi ini merupakan modifikasi dari gelembung persepsinya
Edward De Bono (penulis lateral thinking dan six hats thinking) dalam
bukunya Beatiful Mind. Sebenarnya pengertian kotak persepsi juga senada
dengan penulis Inside the Box karya Jacob Goldenberg yakni bahwa persepsi
seseorang tidak akan terlepas dari pengetahuan, pengalaman, agama, ideologi,
kepentingan/posisi dan sebagainya. Contohnya, Carol Dweck penulis buku
bestseller Mindset dan Daniel Goleman penulis buku best seller Kecerdasan
Emosi. Penelitian-penelitian yang diungkapkan oleh kedua penulis ini ada
beberapa yang sama, namun persepsinya berbeda. Carol Dweck selalu
mengkaitkan fakta-fakta empiris tersebut dengan mindset. Sedangkan Daniel
Goleman selalu mengkaitkannya dengan kecerdasan emosi. Mengapa? Karena
latar belakang pendidikan (pengetahuan) yang dimilikinya.

Manfaat memahami kotak persepsi ini sangat penting dan berguna

dalam memetakan manusia menurut pola pikirnya (mindmap) sehingga kita

dapat berkomunikasi yang menarik/diskusi dengan orang lain dengan

menghargai persepsi yang berbeda. Dengan memahami kotak persepsi, kita

dapat memahami alasan- alasan seseorang

menuliskan/menshare/mengungkapkan sesuatu di media sosial atau saat

berbicara dengan melihat kotak persepsi orang tersebut. Contoh sederhananya

adalah Pilkada DKI pada putaran II Tahun 2017. Contoh rumitnya, kita bisa

memetakan pola pikir para ekonom berdasarkan Klasik, keynesian, Neoklasik,

Friedman dan sebagainya dari tulisan-tulisan mereka. Sedangkan dalam Islam,

pola pikir, sikap dan perilaku seseorang dapat dipetakan, apakah mengikuti

Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i atau Hambali.

Dalam unit organisasi, kotak persepsi ini juga berguna bagi pimpinan
untuk merotasi pegawainya dalam jangka waktu tertentu dalam meningkatkan
kompetensi pegawai untuk memiliki pengetahuan yang berbeda, ahli dan
menyegarkan sehingga muncul inovasi-inovasi baru dalam bekerja. Contohnya,
seorang pejabat eselon 4/3/2 tidak boleh terlalu lama berada dalam posisi yang
sama karena akan membuat jenuh yang berdampak seorang pegawai
melakukan hal yang sama berulang-ulang (rutinitas).

Memahami kotak persepsi ini juga bermanfaat untuk berkomunikasi
menarik. Kaidah berkomunikasi yang menarik pernah diungkapkan oleh Imam
Syafi’i ra yang kurang lebih sebagai berikut,” Saya meyakini persepsi saya
benar, persepsi orang lain keliru. Namun, mungkin saja persepsi saya keliru

30

persepsi orang lain benar”. Sehingga ketika kita berdiskusi akan saling
mengahrgai satu sama lain, seperti Imam Maliki radhiallahu’ anhu (semoga
Allah memberkahinya) menghargai

31

koreksi kitab Al muwatha dari muridnya, yakni Imam Syafi’i ra (semoga Allah
memberkahinya). Begitu juga Imam Syafi’i ra menghargai perbedaan pendapat
dengan muridnya Imam Hambali ra. Tentu saja penghargaan persepsi antara
Imam 4 Mazhab tersebut pada perbedaan yang dibolehkan ( furu’iyah). Tidak
dalam hal aqidah dan sesuatu yang sudah pasti dalil dan sumbernya.

Bagaimana agar kita memahami kotak persepsi orang lain? Kita harus
mendengarkan, memberi perhatian yang disengaja dan memahami emosi
ketika orang bicara atau membaca suatu tulisan. Contoh yang sangat baik
sebagai pembelajaran adalah Almarhum Presiden Soeharto. Beliau yang Jendral
dan anak petani, selalu memanggil seorang menterinya ke ruang beliau untuk
belajar kepada mentri tersebut dengan mendengarkan dan memberi perhatian
yang disengaja apa- apa yang diungkapkan menterinya. Dari pembelajaran
tersebut, tidak heran bila Presiden ke 2 Republik Indonesia ini sangat
memahami masalah ekonomi nasional dan global, masalah pertanian, masalah
politik nasional dan dunia dan masalah lainnya dibandingkan para menteri-
menterinya di mana ayah enam anak ini belajar dari mereka.

Memahami Kotak persepsi orang lain, kita akan tahu alasan-alasan
seseorang berpendapat atau menshare tulisan sehingga kita akan memiliki
salah satu kebiasaan sebagai manusia efektif menurut Covey yakni memahami
persepsi orang lain. Memahami persepsi orang lain akan sangat bermanfaat
dalam berkomunikasi dengan orang lain dan akan menambah wawasan kita
akan pemikiran-pemikian yang ada di dunia ini.

Model Mental

[05:11, 6/29/2018]

Si A melihat bagian atas kue serabi, sedangjan si B melihat bagian bawah
kue serabi. Ketika keduanya menilai kue serabi, pasti penilaian si A dan Si B
berbeda. Si A mengatakan kue serabi menggiurkan, enak dan manis. Sebaliknya,
si B mengatakan kue serabi tidak enak, tidak selera dan pahit. Mengapa si A dan
B menilai berbeda dengan objek (serabi) yang sama?

Perbedaan tersebut disebabkan oleh sudut/cara pandang (paradigma)
si A dan B. Si A melihat bagian atas kue serabi yang berwarna.warni. Sedangkan
si B melihat bagian bawah serabi yang gosong.

32

Perbedaan cara pandang juga sering kali terjadi, bagaimana para
pegawai sering kali mengkritisi kebijakan-kebijakan pimpinan yang
dianggapnya tidak bijak. Misalnya, ketika pimpinan mempromosikan pegawai
yang paling muda di antara kandidat yang ada, beberapa pegawai berasumsi
pimpinan tidak bijak atau pilih kasih.

Berbagai cara pandang (paradigma), persepsi, asumsi, gambaran, dan
pengalaman yang tertanam di dasar otak -di alam bawah sadar- tentang
bagaimana dunia bekerja/sesuatu terjadi akan mempengaruhi sikap dan
tindakan seseorang disebut model mental. Model mental ini dapat digambarkan
seperti bongkahan es (iceberg) yang terapung dilautan yang dibagi menjadi
empat. Di atas air (terlihat) - biasanya 10%- adalah event (kejadian). Di bawah
air (tidak terlihat) yg pertama dan kedua adalah pattern of behaviour dan
structure of system. Yang paling dasar adalah model mental. Model mental ini
terdiri dari cara pandang ( paradigm), asumsi/anggapan, keyakinan (belief),
values dan pengalaman-pengalaman. Model mental tersebut berada di alam
bawah sadar ( unconciousness) tersebut yang mempengaruhi kita bersikap dan
bertindak.

Model mental sangat bermanfaat untuk organisasi yakni sebagai
pengungkit perubahan, inovasi, menjadikan lingkungan lebih baik. Agar model
mental bermanfaat bagi organisasi sangat perlu diminimalkan jurang
perbedaan yang ada dengan dialog atau komunikasi. Dalam berkomunikasi
masing-masing pihak harus berusaha untuk memahami terlebih cara pandang
orang lain dan meminimalkan kepentingan pribadi untuk kepentingan
organisasi yang lebih baik.

Model mental juga sangat bermanfaat untuk diri sendiri dalam
meningkatkan spiritualitas kita sebagai pembelajar. Misalnya, suatu kejadian
yang merugikan diri kita (musibah) di mana musibah tersebut karena ada
dalam kendali kita, jangan lah menyalahkan di luar sana, seperti Allah, orang
lain atau yang lainnya, tetapi sebaiknya instropeksi diri. Bilamana terjadi
musibah di luar kendali kita atau atas ketetapan Allah, percayalah hal itu baik
untuk kita (QS. 2:216).

Agar model mental bermanfaat untuk organisasi dan diri, kita harus
menanamkan/menginternalisasikan asumsi positif, keyakinan (belief) yang
baik, paradigma positif dan nilai-nilai (values) yang mulia di alam bawah sadar
kita sehingga kita akan bersikap dan bertindak positif atas sesuatu yang terjadi.

33

Mengubah Mental Model

[05:27, 7/19/2018]

Mengubah mental model/pola pikir seorang itu sangat sulit, tetapi insya
Allah setiap orang dapat mengubah mental model/pola pikirnya bilamana ia
mau mengubahnya. Sangat sulit karena mental model adalah nilai (values),
keyakinan (belief), asumsi/anggapan, persepsi yang tertanam paling dasar di
otak kita (alam bawah sadar/kebiasaan)

Misal, ada seorang yang mempersepsikan inovasi adalah aplikasi
tehnologi komputer karena persepsi ini diperoleh dari formula innovation =
application + creativity. Persepsi inovasi adalah aplikasi terus menerus
disampaikan dengan waktu yang sangat lama sehingga persepsi tersebut
tertanam di alam bawah sadar.

Maka, ketika ada orang yang mengatakan bahwa inovasi itu tidak hanya
aplikasi, tetapi banyak jenisnya yakni inovasi proses, inovasi metode, inovasi
organisasi, inovasi teknologi (aplikasi), inovasi produk, inovasi konsep, inovasi
SDM dan inovasi budaya kerja, orang tersebut bergeming bahwa inovasi adalah
aplikasi.

Untuk mengubah mental model seorang hanya orang tersebut yang
dapat mengubah persepsi lamanya, yakni dengan mengubah persepsi
(kebiasaan) lama yang sudah tertanam lama di dasar otaknya dengan belajar
agar memperoleh pengetahuan baru sehingga seorang tersebut "sadar" bahwa
persepsi (kebiasaan) lamanya ternyata keliru.

Menyentuh Mindset

[05:17, 1/2/2019]

Tahun berganti. Telah delapan tahun Reformasi Birokrasi (RB) dengan
delapan area perubahannya telah berjalan. Apakah ada perubahan? Tentu ada
perubahan, tetapi perubahannya tidak berarti. Mengapa? Karena perubahannya
belum menyentuh pola pikir (mindsetr) ASN. Padahal area perubahan pertama
RB adalah perubahan pola pikir (mindset)/mental sikap/perilaku ASN.
Perubahan mindset sangat penting karena 7 perubahan lainnya merupakan
dampak dari perubahan mindset.

34

Belum adanya perubahan yang menyentuh mindset dapat dilihat dari
kegiatan Tahun 2018. Misalnya, Ada satuan kerja (satker)/eselon 2 yang
menyelenggarakan kegiatan rapat di luar jam kerja (RDJK) sekitar 100 RDJK
selama Tahun 2018. Penyelenggaran konsinyering menjelang tutup anggaran
meningkat tajam di mana dalam satu bulan seorang ASN berpindah dari satu
hotel ke hotel lainnya. Dan meningkat pula perjalan dinas para ASN. Semua
kegiatan di atas diduga kuat memiliki tujuan jelas yakni penyerapan anggaran.

Tiga kegiatan di atas merupakan kegiatan yang tidak produktif, tidak
efesien dan tidak efektif yang sesungguhnya bertentangan dengan salah satu
tujuan area perubahan yakni menjadikan lembaga pemerintah yang efesien dan
efektif. Apalagi di era revolusi industri 4.0 pertemuan orang-orang di suatu
hotel dengan jumlah besar dalam rangka sosialisasi, pembinaan, atau pelatihan
teknis lainnya bukan zamannya lagi karena perkembangan teknologi yang
sangat pesat, seperti e- learning, video grafis atau teknologi lainnya dapat
menggantikan kegiatan tersebut. Hal ini dikarenakan, salah satu ciri era
industri 4.0 adalah minimnya penggunaan anggaran dengan outcome yang
lebih besar.

Apakah Tahun 2019 akan terulang kembali kegiatan yang tidak
produktif, tidak efisien dan tidak efektif di atas? Penulis optimis bahwa kita
semuanya ingin melakukan perubahan yang lebih baik untuk menjadikan
bangsa Indonesia lebih baik. Dan kita telah berusaha melakukan perubahan
dengan tertatih-tatih. Sungguh, perubahan yang bermakna bergerak dari apa
yang kita ketahui menjadi apa yang kita lakukan sangat sulit, resisten dan tidak
nyaman. Namun, dengan menyentuh mindset kita, perubahan yang awalnya
sangat sulit, resisten dan tidak nyaman, inshaa Allah akan terwujud dengan niat
baik, bersama-sama, kegigihan tanpa mengenal lelah, berpikir inovatif dan
semua itu sebagai bekal amal kebaikan kita di dunia.

Berpikir (berdasarkan) Keinginan

[05:26, 9/25/2018]

"Mengapa Google sangat inovatif?" Menurut penulis, karena Google
memberikan 20 % waktu bekerja kepada para pegawai untuk melakukan apa-
apa yang diinginkannya. Melakukan apa-apa yang diinginkan para pegawai
termasuk kategori "berpikir (berdasarkan) keinginan" yang sangat penting

35

melatih otak

36

sehingga muncul ide-ide kreatif karena dilakukan dengan sepenuh hati
(Toshinori Kato, "Otak Ideal: Makin Berumur, Makin Brilian").

Sesuai dengan hal itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Dr. Kecuk
Suhariyanto dalam acara,"Ngobrol Bareng Pak Kecuk" dengan sekitar 280
peserta pelatihan dasar CPNS BPS, Jum'at malam, 21 September 2018 di
Pusdiklat BPS kurang lebih menyatakan,"kumpulkan anak muda generasi
millenial yang sangat kreatif sebagai team untuk membuat Rencana Strategis
(Renstra) BPS 5 tahun ke depan. Biarkan mereka berpikir secara liar dalam
membuat Renstra tersebut. Kita hanya mengarahkan dan membimbingnya".
Berpikir liar -tentu dengan arahan dan bimbingan pimpinan- merupakan
berpikir (berdasarkan) keinginan.

Analog dengan 2 uraian di atas, sebaiknya penyelenggara, fasilitator,
mentor dan penguji juga membebaskan para peserta pelatihan dasar (latsar)
CPNS membuat rancangan aktualisasinya dengan kebebasan imaginasi yang
dimilikinya dengan arahan dari coach. Kebebasan berimajinasi peserta latsar
merupakan berpikir (berdasarkan) keinginan sehingga akan muncul ide-ide
kreatif. Sebaliknya, ide-ide kreatif peserta latsar akan mati jika dibatasi oleh
kubikel /partisi-partisi/kotak- kotak (Jhon Meidina, “Rules Brain”).

Cerdas tetapi Tak Dinamis

[05:37, 9/17/2018]

"Mengapa ada sebagian orang cerdas, tetapi tidak dinamis?", tanya
seorang. Lanjutnya,"Maksud tidak dinamis di sini adalah tidak mengalami
perubahan dalam meningkatkan kinerja yang tinggi."

Cerdas tidak dinamis? Mengingatkan penulis pada buku Carol Dweck
mengenai mindset yang mengkatagorikan dua jenis mindset yang sangat
berbeda, yakni pola pikir tetap ( fixed mindset) dan pola pikir bertumbuh
(growth mindset). Pola pikir merupakan keyakinan seseorang tentang
kemampuan dirinya yang terbentuk karena tiga komponen, yakni paradigma,
keyakinan dan nilai dasar. Pola pikir -terkadang orang menyebutnya mental- ini
sangat penting dalam kehidupan untuk menghadapi perubahan yang sangat
cepat di era disruption ini.

37

Jawaban dari pertanyaan cerdas tidak dinamis di atas, sepertinya sesuai
dengan kategori fixed mindset. Menurut Dweck, ciri-ciri fixed mindset adalah

38

seseorang yang ingin terlihat cerdas sehingga ada kecenderungan sebagai
berikut, menghindari tantangan, mudah menyerah menghadapi hambatan,
melihat usaha (effort) sebagai kesia-siaan, tidak suka dikritik yang
membangun, dan merasa terancam oleh kesuksesan orang lain.

Seseorang yang ingin terlihat cerdas, cenderung menghindari tantangan.
Hal ini disebabkan, ketika mereka tidak berhasil menghadapi tantangan,
mereka merasa terlihat bodoh atau gagal. Oleh karena itu, mereka yang
memiliki fixed mindset lebih memilih pekerjaan yang di bawah kemampuan
atau kompetensinya atau melakukan hal yang sama berulang-ulang agar
terlihat cerdas.

Seorang yang ingin terlihat cerdas, juga merasa bahwa effort
menunjukkan kesia-siaan dan kebodohan karena orang cerdas tidak perlu
effort yang besar. Effort yang besar hanya untuk orang-orang yang bodoh.
Kritik yang membangun juga sering diabaikan oleh mereka yang memiliki fixed
mindset karena menujukkan kebodohan. Dan mereka merasa selalu terancam
ketika ada orang lain yang sukses.

Obat mujarab bagi mereka yang memiliki fixed mindset adalah belajar,
belajar dan belajar. Dengan keinginan untuk selalu belajar, akan ada
kecenderungan untuk merangkul masalah, menyukai tantangan, bertahan
dalam menghadapi hambatan, melihat effort sebagai jalan menuju keahlian,
belajar dari kritik dan melihat kesuksesan orang lain sebagai inspirasi untuk
kesuksesan dirinya. Ciri-ciri orang yang belajar, belajar dan belajar di atas
dikategorikan Dweck sebagai orang- orang yang memiliki growth mindset.

Imprint

[04:52, 10/16/2018]

Ketika seorang pemimpin akan menerapkan kebijakan evaluasi
pengembangan SDM dengan performa 360°, ada sedikit orang yang bersikap
pesimis dan skeptis. Ketika ada pemimpin yang menginstruksikan agar pejabat
daerah tidak memberikan sesuatu apa pun dan tidak membayarkan hotel
kepada pejabat pusat yang datang ke daerah, sebagian besar orang tidak
percaya akan kesungguhan, ketulusan dan kebaikan instruksi tersebut. Ketika
ada pejabat yang berdedikasi mengembangkan organisasi dan cukup menerima

39

gaji, tunjangan dan honor-honor yang jelas dan sesuai aturan, sebagian orang
tidak percaya. Mengapa ada sebagian orang tidak percaya?

40

Semuanya berawal dari pengalaman masa lalu diri kita sendiri dan
melihat realitas selama ini yang yang sangat membekas membentuk pola pikir (
mindset) kita yang disebut imprint.

Contoh imprint, selama menjadi pegawai -apalagi pejabat level tertentu-,
kita (khususnya saya) biasa dilayani oleh pegawai daerah dan pulang
memperoleh buah tangan ketika pulang. Bahkan pejabat level tertentu dibayari
hotelnya. Dan hal itu sudah menjadi budaya. Oleh karena itu, pengalaman masa
lalu yang telah tertanam dalam di otak kita (alam bawah sadar) secara otomatis
akan tidak mempercayai instruksi pemimpin yang sungguh-sungguh dan tulus
ingin menciptakan organisasinya bersih.

Dan imprint ini juga biasa dijadikan oleh diri kita untuk menilai orang
lain. Artinya, kita menilai orang lain dengan ukuran diri kita. Sebenarnya
ukuran ini tidak adil, karena mungkin pengalaman buruk masa lalu kita -
khususnya saya- yang sangat membekas tersebut untuk menilai orang lain yang
ingin melakukan kebaikan dan perubahan yang lebih baik untuk organisasinya.
Sebaiknya, kita berprasangka baik, berpikir jernih dan berjiwa netral dalam
menilai orang lain.

Menilai Kembali Berpikir Positif

[06:59, 12/27/2016]

Berpikir positif merupakan pola pikir yang sangat dianjurkan dan akan
membuat jiwa kita sehat. Kesehatan jiwa sangat berpengaruh pada kesehatan
fisik sehingga ada terapi psikis terhadap orang-orang yang memiliki sakif fisik.
Oleh karena itu banyak buku pengembangan diri bertebaran dengan judul
berpikir positif atau yang berkaitan dengan berpikir positif. Namun ada
penafsiran yang keliru dari beberapa orang yang memberi pelatihan keapda
peserta dengan memotivasi sebagai berikut, pertama, Apakah kalian ingin
(wish) kaya? Kedua, Apakah kalian ingin memiliki penghasilan ratusan juta per
bulan? Dan pertanyaan dan pembahasannya hanya sampai keinginan dan
penghasilan.

Padahal, hidup itu tidak semudah membalikkan telapak tangah atau bim
salabim. Kehidupan itu penuh duri dan onak sebagai tantangan apakah kita
berhasil melewatinya atau kita diam di tempat atau lebih memburuk. Hidup itu

41

tak mudah yang sebenarnya merupakan ujian dari Allah untuk menjadikan kita
kuat secara fisik

42


Click to View FlipBook Version