The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Ebook ini merupakan refleksi penulis untuk mengungkapkan perasaan, kegundahan, atau konflik batin tentang fenomena atau kejadian di sekitar kita. Atau, buku ini dapat dimaknai sebagai refleksi penulis berbicara pada diri sendiri.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by irkhammadjid, 2021-07-16 02:39:42

Ebook Senandika

Ebook ini merupakan refleksi penulis untuk mengungkapkan perasaan, kegundahan, atau konflik batin tentang fenomena atau kejadian di sekitar kita. Atau, buku ini dapat dimaknai sebagai refleksi penulis berbicara pada diri sendiri.

Keywords: Self Development,Inspiration,Emotional Intelligence

dan mental dalam rangka menyeleksi siapa-siapa yang lulus dalam
menghadapi ujian.

Oleh karena itu, perlu menilai kembali penafsiran kita tentang berpikir
positif bahwasannya berpikir positif tidak hanya sampai pada tingkat
penghasilan saja, namun dilanjutkan bahwa dalam hidup ini ada tantangan
(obstacle). Tantangan merupakan masalah-masalah yang harus kita hadapi dan
selesaikan pada kehidupan ini dengan cara baru atau sudut pandang baru
karena setiap masalah harus diselesaikan dengan cara berbeda. Jangan
berharap memperoleh hasil yang sama pada seluruh masalah dengan cara yang
sama.

Hidup ini masalah dan selama kita masih hidup akan menghadapi
masalah. Rangkullah masalah sebagai teman dan selesaikan. Selesaikan
masalah menurut prioritas dan jangan menunda untuk tidak menyelesaikan
masalah, karena akan bertumpuk-tumpuknya masalah sehingga terlihat sangat
berat. Masalah satu selesai, akan datang masalah yang lain.

Kita akan mendapatkan kinerja (performance) dari masalah yang kita
selesaikan tersebut. Jangan sampai masalah tersebut menjadi beban yang
berdampak pada buruknya kinerja kita. Oleh karena itu memikirkan serius
terhadap masalah sesuai skala prioritas sangat penting dalam menyelesaikan
masalah. Einstein pernah menyatakan, saya tidak lah jenius, tetapi serius
terhadap masalah yang saya hadapi sehingga diperoleh kinerja yang sangat
baik.

Menilai kembali berpikir positif hanya merupakan tambahan atau
sisipan bahwa sebaiknya kita tidak berhenti pada keinginan (wish) dan
penghasilan (output ) saja. Namun menilai kembali berpikir positif masih harus
dilanjutkan dengan adanya tantangan (Obstacle ) dan kinerja (performance).
Maka ingatlan WOOP saat benak teringat berpikir postif yakni Wish,
Output/Outcome, Obstacle dan Performance.

Kekuatan Pikiran Spiritualitas

[05:38, 6/14/2017]

Pusdiklat BPS RI, menjelang dzuhur, Jum’at, 2 Juni 2017 saya menerima

43

telpon dari istriku yang memberi khabar hasil ujian nasional berbasis komputer
(UNBK) SMP putriku dengan nada sedih. Ia terisak menyatakan kakinya gontai
menjejak dan tubuhnya lemas karena hasil UNBK putriku di luar dugaannya

44

terutama nilai maematika dan IPA yang sangat rendah. Saya mendengarkan
isak tangisnya dengan tenang dan sabar. Setelah Ia selesai bicara, saya katakan
tenang dan sabar saja serta berdo'a kepada Allah.

Setelah mendengar khabar itu, saya bekerja seperti biasa dan
menyiapkan slide presentasi dengan tenang dan sebaik mungkin untuk berbagi
ilmu pelayanan publik dengan niat memberi yang terbaik bagi peserta
pelatihan dasar CPNS. Walaupun secara fitrah saya sedih, namun saya dapat
mengelola emosi negatif (sedih) dan telah belajar kebiasaan pertama dari
Covey yakni kebiasaan proaktif yakni meminimalisir pengaruh dari luar diri
seperti masalah yang ada. Bukan masalah yang penting, tetapi bagaimana
merespon masalah tersebut. Dengan kebiasaan proaktif tersebut, alhamdulillah
saya dapat meyelesaikan slide presentasi pelayanan publik dengan baik.

Setiba di rumah, sebenarnya saya ingin memberi selamat kepada anak
saya, namun tidak berani karena istri sedang sedih dan stress. Maka saya
tersenyum dan tenang mengucapkan salam seperti tidak terjadi apa-apa. Wajah
istriku terlihat sedih dan tak bersemangat karena memikirkan nilai hasil UNBK
putriku yang sangat rendah. Sedangkan putriku seperti biasa, menangis
menyesali hasil nilai UNBKnya yang sangat rendah. Saya pun menenangkan dan
tidak memarahinya. Dan selalu.mengingatkan berulang kali, jangan menangis
kemudian segera melupakan dan tidak mau berubah. Jadikan lah ini sebagai
pembelajaran untuk berubah dan menjadi lebih baik. Hal ini saya katakan
kepada putriku dengan senyum dan tenang karena Ia seringkali menangis saat
ujian sekolah dan uji coba UN buruk, namun tak mengubah sikap dan
perilakunya. Dan sesuatu yang sudah terjadi adalah yang terbaik untuk kita
karena belum optimal usaha yang kita lakukan yakni belajar serta menjadikan
kita maju bila kita mengetahuinya dan mau melakukan perbaikan diri..

Setalah berbuka shaum (puasa), putriku dan istriku memiliki
pertanyaan yang sama, "Kok ayah tenang aja melihat hasil UNBK Aya yang
sangat rendah?” Saya pun menjawab panjang lebar sebagai berikut:

“Bunda dan Aya, ada kiat ayah menghhadapi sesuatu yang akan terjadi
(ketetapan Allah), yakni berharap yang terbaik dan menyiapkan yang terburuk
sehingga insya Allah ayah selalu siap menerima apa pun yang terjadi dengan
bersandar kepada Allah. Ayah berpikir dan meyakini semuanya -nikmat atau
musibah- itu baik bila kita mau belajar dari sesuatu yang telah terjadi dan
mengetahuinya serta mau memperbaiki diri. Ayah dan Bunda juga telah
berusaha dengan memasukkan Aya ke bimbingan belajar (Bimbel) yang baik di
Jakarta dan memanggil guru private matematika untuk belajar seminggu 2 kali.

45

Selain itu, ayah juga sering berbagi ilmu kecerdasan emosi (EQ) dan pola
piker (mindset) kepada peserta diklat. Ayah juga telah berulang-ulang
menjelaskan kepada Bunda dan Aya tentang EQ dan mindset. Ayah selalu
mengatakan kepada para peserta diklat di kelas, Bunda dan Aya (di rumah)
bahwa Menurut Goleman, keberhasilan seseorang ditentukan oleh IQ/prestasi
akademik sebesar 15-20.persen dan EQ/Pola pikir tumbuh (growth mindset)
sebesar 80 persen. Namun hal ini bukan dalih pembenaran bahwa kita tidak
perlu bersungguh-sungguh belajar saat sekolah. Kita harus tetap bersungguh-
sungguh (man jadda wa jada) belajar agar memperoleh nilai yang baik. IQ/IPK
hanya berfungsi sebagai CALL untuk diinterview bekerja atau penempatan kita
bekerja. Selanjutnya, kesuksesan bekerja/hidup ditentukan oleh growth
mindset/EQ yang mengkaitkan segala sesuatunya dengan ketetapan Allah.
Growth mindset dan EQ yang merupakan pemikiran mendalam dari Dweck dan
Goleman sebenarnya hampir mirip namun sudut pandangnya berbeda.
Kemudian penulis mengkaitkan Growth mindset dan EQ dengan ketetapan
Allah yang penulis istilahkan Kekuatan Pikiran Spiritualitas.

Kemudian saya memberi contoh kepada peserta diklat, istri dan putriku
tentang fakta-fakta dari penelitian Dweck dan Goleman selama puluhan tahun.
Misalnya, Thomas Alfa Edison yang dicap bodoh oleh gurunya waktu kecil
sehingga dikeluarkan dari sekolahnya karena tak layak sekolah. Ibunya sakit
hati dan berjanji akan mendidik anaknya. Sekarang kita menikmati adanya
matahari saat malam (bola lampu) penemuan dari Thomas Alfa Edison. Banyak
contoh lainnya, seperti para peraih nobel pun kebanyakan orang-orang yang
tidak memiliki prestasi akademik saat kuliah/sekolah. Einstein pun yang
kecilnya gagap, dikatakan oleh kepala sekolahnya akan menjadi orang yang tak
berarti. Namun faktaknya Ia yang menemukan formula e = mc2 yang sangat
berarti bagi ilmu pengetahuan berikutnya.

Oleh karena itu, Bunda dan putriku sayang, ayah bersikap tenang karena
ayah sedang berlatih tentang kekuatan pikiran yang bersandar kepada Allah
yang sesungguhnya mengubah sikap dan perilaku ayah.. Ketika ayah
mendengar dari Bunda bahwa nilai UNBK Aya sangat rendah yang ayah terima
ke lymbic sistem yakni amygdala (pusatnya emosi) ayah mendengarkan dan
diam agar peristiwa tersebut diolah oleh pikiran (neocortex) ayah. Kemudian
ayah juga menenangkan diri dengan zikir (mengingat Allah). Menurut ayah,
Allah memberi ujian akan apa- apa yang ayah ucapkan melalui orang-orang
yang ayah cintai. Dan semua itu baik bagi kita bila kita mengetahuinya. Masalah
itu kecil nak dan bukan akhir segalanya karena kegagalan (nilai rendah) tidak
permanen bila kita mau mengubahnya. Allah Maha Besar putriku.

46

Ayah tidak khawatir karena sudah memasukkan Aya ikut seleksi masuk
madrasah Aliyah Negeri (MAN) dan lolos seleksi administrasi. Dan telah ikut
seleksi

47

tahap I pada tanggal 30 Mei 2017. Walaupun Aya menjawab dengan jujur
bahwa MAN ini sebagai cadangan jika nilai UN Aya buruk. Jawaban ini sangat
memungkinkan Aya tidak diterima, namun ayah menghargai kejujuran Aya,
tetap optimis dan berprasangka baik kepada Allah bahwa Aya akan diterima di
MAN.

Sekarang kita harus optimis dan berprasangka baik kepada Allah bahwa
Aya akan masuk MAN. Jika tidak masuk, juga masih ada peluang masuk SMAN
melalui seleksi PPDB online pada tanggal 15 Juni 2017. Andaikan tidak masuk,
Aya sekolah diSMA swasta.

'Kegagalan' sekarang bukan akhir segalanya dan tidak permanen bila
kita ingin berubah. Tergantung pilihan kita, apakah kita akan memilih untuk
bertumbuh/berubah (growth mindset) atau kita terpaku lama meratapi nasib
kita dan tambah terpuruk (fixed mindset). Ayah tahu Aya memiliki kelebihan
pada bahasa dan kelebihan lainnya. Bertumbuhlah pada potensi yang kita miliki
(strenght base orientation) sebagai penghambaan diri kita kepada Allah.
Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib seseorang hingga orang itu
mengubah pikirannya sendiri.

Jadi, Aya dan Bunda nilai matematika dan IPA sangat rendah bukan
akhir dari segalanya. Setiap anak itu berbeda. Kita tidak boleh membandingkan
Aya dengan Kakaknya yang kuat di matematika dan IPA. Aya memiliki
kelebihan lain yakni di bahasa dan menyukainya. Bertumbuhlah pada potensi
yang Aya sukai sebagai kesyukuran Aya kepada Allah. Ayah tetap menyayangi
kalian dengan adil apa pun kekurangannya. Sedangkan mengapa Ayah tenang
dan optimis karena Ayah sedang berlatih kekuatan pikiran Spiritual yang dapat
mengubah sikap dan emosi diri kita dengan bersandar kepada yang layak
disandarkan yakni Allah.

Generalize Mindset

[05:17, 11/6/2016]

Jika Carol Dweck punya istilah Fixed mindset and Growth mindset, saya
punya istilah generalize mindset. Apa yang dimaksud dengan generalize
mindset? Saya akan memberikan beberapa contoh di bawah ini.

48

Mengapa ada orang yang protes ujian nasional (UN)? Karena kelulusan
siswa ditentukan oleh UN yang waktunya hanya 3 hari dengan pelajaran
tertentu.

49

Artinya, kelulusan seorang siswa yang menjalani pendidikan selama 6/3/3
tahun ditentukan oleh 3 hari UN. Pola pikir ini saya sebut dengan generalize
mindset.

Saya teringat perkataan seorang pendidik yang saya kagumi yakni
Almarhum Profesor Bapak Andi Hakim Nasution yang kurang lebih
menyatakan, “sebetulnya tidak perlu ada ujian bagi mahasiswa/siswa karena
pendidik dalam periode tertentu mengetahui sikap, perilaku dan kemampuan
para siswadidiknya.”

Generalize mindset juga terkadang digunakan oleh pimpinan/orang tua
menilai bawahan/anaknya. Misalnya, karena bawahan/anak memiliki
kesalahan/nilai jelek, maka pimpinan/orang tua menilai bawahan/anak
memiliki kemampuan yang rendah, sehingga pimpinan/orang tua menganggap
bahwa bawahan/anak tersebut tidak memiliki kemampuan. Padahal setiap
orang dapat tumbuh/berkembang. Faktanya adalah Einstein dan Thomas A
Edison yang dianggap bodoh oleh gurunya, namun dengan berjalannya waktu,
kita melihat karya mereka yang spektakuler.

Ternyata, generalize mindset ini digunakan pula oleh media tv tertentu
untuk memberi stigma negatif kepada aksi bela Islam ( ABI ) kedua yang
berlangsung pada 4-11 tahun 2016. Saya mengamati keanehan media tv
tertentu yang menayangkan kerusuhan pada jam 19.00 wib ke atas dan lokasi
tertentu yang dilakukan oleh sebagian pendemo berpakaian bukan putih-putih
dengan bahasa reporter seolah-olah terjadi kerusuhan. Dengan generalize
mindset tersebut media tv tertentu ingin menggiring opini ke pemirsa bahwa
ABI ke 2 berjalan rusuh.

Menggunakan generalize mindset untuk menyimpulkan secara umum
demo ABI II berdasarkan satu titik tertentu adalah cara yang tidak objektik dan
keliru. Bagaimana mungkin, kita menyimpulkan bahwa demo ABI II yang
berjalan dari pagi hari atau setelah sholat Jum’at dikatakan rusuh hanya
berdasarkan suatu peristiwa pada jam 19.00 wib, lokasi berbeda dan belum
diketahui perusuh yang sebenarnya tanpa melihat secara keseluruhan demo
ABI II.

Melihat secara keseluruhan suatu peristiwa yakni demo ABI II atau
peristiwa lainnya, kemudian menyimpulkan peristiwa/ABI II berdasarkan
keseluruhan peristiwa tersebut lebih objektif dan tidak bias. Keobjektifan ini
tentu ditunjang dengan hati yang bersih dan tenang serta pikiran mendalam
dan cemerlang.

50

Pemikiran mendalam dan cemerlang ini akan memfilterisasi provokasi
berita yang menderas hingga tidak melakukan tindakan kekerasan yang akan
menodai demo ABI II yang dilakukan dengan niat yang tulus untuk membela
kitab suci Al Quran yang akan menjadi syafaat nanti di yaumil akhir dan
menunggu dengan sabar pihak berwenang menjalankan tugasnya.

51

52

BAGIAN TIGA

KEHIDUPAN

53

Kehampaan Batin

[05:03, 7/26/2018]

Kita hidup berlimpah materi, tetapi tak bahagia. (Kazuo Inamori,
Compass to Fullfilment). Banyak contoh orang-orang yang berlimpah materi
tak bahagia. Misalnya Elvis Presley yang sangat berlimpah materi dan memiliki
fans jutaan di seluruh dunia. Namun, sebagian besar hidupnya penuh dengan
merana nestapa, sunyi dalam keramaian dan terkucil dalam kehidupan.

Penulis tak memiliki jawaban yang memuaskan akal dari buku yang
menarik di atas. Namun, akhirnya penulis menemukan jawaban mengapa hal
itu terjadi dari buku The Art Living karya Eric Fromm. Menurut pengamatan
Eric Fromm terhadap masyarakat Eropa dan Amerika yang berlimpah materi
tetapi tak bahagia karena mengalami Kehampaan batin.

Menurut persepsi orang-orang yang berlimpah materi, membeli segala
sesuatu yang diinginkannya akan membuat mereka bahagia. Namun ternyata
tidak. Membeli segala sesuatu tersebut disebabkan kehampaan atau kecemasan
batin yang diakibatkan stres/ depresi yang mereka alami. Semakin
stress/depresi, mereka semakin banyak membeli. Namun hal itu tak
membuatnya mereka bersuka cita dan bahagia. Itulah hidup tak sehat bagi
mereka yang memiliki persepsi memiliki (to have) yakni orang-orang yang
memiliki paradigma bahwa kebahagiaan ditentukan oleh sesuatu/materi yang
berada di luar diri mereka yang dimilikinya.

Persepsi memiliki (to have) ini lah yang menyebabkan kehampaan
batin. Tentu saja, kita perlu mencari materi/uang untuk hidup yang nyaman
atau membantu orang lain. Dan juga tak perlu membenci memiliki hasrat
untuk sukses atau menggapai karir yang tinggi karena hasrat untuk sukses itu
lah yang memotivasi kita menjalani hidup ini.

Namun materi atau karir yang tinggi tersebut hendaknya kita jadikan sarana
-bukan tujuan- untuk ibadah kepada Allah seperti menafkahi keluarga,
memberangkatkan orang tua pergi haji, dan bersedekah/membantu
saudara/orang lain. Batin yang penuh nilai-nilai Ilahiah (ketuhanan) atau
memiliki karakter mulia (to being) inilah solusi agar kita tidak mengalami
kehampaan batin.

54

Ciri Kehidupan

[06:03, 3/18/2017]

Di dinginnya suasana yang menerpa raga dan menikmati sarapan yuk
kita kulik ciri kehidupan…

Terkadang kita menginginkan semua terjadi sebagaimana mestinya.
Misal kita menginginkan para pimpinan/atasan yang baik, tetapi ternyata ada
pimpinan yang buruk. Kita menginginkan teman-teman yang baik, ternyata ada
teman yang manis di mulut pahit perilaku. Kita menginginkan anak-anak atau
istri yang sempurna, tetapi tidak sempurna. Semua yang terjadi tidak
sebagaimana mestinya seperti yang kita inginkan. Jangan memaksakan
semuanya terjadi sebagaimana mestinya yang akan membuat kita stress.

Agar tidak stress, ketahuilah bahwa ciri kehidupan adalah perasaan
kurang. Perasaan kurang ini menunjukkan bahwa tidak ada yang sempurna di
dunia kecuali Allah Yang Maha Sempurna. Berusaha mendekati kesempurnaan
silahkan saja, namun jangan menuntut kesempurnaan yang membuat diri stress
karena ciri kehidupan adalah perasaan kurang.

Oleh karena itu, sebaiknya kita menyadari bahwa semua yang terjadi
sebagaimana adanya, bukan sebagaimana mestinya. Pasti ada
pemimpin/atasan atau teman yang buruk. Jadikan lah mereka cermin agar diri
kita tidak mencontoh mereka. Anak-anak dan istri kita tidak sempurna juga
kenyataan yang harus diterima dengan lapang dada. Bukan kah di dunia ini kita
tidak mencari orang yang sempurna untuk kita cintai, tetapi mencintai anak-
anak/istri yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna.

Kesempurnaan adalah milik Allah Yang Maha Sempurna. Yang penting
bagi kita setelah mengetahui ciri kehidupan yakni adanya perasaan kurang
adalah bagaimana kita meresponnya. Merespon perasaan kurang (-) adalah
dengan berpikir positif (+) dan bersyukur empat kali (++++) agar perasaan
kurang tersebut menjadi berlebih.

55

Hidup adalah Memilih

[05:19, 1/16/2017]

Sebuah kapal dibuat dengan tujuan untuk mengarungi samudra luas
yang penuh dengan ombak. Artinya kapal dibuat bukan untuk bersandar di
dermaga pelabuhan. Pasti lah juga manusia diciptakan Allah untuk memilih
jalan yang baik atau buruk. Hidup kita sekarang pun merupakan akumulasi dari
pilihan-pilihan masa lalu. Tak perlu menyesali apa yang telah kita pilih pada
masa lalu karena life is choice and simple. Jadikan saja apa-apa yang kita pilih
sebagai pembelajaran karena selalu ada hikmahnya. Apakah memilih itu enak?

Tentu tidak enak namun indah karena memilih adalah perjuangan. Di
dalam diri kita saja, kita harus memilih untuk menjadi pribadi yang baik.
Misalnya, manusia tempatnya salah dan lupa. Salah dan lupa sekali-sekali
merupakan hal yang manusiawi, namun jangan menjadikan alasan untuk
membenarkan bahwa kita sebagai manusia boleh salah dan lupa terus menerus.
Oleh karena itu, kita berjuang untuk melawan salah dan lupa terus menerus
dengan akal kita yang dapat menyimpan jutaan memori adalah pilihan.

Sifat manusia juga berkeluh kesah, kikir dan bakhil. Apakah sifat itu
membenarkan kita untuk selalu berkeluh kesah yang tidak akan menyelesaikan
masalah bahkan menambah penyakit diri kita. Kita harus menindih sifat keluh
kesah tersebut dengan selalu bersyukur karena nikmat Allah yang tidak
terbatas untuk diri kita. Semua yang terjadi, pasti lah baik untuk diri kita.
Sedangkan mengalahkan sifat kikir dan bakhil, harus dilawan dengan
bersedekah atau membantu kepada sesama. Bersedekah dan membantu
sesama akan membuat kita benar-benar hidup, berarti dan bermanfaat untuk
sesama yang akhirnya membuat kita bahagia. Sesungguhnya kebahagiaan diri
terletak kepada kebahagiaan orang lain.

Itulah perjuangan mengalahkan diri. Mudah? Tentu sangat sulit
mengalahkan/menindih sifat-sifat yang melekat dalam diri sendiri namun kita
harus menindihnya -bukan mematikannya- dengan sifat-sifat yang berlawanan
dalam diri kita. Oleh karena itu, memberi perhatian yang disengaja pada emosi
kita setiap sangat perlu dilakukan karena emosi/perasaan/batiniah merupakan
energi kita dalam bertindak. Menindih sifat-sifat yang melekat pada diri sensiri
itu sebuah seni dalam kehidupan yang harus dilatih terus menerus dengan
refleksi diri. Bukan menjadikan perasaan itu sebagai sebuah kendali, tetapi
menjadikan perasaan sebagai sinyal yang dipadukan oleh pikiran sebagai
panglima dalam kita bertindak.

56

Kita juga harus memilih yang berkaitan dengan aktivitas/pekerjaan.
Untuk memilihnya, saya teringat quote,”Lakukan sesuatu yang kita cintai. Cintai
lah apa-

57

apa yang kita lakukan”. Melakukan apa-apa yang kita cintai pasti lah semua
orang menyukainya. Namun Mencintai apa-apa -bisa yang disukai atau tidak-
yang tidak disukai, akan sangat sulit. Alhmadulillah, dengan izin Allah saya
sudah menemukan aktivitas/pekerjaan yang saya cintai yang tak pernah saya
bayangkan sebelumnya melalui buku-buku pengembangan diri yang saya baca.
Membaca buku-buku pengembangan diri juga tanpa saya sadari. Saya hanya
membeli dan membacanya. Dan tanpa saya sadari terjadi internalisasi di dalam
diri dan dengan izin Allah, seperti ada yang menuntun ke mana saya harus pergi
dan memutuskan menjadi widyaiswara/pengajar CPNC/PNS.

Sebenarnya ada juga orang-orang yang ditunjukkan oleh
bathin/perasaannya bahwa mereka menyukai suatu aktivitas tertentu
dibandingkan aktivitasnya sekarang. Namun mereka tidak mempersiapkan atau
merencanakan secara perlahan untuk melakukan aktivitas yang disukainya
karena takut gagal dan menyatakan akan indah pada waktunya.

Bagaimana bagi mereka yang melakukan pekerjaan yang tidak
disukainya? Steve Job mengatakan, cari lah sesuatu yang kamu sukai (passion)
hingga ketemu. Melakukan sesuatu yang kamu sukai akan menghasilkan karya.
Bahkan seseorang mengatakan, mengerjakan pekerjaan yang kita sukai bukan
sebuah pekerjaan. Namun dalam kenyataan, banyak orang yang melakukan
sesuatu yang tidak disukainya. Jangan putus asa. Belajar kecewa akan membuat
kita optimis bahwa apa yang kita inginkan terkadang tidak selalu menjadi
kenyataan. Tetapi yakin lah bahwa Allah memberikan apa-apa yang kita
butuhkan. Caranya adalah berusaha seolah-olah kita mencintai pekerjaan
tersebut dengan memberi perhatian yang disengaja dengan menghadirkan
pikiran dan perasaan kita.

Berusahalah melakukan pekerjaan dengan mengamati perasaan kita
dan mencatatnya. Dari catatan perasaan, kita mengenali dan memahami
perasaaan- perasaan diri sendiri saat melakukan pekerjaan tersebut. Ternyata
hampir semua tindakan dan keputusan kita didorong oleh perasaan kita. Bila
perasaan kita tak nyaman dan bosan, berusaha lah seolah-olah mencintai
pekerjaan yang kita lakukan secata terus menerus yang akan menjadikan kita
mencintai pekerjaan kita. Dengan menghadirkan pikiran dan perasaan kita ke
dalam pekerjaan akan memunculkan inisiatif dan adaptibilitas sehingga muncul
cara-cara dan sudut pandang baru dalam menyelesaikan pekerjaan sehinga
tidak timbul kebosanan/kejenuhan. Mudah? Tentu saja sulit. Kesulitan itu lah
sebuah tantangan agar kita terus berpikir dan belajar sebagai tanda kesyukuran
kita kepada Allah.

58

Kemandirian

[05:39, 8/10/2017]

Aura kemerdekaan menyeruak di mana-mana. Ditandai dengan kain dan
bendera merah putih menghiasi gedung-gedung. Lagu-lagu semangat
perjuangan terdengar di hotel-hotel. Para penjual bendera, bambu serta pohon
pinang juga banyak terlihat di pinggir-pinggir jalan kota Jakarta. Iklan di media
TV pun bernuansa kemerdekaan. Aura kemerdekaan tersebut disebabkan kita
berada pada bulan Agustus di mana Bangsa Indonesia yang kita cintai ini
merdeka pada 17 Agustus 1945.

Merdeka (istiqlal) bermakna suatu bangsa/seseorang tidak didominasi
oleh bangsa/orang lain. Artinya bangsa/orang tersebut mandiri menentukan
nasibnya sendiri. Kunci merdeka adalah kemandirian. Tulisan ini fokus pada
kemandirian individu. Kemandirian inilah yang pertama kali dibangun oleh
Stephen Covey dalam bukunya 7 kebiasaan paling efektif manusia yang diawali
dengan memiliki kebiasaan proaktif.

Kebiasaan proaktif merupakan sikap seseorang yang tidak terpengaruh
oleh kondisi yang terjadi di sekitarnya. Contohnya, bila kita ingin membeli
sayur-sayuran di pasar di mana sayur-sayuran tersebut bagus dan harganya
wajar kita akan membelinya walaupun penjualnya bersikap tidak ramah.
Maknanya, sikap kita tidak terpengaruh oleh sikap orang lain (penjual sayuran).
Kebiasaan proaktif merupakan antitesis dari teori determenistik yang telah
mengakar lama di benak manusia yang menyatakan bahwa nasib seseorang
dipengaruhi genetiknya dan lingkungannya. Sikap proaktif ini sangat berguna
bagi seseorang dalam kondisi apa pun, apakah kondisi negara/unit kerja tidak
begitu kondusif atau buruk sekali pun.

Tentu saja, untuk mandiri, sikap proaktif harus dilengkapi dengan
kebiasaan memiliki tujuan hidup (purpose of life) dan mendahulukan yang
utama. Ketiga kebiasaan tersebut, yakni kebiasaan proaktif, tujuan hjdup dan
mendahulukan yang utama akan menajdikan seseorang mandiri.

Kemandirian akan menjadikan seseorang akan menulis nasibnya sendiri
di atas kertas dengan berharap kepada Allah. Kemandirian menjadikan
seseorang tidak menyerahkan nasibnya ditentukan orang lain. Kemandirian
akan menjadikan seseorang memenuhi harapan dirinya untuk kebermanfaatan
banyak orang. Kemandirian akan menjadikan seseorang selalu konsisten dsn
komitmen berjalan menapaki kehidupan ini dengan mendahulukan yang utama
karena telah memiliki tujuan hidup yang jelas. Kemandirian membuat

59

seseorang tidak mudah terombang- ambing oleh opini-opini yang ada atau
disibukan hal yang sepele. Kemandirian akan

60

menjadikan seseorang berhubungan dengan orang lain dengan prinsip menang-
menang karena didasarkan pada kemandirian tersebut. Kemandirian
menjadikan seseorang benar-benar merdeka yang hanya didominasi oleh Allah
semata.

Nasib

[06:25, 1/21/2017]

Sabtu ceria disertai seulas senyum yang merekah dan sarapan yuk kita kulik
nasib....

Salah satu peserta diklat fungsional statistisi bernama Nasib. Pemberian
nama Nasib oleh orangtua tentu penuh doa dan harap agar nasib anaknya baik
dan bahagia. Dalam Islam, setiap nama memiliki makna di mana orang tua
berharap agar anaknya memiliki sifat dan karakter sesuai namanya. Seperti
pemberian nama Muhammad, agar anaknya memiliki akhlaq mulia seperti Nabi
Muhammad SAW. Nama yang diberikan orang tua sangat berarti karena sebuah
doa. Namun apakah nasib anak/kita sesuai harapan orang tua? Aamiin, semoga
saja. Doa itu penting, akan tetapi nasib sangat ditentukan oleh usaha diri sendiri
dan ketetapan Allah.

Memang nasib seseorang sudah tertulis di lauhul mahfudz oleh Allah,
namun tidak ada manusia pun yang tahu. Oleh karena itu kita harus berdoa dan
berusaha menjadikan nasib kita baik. Hal ini seperti dicontohkan oleh amirul
mukminin Umar ibn Khattab ra yang marah melihat sesorang berada di dalam
masjid di luar waktu sholat wajib dengan doa penuh harap agar mendapatkan
rezeki untuk mengubah nasibnya. Kata Umar ibn Khattab ra, "hujan emas tidak
jatuh dari langit”. Kemudian, Beliau ra “memberi alat/sarana kepada orang
tersebut untuk bekerja dalam rangka menjemput rezeki.” Maknanya, untuk
mengubah nasib doa saja tidak cukup, namun harus ditambah dengan usaha
sendiri yang sungguh-sungguh sesuai dengan firman Allah SWT,” Sesungguhnya
Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah
keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. 13:11).

Dengan demikian, sungguh keliru bila kita menyalahkan orang lain atau
Allah atas nasib buruk yang menimpa kita sekarang karena kita sendiri lah yang
menentukan nasib kita. Lebih baik kita instropeksi diri dan mengubah perilaku

61

kita hari ini dalam rangka merencanakan nasib kita di masa depan. Nasib kita di
masa depan tidak berhubungan dengan nasib kita di masa lalu. Misalnya,
sekarang kita bodoh, tidak dipercaya orang lain karena kita malas belajar, suka
berbohong di masa

62

lalu. Namun, apakah kita juga akan bodoh, tidak dipercaya orang lain pada masa
depan? Tentu tidak, jika sekarang kita mengubah perilaku kita dengan rajin dan
tidak suka berbohong sekarang.

Mengubah kebiasaan perilaku buruk menjadi kebiasaan perlaku baik
sekarang akan mengubah nasib kita di masa depan. Berperilaku baik (jujur,
profesional, amanah, integritas, sungguh-sungguh, disiplin, fokus, selalu belajar,
dll) serta diiringi doa kepada Allah, inshaa Allah akan menjadikan nasib kita
lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Hanya dengan bersungguh-sungguh dan
doa, diri sendiri dapat mengubah nasib kita sekarang. Man jadda wa jada,
barang siapa yang bersungguh-sungguh, seorang akan memperoleh hasil yang
diharapkannya.

Sikap, Aset Terpenting

[05:36, 5/8/2017]

Dalam permainan huruf, attitude (sikap) memiliki nilai 100% yang
bermakna bahwa sikap menentukan 100% keberhasilan seseorang. Saya
memaklumi permainan huruf tersebut walaupun tidak setuju 100% karena
menurut The Carnegie Institute yang menganalisis catatan dari 10.000 orang
dan menyimpulkan bahwa 15% kesuksesan berkaitan dengan pelatihan teknis.
85% selebihnya adalah masalah kepribadian, dan kepribadian bawaan yang
terutama diidentifikasi oleh tim ini adalah sikap (Maxwell,”The Maxwell Daily
Reader).

Sejalan dengan The Carnegie Institute, Kazuo Inamori dalam
bukunya,”Compass to Fullfilment” memiliki formula hasil hidup = sikap x usaha
x pengetahuan. Maknanya pengetahuan/IQ sangat kecil dalam menentukan
keberhasilan (hasil hidup) seseorang. Kalah dibandingkan dengan usaha
(ketekunan). Contohnya, seseorang yang tekun/memiliki usaha keras dan IQ
biasa saja lebih berhasil hidupnya dibandingkan orang yang berpengetahuan
tinggi tapi malas.

Namun, menurut Inamori yang paling menentukan keberhasilan
seseorang adalah sikap seseorang sesuai dengan formula di atas. Sikap di sini
mengacu pada kepribadian yang merupakan gabungan dari pola pikir dan pola
emosi. Oleh karena itu, sikap merupakan aset terpenting kita untuk sukses

63

mulia.

64

Kerja Spiritual

[05:49, 7/27/2018]

Kehampaan batin disebabkan paradigma/persepsi memiliki (to have)
yakni orang-orang yang mengasumsikan/menganggap bahwa kebahagiaan
terletak pada materi -harta, jabatan, istri cantiq- yang dimilikinya. Contoh, saya
bahagia karena memiliki harta berlimpah/istri cantik. Kebahagiaannya terletak
di luar dirinya. Bukan di dalam dirinya.

Di tempat kerja, mereka yang berparadigma memiliki (to have) akan
selalu maramaikan hal-hal yang bersifat materi walaupun telah memperoleh
gaji dan tunjangan. Bahkan dampak yang lebih parah mereka akan melakukan
tindakan korupsi, kecurangan (fraud), merekayasa anggaran dan kecurangan
lainnya untuk menimbun pundi-pundi kekayaannya. Perilaku buruk tersebut
tidak membuatnya bahagia, tetapi semakin meningkatnya kehampaan batin.

Pada sisi lain, manusia yang memiliki paradigma menjadi (to being)
yakni seseorang yang menilai manusia berdasarkan pada nilai-nilai mulia
(karakter) yang terdapat pada dirinya. Mereka yang memiliki paradigma
menjadi akan menebarkan energi positip di tempat kerjanya karena mereka
akan berbicara gagasan-gasan besar untuk menjadikan kantornya lebih baik
terus menerus dalam rangka mencapai visi kantor tersebut. Mereka yang
memiliki paradigma menjadi akan selalu semangat bekerja untuk
mengembangkan unit kerjanya.

Semangat dan energi positif yang disebarkan disebabkan oleh batin
Ilahiah (spiritualitas) yakni bahwa mereka bekerja tidak menjadikan materi
sebagai tujuan semata, tetapi menghadirkan pikiran dan hati yang utuh di
tempat kerja sebagai peningkatan spiritulitas sehingga mereka tidak akan
melakukan kecurangan- kecurangan karena merasa seolah-olah Allah
mengawasinya.

65

Kebahagiaan dalam Pekerjaan

[05:30, 1/17/2019]

Tony Hsieh, CEO Zippo dan penulis buku Delivery Happiness yang
menjadikan kebahagiaan karyawan sebagai tujuan utama perusahaannya
mengidentifikasi proses kebahagiaan dalam konteks pekerjaan. Menurutnya
ada karyawan yang menjadikan 3 sumber kebahagiaan dalam pekerjaan, yakni
kesenangan, hasrat, dan tujuan yang lebih tinggi.

Kesenangan. Biasanya karyawan yang menjadikan kesenangan sebagai
sumber kebahagiaan memiliki ciri selalu menjadikan uang sebagai tujuan
utamanya. Walaupun telah menperoleh gaji dan tunjangan kinerja (TK), energi
semangat mereka adalah uang lebih yang diperoleh di luar gaji dan TK.
Karyawan seperti ini biasanya selalu mementingkan dirinya dan berpikir
bagaimana mendapatkan uang lebih di luar gaji dan tunjangan kinerja.

Hasrat. Hasrat merupakan flow (istilah dalam kecerdasan emosi seperti
passion) yakni pertemuan performa tertinggi dan puncak keasyikan dalam
bekerja sehingga waktu cepat berlalu. Karyawan yang menjadikan hasrat
sebagai sumber kebahagiaan bila pekerjaannya sesuai passionnya.

Tujuan yang lebih tinggi di mana karyawan/pegawai ingin menjadi
sesuatu yang lebih besar dari dirinya dan sangat bermakna dalam hidupnya.
Oleh karena itu, tujuan yang lebih tinggi merupakan sumber kebahagiaan bagi
karyawan di mana dalam bekerja mereka menjadikan pekerjaan tidak hanya
materi semata, tetapi juga sebagai sarana meningkatkan spiritualitas atau
keimanan mereka. Mereka biasanya dalam bekerja selalu berpikir bagaimana
menjadi sebaik-baik manusia di dalam pekerjaannya bermanfaat untuk banyak
orang.

Menurut Tony, ketiga sumber kebahagiaan dalam pekerjaan memiliki
variasi lama atau tidaknya kebahagiaan menetap dalam hati dan jjwa kita.
Kesenangan sebagai sumber kebahagiaan merupakan sesuatu yang cepat
hilang. Apabila stimulus uang yang menjadi tujuan utama bekerja telah
diperoleh, kebahagiaan hanya sangat sebentar menetap di hatinya. Artinya
mereka yang menjadikan kesenangan sebagai sumber kebahagiaan akan sulit
bahagia. Oleh karena itu, Manson dalam buknya Bodo amat memasukkan
kesenangan sebagai nilai sampah.

Sedangkan hasrat sebagai sumber kebahagiaan akan lebih awet
menetap lama di hati. Sedangkan, sumber kebahagiaan yang bertahan sangat

66

lama, apabila dalam pekerjaan. tujuan yang lebih tinggi menjadi tujuan utama
bekerja. Tujuan yang lebih tinggi di sini bermakna kompetensi spiritualitas dan
profesional.

67

Menurut Tony, banyak karyawan lebih memilih kesenangan sebagai
sumber kebahagiaan dalam pekerjaan dari pada hasrat dan tujuan yang tinggi.
Pilihan ini sesuatu yang keliru karena karyawan tak akan bahagia. Seharusnya,
tujuan yang lebih tinggi menjadi pilihan utama dalam pekerjaan agar
kebahagiaan sejati menetap sangat lama di hati dan jiwa kita.

Treadmill Hedonic

[08:53, 1/26/2019]

Kesimpulan Tony Hsieh, CEO Zippo dan penulis buku Delivery
Happiness pada broadcast Kebahagiaan dalam Pekerjaan berbunyi, *"Banyak
karyawan lebih memilih kesenangan sebagai sumber kebahagiaan dalam
pekerjaan dari pada hasrat dan tujuan yang lebih tinggi. Pilihan ini sesuatu yang
keliru karena karyawan tak akan bahagia.

Banyak orang mempersepsikan kesenangan dengan materi, sehingga
banyak orang bekerja siang malam dengan tujuan memperoleh banyak materi
(Mark Manson). Bahkan mereka memperoleh materi dengan cara yang tidak
benar, seperti korupsi, mark up anggaran, curang, menggunakan fasilitas
negara untuk pribadi dan cara buruk lainnya. Dengan banyak materi mereka
menganggap akan bahagia. Benarkah?

Menurut Rolf Dobelly dalam bukunya The art of thinking clearly
menceritakan seorang temannya CEO sebuah Bank membangun rumah
mewahnya di pinggir pantai untuk kediamannya. Awal menempati rumah
mewah tersebut CEO tersebut sangat bahagia. Namun kebahagiaannya
bertahan sebentar saja. Kasus yang ekstrim dialami oleh mendiang Elvis
Presley yang tertulis di bukunya Antony Robbins, The Awaken Giant Within
bahwa Elvis 'bahagia' ketika dalam keadaan sakaw yakni memakai morpin atau
sejenis. Dalam keadaan sadar Ia sangat menderita. Maka, mendiang Elvis yang
berlimpah materi dan diidolakan jutaan manusia, dalam perjalanan hidupnya
penuh nestapa dan merana.

Meningkatnya penghasilan di mana bekerja dengan tujuan materi agar
hidup kita berbeda tidak berbanding lurus dengan meningkatnya kebahagiaan.
Bahkan kebahagiaan hanya berjalan di tempat. Inilah yang disebut dengan ban
berjalan hedonis (treadmill hedonic). Treadmill hedonic ini yang diungkapkan

68

oleh Kazuo

69

Inamori pemilik Kyoecera dan penulis buku Compass to Fullfilment, kita itu
berlimpah materi, tetapi selalu merasa tidak cukup. Mengapa?

Merasa Cukup

[05:24, 1/28/2019]

"Mengapa kita berlimpah materi, tetapi selalu merasa tidak cukup?".
Pertanyaan di atas merupakan pengamatan Kazuo Inamori (konglomerat asal
Jepang) terhadap perilaku masyarakat di dunia dalam bukunya Compass to
Fullfilment.

Tanpa kita sadari, kehidupan materialisme telah menghujam lama di
dalam otak kita yang paling dasar sehingga kita memiliki paradigma
materialisme. Erich Fromm dalam bukunya To Have and To Be mengistilahkan
paradigma materialisme dengan paradigm to have. Paradigma to have ini dapat
kita saksikan bagaimana orang-orang bekerja keras siang malam dengan tujuan
memperoleh materi agar bahagia.

Aku bahagia, jika punya rumah
indah. Aku bahagia, jika punya
mobil mahal. Aku bahagia, jika
punya...

Namun ternyata, kebahagiaan kita yang tergantung pada materi di luar
diri kita hanya menetap sebentar. Semakin bekerja keras siang dan malam
untuk meningkatkan penghasilan, bahagia hanya berjalan di tempat ( treadmill
hedonic) dan kita akan kembali ke perasaan menakutkan yakni kembali ke awal
yakni tidak cukup (Mark Manson, "Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat") .
Perasaan tidak cukup sesungguhnya disebabkan oleh ciri dunia yakni perasaan
kurang. Jadi, sehebat apa pun kita bekerja keras siang dan malam dengan
tujuan memperoleh materi, tak akan pernah cukup untuk diri kita karena
perasaan kurang yang merupakan sunatullah. Mendapat 1 gunung emas, minta
2 gunung emas. Bagaimana melawan perasaan kurang tersebut?

Merasa cukup (qona'ah). Dengan merasa cukup (qona'ah) akan
penghasilan yang kita terima, kita akan bekerja sungguh-sungguh (man jadda
wajada) dan professional di tempat kerja dalam rangka menggapai tujuan yang
lebih tinggi yakni ibadah mendekatakan diri kepada Allah (taqarrub ilallah).
Dengan tujuan yang lebih tinggi ini kita akan melakukan yang terbaik untuk
kantor/perusahaan yakni berkontribusi mengembangkan lembaga kita
bernaung agar kita menjadi sebaik-baik manusia yang bermanfaat untuk

70

banyak orang. Dengan bekerja untuk bersyukur yakni mendekatkan diri kita
kepada Allah akan menjauhkan kita dari perbuatan

71

tercela seperti korupsi, curang, memark up anggaran, inefisiensi,
menggunakan fasilitas negara untuk pribadi dan perbuatan tercela lainnya.

Bersikap merasa cukup, tidak melarang kita memperoleh
keberlimpahan materi dengan cara benar karena Allah SWT dan Rasulullah
SAW tidak melarangnya. Hal ini ditunjukkan dengan enam shahabat nabi
(semoga Allah memberkahinya) yang dijamin masuk surga adalah konglomerat.
Namun keberlimpahan materi yang kita peroleh, selain kita nikmati sebagai
karunia Allah juga kita distribusikan melalui sedekah atau membantu kepada
sesama agar ada lapis-lapis keberkahan di dalam materi yang kita terima.
Dengan lapis-lapis keberkahan tersebut membuat tenangnya hati dan
tentramnya jiwa yang berdampak kebahagiaan sejati bersemayam lama dalam
diri kita dan bekal kita nanti.

Terapi Selalu Bersyukur

[06:13, 2/10/2019]

Mengapa kalimat pertanyaan, "Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau
dustakan?" diulang 31 kali dari 78 ayat di dalam surah Ar Rahman? Hikmah
pembelajaran dari pengulangan 31 kali ayat di atas agar kita selalu bersyukur
atas nikmat Allah yang tidak terbatas. Namun sedikit sekali manusia selalu
bersyukur atas nikmat Allah yang tak terbatas itu.

Ketidakbersyukuran terlihat dari kita merasa selalu tidak cukup atas
rezeki yang diperolehnya. Indikatornya, meskipun telah memperoleh gaji dan
tunjangan kinerja, kita masih selalu mengharapkan insentif di luar gaji dan
tunjangan kinerja. Dampaknya, kita mencari penghasilan lebih dengan cara
tidak baik dan benar, seperti korupsi, merekayasa anggaran, membuat kwitansi
fiktif, dan kecurangan lainnya. Padahal penghasilan lebih yang kita peroleh
dengan cara tidak baik dan tidak benar sangat kecil daripada kekayaan yang tak
ternilai yang berada di dalam diri kita bagi mereka yang mau berfikir.

Oleh karena itu, Allah SWT pada awal surah Ar Rahman memulai
dengan silih bergantinya Matahari dan bulan, tetumbuhan dan pepohonan,
langit tinggi tanpa pancang, dan bumi dihamparkan agar kita berpikir dan
bersyukur. Namun semua nikmat Allah tiada batas tersebut tidak menambah
rasa syukur kita karena kita menganggap semua pemberian Allah tersebut

72

memang hak kita (taken for grated). Allah juga meminta kita untuk
mencurahkan perhatian kita terhadap apa-

73

apa yang ada di dalam diri kita. Namun sekali lagi kita menganggap semua yang
berada dalam diri kita hal yang tidak penting (taken for grated).

Tidak maunya kita berpikir dan mencurahkan perhatian yang ada di
langit dan bumi serta di dalam diri kita disebabkan kita tidak memiliki
kesadaran diri/penuh (mindfullness). Agar kita memiliki kesadaran diri agar
selalu bersyukur mari kita terapi selalu bersyukur dengan cara berikut.

Silahkan kita duduk di kursi dengan senyaman mungkin. Kemudian,
curahkan perhatian detik demi detik kepada proses kita bernafas selama 2
menit. Bila perhatian kita teralihkan oleh hal lain, kembalikan dengan lembut
untuk fokus detik demi detik kita bernafas. Praktekan cara ini terus menerus
selama 2 menit hingga rasa syukur kita meningkat karena pada proses bernafas
kita terdapat hal yang amazing nikmat Allah yang tak terbatas.

Happiness by Giving

[07:48, 7/28/2018]

Selesai belanja di pasar tradisional, ditemani kupi dan bakwan, mari kita kulik
berbagi...

Di tengah kesibukan menghadapi responden yang berupa ragam
karakteristiknya dan berjibaku dengan medan yang sulit, para Koordinator
Statistik Kecamatan (KSK) ini menyempatkan diri untuk berbagi (sharing
knowledge) atas inovasi yang dibuatnya. Dan tak lupa, mereka memberikan
inovasi yang telah sangat membantu dalam pekerjaannya dengan membaginya
di WAG. Menurut penulis, berbagi (giving) yang diberikan KSK tersebut sesuatu
yang sangat luar biasa.

Sangat luar biasa karena setiap orang belum tentu dapat berbagi -baik
ilmu, materi atau kebaikan lainnya- kepada orang lain yang disebabkan sifat
kikirnya. Bahkan, ada sebagian orang yang memiliki syarat untuk berbagi, yakni
ketika mereka telah kaya/berlebih.

Padahal, pada umumnya semakin kaya seseorang semakin ia sangat
sulit berbagi. Contoh, ketika kita memiliki uang Rp. 10 juta dan berbagi 2,5 % x
Rp. 10 juta = Rp. 250.000 kita anggap kecil. Namun, ketika memiliki Rp. 1

74

milyar dan berbagi 2,5% dari Rp. 1 milyar = 25 juta kita akan sangat berat
mengeluarkannya.

75

Bahkan berusaha tidak mengeluarkannya karena menganggap kekayaan
tersebut merupakan hasil jerih upaya kita sendiri.

Semakin kaya semakin sulit berbagi, sebenarnya telah dikisahkan di Al
Qur'an dan Hadits. Misalnya kisah Qorun atau Tsalabah. Hal ini juga sesuai
eksperimen sosial yang dilakukan oleh orang kaya di luar negeri.

Orang kaya tersebut menempelkan uang kertas dolar Amerika di
seluruh bajunya dan mempersilahkan orang-orang untuk mengambilnya. Ada
dua orang - pria dan perempuan- yang tampak kaya -dari jas dan tas bermerk
yang dipakainya- mengambil uang banyak sesuai keinginannya. Sebaliknya ada
seorang tuna wisma yang mengambil uang hanya dua lembar untuk kebutuhan
hari itu saja.

Berbagi yang membuat kita bahagia (happiness by giving) adalah
berbagi yang tulus dan ikhlas. Berbagi yang tulus dan ikhlas sangat sulit karena
selama ini tertanam di benak kita yang dalam suatu quote " ketika kita berbagi
(giving), suatu saat nanti kita, anak, atau istri akan memperoleh kebaikan
akibat dari kebaikan yang kita tanam dulu". Bila kita berbagi (giving) karena
harapan tersebut, terkadang buka kebahagiaan yang kita peroleh, tetapi
kekecewaan. Oleh karena itu, berbagi lah dengan tulus dan ikhlas mengharap
ridho Allah semata sehingga kebahagiaan yang akan kita peroleh.

Iri Membakar Diri

[05:30, 9/28/2018]

Setiap manusia memiliki potensi rasa iri yakni susah melihat orang lain
bahagia atau sebaliknya bahagia melihat orang lain susah. Misalnya, peraturan
umum begitu longgar, tetapi pimpinan membuat peraturan dibawahnya dengan
syarat-syarat ketat yang mempersulit para pegawai. Contoh lain yang
sederhana, kita juga sering iri melihat orang lain memperoleh rezeki yang kita
anggap menggerus pendapatan kita.

"Iri merupakan penyakit hati yang adil", seperti syair yang berbunyi,"
Alangkah indah dan adilnya sifat iri itu bila sifat iri sudah mulai menyerang
pemiliknya. Selanjutnya pemiliknya akan dibunuhnya pula". Maknanya, orang
yang berpenyakit iri, akan lebih menyakiti dirinya sendiri daripada orang lain.

76

Orang yang iri ini akan menyiksa diri sendiri karena suatu hal yang bukan
miliknya.

77

Pernyataan 14 abad lalu sesuai dengan penelitian Toshinori Kato, Ph.D
terhadap pengamatan 10.000 otak manusia yang menyatakan rasa iri yang
berlebihan dapat memberikan pengaruh yang buruk bagi otak. Rasa iri akan
memperpanas otak dan menaikkan tekanan darah pada "medula oblongata
(sumsum sambungan)" yang berfungsi mengatur informasi di otak. Efektivitas
enzim yang ada di dalam otak pun semakin buruk sehingga otak tidak dapat
memikirkan hal-hal yang rumit".

Penyakit hati iri sesungguhnya juga perilaku tidak sopan kita kepada
Allah, Sang Maha Pemberi Rizki dan menggugat keadilan Allah Yang Maha Adil,
seakan- akan manusia yang berpenyakit iri menyatakan,"Ya Allah, kenapa
Kamu tidak memberikan rezeki kepadaku? Malah Kau berikan rezeki kepada
orang lain. Penyakit iri juga akan membuat kita tidak bahagia karena
sesungguhnya kebahagiaan kita tergantung kepada kebahagiaan orang lain.

Jauhilah rasa iri yang akan menyiksa dan membuat Anda sedih seperti
perkataan anaknya Ali bin Abi Thalib, Hasan ra,"Aku tidak pernah melihat
orang yang zalim, keadaannya seperti orang yang dizalimi, seperti halnya
keadaan orang yang sedang iri yakni berperasaan terus, selalu bersedih, dan air
mata terus menetes tak terhenti."

Mendo'akan Orang Lain

[05:25, 1/11/2019]

Salah satu tahap pelatihan kecerdasan emosi di Google adalah
membentuk kebiasaan-kebiasaan mental mulia. Kebiasaan mental ini akan
berdampak, saat kita di kantor bertemu orang lain, pemikiran pertama yang
terbersit di pikiran sebagai berikut:

1. Saya ingin Ia bahagia
2. Saya ingin Ia rajin berada di kantor agar gaji dan tunjungan kinerjanya berkah.
3. Saya ingin Ia promosi
4. Saya ingin Ia berhasil dalam mengemban amanah
5. Saya ingin Ia sehat
6. Dan lainnya

78

Di dalam Islam 14 abad yang lalu, Rasulullah SAW juga menganjurkan
mendo'akan hal-hal positif untuk orang lain, seperti sabda Beliau SAW “Tidak
ada seorang hamba Muslim yang berkenan mendoakan saudaranya tanpa
sepengetahuan orang yang didoakan kecuali malaikat mendoakan orang yang
berdoa tersebut dengan kalimat ‘Kamu juga mendapat sama persis
sebagaimana doa yang kamu ucapkan itu,” (HR Muslim: 4094).

Unfortunately, sepertinya, sifat manusia susah melihat teman/orang
lain bahagia. Dan senang melihat orang lain/temannya mengalami kesusahan.
Misalnya, seorang akan sesak nafas dan memprotes ketidakadilan ketika ada
orang lain memperoleh berlebih insentif lebih dalam pekerjaannyaa, sedangkan
dirinya tidak. Namun, saat memperoleh kelebihan materi, Ia berdiam diri dan
tidak memprotes penghasilan yang diperolehnya dengan instropeksi diri,
"Apakah instentif yang aku peroleh sesuai dengan kualitas pekerjaan yang aku
berikan? '

Begitu pula di organisasi. Seorang pejabat bercerita, sepertinya para
pimpinan tidak senang melihat para pegawainya bahagia. Misalnya, aturan
umum beasiswa menyatakan salah satu syarat usia maksimal 45 tahun.
Kemudian, pimpinan di lembaga membuat syarat beasiswa di lembaganya
berdasar aturan di atas, tetapi usia maksimal 40 tahun.

Sifat buruk di atas yakni sedih melihat orang lain senang akan
berdampak buruk terhadap diri sendiri, yakni kita tak akan bahagia. Oleh
karena itu, sebaiknya kita harus berupaya mendo'akan hal-hal baik untuk orang
lain karena sebenarnya kebaikan tersebut juga akan kita peroleh seperti hadits
di atas.

Hal ini diperkuat oleh quote pengembangan diri yakni kita akan
mendapatkan apa-apa yang kita pikirkan. Selain itu, mendoakan kebaikan
untuk orang lain akan membuat kita menerima orang lain dan orang lain
menerima kita sehingga akan muncul kepercayaan. Kepercayaan ini sangat
penting karena akan menjadi pondasi dan kesuksesan dalam pekerjaan.

Apakah Anda Seorang Guru?

[05:20, 8/27/2018]

79

Guru berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari dua suku kata, yakni
gu dan ru. Gu berarti kegelapan. dan ru berarti penghancur. Dengan demikian, Guru

80

berarti penghancur kegelapan. Oleh karena itu, seorang Guru tidak hanya
mengajar dan memberi materi di depan kelas saja. Seorang Guru juga berfungsi
membawa perubahan kepada murid/peserta diklat yakni dari tidak tahu
menjadi tahu; Dari gelap menuju terang/cahaya; dari belum baik menjadi baik.
Itu lah sesungguhnya makna keberadaan Guru.

Widyaiswara sebagai pengampu/pengajar peserta pendidikan dan
pelatihan (diklat) di mana pesertanya CPNS dan ASN juga disebut sebagai Guru
Bangsa.

Untuk menjadi guru sesuai maknanya, yakni membawa perubahan
kepada murid/peserta diklat dengan menginspirasi atau memotivasi murid
atau peserta diklat seorang guru harus memenuhi tiga syarat, yakni:

1. Menjadi (to be) Teladan

Sebelum membawa perubahan kepada murid/peserta diklat, sebaiknya
seorang Guru mengubah dirinya, yakni memiliki karakter mulia seperti
profesional, bertanggung jawab, amanah, integritas, disiplin, berdedikasi, jujur,
efiisien, efektif dan nilai-nilai mulia lainnya. Ketika seorang Guru memiliki
karakter mulia sehingga menjadi suri teladan, akan lebih mudah membawa
perubahan kepada murid/peserta diklatnya karena biasanya murid/peserta
diklat akan mudah menirunya.

Oleh karena itu, penulis sangat sedih, prihatin dan instropeksi, ketika
pada Pertemuan Ilmiah Nasional (PITNAS) keempat di Banten, seorang
Widyaiswara dari Badan Diklat Provinsi X dan akan pensiun Tahun 2019
bercerita kepada ," Pak Irkham, ada seorang Widyaiswara di Badan Diklat kami
yang ada di ruangan hanya ketika ada jadwal mengajar saja. Saat tidak ada
jadwal mengajar, Ia datang handkey dan pergi entah ke mana dan tidak berada
di ruangan. Ia akan kembali handkey pada saat jam pulang kantor. Pak Irkham
bayangkan, bagaimana nilai-nilai mulia yakni nilai-nilai ANEKA (Akuntabilitas,
Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi) akan
terinternalisasi di hati dan benak peserta diklat, jika Ia yang mengajarnya saja
tidak menerapkannya."

2. Pembelajar sejati

Seorang Guru yang hebat adalah pembelajar sejati yang bermakna
seorang Guru tidak boleh berhenti belajar. Seorang guru tidak cukup membaca
satu buku modul sebagai pegangan, tetapi Ia harus berusaha membaca buku-

81

buku -baik hardcopy maupun ebook- yang menunjang materi yang akan
dibawakan. Selain itu, seorang guru harus memahami muridnya/peserta diklat,
belajar metode

82

pembelajaran, body language, public speaking, slide presentasi dan
teknologi lainnya yang berkaitan dalam pembelajaran.

3. The Strong Why

Aspek Why sangat penting bagi seorang Guru dan peserta pembelajaran.
Seorang Guru harus bertanya apakah materi yang dibawakannya sesuai dengan
dirinya -tidak mengajar banyak mata pelatihan- dan membawa manfaat bagi
murid atau peserta diklat. Setelah itu, bagaimana cara yang efektif
menyampaikan materi tersebut.

Seorang Guru itu sangat mulia dan hebat sesuai maknanya yakni
membawa perubahan pada murid/peserta diklat. Untuk menjadi guru yang
hebat, ingat lah tiga hal, yakni menjadi teladan, pembelajar sejati dan The
Strong Why.

Dendam

[05:09, 10/14/2018]

Penulis membaca status WhatsApp seorang nun jauh di sana, "menurut
pengamatannya di lingkungan kerjanya, performa 360° ini merupakan arena
balas dendam". Semoga pengamatannya keliru. Bila benar, penulis merasa
sedih.

Rasa sedih ini juga menggelayut di hati ketika mendengar seorang
menilai orang lain dengan rendah karena menduga orang lain itu menilai
rendah dirinya. Reaksi ini juga sifat dari penyakit hati yakni balas dendam.
Padahal kita tidak tahu siapa yang menilai diri kita secara pasti.

Sedih rasanya karena Al Gazali pernah berkata: Ketahuilah kemarahan
itu apabila tetap meluap-luap karena memang tidak dapat melenyapkannya
seketika, maka ia masuk kedalam hati dan terus bergejolak dalam hati, sehingga
akhirnya menjadi dendam.

Jadi, dendam adalah sebagai akibat marah yang dipelihara,
berkesinambungan dan yang melakukan perbuatan ini akan menghanguskan
amal atau pahala seseorang dan kesengsaraan bagi dirinya berupa

83

ketidaktenangan dan ketidaktentraman hidup. Karena seseorang yang menaruh
dendam dan sakit hati, akan membiarkan perasaan-perasaan negatif
menyelimuti hatinya menjadikan jiwa

84

tak tentram dan hati tak tenang, nestapa yang memanggul beban marah, benci
dan berakibat serta mendorong timbulnya penyakit hati yang akan menggerogoti
dirinya.

Saudara-saudaraku, hilangkan dendam di hati dengan berdoa kepada
Allah SWT yang dapat membolak-balikan hati agar jiwa tentram dan hati
tenang. Memaafkan orang lain yang mungkin menyakiti hati kita tanpa
disadarinya dengan melapangkan hati dan meluaskan jiwa lebih mulia dari
pada balas dendam. Dengan tentramnya jiwa , tenangnya hati dan pikiran
jernih kita akan sungguh-sungguh, jujur dan objektif menilai orang lain
sehingga performa 360° menjadi bahan evaluasi pengembangan SDM BPS yang
kita cintai menjadi lebih baik.

Bodo Amat

[05:01, 10/4/2018]

"Bodo amat, emangnya gue pikirin.", kata seseorang dalam imanijasiku.
Judul bodo amat terinpirasi dari buku yang direkomendasikan Pak Kecuk
(Kepala BPS RI) dalam acara “Ngobrol Bareng dengan Pak Kecuk” dengan 240
peserta pelatihan dasar CPNS Golongan III BPS pada Jum’at, 21 September 2018
di Pusdiklat BPS, yakni buku "Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo amat" karya
Mark Manson.

Buku ini merupakan buku provokatif yang best seller internasional versi
New York Times dan Globe and Mail yang dianggap sebagai pendekatan yang
waras demi menjalani hidup yang baik. Provokatif?

Sungguh provokatif sesuai dengan judulnya. Ketika penulis mulai
membaca, teramat jelas provokatifnya, sehingga penulis ingin berhenti
membacanya. Alhamdulillah penulis berupaya sabar dan terus membacanya.

Ternyata, buku ini benar-benar menarik dan penuh makna filosofis
karena Mark berpikir terbalik dari kebanyakan orang di dunia saat ini di mana
materi menjadi ukuran. Misalnya, dalam buku tertulis, "Krisis kita buka lagi soal
materi, tetapi soal eksistensi, ranah spiritual". Dan juga kalimat, "semakin mati-
matian Anda berusaha ingin kaya, Anda akan merasa semakin miskin dan tidak
berharga, terlepas dari seberapa besar penghasilan Anda sesungguhnya". Dan
masih banyak pemikiran- pemikiran dalam buku ini benar adanya walaupun
mungkin banyak orang akan tersinggung.

85

Singkat kata, substansi bodo amat di buku ini bukan kita disuruh acuh
tak acuh terhadap segala hal atau setiap orang, tetapi kita diminta "belajar
memfokuskan

86

dan memprioritaskan bagaimana memilih hal apa yang sangat penting
dipedulikan dan hal apa yang tidak penting dipedulikan berdasarkan nilai
pribadi yang terasah, tajam dan teliti. Setelah itu, pedulikan hal-hal yang
penting dan bodo amat yang tidak penting. Hal itu dikarenakan, bila kita
memedulikan segala hal atau perilaku setiap orang akan menguras energi kita
dan membuat hidup kita yang sangat singkat ini kacau. Misalnya, ketika kita
berbuat kebaikan untuk organisasi akan selalu ada orang yang nyinyir terhadap
apa-apa yang kita lakukan. Sikap kita sebaiknya acuh tak acuh (bodo amat)
terhadap perilaku nyinyir orang tersebut. Sebaliknya, bila ada bencana di suatu
tempat, seperti di Sulawesi Tengah atau tempat lainnya, kita harus peduli
terhadap masyarakat yang terkena musibah dengan tindakan, seperti donasi
atau membantu lainnya.

Melepaskan

[05:28, 2/15/2019]

Biasanya kita - khususnya penulis- memberikan sesuatu kepada orang
lain bukan yang dicintainya meskipun itu layak. Misalnya, sedekah kepada
pihak lain, biasanya lebih kecil daripada kita makan di restoran untuk diri dan
keluarga kita. Atau dalam bekerja di kantor kita lebih bersemangat bekerja
(melakukan terbaik) demi kepentingan diri daripada memberikan/melakukan
terbaik untuk kantor. Mengapa hal ini terjadi?

Hal ini terjadi karena sifat manusia dalam penggenggaman.
Penggenggaman adalah waktu pikiran dan perasaan mati-matian
mempertahankan sesuatu yang kita cintai dan enggan melepaskannya (Chad
Meng Tan, “Search Inside Yourself”) . Sifat ini ditambah pula dengan paradigma
yang melekat lama dalam masyarakat kita yakni paradigma to have yakni
paradigma memiliki (Erich Fromm, To have and To Be)

Untuk meminimalisir sifat manusia di atas kita harus berusaha
melepaskannya apa-apa yang kita cintai berdasar ayat ini, "Kamu sekali-kali
tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan
sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka
sesungguhnyaAllah mengetahuinya” (QS. Ali ‘Imran [3]: 92) Menafsirkan ayat
ini, berkata Imam Hasan Basri (semoga Allah memberkahinya), “Sesungguhnya
kalian tidak akan bisa meraih apa yang kalian inginkan kecuali kalau kalian
mampu meninggalkan sesuatu yang menyenangkan”.

87

Tentu sangat sulit bagi kita - khususnya penulis- untuk melepaskan
sesuatu yang kita cintai kepada orang lain karena sifat lebih mencintai dunia
(ubud dunia). Namun kita harus berusaha memulainya dari sekarang. Dalam
hal profesionalisme di kantor, kita dapat memberikan (melepaskan) potensi
terbaik dalam diri kita untuk mengembangkan organisasi karena Allah semata.

Sabar Hadapi 'Rasa Sakit'

[05:39, 2/13/2019]

"Yah, do'ain Aya juara satu ya", kata putriku yang ikut lomba menulis
cerpen. Jawabku, "tentu nak. Ayah selalu mendo'akan yang terbaik untuk Aya".
Sambil tersenyum, penulis melanjutkan, "Nak, pasti, hampir semua orang yang
ikut lomba menulis cerpen berharap juara seperti Aya. Yang paling penting bagi
Aya, seberapa tahan Aya dapat menahan rasa sakit jika tidak juara?"

Pertanyaan," Rasa sakit/pahit apa yang ingin kita tahan? " penulis
peroleh dari bukunya Mark Manson yakni," Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo
Amat" yang penulis sangat sukai karena sangat relevan dalam kita menjalani
kehidupan ini di mana silih berganti suka duka, manis pahit, dan tawa tangis.
Kesanggupan menahan rasa sakit ini lah yang sebenarnya menentukan kita
berhasil atau tidak serta memilih medan juang diri kita.

Sebaliknya, apabila kita dalam kehidupan hanya menginginkan yang
menyenangkan atau mengenakkan seperti keluarga tanpa masalah, riang
gembira, mudah dan ringan, selalu sukses, pimpinan dan teman yang baik,
maka hal itu tiada artinya karena tidak akan pernah ada dalam kehidupan.

Pertanyaan Manson di atas mengingatkan penulis kepada riwayat janji
setia kaum Anshar kepada Rasulullah SAW di Aqobah. Kemudian Paman
Rasulullah SAW menyela dan mengatakan, "Nanti dulu. Apakah kalian
memahami implikasi dari janji setia ini? Kalian akan menghadapi celaan, luka
yang sangat perih, rasa sakit tak terkira dan pengorbanan nyawa. Apakah
kalian siap?" Sahut kaum Anshar, "Siap". Akhirnya terbentuklah masyarakat
Madinah.

Rasa sakit atau pahitnya kehidupan pasti kita alami. Cara menghadapi
rasa sakit adalah sabar yakni menghadapi atau berteman terhadap rasa sakit

88

dan mencari solusinya. Biarkan rasa sakit datang karena itulah indahnya
kehidupan. Dan

89

sesungguhnya rasa sakit itu untuk menjadikan kita untuk bertumbuh, bijak
dan berhasil bagi mereka yang mau berpikir.

Mengingat Kematian

[05:13, 5/18/2018]

Kamis, 17 Mei 2018, pagi, ketika duduk mendoakan jenazah teman yang baik
-semoga husnul khatimah- di hadapan, saya membayangkan jenazah yang
dikafani kain putih itu adalah saya. Siang harinya, ketika melihat ibu yang tegar
mentalqinkan anaknya (wanita solehah) yang sakaratul maut di rumah sakit,
saya turut berdoa untuk sahabatku yang baik. Ketika melihat peristiwa
tersebut, saya membayangkan kondisi wanita sholeha -semoga husnul
khatimah- adalah diri saya.

Memvisualisasikan jenazah atau wanita sholeha yang ditalqinkan itu
adalah diri saya merupakan kebiasaan merujuk pada tujuan akhir (begin with
the end). Merujuk pada tujuan akhir (begin with the end) adalah memulai hari
ini dengan bayangan atau gambaran yang jelas tentang akhir kehidupan Anda.
Hal ini berarti Anda mengetahui satu simpul besar (uqdatul qubro) yakni ke
mana Anda akan pergi setelah kehidupan ini sehingga Anda sebaiknya mengerti
di mana Anda berada sekarang dan dengan begitu Anda tahu langkah-langkah
yang Anda ambil selalu pada arah mencapai tujuan akhir yang benar, yakni
sesuai Al Qur'an dan AsSunnah.

Merujuk pada tujuan akhir pada kasus di atas, telah diajarkan Rasulullah
SAW pada kaum muslimin yakni dianjurkannya kaum muslimin berziarah,
ta'ziah dan membesuk orang sakit agar kita mengingat kematian. Dengan
mengingat kematian, kita akan melakukan yang terbaik di dunia ini sebagai
bekal diri menuju tujuan akhir (akhirat). Bekal diri yang terbaik di dunia ini
adalah taqwa.

Optimisme di Tengah Kelelahan

20/10/2016

Judul di atas saya modifikasil dari buku “Optimisme di Tengah Tragedi”
yang merupakan saduran dari buku “Man’s Searching of Meaning” karya Victor
Frankl -seorang dosen psikolog yang terkenal dengan logotherapinya- di mana

90

buku tersebut merupakan pengalaman dirinya ketika berada di kamp
konsentrasi Nazi yang penderitaannya tak terperihkan dan harapan
hidupnya sangat tipis. Namun,

91

suami yang melihat istrinya, ayah dan ibunya meninggal di depan matanya ini
tetap optimis dengan memvisualisasikan dirinya sedang berada di depan kelas
mengajar mahasiswanya.

Berdasarkan hal itu, saya ingin menganalogkan peristiwa di atas dengan
diskusi yang menarik di antara teman-teman yang baik saya di WhattsApp
group yang kurang lebih menyatakan,’ saya mulai lelah, ini bendera putih sudah
saya siapin.’

Saya mencoba memahami suatu kelelahan ketika kita menyeru kepada
perubahan atau kebaikan terus menerus sementara kita merasakan dan
melihat sangat sulitnya perubahan terjadi dan kebaikan masih tersamar oleh
gegap gempita keburukan. Oleh karena itu saya akan memberi beberapa contoh
menarik sebagai sebuah inspirasi agar kita tak lelah menyebarkan perubahan
dan kebaikan-kebaikan.

Contoh pertama, adalah dari obrolan saya dengan seorang teman di
beranda rumahnya. Beliau berkata, setelah presentasi di USA di depan J. Sach,
Ia ditawari oleh Jeffrey Sach masuk ke tim ekonominya. Namun Ia berkata, “
Saya masih memiliki tanggung jawab di lembaga tempat saya bekerja yang
memiliki belasan ribu pegawai.’ Ia yang juga memiliki jiwa seni ini pernah
mengatakan di depan umum, kalo saya mengeluh, bagaimana dengan bawahan
saya? Walaupun saya sangat jarang ngobrol dengannya, Beliau selalu optimis
dan jarang mengeluh, meskipun tanggung jawabnya sangat besar.

Contoh kedua adalah Mang Ipin seorang tukang ojeg yang dikenal
sebagai pendekar dari gunung Papandayan yang telah menanami pohon sejak
kelas 3 SD. Setelah besar pun Kang Ipin pun merevitalisasi Situ Ciseupan yang
dulu sempat rusak dan tidak bermanfaat bagi warga sekitar. Situ Ciseupan dulu
sudah mengalami pendangkalan parah, hingga warga menggunakannya untuk
bermain bola saja dan memasang tiang gawang di ujung-ujungnya. Beliau pun
tergerak untuk mengembalikan fungsinya. Dalam mengembalikan fungsi Situ
Ciseupan, Kang Ipin mencangkul situ tersebut sendirian. Banyak yang mengira
bahwa Kang Ipin sudah gila. Namun sekali lagi, tak ada tanah yang tandus jika
tangan kita tidak berhenti melestarikan lingkungannya. Berkat usahanya, Kang
Ipin berhasil mengembalikan fungsi Situ Ciseupan yang berjarak 1 km dari
rumahnya untuk pengairan pertanian dan perumahan warga (sumber:
jelajahgarut.com).

Kedua contoh di atas mungkin dapat menjadi inspirasi bahwa terus
menerus menyerukan perubahan terjadi dan menyebarkan virus kebaikan

92


Click to View FlipBook Version