untuk kebaikan negeri atau organisasi tempat kita bekerja memang
membutuhkan energi besar dan semangat pantang menyerah serta proses
panjang sehingga kelelahan akan menerpa
93
tubuh dan jiwa kita. Namun kelelahan akan sirna dengan mengistirahatkan
tubuh dan pikiran sejenak, sedangkan kebaikan akan kekal. Lakukan apa yang
bisa kita lakukan dalam kendali pengaruh kita dengan terus memperbesar
pengaruh kita. Terus lah menginstall semangat melakukan perubahan pada diri,
lingkungan dengan menyalakan harapan, kepercayaan dan cinta.
Ah Cinta
Kata terakhir dari tulisan, ‘Optimisme di Tengah Kelelahan’ adalah cinta.
Terbersit di Jum’at barokah ingin menulis tentang cinta. Jadi teringat dulu, saat
penulis rajin menggoreskan untaian kata dari relung hati yang terdalam di
beranda Facebook, seorang wanita mengkomentari, ‘hari gini bicara cinta?’
Beberapa lama kemudian, wanita tersebut nikah dengan lelaki yang berusia
jauh di bawahnya dan dinding facebooknya dipenuhi untaian kata-kata cinta.
Tentu saja, penulis tidak akan menulis cinta seperti Qais dan Laila atau
Romeo dan Juliet yang mereka maknai cinta dengan memiliki, Sehingga, mereka
melakukan bunuh diri atau gila ketika seorang yang dicintainya tidak menajdi
miliknya. Mereka menjadi budak cinta hingga memerihkan hati dan melukakan
jiwa dalam kenestapaan dan hidup menelangsa tanpa akhir. Kita bukan lah
mereka yang menjadikan rasa sebagai panglima akal. Kita adalah tuan cinta,
yang menindih sebuah rasa dengan akal.
Kita sering mengikrarkan kata cinta tertinggi kepada Allah yakni hidup
dan matiku kepada Allah setiap hari namun sering tanpa makna dan kesadaran
sehingga hilang tak membekas di hati. Hati terasa hampa tanpa getaran saat
nama dicinta diucap atau dikumandangkan tertabir angin yang berhembus oleh
rutinitas kesibukan yang menyita waktu.
Jika cinta tertinggi kita kepada Sang Pemilik Hati di mana letak
bersemayamnya cinta yang akan membuat kita tentram dan damai karena
Allah lah yang mampu membolak-balikan hati manusia. KepadaNya lah kita
titipkan hati hingga kita tak akan pernah kecewa karena Allah tak akan pernah
mengecewakan hambaNya.
Karena cinta kepadaNya, maka kecintaan kita kepada istri, anak, orang
tua, sesama dan pekerjaan tak terasa melelahkan. Kita berangkat ke kantor pagi
dan pulang ke kantor sore, bukan karena wajibnya bekerja, tetapi semuanya
dilakukan karena Allah memerintahkan kita untuk menafkahi orang-orang yang
dicinta. Oleh sebab itu, dalam bekerja kita harus memberikan yang terbaik
dengan berusaha mencintai apa-apa yang kita kerjakan.
94
Kecintaan kepada istri juga bukan karena terlihat kesempurnaan
kepadanya karena di dunia ini kita tak mencari seorang yang sempurna untuk
dicintai, tetapi mencintai seorang yang tak sempurna dengan cara yang
sempurna karena Allah semata. Mencintai anak-anak juga karena mereka
titipan Allah yang mempercayakannya kepada kita sehingga kita harus
membimbingnya menjadi anak lintas zaman yakni anak yang sholeh. Kecintaan
kita kepada orang tua yang tak akan pernah terbalas juga karena perintah Allah
semata hingga Rasulullah SAW menyebut ibu sebanyak 3 kali.
Cinta kepada sesama juga merupakan kecintaan kepada Allah Yang
Maha Pengasih dan Penyayang. Maha Pengasih dan Penyayang bermakna
bahwa kita harus mengasihi dan menyayangi sesama agar tercipta rahmatan lil
‘alamin.
Ah Cinta, keindahannya melebihi indahnya gemericik air di pegunungan.
Indahnya cinta juga melebihi kicauan burung kecil di keheningan hutan yang
tertutup pinus-pinus besar. Indahnya cinta terasa mengaliri aliran darah saat
getaran-getaran namaNya terucap syahdu di bibir-bibir langit saat pertigaan
malam.
Keindahan cinta yang bermakna memberi tanpa pamrih karena Allah
sehingga kita benar-benar hidup, bermakna ini akan membuat kita selalu
semangat, tak mudah menyerah dan dapat melakukan hal-hal tak mungkin
karena dengan cinta kita dapat mewujudkan yang kita inginkan. Alasan cinta
inilah yang akan membuat kita bertahan hidup dalam kondisi apa pun tanpa
lelah untuk selalu menyuarakan kebaikan.
Cinta (Tak) Buta
[05:45, 5/17/2017]
Cintailah seseorang secukupnya, namun dengan cara sempurna. Karena
kita ada di dunia ini bukan mencari orang yang sempurna untuk dicintai, tetapi
mencintai orang yang tak sempurna dengan cara yang sempurna. Quote
tersebut saya sampaikan pada materi etika publik dalam pelatihan dasar CPNS.
Teman-teman CPNS yang masih muda pun tepuk tangan. Ungkapan di atas
merupakan respon atas pertanyaan salah satu peserta wanita yang takut untuk
menolak perilaku tidak etis seorang lelaki yang memiliki jabatan. Quote tentang
95
cinta selalu menarik untuk.anak-anak muda sehingga mendapat tepuk
tangan.Hal yang wajar bagi sineas film untuk membuat film bertemakan cinta.
96
Namun mencintai seseorang seutuhnya akan menghilangkan
objektivitas kita kepada orang tersebut padahal manusia memiliki kekurangan
dan kelebihan. Mencintai seseorang seutuhnya menjadikan rasa atau emosi
mendahului pikiran sehingga orang tersebut mengalami pembajakan emosi
(hijack emotion) yang berdampak kehilangan pikiran jernih karena
menganggap orang yang kita cintai itu sempurna. Ini lah yang disebut cinta buta
(love is blind).
Supaya cinta tak buta, cintailah seseorang secukupnya dengan cara
sempurna yakni memberi tanpa berharap orang yang kita cintai akan mencintai
kita. Cinta secukupnya akan memberi ruang kepada pikiran kita untuk menilai
seseorang yang kita cintai secara objektif bahwa Ia memiliki kekurangan dan
kelebihan sehingga tak menjadikan kita jumud (cinta buta). Cinta secukupnya
dangan cara sempurna menjadikan pikiran (cortex) kita mengemudikan
perasaan/emosi (amigdala) kita sehingga kesadaran bahwa cinta tak perlu
seutuhnya diberikan kepada manusia. Cinta seutuhnya yang didasarkan
kesadaran hanya layak diberikan kepada Allah dan RasulNya (sebagai
pembawa risalah).
Ujian Hidup
“Filosofi bapak hebat. Ujian yang nyata itu ada dalam kehidupan ini ya
pak.”, kata seorang doktor peserta diklat fungsional statistisi tingkat ahli ketika
membonceng motor tuaku ke stasiun kereta api lenteng agung. Bagaimana, Ia
bisa berkata seperti itu? Begini ceritanya, seperti biasa, dalam hal mengajar
saya akan melakukan story telling berkaitan dengan mata diklat yang akan
disampaikan yakni eksplorasi data. Seperti ditulis pada eksplorasi diri, story
tellingnya adalah 1000 langkah dimulai dengan 1 langkah. Story telling ini
disampaikan karena berkaitan dengan filosofi eksplorasi data dan sebagai
motivasi peserta diklat.
Singkat cerita, di tengah-tengah diskusi yang menarik dengan peserta
bahwa,’ walaupun standar deviasi, koefisien variasi, indeks williamson, box plot
sangat sederhana, akan menjadi tulisan yang sangat menarik bila kita dapat
menghubungkan dengan tipologi klassen, analisis disparitas wilayah dan
sebagainya. Dan teman-teman bisa menerapkannya karena datanya tersedia di
kabupaten dan dapat dihitung dengan Microsoft Excel seperti yang teman-
97
teman kerjakan baru saja’ seorang peserta bertanya, ‘ Pak, bagaimana ujiannya?’
98
Insya Allah mudah. Saya akan memudahkan kalian. Ini kan ujian di atas
kertas. Yang penting itu ujian di kehidupan ini? Lulus atau tidak menghadapi
ujian hidup ini? Nah itu yang lebih penting bagi kita semuanya. Ujian hidup itu
bisa kenikmatan dan kepedihan. Biasanya, bila kita diuji Allah dengan
kepedihan, kita akan mudah mendekatkan diri kepadaNya, dengan rajin pergi
ke masjid, gereja atau tempat ibadah lainnya. Namun, yang paling sulit bila
Allah menguji kita dengan kenikmatan seperti berlimpahnya harta, jabatan
tinggi, kepintaran dan kenikmatan lainnya, sehingga kita terlena, terbuai dan
menganggap kenikmatan itu sebagai hak kita (taken for granted).
Kisah Tsalabah dapat menjadi pembelajaran bagi diri kita. Ketika
kemiskinan menghimpit kehidupannya, Ia rajin sholat jama’ah bersama
Rasulullah SAW. Karena tak tak tahan akan kemiskinannya, Ia meminta
Rasulullah SAW berdoa agar Ia dilimpahkan kekayaan oleh Allah SWT.
Sesungguhnya Rasulullah SAW tak ingin berdoa untuk Tsalabah karena Beliau
tahu akan godaan harta yang sangat berat. Namun karena Tsalabah memohon
untuk ketiga kalinya, akhirñya Rasulullah SAW berdoa kepada Allah SWT.
Kemudian Tsalabah memperoleh rezeki dan membeli kambing.
Ternaknya kemudian berkembang biak dengan cepat. Usahanya kian
berkembang. Tsalabah mulai jarang kelihatan sholat berjamah bersama
Rasulullah SAW. Setiap hari Ia sibuk mengurus ternaknya. Madinah pun terasa
sempit bagi ternaknya, akhirnya Ia pindah jauh dari Madinah dan sudah tidak
pernah sholat jamah lagi. Tatkala Rasulullah SAW mengutus 2 orang amil zakat,
Ia pun menolak memberikan karena merasa semua kekayaannya hasil dari
jerih payah dirinya.
Menyikapi Masalah
Terkadang, kita menginginkan kesempurnaan (perfect) dalam hidup ini.
Di lingkungan kerja kita menginginkan memiliki atasan yang baik, teman kerja
yang mendukung dan anak buah yang dapat membantu pekerjaa kita. Misalnya,
kita mengharapkan atasan kita melakukan apa-apa yang dikatakan. Di keluarga,
kita menginginkan istri yang sempurna dan anak-anak yang penurut dan pintar
serta sedap dipandang mata.
Namun, apa-apa yang kita harapkan tidak semuanya terkabul, seperti
99
atasan yang menurut kita hanya bisa bicara saja, kolega yang tidak mendukung,
anak-anak
100
yang nakal dan istri yang cerewet sehingga masalah tersebut membuat kita
stress dan lelah serta menyalahkan orang lain dan lingkungan sekitar.
Agar kita tidak stress dan kelelahan menghadapi masalah-masalah di
atas, kita perlu memahami bahwa ciri kehidupan adalah adanya perasaan
kurang. Dengam memahami cici dunia tersebut kita akan bijak bagaimana
merespon masalah yang kita hadapi.
Sebuah cerita kecoa di sebuah cafe yang diceritakan CEO Google, Sundai
Pichai ini merupakan pembelajaran, bagaimana sebaiknya kita mensikapi
masalah.
Di sebuah cafe ada kecoa yang terbang ke pundak wanita karir. Dia
mulai berteriak ketakutan dan dengan perasaan jijik dan panik, Ia mengusirnya.
Namun, kecoa itu terbang ke wanita lain sehingga terjadi kehebohan. Akhirnya,
kecoa hinggap di pelayan. Pelayan mempelajari perilaku kecoa dan dengan
tenang mengeluarkan kecoa tersebut ke luar cafe.
Mengapa 2 wanita karir itu panik, sementara wanita pelayan itu bisa
dengan tenang mengusir kecoa? Berarti jelas bukan karena kecoanya, tapi
karena respon yang diberikan itulah yang menentukan.
Ketidakmampuan kedua wanita karir dalam menghadapi kecoa itulah
yang membuat suasana cafe jadi kacau. Kecoa memang menjijikkan, tetapi
kecoa akan tetap seperti itu selamanya. Kecoa tidak bisa kita ubah menjadi
binatang yang lucu dan menggemaskan.
Begitu juga dengan masalah. Macet di jalanan, istri yang cerewet, teman
yang berkhianat, boss yang sok kuasa, bawahan yang tidak penurut, deadline
yang ketat, tetangga yang mengganggu, dan sebagainya. Sampai kapanpun
semua itu tidak akan pernah menyenang kan. Tapi bukan itu yang membuat
semuanya kacau. Ketidakmampuan kita untuk menghadapi masalah dengan
bijaklah yang membuatnya demikian.”
Menyikapi masalah merupakan ruang di antara stimulus (masalah) dan
respon yang mana kita memiliki kebebasan memilih yakni kemampuan untuk
memilih respon kita. Apakah kita dipengaruhi oleh kondisi (masalah) atau kita
bertanggung jawab terhadap.perilaku kita tanpa menyalahkan kondisi atau
masalah yang ada. Sikap kita akan menentukan siapa diri kita.
101
Media Sosial, Sharing dan Copy paste
[05:09, 11/14/2016]
Seorang teman bertanya kepada saya yang mungkin bisa menjadi bahan
tulisan seperti ini: “Boleh minta pendapat ttg medsos, ttg kebiasaan orang
sharing juga copy paste mungkin bisa jadi tulisan ?”
Sebenarnya saya malu kepada ulama salaf Hasan Al Basry ra -semoga
Allah memberkahinya- yang memiliki ilmu yang tinggi, namun menjawab tidak
tahu saat ditanya seseorang. Karena kebodohan dan sok tahunya saya,
pertanyaan teman tersebut saya jadikan tulisan.
Menurut wikipedia, Media sosial adalah sebuah media online , dengan
para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan
menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual.
Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling
umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.
Dari definisi di atas, media sosial tak dapat kita hindari keberadaannya
karena Ianya merupakan hasil inovasi teknologi yang luar biasa yang
sebelumnya banyak orang tak menduganya atau menganggapnya aneh. Seperti
anehnya mimpi bertanggal Edison yakni andaikan malam ada matahari
(lampu); manusia bisa terbang (Wright bersaudara); setiap rumah memiliki
komputer (Jobs) dan toko buku online (Bezos).
Dan media sosial diperuntukan untuk berbagi (sharing) dan
berpartisipasi. Media sosial memudahkan orang saling bertukar pengetahuan
satu sama lain. Dan salah satu cara berbagi berita di media sosial adalah dengan
copy paste dari sumber tertentu. Copy paste yang dilakukan banyak orang
tentu sah-sah saja. Namun, bagaimana metode copy paste yang baik?
Saya menemukan metode yang baik cara copy paste berita dari media
sosial. Dalam khazanah Islam yakni bagaimana Imam Bukhari dan Muslim -
yang terkenal keshahihan haditsnya- memeriksa kebenaran haditsnya dengan 2
cara yakni memeriksa maknanya dan sumber utamanya. Memeriksa maknanya
sangat penting atas sebuah informasi. Memahami makna apa yang kita akan
copy paste, tulis, ucapkan dan yang lain sangat penting agar kita dapat
menjawab bila ada pertanyaan dengan apa-apa yang kita lakukan.
Menelusuri sumber utamanya juga sangat penting. Menelusuri sumber
utama seperti permainan pesan berantai sejumlah orang yang berderet. Namun
102
Imam
103
Bukhari dan Imam Muslim dalam menelusuri sumber pertamanya tidak lah
semudah seperti permainan pesan berantai karena orang-orang yang
memberitakan hadits/informasi tersebut berada di kota-kota yang berbeda dan
sangat jauh. Dan setiap sumber (perawi) yang ditemuinya, mereka periksa
keadilannya. Jika perawi tersebut memelihara ayam, namun tidak memberi
makan ayam tersebut sehari saja, maka Imam Bukhari dan Muslim akan
menolak hadits/informasi tersebut.
Metode yang digunakan Imam Bukhari dan Imam Muslim dengan
teknologi yang ada sekarang ini sebenarnya mempermudah kita melakukannya
apakah berita tersebut baik dan benar serta layak disebarkan hingga kita
meminimalkan informasi hoax dan menjadi orang yang bertanggung jawab atas
informasi yang kita sebarkan.
Buta Informasi
[13:33, 11/16/2016]
Ketika ingin menulis artikel untuk jurnal ilmiah, saya mengumpulkan
berbagai artikel di internet untuk bahan referensi. Namun semakin banyak saya
mengunduh artikel ilmiah yang relevan di internet, bukan semakin cepat
selesainya artikel saya. Sebaliknya, saya tidak jadi menulis artikel ilmiah.
Bahkan artikel yang berhasil saya unduh hanya teronggok di folder komputer
tanpa dibaca.
Menurut Charles Duhig, penulis buku Smarter faster Better, saya
mengalami buta informasi. Buta informasi adalah ketidakmampuan seseorang
menyerap dan memaknai data/informasi yang dikumpulkan/tersedia. Seorang
yang buta informasi seperti orang yang tidak dapat membedakan antara bukit
dan pohon ketika hujan salju.
Di Era big data/data teknologi/ledakan informasi di mana data semakin
menderas di smartphone banyak orang bingung menyerap dan memaknai
data/informasi tersebut hingga terkadang kita menghapusnya atau tidak
membacanya.
Kecenderungan buta informasi ini didukung oleh penelitian Universitas
Columbia terhadap 800.000 responden terhadap program dana pensiun 401(k).
104
Ketika responden diberi 2 pilihan dari dana pensiun 401(k), responden mudah
memilih program yang menguntungkan program 401(k) tersebut. Namun,
semakin banyak
105
pilihan dari program dana pensiun 401(k), responden yang memilih semakin
sedikit dan bahkan ada yang tidak memilih program 401 (k).
Kemudian, bagaimana menyikapi banyaknya muatan data/informasi
yang mau tidak mau kita pasti menerimanya?
Dua anak saya merupakan contoh yang baik untuk menjawabnya.
Putriku sama seperti saya, yakni buta informasi. Ketika di mall akan membeli
pakaian, Ia berkeliling memilih banyak jenis pakaian yang tersedia. Hingga kaki
lelah karena keliling, Ia pulang tanpa membawa pakaian baru yang akan dibeli.
Sedangkan anak lelakiku, setibanya di mall tersebut langsung menuju ke
pakaian yang diinginkan dan langsung membelinya, tanpa harus keliling mall.
Mengapa putraku lebih cepat?
Ternyata, Ia telah memilih pakaian berdasarkan pengetahuan yang
dimilikinya dengan memilah-milah spesifikasinya, misalnya baju hijau, lengan
pendek, merk, harga dan ukuran tertentu. Artinya, pikirannya telah menyeleksi
jenis-jenis pakaian yang tersedia di mall menjadi sedikit pilihan seperti otak
yang telah merancah (scaffolding) bagian besar menjadi bagian-bagian kecil.
Akhirnya, agar jangan sampai data/informasi berserak di mana kita tak
dapat menyerap dan memaknainya (buta informasi), Sebaiknya, kita jangan
memperbanyak mengumpulkan muatan data/informasi. Namun, sebaiknya kita
memilah-milah muatan data/informasi yang relevan sesuai kebutuhan atau
skala prioritas sehingga kita dapat menyerap dan memaknai data/informasi
tersebut hingga data/informasi tersebut dapat berbicara kepada kita.
Kebersamaan
[05:27, 11/22/2016]
Minggu, saya, istri dan kedua anak menontoh film Fantastic Beasts and
Where to Find Them. Awalnya istri saya tidak suka menonton film tersebut.
Apakah saya suka film tersebut? Tentu saja, sangat tidak suka. Mengapa
menonton? Karena kebersamaan dengan kedua anak saya. Walaupun mereka
telah besar dan saya telah memcoba memahami mereka, namun saya hanya
sedikit tahu tentang mereka. Saat bersama, saya mencoba memahami mereka.
Keluarga adalah satu-satunya tempat kita belajar tentang arti kebersamaan.
106
Kebersamaan juga dapat kita rasakan sebagai sebuah bangsa atau
negeri yang kita cintai ini. Kebersamaan untuk selalu menghargai perbedaan
yang ada, keyakinan yang berbeda dan tidak mengolok-olok Tuhan seseorang
yang berbeda keyakinan. Kebersamaan dari yang berbeda merupakan kekuatan
yang maha dahsyat, apabila dari perbedaan tersebut kita sinergikan untuk
menghadapi hegemoni negara lain yang berniat mengkerat-kerat negeri yang
kita cintai ini. Kebersamaan dapat menyelesaikan persoalan negeri yang kita
cintai ini dengan melihat persoalan secara objektif dan pikiran jernih. Ibarat
sebatang lidih yang sangat mudah dipatahkan. Namun apabila lidi-lidi tersebut
disatukan, akan sulit dipatahkan.
Kebersamaan juga harus ada di sebuah kantor/lembaga. Indahnya
kebersamaan untuk memahami visi, misi dan nilai-nilai utama (core values)
lembaga/organisasi akan mengayunkan derak-derak langkah bersama
menggapai tujuan yang telah ditetapkan. Beban yang berat akan terasa ringan
bila dilakukan bersama-sama. Suka dan duka akan terasa manis bila dilalui
dengan kebersamaan.
Kebersamaan merupakan suatu yang indah untuk diupayakan bersama.
Kebersamaan begitu mahal dan tak ternilai harganya. Kebersamaan merupakan
sinergi dari suatu perbedaan yang ada, tetapi menghasilkan hal-hal yang luar
biasa. Mereka yang menghargai kebersamaan, tidak akan ditinggalkan oleh
kebersamaan itu sendiri. Dan kebersamaan dibangun oleh kepedulian bersama
untuk menjaga silaturrahim dalam membangun kemaslahatan bersama.
Kebiasaan
11/1/2016
Dengan izin Allah, saya akan menjalani seminar terakhir diklat
prajabatan CPNS pola baru yang bertujuan menginternalisasikan dan
mengaktualisasikan nilai- nilai mulia seperti amanah, jujur, disiplin, kerja keras,
teliti, integritas, profesional, efektif, efesien, berkualitas, tanggung jawab dan
nilai mulia lainnya selama 30 hari yang dibagi menjadi 2 yakni 15 hari on
campus dan 15 hari di unit kerja.
Seorang Komite Penjamin Mutu (KPM) menyatakan bahwa pola diklat
pola baru ini luar biasa ketika saya menjadi penguji di suatu provinsi. Saya
sependapat dengan KPM tersebut karena tujuan diklat pola baru ini adalah
membentuk CPNS profesional dan berkarakter mulia.
107
Namun Maxwell menyatakan bahwa biasanya kebanyakan orang yang
mengikuti pelatihan dan pendidikan motivasi – apa pun namanya-, biasanya
menutup catatannya setelah diklat dan tidak menjadikan motivasi yang
didapatkannya di kelas menjadi perilaku sehari-hari.
Ternyata, motivasi tidak menentukan perubahan seseorang menjadi
bertahan lama. Motivasi perlahan-lahan akan cepat berlalu bagai waktu
sebelum menjadi kebiasaan (habits). Kebiasaan inilah yang menentukan
berhasilnya atau tidaknya seseorang dalam hidupnya.
Kebiasaan merupakan tindakan yang kita lakukan secara berulang
ulang baik itu secara sadar maupun tidak sadar sehingga akan menjadi suatu
kebiasaan dalam hidup kita. Kebiasaan inilah yang nantinya menuntun kita
pada "akan jadi apakah kita nantinya" sehingga mencapai apa yang diinginkan.
Kebiasaan ini yang dibentuk pada pendidikan dan pelatihan (Diklat)
Prjabatan CPNS pola baru plus yang insya Allah akan dilaksanakan pada tahun
2017. Pola prajabatan pola baru plus akan memakan waktu sekitar lima bulan
yang merupakan kolaborasi antara unit kerja kepegawaian, pusdiklat/badiklat
dan unit kerja di mana CPNS akan di tempatkan. Peserta diklat tersebut akan
berada di kampus selama satu bulan.
Kebiasaan ini sangat penting membentuk seorang CPNS atau diri
pribadi dalam keberhasilan hidupnya. Apakah kita memilih ataupun tidak
memilih akan melakukan suatu kebiasaan dalam diri kita sendiri, kebiasaan itu
akan tetap muncul. Sayangnya, apabila kita tidak melatih dengan baik,
kebiasaan yang muncul adalah habit yang buruk. Jika kita memilih untuk tidak
menanam bunga pada tamanmu, maka rumput liar akan tumbuh baik itu tanpa
dorongan semangat ataupun bantuan. jadi, apa salahnya mulai dari sekarang
kita membiasakan hal hal baik untuk diri kita? mari mulai dengan hal hal kecil
yang nantinya akan menjadi hal yang lebih baik terus menerus (kebiasaan).
Pembelajaran kebiasaan (habits) menarik yang dapat menjadi inspirasi
adalah perilaku Abu Bakar As Siddiq ra di mana saat Beliau minum susu,
langsung muntah. Ternyata diketahui bahwa susu yang diminumnya
merupakan susu baitu maal (milik negara) atau bukan milik pribadinya.
Artinya, karena kebiasaan makan dan minum yang halal, secara otomatis perut
Beliau ra menolak yang haram.
Tentu saja, kita belum dapat mencontoh Abu Bakar A Siddiq ra. Oleh
karena itu, kita harus mulai membangun habits dari hal-hal kecil yang dapat
kita lakukan secara berulang-ulang yang akhirnya kebiasaan baik-baik pada diri
108
kita akan
109
menjadi karakter diri yang melekat di hati dan menjadi perilaku sehari-hari
(kebiasaan).
Membangun Kebiasaan (Habit)
[09:35, 11/2/2016]
Kebiasaan (habit) merupakan tindakan yang kita lakukan secara
berulang ulang baik itu secara sadar maupun tidak sadar sehingga akan
menjadi suatu kebiasaan dalam hidup kita. Habit ini lebih penting daripada
motivasi. Habit dilakukan berulang-ulang yang namanya "autopilot mode" atau
kegiatan yg dilakukan tanpa disadari (pikiran bawah sadar), seperti kita
bangun pagi, bersyukur, mandi, ambil wudhu dan sholat subuh yang rutin kita
lakukan tanpa berpikir. Bagaimana melatih membangun habit?
Habit bisa dibangun dengan dilatih secara terus menerus. Untuk
membangun habit ada tiga cara, yakni:
1. Pondasi Habit
Biasanya kita ingin melakukan banyak hal karena tidak memiliki skala
prioritas namun akhirnya tidak ada yang diselesaikan secara optimal. Oleh
karena itu, dalam membangun habit yang pertama kali kita lakukan adalah
membangun pondasi habit yang dimulai dari satu kegiatan yang ingin kita
jadikan habit. Kebiasaan ini diharapkan menularkan pada kebiasaan lainnya.
Misalnya, olah raga 4 kali seminggu di mana, 1 kali menghabiskan waktu 30
menit. Setelah kebiasaan olah raga terbentuk, akan menular kepada kebiasaan
lainnya, seperti membaca buku, rajin ibadah dan sebagainya.
2. Dimulai dari hal yang ringan.
Sering kali pula, kita ingin melakukan hal yang besar. Padahal, hal yang
besar dimulai dari yang kecil dan ringan. Misalnya, kita ingin olah raga setiap
hari dan sehari 1 jam. Awalnya, kita semangat dan biasanya hanya sekali karena
melakukan sesuatu yang besar tanpa menjalani proses yang kecil akan
menurunkan atau mendemotivasi seseorang. Oleh karena itu, mulai lah olah
raga selama 3 menit dulu setiap hari secara berkesinambungan. Insya Allah,
kebiasaan kecil tersebut akan seperti bola salju menuju hal yang besar yang
110
akan menjadi habit.
111
3. Miliki Pemicu
Miliki pemicu untuk melakukan hal yang ringan di atas sehingga kita
merasa jika tidak melakukan hal kecil di atas akan berdampak merugikan diri
sendiri dan kegagalan sehingga kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ukang
menjadi kebutuhan kita sehari hari yang berada di pikiran bawah sadar kita.
Kebiasaan memiliki kekuatan yang sangat luar biasa bagi seseorang,
apakah orang tersebut ingin berhasil atau gagal dalam kehidoannya. Nanti
bagaimana diri kita terganting pada kebiasaan yang kita jalankan. Hidup adalah
memilih. Memilih ataupun tidak memilih akan melakukan suatu habit dalam
diri kita sendiri, habit itu akan tetap muncul. Sayangnya, apabila kita tidak
melatih dengan baik, habit yang muncul adalah habit yang buruk. Jika kita
memilih untuk tidak menanam bunga pada tamanmu, maka rumput liar akan
tumbuh baik itu tanpa dorongan semangat ataupun bantuan" jadi, apa salahnya
mulai sekarang kita mulai membangun habit yang baik.
Senyum Tulus dan Pengertian
[06:07, 12/10/2016]
Sambil sarapan kita belajar senyum tulus dan pengertian yuk….
Bila seorang wanita ingin wajah kanannya seperti Raisa dan wajah
kirinya seperti Ashanti, dipastikan wanita tersebut tidak cantik walau kedua
wanita itu cantik. Mengapa? Karena tidak simetris. Ternyata, kecantikan
seorang wanita ditentukan oleh kesimetrisan wajahnya. Bagaimana agar wajah
kita simetris? Senyum lah yang tulus. Senyum tulus ini juga berlaku untuk kaum
pria.
Senyum tulus merupakan syarat utama dari senyum pengertian. Apa itu
senyum pengertian? Sebelum menjawabnya kita kulik dulu kaidah yang telah
lama tertanam di benak kita.
Ada kaidah yang telah lama tertanam dalam pikiran kita, yakni, 'cintai
lah orang lain sebagaiama engkau ingin dicintai. Perlakukan lah orang lain
sebagaimana engkau ingin diperlakukan.”
112
Kaidah di atas merupakan perbuatan yang tidak tulus karena
mengaharapkan perlakuan yang sama ketika kita berbuat baik kepada orang
lain. Terkadang dalam kenyataan tidak seperti yang kita harapkan, sehingga
senyum kecut di wajah kita.
Agar wajah kita dihiasi senyum pengertian, maka kita harus mengubah
kaidah di atas menjadi, ”Cintai lah orang lain dengan cara sebagaimana mereka
ingin dicintai. Perlakukan lah orang lain dengan cara sebagaimana mereka ingin
diperlakukan.”
Kaidah baru ini akan membuat kita tak akan kecewa karena ini lah
hakikat cinta yakni memberi tanpa pamrih sehingga membuat kita benar-benar
hidup, kaya dan bermakna sehingga wajah selalu dihiasi senyum tulus dan
pengertian.
Ibu: Pelayanan Platinum
[05:22, 12/22/2016]
Gray dalam bukunya, Men from Mars, Women from Venus menyatakan
ada kaidah yang telah lama tertanam di benak kita seperti ini, “ Layani orang
lain sebagaimana engkau ingin dilayani. Cintai orang lain sebagaimana engkau
ingin dicintai. " Menurut Gray, kaidah di atas tidak lah tepat karena pada
kenyataannya apa yang kita harapkan tidak terjadi hingga membuat kita
kecewa.
Sesuai dengan Gray, Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving
juga menyatakan yang hampir serupa bahwa kaidah di atas bukan
pelayanan/cinta yang tulus, tetapi pedagang. Karena pedagang melayani orang
dengan pamrih yakni keuntungan.
Oleh karena itu, sebaiknya kaidah/paradigma yang telah tertanam lama
di benak kita perlu diubah.dengan kaidah/paradigma yang baru, yakni, “Layani
orang lain dengan cara sebagaimana Ia ingin dilayani. Cintai lah orang lain
dengan cara sebagaimana Ia ingin dicintai." Ini lah pelayanan platinum.
Pelayanan tanpa pamrih (tulus) yang kita lakukan hanya ingin mendapat ridho
Allah semata. Pelayanan platinum ini sangat sulit, tetapi dapat kita lakukan.
Pelayanan platinum ini biasanya dilakukan ibu kita.
Ibu yang membawa calon anaknya hampir selama 9 bulan di rahimnya
113
dengan kasih sayang, menjaganya tanpa mengenal lelah dan keluh kesah
sedikitpun. Bahkan Ibu kita membawa kita ke mana-mana di rahimnya dengan
bahagia dan
114
penuh kasih. Ketika kita lahir dengan penuh perjuangan seorang Ibu dan izin
Allah, Ibu memberi air susunya tanpa meminta kembali di kemudian hari.
Beliau bangun di tengah malam saat kita bangun membersihkan popok kita dan
memberi air susunya penuh lelah namun tak Ia rasakan. Ibu mengajarkan huruf
a b c, menyanyikan oh nina bobo dan mengajak kita bicara agar kita dapat
bicara.
Setelah anak-anaknya dewasa/ menikah, ibu selalu
memikirkan,”Apakah anak-anaknya bahagia?” Seorang ibu selalu membantu
anak-anaknya walaupun mereka suka menyakitinya. Hati dan jiwa seorang ibu
tak rela jika anak-anaknya susah. Ibu selalu mengulurkan tanganya penuh kasih
untuk membantu anak- anaknya meskipun Ia sendiri mungkin dalam kesulitan.
Air mata selalu membasahi pipinya yang mulai menua jika anak-anaknya tak
bahagia. Hatinya yang lapang selalu memaafkan kesalahan anak-anaknya.
Sehebat apa pun kita, pastilah jasa seorang ibu tak dapat kita balas. Jasa
ibu yang telah melalui 3 fase kesulitan yakni hamil, melahirkan dan menyusui.
Ibu masih memikirlan sepanjang hayatnya untuk anak-anaknya. Bahkan kita
sering merepotkan Ibu yang seharusnya tenang dan istirahat dengan
menitipkan anak-anak kita ke dalam.pengasuhannya. Bahkan ketika kita sedang
tak memiliki assistan, kita mengimpor ibu untuk beberapa.hari untuk
menjaga.anak-anak kita hingga sampai kita mendapatkan assistan yang baru.
Dan ibu selalu bersedia melakukannya demi anak-anaknya.
Namun anehnya, Ibu kita tak ingin dibuatkan rumah mewah.atau tinggal
di rumah anak-anaknya yang bagus. Ibu tetap saja tinggal di rumahnya yang
bersahaja lingkungannya. Ada.sebuah cerita seorang penjual jamu yang
mendapat amanah dari suaminya saat akan.meninggal untuk menyekolahkan
ketiga anaknya hingga kuliah. Dengan seorang diri dan jerih payah menjual
jamu akhirnya si Ibu jamu berhasil melaksanakan amanah suaminya. Ketika
ketiga anaknya sukses dan meminta ibunya tidak berjualan jamu dan tinggal
bersama, si Ibu menjawab,”Saya hanya mendapat amanah untuk
menyekolahkan anak-anak saya. Bukan untuk tinggal bersama mereka. Biar lah
ibu tetap.menjual jamu karena dengan berjualan ibu sehat dan bermanfaat
untuk orang lain.”
Rasulullah SAW pun ketika ditanya sahabat Ketika salah seorang
sahabat, "iapakah orang yang paling berhak aku hormati?.” Beliau menjawab;
“Ibumu.” Sahabat tadi kembali bertanya; “Kemudian siapa?.” Beliau menjawab;
“Ibumu.” Sahabat itu kembali bertanya; “Kemudian siapa?.”Beliau menjawab;
“Ibumu.” Penasaran, sahabat tadi mengulang pertanyaannya; “Kemudian
115
siapa?.” Rasulullah saw menjawab; “Ayahmu.” (Bukhari - Muslim). Mengapa?
Dari seorang ibu kita
116
banyak belajar, seperti, belajar bicara, memegang, makan, segala kearifan,
pengorbanan, mengingat Allah., memaafkan, keikhlasan dan kebaikan lainnya.
Ibu lah sesungguhnya yang memiliki pelayanan platinum kepada anak-
anaknya penuh kasih sayang, keteduhan, kearifan dan senyum penuh makna.
Perasaannya peka, pelulannya penuh keteduhan dan tatapan matanya begitu
menenangkan jiwa bagi anak-anaknya. Peluh penatnya tak pernah Ia pikirkan.
Ketika sepertiga malam, bibirnya menuturkan do’a-do’a penuh harap dengan
kerendahan hati seorang Ibu kepada Allah untuk kebahagiaan anak-anaknya
dunia akhirat.
Ibu, sungguh engkau melayani anak-anakmu di luar batas dan sepanjang
hayat dengan cinta.yang sesungguhnya. Dan terkadang anak-anakmu
mengatakan uh serta melukai hatimu namun tetap kau memaafkan dan masih
melayani di usia senjamu. Ibu, sungguh anak-anakmu tak akan dapat membalas
jasamu sehingga aku bermunajat kepada Allah dengan kerendahan hati, penuh
harap dan kesenduan hati agar kami dijadikan anak-anak sholeh. Supaya do’a-
do’a kami menjadi syafaat bagi Ibu di akhirat.
Mengalahkan Diri Sendiri
[05:32, 12/23/2016]
Bagaimana agar kita dapat menjadi pelayan platinum yang
paradigmanya seperti ini,” Layani orang lain dengan cara sebagaimana Ia ingin
dilayani. Cintai lah orang lain dengan cara sebagaimana Ia ingin dicintai. Dari
kaidah di atas, tentulah kita harus mampu mengalahkan diri sendiri. Apakah
kita mengorbankan kebahagian diri sendiri untuk orang lain? Tentu tidak.
Bahkan dengan melayani/mencintai orang lain dengan cara sebagaimana Ia
ingin dilayani/dicintai, menolong diri sendiri untuk bahagia. Loh kok bisa
begitu?
Hal itu dicontohkan oleh Rasulullah SAW, ketika seorang bertanya
tentang hatinya yang sedang mengeras/gelisah. Rasulullah SAW menganjurkan
orang tersebut untuk membelai rambut anak yatim di sana dan memberinya
makan. Kemudian orang tersebut melakukan anjuran Rasulullah SAW dengan
membelai rambut anak yatim dan memberinya makan. Setelah itu hatinya
tersenyum kembali. Maknanya kebahagian seseorang sebenarnya tergantung
117
kebahagiaan orang lain. Hal ini pun dilakukan para orang yang berlimpah
materi dengan mendirikan
118
berbagai yayasan untuk meringankan beban orang lain. Tentu saja, kita
melakukan pelayanan platinum karena Allah semata.
Mengalahkan diri sendiri ternyata juga kunci.seseorang.berpikir kreatif.
Berpikir kreatif yang produknya adalan inovasi sebenarnya diawali untuk
kemanfaatan banyak orang, seperti yang dilakukan oleh Thomas Alfa Edison
(lampu), Wrigth bersaudara (pesawat terbang), Steve Jobs (komputer),
Makarim (Ojek Online) dan inovator lainnya.
Makna berpikir kreatif adalah berpikir untuk memecahkan
permasalahan yang dihadapi banyak orang dengan berpijak pada permasalahan
tersebut (new thinking in the box) dengan sudut pandang dan cara yang
berbeda pada umumnya (out of the box). Dan berpikir kreatif tersebut hanya
bisa dilakukan setelah seseorang mampu mengalahkan dirinya sendiri.
Pernyataan ini didukung oleh Inovator Ojek Makanan Bayi (OMABA), dr Sony,
kepala Puskesma di salah satu kecamatan kota Bandung.
Menurut dr. Sony, berpikir kreatif sehingga kita mengalahkan diri
sendiri bukan berarti kita mengabaikan atau menyusahkan diri sendiri bahkan
setelah OMABA menjadi kenyataan membuatnya sangat bahagia karena Ia
merasa hidupnya berarti dan bermanfaat untuk banyak orang. Ia sangat
bahagia melihat bayi-bayi di kecamatannya sudah tidak kekurangan gizi.
Kebahagiaannya tidak dapat dinilai dengan uang karena semuanya dilakukan
karena Allah.
Ternyata, mengalahkan diri sendiri karena Allah merupakan kunci
menjadi pelayan platinum dan berpikir kreatif yang membuat kita bahagia
karena barokah Allah semata. Mengalahkan diri sendiri bukan lah
menghilangkan ego kita.
Menghentikan Kebiasaan “Besok”
[07:35, 1/2/2017]
Pergantian tahun ditandai dengan silih bergantinya malam dan siang
dengan bergulirnya matahari dan bulan. Artinya, sebenarnya pergantian tahun
merupakan pergantian hari dari kemarin menjadi hari ini. Dari hari ini menjadi
esok, bila dengan izin Allah kita menjemputnya. Namun sebagian orang
119
biasanya menjadikan tahun baru -baik hijriah/masehi- sebagai momentum
perubahan bagi dirinya. Tidak salah. Oleh karena itu, mereka akan membuat
resolusi baru pada
120
momentum tersebut. Sehingga mereka akan menunggu momentum tersebut
untuk melakukan perubahan. Sesungguhnya menunggu saat tertentu untuk
melakukan perubahan adalah menunda melakukan perubahan kini untuk
dilakukan pada momentum nanti.
Richie Norton dalam bukunya,” Kekuatan dalam memulai hal Bodoh”
menyatakan bahwa kebiasaan menunda akan menghancurkan untuk
mewujudkan mimpi kita yang bertanggal. Kebiasaan menunda menimpa semua
orang, sebagai bantahan mitos, bahwa kebiasaan menunda terjadi bagi seorang
yang malas. Ternyata, mitos tersebut keliru. Kebiasaan menunda terjadi juga
bagi orang-orang yang gila kerja atau mengahabiskan waktu lama sampai
malam untuk bekerja. Karena orang yang gila kerja tersebut sebenarnya
melakukan hal-hal rutin/kecil yang mengalihkan kegiatan prioritasnya hingga
berkerja sampai malam.
Orang yang gila kerja menganggap dirinya sempurna, namun ternyata
mereka melakukan aktivitas-aktivitas rutin yang berulang ulang. Mereka tidak
berpikir kreatif bagaimana mengintegrasikan kegiatan-kegiatan tersebut
sehingga mendapatkan ruang untuk berpikir dan mengembangkan diri.
Kebiasaan menunda ini pernah disinyalir oleh Umar ibn Khattab ra 14
abad yang lalu dengan menyatakan, “ "Jangan menunggu sore ketika pagi
datang. Jangan menunggu pagi, saat sore tiba di hadapan kita.” Artinya untuk
menghentikan kebiasaan menunda, kita harus melakukan segala sesuatu
sekarang dan sesuai dengan skala prioritas. Bila semuanya prioritas, artinya
kita tak ada prioritas atau yang paling utama. Kebiasaan mendahulukan yang
utama sangat penting agar hal- hal yang remeh temeh tidak mengalihkan
perhatian kita.
Jadi, untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu momentum
tertentu karena sesungguhnya kita menunda melakukan hal yang utama
tersebut untuk melakukannya “besok”. Menghentikan kebiasaan “besok” adalah
melakukan seutuh- utuhnya hari ini/sekarang dengan mendahulukan yang
utama/skala prioritas agar dapat mewujudkan mimpi bertanggal kita.
121
Power Of No
[05:16, 1/27/2017]
Seorang pejabat terlambat 40 menit dalam acara pembukaan karena
tidak dapat mengatakan tidak pada tamu yang datang tanpa membuat
perjanjian terlebih dahulu pada pukul 07.00 wib. Dari alasan yang diungkapkan
oleh pejabat tersebut ada dua hal yang dapat kita jadikan pembelajaran.
Pertama, si pejabat tidak ingin disalahkan dengan membebankan kesalahan
pada si tamu. Menimpakan kesalahan pada orang lain/tamu dikarenakan
kesalahan kedua yakni tidak berani mengatakan tidak (power of no).
Kekuatan mengatakan tidak (power of no) merupakan salah satu kata
paling ampuh dalam manajemen waktu (Brian Tracy). Namun banyak orang
takut mengatakan tidak karena takut menyinggung perasaan orang lain. Bagi
budaya timur, mengatakan tidak juga dianggap tidak sopan. Sedangkan dalam
organisasi/kantor, kita takut mengatakan tidak pada atasan, mungkin karena
akan menghambat karir yang akhirnya menjadi kita sebagai yes man. Misalnya,
kita diminta melakukan perilaku tidak etis yang kita tahu bahwa itu salah,
namun kita melakukannya.
Sebaiknya, kita berani mengatakan tidak bila perintah tersebut
bertentangan dengan standar etika atau berlawanan dengan hati nurani. Tentu
saja, mengatakan tidak dengan bijak dan baik. Utarakan dengan jelas agar tidak
menimbulkan kesalahpahaman. Sampaikan dengan ramah tetapi tegas untuk
menolak sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani dan nilai-nilai mulia
seperti kejujuran, tangung jawab, amanah dan integritas. Misalnya, katakan
tidak, bila kita diminta untuk membuat kuitansi fiktif untuk snack, cashback
hotel, komisi rekanan,dan lain sebagainya. Bila Kita terbiasa melakukan
kebohongan-kebohongan kecil, kebohongan besar seperti korupsi besar atau
rekayasa anggaran fiktif akan terbiasa kita lakukan.
Katakan tidak sejak awal dan sering pada ajakan-ajakan perilaku tidak
etis yang berlawanan dengan hati nurani dan standar etika publik yang berlaku,
apa pun konsekuensinya. Katakan tidak pada perilaku tidak etis akan
bermanfaat untuk kesejahteraan rakyat karena korupsi dan konflik
kepentingan lah penyebab sengsaranya rakyat. Katakan tidak untuk hal-hal
negatif dari sekarang merupakan kontribusi kita kepada bangsa ini.
122
Sakit
[05:29, 4/28/2017]
Sehat merupakan mahkota indah yang hanya dapat terlihat bagi mereka
yamg sakit. Sedangkan sehat sulit terlihat bagi mereka yang sehat karena
mereka merasa sehat adalah haknya yang tak boleh hilang karena sudah biasa
terjadi pada dirinya (taken for granted).
Padahal dalam hidup ini, setiap manusia akan diuji Allah berupa
kekayaan dan kemiskinan, ketaatan dan kemaksiatan, halal dan haram serta
kesehatan dan penyakit. Jadi penyakit merupakan ujian dari Allah walaupun
kita telah berusaha menjaga kesehatan diri kita dengan pola hidup sehat dan
pola pikir positif.
Sakit merupakan kondisi yang tidak disukai oleh setiap manusia
(musibah) karena sakit membuat diri tidak/kurang berdaya. Dalam
ketidakberdayaan, biasanya sulit bagi kita untuk berdaya karena aktivitas fisik
dan aktivitas berpikir kita terganggu sehingga kita sulit menerima sakit sebagai
ujian yang terjadi pada kita. Sehingga kita sering mengeluh, mencaci
ataubahkan bertanya kepada Allah,”Mengapa sakit ini terjadi pada diriku?”
Seandainya kita mengetahui di balik hikmah ketetapan Allah yang
terjadi pada diri kita, terdapat ribuan hikmah kebaikan yang ada pada setiap
peristiwa atau musibah. Namun ilmu kita sangat terbatas dan sedikit
dibandingkan ilmu Allah Yang Maha Luas tak terbatas, bagaikan sinar lampu
yang sia-sia di bawah sinar mentari. Oleh karena itu, perlu bagi kita berpikir
positif terhadap sakit yang terjadi pada diri kita karena hal itu ujian dari Allah
yang baik untuk diri kita sehingga membuat kita akan berdaya. Bahkan dalam
Islam, sakit itu juga merupakan penghapus dosa bagi manusia yang tempatnya
salah dan lupa seperti yang disabdakan Rasulullah SAW ” Tidaklah menimpa
seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga
kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan
dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim).
Oleh karena itu, ketika menghadapi sakit yang sebenarnya sebagai ujian
79
dari Allah, kita harus bersabar karena ianya sebagai kebaikan pula untuk diri
kita dan membuat kita akan tumbuh dan bijak mengahdapi segala persoalan
yang ada.
80
Jangan Mengeluh
[08:54, 4/30/2017]
“Don’t complain”, begitu judul video pemilik AliBaba.com, Jack Ma,
pengusaha terhormat dari Tiongkok dalam menginspirasi anak-anak muda.
Pada suatu peristiwa saya teringat seorang pejabat yang menyatakan,”Jika saya
sebagai pemimpin mengeluh, bagaimana yang ada di bawah saya.”
Sifat suka mengeluh memang temaktub dalam firman Allah dalam QS. Al
Ma’rij:19-21,” Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.
Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah dan apabila mendapat
kebaikan dia menjadi kikir.”
Sifat suka mengeluh manusia berdasarkan firman Allah di atas bukan
pembenaran diri bagi kita untuk suka mengeluh terhadap banyaknya masalah
kehidupan, kekurangan diri istri, anak-anak, teman, pemimpin kita, dan
berkurangnya cheese (pendapatan) dengan melemparkan kesalahan kepada
orang lain atau ada di luar diri kita. Buktinya kedua orang di atas dan orang-
orang yang memiliki mindset berkembang tidak suka mengeluh atas musibah
(sesuatu yang tidak disukai) yang terjadi pada dirinya. Mereka biasanya
melakukan instropeksi, karena mereka mengetahui sesungguhnya masalahnya
ada pada diri sendiri.
Sikap tidak mengeluh ini juga saya pelajari dari Almarhum Ayah yang
saya cintai, yakni dalam ketidakberdayaan karena sakit stroke sejak saya SMP
hingga tahun 2013, tidak pernah mengeluh sama sekali. Saya yang belum bisa
mencontohnya, selalu membisikan,”Ayah, nikmat Allah tak terhingga
dibandingkan sakit yang terjadi pada ayah, maka berprasangka baiklah kepada
Allah.”
Melawan sifat suka mengeluh, kita harus selalu ingat bahwa nikmat
yang kita peroleh dari Allah sangat tak terbatas dibandingkan musibah yang
menimpa diri kita. Suka mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah yang kita
hadapi bahkan menambah persoalan. Jika kita mengetahui bahwasa musibah
merupakan kebaikan bagi diri kita, kita dapat mengambil pengetahuan dari
musibah tersebut. Jangan mengeluh.
81
Peluang dalam Keluhan
[07:18, 8/19/2017]
Sifat manusia itu suka berkeluh kesah. Namun Allah meminta kita
meminimalisir berkeluh kesah tersebut. Dan kita mampu melakukannya jika
kita memiliki tekad kuat. Mengapa manusia suka berkeluh kesah? Karena
manusia suka melihat kekurangan yang menimpa dirinya dibandingkan
kelebihannya. Misalnya, saat sebagian kenikmatan (penghasilan, kesehatan, dan
sebagainya) atau cheese/materi kita berkurang, kita akan mengeluh. Padahal
kenikmatan yang kita peroleh sangat berlimpah dibandingkan yang berkurang.
Dan biasanya, mayoritas manusia lebih banyak mengeluh akan
kekurangan yang menimpa dirinya daripada mencari solusi atas kekurangan
yang hilang tersebut. Hal itu disebabkan, sebagian besar manusia berada dalam
zona nyaman sehingga terlena oleh kenikmatan yang diperolehnya selama ini
dan malas berpikir.kreatif untuk keluar dari zona nyaman tersebut. Sebagian
besar dari kita hanya berkutat menggerutu kehilangan kenikmatan tersebut di
dalam hatinya dalam waktu yang lama.
Berkaitan dengan keluh kesah, saya teringat video Jack Ma pemilik
Alibaba.com yang berjudul,"Don't Complain” yang menyatakan jangan
mengeluh atas musibah -sesuatu yang kita anggap buruk dan merugikan kita-
yang terjadi. Steve Jobnya Asia yang kreatif melihat bahwa dalam setiap
keluhan sebagian besar manusia akan ada peluang. Maknanya, bagi orang yang
berpikir kreatif yakni orang- orang yang memiliki sudut pandang berbeda
dengan kebanyakan orang, akan selalu ada peluang dalam keluhan banyak
orang. Orang berpikir kreatif tidak memiliki prasangka buruk terhadap
musibah yang terjadi. Ia mampu melihat sesuatu di luar kekakuan berpikir
negatif/prasangka buruk dan menjelajahinya dengan cara halus yang melihat
peluang untuk mengembangkan diri dengan mencari solusi.
Selalu ada peluang dari keluhan banyak orang. Daripada kita berkeluh
kesah pada musibah yang terjadi, sebaiknya kita bersyukur karena
sesungguhnya musibah itu juga baik bagi diri kita, bila kita dapat mengambil
peluang/hikmahnya dibalik musibah tersebut yakni mencari
82
solusi/mengembangkan diri. Melihat peluang dalam keluhan banyak orang
merupakan pemikiran yang menarik bagi orang tersebut.
83
84
BAGIAN EMPAT
KESADARAN DIRI
83
Kecerdasan Emosi
[06:45, 2/5/2017]
“Teman-teman saya yang menjadi direktur waktu kuliah rankingnya di
bawah.”, kata seorang teman. Saya jadi teringat curhatan seorang teman yang
memiliki IPK tinggi, namun belasan tahun menjadi staf dibandingkan teman-
teman seangkatannya saat kuliah yang rankingnya jauh di bawahnya, namun
telah menjadi eselon IIII.
Cerita di atas telah menjadi pembicaraan para pakar psikologi melalui
penelitian dalam periode lama terhadap anak-anak hingga dewasa sejak tahun
1990. Menurut penelitian, para peraih nobel adalah mereka yang biasa-biasa
saja (nilai C) prestasi akademiknya. “Mengapa mayoritas anak-anak yang
dulunya memiliki IPK biasa-biasa saja lebih berhasil daripada anak-anak yang
berprestasi?” Jawabannya, mereka yang biasa-biasa saja, memiliki kecerdasan
emosi yang tinggi saat bekerja..
Kecerdasan emosi yang menentukan seseorang berhasil dalam
pekerjaan atau kehidupan. Daniel Goleman menyatakan peran IQ 20 persen dan
EQ 80 persen dalam pekerjaan/kehidupan. Dr Brad Travis menyatakan bahwa
para eksekutif perusahaan terkenal memiliki EQ tinggi. Namun kecerdasan
intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) penting karena keduanya anugerah
Allah. IQ penting untuk dipanggil (CALL) atau penempatan saja, sedangkan EQ
memiliki peran penting untuk mendapatkan promosi dalam perjalanan karir
pekerjaannya.
Dr. Carol Dweck dalam bukunya Mindset kurang lebih menyatakan
bahwa mereka yang EQ tinggi memiliki pola pikir yang bertumbuh (growth
mindset). Growth mindset menyatakan bahwa otak bisa bertumbuh seperti
otot sehingga mereka yakin akan berhasil dengan menganggap masalah sebàgai
teman, kritik sebagai pengembangan diri dan kesuksesan orang lain sebagai
inspirasi dan kegagalan sebagai pengalaman dan pengetahuan yang menjadikan
mereka expert. Sedangkan Martin Selingman dengan sudut pandang lain
menyatakan bahwa mereka yang memiliki EQ tinggi menjadikan pengalaman
buruk sebagai pemicu optimisme untuk meraih keberhasilan. Bagaimana
mengembangkan kecerdasan emosi?
Kecerdasan emosi adalah kemampuan kita menyadari emosi diri sendiri
dan mengelola emosi tersebut untuk memotivasi diri serta kemampuan peka
dan peduli emosi orang lain sehingga kita dapat menjalin hubungan baik
84
dengan orang lain tersebut. Dari definisi kecerdasan emoai tersebut, kita dapat
melatih kecerdasan emosi..
85
Perlu dipahami bahwa emosi ada di lymbic sistem pada otak kita.
Sedangkan berpikir ada di neocortex Misalnya, saat mobil kita terserempet
atau ditelikung motor/mobil lain, kemudian kabur. Otomatis keluar amarah
dari mulut kita sambil tangan mengenggam erat kemudi dengan wajah geram.
Amarah merupakan emosi negatif yang sangat sulit ditahan karena
mengasikkan. Pada saat itu lymbic system kita mengalahkan pikiran kita.
Menurut Sixsecond, bila ada respon seperti itu, sebaiknya kita diam selama
enam detik. Dengan enam detik, lymbic system akan mengirimkan signal ke
neocortex untuk.berpikir jernih sehingga kita bisa menyatakan mungkin
pengendara motor tersebut tergesa-gesa karena ada orang tuanya yang sedang
sakit.
Itu lah komponen pertama kecerdasan emosi yakni menyadari emosi
yang ada di dalam diri. Kemudian kita mengelola emosi tersebut untuk berpikir
positif atau memotivasi diri sendiri. Selanjutnya kita juga harus memiliki
empathy kepada orang lain dengan menyelami dan memahami emosi orang lain
agar dapat menjalin hubungan baik dengan orang lain.
Kesadaran Utuh
[05:11, 11/21/2016]
Ada fenomena menarik yakni banyak orang yang rajin ibadah namun
sering pula melakukan kecurangan-kecurangan dalam kehidupan sehari-hari
seperti korupsi, melanggar peraturan, melakukan kecurangan (fraud),
merekayasa anggaran, dan kecurangan lainnya. Mengapa ini terjadi? Terjadi
karena seorang tersebut belum memiliki kesadaran utuh (mindfullness).
Kesadaran utuh merupakan suatu cara menghadirkan Allah di mana pun kita
berada.
Ketika beribadah di tempat ibadah (masjid, gereja,dll), kita begitu
khusyu’ dalam berinteraksi dengan Sang Pencipta seolah-olah Allah mengawasi
kita. Keheningan dan kesyahduan kita beribadah kepadaNya seolah-olah Allah
hadir sangat dekat kepada kita hingga tak terbersit berbuat maksiat.
Kesadaran utuh adalah bagaimana kita memindahkan kekhusyu’an di
tempat ibadah hadir dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, ketika kerja
diniatkan ibadah, kita merasa seolah-olah Allah mengawasi pekerjaan kita
86
sehingga tidak melakukan perilaku curang seperti korupsi, memark up
anggaran atau mengalokasikan anggaran lebih yang tak efektif dan efesien.
87
Namun karena kita telah lama mendikotomikan atau memisahkan
bahwa Allah hanya ada di tempat ibadah saja (sekuler), kita menghiraukam
bahwa sebenarnya Allah juga ada saat kita bekerja. Nah kesadaran utuh
merupakan cara menghadirkan seolah-olah Allah ada di mana-mana sehingga
kita terjaga dari perbuatan maksiat dalam bekerja. Sehingga bekerja tidak
hamya betujuan materi semata, namun juga meningkatkan keimanan kita
dengan menghadirkan nilai-nilai ruhiyah dalam bekerja.
Kesadaran utuh adalah kondisi di mana kita sebagai manusia
merasakan, menginsafi dengan panca indera kita bahwa Allah seolah-olah ada
mengawasi kita di mana pun kita berada, baik di tempat ibadah, lingkungan
rumah dan sekitar, tempat bekerja atau kesendirian sehingga kita dapat
meminimalisir maksiat dan meningkatkan keimanan hari demi hari. Kesadaran
utuh merupakan keterhubungan kita sebagai manusia terhadap penciptaNya di
mana pun kita berada. Kesadaran utuh dapat diasah agar menjadi kebiasaan
kita dalam kehidupan sehari-hari.
Melatih Mindfullness
[08:32, 1/5/2019]
Sambil ngupi di pasar, yuk kita latih kesadaran penuh kita...
Ketika saya membaca kembali dan memaknai buku Search Inside
Yourself karya si penggembira dari Google, Chad-Meng Tan pada bagian
melatih mindfullness (kesadaran penuh) seperti 2 menit perhatikan nafasmu.
Apabila pikiranmu melantur, kembalikan dengan lembut untuk perhatikan
engkau bernafas.
Ternyata sangat sulit. Tetapi bila kita mampu, dampaknya luar biasa.
Hal itu dibuktikan dengan meningkatnya kinerja para pegawai Google dengan
melatih mindfullness terlebih dulu yang merupakan kurikulum pelatihan
kecerdasan emosi dalam mengembangkan inovasi di Google.
Ternyata, setelah merenung, dalam khazanah Islam, melatih
mindfullness telah ada dalam Islam 14 abad lalu berupa ibadah khusyu' dalam
Sholat. Menurut penulis, makna khusyu' itu hampir sama dengan mindfullness.
Saat kita sholat, terkadang pikiran kita melantur (seperti, apakah pekerjaan kita
88
sdh selesai? Apakah kompor sudah dimatikan? Dan yang lainnya). Ketika
melantur, kembalikan dengan
89
lembut bahwa kita sedang beribadah kepada Allah SWT dan Allah SWT
mengetahui apa yang ada dalam pikiran kita.
Dan dampak khusyu' dalam sholat sangat luar biasa pada generasi
Shahabat, Tabi'in, dan Tabi'it Tabi'in dengan peradaban Islam yang luar biasa
seperti jutaan kitab-kitab - baik agama dan keilmuan- yang bertebaran di muka
bumi yang masih dapat kita lihat sampai saat ini. Contohnya, seorang penjaga
perbatasan yang sedang perang melakukan sholat. Tiba-tiba anak panah dari
musuh menancap di punggungnya. Penjaga tersebut merasakan anak panah
tersebut, tetapi kekhusyu’an mengalahkan rasa sakit tersebut hingga Ia
menyelesaikan sholatnya.
Bagi kaum muslimin, mari melatih mindfullness yang kita latih dengan
khusyu' dalam sholat hingga akan berdampak meningkatkan kinerja pekerjaan
dan keimanan kita dalam kehidupan sehari-hari.
Mengenal Potensi Diri
[06:21, 10/12/2018]
Alhamdulillah, saya memperoleh 5 kelebihan diri dan 5 kekurangan diri
dari performa 360°. Performa 360° adalah sebuah aplikasi atau proses dimana
setiap pegawai mendapatkan feedback mengenai perilaku dari pegawai lain
yang relevan disekitarnya. Pegawai lain tersebut umumnya terdiri dari atasan,
kolega, dan staf yang berada dalam lingkungan kerjanya. Performa 360°
dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran perilaku kerja pegawai BPS secara
umum sehingga menjadi bahan evaluasi untuk program pengembangan
pegawai BPS. (Simpeg.bps.go.id).
Performa 360° di atas berdasarkan buku The 360° LEADER karya Jhon
C. Maxwell yang pesannya kurang lebih mengatakan kembangkan pengaruh
Anda dari posisi di mana pun Anda berada dalam Organisas. Prinsip-prinsip
kepemimpinan 360° adalah memimpin ke atas, memimpin ke samping, dan
memimpin ke bawah. Misalnya memimpin ke samping, seorang eselon IV
menilai eselon IV lainnya. Sedangkan memimpin ke bawah, pejabat eselon IV
menilai staf di bawahnya.
Penilaian beberapa orang kepada diri kita dengan sebuah aplikasi 360°
90
menurut penulis sangat baik, karena kita tidak tahu siapa yang menilai kita.
Dan performa 360 merupakan database kepemimpinan dalam rangka
pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan pencapaian visi organisasi
yang efektif menurut
91
Maxwell selama 30 tahun penelitiannya sebagai coach perusahaan-perusahaan
besar di dunia.
Dari sisi pengembangan potensi diri, sesungguhnya performa 360°
merupakan cara pengembangan potensi diri yang terdiri dari 3 cara yakni
mengenal diri dengan instropeksi diri sendiri, mengisi daftar pertanyaan dan
penilaian dari orang lain. Performa 360° mencakup 2 hal terakhir. Oleh karena
itu, hasil apa pun yang kita peroleh, baik kelebihan dan kekurangan diri kita
merupakan kebaikan untuk instropeksi memperbaiki diri dalam rangka
mengembangkan diri. Dan bila kita mau belajar dari feedback yang diberikan
oleh atasan, kolega dan staf, insya Allah kita dapat mengembangkan diri.
Konsep Diri
[10:30, 8/5/2017]
Seorang teman meminta pendapat tentang dirinya baik kekurangan dan
kelebihannya. Secara pribadi, saya agak sulit menilai seseorang, namun Ia agak
memaksa. Akhirnya, saya pun memberi beberapa catatan tentang kekurangan
dan kelebihannya. Dan Ia mencatat beberapa kekurangan dan kelebihan di
selembar kertas sebagai perbaikan dirinya.
Umpan balik (feedback) dari orang lain yang Anda percaya merupakan
cara yang baik sebagai perbaikan diri seseorang menjadi pribadi berkualitas
karena seseorang tidak dapat melihat dirinya dari segala sisi (tidak sempurna).
Dalam pengembangan diri dikenal Johari Window yang mengkategorikan
individu dengan empat area.
Area I, di mana seorang dan orang lain tahu tentang dirinya (open). Area
II di mana seorang tidak tahu dirinya, tetapi orang lain tahu (blind spot). Area
III seorang tahu dirinya, namun orang lain tidak tahu ( hidden). Dan area IV,
seorang dan orang lain tidak tahu tentang dirinya (unknown).
Berada di mana kah area diri kita? Bila seseorang telah mengenal
dirinya - tentu tidak semuanya- baik kelebihan dan kekurangan, insya Allah
akan menjadi lebih baik untuk dirinya . Mengenal diri sendiri merupakan
konsep diri. Dengan konsep diri, kita akan melejitkan potensi diri kita dengan
kekuatan/kelebihan yang kita miliki (strenght base orientation) sebagai rasa
92
syukur kepada Allah dalam
93
menapaki kehidupan untuk menggapai yang kita harapkan. Mengenal konsep
diri kita juga bermakna mengenal siapa yang menciptakan diri kita sebagai
pendekatan kita kepada Allah.
Self Development
[05:26, 3/31/2018]
Kenalilah dirimu, maka engkau akan mengenal Tuhanmu. Apakah kita
telah mengenali diri sendiri? Tentu saja belum. Menurut penelitian, sebagian
besar manusia baru menggunakan potensi di dalam dirinya sekitar sepuluh
persen. Kata peribahasa, kutu di kejauhan tampak terlihat, gajah di depan mata
tak terlihat.
Setiap manusia dilahirkan dengan potensi yang sama. Potensi adalah
daya/kekuatan/kemampuan baik yang sudah atau belum teraktualisasikan.
Menurut penelitian di Barat, potensi yang sudah teraktualisasi baru sekitar 10
persen, sedangkan yang belum teraktualisasi 90 persen (giant sleeping).
Einstein pun hanya menggunakan potensinya sekitar 20-25 persen. Mungkin
akan berbeda, bila penelitiannya dilakukan pada era peradaban Islam
menguasai dunia yang respondenya para Sahabat, Tabi'in, Tabi'in Tabi'it.
Misalnya, Imam Syafi'i ra (semoga Allah memberkahinya). Tidurnya Imam
Syafi'i ra saja dapat menyelesaikan berbagai masalah kehidupan saat itu.
Mengembangkan diri (self development) merupakan sebuah wujud
syukur kita kepada Allah. Teknik/metode mengembangkan diri ada tiga, yakni
mengenal/merenungi diri sendiri ( self assesment), umpan balik (feedback)
dari orang lain dan test psikologi.
Mengenali diri sendiri dengan melihat atau mengamati apa-apa yang
berada di dalam diri atau kita miliki secara terus menerus akan membuat kita
terperangah bahwa kekuatan yang ada di dalam diri kita luar biasa tak terbatas
(unlimited power). Maha Besar Engkau Ya Allah. Kemudian terus lah melatih
mengembangkan diri sendiri dengan membaca/mengamati alam semesta dan
manusia, beegaul dengan orang-orang yang membawa energi positif dan selalu
bersyukur kepada Allah atas bungkusan terindah berupa potensi yang sangat
luar biasa ini.
94
Sesungguhnya manusia lemah, terbatas dan membutuhkan yang lain.
Oleh karena itu, untuk mengenali potensi yang dimiliki, Ia membutuhkan
feedback
95
(umpan balik) orang lain. Menerima feedback orang lain sangat diperlukan
dalam mengembangkan diri dan salah satu ciri seseorang memiliki pola pikir
bertumbuh (growth mindset).
Mengembangkan diri dengan kedua teknik di atas yang dilakukan terus
menerus sebagai upaya membangun potensi diri yang aangat besar dan belum
teraktualisasi (giant sleeping) merupakan wujud syukur kita kepada Allah.
Refleksi Diri
[05:57, 1/14/2017]
Sambil sarapan yuk kita refleksi diri…
Di Harvard ada program Odyssey yakni suatu program bagi para
eksekutif perusahaan untuk melakukan refleksi diri pada usia pertengahan atau
50 tahun. Mereka diminta untuk merenungkan atau bertanya kepada batinya
atau hati nuraninya tentang siapa saya? Akan ke arah mana? Dan apa yang
diinginkan? Mereka diminta melihat pekerjaan selama ini dari luar. Hasilnya,
sebagian mereka menyadari ada penyesalan dalam diri, ternyata mereka
diperbudak keberhasilan, memenuhi harapan orang lain, melakukan pekerjaan
yang tidak disukainya dan penuh kehampaan walaupun mereka dianggap
sukses.
Oleh karena itu, melakukan refleksi diri yakni bertanya kepada hati
nurani atau perasaan kita untuk menjawab siapa saya? Ke arah mana? Dan apa
yang diinginkan? Sangat penting dalam kehidupan agar kita tak menyesal di
kemudian hari.
Perasaan atau hati nurani selalu bersama kita. Namun kita sangat jarang
bersama perasaan. Kita sangat jarang berkomunikasi dengan perasaan/hati
nurani kita karena kita disibukkan oleh pekerjaan kita. Kita pergi pagi pulang
menjelang senja karena sebuah status tanpa memberi makna apakah pekerjaan
kita selaras dengan nilai-nilai mulia. Kita melakukan aktivitas rutin hanya untuk
memenuhi harapan orang lain dan melakukannya berulang-ulang setiap
harinya tanpa inisiatif, pengembangan diri dan memberi perhatian yang
disengaja pada apa-apa yang dilakukan. Kita melakukan aktivitas bukan sesuai
yang kita cintai atau berusaha mencintainya sehingga berjalan bagai air yang
mengalir.
96