The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini Memuat Kumpulan Mteri dan Teori - Teori Belajar Dan Pembelajaran

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by septiyuliastuti85, 2021-11-30 11:50:08

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Buku ini Memuat Kumpulan Mteri dan Teori - Teori Belajar Dan Pembelajaran

Keywords: E - Book Belajar Dan Pembelajaran

BAB 5

TEORI BELAJAR

SOSIAL

A. Definisi Belajar Sosial

1. Belajar
Hamalik berpendapat bahwa belajar merupakan suatu proses

perubahan tingkah laku berkat pelatihan dan pengalaman. Belajar
merupakan suatu proses dan bukan semata-mata hasil yang
hendak dicapai.

Menurut kamus umum bahasa Indonesia ditulis bahwa ―
belajar:―berusahamemperolehkepandaianatauilmu‖Dariarti atau
defenisi maka belajar merupakan suatu kegiatan atau aktivitas.

MenurutWikipediabahwabelajaradalah suatuaktivitas yang di
dalamnya terdapat sebuah proses dari tidak tahu menjadi tahu, tidak
mengerti menjadi mengerti, tidak bisa menjadi bisa untuk mencapai
hasil yangoptimal.

Berdasarkandefinisidiatasmakabelajaradalahsuatuproses
tingkah laku yang dari awalnya tidak tahu menjadi tahu.

2. Sosial
Menurut Lewis, Sosial adalah sesuatu yang dicapai, dihasilkan dan

ditetapkandalaminteraksi sehari-hariantarawarga negara dan
pemerintahannya.

Menurut Peter Herman, Sosial adalah sesuatu yang dipahami
sebagai suatu perbedaan namun tetap merupakan sebagai satu
kesatuan. Jadisosialartisempitnyaberarti kemasyarakatan,
dimana sosial adalah keadaan dimana terdapat kehadiran orang lain.
Kehadiran itu bisa nyata anda lihat dan anda rasakan,namun jugabisa
hanyadalambentukimajinasi.Setiapandabertemu orang
meskipun hanya melihat atau mendengarnya saja, itu
termasuk situasi sosial. Begitu juga ketika anda sedang menelpon, atau
chatting (ngobrol) melalui internet.

3 Belajar Sosial
Berdasarkan kedua kesimpulandiatas, makabelajar sosial

48

adalah suatu proses tingkah laku dimana kita mengamati,
bahkan meniru suatu pola perilaku orang lain (masyarakat) yang
awalnya tidak tahu menjadi tahu.

Menurut Alex Sobur (2003) sendiri Belajar sosial adalah
belajar yang bertujuan memperoleh ketrampilan dan
pemahaman terhadap masalah masalah sosial, penyesuaian
terhadap nilai-nilai sosial dan sebagainya. Termasuk belajar jenis ini
misalnya belajar memahami masalah keluarga, masalah
penyelesaian konflik antar etnis atau antar kelompok, dan
masalah masalah lain yang bersifat sosial.

B.Definisi Teori Belajar

Sosial

Teoribelajarsosialadalah sebuah teoridimanadidalamnya
menjelaskan bahwa manusia belajar untuk memperoleh ilmu
pengetahuan melalui pengamatannya terhadap perilaku orang lain
atau orang disekitarnya, yangjadi tidak tahu menjadi tahu. Teori
belajar sosial ini dikenalkan oleh Albert Bandura, yang mana
konsep dari teori ini menekankan pada komponen kognitif dari
pikiran, pemahaman dan evaluasi. Menurut Bandura, orang
belajarmelaluipengalamanlangsungatau pengamatan
(mencontoh model). Orang belajar dari apa yang ia baca,dengar,
danlihatdimedia,danjugadarioranglaindan lingkungannya.Ia
seorangpsikologiyangterkenaldenganteori belajarsocialatau
kognitifsocialsertaefikasidiri.Eksperimen yang sangat terkenal
adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak – anak
meniru seperti perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya.

Teori kognitif sosial (social cognitive theory) yang
dikemukakan oleh Albert Bandura menyatakan bahwa faktor sosial
dankognitifsertafaktorpelakumemainkanperanpenting dalam
pembelajaran.

Faktor kognitif berupa ekspektasi/ penerimaan siswa untuk meraih
keberhasilan,factorsosialmencakuppengamatansiswa terhadap
perilaku orang tuanya. Albert Bandura merupakan salah satuperacang
teorikognitifsocial.MenurutBanduraketikasiswa belajar mereka
dapat merepresentasikan atau mentrasformasi pengalaman mereka
secara kognitif. Bandura mengembangkan model deterministic
resipkoral yangterdiridaritigafaktorutama yaitu peilaku,
person/kognitif dan lingkungan. Faktor ini bisa saling berinteraksi

49

dalam proses pembelajaran. Faktor

lingkungan mempengaruhi perilaku, perilaku mempengaruhi
lingkungan, faktor person/kognitif mempengaruhi perilaku. Faktor person
Bandura tak punya kecenderungan kognitif terutama pembawaan
personalitas dan temperamen. Faktor kognitif mencakup
ekspektasi, keyakinan, strategi pemikiran dan kecerdasan.

Albert Bandura mengemukakan bahwa seorang individu
belajarbanyaktentangperilakumelaluipeniruan/modeling, bahkan
tanpa adanya penguat (reinforcement) sekalipun yang diterimanya.
Proses belajarsemacamini disebut"observational learning"atau
pembelajaranmelaluipengamatan.AlbertBandura (1971),
mengemukakan bahwa teori pembelajaran sosial membahas
tentang :
1. Bagaimana perilaku kita dipengaruhi oleh lingkungan melalui
penguat (reinforcement) dan observational learning.

2. Cara pandang dan cara pikir yang kita miliki terhadap informasi.

3. Begitu pula sebaliknya, bagaimana perilaku kita mempengaruhi
lingkungan kita dan menciptakan penguat (reinforcement) dan
observational opportunity. Teori belajar sosial menekankan
observational learning sebagai proses pembelajaran, yang mana
bentukpembelajarannyaadalahseseorangmempelajariperilaku
dengan mengamati secara sistematis imbalan dan hukuman yang
diberikan kepada oranglain.

Dalam observational learning terdapat empat tahap belajardari
proses pengamatan atau modeling Proses yang terjadi dalam
observational learning tersebut antara lain :

1. Atensi, dalam tahapan ini seseorang harus memberikan
perhatian terhadap model dengan cermat

2. Retensi, tahapan ini adalah tahapan mengingat kembali
perilaku yang ditampilkan oleh model yang diamati maka
seseorang perlu memiliki ingatan yang bagus terhadap
perilaku model.

3. Reproduksi, dalam tahapan ini seseorang yang telah
memberikan perhatian untuk mengamati dengan cermat dan
mengingat kembali perilaku yang telah ditampilkan oleh
modelnya maka berikutnya adalah mencoba menirukan atau
mempraktekkan perilaku yangdilakukan olehmodel.

4. Motivasional,tahapanberikutnyaadalahseseorangharus
memiliki motivasi untuk belajar dari model.

50

c. Prinsip Dasar Teori

Belajar Sosial

Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang
dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral
terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh
perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang
pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan
punishment, seorang individu akan berpikir dan memutuskan
perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.

Dalampandanganbelajarsosialmanusiaitu tidakdidorong
oleh kekuatan-kekuatan daridalam dan juga tidak dipengaruhi oleh
stimulus-stimulus lingkungan. Teori belajar sosial menekankan
bahwa lingkungan-lingkungan yang dihadapkan pada seseorang
secara kebetulan; lingkungan-lingkungan itu

kerapkalidipilihdandiubaholehorangitumelaluiperilakunya sendiri.
Menurut Bandura, sebagaimana dikutip oleh (Kard, 1997:14)
bahwa ―sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara
selektif dan mengingat tingkah laku orang lain‖.

Inti dari pembelajaran sosial adalah pemodelan (modelling), dan
pemodelan ini merupakan salah satu langkah paling penting dalam
pembelajaran terpadu. Ada dua jenis pembelajaran melalui
pengamatan, yaitu:

a. Pembelajaranmelaluipengamatandapatterjadimelaluikondisi yang
dialami oranglain.
Contohnya: disebuah tempat latihan beladiri seorang anak murid
melihat temannya dipuji dan ditegur oleh pelatih karena
perbuatannya, maka ia kemudian meniru melakukan perbuatan lain
yang tujuannya sama ingin dipuji oleh pelatihnya. Kejadian ini
merupakan contoh dari penguatan melalui pujian yang dialami
orang lain.

b. Pembelajaran melalui pengamatan meniru perilaku model
meskipunmodelitutidakmendapatkanpenguatanpositifatau
penguatan negatif saat mengamati itu sedang memperhatikan model
itu, mendemonstrasikan sesuatu yang ingin dipelajari oleh pengamat
tersebutdanmengharapkanmendapatpujianatau penguatanapabila
menguasaisecaratuntasapayangdipelajariitu. Model tidak harus
diperagakan oleh seseorang secara langsung, tetapikitadapatjuga

51

menggunakanseseorangpemeranatau visualisasi tiruan sebagai
model (Nur, 1998.a: 4).

D. Eksperimen Albert

Bandura

Eksperimen yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo
Dollyang menunjukkananak–anakmenirusepertiperilaku
agresif dari orang dewasa disekitarnya.

Albert Bandura seorang tokoh teori belajar social ini
menyatakanbahwa prosespembelajarandapatdilaksanakan
dengan lebih berkesan dengan menggunakan pendekatan
―permodelan ―.

Beliau menjelaskan lagi bahwa aspek perhatian pelajar terhadap apa
yang disampaikan atau dilakukan oleh guru dan aspek peniruan
oleh pelajar akan dapat memberikan kesan yang optimum kepada
pemahaman pelajar.

Eksperimen Pemodelan Bandura :
KUMPULAN A = Disuruh memerhati sekumpulan orang dewasa
memukul,menumbuk,menendangdanmenjeritkearah
patung besar Bobo.
Hasil = Meniru apa yang dilakukan orang dewasa malahan lebih
agresif.
KUMPULAN B = Disuruh memerhati sekumpulan orang dewasa
bermesra dengan patung besar Bobo.
Hasil=Tidakmenunjukkansebarangtingkahlakuagresif
seperti kumpulan A.

Rumusan:
Tingkah laku kanak-kanak dipelajari melalui peniruan/ permodelan.
Hasil keseluruhan eksperimen:
KumpulanAmenunjukkantingkahlakulebihagresifdari orang
dewasa. B dan C tidak menunjukkan tingkah laku agresif.

RUMUSAN:
Tingkahlakupeniruan/permodelan adalah hasildaripeneguhan.
Subjekterdiri daripada kanak-kanakpra sekolah. Subjekdalam
kumpulan eksperimental didedahkan kepada model manusia
sebenar,kartunataumodeldalamfilemyangterlibatdengan
tingkahlaku agresif terhadap patung (doll) plastik yang besar.
Subjek-subjekitu mungkin memukul dengan kayu,menendang atau

52

menumbukpatungplasktikitu.manakaladalamkumpulankawalan,
subjek melihat model-model yang sama tidak melakukan apa-apa pun
terhadap patung plastik. Hasil kajian menunjukkan bahawa kanak-
kanak dalam kumpulan eksperimen mempamerkan tingakahlaku
agresif apabila dibiarkan bersama patung plastik berkenaan.

E. Jenis-jenis Permodelan

Jenis – jenis permodelan:

1. Peniruan Langsung
Pembelajaran langsung dikembangkan berdasarkan teori
pembelajaran socialAlbertBandura.Cirikhaspembelajaranini
adalah adanya modeling , yaitu suatu fase dimana seseorang
memodelkanataumencontohkansesuatu melaluidemonstrasi
bagaimana suatu keterampilan itu dilakukan.
Meniru tingkahlaku yang ditunjukkan oleh model melaluiproses
perhatian. Contoh : Meniru gaya penyanyi yang disukai.
2. Peniruan Tak Langsung
PeniruanTakLangsungadalahmelaluiimaginasiatauperhatian secara
tidaklangsung.Contoh:Meniruwatakyangdibacadalam buku,
memperhatikanseoranggurumengajarkanrekannya.

3. Peniruan Gabungan
Peniruan jenis ini adalah dengan cara menggabungkan tingkah laku
yangberlainanyaitupeniruanlangsungdantidaklangsung. Contoh :
Pelajar meniru gaya gurunya melukis dan cara mewarnai
daripada buku yang dibacanya.

4. Peniruan Sesaat /seketika.
Tingkah laku yang ditiru hanya sesuai untuk situasi tertentu saja.
Contoh : Meniru Gaya Pakaian di TV, tetapi tidak boleh dipakai di
sekolah.

5. Peniruan Berkelanjutan
Tingkah laku yang ditiru boleh ditonjolkan dalam situasi apapun.
Contoh : Pelajar meniru gaya bahasa gurunya.

Hallain yang harus diperhatikan bahwa faktor model atau
teladan mempunyai prinsip –prinsip sebagai berikut:
1. Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara
mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara
simbolik kemudian melakukannya. Proses mengingat akan lebihbaik
dengan cara perilaku yang ditiru dituangkan dalam kata
–kata,tandaataugambardaripadahanyamelihatsaja.Sebagai

53

contoh : Belajar gerakan tari dari pelatih memerlukan
pengamatan dari berbagai sudut yang dibantu cermin dan
seterusnya ditiru oleh para pelajar pada masa yang sama, kemudian
proses meniru akan efisien jika gerakan tari tadi juga didukung dengan
penayangan video, gambar, atau kaedah yang ditulis dalam buku
panduan.

2. Individulebihmenyukaiperilakuyangditirujikasesuaidengan nilai

yang dimilikinya

3. Individuakan menyukai perilakuyang ditirujika model tersebut

disukai dan dihargai serta perilakunya mempunyai nilai yang

bermanfaat. Teori belajar social dari Bandura ini merupakan

gabungan antara teori belajar behavioristik dengan penguatan dan

psikologikognitif,denganprinsip modifikasitingkahlaku. Proses

belajarmasihberpusatpadapenguatan,hanya terjadi secara

langsung dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Sebagai

contoh : Penerapan teori belajar social dalam iklan sabun ditelevisi.Iklan
selalu menampilkanbintang–bintangyangpopular dan disukai

masyarakat, hal ini untuk mendorong konsumen agar membeli sabun
supaya mempunyai kulit seperti para ―bintang ―. Motivasi banyak

ditentukanolehkesesuaianantarakarakteristik pribadi pengamat
dengan karakteristik modelnya.Ciri– cirri model seperti usia, status

social, seks, keramahan, dan kemampuan, pentingdalam
menentukantingkat imitasi.Anak–anaklebih senang meniru model
seusianya daripada model dewasa. Anak – anak juga cenderung
meniru model yang sama prestasinya dalam jangkauannya.Anak–

anakyangsangatdependencenderung imitasi model yang

dependennya lebih ringan. Imitasi juga dipengaruhi oleh interaksi

antara ciri model dengan observernya.

F. Karakteristik Model

yang Efektif

Menurut Jeanne Ellis ormrod (2008) ada 4 karakteristik dari
beberapa model yaitu:

1. Kompetensi
Pembelajar biasanya meniru orang-orang yang melakukan
sesuatu dengan baik, bukan sebaliknya. Mereka akan mencoba
meniru keterampilan bermain bola dari seorang pemain bola
professional yang sudah punya skill. Pembelajar mendapatkan

54

manfaat tidak hanya dari mengamati apa yang dilakukan oleh
model kompeten, melainkan juga dari melihat hasil dari hasil akhir
yang telah diciptakan oleh model yang kompeten tersebut.
2. Prestise dan kekuasaan
Anak-anak remaja sering meniru orang yang terkenal atau
orang yangberkuasa.Beberapa modelyang efektif,pemimpin
dunia,atletterkenal,bintangrockpopularadalahorang-orang yang
terkenalditingkatnasionalmaupuninternasional.Jadi, selain
sendiri mencontohkan perilaku yang diharapkan sebaiknya
memajan (expose) siswa dengan berbagai model yangmungkin
merekaanggapkompetendanberprestise.
3. Perilaku “Sesuai-Jender”:
Pembelajarpalingmungkin mengadopsiperilakuyangmereka
anggap sesuai dengan jender mereka. Individu yang berbeda, tentu
saja,biasmendefinisikanyangsesuaijenderdenganagak berbeda.
Sebagai contoh, beberapa anak perempuan mungkin menjauhkan
diri dari berkarir di bidang matematika, yang mereka rasa
terlalumaskulin.
4. Perilaku yang relevan dengan situasi
pembelajar sendiri Pembelajar paling mungkin mengadopsi
perilaku yang merekayakiniakan membantu merekadalamsituasi
mereka. Sebagaicontoh,seseoragsiswasekolahmenengah
lebih

mungkinmenirucaraberpakaianteman-temansekelasnya
yangpopularjikadiaberpikirdiadapatmenjadi popular
dengan mengenakan pakaian semacam itu.

Banyak penelitian telah dilakukan mengenai dampak
model pada tiga area: keterampilan akademis (academic
skilss), agresi (aggression), dan perilaku intrapersonal
(interpersonal behaviors).

1. Keterampilan Akademis (academic skills)
Siswa mempelajari banyak keterampilan akademis,
setidaknya sebagian, dengan mengamati apa yang dilakukan
orang lain. Misalnya, mereka mungkin belajar bagaimana
memecahkan soal pembagian yang panjang atau menulis
karangan yang kohesif sebagian dengan mengamati
bagaimana guru dan teman mereka melakukan hal tersebut.
Pemodelan keterampilan akademik secara khusus dapat
efektif ketika model memperagakan tidak hanya bagaimana

55

melakukan suatu tugas, tapi juga bagaimana memikirkan
tugas tersebut.

2. Agresi (aggression)
Banyak kajianpenelitiantelahmenunjukkanbahwaanak-
anak menjadi lebih agresif ketika mereka mengamati model
yang agresif atau berperilaku kasar. Anak-anak mempelajari
agresi tidak hanya dari model hidup (live models), tapi juga dari
modelsimbolik (symbolic models) yang merekalihatdi film,
televise, atau video game.

3. Perilaku Interpersonal
Dengan mengamati dan meniru orang lain, pembelajar
mendapatkan banyak keterampilan interpersonal. Sebagai
contoh, dalam kelompok kecil dengan teman-teman kelas,
anak-anak bias mengadopsi strategi satu sama lain untuk
melakukan diskusi mengenai kesusasteraan, mungkin belajar
bagaimana meminta pendapat satu sama lain (―Bagaimana

menurutmu, Jalisha?‖), mengepresikan persetujuan atau
ketidaksetujuan (―aku setuju dengan kordel karena …… ―), dan
membenarkan suatu sudut pandang (―aku pikir hal itu
sebaiknya tidak diperbolehkan, karena ……‖).

Kelebihan dan Kelemahan Teori Belajar Sosial
Bandura

1.Kelebihan Teori Belajar Sosial Bandura

TeoriAlbertBanduralebihlengkapdibandingkan teoribelajar
sebelumnya , karena itu menekankan bahwa lingkungan dan
perilakuseseorangdihubungkanmelaluisystemkognitiforang
tersebut. Bandura memandang tingkah laku manusia bukan
semata – mata refleks atas stimulus (S-R bond), melainkan juga
akibatreaksi yang timbulakibatinteraksi antara lingkungan
dengan kognitif manusia itu sendiri.

Pendekatan teori belajar social lebih ditekankan pada perlunya
conditioning (pembiasan merespon) dan imitation
(peniruan). Selain itu pendekatan belajar social menekankan
pentingnya penelitianempiris dalam mempelajari
perkembangan anak – anak.Penelitianiniberfokuspadaproses
yangmenjelaskan perkembangananak–anak,faktorsosial
dan kognitif.

2 .Kelemahan Teori Belajar Sosial Bandura

Teori pembelajaran Sosial Bandura sangat sesuai jika
diklasifikasikan dalam teori behavioristik. Ini karena, teknik

56

pemodelan Albert Bandura adalah mengenai peniruan tingkah
laku dan ada kalanya cara peniruan tersebut memerlukan
pengulangan dalam mendalami sesuatu yang ditiru.
Selain itu juga, jika manusia belajar atau membentuk tingkah
lakunya dengan hanya melalui peniruan ( modeling ), sudah pasti
terdapatsebagian individu yang menggunakan teknik peniruan ini
juga akan meniru tingkah laku yang negatif , termasuk
perlakuan yangtidak diterima dalam masyarakat.

G. Implikasi Teori Belajar

Sosial dalam Pendidikan.

Terdapat banyak implikasi teori belajar sosial yang
dikemukakan oleh Bandura untuk pembelajaran di kelas,
antara lain sebagaiberikut.
1. Pesertadidikseringbelajarhanyadenganmengamati
tingkah laku orang lain, yaitu guru.
2. Menggambarkan konsekuensi perilaku yang secara efektif
dapat meningkatkan perilaku yang sesuai dengan yang
diharapkandanmenurunkanperilakuyangtidakpantas.
3. Peniruan (modeling) menyediakan alternatif untuk
membentuk perilaku baru untuk belajar. Di dalam
mempromosikan model yang efektif, seorang guru harus
memastikan bahwa empat kondisi esensial harus ada, yaitu
perhatian, retensi, motor reproduksi, dan motivasi.
4. Gurudanorangtuaharusmenjadimodeperilakuyang
sesuai dan berhati hati agar peserta didik tidak meniru
perilaku yang tidak pantas. 5. Peserta didik harus percaya
bahwa mereka mampu menyelesaikan tugas tugas sekolah,
sehingga guru dapat meningkatkan rasa percaya diri peserta
didik dengan memperlihatkan pengalaman orang lain yang
sudahsukses atau menceritakan pengalamankesuksesan guru
itu sendiri.
6. Guru harus membantu peserta didik dalam menetapkan
harapanyangrealistisuntukprestasiakademiknya.Gurujuga
harusmemastikanbahwatargetprestasipesertadidik tidak lebih
rendah dari potensi peserta didik yang bersangkutan.
7. Teknikpengaturandirimenyediakanmetodeyangefektif
untuk meningkatkan perilaku siswa.

57

BAB 6

TEORI BELAJAR

KONSTRUKTIVIE

A. Pengertia teori

Konstruktivisme

Teori konstruktivisme merupakan teori yang sudah
tidak asing lagi bagi dunia pendidikan, sebelum mengetahui
lebih jauh tentang teori konstruktivisme alangkah lebih
baiknya di ketahui dulu konetruktivisme itu sendiri.
Konstruktivisme berarti bersifat membangun. Dalam konteks filsafat
pendidikan, konstruktivisme adalah suatu upaya membanguntata
susunanhidupyangberbudayamodern.

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, bahwa
konstruktivisme merupakan sebuah teori yang sifatnya
membangun, membangun dari segi kemampuan,
pemahaman, dalam proses pembelajaran. Sebab dengan
memiliki sifat membangun maka dapat diharapkan keaktifan dari
pada siswa akan meningkat kecerdasannya.

• MENURUT PARA AHLI
1. Menurut Hill
Konstruktivisme merupakan bagaimana menghasilkan sesuatu
dariapayang dipelajarinya, dengan katalain bahwa bagaimana
memadukan sebuah pembelajaran dengan melakukan atau
mempraktikkan dalam kehidupannya supaya berguna untuk
kemaslahatan.

2. Menurut Shymansky
Konstuktivismeadalahaktivitasyangaktif,dimanapeserta didik
membina sendiripengetahuannya, mencari arti dari apa yang
merekapelajari,danmerupakanprosesmenyelesaikan konsep

58

dan ide-ide baru dengan kerangka berfikir yang telah ada
dimilikinya.

3. Menurut Piaget
Teori Piaget berlandaskan gagasan bahwa perkembangan
anak bermakna membangun struktur kognitifnya atau peta
mentalnya yang diistilahkan ―Skema‖ atau konsep jejaring untuk
memahami dan menanggapi pengalaman fisik dalam
lingkungan di sekelilingnya. Konsep skema sendiri
sebenarnya sudah banyak dikembangkan oleh para ahli
linguistic, psikologi kognitif dan psikolinguistik yang digunakan
untuk menjelaskan dan memahami adanya interaksi antara
sejumlah faktor kunci yang berpengaruh terhadap terhadap
proses pemahaman.

Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun
dalampikiranseoranganakdengankegiatanasimilasidan akomodasi
sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Proses tersebut meliputi:

a. Skema/skemataadalahstrukturkognitifyangdengannya
seseorangberadaptasi dan terusmengalamiperkembangan
mentaldalaminteraksinya denganlingkungan. Skemajuga
berfungsi sebagai kategori kategori utnuk
mengidentifikasikan rangsangan yang datang, dan terus
berkembang.

b. Asimilasi adalahproseskognitifperubahan skema yang
tetapmempertahankan konsepawalnya,hanyamenambah
atau merinci.

c. Akomodasiadalahprosespembentukanskemaatau
karena konsep awal sudah tidak cocok lagi.

d. Equilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan
akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan
pengalaman luar dengan struktur dalamya (skemata).
Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari
disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan
akomodasi.

Lebihjauh Piagetmengemukakan bahwa pengetahuan
tidakdiperolehsecarapasifolehseseorang,melainkan
melalui tindakan. Belajar merupakan proses untuk
membangun penghayatan terhadap suatu materi yang
disampaikan. Bahkan, perkembangan kognitif anak
bergantungpada seberapajauh merekaaktif memanipulasi
dan berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan,

59

perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses
berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan
dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi, 1999: 61).

DaripandanganPiagettentangtahapperkembangan
kognitif anak dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara
maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu
berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak.
Pada teori ini konsekuensinya adalah siswa harus memiliki
ketrampilan unutk menyesuaikan diri atau adaptasi secara
tepat.

4. Menurut Vygotsky
Sebagaiseseorangyangdianggappionirdalamfilosofi
kontruktivisme. Vygotsky lebih suka menyatakan teori
pembelajarannya sebagai pembelajaran kognisi social
(Social cognition). Pembelajaran kognisi social meyakini
bahwa kebudayaan merupakan penentuan utama bagi
pengembangan individu.

Manusia merupakansatu-satunyaspesiesdiatasdunia ini
yangmemilikikebudayaanhasilrekayasasendiridansetiap
anakmanusia berkembang dalam konteks kebudayaannya
sendiri. Oleh karenbanya
perkembangan pembelajaran anak dipengaruhi banyak
maupun sedikit oleh kebudayaanya, termasuk budaya dari
lingkungan keluarganya, dimana diaberkembang.

B. Tujuan Teori

Belajar

Konstruktivisme

Tujuan Teori Belajar Konstruktivisme:

1. Membantupesertadidik(siswa)dalammenguasaiisidari
materi sebuah pelajaran.
2. Mendorongpesertadidik(siswa)agarberdayapikirkritis.

3. Mengasah daya pikir peserta didik (siswa) agar senantiasa
bertanya dan mencari penyelesaian atas pertanyaannya.
4. Meningkatkan semangat siswa dalam belajar.

60

5. Membantusiswaberpikirbahwabelajaradalahtanggung
jawabnya sendiri.

C. Langkah-Langkah

Teori Belajar

Konstruktivisme

1. Tahap pertama
Gurumemancingsiswa/itentangsuatupokokbahasanatau
konsep,denganmemberikansejumlahpertanyaanyangsifatnya
‗clickbait‘ dalam kehidupan sehari- hari

2. Tahap kedua
Gurumemintasiswa/iuntukmenyelidikiatau memberi solusi.
Siswa/i dapat mencari sendirimelaluiberbagaisumber
referensi seperti dengan membaca buku atau
mengorganisasi ilmu-ilmu yang releven, peran guru hanya
sebagai fasilitator.

3. Tahap ketiga
Meminta siswa/i untuk memaparkan hasil dari penyelidikan
dan eksplorasi sebelumnya, berdasarkan pengetahuan yang
telah diperoleh. Bapak/ibu juga bisa memberikan
penguatan berdasarkan keilmuan yang dimiliki.

4. Tahap keempat
Menciptakan suasana belajar yang nyaman, menyenangkan,
dan hangat. Dengan demikian,bisamendorongsiswa/I
untuk menerapkan pemahaman konseptual yang telah
diperolehnyadikehidupansehari-hari.

D. KeunggulanTeori

Konstruktivisme

Menurutteorikonstruktivismepengetahuantidakdapat di
berikan begitu saja dari pemikiran guru kepada pemikiran siswa
yang artinya, siswa harus aktif secara mental untuk

61

membangun stuktur pengetahuannya berdasarkan
pematangan kognitif(berpikir) yang dimilikinya.

Kelebihan kontruktivisme adalah siswa dapat berpikir
untuk menyelesaikan masalah, mengembangkan gagasan
dan membuat keputusan. Siswa dapat lebih paham karena
terlibatsecaralangsungdalammembina pengetahuan baru, dan
mereka dapat mengaplikasikannya dalam semua situasi. Selain
itusiswaterlibatsecaralangsungdanaktif,sehingga mereka
akan ingat lebih lama terhadap semua konsep yang
dipelajarinya. Di samping itu, kemahiran sosial diperoleh
ketika berinteraksi dengan rekan dan guru dalam membina
pengetahuan baru.

Adapun penjabaran dari keunggulan yang dimiliki dalam

proses pembelajaran teori konstruktivisme sebagai berikut :

1. Berfikir
-Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan
gagasan secara eksplisit dengan memakai bahasanya sendiri,
berbagi gagasan dengan teman, dan mendorong siswa agar
mampu menjelaskan gagasannya.

2. Daya ingat
-Memberikan siswa peluang agar terlibat langsung dalam
membina sendiri kefahaman mereka pada suatu gagasan
baru sehingga mereka akan ingatlebih lama semua konsep
dan lebih yakin terhadap diri sendiri untuk memecahkan
suatu masalahfaham
-Mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan
merka setelah menyadari kemajuan mereka serta memberi
kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan
gagasan mereka. Kefahaman murid tentang sesuatu konsep
dan idea lebih jelas apabila mereka terlibat secara langsung
dalam pembinaan pengetahuanbaru.

3. Kemahiran Sosial
-Murid yang memiliki kemahiran sosial diperbolehkan
untuk bekerjasama dengan orang lain dalam menghadapi
sebarang cabaran danmasalah. Kemahiran sosial
inidiperolehapabilamuridberinteraksidenganrakan-rakan dan
guru dalam membina pengetahuan mereka.

4. Seronok(senang)
-Dalam proses pembelajaran ini, murid akan terlibat terus
menerus dan semakin paham, ingat dan yakin dalam

62

memutuskan pengetahuan baru. Merekan akan saling
menyimak suatu gagasan, menghindari kesan selalu ada
satu jawaban yang benar dan berinteraksi dengan guru dan
teman-teman mereka yang membuat seronok.

E. Kekurangan

Teori

Konstruktivisme

Selain memiliki banyak kelebihan ternyata teori belajar
kontruktivitistik memiliki beberapa kekurangan, diantaranya sebagai
berikut.
1. Munculnya pendapat yang bertentangan atau berbeda dari
para ahli. Siswa menganalis dan memahami ilmu pengetahuan
dengan ide mereka masing-masing, oleh karena itu pendapat
siswaberbedadenganpendapatparaahli.Olehkarenaitu,
pendapat siswa belum tentu benar adanya.

2. Membutuhkanwaktuyanglama,teoriinimenanamkan
supaya siswa membangun pengetahuannya sendiri, hal ini
pasti membutuhkan waktu yang lama. Apalagi setiap siswa
memiliki daya pemahaman yang berbeda-beda. Ada yang
membutuhkan waktu yang singkatada yang membutuhkan
waktu yang cukup lama. Sedangkan biasanya guru
memberikanbataswaktuuntuk membacamateripelajaran atau
menjawab suatupertanyaan.Ditambahlagiada siswa yang
malas dankekurangan motivasi untuk belajar.

3. Lingkungansangatmempengaruhi semangatbelajar
siswa. Apabila siswa berada di lingkungan yang tidak
mendukunguntukbelajarmakasiswaakanterpengaruh
denganmudahapabilasiswatidakmemilikimotivasibelajar yang
kuat. Ditambah pada masa pembelajaran jarak jauh ini banyak
siswayangmalasbelajarkarenakondisibelajaryang tidak
mendukung. Kondisi disetiap sekolah mempengaruhi keaktifan
siswa dalam membangun pengetahuan yang baru dan
keaktifan siswa. Sarana dan prasarana membantu
keaktifan dan kekreativitasan siswa, contonya perpustakaan yang
meiliki koleksi lengkap, ruangan komputer dan lain-lain. Namun,
setiap sekolah memiliki kondisi yang berbeda-beda.

63

4. Perangurusebagaipendidikmenjadilebihpasifdapat
kitalihatdalamprosesbelajarnyadapattimbulpersepsi yang
berbedaantarasiswasatudenganyanglainnya.Guru
cenderungterlihatsepertisebagaiorangyangkakudan harus
ditakuti,guru seharusnyaberperansebagai teman bagi peserta
didiknya sehingga peserta didik dapat beriteraksi dengan baik
dalam membina pengetahuan baru.

5. Terkadanggurutidak memperhatikanmuridnyasecara
keseluruhan, guru meminta siswa lebih aktif namun
kebanyakan hanya siswa-siswa tertentu yang dapat
mengutarakan pendapatnya.Adabeberapasiswayang perlu
dipancing atau didorong oleh guru dengan penjelasan dari

guruitusendiri,sehinggamemunculkanrasa
keingintahuan siswa. Pola pikir peserta didik tidak
berkembang karena mereka hanya berpikir dari
sudutpandangnya.

6. Disaatdilakukanujianpesertadidikseringbelajar
kebut semalam sehingga hasil yang akan didapatkan tidak
maksimal.Alasandibalikitupesertadidikyangtidakpaham
materi yang diajarkan namun sudah beralih ke materi
lainnya. Setiap guru atau pendidikitu mempunyai karakter
atau sifat yang berbeda-beda, peserta didik pun begitu
adanya. Adapesertadidik yanglangsung mengertiapabila
selesai membaca, namun ada peserta didik lain yang
sudah membaca dan mencari informasi sendiri masih
belum paham dan akan paham bila guru yang
menjelaskan.

F. Penerapan

Teori

Konstruktivisme

a) Mengembangkanpemikiranbahwa anak akan belajar
lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri sehingga
mereka mendapatkan pengalaman dan keterampilan yang
baru.
b) Mengembangkan sifat ingin tau pada saat bertanya.

c) Menciptakan kelompok belajar.

64

d) Menciptakan siswa aktif dalam kegiatan belajar,sehinggga
siswa berkesempatan untuk berfikir dan mencoba gagasan baru
dan menghasilkan siswa yang berfikir kritis dan kreatif.

G. Contoh Teori
Konstruktivisme

Berikut ini merupakan contoh teori belajar
konstruktivisme pada pelajaran Matematika.
Pak wawan merupakan seorang guru Matematika. Saat ini,
Pak wawan mngajar di kelas dan memasuki materi Nilai
Rata-Rata. Beliau menyuruh siswanya untuk bisa mulai
menerapkan teori belajar konstruktivisme di kelas. Dan
untuk menentukan suatu nilai rata-rata, peserta didik
diminta mengikuti langkah berikut.
1. Menyiapkan beberapa menara blok dengan beberapa
variasi ketinggian.
2. Bapak/Ibu bisa meminta peserta didik untuk memotong
beberapa menara blok yang lebih tinggi, sesuai kata hati.
3. Ambilujungmenarablok tertinggi,lalutempelkandi
menara blok terendah. Lakukan hal tersebut sampai
ketinggian menara bloknya sama.
4. Ulangikegiatantersebutdenganbeberapaperbedaan
variabel

65

BAB 7

PENDIDIKAN
TINGKAT SEKOLAH

DASAR

A. TUJUAN SEKOLAH

DASAR

Secara formal dan institusional,sekolah dasar masuk pada
kategori Pendidikan dasar. Pendidikan dasar menurut
Undang-Undang Sistem Prndidikan Nasional No. 20 Tahun
2003 Pasal 17 ayat 1 dan 2 merupakan jenjang Pendidikan
yang dilandasi jenjang menengah ; Pendidikan dasar
berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasash ibtidaiyah (MI)
atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah
pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs) atau bentuk
lain yang sederajat.

Jadi,Pendidikandasaryangdimaksudkan dalamUndang-
Undang No. 20 Tahun 2003 tersebut adalah Pendidikan yang
berbentuk sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah dan
sekolah menengah pertama atau madrasah tsanawiyah

.pendidikan dasar tersebut tidak hanya Pendidikan dasar
disekolahsaja,tetapijugapadasekolahmenengahpertama.
Dengan kata lain, yang dimaksud Pendidikan dassar dalam
Undang-Undang tersebut adalah Pendidikan wajib 9 tahun,
yakni sejak sekoklah dasar sampai sekolah menengah
pertama, atau sejak maddrasah ibtidaiyah sampak madrasah
tsanawiyah. Dengan demikian, sekolah dasar masuk pada

kategori Pendidikan dasar.

Adapun apabila dilihat dari tujuan pendidikan sekolah
dasar menurut Mirasa dkk. (2005) dimaksudkan sebagai

66

proses pengembangan kemampuan yang paling mendasar
setiapsiswa,dimanasetiapsiswabelajarsecaraaktif
karena adanya dorongan dalam diri dan adanya suasana
yang memberikan kemudahan (kondusif) bagi

perkembangan dirinya secaraoptimal.
Dengan demikian sekolah dasar atau Pendidikan dasar

tidak semata-mata membekali anak didik berupa
kemampuann membaca, menulis dan berhitung semata,
tetapi harus mengembangkan potensi pada siswa baik
potensi mental, sosial dan spiritual. Sekolah dasra memiliki visi
mengembangkan manusia yang beriman dan bertakwa
kepadaTuhanYangMahaEsa,berakhlakmulia,sehat,
beriman, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara
yang demokratis dan bertanggung jawab.

B. Karakteristik Siswa

Sekolah Dasar

Suatu hal yang juga tidak boleh di lupakan oleh guru
Pendidik di sekolah dasar ini adalah guru hendak memahami
karakteristik siswa yang akan diajarkannya. karena anak yang
beradadi sekolahdasarmasihtergolong anakusiadini
terutama di kelas awal,adalah anak yang berada di rentangan
anak usia dini.oleh karena itu,pada masa saat ini anak perlu
didorongkan sehingga akan berkembang secara optimal.

Adapun pertumbuhan dan perkembangan siswa merupakan
bagian dari pengetahuan yang harus dimiliki oleh
guru.pentingnya mempelajari perkembangan perserta didik

bagi guru ,sebagai berikut:

Kita akan memperoleh ekspetasi yang nyata tentang anak dan
remaja.
Pengetahuantentangpsikologiperkembangananakmembantu kita
untuk meresponssbagimanamestinyapadaperilaku

tertentu pada seorang anak
Pengetahuan tentang perkembangan anak akan membantu
mengenaliberbagaipenyimpangandariperkembangan yang
normal.
Dengan memperlajari perkembangan anak akan membantu
memahami diri sendiri.

67

Setiap manusia secara psikologis memahamin tahap
pertumbuhan dan perkembangan.bagaimana pertumbuhan dan
perkembangan pada anak usia sekolah anak.perkembangan pada
anak meliputi aspek pertumbuhan dan perkembangan fisik dan
mental.pertembang mental meliputi perkembangan
intektual,emosi,Bahasa,sosial,dan moral keagamaan.

Faseperkembangan anak,menurutsantrokdanyussenterdiri dari
lima fae,yaitu:
1. Faseprenatal,saatdalamkandungandarimasapembuahan
sampai dengan masakelahiran
2. Fase bayi,yaitu saat perkembangan yang berlangsung sejak
lahir sampai usia 18 atau 24 bulan.
3. Fase kanak-kanak awal,fase perkembangan yang berlangsung
sejak kira kira umur lima atau enam tahun
4. Fase kanak-kanak tengah dan akhir,fase perkembangan yang
berlangsung sejak kira-kira umur enam dan sampai sebelas

tahun.

5. Faseremaja,masaperkembanganyangmerupakantransisidari
masa kanak-kanak ke masa dewasa awal.

Menurut havighurst dalam juntika (2007:93),pada masa
kanak-kanak akhir dan anak sekolah,yaitu usia enam hingga dua
belas tahun,memiliki tugas-tugas perkembangan sebagai
berikut:
1. Belajar keterampilan fisik untuk pertandingan biasa
sehari-hari
2. Membentuksikapyangsehatterhadapdirinyasebagai
organisme yang sebagai tumbuh kembang.
3. Belajar bergaul dengan teman yang seusianya.

4. Mengembangkan konsep-konsep yang perlu bagi
kehidupan sehari-hari
5. Belajarperansosialyangsesuaidenganpriaatau
Wanita.
6. Mengembangkan kata hati,moralitas,dan atau skala nilai-
nilai.
7. Mengembangkan kebebasanpribadi

8. Mengembangkansikap-sikapterhadapkelompokdan
instrusi sosial.

Selanjutnya havighurst mengatakan bahwa tugas

68

perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau
sekitar suatuperiode tertentudari kehidupanindividu yang jika
berhasil akan menimbulkan rasa bangga dan membawa
kearah keberhasilan dalam melaksanakan

tugas-tugas berikut.

a. Perkembangan Intelektual.
Pada usia sekoalh dasar (usia 6-12 tahun) anak sudah
dapat merekaksikan rangsangan intelektual, atau
melaksanakantugas-tugasbelajaryangmenuntut
kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif, seperti
membaca, menulis, dan menghitung. Menurut Syamsu
Yusuf (2004: 178). Pada anak usia 6-12 tahun ini ditandai
dengan ketuga kemampuan atau kecakapan baru, yaitu
mengkelarifikasikan (mengkelompokan),

menyusun, dan mengasosiasikan (menghubungkan atau
menghitung) angka-angka atau bilangan. Disamping itu,
pada akhir masa ini anak sudah memiliki kemampuan
memecahkanmasalah(problem solving)yangsederhana.
Menurut Piaget, kadang-kadang anak usia 5-7 tahun
memasuki tahapoperasi konkret (concrete operations), yaitu
pada waktu itu anak dapatberfikir secara logis mengenai
segala sesuatunya.

b. Perkembangan Bahasa.
Bahasa merupakan simbol-simbol sebagai sarana untuk
komunikasi dengan orang lain. Menurut Syamsu Yusuf
(2007:138), Perkembangan bahasa mencangkup semua
cara untuk berkomunikasi, yaitu dimana pikiran dan
perasaan dinyatakan dalam bentuk tulisan, lisan, isyarat,
atau mengerakan dengan mengguanakan kata-kata,

kalimat bunyi, lambang, gambar atau tulisan.
Usia sekolah dasar ini merupakan masa berkembang

pesatnya kemampuan mengenall danmemguasai

perbendaharaan kata (vocabulary). Menurut Abin
Syamsyddin,padaawalmasaini(usia6-7tahun),anak
sudahmenguasai sekitae2.500kata,dan pada masa akhir
(usia 11-12 tahun), anak telah dapat menguasai sekitar

50.000 kata.

Sedangkan, Menuruut Syamsu Yusuf (2005:180),

69

terdapat dua faktor yang memperngaruhi perkembangan
bahasa, yaitu:
Proses jadi matang, yaitu anak menjadi matang (organ-
organ suara/bicara sudah berfungsi) untuk berkata-kata.

Proses belajar, yaitu anak yang telah matang untuk
berbicaralalu mempelajaribahasaoranglaindenganjalan
mengimitasi atau menipu ucapan/ perkata yang di

dengarnya.

Perkembangan bahasa itu, minimal dapat menguasai tiga
kategori, yaitu:
Dapat membuat kalimat yang lebih sempurna
Dapatmembuatkalimatmajemuk,dan

Dapat menyusun dan mengajukan pertanyaan.

c. Perkembangan Sosial.
Perkembangan sosial sebagai mana proses belajar untuk
menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi,
dan moral keagamaan. Menurut Charlotte Buhler,
pekembangan sosisal sebagai sequence dari perubahan
yang berkesinambungan dalam perilaku individu untuk
menjadi mahkluk sosial yang dewasa. Proses
perkembangan sosial berlangsung secara berirama. Pada
masa anak sekolah masuk pada masa objektif, dimana
perkembangan ini pada anak-anak sekolah dasar ditandai
dengan adannya perluasan hubungan, disamping dengan
keluarga juga dia mulai membentuk ikatan baru dengan

teman yang sebaya (peer group) atau teman sekelasnya.
Pada anak usia sekolah mulai memiliki kesanggupan
menyesuaikan diri sendiri (egosentris)kepada sikap bekerja
sama (kooperatif), dan sikap peduli atau mau
memperlihatkan kepentingan orang lain (sosiosentris).

d. Perkembangan Emosi
Emosi adalah perasaan yang terefleksasikan dalam

bentuk perbuatan atau Tindakan nyata kepadaorang lain
atau pada diri sendiri untuk menyatakan suasana batin atau
jiwanya. Emosi seseorang akan tercermin dalam segala
Tindakandanperilakunyayangterwujuddalamperkataan
dan perbuatan serta sikap yang ditunjukkannya.

Menurut Juntika Nurikhsan (2007:153),emosi adalah
suatu suasana yang kompleks (a complex feeling state)dan
getaran jiwa (a stride up state)yang menyertai atau muncul

70

sebelum atau sesudah terjadinya perilaku.
Dalamimplementasinya,emosipadaanaksekolahsudah

mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi tidak boleh
sembarangan,mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi
secara kasar misalnya,tidaklah diterima di masyarakat.
MenurutSyamsuYusuf(2007:153),padausiasekolahdasar ini
anak mulai belajar mengendalikan dan mengontrol
ekspresi emosinya. Syamsu juga mengatakan bahwa
karakteristik emosi yang stabil(sehat)ditandai dengan teman secara
baik.dapat berkonsentrasi dalam belajar,bersifat
respek(mengkhargai)terhadap diri sendiri dan orang lain.

e. Perkembangan Moral
Perkembanganmoralpadaanakusiasekolahdasar

adalahbahwaanakdapatmengikutiperaturanatautuntutan dari
orangtua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini(usia
11 atau 12 tahun),anak sudah dapat memahami alas anyang
mendasarisuatuperaturan.Disampingitu,anak sudahdapat
mengasosiasikan setiapbentukperilaku
dengan konsep benar salah atau baik buruk.

Sebagaimana dikemukakan oleh Piaget(1950),yang
menyatakan bahwa setiap tahapan perkembangan kognitif
tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda yang secara garis
besarnya dikelompokkan kepada empat tahap,yaitu:
1. Tahap sensori motor(usia0-2tahun),padatahap
ini belum memasuki usia sekolah.
2. Tahap pra-operasional(usia2-7tahun),padatahapini
kemampuan skema kognitifnya masih terbatas.peserta didik suka
meniru perilaku orang lain.

3. Tahap operasional konkret(usia 7-11
tahun),pada tahap ini peserta didik sudah mulai
memahami aspek-aspek kumulatif materi,misalnya
volume dan jumlah;mempunyai kemampuan memahami
cara mengombinasikan beberapa golongan benda yang
bervariasi tingkatannya.selain itu,peserta didik sudah
mampu berpikir sistemat

4. Tahap operasional formal (usia 11-15
tahun),pada tahap ini peserta didik sydah menginjak usia
remaja,perkembangankognitifpesertadidikpadatahap ini

71

telah memiliki kemampuan mengoordinasikan dua ragam
kemampuan kognitif baik secara
simultn(serentak)maupun berurutan. Misalnya, kapasitas
merumuskan hipotesis danmenggunakan prinsip-
prinsip abstrak.

Selanjutnya,Piaget menyatakan bahwa setiap anak
memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan
beradaptasidenganlingkungannya.Menurutnya,setiap anak
memiliki struktur kognitif yang disebut schemata,yaitu
sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagaihasil
pemahaman terhadap objek yang ada
dalam lingkungannya.

Dengan mengacu pada teori pemahaman
perkembangan kognitif Piaget tersebut,maka dapat
diketahui bahwa anak usia sekolah dasar berada pada
tahapan operasional konkret(usia 7-11 tahun). Dimana
padarentangusiainianakmulaimenunjukkan perilaku
belajaryangberkembang,yangditandaidenganciri-ciri
sebagai berikut:

a. Anak mulai memandang dunia secara objektif,bergeser
dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan
memandang unsur-unsur secara serentak

b. Anak mulai berpikir secara operasional,yakni mampu
memahami aspek-aspek kumulatif materi,seperti
volume,jumlah,berat,luas,Panjang,dan pendek. Anak juga
mampu memahami tentang peristiwa-peristiwa yang konkret.

c. Anak dapat menggunakan cara berpikir operasional
untuk mengklasifikasi benda-benda yang bervariasi beserta
tingkatannya.

d. Anak mampu membentuk dan menggunakan
keterhubunganaturan-aturan,prinsipilmiahsederhana,dan
menggunakan hubungan sebab akibat.
e. Anakmampu memahami konsep substansi,volume zat
cair,Panjang,pendek,lebar,luas,sempit,ringan,dan berat.

72

C.STANDR KOMPETENSI

LULUSAN SEKOLAH

DASAR

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 22 Tahun
2006 diberlakukan bahwa Standar Kompetensi Lulusan
Satuan Pendidikan ( SKL-SP) pada sekolah dasar atau
madrasah ibtidaiyah, sebagai barikut:
1. Menjalankanajaranagamayangdianutsesuaidengan
tahap perkembangan anak.

2.Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri.
3. Mematuhiaturan-aturan sosialyangberlakudalam
lingkungannya.
4. Menghargaikeragamanagama,budaya,suku,rasdan
golongan sosial ekonomi dilingkungan sekitarnya.
5. Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara
logis, kritis dannkreatif.
6. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif
dengan bimbingan guru atau pendidik.

7. Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan
menyadari potensinya.

8. Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah
sederhana didalam kehidupan sehari-hari.

9.Menunjukkankemampuan mengenaligejalaalamdansosial
dilingkungan sekitar.

10. Menunjukkankecintaandankepedulianterhadap
lingkungan.

11. Menunjukkan kecintaan dan kebangsaan terhadap
bangsa, negara dan Tanah Air Indonesia.

12. Menunjukkankemampuanuntukmelakukankegiatanseni
dan budaya lokal.

13. Menunjukkankebiasaanhidupbersih,sehat,bugar,aman
memanfaatkan waktu luang.

14. Berkomunikasi secara jelas dan santun.
15. Bekerja sama dalam kelompok, tolong-menolong, dan
menjaga diri sendiri dalam lingkungan keluarga dan teman
sebaya.
16. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis.

73

17.Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara,

membaca,menulis dan berhitung.

Sedangkan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL)
terbaru tahun 2012, bahwa standar kompetensi lulusan di
SD/MI menetapkan bahwa mutu lulusan merupakan bagian
penting dalam pemenuhan 8 (delapan) Standar Nasional

Pendidikan yaitu: Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi,
Standar Proses, Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan,
Standar Sarana dan Prasarana, Stanadar Pengelolaan, Standar
Pembiayaan Pendidikan, Standar Penilaian Pendidikan. Tinggi
rendah mutu lulusan ditentukan oleh tinggi rendahnya sumber
daya manajemen.

Manajemen dalam menentukan kurikulum, pendidik,
proses pembelajaran, penilaian, sarana dan prasarana yang
diperlukan oleh sekolah dapat menunjang keberhasilan mutu
lulusan yangtinggi.

Oleh karena itu, Kepala sekolah selayaknya mampu
menciptakan sekolah yang efektif untuk mengelola sumber
daya yang ada, sehingga sekolah dapat mewujudkan tujuan
mutu lulusan yang tidak lebih rendah dari standar nasional
pendidikan. Sekolah harus memiliki patokan pengarah yang
baku yaitu menggunakan SKL sebagai standar penentuan
targetseluruh kegiatanpemenuhan yang terstruktu dan
sistematis.

Adapun Standar Kompetensi Lulusan (SKL) SD/MI
tahun 2012 adalah meliputi lima aspek yang meliputi: a)
iman-takwa, b) belajar berinovasi, c) seni dan budaya, d)
keterampilam hidupdan karir, dan e) wawasan kebangsaan.
Kelima aspek SKL tersebut secara rinci dapat dijelaskan
sebagai berikut:

1. Iman – Takwa
Menjalankan ajaranagama yangdianutsesuaidengan tahap
perkembangan anak

Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri
Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan
golongan sosial ekonomi dilingkungan sekitarnya.

2. Belajar dan Berinovasi
Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara
logis, kritis, dan kreatif

74

Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif dengan
bimbingan Guru/Pendidik
Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari
potensinya

Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah

sederhana dalam kehidupan sehari-hari
Menunjukkankemampuan mengenaligejalaalamdansosial di
lingkungan sekitar

Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis
Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis,
dan berhitung.

3. Seni dan Budaya
Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni
dan budaya lokal

4. Keterampilan Hidup danKarir
Mematuhi aturan-aturan sosial yan berlaku dalam
lingkungannya

Berkomunikasi secara jelas dan santun
Bekerja sama dalam kelompok, tolong-menolong,dan
menjagadirisendiri dalamlingkungan keluarga dan teman
sebaya.

5. Wawasan Kebangsaan

Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.

Adapun menurut peraturan UU yang terbaru, yaitu
Berdasarkan Permendiknas No. 20 Tahun 2016. Dalam
Lampiran Permendiknas No.20 Tahun 2016 dijelaskan bahwa: ―
Standar Kompetensi Lulusan adalah kriteria mengenai

kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap,
pengetahuan, dan keterampilan‖. Berdasarkan SKL tersebut,
setiap lulusan satuan pendidikan dasar diharapkan memiliki
kompetensi pada tiga ranah yaitu sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.

Tujuan utama ditetapkan Permendiknas No. 20 Tahun
2016tentangStandarKompetensiLulusan(SKL)agarSKL
tersebut digunakan sebagai acuan utama pengembangan
standar-standar ikutan lainnya. Standar-standar lainnya
meliputi standar isi, standar proses,

standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga

75

kependidikan, standarsaranadanprasarana, standar

pengelolaan, dan standar pembiayaan.
Standar Kompetensi Lulusan terdiri atas kriteriakualifikasi

kemampuan peserta didik yang diharapkan dapat dicapai
setelahmenyelesaikan masabelajarnyadisatuanpendidikan
pada jenjang pendidikan dasar. Jenjang pendidikan dasar terdiri dari
tingkatkompetensi Sekolah Dasardan SMP.Untuk tingkat
kompetensi Sekolah Dasar, kompetensi yang diharapkan ketika
siswa lulus sekolah dasar berdasarkan masing-masing dimensi
dapat diuraikan sebagaiberikut:
A. Dimensi Sikap SD/MI/SDLB/Paket A

Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap:

1. beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME

2. berkarakter, jujur, danpeduli

3. bertanggungjawab

4. pembelajar sejati sepanjanghayat

5. sehat jasmani dan rohani sesuai dengan perkembangan
anakdilingkungan keluarga,sekolah,masyarakatdan
lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara

B. Dimensi Pengetahuan SD/MI/SDLB/Paket A

1. memiliki pengetahuan factual, konseptual, procedural, dan
metakognitif

a. Memiliki pengetahuan factual

Pengetahuan faktual merupakan pengetahuan dasar
berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan
budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah,

masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa,dan negara.

b. Memiliki pengetahuan konseptual
Pengetahuan konseptual merupakan terminologi/
istilah yang digunakan, klasifikasi, kategori, prinsip, dan
generalisasi berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi,
seni dan

budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah,
masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara.

c. Memiliki pengetahuan procedural
Pengetahuan prosedural adalahpengetahuantentang
cara melakukansesuatuataukegiatanyangberkenaandengan
ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan diri

76

sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam
sekitar, bangsa dan negara.

d. Memiliki pengetahuan metakognitif
Pengetahuan metakognitif merujuk padapengetahuan
tentang kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan
menggunakannya dalam mempelajari ilmu pengetahuan,
teknologi,senidanbudayaterkaitdengandirisendiri,keluarga,
sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa dan
negara. berkenaan dengan:

1. ilmu pengetahuan,
2. teknologi,
3. seni, dan
4. budaya.
2. Mampu mengaitkan pengetahuan di atas dalam konteks diri
sendiri,keluarga,sekolah, masyarakatdanlingkungan alam
sekitar, bangsa, dannegara.

C. Dimensi Ketrampilan SD/MI/SDLB/Paket A
SKL yang diharapkan dari lulusan SD/MI/SDLB/Paket A sudah
mengadopsi ketrampilan yang diharapkan dari pembelajaran
berciriAbad21.LulusanpadatingkatSekolahDasar
diharapkan memiliki keterampilan berpikir dan bertindak:

1. kreatif,
2. produktif,
3. kritis,
4. mandiri,
5. kolaboratif, dan

6. komunikatif melalui pendekatan ilmiah sesuai dengan
tahapperkembangananak yang relevan dengan tugas yang
diberikan

dari uraian tersebut diatas,dapat dipahami bahwa tujuan
pedidikan disekolah dasar adalah dimaksudkan untuk
membentuk manusia yang memiliki karakter serta
kepribadian yang mulia, kreatif, kritis, santun, taat beragama, peduli

77

terhadap sesama manusia dan lingkungan alam sekitar,
bekerjasama,dansalingmenolong,yangdalam
bahasa undang-undang disebut sebagai ―manusia Indonesia
seutuhnya‖.

Tujuan dari proses pendidikan di sekolah dasar adalah
agar siswa mampu memahami potensi diri, peluang dan
tuntutan lingkungan serta merencanakan masa depan
melalui pengambilan serangkaian keputusan yang paling
mungkin bagi dirinya. Tujuan akhir pendidikan dasar ialah
diperolehnyapengembanganpribadianakdidikyang
membangun dirinya dan ikut serta bertanggung jawab
terhadap pengembangan bangsa, mampu melanjutkan ke
tingkatpendidikanyanglebihtinggiataupadajenjang
pendidikan selanjutnya, dan mampu hidup di masyarakat,
dan mampu mengembangkan diri sesuai dengan bakat,
minat, kemampuan, dan lingkungan.

Untuk mencapai tujuan pendidikan seutuhnya atau yang
paripurna itu, maka sekolah merupakan salah satu tempat yang
tepatbagipesertadidik dalam mengembangkan potensi diri
sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Adapun fungsi dari pendidikan dasar adalah dalam
rangka mengembangkan kemampuan dan meningkatkan
kualitas kehidupan, harkat, dan martabat manusia
masyarakat Indonesia dalam upaya mewujudkan tujuan
pendidikan nasional.

78

BAB 8

Prinsip

Pembelajaran di

Sekolah Dasar

A. Pembelajaran Di Sekolah
Dasar

Pendidikanadalahupayayangterorganisasi,Berencanadan
berlangsungsecaraterusmenerussepanjanghayatuntuk
membina anak didik menjadi paripurna, dewasa, dan
berbudaya. Untuk mencapai pembinaan ini asas pendidikan
harus berorientasi pada pengembangan seluruh aspek potensi
anak didik, diantaranya aspek kognitif, efektif, dan berimplikasi pada
aspek psikomotorik.

Bagipesertadidik,belajarmerupakanprosesinteraksiantara
berbagai potensi diri siswa, (Fisik, nonfisik, emosi dan
intelektual), Interaksi siswa dengan guru, siswa dengan siswa
lainnya, serta lingkungan dan konsep fakta, interaksi dari
berbagai stimulus dengan berbagai respon terararh untuk
melahirkan perubahan.

Untuk mengambangkan potensi siswa harus perlu
menerapkan sebuah model pembeljaran yang inovatif dan
konstruktif. Dalm mempersiapkan pembelajaran, para pendidik
harus memahami karakteristik materi pembeljaran, karakteristik murid
atau peserta didik serta memahami metodologi
pembelajaran sehingga proses pembelajaran kan lebih
variatif,inovatif dan konstruktif dalam merekonstruksi wawasan
pengetahuan dan implementasinya sehingga akan
meningkatkan aktivitas dan kreatifitas peserta didik.

Ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan, berkenaan
dengan upaya yang mewujudkan proses pembelajaran yang

79

variatif, inovati, dan konstruktif yaitu :
• Situasi kelas yang dapat merangsang anakmelakukan kegiatan

belajar secara bebas
• Peran guru sebagai pengarah dalm belajar
• Guruberperansebagaipeyediafasilitas
• Guru berperan sebagai pendorong,dan
• Gruru berperan sebagai penilai proses dan hasil belajar anak.

B. Prinsip-Prinsip

Pembelajaran di Sekolah

Dasar

Masausia sekolahdasar adalahmasa kanak-kanakakhiryang
berlangsung dari usia 6 hingga kira-kira usia 11 atau 12 tahun.
Sesuai dengan karakteristik anak usia sekolah dasar yang suka
bermain, memiliki rasa ingin tahu yang besar, mudah
terpengaruh oleh lingkungan dan gemar membentuk kelompok
sebaya. Oleh karena itu, pembelajaran di sekolah dasar di
usahakan untuk terciptanya suasana yang kondusif dan
menyenangkan. Untuk itu, guru perlu memperhatikan beberapa
prinsippembelajaranyangdiperlukanagarterciptanyasuasana yang
kondusif dan menyenangkan tersebut. Beberapa prinsip
pembelajaran tersebut dapat diuraikan secara singkat sebagai
berikut:

1. Prinsip Motivasi adalah upaya guru untuk
menumbuhkan doronganbelajar,baikdaridalamdirianakatau
dariluardiri anak,sehinggaanakbelajarseoptimalmungkinsesuai
dengan potensi yang dimilikinya.

2. Prinsip Latar Belakang adalahupayagurudalam
proses belajarmengajarmemperhatikanpengetahuan,
keterampilan
dansikapyangtelahdimilikianakagartidakterjadipengulangan yang
membosankan.

3. Prinsip Pemusatan Perhatian adalah usaha
untuk memusatkan perhatiannya dengan jalan mengajukan
masalah yang hendak dipecahkan lebih terarah untuk mencapai
tujuan yang hendakdicapai.

4. Prinsip Keterpaduan, merupakan hal yang

80

penting dalam pembelajaran. Olehkarenaitu, guru
dalam

menyampaikan materi hendaknya mengaitkan suatu pokok
bahasan dengan pokok bahasan lain atau sub pokok bahasan
dengan sub pokok bahasan lain agar anak mendapat
gambaran keterpaduan dalam proses perolehan hasil belajar.

5. Prinsip Pemecahan Masalah adalah situasi
belajar yang dihadapkan pada masalah masalah hal ini
dimaksudkan agar anak peka dan juga mendorong mereka untuk
mencari memilih dan menentukan pemecahan masalah sesuai
dengan kemampuannya.

6. Prinsip Menemukan adalah kegiatan menggali
potensi yang dimiliki anak untukmencari, mengembangkan
hasil
perolehannyadalambentukfaktadaninformasi.Untukitu, proses
belajar mengajar yang mengembangkan potensi anak tidak akan
menyebabkan kebosanan.

7. Prinsip Belajar Sambil Bekerja, yaitusuatu
kegiatan yang dilakukan berdasarkan pengalaman
untuk mengembangkandanmemperolehpengalaman
baru.
Pengalaman belajar yang diperoleh melalui bekerja tidak mudah
dilupakan oleh anak. Dengan demikian, proses belajar mengajar
yang memberi kesempatan kepada anak untuk
bekerja, berbuat sesuatu akan memupuk kepercayaan diri,
gembira dan puas karena kemampuannya tersalurkan dengan
melihat hasil kerjanya.

8. Prinsip Belajar Sambil Bermain, merupakan
kegiatan yang dapat menimbulkan suasana menyenangkan
bagi siswa dalam belajar, karena dengan bermain
pengetahuan

keterampilan, sikap dan daya fantasi anak berkembang.
Suasana demikianakan mendorong anak aktif dalam belajar.

9. Prinsip Perbedaan Individu, yakni upaya
guru dalam proses belajar mengajar yang
memerhatikan

perbedaanindividudaritingkatkecerdasan,sifatdan
kebiasaan, atau latar belakang keluarga. Hendaknya guru tidak
memperlakukan anak seolah-olah sama semua.

10. Prinsip Hubungan Sosial adalah sosialisasi
pada masa anak yang sedang tumbuh yang banyak

81

dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Kegiatan belajar hendaknya
dilakukan secara berkelompok untuk melatih anak
menciptakan suasana kerja sama dan saling menghargai
satu sama lainnya.

Memerhatikan dan menerapkan prinsip-prinsip
pembelajaran di atas sangat mendesak untuk dilakukan oleh
setiap guru yang melakukan proses pembelajaran di sekolah
dasar. Tanpa itu, pembelajaran hanya mampu menyentuh
aspek ingatan dan pemahaman saja. Karena guru yang
masih cenderung mendominasi pengajaran, merupakan
salah satu penyebab rendahnya hasil belajar yang dicipta oleh
siswa. Hasil belajar optimal harus dicapai oleh siswa,

karena untuk saat ini hasil belajar dijadikan patokan
keberhasilan siswa serta dijadikan tolak ukur tercapainya
tidaknya tujuan pembelajaran dalam kegiatan belajar
mengajar. Dengan melihat hasil belajar, maka bisa diukur
ketercapaian Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Sasar
(KD), serta bisa dijadikan patokan untuk menentukan Kriteria
Ketuntasan Minimum (KKM).

C.Tujuan Pembelajaran di

Sekolah Dasar

Mengingat pentingnya pendidikan dasar sebagai
tonggak awal peningkatan sumber daya manusia,
banyak pihak menaruh perhatian bahwa pendidikan
dasar adalah jembatan bagi upaya peningkatan
pengembangan SDM bangsa untuk dapat
berkompetensi dalam Skala regional maupun
internasional. Di samping itu juga, sekolah dasar
merupakan landasan bagi pendidikan selanjutnya. Mutu
pendidikan menengah dan pendidikan tinggi tergantung
kepada dasar kemampuan dan keterampilan yang
dikembangkan sejak tingkat sekolah dasar.

Mutu pendidikan yang baik di tingkat Sekolah dasar
akan menghasilkan di tingkat secara sistematik mutu
pendidikan pada jenjang pendidikan selanjutnya. Oleh
karena itu, pada tingkat sekolah dasar sangat
memungkinkan Untuk dikembangkan usaha dalam
perubahan mutu pendidikan, hal ini dilakukan melalui
penataan kelembagaan, pengelolaan, dan peningkatan

82

mutu pendidikan. Guru sebagai ujung tombak dalam
pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang sangat
berpengaruh dalam proses pembelajaran. Kawasan
Asia Tenggara (ASEAN), seperti: Singapura, Thailand,
Filipina, Malaysia lebih baik dibanding dengan negara
Indonesia. Di Indonesia, minat baca masyarakat masih
rendah, yang otomatis berakibat pada sumber daya
manusia yang rendah pula. Padahal, minat itu
merupakan kunci utama dalam belajar, termasuk minat
membaca. Pendeknya, tidak akan ada proses belajar
atau membaca tanpa minat (ro learning without interest).
Problematika rendahnya minat membaca juga terlihat
dari produk buku yang dipublikasikan baik secara
kuantitas maupun kualitas

Ini sangat berkaitan dengan minat membaca
masyarakat kita yang secara logika akan
berimbas kepada kultur membaca dan tentu saja
berakibat pula kepada kemampuan membaca
itu sendiri, bahkan selanjutnya sangat berpengaruh
terhadap minat menulis. Pemahaman
terhadap bacaan dapat dipandang sebagai suatu proses
yang bergulir terus-menerus dan
berkelanjutan, Membaca pemahaman sebagai proses
memercayai bahwa upaya memahami
bacaan sudah terjadi ketika kita belum membaca buku
apa pun. Kemudian, pemahaman itu menapaki tahapan
yang berbeda dan terus berubah saat baris demi baris,
kalimat demi
kalimat, paragraf demi paragraf dari bacaan itu, yakni
ketika menutup buku, novel, atau apa
saja. Apakah pemahaman sampai di sini? Belum.
Proses pemahaman terus berlangsung
bahkan setelah proses membaca telah selesai. Agar
peningkatan pemahaman dalam diri siswa
itu terjadi, guru perlu menciptakan kondisi yang
memungkinkan interaksi beberapa pihak
dapat terjadi. Untuk itu, guru harus membuat
perencanaan yang mantap.

Tuntutan lain selain optimalnya hasil belajar siswa
adalah tuntutan sebagaimana yang diamanatkan oleh
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN)

83

No. 20 Tahun 2003 yang menghendaki upaya
pengembangan potensi diri dan keterampilan siswa.
Dua aspek ini akan tercapai jika guru membangun
kemampuan kreativitas siswa. Dengan kreativitas yang
tinggi, maka potensi dan keterampilan diri siswa akan
berkembang. Amanat tersebut juga sekaligus
mengisyaratkan bahwa pembentukan sumber daya
manusia berkualitas merupakan prioritas pandidikan di
Indonesia. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa
pendidikan masih diabdikan untuk menghasilkan
manusia berkualitas untuk menjadi insan yang
berpengetahuan dan berakhlakul karimah (akhlak
mulia). Rendahnya minat baca menjadi problem utama
yang dihadapi bangsa kita. Hal ini terlihat dari
tertinggalnya kualitas SDM kita oleh negara-negara
tetangga, dan ini menunjukkan kualitas pendidikan kita
lebih rendah dibanding mereka.

D. Peran Guru dalam
Pembelajaran

Mengingat pentingnya pendidikan dasar sebagai toggak
awal peningkatan
SDM,banyak pihak menaruh Perhatian bahwa
pendidikan dasar adalah jembatan bagi upaya
peningkatan pengembangan SDM bangsa untuk dapat
berkompetensi dalam skala regional
maupun internasional.di samping itu juga,sekolah
pendidikan dasar Merupakan landasan bagi
pendidikan selanjutnya.mutu pendidikan menengah dan
pendidikan tinggi tergantung kepada
dasar kemampuan dan keterampilan yang
dikembangkan sejak tingkat sekolah dasar. Mutu
pendidikan yang baik di tingkat sekolah dasar akan
menghasilkan di tingkat secara sistematik
mutu pendidikan pada jenjang pendidikan selanjutya.
Oleh karena itu, pada tingkat sekolah
dasar Sangat memungkinkan untuk di kembangkan
usaha dalam perubahan mutu pendidikan,
dan peningkatan mutu pendidikan.

84

Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan
pendidikan merupakan pihak yang
sangat berpengaruh Dalam proses pembelajaran.
kepiawaian dan kewibawaan guru sangat
menentukan kelangsungan proses belajar di kelas
maupun efeknya di luar kelas. Guru harus
pandai membawa siswanya kepada tujuan yang hendak
di capai. Ada beberapa hal yang
membentuk kewibawaan guru, antara lain penguasaan
materi yang di ajarkan,metode
mengajar yang sesuai dengan situasi siswa maupun
antarsesama guru dan unsur lain yang
terkait dalam proses pendidikan seperti
administrasi,kepala sekolah dan tata usaha serta
masyarakat sekitarnya, pengalaman dan keterampilan
guru itu sendiri.

Namun sayangnya, sebagimana dilaporkan oleh
Solihatin-Raharjo (2007),menyebutkan bahwa dalam
pembelajaran di sekolah dasar saat ini, guru masih
menganggap
siswa sebagai objek, bukan sebagai subjek dalam
pembelajaran,sehingga guru dalam proses
pembelajaran masih mendominasi aktivitas belajar.
Siswa hanya menerima informasi dari
guru secara pasif. Selanjutnya,Solihatin menyebutkan
Kelemahan-kelemahan di lapangan,
antara lain ditemukan sebagai berikut
a.Model pembelajaran konvensional/Ceramah.
b.Siswa hanya di jadikan objek pembelajaran.
c.Pembelajaran yang berlangsung cenderung tidak
melibatkan pengembangan

pengetahuan siswa, karena guru selalu mendominasi
Pembelajaran (teacher centered),akibatnya proses
pembelajaran sangat terbatas, sehingga kegiatan
pembelajaran hanya di arahkan pada mengetahui
(learning to know), Ke arah pengembangan aspek
kognitif dan mengabaikan aspek afektif serta
psikomotor.
d.Pembelajaran bersifat hafalan semata sehingga
kurang bergairah dalam belajar
e.Dalam proses pembelajaran proses interaksi searah

85

hanya dari guru ke siswa.
Salah satu upaya mengatasi permasalahan ini,guru

harus mampu merancang model pembelajaran yang
bermakna bagi siswa. Untuk itu guru harus kreatif dalam
mendesain
model pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat
berpartisipasi,aktif, kreatif, terhadap materi yang di
ajarkan. Dengan cara demikian diharapkan siswa dapat
memahami materi yang diberikan dan mencapai
Pembelajaran bermakna

Pentingnya merancang model pembelajaran yang
bermakna ini karena fungsi setiap
matapembelajaranyangbermakna ini karena fungsi
utama setiap mata pelajaran disekolah dasar,yaitu
mengembangkan pengetahuan, nilai,dan sikap, serta
keterampilan sosial yang di hadapi sehari hari serta
menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap
perkembangan
masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini,
Sedangkan tujuannya agar siswa mampu
mengembangkan pengetahuannya, nilai dan sikap serta
keterampilan sosial agar
siswa merasa bangga sebagai bangsa Indonesia.

E. Pembelajaran Terpadu

Dunia anak adalah dunia nyata dan tingkat
perkembangan mental anak selalu dimulai dari tahap
berpikir nyata dalam kehidupan sehari-hari yang
memandang objek yang ada di
sekelilingnya secara utuh. Untuk itu, pembelajaran
hendaknya dari lingkungan terdekat, yaitu mulai dari diri
sendiri kemudian dikembangkan kepada keluarga dan
sekolah. Di pihak lain,
proses pembelajaran di kelas masih tampak adanya
pemisahan antara mata pelajaran satu dengan mata
pelajaran lainnya sehingga anak akan merasa
menerapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Dengan pembelajaran terpadu.
memungkinkan serta ilustrasi pembelajaran yangdapat

86

mencapai beberapa target konsep yang ada dalam
beberapa mata pelajaran (Fogarty, 1991).

Gambaran di atas sesuai dengan landasan pemikiran
pembelajaran terpadu seperti yang dikembangkan oleh
Tim Pengembangan PGSD (1997) yang mengemukakan
bahwa pembelajaran terpadu dikembangkan dengan
landasan pemikiran, sebagai berikut:
1. Progresivisme
Aliran ini menyatakan bahwa pembelajar an seharusnya
berlangsung secara alami, tidak artifisial. Pembelajaran
di sekolah harus dapat mengakomodasi keadaan dalam
dunia nyata sehingga dapat memberikan makna kepada
kebanyakan siswa.
2. Konstruktivisme
Aliran ini menyatakan bahwa pengeta huan dikonstruksi
sendiri oleh individu dan pengalaman merupakan kunci
utama dari belajar bermakna. Belajar bermakna tidak
akan terwujud hanya dengan mendengarkan ceramah
atau dengan membaca buku tentang pengalaman orang
lain. Memahami sendiri merupakan kunci utama
kebermaknaan dalam pembelajaran.
3. Landasan normatif
Aliran ini menghendaki bahwa pembelajaran terpadu
hendaknya dilaksanakan berdasarkan gambaran ideal
yang ingin dicapai oleh tujuan-tujuan pembelajaran.
4. Landasan praktis
Aliran ini mengharapkan bahwa pembelajaran terpadu
dilaksanakan dengan memerhatikan situasi dan kondisi
praktis yang berpengaruh terhadap kemungkinan
pelaksanaannya mencapai hasil yang optimal.
5. Developmentally Appropriate Practice (DAP)
yaitu prinsip yang menyatakan bahwa pembelajaran
harus disesuaikan dengan perkembangan usia dan
individu yang meliputi perkembangan kognitif, emosi,
minat, dan bakat siswa.

Teori-teori lain yang sangat mendukung tentang
pentingnya pembelajaran terpadu Ini antara lain:
1. Teori Perkembangan Jean Plaget Jean Piaget
menyatakan bahwa seorang anak maju melalui empat
tahap perkembangan kognitif sejak lahit hingga dewasa,
yaitu: tahap sensori motor, praoperasional, operasi

87

konkret, dan operasi formal. Kecepatan perkembangan
tiap individu melalui urutan tiap tahap ini berbeda dan
tidak ada individu yang melompati salah satu tahap ini.
2. Teori Belajar Konstruktivisme
Teori belajar konstruktivisme menyatakan bahwa siswa
harus menemukan sendiri dan mentransformasikan
informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan
aturan-aturan lama, dan merevisinya apakah aturan-
aturan itu tidak sesuai lagi. Menurut Slavin dalam
Trianto (2007:26), agar siswa benar benar memahami
dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus
memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu
untuk dirinya, dan berusaha dengan susah payah
dengan ide-ide.

Pada dasarnya, pendekatan konstruktivisme
menghendaki bahwa pengetahuan dibentuk sendiri oleh
individu dan pengalaman merupakan kunci utama dari
belajar bermakna. Belajar bermakna tidak akan terwujud
hanya dengan mendengarkan ceramah atau dengan
membaca buku tentang pengalama orang lain.
3. Teori Vigotsky Vigotsky
mengatakan bahwa, pembelajaran terjadi apabila anak
bekerja atau belajar menangani tugas-tugas yang belum
dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam
jangkan kemampuannya, atau tugas-tugas tersebut
berada dalam zone proximal development
(Trianto:2007).

Ada dua implikasi utama teori Vigotsky dalam
pembelajan sains pertama, dikehendakinya suasana
kelas, berbentuk pembelajaran kooperatif antarsiswa,
sehingga siswa dapat berinteraksi di sekitar tugas-tugas
yang sulit dan saling memunculkan strategi pemecahan
masalah yang efektif di dalam masing-masing zone of
proximal development mereka. Kedua, dalam
pembelajaran menekankan scaffolding sehingga siswa
semakin lama semakin bertanggung jawab terhadap
pembelajarannya sendiri.
4. Teori Bandura Menurut Bandura
bahwa sebagian besar manusia belajar melalui
pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku
orang lain. Seseorang belajar menurut teori ini dilakukan

88

dengan mengamati tingkah laku orang lain (model), hasil
pengamatan ini kemu dian dimantapkan dengan cara
menghubungkan pengalaman baru dengan pengalaman
sebelumnya atau mengulang-ulang kembali.
5. Teori Brunner Jerome Brunner,
adalah seorang ahli psikologi Harvard adalah salah
seorang pelopor pengembangan kurikulum terutama
dengan teori yang dikenal dengan pembelajaran
penemuan (inkuiri). Teori Brunner selanjutnya disebut
pembelajaran penemuan, adalah suatu model
pengajaran yang menekankan pentingnya pemahaman
tentang struktur materi dari suatu ilmu yang dipelajari
perlunya belajar secara aktif sebagai dasar dari
pemahaman sebenarnya, dan nilai dari berpikir secara
induktif dalam belajar.

Menurut Brunner, belajar akan lebih bermakna bagi
siswa jika mereka memusatkan perhatian untuk
memahami struktur materi yang dipelajarinya.

F. Pengembangan

Kreativitas

Kreativitas adalah kemampuan untuk memikirkan
mengenai sesuatu dengan cara baruyang tidak biasa
dan menampilkan cara pemecahan masalah yang unik.
Kreativitas dan
kecerdasan bukan hal yang sama. Sternberg (1999)
memperkenalkan kreatifitas dalam teori mengenai
kecerdasan, mengatakan bahwa banyak individu-
individu yang kecerdasannya tinggi yang menghasilkan
karya karya besar tetapi tidak selalu karya-karya baru.
Dia juga percaya bahwa orang orang yang kreatif
menentang pendapat orang banyak, sedangkan orang
yang kecerdasannya tinggi tapi tidak kreatif seringkali
berusaha untuk menyenangkan orang banyak. Orang-
orang yang kreatif cenderung berpikir divergen
(Guildford, 1967). Berpikir divergen, menghasilkan
berbagai jawaban terhadap sebuah pertanyaan.
Sebaliknya, cara berpikir yang dipersyaratkan dalam
berpikir konvensional, adalah berpikir konvergen.

89

Misalnya, pertanyaan ―berapa lembar uang seribuan
yang akan kamu dapat, bila kamu menukarkan selembar
uang sepuluh ribuan ? ‖Untuk pertanyaan ini hanya ada
satu jawaban yang benar. Berbicara mengenai
kecerdasan dan kreativitas, kebanyakan orang kreatif
memang benar-benar cerdas, tetapi tidak semua orang
cerdas kreatif
1. Bagaimana membimbing anak agar kreatif?
Ada beberapa cara yang harus dilakukan :
a. Libatkan anak dalam kegiatan Brainstorming,
sehingga menghasilkan sebanyak mungkin ide
Brainstorming adalah sebuah kegiatan yang
memberikan kebebasan anak untuk mengutarakan
pikiran-pikirannya secara bebas mengenai sebuah ide
tertentu. Brainstorming ini merupakan sebuah teknik
dimana anak didorong untuk berani mengutarakan ide-
ide (kreatif) nya dalam sebuah kelompok,
menyajikannya bersama ide-ide orang lain, dan
mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Teman-
teman yang mendengarkan disarankan untuk menahan
diri untuk tidak menyampaikan kritik, paling tidak hingga
akhir presentasi. Hal ini perlu dilakukan agar anak
berani mengemukakan ide-idenya, apapun idenya.
Kesempatan-kesempatan untuk mengeluarkan ide-ide
itu perlu dijadwalkan agar anak mau mengeluarkan
sebanyak-banyak idenya walaupun ide tersebut tidak
kreatif. Pablo Picasso, pelukis Spanyol yang terkenal,
telah membuatkan sebanyak 20.000 karya seni. Dari
karyakarya yang dia hasilkan tersebut, yang tergolong
karya besar hanya beberapa. Hal ini menunjukkan
bahwa untuk bisa menghasilkan karya seni yang benar-
benar karya besar, tidak bisa sekali jadi. Makin banyak
ide yang dikeluarkan oleh anak, maka makin besar
kemungkinan dia mengkreasikan sesuatu yang unik.
Anak yang kreatif tidak takut untuk gagal dan tidak takut
melakukan kesalahan. Mereka mungkin saja memasuki
20 kali jalan buntu sebelum dia bisa mengutarakan/
menemukan sebuah ide yang inovatif. Anak harus
berani menghadapi risiko tersebut, sebagaimana dialami
oleh Picasso.
b. Buatlah lingkungan sedemikian rupa,

90

agar bisa menstimulasi (merangsang) kreativitas anak.
Setiap anak memiliki rasa ingin tahu yang alami. Guru
yang ingin mengembangkan kreatifitas anak bisa
mengandalkan rasa ingin tahu pada anak tersebut
sebagai sebuah sarana agar anak bisa bebas berpikir.
Untuk itu sebaiknya guru melakukan kegiatan-kegiatan
yang justru membuat anak mencari jawaban-jawaban
yang muncul dari pikiran anak sendiri, tidak mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya harus dihafal,
yang ada dalam benak guru atau dalam pikiran guru.
Guru bisa juga merangsang kreatifitas dengan cara
mengajak anak-anak ketempat-tempat dimana
kreativitas ditampilkan, misalnya di museum (untuk
anak-anak ), di galeri-galeri yang menampilkan proses-
proses fisika atau penemuanpenemuan ilmiah (Museum
Ilmiah di SABUGA ITB).
c. Hindari mengendalikan anak secara berlebihan.
Hindari mengendalikan anak secara berlebihan. Hasil
penelitian mengungkapkan
bahwa mengajarkan pada anak hal apa saja yang harus
dilakukan, membuat mereka beranggapan bahwa hal
yang original itu salah, buruk, dan bahwa kegiatan
menjelajah
(eksplorasi) itu adalah perbuatan yang sia-sia. Memberi
kesempatan pada anak untuk memilih sesuatu hal
sesuai minatnya dan mendukung minatnya tersebut
yang mungkin berbeda dari anak lain, akan
meningkatkan rasa ingin tahunya. Hal ini akan lebih
baik, dari pada guru mendiktekan aktivitas-aktivitas
mana yang harus mereka kerjakan. Bila orangtua atau
guru terus menerus menunggui anak maka anak akan
merasa bahwa dia (pekerjaannya) selalu diawasi. Bila
anak merasa diawasi terus maka semangat untuk
berpetualang, maupun
keberanian untuk mengambil risiko melakukan kreatifitas
bisa menjadi surut, dan mereda. Hal lain yang bisa
merusak kreatifitas anak adalah harapan atau tuntutan
yang terlalu tinggi
agar anak menunjukkan prestasi kerja, dan agar dia
melakukan segala sesuatu secara sempurna.
d. Kembangkan motivasi yang ada dalam diri anak.

91

Kegiatan-kegiatan kreatif yang dilakukan anak secara
bebas, menimbulkan sebuah kesenangan tersendiri bagi
anak. Oleh karena itu, penggunaan hadiah yang terlalu
eksesif
(misalnya mainan, uang atau benda-benda lain) bisa
menghambat kreatifitas. Karena kesenangan yang
muncul sebagai akibat dari kegiatan-kegiatan kreatif itu
sendiri menjadi pudar oleh hadirnya iming-iming hadiah.
(Amabile dan Hennessey, 1992, dari Santrock,2004).
e. Kembangkan cara berpikir fleksibel, dengan cara
yang menyenangkan.
Seorang pemikir yang kreatif pada saat menghadapi
masalah, dia bersikap fleksibel dan
cenderung mengolah masalah. Dalam proses ini akan
sering muncul paradoks (hal-hal yang bertentangan).
Usaha untuk berpikir kreatif akan berjalan lancar bila
siswa menghadapinya
dengan senang hati. Dalam bahasa sederhananya,
humor bisa menjadi pelumas dari roda-roda kreatifitas.
Pada saat anak ―bercanda ria‖ mereka cenderung
menampilkan pemecahan-pemecahan masalah yang
tidak biasa, yang unik. Bersenang-senang dan bergurau,
akan membantu melepaskan sensor dalam diri yang
biasanya ―memarahi, mengutuk, melarang―
ide-ide bebas anak sebagai sebuah hal yang kurang
baik.
f. Kalau mungkin undang orang-orang yang kreatif
sehingga anak bisa mendapat pengalaman kreatif.
Minta mereka menerangkan pada anakanak hal apa
atau pengalaman apa yangmembuat mereka menjadi
orang yang kreatif. Bisa juga tokoh yang kreatif itu
diminta
menampilkan kemampuan kreatifnya. Guru bisa
mengundang penulis yang kreatif, penyair,musikus,
ilmuwan atau siapa saja, bisa membawa barang-barang
yang dia miliki atau hasilhasil karyanya ke dalam kelas,
sehingga kelas menjadi semacam podium/ teater
yangmenyajikan kreatifitasnya pada anak-anak. Salah
satu pengarang yang terkenal di USA
(Richard Lewis, 1997 dari Santrock 2004) mengunjungi
salah satu kelas yangmengundangnya. Dia membawa

92

sebuah kelereng kaca yang besar, dia pegang diatas
kepalanya, sehingga setiap anak bisa melihat spectrum
warna yang ada dalam kelereng kaca tersebut. Dia
bertanya, ―Siapa yang bisa melihat apa yang sedang
terjadi dalam bola kaca
ini?‖ Lalu dia minta anak-anak menuliskan, apa yang
mereka masing masing lihat dalamkelereng tersebut.
Seorang siswa menulis, bahwa ia melihat pelangi
sedang terbit, ada matahari sedang bergerak terus, lalu
dia lihat matahari itu tidur dengan bintang-bintang. Dia
juga melihat hujan turun ke tanah, lalu dia lihat ranting-
ranting patah, buah apel berjatuhan dari pohonnya dan
melihat angin meniup daun-daunan

G. Sikap Kreatif
1. Definisi Kreatif
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ―Kreatif
adalah kemampuan untuk menciptakan atau daya cipta,
kreativitas juga dapat bermakna sebagai kreasi terbaru
dan orisinil yang tercipta, sebab kreativitas suatu proses
mental yang unik untuk menghasilkan sesuatu yang
baru, berbeda dan orisinil.‖ Pembicaraan tentang kreatif
tidak dapat terlepas dari
pembahasan tentang sikap kreatif.

Menurut Carin dan Sund (1975: 303), orang-orang
kreatif memiliki karakteristik tertentu. Mereka memiliki
rasa ingin tahu, banyak akal, mempunyai keinginan
menemukan, memilih pekerjaan sulit, senang
menyelesaikan masalah, mempunyai
dedikasi terhadap pekerjaan, berpikir luwes, banyak
bertanya, memberikan jawaban yang lebih baik dari
yang lainnya, mampu menyintesis, mampu melihat
implikasi baru,
mempunyai semangat tinggi untuk menyelidik, dan
mempunyai pengetahuan yang luas.

Adapun Russefendi (1991: 238) mengemukakan
bahwa manusia yang kreatif ialah manusia yang selalu
ingin tahu, fleksibel, awas, sensitif terhadap reaksi dan
kekeliruan,
mengemukakan pendapat dengan teliti dan penh
keyakinan tidak bergantung pada orang lain, berpikir ke

93

arah yang tidak diperkirakan, berpandangan jauh, cakap
menghadapi persoalan,
tidak begitu saja menerima suatu pendapat, dan kadang
susah diperintah.
2. Bentuk – Bentuk Kreatif
Di dalam kehidupan di dunia ini, sikap kreatif dapat
diwujudkan melalui berbagai hal. Bentuk-bentuk kreatif
itu sendiri meliputi:
a. Ide Kreatif
Pemikiran kreatif akan memicu munculnya ide unik yang
tidak terpikir sebelumnya, Ide adalah pemikiran yang
dapat menciptakan solusi dari permasalahan yang
terjadi di tengah masyarakat.
b. Produk Kreatif (Barang dan Jasa)
Produk kreatif dihasilkan dari ide-ide yang muncul. Jadi,
bisa dikatakan jika produk adalah tangan panjang dari
ide. Ide yang diejawantahkan dalam bentuk produk
tertentu akan sangat berguna bagi masyarakat dan
konsumen. Tanpa ada proses kreatif, maka produk yang
dihasilkan tidak bisa sesuai dengan kebutuhan zaman.
c. Gagasan Kreatif
Kreatif dapat juga diwujudkan dalam bentuk gagasan.
Gagasan ini dapat dikemukakan langsung atau melalui
tulisan. Banyak media yang dapat digunakan untuk
mengeluarkan gagasan kreatif.
3. Contoh Sikap Kreatif
• Memanfaatkan drum menjadi bangku cantik untuk
ruang tamu. Drum ini dicat ulang dan diberi beberapa
ornamen sehingga membuatnya menjadi bangku yang
indah untuk menemani orang-orang yang bertamu di
rumah Anda.
• Buku bekas tebal yang sudah tidak terpakai bisa Anda
gunakan sebagai pot tanaman. Pada bagian tengah
buku, silakan dilubangi lantas diberi media tanam seperti
tanah dan kemudian Anda tanami bunga atau tanaman
hias. Pot buku tebal bisa ditaruh sebagai hiasan cantik
di sudut ruangan!
• Gantungan baju dari roda sepeda. Bagi orang-orang
yang kreatif, benda yang rusak pun bisa memiliki nilai
fungsi yang tinggi. Contohnya adalah roda sepeda tak
terpakai. Benda ini dapat digantung pada tiang yang

94

tinggi untuk menjemur baju-baju Anda.
• Vertical Garden dari botol Aqua bekas. Dikarenakan
lahan yang sempit, banyak orang yang menjadikannya
dalih untuk tidak melakukan penghijauan. Namun, beda
dengan orang kreatif. Mereka akan membuat vertical
garden dari barang bekas yakni botol aqua. Dengan
menggantungkan botol tersebut dengan susunan
vertikal, lantas dilubangi pada bagian tengahnya
sebagai media tanam, maka taman vertikal di rumah
Anda pun akan tampak cantik.
• Gelang warna yang terbuat dari manik-manik dan
peniti. Pengerjaan dari produk kreatif ini relatif mudah
serta akan memiliki nilai seni yang tinggi. Meskipun
hasilnya bagus, tapi tetap saja membutuhkan kesabaran
ekstra untuk membuatnya.
4. Teori Pembentukan Sikap
Kreatif Banyak teori yang membahas tentang
pembentukan sikap atau pribadi kreatif, Munandar
(2009: 32) misalnya memaparkan teori-teori
pembentukan pribadi kreatif menurut pandangan teori
psikoanalisis dan teori humanistis yang digunakan
sebagai landasan pendidikan anak berbakat, antara lain:
a. Teori Psikoanalisis

Pertama, menurut teori Freud, yang dipelopori oleh
Sigmund Freud (1856-1939) adalah tokoh utama yang
menganut pandangan bahwa kemampuan kreatif
merupakan ciri kepribadian yang menetap pada lima
tahun pertama dari kehidupan. la menjelaskan proses
kreatif dari "mekanisme pertahanan", yang merupakan
upaya tak sadar untuk menghindari kesadaran
mengenai ide-ide yang tidak menyenangkan atau tidak
dapat diterima. Karena mekanisme pertahanan
mencegah pengamatan yang cermat dari dunia dan
karena menghabiskan energi psikis, mekanisme
pertahanan biasanya merintangi produktivitas kreatif.
Meskipun kebanyakan mekanisme pertahanan
menghambat tindakan kreatif, mekanisme sublimasi
justru merupakan penyebab utama dari kreativitas.

Kedua, teori Kris dari Ernest Kris (1900-1957) yang
menekankan bahwa mekanisme pertahanan regresi
(beralih ke perilaku sebelumnya yang akan memberi

95

kepuasan, jika perilaku sekarang tidak berhasil atau
tidak memberi kepuasan) juga sering muncul dalam
tindakan kreatif. Jika seseorang mampu untuk regress
ke kerangka berpikir atau pola perilaku seperti anak,
rintangan antara alam pikiran sadar dan tidak sadar
menjadi kurang, dan bahan yang tidak disadari yang
sering mengandung benih kreativitas dapat menembus
ke alam kesadaran. Orang-orang kreatif adalah mereka
yang paling mampu memanggil bahan-bahan dari alam
pikiran tidak sadar, dengan demikian mereka dapat
melihat masalah-masalah serius dalam kehidupan
dengan cara yang segar dan inovatif.

Ketiga, teori Jung dari Carl Jung (1857-1961) yang
mengemukakan bahwa ketidaksadaran memainkan
peranan yang sangat penting dalam kreativitas tingkat
tinggi. Alam pikiran yang tidak disadari dibentuk oleh
masa lalu pribadi.

2. Teori Humanistis
Berbeda dengan teori psikoanalisis, teori humanistis

melihat kreativitas sebagai hasil dari kesehatan
psikologis tinggi. Kreativitas dapat berkembang selama
hidup, dan tidak terbatas pada lima tahun pertama. Di
antara tokoh-tokoh yang termasuk kategori teori
humanistis ini ialah teori Maslow, yang ditokohi oleh
Abraham Maslow (1908-1970), pendukung utama dari
teori humanistis. Menurutnya manusia mempunyai
naluri-naluri dasar yang menjadi nyata sebagai
kebutuhan, di mana kebutuhan tersebut harus dipenuhi
dalam urutan tertentu.

Tokoh berikutnya yang termasuk teori humanistis ini
ialah teori Rogers, dari Carl Rogers (1902-1987).
Rogers mengemukakan tiga kondisi dari pribadi kreatif,
yaitu:
keterbukaan terhadap pengalaman, kemampuan untuk
menilai situasi sesuai patokan pribadi seseorang
(internal locus of evaluation), dan kemampuan untuk
bereksperimen.

96

H. Berfikir Kreatif

Setelah membahas apa itu kreatif ? dan bagaimana
proses pembentukan sikap kreatif tersebut?. Pada sub
materi kali ini melanjutkan pembahasan tersebut
mengenai apa iru berfikir kreatif ? dan penerapannya
pada pembelajaran di sekolah dasar. Telah dijelaskan,
kreativitas adalah kemampuan untuk mengungkapkan
hubungan-hubungan baru, melihat sesuatu dari sudut
pandang baru dan membentuk kombinasi baru dari dua
konsep atau lebih yang dikuasai sebelumnya. Kreativitas
ini juga bersifat spontan, terjadi karena adanya arahan
yang bersifat internal, dan kepberadaanya tiak
terprediksi. Secara garis besar, maka berpikir kreatif
dapat dimaknai dengan berpikir yang dapat
menghubungkan atau melihat sesuatu dari sudut
pandang yang baru.

Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita sering
mengalami dan menghadapi permaslaahan. Baik
masalah yang muncul berulang (routine problems) atau
juga permasalahan baru yang belum pernah terjadi
sebelumnya (nonroutine problems). Maka dari itu
diperlukan cara yang efektif dan efisien dalam
memecahkan masalah-masalah tersebut, salah satu
solusinya dengan kemampuan berfikir kreatif. Torrance
dalam Filsaime (2008 : 20) menganggap berfikir kreatif
merupakan sebuah proses yang melibatkan unsur-unsur
orisinalitas, kelancaran, fleksibelitas, dan elaborasi.

Dikatakan lebih jelas, berfikir kreatif dalam
memecahkan suatu masalah adalah sebuah proses
menjadi sensitif atau sadar terhadap masalah-masalah,
kekurangan, dan celahcelah di dalam pengetahuan yang
didalamnya tidak ada solusi yang dipelajari, membawa
informasi yang aad di dalam memori atau sumber-
sumber eksternal, mendefinisikan kesulitan, mencari
solusi-solusi, menduga, menciptakan alternatif-alternatif
yang mungkin untuk menyelesaikan masalah tersebut,
menguji kembali alternatif yang sebelumnya sudah
ditemukan, menyempurnakannya dan pada akhirnya
mengomunikasikan hasil-hasilnya.

Definisi berfikir kreatif ini dikemukakan oleh Ennis

97


Click to View FlipBook Version