8. Pendekatan Memadukan (Union Approach)
Pendekatan ke delapan yang diajukan Superka
adalah menyatukan diri siswa dengan pengalaman
dalam kehidupan ―riil‖ yang dirancang oleh guru dalam
proses belajar-mengajar. Proses penyatuan tersebut
tidak lain adalah dimaksud agar siswa benar-benar
mengalami secara langsung pengalaman-pengalaman
yang direncanakan guru melalui berbagai metode
mengajar yang dipilih guru untuk tujuan
tersebut. Untuk mencapai tujuan pengajaran seperti
yang diharapkan itu, guru dapat menggunakan berbagai
metode diantaranya Partisipatori, Simulasi, Sosio Drama,
dan Studi Proyek.
Siswa SD sesuai dengan tingkat kemampuan dan
perkembangan berpikirnya memang lebih menyenangi
contoh-contoh konkrit. Contoh konkrit tersebut adalah
contoh-contoh perilaku yang dapat dilaksanakan dalam
kehidupan siswa. Penerapannya mungkin dalam
kelompok diskusi di kelas, dalam kelompok bermain di
sekolah atau dalam kehidupan di tengah-tengah
keluarga. Karena itu dalam prinsip pengajaran dianjurkan
agar guru SD dalam mengajarnya memulai dari hal-hal
konkrit kepada yang abstrak apalagi materi pendidikan
moral pada dasarnya bersifat abstrak.
Salah satu permasalahan pokok yang dihadapi guru
adalah bagaimana mencari contoh-contoh konkrit yang
memang secara langsung menyentuh aspek kehidupan
anak. Apa yang secara langsung menyentuh kebuthan
seorang akan lebih mudah dihayati dan dilaksanakan.
Kiranya demikian pula dengan mata pelajaran PKn SD.
Oleh sebab itu dalam mengajarnya guru PKn SD
diharapkan dapat (a) mengemukakan berbagai contoh
perilaku, (b) membantu siswa agar dapat
mengikuti/mencontoh berbagai perilaku yang sesuai
dengan nilai-nilai moral Pancasila dan tuntutan
kehidupan masyarakat sekitarnya yang tidak
bertentangan dengan nilai-nilai moral Pancasila tersebut.
Sebagai contoh misalnya adalah, guru dalam
mengajarnya sebaiknya lebih menekankan pada contoh-
contoh yang sesuai dengan tingkat perkembangan
198
siswa.
Contoh-contoh pengamalan nilai-moral dalam
berbagai situasi dan konteks kiranya dapat membantu
siswa untuk lebih memahami dan menghayati serta
mengamalkan nilai-nilai moral yang disampaikan melalui
mata pelajaran PKn SD. Nilai-nilai yang mendasari sikap
dan perilaku dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan
bermain serta lingkungan yang lebih luas haru
merupakan materi penting untuk dipahami anak-anak
SD.
Nilai-nilai dalam keluarga dimaksud diantaranya adalah
kasih sayang, saling menghormati, menyenangi
kebersihan dan keindahan, kepatuhan. Dapat juga yang
berkaitan dengan lingkungan belajar anak seperti, saling
menyayangi, tolong menolong, adil, berdisiplin,
mematuhi aturan permainan, tertib dan jujur, dan
bersikap sportif. Nilai-moral dalam lingkungan kelas atau
sekolah juga perlu diperhatikan misalnya dating dan
menyelesaikan tugasnya tepat waktu, berbari dengan
rapih saat memasuki kelas, memelihara kebersihan
kelas dan sekolah, memelihara buku dan peralatan
sekolah, menghormati guru dan petugas sekolah lainnya.
I. Implementasi Pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan dalam Kehidupan Sehari hari
Kenakalan remaja disebabkan oleh beberapa hal
antara lain kesalahan sistem pengajaran di sekolah yang
kurang menanamkan sistem nilai, transisi kultural,
kurangnya perhatian orang tua, dan kurangnya
kepedulian masyarakat pada masalah remaja.
Untuk mengatasi permasalahan remaja tersebut
perlu dilakukan secara sistemik dan komprehensif
melalui lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat, dan
melalui kebijakan pemerintah. Hal ini dapat dapat dikaji
dan dilakukan melalui berbagai disiplin ilmu
(interdisipliner) yaitu agama, moral (PPKn), olahraga
kesehatan, biologi, psikologi, sosial, hukum, dan politik.
J. Permasalahan dan Solusi Pendidikan
Kewarganegaraan di Sekolah Dasar
Berikut ini merupakan beberapa permasalahan &
199
solusi Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar
menurut (Hendrizal, 2017).
Permasalahannya
Mengapa selama ini PKn cenderung kurang diminati
siswa? Mengapa PKn kurang mendapat perhatian
seperti pelajaran matematika, IPA, bahasa Indonesia?
Apakah karena PKn tidak di UN kan ditingkat sekolah
dasar? Pertanyaan ini muncul bila melihat kenyataan
bahwa sebagian orang yang menganggap remeh
pelajaran PKn ini, yang pasti terdapat dampak pada
pencapaian pelajaran PKn yang kurang maksimal. Apa
kita harus menyalahkan peserta didik?
Penyesaiinya:
Sudah seharusnya sebagai pendidik melakukan
introspeksi diri. Apakah selama ini kita sudah mengajar
dengan baik serta bisa membuat tertarik pelajaran PKn
ini ke peserta didik ? Masalah demi masalah yang
dialami begitu kompleks. Seperti kurikulum yang terlalu
berat, kurangnya kemampuan dalam menangkap kata
kunci dalam SK dan KD mengajar berdasarkan buku
teks (textbook centre) praktek mengajar PKn selama ini
lebih banyak berlangsung dengan pendekatan
konvensional pembelajaran tidak kontekstual evaluasi
cenderung mengarah pada aspek kognitif kurikulum
disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa SD
menangkap esensi atau kata kunci dalam SK dan KD
secara benar mengajar harus punya persiapan RPP.
RPP memegang peranan penting bagi guru dalam
mengajar mengajar dengan pendekatan konstruktivisme.
Melaksanakan pendekatan konstruktivisme akan banyak
memberikan kesempatan pada siswa untuk mengeksplor
potensi dirinya belajar berdasarkan realita. Belajar akan
bermakna bagi siswa kalau apa yang dipelajari itu
bermanfaat bagi kehidupannya evaluasi bersifat total
(kognitif, afektif, psikomotor). Hasil belajar tidak cuma
diukur dari kemampuan kognitif
200
BAB 13
Pendidikan Bahasa Indonesia di
Sekolah Dasar
A. PENGERTIAN PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA DI
SEKOLAH DASAR
Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi.
Pendidikan Bahasa Indonesia merupakan salah satu aspek
penting yang perlu diajarkan kepada para siswa di sekolah.
Maka mata pelajaran ini kemudian diberikan sejak masih di
bangku SD karena dari situ diharapkan siswa mampu
menguasai, memahami dan dapat mengimplementasikan
keterampilan berbahasa. Seperti membaca, menyimak,
menulis, dan berbicara. Permendiknas No. 22 Tahun 2006,
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan
intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan
penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang
studi.
Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik
mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain,
mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam
masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan
menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan
imaginatif yang ada dalam dirinya. Pembelajaran bahasa
Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta
didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan
baik dan benar. Hal tersebut dilakukan baik secara lisan
maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil
karya kesastraan manusia Indonesia.
Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia
merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang
menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan
berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra
Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi
peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal,
regional, nasional, dan global.
Pembelajaran bahasa Indonesia di SD dilaksanakan secara
terpadu. Pembelajaran secara terpadu seharusnya
dilaksanakan sesuai dengan cara anak memandang dan
201
menghayati dunianya. Oleh karena itu dalam pembelajaran
bahasa Indonesia diharapkan siswa dapat memahami secara
rasional serta konsep-konsep yang terkait dengan
pembelajaran bahasa Indonesia. Pembelajaran bahasa
Indonesia merupakan mata pelajaran mendasar yang sudah
diajarkan sejak TK sampai dengan perguruan tinggi.
Bahasa Indonesia mempunyai peran penting dalam proses
pembelajaran. Pelajaran bahasa Indonesia mulai dikenalkan di
tingkat sekolah dasar sejak kelas 1 SD. Mata pelajaran bahasa
Indonesia diberikan disemua jenjang pendidikan formal.
Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia
bersumber pada hakikat pembelajaran bahasa yaitu belajar
bahasa belajar berkomunikasi dan belajar sastra belajar
menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh
karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia mengupayakan
peningkatan kemampuan siswa untuk berkomunikasi secara
lisan dan tertulis serta menghargai karya cipta bangsa
Indonesia Hartati, 2003. Berdasarkan pendapat tersebut dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia di SD
adalah pembelajaran yang dilaksanakan secara terpadu. Selain
itu juga diarahkan untuk meningkatkan kemampuan
berkomunikasi peserta didik.
Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006
tentang Standar isi menyebutkan bahwa mata pelajaran bahasa
Indonesia di Sekolah Dasar memiliki tujuan sebagai berikut.
a. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai
dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun
tulis.
b. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa
Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa
negara.
c. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya
dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.
d. Menggunakan bahasa Indonesia untuk
meningkatkan kemampuan intelektual, serta
kematangan emosional dan sosial.
e. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk
memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan
berbahasa.
202
f. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia
sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia
Indonesia. Berdasarkan tujuan tersebut dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa di Sekolah
Dasar diharapkan siswa mendapat bekal yang matang
untuk mengembangkan dirinya dalam pendidikan
berikutnya dan hidup bermasyarakat. Dalam bidang
pengetahuan siswa memiliki pemahaman dasar-dasar
kebahasaan terutama bahasa baku serta mempunyai
sikap positif terhadap bahasa Indonesia.
B. ESENSI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Pendidikan dasar atau sekolah dasar merupakan momentum
awal bagi anak untuk meningkatkan kemampuan dirinya. Dari
bangku sekolah dasarlah mereka mendapatkan imunitas
belajar yang kemudian menjadi kebiasaan-kebiasaan yang
akan mereka lakukan di kemudian hari. Sehingga peran
seorang guru sangatlah penting untuk dapat menanamkan
kebiasaan baik bagi siswanya, bagaimana mereka dituntut
memiliki kompetensi-kompetensi yang kemudian dapat
meningkatkan kemampuan siswanya.
Salah satu keterampilan yang diharapkan dimiliki oleh siswa
dari sekolah dasar ini adalah keterampilan berbahasa yang
baik, karena bahasa merupakan modal terpenting bagi
manusia. Dalam pengajaran bahasa indonesia, ada empat
keterampilan berbahasa yang harus dimiliki oleh siswa,
keterampilan ini, antara lain: mendengarkan, berbicara,
membaca, dan menulis. Keempat aspek berbahasa ini saling
terkait antara satu dengan yang lainnya. Bagaimana seorang
anak akan bisa menceritakan sesuatu setelah ia membaca dan
berbicara anak, sehingga keempat aspek ini harus senantiasa
diperhatikan untuk meningkatkan kemampuan siswa.
Berikut ini 4 keterampilan berbahasa dasar yang penting
dikuasai anak yaitu:
1. Menyimak
Keterampilan yang paling mendasar ialah menyimak. Setiap
orang tentu melakukan kegiatan menyimak, mulai dari
mendengarkan berita, cerita, dan berbagai informasi lainnya
203
baik melalui TV, Radio, dll. Underwood (1990) mendefinisikan
menyimak adalah kegiatan mendengarkan atau memperhatikan
baik-baik apa yang diucapkan orang, menangkap dan
memahami makna dari apa yang didengar.
Menyimak berbeda dengan mendengar, mendengar hanya
menerima informasi yang diperdengarkan saja tanpa melalui
penyerapan dan pemilihan informasi dalam kinerja otak
sehingga hanya tersimpan dalam short term memory(ingatan
jangka pendek). Mendengar identik dengan masuk telinga
kanan keluar telinga kiri,sedangkan menyimak adanya sebuah
proses penyerapan dan pemilihan informasi dalam otak
sehingga disimpan dalam long term memory (ingatan jangka
panjang), disinilah kinerja otak bekerja dan berkembang
dengan baik.
2. Berbicara
Keterampilan berbicara pada umumnya dapat dilakukan oleh
semua orang, tetapi berbicara yang terampil hanya sebagian
orang mampu melakukan. Berbicara secara umum dapat
diartikan suatu penyampaian maksud (ide, pikiran, isi hati)
seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa
lisan sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang lain
(Depdikbud, 1984:3/1985:7).
Keterampilan berbicara merupakan salah satu komponen
dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang harus dimiliki oleh
pendidik dan peserta didik di sekolah. Terampil berbicara
menuntut siswa untuk dapat berkomunikasi dengan siswa
lainnya. Seperti yang diungkapkan oleh Supriyadi (2005:179)
bahwa sebagian besar siswa belum lancar berbicara dalam
bahasa Indonesia. Siswa yang belum lancar berbicara tersebut
dapat disertai dengan sikap siswa yang pasif, malas berbicara,
sehingga merasa takut salah dan malu, atau bahkan kurang
berminat untuk berlatih berbicara di depan kelas.
Guru harus mampu menumbuhkan minat berbicara para
siswa ketika di dalam kelas. Ajaklah mereka untuk
mempraktikkan teks pidato, puisi, berdrama, dsb. Sehingga
mereka bisa mengalami.
3. Membaca
Pusat pemerolehan berbagai pengetahuan keterampilan dari
menyimak, berbicara, dan menulis ialah membaca. Aktivitas
membaca sama halnya dengan pemerolehan, apa yang kita
ketahui adalah dari apa yang kita baca. Stauffer (Petty &
204
Jensen, 1980) menganggap bahwa membaca, merupakan
transmisi pikiran dalam kaitannya untuk menyalurkan ide atau
gagasan. Selain itu, membaca dapat digunakan untuk
membangun konsep, mengembangkan perbendaharaan kata,
memberi pengetahuan, menambahkan proses pengayaan
pribadi, mengembangkan intelektualitas, membantu mengerti
dan memahami problem orang lain, mengembangkan konsep
diri dan sebagai suatu kesenangan.
Membaca memiliki pengaruh terhadap perkembangan hidup
kita, namun banyaknya koleksi buku bukan berarti ia gemar
membaca. Kegemaran membaca akan tampak apabila
seseorang mampu mengemukakan berbagai pengetahuan,
gagasan, dan ide-ide kreatifnya.
4. Menulis
Tahap keterampilan terakhir ialah menulis. Menulis sebagai
pusat pengaplikasian
berbagai pengetahuan yang telah didapat dari aktivitas
menyimak, membaca, dan berbicara kemudian mengalihkannya
ke dalam rangkaian kata dan bahasa yang memiliki makna dan
tujuan.
Pranoto (2004:9) berpendapat bahwa menulis berarti
menuangkan buah pikiran ke dalam bentuk tulisan atau
menceritakan sesuatu kepada orang lain melalui tulisan.
Menulis juga dapat diartikan sebagai ungkapan atau ekspresi
perasaan yang dituangkan dalam bentuk tulisan.
Orang yang gemar, pandai, dan telah menulis berarti ia telah
mencoba mengaktifkan indera yang ada pada dirinya melalui
apa yang ia lihat, dengar, rasakan, cium, dan raba kemudian
diaplikasikan ke dalam rangkaian kata dan bahasa.
Keempat keterampilan tersebut saling berhubungan, namun
menulislah hal yang paling utama.
Perbedaan utama antara menulis dan berbicara, yaitu orang
yang menulis lebih berani daripada orang yang banyak
berbicara tanpa memiliki makna dan tujuan. Orang yang hanya
pandai berbicara belum tentu pandai menulis, ia lebih
mengandalkan daya orasi daripada literasi.
C. PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH
DASAR
Pembelajaran bahasa indonesia, terutama di sekolah dasar
tidak akan terlepas dari empat keterampilan berbahasa yaitu
205
menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kemampuan
berbahasa bagi manusia sangat diperlukan. Sebagai makhluk
sosial, manusia
berinteraksi, berkomunikasi dengan manusia lain dengan
menggunakan bahasa sebagai media, baik berkomunikasi
menggunakan bahasa lisan juga berkomunikasi menggunakan
bahasa tulis. Keterampilan berbahasa yang dilakukan manusia
yang berupa menyimak, berbicara, membaca dan menulis yang
dimodali kekayaan kosakata, yaitu aktivitas intelektual, karya
otak manusia yang berpendidikan. Kita mengetahui
kemampuan manusia berbahasa bukanlah instinct,tidak dibawa
anak sejak kecil, melainkan manusia dapat belajar bahasa
sampai terampil berbahasa, mampu berbahasa untuk
kebutuhan berkomunikasi.
Penggunaan bahasa dalam interaksi dapat dibedakan
menjadi dua yaitu lisan dan tulisan. Agar individu dapat
menggunakan bahasa dalam suatu interaksi, maka ia harus
memiliki kemampuan berbahasa. Kemampuan itu digunakan
untuk mengkomunikasikan pesan. Pesan ini berupa ide
(gagasan), keinginan, kemauan, perasaan ataupun interaksi.
Menurut indihadi (2006: 57), ada lima faktor yang harus
dipadukan dalam berkomunikasi, sehingga pesan ini dapat
dinyatakan atau disampaikan, yaitu: struktur pengetahuan
(schemata), kebahasaan, strategi produktif, mekanisme
psikofisik dan konteks.
Kemampuan berbahasa lisan meliputi kemampuan
berbicara dan menyimak, sedangkan kemampuan bahasa
tulisan meliputi kemampuan membaca dan menulis. Pada saat
manusia berkomunikasi secara lisan, maka ide-ide, pikiran
gagasan dan perasaan yang dituangkan dalam bentuk kata
dengan tujuan untuk dipahami oleh lawan bicaranya. Demikian
pula saat anak memasuki usia TK (taman kanak-kanak) mereka
dapat berkomunikasi dengan sesamanya dalam kalimat berita,
kalimat tanya, kalimat majemuk, dan berbagai bentuk kalimat
lainnya. Pada usia ini, anak dianggap telah memiliki kosakata
yang cukup untuk mengungkapkan yang dipikirkan, dan
dirasakannya mereka lebih mengungkapkan dalam bentuk lisan
dibandingkan tulisan. Pola bahasa yang digunakannya masih
merupakan tiruan bahasa orang dewasa.
Ketika anak memasuki usia sekolah dasar,anak-anak akan
terkondisikan untuk mempelajari bahasa tulis. Pada masa ini
206
anak dituntut untuk berpikir lebih dalam lagi kemampuan
berbahasa anak pun mengalami perkembangan.
Menulis sebagai keterampilan seseorang (individu)
mengkomunikasikan pesan dalam sebuah tulisan. Keterampilan
ini berkaitan dengan kegiatan seseorang dalam memilih,
memilah, dan menyusun pesan untuk ditransaksikan melalui
bahasa tulis. Cahyani dan Hodijah (2007: 127), pesan yang
ditransaksikan itu dapat berupa wujud ide (gagasan),
kemampuan, keinginan, perasaan, atau informasi. Selanjutnya,
pesan tersebut dapat menjadi isi sebuah tulisan yang
ditransaksikan kepada pembaca. Melalui sebuah tulisan,
pembaca dapat memahami pesan yang ditransaksikan serta
tujuan penulisan.
Perkembangan bahasa anak berkembang seiring dengan
perkembangan intelektual anak. Artinya, anak yang
berkembang bahasanya cepat, exposed pada ‗bantuan‘ yang
meskipun tak tampak nyata, memperlihatkan lingkungan yang
kondusif kemah dalam arti emosional positif. Oleh karena itu,
perkembangan bahasa memiliki keterkaitan dengan
perkembangan intelektual anak.
Anak-anak TK yang berusia sekitar lima sampai enam tahun
memiliki kemampuan dalam menghasilkan cerita. Pada usia ini,
sebaiknya kemampuan bercerita anak diasah agar mereka
dapat dengan leluasa mengungkapkan pikiran dan
perasaannya yang terungkap dalam bentuk cerita. Cerita yang
diungkapkan masih kurang jelas karena plotnya yang tidak
runut. Pada umumnya, yang mereka hasilkan adalah cerita
yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, misalnya
lingkungan tempat mereka tinggal.
Pada saat anak-anak memasuki usia tujuh tahun, anak dapat
membuat cerita yang lebih teratur. Mereka dapat menyusun
cerita dengan cara mengemukakan masalah, rencana
pemecahan masalah, dan menyelesaikan masalah. Adapun
pada saat anak-anak memasuki kelas dua sekolah dasar
diharapkan anak-anak dapat bercerita dengan menggunakan
kalimat yang lebih panjang dengan menggunakan konjungsi;
dan, lalu, dan kata depan seperti di, ke, dan dari. Umumnya,
plot yang terdapat dalam cerita masih belum jelas. Pelatihan
perlu dilakukan agar anak dapat mengungkapkan kejadian
secara kronologis.
207
D. KURIKULUM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN
BAHASA INDONESIA
Pendidikan formal dalam lingkungan sekolah memiliki
kurikulum tertulis, dilaksanakan secara terjadwal, dan dalam
suatu interaksi edukatif di bawah arahan guru. Kurikulum
merupakan suatu alat yang penting dalam rangka
merealisasikan dan mencapai tujuan sekolah. Begitu pula
halnya dengan kurikulum bahasa Indonesia, merupakan suatu
alat yang penting dalam rangka merealisasikan dan mencapai
tujuan kebahasaan Indonesia, yaitu meningkatkan kemampuan
siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, baik
secara lisan maupun tulisan.
Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP, 2006:
81), standar isi bahasa Indonesia sebagai berikut:
"pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk
meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi
dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara
lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap
hasil karya kesastraan manusia Indonesia." Tujuan pelajaran
bahasa Indonesia di SD antara lain bertujuan agar siswa
mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk
mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan
kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan
kemampuan berbahasa. Adapun tujuan khusus pengajaran
bahasa Indonesia, antara lain agar siswa memiliki kegemaran
membaca, meningkatkan karya sastra untuk meningkatkan
kepribadian, mempertajam kepekaan, perasaan, dan
memperluas wawasan kehidupannya.
Pengajaran bahasa Indonesia juga dimaksudkan untuk
melatih keterampilan mendengar, berbicara, membaca, dan
menulis yang masing-masing erat hubungannya. Pada
hakikatnya, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk
meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan
bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulisan.
Fungsi bahasa yang paling utama adalah tujuan kita berbicara.
Dengan berbahasa, kita bisa menyampaikan berita, informasi,
pesan, kemauan, dan keberatan kita. Menurut Richards, Platt,
dan Weber dalam Solahuddin (2007) menguraikan bahwa
bahasa sering dikatakan mempunyai tiga fungsi utama, yaitu
(1) deskriptif;
208
(2) ekspresif; dan
(3) sosial.
Fungsi deskriptif bahasa adalah untuk menyampaikan
informasi faktual. Fungsi ekspresif ialah memberi informasi
mengenai pembaca itu sendiri, mengenai perasaan-
perasaannya, kesenangannya, prasangkanya, dan
pengalaman-pengalamannya yang telah lewat. Fungsi sosial
bahasa ialah melestarikan hubungan-hubungan sosial antar
manusia.
Pembelajaran menulis di jenjang pendidikan dasar dapat
dibedakan menjadi dua tahap, yakni menulis permulaan di
Kelas I-II dan menulis lanjut yang terdiri dari menulis lanjut
tahap pertama di Kelas III-IV serta menulis lanjut tahap kedua
di Kelas VI hingga kelas IX (SMP).
Menulis itu sendiri berkaitan dengan membaca, bahkan
dengan kegiatan berbicara dan menyimak. Membaca dan
menulis merupakan kegiatan yang saling mendukung agar
berkomunikasi untuk melakukan kegiatan membaca sebagai
kegiatan dari latihan menulis.
Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013
Pembelajaran bahasa Indonesia pada hakikatnya adalah
membelajarkan peserta didik tentang keterampilan berbahasa
Indonesia yang baik dan benar sesuai tujuan dan fungsinya.
Menurut Atmazaki (2013), mata pelajaran Bahasa Indonesia
bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan
berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika
yang
berlaku, baik secara lisan maupun tulisan, menghargai dan
bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa
persatuan dan bahasa negara, memahami bahasa Indonesia
dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai
tujuan, menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan
kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan
sosial, menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk
memperluas wawasan, budi pekerti, serta meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan berbahasa, menghargai dan
membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya
dan intelektual manusia Indonesia.
209
Untuk mengimplementasikan tujuan mata pelajaran Bahasa
Indonesia tersebut, maka pembelajaran bahasa Indonesia
dalam kurikulum 2013 disajikan dengan menggunakan
pendekatan berbasis teks. Teks dapat berwujud teks tertulis
maupun teks lisan. Teks merupakan ungkapan pikiran manusia
yang lengkap yang di dalamnya memiliki situasi dan konteks.
Dengan kata lain, belajar Bahasa Indonesia tidak sekadar
memakai bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, tetapi
perlu juga mengetahui makna atau bagaimana memilih kata
yang tepat yang sesuai tatanan budaya dan masyarakat
pemakainya.
Dalam pembelajarannya menggunakan empat tahapan,
yaitu membangun konteks, membentuk model, membangun
teks bersama-sama/kelompok, dan membangun teks secara
individual atau mandiri. Pelaksanaan pembelajaran
menggunakan pendekatan saintifik dengan model yang sesuai.
Ketercapaian KD dalam kelompok KI: 1 dan 2 ditentukan oleh
ketercapaian KD dalam kelompok KI: 3 dan 4.
Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 yang
berbasis teks ini bertujuan agar dapat membawa peserta didik
sesuai perkembangan mentalnya, dan menyelesaikan masalah
kehidupan nyata dengan berpikir kritis. Dalam penerapannya,
pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki prinsip, yaitu sebagai
berikut.
a. Bahasa hendaknya dipandang sebagai teks, bukan
semata-mata kumpulan kata atau kaidah kebahasaan.
b. Penggunaan bahasa merupakan proses pemilihan
bentuk-bentuk kebahasan untuk mengungkapkan
makna.
c. Bahasa bersifat fungsional, artinya penggunaan
bahasa yang tidak pernah dapat dipisahkan dari
konteks, karena bentuk bahasa yang digunakan
mencerminkan ide, sikap, nilai, dan ideologi
pemakai/penggunanya.
d. Bahasa merupakan sarana pembentukan berpikir
manusia.
Dengan prinsip di atas, maka pembelajaran bahasa berbasis
teks membawa implikasi metodologis pada pembelajaran yang
bertahap. Hal ini diawali dari kegiatan guru membangun
210
konteks, dilanjutkan dengan kegiatan pemodelan, membangun
teks secara bersama-sama, sampai pada membangun teks
secara mandiri. Kegiatan ini dilakukan karena teks merupakan
satuan bahasa yang mengandung pikiran dengan struktur yang
lengkap. Guru harus benar-benar meyakini bahwa pada
akhirnya peserta didik mampu menyajikan teks secara mandiri.
E. PEMBELAJARAN MENULIS
1. Pengertian Menulis
Ahmad Susanto (2019) “Menulis ialah kegiatan yang paling
sering dilakukan oleh setiap orang yang membutuhkan
keterampilan khusus yang harus dipelajari dan senantiasa
dilatih. Diperlukan keterampilan tambahan juga motivasi karena
menulis bukan tentang bakat, tidak semua orang mampu
menulis. Menulis adalah salah satu cara mengoperasikan otak
secara totalitas menyertakan raga, jari, dan juga tangan”
Berikut beberapa pendapat mengenai pengertian menulis.
1. Menurut KBBI, menulis mempunyai arti: (1) membuat
huruf, angka, dan sebagainya dengan pena, pensil,
kabur dan sebagainya; (2) melahirkan pikiran atau
perasaan seperti mengarang, membuat surat dengan
tulisan; (3) menggambar, melukis; (4) membatik kain,
mengarang cerita, membuat surat, berkirim surat.
2. Rusyana (1984: 191) ―Menulis merupakan kemampuan
menggunakan pola-pola bahasa dalam penyampaiannya
secara tertulis untuk mengungkapkan suatu gagasan
atau pesan.‖
3. Tarigan (1986:4) ―Menulis merupakan suatu kegiatan
suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif, penulis
harus terampil memanfaatkan struktur bahasa dan
kosakata.‖
4. Alwasilah (1994:78) ―Menulis adalah kegiatan produktif
dalam berbahasa. Menulis adalah proses psikolinguistik,
bermula dengan formasi gagasan lewat semantik, lalu
didata dengan aturan sintaksis, kemudian diwujudkan
dalam tatanan sistem tulisan.‖ Lebih jelasnya bahwa
menulis itu adalah kegiatan menuangkan ide atau
gagasan ke dalam tulisan, menulis itu sebagai suatu
211
keterampilan, menulis itu sebagai proses berpikir,
menulis itu sebagai kegiatan informasi, menulis itu
sebagai kegiatan berkomunikasi.
Menulis menjadi kegiatan penting yang sangat diperlukan
dalam kehidupan sehari-hari.
2. Fungsi Menulis
Menurut Purwanto dalam Susanto (2019) mengklasifikasikan
fungsi menulis sesuai kegunaannya, yaitu sebagai berikut:
a. Fungsi penataan, ialah menata suatu gagasan
,pikiran, pendapat, imajinasi, dan lainnya, terhadap
penggunaan bahasa, sehingga tulisan tersusun.
b. Fungsi pengawetan, ialah mengawetkan pengaturan
sesuatu dalam dokumen yang tertulis.
c. Fungsi penciptaan, ialah mewujudkan atau
menciptakan sesuatu yang baru.
d. Fungsi penyampaian, ialah menyampaikan gagasan,
pikiran, imajinasi, pengetahuan, informasi yang telah
diawetkan dalam karangan lalu disampaikan pada orang
terdekat maupun yang jauh.
e. Fungsi melukiskan, adalah menggambarkan atau
mendeskripsikan sesuatu apapun.
f. Fungsi memberi petunjuk, ialah memberikan
petunjuk tentang cara melakukan sesuatu.
g. Fungsi memerintahkan, ialah memberikan perintah,
nasihat, permintaan, anjuran atau saran, supaya
pembaca menjalankannya.
h. Fungsi mengingat, adalah suatu kegiatan, keadaan,
peristiwa dicatat agar tidak terlupakan dan dapat dibaca
kembali.
i. Fungsi korespondensi, adalah terjadinya timbal balik
adanya tanggapan, seperti memberitahukan,
menanyakan, meminta atau memerintah, ditujukan agar
pembaca memenuhi hal tersebut.
3. Tujuan dan Manfaat menulis
Ada empat macam tujuan (the writer intention) menulis, yaitu:
212
1. Untuk memberitahukan atau mengajar (informative
discourse)
2. Untuk menyakinkan dan mendesak pembaca
(persuasive discourse)
3. Untuk menghibur atau menyenangkan pembaca
(altruistic purpose) dan wacana kesastraan (literacy
discourse )
4. Untuk pernyataan diri dengan pencapaian nilai-nilai
artistik (expressive discourse)
Manfaat menulis, yaitu sebagai berikut:
1. Membantu menemukan kembali yang pernah diketahui.
2. Menghasilkan ide-ide baru
3. Membantu mengorganisasikan pikiran dan
menempatkannya dalam suatu wacana.
4. Membuat pikiran seseorang siap dibaca dan juga
dievaluasi.
5. Membantu menyerap dan mengingat informasi dan
pengetahuan baru dengan baik.
6. Membantu memecahkan masalah
4. Pembelajaran Menulis Permulaan
Menurut Tomkins dalam Susanto (2019:257) menguraikan
proses menulis ada lima tahap yaitu: Tahap pra-menulis
(prewriting); tahap penyusunan draf tulisan (drafting);
tahap perbaikan (revisi); tahap penyuntingan (editing); dan
tahap pempublikasian (publishing).
Dalam pembelajaran menulis peserta didik pertama-tama harus
diajarkan dahulu bagaimana cara memegang alat tulis, dimulai
dari pensil saat kelas rendah lalu menggunakan pena mulai
kelas tinggi pada Sekolah Dasar. Kemudian, peserta didik
boleh diarahkan untuk melakukan langkah-langkah
pembelajaran dalam menulis, sebagai berikut ini:
a. Pengenalan, guru mengenalkan dasar dasar menulis
dahulu seperti titik, dan garis maupun lingkaran.
Kemudian, guru mengenalkan huruf-huruf dan angka-
angka sederhana dari 0 sampai 10 dahulu.
b. Menyalin, guru mencontohkan huruf atau angka
213
yang akan diajarkan. Peserta didik menyalin huruf yang
sama seperti yang telah dicontohkan oleh guru. Peserta
didik menyalin bunyi bacaan ke huruf tertulis, menyalin
huruf kecil menjadi huruf besar, menyalin huruf lepas
menjadi huruf sambung, dan peserta didik dapat diminta
melengkapi kata atau tanda baca.
c. Menulis halus atau indah, menulis yang
memperhatikan bentuk, ukuran, tebal tipis dan kerapian
menulis.
d. Menulis nama, bisa menulis nama diri sendiri dahulu,
lalu nama benda, hewan, tumbuhan dan lain-lain.
e. Mengarang sederhana, bisa menceritakan
pengalaman yang dirangkai dalam lima sampai sepuluh
baris dan pastinya harus diperhatikan ketepatan ejaan,
kerapian, dan isi yang diceritakan peserta didik.
214
BAB 14
Pembelajaran Seni Budaya dan
Keterampilan Di Sekolah Dasar
A. PENDIDIKAN SENI BUDAYA DAN
KETERAMPILAN
Pendidikan seni budaya dan keterampilan (SBK) pada
dasarnya merupakan pendidikan seni yang berbasis
budaya yang aspek-aspeknya, meliputi: seni rupa, seni
music, seni tari dan keterampilan. Pendidikan seni di
sekolah dapat dijadikan sebagai dasar pendidikan dalam
membentuk jiwa dan kepribadian, berakhlak mulia.
Tujuan dari pendidikan seni budaya dan keterampilan
ialah untuk mengembangkan kemampuan berpikir, sikap
dan nilai untuk dirinya sebagai individu maupun makhluk
sosial dan budaya.
Pendidikan SBK pada Sekolah Dasar memiliki
peranan dalam pembentukan pribadi peserta didik yang
harmonis dengan memperhatikan kebutuhan
perkembangan anak dalam mencapai multi kecerdasaan
yang terdiri atas kecerdasan intrapersonal,
interpersonal, visual, musical, linguistic, logika,
matematis, naturalis, dan kecerdasan kreativitas,
kecerdasan spiritual, moral serta kecerdasan
emosional.
Pendidikan Seni Budaya memiliki sifat multilingual,
multidimensional, dan multikultural. Multilingual
bermakna pengembangan kemampuan
mengekspresikan diri secara kreatif dengan berbagai
cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran
dan berbagai perpaduannya. Multidimensional
bermakna pengembangan beragam kompetensi meliputi
konsepsi (pengetahuan, pemahaman, analisis,
evaluasi), apresiasi, dan kreasi dengan cara
memadukan secara harmonis unsur estetika, logika,
215
kinestetika, dan etika. Sifat multikultural mengandung
makna pendidikan seni menumbuhkembangkan
kesadaran dan kemampuan apresiasi terhadap beragam
budaya Nusantara dan mancanegara. Hal ini merupakan
wujud pembentukan sikap demokratis yang
memungkinkan seseorang hidup secara beradab serta
toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk.
B. HAKIKAT PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN
KETERAMPILAN
Pendidikan SBK di sekolah dirasakan sangat penting, karena
pelajaran ini memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan
multicultural.
Multilingual bertujuan mengembangkan kemampuan
mengekspresikan diri dengan berbagai cara.
Multidimensional berarti bahwa mengembangkan kompetensi
kemampuan dasar siswa yang mencakup persepsi,
pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi, apresiasi,
pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi, apresiasi, dan
produktivitas dalam menyeimbangkan fungsi otak kanan dan
kiri, dengan memadukan unsur logika, etika dan estetika.
Multicultural bertujuan mengembangkan kesadaran dan
kemampuan berapresiasi terhadap keberagaman budaya
lokal dan global sebagai pembentukan sikap menghargai,
demokratis, beradap, dan hidup rukun dalam masyarakat dan
budaya yang majemuk.
Pendidikan SBK memiliki peranan dalam pembentukan pribadi
peserta didik yang harmonis dengan memperhatikan
kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai multi
kecerdasan yang terdiri atas kecerdasan interpersonal,
kecerdasan interpersonal, visual, spasial, moral, emosional,
musical, logic, kinestetik, linguistic, matematis, dan
kecerdasan naturals. Semua ini diperoleh melalui upaya
eksplorasi elemen, prinsip, proses, dan teknik berkarya dalam
konteks budaya masyarakat yang beragam.
Secara spesifik mata pelajaran SBK meliputi aspek-aspek,
sebagai berikut:
1. Seni rupa, mencakup pengetahuan, keterampilan, dan nilai
dalam menghasilkan karya seni rupa berupa lukisan, patung,
ukiran, cetak-mencetak, dan sebagainya.
2. Seni music, mencakup kemampuan untuk menguasai olah
vokal, memainkan alat music, apresiasi terhadap gerak tari.
3. Seni tari, mencakup keterampilan gerak berdasarkan olah
tubuh dengan, dan, tanpa rangsangan bunyi, apresiasi
216
terhadap gerak tari.
4. Seni drama, mencakup keterampilan pementasan dengan
memadukan seni music, seni tari, dan peran.
5. Keterampilan, mencakup segala aspek kecakapan hidup (life
skills), yang meliputi keterampilan personal, social,
vokasional, dan akademik.
Diantara bidang seni yang ditawarkan tersebut, minal
diajarkan satu bidang seni sesuai dengan kemampuan
sumber daya manusia serta fasilitas yang tersedia. Pada
tingkat sekolah dasar, mata pelajaran keterampilan
ditekankan pada keterampilan vokasional, khususnya
kerajinan tangan.
C.TUJUAN PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN
KETERAMPILAN
Tujuan pembelajaran merupakan rumusan tingkah
laku dan kemampuan yang harus dicapai dan dimiliki
siswa. Dan tujuan pembelajaran seni budaya di sekolah
dasar yaitu untuk mengembangkan sikap dan
kemampuan siswa agar bisa berkreasi,
berkreativitas,dan menghargai kerajinan atau
keterampilan seseorang. Materi pada pembelajaran seni
budaya yaitu terdiri dari seni rupa, seni tari, seni musik,
dan kerajinan yang masing-masingnya mempunyai
karakteristik.
Pembelajaran seni budaya di sekolah dapat
membantu siswa untuk mengekspresikan dirinya secara
bebas. Melalui pendidikan seni budaya potensi yang
dimiliki siswa sejak lahir untuk bergerak secara bebas
dapat dikembangkan secara optimal. Pembelajaran seni
budaya diberikan di sekolah karena keunikan,
kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap
kebutuhan perkembangan peserta didik, yang terletak
pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk
kegiatan berekspresi atau berkreasi dan apresiasi
pendekatan belajar dengan seni, dan peran ini tidak
dapat diberikan oleh mata pelajaran lain.
Mata pembelajaran seni budaya bertujuan agar peserta
didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Memahami konsep dan pentingnya seni budaya dan
217
keterampilan
2. Menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya
dan keterampilan
3. Menampilkan kreativitas melalui seni budaya dan
keterampilan
4.menampilkan peran serta dalam seni budaya dan
keterampilan dalam tingkat lokal regional maupun global
Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan memiliki
sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural.
1.Multilingual bermakna pengembangan kemampuan
mengekspresikan diri secara kreatif dengan berbagai
cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran
dan berbagai perpaduannya.
2.Multidimensional bermakna pengembangan beragam
kompetensi meliputi konsepsi (pengetahuan,
pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi, dan kreasi
dengan cara memadukan secara harmonis unsur
estetika, logika, kinestetika, dan etika.
3.Multikultural mengandung makna pendidikan seni
menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan
apresiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan
Mancanegara.
Hal ini merupakan wujud pembentukan sikap
demokratis yang memungkinkan seseorang hidup secara
beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya
yang majemuk
Pembelajaran seni budaya di sekolah dasar bukan
sekedar proses upaya transformasi pengetahuan seni
dan budaya serta keterampilan tetapi juga perlu
diupayakan pengembangan sikap secara aktif kritis dan
kreatif.karena pendidikan seni budaya memiliki fungsi
dan tujuan untuk mengembangkan sikap dan
kemampuan siswa mampu berkreasi dan peka dalam
berkesenian atau memberikan kemampuan dalam
berkarya dan berapresiasi.
D. METODE PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN
KETERAMPILAN
218
Melaksanakan program kegiatan pembelajaran tidak
terlepas dari metode yang akan digunakan. Sudjana
(1999. 70 menyatakan bahwa: "metode adalah cara yang
digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan
siswa pada saat berlangsungnya pengajaran." Metode
ditetapkan oleh pengajar dengan berpedoman kepada
tujuan pengajaran dan atas pertimbangan terhadap
bahan pelajaran yang akan diberikan. Metode mengajar
merupakan bagian dari strategi kegiatan yang dalam
fungsinya berperan sebagai alat untuk membantu
efisiensi dalam proses mengajar.
Dalam memilih metode yang akan digunakan guru dalam
program kegiatan pembelajaran, guru hendaknya kreatif
dalam memilih metode yang akan dipakai, Sehingga
dengan pemilihan metode yang tepat, mampu
menumbuhkan dan mengembangkan seluruh potensi
yang dimiliki oleh siswa agar dapat menghasilkan
sesuatu hal yang baru berdasarkan daya pikir atau
kemampuannya. Dengan pemilihan metode yang tepat
dapat membantu pembentukan kepribadian anak, Selain
itu, dengan pemilihan metode yang tepat diharapkan
anak dapat menyalurkan ekspresi jiwanya,
menumbuhkan keberanian berkreasi, yaitu menyalurkan
pikiran dan perasaan.
Pemilihan metode pembelajaran diperlukan oleh guru
pada saat merancang proses kegiatan belajar mengajar.
Karena ketepatan pemilihan metode pembelajaran akan
berdampak terhadap efektivitas pencapaian kompetensi
pembelajaran yang telah ditetapkan. Dalam
pembelajaran seni musik gabungan dari berbagai
metode sangat diperlukan, apalagi kalau pembelajaran
yang dilakukan menekankan pada pemberian
pengalaman kepada siswa, Pemilihan metode
pembelajaran yang dilakukan oleh para guru
berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pada
umumnya mereka menggunakan metode ceramah,
demonstrasi, dan latihan (drill). Metode ceramah
digunakan oleh para guru pada saat menyampaikan
berbagai informasi yang terkait dengan materi
pembelajaran. Adapun metode demonstrasi, dilakukan
219
oleh para guru pada saat pembelajaran materi praktik.
Karena proses pembelajaran praktik yang berlangsung
lebih menekankan pada strategi ear training, maka pada
saat ada materi baru siswa sangat tergantung pada
contoh guru yang dilakukan dengan metode
demonstrasi.
Ketersediaan sarana pembelajaran sangat diperlukan
guru dalam merancang dan melaksanakan
pembelajaran. Apalagi dalam pembelajaran seni musik,
berdasarkan karakteristik dan standar kompetensi
menurut kreativitas guru dalam memanfaatkan dan
mengembangkannya. Ketersediaan buku sumber dan
buku ajar, alat musik, dan media pendukung
pembelajaran lainnya juga sangat dibutuhkan dalam
pembelajaran SBK ini.
Ada beberapa sarana pendukung yang diperlukan guru
dalam pelaksanaan pembelajaran seni musik, seperti
ruang praktik musik, perlengkapan elektronik (tape
recorder, CD dan DVD player, televisi, dan lain-
lain). ketersediaan sarana pembelajaran tersebut
berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa
Danyak sekolah yang tidak memiliki ruang khusus
pembelajaran seni musik. Adapun perlengkapan yang
ada seperti tape recorder, CD dan DVD player, serta
televisi yang dimiliki di beberapa sekolah tidak pernah
digunakan sebagai sarana elektronik apalagi media
dalam pembelajaran seni musik.
E. EVALUASI PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN
KETERAMPILAN
Evaluasi merupakan rangkaian kegiatan dari suatu
program yang bertujuan untuk menentukan keberhasilan
suatu program. Worthen & Sanders (1981)
mengungkapkan bahwa evaluasi adalah kegiatan untuk
menentukan nilai sesuatu yang di dalamnya terkandung
pemerolehan informasi yang digunakan untuk
menentukan baik buruknya suatu program, produk,
prosedur, tujuan, atau rancangan pendekatan untuk
mencapai tujuan-tujuan tertentu. Ada banyak model
evaluasi yang dikembangkan oleh para ahli pendidikan
diantaranya:
220
• Model evaluasi CIPP (Context, Input, Process,
Product) (Fernandes, 1984)
• Model evaluasi Scriven yang berorientasi pada
―consumer oriented evaluation‖ karena filosofi model
evaluasi tersebut didasarkan pada kepentingan
konsumen (Stufflebeam & Shinkfield, 1985)
• Model evaluasi Alkin yang memperhatikan pengguna
potensial, yaitu para pengguna baik yang berada dalam
suatu institusi yang mempunyai potensi menggunakan
hasil evaluasi secara langsung maupun tidak (Alkin,
1985)
• Model evaluasi Valadez (1994) menekankan
pentingnya kegiatan monitoring dalam melakukan
evaluasi
• Model evaluasi Performance monitoring indicator
yang mengukur dampak, outcomes, output, input, dari
suatu proyek yang dimonitor selama pelaksanaan proyek
untuk memperoleh informasi tentang mengetahui
kemajuan proyek (Mosse, Roberto, & Sontheimer, 1996)
Evaluasi pengajaran merupakan bagian dari
kepentingan pendidikan yang dianggap penting untuk
mengetahui tercapainya suatu tujuan yang telah
ditetapkan. Secara umum, evaluasi pengajaran menurut
Harjanto (2000:277) adalah ―penilaian atau penaksiran
terhadap pertumbuhan dan kemajuan peserta didik ke
arah tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam hukum.‖
Maksud hukum dalam pernyataan tersebut adalah
tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam kurikulum.
Evaluasi pengajaran dimaksudkan untuk memperoleh
data yang akan mengukur tingkat keberhasilan yang
telah dicapai oleh peserta didik dan dapat ditempuh
melalui instrumen (alat) yang dibuat oleh pengajar.
Evaluasi untuk pembelajaran SBK meliputi segi
keterampilan dengan menggunakan tes perbuatan atau
peragaan, segi pengetahuannya dengan menggunakan
tes lisan atau pemahaman, serta tidak lepas mengenai
keadaan sikap dan inisiatif siswa dalam pembelajaran
(aspek nilai dan sikap). Dalam pelaksanaan penelitian,
evaluasi yang akan digunakan untuk mengukur
kreativitas siswa dalam pembelajaran SBK harus
221
didasarkan pada aspek-aspek yang harus dicapai siswa,
yaitu:
1. Aspek kognitif (pengetahuan);
berkaitan dengan pengetahuan atau pemahaman
siswa tentang berbagai hal yang berkaitan dengan
kesenian. Penilaian aspek kognitif dalam pembelajaran
SBK berkenaan dengan pemahaman daya pikir, dan
aplikasi daya pikir ke dalam perbuatan.
2. Aspek efektif (sikap);
berkaitan dengan perhargaan ilmu terhadap karya
kesenian, penghargaan atau penilaian terhadap karya
yang sering diistilahkan dengan apresiasi proses yang
diawali dengan pengamatan dan penghayatan. Aspek
afektif yang akan dijadikan sebagai penilaian yaitu
respons siswa dalam menunjukkan sikap kesungguhan
dalam belajar dan keberanian untuk mengungkapkan
gagasan melalui gerak, serta respon siswa atas karya
yang dihadapi karena pada saat berkreasi memerlukan
apresiasi
3. Aspek psikomotor (keterampilan);
berkaitan dengan perilaku siswa yang berupa
tindakan, oleh karena itu tahapan prosedur ketika siswa
berkarya atau berproses kreatif dapat menjadi fokus
amatan. Penilaian aspek psikomotor yang dilakukan
untuk mengetahui kreativitas siswa mencakup
kemampuan dalam menemukan gerak yang sesuai.
Pembelajaran SBK pada siswa sekolah dasar atau
madrasah ibtidaiyah lebih menekankan kepada proses
kreatif. Menumbuhkan respons kreatif pada siswa
sekolah dasar diperlukan stimulus (rangsangan).
Rangsangan mampu membangkitkan motivasi, imajinasi,
dan inspirasinya. Pada dasarnya, rangsangan dalam
pembelajaran SBK digunakan untuk membantu siswa
menemukan dan mengungkapkan kembali secara estetis
apa yang pernah siswa lihat dan rasakan, dan anak
dituntut untuk bisa membayangkannya, kemudian
diwujudkan lewat kegiatan yang kreatif. Dalam upaya
menumbuhkan sikap kreatif, siswa diberi rangsang
gagasan melalui pertanyaan seputar pengetahuan siswa
mengenai kesenian tradisional. Dengan peran serta
222
pengajar, siswa dibimbing dan diberi motivasi untuk
selalu berpikir secara kreatif dan merealisasikan seluruh
imajinasinya ke dalam kreasi yang kreatif pula, sehingga
siswa dapat mencurahkan pikirannya melalui kegiatan
secara sederhana sesuai dengan kemampuan yang
dimilikinya.
Anak pada usia sekolah dasar merupakan individu
yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan
perkembangan yang sangat luar biasa. Pada masa ini,
anak mengalami pematangan fungsi-fungsi fisik dan
psikisnya yang siap merespons rangsangan yang
diberikan oleh lingkungan. Masa ini merupakan yang
tepat untuk meletakkan dasar pertama dalam
mengembangkan kemampuan afektif, kognitif, dan
psikomotoriknya secara optimal. Kecenderungan anak
pada masa ini sangat aktif dalam melakukan berbagai
kegiatan. Keaktifannya dalam bergerak akan
meningkatkan perkembangan motoriknya.
Perkembangan motorik merupakan proses memperoleh
keterampilan dan pola yang dapat dilakukan anak.
Terdapat dua macam keterampilan motorik pada anak
yaitu:
1. Keterampilan motorik kasar, diperlukan pada anak
untuk mengendalikan seluruh gerak tubuhnya sehingga
anak mampu untuk melakukan gerak, seperti: berlari,
berjalan, melompat.
2. Keterampilan motorik halus, merupakan kegiatan yang
menggunakan bagian kecil dari tubuh terutama tangan.
Ini memerlukan kecepatan dan kemampuan
menggerakkannya, seperti menulis, dan menempel.
Berkaitan dengan perkembangan motorik,
pembelajaran SBK mampu menjadi media untuk
membangun perkembangan tersebut khususnya
perkembangan motorik kasar. Dalam mengembangkan
motorik kasar dibutuhkan keterampilan mengingat dan
memahami, serta memerlukan kesempatan untuk
melakukan latihan-latihan.
Dalam proses pembelajaran, guru memiliki peran
yang sangat penting terhadap perkembangan
kepribadian dan intelektual siswa. Guru memberikan
223
bantuan, petunjuk, bimbingan, pujian, dan perbaikan
yang dibutuhkan siswa. Dengan kata lain, kedudukan
guru ialah sebagai fasilitator untuk menciptakan
lingkungan yang merangsang kreativitas dengan baik
agar siswa memiliki kebebasan dalam menyalurkan
pikiran dan perasaan serta imajinasinya, sehingga siswa
mampu menjadi pribadi yang mandiri.
F. PEMBELAJARAN SBK DALAM KURIKULUM
TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
Kurikulum dapat dikatakan sebagai a plan for
learning, yaitu suatu rencana atau program
pembelajaran yang harus dipelajari oleh anak-anak.
Kurikulum merupakan acuan pokok yang perlu dipegang
oleh para pelaksana pendidikan, dalam hal ini guru.
Menurut Ralph Taylor, dikatakan bahwa kurikulum
adalah seluruh pengalaman belajar yang direncanakan
dan diarahkan Oleh sekolah untuk mencapai tujuan
pendidikannya. Dalam pengertian ini, dijelaskan bahwa
kurikulum diartikan segala kegiatan belajar yang telah
direncanakan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Kurikulum dikembangkan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu yang meliputi tujuan
pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan,
kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan
peserta didik. Oleh karena itu, kurikulum disusun oleh
satuan pendidikan untuk penyesuaian program
pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di
daerah.
Kurikulum yang dipakai di Indonesia saat ini adalah
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang lebih dikenal
dengan sebutan KTSP. KTSP ini mulai diberlakukan di
Indonesia sejak tahun ajaran 2006/2007, yang
merupakan hasil penyempurnaan dari kurikulum 2004
(Kurikulum.Berbasis Kompetensi/KBK) di dalamnya lebih
menekankan pada standar isi dan standar kompetensi
lulusan.
224
Secara umum, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
dapat diartikan sebagai kurikulum operasional yang
disu§un dan dilaksanakan di masing-masing satuan
pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat
satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat
satuan pendidikan, kalender pendidikan dan silabus.
Kelebihan dari KTSP itu sendiri yaitu alokasi waktu pada
kegiatan pengembangan diri siswa. Siswa tidak terus-
menerus mengenal teori, tetapi diajak untuk terlibat
dalam sebuah proses pengalaman belajar.
Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan
rnèrupakan salah satu pelajaran yang wajib diajarkan di
sekolah dasar menurut KTSP. SBK yang terdiri dari
empat bagian besar, yaitu seni tari, seni musik, seni dan
keterampilan merupakan mata pelajaran yang di
dalamnya terkandung muatan nilai humaniora yang
sangat berguna untuk merangsang kreativitas berpikir
bagi peserta didik untuk semua cabang disiplin ilmu.
Di dalam KTSP dijelaskan bahwa pendidikan SBK
merupakan sarana untuk mengembangkan kreativitas
anak. Tujuan dari pendidikan SBK bukan untuk membina
anak-anak menjadi seniman, melainkan untuk mendidik
menjadi kreatif. Seni merupakan aktivitas permainan.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seni dapat
digunakan sebagai alat pendidikan. Melalui permainan
dalam pendidikan SBK anak memiliki keleluasan untuk
mengembangkan kreativitasnya. Dalam kurikulum
dijelaskan bahwa aspek penting yang perlu diperhatikan
dalam seni budaya, yaitu kesungguhan, kepekaan, daya
produksi, kesadaran berkelompok, dan daya cipta.
G. KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN SENI BUDAYA
DAN KETERAMPILAN
Keberadaan guru dalam proses pembelajaran masih
tetap memegang peranan yang sangat penting. Dalam
proses pembelajaran guru bertugas dan bertanggung
jawab dalam merencanakan dan melaksanakan
225
pengajaran di sekolah. Kegiatan belajar mengajar
sebaiknya lebih berorientasi pada kebutuhan siswa dan
peranan guru, yaitu sebagai pembimbing. pemimpin, dan
memberikan fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai
tujuan.
Pembelajaran Seni Budaya dan keterampilan sering
dikatakan mudah. Anggapan guru pada umumnya
pelaksanaan pendidikan seni hanya menggambar,
bernyanyi, bergerak, atau materi yang hanya
disampaikan secara teori. Akibatnya kurang memberikan
kontribusi terhadap perkembangan kreativitas dan siswa
cenderung pasif, siswa diposisikan sebagai penerima
materi, penerima informasi, dan meniru apa kata guru.
Problem ini diperkuat dengan adanya beberapa guru
yang mengajarkan kesenian bukan berlatar belakang
dari pendidikan seni. Hal ini dapat menyebabkan garu
yang terkesan memaksakan diri mengajar pelajaran seni
padahal guru tersebut tidak memiliki kompetensi bidang
seni yang tampaknya akan meracuni pendidikan seni di
masa yang akan datang
Pendidikan di sekolah (formal) berbeda dengan
pendidikan di luar sekolah (nonformal), karena pada
pembelajaran sesi budaya di sekolah guru dituntut untuk
mengarahkan proses pembelajaran seni budaya yang
berpengaruh pada perubahan sikap dan perilaku siswa
serta penanaman makna dan nilai-nilai seni yang
terkandung di dalamnya. Pembelajaran seni hute di
sekolah mengharapkan siswa mengalami sebuah proses
pembelajaran yang aktif, kritis, dan kreatif. Adapun
pendidikan seni di luar sekolah, pendidikan yang
disediakan hanya tertuju pada pengolahan psikomotorik
siswa dan menghasilkan siswa untuk terampil dalam
berkesenian tanpa mengalami proses pembelajaran
yang aktif, kritis, dan kreatif
Untuk mewujudkannya, maka diperlukan seorang
guru yang memiliki kompetensi yang optimal, karena
guru merupakan kunci keberhasilan suatu proses
pendidikan Menurut Hamalik (2002: 38), guru yang dinilal
226
berkompeten secara profesional apabila memiliki kriteria,
sebagai berikut
1. Guru tersebut mampu mengembangkan tanggung
jawab dengan sebaik-baiknya
2. Guru tersebut mampu melaksanakan peran-
peranannya secara berhasil
3. Guru tersebut mampu bekerja dalam usaha
mencapai tujuan pendidikan (tujuan instruksional)
sekolah
4. Guru tersebut mampu melaksanakan peranannya
dalam proses mengajar dan belajar dalam kelas.
Menurut Surya (2004) dalam Djumiran (2008:3.4),
―kompetensi adalah seperangkat
penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri
guru agar dapat mewujudkan penampilan unjuk kerja
sebagai guru secara tepat.‖ Kompetensi yang harus
dimiliki guru pendidikan seni budaya di antaranya
kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,
kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang
diperoleh melalui pendidikan profesi guru seni budaya.
Selain itu hal yang perlu dimiliki oleh seorang guru
pendidikan seni budaya adalah sebuah inovasi dalam
belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan.
Seorang guru seni budaya tidak hanya terampil dalam
seni saja, tetapi juga memberikan sebuah perubahan
terhadap pembelajaran seni yang dilakukan melalui
kegiatan pembelajaran yang membangun kreativitas
Guru pendidikan seni budaya harus berupaya
menemukan motivasi-motivasi dalam pelaksanaan
pembelajaran seni. Usaha yang inovatif dilakukan guru
seni dalam proses pelajar yang aktif di sekolah yaitu
guru lebih berinteraktif dalam menuangkan gagasan-
gagasan baru yang dapat memicu kreativitas, menata
letak kelas, memfasilitasi diskusi, dan yang terpenting
yaitu bagaimana menyampaikan materi yang akan
diajarkan kepada peserta didik dengan suasana kelas
yang menyenangkan Bukan hanya itu saja guru
pendidikan seni budaya harus bisa memberikan
kesempatan kepada siswa untuk berkreativitas sesuai
dengan kemampuannya
227
Peranan guru dalam penerapan pendidikan seni ini
dianggap sebagai komponen utama, selain peran siswa
serta komponen pengajaran lainnya Peran guru dituntut
untuk lebih kreatif, dalam arti kreativitas seorang guru
dalam penerapan pendidikan seni adalah bagaimana
seorang guru harus pandai memilih bahan atau materi
pembelajaran, metode yang sesuai dengan kebutuhan
materi pembelajaran yang dipilih, serta kebutuhan
peserta didik.
228
DAFATAR PUSTAKA
(https://teks.co.id/pengertian-belajar/)
https://mestinyagimanaa.blogspot.com/2016/01/jenis-jenis
belajar.html/m=1
https://images.app.goo.gl/fGKTxm54kSBzoA4m6
Rahyubi, Heri. 2012. Teori-teori Belajar dan Aplikasi
Pembelajaran Motorik; Deskripsi dan Tinjauan Kritis. Bandung:
Nusa Media
Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di
Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Media Group.
Uno, Hamzah B dan Mohamad, Nurdin. 2011.Belajar dengan
Pendekatan PAILKEM. Jakarta: Bumi Aksara
Arko Pujadi, 2007, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi
Mahasiswa, Jurnal Universitas Bunda Mulia Jakarta……..
Sabri, Alisuf. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Pedoman
Ilmu Jaya
Sulastri, Siti. 2009. Siswa berakhlak Mulia Raih Prestasi.
Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan
Menengah Kementrian Pendidikan Nasional
Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers
Sardiman, A.M. 2012. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar.
Jakarta: Rajawali Pers
Kartawidjaja, Eddy Soewardi. 1987. Pengukuran dan Hasil
Evaluasi Belajar. Bandung: Sinar Baru.
Gage, N.L., & Berliner, D. 1979. Educational Psychology.
Second Edition, Chicago: Rand Mc. Nally] Bell Gredler, E.
Margaret. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: CV.
Rajawali Moll, L. C.
229
Surya, Mohamad Teori-teori konseling, Bandung: CV Pustaka
Bani Quraisy, 2003.
Lefudin. 2017.Belajar dan Pembelajaran:Model Pembelajaran,
Strategi Pembelajaran, Pendekatan Pembelajaran, dan Metode
Pembelajaran. Yogyakarta. CV. Deepublish Publisher.
Ulfa, Andi Yurni. 2016.Psikologi Pendidikan. Sulawesi
Selatan.Aksara Timur.
Fadli. 2010. Teori Belajar Behavioristik John Watson (1878 –
1958), diakses pada
https://fadlibae.wordpress.com/2010/03/24/teori-belajar-
behavioristik-john-watson-1878-1958/, pada 31 Agustus 2021.
Brow, Admin. 2020. Teori Pembelajaran Menurut Edwin Ray
Guthrie, Kajian Lengkap, diakses pada
https://www.rangkumanmakalah.com/teori-pembelajaran-
menurut-edwin-ray-guthrie/, pada 31 Agustus 2021.
Sereliciouz. 2021. Teori Belajar Behavioristik - Pengertian,
Prinsip, Ciri-Ciri, Contoh, diakses pada
https://www.quipper.com/id/blog/info-guru/teori-belajar-
behavioristik/amp/, pada 31 Agustus 2021.
Anam, Mohammad Syamsul, dkk. TEORI BELAJAR
BEHAVIORISTIK DAN IMPLIKASINYA DALAM
PEMBELAJARAN. Universitas Negeri Malang, diakses pada
https://cdngbelajar.simpkb.id/s3/p3k/Pedagogi/Artikel/TEORI_B
ELAJAR_BEHAVIORISTIK_DAN_IMPLIKAS.pdf.
Firliani, Nur Ibad, dkk. 2019. TEORI THRONDIKE DAN
IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA.
Universitas Majalengka, diakses pada
file:///C:/Users/Acer/Downloads/118-Article%20Text-232-1-10-
20191029.pdf.
230
quiper.blogspot
https;//juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/view/873
pgsdpenjasfpok.upi.edu/
https://quipperhome.wpcomstaging.com/info-guru/kognitif/
http://www.definisi-pengertian.com/2015/05/teori-belajar-
pendekatan-kognitif.html
jurnal dosen fakultas tarbiyah dan keguruan UIN Ar-Raniry
http://eprints.umsida.ac.id
Among Guru. (2018, Maret 19). Teori Belajar Bandura dan
Implementasinya dalam Pembelajaran. Diakses pada 31
Agustus 2021 melalui
https://www.amongguru.com/teori-belajar-bandura-dan-
implementasinya-dalam pembelajaran/
Bagus, Sihnu. (2010, Maret 02). Definisi Teori Belajar Sosial. All
About Theory. Diakses pada 31 Agustus 2021 melalui http://all-
about
theory.blogspot.com/2010/03/definisi-teori-belajar-sosial.html
Carlz185fr. (2013, April 23). Kelemahan dan Kelebihan Teori
Albert Bandura. Carlz185fr.wordpress. Diakses pada 31
Agustus 2021 melalui
https://carlz185fr.wordpress.com/2013/04/23/kelemahan-dan-
kelebihan-teori albert-bandura-teori-belajar-sosial/
Lathifah, Nurul. (2017, Maret 09). Kelemahan Teori Albert
Bandura. Scribd. Diakses pada 31 Agustus 2021 melalui
https://id.scribd.com/document/341377079/Kelemahan-Teori-
Albert-Bandura Mayakabbaro. (2012, Maret 09). Teori
Pembelajaran Sosial Bandura. Diakses pada 31 Agustus 2021
melalui http://mayakabbaro.wordpress.com/2012/03/09/teori
pembelajaran-sosial-bandura/
231
Ormrod, Jeanne. E. 2008. Psikologi Pendidikan: Membantu
Siswa Tumbuh Berkembang. Jakarta: Erlangga.
Website Pendidikan. (2020, Maret 29). Konsep, Prinsip, dan
Implikasi Teori Belajar Sosial Albert Bandura. Diakses pada 31
Agustus 2021 melalui
https://www.websitependidikan.com/2017/12/konsep-prinsip-
dan-implikasi-teori belajar-sosial-bandura.html
Wikipedia. Definisi Belajar. http://id.wikipedia.org/wiki/Belajar
Idayoce. ―Teori Belajar Konstruktivisme‖.
http://idayoce.blogspot.com/2016/07/teori belajar-
konstruktivisme.html#. (diakses pada tanggal 30 Agustus 2021)
Suparlan. 2019. ―Teori Konstruktivisme Dalam Pembelajaran‖.
https://ejournal.stitpn.ac.id/index.php/islamika/article/download/
208/170/. (diakses pada tanggal 30 Agustus 2021)
Anonim. ―BAB II Landasan Teori‖.
http://eprints.umm.ac.id/35592/3/jiptummpp-gdl fungkyheri-
49802-3-babii.pdf. ( diakses pada tanggal 30 Agustus 2021)
Pribadi, Benny A. 2009. ―Pendekatan Konstruktivis dalam
Kegiatan Pembelajaran‖.
http://repository.ut.ac.id/7275/1/L0022-18.pdf. (Diakses pada
tanggal 30 Agustus 2021)
Anonim.
―Resume Teori Belajar Konstruktivisme‖
.http://whendikz.blogspot.com/2013/11/resume-teori-belajar
konstruktivisme.html. (Diakses pada tanggal 30 agustus 2021)
Mulyana, Aina. 2020.
― Teori Belajar Konstruktivis‖.
https://ainamulyana.blogspot.com/2012/08/teori-belajar-
konstruktivistik.html. (diakses pada tanggal 30 Agustus 2021)
Sereliciouz . 2021.
― Teori Belajar Konstruktivisme – Pengertian, Keunggulan,
Contoh‖. https://www.quipper.com/id/blog/info-guru/teori-belajar
konstruktivisme/. (diakses pada tanggal 30 Agustus 2021)
Saputra, Mashindra Prisma. 2015.
232
―Langkah-Langkah Pendekatan Konstruktivisme‖.
https://kelaspakpris.blogspot.com/2015/11/langkah-langkah-
pendekatan.html. (diakses pada tanggal 30 Agustus 2021)
Sahroni.2020. ―Menakar Perbedaan, Kelebihan Dan
Kekurangan Teori Belajar Behavioristik, Kognitif, Kontruktivistik
Dan Humanistik‖.http://mtsmu2bakid.sch.id/menakar-
perbedaan-kelebihan-dan kekurangan-teori-belajar-
behavioristik-kognitif-kontruktivistik-dan-humanistik/. (diakses
pada tanggal 30 Agustus 2021)
Setyawan,Dody. 2016.
―Keunggulan Dan Kelemahan Pembelajaran
Konstruktivime‖.https://www.donisetyawan.com/keunggulan-
dan-kelemahan pembelajaran-konstruktivime/. (diakses pada
tanggal 30 Agustus 2021)
Unesa,Rudy.2012. ― Teori Belajar Konstruktivisme‖. http://rudy
unesa.blogspot.com/2012/11/teori-belajar-konstruktivisme.html.
(diakses pada tanggal 30 Agustus 2021)
Isyafitri, Armita Shara.2018 ―Kekurangan dan Kelebihan Teori
Kognitif dan
Konstruktivistik‖.Albanews.https://afidburhanuddin.wordpress.co
m/2014/05/06/ kekurangan-dan-kelebihan-teori-kognitif-dan-
konstruktivistik/amp/. (diakses pada tanggal 30 Agustus 2021)
Sujarwanto. 2016.
―Penerapan Model Pembelajaran Konstruktivisme Pada Materi
Ciri Ciri Mahluk Hidup Di Kelas Iii A Sd Negeri Keputran‖.
https://ejournal.upi.edu/index.php/mimbar/article/download/235
7/1640. (diakses pada tanggal 30 Agustus 2021)
Saguni, Fatimah. 2019.
―Penerapan Teori Konstruktivis Dalam Pembelajaran‖.
http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=1640
523&val=14324&t
itle=PENERAPAN%20TEORI%20KONSTRUKTIVIS%20DALA
M%20PEMBE LAJARAN. (diakses pada tanggal 30 Agustus
2021)
233
Buku Teori Belajar Dan pembelajaran Di Sekolah Dasar Edisi
Kedua
Oleh Dr. Ahmad Susanto, M.Pd
(https://www.tipsbelajarmatematika.com/2016/11/standar-
kompetensi-lulusan-sekolah.html)
Dinairah, S. (2017). Makalah Model Pembelajaran Triffinger.
Diakses melalui laman
http://repository.unpas.ac.id/29795/2/BAB%20II.pdf pada
tanggal 18 Oktober 2021.
Nurmayanti, Wuri. (2017, Maret 28). Makalah Prinsip-Prinsip
Pembelajaran. Diakses
melalui laman
http://wurinurmayanti.blogspot.com/2017/03/makalah-prinsip-
prinsippembelajaran.html pada tanggal 18 Oktober 2021.
Panjaitan, A. H., & Surya, E. (2017). Creative Thinking (Berpikir
Kreatif) Dalam
Pembelajaran Matematika. ABA Journal, 102(4).
Penguasaan materi pembelajaran, manajemen dan komitmen
...(http://journal2.um.ac.id ) ›
jinotep › article › down
Pitutur. (2021, Januari 18). Penguasaan materi pembelajaran.
Diakses melalui laman
https://www.pitutur.web.id/2021/01/penguasaan-materi-
pelajaran.html pada tanggal 16
Oktober 2021.
Saddoen,Arifin. 2021.
https://moondoggiesmusic.com/pengertian-kreatif/#gsc.tab=0
Santrock, John.W (2004) : Child Development. McGraw-Hill,
Boston.
Berk.Laura E (2003) : Child Development. Allyn and
Bacon,Boston.
diajarkan.
Susanto, A. Teori BELAJAR & PEMBELAJARAN DI SEKOLAH
DASAR EDISI KEDUA. Jakarta, Prenadamedia Group (Divisi
Kencana).
Susanto, Ahmad. 2019. Teori Belajar & Pembelajaran di
Sekolah Dasar. Jakarta:Prenada Media Group
234
Susanto, Ahmad. 2019. Teori Belajar dan Pembelajaran Di
Sekolah Dasar, Edisi Kedua.
Jakarta. PT. Prenadamedia Group.
http://diarytrisnanugraha.blogspot.com/2018/02/pendekatanreali
stik-realistic.html
http://repository.unpas.ac.id/13205/5/BAB%20II%20.pdf
https://text-id.123dok.com/document/oy81m78rz-receiving-
responding-valuing-organization- characterization-by-evalue-or-
calue-complex.html
Buku Teori Belajar Pembelajaran Di Sekolah Dasar Edisi Kedua
Karya Dr. Ahmad Susanto
Buku Teori Belajar dan Pembelajaran Di Sekolah Dasar Edisi
Kedua Karya Dr. Ahmad Susanto, M.Pd.
Lianghuo, dkk. 2005. Assessing Singapore Students‘ Attitudes
toward Mathematics and Mathematics Learning: Findings
from a Survey of Lower Secondary Students.
math.ecnu.edu.cn/earcome3/TSG6/4-Fan%20L().doc). Diakses
29 Oktober 2021.
Buku Teori Belajar dan Pembelajaran Di Sekolah Dasar Edisi
Kedua Oleh Dr. Ahmad Susanto, M.Pd
EL-Shalih. 16 November 2010. Web. 8 November 2021.
http://elshalih.blogspot.com/2010/11/makalah-pkn-sd.html?m=1
Magdalena, Ina dkk. (2020). Pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan di Sekolah Dasar Negeri Bojong 3
Pinang."Visual Post: Bintang : Jurnal Pendidikan dan Sains
Volume 2, Nomor 3, Desember 2020; 418-430, 1-13
Neliti. 2016. Web. 8 November 2021.
https://www.neliti.com/id/publications/235045/pendidikan-
kewarganegaraan-merupakan-salah-satu-pengejawantahan-
235
dimensi-manusia
Pgsd.upy. 6 JUNE 2018 .Web. 8 November 2021.
http://pgsd.upy.ac.id/index.php/jadwal/profil-lulusan/2-
uncategorised/12-pendidikan
Susanto, Ahmad. 2019. ―Teori Belajar dan Pembelajaran di
Sekolah Dasar Edisi Kedua‖.
Jakarta: Prenadamedia Group. Bahasa
Anonim. 2016. ―Pengertian dan Tujuan
Indonesia menurut para ahli‖.
https://pengertianahlidaninfo.blogspot.com/2016/09/pengertian-
dan-tujuan-bahasa- indonesia.html. Diakses pada tanggal 27
Oktober 2021.
Anonim. 2017. ―Makalah Pembelajaran Bahasa Indonesia di
Sekolah Dasar‖.
http://sule- epol.blogspot.com/2017/08/makalah-pembelajaran-
bahasa-indonesia.html. Diakses pada tanggal 27 Oktober 2021.
https://mediaindonesia.com/humaniora/431439/contoh-kata-
pengantar-untuk-tugas-makalah-karya-ilmiah-dan-laporan
https://iainpspblog.blogspot.com/2019/09/makalah-wawasan-
seni-dan-pendidikan.html?m=0
https://dispendik.surabaya.go.id/berita/2016/pentingnya-
pendidikan-seni-budaya-terhadap-pembangunan-karakter-
anak-2/
http://prosiding.upgris.ac.id/index.php/bedah_buku_14/2014/pa
per/view/352/304
Dr. Ahmad Susanto, M. (2019). Teori Belajar dan Pembelajaran
di Sekolah Dasar. (kedua ed., hal. 308). Jakarta:
PRENADAMEDIA GROUP.
Darnita, Devi, (2016). Diakses pada Oktober 28,
2021.Kompetensi Pedagogik Guru Pada Mata Pelajaran Seni
Budaya Dan Keterampilan (SBK) Di SD Negeri Dabin IV
Kecamatan Tegal Barat Kota Tegal Diakses dari
http://lib.unnes.ac.id/28251/1/1401412570.pdf
Evaluasi Pembelajaran Seni Rupa. (2017). Diakses Oktober 27,
2021, dari 123dok.com website: https://text-
id.123dok.com/document/wyew3l31y-evaluasi-pembelajaran-
seni-rupa.html
236