BAB 11
PEMBELAJARAN MATEMATIKA
DI SEKOLAH DASAR
A. PENGERTIAN MATEMATIKA
Matematika merupakan salah satu bidang studi yang ada
pada semua jenjang pendidikan, mulai dari tingkat sekolah
dasar hingga perguruan tinggi. Bahkan matematika diajarkan di
taman kanak-kanak secara informal.
Belajar matematika merupakan suatu syarat cukup untuk
melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Karena dengan
belajar matematika, kita akan bernalar secara kritis, kreatif dan
aktif. Matematika merupakan ide-ide abstrak yang berisi simbol-
simbol, maka konsep- konsep matematika harus dipahami
terlebih dahulu sebelum memanipulasi simbol-simbol itu.
Pada usia siswa sekolah dasar (7-8 tahun hingga 12-12 tahun),
menurut teori kognitif Piaget termasuk pada tahap operasional
konkret. Berdasarkan perkembangan kognitif ini, maka anak
usia sekolah dasar mengalami kesulitan dalam memahami
matematika yang bersifat abstrak. Karena keabstrakannya
matematika relative tidak mudah untuk dipahami oleh siswa
sekolah dasar pada umumnya.
Bidang studi matematika merupakan salah satu komponen
pendidikan dasar dalam bidang- bidang pengajaran. Bidang
studi matematika ini diperlukan untuk proses perhitungan dan
proses berpikir yang sangat dibutuhkan orang dalam
menyelesaikan berbagai masalah.
Dalam kurikulum Depdiknas 2004 disebutkan bahwa standar
kompetensi
Melalui komunikasi yang terjadi di kelompok-kelompok kecil,
pemikiran matematik siswa dapat diorganisasikan dan
dikonsolidasikan. Pengkomunikasian matematika yang
dilakukan siswa pada setiap kali pelajaran matematika, secara
bertahap tentu akan dapat meningkatkan kualitas komunikasi,
dalam arti bahwa pengkomunikasian pemikiran matematika
siswa tersebut makin cepat, tepat, sistematis, dan efisien.
148
a. SIKAP SISWA TERHADAP MATEMATIKA
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sikap diartikan
sebagai perbuatan dan sebagainya yang berdasarkan pada
pendirian, keyakinan. Menurut Unnes (2008), sikap merupakan
kecenderungan individu untuk merespons dengan cara yang
khusus terhadap stimulus yang ada dalam lingkungan sosial.
Sikap merupakan suatu kecenderungan untuk mendekat atau
menghindar, positif atau negatif terhadap berbagai keadaan
sosial, apakah itu institusi, pribadi, situasi, ide, konsep, dan
sebagainya.
Yara (2009: 364) mengartikan sikap sebagai konsep yang
memperhatikan cara seorang individu berpikir, bertindak, dan
bertingkah laku. Sikap mempunyai pengaruh yang serius untuk
siswa, guru, kelompok sosial yang berhubungan dengan
individu siswa dan seluruh sistem di sekolah. Sikap dibentuk
sebagai hasil dari beberapa pengalaman belajar. Sikap juga
dapat dibentuk secara sederhana dengan mengikuti contoh
atau pendapat orang tua, guru, dan teman. Perubahan atau
peniruan sikap juga dapat dibentuk dari situasi pembelajaran.
Dalam hal ini, siswa mencontoh dari sifat guru untuk
membentuk sikap mereka.
Keberhasilan suatu proses pembelajaran dipengaruhi oleh
dua faktor, yaitu faktor dalam diri siswa dan luar diri siswa.
Faktor dari dalam diri siswa salah satunya adalah sikap siswa.
Dalam proses pembelajaran matematika perlu diperhatikan
sikap positif siswa terhadap matematika. Sikap positif terhadap
matematika perlu diperhatikan karena berkorelasi positif
dengan prestasi belajar matematika. Siswa yang menyukai
matematika prestasinya cenderung tinggi dan sebaliknya siswa
yang tidak, menyukai matematika prestasinya cenderung
rendah.
Sikap merupakan salah satu komponen dari aspek afektif,
yang merupakan kecenderungan seseorang untuk merespons
secara positif atau negatif suatu objek, situasi, konsep, atau
kelompok individu. Hal yang sama juga dikemukakan oleh
Thorndike dan Hagen yang menyatakan sikap sebagai suatu
kecenderungan untuk menerima atau menolak kelompok-
kelompok individu, atau institusi sosial tertentu.
149
Sikap merupakan kecenderungan seseorang untuk
merespons secara positif atau negatif suatu objek, situasi,
konsep, atau orang lain. Matematika dapat diartikan sebagai
suatu konsep atau ide abstrak yang penalarannya dilakukan
dengan cara deduktif aksiomatis. Hal ini dapat disikapi oleh
siswa berbeda-beda, mungkin menerima dengan baik atau
sebaliknya.
Dengan demikian, sikap siswa terhadap matematika adalah
kecenderungan seseorang untuk menerima (suka) atau
menolak (tidak suka) terhadap konsep atau objek matematika.
Sikap merupakan ukuran suka atau tidak suka seseorang
.tentang matematika, yaitu kecenderungan seseorang untuk
terlibat atau menghindar dari kegiatan matematika, siswa yang
menerima matematika, berarti bersikap positif sedangkan siswa
yang menolak matematika bersikap negatif.
Bagi siswa yang bersikap positif terhadap matematika
memiliki ciri : menyenangi matematika, terlihat sungguh-
sungguh belajar matematika, memperhatikan guru dalam
menjelaskan materi matematika, menyelesaikan tugas dengan
baik dan tepat waktu, berpartisipasi aktif dalam berdiskusi dan
mengerjakan tugas-tugas rumah dengan tuntas. Adapun siswa
yang bersikap negatif terhadap matematika, jarang
menyelesaikan tugas matematika, dan merasa cemas dalam
mengikuti pelajaran matematika.
Penelitian tentang komponen sikap yang meliputi
pandangan, kekhawatiran, dan keyakinan siswa terhadap
matematika dilakukan di sebuah sekolah di Singapura oleh
Lianghuo, dkk. Hasil penelitian tersebut menunjukkan:
1. Pandangan siswa terhadap matematika
Kebanyakan siswa merasa tertarik terhadap matematika dan
mereka berniat untuk meningkatkan kemampuan mereka, akan
tetapi mereka tidak mau menggunakan waktu mereka lebih
banyak untuk mempelajari matematika. Hal ini menunjukkan
kepada kita bahwa matematika yang dipelajari di sekolah terlalu
banyak dan hanya berkisar pada masalah rutin dengan
pendekatan close-ended.
150
2. Kekhawatiran tentang matematika
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian siswa merasa
khawatir dengan matematika dan pembelajaran matematika. Ini
menunjukkan hal yang positif karena menunjukkan bahwa
kebanyakan siswa akan serius mempelajari matematika. Akan
tetapi, ini juga mengindikasikan bahwa siswa kurang
mempunyai rasa percaya diri, ketakutan, dan sikap negatif
terhadap matematika.
3. Keyakinan siswa akan matematika
Keyakinan siswa akan matematika dapat dilihat dari dua
pertanyaan berikut:
(1) apakah siswa berpikir bahwa matematika itu berguna bagi
dirinya dan kehidupannya di masa datang?
(2) bagaimana matematika bisa menjadi hal yang penting bagi
siswa? Tingginya siswa yang merasa yakin terhadap
matematika menunjukkan bahwa sebagian besar siswa merasa
matematika itu penting bagi dirinya dan kehidupannya
mendatang. Hal ini memungkin guru untuk meningkatkan sikap
positif terhadap matematikamatematika di sekolah Dasar yang
harus dimiliki siswa setelah melakukan kegiatan pembelajaran
bukanlah penguasaan materi, namun yang diperlukan ialah
dapat memahami dunia sekitar, mampu bersaing, dan berhasil
dalam kehidupan. Standar kompetensi yang dirumuskan dalam
kurikulum ini mencakup pemahaman konsep matematika
komunikasi matematis, koneksi matematis, penalaran dan
pemecahan masalah, serta sikap dan minat yang positif
terhadap matematika.
Kata matematika berasal dari bahasa Latin, manthanein atau
mathema yang berarti "belajar atau hal yang dipelajari," sedang
dalam bahasa Belanda, matematika disebut wiskunde atau ilmu
Pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran
(Depdiknas, 2001:7). Matematika memiliki bahasa dan aturan
yang terdefinisikan dengan baik, penalaran yang jelas dan
sistematis, dan struktur atau ketertarikan antar konsep yang
kuat.
Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat
meningkatkan kemampuan berpikir dan berargumentasi,
151
memberikan kontribusi dalam dunia kerja serta memberikan
dukungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Kebutuhan akan aplikasi matematika saat ini dan
masa depan tidak hanya untuk keperluan sehari-hari, tetapi
terutama dalam dunia kerja, dan mendukung perkembangan
ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, matematika sebagai ilmu
dasar perlu dikuasai dengan baik oleh siswa, terutama sejak
usia sekolah dasar.
Namun dalam kenyataan yang ada sekarang, penguasaan
matematika selalu menjadi permasalahan besar. Hal ini terbukti
dari hasil ujian nasional (UN) yang diselenggarakan
memperlihatkan rendahnya persentase kelulusan siswa dalam
ujian tersebut. Pada umumnya, yang menjadi faktor penyebab
ketidaklulusan siswa dalam ujian nasional ini adalah rendahnya
kemampuan siswa dalam materi pembelajaran matematika.
B.PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Pembelajaran merupakan komunikasi dua arah, mengajar
dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar
dilakukan oleh peserta didik. Pembelajaran didalamnya
mengandung makna belajar dan mengajar, atau merupakan
kegiatan belajar mengajar. Belajar tertuju pada apa yang harus
dilakukan oleh seseorang sebagai subjek yang menerima
pelajaran, sedangkan mengajar berorientasi pada apa yang
harus dilakukan guru sebagai pemberi pelajaran. Kedua aspek
ini akan berkolaborasi secara terpadu menjadi suatu kegiatan
pada saat terjadi interaksi antara guru dengan siswa, serta
antara siswa dengan siswa di dalam pembelajaran matematika
sedang berlangsung.
Pembelajaran matematika adalah suatu proses belajar
mengajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan
kreativitas berpikir siswa yang dapat meningkatkan kemampuan
berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan
mengkontribusi pengetahuan baru sebagai upaya
meningkatkan penguasa yang baik terhadap materi
matematika.
Pembelajaran matematika merupakan suatu proses belajar
mengajar yang mengandung dua jenis kegiatan yang tidak
terpisahkan. Kegiatan tersebut adalah belajar dan mengajar.
Kedu aspek ini akan berkolaborasi secara terpadu menjadi
suatu kegiatan pada saat terjadi interaksi antara siswa dengan
152
siswa, dan antara siswa dengan lingkungan di saat
pembelajaran matematika sedang berlangsung.
Dalam proses pembelajaran matematika, baik guru maupun
siswa bersama-sama menjadi pelaku terlaksananya tujuan
pembelajaran. Tujuan pembelajaran ini akan mencapai hasil
yang maksimal apabila pembelajaran berjalan secara efektif.
Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang mampu
melibatkan seluruh siswa secara aktif. Kualitas pembelajaran
dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Pertama, dari
segi proses pembelajaran sebagian besar peserta didik terlibat
secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses
pembelajaran, di samping menunjukkan semangat belajar yang
tinggi, dan percaya pada diri sendiri. Kedua, dari segi hasil,
pembelajaran dikatakan efektif apabila terjadi perubahan
tingkah laku ke arah positif, dan tercapainya tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan.
Menurut Wragg (1997), pembelajaran yang efektif adalah
pembelajaran yang memudahkan siswa untuk mempelajari
sesuatu yang bermanfaat, seperti fakta, keterampilan, nilai,
konsep, dan bagaimana hidup serasi dengan sesama, atau
suatu hasil belajar yang diinginkan. Proses pembelajaran
matematika bukan hanya transfer ilmu dari guru ke siswa,
melainkan suatu proses kegiatan, yaitu terjadi interaksi antara
guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa, dan
antara siswa dengan lingkungannya. Pembelajaran matematika
bukan hanya sebagai transfer of knowledge, yang mengandung
makna bahwa merupakan objek dari belajar, namun hendaknya
siswa menjadi subjek dalam belajar. Sehingga dapat dikatakan
bahwa seseorang dikatakan belajar matematika apabila pada
diri seseorang tersebut terjadi suatu kegiatan yang dapat
mengakibatkan perubahan tingkah laku yang berkaitan dengan
matematika.
Menurut Hans Freudenthal dalam Marsigit (2008),
matematika merupakan aktivitas insani (human activities) dan
harus dikaitkan dengan realitas. Dengan demikian, matematika
merupakan cara berpikir logis yang dipresentasikan dalam
bilangan, ruang, dan bentuk dengan aturan-aturan yang telah
ada yang tak lepas dari aktivitas insani tersebut. Pada
hakikatnya, matematika tidak terlepas dari kehidupan sehari-
hari, dalam arti matematika memiliki kegunaan yang praktis
dalam kehidupan sehari-hari. Semua masalah kehidupan yang
153
membutuhkan pemecahan secara cermat dan teliti mau tidak
mau harus berpaling kepada matematika.
C..TUJUAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH
DASAR
Menurut Soedjadi (1998: 40) tujuan pendidikan matematika
yang dimaksudkan adalah
tujuan secara umum mengapa matematika diajarkan di
berbagai jenjang sekolah. Matematika sekolah
dimaksudkan sebagai bagian
matematika yang diberikan untuk dipelajari siswa SD, SLTP,
dan SLTA. Berdasarkan GBPP matematika Mengemukakan
ada tujuan umum dan tujuan khusus yaitu;
1. Tujuan umumnya yaitu;
a. Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi
perubahan keadaan di dalam kehidupan dan dunia yang
selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar
pemikiran secara logis, rasional kritis, cermat, jujur,
efektif dan efisien.
b. Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan
matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan
sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu
pengetahuan.
2. Tujuan khususnya yaitu;
a. Menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan
berhitung (menggunakan bilangan) sebagai alat dalam
kehidupan sehari-hari.
b. Menumbuhkan kemampuan siswa, yang dapat dialih
gunakan melalui kegiatan matematika
c. Mengembangkan pengetahuan dasar matematika
sebagai bekal belajar lebih lanjut di Sekolah Lanjutan
Tingkat pertama
d. Membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan
disiplin.
Dengan mengkaji secara mendalam tujuan tersebut, terlihat
bahwa tujuan pembelajaran matematika memuat nilai-nilai
matematika yang bersifat formal dan material. Sebagaimana
154
dikatakan Soedjadi (1998: 45) bahwa tujuan pembelajaran
matematika di setiap jenjang pendidikan digolongkan menjadi
(1) tujuan yang bersifat formal, yaitu tujuan yang menekankan
pada penataan nalar siswa serta pembentukan pribadinya; (2)
tujuan yang bersifat material, yaitu tujuan yang menekankan
pada penerapan matematika baik dalam matematika itu sendiri
maupun di luar matematika.
D. PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA
Istilah pendekatan dapat dipahami sebagai suatu jalan, cara
atau kebijaksanaan yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam
pencapaian tujuan pengajaran dilihat dari sudut bagaimana
proses pengajaran atau materi pengajaran itu, umum atau
khusus dikelola. Jadi, pendekatan pembelajaran dapat diartikan
sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses
pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang
terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di
dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari
metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
Pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan rekayasa
perilaku untuk merangsang, memelihara, meningkatkan,
terjadinya proses berpikir pembelajar. Dengan demikian,
pendekatan pembelajaran merupakan suatu cara atau titik tolak
terhadap proses pengelolaan dalam pembelajaran.
Bidang studi matematika merupakan bidang studi yang
berguna dan membantu dalam menyelesaikan berbagai
masalah dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan
dengan hitung menghitung atau yang berkaitan dengan urusan
angka-angka berbagai macam masalah, yang memerlukan
suatu keterampilan dan kemampuan untuk memecahkannya.
Oleh sebab itu, siswa sebagai salah satu komponen dalam
pendidikan harus selalu dilatih dan dibiasakan berpikir mandiri
untuk memecahkan masalah. Karena pemecahan masalah,
selain menuntut siswa untuk berpikir juga merupakan alat
utama untuk melakukan atau bekerja dalam matematika.
Melalui pelajaran matematika juga diharapkan dapat
ditumbuhkan kemampuan- kemampuan yang lebih bermanfaat
155
untuk mengatasi masalah-masalah yang diperkirakan akan
dihadapi peserta didik di masa depan.
Pemecahan masalah (problem solving) merupakan
komponen yang sangat penting dalam matematika. Secara
umum, dapat dijelaskan bahwa pemecahan masalah
merupakan proses menerapkan pengetahuan (knowledge)
yang telah diperoleh siswa sebelumnya ke dalam situasi yang
baru. Pemecahan masalah juga merupakan aktivitas yang
sangat penting dalam pembelajaran matematika, karena tujuan
belajar yang ingin dicapai dalam pemecahan masalah berkaitan
dengan kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan
maşalah adalah pendekatan yang bersifat umum yang lebih
mengutamakan kepada proses daripada hasil. Proses
merupakan faktor utama dalam pembelajaran pemecahan
masalah, bukannya produk sebagaimana dijumpai pada
pembelajaran konvensional. Pengertian proses dalam hal ini
adalah ketika siswa belajar matematika ada proses reinvention
(menemu- kan kembali), artinya prosedur, aturan yang harus
dipelajari tidaklah disediakan dan diajarkan oleh guru dan siswa
siap menampungnya, tetapi siswa harus berusaha
menemukannya.
Pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika ini
merupakan model pembelajaran yang harus terus
dikembangkan dan ditingkatkan penerapannya di sekolah-
sekolah, termasuk di sekolah dasar. Dengan pemecahan
masalah matematika ini siswa melakukan kegiatan yang dapat
mendorong berkem- bangnya pemahaman dan penghayatan
siswa terhadap prinsip, nilai, dan proses matematika. Hal ini
akan membuka jalan bagi tumbuhnya daya nalar, berpikir logis,
sistematis, kritis, dan kreatif. Dengan menggunakan model
pemecahan masalah ini dapat mengembangkan proses berpikir
tingkat tinggi, seperti: proses visualisasi, asosiasi, abstraksi
manipulasi, penalaran, analisis, sintesis, dan generalisasi yang
masing-masing perlu dikelola secara terkoordinasi.
Kemampuan berpikir dan keterampilan yang telah dimiliki anak
dapat digunakan dalam proses pemecahan masalah
matematis, dapat ditransfer ke dalam berbagai bidang
kehidupan. Pemecahan masalah matematis dapat membantu
memahami informasi secara lebih baik, dengan demikian
bahwa pemecahan masalah merupakan suatu proses untuk
156
mengatasi kesulitan yang ditemui untuk mencapai suatu tujuan
yang ingin dicapai.
Menurut Killen (1998), pemecahan masalah sebagai strategi
pembelajaran adalah suatu teknik di mana masalah digunakan
secara langsung sebagai alat untuk membantu siswa
memahami materi pelajaran yang sedang mereka pelajari.
Dengan pendekatan pemecahan masalah ini siswa dihadapkan
pada berbagai masalah yang dijadikan bahan pembelajaran
secara langsung agar siswa menjadi peka dan tanggap
terhadap semua persoalan yang dihadapi siswa dalam
kehidupan sehari-harinya.
Adapun menurut Djamarah (2002), pemecahan masalah
merupakan suatu metode yang merupakan suatu metode
berpikir, sebab dalam pemecahan masalah dapat digunakan
metode-
metode lainnya yang dimulai dengan pencarian data sampai
kepada penarikan kesimpulan. Karena itu, pembelajaran yang
bernuansa pemecahan masalah harus dirancang sedemikian
rupa sehingga mampu merangsang siswa untuk berpikir dan
mendorong menggunakan pikirannya secara sadar untuk
memecahkan masalah.
Dilihat dari aspek kegunaan atau fungsinya, model
pembelajaran atau pendekatan pemecahan masalah ini dapat
dikelompokkan ke dalam tiga bagian, yaitu: pemecahan
masalah sebagai tujuan, proses, dan keterampilan dasar.
Pertama, pemecahan masalah sebagai tujuan, digunakan
ketika pemecahan masalah dianggap sebagai tujuan secara
umum dalam pemecahan masalah, yang tidak tergantung dari
masalah khusus, prosedur atau metode, dan isi matematika,
namun yang paling utama adalah pembelajaran ditekankan
pada bagaimana memecahkan masalah. Jadi, dalam
interpretasi ini pemecahan masalah bebas dari soal, prosedur,
metode, atau isu khusus yang menjadi pertimbangan utama
adalah belajar bagaimana cara menyelesaikan masalah yang
merupakan alasan utama untuk belajar matematika.
Kedua, pemecahan masalah sebagai proses digunakan ser
bagai proses yang muncul dari interpretasinya sebagai proses
dinamika dan terus-menerus. Yang ditekankan dalam
pemecahan masalah sebagai proses ini, yaitu: metode,
prosedur, strategi, dan heuristis yang digunakan siswa dalam
157
pemecahan masalah. Dengan kata lain, pemecahan masalah
sebagai proses ini dimaksudkan sebagai pemecahan yang
menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya ke
dalam situasi baru dan tak dikenal. Yang menjadi pertimbangan
utama dalam hal ini, yaitu: metode, prosedur, strategi, dan
heuristis yang siswa gunakan dalam memecahkan masalah.
Bagian-bagian proses pemecahan masalah ini sangatlah
penting dan menjadi fokus dari kurikulum matematika. Ketiga,
pemecahan masalah sebagai keterampilan dasar, yakni
menyangkut keterampilan minimal yang harus dimiliki siswa
dalam matematika, dan keterampilan minimal yang diperlukan
seseorang agar dapat menjalankan fungsinya dalam
masyarakat.
Adapun jika dilihat dari jenisnya, pendekatan pemecahan
masalah juga dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenis, yang
menurut Bay (2000) terdiri atas: mengajar untuk pemecahan
masalah, mengajar tentang pemecahan masalah, dan
mengajar melalui pemecahan masalah.
Pertama, mengajar untuk pemecahan masalah (teaching for
problem solving) adalah model pembelajaran yang ditujukan
untuk mengajarkan konsep terlebih dahulu, kemudian siswa
menerapkan pengetahuannya pada situasi pemecahan
masalah. Pendekatan ini pada umumnya terdapat dalam buku
teks, di mana soal latihan diikuti oleh soal cerita dengan
penerapan konsep yang sama.
Kedua, mengajar tentang pemecahan masalah (teaching about
problem solving) adalah model pembelajaran yang
dimaksudkan untuk mempelajari bagaimana menerapkan
strategi pemecahan masalah, tidak perlu mengajarkan konten
matematikanya. Pendekatan ini adalah mengajarkan strategi
atau heuristis untuk menyelesaikan masalah. Salah satu cara
yang populer yaitu pemecahan masalah dengan mengajukan
empat langkah pemecahan masalah, yaitu:
1. Memahami masalah
2. Merencanakan masalah
3. Melaksanakan perhitungan
4. Memeriksa kembali proses dan hasil perhitungan
Ketiga, mengajar melalui pemecahan masalah (teaching via
problem solving), yaitu pembelajaran ditempuh melalui masalah
yang konkret dan perlahan-lahan menuju abstrak. Pengajaran
158
ini bertujuan mengajarkan konten matematika dalam suatu
lingkungan pemecahan masalah yang berorientasi inkuiri.
Dalam kajian ini, penulis memfokuskan pada jenis pemecahan
masalah yang ketiga, yaitu mengajar melalui pemecahan
masalah, yang dalam hal ini dimaksudkan sebagai
pembelajaran matematika melalui pemecahan masalah. Di
mana dalam pembelajaran melalui pemecahan masalah ini,
guru harus dapat membangkitkan minat siswa untuk terlibat
dalam pemecahan masalah yang diajukan. Guru membimbing
siswa secara bertahap agar siswa dapat menemukan solusi
masalah yang diajukan. Menurut Reys (1980), sedikitnya ada
tiga hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran melalui
pemecahan masalah agar siswa berminat terhadap masalah
yang sedang dihadapinya, yaitu:
3. Memberikan pengalaman langsung aktif, dan
berkesinambungan dalam menyelesaikan soal beragam
4. Menciptakan hubungan yang positif antara minat dan
keberhasilan siswa
5. Menciptakan hubungan akrab antara siswa,
permasalahan, perilaku pemecahan masalah, dan
suasana kelas.
Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran
melalui pemecahan masalah ini ialah siswa mampu memahami
proses dan prosedurnya, sehingga siswa terampil menentukan
dan mengidentifikasi kondisi dan data yang relevan. Dengan
adanya kemampuan siswa dalam memahami proses ini juga
siswa mampu menggeneralisasikan masalah, merumuskan,
dan menghasilkan keterampilan yang telah dimiliki. Akhirnya,
siswa akan dapat belajar secara mandiri mengenai pemecahan
masalah.
Menurut Killen (1998), pentingnya penerapan pendekatan
pemecahan masalah dalam pembelajaran ini, sebagai berikut:
1. Dapat mengembangkan jawaban siswa yang bermakna
menuju pemahaman yang lebih baik mengenai suatu
materi
2. Memberikan tantangan untuk siswa, dan mereka dapat
memperoleh kepuasan besar ketika menemukan
pengetahuan baru untuk diri mereka sendiri
3. Melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran
4. Membantu siswa mentransfer pengetahuan mereka
kepada masalah-masalah dunia nyata
159
5. Membantu siswa bertanggung jawab untuk membentuk
dan mengarahkan pembelajaran mereka sendiri
6. Mengembangkan skill-skill berpikir kritis siswa dan
kemampuan beradaptasi dengan situasi-situasi
pembelajaran baru
7. Meningkatkan interaksi siswa dan kerja tim, oleh karena
itu meningkatkan skill-skill interpersonal siswa
Selain itu, pentingnya penerapan pendekatan pemecahan
masalah dalam pelajaran matematika ini, karena pemecahan
masalah berguna untuk kepentingan matematika itu sendiri dan
berguna untuk memecahkan persoalan-persoalan lain dalam
masyarakat. Dengan memanfaatkan model pembelajaran yang
menekankan pemecahan masalah, maka siswa menjadi lebih
kritis, analitis dalam mengambil keputusan di dalam kehidupan.
Dengan kata lain, pemecahan masalah matematika yang
diajarkan pada siswa hasilnya adalah siswa memiliki
pemahaman yang baik tentang suatu masalah, mampu
mengkomunikasikan ide-ide dengan baik, mampu mengambil
keputusan, memiliki keterampilan tentang bagaimana
mengumpulkan informasi yang relevan, menganalisis dan
menyadari betapa perlunya meneliti kembali hasil yang telah
diperoleh.
Dalam pembelajaran pemecahan masalah, guru harus dapat
membangkitkan minat siswa untuk terlibat dalam pemecahan
masalah yang diajukan. Guru membimbing siswa secara
bertahap agar siswa dapat menemukan solusi masalah yang
diajukan. Dalam pelaksanaan pembelajaran pemecahan
masalah siswa diharapkan dapat memahami proses dan
prosedurnya, sehingga siswa terampil menentukan dan
mengidentifikasikan kondisi dan data yang relevan,
generalisasi, merumuskan, dan mengorganisasikan
keterampilan yang telah dimiliki. Akhirnya, siswa akan dapat
belajar secara mandiri mengenai pemecahan masalah. Di
dalam pembelajaran pemecahan masalah dibutuhkan suatu
teknik-teknik, prosedur, dan langkah- langkah (strategi) tertentu,
sehingga siswa dapat memecahkan masalah dalam tingkat
kesulitan yang bervariasi.
Selanjutnya, Polya (1985: 5) menyebutkan ada empat langkah
dalam pembelajaran pemecahan masalah, yaitu:
1. Memahami masalah, langkah ini meliputi:
a. Apa yang diketahui, keterangan apa yang diberikan,
160
atau bagaimana keterangan soal
b. Apakah keterangan yang diberikan cukup untuk
mencari apa yang ditanyakan c.. Apakah keterangan
tersebut tidak cukup, atau keterangan itu berlebihan
d. Dan buatlah gambar atau notasi yang sesuai.
2. Merencanakan penyelesaian, langkah ini terdiri atas:
a. Pernahkah ada soal yang serupa dalam bentuk lain
b. Rumus mana yang dapat digunakan dalam masalah
ini
c. Perhatikan apa yang ditanyakan
d. Dapatkah hasil dan metode yang lalu digunakan di
sini
3. Melalui perhitungan, langkah ini menekankan pada
pelaksanaan rencana penyelesaian yang meliputi:
. Memeriksa setiap langkah apakah sudah benar atau
belum
a. Bagaimana membuktikan bahwa langkah yang dipilih
sudah benar
b. Melaksanakan perhitungan sesuai dengan rencana
yang dibuat
4. Memeriksa kembali proses dan hasil. Langkah ini
menekankan pada bagaimana cara memeriksa
kebenaran jawaban yang diperoleh, yang terdiri dari:
. Dapatkah diperiksa kebenaran jawaban
a. Apakah jawaban itu dicari dengan cara lain
b. Dapatkah jawaban atau cara tersebut digunakan
untuk soal-soal lain
Dengan mengikuti langkah-langkah atau strategi dari Polya
itu, berarti siswa akan dituntut mulai dari pemecahan masalah,
memikirkan cara pemecahannya, sampai siswa dapat
melakukan pemecahannya. Dengan demikian, strategi
pemecahan masalah juga dapat diartikan sebagai suatu cara
atau prosedur pemecahan masalah yang langkah-langkahnya
dirancang untuk memudahkan siswa berpikir untuk menemukan
pola pemecahan yang tepat. Karena itu, strategi pemecahan
masalah dapat mempengaruhi proses berpikir seseorang dalam
memperoleh
ide-ide baru yang berguna untuk pemecahan masalah. Agar
pembelajaran pemecahan masalah ini mampu membantu siswa
161
dalam memahami konsep-konsep matematika, menurut
Djamarah dan Zain (2002: 105) ada tiga hal yang harus
diperhatikan oleh guru dalam menerapkan pembelajaran ini,
yaitu:
1. Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya
sesuai dengan tingkat berpikir siswa, tingkat sekolah dan
kelasnya serta pengetahuan yang telah dimiliki oleh
siswa
2. Proses belajar mengajar dengan menggunakan metode
ini sering membutuhkan waktu yang cukup banyak, oleh
sebab itu, guru harus membuat suatu desain
pembelajaran sebaik mungkin, sehingga tujuan dari
kurikulum tetap tercapai dengan waktu yang disediakan
3. Harus mengubah kebiasaan siswa belajar dengan
mendengarkan dan menerima informasi dari guru
menjadi belajar dengan banyak berpikir memecahkan
masalah sendiri atau kelompok
Dalam menerapkan pendekatan pemecahan masalah di dalam
kelas, diharapkan kepada guru membantu siswa dalam
menumbuhkan semangat atau motivasi dalam memecahkan
masalah. Dalam hal ini, guru harus membimbing dan merasa
yakin bahwa siswa sudah memahami permasalahannya, jika
belum atau tidak memahami permasalahannya maka minat
siswa akan hilang, membantu siswa untuk mengumpulkan
materi guna menolong dan menyusun rencana penyelesaian.
Siswa juga diarahkan untuk dapat mengidentifikasi seluruh
syarat yang diketahui untuk membangun informasi yang
didapat dan berusaha untuk menciptakan iklim atau suasana
yang kondusif dalam pemecahan masalah.
Kesimpulannya bahwa pendekatan pemecahan masalah
dapat membantu siswa merealisasikan pengetahuan yang telah
mereka peroleh dan dapat diterapkan pada situasi baru, dan
proses ini menuntun siswa untuk memperoleh pengetahuan
baru. Dengan menggunakan pendekatan atau model
pembelajaran pemecahan masalah ini memungkinkan siswa itu
menjadi lebih kritis dan analitis dalam mengambil keputusan
dalam kehidupan. Selain itu, dengan menggunakan pendekatan
pembelajaran ini mengajarkan siswa untuk belajar berpikir
(learning to think) atau belajar bernalar (learning to reason),
yaitu berpikir atau bernalar mengaplikasikan pengetahuan-
pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya untuk
162
memecahkan masalah-masalah baru yang belum pernah
dijumpai.
Dengan pembelajaran pemecahan masalah menghendaki
siswa belajar secara aktif, bukannya guru yang lebih aktif dalam
menyajikan materi pelajaran. Belajar aktif dapat menumbuhkan
sikap kreatif. Sikap kreatif yang dimaksud ialah sifat kreatif
mencari sendiri, menemukan, merumuskan, atau
menyimpulkan sendiri.
E. PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK
Pendekatan realistik merupakan suatu pendekatan atau cara
pembelajaran dimana mendekatkan siswa kepada hal yang
bersifat nyata yaitu dengan memanfaatkan lingkungan sekitar
sebagai materi pembelajaran. Siswa dalam pendekatan realistik
dituntun agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran yakni
dalam memecahkan masalah matematika baik secara individu
maupun diskusi kelompok. Dalam pendekatan tersebut guru
bersifat sebagai fasilitator
kegiatan pembelajaran karena pembelajaran realistik bertajuk
situated learning yaitu proses pembelajaran yang diarahkan
kepada dunia nyata atau student center.
Dengan demikian Pendekatan Matematika Realistik
merupakan suatu pendekatan metodologi pembelajaran yang
mengutamakan kenyataan dan lingkungan sebagai alat bantu
pembelajaran dimana mempunyai maksud kebermaknaan
kepada siswa sehingga pembelajaran dapat tercapai secara
optimal.
Karakteristik Pendekatan Pembelajaran Matematika
Realistik
Terdapat lima karakteristik dalam pendekatan pembelajaran
realistik yang dikemukakan oleh Gravemeijer (Maulana, dkk.
2009) diantaranya sebagai berikut ini.
A. Phenomenological exploration or use contex.
Konteks merupakan suatu lingkungan keseharian peserta didik
yang nyata. Dalam matematika konteks ini tidak selalu diartikan
konkret, melainkan dapat juga sesuatu yang telah dipahami
peserta didik atau dapat dibayangkan oleh peserta didik.
Konteks juga tidak selalu dihubungkan dengan pengalaman
163
peserta didik.
Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan
pembelajaran matematika realistik, guru harus memanfaatkan
pengetahuan awal peserta didik untuk memahami konsep-
konsep matematika dengan memberikan suatu permasalahan
yang kontekstual.
B. The use models or bringing by vertical instrument.
Model atau gambar diarahkan untuk memberikan pemahaman
terhadap peserta didik dari model konkret atau nyata menuju ke
model abstrak. Dalam proses menggunakan model ini, peserta
didik diharapkan dapat menemukan hubungan antara bagian-
bagian masalah kontekstual dan menyampaikannya ke dalam
model matematika melalui bentuk skema, rumusan, serta
bentuk visual. Bentuk model ini bertujuan untuk menjembatani
antara masalah matematika yang kontekstual dengan
matematika formal yang bersifat vertikal. Dari karakteristik ini
diharapkan peserta didik mampu mengembangkan kemampuan
berpikir logis, kritis, dapat merepresentasikan dan
berkomunikasi dalam matematika.
C. The use of students own production and constructions of
students contributions
Kontribusi yang besar pada proses belajar mengajar
diharapkan dari kontribusi peserta didik itu sendiri yang
mengarahkan mereka dari metode informal kearah yang lebih
formal atau baku melalui bimbingan seorang guru. Strategi-
strategi informal peserta didik berupa skema, grafik, diagram,
atau simbol-simbol dalam matematika serta prosedur
pemecahan masalah
kontekstual sebagai sumber inspirasi dalam membangun
pengetahuan matematika formal diharapkan dapat berkembang
ke arah yang positif.
D. The interactive character or teaching process or
interactivity.
Interaksi antara peserta didik dengan peserta didik dan guru
dengan peserta didik maupun sebaliknya merupakan bagian
penting dalam pendekatan matematika realistik. Bentuk
interaksi yang terjadi dalam pembelajaran diantaranya dapat
berupa negosiasi secara eksplisit, intervensi kooperatif,
penjelasan, melalui suatu kebenaran, setuju atau tidak setuju,
pertanyaan atau refleksi dan evaluasi sesama peserta didik dan
164
guru.
E. Intertwining or various learning strand.
Konsep yang dipelajari peserta didik dengan prinsip belajar-
mengajar matematika realistik harus merupakan jalinan dengan
konsep atau materi lain baik dalam matematika itu sendiri
maupun dengan yang lain, sehingga matematika bukanlah
suatu pengetahuan yang terpisah- pisah melainkan merupakan
suatu ilmu pengetahuan yang utuh dan terpadu. Hal ini
dimaksudkan agar proses pemahaman peserta didik terhadap
suatu konsep dapat dilakukan secara bermakna dan holistik.
Prinsip-prinsip Pendekatan Pembelajaran Realistik
Matematika
Menurut Suwangsih & Tiurlina (2006, hlm. 135) terdapat lima
prinsip pembelajaran realistik yang menjiwai setiap aktivitas
pembelajaran matematika.
1. Didominasi oleh masalah-masalah dalam konteks,
melayani dua hal yaitu sebagai sumber dan sebagai
terapan konsep matematika.
2. Perhatian diberikan pada pengembangan model-model,
situasi, skema, dan simbol- simbol.
3. Sumbangan dari siswa, sehingga siswa dapat membuat
pembelajaran menjadi konstruktif dan produktif, artinya
siswa memproduksi dan mengkonstruksi sendiri (yang
mungkin berupa algoritma, rule, atau aturan), sehingga
dapat membimbing para siswa dari level matematika
informal menuju matematika formal.
4. Interaktif sebagai karakteristik dari proses pembelajaran
matematika.
5. Intertwining (membuat jalinan) antar topik atau antar
pokok bahasan.
Tahapan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik
Menurut Gravemeijer (Tarigan, 2006, hlm. 4), proses reinvensi
berlangsung dalam empat tahap.
1. Tahap situasional, pengetahuan dan strategi yang
bersifat situasional dan terbatas digunakan dalam
konteks situasi yang sedang dihadapi.
2. Tahap referensial, model situasi dan strategi khusus
165
yang digunakan untuk menjelaskan situasi masalah yang
sedang dihadapi.
3. Tahap umum, model dan strategi digunakan untuk
menghadapi berbagai macam situasi masalah yang
mirip.
4. Tahap formal, prosedur dan notasi baku digunakan
untuk memecahkan masalah matematika.
Untuk memahami suatu objek secara mendalam, menurut
Sumarno (1987) sedikitnya seseorang harus mengetahui lima
aspek penting, yaitu :
1. Objek itu sendiri
2. Relasinya dengan objek lain yang sejenis
3. Relasinya dengan objek lain yang tidak sejenis
4. Relasi-dual dengan objek lainnya yang sejenis
5. Relasi dengan objek dalam teori lainnya
Adapun hal yang mempengaruhi terjadinya pemahaman
adalah:
1. Sistematisasi sajian materi, karena materi akan masuk
ke otak jika masuknya teratur
2. Kejelasan dari materi yang disajikan.
Pemahaman matematis adalah kemampuan menjelaskan suatu
situasi dengan kata-kata yang berbeda dan dapat
menginterpretasikan atau menarik kesimpulan dari tabel, data,
grafik, dan sebagainya. Konsep-konsep dalam matematika
terorganisasi secara sistematis, logis, dan hirarkis dari yang
paling sederhana ke yang paling kompleks. Dengan kata lain,
pemahaman dan penguasaan suatu materi merupakan
persyaratan untuk menguasai materi atau konsep selanjutnya.
Dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemahaman matematis
adalah kemampuan dalam mengenal, memahami, dan
menerapkan konsep, prosedur, prinsip dan ide matematika
sebagai bentuk pernyataan hasil belajar.
Sebagai indikator bahwa siswa dikatakan paham terhadap
konsep matematika, menurut Salimi (2010) dapat dilihat dari
kemampuan siswa dalam beberapa hal sebagai berikut:
1. Mendefinisikan konsep secara verbal dan tulisan
2. Membuat contoh dan noncontoh penangkal
3. Mempresentasikan suatu konsep dengan model,
diagram, dan simbol
166
4. Mengubah suatu bentuk representasi ke bentuk lain
5. Mengenal berbagai makna dari interpretasi konsep
6. Mengidentifikasi sifat-sifat suatu konsep dan mengenal
syarat-syarat yang menentukan suatu konsep
7. Membandingkan dan membedakan konsep-konsep.
Dilihat dari jenisnya, menurut Russefendi (1988), ada tiga
macam pemahaman matematis, yaitu:
1. KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIS
Istilah pemahaman berasal dari akar kata ―paham‖, yang
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai
pengetahuan yang banyak, pendapat, aliran, dan mengerti
dengan benar. Adapun istilah pemahaman sendiri diartikan
dengan proses, cara, perbuatan memahami atau
memahamkan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
pemahaman adalah suatu proses mental terjadinya adaptasi
dan transformasi ilmu pengetahuan dimana siswa mampu
mengerti apa yang telah disampaikan oleh gurunya.
Pembelajaran yang mengarah pada upaya pemberian
pemahaman pada siswa adalah pembelajaran yang
mengarahkan agar siswa memahami apa yang mereka pelajari,
tahu kapan, dimana, dan bagaimana menggunakannya, karena
keefektifan pembelajaran sangat ditentukan oleh ada tidaknya
proses pemahaman atau memahami pengetahuan dan proses
mental yang dominan dalam proses memahami adalah dengan
memikirkan (thinking). Selain itu, pemerolehan pengetahuan
dan proses memahami akan sangat terbantu, apabila siswa
dapat sekaligus melakukan sesuatu yang terkait dengan
keduanya dengan mengerjakannya, maka siswa akan menjadi
lebih tahu dan lebih paham.
Untuk memahami sesuatu, menurut Bloom (Tea,2009) siswa
harus melakukan lima tahapan berikut, yaitu :
1. Organizing (diatur). Organization mengatur atau
mengorganisasikan, artinya mempertemukan perbedaan
nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang
membawa pada perbaikan umum. Mengatur atau
mengorganisasikan merupakan pengembangan dari nilai
ke dalam satu sistem organisasi, termasuk didalamnya
hubungan satu nilai dengan nilai lain., pemantapan dan
prioritas nilai yang telah dimilikinya.
2. Characterization (penataan nilai). Characterization by
167
value or value complex karakterisasi dengan suatu nilai
atau komplek nilai, yakni keterpaduan semua sistem nilai
yang telah dimiliki oleh seseorang, yang mempengaruhi
pola kepribadian dan tingkah lakunya. Disini proses
internalisasi nilai telah menempati tempat tertinggi dalam
suatu hirarki nilai. Nilai itu telah tertanam secara
konsisten pada sistemnya dan telah mempengaruhi
emosinya. Ini adalah merupakan tingkat efektif tertinggi,
karena sikap batin peserta didik telah benar-benar
bijaksana
3. Receiving (menerima). Adalah kepekaan seseorang
dalam menerima rangsangan stimulus dari luar yang
datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi,
gejala dan lain-lain.
4. Responding (membanding-bandingkan). Kemampuan
yang dimiliki oleh seseorang untuk mengikutsertakan
dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan
membuat reaksi terhadapnya salah satu cara. Jenjang ini
lebih tinggi daripada jenjang receiving
5. Valuing (menilai). Valuing adalah tingkat afektif yang
lebih tinggi lagi daripada receiving dan responding.
Dalam kaitan proses belajar mengajar, peserta didik
disini tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan
tetapi mereka telah berkemampuan untuk menilai
konsep atau fenomena, yaitu baik atau buruk. Bila suatu
ajaran yang telah mampu mereka nilai dan mampu untuk
mengatakan ―itu adalah baik‖, maka ini berarti bahwa
peserta didik telah menjalani proses penilaian.
1. Pengubahan (translation)
Pemahaman translasi digunakan untuk menyampaikan
informasi dengan bahasa dan bentuk yang lain dan
menyangkut pemberian makna dari suatu informasi yang
bervariasi.
2. Pemeran Arti (interpretation)
Interpolasi digunakan untuk menafsirkan maksud dari bacaan,
tidak hanya dengan kata- kata dan frasa, tetapi juga mencakup
pemahaman suatu informasi dari sebuah ide.
3. Pembuatan Ekstrapolasi 9 (extrapolation)
Ekstrapolasi mencakup estimasi dan prediksi yang didasarkan
pada sebuah pemikiran, gambaran dari suatu informasi, juga
168
mencakup pembuatan kesimpulan dengan konsekuensi yang
sesuai dengan informasi jenjang kognitif yang ketiga, yaitu
penerapan yang menggunakan suatu bahan yang sudah
dipelajari dalam situasi baru yaitu berupa ide, teori, atau
petunjuk teknis.
Adapun menurut Skemp dalam Sumarno (1987). Pemahaman
matematis dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
1. Pemahaman Instrumental
Pemahaman instrumental dapat diartikan sebagai pemahaman
konsep atau prinsip tanpa kaitan dengan yang lainnya dan
dapat menerapkan rumus dalam perhitungan sederhana.
Dalam hal ini. Hanya hafal rumus dan memahami urutan
pengerjaan atau algoritme.
2. Pemahaman Relasional
Pemahaman relasional termuat skema atau struktur yang dapat
digunakan pada penyelesaian masalah yang lebih luas, dapat
mengaitkan suatu konsep atau prinsip dengan konsep lainnya
dan sifat pemakaiannya lebih bermakna.
Pemahaman matematika yang perlu diterapkan kepada anak
didik di sekolah dasar sebagai pemahaman sejak dini
sedikitnya meliputi:
1. Kemampuan merumuskan strategi penyelesaian
2. Menerapkan perhitungan sederhana
3. Menggunakan simbol untuk mempresentasikan konsep
4. Mengubah suatu bentuk ke bentuk lain yang berkaitan
dengan pecahan.
Penerapan pemahaman matematis ini sangat penting untuk
siswa dalam rangka belajar matematika secara bermakna,
tentunya para guru mengharapkan pemahaman yang dicapai
siswa tidak terbatas pada pemahaman instrumental, tetapi
sampai kepada pemahaman rasional. Menurut Ausubel (1986),
belajar bermakna adalah bila informasi yang akan dipelajari
siswa disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki.
Artinya, siswa dapat mengaitkan antara pengetahuan yang
dipunyai dengan keadaan lain sehingga belajar lebih mengerti.
F. KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS
Komunikasi merupakan keterampilan yang sangat penting
dalam kehidupan manusia, yang terjadi pada setiap gerak
169
langkah manusia. Manusia adalah makhluk sosial yang
tergantung satu sama lain dan mandiri serta saling terkait
dengan orang lain di lingkungannya. Satu-
satunya alat untuk dapat berhubungan dengan orang lain di
lingkungannya ialah komunikasi, baik secara lisan maupun
tulisan.
Komunikasi, secara umum dapat diartikan sebagai suatu
cara untuk menyampaikan suatu pesan ke penerima pesan
untuk memberitahu, pendapat, atau perilaku baik langsung
secara lisan maupun tak langsung melalui media. Di dalam
berkomunikasi tersebut harus dipikirkan bagaimana caranya
agar pesan yang disampaikan seseorang itu dapat dipahami
oleh orang lain. Untuk mengembangkan kemampuan
berkomunikasi, orang dapat menyampaikan dengan berbagai
bahasa termasuk bahasa matematis.
Adapun komunikasi matematis dapat diartikan sebagai suatu
peristiwa dialog atau saling hubungan yang terjadi di
lingkungan kelas, di mana terjadi pengalihan pesan, dan pesan
yang dialihkan berisikan tentang materi matematika yang
dipelajari siswa, misalnya berupa konsep, rumus, atau strategi
penyelesaian suatu masalah. Pihak yang terlibat dalam
peristiwa komunikasi di lingkungan kelas yaitu guru dan siswa.
Cara pengalihan pesannya dapat secara lisan maupun tertulis.
Dalam proses pembelajaran akan selalu terjadi suatu peristiwa
saling berhubungan atau komunikasi antara pemberi pesan
(guru) yang memiliki sejumlah unsur dan pesan yang ingin
disampaikan, serta cara menyampaikan pesan kepada siswa
sebagai penerima pesan. Dalam konteks pembelajaran
matematika yang berpusat pada siswa, pemberi pesan tidak
terbatas oleh guru saja melainkan dapat dilakukan oleh siswa
maupun media lain, sedangkan unsur dan pesan yang
dimaksud adalah konsep-konsep matematika, dan cara
menyampaikan pesan dapat dilakukan baik melalui lisan
maupun tulisan.
Kemampuan komunikasi matematis menjadi penting ketika
diskusi antar siswa dilakukan, dimana siswa diharapkan mampu
menyatakan, menjelaskan, menggambarkan, mendengar,
menanyakan, dan bekerja sama sehingga dapat membawa
siswa pada pemahaman yang mendalam tentang matematika.
Dalam hal ini, kemampuan komunikasi dipandang sebagai
170
kemampuan siswa mengkomunikasikan matematika yang
dipelajari sebagai isi pesan yang harus disampaikan. Dengan
siswa mengkomunikasikan pengetahuan yang dimilikinya, maka
dapat terjadi renegosiasi respons antarsiswa, dan peran guru
diharapkan hanya sebagai filter dalam proses pembelajaran.
Selain itu, kemampuan komunikasi matematis itu juga penting
dimiliki oleh setiap siswa dengan beberapa alasan mendasar,
yaitu:
(1) kemampuan komunikasi matematis menjadi kekuatan
sentral bagi siswa dalam merumuskan konsep dan strategi;
(2) kemampuan komunikasi matematis sebagai modal
keberhasilan bagi siswa terhadap pendekatan dan
penyelesaian dalam eksplorasi dan investigasi matematika; dan
(3) kemampuan komunikasi matematis sebagai wadah bagi
siswa dalam berkomunikasi dengan temannya untuk
memperoleh informasi, berbagai pikiran.
Beberapa kriteria yang dipakai dalam melihat seberapa besar
kemampuan siswa dalam memiliki kemampuan matematis pada
pembelajaran matematika adalah sebagaimana yang
dikemukakan oleh NCTM (1989), sebagai berikut:
1. Kemampuan mengekspresikan ide-ide matematika
melalui lisan, tulisan, dan mendemonstrasikannya serta
menggambarkannya secara visual.
2. Kemampuan memahami, menginterpretasikan, dan
mengevaluasi ide-ide matematika baik secara lisan
maupun dalam bentuk visual lainnya.
3. Kemampuan menggunakan istilah, notasi matematika
dan struktur-strukturnya untuk menyajikan ide,
menggambarkan hubungan dan model situasi.
Adapun menurut Sumarno (1987), kemampuan komunikasi
matematis siswa dapat dilihat dari kemampuan mereka dalam
hal-hal, sebagai berikut:
1. Menghubungkan benda nyata, gambar, dan diagram ke
dalam ide matematika.
2. Menjelaskan ide, situasi, dan relasi matematika secara
lisan dan tulisan dengan benda nyata, gambar, grafik,
dan aljabar.
3. Menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau
simbol matematika.
4. Mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang
171
matematika.
5. Membaca dengan pemahaman suatu presentasi
matematika tertulis.
6. Membuat konjektur, menyusun argumen, merumuskan
definisi, dan generalisasi.
7. Menjelaskan dan membuat pertanyaan tentang
matematika yang telah dipelajari.
Dari kriteria-kriteria kemampuan komunikasi matematis seperti
yang dikemukakan di atas, dapat dielaborasi menjadi aspek-
aspek komunikasi, sebagai berikut:
1. Representasi (representation), diartikan sebagai bentuk
baru dari hasil translasi suatu masalah atau ide, atau
translasi suatu diagram dari model fisik ke dalam simbol
atau kata-kata. Misalnya, bentuk perkalian ke dalam
model konkret, suatu diagram ke dalam bentuk simbol.
Representasi dapat membantu anak menjelaskan
konsep atau ide dan memudahkan anak mendapatkan
strategi pemecahan. Selain itu, dapat meningkatkan
fleksibilitas dalam menjawab soal matematika.
2. Mendengar (listening), dalam proses diskusi aspek
mendengar salah satu aspek yang sangat penting.
Kemampuan siswa dalam memberikan pendapat atau
komentar sangat terkait dengan kemampuan
mendengarkan, terutama menyimak, topik-topik utama
atau konsep esensial yang didiskusikan. Siswa
sebaiknya mendengar dengan hati-hati manakala ada
pertanyaan dan komentar dari temannya. Mendengar
secara hati-hati terhadap pertanyaan teman dalam suatu
grup juga dapat membantu siswa mengkonstruksi lebih
lengkap pengetahuan matematika dan mengatur strategi
jawaban yang lebih efektif.
3. Membaca (reading), kemampuan membaca merupakan
kemampuan yang kompleks, karena di dalamnya terkait
aspek mengingat, memahami, membandingkan,
menemukan, menganalisis, mengorganisasikan, dan
akhirnya menerapkan apa yang terkandung dalam
bacaan.
4. Diskusi (discussing), merupakan sarana bagi seseorang
untuk dapat mengungkapkan dan merefleksikan pikiran-
pikirannya berkaitan dengan materi yang diajarkan.
172
Aktivitas siswa dalam diskusi tidak hanya meningkatkan
daya tarik antara partisipan tetapi juga dapat
meningkatkan cara berpikir kritis. Dengan diskusi ini
memungkinkan proses pembelajaran akan lebih mudah
dipahami. Kelebihan lain dari diskusi ini antara lain: (a)
dapat mempercepat pemahaman materi pelajaran dan
kemahiran menggunakan strategi; (b) membantu siswa
mengkonstruksi pemahaman matematis; (c)
menginformasikan bahwa para ahli matematika biasanya
tidak memecahkan masalah
sendiri-sendiri tetapi membangun ide bersama pakar lainnya
dalam satu tim; dan (d) membantu siswa menganalisis dan
memecahkan masalah secara bijaksana.
5. Menulis (writing), kegiatan yang dilakukan dengan
sadar untuk mengungkapkan dan merefleksikan pikiran,
dipandang sebagai proses berpikir keras yang
dituangkan di atas kertas. Menulis adalah alat yang
bermanfaat dari berpikir karena siswa memperoleh
pengalaman matematika sebagai suatu aktivitas yang
kreatif. Menulis dapat meningkatkan taraf berpikir siswa
ke arah yang lebih tinggi (higher order thinking).
Dalam proses pembelajaran matematika, berkomunikasi
dengan menggunakan komunikasi matematis ini perlu
ditumbuhkan, sebab salah satu fungsi pelajaran matematika
yaitu sebagai cara mengomunikasikan gagasan secara praktis,
sistematis, dan efisien. Komunikasi merupakan bagian penting
dari pendidikan matematika. Sebagaimana dikemukakan oleh
Asikin (2002), bahwa peran komunikasi dalam pembelajaran
matematika, yaitu:
1. Dengan komunikasi, ide matematika dapat dieksploitasi
dalam berbagai perspektif, membantu mempertajam
cara berpikir siswa, dan mempertajam kemampuan-
kemampuan siswa dalam melihat berbagai kaitan materi
matematika.
2. Komunikasi alat untuk mengukur kemampuan
pemahaman dan merefleksi pemahaman matematika
siswa.
3. Melalui komunikasi, siswa dapat mengorganisasikan dan
mengkonsolidasikan pemikiran matematika mereka.
4. Komunikasi antar siswa dalam pembelajaran matematika
173
sangat penting untuk pengkonstruksian pengetahuan
matematika, pengembangan kemampuan pemecahan
masalah, peningkatan penalaran, menumbuhkan rasa
percaya diri, serta peningkatan keterampilan sosial.
5. Menulis dan berkomunikasi (writing and talking) dapat
menjadi alat yang sangat bermakna untuk membentuk
komunitas matematika yang inklusif.
Agar komunikasi matematika itu dapat berjalan dan berperan
dengan baik, maka diciptakan suasana yang kondusif dalam
pembelajaran agar dapat mengoptimalkan kemampuan siswa
dalam komunikasi matematis. Siswa sebaiknya diorganisasikan
ke dalam kelompok-kelompok kecil yang dapat dimungkinkan
terjadinya komunikasi multi-arah yaitu komunikasi siswa
dengan siswa dalam satu kelompok.
Kelompok-kelompok kecil tersebut terdiri dari 4-6 orang
siswa yang memiliki kemampuan heterogen. Di dalam
kelompok tersebut siswa menyelesaikan tugas dan
memecahkan masalah. Dalam kelompok-kelompok kecil itu
memungkinkan timbulnya komunikasi dan interaksi yang lebih
baik antar siswa. Mempertinggi kemampuan komunikasi
matematis secara alami yaitu dengan memberikan kesempatan
belajar kepada siswa dalam kelompok kecil di mana mereka
dapat berinteraksi.
Pada saat pembagian kelompok itu perlu diperhatikan
komposisi siswa yang pandai, sedang, dan kurang. Kehadiran
siswa pandai dapat menjadi tutor sebaya bagi rekan-rekannya.
Bantuan belajar dari teman sebaya dapat menghilangkan
kecanggungan, bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami.
Tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu, dan sebagainya
untuk bertanya maupun minta bantuan pada teman sebaya.
.1. Menguasai cara belajar mengajar yang efektif
2. Mampu membuat satuan pembelajaran (satpel)
3. Mampu dan memahami kurikulum dengan baik
4. Mampu mengajar di kelas
5. Menjadi model bagi peserta didik
6. Mampu membuat dan melaksanakan evaluasi, dll.
174
BAB 12
PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN DI
SEKOLAH DASAR
A. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran
yang digunakan sebagai Wahana untuk
mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral
yang berakar pada budaya bangsa Indonesia. Nilai luhur
dan moral ini diharapkan dapat diwujudkan dalam
bentuk perilaku kehidupan siswa sehari-hari, baik
sebagai individu maupun anggota masyarakat dan
makhluk ciptaan tuhan yang maha esa, yang merupakan
usaha untuk membekali siswa dengan pengetahuan dan
kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antara
warganegara dengan negara serta pendidikan
pendahuluan bela negara agar menjadi warga negara
yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.
Dengan pendidikan kewarganegaraan ini diharapkan
mampu Membina dan mengembangkan anak didik agar
menjadi warga negara yang baik. Menurut
Somantri(1970) warga negara yang baik adalah warga
yang tahu mau dan mampu berbuat baik. Adapun
menurut winataputra(1978), warga negara yang baik
adalah warga yang mengetahui, menyadari, dan
melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai warga
negara.
Menurut azyumardi Azra(2005) Pendidikan
kewarganegaraan adalah pendidikan yang mengkaji dan
membahas tentang pemerintahan, konstitusi, lembaga-
lembaga demokrasi, rule of law, Ham, hak dan
kewajiban warga negara serta proses demokrasi.
Adapun menurut Zamroni Pendidikan kewarganegaraan
adalah pendidikan demokrasi yang bertujuan untuk
mempersiapkan warga masyarakat berikut kritis dan
bertindak demokratis. Pendidikan kewarganegaraan
adalah pendidikan demokrasi yang bertujuan untuk
mendidik generasi muda menjadi warga negara yang
175
demokratis dan partisipatif melalui suatu pendidikan
yang dialogial.
Adapun menurut tim Icce UIN Jakarta, Pendidikan
kewarganegaraan adalah suatu proses yang dilakukan
oleh lembaga pendidikan dimana seseorang
mempelajari orientasi, sikap dan perilaku politik
sehingga yang bersangkutan memiliki politik knowledge,
awareness, attitude, political efficacy, dan political
participations, serta kemampuan mengambil keputusan
politik secara rasional.
dari beberapa definisi pendidikan kewarganegaraan
tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan
yang memberikan pemahaman dasar tentang
pemerintahan, tata cara demokrasi, tentang
kepedulian,sikap, pengaturan politik yang mampu
mengambil politik secara rasional, sehingga dapat
mempercepat warga negara yang demokratis dan
partisipatif melalui suatu pendidikan yang berorientasi
pada pengembangan berpikir kritis dan bertindak
demokratis. Jadi Pendidikan kewarganegaraan adalah
usaha sadar dan terencana Dalam proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kecerdasan, kecakapan,
keterampilan serta kesadaran tentang hak dan
kewajiban sebagai warga negara, penghargaan
terhadap hak asasi manusia, kemajemukan bangsa,
pelestarian lingkungan hidup, kesetaraan gender,
demokrasi, tanggung jawab sosial, ketaatan pada
hukum, harga ikut berperan dalam percaturan global.
B. Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah
Dasar
Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat
mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara
yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk
mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia.
Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip
dan semangat kebangsaan dalam kehidupan
bermasyarakat berbangsa dan bernegara yang
berdasarkan Pancasila dan undang-undang 1945 masih
perlu ditingkatkan terus-menerus untuk memberikan
176
pemahaman yang mendalam tentang NKRI. Konsep
konstitusi negara Republik Indonesia perlu ditanamkan
kepada seluruh komponen bangsa Indonesia khususnya
generasi muda sebagai generasi penerus seiring
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
maka secara otomatis pola pikir masyarakat
berkembang dalam setiap aspek hal ini sangat
berpengaruh besar terutama dalam dunia pendidikan
yang menurut adanya inovasi baru yang dapat
menimbulkan perubahan secara kualitatif yang berbeda
dengan sebelumnya. Tanggung jawab melakukan
melaksanakan evaluasi diantaranya terletak pada
penyelenggaraan pendidikan di sekolah di mana guru
memegang peran utama dan bertanggung jawab
menyebarluaskan gagasan baru baik terhadap siswa
maupun masyarakat melalui proses pengajaran dalam
kelas.
Kenyataan tersebut di atas belum sepenuhnya
dipahami kalangan pendidikan khususnya guru Sekolah
Dasar proses pembelajaran di di kelas sangat
membosankan dan membuat peserta didik tertekan. Hal
ini juga terjadi pada mata pelajaran Pendidikan. Mata
pelajaran PKN ini merupakan suatu mata pelajaran yang
bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia
seutuhnya yang berlandaskan pada Pancasila undang-
undang dan norma-norma yang berlaku di masyarakat
masih belum optimal disampaikan pada siswa.
Istilah Pendidikan Kewarganegaraan apabila dikaji
secara mendalam berasal dari kepustakaan asing yang
memiliki dua istilah yaitu Civic education dan citizenship
education. Cogan (1999:4) menjelaskan kedua istilah ini
sebagai berikut
1. Civic education, diartikan sebagai:..... the Foundation
course Work in Scholl designer to prepare young
citizens for an active role in their communities in their
adult lives ( suatu mata pelajaran Dasar di sekolah yang
dirancang untuk mempersiapkan warga negara muda
agar setelah dewasa dapat berperan aktif dalam
masyarakat)
2. Citizenship education atau education for citizenship,
diartikan sebagai berikut:.... The more inclusive term and
177
encompasses both their in school experiences as well
as out-of school or 'non-formal/informal' learning which
takes place in the family, the religious organizations,
community organizations, the media etc., Which help to
shope the total itu of the citizen ( merupakan istilah
generik yang mencakup pengalaman belajar di sekolah
dan di luar sekolah seperti yang terjadi di lingkungan
keluarga, dalam organisasi keagamaan, dalam
organisasi kemasyarakatan dan dalam media yang
membantunya untuk menjadi warga negara seutuhnya).
Dari kedua istilah tersebut civic education ternyata
lebih cenderung digunakan dalam makna yang serupa
untuk pelajaran di sekolah atau identik dengan PKN
yang memiliki tujuan utama mengembangkan siswa
sebagai warga negara yang cerdas dan baik. Civic
Education atau Pendidikan Kewarganegaraan
dirumuskan secara luas untuk mencakup proses
penyiapan generasi muda untuk mengambil peran dan
tanggung jawabnya sebagai warga negara, dan secara
khusus, peran pendidikan termasuk di dalamnya
persekolahan, pengajaran, dan belajar, dalam proses
penyiapan warga negara tersebut.
C. Landasan Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan kewarganegaraan dapat bermanfaat
untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan
bernegara, meningkatkan keyakinan akan ketangguhan
Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara
Indonesia. Pelaksanaan pendidikan kewarganegaraan
memiliki 2 (dua) dasar sebagai landasannya, landasan
yang dimaksud adalah landasan hukum dan ideal.
a. Landasan hukum:
1. Undang-Undang Dasar 1945
Pembukaan UUD 1945. Pembukaan alinea kedua
tentang cita-cita mengisi kemerdekaan dan alinea
keempat khusus tentang tujuan negara, yaitu keamanan
dan kesejahteraan.
Pasal 27 (3) (II), setiap warga negara berhak dan wajib
ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Pasal 30 ayat
(1) (II), tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut
serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara.
178
Pasal 31 ayat (1) (IV), setiap warga negara berhak
mendapatkan pendidikan. Pasal 28 A-J tentang Hak
Asasi Manusia.
2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1982
Undang-undang No. 20/1982 adalah tentang Ketentuan-
Ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara
Republik Indonesia (Lembaran Negara 1982 No. 51, TLN
3234).
Pasal 18 Hak dan Kewajiban warga negara yang
diwujudkan dengan keikutsertaan dalam upaya bela
negara diselenggarakan melalui pendidikan
pendahuluan bela negara sebagai bagian tidak
terpisahkan dalam sistem pendidikan nasional.
Pasal 19 ayat (2) Pendidikan Pendahuluan Bela Negara
wajib diikuti oleh setiap warga negara dan dilaksanakan
secara bertahap, yaitu:
(1). Tahap awal pada pendidikan tingkat dasar sampai
menengah dan dalam gerakan Pramuka.
(2) Tahap lanjutan dalam bentuk Pendidikan Kewiraan
pada tingkat Pendidikan Tinggi.
3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional dan berdasarkan Keputusan
Menteri Pendidikan Nasional Nomor 232/U/2000 tentang
Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan
Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa, serta Nomor
45/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi telah
ditetapkan bahwa Pendidikan Agama, Pendidikan
Bahasa dan Pendidikan Kewarganegaraan merupakan
kelompok mata kuliah Pengembangan Kepribadian yang
wajib diberikan dalam kurikulum setiap program studi
atau kelompok program studi.
4. Surat Keputusan Dirjen Dikti Nomor 43 Tahun 2006
Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Nomor 43/DIKTI/2006 tentang Rambu-Rambu
Pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah Pengembangan
Kepribadian di Perguruan Tinggi.
b. Landasan Ideal
Landasan ideal Pendidikan Kewarganegaraan yang
sekaligus menjadi jiwa dikembangkannya
179
Kewarganegaraan adalah Pancasila.Pancasila sebagai
sistem filsafat menjiwai semua konsep ajaran
Kewarganegaraan dan juga menjiwai konsep
ketatanegaraan Indonesia. Dalam sistematikanya
dibedakan menjadi tiga hal, yaitu: Pancasila sebagai
dasar negara, Pancasila sebagai pandangan hidup
bangsa dan Pancasila sebagai ideologi negara. Ketiga
hal itu dapat dibedakan, namun tidak dapat dipisahkan.
1. Pancasila sebagai Dasar Negara.
Pancasila sebagai dasar negara merupakan dasar
pemikiran tindakan negara dan menjadi sumber hukum
positif di Indonesia.Pancasila sebagai dasar negara pola
pelaksanaannya dipancarkan dalam empat pokok pikiran
yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 dan
dijabarkan dalam pasal-pasal UUD 1945 sebagai strategi
pelaksanaan Pancasila sebagai dasar negara.
Pembukaan UUD 1945 pokok pikiran pertama yaitu
pokok pikiran persatuan yang berfungsi sebagai dasar
negara, merupakan landasan dirumuskannya wawasan
nusantara sebagai bagian dari geopolitik.Pokok pikiran
kedua yaitu pokok pikiran keadilan sosial yang berfungsi
sebagai tujuan negara merupakan tujuan wawasan
nusantara sekaligus tujuan geopolitik Indonesia. Tujuan
negara dijabarkan langsung dalam Pembukaan UUD
1945 alinea keempat, yaitu tujuan berhubungan dengan
segi keamanan dan kesejahteraan dan ketertiban dunia.
Geopolitik Indonesia pada dasarnya adalah sebagai
perwujudan nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupan
bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
2. Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa.
Pancasila sebagai pandangan hidup merupakan
kristalisasi nilai-nilai luhur yang diyakini
kebenarannya.Perwujudan nilai-nilai luhur Pancasila
terkandung juga dalam konsep geopolitik Indonesia demi
terwujudnya ketahanan nasional sebagai geostrategi
Indonesia sehingga ketahanan nasional ini disusun dan
dikembangkan berdasarkan geopolitik Indonesia.
Perwujudan nilai-nilai Pancasila mencakup lima bidang
kehidupan nasional yaitu bidang ideologi, politik,
ekonomi, sosial budaya dan hankam yang disingkat
dengan Ipoleksosbudhankam. Ipoleksosbudhankam
180
menjadi dasar pemikiran ketahanan nasional.
Dari lima bidang kehidupan nasional, bidang ideologi
merupakan landasan dasar. Ideologi itu berupa
Pancasila sebagai pandangan hidup yang menjiwai
empat bidang lainnya. Dasar pemikiran ketahanan
nasional di samping lima bidang kehidupan nasional
tersebut yang merupakan aspek sosial pancagatra
didukung pula adanya dasar pemikiran aspek alamiah
trigatra yang merupakan geostrategi Indonesia.
3. Pancasila sebagai Ideologi Negara.
Pancasila sebagai ideologi negara merupakan kesatuan
konsep-konsep dasar yang memberikan arah dan tujuan
dalam mencapai cita-cita bangsa dan negara. Cita-cita
bangsa dan negara berlandaskan Pancasila dipancarkan
dalam alinea kedua Pembukaan UUD 1945 merupakan
cita-cita untuk mengisi kemerdekaan, yaitu: bersatu,
berdaulat adil dan makmur.
D. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Pembelajaran PKn Sekolah Dasar dimaksudkan
sebagai suatu proses belajar mengajar dalam rangka
membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik
dan membentuk manusia Indonesia seutuhnya dalam
pembentukan karakter bangsa yang diharapkan
mengarah pada penciptaan suatu masyarakat yang
menempatkan demokrasi dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara yang berlandaskan pada Pancasila UUD
dan norma-norma yang berlaku di masyarakat yang
diselenggarakan selama 6 tahun.
Esensi pembelajaran PKN bagi anak adalah bahwa
secara kodrati maupun sosiokultural dan yuridis formal
keberadaan dan kehidupan manusia selalu
membutuhkan nilai moral dan norma. jangan
kehidupannya, manusia memiliki keinginan, kehendak
dan kemauan (human desire) yang berbeda untuk selalu
membina, mempertahankan, mengembangkan dan
meningkatkan aneka potensinya berikut segala
perangkat pendukungnya, sehingga mereka dapat
mengarahkan dan mengendalikan dunia kehidupan baik
secara fisik maupun nonfisik ke arah yang lebih baik dan
bermakna. Secara tegas, Kosasih Djahiri menyatakan
181
bahwa dalam kehidupan manusia di dunia ini tidak ada
tempat dan waktu kehidupan yang bebas nilai (value
free), karena dengan nilai moral dan norma ini akan
menentukan ke arah pengenalan jati diri manusia
maupun kehidupan (Djahiri,1996:2).
namun Sangat disayangkan bahwa dalam aplikasinya,
pembelajaran PKn ini kurang banyak diminati dan dikaji
dalam dunia pendidikan dan persekolahan, karena
kebanyakan lembaga pendidikan formal dominan pada
penyajian materi yang bersifat kognitif dan psikomotorik
belaka, kurang menyentuh pada aspek afektif hal ini
bukan karena tidak disadari esensinya, mainkan karena
ketidakpahaman para pengajar. Padahal, bagi guru
profesional, dituntut untuk memberikan pembinaan
keutuhan dari peserta didik agar tidak terjerumus pada
erosi nilai moral serta menjadi penyebab dehumanisasi,
yang pada akhirnya manusia menjadi arogan, egois dan
individualistis, materialistis sekuler dan bahkan
bersombong diri pada penciptaannya.
Kenapa PKN itu perlu diajarkan kepada anak
setidaknya ada tiga alasan yang melandasi nya
sebagaimana dikemukakan oleh Djahiri (1996: 8-9),
yaitu:
1. Bahwa sebagai makhluk hidup, manusia bersifat
multikodrati dan multifungsi- peran (status); manusia
bersifat multikompleks atau neopluralistis. manusia
memiliki kodrat Ilahi, sosial, budaya ekonomi dan politik.
2. Bahwa setiap manusia memiliki: sense of..., atau
value of..., Dan conscience of...Sense of... menunjukkan
integritas atau keterkaitan atau kebutuhan manusia akan
sesuatu. Sesuatu ini bisa material, imaterial, atau
kondisional atau waktu.
3. bahwa manusia ini unik(unique human). Hari ini
karena potensinya yang mau di potensi dan fungsi peran
serta kebutuhan atau human desire ya multi peran serta
kebutuhan.
Sejalan dengan pendapat Djahiri, Dasim
Budimansyah dan sapriya (2012:1) tugas pendapat
bahwa pendidikan PKN ini sangat penting dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa sehingga pendidikan
PKN ini harus dibangun atas dasar tiga paradigma, yaitu:
182
1. PKN secara kurikuler dirancang sebagai subjek
pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan
potensi individu agar menjadi warga negara Indonesia
akhlak mulia, cerdas, partisipatif dan bertanggung jawab.
2. PKN Secara teoritis dirancang sebagai strategi
pembelajaran yang memuat dimensi dimensi kognitif,
afektif dan psikomotorik yang bersifat konfluen atau
saling berinteraksi dan terintegrasi dalam
konteks substansi ide, nilai, konsep dan moral
Pancasila, warga negara yang demokratis dan bela
negara.
3. PKN sejarah programmatic dirancang sebagai saksi
pembelajaran yang menekankan pada isi yang
mengusung nilai-nilai (content embedding values) dan
pengalaman belajar (learning experience) dalam bentuk
berbagai perilaku yang perlu diwujudkan dalam
kehidupan sehari-hari dan merupakan tuntutan hidup
bagi warga negara dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara sebagai penjabaran lebih
lanjut ide, konsep dan moral Pancasila
kewarganegaraan yang demokratis dan bela negara.
memerhatikan uraian di atas maka jelas bahwasanya
pembelajaran PKn ini pada intinya harus diajarkan tidak
hanya mentransfer ilmunya saja, tetapi harus sampai
pada tahap operasional sesuai dengan peranan peserta
didik saat ini dan di masa mendatang. dengan demikian
pembelajaran PKn ini bukan hanya dalam bentuk konsep
belaka, singa kurang fungsional tidak muncul sebagai jati
diri dan acuan perilaku praksis. Celakanya pendidikan
PKN malah hanya menjadi " pembelajaran hafalan" saja.
Jadi, pendidikan PKN yang secara pragmatis sarat
dengan muatan aktif dengan dilaksanakan secara
kognitif.
Kendala lainnya yaitu pendidikan di Indonesia
diadakan pada berbagai persoalan dan situasi Global
yang berkembang cepat setiap waktu, baik yang
bermuatan positif maupun negatif atau bertentangan
dengan kepribadian bangsa Indonesia.
Dilain pihak, Dasim dan Sapriya(2012:3)
183
mengemukakan beberapa permasalahan kurikulum yang
mendasar dan menjadi penghambat dan peningkatan
kualitas pendidikan PKN, sebagai berikut
1. Penggunaan alokasi waktu yang tercantum dalam
struktur kurikulum pendidikan dijabarkan secara kaku
dan konvensional sebagai jam pelajaran tatap muka
terjadwal sehingga kegiatan pembelajaran PKn dengan
cara tatap muka di kelas menjadi sangat dominan.
2. Pelaksanaan pembelajaran PKn yang lebih didominasi
oleh kegiatan peningkatan dimensi lainnya menjadi
terbengkalai. di samping itu, pelaksanaan pembelajaran
diperparah lagi dengan keterbatasan fasilitas media
pembelajaran.
3. pembelajaran yang terlalu menekankan pada dimensi
kognitif itu berimplikasi pada penilaian yang juga
menekankan pada penguasaan kemampuan kognitif saja
sehingga mengakibatkan guru harus selalu mengajak
target pencapaian materi.
Dari beberapa penelitian diketahui, daya tarik
terhadap pelajaran PKn masih lemah, karena
membosankan dan cenderung tidak disukai siswa, dan
metodenya tidak menentang siswa secara intelektual
(Azis Wahab, 2004:2). Pendapat lain menyatakan bahwa
mata pelajaran ini dalam pelaksanaannya menghadapi
keterbatasan dan kendala terutama berkaitan dengan
kualitas guru keterbatasan dan kendala terutama
berkaitan dengan kualitas guru, keterbatasan fasilitas,
dan sumber belajar (Fajar, 2004:2). Kajian kebijakan
kurikulum, kesimpulan bahwa pemahaman guru
terhadap standar kompetensi dan kompetensi dasar
masih sangat beragam. Sesuai dengan kondisi yang
dialami dalam pembelajaran PKn diperlukan upaya untuk
menemukan model pembelajaran dapat memecahkan
masalah pembelajaran.
E. Tujuan Pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan
Tujuan Pembelajaran PKn di Sekolah Dasar adalah
untuk membentuk watak atau karakteristik warga negara
yang baik. Menurut Mulyasa (2007), tujuan mata
184
pelajaran Pendidikan kewarganegaraan adalah untuk
menjadikan siswa agar:
1. Mampu berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif
dalam menanggapi persoalan hidup maupun itu
kewarganegaraan di negaranya.
2. mampu berpartisipasi dalam segala kegiatan-kegiatan
secara aktif dan bertanggung jawab sehingga baik bisa
bertindak secara cerdas dalam semua.
3. bisa berkembang secara positif dan demokratis
sehingga mampu hidup bersama dengan bangsa lain di
dunia dan mampu berinteraksi, serta mampu
memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi
dengan baik. hal ini akan sudah tercapai jika pendidikan
nilai dan norma tetap ditanamkan pada siswa sejak usia
dini karena jika siswa tidak memiliki nilai norma yang
baik, maka tujuan Untuk mencapai warga negara yang
baik akan mudah terwujudkan.
Pentingnya pendidikan kewarganegaraan diajarkan
di sekolah dasar ialah sebagai pemberian pemahaman
dan kesadaran bahwa setiap anak didik dalam mengisi
kemerdekaan, dimana kemerdekaan bangsa Indonesia
diperoleh dengan keras dan penuh pengorbanan harus
diisi dengan upaya membangun kemerdekaan,
mempertahankan kelangsungan hidup berbangsa dan
bernegara jadi materinya kita perlu memiliki apresiasi
yang memadai terhadap makna perjuangan yang
dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan. Apresiasikan
menimbulkan rasa senang, sayang, cinta, keinginan
untuk memelihara melindungi membela negara untuk
yaitu Pendidikan Kewarganegaraan penting diajarkan di
sekolah sebagai upaya sadar menyiapkan warga yang
mempunyai kecintaan dan kesetiaan dan keberanian
bela bangsa dan negara. mereka adalah para penerus
bangsa yang akan mengisi bangsa ini pada kehidupan
yang datang. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang
bersatu, berilmu, dan berbudaya. maka dari itu
diperlukan generasi muda yang tahu akan hak dan
kewajiban dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa
dan bernegara serta peningkatan kualitas dirinya
sebagai manusia baik sebagai makhluk pribadi maupun
sosial demi terjaminnya keutuhan bangsa dan negara
185
dalam payung NKRI dan terciptanya masyarakat
Indonesia yang berbudaya dan bermartabat.
Pendidikan kewarganegaraan di sekolah dasar
memberikan pelajaran kepada siswa untuk memahami
dan membiasakan dirinya dalam kehidupan di sekolah
atau di luar sekolah, karena materi Pendidikan
Kewarganegaraan menekankan pada pengalaman dan
pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari yang ditunjang
oleh pengetahuan dan pengertian sederhana sebagai
bekal untuk mengikuti pendidikan berikutnya.
Selain itu, perlunya Pendidikan Kewarganegaraan
diajarkan di sekolah dasar ialah agar siswa sejak dini
dapat memahami dan mampu melaksanakan hak-hak
dan kewajibannya untuk menjadi warga negara
Indonesia yang cerdas, terampil dan berkarakter yang
diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945, dan
memahami nilai-nilai kedisiplinan, kejujuran, kata sikap
yang baik terhadap sesamanya, lawan jenisnya, maupun
terhadap orang yang lebih tua. melalui materi Pendidikan
Kewarganegaraan juga dapat mendidik siswa agar dapat
berpikir kritis, rasional, dan kreatif menanggapi isu
kewarganegaraan; dapat berpartisipasi secara aktif dan
bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas dalam
kegiatan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, Kak
Anti Korupsi; siswa dapat berkembang secara positif dan
demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-
karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup
bersama dengan bangsa-bangsa lainnya.
Lebih luas tujuan pembelajaran PKn ini adalah agar
siswa dapat memahami dan melaksanakan hak dan
kewajiban secara santun jujur dan demokratis serta
ikhlas sebagai warga negara terdidik dan bertanggung
jawab. Agar peserta didik menguasai dan memahami
berbagai masalah dasar dalam kehidupan
bermasyarakat berbangsa dan bernegara serta dapat
mengatasinya dengan pemikiran kritis dan bertanggung
jawab yang berlandaskan Pancasila wawasan nusantara
dan ketahanan nasional. Dan yang tidak kalah
pentingnya juga tujuan mempelajari PKn ini agar Siswa
memiliki sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai
kejuangan cinta tanah air serta rela berkorban bagi nusa
186
dan bangsa.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa
tujuan PKn di Sekolah Dasar adalah untuk menjadikan
warga negara yang baik yaitu warga negara yang tahu
mau dan sadar akan hak dan kewajibannya. demikian
diharapkan kelak dapat menjadi bangsa yang terampil
dan cerdas dan bersikap baik sehingga mampu
mengikuti kemajuan teknologi modern.
Kenapa PKn harus dimulai dari sekolah dasar?
Karena usia mereka haus akan pengetahuan, sangat
penting dan tepat untuk memberikan konsep dasar
tentang wawasan nusantara dan perilaku yang
demokratis secara benar dan terarah, jika salah maka
akan berdampak terhadap pola pikir dan perilaku pribadi
yang mempengaruhi pada jenjang selanjutnya juga pada
kehidupan di masyarakat. Jika diibaratkan mereka
adalah bibit biasa yang kita pupuk menjadi bibit unggul,
yang diharapkan dapat tumbuh menjadi pribadi yang
bermutu, bermutu akhlaknya, ilmunya. untuk mencapai
itu, kita tidak boleh salah memberi pupuk, sebagai salah
dalam memberi pengetahuan. Tanamkan konsep dasar
tentang hak dan kewajiban, wawasan nusantara,
demokrasi, hak asasi, peraturan-peraturan, perilaku dan
sikap moral yang berketuhanan yang maha esa secara
benar, terukur dan terencana, mobil samping mereka
juga sudah menjadi bagian dari masyarakat yang
berinteraksi jadi segera di arah ke mana yang baik dan
buruk, mana yang benar dan salah.
F. Fungsi Pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan
Mata pelajaran Pendidikan kewarganegaraan (PKn)
mempunyai fungsi sebagai sarana untuk membentuk
peserta didik menjadi warga negara yang memahami
dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya,
berkomitmen setia kepada bangsa dan negara Indonesia
dengan merefleksikan diri sebagai warga negara yang
cerdas, terampil dan berkarakter sesuai dengan amanat
Pancasila dan UUD 1945.
Sedangkan menurut Mubarokah (2012) Fungsi
pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah :
187
1. Membantu generasi muda memperoleh pemahaman
cita-cita nasional atau tujuan negara
2. Dapat mengambil keputusan-keputusan yang
bertanggung jawab dalam menyelesaikan masalah
pribadi, masyarakat dan negara
3. Dapat mengekspresikan cita-cita nasional dan dapat
membuat keputusan keputusan yang cerdas
4. Wahana untuk membentuk warga negara yang cerdas,
terampil dan berkarakter yang setia kepada bangsa dan
negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam
kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan amanat
Pancasila dan UUD NKRI 1945
G. Metode Pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan
Masalah utama dalam pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan ialah penggunaan metode atom
model pembelajaran dalam menyampaikan materi
pembelajaran secara tepat, Iya memenuhi muatan
tatanan nilai, agar dapat diinternalisasikan pada diri
siswa serta mengimplementasikan hakikat pendidikan
nilai dalam kehidupan sehari-hari belum memenuhi
harapan, seperti yang diinginkan.
Untuk menghadapi kritik masyarakat tersebut di
atas, suatu model pembelajaran yang efektif dan efisien
sebagai alternatif, itu model pembelajaran berbasis
portofolio (portofolio based learning), yang diharapkan
mampu melibatkan seluruh aspek, yaitu kognitif, afektif,
dan psikomotor siswa, serta secara fisik dan mental
melibatkan semua pihak dalam pembelajaran sehingga
Siswa memiliki suatu kebebasan berpikir, berpendapat,
aktif dan kreatif. Melalui model pembelajaran
portofolio, diupayakan dapat membangkitkan minat
pemahaman nilai-nilai kemampuan berpartisipasi secara
efektif, serta diiringi Suatu sikap tanggung jawab.
Adapun alasan penggunaan model pembelajaran
portofolio, yang mendasari kegiatan serta pembelajaran
PKN mengacu pada pendekatan sistem Contextual
Teaching Learning (CTL), model kegiatan sosial dan
PKN, metode bercerita, model pembelajaran induktif,
dan model pembelajaran deduktif.
188
1.Model Contextual Teaching Learning
Model Contextual Teaching Learning (CTL) adalah
bentuk pembelajaran yang memiliki karakteristik sebagai
berikut:
a. Keadaan yang mempengaruhi langsung kehidupan
siswa dan pembelajarannya.
b. Dengan menggunakan waktu/ kekinian, yaitu masa
yang lalu, sekarang dan yang akan akan datang.
c. Lawan dari textbook centered.
d. Lingkungan budaya, sosial, pribadi, ekonomi, dan
politik.
e. Belajar tidak hanya menggunakan ruang kelas, bisa
dilakukan di dalam kehidupan keluarga, masyarakat,
bangsa dan negara.
f. Mengaitkan isi pelajaran dengan dunia nyata dan
memotivasi siswa membuat hubungan antara
pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan
mereka.
g. Membekali siswa dengan pengetahuan yang fleksibel
dapat diterapkan dari satu permasalahan ke
permasalahan lain, dari satu konteks ke konteks lain.
Model CTL disebut juga REACT, yaitu relating (media
dalam kehidupan nyata), experiencing (dalam konteks
eksplorasi, penemuan dan penciptaan). applying (belajar
dengan menyajikan pengetahuan untuk kegunaannya),
cooperating (belajar dalam konteks interaksi kelompok),
dan transferring (belajar dengan menggunakan
penerapan dalam konteks baru atau kontak lain).
2. Model kegiatan sosial dan pendidikan
kewarganegaraan
Model yang dipelopori oleh Fred Newman mencoba
mengajarkan pada siswa bagaimana mempengaruhi
kebijakan umum. Dengan demikian, pendekatan ini
mencoba memperbaiki kehidupan siswa dalam
masyarakat atau negara, mencoba mengembangkan
kompetensi lingkungan dan memberikan dampak pada
keputusan-keputusan kebijakan, memiliki tingkat
kompetensi dan komitmen sebagai pelaksana yang
189
bermoral. Model ini mendorong partisipasi aktif siswa
dalam kehidupan politik, ekonomi, dan sosial dalam
masyarakat.
3. Metode Bercerita
Menciptakan pembelajaran PKn yang
menyenangkan dengan metode bercerita, menjadi salah
satu teknik pembelajaran yang berguna dalam
membangun karakter dan kepribadian siswa. Dalam
kegiatan ini, guru harus pandai memilih cerita yang
sesuai dengan perkembangan anak, juga diselaraskan
dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar
yang sedang ditanamkan. Ajaklah anak-anak duduk
melingkar di atas karpet. Perlihatkan buku yang akan
dibacakan. kondisikan siswa agar fokus pada cerita
yang akan disampaikan.
Selain mengambil kisah-kisah dari buku cerita yang
sudah ada guru dapat menciptakan sebuah cerita
dengan melibatkan anak dalam alur cerita. setelah
selesai bercerita, guru dapat mengajukan pertanyaan
baik lisan maupun tertulis sesuai dengan isi cerita yang
telah didengarkan. Selain berguna mengukur sejauh
mana pemahaman terhadap cerita, sebagai alat
penilaian Di akhir pembelajaran.
4. Metode Pembelajaran Induktif
Pendekatan ini dikembangkan oleh filsuf Francis
bacon yang menghendaki penarikan kesimpulan
didasarkan atas fakta-fakta yang konkrit sebanyak
mungkin. Semakin banyak fakta semakin mendukung
kesimpulan. Adapun langkah-langkah yang harus
ditempuh dalam model pembelajaran induktif ini, sebagai
berikut:
a. Pemilihan prinsip; Guru harus memiliki konsep, ,
aturan yang akan disajikan dengan pendekatan induktif.
b. pemberian contoh; guru menyajikan contoh
khusus, yang mendukung prinsip, atau aturan yang
memungkinkan siswa untuk memperkirakan sifat umum
yang terkandung dalam contoh.
C. Pemberian contoh lain; guru menyajikan contoh
khusus, pendukung prinsip, atau aturan yang
190
memungkinkan siswa memperkirakan sifat umum yang
terkandung dalam contoh.
d. Menyimpulkan; guru menyimpulkan, memberi
penegasan dari beberapa contoh kemudian disimpulkan
dari contoh tersebut menuju sebuah prinsip yang hendak
dicapai siswa.
5. Model Pembelajaran Deduktif
Pendekatan deduktif merupakan pendekatan yang
mengutamakan penalaran dari umum ke khusus.
langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam model
pembelajaran dengan pendekatan deduktif, sebagai
berikut:
a. guru memilih konsep, prinsip, aturan yang akan
disajikan.
b. Menyajikan aturan prinsip yang bersifat umum,
lengkap dengan definisi dan contoh-contoh.
c. guru menyajikan contoh-contoh khusus agar siswa
dapat menyusun hubungan antara keadaan khusus
dengan aturan prinsip umum yang didukung oleh media
yang cocok.
d. guru menyajikan bukti-bukti untuk menunjang atau
menolak kesimpulan bahwa keadaan umum itu
merupakan gambaran dari keadaan khusus.
H. Macam Macam Pendekatan Pendidikan dalam
Pendidikan kewarganegaraan
Beberapa pendekatan nilai dan moral yang
digunakan dalam pembelajaran PKn adalah sebagai
berikut :
1. Evokasi
Pendekatan ini menekankan pada inisiatif siswa
untuk mengekspresikan dirinya secara spontan yang
didasarkan pada kekebasan dan kesempatan.
Pendekatan seperti ini baik sekali namun dilihat dari
budaya masyarakat ini terutama yang jauh dari
kehidupan kota melaksanakan pendekatan tersebut
tentulah menghadapi kendala-kendala kultural dan
psikologikal. Untuk dapat mengimplementasikan
pendekatan ini, peran guru amat diperlukan dalam apa
yang disebut dengan ―breaking the ice‖ agar setiap anak
191
merasakan adanya suasana terbuka, bersahabat dan
kondusif untuk dapat ―menyatakan dirinya‖ menyatakan
apa yang menjadi pemikirannya dan mengungkapkan
perasaannya.
Melatih siswa dengan cara seperti itu pada dasarnya
merupakan salah satu bentuk pendewasaan agar
terbiasa dalam merasakan manfaat situasi seperti itu,
sehingga untuk masa-masa yang akan datang mereka
pun dapat berbuat yang sama atau bahkan melebihinya.
Keberhasilan pendekatan tersebut juga amat bergantung
pada dorongan dan rangsangan yang diberikan guru
dengan mengandalkan pada stimulus-stimulus tertentu.
Selain peranan guru, peranan keluarga dan masyarakat
juga amat penting oleh karena apa yang dibicarakan
dalam kelas yang dibatasi oleh empat dinding kelas
dapat member makna dalam belajar siswa.
Peranan kedua unsur tersebut dalam menumbuhkan
keyakinan siswa tentang nilai moral yang dibahas di
kelas, harus sejalan dengan apa yang dilihat dan
dialaminya dalam kehidupan di keluarga dan di
masyarakat. Jika tidak ada kesesuaian di antara ketiga
unsur tersebut maka akan terjadi konflik dalam diri anak
yang dalam istilah Pendidikan Kewarganegaraan disebut
intrapersonal conflict yaitu konflik yang terjadi dalam diri
siswa. Konflik dalam diri pribadi anak itu dapat berlanjut
menjadi konflik antar pribadi yang disebut interpersonal
conflict karena melihat tidak adanya kepekaan antara
nilai yang dipelajari dan diyakininya dengan apa yang
terjadi di sekolah dan di masyarakat secara keseluruhan.
Pengalaman dan pembiasaan nilai-nilai Pancasila
sebagai tujuan PKn merupakan langkah-langkah penting
dalam pengajaran nilai. Hal itu sejalan dengan pendapat
Dewey yang menyatakan bahwa ―…intellectual and
ethical competence could be achieved only by reflecting
on one‘s actual, concrete, concrete experience.‖
Sebabnya adalah walaupun dikenalkan berbagai konsep
nilai misalnya tentang demokrasi, keadilan dan
menghargai orang lain jika struktur kelas dan sekolah
tetap saja mencontoh dan menekankan pada hubungan
sosial yang otoriter maka jangan diharapkan aka nada
belajar yang efektif.
192
Kepedulian terhadap hubungan antara abstraksi
dengan pengalaman siswa sendiri dalam pemahaman
Dewey disebut dengan istilah ―child centeredness.‖ Anak
membutuhkan moral yang ideal yang diharapkan dapat
dikuasainya secara intelektual. Pendidikan moral yang
didasarkan pada kerangka kerja Dewey adalah kegiatan
kerjasama kelompok, bekerja dengan orang lain dalam
masalah yang faktual atas masalah yang sebenarnya,
dalam bidang apa saja (seni, sains, politik, mekanik)
akan membantu anak menghargai pandangan dan nilai
saling memberi dan menerima (mutual exchange).
Moralita memang tidak dapat diajarkan hanya
melalui contoh kata-kata yang disampaikan oleh guru.
Siswa membutuhkan untuk saling berinteraksi pada
kegiatan-kegiatan yang betul-betul merupakan
kepedulian dan perhatian mereka. Teknik mengajar yang
dapat digunakan dalam menggunakan pendekatan ini
diantaranya adalah teknik mengungkapkan nilai yang
dikenal dengan Value Clarification Technique.
Hersh (1980) dkk. Misalnya menjelaskan bahwa
―Morality…depends on the orchestration of human
caring, objective thinking, and determinan action.
…Morality is neither good motives nor right reason, nor
resolute action. It is all three. …there was no discernible
separation between his feelings, thoughts, and action;
they seemed to fit together at once, as part of a united
front against a common threat.‖ Sikap atau perilaku
moralitas itulah yang kiranya menjadi tugas dan
sekaligus tantangan utama guru SD. Masalah akan
semakin rumit terutama jika dikaitkan pengajar nilai dan
moral untuk SD.
2. Inkulkasi (Menanamkan)
Pendekatan ini didasarkan pada sejumlah
pertanyaan nilai yang telah disusun terlebih dahulu oleh
guru. Tujuannya adalah agar pertanyaan-pertanyaan
yang menyangkut masalah nilai tersebut dapat
digunakan untuk mempengaruhi dan sekaligus
mengarahkan siswa kepada suatu kesimpulan nilai yang
sudah direncanakan. Peranan guru dalam hal ini amat
193
menentukan oleh karena gurulah yang menentukan
kearah mana siswa akan dibawa atau diarahkan atau
dikondisikan secara halus dan hati-hati.
Gurulah dengan pertanyaan dan arah kesimpulan
atau pendapat yang menentukan dalam penkdekatan ini
adalah Teknik Inkuiri Nilai (Value Inquiry Question
Technique) di mana target nilai yang diharapkan dapat
dicapai dengan memanipulasi ke dalam sejumlah
pertanyaan.
3. Pendekatan Kesadaran
Dalam hal ini yang menjadi sasaran adalah
bagaimana mengungkap dan membina kesadaran siswa
tentang nilai-nilai tertentu yang ada pada dirinya atau
pada orang lain. Tentu saja kesadaran itu akan tumbuh
menjadi sesuatu yang menumbuhkan kesadarannya
tentang nilai atau seperangkat nilai-nilai tertentu. Hanya
dengan kesadaran tertentu itu melalui kegiatan-kegiatan
tertentu yang direncanakan oleh guru anak dapat
mengungkapkan nilai-nilai dirinya atau nilai-nilai orang
lain. Jendela Johary (Johary Window) kiranya dapat
membantu menumbuhkan kesadaran siswa tentang
dirinya atau diri orang lain.
4. Penalaran Moral
Salah satu pendekatan dalam pendidikan moral
adalah penalaran moral dimana anak dilibatkan dalam
suatu dilema moral sehingga keputusan yang diambil
terhadap dilema moral harus dapat diberikan alas an-
alasan moralnya yang masuk akal. Dilema moral adalah
satu bentuk teknik mengajar nilai dan moral yang
dianggap tepat terutama bagi kelas-kelas yang tinggi,
misalnya kelas IV, V dan VI. Patut disadari bahwa dalam
pendidikan nilai dan moral berbagai cara dapat
digunakan sebagai stimulus dalam melibatkan nalar dan
afeksi siswa adalah melalui pertanyaan, pernyataan,
gambar, ceritera, dan gambar keadaan yang bersifat
dilematis.
Dalam pengajaran PKn misalnya melibatkan siswa
194
sebagai individu yang ―merasakan‖ dan ―larut‖ dalam
situasi yang sengaja diciptakan untuk mendorong siswa
menggunakan nalar dan perasaannya terhadap suatu
situasi atau kejadian, prinsip, pandangan atau masalah
merupakan upaya-upaya dasar dalam pendidikan nilai
dan moral. Tanpa upaya-upaya dasar semacam itu,
pendidikan nilai dan moral serta PKn khususnya akan
sulit mencapai tujuan-tujuannya secara optimal. Dalam
pendekatan dilematis sebagai salah satu pendekatan
akan lebih efektif jika guru berhasil melibatkan secara
intens nalar dan perasaan siswa sebab walaupun yang
menjadi dasar utama adalah nalarnya atau reasoning-
nya, namun factor perasaan siswa juga akan memegang
peranan penting dalam member alas an-alasan moral
tersebut.
Peranan stimulus amat besar sebab stimulus yang
didasarkan pada hal yang bersifat dilematis, akan
mengundang siswa mengkaji dengan nalar nilai dan
moral yang terlibat dalam masalah yang bersifat
dilematis tersebut. Dalam proses pengkajian tersebut
siswa akan melibatkan nilai-nilai yang dimilikinya
dihadapkan dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam
masalah dilematis tersebut. Dengan itu juga diharapkan
siswa sekaligus menghubungkannya dengan nilai-nilai
yang umum dimiliki oleh orang lain atau umum dalam
menghadapi masalah-masalah dilematis seperti itu. Oleh
karena dalam pendekatan ini yang menjadi fokus adalah
nalar atau yang berkaitan dengan kognitifnya maka
pendekatan ini amat sesuai dengan apa yang kita sebut
dengan Cognitive Moral Development dari Kohlberg.
Bagi Kohlberg terhadap kaitan yang erat antara
perkembangan kognitif dan kematangan atau
perkembangan moral seseorang.
5. Pendekatan Analisis Nilai
Melalui pendekatan ini siswa diajak untuk mengaji
atau menganalisis nilai yang ada dalam suatu media
atau stimulus yang memang disiapkan oleh guru dalam
mengajarkan pendidikan nilai dan moral. Dalam
melakukan pengkajian tentu saja para siswa sudah
195
dibekali dengan kemampuan analisisnya. Melakukan
analisis sebagaimana diketahui adalah merupakan salah
satu tahapan dalam tingkat pengetahuan atau ingatan
dan analisis adalah satu tahapan dalam keterampilan
berpikir sebelum sampai pada sintesis dan evaluasi.
Dalam melakukan analisis nilai tentu saja siswa akan
sampai pada tahapan menilai apakah suatu nilai itu
dianggap baik atau tidak. Jika menggunakan analisis
nilai, tentu saja disesuaikan dengan kemampuan siswa.
Analisis nilai dapat dimulai oleh siswa yang dimulai dari
sekedar melaporkan apa yang dilihat dan dihadapi
sampai pada memilih dan mengemukakan hasil
pengkajian yang lebih teliti dan lebih tepat.
Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa
pendekatan ini berkaitan dengan kognitif maka jelas
bahwa antara pendekatan lima berkaitan erat dengan
pendekatan empat yaitu penalaran moral. Pendekatan ini
banyak sekali digunakan dalam teknik mengungkap nilai.
6. Pengungkapan Nilai
Pengungkapan Nilai melihat pendidikan moral lebih
pada upaya meningkatkan kesadaran diri (self-
awareness) dan memperhatikan diri sendiri (self-caring)
dan bukannya pemecahan masalah. Pendekatan ini juga
membantu siswa menemukan dan memeriksa nilai
mereka untuk menemukan keberartian dan rasa aman
diri. Oleh sebab itu maka pertimbangan (judging) adalah
merupakan faktor kunci dalam model tersebut, namun
pertimbangan yang dimaksud adalah pertimbangan
tentang yang disenangi dan yang tidak disenangi, dan
bukan sesuatu yang diyakini seorang sebagai hal yang
benar atau salah.
Melalui pendekatan ini siswa dibina kesadaran
emosionalnya tentang nilai yang ada dalam dirinya
melalui cara-cara kritis dan rasional dan akhirnya
menguji kebenaran, kebaikan atau ketepatannya.
Pengungkapan nilai tidak menganggap nilai moral
sebagai sebuah status dalam rentangan nilai-nilai.
Semua nilai termasuk moral dianggap sebagai sesuatu
yang bersifat pribadi dan relatif. Walaupun dikatakan
196
bahwa Teknik Pengungkapan Nilai ini banyak dipakai
ternyata juga banyak menghadapi tantangan, oleh
karena itu pendekatan ini dianggap memiliki banyak
kelemahan.
7. Pendekatan Komitmen
Pendekatan komitmen dalam pendidikan nilai dan
moral mengarahkan dan menekankan pada seperangkat
nilai yang akan mendasari pola pikir setiap guru yang
bertanggung jawab terhadap pendidikan nilai dan moral.
Dalam PKn sudah barang tentu yang menjadi komitmen
dasarnya adalah nilai-nilai moral Pancasila serta
Undang-undang Dasar 1945. Nilai moral tersebut telah
menjadi komitmen bangsa dan negara Indonesia untuk
terus dilestarikan sebagai nilai-nilai luhur bangsa
Indonesia.
Dalam mengajarkan nilai dan moral tersebut nilai
moral Pancasila merupakan nilai sentralnya tanpa
menutup kemungkinan mengajarkan nilai-nilai lainnya
yang sesuai dan tidak bertentangan dengan Pancasila
dan Undang-undang Dasar 1945. Hal itu merupakan
perwujudan dari komitmen Bangsa Indonesia khususnya
Orde Baru untuk senantiasa melaksanakannya secara
murni dan konsekuen. Untuk terlaksananya hal tersebut
sudah barang tentu komitmen terutama guru, orang tua,
serta masyarakat dan juga siswa merupakan hal yang
paling pokok bagi keberhasilan PKn tersebut.
Tujuan utama pendekatan ini adalah untuk melatih
disiplin siswa dalam pola pikir dan tindakannya agar
senantiasa sesuai dengan nilai-nilai moral yang telah
menjadi komitmen bersama itu. Oleh karena nilai—nilai
yang telah menjadi komitmen tersebut adalah nilai-nilai
bersama maka pendekatan tersebut diharapkan pula
dapat membina integrasi sosial para siswa. Persoalan
utama sekarang adalah bagaimana hal itu dilakukan
pada tingkat SD.
197