(1981), dapat dimanifestasikan kedalam 5 kelompok
keterampilan berfikir, yaitu :
a. Memberikan penjelasan sederhana (elemtary
clarification)
b. Membnagun Keterampoilan Dasar (basic support)
c. Menyimpulkan (inference)
d. Memberi penjelasan lanjut (advanced clarification)
e. Mengatur Strategi dan taktik (strategy and tactics)
Dari berfikir kretaif ini dapat menumbuhkan ketekunan
dan disiplin penuh. Yang didalamnya dapat melibatkan
aktivitas mental, seperti :
a. Mengajukan pertanyaan
b. Mempertimbangkan informasi baru dan ide yang tidak
lazim dengan pemikiran
terbuka
c. Membangun keterkaitan, khususnya di hal-hal yang
berbeda
d. Menghubungkan berbagai hal yang bebas
e. Menerapkan imajinasi di setiap situasi untuk
menghasilkan hal baru dan berbeda
f. Mendengarkan intuisi
Selanjutnya, ada komponen-komponen berfikir kreatif
yang dikemukakan oleh
Munandar (1999), berikut ini penjelasannya :
a. Keterampilan berfikir lancar (fluency)
Ciri- Cirinya :
1. Mencetuskan banyak gagasan, jawaban,
penyelesaian masalah atau pertanyaan.
2. Memberikan banyak cara atau saran dlam
melakukan berbagai hal.
3. Selalu memikirkan lebih dari satu jawaban.
Ditunjukkan dengan perilaku siswa, :
1. Mengajukan banyak pertanyaan.
2. Menjawab dengan sejumlah jawaban jika ada
pertanyaan.
3. Memiliki banyak gagasan cara penyelesaian
masalah.
4. Lancar dalam mengungkapkan gagasannya.
5. Bekerja lebih cepat dan melakukan hal lebih
banyak
dari anak-anak lain.
98
6. Cepat melihat dan mendeteksi kesalahan atau
kekurangan dari suatu objek atau situasi.
b. Keterampilan berfikir luwes (flexibelity)
Ciri- Cirinya :
1. Menghasilkan gagasan, jawaban, atau pertanyaan
yang bervariasi.
2. Dapat melihat masalah dari sudut pandang yang
berbeda-beda.
3. Mencari alternatif atau arah yang berbeda-beda.
4. Mampu dengan mudah mengubah cara pendekatan
atau cara pemikiran.
Ditunjukkan dengan perilaku siswa, :
1. Memeriksa aneka ragam penggunaan yang tidak
lazim dari suatu objek
2. Memberi macam-macam penafsiran (interpretasi)
terhadap suatu gambar, cerita, atau masalah.
3. Menerapkan suatu konsep atau asa dengan cara
yang berbeda-beda.
4. Memberikan pertimbangan terhadap situasi yang
berbeda dari orang lain
5. Dalam pembahasan atau mendiskusikan situasi
selalu mempunyai posisi yang berbeda atau
bertentangan dengan mayoritas kelompok.
6. Memikirkan penyelesaian yang bermacam-macam
dan berbeda-beda terhadap suatu masalah.
7. Menggolongkan hal-hal menurut pembagian
(kategori) yang berbeda-beda 8. Mampu mengubah
arah berfikir secara spontan. c. Berfikir orisinil
(originality)
Ciri- Cirinya :
1. Mampu mengungkapkan hal yang baru dan unik.
2. Memikirkan cara yang tidak lazim untuk
mengungkapkan diri.
3. Mampu mebuat kondisi yanh tidak lazim dari bagian-
bagian atau unsurusur.
Ditunjukkan dengan perilaku siswa, :
1. Memikirkan masalah-masalah dan hal-hal yang tidak
pernah tepikir oleh orang lain.
2. Mempertanyakan cara-cara yang lama dan berusaha
memikirkan cara-cara yang baru.
3. Memilih asimetri dalam gambar atau membuat
99
desain. 4. Memiliki cara berfikir yang lain dari yang lain.
5. Mencari pendekatan baru.
6. Setelah gagasan-gagasan bekerja untuk menemukan
penyelesaian baru, lebih senang menyintesis daripada
menganalisis situasi.
d. Keterampilan memerinci (elaboration) Keterampilan
memerinci atau mengelaborasi adalah kemampuan atau
keterampilan memperkaya dan mengembangan suatu
gagasan sehingga lebih menarik.
Ciri- Cirinya :
1. Mampu memperkaya dan mengembangkan suatu
gagasan atau produk.
2. Menambah atau mengembangkan suatu gagasan
atau produk.
3. Menambah atau memerinci secara detail dari suatu
objek, gagasan, ataupun situasi sehingga lebih menarik.
Ditunjukkan dengan perilaku siswa, :
1. Mencari arti yang lebih mendalam terhadap jawaban
atau pemecahan masalah dengan melakukan langkah-
langkah yang terperinci.
2. Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang
lain.
3. Mencoba atau menguji secara detail untuk melihat
arah yang akan ditempuh.
4. Mmepunyai rasa keindahan yang kuat sehingga tidak
puas dengan penampilan yang kosong dan sederhana.
5. Membuat garis-garis, warna-warna dan detail-detail
tethadap gambarnya sendiri ataupun gambar orang lain.
Selanjutnya, pembahasan mengenai alasan pentingnya
belajar kreatif.
Menurut Treffinger dalam Munandar (1984:37) :
a. Belajar kreatif membantu anak menjadi lebih berhasil-
guna jika kita tidak bersama mereka. Belajar kreatif
adalah aspek penting dari upaya kita membantu siswa
agar mereka lebih mampu menangani dan mengarahkan
belajar bagi mereka sendiri. Dengan pesatnya
perubahan masyarakat dan teknologi, kita tidak mungkin
mengajarkan anak-anak sesuatu yang harus mereka
tahu untuk hari depan mereka. Kita pun tidak hanya
mengajarkan agar anak-anak dapat mengulang kembali
ide-ide. Kita mengharapkan anak-anak dapat belajar hal-
100
hal yang berharga dan bermanfaat bagi dirinya sehingga
mereka mampu dan siap menghadapi masalah-masalah
pada waktu kita tidak bersama mereka.
b. Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-
kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah
yang tidak mampu kita ramalkan, yang timbul di masa
depan. Dunia kita cepat sekali berubah. Pada sepuluh
tahun terakhir ini kita saksikan perkembangan yang
cepat di segala bidang: teknologi, ekonomi, sosial,
pendidikan, dan sebagainya. Masalah-masalah yang kita
hadapi sekarang ini sangat berbeda dengan masalah-
masalah yang kita hadapi dua puluh tahun yang lalu.
c. Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar
dalam kehidupan kita. Banyak pengalaman belajar
kreatif yang lebih daripada sekedar hobi atau hiburan
bagi kita. Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif
dapat mempengaruhi, bahkan mengubah karir dan
kehidupan pribadi kita. Di samping itu, belajar kreatif
dapat menunjang kesehatan jiwa dan kesehatan jasmani
kita.
d. Belajar kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan
kesenangan yang besar. Dengan belajar kreatif
memungkinkan timbulnya ide-ide, cara-cara, dan
hasilhasil baru sebagai sumbangan yang berharga pada
pembangunan nasional. Berfikir kreatif adalah suatu cara
emmbangun ide yang dapat diterapkan dalam
kehidupan. Proses kreatif ini muncul jika ada stimulus.
Berikut berbagai langkah dalam melakukan proses
kreatif, melalui 5 tahap yaitu :
1. Stimulus Konteks stimulus pada kaitanya, diartikan
sebagai rangsangan atau awlan yang diberikan oleh
guru untuk memancing dan memicu siswa untuk
menantangnya berfikir akan suatu permasalahan atau
objek.
2. Eksplorasi Sebelum membuat atau mengabil suatu
keputusan ,
siswa dibantu untuk memerhatikan alternatif-alternatif
pilihan yang ada. Untuk berfikir kreatif, siswa harus
menginvestigasi secara lanjut. Teknik-teknik perlu
dilakukan untuk meningkatkan range dan kualitas dari
ide yang dikumpulkan. Teknik ini meliputi :
101
a) Different Thinking, jenis berfikir yang membangun,
banyak jawaban yang berbeda, dan tidak terbatas.
b) Differing Judgement, prinsip berpikir sekarang lalu
mempertimbangkannya. Prinsip ini berguna saat siwa
bekerja secara individu atau memikirkan ide-ide dalam
suatu kelompok.
c) Extending Effort, Memperluas upaya siswa perlu
diberi kesempatan, dukungan, minat, pertanyaan, dan
stimulus dari orang dewasa.
d) Allowing Time, memberi siswa waktu yang cukup
untuk membangun ide-ide dengan tahapan penting
dalam proses kreatif.
e) Encourading Play, melihat seberapa jauh ide dapat
diperluas, dengan mmeberikan siswa kesempatan
untuk membangunnya, mempresentasikannya, dan
mengujinya dalam aksi dan tindakannya.
3. Perncanaan Merencanakan berbagai rencarana atau
strategi dalam pemecahan masalah. Dari strategi dan
rencana yang ada, diambil beberapa yang paling tepatv
sebagai solusi.
4. Aktivitas Berpikir kreatif dituangkan dengan aksi dan
aktivitas siswa.
5. Review Siswa perlu melakukan evaluasi dan
meninjau kembali pekerjaannya dengan menggunakan
judgement dan imajinasi mereka. Adapun upaya guru
dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif ini
dapat ditempuh dengan langkah-langkah sebagaimana
dikemukakan oleh Filsaime (2008:25) berikut ini :
1. Menghilangkan penghalang-penghalang daya berfikir
kreatif dari siswa
Mengidentifikasi faktor-faktor yang menghalangi
ekspresi-ekspresi kretaif siswa (seperti, ketakutan akan
kegagalan) dan menemukan cara yang tepat dalam
mengatasi ketakutan tersebut.
2. Membuat mereka sadar akan asal-usul berpikir
kreatif. Guru membantu lebih lanjut siswa untuk
mengetahui apa itu berpikir kreatif. Dengan cara
memperkenalkan dan menjelaskan secara detail tahap
demi tahap dari teori-teori dan model berpikir kreatif.
Sehingga membuat siswa yakin bahwa mereka juga
dapat berpikir kreatif.
102
3. Mengenalkan dan mempraktekan strategi-strategi
berpikir kreatif.
Memperkenalkan dan menjelaskan strategi untuk berpikir
kreatif. Membantu siswa untuk menerapkannya ke dalam
proses pembelajaran yang mereka lakukan.
4. Menciptakan sebuah lingkuangan kreatif.
Guru memberikan ruang bagi siswa untuk
mengekspresikan daya berfikir kreatif mereka Bakat
kreatif pada hakikatnya ada pada setiap orang. Namun
dalam pendidikan, yang lebih penting adalah bahwa
bakat kreatif ini dapat dipupuk dan dikembangkan.
Berkaitan dengan ini, menurut Munandar (1984:11)
adapun kondisi lingkungan yang dapat memupuk
kreativitas anak, yaitu :
a. Keamanan Psikologis, dapat diciptakan dengan
langkah-langkah :
1. Pendidik dapat menerima sebagaimana adanya,
tanpa syarat, tanpa melihat kelebihan dan
kelemahannya, tetap memberikan kepercayaan
kepada siswa bahwa mereka mampu.
2. Proses pendidikan mengusahakan suasana dimana
anak merasa tidak dinilai oleh orang lain.
3. Pembelajaran dilakukan guna memberikan
pengertian, memahami pikiran, perasaan dan perilaku
anak dengan menempatkan diri dalam situasi dan
sudut pandang anak.
b. Kebebasan Psikologis,
Kebebasan psikologis ini bukan hanya peran guru
namun orang tua juga ikut turut serta. Namun adapun
langkah yang harus dilakukan guru dalam menciptakan
kebebasan psikologis bagi siswanya, sebagai berikut :
1. Bersikap terbuka terhadap minat dan gagasan
anak.
2. Memberi waktu kepada siswa untuk memikirkan
dalam pengembangan gagasan kreatifnya.
3. Mencipatakan susasana yang saling menghargai
dan menerima sesama.
4. Dorong kegiatan berpikir divergen dan jadilah
narasumber..
5. Ciptakan suasana yang hangat dan mendukung,
serta memberi kemanan dan kebebasan untuk berpikir
103
eksploratif.
6. Memberikan kesempatan kepada siswa tuntuk
berperan dalam mengambil keputusan.
7. Mengusahakan setiap siswa turut serta dalam
pengambilan keputusan dan pemecahan suatu
masalah bersama atau dalam menjalankan suatu
proyek.
8. Bersikpa positif terhadap kegagalan, membantu
siswa menyadari kegagalan dan kelemahan dan tetap
membimbingnya untuk kembali mencoba
I. Berpikir Kritis
Berpikir tidak terlepas dari aktivitas manusia, karena
berpikir merupakan ciri yang membedakan antara
manusia dengan makhluk hidup lainnya. Berpikir pada
umumnya didefinisikan sebagai proses mental yang
dapat menghasilkan pengetahuam Keterampilan berpikir
dikelompokkan menjadi keterampilan berpikir dasar dan
keterampilan berpikir tingkat tinggi. Berpikir ternyata
mampu mempersiapkan peserta didik berpikir pada
berbagai disiplin serta dapat dipakai untuk pernenuhan
kebutuhan intelektual dan pengembangan potensi
peserta didik.
Berpikir kritis adalah suatu kegiatan melalui cara
berpikir tentang ide atau gagasan yang berhubung
dengan konsep yang diberikan atau masalah yang
dipaparkan. Berpikir kritis juga dapat dipahami sebagai
kegiatan menganalisis idea atau gagasan ke arah yang
lebih spesifik, membedakannya secara tajam, memilih,
mengidentifikasi, mengkaji, dan mengembangkannya ke
arah yang lebih sempurna. Berpikir kritis berkaitan
dengan asumsi bahwa berpikir merupakan potensi yang
ada pada manusia yang perlu dikembangkan untuk
kemampuan yang optimal.
Menurut Ennis (1981), berpikir kritis adalah suatu
berpikir dengan tujuan membuat keputusan masuk akal
tentang apa yang diyakini atau dilakukan. Berpikir kritis
merupakan kemampuan menggunakan logika. Logika
merupakan cara berpikir untuk mendapatkan
pengetahuan yang disertai pengkajian kebenaran
104
berdasarkan pola penalaran tertentu. Selanjutnya, Ennis
menyebutkan ada enam unsur dasar dalam berpikir
kritis, yang disingkat dengan FRISCO, yaitu Focus
(fokus), Reason (alasan), Inference (menyimpulkan),
Situation (situasi), Clarity (kejelasan), dan Overview
(pandangan menyeluruh).
Menurut Halpen (1966), berpikir kritis adalah member
kan keterampilan atau strategi kognitif dalam
menentukan tujuan. Proses tersebut dilalui setelah
menentukan tujuan, mempertimbangkan, dan mengacu
langsung kepada sasaran. Berpikir kritis merupakan
bentuk berpikir yang perlu dikembangkan dalam rangka
memecahkan masalah, merumuskan kesimpulan,
mengumpulkan berbagai kemungkinan, dan membuat
keputusan ketika menggunakan semua keterampilan
tersebut secara efektif dalam konteks dan tipe yang
tepat.
Berpikir kritis juga merupakan kegiatan
mengevaluasi, mempertimbangkan kesimpulan yanga
kan diambil manakala menentukan beberapa faktor
pendukung untuk membuat keputusan. Berpikir kritis
juga biasa disebut directed thinking, sebab berpikir
langsung kepada fokus yang akan dituju. Pendapat
senada dikemukakan juga Oleh Anggelo ( 1955 : 6),
bahwa berpikir kritis adalah mengaplikasikan rasional,
kegiatan berpikir yang tinggi, yang meliputi kegiatan
menganalisis, menyintesis, mengenal permasalahan dan
pemecahannya, menyimpulkan, dan mengevaluasi.
Menurut Tapilouw (1997), berpikir kritis merupakan
cara berpikir disiplin dan dikendalikan oleh kesadaran.
Cara berpikir ini mengikuti alur logis dan rambu-rambu
pemikiran yang sesuai dengan fakta atau teori yang
diketahui. Tipe berpikir ini mencerminkan pikiran yang
terarah. Berpikir kritis dapat diinterpretasikan dalam
berbagai cara. Fister (1995) misalnya, mengemukakan
bahwa proses berpikir kritis adalah menjelaskan
bagaimana sesuatu itu dipikirkan. Belajar berpikir kritis
berarti belajar bagaimana bertanya, kapan bertanya, dan
apa metode penalaran yang dipakai. Seorang siswa
anya dapatberpikir kritis atau bernalar sampai sejauh ia
mamPU menguji pengalamannya, mengevaluasi
105
pengetahuan, ide-ide, dan mempertimbangkan argumen
sebelum mencapai suatu justifikasi yang seimbang.
Menjadi seorang pemikir yang kritis juga meliputi
pengembangan sikap-sikap tertentu, seperti keinginan
untuk bernalar, keinginan untuk ditantang, dan hasrat
untuk mencari kebenaran. Pada prinsipnya, orang yang
mampu berpikir kritis adalah orang yang tidak begitu saja
menerima atau menolak sesuatu. Mereka akan
mencermati, menganalisis, dan mengevaluasi informasi
sebelum menentukan apakah mereka menerima atau
menolak informasi. Jika belum memiliki cukup
pemahaman, maka mereka juga mungkin
menangguhkan keputusan mereka tentang informasi itu.
Dalam berpikir kritis siswa dituntut menggunakan strategi
kognitif tertentu yang tepat untuk menguji keandalan
gagasan, pernecahan masalah, dan mengatasi masalah
serta kekurangannya.
Baron dan Sternberg (1987; 10), mengemukakan lima
kunci dalam berpikir kritis, yaitu: praktis, reflektif, masuk
akal, keyakinan, dan tindakan. Proses berpikir dapat
dikelompokkan dalam berpikir dasar dan kompleks.
Berpikir dasar merupakan gambaran dari proses berpikir
rasional yang mengandung sejumlah langkah dari
sederhana menuju yang kompleks. Aktivitas berpikir
rasional, meliputi menghafal, membayangkan,
mengelompokkan, menggeneralisasi, membandingkan,
mengevaluasi, menganalisis, mensintetis, mendeduksi,
dan menyimpulkan.
Fisher (1995) membagi strategi berpikir kritis ke dalam
tiga jenis, yaitu: strategi afektif, kemampuan makro, dan
keterampilan mikro. Ketiga jenis strategi in satu sama
lain saling berkaitan. Pertama, strategi afektif bertujuan
untuk Apa yang saya mengingkatkan berpikir
independen dengan sikap menguasai atau percaya diri;
misalnya, saya dapat mengerjakannya sendiri. Siswa
harus didorong untuk mengembangkan kebiasaan self-
questioning seperti: Apa yang saya yakini? Bagaimana
saya dapat meyakininya? Apakah saya benar-benar
menerima keyakinan ini? Untuk mencapainya, siswa
perlu suatu pendamping yang mengarahkan pada saat
mengalami kebuntuan, memberikan motivasi pada saat
106
mengalami kejenuhan dan sebagainya, misalnya guru.
Kedua, kemampuan makro adalah proses yang
terlibat dalam berpikir, mengorganisasikan keterampilan
dasar yang terpisah pada saat urutan yang diperluas dari
pikiran, tujuannya tidak untuk menghasilkan suatu
keterampilan-keterampilan yang saling terpisah, tetapi
terpadu dan mampu berpikir komprehensif.
Ketiga, keterampilan mikro adalah keterampilan yang
menekankan pada kemampuan global. Guru dalam
melakukan pembelajaran harus memfasilitasi siswa
dalam mengembangkan proses berpikir kritis, melakukan
tindakan yang merefleksikan kemampuan, dan disposisi
seperti yang direkomendasikan. Klasifikasi berpikir kritis
menurut Ennis dibagi ke dalam dua bagian, yaitu aspek
umum dan aspek yang berkaitan dengan materi
pelajaran.
Pertama, yang berkaitan dengan aspek umum, terdiri
atas:
1. Aspek kemampuan (abilities),
yang meliputi:
(a) memfokuskan pada suatu isu spesifik;
(b) menyimpan maksud utama dalam pikiran;
(c) mengklasifikasi dengan pertanyaan-pertanyaan;
(d) menjelaskan pertanyaan-pertanyaan;
(e) memerhatikan pendapat siswa, baik salah maupun
benar, dan mendiskusikannya;
(f) mengkoneksikan pengetahuan sebelumnya dengan
yang baru;
(g) secara tepat menggunakan pernyataan dan simbol;
(h) menyediakan informasi dalam suatu cara yang
sistematis, menekankan pada urutan logis; dan
(i) kekonsistenan dalam pertanyaan-pertanyaan.
2, Aspek disposisi (disposition), yang meliputi:
(a) menekankan kebutuhan untuk mengidentifikasikan
tujuan dan apa yang harus dikerjakan sebelum
menjawab; (b) menekankan kebutuhan untuk
mengidentifikasikan informasi yang diberikan sebelum
menjawab;
107
(c) memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mencari informasi yang diperlukan;
(d) memberikan kesempatan kepada Siswa untuk
menguji solusi Yang diperoleh; dan
(e) memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mempresentasikan informasi dengan menggunakan
tabel, grafik, dan Iain-Iain.
Kedua, aspek yang berkaitan dengan materi
pelajaran, meliputi: konsep, generalisasi, dan algoritme,
serta pemecahan masalah. Berikut ini merupakan
indikator-indikator dari masing-masing aspek berpikir
kritis yang berkaitan dengan materi pelajaran, yaitu:
1. Memberikan penjelasan sederhana,
yang meliputi;
(a) memfokuskan pertanyaan;
(b) menganalisis pertanyaan; dan
(c) bertanya dan menjawab tentang suatu penjelasan
atau tantangan.
2. Membangun keterampilan dasar,
yang meliputi:
(a) mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya;
(b) mengamati dan mempertimbangkan suatu laporan
hasil observasi.
3. Menyimpulkan, yang meliputi:
(a) mendeduksi dan mempertimbangkan hasil deduksi;
(b) menginduksi dan mempertimbangkan hasil induksi;
dan
(c) membuat dan menentukan nilai pertimbangan.
4. Memberikan penjelasan lanjut, yang meliputi:
(a) mendefinisikan istilah dan pertimbangan definisi
dalam tiga dimensi;
(b) mengidentifikasi asumsi.
5. Mengatur strategi dan taktik, yang meliputi:
(a) menentukan tindakan;
(b) berinteraksi dengan orang Iain. Pengembangan
kemampuan berpikir kritis yang optimal mensyaratkan
108
adanya kelas yang interaktif.
Agar pembelajaran dapat interaktif, maka desain
pembelajarannya harus menarik sehingga Siswa dapat
terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Dalam
pembelajaran yang mengembangkan keterampilan
berpikir kritis lebih melibatkan Siswa sebagai pemikir,
bukan seorang yang diajar.
Adapun pengajar berperan sebagai mediator,
fasilitator, dan motivator yang membantu siswa dalam
belajar dan bukan mengajar. Keterampilan berpikir kritis
perlu dikembangkan dalam diri siswa karena melalui
keterampilan berpikir kritis, siswa dapat lebih mudah
memahami konsep, peka akan masalah yang terjadi
sehingga dapat memahami dan menyelesaikan masalah,
dan mampu mengaplikasikan konsep dalam situasi
yangberbeda.
Pendidikan perlu mengembangkan peserta didik agar
memiliki keterampilan hidup, memiliki kemampuan
bersikap dan berperilaku adaptifdalam menghadapi
tantangan dan tuntutan kehidupan sehari-hari secara
efektif. pengembangan keterampilan berpikir kritis dalam
proses pembelajaran memerlukan keahlian guru.
Keahlian dalam memilih media Yang tepat merupakan
salah satu faktor yang menentukan keberhasilan Model
pernbelaiaran yang selama ini dilakukan secara
konseptual dapat dikembangkan untuk Iebih
menekankan pada peningkatan menumbuhkan
kemampuan siswa datam kritis yang sesuai dengan
tingkat perkembangan usianya.
Menurut Sutisyana (1997), kemampuan berpikir kritis
siswa dapat ditumbuhkembangkan melalui proses
membandingkan, mengelompokkan, data. menafsirkan,
menyimpulkan. menyelesaikan masalah. dan mengambil
keputusan.
Dalam proses pembelajaran, misalnya dalam
pembeiaiaran IPS, dapat dijadikan sarana yang tepat
dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa.
Karena dalam pembelaiaran IPS banyak konsep atau
masalah yang ada di lingkungan siswa, sehingga dapat
dijadikan suatu objek untuk dapat menumbuhkan cara
berpikir kritis siswa.
109
Untuk dapat menumbuhkan berpikir kritis siswa dapat
diterapkan suatu bentuk latihanlatihan yang mengacu
pada pola pikir siswa. Latihan-latihan ini dapat dilakukan
secara kontinu, intensif, serta terencana sehingga pada
akhirnya siswa akan terlatih untuk dapat menumbuhkan
cara berpikir yang Iebih kritis.
Memang, sesungguhnya upaya untuk menumbuhkan
berpikir kritis siswa merupakan suatu kewajiban yang
harus dilakukan guru. Dalam proses pembelajaran guru
harus dapat melahirkan cara berpikir yang Iebih kritis
pada siswa. Guru dapat memberikan kesempatan dan
dukungan kepada siswa untuk dapat menumbuhkan
kemampuan berpikir kritisnya dengan memberikan
metode pembelajaran yang sesuai diharapkan dapat
membantu siswa menurnbuhkan pengetahuan
keterampilan nalar yang nantinya dapat berpengaruh
pada kemampuan untuk berpikir kritis.
Guru harus dapat mengembangkan suasana kelas di
mana siswa berpart'isipasi selama proses belaiar
berlangsung. Kegiatan kelas yang mengacu pada
aktivitas siswa adalah dengan mengisi lembar kerja atau
dengan mengadakan tanya jawab yang dikembangkan
guru. Hal ini dapat berupa mengingat kembali informasi
yang telah disampaikan. Pemahaman secara luas atau
mendalami tersebut dapat melatih siswa dalam
mengembangkan berpikir kritisnya.
Dalam kaitannya dengan pengembangan
kemampuan berpikir kritis siswa, hakikat pembelajaran
yang dilakukan guru berarti interaksi langsung antara
guru dengan siswa, guru dalam pembelajaran dapat
berperan sebagai mediator antara siswa dengan apa
yang dipelajarinya.
Guru bukan hanya memberi informasi saja tetapi juga
dapat memberi petunjuk agar siswa dapat berpikir
secara kritis sellingga siswa mampu menyelesaikan
setiap permasalahan yang muncul dalam kehidupannya.
Savage dan Amstrong mengembangkan empat
pendekatan yang dapat mendorong siswa untuk
mengembangkan keterampilan berpikir kritis dalam
pembelajaran, yaitu:
1) kemampuan berpikir kreatif (creative thinking);
110
2) kemampuan berpikir kritis (critical thinking);
3) kemampuan memecahkan masalah (problem solving);
clan
4) kemampuan mengambil keputusan (decision maki
ng).
Upaya yang dapat dilakukan guru dalam
mengembangkan kemampuan berpikir kritis dapat
dikembangkan melalui pembelajaran yang bersifat
student-centered, yaitu pembelajaran yang berpusat
pada siswa.
Dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa ini,
guru memberikan kebebasan berpikir dan keleluasaan
bertindak kepada siswa dalarn memahami pegetahuan
serta dalam menyelegaikan masalahnya. Guru tidak
mendoktrin siswa untuk menyelesaikan masalah hanya
engan cara yang telah ia ajarkan, narnun juga
memberikan esempatan seluas-luasnya kepada siswa
untuk menemukan ara-cara baru.
Dalam hal ini, siswa diberi kesempatan untuk
engkonstruksi pengetahuan oleh dirinya sendiri, tidak
hanya enunggu transfer dari guru. Untuk mengajarkan
atau melatih siswa agar mampu erpikir kritis harus
ditempuh melalui beberapa tahapan.
Tahapan-tahapan ini sebagaimana yang dikemukakan
oleh Arief (2004), yaitu:
1. Keterampilan menganalisis,
yaitu suatu keterampilan menguraikan sebuah struktur
ke dalam komponenkomponen agar mengetahui
pengorganisasian struktur tersebut. Dalam keterampilan
tersebut tujuan pokoknya adalah memahami sebuah
konsep global dengan cara menguraikan atau memerinci
globalitas tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih
kecil dan terperinci. Kata-kata operasional yang
mengindikasikan keterampilan berpikir analitis, di
antaranya: menguraikan, mengidentifikasi,
menggambarkan, menghubungkan, dan memerinci.
2. Keterampilan menyintesis,
yaitu keterampilan yang berlawanan dengan
keterampilan menganalisis, yakni keterampilan
menggabungkan bagian-bagian menjadi sebuah
bentukan atau susunan yang baru, Pertanyaan sintesis
111
menuntut pembaca untuk menyatupadukan semua
informasi yang diperoleh dari materi bacaannya,
sehingga dapat menciptakan ide-ide baru yang tidak
dinyatakan secara eksplisit di dalam bacaannya
3. Keterampilan mengenal dan memecahkan masal
merupakan keterampilan aplikatifkonsep kepada
beberapa pengertian baru.
Keterampilan ini menuntut pernbaca untuk memahami
bacaan dengan kritis sehingga setelah kegiatan
membaca selesai siswa marnpu menangkap beberapa
pikiran pokok bacaan, sehingga mampu mempola
sebuah konsep. Tujuan keterampilan ini bertujuan agar
pernbaca mampu memahami dan menerapkan konsep-
konsep ke dalam permasalahan atau ruang lingkup baru.
4. Keterampilan menyimpulkan,
yaitu kegiatan akal pikiran manusia berdasarkan
pengertian atau pengetahuan yang dimilikinya, dapat
beranjak mencapai pengertian atau pengetahuan
(kebenaran) baru yang Iain. Keterampilan ini menuntut
pembaca untuk mampu menguraikan dan memahami
berbagai aspek secara bertahap agar sampai kepada
suatu formula baru yaitu sebuah simpulan.
5. Keterampilan mengevaluasi atau menilai.
Keterampilan ini menuntut pemikiran yang matang dalam
menentukan nilai sesuatu dengan berbagai kriteria yang
ada.
Keterampilan menilai menghendaki pembaca agar
memberikan penilaian tentang nilai yang diukur dengan
menggunakan standar tertentu. Yang perlu diperhatikan
dalam pengajaran keterampilan berpikir kritis ini adalah
bahwa keterampilan tersebut har-us dilakukan melalui
latihan yang sesuai dengan tahap perkembangan kognitif
anak.
Suprapto (2008) mengemukakan tahapan tersebut,
sebagai berikut:
1. Identifikasi komponen-komponen prosedural, yakni
sis_ erkenalkan ada keterampilan dan langkah-langkah
khusus yang diperlukan dalam keterampilan tersebut.
Ketika mengajarkan keterampilan berpikir, siswa
diperkenalkan pada kerangka berpikir yang digunakan
untuk menuntun pemikiran siswa.
112
2. Instruksi dan pemodelan langsung, yakni guru
mernberikan instruksi dan pemodelan secara eksplisit,
misalnya tentang kapan keterampilan tersebut dapat
digunakan. Instruksi dan pemodelan ini dimaksudkan
supaya siswa memiliki gambaran singkat tentang
keterampilan yang sedang dipelajari, sehingga instruksi
dan pemodelan ini harus relatif ringkas.
3. Latihan terbimbing, yakni dimaksudkan untuk
memberikan bantuan kepada anak agar nantinya bisa
menggunakan keterampilan tersebut secara mandiri.
Dalam tahapan ini, guru memegang kendali atas kelas
dan melakukan pengulangan-pengulangan.
4. Latihan bebas, yaitu dengan cara guru mendesain
aktivitas sedemikian rupa sehingga siswa dapat melatih
keterampilannya secara mandiri, misalnya berupa
pekerjaan rumah (PR). Latihan mandiri (PR) tidak berarti
sesuatu yang menantang, melainkan sesuatu yang dapat
melatih keterampilan yang telah diajarkan.
Antara kemampuan berpikir kreatif, kemampuan
berpikir kritis, dan kemampuan memecahkan masalah
saling berhubungan satu sama lain. Dengan adanya
kemampuan berpikir kreatif akan melahirkan ide-ide baru
dalam menghadapi masalah. Adapun untuk menguji
kebenaran diperlukan keterampilan berpikir kritis. Dalam
memecahkan masalah yang dihadapi diperlukan
keterampilan berpikir kreatif dan kritis, sehingga dapat
mengambil keputusan secara reflektif. Pengambilan
keputusan yang dilakukan dapat bermanfaat bagi
kehidupan dalam masyarakat, bangsa, dan negara serta
komunitas.
113
J. Penguasaan Materi
Pelajaran Oleh Guru
Penguasaan materi pembelajaran dapat diartikan
sebagai kemampuan guru dalam memberikan materi
pembelajaran dalam bentuk tematema dan topik-topik,
sehingga dapat membentuk kompetensi tertentu pada
peserta didik. Kemampuan ini diharapkan dimiliki oleh
guru untuk 5 (lima) bidang studi inovatif yang terdiri dari
mata pelajaran Bahasa Indonesia, IPA, IPS, PKN, dan
Matematika.
Penguasaan materi pembelajaran oleh guru adalah
kemampuan yang dimiliki guru dalam menerapkan
sejumlah fakta, konsep, prinsip dan ketrampilan untuk
menyelesaikan dan memecahkan soal-soal atau
masalah yang berkaitan dengan pokok bahasan yang
diajarkan.
Materi pembelajaran merupakan informasi, alat dan
teks yang diperlukan guru/instruktur untuk perencanaan
dan penelaahan imple-mentasi pembelajaran.
Materi pembelajaran adalah segala bentuk bahan
yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam
me-laksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Oleh
sebab itu,
materi pembelajaran adalah seperangkat materi yang
disusun secara sistematis baik tertulis mau-pun tidak
sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memung-
kinkan siswa untuk belajar.
Penguasaan materi pembelajaran bagi guru
merupakan hal yang sangat menentukan khususnya
dalam proses pembelajaran.
Guru merupakan ujung tombak dalam peningkatan
kualitas pembelajaran dalam kelas. Maka dari itu, untuk
dapat mengajar dengan baik, seorang guru harus
menguasai bahan/materi yang akan diajarkan.
Kinerja adalah kemampuan seseorang untuk dapat
menyelesaikan pekerjaan dengan efisien dan efektif
melalui penggunaan seluruh sumber daya yang terdapat
dalam lingkungan kerja, sehingga pada akhirnya akan
meng-hasilkan mutu kerja optimal.
114
Guru yang kurang menguasai materi ajar dapat
memicu kehilangan motivasi untuk mengajar, dan
akibatnya kinerja guru menurun. Oleh karena itu, diduga
ada pengaruh langsung positif penguasaan materi
pembelajaran terhadap kinerja guru SD.
Materi pelajaran merupakan isi atau bahan yang akan
dipelajari oleh siswa harus dipersiapkan dengan baik
untuk disampaikan kepada siswa. Mata pelajaran harus
disusun secara sistematis berdasarkan sekuensinya
serta melihat rancangan program pembelajaran (RPP)
untuk mata pelajaran yang bersangkutan. Dalam proses
pelaksanaan penyampian materi harus diperhatikan
suber belajar yang menunjang terhadap pengembangan
kemampuan siswa. Pembahasan tetang peserta didik
akan dilakukan pada kesempatan lain. Kali ini akan
akandiulas tentang penguasaan materi pelajaran oleh
sang guru.
Apa itu materi ajar? Bagaimana syarat menguasai
materi ajar? Bagaimana indikator guru yang menguasai
materi ajar akan dibahas dibawah ini? Dalam tinjauan
klasik, mengajar adalah menyampaikan materi ajar.
Guru dituntut menguasai bidang keilmuannya secara
detail dan bersifat tetap. Dengan demikian guru dituntut
untuk menguasai dengan cara menghafal semua materi
ajar seperti halnya ensiklopedia yang berjalan.Seiring
dengan perkembangan teknologi tentu tuntutan di atas
tidak lagi relevan. Karena ilmu pengetahuan bersiafat
dinamis dan cepat sekali perkembangannya. Dengan
demikian penguasaan materi dengan cara menghafal
seluruh informasi sering kali tidak diperlukan.
Dalam kaitannya dengan pembelajaran yang perlu
dikuasai guru adalah materi ajar.
Materi ajar artinya materi yang disusun oleh guru
sehingga bisa disajikan kepada siswa dengan penuh
pemahaman.Suatu materi keilmuan bisa menjadi materi
ajar apabila guru menguasai tiga hal berikut ini:
Pertama, menguasai gambar besar dari materi yang
diajarkan Guru perlu mengetahui apa saja dan berapa
jumlahnya standar kompetensi dan kompetensi dasar yg
diajarkan dalam satu semster dan satu tahun. Guru juga
telah memiliki rancangan kapan dan berapa lama materi
115
itu akan di sampaikan kepada siswa.
Kedua, menguasai prinsip dasar pengembangan ilmu
yang diajarkan Ilmu pengetahuan alam contohnya, akan
memiliki objek berupa kajian benda nyata,
pendekatannya pengamatan dan percobaan, hasilnya
untuk mendapatkan generalisasi atau teori. Berbeda
denga ilmu pengetahuan sosial, objek kajiannya
masyarakat, pendekatannya pengamatan dan hasilnya
untuk memperoleh gambaran umum.
Ketiga, mampu menyesuiakan materi dengan tujuan
pembelajaran Tujuan pembelajaran yang ditulis di papan
tulis merupakan pemandu materi ajar.
Dengan demikian sang guru perlu memilah dan
memilih materi-materi yang perlu disajikan atau tidak
disajikan.
Dengan demikian hanya materi yang sesuai
dengan tujuan belajar saja yang disajikan.Sama seperti
menyajikan makanan, menyajikan materi ajar juga perlu
aturan tertentu.
Beberapa aturan yang perlu dilakukan untuk
menyajikan materi kepada siswa adalah sebagai berikut:
1. Mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang
relevan
Pastikan materi ajar memiliki kaitannya dengan matari
sebelumnya, materi yang akan datang dan materi pada
ilmu-ilmu lain
2. Mengkaitkan materi dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi Pastikan materi ajar
merupakan bagian dari perkembangan iptek dengan
demikian jika menguasainya akan dapat ikut andil
dengan pengembangan iptek
3. Mengkaitkan materi dengan kehidupan nyata Kaitkan
materi yang dipelajari dengan dunia sehari-hari di
lingkungan siswa, dunia yang nyata, benda-benda yang
nyata
4. Menyajikan materi secara simpel dan sistematis
Sajikan materi ajar dengan bahasa yang mudah
dipahami siswa, atur intonasi yang tepat dan dengan
ujaran yang runtut. Jika bahan ajar perlu dituangkan
116
dalam bentuk visual buatlah dengan gambar yang
sederhana yang mudah dimengerti siswa.
Selain itu, penyajian materi yang sistematis dan
berkesinambungan penting agar antara bahan yang satu
dengan bahan berikutnya ada hubungan fungsional,
dimana bahan yang satu menjadi dasar untuk bahan
berikutnya.
Sementara dalam menentukan materi pelajaran perlu
memasukkan bahan yang faktual dan sifatnya konkret
dan mudah diingat, serta bahan yang sifatnya konseptual
berisikan konsep-konsep abstrak.
5. Menyajikan materi mudah ke sulit Sajikan materi dari
hal-hal mudah ditingkatkan secara berurutan tingkat
kesulitannya
6. Menyajikan materi konkrit ke abstrak Ambillah benda-
benda yang konkrit untuk disajikan di awal pembelajaran
dilanjutkan dengan ilustrasi gambar dan kemuadian
membuat konsep
7. Menyajikan materi umum ke khusus Mulanya
sampikan beragam aktivitas umum bisa dilakukan sendiri
maupun kelompok selanjutnya diakhiri penyimpulan
bersama Dengan demikian penguasaan materi ajar tidak
sekedar penguasaan sesara statis akan tetapi
penguasaan yang dinamis sesuai dengan kebutuhan
pembelajaran siswa.
Dengan melihat kenyataan dan tuntunan seperti di
atas, menuntut guru untuk menguasai materi pelajaran
dengan baik. Mustahil, guru dapat merencanakan
pembelajaran, memfasilitasi pembelajaran hingga pada
tahap evaluasi pembelajaran jika guru tidak menguasai
materi pembelajaran. Sebagai perencana pengajaran,
sebelum proses pembelajaran guru harus menyiapkan
berbagai hal yang diperlukan, seperti mata pelajaran apa
yang harus disampaikan, bagaimana cara
menyampaikannya dan media apa yang harus
digunakan.
Oleh karena itu, untuk menjadi guru atau pendidik
yang professional, menurut Raka Joni (2007), guru harus
memiliki empat kompetensi dasar, yaitu : kompetensi
kepribadian, pedagogis, sosial, dan professional. Seluruh
kompetensi profesi yang dituntut dari seorang guru,
117
semata-mata untuk meningkatkan kualitas pembelajaran
yang pada akhirnya dapat dinilai dari proses dan hasil
belajar.
Jadi, dapat ditegaskan lagi disini, bahwa kemampuan
menguasai materi pelajaran oleh guru menjadi prasarat
penting bagi tercapainya keberhasilan proses belajar
mengajar. Adanya buku paket pelajaran yang dapat
dibaca oleh siswa tidak mengandung arti bahwa guru
tidak perlu menguasai bahan.
Memang guru tidak mungkin serba tahu, tetapi mata
pelajaran yang diembannya menjadi tanggung jawab
guru bersangkutan. Yang menjadi persoalan ialah
konsep-konsep manakah yang harus dikuasai oleh guru
sehubungan dengan pelaksanaan proses belajar
mengajar. Menurut Udin, secara jelas dan tegas
sesungguhnya konsep-konsep tersebut telah ada dalam
kurikulum, kgususnya RPP bidang studi yang
dipegangnya.
118
BAB 9
PEMBELAJARAN ILMU
PENGETAHUAN SOSIAL DI
SEKOLAH DASAR
A. HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Ilmu pengetahuan sosial adalah ilmu pengetahuan yang
mengkaji berbagai disiplin ilmu sosial dan humaniora serta
kegiatan dasar manusia yang dikemas secara ilmiah dalam
rangka memberi wawasan dan pemahaman yang mendalam
kepada peserta didik,khususnya di tingkat dasar dan
menengah.Luasnya kajian IPS ini mencakup berbagai
kehidupan yang beraspek majemuk baik hubungan
sosial,ekonomi,psikologi,budaya,sejarah,maupun politik.
Menurut Zuraik dalam Djahari (1984) hakikat IPS adalah
harapan untuk mampu membina suatu masyarakat yang baik di
mana para anggotanya berkembang sebagai insan sosial yang
rasional dan penuh tanggung jawab,sehingga oleh karenanya
diciptakan nilai-nilai. Hakikat IPS di sekolah dasar memberikan
pengetahuan dasar dan keterampilan sebagai media pelatihan
siswa sebagai warga negara sedini mungkin.
Jadi, hakikat IPS adalah untuk mengembangkan konsep
pemikiran yang berdasarkan realita kondisi sosial yang ada di
lingkungan siswa, sehingga dengan memberikan pendidikan
IPS diharapkan dapat melahirkan warga Negara yang baik dan
bertanggung jawab terhadap bangsa dan negaranya.Nilai-nilai
yang wajib dikembangkan dalam pendidikan IPS yaitu: nilai-
nilai edukatif, praktis, teoritis, filsafat, dan kebutuhan.
Dalam kurikulum Pendidikan Dasar Tahun 1993, disebutkan
bahwa IPS adalah mata pelajaran yang mempelajari kehidupan
sosial yang didasarkan pada bahan kajian geografi, ekonomi,
sejarah, antropologi, sosiologi, dan tata Negara.Tujuan
utamanya adalah membantu mengembangkan kemampuan
119
dan wawasan siswa yang menyeluruh (komprehensif) tentang
berbagai aspek ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan (humaniora).
Secara spesifik, forum komunikasi II HISPIPSI Tahun 1991 di
Yogyakarta membagi rumusan pengertian pendidikan IPS
kedalam dua bagian, yaitu pengertian pendidikan IPS menurut
versi pendidikan dasar dan menengah, dan pengertian IPS
menurut versi pendidikan tinggi atau perguruan tinggi, yang
bernaung dibawah Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Sosial (FPIPS). Pertama, menurut versi pendidikan dasar dan
menengah, pendidikan IPS adalah penyederhanaan atau
adaptasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora serta
kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan
secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan
pendidikan. Kedua, menurut versi di perguruan tinggi,
pendidikan IPS adalah seleksi dari disiplin ilmu-ilmu dan
humaniora serta kegiatan manusia yang diorganisasikan dan
disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan.
Menurut Banks, pendidikan IPS atau yang dia sebut social
studies, merupakan bagian dari kurikulum di sekolah yang
bertujuan untuk membantu mendewasakan siswa supaya dapat
mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-
nilai dalam rangka berpartisipasi di dalam masyarakat, negara,
bahkan dunia. Pendidikan IPS menurut Jarolimek (1982: 78),
yang menyatakan bahwa pada dasarnya pendidikan IPS
berhubungan erat dengan pengetahuan, keterampilan,sikap,
dan nilai-nilai yang memungkinkan siswa berperan serta dalam
kelompok masyarakat dimana ia tinggal. Selanjutnya Buchari
Alma (2003: 148) pengertian IPS sebagai suatu program
pendidikan yang merupakan suatu keseluruhan yang pada
pokoknya mempersoalkan manusia dalam lingkungan alam
fisik, maupun dalam lingkungan sosialnya yang bahannya
diambil dari berbagai ilmu sosial:
geografi,sejarah,ekonomi,antropologi,sosiologi, politik, dan
psikologi. Menurut Fraenkel (1980: 34) pendidikan IPA ini dapat
membantu para siswa menjadi lebih mampu mengetahui
tentang diri mereka dan dunia dimana mereka hidup.
120
Secara historis, pendidikan IPS sebagai bidang studi dalam
kurikulum sekolah mulai diajarkan di Indonesia sekitar tahun
1975 sebagai bidang studi IPS dalam kurikulum SD,SMP, Dan
SMA.
Definisi pendidikan IPS yang diberikan oleh NCSS pada
prinsipnya menjelaskan bahwa pendidikn IPS adalh suatu
kajian terpadu dari ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu kemanusiaan
untuk meningkatkan kemampuan kewarganegaraan (civic
competence).
B. TUJUAN PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR
Lebih jauh lagi dalam Pendidikan IPS di kembangkan 3 aspek
atau 3 ranah pembelajaran, yaitu:
Aspek pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan
sikap (afektif). Tiga aspek ini merupakan acuan yang
berorientasi untuk mengembangkan pemilihan materi, strategi,
dan model pembelajaran.
Tujuan Pendidikan ilmu sosial dikembangkan atas dasar
pemikiran bahwa Pendidikan ilmu – ilmu sosial dikembangkan
atas dasar pemikiran suatu disiplin ilmu, sehingga tujuan
Pendidikan nasional dan tujuan institusional menjadi landasan
pemikiran mengenai tujuan Pendidikan ilmu nasional.
Tujuan utama pembelajaran IPS ialah untuk mengembangkan
potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang
terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap
perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil
mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari – hari baik yang
menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat.
Secara rinci, Mutakin (1998) merumuskan tujuan pembelajaran
IPS di sekolah, adalah sebagai berikut :
1. Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat
atau lingkungannya,melalui pemahaman terhadap nilai – nilai
sejarah dan kebudayaan masyarakat.
121
2. Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu
menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu – ilmu sosial
yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah
– masalah sosial.
3. Mampu menggunakan model – model dan proses
berpikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan
masalah yang berkembang di masyarakat.
4. Menaruh perhatian terhadap isu dan masalah sosial,
serta mampu analisis yang kritis, selanjutnya mampu
mengambil tindakan yang tepat.
5. Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga
mampu membangun diri sendiri agar survive dan kemudian
bertanggung jawab membangun masyarakat.
Nurhadi (1997: 13) menyebutkan bahwa ada 4 tujuan
pendidikan IPS, yaitu: Knowledge, skill, attitude, dan value.
1. Knowledge, yaitu sebagai tujuan utama dari pendidikan
IPS yaitu membantu para siswa sendiri untuk mengenal
diri mereka sendiri dan lingkungannya, dan mencakup
geografi, sejarah, politik, ekonomi, dan sosiologi
psikologi.
2. Skill, yang mencakup keterampilan berpikir (thinking
skill).
3. Attitudes, yang terdiri atas tingkah laku berpikir
(intelektual behavior) dan tingkah laku sosial (sosial
behavior).
4. Value, yaitu nilai yang terkandung didalam masyarakat
yang diperoleh dari lingkungan masyarakat maupun
Lembaga pemerintahan, termasuk didalamnya ia
kepercayaan,nilai ekonomi, pergaulan antar bangsa, dan
ketaatan terhadap pemerintah dan hukum.
Tujuan utama Pendidikan IPS, sebagaimana disebutkan oleh
Nurhadi di atas adalah untuk mengenal diri mereka sendiri dan
lingkungannya, untuk membentuk dan mengembangkan pribadi
warganegara yang baik (good citizenship) yang secara umum
122
dapat digambarkan sebagai warga negara yang mempunyai
ciri-ciri,seperti yang dikemukakan Barth and Shermis sebagai
berikut:
1. Memiliki sifat patriotisme, yaitu cinta tanah air ,bangsa,
dan negara.
2. Mempunyai penghargaan dan perhatian terhadap nilai-
nilai, peraata, dan praktik kehidupan kemasyarakatan.
3. Memiliki sifat integritas sosial dan tanggung jawab
sebagai warga negara.
4. Mempunyai pengertian dan penghargaan terhadap nilai-
nilai budaya atau tradisi yang diwariskan oleh bangsanya.
5. Mempunyai motivasi untuk turut serta secara aktif dalam
pelaksanaan kehidupan demokratis.
6. Memiliki kesadaran (tanggap akan) masalah sosial.
7. Memiliki ide, sikap, dan keterampilan yang diharapkan
sebagai seorang warga negara.
8. Mempunyai pengertian dan penghargaan terhadap
sistem ekonomi yang berlaku.
Secara khusus, tujuan Pendidikan IPS di sekolah dapat
dikelompokkan menjadi 4 komponen, sebagaimana yang
dikemukakan oleh Chapin dan Messick (1992) yaitu
1. Memberikan kepada siswa pengetahuan tentang
pengalaman manusia dalam kehidupan bermasyarakat pada
masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang.
2. Menolong siswa untuk mengembangkan keterampilan
untuk mencari dan mengolah atau memproses informasi.
3. Menolong siswa untuk mengembagkan nilai/sikap
demokrasi dalam kehidupan masyarakat.
123
4. Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk berperan
serta dalam kehidupan sosial.
Hamid Hasan (1996 :98) membagi tujuan Pendidikan ilmu
sosial dalam 3 kategori sebagai berikut :
1. Pengembangan kemampuan intelektual siswa yag
berorientasi pada pengembangan kemampuan pengembagan
intelektual yang berhubungan dengam diri siswa dan
kepentingan ilmu.
Tujuannya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam
berpikir dan memahami ilmu sosial serta kemampuan proses
dalam mencari informasi.
2. Pengembangan kemampuan dan rasa tanggung jawab
sebagai anggota masyarakat dan bangsa berorientasi pada
pengembangan diri siswa dan kepentingan masyarakat yang
dinamakan kemampuan sosial. tujuannya mengembangkan
kemampuan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat
dan bangsa termasuk tanggung jawab sebagai warga dunia
selain itu juga mengembangkan pemahaman dan sikap positif
siswa terhadap nilai,norma, dan moral yang berlaku di
masyarakat.
3. Pengembangan diri sebagai pribadi berorientasi pada
pengembangan pribadi siswa baik untuk kepentingan dirinya
masyarakat,maupun ilmu. Tujuannya berkenaan dengan
pengembangan sikap nilai, norma, moral,yang menjadi panutan
siswa dalam pembentukan kebiasaan positif untuk kehidupan
pribadinya serta sikap positif terhadap diri untuk memacu
perkembangan diri sebagai pribadi.
Pendidikan IPS merupakan salah satu mata pelajaran dapat
memberikan wawasan pengetahuan yang luas mengenai
masyarakat lokal maupun Global sehingga mampu hidup
bersama-sama dengan masyarakat lainnya. Untuk mencapai
tujuan tersebut, Sekolah Dasar sebagai lembaga formal dapat
mengembangkan dan melatih potensi diri siswa yang mampu
124
melahirkan manusia yang andal baik dalam bidang akademik
maupun dalam aspek moralnya.
Tujuan pembelajaran IPS di sekolah dasar berdasarkan
kurikulum sekolah dasar 1945 pada kepentingan siswa ilmu
dan sosial (masyarakat). Tujuan pembelajaran IPS yang
tercantum dalam kurikulum,adalah agar siswa mampu
mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang
berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini
berarti, tujuan pendidikan IPS bukan hanya sekedar membekali
siswa dengan berbagai informasi yang bersifat hafalan kognitif
saja akan tetapi pendidikan IPS harus mampu
mengembangkan keterampilan berpikir, agar siswa mampu
mengkaji berbagai kenyataan sosial beserta permasalahannya.
Tujuan yang harus dicapai oleh siswa sekolah dasar harus
disesuaikan dengan taraf perkembangannya, yang dimulai dari
pengenalan dan pemahaman lingkungan sekitar menuju
lingkungan masyarakat yang lebih luas. Dimulai dari lingkungan
terdekat menuju lingkungan yang lebih luas.
Demikian pula dalam kaitannya dengan KTSP, pemerintah
telah memberikan arah yang jelas pada tujuan dan ruang
lingkup pembelajaran IPS,yaitu:
1. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan
kehidupan masyarakat dan lingkungannya.
2. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis,
rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan
keterampilan dalam kehidupan sosial.
3. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai
sosial dan kemanusiaan.
4. Memiliki kemampuan berkomunikasi bekerjasama dan
berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, ditingkat lokal,
nasional, dan global.
125
Pembelajaran IPS mempunyai misi utama yang sangat mulia
sebagaimana dikemukakan oleh djahiri (1996 : 36) yang
memanusiakan manusia dan masyarakat secara fungsional dan
penuh rasa kebersamaan serta rasa tanggung jawab
hendaknya Mampu menampilkan harapan-harapan, sebagai
berikut :
1. Mampu memberikan pembekalan pengetahuan tentang
manusia dan seluk beluk kehidupannya dalam astra kehidupan.
2. Membina kesadaran keyakinan dan sikap pentingnya
hidup bermasyarakat dan penuh rasa kebersamaan
bertanggungjawab dan manusiawi.
3. Kondisi kehidupan masyarakat sekitar masa kini dan
kelak yang diharapkan.
4. Proyeksi harapan pembangunan nasional atau daerah
yang tentunya mampu dijangkau dan diperakan siswa kini dan
kelak dikemudian hari.
5. Isi dan pesan nilai moral budaya bangsa dari negara
Indonesia.
Adapun tujuan pembelajaran IPS di sekolah dasar menurut
Munir (1997 :132), sebagai berikut:
1. Membekali anak didik dengan pengetahuan sosial yang
berguna dalam kehidupan kelak di masyarakat.
2. Membekali anak didik dengan kemampuan
mengidentifikasi, menganalisis, dan menyusun alternatif
pemecahan masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan
masyarakat.
3. Membekali anak didik dengan kemampuan
berkomunikasi dengan sesama warga masyarakat dan bidang
keilmuan serta bidang keahlian.
126
4. Membekali anak didik dengan kesadaran, sikap mental
yang positif, dan keterampilan keilmuan terhadap pemanfaatan
lingkungan hidup yang menjadi bagian dari kehidupan tersebut.
5. Membekali anak didik dengan kemampuan
mengembangkan pengetahuan dan keilmuan IPS sesuai
dengan perkembangan kehidupan masyarakat, ilmu
pengetahuan, dan teknologi.
Tujuan lain secara eksplisit, dengan mempelajari kondisi
masyarakat Seperti yang dimuat dalam pendidikan IPS ini,
maka siswa akan dapat mengamati dan mempelajari norma
norma atau peraturan serta kebiasaan-kebiasaan baik yang
berlaku dalam masyarakat tersebut, sehingga siswa mendapat
pengalaman langsung adanya hubungan timbal balik yang
saling mempengaruhi antara kehidupan pribadi dan masyarakat
dalam pendidikan IPS tersebut, siswa akan memperoleh
pengetahuan dari yang sederhana sampai yang lebih luas
(expanding community), yakni siswa akan mulai diperkenalkan
dengan diri sendiri (self) kemudian keluarga, tetangga,
lingkungan RT dan RW, kelurahan atau desa, kecamatan,
kota/kabupaten, provinsi, negara, negara tetangga, kemudian
dunia.
Pengetahuan anak secara pasti akan berkembang Namun
karena anak memiliki berbagai potensi yang masih laten maka
mereka memerlukan proses serta sentuhan-sentuhan tertentu
dalam perkembangannya. Mereka yang memulai dari potensi
dirinya kemudian belajar, akan menjadi berkembang dengan
kesadaran akan ruang dan waktu yang semakin meluas, dan
mencoba serta berusaha melakukan aktivitas yang berbentuk
intervensi dalam dunianya. Maka dari itu, pendidikan IPS
merupakan salah satu upaya yang akan membawa kesadaran
terhadap ruang ,waktu, dan lingkungan sekitar bagi anak,
khususnya dalam hal ini adalah siswa sekolah dasar.
Pendidikan IPS di sekolah dasar harus memperhatikan
kebutuhan anak yang berada pada usia berkisar antara 6- 7
tahun sampai 11 atau 12 tahun. Masa usia ini, menurut Piaget
(1963) berada dalam perkembangan kemampuan
127
intelektual/kognitif nya pada tingkatan konkret operasional.
Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh, dan
menganggap tahun yang akan datang sebagai waktu yang
masih jauh. Yang mereka pedulikan ialah masa sekarang
(konkret) dan bukan masa depan yang belum bisa mereka
pahami (abstrak) padahal bahan materi pendidikan IPS adalah
dengan pesan-pesan yang bersifat abstrak .Konsep seperti
waktu, perubahan, kesinambungan (continuity), arah mata
angin, lingkungan,ritual agama, akulturasi, kekuasaan,
demokrasi, nilai,peranan, permintaan atau kelangkaan adalah
konsep-konsep abstrak yang dalam program studi IPS harus
diajarkan kepada siswa sekolah dasar tersebut.
Oleh karena itu, berbagai cara dan teknik pembelajaran dikaji
untuk memungkinkan konsep-konsep abstrak itu dipahami
anak. Bruner (1978 : 4) misalnya memberikan pemecahan
berbentuk jembatan Bailey untuk mengkonkretkan abstrak yaitu
dengan enactive, iconic, dan symbolic, melalui bertentangan
dengan gerak tubuh, gambar, bagan, peta, grafik, lambang,
keterangan lanjut atau elaborasi dalam kata-kata yang dapat
dipahami siswa. Itulah sebabnya pendidikan IPS di sekolah
dasar bergerak dari yang konkret menuju ke yang abstrak
dengan mengikuti pola pendekatan lingkungan yang semakin
meluas (expanding environment approach) dan
pendekatan spiral dengan memulai dari yang mudah kepada
yang sukar, dari yang sempit menjadi lebih luas, dari yang
dekat menuju ke yang jauh, dan seterusnya.
C. METODE PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH
DASAR
Metode secara harfiah diartikan cara. Dalam pemakaian yang
umum diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau
cara melakukan pekerjaan dengan menggunakan faktor dan
konsep-konsep secara sistematis. Metode dapat dianggap
sebagai suatu prosedur atau proses yang teratur, suatu jalan
atau cara yang teratur untuk melakukan segala sesuatu.
Metode adalah cara yang dianggap efisien yang digunakan
oleh guru dalam menyampaikan suatu mata pelajaran tertentu
kepada siswa, agar tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya
128
dalam proses kegiatan pembelajaran dapat tercapai dengan
efektif. Sedangkan mengajar diartikan sebagai penciptaan
suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses
belajar. Dengan demikian, dapat dimengerti bahwa metode
mengajar adalah cara atau alat yang dipakai oleh seorang
pendidik dalam menyampaikan bahan pelajaran sehingga bisa
diterima oleh siswa dan juga tercapainya tujuan yang
diinginkan, atau bagaimana teknisnya pelaksanaan proses
belajar mengajar.
Metode Pembelajaran IPS berpijak pada aktivitas yang
memungkinkan siswa baik secara individual maupun kelompok
aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip
IPS secara holistis dan autentik. Melalui pembelajaran IPS,
peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung,
sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima,
menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal
yang dipelajarinya. Dengan demikian, siswa terlatih untuk dapat
menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari.
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan metode
yang akan diterapkan dalam proses pembelajaran :
Dalam pemilihan atau penetapan metode yang akan diterapkan
dalam proses pembelajaran, maka hendaknya memperhatikan
faktor faktor yang dapat mempengaruhinya, sebagaimana yang
dikemukakan oleh Subiyanto (1990 : 71) berikut:
1. Metode hendaknya sesuai dengan tujuan. Tujuan adalah
suatu cita-cita yang akan dicapai dalam kegiatan belajar
mengajar. Adapun metode dengan tujuan saling berhubungan.
Artinya, metode harus menunjang pencapaian tujuan
pengajaran. Bila tidak, maka akan sia-sialah perumusan tujuan
tersebut.
2. Metode hendaknya disesuaikan dengan bahan pengajaran.
Metode pengajaran untuk mata pelajaran yang satu berbeda
dengan mata pelajaran yang lain. Bahan pelajaran dapat
dianggap sebagai pedoman atau petunjuk bagi guru untuk
menentukan metode mengajar yang akan digunakan.
129
3. Metode hendaknya diadaptasikan dengan kemampuan
siswa. Menyesuaikan metode mengajar dengan kemampuan
siswa, didasarkan pada tingkat atau jenjang pengajaran.
Metode dalam mengajarkan perkembangan untuk siswa
sekolah dasar akan berbeda dengan siswa sekolah menengah.
Selain itu juga, penyesuaian metode mengajar itu menyangkut
pemilihan media yang dimanfaatkan. Seyogianya guru
memanfaatkan media yang berbeda dalam mengajar di sekolah
dasar, karena terdapat perbedaan kematangan siswa yang
bervariasi mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode
pengajaran.
2. Metode Pengajaran dalam IPS di Sekolah Dasar
Metode pengajaran IPS dapat dibagi dua klasifikasi yaitu
metode yang interaksi edukatifnya berlangsung di dalam kelas
misalnya metode ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi,
eksperimen, sosiodrama, role playing, dan tugas atau resitasi
serta kerja kelompok dan interaksi yang edukatif yang
berlangsung di luar kelas misalnya metode karya wisata dan
observasi.
1. Metode Interaksi Edukatif Dalam Kelas
a. Metode ceramah
Menurut Tjipto Utomo & Ruitjen : 1982, metode ceramah
merupakan bentuk pengajaran dimana guru mengalihkan
informasi kepada sekelompok besar siswa dengan cara yang
utama bersifat verbal atau kata-kata.
b. Metode tanya-jawab
Metode tanya jawab adalah suatu format interaksi antara guru
dengan siswa melalui kegiatan bertanya yang dilakukan oleh
guru untuk mendapatkan respon lisan dari siswa, sehingga
dapat menumbuhkan pengetahuan baru pada diri siswa.
c. Metode Diskusi atau Metode Musyawarah
130
Metode diskusi dalam pembelajaran IPS adalah suatu cara
penyajian materi pelajaran dimana siswa dihadapkan kepada
suatu masalah, baik berupa pernyataan maupun berupa
pertanyaan yang bersifat problematik untuk dibahas atau
dipecahkan oleh siswa secara bersama-sama.
d. Metode Penugasan (Pemberian tugas)
Metode penugasan adalah suatu penyajian bahan
pembelajaran dimana guru memberikan tugas tertentu agar
siswa melakukan kegiatan belajar dan memberikan laporan
sebagai hasil dari tugas yang dihasilkannya.
e. Metode Kerja Kelompok
Metode kerja kelompok merupakan format belajar mengajar
yang menitikberatkan kepada interaksi antara anggota yang
satu dengan anggota yang lain dalam suatu kelompok, guna
menyelesaikan tugas secara bersama-sama.
f. Metode Demonstrasi
Demonstrasi merupakan format belajar mengajar yang sengaja
mempertunjukan atau memperagakan tindakan, proses atau
prosedur yang dilakukan oleh guru atau orang lain kepada
seluruh atau sebagian siswa.
g. Metode Eksperimen (Percobaan)
Eksperimen adalah format interaksi belajar mengajar yang
melibatkan logika induksi untuk menyimpulkan pengamatan
terhadap proses atau hasil percobaan.
h. Metode Simulasi
Simulasi merupakan format interaksi belajar mengajar dalam
pengajaran IPS yang didalamnya menampakan adanya
perilaku pura-pura (simulasi) dari orang yang terlibat dalam
proses pembelajaran atau suatu peniruan situasi tertentu,
sehingga siswa dapat memahami konsep, prinsip-prinsip
131
keterampilan, nilai dan sikap dari sesuatu dari yang sedang
disimulasikan.
i. Metode Inkuiri dan Discovery
Metode Inkuiri dan Discovery dalam pembelajaran merupakan
suatu prosedur yang menekankan belajar secara individual
dimana siswa berusaha melakukan aktivitas sendiri untuk
mencari dan meneliti sesuatu sebelum menarik suatu
kesimpulan.
2. Metode Interaksi Edukatif di Luar Kelas
a.Metode Karyawisata
Metode karyawisata merupakan suatu kegiatan belajar
mengajar dimana siswa dibawa ke suatu objek di luar kelas
untuk mengkaji atau mempelajari suatu masalah yang
berhubungan dengan materi pelajaran atau dengan kata lain
karyawisata merupakan suatu upaya mendekatkan atau
membawa diri siswa kepada kehidupan nyata yang menjadi
sumber belajar bagi para siswa.
b. Metode Observasi
Merupakan kelanjutan atau alat yang diperlukan pada saat
pelaksanaan karyawisata.
Metode observasi adalah format pembelajaran di mana siswa
dibawa ke luar kelas untuk mengamati suatu objek atau
peristiwa kemudian merekamnya dengan menggunakan lembar
pengamatan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.
3. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan guru dalam
memilih metode pembelajaran IPS di sekolah dasar
132
Dalam memilih metode pembelajaran IPS di sekolah dasar,
berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),
guru diharapkan memperhatikan prinsip-prinsip berikut:
1. Berpusat pada peserta didik agar mencapai kompetensi yang
diharapkan. Peserta didik menjadi subjek pembelajaran
sehingga keterlibatan aktivitasnya dalam pembelajaran tinggi.
Tugas guru adalah mendesain kegiatan pembelajaran agar
tersedia ruang dan waktu bagi peserta didik belajar secara aktif
dalam mencapai kompetensi.
2. Pembelajaran terpadu agar kompetensi yang dirumuskan
dalam kompetensi dasar dan standar kompetensi tercapai
secara utuh. Aspek kompetensi yang terdiri dari sikap,
pengetahuan, dan keterampilan terintegrasi menjadi satu
kesatuan.
3. Pembelajaran dilakukan dengan sudut pandang adanya
keunikan individual setiap siswa. Siswa memiliki karakteristik,
potensi, dan kecepatan belajar yang beragam. Oleh karena itu,
dalam kelas dengan jumlah siswa tertentu, guru perlu
memberikan layanan individu agar dapat mengenal dan
mengembangkan siswanya.
4. Pembelajaran dilakukan secara bertahap dan terus-menerus
menerapkan prinsip pembelajaran tuntas (mastery learning)
sehingga mencapai ketuntasan yang ditetapkan. Siswa yang
belum tuntas diberikan layanan remedial, sedangkan yang
sudah tuntas diberikan layanan pengayaan atau melanjutkan
pada kompetensi berikutnya.
5. Pembelajaran dihadapkan pada situasi pemecahan masalah,
sehingga siswa menjadi pembelajar yang kritis, kreatif, dan
mampu memecahkan masalah yang dihadapi. Oleh karena itu,
guru perlu mendesain pembelajaran yang berkaitan dengan
permasalahan kehidupan atau konteks kehidupan siswa dan
lingkungan.
133
6. Pembelajaran dilakukan dengan multistrategi dan multimedia
sehingga memberikan pengalaman belajar yang beragam bagi
peserta didik.
7. Peran guru sebagai fasilitator, motivator, dan narasumber.
Jadi, metode pembelajaran IPS yang dikembangkan
hendaknya memperhatikan karakteristik siswa yang
memberikan ruang kepada siswa untuk dapat secara terbuka
menganalisis dan menjelaskan nilai-nilai yang berhubungan
dengan masyarakat, memutuskan tindakan, dan mengambil
tindakan dengan keputusan yang reflektif.
D. TEMA-TEMA PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR
IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di
sekolah mulai dari sekolah dasar sampai sekolah menengah
dengan menyajikan materi yang mengkaji seperangkat
peristiwa,fakta,konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan
isu-isu sosial.
Secara garis besar, tema- tema pendidikan IPS di sekolah
dasar dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian besar, yang
masing-masing memiliki tujuan yang berbeda, yaitu :
1. Pendidikan IPS sebagai pendidikan nilai (value
education) , yakni :
- Mendidikkan nilai- nilai yang baik, yakni merupakan
norma-norma keluarga dan masyarakat
- Memberikan klasifikasi nilai-nilai yang sudah dimiliki
siswa
- Nilai-nilai inti atau nilai utama (core values) seperti
menghormati hak-hak perorangan, kesetaraan, etos kerja, dan
martabat manusia (the dignity of man and work), sebagai upaya
membangun kelas yang demokratis.
134
2. Pendidikan IPS sebagai pendidikan multikultural (
multicultural education ), yakni :
- Mendidik siswa bahwa perbedaan itu wajar
- Menghormati perbedaan etnik, budaya, agama, yang
menjadikan kekayaan budaya bangsa
- Persamaan dan keadilan dalam perlakuan terhadap
kelompok etnik atau minoritas
3. Pendidikan IPS sebagai pendidikan Global ( global
education ), yakni :
- Mendidik siswa akan kebhinekaan bangsa, budaya, dan
perbedaan di dunia
- Menanamkan kesadaran ketergantungan antarbangsa
- Menanamkan kesadaran semakin terbukanya
komunikasi dan transportasi antar bangsa di dunia
- Mengurangi kemiskinan, kebodohan, perusakan
lingkungan
Ruang lingkup materi pelajaran IPS di sekolah dasar atau
madrasah ibtidaiyah yang tercantum dalam kurikulum, Menurut
Depdiknas ( 2006 ), sebagai berikut :
1. Madrasah,tempat, dan lingkungan.
2. Waktu, keberlanjutan, dan perubahan.
3. Sistem sosial dan budaya.
4. Perilaku ekonomi dan kesejahteraan.
E. PEMBELAJARAN IPS DALAM STRUKTUR KURIKULUM
Standar Kompetensi Lulusan (SKL) pada jenjang pendidikan
dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan,
135
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan
untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. SKL
pada pendidikan sekolah dasar untuk IPS, sesuai petunjuk dari
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006,
sebagai berikut:
1. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam
lingkungannya.
2. Menghargai keragaman agama, budaya, suku, ras, dan
golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya.
3.Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar
secara logis, kritis, dan kreatif.
4. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif
dengan bimbingan guru
5. Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana
dalam kehidupan sehari-hari.
6. Menunjukkan gejala alam dan sosial di lingkungan
sekitarnya.
7. Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap
lingkungan.
8. Menunjukkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa,
negara, dan Tanah Air Indonesia.
9. Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman,
dan memanfaatkan waktu luang.
Dari berbagai standar kelulusan tersebut di atas dapat
dipahami bahwa program pendidikan IPS bertujuan untuk
menciptakan lulusan atau siswa yang memiliki sikap, etika,
kepribadian, serta pengetahuan dan keterampilan yang
paripurna, yang tidak hanya terampil tangannya saja, tetapi
juga lembut hatinya, dan cerdas otaknya.
136
BAB 10
PEMBELAJARAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
SEKOLAH DASAR
A. Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmu pengetahuan alam, yang sering disebut juga
dengan istilah pendidikan sains, disingkat menjadi IPA.
IPA merupakan salah satu mata pembelajaran pokok
dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, termasuk pada
jenjang sekolah dasar.
Mata pelajaran IPA merupakan mata pelajaran yang
selama ini dianggap sulit oleh sebagian besar peserta
didik, mulai dari jenjang sekolah dasar sampai sekolah
menengah. Anggapan sebagian besar peserta didik yang
menyatakan sulit adalah benar terbukti dari hasil
perolehan Ujian Akhir Sekolah (UAS) yang dilaporkan
oleh Depdiknas masih sangat jauh dari standar yang
diharapkan. Ironisnya, justru semakin tinggi jenjang
pendidikan, maka perolehan rata-rata nilai UAS
pendidikan IPA ini menjadi semakin rendah.
Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan
saat ini adalah masalah lemahnya pelaksanaan proses
pembelajaran yang diterapkan guru di sekolah. Proses
Pembelajaran yang terjadi selama ini kurang mampu
mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik.
Pelaksanaan proses pembelajaran yang berlangsung
di kelas hanya diarahkan pada kemampuan siswa untuk
menghafal informasi,otak siswa dipaksa hanya untuk
mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa
dituntut untuk memahami informasi yang diperoleh untuk
menghubungkan dengan situasi dalam kehidupan
sehari-hari.
Kondisi ini juga menimpa pada pembelajaran IPA,
yang hanya memperlihatkan bahwa selama ini proses
pembelajaran sains di sekolah dasar masih banyak yang
dilaksanakan secara konvensional. Para guru belum
sepenuhnya melaksanakan pembelajaran secara aktif
137
dan kreatif dalam melibatkan siswa serta belum
menggunakan berbagai pendekatan/strategi
pembelajaran yang bervariasi berdasarkan karakter
materi pelajaran.
Dalam proses belajar mengajar,kebanyakan guru
hanya terpaku pada buku teks sebagai satu-satunya
sumber belajar mengajar. Hal lain yang menjadi
kelemahan dalam pembelajaran IPA adalah masalah
teknik penilaian pembelajaran yang tidak akurat dan
menyeluruh.
Proses penilaian yang dilakukan selama ini semata-
mata hanya menekankan pada penguasaan konsep
yang dijaring dengan tes tulis objektif dan subjektif
sebagai alat ukurnya. Dengan cara penilaian seperti ini,
berarti pengujian yang dilakukan oleh guru baru
mengukur penguasaan materi saj dan itu pun hanya
meliputi ranah kognitif tingkat rendah-rendah. Keadaan
semacam ini merupakan salah satu indikasi adanya
kelemahan pembelajaran di sekolah.
Penyebab utama kelemahan pembelajaran tersebut
adalah karena kebanyakan guru tidak melakukan
kegiatan pembelajaran dengan memfokuskan pada
pengembangan keterampilan proses sains anak. Pada
akhirnya, keadaan semacam ini yang menyebabkan
kegiatan pembelajaran dilakukan hanya terpusat pada
penyampaian materi dalam buku teks saja. Keadaan
seperti ini juga mendorong siswa untuk berusaha
menghafal pada setiap kali diadakan tes atau ulangan
harian atau tes hasil belajar, baik ulangan tengah
semester (UTS), maupun ulangan akhir semester(UAS).
Padahal, untuk anak jenjang sekolah dasar, menurut
Marjono (1996), hal yang harus diutamakan adalah
bagaimana mengembangkan rasa ingin tahu dan daya
berpikir kritis mereka terhadap suatu masalah.
Sains atau IPA adalah usaha manusia memahami alam
semesta melalui pengamatan yang tepat pada sasaran,
serta menggunakan prosedur, dan dijelaskan dengan
penalaran sehingga mendapatkan suatu kesimpulan.
Dalam hal ini diharapkan mengetahui dan mengerti
hakikat pembelajaran IPA, sehingga dalam pembelajaran
IPA guru tidak kesulitan dalam mendesain dan
138
melaksanakan pembelajaran dalam mendesain dan
melaksanakan pembelajaran. Siswa yang melakukan
pembelajaran juga tidak mendapat kesulitan dalam
memahami konsep sains.
Hakikat pembelajaran sains yang didefinisikan
sebagai ilmu tentang alam yang dalam bahasa Indonesia
disebut dengan ilmu pengetahuan, dapat diklasifikasikan
menjadi tiga bagian, yaitu: ilmu pengetahuan alam
sebagai produk, proses, dan sikap. Dari ketiga
komponen IPA ini, Sutrisno (2007) menambahkan bahwa
IPA juga sebagai prosedur dan IPA sebagai teknologi.
Akan tetapi, penambahan ini bersifat pengembangan
prosedur dari proses,sedangkan teknologi dari aplikasi
konsep dan prinsip-prinsip IPA sebagai produk.
Sikap dalam pembelajaran IPA yang dimaksud ialah
sikap ilmiah. Jadi, dengan pembelajaran IPA di sekolah
dasar diharapkan dapat menumbuhkan sikap ilmiah
seperti seorang ilmuwan. Adapun jenis-jenis sikap yang
dimaksud, yaitu: sikap ingin tahu, percaya diri, jujur, tidak
tergesa-gesa, dan objektif terhadap fakta.
Pertama, ilmu pengetahuan alam sebagai produk,yaitu
kumpulan hasil penelitian yang telah ilmuwan lakukan
dan sudah membentuk konsep yang telah dikaji sebagai
kegiatan empiris dan kegiatan analitis. Bentuk IPA
sebagai produk antara lain: fakta-fakta, prinsip, hukum,
dan teori-teori IPA. Jadi ada beberapa istilah yang dapat
diambil dari pengertian IPA sebagai produk, yaitu :
1. Fakta dalam IPA, pernyataan-pernyataan tentang benda-
benda yang benar-benar ada,atau peristiwa-peristiwa
yang benar terjadi dan mudah dikonfirmasi secara
objektif.
2. Konsep IPA merupakan suatu ide yang mempersatukan
fakta-fakta IPA. Konsep merupakan penghubung antara
fakta-fakta yang ada hubungannya.
3. Prinsip IPA yaitu generalisasi tentang hubungan di
antara konsep-konsep IPA.
4. Hukum-hukum alam (IPA), prinsip-prinsip yang sudah
diterima meskipun juga bersifat tentatif (sementra, akan
tetapi karena mengalami pengujian yang berulang-ulang
maka hukum alam bersifat kekal selama belum ada
pembuktian yang lebih akurat dan logis.
139
5. Teori Ilmiah merupakan kerangka yang lebih luas dari
fakta-fakta, konsep, prinsip yang saling berhubungan.
Kedua, ilmu pengetahuan alam sebagai proses,yaitu
untuk menggali dan memahami pengetahuan tentang
alam.Karena IPA merupakan kumpulan fakta dan
konsep, maka IPA membutuhkan proses dalam
menemukan fakta dan teori yang digeneralisasi oleh
ilmuwan.Adapun proses dalam memahami IPA disebut
dengan keterampilan proses sains (science process
skills) adalah keterampilan yang dilakukan oleh para
ilmuwan, seperti mengamati, mengukur, mengklasifikasi,
dan menyimpulkan.
Mengamati (observasi) adalah mengumpulkan
semua informasi dengan panca indra. Adapun penarikan
kesimpulan (inferensi) adalah kesimpulan setelah
melakukan observasi dan berdasarkan pengetahuan
yang dimiliki sebelumnya. Disamping kedua komponen
ini sebagai keterampilan proses sains masih ada
komponen lainnya seperti investigasi dan eksperimen.
Akan tetapi, yang menjadi dasar keterampilan proses
adalah merumuskan hipotesis dan menginterpretasikan
data melalui prosedur-prosedur tertentu seperti
melakukan pengukuran dan percobaan.
Ketiga, ilmu pengetahuan alam sebagai sikap. Sikap
ilmiah harus dikembangkan dalam pembelajaran sains.
Hal ini sesuai dengan sikap yang harus dimiliki oleh
seorang ilmuwan dalam melakukan penelitian dan
mengkomunikasikan hasil penelitiannya.
Menurut Sulistyorini (2006), ada Sembilan aspek yang
dikembangkan dari sikap ilmiah dala pembelajaran sains,
yaitu: sikap ingin tahu, ingin mendapat sesuatu yang
baru, sikap kerja sama, tidak putus asa, tidak
berprasangka, mawas diri, bertanggung jawab, dan
kedisipilinan diri.
Sikap ilmiah itu dikembangkan melalui kegiatan-
kegiatan siswa dalam pembelajaran IPA pada saat
melakukan diskusi, percobaan, simulasi, dan kegiatan
proyek lapangan. Pengembangan sikap ilmiah di sekolah
dasar memiliki kesesuaian dengan tingkat
perkembangan kognitifnya. Menurut Piaget, anak usia
sekolah dasar yang berkisar 6 atau 7 tahun sampai 11
140
atau 12 tahun masuk dalam kategori fase operasional
konkret. Fase yang menunjukkan adanya sikap
keingintahuannya cukup tinggi untuk mengenali
lingkungannya. Dalam kaitannya dengan tujuan
pendidikan sains, maka pada anak sekolah dasar siswa
harus diberikan pengalaman serta kesempatan untuk
mengembangkan kemampuan berpikir dan bersikap
terhadap alam, sehingga dapat mengetahui rahasia dan
gejala-gejala alam.
Lebih lanjut, IPA juga memiliki karakteristik sebagai
dasar untuk memahaminya. Karakteristik tersebut
menurut Jacobson & Bergman (1980), meliputi :
1. IPA merupakan kumpulan konsep, prinsip, hukum, dan
teori.
2. Proses ilmiah dapat berupa fisik dan mental, serta
mencermati fenomena alam, termasuk juga
penerapannya.
3. Sikap keteguhan hati, keingintahuan, dan ketekunan
dalam dalam menyingkap rahasia alam.
4. IPA tidak dapat membuktikan semua akan tetapi hanya
sebagian atau beberapa saja.
Keberanian IPA bersifat subjektif dan bukan kebenaran
yang bersifat objektif.
Dari uraian hakikat IPA di atas, dapat dipahami
bahwa pembelajaran sains merupakan pembelajaran
berdasarkan pada prinsip-prinsip, proses yang mana
dapat menumbuhkan sikap ilmiah siswa terhadap
konsep-konsep IPA. Oleh karena itu, pembelajaran IPA
disekolah dasar dilakukan penyidikan sederhana dan
bukan hafalan terhadap kumpulan konsep IPA. Dengan
kegiatan-kegiatan tersebut pembelajaran IPA akan
mendapat pengalaman langsung melalui pengamatan,
diskusi, dan penyelidikan sederhana. Pembelajaran yang
demikian dapat menumbuhkan sikap ilmiah siswa yang
diindikasikan dengan merumuskan masalah, menarik
kesimpulan, sehingga mampu berpikir kritis melalui
pembelajaran IPA
B. Tujuan Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
Pembelajaran sains di sekolah dasar dikenal dengan
pembelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA). Konsep dasar
141
Ipa di sekolah dasar merupakan konsep yang masih terpadu
seperti mata pelajaran kimia, biologi, dan fisika.
Adapun tujuan pembelajaran sains di sekolah dasar dalam
Badan Nasional standar Pendidikan (BSNP, 2006)
dimaksud untuk:
1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan yang
Maha Esa berdasarkan, keberadaan, keindahan,
keteraturan alam ciptaan Nya.
2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman
konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan
kesadaran tentang adanya hubungan yang saling
mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan
masyarakat.
4. Mengembangkan keterampilan proses, untuk menyelidiki
alam sekitar, memecahkan masalah, dan membuat
keputusan.
5. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam
memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan
alam.
6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan
segala keteraturan sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
7. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep, dan
keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan
pendidikan ke SMP.
C. Pembelajaran IPA Berbasis INKUIRI
Dalam kurikulum 2004 dan Standar isi BSNP (Badan
Standar Nasional Pendidikan) mencantumkan inkuiri sebagai
proses maupun sebagai produk yang diterapkan secara
terintegrasi di kelas.
Secara umum, inkuiri merupakan proses yang bervariasi
dalam meliputi kegiatan- kegiatan mengobservasi, merumuskan
pertanyaan relevan, mengevaluasi buku dan sumber-sumber
informasi lain secara kritis, merencanakan penyelidikan atau
investigasi, me-review apa yang telah diketahui ,melaksanakan
percobaan atau eksperimen dengan menggunakan alat untuk
memperoleh data,menganalisis dan menginterpretasi data,
serta membuat prediksi dan mengkomunikasikan hasilnya.
142
Tujuan Utama pembelajaran berbasis inkuiri menurut National
Research Council (NRC, 2000), sebagai berikut:
1. Mengembangkan keinginan dan motivasi siswa untuk
mempelajari prinsip dan konsep sains.
2. Mengembangkan keterampilan Ilmiah siswa sehingga
mampu bekerja seperti layaknya seorang ilmuwan
3. Membiasakan siswa bekerja keras untuk memperoleh
pengetahuan
Tujuan di atas dapat dicapai dengan mengikuti sintaks yang
ada dalam pembelajaran inkuiri. Joyce & Well (1996)
mengemukakan bahwa sintaks inkuiri sains terdiri atas 4 fase
yaitu:
A). Fase investigasi dan pengenalan pada siswa
B). Pengelompokan masalah oleh siswa
C). Identifikasi masalah dalam penyelidikan
D). Memberikan kemungkinan mengatasi kesulitan/ masalah
Pembelajaran inkuiri dapat dimulai dengan memberikan
pertanyaan dan cara bagaimana menjawab pertanyaan
tersebut. Melalui pernyataan tersebut siswa dapat dilatih
melakukan observasi terbuka, ber hipotesis, bereksperimen
yang akhirnya dapat menarik suatu kesimpulan.
Pembelajaran dengan metode inkuiri memiliki lima komponen
yanh umum yaitu: bertanya, keterlibatan siswa, kerja sama,
untuk kerja (perform task), dan sumber-sumber yang bervariasi.
Pembelajaran inkuiri yang masyarakat keterlibatan siswa aktif
terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak
terhadap sains. Metode ini dapat membantu perkembangan,
antara lain: literasi sains dan pemahaman proses-proses ilmiah,
pengetahuan perbendaharaan kata (vocal bulary), dan
pemahaman konsep, berpikir kritis, dan bersikap positif. Inkuiri
merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia
untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang
memancing rasa ingin tahu.
Berdasarkan komponen-komponen dalam proses inkuiri
yang meliputi topic masalah, sumber masalah atau pertanyaan
bahan, prosedur atau rancangan kegiatan, pengumpulan
analisis serta pengambilan kesimpulan. Dari komponen-
komponen ini, Bonnstetter (2000) mengklasifikasi tipe inkuiri ini
kedalam 4 tingkat yaitu: 1) Praktikum (traditional hands-on); 2)
pengalaman sains terstruktur (structured science experiences);
3) inkuiri siswa mandiri (student directed inquiry); dan 4)
143
penelitian siswa (Student research).
Keterampilan inkuiri berkembang atas dasar kemampuan
siswa dalam menemukan dan merumuskan pertanyaan-
pertanyaan yang bersifat ilmiah dan dapat mengarah pada
kegiatan penyelidikan untuk memperoleh jawaban atas
pertanyaan. Dalam proses pembelajaran melalui kegiatan
inkuiri siswa perlu dimotivasi untuk mengembangkan
keterampilan-keterampilan inkuiri atau keterampilan proses
sains sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan sikap Ilmiah,
seperti menghargai gagasan baru, berpikir kritis, jujur dan
kreatif.
Menurut Nasional Science Educational Standard (NRC,1996)
perancangan pengajaran inkuiri dapat dilakukan dengan cara,
sebagai berikut :
1. Mengembangkan kerangka kerja jangka panjang
(setahun) dan tujuan-tujuan jangka pendek bagi
siswanya.
2. Memilih kontens sains, mengadaptasi dan merancang
kurikulum yang memenuhi minat, pengetahuan,
pemahaman, kemampuan, dan pengalam siswa.
3. Memilih strategi mengajar dan penilaian yang
mendukung pengembangan pemahaman siswa dan
memberikan damapak rigan terhadap masyarakat
pemelajaran sains
4. Berkerja sama sebagai kolega di dalam disiplin, juga
lintas disiplin dan jenjang kelas.
Tahap pembelajaran inkuiri pada mata pelajaran sains atau IPA
di sekolah dasar dapat dikelompokan dalam lima tahap, yaitu:
1. Adanya kegiatan merumuskan pertanyaan yang dapat
diteliti melalui percobaan sederhana.
2. Adanya perumusan hipotesis atau membuat prediksi.
3. Merencanakan dan melaksanakan suatu percobaan
sederhana.
4. Mengkomunikasikan hasil pengamatan dan
menggunakan data serta peralatan yang digunakan
dalam percobaan sederhana.
5. Menyimpulkan hasil pengamatan dan eksperimen yang
telah dilakukan.
Tahap kegiatan diatas merupakan kegiatan pembelajaran
inkuiri yang disedrhanakan brdasarkan sintaks yang ada dalam
144
pembelajaran inkuiri.
Sintaks dapat dijadikan sebagai aspek evaluasi dari
pembelajaran tersebut. Aspek-aspek dapat dilihat dari soal-soal
yang diberikan guru sebagai bentuk evaluasi. Tujuannya adalah
mengukur nilai kemampuan seorang siswa serta menjadi
rujukan untuk pengembangan pembelajaran selanjutnya.
Adapun bentuk soal yang yang berbasis inkuiri dapat berupa,
seerti dikemukakan oleh Hodgson & Scanlon (1985),sebagai
berikut:
1. Tes untuk kerja (performance task), dengan ketentuan:
a. Tes dilaksanakan dengan melakukan investigasi;
b. Tes dilaksanakan dengan melakukan observasi;
2. Tes tulis, dengan ketentuan-ketentuan yang meliputi
a. Merencanakan suatu investigasi;
b. Menjelaskan suatu informasi dengan
mengaplikasikan konsep sains melalui data pengamatan
atau data hasil investigasi;
c. Melalui hipotesis
d. Menggunakan tabel, grafik atau chart dalam
menjelaskan konsep sains;dan
e. Membuat kesimpulan sebagai hasil pengamatan
yang dapat membangun pemahaman siswa terhadap
konsep-konsep sains.
Ditinjau dari aspek inkuiri, kriteria pembuatan soal-soal diatas
merupakan langkah-langkah yang terdapat dalam langkah-
langkah yang terdapat dalam tahap pembelajaran
inkuiri. Evaluasi yang diberikan akan sesuai dengan konsep
pembelajaran yang telah dilaksanakan serta sesuai dengan
hakikat sains. Sebaiknya evaluasi dilakukan atau direncanakan
dalam pembelajaran.
D. Tugas Utama Guru Dalam Pembelajaran IPA Di Sekolah
Dasar
Pada umumnya, tugas-tugas guru sekolah dasar, baik yang
mengajar IPA ataupun sains maupun pelajaran lainnya adalah
sama. Ditinjau dari pengertian guru menurut Undang-Undang
Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005 adalah pendidik
profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
145
mengevaluasi peserta didik, baik pada jenjang pendidikan usia
dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah serta di perguruan tinggi.
Jelas bahwa tugas utama guru sebagaimana yang
dikemukakan dalam undang-undang guru tersebut adalah
bahwa guru mempunyai tugas sebagai pendidik, pengajar,
pembimbing, pengarah, pelatih, penilai, dan pemberi evaluasi
kepada peserta didik, baik yang mengajar di tingkat taman
kanak-kanak (TK), sekolah dasar, maupun sekolah menengah.
Tugas ini sejalan dengan definisi guru yang dikemukakan oleh
Hasbullah (2006), bahwa guru adalah orang yang berfungsi
sebagai pembimbing untuk menumbuhkan aktivitas peserta
didik dan sekaligus sebagai pemegang tanggung jawab
terhadap pelaksanaan pendidikan. Guru tidak hanya mengajar
dan memberikan informasi saja pada siswa, akan tetapi guru
juga mempunyai tugas melatih, membimbing, serta
mengarahkan siswa kepada materi pelajaran sehingga siswa
mampu belajar dan bersikap sebagai manusia yang terdidik
secara akademis.
Guru sebagai profesi pendidik diharapkan memiliki
kemampuan dalam mengembangkan dirinya guna memenuhi
tugas-tugas di lembaga pendidikan. Guru diminta untuk
memenuhi beberapa kompetensi dalam melaksanakan
tugasnya. Ada dua unsur pokok dalam kecakapan atau
kompetensi mengajar yang harus dimiliki oleh guru, yaitu: 1)
menguasai bidang pengetahuan; dan 2) menguasai
keterampilan pedagogis atau kepiawaian dalam mengajar.
Pengembangan pengertian kompetensi disini, yaitu
kompetensi pedagogik, professional, pribadi, dan sosial. Lebih
luas lagi bagaimana yang dijelaskan dalam Undang-Undang
Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No.20 Tahun 2003, ada
sepuluh kompetensi yang harus dimiliki oleh guru dalam
mengajar dan bersikap, yaitu:
1. Memiliki kepribadian ideal sebagai guru
2. Penguasaan landasan kependidikan
3. Menguasai bahan pembelajaran
4. Kemampuan menyusun program pembelajaran
5. Kemampuan melaksanakan program pembelajaran
6. Kemampuan menilai hasil dan proses belajar mengajar
7. Kemampuan menyelenggarakan program bimbingan
8. Kemampuan menyelenggarakan administrasi sekolah
146
9. Kemampuan bekerja sama dengan sejawat dan
masyarakat
10. Kemampuan menyelenggarakan penelitian sederhana
untuk keperluan pembelajaran.
Selain itu, guru memiliki tugas, peran, dan fungsi dalam
pembelajaran di sekolah, maka guru juga mempunyai tanggung
jawab yang besar dalam menyelenggarakan proses
pembelajaran ini. Tanggung jawab guru tersebut menurut
Wasliman (2007), meliputi:
1. Menguasai cara belajar mengajar yang efektif
2. Mampu membuat satuan pembelajaran (satpel)
3. Mampu dan memahami kurikulum dengan baik
4. Mampu mengajar di kelas
5. Menjadi model bagi peserta didik
6. Mampu membuat dan melaksanakan evaluasi, dll.
Selain itu, guru juga memiliki tanggung jawab sebagai
ilmuwan. Guru sebagai ilmuwan bertanggung jawab dan turut
serta dalam memajukan ilmu pengetahuan, terutama yang telah
terjadi spesialisasinya, dengan melaksanakan penelitian dan
pengembangan.
Uraian diatas menunjukkan kompetensi guru secara umum,
sedangkan secara khusus dalam pembelajaran IPA, guru dapat
melakukannya melalui praktikum sederhana dengan
pembelajaran berbasis inkuiri, maka guru memiliki tugas-tugas
yang lebih spesifik, seperti memfasilitasi siswa untuk dapat
melakukan pengamatan dan diskusi dimana pembelajaran ini
membutuhkan peralatan dan bahan-bahan dalam
pembelajarannya.
Dengan demikian, guru juga harus mengetahui prosedur,
konsep, dan keterampilan dalam pembelajaran siswa. Karena
tidak ada perbedaan tahapan pembelajaran IPA dengan
pembelajaran mata pelajaran lainnya, maka tugas-tugas guru di
dalam pembelajaran dapat meliputi: menyusun rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP), melaksanakan kegiatan
belajar mengajar (KBM) dan melaksanakan evaluasi.
147