The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

The Bliss Bakery 6 - Magic By The Minute by Kathryn Littlewood

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Novel Fantasy Repository, 2023-10-23 21:43:34

The Bliss Bakery 6 - Magic By The Minute by Kathryn Littlewood

The Bliss Bakery 6 - Magic By The Minute by Kathryn Littlewood

desyrindah.blogspot.com


desyrindah.blogspot.com


desyrindah.blogspot.com


desyrindah.blogspot.com


desyrindah.blogspot.com


(SIHIR SETIAP MENIT) Bu7u K44na9 3ar6 S4r6 B86ss Ba74ry Kat5ryn L6 tt84wo o 3 THE BLISS BAKERY #6 MAGIC BY THE MINUTE [Sihir Setiap Menit] Diterjemahkan dari Bliss Bakery #6: Magic by the Minute by Kathryn Littlewood Copyright © 2017 by The Inkhouse Published in arrangement with The Fielding Agency, LLC. All rights throughout the world are reserved to Inkhouse Media Group, Corp. Hak penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia ada pada Penerbit Noura Books All rights reserved Penerjemah: Nadya Andwiani Penyunting: Yuli Pritania Penyelaras aksara: Nani, Nuraini S. Penata aksara: CDDC Ilustrator sampul: Garisinau Digitalisasi: Lian Kagura Diterbitkan dengan lini Mizan Fantasi oleh Penerbit Noura Books PT Mizan Publika (Anggota IKAPI) Jln. Jagakarsa No. 40 Rt.007/Rw.04, Jagakarsa-Jakarta Selatan Telp: 021-78880556, Faks: 021-78880563 E-mail: [email protected] www.nourabooks.co.id ISBN: 978-623-242-128-8 (EPUB) Ebook ini didistribusikan oleh: Mizan Digital Publishing Jl. Jagakarsa Raya No. 40 Jakarta Selatan - 12620 Phone.: +62-21-7864547 (Hunting) desyrindah.blogspot.com


Fax.: +62-21-7864272 email: [email protected] email: [email protected] desyrindah.blogspot.com


Dear Indonesian Readers, Growing up, I had lots of big dreams. First among them was that I wanted to be a writer. Lucky me, that dream came true. (As you must know if you’re reading this and are a fan of the Bliss Bakery books published by Noura.) But close on the heels of that first dream was a second: to travel and see all the nations of the world. Top of my list would surely be Indonesia, one of the most beautiful countries on earth. Alas, I haven’t been quite as fortunate with that second dream of mine. At least, not yet. But who knows? Maybe one day soon I will be able to visit Indonesia firsthand and meet the readers who have given such a warm welcome to the Bliss series. Until such a time, I will have to travel the world another way, through the magic of food. At Java, a restaurant around the corner from my home in Brooklyn, I can stuff myself with kue lapis and sweet martabak and dream that I am transported to Jakarta or Sumatra. All it requires is little water, flour, and sugar, mixed with a large heap of imagination and love. And just like that, something extraordinary happens: magic. Precisely the kind of kitchen magic that the Bliss Bakery books are all about. With love and sprinkles, Kathryn Lit lewood desyrindah.blogspot.com


Isi Buku Tanda Tapak Tak Bisa Ditarik Kembali Hadiah dari Orang-Orang Terkasih !nasiraW iraH Orang Asing Misterius Bawa Masuk Badutnya Kisah sang Kucing Kisah sang Anjing Apa yang Terjadi kepada Bayi Rose? Rosemary Bliss—Buron! Sup Ayam-Ayaman Karet untuk Jiwa Ikuti Jejak Uap Serdawa Kuning Celemek Jelek Tak Kasatmata Gelindingan Sekali Seumur Hidup Menikmati Kue Bolu dan Juga Membacanya Andai Aku Bisa Membalikkan Waktu Seperti Thyme Bawa Masuk Badutnya Memanen Waktu Satu Kali Lagi, dengan Perasaan Dansa Kesempatan Kedua desyrindah.blogspot.com


Untuk Eva Kutter desyrindah.blogspot.com


PROLOG Tanda Tapak Master Pembuat Kue Rosemary Bliss berdiri di konter kayu besar di dapur toko roti keluarganya, celemek nya bertabur gula halus serta berlumur putih telur yang me ngering, dikelilingi oleh setengah lusin mangkuk pengaduk dari logam. Dia mendesah. Semuanya salah. Kenapa dia begitu kesulitan membuat Meringue Lebih Ringan dari Udara? Semua orang pernah mengalami hari-hari buruk, tetapi ini konyol. Di satu mangkuk, putih telur yang dikocoknya menge ras menjadi puncak runcing yang cukup tajam untuk menu sukmu hingga berdarah. Mangkuk lain berisi cairan encer mirip susu dari sapi yang sangat depresi. Dalam mangkuk ketiga, putih telur menguap secara misterius, mening galkan bubuk mirip salju yang, ketika Rose berbalik memunggungi nya, menimbulkan suara seperti kekehan. “Apanya yang lucu?” bentak Rose sambil berbalik. Sebentuk bubuk di mangkuk menghilang dalam kepulan asap. “Aku tidak tertawa.” Terdengar rengekan dari belakang Rose. Adik laki-lakinya yang berusia sepuluh tahun, Sage, datang sambil tersengalsengal melalui pintu belakang, pipi nya yang berbintik-bintik hampir semerah rambut merah terangnya. “Kau belum selesai juga?” Sungguh, Rose hanya ingin menyelesaikan resep ini—dia akan pergi ke pesta dansa sekolah nanti bersama pacarnya, Devin Stetson. Dan, desyrindah.blogspot.com


saking semangatnya menantikan kencan besar itu, membuat kue ajaib setiap harinya terasa bagaikan kerja keras yang membosankan. “Ceritanya kau jadi apa?” tanya Rose kepada adiknya. “Sudah jelas pejuang lingkungan, ‘kan?” Sage menge na kan celana kamuflase yang terlalu besar dan jaket meng gem bung. Kantong yang ditempelkan di sisi kakinya berisi alat penjepit makanan, dan di kepalanya ada teropong goggle rumit yang Sage pinjam dari Devin. Rose mendesah lagi. Devin begitu pintar, jago men cipta, sangat— Sage menjentikkan jemari. “Jangan menatapku sambil melamun begitu—ada yang harus kita kerjakan!” Suara ke tukan sepatu botnya terdengar saat dia melintasi ubin tera kota, lalu mengintip ke dalam mangkuk-mangkuk peng aduk. “Gumpalan menjijikkan apa ini? Lem pelapis din ding? Wax untuk bulu kaki?” Rose mengambil mangkuk itu dan menjatuhkannya ke bak cuci besar di dapur. “Ini, eh, adonan latihan. Aku hanya memastikan meringuenya sempurna sebelum kau memakannya.” “Kita tidak punya waktu untuk latihan!” Sage menang kup kan tangan ke kepala. “Ini darurat lingkungan! Kan tong plastik mencekik kehidupan dari pohon-pohon di seluruh Calamity Falls. Hanya aku yang bisa menghentikan epidemi ini.” Sambil memutar bola mata, Rose menarik mangkuk pengaduk yang bersih dari bawah meja. “Kau terlalu serius mengerjakan tugas sekolah ini. Kurasa gurumu hanya ingin kau menanam bunga atau semacamnya.” “Mungkin itu yang akan dilakukan anak normal,” kata Sage, jengkel. “Tapi, aku perlu memakan meringue ini dan setelahnya—lebih ringan dari udara—mengapung ke pepo honan dan mengumpulkan semua kantong plastik. Lalu, akan kubawa mereka ke sekolah besok supaya aku dapat nilai tambahan. Aku sudah menjelaskan ini, Rose—seka rang, ayolah!” desyrindah.blogspot.com


Sementara Sage membayangi di belakangnya, Rose menelusurkan jari pada resep ajaib dalam Cookery Booke untuk memastikan dia tidak melewatkan apa pun. Resep-resep dalam Booke membuat Rose dan keluarganya bisa membuat kue panggang untuk mengobati segala gang guan. Khusus yang satu ini, resepnya sangat sederhana: kocok putih telur, gula bubuk, dan sejumput Angin di Bawah Sayapmu— sebuah botol kecil yang disisakan Rose dari perjalanannya ke San Caruso beberapa bulan lalu. Rose mulai bekerja, menggunakan mikser untuk mengo cok putih telur hingga menjadi busa, menambahkan gula bu buk sedikit demi sedikit. Itu keterampilan dasar bagi seorang Master Pembuat Kue, dan sekali lagi dia mendapati pikiran nya melayang kepada Devin serta pesta dansa. Ini akan menjadi pesta dansa pertamanya bersama pacar perta manya (dan semoga juga yang terakhir). Dia mem bayang kan dekorasi musim gugur yang meriah, lampu-lampu yang berkilauan, tangan Devin terjalin dengan tangannya semen tara mereka berayun mengikuti irama musik. Mau tak mau, Rose senyam-senyum sendiri. “Kenapa, sih, kau bersenandung dan menari-nari di tempat begitu?” Terperangah, Sage menunjuk ke arahnya. “Kau melamunkan pesta dansa bodoh itu, bukannya fokus membuatkan meringue-ku!” “Tidak, kok,” Rose berbohong, sambil lalu meraih bo tol Angin di Bawah Sayapmu. Dia mengecek kembali label pada botol kaca biru itu—jangan sampai dia menuang ba han yang salah dan membuktikan bahwa Sage benar. “Aku tahu apa yang kulakukan. Akulah Master Pembuat Kue di sini, bukan?” Sage bersedekap. “Ya, tapi aku berbagi kamar dengan Ty. Aku tahu cara kerja cinta. Satu menit kau normal, menit berikutnya kau berubah konyol dan mulai mengabaikan adik laki-lakimu untuk bergaul dengan semua pacarmu.” desyrindah.blogspot.com


“Aku bisa melamunkan pesta dansa sambil membuat meringue,” kata Rose. “Aku tahu cara mengerjakan lebih dari satu tugas sekaligus, tahu.” Dengan hati-hati, Rose menambahkan sejumput Angin di Bawah Sayapmu. Tidak bisa disebut air dan tidak bisa disebut udara, substansi ajaib itu tertuang hampir tak kasat mata dari botol biru dengan pendar samar, mengendap di atas putih telur yang sudah dikocok. Saat substansi itu men darat, puncak adonan busanya menggeletar dan berkilauan seolah dilapisi kabut pagi. Ketika Rose perlahan mengaduk adonan tersebut de ngan spatula karet, angin berembus dari mangkuk dan mengi bar kan rambut hitamnya dengan aroma hutan setelah hujan yang meremajakan. Rose dan Sage sama-sama mendengar pekikan elang di kejauhan—ingatan Angin di Bawah Sayap mu tentang masa yang dilewatinya di langit. Angin itu lenyap saat Rose mengadukkan spatulanya untuk kali terakhir dengan cermat, berhati-hati memasukkan adonan meringue ke kantong segitiga dengan spuit di ujung nya. Kemudian, dia menyemprotkan adonan berben tuk kue bintang ke loyang panggang dan memasuk kan nya dengan perla han ke oven yang hangat. Dibiarkannya oven sedikit ter buka agar uapnya bisa keluar. Kali ini, dia membuat segalanya dengan sempurna. “Nah,” kata Rose, menepis gula dari tangan, “sekarang kita tinggal menunggu tiga jam sampai kuemu siap.” “Tiga jam?!” seru Sage. “Tapi, aku sudah pakai kostum!” “Ingat apa yang selalu dibilang Kakek Balthazar,” Rose menguliahi. “Sabar.” Sage membuka mulut untuk memprotes sekali lagi, tetapi terhenti oleh bel yang berbunyi di ruang depan toko roti. Beberapa orang merangsek masuk, menggerutu dengan keras. desyrindah.blogspot.com


“Hei!” seru seorang lelaki. “Apa ada yang kerja di sini? Tunjukkan dirimu!” Rose melirik Sage dengan gugup, lalu berseru, “Aku datang!” dan berlalu sambil berjalan melewati pintu ayun. Rose terkesiap. Ruang depan toko roti—biasanya ceria dan cerah, dengan beberapa pajangan kaca dan meja kafe di dekat jen dela depan besar yang dihiasi taplak meja berenda putih serta labu-labu mini—telah digelapkan oleh empat orang berbulu paling liar yang pernah dilihat Rose se panjang hidupnya. “Ng, ada yang bisa kubantu?” tanyanya. “Kau!” seru seseorang, bergegas ke arah Rose bagai kan karpet berbulu memakai mantel luar. “Apa yang kau masukkan ke kue corong yang kau jual kepada kami?” Rose menyadari dia tahu persis siapa orang-orang ini. Semuanya datang ke sini tadi pagi. Namun, sekarang mereka nyaris tidak menyerupai diri mereka sebelumnya. Mr. Bipple memiliki janggut panjang kelabu yang men juntai hingga lutut, seperti penyihir agung kuno. Mr. Rosen baum lebih muda, jadi janggutnya yang lebih panjang berwarna cokelat kemerahan. Profesor Meed tampak se perti orang-orangan sawah yang kelebihan bulu dengan rambut bak jerami mencuat dari ujung lengan bajunya dan meram bat naik ke kerahnya, dan meliuk-liuk keluar dari hidung dan telinganya. Mrs. Tuttle yang malang mengalami perubahan paling parah. Dia seperti manusia serigala abu-abu dengan kilau rambut keperakan di pipi dan dagu, leher dan bahu , dan di seluruh lengan serta tangannya. Satu-satunya tempat yang tidak ditumbuhi rambut pada diri keempat orang malang itu adalah puncak kepala gundul mereka yang mengilap. “Ini tidak alami!” seru Mr. Rosenbaum. desyrindah.blogspot.com


“Aku akan melaporkan soal ini ke Badan Pengawasan Obat dan Makanan Federal!” Profesor Meed meninggikan suara. “Entahlah,” kata Mrs. Tuttle tua sambil membelai pipi. “Aku agak menyukai tampilan baruku ini. Aku hanya ingin puncak kepalaku juga ditumbuhi rambut.” Mereka anggota Botak Menggemaskan, kelompok pen du kung bagi orang-orang dengan masalah rambut menipis. Mendengar mereka tadi pagi mengeluh ketika menga da kan pertemuan di toko roti, Rose mengira bisa membantu dengan menyiapkan Kue Corong Folikel Tergelitik: helaian-helaian tipis adonan manis yang diaduk ke dalam didihan panas Minyak Kelapa Pulau Hirsute, dan digoreng sampai mengembang dan garing. Rose menelan ludah kuat-kuat—jika adonan-adonan meringue-nya tadi merupakan rangkaian kesalahan, lalu ini? Ini bencana. “Nah?” gerutu Mr. Bipple. “Kami menunggu penje lasanmu, Non.” “Ng, tunggu sebentar, ya,” kata Rose, mundur ke arah dapur. “Ada seseorang yang bisa kalian temui.” Karena para pria itu dan Mrs. Tuttle memprotes, dan rambut di tubuh mereka menggeletar marah, Rose terus mundur sampai menabrak Sage, yang berdiri di bela kang nya. Dia mendorong dirinya dan Sage melewati pintu ayun. “Sudah kuduga!” tuduh Sage. “Cinta membuat,” dia menggerakgerakkan alisnya, “rambut melayang.” Rose mengerang. “Harusnya mabuk kepayang, Sage.” “Hadeh,” timpal Sage. “Namanya juga lucu-lucuan. Permainan kata!” Tepat pada saat itu, oven memperdengarkan erangan menggeletar yang keras. desyrindah.blogspot.com


Diiringi bunyi duar yang menjatuhkan mangkuk-mang kuk pengaduk dari konter, pintu oven menjeblak terbuka dan mengeluarkan kepulan asap hitam. Rose dan Sage ber lari menghampiri, mengayun-ayunkan tangan untuk meng usir asap sehingga mereka bisa melihat dengan jelas. Di bagian bawah oven terdapat lubang yang dikelilingi lelehan logam. Dan, melalui lubang itu terdapat rongga hi tam yang melesak jauh ke dalam bumi. Loyang panggang dan Meringue Lebih Ringan dari Udara tidak terlihat di mana pun. Sage meninju telapak tangan. “Astaga, untung saja aku tidak memakannya.” Mata Rose berair, dan bukan hanya akibat asap yang masih tersisa. “Jangan khawatir, Sayang.” Terdengar suara menawan dari ruang depan. “Pertumbuhan rambut spontan biasa terjadi pada bulan-bulan sekarang. Confections by Lily memiliki beberapa Moon Pie Pencabutdan-Peluruh yang akan membuat rambut-rambut itu rontok. Langsung saja ke tokoku dan beri tahu gadis di meja kasir bahwa kalian boleh mendapatkan masing-masing selusin, gratis.” “Bibi Lily,” desah Rose, lega. Bel pintu depan berdenting sekali lagi dan Rose bisa mendengar anggota geng Botak Menggemaskan tersaruk-saruk kembali ke udara musim gugur yang dingin. Sejenak kemudian, Lily memasuki dapur, bibir merah nya mem ben tuk huruf O, terkejut ketika melihat kekacauan itu. “Aku mendengar teriakan-teriakan dari ujung jalan dan datang untuk membantu,” kata Lily. “Apa yang ter jadi?” “Rose terus membuat kekacauan,” sahut Sage. “Ba rangkali karena benaknya hanya dipenuhi Devin Stetson.” desyrindah.blogspot.com


Rose memeluk pinggang ramping bibinya. “Entah apa yang terjadi kepadaku,” katanya. “Benakku memang me ngem bara akhir-akhir ini, tapi tidak separah itu, kok. Aku sudah mengecek dan mengecek ulang resep-resep itu, tapi tetap ada saja yang tidak beres.” Sambil memundurkan tu buh, dia mendongak menatap sang bibi dengan bibir ber getar. “Apa aku kena kutukan? Mungkinkah Asosiasi Internasional Penggilas Adonan melakukan aksi balas dendam karena aku berkali-kali menghentikan rencana mereka?” Lily merapikan rambut hitam pendek kepo na kannya sementara dia mengamati seluruh ruangan sebe lum mena tap Rose lagi. Kemudian, seraya memekik pelan, dia meraih lengan kanan gadis itu. “Sudah berapa lama tanda ini ada di pergelanganmu?” Di pergelangan tangan Rose, terdapat empat bintik me rah—sebuah bintik merah besar dan, berjajar melengkung di atasnya, terdapat tiga bintik yang lebih kecil. “Tanda apa, sih?” tanya Sage, mendesak ke sebelah mereka agar bisa melihat. “Apa itu Cacar Bercak Jerapah? Apa leher Rose bakal menjadi superpanjang?” Dia meng garuk-garuk dagu. “Mungkin itu bisa membantu menga tasi masalah kantong plastik di pohon.” Rose mengabaikannya. “Mungkin ... sudah beberapa hari ini? Kurasa tanganku terbakar karena tak sengaja menyentuh rak oven, tapi tak ada yang serius.” “Ini bukan luka bakar,” sahut Lily, menggeleng-geleng lalu melepas tangan Rose. “Ini tidak bagus—tidak sama sekali. Itu Tanda Tapak dan kecuali kau mengatasinya, kau tak akan pernah berhasil memanggang apa pun lagi.”[] desyrindah.blogspot.com


Bab a Tak Bisa Ditarik Kembali “Oh tidak,” erang Rose, memerosot ke bilik makan tempat keluarga itu menyantap hidangan. “Me reka memang mengutukku, ‘kan?” Tahun lalu, Asosiasi Internasional Penggiling Adonan telah mencoba mencuri rahasia resep ajaib keluarga Bliss, berniat menyalahgunakannya untuk segala jenis perbuatan keji. Mereka berencana mengendalikan pikiran semua orang melalui kue-kue basi yang diproduksi massal, dan mencoba membuat semua pemimpin dunia mengalami koma sehing ga anggota Penggiling Adonan dapat mengambil alih tem pat mereka. Baru beberapa bulan yang lalu mereka mengi rim tujuh bencana gula-gula untuk menebar keka cauan di Calamity Falls. Air keran saja masih samar-samar terasa se perti soda stroberi. “Kau telah membuktikan bahwa menghentikan Peng giling Adonan sama sekali bukan masalah besar.” Lily mem bungkuk untuk memeriksa oven yang hancur. “Tapi, tanda ini berasal dari sang Anjing, dan membuat sang Anjing terkesan adalah masalah yang sama sekali berbeda.” “Seberapa susahnya, sih, membuat terkesan seekor an jing?” Sage mengempaskan tubuh ke seberang sang kakak. Dia mengambil penjepit besi dari kantong di kakinya dan men ceklak-cekliknya sambil berbicara. Ceklak ceklik. “An jing itu penonton terbaik.” Ceklak ceklik. “Mereka suka semua la wakanku.” Ceklak ceklik ceklak ceklik. desyrindah.blogspot.com


Lily tersenyum manis sambil merebut penjepit dari ta ngan Sage. “Dia bukan sembarang anjing, Sage. Dia Master Agung, dan Rose harus membuktikan dirinya layak sebelum dia benar-benar bisa diberi gelar Master Pembuat Kue.” “Tapi, resepku sudah ada di dalam Cookery Booke.” Rose melompat berdiri dari kursinya dan berjalan menuju konter dapur. “Statusku resmi!” Dia membuka buku tebal penuh resep ajaib keluarga Bliss, langsung ke halaman belakang tempat resep buatan Rose sendiri muncul pada musim panas itu: Kue Jahe Co kelat Persaudaraan. Namun, alih-alih kaligrafi meliuk-liuk yang menceritakan kisah Lady Rosemary Bliss dan resep nya yang menyelamatkan nyawa, dia mendapati teks itu memudar, nyaris hilang. Pada halaman itu, terdapat cap bertinta merah terang yang bertuliskan “MENUNGGU PERSE TUJUAN SANG ANJING.” Di bawahnya, juga berwarna merah, ada cetakan tapak kaki seperti yang ada di balik per ge langan tangan Rose. “Tapi, ini tidak adil!” seru Rose. “Semua orang bilang aku Master Pembuat Kue selama berbulan-bulan! Siapa an jing ini? Kenapa dia harus memberi persetujuan segala?” Lily menutup buku. “Bukan seekor anjing, Rose. Sang Anjing.” Raut penuh badai berkelebat di wajah cantik Lily, dan dia menambahkan, “Kita membutuhkan ibumu.” “Mom ada di toko ujung jalan,” kata Sage. “Dia bisa kembali kapan saja—” Pada saat itu, bel berbunyi tiba-tiba ketika pintu toko roti dibuka. “Di mana mereka?” desak suara seorang perempuan. “Penggiling Adonan tidak boleh menyentuh bayi-bayiku lagi! Tidak kali ini!” Rose, Lily, dan Sage langsung menghambur ke ruang depan. Purdy berdiri di pintu masuk yang terbuka, pohon-po hon yang menjajari jalan di belakangnya melecut-lecut oleh embusan angin desyrindah.blogspot.com


kencang—seolah dia pulang dengan begitu cepat sampai-sampai menimbulkan badai di belakangnya. Dia menghunuskan sendok kayu tebal bagaikan pedang. “Penggiling Adonan tidak ada di sini,” kata Lily. “Anak-anak aman!” Perlahan-lahan, Purdy menurunkan sendok kayunya. “Mrs. Carlson menelepon dan dia bilang dia mendengar ledakan. Kalau bahkan wanita itu saja bisa mendengarnya, kuduga keadaannya pasti buruk.” “Mom, boleh aku masuk sekarang?” tanya suara me lengking di belakang Purdy. “Kantong ini berat! Bisa-bisa aku jatuh!” Purdy melangkah ke samping, dan adik perempuan Rose yang berumur empat tahun, Leigh, terhuyung-huyung membawa kantong rajutan berisi bahan makanan. Dia ha nya berhasil bergerak beberapa langkah sebelum menja tuh kan kantong itu ke lantai ubin, lalu mengempaskan diri di sampingnya. Purdy menutup pintu dan mengedus-endus udara. “Apakah itu asap?” Dengan murung, Rose duduk di salah satu kursi meja kafe. “Aku kehilangan sentuhan master pembuat kueku, Mom!” “Omong kosong,” kata Purdy sambil melepas jaket. “Aku mengacaukan resep sepanjang hari. Bibi Lily bilang itu garagara seekor anjing,” kata Rose, “tapi aku bahkan tidak kenal anjing mana pun—” Purdy menghentikan Rose dengan menepuk pundak nya. “Anjing?” Dia berbalik menghadap Lily. “Kau yakin?” “Lihat saja sendiri.” Lily meraih tangan kanan Rose dan membaliknya sehingga Purdy bisa melihat Tanda Tapak di pergelangan tangan gadis itu. “Tidak salah lagi,” sahut Lily. “Selain itu, sang Anjing membatalkan resep nya.” desyrindah.blogspot.com


“Oke!” Rose berkata. “Aku mengerti! Ada seekor anjing, dan ... aku perlu membuatnya terkesan atau semacamnya.” Purdy menghela napas, kemudian berdiri dan pergi ke pintu depan. Dia menguncinya dan memasang tanda “Tu tup”. “Rosie, aku khawatir aku melupakan langkah ter akhir untuk menjadi Master Pembuat Kue sejati. Ujianku sendiri sudah sangat lama sehingga rasanya seperti mimpi sekarang. Setelah resepmu ditambahkan ke Booke, aku hanya— kami semua hanya berasumsi bahwa statusmu sudah pasti.” “Jadi, apakah sang Anjing ini orang, seperti Bliss yang sudah lama hilang dengan nama panggilan lucu?” Sage bertanya, berjongkok di sebelah Leigh untuk membongkar kantong belanjaan. “Bukan orang,” terang Purdy. “Bahkan bukan binatang, meskipun dia suka menampilkan diri sebagai anjing dan su dah memilih bentuk itu selama yang kutahu.” Dia duduk di seberang Rose. “Kurasa, kau bisa menyebut sang Anjing sebagai spirit, yang bertanggung jawab untuk menilai siapa pun yang mengambil gelar Master Pembuat Kue.” “Ada yang menyebutnya Kanina Pelantikan,” kata Lily. “Penyalak Kepakaran, Penggonggong yang—” “Cukup, Lily,” sergah Purdy, menangkup tangan Rose. “Sang Anjing itu … proktor, Rose. Dia mengawasi ujian dan mengukur kepantasanmu sebelum membiarkanmu ber ga bung dengan para penulis Cookery Booke.” Rose merasakan beban berat di dadanya. “Belum cu kupkah aku membuktikan diri?” Yang dia inginkan hanyalah membuat orang-orang bahagia dengan kue-kue buatannya, dan sekarang semacam spirit anjing ingin merenggut semua itu? “Tentu saja cukup,” jawab ibunya. “Tapi, ini bukan ma salah pribadi. Ini rintangan terakhir yang harus dihadapi setiap Master Pembuat Kue sebelum diizinkan untuk me nambahkan resep ke Booke.” desyrindah.blogspot.com


Rose merasa itu agak masuk akal—seorang penjaga resep ajaib di Cookery Booke pasti tidak ingin sembarang resep baru ditambahkan begitu saja ke halaman-halaman nya. Jika seseorang mencoba menyisipkan lengan ketiga pada Rose, dia juga ingin mencobanya, sebelum tambahan itu menjadi permanen. Namun, meskipun idenya agak masuk akal, bukan berarti Rose harus senang karenanya. “Apakah kau juga harus mengikuti tes ini, Bibi?” Rose bertanya kepada bibinya. Lily mengernyit. “Sayangnya tidak. Resepku tidak pernah masuk ke Cookery Booke karena aku tidak pernah menjadi Master Pembuat Kue. Semua kreasiku berakhir di Apocrypha, sebagai gantinya.” Dia memandangi hari kelabu di luar dengan nanar. “Mungkin suatu hari nanti.” Tepat saat itu, bel berdenting lagi begitu pintu depan dibuka. “Kukira aku sudah mengunci pintu itu,” kata ibu Rose sembari berbalik. Di pintu masuk, berdiri sesosok makhluk besar berbulu, hampir setinggi Rose. Seekor anjing gembala dengan ukur an mengesankan, bulunya yang putih dan abu-abu tampak panjang dan tebal, seperti rambut boneka yang kebanyakan disisir. Bulunya megar dari wajahnya yang berambut halus, membuatnya kelihatan seperti anjing dengan alis besar lebat dan kumis raksasa yang menegak. Tornado daun berputarputar di sekitar tapaknya dan tertiup masuk ke toko. “Ng,” kata Rose, bertanya-tanya bagaimana dia seha rusnya menyambut anjing gembala ajaib itu. “Halo ...?” Anjing itu berderap masuk, daun bergemeresik di bawah cakarnya, dan, meskipun tidak ada yang menyen tuhnya, pintu berayun menutup. Sage dan Leigh melompat dari tempat mereka ber jong kok dan menyeret kantong belanjaan menjauh ketika sang Anjing berjalan melewati Purdy serta Lily dan berhenti di hadapan Rose. desyrindah.blogspot.com


Sang Anjing menyorongkan moncongnya dekat-dekat, lalu mengendus Rose dengan tarikan napas panjang dan basah. Gadis itu melengkungkan punggung ke belakang, me ringis ketika sang Anjing menghidu kemeja serta wajahnya. Diiringi dengusan terakhir, sang Anjing duduk pada kaki belakangnya yang besar dan berbalik menghadap ibu Rose. “Purdita Bliss,” geramnya lambat-lambat. “Aku belum meli hatmu sejak ... sudah berapa lama, dua puluh tahun?” Rose terkejut mendengar suara sang Anjing—seperti pria Selatan yang terpelajar. Bukannya seekor anjing yang bisa berbicara benarbenar mengejutkan—kucing mereka, Gus, dan teman tikusnya, Jacques, bisa berbicara. Dan, mereka suka bicara. Banyak. Namun, tak satu pun dari me reka terdengar seberadab sang Anjing, yang berbicara dengan gaya se olah dia keluar dari film Hollywood lawas. “Oh, benar, sekarang aku ingat! Banjir Galena tahun ‘95.” Dia memutar tubuhnya yang besar menghadap Rose dan Lily. “Purdita muncul dengan membawa resep yang benar-benar hebat untuk ....” Dia menelengkan kepala. “Un tuk ...?” “Kau tahu persis apa itu,” tukas ibu Rose. Dia bergegas ke belakang konter dan mengambil sapu. Dengan ayunan marah, Purdy mulai menyapu dedaunan yang dibawa masuk oleh sang Anjing. “Dan namaku Purdy.” “Aku yakin ingatanku mulai kembali sekarang,” kata sang Anjing, suaranya semakin berat seperti penyiar televisi. “‘Flan Flotasi: Untuk Daya Apung bagi Mereka yang Berada dalam Kesulitan Menyangkut Air.’” Anjing itu mengangguk kepada Rose, Sage, dan Leigh. “Ibu kalian menyelamatkan semua orang di kota.” Purdy membanting sapu ke lantai ubin. “Dan kau mem beriku A minus!” desyrindah.blogspot.com


Anjing itu menggaruk bagian belakang telinganya yang terkelepai. “Dulu aku sedang murah hati. Sebenarnya nilai mu B plus—aku lebih suka flan-ku agak manis, tahu—tapi aku menaikkan nilaimu sedikit karena gairahmu terhadap bentuk seni.” “Ha! Sudah kuduga!” Sage berseru. “Mom selalu bilang bahwa aku harus mendapatkan nilai A, tapi ternyata dia sendiri siswi B selama ini.” “Cukup bercakap-cakap soal masa lalunya,” kata sang Anjing, memusatkan perhatian pada Rose. “Kau pasti gadis yang katanya Master Pembuat Kue Lady Rosemary Bliss.” Dia mendengus. “Gelar yang berat untuk seorang anak kecil.” “Aku bukan anak kecil,” kata Rose dari sela-sela geligi yang dikatupkan. “Aku sudah tiga belas tahun.” “Benar. Halo?” Lily berbicara, mengangkat tangan dan melambaikan ujung jemarinya yang dikuteks. “Lily Le Fay. Senang bertemu, tapi aku harus membela keponakanku. Dia bukan sembarang anak perempuan.” Mata sang Anjing beralih kepada Lily. “Oh. Ya, aku tahu kau.” Dia beringsut ke satu sisi sehingga Lily terhalang dari pandangan. Rose mendengar bibinya berdecak-decak, ter sing gung. “Kau meninggalkan jejak tapakmu padaku,” kata Rose, menunjukkan tanda di pergelangan tangannya kepada sang Anjing. “Dan kau terus mengacaukan resepku. Jadi, apa yang harus kulakukan untuk menghentikan semua itu?” Sang Anjing tertawa. “Aku sangat menghargai semangat yang menggebu-gebu. Ikuti aku dan kita akan memulai uji anmu.” Dia berdebap menuju pintu, berseru ke belakang, “Aku yakin kau sudah menyiapkan dan menge mas hadiah-hadiahmu, meskipun aku berharap kau membawa jaket da lam cuaca seperti ini. Tidak masalah, kita tak boleh menun da-nunda.” desyrindah.blogspot.com


“Tunggu!” seru Rose. “Aku tidak akan ke mana-mana. Aku baru saja mendengar soal keberadaanmu.” Sambil menggeram, sang Anjing berbalik untuk mena tap Purdy. “Apakah kau tidak mempersiapkannya? Sudah berbulan-bulan sejak kau memasukkan resep itu ke Booke-ku—lebih dari cukup waktu untuk mempersiapkan Lady Rosemary untuk ujiannya.” “Maaf,” kata Purdy, mengerucutkan bibir. “Sekarang adalah tahun yang amat sangat sibuk dan, jujur saja, aku lupa tentang dirimu dan banjir mengerikan itu.” Sang Anjing menggeleng-gelengkan kepala besar ber bulunya. “Sayang sekali. Nilaimu sekarang turun menjadi B saja. Pelajaran yang dipetik tidak banyak artinya kalau kau melupakannya.” Anjing itu menghela napas. “Nah, se tidaknya kau bawa hadiah-hadiahnya?” tanyanya kepada Rose. “Ng,” sahut Rose, “aku diberi tahu bahwa aku diha diahi bakat memanggang kue, tapi kuduga bukan itu mak sudmu.” “Kau bahkan tidak memberinya hadiah-hadiah itu?” Sang Anjing melolong. “Untung saja aku tidak memberimu C minus, Purdita Bliss!” “Wow, Mom,” timpal Sage. “Aku sekalipun mendapat nilai yang lebih baik dari itu.” Purdy hampir tidak bisa menahan rasa jengkelnya—Rose tahu ibunya menggigit bagian dalam pipi agar tidak berteriak. Ibu Rose mengesampingkan sapunya, lalu berkata dengan datar, “Mungkin kau bisa memberi kami sedikit wak tu untuk setidaknya melakukan upacara pemberian hadiah? Supaya ujiannya adil.” Sang Anjing berderap ke jendela. Di luar, angin sudah reda dan awan sudah merekah. Cahaya sore keemasan mengalir ke Main Street yang ramai, dan alis si anjing yang lebat mencelat ketika dia melihat hidran pemadam kebakaran merah menyala di sudut. desyrindah.blogspot.com


“Sudah lama aku tidak keluar dan berkeliaran,” kata sang Anjing muram, “dan aku merasakan dorongan un tuk meninggalkan jejakku di kota yang indah ini.” Sage membungkuk dan berbisik kepada Leigh, “Itu berarti dia bakal mengencingi benda-benda.” Leigh ter kikik dan membekap mulut dengan tangan. “Yah, baiklah kalau begitu,” sang Anjing melanjutkan. “Aku akan melewatkan waktu untuk menguji sosokku yang lebih baru, besar, dan halus ini. Sebelumnya, aku dari jenis yang jauh lebih kecil.” “Yorkshire Terrier kecil cerewet,” Purdy berbisik kepada Rose. Sambil memutar telinga, sang Anjing menoleh ke bela kang. “Ah, kau memang ingat waktu yang kita lewatkan bersama. Kembali ke B plus!” Dia mengangguk ke arah Rose. “Aku akan memberimu waktu sampai senja untuk me nerima hadiahmu. Tapi, tidak lebih! Begitu petang tiba, kita benar-benar harus pergi.” “Senja?” tanya Rose, suaranya bergetar. “Senja malam ini?” Perutnya terasa seolah terjun bebas ke kaki. Lily meraih tangan Rose. “Rose, aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi —” “Tidak!” Rose berseru, menarik diri. “Maaf, aku berte riak, tapi tidak, Anjing, aku tidak bisa pergi malam ini. Nanti malam ada pesta dansa, dan aku sudah menanti-nantikan nya selama berminggu-minggu. Aku akan mengikuti ujian mu, aku janji, tapi besok.” Dia bersedekap. Sang Anjing menggeletak ke lantai, membentangkan tubuh bagaikan karpet putih-kelabu. “Aku bosan dengan ini. Purdita, jelaskan kepada putrimu. Aku harus menghemat energi untuk menggali-gali hamparan bunga.” Ibunya menarik Rose ke dalam pelukan. “Maafkan aku, Rosie,” bisik Purdy. “Tapi, kalau kau tidak pergi dengan sang Anjing malam ini, desyrindah.blogspot.com


maka resepmu tidak akan diterima di Cookery Booke, dan kau tidak akan pernah menjadi Master Pembuat Kue sejati.” Rose ingin menjerit. Itu tidak adil. Dia menghadapi begitu banyak penjahat licik dan menyelamatkan begitu banyak orang tak bersalah, dan dia hanya ingin istirahat. Untuk sekali ini saja, dia ingin menjadi Rose Bliss, gadis normal, dan bukannya Lady Rosemary Bliss, Master Pem buat Kue remaja yang menanggung beban dunia di pun dak nya. Semua orang di ruangan menatapnya, menanti dengan penuh harap. Sage mungkin tidak akan peduli sedikit pun jika Rose mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia panggangmemanggang saat itu juga, sementara ibunya akan men dukung apa pun pilihannya. Namun, di sana ada Lily, yang sangat ingin memiliki apa yang dianugerahkan kepada Rose, jalan menuju gelar Master Pembuat Kue. Lily begitu menginginkannya sampai-sampai dia rela melakukan beberapa tindakan yang sangat gelap. Sungguh menyakitkan baginya melihat Rose menyia-nyiakan bakat memanggang yang gadis itu miliki. Lalu, ada juga Leigh dengan matanya yang besar. Gadis itu masih sangat kecil sampai-sampai dia boleh dibilang hanya adonan kue yang menunggu untuk dipanggang men jadi dirinya yang seharusnya. Rose tidak tahan dengan gagasan bahwa adiknya berpikir bahwa anak-anak perem puan berhenti ketika kondisi menjadi sulit. Bahu Rose terkulai. “Baiklah,” katanya pelan. “Aku akan pergi bersamamu senja ini. Aku ingin mendapat gelar resmi.” “Jangan khawatir, Rose,” kata Lily, menghampiri untuk berdiri di samping Purdy, “Devin akan mengerti. Lelaki-lelaki terbaik selalu begitu.” Purdy memeluknya erat-erat. “Kau akan melaluinya dengan hebat, Rose. Kau kan anak kecilku yang ajaib.” desyrindah.blogspot.com


“Hei!” seru Sage. “Bagaimana dengan aku?” Purdy mengacak-acak rambut merah berantakan putra nya yang bengal. “Kau juga anak ajaib, hanya dalam cara yang sangat berbeda.” Sang Anjing mengerang dan bangkit berdiri. “Yah, yah, semua ini sungguh mengharukan. Semoga keluarga dan teman-temanmu menghadiahimu hal-hal yang berman faat. Kau akan membutuhkan semua bantuan yang bisa kau dapatkan.” Pintu depan terbuka sendiri, dan hawa dingin berembus masuk ke ruangan. Sang Anjing berjalan menuju pintu keluar. Rose merasakan ada yang menarik-narik bajunya, dan melihat ke bawah untuk menemukan Leigh berdiri di sampingnya, menggendong kaleng logam besar yang dia keluarkan dari kantong belanjaan rajutan. “Aku punya hadiah untukmu, Rosie!” “‘Susu Kental Manis,’” kata Rose sambil membaca label kuningmerah kaleng itu. “Terima kasih, tapi mungkinkah kau bisa pikirkan hal lain yang lebih berguna?” “Tak boleh, Rosemary Bliss,” kata sang Anjing dari ambang pintu. “Hadiah yang diberikan tak bisa ditarik kembali. Apa pun yang diberikan harus diterima. Kau ha nya tinggal berharap bahwa sekaleng susu kental manis ini entah bagaimana akan terbukti berguna.” Rose menaruh kaleng itu di atas meja kafe, lalu ber jongkok dan memeluk adiknya. “Baiklah. Kalau begitu, ini hadiah yang sempurna. Terima kasih, Leigh.” “Sama-sama!” kata Leigh, melingkarkan lengan di leher Rose. Sang Anjing melangkah keluar. “Aku akan kembali saat matahari terbenam, Rosemary! Sebaiknya kau sudah siap!” Pintu mengayun tertutup di belakangnya, bel berdenting. Rose memperhatikan sang Anjing melenggang di ja lanan sementara, di belakangnya, ibu dan bibinya membuat pengaturan untuk apa yang desyrindah.blogspot.com


mereka sebut “Hadiah dari Orang-Orang Terkasih”. “Banyak yang harus dilakukan dalam waktu yang hanya sedikit!” seru Purdy. Dia mulai mengaduk-aduk laci dan lemari, mengeluarkan persediaan. “Lily, telepon Albert dan Kakek Balthazar.” “Sedang kukerjakan,” sahut Lily, sudah membuka-buka ponselnya. “Sage, cari saudara lelakimu.” Sage memberi hormat, lalu memelesat menaiki tangga ke tempat tinggal keluarga Bliss di atas toko roti. Di sekitarnya, toko roti berdengung penuh energi dan semangat, tetapi tak satu pun dari hal itu menyentuh Rose. Yang gadis itu rasakan sekarang hanyalah kekecewaan yang menghancurkan.[] desyrindah.blogspot.com


Bab 2 Hadiah dari Orang-Orang Terkasih Rose menunggu di kamarnya sementara seluruh keluarga menyiapkan toko roti untuk upacara pemberian hadi ah nya. Dia duduk di pinggir tempat tidur, menendang-nen dang kan kaki sembari memandangi papan lantai. Gerutuan berat Balthazar terdengar melayang dari ba wah karpet ungu berbulunya—sebagai anggota keluarga Bliss yang tertua di tempat itu, sang kakek langsung meng ambil alih tanggung jawab segera setelah dia sampai di rumah. Rose juga bisa mendengar bunyi keletak-keletuk sepatu hak ting gi Lily dan ding ponsel Ty ketika para cewek mengi riminya pesan singkat. Rose tahu seharusnya dia berterima kasih atas bantuan semua orang, tetapi sulit untuk merasa senang ketika hadiah yang mereka berikan kepadanya adalah hal-hal yang tidak pernah ingin dia terima sebagai bantuan untuk melewati uji an yang tidak pernah ingin diambilnya. Apakah aku benar-benar ingin menjadi Master Pembuat Kue? dia bertanya-tanya. Mungkin hidup akan jauh lebih sederhana kalau— “Kami siap untukmu, Rose!” ibunya berseru dari bawah. “Turunlah.” Rose mengambil ranselnya, tas berwarna permen apel merah yang dibeli untuk tahun ajaran baru. Mau tak mau, dia menyadari gaun yang tersampir di sandaran kursi belajarnya, gaun putih dan kuning bermotif bunga seder hana. Dia bukan gadis yang suka mengenakan gaun sepanjang waktu—cela na lebih praktis ketika dia bepergian mencari bahanbahan sihir—tetapi pesta dansa pertama tampaknya merupakan mo- desyrindah.blogspot.com


men yang sempurna untuk me ngenakan gaun. Bibi Lily mengajaknya untuk memilih yang ini khusus untuk kencannya dengan Devin. Setelah me nge nakannya dan berputar-putar di depan cermin ruang ganti, Rose merasa cerah dan percaya diri. Namun, tidak ada yang bisa melihat putaran gaun itu malam ini. Seraya memaksakan diri agar berpaling, Rose menyam pirkan ransel di bahu, menarik napas dalam-dalam, lalu ber jalan menuju lantai bawah. Toko roti itu gelap; kerai-kerai di jendela besar telah diturunkan, menghalangi seluruh dunia. Momen ini khu sus untuk keluarga Bliss. Rose menuruni beberapa anak tangga terakhir perla han dan, bersama setiap pijakannya, nyala api tercetus hidup dalam kegelapan. Satu demi satu lilin menyala di seluruh ruangan—lilin ulang tahun putih tipis yang di letakkan di atas cupcake yang disusun di meja serta rak-rak dan konter pajangan. Pada saat Rose tiba di anak tangga paling bawah, cahaya hangat berpendar memenuhi toko roti. Keluarganya berdiri di belakang meja kafe yang sudah diseret ke tengah ruangan. Balthazar, keriputnya tam pak semakin dalam oleh bayang-bayang, berdiri di sam ping kucing abu-abu mereka, seekor scottish fold bernama Gus. Dan, di samping Gus ada si tikus Prancis kecil, Jacques. Yang tengah merangkul Purdy adalah ayah Rose, Albert, seorang lelaki jangkung, ramping, dengan rambut merah menyala seperti putra-putranya dan kumis yang begitu lebat sampai-sampai tampak telah memakan habis bibir atasnya. Lily berdiri di samping mereka, me ngenakan gaun koktail hitam mengilap. Sekonyong-konyong, ada pijaran cahaya terang dan Purdy menjangkau ke belakang untuk menepak lengan Ty. “Oke, oke,” bisik Ty, menyelipkan ponsel ke saku. Namun, pada saat itu, Rose sempat melihat Sage dan Leigh di samping saudara laki-laki mereka yang jangkung. Ketiganya bergerak-gerak gelisah. desyrindah.blogspot.com


Sejenak, Rose melupakan semua tentang pesta dansa itu. Tidak peduli tantangan apa yang dia hadapi selama setahun terakhir, keluarganya selalu ada untuk mendukung nya. Rose menelan gumpalan yang menyekat tenggorokannya. “Gadis kecil kita sudah besar,” bisik Albert. Ibu Rose membersitkan hidung dan menyeka setitik air mata bang ga dari matanya. “Itu benar,” sahut Balthazar. Seraya membim bing Rose ke meja kafe, dia berkata, “Aku ingat saat aku mendapat Tanda Tapak. Sang Anjing mendatangiku seba gai pudel mini sebesar cangkir teh. Gangguan kecil yang memaksaku membawanya ke mana-mana dalam saku depan celanaku.” “Dia sedikit berubah sejak saat itu,” sahut Rose. “Begitulah yang kudengar.” Balthazar membantu Rose melepas ransel dan menaruhnya di lantai, kemudian mena rik kursi agar cucunya bisa duduk. “Nah, upacaranya seder hana. Kami semua, satu demi satu, menyerahkan kepadamu pilihan kami untuk Hadiah dari Orang-Orang Terkasih. Be gitu diberikan, hadiahnya harus diterima, dan harus diguna kan selama ujianmu. Sampai sejauh itu paham?” “Kurasa,” Rose menyahut. “Apa kita bisa mulai?” tanya Ty. “Ada pesta dansa ma lam ini, dan aku harus memikirkan cara mengajak Tracy, Emily, dan Brittany tanpa seorang pun menyadari bahwa dia bukan satu-satunya cewekku.” “Jangan bahas soal pesta dansa!” seru Leigh, menen dang tulang kering kakaknya. “Aduh!” “Leigh, jangan menendang,” tegur Purdy. “Ty, berhen tilah mempermainkan gadis-gadis. Sage, jangan mence ritakan lawakan tentang Ty yang baru saja terpikir olehmu.” desyrindah.blogspot.com


“Awww,” sahut Sage, menjejalkan kedua tangan ke saku. “Bagaimana kau bisa tahu, sih, Mom?” “Sudah semakin larut,” kata Lily. “Sebaiknya kita mu lai.” “Ide bagus,” kata Balthazar. “Jangan lupa bahwa benda yang akan kalian berikan harus datang dari hati, kalau tidak itu tidak akan berguna,” kata Purdy. “Kalau ingin mencari sesuatu yang lain, seka ranglah kesempatan terakhir kalian.” Semua orang berpandang-pandangan, tetapi tak ada yang bergerak. “Kelihatannya beres, kalau begitu,” kata Balthazar. “Gus, kau tahu apa yang harus dilakukan.” Kucing kelabu gemuk itu bangkit dengan malas-malas an lalu meregangkan tubuh. “Ah, ya, aku mengemban tugas paling penting,” katanya. “Pembawa tikus.” “Bien sur,” sahut Jacques, berlari menaiki bagian samping tubuh Gus, lalu duduk di ceruk leher berbulu si kucing. “Bawa aku ke meja.” Si kucing melompat ke atas meja di depan Rose. Gus mencondongkan tubuh ke depan ketika Jacques berdiri dengan kaki belakang. Tikus itu mengangkat seruling perak kecil ke moncongnya, lalu mulai memainkan nada dra ma tis yang mendayu-dayu. Balthazar berdeham. “Penyerahan Hadiah dari Orang-Orang Terkasih segera dimulai.” Rose melihat sang kakek melirik kata-kata yang tertulis di telapak tangannya yang kisut. “Lady Rosemary Bliss dipersilakan mengambil tempat di kursi kehormatan, dan sang ayah, Albert Bliss, menye rah kan hadiah dari hati kepadanya.” Albert maju selangkah, menarik selembar kain besar kaku dari balik punggung. Dalam cahaya lilin yang ber kedip, Rose tak bisa melihat dengan jelas apa itu—kain tersebut bernoda pola berputar-putar yang gelap, dan sesaat Rose bertanya-tanya apakah sang ayah telah memberinya jaket kamuflase yang tadi sempat dikenakan Sage. desyrindah.blogspot.com


Butuh satu kali endusan pada kain itu bagi Rose un tuk menyadari apa itu. “Celemek?” “Bukan sembarang celemek tua biasa, Nak,” kata sang ayah, meraba ikat pinggang celemek yang sudah ber jum bai. “Aku sudah menggunakan celemek ini sejak me mang gang adonan biskuit pertamaku ketika masih se usia mu. Celemek ini selalu tergantung di dapur, tapi kau mungkin tidak menyadarinya. Semua noda ini membuatnya mem baur dengan sekitar.” Ayahnya tampak senang ketika me langkah kembali ke sisi Purdy. “Trims, Dad.” Rose menggosok kain itu di antara je marinya. Bahannya kasar, dan bercak-bercaknya nyaris pudar. Kemudian, ditaruhnya celemek tadi di ranselnya, di atas kaleng susu kental manis dari Leigh. Rose merasa celemek itu akan berguna. “Selanjutnya,” kata Balthazar, “bibi sang Lady, Lily Le Fay, dipersilakan menyerahkan kepada Rosemary ha diah dari hatinya.” Lily melangkah ke depan, payet di gaunnya berkelap-kelip. Dia mendekap sebuah buku erat-erat. Bibir merah menyalanya menyunggingkan senyum lebar ketika dia menjulurkan tangan melewati Jacques dan Gus, lalu me letakkan buku tebal itu di meja. “Buku masakmu,” kata Rose, mengenali judulnya: 30 Menit Sihir Lily. Buku masak itu dipenuhi versi kurang ter kenal dari resep asli di Bliss Cookery Booke, tetapi satu-satunya bahan ajaib di dalamnya adalah bubuk biru-kelabu yang secara ajaib memaksa siapa saja yang memakan nya untuk menjadi pemuja Lily Le Fay. “Trims,” kata Rose, bertanya-tanya apakah sang Anjing bahkan akan mengizinkannya untuk melihat isinya. “Aku tahu kelihatannya ini tidak banyak artinya,” kata Lily. “Resepresepnya tidak benar-benar … yah, bukan yang terbaik. Tapi, ini buku edisi khusus terbatas. Lihat.” desyrindah.blogspot.com


Bibi Rose memiringkan buku itu dari sisi ke sisi. Plastik prismatik keperakannya memantulkan cahaya lilin, dan ke tika buku itu bergerak, begitu pula gambar Lily di sampul nya. Lily di sampul melambaikan tangan ke sana kemari dan mengedipkan sebelah mata dalam putaran holografis konstan. Jacques berhenti bermain di pertengahan nada, kumis nya bergetar. “Itu … apa, ya, iztilahnya? Luar biaza!” “Dengan cara ini, aku akan selalu berada di sisimu selama ujianmu,” kata Lily. “Terima kasih,” kata Rose, menambahkan buku itu ke ranselnya. “Ini sangat berarti, Bibi Lily.” Jacques melanjutkan permainan, dan Balthazar mem baca tulisan di tangannya sekali lagi. “Selanjutnya, Rose mary Bliss menerima hadiah dari saudara lelakinya yang paling kecil—oh, cukup sudah semua omong kosong ini. Sage, giliranmu.” “Tunggu sebentar!” seru Sage, berlari ke arah dapur yang gelap. “Jangan ada yang ke mana-mana dulu!” Be berapa saat kemudian, dia kembali melalui pintu ayun sambil menyeret tas kanvas besar di belakangnya. Dengan susah payah, dia mengangkatnya ke atas meja. Gus mengeong dan melompat menjauh, Jacques masih di punggungnya. Entah bagaimana, Jacques tidak melewatkan satu nada pun. “Oke, Rose, aku tidak bisa memilih satu barang saja, karena aku punya banyak benda keren.” Sage meren tang kan kedua tangan lebarlebar, mempersembahkan tas kanvasnya. “Jadi Hadiah dari OrangOrang Terkasih dari ku adalah benda-benda yang berada paling dekat dengan hatiku—satu tas penuh properti lawakanku!” “Tidak, Sage,” sela Purdy sambil memijat-mijat batang hidungnya. “Hadiah dari Orang-Orang Terkasih itu hanya boleh satu benda. Banyak benda di dalam satu tas tidak termasuk sebagai satu hadiah.” desyrindah.blogspot.com


“Kenapa tidak?” Sage cemberut. “Begitulah aturannya,” kata Albert. “Sori, Sob.” “Aturan itu bodoh,” gerutu Sage. “Baiklah, baiklah, beri aku waktu sebentar.” Sage menjatuhkan tas kanvasnya ke lantai. Seraya se tengah merayap ke dalamnya, dia mulai melontarkan ba rang-barang keluar ke belakangnya. “Pin boling yang diberi pemberat? Tidak. Sepatu badut kedodoran? Dasi kupu-kupu yang bisa menyemprotkan air? Bantal kentut?” Dia muncul sebentar dari dalam tas, menggaruk-garuk dagu dan mempertimbangkan bantal kentut sewarna pink permen karet itu. “Tidak, aku mungkin bakal membutuhkannya.” Dia meremasnya dan bantal karet itu memperdengarkan bunyi brooot berat. Setelah beberapa saat meraba-raba ke dalam tas, Sage mengeluarkan ayamayaman ceking dari karet warna kuning. Sage menaruh ayam-ayaman karet itu di depan Rose. “Aku tak percaya aku melakukan ini,” katanya, “tapi ... pemberiannya harus dari hati, dan inilah milikku yang paling berharga.” Rose mengangkat alis. “Ayam-ayaman karet? Itukah yang ada di dalam hatimu?” “Dia punya nama.” Sage mendengkus tersinggung. “Namanya Bertha, dan dia properti pertamaku.” Dengan bersungguh-sungguh, dia melanjutkan, “Kumohon, jaga dia baik-baik, Rose.” “Kau bisa mengandalkanku,” Rose memberitahunya sambil meraih leher ayam-ayaman karet itu. “Terima kasih, Sage.” Sage mengacungkan dua jempol ke arah kakaknya. “Habisi mereka!” Saat menyeret tas propertinya menjauh dari meja, dia berbisik cukup keras kepada Leigh, “Begi tulah cara orang-orang di dunia pertunjukan meng ucapkan ‘semoga berhasil’. Bukan berarti dia benar-benar harus menghabisi orang lain.” desyrindah.blogspot.com


“Aku sangsi bakal ada hadiah lain yang bisa menga lahkan Bertha,” kata Balthazar, “tapi, Purdy, kau selan jutnya.” Ibu Rose maju dan dengan lembut menaruh jam pasir antik. Tingginya kira-kira lima belas sentimeter, rangka kayu ek gelapnya diukir dengan detail daun dekoratif. Pasir di dalam kaca berkilauan perak serta biru safir di bawah cahaya lilin. Jam pasir itu tampak berharga—ter lalu berharga untuk diberikan kepada Rose dan dijejalkan ke dalam ranselnya. “Oh, wow, Mom,” Rose tersentak. “Aku tak bisa me nerima ini.” “Ini milik nenek buyutku,” kata Purdy lembut. “Aku bermaksud memberikannya kepadamu ketika aku jauh lebih tua, tapi kau akan membutuhkan cara untuk meng atur waktu pembuatan kuemu, dan jam pasir ini selalu memperlihatkan waktu yang tepat bagiku. Tidak peduli berapa lama yang dibutuhkan untuk memanggang, begitu pasirnya habis, resepmu juga selesai.” Dengan hati-hati, Rose mengambil jam pasir itu, me nelusuri ukirannya. “Terima kasih, Mom. Ini sempurna.” Purdy memeluk Rose singkat, mencoba dan gagal menahan air matanya, kemudian mundur kembali ke samping Albert. Rose membungkus jam pasir itu dengan celemek dari sang ayah, supaya tetap terlindungi. Balthazar memberi isyarat kepada Ty. “Tunjukkan kepada kami apa yang kau punya.” Ty merogoh saku belakangnya dan mengeluarkan cermin tangan murah dari plastik sewarna hijau limau. Rose melihat ekspresi bingungnya sendiri terpantul pada retakan cermin itu. “Hermana, kau mengenalku sebagai pria yang berpe ngetahuan luas dalam hal percintaan,” Ty memulai. “Pria?” Sage tertawa tergelak-gelak. desyrindah.blogspot.com


“Sage, cukup,” tegur Purdy. “Terima kasih, Madre,” Ty berkata. “Seperti yang tadi kubilang, sekarang ini aku menjadi semacam pakar cinta, tapi aku tidak selalu seperti ini. Baru setelah aku menatap ke dalam cermin inilah aku tahu apa itu cinta. Seorang bocah kecil balas menatapku, dan aku jadi sadar seberapa banyak yang harus kutawarkan kepada dunia. Mungkin cermin ini juga bisa melakukan hal yang sama untukmu.” Dia mengangkat bahu. “Aku terpikir untuk memberimu pon sel ku kalaukalau kau perlu menjelajahi Internet atau apalah, tapi dengan begitu aku jadi tidak bisa menerima pesan dari semua cewekku.” “Aku akan … selalu menghargainya,” kata Rose sambil mengernyit. “Menurut daftar di tanganku ini, sekarang giliranku,” kata Balthazar. “Aku akan singkat saja menyam paikan nya.” Dia mengeluarkan botol kaca hijau dari saku, lalu menyerahkannya kepada Rose. “‘AllSpyce,’” Rose membaca label botol itu. “Seperti untuk pai labu?” “Ini bisa membuat pai lezat dalam sekejap kalau kau mau, tapi ‘All— Semua’ dalam rempah ini bermakna harfiah—ini bisa menjadi bahan apa pun yang mungkin kau butuhkan.” Lelaki tua itu mengedik ke arah si tikus yang bermain seruling. “Jacques? Kurasa musik syahdunya sudah tidak diperlukan lagi sekarang.” Jacques membiarkan musiknya lesap, kemudian me narik bulu Gus. Sambil menggerutu, si kucing kelabu gen dut melompat sekali lagi ke atas meja. Tikus itu menyerahkan sebutir kapsul hitam kecil de ngan kedua cakarnya. “Aku memberimu hadiah peng li hat an yang lebih jelaz,” cicitnya. “Itu ... apa, ya, iztilahnya? Dekat ke dadaku.” “Dekat ke hatimu,” Gus mengoreksi. “Kau bilang kentang, aku bilang ezcargot,” sahut Jacques. desyrindah.blogspot.com


“Bukan begitu kata pepatahnya,” timpal Gus. Rose memungut pil kecil itu dari cakar Jacques dan mengangkatnya dengan ibu jari serta telunjuk. “Apa ini obat?” “Non,” sahut Jacques. “Buka zaja, Mademoizelle Bliss. Hadiah dariku ada di dalamnya.” Baru saat itulah Rose menyadari bahwa benda ter sebut sama sekali bukan pil, melainkan sebuah kotak plastik kecil. Dengan hati-hati, dia membuka penutupnya, dan di dalamnya dia temukan kacamata perak yang se pertinya diperuntukkan bagi boneka. Rose tidak bisa membayangkan apa yang bisa dia lakukan dengan kacamata sekecil itu—kecuali mungkin memecahkannya secara tidak sengaja—tetapi dia me mak sakan senyuman dan berkata, “Terima kasih, Jacques. Dan kau juga, Kakek.” Balthazar menggosok leher Gus yang berbulu halus. “Tinggal kau, Gus. Apa yang akan kau berikan kepa da nya?” “Kurasa ini harus dilakukan.” Sambil mendesah, Gus melintasi meja ke arah Rose. “Kalau kau tidak keberatan, cabut salah satu kumis gelap dari bawah moncongku. Satu saja, ya.” “Memangnya itu tidak sakit?” tanya Rose, ragu-ragu meraih ke bagian bawah pipi si kucing. Dia menemukan delapan kumis kaku dan gelap di sana—empat kumis di kedua sisinya. “Ya,” kata Gus. “Lakukan dengan cepat, seperti men cabut perban.” Si kucing menegang, menguatkan diri saat Rose me la kukan apa yang dia minta. Gadis itu mencabut satu kumis gelap, dan Gus mengeong seakan seseorang telah meng injak ekornya. Seluruh bulu di punggungnya menegak, dan mata hijaunya melebar saking kagetnya. “Gus!” seru Rose seraya memeluk si kucing dengan protektif. “Apa aku menyakitimu?” desyrindah.blogspot.com


Sambil megap-megap, Gus berusaha menenangkan diri. “Itu,” katanya, “adalah salah satu dari sembilan nya waku. Aku sudah menggunakan satu, tentu saja, dan itu …,” dia menatap dengan saksama kumis yang terjepit di antara jari-jari Rose, “adalah yang nomor enam. Kalau kau berada dalam kesulitan besar, sebaiknya kau larutkan kumis itu ke dalam air, lalu kau minum.” “Gus, ini terlalu berlebihan,” kata Rose, tiba-tiba ngeri dia mungkin menjatuhkan dan menghilangkannya dalam gelap. “Barangkali,” kata Gus sambil melompat turun ke lantai. “Tapi, sudah terlambat untuk mengembalikannya sekarang. Gunakan dengan bijaksana.” “Pasti,” kata Rose. “Aku janji.” Albert mengambilkan kantong plastik kecil untuk Rose, dan Rose menaruh kumis itu di dalamnya, lalu mengemas nya dengan semua hadiah di dalam ransel merahnya. “Nah, sudah,” Balthazar bekata, “Lady Rosemary Bliss telah menerima semua Hadiah dari Orang-Orang Terka sih, dan dia bisa memulai perjalanan dengan cinta serta du kungan dari semua orang terkasihnya.” Sang kakek menga tupkan kedua tangan. “Senang akhirnya semua sudah be res. Sekarang, peluklah kakekmu ini.” Upacara berakhir. Rose menghampiri sang kakek dan memeluknya, dan Lily, lalu orangtuanya, saudara-sauda ranya, bahkan Gus dan Jacques. Gumpalan di teng gorok annya kembali—bahkan meski beberapa di antaranya agak aneh, semua itu dianggap penting oleh orang-orang yang telah memercayakan hadiah-hadiah tersebut kepadanya. Bahkan ayam-ayaman karet Sage sekalipun. “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan semua ini,” Rose mengaku kepada ibunya. “Tak ada yang tahu,” sahut sang ibu. “Ada sihir yang sangat kuat dan tak dapat diprediksi di antara sang pembuat kue dan hadiah- desyrindah.blogspot.com


hadiahnya.” Seseorang menyalakan lampu toko roti sehingga ruang an menjadi terang, kemudian semua orang berkeliling dan meniup lilin, sementara Albert menggeser meja kafe kembali ke posisinya semula di dekat jendela. Rose mengenakan jaket dan menyampirkan ransel di bahu. Terdengar ketukan di pintu depan, lalu Purdy pun mem bukanya. Rose menyangka sang Anjing yang datang, tetapi sebagai gantinya, dia merasakan pusaran emosi ketika me lihat siapa yang berdiri di sana. Devin. Agak terengah-engah dengan dahi berkilau oleh keringat, seolah dia habis berlari sepanjang jalan. Dia memakai kostum terindah yang pernah dilihat Rose dikenakannya: kemeja putih formal diselipkan ke dalam celana berwarna gelap dan sepatu hitam mengilat. Dasi kupukupu sutra kuning terlilit di lehernya, senada dengan gaun pesta yang tidak jadi dipakai Rose, dan rambut pirang pasirnya disisir rapi ke belakang. “Aku belum terlambat, ‘kan, Mrs. Bliss?” tanya Devin kepada Purdy. “Kurasa kau tepat waktu,” kata Purdy, mengantar pemuda itu masuk, meninggalkan hawa dingin di luar. Begitu melihat Devin, Rose merasa hanya ingin ter se nyum sekaligus menangis, perasaan yang sungguh mem bingungkan. Dia melakukan sedikit dari keduanya saat memeluk pemuda itu, menghirup aroma akrab donat yang selalu menempel pada Devin karena toko donat keluarganya. “Aku tidak tahu kau akan datang,” kata Rose. “Tentu saja kami menghubunginya,” kata Albert. “Dia juga keluarga.” Devin menjauhkan diri, membiarkan tangannya tetap memegangi tangan Rose. “Sori aku melewatkan upacara nya, tapi aku ingin memastikan aku memberimu hadiah yang sempurna, kata demi kata.” desyrindah.blogspot.com


Kata demi kata? Itu aneh, pikir Rose, meskipun tidak ada yang lebih aneh daripada ayam-ayaman karet Sage. “Aku senang kau ada di sini,” kata Rose, tersenyum sedih. “Aku benar-benar menyesal soal pesta dansanya.” “Hei, itu bukan masalah,” kata Devin, meskipun Rose cukup mengenalnya sekarang untuk menyadari kekecewa an di balik mata birunya. “Sebenarnya, ada dua hal yang ingin kuberikan kepadamu. Yang pertama bukan Hadiah dari Orang-Orang Terkasih yang resmi, tapi aku tetap ingin kau memilikinya.” Devin merogoh saku dan mengeluarkan wadah plastik bening. Di dalamnya, terdapat mawar kuning yang dilekatkan pada pita emas. Dengan hati-hati, diselipkannya bunga itu di pergelangan tangan Rose. “Ini korsase,” terang Devin. “Ayahku bilang seharusnya kami memberikan ini kepada gadis-gadis ketika pergi ke pesta dansa, dan kukira kau mungkin masih mengingin kannya.” Korsase mawar itu menutupi Tanda Tapak, menyembu nyikan simbol dari ujiannya yang akan datang, dan Rose merasa senang karenanya. “Aku suka sekali.” “Baguslah,” Devin berkata, menunduk untuk menyem bunyikan senyum leganya. “Ng, Hadiah dari Orang-Orang Terkasih-ku yang sebenarnya adalah ….” Dia memajukan tubuh dan mengecup bibir Rose ringan. Sesaat, Rose merasa seolah satu-satunya lampu yang bersinar menyoroti dirinya bersama Devin. Rasanya ma sih menyakitkan karena dia tidak bisa pergi berkencan dengan pemuda itu, tetapi setidaknya ada Devin di sana untuk mengantar kepergiannya. “Iyuh!” Sage berseru. “Cinta!” Lily dan Purdy menyuruhnya diam, dan Ty berkata, “Kau akan memahaminya suatu hari nanti, Bung. Mung kin kau harus meminjam cerminku ketika Rose kembali.” desyrindah.blogspot.com


Rose mengusapkan ujung jari di bibirnya. “Untuk apa yang barusan?” tanyanya pelan. Pipinya memanas. “Hadiahku adalah janji,” Devin menjelaskan. “Tidak peduli berapa kali kau harus pergi untuk menjadi seorang Master Pembuat Kue, aku berjanji bahwa tidak akan ada yang pernah bisa memisahkan kita.” Lagi-lagi dia menun duk. “Norak, ya?” “Tidak,” desah Rose. “Sedikit pun tidak.” Ponsel Ty mulai berbunyi, dan timer di konter pun berdering. Dengan enggan, Rose menjauhkan diri dari Devin dan menoleh memandangi keluarganya. “Sudah waktunya,” kata Balthazar. “Sori, Rose, tapi kau harus menemui sang Anjing.” Di luar, awan di atas bagaikan selimut nila tebal yang membekap langit. Angin dingin menyapu pipi Rose ketika lampu-lampu jalan menyala dan sang Anjing muncul. Atau, mungkin dia sudah ada di sana selama ini. Anjing gembala besar itu berderap melintasi halaman. “Tepat waktu, Rosemary Bliss, dan kau sudah mendapatkan hadiah-hadiahmu, aku yakin.” Sang Anjing melirik melewati Rose kepada keluarganya dan Devin, yang semuanya ber diri dengan murung di depan toko roti. “Lambaikan salam per pisahan. Kau mungkin tidak akan melihat mereka lagi selama beberapa waktu.” Rose menoleh ke belakang dan melambaikan tangan setengah hati. Baru saat itulah Rose menyadari bahwa dia akan sendirian—benarbenar sendirian. Pada masa lalu, keluarganya selalu hadir untuk membantu ketika dia mendapati dirinya dalam kesulitan. Sekarang, untuk ujian ini, dia hanya bisa meng an dalkan diri sendiri. Panik menyergap dada Rose, dan dia membuka mulut hendak meminta agar sang Anjing memberinya satu hari lagi untuk bersiap. desyrindah.blogspot.com


Namun, sebelum dia sempat mengatakan apa-apa, sang Anjing berkata, “Angin malam akan segera berubah arah. Cepat, Rosemary, raih ekorku!” “Ekormu?” ulang Rose, bingung. “Sekarang, Rosemary, sekarang!” sang Anjing melo long. Segala kekhawatiran bertumpuk di benak Rose, dan tanpa adanya pemikiran yang jernih, dia melakukan se perti yang disuruh dan meraih ekor sang Anjing dengan kedua tangan. Ekor sang Anjing mulai mengibas-ngibas, dan Rose tersentak ke depan dan ke belakang, semakin cepat dan semakin cepat lagi hingga Main Street dan pepohonan serta langit malammengabur di sekitarnya. Seketika, se luruh dunia tampak meledak menjadi uap air, menciprat menjadi sejuta tetesan kecil, seolah-olah sang Anjing baru saja menyingkirkan Calamity Falls. Dan, mereka pun pergi.[] desyrindah.blogspot.com


Bab 3 !nasiraW iraH Rose berteriak, tetapi suaranya tertelan oleh keko song an yang kini menyelimuti. Selama satu tarikan napas panjang, dia dan sang Anjing dikepung oleh kehampaan kelam—bukan kegelapan, tetapi kehampaan. Tidak ada sensasi udara di kulitnya, atau hawa panas atau dingin, atau bau apa pun, dan tidak ada cahaya, meskipun entah bagaimana dia bisa melihat tubuh anjing berbulu di depannya saat mereka bergerak. Jemari Rose mulai tergelincir dari ekor sang Anjing. Sesaat, kepanikan menyergapnya saat dia mengira akan kehilangan cengkeraman dan terlempar ke tempat antah-berantah, hilang selamanya. Kemudian, tetesan-tetesan berwarna mulai berjatuhan di sekelilingnya, seperti butiran pasir pelangi yang mengisi wadah kaca. Warna-warna itu membaur, menyatu menjadi sesuatu—suatu tempat— yang baru, dan Rose merasakan angin sedingin es serta menghidu bau asap cerobong di kejauhan. Kibasan ekor sang Anjing memelan, dan kaki Rose menemukan pijakan di jalan tanah yang padat. “Kita sudah sampai,” sang Anjing mengumumkan sambil berbalik ke arah Rose dan tersengal-sengal. Pengar, Rose menjulurkan tangan untuk menemukan keseimbangan dan menggeleng-geleng, berusaha menjernihkan kepala. “Kau tidak akan muntah, ‘kan?” tanya sang Anjing. Rose melangkah mundur—dia tidak terlalu berse mangat menyentuh bagian mana pun desyrindah.blogspot.com


dari tubuh berbulu sang Anjing dalam waktu dekat. “Memangnya kau tidak pernah bepergian menunggangi angin sebelumnya?” “Tidak,” kata Rose, suaranya gemetar. “Aku bahkan tidak tahu kita bisa bepergian menunggangi angin.” “Ada banyak yang harus kau pelajari, Rosemary Bliss,” jawab sang Anjing. “Tapi, pertama-tama, ayo kita cari tahu di mana kita berada.” Mereka telah mendarat di jalan perdesaan yang tidak rata dan berkelok-kelok melintasi hutan pohon fir yang tinggi dan gelap. Di sini, seperti di Calamity Falls, malam sudah turun. Sinar matahari terakhir yang cerah mening galkan jejak di balik puncak pepohonan. “Eh, kau tidak tahu di mana kita?” tanya Rose. Se jauh yang dia ketahui, sang Anjing telah membawanya ke suatu tempat entah di mana. Sang Anjing mengabaikannya, berderap menyusuri jalan. Rose berlari menyusulnya. “Bagaimana kau bisa pergi ke suatu tempat kalau kau tidak tahu ke mana tujuanmu?” “Aku pergi saja.” Sang Anjing mendengus. “Dan aku percaya aku akan berakhir di tempatyang tepat. Di hadapan kita terdapat kota yang membutuhkan bantuanmu karena selalu ada kota semacam itu pada ujian-ujian ini. Sebaiknya kita bergegas kalau tidak ingin berkeliaran di hutan ini pada tengah malam.” “Sebuah kota?” Rose menyipit, tidak melihat apa pun di balik pepohonan yang gelap. Namun, dia mencium bau asap kayu dari perapian dan, benar saja, tepat ketika mereka melewati tikungan, dia bisa melihat puncak putih menara jam di kejauhan. Lonceng berdentang, mengisyaratkan pergantian jam. “Menurut pencatat waktu internalku, lonceng itu me nunjukkan pukul enam. Kita—” Sang Anjing membeku, telinganya yang terkelepai desyrindah.blogspot.com


bergerak-gerak ke depan dan belakang, menyesuaikan diri untuk menerima suara-suara yang tidak bisa Rose dengar. Rose menciut mundur di belakangnya, mencengkeram tali ranselnya. “Ada apa?” bisik gadis itu. “Ada sesuatu di sana?” “Seekor possum.” Sang Anjing mendesis dari sisi-sisi moncongnya. “Possum!” Sambil menggonggong gila-gilaan, sang Anjing berlari menjauh dan menghilang ke pepohonan. Rose bisa mende ngar salakannya yang liar ketika anjing itu meluncur mele wati semak belukar. Sejenak kemudian, sang Anjing muncul lagi, lidahnya terjurai selagi dia terengah-engah. Dia mengambil tempat di depan Rose seolah tidak ada yang baru saja terjadi. “Berhasil kau tangkap?” Rose bertanya. Sang Anjing menjilati kotoran dari bulunya yang ke cokelatan. “Makhluk itu terbukti terlalu cerdik untuk kusergap, tapi tidak masalah. Selalu ada kali berikutnya. Ayo!” Sang Anjing memelesat lagi menyusuri jalan dengan langkah cepat. Rose harus setengah berlari agar tidak tertinggal. “Jadi, kenapa kau jadi anjing, sebenarnya?” Rose bertanya. “Maksudku, bukan bermaksud menyinggung, tapi biasanya anjing dan panggang-memanggang kan bu kan campuran yang baik.” Anjing itu berhenti untuk mengendus rumput liar di sisi jalan, lalu mendengus dan melanjutkan perjalanan. “Aku tidak harus menjadi anjing. Aku bisa jadi kucing, kalau memang sedang ingin, atau rusa jantan bertanduk besar, atau gorila, atau—” “Kurasa aku bisa membayangkannya,” sela Rose. “Jadi, kenapa tidak jadi sesosok manusia saja?” “Apa serunya jadi manusia? Selain itu, dalam abad terakhir ini, aku sedang ingin saja menjadi anjing, dan masih banyak ras yang belum desyrindah.blogspot.com


kucoba.” Pepohonan mulai menipis. Rose belum bisa melihat kotanya, tapi dia dapat mendengar dengung suara-suara dan melihat pendar lampu jalanan melalui sela-sela dahan. “Aku bisa memanggilmu apa?” Rose bertanya. “Tak mungkin namamu cuma ‘sang Anjing’, apalagi kau tidak selalu berwujud anjing.” Sang Anjing menautkan alis putih lebatnya. “Tentu saja aku punya nama, Rosemary Bliss, tapi nama itu adalah milikku sendiri dan bukan untuk kau ketahui.” Dia menje laskan, “Nama-nama itu memiliki kekuatan, jadi jangan sampai sembarang orang mengetahuinya. ‘Sang Anjing’ saja sudah cukup untuk sementara ini, seperti halnya cukup untuk setiap keluarga Bliss yang telah kuuji sejak fase gajah yang tidak melalui pertimbangan matang.” Rose mendengus, membayangkan leluhur Balthazar mencoba menyelinap melewati hutan dituntun oleh sekor gajah. Pepohonan berakhir tiba-tiba di tepi jalan pinggiran kota yang tenang. Di pinggiran tempat jalur tanah berangsur-angsur tergantikan oleh jalan beraspal, penanda kayu besar berdiri, bertuliskan Welcome to Bontemps! Population: 375. Di bawahnya tertulis: Bienvenue à Bontemps! Popu lation: 375. “Bahasa Inggris dan Prancis,” kata Rose, mengenali bahasa kedua itu berkat Jacques. “Apakah itu berarti kita berada di Kanada?” “Kelihatannya begitu,” ujar sang Anjing. “Itu menje laskan hawa dingin di udara! Bahkan aku bisa merasa kannya, padahal aku terbungkus bulu.” Rose memutar otak, mencoba mengingat frasa lain yang diucapkan oleh Jacques, tetapi yang bisa dipikirkannya hanyalah oui, Mademoiselle Bliss, dan mungkin itu tidak akan banyak membantunya. “Apakah kita perlu berbicara bahasa Prancis?” desyrindah.blogspot.com


Click to View FlipBook Version