The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

The Bliss Bakery 6 - Magic By The Minute by Kathryn Littlewood

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Novel Fantasy Repository, 2023-10-23 21:43:34

The Bliss Bakery 6 - Magic By The Minute by Kathryn Littlewood

The Bliss Bakery 6 - Magic By The Minute by Kathryn Littlewood

nan ti. Rose melilitkan kaus di sekeliling badan, membung kus tubuh balita barunya dengan sesuatu yang bisa disebut pakai an. Dunia sangat besar, dan Rose merasa pengar. Pagar area bermain menjulang di atasnya seperti kolom-kolom di gedung ibu kota, dan karpet hijau membentang seperti lapangan sepak bola. Diamatinya tangannya. Jemarinya pendek gemuk-gemuk dan pergelangan tangannya mem bengkak karena lemak bayi. Di sampingnya, sang Anjing telah melalui transformasi yang sama—atau mungkin sekarang dia lebih tepat disebut Puppy, Anak Anjing. “Kami boleh melihat sekarang?” tanya Cosmo. Begitu melihat sang Anjing, dia bertepuk tangan dengan gembira, wajahnya bercampur kagum serta kebingungan. “Berhasil! Bagaimana ini bisa terjadi?” “Sembunyikan pakaian-pakaian ini, Cosmo.” Salakan sang Anjing terdengar seperti uik melengking, dan suaranya seperti anak kecil. “Cepat!” Rose mencengkeram kaus di sekelilingnya dan tertatih ke area bermain. Cosmo mengangkatnya melewati pagar dan meletakkannya di lantai empuk di baliknya. “Sang Marchesa tidak akan pernah mengenalimu se karang!” pekik Emma. “Kau menyelamatkan kami!” “Aku belum—” Rose memulai. Sekonyong-konyong, pintunya menjeblak terbuka. Sang Marchesa berdiri menjulang di ambang pintu, ber kacak pinggang; mata pucatnya terpicing saking ma rah nya. “Nah, apa yang terjadi di sini?”[] desyrindah.blogspot.com


Bab 8 Apa yang Terjadi kepada Bayi Rose? Sang Marchesa bahkan tampak lebih cantik dari dekat. Sekaligus menakutkan. Segala sesuatu tentang dirinya bersudut dan tajam, kuku merahnya seperti cakar burung, tulang pipinya seperti belati. Alis tipisnya melengkung tinggi saat dia mengamati seluruh ruangan. “Ada tamu rupanya,” katanya sambil mengerucutkan bibirnya yang berwarna merah menyala. Emma merangkak ragu-ragu ke bagian depan area bermain. “Ya, ada acara main bersama hari ini.” Dia mem beri isyarat, dan Rose berusaha keras melambaikan tangan gemuknya ke arah sang Marchesa. Tidak gampang mela ku kannya—entah bagaimana, Rose menjadi sangat kikuk. Marchesa memasuki ruangan dalam dua langkah lebar dan membungkuk dengan tangan bertumpu pada pagar, menatap mata Rose lurus-lurus. “Siapa kau?” tanyanya. “Aku kenal semua orang di kota, dan jelas kau adalah ...” Mata biru pucatnya terpicing. “Seseorang.” “Bloomenfeld!” sahut Rose cadel. Cosmo maju selangkah. Dia menggendong sang Anjing yang sekarang jadi mungil. “Broomenthal, Ma’am. Salah satu anggota klan sirkus itu.” Dia mengetuk-ngetuk dahi. “Tidak terlalu normal, mengingat ini masa kanak-kanaknya yang ke dua.” “Hmm.” Sang Marchesa mengetuk-ngetukkan jemari pada pagar area bermain. desyrindah.blogspot.com


Ini dia, pikir Rose, perutnya serasa jungkir balik. Aku bakal gagal dalam ujianku dan tidak akan pernah menjadi Master Pembuat Kue resmi dan seluruh perjalanan ini sia-sia. Atau mungkin hanya susu kocok yang menggelegak di dalam dirinya yang membuatnya merasa sangat mual. Akhirnya, wajah sang Marchesa melunak. “Ah, ya, Broomenthal. Dengar-dengar, keluargamu menampilkan pertunjukan luar biasa. Bahkan, rasanya hampir meren dahkan bahwa aku tidak pernah diundang ke pertunjukan itu! Klanmu harus mengaturnya untukku secepatnya.” “Ya!” kicau Rose, langsung merasa lega. “Akan kami lakukan!” Sang Marchesa berbalik ke arah Cosmo. “Dan kau si bocah loper, bukan? Apa yang kau lakukan dengan hewan itu?” Dia menelengkan kepala ke arah sang Anjing, yang berputar-putar di lantai, mengejar ekornya sendiri. Cosmo mengetuk kartu pas pers di tangannya. “Sebe narnya, aku wartawan. Yah, wartawan junior. Dan aku me ne mukan anjing tersesat ini. Namanya Les—” Sang Anjing menggigit bagian bokong celana Cosmo. “Ah, namanya ... Puppy.” “Nama yang menarik,” kata sang Marchesa. “Sangat harfiah, dan aku menyukainya.” Dia menoleh lagi kepada Emma. “Aku datang kemari karena suatu alasan, Emma. Beredar kabar bahwa ada orang asing misterius di kota.” “Tapi, itu kan gila!” seru Cosmo. “Tak pernah ada pengunjung di Bontemps sejak ... yah, sejak sebelum aku dapat mengingat.” “Dia benar,” kata Emma, amat sangat tenang. “Ba gaimana mungkin ada yang mampu melintasi perbatasan?” “Persis itulah yang ingin kuketahui.” Sang Marchesa mengendusendus udara dan mendelik memandangi dapur kecil itu—kali ini, Rose yakin, perempuan itu akan melihat panci yang kotor dan desyrindah.blogspot.com


mengumpulkan petunjuk untuk mem buat kesimpulan: seorang pembuat kue ajaib ada di dekat sana! Namun, sebagai gantinya, dia hanya mengerutkan hidung dan berkata, “Asistenmu harus me ngurangi sikap beran takannya. Akan kutegur dia nanti. Dan, kenapa, sih, dingin sekali di dalam sini? Kita harus me nyuruh seseorang memeriksa termostatnya.” Dia kembali menatap Emma. “Bagaimanapun, Sayangku, aku kemari untuk mengambil jurnal ramalanmu.” Dengan lunglai, Emma mengempaskan tubuh di sam ping Rose. “Kau tidak hanya datang untuk menemuiku?” Sang Marchesa melambaikan tangan tak acuh. “Ramalan itu penting. Aku sudah menyuruh Simon mencarinya, tapi rupanya buku itu tidak terdaftar dalam katalog kartumu.” Dia menatap Emma dengan lelah. “Kukira organisasi adalah satu-satunya keahlianmu, Sayangku.” Emma mendengkus. “Kau tidak mau, ‘kan, kalau sam pai sembarang orang membaca ramalannya. Karena itu lah aku menyembunyikannya di tempat jurnal itu tak akan pernah ditemukan.” “Tak akan pernah?” ulang sang Marchesa. “Nyaris tidak pernah,” Emma berkata. “Aku bisa me ne mukannya. Tapi, aku akan butuh waktu.” “Akan kutunggu sampai malam ini.” Dengan penuh pertimbangan, sang Marchesa mengamati Rose di area bermain. “Tapi, tolong segarkan ingatanku: Bukankah ada sesuatu tentang seorang gadis dan hewan yang datang ke kota?” “Seekor kucing,” kata Emma agak terlalu cepat. “Tidak,” kata sang Marchesa, “itu tidak benar. Seekor kucinglah yang memberimu ramalan itu. Pikiranku masih sangat kuat seperti perangkap baja. Aku mengingatnya.” Emma menyilangkan lengan-lengan gemuknya. “Kalau begitu kau pasti ingat sementara seekor kucing memberiku ramalan itu, desyrindah.blogspot.com


ramalannya pun tentang kucing yang datang ke kota ini bersama seorang anak perempuan. Akulah yang menuliskan semuanya. Kau menyangsikan aku?” Sejenak, keduanya hanya berpandang-pandangan, masing-masing menunggu yang lain untuk berkedip ter lebih dulu. Akhirnya, sang Marchesa mengalah. “Baiklah. Kalau kau bilang kucing, maka itu pasti kucing.” Sang Marchesa mengedikkan kepala ke arah ambang pintu yang terbuka. “Temukan saja jurnal itu untukku. Jadikan prioritas utama mu. Sementara kau melakukannya, aku harus memim pin rombongan pencarian.” “Rombongan pencarian, eh?” tanya Cosmo. “Kedengar an nya berita hebat untuk dimuat di Bugle!” “Tidak juga,” kata sang Marchesa. “Bugle cuma bagus dijadikan alas kandang burungku, padahal aku tidak punya burung!” Dia mengibas rambutnya dan berjalan menuju pintu yang terbuka, lalu melirik melewati bahu. “Tapi, biar kuberi tahu, ya, Wartawan Junior—pastikan Bugle memuat lansiran untukku, bisa, ‘kan? ORANG ASING MISTERIUS BERKELIARAN BEBAS. Ada mawar kuning di pergelangannya, membawa ransel merah, ditemani seekor anjing gem bala raksasa. Peringatkan warga agar berhati-hati. Keli hat annya gadis itu masih remaja.” Sang Marchesa men decak-decak. “Usia paling berbahaya.” Sang Marchesa mengamati Cosmo seolah dia ingin mencabik-cabik pemuda itu sampai menjadi serpihan. “Ke napa kau tidak menuliskannya, Bocah Loper?” “Oh, benakku juga seperti salah satu perangkap yang tadi kau sebutsebut,” kata Cosmo cepat-cepat, seraya me ngetuk-ngetuk kepalanya. “Semuanya terekam di dalam sini. Gadis. Mawar. Ransel. Anjing—dan anjingnya barangkali adalah monster berdarah dingin.” Cosmo desyrindah.blogspot.com


menggendong sang Anjing dan menyundul perutnya. “Ti dak seperti anak an jing yang menggemaskan ini!” Bibir merah sang Marchesa mulai melekuk membentuk cengiran, tetapi dia langsung membeku di tengah jalan. Dia mengamati adegan itu sekali lagi—dari dapur kecil yang berantakan dengan aroma susu hangat, kepada bayi aneh di area bermain dan anak anjing berbulu dalam pelukan Cosmo. Sekarang waktunya dia menyadari semuanya, pikir Rose. Tukang roti yang cukup kuat untuk memutar balik waktu bakal langsung sadar begitu melihat dapur yang baru saja digunakan, tidak peduli sekecil apa pun. Namun, sang Marchesa tampak tidak menyadarinya. “Aku akan kembali mengambil jurnalnya malam ini,” kata nya kepada Emma. “Jangan mengecewakanku.” Dan, setelah mengatakannya, sang Marchesa pun pergi, kunci-kunci yang dia gunakan untuk masuk bergemeren cing di sisinya, menciptakan potongan-potongan musik yang ke mudian lenyap hingga yang bisa didengar Rose hanyalah deru napasnya sendiri. Perlahan, Cosmo menutup pintu dan pelan-pelan me mutar kunci. Rose merasakan serdawa terbit di tenggorokannya. “Nyaris saja,” katanya, memerosot ke tumpukan boneka beruang dan boneka perca. Cosmo membiarkan sang Anjing melompat dari pe lukannya. “Jangan khawatir, Rose! Mantramu memper da ya dia sepenuhnya.” “Kurasa begitu,” cicit Rose. Emma berjongkok di depan buku-buku bergambarnya dan mengeluarkan jurnalnya. “Aku berdusta tentang tidak tahu di mana tempat ramalan ini. Jangan sampai jurnal ini jatuh ke tangan sang Marchesa. Aku tidak tahu apakah aku akan bisa menghentikannya kalau dia kembali malam ini. Rose, kau harus membalik kutukannya.” desyrindah.blogspot.com


“Bagaimana dia akan melakukannya dengan tubuh sekecil itu?” tanya Cosmo. Resep susu kocok terbukti merupakan mantra persepsi yang kuat— dan sekarang, setelah bahaya lenyap, Rose bertanya-tanya berapa lama sihirnya akan bertahan. Sesuatu di dalam perutnya mencelus. Tidak akan lama lagi, kalau begitu. “Kurasa mantranya sedang berakhir,” Rose mengerang, mencengkeram bagian tengah tubuhnya. Di sampingnya, sang Anjing berbaling menelentang, kaki-kaki pendeknya bergerak-gerak di udara. “Kita harus mencari toko roti sang Marchesa, bukan?” Rose bertanya kepadanya. “Di sana bakal ada petunjuk tentang resep apa pun yang dia—” “Toko roti sang Marchesa?” tanya Emma. “Toko roti apa?” Sang Anjing berguling menyamping dan memandangi pustakawan bayi. “Bagaimana lagi dia bisa memberlakukan kutukan yang sebegitu kuat? Dia pasti punya toko roti!” “Sang Marchesa bukan tukang roti,” kata Emma, masih memeluk jurnalnya. “Dia terlahir dari keluarga petani, tapi kehidupan pertanian tidak sesuai untuknya, jadi dia datang kemari. Aku tahu dia makan kue, tapi aku tak pernah men dengar dia membuatnya.” “Kurasa bahkan tidak ada toko roti di kota ini,” kata Cosmo. “Wah, harus ada yang membukanya!” “Tidak ada toko roti?” Perut Rose serasa berjungkir balik lagi—garagara susu kocok cermin atau gara-gara terkejut oleh informasi baru ini, dia tidak tahu. “Anjing, bagaimana aku bisa membatalkan mantra tanpa ada toko roti?” “Selesaikan masalahmu satu demi satu, Rose.” Sang Anjing menguik-nguik. desyrindah.blogspot.com


Cosmo berdiri di dekat pintu kantor, masih men dengar kan keberadaan sang Marchesa. “Jadi, kalau semua urusan menua kemudian menjadi muda kembali ini tidak wajar, apa yang sebenarnya terjadi kepada kita saat kita menjadi bayi lagi?” Dia melepas topi dan menggaruk-garuk kepala. Bibir bawah Emma bergetar. “Karena itulah aku begitu lega akhirnya kau datang, Rose.” Bayi perempuan itu me meriksa lengan-lengannya. “Seperti semua orang lain di kota, tak lama lagi aku akan tumbuh begitu muda sampai aku akan lenyap dari peredaran.” Dia meraih pergelangan tangan Rose yang gemuk. “Karena itulah kami membutuhkanmu. Kau harus membantu kami membalikkan kutukan itu sebe lum kami semua lenyap ... selamanya.” Rose bergidik. Ini sangat mengerikan, jauh lebih buruk daripada apa pun yang pernah dia bayangkan. Sang Marchesa tidak hanya membuat orang menjadi muda—dia membuat mereka menghilang! “Ini sudah berlangsung selama lima puluh tahun,” sang Anjing mendengking. “Itu berarti—” “Ya,” Emma menegaskan. “Tadinya ada lebih banyak orang di Bontemps. Sepuluh sampai dua puluh kali lipat dari jumlah penduduk saat ini.” Cosmo duduk di karpet yang usang. “Semua orang itu ....” Dia melepas kacamata dan menggosok-gosok mata. Perut Rose berputar-putar seperti tengah diblender, dan meskipun dia ingin duduk di sana dan merana bersama yang lain, dia tahu jika dia tidak mengambil pakaiannya, dia akan segera kembali ke wujud normal tanpa sehelai benang pun. Dia memeluk kaus yang kebesaran di sekeliling tubuhnya dan merangkak ke tempat Cosmo menyem bunyikan jins serta jaketnya. Ini bukan lagi sekadar ujian, Rose tersadar selagi men dorong kakinya yang gemuk ke pinggang celana jinsnya. Ini bukan tentang desyrindah.blogspot.com


mendapatkan nilai bagus atau mengaman kan resepnya di Booke. Orang-orang Bontemps berada da lam bahaya besar. Dia harus menghentikan sang Marchesa. Harus. Meskipun dia tidak tahu harus mulai dari mana. “Masalah ini terlalu besar,” Rose berkata. “Tidak seha rus nya aku melakukan ini sendirian, Anjing. Kita perlu me manggil keluargaku dan segera membawa mereka kemari. Kita bisa melakukan ujian Master Pembuat Kue lain waktu.” Sang Anjing mendekat. “Yakinlah kepada dirimu sendiri, Rosemary Bliss,” katanya. “Karena aku sendiri yakin.” Dia menjilat wajah Rose. “Sayangnya, begitu ujiannya berlang sung, kita tidak bisa menghentikannya. Suka atau tidak, kau satu-satunya harapan yang dimiliki kota ini.” Rose ingin membenci sang Anjing, tetapi sulit untuk marah kepada anak anjing yang manis. Digaruknya bela kang telinga sang Anjing dan mengulangi nasihatnya sebe lum nya. “Selesaikan masalah satu demi satu. Baik.” Rose menghela napas. “Bahkan, kalau sang Marchesa tidak me man faatkan panggangan untuk mantranya, aku masih me merlukannya untuk diriku sendiri. Jadi, itu arti nya aku butuh dapur.” Dia melirik dapur yang kecil. “Yang jauh lebih besar daripada yang ini, yang ada ovennya.” Mendengar itu, seulas senyuman merekah di pipi Emma yang tembam. “Aku punya dapur!” serunya. “Dapur yang besar dan megah, sebenarnya.” Kemudian, dengan lebih lembut, dia menambahkan, “Atau, dulu aku punya dapur. Di rumah lamaku.” “Memangnya di mana sekarang kau tinggal, Emma?” tanya Cosmo. “Panti Perawatan Golden Slumbers untuk Masa Kanak-Kanak Kedua,” terang pustakawan bayi itu. “Butuh banyak perawatan untuk mengurus seseorang yang berusia 100 tahun dan tidak bisa melakukan apa-apa sendiri, dan ibuku tidak ingin melakukannya. Memang tidak desyrindah.blogspot.com


sama dengan me miliki rumah sendiri, tapi sebagian dari tempat itu bagus. Dan mereka biasanya menyajikan puding cokelat sebagai camilan, jadi aku benar-benar tidak bisa mengeluh.” “Ibumu menempatkanmu di panti perawatan?” tanya Rose. “Ibu macam apa yang melakukan itu?” “Oh, kurasa aku lupa memberitahukannya sebelum kita datang ke sini,” kata Cosmo. “Memberitahukan apa?” tanya sang Anjing. Emma menunduk. “Kau sudah bertemu ibuku,” kata nya. “Baru saja. Sang Marchesa.” Tiba-tiba kemiripannya tampak jelas, dan bukan hanya karena sepasang mata pucat yang sama-sama dimiliki oleh kedua perempuan itu. Rose merasa hatinya akan hancur untuk Emma, untuk semua orang di Bontemps. Sungguh jahat tindakan menja tuhkan mantra mengerikan seperti ini kepada lingkungan di sekitarmu. Namun, melakukannya kepada putrimu sendiri? Itu benar-benar keji. “Kita perlu masuk ke rumah sang Marchesa,” kata Rose. “Bahkan, kalau dia tidak pernah memanggang kue, dia pasti menggunakan dapur besar itu untuk sesuatu. Kalau kita bisa tahu mantra apa yang dia gunakan untuk mengutuk kota, aku bisa mencari tahu resep apa yang bisa digunakan untuk mematahkan kutukan.” Cosmo melompat berdiri, semangatnya meluap-luap. “Tempat itu berpenjagaan ketat, dipenuhi centeng-centeng sang Marchesa. Tapi, aku baru saja mendapat kode!” Rose baru hendak mengoreksinya, dengan menga ta kan, “Kurasa maksudmu ide,” tetapi kata-katanya tersekat di tenggorokan. Tangannya membekap mulut, dan gelembung besar yang terbentuk di desyrindah.blogspot.com


perutnya akhirnya meletus dari sela-sela giginya dalam ledakan serdawa keperakan. Tiba-tiba, anggota tubuhnya menggeletar seperti garpu tala dan ruangan di sekitarnya tampak melayu. Kakinya me manjang di balik celana jinsnya, dan kaus yang tadi melilit tubuhnya menyusut ke ukuran normal. Dia terduduk dengan linglung, jaket dan korsase kuning dari Devin tergeletak di karpet hijau di sampingnya. Sejenak kemudian, sang Anjing beserdawa dan juga mem besar. Kaki depannya mencuat seperti batang buncis, nyaris membuatnya terjengkang sebelum kaki belakangnya tumbuh dengan ukuran yang serasi. Bulunya kembali megar berantakan, dan matanya sekali lagi dinaungi oleh alisnya yang tebal dan lebat. Cosmo terbeliak. “Kalian kembali normal! Itu hebat!” Kemudian, dia mengernyit. “Tapi, itu agak mengacaukan ide hebatku. Kecuali ....” “Kecuali apa, Cosmo?” tanya Emma. “Yeah, apa ide hebatmu?” tanya Rose, berharap Cosmo dapat membantu mereka masuk ke kediaman sang Marchesa. “Mungkin cara ini akan berhasil.” Cosmo menggaruk-garuk kepala, lalu menyengir. “Tapi, kalian mungkin tidak akan terlalu menyukainya.”[] desyrindah.blogspot.com


Bab 9 Rosemary Bliss—Buron! “Bagaimana keadaanmu di sana, Nak?” tanya Cosmo. “Siap beraksi seperti penggigit mata kaki?” Sudah dua puluh menit berlalu, dan Rose tertekuk di dalam kereta bayi Victoria kuno, benda logam hitam tidak nyaman yang diletakkan di atas rangkaian roda emas reyot. Penutupnya telah ditarik ke depan sedemikian rupa sampai-sampai tidak ada yang bisa melihat Rose terjepit di bawahnya dengan lutut menempel ke dada. Sebagian besar tubuh Rose tersembunyi di bawah seli mut biru pastel, dan salah satu topi bonnet bayi milik Emma dipasang dengan canggung di atas kepalanya. Berhubung tidak seorang pun dengan mata sehat akan pernah keliru menyangka Rose sebagai bayi sungguhan, Emma dan Cosmo menyampirkan kerudung putih berenda di atas ke reta. Mereka hanya harus berharap tidak ada yang meng hentikan mereka di jalan dan meminta untuk melihat si bayi perempuan—atau wanita lanjut usia, Rose mengingatkan dirinya sendiri. “Kurasa kakiku keram,” kata Rose. “Aku juga menderita,” kata Cosmo, berhenti dan men condongkan tubuh di atas penutup kereta. “Benda di balik mantelku membuat bahuku pegal.” Rose tidak perlu melihat benda menyedihkan di pung gung Cosmo— dia sendiri yang membantu memasang kan nya di sana. Cosmo memakai ransel merah cerah milik Rose di balik mantel trench abu- desyrindah.blogspot.com


abunya. Rose telah mengemas kembali semua Hadiah dari OrangOrang Terkasih, bahkan kaleng susu kental kosong dan—dengan hatihati agar tidak hancur—korsase kuning. “Ehm, hampir tidak kelihatan, kok,” Rose menanggapi. “Ya, ‘kan, Anjing?” Sang Anjing muncul dalam jarak pandangnya. Bulunya sekarang begitu berlumur lumpur sampai-sampai bulu putih-kelabunya berubah menjadi cokelat gelap gimbal. “Benar, Cosmo kelihatan seperti anak dua belas tahun biasa, selain apa yang tampak seperti kepala kedua tersembunyi di balik mantelnya.” “Menyenangkan rasanya mendengarnya dari gundukan kompos berjalan,” dengus Cosmo kesal. “Lucu sekali,” sahut sang Anjing datar. “Ini samaran terbaik yang bisa kukerahkan dalam waktu singkat.” “Kenapa kau tidak bertransformasi menjadi jenis anjing lain saja?” tanya Cosmo. “Kau bisa menjadi labrador! Se mua orang suka labrador retriever.” Sang Anjing menggeram. “Wujudku bukanlah sesuatu yang bisa kuubah sesuka hati. Selain itu, aku mulai me nikmati tubuh ini.” “Kita harus pergi,” Rose berkata. “Oke,” Cosmo berkicau, menghilang dari pandangan Rose. Suara gemuruh bergetar naik dari bawah Rose, dan rodanya memprotes dengan decitan marah. Cosmo menggeram mengerahkan tenaga. “Jangan tersinggung, Rose, tapi beratmu satu ton lebih daripada berat bayi.” Keretanya memantul saat bergulir melewati lubang jalan, dan Rose berpegangan pada sisi-sisinya supaya tidak terlempar keluar. Melalui tudung berenda, dia hanya bisa melihat jalan di depan dan pepohonan di alun-alun kota. desyrindah.blogspot.com


“Nah, Rose,” kata Cosmo sambil terus mendorong, “bagaimana kalau kau memberiku latar belakang untuk cerita yang akan kutulis suatu hari nanti? Kue ajaib, kau bilang? Bagaimana cara kerjanya?” Rose menjelaskan—secepat dan sesingkat mungkin—tentang keluarganya di Calamity Falls dan penganan sihir di Toko Roti Bliss. Begitu dia selesai, mereka sudah tiba di trotoar yang lebih halus di depan perpustakaan kota. “Wuidih, hebat sekali!” kata Cosmo. “Kisah ini harus diceritakan.” “Boleh saja,” kata Rose. “Tapi, tunggu sampai kita selesai mengatasi masalah di sini.” “Kalian, jangan berisik,” kata sang Anjing. Dua anak lelaki dalam setelan hitam berdiri di luar perpustakaan, menempelkan selebaran ke tiang lampu. Setelah itu, mereka berjalan cepat menyusuri trotoar, me mandangi Cosmo dan sang Anjing ketika mereka lewat. “Nih,” kata salah satunya, menyerahkan selembar selebaran kepada Cosmo. “Hubungi sang Marchesa kalau kau melihat gadis ini.” Cosmo mendekatkan kereta bayi itu ke tiang lampu, sang Anjing berderap di samping mereka. Rose memerosot kembali ke kegelapan kereta dan me nahan napas. Namun, anak lelaki tadi sudah berlari menjauh untuk menyusul rekannya ke tiang lampu berikut. “Kau harus lihat ini!” Cosmo berkata, menyelipkan selebaran ke bawah selubung. “Gambarnya mirip sekali denganmu!” DICARI! tertulis pada bagian atas halaman selebaran, ORANG ASING MISTERIUS TERLIHAT DI KOTA! BARANG SIAPA MELIHAT PEREMPUAN INI DAN BINATANG BUASNYA, SEGERA LAPORKAN KEPADA SANG MARCHESA! Di bawahnya, terdapat sketsa, Rose men duga itu dirinya dan sang Anjing. Sulit untuk memastikan karena sang Anjing digambarkan lebih mirip serigala, desyrindah.blogspot.com


wajah khas kanina putihnya menakutkan, dengan taring yang dipamerkan. Rose dalam gambar juga tidak lebih baik. Ada sorot membunuh di matanya dan cengiran jahat di bibirnya. “Ini sama sekali tidak mirip kami,” kata Rose sambil menyerahkan selebarannya kembali. “Tapi, lihatlah deskripsi di bawahnya,” kata Cosmo, me nunjuk teks lebih kecil yang tidak diperhatikan Rose. “‘Gadis itu terlihat kesal dan bingung dan agak sok tahu segalanya.’ Itu kan sangat menggambarkan dirimu!” “Hei!” seru Rose. “Aku tidak sok tahu!” “Ssst, kalian berdua,” sahut sang Anjing. “Dengan seisi kota mencari kita, kita harus bergerak cepat. Dan, Rosemary, kita berdua perlu tetap diam. Meskipun aku benci karena harus mengatakannya, kita harus mem biar kan Cosmo yang berbicara untuk kita.” Cosmo membusungkan dada. “Kalian bisa mengandal kanku.” “Oke,” kata Rose cemas. “Mari kita pergi ke tempat Marchesa sekarang. Sebelum kakiku mati rasa.” Mereka menyeberang ke alun-alun kota, dan Cosmo mengarahkan kendaraan Rose yang sempit ke jalan setapak berliku melewati taman. Melalui selubung yang tipis, Rose melihat anak-anak berkeliaran—anak perempuan dan laki-laki keluar untuk jalan-jalan sore, beberapa bersantai di ga zebo, yang lain mengagumi balon Hari Warisan yang ma sih memantul-mantul dari dahan-dahan pohon. Jalan itu membawa mereka ke tepi selatan alun-alun kota, tempat para pekerja anak mengenakan overal dan flanel menyiapkan semacam panggung. Rasanya aneh dan menyedihkan mengetahui bahwa orangorang ini se benarnya pria dan wanita dewasa. Jika Rose tidak segera melakukan sesuatu, mereka akan segera lenyap dari muka bumi. desyrindah.blogspot.com


Di sebelah panggung, ada sebuah patung—sama de ngan yang tadi ditunjukkan oleh Cosmo kepadanya sewaktu di kedai makan. Di atas lempengan batu, berdiri sosok emas seorang gadis cantik dalam balutan gaun pesta mewah, se lempang perunggu tersampir menyamping di dadanya. Patung itu baru saja dipoles sehingga tampak baru, tetapi sosok tersebut berpakaian seperti seseorang dari awal tahun 1900-an. Di sekeliling landasannya, terdapat semak besar, ledakan liar berwarna hijau dengan bunga-bunga ungu yang merekah di setiap batang. “Siapa itu?” Rose bertanya lirih supaya pekerja di dekatnya tidak mendengar. “Apakah ....” “Benar,” balas Cosmo berbisik. “Sang Marchesa sewaktu dia menjadi ratu kecantikan berusia enam belas tahun.” “Seisi kota pasti sangat memujanya sampai-sampai me majang sesuatu yang begitu ... permanen.” Aroma parfum lemon berempah menguar ke dalam kereta saat Cosmo men dorongnya melewati patung dan bunga-bunga dekora tif nya. Ayah Rose, Albert, pasti bisa mengenali nama bunga itu—dia pakar mengidentifikasi tanaman, baik yang biasa maupun yang magis—tetapi sang ayah berada jauh bersama yang lain, dan memikirkan Albert hanya membuat Rose semakin merindukan rumah. Cosmo mendengkus. “Bukan kota yang memasang patung itu, melainkan sang Marchesa sendiri!” Dia meng hela napas. “Tapi, kurasa kami semua hanya mengi kuti nya saja, jadi ini salah kami juga. Dan, lihat—kita sudah sampai.” Di seberang jalan, di samping balai kota, berdirilah se buah benteng. Mansion tiga lantai dari bata merah itu berdiri hampir setinggi menara jam. Atapnya yang meruncing ditutupi sirap hitam yang sudah compang-camping, dan semua jen de la nya ditutupi tirai yang menguning. Sebuah tembok tinggi mengelilinginya dengan paku besi hitam, dan gerbang di depan dilingkari rantai setebal pergelangan desyrindah.blogspot.com


tangan Rose, dikunci dengan gembok besar. Rumah sang Marchesa tam pak tidak tertembus, semacam tempat untuk bersembunyi jika segerombol pasukan mendatangimu. Cosmo mendorong kereta sampai berhenti di depan gerbang, di sebelah kotak panggilan putih. Sesaat kemudian dia muncul sambil membungkuk di atas Rose, menempelkan jari di bibir. Sang Anjing pergi ke balik dinding, merunduk keluar dari pandangan. Kemudian, Cosmo menekan bel. Rose menyibak selubung sedikit supaya dia bisa melihat dengan lebih jelas. Di balik gerbang depan, ada jembatan tarik yang terangkat sebagian, dan di antara jembatan tarik serta gerbang terdapat bentangan air payau gelap—parit. Bagaimana Rose bisa masuk hanya dengan bantuan Cosmo dan sang Anjing? “Coba lagi,” bisik sang Anjing. Cosmo menekan bel interkom dan menahannya, membiarkan dengung menjengkelkan terus terdengar sampai pe ngeras suara akhirnya berderak menyala. “Ya, Cosmo, apa maumu?”Suara sang Marchesa ter dengar jengkel— yang bisa dimaklumi, berhubung Cosmo masih menekan bel. “Lepaskan tombolnya!” “Sori!” pekik Cosmo, lalu mundur selangkah, menub ruk kereta bayi. “Siapa yang kau bawa? Kau membawa anakku ke sini?” Pada saat itulah Rose melihat kamera di atas bel, lensanya mengarah langsung kepada mereka. “Tidak, Marchesa! Emma masih di perpustakaan. Aku hanya mengantar si gadis Broomenthal pulang.” Cosmo me lepas topi dan mendekapnya di dada. “Eh, omong-omong, Ms. Hedda Penny mengirimku untuk mencari orang asing misterius ini. Bagaimana kalau desyrindah.blogspot.com


kau memberiku wawancara sehingga kami dapat membantu menyebarkan berita?” Pengeras suaranya berderak-derak. “Ide bagus, Cosmo! Aku agak sibuk saat ini, tapi ayo kita makan siang—meski sudah terlambat—di Silver Spoon, dan aku bisa mence rita kan kepadamu tentang kedua berandalan itu.” “Baiklah, Marchesa!” Cosmo memasang topinya lagi, kemudian memiringkan ujung kamera. “Sampai jumpa di sana.” Kereta bayi terguncang-guncang saat Cosmo mendorong Rose menjauh dari mansion Marchesa. “Wartawan junior atau bukan,” bisiknya, “aku hebat dalam membujuk orang membatukkan rahasiarahasia mereka. Baru minggu lalu, aku membuat Nancy Renaldo membocorkan sampo apa yang dikenakannya. Aku berani bertaruh, membuat sang Marchesa buka suara tidak sampai separuh kerepotannya.” “Kau tampak yakin kepada diri sendiri,” sang Anjing berbisik saat mereka menyelinap melewati pekerja bangunan anak-anak. “Tapi, kalau-kalau dia tidak buka suara, aku dan Rose akan mengikuti sang Marchesa pulang dari pertemuan rahasiamu dan menyelinap ke dalam begitu gerbangnya ter buka.” Cosmo tertawa. “Kedengarannya rencana cadangan yang bagus!” Mereka mencapai kedai Silver Spoon di sudut sebelah timur laut alun-alun. Cosmo mendorong Rose tepat ke pintu kaca, berhenti tibatiba. “Astaga, lihat itu!” katanya. Rose mencondongkan tubuh ke depan dan hanya bisa melihat penanda di jendela. DICARI: JURU MASAK! desyrindah.blogspot.com


“Aku penasaran apa yang terjadi kepada Jumpin’ Jimmy,” Cosmo merenung keras-keras. “Oh, yah, itu ba gus buat kita!” “Bagaimana mungkin ini bagus?” tanya Rose. Wajah berseri-seri Cosmo ditundukkan. “Karena kau butuh dapur, Nak, dan sekarang kita punya dapur. Setelah mengetahui mantra apa yang digunakan sang Marchesa, kau bisa menggunakan Silver Spoon untuk membuat pena warnya!” Sang Anjing menggeram. “Sebenarnya itu adalah saran yang bagus, Rosemary.” “Ayo kita masuk dan cari tahu soal pekerjaan ini,” kata Cosmo. Disenggolnya pintu ayun kaca hingga terbuka, lalu didorongnya kereta bayi ke dalam. Mereka baru setengah jalan melewati pintu ketika suara seorang wanita yang melengking terdengar, “Halo, Sayang! Aku senang akhirnya kau tiba! Mari kita mulai!” Itu sang Marchesa.[] desyrindah.blogspot.com


Bab a0 Sup Ayam-Ayaman Karet untuk Jiwa “Kok dia bisa kemari secepat itu?” Rose mendesis dari dalam kereta bayi. Meskipun mereka baru meninggalkan sang Marchesa di mansionnya di sisi seberang alun-alun, entah bagaimana wanita itu tiba di restoran lebih dulu. Dia telah menempati sebuah bilik di belakang kedai yang kosong. Waktu makan siang telah berlalu dan tidak ada orang lain di sana. Dia mungkin bisa mendengar semuanya. “Dia selalu muncul entah dari mana,” gumam Cosmo dari balik tangan. “Tidak ada yang tahu caranya.” Marchesa melambaikan tangan dengan kuku yang dicat merah. “Aku tidak punya waktu seharian!” “Sebentar lagi aku akan bergabung denganmu!” Cosmo mendorong kereta bayi sepenuhnya melewati pintu. “Ada yang perlu kubicarakan dengan Silver lebih dulu!” Dari dalam kereta bayi, Rose melihat sang Marchesa memalingkan wajah ke arah jendela. “Cepat—sebelum dia sempat melihat Anjing!” Cosmo bergegas mendorong kereta ke sudut konter dan ke luar jangkauan penglihatan. “Hei, Silver!” panggilnya saat mereka sudah memutar. “Aku baru melihat tanda lowonganmu—apa yang terjadi kepada Jumpin’ Jimmy?” “Aw, dia berhenti,” jawab suara seorang anak lelaki. “Serbuan jam makan siang pada Hari Warisan dirasanya terlalu berat. Dia bilang dia desyrindah.blogspot.com


sudah terlalu tua untuk ini, lalu merangkak keluar dari sini. Dan, sekarang aku keku rangan pegawai!” Cosmo membalik arah kereta, dan mendadak Rose bisa melihat wajah Silver melalui selubung. Usianya mungkin baru tujuh tahun, tetapi ekspresi lelahnya tampak sesuai di wajah keriput Balthazar. Ada lingkaran-ling karan gelap di ba wah mata biru berairnya, dan rambut putihnya dipangkas pendek ke kulit kepalanya. “Mujur memang tidak dapat ditolak!” seru Cosmo. “Aku di sini!” Silver menyipitkan mata. “Kukira kau bekerja untuk Bugle.” Cosmo melambai mengabaikan gagasan itu. “Ti dak lagi! Aku sudah bekerja di sana begitu lama dan Ms. Penny tidak pernah mempromosikanku dari posisi wartawan junior. Aku menjadi semakin muda untuk menyia-nyiakan waktu di tem pat diriku tidak diinginkan.” “Ada apa dengan anjing kampung kotor yang meng ikutimu berkeliling ini? Dia tidak boleh masuk ke sini. Kita punya aturan kesehatan.” Sang Anjing menggeram, dan Cosmo pun berjongkok lalu merangkul tubuh sang Anjing yang berkerak lumpur. “Lester ini hewan pendampingku. Setiap kali aku sedih, aku hanya perlu memeluknya dan dia mengembalikan sema ngatku. Ya, ‘kan, Nak?” Sang Anjing mendesah, tetapi men con dongkan tubuh ke pelukan Cosmo dan menggo yang-goyangkan ekor. “Lalu, bayi itu?” tanya Silver. Dia mencoba mengintip ke dalam kereta bayi, tetapi tidak cukup tinggi untuk me lihat ke dalam. “Ini koki klan Broomenthal,” Cosmo menerangkan. “Dia memasak semua hidangan untuk seluruh anggota sirkus, dan dia setuju untuk menjadi mentor memasakku.” Dari seberang kedai makan, sang Marchesa berseru, “Silver, aku lapar!” desyrindah.blogspot.com


“Sebentar lagi, Marchesa!” teriak Silver. Disekanya peluh gugup dari dahinya, kemudian diarahkannya jempol ke pintu ayun dapur. “Kurasa kau diterima. Sang Marchesa memesan sup ayam dan roti tongkat. Supnya sedang didi dihkan di belakang sana, tapi aku belum memasukkan roti nya ke oven.” “Beres, Bos!” kata Cosmo, mendorong Rose ke dapur. “Pastikan saja anjingmu mandi sebelum dia menye barkan kutu ke pai maple,” kata Silver letih. Pintu dapur terayun menutup di belakang mereka dan Rose mengembuskan napas yang tidak sadar telah ditahannya. “Situasi sudah aman,” Cosmo mengumumkan. “Kau boleh keluar sekarang.” Rose menendangkan kakinya dan kereta bayi itu ter guling menyamping, menjatuhkannya ke karpet karet di lantai dapur. “Yeah, kita bakal harus bertahan pada cerita bahwa kau badut-nya Broomenthal,” kata Cosmo seraya meng angkat tangan tanda menyerah. “Tak ada yang bakal percaya kau pemain akrobat.” “Akan kucoba untuk menjadi lebih anggun lain kali,” Rose berkata. Dapurnya tidak besar, tetapi lumayanlah. Panci baja bernoda mendidih di atas kompor di sebelah panggangan datar besar tempat burger dan panekuk dibuat. Piring kotor tertumpuk goyah di bak cuci dan kulkas lebar terbuka sete ngah, seolah siapa pun yang memasak telah pergi dengan terburu-buru. Yang paling penting bagi Rose, ada dua oven dinding besar, dan di atas meja persiapan di tengah ruangan, terdapat adonan roti tawar panjang serta tipis yang dibiarkan mengembang. Seraya menggemeretakkan buku-buku jemarinya, Rose berkata, “Aku bisa bekerja dengan ini.” desyrindah.blogspot.com


Sang Anjing berderap mendekat. “Senang mende ngarnya.” Bulunya tiba-tiba kembali ke warna putih kelabunya yang bersih. Cosmo menaruh ransel Rose di tengah meja persiap an. “Nah, bagaimana kau bisa membersihkan diri sec epat itu?” Sang Anjing meletakkan kedua tapaknya di atas meja dan mengendus adonan roti. “Temanmu Silver benar, se ekor anjing yang kotor terlalu tidak higienis untuk berada di dapur.” “Dia kan makhluk sihir,” terang Rose, mencondongkan tubuh dan mengintip melalui celah terbuka ke ruang makan. Silver berada di dekat bilik Marchesa, berbicara dengan pe nuh semangat. Kembali ke meja persiapan, Rose membuka ritsleting ransel merah dan membongkar isinya. Tak satu pun benda yang dibawanya tampak ada gunanya. Jam pasir dari ibunya memang indah, tetapi Rose tidak perlu menghitung waktu. Kacamata Jacques terlalu kecil untuk muat di hidung Rose. Kaleng susu kosong dari Leigh sekarang hanya sampah be rantakan. Celemek ayahnya .... Rose membentangkannya. Jika dia hendak memasak, sebaiknya dia menggunakan celemek. Mungkin setelah kain itu dililitkan di bahunya dan diikatkan di pinggangnya, ce le mek dari Albert akan memberinya kenyamanan. Sang Anjing dan Cosmo yang tadi sibuk menginspeksi dapur, kini menoleh kembali dan mendapati Rose baru selesai mengikat celemek. Keduanya mengerjap terkejut. “Ke mana dia pergi?” Cosmo bertanya, mengedarkan pandangan dengan kalut. “Halo?” kata Rose sambil melambai. “Aku ada di sini.” Cosmo menoleh ke arah sumber suara, tetapi tepat saat mata pemuda itu tertuju ke arahnya, mereka mendadak ter gelincir ke samping. “Eh, Rose?” tanya pemuda itu. “Di mana kau, tepatnya?” desyrindah.blogspot.com


Sang Anjing mengangkat moncong dan mengendus-endus, lalu mengikuti penciumannya melintasi karpet karet ke sepatu Rose. “Dia ada di sini, Cosmo. Di balik cele mek jelek supernatural ini.” Rose menunduk memandangi dirinya sendiri. Dia rasa celemek itu memang lumayan jelek. Kainnya dilapisi garis-garis radioaktif hijau dan neon ungu, berceceran cokelat lumpur dan hitam tinta, dihiasi bintikbintik kuning moster, dan noda-noda lain yang lebih buruk. Dalam cahaya lilin redup ketika dia menerima Hadiah dari Orang-Orang Terkasih, celemek yang sangat bernoda itu terlihat seperti ter buat dari bahan kamuflase. Namun, di bawah cahaya lampu neon terang di dapur, noda-noda tersebut tampak begitu jelek sampai-sampai Rose tidak bisa melihatnya lebih dari satu waktu tanpa membuat matanya perih. Cosmo membersihkan kacamata dengan kemejanya, lalu memasangkan kacamata itu kembali ke hidungnya. “Se tiap kali aku mencoba memandangmu baik-baik, Rose, yang kulihat hanyalah benda mengerikan itu dan aku meng a lihkan pandangan sebelum menyadari apa yang telah ku lakukan.” “Biar kubalik dulu.” Rose meloloskan celemek melewati kepala dan membaliknya. Dia tidak terlalu senang dengan adanya sisi bernoda yang menempel di pakaiannya, tetapi setidaknya bagian yang bersih kini menghadap ke luar. “Jauh lebih baik,” kata Cosmo sambil tersenyum. “Se baiknya, aku duduk bersama sang Marchesa sebelum dia mulai curiga. Aku akan membuatnya menumpahkan rahasianya sebelum roti itu selesai dipanggang.” Rose bertukar pandang skeptis dengan sang Anjing. “Tentu, lakukan saja. Kami akan menyelesaikan membuat makan siangnya.” Cosmo mengangkat ujung topi fedoranya, kemudian melenggang keluar dari pintu ayun. desyrindah.blogspot.com


Rose memandangi panci sup yang mendidih dan adonan roti dengan tak berdaya. “Aku tahu Cosmo bermaksud baik, tapi aku punya firasat sang Marchesa tidak bakal membocorkan rahasia apa pun kepadanya. Marchesa terlalu pintar untuk itu.” “Setuju,” kata sang Anjing. “Sekarang terserah kepa damu: Bagaimana kau akan menemukan mantra yang digunakan wanita itu untuk mengutuk kota?” Rose berpikir sejenak. “Mungkin aku bisa menam bahkan sesuatu ke roti tongkatnya, sesuatu yang akan memaksa sang Marchesa untuk menurunkan pertahanannya. Tapi, semua resep yang bisa kupikirkan memiliki bahan yang ha rus ditambahkan sebelum adonan diuleni.” “Sudah terlambat untuk itu, Rosemary,” kata sang Anjing sambil mendengus. “Sang Marchesa akan pergi kalau makanannya terlalu lama datang, dan tidak ada waktu untuk membuat adonan roti baru.” “Aku tahu itu, oke?” Rose berkata, menyebar Hadiah dari OrangOrang Terkasih. Dia mengambil 30 Menit Sihir Lily dan membuka-buka halamannya. “Kita perlu melakukan sesuatu dengan supnya. Orang akan mengira Bibi Lily memiliki resep mendasar seperti sup dalam buku masak tiga puluh menit.” Sambil mendesah, Rose memasukkan buku masak ke ransel dan kepala ayam kuning dari Sage menyembul lunglai. Sage. Andai adik lelakinya ada di sini, dia akan meri ngankan suasana sehingga Rose bisa berpikir lebih jernih. Rose mengacungkan properti komedi lunglai itu dan, da lam suara mencicit, berkata, “Kenapa ayam-ayaman karet menyeberang jalan? Dia ingin meregangkan kakinya!” Sang Anjing tidak tertawa. Sebagai gantinya, ekornya mengibasngibas dengan sengit. “Kau sudah menemukan solusinya, Rosemary Bliss! Dulu, salah satu dari Marx Bersaudara yang tidak terlalu terkenal, Gecko, mendapat bantuan dari seorang Bliss. Wanita Bliss itu desyrindah.blogspot.com


menggunakan ayam-ayaman karet di salah satu resep untuk memastikan penonton merespons lawakan Gecko.” “Siapa Marx Bersaudara?” Rose bertanya. Namun, sang Anjing mengabaikannya. Seperti yang terjadi di kantor Emma, mata anjing itu berkaca-kaca dan dia mematung. Ketika berbicara lagi, suaranya memperde ngarkan dengungan yang bergaung sampai ke dalam kepala Rose. “Sup Ayam-Ayaman Karet,” lantun sang Anjing, “Un tuk Menghangatkan Jiwa dan Meningkatkan Kegembiraan. “Waktu itu tahun 1929 di New York City, New York, ketika Marx Bersaudara paling muda, Gecko, memutuskan tidak mau lagi hidup dalam bayang-bayang saudara bintang komedinya yang lain. Suatu malam, dia naik ke panggung sebagai aksi pembuka untuk rombongan vaude ville3 . Setiap lawakan melempem, yang satu lebih buruk dari pada la wak an sebelumnya, dan para penonton duduk dengan wajah da tar sampai akhirnya Gecko dihadiahi, bu kan tepuk tangan meriah, melainkan dengkuran. “Salah satu penonton yang berhasil tetap terjaga adalah Philomena Bliss, seorang gadis pesolek terkenal, penggemar komedi, sekaligus koki. Penampilan Gecko juga membuat darahnya membeku. Tapi, dia merasa kasihan kepada tim vaudeville yang harus tampil setelah Gecko malam itu. Dia tahu menghibur penonton saja sudah cukup sulit, tapi harus membangunkan audiens itu terlebih dulu? Itu tugas yang ter lalu berat bagi penampil mana pun. “Malam berikutnya, Philomena mengikatkan celemek menutupi kalung mutiara panjangnya dan menyelipkan ram but bobnya ke jala rambut, mengambil alih dapur klub malam untuk menyiapkan menu yang dirancangnya sen diri—Sup Ayam-Ayaman Karet. GRATIS BAGI YANG PUNYA TIKET! begitu tulisan di spanduk, dan dengan demikian supnya disa jikan kepada setiap anggota hadirin malam itu, dan mereka semua desyrindah.blogspot.com


merasakan kehangatan yang mem ba hagia kan dalam perut masingmasing. “Kehangatan itu memunculkan tawa saat Gecko me nampilkan lawakan payahnya. Orang-orang tergelak begitu keras sampai-sampai pada saat Gecko meninggalkan pang gung, penonton berada dalam suasana hati bagus sehingga seluruh pertunjukan lain sukses dengan meriah. “Sialnya, kekuatan sup itu merasuk ke kepala Gecko, dan dia mencoba menampilkan lawakan solo. Setelah beberapa pertunjukan yang berakhir dengan ejekan dan lemparan to mat, dia meninggalkan bisnis pertunjukan selamanya dan menjadi tenaga penjual asuransi. Philomena Bliss, penyuka komedi, menganggap ini sebuah kesuksesan —berhu bung tidak ada cukup ayam-ayaman karet di dunia untuk membuat Gecko menjadi lucu, dan karena Gecko menjual ren cana asuransi yang terjangkau kepadanya.” Mata sang Anjing tidak lagi berkaca-kaca dan dia men dongak menatap Rose dengan penuh harap. “Oke,” Rose berkata, mencoba memikirkan cara agar resep itu menguntungkan dirinya, “Jadi …, maksudmu kalau kita membuat Sup Ayam-Ayaman Karet ini, kita akan mem buat Marchesa memiliki suasana hati yang baik? Ke mu dian, dia akan sangat bahagia sampaisampai mem beri tahu kita mantranya?” Sang Anjing mendengus. “Harapanku adalah, kalau kau bisa membuatnya tertawa tak terkendali, kita bisa meng ikuti suaranya berkat pendengaran anjingku yang luar biasa. Dengan cara ini, kita bisa melacaknya begitu dia meninggalkan Silver Spoon dan menemukan pintu masuk rahasia ke rumahnya—tidak ada cara lain dia bisa mencapai restoran ini sebelum kita tanpa kita melihatnya. Kecuali dia punya jalan keluar masuk rahasia.” desyrindah.blogspot.com


“Dan begitu kita sampai di sana, kita bisa menemukan dapurnya,” Rose berkata sambil mengangguk, “dan men cari tahu mantra apa yang dia gunakan.” Panci sup itu sudah penuh dengan mi, wortel, seledri, dan bawang yang mendidih dalam kaldu ayam. Rose mengambil ayam-ayaman karet adiknya seraya berkata, “Kau berikutnya, Bertha,” dan menjatuhkannya ke dalam panci. Desisan bernada tinggi terdengar dari panci saat properti komedi itu tercebur. Ayam-ayaman karet itu menggem bung seperti balon, sayapnya menyembul dan lehernya meman jang. Akhirnya, kepalanya membengkak. Desisan berhenti ketika suara yang sumbang memekik, “La, la, laaaa—aku telah kembali!” Paruh kuning ayam karet itu mengambul naik turun. “Aku terbang jauh-jauh ke sini, dan astaga, sayapku lelah!” Ayam itu berenangrenang di sup seolah itu bak mandi air panas pribadinya. Bersama setiap percikan kaki karetnya, terdengar tawa terbahak-bahak di kerumunan yang jauh. “Oh, astaga,” Rose menggumam. “Sekarang, aku tahu dari mana Sage mendapatkan materi leluconnya.” “Halo, Kawan!” kuak si ayam begitu melihat Rose. “Pertanyaan untukmu. Di pohon macam apa seekor ayam karet tumbuh?” “Ayam tidak—” Rose mulai menjawab. “Aku tahu jawabannya!” sang Anjing menyalak. “Poultry, Poultree!” Poultry berarti unggas. “Salah!” pekik Bertha. “Ya pohon karetlah! Aku kan terbuat dari karet merek ACME!” Tawa yang menggelegak dari panci meliar, seolah penonton tak kasatmatanya sam pai terjengkang dari kursi masingmasing. Rose dan sang Anjing sama-sama mengerang. “Ayam ini sangat menjengkelkan,” gerutu sang Anjing. desyrindah.blogspot.com


“Begitu juga adikku, Sage,” renung Rose. “Ba gaimana kalau sang Marchesa adalah tipe orang yang tertawa sangat pelan? Kau tahulah—” Rose menutup mulut nya dan de ngan sopan terkikik. “Bagaimana kita bakal bisa mengi kuti tawanya?” “Aku paham maksudmu.” Sang Anjing menaruh tapak depannya pada meja persiapan dan menyundul buku masak Lily. “Apa ada ide di dalam buku mentereng bibimu ini?” Rose membuka buku itu hingga foto Lily yang me ngenakan sayap kupu-kupu putih terlihat, di bawah judul BUMBU DEBU PERI. “Kita membutuhkan sesuatu yang dapat mengubah tawa itu menjadi jejak yang bisa kita ikuti.” Dia memindai resep, yang hanya berupa campuran oregano, bubuk bawang putih, dan rosemary, tetapi deskripsinya men jan jikan bahwa itu “Menambahkan sedikit sihir kepada hidangan gurih mana pun!” Yang membuat Rose teringat kepada bahan ajaib sungguhan. “Debu Peri!” Dia merogoh ransel dan menemukan botol hijau AllSpyce milik Balthazar. “Seharusnya ini meninggal kan jejak berkilauan. Ibuku pernah menggunakannya untuk Smores Petak Umpet saat kami pergi ke perkemahan musim panas. Kalau ada anak yang tersesat di hutan, kami tinggal mengikuti jejaknya dan menemukan mereka!” “Ide bagus!” kata sang Anjing. “Tambahkan bahan itu, lalu sebaiknya kita memanggang rotinya. Sang Marchesa menunggu pesanannya.” Rose menaburkan sejumput AllSpyce di panci. Ser pihan-serpihan itu bertransformasi menjadi bintik-bintik emas dan perak yang, ketika mendarat di atas sup yang men didih, me letus dalam semburat kecil. Percikan seperti kem bang api mi niatur mengalir keluar dari panci, dan paruh Bertha ternga nga. “Oooh, hebat! Pertunjukan cahaya, khusus untukku!” desyrindah.blogspot.com


“Kau, diamlah,” kata sang Anjing. “Terus saja bergerak dan campur bahan itu ke dalam sup.” Sementara Bertha mengaduk AllSpyce ke dalam sup, Rose memasukkan roti tongkat ke oven. Segera saja aroma hangat roti panggang memenuhi dapur. Roti itu selesai hanya dalam beberapa menit—yang menguntungkan karena melalui jendela saji, Rose dapat melihat Marchesa melirik ke sekeliling dengan jengkel. Rose menghampiri panci sup dan mendorong Bertha ke samping dengan sendok kayu sehingga dia bisa melihat kaldunya sendiri. “Kenapa supnya tidak berubah warna atau semacamnya? Apa aku salah tentang Debu Peri-nya?” “Matamu perlu diperiksa,” kuak Bertha. Dia menekan kan sayap karetnya ke bagian atas panci, kemudian meng angkat dirinya ke samping. Meneteskan sup ke mana-mana, ayam-ayaman karet itu menyeret tubuhnya di atas meja me nuju handuk, dan bergegas berguling di atasnya untuk mengeringkan diri. “Sekarang supnya bercahaya. Kau yakin tidak butuh pakai kacamata?” Rose tak punya waktu untuk berdebat dengan ayam-ayaman karet. Dia menyendok sup ke dalam mangkuk dan meletakkannya di atas nampan bundar bersama dengan salah satu roti hangat yang baru dipanggang. Tepat saat dia meletakkan nampan di konter jendela saji, Cosmo bergegas menghampiri. “Sang Marchesa terkunci rapat seperti brankas bank,” bisiknya, menelusurkan jari di balik kerahnya. “Aku benar-benar berharap kau menda pat kan sesuatu, Rose.” “Mungkin,” Rose berkata, tidak ingin men datangkan sial bagi resepnya. “Antarkan saja sup itu kepadanya.” Cosmo mengangguk, pergi membawa nampan. Rose mengintip dari balik jendela saji, menyaksikan Marchesa menyelipkan serbet kain ke desyrindah.blogspot.com


kerah tinggi blusnya dan mu lai menyeruput sup ayam karet itu. Jika Bertha memberi cita rasa karet pada sup, sang Marchesa sepertinya tidak memperhatikan. Dia menikmati hidangannya dengan penuh semangat, makan seolah dia sudah kelaparan berhari-hari. Seolah dia belum pernah mencicipi sup seumur hidupnya. Roti tongkat itu dicelup kan ke kaldu, dan dia tersenyum bersama setiap gigitannya. “Jadi, bagaimana rasaku?” kuak Bertha. Rose menyuruh si ayam-ayaman karet diam. Ekor sang Anjing mengibas-ngibas memukul kaki Rose. “Apakah sihirnya bekerja, Rosemary?” Rose mengamati ketika sang Marchesa selesai makan, menotol-notol sudut mulut dengan serbet dan mendorong mangkuk sup kosong ke samping. Dia meninggalkan bebe rapa lembar uang kertas di atas meja, mengambil mantelnya, lalu berdiri. Seulas senyum merekah di wajahnya, lalu seluruh tubuhnya tersentak dan dia cegukan. Atau, lebih tepatnya, dia cegukan kemudian tertawa—serangkaian suara mengejutkan dan tiba-tiba yang menurut Rose menakutkan. Rose menyangka akan melihat sesuatu keluar dari mulut wanita itu— kilau emas, mungkin. Namun, bahkan ketika Marchesa beserdawa lagi —tawa terbahak keras kali ini—tidak ada Debu Peri yang muncul. “Maaf,” kata Marchesa, meski tidak kepada seseorang secara khusus. Dia mengancingkan mantelnya. “Aku tidak lihat apa-apa,” kata Rose, panik. “Kan sudah kubilang,” kuak Bertha, masih menyeka tu buhnya sendiri dengan handuk di samping panci sup. “Kau butuh kacamata! Warna kuningnya ada di mana-mana.” “Kacamata!” seru sang Anjing. “Bukankah kau diberi kacamata sebagai bagian Hadiah dari Orang-Orang Ter kasih-mu?” desyrindah.blogspot.com


Rose menemukan kotak kacamata kecil milik Jacques dan mengambilnya dari meja. Ukurannya sangat kecil—secara harfiah dibuat untuk tikus. Bahkan jika kacamata itu memungkinkannya melihat keajaiban apa pun yang diklaim Bertha, kacamata itu tidak akan muat di hidung Rose. Sang Marchesa sudah bergerak, berderap cepat keluar dari pintu depan. Rose memasukkan kacamata ke saku ce lana jinsnya dan bergegas menuju pintu dapur yang ber ayun. “Kita tidak punya pilihan —ikuti tawanya, Anjing. Ayo!” Rose dan sang Anjing menghambur keluar dari dapur dan berlari melewati Silver yang tengah menghitung uang kembalian di kasir dan tampak kebingungan melihat me reka. Pintu kaca ber geser menutup ketika Rose sampai di sana—sang Marchesa baru saja keluar dari gedung, gema tawa terakhirnya masih memantul di jalan. Namun, ketika Rose dan sang Anjing melangkah keluar ke hari musim gugur yang cerah dan dingin, Marchesa tidak terlihat di manamana. Secepat kemunculannya di restoran, perempuan itu menghilang lagi —dan tanpa suara tawa yang bisa diikuti , Rose tidak punya harapan untuk mengejarnya.[] ------------------------------ 3 Suatu jenis pertunjukan pusparagam yang berkembang di Amerika Utara antara 1880-an dan 1920-an. Biasanya menampilkan aksi akroba k, sulap, ahli matema ka, opera, dsb.—Wikipedia. desyrindah.blogspot.com


Bab aa Ikuti Jejak Uap Serdawa Kuning Dengan muram, Rose masuk kembali ke Silver Spoon, sang Anjing berderap di sampingnya. Sang Anjing mulai mengatakan sesuatu, tetapi berubah pikiran di te ngah kalimat. Sebagai gantinya, dia berkata, “Ehm, guk guk,” lalu mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Silver berdiri di depan mereka dengan lengan disi langkan di dadanya yang gempal. “Eh, halo,” kata Rose sambil melambai lemah. Pemilik kedai yang muda itu memandangnya dari atas ke bawah. “Kalian orang sirkus benar-benar rombongan yang aneh.” Dia berbalik dan mengelap konter kasir. “Omong-omong, senang bertemu denganmu, Koki Broomenthal.” “Benar,” Rose menggumam, melangkah terseret-seret melewati anak lelaki itu. “Aku juga senang bertemu dengan mu.” Cosmo masih duduk di bilik yang tadinya ditempati Marchesa— hanya sudah dibersihkan, dan sekarang dia mengunyah salah satu roti tongkat lain yang telah dipanggang Rose. “Dia menghilang lagi, ya?” Rose mengangguk dan menyelip ke dalam bilik di seberang anak lelaki itu. “Kalau dipikir-pikir, aku bukan wartawan yang sangat baik kalau me le watkan semua petunjuk tentang Marchesa yang memi liki sihir. Kalau Hedda Penny memecatku, mungkin itu me mang keputusan terbaik.” Sang Anjing melompat ke samping Rose. “Kau ingat, ‘kan, kau tidak pernah dipecat? Itu cuma kisah rekaan.” desyrindah.blogspot.com


Cosmo menyeka mulut dengan punggung lengan baju. “Oh, benar.” “Benar-benar tanpa harapan,” kata Rose. Dia meman dang ke luar jendela, berharap bisa menemukan Marchesa dengan pakaian marunnya, tetapi jalanan di luar lengang. “Aku berusaha melakukan yang terbaik, tapi sepertinya aku butuh lebih banyak bantuan.” “Kau punya bantuan,” jawab sang Anjing dingin. “Ayam-ayaman karet menjengkelkan itu terus mengatakan sesuatu tentang kau butuh kacamata. Sekarang, setelah kau tidak terburu-buru untuk melakukan apa pun selain mengasihani diri sendiri, mungkin kau harus memeriksa kacamata itu lagi.” Rose meraba-raba saku, mencari kotak kacamata kecil nya. Sambil mendekatkannya sampai ke ujung hidung, dia membuka kotak tersebut dengan kuku dan secara berhati-hati mengeluarkan sepasang kacamata perak bundar kecil. Kacamata tersebut begitu kecil sampai-sampai hanya boneka plastik—atau tikus—yang bisa berharap untuk me ma kainya. Seraya menyipitkan mata, Rose hanya bisa melihat beberapa goresan di bagian dalam bingkai. “Sepertinya ada tulisan di sini,” katanya. Cosmo mengangkat tangan. “Hey ho, Silver!” pang gilnya. “Kau masih menyimpan kaca pembesar di balik kontermu? Yang kau gunakan untuk memeriksa tagihan palsu?” “Tentu saja!” Beberapa saat kemudian, pemilik kedai makan gemuk itu datang membawa kaca pembesar yang dimaksud. Dia menyerahkannya kepada Cosmo dengan sangsi. “Untuk apa kau membutuhkannya?” Cosmo mengedikkan ibu jari ke arah Rose. “Dia mulai rabun. Kau tahu, ‘kan, bagaimana rasanya?” Rupanya, Silver memang tahu. Dia mengangguk, ke mu dian kembali ke konter. desyrindah.blogspot.com


“Terima kasih,” kata Rose. Dia mengambil kaca pem besar tersebut dan meletakkannya di atas kacamata kecil. Goresan tersebut menjadi sangat jelas; kata-kata “Muat untuk Segala Ukuran” terukir di bingkai. Dibacanya tulisan itu keras-keras. Cosmo terbahak-bahak. “Apakah pembuat boneka me nempatkan tulisan itu di sana sebagai lelucon?” Hidung basah sang Anjing menyundul siku Rose. “Ke napa tidak kau coba dulu, Rosemary Bliss?” Rose mengangkat bahu. Layak dicoba. Seraya menjepit kacamata di antara kuku ibu jari dan jari telunjuk, dengan hati-hati diletakkannya benda itu tepat di pangkal hidung. Rasanya seperti mencoba menyeimbangkan sebutir beras. Diiringi guncangan, kacamata itu melompat hidup. Lensa-lensanya membesar seratus kali ukurannya, dan bingkainya tumbuh seperti pohon buncis ajaib. Dalam waktu yang dibutuhkan Rose untuk menarik napas, kaca mata itu tumbuh dengan ukuran yang sempurna bagi Rose, seperti yang dijanjikan oleh tulisan tadi. Cosmo melepas kacamatanya sendiri dan mengucek-ngucek mata tidak percaya. “Sihir memang edan!” Rose mengabaikannya karena begitu kacamata muat-untuk-segalaukuran milik Jacques bertengger pas di hidung nya, dia bisa melihat dengan jelas apa yang diocehkan oleh Bertha si ayam: kepulan emas berkilauan di udara. Satu kepulan melayang tepat di depan wajah Rose, tempat sang Marchesa tadi duduk. Rose menoleh, matanya mengikuti awan-awan kecil itu. Lima gumpalan mengarah langsung ke pintu keluar. Rose meloloskan tangan menembus kepulan berkilauan di depannya, bintik-bintik emas menempel di ujung jemari nya dengan suara tawa di kejauhan—AllSpyce-yang-berubah-jadi-Debu-Peri melekat pada uap serdawa sup ayam-ayaman karet yang disantap Marchesa! desyrindah.blogspot.com


“Mantranya berhasil!” seru Rose girang. “Aku melihat jejaknya!” “Kalau begitu, kita jangan berlama-lama!” Sang Anjing melompat keluar dari kursi bilik. “Ayo, Rosemary, kita harus bergegas!” “Wuidih!” seru Cosmo. “Kisah kali ini semakin penuh intrik dan drama saja.” Awan emas serdawa berputar-putar di sekitar kepala Rose saat dia berjalan menembusnya, gema tawa ter de ngar jauh di telinganya. Awan-awan itu tidak menun juk kan tanda-tanda akan menghilang, melayang-layang di udara, dengan lembut berayun ke sana kemari. Ketika Rose hendak meninggalkan Silver Spoon, Silver melangkah keluar dari belakang mesin kasir dan mengadang mereka. “Kalian pikir kalian mau ke mana? Kalian tidak bisa meninggalkanku secepat ini!” Untungnya, Cosmo berpikir cepat. “Tentu saja tidak, Bos! Koki Broomenthal harus pergi, dan dia mengajak anjing penuntunku berjalan-jalan. Aku? Aku tidak pergi ke mana-mana.” Silver menggerutu. “Baiklah. Pelanggan awal makan malam akan segera tiba, jadi kau harus segera ke dapur dan memulai persiapan.” “Beres, Pak Bos!” Cosmo memberi hormat lalu pergi ke dapur, Rose dan sang Anjing mengikuti di belakangnya. Mereka memasukkan barang-barang Rose ke ranselnya—termasuk Bertha yang mengempis lagi karena Sage meng inginkannya kembali—kemudian Cosmo menyuruh mereka keluar lewat pintu belakang. “Cukup ketuk tiga kali seperti ini di pintu belakang,” dia mengetukkan buku jarinya ke meja penyiapan dari logam dalam alunan tok, tok-tok, “dan aku bakal tahu itu kalian. Semoga berhasil!” “Trims, Cosmo,” kata Rose, kemudian dia dan sang Anjing berjalan ke gang di belakang dapur dan memutar menuju bagian depan Silver Spoon. desyrindah.blogspot.com


Awan kuning sangat besar menggeletar tepat di dekat pintu. Awan itu tampak meledak oleh serangkaian tawa ketika Rose melewatinya. Ada lebih banyak kepulan emas melayang di sepanjang trotoar, melewati tepi sungai, tukang daging, dan toko bunga. Selebaran DICARI dengan sketsa wajah Rose dan sang Anjing ada di mana-mana—ditempel pada dinding, jendela, dan tiang lampu. Rose menunduk saat melewati pasangan muda berusia enam tahun, berjalan bergandengan tangan. Jejak serdawa itu membawa mereka berbelok di tikung an, menjauh dari alun-alun kota. Rose berkon sentrasi mene mukan awan emas berikutnya, kemudian yang berikutnya, tidak berani berbicara dengan sang Anjing kalau-kalau ada yang memperhatikan. Setelah beberapa belokan, dia me nya dari bahwa dia tidak perlu cemas lagi: tidak ada orang lain di sekitar. Semua bisnis di bagian Bontemps yang ini ditutup dan dipalang papan. Meskipun bagian kota lainnya rapi dan bersih, di sini dedaunan serta koran tua berdesir di selokan. Bangunan-bangunannya terbengkalai, dinodai kotoran dan kesedihan. Dengan begitu banyak warga Bontemps yang terlalu muda untuk bekerja—atau lebih buruk, lenyap dari muka bumi—tidak ada orang yang tersisa untuk bekerja di toko-toko ini. Rose bergidik. Akan seberapa seram lagi tempat ini? Siapa yang tahu ke mana awan-awan ini akan membawa mereka? Ternyata, awan-awan emas itu mengarah ke bioskop. Pendaran uap serdawa itu berakhir dengan tiba-tiba di loket tiket di depan bioskop tua. Pintu-pintu teater dipaku tertutup dengan tripleks, dan debu yang melapisi kotak pa jang an poster begitu tebal sampaisampai Rose tidak bisa melihat apa saja film-filmnya. Loket tiket ditutup kerai, se buah tanda TUTUP merah tergantung miring di jendela. Rose menjulurkan kepala. Kanopinya kotor dan mengu ning. Hurufhuruf hitamnya terbaca SEDANG TAYANG: ROD TAYLOR DI THE TIME desyrindah.blogspot.com


MACHINE. “Aku belum pernah mendengar yang satu itu,” kata Rose. Sang Anjing mendongak, kemudian berkata, “Tidak buruk, kok, tapi lawas.” Rose mengitari bilik loket, mati-matian mencari jalan masuk ke teater yang tertutup. “Aku tidak melihat jejaknya lagi,” katanya, suaranya gemetar. “Awan emasnya ber henti di sini. Bagaimana kalau kita terlalu lambat dan mantranya memudar?” “Kau masih melihat jejak di belakang kita?” Rose menoleh kembali ke seberang jalan. Melalui kaca mata ajaib Jacques, dia melihat segaris panjang awan kecil berwarna moster meliuk-liuk di jalan. “Yeah, masih.” “Kalau begitu, pasti ada sesuatu di sini.” Sang Anjing mengendusendus di sekitar dasar loket tiket. “Bantu aku mencari.” “Lihat!” Rose menunjuk ke beton di dekat pintu loket tiket. Lapisan tipis debu di trotoar telah terusik, meskipun sulit untuk melihat dalam keremangan. Pintunya telah dibuka. “Penglihatan yang tajam, Rosemary!” kata sang Anjing, ekornya mengibas-ngibas. “Barangkali kau memang perlu pakai kacamata.” Gagang pintunya macet ketika Rose mencoba memu tarnya, tetapi diiringi geraman pengerahan tenaga, dia ber hasil membukanya. Rose dan sang Anjing melompat mundur. Di dalam loket tiket, Rose berharap melihat bangku dan meja konter, bahkan mungkin mesin kasir tua. Namun, di balik jendela-jendela yang tertutup kerai, bilik tersebut kosong—tak ada apa pun di dalamnya, bahkan tidak ada lantai. Sebagai gantinya, ada undakan teratas dari tangga yang berputar turun ke dalam kegelapan di bawah bioskop. desyrindah.blogspot.com


Namun, Rose melihat banyak sinar melalui kacamata khusus Jacques. Awan emas serdawa melayang di atas ruang tangga terbuka, dan di bawahnya terdapat beberapa kepulan yang berkelap-kelip seperti kunang-kunang menuju kedalaman. “Terowongan rahasia!” seru sang Anjing. “Misterinya semakin rumit saja.” Rose menelan ludah dan menyesuaikan letak ransel di pundaknya. Kelihatannya sangat berbahaya untuk turun sementara dia tidak tahu ke mana tangga itu menuju, tetapi dia dan sang Anjing sudah sampai sejauh ini. Dia berharap Gus dan Jacques ada di sana untuk mengintai di depan—tidak ada mahkluk yang lebih baik, yang dengan berani akan menyelinap memasuki ruangan-ruangan tanpa terlihat. Namun, kini semua tergantung Rose. Seraya menguat kan diri, Rose pun menuruni tangga. Sang Anjing melang kah tanpa suara di belakangnya. Tangga itu pendek, dan Rose dengan cepat mendapati dirinya dalam semacam terowongan. Lampu kuning redup menjuntai dari langit-langit bundar, dan lempengan kayu menopang dinding beton, seperti penyangga di poros tam bang. Udara dingin dan apak bertiup melewati Rose saat dia melangkah ke genangan dangkal. “Iyuh,” kata nya. Posterposter tua memudar—dari film dan Sirkus Broomenthal dan pertunjukan sulap—ditempelkan ke dinding. “Tempat apa ini?” Rose berbisik, meskipun dari kesu nyian tempat itu, sudah jelas tidak ada orang lain di dekatnya. “Kelihatannya sang Marchesa punya jaringan bawah tanah rahasia. Begitulah caranya muncul dan menghilang secara ajaib di sekitar kota.” Sang Anjing mengendus-endus tanah yang kotor. “Kau masih bisa melihat jejaknya?” “Lewat sini.” Rose mengikuti pendaran awan emas, menelusuri jalur yang diambil sang Marchesa. Untung saja mereka menambahkan Debu desyrindah.blogspot.com


Peri karena terowongan itu menuju labirin lorong gelap yang bercabang ke segala arah. Jika hanya sang Marchesa yang tahu tentang te rowongan akses ini, dia pasti bisa pergi ke mana saja di Bontemps tanpa disadari satu pun penduduknya. Rose mengabaikan terowongan lain dan mengikuti penanda kuning melayang-layang dan merasa lega ketika jalur itu akhirnya berhenti di sebuah pintu besi kokoh yang dibangun ke dinding beton. Pintunya tidak dikunci dan ketika dibuka, memperde ngarkan derit berat. Di dalamnya, ada tumpukan peti dan rak kayu reyot berdebu, serta satu awan kuning besar—Marchesa pasti telah mengeluarkan serdawa raksasa begitu sampai di sini. Awan menghilang, bintik-bintik emas saling menjauh dan menghujan turun ke tanah. Jejaknya memudar. “Kita harus bergegas,” katar Rose, berpacu memasuki ruangan. “Jejaknya menghilang!” Satu-satunya cahaya di ruangan itu berasal dari Peri Debu yang dengan cepat memudar, tetapi kemudian sang Anjing menyenggol sisi tubuh Rose, dan gadis itu mele takkan tangannya di bulu putih lembut kepala sang Anjing, dan spirit itu menuntunnya melewati kegelapan ke dasar sebuah tangga kayu. Cahaya terakhir dari jejak Debu Peri mengarah ke atas. “Kurasa kita ada di ruang bawah tanah,” bisik Rose. “Apakah menurutmu kita ada di kediaman sang Marchesa?” “Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya,” sang Anjing balas berbisik. Rose mengangguk dan, diiringi tarikan napas dalam, dia menaiki tangga. Dia membuka pintu dan melongok ke luar— —ke koridor kayu panjang. Radiator menggetarkan dinding di dekatnya, tetapi tidak terdengar langkah kaki ataupun suara. Ada desyrindah.blogspot.com


sebuah meja sempit tepat di seberang pintu ruang bawah tanah, di atasnya tergantung foto hitam putih sang Marchesa dalam bingkai emas mewah. Ke lihat annya seperti foto wajah seorang bintang film, lengkap de ngan tanda tangan di sudutnya: Untukku, Diriku, dan Aku. Selalu Penuh Cinta, sang Marchesa. XOXO Kepulan dandelion terakhir dari jejak serdawa itu meng arah ke koridor di sebelah kiri, mengitari sudut tangga be sar yang berdiri di seberang pintu depan. Sang Marchesa melewati koridor ini dan pergi ke lantai atas. Ini memang rumahnya. Rose menempelkan jari di bibir dan, bersama-sama, dia dan sang Anjing memasuki koridor. Berhubung jejak Marchesa mengarah ke kiri, Rose mengambil jalan ke ka nan. Mereka melewati pintu pelengkung terbuka menuju dapur—dapur itu memang besar dan lega,seperti yang diceritakan Emma, dan Rose ingin segera menjelajah. Namun, jika Marchesa tidak pernah memanggang, maka jawaban atas bagaimana caranya menyihir kota tidak akan ada di sana. Alih-alih, Rose pergi melewati pintu pelengkung beri kutnya dan memasuki ruang tamu mewah. Satu dinding di tutupi perapian batu, api yang hangat berkedip-kedip di pendiangan. Di seberang pintu pelengkung, terdapat jendela setinggi lantai ke langit-langit, dihalangi tirai kuning beren da. Dinding yang tersisa dijajari rak buku menju lang, penuh sesak dengan buku-buku tebal yang tampak membosankan. Di tengah ruangan, empat kursi bersayap kulit disusun me ngelilingi meja kopi, di bawahnya terhampar permadani oriental dengan tenunan rumit. Meskipun dari luar mansion ini membusuk, bagian da lamnya tampak rapi dan bersih, rumah mahal dari seratus tahun silam yang tersegel dalam wadah kedap udara. Rasa nya seperti berada di museum. desyrindah.blogspot.com


Dan, sama seperti museum, sang Marchesa memajang foto-foto dari masa ke masa. Foto-foto tersebut berderet di atas rak perapian yang membentang dari dinding ke dinding. Bingkai pertama menampilkan potret Marchesa, mengenakan gaun persis seperti patungnya di taman. Senyumnya semringah, muda dan penuh semangat. Dia memamerkan selempang ratu kecantikannya. Di sampingnya, ada seorang remaja tak lebih tua daripada Ty sekarang. Pemuda itu mengenakan setelan jas bergaris abu-abu dengan jaket yang tampak agak terlalu panjang, topi perahu jerami di kepalanya. Pemuda itu dan Marchesa juga bersama-sama di foto berikutnya, masih bahagia, masih muda, berpelesir selama satu hari di pantai dengan pakaian renang yang hampir menutupi seluruh tubuh mereka. Yang ketiga adalah foto Marchesa bersama lelaki yang sama, menggendong bayi yang pastinya adalah Emma. Namun, setelahnya, lelaki itu menghilang. Masing-masing foto setelahnya adalah potret tunggal sang Marchesa. Dia tampak beberapa tahun lebih tua daripada di foto sebelumnya; mata agak redup, kulit wajah nya lebih keriput, rambutnya beruban di pelipis. Ekspresinya semakin masam dari foto ke foto sampai dia nyaris tidak dapat dikenali sebagai wanita muda cantik dan bahagia pada foto-foto terdahulu. Kemudian, foto-foto itu tidak berwajah sama sekali. Wajah-wajahnya dipotong dengan pisau atau gunting, menyisakan lubang bergerigi. Rose telah mencapai bagian tengah rak perapian, tetapi foto-foto itu berlanjut—hanya saja urutannya terbalik. Atau itulah yang mungkin dipikirkan Rose jika dia tidak tahu bahwa Marchesa telah menemukan cara untuk memba likkan waktu di Bontemps. Wanita lebih tua yang keriput itu tersenyum gelap sekarang, dan pada setiap foto progresif, dia tampak semakin muda. desyrindah.blogspot.com


Beberapa meter dari ujung rak perapian, terdapat foto-foto terbaru dari Marchesa yang tampak seperti sekarang: berusia dua puluh tahun lagi, dengan wajah berseri-seri menatap kamera. “Dia pasti merasa sangat tidak bahagia,” Rose berbisik. Sang Anjing menggeram. “Barangkali. Tapi, itu tidak membenarkan perbuatannya.” Dia berpaling dari perapian dan berderap ke arah rak buku terdekat. “Kurasa sekarang kita sudah tahu kenapa. Marchesa ingin meraih kembali masa mudanya yang hilang dan kembali ke waktu-waktu ketika dia merasa paling bahagia. Nah, sekarang kita hanya perlu menyingkap bagaimana.” Buku-buku di rak bukanlah buku memasak, juga bukan novel. Rose dan sang Anjing berjongkok dan membaca punggung masing-masing buku. Panduan Hortense dalam Hortikultural Hoodwinkery adalah judul satu buku. Perka winan Silang Flora dari Masa ke Masa adalah judul yang lain. Musim yang Datang dan Pergi: Membudidayakan Tanaman Sepanjang Tahun Ala Bernard Blatt! Ada lebih banyak yang seperti itu, semuanya dengan judul yang serupa. Setiap buku membahas budi daya tanaman. Satu rak tidak berisi buku apa pun sama sekali. Letaknya di sudut ruangan tempat rak-rak bertemu, di bagian paling bawah, dan dipenuhi mainan: boneka kain dengan rambut benang dan hanya satu mata kancing, biji bekel berkarat dan bola karet busuk yang bopeng-bopeng karena usia. Sepatu roda kuno, tebak Rose—bentuknya seperti platform logam kecil pada roda kayu dengan tali yang bisa diikatkan ke sepatu. Sejauh yang bisa Rose lihat, sang Marchesa hanya peduli kepada tiga hal: masa mudanya yang hilang, ke bunnya, dan yang terpenting, dirinya sendiri. Rose baru saja hendak menarik salah satu jilid tebal pengetahuan berkebun ketika terdengar langkah kaki dari atas. Sang Anjing desyrindah.blogspot.com


mematung dan siaga. Rose menahan napas dan menunggu, memasang telinga. Papan-papan lantai berderit dan langkah kaki semakin keras. Seseorang tengah berjalan menuju bagian depan rumah, ke tangga yang akan mengarah ke bawah—lang sung menuju Rose dan Anjing. “Sudah cukup melihat-lihatnya, Rosemary,” sang Anjing mendesis. “Kita harus ambil langkah seribu!” “Setuju!” Rose balas berbisik. Dia berlari sepelan mungkin keluar dari ruang tamu dan kembali ke koridor. Saat itulah dia mendengar cegukan tawa dan melihat kepulan emas di udara. Sang Marchesa tidak berada di puncak tangga; dia berada di dasarnya. Tidak ada jalan untuk mencapai pintu ruang bawah tanah sebelum sang Marchesa memergoki mereka. Pintu de pan letaknya bahkan lebih jauh lagi. Maka Rose berkelit ke kiri, melewati pintu pelengkung, menuju dapur besar. Sebuah dapur yang tidak memiliki pintu penghubung ke ruangan lain dan tanpa jendela yang cukup besar un tuk dilewati anak tiga belas tahun berukuran normal dan seekor Anjing. Pada saat Rose menyadarinya, langkah-langkah kaki terdengar di koridor, mendekat dengan cepat. Rose dan sang Anjing tersudut, tak ada tempat untuk bersembunyi.[] desyrindah.blogspot.com


Bab a2 Celemek Jelek Tak Kasatmata Rose meraih gagang lemari terbesar. Bersembunyi di dalamnya bisa jadi sempit, tetapi tidak bakal lebih buruk daripada naik kereta bayi. Pintu lemari hanya terbuka beberapa senti. Kait plas tik kecil tipis mencegahnya membuka lebih jauh. “Ada apa?” bisik sang Anjing. “Kait pengaman bayi,” Rose balas berbisik. Bahkan se andainya dia berhasil menemukan cara membuka kait kecil itu, bisa dilihatnya lemari tersebut dipenuhi mang kuk pengaduk dan perintilan lainnya. Di koridor, bunyi ketukan sepatu Marchesa terdengar di lantai kayu, semakin keras seiring setiap detik yang berlalu. Kini, Rose dapat mendengar wanita itu bersenandung, nada familier yang berada di luar jangkauan ingatannya. “Cepat, Rosemary,” bisik sang Anjing. Rose memindai dapur untuk mencari tempat persem bunyian, matanya melewati sebuah konter di tengah, meja marmer, dan lantai kotak-kotak hitam putih. Cermin pelapis dinding memantulkan kilau wajah Rose dan ransel merah menyalanya. Mereka akan tertangkap. Kemudian, sebuah ingatan berkelebat ke benak Rose, tentang dirinya, sang Anjing, dan Cosmo di dapur Silver Spoon. Dia yang mengenakan celemek ayahnya .... “Aku punya ide,” kata Rose, mendorong sang Anjing ke sudut tempat keranjang sampah hitam berada. Rose melepas ranselnya dari bahu desyrindah.blogspot.com


ketika mereka berjongkok di belakang keranjang tersebut, yang nyaris tidak menutupi mereka, dan mengeluarkan celemek kotor serta penuh noda. “Benda itu?” tanya Anjing. “Iyuh.” Suara sang Anjing teredam saat Rose menyampirkan celemek pada diri mereka— —tepat saat sang Marchesa memasuki ruangan. Masih menyenandungkan nada sumbang, sang Marchesa tampak agak lebih santai di balik pintu tertutup ketika mengira dia sendirian— tetapi perubahannya tidak drastis. Dia menyalakan lampu yang terlalu terang dan Rose bisa melihat sang Marchesa memegang buku yang berat di satu tangan. Sampulnya menunjukkan gambar semak ber duri menakutkan, yang cabang-cabangnya seperti sulur dan, Rose berani bersumpah, meliuk-liuk menjadi bentuk tengkorak. Judulnya berwarna merah menyala: Pesona Botani. Kemudian, sang Marchesa berhenti bersenandung. Dia mengendusendus dengan berisik dan mengedarkan pandang dengan curiga. “Hmm.” Rose merapatkan tubuh kepada sang Anjing, tenggelam ke dalam bulu lembut hewan itu dan mencengkeram cele mek erat-erat. Dicobanya untuk menarik kainnya menu tupi kepala, tetapi itu berarti kakinya akan terpapar, dan menutupi kakinya akan membuat puncak kepalanya menyembul keluar. Dia memutuskan untuk meringkuk dengan celemek yang sebagian besar menutupi bagian tengahnya. Rose menahan napas. Mungkin ini tidak akan berhasil. Mungkin sang Marchesa akan langsung melihat mereka. Mungkin, mungkin, mungkin .... Namun, ketika tatapan sang Marchesa mendekati su dut tempat Rose dan Anjing bersembunyi, mata biru pucat nya berkedut dan dialihkan. desyrindah.blogspot.com


Dia tidak melihat mereka. Saking jeleknya celemek itu, sampai-sampai tak ada yang bisa melihatnya. Rose menghela napas pelan. Trims, Dad. Sang Marchesa kembali bersenandung, yang kini se penuhnya menjadi lagu dadakan buatan sendiri. “Seorang diri,” lantunnya, menaruh buku ke konter dapur. “Seorang diri di rumahku sendiri.” Sang Marchesa mengambil cerek teh perak dari kompor dan mengisinya dengan air, lalu me naruhnya kembali di atas kompor untuk dijerang. “Hanya ada aku di rumahku.” Gerakannya anggun, dan Rose mau tak mau membayangkan akan tampak seperti apa sang Marchesa seandainya dia masih muda dan jatuh cinta. Di sebelahnya, sang Anjing mulai menggaruk-garuk tu buhnya sendiri. Rose menekan tapak depan sang Anjing untuk menghentikannya. Celemek itu mungkin menyem bu nyikan mereka dari pandangan, tetapi tidak menyembu nyikan suara yang mereka timbulkan. Mereka juga tidak bisa mengintip sementara Marchesa menjulang di atas mereka. Butuh beberapa saat hingga air mendidih. Marchesa bersandar ke meja, memandangi dirinya sendiri di ubin yang seperti cermin. Dengan ujung jemari, dia menyeka sudut bibir untuk membersihkan lipstiknya. “Tak akan lama lagi sebelum waktu panen,” lantunnya, nada improvisasinya mulai terdengar gelap. “Dan, saat itulah aku akan sempurna!” Senang dengan dirinya sendiri, mantan ratu kecan tikan yang masih muda itu mengambil foto berbingkai dari meja. Rose tidak memperhatikannya sebelumnya, tetapi sekarang dia bisa melihat itu adalah potret hitam putih sang Marchesa saat remaja bersama pemuda yang seram pangan. “Biar tahu rasa kau, Eustace,” katanya sambil menusukkan jari pada gambar si pemuda. desyrindah.blogspot.com


Cerek mulai bersiul nyaring. Sang Marchesa meng ang katnya dari kompor. Namun, tiba-tiba dia membeku dan meletakkan jari di bawah hidungnya. Sambil menggeleng-geleng, dia menahan bersin. Sesaat kemudian, dia menuangkan air panas ke cang kir teh dan mencelupkan kantong teh ke dalamnya. Saat dia mulai mengambil cangkir itu, seluruh tubuhnya tersentak dan dia meledak dengan, “HATCHIII!” yang sangat keras. Sambil membersit, Marchesa berkacak pinggang dan memeriksa ruangan dengan tampang cemberut. Tiga kali dia menatap langsung ke arah Rose dan sang Anjing di balik celemek, dan tiga kali pula motif strip-zebra-dan-bintik-leopard pada celemek membuat mata berair Marchesa bergeser ke samping. Akhirnya, Marchesa mengangkat cangkir tehnya, me nyesap, lalu berjalan kembali melewati gerbang ke koridor, bernyanyi. “Seorang diri, seorang diri di rumahku ....” Rose dan sang Anjing bisa mendengar senandungnya lagi saat perempuan itu menjauh, kemudian langkahnya terdengar menaiki tangga. Dari suatu tempat di lantai atas, terdengar lagi suara bersin, kemudian segalanya hening. “Aku yakin keadaannya sudah aman, Rosemary,” bisik sang Anjing. “Kau boleh melepaskanku.” “Sori!” Rose membiarkan celemek jelek itu jatuh ke lantai, lalu berdiri dan meregangkan kakinya yang nyaris keram. “Nyaris saja.” Pesona Botani masih tergeletak di konter tengah. Rose mengambil, lalu membuka sampulnya. Di dalamnya, terdapat foto-foto mengilap dari segala jenis tanaman yang tidak biasa. Tanaman snapdragon dengan bunga berbentuk seperti kepala naga sungguhan, bunga merah muda pucat dengan kelopak berdaging tebal yang dinamai fourlips, tanaman perangkap lalat Venus yang tampak cukup besar untuk memakan seorang anak. desyrindah.blogspot.com


Rose punya firasat buruk bahwa itu bukan sekadar tipuan fotografi. “Sepertinya sang Marchesa tidak memanggang apa pun.” “Jelas.” Sang Anjing mengendus teko teh yang masih hangat di kompor. “Dia baru saja membuat minuman hangat untuk dirinya sendiri.” “Maksudku bukan sekarang,” kata Rose. “Maksudku, menurutku dia tidak menggunakan sihir kue apa pun untuk mengutuk kota.” Dia membuka Pesona Botani agar bisa dilihat sang Anjing. Pada halaman itu, terdapat foto kembang biru neon yang bermuatan listrik. “Orangtuaku punya buku seperti ini tentang bahan-bahan yang kurang dikenal. Sang Marchesa menyanyikan sesuatu tentang panen, ‘kan?” Rose menaruh buku itu kembali. “Dia pasti telah menumbuhkan ramuan ajaib sendiri, sesuatu yang sangat kuat sampai-sampai bisa mengubah waktu!” Sang Anjing menelengkan kepala, mempertimbang kan. “Hipotesis yang menarik, dan bukan sesuatu yang sudah kupertimbangkan. Kalau kau terbukti benar, ini menjadi pertanda baik untuk nilaimu.” Rose merasa bersemangat untuk kali pertama sejak tiba di Bontemps. Akan lebih baik jika ayahnya ada di sini untuk mengidentifikasi semua bunga aneh di dalam buku Marchesa, tetapi setidaknya Rose akhirnya punya ide tentang apa yang harus dia lakukan selanjutnya. “Kita perlu mencari tahu apa pun yang ditanam sang Marchesa dan dicabutnya dari tanah.” “Aku akan menuntut kehati-hatian,” kata sang Anjing. “Selama satu ujian yang sudah lama berlalu, Salazar Bliss mencabut setangkai rumput yang tidak biasa dan hampir mengurai jalinan ruang serta waktu.” “Waduh. Oke, berhati-hati—paham.” Rose mengena kan ranselnya. “Berapa nilai yang dia dapatkan?” “B minus. Lagi pula, dia nyaris melenyapkan eksis tensi.” desyrindah.blogspot.com


Rose berjalan ke pintu pelengkung dan mengintip ke koridor. “Kalau dia seperti kita, sang Marchesa pasti memiliki panduan botani seperti Cookery Booke.” “Atau barangkali sebuah jurnal, seperti Emma,” kata sang Anjing di belakangnya. “Barangkali,” Rose sependapat, menempelkan satu jari ke bibir. Tidak seorang pun terlihat. Dia memberi isyarat agar sang Anjing mengikuti, lalu berjingkat-jingkat melintasi koridor yang dipoles dan kembali ke ruang tamu. Api masih menghangatkan ruangan, meskipun cahaya siang yang menembus gorden mulai memudar. Bahkan ketika waktu berjalan mundur, hari-hari musim gugur lebih pendek di sini di Bontemps, dan malam sudah menjelang. “Kita hanya harus menemukan panduan botani ajaib nya,” Rose berkata, berjongkok di rak terdekat. Tanpa ber suara, dia dan sang Anjing itu mulai membuka buku-buku tebal bersampul kulit. “Seharusnya kita tidak butuh waktu selama itu untuk menemukannya.” ... Satu jam kemudian, mereka masih menjelajahi rak-rak buku. Rose menelusurkan satu jari pada setiap punggung buku, sementara sang Anjing mengendus berbagai halaman yang berjamur. Ada buku-buku dasar tentang berkebun, pan duan untuk menyetek tanaman dan menyuburkan petak-petak bunga, serta buku petunjuk super khusus ten tang penempatan sayuran yang benar sehingga akarnya akan mencekik kehidupan tanaman di dekatnya. Bahkan ada almanak bergambar tentang penyerbukan lebah. desyrindah.blogspot.com


Click to View FlipBook Version