“J’espère que non!” sang Anjing menyalak. “Artinya, kuharap tidak! Tapi, kalaupun harus, itu juga akan men jadi bagian dari ujianmu.” Rose mengikuti sang Anjing menyusuri jalanan. Mereka berada di jalan yang dijajari rumah-rumah dan, yang me ngejutkan, tampak sangat rapi. Setiap pekarangan dikelilingi pagar kayu putih yang kelihatannya baru dicat, rerumput annya hijau subur, bahkan dalam cahaya malam yang te maram, serta terpangkas rata dan sempurna. Rumah-rumah itu berlantai satu, dicat biru dan kuning pastel dan dihias dengan warna putih, sementara di sepanjang trotoar ter dapat pohon maple muda yang kelihatannya baru ditanam. Langit terlihat lebih cerah di jalan, matahari terbenam memancarkan cahaya keemasan ke rumah-rumah tadi. Ma lam hari tampaknya lebih larut dan lebih gelap di hutan tadi, tetapibarangkali itu disebabkan oleh bayang-bayang pepohonan yang tinggi. Sebuah pintu terbuka, Rose dan sang Anjing berhenti di tengah jalan, memperhatikan seseorang keluar dari rumah terdekat. Rupanya seorang remaja lelaki yang tak lebih tua dari Ty, dan dia mengayunkan lengan sambil bersiul sendiri saat menyusuri pelataran depan menuju trotoar. “Selamat pagi, Madam,” sapa pemuda itu, menyengir sambil mengangkat topinya yang kuno. Bahkan, seluruh pakaiannya tampak kuno. Pantalon lipit cokelatnya ditahan tinggi-tinggi ke pinggang menggunakan bretel, sementara ke meja kuning berkerahnya disandingkan dengan dasi kupu-kupu hijau-cokelat. Rose tidak tahu banyak tentang mode busana, dan tentu saja bukan mode busana Kanada, tetapi memang banyak anak lelaki akhir-akhir ini lebih suka berpakaian dalam gaya vintage. Karena tidak ingin bersikap kasar, dia pun tersenyum, lalu berkata, “Selamat pag—” Dia berhenti dan menggeleng-geleng. Sekarang bukan pagi hari. Mungkin sapaan ironis juga hal yang lazim di Kanada. Jadi, alih-alih, desyrindah.blogspot.com
dia berkata, “Selamat malam, mak sudku.” Pemuda itu menatapnya geli sekaligus bingung, lalu me lanjutkan perjalanan. “Sekarang memang sudah malam, ‘kan?” Rose bertanya kepada sang Anjing. “Atau kita juga melakukan per jalanan melintasi waktu?” “Tidak, angin tidak dapat bergerak melintasi waktu, hanya ruang,” kata anjing itu. “Kita sampai di sini tepat sebelum pukul enam tepat, seperti yang tadi kubilang.” Saat mereka hampir mencapai pusat kota, ada orang-orang lain yang keluar dari rumah masing-masing—hanya remaja dan anak-anak, Rose menyadari, dan kesemuanya mengenakan pakaian seolah mereka berasal dari era 1940-an dan 1950-an. Hiruk pikuk teredam dari keramaian mem bawa Rose dan sang Anjing ke Main Street. Mereka lewat di bawah spanduk kanvas yang digantung di antara tiang lampu. Spanduk itu bertuliskan Hari Warisan! dan, di ba wah nya, terdapat tulisan yang lebih kecil, Pesta Dansa Hari Warisan Besok Malam— Hadiri atau Rugi Sendiri! Rose melirik korsase mawar kuning di pergelangan ta ngannya, rasa pedih menghunjam dadanya. Pesta dansa di Calamity Falls juga sebentar lagi akan dimulai. Akankah Devin pergi tanpa dirinya? Dia tampak terlalu perlente dalam busana resminya untuk tetap tinggal di rumah sendirian se mentara orang-orang lain di sekolah bersenangsenang. Tetap saja, mungkin Rose bisa menyelesaikan ujian ini lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkannya untuk membuat satu resep Cracker Jacks-Be-Nimble. Mungkin dia bisa kembali ke Calamity Falls tepat waktu untuk dansa terakhir dan segelas punch stroberi. “Ke mana pun anak-anak ini pergi, pasti di sanalah kita akan menemukan masalahnya.” Rose berlari maju, ransel terpental-pental di bahunya. “Ayo!” serunya kepada sang Anjing. desyrindah.blogspot.com
Anjing itu berderap mengejarnya. “Ah, itu dia sema ngat berapi-api yang kuharapkan dari seorang Bliss. Terjun langsung ke pusat kekacauan!” Di tikungan, mereka mendapati diri berada di taman pusat kota. Pasti ada sekurangnya dua ratus anak yang berkumpul untuk merayakan Hari Warisan, kebanyakan bersantai-santai di atas selimut dan di bangku taman dan memenuhi gazebo. Pita oranye dan kuning yang meriah diikat ke lampu-lampu jalan, sementara balon-balon me layang di atas pepohonan di alun-alun. Sepasang gadis yang agak lebih tua dari Rose lewat, berjalan bergandengan menuju keramaian. Gaun mereka berlengan pendek dan dikancingkan sampai ke leher, de ngan rok yang melebar dan keliman di bawah lutut. Mung kin tema Hari Warisan ini berkaitan dengan tahun 1940-an—Rose pernah melihat foto-foto nenek buyutnya yang mengenakan pakaian serupa. Salah satu dari gadis-gadis itu, yang berambut cokelat, terbeliak. “Wah, Madam, pada usiamu ini apakah kau tidak apa-apa berkeliaran di sini tanpa pengawasan? Kau butuh bantuan?” “Jangan sampai kau memaksakan diri dan malah jatuh,” kata gadis kedua, yang berambut merah. Rose melirik sang Anjing, yang sibuk mengendus-endus aspal. “Aku ... baik-baik saja. Kurasa. Terima kasih atas per hatiannya, kukira.” Si rambut cokelat memaksakan senyuman. “Apa pun yang menurutmu paling baik, Ma’am. Kau lebih tahu dari pada kami, bukan?” “Semoga pagimu menyenangkan!” timpal si rambut merah saat dia dan temannya berlalu. Rose memperhatikan mereka menghilang ke sebuah kedai makan di sudut alun-alun, tempat anak-anak lain me menuhi bilik. “Pagi lagi,” desyrindah.blogspot.com
kata Rose. “Apakah itu semacam kelakar khas kota ini, atau apakah semua orang Kanada itu ... tidak biasa?” “Orang-orang Kanada ini memang tampak aneh, sih,” sang Anjing menanggapi. Dari pengeras suara yang tak kasatmata, alunan musik trompet penuh kemenangan menggelegar ke seantero alun-alun. Kerumunan remaja, anak-anak dan bahkan balita ber sorak, menjulurkan kepala untuk melihat sesuatu di sebe rang pelataran rumput. Rose menyeberangi jalan lalu mendorong-dorong menu ju pelataran rumput, sembari meminta maaf ketika menab rak anak-anak Kanada berpakaian aneh. Beberapa men delik, siap memarahinya, tetapi setelah melihatnya, mereka hanya bergumam cepat, “Maaf, Ma’am.” Seorang bocah lelaki me nawarkan diri untuk mengawalnya, tetapi Rose menolak. Semua orang yang dia lewati bersikap seolah dia invalid. Di sisi seberang alun-alun, terdapat kantor pemadam kebakaran, bendera maple merah-putih berkibar di depan nya. Ketika trompet selesai memainkan nada mereka, garasi kantor pemadam kebakaran terbuka dan sebuah mobil pe madam merah mengilat meluncur keluar. Seorang petugas pemadam kebakaran berseragam leng kap mencondongkan tubuh ke luar jendela pengemudi dan melambai ke arah kerumunan anak-anak. Rose menyadari dengan kaget bahwa petugas itu juga masih remaja—dan tidak cukup umur untuk mengendarai kendaraan tersebut. Beberapa anak lain, semuanya mengenakan pakaian pelin dung dan mantel pemadam kebakaran berat, duduk di atas nya, melambai-lambai. Perlahan, Rose tersadar bahwa orang paling tua yang dilihatnya berusia remaja, dan tidak seorang pun cukup umur untuk kuliah. Meskipun ada para balita yang merang kak ke mana-mana dan terlihat masih lebih muda daripada Leigh, Rose tidak melihat satu orang dewasa pun di keramaian. desyrindah.blogspot.com
Mobil pemadam kebakaran hanyalah awal dari apa yang ternyata merupakan parade Hari Warisan. Seraya mem bu nyikan klakson, sebuah truk tua dengan bak datar yang dikendarai seorang gadis remaja mengikuti iring-iringan di belakang truk pemadam kebakaran. Truk tersebut terbung kus satin putih dan dihiasi balon-balon emas. Sementara itu, duduk di belakang di kursi tinggi, terdapat delapan bayi sungguhan yang mengenakan piama sutra, mengisap dot, dan melambaikan kerincing perak. Ada penanda di sisi truk, ditulis dengan kaligrafi emas: The Ladies Who Brunch. “Tampaknya itu sangat berbahaya,” bisik Rose gugup kepada sang Anjing. Sang Anjing mendengking dan mengangguk sepen da pat. Namun, ternyata bukan hanya kendaraan hias itu—setiap kendaraan berikutnya mengangkut bayi di sepanjang jalan untuk disoraki oleh kerumunan yang memuja. Ada kendaraan hias bertema sains dengan bayi berkacamata dan berjas lab duduk di antara replika planet. Mereka meru pakan, menurut penandanya, Our Brightest Minds. Lalu, ada trailer traktor penuh bal jerami yang mengangkut bayi-bayi bertopi jerami dan overal jins merangkak di atas beberapa buah labu, dan kendaraan lain tempat para bayi yang memakai wig badut pelangi dan hidung palsu dari bola merah dengan gembira menebar permen dari ember ke kerumunan. Rose menangkap sebatang cokelat mini dan memasukkannya ke saku jaket untuk dimakan nanti. Mereka sudah berada di sana cukup lama sehingga Rose menduga seharusnya sekarang sudah gelap, tetapi entah bagaimana keadaan malah semakin terang. Bahkan sangat terang, sampai-sampai lampu jalan mulai berkedip padam, satu per satu. Rose mulai merasa tidak enak hati. Harapannya untuk segera menuntaskan ujian ini remuk berantakan seperti remah-remah. Dia punya firasat bahwa ada sesuatu yang sangat sa lah dengan Kota desyrindah.blogspot.com
Bontemps, dan hanya bersenjata kan ransel yang disebut “hadiah”, tanpa seorang pun membantunya, Rose tidak tahu bagaimana dia bisa memperbaikinya. “Nah, itu baru menarik,” gumam sang Anjing, nyaris tak terdengar di tengah gemuruh mesin kendaraan hias serta sorakan anak-anak. Dia memalingkan wajah dari parade. Rose mengikuti arah pandangannya melalui hamparan hi jau ke balai kota, kemudian ke menara jam. Permukaan jam itu memiliki lebar sekurangnya 1,8 me ter, dan jarum besi hitamnya beringsut memutar, menan dakan perubahan waktu, seperti yang diharapkan dari setiap jam. Hanya saja, jarum jam tersebut tidak menunjukkan waktu lewat pukul enam malam, seperti yang sempat diduganya. Saat ini, jam itu menunjukkan pukul 05.34. Ketika Rose menyaksikan, jarum menitnya bergerak ke 05.33. Waktu berjalan mundur.[] desyrindah.blogspot.com
Bab 4 Orang Asing Misterius Rose berjongkok di sebelah sang Anjing, berbisik agar ti dak ada seorang pun dalam kerumunan yang mem per hatikannya berbicara kepada seekor hewan. “Jarum jam nya berputar ke arah yang salah! Dan, matahari sedang terbit. Kenapa?” Sang Anjing menelengkan kepala. “Aku tak bisa bilang aku tahu jawabannya.” Sambil menggeram, dia memaling kan pandang dari menara jam. Dengan lebih lantang, dia menambahkan, “Dan, kalaupun aku tahu, aku tidak akan bisa memberitahumu. Ini ujianmu, Rosemary Bliss.” Seorang gadis berkacamata dengan bingkai mirip mata kucing mengerjap ke arah Rose dan sang Anjing. “Astaga naga!” katanya, suaranya ditenggelamkan teriakan antusias dari anak laki-laki di kedua sisinya. “Apa anjing itu baru saja memperlihatkan gusinya?” “Gusinya?” Rose bertanya. Gadis itu memberi isyarat ke arah si anjing gembala besar. “Apa dia bicara? Aku berani sumpah tadi aku men dengarnya mengucapkan sesuatu.” Rose membayangkan apa yang mungkin Sage lakukan dalam situasi seperti ini. Dia berkata lambat-lambat, “Ah tidak, itu cuma aku yang melatih suara perut menirukan pria tua.” Seraya menirukan sang Anjing, dia berkata, “Tally ho, pip pip, tak ada pertanyaan ataupun permintaan bantuan, Rose.” desyrindah.blogspot.com
Gadis itu bolak-balik menatap Rose dan sang Anjing dengan skeptis. “Kau melakukannya dengan lebih baik sebelumnya.” Seseorang berteriak, “Hei, lihat! Pak Tua Thompson akhirnya keluar dari rumahnya!” Gadis dengan kacamata ala mata kucing itu terkesiap dan kembali mengamati parade, melupakan Rose dan sang Anjing. “Mulai sekarang, jangan berisik lagi, oke?” bisik Rose. “Tidak apaapa kalau kau tidak bisa memberiku petunjuk, tapi cobalah untuk tidak membuatku jadi pusat perhatian.” Sang Anjing mendengus, tetapi tidak mengatakan apa-apa lagi. Parade hampir berakhir saat beberapa kendaraan hias terakhir berbelok ke Main Street. Di akhir iring-iringan, terdapat kendaraan paling besar dari semuanya: sebuah platform bermotor yang dihiasi ratusan sisik ikan kertas sewarna merah marun. Di atasnya, terdapat sesuatu yang hanya bisa Rose gambarkan sebagai singgasana emas raksasa—pastinya hanya kursi biasa yang dilapisi kertas timah—dan singgasana tersebut diduduki oleh orang paling tua yang dilihatnya di kota ini. Gadis di kursi itu mungkin berusia 19 atau 20, tampak baru beberapa tahun lulus SMU. Dia mengenakan celana cutbrai warna merah anggur, serta blus magenta menjun tai yang dikancingkan sampai ke leher. Bibirnya dipulas merah menyala, tulang pipinya yang tajam ditonjolkan dengan perona pipi, dan rambut hitamnya ditata dalam ikal-ikal besar yang longgar, seperti bintang film lawas yang terkenal. Dia mengingatkan Rose kepada Bibi Lily yang lebih muda, tetapi kurang anggun. Kerumunan masih bersorak, tetapi tidak seantusias sebelumnya. Gadis berkacamata mata-kucing menge ru cut kan bibir seolah dia mencicipi sesuatu yang masam. desyrindah.blogspot.com
Gadis cantik tadi berdiri dari singgasananya, me lambai-lambai ketika kendaraan hiasnya lewat. “Terima kasih, Ke sa yanganku Sekalian! Cinta kalian bagaikan minuman ceri menghangatkan, dan aku, sang Marchesa, akan meneng gaknya!” “Apa itu Marchesa?” Rose bertanya kepada sang Anjing. Anjing itu menelengkan kepala ke arah Rose, tetapi gadis berkacamatalah yang menyahut, “Wali kota. Itu cuma gelar mewah yang dia pilih karena dia tidak suka istilah wali kota.” Kendaraan hias sang Marchesa menghilang di sudut alun-alun, mengikuti parade lainnya ke mana pun mereka pergi. Kerumunan mulai menipis, dan tak lama kemudi an, Rose dan sang Anjing ditinggal sendirian di hamparan rumput yang terinjak-injak, sementara anakanak dan para remaja mengeluyur memasuki bangunan-bangunan yang menghadap ke alun-alun. “Menurutku, gadis mata kucing itu berbohong tentang si gadis Marchesa tadi,” kata Rose. Dia merogoh saku dan menemukan cokelat batangan mini. “Mungkin dia seperti Miss Teen USA.” Tepat sebelum memasukkannya ke mulut, Rose menambahkan, “Atau apa pun versi Kanada-nya.” “Aku mungkin tidak ingin memberi petunjuk,” kata sang Anjing, “tapi bukan berarti aku tidak bisa membantumu. Menurutmu apa yang salah dengan tempat ini?” Rose duduk di bangku taman. “Yah, pertama-tama, matahari terbit dari arah yang salah, meskipun mungkin kita bepergian secara terbalik ke sini. Dan, jamnya juga mundur, meskipun mungkin saja mereka sengaja memutarnya seperti itu ... sebagai lelucon, mungkin?” Sang Anjing mengangkat sebelah alis lebatnya. “Me nurutmu segampang itu?” Rose mendesah. “Ada juga fakta bahwa semua orang di sini berpakaian aneh dan tidak ada orang dewasa, ke cuali mungkin sang desyrindah.blogspot.com
Marchesa, tergantung berapa umurnya yang sebenarnya.” Rose bersandar, bahunya terkulai. “Aku punya firasat buruk tentang dia, dan mungkin aku salah, tapi aku pernah bertemu banyak orang jahat dengan gelar-gelar mewah yang suka duduk di atas singgasana.” Sang Anjing mengguncang-guncang tubuhnya. “Ayo kita mulai dari sana! Kita selidiki orang yang disebut sang Marchesa ini.” Di seberang jalan terdapat toko kembang, dan di de pan nya ada kotak surat kabar dari logam. Itu akan menjadi tempat yang bagus untuk memulai. Rose memandang ke kedua arah sebelum menyeberang jalan, tetapi dia tidak benar-benar perlu khawatir—selain kendaraan hias tadi, ti dak ada lalu lintas di kota ini. Bahkan, tidak ada satu sepeda pun yang terlihat. Beberapa remaja lelaki berjas kuno memandangi Rose dan sang Anjing dengan aneh, tetapi dia mengabaikan mereka dan berusaha sebaik mungkin untuk bertindak seolah dia berhak ada di sini. Begitu mencapai trotoar yang berada di seberang jalan, Rose menghampiri kotak surat kabar—dan mendapatinya terkunci. “Kau punya koin seperempat dolar?” Rose bertanya kepada sang Anjing, meski sudah tahu jawabannya. “Atau loonies atau toonies atau apa pun yang mereka gunakan di sini.” “Sungguh, Rosemary, menurutmu, di mana aku bisa menyimpan koinnya?” gerutu sang Anjing. “Di dompet koin rahasia di balik bulu tebalku?” “Lupakan.” Rose berjongkok di depannya, mencoba mem baca halaman depan melalui jendela kotak surat ka bar tersebut. Nyaris seluruhnya dipenuhi oleh foto hitam-putih sang Marchesa di sebuah kantor besar di suatu tempat, te tapi dia tidak bisa membaca tajuk berita utama ataupun isi artikelnya. Namun, Rose bisa membaca bagian sisi kotak surat kabar itu. “Kita akan ke sana!” kata Rose, menusukkan satu jari ke kepala koran. desyrindah.blogspot.com
“Kantor surat kabarnya terletak di Main Street 3 1/4.” Dia menggelenggeleng. “Alamat yang aneh. Tapi, mungkin orang-orang Kanada menomori jalan mereka dengan cara yang berbeda.” “Petunjuk yang solid, Rosemary.” Ekor sang Anjing mengibas-ngibas. “Para wartawan kota seharusnya tahu apa yang sedang terjadi. Tunjukkan jalannya!” Di depan toko bunga terdapat angka 2 bercat emas, dan di sebelahnya, di Main Street nomor 3, adalah toko daging yang belum buka. Mereka melewati gang sempit dan mene mukan Main Street nomor 4—sebuah bank. Rose sampai mengecek dua kali dan mengintip ke da lam gang. Dinding-dindingnya terbuat dari batu bata, dan ada tangga darurat reyot dari besi di samping bank. Sambil mengedik ke arah sang Anjing, dia pun berjalan memasuki gang dan menemukan pintu abu-abu tak mencolok dengan angka 3 1/4 dicat di atasnya. Setengah tersembunyi di ba lik tumpukan kotak terbengkalai, terdapat tulisan Orville’s Assorted Offal. Rose mengetuk. Tak ada jawaban, meskipun dia bisa mendengar orang-orang di dalam. Jadi, dia pun meraih gagang pintu dan pelanpelan membukanya. Aroma kertas tua kisut dan bau tinta yang pekat menguar keluar. Kantor surat kabar itu kecil dan sempit, tidak lebih besar dari kamar Rose di rumah. Lemari arsip yang tinggi berderet di tiap-tiap dinding, masing-masing dipenuhi tumpukan su rat kabar tua yang mengancam untuk roboh kapan saja. Di sana ada dua meja, dan di atas masingmasing meja terdapat mesin tik tua. Meja yang di sebelah kiri tidak berpenghuni, meskipun lampu meja bertudung hijaunya menyala. Dua orang di kantor itu malah berkerumun di sekitar meja se be lah kanan. Salah satunya adalah anak laki-laki seusia Rose, tampak tegang saat dia mengaduk-aduk sebuah laci. Kulitnya gelap dan mata cokelat desyrindah.blogspot.com
besarnya tampak semakin besar karena kaca mata bundar tebal yang dia pakai, sedangkan rambut pendek ikalnya dibelah samping. Seperti setiap anak lain di kota, dia berpakaian seperti kakek-kakek. Celana pantalon nya terbuat dari wol abu-abu, dipadukan dengan kemeja panjang putih serta dasi kelabu polos. Dia menge nakan kar digan berkancing berwarna hijau yang setidaknya beberapa ukuran lebih besar untuknya, yang bagian sikunya sudah lusuh. (Yah, mirip kakek orang lain, batin Rose—karena Balthazar lebih suka gaya yang lebih kasual.) Seorang asisten anak-anak di kantor surat kabar bukan hal yang aneh. Yang aneh, orang di balik meja adalah bayi perempuan dalam kursi tinggi yang tidak memakai apa pun selain popok menggembung dan kacamata bingkai hitam untuk ukuran orang dewasa. Bayi itu menepak-nepakkan tangannya yang gemuk ke tuts mesin tik. Sebuah plakat emas di ujung depan meja bertuliskan, “Hedda Penny —Pemimpin Redaksi.” Mungkin sang redak tur sedang keluar dan meninggalkan bocah lelaki tadi untuk mengawasi bayinya, duga Rose. Bayi perempuan itu menyadari kehadiran Rose dan sang Anjing terlebih dahulu. Dia memekik dan menampar-namparkan tangannya lebih keras pada tuts, membuat me sin tiknya mengetikkan kata-kata tak jelas pada selem bar kertas yang bergulir ke dalamnya. “Cosmo!” katanya cadel. “Ap yang kau wakuuukan.” Terkejut, si bocah kardigan berbalik, meremas dada. Begitu melihat yang datang hanya Rose dan sang Anjing, dia menenangkan dirinya. “Oh, halo.” Si bayi memekik lagi, dan bocah itu mengangguk-angguk penuh semangat. “Ya, aku melihat mereka, Ms. Penny. Terima kasih, Ms. Penny.” “Ng, hai,” kata Rose, mengangkat tangan untuk menya pa. “Aku Rose. Aku sedang mengunjungi kota ini dan ingin tahu apakah aku bisa mengajukan beberapa pertanyaan ke padamu.” Dari sudut mata, desyrindah.blogspot.com
dilihatnya sang Anjing juga bersiap-siap memperkenalkan diri. Rose buru-buru meng ulurkan tangan dan menangkup moncongnya. Mata besar bocah itu semakin melebar. Dalam sekejap, dia mengeluarkan notes kuning dari saku dan mengambil bolpoin dari belakang telinganya. “Pengunjung? Tidak bercanda, ‘kan? Wuidih, ini baru berita! Kami tidak pernah men dapat pengunjung sejak ....” Dia menggaruk-garuk dagu dengan ujung bolpoinnya. “Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali itu terjadi.” Dia mencondongkan tubuh ke depan. “Kami perlu menulis cerita tentang ini secepatnya. Ceritakan kepadaku sekarang, Rose.” Bayi di kursi tinggi meraban tidak jelas. Dia mengambil dot, lalu melemparkannya ke kepala si anak lelaki. Si bocah lelaki meringis dan merunduk. “Ya, maaf, Ms. Penny.” Dia menyelipkan notes kembali ke sakunya dan mengulurkan tangan. “Cosmo, Wartawan Utama, siap membantumu.” Bayi itu memelotot. “Eh, Wartawan Utama Junior.” Rose menjabat tangannya, dan Cosmo tersenyum meli hat korsase di pergelangan tangan gadis itu. “Wah, bunga yang bagus. Sempurna untuk Hari Warisan.” Seraya ber jong kok, dia menggosok telinga putih sang Anjing. “Dan siapa sobat besar ini?” “Dia anjingku,” Rose berbohong. “Namanya ... eh ... Lester!” Sang Anjing mendengking jengkel, dan Rose mengang kat bahu. Itu nama pertama yang muncul di benaknya. Seutas gelang karet dijentikkan dari seberang ruangan dan mengenai telinga Cosmo. “Lapaaal!” rengek si bayi. “Ya, Ms. Penny,” gumam Cosmo. Dia mengacungkan satu jari agar Rose menunggu, lalu menghilang ke balik lemari arsip. Dia kembali dengan botol di tangan. Bayi itu mengambilnya dan mulai meneguk apa pun isinya. desyrindah.blogspot.com
Cosmo pergi ke rak mantel di dekat pintu, menyam pirkan mantel trench di lengannya, dan menjatuhkan topi fedora ke kepalanya. Pada topi itu, terselip kartu mungil bertuliskan PERS. “Ms. Penny sedang menikmati camilan pagi hari, jadi bagaimana kalau kau, aku, dan Lester menikmati sarapan kesiangan di Silver Spoon dan kita bisa berbincang lebih jauh tentang apa yang membawamu ke Bontemps?” Cosmo tidak menunggu jawaban sebelum mendorong pintu membuka ke arah gang. Rose dan sang Anjing mengikuti. “Apakah tidak masalah meninggalkan, ehm, Ms. Penny sendirian?” Rose bertanya. Cosmo mengenakan mantel trench-nya, sudah setengah jalan menuju jalan raya. “Tentu saja, memangnya kenapa tidak?” Rose dan sang Anjing bertukar pandang gugup. “Mak sudku, dia kan —” “Banyak maunya? Manja? Orang yang sok tahu?” Cosmo berhenti di ujung gang, lalu berbalik meng hadap Rose. “Jangan salah sangka. Aku tidak bermaksud menjelek-jelek kan wanita itu. Dia hanya bersikap menyulitkan karena ini karier keempatku.” Dia mengangkat tangan. “Tapi, aku sudah satu tahun bekerja di sini, dan dia masih belum mengangkatku melewati jabatan wartawan junior, padahal aku satu-satunya wartawan di sini!” Rose mengerjap ke arahnya. “Kau sedang membahas soal Ms. Penny.” “Tentu saja,” jawab Cosmo. “Ms. Penny si bayi.” Cosmo mendengkuskan tawa. “Hei, sekarang kaulah yang sok tahu.” Dia mengendus-endus udara dan mere kahkan cengiran lebar. “Kelihatannya Jumpin’ Jimmy me nya jikan burger lebih awal hari ini! Kau pernah sarapan burger? Yah, bukan benar-benar sarapan burger desyrindah.blogspot.com
namanya kalau kau tidak menikmatinya di Silver Spoon.” Dia pun berjalan lagi, menghilang menyusuri Main Street. “Jangan buang-buang waktu,” bisik sang Anjing ke pada Rose. “Kalau dia berpikir bayi itu akan baik-baik saja, maka dia akan baik-baik saja.” “Kanada semakin aneh saja,” bisik Rose. “Karier ke empat-nya? Memangnya anak-anak di Kanada diharus kan bekerja alih-alih memasuki pra-sekolah? Bukankah itu ilegal?” “Ayo kita tanya dia dan cari tahu jawabannya,” kata sang Anjing, berderap mengejar anak lelaki tadi. Mereka mengikuti Cosmo ke sudut Main Street dan memasuki kedai makan yang tadi dilihat Rose. Ketika mereka masuk, setiap anak di meja bar yang panjang dan di meja-meja serta di bilik-bilik berhenti berbicara, dan menjulurkan kepala untuk mengamati Rose. Cosmo tampak tidak terpengaruh, berjalan cepat ke sebuah bilik di dekat jendela depan, tetapi Rose merasakan mata se mua orang mengikutinya. Satu-satunya suara adalah ma kanan yang mendesis di dapur di belakang dan seseorang yang perlahan menyeruput susu kocok. Rose menggiring sang Anjing masuk ke salah satu bilik, lalu mengambil tempat di sampingnya. Cosmo duduk di seberang mereka, menaruh mantel trench di sebelahnya dan meletakkan topi di atasnya. Di sekeliling mereka, semua orang kembali makan, hanya sekarang mereka berbisik-bisik mendesak kepada satu sama lain. Sambil mengunyah permen karet, seorang pelayan dengan celemek biru menghampiri. Usianya tak mungkin lebih dari delapan tahun dan dia hampir tidak cukup ting gi untuk memandang melewati permukaan meja. “Pesan apa, Cosmo?” tanya si pelayan, bosan. “Beri aku buah ayam1 dan daging menunggangi pela na ternak2 ,” Cosmo memesan. “Oh, dan satu porsi ganda poutine buatan Jimmy.” desyrindah.blogspot.com
Dia memberi isyarat dengan kepala ke arah Rose. “Ehm, mungkin air saja untukku,” kata Rose. Perutnya mendadak keroncongan. Dia menyantap makan malam lebih awal di Calamity Falls, tetapi makanan penutup ti dak ada salahnya. “Dan sepotong pai apel terbaikmu.” “Burger dan pai untuk sarapan,” kata si pelayan, meng amati keduanya dari atas ke bawah. “Segera diantarkan.” Sang Anjing mendengking dan menamparkan tapak beratnya di meja. Si pelayan benar-benar tersenyum me lihatnya. “Sudah lama tidak ada anjing di sekitar sini. Aku akan membawakanmu tulang, Dreamboat. Untukmu gratis.” Cosmo mengeluarkan notesnya lagi, praktis mengge letar saking bersemangatnya. “Kita punya waktu sebelum pesanannya tiba, jadi beri aku kisah eksklusifmu. Berapa umurmu, Rose?” “Aku?” tanya Rose. “Aku tiga belas tahun. Ehm, berapa usiamu?” “Tahu tidak,” sahut Cosmo, “itu pertanyaan bagus, dan aku tidak ingat persis jawabannya. Aku lahir beberapa waktu lalu, aku tahu itu. Tak lama setelah pergantian abad.” Yah, pergantian abad kan tidak selama itu, pikir Rose. Barangkali Cosmo hanya terlihat muda dan usianya lebih sebaya dengan Ty daripada dengan dirinya. “Jangan salah sangka,” kata Rose, “tetapi semua orang yang kulihat di sini tampak amat sangat muda.” Si pelayan lewat dengan cepat, berhenti cukup lama untuk melemparkan tulang steik berat di depan sang Anjing dan menuangkan kopi untuk keduanya. Anjing itu mulai menggerogoti dan mengerumit tulangnya. “Contohnya dia,” kata Rose, memberi isyarat dengan tangan ke arah si pelayan. “Dia bahkan belum setua adik lelakiku, tapi dia sudah desyrindah.blogspot.com
bekerja di sini.” Cosmo tertawa. “Kau mungkin perlu memeriksakan matamu. Tempat ini penuh dengan orang lanjut usia!” Dia mengaduk-aduk kopinya tanpa sadar, tenggelam dalam pikiran. “Kurasa kau memang dari luar kota. Mungkin ke adaannya berbeda di tempatmu.” “Tak mungkin seberbeda itu,” sahut Rose. Kedai itu menjadi senyap lagi, dan ketika mengerling ke samping, Rose melihat bahwa semua anak kembali me natapnya. Ketika dia menangkap tatapan mereka, mereka berpaling, pura-pura mendadak sangat tertarik kepada piring hidangan masing-masing. “Kenapa semua orang memandangiku?” bisik Rose. “Aku mulai merasa agak sadar-diri.” “Oh, abaikan mereka,” Cosmo berkata, mengibaskan tangan. “Mereka cuma penasaran kepada orang asing mis terius di kota.” Butuh sejenak bagi Rose untuk menyadari bahwa Cosmo membicarakan soal dirinya. “Tak ada orang baru yang datang kemari sejak amat sangat lama.” Men dadak gugup, Cosmo juga mulai berbisik, “Kalau dipikirpikir, mungkin bukan ide bagus membawamu berkeliling ke Silver Spoon.” Sang Anjing berhenti menggigiti tulangnya dan me matung. Rose meliriknya, dan anjing itu mengangguk. Mungkin ini petunjuk yang sudah mereka cari-cari. “Seberapa lama tepatnya?” Rose bertanya, lirih. “Sejak pengunjung terakhir kemari?” Cosmo berayun-ayun ke depan belakang saat memi kirkan pertanyaan itu. “Yah, sudah sangat lama sekali sampai-sampai aku lupa waktu, jujur saja. Tapi kuduga … tak ada orang yang pernah datang atau meninggalkan Bontemps selama lima puluh tahun ini.” Dia membalas tatapan Rose. “Sampai dirimu.”[] desyrindah.blogspot.com
------------------------------ 1 Telur—penerj. 2 Burger—penerj. desyrindah.blogspot.com
Bab 5 Bawa Masuk Badutnya “Lima puluh tahun?” Rose berseru. “Pelankan suaramu!” Cosmo mengedarkan pan dang, gelisah kalaukalau ada orang lain yang menguping. Na mun, anak-anak lain masih sibuk membaca koran dan melahap sarapan masing-masing, dan dengung percakapan yang menyenangkan memenuhi tempat makan itu. “Aku jadi begitu bersemangat untuk mendapatkan berita eksklu sifmu sampai-sampai aku—” Pelayan mungil tadi muncul kembali di meja mereka, membawa nampan bundar besar sarat dengan makanan. Burger Cosmo dengan siraman telur setengah matang di atasnya (“Na manya Rise ‘N Shine!” katanya dari sela-sela gigitan empuknya), sementara poutine ternyata me ru pakan kentang goreng yang disiram saus gravy dan dadih keju. Sepotong pai untuk Rose—apel dan kayu manis, dari aroma hangatnya —dengan sesendok es krim vanila di sampingnya. “Kukira aku kenal wajah semua orang yang tinggal di sini,” kata si pelayan kepada Rose dengan lebih dari se kadar kilasan rasa ingin tahu, “Tapi, aku tidak pernah meli hatmu sebelumnya.” “Ng,” kata Rose. “Aku ... eh ....” Cosmo menangkupkan tangan ke sisi mulut dan me nyen takkan ibu jarinya yang lain ke arah Rose. “Broo men thal,” bisiknya. Sang pelayan tersenyum. “Oh! Itu menjelaskan sega lanya, bukan? Bahkan anjing kampung dan seragam pe kerja dermaga ini.” desyrindah.blogspot.com
“Pekerja dermaga?” Rose memandang ke bawah. Dia mengenakan celana jins dan jaket kanvas, tetapi diban ding kan gaun warna-warni dan setelan rapi yang dikenakan semua orang, mungkin pakaiannya memang terlalu biasa. Pelayan itu menepuk-nepuk tangan Rose dengan ges tur keibuan, meskipun kelihatannya dia baru saja duduk di kelas tiga. “Bagus sekali salah seorang dari kalian ada yang keluar dan berkeliaran. Kau bisa kem bali ke sini kapan saja, Nak, dan ajak juga sobat tampan ini bersamamu.” Dia menggaruk-garuk belakang telinga sang Anjing. “Jadi anak baik buat Mildred, ya, Nak?” Dengan seulas senyum terakhir kepada Rose dan Cosmo, sang pelayan berbalik dan menuju bagian depan tempat makan. “Apa itu ‘Broomenthal’?’” tanya Rose. “Semacam kata sandi?” “Bukan, bukan yang seperti itu,” kata Cosmo dari sela-sela kunyahan kentang goreng bersalut gravy. “Keluarga Broomenthal tinggal di boondock—pedalaman, dan nyaris tidak pernah datang ke kota. Ada lusinan jumlahnya, dan tak ada yang bisa menelusuri siapa yang mana. Jadi, kalau ada yang tanya-tanya, kau seorang Broomenthal.” “Kurasa bisa saja,” kata Rose. “Tapi, kenapa keluarga Broomenthal tidak pernah datang ke kota?” Cosmo menggigit asal burgernya. “Mereka itu orang-orang sirkus tua dari tempat yang jauh. Kau tahulah, orang-orang yang berayun-ayun di atas trapeze dan menjinakkan singa serta semacamnya.” Di sisi Rose, sang Anjing berdecak-decak dan meng gunakan kaki depan untuk mendorong serbet kain ke seberang meja. Cosmo terbahak-bahak. “Hebat sekali. Katakan, apa kah anjingmu bisa melakukan trik lain?” “Kenapa?” tanya Rose, memelotot ke arah sang Anjing dalam isyarat Berhentilah pamer! desyrindah.blogspot.com
“Keluarga Broomenthal sudah pensiun, tapi masih memiliki semua hewan sirkus mereka. Kebanyakan singa dan harimau, tapi ada juga sekelompok besar anjing ter latih,” kata Cosmo sambil menyeka wajah dengan serbet. “Kalau anjingmu dapat melakukan satu-dua trik, itu bisa berhasil meyakinkan orang bahwa kau anggota keluarga Broomenthal sementara kau di sini. Jadi, apa lagi yang bisa dilakukannya?” “Eh, trik?” Rose mengulangi, melirik sang Anjing. “Yap!” kata Cosmo penuh harap. Sebelum Rose sempat merespons, sang Anjing memu tar bola mata, mengangkat salah satu tapaknya yang berat, dan menjatuhkannya dengan keras ke sendok yang terselip di bawah es krim di sebelah potongan pai apel Rose. Sendoknya jempalitan, melontarkan gundukan vanila ke udara. Saat es krim itu meluncur turun lagi, sang Anjing melompat dari kursi dan mencaploknya dengan lihai, mela hapnya dalam sekali telan. “Wuidih!” seru Cosmo. “Pintar sekali anjing piara an mu ini, Rose!” Terlepas dari sikapnya yang begitu menghakimi soal sikap berantakan Cosmo, sang Anjing tampak tidak menya dari janggut lelehan es krim vanila yang menetes-netes dari moncongnya sendiri. Ekornya menampar-nampar bilik ke cil itu dengan canggung sementara dia menjilati potongan dagingnya. “Yeah, dia memang luar biasa,” kata Rose. “Aku be ren cana memakan es krim itu,” tambahnya kepada sang Anjing. “Kau tidak kebetulan membawa kostum badut di ran sel mu, kan?” Cosmo bertanya. “Sepatu badut kedo dor an, barangkali?” “Tidak.” Rose mengernyit. “Tapi, aku bawa ayam-ayaman karet.” Cosmo menggigit burgernya lagi. “Sayang sekali. Kau bisa berpurapura menjadi badut keluarga itu—tidak ada yang benar-benar tahu seperti apa tampang gadis itu di balik lumuran cat wajah. Tapi, tak desyrindah.blogspot.com
masalah. Anjing terlatih seharusnya cukup untuk meyakinkan orangorang tentang ceritamu.” Rose memberi isyarat ke arah para pengunjung lain. Sebagian besar sudah melanjutkan aktivitas masing-masing, tetapi setelah trik es krim yang dilakukan sang Anjing, beberapa dari mereka kembali untuk berbisik dan melirik. “Aku mengerti bahwa seseorang yang berkunjung untuk pertama kalinya dalam lima puluh tahun akan me narik perhatian orang lain,” katanya. “Tapi, kenapa aku harus ber pura-pura menjadi salah satu dari anak Broomenthal ini?” Cosmo menjejalkan sisa burger ke mulut, lalu mene lannya. “Aku mengerti itu mungkin tampak ganjil. Tapi. begitu lebih baik daripada alternatif satunya.” Dia menun juk ke luar jendela besar, melewati gazebo di tengah-tengah taman yang rimbun. “Kau lihat rumah di sebelah sana? Yang ada patungnya?” Tak banyak yang bisa dilihat Rose—ada terlalu banyak pepohonan yang menghalangi—tetapi dia bisa melihat kilauan emas melalui selasela dahan dan balon parade. “Kurasa,” kata Rose sambil menudungi mata. “Ru mah siapa itu?” “Kau sudah lihat dia sebelumnya, kalau kau me nyak sikan parade,” kata Cosmo. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ekspresi polos dan ceria anak itu berubah lebih keras. “Sang Marchesa.” “Gadis cantik yang naik kendaraan hias itu?” tanya Rose. Tadi dia mendapat kesan sang Marchesa dianggap sebagai kabar buruk, dan kelihatannya tebakannya benar. Cosmo cemberut. Dia meremas serbet dan melem parkannya ke piring. “Seandainya sang Marchesa tahu kau ada di sini, dia bakal mengamuk. Tidak kepadamu secara khusus. Kepada siapa saja. Dialah alasan utamamu agar tetap merendah dan tidak menonjolkan diri saat ber ada di sini.” desyrindah.blogspot.com
“Tidak menonjolkan diri?” Rose mengulangi. Cosmo mengangguk. “Itulah yang kubilang.” “Dengan memakai kostum badut dan menyuruh an jingku melakukan trik sulap?” Cosmo mengangkat satu jari, seolah bohlam baru saja menyala di atas kepalanya. “Begini saja, aku punya ide bagus. Daripada menjadi anak Broomenthal, kau bisa meninggalkan kota saja! Dengan begitu, dia bahkan tidak perlu tahu kau ada di sini!” Dia mengangkat jarinya bahkan lebih tinggi lagi. “Hei, Mildred!” serunya. “Tolong bonnya!” Pemikiran pertama Rose adalah: tentu saja dia bisa pergi. Dia tak pernah ingin datang ke Bontempts sejak semula! Pemikiran keduanya adalah: tentu saja dia tidak bisa pergi. Dia harus lulus ujiannya. Sambil menghela napas, Rose berkata, “Kami tidak bisa pergi!” berbarengan dengan sang Anjing berkata, “Kami tidak akan pergi ke mana-mana, Anak Muda.” Cosmo mematung, tangannya masih terangkat di udara, mulutnya menganga. Di balik kacamata tebalnya, dia menger jap-ngerjap ke arah sang Anjing. “Apakah kau—” Pelayan muncul membawakan bon. Cosmo meram pasnya dan menyuruh gadis itu pergi. “Jangan sekarang, Mildred. Kami masih harus berbicara.” Pelayan kecil itu mendengkus dan berjalan pergi. “Ja ngan uringuringan begitu, Cosmo. Kau yang memanggilku.” Cosmo tidak mengalihkan pandangannya dari sang Anjing. “Nah, entah aku sudah gila—dan aku pernah dituduh gila beberapa kali, kebanyakan oleh Ms. Penny ketika aku meminta kenaikan jabatan menjadi wartawan junior—atau anjingmu itu memang baru saja bicara.” desyrindah.blogspot.com
“Ya,” kata Rose, memelototi sang Anjing. “Maksudku, tidak, kau tidak gila. Dia memang bicara. Meskipun aku sudah memintanya untuk tidak bicara.” Mata Cosmo nyaris mencelat keluar dari rongganya. “Nah, itu baru berita eksklusif yang sungguhan!” Dia mem buka notes dan mengambil bolpoin dari belakang telinga nya. “Lupakan soal pengunjung baru ke kota. Inilah kisah yang sebenarnya. Akhirnya tulisanku bisa dimuat di hala man depan!” Sang Anjing menjatuhkan tapaknya ke notes Cosmo. “Kau sendiri yang bilang, tak ada yang boleh tahu kami di sini.” Cosmo memandangi sang Anjing dan Rose bergantian dengan gugup. “Tapi, cerita seperti ini hanya muncul satu kali dalam satu—” Sang Anjing menyeringai menampakkan gigi. “Ehm, oke.” Cosmo menyelipkan kembali bolpoinnya ke belakang telinga. “Aku mengerti. Bagaimana kalau aku janji tidak akan menerbitkan cerita ini sampai kau mem beriku lampu hijau?” Rose tersenyum. “Aku, sih, tidak keberatan.” Sang Anjing juga tersenyum—atau melengkungkan bibirnya menjadi sesuatu yang tampak seperti senyum. “Bagus!” sahut Cosmo. “Tapi, yang tidak kumengerti adalah, bagaimana seekor anjing sepertimu bisa bicara, Lester? Mulutmu tidak memiliki bentuk yang tepat untuk itu.” Dia terkesiap. “Apa ini eksperimen militer? Aku yakin ini eksperimen militer!” “Sebaiknya kau tidak langsung mengambil kesim pul an,” kata sang Anjing, menyeret piring Cosmo lebih dekat dan menjilati lemaknya. “Pertama, namaku bukan Lester. Kau boleh memanggilku Anjing.” Cosmo terbahak-bahak, menarik perhatian orang lain. “Anjing, ya? Itu sih gampang.” desyrindah.blogspot.com
“Kedua,” lanjut sang Anjing di sela-sela jilatan, “aku bukan eksperimen militer. Ada yang menyebutku spirit.” “Sesosok spirit!” Cosmo memperdengarkan siulan ren dah. “Aku selalu ingin bertemu spirit, sejak Nana-ku mening gal dunia. Jadi, kau ini hantu, ya?” “Makhluk sihir, lebih tepatnya,” terang Rose. Rahang Cosmo ternganga lagi. “Sihir?” cicitnya. Sang Anjing mendengus. “Ya, ya, sihir itu nyata, hidup tak akan pernah sama lagi sekarang setelah kau menge tahuinya, bla-bla-bla, blabla-bla. Boleh kita lewat kan semua itu? Aku dan Rose tidak punya waktu untuk disia-siakan.” “Tentu, Tuan Anjing. Kalau kau bilang itu bukan masa lah, maka itu bukan masalah ….” Cosmo mencoba—dan gagal, batin Rose—untuk menyembunyikan keter kejut an nya. “Tapi, bisakah setidaknya aku bertanya ke napa kau dan Rose kemari?” Sang Anjing merebahkan kepala besar berbulunya di atas meja. “Kota ini dalam bahaya besar. Rosemary serta aku tertarik ke sini untuk menyelamatkan kalian semua.” Cosmo duduk bersandar di kursinya. “Bahaya besar, eh? Aku tak yakin apa yang bisa membahayakan. Segalanya tampak baik-baik saja di Bontemps. Tak ada perampokan, tak ada gangguan macam apa pun —karena itulah aku ke sulitan mencari bahan untuk artikel surat kabar.” “Tapi, pasti ada yang tidak beres,” Rose memprotes, memainmainkan korsase kuning di pergelangan tangan nya dan berpikir tentang pesta dansa yang dia lewatkan. “Kalau tidak, untuk apa lagi kami berakhir di sini?” Sang Anjing menjilat tangan Rose. “Tentunya kau sudah tahu apa yang salah di sini sekarang, Rosemary Bliss.” Benarkah? desyrindah.blogspot.com
Rose berharap ibunya ada di sini, membantu meme cahkan misteri Bontemps. Dia membayangkan Purdy du duk di seberang meja, di sebelah Cosmo yang sangat bi ngung. Ibunya akan memesan secangkir teh, dan rambut ikal hitamnya akan diikat ke belakang, dan akan ada percik an adonan dari semua proses pembuatan kue yang dia lakukan sepanjang hari. Beri tahu aku apa yang kau pikirkan, Rosie, kata Purdy. Dengan lantang, Rose berkata, “Ada yang aneh dengan jalannya waktu.” Gadis itu memandang ke luar jendela, ke menara jam besar dengan jarum yang bergerak mundur. “Juga bagaimana semua penduduk di sini adalah anak-anak dan berpakaian aneh.” Cosmo menunduk memandangi kardigan hijau usang nya. “Hei, ini sweter keberuntunganku!” Rose terlalu tenggelam dalam konsentrasi untuk me respons. “Cara mereka memperlakukan para bayi juga sama sekali tidak normal. Belum lagi soal sang Marchesa.” Dia menatap sang Anjing. “Kalau aku mesti menebak, dialah dalang dari apa pun yang terjadi di sini. Dia pasti telah memanggang semacam kue ajaib yang memantrai semua orang—mungkin untuk menyingkirkan semua orang dewasa sehingga dia bisa mengambil alih tanggung jawab.” Ekor sang Anjing mengibas-ngibas menampar sandaran kursi vinil. “Hebat, Rosemary. Aku pun sampai pada kesim pulan yang sama. B+!” Rose mengerjap, dan mendadak ibunya lenyap. Dia senang atas pujian sang Anjing karena itu berarti dia se langkah lebih dekat untuk pulang, kembali kepada saudara-saudara dan orangtuanya dan Leigh. Dan Devin. Meskipun Cosmo duduk tepat di seberang dan anjing itu berada di sisinya, Rose tidak bisa menahannya. Dia merasa kesepian. Cosmo menggeleng. “Aku tidak benar-benar m ema hami semua ucapan kalian tadi, tapi sang Marchesa me mang selalu dipandang mencurigakan.” desyrindah.blogspot.com
“Pasti ada seseorang di kota yang tahu apa yang sedang terjadi,” Rose merenung. “Sayang sekali kita tidak bisa bertanya langsung kepada sang Marchesa.” “Jelas kau tidak bisa.” Cosmo meninggalkan sejumlah uang warnawarni di atas meja untuk membayar sarapan, kemudian meluncur keluar dari bilik. “Tapi, kurasa aku tahu persis siapa yang harus kau ajak bicara.” “Siapa?” tanya Rose sementara dia dan sang Anjing beringsut keluar untuk bergabung dengan Cosmos. “Pustakawan kota. Dia cerdas dan tahu segala hal yang perlu diketahui tentang apa pun. Kalaupun tidak, dia tahu ke mana harus mencari tahu.” Dia melirik Rose dengan sorot penuh peringatan. “Dia itu ... lekas marah, sayangnya, jadi sebaiknya kita membawakan salah satu kudapan favoritnya. Pelicin, kalau kau paham maksudku.” Hawa pagi yang dingin menerpa Rose ketika mereka melangkah keluar ke jalan, tempat seorang bocah laki-laki dalam balutan overal menyapu jalanan untuk mem bersihkannya dari pita hiasan. Rose menudungi mata dari sinar matahari. “Ada rekomendasi?” Cosmo mengerucutkan bibir dengan penuh pertimbangan. “Sestoples kacang polong tumbuk boleh juga.”[] desyrindah.blogspot.com
Bab 6 Kisah sang Kucing Perpustakaan berada di sebelah timur alun-alun kota, sebuah bangunan bata besar dan megah dengan pintu masuk gagah yang dijaga oleh singa-singa batu. Rose duduk di langkan beton di belakang salah satu singa, berusaha tidak menarik perhatian sembari menunggu Cosmo. Anak lelaki itu mampir dulu di kios di dekat kedai makan untuk membeli kacang polong. Sang Anjing mondar-mandir dengan tidak sabar di kaki tangga, tetapi Rose mengabaikannya. Matanya terpaku pada menara jam di seberang jalan. Sekarang, waktu menunjuk kan pukul 04.53, rupanya— yang berarti dia sudah berada di kota ini selama lebih dari satu jam. Itu berarti di tempat tinggalnya pesta dansa sudah dimu lai. Dia membayangkan gedung olahraga sekolah diberi penerangan redup dan dihiasi spanduk serta balon, anak-anak dalam balutan pakaian resmi mulai berjalan masuk sambil bergandengan tangan. Barangkali Devin membantu anak-anak kelab AV menata pencahayaan dan musik, Rose menduga. Dia berharap pemuda itu bersenang-senang, tetapi dia juga sedih membayangkan Devin mungkin ber senang-senang tanpa dirinya. “Dapat!” seru Cosmo. Dia berderap menaiki undakan perpustakaan sambil memegang stoples kaca kecil berisi bubur hijau. “Tinggal satu di rak, jadi aku harus melakukan tawar-menawar dengan Jeremiah Creed.” Rose meluncur turun dari langkan dan mengambil stoples tersebut. “Kacang Tumbuk Buatan Rumah Bibi Ida,” dibacanya nama pada label desyrindah.blogspot.com
itu. “Hanya yang terbaik!” kata Cosmo, menarik pintu ma honi perpustakaan yang berat hingga terbuka. Rose menyesuaikan letak ransel di pundaknya, menarik napas, dan mengikuti Cosmo serta sang Anjing ke dalam. Mereka memasuki koridor panjang dari rak-rak yang menjulang, penuh sesak dengan segala macam buku berjilid kulit yang tampak mengintimidasi. Udaranya pengap dan sarat oleh aroma kertas tua, dan bangunannya sepi, hanya terdengar decitan roda saat seseorang mendorong troli per pustakaan di suatu tempat di luar pandangan. “Ikuti aku,” Cosmo berbisik, menunjukkan jalan. Mereka mengendap-endap menyusuri lorong, langkah-langkah mereka diredam oleh karpet tua usang. Lorong-lorong di antara koridor rak buku mengarah ke lebih banyak rak lagi, dan Rose melihat para pekerja perpustakaan—semuanya anak-anak dan remaja—dengan tenang menata buku-buku. Cosmo berbelok di sudut dan tiba-tiba mereka mema suki area terbuka di tengah perpustakaan. “Tempat ini sangat besar,” gumam Rose, mengamati deretan panjang ka binet dengan lusinan laci mungil. Di samping kabinet, ter dapat meja-meja mengilat penuh buku dan diterangi lampu-lampu bergaya kuno dengan tudung hijau. “Cosmo!” seru seorang anak laki-laki. Kelihatannya dia sebaya Rose dan sedang menelusuri salah satu laci, yang Rose sadari dipenuhi ratusan kartu putih kecil. Ini pasti ka talog kartu gaya lama—dia ingat pernah mendengarnya dari orangtuanya setiap kali mengeluh betapa sulitnya me nger jakan pekerjaan rumah. “Kalian memang tinggal di zaman yang mudah!” begitu Albert kerap berkata. “Kalian selalu bisa mencari informasi secara daring. Sementara yang kami punya hanyalah kartu katalog di perpustakaan!” Mau tak mau, Rose tersenyum, memikirkan ayahnya. desyrindah.blogspot.com
“Simon!” sapa Cosmo, mengulurkan tangan. “Sini ku jabat tanganmu, Sobat!” Seorang anak perempuan dengan rambut disanggul dari sisi seberang ruangan mendesis dengan keras, “Ssst!” “Sori!” seru Cosmo, kemudian kepada Simon, “Kau lihat Emma?” Simon menjabat tangan Cosmo. “Yeah, dia ada.” Dia mengamati Rose dan sang Anjing. “Dan, siapa ini?” “Bloomenfeld,” Rose tergeragap. Wajah Simon berkerut-kerut bingung. “Hah?” “Broomenthal,” Cosmo mengoreksi. Dia merangkul ba hu Simon dan menggiringnya menjauh. “Itu Rose, salah satu anggota klan Broomenthal. Kau tahulah, orang-orang sirkus yang tinggal di rumah pertanian.” “Benar, benar.” Simon melirik ke arah Rose penuh harap, dan mata besar Cosmo melebar ketika dia tanpa suara mendesak gadis itu agar mengatakan sesuatu. “Oh, dan ini anjingku,” kata Rose, merasa terpaksa menepuk-nepuk kepala besar sang Anjing. “Aku, ehm … pelatih binatang.” “Pelatih anjing!” Simon mengatupkan tangan, dan Rose mendengar si gadis bersanggul mendesis menyuruh mereka diam lagi. “Wah, bukankah itu mengasyikkan?” Dalam suara bayi, dia berkata kepada sang Anjing, “Bu kankah kau anak baik! Bisakah kau melakukan trik, Nak? Eh?” Sang Anjing menyipitkan mata dengan tampang yang di mata Rose menyorotkan kekesalan, tetapi insting anjingnya tidak bisa menahan diri, dan ekornya yang lebat mengibas-ngibas dalam ayunan penuh semangat. “Tunjukkan trikmu, Lester,” kata Rose. desyrindah.blogspot.com
Sang Anjing mendengus mendengar “nama”-nya, ke mudian menelengkan kepala penuh pertimbangan. Se telah beberapa saat, dia berdiri di kaki belakangnya dan menumpukan tapak di salah satu meja, lalu menggunakan rahangnya untuk mengambil salah satu buku tebal dari atas tumpukan. Dengan penuh konsentrasi, dia membuka sampul buku dengan dorongan hidung dan mulai mem balik-balik halaman menggunakan lidah basahnya. Si gadis sanggul, yang melihat sang Anjing membasahi seluruh halaman buku tua itu, mencengkeram dada dan berlari menubruk tumpukan buku, kelimpungan. “Akan kulaporkan!” “Dia memang menggemaskan!” Simon menepuk-nepuk lutut. “Dia mengira bisa membaca seperti ma nusia!” “Yeah, dia memang unik.” Dengan lembut, Rose men dorong sang Anjing turun dari meja sehingga dia berhenti membasahi buku tua itu dengan ludahnya. “Kami sedang menyempurnakan trik itu untuk sementara waktu.” “Emma ada di kantornya, ‘kan?” Cosmo bertanya. Dia mengetuk kartu pas wartawan yang terselip di topinya. “Ri set untuk berita besar.” “Tentu!” kata Simon. “Asistennya cuti sakit hari ini, jadi langsung masuk saja.” Dengan sang Anjing berderap di sisi mereka, Rose dan Cosmo berjalan melewati meja-meja dan kabinet katalog kartu menuju pintu kayu berat di dinding. Ada meja ko song di depan yang Rose duga biasanya diduduki sang sekretaris. Pada pintu, terdapat plakat emas bertuliskan EMMA TILLEY—KEPALA PUSTAKAWAN. Cosmo mengetuk pelan, kemudian membuka pintu dan mengintip ke dalam. Dia menengok ke belakang dan melambai agar Rose dan sang Anjing masuk. Ruangan kantor itu tidak seperti yang diharapkan oleh Rose. Tidak ada meja dengan komputer, atau bahkan mesin tik seperti di kantor desyrindah.blogspot.com
surat kabar. Bahkan tidak ada perabot apa pun selain area bermain besar berpagar yang hampir menyita seluruh ruang. Seperti hampir semua yang ada di perpustakaan, pa gar area bermain tersebut terbuat dari kayu mahoni yang dipoles. Bagian bawahnya diberi bantalan dan dipenuhi ber bagai mainan—boneka beruang, balok alfabet, xilofon pelangi—dan diseraki buku bergambar warna-warni. Dan, berbaring di tengah-tengah pagar, mengenakan piama ku ning berkaki, tengkurap serta mendengkur lembut, ada se sosok bayi berambut cokelat halus dan acak-acakan. “Emma?” panggil Cosmo lembut, berjingkat-jingkat ke pinggir area bermain. “Kau tidur?” Mata biru pucat bayi perempuan itu mengerjap ter buka dengan buram. Bibirnya bergetar seolah dia bersiap-siap memekik, tetapi yang mengejutkan Rose, sepertinya bayi itu berhasil menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam yang menenangkan. Si bayi— Emma, rupanya—berguling menyamping dan memaksakan diri bangkit ke posisi duduk. “Maaf membangunkanmu, Manis,” kata Cosmo, ber sandar pada pagar area bermain dan menyengir. “Aku mem bawakan kudapan favoritmu.” Rose menyerahkan stoples kacang tumbuk kepada Cosmo. Bayi Emma mengikuti pergerakan tangan Cosmo dengan matanya, dan setelah melihat Rose serta Anjing di belakangnya, dia memekik kegirangan dan kehilangan keseimbangan. Lengan gemuknya berputarputar, tetapi tidak ada gunanya. Emma jatuh terjengkang, memekik melengking. “Rupanya kau!” Seraya menatap mata Rose dalam-dalam, Emma berbisik, “Gadis dalam ramalan!” Rose telah melihat banyak hal dalam hidupnya yang singkat, dan dia telah memanggang banyak sihir di toko roti Bliss. Jadi, dia mengira dia desyrindah.blogspot.com
sudah melewati titik ketika sihir bisa mengguncangnya. Namun, mendengar seorang bayi mungil dengan suara melengking berbicara seperti orang dewasa yang fasih—yah, itu lain lagi ceritanya. Rose berjongkok dan meraih pagar area bermain. “Kau bisa bicara.” Dipandanginya mata si bayi lurus-lurus. “Da lam kalimat-kalimat utuh.” Emma cemberut. “Tentu saja bisa.” Dia mendongak me natap Cosmo, menelengkan kepala besarnya jauh ke be lakang sampai-sampai dia nyaris terjengkang lagi. “Tutup pintu itu sebelum orang lain masuk. Jangan sampai ada yang melihat gadis ini!” Cosmo pun berlari untuk melakukan apa yang disuruh. “Aku tidak bermaksud menghinamu,” kata Rose. “Aku hanya agak terkejut.” Dengan canggung, Emma merangkak lebih dekat. “Maaf. Aku tidak sedang dalam kondisi terbaik kalau tidak tidur siang secara penuh. Aku bangun dalam keadaan mu dah tersinggung dan lapar .... Omongomong.” Dia membuka dan menutup tinjunya ke arah Cosmo. Cosmo menyerahkan kacang polong tumbuk itu. “Menggiurkan. Terima kasih.” Emma meletakkan stoples di atas jack-in-the-box yang dicat warnawarni, lalu mengalihkan perhatiannya kembali kepada Rose. “Kau orang baru di kota, jadi kau tidak akan tahu bahwa aku belum pikun seperti orang-orang lain se usiaku.” Dia mengetuk-ngetuk dahinya. “Aku masih punya sisa beberapa bulan lagi.” “Apa yang kau katakan tentang ramalan tadi?” Rose bertanya. Mungkin ini ada hubungannya dengan ujiannya. Kepala Emma memantul-mantul dalam anggukan yang nyaris tidak bisa dikendalikan. “Oh, ya. Aku … aku tidak pernah menyangka akan hidup cukup lama untuk menyak sikan datangnya hari ini.” Dengan jemari yang gemuk, dia menyeka air matanya. “Tunggu sebentar, ya. Aku bisa mem berikan semua detailnya kepadamu.” desyrindah.blogspot.com
Bayi itu merangkak ke tumpukan buku goyah di sudut area bermain dan mulai mendorongnya ke samping. Rose mengenali beberapa di antaranya—Olivia dengan seekor babi dalam balutan gaun merah, dan Where the Wild Things Are dengan monster-monster buasnya yang liar. “Tidak, tidak, bukan ini,” Emma menggumam. “Ada di sini, di suatu tempat.” Dia cekikikan dan mengacungkan sebuah buku hijau. “Goodnight Moon! Cosmo, kau harus membacakan ini untukku nanti. Itu favoritku.” “Tentu, Emma,” Cosmo berkata. “Tapi, kau tadi sedang membahas soal ramalan?” “Tentu saja!” Akhirnya, pustakawan bayi itu menarik jurnal usang bersampul kulit dari tumpukan. Seraya men dekapnya dengan kedua tangan, dia berguling ke seberang area bermain menuju Rose, Cosmo, dan sang Anjing. “Aku mencatat tentang ramalan ini dengan hati-hati. Semuanya ada di dalam sini.” Dia menyelipkan jari yang tampak lengket ke tengah halaman. “Seorang anak perem puan bersama seekor anjing akan datang ke kota / setelah bertahun-tahun ketika tidak ada orang baru yang datang. Dari seluruh Bontemps, dialah yang akan mengangkat selu bung / Dan, dengan melakukannya, dia membebaskan kita semua.” Emma menutup jurnalnya. “Aku bukan penyair yang bagus waktu itu.” Rose menggeleng-geleng, bingung. “Kenapa ada orang yang membuat ramalan tentang aku? Dan menye la mat kan kota dari apa?” “Kutukan.” Emma berayun-ayun ke depan dan bela kang dengan bokong berpopoknya. “Bontemps dikutuk.” Sebuah kutukan, pikir Rose. Setelah mendengar Emma mengucapkannya, Rose menduga itu memang masuk akal. Kutukan tentu bisa menjelaskan situasi ganjil di Bon temps. “Kau tampak seperti perempuan muda dengan penge tahuan sejarah yang luas,” kata sang Anjing serak, “jadi barangkali kau dapat desyrindah.blogspot.com
menjelaskan apa tepatnya kutukan itu.” “Oh, kau bisa bicara,” kata Emma, mengerjap ke arah sang Anjing. “Masuk akal juga. Lagi pula, binatang yang bisa bicara jugalah yang menyampaikan ramalan itu kepadaku.” Cosmo duduk di lantai kantor yang tertutup karpet. “Apakah semua orang tahu tentang binatang yang bisa bicara kecuali aku? Ini terasa bagaikan berita besar!” “Ssst, Cosmo.” Emma merambat memegangi jeruji pagar dan menggunakannya untuk menopangnya berdiri. “Biar kumulai dari awal. Sekarang aku memang bayi, tapi aku juga seorang bayi 100 tahun lalu. Aku mungkin keli hatan sangat muda, tapi sebenarnya aku sangat tua. Begitu pula dengan Cosmo.” Rose menganga ke arah Cosmo. “Tunggu, kau bilang kau lahir setelah pergantian abad.” Seraya menggaruk-garuk dagu, Cosmo berkata, “Be nar—awal 1900- an. Memangnya menurutmu ka pan?” Sang Anjing mengangguk penuh pertimbangan. “Jadi, apakah kalian membeku dalam waktu pada usia tertentu?” “Tidak, tidak,” Emma berkata. “Aku menua seperti orang normal sampai usiaku 50-an. Kemudian, seperti se mua orang lain di Bontemps, aku kembali muda.” Rose menatap Cosmo dan Emma bergantian, mencoba membayangkan bagaimana tampang keduanya sebagai orang dewasa. “Jadi, jamnya bergerak ke arah sebaliknya, semua anak muda di kota, matahari yang terbit ke arah yang salah—itu gara-gara waktu bergerak mundur?” Emma mulai menjawab, tetapi tatapannya semakin menerawang jauh. Setitik iler menetes dari sudut mulutnya dan dia mulai bertepuk tangan dengan tersentak-sentak, seolah tidak yakin cara menggunakan desyrindah.blogspot.com
lengan-lengannya. Setelah beberapa saat, dia tersadar lagi. “Maaf.” Dia ber deham. “Semakin muda diriku, semakin hal semacam itu sering terjadi.” Cosmo mengangkat satu jari. “Eh, tidak bermaksud menginterupsi, Nona-Nona, tapi apakah kalian yakin bah wa menua kemudian menjadi muda lagi bukan tatanan yang alami?” “Bukan!” Rose, Emma, dan sang Anjing berseru se rentak. Cosmo menarik lepas topinya dan menyugar rambut. “Kabar yang mengejutkan.” “Awalnya,” Emma melanjutkan, “tak ada yang tahu bah wa itu kutukan. Seperti Cosmo, kami pikir begitulah cara kerja dunia. Tapi, kemudian aku bertemu sang Kucing.” “Kucing?” Cosmo bertanya. “Kumohon, biarkan aku menguasai panggungnya,” Emma berkata muram. “Aku menjadi perempuan muda untuk kedua kalinya ketika kucing itu datang ke kota.” Sang pustakawan memandang ke kejauhan, tanpa sadar membu nyikan mainan kerincingan saat dia mengenang. “Warna nya abu-abu, dengan telinga kisut yang aneh. Yang paling aneh adalah dia membawa tas selempang di punggungnya. Seekor kucing membawa tas! Mungkin di Paris itu biasa, tapi ini di Bontemps! Jadi, aku pun menyelidiki, dan dia ber bicara kepadaku, sama seperti anjing ini.” Emma menge dik ke arah sang Anjing, yang mengangguk penuh harap. “Kucing itu sepertinya orang asing, dari Kepulauan Britania, kuduga, dan dia bilang dia bisa menjelaskan apa yang terjadi dengan kota kami kalau aku bersedia memberinya ikan hering dan keju. Aku tidak pernah melihat binatang yang berbicara sebelumnya, dan aku selalu memiliki banyak ikan hering serta keju tanpa alasan yang jelas, jadi aku mem berinya apa yang dia minta dan dia bercerita tentang kutukan yang menguasai Bontemps.” desyrindah.blogspot.com
“Kucing ini,” kata Rose, menyadari dia sudah tahu jawabannya, “siapa namanya?” Emma mengemut kerincingan itu sembari mere nung kannya. “Tomato, mungkin? Cucumber?” Dia menge dik kan bahu sempitnya. “Pokoknya semacam sayuran.” “Asparagus?” Rose bertanya. Emma bertepuk tangan penuh semangat. “Ya, itu dia! Kau kenal dia?” “Ya,” kata Rose. Bukan kebetulan kalau Gus mengun jungi kota yang sekarang dia coba bantu ini, bukan? “Di keluarga kami, kami menyebutnya Gus. Kurasa gara-gara dialah aku ada di sini.” Memikirkan si kucing mengingatkan Rose akan hari-hari yang dia habiskan bersama Gus, yang bermalas-malasan di pangkuannya seperti setumpuk bulu abu-abu sementara Rose menggaruk belakang telinganya yang berbonggol-bonggol dan terlipat. Rose merindukan kucing itu. Rose juga berharap Gus ada di sini karena, yah—dia punya banyak pertanyaan. “Gus menyuruhku mengeluarkan buku dari tas yang dipakainya, sesuatu yang disebut Apocrypha,” kata Emma, melanjutkan ceritanya. “Kami merapalkan mantra—yah, le bih mirip resep, sebenarnya. Sesuatu yang disebut Puding Ra mal an. Rasanya seperti butterscotch terbaik yang bisa kau bayangkan—dan saat itulah kami berdua dikejutkan oleh sebuah visi.” Emma memandang penuh harap ke arah Rose. “Visi tentang dirimu.” “Wuidih, hebat sekali! Kucing yang bisa bicara!” Cosmo sudah mengeluarkan notes dan bolpoinnya, siap mencatat. “Jadi, apakah kau penyihir? Dan, apakah Avocado si Kucing adalah makhluk ajaib piaraanmu?” Anjing itu mendekat dan menggunakan giginya untuk secara kasar menarik notes dari tangan Cosmo. Dia pun melepehkannya ke tanah. desyrindah.blogspot.com
“Kau sudah janji cerita ini tidak akan ditulis sampai kami memberikan lampu hijau.” “Beribu-ribu maaf, Tuan Anjing.” Cosmo menunduk. “Bagaimana kau akan melakukannya?” Emma mencicit ke arah Rose. “Bagaimana kau akan mematahkan kutukanya?” Rose tidak tahu. Membalikkan waktu? Membuat Bumi berputar ke arah sebaliknya? Itu kan tidak sama dengan se kadar mengerahkan badai permen kapas atau menyem buh kan cegukan. Itu jenis sihir yang mematahkan hukum normal alam, lalu menginjak-injak hukum itu menjadi serpihan. Bagaimana dia bisa membalikkannya? Tak ada orang tua atau Lily atau Balthazar yang bisa ditanyainya, dan dia bahkan tidak memiliki Sage, Ty, dan Leigh untuk mem ban tunya memunculkan ide-ide. Sementara Cookery Booke dengan segala pengetahuan di dalamnya berada beberapa ratus atau ribuan kilometer jauhnya. Yang Rose miliki hanya lah setumpuk sampah di ranselnya dan seekor Anjing yang bersikeras bahwa dia tidak boleh memberikan petunjuk apa pun kepadanya. “Rose, kau baik-baik saja?” Cosmo bertanya, mene puk-nepuk bahu gadis itu. Sang Anjing menyundul sisi tubuh Rose dengan hidung. “Rosemary, kita sudah menyingkap persoalan yang mem bu tuhkan sebuah solusi. Ujianmu dimulai sekarang. Jawab pertanyaan bayi itu.” Emma mendengkus, dan sang Anjing mengoreksinya. “Maksudku, wanita itu.” “Aku ...,” kata Rose parau. Pengeras suara berderak dari suatu tempat di atas. Ter distorsi, suatu suara terdengar melalui interkom—Simon, teman Cosmo. “Emma, ada tamu!” katanya. “Sang Marchesa ada di sini. Dan, dia ingin menemuimu sekarang juga!” desyrindah.blogspot.com
Emma terjengkang, kewalahan oleh rasa takut. Sambil gemetaran, dia berguling untuk bertumpu pada tangan dan lutut. “Rose, Anjing, kalian harus sembunyi! Cepat!” Dia meraih jeruji pagar area bermain dan mengguncangnya. “Se andainya sang Marchesa sampai tahu gadis dari ramalan itu ada di sini, tamat riwayat kita semua!”[] desyrindah.blogspot.com
Bab 7 Kisah sang Anjing “Sembunyi?” Rose mengulangi, kepanikan melan da nya. “Di mana?” Mereka semua mengedarkan pandangan ke sekeliling kantor. Selain area bermain besar dan gundukan boneka binatang, hanya ada wastafel kecil dan konter, tetapi mus tahil Rose dan sang Anjing muat bersembunyi di dalam lemari kecil di bawahnya. Rose dapat merasakan perutnya mulai bergolak. Dia meraih ekor sang Anjing. “Anjing, bawa kita pergi mengen darai angin lagi!” “Lepaskan ekorku,” sang Anjing menanggapi, meng atup kan gigi ke arah pergelangan tangan Rose. “Aku tidak bisa melakukannya sementara kita berada di dalam bangunan. Lagi pula, itu cara yang aneh untuk meng gambarkan ke mampuanku.” “Baiklah,” Rose berkata. “Jadi, bagaimana cara kita keluar?” Rose menunjuk ke arah bayi kecil di dalam area bermain raksasa. “Apa ada pintu belakang atau ... atau jendela?” Bayi Emma mengedikkan bahu gemuknya. “Sayangnya tidak ada. Ruangan ini berada persis di tengah-tengah per pustakaan, dan hanya ada satu jalan untuk keluar masuk.” “Kelihatannya itu sangat tidak aman,” gerutu sang Anjing. Cosmo menempelkan telinga di pintu. “Kau tahu sihir, ‘kan?” bisiknya kepada Rose. “Coba rapalkan simsalabim dan buat dirimu sendiri menghilang! Wuidih, aku bakal suka melihatnya. Aku bisa menulis dari pengalaman lang sung!” desyrindah.blogspot.com
Sang Anjing mengangguk ke arah Cosmo. “Bisa to long kunci pintu itu?” “Beres, Lester,” kata Cosmo, menggeser selotnya. “Namaku bukan …,” sang Anjing memulai, tetapi ke mudian mengakhiri dengan mengatakan, “Oh, sudahlah.” Rose mencengkeram pinggiran kepalanya. “Ku mohon, Kalian Semua, berhentilah bicara. Aku perlu memikirkan se buah rencana.” Dia menatap ke arah sang Anjing dengan penuh permohonan. “Kecuali kalau kau ingin memberitahu ku apa yang harus dilakukan.” “Kau kan tahu aturannya, Rosemary,” ujar sang Anjing. “Ah, tapi kuharap kau membuat rencana dengan cepat. Ka lau kita tertangkap di sini, aku terpaksa memberimu nilai jelek.” “Itu tidak membantuku memikirkannya!” tukas Rose, mencoba bernapas melalui sela-sela kepanikannya. “Oke, oke—beri aku waktu sebentar saja.” Rose mondar-mandir melingkar dengan kalut, berharap keluarganya ada bersamanya. Dia membutuhkan ibunya atau ayahnya, Balthazar atau .... Lily! “Tunggu! Aku punya ide.” Rose berjongkok dan me le pas ranselnya. Di dalamnya, tepat di atastumpukan ha diah aneh terdapat edisi khusus 30 Menit Sihir Lily. Saat mengeluarkannya, sampul prismatiknya beralih dan gam bar Lily kini tertawa, membuat rambutnya tampak terayun-ayun. “Ini bukan Cookery Booke,” Rose berkata, “tapi Bibi Lily mencuri resep-resep terbaik dari Booke sungguhan, jadi mungkin ....” “Apa hubungannya buku masak dengan sihir?” tanya Cosmo. Lalu, pemuda itu bersiul. “Dia cantik!” desyrindah.blogspot.com
“Diam. Dia bibiku, dan dia tidak akan tertarik kepada anak berusia dua belas tahun,” Rose menggumam tanpa sadar. “Dan, aku menggunakan buku masak karena aku pembuat kue ajaib. Akan kujelaskan semuanya nanti.” Jantung Rose mencelus ketika dia membolak-balik buku Lily. Meskipun ada resep-resep disisipkan di sepanjang buku, sebagian besar halamannya dipenuhi kisah panjang yang me libatkan kehidupan Lily. Ada kiat-kiat di pinggirannya tentang cara menggunakan kembali bahan-bahan kue umum sebagai kosmetik, dan gambar demi gambar Lily berpose di depan cooktop. Sang Anjing menyandarkan kepala beratnya di bahu Rose. “Kau tak punya waktu untuk memanggang, Rose mary,” katanya. “Kita juga tidak memiliki persediaan untuk upaya seperti itu.” Rose berhenti pada halaman yang hanya memuat gambar Lily berdiri di depan cermin ukuran penuh. “Lily Le Fay!” geram Anjing. “Aku senang aku tidak pernah mem bawanya dalam ujian Master Pembuat Kue. Wanita yang mengerikan.” “Jangan kejam begitu,” Rose menegur. “Dia sudah lebih baik sekarang, sumpah.” Emma berjinjit, mencoba untuk melihat. “Kau mene mukan sesuatu?” Cosmo meringis dan menjauhkan telinganya dari pintu. “Aku mendengar suara-suara yang datang.” Namun, tidak ada apa pun yang berguna di buku itu, tidak ada sama sekali, dan Rose merasakan harapan ter akhirnya merembes keluar darinya. Lalu, satu kilauan keperakan menarik perhatiannya—cermin Ty di dalam ranselnya. Rose berganti-gantian me man dangi cermin itu dan foto Lily, sebuah ide pun mun cul di benaknya. desyrindah.blogspot.com
“Aku pernah melakukan sihir dengan cermin sebelum nya,” kata Rose, seraya mengeluarkan cermin tangan kecil berwarna hijau neon. “Cermin bagus untuk mantra yang mengubah persepsi. Mungkin aku bisa menggunakan ini un tuk menyembunyikan kita dari sang Marchesa, entah ba gai mana, ketika dia masuk—untuk mengalihkan perha tiannya!” Rose melirik ke samping, ke arah kepala Anjing di pundaknya. “Hanya saja ... aku tidak tahu cara melaku kannya. Sihir mengharuskanku untuk memanggang. Atau, setidaknya, memasak.” Emma menunjuk ke sudut area bermainnya. “Orang yang mengasuhku menggunakan hotplate di dekat was ta fel untuk menghangatkan ini.” Dia membongkar tumpukan boneka singa dan beruang, lalu mengeluarkan kaleng yang dikenali Rose sejak Leigh masih bayi—formula. Emma men julurkan lidah. “Rasanya menjijikkan. Aku menyem bunyi kannya supaya aku bisa mendapat lebih banyak kacang polong tumbuk, sebagai gantinya.” “Yah, ini berguna,” Rose berkata seraya mengambil kaleng itu. Dibukanya buku masak Lily, kemudian dia ber henti ketika sesuatu menarik perhatiannya. “Lihat, Bibi Lily punya resep yang dinamai ‘Susu Kocok Peramping-Super: Untuk Menurunkan Berat Badan Ala Lily Le Fay!’” Diliriknya sang Anjing dengan gugup. “Sepertinya resep ini punya potensi.” Gagang pintu berguncang dan seseorang mengge dornya. “Siapa yang mengunci ini?” Terdengar suara marah teredam dari sisi seberang. Kenopnya diputar lagi. “Seharusnya tidak boleh ada mekanisme pengunci di dalam ruangan berisi bayi—ini berbahaya! Aku menuntut pintu ini dibuka se karang juga.” Seraya mengangkat bahu, Cosmo menjangkau untuk membuka kunci. “Jangan!” desis Rose. Ditepaknya tangan anak lelaki itu. desyrindah.blogspot.com
Cosmo yang kebingungan menoleh ke belakang, dan Rose membuat gerakan menutup ritsleting di mulut. “Aku mengerti!” Cosmo hendak berkata, tetapi Rose langsung membekap mulut pemuda itu. “Diam!” bisiknya. Di luar, sang Marchesa berkata, “Emma Sayang, aku akan mencarikan kuncinya.” Suara perempuan itu menghilang saat dia berjalan menjauh. “Aku tidak akan meninggalkanmu lama-lama!” “Kembali ke usaha yang harus kita lakukan,” kata sang Anjing, “bersembunyi sebelum orang bernama Marchesa ini menangkap kita. Rosemary, meskipun aku tidak bisa memberitahumu apa yang harus dilakukan, aku bisa membantumu. Aku yakin kau benar, susu kocok ini mungkin kuncinya.” Dengan buku masak Lily dan cermin Ty, Rose berlari ke wastafel di sudut. Di atasnya, terdapat hotplate yang dicolokkan ke dinding dengan panci besi cor kecil yang dipasang di atas kumparan. “Pasti bisa.” Dia membuka bagian resep susu kocok. “Hanya saja, resep ini tidak akan ada gunanya,” kata Rose dengan desah frustrasi. “Pertama, karena kita tidak memiliki salah satu Bahan Ajaib Lily, meskipun kurasa itu hanya akan membuat kita menyanyikan pujian untuknya. Susu kocok perlu es krim atau—” “Susu?” Cosmo bertanya, mendongak dari ransel Rose. Dia mengacungkan kaleng susu kental manis dari Leigh. Rose sudah lupa tentang hadiah dari Leigh, dan lang sung merasa lega untuk itu. “Kau harus menggunakan ini juga.” Sang Anjing de ngan hati-hati mengatupkan rahangnya di sekeliling botol kaca hijau AllSpyce milik Balthazar. “Dan, kalau kau mau, ambil sedikit bulu dari sisi tubuhku. Yang warnanya abu-abu terang, ya, dan jangan khawatir, aku tidak akan mera sakan apa pun.” Rose memisahkan bulu di sisi tubuh anjing gembala besar sampai menemukan beberapa bulu abu-abu yang lebih terang. Dipegangnya desyrindah.blogspot.com
helai-helainya, lalu ditariknya. Bulu-bulu itu copot dengan mudahnya. Benar saja, sang Anjing bahkan tidak berjengit. “Untuk apa ini?” Rose bertanya. “Tentunya kau pernah dengar soal Rambut Anjing,” kata sang Anjing. “Aku, sih, pernah,” sahut Cosmo. “Minuman favoritku! Selain air putih, tentu saja.” Helai-helai itu berkilauan seperti permen kapas di antara jemari Rose. “Kurasa biasanya maksud orang bukan rambut anjing sungguhan.” Emma meraih jeruji pagar area bermain dengan putus asa. “Tak ada waktu untuk mendiskusikan ini!” “Benar.” Pada satu laci di bawah wastafel, Rose me ne mukan pembuka kaleng dan beberapa gelas ukur plastik. Ketika membuka kaleng, dia mengutarakan pemi kirannya keras-keras, “Jadi, apa yang harus dilakukan dengan bahan-bahan ini?” Dituangnya segumpal susu kental manis ke panci. Sang Anjing ragu-ragu, kemudian mengedik ke arah kaleng susu formula. “Tambahkan se-walnut susu yang itu, kalau kau mau, dan atur kompornya hingga mendekati tiga api.” “Se-walnut?” tanya Cosmo. “Aku tidak bisa makan walnut, aku alergi. Tapi, aku suka baunya.” “Bukan walnut sungguhan,” Rose menyahut. “Itu se ma cam ukuran takar.” Rose menakar satu sendok makan susu formula, kemudian menyalakan hotplate ke peng aturan te rendah. Kalau susu kental manisnya sampai hangus, man tranya akan rusak, dan bahkan jika dia punya waktu untuk memulai, dia hanya punya satu kaleng dari Leigh. “Sekarang, taburkan sekutu AllSpyce dan juga Rambut Anjing,” kata sang Anjing, yang menghampiri untuk berdiri di samping Rose. desyrindah.blogspot.com
“Keduanya?” tanya Rose, berhati-hati menambahkan hanya sejumput AllSpyce. “AllSpyce-nya bisa menjadi bahan apa pun yang kau butuhkan,” sang Anjing menjelaskan. “Dalam kasus ini, kita membutuhkan Filamen Daya Tarik Magnetis—bahan yang cukup umum, meskipun kita tidak memilikinya hari ini. Sementara untuk Rambut Anjing, seperti hamparan buluku yang sempurna, itu akan menambahkan ketebalan serta kilauan.” Gelembung-gelembung kecil muncul di tepi panci, mengaduk taburan AllSpyce cokelat dan helaian bulu manis. “Lalu, cerminnya?” tanya Rose. Ekor sang Anjing mengibas-ngibas. “Bahan paling pen ting. Gunakan untuk mengaduk ramuan. Jangan ber hen ti mengaduk sampai satu lagu penuh selesai.” Rose merasakan Cosmo mencondongkan tubuh men dekat di belakangnya. “Sebuah lagu, eh? Urusan si hir ini sinting betul.” Rose perlahan mengaduk campuran dalam panci—yah, lebih seperti menggesekkan kaca dari sisi ke sisi sementara calon susu kocok itu teraduk-aduk. Kelihatannya tak banyak yang terjadi, dan Rose terus melupakan hitungannya. “Berapa lama lagi aku harus melakukan ini?” tanya Rose cemas. Tentunya Marchesa bisa kembali membawa kunci kapan saja.” “Satu lagu, Rosemary Bliss, satu lagu!” geram sang Anjing. “Untuk mengalihkan perhatianmu, aku akan men ceritakan kisah resep ini, dan begitu aku selesai, susu kocok nya sudah bakal siap.” Sang Anjing berjalan memutar tiga kali, kemudian duduk di lantai. Dia pun berdeham dan mulai berbicara. “Susu Kocok Ilusi,” anjing itu melantunkan. “Untuk Transformasi Kemudaan lewat Sajian Beku Kaya Gizi.” desyrindah.blogspot.com
Entah karena kata-kata yang diucapkannya—hampir seolah dia sedang membaca Cookery Booke itu sendiri—atau derum suaranya yang berat, Rose mendapati dirinya terbuai dalam ketenangan yang familier. Dia sedang me manggang, semacam itu, dan merasa seperti dirinya sen diri untuk kali pertama sejak dia tiba di Bontemps. Sekonyong-konyong, campuran krim berbintik-bintik di panci itu bergeming, lalu berdentum menjadi ratusan duri kecil simetris yang sempurna. Rose tidak bisa lagi mengaduk-aduk cermin bayi itu—campurannya menjadi kaku seperti beton. Ketika dia mele pas kannya, cermin itu berdiri tegak. “Tahun 1983 di Tulsa, Oklahoma, Regina Bliss yang ber usia 74 tahun bekerja untuk menemukan penganan remedi untuk kerusakan akibat penuaan. Dia menolak meng gunakan krim atau ramuan dan memang lebih suka menggunakan sihir ilusi, sehingga orang masih bisa mempertahankan jati dirinya sambil mencoba wajah baru selama satu hari. “Regina Bliss menggabungkan susu dan es krim vanila dengan Filamen Daya Tarik Magnetis serta taburan Rambut Anjing. Kemudian, dia mengocok campuran ini dengan cermin tangan sampai susu kocoknya memancarkan kilau keperakan dan reflektif.” Permukaan cermin tangan yang retak dan berwarna perak mendesir dan menitis menjadi manik-manik logam mengilap yang meletus satu per satu, menempel pada duri-duri susu seperti logam yang tertarik pada magnet. “Apa berhasil?” Emma bertanya. “Aku tak bisa lihat!” Sang Anjing mendesis menyuruhnya diam. “Tolong biarkan aku menyelesaikannya. Kemudian, Regina memi num Susu Kocok Ilusi-nya, dan mendapati bahwa ramuan itu tidak hanya membuatnya tampak muda—itu membu at nya tampak seperti balita. desyrindah.blogspot.com
“Untuk berapa lama?” Rose bertanya. “Jangan sam pai kita terjebak dalam sosok balita selama—” “Hus,” kata sang Anjing. “Seperti yang tadi kubilang .... Memanfaatkan penemuan ini sebaik-baiknya, Regina Bliss memasarkan susu kocok ilusi yang mencengangkan di toko rotinya, dan susu itu laku keras di Tulsa sehingga penduduknya bisa mengenang masa lalu dengan menjadi bayi selama satu jam, untuk menghilangkan tekanantekanan hari itu. Regina mempekerjakan pengasuh anak untuk mengawasi pelanggannya, dan sesekali memanja kan diri dengan ikut menjadi balita. Bayi-bayi ilusi itu akan merangkak ke sana kemari di toko roti Regina, terbalut setelan dan gaun kebesaran yang dilengkapi bantalan bahu, menyeruput susu kocok dan berdeguk selagi mendengarkan dongeng. “Pada akhirnya, Regina Bliss memutuskan dia lebih suka menjadi nenek keriput berusia 74 tahun, dan meski pun dia terus menyajikan susu kocok sesuai permin taan, dia sendiri tidak pernah meminumnya lagi.” Sekonyong-konyong, duri-duri itu kehilangan ketajam an nya, tenggelam ke dalam ramuan, menjadi halus dan membulat. “Tinggal dua adukan lagi,” sang Anjing berkata. Setelah menyembunyikan ransel Rose di bawah tum pukan boneka binatang milik Emma, Cosmo kembali ke samping Rose menyaksikan momen-momen terakhir man tra. Ramuan itu mencair lagi, dan Rose dengan mudah mengaduknya dua kali dengan cermin kosong. “Jauhkan dari panas api!” salak sang Anjing. “Cepat!” Rose mengambil panci dari kompor pelat, lalu mena ruhnya di atas konter. desyrindah.blogspot.com
Terdengar suara yang sangat mirip desahan seorang perempuan tua —meskipun dalam prosesnya, nada sua ranya menjadi lebih halus, lebih muda. Cairan seputih susu itu mengental menjadi permukaan reflektif yang sempurna dan rata. “Bagus sekali,” kata sang Anjing. Pada saat itu, terdengar derakan kunci di pintu, dan suara seorang perempuan mengeluh, “Bagaimana mungkin ada sebegini banyak? Padahal tak banyak pintu di seluruh gedung ini!” “Kita punya cukup waktu untuk mendinginkan dan mengentalkan campuran itu,” kata sang Anjing. “Cepat, Kalian Semua, berbaliklah dari panci! Kita harus menun jukkan bahu dingin kepada ramuan itu!” Mereka semua melakukan seperti yang diperintahkan, berbalik menghadap pintu dan meninggalkan panci ter geletak sendirian di konter. “Omong-omong, bukankah menunjukkan bahu dinginalias cold shoulder itu cuma ungkapan?” tanya Cosmo. Persis pada saat itu, suhu di dalam ruangan anjlok sampai empat derajat. Tiba-tiba membeku. Rose memeluk lengan, giginya bergemeletuk, sementara Emma meringkuk di bawah selimutnya. Pintu berderak ketika Marchesa mencoba lebih banyak kunci. “Sudah cukup dingin!” kata sang Anjing. “Sajikan, Rosemary!” Sambil menggigil, Rose menuangkan setengah cam puran kental mirip merkuri itu ke dalam kaleng susu kental kosong, lalu meletakkan panci dengan sisa isi di karpet di depan Anjing. Seraya menyembunyikan ringisan, dia meng angkat kaleng Susu Kocok Ilusi dan bersulang kepada sang Anjing. “Selamat minum.” Sebelum dia bisa terlalu banyak memikirkan tentang apa yang dia minum, Rose menelengkan kepala ke belakang dan menuangkan susu kocok perak cair ke kerongkong an. Dia menelannya dalam sekali tenggak, kemudian menutup mulut dengan tangan untuk mencegah cairan itu keluar kem bali. Mereka tidak menambahkan gula atau meng- desyrindah.blogspot.com
gu na kan es krim vanila, jadi rasanya kental dan mirip susu dengan cita rasa berpasir dan seperti logam. “Apa yang terjadi sekarang?” tanya Emma cemas. Baik Rose maupun sang Anjing tidak sempat menjawab. Ketika sang Anjing menjilat tetesan susu kocok terakhirnya, bulunya membesar dan berubah menjadi jambul, dan sisi-sisi tubuhnya tampak mengabur. Dia mirip lukisan yang se cara tidak sengaja ditinggalkan oleh seseorang dalam hujan—semua warnanya membaur dan berputar-putar. Rose mengerjap, dan sekonyong-konyong sang Anjing ber ubah men jadi versi dirinya yang lebih muda dan kecil—lebih ramping, dengan alis yang tidak terlalu beran takan. “Hoaaa,” ujar Cosmo dalam bisikan tertahan. Getaran menggelenyar di bawah kulit Rose, dan bagian dalam dirinya terasa dingin dan bergolak. Pandangannya tentang dunia mengabur dan mulai bergeser: satu waktu dia menjulang di atas area bermain, kali berikutnya dia nyaris tidak bisa melihat apa yang ada di atas meja dapur. Rasanya seolah ruangan itu tumbuh membesar di sekelilingnya. Itu semua hanya perubahan perspektif, kata Rose kepada diri sendiri, meskipun celana jins dan jaket yang melonggar di sekeliling tubuhnya terasa cukup nyata. Ke panikan menderanya saat itu karena alasan lain —dia akan segera menyusut dari pakaiannya! “Ehm, bisakah kalian berbalik?” Rose bertanya, suara nya melengking dan cadel. Emma dan Cosmo, dengan penuh pengertian, berhasil mengalihkan pandangan dari sihir yang tersingkap di ha dapan mereka. Pakaian Rose mengembang di sekitarnya, seolah dia terperangkap di tengah tenda yang mengempis. Korsase kuning Devin terlepas dari pergelangan tangan nya, menghilang ke dalam tumpukan—dia akan mencarinya desyrindah.blogspot.com