The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

The Bliss Bakery 6 - Magic By The Minute by Kathryn Littlewood

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Novel Fantasy Repository, 2023-10-23 21:43:34

The Bliss Bakery 6 - Magic By The Minute by Kathryn Littlewood

The Bliss Bakery 6 - Magic By The Minute by Kathryn Littlewood

Kesemuanya menyerupai jenis buku berkebun yang akan kau temukan di bagian membosankan toko buku, seperti sesuatu yang dimiliki seseorang dengan tangan hijau dan antusias untuk menggali tanah. Hanya Pesona Botani yang tampak agak berbau mistis, dan bahkan sebagian besar isinya hanyalah foto tanaman tidak biasa. Tak ada mantra yang terlihat. Mungkin Rose salah. Mungkin sang Marchesa tidak me nanam sesuatu yang ajaib. Rose menyisipkan kembali jilid Membasmi Rumput Liar bersama Wendy Wicker ke rak dan hampir menendang salah satu kursi bersayap di dekat situ. Mereka tidak menemukan apa pun, dan Marchesa bisa kembali sewaktu-waktu. Dengan cemas, Rose melirik ke pintu ruang tamu, takut mereka akan tertangkap dan dilemparkan ke taman rahasia sang Marchesa, tempat perangkap lalat Venus mengeri kan dari halaman Pesona Botani mungkin berburu mencari mangsa. “Kau tidak bermaksud menyerah, ‘kan?” bisik sang Anjing. Dia berderap ke salah satu kursi kulit sehingga bisa mengendus rak yang lebih tinggi. “Kau sudah berada di jalur yang benar, Rosemary, aku bisa merasakannya!” “Mungkin sebaiknya kita pergi sebelum tertangkap,” kata Rose. “Kota membutuhkanmu, Rosemary. Memangnya kau sanggup membiarkan Emma lenyap ke ketiadaan?” “Tidak.” Dengan muram, Rose bergerak ke rak terakhir, rak terdekat dengan jendela besar. Dia mencengkeram ba gian atas buku biru berjudul Gerbang Menuju Kegiatan Ber kebun dan mencoba menariknya. Buku itu tersangkut. Hal yang ganjil karena buku-buku di sana tidak disusun terlalu rapat. “Aneh,” gumamnya. desyrindah.blogspot.com


Sang Anjing mendekat. “Kau menemukan sesuatu?” Rose meraih punggung buku tersebut dengan kedua tangan dan menariknya sekuat tenaga. Buku itu mengayun turun seperti tuas. Bagian tengah rak memisah diiringi bunyi wus, masing-masing sisi berayun membuka seperti kabinet. “Kompartemen tersembunyi!” seru Rose. “Sama seperti ruang rahasia kami untuk Cookery Booke di rumah!” “Pasti ini!” seru sang Anjing, mengibas-ngibaskan ekornya begitu cepat sampai-sampai Rose khawatir ekor itu akan terbang dari tubuhnya. Di dalam lemari tersembunyi, terdapat pajangan yang menyimpan sebuah buku. Syal sutra ungu menutupinya, seolah melindunginya dari cahaya. Rose menyibak syal itu. Buku itu berat dan tebal, paling tidak sebesar Cookery Booke. Sampulnya berwarna cokelat tua, seperti kulit pohon, dan tampak seolah telah terbentuk dari ratusan ranting yang dijalin menjadi satu. Judulnya terukir pada sampul kayu. “Magykal Gardener,” Rose membaca keras-keras. Rose mengulurkan tangan untuk mengambilnya dan segera disambut oleh duri yang hampir tak kasatmata—dia menarik tangan dan mengisap ujung jarinya. “Aduh!” “Duri?” tanya Anjing penuh arti. “Marchesa itu licik. Gunakan syalnya.” “Ide bagus,” kata Rose, melilitkan syal untuk melindungi tangannya. Dia mencengkeram buku itu dan menariknya dari alasnya. Buku tersebut sangat berat sampai-sampai dia nyaris menjatuhkannya. Jelas, ini kunci untuk mengung kap kan apa yang telah dilakukan Marchesa terhadap kota. desyrindah.blogspot.com


“Cepat, Rosemary, buka sampulnya!” kata sang Anjing, nyaris tidak mampu membendung lolongannya. “Tidak, kita sudah mendapatkan apa yang kita cari,” katanya. “Kita perlu membawanya ke tempat di mana kita bisa—” Bunyi gedebuk berat datang dari lantai atas, dan lampu sorot yang terang benderang menyala di koridor, melewati ruang tamu, begitu panas dan putih sampai-sampai Rose merasa baru saja melangkah langsung ke bawah matahari. Suara sang Marchesa menggelegar di seantero rumah melalui interkom tak terlihat, bergema dari puluhan pe ngeras suara tersembunyi di dinding. “Penyusup!” raungnya, kata-katanya terdistorsi. “Apa kah menurutmu, aku, sang Marchesa, tidak akan menya dari ada yang mengganggu tempat suciku? Apakah kau mengira hidungku yang sensitif tidak akan mencium bau binatang buas yang menemanimu?!” “Kita harus keluar dari sini sekarang!” Rose memberi tahu sang Anjing. Namun, mereka terlambat. Langkah-langkah bersepatu bot bergema di seluruh rumah—lebih banyak orang dari pada sekadar Marchesa. Para pengawalnya mengalir masuk dari luar. “Aku tidak tahu bagaimana kau berhasil melewati pagar dan parit dan penjagaku,” lanjut sang Marchesa, “tapi aku bisa menjanjikan satu hal kepadamu: sekarang setelah kau ada di sini, kau tidak akan pernah bisa meloloskan diri sam pai kapan pun!” Sang Anjing bergegas ke sudut dinding tempat rak-rak bertemu. “Tidak ada waktu untuk keluar,” dia menyalak. “Rosemary, celemeknya! Kita harus bersembunyi di balik nya sekali lagi!” Rose mematung. Kali terakhir dia melihat celemek itu adalah ketika dia menjatuhkannya di lantai. desyrindah.blogspot.com


Di dapur. Di dapur di ujung koridor yang sekarang dibanjiri penjaga. Dia bermaksud untuk mengambilnya, tetapi entah bagaimana tidak melihatnya ketika menarik ranselnya. “Merunduk, cepat!” Sang Anjing menyundul pinggang Rose, memaksanya berjongkok di belakang salah satu kursi bersayap tinggi. Tepat waktu karena kepala salah satu penjaga meng intip pada saat bersamaan. Pemuda itu seusia Ty, rambutnya yang hitam dicukur cepak seperti seorang kadet militer. Dengan mata menyipit, dia mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan, mencari tanda-tanda gangguan. Rose menahan napas, yakin pemuda itu melihatnya dan sang Anjing di sudut gelap dekat mainan lama. Namun, seseorang memanggil dan pemuda itu berba lik, lalu menghilang. Rose mendengar pintu dibuka di koridor dan sese orang berkata, “Dari sinilah mereka masuk! Awasi di atas tangga sementara aku mencari ke ruang bawah ta nah.” Mereka punya waktu, meski hanya sesaat. “Anjing,” Rose berkata, “aku benar-benar membu tuh kan bantuanmu sekarang. Lupakan soal nilai. Aku tidak peduli kalau aku gagal. Cukup beri tahu aku cara kita bisa keluar dari sini.” “Jangan gampang menyerah begitu,” tegur sang Anjing, meskipun getaran dalam suaranya yang berat meng ungkap kan kecemasannya sendiri. “Hadiah dari Orang-Orang Ter ka sih—mungkin salah satunya dapat mem bantumu.” Dengan putus asa, Rose menaruh Magykal Gardener di lantai dan melepaskan lilitan syal dari tangannya. Langkah kaki Marchesa dan para penjaga yang melakukan pencarian memenuhi rumah—tentu saja desyrindah.blogspot.com


mereka hanya punya wak tu beberapa menit sebelum seseorang kembali ke ruang tamu dan menemukan mereka. Jantung Rose berdegup kencang ketika dia melepas ransel, dan jemarinya begitu gemetar sampai-sampai dia hampir tidak bisa membuka ritsleting. Rose menghela napas. Yang tersisa hanyalah kumis kucing dan jam pasir, kaleng kosong, serta korsase yang bahkan bukan Hadiah dari Orang-Orang Terkasih, hanya pengingat yang cukup tentang pacar yang terpaksa dia tinggalkan. Hampir tanpa disadari, dia menyelipkan kor sase itu di pergelangan tangannya. Di dasar tumpukan, ada 30 Menit Sihir Lily. Rose mengeluarkannya, lalu membungkus buku Marchesa de ngan syal dan menyelipkannya ke ransel untuk diamankan. Ketika dia menutup tas, gambar holografik Lily mengingatkan Rose kepada rumah sampai-sampai dia nyaris menangis. “Bibi Lily,” katanya pelan, “andai kau ada di sini.” Yang mengejutkan Rose, gambar Lily berhenti melam baikan pengocok telurnya dan menatap lurus ke arah Rose. “Halo, Pembaca Tersayang!” kata Lily yang tersenyum sem ringah. “Sepertinya kau membutuhkan bantuan ahli dari Lily Le Fay, chef extraordinaire. Kenapa tidak kau tunjuk kan saja dapurmu dan kita dapat memulai?” Sesaat, Rose mengira dia telah benar-benar men jang kau Lily, bahwa bibinya berhasil mening galkan cara supaya mereka dapat berbicara— bertelepati melalui sampul buku. Namun, kemudian, dia menyadari itu hanya semacam pesan ajaib yang direkam sebelumnya. “Kami tidak punya dapur,” Rose balas berbisik kepada buku itu. “Kami membutuhkan resep yang bisa dilakukan tanpa dapur. Dan, aku tidak punya bahan apa pun.” Gambar Lily menengadahkan kepala dan tertawa pa rau. Rose buruburu menampar sampul buku. Sang Anjing melakukan hal yang sama, menekan gambar itu dengan tapak. Sambil meringis, Rose melongok desyrindah.blogspot.com


melewati kursi ke pintu pelengkung yang mengarah keluar dari ruang tamu—tetapi sepertinya tidak ada yang mendengar apa pun. Kegaduhan dari para remaja laki-laki yang menggeledah ruangan lain terlalu keras. “Tidak ada dapur!” kata suara Lily teredam di bawah telapak Rose. “Untuk apa kau membeli salinan lentikularis 30 Menit Sihir Lily edisi terbatas kalau kau tidak memiliki dapur? Ayolah, tunjukkan kepadaku.” “Kami yakinkan kau, Wanita Rekaman,” kata sang Anjing, “kami kehabisan dapur yang bisa digunakan. Apakah kau mempunyai resep yang tidak membutuhkan dapur?” Gambar Lily menggaruk-garuk dagu. “Pertanyaan itu terlalu besar untuk dijawab oleh diriku yang kecil dan tua ini! Tapi, salah satu fungsiku adalah membacakan resepku keras-keras. Dapatkah itu membantumu, Pembaca Ter sa yang? Aku bisa memulai dengan kata pengantarku yang mendebarkan! Ini adalah pengantar yang panjang dan in dah tentang kehidupan luar biasa Lily Le Fay, dan sebuah cita rasa yang mengasyikkan dari apa yang terjadi pada halaman selanjutnya.” “Tidak!” seru sang Anjing, menampakkan deretan giginya. “Itu sama sekali tidak akan membantu!” Rose memalingkan wajah, lelah terhadap sang Anjing yang bersikap kejam kepada Lily. Tatapannya tertumbuk pada mainan-mainan di samping mereka di rak sudut. Korsase di pergelangan tangannya mengingatkannya kepada Devin: apa yang akan dilakukan pemuda itu seandainya dia di sini? Dia tidak akan melihat sekelompok mainan tua biasa, bukan? Dia akan melihat bahan-bahan nya sendiri—komponen dari semacam kreasi yang belum diciptakan. Boneka-boneka kain, biji bekel logam, sebuah bola karet, sepatu roda .... desyrindah.blogspot.com


“Barangkali aku bisa bernyanyi untukmu?” gambar berpendar Lily menawarkan. “Ini bukan sesuatu yang kula kukan untuk sembarang orang, Pembaca yang Budiman, tapi Lily Le Fay membaktikan diri terhadap penggemar se pertimu.” “Itu tidak perlu,” geram sang Anjing. “Sebenarnya,” kata Rose, gagasan tersebut muncul di benaknya dalam kilasan, “persis itulah yang perlu kau lakukan.”[] desyrindah.blogspot.com


Bab a3 Gelindingan Sekali Seumur Hidup Dua menit kemudian, Rose menjalankan rencananya. Dari tempatnya di ruang tamu, dia bisa melihat dua bocah laki-laki berdiri berjaga di depan pintu ruang bawah tanah yang terbuka, senjata-senjata di samping mereka. Dengan seragam hitam dan ikat pinggang merah marun, mereka tampak seperti penjaga dengan topi besar di depan Istana Buckingham, hanya saja jauh lebih muda dan tanpa tutup kepala yang berbulu. Seraya mencondongkan tubuh ke koridor melalui pintu pelengkung ruang tamu yang terbuka, Rose mengangkat kembali lengannya dan menggelindingkan bola karet, lalu merunduk kembali ke dalam—bola itu terbang melewati wajah kedua penjaga ke arah pintu depan, mendarat de ngan bunyi buk tajam. “Bola!” sang Anjing mendesis di samping Rose, bersiap-siap mengambilnya. Gadis itu melingkarkan lengan di leher sang Anjing untuk menahannya. “Apa itu tadi?” tanya salah satu bocah penjaga. “Kau melempar sesuatu, Carl?” “Bukan aku!” Carl berkata sambil mengangkat tangan defensif. “Apakah kau yang melakukannya, Juan Pablo?” “Bukan aku!” seru penjaga lain, Juan Pablo. “Lihat di sebelah sana— ada bola!” Sambil berjongkok dalam mode defensif, kedua pen jaga merangkak ke pintu depan. “Siapa di sana?” bentak Carl. desyrindah.blogspot.com


Sekarang waktunya membuat Lily Le Fay beraksi. Rose menaruh alatnya—sebelah sepatu roda kuno, dengan 30 Menit Sihir Lily dililit di atasnya menggunakan korsase dari Devin. “Nyanyikanlah makan malam kita!” Rose berkata ke pada Lily, mengirimkan buku yang meluncur di koridor dengan dorongan lembut. Suara melengking sang bibi langsung memenuhi udara. “Seperti yang dulu pernah dituliskan oleh Charles Dickens, seorang wanita cantik untuk kue yang lezat sama pentingnya seperti nafsu makan kuat untuk santapan yang nikmat! Oh, siapa yang kuperdaya? Aku yang bilang begitu! Oh, benar, itu ucapanku!” Seperti yang dia janjikan, Lily menyanyikan keseluruhan buku, dimulai dengan autobiografinya yang bertele-tele. Rose melihat para penjaga berpandang-pandangan dengan bodoh. Tatapan mereka terfokus pada bola—me reka tidak menyadari buku itu ataupun sepatu roda, benar-benar mengira ada wanita sungguhan di dalam rumah. “Apa-apaan—?” Carl bertanya-tanya dengan lantang. “Aku mungkin bukan pemanggang roti tercepat, atau tersukses, atau memiliki penggemar terbanyak,” Lily melan jutkan, suara melengkingnya memelesat langsung ke arah pintu basemen. “Meski barangkali sekarang ini hal terakhir itu benar—tapi aku yakin aku adalah salah satu pembuat roti tercantik yang pernah mengenakan celemek!” “Bola tadi cuma pengalih perhatian!” penjaga yang lain berseru. “Marchesa, kemari cepat! Dia mengarah ke basemen!” Bunyi gemerincing dan dentang bergema di koridor saat sepatu roda menabrak anak tangga. Sementara itu, simulasi bibi Rose berusaha keras menyanyikan lagunya, setiap bunyi gedebuk di tangga membuat suaranya pecah. desyrindah.blogspot.com


“Resep pertamaku adalah—oh, astaga!—roti kayu ma nis sewaktu aku masih gadis cilik berusia lima—ya ampun! —tahun. Aku— perjalanan kita hari ini sungguh penuh lu bang, ya!” Lagu itu lenyap ketika sepatu roda menghilang ke ke dalaman basemen, disusul langkah para penjaga. Sedetik kemudian, ketukan hak sepatu Marchesa mengikuti. “Kejar mereka!” serunya. “Jangan biarkan mereka menghilang ke terowongan!” Rintangannya sudah dibereskan. “Aku harus mengambil bola itu, Rosemary.” Sang An jing mengerang, menggeliat dalam pelukan lengan Rose. “Aku harus mengambilnya!” Rose berkata, “Anjing baik! Ayo ambil!” Anjing itu keluar dari ruang tamu dan berlari di koridor yang kosong menuju pintu depan. Rose berlari mengejarnya, ransel yang sekarang jauh lebih berat bergedebuk di tulang belikatnya. Tepat saat berlari melewati pintu basemen yang terbuka, dia mendengar pekikan Marchesa, “Itu tipuan! Ti dak ada orang di sini, cuma seorang wanita di dalam buku! Kembali ke atas! Sekarang sekarang sekarang!” Namun, Rose sudah siap untuk ini. Dia menggenggam biji-biji bekel tua milik Marchesa, dan melemparkan semuanya, mening galkan ladang ran jau kekacauan tajam di belakangnya. Sang Anjing menyambar bola tepat ketika Rose mem buka pintu depan ke halaman Marchesa yang luas, ber pendar dalam cahaya matahari yang terbenam. “Akooo daphaaad!” kata sang Anjing sambil meng gi git bola karet merah itu. “Bagus, ayo!” Rose melompat menuruni undakan depan ke udara segar yang dingin, lalu berlari menerobos rerumputan tinggi yang gatal desyrindah.blogspot.com


—hanya untuk mendapati bahwa jembatan tariknya terangkat, parit masih berpusar-pusar, dan gerbangnya dirantai erat. Anjing berhenti di dasar jembatan tarik dan menja tuhkan bola di kaki Rose. “Aku khawatir bola itu rasanya seperti seratus dua puluh tahun kebusukan dan debu,” katanya. Lolongan rasa sakit terdengar dari dalam rumah. “Kakiku!” ratap salah seorang penjaga. “Biji bekel ini jauh lebih buruk daripada Lego!” “Abaikan rasa sakit itu dan terus berlari!” seru sang Marchesa. “Hentikan gadis itu!” “Cepat, Rosemary,” perintah sang Anjing. “Naik ke punggungku.” “Kau bisa menanggung bobotku?” Rose bertanya, dengan hati-hati melengkungkan kaki untuk menunggangi anjing itu. “Tak ada waktu untuk berdiskusi,” kata sang Anjing. “Lingkarkan lengan-lenganmu di leherku dan pegangan erat-erat!” Rose melakukan seperti yang diperintahkan, membe namkan wajah di bulu abu-abu dan putih lembut di bahu sang Anjing. Dan, sang Anjing pun berlari. Pekarangan rumah sang Marchesa yang tak terawat me ngabur hijau ketika otot-otot sang Anjing yang kuat mem bawa mereka memutar cepat di sepanjang tepi parit dan kembali ke jembatan tarik. Menggunakan jembatan itu sebagai pengungkit, sang Anjing menjejakkan kakinya lalu melompat tinggi ke angkasa. Selama sesaat yang menyesakkan dan memualkan, mereka berdua seolah tak berbobot, tubuh Rose terangkat dari punggung sang Anjing saat mereka membubung mele wati ujung-ujung pagar setajam silet di sepanjang gerbang. Kemudian, gravitasi kembali, dan mereka mendarat lembut di jalan di sisi luar benteng. desyrindah.blogspot.com


Di taman di depan rumah, tempat panggung Hari Warisan hampir jadi, seorang mandor kecil menganga dan menggaruk puncak kepala di bawah helm kerjanya. Rose melambai ke arah anak—eh, lelaki—itu sembari turun dari punggung Anjing. “Kita berhasil!” serunya, melingkarkan lengan di leher sang Anjing lagi, kali ini untuk memeluknya. “Kau yang berhasil,” kata sang Anjing. “Aku hanya memberikan bantuan.” Dari belakang tembok, terdengar teriakan dan jeritan—serentetan perintah dari sang Marchesa, yang terdengar seperti lolongan badai. “Dan, aku akan memberikan bantuan sekali lagi,” kata sang Anjing, “dengan berkata ayo kita angkat kaki dari sini!” ... Rose dan sang Anjing berpacu menyusuri gang-gang Bontemps yang gelap, tetap menjauh dari pandangan sampai mereka sekali lagi mencapai Silver Spoon. Rose mengetuk pintu belakang seperti yang ditunjukkan Cosmo kepadanya. Tok, tok-tok. Sejenak kemudian, Cosmo membukanya, celemek bernoda menutupi kardigan hijaunya, kacamatanya berkabut karena uap. “Syukurlah, kalian kembali! Aku khawatir riwa yat kalian sudah tamat!” “Dia nyaris menangkap kami,” kata Rose, merunduk masuk ke dapur yang hangat. “Tapi, kami berhasil lolos.” Ditepuknya ranselnya. “Tidak dengan tangan kosong pula.” Sang Anjing menjilat moncongnya. “Apa pun yang kau masak, Anak Muda, baunya lezat.” “Kau sungguh budiman, wahai Anjing,” kata Cosmo, memelesat kembali ke kompor untuk mencegah masakan nya berubah gosong. Setiap permukaan yang tersedia di gunakan: panci sup dididihkan di desyrindah.blogspot.com


kompor, daging burger mendesis di panggangan, dan aroma roti yang sedang di panggang menguar dari oven. Meja persiapan di tengah ruangan penuh dengan sayuran dan daging dari berbagai negara bagian. “Pelanggan sangat ramai di depan. Aku ke re potan.” Dia menyingkirkan talenan dan mengelap meja. “Jadi, apa jarahan yang kalian dapatkan?” Rose mengeluarkan Magykal Gardener dari ransel. Cosmo mengintip melalui bahunya. “Apa itu buku masak sang Marchesa?” “Kurasa bukan,” kata Rose. “Tapi, sekarang setelah kami kembali ke sini, dengan aman, saatnya mencari tahu apa yang wanita itu lakukan.” Rose menggunakan syal untuk dengan hati-hati mem buka sampul, kulit tuanya berderak memprotes. Halaman-halamannya tebal seperti kertas konstruksi, dan hijau pucat seperti daun sage. Dan, ditutupi oleh sulur-sulur sehitam tinta. Sulur-sulur tersebut berkelindan dan menembus setiap kata serta kalimat, nyaris seolah ada balita marah yang mengambil bolpoin dan mencoreti seluruh halamannya. Rose membalik-balik buku itu dengan kalut, tetapi ke adaannya sama dari depan ke belakang: halaman demi halaman dipenuhi tanaman rambat, sulur-sulur gelap jahat mengular menembus lubang huruf O dan melilit kaki-kaki huruf K, mem buat naskah terlarang sang Marchesa sepe nuhnya tak ter baca. Rose mengerjap dan memeriksa lagi. Sulur-sulur itu tampak bergerak sedikit—seolah mereka hidup. “Ih, berantakan sekali,” kata Cosmo, melongok untuk melihat isi buku. “Aku lega kau yang membacanya dan bukan aku.” “Tapi, aku tidak bisa membacanya!” Rose memprotes. “Kami menukar buku tak berguna bibiku dengan buku tidak berguna lainnya.” desyrindah.blogspot.com


“Biar kulihat,” gerutu sang Anjing. Dia meletakkan kedua tapak di atas meja dan menaruh moncongnya di halaman yang terbuka. “Benar, ada mantra yang sangat kuat pada buku ini.” Sang Anjing turun lagi dan mondar-mandir di karpet karet dapur. “Rosemary, kurasa kau benar: kau perlu menghubungi keluargamu.” Jantung Rose serasa melompat. “Terima kasih! Ya! Itulah tepatnya yang kita butuhkan. Tapi, di mana telepon terdekatnya? Tidak ada telepon di dapur, ‘kan?” “Tidak,” kata Cosmo. “Dan, kalaupun ada, semua panggilan harus disalurkan melewati panel pengendali sang Marchesa. Kalian bakal tertangkap dalam hitungan detik.” Rose menendang ranselnya dengan kesal. Tas itu memerosot dan isinya tumpah—jam pasir, ayam-ayaman karet, dan kaleng susu kental manis kosong, yang bergulir di karpet dan berhenti di kaki Cosmo. “Sayang sekali kau tidak bisa menggunakan ini,” kata Cosmo, mengambil kaleng kosong. “Waktu aku masih kecil—masa kecilku yang pertama, maksudku—kami biasa mem bentangkan tali di antara dua kaleng, menariknya sam pai tegang, dan mulai berteriak seakan itu sebuah telepon.” Dia mengangkat bahu. “Kau mendengar lebih banyak dari teriakan daripada apa yang sebenarnya terdengar dari dalam kaleng, tapi itu tetap menyenangkan. Kami tidak punya TV pada masa itu.” Mata sang Anjing melebar saat dia mengeluarkan gong gongan serak. “Itu,” katanya, “adalah ide bagus.” Dia berbalik, menjauh dari Rose dan mengangkat ekornya. “Rosemary, kau akan melihat filamen halus seputih mutiara di ujung ekorku. Pegang dan tarik kuat-kuat, itu bisa kita jadikan tali kabel kita.” Pada saat ini, Rose tahu bahwa dia harus percaya sang Anjing memiliki banyak trik di balik lengan bajunya—atau bulu yang boleh dianggap sebagai lengan baju di keempat kakinya. Dia menemukan desyrindah.blogspot.com


bulu yang dimaksud—bulu itu agak bersinar, dan tampak seperti dipintal dari cahaya—lalu menariknya kuat-kuat. Sama seperti menarik seutas benang longgar dari sweter lama, ekor sang Anjing pun terurai. Talinya menumpuk di lantai, semakin panjang saat ekor anjing yang lebat itu menciut sampai tidak ada yang tersisa selain inti pendek dengan ujung tali sihir yang ma sih melekat. “Wow!” Cosmo terkesiap. “Sekarang kita memasak pakai gas.” Dia melompat dengan terkejut dan bergegas mengangkat beberapa burger dari kompor. “Aku nyaris lupa, aku masih memasak pakai gas!” “Sekarang apa?” Dengan bingung, Rose mengangkat ujung tali panjang dan kaleng kosongnya. “Lubangi dasarnya!” Cosmo berseru saat dia berjalan lewat, membalik flapjack di wajan. “Masukkan benang ke dalamnya, lalu buat simpul!” “Tapi, bagaimana aku bisa menghubungi siapa saja?” tanya Rose ketika dia menggunakan pisau pemotong buah untuk membuat lubang kecil di bagian dasar kaleng. “Ini tidak terhubung kepada apa pun.” “Itu terhubung kepadaku,” Anjing mengumumkan. “Dan aku, pada intinya, terhubung kepada semua hal.” Dia mengangguk menyetujui begitu Rose selesai membuat telepon kaleng. “Bagus. Sekarang, hubungi keluargamu.” Dengan skeptis, Rose memandang sang Anjing dan kaleng itu bergantian. Cosmo terlalu sibuk mengangkuti piring-piring untuk bisa membantu. Kemudian, Rose men dekatkan ujung terbuka kaleng ke bibirnya dan berkata, “Kring kring?” Dering yang jauh bergema dari kedalaman kaleng. Rose menekankan telinga ke bukaannya, mengabaikan susu ken tal manis lengket dan setengah kering yang melekat ke ram butnya. desyrindah.blogspot.com


Ada deguk cairan, seperti wastafel tersumbat yang me luapkan gelembung udara yang terperangkap, kemudian terdengar derit logam. Tiba-tiba, Rose bisa mendengar suara—suara yang indah, luar biasa, akrab, serta menenangkan. “Oke, Leigh,” kata Purdy, sejelas jika dia berdiri tepat di sebelah mereka. “Aku sudah mengosongkan kalengnya seperti yang kau minta. Hati-hati, ya, pinggirannya tajam.” “Mom!” Rose berseru, kewalahan oleh emosi. Dia sangat merindukan ibunya meskipun dia hanya berada jauh dari rumah selama, berapa, sepuluh jam? Namun, tanpa anggota keluarga Bliss lain di sisinya, perjalanan ini terasa seperti selamanya. “Rosie!” pekik suara yang berbeda—Leigh. “Kau me nelepon, persis seperti yang kau bilang!” “Benarkah?” tanya Rose, tetapi dia merasa adiknya hanya bingung— Leigh kecil kerap mengucapkan hal-hal aneh. “Oh, Leigh, andai aku bisa bicara kepadamu, tapi aku tidak punya banyak waktu. Bisakah kau sambungkan aku kepada Mom?” “Ooo-keee,” Leigh merespons, kemudian berteriak, “Mamaaa! Ada telepon untukmu!” “Ya, baiklah, Leigh, aku akan bicara ke kaleng susu itu. Dasar gadis kecilku yang konyol.” Dengan lantang, seolah dirinya karakter dalam sebuah kartun, ibu Rose bekata, “Halo di sana, Kaleng! Bagaimana getarannya? Purdy Bliss di sini!” “Mom?” kata Rose lagi. Purdy memekik kaget, kemudian terdengar bunyi ber kelontang seolah kaleng itu terjatuh. “Apakah telepon kalengnya bekerja?” tanya Cosmo dari belakang Rose, mengatur makanan di piring untuk para pelanggan yang kelaparan. desyrindah.blogspot.com


Sang Anjing menyuruhnya diam. “Tentu saja bekerja. Ayolah, jangan sampai mereka terganggu karena kebe risikan kita.” “Rose!” kata Purdy beberapa saat kemudian. “Kau benar-benar menelepon menggunakan kaleng susu kental manis! Bahkan, di usiaku ini, aku masih belajar trik-trik baru.” Ibu Rose berdeham. “Kurasa kau hendak bertanya ten tang buku penuh semak belukar itu?” “Bagaimana kau ....” Rose mulai bertanya, kemudian menggelenggeleng. Tidak penting dari mana ibunya tahu. Dengan cepat Rose menjelaskan kejadian-kejadian yang dialaminya hari itu—dari waktu yang bergerak mundur dan plot berkebun Marchesa yang jahat serta fakta bahwa semacam panen yang mengerikan akan segera terjadi. “Yah,” kata Purdy setelah Rose menuntaskan cerita nya. “Ini kedengaran jauh lebih rumit daripada ujian Master Pembuat Roti.” “Trims, Mom,” kata Rose. “Itu sungguh membantu kepercayaan diriku.” Purdy tertawa. “Oh, Rose, kau melakukannya dengan baik. Tapi, kita harus menangani kutukan ini. Katakan, Ha diah dari Orang-Orang Terkasih apa yang masih tersisa?” Rose mengaduk-aduk ranselnya. “Ada bulu kumis Gus dan jam pasirmu. Tak banyak yang lain.” Tetesan basah dari kaleng di pipinya mengingatkannya kepada Devin, jadi dia berkata, “Oh, dan Devin memberiku ... ciuman serta janji bahwa tidak akan pernah ada yang bisa memisahkan kami.” “Mungkin itu bisa digunakan,” renung ibunya. “Oke, yah …, kau harus menghanguskan sulur-sulur tanaman itu dengan membakar bukunya.” “Membakar buku!” seru Rose, ngeri. Keluarganya meng hormati buku-buku, dan mereka tidak pernah melem par kannya ke api. “Tidakkah itu hanya memberiku tumpukan abu?” desyrindah.blogspot.com


“Mungkin,” kata ibu Rose, “tapi kau harus mengambil risiko itu. Tapi, pertama-tama, kau harus menggunakan janji Devin. Cium buku itu dan katakan, Tidak akan pernah ada yang bisa memisahkan kita, seperti yang Devin katakan ke padamu.” Rose memandangi sampul kulit yang kotor itu. “Ehm, baiklah.” “Lalu, buang saja ke api. Setelahnya, kau perlu me ngumpulkan abunya dan—” Kata-kata Purdy berhenti tiba-tiba. Terdengar serang kai an bunyi klik dari dalam kaleng. Ada lolongan listrik rendah, dan suara sengau seorang wanita yang tidak dikenali Rose terdengar di telepon. “Silakan masukkan delapan ons susu kental lagi untuk melanjutkan panggilan ini.” “Ehm,” kata Rose, dengan kalut menatap Cosmo dan sang Anjing bergantian. “Aku tidak punya delapan ons susu kental manis.” Suara itu mendesah, lalu berkata dengan ketus, “Se lamat tinggal.” Satu klik lagi dan kaleng itu bungkam. “Halo? Mom? Operator?” Rose melempar kaleng yang sekarang tak berguna ke lantai. “Apa yang harus kulakukan setelah membakar bukunya? Kenapa panggilan telepon nya harus berakhir persis pada saat itu?” “Aku yakin kau akan memikirkan caranya, Rosemary,” kata sang Anjing. “Kenapa tidak kau ikuti langkah pertama seperti yang dijelaskan oleh Purdita?” “Tidak pernah terpikir aku akan mengatakan ini, berhu bung aku orang yang lebih suka bicara, tapi membakar buku seharusnya cukup mudah,” kata Cosmo. Dia menyeberang ke oven, di sampingnya terdapat tungku besar. Dia memutar gagang dan membuka jeruji logam di bagian depan, mem perlihatkan api yang meretih-retih di dalamnya. desyrindah.blogspot.com


“Kurasa aku tidak punya pilihan,” kata Rose sambil me narik napas dalam-dalam. “Toh tidak mungkin bisa dibaca kalau seperti ini.” Ditutupnya sampul Magykal Gardener dan memikirkan kembali ke waktu persis sebelum dia pergi untuk melakukan perjalanan ini, ketika Devin datang dan memberinya korsase serta ciuman. Sambil meringis, Rose mencium kata-kata yang terlilit tanaman rambat di bagian depan. Bibirnya tergelitik seolah melepuh. “Aku berjanji ti dak akan pernah ada yang bisa memisahkan kita,” bisiknya kepada buku itu, meskipun di kepalanya dia berjanji kepa da Devin. Kemudian, Rose melempar buku itu ke dalam tungku. Cosmo membanting kisi-kisinya hingga menutup, danmereka bertiga berjongkok untuk menyaksikan apa yang terjadi. Pinggiran buku berkedip-kedip sejenak dalam kobar an api, kemudian, disertai deru nyaring, tersulut seperti kayu bakar di api unggun. Buku itu mendesis dan menjerit ketika sampulnya menghitam dan halaman-halamannya meleng kung, layu kepanasan. Kemudian, jeritan itu lesap sepenuh nya karena tepiannya berubah dari arang hitam menjadi abu. Benda itu bukan lagi buku. Berkat Rose, sekarang ia hanya tumpukan abu yang pucat. Keyakinan Rose runtuh bersama buku tebal yang me nyala-nyala itu. Satu-satunya kesempatan mereka untuk meng hentikan Marchesa benar-benar habis terbakar. “Apa yang telah kuperbuat?” bisiknya.[] desyrindah.blogspot.com


Bab a4 Menikmati Kue Bolu dan Juga Membacanya Rose memandangi tungku, mati rasa. Yang tersisa dari Magykal Gardener hanyalah gunduk an abu. Tak mungkin ini yang dimaksudkan ibunya. Mungkin Rose telah menggunakan janji Devin secara tidak tepat dan seharusnya buku itu tetap utuh, hanya saja dia tidak ber sungguh-sungguh dalam menyatakan kebersamaan mereka. Mungkin Rose bukan Master Pembuat Kue. Mungkin tanpa keluarganya, tim asisten memanggang di sisi nya, dia bukan siapa-siapa. Cosmo berjongkok di samping Rose dan menyodok abu dengan spatula logam. “Jadi, apa langkah selanjutnya, Nak?” Bunyi bel berdentang dari jendela saji, dan Silver meraung, “Cosmo, mana pesanan-pesanan itu? Para pe langgan mulai rusuh!” “Segera datang!” Cosmo berlari kembali ke stasiunnya, seraya berseru ke belakangnya, “Kau akan memanggang sesuatu dengan abu itu, ‘kan?” Sang Anjing mengendus isi tungku yang masih hangat. “Itu ide bagus, bukan begitu, Rosemary?” “Tentu,” Rose berkata. Memanggang sesuatu dari abu itu memang tidak bisa membuatnya lebih mudah dibaca, tetapi memanggang setidaknya adalah sesuatu yang dia tahu caranya. Sambil menghela napas, Rose meraih loyang logam dan menggunakan spatula untuk mengikis setiap abu keluar dari tungku. Dia berharap akan ada sesuatu yang solid di tengah-tengah abu, desyrindah.blogspot.com


beberapa bagian Magykal Gardener yang tidak terbakar tersembunyi di tengah sisa-sisanya. Namun, dari depan ke belakang, halaman pertama hingga terakhir, semuanya hancur. Rose menaruh seloyang abu itu di atas meja persiapan. “Tapi, apa yang harus kubuat?” Sang Anjing menggesek kaki gadis itu. Dengan sambil lalu, Rose menggaruk bagian belakang telinga kelepainya. “Kau harus membuat kue, Rosemary.” Maka, itulah yang dilakukannya. Dia tidak butuh resep—Rose pernah memanggang ratusan kue, dan resep andalan nya adalah kue bolu vanila sederhana. Di satu mangkuk, dia mengocok gula, mentega, telur, dan vanila, lalu di dalam mangkuk lain, dia menimbang dan memasukkan tepung serta baking powder. Abu, batin Rose, bisa dianggap seba gai bahan kering, jadi dia menggunakan ayakan untuk me nyaring isi abu dari loyang ke dalam mangkuk berisi tepung. Bersama setiap guncangan ayakan, abu menghujan dari lubanglubang halus, memijarkan cahaya putih me nyilaukan sebelum berubah menjadi abu-abu sekali lagi di atas tepung. Rasanya hampir seperti menyaksikan bin tang jatuh di langit malam. Rose tidak berani berharap, tetapi sulit untuk me nyangkal—bahwa sesuatu sedang terjadi. Begitu selesai, Rose mengaduk semua bahan dan me nambahkan susu. Setiap adukan spatula meninggalkan go res an berkilauan yang menempel di adonan. Aroma naik dari adonan itu seperti rumput musim semi dicampur aroma vanila, menenggelamkan bau tajam kertas yang terbakar. Ketika Rose berhenti mengaduk, adonan itu berwarna hijau pucat, warna yang sama dengan halaman buku itu. Dia mengolesi loyang yang sekarang kosong dengan mentega, menuang adonan ke desyrindah.blogspot.com


dalamnya, dan menempatkan bakal kue itu ke salah satu dari sekian banyak oven panas Cosmo. Kemudian, Rose dan sang Anjing menunggu. ... Dua puluh sembilan menit kemudian, Cosmo ambruk ke kursi lipat di dekat pintu ayun yang mengarah ke kedai makan. Jamuan makan malam telah usai, dan wastafel penuh tumpukan panci dan wajan kotor. “Aku tidak pernah harus bergerak ke sana kemari sebanyak ini sejak usia tiga puluhan pertama-ku,” Cosmo terengah. “Aku mulai rindu diteriaki oleh Ms. Penny.” “Kau masih wartawan,” kata sang Anjing lambat-lambat. Dia berbaring di atas tikar karet di kaki Cosmo, mem ber sihkan tapaknya. “Dan ini cuma samaran yang kau laku kan dalam penugasan.” “Benar juga! Terima kasih sudah diingatkan, Tuan Anjing.” Cosmo menggosokkan buku-buku jemarinya di atas kepala sang Anjing, yang menggeram dan pura-pura tidak menikmatinya. Rose tidak bergabung dalam percakapan. Alih-alih, dia fokus pada jam pasir antik yang diberikan ibunya. Butir-butir terakhir pasir perak dan safir jatuh melalui bagian tengahnya yang menyempit ke sisi bawah gelas. Rose berdiri tegak. “Sudah waktunya.” Kepala sang Anjing tersentak terangkat. “Aku mencium bau kue yang sudah jadi.” Cosmo menjilat bibir. “Dan aromanya lezat!” Rose mengambil dua kain lap dari konter dan membuka oven, lalu berbisik “Wow.” Kuenya mengembang sangat tinggi, hingga melampaui sisi-sisi oven, seperti soufflé yang mengembang penuh udara. Tingginya kira-kira dua puluh lima senti. desyrindah.blogspot.com


Kue-kue memang seharusnya mengembang, tetapi ti dak seperti ini. Dengan hati-hati Rose mengeluarkan kue besar itu dari oven dan meletakkannya di atas konter, lalu dengan lembut menusuknya dengan jari. Permukaannya tidak bergoyang dan lembut seperti soufflé. Tidak, ini jelas kue. Yang berwarna hijau, dengan nuansa warna halaman buku, tetapi agak ke cokelatan karena dipanggang dengan sempurna. Kue ter sebut berkilauan, seolah telah dicat dengan serbuk emas. “Nah ...,” kata Cosmo, bingung. “Apa kita ... makan?” “Entahlah,” kata Rose. “Apa yang terjadi kalau kau memakan kue yang sarat dengan pengetahuan dari buku berkebun ajaib?” Cosmo menelan ludah. “Aku tidak yakin aku ingin tahu jawabannya. Tapi, aromanya lezat jadi mungkin ... aku mau memakannya?” Dia mengusap-usap perut. “Aku kesulitan menolak kue-kue.” “Menurut pengalamanku,” timpal sang Anjing, “yang terbaik adalah mengeluarkan kue dari loyang agar bisa men dingin.” Dia mempertimbangkan kue itu dengan beberapa hirupan. “Ada aroma sihir yang berbeda pada kue ini.” Rose menemukan rak pendingin, meletakkannya terba lik di atas kue, lalu membalik keduanya. Dengan hati-hati, diangkatnya loyangnya. “Aneh sekali,” kata Rose, mengamati kue itu. Dia me nyangka akan menemukan dasar kecokelatan yang indah, seperti yang ditunjukkan kue apa pun begitu keluar dari oven. Sebagai gantinya, dia menemukan kata-kata. Kata-kata hijau yang bertuliskan The Magykal Gardener. “Bukunya!” Rose hampir tidak dapat memercayai peng lihatannya. “Kue bolu ini—ini buku!” “Apa maksudmu dengan ini buku?” tanya Cosmo sambil mengernyitkan dahi kebingungan. “Kelihatannya seperti kue di mataku.” desyrindah.blogspot.com


“Kurasa,” Rose berkata sembari memeriksa huruf me lengkung dari judul yang teretsa pada kue, “sisa abu dari buku entah bagaimana membentuk ulang diri mereka lagi. Menjadi ini.” Anjing mengamati kue itu, tampak terkesan. “Menarik, Rosemary Bliss. Benar-benar kerja yang sangat menarik. Kau yakin kau benar?” Rose tidak yakin, tetapi mudah saja untuk mencari tahu kebenarannya. “Tak ada salahnya mencoba,” katanya seraya mengambil pisau panjang dari konter dapur. Dengan hati-hati, dia menggerakkan pisau untuk memotong kue se cara horizontal, berhenti tepat sebelum kue terputus sepe nuhnya. Rose pernah harus membuat kue ulang tahun de ngan 29 lapisan untuk tetangga sebelah mereka, Mrs. Carlson, hanya menggunakan dua kue ukuran normal. De ngan cepat dia menjadi ahli dalam mengiris secara horizon tal (dan bersyu kur Mrs. Carlson tidak memesan kue dengan lapisan sebanyak usianya yang sesungguhnya). Rose menyelipkan jemari ke bawah ujung terbuka kue dan, sambil menahan napas, dia membalik lapisan kue bolu itu hingga terbuka seperti sampul buku. Bagian dalamnya berwarna hijau pucat, dan di atas nya—pada halaman pertama!—terdapat tulisan tangan yang jelas dan mudah dibaca. Tidak terlihat sulur tanam an—hanya cerita serta instruksi tentang menanam sesu a tu yang disebut Bunga Parasut Darurat (Ceropegia woodii ‘Tempus’)—untuk Penanaman pada Musim Gugur Jika Sese orang Mengharapkan Akan Terjun Bebas pada Musim Semi. Hanya sulur berlebih yang mengaburkan kata-katalah yang hilang terbakar api. Seluruh isinya yang lain—instruksi dan kiat berkebun serta pengetahuan sihir, semuanya—te tap utuh berkat janji Devin! Namun, alih-alih ter jalin dari su lur berduri, kini buku itu menjadi lembut, mengun dang dan beraroma ulang tahun. desyrindah.blogspot.com


“Wow,” Rose berkata. Dia melirik sang Anjing, yang tersenyum, menampakkan serangkaian taring putih tajam. “Cara itu berhasil. Sekarang, ayo kita cari tahu.” Rose mengiris satu lapisan tipis demi satu lapisan tipis, membalikbalik halaman beraroma vanila dengan penuh se mangat. “Lihat semua ini! Penjelasan tentang cara menum buhkan Spiritweed dan Kembang Pertama Musim Semi dan—hoaaa, bahkan cara membudidayakan Toad stools.” “Jamur?” Cosmo menggaruk-garuk kepala. “Memang nya tidak bisa dilakukan secara normal saja?” “Bukan jenis yang ini,” kata sang Anjing. “Toadstools yang diperlukan dalam resep kami adalah versi harfiah dari nama itu—stool atau bangku sungguhan yang bisa diduduki katak. Untuk menemukan hal seperti itu di alam liar memang langka karena jamur toadstool biasa tidak bisa diharapkan untuk menopang bobot amfibi tu.” Cosmo mengerjap. “Toadstool, katak duduk di atas bangku? Wuidih!” “Ayahku bakal suka buku ini,” kata Rose saat lanjut mengiris kuenya. Di suatu tempat di dalam The Magykal Gardener, terdapat penjelasan untuk malapetaka yang me nguasai kota. Setiap halaman dari lapisan tipis kue memuat kisah baru, serangkaian instruksi budidaya baru, seluruhnya ditulis oleh anggota keluarga Marchesa yang berbeda sepan jang zaman. Buku ini sama seperti Cookery Booke, sebuah buku tebal yang disumbangkan oleh bergenerasi-generasi ahli tumbuhan ajaib. Namun, sang Marchesa telah menutupinya dengan ca bang-cabang berduri dan menyembunyikannya sehingga hanya dirinya yang dapat membacanya. Rose menggeleng-geleng; bukan begitu cara yang tepat memperlakukan buku seperti ini. desyrindah.blogspot.com


Rose terus mengiris halaman baru dan membaca sepin tas lalu. Kirakira pada pertengahan buku kue bolu, dia me ne mukan sebuah halaman bertanggal hampir tepat lima puluh tahun lalu—atau setidaknya pada hari bulan Oktober seperti yang disangka Rose. (Barangkali itu lebih awal, mengingat waktu berjalan terbalik di Bontemps.) “Kurasa aku menemukan sesuatu,” Rose berkata. “‘Time After Thyme (Thymus vulgaris ‘Novis’)—untuk Membalikkan Hari ke Waktu yang Dikira telah Hilang.’” Rose membacakan kisahnya dengan nyaring: Aku merenungkan, seiring bertambahnya usia, apa jadinya jika aku dapat membalikkan waktu kem bali dengan sendirinya? Apakah kau akan selalu pergi ketika kecantikanku mulai me mudar, Eustace? Kurasa tidak. Kurasa—sean dai nya saja aku bisa mempertahankan kemu da anku—seluruh hidupku akan berjalan dengan sangat berbeda. Lebih baik. Karena aku masih akan memi likimu. Tidak seorang pun di kota yang memperha tikanku lagi. Mereka tidak lagi menginginkan keberadaanku. Dan kau—kau mungkin telah pergi, Eustace, kau mungkin telah mening gal kan ku untuk menyurut kisut selama bertahun-tahun, tapi aku tidak harus memudar. Aku bisa mekar lagi! Aku akan mekar lagi! Pada basa solid di tanah yang dikeringkan dengan baik, aku akan membuat petak tanam dengan pH persis 7.0. Dan aku akan menanam benih Time-After-Thyme yang kubudidayakan secara khusus. Dan aku akan menebar Pasir Waktu ke tanah sehingga sulur-sulur tanaman itu dapat merembes ke dalam jalinan kota kita. desyrindah.blogspot.com


Semua ini akan kulakukan untuk menarik tahun-tahun tambahan dari semua warga Bon temps—orang-orang tidak tahu terima kasih yang memuliakanku ketika aku masih cantik, ke mudian meninggalkanku, seperti dirimu. Dan, pada waktu yang tepat, ketika cukup wak tu tam bahan telah tersedot ke tanaman ku yang sangat istimewa, maka akan tiba saat nya panen. Se te lah itu, aku akan bisa memu lai lagi. Rose mendongak dari halaman buku kue bolu ke arah Cosmo dan sang Anjing. “Ditandatangani oleh ‘Edith Tilley, sang Ahli Berkebun.’” “Edith Tilley!” seru Cosmo. “Astaga, tapi aku tidak pernah mendengar nama itu sejak sangat lama.” “Itu nama sang Marchesa yang sebenarnya?” tanya Anjing. Cosmo mengangguk. “Kami hanya memanggilnya sang Marchesa sejak dia mengambil alih kota. Yang, kalau dipikir-pikir, seputaran waktu ketika resep ini ditulis. Huh.” Dengan hati-hati, Rose menutup sampul buku kue bolu The Magykal Gardener dan mulai memasukkan Hadiah dari Orang-Orang Terkasih yang tersisa ke ranselnya. “Se andainya sang Marchesa menanam thyme ini, letaknya pasti di kebun keluarga. Kau tahu tempatnya, Cosmo?” Respons Cosmo teredam, dan ketika berbalik, Rose mendapati pemuda itu berdiri di dekat kue, pipinya me ngembung, dengan remahremah pucat di bibirnya. “Apa yang kau makan?” tanya Rose, panik. Sang Anjing melolong. “Cosmo! Tolong katakan kau tidak me makan buku itu!” “Ehm ….” Cosmo menelan dan mengernyit. “Sori. Aromanya benarbenar lezat.” desyrindah.blogspot.com


Rose memeriksa buku-berbentuk-kue-bolu itu dan lega ketika melihat hanya satu sudut kecil yang hilang. “Tolong jangan makan buku rahasia Marchesa, oke? Kita membu tuh kan-nya. Setelah semua ini berakhir, aku janji akan mem buatkanmu kue yang sama berukuran dua kali lebih besar.” “Sungguh?” tanya Cosmo. “Kalau begitu, sepakat!” “Janji dulu,” Rose berkata. “Aku memberimu kata-kataku,” Cosmo menjawab. Sang Anjing berdeham. “Sekarang, kembali ke perta nyaan Rose: di mana kita bisa menemukan perkebunan sang Marchesa?” Cosmo menggaruk-garuk kepala. “Aku tidak tahu kelu arga Marchesa bahkan memiliki perkebunan sampai hari ini.” Dia mengangkat satu jari. “Dengar, aku baru saja men dapat gagasan. Kau tahu siapa yang tahu mengenai itu?” Pada waktu yang berbarengan, Rose dan Cosmo ber kata, “Emma!” ... Lima belas menit kemudian, Rose dan sang Anjing menda pati diri mereka berjalan berkelok-kelok melalui labirin rak perpustakaan kota. Cosmo tetap tinggal di kedai makan—dia masih harus beres-beres. Dan, meskipun Rose khawatir pemuda itu mungkin melupakan janjinya dan mencicipi satu atau dua potong kue yang sebenarnya buku, The Magykal Gardener terlalu besar dan terlalu rapuh untuk dibawa-bawa di ranselnya, jadi dia harus memercayakan buku itu untuk dijaga Cosmo. “Rose!” Emma berseru ketika melihat Rose dan sang Anjing memasuki kantornya. Dia terhuyung-huyung me lintasi lantai mewah area bermainnya. “Kau sudah kem bali! Kau sudah mematahkan kutukannya?” desyrindah.blogspot.com


“Belum,” jawab Rose. “Tapi, kami berhasil masuk ke rumah ibumu. Rumahmu, maksudku. Kami tahu rahasia nya.” Mata biru Emma berkilat-kilat oleh kegembiraan. “Tidak ada yang pernah melewati gerbang itu dalam beberapa de kade. Kau benar-benar terpilih untuk menyelamatkan kami. Aku tahu ramalan itu tidak berbohong!” Sang Anjing duduk di kaki belakangnya dan me man dangi pustakawan mungil itu. “Kami belum menyela mat kanmu, Nak. Rosemary, kenapa tidak kau jelaskan apa yang kita temukan?” Rose pun melakukannya—melewatkan bagian tentang bagaimana dia membakar The Magykal Gardener dan me manggangnya menjadi kue. Sebelum Rose bah kan bisa me nyelesaikan, Emma mulai merangkak melintasi area bermain ke salah satu tumpukan buku bergambarnya. “Thyme,” gumam bayi itu. “Thyme, thyme, thyme.” “Kau tahu di mana letak kebun ibumu?” tanya Rose. “Tidak,” kata Emma sambil lalu, seraya melemparkan buku demi buku di belakangnya. “Dia tidak pernah menye butkannya kepadaku. Catatan kota mungkin bisa memberi tahu kita, tapi ... ah, ya, ini dia.” Sambil mendekap buku bergambar di dadanya, Emma tertatih-tatih kembali ke arah Rose. “Ketika tumbuh dewasa, ibuku selalu berkeras agar aku membaca buku-buku tentang berkebun. Yang sekarang tampak masuk akal, mengingat di situlah letak kekuatannya. Tapi, ketika aku masih muda aku suka bilang, Mom! Berhentilah memberiku buku-buku berkebun. Aku cuma mau baca Anne of Green Gables!” “Aku suka Anne of Green Gables,” Rose berkata. “Siapa yang tidak? Anak yatim piatu pemberani yang tinggal di peternakan? Hebat,” kata Emma, mengu lurkan buku berkebun. “Tapi, di dalam sini, kita bisa menemukan ilustrasi tanaman thyme, supaya kita tahu apa yang kita cari.” desyrindah.blogspot.com


“Ide luar biasa,” kata sang Anjing. “Wah, terima kasih!” Emma tersipu dan jatuh terjeng kang, kemudian berusaha bangkit berdiri lagi. “Sori. Itulah yang terjadi ketika aku terlalu bersemangat.” Rose membalik-balik halaman, yang diberi label ber dasarkan setiap huruf pertama tanaman. B untuk Basil, dan O untuk Oregano, dan seterusnya, sampai akhirnya dia mencapai T untuk Thyme. Ada ilustrasi semak liar, masing-masing bertangkai panjang dan ditutupi puluhan bunga ungu. “Aku pernah melihatnya!” Rose berkata. “Tanaman ini berada tepat di depan kita—semak raksasa di kaki patung Marchesa!” Rose siap untuk menghambur ke luar per pus takaan dan langsung ke taman di alun-alun kota. “Ayo kita cabut!” “Jangan!” salak sang Anjing. “Apa?” tanya Rose. “Kenapa jangan?” “Kau tidak ingat kisah Salazar Bliss, ya?” tanya sang Anjing. “Dia berusaha mencabut tanaman dan nyaris meng u rai jalinan ruang dan waktu itu sendiri. Kalau kau memanen Time-After-Thyme yang telah dibudidayakansang Marchesa de ngan hati-hati itu, bisa-bisa kau malah mem perparah kon disi penduduk Bontemps.” Dengan gemetar, Emma menjulurkan kepala melalui jeruji pagar area bermain. “A-apa maksudmu dengan ber bahaya?” “Tanaman itu telah menyerap berdekade-dekade waktu dari penduduk Bontemps,” sang Anjing menerangkan. “Ka rena itulah semua orang mengalami penuaan terbalik dan waktu sendiri berjalan mundur. Kalau tanaman ini tidak di pa nen dengan benar, semua tahun itu akan tercurah ke luar, dan semua orang yang dibuat muda kembali,” dia tidak mau membalas tatapan Rose ataupun Emma, “akan ber ubah tua dalam sekejap dan mereka akan mati.”[] desyrindah.blogspot.com


Bab a5 Andai Aku Bisa Membalikkan Waktu Seperti Thyme Butuh beberapa saat hingga pernyataan mengerikan sang Anjing benar-benar merasuk. Semua orang yang dike nal Rose di Bontemps— Cosmo, Silver, dan Emma—tam pak begitu muda dan berwajah segar; mudah untuk me lupakan bahwa mereka, pada kenyataannya, sudah lu ma yan lanjut usia. Emma, yang saking terkejutnya jatuh terdu duk dan sekarang terkulai tak percaya, secara teknis berusia 100 tahun. Di dunia biasa, manusia bisa hidup sampai usia 100 tahun. Namun, kebanyakan tidak. Dan, ketika tanaman thyme ajaib itu ditebang, rasanya akan seperti menarik sumbat pada bak mandi yang kepenuhan: tahun demi tahun akan membanjir keluar dan menenggelamkan warga Bontemps. “Aku—aku sudah hidup cukup lama,” Emma tergera gap. “Mungkin sudah waktunya bagiku. Tapi, aku tidak bisa berbicara untuk semua orang lain .... Kami tidak bisa ....” Rose berlutut di depan area bermain dan menceng keram pagar kuatkuat. “Kami tidak akan membiarkan itu terjadi kepada kalian, Emma, aku janji.” Emma mengucek-ngucek mata. “Terima kasih, Rose.” Rose menoleh kepada sang Anjing. “Jadi, bagaimana kita mencegah tanaman thyme menguras tahun-tahun dari semua orang di kota sekaligus menghentikan semua orang dari tiba-tiba menjadi tua?” Dia desyrindah.blogspot.com


menudingkan satu jari. “Dan, jangan bilang membantuku itu melawan aturan. Aku tidak peduli lagi soal itu.” Sang Anjing menaikkan alis lebatnya. “Aku sependapat, Rosemary, bahwa menyelesaikan persoalan ini lebih penting daripada ujian biasa.” Dia mulai mondar-mandir. “Tanaman thyme harus dicabut sampai ke akar karena itulah satu-satunya cara untuk mengembalikan waktu hingga berjalan normal. Tapi, sebelum itu terjadi, kita perlu menemukan cara untuk menginokulasi kota.” “Inokulasi?” tanya Rose. “Seperti memberi mereka suntikan?” Emma mencengkeram lengan gemuknya. “Oh, kumo hon jangan disuntik. Aku benci suntikan!” Sang Anjing menggeleng-gelengkan kepalanya yang berbulu. “Tidak, Emma, kami hanya bisa menggerakkan sihir melalui penganan yang dipanggang. Jadi, tidak ada suntikan.” Sang Anjing mengendus ransel merah di bahu Rose. “Solusi kita kemungkinan akan meng gunakan Hadiah dari Orang-Orang Terkasih-mu yang tersisa, Rosemary. Begitulah cara ujian ini bekerja—hadiah selalu berguna. Apa lagi yang tersisa?” Rose menurunkan tasnya dan mengintip ke dalam. “Tak banyak,” katanya muram. Dari semua hadiah yang dia terima dari keluarganya, hanya dua yang belum digu nakan. “Kumis Gus hanyalah satu dari sembilan nyawa nya, dan kurasa itu tidak cukup untuk semua orang di Bontemps. Oh, dan ini.” Dia mengeluarkan timer dapur ibunya yang penuh ukiran rumit. Sang Anjing mengamati jam pasir itu. “Barangkali itu perlu diperiksa lagi.” Rose membolak-balik jam itu di tangannya. Pusaka keluarga Bliss itu terbuat dari kayu, diukir dengan motif dedaunan yang melengkung anggun di atas penanda wak tunya. Kebalikan dari ranting berduri tajam yang telah men cekik halaman-halaman The Magykal Gardener. desyrindah.blogspot.com


Ketika membolak-balik jam pasir di tangannya itulah Rose menyadari ada sesuatu yang terukir di dasarnya. “Aku melihat sesuatu,” kata Rose sambil menyipitkan mata. “Katanya, ‘ANDAI AKU BISA MEMBALIKKAN WAKTU.’” “Waktu!” pekik Emma penuh semangat. “Tentu saja! Jam pasir itu bisa membantu soal waktu!” Dia menggigit bibir. “Ehm, bisakah?” “Aku yakin kau mungkin telah menemukan sesuatu yang penting,” kata sang Anjing. “Ada lagi?” Rose membalik jam pasir itu lagi dan melihat, di ujung sisi satunya, terdapat dua simbol yang tidak dia sadari sebelumnya. 酵母 Rose mengulurkan jam pasir itu supaya sang Anjing dapat melihatnya. “Kau tahu bahasa apa ini?” Sang Anjing mempelajarinya untuk waktu yang lama, menelengkan kepalanya ke sana kemari. “Ah, yah, ini memalukan. Terlepas dari pengalamanku selama berabad-abad, aku tidak ingat pernah menemukan jenis tulisan khu sus ini.” Emma membuat gerakan meraih dengan tangannya. “Boleh kulihat? Kalau ini tulisan sungguhan, kemungkinan seorang pustakawan akan dapat mengenalinya.” Rose menempatkan jam pasir di tangan Emma, yang menelusuri simbol-simbol itu dengan jemarinya yang mu ngil. “Cina!” dia mengumumkan. “Cina Tradisional, sebe narnya. Ada kamus bahasa Mandarin-Inggris di perpustakaan ini.” Ditatapnya Rose dengan penuh sema ngat. “Apakah ini petunjuk? Akankah ini membantu me nye lamatkan kami?” “Ini awal,” kata Rose, memasukkan jam pasir ke ran sel. “Ayo, Anjing, kita cari kamus itu!” desyrindah.blogspot.com


... Insting pertama Rose adalah menemukan komputer dan mencari buku yang mereka butuhkan, tetapi tentu saja tidak ada komputer di perpustakaan kuno ini. Alih-alih, Rose dan Anjing mencari Simon, dan sementara mereka bersembunyi di balik kereta buku (supaya tidak terlihat oleh pustakawan muda lainnya), teman Cosmo itu mem buka kabinet raksasa yang dikenal sebagai katalog kartu. Sesaat kemudian, Simon kembali membawa kartu catatan dengan banyak nomor di atasnya. “Senang bisa membantu,” kata Simon. “Dengar, aku ingin bertanya —kenapa sang Marchesa mencarimu, omong-omong?” Benak Rose berputar mencari kebohongan yang meyakinkan. “Ehm, Emma merencanakan kejutan besar untuk ibunya hari ini di Pesta Dansa Hari Warisan, dan aku serta anjingku Lester akan memberikan penampilan spesial. Tapi, kau kan tahu bagaimana Marchesa itu—dia mencurigai semua orang!” “Aku setuju denganmu,” kata Simon, menepuk-nepuk kepala sang Anjing. “Kejutan terdengar hebat, dan sangat dibutuhkan seisi kota.” Rose mengulaskan senyum kepada Simon, kemudian menghindar. Berbohong bukan keahliannya, tetapi dia belajar dari yang terbaik: kedua saudara laki-lakinya. Angka-angka pada kartu itu sama dengan yang ada di perpustakaan sekolah Rose—Sistem Desimal Dewey. Rose menemukan lorong yang tepat, lalu berjalan di se panjang rak sambil menelusurkan jemari pada buku-buku hingga menemukan yang dia cari. Kamus Bahasa Cina-Inggris Versi Mudah. Buku tebal itu dilapisi kain merah. Rose meletakkannya di lantai, lalu mengeluarkan jam pasir dari tasnya, mencari terjemahan simbol yang terukir pada kayu di kamus. desyrindah.blogspot.com


Sang Anjing meregangkan tubuh sementara Rose bekerja, memandangi gadis itu. “Aku sangat terkesan dengan ketabahanmu, Rosemary Bliss,” kata sang Anjing. “Trims,” Rose memberitahunya. “Apakah itu berarti aku akan mendapat nilai bagus dalam ujian?” “Belum tentu,” kata sang Anjing. “Lanjutkan.” Butuh beberapa saat, tetapi akhirnya dia bisa mengu raikan simbolsimbol itu. “Ini,” kata Rose. “Simbol-simbol ini berarti ... ragi?” “Ragi,” ulang Anjing. “Kurasa aku mengenali bulir-bulirnya di dalam jam pasir itu.” “Bulir-bulir pasir!” seru Rose, begitu bersemangat sam pai-sampai dia hampir lupa memelankan suaranya. Dia membalik jam pasir dan menyaksikan bulir-bulir perak dan biru mengalir dari satu ujung ke ujung yang lain. “Ini sama sekali bukan pasir, ‘kan? Ini semacam ragi isti mewa!” Sekali lagi, Rose membelai ukiran di dasar jam pasir. Tadinya, dia mengira uliran di bagian bawah itu hanyalah bagian dari desain, tetapi setelah diperiksa lebih saksama, dia menyadari bahwa alurnya menyerong—itu ulir sekrup. Rose mencengkeram bagian bawah jam pasir dan memutarnya, dan penutup bundar itu langsung berputar. Rasanya seperti membuka stoples selai kacang. Dia mengencangkan tutupnya lagi, tidak ingin menum pahkan ragi di dalamnya. “Kita harus mencari tahu apa yang bisa dilakukan ragi ini. Mungkin Emma punya buku lain.” Ketika sang Anjing tidak segera merespons, Rose menyadari kepalanya tidak bergerak. “Anjing?” Sang Anjing duduk mematung di bawah bayang-bayang rak mahoni yang menjulang. Gigil dingin menja lari Rose, seperti firasat pertama desyrindah.blogspot.com


tentang hujan yang akan datang, kemudian sang Anjing mulai berbicara dalam nada rendah menghipnosis. “Mantou Kelangsungan,” kata sang Anjing, “untuk Pe manjangan Waktu Ketika Waktu Tampak Hilang. “Pada 1888, Theodore Bliss mendapati dirinya mera pat di pelabuhan Tianjin, Cina, dan di sana dia men dengar kisah sedih nenek seorang pelaut yang terbaring di ranjang kema ti annya. Ajalnya pasti berakhir sebelum fajar pada hari berikutnya, dan si pelaut menyesalkan bahwa banyak anak, cucu, serta cicit, tidak punya cukup waktu untuk mendam pingi sang nenek pada hari-hari terakhirnya. “Theodore Bliss tersentuh mendengar cerita itu, jadi dia membuat resep untuk roti kukus sederhana dengan gaya Cina. Theodore mengembangkan Ragi Abadi dalam air ha ngat, lalu menyatukan campuran tersebut dengan tepung. Adonannya befermentasi dan mengembang dua kali lipat, dan Theodore menguleni semua harapannya ke dalam cam puran. Akhirnya, Theodore Bliss membagi adonan itu men jadi bola-bola dan mengukus roti—atau mantou— dalam rak bambu sampai hangat dan empuk. “Mantou Kelangsungan membuatnenek pelaut itu berta han terhadap panah waktu selama lima hari dan lima malam penuh. Jam demi jam berlalu, tetapi tidak bagi perempuan itu, dan penyakitnya pun tidak membaik. Cicit, cucu, anak-anak, dan semua teman sang nenek melakukan perjalanan ke Tianjin dengan kereta serta kapal, beberapa di antaranya dengan berani melalui jalur kereta baru, sampai wanita itu dikelilingi dalam pelukan penuh kasih mereka. Dan, ketika mantra mantou memudar dan wanita tua itu akhirnya berga bung kembali dengan aliran waktu, dia melanjutkan perja lanan ke dunia berikutnya, dengan kepuasan dan senyum syukur di wajahnya.” “Ragi Abadi,” kata Rose. Dia membelai kepala sang Anjing, dan anjing itu nyaris tidak bisa menahan diri untuk menepuk-nepukkan kaki desyrindah.blogspot.com


belakangnya. “Bagaimana kau bisa mengingat semua cerita dari Booke kata demi kata begitu?” Mata sang Anjing berkerut-kerut dalam senyum pe nuh arti. “Aku tahu Cookery Booke luar dan dalam,” katanya. Dengan penuh teka-teki, dia menambahkan, “Ada yang bi lang akulah Cookery Booke luar dan dalam.” “Kurasa karena itulah kau menjadi Master Agung,” timpal Rose. Rose bangkit berdiri dan, diiringi geraman pengerahan tenaga, menaruh kembali kamus itu ke rak. “Jadi, dengan ragi ini,” diacungkannya jam pasir itu,“kita bisa menciptakan sesuatu yang membuat penduduk kota tahan terhadap aliran waktu, sama seperti efek mantou terhadap wanita tua itu, bukan? Tapi, apa yang akan ter jadi begitu mantranya memudar?” “Penduduk kota sekali lagi akan tunduk dalam jalannya waktu yang normal.” Sang Anjing menggeleng-geleng. “Tapi tidak masalah— bahaya dari tanaman thyme yang tercabut milik sang Marchesa akan berlalu. Tahun-tahun dan dekade-dekade yang tertimbun tidak hanya bertahan; pada saat itu, kesemuanya akan menghilang tanpa membahayakan.” Rose menatap sang Anjing, yang tampak mengedip kan sebelah mata kepadanya. “Tapi, bagaimana kita bisa membuat sekelompok anakanak lanjut usia memakan roti Cina?” dia bertanya. “Maksudku, bagiku ke dengaran nya enak, tapi kita perlu memastikan semua orang memakan nya.” “Cosmo tidak bisa menahan diri dan memakan buku-kue-bolu itu,” kata sang Anjing. “Jadi, untuk apa membuat roti Cina? Sebagai gantinya—” “Kue bolu!” Rose tersenyum. “Anak macam apa yang tidak menyukai kue bolu?” Dia mulai menyusuri lorong. “Kita harus kembali ke kedai. Aku tahu resep kue bolu yang sempurna.” desyrindah.blogspot.com


Sebelum Rose sempat mengambil tiga langkah, keri butan terdengar dari seberang perpustakaan. Terdengar bunyi berdebum ketika pintu kantor pusat di tendang terbuka, disusul lolongan protes Emma. “Emma!” Rose memanggil. Dia hampir berlari ketika merasakan gigi sang Anjing menahan sabuknya. “Hanya satu orang yang berani membuat gangguan seperti itu,” geram sang Anjing. “Kita harus hati-hati.” “Benar.” Rose merunduk di balik rak terdekat, dengan sang Anjing di sisinya. Digesernya buku-buku itu sampai ada ruang yang cukup untuk mengintip. Para penjaga Marchesa berdiri dengan teguh di kedua sisi pintu kantor, menatap tajam ke arah para pustakawan anak-anak yang ketakutan. Suara Marchesa bergema ke luar dari kantor Emma. “Di mana?” desak sang Marchesa. “Di mana ramalan itu? Katakan kepadaku!” “Aku—tidak ada padaku!” Emma memekik. “Aku su dah mencari dan mencari, tapi tidak menemukannya di mana pun, Ib—maksudku, Marchesa.” “Pembohong!” seru sang Marchesa melengking. “Kau membantu gadis jahat dan binatang buasnya itu, bukan? Apakah kau memberitahunya cara menyerang rumahku? Mengusik barang-barang berhargaku?” “T—tidak,” Emma gelagapan. “Aku-aku-aku tidak akan pernah—” Kata-kata Emma terputus oleh seruan kengerian. Sang Marchesa muncul dari kantor, menyeret Emma di sisinya. “Bawa dia,” katanya, hidungnya berkerut jijik. Salah satu penjaga terpincang-pincang ke depan, bertumpu pada kaki kanannya—Dia pasti menginjak biji bekel itu, pikir Rose. Rahang anak lelaki itu melunak begitu dia meraih Emma. desyrindah.blogspot.com


Emma mengibaskan tangan dan menendangkan kaki kecilnya, tetapi dia tidak berdaya dalam genggaman anak lelaki itu. Sang Marchesa mendekat dan Emma pun terdiam. “Anak perempuan selalu mengkhianati ibu mereka.” Emma terisak-isak dan membenamkan kepala di ta ngannya. “Dengar!” sang Marchesa mengumumkan kepada para pustakawan yang ketakutan. Mereka langsung menghentikan apa pun yang tengah mereka lakukan ketika sang Marchesa masuk dan meringkuk seperti bola. “Aku, sang Marchesa, akan menampilkan demonstrasi khusus terhadap Emma Tilley malam ini pada pesta dansa Festival Hari Warisan. Aku memerintahkan agar kalian semua hadir di sana untuk me nyaksikan penghinaan yang pantas baginya. Hadir di sana ...,” dia melengkungkan jemarinya yang dikuteks menjadi cakar, “atau terima sendiri akibatnya.” “Ya, Marchesa,” terdengar paduan suara ketakutan. Marchesa mengangkat dagu putrinya, memaksa bayi itu untuk menatap matanya. “Begitu mereka melihat apa yang kulakukan kepadamu,” katanya mengejek, “mereka akan dengan senang hati menyerahkan gadis ramalan itu. Dan, tidak ada yang bisa kau lakukan untuk menghentikannya.” Dengan Emma masih meratap sedih, sang Marchesa memimpin para pengawalnya menyusuri lorong-lorong dan keluar dari pintu masuk utama perpustakaan. Rose mengamati dari tempat persembunyiannya di belakang rak buku, tangannya mengepal. Ketika datang ke Bontemps, dia hanya bertekad untuk menyelesaikan ujiannya secepat mungkin, sehingga dia bisa pulang tepat waktu untuk pesta dansa besar pertamanya. Tak satu pun dari hal itu yang terasa penting lagi sekarang. Satu-satunya yang berarti adalah menyelamatkan Emma dan menyelamatkan Kota Bontemps. Bukan desyrindah.blogspot.com


gara-gara ujian bodoh, melainkan karena itu hal yang tepat untuk dilakukan. Itu tugas yang harus dilakukan seorang Bliss. Rose berderap ke arah yang berlawanan dengan ta ngisan Emma yang berangsur-angsur lenyap, menuju pin tu belakang perpustakaan. Sang Anjing berlari di bela kang nya saat mereka melewati rak demi rak. “Aku merasa kau punya rencana,” sang Anjing men dengus. Rose berbelok di sudut dan melihat pintu menuju gang. “Kalau Marchesa mewajibkan setiap orang menghadiri pes ta dansa malam ini, berarti kita memiliki kesempatan sem purna untuk menyuntik mereka menggunakan Ragi Abadi. Dan, kita bisa menyelamatkan Emma.” Rose mendorong pintu hingga terbuka, udara malam yang dingin menyambutnya. “Sekarang, mari mulai be ker ja,” katanya. “Saatnya untuk membuat roti sungguh an.”[] desyrindah.blogspot.com


Bab a6 Bawa Masuk Badutnya Ketika Rose dan sang Anjing kembali ke Silver Spoon, lampu-lampu jalan di sekitar kota mulai menyala, meng usir kesuraman awal malam. Bontemps bermandikan cahaya kekuningan yang—seandainya Rose tidak tahu-menahu tentang kutukan Marchesa—membuat segalanya hampir indah. Lusin an anak muda berpakaian rapi melintasi jalanjalan, ber siap untuk pes ta malam itu. Anak laki-laki mengenakan jas dalam warna-warni cerah seperti raspberry dan biru Tiffany, semen tara anak perempuan mengenakan gaun yang sama menco lok nya dari satin dan renda. Rose bahkan melihat seorang gadis mengenakan gaun merah selutut dengan sabuk putih di pinggang—hampir identik dengan gaun yang akan di kenakannya ke pesta dansanya sendiri bersama Devin. Sekarang ini, pesta dansa yang itu pasti sudah ber akhir, tetapi pesta dansa Hari Warisan baru saja akan di mulai. Yang mengejutkan, Silver Spoon kosong ketika Rose dan sang Anjing masuk. Silver telah mengganti kaus putih penuh nodanya dengan setelan abu-abu dan kemeja biru gelap—ditambah dasi bermotif lebah. “Kami tutup lebih awal,” katanya tanpa mengangkat pandangan, berpindah dari meja ke meja dengan kain lap. “Semua orang harus berada di pesta dansa. Jangan sampai menerima akibatnya!” “Ini cuma aku!” seru Rose, bergegas melewati konter depan. “Sampai ketemu di sana!” desyrindah.blogspot.com


Dia tidak menunggu jawaban Silver dan langsung meng hambur ke dapur. Sang Anjing mengikutinya. Kekacauan di sana nyaris sama seperti terakhir kali dia tinggalkan. Cosmo duduk di kursi lipat di sebelah pintu, mata cokelat nya yang besar mengerjap-ngerjap di balik kacamata. “Aku kalah,” katanya. “Aku bersumpah kekacauan ini bertam bah dua kali lipat secara ajaib setiap kali aku ber balik.” Rose membersihkan ruang di meja persiapan dan me na ruh ranselnya. Dia lega mendapati Magykal Gardener masih berada di rak pendingin dalam keadaan utuh—yah, kecuali cuilan di sudut yang dimakan Cosmo. “Oh, aku lupa bertanya!” Cosmo melompat berdiri. “Apakah Emma tahu di mana perkebunan Marchesa ber ada?” Rose cepat-cepat mengumpulkan tepung dan telur serta dua wadah plastik yang cukup besar untuk menampung adonan dalam jumlah besar. “Tidak, tapi kami tahu rencana Marchesa, dan Emma dalam masalah. Masalah besar.” “Kedengarannya tidak bagus,” kata Cosmo gugup. “Apa yang terjadi?” “Anjing,” Rose berseru, “bersedia menjelaskan?” Na mun, sang Anjing tidak memedulikannya, sibuk mengendus-endus lantai untuk mencari remah-remah. “Kau saja, Rose,” kata sang Anjing, meringkuk seperti bola tepat di samping oven. “Aku butuh sedikit beristirahat.” Sambil bekerja, Rose menjelaskan semua yang terjadi di perpustakaan—penemuan tanaman thyme yang menye dot waktu, Ragi Abadi dari Cina, sang Marchesa yang pergi membawa Emma. “Marchesa benar-benar menempatkan kami dalam ba haya,” kata Cosmo, mengikatkan celemek bersih dan ber ingsut ke sebelah Rose. “Tapi, apa kita punya cukup waktu untuk membuat kue bolu bagi seluruh kota?” desyrindah.blogspot.com


“Masih sempat, Cosmo,” kata sang Anjing dari posi sinya di lantai. “Tapi, kita tidak boleh malas-malasan. Karena kita akan menggunakan isi jam pasir, aku yang akan mencatat waktu pemanggangannya.” Rose menaruh dua bak plastik besar di tengah-tengah meja persiapan. Sementara Cosmo menakar te pung, gadis itu menyiapkan ragi. Ragi biasanya tidak digu nakan dalam membuat kue bolu, tetapi dia sering menggu nakannya dalam roti, dan dia curiga bahwa—seperti ke ba nyak an bahan ajaib lainnya—efeknya akan kuat. Dia pun meng isi mangkuk kaca dengan air—tidak terlalu panas atau terlalu dingin—dan me nambahkan gula secukupnya. Kemudian, Rose memutar ujung jam pasir ibunya sampai penutupnya terbuka. Ragi itu berkilauan perak dan biru di dalamnya. Biasanya, ragi berbau seperti susu basi, tetapi aroma yang tercium dari jam pasir terasa menyenangkan dan hangat. Rose mendadak teringat dirinya duduk di bilik dapur Toko Roti Bliss pada usia empat tahun. Dia sedang menguleni adonan—bagian yang tidak digunakan ibunya, meskipun dia tidak menyadarinya pada saat itu—sementara di konter dapur, ibunya melakukan hal yang sama. Kenang an tentang mereka yang bekerja bersama terasa seperti dibungkus selimut hangat dan disajikan secangkir cokelat panas pada hari musim dingin; begitu hidup sampai-sampai Rose merasakan air mata menyengat matanya. Anak-anak perempuan selalu mengkhianati ibu-ibu mereka, begitu tuding sang Marchesa kepada Emma. Rose tidak bisa membayangkan dirinya akan pernah membahayakan Purdy, atau ibunya memperlakukannya seperti sang Marchesa memperlakukan Emma. Seharus nya, hubungan ibu dan anak perempuan tidak seperti itu. Suatu hari, Rose berharap, Emma akan memahaminya. “Sekarang apa?” tanya Cosmo, memandangi adonan di hadapan mereka. desyrindah.blogspot.com


“Mundur.” Rose berhenti sejenak sebelum mengambil sesendok takar ragi untuk dituang ke air hangat. “Aku tidak yakin apa yang akan terjadi.” “Kau tidak perlu menyuruhku dua kali,” kata Cosmo, berjongkok di samping sang Anjing, lalu menepuk-nepuk kepala binatang itu. Sambil menahan napas, Rose menuang ragi ke mang kuk berisi air dan gula, lalu segera melompat mundur, me lindungi wajah. Tak ada yang terjadi. Rose mengintip melalui sela-sela jarinya. Ragi kepe rakan itu mengapung di atas air, lembam dan tidak reaktif. Tanpa bisa dicegah, kepanikan menguasai Rose. Hanya ini rencananya. Jika cara ini tidak berhasil, maka— “Yah, itu agak mengecewakan—” Cosmo mulai berkata. Deguk besar terdengar dari mangkuk, dan permuka annya menggelegak menjadi gundukan gelembung kecil berwarna turquoise. Campuran itu mengeluarkan buih, gelembungnya bertumpuk semakin tinggi, meluber dari tepinya dan bercucuran di atas meja. “Wuidih!” Cosmo berseru. “Itu seperti gunung api dari cuka-danbaking-soda, seperti yang pernah kubuat untuk festival sains pertamaku di sekolah dasar!” “Waktu terus berjalan!” sang Anjing melolong. “Buat kue bolunya, Rosemary, kerjakan!” Rose pun langsung bekerja. Cosmo memecahkan telur sementara Rose mengaduk bercangkir-cangkir gula dan ber sendok-sendok makan garam ke dalam wadah tepung. Ke mudian dia memasukkan telur-telur, susu, dan ragi, yang hanya memperbanyak gelembung-gelembung yang meng alir—tak lama kemudian, Rose, Cosmo, dan lantainya terselubung buih seputih sabun. Sang Anjing sekarang berdiri, bulubulunya meremang. desyrindah.blogspot.com


“Aku tidak suka kebasahan, Rosemary Bliss,” kata sang Anjing. “Kalau begitu, sebaiknya kau mundur!” tukas Rose. Dia dan Cosmo mengaduk mentega cair sampai adon an menjadi halus—sulit, karena gas dari ragi yang ditambah kan terus menggelegak dan meledak serta memercikkan adonan kue bolu ke wajah mereka. Mereka selesai tepat pada waktunya untuk mundur ketika wadahwadah adonan mulai naik. Secara harfiah. Seharusnya, adonan itu yang mengembang dua kali lipat, tetapi Rose tidak menyangka justru wadahnya yang naik dari meja persiapan, melayang-layang di udara seolah adonannya diisi helium. Adonan mengembang di atas pun cak bak seperti muffin besar. “Jangan biarkan mereka melayang pergi!” sang Anjing menyalak. “Tangkap wadah itu!” Cosmo berjongkok dan melengkungkan kedua tangan nya. “Ayo, Rose, lompatlah!” Rose menyelipkan satu kaki ke tangan anak lelaki itu, dan Cosmo pun mendorongnya tinggi ke udara. Rose meraih bibir salah satu wadah dengan kedua tangan, tetapi baskom tersebut tidak turun lagi. Sebagai gantinya, dia tergantung melayang-layang di sana, sepatunya menggelantung enam puluh sentimeter dari lantai. Sementara itu, Cosmo mengangkat kursi lipat ke sebe rang dapur dan memanjat, meraih baskom lain tepat sebelum adonan berserakan menabrak langit-langit bernoda minyak. “Ehm, berapa lama lagi semuanya akan melayang-layang seperti ini?” tanya Cosmo, tegang. “Aku tidak tahu!” Rose berseru. “Mungkin aku me nam bahkan terlalu banyak ragi. Kita—” Dia memekik ke tika baskomnya mengambul ke udara, menariknya tiga puluh senti lagi ke udara. “Ehm, Anjing?” desyrindah.blogspot.com


Mata sang Anjing berfokus bagaikan laser pada baskom yang mengapung. “Seharusnya sudah berhenti sekitar—” Mendadak, baskom-baskom itu jatuh, berdebum berat ke meja persiapan dari logam. Rose dan Cosmo jatuh tepat bersama mereka, menjerit ketika tersungkur ke karpet karet dapur. “—sekarang,” sang Anjing mengakhiri. Rose menarik napas dalam-dalam, memandangi keka cauan yang dibuatnya. Tidak ada yang lebih dia sukai dari pada dapur yang bersih, tetapi bersih harus menung gu. “Saatnya memasukkan ini ke oven,” katanya, men dorong dirinya berdiri dan membagi adonan ke dalam loyang-loyang kue bolu. “Tak ada waktu untuk disia-sia kan.” “Jelas tidak,” sahut Cosmo. “Terutama kalau Emma dalam masalah.” Rose menaburkan gula pasir di permukaan adonan kue bolu untuk menciptakan kerenyahan manis yang akan disukai penduduk kota. Jika mereka ingin setiap penduduk Bontemps memakan sebagian dari ini— dan mereka harus memakannya—kue-kue tersebut mesti menjadi bolu paling lezat yang pernah dibuatnya. Begitu dia selesai, Rose menyerahkan loyang kue bolu satu per satu kepada Cosmo, yang menyelipkannya ke dalam oven. “Jadi, apa rencananya?” Cosmo bertanya. “Semua orang perlu menyantap kue ini sehingga mereka tidak akan langsung menua dan berkalang tanah?” “Tepat,” Rose menegaskan. “Setelah bolu-bolu ini se lesai dipanggang, kita akan langsung membawanya ke pes ta dansa—” Rose terdiam, sebuah kesadaran meng ham piri nya. “Oh, tapi kalau ada yang mengenaliku, mereka akan memperingatkan sang Marchesa.” “Kau butuh penyamaran,” kata Cosmo, menyeka ke ringat dari dahi. “Aku masih menyukai ide Broomenthal-ku.” desyrindah.blogspot.com


Sang Anjing menyalakkan tawa. “Bukankah itu saran mu sebelumnya, Nak? Rosemary bisa membaur dengan menonjolkan diri.” Cosmo menggemakan tawa Anjing. “Hei, kau benar! Nah, Rose, bagaimana perasaanmu kalau pakai riasan wajah badut?” Rose meringis. “Tidak bagus?” “Jawaban yang salah!” kata Cosmo seraya menepuk-nepuk bahunya. “Jawaban yang salah.” ... “Aku merasa konyol,” ujar Rose empat puluh lima menit kemudian seraya membentangkan tangan dan mengamati kostum mencoloknya. “Memang seharusnya kau tampak konyol, Nak!” Cosmo berseru. “Kau kan badut sirkus!” Dia mengenakan baju terusan kuning longgar dengan kerah putih berenda dan kancing-kancing bola besar di bagian depan. Menutupi kedsnya, dia mengenakan sepatu merah besar, dan mukanya berlumur cat wajah dan ada lingkaran merah di sekeliling bibirnya. Yang paling meng hibur, menurut Cosmo, adalah hidung bola bundar dan rambut palsu megar yang terbuat dari benang merah. Ini amat sangat jauh dari gaun indah yang seharusnya dia kenakan ke pesta dansa sekolahnya. “Kenapa kau memiliki kostum memalukan ini?” Rose bertanya. “Dahulu kala,” kata Cosmo murung, “aku ingin melari kan diri dan bergabung dengan rombongan sirkus. Karena itulah aku tahu segala hal tentang keluarga Broomenthal.” Dia menghela napas. “Tapi, menurut mereka aku tidak cu kup lucu.” “Ini luar biasa,” kata sang Anjing. “Aku tidak akan pernah mengenalimu. Kecuali aku secara khusus mencari badut, dengan begitu aku akan mengenalimu.” desyrindah.blogspot.com


“Iyuh,” kata Rose. “Pasti ada kostum lain yang bisa kukenakan.” “Rosemary,” kata sang Anjing, “tolong lupakan soal penampilanmu. Bolunya sudah siap! Kita harus bergegas.” Bolu-bolu itu telah matang dengan baik, memenuhi dapur dengan aroma hangat dan manis. Idealnya, kue bolu dibiarkan mendingin selama beberapa saat, tetapi kue bolu mereka tidak memiliki kemewahan itu—Rose dan Cosmo cepat-cepat mengirisnya menjadi kotak-kotak seukuran satu gigit dan menumpuknya ke dalam kantong Silver Spoon. “Waduh.” Cosmo mengerang nikmat ketika menelan salah satu potongan kue bolu persegi. “Padahal kukira buku-kue-bolu berkebun yang tadi sudah enak!” “Senang kau menyukainya,” kata Rose, memasukkan satu potong terakhir ke kantong yang menggembung dan memberi isyarat kepada sang Anjing. “Sekarang, ayo kita keluar dari sini dan menyajikannya kepada seisi kota.” Rose menyandang ransel dan, sambil mendekap dua kantong penuh bolu, tertatih-tatih dengan sepatu merah besarnya keluar dari dapur. Cosmo mengikuti dengan kantong-kantong lain tepat di belakangnya, sementara sang Anjing dengan patuh mengekor paling belakang. Di luar gelap dan dingin, tetapi taman di seberang jalan penuh kehidupan. Lampu-lampu putih tergantung di antara pohon-pohon dan lentera kertas kuning tergantung dari cabang-cabang di sana sini. Musik swing yang riang dan ceria terdengar di seantero alun-alun, bersama ratusan suara manusia yang bersenang-senang. Anak-anak Bontemps ada di mana-mana, duduk di atas selimut di bawah pohon dan berkerumun di sekitar gazebo. Anehnya, tidak ada yang memperhatikan Rose saat dia lewat. Mungkin Cosmo benar tentang membaur dengan cara menonjolkan diri. desyrindah.blogspot.com


Dia mengangguk tanpa bersuara kepada Cosmo dan sang Anjing ketika mereka mendekati lapangan terbuka dengan panggung dan patung Marchesa. Mereka berpisah, dan Cosmo mulai membagikan potongan kue bolu kepada semua orang yang terlihat. “Sampel gratis kue terenak yang pernah kau santap,” Cosmo mengumumkan berulang kali. Sang Anjing menyelip di belakangnya. Rose berjalan menuju panggung, membagikan segigit kue kepada setiap anak yang dia lewati. “Sampel gratis dari Silver Spoon!” Anak laki-laki dan perempuan menjerit kegi rangan dan menelan kue hampir secepat Rose bisa mem bagikannya. Ketika menerobos kerumunan, Rose tiba di lantai kayu tipis yang diletakkan di atas hamparan rumput di depan panggung. Lantai dansa. Ketika menyaksikan beberapa remaja dan anak-anak yang lebih muda berjoget, Rose menelan ludah, sekali lagi berharap dia bisa menghadiri pesta dansa bersama Devin. Namun, kemudian dia menggeleng-geleng kuat. Tidak, ini jauh lebih penting. Setengah lusin obor tiki menerangi band yang terdiri dari empat balita mengenakan bretel, kemeja berkancing, dan dasi kupu-kupu polkadot yang identik. Satu orang me me tik banyo yang lebarnya hampir setinggi tubuhnya, se men tara yang lain menggerakkan lengannya di sepanjang instrumen washboard dalam tong besar. Anak ketiga entah bagaimana berha sil meniupkan alunan musik pada trompet yang nyaris tidak bisa diangkatnya. Anggota keempat adalah anak kecil yang sangat mengingatkan Rose kepada Leigh, mengi cau kan lagu pendek kuno. “Hei, kau! Tunggu di sana!” Rose mematung, setengah jalan menyerahkan sepotong kue bolu kepada seorang anak berusia enam tahun yang cengar-cengir dengan gigi depan ompong kepadanya. Rose menelan ludah, menyerahkan desyrindah.blogspot.com


kue bolu penyelamat jiwa ke pada anak itu, kemudian berbalik menghadapi siapa pun yang memanggilnya. Itu salah satu penjaga. Rose mengenalinya dari rumah Marchesa—pemuda berambut cepak yang mengintip ke ruang tamu. Dia ber derap, wajahnya merengut, selendang ungu berkibar di dadanya yang berseragam. “Halo!” kata Rose, menggunakan suara yang dia harap agak lucu. “Malam yang menyenangkan untuk menikmati kue bolu!” Gadis itu meremas hidung dan membunyikan tet-tot tet-tot tepat seperti yang dijanjikan Cosmo. Seorang anak lanjut usia cekikikan di tengah kerumunan yang gelap. “Sang Marchesa mencarimu!” penjaga itu berteriak mengalahkan suara musik. Napas Rose tersekat di tenggorokan. Dia harus lari! Namun, dalam sepatu badut konyolnya, kemungkinan dia akan tersandung dalam kegelapan. “Mencariku?” tanya Rose dalam suara konyol. “Kena pa? Aku kan ada di sini!” Dia mengayunkan tangan kanan ke kiri dan mencoba menirukan adiknya, Sage. “Atau apa kah aku di sini?” Dia menyilangkan tangan kirinya ke ka nan, lalu menengok dengan bingung ke kedua arah. Dia memisahkan lengan-lengannya, lalu berputar liar di tempat. “Woah-oh-oh! Aku berada di begitu banyak tempat sampaisampai itu membuatku pusing!” Terdengar tawa penuh penghargaan ketika beberapa warga kota mengalihkan perhatian mereka dari lantai dansa ke arahnya. “Lihat badut sinting itu!” kata seorang anak lelaki mungil, matanya membelalak. Rose memperhatikan mereka semua menjilati remah-remah kue bolu dari jemari masing-masing. Di atas kepala mereka, dilihatnya Cosmo desyrindah.blogspot.com


Click to View FlipBook Version