dan sang Anjing bergerak me le wati kerumunan, membagikan lebih banyak. Rencana itu berhasil. Penjaga itu merengut kepada Rose untuk waktu yang lama. Jantung Rose berdetak kencang mengikuti irama lagu pendek itu sampai akhirnya si pemuda menyeringai. “Sang Marchesa suka badut. Dia kesal karena tidak pernah mendatangi kediaman Broomenthal. Katakan, kau bisa bermain simbang?” Rose mengembuskan napas lega. “Ugh, tidak sejak aku mencoba untuk menyimbang kapak,” dia tergagap. “Kau tidak akan percaya separah apa dampaknya.” Sang penjaga mengernyit. “Mungkin simpan kisah berdarah itu untuk di pub nanti.” Seraya mencondongkan tubuh, dia berbisik, “Semakin muda seseorang, mereka jadi lebih sensitif.” “Kadang-kadang aku lupa,” kata Rose, nyaris tidak percaya dia bisa lolos dengan tipu muslihat itu. Tepat saat itu, band balita menghentikan musik mereka dengan bunyi trompet yang tiba-tiba, dan semua pedansa terdiam. Terdengar gumaman marah, lalu lampu sorot di nyalakan, menyinari patung emas yang menjulang. “Perhatian, Warga Bontemps!” Suara itu menggema dari pelantang yang disembunyikan di pepohonan, dan kerumunan pun langsung terdiam. Rose menyelinap melalui para pedansa yang penuh semangat sampai dia mencapai sisi seberang lantai dansa dan bisa melihat apa yang terjadi. Sang Marchesa berdiri dengan mata menyalang liar di depan patung. Dia berdandan mengenakan gaun hijau zamrud yang menjuntai ke tanah. Dia mengangkat Emma di kedua tangan dan pustakawan bayi desyrindah.blogspot.com
kecil itu menendang-nendangkan kaki dengan lemah, sebagian besar perlawanan telah menyedot energinya. Ledakan ungu tanaman thyme liar merambat ke pangkal patung di belakang sang ibu dan putrinya. Rose menangkap sesuatu yang tajam dan perak di tanah, persis di sebelah sang Marchesa—gunting kebun. Sudah tiba saatnya memanen waktu warga Bontemps. Dan, hanya Emma yang belum diberi satu-satunya kue bolu di dunia yang bisa menyelamatkan hidupnya.[] desyrindah.blogspot.com
Bab a7 Memanen Waktu “Salam, Warga Bontemps!” seru sang Marchesa penuh kemenangan. “Aku, Marchesa kalian, me nyambut kalian di pesta dansa Hari Warisan yang kelima puluh!” Sorakan pelan terdengar dari warga kota yang ber kum pul. “Untuk membuka pesta malam ini, aku memiliki de monstrasi khusus.” Diangkatnya Emma lebih tinggi, sehingga orang yang paling jauh dari taman pun bisa melihatnya. “Kalian semua akan menyaksikan anak perempuan tersa yang ku yang penuh muslihat menua di depan mata kalian sendiri!” Kerumunan terkesiap, diikuti bisik-bisik kebingungan. Rose mencoba menangkap mata Emma, untuk meyakin kannya bahwa dia tidak sendirian, tetapi pustakawan bayi itu terlalu bingung untuk melihat temannya, atau tidak dapat mengenali Rose dalam pakaian badutnya. Sang Marchesa menurunkan Emma dengan tidak ter lalu lembut di rumput, lalu membelai tanaman thyme, me nelusurkan jemari pada bunga-bunganya. “Mungkin me nge jutkan, tetapi ini bukan tanaman biasa. Justru sebaliknya. Selama lima dekade terakhir, karena kalian masing-masing telah tumbuh semakin muda, ramuan ini menyerap tahun-tahun yang hilang dari kalian.” “Menyerap tahun-tahun kita?” kata gadis kecil di sam ping Rose kepada temannya. “Apa maksudnya?” “Tak ada yang boleh bicara saat aku berpidato!” perin tah sang Marchesa. “Tak boleh bicara sama sekali!” Dia ber keliling memandangi desyrindah.blogspot.com
warga kota, matanya menyala-nyala. “Sampai mana aku tadi? Oh, ya: vitalitas kalian, janji kalian, hidup kalian sendiri—semuanya tersedot dan terawetkan dalam setiap bunga di tanaman ini. Ada bunga yang ter hubung dengan diri kalian masing-masing. Dan, yang ada di sini ini,” dia menjentik salah satu bunga lavendel di dekat bagian atas semak, “adalah milik putriku tersayang, Emma Tilley.” Di sekeliling Rose, gumaman kebingungan terdengar semakin keras. Anak-anak menekuri tangan-tangan me reka yang halus dan muda dalam cahaya dari lampion, dan Rose mendengar erang kebingungan ketika mereka mencoba memahami apa yang dikatakan sang Marchesa. “Sinting,” gumam seorang anak lelaki. “Dia mengira tanamannya itu mengendalikan waktu!” “Itu kan omong kosong,” jawab temannya, tetapi Rose bisa melihat dari ekspresi cemasnya bahwa anak lelaki itu tidak terlalu yakin. “Sekarang, aku bisa memangkas bunga kecil ini,” kata sang Marchesa, mengambil gunting yang berkilau. Dia mem buka mata pisaunya yang tajam, mendekatkan ujung-ujung nya ke batang bunga. “Dengan satu potongan, tahun-tahun yang telah diserap dari Emma akan langsung kembali dalam sekejap. Dia akan kembali ke usianya yang sebenarnya, sembilan puluh sembilan tahun—dan mungkin mati, jujur saja. Menjadi tua itu tidak mudah, terutama ketika itu terjadi dalam sekejap.” Seisi kota terdiam. Terancam. Seperti Cosmo, mereka mungkin tidak menyadari cara mereka menua itu aneh—sampai Marchesa menunjukkannya. “Atau,” kata sang Marchesa dengan seulas senyum jahat, “aku bisa membuat kesepakatan dengan kalian semua. Kita telah menghabiskan hari ini untuk mencari orang asing ber bahaya di kota kita. Orang asing ini masuk ke rumahku dan mencuri pusaka keluarga yang tak ternilai. desyrindah.blogspot.com
Tapi, tidak satu pun di antara kalian yang melihat dia atau anjing yang be per gian bersamanya.” Marchesa mengencangkan ceng ke ramannya pada gunting tanaman, ujungnya menekan batang semak. “Belum terlambat bagi antek-antek nya untuk maju dan mengungkapkan di mana gadis itu bersembunyi. Lakukan, dan aku akan mengampuni nya wa putriku, ke pala pustakawan kalian yang tercinta!” Tidak ada yang melangkah maju, tentu saja, karena tidak seorang pun kecuali Cosmo, Rose, dan sang Anjing yang tahu bahwa yang berada di balik kostum badut itu adalah Rose. “Kami tidak menyembunyikannya!” teriak seorang perempuan di kerumunan. “Lepaskan Emma!” Benar, orang-orang lain menimpali, lepaskan Emma! Tampaknya penduduk Bontemps sangat menyayangi putri sang Marchesa— meskipun tak satu pun dari hal itu yang memengaruhi sang Marchesa sendiri. Sambil menangis, Emma merangkak melintasi rerum putan ... dan langsung ke arah Cosmo, yang diam-diam berjalan ke tepi kerumunan. “Sungguh memalukan, Marchesa,” kata Cosmo, me raup Emma ke dalam dekapannya dan berbalik pergi. “Aku tidak punya malu!” kata sang Marchesa, meng angkat satu lengannya ke udara. “Karena itulah aku harus melakukannya. Selamat tinggal, Putriku Tersayang.” Marchesa mencengkeram gunting, hendak memotong bunga waktu Emma. Rose tahu bahwa Emma belum memakan kue bolu itu. Mereka telah membagikannya kepada semua orang, tetapi Marchesa menahan putrinya. “Tunggu!” Rose berseru. Dia melangkah maju, kedua tangannya terangkat. “Jangan gunting! Ku mo hon!” Dia men copot wig benang desyrindah.blogspot.com
merahnya, mem biar kannya jatuh ke rumput, lalu menarik lepas hidung merahnya. “Aku gadis dari ramalan itu. Lakukan apa pun yang kau inginkan terha dapku, tapi tolong, jangan sakiti Emma.” “Kau?” Alis tipis Marchesa mencelat lebih tinggi, sama sekali tidak terkesan. “Aku berharap kau lebih tinggi.” Dia menjentikkan jemari, dan segera saja Rose dikepung oleh empat penjaga remaja. “Aku tahu apa yang kau rencanakan,” Rose memohon ketika para penjaga menarik lengannya ke belakang dan mendorongnya ke depan. “Tapi, kau tidak perlu memanen tanaman thyme itu. Aku bisa membantumu.” Namun, sang Marchesa tidak mendengarkan, bibirnya melekuk membentuk seringai marah. “Kau? Ga dis dari ra malan? Membantuku?” Dia menudingkan gunting tajam itu ke dada Rose. “Kurasa tidak. Putriku telah mengkhianatiku, dan aku harus menjadikannya contoh sehingga tidak ada yang berani mengkhianati keperca yaanku lagi!” “Aku bisa menemukan cara lain untuk membuatmu bahagia lagi,” Rose memohon. “Itulah yang dilakukan keluargaku. Itu yang kulakukan.” “Manis sekali,” kata sang Marchesa, menyeringai. Dia berbalik ke arah tanaman thyme dan mengatupkan gunting pada bunga yang dia sebut sebagai Emma. Kerumunan langsung senyap sampai-sampai yang bisa didengar Rose hanyalah cekrekan keperakan dari bilah-bilah yang bertemu saat gunting itu memotong batang. Seisi Bontemps tampak meledak ketika gelombang ke jut sedingin es melanda mereka—lima dekade waktu yang terperangkap mengalir deras ke dalam malam. Kerumunan melangkah mundur sebagai satu kesatuan, berbalik ke tem pat Cosmo berdiri mendekap Emma. Menatap ngeri. Namun, tidak ada yang terjadi. desyrindah.blogspot.com
Emma tidak berubah sama sekali. Dia tetap menjadi bayi berwajah segar (meski ketakutan) yang berpegangan pada kardigan hijau Cosmo. Dan, Rose memperhatikan, wanita mungil yang ber ubah menjadi bayi itu sedang mengunyah. Cosmo memberinya kue bolu, tepat pada waktunya. Rose menghela napas lega ketika sambaran sihir meng hilang ke udara. Sang Marchesa berdiri dengan penuh harap di dekat patung, berkacak pinggang. Karena jelas Emma tidak cepat menua dan melayu, sang Marchesa mengertakkan rahang. Seluruh wajahnya memerah, matanya memelotot. “Ini ...,” dia mendidih, gemetar saking marahnya, “tidak benar. Mungkinkah aku ....” Dia berbalik menghadap tanam an thyme itu, menatapnya dengan putus asa. “Aku pasti telah menggunting bunga yang salah. Waktumu akan datang, Emma Sayang! Kira-kira sekarang.” Cekrekan lain! Kembang ungu yang baru jatuh ke rumput, dan semburan sihir kembali meledak di antara anak-anak Bon temps. Sekali lagi, tidak ada yang terjadi. “Ini tidak masuk akal!” Sang Marchesa menggunting ta naman itu dengan membabi buta, menyerpihkan daun, batang, dan kelopak di sekelilingnya seperti mesin pemo tong rumput yang menggilas petak tanaman. “Pawai waktu sudah dihentikan dan dibalik, seperti yang kuniatkan. Me manen tanaman ini seharusnya melepaskan semuanya kem bali ke dunia. Seharusnya ini bekerja!” “Dia tidak gila.” Seorang perempuan muda terkesiap. Rose menyadari itu gadis yang memakai kacamata ku cing yang ditemuinya saat parade. “Tidakkah kau mera sa kannya? Oh, ya ampun, sang Marchesa mencuri semua waktu dan sekarang dia mencoba membunuh kita dengan mengembalikannya!” desyrindah.blogspot.com
Dari suatu tempat di belakang kerumunan, seorang remaja lelaki berteriak, “Dia akan membuat kita semua menua seperti yang dia coba lakukan kepada Ms. Emma!” Kepanikan melanda kerumunan saat semua orang me rangsek maju. Para penjaga melepaskan Rose dan mencoba menahan desakan massa, tetapi mereka hanya empat re maja melawan ratusan. “Hentikan perempuan itu!” teriak mandor kecil yang Rose temui sebelumnya hari itu. Dengan serpihan tanaman hijau menempel pada helai liar rambut ikalnya yang gelap, sang Marchesa menjatuhkan gunting dan memanjat ke panggung. Dalam satu gerakan cepat, dia menarik obor tiki dari tempatnya dan mengayun kannya kepada penduduk kota, melambaikannya seolah berusaha mengusir binatang buas. Warga Bontemps mundur, memberi sang Marchesa waktu untuk menghunjamkan ujung obor langsung ke tengah semak thyme raksasa. Tanaman ajaib itu meledak terbakar. Api membesar begitu sengit dan cepat seolah tanaman itu disiram bensin. Nyalanya putih dan ungu, api memelesat ke langit seperti kembang api. Dalam cahayanya yang me nyilaukan, Rose melihat teror menerangi ratusan wajah di sekitarnya—orang-orang terisak dan menangis ketakutan. Bahkan, sang Marchesa tampak terkejut dengan apa yang telah dilakukannya, bergeming dan menyaksikan ciptaannya berkobar. Seisi Kota Bontemps menyaksikan tanpa daya ketika tanaman mulai mengisut dan menghitam di tengah api. Kemudian, sihir meledak seperti gelombang kejut. Semburannya tidak terlihat, tetapi dahsyat, membuat anak-anak yang berada di dekatnya terjengkang. Embusan angin menampar wajah Rose, mengibarkan rambut nya ke belakang. Kemudian, semua itu berakhir. desyrindah.blogspot.com
Tanaman thyme itu mati di jantung kobaran api. Di atas panggung, Marchesa tampak gemetar ketika memandang ke arah kerumunan. Tidak satu pun dari anak-anak itu berubah—banjir tahun berlalu tanpa bahaya, di alih kan oleh kue bolu yang mereka makan, seperti yang Rose harapkan. Ragi Abadi yang dibuat menjadi kue bolu spesialnya bekerja dengan baik. “Kenapa tidak ada yang terjadi?” sang Marchesa meratap. “Aku melakukan semuanya dengan benar!” Namun, sang Marchesa salah, Rose bisa melihatnya: sesuatu sedang terjadi. Kepada satu warga Bontemps yang belum mendapatkan sepotong ramuan sihir Rose. “Apa yang terjadi?” Penjaga di sebelah Rose menunjuk ke atas panggung. “Lihat perempuan itu!” Sang Marchesa sempoyongan, diterangi obor tiki yang berkeredep. Bayangan yang ditimbulkan obor-obor itu mem buat kulitnya seolah berdenyar. Pada saat itulah Rose menyadari itu bukan gara-gara cahaya yang berkedip-kedip. Sang Marchesa benar-benar berubah. Mata sang Marchesa melebar ketika dia mengeluarkan ratapan yang membekukan darah. Namun, tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menyaksikan. Dia jatuh berlutut dan mengangkat tangan ke langit. Dia menciut, tulang dan ototnya mengerut, rambut ikalnya yang berkilau memudar, menipis putih, kemudian rontok seluruhnya. Segera saja tak ada yang bisa mengenalinya. Wajahnya mengisut seperti apel layu, ada sorot ketakutan yang jelas di matanya yang berair dan buram. Kejadiannya berlangsung begitu cepat, seperti menonton film yang sepenuhnya digerakkan maju dengan cepat—setiap milidetik bagaikan satu tahun waktu yang menghancurkan tubuh sang Marchesa. Rose merasa mual. Sang Marchesa telah bertindak be gitu jahat, melakukan perbuatan yang begitu keji kepada orang-orang ini—kepada desyrindah.blogspot.com
putrinya sendiri. Hanya untuk mem peroleh kembali masa mudanya yang hilang! Namun, mustahil untuk tidak merasa kasihan kepada wanita yang putus asa ini sekarang. Sang Marchesa terkulai ke lipatan pakaiannya, megap-megap mencari udara. Rose membayangkan apa yang mungkin dilakukan Purdy atau ayahnya. Balthazar, Lily, saudara-saudaranya, Gus, Jacques, Devin— dia tahu tanpa keraguan bahwa terlepas dari semua yang telah terjadi, tak satu pun dari mereka akan membiarkan kisah Kota Bontemps berakhir dengan cara mengerikan seperti ini. Rose melepas sepatu badut konyolnya dan naik ke panggung di sebelah Marchesa. Wanita itu—wanita yang amat sangat sepuh— melambai lemah di langit, jemarinya yang sekurus ranting terkulai dengan sia-sia di ujung per gelangannya yang rapuh. Rose menggenggam tangan sang ahli berkebun yang melayu itu. Sang Marchesa berjuang untuk melihat melalui mata nya yang buta. “Siapa di sana?” “Ini aku,” kata Rose. “Gadis ramalan.” “Oh, Ibu,” Rose mendengar Emma berkata. Cosmo menurunkan Emma di panggung. Bayi perempuan itu merangkak ke sisi ibunya yang sekarat. “Tinggalkan aku,” bisik sang Marchesa. Rose merasakan sesuatu yang hangat dan berat di sebelahnya—sang Anjing, rahangnya mencengkeram se kantong penuh kue. Rose mengeluarkan sepotong kue bolu dari kantong. “Tolong, makan ini. Ini kue bolu buatanku, yang membuat seseorang tahan terhadap semua waktu yang terpendam di tanaman thyme-mu. Makanlah sedikit sebelum terlambat.” Namun, bahkan ketika mengatakannya, Rose tahu: semua nya sudah terlambat. desyrindah.blogspot.com
Sang Marchesa mengatupkan gusinya rapat-rapat dan memalingkan wajah. “Kau pintar, Gadis Ramalan.” “Kumohon, makanlah, Ibu,” Emma berbisik, menelu surkan satu jari gemuknya di pipi kisut sang ibu. “Makan, Marchesa!” seseorang berseru dari kerumun an, kemudian yang lain ikut berteriak, “Makan bolunya!” Namun, sang Marchesa menggunakan sedikit kekuatan yang tersisa untuk menepis tangan Rose. “Tidak sekarang, Gadis Ramalan. Aku hanya akan berakhir dengan terjebak ... seperti ini. Tidak.” Dia terbatuk. “Seandainya aku tidak bisa hidup muda, kuat, dan cantik, maka aku tidak ingin hidup sama sekali.” Sang Marchesa memalingkan wajahnya kembali ke langit dan berkata lembut, “Maafkan aku, Emma,” yang mengejutkan. Kemudian, tubuhnya yang melayu bergeming.[] desyrindah.blogspot.com
Bab a8 Satu Kali Lagi, dengan Perasaan Emma memecah keheningan. Pustakawan kecil itu berteriak, “Mom!” dan membenamkan kepala pada lipatan gaun sang Marchesa yang kusut. Bahkan, setelah semua yang dilakukan sang Marchesa, Emma masih menyayangi ibunya. “Ini tidak benar,” gumam Rose kepada dirinya sendiri. Kota telah dibebaskan dari kutukan, tetapi Rose tidak bisa menahan perasaan bahwa ujian Master Pembuat Kue ini gagal total. Warga kota merangsek lebih dekat ke panggung. “Apa dia ... mati?” seseorang bertanya. “Dia tidak bergerak.” “Sang Marchesa? Tiada?” “Seharusnya ini tidak terjadi,” kata Rose kepada sang Anjing. “Seharusnya tidak ada yang mati. Bukan begini cara kerja sihir keluarga Bliss.” Cosmo berlutut di sampingnya dan Emma. “Hei, Nak, tak ada yang bisa kau perbuat. Semua urusan ini memang buruk. Dari apa yang kulihat dengan ini,” dia mengetuk kacamata tebalnya, “sang Marchesa yang melakukan itu kepada dirinya sendiri.” “Itu tidak penting,” kata Rose. “Seharusnya aku me nyelamatkan semua orang. Bahkan dari diri mereka sen diri.” Cosmo menepuk-nepuk punggungnya—atau lebih tepatnya, ranselnya. desyrindah.blogspot.com
Dan, Rose tiba-tiba menyadari bahwa dia masih me miliki satu Hadiah dari Orang-Orang Terkasih terakhir. “Tunggu,” Rose berkata, tersengal-sengal melepas ransel dari bahunya. “Mungkin ini belum berakhir. Mung kin aku masih dapat meluruskan segalanya.” Di sana, di dasar tasnya, aman di dalam kantong plastiknya, terdapat kumis yang diambilnya dari bawah dagu Gus. Rose mengangkat kantong itu agar dilihat sang Anjing. “Aku bisa membuat kue dengan ini, ‘kan?” tanyanya putus asa. Dia menyentuh tangan Marchesa yang kisut, meringis ketika merasakan betapa dinginnya kulit wanita itu. “Tapi, tidak ada cukup waktu, ‘kan? Seharusnya aku memikirkan ini sebelumnya.” Dia mengerjapkan air mata. Sang Anjing menyundul sisi tubuh Rose dengan lembut. “Asparagus tidak memberitahumu? Keajaiban kumis sembilan nyawa kucing begitu kuat sampai-sampai tidak perlu dipanggang. Yang kau butuhkan hanyalah se gelas air.” Rose menoleh ke arah anak laki-laki dan perempuan yang berkerumun di sekitar panggung, kesemuanya me masang tampang serius. Tidak ada yang menyukai Marchesa secara khusus, tetapi tidak ada juga yang ingin dia mati. “Air!” Rose berseru. “Apa ada yang bawa air?” “Aku bawa!” Salah satu anggota band balita—gadis kecil yang mengenakan bretel dan dasi kupu-kupu—me rangkak melintasi panggung. Di tangannya, terdapat cangkir plastik sedot warna kuning. “Cukupkah ini, Nona?” “Terima kasih.” Rose mengambil cangkir itu dan membuka tutupnya. Dia memungut kumis gelap Gus dari kantong dan memasukkannya ke cangkir. desyrindah.blogspot.com
Rose memperhatikan dengan saksama ketika kumis itu melayang ke bagian bawah cangkir. Sulit untuk me lihat jelas dalam cahaya obor panggung yang berkeredep—tetapi kemudian kumis itu menjadi jauh lebih mudah dilihat karena mulai memancarkan cahaya. Bintik-bintik cahaya keemasan muncul di kedua ujung nya, kemudian menjalar ke sepanjang helainya, melebar lebih terang dan lebih terang sampai sulur-sulur uap mem bubung dari cairan. Aroma sinar matahari dan pagi-pagi yang baru menyapu pipi Rose. Dengan hati-hati, Rose berlutut di atas sang Marchesa. Emma mendongak, wajahnya bersimbah air mata. Dengan ujung jemari, Rose membuka bibir mati sang Marchesa dengan lembut dan dengan hatihati menuangkan kaldu penghangat itu ke tenggorokannya. Reaksinya seketika. Pendaran kuat membasuh kulit Marchesa yang tembus cahaya, menelusuri rute air saat mengalir di dadanya dan masuk ke perutnya. Cairan tersebut berputar-putar dalam kecemerlangan, kemudian memudar. “Wuidih!” kata Cosmo dalam suara tertahan. “Apa yang terjadi?” Emma bertanya. “Entah,” Rose berbisik. Tangan Marchesa tertarik ke arah tengah pakaiannya, dan Rose menyadari dengan terkejut bahwa wanita itu tidak kembali hidup seperti yang Rose harapkan. Seba liknya, dia semakin menyusut. “Kita terlambat,” erang Rose, membenamkan kepala di tangannya. “Itu tidak berhasil.” Sang Anjing menyundulnya sekali lagi. “Sabar, Rosemary Bliss.” Sabar. Balthazar selalu mengatakan hal yang sama, dan dia bertanya-tanya mungkin itulah pelajaran yang lelaki paruh baya itu dapatkan dari sang Anjing. desyrindah.blogspot.com
Ibu Rose telah keliru menilai sang Anjing—dia bukan sekadar proktor, pengawas tegas dan tidak berperasaan yang hanya datang untuk menguji pengetahuan si pembuat roti. Dia seorang teman dan guru dan seseorang yang bisa Rose andalkan. Meskipun masih merindukan keluarganya, Rose bersyukur sang Anjing ada di sisinya. Maka, Rose pun menunggu dan menyaksikan sang Marchesa menyusut serta menghilang sepenuhnya ke balik lipatan gaun Hari Warisan hijau zamrudnya. “Apa dia lenyap?” Emma bertanya. Tangisan pelan terdengar dari gundukan pakaian sang Marchesa. “Wuidih!” seru Cosmo. “Rose, apakah sihirmu—” Emma melompat-lompat dengan penuh semangat. “Berhasil, berhasil! Oh, tindakanmu luar biasa, sungguh-sungguh luar biasa, Rosemary Bliss!” Tanpa berjengit, Rose meraih ke dalam lipatan gaun dan mengeluarkan— Sesosok bayi yang baru lahir. Mungil dan lembut, sang Marchesa berbaring telen tang. Kepalanya bundar dan matanya yang biru pucat melebar. Dia menatap Rose seolah melihatnya untuk pertama kali nya, dan dia tertawa terbahakbahak, melambaikan ta ngan nya yang gemuk dan pendek dengan riang. Sang Marchesa tidak menyusut sama sekali. Kumis Gus, mungkin yang paling berharga dari semua Hadiah dari Orang-Orang Terkasih, telah memberikan kehidupan baru kepada sang Marchesa—kehidupan yang dimulai sejak saat kelahirannya. Dia terlahir kembali sebagai bayi perempuan yang memiliki pipi kemerahan, berambut ha lus, dan penuh semangat. “Dia cantik,” Rose terkesiap. desyrindah.blogspot.com
Cosmo menangkup mulut dengan tangan dan berte riak kepada khalayak, “Dia hidup!” “Dia hidup!” lusinan suara menggaungkannya, dan menjalar di seluruh kerumunan. Gadis dengan kacamata kucing melambaikan tangan di udara. “Maaf! Tapi, apakah itu ... bagus?” “Tentu saja!” Rose menegaskan. Dia menatap sang Anjing. “Maksudku, itu memang bagus, ‘kan?” Sang Anjing menganggukkan kepala berbulu putih nya. “Itu hebat. Seberapa sering seseorang men dapatkan kesempatan kedua dalam hidupnya? Dia akan tumbuh menjadi gadis yang sepenuhnya baru dan wanita yang sepenuhnya baru.” Dia menelengkan kepalanya ke kerumunan. “Sama seperti semua orang di Bontemps.” “Wah, kau tahu kalau anjing itu bisa berbicara?” tanya seseorang. “Tidak kusangka aku akan pernah melihat hal seperti itu!” sahut yang lain. “Tapi, aku tidak menyangka akan melihat sang Marchesa menjadi bayi, juga!” “Kehidupan yang sama sekali baru,” kata Rose. Dia membelai rambut bayi perempuan yang halus dan gelap itu, dan Marchesa yang baru lahir terkikik gembira. “Mungkin dalam kesempatan kali ini,” kata sang Anjing, “dia akan memanfaatkan waktu yang telah diberikan kepa danya dengan sebaikbaiknya.” “Oh, tentu,” kata Emma. “Akan kupastikan begitu. Ibuku tidak selalu seperti yang kau lihat.” Dia mengulurkan jari gemuknya dan bayi Marchesa mencengkeramnya erat-erat. “Ya, ‘kan, Edith?” Baby Marchesa—Edith—meraba dan menendang-nen dangkan kakinya. desyrindah.blogspot.com
“Waduh,” Cosmo berkata. “Jadi, kita semua akan ber gerak maju dan mulai tumbuh lagi? Benar-benar gila.” Dia menggaruk dagu. “Tapi, itu berarti kita akan mem butuhkan pemimpin baru di kota.” Seseorang melompat-lompat di depan kerumunan: Simon dari perpustakaan. “Aku menominasikan Emma Tilly! Dia kepala pustakawan yang baik! Dia memeduli kan semua orang lebih daripada dia memedulikan dirinya sendiri.” “Aku?” tanya Emma, menekankan tangan ke dada. “Aku merasa terhormat. Tapi, tidakkah kalian meng ingin kan seseorang yang agak lebih tua?” “Kau kan sudah seratus tahun!” seseorang berseru. “Itu lumayan tua!” Tawa menjalari kerumunan, dan Emma terkekeh se pendapat. “Baiklah, aku bersedia.” “Tiga sorakan untuk sang Marchesa yang baru!” kata Cosmo sambil mengacungkan tinju ke udara. “Tidak!” Emma berseru. “Tidak akan ada Marchesa lagi di kota ini. Anggap itu sebagai tawaran pertamaku. Aku lebih suka dikenal sebagai Emma Tilley, Kepala Pus takawan.” Cosmo mengangguk. “Baiklah, kalau begitu. Tiga sorakan untuk sang Kepala Pustakawan!” Raungan membahana dari kerumunan saat musik di mainkan lagi. Rose menoleh dan menemukan band balita itu kembali. Mereka beralih ke nada yang baru dan penuh kemenangan, dan sepasang remaja di depan kerumunan berdansa dalam lingkaran. “Itu benar!” teriak Emma. “Mari kita kembali ke pesta dansa kita! Sebagai tindakan resmi pertamaku sebagai kepala pustakawan Bontemps, aku ingin menominasikan Rose Bliss dan anjingnya yang setia sebagai Ratu dan Raja Pesta Dansa Hari Warisan!” desyrindah.blogspot.com
“Setuju!” raung Cosmo. Kerumunan bersorak, tetapi tampaknya tidak ada yang memperhatikan lagi ketika anak-anak menyebar dan kembali merayakan. Tak lama kemudian, sebagian besar orang berdansa—atau anak-anak yang sudah cukup umur. Itu bukan pesta dansa yang dinanti-nantikan Rose, te tapi mau tak mau dia merasakan tendangan kesenangan begitu melihat perkembangan keadaan di Bontemps. “Jadi, sekarang kau akan menceritakan semua tentang kehidupanmu sehingga aku dapat menuliskannya untuk Bugle, bukan?” tanya Cosmo. “Oh, tapi tunggu. Aku kan sudah dipecat dari pekerjaan itu.” “Seperti yang telah kuingatkan kepadamu beberapa kali,” kata sang Anjing, “kau tidak pernah dipecat. Kau hanya sedang menyamar.” “Oh, benar!” Cosmo mengamati kerumunan yang asyik berpesta. Sesosok bayi berwajah masam dengan kaca mata berbingkai hitam merangkak di sepanjang tepian lantai dansa, sesekali berhenti untuk menulis catatan di atas kertas dengan krayon hijau pendek. “Omongomong—itu dia, Ms. Hedda Penny. Aku harus memberitahunya tentang liputan panasku. Dia pasti bakal mempromosikanku menjadi reporter penuh sekarang!” Cosmo mengedipkan sebelah mata ke arah Rose. “Dan, kalau itu tidak berhasil, aku hanya akan membuatnya terkesan dengan gerakan dansaku. Aku ini orang yang disebut anak-anak sebagai ducky shincracker—si kaki lincah.” Rose tidak tahu apa artinya itu, tetapi Cosmo mende monstrasikan gerakan memantulkan sepatu di rumput, dan itu memang cukup mengesankan. “Benarkah ... benarkah kita sudah menyelamatkan Bontemps?” Rose bertanya kepada sang Anjing. Sang Anjing duduk pada kaki belakangnya dan meng angkat moncongnya ke menara jam besar. “Lihat saja sen diri.” desyrindah.blogspot.com
Jarum jam sekarang berputar ke arah yang benar, berputar menuju masa depan yang benar-benar baru. “Kota telah diselamatkan,” sang Anjing menegaskan. “Dan, sudah saatnya kita membawamu kembali ke rumah.” Wajah Cosmo berubah murung. “Aw, kalian sudah akan pergi?” Rose berusaha keras untuk menyembunyikan keba hagiaan yang mengancam akan meluap keluar darinya. “Ya, aku punya kehidupan yang menungguku. Tapi, terima kasih, Cosmo, atas semuanya. Kami tidak bisa mela kukan ini tanpa dirimu.” “Hei, bukan masalah, Nak.” Cosmo merogoh saku ce lana dan mengeluarkan sehelai kartu dan sebatang pensil kecil. Dia menuliskan sesuatu, kemudian menyerahkannya kepada Rose. “Hubungi aku begitu kau sudah kembali. Kita perlu menjadwalkan wawancara!” Rupanya sebuah kartu nama, dan di atasnya bertuliskan COSMO CORDWAINER—WARTAWAN UTAMA JUNIOR. “Baiklah, Cosmo,” Rose berkata, menyelipkan kartu ke saku jaketnya. Cosmo mengangkat topi ke arah Rose dan sang An jing, lalu melenggang menuju Hedda Penny. Sepertinya pesta dansa Hari Warisan akan berlangsung lama hingga malam hari—atau, Rose tersadar, hingga memasuki hari yang baru karena waktu sudah kembali bergulir maju. Sang Anjing berpaling dari Rose dan menggoyang-goyangkan ekornya. “Dari mana datangnya ekormu?” tanya Rose. Entah bagaimana, ekor sang Anjing telah tumbuh kembali mes ki sudah terurai menjadi benang. “Kau kan membuatku meng uraikannya dan—” “Bahkan setelah kau menguraikan ekorku,” sang Anjing menjawab dengan penuh misteri, “selalu ada yang lain. Booke memang seperti desyrindah.blogspot.com
itu.” Dia mengayun-ayunkan ekornya lagi. “Sekarang, pegangan yang erat, Nak. Ujianmu sudah berakhir.” Jadi, Rose pun melakukan apa yang diminta dan, begitu saja, dia dalam perjalanan pulang.[] desyrindah.blogspot.com
Epilog Dansa Kesempatan Kedua Rose mendapati dirinya dan sang Anjing kembali ke Calamity Falls dalam keheningan yang tenang pada pagi hari. Mereka berada di jalan kosong di pinggiran kota. Rose nyaris ambruk di trotoar yang retak—lega bisa kembali ke rumah, dan agak pengar karena baru bepergian dengan ekor sang Anjing. “Kurasa aku tidak akan pernah terbiasa dengan itu.” “Aku sendiri bahkan tidak pernah terbiasa,” jawab sang Anjing, “padahal beginilah caraku bepergian sepan jang waktu.” Masih ada perjalanan pendek yang harus dilalui se belum dia mencapai Toko Roti Bliss dan benar-benar tiba di rumah. Seolah secara ajaib bisa membaca pikiran Rose, sang Anjing malah membelokkan jalan ke arah yang berla wanan. “Kita lewat sini, Rosemary Bliss.” “Kita akan ke mana?” Rose bertanya. Ketika tidak mendapat jawaban, dia pun mengikuti anjing itu. Mereka berjalan melewati dedaunan yang rontok ketika Anjing menuntunnya berbelok. “Aku khawatir kau belum bisa pulang. Begini, waktu tidak hanya berjalan terbalik bagi warga Kota Bontemps. Waktu juga berjalan terbalik bagi kita. Jadi, kita kembali ke sini dua hari sebelum kau bahkan pergi.” “Tunggu dulu.” Gagasan tersebut membuat Rose me rasa agak pening. “Maksudmu, sekarang ini ada dua diriku di Calamity Falls?” desyrindah.blogspot.com
“Persis,” sang Anjing menegaskan. “Dan, seperti yang kuyakin bisa kau bayangkan, pertemuan di antara kalian berdua akan menjadi bencana.” Beberapa langkah kemu dian, dia menambahkan, “Meskipun kau harus membuat landasan untuk Hadiah dari Orang-Orang Terkasih.” “Apa maksudmu?” Rose bertanya. “Semuanya kan sudah digunakan.” “Tidak, belum,” kata sang Anjing. “Ingat, kita tiba di rumah sebelum keberangkatanmu. Jadi, dengan utusan yang tepat, kau dapat memastikan bahwa keluargamu tahu persis apa yang harus mereka berikan kepadamu.” “Utusan yang tepat. Oke.” Dengan bingung, Rose membiarkan Anjing menuntunnya melewati jalan-jalan yang terbasuh fajar. Dia merasakan semacam kesedihan yang aneh di dalam dirinya. “Ada apa, Rosemary?” tanya sang Anjing. “Aku terus memikirkan kesalahan-kesalahanku,” Rose menjawab. “Aku senang sang Marchesa—maksudku, Edith—masih hidup, tapi dia telah kehilangan seluruh masa lalunya. Semua hal yang membentuk dirinya, baik dan buruk. Aku mengacaukan segalanya.” “Justru sebaliknya,” kata sang Anjing. Mereka melewati pom bensin Gas N’ Guzzle yang kosong, dan Rose tidak pernah merasa begitu terhibur dengan bau tumpahan oli yang memualkan tetapi familier. “Kau lulus ujian dengan nilai sempurna. Bahkan, aku telah memutuskan kau pantas mendapat nilai tertinggi dariku. Kau, Rosemary Bliss, telah mendapatkan nilai A+.” Rose sontak berhenti di tengah jalan. “Benarkah? Ba gai mana?” Dia mengangkat kedua tangan. “Aku tidak me ngeluh! Tapi, aku merasa begitu kesepian tanpa keluargaku, dan kita nyaris gagal menghentikan sang Marchesa meng hancurkan semua orang.” desyrindah.blogspot.com
Sang Anjing terkekeh. “Ah, Rosemary, keraguan ada lah bagian dari menjadi pembuat roti yang bijak. Ujian sebenarnya adalah ketika kau merasa kewalahan, tidak tahu harus melakukan apa, tapi kemudian kau mencari ke dalam dirimu dan menemukan cara untuk berhasil terlepas dari itu.” Dia kembali berderap di jalan. “Kekuatan diri adalah hal yang berharga. Tapi, mengetahui kapan harus meminta bantuan dari orangorang yang kau percayai, dan menyadari bahwa kadang-kadang mereka sudah memberimu jawaban yang kau butuhkan, sama berharganya. Aku tidak percaya kau benar-benar sendirian, Rosemary.” Rose menyadari bahwa sang Anjing sepenuhnya benar. Keluarga Bliss secara fisik tidak bersamanya, tetapi setiap orang tetap berada di hati dan kepalanya. Pela jaran yang dia dapatkan dari mereka tidak hilang hanya karena mereka tidak bisa berada di sana bersamanya. Hadiah dari Orang-Orang Terkasih yang asli bukanlah ayam-ayaman karet atau celemek kotor, cermin retak-retak atau buku yang bisa bicara. Hadiah yang sebenarnya adalah ingatannya akan semua orang yang dicintainya, yang telah membantunya melewati hari. Tidak peduli berapa ratus kilometer jauhnya, anggota timnya selalu ada di sisinya. Rose berlari untuk menyusul sang Anjing, yang menun tun mereka ke sebuah bukit landai. Rose menghirup aroma wangi donat manis di kejauhan, dan dia menyadari ke mana mereka menuju. Ditepuktepuknya kepala sang Anjing de ngan penuh rasa terima kasih. “Jadi, apakah ini berarti aku seorang Master Pembuat Kue sekarang?” Dia memeriksa pergelangan tangan kanannya dan menyadari bahwa Tanda Tapak telah memudar pada suatu waktu selama dia tinggal di Bontemps. “Aku tidak di tandai lagi.” “Posisimu sebagai Master Pembuat Kue sudah kau peroleh jauh sebelum kau bertemu denganku,” kata sang Anjing. “Yang belum adalah tempatmu di halaman-hala man ku.” Rose mengernyitkan dahi. “Halaman-halamanmu? Apa maksudmu?” desyrindah.blogspot.com
Anjing itu menyusuri jalan untuk mengendus-endus hidran di sisi trotoar. “Aku bukan sekadar spirit Master Agung yang dikirim untuk menguji keluarga Bliss,” katanya santai. “Kau pasti bingung tentang ini, ya?” Rose menelengkan kepala. “Maksudku, selama ini aku sudah tahu kau adalah makhluk ajaib, tentu saja.” “Ah, tapi bukan sembarang makhluk ajaib yang memi liki pengetahuan tentang Cookery Booke,” kata sang Anjing sambil mengibas-ngibaskan ekornya. “Akulah sang Cookery Booke.” Rose terbeliak. “Kau ... buku?” Sang Anjing menganggukkan kepala berbulu lebatnya. “Buku yang berubah menjadi seekor anjing?” Sambil tertawa, sang Anjing terus mendaki bukit. “Selama berabadabad, sementara resep Cookery Booke keluarga Bliss semakin bertambah, kombinasi energi magis mereka bergabung menjadi ... spirit, katakanlah begitu. Akulah spirit itu. Bersama setiap resep yang ditambahkan ke halaman Booke, aku tumbuh semakin kuat sehingga sekarang aku tidak hanya menjadi spirit Booke, tapi juga pelindungnya. Sudah menjadi tugasku untuk memastikan bahwa tidak ada resep baru ditambahkan ke halamanku kecuali aku secara eksplisit memberikan persetujuan. Lagi pula, pada dirikulah kau menambahkannya.” “Itu ... sangat masuk akal,” Rose sependapat. “Aku dengan senang hati mengumumkan bahwa resep mu, Kue Jahe Cokelat Persaudaraan, sekarang secara resmi mendapat ruang di halaman-halaman suci Bliss Cookery Booke.” Sang Anjing menelengkan kepalanya. “Dalam wu jud anjing gembala ini, resepmu saat ini terletak tepat di dasar telinga kananku.” Rose menggaruk-garuk bagian belakang telinga yang dimaksud, dan sang Anjing tersengal-sengal penuh apresiasi. Resepnya cukup lembut, desyrindah.blogspot.com
Rose memutuskan. “Aku merasa terhormat,” kata Rose. “Ternyata kau pun bukan proktor yang buruk.” “Dan, kau, Rosemary,” kata sang Anjing, “adalah salah satu Bliss terbaik yang kubawa ke dunia liar dan membuatku merasa terhormat karenanya.” Rose dan sang Anjing mendaki ke bagian atas bukit. Lampu-lampu menyala di Toko Donat dan Bengkel Stetson, dan uap mengepul dari ventilasi ke udara pagi yang dingin. Devin berada di luar, mengutak-atik moped-nya, mering kuk dalam balutan jaket bertudung abu-abu yang bernoda oli motor. Jantung Rose melonjak ketika melihat pemuda itu, dan meskipun merasa sangat lelah hanya beberapa saat sebelumnya, dia mendapati dirinya berpacu melintasi pela taran parkir. “Hoaaa!” Devin berseru, nyaris terjengkang karena Rose mendadak menubruk dan memeluknya. Gadis itu menge cup pipinya dan menyusup di antara lengannya. “Untuk apa yang barusan?” Bibir Devin membentuk cengiran malu-malu. “Bukan berarti aku marah atau semacamnya.” Utusan yang tepat, kata sang Anjing. Dan, karena itu lah dia membawa Rose kepada Devin. “Aku mengembalikan janjimu,” Rose mendesah. “Tidak peduli apa yang akan kita lalui, aku janji tidak akan ada yang pernah bisa memisahkan kita.” Dia menjauhkan diri dari Devin, hawa panas memerahkan pipinya. “Kuharap itu tidak terdengar norak, tapi itu caraku untuk meminta ban tuan. Ada cerita sangat panjang dan sangat gila untuk kusam paikan kepadamu. Pertama-tama, aku ingin kau bertemu dengan—” Dia berbalik untuk melambai kepada sang Anjing, tetapi jalan di belakangnya kosong. Pusaran dedaunan meluncur melewati ruang desyrindah.blogspot.com
kosong di atas beton tempat sang Anjing tadi berdiri. “Aku, sih, bisa percaya banyak hal gila yang terjadi kalau ada hubungannya dengan kalian, keluarga Bliss,” kata Devin. “Siapa yang kau ingin aku temui?” “Seorang teman baru,” Rose berkata, masih meman dangi tempat sang Anjing tadi berada. “Tapi, kurasa dia belum datang.” Devin menggosok-gosok tangan Rose. “Jemarimu sedi ngin es. Ayo masuk. Kami baru selesai membuat donat. Oh, dan ayahku membelikan dasi untuk pesta dansa! Aku ingin memastikan warnanya tepat.” Pesta dansanya! Ada begitu banyak hal yang terjadi sampai-sampai Rose bahkan tidak menyadari bahwa dia sekarang bisa menghadiri pesta dansa besar pertamanya, dan mengenakan gaun pesta pertamanya, dan melakukan dansa pertamanya di pelukan sang kekasih. Rose mengerti bahwa kutukan Bontemps-lah yang me ngirimnya kembali dalam keadaan mundur beberapa hari. Dia tahu itu. Namun, di dalam hatinya, dia merasakan sesu a tu yang sama sekali berbeda, yang layak mendapat pujian: sang Anjing sendiri. Apa yang dikatakannya tentang Edith Tilley kecil? “Seberapa sering seseorang mendapat kesempatan kedua dalam hidupnya?” renungnya keras-keras. “Apa?” tanya Devin, menyeringai bingung. Rose menggenggam tangan pemuda itu erat-erat. “Cu ma mengucapkan pikiran keras-keras. Sekarang, ayo kita nikmati donat krim cokelat itu dan aku akan menceritakan semua yang terjadi. Kita memiliki semua waktu tambahan ini—jangan disia-siakan!”[] desyrindah.blogspot.com
desyrindah.blogspot.com
desyrindah.blogspot.com