MARKETING STRATEGY
IN 5.0 SOCIETY ERA
(MENJAWAB TANTANGAN PASAR
DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 DAN
DISRUPSI SOSIAL DIDALAMNYA)
Tri Endi. A. P. Sasongko, B.Sc., S.E., M.M., CPM, CPIT.
Dr. Hendi Eka Sumarga, S.E., M.M.
Abdul Rauf, S.E., M.M.
PENERBIT CV.EUREKA MEDIA AKSARA
i
MARKETING STRATEGY IN 5.0 SOCIETY ERA
(MENJAWAB TANTANGAN PASAR DI ERA REVOLUSI
INDUSTRI 4.0 DAN DISRUPSI SOSIAL DIDALAMNYA)
Penulis : Tri Endi. A. P. Sasongko, B.Sc., S.E., M.M., CPM, CPIT.
Dr. Hendi Eka Sumarga, S.E., M.M.
Abdul Rauf, S.E., M.M.
Editor : Eka Hendra Priyatna, S.Kom., M.M.
Eni Suharti, SE, M.Ak.
Desain Sampul : Eri Setiawan
Tata Letak : Endar Widi Sugiyo
ISBN : 978-623-487-185-2
Diterbitkan oleh : EUREKA MEDIA AKSARA, SEPTEMBER 2022
ANGGOTA IKAPI JAWA TENGAH
NO. 225/JTE/2021
Redaksi :
Jalan Banjaran, Desa Banjaran RT 20 RW 10 Kecamatan Bojongsari
Kabupaten Purbalingga Telp. 0858-5343-1992
Surel : [email protected]
Cetakan Pertama : 2022
All right reserved
Hak Cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh
isi buku ini dalam bentuk apapun dan dengan cara apapun,
termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan teknik perekaman
lainnya tanpa seizin tertulis dari penerbit.
ii
KATA PENGANTAR
Puji Syukur Alhamdulillah Penulis panjatkan kehadirat
Allah SWT. Atas Limpahan Rahmat, Taufik, dan Hidayah-Nya.
Sehingga Penulis bisa membuat buku ini dengan judul “ Marketing
Strategy In 5.0 Society Era (Menjawab Tantangan Pasar Di Era
Revolusi Industri 4.0 Dan Disrupsi Sosial Didalamnya)”.
Marketing bisa didefinisikan sebagai suatu perpaduan antara
kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan untuk bisa mengetahui
apa yang dibutuhkan oleh konsumen. Sehingga, perusahaan bisa
mengembangkan produk, harga, pelayanan, dan melakukan
promosi agar dapat memenuhi kebutuhan konsumen dan
perusahaan dapat mendapatkan sebuah keuntungan yang optimal.
Saat ini dunia mengalami satu fenomena revolusi industri 4.0
dimana hampir seluruh hajat hidup manusia digerakkan oleh
teknologi yang berbasis pada teknologi cloud dan teknologi big data
yang bersandar kepada Internet of Thinks (IoT) yang dimoderasi
automatiozation technology berbasis kecerdasan buatan (artificial
intelligence). Era 5.0 society merupakan perubahan pola, standar dan
pemusatan kehidupan dimana perubahan ini mengikuti dari
perubahan-perubahan pada era sebelumnya.
Buku ini menguraikan berbagai strategi marketing untuk
menjawab tantangan pasar di era revolusi industry 4.0 dan disrupsi
sosial didalamnya, diantaranya strategi berbasis marketing mix,
promotion mix, STP, TOWS Analysis, Product Life Cycle, dan strategi
fokus pada konsumen kaum milenial.
Akhirnya Penulis mengucapkan banyak terimakasih,
semoga mendapat Ridlo Allah SWT, sehingga buku ini ada guna
dan manfaatnya bagi kita semua. Dan mohon maaf atas segala
kekurangan, serta mohon kritik dan saran, demi kesempurnaan
karya tulisan berikutnya.
02 September 2022 M.
Penulis
Tri Endi. A. P. Sasongko, B.Sc., S.E., M.M., CPM, CPIT.
Dr. Hendi Eka Sumarga, S.E., M.M.
Abdul Rauf, S.E., M.M.
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................................iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iv
BAB 1 FUNGSI DAN PROSES STRATEGI MARKETING ..................1
A. Fungsi Marketing..................................................................................... 3
B. Proses Marketing Berbasis Fokus Pelanggan .............................. 5
C. Strategi Pemasaran Berdasarkan Fungsi Dan Proses
Implementasinya ...................................................................................11
BAB 2 LINGKUNG PEMASARAN STRATEGIS................................. 27
A. Lingkungan Pemasaran Internal (Internal marketing
Environment) ................................................................................................. 28
B. Lingkungan Pemasaran Eksternal (External Marketing
Environment) ................................................................................................. 31
C. Kedudukan Lingkungan Pemasaran .............................................41
BAB 3 STRATEGI BERBASIS BAURAN PEMASARAN
(MAREKTING MIX)................................................................................44
A. Konsep Dasar Bauran Pemasaran “Marketing mix 4P”.......45
B. Transformasi Bauran Pemasaran (Marketing Mix)..................... 47
C. Transformasi Marketing Mix Pemasaran berorientasi
Pelanggan (Customer Focus)................................................................... 52
D. Transformasi Marketing Mix di Era Dirupsi Teknologi
(Revolusi Industri 4.0) .............................................................................. 60
BAB 4 STRATEGI BERBASIS BAURAN PROMOSI
(PROMOTION MIX) ...............................................................................70
A. Jenis Saluran Bauran Promosi ..........................................................72
B. Strategi Pada Bauran Promosi (Promotion Mix) Di Era
Digital ..............................................................................................................109
BAB 5 STRATEGI BERDASARKAN “STP” (SEGMENTING,
TARGETING AND POSITIONING) ............................................ 114
A. Segmenting....................................................................................................115
B. Targeting .......................................................................................................121
C. Positioning.....................................................................................................126
BAB 6 STRATEGI MARKETING BERBASIS ANALISA SWOT
(TOWS ANALYSIS).............................................................................. 131
A. Dasar Formulasi Strategi.......................................................................132
B. Perumusan SWOT/TOWS Analysis............................................. 134
iv
BAB 7 STRATEGI BERDASARKAN SIKLUS HIDUP PRODUK
(PRODUCT LIFE CYCLE) .................................................................. 175
A. Tahap-Tahap Product Life Cycle (PLC) ............................................176
B. Manajemen Pemasaran PLC........................................................... 183
C. Strategi Marketing Pada Tiap Tahap PLC ................................ 188
BAB 8 STRATEGI FOKUS PADA KONSUMEN KAUM
MILLENIAL DI ERA 5.0 SOCIETY............................................ 196
A. The 5.0 Society, Bukan Dunia Baru Tapi Gaya Baru............. 198
B. Konsep 5.0 Society Pada Masa Pandemi Covid-19 ............... 203
C. Kaum Milenial, Potensi Pasar di Era 5.0.................................... 209
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 214
v
MARKETING STRATEGY
IN 5.0 SOCIETY ERA
(MENJAWAB TANTANGAN PASAR
DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
DAN DISRUPSI SOSIAL
DIDALAMNYA)
vi
BAB FUNGSI DAN
PROSES STRATEGI
1
MARKETING
Dalam banyak kasus Bisnis, pemasaran kerap dipandang
sebagai suatu upaya manusia untuk mencapai hasil pertukaran
yang diinginkan dan membangun hubungan yang erat dengan
konsumen dengan cara yang menguntungkan bagi perusahaan
(Agustin & Maolana: 2020). Sedangkan Menurut Kotler (2017)
menyatakan bahwa pemasaran adalah suatu proses sosial dan
manajerial yang di dalamnya individu dan kelompok mendapatkan
apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan,
menawarkan dan mempertukarkan produk yang bernilai dengan
pihak lain. Pemasaran dapat dipandang sebagai sesuatu hal yang
mencakup seluruh sistem yang bertujuan untuk menentukan harga
hingga mempromosikan dan juga menyalurkan barang dan jasa
yang memuaskan kebutuhan pembeli secara aktual maupun
potensial.
Disisi lain marketing juga bisa didefinisikan sebagai suatu
perpaduan antara kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan
untuk bisa mengetahui apa yang dibutuhkan oleh konsumen.
Sehingga, perusahaan bisa mengembangkan produk, harga,
pelayanan, dan melakukan promosi agar dapat memenuhi
kebutuhan konsumen dan perusahaan dapat mendapatkan sebuah
keuntungan yang optimal. Pada kenyataannya, Marketing sangat
erat kaitannya dengan kegiatan kehidupan sehari-hari, karena
objeknya adalah konsumen. umumnya, konsumen sering
dihadapkan pada beberapa pilihan seperti merek, kemasan dan
tampilan dari produk yang ditawarkan. Kadang kala konsumen
1
juga dapat dijadikan sebagai sumber informasi yang dibutuhkan
oleh para marketer dalam melakukan suatu kegiatan marketing.
Sedangkan dari kata strategi dapat kita ambil dari banyak
pendekatan tergantung mau ke arah mana srategi itu akan kita
terapkan. Jika strategi dikaitkan dengan aksi pada level operasional
seperti marketing, maka disebutlah strategi tersebut sebagai strategi
marketing atau strategi pemasaran. Pada umumnya orang sering
beranggapan bahwa ilmu strategi itu adalah bagian dari pada suatu
kemempauan atau metode yang bertujuan menyerang, menguasai
dan menduduki. Secara etimologi kata strategi sendiri diambil dari
bahasa Yunani strategeia (stratos = militer, ag = pemimpin), yang
diartikan konsep ilmu dan seni untuk menjadi seorang Jenderal
(Sasongko: 2018). Hal ini erat kaitan dengan situasi pada zaman
dahulu yang sering diwarnai dengan peperangan. Secara keilmuan,
strategi adalah suatu bauran yang tercipta dari 2 (dua) aspek, yaitu:
Sience dan art. Jika ditinjau dari aspek ilmu pengetahuan (science),
dapat diartikan bahwa hal tersebut terkait dengan suatu fungsi,
proses dan langkah kerja, sehingga di dalamnya terdapat berbagai
kaidah dan ketentuan yang yang mesti diikuti. Sedangkan jika
ditinjau dari aspek seni, kreasi dalam penerapannya (art), strategi
sendiri dapat dikatakan bahwa suatu hal yang sangat luas untuk
dijabarkan. Strategi itu sendiri secara keilmuan tidak memiliki basis
disiplin ilmu yang kuat. Adapun berbagai tinjauan secara sosial,
strategi itu sendiri sering dikaitkan dengan yang namanya siasat,
taktik, situasi lingkungan dan gaya kepemimpinan. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa strategi itu sendiri erat kaitannya dengan seni
menghadapi dan menganalisis suatu lingkungan karena berbagai
faktor. Oleh karena itu strategi pada akhirnya menuntut si
pengguna strategi untuk mengambil suatu keputusan dan langkah
berdasarkan analisis situasi ingkungan sebagai akibat dari
dorongan perubahan, pemetaan kompetisi, kekuatan daya tawar-
menawar dan opsi-opsi yang pada ujungnya mempertaruhkan
eksistensi suatu organisasi, kelompok maupun perusahaan.
Manajemen strategik mengkombinasikan aktivitas-aktivitas dari
berbagai bagian fungsional suatu bisnis untuk mencapai tujuan
organisasi (Rangkuti: 2006).
2
A. Fungsi Marketing
Jika ditinjau dari suatu fungsi manajemen, pemasaran
dapat dipandang sebagai suatu rangkaian entitas meliputi
kegiatan: Perencanaan (planning), Pengorganisasian (organizing),
Pelaksanaan (Actuating) dan Pengendalian (Controlling). Dari
rangkaian entitas tersebut berkembang menjadi berberapa
kegiatan yang terfokus kepada: marketing research, product
development, communication- promotion, distribution, pricing dan
service. Semua kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui,
melayani, memenuhi dan memuaskan kebutuhan konsumen
(Sasongko : 2019).
Gambar 1.1 Model Fungsi Marketing
Sumber: Sasongko, 2019
Selanjutnya fungsi dari manajemen pemasaran menurut
Yuliyzar dan Effendi (2020) dapat diterjemahkan sebagai
berikut:
1. Fungsi Pertukaran, Di sini fungsi pertukaran pada
manajemen pemasaran terbagi menjadi dua fungsi utama,
yakni fungsi pembelian dan fungsi penjualan. Lebih lanjut,
fungsi pembelian berarti peran manajemen pemasaran
berfungsi sebagai proses timbal balik dari aktivitas
penjualan. Dengan begitu, diperlukan strategi khusus
3
terutama pemahaman mengenai kegiatan yang dapat
menarik konsumen untuk membeli. Sedangkan fungsi
penjualan termasuk dalam aktivitas untuk mempertemukan
penjual dan pembeli yang bisa dilakukan secara langsung
maupun perantara.
2. Fungsi Fisis, Fungsi fisis manajemen pemasaran terfokus
pada kegunaan waktu, lokasi dan bentuk yang perlu
dipertimbangkan pada suatu produk ketika suatu produk
akan diangkut, diproses dan disimpan hingga sampai ke
tangan konsumen. Jika tidak dipertimbangkan dan
direncanakan dengan baik, bisa jadi perusahaan akan
mengalami kerugian besar akibat penanganan produk yang
tidak berstandar.
3. Fungsi Penyediaan Sarana, Manajemen pemasaran juga
memiliki fungsi sebagai penyediaan sarana karena akan
berkaitan dengan segala kegiatan yang mampu melancarkan
operasional pemasaran. Fungsi penyediaan sarana
mencakup segala proses pengumpulan, komunikasi,
penyortiran dan sesuai standar dan pembiayaan.
Sementara itu, menurut Philip Kotler (2002:559) fungsi
marketing mencakup beberapa kegiatan sebagai berikut:
1. Mengumpulkan informasi mengenai pelanggan, pesaing,
serta pelaku dan kekuatan lain yang ada saat ini maupun
yang potensial dalam lingkungan pemasaran.
2. Mengembangkan dan menyebarkan komunikasi persuasif
untuk merangsang pembelian.
3. Mencapai persetujuan akhir mengenai harga dan syarat lain
sehingga transfer kepemilikan dapat dilakukan.
4. Menanggung resiko yang berhubungan dengan pelaksanaan
fungsi saluran pemasaran.
5. Mengatur kesinambungan penyimpanan dan pergerakan
produk sampai ke pelanggan akhir.
4
Gambar 1.2 Cakupan Kegiatan Fungsi Marketing
Sumber: Kotler, 2002
B. Proses Marketing Berbasis Fokus Pelanggan
Jika ditinjau dari perspektif operasional, pemasaran
dipandang sebangi suatu proses karen didalamnya merangkum
beberapa kegiatan, diantaranya: penganalisisan, perencanaan,
pelaksanaan, pengendalian dan pemprograman yang dibuat
untuk membentuk, membangun, dan memelihara keuntungan
dari pertukaran melalui sasaran pasar guna mencapai tujuan
organisasi (perusahaan) dalam jangka panjang (Yulizar &
Efendi: 2020). Secara proses sosial, pemasaran diharapkan dapat
menyediakan kebutuhan individu atau kelompok agar mereka
yang menginginkan dan memerlukan produk atau jasa dapat
terpenuhi serta mereka yang memiliki produk atau jasa
memperoleh hasil dan keuntungan. Hal ini terkait dengan
aktivitas proses pemasaran dalam hal pengendalian distribusi
produk yang mencakup seluruh langkah yang diperlukan atau
digunakan untuk menempatkan suatu produk dari produsen ke
tangan konsumen.
Dalam mencapai tujuan bisnis, maka seorang pemasar
perlu melakukan serangkaian tahap dari awal menciptakan nilai
pelanggan sampai menangkap nilai yang diberikan oleh
pelanggan. Serangkaian tahap tersebut dikenal sebagai proses
marketing (marketing process). Menurut Philip Kotler (2012),
5
dalam mencermati proses pemasaran perusahaan perlu
memahami needs and wants dari konsumen. Disamping itu
diperlukan satu kondisi yang dapat menciptakan nilai bagi
pelanggan dan membangung hubungan yang kuat dengan para
konsumennya (emotional bounding). Selanjutnya pemasar juga
perlu memperhitungan take and give dari konsumen dalam bentk
penjualan dan keuantungan (sales & profit). Dari proses
marketing yang benar diharapkan perusahaan mendapatkan
loyalitas konsumen. Hal ini umumnya dapat diindikasikan
melalui kekuatan worth of mouth (cerita dari mulut-kemulut)
yang dilakukan oleh konsumen. Dalam marketing hal ini
menjadi added value yang sangat berharga dan tidak dapat
diukur secara finansial. Selanjutnya dari pendapat menurut
Kotler (2012) dapat dirumuskan model tahap proses pemasaran
sebagai berikut:
Gambar 1.3 Model Tahap Proses Marketing
Sumber: Kotler, 2012
Dari model gambar di atas dapat diterjemahkan 5 tahap
proses marketing:
6
1. Memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan.
Pada tahap ini menjabarkan bahwa konsep inti dari
sebuah pemasaran adalah identifikasi kebutuhan dan
keingan pelanggan. Hal ini juga menyangkut tentang produk
yang didesain menyesuaikan dengan kebutuhan dan
keinginan pelanggan dengan harapan akan mendorong
konsumen untuk memilih produk yang ditawarkan. Pada
hahekatnya kebutuhan adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh
seseorang untuk menjalani hidup, dan muncul dalam
keadaan merasa kurang. Sedangkan keinginan adalah suatu
wujud dari kebutuhan pada diri seseorang yang dipengaruhi
oleh budaya dan kepribadiannya.
Contoh: orang berasal dari Minang kalau lapar
maka butuh makan, inginnya makan makanan
yang bersantan, berlemak dan pedas. Sementara
orang dari Jawa inginnya makan gudeg, pecel dll.
Salah satu tolok ukur keberhasilan pemasaran adalah
kepiawaian pemasar dalam mengidentifikasi apa yang
dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen.
Contoh kasus: perusahaan otomotif Jepang
misalnya Daihatsu jika dibandingkan dengan
perusahaan otomotif Eropa misalnya Renault,
dalam hal menyediakan produk mobil MPV kelas
1300 cc, tentunya jika dibandingkan dengan need
& want masyarakat Indonesia secara kasat mata
akan terlihat produk Daihatsu lebih dipilih oleh
konsumen Indonesia. Hal tersebut karena,
perusahaan Jepang mampu menciptakan mobil
khusus sesuai karakter orang Indonesia, yakni
yang dibutuhkan dan diinginkan oleh orang
Indonesia yaitu murah, berdaya muat banyak,
mudah perawatan dan irit.
2. Desain strategi pemasaran berorientasi pelanggan
(Customer Focus).
Setelah perusahaan mampu mengidentifikasi need and
want dari konsumen, maka perusahaan harus mendesain
strategi pemasan yang berorientasi pada konsumen. Dalam
7
mendesain ini seorang pemasar dituntut membuat strategi
pemasaran yang dapat menjawab minimal dua pertanyaan
berikut ini, yaitu: Siapa target pasar perusahaan? Dan apa
preposisi nilai yang akan ditawarkan kepada pelanggan?
Agar mampu melayani pelanggan secara efektif, maka
perusahaan perlu mengidentifikasi pelanggan-pelanggan
seperti apa yang akan dilayani. Pada intinya perusahaan
harus melakukan STP (Segmenting, Targetting dan
Positioning). Awalnya perusahaan harus membagi konsumen
ke dalam segmen-segmen yang didasarkan pada demografis,
geografis, dll. Setelah itu, dari segmen yang telah dipilih baru
ditargetkan dengan yang lebih spesifik lagi. Dari target yang
spesifik tersebut, kemudian di lekatkan (di
posisikan/positioning) di benak konsumen produk yang kita
miliki (positioning). Selain melakukan pemetaan dengan STP,
perusahaan juga perlu menentukan proposisi nilai (value
proposition) yang akan ditawarkan oleh perusahaan kepada
konsumen. Pada tahap ini, seorang pemasar harus
mengidentifikasi product benefits (keunggulan produk yang
dimiliki dan apa perbedaan dengan produk yang lainnya).
3. Mendesain Program Pemasaran Terpadu (Bauran
Pemasaran-Marketing Mix).
Pada tahap selanjutnya adalah mengimplementasikan
melalui program-program pemasaran. Program-program
pemasaran tersebut merupakan serangkaian program
pemasaran dalam upaya menjalankan strategi pemasaran
yang telah ditentukan oleh pemasar. Program-program
tersebut umumnya memasukan beberapa elemen pemasaran
yang akan dibaur menjadi suatu konsep, konteks dan konsen
atas produk yang ditawarkan. Peleburan beberapa elemen
pemasaran ini sering disebut sebagai marketing mix (bauran
pemasaran) yang pada prinsipnya terdiri dari 4P (product,
price, promotion & place) namun pada perkmbangannya
ditambah dengan 3P (Process, People & Phsical evidence) hingga
menjadi 7 P. Marketing mix atau bauran pemasaran pada
umumnya sering dipergunakan oleh manajer pemasaran
8
untuk menjalankan strategi pemasaran yang mencakup
penentuan produk, harga, saluran distribusi, promosi,
suasana, proses/layanan, dan people (orang yang
terlibat/staff/tim).
4. Membangun hubungan dengan pelanggan dan
menciptakan kepuasan pelanggan (Emotional Bounding).
Kesuksesan suatu perusahaan dalam menjalin
hubungan dengan pelanggan, akan menentukan eksistensi
dan keberlangsungan hidup perusahaan di waktu yang akan
datang. Hubungan yang dijalin dengan baik akan
menimbulkan kepuasan pelanggan yang berimbas pada
loyalitas pelanggan kepada perusahaan kita, tentu ini
menjadi investasi jangka panjang karena akan mengurangi
biaya promosi karena sudah ada pelanggan yang
loyal. Manajemen hubungan pelanggan merupakan
keseluruhan proses membangun dan mempertahankan
hubungan pelanggan yang menguntungkan melalui
penciptaan nilai pelanggan yang super serta kepuasan
pelanggan secara berkelanjutan.
5. Menangkap nilai dari pelanggan untuk menciptakan profit
dan ekuitas pelanggan (Customer Equity).
Tahap kelima dari tahap proses pemasaran adalah
menangkap nilai dari pelanggan yang dapat berupa
penjualan, pangsa pasar serta profit. Keberhasilan
perusahaan menangkap nilai dari pelanggan merupakan
output atau hasil dari strategi-strategi pemasaran yang
sukses dilakukan, terutama ke-empat tahap proses
sebelumnya. Perusahaan jika telah berhasil memasuki tahap
ini artinya perusahaan akan sangat mudah memasuki fase
kedewasaan (maturity) jika diterjemahkan kedalam siklus
daur hidup produk (product life cycle-PLC). Dengan demikian
perusahaan tidak perlu bersusah payah dalam mendapatkan
benefit dan keuntungan pada pasar eperti apapun. Pada
keberhasilan di tahap inilah, konsumen sudah tidak
dirasakan lagi sebagai objek bisnis tetapi sudah menjadi
mitra bisnis. Dan sebaliknya konsumenpun juga merasakan
9
hal yang sama bahkan pada konsumen bersedia melakukan
endorsement produk secara sukarela dan menjadi Brand
ambasador produk dengan sendirinya dengan tanpa meminta
imbalan apapun dari perusahaan. Hal ini karena konsumen
sudah merasakan puncak kepuasan atas produk yang
ditawarkan dan sudah mencapai loyalitas secara penuh.
Di dalam proses pemasaran ada kegiatan menganalisis
yaitu analisis yang dilakukan untuk mengetahui pasar dan
lingkungan pemasarannya, sehingga dapat diperoleh
seberapa besar peluang untuk merebut pasar dan seberapa
besar ancaman yang harus dihadapi. Menurut Yuliyzar dan
Effendi (2020) terdapat 3 langkah analisis pada proses
pemasaran, yaitu:
a. Perencanaan Pemasaran (Marketing Plan).
Perencanaan pemasaran Merupakan perencanaan
awal yang menjadi penentuan segala sesuatu
sebelum dilakukan kegiatan-kegiatan pemasaran
meliputi tujuan, strategi, kebijaksanaan serta taktik
yang dijalankan.
b. Implementasi Pemasaan (Markting Implementation).
Merupakan proses yang mengubah strategi dan
rencana pemasaran menjadi tindakan pemasaran
untuk mencapai sasaran. Implementasi mencakup
aktivitas sehari-hari, dari bulan ke bulan secara
efektif melaksanakan rencana pemasaran. Kegiatan
ini dibutuhkan program tindakan yang menarik
semua orang atau semua aktivitas serta struktur
organisasi formal yang dapat memainkan peranan
penting dalam mengimplementasikan strategi
pemasaran.
c. Pengendalian Pemasaran (Marketing Evaluation).
Pengendalian atau evaluasi kegiatan pemasaran,
yaitu usaha memberikan petunjuk pada para
pelaksana agar mereka selalu bertindak sesuai
dengan rencana, meliputi:
10
1) Penentuan standar
2) Supervisi kegiatan atau pemeriksaan
3) Pengukuran dan perbandingan hasil dengan
standar
4) Kegiatan mengoreksi Perbaikan langkah
korektif.
Gambar 1.4 Alur Tahap Analisis Proses Marketing
Sumber: Yuliyzar & Effendi, 2020
C. Strategi Pemasaran Berdasarkan Fungsi Dan Proses
Implementasinya
Pada hakekatnya strategi pemasaran (Marketing strategy)
adalah suatu tindakan terukur yang dimaksudkan untuk
mengenalkan produk perusahaan kepada masyarakat luas.
Strategi pemasaran adalah kumpulan langkah bisnis yang sudah
dikombinasikan baik pada level pengenalan produk hingga
membuat konsumen melakukan pembelian. Kekeliruan yang
kerap terjadi adalah banyak para marketer yang menganggap
11
strategi pemasaran hanya bertujuan untuk menggiring
konsumen memasukkan barang ke dalam keranjang belanja
mereka, strategi pemasaran juga memastikan pembeli
mengenali dengan baik produk yang ditawarkan, melakukan
check out hingga mengulangi aktivitas pembelian produk hingga
terbangun emotional bondingan antara Konsumen dan penjual.
Dalam banyak kasus bisnis marketing strategy secara
komprehensif sering dikaitkan dengan bauran Pemasaran
(marketing mix) yang pada dasarnya meliputi 4P yaitu: product,
price, place dan promotion. Dari sini dapat diketahui bahwa
cakupan strategi pemasaran adalah dari proses perumusan
produk, lalu target pasar yang juga mempengaruhi harga
produk (price), serta di mana produk itu akan dipasarkan dan
dari media apa konsumen akan mengenali produk kita. Hal
inipun berlanjut hingga dirumuskannya bauran Pemasaran dari
4P menjadi 7P (ditambahkan dengan People, process & physical
evidence) hingga terbentuknya transformasi bauran Pemasaran
(marketing mix) dari bauran yang Berbasis “P” menjadi Berbasis
“C” hingga pada perkembangan Selanjutnya. Dengan demikian
marketing strategy memiliki manfaat bagi kelangsungan hidup
marketing seperti pada gambar berikut:
12
Gambar 1.5 Alur Manfaat Strategi Marketing
Sumber: Sasongko, 2019
1. Sebagai pedoman pemasaran produk (Product Selling
Guidance), pada uraian di atas telah dijelaskan bahwa
strategi pemasaran yang ideal meliputi proses perumusan
konsep produk, uji coba/prototype produk, memperkenalkan
produk kepada konsumen, melakukan serangkaian
komunikasi marketing dan promosi, merancang Langkah
untuk membuat konsumen tertarik pada produk tersebut
hinggapada proses terjadinya konversi dan transaksi atas
produk terjual.
2. Sebagai tolok ukur keberhasilan (Key Performance
Indicator), perumusan marketing strategy tidak sekedar
menetapkan target lalu membuat tebaran pencapaian target
yang dibebankan pada personil marketing dan penjualan.
Namun lebih dari itu marketing strategy dirumuskan secara
rinci dan lengkap dengan menyelaraskan temuan
penelitian/survey lapangan atas arah minat, pola/Karakter
pasar dan Konsumen, kecenderungan kemampuan membeli
dan aspek lainnya. Perumusan strategi pemasaran (marketing
13
strategy) juga mesti menyelaraskan dengan visi dan misi
perusahaan dan tinjauan manajemen atas sasaran mutu
kinerja bidang marketing. Pada tataran operasional, para
pengambil keputusan di bidang marketing akan dapat
menilai hasil kerja mereka dengan membandingkan apa yang
mereka dapatkan dengan target yang termuat dalam strategi
Pemasaran, serta seperti apa sikap dan apresiasi pasar dan
Konsumen atas produk serta seberapa besar hasrat (desire)
konsumen untuk melakukan pembelian ulang (repeat order).
Oleh karena itu, sangat penting untuk mencanangkan
langkah konkret pada setiap strategi yang disusun
perusahaan.
3. Sebagai alat kontrol dalam pengawasan (Control &
Monitoring). Dalam hal ini, rancangan strategis yang sudah
disepakati bersama dapat digunakan untuk menentukan
apakah tindakan yang diambil perusahaan telah sejalan
dengan strategi pemasaran atau belum. Rencana kerja ini
selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk mengembalikan
langkah-langkah yang lari jalur (melenceng) dari tujuan
strategi Pemasaran. Dalam banyak kasus bisnis, hal yang
paling dominan terjadi adalah tidak berjalannya rencana
langkah kerja strategis (strategic action plan) bidang marketing
oleh karena munculnya agenda yang disisipkan oleh para
manager ataupun oleh dorongan pemilik usaha, sehingga
agenda kerja yang telah disusun “dikalahkan” dengan
agenda yang bersifat incidental namun lucunya pada
akhirnya segenap sumber daya dan energi perusahaan justri
habis dicurahkan pada agenda yang bersifat incidental
tersebut. Oleh karena hal tersebut, pesan moral yang patut
dicermati oleh para manager marketing adalah: pertaruhkan
idealisme dan professional kerja dan “pertanggung
jawabkan” agenda/rencana strategis yang telah disusun.
Dalam arti Panjang, bukan bearti kita tidak boleh
melaksanakan agenda marketing yang bersifat incidental,
namun alangkah eloknya jika agenda tersebut diterima
Dalam satuan kerja Selanjutnya serahkan kepada tim kecil
14
yang bersifat “ad-hoc” berikutnya jika agenda tersebut telah
terlaksana dengan baik, Kembali fokus kepada agenda
rencana kerja strategis yang telah disepakati.
Para pengambil keputusan/manager bebas dalam
menentukan jenis strategi Pemasaran sejak memulai titik awal
dan ujung hingga pada orientasi maksimalisasi profit, tetapi
umumnya strategi pemasaran dirumuskan memiliki tujuan
pokok strategis seperti berikut:
Gambar 1.6 Pokok Tujuan Strategis Marketing
Sumber: Sasongko, 2019
1. Menentukan target pasar yang tepat (Market target), Dalam
perumusan strategi Pemasaran, proses paling krusial dalam
mendesain strategi pasar adalah mengenali ragam target
pasar. Dari hal tersebut perusahaan dapat menentukan pasar
mana yang akan disasar. Sehingga spesifikasi produk, harga
produk serta cara produsen melakukan pendekatan pada
target pasar pun akan lebih tepat. Kecermatan dalam memilih
15
target pasar ini harusnya menjadi perhatian khusus bagi para
manager karena hal tersebut berdampak Dalam
mempengaruhi bagaimana kerja produsen secara
menyeluruh. Dengan demikian implementasi strategi
pemasaran yang tepat dan akurat akan meminimalisir
inefisiensi pada perusahaan.
2. Memaksimalkan alokasi sumber daya perusahaan
(Resource Optimation), Anggaran, tenaga kerja, waktu dan
hasil capaian adalah modal utama bagi perusahaan dalam
meninjau keberhasilan kinerja marketingnya. Untuk
mencapai tujuan tersebut, perusahaan yang baik akan
memastikan keempat hal tersebut tidak akan lari dari target
ataupun berkurang kecuali dengan mendapatkan return atau
pengembalian yang seimbang. Perumusan strategi
pemasaran hendaknya mengakomodir hal-hal urgen ini dan
selanjutnya dalam menentukan batas anggaran dan metode
pemasaran pun, perusahaan akan diuntungkan dengan
mengetahui proyeksi tersebut. Beberapa kesalahan yang
terjadi pada para manager dan pengambil keputusan adalah
minimnya literasi atas pemahaman optimalisasi sumber daya
secara komprehensif. Dalam banyak kasus bisnis, umumnya
manager pemasaran yang ditunjuk adalah sosok yang tidak
lepas dari aspek senioritas pada perusahaan. Umumnya
mereka yang ditunjuk sebagai pengambil keputusan atau
manager pada bidang marketing adalah orang yang selama
ini “kenyang” makan asam garam pada sektor penjualan
(sales) sehingga proses penunjukan manager hanya
memperhatikan track-record pencapaian target penjualan
selama beberapa kurun waktu tertentu. Selanjutnya personil
tersebut Ketika diposisikan pada level manager, yang
dikuasai hanyalah pada sektor penjualan saja, sedangkan hal
lain dan aspek lain yang terkait dengan pengelolaan sumber
daya pada bidang marketing sangat minim untuk dipahami
dan dikuasasi. Pesan moral bagi para manager adalah jangan
terpaku pada satu sektor yang mendewasakan diri pada satu
aspek pekerjaan saja, namun ketika sudah menempati posisi
16
manager dan atau posisi decision maker, teruslah belajar dan
kuasai seluruh aspek yang mendukung keberhasilan usaha
dan kerja kita.
3. Ujung tombak kelangsungan bisnis (Business Sustainable).
Pasar merupakan bagian dari unsur-unsur yang ada dalam
manajemen, dan pemasaran merupakan kegiatan untuk
memasarkan produk yang sudah diproduksi oleh
perusahaan, karena tanpa adanya pemasaran maka
perusahaan tidak akan bertahan lama. Dari berbagai kasus
bisnis banyak unit usaha atau perusahaan yang pontang
panting mencari ide sekreatif mungkin untuk keluar dari
kesulitan dan menghadapi kondisi yang akan terjadi dalam
keadaan apapun. Tidak hanya itu, kerap alasan persaingan
juga membuat perusahaan atau unit usaha didorong untuk
bisa jeli dalam mengamati adanya peluang pasar. sebagai
ujung tombak, pemasaran sangat berperan penting bagi
suatu unit usaha atau perusahaan. Karena apa yang
dihasilkan oleh suatu unit usaha atau perusahaan tersebut
baik itu produk dan jasa yang dihasilkan dibutuhkan suatu
agenda pemasaran. Dengan demikian Tidak mungkin bagi
suatu unit usaha atau perusahaan tidak membutuhkan
pemasaran apalagi strategi pemasaran terutama jika
memandang pada perkembangan ini, banyak perusahaan
baru yang muncul dalam dunia bisnis yang saling
berkompetisi untuk memenuhi kebutuhan konsumen dalam
pasar masing-masing. Berdasarkan dari hal itu, membuat
keberhasilan perusahaan atau unit usaha ditentukan oleh
kemampuan mereka untuk menawarkan produk atau jasa
yang dipakai oleh konsumen, sehingga titik keberhasilan
usaha diarahkan pada pemuasan kebutuhan dan keinginan
konsumen, untuk itu perusahaan butuh mengenali
konsumen dengan sebaik mungkin sehingga hal Inilah yang
menjadi modal bagi Kelangsungan hidup usaha di masa
mendatang.
Dari uraian di atas sudah menggambarkan kedudukan
dan peran dari strategi pemasaran dalam suatu bisnis. Dengan
17
demikian dapat dirumuskan beberapa elemen penting Dalam
perumusan strategi pemasaran. Elemen-elemen penting dalam
strategi pemasaran adalah sebagai berikut:
Gambar 1.7 Elemen Pokok Strategis Marketing
Sumber: Sasongko, 2019
1. Produk, titik awal dari seluruh rangkaian aktivitas bisnis
adalah produk. Dalam level operasinnal, produk sering
ditempatkan sebagai basis penawaran dalam pasar. Dalam
perumusan konsep, konteks dan arah konsern-nya produk
harus benar-benar menjawab kebutuhan konsumen. Jika
konsumen tidak menemukan preferensi dan urgensi
membeli produk, maka produk kita dapat disebut gagal
membaca pasar. Oleh karena itu, dalam strategi pemasaran,
riset produk adalah hal yang sangat esensial bahkan dapat
dipandang krusial.
2. Pesan (Message), dalam pengertian pesan disini adalah suatu
ungkapan kongkret atas produk. Hal ini menyangkut
bagaimana sebuah produk dinarasikan dapat menjadi faktor
penentu awal Dalam membangun Kepercayaan
18
pasar/konsumen (trust). Hal ini menjadi penting Ketika para
marketer ingin menemukan faktor yang pokok yang menjadi
Kebutuhan dan Keinginan Konsumen (needs & wants) hingga
membangun hasrat untuk pengambilan keputusan untuk
membeli. Oleh karena itu, kita tidak bisa sembarangan
melempar produk ke pasar tanpa membuat pesan produk
yang menyentuh Konsumen.
3. Konsumen (Customer) atau pelanggan, banyak pihak yang
mengatakan bahwa konsumen/pelanggan itu adalah “raja”.
Namun Dalam tinjauan teori marketing modern, lebih tepat
dikatakan bahwa konsumen/pelanggan itu adalah “mitra
strategis “. Apapun bisnis kita jika tidak memiliki konsumen
atau ditinggal konsumen maka hampir dipastikan bahwa
bisnis kita menuju hancur. Pelanggan berasal dari target
pasar yang kemudian membeli atau loyal kepada brand kita.
Dalam penentuan target pasar, telah diketahui bagaimana
karakteristik target pasar tersebut sehingga dapat
diharapkan bahwa pemahaman kita terhadap pelanggan
akan menjadi lebih baik.
4. Promosi, dalam menjalan usaha dan upaya memperkenalkan
produk kepada konsumen maka dibutuhkan suatu
perantara. Perantara dimaksud adalah media yang
digunakan Dalam rangka menyampaikan pesan Bisnis
kepada Konsumen. Media yang satu ini juga tidak kalah
penting mengingat dari sinilah konsumen mengenali hingga
melakukan konversi terhadap produk yang ditawarkan.
Melalui promosi, perusahaan berbicara dan menawarkan
nilai produknya, lalu konsumen dapat menilai apakah
produk tersebut cukup menarik atau tidak. Saat ini media
yang paling popular digunakan oleh perusahaan dan
digunakan juga oleh Konsumen adalah media Berbasis
digital. Oleh karenanya siapapun pelaku bisnisnys,
penguasaan media digital di era 5.0 society adalah menjadi
keharusan.
5. Teamwork, dalam banyak kasus bisnis kerap terjadi
kegagalan strategi marketing karena terlalu seringnya terjadi
19
personel replacement atau bertukar gonta-ganti tim marketing.
Dalam berbagai analisis ditengarai bahwa terlalu seringnya
turn-over tim justru membuat keseimbangan kerja dalam
mengimplementasikan rencana kerja strategis (strategic action
plan) menjadi berantakan. Pada akhirnya pada saat tutup
tahun anggaran marketing dan dilakukan evaluasi kinerja
tahunan, hasil capaian marketing tidak pernah maksimal.
Banyak manager dan pengambil keputusan bidang
marketing yang menyadari bahwa ujung tombak dari
seluruh rancangan strategi pemasaran yang dibuat adalah
tim marketing. Tim ini menentukan bagaimana cara sebuah
brand diposisikan di mata konsumen. Maka penting bagi
perusahaan untuk menaruh perhatian khusus terhadap tim
marketing mulai dari kecakapan dalam bekerja (skill),
pelatihan (training) yang memadai dan berkelanjutan hingga
kompensasi (competence) yang menyesuaikan dengan beban
kerja atau target yang diberikan. Pada beberapa perusahaan
yang sudah stabil kinerja marketingnya, salah satu tolok ukur
keberhasilan strategi marketing adalah dengan melihat
tingginya loyalitas teamwork serta indeks pencapaian kinerja
personal pemasaran yang baik.
Dari uraian-uraian sebelumnya kita sudah mendapatkan
gambaran tentang manfaat dari implementasi strategi
Pemasaran (marketing strategy), elemen penting pembentuk
strategi pemasaran. Dari banyak kasus bisnis terutama yang
menyoroti tentang keberhasilan atau ketidak berhasilan strategi
pemasaran suatu produk/bisnis adalah kerap terjadi tidak
sinkron antara visi dan misi perusahaan terhadap rancangan
strategi pemasaran yang dirumuskan oleh para manager. Hal
lain yang kerap terjadi adalah banyak manager/pengambil
keputusan merumuskan dan merancang strategi marketing
secara sepihak dan hanya berdasarkan common-sense atau
berdasarkan intuisi pemikiran sewajarnya. Pesan moral yang
perlu dipahami oleh para manager dan pengambil keputusan
bidang marketing adalah bahwa perumusan dan perancangan
strategi pemasarn (marketing strategy) haruslah melibatkan
20
semua pihak atau stakeholder pada bidang marketing.
Perumusan strategi Pemasaran juga sebaiknya
mempertimbangkan kondisi dan situasi lingkungan Pemasaran
(market environment) dengan demikian semakin banyak
brainstorming yang dilakukan maka akan semakin kecil beban
ketidak berhasilan sekurang-kurangnya beban mental yang
harus ditanggunga akan lebih ringan. Secara sederhana alur
langkah perumusan strategi pemasaran dapat dilihat pada
uraian berikut:
Gambar 1.8 Model Alur Perumusan Strategi Marketing
Sumber: Sasongko, 2019
1. Mengenal target pasar, apapun produk dan bisnisnya hal
pertama yang penting dan harus dilakukan adalah
memastikan bahwa kita telah Mengenal dengan baik target
pasar yang akan dituju. Rangkuman pemahaman ini boleh
jadi dari hasil riset, survey ataupun model pendekatam
(approach) lainnya. Hal ini akan mengantarkan kita pada
kesesuaian antara apa yang dimiliki oleh produsen dan apa
yang dibutuhkan oleh konsumen. Setelah mengenali ragam
target pasar potensial, dipilihlah satu segmen yang paling
sesuai dan dari situlah kita kemudian mempelajari
karakteristik konsumen. Sebagai salah satu bentuk
implementasinya: para marketer dapat menyesuaikan
bagaimana cara berkomunikasi terhadap perempuan berusia
20 tahun ke atas dengan perempuan berusia 12 tahun dan
21
seperti apa metode dan pola pendekatannya. Hal apa yang
mereka butuhkan juga, seperti apa karakternya dan apa yang
menjadi hobi dominan pada entitas tersebut.
2. Rencanakan tujuan pemasaran. Dalam memasuki suatu
pasar, tentu sebuah produk akan berawal dari tidak dikenal
sama sekali hingga dapat menjadi produk dengan penjualan
tinggi. Oleh karenanya pendekatan khusus diperlukan atau
dikenal dengan brand awareness, conversion, dan peningkatan
revenue. Berawal dari peningkatan brand awareness,
perusahaan harus mampu memperkenalkan produk serta
merek produk yang masih baru. Pengenalan ini tentu
menjadi langkah penting sebab konsumen tidak akan merasa
dekat dengan produk tidak ia kenali sama sekali. Setelah
brand cukup dikenal oleh konsumen, maka perusahaan
harus mempunyai langkah lanjutan berupa conversion.
Conversion atau konversi ini secara garis besar adalah
tindakan ketika konsumen membeli produk yang
ditawarkan. Meskipun begitu, konversi sebetulnya memiliki
arti lebih luas, termasuk juga di dalamnya adalah membuat
konsumen menjadi pengikut di sosial media, melakukan
submisi email (untuk selanjutnya mendapatkan penawaran
produk) dan lain sebagainya. Hal terakhir yang dilakukan
oleh konsumen adalah melakukan pembelian. Setelah
mengenali dengan baik suatu produk dan mengikuti akun
sosial media produk tersebut, konsumen akan lebih tergiur
melakukan check out produk.
3. Rumusan bauran pemasaran (Marketing Mix), bauran
pemasaran (marketing mix) yang pada pokoknya meliputi 4 P
yaitu: product, price, place dan promotion bukanlah template
keramat dalam bidang marketing. Dari keempat hal tersebut,
dilakukanlah upaya pemaksimalan strategi pemasaran
produk oleh perusahaan. Produk adalah apa yang kita
tawarkan kepada pasar. Maka kualitas serta keunikan
produk adalah dua hal yang pasti diperhatikan oleh
konsumen. Produk juga adalah sesuatu yang dilihat
konsumen dari sebuah brand, tidak peduli seberapa bagus
22
suatu brand jika produk brand tersebut tidak dapat
memenuhi keinginan konsumen, maka konsumen tidak akan
melakukan konversi. Masih berkaitan dengan produk, harga
produk adalah determinan penting dalam pengambilan
keputusan. Kita dapat merencanakan harga sesuai dengan
target pasar yang kita miliki. Sebab kemampuan bayar
masing-masing jenis pasar tentu akan berbeda. Hal ini terus
berlangsung meskipun telah terjadi transformasi marketing
mix dari “4P” menjadi “7P” atau dari yang Berbasis “P”
menjadi Berbasis “C”, disinilah fleksibilitas kebijakan
strategis yang ditetapkan akan menjawab kesiapan
perusahaan dalam menghadapinya.
4. Bauran promosi (Promotion mix) dan Iklan, Berkaitan
dengan jenis strategi pemasaran, terdapat beberapa cara
bagaimana sebuah perusahaan menyajikan produknya di
pasar. Dalam banyak kasus bisnis kerap terjadi kesalahan
pemahaman, dimana banyak manager/pengambil
keputusan yang menterjemahkan promosi hanya sebatas
iklan (advertisement) saja. Namun lebih dari itu bauran
promosi terdiri dari beberapa pokok Aktivitas strategis,
yaitu: Advertisement (iklan), Sponsorship, Sales Promotion,
Personal selling, bahkan kadangkala implementasi bauran
promosi didukung dengan kekuatan hubungan publik
(Public relation-PR). Dalam level operational dan praktisnya,
implementasi bauran promosi lebih diarahkan kepada
konsep promosi yang lebih kontemporer yaitu dengan
menyesuaikan dengan perubahan dan kecenderungan pasar
(trend) hingga dengan menggunakan pendekatan teknologi
digital. Pertama, perusahaan dapat mempromosikan produk
dengan cara organik. Cara ini bisa dilakukan dengan
membuat blog perusahaan yang secara kontinyu
memberikan informasi bermanfaat bagi konsumen.
Meskipun tidak langsung menghasilkan konversi, tetapi
metode ini dapat mendekatkan konsumen kepada brand.
Tidak sampai di situ, brand juga dapat memberikan informasi
atau pengetahuan kepada konsumen melalui sosial media
23
resmi. Soft selling seperti ini mampu mempertahankan
konsumen lama untuk tetap mengingat brand yang pernah
berinteraksi dengannya. Cara kedua adalah dengan
memanfaatkan optimasi internet melalui iklan berbayar.
Terdapat banyak sekali pilihan paid ad seperti Facebook Ads,
Instagram Ads, Tiktok Ads. Pemilihan platform ini juga
disesuaikan dengan target pasar yang diinginkan. Sebagai
contoh, jika ingin menyasar remaja berusia 16-24 tahun, maka
Tiktok Ads dapat menjadi pertimbangan sebab 41%
penggunanya berasal dari rentang usia tersebut.
5. Meningkatkan brand awareness. Maksud dari peningkatan
brand awareness adalah upaya peningkatan indeks seberapa
baik konsumen mengenali suatu produk dari namanya.
Sebagai contoh: untuk produk fashion, cluster sepatu. Kita
tentu tahu suatu merk sepatu “Nike”. Ketika melihat tanda
serupa dengan centang berwarna putih dengan warna dasar
hitam. Contoh lain: kita lihat “Sportify”, pada saat kita
membayangkan spotify saat melihat tanda seperempat
lingkaran hijau yang bertumpuk tiga. Contoh lain lagi, saat
kita membayangkan suatu persegi dengan warna dasar
merah dan di Dalamnya terdapat kepala anak panah
(segitiga) mengarah ke kanan dengan warna putih., saat itu
kita dapat membayangkan dan mengenal bahwa itu adalah
tanda merk YouTube. Keberhasilan strategi pemasaran dalam
hal branding adalah jika masyarakat mampu merekam nama
serta logo merk serta mampu mengenalnya dengan bentuk
varian apapun dan dapat mengasosiasikan dengan core
business perusahaan.
6. Persiapkan tools marketing dan gimmick. Konsumen akan
membeli produk dari brand yang memiliki interaksi
terbanyak dengannya. Saat ini bentuk dan metode interaksi
sudah semakin berkembang, mulai dari interaksi langsung
(interface) maupun melalui media. Salah satu interaksi yang
menggunakan media tersebut dapat melalui artikel blog,
sosial media. Dibalik gencarnya interaksi tersebut, konsumen
akan lebih mudah diyakinkan dengan seperangkat media
24
gerak ataupun asesori sebagai simbolis serangkaian aktivasi
pemasaran umumnya dengan menggunakan alat peraga
pemasaran (tools marketing). Banyak ragam dan bentuk yang
dapat digunakan pada saat para marketer melakukan
aktivasi marketing, seperti: brosur/flyer, souvenir, paket
sampel produk gratis atau bahkan merchant sebagai produk
pengganti diskon atau cashback. Kendatipun banyak pihak
yang mengatakan bahwa pemanfaatan tools marketing
adalah cara lama (konvensional) namun pada praktik
marketing modern praktik ini sah-sah saja dilakukan bahkan
ini adalah salah satu penarik dan penyebab timbulnya minat
dan hasrat untuk membeli. Dengan pendekatan seperti ini,
konversi akan lebih mudah terjadi sebab ada kedekatan
antara brand dengan konsumen. Selain alasan tersebut,
konsumen yang pada waktu singkat telah menikmati fitur
produk tersebut secara gratis akan merasa kehilangan ketika
produk atau akun trial mereka habis.
7. Optimalisasi digital marketing, Sebanyak 30% dari
konsumen yang berlalu-lalang di internet. Dan dari
keseluruhan responden tersebut 70%-nya mengakses
informasi bisnis dengan menggunakan smartphone/ponsel.
Sehingga penting untuk kita menyasar jenis konsumen
potensial ini. Optimalisasi marketing dengan memanfaatkan
sarana dan falitisa pada teknologi digital (digital marketing)
saat ini sudah menjadi keharusan bisnis, apakah
pemanfaatan dilakukan secara dominan ataupun parsial itu
adalah option bagi perusahaan. Upaya tersebut dapat
dilakukan dengan cara membuat situs web yang mobile
friendly. Dari sini diharapkan konsumen akan betah berlama-
lama berada pada situs web kita dan memungkinkan
terjadinya konversi. (Note: lebih lanjut tentang pembahasan
marketing digital, dapat dibaca pada buku “Bisnis Digital” dan
“Digital Marketing-Suatu Konsep dan Pemahaman”)
8. Audit marketing. Selama ini kegiatan audit sangat akrab
pada aktivitas operasional keuangan dan operasional.
Namun pada kegiatan marketing audit juga sebagai kegiatan
25
yang penting untuk dilakukan. Pada banyak kasus bisnis,
banyak manager/pengambil keputusan bidang marketing
yang abai dengan hal yang satu ini. Dengan abainya atas
aktivitas audit marketing tanpa disadari bahwa marketing
dengan serangkaian aktivitas di dalamnya serta hasil yang
didapatkan akan memiliki pengaruh terhadap kinerja pada
bidang lainnya dan tentunya berdampak kepada
kelangsungan usaha. Kegiatan audit marketing pada
dasarnya melakukan cross-check atas pola pengelolaan
(manajemen) atas aktivitas marketing berdasarkan
kesesuaian (conformity) atas visi/misi perusahaan, rumusan
goal setting, perencanaan langkah strategis (Strategic action
plans), hasil capaian (achievement) dan anggaran (budget)
terpakai. Banyak pendekatan yang dapat dijadikan pedoman
dalam melakukan audit marketing, perusahaan dapat
menggunakan pendekatan ketercapaian target aktivitas
(Management By Activity-MBA) dimana ketercapaian diukur
dari pelaksanaan Aktivitas yang sesuai dengan goal setting
dan strategic action plans dimana management berpedoman
atas paradigma hasil yang baik akan dicapai dari proses yang
benar. Pendekatan lain yang dapat dilakukan adalah dengan
pendekatan hasil atau tujuan (Management by Objective-MBO)
dimana ketercapaian diukur berdasarkan hasil capaian yang
disesuaikan dengan target yang ditetapkan pada goal setting
dan tanpa memperhitungkan terlalu detail proses aktivitas
pencapaian. Dalam hal ini para manajer menetapkan
pedoman ukuran ketercapaian kinerja dominan ditempatkan
berdasarkan hasil capaian/objective, sedangkan aspek kinerja
lainnya bersifat sub-low. Apapun metode dan pola
Pendekatan yang dilakukan itu adalah pilihan (option). Yang
perlu dicermati bagi para manajer dan pengambil keputusan
adalah jangan abai dengan audit marketing dan semestinya
kegiatan ini dijadikan agenda tetap Secara berkala dalam
kurun triwulan, semester dan tahunan. (Note: lebih lanjut
tentang pembahasan audit marketing, dapat dibaca pada buku
“Pengukuran Indikator Pokok Marketing”)
26
BAB LINGKUNGAN
PEMASARAN
2 STRATEGIS
Lingkungan adalah kondisi di sekitar yang memiliki
keunikan, perbedaan, karakteristik, potensi, ancaman, dan manfaat
yang berbeda-beda, dimana kondisi tersebut akan melahirkan
timbal balik yang sesuai dengan apa yang terjadi. Sedangkan
pemasaran adalah suatu aktivitas yang dilakukan untuk memenuhi
keinginan dan juga kebutuhan dengan adanya proses pertukaran.
Faktor yang terpenting dalam konsep ilmu pemasaran adalah
permintaan, keinginan, produk, kebutuhan, transaksi, pertukaran,
dan pasar. Lingkungan dapat dipandang sebagai sentral untuk
memaksimalkan suatu aktivitas. Dari lingkungan inilah yang akan
mebentuk dua faktor penting dalam bisnis yaitu faktor internal
(internal factor) dan faktor eksternal (external factor), dimana kedua
faktur tersebut secara simultan akan saling mempengaruhi profil
market pada suatu bisnis (Sasongko:2019). Kondisi suatu
lingkungan akan menjadi parameter dalam sebuah keadaan lain
untuk bisa disesuaikan dengan kondisi yang sudah diharapkan,
sehingga potensi yang sudah ada bisa dimaksimalkan dan diserap
untuk memenuhi tujuan tertentu.
Dari banyaknya pendapat para ahli atas pemasaran baik
secara fungsi maupun proses, maka dapat dikatakan bahwa
pemasaran adalah kombinasi kegiatan yang saling berkaitan guna
mendapatkan informasi perihal kebutuhan konsumen dengan
adanya penciptaan, pertukaran, dan penawaran produk ataupun
jasa yang memiliki nilai serta untuk mengembangkan kegiatan
promosi, pelayanan, penyaluran, hingga keperluan konsumen bisa
27
terpenuhi dengan baik pada suatu keuntungan tertentu. Sedangkan
lingkungan dan pemasaran adalah dua hal yang saling
berhubungan. Kedua hal ini akan terintegrasi dengan tujuan yang
sudah ditetapkan sebelumnya oleh kelompok atau individu. Atas
dasar penddekatan tersebut dapat dikatakan pengertian dari
lingkungan pemasaran adalah para pelaku dan berbagai kekuatan
yang berada diluar pemasaran yang mampu mempengaruhi
kemampuan usaha atas suatu perusahaan dalam meraih tujuannya.
A. Lingkungan Pemasaran Internal (Internal Marketing
Environment)
Faktor lingkungan pemasaran internal (Internal marketing
environment factor) adalah seluruh kegiatan internal perusahaan
yang bisa dikontrol untuk meraih tujuan dan menjalankan
strategi pemasaran. Perusahaan sebagai penyedia produk
tentnya telah merumuskan berdasarkan aspek pokok yaitu:
konsep produk (concept), konteks penciptaan produk (context)
dan konsentrasi perumusan sasaran produk (concern). Secara
simultan ketiga aspek ini memformat wujud produk sehingga
pada saat diluncurkan ke pasar (launching), secara alamiah akan
membentuk trust dan image pelanggan atas produk. Disinilah
peran dari pemasar, dimana para pemasar akan melakukan
pengendalian penuh atas berbagai kegiatan tersebut.
Keberhasilan kegiatan tersebut tidak lepas dari peran
lingkungan internal perusahaan. Faktor lingkungan internal
memiliki sifat yang lebih universal dan mencakup seluruh
fungsi yang dilakukan dalam setiap kegiatan bisnis.
28
Gambar 2.1 Hubungan 3C Dalam Lingkungan Internal Pemasaran
Sumber: Sasongko, 2018
Dalam lingkungan pemasaran internal (Internal marketing
environment factor) Terdapat 3 aspek fungsi pemasaran dan non
pemasaran dalam pemahaman lingkungan internal, yaitu:
1. Aspek kekuatan Bisnis organisasi. Kekuatan dimaksud
berupa kemampuan organisasi/perusahaan dalam
menyikapi perubahan maupun ekses dari interaksi
organisasi/perusahaan baik yang terjadi perusahaan dengan
konsumen, perusahaan dengan kompetitor bahkan ketia
menyikapi ekses interaksi antara kompetitor dengan
Konsumen yang di dalamnya mencakup kekayaan,
kemampuan, dan juga posisi pasar.
2. Aspek Sumber Daya Manusia adalah pondasi kekuatan
perusahaan, namun bisa juga menjadi ancaman perusahaan
jika tidak mampu dikelola dengan baik. Banyak kasus binis
yang menggambarkan keruntuhan usaha dan jatuhnya
image perusahaan berawal dari kelalaian perusahaan dalam
membina SDM yang dimilikinya. Dalam praktik manajemen
modern, keberadaan SDM bukan hanya sebagai alat kerja
namun SDM dilibatkan sebagai mitra kerja. Pada lain hal
kasus pemasaran, acap kali dirasakan bahwa perusahaan
29
kerap mengalami turn-over SDM yang tinggi pada sektor
pemasaran dan penjualan dengan premis rendahnya
loyalitas SDM, namun jika dibalik dari premis dari perspektif
SDM justru perusahaan dianggap terlalu kaku, manajemen
perusahaan dianggap terlalu “pelit” sedangkan beban kerja
dan target kerja dirasakan terlalu berat oleh SDM. Oleh
karenanya dalam hal Merawat aspek SDM ini perusahaan
diharapkan tidak hanya menuntut target kerja yang hanya
mengikuti harapan dari perspektif perusahaan belaka namun
perusahaan juga diharapkan dapat memberikan
konsekwensi logis atas kebijakan dan penetapan beban kerja
hingga target kerja SDM. Perusahaan juga diharapkan
mampu memelihara dan membina SDM tidak hanya dari
aspek mental dan kejiwaan yang ujung-ujungnya
berorientasi kepada loyalitas SDM kepada perusahaan.
Dalam praktik manajemen di era 5.0 society justru perusahaan
diharapkan lebih “soft “dalam merumuskan kebijakan terkait
SDM, dimana pada era revolusi industri 4.O eksistensi SDM
di perusahaan justru semakin flaksibel dan bebas
berakselerasi dan menterjemahkan dan
mengimplementasikan seluruh kebijakan yang ditetapkan
oleh perusahaan.
3. Aspek Management Assets dan teknologi yang didalamnya
mencakup sistem organisasi, informasi dan berbagai teknik
operasional. Hal lain yang termasuk juga di dalamnya adalah
instrumen fisik dan non fisik yang dimiliki serta tuntunan
berupa petunjuk teknis (juknis) ataupun petujuk pelaksanaan
(juklak) yang mengatur operasionalisasinya. Pemanfaatan
asset fisik yang bijak dan penerapan sistem teknologi mampu
memberikan kekuatan yang kuat untuk perusahaan serta
memberikan benefit yang besar bagai kelangsungan hidup
perusahaan walaupun untk mengoptimalkan hal tersebut
perusahaan harus mengeluarkan biaya investasi yang tidak
sedikit. Saat ini diferensiasi produk sudah tidak lagi cukup
untuk menarik atau mempertahankan pelanggan karena
kemajuan teknologi telah mengakibatkan produk menjadi
30
hampir identik dengan sangat sedikit perbedaan nyata dari
yang lain dalam kategori yang sama. Akibatnya, pemasar
mulai menyadari pentingnya services differentiation sebagai
strategi berkelanjutan untuk bersaing dengan kompetitor
dalam merebut konsumen. Pada saat perusahaaan melalui
divisi marketing mulai menyadari betapa pentingnya aksi
pemasaran dengan berorientasi pada fokus kepada
pelanggan, keberadaan instrumen fisik dan teknologi
diharapkan mampu membangun kesan positif yang
menakjubkan bagi pelanggan sehingga nantinya akan
mendorong terbentuknya interest dan mendorong action to
transaction. Pemanfaatan instrumen fisik dan teknologi yang
mampu Membangun Kesan yang menakjubkan bagi
pelanggan sering juga disebut dengan moment of truth (MoT).
Moment of Truth ini diharapkan akan membentuk
bertemunya pelanggan dan organisasi saling berhubungan
dengan cara memberi pelanggan peluang untuk membentuk
atau mengubah kesan tentang perusahaan. Interaksi seperti
itu dapat terjadi melalui produk perusahaan, penawaran
layanannya atau keduanya. Pada era 5.0 soceity banyak
contoh dapat menjadi moment of truth seperti menyapa
Pelanggan yang dilayani oleh mesin bebasis kecerdasan
buatan (AI), menangani pertanyaan atau keluhan Pelanggan
dengan menggunakan fasilitas layanan chatbot,
mempromosikan penawaran khusus atau memberikan
diskon dan penutupan interaksi dimana seluruhnya dibuka
dengan tayangan filler dan di-drive dengan layanan aplikasi,
apalagi jika ditautkan dengan layanan big cloud dan big data.
Dengan demikian, keseluruhan proses layanan pemasaran
menggunakan pola end-to end by robotic.
B. Lingkungan Pemasaran Eksternal (External Marketing
Environment)
Lingkungan pasar eksternal adalah seluruh aktivitas
pemasaran yang dilakukan di luar kendali pihak pemasar.
Berbagai pengaruh tersebut akan memaksa para pemasar agar
31
mampu menyesuaikan arah dan juga strategi agar bisa terus
berjuang di tengah lingkungan yang tidak menentu. Lingkungan
external sendiri mempertemukan aspek needs & wants dari tiap
pelaku pasar utama, yaitu perusahaan (company), pesaing
(competitor) dan pelanggan (customer). Dimana ketiga pelaku ini
mempunyai kekuatan dan pengaruh hingga terbentuknya
interaksi pasar.
Gambar 2. 2 Hubungan 3 Pelaku Pasar
Sumber: Sasongko, 2018
Lingkungan pasar eksternal terbagi menjadi dua, yaitu
lingkungan pasar mikro dan makro.
1. Lingkungan Pemasaran Mikro. Lingkungan Mikro
Pemasaran merupakan pelaku yang dekat dengan
perusahaan dan memengaruhi kemampuan perusahaan
untuk melayani pelanggannya (Kotler:2008). Lingkungan
pemasaran mikro ini terbagi menjadi beberapa aspek
pendukung perusahaan, yaitu:
a. Aspek Penyedia atau supplier. Aspek ini adalah sesuatu
penghubung yang sangat dibutuhkan dalam seluruh
sistem pemberian nilai terhadap konsumen dan mampu
berkontribusi dalam hal sumber daya yang diperlukan
oleh perusahaan untuk memproduksi jasa ataupun
barang. Dalam banyak praktik markeing, supplier
berperan dengan membawa kekuatan penawaran
(bargaining power). Ketika Kekuatan penawaran yang
dibawa oleh supplier bertemu dengan kekuatan bisnis
yang dibawa oleh perusahaan, maka inilah yang
32
mendorong terciptanya gaya bisnis perusahaan (business
style). Dalam hal ini, pihak manajer perusahaan harus
mengamati kondisi pemasok dan memantau
perkembangan harganya. Jika dari kedua hal tersebut
terjadi ketidakseimbangan, maka bisa dipastikan akan
ada biaya tambahan dan akan berdampak pada
peningkatan harga untuk mencapai tujuan perusahaan.
b. Aspek Pemasaran. Pada aspek ini terdapat 3 karakteristik
pasar, yaitu: pertama adanya minat yang didorong
adanya kebutuhan ataupun keinginan atas suatu barang
dan jasa. Kedua tingkat kemampuan untuk membeli
karena memiliki benda yang bernilai seperti uang atau
sejenisnya untuk bisa ditukarkan dengan barang yang
sedang dibutuhkan. Ketiga adanya akses pembelian dan
kesedian untuk bisa melancarkan pertukaran tersebut.
Peran pemasaran ini memiliki peran strategis bagi bisnis,
dalam banyak kasus marketing peran ini disebut sebagai
center. Peran pasar pada level berikutnya adalah
munculnya perantara pasar yang turut membentuk
kekuatan bisnis (business strength) dan gaya bisnis
perusahaan (business style). Dalam hal ini, para perantara
perusahaan memiliki peran untuk membantu perusahaan
dalam mensosialisasikan dan juga menyalurkan produk
pada konsumen. Pihak perantara tersebut antara
lain reseller, agen pelayanan pemasaran, perusahaan
distributor, dsb. Saat ini model bisnis yang berperan
sebagai perantara bisnis telah mengoptimalkan fasilitas
kemudahan yang terintegrasi melalui teknologi informasi
telah memformat bentuk usaha sebagai digital marketplace.
Dalam hal ini perusahaan penyedia produk diharapkan
memperhatikan dan memberikan pelayanan terbaik
terhadap perantara yang menempatkan perannya sebagai
market place. Karena pihak ini lah yang berjasa pada rantai
jalur distribusi (supplay chain) mulai dari hal pengiriman,
penyimpanan, hingga door to door delivery dan berbagai
aktivitas lain yang mampu mempengaruhi kesuksesan
33
perusahaan, seperti kecepatan pengiriman, keamanan,
dan ongkos kirim.
c. Aspek Pelanggan (customer), pelanggan dapat diartikan
sebagai konsumen berbentuk individu atau
kelompokyang memiliki hasrat (desire) untuk memenuhi
kebutuhan dan keinginan (needs & wants) sesuai
kebutuhan. Dalam hal ini, pihak pemasar harus lebih jeli
dalam melihat reaksi konsumen atas adanya perubahan,
seperti perubahan harga atas suatu produk. Dalam hal ini,
pelanggan bisa berupa pasar produsen dan juga pasar
reseller yang membeli produk perusahaan untuk bisa
dijual kembali demi mendapatkan keuntungan.
Pelanggan juga dapat diartikan sebagai stakeholder yang
memiliki hak untuk mendapatkan layanan dan kepuasan
sebagai pelanggan. Selain itu, pelanggan juga bisa berupa
pemerintah atau pasar internasional (Gasperz: 2004).
d. Aspek pesaing (competitor). Dalam banyak kasus
marketing, kerap terjadi kesalahan penterjemahan atas
pesaing (competitor). Dalam pemikiran klasik, pesaing
sering diartikan sebagai “musuh” bagi bisnis yang
ditawarkan oleh perusahaan. Hal ini bahkan
memunculkan siuasi pasa yang tidak sehat dengan
adanya kecenderungan praktik bisnis ang saling
“mematikan”. Pada saat perusahaan mulai
bertransformasi dan merubah paradigma bisnisnya
dengan orientasi kepada pelanggan (customer focus), saat
itu disadari bahwa pesaing bukanlah musuh tetapi adalah
saudara bagi bisnis kita (sibling). Untuk itu para pemasar
(marketer) harus memperhatikan sifat persaingan yang
terjadi di pasar, yang mana perusahaan harus bersaing
dengan menggunakan strategi pemasaran yang “sehat”
sesuai dengan jenis dan sifat persaingan tersebut.
Persaingan yang sehat dimaksud adalah
mempertahankan konsep srategi yang berjalan dan terus
menerus menyesuaikan dengan perusahan di pasar
namun tetap memberikan kesempatan kepada pesaing
34
untuk tetap sama-sama tumbuh dan tetap eksis pada
sektor industri yang homogen.
e. Aspek Masyarakat (citizen). Yang dimaksud masyarakat
adalah kelompok apa saja yang berdampingan secara
aktual dengan perusahaan. Kelompok ini juga memiliki
potensial yang mampu mempengaruhi kemampuan
perusahaan dalam menjalankan dinamika usahanya. Pada
era 5. 0 society, dimana kelompok masyarakat mulai lebih
dominan berinteraksi melalui dunia maya maka
kelompok tersebut disebut sebagai netizen. Baik citizen
maupun netizen memiliki peran yang sama yaitu menjadi
penyeimbang dalam dinamika pasar sehingga peran
mereka pada pasar disebut juga sebagai chanel. Dalam
banyak kasus marketing, perusahaan mulai
memberdayakan kelompok ini diana peran dari
kelompok ini yang diharapkan dapat mendorong
terciptanya pasar yang baru (new market) baik yang
tercipta dari peningkatan sales volume maupun interaksi
citizen/netizen yang berasal dari pengembangan
kelompok komunal lainnya, seperti pemerintah,
masyarakat keuangan, gerakan warga lokal dan umum,
media, serta orang-orang dari internal perusahaan.
Kolaborasi aspek-aspek pada lingkungan mikro
pemasaran dan bertemunya dengan aspek pokok pembentuk
wujud produk (3C’s) pada faktor lingkungan internal
pemasaran, akan membentuk cara pandang perusahaan
dalam merumuskan konsep dasar strategi pemasaran yang
berbasis lingkungan. Lingkungan strategis ini nantinya akan
membentuk kekuatan dasar strategi pemasar yang terdiri
dari dua jenis keunggulan yaitu: keunggulan komparatif
(comparative advantage) dan keunggulan kompetitif
(competitive advantage). Keunggulan komparatif (comparative
advantage) dapat diartikan sebagai kelebihan atau kekuatan
yang belum tentu dimiliki dan tidak dapat dicontoh oleh
oraganisasi lain. Keunggulan ini dipengaruhi oleh tinggi
rendahnya kemahiran dan kehandalan tim kerja (labor
35
expertise) dan kehandalan sumber daya yang berbeda dan
tidak dimiliki oleh pihak lain sehingga kedua elemen ini
secara bersama-sama mewujudkan produk yang berbeda
(uniqueness). Sedangkan keunggulan kompetitif (competitive
advantage) lebih dominan kepada bergesernya pilihan
konsumen atau penguna jasa terhadap suatu produk tertentu
dari berbagai tawaran produk sejenis. Keunggulan ini
terbentuk atas keunggulan perusahaan dalam mengelola
biaya secara cermat hingga membentuk harga yang unggul
(cost leadership), adanya faktor pembeda walaupun memiliki
homogenitas dalam satu sektor industri (differenciacy), dan
keseriusan untuk lebih fokus pada konsentrasi pasa tertentu
(focus).
Gambar 2. 3 Elaborasi Aspek Pokok Produk Dan Aspek
Lingkungan Mikro Pemasaran
Sumber: Wijaya.B, 2005
36
Gambar 2. 4 Keunggulan Pada Lingkungan Strategis
Sumber: Sasongko, 2018
Selanjutnya untuk memahami lebih lanjut tentang
lingkungan pemasaran mikro, dapat mencermati tayangan
berikut melalui link: https://tinyurl.com/4r37wmb6 atau
dapat mengakses dengan cara memindai/scan QR code
berikut ini:
2. Lingkungan Pemasaran Makro. Maksud dari lingkungan
makro adalah kekuatan masyarakat yang lebih luas dan
mampu mempengaruhi lingkungan mikro pemasaran atas
suatu perusahaan yang memiliki pengaruh terhadap
37
pemasar secara tidak langsung. Lingkungan Makro
pemasaran merupakan kekuatan sosial yang lebih besar yang
memengaruhi lingkungan mikro pemasaran (Kotler: 2008).
Lingkungan makro pemasaran terdiri dari: Lingkungan
demografis, ekonomi, alam, teknologi, politik, dan budaya.
a. Lingkungan demografi. Pada dasarnya lingkungan
demografi adalah kajian tentang populasi manusia yang
dinilai berdasarkan lokasi, umur, pekerjaan, kepadatan,
jenis kelamin, dan berbagai statistik lainnya. Demografi
adalah salah satu faktor yang berpengaruh besar atas
kegiatan pemasaran, karena kegiatan pemasaran selalu
melibatkan masyarakat, dan dari sanalah akan
membentuk pasar dengan syarat memiliki uang dan
keinginan untuk membelanjakan uang tersebut. Untuk
itu, seorang pemasar harus aktif dalam memonitor
perkembangan demografi.
b. Lingkungan ekonomi. Lingkungan ini akan
mempengaruhi faktor daya beli dan pola pembelanjaan
dari konsumen. Daya beli konsumen berpatokan pada
pendapatan, harga, tabungan, dan kredit pada waktu
yang saat itu sedang terjadi. Pihak pemasar harus
memahami kecenderungan utama dalam hal pendapatan
masyarakat, dan harus sadar adanya pola pembelanjaan
yang berubah-ubah tersebut.
c. Lingkungan sosial budaya. Lingkungan ini terdiri dari
lembaga dan kekuatan lain yang mampu mempengaruhi
nilai dasar, persepsi, preferensi, dan perilaku masyarakat
setempat. Perkembangan masyarakat sudah pasti akan
diikuti oleh adanya perkembangan nilai dasar dari
masyarakat tersebut, dan biasanya nilai sosial dalam
sebuah budaya akan sulit untuk diubah. Meskipun
demikian, bukan berarti tidak bisa sama sekali untuk
diubah, pihak pemasar hanya perlu mengukur perubahan
yang ada hingga mampu membuat dan menyediakan
produk yang sesuai dan sedang populer dalam
masyarakat tersebut. Kadang kala faktor sosial budaya di
38
dalam masyarakat sering dikaitkan dengan nilai (value)
terutama terhadap hal yang bersifat rasa bangga atas adat
dan budaya yang dianut hingga kepatuhan atas petuah
leluhur yang sudah menjadi tradisi secara turun temurun
atau karena adnya rasa persatuan yang kuat antar sesama
penganut adat istiadat dan budaya.
d. Lingkungan teknologi. Lingkungan ini terdiri dari
berbagai kekuatan yang mempengaruhi teknologi terkini
dan menjadi katalisator dalam penciptaan produk dan
berbagai peluang pasar baru. Dalam lingkungan ini, pihak
pemasar harus memperhatikan berbagai kecenderungan
teknologi, yaitu perkembangan teknologi, Platform
teknologi yang adaptable dan menyesuaikan karakteristik
masyarakat dan pelanggan saat ini. Pada era 5.0 society,
masyarakat umumnya lebih dominan berinteraksi melalui
media digital. Oleh karenanya issue teknologi saat ini lebih
diorientasikan kepada pemanafaatan teknologi lebih
dominan kepada pemanfaatan e-cloud dan big data, para
pemasar perlu mempertimbangkan jenis dan platform
teknologi dan mampu menyelaraskan pemanfaatan
fasilitas teknologi tersebut. Beralihnya pola pikir dan
karakter masyarakat pada era ini secara langsung telah
membawa banyak berbagai peluang yang tidak terbatas,
namun salah satu tantangan dalam penerapan teknologi
saat ini adalah tingginya anggaran litbang, serta
bergesernya tata cara dan norma peraturan yang berlaku
di berbagai negara.
e. Lingkungan politik. Issue politik pada umumnya terdiri
atas undang-undang, instansi pemerintah, kelompok
penekan yang berpengaruh, dan batasan pribadi atau
organisasi dalam suatu masyarakat. Beberapa
kecenderungan utama politik yang mampu
mempengaruhi manajemen pemasaran adalah undang-
undang yang mengatur pemerintah, adanya perubahan
dalam pelaksanaan undang-undang, serta perkembangan
kelompok pembela publik. Disamping itu stabilitas politik
39
dalam negeri pada suatu negara turut memberikan
implikasi terhadap iklim usaha, hal ini tentunya turut
menjadi perhatian para pemasar ketika berhadapan
dengan situasi yang demikian.
Aspek-aspek yang yang menjadi bagian dari
lingkungan pemasaran makro dan lingkungan pemasaran
mikro secara simultan akan mendorong perusahaan untuk
merumuskan strategi pemasaran secara terpadu (integrated
marketing strategy) diawali dengan mengidentifikasi daya
tarik pasar (market attractiveness) dan kekuatan bisnisnya
(business strength) melalui analisis situasi pasar. Selanjutnya
perusahaan merumuskan apa yang menjadi target market
nya melalui analisis segmenting, targeting & positioning (STP)
dan diperkuat dengan analisis strategi pada bauran
pemasaran (strategic analysis on marketing mix).
Gambar 2. 5 Bagan Alur Perumusan Strategi Pemasaran Berdasarkan
Lingkungan
Sumber: Wijaya.B, 2005
Selanjutnya untuk memahami lebih lanjut tentang
lingkungan pemasaran, dapat mencermati tayangan berikut
melalui link: https://tinyurl.com/3w8vx7wn atau dapat
mengakses dengan cara memindai/scan QR code berikut ini:
40
C. Kedudukan Lingkungan Pemasaran
Dari pemaparan sebelumnya dapat pahami bahwa setiap
organisasi/perusahaan adalah bagian dari lingkungan bisnis, di
mana ia beroperasi. Tidak ada entitas yang dapat berfungsi
secara terpisah karena ada banyak faktor yang secara dekat atau
jauh mengelilingi bisnis, yang dikenal sebagai lingkungan bisnis.
Pada lingkungan mikro memengaruhi kerja suatu bisnis saja,
yang terkait dengan internal perusahaan. Dengan kata lain,
lingkungan ini mengacu pada lingkungan yang bersentuhan
langsung dengan organisasi bisnis dan dapat mempengaruhi
kegiatan rutin bisnis secara langsung hal ini terkait dengan area
kecil di mana fungsi perusahaan. Sedangkan pada lingkungan
makro lebih cenderung memengaruhi fungsi semua entitas
bisnis, yang beroperasi dalam ekonomi. Lingkungan umum
dalam ekonomi yang memengaruhi kerja, kinerja, pengambilan
keputusan, dan strategi semua kelompok bisnis pada saat yang
sama. Ini merupakan kekuatan-kekuatan luar yang tidak berada
di bawah kendali perusahaan tetapi memiliki dampak yang kuat
pada fungsi perusahaan. Ini terdiri dari individu, kelompok,
organisasi, agen, dan lainnya yang berhubungan dengan
perusahaan selama bisnisnya.
Banyak manajer pemasaran kerap salah menempatkan
pola strategi pemasaran karena kurang jeli dalam
mengidentifikasi elemen yang ada pada lingkungan pemasaran.
Peran manajemen tingkat atas adalah menetapkan misi
perusahaan, tujuan, strategi secara luas dan kebijakan-kebijakan
41
perusahaan. Manajer pemasaran membuat keputusan
berdasarkan rencana yang dibuat manajer tingkat atas dan
rencana pemasaran harus disetujui oleh manajemen tingkat atas
sebelum diimplementasikan. Manajer pemasaran juga harus
bekerja dengan departemen/bagian lain dalam perusahaan.
Secara bersama-sama dengan seluruh departemen/bagian ini
memiliki pengaruh pada rencana dan tindakan bagian
pemasaran. Dibawah konsep pemasaran seluruh fungsi harus
bekerja dalam suatu harmoni untuk memberikan nilai dan
kepuasaan pada konsumen/pelanggan.
Menurut Sasongko (2018), kedudukan lingkungan mikro
dan lingkungan makro pada pasar dibedakan berdasarkan
prinsip, perbedaan atas elemen pembentuk dan perbedaan atas
sifatnya. Dari perbedaan kedudukan tersebut, diharapkan para
manajer pemasaran maupun pelaku bisnis dapat mencermati
posisi dan kedudukan produk berdasarkan kedudukan
lingkungan. Berikut ini adalah posisi perbandingan penempatan
posisi pada lingkungan mikro dan lingkungan makro:
42