satu atau kombinasi dari bauran pemasaran, yakni; price,
product, distribution, dan promotion. Di sisi lain, para manajer
dan marketer disarankan untuk terus berfikir untuk
mengantisipasi apa yang harus dilakukan jika perusahaan
‘terpaksa’ memasuki tahap decline.
4. Strategi Pada Tahap penurunan (Decline)
Pada umumnya, tahap decline sering dianggap sebagai
Tahap yang menakutkan bagi para pebisnis/ manager dan
para marketer. Hal ini sering didominasi oleh ketidak siapan
mental dan emosi para pebisnis/ manager dan marketer
untuk menghadapi Kondisi ini. Banyak hal yang menghantui
para pebisnis/manager, marketer serta para pengambil
keputusan di bidang marketing, diantaranya adalah:
ketakutan atas macetnya hampir seluruh aspek operasional
usaha, kecemasan mendapati berkurang dan hilangnya
konsumen, ketakutan atas merosotnya penjualan (sales),
kekhawatiran atas berkurangnya dengan drastis revenue
perusahaan, terdegradasinya profitabilitas perusahaan, dan
bayang-bayang menurunnya kemampuan (capability)
perusahaan Dalam menanggung seluruh beban usaha. Tidak
heran jika kondisi mental ini sering menjadi bayangan
kehancuran atau kebangkrutan suatu usaha.
Untuk mengantisipasi terjadinya ketakutan-ketakutan
yang demikian, maka seluruh elemen perusahaan
berkolaborasi Dalam upaya merevitalisasi konsep produk
yang lama, kembali berimprovisasi sehingga melahirkan
konsep produk yang baru dan dapat dilahirkan kembali dan
diremajakan agar dapat dilempar kembali di pasar. Untuk itu
manajemen perlu melakukan beberapa alternatif strategi
untuk mendorong upaya peremajaan kembali produk
tersebut, yaitu;
a. Memperbaharui fungsi barang.
b. Melakukan efisiensi dengan melakukan perbaikan
pemasaran dan program produksi.
c. Memodifikasi ukuran produk, warna, bentuk, serta model
agar menarik perhatian.
193
d. Menghilangkan sebagian jenis barang dan mulai fokus
pada barang yang dianggab memiliki potensi paling besar
di antara barang-barang lainnya, core business.
e. Menambah inestasi untuk memperkuat posisi kompetitif
perusahaan
f. Mencari pasar baru.
g. Atau menghentikan produksi jenis barang tertentu yang
dianggap potensial meningkatkan biaya dan potensi laba
yang rendah.
Dalam menerapkan strategi berbadasrkan siklus hidup
produk (product life cycle), perusahaan dituntut untuk paham
dan menguasai karakteristik produk pada setiap Tahap.
Disamping itu perusahaan juga harus paham karakteristik
dasar pasar Ketika merespon produk di setiap tahapnya.
Untuk membantu para manager dan marketer atas
karakteristik produk dan pasar di tiap tahap, berikut adalah
tebaran karakteristik yang tertuang pada table berikut:
Tabel 7.1 Tebaran Karakteristik Produk Dan Pasar Pada PLC
Dari uraian ini, diharapkan para pebisnis/manager
dan pengambil keputusan marketing dapat melakukan
identifikasi mandiri atas kinerja produk dan karakteristik
pasar yang ada di lingkungan pemasaran yang berlaku.
194
Selanjutnya untuk membantu para manager dan marketer
Dalam mengambil keputusan terkait strategi atas PLC,
berikut adalah saran pokok langkah strategi yang dapat
dilakukan di tiap tahapnya seperti yang diuraikan pada tabel
di bawah ini:
Tabel 7.2 Tebaran Saran Langkah strrategi pada PLC
Selanjutnya untuk terkait tentang cara dan langkah
melakukan perumusan dan identifikasi kaakteristik dan
saran strategi marketing pada Product life cycle (PLC), dapat
mencermati tayangan berikut melalui link:
https://tinyurl.com/59d6dj8d atau dapat mengakses
dengan cara memindai/scan QR code berikut ini:
195
BAB STRATEGI FOKUS PADA
KONSUMEN
8
KAUM MILLENIAL DI
ERA 5.0 SOCIETY
Memasuki dekade ketiga abad 21, banyak orang menyadari
bahwa telah banyak mengalami pergeseran dan perubahan di
hampir seluruh aspek kehidupan. Saat ini dunia mengalami satu
fenomena yang disebut dengan revolusi industri 4.0 dimana hampir
seluruh hajat hidup manusia digerakkan oleh teknologi yang
berbasis pada teknologi cloud dan teknologi big data yang bersandar
kepada Internet of Thinks (IoT) yang dimoderasi automatiozation
technology berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence). Saat ini
perkembangan teknologi mendorong terciptanya otomatisasi
layanan pada perangkat yang digunakan oleh umat manusia saat
ini. Perkembangan dan modernisasi teknologi yang sudah
merambah pada seluruh jenjang layanan tentunya membawa
dampak perubahan paradigma di kehidupan sosial umat manusia
saat ini. Menurut Hermawan Kartajaya (2020) saat ini kehidupan
umat manusia memasuki fase era komunitas sosial 5.0 (5.0 society
era).
Era 5.0 society merupakan perubahan pola, standar dan
pemusatan kehidupan dimana perubahan ini mengikuti dari
perubahan-perubahan pada era sebelumnya. Era ini ditandai
dengan dominannya perilaku dan juga sikap umat manusia yang
semakin horizontal, inklusif dan mendatar secara sosial. Hal ini
dapat kita lihat dengan semakin luasnya jangkauan layanan
internet saat ini telah membawa kehidupan yang semakin dinamis.
saat ini dapat kita saksikan bahwa media sosial beserta turunannya
nya telah menjadi alat bagi masyarakat untuk mengekspresikan diri
196
secara bebas serta saling terhubung satu sama lainnya tanpa
memandang batasan ruang dan waktu. Secara perlahan dan teratur
kita juga dapat melihat bahwa pergeseran masyarakat dunia yang
semakin bebas tanpa memperhitungkan suku bangsa agama dan
juga latar belakang semuanya terkoneksi si dalam satu perangkat
genggam. cara struktur norma kehidupan yang bersifat konservatif
saat ini hampir pudar dan berubah menjadi norma baru yang
tercipta akibat adanya pengaruh yang disengaja ataupun yang tidak
disengaja dimana hal tersebut bertemu secara maya. Cara pandang
masyarakat di era 5.0 bukan lagi ditempatkan pada predikat
manusia tersebut, tapi sejauh mana orang tersebut menampilkan
eksistensi diri dan kontribusi aktivasinya secara digital.
Gambar 8. 1 Perubahan Era Pola Bermasyarakat
Sumber: Newpick, 2020
Lebih lanjut untuk memperkaya pemahaman tentang hal
mendasar dan konsep kehidupan masyarakat 5.0 (5.0 society),
silahkan amati video tayangan berikut dengan cara scan QR code
berikut ini atau dapat klik link berikut:
https://tinyurl.com/4d5nutd3
197
Hal lain yang menjadi value atau nilai dalam kehidupan sosial
saat ini dilihat dari literasi seseorang terhadap perkembangan dunia
maya dan teknologi digital di dalamnya. Di samping itu
penguasaan dan kemampuan berinteraksi secara digital saat ini
menjadi jembatan sosial, dengan demikian secara alamiah telah
menjadi paradoks jika seseorang atau kalangan yang belum
memenuhi hal-hal dimaksud maka kalangan disebut tertinggal
zaman. Sebaliknya jika seseorang memenuhi kriteria dan hal-hal
tersebut maka ia layak disebut sebagai Citizen of the New World
(Kartajaya: 2020). Sedangkan menurut Sasongko (2021) untuk
menjadi Citizen 5.0 dibutuhkan proses yang panjang. Secara
psikologis saat ini ini mengelompokkan kehidupan sosial ini dibagi
menjadi tiga kelompok generasi yaitu:
1. Generasi konvensional, yaitu mereka yang hidup sejak
sebelum adanya revolusi industri 4.0 hingga saat ini di mana
kelompok ini umumnya masih berpegang teguh pada prinsip
kehidupan yang konvensional atau klasik.
2. Kelompok kedua generasi milenial, yaitu kelompok manusia
Dalam kategori usia muda pada saat ini yang hidup atau lahir
sejak dimulainya digitalisasi teknologi berbasis informasi.
3. Kelompok manusia atau generasi zilenial, yaitu generasi ini
lahir di awal mulanya era kehidupan sosial 5.0 hingga saat
ini.
A. The 5.0 Society, Bukan Dunia Baru Tapi Gaya Baru
Menurut Faadil (2020), sebenarnya konsep masyarakat 5.0
sudah dirancang dan disusun dalam rencana dasar sains dan
198
teknologi ke-5 oleh Dewan Sains, Teknologi dan Inovasi, dan
telah disetujui oleh keputusan Dewan Kabinet di Jepang pada
Januari 2016. Pada perkembangannya tanggal 21 Januari 2019,
Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, secara resmi meluncurkan
roadmap yang dikenal dengan super-smart society atau Society 5.0.
Konsep pada roadmap ini merupakan inovasi perpaduan yang
mengedepankan human-centered (berpusat pada manusia)
dan technology based (berbasis teknologi). Dan pada tanggal 23
Januari 2019 lalu, PM Shinzo Abe mengenalkan konsep tersebut
pada forum World Economic Forum (WEF) yang diselenggarakan
di Davos, Swiss.
Dalam presentasinya, PM Sinzo Abe mengatakan bahwa
Inti dari pola masyarakat 5.0 adalah memungkinkan manusia
untuk lebih cepat memperoleh solusi yang paling cocok dalam
memenuhi kebutuhannya. Ide yang diusung dari konsep ini
adalah untuk menciptakan Masyarakat Super Cerdas (MSC)
dengan memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana untuk
memenuhi kebutuhan pembangunan masyarakat dan
membentuk nilai-nilai baru. Hal ini memungkinkan bahwa
manusia dituntut untuk maju dan mengikuti pola
perkembangan zaman, sehingga manusia terus mencari
informasi-informasi, serta menciptakan inovasi baru untuk
mendukung kehidupannya.
Pada revolusi Industri 4.0, pendekatan optimalisasi
teknologi berbasis teknologi informasi dikenal adanya cyber–
physical system (CPS) yang merupakan integrasi antara physical
system, komputasi dan juga komunikasi. Dan masyarakat 5.0
merupakan penyempurnaan dari CPS, menjadi cyber–physical–
human systems. Dimana manusia tidak hanya dijadikan obyek
(passive element), tetapi berperan aktif sebagai subyek (active
player) yang bekerja bersama physical system dalam mencapai
tujuan (goal). Dengan demikian pada era ini interaksi antara
mesin (physical system) dan manusia (human) masih tetap
diperlukan. Disinilah keberadaan umat manusia saat ini dituntut
untuk menguasasi dan familiar dengan teknologi dan hasil
199
penciptaannya agar perangkat yang tercipta, mesin dapat
dikendalikan.
Masyarakat 5.0, menciptakan inovasi yang akan
menghilangkan kesenjaangan regional, usia, jenis kelamin,
pekerjaan, dan bahasa. Dan memungkinkan penyediaan layanan
yang dirancang untuk beragam kebutuhan individu. Dengan
cara ini, akan mungkin untuk mencapai masyarakat yang dapat
mempromosikan dan menemukan solusi untuk masalah sosial.
Di berbagai negara, banyak aneka macam inovasi yang
memadukan peran manusia dan teknologi dalam satu
mekanisme layanan pada platform teknologi. Di Indonesia,
sudah banyak bermunculan berbagai macam inovasi baru yang
diciptakan untuk membantu memudahkan masyarakat dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya.
Contoh Kasus:
Salah satu inovasi layanan di Indonesia yang
memiliki dampak bagi kehidupan dengan
mengedepankan konsep masyarakat 5.0. dapat kita
lihat dari perusahaan penyedia jasa layanan
elektronik (Start-Up)-Gojek. Berawal dari konsep
layanan transportasi pribadi ringan roda dua (ojek)
berbasis online. Dalam waktu singkat Gojek telah
melakukan transformasi menjadi rakasasa start-up
di tanah air. Langlkah yang dilakukan gojek ini
muncul karena inovasi yang di ikuti dengan
kesadaran untuk mencari solusi bagi masyarakat
yang ingin melakukan suatu hal dengan simple. Saat
ini selain layanan ojek, taxi dan moda transportasi
lainnya, dalam aplikasi gojek kita dapat temukan
fitur layanan selain transportasi, seperti: Go-Food
sebagai sarana layanan pemesanan dan pembelian
makanan/kuliner tanpa harus pergi menuju resto
dimaksud atau sering kita sebut sebagai mesin
makanan online. Hal tersebut tentu saja
memudahkan para konsumen untuk memenuhi
kebutuhan perutnya, karena kita dengan simplenya
menggunakan gadget dan memesan secara langsung
200
makanan yang kita inginkan, bahkan kita juga bisa
membayar secara online, dan bisa dianter ke
tempat tujuan yang kita inginkan pula. Banyak lagi
konsep layanan lain yang ditawarkan oleh Gojek
yang tentunya bermanfaat untuk kehidupan
manusia.
Dari contoh kasus Gojek, ada hal yang patut kita cermati,
bahwa inovasi layanan pada masyarakat 5.0 bukan menciptakan
dunia baru, namun sesungguhnya menggeser pola dan cara
manusi berinteraksi, berhubungan satu sama lainnya, berbuat,
bersikap dan bentuk dari mengapresiasikan sesuatu. Dari kasus
inovasi yang dilakukan oleh Gojek pada hahekatnya dapat
dirasakan layanan tersebut sudah ada sejak awal era manusia
mengenal kebudayaan. Ada beberapa aspek interaksi dan saling
keterhubungan satu sama lain yang dirangkul oleh konsep
inovasi Gojek, berikiut adalah tebarannya:
Gambar 8. 2 Tebaran Layanan Gojek Berbasis Masyarakat 5.0
Sumber: Gojek, 2021
Dari kasus bisnis Gojek juga kita dapat melihat bahwa
segmentasi pasar yang dibidik oleh Gojek adalah hampir “zero”
201
maksudnya adalah pembentukan segmen atas
pelanggan/konsumen sudah tidak lagi berdasarkan faktor
Perilaku secara sosial maupun ekonomi seperti yang telah
dibahas pada bab sebelumya.
Secara sistem Gojek memanfaatkan karakteristik yang
kuat dari konsep manusia super cerdas (MSC) yang dibawa pada
konsep 5.0 society. Dimana pada realisasinya dari perpaduan
sistem cyberspace dan physical space (CPS) untuk menghasilkan
data berkualitas yang disimpan dalam perangkat penyimpanan
informasi. Sistem ini akan mengoperasi segala aspek dalam
kehidupan masyarakat. Cyberspace mengacu pada ruang digital
di mana data dunia nyata dikumpulkan dan dianalisis untuk
mendapatkan solusi di ruang fisik. Ruang fisik mengacu pada
dunia nyata, dari mana data mentah dikumpulkan dan ke mana
solusi diterapkan. Cyberspace adalah dunia elektronik dalam
komputer. Data dari ruang fisik dianalisis di dunia maya untuk
mendapatkan solusi untuk mengelola atau meningkatkan
masyarakat. Setelah solusi ini diimplementasikan di ruang fisik
(dunia nyata), hasilnya dievaluasi, yang kemudian akan
menghasilkan data. Data ini kemudian dimasukkan kembali ke
dunia maya untuk dianalisis dan, jika ada masalah, solusi lebih
lanjut akan diperoleh. Dengan begitu, Inilah skema yang
membedakan Society 5.0 dengan sistem masyarakat sebelumnya
adalah dengan meleburkan ruang virtual dan ruang fisik.
Sementara secara sosial terjadi pergeseran, dengan
adanya pola dan berbagai kemudahan secara digital, secara
perlahan telah membentuk satu sikap masyarakat yang terkesan
simple, ringkas, mudah, tidak mau repot, senang hal yang
fantastis meskipun durasinya singkat dan muncul
kecenderungan tidak perlu megeluarkan energi fisik yang besar.
Kondisi Inilah yang pada akhirnya menjadi perilaku baru dalam
tatanan masyarakat sebagai pelaku pasar dan tentunya manjadi
sasaran pasar utama (captive market) Dalam dunia usaha.
Lebih lanjut untuk memperkaya pemahaman tentang
penerapan perpaduan teknologi digital dan kecerdasan buatan
dalam rangka mendukung konsep kehidupan masyarakat
“super cerdas” di era 5.0 (5.0 society), silahkan amati video
202
tayangan berikut dengan cara scan QR code berikut ini atau dapat
klik link berikut: https://tinyurl.com/2p8whsnv
B. Konsep 5.0 Society Pada Masa Pandemi Covid-19
Pada uraian sebelumnya telah dikemukakan bahwa
tujuan konsep masyarakat 5.0 untuk mewujudkan masyarakat
dimana manusia-manusia didalamnya benar-benar menikmati
hidup dan merasa nyaman. Teknologi manusia semakin
berkembang seiring berjalannya waktu. Konsep seperti ini
memungkinkan kita untuk menggunakan ilmu pengetahuan
yang berbasis modern (AI, Robot, IoT dan sebagainya) untuk
melayani kebutuhan manusia. Dalam era Society 5.0, nilai baru
yang diciptakan melalui perkembangan teknologi dapat
meminimalisir adanya kesenjangan pada manusia dan masalah
ekonomi di kemudian hari. Terdengar sulit untuk dilakukan di
Indonesia karena ekonomi, yang masih menjadi masalah.
Namun bukan tidak mungkin untuk dilakukan, terbukti
sebagian besar saat ini teknologi benar-benar sudah digunakan
dan diterapkan.
Munculnya wabah Covid-19 yang menjadi pandemi
dunia telah mendorong terjadinya berbagai perubahan
diseluruh aspek layanan kehidupan manusia. Berbagai
keterbatasan dan lahirnya berbagai protokol yang
mengendalikan hampir seluruh ruang gerak umat manusia telah
menciptakan berbagai pergeseran sehingga umat manusia
berupaya menemukan cara dan alternatif dalam upaya
menembus ruang gerak tersebut. Dengan adanya pandemi ini,
berbagai konsep yang ditawarkan melalui konsep 5.0 community
terkesan mengharuskan hal ini diterapkan. Hingga saat ini mau
203
tidak mau semua mengalir dan menggunakan media digital
untuk melakukan semua kegiatannya. Dalam situasi pandemi
Covid-19 ini, semua kalangan termasuk para karyawan, guru,
dosen bahkan mahasiswa dan siswa dianjurkan menggunakan
media digital untuk melanjutkan aktivitasnya selama keadaan
masih belum kondusif agar tidak berinteraksi di luar rumah.
Pergeseran dan perubahan pola layanan dan alternatif aktivitas
inilah yang pada akhirnya menciptakan kondisi dan suasana
normal baru (new normal) dimana umat manusia dituntut harus
mampu bertahan dan terbiasa hidup ditengah pandemi yang
belum dapat diprediksi ujungnya hingga situasi menjadi
kembali kondusif dan kondisi pandemi dinyatakan sebagai
endemi.
Di Indonesia, pemerintah mengeluarkan aturan berupa
Peraturan Presiden (PP) terkait dengan kebijakan Pembatasan
Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan mulai 10 April
2020 bertutur-turut hingga terjadi perubahan istiliah
pembatasan ruang gerak masyarakat dari PSBB menjadi PPKM
(Program Pembatasan kegiatan Masyarakat). Ada beberapa
kegiatan masyarakat yang dibatasi dalam aturan ini, di
antaranya jam kerja, belajar dalam hal ini sekolah, fasilitas
umum, kegiatan agama, moda transportasi, kegiatan sosial dan
budaya, kegiatan terkait aspek pertahanan dan keamanan
pengecualian pada kegiatan operasi militer dan operasi
kepolisian. Keadaan ini akan mengubah kebiasaan dan
kehidupan dalam berbagai aspek. Karena Covid-19, hampir
semua instansi/ perusahaan/lembaga meniadakan kegiatan di
kantor. Begitu pula sekolah/kampus, melaksanakan kegiatan
belajar di rumah dengan didampingi orang tua masing-masing.
Dengan demikian terjadi ketimpangan aktivitas kehidupan
sosial umat manusia, dimana 70% kegiatan dan aktivitas umat
manusia terjadi secara virtual dan online, sedangkan 30%
kegiatan dilaksanakan secara normal (offline).
Dalam pembahasan ini dapat kita lihat beberapa
perubahan dan pergeseran aktivitas yang pada akhirnya
berpengaruh kepada perilaku umat manusia sebagai pelaku
204
pasar serta menjadi captive market pada beberapa sektor industri
tertentu, seperti:
1. Sektor layanan Keuangan, Sebelumnya dominasi transaksi
keuangan di layani oleh konsep perbankan secara penuh (full
banking service). Dimana masyarakat untuk melaksanakan
berbagai transaksi keuangan dilakukan dengan cara
berinteraksi langsung dengan personil bank, jika pun
dilayani secara online cukup dengan menggunakan layanan
ATM dan, sms banking, phone banking dan internet banking.
Seiring dengan hadirnya konsep yang ditawarkan oleh 5.0
social community dan di tambah lagi dengan adanya pandemic
covid-19, kegiatan layanan keuangan cukup hanya dengan
layanan virtual yang dapat dilakukan kapan saja dan dimana
saja. Dimana seluruh layanan keuangan cukup dirangkum
Dalam satu aplikasi dan mampuuntuk mengakses
mengakomodir seluruh layanan perbankan mulai dari buka
rekening, transfer, LLG serta mendapatkan informasi
perkembangan jasa bank dan investasi. Dengan begitu,
masyarakat bisa transaksi ke luar negeri yang bisa
mengurangi waktu dan biaya trasaksi, tanpa harus ke bank.
Gambar 8. 3 Perubahan Konsep Layanan Perbankan Di Era 5.0
Sumber: Newpick, 2020
205
2. Sektor Industri Infrastruktur, Dalam hal perubahan dan
penerapan konsep layanan dan pelaksanaan industri pada
sektor infrastruktur, mari kita cermati langkap yang telah
ditempuh oleh kementerian Dalam Negeri RI (Kemendagri)
melalui Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Administrasi
Kewilayahan (Adwil), Dimana saat ini telah dicanamgkan
pembangunan kota/daerah di masa mendatang akan
bertumpu pada infrastruktur cerdas yang mampu
mengintegrasikan dunia fisik dan digital dalam sistem
energi, bangunan, serta industri. Upaya ini bertujuan untuk
meningkatkan taraf hidup masyarakat secara efisien dan
keberlanjutan. Infrastruktur cerdas menggunakan kekuatan
data dan teknologi. Kemudian, menciptakan platform di
mana individu terlibat, belajar, dan beradaptasi dengan
perubahan kondisi dan kebutuhan di antara beberapa
pemangku kepentingan. saat ini semua pihak telah
terhubung dan menghasilkan data untuk berbagai
kepentingan. Kumpulan data tersebut kemudian menjadi big
data yang dapat dimanfaatkan, salah satunya untuk
mendukung pengelolaan sumber daya secara optimal dan
mengatasi masalah seperti yang dihadapi daerah perkotaan.
Sementara di lingkungan birokrasi, keberadaan big data ini
diharapkan dapat meningkatkan kinerja, pemetaan suatu
masalah, dan merumuskan solusinya. Semua yang serba
manual itu lambat. Sekarang menggunakan big data dan
mengolahnya secara digital. Pemerintah pusat dan pemda
harus bekerja sama dalam membangun infrastruktur cerdas
yang dapat digunakan bersama untuk kemajuan kota.
pembangunan infrastruktur cerdas memiliki empat prinsip,
yakni data, analitik, umpan balik, dan kemampuan
beradaptasi. Dengan infrastruktur digital yang baik,
menurutnya, taraf hidup masyarakat akan meningkat, karena
seluruh kegiatan mereka berjalan dengan cepat, efisien, dan
efektif. Dengan demikian, urusan pelayanan dasar hingga
ekonomi yang menopang hajat hidup orang banyak bisa
bergerak dengan lincah.
206
Gambar 8. 4 Perubahan Konsep Industri Infrastruktur Di Era 5.0
Sumber: Newpick, 2020
3. Sektor Layanan Kesehatan, Dalam hal perubahan dan
penerapan konsep layanan kesehatan, mari kita cermati
langkap yang telah ditempuh oleh salah satu platform
layanan Kesehatan digital Hallodoc. Platform telemedicine seluler
ini menerapkan teknologi artificial intelligence (AI) atau
kecerdasan buatan untuk layanan kesehatan yang
ditawarkannya. AI diterapkan untuk menyempurnakan cara
dokter menerima masukan. Halodoc sendiri menggunakan
kecerdasan buatan yang berpusat pada manusia atau human-
centered artificial intelligence (HAI). Teknologi HAI ini
merupakan area penelitian baru yang menggunakan
masukan dari pengguna manusia secara terus menerus untuk
meningkatkan cara kerja sistem AI dan memberikan
pengalaman yang lebih baik untuk para penggunanya.
Halodoc sebagai penyedia layanan kesehatan seluler ingin
menciptakan cara yang mudah untuk memberikan masukan
di bidang kesehatan virtual. Dengan dipandu oleh Google,
para engineer di Halodoc menerapkan Natural Language
Processing (NLP) dalam bahasa Indonesia untuk mengukur,
memberi peringkat, dan memberikan insight yang dapat
207
memberikan informasi pada dokter saat membuat keputusan
untuk pasien di seluruh Indonesia, dengan menggunakan
data dari ribuan konsultasi guna melatih model machine
learning. Artificial intelligence di Halodoc didukung dengan
Late-Stage Accelerator dari Google. Dimana fungsi ini oleh
Google dibentuk sebuah tim yang terdiri dari dokter, data
scientist, engineer, manajer produk, dan peneliti untuk
menentukan cara teknologi dapat mendukung dokter di
Indonesia. Late-Stage Accelerator sendiri adalah program
Google untuk membantu startup-startup potensial, seperti
Halodoc. Tim yang dibentuk bersama Google tersebut berhasil
mengidentifikasi pendekatan khusus berupa AI untuk
mereplikasi proses mentoring serta mereplikasi masukan
yang diterima dokter junior dari dokter yang lebih
berpengalaman di rumah sakit. Pendekatan khusus yang
berhasil diidentifikasi tersebut menjadi sebuah proses
penting untuk meningkatkan kualitas perawatan. Dengan
demikian konsep layanan yang ditawarkan oleh Hallodoc,
mendorong masyarakat untuk tetap peduli terhadap
Kesehatan tanpa harus mendatangi rumah sakit dan
berkonsultasi secara verbal dengan dokter.
Gambar 8. 5 Perubahan Konsep Industri Layanan Kesehatan Di Era 5.0
Sumber: Newpick, 2020
208
C. Kaum Milenial, Potensi Pasar Di Era 5.0
Dalam analisis pasar, memahami perilaku konsumen
terbagi ke dalam dua jenis: konsumen sebagai pribadi, dan
konsumen sebagai kelompok. Hasil analisis ini kemudian dapat
digunakan untuk memasarkan produk atau jasa perusahaan
dengan lebih baik. Dengan mengidentifikasi target
demografisnya, perusahaan bisnis dapat mempengaruhi
audiens demografis tersebut untuk membeli atau menggunakan
layanan perusahaan. Hal ini dapat dilakukan dengan
berkomunikasi lebih jauh dengan pelanggannya. Setelah menilai
perilaku umum pelanggan dengan seksama, perusahaan dapat
membuat beberapa cara untuk mempromosikan layanan mereka
yang berhubungan dengan pelanggan sesuai penilaian tersebut.
Penilaian ini bisa dikelompokkan dari penggunaan media sosial
hingga penggambaran yang bersifat kekinian (trendy) layanan
mereka untuk memastikan konsumsi maksimal. Selain itu,
karena promosi produk di era modern sangat terkait dengan
penggunaan internet, tidak mengherankan bahwa internet
banyak digunakan saat ini.
Dominasi pemakaian dan optimalisasi iInternet telah
meningkatkan hubungan antara pelanggan dan perusahaan
selama beberapa dekade terakhir. Dengan internet
memungkinkan akses yang lebih mudah untuk perdagangan
dan ekonomi, hanya masalah waktu saja sebelum banyak
kegiatan komersial dilakukan berbasis internet. Karena internet
memudahkan perusahaan untuk mempromosikan layanan
mereka, juga menjadikannya lebih mudah untuk
mempromosikan ke sejumlah besar pelanggan potensial. Selain
itu, internet berisi banyak tren terbaru masyarakat, sehingga
perusahaan dapat memperhatikan tren-tren ini untuk
menganalisis perilaku pelanggan mereka.
Saat ini banyak pakar yang berpendapat bahwa salah satu
demografi yang paling berpotensi menguntungkan bagi banyak
perusahaan produk adalah demografi generasi millennial.
Generasi ini dianggap sebagai salah satu bagian yang paling
paham internet dari demografi sosial modern, kaum millennial
209
dipercaya dengan pengetahuan mereka tentang internet
modern. Dengan memahami kebangkitan demografi millennial
sebagai mayoritas konsumen produk, pasar saat ini harus
beradaptasi dengan demografi khusus ini. Selain itu, perilaku
konsumen dari demografi millennial berbeda jika dibandingkan
dengan generasi sebelumnya. Istilah kaum millennial diciptakan
oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss
dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Secara harfiah,
memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan
kelompok generasi yang satu ini. Namun, para pakar
menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir.
Penggolongan generasi milenial atau generasi Y terbentuk
bagi mereka yang lahir pada 1980 - 1996, atau pada awal 2000,
dan seterusnya. berdasarkan hasil survei Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional (Bappenas) sepanjang Februari-
September 2020, didapati jumlah generasi milenial di Indonesia
mencapai 69,90 juta jiwa atau 25,87 %. Banyaknya jumlah
penduduk milenial saat ini menjadi peluang sekaligus
tantangan. Dalam tinjauan karakter kejiwaan, Gen Y dicirikan
oleh pencelupan teknologi, orientasi perkembangan, pencarian
pengakuan, keinginan untuk umpan balik dan orientasi tim
(Faraz: 2014). Karena itu sangat penting memahami dan
meletakkan karakter sebagai prioritas dalam praktik dan
kebijakan bisnis mereka, sebagai upaya untuk menarik dan
mempertahankan milenial sebagai captive market. Selain itu,
beberapa generasi milenial adalah orang yang memiliki
pengetahuan yang sangat baik, pekerja yang terampil. Dalam
bisnis generasi ini umumnya memiliki passion yang kita jika
dilibatkan dalam hal inovasi dan kreasi yang mendukung
pengembangan produk. Agar bisa mendorong mereka untuk
menjadi roda penggerak ekonomi Indonesia, salah satu
kuncinya adalah memahami perilaku dan juga karakter generasi
milenial.
Katherine (2012) dalam penelitianya yang berjudul
“Longitudinal study of digital marketing strategies targeting
Millennials” menunjukkan bahwa generasi milenial menjadi
210
target pemasaran yang penting dengan menggunakan media
digital, sehingga digital marketing dipertimbangkan untuk
medium yang paling bernilai dalam meraih generasi milenial
saat ini. Seperti kita ketahui generasi milenial adalah generasi
yang besar setelah generasi baby boomers. Generasi milenial
seringkali merujuk pada rekan, teman, atau kerabat untuk
menentukan manfaat suatu produk atau layanan. Generasi ini
menganggap pendapat rekan-rekan mereka atau sesama
konsumen lebih kredibel daripada media tradisional atau
sumber informasi perusahaan.
Satu studi menemukan ulasan konsumen dapat dipercaya
dua belas kali lebih sering daripada deskripsi yang berasal dari
produsen. Teknik Word of Mouth (WOM) dapat dipandang lebih
kredibel daripada iklan karena dianggap telah melewati evaluasi
"orang-orang seperti yang lainya". Menurut (Keller, 2008), WOM
telah menjadi yang paling berpengaruh dalam saluran
komunikasi. WOM yang melakukan perjalanan melalui internet
dapat disebut sebagai electronic word of mouth (eWOM). Generasi
milenial dapat menghabiskan banyak waktu secara online,
sehingga pemasaran digital adalah salah satu cara yang efektif
untuk berkomunikasi dengan generasi ini. Namun, hal itu
harus dilakukan dengan benar. Pemasaran digital yang dilihat
secara negatif dapat menyebabkan konsumen mengadopsi
pandangan negatif tentang diiklankan atau situs web yang
berisi iklan yang menjengkelkan. Penelitian ini mencatat
setidaknya ada beberapa point yang harus dipertimbangkan
dalam membuat strategi digital marekting, diantaranya;
1. Kupon (voucher) adalah iklan mode online favorit para
Milenial.
2. Penggunaan grafis pada fitur situs web yang konsisten dan
luar biasa dapat menarik perhatian para Milenial.
3. Tarif pengiriman yang baik dan kupon juga akan memotivasi
kunjungan berulang pada laman bisnis anda.
4. Ulasan Online yang ditulis oleh pembeli produk anda.
Jadi, Jika perusahaan ingin Generasi Milenial berulang
kali mengunjungi situs web Anda, pastikan harga Anda
211
kompetitif. Mereka, sama seperti konsumen yang lain selama
masa tekanan ekonomi ini, selalu mencari cara untuk
mendapatkan harga yang sesuai dengan nilai terbaik. Nilai juga
termasuk ke dalam karakteristik, baik itu tarif pengiriman,
kupon, hadiah, dan kebijakan pengembalian. Generasi milenial
juga mengapresiasi produk yang selalu update dengan
informasi di situs web.
Disamping itu ada beberapa catatan bagi para pemasar
yang ingin menerapkan starategi agar menarik bagi kalangan
milenial. Generasi ini juga termasuk yang suka menonton iklan
di YouTube. Jangan gunakan iklan pop-up atau jendela (window
tab) yang tidak dapat ditutup, kecuali jika maksudnya adalah
untuk mengganggu konsumen. Generasi milenial tertarik pada
situs web dengan grafik berwarna cerah. Selanjutnya, media
digital menawarkan kesempatan untuk mempersonalisasi situs
web dan iklan sehingga pemasar harus memanfaatkan fitur ini
sepenuhnya. Generasi ini menyukai sentuhan yang bersifat
eksklusif dan berkesempatan untuk berjejaring dengan pemasar.
Jadikan situs web menjadi interaktif. Kemudian, buat situs web
mampu bersaing dalam hal harga dan tarif pengiriman, karena
ini adalah salah satu faktor yang mendorong bagi milenial yang
berulang kali mengunjungi situs web. Review online sangat
berpengaruh, terutama dengan milenial. Dorong milenial untuk
menulis review online dengan memberi mereka diskon atau
kupon sebagai insentif. Generasi ini merespons penghargaan
dengan baik. 'Freebie' (sesuatu yang bersifat gratis) mungkin
merupakan harga kecil yang harus dibayar sebagai imbalan atas
ulasan positif yang dibaca oleh banyak pembeli Internet.
Lebih lanjut untuk memperkaya pemahaman tentang
overview pasar digital di tanah air dimana didalamnya lebih
didominasi kaum generasi milenial sehingga dapat menjadi
gambaran dan tambahan khazanah informasi tentang peluang
bisnis di era 5.0 society dengan tujuan merangkul kaum generasi
ini silahkan amati video tayangan berikut dengan cara scan QR
code berikut ini atau dapat klik link berikut:
https://tinyurl.com/2p8rw4fd
212
213
DAFTAR PUSTAKA
Alrasheed, Mishael. 2011. The Impact of Online Consumer Revie ws/Rat
ings on Consumer Behaviors and Their Purchase Decisions.
www.brunel.ac.uk/. Brunel University.
Anggoro, M. Linggar. 2002. Teori dan Profesi Kehumasan serta
Aplikasinya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Ardiansyah, E. Tri, 2018, Prinsip Dan Praktik Pemasaran
Internasional, Modul Kuliah, Tangerang, FEB-UMT
Ardiansyah, E. Tri, 2021, Digital Marketing Konsep Dan Strategi,
Chapter- Inbound Marketing, Cirebon, Penerbit Insania.
Barkatullah, Halim. A, Teguh. P, 2005, Bisnis E-commerce (Studi
Sistem Keamanan dan Hukum Indonesia), Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Blech, George E., dan Blech, Michael, A., 2007. Advertising and
Promotion: An Integrated Marketing Communication
Perspective, New York: McGraw Hill
Brannan, Tom. 2004. Integrated Marketing Communications, Alih
Bahasa Slamet, Cetakan Pertama, Jakarta: Penerbit PPM
Brown. A, J Fishenden, M Thompson, W Venters, 2017, Appraising
the impact and role of platform models and Government as a
Platform (GaaP) in UK Government public service reform: Towards
a Platform Assessment Framework (PAF), Government
Information Quarterly, Volume 34 (2) April 2017 pg 167-182,
USA
Cang, Elizabeth, Dillon, Husssain, 2006, Trust and Reputation for
Service-Oriented Environments-Technologies for Building
Business Intelligence and Consumer Confidence, Chennai-India,
Jhon Wiley & Sons, Ltd
Chan. H, R Lee, T Dillon, E Chang, 2007, E-Commerce, Fundamentals
and Applications, Chennai-India, Jhon Wiley & Sons, Ltd.
214
Choubtarash, Neshat., Mahdieh, Omid. 2013. The Study of The
Relationship Between Consumer I n v o l v e m e n t a n d P u r c h
a s e Decision (Case St udy: Cell Phone). Vol.4 No.12 April 2013,
Iran: University of Medical Sciences-Iran.
Effendy, O.U. 1993. Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung:
Citra Aditya Bakti.
Dharmmesta, Swastha.B & Handoko. H. 2000. Manajemen
Pemasaran, Analisis Perilaku Konsumen, BPFE, Yogyakarta.
Darmansah, Aprilian Dan Yosepa, Sriyanti, 2020, Pengaruh Faktor
Citra Merk Dan Persepsi harga Terhadap keputusan
Pembelian Online pada Aplikasi Shopee Di Wilayah Jakarta
Timur, Jurnal Ilmiah Mahasiswa Manajemen Unsurya Vol.1
No.1 November 2020, Jakarta, FE-UNSURYA
David, Fred R. 2011. Strategic Management, Buku 1. Edisi 12 Jakarta.
Ferreira, Carlos and Sandro, 2018. Society 5.0 and Social Development:
Contributions to a Discussion. Management and Organizational
Studies Vol. 5, No.4; 2018. Portugal
Fukuyama, Mayumi. 2018. Society 5.0: Aiming for a New Human-
Centered Society, an article. Japan: Japan Spotlight.
Gorchels, L. 2002. The Product Manager’s Handbook: The
Complete Product Management Resource, New York:
McGraw-Hill, ISBN 978-0658800 13522
Gu, V., 2019. Society 5.0: Japan’s vision to live with robots.
GOVINSIDER. https://govinsider.asia/connected-
gov/society-5-0-inside-japans-vision-to-live-with-robots/
Haqqi, H. dan Wijayati, Hasna. 2018. Revolusi Industri 4.0 di Tengah
Society 5.0: Sebuah Integritas Ruang, Terobosan Teknologi, dan
Transformasi Kehidupan di Era Disruptif. Yogyakarta, PT. Anak
Hebat indonesia (Quadrant).
Hayashi, H., Sasajima, H., Takayanagi, Y., & Kanamaru, H. (2017).
International standardization for smarter society in the field of
measurement, control and automation. Proceedings of the 56th
215
Annual Conference of the Society of Instrument and Control
Engineers of Japan (SICE). Kanazawa, Japan: Institute of
Electrical and Electronics Engineers
Hudaidah, Cici. R, 2021. Korelasi Dampak COVID-19 Dengan Era
Society 5,0 Di Bidang Pendidikan, Jurnal Dinamika
Manajemen Pendidikan (JDMP) Volume 6, Nomor 1, 2021,
hlm. 1-6, Palembang, FKIP-UNSRI
Justin. G. 2022. Product Life Cycle: The Critical Path to Sustaining
Business Success. Diakses tanggal: 5/20/2022, dari :
https://www.fool.com/the-ascent/small-business/e-
commerce/articles/product-life-cycle/
Kasali, Rhenald. 2005. Manajemen Public Relations Konsep dan
Aplikasinya di Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Keegan, Warren J. 2002. Manajemen Pemasaran Global, New Jersey:
Pretice Hall
Kotler, Philip. 1998. Manajemen Pemasaran, Analisis Perencanaan,
Implementasi dan Kontrol. Jakarta: Prehallindo.
Kotler, Philip dan Gary Armstrong, 2008. Prinsip-Prinsip
Pemasaran edisi 12 jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Kotler, Philip and Kevin Lane Keller, 2012. Marketing Management,
Edition 14, England: Pearson Education
Lamb, Hair, Mc. Daniel. 2001. Pemasaran (terjemahan). Buku Satu.
Jakarta : Salemba Empat
Makarim, Nabiel, 2019, Analisis bisnis dan perjalanan Gojek sebagai
transportasi daring berbasis e-commerce, Detik.net, Jakarta
Manraj.Ubhi. 2020. Marketing and The Business Life Cycle. Diakses
pada 5/22/2022, dari: https://www.manrajubhi.com/4-
stages-of-a-business-life-cycle/
Malakooti, B. 2017. How to Use the Product Life-Cycle, Interaction
Design Foundation, Diakses pada: 5/3/2022, dari:
https://www.interaction-
216
design.org/literature/article/how-to-use-the-product-life-
cycle
Manalu, Vigory.G, 2021, Digital Marketing Konsep Dan Strategi,
Chapter- Srategi Digital Marketing, Cirebon, Penerbit
Insania.
Muhammad.Y. 2015. Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle-PLC).
Diakses pada 5/2/2022,
dari http://www.muhammadyamin.com/tag/siklus-
hidup-produk/
Nurdin, N., Stockdale, R., dan Scheepers, H. 2013. The Use of social
media to Gather Qualitative Data: A Case of Government E-
Procurement Implementation and Use, Australia: Paper
presented at the 24th Australasian Conference on Information
Systems (ACIS)
Peter, J. Paul, Jerry C. Olson, 2000. Consumer Behavior: Perilaku
Konsumen dan Strategi Pemasaran 4th Ed. Jakarta: Erlangga
Puspita, Y., Fitriani, Y., Astuti, S., & Novianti, S, 2020. Selamat
Tinggal Revolusi Industri 4.0, Selamat Datang Revolusi
Industri 5.0. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan
Program Pascasarjana, Palembang, Universitas PGRI
Palembang
Putri. S. Eka. 2009. Persepsi Konsumen Terhadap Bauran promosi
(Promotion Mix) pada Matahari Department Store Bengkulu,
Jurnal- Management Insight, 9 (1): 45-54, Bengkulu,
Univ.Bengkulu
Raharjani, Jeni. 2005. Analisis Faktor - Faktor yang Mempengaruhi
Keputusan Pemilihan Pasar Swalayan Sebagai Tempat
Berbelanja (Studi Kasus Pada Pasar Swalayan di Kawasan
Seputar Simpang Lima Semarang). Jurnal Studi Manajemen
& Organisasi, Vol. 2 No. 1 Hal 1-15
Rangkuti, Freddy. 2013. Teknik Membedah Kasus Bisnis Analisis
SWOT Cara Perhitungan Bobot, Rating, dan OCAI. Jakarta:
Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama
217
Riadi, Muchlisin. 2020. Marketing Public Relations (Pengertian,
Tujuan, Fungsi, Kegiatan dan Strategi). Diakses
pada 5/22/2022,
dari https://www.kajianpustaka.com/2020/09/marketing-
public-relations.html
Robbins, Stephen P. 2002. Perilaku organisasi, konsep dan
kontroversi. Jakarta: PT. Prenhalindo
Ruslan, Rosady. 2010. Manajemen Public Relations & Media
Komunikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sasongko, Tri, 2018, Manajemen Stratejik-Konsep Dan Praktis,
Modul Kuliah, Tangerang, FEB-UMT
Schiffman & Kanuk. 2004. Perilaku Konsumen. Zulkifli Kasip (alih
bahasa) Edisi Ketujuh, Jakarta: Penerbit PT. Indexs
Shimp, Terence A. 2003. Periklanan Dan Promosi Aspek Tambahan
Komunikasi Pemasaran Terpadu (terjemahan). Jakarta:
Erlangga
Suminar Ayu, Aulia, 2020, Etika Komunikasi Dalam Sosial Media-
Saring sebelum sharing, Chapter- Menggunakan Sosial
Media Dengan Bijak, Cirebon, Penerbit Insania
Sunyoto, Danang. 2013. Perilaku Konsumen (Panduan Riset
Sederhana untuk Mengenali Konsumen). Jakarta: CAPS
Suryani, Tatik. 2013. Perilaku Konsumen di Era Internet: Implikasi pada
Strategi Pemasaran. Yogyakarta: Graha Ilmu
Tambrim. M & Gumylang.R. Anggun. 2021. Strategi Bauran
Promosi (Promotional Mix) Untuk Meningkatkan Minat Beli
Konsumen Dan Jumlah Reseller Di Desa Kamal (Studi Kasus
Pada Pt. Queen Ice Di Bangkalan Madura), Jurnal- Eco-
Entrepreneurship, Vol 7 No 1 Juni 2021, Bangkalan, UTM
Tandjung, J.W. 2004. Marketing Management: Pendekatan Pada
Nilai-Nilai Pelanggan, Edisi Kedua, Cetakan Kedua. Bayu
Media. Malang
218
Tati Suhartati Joesron, M. Fathorrazi, 2012. Teori Ekonomi Miko,
Yo g y a k a r t a , Graha Ilmu
The Report Company. How students are being prepared for Society 5.0,
an article. Japan: Intelligence on Global Japan. Adopted from
page: https://www.globaljapan.world/article/japan-leads-
world-in-education-for-society-5-0/
Utami, Christian Whidya. 2006. Manajemen Riset Strategi dan
Implementasi Riset Modern, Jakarta: Salemba Empat
Wasesa, Silih Agung. 2011. Political Branding & Public Relations.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wijaya. Bernard. 2004. International Strategic Management, Modul
Perkuliahan, Jakarta: Sekolah Tinggi Manajemen Labora
Wijaya.H & Sirine. H. 2016. Strategi Segmenting, Targeting,
Positioning Dan Strategi Harga Pada perusahaan Kecap
Blekok Cilacap, AJIE - Asian Journal of Innovation and
Entrepreneurship, (e-ISSN: 2477- 0574 ; p-ISSN: 2477-3824) ,
Salatiga
Zhu, L. Wong. 2014. Research on the E-commerce model based on the
value chain. Applied Mechanics and Materials, 687691, 44624465.
Doi:
http://dx.doi.org/10.4028/www.scientific.net/AMM.687-
691.4462.
219
PROFIL PENULIS
Tri Endi Ardiansyah. P. S, B.Sc, SE, MM, CPM, CPIT
Pria berdarah Melayu-Jawa ini kerap
dijuluki sebagai “Father Tri.” Selama ini
beliau aktif sebagai Pemateri/pembicara
dan motivator dalam banyak kegiatan
workshop, training dan seminar pada
bidang strategi bisnis dan marketing. Di
samping itu, beliau juga aktif sebagai dosen
terutama pada bidang Marketing,
Manajemen Stratejik, Komunikasi Bisnis,
Bisnis Digital, Entrepreneurship,
Leadership, Sistem Informasi Manajemen, Riset Operasi, Manajemen
Transportasi dan Logistik dan Matematika Bisnis di beberapa perguruan
tinggi. Terakhir beliau tercatat sebagai Dosen tetap pada Fakultas
Ekonomi Dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Tangerang. Saat ini
beliau tengah menyelesaikan studi Program Doctorate pada Jose Rizal
University- Mandaluyong, Philippines
Dalam perjalanan hidupnya, beliau memulai karirnya sebagai Pilot
penerbangan komersil di beberapa maskapai penerbangan selama 14
tahun. Di luar karir penerbangannya, beliau pernah menjabat sebagai
Managing Director PT. Anyworld Express Cargo (2007). Pernah menjabat
Sebagai Executive Officer for Marketing & PR pada LP3I Group (hingga
2018). Saat Ini beliau menjabat sebagai Advisor pada Pacific Aviation, Sdn,
Bhd dan sebagai CEO pada PT. Wabi Trikara Tama (Wabi Group), suatu
grup usaha yang fokus pada bidang perdagangan, dan agribisnis. Saat ini
beliau juga aktif sebagai fasilitator bagi Usaha Mikro Kecil Dan Menengah
(UMKM) berorientasi Export di tingkat nasional. Beliau juga aktif di
Organisasi diantaranya: KADIN, APINDO, Ikatan Dosen Republik Indonesia
(IDRI), Himpunan Penyelenggara Pelatihan Dan Kursus Indonesia (HIPKI),
Asosiasi Pengusaha Mikro Dan Industri Daur Ulang Indonesia (APMIDI),
Asosiasi UMKM Naik Kelas (UNK), Muhammadiyah Center for
Entrepreneurship & Business Incubator (MCEBI) dan beliau juga pernah
aktif di Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
PROFIL PENULIS
Dr. Hendi Eka Sumarga, S.Pd, MM
Beliau seorang dosen yang aktif
mengajar di bidang Kewirausahaan
(entrepreneurship), Marketing
Management, Operation Research dan
Teknik Pengambilan Keputusan di
Fakultas ekonomi dan Bisnis (FEB) –
UMT Tangerang. Beliau juga seorang
asesor kompetensi terafiliasi dengan
BNSP dan juga sebagai auditor
penjaminan mutu internal pada
Universitas Muhammadiyah Tangerang.
Disamping itu beliau juga seorang praktisi dan wirausaha yang menggeluti
beberapa sektor/bidang usaha, salah satunya beliau sebagai Founder
restoran RM Kawali, RM Dapur Kawali dan RM Sayagi. Beliau juga aktif
dalam berbagai diskusi, seminar dan pelatihan terutama pada bidang ilmu
Manajemen dan marketing. Pria kelahiran Tangerang pada 51 tahun yang
lalu telah menyelesaikan studi program doctoral (S3) pada bidang Ilmu
Manajemen.
Dalam perjalanan karirnya, beliau mengawali karir dan berprofesi sebagai
paramedik di salah satu Rumah sakit di Tangerang. Disamping itu beliau
juga pernah menjabat sebagai Pembantu Direktur (PUDIR) di Akademi
Keperawatan Islamic Village, Unit Manager di PT. Prudential Indonesia
(2012-2014), Sekretaris Prodi (Sekprodi) pada Fakultas Ekonomi dan
Bisnis (FEB) di UMT-Tangerang (2017-2021), Wakil Direktur pada
Lembaga Ventura UMT-Indonesia (2021-2022). Saat ini beliau menjabat
sebagai Komisaris dan CEO pada PT Mega Mujizat, suatu perusahaan yang
bergerak di bidang distribusi gas LPG 3 kg.
PROFIL PENULIS
Abdul Rauf, SE, MM
Beliau merupakan akademisi dan praktisi
di bidang Pemasaran. Saat ini penulis
menjadi salah satu staff dosen tetap di
fakultas Ekonomi Universitas
Muhammadiyah Tangerang sejak tahun
2010 dan mengampu beberapa mata
kuliah Pengantar Manajemen,
Kewirausahaan dan Manajemen
Pemasaran. Penulis pernah bekerja di
beberapa perusahaan sebagai staff
Pemasaran antara lain pada Asuransi Jasindo dan beberapa perusahaan
Retail sebagai tenaga pemasaran. Saat ini sedang menjalankan bisnis di
bidang pendidikan yaitu Konsultan Pengajaran Bahasa Inggris untuk
berbagai kalangan. Bapak satu anak ini juga sangat concern di Bidang
Pemasaran saat menempuh Strata 1 Fakultas Ekonomi Manajemen di
Universtias Mercu Buana Jakarta dan Menamatkan Program S2 Program
pascasarjana Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Tangerang
tahun 2013.
Berbagai pelatihan pernah diikuti seperti pelatihan Ekspor Import dan
Pemasaran on-line di Balai Eksport Import Jakarta tahun 2015. Dosen
yang aktif menulis ini juga sedang menulis beberapa buku pemasaran
seperti Perilaku Konsumen dan stratetgi Pemasaran, dan Etika
Komunikasi. Saat ini belia menjabat sebagai Kepala Prodi (Kaprodi)
Bidang Manajemen-S1 pada Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas
Muhammadiyah Tangerang.