The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Arum “Karena berbagai situasi dan keadaan yang membuat kita berjarak, dan sebab lainnya. Maaf tidak bisa disisimu lebih lama dari ini Ad.” Isaknya Adrian “ Kejar apa yang menjadi tujuan hidupmu jauh sebelum bertemu denganku dan kamu juga pantas mendapatkan yang lebih seimbang dari segala aspek. Tentu saja bukan aku orangnya.” Arum hanya diam menunduk dihadapan Adrian penuh isak tangis, diraihnya tubuh Arum oleh Adrian dalam dekapnya. “ Satu hal, perihal janjiku yang pernah terucap padamu masih sama Mbak. Bahkan hingga detik ini aku masih mengusahakan untuk segera bisa kerumahmu membawa keluargaku. Namun, jika dalam prosesku menuju rumahmu ada yang datang lebih dulu melamarmu terima dia, aku tidak akan membuatmu menunggu akan hal itu. Terima kasih banyak untuk semuanya, I love you, Mbak Arum.” bisiknya dalam pelukan

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tikadani01, 2023-02-05 10:49:20

Sekutip Istimewa Kenamaan Yogyakarta

Arum “Karena berbagai situasi dan keadaan yang membuat kita berjarak, dan sebab lainnya. Maaf tidak bisa disisimu lebih lama dari ini Ad.” Isaknya Adrian “ Kejar apa yang menjadi tujuan hidupmu jauh sebelum bertemu denganku dan kamu juga pantas mendapatkan yang lebih seimbang dari segala aspek. Tentu saja bukan aku orangnya.” Arum hanya diam menunduk dihadapan Adrian penuh isak tangis, diraihnya tubuh Arum oleh Adrian dalam dekapnya. “ Satu hal, perihal janjiku yang pernah terucap padamu masih sama Mbak. Bahkan hingga detik ini aku masih mengusahakan untuk segera bisa kerumahmu membawa keluargaku. Namun, jika dalam prosesku menuju rumahmu ada yang datang lebih dulu melamarmu terima dia, aku tidak akan membuatmu menunggu akan hal itu. Terima kasih banyak untuk semuanya, I love you, Mbak Arum.” bisiknya dalam pelukan

Keywords: Novel

Kata Pengantar Terima kasih dan rasa syukur penulis ucapkan kepada Allah atas diberikannya waktu yang cukup untuk menyelesaikan karya pertama saya yang belum seberapa ini. Masih banyak kurang dan masih perlu perbaikan. Tidak banyak yang bisa penulis ucapkan, berbatas kemampuan penulis yang masih sangat acak-acakan. Dengan rasa yang tulus, penulis ucapkan terima kasih kepada kedua orangtua karena telah membiarkan saya berkarya sesuai minat dan bakat saya yang meskipun pada kenyataannya masih perlu banyak pembenahan dan perluasan kemampuan. Kepada kakak-kakak saya, yang senantiasa memberikan dukungan apapun itu dan percaya dengan segala yang sedang saya upayakan. Kepada teman-teman saya yang memberikan tantangan untuk mencoba menulis sebuah buku yang tidak hanya berisi sebuah puisi saja, melainkan harus membuat sebuah buku berisikan cerita hingga akhirnya lahirlah buku ini yang akan menjadi buku kedua saya, yang berhasil naik cetak setelah sebelumnya berhasil meriliskan buku kumpulan puisi yang berjudul “Baik Awal Lalu.” Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada para pembaca yang sudah meluangkan waktunya. Terakhir, penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terkait dalam pembuatan buku ini, yang terlibat langsung maupun tidak langsung dari proses pembuatan buku ini dari awal hingga menjadi sebuah buku yang sedang teman-teman genggam saat ini.


Semoga buku ini bisa memberikan banyak manfaat. Dan semoga kebahagiaan senantiasa menyertai kalian semua.


Daftar isi -Kata Pengantar -Prolog - Di Mulai Dari Sini - Hadi Pamit, Adrianpun Terselip - Perhatian Kecil Namun Tersampaikan - Singkat Tapi Melekat Hangat - Senja, Kamu dan Tawangmangu - Di Meja Makan - Akibat Cerita Semalam - Tiada Hari Tanpamu - Pulang Bersamaku - Kian Tak Berjarak - Tatap Hangat Favorite-ku - Menciptakan Kerenggangan - Jatuh Sakit - Kekhawatiran Yang Nyata - Sang Biang Keladi - Akhirnya Aku Pulang - Happy Birthday - Dilema Oleh Rasa - Konflik Rentetan Silam - Hari-hari Panjang Bersama Adrian - Cerita Di Surakarta - Pamitmu, Luluh-lantah Bagiku - Janji Yang Ditepati - Kecupan Pertamaku, Dicuri Olehmu


- Sejenak Melepaskan Kerinduan - Celengan Rindu Terpecahkan - Karena Sebuah Salah Paham - Penolakan Secara Terang-terangan - Satu Tahun Terbaik - Kilas Balik Mengenai Yogyakarta - Kiasan Rindu Di Kota Karanganyar - Pertemuan Yang Tak Terencana - Yang Tertakar Tidak Akan Tertukar


Prolog Aurum Sekar Widyasari, akrab dengan nama bawaan dari orangtuanya Arum. Siapapun itu panggilannya, Arum adalah seorang mahasiswi semester akhir di salah satu Universitas Negeri di Surakarta yang berbasis jarak jauh atau kelas karyawan. Pada semester awal ia pernah bekerja di salah satu perusahaan dekat jantung Kota selama 4 semester berjalan, kemudian habis kontrak dan memutuskan untuk fokus kuliah saja. Namun, selang beberapa bulan usai ujian semester terlaksana Arum merasa gabut dan jenuh di rumah, akhirnya ia kembali memutuskan untuk bekerja lagi. Berbekal pengalaman kerjanya selama 2 tahun silam, ia melamar di sebuah perusahaan ternama yang agak jauh dari tempat tinggalnya. Kira-kira sekitar satu jam perjalanan untuk ia bisa tiba di perusahaan tersebut, dan dari sini semua berawal. Pertemuan Arum dengan seorang Adrian yang berusia 4 tahun lebih muda darinya tidak menghalangi sebuah cinta bersemi, entah bagaimana Adrian, sejauh yang Arum tahu ia mampu menggantikan sebuah figure dari cinta pertamanya yang tidak pernah Arum terima semasa kecilnya. Dari Adrian, Arum percaya bahwa memang dialah sosok cinta yang hilang dari sisinya selama ini. Belum pernah ada nyaman yang sedalam dan seterkoneksi sebelumnya, hanya bersama Adrian ia membagi keresahan jiwanya yang hampir carut-marut karena sebuah keadaan. Penuh ragu, namun keyakinannya dan


rasa cinta kian larut, kedekatan mereka membuahkan sebuah cinta. Waktu berlalu, Adrian meninggalkan pekerjaannya karena keadaannya memang harus meninggalkan Kota kelahiran Arum beserta Arumnya, dengan berat hati keduanya melepas sebuah kata perpisahan. Namun, perpisahan justru membuat Adrian dan Arum menjalin sebuah hubungan jarak jauh, MadiunSolo. Kurang lebih berjalan satu tahun. Konflik batin dan beberapa terpaan angin dihubunganya yang dilakukan secara LDR pun kandas ditengah jalan. Mereka memutuskan untuk berakhir, karena dirasa Arum mencintai bocah laki-laki seperti Adrian hanya akan membebani kedua belah pihak, dan ini sungguh menyulitkan keduanya. Tentang janji Adrian dengan kesungguhan akan memantaskan diri dan melamar dirinya, bahkan Arum tidak peduli lagi. Ia memilih berfokus pada tugas akhir kuliahnya, ambisinya dan melupakan Adrian, pun sebaliknya, selepas perpisahan itu keduanya berbenah. Memperbaiki kehidupan masingmasing, Adrian merantau dan meneruskan kuliah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi. Arum juga semakin sibuk pembenahan dari segi apapun, karirnya meroket dan sibuk sampai pada titik dimana kesibukannya mengariskan ia bertemu lagi dengan Adrian tanpa disengaja. Hanya sejenak melepas kerinduan, keduanya berbaikan namun tetap saja masih ada rasa yang berpenghalang. Racikan Tuhan memang tidak salah, semua yang tertakar tidak akan tertukar, Adrian datang


kerumah Arum menepati janjinya kala itu. Akan tetapi jodoh tidak dipihak keduanya, Arum sudah lebih dulu dilamar oleh seseorang di masa lalunya jauh sebelum mengenal Adrian.


Blurb Arum “Karena berbagai situasi dan keadaan yang membuat kita berjarak, dan sebab lainnya. Maaf tidak bisa disisimu lebih lama dari ini Ad.” Isaknya Adrian “ Kejar apa yang menjadi tujuan hidupmu jauh sebelum bertemu denganku dan kamu juga pantas mendapatkan yang lebih seimbang dari segala aspek. Tentu saja bukan aku orangnya.” Arum hanya diam menunduk dihadapan Adrian penuh isak tangis, diraihnya tubuh Arum oleh Adrian dalam dekapnya. “ Satu hal, perihal janjiku yang pernah terucap padamu masih sama Mbak. Bahkan hingga detik ini aku masih mengusahakan untuk segera bisa kerumahmu membawa keluargaku. Namun, jika dalam prosesku menuju rumahmu ada yang datang lebih dulu melamarmu terima dia, aku tidak akan membuatmu menunggu akan hal itu. Terima kasih banyak untuk semuanya, I love you, Mbak Arum.” bisiknya dalam pelukan


Di Mulai Dari Sini Mahasiswi cantik bernama Aurum Sekar Widyasari, yang kerap di sapa Arum ini kembali melakoni peran sebagai seorang karyawan di perusahaan ternama di Kota Surakarta. Setelah banyak pertimbangan, dan untuk mengisi keboringanya karena dunia perkuliahan yang ia ambil adalah kelas karyawan jadi liburan semester atau tidak tetap sama saja, menggabut dirumah. Dulu di awal semester ia sempat bekerja di perusahaan lain yang agak dekat dari jantung Kota tempat ia tinggal selama 2 tahun namun kontraknya kerjanya tidak ia perpanjang sebab kuliahnya semakin berat dan membutuhkan konsentrasi lebih juga karena ia habis kecelakaan yang meyisakan trauma dalam berkendara. Di semester ke tujuh, saat ini, banyak keributan di kepalanya karena menjadi pengangguran ternyata tidak menyenangkan. Jika ia bekerja, ia bisa mendapatkan gaji untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri juga membiayai kuliah agar tidak menjadi beban keluarga terlebih beban untuk Mamanya. Karena memang disini tulang rusuk kesayangannya ialah seorang tulang punggung juga. “Kalau kuliah, ya, kuliah jangan sambil kerja lagi!” bentak Mama Arum padanya. Malam itu dunianya hancur lebur, karena seorang Ayah yang katanya sosok cinta pertama bagi anak perempuannya kembali melayangkan kata-kata yang tak sepantasnya kelaur dari mulut seorang Ayah. “Kalau nggak punya uang, nggak usah sok-sokan kuliah!” itu kata yang


terucap, bukan hanya sekali atau dua kali, bahkan satu hal, kemana sosok ayah bagi Arum ketika dirinya terluka oleh terpaan dunia. Hanya figure Mama yang mendekapnya penuh kelembutan yang memperjuangkan segalanya untuk ketiga anak-anaknya. Untung saja, Mama adalah seorang Guru dengan penghasilan tetap setiap bulannya. Permasalahannya bukan dipekerjaan, bahkan aku juga tidak membenci Ayah atas dasar pekerjaannya yang musiman seadanya atau hanya petani atau buruh apapun itu. Satu hal saja, Arum minta, “kalau sekiranya memang tidak bisa memberikan dukungan secara materi, paling tidak tolong dukung aku dengan moral. Aku juga butuh dipeluk seorang Ayah, saat dunia mati-matian membuatku tolol dan dungu.” Isak gadis itu disudut kamarnya. “Yah, anterin ke kantor.” Pinta Mama pada Ayah kala pagi hari dengan sabar, karena Ayah sedang tidak ada pekerjaan untuk hari ini. Aku sebenarnya sudah tebangun, namun aku masih mengurung diri dikamar akibat kejadian semalam. Aku terluka parah dengan ucapan yang mungkin bagi kebanyakan tidaklah berarti apa-apa, aku masih terlalu dangkal dalam ego. Terlalu lemah dalam menyaring sebuah ucapan menyakitkan, cengeng dan manja. Itulah sifatnya anak terakhir perempuan bernama Arum. “Gunanya Arum buat apa! Suruh Arum sana!” bentaknya, aku tidak berkutik apapun. Aku hanya terdiam dikamar dan mendengarkan semua percakapan yang ada. “Kalau aku bisa bawa motor sendiri, aku tidak akan sudi


merengek diantarkan, Yah.” Keluh Mama agak terbata, memang Mama sangatlah penyabar dan berhati kecil seperti yang diwariskan padaku, namun tidak dengan sikap penyabarnya. Aku malah justru seorang pemarah yang handal dan ceroboh seperti Ayahku. “RUM! Bangun, jam berapa ini tidur mulu, sana anterin Mamamu!” amuknya didepan kamar, aku benci suasana pagi ini yang menyebalkan. Aku benci dibangunkan secara teriak-teriak seperti maling saja, dan itu sifat Ayahku sendiri. Selalu seperti itu saat mencoba membangunkan anak-anaknya, kasar, keras dan aku benci itu. Sontak aku memuncak, emosiku diubun-ubun rasanya, kubuka pintu kamar dan membantingnya. “Apa begini cara Ayah membangunkan orang? Ayah pikir Arum ini maling? Punya pekerjaan apa Ayah sebagai tulang punggung hingga bentak-bentak Mama? Apa Ayah ikut andil atas semua yang aku miliki? Nggak! Apa yang sudah Ayah korbankan mati-matian sampai sekarat? Nggak ada, kan?!” amukku tak terelakkan penuh bercucuran air mata. “Lancang kamu!” amuk Ayah yang tidak mau kalah, satu hal yang aku tahu. Ayah acuh tak acuh memang, namun beliau tidak sama sekali main tangan padaku, pada Mama dan pada siapapun. Tapi Ayah adalah pecundang. “Mana sosok Ayah yang katanya cinta pertama terbaik bagi Arum, mana, Yah?!” rengekku ayah hanya berlalu begitu saja tanpa ucap, Mama terduduk lemah menyaksikan perdebatan kita berdua. “Arum, sini.” Aku mendekat dan memeluk Mama penuh isakan. “Kalau


Ayah terus-terusan seperti ini, Arum nggak akan kuat, Mah. Hiks-hiks.” Isakku dalam dekapnya kian menjadijadi. “Seperti apapun yang terjadi, yang barusan kamu marahi adalah Ayahmu, jangan diulangi lagi, ya, tolong, Mama mohon sama kamu.” Pinta Mama lirih “Mah, apa masih ada cinta untuk semua ini?” tanyaku “Mah, Arum kerja lagi aja, ya, kan udah ada Mbak Gita yang antar jemput Mama. Biar Arum bisa kuliah pake uang sendiri, jadi Mama nggak usah repot-repot mikirin UKT dan lain-lain. Arum bisa kok, karena Ayah memang tidak bisa diandelin. Aku udah muak sama Ayah dan semua keadaan ini, Mah. Tolong dukung Arum, karena memang hanya Mama yang Arum punya.” Tumpah-ruah semua tangis ini, kesusahan hati dan jiwaku teralirkan membasahi kedua pipiku “Kamu ini ngomongin apa, pikirkan kuliahmu, biar cepet selesai jangan memikirkan banyak hal itu bukan porsimu untuk saat ini.” Dengan telaten Mama mengusapnya dan menenangkanku Berselang dua minggu usai mengumpulkan persyaratan untuk melamar, aku memutuskan diri untuk bekerja lagi. Memang tanpa persetujuan Mama terlebih dahulu, yang penting aku melamar dan tahu-tahu udah bekerja di perusahaan itu. Mau nggak mau, Mama pasti akan mengizinkan karena sudah keterima. Dan benar, sepulang aku melamar dan menunggu sekitar tiga harian. HRD bagian perekrutan karyawan mengirimkan pesan bahwa


aku dinyatakan diterima berkat pengalaman kerjaku sebelumnya. Esok paginya, aku mendatangi perusahaan itu untuk MCU dan segala persiapan lainnya sebagai persyaratan masuk sebagai karyawan baru. Banyak sekali yang berbarengan denganku, yang terbagi kebeberapa departemen di PT. Genta Tama. Salah satu perusahaan kenamaan besar di Kota Surakarta. Babak baru di kehidupanku sedang dimulai, mengenal orang-orang baru lagi dan beradaptasi dengan keberagaman sifat mereka, pekerjaanku nantinya dan situasi yang ada. Permulaan yang baik, semoga kedepannya akan lancar tanpa kendala apapun. Meskipun jauh dari rumah perjalanannya, meskipun ada kuliah yang harus diusahakan lulus segera dan masih banyak cita-cita yang sedikit berantakan karena beberapa hal di semester awal. Ya, Arum pasti bisa. “Selesaikan apa yang sudah kamu mulai!” lantang prakata itu mencuat kala lelah dalam benak Arum. Menjalani harihari sebagai seorang karyawan mungkin akan sedikit membutuhkan banyak energi ditubuhnya terkuras, malamnya ia harus belajar mengejar ketertinggalan matakuliah yang selama ini ia entengkan. Baru satu minggu ia bekerja, lelahnya bukan kepalang, kurang tidur, kurang waktu yang cukup untuk berfokus pada studinya. Tapi, jangan menyerah selalu menjadi pacuan diotak gadis ini. Apapun yang akan terjadi pada hasil akhrinya nanti, ia percaya semua akan baik-baik saja. Arum paham menjadi seorang wanita karir tidak cukup hanya sekadar


rebahan di kasur kamarnya yang hangat dan menunggu seorang pangeran berkuda putih datang melamar. “Kalau lo mau diketemukan pangeran berkuda, ya, lo harus menjadi seorang putri terlebih dahulu. Biar gampang kalau pangeran mencari, ngerti nggak, Rum?!” ujarnya seorang diri yang tengah bermain kata dalam pikirannya. “Mbak, Karyawan baru juga disini?” tanya salah seorang laki-laki yang agaknya lebih muda dariku, ia mengenakan kemeja putih sama sepertiku “Iya, Mas juga?” tanyaku “Iya, Mbak.” balas Mas yang aku belum tahu siapa namanya itu “Boleh gabung, Mbak?” tanyanya “Boleh, silakan.” Aku sedikit bergeser dan mempersilahkan ia duduk di sampingku, di depan ada seorang karyawan baru tengah merokok dihadapanku yang ternyata teman dari Mas-Mas yang aku persilakan duduk barusan. Keduanya merokok, dan aku cukup terganggu dengan asap milik mereka. “Mas, permisi duluan, ya.” Pamitku dan menutup laptopku, saat itu aku sedang membawa laptop membuka referensi untuk pembuatan judul skripsiku. Keduanya mengangguk. Dilain hari, dikantin yang sama, aku masih disibukkan dengan benda berlayar lipat nan pipih dihadapanku. Mas yang kemarin menemuiku, kini duduk lagi disebelah bangku yang aku duduki. Ia berdua lagi dengan temannya, yang bertopi hijau duduk tepat dihadapanku. “Mbak, kenalan dulu. Aku Hadi.” Ia menyodorokan tangan


kanannya. “Oh, Arum.” Singkatku dan membalas uluran tanganya untuk bersalaman. Aku tersenyum simpul pada Hadi. “Adrian.” Sapa balik Mas-mas yang ada didepanku dan aku melakukan hal yang sama padanya. “Arum.” Aku dan Adrian berjabat tangan tanda perkenalan. “Nggak, makan, Mbak? tanya Hadi “Nggak, Mas. Cocolatos hangat sudah cukup menenangkan.” Balasku “Orang sini, Mbak?” tanyanya “Iya.” Singkatku, sambil menutup laptopku dan memfokuskan diri pada lawan bicaraku, Hadi “Deket rumahnya dari sini, Mbak?” tanyanya aktif sambil menghisap sebatang rokok ditangan kirinya “Lumayan, paling sejam.” Balasku datar “Sejam itu jauh, Mbak.” sahut Adrian sambil tertawa Kita bertiga tertawa. “Pulang-pergi itu, Mbak?” tanya Hadi padaku Aku mengangguk. Aku sedang merasa terancam bernapas untuk yang kali ini, karena terlalu banyak menghirup asap para perokok disekelilingku. Sangat menyiksa dan sesak sekali, sampai aku batuk-batuk disamping Hadi dan didepan Adrian. “Mbak, terganggu dengan asap kami?” tanya Adrian Aku hanya mengangguk. “Jadi, kemarin tiba-tiba pergi juga karena asap kami, Mbak?” imbuh Hadi ikut mengajukan pertanyaan “Iya, saya paling tidak bisa kena asap rokok terlalu sering soalnya.” Ujarku


“Maafkan, kami, Mbak.” keduanya langsung mematikan punting rokok dari tangan masing-masing “Terima kasih.” Sebagai tanda menghargai atas perilaku mereka yang sangat sopan padaku. Percakapan kian akrab, kami saling follow-followan Instagram, bahkan Hadi sudah mendapatkan nomor whatappsku di minggu ke 8 aku bekerja disana. Aku lupa, untuk keperluan apa, namun memasuki minggu ke 9 aku bekerja di sini, tidak ku jumpai Hadi sejak senin lalu. Hanya Adrian yang kadang berjumpa, karena kita berdua sekarang menjadi satu departemen di pekerjaan. Jadi semakin sering bertatap, ya, walaupun sesaat. Namun, kita berdua mengenal dengan akrab sekarang. Hadi Pamit, Adrianpun Terselip Siang hari dikala semua karyawan rehat dengan keperluan masing-masing, masih sama, seperti kebiasaanku di satu minggu pertama bekerja menghabiskan sejenak waktu istirahat untuk seorang diri di kantin dengan sebuah laptop dihadapanku Secangkir cokelat hangat disisi kirinya mampu menenangkan apa yang terjadi dalam tugasku mejalankan dua peran. “Mbak.” sapa Adrian dan langsung duduk didepanku. “Hei, sendirian. Sahabatmu mana?” tanyaku padanya. “Nggak tau, Mbak.” jawabnya kecut gitu. “Bukannya satu kosan? Kok nggak tahu.” Tanyaku rada aneh, kan mereka berdua selama ini tinggal berdua di Solo, ditempat adik dari neneknya Adrian. Bisa-bisanya tinggal serumah tapi nggak paham temennya kemana.


“Dia nggak ngomong apa-apa, Mbak. Nggak pamit sama sekali ke orang rumah juga nggak ada yang tahu Hadi kemana, mungkin balik ke Madiun. Aku juga nggak tahu.” Balasnya seperti menyimpan kekecewaan atas perginya Hadi yang tanpa pamitan. “Oalah, tiba-tiba ilang gitu aja?” tanyaku “Iya, baju-bajunya aja udah nggak ada dikamar. Aku pulang lembur dari hari jumat kemaren. Aku tungguin sampai hari ini udah rabu, sama sekali nggak ada chat apa ngabarin. Ya udahlah, paling-paling udah balik ke Madiun.” jawabnya enteng dan sedikit menyimpan rasa kesal pada Hadi karena tidak sopan pergi gitu aja tanpa pamitan “Udah bahas yang lain aja, Mbak.” imbuhnya meminta topik lain selain Hadi. Suasana malah justru terdiam sesaat, Adrianpun membuka bicara. “Mbak, aku perhatiin sejak awal kayaknya Mbak Arum itu sibuk banget sama laptop. Sering menyendiri baca-baca buku, Mbak mahasiswa apa jadi admin kantor juga sih?” tanya yang mungkin menghantuinya selama berminggu-minggu ini memperhatikanku. Ia hanya mengangguk dan tersenyum manis dengannya. “Pantesan aja, setiap kali aku perhatiin pas jam istirahat pasti bawa laptop sibuk gitu kayanya.” ujar Adrian. “Nggak, makan kamu, Mbak?” tanya Adrian lagi. “Secangkir chocolatos hangat mungkin sudah cukup untuk saya, Ad.” balasku dan kembali melayangkan senyuman manis. “Kamu nggak merokok?” tambahku


“Nggak, kan lagi sama, Mbak.” balas Adrian tersenyum simpul “Lagi sama aku atau karena lagi berhemat, haha.” ledekku “Iya, itu juga faktornya, Mbak.” timpal Adrian “Kamu itu bukanya baru lulus sekolah?” tanyaku Dia mengangguk. “Kenapa emangnya, Mbak?” tanyanya “Nggak, kok kayak udah candu banget rokokan mulu, ya, tiap hari?” tanyaku balik “Awalnya sih coba-coba sama temen, Mbak. eh nggak tahunya keterusan, ya, udah sampai sekarang malah jadi perokok aktif.” Jelas Adrian Obrolanku dan Adrian terputus karena ada panggilan masuk ke ponselku. Nomor baru disana menyapa “Maaf, dengan siapa?” “Halo, Arum. Ini Hadi.” “Hadi, maaf, lupa aku save nomormu waktu itu.” “Aku pamit, ya, karena suatu urusan jadi harus meninggalkan pekerjaan di Solo. Senang berteman denganmu, semoga bisa bertemu segera.” ucapnya lewat benda pipih milik Arum “Kenapa buru-buru sekali?” tanyaku “Iya, Ayahku memintaku untuk bekerja di dekat-dekat rumah saja. Titip salam sama Adrian, ya, karena memang mendadak sekali waktu itu jadi aku langsung berkemas tanpa pamit dengan neneknya juga. Ajak dia makan bareng, biar ada temen dan betah kerja di Solo, Rum.” “Ini aku lagi sama dia, mau ngomong langsung aja?” “Nggak usah, sampaikan saja. Titip Adrian di Solo, ya,”


“Baiklah, nanti aku sampaikan.” “Terima kasih, Arum. Nice to meet you.” “Okay, Nice to meet you too and see you on top, Hadi.” Sambungan diakhiri “Dari Hadi, ya?” tanya Adrian Aku mengangguk pelan dan menatap wajahnya. “Oh.” Singkatnya tanpa perelakan kata apapun “Dia pamit, terus nitip salam sama kamu karena kemarin dia buru-buru jadi belum sempet pamit.” jelasku Hari ini aku kacau banget, belum apa-apa udah selebor. Bangun kesiangan dan semua pekerjaanku setengah hari berantakan. Tugas kuliahku menumpuk, dan tubuhku lunglai. “Hai, Mbak. Chocolatos hangat untukmu.” Sapa Adrian dan menyodorkan secangkir chocolatos padaku “Paling pengertian emang.” Girangku Ia duduk di bangku tepat didepanku seperti biasanya, sambil menatapku dan menampilkan senyuman manis selayaknya bocah sembilan belas tahun yang kedapatan dimabuk asmara entah pada siapa. Sejauh aku mengenalnya, tidak membahas persoalan usianya yang baru lulus dari SMK dan baru awal-awal bekerja tidak dapat dipungkiri pembawaannya cukup tenang dan penuh kedewasaan untuk seorang Adrian yang beranjak menjadi calon pria dewasa. Respect padaku, sopan dan ramah padaku, sebagai pendatang dan mungkin lebih muda dariku 4 tahun. Namun, dia juga kadang berulangkali menjadi pengingat berbagai hal tentang keseleboranku


dalam bekerja dan mengerjakan tugas-tugas kuliah. Pengingat makan siangku dan minum air putih dengan cukup, untuk porsinya Arum, Adrian memerankan sebagai alarm yang penting disini. Bersama Adrian yang hampir 3 bulan berlalu ini sangatlah nyaman dan menenangkan. Ia mengetuk-ngetuk pelan laptopku dan menampakkan sedikit senyumannya yang tertutupi oleh laptopku “Mbak,” lirihnya menatapku “Iya, kenapa? Sudahku bilang panggil Arum,” balasku dan tetap memperhatikan laptop “Kalau dipanggil itu liat ke orangnya dong masa di cuekin.” dia seperti merajuk “Iya, kenapa?” aku menatapnya dan menutup laptop yang ada dihadapanku “Loh, kok malah ditutup. Udah selesai?” tanyanya “Nggak akan pernah ada kata selesai untuk sebuah deadline mahasiswa semester akhir, Ad. Haha.” Balasku “Mbak, nggak capek apa kuliah sambil kerja?” tanyanya “Maybe, melelahkan.” Singkatku sambil meminum coklat hangat yang sudah dipesankan oleh Adrian untukku “Terus kenapa nggak pilih saja salah satu?” tanyanya lagi “Kalau bisa berjalan dua arah sekaligus kenapa harus salah satu.” Balasku dan tersenyum Tak lama setelah itu, raut wajahku menampilkan kemurungan. “Dih, malah ditekuk. Kenapa?” tanyanya “Aku kena omel Bu Ayuk.” Keluhku


“Lupain, Mbak. Kita, kan anak baru. Masih belajar juga.” Ia menenangkanku “Udah mau masuk, aku duluan ya” imbuhku dan berkemas seusai menengok jam ditanganku “Kebiasaan deh, Mbak. Habisin dulu udah dipesenin juga.” Cegahnya dan aku berbalik, menghabiskan chocolatos yang masih sisa setengah gelas itu hingga habis “Terima kasih, Adrian. Aku duluan, see you.” pamitku “Kelar kerja, kita barengan ke parkirannya, Mbak!” Seru Adrian Arum hanya mengangguk dan meninggalkan Adrian yang masih di kantin. #Perhatian Kecil Namun Tersampaikan Kembali kerutinitas seperti biasanya bekerja bagaikan kuda, mungkin kata karyawan lama demikian. Dibiarkan semua mengalir seperti air dan natural terjadi kedalam hidupku, rasa syukurku akan menghilangkan lelahnya bekerja seharian ini nanti. Masih bisa kuliah dan bekerja dengan baik, bahkan aku tidak jauh dari orangtuaku demi sebuah pekerjaan walaupun jarak tempatku bekerja dengan kampus dan juga rumah begitu melenceng asal aku menikmati setiap proses dalam bertumbuh semua akan terasa ringan terlalui. Meskipun kadang kurang baik terlewati ada gronjalannya, banyak kerikilnya dan kadang ada bumbu-bumbu nangisnya juga. Tapi ini sudah pilihan yang aku ambil sejak awal, ya, aku harus selesaikan dengan saksama meskipun nanti kurang sempurna.


“Mbak, sini aku bawain sampai parkiran.” Tawar Adrian yang tiba-tiba muncul dibelakangku saat aku mengambil tas di loker “Adrian, membuatku kaget saja.” Bentakku “Maaf, dari tadi aku buntutin nggak sadar?” tanyanya Aku hanya menggelengkan kepala dan berjalan mendahuluinya. “Sini biar aku yang bawa tasnya, pasti capek seharian kerja.” Ujar Adrian dan mengambil alih tas yang berisi laptop dan buku-buku dari tanganku “Memang kamu nggak capek? Kamu juga kerja seharian.” Balasku “Aku capek badan doang, tidur sembuh. Nah, kamu capek sebadan-badan dan pikiran, Mbak.” balasnya sambil mengimbangi langkahku berjalan disepanjang Lorong menuju parkiran “Mbak, weekend disuruh overtime nggak sama Ibu Ayu?” tanyanya “Nggak. Kenapa?” balikku bertanya “Ke kampus nggak besok?” tanyanya lagi “Nggak juga.” singkatku “Nggak ada deadline atau tugas kuliah yang harus kelar diminggu ini, kan?” tanya Adrian lagi “Nggak, kenapa sih emangnya kok kepo banget?” tanyaku balik pada Adrian “Ajakin aku tahu Solo lebih jauh dong, Mbak.” ujarnya, Aku menghentikan langkahku “Maksutnya?” tanyaku ambigu


“Mbak, kan, orang sini. Nah, bolehlah ajakin aku mainmain kemana gitu biar ngerti Solo.” ujarnya “Tapi, aku nggak ada waktu buat main-main.” ledekku “Gimana sih, Mbak. Nggak gitu.” Balasnya “I Know your mean, tapi capek, Ad. Soalnya habis ini aku masih harus ngumpul dulu sama temen-temen kuliah buat bahas something kemungkinan pulangku malem bgt dan besok jadwalku molor seharian.” gamblangku “Masih ada hari minggu buat molor seharian suntuk, please, Mbak. Gabut aku dirumah nenek, sungkan kalau rebahan dirumah, Cuma numpang soalnya.” rengeknya seperti anak yang minta dibelikan permen dan harus diturutin “Katanya Mas William, Tawangmangu itu sejuk buat ngadem enak. Ajakin aku kesana dong, Mbak.” imbuhnya “Minta, Mas William anterin dong kesana.” Suruhku dan terus melangkah menuju parkiran “Kata Mas William juga, disana enaknya ngadem sama ayang, Mbak.” Adrian mulai mencari-carik rajukan agar aku mau diajak ke Tawangmangu “Ya, udah ajak Ayangmu dong ngadem berdua di sana.” Balasku lagi “Nggak ada ayang, Mbak. Dan aku nggak ngerti daerah Solo.” sangkalnya “Tawangmangu, kan, bukan Solo. Udah karanganyar itu, lagian ada maps ngapain sama aku.” sangkalku lagi, mengajukan pernyataan menolak


“Diamapun, apapun, itu. Please ajakin aku ke sana, okay, Mbak Arum yang baik hati, cantik jelita dan tidak sombong, yaaa.” rengeknya menjadi-jadi “Jadi aku yang ngajak kamu gitu?” tanyaku “Emm, maksut aku, temenin aku kesana. Besok aku jemput, okay?” “Gimana, ya,” “Gas dong.” “Aku buru-buru Ad, udah pada ramai nungguin aku digrup nih.” sangkalku sambil memperlihatkan chatan grup kelasku pada Adrian “Besok gimana?” tanyanya “Terserahmu, kalau dijemput ya ayo kalau nggak ya udah. See you.” balasku sambil setengah berlari ke parkiran “Serlok aku jemput, Mbakkk!” teriak Adrian “Eh Mbak, tasmu!” imbuhnya dan ikut berlari mengejarku “Astaga, Sorry-sorry, buru-buru, Ad. Thanks.” Kuraih tasnya eh keikut tanganya ketarik dengan tanganku. “Ini tanganku, Mbak. Bilang aja mau digandeng pake soksokan ngode gini. ” celetuk Adrian meledekku “Apaan sih. Duluan.” elakku dan meninggalkan Adrian yang masih dilorong berjalan santai “Hati-hati, Mbak. Jangan lupa serlok, ya.” teriaknya “Dm aja.” Balasku sambil mengacungkan jempol, karena emang aku nggak ada sama sekali nyimpen nomor wa Adrian. Belum sempat aku dan dirinya bertukar nomor


ponsel, hanya sekedar saling mengikuti akun Instagram masing-masing waktu itu. “Selamat malam, Mbak cantik.” Pesan masuk di whatappsku “Maaf dengan siapa?” tanyaku lewat benda pipih milikku itu “Dengan orang gantengnya Madiun, apa benar ini nomor kepunyaan Mbak Aurum Sekar Widyasari?” tulisnya dalam percakapan pesan “Kelakuannnn, minimal dinamain biar nggak repot-repot nanya ini nomor siapa.” Dengan emoticon geram kukirimkan pesan balasan untuknya “Tahu gitu, aku kerjain dulu deh ini tadi. Hahaha.” Balasnya “Minta nomorku dari siapa lu, Ad?” tanyaku “Ada deh pokoknya, nggak penting. Yang penting itu, sekarang kamu share location rumahmu, rapih-rapih dan istirahat. Besok aku jemput.” tulisnya dalam pesan “Besok aja kirim serlokannya.” balasku “Besok malah lupa, Mbak. Sekarang aja, kuy.” pintanya Aku kirimkan alamat lengkapku tanpa menyertakan share location dan dibumbui emoticon tertawa ngakak “Lengkapnya tanyakan pada peta.” Imbuhku dalam pesan itu, dan mengakhiri pertukaran pesan dengannya. Sabtu pagi kali ini Adrian menepati janjinya, ia sungguh kerumah menjemputku untuk pergi healing dari suntuknya kehidupan seorang karyawan di suatu


perusahaan besar. Ia bahkan pamit dengan Mamaku dan kakakku dengan sedikit kikuk menyalami keduanya. “Kok nggak bilang akan datang lebih awal dari jam 10?” tanyaku yang masih belum mandi “Iya, aku akan datang lebih awal paling tidak 30 menit dari waktu yang sudah aku janjikan.” Ujarnya “Bilang jam kesini jam 10 aja nggak.” Sangkalku “Cek hp deh, Mbak.” pinta Adrian Aku buru-buru membukanya, dan benar memang Adrian menjanjikan akan datang jam 10 kerumah. “Hehe, kan, baru aku read.” Aku nyengir “Salah ngeyel. Buruan mandi, Rum. Diapelin masih aja molor, pie to kik.” timpal Mbak Gita kakak iparku “Dih diapelin katanya.” sangkalku “Kamu nggak nyasar, Ad?” tanyaku “Nggak.” balasnya “Seriusan?” tanyaku keheranan, karena emang setiap kali teman atau siapapun yang kerumah dikirim share location aja kadang suka ada yang nyasar. Atau mapsnya nggak kebaca sampai dititik rumahku apa gimana, pasti setiap yang baru pertama kerumahku harus dijemput dulu. Lah, ini bocah Madiun baru di kasih alamat rumah doang sepagi ini udah tiba dirumah tanpa kesasar-sasar. “Buktinya nyampe sini.” balas Adrian “Sana buruan mandi, Rum. Malah tanyain mulu temennya, kasian dia pagi-pagi udah belain kesini nyari alamat. ” perintah Mbak Gita


“Ya udah, mandi dulu, ya. Baik-baik ngobrol sama Mbak Gita sama Mama bahaya soalnya.” Balasku dan pergi mandi Singkat Tapi Melekat Hangat Aku pun pergi mandi, dan meninggalkan Adrian diruang tamu bersama kakakku Gita juga Mama. Entah apa yang mereka obrolkan terasa sangat nyambung ketiganya berbincang begitu aku selesai mandi. Bahkan Adrian sempat tertawa lepas dengan Mama, tidak begitu kepo juga palingan Mama sedang menceritakan hal-hal konyol semasa mudanya atau malah justru Mbak Gita yang bercerita tiba-tiba dilamar Bang Raden. “Udah ready, kemana kita?” sapaku yang sudah selesai merapikan diri “Sembarang.” Singkat Adrian “Mah, tahu nggak. Masa Adrian ini ngajak jalan tapi nggak tahu mau kemana, Cuma bilang pengen lebih mengenal Kota Solo gitu aja.” rajukku pada Mama Adrian hanya tertawa sedikit canggung, karena baru kali pertama kerumahku. “Ajakin muter-muter sawah aja, ya, Mas.” ledek Mama Adrian lagi-lagi hanya tersenyum dengan suasana ini. “Di Madiun banyak sawah, Mah.” ujarku “Ajakin ke pantai apa Tawangmangu gitu, Dek.” Usul Mbak Gita “Nggak tahu itu, biarin Arum mah nurut aja sama drivernya.” godaku sambil mengenakan sepatu


“Sekarang?” tanya Adrian ketika aku sudah selesai menalikan sepatu dengan sempurna “Sembarang.” singkatku “Ikut-ikutan.” balas Adrian “Ayo.” Ajakku “Bu, saya izin ajak Mbak Arum jalan-jalan dulu.” Pamit Adrian sambil mencium tangan kanan Mamaku “Hati-hati bawa motornya, Mas.” Balas Mama “Mah, main dulu ya.” Pamitku juga “Jangan malam-malam pulangnya.” Pesan Mama sambil mengecup keningku “Pasti.” sambilku acungkan jempol pada Mama dan Mbak Gita “Mbak, izin ajak adiknya keluar bentar, ya, mbak.” imbuh Adrian pamit kepada Mbak Gita “Nanti kalau anaknya ngrepotin turunin aja dijalan, Ad.” ledek Mbak Gita “Kejam sekali anda ini, Mbuakkk.” balasku “Jangan lupa wa abangmu, kena omel nanti pulang telat.” sahut Mbak Gita “Siap, laksanakan Bu Lurahhh.” Aku mengacungkan kedua jempolku usai membonceng diatas motor Adrian “Kebiasaan. Udah sana pergi, malah cengengesan.” Timpal Mbak Gita “Mari, Bu, Mbak. Assalamualaikum.” pamit Adrian sambil membunyikan klakson motornya “Waalaikumsalam, hati-hati.” jawab Mbak Gita dan Mama bersamaan


Terdiam, selebihnya hanya bertanya tentang arah padaku. Setahuku memang Adrian nampak cuek dan jarang berbicara kalau nggak bener-bener dia lagi mood. Setahuku sih gitu, selama hampir 3 bulan berjalan ini, mengenalnya sebagai pribadi yang random. Konyol, bobrok, tengil, dingin, dan cuek. Asik sih sebenernya, kalau udah kenal deket dan akrab. Kalau nggak dia lebih ke pendiam. Kayak aku gini, style introvert diawal bobrok diakhir hahaha. “Keluargamu hangat banget, Mbak.” ia menyumbangkan suara untuk pertama kalinya selain pertanyaan habis ini belok kemana, Mbak? mungkin dia sejak dari rumah sampai di pertengahan jalan sedang mikir keras mengenai topik apa yang akan dia bahas bersamaku selama berboncengan dijalan. “Ya gitu.” sahutku “Bapak kemana, Mbak? tadi kaya nggak ada dirumah.” sambungnya “Ke sawah.” sahutku “Bapaknya Mbak Arum seorang petani?” tanyanya lagi “Iya, kalau lagi musim panen selebihnya serabutan atau nggak nganggur.” jelasku kepada Adrian “Kalau Mbak yang tadi itu, Mbak kandung?” tanyanya “Itu Mbak ipar, istri dari Bang Raden anak keduanya Mamaku. Yang pertama Bang Putra namanya, istrinya bernama Mbak Ica terus punya satu anak namanya Vino.” jelasku padanya


“Mereka masih tinggal serumah sama orangtuamu, Mbak?” tanyanya lagi “Kalau Bang Putra udah tinggal sendiri sama anak istrinya, rumahnya samping kanan rumahku tadi. Terus kalau kamu liat disebelah kiri rumahku ada bangunan yang belum jadi. Nah itu bakal rumah Bang Raden sama Mbak Gita. Begitu.” jelasku “Berarti yang tengah bakal rumahmu, Mbak?” tanyanya “Ya rumah orangtuaku dong, akunya besok ngikut aja sama suami, hehe.” balasku “Ikut ke Madiun dong berarti?” tanyanya sambil menoleh kebelakang “Maksut loooo.” Aku memukuli pundaknya, kita berdua tertawa. “Kalau Mama kerjanya?” tanya Adrian terus mencari topik pembicaraan selama perjalanan “Mama jadi Guru pendidikan di Taman Kanak-kanak. Deket-deket rumah paling 10 menitanlah dari rumahku. Apa lagi?” tanyaku balik “Boncengin anak guru vibesnya emang beda sih. Ada groginya dikit.” ujarnya mengodaku “Bedanya apaan coba.” teriakku “Pegangan, Mbak.” dia menarik tanganku untuk dirangkulkan melingkari perutnya yang krempeng itu. “Nggak, pegangan sini aja.” tolakku Sejenak tercipta keheningan lagi. Kita terhenti karena rambu lalu-lintas berwarna merah, dia meletakkan tangan kirinya di kakiku yang berpijak


pada footstep. Aku adalah tipe orang yang disentuh gampang geli dan risi aja digituin apalagi sama cowok walaupun hanya disandarin tangan doang tetep aja risi. “Tangannya, Ih!” bentakku “Apa sih, nyender bentar doang.” ujarnya “Nggak sopan.” bentakku “Iya deh.” balasnya dan melajukan kemudi saat lampu sudah berwarna hijau. “Kalau pergi sama aku, nanti pacarmu marah nggak, Mbak?” tanyanya “Aman!” aku jawab aja sok-sokan punya pacar padahalkan baru aja broken hahaha. “Seriusan?” tanyanya yang menyangka akua da pacar, dan dia merasa sungkan. “Yang penting nggak ketahuan, udah masalah selesai. Toh kita juga nggak ngapa-ngapain.” balasku Dari spoion kirinya, Adrian memperhatikan aku terus nggak tahu apa yang dia pikirkan. Mungkin saja dia ketakutan kalau aku beneran ada pacar dan bakal kenal masalah setelah turun dari Tawangmangu, wkwk. “Kenapa? Diliatin mulu dari tadi.” tanyaku yang mulai risi dengan tatapannya dari spion motor. “Manis banget.” balasnya agak lirih Karena bonceng dibelakang jadi rada budek, dan ditambah aku dan Adrian pake helm jadi makin budek telingaku. “Apa?!” teriakku dan agak memajukan kepalaku agar kedengeran suara Adrian saat bicara. “Hah? Apaan coba?!” teriaknya balik


“Kamu nggak nanya barusan?!” tanyaku dengan suara keras-keras “Lagi nyanyi!” serunya dan tertawa Sepanjang perjalanan dia banyak bertanya padaku, bertanya soal Ayahku, Mamaku dan Kedua kakakku beserta kakak iparku. Aku sih hanya menjawab seperlunya, yang bisa aku jawab tidak terlalu intens dan mendetail lagipula kita berdua juga baru sebulan kenal. Untuk apa ditanggapi terlalu serius, asalkan dia respect dan tidak mengusikku. Aku tetap enjoy berteman dengannya. “Kamu udah bilang ke Mamamu kalau pergi sama aku?” tanyaku keras-keras Adrian langsung memelankan kemudinya dan memberikan atensinya untuk mendengarkanku. “Udah.” balasnya “Kamu ini anak pertama, Ad?” tanyaku Dia mengangguk. “Punya adik dong berarti?” tanyaku lagi “Punya, 2 malahan. Cewek semua, yang kecil cerewetnya kek kamu gitu, Mbak. Kadang bikin kangen kalau nggak pulkam gini.” ujarnya “Berarti aku mbok kangenin dong, ya, kalau nggak ketemu?” tanyaku “Iya, apalagi kalau sabtu minggu nggak ketemu. Wes, kangen e pol-polan aku, Mbak sama kamu.” balasnya “Dih.” decakku


“Seriusan, kamu itu penyemangatku di sini, Mbak. kalau kerja bawaannya capek dan mau nyerah, isinya cuma ngeluh gitu liat ke arahmu. Makcles, semangatnya pulih lagi, membara.” jelasnya padaku “Berlebihan amat.” sangkalku Tak dirasa percakapan membuat kita hampir sampai ke tempat tujuan, harusnya tidak memakan waktu selama ini. Namun karena enjoy disepanjang perjalanan jadinya perjalanan yang semakin lama malah justru terasa singkat. Masih bisa berbincang banyak, Adrian menceritakan kehidupanya di Madiun. Ia seorang pesilat disalah satu perguruan ternama, yang baru saja menyelesaikan ujian akhirnya dan resmi menjadi pesilat sejati. Dia seorang yang bisa di katakan wakil tulang punggung keluarga setelah Ayahnya. Ibunya dulu seorang pekerja pabrik , namun karena adik Adrian yang paling muda masih kecil waktu itu jadi mengalah dan memfokuskan membesarkan Aira, adik paling bontot Adrian yang sekarang sudah mau masuk TK. Ayahnya seorang pekerja proyek bangunan yang merantau di Bali, jarang sekali pulang karena pekerjaan proyek membuat beliau terlalu sibuk. Sedikit lebih banyak memahami kondisi Adrian, yang sama-sama dilema menentukan keputusan dalam hidupnya akan seperti apa kedepannya. Mungkin bedanya, aku bukan lagi soal pencarian jati diri, sedangkan dia lagi seneng-senengnya bekerja dan menghabiskan uang hasil kerjanya kesana-kemari. Bukan menghamburkan uang, namun memang fase usia Adrian


masih dalam tahapan pencarian jati diri dan bereksperimen dalam berbagai pengalaman baru. “Mbak, masih lama?” tanyanya “20 menitan lagi sampai, mau mampir alfa dulu rehat?” tawarku “Boleh, Mbak capek?” tanyanya balik “Kamu itu, capek nggak. Aku mah diem di belakang doang nggak capek.” Balasku “Ini mah belum seberapa, aku loh Madiun-Solo nggak rehat sama sekali, Mbak.” ujarnya “Udah biasa perjalanan jauh, ya, Ad?” tanyaku “Iya, membiasakan diri aja, Mbak. Semisal berhenti, malah nggak sampai-sampai dong hehe.” jawabnya sambil menoleh ke arahku “Hus, liat jalan. Bahaya!” bentakku Dia malah menoleh lagi dan tersenyum “Dibilangin.” amukku “Iya-iya, Mbak.” balasnya dan fokus mengemudikan motor Dia meraih tanganku, seketika aku reflek melepaskan tarikan tangan itu darinya. “Pegangan, ngebut nih.” ucapnya “Nggak, gini aja aman.” Aku pengangan di jaketnya dia “Serius?” tanyanya “Iya.” teriakku Adrian dengan sengaja menambah kecepatan laju motornya, dan membelok-belokkan kemudi stang tanpa


rem. Bener-bener ugal-ugalan sementara jalanan di daerah Tawangmangu sangatlah berkelok dan menanjak. “Adrianaaan!” aku memeluknya erat dan menyembunyikan wajahku dibalik punggungnya “Apa?!” tanyanya “Pelan-pelan!” teriakku “Nggak denger!” ledeknya Aku memukuli pundaknya, “Bahaya, bawa motor yang bener, Ad!” amukku “Aduh, sakit.” keluhnya dan meminggirkan motornya “Jangan ngebut-ngebut makannya.” kesalku “Salah siapa nggak pegangan.” sangkalnya dan tertawa “Bodoooo!” ketusku “Berhenti dulu, Mbak. Malah hujan ini.” balasnya dan turun dari motor sambil membantuku mencopotkan helmku dikepala “Thanks.” singaktku dan berusaha turun dari motornya “Duduk aja, Ntr basah sepatumu, biar aku yang berdiri, Mbak.” pinta Adrian “Mbak, sini-sini. Ibu nanya kemana.” Dia merangkulku dan mengambil gambar foto bareng kita yang sedang berteduh dipinggir emperan toko. “Dih, tanganya ini nggak sopan.” Aku langsung membuang jauh rangkulan tanganya “Maaf, Mbak. Ulangi kalau gitu, aku pap in ke Ibu.” ajaknya lagi “Neko-neko tangannya, awas!” ancamku “Nggak, ya Allah. Sini jangan jauhan toh.” Pintanya


“Ceh!” ketusku dan mendekat “Ok, kirim ke ibu.” Ujarnya sambil sibuk dengan benda pipih ditangannya “Apa kata ibumu?” tanyaku “Cantik, katanya.” Dia menatapku “Mana ada, apa yang kamu bilang ke Ibu emang?” tanyaku “Baca aja sendiri, Ibu bilang cantik.” Dia menyodorkan ponselnya “Udah reda, ayo jalan.” Aku mengalihkan pembicaraan dan bahkan hujan juga sudah mulai reda “Let’s goooo!” kita berdua meneruskan perjalanan Senja, Kamu dan Tawangmangu Menikmati senja di Tawangmangu selepas hujan bersama Adrian, meskipun sedikit berkabut namun tetap saja tempat sedingin ini masih menjadi kesukaanku. Ditambah fakta yang tubuhku menolak hawa terlalu dinginpun aku tetap menyukai tempat ini, bersama orang baru yang belum terlalu jauh aku mengenalnya. Cerita yang menyenangkan, berhiaskan lampu-lampu café dari kejauhan nampak dataran yang lebih rendah sangat mempermanis lukisan senja penutup sore di hari sabtu bersama Adrian kali ini. Dengan segelas cokelat hangat yang seketika dingin dan mangkuk berisi mi instan, sungguh menyuguhkan kekhasan Tawangmangu. Sederhana tapi nganggenin, sesederhana helmku dan helmmu berhimpit saat diperjalanan yang berkelok.


Begitu kata Adrian lewat candaannya. Anaknya hangat, meski jauh lebih muda dariku 4 tahun, asik juga, entah aku yang masih kanak-kanak atau dia yang sudah lebih dewasa dalam pemikiran bawaannya nyambung gitu aja. Adrian tidak kewalahan mengimbangi bahasaku yang mungkin terlalu tua bagi seusianya, nggak tahu kenapa klik aja rasanya. Pembawaannya dia juga ngemong banget, malah aku yang terkesan lebih anak kecil saat bersamanya, mungkin emang karena dia anak pertama dan memiliki dua adik perempuan juga jadi keadaan membuat dia berperan di tanggungjawab sebagai figure seorang kakak laki-laki yang mampu diandalkan. Aku yang mengaku terbiasa menjadi adik perempuan seorang diri dirumah, yang selalu dimanja, selalu merasa aman saat bersama seorang kakak laki-laki. Ya, mungkin bisa juga menambah situasi saat disisi Adrian semakin hangat dan nyaman. Tidak merasa dia bakal neko-neko dan apapun itu. Kita berdua muter-muter aja di Sarangan yang ramai kala weekend, mengambil beberapa gambar dan berbincang di tepian danau sarangan. Agak lama, karena makin berkabut jadi aku mengajak Adrian turun untuk makan di bawah saja. Kita berhenti ditengah-tengah dari deretan banyak café yang ada di pinggir cemoro kadang, tempat kesukaanku ketika ke Tawangmangu, untuk sekedar menikmati kuaci bersama senja dan teman-teman sebaya. Atau mi instan dan coklat hangat. Aku mengajak Adrian merasakan suasana makan mi instan sekali masak


langsung dingin seketika, ya, kalau lagi berkabut banget kayak sekarang sih. Kalau lagi cerah-cerahnya malah justru panas terik. “Mbak suka makan disini?” tanyanya Aku mengangguk sambil berfokus pada benda pipih ditanganku. Hening. Aku mengalihkan padangan dari ponsel dan meletakkan ponselku di bangku. Menatap Adrian yang dari tadi kayak canggung dan panik gimana gitu tingkahnya saat duduk disampingku. “Lo kenapa sih, Ad?” tanyaku penasaran dong “Agak grogi jalan sama cewek, udah lama nggak deket sama cewek soalnya, Mbak.” balasnya cengar-cengir “Sekalinya jalan langsung sama yang tuaan?” tanyaku meledek “Malah enak sama yang lebih dewasa, hehe.” balasnya masih canggung “Rileks aja gitu, lo bisa panggil Arum. Seumuran aja gitu, jangan terlalu formal.” balasku dan menepuk pundaknya “Mbak, tahu nggak?” tanyanya “Apa?” tanyaku sambil menikmati mi instan yang sudah hampir mendingin karena terpaan kabut yang begitu akut “Sebenernya aku itu nakal banget.” ujarnya “Maksutnya?” tanyaku aneh “Ya, aku itu bukan anak baik. Seorang perokok bahkan mabuk-mabukan juga.” ujarnya polos “Kamu? Dengan usia yang baru lulus SMK?” aku bertanya-tanya


Dia hanya mengangguk pasrah. “Terus orangtuamu?” tanyaku “Iya, udah tahu.” singkatnya tanpa menatapku hanya menundukkan pandangannya “Pergaulanku udah salah sejak awal emang.” ujarnya lagi Aku hanya diam dan termenung tanpa ucap apapun, tanpa pergerakan apapun selain meneruskan menikmati mi yang sudah benar-benar terasa dingin karena udara kian berkabut tebal seiring senja malu-malu berpamitan dari ufuk barat mataku memandang. “Mbak, aku turun bentar, ya.” pamitnya “Ngapain?” tanyaku “Bentar, beli rokok.” Balasnya dan turun “Oh, okay.” singkatku “Udah?” tak lama ia kembali “Nggak dapet, hehe.” balasnya “Itu tandanya kamu disuruh berhenti merokok, haha.” ledekku “Nggak dicariin, kan, Mbak?” tanyanya dan duduk didekatku “Nggak, udah gede. Udah tahu dan jelas juga perginya sama kamu. Jadi aman.” balasku “Udah habis belom?” tanyanya “Udah, mau turun sekarang?” tanyaku balik “Iya, takut kemaleman pulangin kamunya.” Dia menarik tanganku lembut dan turun untuk membayar ke kasir yang ada di lantai bawah. Adrian membayar semuanya.


“Let’s go!” ajaknya usai membayar “Mampir sholat magrib sekalian isya dulu, kan, Ad?” tanyaku padanya “Iya dong.” balasnya Kita turun, dan singgah di masjid sejenak melaksanakan sholat magrib sekalian sholat isya. Barulah Adrian mengantarkanku pulang kerumah, nggak tahu kenapa aku merasakan kantuk yang begitu hebatnya. Tidak biasanya, kalau pergi jauh buat healing dibonceng temen merasakan secapek ini dan sengantuk ini, tubuhku emang butuh rehat sepertinya karena pekerjaan yang begitu penat diminggu ini. Sementara Adrian fokus dengan jalanan yang semakin gelap, tak banyak tanya yang ia lontarkan diperjalanan pulang. Rasanya lama sekali untuk menuruni bukit dan untuk tiba di jalan raya kota Karanganyar. Seketika dering ponselku memecahkan keheningan malam ini, Adrian langsung meminggirkan motornya dan membiarkan aku mengangkat telefon. Rupanya dari Bang Raden, dia pasti akan marah besar jika aku tiba dirumah lebih dari jam 10.00 malam dan pulang dengan diantar oleh seorang cowok. “Aduh, Bang Raden lagi. Lupa ngabarin.” keluhku “Angkat dulu, nanti aku bantu jelasin.” ujarnya “Yah-yah lowbat, Ad.” decakku “Kamu hafal nomor kakakmu, kan? Telfon pake punyaku.” tanyanya sambil menyodorkan ponselnya Aku meraih ponselnya dan mengetikkan nomor Bang Raden.


“Assalamualaikum, Bang, ini Arum.” ucapku “Waalaikumsalam, dimana? Jam berapa ini, kamu tahu waktu nggak?” bentaknya lewat telefon “Iya, ini otw pulang. Tadi hujan soalnya, berangkatnya siang jadi turun udah magrib, Bang. Maaf Arum lupa ngabarin.” jelasku “Cepet pulang, hati-hati.” ketus Bang Raden “Iy- tut-tut-tut.” “Kebiasaan banget belum juga dijawab, hih.” geramku pada Bang Raden “Kakakmu marah, Mbak?” tanya Adrian khawatir “Nggak, biasalah dia kalau nggak diprioritasin ngomel nggak jelas.” Kesalku “Namanya juga kakak, nggak mau adik cewek satusatunya kenapa-napa. Aku juga gitu.” balas Adrian “Kamu belain Bang Raden, jadinya?” ketusku “Nggak gitu, maksutnya, kan, baik. Supaya besok-besok lagi aku ngajak main jangan sampai pulang larut malam, bawa anak cewek sampai jam segini baru dipulangin, kan kurang sopan juga, Mbak.” Jelas Adrian “Udah, ah. Ayo jalan.” sangkalku “Pegangan.” pintanya “Udah.” ketusku “Yang bener, Mbak.” pintanya lagi sambil menarik pelan kedua tanganku dan diikatkan di pinggangnya “Modus!” keluhku “Udah deh, ini bukan soal modus. Boncengin orang capek kalau tiba-tiba tidur jatuh siapa yang tanggungjawab,


kalau yang ngajak aku, ya, kamu berada dalam tanggungjawabku.” omelnya “Mbak?” panggilnya semakin lirih di telingaku terdengar “Mbak?” panggilnya lagi, aku sudah pulas tertidur dibalik punggungnya Ada hangat menyentuh jemariku sepanjang perjalanan, aku hanya merasakan tangan Adrian erat mempertahankan pelukan kedua tanganku diperutnya nan ramping. Perlahan ponsel yang masih terbawa ditanganku, ia lepaskan. Aku masih bisa merasakan itu, bagaimana ketika ia terus mempertahankan dekapan kedua tanganku yang mengikat diperut rampingnya itu. Dibiarkannya aku tertidur dengan nyaman dipunggungnya tanpa gangguan apapun di setiap perjalanan pulang. “Ad, ini dimana?” cukup lama aku tertidur pulas dengan memeluk erat tubuhnya. “Kok bangun?” tanyanya balik, dan aku masih merasakan tangan kirinya mendekap hangat kedua tanganku sementara tangan yang lain terus fokus berkendara. “Ad, hpmu mana? Jatuh Ad.” Aku panik seketika. “Udah-udah, ini loh tadi hampir aja jatuh pas kamu tidur. Udah tidur lagi aja, maaf, ya, membuatmu kelelahan hari ini.” Ujarnya sambil menunjukkan ponselnya “Terus helmmu mana?” tanyaku lagi. “Dibawah, takut ganggu dari pada helmmu yang aku copot malah kamunya kebangun. Jadi helmku aja yang aku taruh di bawah.” jelasnya


“Tidur lagi aja, nanti kalau lupa jalan biar aku sambil baca maps.” pintanya “Ad, btw ini kita nyasar nggak sih. Kamu salah belok barusan?” tanyaku sambil celingukan meraba-raba benarkah ini jalan yang tadi siang aku lewati dengan Adrian. “Kayaknya sih iya salah jalan, Mbak. Soalnya tadi Mbak tidur nggak enak banguninnya jadi aku ngasal, ini udah bener kok di maps.” jelasnya “Sini biar aku yang pegang mapsnya.” pintaku “Aku bisa kok baca sendiri, tidur lagi aja aku jagain kamu sambil jalan, Mbak.” pintanya “Nggak, ah. Kasian kamunya.” sangkalku yang beberapa menit kemudian tetap aja tertidur, emang anaknya lagi kecapekan lahir batin sepertinya semudah ini tertidur, padahal ini kali pertamanya aku dibonceng cowok sampai sedeket ini. Saking nyamanya, nggak tahu kenapa aku menemukan sebuah rasa yang aneh malam ini sama Adrian. Tapi, bukan cinta, lebih ke safety aja kayak carenya sebagai kakak ke adiknya itu dapet banget di akunya. “Mbak, bangun. udah sampai.” bisiknya Tanpa kutik aku masih pulas tertidur dengan nyamanya dibailk punggung Adrian, padahal udah sampai didepan rumah. “Mbak, bangun, nggak enak kalau Ibu sampai bukain pintu dan kamu masih kaya gini.” Bisiknya “Capekmu beneran, ya, Mbak?” tanyanya seorang diri


“Loh, Mas. Kok nggak masuk, malah diluar aja?” Sapa Mbak Gita yang memergoki aku dan Adrian didepan rumah "Maaf, Mbak. Ini, Mbak Arum.” Balasnya sambil nyengir “Oalah. Rum, dek, bangun udah sampai Adriannya mau bailk nanti kemaleman dianya.” bisik Mbak Gita “Kecapekan banget kayaknya, nggak biasanya susah dibangunin.” ujar Mbak Gita “Biar saya gendong ke kamarnya, Mbak, apa boleh?” tanya Adrian “Ya udah, minta tolong, ya, Mas. Malah ngrepotin.” Sungkan Mbak Gita “Iya, nggak papa, Mbak. Lagian salah saya kemaleman ngajakin pulang anak cewek.” Ucap Adrian sambil menggendongku masuk kekamar ditemani Mbak Gita “Kenapa?” tanya Bang Raden yang baru aja pulang dari acara pengajian tetangga belakang rumah “Oh, Mas. Saya Adrian, temannya Mbak Arum. Maaf, terlambat pulangnya, karena tadi sempet hujan jadi turunnya udah malem, Mas.” Jelas Adrian sambil menyalami Bang Raden “Tapi nggak terjadi apa-apa, kan?” tanya Bang Raden santai sambil menepuk pundak Adrian pelan “Nggak, hanya Mbak Arum sampai ketiduran dimotor, Mas, gara-gara saya, sekali lagi maaf karena pulangin adiknya kemaleman, Mas.” Imbuh Adrian


“Yaudah, lain kali jangan malem-malem, ya. Terima kasih udah nganterin Arum sampai ke rumah dengan baik.” Balas Bang Raden “Kalau gitu Adrian langsung pamit pulang, Mas, Mbak udah malem juga soalnya.” Pamitnya “Abang antar sampai depan, Ayo.” Imbuh Bang Raden “Baik, Mari, Mas, Mbak.” Pamitnya “Hati-hati, kabarin Arum kalau sampai di kosan, ya.” Pinta Mbak Gita “Baik, Mbak. Mari, Assalamualaikum.” Pamitnya lagi “Waalaikumsalam.” Balas keduanya #Di Meja Makan Suara Vino memcahkan keheningan sedini ini. Apa yang membawanya kekamarku, aku tidak begitu jelas, mungkin dia merindukanku karena satu minggu tidak bersua. Dia keponakanku, anak pertama dari kakak pertamaku, Bang Putra dan Mbak Ica. Sejak bayi selalu nempelnya sama aku, sampai-sampai aku bilang mau kerja dia marah berhari-hari nangis bombay tidak jelas. “Apa sih Vin, masih subuh udah gangguin Tante.” kesalku yang masih setengah sadar dari tidurku. Kebiasaan bocah 3 tahun, apa selalu mengusik damaiku sepanjang hari setiap pagi. Namun, bagaimana lagi aku juga merindukan bocah yang nggak kalah tengilnya dari modelanku ini. Mungkin saja dia memang titisan Arum, hahaha. Vino ikut naik keranjang, dan menyusulku kembali tidur. Bisa saja minggu ini akan menjadi hari molorku bersama


keponakan tercinta yang satu ini. Bukan kepalang, pukul 07.00 pagi, Bang Raden memintaku untuk segera pergi mandi karena memang aku tidak mandi sejak kemarin. “Oh, iya, gue lupa kalau semalam gue tidur di motor sama Adrian. Lah, terus pulangnya dia kapan?” decakku dan terbangun penuh kata tanya. “Jadi, gue nggak mandi semalam?” tanyaku lagi sambil menciumi badanku sendiri. “Hmm, wangi bener. Kok lo masih nempel aja sama Tante, Vin.” gumamku lagi. Bergegasku pergi mandi dan duduk menemui Bang Raden segera, untuk membicarakan hari sabtu kemarin. “Sini, pada sarapan dulu.” seru Mama meminta seisi rumah untuk sarapan bersama “Adek mau apa?” tanya Mama “Ayamnya aja, Mah.” balasku “Pake sayurnya.” tegur Bang Raden “Ya udah dikit.” balasku dan mengambil sayur asam buatan Mama “Semalem dari mana aja? Kok capek banget kayaknya.” tanya Mama “Ke Tawangmangu doang, Mah. Karena hujan jadi banyak berhenti di tengah perjalanan alhasil kemaleman baliknya.” jelasku “Semalem yang nganterin kamu siapa?” tanya Bang Raden “Adrian, temen dikerjaanku yang baru, Bang.” balasku sambil ikut merapikan piring kotor bersama Mbak Gita


“Orang mana?” sahut Bang Putra yang ikut sarapan bersama dirumah “Madiun. Dia di Solo tinggal sama adik dari neneknya Adrian.” jelasku “Kirain dia ngekos sendiri disini.” ujar Bang Putra “Karyawan baru juga di PTmu?” tanya Bang Raden Aku mengangguk. “Lulusan tahun kapan?” tanyanya lagi “Baru tahun lalu, baru pertama kali merantau juga kok, Bang.” jawabku “Baru pertama kali kerja juga apa gimana?” tanya memang sedang mengintrogasiku “Kata dia, pas awal lulus dari SMK udah ikut bantu-bantu kerja di bengkel motor milik orangtua temennya gitu. Terus kerja di Solo, ditempat kerjaku ini.” jelasku “Anak pertama?” tanya Bang Putra “Iya, adiknya 2 cewek semua. Masih SD sama yang bontot baru mau masuk TK.” ujarku “Lain kali, kalau pergi sama cowok harus pamit dan jangan malem-malem.” ucap Bang Raden Kedua intel kehidupanku itu memang sangat waspada dengan pergerakanku. “Semalem nggak pamit, orang rumah nyariin. Hp jangan sampai dibiarin lowbat kalau berpergian.” omel Bang Putra “Kalau kamu kenapa-napa gimana? Masa Abangmu tahu yang paling akhir dari cerita orang.” imbuhnya “Iya, Bang. Maaf, membuatmu khawatir.” balasku


Banyak hal yang dipertanyakan sepagi ini, aku tahu mereka hanya mau yang terbaik untukku karena memang semalem sudah kelewat jam pulang sesuai perjanjian awalku dengan kedua kakakku untuk pulang tidak lebih dari jam 10.00 malem paling molor kalau main sama cowok jam 10.30 itu mentok sudah harus dirumah. Meskipun bukan seorang pacar, kakakku pasti wantiwanti banget. Selalu overprotect kalau aku deket sama cowok dan juga aku belum pernah menjelaskan sedikitpun soal Adrian ke mereka. Ya, aku pikir karena memang hanyalah sekedar temen di tempat kerja yang ngajak main keluar. Nggak ada hubungan yang lebih serius dari sebuah pertemanan yang baik, kalau pun aku dijemput cowok kerumah pasti orang rumah udah pada kenal. Temen sekelas, temen paud, smp, sma atau kuliah dan nggak akan muncul pertanyaan seintens ini karena mereka pasti kalau dateng buat jemput rame-rame sama bestiku yang lain. Jadi, kalau dijemput cowok kerumah seorang diri selain Enggar mantan kekasihku dulu, memang kakak-kakakku pantas menanyakan sih. Ya, tapi gimana, orang temen biasa juga. Gimana sih, katanya kalau diajak main harus jemput aja kerumah biar tahu perginya sama siapa. Namanya juga orangtua, tetep aja mewanti-wanti, toh yang penting nggak neko-neko. Perginya jelas, dan pulangnya nggak kenapa-kenapa. Aku juga nggak beralasan apapun atau menutupi kemana aku pergi, yang terjadi ya itu yang aku ceritakan. “Temenan doang, kan?” tanya Bang Raden


“Iyaaa.” balasku “Fokus kejar karir, buru kelarin kuliah. Inget tujuanmu kerja bukan untuk cinta dan menye-menye.” Ucap Bang Raden “Iya, Bang. Arum paham apa yang harus Arum lakukan.” balasku “Sip, awas aja sakit-sakitan lagi kayak pas sama Enggar. Cinta itu membuatmu bahagia dan baikan, bukan malah kebalikannya.” imbuh Bang Raden “Apaan sih, sakit-sakitan karena keforsir juga bukan karena Enggar masih aja diungkit. Udah masa lalu kali, Bang.” sangkalku Aku kelupaan, menanyakan kabar Adrian semalam bagaimana. Bahkan aku lupa menaruh ponselku dimana, dasar selebor si Arum ini. Sejak semalam belum menyentuh ponselku sama sekali, mana lowbat lagi. “Oh, iya. Aku lupa, Adrian belum aku kabarin sama sekali sejak semalam, Bang.” ujarku “Gimana mau ngabarin, orang kamunya kebo.” celetuknya “Hehehe.” Aku nyengir, “ngomog-omong, Arum kelupaan naruh ponsel dimana. Jangan-jangan keikut sama Adrian semalam.” Aku bertanya-tanya sambil mengingat kapan terakhir ponsel terlepas dari genggamanku “Inget-inget dulu.” sahut Mbak Gita “Kebawa Adrian paling, Te.” Imbuh Mbak Ica “Apa iya, ya.” gumamku


Click to View FlipBook Version