The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Arum “Karena berbagai situasi dan keadaan yang membuat kita berjarak, dan sebab lainnya. Maaf tidak bisa disisimu lebih lama dari ini Ad.” Isaknya Adrian “ Kejar apa yang menjadi tujuan hidupmu jauh sebelum bertemu denganku dan kamu juga pantas mendapatkan yang lebih seimbang dari segala aspek. Tentu saja bukan aku orangnya.” Arum hanya diam menunduk dihadapan Adrian penuh isak tangis, diraihnya tubuh Arum oleh Adrian dalam dekapnya. “ Satu hal, perihal janjiku yang pernah terucap padamu masih sama Mbak. Bahkan hingga detik ini aku masih mengusahakan untuk segera bisa kerumahmu membawa keluargaku. Namun, jika dalam prosesku menuju rumahmu ada yang datang lebih dulu melamarmu terima dia, aku tidak akan membuatmu menunggu akan hal itu. Terima kasih banyak untuk semuanya, I love you, Mbak Arum.” bisiknya dalam pelukan

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tikadani01, 2023-02-05 10:49:20

Sekutip Istimewa Kenamaan Yogyakarta

Arum “Karena berbagai situasi dan keadaan yang membuat kita berjarak, dan sebab lainnya. Maaf tidak bisa disisimu lebih lama dari ini Ad.” Isaknya Adrian “ Kejar apa yang menjadi tujuan hidupmu jauh sebelum bertemu denganku dan kamu juga pantas mendapatkan yang lebih seimbang dari segala aspek. Tentu saja bukan aku orangnya.” Arum hanya diam menunduk dihadapan Adrian penuh isak tangis, diraihnya tubuh Arum oleh Adrian dalam dekapnya. “ Satu hal, perihal janjiku yang pernah terucap padamu masih sama Mbak. Bahkan hingga detik ini aku masih mengusahakan untuk segera bisa kerumahmu membawa keluargaku. Namun, jika dalam prosesku menuju rumahmu ada yang datang lebih dulu melamarmu terima dia, aku tidak akan membuatmu menunggu akan hal itu. Terima kasih banyak untuk semuanya, I love you, Mbak Arum.” bisiknya dalam pelukan

Keywords: Novel

“Kalau nggak ada, ya, pasti kebawa sama dia. Terakhirkan kamu sama dia.” timpal Mama “Makannya kalau jadi anak itu jangan selebor.” ketus Ayah Sedikit geram aku sama Ayah, tapi udahlah hanya akan membuatku semakin menyimpan amarah terlalu dalam saja. Nggak tahu urusan anaknya sok tahu. “Nggak, keluar, Rum?” tanya Bang Raden memecah hening Aku hanya menggelengkan kepala “Mobilnya dipake Mas dulu, ya?” tawarnya Anggukku mengiyakan “Ikut nggak?” tawarnya lagi “Kemana? Mbok sama istrimu sana, udah nikah juga.” balasku yang masih sibuk mencari-cari dimana ponselku berada “Iya, sama Mbak Gita sama kamu juga. Mau nggak?” tanyanya lagi “Huft! Kemana emang?” aku sedikit menghela napas “Jalan-jalan aja.” Ajaknya “Eh, nggak usah ikut aja. Ada yang mau kesini nyariin kamu soalnya, barusan Mas di chat sama temenmu.” imbuhnya usai membuka pesan entah dari siapa “Ceh! Php emang.” Kesalku Penutup sarapan pagi masih sibuk dalam misi pencarian ponsel Hp. “Udahlah, palingan keikut sama Adrian.” gumamku pasrah dan merebahkan diri disofa ruang keluarga, berbincang dengan Vino, Mama juga Mbak Ica.


Ayah? Jangan tanyakan aku bahkan tidak peduli dengannya dan semua tentangnya. Bang Raden dan Mbak Gita pergi menggunakan mobil entah kemana perginya, maybe jalan-jalan seperti sepasang suami istri yang baru saja menikah dan dimabuk asmara. Tak lama, ada tamu berkunjung kerumah. Mama nampak senang dengan kedatangan tamu itu, begitu pula Vino dan Mbak Ica. Bodo amatlah, paling teman lama salah satu dari mereka. Karena ruang keluarga dan ruang tamu terpisah dan bersekat jadi aku tidak paham siapa yang datang, hanya saja kenapa ketiganya semua meninggalkanku di ruang keluarga dan lebih memilih menemui tamu tadi. “Tamu agungnya Mama kalik, ya, bisa jadi,” aku bertanya-tanya seorang diri. “Dek, ada yang nyariin.” panggil Mama “Siapa, Mah?” tanyaku “Adrian.” What? Untuk apalagi bocah itu kerumah, bukankah baru semalam kita bertemu? Gabutnya emang kelewat banget sih, asli. Aku segera beranjak dan menemui tamu yang katanya nyariin aku, dan benar anak itu duduk dengan nyengir di ruang tamu menatap kedua bola mataku yang terperangkap kaget menyaksikan maksut dan kedatangannya. “Ada apa?” tanyaku dan duduk di sebelahnya. “Mau, main aja.” Balasnya sambil tersenyum “Nggak capek? Besok loh kerja, dipake istirahat sono.” ujarku


“Kamu ini nggak sopan, Te. Ada temennya dateng malah diusir.” sahut Mbak Ica “Abisnya dia gabut banget lo, Mbak. bisa-bisanya kesini baru aja semalem kita ketemu. Udah kangen aja, hahaha.” aku menanggapi balasan dari Mbak Ica sambil meledek kearah Adrian “Padahal dia kesini mau balikin Hp kamu yang ke bawa sama dia semalam.” Ujar Mbak Ica “Emang iya?” tanyaku “Ini.” Ia menyodorkan ponselku “Makanya jangan kebo jadi orang itu.” tegur Mbak Ica setengah meledekku “Oalah, maaf membuatmu kesini lagi. Terima kasih.” Aku balik nyengir padanya sambil meraih ponselku. “Nggak aku charger, soalnya beda tipe, jadinya masih mati, Mbak” ujarnya “It’s okay, thanks.” balasku “Sepagi tadi dicariin, Om. Sampai mau nangis itu anaknya.” sahut Mbak Ica “Apaan sih, boong ding. Sana ah orangtua ikutan nimbrung aja.” usirku dengan nada meledeknya “Ealah, malah diusir. Mbak tinggal dulu, ya, Om.” Mbak Ica memanggil Adrian dengan sebutan Om karena dia adalah temen dari Tantenya Vino. Jadi dia dipanggil Om, biar lebih terkesan akrab gitu hehehe “Barusan aku wa ke nomor kakakmu, terus suruh anterin kerumah aja gitu. Makannya aku buru-buru kesini,


takutnya ada kabar dari temen kuliah atau tugas-tugas apa gitu, Mbak.” jelasnya “Kakakku bilang gitu?” aku terkejut dengan pernyataan Adrian, sungguh kurang asem Bang Raden bisa-bisanya. Tengil, jail, rese, tapi cueknya minta ampun maunya apa coba. Awas aja nanti sampai dirumah aku kerjain balik, batinku sedikit geram pada Bang Raden sambil tetap mempertahankan posisi termanisku untuk Adrian karena dengan polosnya mau mengantarkan ponselku kerumah jauh-jauh dari rumah neneknya ke sini. “Udah sarapan belum, Mas?” tanya Mama yang datang dengan membawakan minuman untuk Adrian dan beberapa cemilan “Sudah, Bu.” Balasnya yang masih canggung “Kalau gitu, ini di makan, seadanya, ya.” pinta Mama dan menaruh nampan bawaannya di meja tempat kita berbincang “Malah repot-repot, Ibu.” sungkannya “Kalau mau sarapan, ayo, Mama tadi masak sayur asem sama ayam itu. Rum, diajak makan temennya gih.” Pinta Mama padaku “Udah sarapan katanya, Mah.” balasku “Sarapan dimana coba sepagi ini?” tanya Mama “Sudah, serius, Ibu. Barusan dijalan.” balas Adrian “Dijalan?” tanya Mama kaget. “Iya, dijalan pas perjalanan kesini tadi mampir dulu, Bu.” jelas Adrian lagi “Nggak takut ketabrak truk apa?” tanya Mama meledek “Biarin, Mama emang gitu, Ad.” Sahutku sambil ketawa


bersama Mama dan Adrian yang sedikit canggung. “Diminum, Nak. Mama tinggal dulu, ya.” Pinta Mama dan berlalu. “Iya, Bu. Terima kasih.” balasnya. Akibat Cerita Semalam Suasana hening, hanya ada aku, Adrian dan Vino yang masih tersisa diruang tamu beriring suara toklek-toklek dari tetangga sebelah. Suara mesin tenun modern karena di daerahku banyak sekali yang memproduksi kain tenun yang sudah cukup berkembang pesat di pasaran lurik, ada yang sampai ke luar kota dan ada salah satu sudah berhasil memboyong lurik ke berbagai daerah dan kota-kota besar di Indonesia bahkan sampai ke luar negeri. “Mbak, itu suara apa sih?” tanyanya memecahkan kikuk diantara kita bertiga sama Vino yang sibuk mainan sendiri. “Yang bunyi toklek-toklek itu?” sambungku. Angguknya sambil menunggu penjelasan dariku. “Itu suara tenunan, jadi disini itu banyak sekali para penenun. Produksi lurik buat dipasarkan, ada yang kepasar bringharjo Jogja, terus Pasar klewer Solo, bahkan mancanegara sih, Ad.” Jelasku. “Rata-rata disini bekerja di tenun, Mbak?” tanyanya lagi, “Iya, yang ibu-ibu biasanya tenun terus bapak-bapak ke sawah. Ya, selebihnya mungkin sama serabutan kayak didesamu Madiun sana, Ad.” Ujarku. Dia mengangguk paham. “Diminum itu.” Pintaku. “Iya, Mbak.” Jawabnya dan menikmati camilan yang ada dimeja seadanya. “Mbak, nggak ada jadwal kemana gitu hari ini?” tanyanya. Aku hanya menggelengkan kepala. “Hoam,


kemana Ad. Tidur aja enak dirumah.” Balasku sambil menahan kantuk. “Ayolah produktif, aku udah jauh-jauh kesini masa cuma nungguin orang tidur.” rajuknya. “Bocah, nggak ada capeknya apa. Nggak usah kodekodean, mau ngajakin kemana emangnya?” tanyaku. “Muter-muter mana gitu.” Balasnya “Ya, udah pamit sama Mama. Aku tak ganti baju dulu.” Balasku. “Okay, aku tungguin deh.” balasnya. Menelusuri jalan-jalan yang belum pernah aku lewati bersama Adrian, sedikit mengukir kenangan indah di ingatan dengan pemuda Madiun dan meninggalkan jejak di galeri ponsel masing-masing. Supaya suatu saat jika terulang, ada satu ingatan bahwa kita semakin tak berjarak terawali dari sini. Dari sebuah pertemanan di Instagram, pamitnya Hadi dan cerita akhir-akhir ini dan lalu kau mengsave nomorku. #Asekkk Secara tidak sengaja, ya, walaupun sudah pernah saling bertukar candaan lewat dm Instagram kala itu. Rotasi bumi, mengantarkan kita berdua hingga ia mengetahui arah rumahku. Banyak berbincang mengenai kehidupan yang sedang berjalan, segala keterpurukanku di masa silam perlahan Adrian mendengarkan. “Mbak, boleh tanya?” ia mengajukan sebuah kata tanya Aku menagngguk. “Menurutmu kalau cowok nangis itu tandanya apa?” tanyanya meminta sebuah pendapat dariku “Maksutnya?” tanyaku yang masih belum jelas dari pertanyaan yang dia ajukan


“Hmm, gini, menurutmu kalau seorang cowok menangis itu menandakan apa? apakah dia seseorang yang cengeng atau lemah atau gimana?” ia memperjelas kata tanyanya “Hal yang wajar, karena menangis bukanlah tanda kelemahan. Dan menangis itu tidak selalu perempuan, kan?” tanyaku balik Dia mengangguk. “Kalau memang menangis adalah pelampiasan terakhir dari segala kepenatan, boleh-boleh saja. Tidak ada larangan untuk seorang laki-laki tidak boleh menangis, kadang sebuah keadaan memang mengharusan menangis disaat semua pendengar tidak lagi peduli dengan baik rintihan kita. Tapi ingat! Tangismu boleh tumpah, setelahnya jangan menyerah.” jelasku dan mengukir senyum hangat untuknya “Mbak pernah nangis pas dewasa ini? Kalau boleh tahu karena apa, Mbak?” tanyanya “Bukan pernah lagi, bahkan sering, Ad. Yah, banyak faktornya, pas capek nangis, pas ribut selisih paham sama Mama, Ayah atau Bang Raden pasti nangis.” ujarku “Bahkan setiap kali ada ucapan yang kasar dikit dari siapapun aku gampang banget kena mental, ada lagi pas ada orang yang lebih tua kasih nasihat ngena banget ke hati itu aku bisa juga nangis.” imbuhku Dia mengangguk paham. “Kalau kamu?” tanyaku balik “Juju raku juga gampang nangis orangnya, Mbak. Bahkan semaleman aku nangis, kepikiran orangrumah. Pas pulang


dari sini, mandi terus mau tidur gitu inget Ibuk sama Adek-adekku bawaannya pengen nangis. Tahu-tahu ngalir aja air dari mataku.” ujarnya sedikit berkaca-kaca “Emang kenapa, Bapak Ibuk sehat, kan dirmuah?” tanyaku “Iya mereka sehat-sehat nggak kenapa-napa, Mbak.” balasnya “Cuma pengen nangis aja. Mbak, aku kepikiran satu hal.” imbuhnya “Apa?” tanyaku antusias “Aku masih bertanya-tanya aku ini anaknya siapa sebenernya, Mbak.” balasnya dengan polos dan berkacakaca “Ceh! Ya, anak nyokap-bokapmu dong, Ad. anak siapa lagi.” balasku dan tertawa “Mbak, ini serius. Dari dulu aku bertanya-tanya, soalnya aku ngerasa perlakuan Bapak ke aku sama ke adik-adikku itu beda jauh. Mereka dimanja , disayang-sayang, apa-apa didengerin. Nah aku, boro-boro, kemarin minta kuliah yang jelas-jelas dapat beasiswa aja kata Bapak disuruh ngangon kambing aja di kampung sok-sokan kuliah.” curhatnya “Menurutku, wajarlah, Ad. Kamu diperlakukan beda dari adik-adikmu, soalnya kamu, kan anak cowok satu-satunya dan anak pertama lagi. Ayahmu sedang mendidikmu bagaimana menjadi sosok tulang punggung yang hebat.” sanggahku “Tapi ini beda, Mbak.” kekehnya


“Masa iya, jarak nikah orangtuaku sama kelahiranku hanya berselang 5 bulan, Mbak. Aku lahir pada bulan Mei sedangkan pernikahan Bapak sama Ibuk itu bulan Januari. Kalau dilogika lahir premature 5bulan mana masuk akal sih, Mbak?” tanyanya menderu dan menitihkan air mata “Bisa jadi memang begitu keadaannya waktu itu, dan kamu adalah bayi hebat yang lahir kedunia ini saat berusia 5 bulan.” ujarku yang memang sedikit memberikan jawaban yang tidak logis “Mbak, kamu ini polos apa gimana sih? Mana mungkin.” elaknya “Sini.” Aku menyandarkan kepalanya dipundakku “Aku nggak tahu apa yang terjadi sebelum kelahiranmu, namun yang jelas, apapun itu. Kamu nggak seharusnya memikirkan hal itu berlarut-larut, bisa jadi memang Ayah dan Ibukmu melakukan kesalahan dimasalalu. Tapi aku yakin mereka sudah berbenah akan hal itu, buktinya mereka merawatmu dengan baik membesarkanmu tak kurang suatu apapun. Kamu disini karena mereka, bukan?” ucapku panjang lebar “Persoalan ayahmu yang membedakan cara perlakuannya terhadap masing-masing anak-anaknya itu, memang posisinya kamu disini cowok, anak pertama dan yang paling diandalkan dikelurgamu setelah ayahmu itu adalah dirimu. Jadi, Ayahmu mau yang terbaik buat kamu. Supaya kamu bisa menjadi yang paling bisa diandalkan disaat ayahmu pergi.” imbuhku memberikan pengertian padanya


Tangisnya mengalir cukup deras, dan baru kali ini aku melihat seorang anak laki-laki yang tergolong sudah dewasa ini menangis dihadapanku. Luka batinnya sungguh teamat mendalam aku rasa. “Kamu boleh nangis, tapi ingat kamu jangan nyerah. Mentalnya harus kuat, harus lebih Tangguh. Bukankah kamu seorang pendekar?” tanyaku sedikit memecahkan carut-marut dihatinya “Pendekar juga manusia, kan, Mbak?” tanyanya balik “Aku, kan sekedar nanya. Kalau emang kamu pendekar, ya tunjukin kalau kamu ini memang pendekar yang sejati.” ujarku Ia bangkit, mengusap tangisnya dan tersenyum padaku. “Ceh! Aku malu padamu, Mbak.” balasnya Aku hanya tersenyum mentapanya, dan menepuk kedua pundaknya untuk menguatkan. “Mbak, maaf, boleh aku memelukmu?” tanyanya “Jika itu dapat menenangkanmu.” anggukku mengiyakan, tangisnya kembali tumpah “Tumpahkan saja semuanya, aku tidak akan menganggu. Kadang dalam lelahku, aku hanya ingin seperti ini. Mendekap seseorang dan menumpahkan segala yang berkerumun di hati dan seluruh pikiranku.” bisikku Perlahan ia lepaskan perlahan, aku mengusapkan sisa tangisnya. “Are you okay?” tanyaku memastikan Dia mengangguk lega dan kembali mengukir senyum simpul nan teduh itu.


“Sudah cukup?” tanyaku lagi “Lebih dari cukup, terima kasih untuk yang kali ini, Mbak.” ucapnya dan tersenyum lebar seakan amunisinya kembali melambung. Dukanya lenyap seketika dan membaik. Syukurlah, satu senyuman dalam satu dekapan mendalam sudah cukup menghangatkan tubuhnya yang mengigil akibat terpaan angin ribut semalaman. Jelasnya, dia sudah tidak sungkan lagi bercerita bagaimana kehidupannya bisa membawa dia sampai ke Surakarta dan mengharuskan pertemuan dengan mengenalkan dunianya kepadaku. Tak terasa terik disiang bolong kian menyengat sekali dipori-pori permukaan kulit, sekitar pukul 2.00 siang masih saja sangat menyengat. Surya kali ini tidak meredup dengan baik yang bahkan sudah hampir menuju sore hari, mungkin karena sudah diredupkan dengan perbincangan kita yang ngalor-ngidul hahaha. Sejenak makan siang, Adrian dan aku pulang karena besok harus kembali bekerja hingga petang hari secara terus-menerus sampai dimana weekend berjumpa lagi. Setibanya dirumahku, Adrian bergegas berpamitan pulang karena memang harus segera rehat di rumah neneknya untuk menyiapkan energi untuk pertarungan besok di hari senin. Tiada Hari Tanpamu Setiap hari adalah hari-hari bersama Adrian. Senin bersambut, tugas yang menumpuk turut bersambut, bersahut-sahutan dengan pekerjaanku di perusahaan. Untung aja ada besti aku, Adrian, yang kemanapun aku


berada pasti ada bersamanya. Sudah seperti sepasang kekasih. Sampai-sampai leaderku Ibu Ayu dan segenap rekan kerja satu departemen mengira kita benar telah menjali hubungan yang serius. Padahal, penjajakan pertemanan saja. Kadang, memang yang terlihat belum tentu sebuah penjelasan dan penjelasan tidak bisa langsung terlihat dengan mata terbuka. Jadi, tidak akan baik jika hanya menyimpulkan apa yang baru terlihat saja. Semua ada alasan, sebab dan akibatnya tentu saja. Empat jam kerjaku dihari pertama minggu ini tersudahi, tanpa aku meminta untuk dijemput Adrian ke ruangan kerjaku. Ia sudah lebih dulu menaburkan sebuah senyuman didepan pintu, mengajakku makan siang sama-sama dan aku sudah mulai terbiasa dengan hal itu. Begitu terus, hingga tak terasa aku dan Adrian sudah menapakkan kaki di pekerjaan yang melelahkan dan kadang menyenangkan pas gajian doang sih hahaha. Terhitung dihari ini, 4 bulan bekerja di Perusahaan Genta Tama tenyata tidak terasa sama sekali kalau aku menikmatinya dengan baik. Kita berdua berhasil melepas masa training, give big aplouse to me and Adrian. Luar biasa, hehe. Mengikuti alur, dan berusaha sebaik mungkin dalam bekerja dan belajar dalam satu periode waktu. Walaupun, kurang tidur, kurang makan, kurang kasih sayang hiyaaa, yang terakhir nggak ding. “Mbak, nanti sepulang kerja, nggak ke kampus?” tanya Adrian menatapku. Aku hanya menggelengkan kepala


tanda tidak ada jadwal apapun seusai pekerjaan berakhir. “Ayo, makan. Aku yang bayarin.” ajaknya riang. “Mentang-mentang habis gajian, gaya.” ledekku “Iyalah.” Dia penuh percaya diri “Nanti jatah buat beli rokok berkurang, mending nyetok dari sekarang mumpung tanggal muda.” ledekku lagi Ia menggeleng “Kenapa?” tanyaku “Semenjak mengenal Mbak Arum, aku jadi belajar banyak termasuk harus mengurangi konsumsi nikotin ditubuhku. Biar Mbak nyaman deket-deket sama aku, ygy.” balasnya “Prettt!” decakku “Hmm, mau makan bareng nggak?” tawarnya lagi “Dimana?” tanyaku “Tempatnya kamu yang tentuin, cari yang tengah-tengah aja. Biar pulangmu agak deketan nggak terlalu malem.” Jawabnya. “Ok.” Kita makan di tempat makan yang hype banget di Kota Solo Baru yang nggak pernah ada kata sepi dari antrian dan kerumunan para Gojek mengantrikan pesanan pelanggan. Apalagi kalau bukan Gacoan, aku sih nggak terlalu begitu suka dengan menu pedasnya yang berlevellevel tapi tempat ini selalu menjadi tempatku menghabiskan waktu pertemuan bersama teman-teman SMAku karena tempatnya yang nyaman aja untuk sekedar makan siang dan sharing-sharing atau main uno berlima dengan sahabatku, Lala, Widhi, Nila, dan Ghea. Namun,


malam ini beda, makannya sama Adrian dulu sama gengs berlimanya besok kalau sudah pada pulkam karena kami sudah tepisah dengan kehidupan masing-masing. Ghea di Bali dan bekerja di Rumah Sakit besar sejak lulus dari D3 sejak 2 tahun silam. Sedangkan Lala dan Widhi ikut ke Bandung bersama orangtuanya, dan bekerja di sana. Kalau Nila masih di kampung sama kayak aku, dia gab years juga tapi kuliahnya di Malang jadi bertatap pun kita berdua sudah tidak terlalu sering. Sesering dulu. “Mbak, sering ke sini?” anggukku membenarkan kata tanyanya. “Dikurangin makan mienya, Mbak. Udah di pabrik jarang makan. Sekali makan mie, beruntung nggak suka makanan pedes. Mungkin masih dalam level sedikit aman sama lambungmu.” ujarnya. “Nggak papa, semua akan baik-baik saja.” singkatku sambil menikmati mie angel yang kata temanku hanya berasa mie dengan sekumpulan minyak saja. Ya, karena kesukaanku disini hanya mie angel, yang tidak berasa pedas sama sekali. Dia terus menatapku, memperhatikan aku makan, tanpa sebuah omongan apapun. “Cantik” ucapnya membuatku menghentikan mengunyah mie yang terlajur masuk didalam mulutku dan melototinya. “Kok berhenti?” tanyanya. Seketika aku menelan paksa mie yang belum sempurna terkunyah. Adrian menyodorkan minum untukku. “Apa yang kau katakan barusan?” tanyaku. “Nggak-nggak ada.” sangkalnya “Ok, baiklah.” Suasana makan kita berdua menjadi sangat hening. Dia tanpa ucap apapun hanya terus


memperhatikan aku menghabiskan mie dihadapanku. “Apaan sih, Ad. Jangan memperhatikan orang pas lagi makan, nggak sopan.” tegurku yang sedikit risi dengan tatapannya yang kali ini “Abis, kalau makan kamu lucu.” godanya “Apanya yang lucu, cemong semua ada.” ketusku “Tuh, kan belpotan kalau makan.” dengan cekatan Adrian menyodorkan tisu untukku “Pelan-pelan kalau makan, Mbak.” dengan tlaten ia mengelap bibirku yang blepotan minyak karena makanku yang memang berantakan seperti anak kecil umur 5 tahun haha. Tatapan kita berada pada satu penjuru, dititik temu ini debaran jantung berdegub mengalun melodi merdu. Firasat apa ini? Aku anggap ini hanya sebuah kagum terhadap Adrian akan sikapnya padaku. Tidak lebih. “Aku bisa menyelesaikannya sendiri.” Memecahkan canggung yang ada, aku raih tisu dari tangan Adrian dan membersihkan bibirku sendiri agar janggal di jiwaku tidak bergejolak kian padu lebih dari ini. Pandangan Adrian buyar, dan melarikan diri dari pertemuan titik temu empat buah bola mata dari pusat sumbunya itu. “Mbak, besok aku mau pulkam ke Madiun. Ikut nggak?” ajaknya melerai kikuk yang ada “Bukannya minggu lalu kamu baru aja pulkam, Ad?” tanyaku “Iya.” Angguknya “Mau pulang lagi?” tanyaku


“Iya, adek kangen katanya. Ada acara juga minggu ini sama temen-temen.” jelas Adrian “Oh, salamin adikmu, ya. Kamu juga hati-hati pas pulang.” balasku “Nggak mau ikut? Nanti tak kenalin ke Ibuk.” tawarnya. “Nggaklah, siapa aku pake dikenalin ke Ibumu.” tolakku. “Ya, nggak papa dong. Apa salahnya dikenalin.” Sahutnya “Malah diangkat jadi mantu sama Ibumu, gawat, Ad.” sangkalku “Ya, malah nggak papa. Biar langsung nikah kita. Hahaha.” jawabnya ringan dengan candaan “Nikah sama bocil, haha, kerja dulu yang bener.” ledekku. “Emang kamu nggak mau, nikah sama aku, Mbak?” obrolannya mulai serius padaku “Maksutnya?” aku kelabakan dengan kata tanyanya barusan “Nikah sama aku, mau nggak?” tanyanya lagi “Nggak usah aneh-aneh deh, Ad. Emangnya nikah semudah itu? Mendingan fokus kerja, kejar masa depan dulu, bahagiain Mama dan masih banyak hal yang perlu lo lakuin didunia ini selain nikah muda. ygy” imbuhku mencoba mengajak keobrolan lain “Itu bisa dilaluin bareng-bareng, sama kamu, Mbak.” entengnya “Aduh, udah malem. Ayo balik.” sangkalku dan beranjak dari meja tempat kita makan “Aku anterin pulang, ya.” Tawarnya


“Nggak kemaleman?” tanyaku “Nggak, tenang aja.” balasnya santai Aku hanya mengiyakan saja apa maunya. Pulang Bersamaku Adrian membuntutiku dari belakang, ia memang tidak pernah main-main dengan ucapannya. Pasti selalu seimbang dengan tindakannya. Ini yang membuatku semakin salut dengan kedewasaan dalam pembawaan sikapnya, tanpa melibatkan usainya saat ini. “Mbak tiap hari lewat jalan gelap ini?” tanyanya menyeimbangkan tarikan gasku, kita beriringan “Ya begitulah.” anggukku “Satu jam perjalananmu, Mbak?” tanyanya “Itu kalau nyantai, kalau cepet 40 menit-45menit bisa.” candaku “30 menitpun bisa kamu, Mbak. Bawa motor sendiri udah kayak orang kesurupan gitu, giliran diboncengin ngebut dikit jerit-jerit histeris.” ujarnya “Haha, beda adrenalinnya kalau ngebut sendiri sama pas dibonceng, Ad.” eyelku “Sama aja, sama-sama buat jantung copot.” decaknya “Besok lebih hati-hati lagi, jangan begadang, biar bisa bangun pagian jadi berangkatnya nyantai.” pesannya untukku “Siappp, Pak Lurah.” candaku “Kalau aku Pak Lurah, maukah kamu menjadi Ibu Lurahnya?” tanyanya menanggapi dengan candaan juga


“Duluan.” pintanya agar kita tidak berjejer lagi Di jalan hampir menuju rumahku, ia mendahuluiku dan menghentikan kendaraannya “Ada apa kok berhenti?” tanyaku “Sampai sini aja, ya, Mbak.” ucapnya “Loh, kenapa?” tanyaku “Sungkan sama Mamamu, jam segini apel kerumah camer.” balasnya “Dih, apaan sih. Ayo mampir dulu ngobrol, dirumah ada temen-temenku pada nongkrong tuh.” ajakku “Nggak enak, asli.” jawabnya “Nyalain motormu apa kita tetap disini sampai subuh?” kekehku “Ya udah disini aja, ayokk.” jawabnya yang sama-sama kekeh “Buruan, nyalain, Ad!” suruhku “Nggak enak, Mbak. Yakin.” jawbanya “Kaya baru mau main aja, udah sering kerumah juga. Cepetan keburu malem.” suruhku “Ya udah, ayo, tapi kamu duluan.” sangkalnya lagi “Nggak, duluan aku dibelakang.” kekehku Adrian benar menyalakan motornya hingga sampai kerumahku, di rumah disambut dengan temen-temen sekampungku yang lagi nongkrong di depan rumah dan bermain uno. Ya, itu kebiasaanku kalau malam sama mereka sewaktu belum bekerja bahkan sampai saat ini masih menjadi kebiasaan kami didepan rumah kadang main gitar juga atau berbincang nggak jelas. Rumahku


sudah terbiasa dengan tongkrogan anak-anak yang turun temurun dari generasi kakak pertamaku bersama sebayanya, teman-teman Bang Raden dan disusul generasiku sampai saat ini. Mungkin, kelak akan menjadi tongkrongan Vino dan cucu-cucu generasi penerus Mamaku. Hahaha, bisa jadi begitu. “Asekk, yang ditunggu-tunggu ternyata pacaran dulu.” seru Adam yang mendapati kepulanganku dengan Adrian “Nggak, pacaran apaan.” sangkalku dan masuk rumah Adrian menyalami semua penghuni rumahku temasuk yang pada nongkrong diemperan rumahku “Mas, calonnya, Mbak Arum, ya?” goda Tama “Aku masih ponakannya, Mas.” timpal Adhi “Terus kalau masih ponakan Mbak Arum, lo mau apa, Adhiiii.” sahut Dian “Restu seorang adik itu menentukan, ya, Budeee.” seru Adhi meminta bantuan pada Mamaku “Jangan didengerin, Mas.” imbuh Syifa Adrian hanya mampu tersenyum-senyum tanpa kutik dan agak canggung dalam tongkrongan itu karena memang belum mengenal takut ada salah ucap atau apa, karena juga posisinya dia bertamu jadi harus jaga attitudenya dia. “Nih, makan tuh. Bacoddd lu pada.” Adhi melemparkan rambutan tepat dihadapan mereka “Hasil ngrampok siapa ini, Dhi?” tanya Syifa “Udah, makan aja, aman-aman. Halal, ya, Mas.” sahut sambil nyengir ke Adrian Adrian mengangguk.


“Ad, kok malah diluar. Terkontaminasi kaum-kaum uno lu ntar.” sambungku yang baru keluar usai mandi “Diluar aja ngadem sama mereka, hehe.” balasnya “Mandi aja kelamaan, Mbak.” sahut Tama “Suka-suka gue dong.” ketusku “Rum, Mbakmu tadi buat kue apa itu, makan sama tementemen.” Mama keluar dengan membawakan beberapa potong brownis coklat buatan Mbak Gita “Makan nih.” Aku menyodorkannya ke temen-temen tongkrongan “Makasih, Budekuuu.” seru Adhi “Giliran makan aja gercep.” tegur Adam “Dari tadi kek, Mbak.” ujar Adhi langsung merampas semua brownis itu “Bagi-bagi, Cuk.” seru Adam Malam semakin larut, Adrian harus pamit takut kemalaman karena besok pagi-pagi harus segera berangkat pulang ke kampung halamannya Madiun oleh suatu urusan. “Thanks udah dianterin, Ad. Jangan lupa kabarin!” seruku dan ia berlalu mengemudikan motornya. #Kian Tak Berjarak Tak lupa, iya mengabari. Obrolan ku dengannya berlanjut ke via chat, tak berjarak sama sekali. Apapun aktifitasnya selalu dikabarkan padaku selama 2 hari di Madiun. Rasanya, perhatian-perhatian kecil. Termasuk mengabariku ketika ingin bersin saja membuat situasi kian nyaman saja. Dia sudah seleluasa itu menceritakan


permasalahan dan lika-liku dikeluarganya padaku, ketakutanku muncul disini, perihal rasa yang akan semakin nyaman, perihal terbiasa akan sebuah kabar dan terbiasa untuk menjadi pendengar yang paling budiman untuknya dan akan menimbulkan rasa lebih antara aku dan dirinya. Membuatku terpicu untuk sama-sama ingin didengarkan dan berbagi alur cerita kehidupan. Namun, tidak banyak yang perlu aku umbar dengan Adrian. Aku memilih banyak menciptakan kata tanya padanya, agar rasa nyaman yang lambat laun menumpuk menjadi rasa ketergantunganku untuk terus berada disisinya ini tersamarkan. Supaya tidak akan ada yang rusak disebuah pertemanan ini karena terkikisnya rasa yang lainnya. Namun, tetap saja tidak bisa dipungkiri bermingguminggu terlalui dengan penuh menghabiskan waktu disuntuknya jam-jam kerja bersamanya adalah poin tersendiri yang mengkisahkan ingatan mendalam dibenakku. Aku yakin, ini bukan soal jatuh cinta pada seorang bocah laki-laki yang berusia 4 tahun lebih muda dariku. Ini soal nyaman, dan kasih sayang dari Ayahku yang memang selalu kurang sejak aku masih kecil. Tidak pernah aku dibiarkan membagikan lukaku karena seisi dunia menjadikan aku badut, atau ketika seluruh dunia mengecamku pengecut dalam melakoni peran sebagai anak terakhir yang harus berhasil memboyong nama baik orangtuanya. Tentang, aku yang menjadi harapan terakhir Mamaku, yang harus benar-benar lebih sukses dari beliau dan kedua kakakku. Jujur, tidak pernah aku merasakan


dekap hangat seorang Ayah sepenuhnya. Aku hanya dibiarkan memeluk lukaku sendiri menyembuhkannya hingga kering pulih dengan sendirinya pula. Apa adil disini? Apa masih layak Ayahku adalah cinta pertama terbaik yang tidak akan ada gantinya oleh cinta yang lain. Bahkan aku butuh sosok figure cinta pertama darinya, aku tidak pernah mendapati Ayah menjalankan perannya dengan saksama. Melakukan pekerjaan hingga aku terkesima akan kehebatannya, atau merasa bangga dengan Ayah yang seorang petani namun mampu memberikan dukungan moral dengan sangat sempurna bagi mentalku. Ini bukan persoalan bersyukur atau tidak bersyukur dengan pekerjaan beliau yang pergi kesawah sementara Mamaku bekerja sebagai Guru yang notabennya seorang PNS dan wanita karir. Bukan itu masalahnya, aku tidak mengungkit kesenjangan sosial disini. Namun, memang Ayahku selalu saja mengampangkan semuanya termasuk cita-citaku. Bagaimana bisa aku diberikan contoh dan gambaran soal masa depan yang gemilang? Belum pernah sama sekali, mematahkan semua ambisiku sering. Lewat semua ucapnya dan menyalahkan semua keputusanku. Sedangkan ini semua tidak akan baik untuk dikonsumsi jangka panjang terhadap mentalku. Siapa yang akan menenagkanku kala semua carut-marut di otakku berkerumun? Mamaku memiliki peran sendiri dalam membesarkanku. Beliau mengajarkan belas kasih, dan kelembutan. Mendidikku, untuk menjadi wanita hebat seperti beliau yang sanggup membesarkan ketiga anaknya


dengan baik meskipun kadang karirnya membuat masa kecil kami kurang waktu untuk banyak berbincang dan berkomunikasi dengan baik. Masih kurang kasih sayang dari cinta pertamaku, apa boleh buat, kakakku yang merasakan pengalaman lebih dulu di rendahkan cita-citanya lewat ucapan Ayahku sendiri dengan ego beliau yang temperamental. Membuat kedua kakakku ingin mengusahakanku untuk tidak merasakan pengalaman yang sama dan serupa seperti yang sudah keduanya enyam dengan matang sedari kecil. Kata mereka, mimpinya boleh terkubur rapat-rapat, asal mimpi seroang gadis kecil penuh ambisi bernama Arum tidak boleh mati begitu saja. Ia harus mendapatkan apa yang belum dia dapatkan temasuk cinta yang baik dari laki-laki yang akan menjadikannya ratu dikehidupan berumah tangga kelak. Itu yang selalu aku ingat, sampai menginjak usia 23 tahun ini. Memang sekurang apapun kasih sayang dari Ayahku. Kedua kakakku tidak pernah memberikan kasih sayang yang cacat padaku, hanya terkadang cara masing-masing dari mereka berbeda penyampaiannya. Bang Raden yang usianya hanya berjarak 2 tahun denganku terkesan kasar dalam memberikan wejangan namun memang usia yang aku lalui harus dikerasi supaya tidak kebablasan dalam meredam emosi. Bang Putra caranya seperti Mamaku menuruti semua mauku, dengan catatan jangan sampai keputusanku membuat aku menyesal dengan sendirinya dan menyerah. Apa yang sudah diputuskan harus


diselesaikan, meskipun memang caranya akan sedikit ganjil tetap rampungkan dengan sempurna, jika masih kau anggap sebuah gagal paling tidak gagalmu menjadikan pengalaman baru dari apa yang akan kamu putuskan setelah kejadian itu terjadi. “Mbak, hari ini aku minta maaf.” tulis Adrian lewat pesan chatnya “Maaf untuk apa?” tanyaku “Aku semalam minum.” tulisnya begitu “Minum?” tanyaku yang merasa pernyataan miliknya itu ambigu “Iya, aku mabuk lagi sama temen-temen. Semalem ada acara, jadi diajak, ya, ikut aja gitu.” ujarnya “Acara kamu pulang hanya untuk itu?” tanyaku “Nggak, memang untuk menemui Ibuk dan Aira sebenernya. Tapi, malemnya diajak mabuk sama tementemen.” jelasnya “Ada masalah apa sebenernya?” tanyaku “Nggak ada masalah apapun, suntuk aja, Mbak lagian.” balasnya “Ya udah, lain kali banyakin minumnya biar puyeng tuh kepala.” balasku “Kok gitu?” tanyanya balik “Aku tanya, dapetnya apa dari minum-minum nggak jelas kayak gitu?” tanyaku “Pusing.” singkatnya “Terus?” tanyaku


“Yang awalnya sehat malah jadi nggak sehat dibadan sih.” ujarnya “Ya udah, kalau gitu, mabuk aja terus biar makin nggak sehat. Dikasih badan sehat, malah nyari penyakit!” omelku lewat chat “Hmm, bantu aku buat nggak kayak gini, ya, Mbak. ingetin terus.” rengeknya “Percuma! Kalau nggak dari kesadaranmu sendiri, terus pergaulanmu masih sebebas dulu nggak bisa kamu batasin, sekeras apapun aku ngingetin nggak aka nada gunanya, Ad.” tulisku dalam pesan “Ya, Adrian coba perbaiki ini semua. Tapi, Mbak janji, kan disisiku sampai kapanpun. Ajari aku berbenah, Mbak.” pintanya “Berbenahlah dari hatimu sendiri, pasti bisa!” balasku memberikan support untuknya Tatap Hangat Favorit ku Kembali aku menemukan sosok redup dan hangat pada seorang Adrian. Bocah laki-laki itu sungguh menyogokku dengan segenap perilaku yang memukau. Terkesan berlebihan, namun, sungguh letak dewasa seseorang memang bukan dari usianya. Namun, lebih ke keadaan yang menjadikan semua orang harus dewasa dalam menyikapi sebuah kondisi. Semakin dewasa pembawaan sikap di penerapan kehidupan, semakin erat juga dewasa itu melekat di alam sadarnya. Ya, kadang muncul kanakkanak manjanya. Tapi, bukankah itu manusiawi? Semua


orang bisa menaklukan kelemahannya, namun tidak ada larangan untuk seorang anak laki-laki mendewasakan diri menangis, bukan? Sungguh, itu bukanlah kelemahan seorang laki-laki. Dan kini, kudapati seorang yang aku kenal tegar menangis dihadapanku untuk kedua kalinya entah piluh apa yang mengusik damai Adrian usai kepulangannya dari kampung halaman. Aku tidak ingin kepo soal kehidupannya lebih mendalam kecuali memang dia yang membeberkannya sendiri. “Hei, are you okay?” tanyaku sambil celingukan memastikan keadaan kantin “Ad, jangan disini. Ikut aku.” Aku menariknya ketaman yang jauh dari kerumunan karyawan untuk membuat Adrian merasa sedikit baikan dengan menumpahkan semua kekecewaaan dan apapun itu lewat tangisnya. “Duduk, dan selesaikan tangismu.” pintaku, dan menyediakan pundak untuknya. Aku sengaja menciptakan keheningan untuknya, agar dia tidak sungkan menumpahkan segala peluhnya disini. Mungkin aku tidak dapat tahu jelas luka apa yang mengganjal dibenaknya hingga bercucuran air mata sederas itu, paling tidak tangis ini akan membuat keadaannya merasa tenang. “Mbak, boleh aku memelukmu?” tanyanya dengan menatapku penuh air mata, layaknya bocah laki-laki yang sedang kesakitan karena dinakali oleh teman sebayanya. Aku tidak bisa berucap apapun sekarang, mengangguk adalah solusinya. Dia lantas memelukku erat dan menangis sejadi-jadinya yang entahlah apa yang sedang


melanda pikirannya, bahkan aku tak mampu mengajukan sebuah kata tanya padanya. Tak lama, isaknya mereda, peluknya melepas dari tubuhkku. Aku masih termenung seribu Bahasa dengan bekas pelukannya barusan. Ada degub yang tidak bisa aku kendalikan sekarang, ini apa wahai Tuhanku. Aku menghela napas dan menelan ludah untuk menetralkan keasaman zat yang kurang begitu jelas apa. Binar dimatanya bekas tangis itu masih berkacakaca, seketika dia menusap dan menyembunyikan wajahnya dari tatapku. Aku menangkap dia tengah malu bertindak seperti bocah dihadapanku. “Udah legaan?” tanyaku, dia hanya mengangguk dalam tunduk sembari mencoba merapikan isakannya yang masih tersisa. Aku menepuk pundaknya tanda menguatkan. Ia meraih tangan kananku lembut, dan mendongkakan kepalanya memberanikan diri menatapku. Adrian menukir senyuman untukku, yang apalagi arti dari semua ini aku semakin bingung. Ia meletakkan tangan kananku didadanya, terasa jelas degubnya tak karuan berdetak. “Apa yang kamu rasakan, Mbak?” tanyanya “Debaran yang sangat kencang.” polosku “Itu yang aku rasakan saat bersamamu sepanjang hari, Mbak.” ujarnya “Aku mulai jatuh cinta pada wanita dewasa dihadapanku ini.” gumamnya “Adrian, jangan berkata konyol. Jangan-jangan kamu masih mabuk?” sangkalku


“Serius, aku jatuh cinta padamu, Mbak. Tapi mana mungkin seorang bocah laki-laki sepertiku berani lancang mencintai wanita dewasa seperti dirimu, Mbak.” jelasnya. “Kamu ini nglantur, ayo pergi sholat dan kembali bekerja.” Aku langsung berdiri dari tempat kita duduk. “Tunggu sebentar, Mbak. Masih lama bel masuknya, kangennya belum ilang.” Ia merajuk padaku “Ad, baru dua hari nggak ketemu udah kek setahun aja pake kangen segala.” culasku “Kalau nggak ketemu sama kamu setahun, mungkin aku sudah gila dalam merindukanmu, Mbak.” ujarnya “Asli, kamu masih mabuk deh Ad.” gedekku dan meninggalkannya sendirian di taman “Aku nggak sedang mabuk, Mbak. Ini serius, kalau aku sayang kamu gimana?!” teriaknya “Terserah!” cuekku dan terus berjalan kedepan “Kelar jam kerja aku samperin kamu!” teriaknya Seminggu berlalu, libur telah tiba, hore. Tapi nggak ada liburnya untuk seorang Arum di minggu ini, karena besok sabtu pagi-pagi banget harus ke kampus menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan bersama dosen pembimbing. Siangnya ada kegiatan pertemuan dengan teman kuliahnya sekaligus rekannya melakukan meetup bersama rekan komunitas menulisnya. Jadi, Arum ini adalah mahasiswi yang berbakat dalam dunia literasi apalagi dibidang menulis sebuah puisi. Ia sangatlah candu mengolah mengutarakan apa yang sudah ia lewati dengan puisi-puisinya bahkan sempat ia mengikuti sebuah


challenge 45 hari berpuisi oleh salah satu penerbit yang sudah besar namanya di Kota Solo dan ia berhasil menyelesaikan tantangan itu. Karyaya selama 45 hari, yang di post lewat akun instagramnya berhasil diterbitkan. Sebuah pencapaian luar biasa yang Arum torehkan di dunia yang memang sungguh miliknya. Pas ditanya kenapa nggak milih jurusan kuliah yang satu passion dengannya waktu itu, malah justru memilih jurusan matematika yang memumetkan keadaannya saat ini. Ia memilih diam dan menghentikan penyesalannya dalam pemilihan prodi, karena memang itu adalah pertanyaan yang menyulitkan keadaannya bahkan hingga saat ini. Arum hanya percaya setiap keputusan yang berhasil ia selesaikan dengan baik dan sampai akhir meski sempat salah memutuskan kedepannya akan tetap ada manfaat, ia meyakini tidak akan pernah ada kata sia-sia untuk sebuha juang yang di lakukan dengan sepenuh hati. Setelah banyak drama yang membuatnya masuk dalam pesona jurusan matematika, ia berani memutuskan tetap harus berani menyelesaikannya. “Arum.” sapa seseorang yang jelas sekali aku kenal suaranya Aku berbalik dan benar, pemilik suara berat khas itu masih hingar-bingar ditelingaku. Enggar, di café Arabika, kita berjumpa tanpa sengaja. Ada sapa hangat menyelinap, rasanya sudah getir tidak redup lagi menenangkan seperti dulu. “Oh, Hai.” sapaku


“Habis kumpul temen literasi, ya?” tanyanya seperti sudah tahu jelas kegiatanku dicafé ini. Memang benar, tempat ini yang biasanya aku dan teman-teman literasi pakai untuk pertemuan membahas seputar dunia kepenulisan novel atau sekedar bersilaturahmi bersama satu tim. Bahkan, masih jelas diingatannya dengan detail kesibukanku ini. “Bukan urusanmu, aku disini untuk apa.” ketusku “Baiklah.” singkatnya sambil tertawa “Kalau sudah tidak ada kepentingan lagi, biarkan aku pergi. Permisi.” pamitku “Rum, boleh ngobrol sebentar?” cegahnya “Katakan saja, aku tidak punya banyak waktu untuk disini lebih lama.” ujarku tanpa mau menatap balik tatapan miliknya “Papa nanyain kamu.” ucapnya lirih “Katakan pada mereka kalau kita sudah berakhir, mungkin itu tidak akan menyulitkan keadaanmu kedepannya.” balasku “Tapi, tidak semudah itu, Rum.” sangkalnya “Lalu, apa yang lo mau dari aku? Dalam situasi semacam ini?” tanyaku “Temui Papa bersamaku, untuk mengobati rindunya sebentar saja.” pintanya “Aku sibuk untuk itu, Nggar. Maafkan, aku harus pergi.” Aku berlalu meninggalkan Enggar. Selalu begitu, pasti ini bisa jadi tipu muslihat Enggar agar aku kembali padanya. Tapi untuk apa mengatasnamakan


Papanya? Kemarin dia bilang Mamanya kini gentian Papanya. Bahkan, untuk hubungan sedekat dulu memang sangat sulit dengan meniadakan aku dan Enggar diantara keluarga yang terlibat perkenalan kita berdua sedari awal masih piyik hingga sama-sama dewasa. Yang bahkan sama sekali tidak terlintas akan berakhir diujung tanduk karena sebuah hubungan berjarak kala itu. “Aku bosan dengan hubungan jarak jauh, Rum.” ucapnya kembali bermunculan dikepalaku Dan kenapa ia kembali hadir disaat hati kian berdamai, kenapa nggak dulu-dulu dia datang dan membenarkan kerinduan yang bertumpuk bertahun silam. Kenapa? sudahlah, lupakan Enggar. Tiada secercah matahari berseri di permulaan pagiku ini, karena pertemuan dengan seseorang yang tidak aku inginkan semalam. Reruntuhannya masih terasa menukik hebat, sungguh aku bisa apa dengan tatapan itu. Aku hampir lupa, mengapa membara lagi. Hingga lupa yang aku kira lumpuh total kembali berikrar hanya karena sekali sapa dalam semalam bahkan tidak sampai suntuk. “Selamat pagi, Mbak Arumku.” sapa Adrian diparkiran, seperti biasanya suasana hati milik seorang bernama Adrian Arkana Mahendra ini sangatlah sulit ditebak. Tiba-tiba nangislah, happylah, i do know how. Aku tidak begitu mengetahui sebenar-benarnya sikap yang ia punyai, memang sama yang baru dikenal dirinya nampak cuek bukan main. Tapi kalau sudah beberapa kali pertemuan dan sapaan membuatnya terlihat jelas betapa


bobroknya. Aku menyadari, kita sama-sama rusak kalau berkolaborasi dengan kebobrokan yang kita miliki. Samasama anti bisa ditebak juga suasana jiwanya. Semua sifat kerandoman bisa-bisanya bersatu padu antara aku dengan Adrian. “Dibalas kali, malah dicuekin.” respon Adrian saat menyaksikan aku hanya berjalan dengan muka datar beriringan langkah kakinya menuju ruang kerja “Karena jam masuk masih agak lama, kita duduk sejenak di bangku dekat loker, ya, Mbak.” ajaknya Aku hanya diam tanpa menanggapi ajakannya itu “Mbak, kenapa sih, kamu sakit? Lagi dapet apa gimana?” tanyanya “Jangan menghubungkan diamku dengan seorang wanita yang sedang datang bulan, itu sama sekali tidak ada kaitannya!” ketusku “Ya, kebanyakan, kan cewek gitu.” balasnya dengan memanyunkan bibirnya “Apa sih, Ad. Nggak ada hubunganya mood cewek sama lagi dapet, ya.” ucapku dan meninggalkannya berjalan sendirian di lorong “Ciwi-ciwi emang lebih susah ditebak, ya, moodnya.” decaknya mengiringi langkahku menjauh darinya. Menciptakan Kerenggangan Pukul 11.00 aku dengan sengaja menghindari tatap terhadap Adrian sebisa mungkin jangan sampai terlalu sering bertukar tatap bersamanya sesering mungkin, aku lebih dulu menyelinap ke kamar mandi agar dia pikir aku


sudah ke kantin lebih dulu bersama rekan kerjaku yang lain. Beberapa menit setelah bel istirahat berbunyi, semua penjuru ruang kerja sudah tak berpenghuni. Aku baru menampakkan diri. Untuk yang kali ini, aku memilih tidak keluar. Baiknya memang menikmati secangkir coklat hangat seorang diri harus dipending dulu. Aku harus mengurangi tatap bersama Adrian lebih lama entah kenapa aku sedang malas berhadapan dengannya. Ada kecanggungan yang merengangkan jarak untuk kita berdua, nggak tahu kenapa pernyataannya sewaktu ditaman sungguh membuatku ingin menjauhinya. Ada rasa aneh yang membuntutiku. “Rum, tumben nggak makan sama pacarmu dikantin? Barusan dia nanya ke Mbak, liat kamu nggak ternyata kamu malah disini.” ujar Mbak Rona rekan kerja yang satu devisi sama aku “Nggak, Mbak. Mau tidur aja disini.” balasku dan Mbak Rona membiarkanku menyendiri mengistirahatkan tubuhku di dekat loker. Ada pesan dari Adrian berulangkali, namun aku abaikan saja. Sungguhpun aku masih ingin ketenangan, kenapa pernyataan dari Adrian dan bayang-bayang perpisahanku dengan Enggar saling bermunculan diotakku. Ini menyudutkanku, ditambah kejadian semalam yang membawaku bertemu dengan Enggar. Akankah alam akan seimbang? Jika aku terusterusan mempertahankan banyangan Enggar mengenggam erat jiwaku, selama 2 tahun silam kita berpisah karena keadaan. Apa masih mungkin aku menuai seseorang yang baru?


“Kalau lo mau baikan, lupakan masa lalu lo dengan Enggar. Jika itu masih berat, temui Enggar dan selesaikan cerita kalian. Lo nggak bisa memulai cinta yang baru dengan bayang-bayang di masa lalu lo, Rum. Itu nggak adil, buat diri lo, Enggar dan juga cinta lo yang baru nantinya yang nggak tahu sama sekali apa masalalu lo dan lo ajak terlibat didalamnya.” Voicenote Mail yang begitu panjang lebar itu menyelinap masuk ketelinga Arum. Mail ini adalah sahabat karibnya Arum sedari bengek, mereka terlibat persahabatan jarak jauh. Mail sejak lulus langsung merantau di Kalimantan sangat jarang pulang ke kampung halamannya. Keduanya malah sempat kehilangan kontak waktu itu, namun yang namanya sahabat sejak kapan tahu akan tetap kembali bermuara pada sua yang sama. Meskipun jarang terjalin pertemuan juga diantara keduanya. “Rum, kenapa?” tanya Ibu Ayu, sedari tadi memperhatikan cara kerjaku yang nampak lesu tanpa semangat. “Nggak papa, Bu.” balasku sambil terus melakukan apa yang menjadi pekerjaanku, merekap semua barang masuk dan keluar. “Kamu sakit?” tanya Ibu Ayu mendekatiku, sambil memeriksa dahiku Memang benar aku sedang tidak baik-baik saja hari ini. Tapi pekerjaanku sangat banyak dan menumpuk, aku nggak boleh lemah gitu aja. Aku harus tetap menyelesaikan pekerjaanku dengan baik hari ini. “Adrian!” panggil Ibu Ayu pada Adrian dihadapanku.


“Antarkan Arum ke klinik perusahaan, kodisinya sedang sakit.” pinta Bu Ayu kepada Adrian “Tidak, Bu. Arum tidak sakit, Arum sehat kok.” Sangkalku “Nggak ada orang sehat yang wajahnya pucat pasi seperti itu, atau mau saya kasih izin pulang? Kamu demam, Nak.” tawar Bu Ayu dengan keibuannya merasa khawatir padaku “Tidak, Bu. Terima kasih, tapi sungguh tidak perlu ke klinik untuk saat ini, Bu.” tolakku dengan kekeh Tanpa aba-aba Adrian menggendongku paksa, pusat perhatian tertuju pada tindakan Adrian yang memboyongku dengan coolnya menuju klinik. Siap-siap saja setelah kejadian ini, akan menjadi sebuah cimbiran hangat seisi satu devisiku. “Kalau sakit itu istirahat, nggak usah ngoyo kenapa sih.” ucap Adrian begitu sampai di klinik dan aku mendapatkan pemeriksaan “Siapa kamu, nyuruh-nyuruh aku?!” ketusku “Jangan bikin aku khawatir deh, Mbak.” ujarnya benarbenar menampakkan raut muka kekhawatiran akan kondisiku “Maaf membuatmu khawatir, kembalilah bekerja, aku akan disini dengan baik. Thanks.” usirku tanpa menatap wajahnya sama sekali “Kalau ada apa-apa langsung panggil perawatnya, aku tinggal, ya, Mbak.” pamitnya dan hampir mencium keningku


“Maaf.” tolakku “Aku mengerti, lekas sembuh. Selesai jam kerja, aku akan kesini, dan kamu jangan kemana-mana sebelum aku jemput.” ucapnya dan meninggalkanku yang terbaring sendirian di ranjang klinik perusahaan Suhu tubuh yang semakin membuatku mengigil saking panasnya. Sungguh ini menyiksaku, obat yang diberikan oleh perawat hanya sejenak meredakan. Selang beberapa jam reaksi obat itu tidak mujarab lagi, tubuhku lemas sekali. Aku hanya bisa menangis sendirian diklinik, menunggu jam kerja usai rasanya cukup lama dengan tanggungan sakit seperti ini dan menunggu Adrian kembali menemuiku disini. “Mbak, tolong.” rintihku yang tidak kuasa lagi menahan demam dan kram perut sedari tadi “Biar saya panggilkan Ibu Ayu, ya, Mbak. Jam kerja masih sekitar satu jam lagi. Kemungkinan, Mbak akan diperbolehkan pulang lebih dulu untuk pergi berobat ke rumah sakit.” ucap Mbak Geisya dan bergegas menemui kepala divisiku Aku mengangguk pelan. Jatuh Sakit Tak lama Ibu Ayu datang mengajak Adrian, agar segera mengantarkanku pulang karena memang hanya Adrian yang tahu rumahku saat ini. Ibu Ayu hanya paham kalau rumahku agak jauh dari tempatku bekerja, jadi memungkinkan Adrian dipulangkan lebih dulu supaya


bisa mengantarkan aku pulang dan berobat di rumah nantinya. “Nduk, kamu pulang, biar Adrian yang anter, ya. Jangan memikirkan pekerjaan, yang terpenting kondisimu saat ini.” tutur Ibu Ayu “Hati-hati bawa motornya, Adrian. Kabarin Ibu kalau sudah sampai dirumah Arum.” mbuh Ibu Ayu “Baik, Bu. Assalamualaikum.” Ppamit Adrian dan menggendongku hingga sampai diparkiran Di pos satpam, Adrian menitipkan motorku pada bapak satpam yang sedang berjaga dan memberikan surat izin meninggalkan pekerjaan sebelum jam kerja kepada satpam tersebut. “Duduk disini dulu, Mbak. Aku ambil motor.” ujarnya dan bergegas mengambil motornya. Ia memboyongku duduk di boncengan, memakaikan jaketku dan memelukkan erat kedua tanganku diperutnya. “Astaga, Mbak. Tubuhmu demam tinggi ini, sampai tembus ketubuhku. Bertahan, Mbak kita langsung ke klinik terdekat supaya kamu langsung dapat penanganan.” gumamnya yang samar-samar aku dengar. Ia bertahan dengan menyetir satu tangan dan tanganya yang lain memegangi tanganku yang meligkar di tubuhnya dengan erat. Masih dengan kedua kaki mengapit helm milikku karena aku sudah tidak kuat lagi menopang beban seberat itu di kepalaku. Susah payah Adrian mengantarkanku mencari pertolongan, sekhawatir itu ia padaku. Sungguh aku berhutang budi padanya.


Aku dibawa ke RS Indriati, dokter mengatakan ini penyakit asam lambungku yang kambuh karena terlalu lelah, stress, kurang tidur yang cukup dan tidak makan dengan baik. Benar, semua yang dokter katakan memanglah benar. Aku tidak tidur dengan baik, malah lebih suka tidur pukul 2 pagi dan pukul setengah 6 pagi harus bergegas untuk bekerja. Mama memang paling tahu kondisi tubuhku dan semua-muanya tentang porsi tubuh yang aku punyai. Pekerjaan baruku cukup menguras tenaga, waktu juga berat badanku secara drastis. Tidak jarang orang menyimpulkan bahwa aku mendapatkan tekanan batin karena melaju di dua arah dalam waktu sekali tangkap. Namun, bukan sakit yang aku harapkan, bukan pula menaklukan omong kosong para pecundang yang mempercundangiku dengan merendahkan nama kedua orangtuaku kala itu. Aku akan buktikan bahwa memang harapan terakhir Mama bernama Aurum Sekar Widyasari mampu dan sanggup menjadi kebanggaan keluarga. Bukan lagi yang manja, dan lemah kata mereka. Bukan lagi beban bagi semua orang disekelilingku. Namun hasilnya? Kenyataan aku masih beban bagi mereka, terlebih untuk Adrian, bertambah lagi aku merepotkan orang-orang disekelilingku. Maaf, untuk yang kali ini aku sedang kewalahan, Ma. Ini menyulitkan lajuku, sejenak aku ingin rehat di ranjang yang mahal ini dalam beberapa hari kedepan. Arum lelah, Ma. Tolong!


“Mbak, makan, sama bubur ayam. Masih hangat.” bujuk Adrian ketika aku bangun dengan tangan kiri terbalut dengan jarum penghubung cairan infus Aku menggelengkan kepala pelan. “Jadi tadi siang nggak keluar karena ini, Mbak? Kenapa nggak bilang dari tadi, tahu gitu aku cari kamu, Mbak.” sesalnya yang melewatkanku dengan keadaan sesakit ini “Maaf, merepotkanmu dalam banyak persoalan, Ad.” lirihku “Jangan banyak meminta maaf dan menangis, makan dulu ini. Aku suapin, ya.” ucapnya dan menyuapkan satu sendok bubur ayam hangat untukku “Mbak, soal perasaanku yang kemarin jangan dipikirkan, ya. Anggap aja angin lalu yang keluar dari mulut seorang bocah 19 tahun, kemarin Adrian masih kebawa efek mabuk. Benar katamu, Mbak.” ujarnya dan dengan sangat hati-hati menyuapkan bubur ayam untukku Aku hanya tersenyum dan menatap raut wajahnya penuh binar. Tatapnya yang redup dan menghangatkan, cueknya penuh perhatian seperti Bang Raden. Manusia terdingin yang konyol dan bobrok, tingkahnya sungguh acak banget kadang juga moodyan kayak aku. Hanya bersama Adrian aku mampu merasakan sebuah kebahagiaan tersendiri, yang membuatku ingin selalu berada terus berdekatan dengannya. Kalau boleh aku meminta, aku tidak ingin jatuh cinta padanya, inginku hanya terus bersahabat dengannya dan jangan sampai Tuhan membuat takdir kita berjauhan. Berproses dengan Adrian sangatlah


menyenangkan, ada tualang baru yang ia taburkan setiap temunya. Ada goresan tinta yang penuh hal-hal hebat bersamanya. “Ad, boleh tolong ambilkan ponselku?” pintaku “Untuk apa?” tanyanya “Menghubungi keluargaku, agar kamu bisa pulang untuk istirahat.” ujarku “Aku sudah menelfon Kak Raden, dia akan segera kesini selepas pulang kerja.” jelas Adrian “Kamu tidak bilang orang rumah, kan, atau Mamaku?” tanyaku agak takut kalau sampai Mama mengkhawatirkanku sendirian dirumah “Nggak, Mama belum dikabarin. Hanya Kak Raden yang aku kabarin, karena yangku punya hanya nomornya.” imbuh Adrian “Terima kasih banyak, Ad. Maaf, atas apapun itu. Aku berhutang budi padamu.” sedikit terisak ucapku padanya “Jangan cengeng deh, udah gede juga. Cukup gantikan dengan makan sate di Malioboro di sabtu malam bersamaku ketika udah sembuh nanti, boleh?” ajaknya “Kamu tahu sate Malioboro kata siapa?” balasku dengan tersenyum ringan “Ada deh.” godanya “Mau nggak?” tanyanya lagi “Iya, tunggu aku sembuh dulu, ya.” balasku “Siap, Bu Lurah.” sahutnya girang dengan hormat pakai tangan kanannya padaku “Oke, Pak Lurah.” Kita berdua saling bertukar tawa


“Klinggg!” dering ponselku berbunyi membisingkan percakapan kita sore ini di rumah sakit Indriati “Boleh minta tolong, Ad. Hehe.” pintaku merajuk “Apa sih yang nggak buat Mbak Arum ini.” godanya lagi sambil meraihkan ponsel untukku “Dari siapa?” tanyaku “Enggar.” singkatnya seusai membaca nama yang berada dalam panggilan ponselku Lambungku mendadak bergejolak lagi mendengar nama itu diucapkan oleh Adrian dan sedang berdering menunggu aku menganggkatnya. “Matiin aja, Ad.” ketusku tanpa mau menyentuh ponsel yang Adrian sodorkan untukku “Angkat, siapa tahu penting, Mbak.” pinta Adrian “Kalau penting, pasti dia sudah menemuiku dirumah.” balasku “Bener, nggak mau diangkat, Mbak?” tawar Adrian lagi “Iya, silent aja hpku. Biarin.” balasku tanpa berpikir dua kali untuk menolak panggilan telefon dari Enggar “Mbak, kalau boleh tahu barusan siapa?” tanya Adrian yang agak ragu-ragu bertanya “Yang barusan telfon?” tanyaku “Dia Enggar, hanya seseorang yang hadir menemaniku di masa lalu, Ad. Bukan siapa-siapa.” jelasku singkat Dia hanya mengangguk namun masih seperti menyimpan kata tanya untukku.


“Apa, masih mau nanya apalagi daripada dipendem nanti bisulan mending ditanyakan, Ad.” tanyaku padanya dengan tatapan kosong “Kalau boleh tahu kenapa kalian memilih berakhir?” tanyanya menatapku “Karena kita memang tidak ditakdirkan berjodoh, Ad.” singkatku “Tapi, kalian benar-benar sudah berakhir dengan baik, kan, Mbak tanpa konflik dari pihak ketiga atau apapun itu?” tanyanya lagi Aku menggelengkan kepala, “Huft! aku dan Enggar berakhir dengan baik, ya, karena keadaannya saja yang udah beda dan kita harus pisah. Mau selama apapun sebuah hubungan, mau dijaga sampai sekuat tenagapun kalau emang nggak bisa. Buat apa diteruskan, anggap aja belum jodohnya. Gitu aja sih, Ad. Mau kedua orangtuanya dan kedua orangtuaku udah nyaman, mencoba buat kita bisa balikan dan sama-sama kaya dulu lagi. Kalau emang dari kitanya udah nggak bisa, ya, udah jalan satu-satunya pamit. Mau gimana lagi, Ad. Bahkan aku juga tidak menganggap ini semua sebuah kesalahan, aku anggap Enggar adalah orang baik yang sengaja hadir mewarnai cerita dimasa laluku.” panjangku bercerita pada Adrian dan menatap senja yang hampir berpamitan tersambut malam dari celah jendela ruanganku dirawat. “Berapa lama Mbak Arum sama Enggar, pacaran?” tanyanya “Kurang lebih 4 tahun, Ad.” balasku


“Satu kali lagi, Mbak. Mengikhlaskan seseorang yang udah 4 tahun sama-sama disegala situasi itu sulit nggak, Mbak?” tanyanya “Mengikhlaskan itu tidak ada menurutku, Ad. Adanya kita mencoba merelakan, kalau udah merelakan biarlah waktu yang memulihkan semua keadaan yang pernah terkemas apik bersamanya jauh sebelum hari ini. Dan ikhlas akan menyesuaikan dimasing-masing keadaan kita.” ucapku sambil menatap tanpa arti kearah jendela menembus langit yang kian gelap tak berbintang “Mbak, udah rela?” tanyanya “Satu hal, rela dan ikhlas sama-sama nggak mudah, Ad. Gimana mau merelakan kalau Papanya saja masih ingin aku menjadi menantu untuk putra satu-satunya itu.” keluhku sedikit merintih. “Bisa saja, Enggar menghubungiku karena Papa atau Mamanya merindukanku. Beliau meminta Enggar untuk menjemput dan mengunjungi rumahnya, karena sudah 2bulan ini aku belum bisa menyempatkan diri untuk bersilaturahim kesana.” ujarku dengan tanpa sadar air mata menetes dikedua bola mataku Aku memeluk erat kedua kakiku dan semakin terisak. Bukan menangisi perpisahanku dengan Enggar, kita sama-sama sadar akan perpisahan ini. Hanya saja, untuk menjaga hubungan baik dengan keluarga dari orang yang pernah sangat aku cintai cukup lama. Ditambah, Enggar adalah orang pertama yang mengisi hatiku dan menerimaku seapaadanya aku sejak awal sungguh sangat


menguncang kondisiku yang sedang hancur-hancurnya aku. Adrian perlahan beranjak dari bangku yang duduk disebelah ranjangku dan mendekapku untuk mencoba menenangkan isakan tangisku ini. “Semalam aku bertemu dengannya. Hiks.” Aku hanyut dalam tangis dan dekapan Adrian “Cukup, Mbak jangan diteruskan kalau itu mengundang tangismu.” bisiknya “Menangislah, namun satu hal. Aku paling tidak suka melihat penyemangatku di sini menangis, jangan terluka lagi, Mbak. kumohon.” Ia menenangkanku dengan usapan perlahan dipunggungku. Kekhawatiran Yang Nyata “Assalamualaikum.” sapa Bang Raden yang tiba-tiba datang membuka pintu ruangan tempatku di rawat Kita berdua sama-sama terkejut dengan kedatangannya, takut dikira ada apa-apa diantara aku dan Adrian. Aku kemudian mengusap air mataku buru-buru, dan Adrian seketika melepaskan dekapan nan menenangkan itu dari tubuhku. Keadaan menjadi canggung dan gugup. “Kok malah nggak pada jawab salam sih.” Bang Raden memecahkan hening diantara kami bertiga “Waalaikumsalam,” balas aku dan Adrian bersamaan “Kenapa lagi anak kucrut ini.” sapa Bang Raden dan memelukku erat “Now, I’m not feeling better.” keluhku dan merasakan hangat peluknya.


Ini yang akan jarang aku rasakan semenjak pernikahannya dengan Mbak Gita, meskipun dulu ia pernah berjanji untuk tetap senantiasa mencintaiku dengan baik. Namun, sudah ada perubahan lambat-laun. Dulu yang sering diprioritaskan baik itu waktu dan apapun itu hanya untukku sekarang waktunya memang habis diberikan keluarga yang baru saja ia mulai dengan wanita pilihan hatinya. Bukan tentang ketidakrelaanku, Bang Raden menikah dan hidup bahagia. Hanya saja, kasih sayangnya aku sungguh takut akan terbagi, dan semua akan tergantikan oleh Mbak Gita. Ucapnya, membuktikan. Ia disisiku setiap kali keadaan mengancamku, bahkan disaat terlelahnya masih sedia menemuiku paling pertama. Tidak ada yang akan menyamai cinta seorang kakak lakilaki terhadap adik perempuannya, I love you, Bang Raden, batinku dan sedikit menitihkan air mata. “Aku disini. Semua akan baik-baik saja.” bisik Bang Raden “I miss you all the time.” ucapku merengek selayaknya anak kecil Tidak henti-henitnya Bang Raden menciumi keningku. “Dasar kucrut, mewek mulu. Udah, ah.” ucapnya sambil mengacak-acak rambutku “Bahkan aku membencimu seperti ini.” kerutuku dan merapikan rambutku “Apa?!” bentaknya menatapku “Hiks-hiks. I love you, Bang.” pelukku erat “So muchhhh.” Ia mengeratkan dekapanku


“Udah, ah. Hapus nggak, aku benci air matamu!” Bang Raden menggeleng “Raden sialan.” decakku dan memukuli pundaknya “Kamu yang sialan, sakit-sakitan mulu.” lagi ia mengacak-acak rambutku “Aish!” decakku “Udah makan belum?” tanyanya Aku mengangguk. “Bener dia udah makan, Adrian?” tanya Bang Raden memastikan aku sudah makan dengan baik saat bersama Adrian “Sudah, Kak. Barusan, Adrian yang suapin.” balas Adrian “Oke, udah ada backingan sekarang main suap-suapan dibelakang gue nih.” sindir Bang Raden meledekku “Apaan sih!” amukku “Marah aku, cewekku diembat anak baru lulus SMK.” goda Bang Raden “Radennn. Hih.” sahutku “Adrian, sebaiknya kamu pulang dan beristirahat. Besok kamu masih harus bekerja, bukan?” Bang Raden menghampiri Adrian “Tapi, Kak,” sangkal Adrian “Kamu tenang aja, jangan khawatir. Dia aman bersamaku percaya deh.” Bang Raden menenangkan “Kakak nggak kerumah dulu?” tanya Adrian “Tidak perlu banyak memikirkan saya, lekas pulang dan beristirahat dengan baik. Terima kasih sudah menjaga Arum dan membawanya kesini. Aku mengandalkanmu


banyak hal.” Bang Raden mengukir senyum sambil menepuk pundak pelan pundak kanan Adrian “Terus satu lagi. Panggil saya, Bang Raden, oke?” imbuhnya “Baiklah, Kak maksut saya, Bang Raden hehe.” Adrian agak kikuk “Saya pulang, tapi nanti agak malam boleh, kan, Bang kesini buat gentian jagain Arum?” tawar Adrian “Adrian, cinta itu buta. Gue tahu itu, tapi lo akan capek, jadi kembalilah besok saja seusai pulang kerja. Gimana?” bujuk Bang Raden “Tapi, yang gentian jagain Mbak Arum nanti siapa, Bang?” tanya Adrian nampak khawatir “Nanti Bang Putra akan kesini, Ad. Kamu tenang aja, bukannya nggak boleh atau gimana. Tapi bener kata Bang Raden, kamu kesini lagi besok aja. Nanti kamu malah kecapekan nggak bisa kerja kalau harus kesini lagi malem-malem.” jelasku mencoba memberikan pengertian pada niat baik Adrian “Lagian, kamu udah sedari tadi disini mondar-mandir jagain aku segala macem. Kamu juga butuh istirahat, Ad. Aku terima kasih banget-banget sama kamu sekali lagi. Maybe aku nggak akan dapet perawatan dengan baik lebih cepat tanpa kamu.” imbuhku “Udah, ini mandat langsung dari ayangmu, ya. Jadi istirahat, makan dan minumlah dengan baik. Kesehatanmu juga sangat penting.” imbuh Bang Raden


“Apaan sih, Bang, ayang-ayang.” Aku tersiup malus ama halnya dengan Adrian walaupun masih sedikit canggung sama Bang Raden “Baik, Bang. Kalau gitu saya pamit pulang, ya, titip Arum kalau sama Abangnya mungkin akan nurut xixi.” Adrian mencoba sedikit bercanda “Aku kira, dia lebih nurut sama kamu dibandingkan sama abangnya sendiri, Ad.” timpal Bang Raden “Mana ada, Bang. Di pabrik loh nggak pernah aku lihat dia makan. Katanya udah-udah gitu terus pas ditanya.” sambung Adrian “Gitu? Tingkatkannn! Sakit, kan endingnya?” omel Bang Raden padaku “Ad, jangan dikomporin lagi, ya. Lagi sensi dia kayaknya.” ujarku “Lu yang bikin sensi, demen banget buat orangtua panik.” ujar Bang Raden “Ngakuin tua?” ledekku “Gini nih, Ad. Kelakuan adik siapa, tengil banget dibilangin malah cengengesan.” sambung Bang Raden “Kek lu nggak aja, hmm.” timpalku Percakapan yang masih agak kaku sore ini berpenutup cukup hangat. Argh! Terbangun di pagi hari, aku terlelap di kasur mahal. Hampir melupakan, kukira sedang berada pada suasana weekend dan molor dengan nyenyak pada kasur kamar yang hangat. Nyatanya mimpi lebih indah dari realitaku saat ini. Masih dengan tangan tertusuk jarum penyambung


saluran infus sebagai asupan tenaga agar kondisiku lekas membaik. Dokter bilang, aku harus istirahat lebih lama di ranjang ini untuk dua minggu kedepan. Hasil laboratorium menyatakan aku tidak hanya sedang sakit lambung, namun juga typusku kabuhan lagi kali ini. Alarm tubuhku sedang memberikan peringatan keras, aku tidak sedang baik-baik saja. “Dek, sarapan dulu.” sapa Mama dan yang sedang menyiapkan sarapan untukku yang tengah melamun menerawang bebas menatap kekosongan tatapanku di balik jendela ruang rawat inapku. “Dek, dimakan.” Panggil Mama lagi, membuncahkan lamunanku seketika bubur hangat berwadah strofoam diletakkan di tanganku. Aku menganggukkan kepala dan tersenyum kepada Mamaku “Mau Mama yang suapin?” tawar Mama mendekatiku. “Boleh, Mah.” Aku menyodorkan bubur dari tanganku kepada Mama dan mengukir senyuman lagi untuk wanita terhebatku yang satu ini. Menikmati bubur dan mendengarkan nasihat yang menenangkan dari Mama lebih lama adalah waktu yang mungkin akan aku rindukan. Bukan merindukan makan bubur hangatnya di RS Indriati, akan tetapi, merindukan duduk berdua berbincang banyak hal persoalan kehidupan orang-orang dewasa yang kadang suka tidak seimbang dengan yang sudah dilalui. Obat mujarab yang palingpaling mujarab sedunia ini memang tutur kata Mama, sungguh, menenangkan dan membuat jiwaku yang


melayang entah kemana menjadi pulih meskipun pada kenyataannya agak rintih. “Mah, boleh tanya?” panggilku dan menyandarkan kepalaku di panguan Mama yang duduk diranjangku “Boleh dong, Sayang. Mau tanya apa?” balas Mama sambil mengelus lembut kepalaku “Nggak jadi deh, Mah. hehe.” Elakku mencoba untuk tidak mengeluhkan banyak persoalan kepada Mama Aku harus mampu setangguh Mama, tidak boleh cengeng dan gampang goyah karena ini semua sudah konsekuensinya. Apapun yang terjadi jangan sampai menyerah ditengah jalan, bukankah cerita yang baik adalah cerita yang rampung dengan sempurna? Aku sedang menyelesaikan cerita kehidupanku dengan segala alurnya, dengan segala terpaannya, dengan baik dan apik. Kelak, akan dikisahkan pada generasi setelahku, dengan bangga aku pernah melewati masa-masa yang bagiku sesulit ini. “Habiskan minumnya.” Mama menyodorkan segelas air putih untukku “Baik, Ma.” Aku menyetujuinya “Maafkan Arum yang menyusahkan ini, Ma. Bahkan Mama rela meninggalkan pekerjaan demi merawatku disini.” ucapku lirih pada Mama “Bukan masalah serius jika Mama meninggalkan pekerjaan untukmu, yang terpenting bagi Mama yaitu kesehatanmu. Kamulah yang utama disisi Mama, Nak.” peluk Mama sambil mengelus lengan kiriku.


Click to View FlipBook Version