Benar, selamat tinggal terhebat dariku Karena sudah menaburi rasa nyaman yang meretas ingatan hingga beku berjam-jam Berhari-hari, bersulam janji Tanpa benci, tanpa perih tak sengaja Ku mengingatmu, lagi Jika memang berkenan hadir lagi, silakan. Namun, kembalimu aku masih butuh pertimbangan. Jika sudah tidak ada keperluan, tinggalkan pesan, aku akan menghubungi setelah ini. Entah sebagai teman dekat yang setengah nadiku sempat terbawa lari olehmu. Atau pengingat bahwa kau pernah disisiku sehebat dulu dikala hancur-hancurnya aku. Ulasan setahun silam, YK, November 21 Rekap on 27/12/22 Lewat puisi ini, karirku dimulai. Hari-hariku sibuk, lukanya mengering. Dukanya pulih, dan lekas siuman pada temu-temu yang lebih mengasikan. Perubahan telah terjadi cukup pesat sejak usainya aku menyelesaikan sarjana dengan segubrak drama-drama kehidupan didalamnya. Kini, sudah kirab dengan sangat baik. Kehidupan baik, hal-hal baik menyambangiku,
opportunity berdatangan. Karyaku mulai dimuat oleh penerbit mayor, bahkan cerita istimewaku ini akan aku tuliskan untuk seseorang yang paling special yang telah mengantarkanku kearah luar biasa ini. Sebagai tanda yang tidak terlupakan diperjumpaan hebat di Kota Yogyakarta. Menuai ending yang bagaimana, bahkan aku bukanlah titisan Tuhan yang mampu menerawang. Jelasnya, Adrian adalah bagian cerita inti dari sebuah pembukuan kisah kehidupanku dibeberapa tahun terakhir ini. Bersamamu aku merasa berarti, bersamamu aku mengerti sebuah arti. “Terima Kasih, Adrian.” batinku, sembari menuliskan kisah cinta yang hampir menuju sempurna ini agar segera rilis di permulaan tahun sebagai tanda cintaku yang medalam untuk Adrian. “Rum, besok pemotertan di Tawangmangu. Mau nggak? Team kamera semua ready, kan?” tanya Ashar rekan dalam perbisnisan sebuah produk klasik kain tenun yang selalu setia mendampingiku untuk menghadiri sebuah seminar ke berbagai kota di Jawa Tengah. “Ready dong.” balasku “Ajakin Wulan, artis kita harus ikut menginfluencer dong.” imbuhnya “Siappp.” anggukku Kiasan Rindu Di Kota Karanganyar
Masih jelas dalam ingatan setahun silam, aku dan Adrian disini. Namun, suasananya udah pulih, traumaku untuk berkunjung kesini sudah pulih. Waktu membiarkan berlalu dan aku sudah tidak mampu kembali kemasa itu. Suap ingatan lebam berhasil pulih, perih, merintih Semayam hangat dekap, lebat menghujam Inilah, hatur klimaks purnama Bekas leleran isak meratap tersudahi Reaktan pelukmu berhasil mengguyur gersangnya sunyi Puing-puingnya roboh koyak, kan duka Semi, terhidrasi remu dini hari Tuang janji, ikrar mimpi, dan segala yang mengerumuni Tanpa kompromi mencuat kembali Konfrontasi masalah hati (lagi) Riang, rindang, gemuruh Sudah penuh, mulai utuh dan tidak akan runtuh Sepenuhnya singgah dengan sungguh Lepas keruh dan lekas terbuang segala peluh Tertulis, selembar rentetan dinginnya kabut ufuk timur
Kau, bisikan kiasan rindu hingga petang di Kota Karanganyar -Tika Dani.Angin semalam, Karanganyar pada penghujung tahun silam dan rindu masih kamu 2021, Novemberku yang hilang. Derap rindu ribuan puisi, banyak diakhir-akhir ini gubahan kalimat kerinduanku telah terhaturkan sempurna berbuku-buku. Sungguh, aku sibuk sekali hingga tidak ada lagi waktu untuk sebuah patah hati. Kali ini, aku melakukan perjalanan bersama Mail ke Madiun untuk seminar bedah buku hasil karyaku yang terbit secara indie beberapa bulan yang lalu. Menyusunya dengan saksama, hingga lahirlah buku cerita indah di hati pembaca, siang dan malam mengetikkan huruf demi huruf dan boom. Lewat sosial media aku mulai dikenal, karyaku menembus ribuan pembaca dikalangan remaja dan seusiaku. Menuju seperempat abad yang hebat, menjadi seorang pegawai negeri sipil di kantor BPS cabang Surakarta dan penulis dengan segudang karya-karya hype abis. Itu salah satu goalsku, dan semesta tengah berpihak disisiku akhir-akhir ini. Hingga setiap weekends selalu sibuk dengan memenuhi undangan dari berbagai Kota untuk acara bedah buku, seminar karir dan kewirausahaan di era generasi sandwich ini. Peran pelaku milenial di era globalisasi dalam menyikapi ranah tradisional dan budaya, sharing masalah dunia persensusan kependudukan dan dunia literasi. Namun
lebih sering mendatangi sebuah event tentang dunia literasi. Bersama Mail melakukan tour sambil menyelam minum air, cieeleh. Habis itu ke perpustakaan PATABA yang ada di Kota Blora. Liburku penuh dengan seminar dan acara-acara bermanfaat. Aku semakin bahagia dengan hidupku yang sekarang, apakah demikian sudah mampu dibanggakan sebagai wanita karir? Belum. Masih banyak yang harus aku kerjakan untuk mencapai purpose life yang sudah nampak hilalnya ini. Masha Allah. “Mail, besok aku ke Bandung buat acara seminar sekalian jumpa penulis #Bandungtanpakamu. Mau ikut nggak?” tawarku “Boleh, naik kereta?” tanyanya “Iya, jumat siang usai ngantor langsung gasin.” balasku “Siap, gue kerumah lo jumat pagi, Bos.” sambungnya dari telefon “Bingung nih mau beli alpard apa rubbicon, abis dipanggil bos soalnya. Haha.” candaku pada Mail “Bukan, maennnn.” sambungnya Mail ini bestieku sejak lama, memang sempet jarang bersua karena dia selama ini merantau di Kalimantan. Beberapa bulan ini lebih sering bersamaku di setiap weekends karena dia sudah pindah kerjaan di kampung halamannya Solo. Karena pekerjaannya 5 hari kerja saja, hingga hari jumat. Jadi aku bisa sering mengajaknya
keluar Kota sebagai teman perjalanan. Hobinya yang berkeliling semakin klop banget kalau kita berdua berkolaborasi. Lain lagi dengan Ashar, kalau dia temen klik dibidang fotografi, aku kenal Ashar baru satu tahun terakhir ini. Sementara Mail mah bestie sejak piyik, hahaha jadi fine-fine aja mau kemana-mana modelan gimanapun dan seperti apapun, dia sudah fasih. Hanya terpisah beberapa tahun karena habis lulus SMK ia langsung terbang ke Kalimantan waktu itu. Bersamanya aku tenang dan nyaman, namun tidak ada cinta yang lebih dari seorang sahabat diantara kita berdua. “Mail, next ada tawaran ke Bali. Kira-kira mau lo ambil nggak, menurut lo gimana?” aku jajak pendapat dengannya “Dengan bayaran professional, kan?” tanyanya “Iya.” Aku menganggukkan kepala “Terimalah, ini peluang. Lo bisa ajak gue jalan-jalan ke Bali, Rum. I want it.” Ia tergiur dengan itu “Are you sure?” tanyaku meyakinkan “Kapan lagi, lo jalan-jalan digaji? Kamu nggak mau ke Bali lagi? Setelah seminar dan jumpa tim penulis lo disana, kan, selebihnya jalan-jalan, ygy. Sekalian tak fotoin deh produk jualanmu disana, sambil menyelam minum air dongg.” Ia meyakinkanku
“Iya juga, ke Bali cuma pas study tour sewaktu SMA. Okeee, Acc, boskuu.” seruku “Eh, tunggu deh. Lo yakin? Sabtu-minggu cukup disana emang?” tanyaku “Naik pesawat, kan? Nanti kamu izin pas hari jumatnya, kamis berangkat. Lagian selama ini nggak pernah ambil cuti kantor, kan, sekali doang pasti boleh sama kepala lo.” ujarnya “Ok, deh.” balasku dan toss dengan Mail “Thank, Mail for everything.” imbuhku “Anytime, bess.” balasnya Satu minggu berlalu, ini saatnya bersenang-senang ke Bali bersama sahabat tercinta. Aku dan Mail sudah Menyusun rencana, akan ke pantai Jimbran selesai seminar. Berkunjung ke Joger, pantai kuta dan masih banyak lagi kalau keburu waktunya sih. Paling terpenting tugasku selesai terlebih dahulu, dan tujuan menikmati malam di Jimbaran bersama bestie tidak akan terlupakan. “Wih, kembang apinya keren, Rum.” kita berdua terpanah dengan keindahan sunset pantai Jimbaran. Takjub sekali, semakin larut, ada kembang api yang bertaburan sangat indah. “Ini sih lebih keren dari ekspektasi kita sebelumnya, kayaknya sedang ada acara di sini deh.” ujarku
“Masha Allah, indah sekali.” takjub Mail sambil mengabadikan moment indah malam ini “Mail, beli minum sama apa gitu. gue tunggu di gazebo sana.” pintaku yang merasakan haus, sambil menunjuk kearah gazebo yang tidak jauh dari tempatku dan Mail berdiri “Boleh, bentar, ya. Jangan pindah kemana-mana sebelum gue datang membawa minum dan makanan.” pesannya dan berlalu Pertemuan Yang Tak Terencana Aku duduk di gazebo itu seorang diri, dengan menatap langit gemerlap kembang api dan beribu bintang yang cantik bersinar. Malam yang indah, sunsetnya terlukis manis untukku. Aku menyukai senja ciptaanNya, penuh rasa syukur dan mengukir lengkung manis atas keindahan yang membuatku terkesima akan betapa hebatnya Tuhan menciptakan dunia dan seisinya. Komposisi yang sangat harmonis. “Mana sih, kok, Mail lama sekali mana makin dingin gini.” gumamku celingukan ke kanan dan kekiri, Mail tak kunjung datang “Permisi, boleh saya duduk?” sapa seseorang “Silakan, boleh.” balasku dan tersenyum simpul
“Rum, sorry, lama banget hehe.” Mail menyodorkan segelas minuman untukku “Ini bukan alcohol, kan?” tanyaku “Ya kali gue bikin mabok besti gue, bisa kena gamprat orang rumah dong.” celotehnya “Siapa tahu aja niat lo jahat ke gue. Hahaha.” Kita tertawa bersama “Air kelapa dingin tanpa es, seperti kesukaanmu.” balasnya “Thanks.” balasku dan meminumnya “Siapa?” tanyanya lirih sambil melirik kearah seorang pemuda di ujung gazebo yang tengah duduk “Gue nggak kenal, orang sini mungkin. Join duduk aja di gazebo.” bisikku yang berdiri berdekatan disamping Mail “Oh.” Ia mengangguk “Rum, liat deh. Mantan gue comment ig story yang pas sama lo siang tadi. Makin happy katanya, jalan-jalan teross. Hahaha.” ujar Mail sambil nunjukkin ke aku bukti komenan mantan pacarnya, Miselia. “Lo bilang aja, udah jadi pembicara offline dengan gaji professional di kota-kota besar nih boss, biar makin nyesel udah ninggalin lo, hahaha.” timpalku
“Nggak dong, gue bilang aja nemenin ayang seminar. Padahal sahabat sendiri, cieeleh.” imbuhnya “Balik ke penginapan yok, il. Udah malem.” ajakku karena udah larut “Ayo, besok lo nggak ada seminar lagi, kan? Tinggal full jalan-jalan dong besok seharian terus cus pulang?” tanyanya “Iya, udah free. Mail lo jadi manager gue udah bisa deh kayaknya. haha” balasku “Kok bisa?” tanyanya bingung “Karena lo udah bisa planningin jadwal gue setiap kelar seminar dong, hahaha.” candaku garing “Wah suatu ke hormatan keknya nih bisa menjadi manager yang ditunjuk langsung oleh seorang Aurum Sekar Widyasari. Haha.” Imbuhnya dan kita sambil berlalu dari gazebo itu dengan melanjutkan berbagai candaan lainnya. Belum jauh dari gazebo itu, seorang pemuda yang barusan duduk di samping kita memanggil namaku dari kejauhan. Sempat aku meragukan panggilannya, karena aku pikir memang bukan Arum, Aurum Sekar Widyasari yang saat ini bersama Mail yang sedang ia panggil. Maybe, ada Arum lain di pantai Jimbaran. Lambatku sadari, memang benar Arum diriku yang sedang ia panggil-panggil sedari tadi. Aku lupa-lupa ingat akan tatapnya yang aku rasa de
javu banget karena bertutup oleh masker jadi aku kurang memahami siapa dia sebenarnya kenapa dia mengenali namaku dengan baik. Bahkan sepertinya kita berdua pernah terlampau dekat di masa lalu, nampak jelas tersirat oleh binar matanya yang tertembus oleh berbagai sinar disekeliling kita. “Mas yang barusan di gazebo, kan?” tanyaku berbalik Dia menganggukan kepala, pria bermasker dan bertopi itu nampak membuatku curiga. “Ada apa, Mas, memanggil saya?” tanyaku sedikit gemetar “Ini, Mbak Arum meninggalkan buku ini di gazebo.” Ia menyodorkan buku kecil yang biasa aku bawa kemanamana untuk berjaga jika ada inspirasi yang tiba-tiba lewat diotakku. Ia memanggil dengan namaku, bahkan dia mengenaliku dengan baik sepertinya. “Anda mengenal saya?” aku meraih note kecil itu dan kebingungan dalam mengajukan pertanyaan “Saya Adrian, Mbak. Rupanya waktu membuat tatapan saya semakin asing untuk dikenali oleh Mbak Arum. Lama tidak bertemu, Mbak.” sapanya seusai membuka masker “Masha Allah, Adrian, dari tadi kamu?” ucapku sedikit kaget
“Iya, Mbak. Apa kabar?” tanyanya ia menyodrokan tangan kanannya untuk menyalamiku “Alhamdulillah, baik. Kamu?” tanyaku balik dan meraih tanganya untuk membalas bersalaman dengannya “Seperti yang terlihat, aku baikan. Mbak semakin luar biasa sekarang, bahkan nama Mbak Arum semakin meroket sukses dengan karya-karyanya.” sanjung Adrian “Jangan melebih-lebihkan, bahkan kau sudah jauh lebih baik sekarang.” pujiku balik kepadanya Kita tertawa berdua. “Ceh! Rasanya canggung sekali bertemu denganmu setelah berulang purnama, Mbak.” groginya “Rum, udah belum. Lama banget sih!” Seru Mail yang menungguiku agak lebih jauh dari percakapan kita berdua “Iya, bentar!” teriakku merespon Si Mail. “Adrian, I’m so sorry tapi aku buru-buru karena harus segera pulang ke penginapan. Thanks for this.” ucapku “Sama-sama, besok masih disini?” tanyanya “Mungkin, karena masih ada keperluan sejenak untuk besok.” ujarku “Baiklah, boleh saya menghubungimu kembali, Mbak?” tanyanya
“Rum!” teriak Mail yang tidak sabaran “Oh, see you Adrian.” pamitku dan berlalu meninggalkannya di pesisir Pantai Jimbaran yang semakin malam semakin dingin udara itu. Aku dan Mail balik ke Penginapan yang berjarak kurang lebih 500meter dari pantai Jimbaran. Ia sedikit ngomel karena aku lama sekali mengobrol dengan Adrian barusan, yang ia pikir orang yang baru aku kenal di gazebo itu. Eh, begitu tahu dia adalah Adrian, mantan kekasihku, dia malah makin ngomel karena takut bersemi kembalilah, apalah itu. Dia berusaha untuk tidak membuatku balik ke seorang Arum yang gamon, desperate, toxic, insecure dan yang negative-negatif. Semua yang sudah aku sembuhkan jangan sampai muncul kesakitan baru apalagi berulang dengan orang yang sama di masa lalu. Mail paling tidak menyukai kalau aku terluka, memang seprotect itu dalam memperlakukanku ya walaupun kadang banyakan tengilnya. Siapapun yang melukaiku akan berhadapan dengannya terlebih dahulu, usia yang berselang beberapa bulan lebih tua darinya membuat aku kadang diminta memanggilnya kakak. “Dih, ogah banget.” decakku terhadap ketengilannya. Bang Raden, Bang Putra, kakak iparku, Mama semua udah kenal manusia random satu ini, siapa lagi kalau bukan Mail. Udah seperti rumahnya kalau dirumahku, sama halnya denganku kalau pas dirumahnya. Jadi samasama udah kayak kakak beradik sekandung juga sih. Kita
nggak bisa lepas satu sama lain, ya, gini terus. Jangan sampai pacaran, memang itu sebuah kalimat larangan karena apa, ya, biarin kayak gini. Kalau dateng pas samasama butuh, pas aku butuh dia, dia ada. Pas dia butuh aku, aku ada. Gitu terus, persahabatan yang cukup bobrok aku rasa. “Aku tidak ingin membahas apapun soal pertemuanmu barusan. Hanya, selamat tidur, masih banyak yang harus kita lakukan besok pagi. Jadi, segera tidur. Aku balik ke kamarku.” Ucap Mail “Okay, thanks for today, Mail. Good night.” balasku Yang Tertakar Tidak Akan Tertukar Alarm subuhku berkumandang, bukan alarm buatanku sungguh. Ini alarm yang biasanya dirumah bilangnya pukul 6.00 pagi tapi faktanya masih pukul 5.00 bahkan masih pukul 4.00 pagi. Siapa lagi kalau bukan Mamaku tercinta, yang selalu setia menelfonku di pagi buta, setia membangunkanku dan memastikan kegiatanku terselesaikan sepagi mungkin bahkan saat kita berjauhan. Beliau selalu memastikan aku benar-benar sedini mungkin melakukan aktifitas, supaya pas petang hari tinggal mengevaluasi apa yang perlu dibenahi dan apa yang perlu diperluas lagi relasi, pengalaman dan nilainilai yang lainnya. Bergantian, kedua kakakku akan bertanya, “Rum, udah bangun belum?” atau dengan kata tanya lain versi Bang Raden. “Bangun! Mau sesuatu yang
indah? Kalau mau bangun jangan tidur nyenyak dan bersembunyi diselimutmu yang hangat itu!” dan banyak lagi kurang lebih keduanya akan mengajukan kata tanya itu meskipun jarang aku fast respon yang paling utama memang harus kabar dari Mama apapun yang terjadi. Utama dan petama hanyalah Mama, selebihnya agak siangan, kan masih bisa diangkat telefonnya, masih ada waktu luang untukku membalasnya. Diluar usai aku bersiap sekalian mengemasi semua barang-barang bawaan, karena setelah berkeliling akan langsung meninggalkan Bali. Terdengar suara gedorgedor pintu, Mail si paling tidak sabaran urusan jalanjalan memang sungguh meresahkan. “Mail, apaan sih, masih pagi!” amukku membuka pintu “Mari kita bersenang-senang.” Serunya kegirangan penuh antusias “Buru-buru amat sih.” kerutuku “Pantai Kuta akan indah jika kita tiba lebih dini, Rum. Lo gimana sih.” decaknya “Yaudah, ayo, bantuin bawa kopernya.” rengekku meminta bantuan padanya “Okeee, let’s go.” Kita ke pantai kuta pagi ini.
“Ponsel lo bunyi mulu, Rum. Diangkat dulu ah gangguin ketenanganku aja.” desah Mail yang terganggu dengan dering ponselku sepanjang perjalanan menuju pantai kuta “Halo, Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam, ada apa?” “Udah pulang dari Bali?” “Belum.” “Kirain udah, have fun kalau gitu.” “Okay.” “Siapa tuh?” sahut Mail ketika aku sudah selesai ditelfon “Enggar.” “Asekkk mau balikan apa gimana nih. Kayaknya makin deket aja.” ledek Mail “Menurut lo gimana, il.” Aku meminta pendapat padanya “Gimana apanya? Yang jelas dong kalau minta saran itu.” sahut Mail “Enggar? Mungkin nggak kalau kita balikan?” tanyaku “Bisa jadi, kalau emang dia jodoh lo, lo bisa apa sama takdir.” sambungnya
“Lagian kalian juga putus bukan karena pihak ketiga, kan waktu itu? Karena keadaannya aja yang emang belum bisa sama-sama, kan?” sahutnya lagi “Iya juga sih, tapi aku ngerasa udah nggak ada lagi koneksi sama dia. Kerjaanku aja kayak gini, sering keluar kota, mana mungkin? Sedangkan kita putus karena ldr waktu itu.” curhatku pada Mail “Itu, kan dulu, Rum. Pas ego kalian masih sama-sama kerasnya. Sekarang situasinya udah beda, kalau masalah koneksi batin, ya, itu lo sendiri yang bisa pastiin, kan. Masih mungkin nggak kalian berdua balikan. Kalau menurutku mungkin, karena keluarga kalian udah deket bahkan kalian pacaran juga nggak sebentar waktu itu. Percaya deh sama gue yang pertama hadir tidak akan tergantikan oleh siapapun, sekalipun ada kenyamanan baru setelah lo putus dari dia. Tapi, ya, balik lagi sih ke masing-masing orang. Ada yang nyaman sama orang lama atau malah sama orang baru lebih klik. Dann balik lagi jodoh kita nggak ada yang tahu, kan, Rum.” ujar Mail “Jujur, gue lebih happy saat sama Adrian, il. Nggak tahu kenapa, terlepas dari dia masih sangat muda untukku. Dan, yang bener-bener berakhir karena sebuah keadaan itu malah justru waktu sama dia. Bukan sewaktu sama Enggar.” sahutku “Tapi apa lo sepenuhnya yakin, konseksi lo sama Adrian bakal sekuat ini? Lo yakin nggak sama dia bakal berujung,
di usia lo yang sekarang, yang lo butuhin itu bukan Adrian gue rasa, Rum. Ini sih presepsi gue aja, ya, mereka samasama baik. Gue tahu itu, tapi diusia lo yang udah mateng ini, lo yakin bakal nunggu Adrian? Sampai kapan? Mungkin dia sedang berproses demi bisa sama-sama lo, bahkan supaya bisa nikahi lo. Tapi, lo nggak mikir jauh, gimana kedepannya, porsinya dia masih ingin berkelana bukan nikah muda, Rum. Lo nggak boleh egois akan hal itu, lo juga pernah ngelewatin masa-masa seusia Adrian. Lo masih ingin kesana, kemari, ya, berkelanalah intinya. Terlepas dari itu, lo yakin nggak perlindungan dia ke elo bakal seprotect ketika lo sama Enggar? Usia nggak bisa dipaksain, Rum.” Mail membuka sedikit gundahku kali ini, benar, lupakan Adrian. Ia akan kujadikan sebagai adik yang pernah tahu segalanya tentangku sedikit lebih banyak, yang pernah singgah dan memulihkan dengan sangat anggun. Mendekap laraku dan segenap carut-marut yang terlewati kala itu. Sampai kapanpun Adrian tetap yang terbaik, entah kedepannya berending gimana dan seperti apa. Andalanku tetaplah Adrian, satu tahun terbaik bersamanya. “Ayo turun nggak, kesiangan, kan gara-gara lu.” ucap Mail sedikit mengerutu padaku “Dih, lo nyamperin jam berapa barusan. Gue mulu yang salah.” ngambekku
“Gitu doang ngambek, sini-sini peluk kakak dulu tayongggg.” rajuknya yang berhasil membuatku tertawa lepas, sambil merangkulku menuju ke pesisir pantai kuta “Gini terus, ya, il. Jangan pergi-pergi lagi, kalau lu merantau gue berkeluh sama siapa cobaa.” rengekku padanya “Nggak aman, orang ngrantau lu masih aja nangis-nangis. Iilll gue putus sama Enggar, Adrian nakal, alahhh.” omelnya “Hehehe.” Waktu berlalu, sepulangku dari Bali tidak ada yang berubah. Seperti biasanya hari-hari ngantor hingga berjumpa weekend kembali. Pekan ini aku akan disibukkan dengan pekerjaan kantor yang segunung, akan dipenuhi hari-hari lembur dengan data persensusan duniawi dan semacamnya. Senin ini aku kemungkinan akan pulang pukul 8 malam, karena harus menyelesaikan tugasku yang tertinggal di hari jumat kemarin ditemani 2 orang rekan kerjaku yang sama-sama lembur, Cindy dan Fahmi. Bersama Pak satpam diluar berjaga malam dikantor, Pak Bayu dan Mas Ardi. “Permisi, Mbak, Arum.” ketuk Pak Bayu masuk ke ruanganku “Iya, ada apa, Pak Bayu?” sambutku menanyakan tujuannya menemuiku
“Belum selesai, Mbak?” tanyanya “Belum, Pak. Setengah jam lagi selesai mungkin, kenapa?” tanyaku “Oh, itu diluar ada tamu yang nyariin Mbak Arum. Tak suruh nungguin di pos, takutnya kalau masih lama, kan kasihan. Sebaiknya Mbak Arum temuin dulu.” jelas Pak Bayu “Nyariin saya, Pak? Aduh, tanggung banget ini, Pak. Ya, udah 15 menitan saya selesaikan ini. Minta tolong bilangin suruh nunggu di ruang tunggu gitu aja, ya, Pak. Bentar doang ini, Pak.” ujarku “Baik kalau gitu biar saya sampaikan sama tamunya dulu, permisi, Mbak.” pamit Pak Bayu “Baik, Pak. Terima kasih, ya, Pak.” imbuhku sebelum Pak Bayu berlalu “Iya, sama-sama, Mbak Arum.” beliau berlalu dari ruanganku 15 menit berlalu, aku sudah menyelesaikannya dengan baik. Waktunya menemui tamu yang barusan menunggu di ruang tamu. “Cindy ayo pulang, kelar belum.” ajakku pada cindy pas melewati depan ruangnnya dengan membuka sedikit pintunya
“Duluan aja, Rum. Dikit lagi kelar ini.” serunya “Ya udah, duluan, ya. Ada tamu nungguin di bawah soalnya, Cin.” teriakku “Yok, hati-hati pulangnya.” sambungnya “Fahmi, pulang-pulang anak istri udah nungguin dirumah.” seruku begitu sampai di depan ruangan milik Fahmi, pas aku buka pintunya ternyata dia sedang berkemas dan bergegas membersamaiku turun ke lantai bawah “Udah kelar?” tanyaku dan kita berjalan beriringan “Udah.” jawabku “Cindy udah kelar itu?” tanyanya “Belum, bentar lagi katanya. Kamu mau nungguin? Aku ada tamu dibawah soalnya jadi nggak bisa nemenin Cindy sampai kelar.” jelasku “Biarin ajalah, ada Pak Bayu sam Mas Ardi. Amanlah, buru-buru pulang juga soalnya, Rum.” ujar Fahmi “Ya udah, paling bentar lagi kelar dia.” imbuhku “Tuh, udah ditungguin. Duluan, ya, Rum.” ujar Fahmi begitu melewati ruang tunggu ada seseorang tengah menungguku “Oke. Hati-hati, Fahmi.” Aku melambaikan tangan pada Fahmi dan berlalu
Dari balik punggungnya aku tahu, yang tengah duduk diruang tunggu adalah Enggar. Segera aku mendekatinya. “Maaf membuatmu menunggu, ada apa?” tanyaku yang membuatnya beranjak dari duduknya dan berbalik kearahku. Sudah jelas, dia benar-benar Enggar “Bukan apa-apa, hari ini sibuk nggak?” tanyanya padaku “Nggak juga.” Aku menggelengkan kepala “Aku mau ajak kamu makan malam, capek nggak?” tawarnya Aku mempertimbangkan iya atau nggak, sambil memperhatikan jam tanganku. “Gimana?” tanyanya “Boleh, bentar aja, ya, tapi.” Aku mengiyakan ajaknya itu “Oke.” Aku dan Enggar makan malam di sebuah burjo dekat alun-alun Sukoharjo, karena dia sengaja mencarikan tempat makan yang searah menuju rumahku supaya tidak terlalu jauh dan kemalaman saat pulang. Mengendarai motor sendiri-sendiri dari kantor menuju alun-alun Sukoharjo, ia memintaku menitipkan motorku pada tukang parkir yang biasanya memarkirkan motor para pengunjung yang sedang makan di sekitaran alun-alun tersebut. Supaya kitab isa berboncengan untuk ke
burjonya. Aku mengikuti saja apa maunya kali ini, anggap saja sebuah temu kangen sahabat lama. “Kerjaan banyak, ya, kayaknya habis ditinggal cuti ke Bali, ya, Rum?” Enggar membuka pertanyaan lebih dulu “Iya, nih. Cuti sehari aja udah numpuk banget kerjaan.” keluhku padanya “Namanya juga wanita karir, semangat.” Ia menunjukkan dukungannya padaku “Thanks.” balasku “Ada apa, tumben-tumbenan ngajak makan?” tanyaku balik sambil menikmati makanan yang sudah kita pesan “Pengen ngobrol aja, udah lama banget nggak ngobrol semenjak kamu ada pacar.” balasnya agak sungkan “Udah putus.” lirihku Mendengar ucapanku kalau aku dan Adrian sudah putus, Enggar malah justru merasa bersalah dalam berucap barusan. “Kok malah diem, santai aja kali, Nggar.” Aku membuka keheningan yang ada “Aku turut prihatin, ya. Maaf nggak tahu kalau udah putus.” ujarnya yang merasa bersalah “Nggak papa, Nggar.” balasku
“Eh, Rum.” panggilnya sungkan “Ya, kenapa Nggar?” tanyaku “Sebenernya ada yang mau aku omongin sama kamu malam ini. Tapi keliatannya social energy kamu udah kekuras banget habis lembur, jadi next time aja kita obrolin ini.” ujar Enggar yang mengurungkan niat untuk membahas yang entahlah aku juga kurang paham “Obrolin aja kalik, nggak masalah. Mumpung ketemu sekalian, nunggu besok-besok keburu bisulan dipendem, Nggar.” candaku mencoba memecah canggung percakapan kita sedari awal “Masih sama randomnya kayak dulu kamu itu, Rum. “ balasnya sambil tertawa “Mau ngobrolin apa?” tanyaku “Gimana, ya, ngomongnya, Rum. Malah jadi grogi gini.” ujarnya sambil garuk-garuk kepalanya yang sebenarnya itu nggak gatal “Dih, apaan sih. Kita udah kenal lama kali, Nggar pake grogi segala. Kayak anak kemarin sore yang baru pacaran aja.” balasku “Rum, aku mau ngomong serius sekarang. Kira-kira kalau kita perbaikin hubungan yang kemarin masih bisa nggak? Masih mungkin nggak aku dikasih kesempatan kedua? Aku janji bakal perbaiki semuanya. Soal yang dulu-dulu
aku minta maaf, karena memang egoku masih labil waktu itu. Aku udah coba buat lepasin kamu dari ingatanku, tapi susah, Rum nggak ada yang sama sepertimu. Mau orang baru yang seperti apapun itu, hanya kamu yang bisa menenangkan keresahan hatiku dengan cara paling sederhana yang kamu punyai. Kliknya sama kamu, bahkan semenjak kamu tinggal aku begitu menyedihkan. Kehilanganmu membuatku sadar, bahwa memang tidak akanku temui Arum dimanusia lain.“ curhatnya padaku dengan penuh sesal “Aku nggak tahu harus gimana untuk saat ini, Nggar. Tapi yang jelas, kalau memang perasaanmu ini bersungguhsungguh. Aku sudah tidak mau lagi bertele-tele dengan perasaan, pacaran dan semacamnya karena kita sudah bukan bocah lagi. Kau tahu itu, yang sempat terjadi aku sudah melupakannya anggap saja waktu itu adalah waktu dimana kita sedang dalam proses pendewasaan kita masing-masing yang sudah mengantarkan kita sampai pada dititik ini. Aku hanya mampu percaya satu hal, jika memang kita bakal bersama kedepannya nanti. Percayalah, semua yang sudah tertakar tidak akan pernah tertukar.” jelasku padanya “Lantas, apa kamu mau melalui hiruk-pikuk kehidupan ini bersamaku? Tentu saja dalam ikatan yang lebih serius, bukan hanya sekedar berpacaran seperti kemarin.” tanyanya dan meraih kedua tanganku
Kita berada dalam satu tatap sekarang, berhadapan duduk dan terdiam dalam tundukku, aku tidak mampu bergeming apapun. Masih adakah sisa ruang direlungku ini untuk Enggar? Apa benar inilah sebuah cinta sejati? “Maukah kamu menikah denganku, Aurum Sekar Widyasari?” tanyanya padaku dan menyodrokan sebuah cincin yang indah dihadapanku. Sungguh romantis sekali, tanpa pikir panjang setelah sekian lama terpisahkan dan dalam tualangan masing-masing. Dia kembali dengan sosok yang lebih dewasa dari sebelumnya. Aku menutup tempat cincin yang berbentuk love yang berisi cincin nan indah itu, yang ia suguhkan dengan anggun dihadapanku. “Maaf, aku belum bisa memberikan jawaban apapun atas ini. Jangan bersimpuh dihadapanku, duduklah.” pintaku Ia bangkit dan kembali duduk disampingku. “Enggar, mungkin ini bukan kali pertama kamu mengutarakan cinta padaku. Aku minta, untuk yang kedua kalinya ini. Jika memang kamu bersungguh-sungguh dengan ini semua, segeralah temui kedua orangtuaku. Bukankah itu akan lebih baik dari pada kita mengulurnya?” ujarku dan mencoba berbagi pemikiran dengannya “Namun, berikan aku waktu yang cukup untuk bisa memutuskan menerimamu kembali atau malah justu
sebaliknya. Bahkan aku perlu banyak pertimbangan akan hal itu.” imbuhku “Baiklah, kapanpun kamu itu aku akan menunggu jawaban darimu. Apapun keputusanmu aku akan terima dengan baik, kalau memang kita ditakdirkan bersama aku akan segera menemui Ayah dan Ibumu.” pungkas ucap darinya sekaligus mengakhiri pertemuan kita dimalam ini Tuhan, aku butuh petunjuk dari-Mu. Adrian dan Enggar sama-sama orang yang baik selama disisiku semala ini. Namun, keadaannya memang dari kesiapan Adrian masih perlu banyak pertimbangan selain usianya yang jauh lebihmu dariku, ia masih dalam masa petualangan di usianya yang sekarang. Bahkan mungkin belum waktunya dia menikah semuda ini denganku, aku bahkan belum tahu jika menunggunya datang menepati janji yang pernah dia ikrarkan apakah masih mungkin? Aku tahu dia akan menepatinya, namun pastinya kapan belum ada yang mampu memastikan. Karena memang Ibunya masih ingin menyaksikan Adrian sukses dan mapan. Sebenarnya apa yang sedang aku pusingkan sekarang? Bahkan Enggar sudah siap dalam perihal apapun, termasuk usianya yang sudah sangat matang untuk menikah bersamaku. Walaupun kenyataan memang kita seumuran, jadi apa yang membuatku untuk tidak menerimanya? Kalau mungkin urusan pekerjaan dia sudah menetap, kuliah bahkan dia sudah selesai S2. Sedangkan Adrian baru merintis karirnya, bukan tentang materinya. Namun,
Adrian masih perlu menikmati kepuasan hasil kerja kerasnya, ia masih perlu membahagiakan kedua orangtuanya dengan jerih payahnya selama ini. Aku tidak boleh egois memang, dan harus menerima kalau memang Adrian pantas mendapatkan yang lebih dariku, yang seusia dengannya, yang sama-sama bisa menemaninya dari awal. Bukan malah menunggunya sukses dan lantas menantikan kepastian seperti yang aku lakukan saat ini. Bukankah, aku meninggalkannya juga demi kebaikannya? Demi masa depannya yang lebih baik? Aku akan bangga melihatnya bahagia dengan yang lain dengan kehidupan yang sudah membaik dari sebelumnya. “Mbak, sibuk nggak?” tanya Adrian. Kita terlibat dalam percakapan telefon kali ini “Ada yang Adrian pengen ceritakan, Mbak mau dengar nggak?” imbuhnya jauh disana “Apa?” tanyaku “Ceritanya besok aja, Mbak. Aku kerumahmu, mumpung pulang kampung. Boleh nggak, Mbak?” tanyanya “Jangan melakukannya terlalu berlebihan, karena SoloMadiun itu terlalu jauh dan jangan menaruh harapan apapun tentangku lagi, Adrian.” jawabku dari benda pipih di gengamanku ini “Nggak, aman, Mbak. Boleh, ya?” pintanya
“Yaudah, tapi aku mohon jangan menganggap ini sebuah harapan tentang hubungan kita.” pungkasku Aku dan Adrian bertatap, seusai berjumpa dengan tidak sengaja di Pantai Jimbaran Bali kala itu. Ini adalah kali kedua pasca putus kita kembali berjumpa, walaupun sempat diawal waktu aku mengabaikan beberapa chat darinya, aku mulai bisa menerima bahwa kita memang sebaiknya menjalin hubungan pertemanan dengan baik. Meskipun pernah saling mencintai, lain dimensi, kita sudah sama-sama berdamai dengan sendirinya, memang benar waktu membuat kita lupa akan rasa yang pernah ada. Sempat aku mengunfol akun Instagram milik Adrian dalam buncahku meninggalkan dirinya kala itu. memblokir nomor ponselnya, dan akhirnya berani berdamai. Hingga sekarang berkomunikasi dengan baik lagi. “Mbak, aku kangen banget sama kamu.” sapanya diawal temu Aku hanya tersenyum lugas. Redup tatapnya masih hangat menyapa, lengkung manis dan semua kepemilikannya aku masih bisa sedikit bergejolak. Namun, angin lalu menembus alunan nadaku, ini bukan saatnya bermain-main dengan cinta. Jangan mencampuradukan lagi cinta dengan cita-cita, ya, Rum. Dalihku meronta, memaksa lupa berkerumun dikepala.
“Mbak, aku punya ini.” Ia menyodorkan sertifikat D3nya padaku “Kamu hebat, bahkan meyelesaikannya dengan baik.” sanjungku memberikan antusias atas pencapaiannya “Bentar lagi aku akan menjadi seorang arsitektur professional, Mbak. Aku sedang dalam pengajuan mutasi untuk pindah ke Madiun, mendapatkan beasiswa untuk transfer ke S1 dan bakal diajukan untuk promosi jabatan di Perusahaanku dan disarankan melanjutkan pendidikan S2. Nah, sebelum itu, setelah rumah yang akan aku tinggali bersama istriku nantinya udah jadi. Aku bakal nikah dulu, baru lanjut S2. Gimana, Mbak?” penuh antusias ia menjelaskan semua pencapaiannya selama ini, bahkan pemikirannya sudah sangat matang akan menjadi seperti apa kedepannya nanti. “Keren, udah terpikirkan dengan sangat matang dari sejauh ini. Kamu bisa menjadi pilot untuk dirimu sendiri dengan baik, menata masa depanmu dengan sebaik mungkin.” sambungku “Kamut ahu ini karena backinganku siapa?” tanyanya Aku mengelengkan kepala. “Mbak Arum. Sejak kenal Mbak Arum, pikiranku menjadi terbuka. Aku mulai menjadi yang lebih baik lagi, meninggalkan kebiasaan burukku dan mulai memikirkan masa depan. Coba aja dulu aku nggak ketemu sama kamu,
Mbak. Aku nggak tau bakal jadi apa aku sekarang, gimana jadinya aku tanpamu, Mbak. Allah sengaja hadirkan wanita sebaik Mbak Arum untuk menyadarkanku, aku bangga pernah mengenal Mbak Arum bahkan pernah dicintai dengan hebatnya sewaktu dulu.” balasnya dengan bangga “Jangan seperti ini, bahkan aku tidak menemanimu dengan baik. Kamu berproses sendirian, kamu yang mau berbenah dengan baik sesuai apa yang kamu mau. Kamu ada dititik ini karena kegigihan dan semangatmu, aku hanyalah sebuah perkenalan yang singkat yang sengaja Tuhan hadirkan memang untuk sekedar saling mengenal, Ad.” ujarku padanya “Bukan hanya saling mengenal, kan, Mbak?” tanyanya padaku “Bahkan memang kenyataannya kita hanya mampu berteman dan menjaga hubungan dengan baik, Ad. Selebihnya aku bukan penentu takdir atas kita.” sambungku “Mbak, mau nggak, tinggal sama aku dirumah yang baru dalam proses finishing itu? Kita sama-sama lagi, sembari aku menyelesaikan pendidikan transfer S1-ku?” tawarnya sukses menjadikan jantungku berantakan kali ini Perjuangannya sungguh luar biasa, dari Adrian yang seorang perokok dan pemabuk hingga kutemukan sosok Adrian yang mampu bangkit dari keterpurukannya di
masa silam. Untuk seusianya memang harus di berikan sebuah penghargaan tersendiri atas segala kegigihannya yang pantang menyerah. Memang dia pekerja keras yang hebat. Aku akui, bangga! Sangat bangga padanya. Ia menunjukkan kesungguhannya dalam mengapai masa depan yang lebih mapan dari apa yang pernah ia katakan padaku. Ucapannya selalu tidak pernah main-main, ia berfokus pada pekerjaannya ditanah rantau sembari menyelesaikan pendidikannya dengan mencari biaya sendiri. Menghidupi dan membiayai kedua adiknya sekolah, dan membantu perekonomian orangtuanya. Melihat semangatnya yang begitu membara, aku semakin yakin, bahwa bukan aku yang sepantasnya disisi Adrian hingga ke jenjang pernikahan. Karena dia masih dalam tahapan semangat-semangatnya mengejar karir, jika aku menerimanya sekarang, bisa saja karir yang sudah ia susun rapih tidak berjalan dengan baik seperti yang sudah Adrian planingkan sebelumnya. Dia akan kerepotan menafkahiku di usia mudanya dan menurunkan sedikit ambisinya bahkan akan mengalahkan tujuannya untuk lanjut pendidikan yang lebih tinggi lagi. “Ad, aku udah pernah bilang. Oke kita berteman baik, tapi tolong jangan menyimpan harapan lebih dalam dari pertemanan ini. Bagiku, kamu adalah adikku, tidak lebih. Maaf jika harus aku mengatakan ini berulangkali. Jangan menaruh harapan apa-apa lagi tentangku dihatimu, fokus saja dengan karirmu dan aku akan bangga karena
memiliki seorang adik laki-laki sehebat dirimu, Adrian.” ucapku padanya “Apa sudah tidak ada lagi kesempatan untuk aku berharap lebih selain menjadi seorang adik laki-lakimu, Mbak?” tanyanya “Aku rasa tidak. Kamu pantas bersama dengan wanita yang seusiamu, yang bersedia menemanimu sedari awal. Bukan bersamaku yang hanya bisa menunggu hingga suksesmu dan menikmati jerih payahmu yang bahkan aku tidak sepantasnya menikmati hasil kerja kerasmu selama ini? Bukan aku, Adrian. Yang pantas bersanding denganmu, disisimu dengan baik saat kesuksesan sudah kamu raih ditangan. Sungguh.” balasku mencoba memberikan sebuah pengertian padanya Aku rasa sudah cukup dengan berbagai pertimbangan, semua mimpi-mimpi ku bermalam mengatakan bahwa sudah selayaknya aku menerima Enggar kembali dan membiarkan Adrian berjuang dalam karirnya agar lebih dari ini. Aku sudah diyakinkan dari semuanya, keduanya bukan untuk dibandingkan. Namun, keduanya sama-sama pernah hadir dengan baik untuk perjalanan cintaku. Aku bisa saja menolak segalanya, namun rasa yang begitu lama singgah disisi Enggar memang tidak dapat dimanipulasi, orang lama tetap pemenangnya. Sedangkan Adrian, adalah sebuah kisah yang indah dan bukan sebuah kesalahan sama sekali. Kita diberi porsi untuk sampai disini, untuk saling menyadarkan bahwa sebuah cinta ada
yang perlu dikorbankan. Termasuk membiarkan dia berlalu begitu saja demi sebuah cita-cita yang harus dia capai dengan sempurna. “Tanpa paksaan apapun dari pihak manapun, aku mau hidup bersama dan menua denganmu, Nggar. Keadatanganmu bersama keluarga terbuka lebar.” ucapku mantap dengan keputusanku Satu bulan berjalan, Enggar bersama keluarganya menemui keluargamu dengan tujuan untuk melamarku. Ya, bukankah aku juga memenuhi janji darimu, Ad? Untuk menerima lamaran seseorang selain kamu, sekalipun kamu masih dalam perjalanan otw kerumahku untuk sebuah kepastian. Aku harap semesta dan kamu akan mengerti, bahwa kau hanyalah seorang adik laki-laki kesayangan Arum dan tidak mampu melebihi itu. “Maksut kedatangan Enggar disini sudah jelas, ingin melamarmu. Disaksikan kedua keluarga kita tercinta ini, atas apa yang sudah kita lalui dan sempat terpisah telalu jauh. Aku tidak ingin menundanya dan menyiakanmu untuk kedua kalinya. Dengan ketulusan hati dan rasa yang Enggar coba untuk tepiskan berulangkali namun kenyataannya memang tidak bisa beralih. Hanya seorang Arum yang mampu memenangkan hati ini dengan caranya yang sangat sederhana dalam mencintaiku, maka izinkan aku memberanikan diri untuk menjadi cinta terakhirmu? Bersediakah kamu menerima lamaranku,
Aurum Sekar Widyasari?” ucap Enggar dihadapan keluargaku dengan penuh keyakinan tanpa ragu “Dengan sejujurnya terhadap rasa yang Arum miliki selama ini, beserta restu dari Mama dan Ayah. Saya menerima lamaranmu, Enggar.” lantangku dihadapan kedua keluarga yang tengah berbahagia ini “Terima kasih sudah menerima lamaranku, aku berjanji akan membahagiakanmu lahir dan batinku, Aurum Sekar Widyasari.” berising ucapan terima kasih darinya tersematkan pula cincin indah di jariku Iya, kaulah cinta sejatiku, Enggar. Aku tersenyum padanya, perjalanan yang tidak mudah dan melelahkan, membiarkan aku jatuh cinta dengan yang lainnya dan membagi rasa. Namun, kemanapun aku pergi berjauhan, jika kau diciptakan untukku sebagai rumah pulang ternyaman. Kau memanglah rumah ternyaman itu. Waktu silih berganti, tidak ada komunikasi apapun antara aku dan Adrian. Bahkan mungkin saja ia tidak menahu perihal lamaranku dengan Enggar yang sudah berjalan hampir satu tahun lamanya. Tiba-tiba saja ia datang kerumah penuh percaya diri menemuiku tanpa berkabar terlebih dahulu. Saat itu Enggar dan adiknya sedang dirumah, kami membicarakan serangkaian susunan acara untuk prosesi pernikahan yang sudah semakin dekat. Satu minggu lagi aku dan Enggar akan menikah, Adrian malah justru datang dengan penuh kebahagiaan ingin menepati
janjinya padaku. Janji tentang dia yang akan melamarku dan memberikan sebuah kepastian beberapa tahun silam. Saat itu aku kaget dengan kedatangannya. Diluar dugaanku dan Enggar. Aku sungguh akan membuatnya terluka parah hari ini, bisa saja dia akan patah beribu kali sakitnya. Saat melihat kajang-kajang sudah mulai terpasang didepan rumahku, bahkan beberapa keperluan untuk akad nikah sudah hampir sempurna disiapkan dirumahku. “Mbak, ini siapa yang akan menikah?” tanya Adrian kebingungan menyaksikan rumahku yang sudah mulai dipenuhi dekorasi pernikahan “Apa benar sudah ada yang lebih dulu melamarmu selain aku, Mbak?” tanyanya begitu melihat ada cincin melingkar dijari manisku Ia menatapku nanar, sungguh luluh-lantah sudah Adrian kali ini. Tatap yang awalnya girang penuh antusias saat menemuiku kini berubah, pandangan matanya berkacakaca dan sesak menembus batinya, aku dapat membaca lewat raut wajah yang ia tampilkan saat ini juga. “Aku minta maaf, Adrian. Karena tidak bisa menunggu kamu dalam perjalananmu menuju kerumahku, bukankah janjimu masih sama? Jika ada seseorang yang melamarku lebih dulu darimu sedangkan kamu masih dalam proses menuju keumahku kamu tidak akan membuatku menunggu? Maka dari itu aku menerima lamaran Enggar,
maafkan aku mungkin ini sulit untuk kamu percayai. Namun, ini adalah kenyataan yang harus kamu terima bahwa aku sebentar lagi akan menjadi istri orang.” jelasku yang turut hanyut dalam tangis bersamanya “Sayang, siapa tamunya kok nggak disuruh masuk?” tanya Enggar yang keluar dari dalam rumahku, yang baru saja menulis beberapa undangan tercetak untuk dibagikan Semakin mendekat, Enggar terdiam menatap yang datang adalah Adrian mantan kekasihku. Kita bertiga terperangkap dalam keheningan cukup lama. Aku juga tidak berkutik atas apapun pergerakan Enggar yang diam menatap Adrian yang nampak kesakitan akan hal ini. “Ceh! Bahkan aku kalah start darimu, Mas.” Adrian membuka bicara, menatap Enggar nanar, ia mendekati Enggar, aku tidak tahu akan ada kejadian apa dengan pertemuan Enggar dan Adrian kali ini. Aku tidak bisa mengendalikan apapun, semoga saja keduanya mampu menyikapi ini dengan cara yang dewasa. Adrian menepuk pundak Enggar dan lalu merangkulnya. Ia mencoba tersenyum dan memberikan selamat pada Enggar yang walaupun aku paham jauh dalam lubuk hatinya yang paling terdalam ini sulit untuk ia terima dengan mata terbuka. Ia masih berharap bahwa ini adalah sebuah mimpi buruk. Namun, jodoh memang tidak dipihakku dan Adrian, yang tertukar itu bukan jodohnya melainkan rasaku padanya waktu itu.
“Selamat, Mas. Kamu memang yang pantas bersanding dengan wanita hebat seperti Mbak Arum. Aku mohon padamu, jaga dia. Jangan pernah membuatnya menangis dan terluka lagi karena aku sudah terlalu sering membuatnya terluka waktu itu.” rangkulnya dan berbisik demikian pada Enggar Enggar menguatkan pundak Adrian dan memberikan support terbaiknya. “Kamu sudah melakukan yang terbaik, kamu sudah menyembuhkan lukanya kala itu. Maafkan, aku Adrian. Semoga kamu bisa menerima bahwa ini sudah menjadi keputusan Arum tanpa paksaan apapun dari pihak manapun. Bahkan aku memohon maaf, jika sudah lebih dulu melamar Arum sedangkan kau dalam proses menuju kesini. Terima kasih sudah menjaganya dengan begitu hebatnya, hingga sempat menyulitkan keadaanmu kala itu.” lirih Enggar Adrian mengangguk mengerti dengan lapang ia menerima takdir ini. “Mbak, terima kasih sudah mampu merubahku sampai aku menjadi sekarang ini. Kamu berperan penting dalam menyadarkanku akan cinta yang tidak selamanya harus memiliki dan terbalas. Maaf, karena terlambat menepati janji, Mbak. Aku berhutang budi padamu lebih banyak dari semua yang sudah terlewati, termasuk aku berbenah dan mulai memperbaiki kehidupanku. Aku menerima
semua keputusanmu, Mbak. Terima kasih sudah pernah membiarkanku hangat singgah dengan penerimaan yang baik waktu itu walaupun sejenak. Semoga berbahagia dengan pilihan hatimu, ya, Mbak. Maaf membuatmu terluka parah sebelumnya.” Ia berbalik kearahku “Aku minta maaf karena tidak disisimu sejak awal, Mbak. Adrian pamit.” imbuhnya “Maaf karena tidak disisimu dengan baik kala itu dan menyulitkan keadaanmu lebih banyak, Ad. Terima kasih atas semua yang sudah kita ukir bersama, kamu menempati ingatan paling menenangkan di hatiku. Aku menghargai semua perjuanganmu, namun satu hal kita tidak tahu takdir akan membawa kemana. Bahkan hanya maaf sedalam-dalamnya dan terima kasih yang paling tulus, yang bisa aku berikan padamu untuk yang kali ini.” sahutku lirih dibalik punggungnya “Biarkan aku menerima ini sebagai jalan takdirku yang tidak mampu mengimbangi langkahmu, Mbak. Aku akan membaik seiring waktu. Adrian harap kalian berbahagia dalam pernikahan ini. Sekali lagi, Adrian pamit. Assalamualaikum.” ucapnya membalikkan badan, sesaat menatapku nanar. Ia kembali berbalik dan punggungnya perlahan lenyap dari pandanganku Kirab helat pernikahanku terlaksana dengan saksama. Sungguhpun cerita settingan Tuhan sangatlah indah, meskipun penuh akan lika-likunya. Saat ini aku sedang
bersanding dengan cinta yang pertama kali aku temui di masa putih abu-abu, kini menjadi sepenuhnya disisiku. Aku tidak pernah menyangka bahwa akan kembali dalam pelukannya dengan sempurna. “Terima kasih, Tuhan, atas pernak-pernik alur cerita cintaku sehingga aku mampu bersanding dengan laki-laki yang engaku pilihkan untuk menjadi teman hidupku ini.” batinku dan menatap hangat pria yang saat ini menjadi sudah resmi menjadi suamiku “Hidup tinggal nikahnya aja pake harus mengenal cinta segitiga, trapesium, jajar genjang dan semacamnya dulu.” tawa Enggar padaku “Namanya juga perjalanan hidup, kalau langsung ketemu kamu dan menikah. Mungkin, kita tidak akan merasakankan sebuah kerinduan dan sakitnya berjuang, Sayang.” sahutku dan hanyut dalam dekap hangat miliknya “I love you, Arum” ucapnya usai kecupan manis dikeningku mendarat dengan sempurna. TAMAT
Tentang Penulis Tika Ayu Widyaningrum Wardani yang akrab dikenal dengan nama penanya Tika Dani adalah seorang gadis yang lahir di bulan lahirnya Pancasila, tepatnya pada 24 tahun silam. Memiliki cita-cita dan ambisi untuk membahagiakan orangtua serta membuat keduanya bangga walaupun masih banyak rebahannya dibandingkan produktif dikesehariannya. Saat ini sedang menyelesaikan pendidikan di Universitas Terbuka Surakarta jurusan Statistika. Tika Dani sudah menyukai hobi menulis sejak SMP, namun mulai nampak memiliki passion dalam dunia kepenulisan saat dirinya sudah mau lulus dari SMA. Terlibat dalam event-event lomba menulis puisi 45 hari waktu itu dan berhasil menerbitkan buku kumpulan puisi yang menjadi buku pertamanya dengan judul “Bait Awal Lalu”. Sekutip Istimewa Kenamaan Yogyakarta ini akan menjadi buku keduanya, berharap nantinya akan terus berkarya dan menghasilkan karya yang lebih sempurna dari ini. Kalian bisa berkenalan dengan gadis manis yang kenamaan Tika Dani lebih lanjut melalui akun sosial medianya di @tikadani_