“Mbak, janji akan baik-baik saja tanpa aku disisimu, ya. Jaga diri dengan baik. I love you.” pamitnya seusai berpamitan dengan keluargaku dan menjelaskan kalau dia sudah tidak lagi bekerja di Solo bersamaku. “Kamu juga janji, kan, dapetin aku bakal sembuh dari halhal yang tidak aku sukai?” tanyaku “Iya, bahkan aku sudah berjanji dengan diriku sendiri untuk membenahi semua yang pernah keliru.” angguknya meyakinkanku “Kalau gitu, mari kita mulai sesuatu yang baru.” lantangku padanya “Artinya?” tanyanya memastikan padaku “Sini. Lepas dulu helmnya nanti nggak denger.” pintaku padanya dan mulai membisikkan kalimat yang membahagiakan malam ini. “I love you too, Adrian.” bisikku lirih ditelinganya “For sure?” tanyanya Aku mengangguk dan tersenyum manis padanya. “Boleh peluk?” tanyanya Aku hanya menggelengkan kepala pelan dan tersenyum untuknya. “Terima kasih, Mbak. Eh, Arum. Gimana sih manggilnya.” Dia nampak sedang grogi akibat pernyataanku barusan “Sayang, aku pamit, ya.” lembutnya dan mulai mengenakan helm “Kamu hati-hati.” balasku sambil melambaikan tangan
“Kamu disini jaga hati, asekk.” gombalnya dan sebagai candaan akhir dimalam termulainya hubungan jarak jauh diantara kita yang baru saja berikrar janji. Deru-resah waktu berlalu, Jogja masih saja menjadi moment yang membuatku jatuh cinta hingga berulangkali pada sosok Adrian. Namun mungkin menyambanginya tidak akan sanggup aku mengulas tanpanya. Aku akan kembali lagi dengannya di lain waktu, lebih lama dari secuil kisah istimewa, dikota istimewa, bersama orang teristimewa pula. Meskipun menjalani hari-hari kerja tanpanya kini hampa, namun obat mujarab seusai pulang kerja sudah terobati dengan video call bersamanya. Begitu seterusnya, sudah selayaknya pacar onlineku saja. Ceh! “Adrian kemana, Rum?” tanya Ferdi rekan kerja beda divisi yang juga mengenal Adrian “Di Madiun.” balasku “Keluar dia?” aku jawab dengan anggukan “Oh, kenapa?” tanyanya kepo “Ada sesuatu yang membuatnya harus meninggalkan pekerjaannya.” jelasku “Padahal anak kesayangannya Bu Ayu loh, anaknya sopan dan mudah bergaul.” puji Ferdi terhadap Adrian Beberapa minggu ini ketika aku makan siang dengan Mbak Rosa dan yang lain, masih ada kata tanya muncul untukku perihal Adrian. Ya, gimana lagi. Mungkin kehadiranku yang sekarang kemana-mana sendirian membuat mereka merasa janggal yang semua kemana-
mana bersama Adrian yang nempel terus seperti perangko kini sudah tidak lagi. Aku masih bisa memaklumi, toh juga Adrian yang mudah berbaur dan beradaptasi memungkinkan ia mudah dikenali, jadi wajar jika aku ditanyakan akan kabarnya sekarang dimana. Karena memang hanya aku yang mengenal Adrian dengan sangat baik bahkan aku adalah kekasihnya saat ini. “Yang, beberapa minggu ini. Aku terus ditanyain, kemana pacarmu bla-bla-bla.” keluhku pada Adrian “Kamu sih pergi nggak pamitan, dasar.” imbuhku “Maaf, membuatmu sulit.” ujarnya “Yang, aku mau merantau ke Bali ikut diproyek Bapak. Besok mau ke Solo dulu nemuin ayang dulu.” tulisnya “Kamu udah yakin mau ke Bali?” tanyaku memastikan “Iya, aku udah mantepin. Nanti kalau udah mulai betah sama kerjaannya, aku mau daftar kuliah biar bisa jadi arsitektur. Gimana menurutmu?” ia meminta sebuah pendapat dariku atas keputusannya “Kalau memang sudah kamu pikirkan dengan baik, aku akan dukung kamu apapun itu.” supportku padanya “Bahkan aku akan kehilangan waktu disisimu lebih lama dari ini.” keluhnya “Bukan masalah bagiku perihal menunggu, tapi kamu bisa janjiin satu hal tidak untukku?” tanyaku “Apa?” tanyanya balik “Kepastian. Bisa?” balasku “Sedang diusahakan sepenuhnya, Sayang.” jawabnya
Masih terlalu berudu bagiku untuk mendengarkan suara yang kurang enak didengar untuk yang kali ini perihal Adrian yang jauh disana. “Rum, kamu sama Adrian pacaran?” tanya Hadi yang dilain kesempatan kita dapat berbincang dengan sambungan telfon “Iya, kenapa?” aku menimpali kata tanya balik “Oalah, udah lama?” sahutnya jauh disana “Baru sebulan yang lalu jadian.” ujarku “Cuma mau ngingetin aja, jangan terlalu percaya dengannya. Itu aja sih.” ucapnya yang nampak ambigu aku serap maknanya “Maksutnya apa, ya?” aku memastikan “Adrian itu ngabaik buat kamu, Rum. Percaya deh sama aku, kalau memang belum terlanjur dalam lebih baik tinggalkan dia.” pintanya “Bukankah kalian bersahabat? Kenapa kamu malah ngejelekin dia?” tanyaku “Nggak juga, hanya sekedar teman satu kampung aja. Aku udah kenal dia sejak SMP makannya aku nggak ada maksut apapun. Cuma kalau memang belum kebablasan lebih baik putusin dari sekarang, Rum. Dia itu player, pemabuk sama kayak aku. Dan kamu tahulah, dia kalau pacaran gimana sama ceweknya.” Hadi berulangkali memperingatkanku untuk berakhir dengan Adrian agar tidak menyesal kedepannya. Benteng pertahananku bisa goyah kapan saja memang, bahkan ada satu rekan kerjaku
mempertanyakan keseriusan Adrian terhadapku. Apakah itu sungguhan? Lagi imbuhan dari Mail, nggak tahu dia dapat kabar dari siapa dan dari mana. Bahkan asal ngejudge saja latar belakang Adrian “Apa yang mau lo arepin dari seorang bocah player seperti Adrian, Rum. Buang-buang waktu lo aja, udah tahu kalau sekali sakit move on-nya susah malah cari penyakit!” ujar seseorang yang lain lagi “Aku kemarin lihat Adrian bonceng cewek, kamu nggak nanyain dia pergi sama siapa.” imbuhan dari seorang teman dekatnya Adrian lagi. Pikiranku penuh dengan mara-bahaya yang mengintai hubungan kita. Tapi kenapa setelah aku menerimanya dan berhubungan jarak jauh barulah muncul suara-suara keras menukik tajam ditelinga. Apa hanya guncangan semata? Dering telfonku membabi-buta ingin diangkat segera, bertuliskan nama Adrian “Ada apa?” tanyaku ogah-ogahan “Kangen, masa pacar sendiri dianggurin berhari-hari gini.” rajuknya “Besok dandan yang cantik, ya, ayang mau kerumah nih.” imbuhnya “Besok aku kerja.” singkatku “Yang, kenapa sih, dingin gini sama aku?” tanyanya khawatir “Cari tahu aja sendiri aku kenapa.” ketusku
“Aku nggak bakal ngerti kalau nggak dijelasin, makannya aku nanya sama kamu kenapa?” tanyanya “Nggakpapa. I’m fine.” Singkatku “Lagi nggak enak badan?” tanyanya lagi “Ad, berhenti bertanya. Aku lelah dengan semua ini!” gertakku “Tolong, ada apa dengan hari ini? Aku khawatir disini.” tanyanya “Kita bicarakan besok, sungguh aku lelah bertengkar disini.” Aku mematikan telfon sepihak. Hari berlalu, Ia menepati janjinya. Dia dirumahku lebih dulu sebelum aku pulang kerja. Sepertinya sudah agak lama ia berbincang dengan Mama dan keluargaku yang lain termasuk Vino yang beberapa hari menanyakan Om Adrian kesayangannya itu. “Hai, nggak kangen sama aku?” sapanya menyejukkan beserta senyuman miliknya yang memporak-porandakan segala amarah yang sempat tak mengijinkan aku berucap dengannya via online. “I miss u soooo muchhh.” pelukku padanya “Arumm, mandi dulu, gih keburu dingin.” tegur Mama yang mendapati aku memeluk Adrian Aku meraih tangan kanan Mama dan menciumnya. Ritual usai pulang kerja bersama Mama. “Udah dari tadi kamu, Ad?” tanyaku dan duduk disampingnya “Mandi dulu, Yang. Bener kata Mama keburu dingin dan makin malem nggak baik buat badanmu.” bujuknya
“Masih kangen sama kamu tapi” aku merajuk layaknya anak kecil “Ya kayak gitu kelakuannya, Mas. Disuruh mandi ntarntar, makan aja kalau nggak disiapin boro-boro makan. Udah disiapin susah payah sama Mamanya aja nggak mau makan.” omel Mama yang ngobrol sama Adrian “Iya udah, ini mandi.” pamitku dan pergi mandi Selang 15 menitan aku merapihkan diri, dan kembali menemui Adrian di ruang tamu yang sedang asik mengobrol bersama kakak-kakaku juga Mama. “Loh, Bang Raden kapan pulang?” tanyaku yang mendapati Bang Raden sudah duduk diruang tamu dengan Mbak Gita dan yang lainnya “Barusan.” jawabnya Aku menciumnya dan memeluknya, kebiasaan setiap kali habis pulang kerja atau pergi yang membuat tidak bertatap seharian harus ada ritual berpelukan diantara kami kecuali dengan Ayah. Itu harga mati, karena beliau sendiri yang menciptakan jarak diantara kami. Terlebih aku dan Ayah. Sungguh aku tidak sedekat itu dengan cinta pertamaku. “Udah punya pacar juga masih aja.” sindir Bang Raden “Biarin.” eyelku “Gimana kerjaan hari ini?” tanya Bang Raden “Melelahkan.” keluhku “Selesaikan apa yang sudah kamu mulai.” Bang Raden menepuk pundakku menguatkan dan beranjak dari ruang amu bersama Mbak Gita
“Adrian, kami tinggal, ya. Di makan itu seadanya.” pamit Mbak Gita dan mereka berlalu “Baik, Mas, Mbak.” sahut Adrian “Om, mampir kerumah Mbakmu Ica tadi masa kapa itu.” sahut Bang Putra “Iya, Bang. Nanti Adrian kesana.” balasnya “Vino nggak mau sama Om dulu, kemarin sok-sokan nyariin?” tanyaku “Ngantuk, Te. Siang nggak mau tidur.” gedek Mbak Ica “Janjimu untuk membelikanku es krim?” tanyaku menyindirnya “Ya udah, ayooo.” ajaknya “Pamit atuh sama Mama.” pintaku padanya “Ibu,” panggilnya “Panggil Mama.” tegur Mama “Mah, izin ajak Arum keluar. Minta es krim katanya.” pamitnya dan kita pergi mencari es krim di alfamart terdekat. Sejenak Melepas Kerinduan Menikmati dingin malam dengan hangat berpelukan padanya di atas motor miliknya adalah arti dari kerinduan mendalamku untuknya setelah beberapa bulan berjauhan. “Capek, ya, kerjanya?” tanyanya padaku “Iya.” singkatku lesu “Tapi capeknya udah ilang, kan, diobatin ayang?” tanyanya menggodaku “Dih.” balasku
“Kamu kenapa sih, Yang? Masih marah sama aku?” tanyanya “Banget! Kamu kesini barusan ngapain?” tanyaku “Kalau aku jelasin bakal marah nggak kamunya?” tanyanya memastikan “Kenapa emang?” tanyaku Tiba-tiba Adrian meminggirkan motornya. Dan berbalik kearahku, kita masih sama-sama duduk diatas motor saat ini. “Jadi aku punya temen dari Madiun, namanya Mila. Dia kuliah di sini, terus karena kemarin dia pas pulkam bareng sama temennya yang dari Malang atau mana aku lupa. Dan, dia harus balik ke Solo hari ini sementara temennya Mila masih hari rabu jadi dia minta tolong aku buat nganterin ke sini. Awalnya aku nolak, ngapain boncengin cewek lain jauh-jauh dari Madiun ke Solo mendingan besok-besok aja sama Arum kataku. Tapi, karena Arumnya orang Solo, ya, udah aku mau nganterin dia sampai ke kosan biar bisa apel ke sini. Gitu.” jelasnya “Sekalian mau pamit juga, aku awal bulan udah di Bali buat kerja disana.” imbuhnya memperjelas “Dari tadi pagi?” tanyaku Dia mengangguk setuju dengan kata tanyaku yang berangkat dari Madiun bersama Mila sedari tadi pagi. “Tapi kenapa sampai dirumahku semalam ini?” tanyaku meragukannya “Karena dia ngajakin mampir ke Tawangmangu bentar.” imbuhnya
“Ngapain?” tanyaku memberikan atensi “Kenapa sih curiga gitu?” tanyanya padaku “Wajarlah aku curiga, kamu dari Madiun kesini sama cewek boncengan berdua pake mampir ke Tawangmangu dulu. Aku pacarmu, berhak betanya dong. Kenapa nggak langsung kamu anterin ke kosan? Mau-maunya diajakin ke Tawangmangu. Buat apa coba?” tanyaku beruntun “Arum, hei, dengerin aku. Tujuanku nganterin dia karena memang ada kamu di Solo, jadi, stop mikirin aneh-aneh dan nyangkut-pautin asumsi orang-orang tentang aku. Percaya, seperti apapun aku dimasa lalu, perokok, pemabuk, dan yang katamu player itu. Kalau aku udah punya kamu, yang ada disini hanya kamu, cukup nggak ada yang lain. Kamu pemenangnya.” Ia meraih tanganku dan diletakkannya di dadanya, mencoba meyakinkan keraguanku “Terus mampir ke Tawangmangu?” aku masih butuh penjelasan darinya “Hanya mampir bentar, makan terus turun. Udah itu aja nggak lebih.” Ia menjelaskan seadanya yang ada “Bener begitu?” aku masih belum yakin “Aku paham, kamu cemburu. Tapi tolong percaya, aku dan Mila sama sekali nggak ada apa-apa. sebocah apapun usiaku, aku tetep mampu jaga komitmen ke kamu. Aku udah janii, bakal pertahanin satu dengan serius, aku jaga sebisa mungkin, jangan sampai melukai. Kamu juga tahu akan hal itu, kan?” ujarnya berbisik “hiks-hiks.” isak tangisku
“Jangan nangis.” dia meraihku dan dipeluk olehnya dengan erat, menenangkanku dengan mengusap punggungku perlahan “Terus kenapa kadang kamu ngilang nggak ada kabar?” tanyaku masih dengan terisak “Kapan aku tidak ada kabar, siapa yang ngilang 2 hari ditelfon malah ditolak berulangkali? Kamu tahu? Aku cemas akan dirimu, kesehatanmu, nggak ada angin tibatiba marah.” ujarnya “Tanyakan padaku kalau kamu ragu. Kasih tahu, salahku dimana biar aku perbaiki. Jangan yang tiba-tiba marah pas ditanya kamu kenapa kata ini kamu gini. Kalau emang janggal dihatimu ungkapin, jelasin ke aku biar aku instrospeksi diri.” imbuhnya memberikan pengertian padaku “Iya, aku yang salah. Maaf jika kesalahpahamanku membuatmu cemas “Aku yang harusnya minta maaf karena sudah membuatmu ragu akan diriku, Sayang.” dekapnya lagi “Sekarang, udah jelas, kan, nggak marah atau cemburu lagi?” tanyanya “Aku nggak mau lagi setelah pertemuan ini, kamu ilang kabar. Sebisa mungkin kabarin aku, pula aku sama akan kabarin kamu. Supaya komuniskasinya nggak jadi miskom jadi salah paham, percayalah ldr itu rentan salah paham dan curiga. Makanya aku jaga bener-bener komunikasi sama kamu, biar bisa sama-sama jalan, kita
nggak saling kepikiran dan cemas.” sambungnya panjang lebar padaku “Kangen.” pelukku padanya “Pun sama, Yang.” bisiknya lirih “Beli es krim?” ajakku perlahan melepaskan pelukan darinya “Oh iya, hampir lupa.” Diusapkan oleh Adrian sisa tangis yang masih membekas “Sini, jangan nangis dong. Nanti manisnya ilang, padahal aku kangen lengkung manis ini.” imbuhnya sambil mencubit pipiku pelan “Gombal.” ujarku Malam ini tak terasa singkat sekali melaluinya bersama Adrian, satu kerinduan terpecahkan. Sampai bertemu dan memecahkan celengan rindu yang baru lagi. Larut malam pukul 11.00 Adrian langsung pulang ke Madiun dan mohon restu untuk merantau ke Bali. Mungkin disana dia akan lama, jarang pulang dan entah berapa bulan lagi celengan rindu yang bertumpuk menggebu ini terpecahkan. Bisa saja 3 bulan mendatang setelah pertemuan ini. Atau akan lebih cepat dari apa yang kita duga sebelumnya. “Aku pamit, ya, kerja yang bener di Solo. Jaga makan dan jangan begadang, kuliahnya jangan dilupakan.” Ia menempelkan kecupan manis dari jari-jemarinya di pipi kananku yang membuatku merasa geli dibuatnya. “Kenapa ketawa sih, kan, belum boleh katanya.” ujarnya menataku polos
“Iya, kamu jangan nakal disana. Jaga sholat, jaga hati. Jangan mabuk-mabukan sama rokok dikurangin, ya.” pesanku padanya “Kan dapet kamu aku berhenti semuanya, aku bukan perokok dan pemabuk lagi dong sekarang.” balasnya sambil mengacak-acak rambutku “Kebiasaan.” decakku kesal “Sana pulang, kabarin jam berapapun sampainya. Hatihati, ya.” usirku dengan mata berbinar menahan sedikit tangis agar tidak menetes dihadapannya “Iya, Sayang. Tuh malah nangis, jangan nangis dong. Jadi berat, kan ninggalin kamunya.” ujarnya dan memelukku erat dan air mata tak sengaja mengucur begitu saja. “Nggak, udah. Kamu buruan pulang, hati-hati dijalan.” Aku segera mengusapnya dan membiarkan ia berlalu. Singkat namun melekat. Terima kasih sudah datang dengan kabar baik-baik, aku akan merindukanmu diwaktu yang lebih lama dari ini, Ad. Pukul 06.00 pagi saat aku akan bergegas berangkat kerja, pesan masuk dari Adrian baru muncul. “Sayang, maaf baru ngabarin. Aku baru pulang, karena tadi ada sedikit kendala ban motorku bocor sampai 3kali. Maaf membuatmu khawatir, bahkan Mamamu sempat menanyakan tadi.” jelasnya “Semalam aku tungguin sampai pukul 02.00 kamu nggak ada kabar, akhirnya aku ketiduran deh. Ya udah aku berangkat kerja dulu, Ad” balasku
“Tuh, kan apa dibilangin, malah begadang sampai jam 02.00.” omelnya “Apa? Masih pagi mau ngajakin ribut ini?” amukku “Nggak. Hahaha, yaudah buruan berangkat ntar kesiangan. Hati-hati dan semangat kerjanya!” balas Adrian Jeda 1 bulan usai Adrian berangkat ke Bali, ia kirimkan paket boneka beruang segede manusia sampai-sampai aku sama bonekanya gedean si bonekanya. “Udah sampai, kan paket dari aku?” tanyanya Aku mengangguk via video call dengannya dan tersenyum. Sambil menunjukkan boneka itu padanya, yang dengan sengaja aku bungkus rapih agar tidak terkena debu-debu jahat diluaran. Hahaha, nggak lucu sih kataku. “Kalau kamu rindu sama aku, peluk dia, semoga bisa jadi obat kerinduanmu padaku.” ujarnya dan tersenyum “Terus kalau kamu yang rindu aku, gimana dong?” tanyaku “Aku punya ini pemberianmu.” Ia menunjukkan hand sanitizer yang masih tergantung ditas slempang biru dongker miliknya. “Aish! Masih ada?” tanyaku “Ada dong, aku jagain, jangan sampai isinya habis juga malahan nggak pernah aku pake. Biar inget, ini bebeb Arum yang masang pas di Jogja. Pas sebelum nyasar sampai nangis itu. hehe” sambungnya sambil mengulas sewaktu kita di Jogja sore itu ditemani rintik hujan “Dasar.” singkatku
Berhubungan jarak jauh memang lebih menantang, banyak lika-likunya. Antara kepercayaan dan kesetiaan sangatlah diuji disini. Harus siap dengan kata tanya dari mulut-mulut yang kadang mengusik damai, “Gimana kalau dia disana neko-neko, apalagi di Bali lo, Rum?” dan sebagainya. What?! Memang apa bedanya Bali, Solo, Madiun. Semua sama saja, kalau dia sudah ada komitmen aku percaya bakalan jaga itu. Walaupun kadang aku sendiri yang meragukan dan gampang goyah oleh semburan angin yang berbagai versi terngiang ditelingaku. Aku tidak diam saja disini, meski berjauhan dengan Adrian sudah sepenuhnya aku terapin rasa percaya. Yang namanya laki-laki itu kita tidak akan pernah tahu kalau persisnya bagaimana kalau kita tidak disisinya. Because man like a hunter. Aku stalking instagramnya Adrian, mencair tahu siapa teman dekatnya sewaktu di SMK. Aku mendapatkan 2 orang teman yang menurutku mereka bertiga memang berteman dekat semasa sekolahnya. Namanya Cesya dan Rais, penjelasan dari Cesya bisa kau terima dengan baik. Memang ia adalah teman cewek yang dekat sebagai teman satu kelas, bukan pacar atau mantannya Adrian. Jadi, aman. “Adrian itu humble anaknya, Mbak. Rajin, pinter. Kalau soal pacaran, setahuku selama 3 tahun bareng sama dia. Yang aku tahu dia setia, pernah ada satu temenku yang ganjen banget deketin dia karena dia punya pacar, ya, nggak terlalu dia ituin banget. Di abaikanlah sama Adrian,
tapi, ya, nggak langsung di tolak gitu. Masih bisa menghargai perasaan seorang cewek sih.” penjelasan Cesya menambah imunitas kepercayaanku kebal kali ini Dari versi Rais, sahabat laki-laki Adrian dikelas. Masih hampir mirip dengan penjelasan Cesya. Dari sini berarti terbukti Hadi hanyalah pengecoh kepercayaanku terhadap Adrian. Buktinya saja 2 orang teman dekatnya sewakatu SMK mengatakan sesuatu yang baik dalam diri Adrian. Namun kenapa masih ada janggal membuntutiku dari penjelasan rekan kerjaku kala itu dan penjelasan dari Hadi. “Ah, sudahlah. Mungkin memang mereka hanya sekedar menyimpulkan tidak benar-benar mengenal Adrian dengan baik.” sangkalku meyakinkan diri Tiba-tiba di malam hari, pesan masuk dari Hadi muncul. Ia mengirimkan sebuah video Adrian yang sedang mengobrol bersama seorang cewek cantik yang kata Hadi, namanya Whina mantan kekasih Adrian sewaktu SMK yang juga merantau di Bali. Dalam video itu jelas sekali Adrian bermesraan dengan Whina, aku sih masih belum bisa berpikir jernih. Ini nyata atau manipulsai pihak lain yang mencoba mengoyahkan pertahananku. Nampak ini real, mana yang harus aku percaya. Apa aku berhak bertanya pada Adrian untuk yang kali ini? Bagaimana kalau bukan, hanya sebuah editan mungkin. Dan aku terlanjur menuduh yang bukanbukan sementara Adrian di Bali berjuang dengan baik. Dan kalau sebaliknya, bagaimana? Jika ini benar, berarti
aku telah dibodohi oleh anak kecil itu. Artinya aku membenarkan semua ucapan Hadi selama ini? Aish! Aku mengacak-acak rambutku sendirian. Ini kacau. Celengan Rindu Terpecahkan Jeda 6 bulan, Adrian pulang ke kampung halamannya menemui keluarga dan kerabat sejenak. Ia mengabarkan akan sejenak beberapa hari setelah rindunya terobati dan pulih akan segera menemuiku di Solo dan memecahkan sebuah kalimat rindu berdua. Tak seintens dulu, tidak sering berkabar dengan baik. Aku akui, komunikasinya semakin renggang karena kita sibuk dengan perkuliahan yang penuh dengan bimbingan dan yang membuatku melepaskan pekerjaanku. Pekerjaan yang telah mengantarkanku bertemu, mengenal dan mencintai seorang Adrian. Kadang ada pertikaian menderu ditambah ada kiriman video tentang pertemuannya dengan mantan kekasihnya di Bali. Sengaja Adrian datang di hari sabtu, pagi-pagi sekali ia sudah sampai karena ingin mengajakku berlibur dan deeptalk sekaligus membenarkan salah paham yang menghantui pikirku selama 3bulan terakhir belakangan ini. “Hai, apa kabar?” tanyanya “Seperti yang kamu lihat sejauh ini, baik-baik saja, kan tanpamu?” ketusku
“Ini, dateng jauh-jauh mbok, ya, disambut dengan happy. Malah kecut gitu, manyun-manyun segala lagi.” omelnya sambil mengacak-acak rambutku “Kayak gini.” Aku sambil menampilkan muka nyengir “Ini yang bikin kangen, kok kurusan sih pacarku ini. Udah nggak kerja, masih mikirin apa sih, Yang?” tanyanya “Banyak hal yang keluar masuk diotakku, termasuk rasa percayaku padamu yang bergejolak.” ketusku “Soal videoku waktu itu. Yang, masih aja dibahas.” rajuknya “Karena itu yang harus dibahas dari pertemuan ini, bukan?” tanyaku balik “Bahas yang indah-indah kenapa sih, kangen aja belum sembuh malah ngajakin ribut gini.” ucapnya “Maunya yang indah mulu, giliran ngadepin sandungan dikit bisanya diem terus ilang tanpa kabar. Gitu aja terus.” omelku “Kamu loh, diminta jelasin itu video dari siapa yang kasih nggak jawab. Malah kemana-mana bahasnya. Sekarang, masih aja di bahas, Yang. Aku capek ditanyain, didiemin, tiba-tiba dan nggak jelas itu karangan cerita dari siapa. Jujur aku risi tahu nggak.” Ujarnya agak marah “Tolong dingertiin, aku kerja selama ini supaya bisa buat rumah yang layak. Biar segera kesini halalin kamu, buat serius sama kamu. Tapi, kenapa jadi kayak gini.” imbuhnya “Kapan aku nggak ngerti keadaanmu? Bahkan saat semua bilang kamu nggak pantes sama aku. Saat seisi dunia
mengecam ketidakpantasan hubungan ini, siapa yang bertahan? Aku udah buang jauh-jauh segala pikiran negative tentang omongan orang-orang. Namun apa?! kamu justru membuktikan sendiri, kamu mulai dingin, sibuk dengan duniamu sendiri. Untuk semua kelelahanmu kerja, prosesmu berjuang buat aku. Aku ngerti itu semua, tapi apa pernah kamu kasih aku sedikit keyakinan bahwa situasi semacam ini hanyalah guncangan? Nggak, kan?! Aku nggak nuntut komunikasi 24jam. Nggak butuh apapun kecuali satu hal saja. Kalau mau dingertiin, tolong ngertiin aku balik. Hanya itu, Ad. apa susahnya sih.” amukku memuncak seketika padanya “Kalau memang dari awal hanya mau main-main, sana pilih yang sama-sama player. Jangan aku. Ini nggak adil, Ad.” imbuhku beriring tangis Karena Sebuah Salah Paham Tanpa basa-basi dan banyak ucap, ia menarik tubuhku dan hanyut dalam dekapan. Isakan tangis kita sangat hebat disini, buncah dan memecah. Seakan suasana sedang berkabung teramat mendalam dari segala situasi dan kondisi terterjang ombak badai. Aku dan Adrian sedang tidak baik-baik saja. Menderai cukup lama, hingga Adrian berbisik tertatih. “Bukan situasi seperti ini yang aku rindukan dari kita, bukan tangis dan duka lara yang ingin aku ukir setelah waktu-waktu panjang menantikan tatap, Rum. Maaf jika caraku mencintaimu masih terlalu kanakkanak, masih penuh dengan ego dan amarah. Maaf
membuatmu terluka saat kau tidak disisiku. Maafkan aku.” isaknya kembali mengerumuni pelukan kita berdua sesiang ini. “Bahkan, aku tidak berani berdamai dengan egoku sendiri. Bahkan aku juga benci situasi saat ini, harusnya bukan ini, Ad.” rengekku “Tenangkan dirimu, kita masih sama-sama lelah dilatih rindu. Biarkan dekap ini menyembuhkan yang bisa terobati dan memulihkan yang sempat membuat saling perih. Tolong tetap disisiku, kita berproses bersama-sama, ya.” bisiknya dan erat mendekapku Aku hanya mampu mengangguk dan menyembunyikan kepalaku didadanya, memeluk tubuhnya yang nampak kian kurus erat-erat karena memang tinggiku tidak lebih tinggi hingga pundaknya. “Udah, ya. Cukup?” bisiknya setelah cukup lama kita berpelukan Aku perlahan melepaskan pelukan itu. Ia meraih kedua tanganku menatapku nanar. Terlintas dalam benakku, sungguh sangat menyedihkan raut muka miliknya ketika menatapku, bibirnya pucat, matanya sembab dan rambutnya acak-acakan tak terawat. Apa yang telah aku lakukan, bahkan tindakanku tidak sepantasnya aku torehkan padanya. Banyak yang terjeda suka-duka-lara, seharusnya kita sudah tiba dikota lama dan mengukir cerita berdua dan hanya kita tanpa ada seseorang menganggunya. ini malah bercucuran air mata, sangat tidak jelas sekali.
“Yang, kita muter-muter Solo aja, ya. Takut kemalaman kalau kita ke Semarang jam segini.” ajak Adrian agak berat hati mengatakannya padaku Aku mengerti, aku mengiyakan. Dia juga kelelahan perjalanan jauh dari Madiun ke Solo, lebih lelah lagi dengan keributan yang aku perbuat. “Bahkan aku mengecewakanmu.” keluhnya “Nggak, sama sekali. Ya udah kita jalan-jalan deket sini aja. Kamu juga perlu istirahat dari perjalanan jauh, Sayang.” ujarku yang melirihkan dikalimat penghujungnya “Yang terakhir apa tadi, nggak kedengeran.” Dia mendekatkan telinganya dan meledekku “Nggak.” Aku mengelak, pipiku memerah seketika “Ah, yang bener.” godanya lagi, aku mengelitiki perutnya karena dia paling tidak suka seseorang menyentuh perutnya katanya geli. Kita tertawa berdua. “Skripsinya udah sampai mana, Yang?” tanyanya padaku “Udah di Acc judulnya, jalan 2 bab ini. Bahkan aku akan disibukkan dengan berbagai penelitian kedepannya, Ad.” jelasku “Semangat, kamu pasti bisa!” supportnya “Gimana kuliah di awal semester sambil bekerja?” tanyaku balik “Amanlah, sangat produktif. Makannya tidak bisa sesering dulu ngabarin kamu tiap jam. Sabar dulu, ya, Yang. Semua akan baik-baik saja dan segera membaik.” sambungnya
Aku tersenyum diikuti anggukan. Mencoba menerima setiap prosesku bersama Adrian yang kedepannya akan benar-benar segera membaik. “Ayo jalan.” ajaknya “Ayo.” balasku dan pamit kepada Mama dan orang rumah yang ada “Sini, tak pakein helmnya.” Aku mendekatkan diri tepat didepannya, dipakekan helm bogoku oleh Adrian dengan sangat hati-hati dan mengancingkan helmnya dengan sangat sempurna. Ia tersenyum, memegangi kepalaku yang sudah terlindungi dengan helm bogo hitam itu menatapku lekat dan menutupkan kaca helmnya. Mendekatkan wajahnya, dan hanya bersekat oleh kaca helm diantara hembusan napas kita yang beradu memburu menciptakan embun dikaca helm itu. Adrian tersenyum nakal, “Coba merem.” pintanya Aku mengerinyitkan dahi. “Merem.” pintanya lagi. Aku melakukannya dengan sedikit melirik-lirik penasaran apa yang akan dia lakukan dengan hal ini. Dia mengecup kaca helm tepat didepan bibirku. “Udah.” ucapnya sambil cegar-cengir “Nggak jelas, masa yang dikecup kaca helmnya.” ledekku dan tertawa geli dengan tingkah konyol kekasihku ini “Kan, belum boleh kalau langsung.” Ia tertawa geli juga “Dasar.” gumamku, lagi ia mengecup helmku, tepat dibagian yang terletak di keningku “Adriannnn!” amukku dan tertawa terbahak-bahak dibuatnya
“Geli banget sumpah.” geleng-geleng dibuat dengan kerandomannya yang romantis ini “Gini terus, ya.” ujarnya memandangi wajahku “Ayo, ah. Bercanda mulu.” ucapku “Di balas dulu dong kecupannya.” Ia menggodakku sambil mengenakan helmnya “Dih, nggak banget. Konsepnya nggak gitu.” omelku. “Giliran di kasih kartu Indonesia sehat langsung ngamok, sok ngasih kode emang dasar cewek gitu.” gumamnya. “Apa kamu bilang?” tanyaku padanya “Nggak, kamu cantik kalau lagi senyum.” sangkalnya mengalihkan topik pembicaraan “Let’s go!” serunya mengemudikan motor sambil meraih tanganku satu persatu untuk dipelukkan dipinggangnya. “Kapan kamu balik ke Bali lagi?” tanyaku enggan dengan perpisahan dalam merindu lagi “Nanti usai rindu ini terobati, buru-buru amat.” ringannya “Aku serius.” singkatku “Masih beberapa hari lagi, kenapa?” tanyanya balik “Jangan dulu pergi, aku masih ingin berbincang.” Ujarku tulus dari dalam hati. “Sabar dulu, kalau keadaan sudah membaik aku pasti pulang. Atau ajak kamu kesana deh, kita ke pantai Jimbaran” ujarnya diselingi candaan “Yang, nanti aku tidur dirumah nenek. Terus besok pagi aku ajak kamu ke Madiun, mau nggak?” tawarnya “Maksutnya?” tanyaku kurang jelas
“Iya, jadi sebelum aku berangkat ke Bali. Besok aku mau kenalin kamu ke Ibuk, rencananya. Dirumah Ibuk nanya mulu, kapan ajak Mbak Arum kerumah, Kak. Gitu terus, mau nggak?” tanyanya “Aku belum berani memutuskan kalau nggak nanya Mama, tapi asal langsung pulang tanpa bermalam dirumahmu boleh setahuku.” ucapku “Waktu itu aku udah pernah telfon Mama sama Mbak Ica, minta izin besok pas balik dari Bali mau jemput kamu buat dikenalin ke Ibuk di Madiun. Katanya boleh.” jelasnya yang ternyata udah nyolong start duluan “Kamu nggak sedang merangkai pengandaian, kan?” tanyaku ragu “Serius, pernah. Baru beberapa minggu yang lalu juga, terus aku balik kesini dan ketemu sama kamu.” ujarnya lagi “Ya, udah nanti pas pulang kamu aja yang bilang. Soalnya anak kesayangannya Mama bukan Arum lagi tapi Adrian.” ucapku “Dih, cemburu.” godanya “Iyalah, sekarang apa-apa Adrian. Gimana sama Adrian, dek. Bla-bla-bla. Apalagi Vino itu, Om Adrian mana, Tee, nye-nye-nye.” cerewetku “Manyun-manyun gitu. Pengen nampol deh rasanya.” Dia memperhatikan gaya bicaraku dan ketawa “Malah ketawa.” decakku “Habisnya lucu, bikin kangen tahu nggak sih cerewetnya, usilnya, berisiknya.” sanjungnya untukku, dan lagi
melakukan sesuatu hal yang paling aku benci mengacakacak rambutku Kita menghabiskan waktu tidak lama karena besok masih harus melakukan perjalanan ke Madiun, itupun kalau di acc sama Mamaku. Soalnya kurang sopan kalau anak cewek main kerumah cowok, apalagi rumahnya jauh, yang ditakutin Mamaku nanti kalau aku sampai bermalam dirumahnya akan menimbulkan asumsi kurang mengenakkan dengan tetangga-tetangganya Adrian apalagi sekalinya pulang dari tanah rantau bawa pulang anak cewek. Aku mungkin saja akan dinilai bad attitude, namun bagaimana baiknya aku akan terima karena Mama tahu yang terbaik untuk hubunganku dengan Adrian. Kalau baiknya ketemu orangtua Adrian lebih cepat, asal jangan menginap aku mau dong biar menang start karena udah dikenalkan orangtuanya. Setibanya dirumah, dengan berbagai pertimbangan Mama mengiyakan, dengan catatan langsung pulang tanpa harus menginap disana. “Akan lebih baik jika kalian lelah dalam perjalanan, daripada putri saya harus menginap dirumah laki-laki yang belum menjadi siapa-siapanya. Kalian paham? Selalu jaga attitude disana, Dek. Hati-hati dijalan, kabarin orang rumah sampai hingga otw pulang. Berdoa terus sepanjang perjalanan.” Nasihat Mamaku demikian panjang lebar untuk mewanti-wanti kita berdua Keesokan paginya, aku dan Adrian berangkat ke Madiun, tanah tumpah darahnya. Sangat pagi, untuk mengejar
waktu agar aku bisa agak lama ngobrol dan bertukar cerita dengan Ibu, Bapak dan adik-adiknya tanpa pulang larut malam. “Assalamualaikum, Ibu.” salamku yang mendapat sambutan hangat dari keluarga Adrian “Waalaikumsalam, Nduk.” sapa hangat Ibu dan Bapak Adrian Sembari aku mencium tangan keduanya, dan menyapa hangat kedua adik Adrian. Ibu menanyakan aku pada Adrian yang terbiasa dipanggil Kakak dikeluarganya. “Kak, ini Mbak Arum yang sering Kakak ceritakan, itu? Cantik anaknya, mantunya Ibu, ya.” tutur Ibu Adrian memujiku, dan diajaknya masuk aku oleh Ibunya Rupanya Adrian sudah merencanakan dan memberitahu orang rumah agar menyambutku dengan berlebihan, seperti mau ada hajatan saja dirumahnya banyak sekali aku dan Adrian disiapkan beberapa masakan khas lebaran. “Pasti kamu capek, Nduk. Makan dulu, ayo.” antusias Ibu menyiapkan segala helat makan siang untukku “Ya Allah, Ibu. Malah merepotkan kedatangan Arum kesini, Adrian sih bilang-bilang pasti kalau mau ajak aku ke Madiun.” ucapku dengan sungkan pada Ibu, dan sedikit mengomel pada Adrian “Iyalah, tak umumin satu kampung malah.” godanya “Udah, dimakan nggak usah malu-malu.” pinta Ibunya dan menyodorkanku beberapa lauk padaku “Iya, Ibu.” sungkanku
“Makan yang banyak, perbaikan gizi biar suka yang ngomong “Arum pas sama Adrian kurusan, nggak diperhatiin, yaa.” Nggak ada lagi di bumi ini.” ujar Adrian sambil tertawa “Aira nggak makan sama Filda?” tanyaku “Fil, makan dulu sama Mbak Arum.” pinta Adrian “Aira mau makan nggak, Dek?” tanyaku padanya Dia menggeleng malu-malu saatku tanya. “Dia mah gitu, Nduk. Kalau belum pernah ketemu masih malu-malu.” sambung Bapak “Sama kayak adik saya Vino, Pak. Kalau sama yang belum kenal pasti gitu.” balasku “Dirumah masih punya adik?” tanya Ibu Adrian “Keponakan, Bu. Anak dari kakak pertama Arum, namanya Vino.” jelasku Ibu mengangguk. “Ayo, pake sayurnya, Nduk.” pinta Bapak “Iya, pokoknya harus dihabisin udah dimasakin sama Ibu.” imbuh Ibunya Adrian Aku hanya mengangguk dan tersenyum, masih canggung diperlakukan dengan sehangat ini dikeluarga Adrian untuk pertama kalinya. “Arum mana suka sayur, Buk.” timpal Adrian Aku melototinya. Adrian menjulurkan lidahnya meledekku. Kita berdua saling menginjak kaki bergantian sambil pelotot-pelototan mata.
Penolakan Secara Terang-terangan Keluarganya sewelcome ini padaku, Masha Allah. Usai makan siang, Ibu banyak bercerita kalau putra pertamanya sedang sibuk ngumpulin uang buat bangun rumah sambil menunjuk kearah bangunan baru yang masih dalam proses pembangunan yang cukup lama. Terus mau beli kendaraan sama mobil, habis itu cari dana buat ngajak Ibu dan Ayahnya ke Solo untuk ketemu keluargaku. Ibunya juga banyak bertanya bagaimana keluargaku, namun mendengar penjelasanku seperti ada yang mengganjal di hati beliau. Entah apapun itu, Ibunya agak memberi jarak antara percakapan kami, nampak jelas dari raut wajahnya yang paruh baya itu yang hangat dan welcome banget diawal sapaan sampai di percakapan lebih dalam mendadak terbaca sebuah jeda. Seakan, ada kekhawatiran mendalam terhadap aku dan Adrian kedepannya. Sungguh, aku buruk dalam membaca tatapan mata seseorang. Namun anehnya, aku mampu merasakan sesuatu pembeda dilubuk hatinya dengan sepasang binar yang tersirat mulai menampakkan lembayung itu. Namun semoga hanya rasaku saja yang ganjil, tidak dengan jeda binar kepunyaan ibunya juga. “Nak, disini itu masih desa sekali. Jauh dari perkotaan, beda sama dirumahmu. Seperti ini kondisinya Adrian, seadanya yang dia punya.” tutur Ibunya “Sama saja, Ibu. Di sana juga masih kampung jauh dari kota. Bedanya hanya di Solo dan Madiun, Ibu.” Aku sedikit mencoba mengukir senyuman
“Kata Adrian kamu kuliah, udah selesai?” tanya Ibu “Untuk saat ini masih dalam proses skripsi, Ibu. Insha Allah akhir tahun ini bisa sidang.” jelasku “Syukurlah, Nduk. Kuliah yang bener biar cepet diwisuda dapat kerjaan yang bagus.” Nasihat Ibu Adrian “Baik, Bu. Doakan Arum semoga bisa menyelesaikan kuliah dengan baik.” balasku “Aamiin.” “Adrian malah baru masuk kuliah, nggak tahu itu, kuliah sambil kerja. Ibu bisanya dukung aja, karena nggak bisa biayain kuliah. Biar dia cari biayanya sendirilah, Nduk. Sebenarnya ada tawaran beasiswa atas prestasinya di daerah Solo juga waktu itu kampus mana Ibu lupa, pas awal-awal lulus dari SMK. Tapi, ya, nggak dia ambil karena mikirin adik-adiknya. Pikir Adrian mau kerja dulu bantu-bantu Bapak buat biayain sekolahnya Filda dan Aira. Terus kemarin dia bilang, mau kuliah boleh nggak katanya. Ibu bilang, kalau kamu sanggup, ya, kuliah aja, mumpung masih muda kejar apa yang menjadi impianmu. Urusan sekolah adik-adikmu, kan masih tanggungjawab Bapak. Kamu bantu sebisanya aja. Akhirnya dia daftar itu udah jalan 2 semester apa gimana Ibu juga kurang paham.” jelas Ibu Adrian “Iya, Bu. Arum malah bangga sama dia, baru lulusan kemarin sudah sedewasa itu dalam menyikapi semuanya, Bu. Tanggungjawab putra Ibu memang tidak semudah apa kata orang kebanyakan, Bu.” imbuhku
“Tapi, ya, itu. Fisiknya udah kena rokok sama alkohol, Ibu paling nggak suka disitu.” gedek Ibunya “Nggak tahu kenapa, semenjak kenal kamu jadi sembuh anaknya. Udah jarang bahkan berhenti rokok, mabukmabuk juga dia stop. Makanya uangnya kekumpul, tapi nggak tahu ini pulang kampung temen-temennya biasa ngajakin kaya gituan. Semoga aja nggak dia ulangin lagi.” imbuh Ibunya “Alhamdulillah kalau gitu, Bu. Tapi, memang karena Adriannya yang mau berubah untuk dirinya, Bu. Bukan karena Arum.” sambungku “Ibu itu kadang pesen kedia, wanti-wanti banget. Ibu minta dia buat cari pengalaman kerja sebanyakbanyaknya, ya, Kak. Jangan mainin perasaan anak orang dulu, apalagi dia anak orang berada beda sama kamu rumah aja masih papan-papan kayak gini, tanah masih lantai, dan kamu juga bukan anak kuliahan. Bapak-Ibumu kerja serabutan. Kalau kamu belum mapan sebisa mungkin jangan ngasih harapan apa-apa dulu kedia, kasihan dia. Kamu juga harus sadar kamu siapa.” tutur Ibunya kali ini nusuk banget keulu hati, ada jerembab yang menyeretku habis-habisan, aku sungguh tidak tahu malu telah menaruh harapan tinggi padanya. “Ini malah baru masuk kuliah udah kenali kamu ke Ibu calon mantunya. Pesen Ibu satu, sebisa mungkin selesain kuliah dulu, fokus kerja biar mapan dulu terlebih Adrian yang pengalamannya masih baru anak kemarin sore. Jangan buru-buru nikah kalau memang belum mapan.”
imbuh Ibu Adrian yang seakan-akan ungkapan isi hatinya yang paling terdalam yang sengaja diberikan untukku dengar. Aku seperti dikutuk dari puluhan tahun silam, bahwa memiliki Adrian tidak akan ada ujungnya. Bersamanya hanyalah mimpi semalam, langkah kita itu tidak sejalan. Aku yang baperan atau memang ini ucapan yang menakutkan akupun kurang paham, hanya saja memang yang aku terima dari ucapan Ibu Adrian tadi adalah sebuah penolakan. Sungguh, aku sudah menjatuhkan kepercayaan Mama dirumah dengan membuat kesayangannya mendatangi rumah kekasihnya yang sama sekali tidak diharapkan kehadirannya secepat ini oleh Ibunya sendiri. Sayatan ini sungguh ingin tumpah ruah detik ini juga, dihadapan Ibunya. Aku sudah tidak punya harga diri lagi sebagai wanita, mengiyakan ajakan Adrian untuk menemui orangtuanya. Bodoh, kamu, Rum sungguh bodoh sekali. Mungkin itu kalimat yang pantas merutuki diriku kali ini. Udarannya menjadi gersang, seperti tandur seribu tahun lamanya, aku terinjak ribuan kali yang dibawahnya tersusun duri. Aku ingin segera pulang dan marah pada diriku sendiri, dan melupakan semua cinta ini. “Kamu bodoh, Rum! Ini hal gila, mencintai bocah seusia Adrian dan memimpikan pernikahan bersamanya sungguh memalukan!” geramku dalam batin sambil menahan air mata yang mulai berkaca-kaca. Spontan aku langsung meminta izin pada Ibunya, menghubungi Adrian yang pamit keluar sebentar namun
sudah berjam-jam tak kunjung pulang. Aku sudah diusir secara halus oleh orangtuanya, jadi aku tidak sepantasnya berlama-lama dirumah ini karena hanya akan membuat jiwaku seperti neraka. Aku cukup tahu diri dan memundurkan diri saja, ini sudah jelas-jelas perlawanan dari Ibunya sendiri. Tidak baik jika aku terus bermuka tebal dan nampak baik-baik saja. Harga diriku sudah longsor begitu saja, mungkin beliau memikirkan bahwa aku bukanlah wanita baik-baik lagi karena segampang ini diajak main kerumah laki-laki. Tuhan sungguh aku ingin pulang. Rengekku dalam batin yang menahan tusukan sangat tajam. “Adrian, antar aku pulang sekarang!” pesanku pada Adrian. “Iya, otw balik. Memang sudah selesai deeptalk sama, Ibu?” tanyanya “Udah, cukup! Aku ingin pulang!” pesanku padanya Menunggu pulangnya Adrian, aku membantu Ibu membereskan apa yang sudah beliau siapkan untukku. Merapikan seisi rumahnya, temasuk mencuci beberapa piring yang kami gunakan untuk makan siang bersama barusan untuk menghargai semua kehangatan yang beliau ciptakan atas kedatanganku kali ini. Aku bersiap, dan langsung pamit secara baik-baik dengan keluarga Adrian. Ibunya sempat menahanku untuk menginap dan melakukan perjalanan besok pagi saja, namun prinsip tetap prinsip aku tidak bisa menginap dirumah Adrian. Ditambah lagi ada kejadian penolakan terang-terangan
dari Ibunya barusan, itu sudah membuatku membuka mata lebar-lebar. Waktunya pulang! Menahanku dengan hangat, entahlah aku pikir itu hanyalah sebuah pemanis dan basa-basi. Namun, sudahlah aku tidak mau terlalu berburuk sangka, karena memang diawal Ibunya memperlakukanku dengan baik. Akan tetapi perihal ucapannya sungguh aku terluka parah berkeping-keping, pecah, retakannya masih ada yang terselip dimana aku kurang tahu dan pulihnya sangat perih butuh waktu. Berjam-jam selama perjalanan aku hanya termenung, sesekali menitihkan air mata, menghapusnya, dan berkaca-kaca kembali. Sakit, Ad, ini menyakitkan. Apa sanggup aku berjuang melawan usiamu yang terpaut cukup jauh dariku? Mama sudah sering bertanya, gimana Adrian. Setidak buru-burunya aku akan tuntutan menikah, aku juga butuh sebuah kepastian, aku juga mengerti ini membuatnya keberatan dengan seabrek beban dipikul Adrian. Kalau saja aku diperkenankan menjadi manusia egois, sekali saja, aku ingin mementingkan egoku. Agar arah tujuan kita kalau udah nggak bisa maju, biarkan sampai disini. Walaupun aku harus sembuh dengan susah payah lagi. Jogja, Solo, Karanganyar dan waktu-waktu yang panjang bersamanya. “Yang, nggak tidur, to?” tanyanya lirih “Nggak.” jawabku lesu “Kok diem aja dari tadi, capek, banget, ya, kamunya?” tanyanya khawatir
“Sini, copot helmnya. Udah jam segini aman, biar agak entengan kepalamu.” Dia meminggirkan motor dan mencopot helm dari kepalaku, enteng seketika. Ia tersenyum simpul “Terima kasih, ya, sudah mau diajak capek bareng-bareng untuk hari ini. Maaf, yang bisa aku berikan berbatas kemampuanku. Hanya ini dengan sekuat tenaga aku lakukan, yang sebisa mungkin memberikan, yang terbaik untukmu. Namun nyatanya masih kurang layak untukmu, percayalah, sedang aku usahakan semuanya.” Dia mengulum senyuman padaku sambil kedua tangannya mencoba meyakinkanku dengan menarik lembut kedua tanganku. Aku mengangguk mengerti dan mengukirkan senyuman terbaikku untuknya. “Barusan kamu dari mana? Kok perginya lama.” tanyaku “Kumpul sama temen-temen silat, mumpung dirumah nyempetin.” katanya “Nggak mabuk-mabukan?” tanyaku menatapnya “Nggak, Adrian bukan pemabuk lagi.” lantangnya meyakinkanku “Bisa aku mempercayai itu semua?” tanyaku padanya “Tentu, bisa.” Ia meyakinkanku tanpa keraguan, menunjukkan kesungguhannya yang benar-benar sudah berbenah bukan karena untukku saja melainkan untuk kebaikan dirinya juga.
“Aku, kesal ih sama kamu. diajak kerumahmu jauh-jauh malah ditinggalin nongkrong sama temen-temen.” kerutuku kepadanya “Kan, maksut aku biar kamu bebas gitu ngobrol ngalorngidul sama Ibu. Biar lebih deket juga Ibu sama mantunya yang satu ini.” ucapnya sambil mencubit hidungku “Nggak, sopan ada tamu malah pergi.” Aku ngambek dengan Adrian “Barusan ngomongin apa aja sama Ibu pas aku tinggal?” tanyanya padaku “Ngomongin kamu.” aku tersenyum “Aku kenapa memangnya?” “Kamu nakal, welk.” ledekku Saling terdiam dalam satu tatap yang sama, sejenak merasakan hening yang tercipta ditemani angin malam dan lalu-lalang para pengendara yang sedang menempuh perjalanan dengan tujuan masing-masing entah kemana. “Terima kasih sudah berbenah untuk dirimu sendiri dan kebaikanmu.” sanjungku sambil merapikan rambut yang menutupi hingga ke matanya “Terima kasih sudah mau menerima segala kekurangan dari berbagai aspek termasuk usaiku ini, Mbak.” ucapnya benar-benar polos Lengkung manis terlukis indah diantara kita berdua malam ini. Seakan memang masih ingin bertatap lebih lama dari ini, namun keadaan harus membuat kita kembali menabung rindu lebih banyak lagi dan lagi. Satu Tahun Terbaik
One anniversary, kebetulan dia dapat cuti dari pekerjaannya. Tapi, aku jatuh sakit hingga dirawat lagi di RS karena banyak kegiatan dalam penyelesian skripsiku. Harus muter-muter mencari sumber penelitian keberbagai daerah kumuh, terpencil dan dengan kriminalitas tinggi. Sebenarnya, tipe manusia mudah kepikiran dan baperan ini ada faktor lain yang membuat sakitnya kambuhan. Apalagi kalau bukan permasalahan konflik batin yang menderai air matanya bermalam-malam silam semenjak kedatangan Arum kerumah Adrian pada permulaan bulan di awal tahun ini. Bahkan hingga tahun akan segera pungkas, masih saja menempel dikepala teriris seketika jika suara itu muncul dan menari-nari dalam ingatan Arum. “Biarkan Adrian kuliah dulu dan mapan.” Sekilas ucapan itu melulu terngiang dalam benaknya. Tubuhnya semakin habis, digrogoti pikiran-pikiran dan penyusunan tahap akhir kuliahnya. Namun, Adrian tidak tahu soal ini, Arum sengaja tidak memberikan kabar kalau dia tengah sakit dan sedang dirawat. Ia tidak mau semakin larut, dan banyak merepotkan Adrian lebih dalam dari semua yang sudah ia berikan, ia perjuangkan, demi memberiku sebuah kepastian. “Yang, kemana aja sih. Aku pulang, kok nggak ada kabar sejak 2 malam ini. Besok aku kerumahmu, ya.” ujarnya lewat benda pipih milikku dengan suaranya yang nampak girang karena akan menemui pujaan hati yang sangat ingin sekali ia sapa sepanjang hari.
“Jangan, aku masih sibuk penelitian.” cegahku beralasan, agar dia mengurungkan niatnya untuk menemuiku ke Solo “Kalau sore, kan, udah kelar to penelitiannya?” tanyanya “Jangan, dulu, Ad. Aku takut kamu kecewa, udah sampai Solo jauh-jauh malah aku masih sibuk penelitian sampai malam.” Aku terus mencari berbagai alasan agar dia tidak kekeh untuk datang kerumah “Tapi aku rindu.” rajuknya “Paling tidak, aku bisa kerumahmu bertemu dengan Mama dan keluargamu, sama Vino juga.” imbuhnya “Terserah kamu, Ad. Aku lelah hari ini, aku harus pergi tidur lebih awal, selamat malam.” pungkasku menutup sambungan telefon sepihak dengannya. Aku menangis tersedu-sedu, menumpahkan semua luapan hati yang terpendam berbulan-bulan ini. Memeluk kedua kakiku sendiri dan meratapi hubunganku dengan Adrian. Bagaimana kalau benar bersamanya tidak akan menuai akhir bahagia? Lantas untuk apa ini dipertahankan, jika salah satu bahkan keduanya harus menanggung kecewa. “Hiks-hiks” isak tangisku berderai cukup deras mengucur. “Dek, apa yang terjadi?” sapa Mbak Ica yang mendapatiku menangis tersedu seorang diri diranjang rawat inap. Ia mendekapku, mengelus punggungku. Segera aku mengusap semua yang bercucuran, menenangkan isakanku sendiri dan berusaha tidak ada apa-apa di hadapannya.
“Nggak, sesuatu partikel kecil masuk kemata dan membuatku kesakitan, Mbak.” aku sedang menyangkal bahwa ini bukanlah sebuah tangis, hanya sekedar kelilipan “Jangan menyembunyikan. Ini tentang Adrian, kan?” tanyanya yang memang ahli dalam membaca raut wajahku sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak bisa berbohong, aku mengangguk dan memeluknya erat. Penuh isakan tanpa sepatah ucap apapun. “Menagislah. Tuntaskan tangismu jangan ditahan, jika sudah. Katakan, apa yang menganggumu hingga sakit seperti ini.” Mbak Ica menenangkan “Assalamualaikum.” Tiba-tiba malam selarut ini ketika hanya ada aku dan Mbak Ica saja di ruang rawatku. Ada suara khas berat milik Adrian terdengar di telingaku cukup jelas, benar saja. Adrian datang menemuiku yang tengah sakit, ia masuk memergoki tangisku yang nanar dalam dekap pelukan Mbak Ica. Ia meletakkan semua yang dia bawa di tangan, menyalami Mbak Ica dan memeluk rengkuhku. Ia bahkan tidak mengajukan kalimat tanya apapun cukup lama hingga kemejanya basah oleh bekas tangisku yang tersedu. Sampai lelah dan mengering air mata itu memgalir, tersisa isakan yang masih menganggu senggalan napasku saat ini. Dielus perlahan punggungku oleh Adrian dengan tlaten, menanangkan. Dia memang selalu berhasil menjadi obat penenang dalam segala keadaan sekalipun terburukku.
“Dek, Mbak tunggu diluar saja, ya.” Mbak Ica meninggalkan kita berdua disana ketika dirasa aku sudah mulai baikan berada disisi Adrian. Aku tanpa respon apapun dan Adrian hanya mengangguk pelan dalam posisi masih mendekapku erat. “Mbak keluar, ya, Ad. Titip Arum, tenangin dia.” lirih Mbak Ica pada Adrian dan meninggalkan kita berdua di ruangan itu. Adrian mengangguk pelan pada Mbak Ica, dan terus menenangkanku dengan baik. “Are you okay?” lirihnya mencoba bertanya usai dirasa aku sudah agak baikan Aku mengangguk dan masih sesenggukan mengatur sisa isakan yang ada “Yaudah, tenangin dulu.” Ia dengan sabar menungguku agar benar-benar tenang sepenuhnya “Kenapa kamu nggak bilang kalau kesini, ini sudah sangat larut, Adrian.” ucapku mencoba membuka bicara, usai bungkam cukup lama bersamanya “Aku yang harusnya tanya, kamu ini kenapa, sakit nggak bilang, tahu-tahu nangis kayak gini. Aku khawatir sama kamu, barusan aku telfon Mbak Gita, awalnya dia nggak bilang kalau kamu sakit separah ini sampai harus dirawat. Katanya kamu meminta semua orang termasuk Mamamu untuk tidak mengabariku soal sakit ini, benar?” jelasnya dan mengajukan pertanyaan padaku. Aku hanya mengangguk pasrah, memang benar adanya. Aku meminta semua orang merahasiakan sakitku dari
Adrian agar tidak membuatnya terbebani dan buru-buru kesini memastikan keadaanku. “Tapi, kenapa? Kenapa, Sayang? Aku ini bukan lagi orang asing. Bahkan aku pulang untuk merayakan satu tahun hubungan kita, kamu malah sakit, dan kenapa aku tahu dari orang lain? Kamu marah sama aku karena terlambat memberikan ini untukmu?” beribu tanya ia aturkan padaku, diraihnya bouqet bunga yang sangat cantik yang ia letakkan di meja dekat ranjangku setibanya di ruangan ini. Aku menggelengkan kepala pelan. “Maaf karena tidak bisa disisimu sejak awal.” Dekapnnya hangat sekali untuk yang kali ini, aku merindukan ini. Sungguh, hati meronta, Adrian tinggalah disini lebih lama agar aku tidak merindukanmu seorang diri dan melupakan masalah pelik yang menekan mentalku perlahan. “Kamu kenapa lagi?” ia kebingungan “Bahkan kamu sudah berjanji untuk terus menjaga komunikasi ini dengan baik, agar tidak terjadi salah paham lebih mendalam. Tapi kenapa kamu malah seperti ini? Apa yang salah dariku?” tanyanya meronta padaku sungguh ia ketakutan akan diamku ini “Aku nggak bisa diginin terus-terusan, selalu aku yang tahu lebih akhir apa-apa yang terjadi padamu. Kemarin kata Mama kamu habis kecelakaan karena penelitian, kamu sama sekali nggak ngasih tahu. Kamu sering sakitsakitan, aku dapat kabar dari adikmu Adhi. Kamu ini kenapa? Sejak kita dari Madiun beberapa bulan lalu,
sikapmu jadi sedingin ini sama aku, apa yang Ibuku katakan hingga membuatmu jadi begini, Sayang?” tanyanya merintih padaku dan mengajukan berbagai pertanyaan yang bermunculan dikepalanya selama ini perihal sikapku yang makin kesini semakin menjauh dari dirinya “Aku hanya nggak mau, banyak merepotkanmu. Dengan meminta sebuah kepastian, Ad. Kamu banyak terluka karenaku bahkan langkahku dan langkahmu ini awalnya sudah tidak sejalan, Ad. Aku saja yang terlalu bodoh, karena memaksakan kehendak agar bisa sejalan denganmu. Nyatanya, takdir bilang aku dan kamu nggak sepantasnya bersama. Ini nggak aka nada ujungnya, kita tidak seharusnya bersama. Egoku terlalu tinggi untuk mengalahkan rasaku sendiri, harusnya aku tidak menerimamu sejak awal. Harusnya aku tahu diri, aku tidak pantas bersamamu.” ujarku menatapnya nanar, yang aku katakan sangat diluar nalar dan kendali. Aku membiarkannya terucap begitu saja “Kamu ini ngomongin apa sih? Apa arti ini semua?” dia sungguh kebingungan dengan ucapanku “Yang bilang kamu beban buat aku siapa? Ibu aku? Siapa, Yang? Aku nggak pernah terbebani akan ini semua, bukankah cinta memang perihal perjuangan? Apalagi, aku yang memintamu untuk disisiku seperti apapun keadaannya, aku yang harusnya bilang nggak pantas buat kamu. Tapi, aku yakinin ke diriku. Aku perjuangkan
semuanya, agar bisa pantas bersanding denganmu. Apa salahnya?” tanyanya menderu resah bukan kepayang “Tapi, perjalananmu masih sangat jauh. Adik-adikmu, orangtuamu masih ingin melihat kamu hidup dengan layak dan mapan. Dan dengan bersamaku itu akan semakin sulit dan membuatmu terbebani akan usiaku, Ad? Aku nggak minta banyak soal waktu, komunikasi dan lain sebagainya. Aku bisa temani kamu berjuang dari 0, kita bertumbuh dan berbenah bersama-sama. Tapi, apa mungkin, Ad.” ucapku terjeda oleh tangisku yang membabi-buta “Tapi, apa, Sayang?” tanyanya nanar “Tapi, hiks-hiks.” isaku tidak kuasa membuatku meneruskan percakapan ini “Apa hanya akan berhenti disini? Untuk bersamamu saja tidak mudah telaluinya, Mbak. Tolong, jangan mengatakan yang seharusnya tidak kudengar malam ini. Aku mohon, ayo sama-sama saling menjaga.” kali ini dia menangis tersedu, aku kian hanyut. Kita tak kuasa membendung segala keramaian yang menghadang dibenak masing-masing. Bertahan akan menyulitkannya, aku dilema, Tuhan. Namun, jika beralih dan menyalahkan waktu. Apa iya? Ini tidak ada sangkut pautnya dengan waktu yang kurang tepat menghadirkan temu. Ini salahku yang terlalu buru-buru dan mengebu menyerahkan seluruh rasa ini untuk Adrian. Aku yang salah disini. “Bahkan kamu hampir menyerah, bukan?” isakku
“Nggak, aku nggak nyerah. Aku akan perjuangin ini, dan memberikan kepastian secepatnya padamu, Mbak. Itu, kan yang kamu mau?” kekehnya tetap pada pendirian dan prinsipnya, jika dia sudah berjanji akan menjagaku dengan baik, mempertahankanku dengan erat. Dia akan tepatin dan usahakan itu sepenuhnya. “Bagaimana jika besok pagi Mama memintamu untuk datang membawa orangtuamu kerumah? Apa kamu sudah siap?” tanyaku mencoba bergalagasi padanya “Aku tidak sedang mendesakmu, namun jika semua ini sungguh terjadi. Besok atau lusa Mama meminta hal itu, mana mungkin, Ad? Ibumu tidak akan merestui ini, beliau memintamu agar menyelesaikan kuliah terlebih dahulu, supaya mapan dulu, membantu membiayai sekolah kedua adikmu. Jadi, ini semua akan sia-sia jika kita terus bertahan. Nggak aka nada ujungnya.” pasrahku “Mbak, ini konyol, sungguh.” ujarnya “Apanya yang konyol? Bahkan kamu tahu sendiri, seorang sepertiku butuh sosok pria dewasa, bukan bocah laki-laki sepertimu, kamu tidak lupa akan hal itu?” tanyaku beruntun padanya “Kalau benar Mama meminta agar aku segera melamarmu, oke. Malam ini juga aku akan lamar kamu, aku sudah yakin dengan keputusanku ini. Apalagi, Mbak? aku siap menikahimu sakarang, membahagiakanmu secara lahir dan batin. Aku bakal bertanggungjawab apapun konsekuensinya, akan kupastikan bahagiamu
disisiku.” Dia malah memantapkan diri menerima tantangan ini. Aku terdiam dalam isak, tanpa tanggapan apapun. “Kenapa diem, ayo, sekarang kita ketemu sama Mama, Mbak?” ajaknya “Nggak, kamu sudah gila. Lalu bagaimana dengan Ibumu, nggak! Hentikan ini semua, Ad. Selesaikan tanggungjawabmu dengan baik. Jangan bersamaku, ini akan sulit kedepannya. Tinggalkan aku, kumohon.” tangisku sudah tidak terelakkan lagi kian menjadi-jadi “Ini bukan maumu, kan, Mbak? Katakan, apa Ibu yang memintamu untuk berakhir dariku? Percaya sama aku, Mbak. Nggak aka nada yang sia-sia kedepannya, kita laluin sama-sama, ya, Mbak. Perihal kepastian, aku siap melamarmu kapanpun itu karena bagiku janji adalah janji. Dan janjiku adalah tetap disisimu, aku masih sayang sama, Mbak. Mbak tahu akan hal itu, bukan?” tanyanya lagi masih kekeh mempertahankanku “Kita harus berakhir cukup sampai disini saja, Ad. aku tidak baik untukmu.” ucapku “Katakan, ini bukan maumu?! Mbak, apa? karena aku masih bocah? Katakan letak tidak pantasnya di aman?” rengeknya meronta ingin aku menarik semua ucapanku barusan “Nggak. Ini murni berasal dari benakku, yang sudah lama aku pendam. Aku mau kita akhirin ini semua.” elakku tanpa berani menatapnya
“Tolong jelasin dulu, Mbak. Apa karena aku masih bocah dan katamu kita tidak pantas bersama karena apa?!” rengeknya sungguh bercucuran air mata Lagi, dia lemah dihadapanku. Sangat menyedihkan, dia menatapku nanar. “Segala aspek, kita tidak pantas. Usiaku tidak pantas bersamamu, semua-muanya.” balasku “Tatap aku kalau gitu, liat aku, katakan ini bukan maumu, kan? Kamu akan temani aku sampai penantian ini berakhir, kan, Mbak? seperti janjimu padaku.” tanyanya meronta “Lupakan perihal janji itu. Maaf jika dalam mencintaiku kamu menanggung beban dan kesakitan hebat. Karena berbagai situasi dan keadaan yang membuat kita berjarak, dan sebab lainnya. Maaf tidak bisa disisimu lebih lama dari ini Ad.” isakku “Kamu tidak pantas dan tidak seimbang untukku, terima kasih atas satu tahun terbaik ini. Maaf jika bersamaku hanya dipenuhi duka dan tangis air mata. Masih banyak cita-cita yang harus aku wujudkan segera, aku takut jika mencintaimu hanya akan membuat semuanya kacau balau. Dan kamu masih perlu banyak belajar, kamu masih terlalu muda untuk mencintai wanita sepertiku, Ad.” sambungku dengan sedikit terbata oleh tangis yang membujur kaku deras menderai hebat, panjang dan lebar Bisu, dingin dan hanya ada suara jam dinding yang berotasi melingkar di pusaran. Selebihnya isakan aku dan Adrian yang menyatu padu, ia terduduk di tepian ranjang
tak berdaya. Bahkan aku menyakiskan itu ingin sekali meraih tubuhnya dan hanyut dipelukannya. Namun sudahlah, ini jalan yang terbaik untuk kita berdua. Semakin malam, Adrian menghapus segala tangisnya yang tumpah berserakan itu hingga tak berjejak sama sekali. Ia bangkit dan menatapku yang sama-sama nanar. “Baik. Kalau itu benar keputusanmu, Mbak. Terima nggak terima, aku mencoba menerimanya. Aku minta maaf sudah lancang mencintaimu, seorang bocah sepertiku memang tidak seharusnya bertindak kurang sopan padamu. Kejar apa yang menjadi tujuan hidupmu jauh sebelum bertemu denganku dan kamu juga pantas mendapatkan yang lebih seimbang dariku disegala aspek. Tentu saja bukan aku orangnya.” Arum hanya diam menunduk, terduduk diranjang dengan memeluk kedua kakinya yang ia tekuk itu. Dihadapan Adrian penuh isak tangis, spontan diraihnya tubuh Arum oleh Adrian dalam dekapnya. “Satu hal, perihal janjiku yang pernah aku terucap padamu masih sama Mbak. Bahkan hingga detik ini aku masih mengusahakan untuk segera bisa kerumahmu membawa keluargaku. Namun, jika dalam prosesku menuju rumahmu ada yang datang lebih dulu melamarmu terima dia, aku tidak akan membuatmu menunggu akan hal itu. Terima kasih banyak untuk semuanya, I love you, Mbak Arum.” bisiknya dalam pelukan “Sudah tidak ada lagi yang membuatmu begadang lebih larut, kan, Mbak. Pesanku, tolong jaga diri disini dengan
baik jangan sakit-sakitan lagi karenaku. Maaf, membuatmu banyak menangis, terima kasih untuk hal-hal hebat yang telah kamu ajarkan padaku untuk terus berbenah, Mbak. Adrian pamit pulang, lekas sembuh, ya. Lupakan bunga itu, anggap kita sudah merayakan satu tahun terbaik kita dan menutupnya sekaligus. Assalamualaikum.” ucapnya dan perlahan menghilang dari pandanganku meninggalkan aku terisak hebat malam itu di ranjang pasien. Masih terdengar suara pamitnya dan titip salam untukku sekeluarga dari mulut Adrian pada Mbak Ica. Tanpa abaaba, usai suara itu lenyap tertelan sunyi Mbak Ica datang memelukku erat “Kamu sudah melakukan yang terbaik, kamu mengalahkan segalanya demi masa depannya, adikadiknya dan kebahagiaan keluarganya. Keputusanmu sudah benar, Dek. Mbak bangga padamu, meskipun harus sesakit ini. Percayalah, Adrian akan mengerti maksut dari perpisahan malam ini.” tangisku tumpah bersama tangisan Mbak Ica, yang sudah mulai sayang dan nyaman dengan hadirnya Adrian selama ini di hidupku. Ia tahu, hari-hariku cerah setelah reruntuhan masa silam yang bertubi-tubi karena Adrian. Mbak Ica tahu aku sangat ingin Adrian disisiku sepanjang waktu, bahkan belum pernah Mbak Ica melihatku jatuh cinta sejatuh ini dengan seorang pria. Bahkan Mbak Ica paham, bersama Adrian aura kebahagiaanku terpancar nyata. Ini sungguh
bukan mauku, bukan perpisahan di satu tahun perayaan jadian ini. Bukan. Kilas Balik Mengenai Yogyakarta Satu tahun terbaik, ia, di Malioboro ini. Aku menantap nanar usai berbagai perlawanan untuk tidak mendatangi tempat istimewa ini. Aku datang dengan seorang kawan, tidak ada lagi getar-getir menusuk ingatan. Tangis iris menyayat hati, merobek jiwa-jiwa yang sunyi. Aku sudah ikhlaskan dia pergi dan berbahagia. Bukan ikhlas, namun tepat saat aku berucap mencoba merelakan. Bahkan didunia ini bukan tentang luka yang tidak bisa disembuhkan dan bukan pula persoalan waktu yang menyembuhkan semua luka. Semua itu tidak sepenuhnya benar, yang kebanyakan terdengar hanyalah perihal waktu yang menyembuhkan luka. Nyatanya, waktu tidak akan mampu menyelesaikan luka itu sendirian. Namun, dirimulah hanya menanggung luka itu sendirian hingga waktu berlalu dan dirimu tidak dapat merasakan luka itu lagi. Konsepnya disini memang bukan luka, hanya trauma yang membahagiakan disuatu sudut kota dengan orang terindah yang menolong kehancuranku kala itu hingga sampai pada titik dimana aku merasa baikan dan pulih jauh dari keterpurukan saat ditemuinya. Disini letak lukanya, bukan Jogjanya yang melukai dan salah karena sudah membuatku jatuh cinta berulangkali pada seseorang bernama Adrian. Hanya saja, akan sangat hampa dan kosong jika aku berkunjung ditempat awal aku
jatuh cinta padanya namun terlalui tanpa hadirnya, kini. Membuatku yang ahli berpuisi mencoba mengkisahkan setahun silam dengan bait yang masih kurang sempurna dalam sebuah perjumpaan para penulis di Kota Yogyakarta kali ini. Jogja dan segenap yang pernah terjadi Oleh Tika Dani Perihal senjamu yang tak pernah surut, terbit dari ufuk kala fajar itu meredup. Petang hari kau hadir bak tawanan perang berbondongbondong memboyong song-song. Tidak lantas kilaumu berdegup kencang terelakan,ada satu persoalan disini. Mengenai, luka yang tidak bisa disembuhkan. Bukan, soal kecewa. Namun, tidak ada yang benar-benar menuai atas apa yang menderai. Kau, lupa, sebelum segala terlena sempat sukar terbuka lebar dan usai mengangga semua gamblang jelas Kau nahas dalam rentetan peristiwa menggemakan pertahanan jiwa. Sisanya satu, yang pulih kembali piluh. Dan segala peluh pasti sembuh,
Namun perlu rapuh dan derap rotasi berlalu. Timbunan yang menyapa, kini hanya kiasan yang menjelma. Merubah senjaku tak acuh pada sukma yang merongrong sesapan serat kaya makna kerinduan diatas rimbunya pemukiman. Kau harus tahu, terlintas namamu teramat usik, berisik. Genggam, rangkul dan lengkung manis menganyam klimaks syahdu dalam benak, mungkin kah itu benar sebuah rindu ruai? Pungkasnya, iya. Aku mengakuinya, namun tidak lantas akan melakoninya bersama. Cukup Jogja, gerimis dan kangen saja yang mengantarkan kita kala itu jangan lagi pulang dan angkringan. Agar aku bisa kembali pada istimewanya kota yogya tanpa desas-desus perihal kita (lagi), sebab segenap yang pernah terjadi sudah terlalui. Percayalah, disetiap sudutnya kota Yogya Kuselipkan ucap terima kasih padamu Yang telah sudi menemani meski hanya ditengah perjalanan Meski pula tidak berlangsung kirab Dan kusisipkanpula atur selamat