“Terima kasih, untuk segalanya, Ma.” ucapku Sang Biang Keladi Sore hari tiba, kedatangan Bang Putra, Mbak Ica, Vino dan Mbak Gita memecah keheningan diruangan yang semula hanya berisi aku dan Mama “Tante, kangen.” sapa bocah berusia 3 tahun itu dan naik ke ranjangku, memelukku dengan erat “Tante juga kangen sama Vino.” bisikku dalam pelukannya Sudah berhari-hari terlalui dengan berbaring di RS, tanpa kegiatan yang mengeluarkan keringat berlebih. Gabut sekali kenikmatan Tuhanku, aku ingin segera berlalu dari ranjang menyebalkan ini dan kembali bekerja seperti sediakala namun kenapa penyakitku masih saja betah disini, singgah ditubuhku. Aku ingin segera pulih dan mengusir paksa rasa lemah detik ini juga, aku lebih suka menghabiskan waktu dengan kelelahan karena kerja seharian suntuk daripada kelelahan karena rebahan seperti demikian. Mengeluh lagi, padahal hari ini terjadi karena rentetan peristiwa yang aku buat sendiri. Arum, memang masih suka merepotkan banyak orang disekelilingnya sampai detik dimana iya sudah bukan lagi bocah remaja yang masih kerepotan mencari jati diri. Huft! hela napasku terasa sesak mengingat tingkah polahku yang masih mencerminkan betapa kanak-kanakannya diriku ini dalam mengambil keputusan dan bersikap dilingkup dunia pendewasaan. Apa anak yang terlahir di urutan
terakhir dikeluarganya dan perempuan seorang diri akan sekanak-kanakan sama seperti diriku ini sampai kapanpun? tidak! aku juga tidak bisa begini terusmenerus, ayo berbenah, Rum! “Assalamualaikum.” salam Adrian menemuiku yang masih dirawat, bersama salah tiga perwakilan dari perusahaan untuk menengok keadaanku dan memberikan kabar tentang dispensasi libur lebih lama padaku sampai keadaanku pulih, membaik, dan tentu saja benar-benar siap kerja kembali. Hanya sejenak berbincang denganku dan keluargaku, Mbak Rosa, Mas Jendra dan Ibu Ayu berpamitan, tertinggal Adrian yang masih menyisakan rasa khawatir padaku akan kesehatanku. Aku belum pernah di perhatikan sedalam ini oleh seseorang yang baru aku kenal beberapa bulan belakangan ini. “Ehem.” Dahem Mbak Ica menggodaku, “Ma, sebaiknya kita menunggu diluar saja, biar temu kangen mereka terobati dengan sempurna.” imbuh Mbak Gitaa sambil meliriklirik meledek kearahku “Apaan sih, Mbak.” balasku sedikit malu pada Adrian “Adrian, kami keluar dulu, kalian awas neko-neko berdua disini.” Ancam Bang Putra dengan nada menggoda aku dan Adrian “Ini lagi satu ikut-ikutan.” decakku “Vin, ayo sayang tunggu diluar.” ajak Mbak Ica kepada Vino
“Vino mau disini sama Om Adrian dan Tante Arum, Yah.” tolak Vino dengan bahasa khas milik anak berusia 3 tahun yang masih belepotan itu “Ya udah, biarin, Ma” sahut Bang Putra “Iya, biar bertiga, kalau berdua diantara mereka bahaya malahan.” timpal Mbak Gita dan berlalu. Adrian hanya sedikit mengangguk dan tersenyum hangat sembari mereka berlalu dari ruanganku “Gimana, udah mendingan?” tanyanya sesaat setelah hening menyapa “Ya, beginilah keadaannya. Aku ingin pulang, Ad.” keluhku “Tunggu perintah dokternya dulu sampai benar-benar pulih, Rum.” lancang dia memanggilku tanpa embelembel Mbak dikata depan sebelum namaku “Dih, berani sekali panggil aku Arum.” lantangku yang cukup terkejut akan hal itu, hehe “Dari awal katanya minta di panggil Arum aja biar seumuran.” Candanya “Tapi sekarang malah jadi aneh, Ad. Udah kebiasaan lu panggil pasti pake Mbak, kan, ya.” balasku “Apa mau dipanggil, Sayang aja nih.” godanya menatapku lekat-lekat “Apaan sih, Ad.” Aku agak mletoy. Jari-jemariku dingin dan agak berat menelan ludah untuk menetralkan keadaan yang kikuk oleh tatapan Adrian “Loh kok dingin banget tanganmu?” dia panik, saat merasakan tanganku yang begitu dingin diraihnya.
Aku buru-buru menarik tanganku dan memalingkan mukaku yang makin memerah dibuatnya. “Mbak, mau aku panggilkan dokternya?” tanya Adrian yang malah justru merasa gelisah dengan kondisiku. “Nggak usah, ini keadaan yang wajar bagiku, Ad.” elakku tanpa mau menatapnya Tak lama hening, aku memberanikan menemui tatapan hangat milik Adrian barusan yang meluluh-lantahkan jiwaku melayang bebas kelangit-langit sudut kamar ruanganku. Dia tertawa setengah meledekku penuh goda. “Ceh! What do you think?” tanyaku keheranan “Om kenapa?” disusul tanya dari bocah yang juga merasa aneh dengan Adrian “Vin, tantemu barusan salah tingkah, jiahaha.” tawanya. “Ad, udah deh diem. Vino belum ngerti gituan.” sangkalku dengan senyum yang masih mencoba menyembunyikan rasa malu-malu “Tuh, merah pipinya, Vin.” ledek Adrian menggeodakku “Kalian ini, hih.” Kesalku “Jangan marah, nanti makin merah merona loh pipinya.” lagi dan lagi Adrian menggodaku Dirasa cukup lama obrolan kita bertiga, hingga lupa waktu kalau sudah semakin larut menyapa. Adrian pamit, dan kembali dengan janjinya yang akan datang ke RS untuk menemaniku disini sepulang kerja. Liat aja besok, pasti akan datang dengan buah tangan yang mungkin saja membuat dia harus menghentikan kegiatannya merokok hanya demi membawakan martabak rasa coklat keju
untukku dan keluargaku di rumah sakit atau buah tangan yang lain. Salut dengan kegigihan dia, ucapnya selalu penuh bukti. Bahkan bukan hanya aku yang ia pikirkan, Vino yang kedapatan dibelikan beberapa cokelat dan eskrim. Mama dan kakak-kakaku yang menikmati martabak pemberiannya, egoismenya sungguh ia kesampingkan. Kalau menemui aku artinya tidak hanya aku yang harus dibawakan sekedar sebatang cokelat, ada keluargaku yang ia pikirkan pula. Walaupun aku tahu persis, keadaannya sedang tidak memegang uang tabungan begitu banyak. Ia bahkan tengah berhemat dengan mengurani konsumsi nikotin dibibirnya. Penurunan tingkat kosumsi alkoholnya dan menekan konsumsi jajannya sehemat mungkin. Akhirnya Aku Pulang Satu minggu berlalu, sabtu bersambut. Aku sudah diperbolehkan pulang dengan catatan masih butuh kontrol ketika obat sudah habis dan membutuhkan istirahat yang cukup, terutama jangan sampai aku begadang hingga larut malam untuk persoalan yang bukan-bukan. Makanku juga harus sangat dihati-hati, polanya dijaga dengan baik agar tidak kambuhan bahkan lebih dari ini. Adrian turut serta membantu aku berkemas dari RS indirati karena memang hanya bersama Mama dan Mbak Gita yang berjaga sejak semalam. Keluargaku yang lain masih harus bekerja setengah hari di hari sabtu ini. Ayah? Boro-boro, ia tidak seperduli itu terhadap keadaanku. Aku ingin sekali
berteriak, Ayah aku butuh dekapanmu untuk kondisi seperti ini. Namun, semua sia-sia dan percuma. Ayahku memang bukan bajingan yang punya banyak simpanan diluar sana, fine, dia setia dengan Mamaku. Setia tapi menyiksa. Pernah aku berpikir, kelak jika aku menikah aku tidak butuh dinikahkan oleh Ayahku sendiri meskipun itu sungguh kejam dinilai sebagai seorang anak perempuan yang masih memiliki kedua orangtua yang utuh. Namun, aku muak! Kadang terlintas, kenapa Mama sebetah ini hidup bertahun-tahun dengan manusia keras ego, dan tak acuh dengan keluarganya seperti Ayahku? Bahkan Mama tidak hidup dengan layak semenjak menikah dengan Ayahku, yang notabennya terlahir dari kalangan keluarga berada. Tapi, ini bukan soal kalangan berada, Mamaku malah terkesan dihina dihadapan keluarga besar Ayah karena memang Mama dulu masih merintis karir dari 0 tanpa support apapun dari sosok seorang suami, iya, Ayahku itu orangnya. Makannya Mama selalu pesen kepada aku selaku putri satu-satunya untuk terus senantiasa berkarir, independent dan bisa diandalkan dalam situasi apapun. Agar kelak nasib baik mengiringiku saat berumah tangga, tidak seperti beliau yang menikah dengan seorang yang sama sekali tidak mengerti bagaimana rumah tangga itu dihuni keharmonisan, bagaimana ia menjadi sosok suami yang menafkahi secara lahir dan batin dengan baik. Bagaimana berlaku baik terhadap anak-anaknya sebagai seorang kepala rumah tangga di sebuah atap yang berisi anak dan
istri. Aku tidak membenci Ayah, aku hanya benci caranya menjadi seorang Ayah. Jika anak perempuan diluar sana bangga punya Ayah yang rela banting tulang dan mendapati sampai dirumah dengan sikap hangat menyapa putrinya, aku sungguh ingin merasakan demikian dekapan hangat, perlakuan yang istimewa dari cinta pertamanya, diratukan. Ah sudahlah, yang penting aku punya Mama dan Kakak yang selalu disisiku dengan baik. “Dek, Ayo masuk mobil, malah bengong.” tegur Mbak Gita yang membukakan pintu mobil sedari tadi. Lamunanku buyar, aku masuk dan mobil melaju dibuntuti oleh Adrian dengan motornya. Masih dengan terpaku diam dan meletakkan kepalaku di pundak Mbak Gita. Kakak ipar bernama Gita ini juga selalu sayang denganku, dengan sangat baik. Kata orang-orang kebanyakan aku beruntung, mendapati dua kakak ipar yang begitu sayang denganku. Beda dengan yang lain, selalu ribut dengan berbagai macam persoalan. Namun, Mbak Ica dan Mbak Gita memperlakukanku seperti sekandungnya sendiri, karena memang aku selalu diratukan oleh kakak-kakaku jadi mereka menaruh perhatian luar biasa juga kepadaku. Akunya saja yang kadang kurang bersyukur dan terus berpikiran soal kasih sayang kakak-kakaku yang semakin menipis seiring waktu berjalan karena mereka sudah menikah.
Happy Birthday Dirumah sudah ada Adam and the gengs sudah menyambut kepulanganku dengan penuh antusias. Aku hanya mampu geleng-geleng kepala dengan kekonyolan mereka semua yang ada, sudah seperti perayaan hari kelahiranku saja. Dikasih balon-balon dan kue, lebih ke acara ulangtahun Vino sepertinya. Haha, ya, begitulah mereka kalau lagi ngumpul. Oh, ternyata memang hari ini adalah hari ulang tahunku yang sesungguhnya. Pantas saja, Adam sempet nyeletuk tidak akan ada cemongcemongan lumpur tepung untuk hari ini maybe next kalau aku udah sehat. Rupanya ini yang mereka rencanakan, Masha Allah dan Adrian sudah diajak bersekongkol dengan rencana laknat Adam and the gengs. Pantas saja, dia ikutan berkemas dan mengantarkanku pulang. “Happy Birthday, ya, Rum.” bisik Adrian seusai memberikan bouqet bunga yang sangat indah dan sekotak kado untukku. Aku sudah mulai terbiasa dengan panggilan darinya yang tanpa berimbuhan Mbak di belakang namaku “Thanks, Ad.” balasku “Mau dong di kasih Kartu Indonesia Sehat, Mbak.” goda Tama dan sorak-sorak yang lainnya juga “Boleh?” tanya Adrian meminta pendapat “Hus, ada Mama dibelakang.” tolakku
Adrian menoleh dan kita bertukar tatapan, hanya bisa mengukir tawa yang ada bersama para gangster sekampung. “Kuenya mana nih, Syif?!” Seru Adhi “Barengin sama kuenya dari Mas Adrian dong.” imbuh Dian “Tiup lilinnya, Mbak satset.” seru Adam “Make a wish dulu, Mbak.” sahut Tama dan yang lainnya Aku mematikan lilin-lilin itu seiring dengan doa terbaik di usia yang tambah satu angka ini. Hal-hal baik akan selalu ada disisiku untuk satu tahun kedepan dan seterusnya, aamiin. Seperti ritual yang tidak bisa ditinggalkan, mengabadikan moment indah ini dengan berfoto ria. “Thanks, guys. I love you.” serukku sambil memberikan Adam dan Tama krim kue diwajahnya karena yang bisa aku jangkau hanya Adam dan Tama. “Sakit aja masih rese, Mbak.” geram Tama “Untung sakit, nggak sakit udah kelar, Mbak sama kita.” timpal Adam sambil membersihkan wajahnya yang cemong. Kami semua tertawa, potert yang sungguh melegakan dijiwa. Berkumpul bersama penuh canda dan tawa. “Le, Adrian. Mama minta tolong gantiin gas di dapur, kompornya nggak bisa nyala itu habis gas kayaknya.” panggil Mama meminta bantuan sama Adrian. “Asek, udah dapet restu dari Bude kayaknya.” ledek Tama “Acc, satset, Mas.” timpal Adhi
“Mau masak apa memangnya, Bu?” tanya Adrian dan beranjak melaksankan pernitah Mamaku “Masakin mereka itu, nggak ada apa-apa kalau mau pesen nanti malah kelamaan.” balas Mama “Suruh Adam beli mie aja apa bakso, Mah. Emang masih ada bahan masakan di dapur?” tanyaku “Boleh, biar aku yang beli, Bude.” tawar Tama “Kalian mau makan apa?” tanyaku “Sembarang, Mbak.” balas Dian “Yaudah beli berapa itu orang, Tam, ditemenin siapa sana.” Mama menyodorkan beberapa uang kepada Tama “Sama aku aja, Tam.” Tawar Adrian Mereka bergegas untuk membeli makan siang. Maklum karena di kampung jadi masih sulit dijangkau oleh Gofood atau Shopeefood kalaupun bisa buat pesen kasian kurirnya nanti nyasar soalnya rumahku terlalu pelosok dan dikelilingi area persawahan jadi kalau mau apa-apa harus kejalan raya sekitar 5-7menitan dari rumahku. Kirab kebahagiaan diusia yang baru dan cerita yang baru untukku, baiklah, mari kita mulai rasa yang lebih seru dan memburu kalbu. Membaik dan disusul tualang baru dengan orang baru. Arum dan Adrian semakin tidak berjarak, nempel terus seperti perangko. Dilema Oleh Rasa Dimana-mana Arum berada Adrian siap siaga disisiku, apalagi sekarang Mama menitipkan aku pada Adrian dalam bekerja untuk diperhatikan makanku, minumku
dan semua mandat sudah Mama percayakan pada Adrian sepenuhnya. Dipastikan keamananku berada dalam pengawasan terbaik Adrian. “Minggu ini akan kemana kita?” seru Adrian seusai pulang kerja disepanjang lorong menuju parkiran. “Aku akan ada acara penggalangan dana di Tugu Mahkuto, Ad. Kamu mau ikut?” tawarku “Boleh?” tanyanya aku mengangguk menyetujui “Tapi siang hari, kamu nggak takut gosong?” tanyaku “Iya, nggaklah cowok takut gosong Sepulang dari overtime, kan, Mbak?” tanyanya memastikan “Loh, memang kamu juga disuruh masuk sama Ibu Ayu?” tanyaku balik Dia mengangguk, “Kirain bertiga aja, sama Mbak Rosa dan Ibu Ayu.” gumamku “Kamu, kan, tanggungjawab aku pas dikerjaan. Jadi, Ibu Ayu melemburkan aku juga dong, hahaha.” candanya “Makan dulu, yuk, Mbak?” ajak Adrian “Dimana?” tanyaku “Aku hanya mampu mengajakmu di angkringan tempat biasa aku makan sama Hadi, mau nggak?” tawarnya. “Ceh! Kebiasaan, emang apa bedanya, sama-sama makan, kan?” ujarku “Ya masa iya ngajak ceweknya ke tempat angkringan.” balasnya sedikit menggodaku “Jadian kapan? Dih.” Decakku
“Tapi, Mbak nggak papa kita makan dideket rumah nenekku? Agak jauhan, tapi nanti aku anterin pulangnya “Aman, aku telfon Mamamu dulu tapi. Mau minta izin ngajak putri kesayangannya ke angkringan.” jelasnya sambil mengeklik nama Mamaku yang tertulis di ponselnya bernama “Calon mertua” aku seketika tertawa lepas, ada-ada saja tingkah polahnya Adrian ini “Calon mertua, gundulmu, Ad.” Aku sambil gelenggeleng kepala usai dia menutup sambungan telefon bersama Mamaku “Emang nggak mau?” tanyanya mulai serius “Mau apanya?” tanyaku tidak menahu maksut dari kata tanyanya ini “Jadi mantunya Ibukku?” tanyanya sambil meraih tanganku dan digandengnya “Ad, lepasin nggak enak sama yang lain.” tolakku. “Dilorong doang, nggak ada orang juga.” kekehnya yang masih menggandeng tanganku lebih erat lagi sampai keparkiran. Ia memintaku duduk di jok motorku, dia berdiri dihadapanku dan meraih kedua tanganku. Kali ini tidakannya sungguh membuat jantungku berdegup simpang-siur sangat mendalam tatapnya. Mengisyaratkan penyampaian rasanya yang kian membara untukku, serasa habis lari marathon dan aku kewalahan mengatur hembusan napasku. “Mbak, aku serius, mau nggak berbenah sama aku? Aku temani kamu berproses sampai apa yang menjadi
mimpimu tercapai?” ujarnya dengan sangat tulus dari hati. Nampak jelas binar di kedua kelopak matanya, memancarkan perasaan yang begitu tulus menorehkan cinta padaku. Segera aku berdiri dan membuang tatapan milik Adrian itu jauh-jauh sungguhpun aku tidak berani begitu larut dalam suasana ini. Cinta ini apa memang benar telah bermuara? Aku ragu, aku masih tidak punya keberanian untuk mementingkan egoku dan mengiyakan tutur batin Adrian yang menerangkan rasanya begitu gamblang diakhir-akhir pekan ini. Masih terlalu dini aku rasa, masih seumur jagung untuk menyuratkan perasaan untuk orang baru sebaik Adrian juga usianya, aku masih tidak begitu yakin. Aku akan disibukkan dengan usiaku yang semakin matang dalam hubungan yang lebih serius, dan kedua kalinya aku berfikir jika berharap lebih bersama Adrian hanya akan membebani tugas yang ia pikul. Jangkauannya masih terlalu lama untuk mengarah kesana, kita tidak sama senada. “Mbak, kok diem.” Ia menghentikanku dari balik punggungku yang membelakanginnya seperti drama-drama korea saja. Ceh! Aku berbalik dan mendekatinya satu langkah begitu lekat sampai hembusan napasnya terasa menyejukkan. Masih dengan degupan yang sama-sama memburu, sungguh aku belum bisa memastikan ini rasa cinta atau hanya sekedar kagumku atas perlakuannya padaku selama ini. Atau nahasnya, hanya sebuah rasa sayang kakak pada adik lakilakinya yang baru saja beranjak dewasa, yang sibuk
dengan pendewasaannya juga jati dirinya. Aku menamparnya pelan, “Ceh, dasar bocil.” celetukku padanya, hanya itu yang mampu terucap Dia memegangi tangan kananku yang menempel dipipinya. Dia hanya tersenyum, aku pula sedang mengukir senyuman indah untuknya. “Jadi gimana, Aurum Sekar WIdyasari? Mau nggak jadi pacarnya mas bocil Adrian?” tanyanya lagi yang justru membuatku tertawa geli “Aku serius, Arumm. Gimana, malah ketawa.” balasnya “Ad, kamu tahu, aku sangat lapar. Jadi nggak?” aku mencoba menyangkal dari kata tanya miliknya “Mbak,” rengeknya menunggui jawaban dariku “Apa sih, tunggu bentar deh, Ad.” Aku merasakan ada getaran dari saku bajuku Ada panggilan masuk di ponselku ternyata. “Ada telfon deh kayaknya.” ujarku “Mau aku ambilin ponselnya dari sakumu, Mbak?” tanyanya “Bisa sendiri.” balasku “Itu ponsel ditaruh dideket gunung emang ada sinyal, ya, Mbak?” tanyanya “Apa maksutmu?” tanyaku tidak mengerti dengan pertanyaannya barusan “Polos banget emang. Kan, Hpmu ditaru disaku, kan? Nah deket gunung, emang ada sinyal?” tanyanya sambil tersenyum nakal padaku
“Apaan sih, nggak jelas.” Aku hanya ikutan nyengir nggak paham apa maksutnya dia “Nggak tahu juga? Atau malah traveling?” tanyanya mencoba membaca tatapan mataku “Dasar mesum!” amukku memukulinya Kita berdua tertawa lepas. “Bentar, ya, aku angkat dulu.” ucapku pada Adrian yang sudah siap melajukan motornya di samping motorku yang masih terparkir. Dia mengacungkan jempolnya tanda setuju. Konflik Rentetan Silam “Halo, Ada apa menghubungiku?” “Dimana?” “Masih di tempat kerja.” “Mama di rawat dirumah sakit, dia mencarimu sedari semalam. Boleh nggak kamu nyempetin waktu kesini, biar aku yang jemput minta izin sama Mamamu.” “Aku ada perlu setelah ini, besok aku nggak bisa. Maybe aku nggak bisa.” “Tolong, aku jemput sekarang, hanya sebentar.” “Tapi, Enggar, aku nggak bisa. Aku ada urusan.” “Tunggu di kerjaanmu, aku jemput, tolong kasian Mamaku, Rum.” “Kamu egois, Nggar. Hanya mentingin urusanmu aja. Nggak pernah mikir gimana diposisi aku sekarang." Lantas aku mematikan sambungan telefon dari Enggar
Adrian mendekat dan memelukku, karena dia tahu aku hampir menangis dibuat Enggar. “Dari Enggar lagi?” tanyanya. Aku mengangguk pelan, “Apa yang ia katakan?” tanya Adrian “Dia minta aku buat nyempetin waktu menemui Mamanya yang sedang dirawat di RS, katanya beliau mencariku sejak semalam.” Aku menjelaskan pada Adrian “Kalau soal Mamanya, kenapa nggak Mbak coba besuk?” tanya Adrian. “Ini menyulitkanku, Ad.” gumamku lirih “Aku mengerti, tapi, Mbak, untuk kali ini saja. Minimal hingga Mamanya pulih, siapa tahu dengan Mbak kesana Mama Mas Enggar bisa agak sedikit membaik.” bujuk Adrian “Gue nggak ngerti sama lo, Ad. Tapi, emang aku akan egois jika hanya peduli dengan lukaku sedangkan Mamanya butuh aku disisinya saat ini. Nggak, ih, peduli banget paling Cuma akal-akalan Enggar ini.” gumamku yang ngomong sendiri dibantah sendiri “Menurutku ini beneran deh, Mbak. Ayo kesana sekarang, aku temenin.” tawar Adrian “Kamu yakin dengan ini?” tanyaku “Yakin dong, kenapa Mbak takut aka nada baku hantam?” ledeknya “Bukan itu, ah lupakan. Yah nggak jadi makan diangkringan dong sama pacar.” ucapku lirih
“Apa barusan bilangnya?” ia mendekatkan kepalanya padaku yang sudah mengenakan helm. “Nggak!” balasku sambil menggelengkan kepala Air mata tidak kuasa merintih. Sungguh aku telah menyiksa Mama Enggar hanya karena merindukan hadirku. "Maaf, Ma, membuatmu sakit.” Aku langsung memeluknya erat layaknya Mama kandungku sendiri. Kalau saja tanpa bujukan Adrian, aku masih berpengang pada gengsiku untuk tidak menemui Enggar dan keluarganya lagi. Aku melucuti segenap rasa yang pernah tergoreskan bersama putranya yang bertahun-tahun singgah hanya demi kesembuhan Mamanya. Tanpa gubris, sungguh aku tidak ingin seseorang yang berarti dihidup Enggar terluka, karena aku akan melukai dua pihak bukan hanya Enggar melainkan kebahagiaan Enggar yang terletak pada kesehatan Mamanya tercinta. Aku tidak boleh terlena begitu saja, hanya demi kesembuhan Mamanya rela mengesampingkan rasaku terhadap yang sudah-sudah. Enggar sudah tidak aka nada celah lagi disisiku untuk kedepannya, yang namanya luka mau sampai kapanpun akan terus mengoreskan pada tinta. Aku sudah tidak ada iri dengki ataupun dendam apapun, fokusku hanyalah Mamanya Enggar tidak lebih. Sekitar lebih dari 2 jam aku disana ditemani Adrian yang menunggu diluar ruangan bersama Adiknya Enggar, Prilly namanya. Dia masih sama seperti menyayangiku dengan selayaknya kakak kandungnya, apalagi kakaknya
Enggar. Kakak Difa, perlakuannya tidak ada yang berubah, terlebih Papa Enggar, ini yang semakin membuatku begitu berat untuk tidak menjalin hubungan baik dengan keluarga Enggar. Papanya masih belum terima akan ada menantu dengan nama lain selain Arum yang akan bersanding dengan putra satu-satunya itu. Hubungan baik memang akan terus aku coba untuk menjaganya, sesuai pesan Papanya aku akan terus mengabari jika aku sudah mendapatkan pengganti Enggar dihatiku. Tapi, mana sanggup aku mengabarkan hal itu bahkan Enggar saja hanya bilang kita tidak benar-benar putus dengan baik. Hanya sejenak berpisah untuk cita-cita kita masing-masing. Itu yang akan menjadi boomerang, dan aku terus-terusan terlibat pada rasa yang hampir terkubur begitu dalam karena empat tahun juga tidak sebentar untuk sekedar amnesia dengan apa yang sudah terjalin. Namun, sudahlah semesta akan menghentikan, dan tidak berjodoh akan menjadi sebuah jawabannya. “Ditemani siapa tadi kesininya, Kak?” tanya Papa yang sudah terbiasa memanggil aku dengan sebuatan Kakak untuk Difa, adik perempuannya “Sama, temen kerja, Arum, Pa.” balasku “Temennya, Arum, Om.” Sapa Adrian begitu aku dan Papa Enggar keluar dari ruangan tempat Mamanya dirawat. Sambil menyalami Papa dengan sopannya. “Maaf, ya, membuatmu menunggu cukup lama, Nak.” tutur Papa Enggar “Nggak papa kok, Om.” balas Adrian
Akhirnya kita berdua pamit, karena sudah hampir isya dan besok masih harus bekerja untuk lembur kejar tayang pengiriman barang. Dengan diantarkan Enggar hingga sampai ke parkiran RS. “Terima kasih, Rum. Aku berhutang budi banyak padamu.” kata Enggar dengan tulus “Ini semua demi kesembuhan Mamamu, jangan terlalu merasa ini adalah hutang budi.” balasku dengan dingin “Maaf, apa boleh minta waktunya sebentar?” tanyanya “Untuk apa, Adrian akan kemalaman mengantarkanku pulang.” sangkalku “Sebentar saja, tolong.” Enggar memohon dengan sangat padaku Aku menatap kearah Adrian. Ia hanya mengangguk untuk mengiyakan urusanku dengan Enggar agar segera tuntas pikirnya. Enggar langsung menarik tanganku pelan untuk agak menjauh dari Adrian. “Lepasin, katakan sekarang, apa yang mau kamu katakan?” tanyaku sambil melepaskan tarikan tangannya. Spontan Enggar memelukku dan membisikkan kalimat rindu padaku. “Hentikan!” amukku Dia masih kekeh dalam dekapannya memelukku, kali ini beriring tangis dan bisikan kata maaf yang mengucur seiring rintikan itu. “Enggar, cukup. Lepasin aku.” pelanku menepis segala yang ia lakukan untuk menahanku dalam dekapnya “Apa yang mau kamu omongin? Katakan dengan jelas, Apa kau memberiku pilihan yang sulit. Tidak ada lagi
pilihan kecuali trauma itu hilang perlahan. Kau meminta apa dari situasi ini? Kau mau aku jadi apa? Anggap 4 tahun silam adalah sebuah kesalahan?” amukku remuk redam seketika, membuat Adrian ingin sekali mendekat dan mendekapku untuk menenangkan namun ia sadar bukan keterkaitan dengannya dan ia harus ikut campur dari semua ini. “Stop! Aku tidak menganggap ini kesalahan. Dan bahkan kau bukanlah sebuah kesalahan. Kau datang kala kehancuran diriku secara moral, aku butuh kau dengan kesungguhan.” ujar Enggar “Atas dasar apa? dikirim Tuhan untuk sebaris cerita cacat dihidupmu?” angkuhku “Bukan! Yang cacat itu suasananya, kaulah yang menghadirkan sebait cerita indah kala hancur lebur bersarang.” sangkalnya “Cukup! Aku muak dengan gubahanmu. Pergilah, dan jangan tinggal dengan satu ingatanpun diotakku! Semuanya sudah selelsai.” amukku “Satu hal, semua sudah lumpuh berserakan. Jadi, jangan pecahkan kaca lagi pada dinding yang hampir retak ini.” timpalku lagi “Aku tidak cukup menahanmu dalam dekap, hal bodohku adalah membiarkanmu memeluk lukamu sendiri dan berlalu. Aku tahu kau tidak baik-baik saja kala itu.” Enggar mencoba menahanku “Itu kau tahu! Jadi jangan disisiku, karena hanya akan semakin membuatku tidak baik-baik saja.” sahutku
“Kau mau apa dengan situasi ini?” “Pergilah!” imbuhku “Mungkin aku terlalu picik untuk pergi dan tetap berada disisimu dengan baik.” ucapnya lagi “Apa lagi?! Kau mau mengulurnya sampai kapan? Semua sudah sekarat kau buat!” emosiku memuncak “Aku mau, kau selesaikan semua dari apa yang telah kamu mulai!” tahannya “Apa kata akhir tidak cukup menutup apa yang sudah termulai? Apa ketidaksetaraan kelas ekonomi masih belum cukup membuat kata pamit itu berlangsung tamat? Seperti apa yang sudah kamu katakan padaku dulu, aku terlalu bermimpi untuk mempertahankanmu yang ada segalanya, bukan?!” amukku sungguh berada diambang “Kau pengecut! decaknya “Dan kau pecundang yang sangat keren, kau mau dengar alasannya?” timpalku “Aku pikir, aku sudah cukup mengerti apa yang tidak pernah terucap darimu.” angkuhnya “Sekarang, aku pinjam kata tanyamu. Kau mau aku menjadi apa? Katakan! Aku bisa penuhi. Menjadi apa? seorang bedebah, orang yang menyebalkan atau seseorang yang paling kamu benci. Aku muak jadi pecundangmu, aku muak disuruh-suruh, Pergilah sesuka dan sebanyak yang kau mau. Bahkan inikah akhir dengan baik? Ingat, aku bukan lagi sesuatu yang pantas kau cari ketika luka itu berkabung di benakmu dan anggap ini bukanlah cerita untuk anak cucu kita kelak. Senang bertemu denganmu dan mengenalmu beserta keluargamu
yang sangat ramah padaku selama ini.” ucap ku beriring tangis menderai “Boleh aku memelukmu?” bujuknya mencoba menenangkanku dan mencoba meraih tanganku “Cukup!” tolakku “Come on, kamu hanya perlu sedikit tenang.” Bujuknya “Aku sudah cukup tenang dengan yang terjadi, termasuk mematangkan keputusan menanggalkan semua ini. Hiduplah bahagia dengan seseorang yang mampu disisimu setiap waktu, jangan aku, kau akan bosan dengan sebuah kerinduan yang bahkan lebih mendalam dari yang pernah kita rasa sebelumnya.” pamitku meninggalkannya seorang diri Aku berlalu bersama Adrian, tanpa mengubris Enggar lagi. Egonya masih sama, semena-mena dalam mengambil keputusan. Bahkan jika bersama keluarganya aku aman dan nyaman, bersamanya aku tidak menemukan sebuah kedamain lagi yang ada hanyalah ego dan angkuhnya saja. Bahkan terang-terangan dia sendiri mengakui bosan bersamaku dan membenci situasi jarak jauh kita kala itu. Lantas untuk apa dia mengambil alih seluruh hatiku lagi untuk bersama-sama? Jika dengan tidak disisinya saja akan membuat di kehilangan rasa bosan, ya sudah. Aku rasa bersamanya tidak akan kutemui sebuah akhir. “Maaf, membuatmu mengantarkanku cukup larut, Ad.” ibaku padanya
“Tidak masalah, Mbak. Are you okay?” tanyanya memastikan keadaanku “I’m fine, really.” Jawabku meyakinkannya “Besok biar aku yang jemput, ya, pagi-pagi.” ujarnya “Kejauhan, Ad.” elakku “Semua akan terasa dekat jika dengan hati yang tulus melaluinya.” ukirnya dalam senyuman seiring kata-kata itu terucap “Terserahmu, Ad.” balasku sambil geleng-geleng kepala dibuatnya. Hari-hari Panjang Bersama Adrian Pagi buta, berhias senyumnya nan membuatku semakin terperangkap padanya. Adrian datang dengan rasa yang masih melekat, ia menjemputku sedini ini. Bak sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara, lengket terus tidak ada bosennya sama sekali. Semalam baru saja bersua, pagi-pagi sekali apel lagi untuk bekerja bersama. Dunia sungguh milih berdua yang lainnya hanya ngontrak, tidak tahu mau diambil angsuran berapa tahun sekali. Hahaha, ini adalah kisahku yang konyol dan random bersama Adrian. “Kamu tahu nggak?” di perjalanan ia mengajukan pertanyaan. Apa kataku, kalau fajar kali ini tidak hangat menyapaku mungkin saja sinar surya yang berseri itu kamu yang bawa. Soalnya hangat dan menenangkan dipelukku, Mbak. Gombalan Adrian pagi ini, jalanan terasa sepi, karena memang pada dasarnya hari ini jadwalnya orang-orang
healing dari karbon kepenatan pekerjaan sedari weekdays. The real, dunia milik aku dan Adrian. Kurang tahu nanti siang, bisa saja akan macet karena berpasang-pasangan akan pergi berkencan di sabtu malam. Apa termasuk aku dan Adrian? Ceh! Jadian saja belum, sudah akan kencan saja. “Semangat bekerja, Mbak Arum, sayang.” kata terakhir dipenghujung kalimat membuatku kelabakan dan gagap dalam membalas ucapannya. Anak ini benar-benar, ingin aku menyembunyikan pipiku yang mudah memerah bak jambu kala dihadapannya dengan berjuta kalimat gombalan klasik miliknya. “Sayang, mbah lo.” ketusku “Nanti aku tunggu diparkiran aja, biar pipimu nggak merah jambu terus.” ledeknya “Apa bedanya pipi sama nunggu diparkiran?” tanyaku “Kan, kalau aku gandeng dari loker kamunya malu, iya, nggak?” tanyanya menggodaku Kita saling ledek sepanjang lorong menuju perusahaan. Tanpa disadari Mbak Rosa memperhatikan kita sejak tadi dari parkiran, sampai geleng-geleng kepala. “Pacaran terus, masih pagi juga.” sindirnya meledek “Adrian, kalau serius, ya, digasin toh masa mau digantungin mulu.” sahut Mas Jendra yang juga berjalan beriringan disamping Mbak Rosa “Dianya yang nggak mau, Mas. Tips naklukin hatinya dong, Mas.” sahut Adrian sambil menatapku “Apa?! liatinnya gitu banget.” ketusku
“Loh, Mas Jendra juga ikut overtime?” sapaku pada Mas Jendra “Buat ngawasin kalian biar nggak pacaran mulu.” ledeknya “Dih.” singkatku dan sama-sama berjalan masuk ke perusahaan Setibanya di loker dan meletakkan tas masing-masing diloker semua membubarkan diri dengan pekerjaan yang sudah dimeetingkan sore kemarin sebelum pulang supaya lemburan kali ini lebih efektif dan pulang lebih cepat. “Okay, guys, semangat hari ini setengah hati!” tutur Ibu Ayu menyemangati timnya. Lelah sekali hari ini, namun terasa singkat. Pekerjaan kami kelar dengan baik selama 4 jam kerja, waktunya pacaran sama ayang. Eh, bukan itu yang ditunggu-tunggu. Waktunya bertemu dengan team IKEMAS-ku untuk penggalangan dana yang akan dikirimkan ke Cianjur, yang bikin beda saat ini adalah aku ditemani Adrian bukan ayang, ya, hanya teman rekan kerjaan saja. “Ad, kamu nggak pulang kampung?” tanyaku memastikan “Nggak, kemarin, kan udah.” ujarnya “Kapan? Yang kemarin, kan, kamu dirumahku.” tanyaku “Minggu kemarinnya lagi.” sahutnya “Udah lama itu, Aira nggak nyariin?” tanyaku “Nyariin sebenernya, tapi sama ayang dulu deh minggu ini. Hehe.” candanya
“Besok masih ada waktu buat pulkam ketemu sama Aira. Atau pulkam sama kamu, mau nggak?” tawarnya “Nggak ah, nanti malah ditanya kamu siapanya Adrian? Sama Mamamu.” Balasku “Bilang aja calon mantumu, Buk gitu.” balasnya “Kan, mulai.” “Mbak, aku beneran mau nanyain hal penting deh.” ujarnya menghentikan langkahku yang mendahului ke parkiran. “Apa?” aku berbalik kearahnya. “Kalau aku sayang kamu boleh nggak?” tanyanya mematikan denyut nadiku seketika dan berantakan sudah alibiku Dia semakin mendekat dan menatapku sangat mendalam. Dia memelototiku, sebagai kata tanya bagaimana. Huft, aku menghela napas dalam-dalam. “Apa jawabanmu?” tanyanya yang tidak sabar menunggui jawabanku “Bukankah ini akan terasa sangat buru-buru, Ad?” tanyaku balik dan berbalik kearah parkiran berjalan perlahan Ia mencoba mengimbangi langkahku yang kecil beriring disampingku, dia mencoba mengelus kepalaku lembut. “Dih, pamali sama yang lebih tua.” sangkalku “Kan, yang lebih tua ini kekasihku. jadi nggak pamali dong.” godanya sambil merangkulkan tanganya kepundakku “Ad, jangan seperti ini, aku tidak suka.” tolakku
“Kenapa sih, Mbak? kemarin dipeluk sama Enggar mau buktinya.” Ia mengungkit pemandangan yang ia lihat saat aku dipeluk erat oleh Enggar “Itu beda situasinya, Ad. Enggar mulu dibahas.” keluhku “Apa yang beda? Karena dia mantanmu? Sedangkan aku hanya seorang Adrian si bocah tengil yang nggak seharusnya sayang sama kamu?” tanyanya “Kamu ini kenapa sih, malah jadi sensi gini.” ketusku “Kamu cemburu?” imbuhku “Kalau iya, gimana?” sahutnya dan menghentikan langkahku lagi “Lupakan, aku sudah lupa dengan kejadian semalam.” lirihku dan murung “Aku sadar diri, Mbak. Mana mungkin aku bisa bersaing apalagi sainganku masa lalumu sendiri. Berat mungkin kedepannya bagiku.” keluhnya murung “Apaan sih, Ad. Yang mustinya murung disini itu aku, bukan malah kamu. Nggak jelas emang, hih.“ amukku kesal padanya “Mbak, aku salah, ya. Maaf, kan, aku.” sesalnya “Nggak, kamu nggak salah.” Aku mempercepat laju langkahku “Maaf, ya, Mbak. Jika perasaanku ini membuatmu menjadi beban, tapi memang benar yang aku rasakan ini cinta padamu.” ujarnya begitu sampai di parkiran “Kamu ini apaan sih, dari kemarin cinta-cinta mulu. Ngelantur.” balasku agak sedikit risi
“Mbak, mungkin aku lancang. Tapi, boleh nggak, aku sayang sama, Mbak. Aku janji, tidak akan mengecewakan dan membuatmu menangis, boleh?” tanyanya “Batasan mencintai seseorang itu dapat diartikan jatuh cinta yang sesungguhnya kalau sudah lebih dari 3 bulan sampai 6 bulan, Ad.” ujarku “Kita sudah hampir 5 bulan menyemai hari-hari bersama, Mbak.” balasnya “Baru 5 bulan, kan? Nggak tahu satu bulan lagi. Kita nggak akan pernah tahu sampai sejauh mana kamu sungguh-sungguh mencintaiku, Ad.” sangkalku “ Dan bahkan ini masih terlalu dini untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku sungguh menjatuhkan hati ini padamu atau hanya sekedar perasaan nyaman bersamamu, Ad.” imbuhku menjelaskan kebingunganku “Tapi kita tidak akan pernah tahu pada akhirnya jika tidak kita mulai dari sekarang, kan, Mbak?” tanyanya “Tapi, Ad, aku nggak boleh egois. Kamu itu masih terlalu muda untukku, bahkan yang aku butuhkan adalah pria dewasa.” elakku “Aku mengakui, aku memang bocah laki-laki bagimu. Tapi, tidak ada batasan usia, kan untuk kita harus jatuh cinta? Aku siap menemani prosesmu, aku bahkan siap menikah muda jika sewaktu-waktu Mamamu meminta untukku melamarmu.” kekehnya “Ad, kamu nggak akan ngerti keputusanku. Tapi, aku nggak mau egois untuk membebanimu dengan mencintaiku saat ini. Masih ada dua orang adik dan
keluarga yang harus merasakan hasil kerja kerasmu, bahkan kamu baru saja bekerja.” ujarku “Dengerin, aku. Ini bukan penolakan, tapi akan lebih baik jika kamu memikirkannya kembali dengan baik. Aku mencari seseorang yang akan mendampingiku sampai maut memisahkan sehidup dan sesurga bukan lagi untuk bermain-main seperti cinta seorang remaja yang sedang mencari jati diri.” jelasku lagi “Kau harus tahu, aku juga mencari satu orang untuk selamanya. Aku juga tidak mau bermain-main dengan cinta, Mbak. kalau aku menemukanmu, dan bisa selamanya kenapa nggak kita coba?” balasnya “Mungkin jika aku menjawab mengalir saja, kamu akan marah, karena kamu juga butuh sebuah kepastian. Aku mengerti akan hal itu, aku tahu aku tidak punya cukup uang untuk mencintaimu. Namun percayalah, aku serius ingin membahagiakanmu dengan layak. Ayo berbenah bersama, berproses bersama? Toh kamu juga nggak buruburu menikah diwaktu dekat-dekat ini, kan, Mbak?” imbuhnya panjang lebar meyakinkanku “Kita harus pergi sekarang, teman-temanku sudah menunggu untuk penggalangan dana, Ad.” Aku menyangkal dan mengajaknya berlalu dari situasi semacam ini. “Gitu aja terus, Mbak. Gantungin aja perasaanku ini.” keluhnya Cerita Di Surakarta
Cuaca yang menyengat siang ini selama perjalanan menuju Tugu Mahkuto sangatlah terik, aku terdiam seribu bahasa dengan memeluk erat tubuhnya. “Kok diem, mana cerewetnya?” tanyanya, aku hanya diam tanpa ucap “Kok dipeluk, katanya nggak mau memelukku.” godanya lagi “Maaf.” singkatku dan melepaskan pelukan itu Selama penggalangan dana berlangsung bersama temanteman IKMAS-ku, Adrian masih setia menungguku dengan saksama dan sabar. Bahkan dia malah ikut terlibat membantu acara kami, membantu mendokumentasikan acara pula. Kami merasa terbantu, karena anggotanya bertambah satu orang. Selesai pengumpulan semua dana sekitar pukul 16.30 WIB disusul rapat kecil terlebih dahulu. Penggalangan dana usai, aku dan Adrian memutuskan untuk sekalian bermalam mingguan di Manahan sejenak lantas pulang. Kita bertiga ditemani Riski teman IKMAS-ku yang rumahnya tidak jauh dari stadion Manahan Solo. Banyak berbincang disana, malahan Adrian dengan tipe orang dingin dan cuek lebih gampang beradaptasi dengan perkenalan yang baru saja ia dan Riski lakukan. Anaknya memang fleksibel dan mudah bergaul, aku suka akan hal itu. Kita berduapun pulang karena dirasa sudah semakin malam. “Mampir kerumah Nenek dulu, nggak?” tawarnya “Memang boleh?” tanyaku “Boleh-boleh aja.” balasnya
“Bentar aja kalau gitu.” balasku mengiyakan ajakannya untuk mampir kerumah adik dari neneknya Adrian Hanya sejenak, berkenalan dan aku langsung meminta diantarkan pulang oleh Adrian karena Bang Raden sudah menanyakan kepulanganku. Hari-hari terlewati kirab bersama serentetan cerita dipenuhi oleh Adrian. Sampai waktu membumi pertemuan kita tersibak oleh pekerjaan yang semakin sibuk. “Mbak, kalau aku pergi kamu bakal kangen nggak?” tanyanya “Apa maksutmu?” tanyaku tidak mengerti “Kalau aku tiba-tiba menghilang, kamu gimana?” tanyanya lagi “Ya aku mungkin akan kehilanganmu.” balasku “Masuk yuk.” ajaknya, buru-buru sekali biasanya dia lebih suka menghabiskan waktu istirahat untuk berbincang berdua bahkan ia menahanku kalau aku merengek mengajak masuk lebih dulu. Beberapa hari ini dia nampak aneh dan berbeda. “Apa yang terjadi, Ad?” tanyaku “Nggak papa, ngantuk pengen tidur didalem bentar, Mbak.” balasnya seolah memang tidak ada masalah apapun didalam batinnya. Hari ini aku mangkir dari pekerjaanku yang sebelumnya sudah aku diskusikan dengan Ibu Ayu dan beliau mengizinkan. Tanpa bilang pada Adrian kalau aku tidak
bisa hadir menjalankan tanggungjawabku untuk hari ini. “Rum, tumben nggak berangkat, kamu sakit?” tanya Adrian lewat pesan singkat “I’m okay, Ad.” balasku “Terus kenapa nggak berangkat? Barusan aku nyariin kamu, aku makan sendirian. Sepi nggak ada kamu, Mbak.” panggilnya yang kadang udah mulai nyaman dengan sebutan nama Arum saja dan kadang ia masih kebawa kebiasaan menyebutku dengan sebutan Mbak di awal nama “Hari ini aku kuliah.” singkatku “Ini udah pulang, kan?” tanyanya “Udah dari tadi kok, aman, Ad.” balasku “Besok lagi kemana-mana minimal kabarin aku, biar akunya juga tenang saat tidak disisimu.” pintanya “Maaf membuatmu khawatir.” balasku Keesokan paginya, ada kabar yang mengandung bawang disini. Masih sepagi ini, Adrian mengatakan akan keluar dari pekerjaannya dan memutuskan untuk pulang ke Madiun karena ada sesuatu yang membuatnya memang harus kehilangan pekerjaannya di Solo. “Mbak, kalau resign harus jauh-jauh hari, ya?” tanyanya “Iya, biasanya H-3bln harus bilang dulu ke Leader masing-masing. Emang siapa yang mau resign?” tanyaku balik “Aku, Mbak.” singkatnya “Kamu? Why?” tanyaku kaget
“Aira nggak mau sekolah kalau dianter naik motor CBku, maunya motor matic katanya.” balasnya yang masih nggak masuk akal “Terus hubungannya sama kamu resign apa?” tanyaku kepadanya “Motor CB nggak bisa buat perjalanan luar kota, Mbak. Jadi aku yang harus ngalah pulang dan cari kerjaan disana.” ujarnya “Harus gitu?” tanyaku “Sama keadaannya mengharuskanku pulang ke Madiun, Mbak. Mungkin emang rejekinya Adrian udah nggak di sini.” imbuhnya “Apa yang terjadi sih, Ad? katanya kemarin pengen pindah kos sendiri biar nggak sungkan sama adiknya nenekmu. Ini kenapa malah mau resign?” tanyaku meronta nggak terima “Aku nggak bisa jelasin banyak hal sama kamu untuk saat ini, Mbak. Tapi yang jelas, aku udah nggak bisa lagi disini.” ucapnya yang membuatku bertanya-tanya Ada masalah besar apa yang membuatnya harus meninggalkan Kota ini dan aku seorang diri disini. Ini nggak adil. Baru aja nyaman, udah hampir sayang, tapi kenapa dia malah bakal menghilang. “Ayo, kantin.” ajaknya pada jam istirahat tiba “Duluan aja. Jangan lagi bersamaku, jika hanya akan pergi tidak perlu terlalu dekat dan jangan mengatakan apapun lagi padaku. Aku mudah salah paham, aku takut
perhatianmu membuatku salah paham lebih dalam tentang perasaanmu sebenarnya. Pergilah!” ucapku dingin “Aku pergi kerumah, Mbak. bukan buat ngilang atau pindah kelain hati.” sambungnya meyakinkanku “Tolong, izinkan aku pulang kerumah orangtuaku. Aku janji, bakal sering-sering ke Solo buat ketemu, kamu.” ujarnya sambil mengulum senyuman Kenapa harus begini, disaat aku benar-benar takut kehilangannya dia malah akan pergi jauh dari hadapanku. Kepergiannya terasa menyiksaku, cukup dadakan sekali bagi batinku yang sudah ketergantungan akan hadirnya disisiku “Soal ucapanmu kemarin bahkan benar hanya sebuah permainan sebelum kepergianmu, kan?” tanyaku “Kamu bilang bakal disisiku sampai kapanpun itu, kita berproses bareng disini lebih lama. Apa? bulshit!” amukku “Mbak, aku masih harus mengabdi di perguruan silatku. Aira dan Mas Wirawan sudah memintaku untuk meninggalkan rumah nenek secepatnya. Dia dalam masalah besar, makannya dia mengusirku agar tidak ikutan terbawa dalam masalah ini.” jelasnya “Ini yang nggak bisa dijelaskan?” tanyaku “Memang keadaannya sulit, akhir-akhir ini bahkan semua seakan menyuruhku untuk segera meninggalkan kota ini. Termasuk dirimu, kamu juga nggak mau, kan sama bocah laki-laki pecundang sepertiku?” sangkalnya
“Apa aku menolakmu? Aku hanya meminta sejenak waktu darimu. Kau tahu itu, dan aku yakin ini hanya akalakalanmu, kan supaya lekas menjauh dariku? Apa yang sebenarnya terjadi, Ad?” rengekku meminta penjelasan yang logis darinya “Kamu nggak akan mengerti, Mbak. Namun satu hal, perasaan ini nyata untukmu. Tapi maaf untuk disini, berada disisimu dengan baik aku sungguh sudah tidak bisa.” ujarnya berkaca-kaca Belum selesai konflik ini, bel masuk sudah dibunyikan. Rasanya waktu melambat, kesedihan berkepanjangan. Peperangan dikepalaku dan seribu kata tanya perihal Adrian benar-benar memuat konsentrasiku buyar. Tidak satupun pekerjaanku terselesaikan dengan baik hari ini. “Arum!” teriak Ibu Ayu “Iya, Bu, ada apa?” tanyaku mendekat “Ini laporanmu berantakan, kenapa?! Bahkan menuliskan tanggal barang masuk saja kamu keliru, kamu ini kenapa?” omel Ibu Ayu dan melempar semua kertaskertas laporan output-inputan hari ini dihadapanku “Akan Arum perbaiki, Bu. Maaf karena ketledoran saya hari ini.” Aku segera mengemasi dan merapikan kertaskertas yang tercecer itu “Sebelum bel pulang sudah harus tersusun rapih di meja saya, fokus makanya. Waktunya kerja-kerja bukan malah pacaran! Ngobrol kesana-kesini. Kamu itu kerja disini!” omel Ibu Ayu “Baik, Bu.” anggukku menyesali kesalahanku hari ini
“Adrian, bantu Arum menyelesaikan laporannya.” pinta Ibu Ayu kepada Adrian untuk membantuku “Bia raku bantu.” Ia segera melaksanakan perintah dari Ibu Ayu Aku menyodorkan beberapa laporan yang salah kepadanya. Tanpa sudi menatap dan banyak berbincang dengannya. Suasana dingin tercipta diantara aku dan Adrian hingga waktu bekerja telah usai, kondisinya masih sangat dingin. Tanpa ada percakapan apapun di hari ini. Aku akui, aku sedang kacau karena pamitnya yang buruburu sekali. Aku anggap ini perlu diberikan sebuah keadilan. “Biar aku yang bawa ke ruangan Ibu Ayu.” pinta Adrian dan mengambil semua laporan outpun-input barang dari tanganku “Thanks.” singkatku dan berkemas meninggalkannya yang masih mengantarkan laporan tadi keruangan Ibu Ayu “Mau sampai kapan kamu dinginin aku kayak gini, Mbak?” tanyanya di loker ketika aku mengambil tas Tanpa gubris aku mengabaikan kata tanya milik Adrian dari balik punggungku itu. “Mbak, tolong pahami situasinya.” Ia meraih tanganku dan behasil membalikkan tatapanku kepadanya “Aku sedang tidak mau berdebat, hari ini melelahkan bagiku. Permisi.” pamitku “Mbak,” Adrian mencoba menahanku
Aku mempercepat langkahku parkiran. Air mata itu sudah tumpah bercucuran, menetes diceruk-ceruk. Pelupuk mataku sudah tidak kuasa membendungnya. Perpisahan memang semenyedihkan ini? Sakit. “Adrian, tolong tinggalah lebih lama dari ini. Bahkan mana mungkin aku mampu menahanmu, sementara kamu pergi untuk bersama kedua orangtuamu.” gumamku sepanjang perjalanan pulang beriring tangis Rasanya baru saja, aku temukan sapaan tulus menghangatkan. Aku nyaman sama kamu, Ardrian, aku masih ingin bertukar canda dan tawa di sini denganmu. Aku masih ingin kamu berada disisiku dalam keadaan dan situasi terberat sekalipun, bersamamu semua yang sulit membaik. Bagaimana jika aku merindukanmu. Ini tidak adil, aku benci perpisahan, jangan hadir kalau hanya akan mengulang trauma baru. Bahkan aku gengsi mengakui perasaan cinta, yang baru kusadari yang bahkan sudah terlambat. “Kacau!” keluhku seorang diri. Kau sudah terlanjur pergi. #Pamitmu, Luluh Lantah Bagiku Aku bahkan tidak mengerti dengan keputusannya yang harus meninggalkan pekerjaan di Solo setiba-tiba ini. Bagaimana mungkin aku bisa terima? Singkat sekali Tuhan menghadirkanmu, apa masih ada kesempatan untuk kita bersua kembali? Kau berubah, Adrian. Janjimu palsu. Bahkan kau tidak dapat disisiku sepanjang waktu lagi, mana bisa aku akan bertahan disini tanpa hadirmu. Sedangkan sejak awal dimulai dari gerbang selamat
datang diperusahaan tempat kita berjuang saja berisi gumpalan-gumpalan cerita yang kita susun berdua dari pagi hingga petang hari. Diparkiran ini, tempatku menatap kosong. Satu minggu lagi terhitung dari hari ini, sudah tidak akan ada sapa senyummu dipagi hari, rajukanmu demi mengajakku makan malam selepas lelah bekerja seharian. Siapa yang akan membelaku disaat Ibu Ayu memarahiku? Siapa yang akan bilang aku ini hebat saat pekerjaanku salah? Siapa, Ad? Aku akan merintih disini menyaksikan gambaran kita berlalu-lalang disertai orang-orang sekitar yang menghiasi dan akan bertanya “Adrian kenapa?” “Kemana?” “Apa dia keluar dari pekerjaannya?” dan sebagainya yang akupun tidak akan sanggup menjawabnya seorang diri. Kantin? Parkiran ini? Coklat hangat yang kau sodorkan padaku? Dan beberapa perjalanan panjang malam mingguku bersamamu. Apa akan menjadi sebuah kenangan begitu saja, Ad? “Tahu nggak, Mbak. Ketika aku capek, dan pengen nyerah. Aku selalu inget sama kamu, yang kuliah sambil kerja aja semangatnya membara. Masa aku nggak bisa kayak Mbak Arum.” ucapnya terngiang diingatan begitu jelas “Aku kalau capek kerja, noleh kearahmu terus lihatin Mbak Arum kerepotan saat bekerja. Semangatku pulih lagi.” imbuhnya beserta candaan khasnya
“Mbak, jangan resign dulu, ya, penyemangatku di pabrik adalah Mbak Arum. Nanti kalau Mbak resign aku gimana dong.” rajuknya kala itu Namun kenapa pertahananku tidak cukup kuat saat ia pamit undur diri, ini menyedihkan. Pagi sudah menyingsing sejak tadi rupanya. Tak satupun panggilan dan pesan whatapps dari Adrian terbaca olehku, yang berulangkali membangunkanku di waktu subuh. Agar segera mandi dan berangkat pelan-pelan, hati-hati dijalan jangan lupa sarapan dan apapun itu. Hingga detik ini ia tidak lupa akan hal itu. Sungguh, aku tidak mungkin bisa melalui hiruk-pikuk di Perusahaan Genta Tama seorang diri. Adrian itu separuh dari awal kisahku disana. Bagaimana bisa berjalan sempurna kalau separuhnya dibawa lari olehnya. Nadiku bahkan berdenyut kurang baik mendengar kata pamitnya waktu itu. “Arum, udah siang, nanti kamu terlambat!” seru Mama membangunkanku, ini sudah detik-detik akhir Adrian di perusahaan. Aku bisa apa agar waktu berhenti dan Adrian lebih lama disini, sungguh aku tidak sanggup jika di perusahaan itu tanpa hadir lagi canda dan tawanya. Aku akan mengarungi sendirian. Tidak aka nada omelan yang membuatku harus mengentikan pekerjaanku dan beristirahat untuk meluangkan waktu menikmati coklat hangat dengannya lagi. Setiap sudut di PT. Genta adalah lukisan tawa dan ceritaku bersamanya. “Selamat pagi, pacar.” sapanya seperti tidak akan terjadi apapun bak sedia kala begitu aku tiba diparkiran
“Hmm.” manyunku “Kalau manyun gitu cantik.” Ia masih segan menggodaku seperti biasanya Aku hanya terdiam seribu bahasa. “Kok diem sih, Mbak?” tanyanya menghentikan langkahku “Jangan menghalangiku, minggir.” ketusku “Kenapa, matanya sembab gitu, kamu nangis lagi sepanjang malam? Jangan nangis terus, Mbak kasihan matanya.” ujarnya “Kamu, kan yang membuat tangis itu ada?” tanyaku dengan ketus “Aku minta maaf. Ini hanya sebentar, Mbak nanti kitab isa sering-sering ketemu.” bujuknya “Bunuh saja aku, Ad. Agar sebelum kamu pergi aku sudah lebih dulu pergi.” ujarku “Kalau aku bunuh kamu, terus siapa yang bakal nemenin aku disini?” tanyanya Aku diam tanpa elakan. “Kalau kamu pulang, aku disini sama siapa?” tanyaku merintih “Masih ada Mbak Rosa, Mas Wiliam. Banyak, Mbak.” balas Adrian “Tapi yang klik itu hanya kamu, Ad.” rengekku “Ad, nggak bisa lebih lama, kamu disini?” tanyaku murung sedari tadi sejak berangkat “Jangan seperti ini, Mbak. aku akan sering-sering ke Solo. Janji.” Ia menyodorkan jari manisnya padaku
“Katamu alasanmu bertahan lebih lama disini adalah aku, disaat aku sudah mulai nyaman, kenapa kamu pergi gitu aja?” rengekku “Mbak, jangan nangis, kamu tahu, kan,” omongannya terputus olehku “Kamu nggak suka air mata dan membuatku menangis?! Terus kenapa kamu malah justru pergi.” amukku “Keadaannya udah beda, Mbak. jujur aku masih ingin sama-sama disini sama kamu, tapi keadaan menyuruhku pulang ke kampung halaman. Aku bisa apa dengan situasi ini, Mbak. Tolong.” Adrian mencoba memberikan sebuah kalimat penenang padaku “Lantas, semua yang terucap, semua yang terjadi kamu buang gitu aja?” tanyaku dengan merintih “Mbak, jangan membuat aku berat meninggalkan kota ini dan segala yang pernah terjadi. Percayalah, sementara ldr dulu, ya, aku hanya pergi untuk kembali kepelukan orangtuaku bukan kepelukan cewek lain. Kamu tetap andalanku, disini, dihatiku.” Ia meraih tanganku dan diletakkan tanganku kedadanya. Kali ini, Adrian juga menahan air mata untuk tidak membuatku semakin kepikiran. “Maaf, untuk tidak bisa disisimu lebih lama, Mbak. Maaf membuatmu terluka banyak hal dalam menyikapi rasaku yang ugal-ugalan. Percayalah ini bukan yang terakhir, ini bukan selamat tinggal. Aku masih mencintaimu dengan baik, I love you, Mbak Arum.” ucapnya lembut padaku
Tinggal satu hari ini, seperti aku ingin pergi dan tak kembali lagi. Aku tidak mau Adrian melewatkanku begitu saja setelah apa yang sudah terjadi. Namun, yang akan pergi sekuat apapun digenggam akan tetap pergi bahkan saat aku mengelak, semakin aku mengelak semakin dia akan pergi tanpa aba-aba. Ceritanya sangat panjang, hadir di waktu yang singkat. Janji Yang Ditepati “Mbak, aku sudah janji mengajakmu untuk pergi ke Jogja bukan?” tanyanya dijam istirahat terakhir kalinya “Nggak tahu, aku sudah lupakan semua janji-janji itu.” ketusku tanpa sanggup menatapnya lagi “Besok sebelum aku pulang ke Madiun, aku akan kerumah menjemputmu untuk pergi ke Jogja. Boleh?” tanyanya “Kalau mau pergi-pergi aja.” singkatku “Aku masih punya hutang ke Jogja sama kamu, jadi besok aku jemput, ya, dandan yang cantik.” rayunya “Adrian, kamu nggak bisa tinggal lebih lama dari 5 bulan yang sudah terlalui? Kenapa kamu tega, siapa yang akan membelaku saat Ibu Ayu mengomeliku? Siapa yang marah saat aku tidak makan siang?” rengekku “Aku pergi tidak benar-benar meninggalkanmu, janji aku bakal ke Solo sama Bapak dan Ibuk, Mbak. Entah kapanpun itu.” lagi ia berucap janji Pagi yang kali ini menyapaku lebih dini, Adrian menepati janjinya. Kerumah dan kita pergi ke Jogja. Mungkin akan
menjadi yang terakhir kalinya kita berdua, menghabiskan akhir pekan dengan perasaan yang entah akan bertuan atau tidak kedepannya. Pergi ke Heha Sky view berdebat dengan google maps saat melewati jalanan yang berkelok dan tiba-tiba no signal. “Dihutan gini tiba-tiba kita nyasar, Mbak.” ujarnya Adrian menyeletuk kita akan nyasar, dan benar. Mapsnya hilang sinyal dan kita tersasar ditengah persawahan yang sepi dari pemukiman warga “Kamu sih pake bilang nyasar, jadi ilangkan sinyalnya.” omelku padanya “Sini-in hpnya coba.” Ia mencoba tenang “Gimana ini, Adrian.” rengekku “Tenang dulu, ganti kartu yang satunya coba. Pasti ada jalan keluarnya, udah jangan nangis kamu aman denganku.” Dia menenangkan Kita berhenti ditengah persawahan itu agak lama, ditemani gerimis yang makin menguyur basah “Hiks-hiks.” Aku menangis karena ketakutan “Arum, hei, tenang dulu.” Dia memelukku untuk menenangkanku “Jangan deket-deket, kamu, kan mesum otaknya.” usirku melepaskan diri dari dekap peluknya “Keadaan gini masih aja mikirin gituan, makin gemes deh.” Dia mengacak-acak rambutku “Ih, apaan sih!” kesalku “Ayo jalan dulu, sambil cari tempat neduh makin deras ini.” ajaknya
Dia memakaikan helm untukku, menatapku tajam dan tersenyum. “Nangis aja cantiknya, Masha Allah. Apalagi kalau senyum, beuh, nggak kuat Adrian, Makkk.” ucapnya yang berhasil membuatku mengukir senyum untuknya. “Nah, gitu dong.” Kita muter-muter, mencari jalan pulang ke arah jalan raya menuju Yogyakarta. Hujan kian lebat membasahi tubuh kita berdua, karena lupa memasukan jas hujan di motor Adrian padahal aku sudah menyiapkannya barusan. Dan Adrian malah tidak membawa jas hujan di jok motornya akhirnya kita berhenti di rumah warga yang sepi tidak ada orang sama sekali. Diemperan kita berdua berteduh, hoodie hitam miliknya sudah basah lebih dulu terkena hujan dan menembus sampai kulit tubuhnya yang makin hari makin kurus terlihat “Ad, aku takut.” lirihku yang duduk disampingnya “Jangan takut, ada aku. Dingin nggak? Sini.” Ia menawarkan pundaknya untukku bersandar “Nggak.” tolakku “Takut kalau aku grepe-grepe?” ledeknya “Sini, Mbak.” dia meraih tanganku dan menyandarkan kepalaku di pundaknya “Kamu takut dengan ucapanku waktu itu? Kalau aku nakal, perokok, pemabuk dan kalau pacaran suka grepegrepe?” tanyanya Aku mengangguk pelan.
“Sekarang udah nggak, Mbak. Kan, dapet Mbak Arum aku sembuh, hehe. Aku udah janji kediriku sendiri, kalau mau dapetin yang terbaik, ya, aku harus berbenah dan menjadi yang lebih baik lagi dari kemarin.” ucapnya dengan sejujurnya “Satu hal, Mbak. Aku bakal jagain, Mbak Arum. Nggak bakal berbuat neko-neko lagi kayak dulu. Tapi pegangan tangan boleh, kan?” imbuhnya bertanya padaku Aku hanya mengukirkan senyum untuknya. “Maaf, Mbak. Yang aku punya hanyalah motor itu aja miliknya Ibu jadi harus ngajak kamu hujan-hujanan gini kalau main. Panas, ya, kepanasan.” ujarnya sambil mengelus kepalaku lembut. Sesekali ia menggosokgosokkan telapak tangannya dan digenggamkan dikedua tanganku agar sedikit lebih hangat. “Kamu jahat, Ad.” omelku sambil memukul-mukuli dadanya. Dia memanyunkan bibirnya sampai monyong. “Kamu jahat! Aku benci kamu.” amukku lagi “Maaf, Mbak.” lirihnya berbisik dan hampir mencium keningku Aku seketika menjauhkan sandaranku dari pundaknya itu. Suasana menjadi kikuk. “Udah reda, kita jalan lagi aja.” ajakku mengubah kekakuan situasi saat ini “Let’s go.” ajaknya dan mengenakan helm dikepalaku “Pegangan yang erat, dingin soalnya, Mbak.” ia memelukkan tanganku ditubuhnya. Sekutip istimewa kenamaan Yogyakarta, judul puisi yang baik dipenghujung tatapku bersama pria terbaik yang
menyelamatkanku dari keterpurukan drama kehidupan dunia. Kenamaan Adrian, Jogja akan menjadi persinggahan terindah cerita cinta kita berdua. Bagaimana mungkin keistimewaannya membuatku jatuh cinta dengan bocah laki-laki itu, Malioboro, lagu kangen yang dinyanyikan oleh pengamen disepanjang langkah kaki kita berdua beriringan dan sate ayam dengan daun pisang turu serta menjadi pemanis malam minggu terindah yang tidak akan terlupakan bersama Adrian. Meski pada kenyataan besok dia sudah tidak ada di sini, lagi. Entah menunggu minggu keberapa lagi aku harus merindukannya dan bersulang ikrar janji untuk saling mencintai seperti sabtu malam di sini, di Yogyakarta. “Are u happy to night?” tanyanya “I’m pretty happy with u.” balasku “Mbak, aku tahu ini lancang dan bahkan aku tidak tahu bagaimana caraku mengungkapkannya. Tapi aku punya satu puisi untukmu, walaupun juga masih kalah indah dengan puisi ciptaanmu.” ujarnya “Apa yang ingin kamu katakan malam ini, Adrian?” tanyaku tidak sabaran Berhiaskan bintang nan malu-malu malam ini Masih dengan kelabu dan rasa nan memburu Izinkan aku mengutarakan isi hati Di Kota istimewa untuk orang yang tidak kalah istimewanya dengan Jogja Kenamaan Aurum Sekar Widyasari, bisakah kau menerimaku sebagai kekasih hati?
Meskipun jadian sehari besok udah ldr lagi Tapi aku tidak mau berteman sepi, dan dirundung cemburu dalam merindukanmu “Puisinya nggak indah sih, Mbak.” dia manyun “Indah kok.” balasku “Terus, gimana? Kamu mau nggak jadi kekasihku?” tanyanya “Kalau aku mau menerima, akan membuatmu berubah pikiran untuk tak pulang ke Madiun nggak?” tanyaku “Ini jawaban yang berat, Mbak.” balasnya “Ya udah, kalau gitu aku nggak mau. Masa iya jadian besok udah ldr, nggak asik.” ketusku Adrian hanya diam dan menatapku dengan air mata berkaca-kaca. Tanpa ada sepatah kalimatpun keluar dari mulutnya saat ini. Ia menarik tubuhku dan memelukku dengan erat sekali. Menitihkan air mata tersedu. “Ad, apa aku salah dengan ucapanku?” bisikku kebingungan “Mbak, nggak salah. Situasinya saja yang kurang pas dan aku yang harus pergi, Mbak.” rintihnya Kecupan Pertamaku Dicuri Olehmu Dia hanya menggelengkan kepala dan terus menangis dipundakku cukup lama hingga tangisnya terhenti. “Udah malam, kita pulang aja, Mbak. Mamamu pasti akan khawatir padamu.” ajaknya dengan perlahan melepasakan dekapan itu dan menggandeng tangan kiriku erat.
Ia kembali mengukir senyuman termanisnya, sambil tangan yang lain mengusap bekas air matanya. Beberapa menit berjalan sekitar 30 menitan, kita harus berhenti di pom bensin. Mengisi bahan bakar dan sholat isya, di mushola pom bensin itu. Adrian melepaskan helmku perlahan, dia menatapku lekat-lekat. Dia mendekatkan wajahnya padaku, terus menatap. Tanpa aba-aba kecupan manis melesat dikeningku. First kissku dicolong oleh Adrian malam ini, aku belum pernah membiarkan seseorang mencium keningku termasuk Enggar yang kekasihku sejak lama. Bahkan dia lancang memberikan ciuman itu untuk keningku malam ini, di depan mushola spbu yang masih berada di wilayah tidak jauh dari Yogyakarta. Debaran ini tidak wajar, apa benar ini cinta? Argh! Tuhan aku tidak suka dengan rasa yang membingungkan ini. “Aku marah padamu, bahkan kau lancang mencium keningku.” ketusku dan menamparnya seketika. “Pertanda apa ini, Mbak?” tanyanya “Itu ganjaran karena kau sudah mencuri first kissku malam ini!” ketusku “First kiss?” tanyanya tidak yakin, “Bukankah kekasih pertamamu sudah lebih dulu melakukan ini untukmu? Bahkan lebih dari sekedar kening?” tanyanya masih tidak percaya, aku belum pernah melakukannya bersama siapapun selain keluargaku. “Bahkan dia tidak selancang dirimu, Ad.” balasku dengan menunduk
“Bagaimana dengan jodohku kelak, jika aku sudah pernah dikecup olehmu?” keluhku “Jodohmu, kan, Adrian, Mbak.” godanya “Ini nggak lucu." Rengekku “Maaf atas kelancanganku, lagian bukan bibir, kan, Mbak.” balasnya ringan “Bahkan kau sudah berjanji untuk menjagaku dan tidak neko-neko lagi, kan?” tanyaku “Cium kening doang, kan artinya sayang, Mbak.” dia masih mengampangkan soal ini “Tapi nggak sepantasnya kamu bertindak seperti barusan, kamu sudah mencurinya lebih dulu.” dengan nada marah aku mengucapkannya pada Adrian “Sekali lagi aku minta maaf, Mbak.” ujarnya sungguh merasa bersalah akan sikapnya yang lancang barusan. Kita terdiam hingga melaju pulang, sebelum sampai belokan komplek rumahku sekitar 15menitan. Ia kembali melayangkan surat cinta berupa lisan padaku, “Mbak, mau nggak jadi pacar seorang bocah tengil bernama Adrian?” tanyanya sambil memandangi wajahku lewat kaca spion kirinya “Hanya pacar?” tanyaku lagi “Iya, pacar untuk selamanya. Biarkan aku yang ngelobby hatimu sampai akad kita tiba.” ujarnya dan tersenyum simpul kepadaku Kita sama-sama memandangi kaca spion berlukis senyuman yang saling bertukaran mesra.
“Nggak ada yang lebih romantis dari malam, ini? Minimal, ya, ditembak pake bunga apa gitu, ini diatas motor, malem-malem mana gelap jalannya. Lewat spion pula, ceh!” kerutuku “Bunganya besok, yang penting rasanya dulu tersampaikan.” ujarnya “Wahai malam, aku sayang banget sama Mbak Arum!” teriaknya sambil ugal-ugalan dijalan “Adriannn!.” Aku memeluknya erat ketakutan “Nah, mbok, ya, dari tadi dipeluk kayak gini dingin taukk.” Ucapnya dan memelankan kedali motornya. “Modus, bocil!” teriakku sambil memukul-mukul punggungnya. “Kamu nggak tidur, Mbak?” tanyanya “Nggak.” elakku “Nggak bisa nyuri-nyuri kesempatan lagi deh kayak pas dari Tawangmangu.” ledeknya “Nyuri-nyuri apa ini? Kamu ngapain waktu itu pas aku tidur?” tanyaku “Ada, pokoknya. Nana-nina.” balasnya sambil tersenyum “Kamu apain aku?” tanyaku sambil memukuli punggungnya dan sesekali mengelitiki perutnya “Mbak, geli, mbak.” dia hampir kewalahan sambil menyertir motornya Kita berdua tertawa lepas malam ini. Tak terasa jarak rumahku sudah 0km, telah sampai diujung tanduk perpisahan dengan Adrian.