The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tika Dani- Ku Kira Kau Tak Sungguh

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tikadani01, 2023-02-14 08:42:13

Kukira Kau Tak Sungguh

Tika Dani- Ku Kira Kau Tak Sungguh

Keywords: novel

Kata Pengantar Alhamdulillah, atas kesempatan yang diberikan Allah SWT kepada penulis yang pada akhirnya bisa menerbitkan karya yang bertumpuk entah sejak tahun berapa mulai dituangkan lewat sebuah tulisan ini. Dengan mengumpulkan kepercayaan diri dan banyak dorongan yang menjadi pertimbangan, untuk yang kali ini penulis mengiyakan dan lahirlah buku berjudul “Kukira Kau Tak Sungguh” yang saat ini rekan-rekan baca. Semoga dapat berkenan dan membuat kenyamanan dalam membaca, menulis masih terus berusaha memberikan karya yang lebih baik lagi. Terima kasih penulis ucapkan kepada orangtua dan keluarga yang tiada henti-hentinya memberikan dukungan luar biasa terhadap usaha yang sedang saya upayakan untuk menjadi penulis. Kepada teman-teman dan orang-orang disekeliling saya yang terlibat dalam proses terciptanya karya ini, terima kasih banyak tanpa kalian buku ini masih dalam deretan cerita yang menumpuk di laptop saya entah sampai kapan. Tidak lupa penulis ucapakan terima kasih atas waktu yang sudah diluangkan kepada para rekan-rekan pembaca yang budiman. Semoga kalian senantiasa dalam kelimpahan dan kebahagiaan.


Daftar Isi Kata Pengantar Daftar Isi Prolog First Impression Yang Buruk Kau Bahkan Sangat Menyebalkan Bukan Karena Aku Plin-plan Melainkan, Sesuatu Yang Buruk Terjadi Tradisional Vs Modern Manusia Aneh Ternyata Idaman Di Kampus Bermula Dari Sini Alvaro Sungguh Menyebalkan Semua Ini Karenamu Rupanya Kau Tak Sedingin Yang Kukira Kembali Berhadapan Dengan Manusia Dingin Kejutan Di Hari Ulang Tahunku Karena Kecerobohanku Sendiri Mulai Nyaman Pada Hatimu Yang Dingin Apa Yang Membuat Hatimu Sedingin Ini, Ar? Sikapmu Yang Kaku, Sungguh Aku Membencimu Ternyata Kita Bertetangga


Aku Merindukanmu Jatuh Cinta Padamu Masa Lalu Yang Menganggu Berhenti Peduli Padaku Lagi Tak Ingin Kau Terluka Salahkah Aku Mencintaimu Apa Yang Sedang Menganggu Pikiranmu Jadilah Yang Terbaik Tanpa Menjadi Orang Lain Kukira Kau Menyukaiku Tidak Seperti Biasanya Masa Lalu Yang Menganggu Malam Ini Pesonamu Mengacaukanku Takdir Selalu Membawaku Padamu Tetap Bersamaku Sesuatu Yang Buruk Terjadi Kopi Terakhir Untukmu Kau Adalah Cinta dan Rasa Nyaman Disisimu Lebih Lama Jangan Terluka Lagi Aku Khawatir Aku Mencintaimu Mari Kita Mulai


Apapun Yang Terjadi, Kamu Pemenangnya Demi Kebaikanmu Kembali Di Pelukanmu Tentang Penulis


Prolog Arthea, seorang anak gadis yang tumbuh dan dibesarkan oleh Eyangnya dengan budaya tradisional yang mandarah daging. Sejak kecil ia selalu digembleng untuk mengikuti apa mau Eyangnya termasuk untuk tidak mengikuti jejak orangtuanya yang terkesan brutal. Sedangkan ia sebenarnya memiliki hobi dalam dunia permusikan modern, namun yang diasah sejak kecil bukanlah jati dirinya yang sesungguhnya sehingga dia menurunkan minat dan bakatnya di dunia musik modern demi menurut pada Eyangnya. Arthea sejak kecil ia bersama Eyang, semenjak kedua orangtuanya terpisah karena suatu problema kehidupan berumah tangga. Jadi mau tidak mau Arthea harus menurut agar tidak kena omelan Eyangnya itu, toh tidak ada salahnya untuk tetap melestarikan budaya dan kebudayaan tradisional. Di dunia perkuliahan, ia bertemu cowok most wantednya kampus tempat dia menimba ilmu. Seorang bernama Alvaro, yang kata mahasiswi kebanyakan tampan, berbakat dan cool. Namun teramat menyebalkan baginya. Lambat-laun karena banyaknya pertemuan dan perdebatan diantara keduanya, membuat ada rasa yang menumpuk tumbuh dan berbunga. Inikah cinta? Sungguh. Namun, Eyangnya menentang keras hubungan ini karena Alvaro adalah mahasiswa dari kesenian modern dan Eyang Reyhadi tidak menyukai akan hal itu. Ditambah ada tumpukan keterlibatan masa lalu antara kedua orangtua Alvaro dan Arthea membuat cinta mereka penuh pertimbangan untuk dipertahankan. Semua mulai redam, hubungan mereka aman.


Terpaan hubungan mereka bertambah saat ada cita-cita yang harus Arthea buktikan pada Eyang bahwa musik modern mampu membawa besar nama seorang Arthea ini. Benar, usai banyak wejangan masuk ketelinga Arthea dan support dari berbagai pihak disekelilingnya. Hubungan Arthea dan Alvaro terpaksa berakhir. Alvaro mengakui ini berat baginya, dan bahkan ia butuh Arthea disisinya karena dia sedang tidak baik-baik saja. Namun, menyaksikan orang yang paling dicintainya bahagia dan berhasil menggapai cita-cita mungkin itu akan lebih baik. Kedepannya tidak akan ada sesal lebih mendalam, meskipun terluka bukan kepalang rasanya. Seiring waktu, karir Arthea meroket. Ia kembali dan melajutkan kuliahnya yang belum selesai di tugas akhirnya. Mengetahui fakta bahwa Alvaro tengah terluka ketika ia pergi, dan terluka karenanya, dengan berbagai kejadian yang menyedihkan dan ulasan yang terdengar dari orang-orang. Akhirnya, perjalanan cinta yang panjang dan penuh belokan ini berhasil disatukan.


Blurb “Jadi, gimana dengan tawaran Pak Wicak, kamu bersedia?” tanyanya “Lupakan Pak Wicak, mari melanjutkan rindu ini dulu. Sebab, aku masih merindukanmu.” gombalku Alvaro merangkul pundakku dan menyandarkan kepalaku dipundaknya. “Aku pula, sangat merindukanmu, Arthea.” ucapnya menatapku dari samping “Aku kira kau tak sungguh, Al.” ucapku “Bahkan saat kau meragukanku tentang kesungguhanku padamu, aku malah justru ketakutan rindu ini tidak akan bersua kembali.” ujarnya “Kau bahkan menyedihkan saat merindukanku.” ucapku


First Impression Yang Buruk Pagi menghantam tumpukan hati berulangkali dan kini menjelma petang bertajuk bintang, sayup-sayup membekukan tubuh yang terbalut kain tebal nan hangat hasil tenun khas pedesaan. Panggil saja Arthea, iya itulah namaku. Seorang cucu dari Eyang Reyhadi yang besar namanya di dunia permusikan aliran tradisional. Alasan itulah yang membuat Eyang menjadi over dalam menyiapkan masa depan untuk cucu satu-satunya ini. Eyang mengambilku beberpa tahun yang lalu dari Mama dan Ayahku karena sebuah masalah besar. Sejak kecil aku hidup bersama orangtua dan Eyangku, namun Eyang mengambilku setelah SMA. Dulu aku sudah tentram dan damai tinggal bersama kedua orangtua karena mereka tidak pernah memaksaku untuk memilih aliran seni di tubuhku. Modern atau Tradisional bagi mereka tidak perlu di perselisihkan, asalkan tidak membuatku melenceng dari sejarah dan budaya klasik. Juga asal pilihanku sesuai passionku sendiri Ayah dan Mama mengizinkan dengan ikhlas. Akan tetapi, Eyang Reyhadi tidak menyukai dunia musik yang berbau modern karena masa lalu Mama atau apapun itu persisnya aku kurang paham yang jelas Eyang ingin cucunya menjadi pewaris ketradisionalan yang beliau junjung tinggi sedari kecil. Asumsi Eyang terhadap musik tradisional yang terkesan brutal dan menyebabkan serangan jantung sudah menutup hatinya untuk merestuiku bersekolah di sekolahan tanpa ada keseniannya. Pada setiap poros bumi memutar, aku tidak terlepas dari benda bernama siter di tanganku. Siter


adalah benda yang Eyang wajibkan untukku bawa kemanapun aku pergi. Huft! Melelahkan hidup dengan beliau yang keras kepala. Sekali di bantah, beliau sudah akan menghukumku dengan sadis. Suatu hari kala itu aku pergi ke Bali, bukan untuk menemui Mama dan Ayah melainkan mengantarkanku melaksanakan kompetisi musik tradisional di sana. Bagaimana bisa aku bertahan untuk menuruti kehendak Eyang yang terkadang terlalu keterlaluan untuk cucu sepertiku. “Gue hanya akan menunggu waktu untuk terlepas dari kekangan beliau!” batinku Sonia dan kedua sahabatku sudah tahu keadaanku sedari aku memasuki dunia perkuliahan dengan jurusan yang sama dengan mereka. Meskipun berbeda kelas, Anak seni musik Tradisional telah mempertemukan kami berempat di ruangan latihan karawitan. “Ray, lo kenal dengan anak seni Terapan yang bernama Alvaro?” tanyaku pada Raya di penghujung latihan “Oh, Laksamana Alvaro? Dia seorang gitaris The Arrogant, Ar.” Balasnya santai sambil memainkan serulingnya “Bukannya dia seorang vokalis di band nya?” sahut Fenta “Iya, dia seorang gitaris sekaligus vokalisnya Fen.” Balas Raya “Lo tahu yang mana dia?” tanyaku “Tahulah, Ar.” Sahut Sonia “Lo temuin dia ya, katakan kalau pak dekan mencarinya.” Balasku


“Lo aja, males gue!” tolak Raya “Kenapa? Orangnya galak emang?” tanyaku agak mereinding “Nggak galak, tapi dia terlalu keren. Takutnya pas gue nyamperin malah di kacangin, Ar.” balas Raya “Lo aja Ar, temuin dia.” sahut Fenta “Iya, Ar. Tuh mumupung dia di sana.” sahut Sonia sambil menunjuk Alvaro yang sedang berdiri di lobby “Tapii.” sangkalku terbata “Udah sana, keburu Pak Wisnu marahin lo.” paksa Fenta sambil mendorongku “Huft! Kalau gitu kalian tunggu gue ya.” balasku sambil menghela nafas memberanikan diri “Iyaaa.” seru mereka Aku berjalan dengan cepat untuk menemui Alvaro, sesuai perintah Pak Wisnu kemarin usai kegiatan kampus. “Tu-tunggu!” seruku menghentikan Alvaro yang akan melangkah “Kenapa?” tanyanya sok keren “Lo yang bernama Alvaro?” tanyaku “Kenapa? Lo mau berfoto dengan gue.” balasnya songong “Apaan sih, ge er! Lo di panggil Pak Wisnu di ruangannya sekarang.” Balasku separuh kesal “Oh,” singkatnya dan pergi


“Ceh! Jadi ini yang dibilang anak-anak keren!” batinku dan pergi menemui Raya “Klinggg....Klinggg...Klinggg!” dering ponselku “Halo, Ray kenapa?!” balasku kesal dengan cowok sok keren itu “Lo ditunggu Pak Wisnu di ruangannya.” balasnya dari sana “Oh, Baiklah. Kalian duluan aja.” balasku langsung menutup sambungan telfon dari Raya dan berlari keruangan pak Wisnu “Tok...Tok...Tok!” aku mengetuk pintu ruangan beliau sambil mengatur nafas yang memburu “Masuk!” seru beliau “Bapak memanggil saya? Apakah Alvaro belum datang, Pak? Bahkan saya sudah memberi tahunya untuk segera tiba di sini.” jelasku dengan gugup “Dia sudah di sini, jadi masuklah. Saya ada perlu dengan kalian berdua.” balas Pak Wisnu dengan tersenyum “Oh, baiklah Pak.” balasku agak malu begitu melihat Alvaro sudah duduk di hadapan beliau dan berjalan mendekati bangku sebelah Alvaro “Jadi, maksud dan tujuan saya memanggil kalian ke sini untuk meminta bantuan pada Alvaro dan juga Arthea,” tutur Pak Wisnu “Apa itu Pak?” tanyaku kepo “Baiklah, kalian tahu bukan siapa Ibu Calista? Beliau membutuhkan biaya yang cukup banyak untuk pengangkatan penyakitnya. Nah, saya mengenal kalian berdua pandai


bermain musik di jurusan masing-masing. Saya minta malam ini, kaian ajak personil kalian untuk mengadakan konser amal di cafe Candeline. Ingat malam ini, jadi Bapak mohon persiapkan dengan sekarang karena lusa Ibu Calista akan menjalankan operasi. Lakukan yang terbaik.” jelas Pak Wisnu “Baik, Pak.” balas ku dan Alvaro Kau Bahkan Sangat Menyebalkan Pukul 20.00 WIB, konser amal untuk Ibu Calista di laksanakan. Aku dan personilku sudah lebih dulu memainkan alat musik tradisional. Saatnya band Alvaro “TheArrogant” unjuk gigi. Menunggu lama Alvaro yang tak kunjung berada membersamai Bima, Atta dan Gerand. Aku jadi gemas sendiri, sorak-sorak heboh para fans Alvaro penuh antusias menyebutkan namanya. Hingga begitu membisingkan gendang telingaku, semakin di tunggu akan semakin membuatku geram. Sedangkan aku harus segera memberikan sumbangan itu ke RS malam ini juga. “Ceh! Brengsek lo Alvaro!” batinku sambil mengepalkan tanganku “Arthea! Lo aja, Alvaro tidak akan datang malam ini!” seru Atta yang juga merasa kesal dengan Alvaro “Gue?! mana mungkin, Ta!” balasku setengah berteriak “Pasti bisa!” balas Atta mantap dan menarikku keatas panggung Dengan kecemasan dan keringat dingin berdiri tepat di hadapan fans Alvaro, aku takut setelah malam ini akan ada mala petak nan menghujam hebat tepat di dasar hatiku. Dengan pedenya aku mulai bernyanyi lagu sebisaku, benar saja. Sepanjang lirik yang aku lagukan di cafe candeline itu


menuai hinaan dari para fans yang berantusias melihat penampilan Alvaro malam ini. “Ceh! Setelah ini, gue tidak akan mengampunimu!” geramku dalam batin seiring cercahan yang tidak karuan melejit di telingaku “Maafkan kami atas nama Alvaro, Ar,” ucap Bima seakan turut merasa bersalah padaku “Hem,” singkatku dan mengemas siter lalu pergi berlalu dari tempat itu Halte bus sudah sangat gelap, aku harus buru-buru ke tempat Ibu Calista sebelum jam besuk usai. Tapi, bus tidak kunjung datang sesuai kehendakku. “Ayolah, bus datanglah jemput aku disini.” Batinku sambil mengecek jam di tanganku dengan gelisah “Permisi, anak muda,” sapa om-om yang tiba-tiba berdiri di samping halte tempatku duduk “Om, anda tidak bermasud buruk terhadap saya bukan?” tanyaku dengan sepontan langsung berdiri dan celingakcelinguk mencari pertolongan “Aish! Saya tidak seperti yang ada di pikiranmu.” balasnya sambil bersandar di penyangga halte sambil menyakukan kedua tangannya “Kau bukankah yang bernyanyi di cafe barusan?” tanyanya sok basa-basi “Oh, Om ikut membeli tiket dan menyaksikan kami?” tanyaku balik “Hem.”


“Maaf Om sudah berfikir buruk tentang anda, terima kasih sudah menyaksikan konser kami.” Balasku “Saya orang baik bukan?” Om-Om itu menggodaku sambil tersenyum “Itu apa?” imbuhnya bertanya padaku “Oh, Ini Om?” tanyaku balik memastikan bahwa yang di tanyakan Om itu adalah siterku “Iya, itu apa?” tanyanya “Ini alat musik tradisional dari Jawa Tengah yang bernama siter, Om.” Balasku “Saya tahu itu. Jelaskan sedikit tentang siter itu.” balasnya sok tahu dan malah memintaku menjelaskan tentang siter “Kata anda sudah tahu, tapi malah menyuruhku menjelaskan tentang siter,” aku menggodanya sambil tertawa “Hanya basa-basi saja, sudah jelaskan saja.” “Baiklah, Siter memiliki bunyi yang distel dengan nada pelog dan selendro. Cara memainkan siter sendiri dipetik, Om. Alat musik siter ini biasa digunakan untuk mengiringi acara-acara penting seperti pagelaran wayang kulit, acara hajatan dan masih banyak lagi. Alat musik ini harus ada temennya, Om. Seperti yang dibawa temen-temen saya tadi, seperti Gong, Seruling dan Ketipung.” Jelasku “Om, maaf busnya sudah datang. Saya harus pergi sekarang juga, permisi Om.” Imbuhku berpamitan begitu bus tiba “Oh, ya!” seru Om itu mengiringiku masuk ke dalam bus


Malam yang suntuk dan melelahkan, bukan lelah dengan konser amal barusan atau lelah karena harus menyempatkan diri menemui Ibu Calista di RS melainkan lelah oleh Alvaro. Dia benar-benar menguras kesabaranku, dia juga sudah menjatuhkan harga diriku malam ini. “Ibu, anda belum tidur malam ini?” tanyaku begitu masuk ke ruangan Ibu Calista “Em, kamu datang hingga larut seperti ini?” tanya Ibu Calista lirih “Iya Ibu, sesuatu yang buruk mengusikku malam ini. Oh, iya. Ini untuk, Anda.” Balasku sambil menyodorkan amplop cokelat untuk beliau “Apa ini?” “Untuk membantu Ibu, kami sudah mengumpulkannya dengan baik. Jadi anda harus menerima, anda juga harus sembuh.” Balasku menguatkan Beliau hanya menganggu lirih dan tersenyum. “Saya sudah tidak sabar menemui beliau di kelas, Ibu Zuli membuat gaduh anak-anak karena fokus menggoda dosen muda itu, Ibu.” Imbuhku sambil mengenggam tangan beliau erat sambil tersenyum Tiba-tiba Ibu Calista menutup matanya dalam sekejam. Genggaman tangannya sudah lemah tanpa respon, wajahnya pucat. Aku panik dan kebingungan mencari dokter untuknya. Semesta berkehendak lain, Ibu Calista meninggal dunia malam itu juga. Beliau dosen sekaligus dekan ku yang baik dalam mengajar, menasihati ataupun menegur. Aku


merasakan kesakitan menyaksikan kepergian beliau. Aku gagal dalam konser amal untuk Ibu Calista, aku terlambat datang. “Hiks..Hiks.” derai tangisku terisak hebat seusai keluarga Ibu Calista datang dan memintaku segera pulang untuk beristirahat “Kamu sudah melakukan yang terbaik.” Tutur Om-om yang di halte tadi menepuk pundakku menguatkan “Om?!” tanyaku agak terkejut “Tenanglah, Ibu Calista beliau teman saya.” balasnya Aku hanya menangis dan terus menatapnya ragu “Kau ragu dengan pernyataan saya? Aish! Saya mengenalnya karena kami menjadi Dosen di kampus yang sama.” Imbuhnya “Om seorang dosen?” tanyaku tidak percaya sambil mengusap air mataku “Tentu saja.” balasnya mantap “Saya tidak melihat Anda di kampus sebelumnya?,” tanyaku masih ragu “2 tahun yang lalu saya pergi ke korea. Di sana, Om seorang coach vokal artis-artis top di sana. Kamu tahu Super Junior, kan? Dia yang melatih dance dan vokal saya. Kamu tahu Lee Min Hoo?” jelasnya sambil menggodaku “Tentu saja saya tahu, Masa sih Om?” tanyaku ragu sambil tertawa “Wah-wah, kau meragukanku.” balasnya


“Percaya deh, Om kenapa anda kembali menjadi dosen? Bukankah di korena anda sudah terkenal dan kaya rasa,” tanyaku menggodanya “Saya kembali ke Indonesia untuk Pak Rektor, beliau meminta saya untuk menjadi pelatih para partisipan acara tahunan kampus. Yakni ulang tahun kampus yang ke 50 tahun.” jelasnya Bukan Karena Aku Plin-plan Melainkan, Sesuatu Yang Buruk Terjadi Alvaro prov Semalam aku tidak datang ke acara konser amal, pasti anakanak sudah menungguiku dengan kecewa. “Ga, apakah Bima ada di kelas?” tanyaku pada Dirga teman sekelasnya Bima “Oh, ada dikelas dia.” Balas Dirga “Tolong panggilkan, ya?” pintaku “Sebentar,” balasnya dan masuk memanggilkan Bima untukku “Ada apa, Alvaro?” tanya Bima menemuiku di depan kelasnya “Lo tahu Arthea?” tanyaku “Kenapa? Dia marah karena lo tidak datang semalam.” Ketus Bima “Berikan ini untuknya.” Aku menyodorkan amplop cokelat di tangan Bima dan berlalu


“Al, dia jurusan seni tradisional kelas B.” Teriak Bima dan mengembalikan amplop itu padaku “Yang punya urusan lo, jadi temu saja sendiri.” Imbuhnya dan masuk kekelas “Ceh!” decakku “Good job, Alvaro!” ledek Bima menoleh dari jendela Aku datang untuk meminta maaf, aku mengaku salah sudah meninggalkan konser amal dan tanpa memberitahu. Seorang laki-laki yang di gubris adalah ucapannya, jadi aku harus membenarkan presepsi buruk yang menjadi-jadi di pikiran Arthea. “Ceklek.” Aku masuk ke ruangan tempat Arthea latihan “Ini untuk menggantikan semalam, gue minta maaf.” singkatku sambil menyodorkan amplop cokelat itu di samping siternya “Apa yang mengundang lo kemari?! Maaf dan uang mu sudah tidak berarti lagi!” amuknya “Gue mengaku salah, jadi ambil amplop itu untuk menggantinya.” balasku dengan bersimpuh di dekatnya dan menyodorkan uang itu kembali “Gue nggak butuh uang lo!” elaknya sambil melempar amplop dariku “Bahkan lo benar-benar tidak merasa bersalah! Gue tidak butuh lo di sini, jadi pergilah! Lo disini atau tidak disini, sama sekali tidak bisa mengubah keyataan! Pergilah!” amuknya dan merintih sesak didadanya


“Lo pikir, dengan seperti itu membuat lo keren di mata gue?! NGGAK! Seorang Arthea tidak akan sampai hati dengan ini!” imbuhnya menatapku dan menepuk-nepuk dadanya dengan angkuh “Oh! Lo pikir Laksamana Alvaro mudah di taklukan?!” balasku dengan angkuh karena sudah geram melihat Arthea yang benar-benar melukaiku yang berniat baik-baik padanya “Kita duel!” tantangku menatapnya “Oke, Fine!” balasnya menyalamiku mantap “Kalau lo kalah, harus bersedia melakukan apa yang setiap kali gue suruh. Kapanpun, dimanapun, selama satu bulan!” balasku “Kalau lo yang kalah, lo harus bersedia menjadi budak gue dalam waktu 3bulan!” balasnya “Oke, gue tunggu lo di lapangan jam 10.00!” balasku “Oke, Deal!” balasnya dan kami bersalaman “Bersiaplah menerima kekalahan!” sindirnya “Lakukan saja yang terbaik!” sahutku dan berlalu darinya Dengan emosional dan antusias, aku datang ke tempat latihan band ku dan mengabarkan ini pada yang lainnya. “Band kita akan duel besok pagi jam 10.00 di lapangan utama dengan Artbridge!” ucapku dan langsung meraih gitar “Untuk apa?!” tanya Gerand bingung “Untuk membuktikan bahwa The arrogant tidak lemah!” balasku


“Lo pasti sedang berdebat dengan Arthea, kan?” tanya Bima “Lo harusnya menolak tantangan ini!” seru Gerand “Iya, Al. Lo harusnya jangan cari ribut pada mereka, karena mereka dan anak seni tradisional sedang kacau.” Sahut Atta “Maksud kalian?” “Dekan seni tradisional, Ibu Calista meninggal dunia semalam sekitar pukul 11. Sonia yang memberitahu kami barusan.” Balas Bima “Lo bercanda, Bim?” tanyaku terkejut “Seriuslah! Kematian dibuat bercanda!” balas Bima Tradisional Vs Modern Pagi yang dingin untuk memulai hari, kekampus berbindang dengan kawan-kawan sedikit candaan dan berlatih hingga petang. “Hoam” aku terbangun dan menutup kantuk yang memalaskan tubuhku ini. Suara gemercik air menyegarkan kepenatan ini, secercah hilang ingatan aku harap tepat pada topik mengenai kekesalanku dengan makhluk dingin dan sok keren bernama Alvaro. “Gue akan memusnahkan lo hari ini!” batinku seiring berjalan ke kelas “Artbridge number one!” seru Adib ketua mahasiswa seni tradisional “Artbridge!” serunya di ikuti semua mahasiswa tradisional seangkatanku menggiring hingga ke lapangan Di hadapanku ada kubu Alvaro dengan antusias yang serupa di kubuku. Dia menatapku tajam seakan mengisyaratkan


sebuah sesal di kedua bola matanya. Dia mendekat dan berucap “Maaf untuk yang kemarin.” Ucapnya terasa berat “Kita tunjukan saja di sini!” balasku dengan angkuh “Oke, Guys! Kita mulai pertandingan antara Artbridge dan Thearrogant!” seru Iqbal MC yang memandu kami “Arthea, are you ready?!” “I’m ready!” “Alvaro, are you ready?” “Of course!” “Baiklah, jadi nanti aku akan melemparkan koin 1000 ini. Arthea, kau pilih angka atau garuda?” “Garuda!” “Angka untuk Alvaro, ya,” “1,2,3” Iqbal melemparkan koinnya “Di sini menunjukkan gambar garuda. Jadi, Arthea silahkan. Tunjukkan yang terbaik!” Aku memainkan siter itu dengan lihai beriring sorak-sorak dari mahasiswa seni tradisional. Di awal mulus dalam petikannya, pertengahan ada hal buruk mengecam. Senar ketiga siterku terputus. Kubu dari Alvaro menyoraki dan mentertawaiku habis-habisan, aku pun mundur teratur. Alvaro kali ini hanya dia tanpa menampilkan tampang sok kerennya, dia hanya memainkan gitar dengan elegan dan tentu saja memukau usai penampilanku dengan siterku.


“Oke, Guys!” “Sudah jelas ya, pemenangnya siapa?!” “Pemenangnya adalah Alvaro!” Kerumunan di lapangan memudar, aku akan pergi dengan cepat dari lokasi itu. Aku benar-benar akan mati ditelan bumi untuk yang kali ini. Setelah semalam suntuk, dipermalukan di cafe candeline untuk kedua kalinya kerena Alvaro aku menanggung malu. “Setelah kelas Ibu Nova, gue akan pulang.” Batinku dalam lamunan “Arthea!” panggil Ibu Nova mengagetkanku “Emm, Maaf Ibu.” Balasku terbata dan malu karena menjadi pusat perhatian satu kelas “Maju ke depan, mainkan sitermu.” Pinta beliau “Maaf, Ibu. Boleh saya meminjam siter yang lain?” “Kenapa dengan sitermu?” “Senarnya putus satu Bu.” “Neli, pinjamkan milikmu.” Terlaknat! Hari ini aku kacau parah. Aku linglung akan kekalahan. “Kling...Kling...Kling.” dering ponselku “Hallo,”


“Arthea, gue dan Bima terjebak di cafe Barbie karena dompet ku tertinggal di rumah. Bima tidak membawa uang sepeserpun,” “Gue kesana sekarang.” Aku menutup sambungan ponsel dari Sonia dan pergi ke cafe Barbie untuk membantunya. “Terima kasih, Ar.” ucap Sonia “Iya, Arthea. Gue dan Sonia berhutang budi padamu.” sahut Bima “It’s okay, gue tidak akan melakukan ini untuk kedua kalinya.” Balasku sambil berjalan beriring keluar dari cafe “Alvaro, lo terlambat datang!” seru Bima begitu melihat Alvaro berada di depan cafe “Sonia menghubungi Arthea, dia membantu urusan kita berdua.” Imbuh Bima “Oh, baguslah kalau gitu.” Singkatnya “Sonia, gue antar lo pulang, ya,” tanya Bima pada Sonia “Lalu Arthea?” tanya Sonia mengkhwatirkanku “Arthea biarkan Alvaro yang mengantarkan, lo pulang bersamaku saja.” Sahut Bima “Ya udah deh kalau maksa, Ar gue duluan ya,” balas Sonia “Oh, Oke.” singkatku “Daaa!” serunya dan melambaikan tangan “Lo tidak pulang?” tanya Alvaro dengan ketus


“Iya ini gue mau pulang!” balasku dengan ketus juga “Maaf untuk konser amal itu.” ucapnya saat aku mencoba melangkah “Oh, semua sudah berlalu. Bahkan kita tidak bisa merubah takdir.” balasku pasrah “Maaf baru mengetahuinya sekarang.” balasnya seolah merasa bersalah “kalau boleh gue nanya ke elo kenapa tidak datang malam itu, lo akan menjawabnya?” tanyaku ragu “Adik gue sakit semalam, nyokap gue belum pulang dari kantornya.” balasnya “Oh, semoga adik lo lekas pulih.” balasku “Hmm.” singkatnya “Rumah lo dimana?” tanyanya “Di depan sana, gue bisa pulang dengan bus jadi lo tidak perlu mengantarkan gue pulang.” balasku salting “Ge-er, gue cuman nanya. Rumah gue berlawanan dengan rumah lo.” balasnya seolah enggan mengantarku pulang “Oh, gue nggak nanya.” balasku dengan nada tinggi “Syukur deh, sono pulang!” ketusnya “Em, Al. Soal tadi pagi gue ngaku kalah dari lo.” balasku terbata “Kalau senarnya tidak putus, lo adalah pemenangnya.” ujarnya pasrah


Manusia Aneh Ternyata Idaman Kampus Pagi kembali berporos dari sudut ketimuran sinar sang surya, aku terbangun merenungi kekalahan pagi kemarin. Enggan untuk berangkat kuliah namun melihat jadwal ada kelas dari Pak Arya. Terpenggal sudah kantukku kali ini, terbelalak dengan tergesa pergi menuntut ilmu. Aku bersungguhsungguh menghindari amarah dari Pak Arya, karena lusa aku sudah di amuk karena terlambat 20menit. “Ceklek.” Ku buka pintu kelas perlahan dan masuk diamdiam tanpa sepengetahuan Pak Arya “Arthea!” panggil Pak Arya, seketika gemetar menyelimuti. “Mampus lo, Ar!” batinku, “Saya Pak.” Aku menanggapi panggilan beliau dan mengangkat tangan kananku “Maju ke depan.” pinta Pak Arya “Baik, Pak.” “Mainkan sitermu.” Tutur Pak Arya, huft! Seketika lega napasku Aku maju kedepan dan mengatur napas yang tersenggal barusan. Memainkan siter dengan baik dan tenang. “Bagus, kembalilah.” “Baik, Pak.” “Wafid, bangunkan dia,” pinta Pak Arya pada Wafid untuk membangunkan mahasiswa di sampingnya yang tertidur di kelas “Bro, bangun.” Wafid membangunkan


“Apa?” tanyanya kaget “Kamu bukankah mahasiswa seni modern di kelas F?” tanya Pak Arya saat di terbangun “Iya Pak. Di sini saya ada kelas tambahan.” balasnya “Loh, Alvaro?” batinku terkejut “Perkenalkan siapa namamu?” “Saya Laksamana Alvaro dari kelas modern F. Terima kasih.” “Baiklah, sekarang jelaskan bagaimana Arthea memainkan siternya tadi di depan kelas. Lalu terangkan sedikit mengenai siter.” “Alat musik siter berasal dari Jawa Tengah, cara memainkannya dipukul,” “Haha, Siter dipukul?” seru anak-anak satu kelas mentertawai Alvaro “Diam, anak-anak.” “Alvaro, perhatikan! Siter cara memainkannya dengan di petik, kamu seorang gitaris? Bagaimana gitar mu bisa berbunyi?” “Iya, Pak. Di petik, Pak.” “Nah, siter serupa dengan gitarmu bedanya kalau gitar adalah alat musik modern yang memiliki bunyi yang distel dengan nada-nada seperti A minor dan E mayor. Sedangkan siter alat musik tradisional Jawa Tengah, bunyinya yang distel dengan nada pelog dan selendro. Alvaro mengerti?” “Saya mengerti, Pak.”


“Sekarang pertanyaan untuk Arthea, jelaskan mengenai alat musik slenthem?” “Slenthem dimainkan dengan cara dipetik, fungsi alat musik slenthem sendiri untuk membawakan kesan dengung pada tiap gamelan yang di bunyikan suaranya, Pak.” “Benar, Alvaro lain kali perhatikan penjelasan saya, ya,” “Baik, Pak.” “Demikian kelas saya hari ini, jangan lupa tugas di kumpulkan besok lusa. Tetap semangat dan belajar dengan baik, ya,. Permisi.” “Baik, Pak.” Jarum jam menunjukan pukul 09.00 pagi. “Anak-anak mana sih?” gumamku sambil mencari keberadaan Sonia, Fenta dan Raya. “Mungkin mereka ada kelas di jam ke 2.” Gumamku lagi dan berjalan pasrah di lobby kampus. Berjalan menunduk adalah kesukaanku di kala lelah. Tanpa mengubris yang berlalu-lalang setiap kali menemuiku berjalan menunduk, aku hanya melaju tanpa ingin ditanya siapapun yang melihatku seperti ini. “Hey, Arthea!” seru seseorang setelah berpapasan denganku, Aku tidak peduli siapapun dia tanpa menoleh dan melanjutkan langkah begitu saja. “Kau bahkan tidak melihat siapa yang meanggilmu!” serunya lagi, langkahku berhenti “Jangan menunduk, angkat kepalamu, fokus kedepan dan tersenyumlah.” pinta Pak Wicak


“Oh, Pak Wicak maafkan saya.” balasku begitu menoleh ke arah beliau “Bocah satu ini.” balas Pak Wicak sambil mengacak-acak rambutku “Aish! Pak Wicak!” teriakku kesal, di kejauhan nampak Ibu Zuli memperhatikan percakapan aku dengan Pak Wicak yang begitu hangat “Ibu Zuli.” sapaku, dia hanya tersenyum dan pergi untuk mengajar “Oh, iya ini untukmu.” Pak Wicak menyodorkan sesuatu padaku “Ini apa Pak?” tanyaku sambil membaca cover kertas yang terjilid rapih itu “Skrip perayaan ulangtahun ke 50 kampus. Bacalah dengan baik dan renungkan itu.” balasnya “Aish!” “Sudah, saya harus memberikan poster ini pada Pak Rektor. Dan kau, saya menaruh harapan atas ini.” Pak Wicak menggodaku sambil mengacak-acak rambutku “Saya akan memukul anda jika terus mengacak-acak rambutku dan menggodaku seperti ini.” balasku dan tertawa sambil merapikan rambutku “Dan saya melakukan hal yang sama dengan mudahnya.” Beliau mengacak-acak kembali rambutku dan berlalu dengan tertawa “Pak Wicak, anda menyebalkan!” kesalku padanya


Alvaro Sungguh Menyebalkan Aku berjalan sempoyongan membawa siter yang memberatkan. Kalau bukan untuk Eyang sudah pasti aku berlatih dance dan bernyanyi sesukaku. Sudahlah, ini sudah menjadi garisku kalau tidak begini tidak mungkin aku dapat bertemu Sonia dan yang lainnya. Sesal pun tidak akan cukup untuk meluluhkan Eyang Reyhadi. “Oi!” seru seseorang dari kejauhan dan mendekat “Apa?!” ketusku sesampainya Alvaro di hadapanku “Berikan ponselmu!” “Untuk apa?” “Rewel, mana!” paksanya menarik ponselku dari genggaman eratku “Kau!” gerammku, dia mendial nomor di ponselku entahlah nomor siapa yang di simpannya “Nomor lo sudah masuk di sini. Saatnya lo menebus kekalahan lo.” Ucapnya sambil menyodrokan ponselku “Gue akan menghubungi lo kapanpun dan dimanapun yang gue mau. Bersiaplah untuk itu.” imbuhnya berbisik dan lalu pergi “Fuck!” amukku menyaksikan dia berlalu jauh dariku “Ceh! Bahkan gue tidak dapat pulang lebih dini gara-gara makhluk dingin dan sok keren itu” gumamku kesal “Kling..” “GUE MELIHAT LO!” pesan dari Alvaro


“Ceh! Bahkan dia seorang dukun beranak 10. Hemmm!” geramku usai membaca pesan dari Alvaro sambil celingukan mencari keberadaan makhluk sok keren itu “Aish! Gue benar-benar akan menjadi gila.” gumamku sambil mengepalkan kedua tanganku saking kesalnya begitu menemukan keberadaan Alvaro di balkon sana Menyaksikan aku uring-uringan dari kejauhan, dia malah berlagak sok keren. Menampilkan senyuman yang menurutnya bikin kaum hawa klepek-klepek. Ingat, kecuali aku. Sebab aku benci dia. Aku harus kembali kekelas untuk mengikuti kelas dari Ibu Dosen muda. Ibu Zuli, seorang Dosen sekaligus Dekan untuk jurusanku. Beliau sangat cantik dan membuat kaum adam di kelasku berisik menggodanya. Memang, penampilannya yang begitu elegan dan tinggi ramping berhasil membuat seorang Fahrin iri. Secara Fahrin secantik itu, kek barbie menurutku. Kedatangan Ibu Zuli ternyata mengusik damainya. Kalau aku sih biasa-biasa saja. “Hoam.” Kantukku “Kling.” Notif pesan masuk “Gue mau capuccino, sekarang!” pesan dari Alvaro “Bagaimana ini. Emm.” Batinku bingung harus beralasan apa untuk keluar dari jam perkenalan Ibu Zuli “Bu, izin ke toilet.” Ucapku setengah berteriak sambil mengangkat tangan kanan ku meminta izin “Silahkan,” balasnya “Terima kasih, Bu.” Balasku dan langsung membeli 1 cup kopi di cafe Ananta yang ada di sebrang jalan


“Kling.” “Lama sekali!” “Aish! Tidak sabaran sekali rupanya.” Gumamku dan mempercepat langkah untuk sampai di balkon “Ini kopi pesanan anda pangeran kodok.” Ucapku begitu sampai di balkon sambil menyodorkan kopi itu “Apa?!” “Mas Alvaro. Hmmm,” balasku sambil pasang muka nyengir “Good job!” balasnya sambil meneguk kopi itu “Mana, 28.000 untukku.” Aku menyodorkan tanganku “Kembali 2ribu,” “Yah, gue nggak ada kembalian. Besok, cukup bayar gue 26.000. Oke,” “Serah lo.” “bye!” Pagi beranjak mesra dengan burung kenari milik tetangga. Embun berkabut sepoi-sepoi menyalami tubuh yang hangat oleh depakan selimut. Kantukku masih terasa memberatkan mataku untuk melek. Kepalaku masih belum netral untuk diajak berpikir sepagi ini. “Klinggg...Klinggg...Klinggg!” dering ponselku sudah membisingkan telingaku saja “Aish! Bocah ini!” keluhku begitu melihat nama Alvaro yang sedang memanggil “Hmm,”


“Gue ada seminar di kelas Pak Pranoto, datanglah untuk mengabsenkan namaku. Gue akan terlambat datang ke sana.” “Ta-pi,” elakku terbata “Tut...Tut...Tut.” Alvaro menutup sambungan telefonnya, bahkan aku belum menjawab apapun. “Dasar! Gue juga ada kelas pagi.” Gumamku kesal Aku berjalan menuju kelas seminar sesuai yang di suruh Alvaro. Di kelas Pak Pranoto, beliau sudah ada di mejanya dan mulai mengabsen. “Keisha Alvio Prandita,” “Saya, Pak.” “Kania Winda Wibawa Ambarsari, wah panjang sekali namamu,” “Karolina Cesa Saputri,” “Saya, Pak.” “Lisa Amanda Gempi,” “Saya, Pak.” “Lyodra Prastiwi,” “Vivi Amalia,” “Wiwin Gardina Fatin,” “Xintia Anggun Mauna,” “Youn Wira Andika,” “Zara Marsha Nadira,”


“Zoulan Omar,” “Zuton Fahreza,” “Alex Suganda,” “Antony Yuma Wafi, “Benni Pambudi,” “Laksamana Alvaro,” “Saya, Pak.” “Laksamana Alvaro!” Pak Pranoto meninggikan nada “Saya, Pak.” “Benar kau Laksamana Alvaro?” “Saya tahu dia mahasiswa tampan yang terkenal dengan band The Arrogant, ini kok berkaca mata dan seperti banci,” “Hahaha, Alvaro kw 12 .” sorak-sorak teman satu kelas nan menghujam telingaku Aku malu sepanjang jam pelajaran Pak Pranoto, harga diriku remuk hancur lebur seketika. “Baik anak-anak, jam saya sudah terlewatkan. Dari saya cukup sekian, jangan lupa belajar dirumah dan kerjakan soal latihannya.” “Baik, Pak.” Seru mahasiswa di kelas itu dan membubarkan diri “Arthea, ikut Bapak ke ruangan bersama Alvaro!” “Baik, Pak.”


Aku dan Alvaro datang menghadap Pak Pranoto. “Kalian benar-benar mengecewakanku!” “Kami menyesalinya, Pak. Kami tidak akan mengulanginya lagi.” Ucapku sambil menunduk “Kami minta maaf, Pak.” Imbuh Alvaro “Untuk yang kali ini saya ampuni kalian, tapi ingat. Ketahuan satu kali lagi bersekongkol di jam pelajaran saya. Bapak tidak segan-segan memberi nilai mata kuliah yang saya ampu dengan nilai E.” “Baik, Pak. Maafkan kami,” “Sekarang Bapak beri hukuman pada kalian, tulislah sebuah kalimat penyesalan dan disalin hingga 5 lembar bolak-balik. Kalian berdua harus mengumpulkannya besok pagi.” “Baik, Pak.” “Kami permisi,” Aku dan Alvaro keluar dengan kekesalan serupa “Ini semua karena lo!” ucap Alvaro “Salah lo, titip absen ke gue!” timpalku “Lo yang kurang cerdik dalam hal ini!” elak Alvaro “Apa?! Ini salah lo, coba kalau lo dateng sendiri. Pasti gue nggak akan di hukum seperti ini!” elakku “Terserah!” balas Alvaro dan berjalan meninggalkanku “Oi! Ingat, besok pagi lo harus mengumpulkan hukuman itu!” seru ku


“Tulis saja 10 halaman bolak-balik, satu untukku dan satu lagi untuk lo. Oke? Good job!” teriaknya berbalik sambil tersenyum dan berjalan kedepan lagi “Ceh! Dasar cowok rese!” gumamku setengah berteriak padanya “Arthea! Apa ini?” tegur Pak Pranoto “Pak, maaf barusan Alvaro memintaku untuk melakukan hukuman dari Bapak sendirian.” balasku pasang muka melas “Jadi hukuman saya masih kurang untuknya, panggilkan dia sekarang juga.” pinta Pak Pranoto “Baik, Pak.” Semua ini Karenamu Alvaro, lo dimana? Pak Pranoto mencarimu, beliau akan memberikan hukuman yang lebih dari menulis kalimat penyesalan 5 lembar bolak-balik. Jadi segeralah menghadap beliau, atau kau akan mati mengenaskan! Tulisku mengirimkan pesan pada Alvaro. “Dasar tukang kompor!” kesalnya begitu tiba “Dih! Salah sendiri kabur dari masalah!” balasku “Rewel!” “Permisi, Pak.” Alvaro masuk ke ruangan Pak Pranoto “Alvaro, hukumanmu Bapak tambah. Sekarang juga bersihkan toilet!” “Tapi, Pak salah saya apa?”


“Karena kamu sudah menyuruh Arthea menyelesaikan hukumanmu. Jadi silakan bersihkan toilet mahasiswa sekarang!” “Baik, Pak.” “Gimana-gimana enak tidak?” ledekku begitu dia keluar dari ruangan Pak Pranoto “Ceh!” balasnya sambil menaikkan bibirnya yang atas “Haha, sukurin. Semesta sedang menjalankan pernanya sekarang, hahaha.” Balasku terus meledeknya dan tertawa puas “Arthea!” panggil Pak Pranoto yang baru saja keluar dari ruangannya “Mampus lo,” timpal Alvaro lirih “Iya, Pak. Ada apa?” “Bersihkan toilet bersama Alvaro!” “Hahaha,” ledek Alvaro di belakang Pak Pranoto “Baik, Pak.” “Semesta sedang menjalankan perannya sekarang, hahaha.” “Ceh!” Aku dan Alvaro melaksanakan perintah dari Pak Pranoto. Alvaro membersihkan toilet cowok dan aku membersihkan toilet cewek. “Ceh! Benar-benar menyebalkan.” batinku “Huek.” Aku tidak kuasa menahan bau yang menyengat begitu bacin di lubang hidungku


“Kenapa lo?” tanya Alvaro yang menghampirinya di toilet cewek karena dia sudah rampung membersihkan toilet cowok “Nggak papa.” balasku singkat “Sini gue bantu.” ucap Alvaro dan mengambil sikat closed dari tanganku “Apaan sih gue bisa sendiri!” elakku “Diem! Lo ngepel aja tuh lantai biar cepet selesai.” balas Alvaro dan menyikat closed “Huek!” aku memuntahkan cairan dari dalam perut, dan tepat mengenai sepatu kanan Alvaro “Aish! Arthea!” serunya agak marah karena aku memuntahinya setengah khawatir padaku Kepalaku sudah tidak singkron lagi dengan jiwaku. Pandanganku buyar dan kunang-kunang, serasa mau pecah kepalaku ini. Suara Alvaro sudah tidak terdengar lagi “Aduh,” keluhku merasakan sakit di kepala “Gimana masih pusing?” tanya Alvaro dingin “Masih sangat pusing, Al.” lirihku “Berbaringlah sejenak untuk memulihkan keadaan.” pintanya “Baiklah.” “Soal yang barusan, terima kasih.” imbuhku “Jangan besar kepala dulu, gue menolongmu karena prinsip gue cewek, orang tua dan anak kecil harus di lindungi.” balasnya


“Hmm,” singkatku “Ceklek.” pintu terbuka, Sonia datang bersama teman-teman yang lain dengan kecemasanya padaku “Arthea, are you okay?” tanya Sonia menghampiriku “I’m okay, Son.” balasku “Ehem.” goda Raya yang melihat Alvaro menggengam erat tanganku “Cie-cie jadian lo berdua?” sahut Fenta Reflek Alvaro melepaskan genggaman tangannya dariku. “Apaan sih, ini nggak seperti yang lo kira.” Ketus Alvaro “Kalau suka tembak dong, Al. Entar keduluan orang lain lo,” sahut Gerand menggoda Alvaro “Iya bener tuh kata Gerand,” imbuh Bima “Apaan sih kalian,” balasku “Eh btw Atta kemana sih?” tanya Fenta mencari Atta “Kenapa lo naksir sama dia?” balas Bima menggoda Fenta “Nggak pede!” “Eh guys, ini Atta whatapps gue. Dia di cafe Retro, kita di suruh nyusul kesana. Skuylah,” seru Raya “Ya udah, ayo.” balasku antusias “Lo yakin? Lo kan baru sembuh, Ar.” tanya Fenta memastikanku


“Nggak papa, gue udah baik-baik aja sekarang.” balasku sambil tersenyum “Yaudah, Kuy.” seru Bima “Bang Varo, ikut kuy.” ajak Gerand pada Alvaro “Nggak ah, buang-buang waktu saja.” tolak Alvaro “Ya udah, let’s go!” seru Sonia Kami berjalan beriringan penuh antusias “Tunggu,” seru Alvaro menghentikan kami “Ada apa? Bukankah lo nggak ikut, Al?” tanya Bima “Gue berubah pikiran, let’s go!” balas Alvaro dan berjalan lebih dulu dari kami sambil tersenyum Rupanya Kau Tak Sedingin Yang Kukira Kami melaju ke cafe barbie, Atta dan Bima memesan banyak makanan bahkan hampir semua menu yang ada di cafe itu mereka pesan untuk kami. “Lo gila, Bim. Mana sanggup perut kita menampung makanan sebanyak ini.” seru Sonia “Udah, lo tenang aja. Ada Bima sama Fenta.” sahut Atta “Arthea, ini untukmu dan kesehatanmu.” seru Bima sambil menyuapkan suzi untukku “Thank you, Bima.” balasku “Gue juga dong, lekas sembuh, Arthea!” Gerand ikut menyuapiku “Terima kasih, Greand.” balasku


“Minumlah soda ini, lekas baikan, Arthea.” imbuh Bima dan menyodorkan segelas soda untukku “Oh, thanks Atta.” Balasku sambil meneguknya “Minumlah perlahan.” Tegur Alvaro “Apaan sih!” ketusku dan terus makan dengan cepat “Guys, karaoke yuk!” seru Bima “Ide yang menarik! Let’s go!” sahut Sonia Kami bernyanyi usai makan barusan, tak lama aku merasakan keanehan yang terjadi di pencernaanku. Aku diam sejenak, untuk berjoget lagi dengan yang lain rasanya aku sudah tidak mampu. “Arthea, are you okay?” tanya Atta menghampiriku, “Oh, gue hanya perlu ke toilet sebentar, Atta.” Balasku dan berlalu ke toilet “Huek! Huek!” “Gue bilang juga apa!” omel Alvaro yang menemui ku di toilet, sambil mengelus-elus pundakku “Ini ambillah.” Alvaro menyodorkan tisu untukku “Berikan padaku.” Alvaro meraih tanganku yang masih mengenggam icik-icik “Tunggu disini, gue balikin ini dulu.” imbuhnya “Thanks you.” balasku lirih Tak lama, Alvaro datang dan memboyongku pulang segera. Pagi harinya, dengan terpaksa aku pergi ke kampus. Sebenarnya tubuhku masih sangat lemah dan agak pusing


kepala ini, tapi jika aku tidak pergi ke kampus Eyang sudah pasti akan mengomeliku berulangkali. Dari kejadian kemarin, aku lupa membuka ponsel. Rupanya ada ribuan pesan masuk sahabat-sahabatku, mereka tengah mencemaskanku. “Kling.” Notifikasi pesan masuk dari Alvaro “Gue tunggu di balkon seperti biasa.” tulisnya dalam pesan “Ceh, pria macam apa kau ini. Gue kira lo mengkhawatirkan keadaan gue.” gumamku sambil meraih tas dan pergi ke kampus “Ini! Berikan padaku 26.000 untuk mengganti uang lo yang kemaren terbawa di gue.” aku menyodorkan 1 cup cappucino dan meminta uang pada Alvaro “Oh, gue pikir lo lupa.” singkatnya dan menyodorkan uang yang aku minta padanya “Okay, bye!” balasku dan meninggalkan Alvaro di balkon “Oi! Jaga kesehatan lo!” teriaknya begitu aku sampai di bawah dan tersenyum padaku Sore hari menjelang malam, Sonia menjemputku bersama Raya dan Fenta. Aku di ajak oleh mereka ke cafe tempat band favorite mereka, seantusias itu mereka ingin menyaksikan Alvaro dan bandnya itu. Bahkan aku sama sekali tidak mengubrisnya sama sekali, vokalis yang angkuh dan sombong sudah cukup untuk membencinya dengan anggun. “Alvaro! Alvaro! Alvaro!” teriak Sonia dan Raya begitu melihat Alvaro naik ke atas panggung. “Diem ah! Lebay banget kalian ini!” tegurku, “Arthea, lo nggak ngerti sih betapa kerennya sang drumer memainkan stik drum itu dengan elegan.” balas Sonia


“Kling! Kling! Kling!” “Duh dari Eyang lagi.” gumamku “Guys, gue angkat telefon dari Eyang dulu ya.” pamitku “Oh, oke, Ar.” balas Raya dan aku keluar dari cafe itu “Iya, Eyang kenapa?” tanyaku dari sambungan ponsel “Bahkan kamu belum menyetrika baju, Eyang!” amuk Eyang “Maaf, Eyang. Arthea akan pulang segera.” balasku dan menutup sambungan telefon dari Eyang Aku melihat Alvaro sudah keluar dari cafe itu, dan memasukkan gitarnya kedalam tas. “Berarti konsernya udah selesai, cepet banget.” gumamku “Arthea, lo lama benget sih. Konsernya udah selesai, huft.” seru Fenta mendekatiku “Ya udah sih, Eyang minta gue agar segera pulang juga.” balasku “Oh, yaudah kita pulang aja kalau gitu.” imbuh Raya “Eh, tunggu dong. Alvaro tuh,” senggol Sonia “Terus ngapain?” tanya Fenta “Kita temuin dia yuk.” ajak Sonia “Buat apa sih, Son?” tanyaku “Udah deh, bentar aja.” paksa Sonia “Alvaro, temen gue mau ngomong sesuatu sama lo.” ucap Sonia sambil mendorongku hingga tepat di depan Alvaro


“Lo apaan sih, Son!?” geramku lirih “Ngomong sama Bima saja, dia leadernya.” singkatnya dan lalu mengayuh sepedanya Aktivitas mahasiswa jurusan karawitan sepertiku sedini ini sudah tiba di kelas untuk mendengarkan wejangan dari Ibu Zuli, selaku Dekan pengganti almarhumah Ibu Calista. Aku mengenalnya begitu menyebalkan dan sok kenal sok dekat. Ternyata, beliau begitu hangat dan asik. Beliau selain berparas cantik menawan dan anggun, beliau juga tipikal wanita dewasa yang begitu di idamkan para pria. Maka, tidak jarang para mahasiswa yang di ampu olehnya terpesona dengan kerifan lokal. Kata mereka teman cowokku di kelas, Ibu Zuli adalah paket komplit dari Tuhan. “Arthea.” Panggil Ibu Zuli yang melihatku tengah melamun pada saat jam mata kuliahnya “Iya, Al kenapa?” balasku nglantur “Al siapa? Apa dia kekasihmu? Hingga membuat kamu tidak fokus di mata kuliah saya.” Ibu Zuli menggodaku “Haha, pacarnya paling, Bu.” teriak teman-teman satu kelasku “Ma-af, Ibu.” ucapku sambil menundukkan pandangan “Arthea, setelah mata kuliah saya. Kamu tinggal sebentar ya di kelas?” pinta Ibu Zuli sambil mengecek jam tangannya sesaat “Em, baik, Bu.” balasku “Oke, pertemuan kita hari ini cukup sekian. Jangan lupa di kumpulkan tugasnya besok sebelum jam 10 di meja saya. Mengerti?”


“Mengerti, Bu.” balas kami satu kelas Kembali Berhadapan Dengan Manusia Dingin Teman-teman satu kelasku membubarkan diri, tertinggal aku dan Ibu Zuli yang masih sibuk dengan rekapan nilai-nilai kami satu kelas. “Ceklek.” Seseorang membuka pintu kelasku “Permisi, Ibu Zuli memanggil saya?” tanya orang itu “Iya, silakan masuk.” balas Ibu Zuli “Arthea, silakan duduk di sini.” pinta Ibu Zuli Aku dan mahasiswa itu duduk bersebelahan di hadapan Ibu Zuli. “Elo!?” responku begitu menoleh ke arah mahasiswa yang duduk di sebelahku yang ternyata adalah Alvaro si manusia dingin itu “Apa?!” ketusnya sambil mengerinyitkan dahinya “Alvaro, Arthea, diam!” tegur Ibu Zuli “Maafkan kami, Bu.” balasku dan menunduk “Baiklah, Alvaro, Ibu mendengar kamu adalah seorang vokalis band yang terkenal itu. saya menyaksikan beberapa konsermu di internet, Ibu akui keahlianmu begitu memuka. Nah karena itulah, saya memanggilmu ke sini.” tutur Ibu Zuli “Apa kamu sudah mendengar tentang pesta perayaan hari jadi kampus ini?” imbuh Ibu Zuli bertanya pada Alvaro


“Saya belum mendengar akan hal itu, Bu.” singkat Alvaro “Arthea, kamu sudah mengetahuinya?” tanya Ibu Zuli padaku “Saya sudah mengetahuinya, Ibu. Pak Wicak yang sudah memberitahukan hal itu.” balasku “Apakah kamu sudah memiliki proposal dan brosur acara itu, Arthea?” tanya Ibu Zuli “Saya sudah memilikinya, Ibu. Namun, saya tidak membawanya hari ini.” balasku “Baiklah, Ibu minta kamu pelajari isi dari proposal itu. Ibu menginginkan kamu dan Alvaro menciptakan lagu yang bergenre tradisional dan modern, jadi kalian berdua harus berusaha keras untuk itu. Apa kalian bersedia?” “Kapan saya mengumpulkan lagu itu?” tanya Alvaro “Ibu beri waktu 2 minggu, terhitung dari sekarang. Bagaimana, kamu bersedia?” “Baik, Bu.” Balas Alvaro “Lalu, bagaimana denganmu Arthea? Apa kamu bersedia membantu Alvaro menyelesaikan tugas ini?” “Saya bersedia, Bu.” balasku “Baiklah, lakukan yang terbaik.” Sebenarnya aku malas menerima tugas ini, kalau bukan karena Ibu Zuli, tak sudi aku membantu manusia dingin itu. “Lalu bagaimana gue akan bekerja sama dengan lo?” tanya Alvaro begitu keluar dari kelas


“First time, lo harus ikut gue ke perpustakaan.” balasku dan menariknya ke perpustakaan “Oke, ini buku yang penting buat pemula kek lo.” “Ini, sudah pasti sangat penting untuk lo.” “Yah, gue dapat. Ini perlu lo pelajari dengan baik.” “Ini juga perlu.” “Nah, ini.” “Ini.” “Butuh berapa abad untuk kita membaca keseluruhan buku ini?” tanya Alvaro “2 hari 2 malam gue rasa cukup buat lo memahami musik tradisional.” Balasku sambil terkejut melihat buku yang di bawa Alvaro “Banyak juga rupanya.” Balasku dan tertawa “Satu lagi deh.” “Selesaikan rekapan bukunya, gue tunggu diluar. Bye!” Alvaro prov “Brak!” buku-buku yang bertumpuk ditanganku yang dipilihkan cewek rese itu jatuh berantakan di lantai karena saking banyaknya aku tidak sanggup membawa Seketika para mahasiswa yang membaca di sana memandangiku semua, malu dan tengsin seketika semua mata tertuju padaku. “Maaf.” Ucapku lirih dan merapikan bukubuku yang terjatuh itu. Aku segera pergi dari rasa malu ini.


“Dasar, cewek rese.” gumamku dan keluar dengan sempoyongan membawa buku-buka pilihan Arthea Rupanya dia tidak sedang menungguiku di luar perpustakaan. “Ceh!” batinku sambil mencoba menghubunginya. “Lo dimana?” “Gue di cafe, bersabarlah di sana.” ketusnya dan langsung menutup sambungan telefon dari ku “Silakan, pangeran kesiangan.” ucap cewek rese itu yang baru datang dan menyodorkan 1 cup kopi kesukaanku “28.000 ribu, ini.” balasku menerima kopi itu dan memberikan uang untuk menggantikan uangnya yang dipakai untuk membelikan pesananku “Temui gue besok usai kuliah di taman.” Suruh Arthea dan pergi “Ceh!” decakku Aku harus segera tiba di kampus sebelum matahari menyinari dengan menyengat, menyiapkan kopi hangat kesukaan Alvaro si manusia dingin dan songong itu. menembus kesalahan hingga waktunya usai nanti, setelahnya aku akan benar-benar hidup dengan baik. “Gue dibalkon, datanglah segera!” ucapnya lewat ponsel pipih itu “Gue mau lo ketaman atau gue tidak akan sudi memesan kopi sepanjang pagi buat lo!” ancamku “Bahkan kau meminta majikan lo sendiri, kemarilah!” ketus Alvaro dan menutup sambungan telefonnya


“Ceh! Dasar makhluk dingin.” gumamku dan pergi menemuinya di balkon Setibanya di balkon aku tidak menemui Alvaro sedang di sana menunggu kopi yang ku bawakan untuknya. “Kopi yang dingin untuk orang yang dingin sepertimu.” Tulisku di atas tutup kopi itu, aku letakkan di atas tralis yang mengelilingi balkon. Aku berlalu ke ruangan band untuk menemui Bima, Atta dan Gerand, kita akan berlatih bersama di sana. Alvaro rupanya sudah tiba lebih dulu dari kami, aku kira dia akan meneguk kopi di atas balkon tadi. Sepertinya dia belum menyentuhnya sama sekali, pasti kopi itu sudah membeku terhembus angin berulangkali. Aku mendekati mereka yang sudah berlatih sebelum kedatanganku, untuk yang kali ini aku benar-benar akan di habisi oleh Alvaro dan Sonia karena terlambat hadir. Namun, Sonia begitu hangat menyapaku lain lagi dengan tatapan manusia terdingin yang aku kenal siapa lagi kalau bukan Alvaro. Sok ganteng, sok yes, sok cool dan sok keren. Dia menatapku begitu sinis, “Apa!?” ucapku kelewat sinis dan melototinya dengan sempurna hingga aku duduk di tempatku. Tepat di sampingnya aku berada, kenapa sih dunia sekejam ini? apa memang ini settingan Bima dan kawan-kawan agar aku duduk di samping pria sok tampan itu. Seolah di pasangkan, Sonia sama Bima, Fenta sama Atta, Raya sama Gerand dan aku sama makhluk dingin. Menurut alat musiknya sih memang formasinya seperti itu, tapi kenapa sih gitaris the arrogant harus dia. Bima atau Atta atau Gerand kan enak diajak kompromi. “Argh, gue hampir gila di sini!” batinku sambil memainkan slenthem dengan loyo “Ar, lo mikirin apa sih?” tegur Sonia “Oh, gue capek aja.” singkatku


“Semangat dong, Ar.” sahut Fenta “Iya, maaf ya guys.” Balasku “Nggak papa, Ar. Yaudah kita latihan sekali lagi yuk.” Ajak Atta “Kenapa nggak makan dulu sih, Ta. Gue laper,” sahut Bima “Lo tahan dulu, sekali ini aja dan lo boleh makan sepuasnya, Bim.” Sahut Sonia “Ayo, mulai.” seru Gerand Kejutan Dihari Ulang Tahunku Kami berlatih hingga satu jaman lebih, sudah sangat letih memainkan alat musik kami masing-masing. Akhirnya, Sonia dan Bima menghentikan berlatih, mereka pergi membelikan minuman untuk kami semua. Atta sama Fenta pergi untuk mengikuti kelas, Raya dan Gerand izin pergi ke perpustakaan sebenatar. Tersisa aku dan Alvaro, saat kita saling diam tibatiba lampu di ruangan band mati. Aku sangat takut gelap dan sunyi, aku berteriak histeris saking takutnya dengan kegelapan. “Arthea, lo kenapa?” tanya Alvaro yang entah di mana keberadaannya “Gue takut, Al.” rengekku “Lo tenang ya, gue ada disini sama lo. Nggak perlu takut.” balas Alvaro dan mendekapku erat “Hiks-hiks, Al, jangan pergi gue takut.” rengekku terisak dalam dekap peluk Alvaro


“Nggak, gue di sini dan nggak akan pergi. Gue bakal nemenin lo, kalau lo takut mendingan pejamin mata dan tenangkan diri lo.” Bisik Alvaro menenangkanku Tak lama lampu menyala dengan terang, sementara aku masih dalam pelukan Alvaro yang begitu hangat. “Arthea, hey.” panggil Alvaro lirih “Lampunya udah nyala.” imbuhnya “Lo nggak bohongkan?” tanyaku memastikan “Serius, buka mata lo.” pintanya “Thanks you, Alvaro.” balasku usai membuka mata “Jangan melting dulu, gue mau lo mengganti hari ini dengan mengajakku main game.” balas Alvaro “Nggak ikhlas.” balasku manyun “Mau nggak?” balas Alvaro dengan tersenyum “It’s okay, setelah ini gue akan ajak lo ke time zone buat mancing boneka.” balasku dan tersenyum “Ceklek!” “Loh, yang lain pada kemana? kok berdua doang.” tanya Gerand yang baru masuk dan di ikuti dengan Raya “Fenta sama Atta sih katanya ada kelas.” balasku “Terus Bima kemana sama Sonia?” imbuh Gerand “Nggak tahu, ke kantin bilangnya, tadi.” sahut Alvaro “Prit!” nyarin suara peluit dari luar


Click to View FlipBook Version