“Happy birthday, Arteha. Happy birthday, Arthea. Happy birthday, happy birthday, to you. Yeay,” “Oh, my god. Kalian ini bener-bener, ya.” balasku yang tidak menyangka mereka memberikan kejutan ini “Tiup lilinnya, tiup lilinya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga.” “Make a wish dulu, Ar.” seru Raya “Thanks you, sayang-sayanguku. Ih kalian rese deh.” ucapku dan kami saling memeluk “Gue di peluk juga dong, Ar.” seru Gerand “Apaan, ganjen.” sahut Raya “Acie! Ray, lo cemburu,” ledek Fenta “Nggak, pede!” ketus Raya “Jelek amat sih, Ray. Gini nih baru cantik maksilam,” balasku sambil mengoleskan krim kue di wajahnya Raya “Aish! Rese lo, Ar. Gue balas lo.” Seru Raya “Fenta, thankyou yaaa.” Ucapku dan menempelkan krim di bibirnya “Ray, pengangin Arthea. Kita balas dendam,” seru Sonia “Kling-kling-kling.” Ponselku berdering “Eits, tunggu bentar. Gue angkat telfon dulu.” Ucapku dan mengangkat telfon dari Eyang “Eh guys, Eyang minta gue harus balik sekarang.” Ucapku usai mengangkat telfon dari Eyang dengan wajah kusut
“Yaudah, kita pulang aja. Udah malem juga,” balas Sonia “Tapi kita rapih-rapih dulu deh guys, masa iya kita cemongcemongan gini pulang.” sahut Fenta “Iya, Fen. Bersihin badan dulu, kita ketemu di depan sini lagi. Terus pulang bareng rame-rame gitu.” imbuh Bima “Ya udah, ayo girls ke toilet dulu.” ajak Raya “Arthea, tunggu.” panggil Alvaro dan menarik tanganku lembut “Kenapa, Al?” tanyaku “Selamat ulang tahun, ya.” balasnya “Gitu doang?” tanyaku “Iyalah.” singkatnya “Mana kado buat gue.” balasku merajuk “Kalau Eyang nggak suruh lo buat pulang segera, gue akan mengajak lo beli baju sama sebagai kado ulangtahun lo.” balasnya “Oh iya, kita kan mau main game, ya. Next time aja gimana, Al?” tanyaku “Yaudah, nggak papa.” singkatnya dan pergi untuk membersihkan krim yang melekat di kemejanya Raya Prov “Eh itu Bima sama Gerand udah nungguin kita.” seruku antusias “Guys, Arthea mana?” tanya Sonia
“Masih di toilet kalik.” balas Bima “Nggak kok tadi di toilet udah nggak ada satu orangpun.” Balas Fenta “Udah ke depan barusan, nyusulin Alvaro.” seru Atta “Ya udah, kita susulin mereka.” ajak Gerand Kami menyusul Arthea dan Alvaro ke depan, lebih tepatnya depan anak tangga deket ruang band. Arthea tengah celingukan di depan tangga, seperti sedang mencari seseorang. “Ar, nyari siapa?” seru Sonia “Gue kan nungguin kalian.” balas Arthea “Oh, btw Alvaro mana?” sahut Raya “Itu, dia udah dibawah.” balas Arthea “Oh iya, guys terima kasih ya atas kejutannya malam ini.” imbuh Arthea penuh antusias “Arthea, jangan mundur-mundur!” teriak Alvaro Karena Kecerobohanku Sendiri “Aduh!” teriak Arthea yang terjatuh dari anak tangga hingga ke bawah, dia mengaduh kesakitan. “Arthea, bertahanlah.” dekap Alvaro dan menghubungi ambulan “Sakit, Al.” rengek Arthea “Arthea, lo harus bertahan. Lo kuat.” ucap Sonia dan yang lain dengan kekhawatirannya
Tak lama ambulan pun tiba, Alvaro memboyongku pergi ke RS sementara yang lain meskipun tengah khawatir akan kondisiku. Mereka diminta Alvaro agar lekas pulang. “Anak nakal itu, bagaimana bisa dia membuatku panik seperti ini.” geram Eyang “Eyang, anda harus tenang. Arthea akan baik-baik saja.” balas Pak Wicak yang saat itu menemani Eyang ke rumah sakit “Dok, bagaimana dengan cucu saya?” tanya Eyang begitu Dokter yang menanganiku keluar menemui beliau “Dari hasil pemeriksaan pasien mengalami trauma tumpul abdomen, hal ini terjadi karena pukulan pada perutnya atau pasien terjatuh dari ketinggian. Pasien harus segera melakukan operasi laparotomi untuk menghentikan pendarahan di dalam perut dan memperbaiki kerusakan pada organ dalam perut pasien, kalau tidak bisa berakibat pada keselamatan pasien, Pak.” Jelas Dokter “Lakukan operasi segera, Dok.” balas Eyang panik “Untuk saat ini pasien belum bisa dioperasi mengingat kondisinya belum stabil, Pak.” balas Dokter “Bapak bersabar dan berdoa untuk kesembuhan pasien.” imbuh Dokter “Dok, maaf. Apa Arthea sudah bisa di temui?” sahut Alvaro “Boleh, silakan.” balas Dokter “Terima kasih, Dok.” balas Alvaro dan lalu masuk keruangan ku “Hai, bagaimana denganmu sekarang?” tanya Alvaro
“Tenang aja, gue baik-baik aja.” balasku sambil tersenyum “Kakinya udah nggak sakit?” tanya Alvaro “Sedikit, tapi selebihnya aman. Perut ku nyeri sih, perih gitu.” balasku “Jangan pernah bilang tidak papa saat kau terluka, aku khawatir akan hal itu.” sahutnya sambil menatapku “Alvaro,” panggilku dan mencoba bersandar “Mau ngapain? Sini aku bantu, pelan-pelan.” Alvaro membantuku untuk duduk dengan baik “Thankyou, Al.” ucapku lirih sambil menunduk “Barusan bilang apa?” tanya Alvaro menggodaku “Terima kasih, Al. Gue nggak tahu apa jadinya kalau lo udah pulang lebih dulu.” balasku sambil berkaca-kaca “Malah nangis, sama-sama, Ar.” balas Alvaro dan mengelus kepalasku dengan lembut “Oh iya, btw selamat ulang tahun ya, Ar.” imbuh Alvaro “Tadi kan udah ngucapin, double ucapan kado juga harus double.” Godaku “Dasar, tagih saja setelah ini. Jadi, kau harus segera pulang dari hotel bagus ini.” balasnya balik menggodaku “Okay, gue tagih secepatnya, lo harus beliin gue es krim, donat dan masih banyak lagi.” balasku dan tersenyum manis “Kau tahu? Aku tidak menyukai orang gendut, jadi berhentilah makan yang manis-manis.” ledeknya
“Ceh! Dasar narsis, gue tidak suka orang yang dingin jadi bersikaplah manis terhadapku.” balasku “Cowok kok manis, cowok itu ganteng, ehem.” balasya sambil merapikan rambutnya “Sepertinya dengan sedikit acak-acakan kau akan sangat tampan.” balasku sambil mengacak-acak rambutnya “Aish!” ketus Alvaro “Haha,” kita berdua saling tertawa lepas “Aduh,” aku meringis kesakitan “Are you okay?” tanya Alvaro panik “I am fine, Alvaro.” balasku “Ya udah baring aja.” Alvaro membantuku untuk berbaring “Gue hanya perlu mengurangi tertawa ketika lo disini,” godaku dan tersenyum “Berhenti meledek, istirahatlah dengan baik.” balas Alvaro dan menyelimutiku “Tunggu sebentar, aku temui Eyang dulu.” imbuhnya dan keluar Mulai Nyaman Pada Hatimu Yang Dingin Alvaro prov “Loh, Pak Wicak, Eyang sudah pulang?” tanyaku begitu keluar dari ruangan Arthea
“Oh, beliau sedang ke toilet. Bagaimana kondisinya, Al?” tanya Pak Wicak “Arthea sudah baikan, Pak.” singkatku “Syukurlah,” balas Pak Wicak “Pemuda, bagaimana dengan cucuku?” sahut Eyang menemui aku dan Pak Wicak di depan ruangan Arthea “Arthea sudah sadar, Kek. Dia baik-baik saja.” balasku “Aish! Bocah itu sungguh membuatku geram.” ketus Eyang yang nampak jelas beliau khawatir pada cucunya “Maaf, Eyang sebaiknya anda pulang dan tidur dengan baik di rumah. Arthea biar saya yang menjaganya dengan baik untuk anda. Kembalilah pagi nanti, Eyang.” bujukku “Benar, Eyang. Biar saya yang mengantarkan anda sekalian membawakan baju ganti untuk Arthea selama di sini.” sahut Pak Wicak turut membujuk Eyang “Baiklah, anak muda jaga cucuku dengan baik.” balas Eyang dan berpesan padaku untuk menjaga cucunya “Pasti, Eyang. Hati-hati di jalan, Eyang.” balasku “Saya akan kembali setelah ini, jaga dia.” sahut Pak Wicak sambil menepuk pundak ku dan berlalu bersama Eyang “Baik, Pak.” balasku Malam yang hening menyaksikan luka yang Arthea alami, aku merasakan luka yang sama melihat tubuhnya terbaring di ranjang pasien. Baru saja, beberapa kali terlintas indah senyumannya kala pagi di atas balkon. Besok, aku tidak melihat senyuman miliknya itu dengan baik lewat balkon
sambil menyeruput kopi dingin yang sudah ia siapkan sedari pagi. Tidak bisa berdebat dengannya untuk beberapa pagi kedepan, menjahilinya hingga membuatnya marah. Aku sudah membayangkan, esok tanpanya akan terasa janggal. “Huft!” aku menghempas napas, meresapi setiap temu yang terjadi pada dua pasang mata ini. “Apa ini cinta, Tuhan?” batinku “Alvaro.” panggil Pak Wicak lirih “Pak, anda sudah kembali?” balasku “Saya tunggu diluar.” balas Pak Wicak dan lalu keluar dari ruangan Arthea “Ada apa, Pak?” tanyaku usai kita diluar “Dua buah kopi hangat mungkin kita butuhkan malam ini, ambillah.” Balas Pak Wicak dan menyodorkan 1 cup kopi padaku “Terima kasih, Pak.” balasku dan meneguknya “Kau sudah membuat lagu yang saya minta?” tanya Pak Wicak “Belum, Pak. Seharian tadi kita sedang mengumpulkan reverensinya, Pak.” balasku “Ya sudah, kerjakanlah dengan baik.” balas Pak Wicak Aku hanya mengangguk dan meneguk kopi di tangan “Maaf, untuk Arthea biar saya saja yang menjaganya, Pak. Bukankah anda akan melaksanakan meeting dengan rektor besok pagi?” ucapku “Apa saya bisa mempercayaimu?” balas Pak Wicak santai
“Saya akan membatalkan semua meeting, kau sebaiknya pulanglah bukankah kau sedang ada deadline?” imbuh Pak Wicak dan tersenyum “Saya akan mengerjakannya besok, sekarang saya hanya mau Arthea sembuh, Pak.” balasku “Ceh! Bahkan kau membantah perintah saya, baiklah jaga dia dengan baik. Saya harus menarik kata-kata barusan dan mengajukan jadwal meeting.” goda Pak Wicak “Bahkan Pria dewasa juga harus cukup tidur, Pak.” balasku menggoda Pak Wicak “Berani kau ini, jaga kesehatanmu juga. Saya duluan,” pamit Pak Wicak “Baik, Pak. Hati-hati di jalan, Pak.” balasku Kesesokan paginya, aku masih ditempat yang sama di ranjang mahal dan terbaring agak kesakitan. Alvaro terjaga untukku semalam suntuk, dia tertidur pulas cukup lelah pagi ini. “Ceh! Kenapa kau tampan pagi ini, makhluk dingin.” gumamku, aku hampir mengusap rambutnya yang menutupi wajah tampan itu. Dia terbangun bersamaan Eyang dan Pak Wicak membuka pintu ruanganku. “Oh, kau sudah bangun. Bagaimana dengan lukamu, masih sakit?” tanya Alvaro begitu dia terbangun “Masih sedikit sakit.” singkatku “Nak, maaf merepotkanmu.” sahut Eyang “Tidak merepotkan, Eyang.” balas Alvaro
“Kau ini selalu menyusahkanku saja.” ketus Eyang memarahiku “Maafkan Arthea, Eyang.” ucapku “Eyang, sebaiknya jangan memarahinya sekarang.” balas Alvaro lirih “Alvaro,” sahut Pak Wicak “Iya, Pak.” balas Alvaro “Bukankah kamu ada kuliah pagi ini?” tanya Pak Wicak padanya “Saya sudah izin dengan Ibu Sofa untuk terlambat datang dikelasnya, Pak.” jelas Alvaro “Pulanglah dan pergi ke kampus.” suruh Pak Wicak “Saya harus menjaga Arthea, Pak. Biarkan saya disini, sampai dokter mengatakan dia baik-baik saja.” elak Alvaro “Kamu mau mendapatkan nilai C untuk mata kuliah saya?” tantang Pak Wicak “Al, sudahlah. Benar kata Pak Wicak, kamu harus kuliah pagi ini. Aku baik-baik saja, tenanglah.” bujukku “Kamu yakin?” tanyanya memastikanku baik-baik saja “Iya, aku akan baik-baik saja. Pergilah.” balasku “Baiklah, aku akan kembali kesini untuk belajar.” balasnya dan pergi Alvaro berlalu, aku berharap dia benar-benar kuliah dengan baik tanpa memikirkanku.
Apa Yang Membuat Hangatmu Sedingin Ini, Ar? Alvaro prov Sepanjang kelas, aku merasakan kantuk begitu hebat hingga membuatku susah untuk fokus. Karena semalam suntuk berjaga untuk Arthea, bagaimana keadaannya sekarang? Aku khwatir dia tidak ada yang menjaga, Pak Wicak pasti sedang meeting bersama rektor mana mungkin beliau bersama Arthea. Eyang? Eyang pasti sudah pulang. “Bu, izin ke toilet.” “Silakan, cepat kembali.” “Aku harus menemui, Arthea sekarang.” gumamku dan pergi ke tempat Arthea di rawat “Aku kembali.” sapaku dan masuk ruangannya “Apa kamu Alvaro teman dekat putri saya?” tanya pria paruh baya seusia Papaku “Ayah, apaan sih.” balas Arthea “Iya, Om. Saya Alvaro, temannya Arthea.” sahut Alvaro “Saya ayahnya, Arthea. Terima kasih karena sudah membantu putri saya, Nak.” balas Ayahnya Arthea “Om tinggal dulu, ya, silakan belajar dengan Arthea, Nak.” imbuh ayah Arthea “Baik, Om.” balasku “Baik-baik sama Alvaro, ya. Ayah pergi, jangan bertengkar dengan Eyang.” pesan Ayah Arthea padanya
“Aku akan merindukanmu, Ayah.” balas Arthea dan memeluk Ayahnya “Jaga dirimu baik-baik, Nak.” balas Ayah Arthea “Ayah juga jaga diri, ya. I love you.” imbuh Arthea “Pasti, I love you too sayang.” balas Ayah Arthea “Titip, putriku, ya, Nak.” imbuh Ayah Arthea dan memintaku untuk menjaga putrinya “Baik, Om.” balasku “Kenapa kamu menangis? Apa Ayahmu akan pergi jauh?” tanyaku bingung “Sesuatu terjadi pada kami, hingga kami terpisah.” singkat Arthea “Sudahlah, ayo kita mulai.” ajak Arthea yang sepertinya sengaja mengalihkan pembicaraan kita “Kamu yakin? Bagaimana dengan operasimu?” tanyaku memastikan “Aman, aku bisa duduk dengan baik.” balasnya yang sedang berusaha baik-baik saja Aku sedikit tersenyum menyaksikan Arthea bisa bercanda seperti ini “Jangan tertawa, fokus!” ketusnya “Siap, Bu Guru.” balasku “Mana buku catatanmu, biarku lihat sampai di mana kau mencatatnya.” pintanya
“Ini catatan apa, masih kosong gini. Kalau gini gimana gue ngajarin lo, tolol!” ketusnya “Lo kenapa?” tanyaku “Gue capek ngajarin lo, kenapa dari kemaren nggak ngertingerti!” balasnya dengan amarah “Gue tanya, kenapa dengan lo hari ini?!” tanyaku dengan amukan “Gue muak liat muka lo, lo nggak bakalan ngerti apa yang gue ucapin. Pergilah.” ketus Arthea mengusirku dari ruangannya “Gue pergi! Masih ada guru yang lebih baik dari lo.” balasku dengan amarah dan meninggalkan Arthea seorang diri diruangan rawatnya Apa yang menganggu pikiranmu, Ar. “Ini catatan apa, masih kosong gini. Kalau gini gimana gue ngajarin lo, tolol!” “Belum pernah ku temui cewek sekasar itu.” gumamku dalam hati seiring perjalanan pulang “Ceh! Seenaknya saja kau menghinaku, apa aku harus mengejarmu lagi. Hmm, Arthea. Aish!” gumamku lagi sambil marah bercampur kasmaran. “Ceklek! Ma, aku pulang.” singkatku tanpa melihat Mama yang sedang menungguku di depan tv “Alvaro, apa yang terjadi diluar hari ini?” tanya Mama khawatir “Hari yang melelahkan. Al ke kamar dulu, Ma” balasku dan langsung ke kamar
Brak! Sesuatu terjatuh dari meja saat aku mencari album milik Papa. “Ini bukankah milik Arthea? Kok bisa kebawa, ya,” gumamku sambil membuka buku milik Arthea itu Sesuatu terjadi pada Arthea waktu itu, entah apa alasan yang mendasari Eyangnya memarahi cucunya dan membuang buku yang sekarang ku pegang ini ditempat sampah. Saat itu, Eyang menemui Pak Wicak penuh murka. “Aku ingat, hmm.” gumamku dan pergi tidur. Sikapmu Yang Kaku, Sungguh Aku Membencimu Arthea prov “Dia pikir, membuatnya keren dimataku. Nggaklah! Ceh!” gumamku penuh kesal dengan Alvaro yang dingin itu “Argh! Aku pikir perasaan benar membuat nalarku mati. Cukup, Ar! lo nggak boleh menyukainya lagi.” gumamku lagi “Nak, apa yang membuatmu uring-uringan seperti ini?” tanya Ayah yang tiba-tiba masuk menemuiku “Ayah?!” seruku bertanya-tanya akan hadirnya Ayah, rupanya beliau tidak jadi pergi dan meninggalkan putrinya disini sendiri menghadapi Eyang “Ayah nggak jadi pergi?” tanyaku “Untuk apa Ayah pergi, sementara putriku ini butuh Ayah disampingnya.” balas Ayah dan memelukku “Terima kasih untuk tetap tinggal bersamaku, Ayah.” balasku dan memeluknya erat
“Apa Mama akan kehilangan pelukan rindu hari ini?” tanya Mama dan menyindir Ayah juga aku yang sedang saling melepas kerinduan “Mama?!” seruku girang, karena Mama pulang untuk menemuiku dan Ayah “Falya?!” seru Ayah berkaca-kaca dan mendekati Mama “Iya, Mama pulang. Sayang, Mama kangen banget sama Arthea dan Ayah.” balas Mama dan memeluku, Ayah turut memelukku Menutup hari yang bernuansa gelap menjadi berseri sinar surya yang membumi. Aku rindu pelukan ini, dua pelukan terhangat yang tidak pernah bisa digantikan oleh siapapun. Aku bahagia, bisa memeluk Mama dan Ayah sekarang. Kalau boleh meminta pada semesta, aku merintih agar keluargaku bisa selalu dapat bersama bertiga selamanya. Aku butuh mereka untuk lelahku, untuk letihku dan yang terpenting, aku butuh mereka untuk menemaniku dalam senang dan bahagia. Aku hanya minta pada Tuhan, agar Ayah dan Mama memberikan pelukan hangat itu dikala pagi, siang dan petang. “Ceklek.” Seseorang membuka pintu ruanganku, Mama dan Ayah mulai panik. Jika orang yang masuk adalah Eyang, bisabisa Mama dan Ayah diusir dari ruanganku. “Mama sama Ayah tenang aja, paling Pak Wicak ingin menemuiku.” balasku menenangkan keduanya. “Pak Wicak itu siapamu, sayang?” tanya Mama “Beliau Dosen dikampuku, Ma.” singkatku “Permisi, Om, Tante.” sapa Alvaro masuk
“Benar ini Dosenmu, Nak?” tanya Mama memastikan “Bukan, Ma. Ini Alvaro, teman Arthea di kampus. Dia yang menjaga putri kita semalam suntuk, Ma.” sahut Ayah menjelaskan “Nak, terima kasih banyak, ya, kamu anak yang baik.” puji Mama pada Alvaro “Siapa yang mengundangmu kemari? Aku muak melihatmu!” amukku pada Alvaro “Aku nggak ada kelas hari ini, ayo kita selesaikan tugas dari Pak Wicak.” ajak Alvaro dan meletakkan bukunya di ranjangku “Ceh! Begitu menyebalkan.” ketusku “Nak, jangan marah-marah gitu. Perutmu masih sakit.” sahut Ayah “Mama mau kamu selesaikan masalahmu dengan temanmu, biar Mama sama Ayah keluar. Dia baik mau jenguk kamu, mau ngajak belajar bareng biar nggak ketinggalan selama kamu sakit. Selesaikan masalahmu, setelah ini jangan marah tanpa alasan lagi.” tegur Mama “Nak, kami tinggal dulu, ya.” imbuh Ayah dan berlalu dari ruanganku “Baik, Om, Tante.” balas Alvaro Aku hanya diam dan menatap Alvaro sedikit kesal. “Jangan dilihatin terus, iya-iya gue ganteng.” gumam Alvaro menyindirku “Dih, siapa juga yang ngelihatin lo.” ketusku
“Maaf, jika membuatmu terluka. Lupakan yang kemaren, kita mulai belajar lagi, ya.” ucap Alvaro “Okay, nggak usah baper. Kalau bukan karena Mama sama Ayah, mana mau gue.” balasku Kita belajar cukup lama, Alvaro dan aku menjadi sefrekuensi seperti ini. Saling memberitahu dengan baik-baik, tanpa ego tanpa amukan seperti kemarin. Bahkan, kalau kita sudah jenuh belajar Alvaro kerap kali mengeluarkan candaan-candaan yang berhasil membuatku tidak bisa berhenti tertawa. Kalau nggak, Alvaro memainkan gitar dan bernyanyi untukku. Sebuah siklus yang romantis sebagai kekasih, Alvaro begitu paham apa yang aku rasakan. Padahal, kita belum lama saling mengenal lagi pula kita berdua selalu tidak akur kalau ketemu. Baru kali ini, aku merasakan dia hangat dan care padaku. Apa ini cinta? Mana mungkin, Alvaro yang dingin dan kaku kek kanebo kering itu menyukaiku yang ada aku yang mulai jatuh cinta padanya. “Udah gelap, Al. Udah dulu, lanjut besok aja, ya, capek gue.” ucapku “Ok, terima kasih atas ilmunya hari ini.” balasnya dan mengemasi buku-bukunya “Ar, ini untukmu.” imbuhnya dan menyodorkan buku untukku “Apa ini?” tanyaku heran “Ambilah, buatkan novel yang enak dibaca untukku, ya.” pintanya “Novel? Maksut lo?” tanyaku semakin bingung
“Buatkan saja apa yang aku minta, kamu ahli bukan dibidang ini?” balas Alvaro dan tersenyum padaku “Masih terlalu amatir, btw dari mana lo tahu gue bisa dibidang ini?” tanyaku lagi “Bagaimana aku nggak tahu, kamu saja selalu menuliskan cerita-cerita bucin di halaman terakhir disetiap bukumu pula.” ujarnya “Ceh! Jadi lo membacanya.” ucapku sedikit salting Kita saling tertawa. “Arthea!” seru Sonia dan yang lain “Loh, kalian.” balasku dan tersenyum “Bima, Atta. Kalian juga ikut kesini, ya, ampun. Thanks, ya,” imbuhku “Kurang satu, Gerand mana ni?” sahut Alvaro menayakan Gerand “Ke toilet, Al.” singkat Bima “Arthea, kita keluar yuk!” ajak Raya “Dokter meminta gue untuk istirahat, Ray.” balasku “Udah deh, ayolah. Aman pokoknya lo sama kita.” paksa Sonia dan menyuruhku duduk di kursi roda “Eh, lo yakin?” tanyaku “Bawel lo mah, skuylah.” balas Atta “Al, ayo ikut!” seru Bima mengajak Alvaro
“Duluan aja, biar gue sama Arthea.” balas Alvaro dan mendorong kursi rodaku “Tara! Kita main kembang api!” seru Fenta “Nih pegang satu-satu.” imbuhnya dan membagikan pada kami “Arthea mau pegang?” tanya Alvaro padaku “Iya dong.” balasku “Awas kena tangan nanti.” Alvaro memberikan kembang api padaku “Guys, satpam. Lari!” teriak Sonia “Gue gimana?!” teriakku yang berjalan dengan kursi roda “Awas tangannya.” pinta Alvaro dan mendorong kursi rodaku “Aduh!” keluhku kesakitan “Kamu kenapa, Ar? Perutmu sakit lagi?” tanya Alvaro panik “Gue nggak papa.” singkatku dan menahan sakit “Jangan bilang nggak papa ketika lo terluka, Ar.” balas Alvaro “Gue nggak papa, pergilah.” ucapku lirih dan mengusirnya agar meninggalkanku seorang diri “Kamu kenapa sih? Kamu itu sakit, aku yang bawa kamu kesini jadi mana mungkin aku ninggalin kamu disini sendirian? Diamlah, biar aku antar kamu ke ruang rawat.” balas Alvaro “Tolong, tinggalin gue disini sendiri.” pintaku
“Nggak!” kekeh Alvaro “Gue bilang tinggalin gue disini dan pergilah!” ucapku lagi “Tapi kenapa, Ar? kamu terluka sekarang.” tanya Alvaro “Gue benci sama lo, dan satu hal lagi. Gue sama sekali tidak menyukaimu, jadi pergilah!” amukku padanya “Arthea, lo dimana?!” seru Sonia mencariku “Sonia, gue disini!” sahutku “Arthea, kau baik-baik saja?” tanya Sonia mendekatiku “Lo datang tepat waktu, antarkan gue ke kamarku sekarang.” pintaku “Iya, Ar.” balas Sonia “Alvaro, kita duluan, ya.” imbuh Sonia pamit pada Alvaro Aku benci Alvaro, aku begitu muak menatapnya. Semakin dia bersikap baik dan hangat padaku semakin pula aku harus berkata kasar dan memakinya. Sungguh, aku bingung dengan rasaku terhadapnya. Seharusnya aku bahagia mendapatkan perhatian sepesial dari Alvaro, seharusnya aku tidak semarah ini padanya, dia baik padaku dan dia care padaku. Aku marah padanya, tapi kenapa hati ini masih ingin dia disisiku dan singgah dengan baik. “Huft! Apa cinta selinglung ini?” tanyaku dalam hati sambil menghela napas. Alvaro prov Apa hati cewek itu selalu berantakan? Pagi baik, siang ngambek, malamnya bilang benci. Sikap Arthea malam ini benar-benar tidak bisa ditebak. “Lagi PMS kali, ya, Arthea.” batinku dan terus melaju pulang. Malam ini aku kehilangan
satu alasan untuk bergegas pergi dan beranjak, selain tidak bisa meminum kopi buatan Arthea di setiap pagi dibalkon kampus. Aku juga kehilangan perihal berharga darinya, kehilangan cintanya. Belum lama ini, dia menyukaiku dengan baik. Tapi malam ini dia membenciku dengan sumpahserapah yang keluar dari mulut manis kesukaanku itu, dia sudah berucap untuk tidak menyukaiku lagi. “Hmm, tapi apa alasannya?” tanyaku dalam hati hingga aku terlelap. Ternyata Kita Bertetangga Pagi buta, aku terbangun. Masih sama, terbaring diranjang mahal yang membosankan dan entahlah hingga kapan aku bisa segera keluar dari tempat ini. Rasanya sudah cukup lama aku tidak beraktivitas dengan baik, itu persoalan buruk yang terjadi padaku beberpa hari. Melakukan latihan bersama teman-teman, menghabiskan waktu dengan perbincangan seru dan menyiapkan kopi untuk pangeran dinginku. “Astaga! Apa yang lo pikirkan sepagi ini, Ar.” gumamku dan memukuli kepalaku sendiri. “Arthea.” panggil Ayah yang datang menemuiku “Iya, Ayah ada apa?” tanyaku “Kita berkemas sekarang, kamu sudah boleh pulang, Nak.” balas Ayah “Benarkah, Ayah?” tanyaku memastikan “Kamu senang bukan? Ayo kita keluar, Eyang dan Mamamu sudah menunggu diluar.” ajak Ayah “Eyang,” panggilku
“Kita pulang ke kota sekarang.” seru Eyang yang tidak sabaran “Ayah, apa benar yang dikatakan Eyang?’ tanyaku pada Ayah “Benar, Nak.” sahut Mama Sudah mimpiku sejak dulu untuk tinggal di rumah Ayah dan Mama lagi yang semula aku pikir itu hanyalah sekedar mimpi bagiku. Namun, Tuhan mengabulkan mimpiku untuk yang kali ini. Semenjak Mama dan Eyang mengalami masalah, aku jadi tinggal bersama Eyang di desa yang agak jauh dari rumahku di kota. Sementara Mama tinggal dikampung halaman Ayah di Bali, karena memang pekerjaan beliau ada disana. Sedangkan Ayah malah justru merantau ke Kalimantan dan bekerja di salah satu perusahaan tambang disana. Ayah juga seorang musis terkenal dimasanya, namun Eyang tidak menyukai seoang menantu yang berbau penyanyi dan semacamnya ditambah lagi Ayah beraliran rock. Lantas, Ayah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan itu dan memilih merantau ke Kalimantan ketika itu aku masih bayi. Ayah, menekuni pekerjaan barunya sementara dunianya hanya sesekali saja untuk sekedar melepas penat bersama grup bandnya. Setiap dua tahun sekali beliau pulang untuk menemuiku, itupun tanpa sepengetahuan Eyang. Beberapa hari saja melepas rindu bersamaku, Ayah lebih sering mengunjungi Mama di kampung halamannya di Bali. Sekarang, keduanya disisiku. Aku memeluknya erat, ku anggap ini adalah kado terindah dari Mama dan Ayah karena keduanya memilih mutasi dari pekerjaan yang membuatku jauh dari mereka. “Nak, bukankah dia pangeranmu?” tanya Ayah
“Pangeran?” tanyaku balik “Iya, dia pangeranmu, kan,” balas Ayah “Oh, Alvaro. Kenapa dia disini?” balasku dan bertanya “Om, Tante, Eyang.” sapa Alvaro hangat “Alvaro.” sapa Ayah “Kenapa kau disini? Kau membuntutiku?!” sahutku dengan ketus “Arthea, jangan gitu, ah.” tegur Mama “Alvaro!” teriak wanita paruh baya “Sebentar, Om, Tante. Mama saya memanggil.” ujar Alvaro dan menemui wanita paruh baya yang katanya adalah Mamanya “Miyas? Kamu anaknya Miyas, Nak?” tanya Ayah “Iya, Om. Mama saya bernama Miyas, Om mengenal Mama saya?” balas Alvaro dan balik bertanya “Mamanya Arthea dulu berteman baik dengan Mama kamu.” jelas Ayah “Lalu, apa yang membawa Om dan sekeluarga datang kemari?” tanya Alvaro “Kami tinggal disini, ini rumah kami.” balas Ayah dan menunjuk rumah disamping kami berdiri “Ternyata kami bertetangga, Om.” balas Alvaro “Dunia memang sempit, ya.” sahut Ayah dan tertawa ringan
“Ayah, ayo masuk.” bisikku “Ya sudah, Om. Saya permisi dulu, mari.” pamit Alvaro “Main-main kerumah kalau sedang tidak sibuk, Nak.” sahut Mama “Pasti, Tante.” balas Alvaro dan berlalu Pagi ini dimulai dengan sepucuk surat rindu yang hadir menghiasi hari-hari sepi. Pasalnya semenjak Alfin, mantan kekasihku pergi jauh dari hatiku ini rasanya seperti semu tanpa warna apapun. Aku sedang menerka-nerka perihal kebahagiaan ditahun berikutnya tanpa Alfin, bukan aku tidak mau kehilangannya hanya saja melupakan juga butuh proses panjang. Apa mungkin, seorang Laksamana Alvaro Prayoga bisa membingkai hati yang carut-marut dan remuk-redam ini? Sedangkan Alfin saja sulit untukku enyahkan dari bayangbayang pikiranku. “Apa yang sedangku pikirkan?! Ceh! Pangeran dingin itu selalu saja mengerumuni otakku.” gumamku dan pergi tidur. “Arthea, bangun temanmu datang untukmu.” panggil Mama membangunkanku “Iya, Ma.” sahutku dan menemui temanku diruang tamu “Hai, Sonia gue kirin siapa.” sapaku “Arthea, lo sudah baikan?” tanyanya dan langsung memelukku “Gue sudah baikan, Son.” Balasku “Apa yang membawamu kesini sepagi ini?” imbuhku “Pak Wicak nyariin lo sejak seminggu yang lalu.” balas Sonia
“Lalu apa yang beliau katakan?” tanyaku “Beliau menunggumu untuk meeting bersama partisipan acara tahunan kampus.” ujar Sonia “Oh iya, satu hal lagi. Lo tahu Fahrin, kan?” imbuhnya “Iya, gue tahu. Putri tunggal pemilik yayasan kampus kita yang beken itu, kan,” sahutku “Ceh! Bukan itu, Ar.” sangkal Sonia “Lalu?” tanyaku “Dia akan jadi saingan lo, secara selama 3 tahun perayaan ulang tahun kampus dia selalu ikut andil di acara itu sebagai pemeran utama pula. Kemaren dia marah besar karena Pak Wicak memilih elo sebagai peran utama dan dia sebagai peran yang bakal gantiin elo kalau berhalangan ikut.” jelas Sonia “Tapi lo tenang aja, gue dan yang lain tetep dukung elo, Ar.” imbuhnya memberikan support “Thanks, Sonia.” balasku “Ar, btw Eyang Reyhadi kemana?” tanya Sonia sambil celingukan mencari Eyang “Kenapa? Lo pengen jadi muridnya?” tanyaku meledeknya “Nggak deh, hehe.” balasnya sambil nyengir “Tok-tok-tok.” seseorang mengetuk pintu “Bentar, ya, Son gue bukain pintu dulu.” ucapku “Ok.” singkat Sonia
“Silakan masuk.” pintaku pada orang yang sedang bertamu ke rumahku itu “Buka pintu aja lama banget sih.” ucap orang itu “Loh, elo?! Bukankah pagi ini lo ada kelas?” tanyaku sedikit geram “Pak Wahid sedang ada keperluan, ya udah gue balik aja. Nyempetin mampir bentar untuk berkunjung kerumah tetangga baruku.” ujarnya tanpa mentapku “Ceh! Kau menggodaku rupanya.” sindirku “Lo free nggak? Rencananya gue mau aja lo keluar, gimana?” tanyanya “Gue free sebenernya, tapi ada Sonia di dalam.” balasku “Katakan saja bahwa Bima sedang menunggunya di taman kampus.” usulnya “Lo yakin?” tanyaku “Yakinlah, Bima gue yang urus.” balasnya “Arthea, lo lama banget sih.” seru Sonia menemuiku “Loh, Alvaro lo juga ke sini rupanya.” imbuhnya menyapa Alvaro “Iya, Son. Gue tinggal di samping rumah Arthea, jadi gue main kesini.” balas Alvaro “Em,” singkat Sonia “Sonia, barusan Alvaro dapat telefon dari Bima. Katanya lo disuruh ketaman kampus, dia menunggu lo disana.” sahutku
“Bener begitu, Al?” tanya Sonia pada Alvaro memastikan “Bener, Son.” balas Alvaro “Ya udah, gue duluan, ya, bye.” sahut Sonia dan pergi menemui Bima di taman “See you, Sonia.” seruku “Haha.” Aku dan Alvaro tertawa lepas Aku Merindukanmu “Let’s go.” ajaknya sambil menarik tanganku lembut “Kemana?” tanyaku “Ikut saja.” singkatnya dan kita berjalan berdampingan “Beberapa pagi gue nggak fokus karena tidak meminum kopi di balkon.” gumamnya “Lo nyindir gue?” tanyaku “Nggak, tapi gue marah sama lo.” sahutnya dan menatapku, bibirnya nyaris menciumku dan lalu tersenyum dengan sangat keren “Ma-af, Al.” ucapku kikuk dengan napas tak beraturan “Lo harus menggantinya dengan menemaniku hari ini kemanapun yang gue mau.” balasnya Alvaro mengajak berjalan ditaman dan bercanda, tertawa berdua. Rasanya, rinduku terbayarkan sudah hari ini. Alvaro seperti mengetahui kegundahanku sepanjang malam melalui bahasa kalbu, dia sesekali menatap pernuh arti dan mengacak-
acak rambutku. Aku kesal dengan caranya, namun aku bahagia hari ini karena bisa menghabiskan waktu bersamanya tanpa ada yang menganggu. Alvaro menjadi miliku seharian ini, kini aku berhadapan dengannya menikmati es krim kesukaanku. Moment yang romantis untuk sepasang kekasih, pada kenyataannya bukan kita. “Ar, es krim lo tuh sampai meleleh.” ucapan Alvaro berhasil membuyarkan lamunanku “Lo bersamaku sekarang, jadi pikirkan tentangku.” imbuhnya “Sorry, Al.” balasku “Lihatlah, kau menyiakan es krimmu.” ucapnya “Yah, sudah mencari deh.” keluhku sambil manyun “Pesan lagi.” pintanya “Lo mau nungguin, kan?” tanyaku Dia hanya mengangguk dan tersenyum tanda mengiyakan pertanyaanku. “Cuma satu?” tanya Alvaro ketika aku kembali ketempat semula “Gue nggak mau menghabiskan uang orang tua lo.” balasku meledeknya “Ya udah, ganti semuanya. Mana?” dia menyodorkan tangannya padaku “Nanti akanku ganti, tenanglah.” balasku “Ini untukmu karena banyak alasan.” Dia menempelkan es krim di pipiku
“Alvaro!” geramku “Gue balas lo, ya,” imbuhku Belum sempat aku mencolekan es krim di hidungnya, aku malah justru menumpahkan es krimku dikemeja yang dia kenakan. “Yah,” keluh Alvaro “Alvaro, ma-af.” pintaku “Kau harus mengantinya yang baru sekarang.” balasnya “Ok, let’s go.” Aku menariknya menuju mall terdekat “Pilihkan saja seperti seleraku.” ucapnya ketika kita tiba di mall “Bagaimana selera lo?” tanyaku “Oh, ini cocok sepertinya.” imbuhku dan memberikan padanya baju pilihanku “Terlalu norak.” singkatnya sambil geleng-geleng kepala “Ini, lo suka?” tanyaku sambil memberikan baju yang lain “Warnanya sangat mencolok.” tolaknya “Kemeja ini cocok keknya buat lo, ambil ini dan cobalah.” suruhku dan memberikan kemeja yang sudah ku pilih “Kemeja lengan panjang bukan seleraku, bisa-bisa ketampanan gue turun kalau pake ini.” ujarnya sedikit menggodaku “Ceh! Arogan sekali.” decakku dan memilihkannya baju lagi
“Ini aja deh, capek gue. Sepertinya ini akan menjadi selera lo.” ucapku dan memberikan kaos untuknya “Nggak ah, terlalu meriah motifnya. Bukan seleraku ini mah.” tolaknya lagi “Aish! Mie kalik selera lo.” geramku dan memilihkan baju lagi untuknya “Pilihan terakhir, awas aja kalau nggak suka. Ini, coba pake sono.” suruhku “Emm, gue terima sebagai ganti. Gue coba nanti dirumah aja.” balasnya dan mengambil kemeja dari tanganku “Ya udah, mana gue bayar dulu.” ucapku meminta baju darinya “Nggak perlu, gue nggak mau aja lo besar kepala karena baju ini. Ayo.” balasnya dan menarik tanganku “Makhluk aneh lo, dasar!” geramku “Diem, rewel mulu dari tadi.” balasnya “Cantik banget.” gumam Alvaro “Thankyou.” balasku sambil cengar-cengir “Dressnya, bukan elonya. Dih, ge-er.” balasnya “Mbak, minta dress ini dong.” pintanya pada SPG di toko itu “Baik, Mas.” balas Mbaknya dan memberikan dress itu pada Alvaro “Coba pake.” Dia menyodorkan padaku dan menyuruhku untuk mengenakannya
“Gue?!” tanyaku bingung “Buru pake, malah polnga-plongo.” balasnya “Hmm.” singkatku dan pergi untuk mencobanya “Gimana?” tanyaku menghampiri Alvaro “Buset, cantik banget.” gumam Alvaro menatapku dari ujung kaki hingga kepala “Iyalah, cantik dari lahir gue mah.” balasku “Apaan sih, dressnya yang cantik.” elaknya “Baiklah, berarti hutang gue lunas, ya, jangan nagih lagi.” imbuhnya “Hutang? Kapan lo hutang ke gue?” tanyaku “Cewek suka sok-sok lupa, gini nih.” balasnya “Serius gue nggak ngerti, hutang apa, Al?” tanyaku lagi “Oh, jadi ini beneran lupa. Pura-pura lupa nggak nih.” ledeknya sambil tersenyum ringan “Dih, ditanya malah senyam-senyum, nggak jelas.” balasku “Lo lupa kalau gue pernah janji sama lo buat ngasih kado ulang tahun?” tanyanya dan berdiri tepat dihadapanku “Ceh! Bahkan kau menepati janji, gue pikir hanya sebuah iming-iming.” balasku dan tersenyum “Ceh! Bahkan laki-laki sepertiku tidak pernah mengingkari janjinya.” ucapnya sambil membenarkan rambut kerennya yang menutupi pandangnya
“Bahkan kau masih seorang bocah kuliahan.” sahutku “Bukankah lo juga? Lo pikir lo lebih tua dari gue? hmm.” balasnya “Bulan apa lo lahir?” tanyaku “Oktober, tanggal 15. Lo?” balasnya dan bertanya padaku “Gue, Juni tanggal 1. Jadi gue lebih tua dari elo, sudah sepantasnya lo hormati gue karena lebih tua dari gue.” ucapku “Oh, maunya dihormati? Coba sini deketan dikit.” ucapnya “Ngapain?” tanyaku “Katanya mau dihormatin, deketan dong.” balasnya Jatuh Cinta Padamu Aku mendekatinya dan menatap matanya yang sempurna miliknya, membuatku semakin memikirkan rencana indah bersamanya. Dia mendekat, dengan jarak yang saling tatap tanpa bisa diukur lagi. Satu titik saja aku dan dia sedekat nadi, jantung ku berdegub hebat seperti tergunjang. Aku gugup, panas dingin dan seketika dia mengecup keningku. Oh, pertanda apakah ini? Sungguh, Alvaro berhasil meluluh-lantahkan jiwaku untuk yang kali ini. “Begini, kan, cara menghormati wanita?” tanyanya usai mengecup keningku, dia tersenyum lebar dan menatapku Masih sedikit tidak percaya, bahwa Alvaro baru saja mengobrak-abrik benteng pertahanan jiwa yang sempat
tercabik-cabik hebat sedemikian rupa. Kiamat sudah nalarku, habis akal dan carut-marut akibat satu titik tumpu diantara aku dan Alvaro. Diam, aku membisu bungkam tanpa ucapan secepat kilat seperti biasanya aku bersamanya. Kehabisan kata yang berapi-api detik ini, Alvaro sungguh mematikan rasa waras yang ada. Tanpa durasi dari setiap perlakuannya terhadapku, bahkan sinyal-sinyal disekelilingku bahkan sangat buruk untuk menangkap dan menyambutnya hangat dari rasa yang ada akibat satu cup kopi disetiap paginya. “Gue harus terlihat biasa-biasa saja, supaya Alvaro lupa bahwa cintaku masih tumbuh mesra.” batinku. “Dasar kau ini! hmm.” ucapku sedikit geram supaya mewakilkan perasaan tidak senang karena kecupannya yang menancap mesra di keningku barusan Malam beranjak, seharian sudah ku habisakan bersama Alvaro. Kini, saatnya dia mengisi di Cafe Candeline seperti malam-malam sebelum kita bertemu dan berkenalan. Dalam hari, jujur masih ingin selalu disamping Alvaro dan bercanda tawa. Namun, rasanya tidak waras jika aku menahannya untuk tetap disisiku karena memang bukan waktunya kita bersama. Bahkan aku dan dia memang hanya akan bergaris sebagai musuh bebuyutan yang sebentar lagi akan berakhir dengan dendam dimasing-masing hati kita. “Ar, apa yang lo pikirkan?” tanyanya “Oh, bukankah lo harus mengisi acara di Cafe?” tanyaku balik “Iya, gue mau lo ikut. Pake dress ini, jangan mengelak. Lakukan saja, kita pulang dan nanti biarku jemput lo dirumah.” ucapnya dan mengajakku pulang untuk bersiap ke Cafe Candeline bersama Alvaro
Merapikan diri dan mengenakan dress pemberian Alvaro, seperti malam sebelum luka itu terjadi. Kencan bersama kekasih, dengan dinner romantis dan sedikit kejutan kecil darinya. Aku pikir akan baik-baik saja bahkan sangat baik jika aku dan Al terus bersama. “Sayang,” panggil Mama dan masuk ke kamarku “Iya, Ma.” balasku “Mau pergi kencankah putri, Mama ini?” tanya Mama “Nggak, Ma. Mau ke Cafe, nemenin Alvaro mengisi acara disana.” balasku “Boleh, kan, Ma?” imbuhku bertanya pada Mama “Boleh, asal jangan terlalu malam pulangnya.” balas Mama “Baik, Ma.” sahutku “Tuh ponselnya bunyi, udah ningguin diluar jangan-jangan Alvaronya.” tutur Mama sedikit menggodaku “Iya kayaknya, Ma. Udah oke belum, Ma?” balasku dan bertanya pada Mama memastikan make up ku tidak menor “Udah cantik, sana berangkat.” balas Mama “Ya udah, Arthea pergi, ya, Ma.” balasku dan mencium Mama “Hati-hati, Nak.” pesan Mama “Siap, Ibu negara.” teriakku dan segera keluar untuk menemui Alvaro
Ternyata dia belum di depan rumahku, sementara rumahnya sudah tertutup rapat. Sepertinya Mamanya juga sedang tidak dirumah, dan Alvaro tidak disana. Malam ini, kekecewaan pertama hadir ketika Alvaro mengirimkan pesan untukku agar berangkat ke Cafe seorang diri sementara dia sudah lebih dulu ke sana entah kapan tahu. “Ceh! Dia membohongiku malam ini, sudahlah untuk apa gue pergi kesana.” geramku dengan sedikit merintih. Entahlah apa yang merasukiku, aku kurang tahu pasti tentang kekecewaan yang Alvaro timbulkan terhadapku dihatiku ini yang jelas aku benci dia malam ini. Aku tidak benci Alvaro, sungguh. Aku harap malam ini akan menjadi kekecewaan terakhir untuknya karena setelah ini, ku anggap dia mati sudah. Berhenti Peduli Padaku “Halo.” “Aku mengalami masalah dalam perjalanan, bisakah kamu menemuiku malam ini?” “Share loc, gue susul lo.” Aku datang untuk Alfin, dia mengalami masalah ketika perjalanan dari Hongkong menuju Indonesia. “Hai, apa kabar?” tanya Alfin padaku “Baik.” singkatku “Syukurlah, maaf sudah menyusahkanmu. Bahkan kau akan pergi kencan malam ini.” ucapnya “Tidak masalah, lalu apa yang perlu gue lakukan?” tanyaku
“Tolong temani Rintan, dirumahnya. Bisa, kan? Rintan ini kekasihku.” balasnya seperti tidak berdosa “Orang tuanya sedang keluar kota dalam waktu yang lama, dan malam ini aku harus kembali ke Hongkong. Aku tidak tega meninggalkannya dirumah sendirian, makannya aku meminta padamu untuk menemaninya sementara waktu.” imbuhnya menjelaskan “Kekacauan apa lagi ini, Fin?” tanyaku “Tolong, jagain dia untukku selama aku pergi.” balasnya “Lo pikir gue satpam? Lo bilang ini suatu masalah, dan detik ini lo mau melibatkan gue di dunia percintaanmu? Picisan apa lagi ini! bahkan gue menyesal sudah berdamai dengan masa lalu sampah itu! urus saja kekasih lo itu, bukankah seorang kekasih seharusnya selalu disisinya?!” amukku dan meninggalkannya Berlari sekuat tenaga menghindari Alfin, sang mantan yang menyedihkan itu. Penuh tangis dengan isakan membabi-buta, arogan sekali caranya. Menyingkap habis kenangan yang terpendam dengan waktu dan pilu, sekarang dia tagis dalam wujud pertemuan dengan kekasih barunya. Pergi tanpa penjelasan, datang semaunya saja. Pendasaran cinta baginya hanyalah omong kosong dan picisan. Empatiku hilang untuk makhluk hidup bernama Alfin, dia hanyalah mantan yang tidak masuk dalam deretan kenangan termanis. Melainkan mantan berbisa yang sempat meracuniku dengan gombalangombalan sampah dan iming-iming pernikahan. “Hiks-hiks. Kenapa sih alur cintaku harus seperti ini, mengenal Alfin dengan segumpal rasa sakit hingga detik ini. Mencintai Alvaro yang super dingin.” rengeku dalam hati
sambil berjalan sempoyongan di tepian city walk dengan menenteng high heels ditangan dan tangis tak beraturan “Arthea!” teriak seseorang memanggilku “Apa yang sedang terjadi hingga kau menangis seperti ini?” tanyanya mendekatiku Rupanya Alvaro, aku semakin membencinya malam ini. Datang bersamaan luka lama yang pulih berapi-api ini, Alvaro sedang gila karena mengangguku yang tengah terluka parah sedemikian hebatnya. Perih, sungguh perih ditinggal saat sedang sayang-sayangnya. Tanpa penjelasan, pergi begitu saja. “Udah selesai manggungnya?” tanyaku agak sengak padanya “Lo kenapa, Ar?” tanyanya “Lupakan saja! Gue benci elo! Benci Alfin! Dan semuanya, gue benci itu!” amukku dan berlalu meninggalkannya “Aduh!” aku terjatuh, tersandung kerikil. Sungguh menyakitkan, hancur lebur berhamburan. Luar biasa hebatnya menembus cakrawala dan dinding jiwa-jiwa nan lunglai ini. “Ar, gue nggak tahu masalahmu apa dan terserah. Gue nggak mau tahu, gue hanya mau ngebantuin seorang cewek yang terluka dijalan. Apa salah?!” balasnya dan sedikit membentakku “Tidak perlu!” tolakku “Jangan pernah mengelak, lo terluka sekrang. Sini gue bantu.” ucapnya agak sengak dan meraih tanganku “Aduh!” aku nyengir kesakitan
“Duduk!” suruhnya Aku hanya menatapnya “Duduk sekarang atau lo akan lumpuh!” bentaknya “Tenangkan dirimu, ini akan menyakitkan. Tahan sedikit, ya,” ucapnya lagi dan memijit kakiku yang terkilir “Aduh!” teriakku kesakitan “Bertahanlah.” ucapnya “Setelah ini kompreslah dengan air dingin, besok lo sudah akan baikan.” imbuhnya “Thanks.” lirihku “Apa yang sebenarnya terjadi sama lo?” tanyanya dan duduk disampingku “Nggak ada masalah.” singkatku “Mengenai hati lo, gue harap lo menjadi kuat setelah ini.” balas Alvaro “Lo hanya perlu beristirahat dengan baik, naiklah dipunggungku.” imbuhnya dan jongkok di hadapanku “Gue bisa sendiri.” ketusku “Ya udah, buru berdiri coba.” pintanya “Nggak bisa, kan?” tanyanya Aku hanya menggelengkan kepala “Buruan, naik.” pinta Alvaro
“Argh! Bahkan kau begitu berat, apa yang kau makan?” gumamnya “Turun, kan, gue kalau gitu. Cepet!” ketusku “Untuk apa? Jangan sok kuat, jatuh aja nangis.” sindirnya “Alvaro.” lirihku “Apa lagi?” ketus Alvaro “Terima kasih.” Bisikku “Diamlah, gue hanya butuh lo tenang di belakang agar cepat sampai dirumah. Paham?” ucap Alvaro “Hmm.” singkatku Tak Ingin Kau Terluka Alvaro Prov Aku menyaksikan Arthea sempoyongan di pinggir jalan dan menangis. Tak kuasaku menyaksikan wanita yang aku sayangi terluka diujung jalan bersebrangan dengan arah ku melaju. Apa karena aku sudah mengecewakannya malam ini? ku obati lukanya, kakinya terhilir kerikil. Hatiku hancur seketika, menyaksikan Arthea terluka separah ini. Sungguh, aku sungguh jatuh hati padanya karena pertemuan 1 bulan berjalan dan melibatkan cinta diantara kita setelah sekian purnama. Cinta itu benar tertanam dihatiku dengan baik, takkan ku biarkan Arthea terluka dengan apapun itu. Akan ku biarkan dia masuk ke hatiku lebih dari ini, agar dapatku jaga dia dengan baik. Mungkin ini jawaban dari penolakan Ibu Zuli, dengan dikenalkannya aku pada Arthea dan mengenal
semakin jauh lewat cinta. Setelah bekerja sepanjang malam, dan lebih keras dari sebelumnya supaya aku bisa membelikan kalung untuk Ibu Zuli rupanya berujung pada penolakan. Memang cintaku tidak seharusnya mengusik damai dosen muda itu, aku sudah melenceng terlalu jauh. Sudahlah, perlahan aku akan melenyapkan kesalah pahaman rasa ini. “Untuk saat ini memang elo, Ar prioritas gue.” gumamku dan membuka gerbang rumah Arthea “Kenapa lagi dengan anak ini?!” tanya Eyang dengan ketusnya “Saya melihatnya sedang terjatuh, jadi dia pulang bersama saya, Eyang.” balasku “Bawa dia ke kamarnya.” pinta Eyang “Baik, Eyang.” balasku dan membawa Arthea ke kamarnya “Maaf merepotkanmu.” tutur Eyang “Tidak, Eyang. Ya sudah, karena sudah malam saya permisi pulang, Eyang.” pamitku “Baiklah.” singkat Eyang Aku pulang dengan membawa ketidakpastian mengenai Arthea dan tentangnya. Bersamaan harap-harap cemas, lantas membuatku semakin gelisah jika Arthea terluka secuilpun. Semakin berlalu, semakin panjang pula alur ceritaku membersamai Arthea. “Aku pulang.” singkatku dan berlalu menuju kamar “Alvaro,” panggil Mama
“Ada apa, Ma?” tanyaku menghampiri Mama yang duduk di depan tv “Kenapa kamu pulang larut malam? Apa yang terjadi?” tanya Mama mengkhwatirkanku “Sesuatu terjadi pada Arthea, jadi aku bantu dia.” balasku “Lain kali kabarin Mama kalau ada apa-apa agar tidak khwatir.” tutur Mama “Maaf sudah membuatmu cemas, Ma.” imbuhku “Pergi mandi dan makanlah dengan baik.” balas Mama “Baik, Ma.” singkatku dan berlalu ke kamar Merapihkan diri dan rehat sejenak. “Tok-tok-tok, Kak.” tak lama Yustia datang ke kamarku “Hmm,” singkatku “Apa Kakak mengenal gadis rumah sebelah?” tanyanya “Memang kenapa?” tanyaku balik “Dia seperti menyukaimu.” ujarnya “Sok tahu!” balasku “Awas kalau Kakak sampai berkencan dan menciumnya, tidak akan aku ampuni!” ancamnya “Kamu itu tahu apa, masih SMP juga.” balasku “Awas pokoknya, jangan sampai Kakak menciumnya.” ucapnya lagi “Hmm, pergi sana.” usirku
“Awas!” ancamnya lagi dan berlalu dari kamarku “Ceh! Anak itu.” gumamku sambil tersenyum dan gelenggeleng kepala Pagi bersambut, aku bergegas ke kampus lebih awal dari biasanya saking rindunya sama temen-temenku. Hmm, sudah satu minggu berlalu dengan buruk hari-hariku hanya terbaring diranjang mahal rumah sakit. Seperti biasa, sebelum masuk kelas harus kusiapkan 1 cup kopi kesukaan Alvaro di balkon. Namun, untuk yang kali ini dia tak kunjung datang dan mengambil kopi di balon. Mungkin aku yang kepagian datang ke kampus, bahkan 2 jam lebih dia tidak datang-datang. Alvaro sungguh membuatku kering di balkon, kopinya sudah dingin lagi. “Argh! Dia tidak menghargai lelahku sepagi ini repot-repot memesankan kopi panas untuknya.” geramku “Kelas sudah hampir dimulai, dan elo tidak datang juga, hmm. Apa masih diparkiran, ya,” gumamku dan berlalu menuju parkiran mencari Alvaro Rupanya, sepeda milik Alvaro tidak terparkir ditempat yang biasa sepedanya tempati. Ditaman tempat kesukaannya untuk menyendiri juga tidak ada, hingga kelas usai dan sampai latihan dengan Pak Wicak tidak ku temui dia hadir. Bahkan, Bima dan teman-teman terdekatnya tidak satupun mengetahui Alvaro dimana hari ini. Bahkan, kopi dibalkon masih tersaji dengan baik, sama sekali belum dia sentuh. “Al, ada apa dengan lo hari ini?” tanyaku dalam hati, sambil celingukan dari atas balkon untuk mencari keberadaan Alvaro barangkali ada dikampus. “Sudahlah, dia tidak akan datang.” pasrahku. “Seseorang sudah meludahi kopi ini!” tulisku di atas cup kopi
itu dan meninggalkannya dibalkon hingga Alvaro datang untuk meminumnya. Aku melihat ruangan balet masih ada seseorang berlatih disana, aku pikir Fahrin rupanya Ibu Zuli. “Apa harus sekeras ini untuk hasil yang maksimal?” batinku dan memperhatikan setiap gerakan Ibu Zuli berlatih dari kaca luar ruangan. “Bahkan beliau yang hebat saja masih berlatih sekeras ini, hmm.” gumamku dan berlalu pulang, melihat kearah balkon ternyata kopi buatanku sama sekali tidak Alvaro sentuh. “Kau tetap membiarkan kopi itu menjadi es, Alvaro! Ceh!” geramku dan pulang dengan kekecewaan terhadapnya. Salahkah Aku Mencintaimu Alvaro Prov Hmm, hari ini aku dengan sengaja tidak berangkat kuliah dan meninggalkan semua kegiatan disana mungkin hingga esok. Semalam, usai aku mengantarkan Arthea pulang sebenarnya aku menyempatkan diri menemui Ibu Zuli di kampus. Aku paham betul, jam-jam malam dia biasa menghabiskan waktu berlatih dance di kampus hingga dini hari. Bahkan, sudah menjadi kebiasaanku sejak Ibu Zuli membuatku jatuh cinta, aku selalu menyaksikannya berlatih sepanjang malam. Namun, semalam dia terjatuh dan keseleo akibat berlatih terlalu keras. Aku menyaksikannya meringis kesakitan, lantas aku menyalakan lampu ruang latihan dan membantunya berdiri. “Kakimu terkilir, biar aku bantu.” pintaku “Tidak perlu, pergilah!” tolaknya “Aduh!” rengek Ibu Zuli kesakitan
“Biarkan aku mengobati kakimu yang terkilir.” ucapku dan memijit bagian kakinya yang terkilir “Sungguh, saya malu padamu.” lirih Ibu Zuli Aku hanya tersenyum dan menatapnya. “Terima kasih, Alvaro.” ucap Ibu Zuli “Apa kamu bisa pulang sendirian?” tanyaku “Tenang saja, saya sudah baikan. Pulanglah.” balasnya dan menyuruhku pulang “Sebaiknya Ibu Zuli pulang duluan.” balasku “Baiklah, saya duluan, ya,” ucap Ibu Zuli dan melangkah ke mobilnya “Tunggu.” Aku menghentikannya “Ada apa lagi, Alvaro?” tanya Ibu Zuli dan menatap kearahku “Aku mencintaimu.” ucapku mendekatinya “Tidak seharusnya kamu mengatakan itu.” balas Ibu Zuli “Lantas, apa yang seharusnya aku katakan?” tanyaku “Cintai dia yang seusiamu.” balasnya “Berhentilah mengejarku, karena yang aku butuhkan adalah seorang pria dewasa bukan bocah laki-laki seusiamu. Sekali lagi, terima kasih untuk bantuanmu hari ini. pulanglah dengan baik, permisi.” imbuhnya dan pergi dengan mobilnya Ucapanya semalam benar-benar menyesakkan hati, bodohnya, aku masih saja mengejar Ibu Zuli dan berjuang keras agar mendapatkan cinta darinya. Bahkan, tentang Arthea aku
sedang bergejolak perihal cinta. Aku sungguh tidak siap jika berhadapan lagi dengannya, penolakannya membuatku enggan beranjak dari ranjang. Tapi, pagi tadi Mama memarahiku supaya pergi kuliah hari ini. Aku hanya mengiyakan dan malah pergi ke tempat Papa Laksamana di kota sebrang. Malam harinya, aku terus terpikirkan kopi di balkon. Hingga gelisah dan tidak tenang, perasaan mamang tidak bisa dikelabuhi namun bagaimana aku mengerti isyaratnya sedangkan menemui Ibu Zuli saja masih kadang berontak dan besikeras memilihnya. Lain halnya menjumpai Arthea, selalu ada perdebatan yang menusung canda dan tawa bahkan rasa cinta. “Pasti kopi itu sudah dingin sekarang.” batinku “Nak, apa yang kamu pikirkan? Seperti mencemaskan sesuatu.” tanya Papa “Oh, nggak, Pa.” sangkalku “Jangan berbohong, soal cinta bukan?” goda Papa “Hmm, Papa bisa aja.” balasku “Sudah, pulanglah. Selesaikan urusanmu, kembalilah esok.” pinta Papa “Baik, Pa. Saya pulang dulu, ya,” pamitku Aku pulang dari tempat Papa dirawat dan langsung ke kampus untuk menghargai satu cup kopi pesanan Arthea. Papaku akhir-akhir ini menghabiskan waktu dirumah sakit, efek dari masa lalu beliau yang seorang pemabuk berat. Ditambah lagi Papa dan Mama harus bercerai, karena Papa terang-terangan
selingkuh dan dari hubungan gelapnya itu Papa memiliki seorang putri, beliau memang begitu. Pekerjaannya sebagai seorang pimpinan angkatan laut membuat lupa bahwa dirumah ada yang gelisah menunggu kepulangannya. Papa memilih pelarian dengan menyakiti Mama dan berselingkuh dengan wanita lain. Kejadian terburuk dalam hidupku, kehilangan sosok pemimpin hebat dan tegas seperti Papa. Ada amarah yang berkecamuk, namun kembali lagi bahwa usiaku dulu masih terbilang kecil dan remeh untuk mempertahankan Mama dan Papa. Diawal, Mama masih ingin Papa ada ditengah-tengah kita terlebih aku dan Kakakku butuh peran seorang Papa tapi sikap Papa yang keterlaluan dan tidak bisa dimaafkan oleh Mama. Akhirnya berujung pada perpisahan. Papa kerap kali melukai Mama, dari awal Papa sudah salah dalam mendapatkan Mama. Sempat Papa gagalkan pernikahan Mama dengan kekasihnya dan merebutnya dengan paksa agar Mama mau menikah dengan Papa. Ada alasan kuat yang membuat calon suami Mama itu kecewa dan terluka pada Mama, Papa dengan sengaja mengatakan bahwa Mama telah mengandung anaknya hasil dari hubungan gelap. Segubrak bukti-bukti rekayasa Papa semakin menugatkan calon suami Mama mundur penuh kekecewaan dan luka parah. Usai perceraian mereka di waktu yang bersamaan. Ketika itu, aku dan Kakakku kocar-kacir. Kami hidup namun mati, sekejab kita akhirnya harus dipisahkan. Aku bersama Mama dan Kakak ikut bersama Papa, hancur lebur seketika kala itu. Bahkan menarik napas saja serasa enggan, kita sudah terpisah jauh tanpa sekilas temu. Penghujung, kabar baik mengurai lewat kabar baik dari Kakaku. Dia menikah dengan laki-laki pilihannya, suaminya seorang polisi. Diawal juga, pernikahannya carut-marut, terguncang hebat dan diambang
perceraian. Kak Omar, suami Kakakku ternyata adalah mantan pacar dari Kak Baeti. Anak selingkuhan Papa. Sempat juga drama hebat Kak Baeti ikrarkan agar Kak Omar dan Kak Grita berpisah dengan musnah. Berlalu, bertahun tergerus. Keduanya saling damai, mengesampingkan ego dan berbaikan lantas menjadi kuat terhadap fitnah dan apapun itu yang Kak Baeti perbuat pada keduanya. Hmm, sampai dibalkon kampus. Kopi itu sudah dingin, membeku. “Seseorang sudah meludahinya!” tulisan diatas tutupnya “Ceh! Arthea.” gumamku sambil tersenyum sendirian dan meneguk kopi iyu Apa Yang Sedang Menganggu Pikiranmu Hari berikutnya, aku pikir setelah Alvaro seharian kemarin tidak hadir untuk yang kali ini dia akan tiba dan berbuat usil padaku. Seperti biasanya, ku siapkan kopi dibalkon untuknya. Diatas balkon itu, sepedanya nampak jelas ada diparkiran. Namun, Alvaro tidak terlihat sama-sekali. Aku mencari sekeliling kampus tidak segera melihatnya. Siang hari, aku tidak juga melihat bayangnya. Ada satu tempat yang menjadi kesukaannya, di taman. Aku kelupaan memastikan dia disana, benar saja. Dia terbaring direrumputan taman kampus, menatap langit terik dan mengenggam sebuah kalung cantik ditanganya. Segera aku medekatinya, seseorang memanggilku dan membuatku mengurungkan niat untuk melangkah. “Arthea.” panggil seseorang “Iya, kenapa, Fidya?” tanyaku
“Pak Wicak memanggilmu.” balasnya “Oh, baiklah. Terima kasih, Fid.” balasku dan langsung ke ruangan Pak Wicak “Tok-tok-tok.” Ku ketuk pintu ruangan beliau “Masuk!” seru Pak Wicak menyuruhku masuk “Bapak memanggil saya?” tanyaku “Iya, silakan duduk.” suruh Pak Wicak “Baik, Pak.” Aku duduk “Dimana Alvaro berada?” tanya Pak Wicak “Saya melihat dia di taman, Pak.” ucapku “Panggilkan dia sekarang juga, ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan kalian berdua.” suruh Pak Wicak “Baik, Pak. Saya permisi.” pamitku dan langsung menemui Alvaro ditaman Alvaro tidak singgah ditaman lagi, menghubunginya saja sesulit ini. Apa yang terjadi, Al? “Gue telat menemuinya.” keluhku “Kemana dia?” tanya Pak Wicak yang tiba-tiba datang dan mengacak-acak rambutku dari belakang “Aish! Pak Wicak!” geramku dan merapikan rambutku “Mana? Katanya disini.” tanya Pak Wicak lagi “Sudah pergi, Pak.” balasku “Anak itu!” kesal Pak Wicak
“Sudahlah lupakan dia, pergi latihan bersama yang lainnya.” imbuh Pak Wicak dan menyuruhku pergi latihan “Baik, Pak.” balasku dan berlalu ke aula Sudah dua hari terlewati tanpa, Alvaro. Sebenarnya apa yang sedang terjadi padamu, Alvaro? Hingga bertindak seperti ini. Bukan kebiasaanmu membolos demikian. Apa sesuatu menguncang pikiranmu? Hingga kegiatan kampus sepenting ini saja kamu lupa. “Brak!” aku terjatuh “Aduh!” keluhku kesakitan “Kalau nggak bisa mundur aja kalik.” sindir Martini “Lo cari musuh disini?!” sengakku “Kalau iya, kenapa?!” tantang Martini “Argh! Lo berdua bisa nggak sih nggak ribut disini?” sahut Farim “Astaga! Ini keributan apa lagi?” keluh Ibu Zuli “Kalian bertiga ikut saya, yang lain lanjutkan latihan dengan Ibu Zuli.” sahut Pak Wicak dan mengajak kami pergi dari tempat latihan Kami bertiga diajak ke tempat teater. Pak Wicak meminta kami memperhatikan peran diatas panggung teater itu. “Untuk apa sih kesini.” gumam Martini “Ini semua karena elo!” sahut Farim “Kek lo nggak aja.” timpalku
“Diam!” lerai Pak Wicak “Lihatlah, Arthea. Diatas sana mereka sama, kalau dia bisa kamu juga harus bisa. Harus percaya diri!” bentak Pak Wicak menasihatiku “Martini, kamu jangan merasa yang paling penting disini. Lihat dia, bagaimana dia berlatih?!” imbuh Pak Wicak menasihati Martini “Dan Farim, disini tidak ada yang paling hebat, paling kuat dan paling ahli. Seharusnya, kamu bantu Arthea dan Martini bukan malah mementingkan ego. Sekarang saya berikan waktu satu jam disini, pahami lagi dengan baik apa maksud saya.” tambah Pak Wicak menasihati Farim dan meninggalkan kami disana Jadilah Yang Terbaik Tanpa Menjadi Orang Lain Hari ini, aku menyerap ilmu dari Pak Wicak. Pertunjukan barusan menyadarkanku, bahwa diatas langit mememang masih ada langit. Setiap yang hebat akan selalu ada yang lebih hebat, yang pintar ada yang lebih pintar diatasnya lagi. Aku kembali, sore hari dengan nasihat Pak Wicak yang benarbenar ngena dihati. Menengok kearah balkon, 1 cup kopi pagi tadi sudah tidak lagi membeku. Tandanya Alvaro sudah meminumnya, entah kapan waktunya. Aku lega, karena Alvaro meminumnya dengan baik. Semoga saja ia lekas baikan apapun konflik miliknya dan bisa pergi ke kampus dengan baik seperti biasanya lagi. Keesokan paginya, kopi yang aku siapkan dibalkon dia minum dalam kondisi hangat. Senangnya bukan main, seperti