berdiri. Dia berjongkok dihadapanku sambil memegangi kedua tanganku untuk meyakinkanku tentang apa yang sudah terjadi, ini semua bukan salahku.Dia duduk disampingku, merangkulkan tanganku di perutnya dan lantas mendekapku erat sambil mengusap punggungku perlahan untuk menenangkan. “Menangislah, jika memang masih ingin. Tapi, tolong untuk tidak lagi mengulangi isakan dihadapanku setelah ini.” bisiknya Diam begitu lama sekali, hingga pelukan perlahan lepas bersama isakan yang luluh oleh dekapan yang sangat aku rindukan selama ini. “Maafkan aku atas semuanya, jadi bolehkan aku meluruskan yang tersimpan saat kau pergi dan mencintaimu dengan kesungguhan hati, Arthea?” tanyanya usai aku tenang “Aku kira kau hanyalah seorang yang pandai dalam menaklukan hati para wanita, ceh!” keluhku “Atas semuanya aku sungguh minta maaf.” sesalnya “Tapi, aku marah padamu.” Balasku sambil memukul-mukuli lengannya “Lakukan saja semaumu, asal aku bisa terus disampingmu.” ujarnya dan menatapku penuh arti “Berhenti menatapku, atau aku akan makin marah padamu.” ancamku Dia malah tersenyum manis padaku. “Alvaro!” teriakku “Bukankah kau menyukaiku karena aku tampan saat tersenyum manis?” godanya
“Apaan sih, narsis.” kesalku sambil balik tersenyum padanya “Jadi, gimana dengan tawaran Pak Wicak, kamu bersedia?” tanyanya “Lupakan Pak Wicak, mari melanjutkan rindu ini dulu. Sebab, aku masih merindukanmu.” gombalku Alvaro merangkul pundakku dan menyandarkan kepalaku dipundaknya. “Aku pula, sangat merindukanmu, Arthea.” ucapnya menatapku dari samping “Aku kira kau tak sungguh, Al.” ucapku “Bahkan saat kau meragukanku tentang kesungguhanku padamu, aku malah justru ketakutan rindu ini tidak akan bersua kembali.” ujarnya “Kau bahkan menyedihkan saat merindukanku.” ucapku “Bahkan aku mengakuinya.” Balasnya dan tersenyum “Bagaimana dengan tanganmu?” tanyaku “Sudah baikan, sesekali masih nyeri saat aku terlalu keras berlatih main gitar.” balasnya “Aku mau dinyanyikan sebuah lagu darimu diiringi gitar petikanmu sendiri, masih bisa, kan?” tanyaku “Bisa, tapi aku sedang tidak membawa gitar sekarang.” Balasnya “Bukankah kau punya aplikasi untuk gitar di ponsel?” tanyaku
“Aish! Kau mengingatnya dengan baik, baiklah akan aku persembahkan untukmu.” Ucapnya dan langsung membuka ponselnya mencari menu aplikasi untuk bermain gitar Saat-saat ini pernah kita lakukan dulu, aku mengulanginya bersamamu, Al. Tuhan memberikan jeda pertemuan kita berdua untuk rasa yang makin memuncak. Inikah cinta yang sesungguhnya? Aku kira iya, mari kita rampungkan cerita cinta yang terjeda pisah sepihak karena keadaan yang meminta, Al. Aku janji, untuk disisimu sekali lagi dan tak akan pernah pergi. Maaf, mimpimu tertunda karenaku, akanku pastikan semua akan berjalan sesuai harapanmu untuk yang kali ini. Aku mempercayai satu hal, yang kau korbankan padaku kala itu akan kau tuai secepatnya seiring kesembuhan tangan kirimu dan kau akan menjadi gitaris tampan yang terkenal, yang paling aku cintai didunia ini. “Temani aku melewati ini semua, Ar.” pintanya “Pasti, aku akan disisimu.” balasku
Tentang Penulis Tika Ayu Widyaningrum Wardani, teman-teman memanggilku Tika Dani. Seperti nama diakun media sosialnya @tikadani_ kalian bisa berbincang banyak hal dengannya di sana. Seorang penulis kenamaan Tika Dani ini adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, kedua kakaknya lakilaki. Dia sedang memfokuskan diri menyelesaikan pendidikan di Universitas Terbuka Surakarta. Cita-citanya sangat mulai membahagiakan kedua orangtuanya terlebih Mama, walaupun masih sering banyak bersantai ria dan manjanya. Buku ini akan menjadi karya ke-empatnya yang berhasil masuk penerbit, tidak sampai disini. Semoga penulis bisa terus berkarya dan memperbaiki kekurangan dari buku ini untuk karya selanjutnya yang lebih baik lagi. Salam literasi:)