ketiban emas 100kg dari langit tersebab Alvaro datang sepagi ini kekampus dan meminum kopi dibalkon. “Syukurlah, aku melihatmu pagi ini.” batinku dan menyaksikan dia meminum kopi itu Diatas sana, Alvaro nampak menatap tanpa beralih pandangan menuju ke arahku. Aku meluruskan arah pandangnya, rupanya dia sedang menatap Ibu Zuli. Sedalam itu tatapannya untuk seorang dosen muda di kampusnya. “Apa kau menyukainya?” batinku dan berlalu dari tatapan yang kusadari bukan untukku itu. Alvaro Prov Pagi ini usai lelah dua hari ku lalui, usai tumbang itu. Kini, aku berada dikampus dan meminum kopi di atas balkon. Dari sini pemandangan menyebalkan hadir dalam tatapku, percakapan mesra dikejauhan antara Pak Wicak dengan Ibu Zuli sungguh membuatku tidak menyukai hari ini. Sepertinya mimpi burukku sedang dikabulkan, bahkan wanita yang ku cintai lebih memilih berbincang mesra dengan pria dewasa itu. “Ceh!” decakku dan berlalu menuju ruang band untuk latihan. “Alvaro, oi! Lo kemana saja?” tanya Bima “Para dosen mencarimu, bahkan anak-anak cafe kecewa karena lo nggak datang.” imbuh Gerand “Maaf, beberapa hari ini gue sibuk.” balasku “Ceklek!” seseorang membuka pintu, rupanya Atta “Alvaro, lo dicariin Pak Wicak.” ujarnya
“Oh, baiklah.” balasku dan menemui Pak Wicak diruangannya “Permisi, apa anda mencari saya?” tanyaku pada Pak Wicak “Berikan padaku lagu untuk acara kampus.” balas Pak Wicak langsung menagih lagu dariku “Ini.” aku menyodorkan karset untuknya Pak Wicak memutar lagu ciptaanku itu. “Keren.” ucap Pak Wicak “Ada makna yang tersampaikan jelas disana.” imbuhnya “Syukurlah kalau anda berkenan.” balasku “Saya mau kamu tambahkan irigan musik tradisional dipembuka dan endingnya, bisa?” suruh Pak Wicak “Baik, Pak.” singkatku “Seminggu cukup?” tanyanya “Cukup, Pak.” balasku mantap “Baiklah, saya tunggu. Dan ingat, sore ini kamu ada latihan.” ucap Pak Wicak “Baik, Pak.” balasku dan pergi Aku berlalu meninggalkan ruangan Pak Wicak, terlintas dengan ketukan keras mengenai Ibu Zuli. Kian membara, aku segera menemuinya. “Hmm, gue akan berikan ini nanti.” gumamku sambil memengangi kalung itu dan pergi latihan.
“Tap-tap-tap.” seru Pak Wicak “One-two-three-four-five-six-seven-eight.” pandu Ibu Zuli “Arthea, fokus.” tegur Ibu Zuli “Baik, Bu.” anggukku “Formasi 2, tap-tap-tap.” perintah Ibu Zuli “Ok, good job.” sahut Pak Wicak dan memberikan tepuk tangannya pada kami “Latihan hari ini cukup, pertahankan dan terus belajar. Mengerti?” imbuh Pak Wicak “Mengerti, Pak!” seru kami “Untuk Arthea, Farim dan Alvaro, saya minta jangan pulang terlebih dahulu dan yang lain bisa pulang.” ucap Pak Wicak “Ok, baiklah. Kita latihan vokal sekarang, Alvaro mulai!” pinta Pak Wicak Aku menyanyaikan lagu kesukaanku. “Ok, lanjut. Arthea, mulai!” pinta Pak Wicak pada Arthea Dia kemudian bernyanyi, mungkin yang dinyanyikan adalah lagu kesukaannya. Arthea bernyanyi dengan sangat merdu dan penuh penghayatan, hatiku bergetar mendengarnya. Pak Wicak tidak salah memilih seseorang, barangkali memang Arthea berbakat di dunia tarik suara hanya saja belum terasah secara sempurna. Arthea Prov
Untuk yang kali ini, aku, Alvaro dan Farim masih tertinggal di aula dan berlatih vokal bersama Pak Wicak. Dimulai dari Alvaro menyanyikan lagu kesukaannya dan giliranku bernyanyi di hadapan Pak Wicak semampuku. Jujur, aku minder sebab ini kali pertamanya aku bernyanyi dihadapan Pak Wicak yang mahir dibidang ini. Bahkan, diantara kita bertiga hanya aku yang diragukan. Sebab, Alaro sudah jelas dia berbakat dan ahli dalam bernyanyi. Aku rasa mudah baginya, sedangkan Farim, dia nggak perlu ditanyakan lagi. Aku kurang percaya diri disini, bersama mereka dan didengarkan mereka. “Ok, Farim, giliranmu. Mulai!” pinta Pak Wicak pada Farim Farim pun bernyanyi. “Dari 3 suara yang saya dengar, Alvaro memang hebat dalam bernyanyi. Menguasai panggung dan merdu, yang terpenting dalam membawakan sebuah lagu adalah percaya diri dan penghayatan. Keduanya harus menyatu, namun di sini Arthea terdengar jelas dalam membawakan lagu masih kurang percaya diri. Pengayatanmu sudah ok, kurangnya percaya diri menyebabkan tidak menyatu antara hatimu dan suaramu. Coba nyanyikan lagumu itu.” pinta Pak Wicak padaku Aku bernyanyi sesuai perintahnya. “Masih tidak percaya diri, satu kali lagi coba rasakan makan lagu yang kamu bawakan ini.” pinta Pak Wicak lagi Aku menyanyikan lagu kesukaanku lagi. “Ok, nah itu yang saya mau. Pertahankan!” balas Pak Wicak “Untuk Farim, kamu bernyanyi dengan sangat merdu. Saya akui kehebatanmu, namun ada satu hal besar dalam kamu
bernyanyi. Pendalamanmu sangat buruk, bernyanyi itu dengan hati. Ketika lagu itu sedih, pembawaannya harus sesuai dengan lirik. Susah, senang, terluka, patah hati, menyerah, putus asa. Coba, bernyanyilah dengan hatimu.” nasihat Pak Wicak untuk Farim “Point-point yang harus diingat, percaya diri dan penghayatan. Saya harap kalian berjuang keras untuk acara ini, mengerti?” imbuh Pak Wicak “Mengerti, Pak.” balas kami “Berhubung sudah hampir petang, latihan saya cukupkan sekian. Silakan kembali kerumah masing-masing dan jangan lupa terus berlatih dan berlatih.” pesan Pak Wicak untuk kita bertiga “Baik, Pak. Permisi.” pamitku dan keluar dari aula itu dengan loyo “Arthea, lo lama sekali.” keluh Sonia yang menungguku sejak tadi “Huft! Hari yang melelahkan.” balasku tanpa tenaga “Oi, Arthea!” teriak Farim “Ya!” balasku “Farim, kenapa?” imbuhku bertanya “Nggak usah sok pantas deh elo, acara tahunan kampus hanyalah gue yang pantas. Lo siapa? Pendatang baru songong, gue sudah berlatih jauh-jauh hari untuk ini. Guelah yang pantas menjadi peran utamanya. Lagi pula, selama gue masuk disini, gue nggak pernah liat lo ada. Karena memang guelah pemeran utamanya! Mana pantas lo bersaing dengan gue dan
pangeran Alvaro, ceh! Bukan level gue!” ucapnya penuh amukan penuh sindiran “Farim, lo inget ini baik-baik. Gue nggak akan mundur, gue akan bertahan untuk acara kampus dan soal elo itu urusan lo!” ketusku “Oh, lo pikir pemalas seperti lo layak menjadi pemeran utama? Bahkan gue rela meninggalkan sepotong coklat untuk acara ini. Lihatlah badanmu, seperti sapi dan acak-acakan.” sindirnya dan berlalu meninggalkanku “Dasar cewek sombong!” geram Sonia “Bener-bener, argh!” amukku “Sudahlah, ayo pulang.” ajak sonia “Bukankah elo pulang dengan Bima?” tanyaku “Oh, elo benar, Ar. Yah, lo jadinya pulang sendirian.” balasnya dan khawatir padaku “Udah, sana kasihan Bima nungguin diparkiran.” balasku “Ya udah, serius nih. Lo nggak papa pulang sendirian?” tanyanya lagi “Serius, buruan sono.” balasku dan menyuruhnya pulang bersama Bima “Gue duluan, ya, Ar.” ucapnya memelukku dan berlalu “Loh, bukankah itu Alvaro?” gumamku usai Sonia pergi “Ngapain dia bersama Ibu Zuli? Kepoin ah.” gumamku lagi dan mendekati mereka untuk kepo-kepo
Kukira Kau Menyukaiku Aku melihat percakapan yang tidak wajar antara Ibu Zuli seorang dosen dengan Alvaro yang seorang mahasiswa. Masalah tugas menugas sungguh tidak mungkin, sebab cara Alvaro bertingkahpun seperti seorang kekasih pada Ibu Zuli. “Mungkinkah, Alvaro menyukai wanita dewasa?” gumamku lirih. “Masa iya, seleranya Ibu Zuli. Tapi, dia perfect sih.” imbuhku bergumam sendirian. “Alvaro, maaf saya tidak punya banyak waktu untuk menjawab perasaanmu. Bukankah saya sudah pernah bilang, bahwa saya hanya akan mencintai pria dewasa bukan bocah laki-laki sepertimu. Tolong! Mulai saat ini lupakan saya dan hiduplah seperti seorang mahasiswa seusiamu.” tutur Ibu Zuli dengan amarah “Tapi, saya menyukai anda.” balas Alvaro “Saya duluan.” singkat Ibu Zuli dan berlalu ke mobilnya Aku menyaksikan dengan jelas, Alvaro mendapatkan penolakan atas cintanya pada Ibu Zuli. “Aku tidak akan berhenti mengejarmu!” ucapnya membulatkan tekad untuk tetap memperjuangkan Ibu Zuli Kini, dia berbalik arah. Menatapku yang barusan menyaksikannya bersama Ibu Zuli. “Al-varo.” ucapku kikuk “Ma-af, gue tidak sengaja lewat.” imbuhku mencari alasan Alvaro hanya diam menatapku, dan lantas berjalan kearahku. Aku pikir dia akan memaki-makiku karena melihatnya ditolak
oleh Ibu Zuli. Ternyata dia hanya lewat tanpa menoleh kearahku dan tanpa merespon ucapanku. “Dasar manusia dingin!” decakku usai Alvaro berlalu jauh “Eh, jam berapa ini? bisa ketinggalan bus dong, aish!” aku menatap jam tanganku dan berlari menuju halte agar tidak tertinggal oleh bus. Aku pulang tanpa bergejolak, namun kejadian yang ku saksikan dengan jelas barusan begitu terngiang-ngiang diotakku. Sekarang, aku mengetahui sikap dinginmu terhadap kaum hawa. Jadi, Alvaro menyukai Ibu Zuli sedalam itu? dibalik sikap dinginnya ternyata begitu banyak rahasia. Dia cenderung banyak diam perihal rasa dan berjuang sendirian. Bahkan fans fanatiknya yang setiap pagi memberinya ucapan hangat dan memberikan parcel untuknya tetap tidak ia gubris. Minimal menghargainya, tapi tidak. Dia hanya berjuang untuk Ibu Zuli yang jelas-jelas dosennya sendiri. “Haha, jadi ini alasan lo membiarkan kopi panas itu menjadi beku?” batinku bertanya “Benar-benar berkelas selera lo.” imbuhku “Aish! Apa yang gue pikirkan, tolol!” aku merutuki diriku sendiri Pagi hari tiba, masih dengan suasana riuh berapi-api. Satu cup kopi kembali tersaji, aku menyiapkannya dengan rapi dibalkon tempat favoritnya menatap kecantikan Ibu Zuli yang tiada terkira itu. Anehnya aku malah justru merasa emosi setelah mengetahui perasaan Alvaro semalam. “Sudahlah, kelas akan dimulai sebentar lagi.” gumamku melihat jam tanganku yang menunjukan kelas akan segera dimulai. Ku
tinggalkan balkon dan berlalu ke kelas. Berharap, hari ini akan berjalan lebih cepat dibandingkan kemarin. Satu mata kuliah selesai, aku harus pergi ke tempat latihanku untuk sejenak tertidur sekarang karena mataku terasa seperti dilem alteko sejak tadi. “Huft! Melelahkan.” keluhku dan meletakkan kepalaku dibangku, seperti diayun-ayun aku tertidur di dalam kelas. “Arthea!” seseorang membangunkanku “Sonia, gue ngantuk nggak usah ganggu gue.” ucapku “Arthea, Oi!” teriak orang itu yangku pikir Sonia “Argh! Jadi elo, ngapain lo kesini? Gangguin orang tidur aja!” amukku saatku tahu orang itu adalah Alvaro “Ajarin gue musik tradisional sekarang!” paksanya “Tapi,” tolakku “Jangan mengelak ataupun menolak, ikut gue.” Dia menarikku paksa “Untuk apa kau membawaku masuk perpustakaan?!” tanyaku sengak “Diam, duduk disini dan jelaskan.” paksanya padaku agar duduk dan memintaku segera menjelaskan Aku memulai menjelaskan pada Alvaro tentang nada pelog dan selendro, panjang lebar agar dia jelas dan tidak perlu memintaku mengulang untuk kedua kalinya tapi Alvaro malah melamun menatapku dengan tatapan apa itu, aku pun tidak paham yang jelas dia melamun tanpa memperhatikan penjelasanku sedari awal.
“Ceh! Bahkan kau malah melamun.” gumamku “Sorry, gue sibuk. Gue harus pergi, Al.” ucapku dan berdiri dihadapannya yang tersadar dari lamunannya “Lo mau kemana? selesaikan dulu tugasmu.” dia memintaku duduk kembali dan menjelaskan lagi “Terakhir kalinya, setelah ini gue tidak akan mengulang penjelasan apapun. Perhatikan!” ucapku padanya “Iya, gue perhatikan.” Balasnya dan mendengarkan penjelasan materi dariku tentang musik tradisional Tak lama, tatapannya berubah menjadi kantuk di sepasang bola matanya. Sekarang, aku menjelaskan materi pada orang yang sedang tertidur pulas dihadapanku. “Aish! Bahkan kau malah tertidur dihadapanku?!” geramku “Untuk apa gue meladeni orang semacam lo? Hanya buangbuang waktu dan tenaga saja! dasar makhluk dingin dan sok keren yang menyebalkan!” ucapku mengumpat “Apa yang kau katakan? Gue mendengarkan sejak tadi!” sahutnya dan mengangkat kepalanya lantas melototi ku tajam “Oh, barusan seseorang datang menganggu.” sangkalku sambil meringis “Siapa? Diakah orang dingin dan sok keren?” tanyanya menggodaku sambil tersenyum dan mengangguk-angguk “Benar, dia manusia dingin dan sok keren.” balasku menyindirnya “Oh, ayo pulang.” singkatnya dan menarik tanganku, dan kita pulang
“Kling-kling-kling.” Dering ponselku bising terdengar “Tunggu sebentar.” Ucapku pada Alvaro, lantas dia melepaskan genggaman tangannya dari tanganku dan membiarkanku mengangkat telefon “Ha-lo, Eyang.” ucapku lewat benda pipih itu penuh ketakutan “Kau dimana?!” tanya Eyang dengan nada seperti biasanya “Ma-af, Eyang. Arthea masih di kampus dan akan pulang.” balasku “Segera pulang dan siapkan blangkonku!” suruh Eyang dan langsung menutup sambungan telefonnya denganku “Argh! Indahnya hidupku, belum juga dijawab udah ditutup aja.” keluhku “Kenapa?” tanya Alvaro “Oh, Eyang memintaku segera pulang dan menyiapkan blangkon juga pakaian adatnya.” jelasku padanya dengan manyun “Ya udah, ayo pulang bersama.” ajaknya sambil menarik tanganku menuju parkiran “Terima kasih, Alvaro.” ucapku “Sama-sama, naiklah.” pintanya
Tidak Seperti Biasanya Aku tersenyum ringan dan naik di sepedanya, entahlah apa yang sedang terjadi dengan manusia dingin ini. Tumbentumbenan sehangat ini padaku, kerasukan jin baik mungkin saja. “Alvaro,” panggilku lirih “Kenapa?” tanyanya “Kenapa elo nggak bawa mobil atau vespa lo itu untuk pergi ke kampus dan kemana saja?” balasku bertanya “Gimana kalau pertanyaan itu gue balik, kenapa lo berpergian harus naik bus bahkan dirumah mobil dan motormu tidak digunakan oleh siapapun?” tanyanya balik “Iya, gue punya alasan lain dong.” balasku “Gue juga punya alasan lain.” sahutnya “Ya udah deh nggak usah dijawab, ujung-ujungnya ribut lagi gue lagi nggak mood buat ribut.” ucapku “Hmm, akan lebih baik jika menggunakan kedua kakiku untuk mengayuh sepeda setiap harinya.” balas Alvaro “Gue udah nggak mau bahas itu.” sahutku “Mampir ke toko perhiasan depan cafe sebentar, ya,” ajaknya “Baiklah, Pak Sopir.” Aku meledeknya “Ceh! Bahkan kau meledekku sekarang.” balasnya “Haha, ampun.” ledekku lagi “Bantu gue mencari sesuatu disana.” balasnya
“Hmm.” singkatku Alvaro menghentikan laju sepedanya tepat di depan cafe yang dia maksudkan. Meraih tanganku dan menggandeng masuk ditambahkan senyuman hangatnya padaku. Seindah ini dia bersikap padaku, sepertinya ada luka seirus yang sedang melelahkan batinnya. Jadi, dia lupa bahwa kita sebelumnya adalah musuh bebuyutan. “Tunggu besok, dia akan kembali dingin dan sok keren seperti biasanya.” batinku “Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang pegawai di toko perhiasan itu pada ku dan Alvaro “Selamat sore, kita sedang mencari kalung, Mbak.” balas Alvaro “Untuk kalung ada disebelah sana, mari saya antar.” balas Mbaknya dan mengantarkan kita ke tempat kalung “Mau cari model kalung yang bagaimana, Mbak?” imbuh Mbaknya bertanya padaku begitu sampai di tempat kalung Seketika aku yang tidak tahu kalung itu untuk siapa, yang ku lakukan hanyalah melototi Alvaro dan sedikit kikuk. Dia malah tersenyum untukku dan mengedipkan mata kirinya. “Dasar narsis.” bisikku Dia mengukir senyumnya lagi untukku. “Berikan kalung yang cantik untuk di cobanya, Mbak.” pinta Alvaro “Baiklah, ini Mbak suka?” tanya Mbaknya padaku “Emm, kurang cantik, Mbak.” ucap Alvaro
“Coba carikan kalung yang ada liontin berinisial “Y” , Mbak.” Imbuh Alvaro meminta pada Mbaknya “Sebentar, Mas.” balas Mbak pegawai itu sambil mencarikan kalung yang Alvaro maksudkan “Ini.” Mbaknya menyodorkan kalung pilihannya pada Alvaro “Bagus nggak, Ar?” tanyanya padaku “Cakep sih menurutku.” balasku “Kalian pasangan yang romantis.” puji Mbak pegawai yang melayani kita berdua itu “Mbak bisa aja.” balas Alvaro dan tersenyum padaku Aku tersenyum padanya dan menginjak kaki kirinya. Dia melototiku, aku balik melototinya. “Bagaimana, Mas, Mbak?” tanya Mbak pegawai toko itu “Oh, saya ambil ini, Mbak.” balas Alvaro “Baik, untuk kalungnya 7gram pas, ya, Mas. Persatu gramnya 350ribu dikalikan 7, total 2.450.000.” jelas Mbaknya pada Alvaro “Ini, Mbak.” Alvaro menyodrokan uang untuk membayar kalung yang dia beli “Atas nama siapa?” tanya Mbaknya “Laksamana Alvaro, Mbak.” balas Alvaro “Baik, saya buatkan suratnya terlebih dahulu. Mohon ditunggu sebentar, Mas.” ucap Mbaknya dan pergi untuk membuatkan surat
“Baik, Mbak.” balas Alvaro Kita menunggu sejenak di kursi penunggu. “Al, memang lo membelikan itu untuk siapa?” tanyaku “Kepo.” balas Alvaro “Atas nama Alvaro!” panggil Mbaknya “Iya, Mbak.” Alvaro mendekati Mbak pegawai itu “Ini kalungnya, kembali 50ribu.” Mbak pegawai menyerahkan kalung pada Alvaro “Terima kasih.” imbuhnya “Baik, terima kasih kembali, Mbak. Mari.” pamit Alvaro Kita langsung pulang, karena Eyang sudah semakin menjadijadi menghubungiku. Dan suasana hari makin petang. “Nanti gue traktir setelah ini. Nggak sekarang.” ucap Alvaro “Okay, siap.” balasku “Udah sampai, turun gih.” suruhnya “Thank you, Al.” balasku dan turun dari sepedanya “Untukmu.” Dia menyodorkan kotak berpita cantik untukku “Apa ini?” tanyaku “Nanti malam pukul 8, datanglah kerumah dan pakailah yang ada di kotak ini.” ucapnya “Yustia berulang tahun, karena kita bertetangga jadi datanglah.” imbuhnya
“Oh, baiklah gue pasti datang.” balasku dan menerima kotak berpita cantik pemberian Alvaro “Ok, gue tunggu dirumah. See you,” sahutnya “See ya.” balasku “Gih masuk.” pintanya “Iya, tetanggaku.” ledekku “Ceh!” balasnya dan berlalu Masa Lalu Yang Menganggu Malam ini aku benar hadir ke pesta ulang tahun Yustia, adiknya Alvaro yang super nyebelin itu. Alvaro hangat menyapa kedatanganku, Mamanya apalagi. Beliau super duper welcome terhadapku. “Ayo masuk, Nak. Yang lainnya sudah berkumpul didalam.” tutur Mama Alvaro memintaku masuk “Baik, Tante.” balasku “Alvaro, temani Arthea. Mama harus menemui Yustia sebentar.” pinta Mama Alvaro pada putranya “Iya, Ma.” balas Alvaro “Loh, itu Sonia bukan sih?” tanyaku pada Alvaro “Iya, gue sengaja mengundang anak-anak biar seru.” balas Alvaro “Hai, guys!” sapaku mendekati Sonia, Bima and the gengs “Arthea, sini gabung.” tarik Raya
“Udah lama kalian?” tanyaku “Nggak, baru aja.” sahut Sonia “Syukurlah, gue nggak buat kalian menunggu.” Balasku “Hai, Kak.” sapa adiknya Alvaro menghampiri kami bersama Mamanya “Hai!” balas kami “Tunggu-tunggu, Kakak siapa?” tanyanya padaku “Arthea, teman Kakakmu.” balasku “Ceh! Jangan sampai Kakakku menyukai gadis sepertimu!” decaknya dihadapanku “Maksudnya?” tanyaku “Yustia, hargai yang lebih tua darimu.” tegur Alvaro “Aish! Bahkan kau berada dipihaknya.” balas Yustia sedikit marah dengan Alvaro dan pergi menemui teman-temannya “Loh, Al. Adikmu marah padaku?” tanyaku “Nggak, dia memang seperti itu. Maafkan dia, Arthea.” balasnya dan meminta maaf padaku “It’s okay, Alvaro. Gue nggak ambil hati kok.” balasku “Kling-kling-kling.” dering ponselku “Sebentar, ya, Al.” ucapku dan mengangkat telefon dari nomor yang tidak ku kenal “Halo!” “Halo! Mantanku.”
“Maaf, dengan siapa, ya?” “Bahkan kau tidak mengenali suaraku.” “Tolong, jangan bertele-tele. Anda siapa?” “Kau sungguh tidak mengingatku?” “Tunggu, suaramu seperti Tristan Yudistira. Benarkah?” “Kau benar!” “Ada apa, Tristan?” “Aku rindu.” “Jangan bercanda.” “Memang kau sudah ada yang punya?” “Apa maksudmu dengan pertanyaan ini?” “Aku akan pulang setelah kuliahku sudah libur semester nanti dan aku akan menemuimu.” “Untuk apa? Tidak perlu aku rasa.” “Tapi aku perlu menemuimu.” “Terserah.” Aku menutup sambungan telefon dari Tristan. “Siapa, Ar?” tanya Alvaro “Oh, seseorang penganggu dihidup gue.” balasku “Jangan murung gitu ah, ayo masuk acaranya sudah akan dimulai.” Alvaro merangkulku “Jangan seperti ini.” aku melepaskan rangkulannya
“Oh, maaf.” balasnya “Lo duluan aja, Al. Gue nanti nyusul.” ucapku “Baiklah, gue duluan, ya,” balasnya dan berlalu dariku Aku tersisa dalam hening, usai mendapat telfon dari seseorang yang pernah meluluhkan jiwa-jiwaku. Tristan Yudistira, mantan masa SMP atau bisa dibilang cinta monyet. Malam ini dia kembali berucap janji akan menemuiku lagi, sebenarnya aku sudah tidak mengharapkannya hadir lagi di hidupku. Rasapun aku sudah hilang untuknya, karena bersamanya dulu hanyalah kekanak-kanakan saja. Kita terpisah sewaktu dulu karena memang masih muda dan terlalu kecil untuk mencintai lebih dari sekedarnya. Dia pindah ke Prancis bersama orangtuanya dan meneruskan sekolah disana, tanpa gejolak apapun kepergiannya aku anggap biasa saja. Namun, satu hal bahwa dia manusia yang paling mudah dalam berucap janji dan untuk menepatinya dia tidak bisa. Bahkan, malam ini ketika kita bukan lagi siapa-siapa kecuali teman SMP saja dia sudah berani berjanji untuk menemuiku setelah ini. Bukan aku membencinya, bukan itu melainkan hati yang tertata rapih harus terganggu lagi karena sambungan telefon. Sungguh aku ingin terlepas dari Tristan, sebab kita hanyalah seorang teman tidak lebih. Aku takut dia hadir menyelinap dan menimbulkan kekacauan seperti sikap kanak-kanak dan emosionalnya seperti dulu. Aku sudah tidak sudi menemuinya, karena memang dia akan banyak janji nantinya. Sedangkan aku sedang memulihkan hati dari luka baru-baru ini, mencoba membuka hati pada yang hadir tanpa menyakiti. Rupanya aku terlalu lama menata hati, hingga lupa bahwa acara potong kue sudah usai. “Aku hanya akan masuk dan memberikan kado untuk Yustia.”
gumamku dan menemui Yustia untuk memberikan kado padanya. “Selamat ulang tahun, Yustia. Ini untukmu.” Aku mengucapkan selamat atas bertambahnya usia adik dari Alvaro itu dan menyodorkan kado untuknya “Thank you, Kakak sok imut dan udik.” balasnya “Yustia! Katakan maaf padanya.” tegur Alvaro “Aku nggak mau, gimana dong.” balasnya “Adek, minta maaf sama Kak Arthea dan berterima kasihlah dengan baik.” sahut Mama Alvaro “Nggak.” balas Yustia “Baiklah, Mama pergi.” ketus Mama Alvaro “Ma, tunggu. Iya, Yustia bakal minta maaf sama Kak Arthea.” rengek Yustia menahan Mamanya “Lakukan.” balas Mama “Kak Arthea, Yustia minta maaf, ya,” ucapnya memohon maaf padaku “Iya, Kakak maafin, Dek.” balasku dan tersenyum “Terima kasih untuk kadonya, Kak.” imbuhnya “Sama-sama, Yustia.” balasku “Berhubung Eyang sudah meminta pulang, saya permisi duluan, Tante,” pamitku pada Mama Alvaro “Terima kasih sudah berkenan hadir diacara ulang tahun Yustia, Nak.” balas Mama Alvaro
“Sama-sama, Tante. Saya permisi pulang, selamat malam.” imbuhku dan pamit “Gue anter kedepa, ya,” sahut Alvaro “Ma, sebentar.” imbuhnya Dia mengantarkanku sampai kedepan. “Ya udah, Al. Gue pulang, ya,” pamitku padanya “Terima kasih, Arthea.” ucapnya “Sama-sama, Al.” balasku “Good night.” imbuhnya “Good night.” balasku Malam Ini Pesonamu Mengacaukanku Alvaro Prov Malam itu, ketika pesta perayaan ulang tahun Yustia. Arthea datang dengan pesona yang membuat hati dan jiwa-jiwaku bergejolak, cantik dan menawan dengan sedikit polesan yang mempercantik wajahnya dan gaun yang anggun semakin menambah kesan elegan pada gadis yangku tatap ini. Ku pandangi lekat-lekat, nampak jelas hatiku berdebar hebat. Dikedua bola matanya yang tak bertuan, aku menatapnya redup sayup-sayup bermekaran bunga-bunga dalam jiwa. Sebuah kesempurnaan Tuhan terindah dan benar-benar indah, tidak ada cela pada gadis bernama Arthea. Dihadapku selalu saja sempurna tanpa paksa, gadis yang paling ceria. Ku akui Arthea memang begitu indah, meskipun kadang sikap keras dan kasarnya membuatku geregetan sendiri. Tak lama, usai
dia mendapat telefon entah dari siapa disana. Lengkung yang menawan dibibirnya kini hanyut termakan suara yang berasal dari benda pipihnya itu. Mungkin, disana adalah masa lalunya. Larut malam tiba, pesta sudah kirab rampung sudah dan rumah tetap menjadi lelap seperti biasanya lagi. Tapi, tidak denganku, aku kesulitan tidur dan semakin terpesona akan kecantikan Arthea. Semakin dipikirkan semakin membuatku geli bercampur sayhdu, rasanya tidak ingin tidur agar semalam suntuk dapat terus memikirkan kemolekannya. Ingin segera pagi dan menemuinya, memarahinya dan membuatnya kesal. “Tok-tok-tok.” Entah Mama atau Yustia mengetuk pintu kamarku tengah malam “Alvaro, Nak. Boleh Mama masuk?” tanya Mama “Boleh, Ma.” singkatku dan bangkit “Mama belum tidur?” tanyaku dan duduk ditepi ranjang “Mama kesulitan untuk terlelap. Mama mencemaskan Papamu, bagaimana keadaannya sekarang.” balas Mama “Apa kita perlu datang menemuinya?” tanyaku “Tidak, Nak.” tolak Mama “Sudah, tidurlah dengan baik.” imbuh Mama “Baik, Ma.” balasku Mama berlalu dari kamarku sambil mematikan lampu. Larut malam nan dingin, aku terngiang akan Papa yang terbaring di rumah sakit sepanjang malam tanpa seseorang disisinya.
Bahkan, aku sebagai putranya tidak dapat ikut serta disisinya dengan baik. “Pa, maaf.” Rintihku Takdir Selalu Membawaku Padamu Arthea Prov Pagi penuh kabut dan dingin seperti ini seharusnya aku masih tidur dikamarku dengan baik, namun seperti biasanya sirine khas dirumahku sudah berdering kasar membangunkanku dan seisi rumahku. “Aish! Eyang benar-benar menyebalkan.” geramku yang masih penuh kantuk. Sejenak terduduk dan mengumpulkan nyawa, aku segera pergi mandi dan merapikan diri untuk bersiap ke kampus. “Ma, Arthea berangkat.” pamitku “Sarapan dulu, Mama sudah siapkan sarapan kesukaanmu.” sahut Mama “Arthea akan terlambat tiba di kampus jika harus sarapan terlebih dahulu, Ma.” balasku “Kalau gitu, bawa bekal.” balas Mama dan memberikanku bekal yang sudah disiapkan sedari tadi “Ya udah, Arthea berangkat, ya, Ma.” ucapku dan mencium Mama lalu pergi “Hati-hati, Nak.” sahut Mama Aman, masih ada waktu untuk bertemu dengan yang lainnya. “Ar, lo tahu nggak?” tanya Raya begitu aku menemuinya dan yang lain
“Apa, Ray?” tanyaku balik “Si Alvaro.” balasnya ambigu “Iya, kenapa dengannya?” tanyaku “Aduh, Ray sorry gue harus pergi. Duluan, ya, daaa.” imbuhku dan berlalu Aku melupakan tugasku sepagi ini, lupa menyiapkan kopi di balkon untuk Alvaro. Pasti dia akan ngomel dan memakiku seperti biasanya. “Sorry, gue lupa barusan.” ucapku dan menyodrokan kopi untuk Alvaro “Untuk yang kali ini gue maafin.” balasnya dan memberikan uang padaku “Thank you, gue duluan.” balasku dan langsung berlari kekelas “Oi! Hati-hati kalau jalan.” seru Alvaro “Gue nggak jalan tapi lari, peak!” teriakku dari bawah “Dasar!” dia mengerinyit “Aduh!” teriakku terjatuh “Sudahku duga, makannya jalan yang bener!” teriak Alvaro dan langsung turun membantuku berdiri “Aduh, ini menyakitkan.” rengeku “Sini, gue bantu.” Dia mengulurkan tanganya “Gue kesulitan berdiri, kakiku sakit!” amukku
“Makannya kalau jalan itu hati-hati.” omelnya dan langsung menggendongku “Apa yang kau lakukan?! Turunkan!” teriakku “Lo ada kelas, kan?” tanyanya Aku menagngguk. “Makannya diem!” ucapnya “Tok-tok-tok, permisi, Ibu.” Alvaro mengetuk pintu kelasku “Masuk.” balas Ibu Dosen “Ada apa ini?” tanya Ibu Dosen “Ini, Bu. Barusan Arthea terjatuh, mau saya obatin eh dianya malah minta ke kelas.” balas Alvaro “Ini terkilir sepertinya, bawa ke UKS saja tidak perlu ikut kelas saya untuk pertemuan ini.” pinta Ibu Dosen “Baik, Bu.” balasku “Permisi, Bu.” pamit Alvaro, dia menggendongku ke UKS kampus yang jauh dari kelasku Aku lelah hari ini, siang masih di UKS dengan Alvaro. Namun, bukan itu letak masalahnya. Aku sedang kesal dengan Martini, dia sungguh menguras tenaga dan pikiranku, Martini dan gengsnya mengeroyokku habis-habisan. Menjambak rambutku hingga pusing dan pening, ada lagi konflik hebat dengan Farim yang sungguh melinglungkanku. Membuatku tidak fokus saat latihan dengan Ibu Zuli, rasanya aku benarbenar ingin mundur dari peradaban ini.
“Alvaro, kaki gue sudah mendingan. Jadi biarkan gue pergi dari tempat ini.” ucapku “Mau kemana?” tanyanya “Ada urusan penting, jadi tolong biarkan gue pergi.” balasku “Gue akan membiarkanmu pergi, tapi harus dengan gue.” balas Alvaro “Gue nggak suka dikekang, lo udah berlebihan!” amukku “Gue khawatir padamu, apa salah? Kaki lo sakit, lo sedang terluka sekarang!” bentak Alvaro “Maaf, membuatmu khawatir. Maaf merepotkanmu dan menganggu kuliahmu.” rengekku “Jangan pernah melakukan lebih dari kemampuanmu, itu menyulitkanmu. Biar aku antar, ya?” bujuknya ingin menemaniku “Baiklah, temani gue ke ruangan Pak Wicak.” balasku Alvaro benar mengantarkanku ke ruangan Pak Wicak dengan menggendongku. “Permisi, Pak.” Alvaro membawaku masuk “Ada apa?” tanya Pak Wicak “Alvaro, bisa tinggalkan gue disini dengan Pak Wicak?” pintaku pada Alvaro “Kalau sudah selesai panggil aku.” balasnya dan keluar “Pak, saya minta maaf. Saya lebih baik mundur dari acara tahunan kampus sebagai pemeran utama, Pak. Sekali lagi
maafkan saya, maaf karena tidak bisa menjaga amanah Bapak. Peran utaman tidak layak untuk saya, Pak.” ucapku pada Pak Wicak “Apa yang membuatmu berubah pikiran seperti ini? apakah bagimu acara tahunan hanyalah lelucon?!” bentak Pak Wicak “Ada apa dengan kakimu?” imbuhnya bertanya “Terkilir, Pak.” balasku “Istirahat dengan baik, besok saya tunggu kamu latihan di alua.” pinta Pak Wicak “Alvaro, bawa Arthea pulang untuk istirahat.” Pak Wicak menyuruh Alvaro “Baik, Pak.” balasnya dan memboyongku keluar dari ruangan Pak Wicak “Apa kamu benar ingin pulang?” tanya Alvaro “Tidak, gue masih ingin dikampus tapi kakiku.” keluhku “Kau boleh menyuruhku untuk diantarkan kemanapun dan aku bersedia.” balas Alvaro “Tapi,” elakku “Apa yang menganggumu? Bahkan kau bisa mengandalkanku sebagai teman cerita. balas Alvaro “Gue tidak mau merepotkanmu lebih dari ini, Al. Maaf.” rengeku Tiba-tiba pusing terasa, dalam gendongan Alvaro kepalaku serasa berkunang-kunang. Pandanganku kabur, namun aku masih dapat mendengarkan Alvaro berbicara walaupun samar-
samar. Dan setelahnya aku tidak tahu apa-apa yang terjadi pada diriku sendiri. Tetap Bersamaku Alvaro Prov Aku sedari pagi bersama Arthea, dia terluka dikakinya akibat terjatuh tadi pagi. Akhirnya aku yang bertanggungjawab penuh atas kegiatannya hari ini, aku antarkan dia kemanapun yang dia mau. Ketempat Pak Wicak sejenak, dan dia merengek untuk diturunkan dari gendoganku. Aku kekeh masih ingin menjaganya, hingga nanti pulang dan baikan. Namun, beberapa saat setelah perbincanganku dengannya. Dibalik punggungku sudah tidak mendengarkan dia bersuara, rupanya Arthea pingsan. Disaksikan oleh Ibu Zuli dari atas balkon, beliau langsung turun mendekati ku yang sedang kesulitan. Tak lama, belum sempat Ibu Zuli membantu Arthea bersamaku. Beliau mendapatkan telefon dan segera pergi. Tersisa aku dan Arthea saja, aku memboyongnya pulang dengan baik. “Alvaro, terima kasih banyak.” tutur Mama Arthea “Sama-sama, Tante.” balasku Aku pulang, sepanjang malam mengalir deras keringat dingin ditubuhku. Dikening dan disekujur tubuhku, aku tersiksa menyaksikan Arthea terluka sedari tadi pagi. Otakku benarbenar terjaga oleh pikiran buruk tentang kondisi Arthea, aku takut dan khawatir akan kondisinya. Hingga larut, dini hari sekitar pukul 2. Rumah sebelah terdengar bising, menyalakan mobilnya ditengah malam sedini itu bukanlah sesuatu hal yang wajar. Tidak biasanya rumah Arthea sebising ini pada
dini hari, aku melihat lewat kaca jendela kamarku. Ternyata, Arthea dilarikan ke rumah sakit. Aku semakin tidak karuan memikirkannya, aku mengikuti mobilnya melaju. Menyaksikan setiap proses dokter melakukan observasi pada tubuh Arthea. Dokter mengatakan sesuatu tertinggal diperutnya pasca operasi waktu lalu. “Klunting!” ponselku berbunyi “Halo, Ma. Ada apa?” tanyaku “Kamu dimana?” tanya Mama balik “Dirumah sakit, Arthea dirawat.” balasku “Pulanglah segera!” pinta Mama “Tapi, Ma.” elakku “Tolong, pulanglah ini penting.” rengek Mama Dengan berat hati aku meninggalkan Arthea dan menemui Mama segera. Tanpa ucap pamit atau apapun pada keluarganya, aku langsung pulang untuk menemui Mama dirumah. Pikiranku bercabang sekarang, satu memikirkan kondisi Arthea dan satunya lagi memikirkan Mama yang entahlah kurang jelas terjadi apa dirumah. “Aku pulang.” ucapku dan menemui Mama “Alvaro.” panggil Mama lirih “Ma, apa yang sedang terjadi? Mama sakit? Mama kenapa?” tanyaku panik menyaksikan Mama menangis tersedu-sedu “Papamu, Nak. Papamu.” rengek Mama memukuliku “Papa? Papa kenapa, ada apa dengannya, Ma?” tanyaku
“Papamu, meninggal dunia, Alvaro.” rintih Mama Seketika hancur lebur tatanan nalarku mendengar kabar duka dari Mama tentang kepergian Papaku. Satu figur terbaikku dalam mengajariku apa arti bertanggungjawab kini sudah hilang, pupus sudah semua citaku detik ini. Seperti apapun masa lalu dan perlakuan Papaku tidak pernah menngurungkan niatku untuk mencintainya, menghormatinya dan paling kehilangan saat dia pergi. Aku lemah dan tidak berdaya ditempaku. Aku benar-benar tidak berdaya. Mama terdiam penuh isakan tangis, bersimpuh tanpa pergerakan lainnya. Kita berduka malam ini. “Nak, ayo kita temui beliau.” ajak Mama Tanpa banyak ucapan, aku langsung mengemudikan mobil menuju rumah sakit tempat Papa dirawat. Tanpa membangunkan Yustia, aku bersama Mama pergi begitu saja. Aku harus bertemu Papa dengan segera meskipun untuk yang terakhir kalinya. Papa, tubuhmu yang renta dan tidak berdaya karena alkohol. Bibirmu yang hitam legam karena bakaran nikotin setiap kali kau isap. Tangisku kian menjadi-jadi seketika. Laki-laki dewasa yang aku sukai kini pergi untuk selamanya. Setibanya dirumah sakit, aku peluk erat tubuhnya. Meminta pada Tuhan untuk dihidupkan lagi Papa. Tapi, ini hal bodoh yang aku panjatkan untukNya. Aku tidak bisa meminta hal ini, bagaimana mungkin secepat ini Papa tutup usia. “Pa, Papa sudah sembuh dari luka. Papa sudah tidak merasakan sakit lagi sepanjang hari.” rintihku memeluknya “Sudah, kamu harus kuat.” bisik Mama menenangkanku
Hingga pagi, hingga tetesan air mata sudah tak bisa mengalir lagi. Kedua mataku sudah tidak dapat terbuka dengan lebar karena sebab akan tangisan sepanjang malam untuk kepergian Papa. “Selamat jalan, Pa. Alvaro akan mengenang Papa sebagai pemimpin yang keren, bijaksan dan berwibawa. Tenang disana, Pa.” ucapku mengiringi prosesi pemakaman Papa bersama taburan bunga diatas tumpukn tanah itu. “Mas, aku sudah memaafkanmu. Tenang disana.” ucap Mama dan merintih. Setelah 2 hari terlalui, aku kembali menjalani hari-hari merindukan Arthea. Aku sudah pulih setelah kehilangan Papa meskipun masih sangat sesak terasa. Aku harus ikhlas, Papa sudah baikan bersama Tuhan sisanya aku biarkan waktu berjalan dengan terserah untuk menjalain kuliah dan kegiatan bandku. Pemandangan tidak biasa, aku belum melihat Arthea hadir. Hingga sore tiba, tidak jugaku melihatnya, apakah dia masih sakit? Rapuh dan lapuk untuk yang kali ini, namun hari-hari memang harus dilalui dengan baik. Seharian ini, bahkan latihanku tidak asyik tanpa iringan siter dari Arthea. “Kau tidak pergi kuliah hari ini, apa masih sakit?” gumamku dan lantas pergi ke tempat Arthea dirawat “Permisi, Pasien atas nama Arthea apa sudah di pindahkan ke ruang rawat, Sus?” tanyaku pada salah satu suster disana “Maaf, ini dengan siapa?” tanya suster “Saya Kakak dari Arthea, Sus.” sangkalku agar diperbolehkan masuk “Pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, di kamar mawar nomor 5.” balas Suster memberi tahu padaku kamar Arthea
“Baik, terima kasih.” singkatku dan segera menemuinya Aku menemukan kamarnya, dari kaca ruangannya. Ada alatalat medis menempel ditubuhnya. Apa separah itu lukamu, Ar? rengekku dalam hati. Kalau boleh biar aku saja yang disana, jangan Arthea. “Nak, Alvaro.” sapa Papanya Arthea “Om, bagaimana dengan Arthea?” tanyaku “Dia masih koma, Nak. Setelah 20 jam dioperasi, doakan untuk kesembuhan putriku, ya, Nak.” rintih Papa Arthea “Om harus sabar, Arthea pasti bisa sembuh.” Aku menguatkan Papanya Arthea “Iya, Nak. Terima kasih banyak, Nak.” balas Papa Arthea “Om minta maaf karena tidak bisa hadir di pemakaman Papamu, Om sekeluarga turut berduka cita sedalam-dalamnya. Kamu harus sabar dan kuat, Nak.” imbuh Papa Arthea “Tidak menjadi masalah, Om. Terima kasih, Om sudah menguatkan.” balasku “Klunting.” bunyi ponselku “Maaf, Om. Saya permisi angkat telefon sebentar.” pamitku Sesuatu Yang Buruk Terjadi “Halo,” “Alvaro, maaf merepotkanmu. Pintu ruang latihan tiba-tiba terkunci, saya tidak bisa keluar. Tolong bantu saya, tolong.”
“Bertahanlah, saya kesana sekarang.” “Terima kasih, Alvaro. Saya tunggu.” “Om, maaf. Saya ada urusan sebentar, permisi, Om.” pamitku “Iya, Nak. Hati-hati.” balas Papa Arthea Aku segera ke kampus, menolong Ibu Zuli yang terjebak di ruangan latihan balet. “Kau baik-baik saja?” tanyaku begitu pintu terbuka “Kau datang tepat waktu, Alvaro. Terima kasih.” balasnya dengan menghela napas lega “Lain kali kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungi saya.” ucapku “Sekali lagi saya berterima kasih padamu, Alvaro.” balas Ibu Zuli “Papaku meninggal, aku sedang terluka malam ini.” ucapku lantang bercerita padanya kalau aku sedang berduka “Saya turut berduka cita, kamu harus tabah dan kuat.” balasnya menguatkanku “Terima kasih, aku menyukaimu.” sahutku “Sudah saya katakan, lupakan perasaanmu itu.” balasnya “Kenapa? Apa karena saya bukan pria dewasa?” tanyaku “Aku bukanlah seorang bocah laki-laki lagi seperti presepsimu.” imbuhku “Saya permisi.” singkatnya tanpa ucap apapun dan mengemudikan mobilnya
Sekuat tenaga aku mengejar mobilnya dengan sepedaku, tibatiba dia mengemudikan mobilnya dengan lirih. Aku semakin bersemangat mengejarnya, Ibu Zuli menghentikan mobilnya. Dan turun untuk menemuiku. “Kamu mengikutiku sejak tadi?” tanyanya “Hmm.” singkatku “Ini untukmu.” Aku menyodorkan kotak kecil untuknya “Untuk apa?” tanyanya “Hadiah untukmu.” balasku “Terima kasih, tapi maaf saya tidak bisa menerimanya.” tolak Ibu Zuli “Kalau kamu menolak, aku yang akan membuka dan memberikannya untukmu.” ancamku dengan bercanda “Alvaro, jangan seperti ini.” tolak Ibu Zuli “Aku sudah membelinya dengan susah payah jadi kamu harus memakainya.” balasku kekeh dan langsung memakaikan kalung itu dilehernya. Aku benar memasangkan kalung itu dilehernya Ibu Zuli, aku juga menciumnya sesaat setelah kalung itu terpasang. Ibu Zuli hanya dia dengan perlakuanku, aku tersenyum puas bisa memberikan kalung itu sekaligus aku yang memakaikannya. Arthea Prov Aku sudah pulang dari rumah sakit, kata Ayah aku adalah nyawa kedua setelah operasi kedua ini. Ayah begitu mencemaskanku, bahkan beliau rela melakukan apa saja agar aku selamat dan kembali seperti sedia kala. Mama, naluri
seorang Ibu justru lebih kuat dibandingkan Ayah. Mama sampai tidak makan berjam-jam demi menunggu anaknya siuman. Aku bersyukur, sudah kembali normal. Semoga operasi kedua tidak ada kesalahan fatal lagi hingga membuatku harus dioperasi lagi dan terluka lebih parah lagi. Cukup ini, dan hanya yang kali ini saja. Ayah bilang, kalau Alvaro baru saja dari rumah sakit menjengukku bahkan dia mengkhawatirkanku. Namun, karena suatu hal dia harus pulang. Dalam perjalanan menuju pulang dari RS, aku menyaksikan jelas dengan terangterangan Alvaro mencium Ibu Zuli. Nampak dari jendela mobil Pak Wicak karena kebetulan beliau menjemputku, keduanya sedang berkencan. Mereka sangat mesra. Aku hanya diam dan tetap menyaksikan mereka semakin samarsamar dari spion. Menelan udah dan menundukkan pandangan dari mereka. “Arthea, kau kenapa?” tanya Pak Wicak “Oh, tidak, Pak.” singkatku Tanpa balas ucap, beliau hanya diam dan fokus mengemudi. Aku rasa Pak Wicak merasakan hal yang sama sepertiku usai melihat pemandangan kaca spionnya. Karena, sejauh yang ku tahu Pak Wicak dan Ibu Zuli pernah saling mencintai. Setibaku dirumah, yang aku inginkan hanyalah marah, tapi untuk apa? Bahkan aku bukan siapa-siapanya. Membencinya? Bahkan aku terlanjur mencintainya. “Aish! Sudahlah.” gumamku “Kenapa?” tanya Pak Wicak “Oh, tidak papa, Pak. Hehe.” balasku
“Terima kasih banyak, Pak.” imbuhku dan turun dari mobilnya Beliau hanya membunyikan klaksonnya dan lantas pergi. Aku langsung ke kamar dan pergi tidur. Kopi Terakhir Untukmu Pagi bersambut, aku segera pergi ke kampus sedini mungkin agar tidak telat menyajikan kopi di balkon seperti biasanya sebelum aku terluka. Masih kosong, masih terlalu pagi aku tiba di kampus. Bahkan makhluk dinginku belum tiba dibalkon tempat favoritenya. “Hari ini adalah hari terakhirmu menjadi budakku!” seru Alvaro dari balik punggungku “Oh, syukurlah. Gue juga malas harus menemui lo setiap hari.” balasku menoleh ke arahnya dan berlalu turun meninggalkannya di balkon dengan kopinya “Arthea!” seru Pak Wicak dari arah berlawanan “Pak, ada apa?” aku mendekati beliau “Pergi berlatih sekarang juga.” pinta Pak Wicak “Tapi, Pak. Pagi ini saya ada kelas.” balasku “Saya sudah memintamu latihan, jadi lakukan.” sahut Pak Wicak “Baik, Pak.” balasku dan langsung ke tempat latihan “Brak!” seseorang mendorongku dari belakang hingga bukubuku di tas terlempar dan jatuh ke lantai
“Ceh! Kau disini juga?” tanyanya sok-sokan “Hmm.” singkatku “Siap-siap celaka aja.” ucap Martini “Selamat pagi semua!” seru Pak Wicak “Selamat pagi, Pak!” sahut kami “Baiklah, hari ini saya akan melakukan breafing. Kita masih punya waktu yang cukup untuk memaksimalkan latihan, sekitar 3 mingguan. Jadi, saya mau yang ada disini dengan formasi ini. Harus lengkap sampai hari Hnya.” tutur Pak Wicak “Mengerti?!” imbuhnya “Mengerti, Pak!” seru kami “Tambahan, untuk hari jumat. Kita akan mengadakan tour ke Bali tujuannya untuk mengakrabkan kalian semua para partisipan acara tahunan dan menjalin kebersamaan, kekeluargaan diantara kalian.” jelas Pak Wicak “Yeay! Ke Bali.” seru Martini dan gengsnya heboh “Silakan membubarkan diri dan jangan lupa nanti kita latihan disini lagi. Semangat!” tutup Pak Wicak “Arthea!” seru Raya menghentikan langkahku “Kenapa, Ray?” tanyaku “Ar, lo ikut, kan, ke Bali?” sahut Sonia bertanya “Belum tahu sih, Son.” balasku pasrah “Ayolah, Ar. plisss!” rayu Fenta
“Nanti gue coba minta izin dulu, ya, sama Eyang.” balasku “Kita tunggu kabar baiknya.” seru Raya “Ya udah, gue ada kelas ni. Duluan, see you.” pamitku Alvaro Prov Bersambut pagi, hariku dihiasi oleh rasa bahagia karena Ibu Zuli semalam menerima ku sebagai kekasihnya. Hati tak sabar ingin menemui pujaan hati. “Alvaro, saya tunggu di ruangan saya sekarang juga.” pinta Ibu Zuli padaku saat kita berpapasan di parkiran Aku hanya mengangguk dan tersenyum. “Duduklah,” pintanya “Ada apa?” tanyaku “Ini kalungmu, ambillah!” ucap Ibu Zuli menari kalung pemberianku dengan paksa dari lehernya dan memberikannya padaku Seketika jiwa ini hempas rasa bahagia semalam. “Berhentilah berbuat sesuatu yang sia-sia! Perasaanmu sungguh menggangguku, lupakan saya mulai sekarang juga dan ambilah kalungmu kembali. Pergilah!” amuknya “Baiklah, kalau memang Anda menolak saya. Mulai detik ini, saya tidak akan menggangu Anda lagi. Maaf jika perasaan saya mengusik damai Anda dan satu hal lagi. Kalau pria dewasa pilihan anda membuat luka katakan saja, saya akan habisi dia. Disini bukan karena saya masih menyukai anda melainkan sebuah pelampiasan untuk dia agar merasakan hal yang sama sakitnya denganku.” ucapku dan bangkit
“Terima kasih, namun maaf. Saya rasa itu tidak perlu sebab saya akan bahagia, maaf jika membuatmu terluka. Saya harap kau akan bahagia dengan cinta sejatimu.” balasnya “Hmm, permisi.” pamitku Aku keluar dari ruangan Ibu Zuli dengan penuh kekecewaan nan mendalam. “Huft! Sudah konsekuensinya.” batinku dan menghela napas “Hai, Alvaro!” seseorang memanggilku Aku berbalik, rupanya Pak Wicak sedang memanggilku. “Ada apa, Pak?” tanyaku “Mana lagunya?” tanyanya balik “Oh, Anda tenang saja. Nanti akan saya berikan untuk anda dengarkan, permisi.” balasku dan pamit “Anak itu!” seru Pak Wicak Aku berjalan menuju balkon seperti biasanya, mengamati dari ketinggian adalah menenangkan. Melihat sekeliling orangorang dikampus, termasuk melihat senyuman Ibu Zuli yang begitu menawan itu dari balkon ini. Namun, untuk yang kali ini senyuman itu nampak jelas aku perhatikan secara detail bukan untukku. Melainkan beliau sedang tersenyum untuk Pak Wicak. Menyaksikan itu, aku segera turun dan menemui Ibu Zuli. “Jadi pria dewasa menurut anda adalah beliau?” tanyaku sambil menunjuk ke arah Pak Wicak “Hiduplah dengan sewajarnya dalam mencintai, Alvaro!” sahut Pak Wicak mendekatiku dan Ibu Zuli
“Hmm, Bapak tenang saja. Saya sudah melupakannya dan saya juga memutuskan untuk keluar dari partisipan acaranya, Pak. Permisi.” ucapku dan pamit “Aish! Bocah ini, kenapa selalu seperti ini!” amuk Pak Wicak “Sudahlah dia hanya sedang terluka dengan keadaan, ayo pergi makan.” Bisik Ibu Zuli dengan Pak Wicak, mengiringi langkahku pergi dari keduanya Kau Adalah Cinta dan Rasa Nyaman Tidak ada yang bisaku lakukan selain mencari ketenangan, ke cafe bukanlah solusinya. Sementara terdiam di taman kampus benar-benar menguras pikiranku dan nalarku, tidak banyak yang bisa ku lakukan selain melamun, memikirkannya dan bertindak bodoh mengasingkan diri dari koloni. Hmm, aku membuang kalung yang Ibu Zuli kembalikan padaku lagi itu di rerumputan taman. “Aku hubungi saja Arthea, barangkali dialah obat luka ini.” gumamku dan menelfon Arthea. “Kau dimana?” tanyaku “Gue di panti jompo, kemarilah jika penting.” Balasnya “Oh, baiklah.” singkatku dan menutup dengannya Aku menyusulnya ke panti jompo, mencari kesibukanlah dari pada ku termenung sendirian di taman tanpa arti yang ada malah kepikiran Ibu Zuli mulu. Aku pikir dia menemui sanak atau saudarannya di sana, ternyata mengisi acara bersama para kakek dan nenek panti. Dia berhati mulia ternyata, penyayang dan selalu ceria. “Oh, Alvaro. Kemarilah.” ajaknya
Aku mendekainya. “Menarilah bersama kami.” ajak Arthea “Nggak, ah.” tolakku “Ya udah, duduk dulu yuk.” ajak Arthea “Kau sudah lama berkecimpung di dunia yang mungkin sangat melelahkanmu ini?” tanyaku “Ya lumayanlah, 2 tahunan ada.” balasnya “Niat sendiri gitu?” tanyaku “Ya, awalnya ikut-ikutan Ayah eh akhirnya nyaman sama beliau-beliau.” balas Arthea “Kau bahagia?” tanyaku lagi “Tentu saja, gue bisa melihat senyuman mereka saja sudah melegakan jiwa. Bersama mereka, bisa menghibur mereka diusia senjanya adalah menyenangkan.” ujarnya “Oh.” singkatku dan tersenyum “Lo ada perlu apa mencari gue?” tanyanya “Emm, gue mau minta tolong sebenarnya.” balasku “Tolong apa?” tanya Arthea “Kalung Yustia hilang ketika ditaman.” Balasku “Kok bisa sih kalung adik lo kebawa sama elo?” tanyanya sedikit kaget “Kemaren dia melepaskan kalungnya di kamarku, pagi tadi gue mau berikan eh malah kelupaan, ya, udah gue masukin
saku. Jatuh deh.” sangkalku supaya Arthea tidak mencurigai kedatanganku “Ya udah, selesai ini gue bantu cari deh.” balas Arthea “Pasti Yustia akan marah besar sama lo.” imbuhnya “Hmm, iya pasti dia akan marah.” balasku “Ya udah, kita cari sekarang saja.” ajak Arthea Aku terpaksa berbohong pada Arthea tentang kalung itu. Sebab aku takut dia malah menertawakanku kalau ku beri tahu soal penolakan Ibu Zuli. “Oi! Lo kenapa?” tanya Arthea membuyarkan lamunanku sementara dia terus mencari kalung itu sampai dia mendapatkannya “Oh, gue kecapekan sepertinya.” balasku “Sebaiknya kau beristirahat di balkon atau pulanglah, biar gue yang mencari kalungnya.” pinta Arthea “Kau yakin?” tanyaku memastikan “Tentu saja, pulanglah.” balasnya “Aku pulang, terima kasih, Arthea.” ucapku “Hati-hati dijalan.” balasnya dan aku berlalu pulang Arthea Prov Aku terus mencari kalung adiknya Alvaro, hingga malam tidak kunjungku temukan kalung itu. Sampai dititik lelahku, hampir menyerah begitu saja. Namun, tanganku menemukan sesuatu dari rerumputan. Ku angkat, kalung yang sangat indah
ku dapatkan tapi kalungnya berbeda dari kalung milik Yustia. Bahkan aku menemani Alvaro waktu membelikan kalung untuk Yustia. “Ini benar-benar berbeda, Alvaro tidak membelikan Yustia kalung seperti ini.” gumamku seorang diri “Ah, sudahlah. Mungkin ini milik Yustia yang lain.” imbuhku dan memasukan kalung yang ku temukan di tasku “Aku pulang.” Aku langsung naik menuju kamarku “Arthea, kenapa kamu pulang selarut ini?” tanya Ayah yang keluar dari kamarnya “Sesuatu pekerjaan mengharuskanku pulang selarut ini, Yah.” balasku “Ya sudah, pergi mandi dan makanlah.” pinta Ayah “Baik, Yah. Maaf membuatmu menunggu.” balasku dan masuk kamar “Argh! Hari yang melelahkan.” gumamku sambil melemparkan badan ke ranjang “Kling! Kling!” dering ponselku “Alvaro?! Tumben, apa yang merasukinya hingga menghubungiku?” tanyaku pada diri sendiri bertanya-tanya tentang Alvaro yang tiba-tiba menghubungiku “Angkat, ah.” gumamku dan mengangkat telefon darinya “Halo.” ucapku “Apa?” tanyaku dengan ketus
“Soal tour ke Bali, kau mau ikut?” tanyanya “Oh, tidak gue rasa karena Eyang mungkin tidak mengizinkan.” sangkalku “Ya udah, kau tidurlah dengan nyenyak malam ini.” balasnya “Hmm.” singkatku dan langsung menutup telefon “Dasar aneh! Apa yang menganggunya malam ini, ceh!” gumamku Disisimu Lebih Lama Pagi hadir lagi, hari yang indah untuk para mahasiswa sepertiku karena selain langit yang begitu cerah. Aku juga terbebas dari hukuman kekalahanku itu, terbebas dari menyajikan kopi setiap pagi dibalkon. Aku bisa beraktivitas sebagai mana mestinya sekarang. Aku kini bersiap untuk ke Bali mengikuti tour bersama Pak Wicak, Ibu Zuli dan para partisipan. “Selamat pagi, Ma.” sapaku dan turun “Selamat pagi kesayangan, Mama.” balas Mama sambil menyiapkan sarapan di meja makan “Mama masak apa pagi ini?” tanyaku “Nasi goreng kesukaanmu seperti biasa, ayo makan.” balas Mama dan memberikan piring untukku “Tunggu Ayah dulu, Ma.” balasku “Kamu nanti kesiangan, Ayahmu akan pergi siang nanti.” balas Mama
“Ya udah, nunggu Eyang dulu aja, Ma.” sahutku “Tuh Eyang.” balas Mama “Eyang, ayo sarapan.” ajakku “Ambilkan roti saja, aku buru-buru.” balas Eyang “Ma, jangan diambilin roti. Nasi gorengnya saja, Eyang tidak sedang buru-buru.” ucapku “Aish! Bocah ini.” geram Eyang “Ma, aku pergi, ya,” pamitku usai menghabiskan sarapan “Eyang, Arthea pergi.” imbuhku pamit dengan Eyang “Biar Ayah yang mengantarkanmu, Nak.” sahut Mama “Tidak, Ma. Arthea berangkat sendiri saja.” balasku “Jaga diri kamu dengan baik, hindari pria dan minum sembarangan.” pesan Eyang “Siap, Eyang.” balasku dan pergi Begitu keluar dari gerbang, Alvaro datang menemuiku dengan senyumannya. “Oh, kau mengagetkanku saja.” ucapku “Mau kemana?” tanyanya “Ke kampus.” singkatku “Ke kampus apa ikut tour?” tanyanya mendekatkan wajahnya dihadapanku “Gue berubah pikiran dan Eyang mengizinkan.” balasku memalingkan muka
“Oh, kalau gitu gue duluan.” Dia malah meninggalkanku “Aish! Dasar!” omelku Tiba-tiba dia menghentikan laju sepedanya, menengok kearahku berjalan dan tertawa. “Apa?! Kau puas dengan ini?” amukku begitu dekat dengannya “Tentu saja puas.” balasnya dengan tersenyum “Naiklah.” suruhnya “Dari tadi kek, hmm.” omelku “Mau nggak?” tanyanya “Ok, baiklah.” balasku dan duduk di sepedanya “Pegangan.” suruhnya “Udah.” balasku usai berpengangan ditasnya “Pegangan apaan itu.” ucapnya dan menarik tanganku Dirangkulkan ke perutnya, aku berdebar tidak wajar. Merasakan setiap perjalanan berliku dengan pelukan, mencium aroma parfumnya yang begitu menyenangkan. Bersandar dipunggungnya dan mengukir senyum, merem sejenak untuk bermimpi tentang Alvaro sebagai kekasihku. Indahnya. “Oi! Turun, udah sampai.” teriak Alvaro membangunkanku “Apaan sih, bikin kaget aja.” balasku “Kita sudah sampai di kampus, peak!” bentaknya
“Ups, sorry.” balasku dengan cengiran “Buruan turun.” suruhnya “Terima kasih, Alvaro.” balasku “Sama-sama.” singkatnya dan langsung memarkirkan sepedanya Aku menghampiri yang lainnya, yang sudah berkumpul di lapangan utama sambil berbincang dan berebut kursi bus nanti. “Arthea, kau datang sendirian?” tanya Bima yang tiba-tiba menanyaiku demikian “Kenapa memang?” tanyaku balik “Gue menunggu Alvaro, dia tak kunjung datang.” ujarnya “Oh, dia masih diparkiran.” balasku “Bima, kau duduk dengan siapa?” tanya Fenta “Nggak tahu.” balasnya “Sama Sonia aja tuh.” sahut Raya “Ya udah ayo naik.” balas Bima dan menggandeng Sonia “Sabar dulu kek, belum juga breafing.” sahutku “Anak-anak, ayo kumpul. Kita breafing sebentar!” seru Pak Wicak Kami berkumpul dan mendengarkan arahan dari beliau, berdoa agar kegiatan selama di Bali berjalan dengan baik. Selamat sampai tujuan hingga pulang.
“Ray, lo sama Fenta?” tanyaku “Iya, mendingan lo sama Alvaro, Ar.” sahut Gerand “Dih, ogah banget!” tolakku dan memilih kursi disebelah kiri kaca, aku duduk seorang diri “Gue gabung, ya, dibelakang sudah penuh semua.” ucap seseorang meminta izin duduk di kursi sampingku yang belum terisi “Ya, asal jangan mengangguku.” balasku tanpa menengok kearahnya “Terima kasih.” balasnya dan duduk “Oi! Duduklah ditempatmu.” amukku menatapnya “Aish! Elo?! Dasar modus.” ketusku “Gue disini karena sudah tidak ada kursi tersisa, ya. Bukan modus!” balasnya sama ketus “Sono, jauh-jauh dari gue.” ucapku “Tas elo yang ganggu gue!” balasnya “Ceh! Serah!” ketusku dan menatap ke arah jendela bus Dia tertidur dan bersandar di pundakku. “Aish!” gumamku Aku juga ikut mengantuk saja, ku sandarkan dikaca bus dan tertidur. Alvaro Prov
Hari ini, aku dan para partisipan acara tahunan kampus pergi ke Bali untuk tour dan pengakraban. Semua saling berebut kursi di bus, di deretan kursi belakang sudah dipenuhi yang lainnya. Akhirnya aku ke depan, dan menemukan kursi yang ditepati satu orang saja. Mau tidak mau aku harus duduk di sampingnya, kenal tidak kenal aku harus ramah dengannya. Setelah duduk, eh ternyata Arthea yang disampingku. Dia ngomel-ngomel nggak jelas dan berkata dengan ketusnya padaku. Hmm, perjalanan yang lama membuatku sangat ngantuk. Akupun tertidur, sebelum pulas tidurku dengan sengaja ku sandarkan kepalaku di pundak Arthea hingga benar-benar tertidur pulas. Pas bangun, kudapati Arthea tertidur pulas dengan bersandar di kaca bus. Tidurnya sangat tidak nyaman ku rasakan, aku menyediakan pundakku untuknya agar tidur Arthea nyaman. Kepala kita saling bersandar. Akhirnya kami sampai di Bali, untuk yang kali ini aku dibuat takjub oleh pemandangan ciptaan Tuhan. Tanah kelahiran Ayah sungguh menyenangkan, kalau gini dari dulu mungkin aku akan betah di sini. “Alvaro, lo ngapain masih disini?” tanya ku begitu turun dari bus “Oh, Bima dan yang lain sudah duluan. Jadi terpaksa deh harus nyari barengan.” sangkalnya “Banyak alasan lu, dasar.” gumamku dan berjalan mendahuluinya “Oi! Tunggu.” teriaknya dan mengimbangiku berjalan menuju penginapan “Kenapa kau begitu lambat berjalan.” ucapku
“Kau yang lari terlalu cepat.” sahutnya “Kenapa?” imbuhnya menatap kearahku yang tiba-tiba diam “Oh, nggak papa.” singkatku “Sudah ku duga kau akan kecapean, naik.” ucapnya dan langsung jongkok di hadapanku “Untuk apa?” tanyaku “Sudah naiklah, kau masih sakit.” suruhnya “Bagaimana dengan orang lain, mereka akan berpikir berlebihan karena ini.” ucapku “Naiklah, Pak Wicak bisa marah kalau kita tidak segera ke penginapan.” suruhnya “Baiklah.” singkatku “Alvaro, turunkan gue disini saja.” ucapku “Tanggung.” balasnya “Gue nggak mau Martini mengosipkan kejadian ini.” bisikku “Terserah dia, aku sih cuek.” balasnya sedikit menoleh ke belakang dan tersenyum ringan “Hmm, Sonia dan Fenta pasti akan mengintrogasiku setelah ini.” ucapku lagi “Nanti biar aku jelasin ke mereka.” balasnya dan tetap menggendongku hingga sampai di penginapan cewek “Aish! Pasti mereka akan mengacak-acak rambutku.” keluhku dipunggung Alvaro