The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tika Dani- Ku Kira Kau Tak Sungguh

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tikadani01, 2023-02-14 08:42:13

Kukira Kau Tak Sungguh

Tika Dani- Ku Kira Kau Tak Sungguh

Keywords: novel

“Kau mungkin akan terlihat cantik jika rambutmu acakacakan.” balas Alvaro dan tersenyum “Aish! Kau ini.” kesalku “Apa?” tanyanya “Sudah, turunkan gue disini saja.” ucapku “Ya udah, kalau ada apa-apa langsung kabarin.” balasnya usai menurunkanku dari gendonganya “Hmm, thanks you.” Singkatku “Sama-sama.” balasnya sambil mengacak-acak rambutku dan tersenyum padaku “Kau bahkan tidak menyukai Pak Wicak hanya karena beliau mengacak-acak rambutku, dan sekarang kau malah melakukannya. Argh!” geramku “Sudah ku bilang, kamu cantik kalau rambutnya acakacakan.” godanya “Hmm, serah lo. Sana-sana pergi ke kamar lo.” usirku Dia hanya tersenyum dan pergi ke penginapan cowok Alvaro prov Aku bahagia bisa buat Arthea geram hari ini, karena ekspresinya marah saat aku mengacak-acak rambutnya begitu lucu dan membuatku berhasil ketawa-ketawa sendirian. Mungkinkah ini cinta? Aku harap begitu, sudah saatnya aku menjadi waras dalam mengejar cinta. Ibu Zuli benar, aku tidak pantas mencintai wanita dewasa seperti beliau. Mungkin memang ini saatnya aku mengejar cinta sejatiku dan mungkin juga itu adalah Arthea. Kalau aku tidak bersungguh-sungguh


dalam mencintainya, mungkin aku akan kehilangan cinta sejatiku untuk selamanya. Karena cinta sejati tidak datang kedua kali, dia akan datang satu kali saja di dalam hidupku. Aku berharap, semoga Arthea masih menyukaiku lagi agar kita bisa sama-sama. “Sepertinya ini cinta, hingga kau bahkan tidak menyadari saya disini.” seru Ibu Zuli dari balik punggungku “Oh, Ibu Zuli. Maafkan, saya.” balasku dan mendekatinya “Hmm, tidak masalah. Bahkan kamu dan Arthea sangat serasi.” sahut Ibu Zuli dan tersenyum padaku “Maaf, jika selama ini perasaan saya menganggu Anda.” balasku “Lupakan itu dan jaga Arthea dengan baik, dia adalah gadis yang sangat istimewa.” balas Ibu Zuli “Baik, Ibu. Saya permisi, dulu.” ucapku dan berlalu dari Ibu Zuli Ibu Zuli tersenyum dengan sangat bahagia, mungkin memang benar. Aku sudah menjadi penganggu baginya waktu itu, belum pernah aku melihat senyumanya yang sebahagia ini. Semenjak beliau bertemu dan menjalin hubungan dengan pria dewasa seusianya itu Ibu Zuli menjadi sangat bahagia. “Minggir!” usirku pada Arthea begitu melihatnya sedang duduk di ruang utama Tempat kita berkumpul dan makan bersama. “Duduk di tempat lain sono, masih longgar juga.” balas Arthea


“Aku maunya disini, awas!” suruhku “Gue yang duluan disini, jadi elo yang awas!” seru Arthea “Gue maunya duduk disini.” kekehku “Hmm! Gangguin aja.” Arthea merasa geram dan bergeser sedikit dari tempatnya “Geser dikit, nggak muat ini.” suruhku lagi “Geser aja ke kanan tuh masih longgar.” Arthea malah nyuruh balik “Aku maunya kamu yang geser, buruan.” balasku “Udah tuh, puas lo?!” ucapnya dengan ketus “Puas banget, puas lagi kalau kamu pergi dari sampingku.” sahutku “Alvaro, kau sedang sibuk nggak?” tanya Kak Brian orang kepercayaannya Pak Wicak menghampiriku “Oh, nggak, Kak. Ada apa memangnya?” tanyaku “Pak Wicak meminta lo untuk membeli semangka di pasar deket sini.” ujarnya “Gimana, lo keberatan?” imbuhnya bertanya “Mana kuncinya.” Aku meminta kunci mobil Pak Wicak “Ambillah dan pergi bersama Arthea.” balasnya dan melemparkan kunci mobil Pak Wicak padaku “Oh, sebaiknya Alvaro saja, Kak yang membelinya.” sahut Arthea


“Pak Wicak berpesan seperti itu, jadi pergilah bersama Alvaro.” balas Kak Brian “Emm, baiklah.” singkat Arthea “Al, hati-hati bawa mobilnya. Pulanglah sebelum jam 6, karena itu untuk makan malam kita semua.” sahut Kak Brian “Siap, Kak.” balasku “Let’s go!” imbuhku dan menarik tangan Arthea “Pelan-pelan ih.” ucapnya “Ayo, biar keburu waktunya.” balasku “Naiklah, dan pakai seat beltnya.” pintaku padanya “Bawel amat.” ketusnya dan melakukannya “Alvaro, hati-hati bawa mobilnya.” tutur Pak Wicak dan Ibu Zuli yang tiba-tiba menghampiriku “Baik, Pak.” balasku “Jaga Arthea.” imbuh Ibu Zuli “Baik, Bu. Saya permisi.” balasku dan mengemudikan mobil “Apa yang Ibu Zuli dan Pak Wicak katakan?” tanya Arthea “Kepo.” balasku “Ditanya baik-baik juga.” balasnya “Kamu masih sakit?” tanyaku yang mengkhawatirkannya “Gue baik-baik saja, kenapa sih lo selalu ngira gue sakit?” balasnya dan mengajukan pertanyaan untukku


“Nggak papa, ya sudah kalau kamu baik-baik saja.” balasku “Sudah sampai.” ucapku dan menghentikan mobil yang ku kemudikan di tempat parkiran “Pak, semangkanya berapa?” tanya Arthea yang sudah turun lebih dulu dari mobil “Ini 38,000 ribu, Mbak.” balas si penjual “Ini masih mentah dan tidak manis, Pak jadi terlalu mahal untuk kita beli.” tolak Arthea “Alvaro, kita cari tempat lain.” ajaknya Aku hanya mengikutinya saja. “Kita tanya sama Ibu itu dulu.” ucapnya dan sedikit berlari “Pelan-pelan, kamu masih sakit.” tegurku “Udah deh, bawel. Ayo!” balasnya antusias “Permisi, Ibu. Semangkanya berapa perkilo?” tanyanya “Perkilo 10ribu, Dek. Silakan dipilih.” Balas Ibu penjual “Nggak bisa kurang, Bu?” tanya Arthea “Ini pas, Dek. Semangka lagi mahal-mahalnya.” balas Ibu penjual “Ya sudah, Bu. Permisi.” balasnya dan pergi mencari semangka yang lebih murah “Maaf, Pak. Ini berapa semangkanya?” tanyanya lagi pada penjual yang berbeda “Perkilo 10,500, Neng.” balas Bapak penjual buah itu


“Mahal banget, Pak. 8.000 aja, boleh nggak?” tawar Arthea “Wah nggak bisa, Neng.” balas Bapak penjual itu “Kalau gitu 9.000 boleh nggak, Pak? Saya beli 2 buah kalau boleh.” tawar Arthea lagi “10.000, saya kasih, neng.” balas Bapaknya “Udah ambil aja, selisih 500 perak aja ribet banget.” sahutku “Nggak bisalah, kita harus dapat semangka yang lebih murah.” kekehnya dan pergi mencari penjual buah lagi “Ini sudah jam 5, Pak Wicak akan memarahi kita kalau tidak sampai sebelum jam 6.” ucapku “Diem dulu deh.” bantahnya “Terserah!” ketusku dan berjalan medahuluinya Jangan Terluka Lagi, Aku Khawatir Arthea Prov “Alvaro, tunggu!” teriakku sambil nyengir kesakitan “Al!” teriakku dan dia tidak mendengarkan panggilan dariku “Sudahlah, gue beli obat dulu saja.” gumamku dan mampir ke apotik untuk membeli obat pereda nyeri di perutku “Pak, perutku mengalami nyeri. Bisakah anda memberi obatnya?” tanyaku pada penjaga apotik “Ini, Mbak.” Pak penjaga apotik itu menyodorkan obat untukku


“Terima kasih, Pak.” ucapku usai memberikan uang untuk menebus obat dan pergi mencari Alvaro sambil mencari penjual semangka yang lebih murah dari 3 toko tadi “Pak, semangkanya berapa ini?” tanyaku pada Bapak pemilik toko buah itu “Perkilo 8.000, Mbak.” balas Bapak penjual “7,500 boleh nggak, Pak? Kalau boleh saya beli 2 buah.” tanyaku “Sebenernya nggak bisa, Mbak. Ya udah deh, sudah mau tutup juga ini.” ujar Bapak penjualnya “Yang ini sama ini aja, Pak.” Aku menunjuk 2 buah semangka “Yang satu 3,5 kilo, 26. 250. Satunya 4 kilo, 30.000. Jadi totalnya 56.250, Mbak.” ucap Bapak penjual tersebut “Ini uangnya, Pak.” Aku menyodorkan uang untuk membayar semangka itu “Kembaliannya, Mbak. Terima kasih.” ucap Bapak penjual itu dan menyodorkan kembalian beserta semangkanya “Sama-sama, Pak.” balasku “Ayo, pulang.” ucap Alvaro dan mengambil semangka dari tangan Bapak penjual “Alvaro, tunggu!” seruku “Mari, Pak.” pamitku pada Bapak penjual “Alvaro, lo marah, ya?” tanyaku


“Kamu ngerti nggak sih, aku khawatir sama kamu. Aku khawatir, ngerti nggak?!” bentaknya “Gue barusan mampir membeli obat sebentar ke apotik, pas keluar lo udah nggak ada.” balasku “Ayo, pulang!” ketusnya dan berjalan menuju parkiran “Buruan naik!” suruhnya “Alvaro, maaf sudah membuatmu khawatir.” ucapku “Berbaringlah, kau sedang sakit!” suruhnya “Tapi, gue nggak sakit.” balasku “Jangan mengelak, kalau aku bilang berbaring, ya, berbaringlah!” bentaknya “Kau bukanlah siapa-siapa gue, kenapa lo selalu mengaturku?” tanyaku sedikit merengek “Kau sedang sakit, dan aku tidak bisa menjagamu?! Aku khawatir dengan keadaanmu, Arthea!” bentaknya lagi “Maaf, Alvaro.” ucapku lirih Alvaro hanya diam dan fokus pada kemudinya. Sepanjang perjalanan pulang dia hanya diam tanpa mengajukan pertanyaan apapun. “Alvaro, apa yang terjadi hingga kalian pulang terlambat?!” tanya Pak Wicak Alvaro hanya meletakkan semangka di meja dapur tanpa mengucapkan sesuatu dan pergi begitu saja.


“Aish! Bocah itu, kenapa tidak menjawab saat ditanya?!” geram Pak Wicak “Mungkin itu adalah cinta.” ledek Ibu Zuli Mereka berdua tersenyum. “Arthea, pergi makan bersama yang lain. Atau kamu akan kelaparan hingga esok.” suruh Pak Wicak padaku “Maaf karena membuat Bapak dan Ibu khawatir.” ucapku dan pergi makan “Arthea, gabung sini!” ajak Sonia Aku mendekati mejanya, ternyata Bima dan teman-temannya juga satu meja dengan sahabat-sahabatku. Aku duduk di depan Alvaro, karena tempat itu yang masih kosong. Dia sama sekali tidak menganggapku ada dihadapannya, malah dia sibuk berbincang dengan Bima dan Gerand. Aku mencoba meluluhkan hatinya, dengan mengambilkan nasi untuknya namun dia malah mengambil piring lain yang masih kosong dan mengambil nasi sendiri. Aku coba menawarinya lauk, dia hanya diam tanpa menatap kearahku. Aku menyodorkan sumpit untuknya, dia malah mengambil sumpit yang baru. “Siapa yang memasak nasinya?!” teriak Kak Brian “Aku sama Fahrim, Kak.” Bima mengangkat tangannya “Masih mentah, haha.” sahut Gerand meledek “Banyak kerikilnya, gigiku jadi sakit.” sahut Martini “Lo pikir lo bisa memasak nasi?!” tanya Fahrim pada Martini dengan sengak


“Sudah, makan seadanya ini.” sahut Kak Brian “Baik, Kak.” balas semuanya Usai makan, kami berkumpul di aula untuk sharing-sharing bersama para partisipan. Kami berbincang dengan hangat, sekarang sudah tidak adalagi berebut posisi kecuali Fahrim yang terus mengincarku dan mendesakku untuk mundur dari acara tahunan ini. Sedikit, Pak Wicak dan Ibu Zuli memberikan wawasan dimalam akrab ini. Selepasnya, kami berbincang dengan teman semaunya hingga malam. Namun, aku hanya diam di tepi panggung tanpa gerakan apapun. Sama halnya dengan Alvaro, dia juga sedang terdiam di tepi panggung di sampingku agak jauh. “Guys! Gimana kalau kita nyanyi aja?” usul Atta “Boleh tuh.” sahut Kak Brian “Boleh-boleh, dari pada pada gabut gini. Capek juga bercanda mulu.” imbuh Martini “Alvaro, suruh gitarin kita aja.” usul Sonia “Iya, Al. Ayo, nyanyi bareng jangan murung gitu ah.” sahut Kak Brian “Nggak, Kak.” tolaknya “Ayolah, demi kami semua, Al.” sahut Fenta “Iya, Al. Buruan.” imbuh Gerand “Ya udah, kalau maksa.” balas Alvaro dan meraih gitarnya Sungguh, dia bermain gitar dengan begitu keren. Membuat hatiku bergejolak saja.


Malam semakin larut, kami membubarkan diri dan pergi tidur. Aku masih terjaga, sudah sekali memejamkan kedua mata ini dan tertidur pulas seperti yang lainnya. Malam yang dingin, sungguh menyakitkan perutku. Bekas jahitan itu terasa sangat ngilu hingga ke tulang-tulang, bekas sayatan diperutku sungguh menyiksaku untuk yang kali ini. “Mereka sudah tidur, sebaiknya gue keluar untuk menemani insomnia ini.” batinku dan keluar. Menatap pantai, menyaksikan ombaknya bergulung-gulung dengan sempurna ditambah terang sang purnama menambah kesan romantis pada malam yang dingin ini. Pandanganku sudah jatuh cinta pada pantai Jimbaran ini, sejak pertama kali mendengar Bali saja bayanganku sudah sangat indah dan menerawang bebas. Dan, entah kenapa semesta sedang mempertemukanku pada Desa Jimbaran ini. Sekilas sejarah mengenainya, yang aku tahu. Jimbaran dulunya adalah desa nelayan, yang kebanyakan penduduknya bekerja sebagai nelayan namun saat ini sebagian besar penduduk lokal Jimbaran dalam mencari nafkah, bergerak dalam bidang pariwisata. Yang menjadi daya tarik tempat ini adalah obyek wisata pantai pasir putih yang terkenal dengan pantai Jimbaran. Khusus pantai Jimbaran, terdapat keunikan yang tidak akan ditemukann dipantai lain di Bali. Keunikan tersebut, ada pada cafe yang ada ditepi pantai Jimbaran, yang secara khusus menghidangkan makanan laut bakar (seafood). Dengan bumbu khas Bali menjadikan pantai Jimbaran sebagai tempat wisata yang wajib dikunjungi ketika berwisata ke Bali. Di pantai Jimbaran, kita juga bisa menikmati sunset di sore hari karena waktu terbaik untuk berkunjung ke Jimbaran adalah sebelum matahari terbenam, atau sekitar jam 17.00. Menjelang pukul 18.00, jika cuaca cerah, kita akan dapat


melihat pemandangan sunset, sambil menikmati hidangan seafood bakar tepi pantai pasir putih. Akan sangat romantis jika melihat pemandangan sunset dan menikmati hidangan seafood bakar bersama kekasih hati. Ya, begitu indahnya sunset di sore hari di Jimbaran, itu yang membuatku begitu menyukainya. Suasana yang romantis antara semesta dan penduduknya. “Kenapa kau keluar tengah malam tanpa mengenakan jaket?” tanya seseorang dan kemudian dia duduk disampingku “Oh, Alvaro.” balasku dan menatap kearahnya “Apa yang kamu lakukan?” tanyanya “Aku masih terjaga, jadi aku keluar untuk menikmati malam yang dingin.” jelasku “Lalu, apa yang kau lakukan disini?” imbuhku bertanya padanya “Aku melihatmu disini, jadi aku ke sini.” balasnya “Emm.” singkatku “Apa yang membuatmu terjaga malam ini, Ar?” tanyanya menatapku “Perutku yang bekas operasi kemarin masih terasa nyeri juga suatu masalah mengangguku.” balasku “Ceritakan padaku, Papaku pernah bilang kalau ada masalah itu dibagi. Kalaupun tidak ada solusinya, setidaknya kamu bisa lega dengan membaginya.” ucapnya “Ayahku juga pernah mengatakan hal itu, tapi akan lebih baik jika masalahku biar tersimpan sendiri.” balasku


“Baiklah, jika kamu tidak mau membagi masalahmu.” ucapnya “Tapi, bagaimana dengan mimpimu? Kamu bisa dong membaginya denganku.” imbuhnya “Kalau mimpiku ada yang tidak tercapai nantinya, kamu mungkin akan mentertawaiku.” balasku “Kalau gagal, Tuhan masih punya rencana yang lain untuk menggantikan mimpimu yang gagal.” ujarnya “Kamu yakin?” tanya “Tentu saja.” balasnya “Lalu, apa mimpimu?” imbuhnya bertanya “Rahasia.” balasku “Bagaimana dengan mimpimu, apa mimpimu?” tanyaku balik “Rahasia.” balasnya “Kau bahkan menggunakan kata-kataku.” sahutku “Pinjam bentar.” balasnya menatapku lekat “Hmm, mimpiku banyak.” ucapku dan menatap pantai Jimbaran “Aku ingin keliling dunia bersama keluargaku dan membahagiakan mereka, Ayah dan Mama juga Eyang. Aku juga ingin meneruskan cita-citaku, aku capek hidup dibawah tekanan Eyang. Tapi, sudahlah. Akan lebih baik jika musik tradisional terus dilestarikan.” jelasku “Mau ku beritahu mimpiku?” tanyanya


“Apa?” tanyaku balik “Aku mau, kamu disisiku. Apapun itu, aku mau kamu disini, disisiku. Aku ingin kau menyukaiku lagi.” ucapnya dan meraih tanganku dengan lembut, menatapku dengan lekat “Hmm.” singkatku “Kamu mau, kan?” tanyanya “Arthea, kenapa malah diam?” tanyanya lagi “Nggak papa.” balasku “Astaga, pake jaketku. Jangan pernah bilang nggak papa, ketika kau sakit.” ujarnya “Thank you, Alvaro.” balasku Dia hanya tersenyum dan memelukku. Esok hari sudah dimulai, merapikan diri masing-masing dan sarapan bersama. Melakukan breafing bersama Pak Wicak dan Ibu Zuli sejenak, dan kami diajak berkeliling di Bali. Masih dilingkungan Jimbaran, untuk mengeksplor pulau dewata Bali dan untuk menjalin kebersamaan para partisipan acara tahunan kampus. “Arthea, apa yang membuatmu tersenyum?” tanya Alvaro yang berjalan seiring denganku “Aku bahagia. Karena bisa ke Bali, tempat kelahiran Ayahku.” ujarku “Kamu pernah ke sini?” tanyanya “Pernah, bahkan aku pernah tinggal disini beberapa waktu lalu. Tapi, karena suatu hal jadi aku pindah.” ujarku


“Sebahagia itu kamu mengartikan Bali, aku pikir lebih dari itu. Pasti ada kenangan indah dan berarti untukmu.” balasnya dan duduk di gazebo pantai Jimbaran “Ya, begitulah.” Singkatku dengan tersenyum ringan dan duduk di sampingnya “Kamu suka udang?” tanyanya “Udang adalah makanan favorite ku. Bukankah kamu akan memesannya untukku?” balasku “Tunggu, ya,” ucapnya dan pergi memesan Sembari menunggu Alvaro datang bersama udang pesananku, menikmati pemandangan pantai pasir putih dan orang-orang yang berlarian di tepian. Sungguh kearifan yang berhasil membuatku takjub akan-Nya. Kilas balik mengenai pernyataan Alvaro semalam, yang memintaku untuk mencintainya lagi adalah sebuah kesempurnaan dari arti bahagia itu dimulai dari yang sederhana. “Maaf, membuatmu menunggu, Tuan Putri.” ucapnya membuayarkan lamunanku “Tuan Putri sudah sangat lapar, Pangeran.” balasku “Aku kira kamu gadis tergalak sedunia, ups.” gumamnya “Apa maskutmu, Alvaro?” tanyaku dengan melototinya “Nggak, ayo makan.” ajaknya “Kamu menyukai udang juga?” tanyaku begitu melihat menu makan kita sama “Ya, biasa-biasa aja sih.” ujarnya


“Ceh!” ketusku “Buru makan, malah senyum-senyum sendiri.” ucapnya “Ini manyun, Al. Aish!” sahutku “Makannya kalau manyun jangan sama-samain senyum, jadi susah, kan, bedainnya.” balasnya “Kalau senyum itu lengkung yang penuh arti, kalau manyun itu ngambek. Paham?” sahutku “Sama-sama lengkung yang penuh arti, coba praktekin. Sama pasti.” balasnya “Terserah!” ucapku “Mau tahu bedannya nggak?” tanyanya sambil mendekatkan wajahnya “Nggak!” sengakku “Oh, baiklah.” singkatnya “Apa emang?” tanyaku kepo “Lupa, gimana dong.” ledeknya “Dasar bucin!” ucapku “Nggak ada bedanya, abis pas senyum sama pas manyun sama-sama gemesin.” ujarnya Seketika aku tersedak. “Pelan-pelan kalau makan.” ucapnya dan menyodorkan air minum “Thanks, Al.” balasku


“It’s okay.” singkatnya “Setelah ini kamu mau kemana?” tanyanya menatapku “Mungkin aku akan kembali ke penginapan saja.” balasku “Aku temani, ya,” ucapnya dan menarik tanganku “Kamu bisa meninggalkanku, tidak perlu menjagaku berlebihan seperti ini.” balasku “Tidak, ini tidak berlebihan. Jadi, ayo kita kembali bersamasama.” ajaknya dan tersenyum padaku “Baiklah.” singkatku Aku Mencintaimu Dia tersenyum melihatku, berjalan seiring dengan genggaman tangan dan menyusuri pantai pasir putih berdua. Ini indah, sangat indah, bersama kekasih hatiku. Harga yang tidak bisa dibayar oleh siapapun, termasuk pertemuan ini antara aku dan Alvaro. Bagaimana mungkin, Tuhan menghadirkan dia disetiap dukaku. Dia memeluk duka lara itu dengan balutan kain kasa, mengering dan tertawa. Kita, dipertemukan karena takdir bukan kesengajaan. Bahkan mendapatkan hatimu sepenuhnya karena takdir, malam dan semesta berpihak padaku dengan baik. Sejak malam dimana sepasang bola mata milik kita saling terjaga. Bertemulah pada angin malam, bertajuk bintang-bintang, kau berikrar atas cinta yang basah kuyup akibat harap-harap cemas dan getir penantianmu pada seseorang dan dia bersama masa lalunya hidup damai. Kau tertatih, kemudian bangkit dan menancapkan panah yang memekikku perlahan hampir mati rasa. Berjalan waktu, cinta tumbuh dari satu cup kopi kesukaanmu. Kita bertemu karena


kopi itu, panas hingga membeku. Kita bahkan tanpa sadar sedang merujuk pada kedekatan, yang saat ini kita lakukan. “Kenapa menatapku demikian?” tanyanya dan menghentikan langkahnya “Emm, karena kau begitu indah.” balasku menatapnya lekatlekat “Ceh! Kau sedang menggodakku?” ledeknya “Tidak, aku bersungguh-sungguh. Aku kira kau selalu dingin pada semua orang.” sahutku “Ayo, jalan lagi.” Dia mengalihkan pandangan dan mengenggam tanganku, mengajakku berjalan lagi “Kamu kenapa dingin lagi sih? Kamu ngambek sama aku?” tanyaku “Untuk apa aku ngambek sama kamu.” balasnya “Lantas, kenapa kamu diam seperti ini lagi?” tanyaku “Nggak papa, aku hanya tidak mau kamu terlalu lama kepanasan.” ucapnya “Bagaimana kau menjadi sebucin ini, bahkan disini udaranya sangatlah sejuk.” balasku “Kamu harus banyak istirahat, ayo.” balasnya “Alvaro, berhenti disini dulu. Boleh, kan?” tanyaku “Untuk apa?” tanyanya balik “Aku masih ingin disini.” balasku


“Baiklah, tapi kita harus segera pulang ketika terik.” sahutnya dan duduk di sampingku “Kenapa kamu membiarkan rambutmu menutupi mata indah itu?” tanyaku “Agar kau tidak menatapku terus.” balasnya dan tersenyum padaku “Tapi, aku menyukainya.” ujarku “Ceh! Kamu tahu nggak?” tanyanya “Nggak. Kenapa?” tanyaku balik “Aku cemburu.” singkatnya dan sedikit murung “Dengan siapa? Bahkan aku tidak menyukai pria lain.” balasku “Kamu bilang, kamu menyukai sepasang mataku. Berarti kamu tidak menyukaiku, bukan?” ujarnya dan bertanya padaku seolah meledek “Ceh! Hahaha, tentu saja aku juga mencintai pemilik mata indah itu.” ujarku Dia hanya diam dan menatapku. “Kenapa?” tanyaku “Kamu cantik.” ujarnya “Dari lahir, welk.” ledekku Dia melemparkan gumpalan pasir, kita bermain air pantai pasir putih. Menghempas segala penat dan kesedihan, aku


punya Alvaro sekarang. Pelipur lara dan penguat kala dunia mengecamku hina, aku mencintainya selalu. Basah kuyup sudah diri ini, perang air seperti yang dilakukan anak-anak bersama kawannya. Ternyata sangat membahagiakan, tidak perduli aku seorang mahasiswa. Yang penting bahagia, hanya itu dan sejenak melupakan usia. “Ar, hentikan ini. Sungguh melelahkanku.” ucapnya dan duduk di pesisir pantai dengan menghela napas “Ayolah, kita perlu mengukir kenangan indah disini sebanyak mungkin.” ajakku dan menarik tangannya paksa “Bahkan, kau seperti anak kecil.” ledeknya “Bodo!” ketusku “Tidak perlu seperti ini, Ar. Jika denganmu saja sudah menjadi kenangan indah.” ucapnya “Emm, kau benar.” balasku “Kita pulang saja, kau perlu mengganti bajumu yang basah itu.” ajaknya Aku mengikutinya saja, karena nggak tahu kenapa perutku terasa sangat menyakitkan. Mungkin benar kata Alvaro, bahwa aku memang masih sakit. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya “Aman, Al. Aku baik-baik saja.” balasku “Bagaimana aku bisa meyakinimu, bahkan kau masih mengatakan baik-baik saja saat sakit. Naiklah.” Ucapnya “Tapi, Al.” elakku


“Tolong, Al. Berhenti membuatku khawatir.” pintanya Lantas, aku mengikuti perintahnya. Dia menggendongku yang tengah terluka, hingga sampai di penginapan. Bahkan, Alvaro meminta Sonia dan yang lain agar membantuku mengganti bajuku yang basah. Apa aku sangat berarti untukmu, Al? Bahkan kamu mencintaiku dengan caramu sendiri dan cara ini sungguh membuatku luluh-lantah. Kamu menjadikanku kekasih yang paling beruntung, sekarang. “Kamu menungguku, Al?” tanyaku begitu keluar dari kamar “Tentu saja, untuk memastikan kau baik-baik saja.” ujarnya “Maaf, membuatmu khawatir.” balasku “Tidak menjadi masalah, sayang.” sahutnya “Ehem, uwu ada yang sedang kasmaran.” sindir Fenta “Apaan sih, Fen.” balasku malu-malu “Ngaku, udah jadian, kan, kalian.” goda Raya “Belum, belum lama ini.” sahut Sonia “Asik-asik.” balas Bima nimbrung “Masih pantes nggak sih, PJ.” sahut Gerand “Masihlah, skuyyyyy!” seru Atta “Besok aja, guys. Kita, kan, malam ini ada gladi sama Pak Wicak.” sahut Bima “Atur ajalah.” singkat Alvaro sambil senyum-senyum padaku “Ya, udah yuk. Kita kumpul dulu, acara udah mau mulai.” ajak Atta sambil menatap jam tangannya


“Kita siap-siap dulu, guys.” sahut Sonia dan kami bersiap “Ok, kita tunggu penampilan kalian.” balas Gerand “Ar, bisa ngobrol bentar?” tanya Alvaro menarik tanganku “Arthea, cepetan, ya.” seru Fenta dan bersiap dengan yang lain “Iya.” singkatku “Ada apa, Al?” tanyaku “Tolong, jangan ikut tampil, ya.” ucapnya “Kenapa?” tanyaku “Kamu masih sakit.” balasnya “Aku sudah baik-baik saja.” ucapku “Tolong.” pintanya “Aku harus mengganti kostum, aku duluan, ya,” balasku dan lalu pergi menyusul Fenta, Sonia juga Raya Aku menolak permintaan Alvaro, aku rasa dia terlalu berlebihan malam ini. Sedangkan aku baik-baik saja, aku sudah tidak merasakan kesakitan yang berarti di perutku. Namun, Alvaro selalu melarang itu. Pikirnya, aku masih sakit. “Penampilan selanjutnya, kita panggilkan Arthea dan teamnya!” seru Marteen sebagai MC “Ayo, guys. Sudah di panggil tuh.” ajak Raya “Ayo-ayo.” sahut Fenta dan Sonia


“Tolong, jangan tampil malam ini.” ucap Alvaro yang tibatiba datang dan mencegahku untuk tampil Dan mereka bertiga sudah berada di atas panggung. “Arthea, mana?” tanya Marteen “Sudah, lakukan tanpa Arthea!” seru Pak Wicak “Baik, Pak.” balas Marteen Aku murung, kecewa dan marah dengannya malam ini. Alvaro terlalu over dalam menunjukkan cintanya, aku tidak suka di kekang seperti ini. “Kita keluar, menyaksikan mereka tampil.” ajaknya Aku hanya diam dan membiarkan tangannya menarikku hingga sampai di depan panggung menyaksikan temantemanku diatas panggung menunjukkan kehebatannya dalam bermain musik tradisional dan dance. “Duduklah disampingku, jangan pernah jauh dariku.” ucapnya Aku tetap diam tanpa bicara, lantas duduk disampingnya berjarak. “Kamu sakit?” tanyanya “Hmm, aku baik-baik saja.” ujarku Tak lama acaranya sudah selesai, semua partisipan sudah tampil sesuai pernannya masing-masing diatas panggung kecuali aku. “Arthea, kenapa kamu tidak jadi tampil?” tanya Fenta menunjukkan wajah kecewanya


“Maaf, perutku barusan nyeri.” balasku “Yang lain mana?” imbuhku “Raya dan Sonia sedang minum dengan Gerand.” ujarnya “Ya, udah. Gue ke toilet sebentar, ya.” pamitku “Tidak perlu gue temenin?” tanyanya “Nggak usah, Fen. Lu susul yang lain dulu aja.” ucapku dan berlalu dari Fenta dan Alvaro “Argh! Kenapa kamu over padaku, Al?” gumamku dengan geram berjalan di taman “Brak!” aku terjatuh, high heelsku menancap di sela-sela batako taman Kakiku sangat sakit, aku tidak sanggup bangkit seorang diri. “Sonia, tolong gue.” rengekku menghubungi Sonia “Lo dimana?” tanyanya “Gue ditaman.” singkatku dan menutup sambungan telefon “Arthea!” seru Alvaro dari balik punggungku “Ini yangku cemaskan.” ujarnya “Kenapa kamu seperti ini, Al?” tanyaku “Sini, biar aku obatin.” ucapnya “Tidak perlu.” elakku “Kamu terluka, jadi biar aku obatin lukamu. Paham?!” bentaknya lalu menggendongku, Alvaro mendudukkanku di


kursi taman dan memijit bagian kakiku yang terkilir karena terjatuh barusan “Aduh!” teriakku kesakitan “Ini akan menyakitkan, bertahanlah.” ucapnya “Arthea!” seru Sonia memanggilku dan mendekati kita berdua “Apa yang terjadi?” tanyanya “Barusan kakiku terkilir.” balasku “Alvaro, terima kasih, ya.” ucapnya berterima kasih pada Alvaro Alvaro hanya mengangguk dan tersenyum ringan pada Sonia. “Bawa gue pergi dari sini, Son.” ajakku “Alvaro, kita duluan, ya.” pamit Sonia “Lo nggak papa, kan?” tanya Sonia dan menuntunku berlalu dari Alvaro “Nggak papa, Son.” balasku Pagi beranjak penuh berseri, kali ini aku dan para partisipan acara tahunan kampus akan meninggalkan pulau dewata Bali sedini ini. Setelah berkunjung sejenak di pusat perbelanjaan terkenal di sini kita harus segera meninggalkan pulau ini. Meskipun dengan berat hati aku pergi dari sini, kelak aku berharap bisa kesini lagi dan bahkan tinggal dalam beberapa waktu yang cukup lama. “Kenapa pagi ini kamu belum tersenyum untukku?” tanya Alvaro duduk di kursi sampingku


“Hari ini tidak memungkinkan, hmm.” ketusku “Maaf, membuatmu terkekang.” ujarnya “Itu lo tahu.” singkatku “Jadi, apa maumu?” tanyanya “Mauku, kamu cukup jadi kekasihku. Bukan jadi satpam!” ucapku “Kalau jadi istriku, kamu nggak mau?” tanyanya meledekku “Mungkin aku akan berpikir dua kali lipat lebih keras.” balasku “Menjadi istri seorang gitaris tampan dan cool seperti ini masih harus mikir?” ledeknya lagi penuh tatapan misteri “Dasar narsis.” ucapku Seketika dia menciumku dan tersenyum manis untukku. Aku tidak bisa berkutik, sekujur tubuhku dingin dan kaku. Menakjubkan, Tuhan ini apa? “Kenapa?” tanya Alvaro menggodaku “Apa sih.” balasku salah tingkah “Nggak usah salting gitu.” ledeknya lagi “Dih, siapa yang salting. Ge-er!” seruku “Kamu mau nggak, nyanyi buat aku?” tanyanya “Ogah!” tolakku “Ya udah.” balasnya “Terus, kamu ngapain buka gitar?” tanyaku


“Suka-suka aku dong, gitar aku.” balasnya “Serah!” ketusku “Guys, mau gue nyanyiin lagu apa?!” serunya “Terlalu manis!” seru Bima “Jangan, duet aja sama Arthea.” sahut Sonia “Nggak, apaan sih!” sahutku “Ayolah, Ar.” rayu Raya “Tuh, yang lain maunya aku nyanyi sama kamu.” ucap Alvaro “Kamu modus, kan, hmm.” balasku “Mau nggak?” tanyanya Aku hanya mengangguk pelan. “Guys, mau lagu apa?” tanya Alvaro “Teman cintaku aja, Al.” teriak Fenta “Dasar Fenta bucin!” seruku “Bodo!” sahutnya “Ya udah kali, Ar. Turutin, nangis ntar.” imbuh Sonia “Gitarisnya aja malah narsis.” sindirku pada Alvaro yang sibuk mengoprasikan kameranya “Oh, kamu mau?” tanyanya “Ayo, Al. Keburu nyampe kita!” seru Bima


“Oke deh.” balasnya dan langsung memainkan gitarnya dengan lihai Teman cintaku (Alvaro feat Arthea) (Alvaro) Bahagianya diriku, telah milikimu Tak pernah ku meragu Tak lagi kumencari cinta selainmu Takkan ku tinggalkan kamu Jika ku dapat menata jalanku Ku ingin kau slamanya denganku Engkau wanita tercantik ku Ku ingin kau tahu Maukah kau jadi teman cintaku “Mau bangetttttt!” seru seisi bus (Arthea) Tak akan ku mencari, cinta selainmu Takkan ku tinggalkan, kamu Jika ku dapat menata jalanku Ku ingin kau slamanya denganku Engkau lekaki terbaikku Ku ingin kau tahu


Ku ingin kau jadi teman cintaku “Uwuww.” seru seisi bus Jangan pergi dari hidupku (Alvaro) Tetap disini temaniku (Arthea) Sungguhku tak mau, kamu. Jauh dariku (Arthea-Alvaro) Jangan tak setia padaku, (Alvaro) Kau hanya untukku (Alvaro-Arthea) “Jadi diterima nggak, Ar?” tanya Bima “Diterima!” sahut Raya “Telat lu pada, kita tuh tinggal minta PJ.” imbuh Raya “Emang, iya?” tanya Gerand “Kepo, lu.” timpal Fenta “Loh, sohib kita jadian, ya, harus kepo.” sahut Atta “Bener, Alvaro dan Arthea jadian?” tanya Ibu Zuli “Iya, Bu.” balas Alvaro “Kalau gitu, pesan saya. Jangan pacaran mulu, ya,” balas Ibu Zuli “Baik, Bu.” anggukku “Dan, ingat. Jangan membatasi Arthea, paham?” imbuh Pak Wicak “Paham, Pak.” balas Alvaro


“Oke, anak-anak. Kita sudah sampai di kampus dengan selamat tanpa kendala suatu apapun, saya minta kalian harus pulang. Ingat pulang dan beristirahatlah dengan baik, karena besok kalian sudah kuliah seperti biasa. Paham?” tutur Pak Wicak “Paham, Pak!” seru kami “Ingat, yang punya pacar. Saya larang pacaran dulu, mengerti?” sindir Pak Wicak padaku dan Alvaro “Mengerti, Pak.” balas Alvaro “Hati-hati dijalan kalian semua, terima kasih untuk beberapa hari yang luar biasa ini. Besok, jangan lupa tetap latihan di aula, saya tunggu.” imbuh Ibu Zuli “Baik, Bu.” seru kami “Oke, kalian boleh pulang sekarang.” sahut Pak Wicak dan mempersilahkan kami pulang Mereka semua membubarkan diri masing-masing, sedangkan aku masih bercanda di kampus dengan Alvaro. Membicarkan hal-hal konyol yang membuat perutku geli. “Ehem.” sindir Pak Wicak yang tiba-tiba datang menemui kita “Kalian belum pulang?” tanya beliau padaku dan Alvaro “Belum, Pak.” balas Alvaro “Arthea, saya antar pulang dan berlatihlah dengan baik.” tutur Pak Wicak “Saya yang akan mengantarkan, Arthea pulang. Permisi, Pak.” Sahut Alvaro dan berlalu dari Pak Wicak dengan mengandeng tanganku


“Aish! Bocah itu.” geram Pak Wicak mengiringi langkah kita berlalu “Naiklah, pegangan yang erat.” pintanya “Pengangan.” pintanya lagi “Udah.” Balasku “Kamu pikir aku tukang ojek, pegangan di pundak.” ucapnya “Ayo jalan.” Aku pengangan di tasnya “Pegangan yang bener dulu, baru aku jalan.” balasnya “Modus, dasar.” ucapku “Kok, modus sih. Demi kebaikanmu, gimana kalau kamu jatuh?” balasnya dan mengajukan pertanyaan untukku. Sambil memelukkan kedua tanganku “Dah, gini, kan, aman.” ucapnya dan melajukan sepedanya Hari yang indah, hmm apa Alvaro akan demikian sepanjang waktu? Membahagiakan dan membuat hariku menyenangkan. “Tidurlah dengan baik, besok aku jemput. Kita bersama ke kampus.” ucapnya “Baiklah, terima kasih untuk hari ini, Al.” balasku “Sana masuk.” suruhnya “Daaa, see you soon.” balasku sambil melambaikan tangan dan masuk Alvaro Prov “Aku pulang.” ucapku begitu membuka pintu


“Alvaro, apa yang membuatmu begitu girang seperti itu?” tanya Mama “Bukan apa-apa, Ma.” sangkalku “Kemarilah.” pinta Mama “Ada apa, Ma?” tanyaku "Putraku seperti sedang jatuh cinta, apa benar?” Mama menggodaku “Mama bisa aja, Alvaro ke kamar, ya, Ma.” Balasku “Istirahatlah dengan baik.” Balas Mama Keesokan paginya aku berangkat bersama Arthea, seperti biasa menghabiskan waktu bersamanya adalah menyenangkan. Hari ini full latihan tentunya karena waktu sudah sangat mepet untuk tampil. Mengalir begitu saja dengan keras kami para partisipan berlatih dan tiba waktunya tempur. Semua mempersiapkan diri sesuai bagiannya masing-masing. Apapun Yang Terjadi, Kamu Pemenangnya Arthea prov Hari ini aku, Alvaro dan partisipan yang lain bersiap untuk acara tahunan kampus. Semua berjalan lancar, harapan kami bersama para pelatih dan penghuni kampus kami. Sengaja aku menemui seseorang yang sangat ambis di acara ini, tentu aku juga ingin tampil dan memberikan persembahan yang terbaik sebisaku. Namun, nanti dulu egoku tidak terlalu penting, ini persoalan kepuasan dan merealisasikan mimpi seseorang yang sudah mempersiapkan ini matang-matang jauh sebelum aku terpilih menjadi kandidat pemeran utamanya.


Diawal aku baik-baik saja, tampil menari dengan alat musik tradisonal bersama timku dan timnya Alvaro persembahan yang memuka. Semua audiens terhanyut dalam pembukaan kami, tiba di acara inti drama musikalisasi dimulai, aku bernanyi disini namun semua orang mencariku terlebih kakek dan kedua orangtuaku. Mereka marah besar karena aku mungkin hanya beromong kosong tentang menjadi pemeran utama dan akan bernyanyi dengan merdu di panggung tahunan ini. Ada orang lain dengan talenta yang memuka lebih dari aku siapa lagi kalau bukan anak dari pemilik kampus ini. Penuh isak tangis aku menyanyikan lagu dibelakang backstage, diluar sana ada tepuk tangan hebat dari para audiens seisi kampus yang menyaksikan penampilan bukan aku tapi. Harusnya aku yang disana, aku yang menutup acaranya dengan lagu merdu ini aku pula yang mendapatkan sorotan public. Namun, tidak masalah aku sudah melakukan yang terbaik. “Kamu, hebat. Kamu sudah melakukan yang terbaik!” peluk Alvaro seketika menyaksikan aku menangis dibelakang backstage usai acaranya kirab dengan luar biasa memukaunya “Jangan menangis lagi, kamu sudah melakukan yang terbaik untuk acara ini. Kamu pemenang untuk semua orang yang menyaksikan dan untukku kamu selalu yang terbaik.” Support Alvaro “Hiks-hiks.” Isakuku semakin menderu Acara usai, kami melakukan party untuk merayakan keberhasilan dan usainya tugas kami dalam memeriahkan acara tahunan di kampus, yang mungkin untuk yang terakhir dan setelahnya kami akan disibukkan dengan kegiatan perkuliahan masing-masing.


“Dua anak ini, benar-benar!” kesal Pak Wicak mengacak-acak rambutku dan Fahrim “Bahkan kami tidak suka diacak-acak rambutnya.” Kesalku Aku dan Fahrim tertawa sambil merapikan rambut masingmasing. “Saya bangga dengan kalian berdua. Kalian sudah melakukan yang terbaik.” Ujar Pak Wicak “Yang harus dibanggakan adalah Arthea, Pak. Bukan saya.” sambung Fahrim “Bahkan kamu sedang sakit kenapa malah disini?” omel Pak Wicak “Arthea yang mengajakku kesini, iya, kan, Ar.” keluh Fahrim merajuk “Bahkan kau melakukan acting dengan sangat sempurna disaat sedang sakit.” godaku dan kami bertiga tertawa “Besok-besok jangan lakukan ini.” pesan Pak Wicak dan berlalu menghampiri Ibu Zuli Aku dan Fahrim berpelukan. “Gitu dong akur.” ucap seseorang dan mengacak-acak rambutku “Alvaro! Bahkan kau sama seperti Pak Wicak.” keluhku dan melepaskan pelukan dengan Fahrim “Sini biar aku rapihin.” Fahrim membantu merapikan rambutku “Thankyou.” balasku


Dia mengangguk dengan mengukir senyuman terbaiknya untukku. “Aku gabung dengan yang lain, ya, takut ganggu.” ucap Fahrim kikuk “Bahkan sama sekali tidak menganggu.” sahut Alvaro “I-iya, Fahrim.” imbuhku “Aku kesana dulu, yaa, it’s your time with Alvaro.” bisiknya “Baiklah.” balasku sambil tersenyum “Kenapa sih cewek Sukanya bisik-bisik.” sindir Alvaro dan lalu duduk disampingku “Biarin.” balasku Tak lama ada wartawan mencari Fahrim, rupanya Mamanya yang ambis itu sengaja memanggilnya untuk mewawancari keberhasilan Fahrim dengan suara merdunya barusan pas lipsing. Tidak heran juga, penampilannya memang memuka, dibandingkan aku. “Hei, senyum.” Alvaro seakan tahu isi hatiku saat ini dan mencoba menguatkanku sambil menepuk kedua pundakku “I’m fine.” balasku dan tersenyum untuknya Tiba-tiba saja wartawan itu malah menjauhi Fahrim, dan Mamanya kesal karena Fahrim mengatakan bahwa yang bernyanyi tadi bukan dirinya melainkan aku. Dia hanya lipsing, karena memang Fahrim sedang mengalami gangguan di pita suaranya dan harus dioperasi hari ini juga seharusnya. Namun, karena aku yang barusan menemui dia dan


memaksakan dia untuk tampil hingga membuatnya kabur dari ruang operasi dan haru ditunda lain hari. “Pemilik suara merdu itu dia orangnya, Arthea.” tunjuk Fahrim padaku yang sedang duduk berdua bersama Alvaro Seketika para wartawan mendekati untuk diwawancarai, sudah seperti artis saja rasanya. Oh, ternyata sedemikian rasanya di beri banyak pertanyaan hingga aku bingung menjawab yang mana terlebih dahulu. Suasana ini membuatku kikuk dan sedikit nervous, aku hanya bisa mengengam tangan Alvaro dan menatap matanya. Bahkan dia hanya mampu tersenyum karena melihat kedua pipiku sudah memerah sejak diserbu wartawan didepanku ini. “Bahkan kau seperti kepiting rebus jika nervous.” goda Alvaro saat perjalanan pulang “Ceh! Bahkan kau tidak tahu rasanya hatiku bagaimana barusan.” ujarku “Capek?” tanyanya “Iya, akhirnya selesai juga.” keluhku sambil berjalan beriringan dengan sempoyongan “Bagaimana kamu akan menghadapi orang rumah terlebih kakek?” tanyanya khawatir “Kakek mungkin akan menghukumku dengan berbagai pekerjaan rumah, dan fokus berlatih dengan giat hingga pagi buta.” ucapku pasrah “Seandainya bisa aku gantiin, hmm.” balasnya


“Itu sudah biasa bagiku, Al. Kamu harus percaya aku kuat untuk hal itu.” pujiku pada diri sendiri sambil menepuk-nepuk dadaku “Aku mempercayainya, bahwa kekasihku ini hebat dan kuat.” pujinya sambil merangkuku dengan tersenyum seperti biasanya sangat manis dan tampan “Apa kau akan meletakkan tanganmu yang berat hingga tiba di rumah?” sindiriku Dia hanya diam dan tetap dengan senyumannya. “Aish!” geramku “Jangan marah-marah, nanti kalau kamu marah mukamu berubah menjadi kepiting rebus rasanya ingin aku makan.” Ujarnya “Dasar.” singkatku “Mari menikmati hari-hari baik bersama selamanya, Ar.” ujarnya mengehentikan langkah kami seketika dan kami saling tatap Hari berlalu, kami sudah disibukkan dengan kegiatan perkuliahan yang menguras energi. Aku juga, sibuk dengan perlombaan music tradisional yang diajukan oleh kakek beberapa bulan lalu. Belum lagi ditambah aku harus fokus di pungkas semester ini, sungguh akan merepotkan waktu rebahanku di akhir-akhir ini nantinya. Tapi, ini akan menyenangkan daripada aku harus terkena omelan sepanjang waktu karena membangkang pada kakekku sendiri akan lebih baik menuruti apa yang menjadi mau beliau lagian niat kakek baik ingin melestarikan budaya yang hampir Sebagian besar anak muda mulai menanggalkannya dan beralih ke music


modern yang pada kenyataannya aku juga menyukai dunia musik modern. Ditambah lagi dengan perjanjian kontrak kerjaku bersama seorang produser dapur rekaman yang waktu acara tahunan kala itu mendengarkan lagu yang aku bawakan disana. Dia tertarik memboyong aku dan tim berkolaborasi membuat sebuah lagu yang selaras dengan aransement music tradisional dan perpaduan modern. Ini layaknya mimpi, namun bagaimana, mana yang akan aku dahulukan. Hari ini bersamaan lomba dan rekaman bersam tim. Kakek akan marah besar kalau aku meninggalkan perlombaan demi pergi ke dapur rekaman. “Udah siap lombanya?” tanya Alvaro memastikan “Aku harus bergegas ke tempat lomba sekarang, Al.” balasku “Aku antar?” tanyanya “Tapi bagaimana dengan kuliahmu?” tanyaku “Sudah selesai, ini sudah jam 10 kau akan terlambat. Siang nanti kita harus buru-buru sampai kedapur rekaman karena yang lain akan tiba setengah jam sebelum mulai.” balasnya “Tapi, Al,” ucapku ragu “Naiklah, kita tidak ada waktu.” pintanya Belum sempat aku naik, aku nyaris terjatuh karena tali sepatuku lepas dan terinjak kaki yang lain. Dengan cekatan Alvaro merahiku, kita berdua malah terjatuh berdua dengan tangan kanan Alvaro menahan tubuhku agar tidak kesakitan terbentur aspal. Alvaro sempat meringis kesakitan, namun dia menutupi lukanya seolah tidak terasa sakit.


“Alvaro, maafkan aku. Tanganmu nggak papa?” tanyaku sambil memegangi pergelangannya “Nggak, ini tidak akan bertahan lama sakitnya.” Balasnya seperti menahan kesakitan dan menjauhkan tangan kanannya dariku “Buruan naik, kita akan terlambat.” imbuhnya Aku dan Alvaro ketempat lomba music tradisional. Untung saja, alvaro tidak terlambat membawaku ke sana. Kakek sudah hampir marah besar jika aku tidak kunjung sampai. Dan semuanya berjalan sesuai rencana, tanpa menunggu usai diurutan nomor peserta terakhir dalam lomba itu. Aku dan Alvaro segera bergegas menemui tim di dapur rekaman, karena mereka sudah siap untuk rekaman tinggal menunggu aku dan Alvaro sang gitarisnya. Nampak, Alvaro tengah kesakitan dipergelangan tangannya. Bahkan aku memikirkan dia bagaimana nanti memetik senar gitar untuk mengiringiku bernyanyi. “Kau benar baik-baik saja?” tanyaku khawatir di parkiran Ketika sudah tiba di studio rekaman “Aman.” Singkatnya dan menggandengku masuk ke dapur rekaman Benar. Kami melakukan rekaman lagu yang sudah disiapkan sebelum hari ini, semua berjalan dengan lancar pula. Dipenghujung, selesai sudah rekaman hari ini. Namun, aku semakin yakin kesakitan Alvaro kali ini tidak biasa. Dia menahan kesakitan yang hebat karena menopang tubuhku yang hampir terjatuh ke aspal tadi. Mukanya pucat dan bibirnya kering.


“Alvaro, kita kerumah sakit untuk memeriksakan tanganmu, ya.” Tawarku “Tidak perlu, mungkin hanya kesleo sedikit paling-paling efeknya memar.” Ujarnya santai “Boleh aku pegang tanganmu?” tanyaku “Ah, tidak usah. Aku baik-baik saja.” Sangkalnya “Kamu kesakitan sejak tadi bermain gitar, aku takut terjadi sesuatu.” Aku khawatir padanya “Ini hanya sakit biasa, besok udah sembuh. Ayo pulang.” Ajaknya Demi Kebaikanmu Hari berotasi pada porosnya, untuk beberapa hari ini aku sendirian pulang dan berangkat ke kampus. Entah kenapa, Alvaro tidak mau setiap kali ku ajak berangkat bersama-sama. Usai kejadian dua hari yang lalu itu dia nampak menjaga jarak denganku, seperti menjauhiku begitu saja. Apa aku melakukan kesalahan yang melukainya? Apa mungkin dia menyembunyikan sesuatu? Sudahlah aku tidak tahu akan hal itu. “Hari ini aku akan ke taman, temui aku disana. Ada yang ingin aku bicarakan padamu.” tulisnya dalam pesan sepagi ini “Bahkan kau hanya mengirimiku sebuah pesan yang tidak bisa aku tebak apa makna dari semua ini, ceh!” geramku yang hanya membaca pesan darinya tanpa membalas Aku menemuinya di taman kampus, dia sudah duduk di salah satu bangku di taman itu.


“Untuk apa kau mengajakku kesini sepagi ini?” tanyaku “Duduklah.” pintanya “Boleh aku memelukmu?” tanyanya Seketika dia memelukku, aku kaget bukan kepalang. Ini maksutnya apa? aku hanya mampu menelan ludah dan tak berkata apapun. Namun rasanya ini aneh, seperti perasaan yang hampir padam antara aku dengan dirinya. Bukan rasa yang nyaman hadir membara mengaliri seisi jiwa dan penghuni hatinya. Perlahan dia melepaskan pelukan itu padaku, dia tidak berani menatap kedua mataku hanya menunduk dan tidak menghadirkan senyuman manisnya untukku pagi ini. “Aku mau, kita berakhir saja.” Ucapnya “Maksutmu?” tanyaku “Aku mau kita putus, aku sudah bosan denganmu.” Imbuhnya tanpa menatapku “Lihat aku, apa maksutmu, Alvaro?” tanyaku dengan berkacakaca “Aku mau kita berakhir, lupakan semuanya. Ini bukan rasa cinta, aku hanya bermain-main dengan omong kosong. Jadi jangan berharap apapun denganku lagi.” Ujarnya dengan keberanian menatap kedua mataku “Hiks-hiks.” tangisku “Aku pergi, pergilah jauh-jauh dari hidupku.” Ucapnya dan berlalu


Apa maksutmu, Alvaro? Bahkan aku tidak mengerti janji-janji sejauh ini berikrar. Kau akan disisiku, kau ini kenapa? Aku benci padamu! Aku benci laki-laki sialan itu! Amukku dalam benak. Bagaimana dia mengatakan demikian saat aku ingin pamit untuk meniti karir di luar negeri, aku akan menjadi penyanyi hebat dan kembali kesini dengan sebuah kebanggaan yang salah satunya akan aku dedikasikan penghargaan itu nantinya untuk Alvaro. Tapi apa? bahkan aku tidak akan berfikir sampai sejauh ini akan berakhir, kita akan bersama-sama. Apa karena aku sempat ingin mundur dari kontak itu dan tetap disini untuk disisi Alvaro. Aku tahu dia butuh aku disisinya saat ini, tapi malah dia mengusirku, dan ini hanya permainan saja baginya. “Lo pikir, lo keren?! Baiklah, aku akan pergi darimu dan melanjutkan cita-citaku.” gumamku seorang diri “Hai, Arthea. Kenapa sendirian disini?” sapa Ibu Zuli “Ibu,” sapaku sambil tersenyum “Bu, saya ambil tawaran kontrak untuk menjadi orang hebat seperti Ibu Zuli. Apa itu keputusan yang benar?” tanyaku “Maksutnya? Kamu menerima kontrak untuk pergi ke luar negeri?” tanya Ibu Zuli memastikan “Iya, Bu. Ini keputusan yang benar, kan, Bu?” tanyaku “Ini atas dasar kemauanmu dan tekadmu sendiri, Arthea?” tanya Ibu Zuli lagi “Kakek bisa di berikan sedikit pengertian untuk cita-cita dan kesempatan luar biasa ini, kan, Bu? Selagi kedua orangtuaku


merestui? Seperti yang pernah Ibu katakana beberapa waktu lalu.” balasku “Kalau gitu, kejar! Maju terus!. Jangan pernah kamu mengubur semua mimpi dan cita-citamu hanya demi seseorang sebab tidak ada jaminan kamu akan tetap bersama orang itu selamanya.” Balas Ibu Zuli “Berhenti memikirkan seseorang pria yang akan menganggu kesempatanmu dan perjalanan karirmu, kamu pantas menjadi wanita berkelas dengan potensimu. Cita-citamu lebih penting terwujud, selebihnya akan menyesuaikan. Jika benar itu untukmu, semua mendekat, fokus pada impian dan dream lifemu. Mungkin kamu akan kehilangan keduanya dan menyesal, semangat!” imbuh Ibu Zuli Karirku dimulai, semua persoalan tentang Alvaro sudah lenyap dalam ingatan meskipun kalau di ingatkan masih terngiang. Walapun aku takt ahu persis bagaimana dia berakhir bersamaku dengan alasan yang tidak masuk akal, mungkin aku akan menyebutnya sebagai seorang player kala itu. Aku akan kembali berhadapan dengannya ketika sudah benar-benar menjadi seorang wanita yang bernilai, yang tidak mudah diinjak-injak seperti keset welcome seperti yang telah Ibu Zuli pesankan padaku kala itu. Meraih cita-cita dan mewujudkan dream life adalah hal yang penting dari pada bersama kekasih yang nantinya akan pergi dengan tega meninggalkan kita yang sudah rela meninggalkan sebuah mimpi berharganya hanya demi sebuah perasaan yang harus tetap dijaga disisinya. Aku kembali, iya dengan versi terbaikku di kampus setelah melakukan kontrak kerja dan sukses menjadi seorang penyanyi yang mengangkat sebuah musik perpaduan modern


dan tradisional. Okay, baiklah, semuanya seimbang, kakek bangga padaku dan berhenti memarahiku persoalan musik modern yang terlihat melenceng dari ideologi seorang kakek yang berwawasan luas dan menjunjung tinggi nilai-nilai musik tradisional. Aku sudah menemukan passionku sekarang, menjadi ahli dalam dance juga sangat memukau bagiku, apalagi semultitalent ini. Sungguh hidupku semakin keren, bahkan jauh sangat keren dari sebelumnya. “Hai, bocah ini kenapa kau datang tanpa sebuah undangan bahkan kau adalah seorang aktris terkenal.” Puji Pak Wicak “Pak Wicak, bagaimana bisa saya melupakan ini semua?” balasku dan tertawa “Bagaimana? Menjadi seorang idola menyenangkan bukan?” tanyanya sambil mengacak-acak rambutku seperti biasanya sejak dulu “Aish! Anda seharusnya berhenti mengacak-acak rambut saya, Pak.” Geramku “Kau, masih tetap bocah gadisku. Jadi diamlah.” Balasnya “Dimana Ibu Zuli, Pak?” tanyaku “Ah, dia sedang mengajar di kelas seni modern di aula.” Jelas Pak Wicak “Sudah lama, saya tidak berjumpa dengan beliau.” Gumamku “Bagaimana dengan hubunganmu dan Alvaro?” tanyanya “Oh, kita sudah putus lama, beberapa hari sebelum saya pergi waktu itu, Pak.” Jelasku “Dia tidak tahu kalau kau sudah kembali?” tanya beliau


Aku hanya menggelengkan kepala. “Lupakan bocah itu, Saya ada tawaran untuk seni pertunjukan seperti acara tahunan waktu itu. Apa kau mau mempersembahkan gagasan-gagasanmu di pentas itu nantinya?” tawar Pak Wicak “Apa saya bisa bersaing dengan guru saya sendiri.” Ledekku “Ini skripnya, pelajari dan segera temui aku secepatnya.” Balas Pak Wicak “Tapi, Pak.” Balasku ragu “Lakukan yang terbaik.” Imbuh Pak Wicak dan menyodorkan buku skrip untuk aku pelajari “Baiklah.” Balasku “Segera temui Alvaro kalau kau merindukannya, bahkan dia hidup dengan menyedihkan saat kau pergi dan setelah operasi di pergelangannya waktu itu.” Imbuh Pak Wicak dan berlalu Deg! Seketika, apa yang sebenarnya terjadi pada Alvaro ketika kepergianku ke luar negeri bahkan dia nampak baikbaik saja malah justru meninggalkanku. Sudah, mungkin Pak Wicak hanya menggodaku untuk akhir hubunganku dulu. Kembali merampungkan kuliahku, ini untuk skripsiku yang hampir finish. Aku harus rampung tahun ini dan diwisuda, mungkin usai wisuda aku baru bisa menerima tawaran Pak Wicak untuk merencanakan sebuah karya besar persembahan untuk acara penting di kampus yang kali ini sebagai orang dibalik layarnya bersama beliau. Sama persis seperti dulu menjadi orang belakang layer namun yang kali ini adalah suatu kehormatan yang luar biasa bisa diikutkan sebagai


bagian dari panitia pelaksanaan yang menggarap event besar di kampus bersama orang-orang hebat seperti Pak Wicak dan para jajarannya. Step demi step terlewati, acc dosen pembimbing dan beberapa kemumetan yang lain sudah kirab. Sebenarnya ada drama disini, bukan drama sih namun kenyataan terungkap. Bukan persoalan kuliahku yang dipersulit atau bagaimana, namun ini tentang kondisi Alvaro kala memutuskan aku sepihak beberapa hari sebelum keberangkatanku. Ternyata tanpa firasat apapun yang menghalangiku melakukan perjalanan udara kala itu, bersamaan pesawatku mengudara bersama penumpang lain. Alvaro tengah berjuang menjalani operasi dipergelangan tangan kirinya, tulangnya mengalami pergeseran dan retak, sehingga harus dioperasi. Alvaro sengaja mengambil jadwal operasi bersamaan hari dimana aku pergi untuk membuktikan bahwa dia memang baik-baik saja. Dia hanya takut saat aku pergi nanti akan terus memikirkan keadaannya, bahkan akan membatalkan kontrak Kerjasama hanya demi dirinya. Aku tidak disisinya saat dia butuh aku, Alvaro pikir dengan aku tidak megetahui keadaan yang sesungguhnya akan lebih baik untukku karena aku bisa pergi dengan tenang untuk menggapai cita-citaku tanpa harus memberatkan kondisi Alvaro saat itu. “Pak, saya terima tawaran untuk menghandle event besar ini.” Ucapku mantap pada Pak Wicak “Baiklah, tanpa menganggu semester akhirmu bukan?” tanya Pak Wicak “Saya sudah menyelesaikannya lebih dulu, tinggal menunggu wisudaku. Jadi, kenapa tidak, ini tawaran yang sangat besar bukan.” Balasku


“Bocah ini.” Lagi Pak Wicak mengacak-acak rambutku Tanpa disadari Alvaro tiba-tiba datang menemui Pak Wicak dan aku yang sedang berbincang di taman kampus, dia enggan sekali melihat kearahku. Dia hanya menanyakan apa perihal penting yang ingin dibicarakan Pak Wicak kepadanya tanpa mengajukan pertanyaan atau pernyataan lain. Yah, memang dia demikian berjiwa dingin dan kaku, masih seperti biasa sejak dulu. “Untuk apa anda memanggilku?” tanyanya “Ah, Alvaro, saya butuh kerjasamamu dengan Arthea untuk event besar di kampus kita. Pelajari ini dan saya tunggu kalian berdua besok pagi diaula bersama Ibu Zuli.” Balas Pak Wicak sambil menyodorkan skrip kegiatan kampus untuk Alvaro “Serahkan semua ini padanya, saya menolak tawaran Anda.” Tolaknya dan berlalu “Aish! Bocah itu.” Geram Pak Wicak “Bapak juga memintanya untuk acara ini?” tanyaku Pak Wicak hanya mengangguk. “Kalau begitu, saya akan mundur. Biarkan Alvaro yang menghandle acara ini, Pak.” Balasku “Aish! Ada apa dengan kalian ini. Saya sungguh tidak mengerti kehidupan cinta anak muda ini.” Keluh Pak Wicak Aku menyesali satu hal memutuskan pergi waktu itu, ternyata Alvaro benar membutuhkan aku disisinya dan aku memilih untuk pergi saat dia memutuskan sepihak tanpa alasan yang logic. Aku kira kau seorang player mentang-mentang tampan dan berbakat dalam menaklukan wanita bahkan senior atau


dosen muda bisa gandrung padamu hanya dengan satu petikan senar gitar milikmu. Kau pandai menggoda banyak wanita yang lebih cantik dan pintar dari pada aku, ternyata, hmm. Namun apakah masih ada serpihan rasa yang membara di antara kita, Al? otakku pening memikirkan kelanjutan kisah yang terpenggal alurnya karena keadaan, kalau saja aku tak langsung kecewa mungkin saja aku akan menemani operasimu dan memberikan support hingga kau menjadi gitaris hebat. Lebih dari itu, menjadi seorang penyanyi ternama, kita bisa berjuang sama-sama. Namun, Ibu Zuli juga tidak salah menasihatiku. Buktinya aku bisa dititik sekarang ini berkat nasihat beliau siang dan malam. Gemblengan mental darinya sangatlah berarti bagi passionku, menjadi wanita open minded dan modern, yang berattitude dan berkelas dalan karir, mandiri dan banyak hal lagi yang membuatku terus semangat memperjuangkan mimpi untuk tercapai. Kembali Di Pelukanmu Aku menyusuri jalanan sepi seorang diri, sempoyongan seakan tanpa harapan karena rasa bersalah. Alvaro sangat berantakan akhir-akhir ini saat dia tidak bisa bermain gitar semahir dulu saat kau disisinya. Efek samping dari pasca operasi yang tertunda demi terlihat baik-baik saja saat kau masih ada disini menyebabkan jari-jarinya susah digerakkan dan dia masih sesekali merasakan sakit jika harus dipaksakan menekan senar gitarnya. Dia hanya sesekali saja bermain gitar selebihnya dia akan mengurung diri di kamarnya yang hangat tanpa seseorangpun yang tahu persis sesal apa yang membuatnya terpuruk sehebat saat meninggalkanmu, Ar. Kata-kata itu semakin membara dan berlarian di kepalaku, seakan terdengar jelas, bahwa yang menyebabkan Alvaro


seperti sekarang ini adalah aku. Hanya karena tidak ingin citacitaku terkubur dalam dia rela menunda operasi dan dia memberikan kesan pria brengsek dihadapanku sebelum keberangkatanku ke luar negeri. Aku hanya menyulitkan keadaanmu, Al. Tanpa disadari akupun terduduk penuh isakan tangis getir mengingat kondisi Alvaro, dibangku pinggiran city walk yang tidak jauh dari kampus, iya aku terduduk bertajuk tangisan seorang diri. Tanpa perduli seseorang berlalu-lalang menatapku nampak menyedihkan ini, aku begitu kacau mengacaukan keadaan Alvaro hingga sejauh ini. “Kenapa, Al. Kenapa baru sekarang?! Hiks-hiks.” Keluhku sambil menutupi wajahku dengan kedua telapak tanganku “Apa yang sedang kau lakukan disitu?” tanya seseorang yang suaranya tidak asing ditelingaku Isakku mereda, dan mengusapnya seketika. Menengok kearah kananku, seseorang yang aku rindukan sapaan, canda, tawa dan jadilnya berdiri menatap kearahku nanar. Aku berdiri dengan hal yang sama-sama menatap kearahnya nanar. Kaki melangkah perlahan. “Maaf, membuatmu terluka.” Ucap Alvaro dalam pelukan eratnya untukku yang sama-sama erat memeluk tubuhnya. Pecah seketika tangis kita berdua, ada kecewa yang samasama bertemu dititik tempuh rindu memburu berhamburan, hari demi hari menumpuk syahdu, menimbun luka dan tragedy tawa. Memang ada sesal dihati dan jiwa kita masingmasing yang belum dideklarasikan dengan saksama, ada ucap pisah sepihak yang harus diluruskan dan ada pula rindu membara yang harus segera dibasuh dengan pertemuan. Akan tetapi, kini rasa itu campur aduk menjadi satu, pelukan ini memberi arti segalanya. Isakan yang tumpah membasahi


pundak satu sama lain, seakan yang kemarin tidak pantas dikenang dan harus terlupakan secepat pertemuan kita hari ini. “Hiks-hiks. Karena tidak disisimu dengan baik sejak awal, aku minta maaf.” Bisikku sambil sesenggukan menepis isakan yang kian mendalam menderai Perlahan Alvaro melepaskan pelukannya, ia mengecup keningku sambil merapikan rambutku yang berantakan. Dia menatapku tanpa ucap, kedua tangannya mengusap tangis di pipi yang tanpa sengaja tumpah begitu saja. Diraihnya kedua tangaku, digenggam erat olehnya dan mencoba tersenyum manis padaku seperti dulu. “Bisa kita kembali lagi, lupakan yang kemarin dan kita mulai dengan lembar yang baru?” tanyanya menatapku Aku hanya mengangguk penuh tangisan, seakan mengucapkan kalimat maaf pun tidak akan menggambarkan persisnya rasa Alvaro kala itu rela menanggung konsekuensi yang bertentangan dengan ambisinya menjadi seorang gitaris terkenal hanya demi aku. Apa ini bukti cinta? Aku kira kau tak akan sesungguh-sungguh seperti sekarang ini? Aku kira, kita tidak akan saling menetap. “Jangan menangis, aku membencinya.” ucapnya “Maafkan, aku karenaku kamu menjadi seperti sekarang ini, Al.” ucapku terbata masih dengan isakan “Hei, kamu nggak salah. Ini kemauanku sendiri, jadi, lupakan yang sudah terjadi. Aku akan kecewa jika kau terus menangis.” Bujuknya “Tapi, Al, bagaimana dengan tanganmu? Impianmu? Mama dan adikmu pasti kecewa dengan keputusan itu, kan? Dan semua ini terjadi karena aku.” Tangisku kembali tumpah seketika“Duduklah, dengarkan, aku.” Bujuk Alvaro sambil mendudukkanku di bangku yang tidak jauh dari tempat kita


Click to View FlipBook Version