1 Meet You “Yira.. Sini liat aku dulu” Krrriiinggg… krrriiingggg… Nayyira terbangun mendengar suara alarm di ponselnya yang berada di atas meja sebelah tempat tidurnya, Nayyira meraba letak ponselnya untuk mematikan alarm tersebut. Lalu ia mencoba mengingat mimpi apa yang baru saja ia alami. “Apa sih kebiasaan deh gak inget mimpi” keluh Nayyira yang langsung bangun dari kasurnya, bergegas mandi dan segera turun menemui Mama dan Abangnya. “Morning sayang” sapa Mama Nayyira yang sedang duduk di meja makan. “Mau langsung jalan?” sambungnya saat melihat Nayyira yang terburu-buru meminum susu yang disediakan di meja. Nayyira membalasnya hanya dengan mengangguk “Mau bareng sama Abang” jelasnya. Merasa tersebut, Azriel-Kakak Nayyira menoleh ke Adiknya “Ah lama ah gak mau” tolaknya. “Ih engga, ini mau pake sepatu” jawab Nayyira yang ingin berangkat bersama Abang satu-satunya itu. “Satu sampe tiga gak di depan Abang tinggalin” kini Azriel sudah bangun dari duduknya. “Abang” tegur Mama karena melihat tingkah kakak beradik tersebut di pagi hari ini.
2 Azriel hanya tersenyum mendapat teguran itu “Satu…” “Ih sebentar!!!” “Dua” Azriel sudah berpamitan dengan Mamanya dan mengambil kunci mobilnya. “Mama ih Abang tu” adu Nayyira mengambil selembar roti yang sudah diolesi selai oleh Mama sekaligus berpamitan. “Tiga” “Udah ni udah” ucap Nayyira yang sekarang sudah di teras bersama Abangnya itu. Azriel melihat tingkah Adiknya hanya bisa tertawa sambil mengacak rambut Adiknya sedikit. Di perjalanan mereka bercerita-cerita sedikit tentang kegiatan di sekolah, walaupun mereka berada di dalam sekolah yang sama namun hanya dua orang yang mengetahui kalau mereka adalah saudara kandung. Dua orang itu hanya Floella teman sebangku Nayyira dan Ezra teman sebangku Azriel. “Abang kok gak mau sih kalau orang-orang tau kalau kita itu Adek Kakak?” tanya Nayyira “Apa Abang malu punya Adek kaya aku?” sangkanya. Dengan cepat Azriel menoleh ke Adiknya “Sembarangan aja kalau ngomong! Ya terus Abang harus teriak di tengah lapangan ini Adek gua ni” Jawabnya sambil teriak-teriak di dalam mobil “Sabar
3 ya, baru juga sebulan sekolah nanti juga bakal kesebar dengan sendirinya” hanya itu penjelasan Azriel kepada Nayyira. Tidak heran kenapa Azriel menjawab kalau akan tersebar dengan sendirinya, karena Azriel ini memang terkenal sebagai kakak kelas yang baik dan tidak tebar pesona kepada siapapun namun pesonanya memang tersebar ke satu sekolah. Bahkan Nayyira mengakui itu karena ia menyaksikan sendiri betapa Abangnya sangat popular di sekolah tersebut. “Aku turun disini aja Bang, nanti pada tau lagi kalau aku Adeknya Abang” pinta Nayyira. “Tadi minta diaku sekarang mau dibawa sampe parkiran malah minta turun disini” Azriel ini terkadang tidak mengerti keinginan Adik satu-satunya itu. “Gak apa disini aja kebetulan ada Flo. Bye Abang” ucap Nayyira mencium pipi Abangnya lalu membuka pintu mobil. Dengan berlari kecil Nayyira menghampiri Flo yang berjalan sendirian menuju gerbang sekolah. Walaupun merka baru mengenal selama satu bulan tetapi Nayyira dan Flo sudah banyak berbagi cerita dan orang rumah Nayyira pun sudah mendengar cerita tentang Flo dari Nayyira. “Kenapa sih gak mau barengan sama Abang lu gitu biar orang tau lu tuh Adek seorang Azriel Stalin Tyaga” tanya Floella saat mereka berjalan di lorong sekolah. Nayyira diam sejenak memilih-milih kata agar menjadi sederhana untuk menjelaskannya “Hmm gua juga maunya gitu tapi
4 kayanya Abang gak mau semuanya tau secara bersamaan kalau dia itu Abang gua” jelasnya yang masih terdengar rumit “Jangan tanya alesannya, gua juga gak tau” tambahnya lagi “Kan bisa ya jaketnya simpen dalem mobil atau tasnya” gerutu Nayyira sambil menulis materi saat ini. “Siapa?” “Abang” “Kenapa?” “Nyusahin aja deh, segala nitip jaket karena males bawa” jelas Nayyira pada Floella. Azriel Nanti istirahat keluar sebentar ya mau nitip jaket, kamu bawa balik ya Nayyira Abang mau kemana? Azriel Pergi main, males bawa jaket
5 Floella menggelengkan kepalanya, dia kira ada hal yang mengganggu Nayyira ternyata dia mengeluhkan perilaku Abangnya “Nay, jaket Abang lu kalau gak mau dibawa mending gua aja yang bawain” Nayyira memukul pelan kepala Floella dengan pulpen “Gua yang diomelin Abang nanti” “Ya abisnya cuma bawain jaket aja merengut gitu” Jam istirahat berbunyi, sesuai permintaan Azriel yang memintanya untuk menemuinya sebentar untuk memberikan jaket. Nayyira berjalan ke tangga yang terhitung tidak banyak orang lalulalang. “Mana sini cepet” ucap Nayyira mengadahkan tangan agar ia cepat kembali ke kelasnya. Secara spontan Azriel menoleh ke arah Nayyira yang sudah memasang muka betenya “Kantin yuk, kamu udah sebulan sekolah disini gak pernah ke kantin kayanya” “Ah Abang aku gak mau disana rame banget, aku juga bawa cemilan ku kok” tolak Nayyira yang tidak terlalu suka keramaian, apalagi jika orang-orang di kantin melihat dia bersama dengan Azriel. Apa kata orang disana? “Bang, ngapain lu?” ucap seseorang tiba-tiba yang membuat Azriel dan Nayyira menoleh bersamaan ke sumber suara.
6 “Ni bujuk Tuan Putri” jawab Azriel menunjuk dengan dagunya ke arah Nayyira. Seseorang itu menoleh ke Nayyira dan tersenyum ke arahnya, begitupun Nayyira. “Kantin yuk Bang” ajak orang itu. “Tuh ayo ikut” Azriel tidak menjawab ajakan orang tersebut, dia malah makin mendesak Nayyira untuk ikut bersamanya ke kantin. Setelah mempertimbangkannya Nayyira mengiyakan ajakan Azriel “Tapi aku ajak Flo dulu bentar” Nayyira meninggalkan dua orang disana dan berlari ke kelas untuk membawa Floella bersamanya. “Siapa tu Bang? Sasaran baru lagi?” ledek seseorang yang tadi mengajak Azriel ke kantin bersama. Azriel tertawa mendengar pertanyaannya “Engga woi, itu Adek gua” jawab Azriel “Eh tapi diem-diem aja, gua gak mau kalau ada cewek yang ngedeketin dia cuma mau jadiin dia batu loncatan buat ngegebet gua” Bukan, itu bukan jawaban yang percaya diri atau meninggikan diri sendiri karena kenyataannya memang seperti itu. “Iya deh paham yang banyak digemari para junior kelas” ledeknya lagi. “Ngaca! Lu juga lagi dideketin kan sama junior sini?” balas Azriel.
7 Baru saja ingin menjawabnya, namun Nayyira sudah datang bersama Floella dan mereka pun ke kantin bersama. Sepanjang jalan Nayyira seperti ingin berbicara tapi tertahan karena takut teman Abangnya itu tau kalau dia Adik dari Azriel. “Dia udah tau” tebak Azriel yang melihat gerak-gerik Adiknya itu. Kelegaan muncul dalam diri Nayyira “Abang udah bilang Mama kalau pulang telat?” Azriel mengangguk yang disaksikan oleh dua orang lainnya lagi. “Lu bilang dong kalau ada Abang lu ikut ke kantin” bisik Floella. Nayyira terkekeh, ia hanya meminta Floella untuk menemaninya ke kantin dan tanpa curiga Floella pun mengiyakan permintaan Nayyira “Mana bawa temen Abang lu, lu kenal Nay?” tanya Floella yang masih dalam mode berbisik. Nayyira hanya menggeleng dan memberi kode untuk diam karena takut teman Azriel itu mendengar. “Pesen gih mau apa, Flo juga pesen aja” ucap Azriel menyuruh Nayyira dan Floella. Mereka hanya mengangguk lalu meninggalkan Azriel dan temannya itu. Kini Floella dan Nayyira sedang mengantri membeli salah satu makanan di kantin itu sambil bercerita-cerita tentang Azriel dan tidak terkecuali temannya yang hanya ikut saja tapi tidak memperkenalkan diri kepada Nayyira. Begitupun Nayyira yang
8 sepertinya canggung jika harus memperkenalkan dirinya apalagi ini kepada senior kelasnya. “Dia temen kelas Abang lu Nay?” tanya Floella sambil sesekali melirik seseorang yang tengah duduk di depan Azriel. Nayyira menaikkan bahunya “Mungkin engga deh, soalnya tadi dia manggil Abang gitu ke Bang Iel” jawab Nayyira menyebut nama Abangnya dengan yang biasa ia sebut di rumah. “Gak jelas banget deh tiba-tiba ikut” “Udah buru pesen mau apa, gua dikasih uang sama Abang” ucap Nayyira menyengir memamerkan uang yang dikasih Abangnya tadi. Tidak lama kemudian Nayyira dan Floella menghampiri dua lelaki yang duduk berhadap-hadapan. “Abang gak beli makan?” tanya Nayyira pada Abangnya. Azriel yang bersandar pada bangku hanya menjawab “Nanti juga dianterin” Nayyira mengkerutkan dahinya “Kok Abang dianter? Kok aku antri?” “Bang Azri kan udah kawan banget sama seisi kantin ini” jawab orang yang Nayyira tidak ketahui namanya itu. Ini pertama kali dia membuka suara untuk Nayyira. “Tuh denger” jawab Azriel yang menaikkan alisnya “Gak pernah ke kantin sih” kini ia meledek.
9 “Nyebelin” Dan lagi Azriel mengacak rambutnya Nayyira. “Bang nanti banyak yang tau ih, kan Abang yang gak mau kalau di sekolah ini tau kita saudaraan” gerutu Nayyira menepak tangan Azriel dari kepalanya. Azriel menatap temannya sebentar “Bukan gak mau Adek ku kesayanganku” “Bang geli dengernya” potong Floella Azriel yang langsung terdiam pun memanyunkan bibirnya. “Yaudah iya ngerti, susah banget jelasinnya sampe aku aja cuma disuruh sabar” dengan cepat Nayyira menghabiskan makanannya. “Aku ke kelas duluan sama Flo ya Bang” ucap Nayyira yang sudah membawa jaket milik Azriel. Azriel hanya mengacungkan jempol karena sibuk berbincang dengan teman yang tidak dikenal oleh Nayyira itu. “Jangan balik malem! Awas aja!” pesan Nayyira sebelum benarbenar meninggalkan Abangnya itu. Mata dari teman Azriel mengikuti arah Nayyira berjalan tetapi mencoba mendengarkan Azriel berbicara. “Nama Adek lu siapa Bang?” tanya nya.
10 Omongan Azriel terhenti tetapi dengan cepat ia menjawab “Nayyira” Ia hanya mengangguk setelah mengetahui nama Adik dari temannya itu. “Nayyira Grizelle Zanitha” sambung Azriel “Abang! Tadi itu siapa sih?” tanya Nayyira saat melihat Azriel baru saja memasuki rumahnya. Azriel menghampiri Nayyira yang sedang duduk di sofa “Temen Abang tapi dia satu tingkat di bawah Abang dan satu tingkat di atas kamu” “Orang mah ya kenalin gitu kaya ini Adek gua, ini temen Abang” oceh Nayyira. “Oh mau kenalan?” Nayyira memasang muka heran “Ya logikanya sih gitu ya, cuma Abang kan emang agak lain gitu” “Idih apa sih gak jelas” jawab Azriel bangun dari duduknya “Oh iya namanya Nataka” sambung Azriel berbalik badan memberitahukan nama lelaki misterius yang menghabiskan waktu istirahat bersamanya tadi. “Nataka Myles Janitra”
11 Think About You Seperti hari kemarin, Nayyira datang bersama Floella dari gerbang sekolahnya. Namun saat mereka baru saja masuk ke gedung sekolah, Floella melihat ada dua orang yang sedang berhadapan dengan posisi perempuannya membelakangi mereka tapi terlihat jelas wajah lelaki yang tidak asing lagi bagi mereka berada di lantai tiga sekolahnya. Floella menyenggol tangan Nayyira yang sibuk dengan ponselnya. “Apa?” ucap Nayyira yang tidak menoleh Floella memegang kepala Nayyira mengarahkan ke dua orang di atas itu “Temen Abang lu yang kemaren kan?” tanya Floella untuk meyakinkan. Nayyira mengernyitkan matanya, menegaskan penglihatannya “Iya kayanya, kenapa emangnya?” tanya Nayyira sambil meninggalkan Floella yang masih terdiam. “Ya gak apa-apa sih cuma kan ini masih pagi ya kalau mau gebet adek kelas ya ntar aja gitu siangan” Floella mengoceh sambil berjalan menuju kelasnya di lantai tiga juga “Lu tau namanya Nay?” tanya Flo setelah mengoceh. Nayyira mengangguk “Nataka namanya, mungkin mereka berduaan bukan mau ngegebet kan bisa aja emang ada urusan” tampak Nayyira mencoba menghentikan ocehan Floella karena sedikit lagi mereka akan melewati dua orang yang dilihatnya di
12 bawah “Gak semua cewek cowok yang lagi berduaan itu pacaran Flo” tambahnya. Nayyira melirik sedikit ke arah Nataka ketika melewatinya, begitupun Nataka. Tanpa adanya sapaan bahkan terkesan seperti tidak kenal, mungkin memang belum bisa dikatakan kenal karena mereka pun tau nama satu sama lain dari Azriel. Nampaknya Nataka dan Nayyira tidak ada keinginan untuk memperkenalkan diri masing-masing. Maka itu tidak masalah bagi Nayyira. Sementara Floella seperti memahami situasi, ia diam sampai ke dalam kelas. “Kok bisa-bisanya dia gak nyapa” Floella ini memang sepertinya selalu menganehkan segala momen yang terlihat biasa saja. Nayyira sudah tidak heran dengan perangai Floella yang satu itu “Kan dia gak tau nama gua Flo” “Kan bisa nyapa aja gitu senyum atau apa” “Udah ah gak apa-apa juga kok” Selama jam pelajaran Nayyira memikirkan perkataan Floella, seperti membenarkan apa yang dikatakan temannya itu. Kenapa Nataka tidak menyapanya? Apakah harus dia yang menyapa Nataka lebih dulu karena Nataka kakak kelasnya? Tapi untuk apa? Bahkan kemarin pun Nataka sibuk dengan Azriel.
13 Terlalu lama melamun, bahkan Nayyira tidak menyadari pesan masuk dari Azriel. Floella yang melihat tingkah temannya itu mencoba membuyarkan lamunannya Nayyira “Mikirin apa?” Nayyira tersadar “Engga, udah istirahat ya?” Floella mengangguk “Untung gak kesambet lu lama banget ngelamunnya” “Nayyira” panggil orang di bangku belakang. Karena merasa terpanggil, Nayyira pun memutar badannya menghadap seseorang di belakangnya “Kenapa Al?” “Kalian udah ada kelompok buat minggu depan belum?” tanya Alina ke Nayyira dan juga Floella pastinya. Nayyira mengangguk “Berdua atau bertiga kan?” “Yang pasti kurang satu sih, karena Nayyira otomatis sama gua berdua” tambah Floella “Kenapa? Mau gabung? Boleh” Alina yang senang menerima ajakan itu langsung mengiyakan “Thanks ya, kirain kalian cuma mau berdua aja” Floella mengacungkan jempolnya “Santai aja, makin banyak makin gampang” Azriel Pulang sama Abang ya nanti
14 Setelah percakapan singkat itu Nayyira secara tidak sadar kembali melamun, namun kini matanya menangkap seseorang yang sedang berjalan di depan kelasnya. Siapa lagi kalau bukan Nataka. Ada apa dengan Nataka? Kemarin pertama kali Nayyira bertemu dengannya Nataka sedang berada di lantai tiga dan sekarang Nataka berlalu lalang di lantai tiga juga. ”Sial!!” umpat Nayyira karena sudah terlalu pusing memikirkannya dari tadi dan sangat mengganggu fikirannya “Garagara lu nih Flo” kini Nayyira bahkan menyalahkan Floella. “Lu kenapa Nay?” Floella yang tiba-tiba kena tuduh pun kaget “Lu gak suka gua ajak Alina sekelompok sama kita?” bisik Floella, ia takut terdengar oleh Alina. Nayyira yang sadar sudah menuduh Floella pun menggelengkan kepalanya “Bukan, gak masalah kalau itu” Nayyira memegang kepalanya “Sorry ya Flo tiba-tiba gua nyalahin lu” “Makanya kalau apa-apa tu cerita” “Ya lu sih ngomongin Nataka mulu, gua jadinya mikirin kenapa dia ke lantai tiga terus” jelas Nayyira yang masih ada unsur menyalahkan Floella. Floella terdiam lalu berdiri ke arah jendela yang di atas kepalanya, mengedarkan pandangannya mencoba mencari Nataka. Floella melihatnya. Floella pun duduk kembali. “Itu dia lagi sama temen-temen cowoknya, ada temen Abang lu tuh siapa namanya?” Floella menerangkan apa yang dilihatnya tadi.
15 “Kak Ezra?” “Nah itu ada dia, bahkan ada Abang lu juga” tambah Floella menjelaskan. Nayyira yang mendengar Abangnya ada disana langsung ikut mengintip di jendela mencari keberadaan Abangnya tersebut. Nayyira melihat Abangnya yang kebetulan sedang melihat ke arah kepala Nayyira muncul. Azriel melambaikan tangannya sedikit yang dibalas senyuman Nayyira. Tanpa sengaja mata Nayyira mengarah ke Nataka yang berada di sebelah Azriel dengan spontan Nayyira menenggelamkan kepalanya dari jendela tersebut. “Ih ih kenapa?” Floella semakin tidak mengerti dengan tingkah teman sebangkunya saat ini, ia memutuskan mengintip lagi seperti yang Nayyira lakukan tadi. Tidak ada sepuluh detik, ia juga menenggelamkan kepalanya sama persis yang dilakukan Nayyira tadi. “Paham kan?” “Cuma ya kok gua ikutan panik, kan gua gak ada urusan sama kakak kelas itu” Floella kini heran dengan dirinya “Bahkan gua inget inget dia pun engga” “Guru yang jam sekarang izin gak masuk tapi kasih tugas ni, nanti sebelum pulang udah harus dikumpulin” ucap seseorang yang baru masuk ke dalam kelas dan membuyarkan kepanikan Nayyira dan Floella.
16 Akibat Nayyira sibuk melamun dan mengintip, ia tidak membuka ponselnya. Dia juga tidak membaca pesan dari Abangnya yang menyuruhnya untuk pulang bersama. Sedangkan Azriel sudah lelah menunggu di gerbang sekolah bersama Ezra yang kebetulan ingin bermain di rumah Azriel. “Mana Adek lu ni” tanya Ezra yang sudah jenuh juga. Azriel mencoba menelfon Nayyira pun tidak diangkat “Kemana ni anak” Azriel takut terjadi apa-apa pada Adiknya “Bentar Jra gua ke atas dulu, lagi piket kali ni bocah” Azriel masih mengira Nayyira masih di sekolah pergi mencari Nayyira ke kelasnya. Namun Nayyira tidak ada, bahkan kelasnya kosong. Azriel masih terus mencoba menghubungi Nayyira. “Ada gak?” tanya Ezra mencoba mempersingkat waktu dan meminta Azriel untuk tenang. Mendengar itu Azriel menoleh ke Ezra “Apa iya ya udah pulang” “Makanya ayo balik, dah laper ini gua” ucap Ezra masuk ke dalam mobil Azriel. Sesampainya di rumah, Azriel bertanya keberadaan Nayyira pada Mamanya.
17 “Nay belum pulang tuh, kamu gak bareng dia?” tanya Mama yang sedikit panik, karena Mama memang tipe yang mudah panik apalagi kalau menyangkut anak gadisnya itu. Azriel yang tadinya mengira Nayyira sudah pulang jadi tidak enak kepada Mama karena pulang tidak bersama Nayyira “Iel coba cari ya Ma” Mama yang melihat ada Ezra pun menyuruhnya langsung ke kamar Azriel saja, karena Ezra memang sudah bukan orang asing lagi bagi keluarga Azriel. Nayyira yang baru turun dari bis dan sedang berjalan di tepi jalan menuju ke arah rumahnya, tiba-tiba mendapat bunyi klakson dari motor yang di sebelahnya. Nayyira berhenti melihat orang itu. Seseorang yang memakai seragam sama dengannya. “Kok sendirian? Abangnya mana?” tanya orang itu sambil membuka helm nya. Ah, Nataka “Gak tau, masih di sekolah kali” jawab Nayyira mencoba ramah kepada orang yang tiba-tiba saja menjadi peran utama dalam pikirannya hari ini. Nataka mengangguk “Mau dianterin? Lumayan loh hemat tenaga jalan”
18 Entah apa yang merasuki Nayyira, dia mengiyakan ajakan Nataka. Lalu ia naik ke atas motor Nataka dengan diam seribu bahasa menemani perjalanan singkat mereka. Hanya dua menit, Nataka sudah mengantarkan Nayyira di depan gerbang rumah Nayyira. Terlihat ada Azriel di teras menunggu Adiknya yang tak kunjung mengangkat telfonnya. “Lah Abang kok gak ajak bareng aku sih kalau langsung pulang” gerutu Nayyira Azriel yang mendengar itu langsung membuang mukanya “Punya HP tu diliat sekali-kali” Nayyira langsung melihat ponselnya ada satu pesan dan banyak panggilan tidak terjawab dari Azriel, Nayyira menyengir “Sibuk aku tuh” Alasan Nayyira. “Lah Nata lu ngapain disini?” tanya Azriel yang baru sadar ada Nataka. “Kakaknya nganterin aku dari jalan besar kesini” jelas Nayyira yang diiyakan oleh Nataka. “Main sini sekalian, ada Ezra” ajak Azriel pada Nataka. Nayyira mendengarnya membelalakan matanya, bergumam dalam hati “Apa gak cukup jadi pikiran di sekolah aja? Bisa-bisanya Abang nyuruh dia main” tatapan Nayyira sinis ke Abangnya itu.
19 Azriel yang merasa ditatap Nayyira terheran-heran “Apa? Udah sana masuk” “Hish” “Ih apa hish hish gitu” Azriel makin heran dengan sikap Adiknya. Yang harusnya marah adalah dirinya, kenapa Nayyira yang mendengus seperti itu? Nayyira meninggalkan Abangnya dan Nataka. “Heh bilang makasih dulu ke Nata” teriak Azriel membuka gerbang untuk motor Nataka masuk “Sorry ya Adek gua itu emang suka gak jelas” ucap Azriel saat Nataka sudah turun dari motornya. Nataka mendengarnya pun tertawa “Santai aja sih, ya diakan Adeknya temen gua” “Gak salah emang Ezra kenalin lu sama gua” ucap Azriel merangkul Nataka.
20 Want to Know About You zriel baru saja mengganti bajunya dan ingin ke dapur untuk mengambil beberapa makanan untuk Ezra dan Nataka yang sekarang berada di kamarnya, namun pintu kamar terketuk. “Siapa?” tanya Azriel Nayyira yang berada di luar tidak berhenti mengetuk pintu kamar Azriel “Cepet deh buka, capek nih” gerutu Nayyira. Azriel pun membukakan pintunya setelah mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. “Nih!” ucap Nayyira menyodorkan beberapa makanan “Disuruh Mama buat temen-temen Abang” jelasnya. “Ih gemes banget sih Adeknya Kakak” goda Ezra yang bisa melihat kedatangan Nayyira. Nayyira pun menoleh ke Ezra, lagi dan lagi Nayyira malah salah fokus ke orang yang berada di belakang Ezra. Tidak lain tidak bukan, Nataka. “Diem gak!!!” teriak Nayyira entah ke siapa lalu pergi begitu saja. Ezra, Nataka, dan Azriel menoleh satu sama lain setelah tibatiba diteriaki Nayyira. “Fix Adek lu punya temen gaib tu Jri” ucap sembarang Ezra. A
21 Nayyira yang kembali ke lantai bawah setelah mengantarkan makanan yang disuruh oleh Mama nya langsung mengirim pesan kepada Floella. ”Susah emang susah” ucap Nayyira setelah membaca pesan dari Floella, jelas Floella tidak faham tujuan Nayyira mengatakan itu. Bahkan Nayyira pun tidak mengerti kenapa merasa terganggu akan kehadiran Ezra dan Nataka, atau bisa dikatakan hanya Nataka. “Apanya yang susah?” tanya Mama yang tiba-tiba berada di belakang Nayyira. Nayyira terkejut dengan keberadaan Mamanya “Oh iya Ma, Nay mau tanya deh” Nayyira sedikit berbisik dan melihat ke pintu kamar Azriel. Mama yang melihat sorot mata Nayyira ikut melihat ke arah pandang yang dituju Nayyira “Tanya apa?” “Mama kenal sama temen Abang yang terakhir dateng itu?” Nayyira Tau gak sih, masa Kak Nataka sama Kak Ezra lagi di rumah gua Floella Terus gua harus apa Nay?
22 Mama mengangguk “Nataka kan?” Nayyira membelalakan matanya “Tau darimana? Kan dia gak pernah main kesini” “Kata siapa? Mereka itu temen main bertiga, kebetulan Nataka itu rumahnya deket sama Ezra jadi Ezra ngenalin Nataka ke Abang kamu” jelas Mama “Kamu sih di kamar aja sampe gak tau ada siapa dateng kesini” Mama kini malah menyalahkan Nayyira yang lebih sering menghabiskan waktunya di kamar. Nayyira memajukan bibirnya “Kan Nay baru ketemu dia kemarin ya Ma, masa dia jadi muncul mulu dipikiran Nay” “Hayo kenapa tu” ledek Mama “Anehnya selama sebulan Nay sekolah disitu gak pernah tu ketemu dia, sekalinya ketemu keliatan di mata mulu” Mama yang sedang sibuk mengambil makan untuk makan siangnya pun tersenyum “Bukan gak pernah, mungkin gak sadar aja dia di sekeliling kamu makanya kesannya gak pernah liat dan sekarang karena udah kenal ya secara otomatis kaya sadar aja gitu dia ada di sekeliling kamu” jelas Mama yang sangat sabar mendengar celotehan anaknya. “Mungkin ya Ma, tapi apa alasan masuk akal yang Nay bilang tadi kenapa dia ada dipikiran Nay?” Nayyira masih saja tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. “Cari tau dong sendiri”
23 Merasa tidak mendapat jawaban Nayyira pun bergegas ke kamar “Mama sama aja kaya Flo gak paham maksud Nay” ucapnya sambil berjalan ke arah tangga. Di anak tangga terakhir, ia berjumpa dengan Nataka yang ingin turun. Tatapan mata Nataka persis seperti tadi pagi. Seperti tidak terjadi apa-apa. “Kak” “Iya” Nataka memberhentikan langkahnya untuk menjawab panggilan dari Nayyira. Nayyira tidak tau harus mengatakan apa, seperti banyak yang ingin diungkapkan “Makasih ya tadi udah anterin ke rumah” itulah yang akhirnya keluar dari mulutnya. Nataka yang mendengarnya pun tersenyum “Sama-sama, lumayan jadi mampir main dulu kesini” jawab Nataka yang menatap mata Nayyira. Kini tatapan mata yang berbeda. “Iya, have fun Kak” balas Nayyira tersenyum, lalu membalikkan badannya melanjutkan jalan ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Nayyira menghantukan kepalanya pelan ke dinding “Bego, Nayyira bego” ucapnya sambil memejamkan mata “Kan bisa pura-pura gak liat, eh tapi orang segede gitu masa gak keliatan lagi juga ntar gua disangka gak tau terimakasih lagi” ucapnya lagi menenangkan diri “Tapi kesannya sok kenal banget” Kini Nayyira berbaring di kasurnya memainkan ponsel, memutar lagu, dan tertidur.
24 “Nay…” panggil seseorang di luar kamar Nayyira membuat dirinya terbangun. Nayyira berjalan perlahan ke arah pintu “Kenapa Abang?” tanya nya saat melihat Azriel kini memandangnya dari atas sampai bawah. “Mandi ih udah jam 7 malem! Tidur siang tu satu jam dua jam, ini bisa empat jam gimana jam tidurnya gak berantakan coba” omel Azriel “Buru mandi, kita makan malem bareng” “Ada apa tiba-tiba makan malem bareng? Biasanya juga yang mau makan ya makan” tanya Nayyira heran. Azriel sebetulnya malas menjawab pertanyaan Nayyira, tapi karena ia tidak ingin Adiknya terlihat seperti tidak karuan di depan dua temannya lebih baik Azriel menjelaskan singkat pada Nayyira “Masih ada Ezra sama Nataka di kamar Abang, diajak makan malem sama Mama” Mendengar nama Nataka kini nyawa Nayyira sepenuhnya kembali, matanya terbuka lebar. “Kenapa deh setiap nama Nataka kesebut jadi berubah” tanya Azriel heran, bahkan Azriel pun peka terhadap perubahan di diri Nayyira. “Ssssttt” Nayyira membungkam mulut Azriel tepat setelah Azriel menyelesaikan perkataannya “Masuk sini” kini Nayyira menarik tangan Azriel masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
25 “Kenapa sih?” “Abang tu temenan sama dia dari kapan?” tanya Nayyira sambil mencari handuk. “Dikenalin sama Ezra setahun yang lalu, kan mereka temen rumah” jawab Azriel berbaring di kasur Nayyira dan memainkan ponselnya. “I know!! Tapi harus banget jadi akrab gitu?” tanya Nayyira lagi yang kini sudah di dalam kamar mandi. Azriel tidak menjawab pertanyaan Nayyira karena sibuk ponselnya memberitahukan untuk menunggunya. Sementara Ezra yang mendapat pesan dari Azriel langsung menggelengkan kepalanya “Enak ya punya Adek cewek, bisa nungguin mandi di kamarnya” celetuk Ezra. Nataka tersenyum miring mendengar celetukan temannya “Emang dasarnya lu aja yang mesum” Nataka terdiam sebentar “Eh Bang lu deket sama Adeknya Bang Azri?” tanya Nataka yang tibatiba penasaran dengan Nayyira. “Kenapa? Lu mau ikutan deket juga sama Nay?” selidik Ezra. Azriel Jra bentar ya, gua nungguin Nay mandi.
26 “Gak gitu, ya kan gak enak aja misalnya kalau ketemu di sekolah atau pas gua main kesini kaya gak kenal” jelas Nataka yang terkesan seperti sekedar alasan. Ezra memicingkan matanya sebentar “Nay tu asik kok, cuma ya gitu manja karena terlalu bergantung sama Ajri tapi ya masih batas wajar sih gak yang nempel mulu gitu” selama Ezra kenal Nayyira, gadis itu memang mudah dekat dengan orang baru tetapi semuanya akan kembali lagi ke Azriel, apapun yang dialaminya Azriel akan mengetahuinya. Nataka yang mendengar jawaban Ezra pun hanya mengangguk. “Lemahnya tu Nay terlalu baik, maafin kesalahan orangnya gampang banget padahal udah fatal apalagi masalah percintaan bahkan Ajri aja udah capek peringatin dia tapi masih dikasih kesempatan juga sampe akhirnya dia sendiri yang capek” tambah Ezra yang selalu kebablasan kalau menceritakan suatu hal. Kini Nataka menoleh ke Ezra seakan ingin tau lebih jauh tentang pernyataan Ezra barusan “Emang Nayyira kenapa?” “Dia itu pernah ada di dalam hubungan yang toxic bisa sampe tiga atau empat hari dalam seminggu mereka berantem, berargumen dan bahkan sering berakhir dengan Ajri yang turun tangan” “Turun tangan gimana?” tanya Nataka heran “Bukannya Bang Azri gak pernah marah ya orangnya?” Ezra semakin tidak terkendali membeberkan kisah yang Nataka tidak ketahui “Semua masalah kan gak harus pake marah marah
27 Nat, si Ajri nyamperin tu laki minta mending udahin aja hubungannya dia sama si Nay” “Kenapa harus gitu?” Kini Ezra mendecak mendengar pertanyaan Nataka “Gini nih kalau gak punya Adek cewek, jadinya gak ngerti” Nataka mendengus dengan tatapan sinis “Kenapa harus nyuruh putus?” “Ya Ajri gak tega lah liat Adeknya harus ada di hubungan toxic, dia pengen Nay tu bahagia” jelas Ezra Nataka mengangguk setuju dan kalau difikirkan memang masuk akal, kini Nataka jauh lebih tau tentang Nayyira bahkan dibandingkan Nayyira tau tentang Nataka. “Makanya gua sebagai temennya Ajri dan udah nganggep Nay kaya Adek gua sendiri, gua berharap banget Nay tu ketemu sama orang yang bakal sayang sama dia, yang bikin Ajri percaya kalau kebahagiaan Adeknya ada di si laki-laki ini” dua tahun Ezra mengenal Nayyira sudah cukup untuk mengakrabkan diri mereka satu sama lain, bahkan Nayyira kadang terkesan membela Ezra daripada Azriel. “Berarti Nayyira udah punya pacar?” Ezra yang sadar dari tadi dibanjiri pertanyaan oleh Nataka kini kembali curiga “Mau ngegebet?” tebak Ezra “Ya belum, kan makanya gua masih berharap” jawab Ezra yang sangat mudah orang lain tau informasi darinya.
28 “Ayo, si Nay udah selesai mandi tu” ucap Ezra mengajak Nataka dan bergegas “Ohiya yang tadi gua ceritain semuanya jangan keliatan banget ya kalau lu tau” peringat Ezra. Nataka pun mengacungkan jempolnya. Kini mereka berempat sudah di lorong menuju ke ruang makan, Nayyira tidak menjauh dari Azriel dan bahkan terkesan menjaga jarak dari Nataka. “Nay tadi kenapa pas abis ngasih makanan ke kita tiba-tiba kabur?” tanya Ezra memegang pundak Nayyira. “Hah?” Nayyira mencoba berfikir cepat, apapun alasannya harus masuk akal “Itu…Hmm…Ya bercanda aja kok abisnya Kak Ezra sih bilang-bilang Adeknya Kakak di depan Kak Nataka kan jadi gimana yaa” Alasan apa ini? “Kirain punya teman gaib” celetuk Ezra yang dibalas tatapan tajam Azriel “Ya gak apa-apa lah biar Nata tuh tau Nay Adeknya Kak Ezra” ucapnya kini ke Nayyira. “Gak usah ngada-ngada deh Nay cuma punya satu Abang” ucap Azriel, karena Nayyira terlalu sering bergantung pada Azriel jadi membangun sifat over protective dari Azriel kepada Nayyira “Udah buru makan” tambah Azriel yang kini sudah di ruang makan. Azriel Jra keluar kamar, Nay udah selesai mandi nih
29 “Tante, kita pulang dulu ya” ucap Ezra berpamitan pada Mama Nayyira dan Azriel. Dengan senang hati Mama selalu membukakan pintu kepada teman-teman anaknya, mereka bahkan boleh menginap di rumah berapa lama pun “Iya, hati-hati ya jangan bosen main kesini” ucap Mama “Gak bakal kok Tante” kini Nataka yang membuka suara. “Kita balik ya Jra” pamit Ezra pada Azriel “Kakak balik ya Nay Adek ku” kini mata Ezra tertuju pada Nayyira. Nayyira yang sudah terbiasa dengan tingkah Ezra tidak merasa aneh lagi “Iya Kak, hati-hati ya” balas Nayyira tersenyum “Kak Nataka juga hati-hati” kini mata Nayyira pun beralih ke Nataka yang sedang menatap dirinya juga” Ezra menyenggol lengan Nataka “Jawab jangan bengong” bisik Ezra. “Hah? I..Iya Nay” jawab Nataka yang menyebut nama Nayyira sama seperti Ezra dan Azriel. Membuat Nayyira semakin merasakan hal aneh di dadanya. Ezra dan Nataka kini sibuk mengeluarkan motor Nataka dan segera pergi dari rumah Azriel. Saat Azriel masuk ke rumah, dia sudah disambut dengan tatapan yang seakan ingin mengintrogasi dirinya “Ada apa nih?” tanya nya.
30 “Abang belum jawab pertanyaan aku” Azriel mengernyitkan keningnya “Yang mana?” Azriel mencoba mengingat kembali “Oh yang kenapa akrab sama Nataka” Nayyira mengangguk “Kenapa?” “Ya dia anaknya seru, sopan, asik, apalagi? Gak yang macemmacem lah pokoknya” “Dia kan Adek kelasnya Abang, emang dia gak ada temen seangkatannya kah sampe main sama Abang?” Azriel tertawa pelan “Nay sejak kapan adek-kakak kelas gak boleh temenan yang sampe akrab gitu? Abang kenal juga kok sama temen dia yang sekelas” Azriel memperhatikan mimik muka Adiknya itu “Kenapa? Kamu suka sama Nataka? Padahal baru dua hari loh kenal” ledek Azriel. “Hah?”
31 Start with You Sudah hampir dua minggu Nayyira mulai melupakan pemikirannya terhadap Nataka, walau beberapa kali sering ia melihat Nataka berada di lantai tiga atau mereka berjumpa di depan sekolah saat Nayyira turun dari mobil Azriel. Nayyira menganggap omongan Mama nya betul, mungkin karena Nayyira baru mengenal Nataka yang merupakan teman dari Azriel jadi Nayyira mencoba bersikap seperti dirinya ke Ezra. Pagi ini Nayyira sedang duduk melamun di depan kelasnya dengan earphone di telinganya. Ia tidak bersama Floella seperti biasanya. “Nay” panggil seseorang, Nayyira tidak mendengarnya. Terlalu tenggelam dalam lamunannya, mungkin. Orang itu duduk di sebelah Nayyira membuat Nayyira melepaskan earphonenya sebelah, hal yang pertama Nayyira lakukan setelahnya adalah tersenyum “Kak Nataka” sebut Nayyira. “Enak banget ya melamun pagi-pagi gini sambil dengerin lagu” ucap Nataka mengambil earphone di tangan Nayyira “Dengerin apa sih?” “Kakak tau lagunya?” tanya Nayyira yang sama sekali tidak merasa terganggu dengan tingkah Nataka yang main ambil saja, sudah dibilang kan kalau Nayyira akan menganggap Nataka sama seperti Ezra? Nataka diam, mendengar lagunya lalu mengangguk “Fall for You” jawabnya “Enak ni lagunya”
32 “Iya kan? Aku juga suka kok” tanggap Nayyira melihat mata Nataka karena saat ini Nataka sedang mengikuti pergerakan seseorang yang sedang melewati mereka. “Nay bentar ya, gua kesana dulu” tak menanggapi ucapan Nayyira, Nataka datang secara tiba-tiba dan kini pergi pun dengan cara yang tidak baik baginya. Kini Nayyira melihat Nataka sedang berbicara berdua dengan wanita itu, bahkan tertawa lepas. Jika diperhatikan Nataka beberapa kali membelai rambut wanita itu, sampai bel masuk berbunyi dan Nayyira melihat Nataka berpisah dengan wanita yang Nayyira tidak mengenalnya walau mereka seangkatan. Karena semua yang berada di lantai tiga ini kelas 10, di lantai dua kelas 11, dan lantai satu kelas 12 maka Nayyira bisa memastikan wnaita yang tadi bersama Nataka adalah teman seangkatannya. “Heh ayo masuk” ucap Floella yang baru saja datang “Liatin siapa sih?” “Engga, iya yuk” Sepertinya Nayyira serius dengan keputusannya untuk menganggap Nataka sama seperti Ezra, lebih tepatnya Nayyira sedang berusaha untuk itu. Tidak dipungkiri beberapa kali Nataka terlintas difikiran Nayyira, tapi Nayyira mencoba beranggapan itu adalah hal yang biasa. Nayyira yang saat ini tengah duuk termenung sama seperti tadi pagi, di tempat yang sama dengan menunggu Floella yang ke kantin
33 dengan Alina. Nayyira orang yang sangat jarang pergi ke kantin, dirinya merasa tidak nyaman dengan keramaian orang. “Gak dengerin lagu lagi?” tanya Nataka yang datang tiba-tiba, sama juga seperti pagi tadi. Nayyira mendongakan kepalanya mengarah ke Nataka yang berdiri di hadapannya, Nayyira menggeleng. “Oh iya Min, tadi gua main pergi aja ya” ucap Nataka yang kini duduk di sebelah Nayyira namun wajahnya menghadap Nayyira. Mendengar nama yang asing dari biasanya, Nayyira mengernyitkan keningnya “Min?” tegasnya. Nataka terlihat tidak fokus, matanya mengedarkan pandangan tak tentu arah seperti menghindari kontak mata dengan Nayyira “Itu… Yir maksudnya” elak Nataka. “Yir?” Nayyira mencoba menegaskan perkataan Nataka lagi. “Yira, Nayyira” jelas Nataka yang memandang ke depan, masih berusaha menghindari dari Nayyira. Nayyira semakin heran dengan tingkah Nataka “Kenapa Yira? Kenapa gak sama aja kaya Kak Ezra atau Bang Iel” tanya penasaran Nayyira. Nataka menggeleng, mulai berani memandang Nayyira “Pengen beda aja”
34 “Okay, terus siapa itu Min? Siapa yang Kakak tinggalin tibatiba?” tanya Nayyira lagi. “Itu.. Jasmin” mau tidak mau Nataka menyebut nama yang Nayyira tidak ketahui. “Siapa Jasmin?” Nataka seakan terpojok dengan segala pertanyaan Nayyira “Perempuan yang tadi pagi ngobrol sama gua” jawab Nataka tegas dan memandang ke mata Nayyira “Lu liat kan?” Nayyira baru mengetahui nama perempuan yang sudah membuat Nataka pergi dengan begitu saja, Nayyira mengangguk seakan menjawab bahwa ia melihat wanita itu “Yang Kakak belai rambutnya?” kini nada suara Nayyira seakan sinis. Nataka tertawa mendengar pertanyaan Nayyira, ia langsung membelai rambut Nayyira sama persis seperti yang Nataka lakukan pada Jasmin “Kaya gini?” “Nayyira” suara Floella berhasil memecahkan suasana. Nayyira dan Nataka menoleh ke arah suara, Nayyira pun memberikan kode untuk Floella lewat dengan cepat jangan mengganggunya. “Hah? Apa?” tanya Floella tanpa suara, tak lama Floella seakan faham maksud Nayyira “Ah ini minumnya tadi nitip kan? Gua ke dalem ya” ucap Floella menaruh botol minum di tengah-tengah antara Nayyira dan Nataka.
35 “Maaf ya Kak, itu temen ku emang suka random” ucap Nayyira tersenyum canggung. “Ya sama aja kaya Bang Ezra” timpal Nataka sambil terkekeh. “Terus Jasmin itu siapanya Kakak?” banyak pertanyaan yang Nayyira tanyakan, lebih baik jika ingin tau tanyakan saja semuanya kan? Nataka menegang, menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku panjang tersebut, namun matanya masih menatap lekat Nayyira. “Kenapa Kakak sekarang gak ke Jasmin?” tanya Nayyira lagi bahkan pertanyaan sebelumnya belum dijawab Nataka. Nataka masih dalam posisi yang sama, terlihat seperti tidak mendengar pertanyaan Nayyira. “Kak?” “Hah?” kini Nataka mengerjapkan matanya, membuyarkan tatapannya pada Nayyira “Ya Jasmin temen lama gua, gak enak aja kalau satu sekolahan tapi gak nyapa atau ngobrol gitu” jelas Nataka menjawab pertanyaan Nayyira. “Sekarang kenapa malah sama aku? Kenapa gak ke Jasmin lagi?” ulang Nayyira. Pertanyaan itu belum dijawab oleh Nataka. “Ya masa harus tiap saat sama dia? Kan harus berbaur juga” jawab Nataka yang terdengar seperti sekenanya saja.
36 Nayyira mengangguk seakan faham dengan semua penjelasan Nataka. “Besok kemana Yir?” Nataka mencoba mengalihkan pembicaraan. Nayyira baru ingat bahwa besok ia memiliki janji dengan teman lamanya, besok hari Sabtu maka sudah masuk waktu libur. “Jalan sama temen ku, udah lama gak ketemuan” Nataka tersenyum tipis “Emang gitu ya kalau baru masuk ke lingkungan baru, masih suka kangen sama lingkungan lamanya” Nayyira mengangguk antusias “Tapi gak semua momen di lingkungan lama dikang-“ perkataan Nayyira terputus, merasakan Nataka memundurkan badannya dari Nayyira membuat jarak lebih jauh antara mereka berdua. Mata Nataka tidak memandang dirinya saat ini. Nayyira mencoba mengikuti arah pandang Nataka yang memandang jauh. Jasmin, saat ini Nataka memandang Jasmin. “Mau ke Jasmin?” tanya Nayyira. Nataka menggeleng “Ngapain? Orang lagi ngobrol sama lu” Nataka memposisikan dirinya agar tak terlihat oleh Jasmin “Kenapa tadi?” “Oh itu gak semua momen di lingkungan lama dikangenin, kaya lebih ke kangen orangnya” ulang Nayyira yang tadi sempat terputus.
37 “Kalau gitu sama kaya gua, gua juga walau udah kelas 11 gini masih suka inget momen yang dulu dulu gitu” Saat ini Nayyira seperti tidak nyaman dengan suasana selepas Nataka menjauh darinya karena melihat Jasmin, sudah cukup penjelasan dari Nataka yang mengatakan hubungannya dengan Jasmin hanya sebatas teman lama maka Nayyira tidak perlu menanyakan untuk kedua kalinya. Memang Nayyira siapa Nataka? “Kak, maaf ya kalau aku ngomongnya aku-kamu soalnya kaya kebiasaan aja kalau ngobrol sama yang lebih tua ya aku-kamu” kini Nayyira mencoba mengubah topik pembicaraan. Nataka memegang pundak belakang Nayyira karena saat ini tangan Nataka sedang membentang di sandaran bangku “Harusnya gua yang minta maaf malah ngomong gua-lu” Nayyira menggeleng “Gak Kak, gak apa-apa kok senyamannya Kakak aja” “Oh iya emang besok Kakak mau kemana?” “Gak kemana-mana mau di rumah aja lah, istirahat” “Nata!” panggil Ezra yang saat ini bersama gerombolan kelas 12, termasuk Azriel. Azriel yang melihat Adiknya sedang bersama Nataka memasang muka waswas “Ngapain” tanya Azriel pelan pada Nayyira. Nayyira hanya mengangkat bahunya “Tanya aja sama temen Abang tu” jawab Nayyira ketus.
38 “Nay ngapain sama Nata?” kini Ezra yang bertanya namun dapat di dengar bahkan sampai ke dalam kelas Nayyira. Nayyira yang ingin pergi tertahan dengan pertanyaan itu “Ya ngobrol, emang mau ngapain lagi?” kini Nayyira benar-benar pergi menghindari Azriel sebelum semakin banyak sepasang mata memandang kedekatan mereka. “Lu beneran mau gebet si Nay?” bisik Ezra pada Nataka Nataka tidak menjawab karena sudah mendapat tatapan dari Azriel “Si Nata ditanya begitu aja kaya kepergok abis ngapain gitu” Ezra memang sangat suka berbicara sembarang dan tidak melihat situasi. “Turun lah yuk Bang” ucap Nataka menarik tangan Ezra dan juga Azriel yang diikuti teman yang lain. “Udah mulai berani ya anak ini tarik-tarik tangan senior” gerutu Ezra yang ditertawakan Azriel. Sementara Nayyira pun mendapat pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya dari Floella “Ngapain si Kakak itu sama lu?” tanya Floella penasaran. “Ngobrol, kebetulan emang lagi lewat aja” jawab Nayyira seadanya. Selanjutnya Nayyira teringat lagi dengan panggilan yang Nataka panggil untuknya, Yira.
39 Seperti tidak asing bagi Nayyira, tapi ini pertama kalinya Nayyira dipangil dengan sebutan selain Nay atau Nayyira.
40 Something Else from You “Yira… sini liat aku dulu” “Apa sayang?” Nayyira terbangun dari tidurnya, ia memimpikan hal yang sama seperti dua minggu lalu. Nayyira masih tidak bisa mengingat dengan jelas siapa yang memanggilnya. “Yira?” ucapnya sambil memegang kepalanya “Kaya nama panggilan Kak Nataka” tambahnya yang kini mengambil ponsel di sebelahnya. Hari ini ia bangun lebih awal dari bunyi alarm. Seperti yang dikatakannya pada Nataka, hari ini Nayyira ada janji dengan temannya sekedar bertemu melepaskan rindu di tempat makan yang biasa ia datangi dulu. “Mau Abang anter?” tanya Azriel melihat Nayyira turun dari tangga. Nayyira menggeleng “Dia jemput kesini” jawabnya. “Cewek apa cowok?” “Cewek” jawab Nayyira memutar bola matanya. Azriel hanya mengangguk “Dek, kamu itu kemarin ngapain sih sama Nata?” tanya Azriel penasaran setelah meningat hari kemarin.
41 Nayyira memutar bola matanya “Bang, aku itu nunggu pesenan Flo karena aku nitip minuman sama dia, tiba-tiba ada Kak Nataka aja ya masa aku masuk kelas” jelas Nayyira, mau tidak mau dia mengingat kejadian dimana Nataka memandang Jasmin yang bahkan jauh dari pandangannya dibanding mendengar Nayyira yang saat itu sedang bercerita. “Tapi Nata baik loh” ucap Azriel tiba-tiba. “Ya baik lah, kalau gak baik kenapa Abang sama Kak Ezra mau temenan sama Kak Nataka” timpal Nayyira “Udah deh, aku udah dijemput temen ku di depan” ucap Nayyira mencium pipi Azriel. “Jangan balik malem” teriak Azriel dari dalam rumah. Kini Nayyira dan temannya yang bernama Ivy, sudah berada di tempat yang mereka tuju. “Nay gimana sekolahnya? Jadi inceran cewek yang tau lu Adeknya Abang lu?” Ivy ingat betul dulu Nayyira didekati bukan dengan pria namun para perempuan yang ingin dekat dengan Azriel. Nayyira menggeleng “Abang gak bagi siapapun tau kalau gua Adeknya” Nayyira terdiam dan berfikir apakah itu alasan Azriel selalu memberikan berbagai alasan ketika ia menanyakan hal itu. “Loh kenapa? Takut terulang lagi?”
42 “Iya mungkin, kan lu tau perempuan kalau udah jatuh cinta beringas banget” jawab Nayyira bergidik “Lu sendiri gimana di sekolahnya?” Ivy menghela nafasnya “Ya seperti biasa ada yang deketin, tapi ya udah lah baru juga sebulan” jawabnya. Tidak diragukan Ivy dan Nayyira pada semasa mereka bersama memang banyak yang mendekati tapi karena Nayyira selalu diawasi Azriel jadi Nayyira tidak terlalu sering menggubris lelaki yang mendekatinya sedangkan Ivy yang kurang menyukai hubungan di dalam satu lingkungan membuat mereka banyak menolak ajakan para pria yang ingin menjadikan mereka pacarnya. “Vy, pengen nanya deh” buka Nayyira membahas topik lain. Ivy yang sedang menyeruput minumannya pun mengangguk “Apa tuh?” “Pernah gak lu kenal cowok ni, baru banget kenal tapi dia udah kaya mengganggu pikiran lu?” tanya Nayyira menceritakan tentang Nataka. “Hmm” fikir Ivy menopang dagunya “Engga kayanya deh, kalau tiba-tiba muncul ya pernah tapi gak mengganggu yang sampe bikin gak karuan gitu” “Nah! Itu!!” ucap Nayyira memukul meja berkali-kali “Gua kenal cowok ni ya, dia kakak kelas gua yang ternyata temennya Bang Iel kenalnya gak sengaja terus papasan abis itu kepikiran mulu” jelas Nayyira.
43 Ivy mulai memusatkan perhatiannya pada cerita Nayyira “Terus pas papasan itu gimana?” “Kaya gak kenal soalnya dia lagi sama cewek gitu” jawab Nayyira “Terus ada momen gua ngobrol sedikit sama dia, nah pas ada si cewek ini lewat dia langsung hilang fokus gituloh ke gua” tambahnya. “Dih brengsek juga itu, curigain Nay itu orang bisa-bisanya lagi ngobrol sama cewek malah jelalatan ke cewek lain” ucap Ivy yang memang mudah emosi dan memanas-manaskan suasana. Nayyira mengiyakan “Itu dia Vy cuma gua gak ada hak apa-apa nanyain lebih lanjut, dia juga bilang cuma temen ya udah gak bisa nanya lebih dalem lagi” “Lu ada foto orangnya gak?” tanya Ivy “Liat dong” “Nope, buat apa juga?” “Ivy” panggil seseorang dari belakang Nayyira, Ivy jelas bisa melihat orang itu. Merasa dipanggil, Ivy tersenyum sumringah dan melambaikan tangannya “Jasmin!!” panggilnya. Tubuh Nayyira menegang ketika Ivy menyebut nama wanita yang sama dengan seseorang yang disebut oleh Nataka. Jasmin kini berdiri di depan meja Nayyira dan Ivy, melihat Nayyira namun sepertinya ia tidak mengetahui bahwa itu teman satu sekolahnya. Sedangkan Nayyira ingat jelas muka Jasmin, kini
44 ia semakin mati gaya tidak tau bagaimana harus bersikap karena seseorang yang baru saja dibicarakan kini di depan matanya. Berteman pula dengan Ivy. “Sama siapa Min?” tanya Ivy. Jasmin melihat ke arah parkiran, mencari seseorang “Nah itu dia” “Please bukan Nataka, please bukan Nataka” hanya itu ucap Nayyira dalam hatinya berharap kejutan hari ini sampai sini saja. “Siapa nih Min?” tanya Ivy lagi kini seperti nada meledek. Jasmin tersipu “Mau tau aja ni” jawabnya “Eh iya hai temennya Ivy ya?” kini Jasmin menoleh ke Nayyira. Nayyira pun menoleh ke Jasmin dan nampaklah sosok Nataka di belakang Jasmin bahkan Nataka tengah merangkul Jasmin. Nayyira kelu, diam seribu bahasa, berusaha menyembunyikan wajah kagetnya “I-Iya” jawabnya singkat. Nataka pun sama kagetnya, Nataka kaku melihat keberadaan Nayyira, kini Nataka menurunkan rangkulannya pada Jasmin dan melihat perubahan wajah Nayyira. “Yaudah, kesana dulu ya Vy, Bye” ucap Jasmin melambaikan tangan pada Ivy dan dibalas oleh Ivy. Ivy melihat ketegangan pada Nayyira pun merasakan keanehan namun ia tidak berfikiran aneh-aneh “Oh iya Nay gua lupa dia tu satu sekolahan sama lu tau”
45 Nayyira masih terdiam, matanya terarah dimana Nataka dan Jasmin duduk. “Nay” panggil Ivy menggoyangkan lengan Nayyira. Nayyira tersadar dengan panggilan Ivy “Hah? Kenapa Vy?” “Lu yang kenapa Nay? Gua tadi bilang kalau Jasmin tu satu sekolahan sama lu, lu pernah ketemu Jasmin gak? Atau gak asing gitu sama mukanya?” tanya Ivy. Nayyira kembali diam, Ivy tidak boleh tau kalau Nayyira pernah melihat Jasmin bahkan tau namanya dari Nataka, seseorang yang kemarin mengatakan keluar rumah namun detik ini ia berada di depan mata Nayyira. “Ih malah diem lagi” “Apa? Engga… engga kenal dan engga tau juga” jawab Nayyira gugup. Ivy merasakan ketidaknyamanan pada Nayyira “Mau pindah tempat?” tawar Ivy “Jangan pulang tapi, baru juga setengah jam keluar masa udah balik aja” Nayyira menimbangkan keputusannya, lalu ia menyetujui untuk pindah tempat atau tepatnya pergi dari tempat mereka saat ini. Ivy meminum sisa minumannya, bergegas beranjak “Min” teriak Ivy “Kita pergi dulu ya” sambungnya. Keinginan Nayyira adalah pergi dengan diam-diam, tenang agar ia tidak perlu melihat Nataka lagi namun Ivy merusaknya karena mau
46 tidak mau Nayyira berkontak mata dengan Nataka saat Ivy berpamitan pada Jasmin. “Yuk Nay” ucap Ivy sumringah seperti tidak terjadi apa-apa pada Nayyira. Sesampainya mereka di tempat yang baru, Ivy semakin merasakan perbedaan mood pada Nayyira karena sepanjang jalan Nayyira tidak mengeluarkan satu kata pun padahal biasanya Nayyira lah yang paling banyak bicara dibandingkan Ivy. “Nay, lu sakit?” tanya Ivy memegang dahi Nayyira. Nayyira menggeleng “Kaga, gua laper nih” “Makan, jangan bengong terus pasang muka melas begitu” ledek Ivy mencoba mencairkan suasana “Oh iya itu gimana cowok yang lu ceritain?” Nayyira tiba-tiba merasa malas untuk menceritakannya pada Ivy mengingat kejadian tadi, rasanya ingin Nayyira tanyakan dan meminta penjelasan pada Nataka. Tapi apa hak Nayyira? “Wah gak beres nih gua rasa ini anak” ucap Ivy setelah tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Nayyira “Lu kenapa sih?” “Gak apa-apa, udah lah bahas yang lainnya aja” jawab Nayyira.
47 “Ih mood nya bisa langsung berubah gitu, aneh banget” celetuk Ivy. Nayyira kini tengah berjalan menuju tangga rumahnya, ia sudah kembali setelah pergi dengan Ivy. Sebenarnya Nayyira tidak ingin pulang lebih awal tapi karena fikirannya tidak karuan karena kejadian tadi, Nayyira meminta Ivy untuk mengantarnya pulang dan ia janji akan meluangkan waktunya lebih lama di lain hari untuk Ivy. “Lah udah pulang?” ucap Azriel yang masih berada di tempat yang sama saat Nayyira pergi. Nayyira yang mendengar suara Abangnya langsung menghampiri Azriel, duduk di sebelahnya dan meletakkan kepalanya di bahu Azriel “Nay capek Bang” keluh Nayyira. Azriel mengerutkan dahinya “Baru berapa jam pergi masa udah capek” “Abang nanti malem kemana?” “Hmm” Azriel mengingat kegiatannya nanti malam “Keluar main sih sama Ezra” Nayyira kini bangun dari bahu Azriel “Berdua aja kan?” Azriel mengangguk “Kenapa? Mau ikut?” “Emang boleh?” Azriel kembali mengangguk “Tadi katanya capek”
48 “Jam berapa?” tanya Nayyira tidak menjawab perkataan Azriel. “Jam 7 atau 8 mungkin” jawab Azriel. Nayyira melihat jam di dinding “Okeh jam 5 nanti bangunin aku ya Bang” ucapnya sambil meninggalkan Azriel. “Nay udah rapih belum?” setelah Azriel membangunkan Nayyira, kini ia harus menunggu Nayyira mandi dan bersiap-siap. “Bentar ih” teriak Nayyira dari dalam kamarnya. Azriel yang paling malas menunggu itu sudah tidak sabar dengan kelakuan Adiknya “Nay kamu pake jaket, celana biasa, sandal jepit juga jadi” balas Azriel. Pintu kamar Nayyira terbuka “Udah niiii” Azriel melihat Nayyira dari ujung kepala sampai kaki “Nay kita mau ngopi doang, udah malem juga pake rok pendek pula ih” ucap Azriel saat melihat Nayyira berpakaian kaus dan rok selututnya. “Ssssttt” Nayyira membungkam mulut Azriel “Udah hayuk jangan cascescos” tambahnya menarik tangan Azriel. “Kabari ya pulang engganya” ucap Mama di teras. “Ma kita pulang kok ya ampun” jawab Nayyira. Mama menaikkan bahunya “Siapa tau mau nginep”
49 “Iya nanti dikabari ya Ma” timpal Azriel. Disaat di perjalanan, ponsel Azriel bordering dan tertera nama Ezra memanggil. “Angkatin dong tolong Nay” perintah Azriel. Nayyira lalu menyalakan speaker telfonnya agar Azriel tidak terganggu. “Nape lu?” tanya langsung Azriel. “Lu Dimana? Gua udah disini nih” “Dikit lagi, sabar” “Eh sorry gua bawa si Nataka ni, gak masalah kan?” Dua ekspresi yang berbeda antara Nayyira dan Azriel. Nayyira memasang wajah yang kaget mengingat hari ini ia habis bertemu dengan Nataka bersama seorang wanita yang Nayyira rasa merusak suasan ia dan Nataka kemarin, sementara Azriel sangat bahagia karena Azriel tidak perlu merasa tidak enak pada Ezra karena membawa Nayyira. “Gua juga bawa Nayyira kok” “Assiiikk ketemu Adek sayang ku” Panggilan diputus oleh Azriel saat mendengar Ezra sudah mulai menunjukkan kebahagiaannya karena mendengar nama Nayyira.