200 Nayyira meraih tangan Kenzie “Apapun nanti akhir cerita kita, itu yang terbaik Ken”
201 See Efforts from You Ini adalah hari pertama Nayyira pergi ke sekolah atas izin dari Azriel, sudah terlalu lama bagi Nayyira berdiam di rumah. Mulanya Azriel ragu dengan Nayyira, tapi jika difikirkan mungkin Nayyira sudah siap menghadapi hal-hal yang mungkin akan terjadi saat dia masuk kembali. Azriel mengantarkan Nayyira bukan hanya sampai parkiran, melainkan sampai depan kelas. Bahkan Nayyira sudah memintanya untuk tidak melakukannya tapi Azriel bersikukuh dengan keinginannya. “Nayyira” panggil Floella saat melihat Nayyira ada di depan pintu kelasnya, Floella memeluk teman sebangku yang sudah satu minggu tidak bertemu. Dengan wajah berseri Nayyira menyambut pelukan dari Floella, lalu menggenggam tangan Floella yang menariknya ke meja mereka. Tidak nampak Alina di tempatnya, namun Nayyira tidak memusingkan bahkan tidak menanyakan keberadan Alina pada Floella. “Lu udah baik-baik aja?” tanya Floella memegang rambut Nayyira, masih terekam jelas dalam fikiran Floella ketika Alina dengan kencangnya menjambak rambut Nayyira. “Iya, Flo” jawab Nayyira tersenyum seperti biasa “Kesepian kan lu gak ada gua yang selalu nemenin lu?” Floella menarik tangannya dari rambut Nayyira “Lupain deh kejadian dari lu baru masuk tadi sampe yang barusan”
202 “Loh loh loh” kini Alina secara tiba-tiba datang menginterupsi perhatian Nayyira dan Floella “Kok cepet banget masuknya?” Nayyira memutar bola matanya “Urusan apalagi sih lu sama gua? Jangan kira lu udah bikin gua gak masuk seminggu terus lu merasa udah menang dari gua” Alina tersenyum sinis, mendekatkan tubuhnya pada wajah Nayyira “Intinya lu bakal dilupain sama Naka” “Oh ya? Kita liat aja nanti” jawab Nayyira menyeringai “Tolong ya, lu udah gak ada hak buat manggil Kak Nataka dengan sebutan Naka” Nayyira membuat Alina terdiam, namun Alina tetap dalam posisinya seakan mengintimidasi Nayyira. “Mending lu pergi deh jangan nyampah di pandangan mata gua” usir Floella yang sudah muak melihat wajah Alina. “Gua gak habis fikir ya sama kalian berdua, bisa-bisanya nyerang gua” Alina menjauh dari Nayyira “Liat aja nanti, Naka bakal balik lagi ke gua” ucapnya lalu pergi meninggalkan Nayyira dan Alina. Dengan tatapan sinis, mata Floella mengikuti arah Alina pergi “Pasti ke kelas Kak Nataka nih, bujuk-bujuk biar bisa balikan lagi” gumamnya. “Maksudnya gimana?” tentu saja ini hal yang baru didengar oleh Nayyira.
203 “Itu perempuan licik masih ngejar Kak Nataka, terus bilang kejadian kemarin itu gak sengaja atau kekhilafan dia karena kebawa emosi gitu lah” jelas Floella “Kelakuan dia begitu udah kesebar satu sekolahan, makanya orang jadi sebel sama dia lagi juga kayanya Kak Nataka risih banget disamperin si repot itu mulu” tambahnya. Nayyira tertawa mendengar cerita Floella “Kaya gak punya harga diri banget jadi perempuan” “Nyesel gua pernah temenan sama dia loh, sumpah” Di waktu istirahat Azriel dan Ezra datang menghampiri Nataka ke kelasnya. Azriel mencoba meyakinkan Nataka bahwa tidak akan ada yang berubah diantara mereka setelah kejadian itu. Azriel tidak akan mencampur adukkan masalahnya Nataka dan Nayyira dengan persahabatannya. “Bang, aturan gua aja yang ke bawah” Nataka masih merasa canggung pada Azriel. “Bosen, di lantai dua enak bisa liatin cewek cakep” jawab Ezra bergurau. Azriel menyetujui ucapan Ezra yang terdengar seperti bukan gurauan “By the way, Nayyira ada di kelasnya tuh” Ezra dan Nataka mendekat pada Azriel setelah tahu Nayyira kini sudah masuk sekolah kembali.
204 “Ih liat ah” Ezra bergegas pergi ke kelas Nayyira “Ikut gak lu, Nat?” Nataka murung, hatinya dilemma “Pengen tapi ntar Nayyira gak mau ketemu gua” Azriel menepuk pundak Nataka “Inget aja kata-kata Flo, kalau misalnya Nay bersikeras buat ngejauh dari lu, ya lu harus dua kali lipat lebih bersikeras buat deket sama Nay” “Gua belum siap tapi buat ketemu sama Nayyira” Nataka merenung, di dalam hatinya ia ingin bertemu dengan Nayyira. Ezra memicingkan matanya “Tau ah, jangan pesimis gitu kenapa jadi laki” ucapnya lalu meninggalkan Nataka dan Azriel menuju kelas Nayyira. Kini Azriel hanya memandangi Nataka “Yang lu harus tau, gua gak akan mendukung lu terus, Nat” ucapnya serius “Kalau lu masih kaya gini-gini aja, lu yang bakal rugi” kini Azriel ikut menyusul Ezra ke lantai tiga membiarkan Nataka sendirian. “Nay kok gak ngasih tau sih kalau udah mulai sekolah lagi?” Ezra kini duduk di bangku depan Nayyira, menginterogasinya. Nayyira tertawa kecil “Masa mau dibikin pengumuman” ledeknya “Lagi juga aku masuk tu harus mohon dulu ke Bang Iel” “Emang lu udah gak kenapa-napa?” terlihat kekhawatiran dari raut wajah Ezra, tak sengaja matanya menangkap Alina yang berada di belakang Nayyira “Heh, nenek!” Ezra memanggil Alina, padahal Alina tidak memperdulikan keberadannya.
205 Alina mengalihkan pandangannya pada Ezra dengan tatapan datar. “Oh merasa jadi nenek-nenek?” sindir Ezra sinis. Nayyira menahan Ezra agar berhenti mengurusi keberadaan Alina, bagi Nayyira sudah tidak perlu dibahas kembali yang telah terjadi karena hanya akan membuang waktu dan tenaga hanya untuk menanggapi Alina. “Abang bilang ke Ezra sama Nata kalau kamu udah masuk sekolah, jadinya Ezra langsung lari kesini deh” jelas Azriel yang baru datang. “Terus Kak Nataka?” tanya Floella yang tidak melihat Nataka ikut datang menemui Nayyira. “Jelas gak peduli lah” potong Alina yang membuat keempat orang itu menoleh ke Alina “Kenapa? Emang gitu kan?” Azriel berjalan sedikit ke arah Alina “Lu cantik, tapi ternyata mulutnya busuk ya!” bisik Azriel yang masih bisa terdengar sampai Ezra “Sampe ke hati juga busuk! Bagus Nata nyadar lebih awal” Alina menatap sinis ke Azriel “Puas banget kayanya ya kalian ngehasut Naka untuk ngejauh dari gua” “Dihasut? Bahkan Nata ngaku ke kita dia gak pernah ada rasa ke lu” tanggap Azriel “Lu itu cuma diperalat Nata supaya dia ada alesan untuk ketemu Nayyira disini”
206 “Gak penting banget!” Alina bangun dari duduknya, berlalu meninggalkan kelas. “Bang, apa gak keterlaluan kata-kata Abang tadi?” Nayyira takut karena ini masalah antara dirinya dengan Alina, tapi banyak orang yang ikut terseret di dalamnya. Azriel hanya menaikkan bahu “Peduli apa Abang sama dia?” “Yira” panggil Nataka yang sudah menunggu Nayyira di depan kelasnya dengan segala keberaniannya agar bertemu dan melihat kondisi Nayyira saat ini. Nayyira terdiam melihat seseorang yang sebenarnya ia tunggu dari kedatangannya di sekolah “Kenapa, Kak?” “Boleh ngobrol gak? Sebentar aja disini” Nataka tergagap ketika melihat Nayyira secara dekat. “Boleh, tunggu yang lain pulang dulu ya” jawab Nayyira yang sudah duduk di tempat biasa mereka berbicara berdua, diikuti oleh Nataka yang duduk di sebelah Nayyira. Nataka memandang Nayyira lekat, memperhatikan bekas luka yang masih terlihat samar “Kamu masih sakit?” tanyanya. “Udah engga, Kak” jawab Nayyira menoleh pada Nataka “Gak usah merasa bersalah, aku tau fikiran Kak Nataka” tebaknya.
207 Nataka tersipu canggung saat Nayyira tahu maksud dari pertanyaannya “Kamu hebat Yir, kamu kuat” “Kakak mau ngomong apa? Udah gak terlalu ramai nih” Nayyira mencoba mengalihkan pembicaraan yang dibangun Nataka. “Kamu yakin minta aku untuk menjauh dari kamu?” tanya Nataka perlahan “Apa bener ini akhir dari cerita kita?” Nayyira menghembuskan nafasnya pelan “Kak, apa gak capek selalu ada orang lain diantara kita?” “Kali ini bener-bener cuma aku sama kamu, Yir” Nataka mulai mencoba meyakinkan Nayyira. “Aku masih takut sama kejadian Alina, aku trauma banget” Nayyira seakan ingin mengakhiri semuanya dengan Nataka, tapi tidak sanggup untuk mengatakan secara terang-terangan. “Kamu ada aku” Nataka terus mencoba “Kamu bisa andelin aku untuk nyembuhin rasa trauma kamu” Nayyira tersenyum “Cukup ya, Kak” “Engga! Aku gak mau Yir” Nataka menahan tangan Nayyira yang hendak pergi “Kita bisa selesaiin ini sama-sama” “Maaf banget aku udah ditunggu sama Bang Iel di parkiran” Nataka melepaskan pegangan Nataka di tangannya. Bohong jika tidak Nayyira tidak sedih dengan hatinya, ia masih ingin bersama dengan Nataka namun jika mereka bersama akan
208 semakin ada kejadian yang tidak menyenangkan terjadi pada mereka.
209 This is a Test for You Kali ini Azriel meminta Ezra, Kenzie dan Floella untuk bertemu tanpa memberitahu Nataka dan juga Nayyira. Bukan tanpa alasan, karena memang tujuan Azriel untuk membicarakan hubungan keduanya yang tidak kunjung menemukan titik terang. “Gua resah deh sama kelakuan Nata” oceh Ezra. Nataka sudah mendapat maaf bahkan diperbolehkan untuk dekat lagi dengan Nayyira setelah mereka tahu betapa banyak kejadian yang merugikan Nayyira setelah mengenalnya, tapi Nataka tidak menggunakannya dengan sebaik mungkin. Bahkan kini mereka meragukan keseriusan dan penyesalan Nataka pada Nayyira. “Ya pahamin aja, mungkin Kak Nataka juga gak nyangka bakal sebesar ini masalahnya” Floella menanggapinya dengan penglihatan dari sisi lain yang sangat masuk akal. “Terus Nayyira nanggung semuanya sendirian? Harusnya si Nata ada buat Nayyira, seenggaknya mereka bisa pulih sama-sama” lawan Ezra masih dalam pendapatnya. Kenzie dan Azriel hanya diam melihat perdebatan yang sedang terjadi “Perasaan gua sama Kenzie kan saudara dari orang yang lagi kalian omongin nih, kita tuh dari tadi belum ngomong apa-apa loh” Azriel menengahi perdebatan itu. “Ya makanya ngomong” jawab Ezra dan Floella bersamaan. “Kalian aja nyerocos mulu” gumam Kenzie pelan.
210 Tanpa diduga, Azriel menyuruh semuanya untuk meminta Nataka untuk berhenti mengharapkan Adiknya. Tentu saja Azriel memiliki alasan untuk memutuskan hal seberat itu, Azriel hanya ingin melihat seberapa serius Nataka untuk mendapatkan Nayyira karena selama ini Nataka mendapat dukungan dari semua pihak, untuk kali ini Azriel ingin melihat bagaimana jika Nataka mendapat dorongan untuk melepaskan Nayyira. “Kalau Nata bener ngejauh dari Nayyira gimana?” tanya Ezra yang memikirkan kemungkinan realistisnya. Azriel menaikkan bahunya “Seharusnya semakin dipush untuk ninggalin, dia harus makin punya keyakinan untuk perjuangin Nay” jawabnya “Itu kalau Nata bener-bener sayang sama Nay” Setelah difikir tidak ada salahnya juga jika melakukan permintaan dari Azriel, karena ini sudah terlalu memakan waktu dan tenaga yang banyak hanya untuk memikirkan hubungan antara Nataka dan Nayyira ini. “Tumben banget ngajak bareng mulu” goda Nataka pada Ezra “Lagi ada maunya kah, Bang?” Ezra melirik ke arah Nataka “Pengen ngomong gua sama lu” Kini Nataka memasang wajah serius “Tentang apa?” “Siapa lagi kalau bukan wanita pujaan lu yang lagi menjauh dari lu itu” jawab Ezra menyindir “Lu kalau gak ada niatan buat perjuangin Nayyira mending udahin aja gitu”
211 Nataka menyandarkan kepalanya ke jendela mobil Ezra “Gimana mau berjuang kalau yang diperjuangin gak ngebolehin?” tanggapnya sendu. “Terus? Udah segitu doang? Ibaratnya lu udah siap mau perang terus lawan lu lagi gak mood dan lu nurut aja gitu” Ezra geram melihat kelakuan Nataka yang selalu pesimis “Harusnya lu lebih gencar buat perang mumpung lawan lagi lengah” sambungnya. “Ini kan bukan perang” Nataka masih memandangi jalanan di luar. Tangan Ezra sudah ingin meraih kepala Nataka untuk menarik rambutnya, namun ia urungkan “Pokoknya kalau lu masih lembek begini kalau ngomongin Nayyira beneran gua suruh pergi dari hidup Nayyira” ancam Ezra yang sudah terlalu kesal. Nataka mengangguk “Gua harus punya keberanian Bang buat deket lagi sama Nayyira” jawabnya “Gua merasa gua terlalu pengecut buat dia” Sambil memegang kemudi, Ezra mengacungkan jempol “Bagus kalau sadar lu pengecut, cuma gua kan gak mau punya temen pengecut makanya lu harus bisa usahain buat Nayyira” Nataka kembali menganggukkan kepalanya, lalu hening meliputi mobil Ezra sampai mereka tiba di depan sekolah. Secara kebetulan mereka datang berbarengan dengan Azriel dan Nayyira. Kini Ezra menatap Azriel seakan memberitahu jika dia telah meminta Nataka untuk menjauhi Nayyira.
212 “Gua boleh ngomong gak, Nat?” cegah Azriel saat Nataka ingin berlalu. Nataka menahan langkahnya “Boleh, Bang” “Okey, tunggu gua ya di depan kelas lu” Nayyira merasa heran, apalagi yang Azriel ingin katakan pada Nataka? Bahkan dirinya sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi. Tidak ingin terlihat seperti memperdulikan urusan mereka, Nayyira pergi tanpa sepatah kata pun. “Flo, tadi Bang Iel bilang kalau dia mau ngobrol sama Kak Nataka” bisik Nayyira, karena saat ini ada Alina di belakangnya “Kira-kira mau ngomongin apa ya?” Floella mendekat ke telinga Nayyira “Lu yang disitu aja gak tau, apalagi gua yang daritadi udah di kelas?” Nayyira memasang wajah merajuk “Gak bisa diajak diskusi ni orang” Tentu saja Floella tahu apa yang ingin dibicarakan Azriel, tapi Floella tidak akan memberitahu pada Nayyira. Di waktu yang bersamaan, kini Azriel sudah duduk bersama Nataka menunggu timing yang pas untuk memulai pembicaraan karena tanpa diduga suasana saat ini cukup ramai. “Kayanya disini gak cocok deh buat ngobrol, kita geser tu ke depan ruang lab aja” ucap Azriel menepuk punggung Nataka menyuruhnya untuk bangun.
213 Nataka menuruti ucapan Azriel tanpa berkata-kata. “Mau ngomong apa Bang?” Nataka sudah merasakan tidak enak dalam dirinya, sudah pasti ini menyangkut Nayyira. “Lu yakin masih mau sama Nay?” Betul dugaan Nataka, kini ia bisa menilai bagaimana Azriel benar-benar melindungi Nayyira. Nataka menjawabnya hanya dengan anggukkan, sudah habis tenaganya untuk menanggapi hal tentang Nayyira walau di dalam hatinya tetap ingin bersama dengan Nayyira. “Mungkin lu kira omongan gua terakhir kali itu boongan ya, Nat?” tanya Azriel membahas tentang bagaimana ia memperingatkan Nataka jika ia tidak akan mendukung Nataka terus-menerus “Gua kayanya udah capek untuk bantu dan ngeyakinin lu kalau semuanya baik-baik aja” Nataka terdiam, merenungi kata-kata Azriel. “Gua udah berdamai sama diri gua, bahkan gua udah nyoba untuk memaklumi semua kelakuan lu” Azriel sepertinya memiliki bakat jika membuat orang merasa terpojok “Gua tau hubungan lu sama Jasmin bukan sekedar temen biasa” Tidak ada reaksi dari Nataka, kini ia seperti tersangka yang tertangkap basah “Gua sayang Bang sama Nayyira” hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Nataka. “Gua tau, berkali-kali lu bilang itu ke gua” Azriel kembali merendahkan nadanya “Tapi gua mau lu ada usaha, Nat”
214 “Tapi Nayyira gak mau, Bang” Azriel ikut dibuat geram dengan jawaban Nataka “Bingung gua nanggepin lu harus gimana lagi” jawabnya menahan emosi “Kalau Nay nanti jadian sama Kenzie jangan nyesel” bisiknya seakan memprovokasi Nataka. “Gak! Gak boleh” jawab Nataka menggeleng kuat. “Makanya usahain buat Nay” itu ucapan terakhir Azriel sebelum meninggalkan Nataka merenung sendiri. Selama jam pelajaran berlangsung, Nataka tidak memperhatikan sedikit pun karena kini fikirannya sudah tersita dengan ucapan Ezra dan juga Azriel. Jika ingin berterus terang, Nataka juga ingin berjuang untuk mendapatkan Nayyira kembali, namun ketika Nataka bertemu dan bertatap mata dengan Nayyira rasanya seperti tidak ada kesempatan lagi untuknya. Hingga waktu istirahat tiba, Nataka bertemu dengan Floella di tangga saat ingin menuju ke kantin. Floella menghalangi jalannya Nataka, membuat Nataka menatap Floella. “Boleh gak ngobrol berdua?” Floella membuka suara seakan mengerti dengan tatapan Nataka. “Mau ngomongin Nayyira kan?” tebak Nataka “Ayo, sekalian ke kantin bareng” Floella merasakan kebingungan, tidak pernah ia berbicara empat mata dengan Nataka apalagi harus membicarakan hal yang serius seperti ini, namun demi Nayyira maka Floella menyanggupinya.
215 Nataka berjalan di sebelah Floella, masih dalam bayang-bayang ucapan Ezra dan Azriel “Flo, lu mau nyuruh gua buat ngelepas Nayyira juga ya?” Rasanya Floella ingin kembali ke kelas, lidahnya mendadak kelu melihat wajah Nataka yang memelas bahkan nada bicaranya sangat lesu “Makan aja dulu, lu kaya orang belum makan tiga hari” ledek Floella mengalihkan pembicaraan sementara. Nataka menggeleng “Bener kan dugaan gua?” “Bukan nyuruh lu buat lepasin Nay, Kak” Floella menampik persepsi Nataka “Cuma kita tuh pengen lu lebih ada usaha buat Nayyira” “Tapi dari Nayyira nya aja gak ada keinginan buat balik lagi sama gua, Flo” lawan Nataka “Gua udah usaha ketemu dia, ngajak untuk mulai lagi semuanya tapi dia nolak” Kini Floella tidak tahu harus bagaimana, bahkan sekarang ia berfikir cara Ezra dan Azriel bisa tega menyuruh Nataka untuk menjauhi Nayyira “Pelan-pelan aja, Kak” saran Floella “Mungkin Nayyira juga harus butuh waktu untuk memulihkan dirinya sendiri” “Menurut lu, gua harus lepasin Nayyira?” Floella terdiam sejenak “Kalau lu merasa udah cukup sampe sini aja, yaudah gak usah dipaksain” Nataka justru semakin ragu dengan jawaban Floella, tanggapan yang berbeda dari dua temannya yang lain.
216 “Itu aja sih kayanya yang mau gua omongin ke lu, Kak” ucap Floella “Kalau emang ragu sama perasaan lu, ya berarti emang lu harus paksain Nayyira” kini Floella meninggalkan Nataka sendiri, sama seperti Azriel pagi tadi. Satu hari ini betul-betul membuat Nataka sakit kepala, seperti seluruh dunia memintanya untuk pergi dari Nayyira sedangkan hatinya tidak ingin. Nataka saat ini tengah menunggu Kenzie menjemputnya. “Bang” panggil suara yang sangat tidak asing bagi Nataka “Lesu banget orang baru pulang sekolah” ledek Kenzie. “Pusing gua, Ken” jawab Nataka yang masih tersenyum walau tipis. Kenzie bisa merasakan ada yang sedang mengganjal dalam diri Nataka, ia tidak ingin menanyakannya saat ini karena menurutnya situas yang tidak tepat. “Gua lepasin Yira aja kali ya?” tanya Nataka bahkan sebelum Kenzie berniat untuk menanyakannya. Kenzie mengernyitkan dahinya “Kenapa? Lu udah gak suka sama Kak Yira?” Nataka terlihat mengusap wajahnya “Tapi Bang Azri, Bang Ezra bahkan Flo seakan nyuruh gua untuk mundur dan menjauh dari Yira” Sebetulnya Kenzie harus berpihak pada ketiga orang yang disebut Nataka itu, tapi ini adalah masalah hati Abangnya. Kenzie
217 harus memihak pada Nataka “Bang, pulang nanti lu harus ngumpulin keberanian lu untuk dapetin Kak Yira” sarannya. “Tapi Yira gimana? Apa dia masih mau deket sama gua lagi?” Kenzie mengangguk “Gua yakin kali ini Kak Yira pasti mau, percaya sama gua” jawabnya mantap “Gua kan Adeknya Kak Yira” ledek Kenzie untuk mencairkan suasana. Nataka tersenyum “Jadi gitu ya? Gua udah jadi nomor dua ya?” Tanpa berfikir panjang Kenzie mengangguk mengiyakan pertanyaan Nataka. Tidak dipungkiri jika Kenzie memang sangat mengharapkan jika Nataka dan Nayyira bersatu kembali.
218 Fall for You “Yira… sini liat aku dulu” “Apa sayang?” “Ih asik dipanggil sayang” “Iya, kan Kak Nata kesayangan aku” Mimpi yang sama terus mendatangi Nayyira, sesuai dugaan Nayyira sosok dalam mimpi yang memanggil Yira itu adalah Nataka. Tapi bukankah hanya mimpi belaka? Saat ini hubungan antara keduanya tidak bisa dianggap baik-baik saja. Jujur saja, Nayyira merindukan Nataka. Sudah hampir berjalan dua minggu berlalu Nataka mengisinya dengan banyak merenung, memberanikan diri mengambil keputusan perihal dirinya dan juga Nayyira. Ini akan menjadi keputusan terakhir bagi Nataka, apapun hasilnya nanti sudah dipastikan tidak ada penyesalan dalam dirinya. Nataka meminta Azriel untuk mempertemukan dirinya dengan Nayyira, kini dirinya sudah bersiap mengambil resiko atas masalah yang sudah ia sebabkan sampai mengorbankan Nayyira. Dengan senang hati Azriel masih membantunya, mengharapkan keberanian Nataka untuk menyelesaikan segalanya. Azriel mengajak Nayyira untuk ikut dengannya, tentu saja Azriel tidak memberitahukan pada Nayyira jika ada Nataka disana. Tidak hanya Azriel, ada Ezra, Kenzie dan juga Floella yang akan hadir disana. Terakhir kali Nayyira memutuskan untuk mengakhiri semuanya dihadapan mereka, kini Nataka juga harus memutuskan keputusannya dihadapan mereka pula.
219 “Ken, sorry ya kalau emang nantinya gak sesuai sama yang lu pengenin” ucap Nataka tepat sebelum mereka menuju tempat yang sudah dijanjikan “Gua tau banget kok kalau lu pengen gua sama Yira bersatu, tapi gua harap lu hargain gua dan Yira ya” Entah kenapa Kenzie merasakan gelisah dan sesak, saat ini ia seperti mengkhawatirkan Nataka “Lu udah berusaha yang terbaik, lu masih ada gua, Bang” Sementara itu Nayyira sudah berada di tempat yang dimaksud oleh Azriel, tidak ada kecurigaan apapun dalam benaknya sampai Ezra dan Floella datang secara bersama “Ada apa nih?” selidiknya. “Ngumpul aja, biasanya juga begini” jawab Ezra. Nayyira tidak semudah itu percaya dengan jawaban Ezra “Tumben ada Flo, apalagi kalian datengnya barengan” tanggap Nayyira “Atau jangan-jangan kalian jadian ya?” Floella secara spontan memukul Nayyira “Jangan sembarangan ngomongnya ya, kita ketemu di parkiran kebetulan datengnya juga barengan” omel Floella. Azriel masih membayangkan apa yang akan diputuskan oleh Nataka, apakah ini akan menjadi hal yang sulit bagi Nayyira mengingat dalam dua minggu terakhir tidak ia temukan diri Nayyira yang biasanya. Nayyira terlihat bahagia, tapi Azriel tahu itu semua hanya untuk menutup kesedihan saja. “Abang, ada apa sih sebenernya?” Nayyira sudah mulai merasakan ada hal yang tidak biasa.
220 “Nataka mau ngomong” jujur Azriel, karena ia tidak bisa menutupinya lagi. Nayyira kini menegang, apalagi yang ingin Nataka bicarakan padanya? Apalagi di depan temannya. “Apapun nanti yang Nataka omongin jangan dibantah, dia butuh kamu dengerin, kamu hargai, kamu terima” pesan Azriel, ia melihat jika Nayyira terlalu sering menampik pengakuan dari Nataka dan itu menjadi penyebab semakin rumitnya permasalahan mereka. Tanpa bicara Nayyira mengangguk setuju dengan permintaan Azriel, ia juga menyiapkan diri jika memang Nataka mengiyakan keinginannya untuk mengakhiri segalanya. Nayyira akui jika itu hanya emosinya semata, Nayyira harap jika Nataka tidak menganggapnya sebagai perkataan yang serius. Nataka datang bersama Kenzie, seperti biasa ketika bertemu Nayyira ada perasaan bersalah dalam diri Nataka sementara Kenzie sudah sangat menampakkan wajah bahagianya melihat Nayyira. “Kak Yira, jangan marah ya sama Abang” bisik Kenzie yang semakin membuat Nayyira yakin jika Nataka memang ingin menyetujui perkataannya hari itu. “Nih udah gua bawa Nayyira, mau ngomong apa?” tanya Azriel membantu Nataka mengutarakan apa yang ingin dibicarakan “Perlu ditinggal berdua gak?”
221 Nataka menggeleng “Gua mau kalian semua tau apa yang gua omongin ke Nayyira” jawabnya “Gimanapun juga kalian yang udah ngebuka mata dan hati gua untuk sampe memutuskan ini semua” Semakin banyak basa-basi dari Nataka, semakin gelisah Nayyira. Azriel menggenggam tangan Nayyira seakan mengisyaratkan semuanya akan baik-baik saja. “Lu udah mikir bener-bener gak, Nat?” Ezra mencoba meyakinkan namun malah semakin mengulur waktu. Secara yakin Nataka mengiyakan pertanyaan Ezra “Ini udah jadi keputusan terakhir gua” “Duh bentar, gua mules banget nunggunya” kini Ezra benarbenar membut Nayyira semakin gelisah “Nat, yakin gak lu heh?!” “Diem kenapa, Kak” Floella pun gatal ingin menutup mulut Ezra yang terus berbicara hal yang tidak penting. Nataka menghembuskan nafasnya kasar “Yira” panggilnya yang membuat Nayyira tersentak, ini kali pertama Nataka memanggilnya dengan nama yang biasa ia sebut saat berdua “Aku harap kamu terima dengan baik keputusan aku” Nayyira mengeratkan genggaman tangannya pada Azriel “Apapun itu aku yakin Kakak udah fikirin secara matang” “Iya, keputusan ku memang mutlak” jawab Nataka yang tidak melepaskan pandangannya pada Nayyira “Semakin aku memaksakan diri untuk menampik, ternyata aku semakin yakin sama keputusan ini”
222 Rasanya saat ini juga Nayyira ingin pergi dari hadapan Nataka, lebih baik ia tidak mendengar hal yang tidak ia inginkan. Nataka merasakan dingin di jemarinya “Yira, di depan temen aku, temen kamu, Adik aku dan juga Abang kamu, aku gak bisa terima sama perkataan kamu hari itu” Perkataan Nataka membuat heran semuanya, terutama Nayyira. Jadi apa yang diinginkan Nataka? “Aku gak mau udah sampe sini aja sama kamu” jelasnya “Kalau kamu emang gak setuju sama keputusan ini aku gak masalah, tapi aku tetep dengan apa yang udah aku fikirkan selama dua minggu ini” tambahnya. “Duh lu jadi maunya gimana nih, Nat?” Ezra masih tidak mengerti apa maksud Nataka. Nataka melirik Ezra sekilas lalu mengalihkan pandangannya lagi pada Nayyira “Aku gak akan minta kesempatan lagi sama kamu karena aku sadar kalau aku udah terlalu sering menyia-nyiakan kesempatan dari kamu, biar aku usaha lagi dari awal untuk dapetin hati kamu” Nayyira menahan air matanya untuk keluar, dapat ia rasakan ketulusan pada setiap kata yang keluar dari mulut Nataka “Kenapa sih harus pesimis begitu?” tanya nya dengan suara yang bergetar. “Itu cuma kesadaran diri aku aja, Yir” jawabnya “Gimanapun sikap kamu nanti ke aku, aku bakal terima”
223 “Gak akan ada yang berubah dari diri aku” kini Nayyira menanggapi segala ucapan Nataka tadi “Silakan Kak Nataka berusaha sejauh apapun, aku akan nunggu Kakak” “Duh tolong to the point aja maksudnya gimana” selalu ada Ezra yang menyela percakapan ini. Nayyira tidak memusingkan ucapan Ezra “Aku emang gak akan kasih kesempatan lagi ke Kakak, tapi kali ini aku pengen kita mulai semuanya dari awal” Kenzie sontak memukul pelan paha Nataka “Jadi Kak Yira bakal jadi pacar Bang Naka?” “Emang gitu, Ken?” tanya Ezra kini mencoba meyakinkan diri lewat Kenzie. “Nay mau maafin semua kejadian-kejadian gak enak yang melibatkan Nata?” Azriel memperjelas maksud Nayyira. Nayyira tersenyum “Semua itu bahkan akan aku anggep kaya gak pernah terjadi” jawabnya “Semakin aku coba untuk lupain Kak Nataka, semakin aku sadar kalau ternyata Kak Nataka udah jadi bagian dari hidup aku yang gak bisa aku lupain” Rasa senang meliputi Nataka “Aku gak tau harus bersyukur kaya apa dipertemuin sama kamu yang sebaik ini” “Kenal dari gua tuh” potong Azriel seakan mengingatkan pertemuan pertama Nayyira dan Nataka.
224 Floella memeluk Nayyira dari samping “Congrats ya Nay, sekarang Kak Nataka udah balik lagi ke lu” bisiknya. “Nat, awas aja lu ya kalau kali ini bikin masalah lagi” Ezra mencoba memperingati Nataka. “Gak akan, gua bakal selalu usahain Nayyira bahagia sama gua” jawabnya menatap mata Nayyira sambil tersenyum. Pagi ini sangat berbeda dari pagi sebelumnya, Nataka mengajak Nayyira untuk pergi bersama ke sekolah, tentu saja Nayyira dengan senang hati menerimanya. “Sekarang Abang merasa terlupakan tau gak?” ucap Azriel dengan gaya merajuknya. Nayyira terkekeh “Gak akan! Abang tetep jadi nomor satu buat aku kok, nanti deh kita pulangnya bareng” Azriel membuang mukanya “Mana percaya sama orang yang lagi jatuh cinta kaya kamu gini” “Udah ah, Kak Nata udah nunggu di depan” Nayyira berlari meninggalkan Azriel. Nataka akan selalu berusaha untuk menepati segala ucapannya pada Nayyira. Mulai saat ini, Nataka sadar jika mendapatkan Nayyira adalah kebahagiaan yang tidak akan ia dapatkan lagi dari wanita mana pun. Apa yang saat ini ia inginkan sudah ia miliki,
225 tugasnya hanya akan menjaga dan melindungi Nayyira dengan cara apapun. Nayyira pula mencoba untuk menerima Nataka kembali dengan alasan yang kuat, bukan untuk membuktikan pada Alina bahwa Nataka akan kembali padanya. Nayyira memang betul menyayangi Nataka, apapun masalah mereka di kemudian hari sudah dipastikan bahwa Nayyira tidak akan meninggalkan Nataka lagi.