The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Luthfia Amalia, 2023-03-09 12:09:46

Fall for You

By Jyeayash

50 Dan tidak lama mereka berdua sudah sampai pada tempat yang Ezra dan Azriel janjikan. “Nayyiraaaa” teriak Ezra excited Sementara yang namanya dipanggil hanya diam dan melihat orang yang di sebelah Ezra. “Dari tadi lu?” tanya Azriel duduk berhadapan dengan Ezra, dan membuat Nayyira duduk berhadapan dengan Nataka. “Pas gua telfon itu baru sampe kok” jawab Ezra “nay mau pesen apa? Tiramisu lagi? Suka kan?” kini semua mata tertuju pada Ezra lalu ke Nayyira bersamaan. “I…Iyaaa Kak, Tiramisu aja” jawab Nayyira canggung “Bang Azri” kini Nataka bersuara untuk pertama kalinya membuat Azri menoleh ke arahnya “Boleh gak gua yang anter Nayyira nanti?” Nayyira terkejut, lebih dari saat ia melihat Nataka bersama Jasmin tadi siang “Aku sama Abang aja Kak” tolak Nayyira. “Tapi kamu bener mau sampe tengah malem atau malah besok baru pulang” jelas Azriel pada Nayyira, karena jika Azriel main dengan Ezra sudah pasti tidak ingat waktu. “Hah?” Nayyira terkejut apalagi saat ini ia memakai pakaian yang tidak memungkinkan untuk menginap.


51 “Ya kan makanya Mama bilang kalau gak pulang kabarin, Abang juga udah bilang pake baju biasa aja” jelas Azriel lagi mengusap wajahnya “Jadi mau ikut sampe pagi apa pulang sama Nataka?” Nayyira niatnya ikut pergi dengan Azriel untuk melupakan kejadian siang tadi, bukan tambah memperumit fikirannya seperti ini “Ya liat nanti aja” jawab Nayyira akhirnya. Waktu berlalu dengan cepat, tidak terasa sudah pukul 00:30 dan Nayyira kini sedang melawan kantuknya. Kepala Nayyira sudah terasa berat bahkan ia menyanggah dengan tangannya. Melihat tingkah Nayyira tanpa sadar Nataka tersenyum menahan tawanya. Nataka pun memberitahukan Azriel bahwa Nayyira mengantuk kemudian Azriel meletakkan kepala Nayyira pada bahunya. “Jangan dibangunin, ntar pusing kepalanya” jelas Azriel tanpa ditanya. Namun tidak lama berselang, Nayyira tersadar walau masih dengan mata yang super mengantuk “Abang, belum mau pulang?” tanya Nayyira bersuara pelan. “Sama Nataka mau?” tanya balik Azriel Nayyira yang posisinya sangat mengantuk mau tidak mau mengiyakan, lagi juga kakinya kini sangat dingin dan ia hanya ingin cepat sampai ke rumahnya.


52 “Tolong ya Nat, sorry ngerepotin tapi kalau lu udah gak kuat ngendarain tidur di kamar gua aja” ucap Azriel pada Nataka. “Ntar gua nyusul dah” tambah Ezra karena Ezra merasa Nataka tidak enak kalau menginap sendiran di rumah Azriel. Setelah mendengar perkataan Ezra, Nataka mau menginap di rumah Azriel. “Gua udah bilang ke Mama gua kok” jelas Azriel sambil membantu Nayyira bangun dan memapahnya berjalan menuju mobil Nataka. Ezra mengikuti dari belakang “Ni orang ngiranya si Nay lagi mabok ni” celetuknya. “Ssssstt diam” ucap Nayyira berbalik badan menunjuk ke arah Ezra. “Iya diam iyaa” Azriel menarik kembali Nayyira dalam rengkuhannya “Kalau kamu kaya gitu orang bakal beneran ngira kamu lagi mabok Nay” tambahnya. Nataka sudah membukakan pintu untuk Nayyira dan bergegas pergi meninggalkan Azriel dan Ezra yang masih ingin disana. “Hati-hati”


53 Try to Trust You Kini Nataka telah di depan rumah Nayyira, mencoba untuk membangunkan Nayyira namun ia membeku melihat wanita di depan matanya tengah tertidur menghadap dirinya. “Yira” panggilnya pelan mencoba meraih rambut Nayyira. Merasa ada suara yang memanggilnya, Nayyira terbangun perlahan, ada rasa terkejut saat melihat Nataka tengah memandangnya “Kak, maaf aku ngantuk banget” ucapnya mencoba menjauh. “Tadi gua baru mau bangunin, cuma lu udah bangun duluan” tanggap Nataka “Oh iya Bang Azri nyuruh gua nginep disini, boleh gak nih sama lu?” “Hah? Nginep? Di kamar Bang Iel?” Nataka mengangguk “Boleh kan?” “Bo..bolehhh, udah malem juga” jawab Nayyira sambil melihat jam di ponselnya. Keheningan pun muncul di dalam mobil yang berisikan Nataka dan Nayyira. Mereka sibuk dengan fikiran masing-masing, entah kenapa Nayyira tidak langsung keluar dari mobil Nataka, begitupun Nataka yang tidak mempersilakan Nayyira untuk menyambung tidurnya di kamar. “Yir” Nataka memecah keheningan “Masalah tadi siang itu…”


54 “Kak masuk aja yuk, aku juga mau kunci gerbang sama pintu” potong Nayyira seakan paham kemana arah Nataka akan berbicara, tentu saja Nayyira tidak ingin mendengarnya. Nataka pun menurut, ia ikut keluar dari mobil menunggu Nayyira yang mengunci gerbang dan mengikuti Nayyira masuk ke dalam rumah. “Kak, kalau mau ganti baju pake baju Abang aja ya” ucap Nayyira saat berjalan menuju kamarnya. Nataka diam, seakan seperti mengiyakan ucapan Nayyira. “Anggep aja kaya kamar sendiri, Abang gak keberatan kok” tambah Nayyira mencoba menghilangkan kecanggungan. Nataka menoleh ke arah Nayyira yang saat ini berjalan di sebelahnya “Besok lu kemana?” Nayyira menggeleng “Gak kemana-mana” mencoba memperjelas makna dari gerakannya. Nayyira sudah berada di depan kamarnya, begitupun Nataka yang di depan kamar Azriel. “Oh iya Kak, aku gak bohong kalau aku besok gak kemana-mana” ucap Nayyira yang langsung masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Nataka. Nataka paham betul maksud ucapan Nayyira, seakan menyindir Nataka karena Nataka ketahuan berbohong oleh Nayyira.


55 Sinar matahari sudah memasuki kamar Azriel melalui celah jendela, Nataka yang semalam tidur di kamar Azriel pun terbangun dan melihat Azriel yang tertidur di sofa panjang di depan ranjangnya. “Bang” panggil Nataka sambil menggoyangkan badan Azriel. Azriel mencoba membuka matanya sebelah “Apa?” jawabnya dengan suara berat, khas orang baru bangun tidur. “Gua numpang mandi ya” Azriel yang belum punya kekuatan yang cukup hanya mengangguk, mempersilakan Nataka untuk memakai kamar mandinya. Dengan cepat Nataka bergegas untuk mandi, karena itulah kebiasaan Nataka. Jika sudah bangun, maka ia langsung mandi. Lain cerita dengan Nayyira, seperti saat ini ia sudah bangun 30 menit yang lalu tapi masih berbaring dan bermain ponselnya. Baginya hari libur harus dimanfaatkan bersama kasurnya. Namun ada ketukan pintu dari luar kamar Nayyira, dengan malas ia membuka pintunya dan Mama lah yang ternyata mengetuknya. “Kenapa Ma?” Mama melihat ujung kepala sampai ujung kaki Nayyira “Kamu gak ganti baju dari luar semalem?”


56 “Ngantuk Ma” Mama hanya bisa menggeleng “Bangunin gih Abang kamu tuh, bilang kalau Papa pulang hari ini” Nayyira tegas menolak “Gak Ma! Gak!! Mama aja yang bangunin” “Nay, di dalem ada temen Abang kamu gak enak ah Mama” Mama pun menolak. “Ya apalagi aku Ma” timpal Nayyira. Disaat perdebatan dua wanita di dalam rumah itu terjadi, muncul Ezra yang habis mandi di lantai bawah menyapa Nayyira dan Mama tanpa tau apa yang sedang terjadi. “Nah tuh Kak Ezra aja yang bangunin” ucap Nayyira yang membuat Ezra terkejut. “Apa nih?” Ezra seperti merasa akan menjadi korban sebentar lagi. Mama tersenyum melihat Ezra “Zra tolong bangunin dan bilangin Azriel kalau Papa nya pulang hari ini” Ezra lega, ini bukan hal yang susah “Okeh Tante, Ezra sekalian pamit ya” “Loh kok pamit?” tanya Mama mengerutkan keningnya “Kamu disini aja sama Nataka, nanti kita keluar pergi makan-makan”


57 “Ma” bisik Nayyira yang lagi lagi harus bertemu Nataka lebih lama. “Gak usah Tante, nanti kita jadi ngerusak quality time nya” tolak Ezra basa-basi. Mama pun tertawa “Engga, Papa pasti seneng ketemu kamu lagi sama Nataka” “Yaudah Ezra bangunin Azriel ya, Tante” ucap Ezra lalu meninggalkan Nayyira dan Mama yang kembali berdebat. “Ma kok ajak Kak Nataka sih” Mama menatap Nayyira “Kenapa sih memangnya Nay?” “Gak tau ah, aku mau mandi dulu” ucap Nayyira merengut. Entah bagaimana Nayyira harus bersikap untuk menghadapi momen momen bersama Nataka hari ini, kalau Nayyira menolak adanya Nataka maka ia tidak enak dengan keluarganya dan Ezra karena seakan menolak keberadaan orang lain yang merupakan teman Abangnya. Tapi jika Nayyira diam saja, rasanya semakin kalut untuk melihat Nataka lebih lama. Sementara Ezra yang kini berbaring di ranjang Azriel dan membiarkan Azriel tertidur tengah memainkan ponselnya, tidak lama Nataka pun keluar dari kamar mandi dengan baju yang ia gunakan semalam. “Eh Bang udah bangun” ucap Nataka yang baru melihat Ezra “Semalem tidur dimana?” jika diingat memang Nataka tidak melihat Ezra sejak ia bangun tadi.


58 “Di bawah, enak disitu” jawab Ezra melihat Nataka sekilas “Eh lu pake baju Ajri yang lain aja” “Loh kenapa?” “Mama nya Ajri ngajak kita makan di luar, soalnya Papa nya Ajri pulang hari ini” jelas Ezra “Papa nya Ajri emang gitu suka keluar kota lama” tambahnya lagi. “Emang boleh sama Bang Azri?” Ezra malas menjelaskannya, ia menendang punggung Azriel pelan “Jri bangun, bapak lu balik tu” Azriel yang mendengar ucapan Ezra langsung terperanjat “Tau darimana lu?” “Ya Mama lu lah ngasih tau, katanya mau pada makan di luar gitu” jelas Ezra tanpa memandang Azriel. Azriel langsung bergegas mengambil handuk dan mandi, ia sangat tidak sabar untuk bertemu Papa nya. Sebelum ia masuk kamar mandi, ia melihat dua temannya lagi “Kalian ikut kan pergi makannya?” Ezra hanya mengangguk. “Nat, pake baju gua aja masa pake baju yang semalem” ucap Azriel sesaat sebelum menutup pintu kamar mandi. “Tuh kan pake baju Ajri” Ezra memang sangat mengenal Azriel dengan baik “Gua aja pake baju Ajri”


59 Nayyira saat ini sedang duduk di belakang rumahnya, merenung menikmati pagi yang menjelang siang itu. Untuk ketiga kalinya, Nataka berada di hadapan Nayyira saat Nayyira sedang duduk menyendiri “Yira” panggil Nataka. “Iya, kenapa Kak?” jawab Nayyira dengan nada datar, lalu melihat ke arah lain. Nataka duduk di sebelah Nayyira “Lu kenapa ke gua sih? Ngehindar gitu” Bagi Nayyira tentu saja itu pertanyaan aneh “Engga, biasa aja” “Yir, gua pergi itu mendadak diajak Jasmin” ucap Nataka tibatiba, membuat Nayyira menoleh ke arahnya. “Kak” Nayyira menatap lekat mata Nataka “Aku gak mau tau sama sekali” sambungnya. “Gua tau Yir, lu kesel sama gua karena kesannya gua bohong ke lu tapi tolong lah itu juga Jasmin yang ajak pagi-pagi ya gak enak kalau harus nolak kan gua udah temenan lama sama dia” jelas Nataka tidak ingin kalah. “Please Kak, itu bukan urusan aku” Nayyira sudah mendapatkan jawaban yang tanpa ia tanyakan, tapi bukannya senang karena Nataka faham apa yang diresahkan oleh Nayyira tapi malah ada rasa kesal dalam hatinya.


60 Nataka mendekatkan wajahnya pada Nayyira, memandang Nayyira dalam “Terus apa alasan lu tiba-tiba jaga jarak ke gua dari pas main semalem sampe detik ini?” “Apa hubungan Kakak sama Jasmin?” pertanyaan itu keluar begitu saja. “Yir, gua udah bilang sama lu kalau dia cuma temen lama gua” jawab Nataka tegas “Gua mau Yir deket sama lu, gua mau ngenal lu lebih jauh” sambungnya. Membuat jantung Nayyira bergedup kencang “Engga Kak, aku gak yakin sama hubungan Kakak dan Jasmin” Nataka mengusap wajahnya “Percaya sama gua Yir, itu doang pinta gua” “Yaudah jaga jarak sama Jasmin kalau kaya gitu” ucap Nayyira menantang. Nataka tersentak kaget, ada jeda untuk menjawabnya “Iya oke” jawabnya singkat “Jadi boleh ni gua mau deket sama lu?” Nayyira mengangguk dan tersenyum “Kakak ikut kan pergi sama Mama Papa aku?” “Iya dong”


61 Need Clarity from You Nayyira melewati hari-harinya dengan bahagia bersama Nataka, walau ia sadar betul hubungannya saat ini tidak jelas hanya sekedar saling mengenal tapi Nayyira dan Nataka sudah mengungkapkan apa yang mereka rasakan satu sama lain. Nayyira juga jadi sering ikut Azriel jika ingin pergi dengan Ezra karena sudah dipastikan kalau Nataka akan ikut juga. Tentu saja Azriel dan Ezra tidak curiga dengan tingkah mereka berdua. Bahkan tidak ada satu orang pun yang mengetahui kedekatan mereka. Saat ini Nayyira sedang berjalan sendiri menaiki tangga sekolahnya dengan senyum lebarnya karena ia bertemu sebentar dengan Nataka di lantai dua. Namun saat ia akan menginjakkan kaki di anak tangga terakhir di lantai tiga, ia bertemu dengan Jasmin yang ingin turun. Nayyira mencoba untuk tidak peduli dengan keberadaan Jasmin, karena ia mengira Jasmin tidak akan mengingat mereka pernah bertemu. “Kamu itu temen Ivy kan ya?” ucap Jasmin sesaat setelah melewati Nayyira. Merasa diajak bicara, Nayyira menoleh ke belakang “Iya” singkat saja, bagi Nayyira berbicara dengan Jasmin hanya akan membuat dirinya kesal dan ia takut Nataka lah yang akan menjadi korbannya. “Oh kita satu sekolah ternyata” Jasmin dengan muka senang menaiki tangga lagi agar sejajar dengan Nayyira “Aku Jasmin” ucapnya mengulurkan tangan “Jasmin Kamaniya Permadita”


62 “Nayyira” ucap Nayyira yang masih belum membalas uluran tangan Jasmin. “Aja?” “Nayyira Grizelle Zanitha” timpal Nayyira yang baru mengulurkan tangannya juga “Oh iya, gua mau ke kelas ya” “Oh iya aku mau ke lantai 2 juga sih ni” jawab Jasmin yang masih menunjukkan senyum sumringahnya. Tanpa banyak bicara Nayyira pergi lebih dulu meninggalkan Jasmin “Kenapa deh harus banget nyebut nama panjang” gerutu Nayyira dengan suara pelan lalu ia mengeluarkan ponselnya. Datang dengan wajah merengut membuat Floella bertanya-tanya ada kejadian apa yang menimpa sahabatnya itu, namun sepertinya Floella enggan menanyakannya karena Nayyira adalah tipe yang akan bercerita dengan sendirinya. Nayyira teringat dengan ucapan Jasmin yang katanya akan pergi ke lantai dua, bertemu dengan siapa? Kenapa Nayyira berfikir yang bukan-bukan? Apakah ia harus melihat ke lantai dua? Ah tidak, tidak perlu itu hanya akan membuat keributan di hatinya saja. Nayyira Aku sebel tadi ketemu Jasmin di tangga Nataka Kenapa emang sayang?


63 Iya betul, Nataka dan Nayyira sudah memanggil kata “sayang” satu sama lain. Itu terjadi begitu saja, mereka sama sekali tidak canggung untuk menyebut kata “sayang” Nayyira yang membaca pesan itu sedikit berfikir kalau yang ditemui Jasmin bukan Nataka karena Nataka adalah orang yang jarang memegang ponsel jika bersama dengan orang. Rasa hati ingin keluar kelas untuk melihat suasana pagi di sekolah yang tidak membosankan bagi Nayyira, jika ia beruntung bisa saja ia melihat Nataka di lantai dua. Baru saja Nayyira memegang pembatas di depan kelasnya, ia melihat Nataka seorang diri. Betul kan, Jasmin tidak menemui Nataka? Nampak senyuman dari sudut bibir Nayyira sambil memandang Nataka. Namun tidak berapa lama, Jasmin datang menghampiri Nataka membawakan minuman untuk Nataka. Mereka berbincang-bincang sambil tertawa lepas. Lagi!!! Nayyira melihat kejadian ini untuk kedua kalinya. Tes… Air mata Nayyira jatuh tanpa sadar, senyuman yang Nayyira ada kini hilang begitu saja dengan sekejap. Harus percaya seperti apa lagi kepada Nataka? Nayyira faham betul jika ia tanyakan tentang hubungan Nataka dan Jasmin lagi, maka hanya akan ada pergaduhan Nayyira Dia nanyain nama aku


64 antara ia dan Nataka, ia juga takut jika Nataka menilai dirinya posesif jika diingat mereka tidak memiliki hubungan apa-apa. Seberapa kali pun Nayyira tanyakan tentang Jasmin pada Nataka, maka yang ia dapatkan selalu sama “Dia adalah teman lama ku” itu saja. Kini Nayyira sudah tidak mengerti harus bagaimana, namun ia yakin bahwa Nataka dan Jasmin memang betul bersahabat, ia tau Nataka tidak akan membohonginya. Ini hanya kecurigaan berlebih bagi Nayyira. Namun mengapa rasanya begitu sakit? Ternyata mendapatkan niat baik dari Nataka yang ingin mengenalnya tidak membuat Nayyira merasa bahagia. Nayyira betul-betul tidak ingin berkomunikasi dengan Nataka saat ini, ia ingin menenangkan dirinya. Menyadarkan diri bahwa ia bukan siapa-siapa bagi Nataka, maka ia harus bersikap sesuai dengan siapa dia bagi Nataka. “Nay masuk lu, pagi-pagi bengong aja” panggil Floella menghampiri Nayyira duduk “Eh lu nangis? Kenapa?” kini Floella merendahkan suaranya, agar tidak perlu banyak orang memperhatikan Nayyira. “Flo” ucap Nayyira dengan suara bergetarnya “Gua harus apa?” sambungnya sambil menenggelamkan wajahnya di leher Floella. Nataka Terus kenalan dong?


65 “Ssssttt jangan nangis disini, malu diliat orang” Floella mencoba memeluk Nayyira sesekali tersenyum ke teman-temannya yang lewat. Floella membawa Nayyira ke toilet siswa, disana sering kali sepi jadi Nayyira bebas bercerita apa saja pada Floella. “Coba cerita kenapa? Karena siapa? Ribut sama Abang lu?” banyak pertanyaan yang ada di kepala Floella. “Kak Nataka, Flo” Nayyira yang masih bergetar, mencoba untuk menceritakan apa yang saat ini ia alami “Gua deket sama Kak Nataka” Floella mencoba mengingat wajah Nataka “Yang temen Bang Azriel? Yang lu liat sama cewek di lantai tiga?” pertanyaan salah kini keluar dari mulut Floella. Nayyira tau betul siapa yang dimaksud Floella, Nayyira kembali menangis tersedu-sedu. “Ih kenapa nangis? Harusnya kan seneng” “Gua minta dia buat jaga jarak sama cewek itu kalau iya memang mau deket sama gua dan dia setuju” “Then?” Nayyira mencoba mengatur nafasnya, ia tidak bisa terus menerus menangis, rasanya sesak di dada “Dari hari pertama dia setuju itu gua sama sekali gak pernah liat dia naik lagi ke lantai tiga nemuin Jasmin tapi hari ini malah Jasmin yang ke lantai dua”


66 “Cewek itu namanya Jasmin? Jadi intinya sekarang malah Jasmin yang nyamperin Nataka Nataka itu?” Floella mencoba memperjelas maksud dari cerita Nayyira. “Gua jadi mikir Kak Nataka sengaja gak ke lantai tiga biar kesannya dia bener-bener jaga jarak sama Jasmin tapi nyatanya engga” Nayyira tidak bisa menyembunyikan kisah cintanya dengan Nataka lagi pada Floella, ini sangat berat untuk ia tahan sendiri. “Tapi kan Nay inget gak pas lu liat Jasmin sama Kak Nataka di lantai tiga? Lu sendiri yang bilang kalau yang berdua itu belum tentu lagi ngegebet atau jadian Nay” ucap Floella mencoba menenangkan Nayyira. “Iya tau, tapi gak tau kenapa gua gak tenang aja kalau udah Jasmin sama Kak Nataka gitu” Floella faham betul kenapa Nayyira merasakan hal sesakit itu, Nayyira menyayangi Nataka bukan untuk main-main “Udah gak usah nangis, tanyain lagi sama Kak Nataka nya, pastiin lagi” hanya itu saran dari Floella. Hanya tersisa suara nafas berat Nayyira dari sisa tangisnya yang sesekali masih mengeluarkan air mata. Tanpa Floella dan Nayyira sadari Jasmin masuk bersama dua teman lainnya. “Loh Nayyira? Kita ketemu lagi” ucap Jasmin dengan semangat. Mood Nayyira benar-benar hancur saat ini, ia hanya tersenyum tipis pada Jasmin. Sementara Floella memandangnya dengan datar lalu tanpa sepatah kata apapun ia menarik tangan Nayyira meninggalkan Jasmin yang masih memandang Nayyira.


67 “Lu jangan lemah deh Nay, lawan tu si Jasmin! Dia aja bisa mepet-mepet sama Nataka, ya lu juga harus bisa lah!” ucap Floella yang masih menarik tangan Nayyira “Mana sini hp lu” Floella merogoh saku Nayyira mencari ponsel. “Mau apa?” “Nih orang ngechat gak lu bales” siapa lagi kalau bukan Nataka yang Fleolla maksud. Nayyira menggeleng “Takut gua jadi emosi” Floella menghela nafasnya “Yaudah gak usah dibales kalau emang emosinya belum stabil” Nayyira menarik tangan Floella yang ingin pergi “Jangan bilang Bang Iel ya” “Iya udah, gua gak kasih tau siapa-siapa” Hari ini terasa panjang dan berat bagi Nayyira, untung saja ada Floella yang sesekali membuatnya tertawa. “Lu mau pulang sama gua gak?” tawar Floella yang hari ini sedang membawa motor. Nayyira takut jika ia pulang bersama Azriel nanti aka nada beribu pertanyaan mengingat tampilan wajah Nayyira seperti orang kurang tidur. Nayyira mengangguk, menyetujui tawaran Floella.


68 Baru saja mereka melangkahkan kakinya keluar dari kelas yang sudah sepi, mereka melihat Nataka sedang menunggu dengan jaket jeans yang ia jinjing. Fleolla merasa Nayyira harus menyelesaikan ini dengan Nataka, maka Floella berbisik jika ia pergi duluan dan ia akan menunggu di parkiran. Kini hanya tersisa Nayyira, Nataka dan beberapa siswa yang belum pulang di lantai tiga. “Ada apa Kak?” tanya Nayyira membuka percakapan. “Chat ku kenapa gak dibales?” tanya balik Nataka. Nayyira malas jika harus terus-terusan seperti ini “Apa hubungan Kakak sama Jasmin?” “Yir” “Kak” potong Nayyira cepat, Nayyira tau Nataka akan mengelak “Jawab aja” “Aku sama Jasmin cuma temen lama yang udah akrab banget” Nayyira muak mendengar alasan yang terdengar basi “Terus kenapa gak pernah ke lantai tiga nemuin Jasmin lagi?” “Loh? Kan kamu yang minta aku jaga jarak sama Jasmin, Yir” jawab Nataka yang bersuara tenang, ia mencoba sabar menghadapi Nayyira yang sepertinya akan memuncak.


69 “Terus gak ketemu di lantai tiga, sekarang ketemunya di lantai dua? Sekarang dia yang nyamperin Kakak?” betul saja, Nayyira menaikkan suaranya sedikit mengeluarkan emosinya hari ini. “Yir tolong ya, aku minta kamu ngertiin aku kalau Jasmin cuma temen aku dan gak lebih, ya maaf kalau buat kamu merasa terganggu” Nataka pandai melunakkan hati Nayyira. Namun Nayyira masih merasa ada yang mengganjal di hatinya “Mau sampe kapan begini-gini aja? Kak aku gak nuntut kita untuk ada hubungan, tapi tolong kalau emang Jasmin cuma temen ya perhatian ke akunya lebih dari Kakak ke dia lah” rengek Nayyira. Nataka tersenyum bahkan seperti tertawa melihat Nayyira yang sebetulnya minta diperhatikan lebih saja tapi sampai seperti itu “Iya sayang iya” ucap Nataka memegang tangan Nayyira “Sabar ya, aku gak enak aja sama Jasmin kalau tiba-tiba ngehindarin dia” Nayyira merasakan kelegaan di hatinya, namun tidak sepenuhnya keresahan dirinya hilang. “Yaudah yuk pulang, gak enak temen ku nungguin” ucap Nayyira berdiri namun ditahan oleh tangan Nataka “Kenapa lagi Kak?” Nataka tersenyum, senyum yang bisa membuat Nayyira meleleh “Kalau aku hari ini gak chat kamu maaf ya, hari ini aku sedikit sibuk” “Iya, aku ngerti”


70 What’s Wrong with You? Setelah mendengar penjelasan Nataka tiga hari lalu membuat Nayyira tidak terlalu memusingkan keberadaan Jasmin, baginya yang harus dipercayai hanya Nataka. Namun sebagai seorang wanita Nayyira tau betul ciri-ciri wanita yang sedang jatuh cinta dan mencoba membuat perhatian lelaki yang disukainya tertuju hanya padanya, dan itu ada di Jasmin pada Nataka. Sudah tiga hari juga sejak Nataka mengatakan dia tidak akan memberinya kabar dikarenakan sibuk, sampai saat ini tidak ada komunikasi antara Nayyira dan Nataka. Baru terfikirkan oleh Nayyira, membuatnya menjadi berfikir yang bukan-bukan lagi. Semenjak Nayyira dekat dengan Nataka entah kenapa rasanya segala gerak-gerik Nataka harus Nayyira ketahui, ia tau betul bahwa ini tidak patut untuk ia lakukan mengingat mereka tidak memiliki hubungan apa-apa tapi Nayyira tidak bisa menahannya. Aneh. Kenapa Nayyira merasa Nataka sedang menghindar dari dirinya? Tapi Nayyira dengan cepat merubah pemikirannya, Nayyira Abang, lagi sama Kak Nataka? Atau Kak Ezra gitu? Azriel Iya nih, kenapa?


71 mungkin saja Nataka memang sedang sibuk dengan Azriel dan lainnya. Nayyira mencoba mengirim pesan pada Nataka dua hari ini tapi tidak ada balasan dari Nataka dan kini Nataka seperti tidak ada apa-apa. Tidak peduli jika memang akan ada yang tau jika Nayyira adalah Adik dari Azriel, yang Nayyira saat ini inginkan adalah bertemu dengan Nataka. Sudah ia yakinkan bahwa memang masalah antara mereka dan Jasmin masih belum selesai. Nayyira masih merasa Nataka belum menyangggupi sepenuhnya permintaan Nayyira untuk menjaga jarak dengan Jasmin. Kini Nayyira sudah berada di lantai satu, ia bergegas berjalan ke depan kelas Azriel dan benar saja ada Nataka disitu. “Abang!” panggil Nayyira yang membuat enam lelaki yang sedang berkumpul itu menoleh ke arah dirinya, termasuk Nataka dengan wajah terkejutnya. Semakin aneh bagi Nayyira. Azriel yang sudah menebak Adiknya akan menghampirinya tidak mempermasalahkan Nayyira datang padanya “Apa? Kenapa?” Nayyira Abang dimana? Azriel Lantai satu


72 Wajah Nayyira terarah kepada Nataka, kini mereka melakukan kontak mata. Hanya itu. Rasanya Nayyira ingin berteriak saat itu juga melihat tingkah Nataka yang menganggap enteng perihal hilang kabarnya selama tiga hari kebelakang ini, bahkan saat ini ia bisa tertawa lepas. Hari itu berbohong tidak pergi, kali ini berbohong sedang sibuk, lalu nanti apalagi? Atau ini hanya sikap Nayyira yang terlalu posesif pada Nataka yang seperti mengurung Nataka untuk melakukan hal seperti biasanya? “Kenapa Nay?” tanya Azriel sekali lagi. Nayyira menyadarkan dirinya, ia harus menutupi masalahnya di depan Azriel “Pulang nanti bareng ya” basa-basi Nayyira. Azriel merasa aneh “Kenapa gak lewat chat aja bilangnya?” “Kenapa? Gak boleh? Malu kalau aku Adeknya Abang? Orangorang gak boleh tau tentang kita? Cuma temen-temen Abang yang boleh diliat orang lagi sama Abang di sekolah ini?” entah kenapa Nayyira meluapkan emosinya kepada Azriel. Pertanyaan-pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut Nayyira seakan-akan keluh kesah hatinya pada Nataka namun secara tidak langsung memiliki kesamaan dengan yang dialami dengan Azriel. Menutup kaitan antar mereka berdua. Kaget. Selama hidup Azriel tidak pernah melihat Nayyira seemosi ini. Nayyira yang ia kenal selalu iya, selalu tanpa bantah, selalu mengalah. Ada apa dengan Nayyira tiba-tiba berbicara hal yang bahkan emosinya terasa sampai Azriel. Mata Nayyira memerah, menahan tangis, tangannya terkepal.


73 Sementara Nataka yang melihat bahkan mendengar ucapan Nayyira sangat merasa ucapannya itu untuk dirinya namun dilimpahkan pada Azriel. Ada rasa tidak enak kepada Nayyira, namun saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa bahkan jika ia ikut campur hanya akan membuat emosi Nayyira meningkat dan memperpanjang masalah. “Nay, udah ya” kini Ezra memegang tangan Nayyira yang sudah memerah karena kepalan kuatnya “Gak boleh kaya gitu sama Abang, kasian Abangnya” sambungnya halus sambil membuka tangan Nayyira yang nampak bekas-bekas kuku di telapak tangan, terlihat ada darah yang keluar sedikit. Azriel melirik ke arah teman-temannya, ini tidak bisa diselesaikan di hadapan mereka. Azriel menarik tangan Nayyira pelan, membawanya pergi menjauh dari yang lainya. Mencari tempat yang tenang untuk Nayyira. “Kamu kenapa?” buka Azriel pelan, mencoba mengetahui apa yang dirasakan Nayyira “Kamu marah karena Abang gak pengen banyak orang tau kalau kamu Adeknya Abang?” Nayyira menangis, ia baru menyadari yang ia lakukan kepada Azriel adalah salah. Memarahi Azriel di depan orang yang tidak tau masalahnya saat ini. “Iyaudah, Abang minta maaf gak seharusnya Abang nutupin ini semua” justru Azriel yang meminta maaf atas emosi Nayyira. Mendengar permintaan maaf dari Azriel membuat Nayyira semakin menangis “Bukan karena itu”


74 “Coba ngomong, lagi ada masalah apa?” Nayyira kembali diam, sangat berat harus menceritakan dalam kondisinya saat ini. Azriel menghembuskan nafasnya kasar, bingung harus seperti apa untuk membantu Nayyira lebih tenang. Jika ia membiarkan Nayyira sampai tenang, hatinya lah yang tidak akan tenang. “Abang, maaf ya udah marahin Abang di depan temen-temen Abang” ucap Nayyira menunduk. Azriel tidak mempermasalahkan marahnya Nayyira, tapi penyebabnya lah yang ingin ia ketahui. “Aku juga gak tau kenapa rasanya emosi banget, kesel di hati gitu Bang” jelas Nayyira berbohong, dia tau betul apa penyebab emosi yang diluapkan tadi. Kini Azriel menatap Nayyira “Nanti pulang kita beli makan ya, lagi mau apa?” Nayyira kini mendongakan wajahnya ke arah Azriel “Abang gak marah sama aku?” “Kenapa harus marah? Kamu ngelakuin apa emang?” “Tapi kan tadi-“ “Udah, gak apa-apa, Abang ngerti” ucap Azriel mengacak rambut Nayyira.


75 Kini Azriel berjalan bersama Nayyira menghampiri sekumpulan teman Azriel yang tadi, masih ada Nataka disana. “Nanti Abang tunggu diparkiran ya Nay” Azriel membiarkan Nayyira pergi melewati teman-temannya. Baru Nayyira ingin pergi, tangannya terasa ada yang memegangnya. “Pakein ini tangannya” ucap Ezra memberikan plester penutup luka. Azriel yang tidak memperhatikan tangan Nayyira sejak tadi sangat terkejut. Bahkan ketika Ezra memegang melepas kepalan Nayyira pun Azriel tidak menyadarinya. “Gak usah Kak” tolak Nayyira mengembalikan plesternya. “Nay” ucap Ezra dan Azriel bersamaan. Nayyira hanya berdecak “Iya iyaa” Tanpa disadari, Nataka masih memperhatikan mereka namun tidak berani untuk ikut campur. “Pake disini!” perintah Azriel. “Tapi Bang” “Gak ada tapi, pake!” perintah Azriel lagi tegas.


76 Dengan berat hati Nayyira berjalan ke wastafel di dekatnya, membilas darah yang mulai mongering di telapaknya, menyeka dengan sapu tangan Azriel. “Abang ih gak bisa” rengek Nayyira yang tidak bisa memasang plester di telapak tangan kanannya. Ezra yang melihat rengekan Nayyira pun tertawa pelan, tidak sengaja matanya menangkap tatapan sedih dari Nataka “Tumben diem aja lu ada Nayyira tu” ucapnya menyenggol lengan Nataka. “Kasian ya Bang si Nayyira” Nataka saat ini benar-benar merasa bersalah pada Nayyira, cepat atau lambat Nataka akan berbicara empat mata pada Nayyira. Nataka takut Nayyira marah dan kejadian hari ini terulang kembali. “Tapi gemes kan” Ezra tidak faham maksud sesungguhnya perkataan Nataka dan menimpalnya dengan candaan. “Kak Ezra, makasih ya” ucap Nayyira menunjukkan telapak tangannya lalu melambai karena Nayyira ingin kembali ke lantai tiga. Terlihat Nayyira sudah pergi meninggalkan Abang dan juga teman-temannya. Kedatangannya ke lantai satu, tidak menyelesaikan masalah justru menambah masalah. Yang ia harapkan dapat bertemu atau berbicara dengan Nataka tapi ia membentak Azriel. Lihatlah tingkah Nataka tadi, seperti orang yang tidak memiliki keterkaitan atas emosi Nayyira. Bahkan Nataka tidak khawatir dengan Nayyira, buka suara pun enggan sepertinya.


77 “Nay lu abis darimana?” tanya Floella memasuki kelas membawa beberapa makanan. Nayyira tidak menggubris Floella, malas rasanya untuk menceritakan dan mengingat kembali kejadian barusan. Yang dilakukan Nayyira hanya mengambil salah satu makanan yang ada di tangan Floella. “Ini anak ditanyainnya” “Ketemu Bang Iel” jawab singkat Nayyira. “Nah itu tangan lu kenapa?” kini Floella memegang tangan Nayyira yang luka. Nayyira pusing, ia butuh ketenangan sebentar “Flo, gua gak kenapa-napa kok” “Gua tadi ketemu Jasmin sama temennya kok gak sama Kak Nataka?” sungguh sangat tidak perlu untuk diberitahukan ke Nayyira, tapi itulah Floella. “Gak peduli!” ucap Nayyira sinis “Pokoknya gua gak mau ya nyebut atau denger nama dia lagi” tambahnya. Nataka Besok ketemu yuk pulang sekolah atau pas kamu siap untuk ketemu aku Nayyira Besok aja


78 I’m Begging You Nayyira hanya membaca pesan dari Nataka, rasanya ingin menutup mata dan menganggap Jasmin dan Nataka hanya teman biasa saja tapi entah kenapa Nayyira sangat bisa merasakan ada hal lain diantara mereka, lebih dari seorang teman. Nayyira merasa disini dialah yang menjadi jahat karena mengekang Nataka untuk berteman dengan Jasmin, tapi Nataka lebih condong kepada Jasmin dan Nayyira merasa pertemanan mereka terlihat berlebihan. “Gua harus bersikap kaya apa ya Flo” Nayyira kini memandang ke depan dengan tatapan kosong. Floella merasa kasian pada Nayyira yang menitik beratkan pikirannya, yang berfikir lebih tentang masalahnya “Gak usah dirumitin kenapa Nay, lu percaya gak sama si Kak Nataka itu?” “Ya gua percaya, cuma kenapa omongan sama perilakunya gak sesuai? Kemarin juga kenapa dia diem aja pas gua marah ke Bang Iel? Kak Ezra aja sadar kok gua luka gini” gerutu Nayyira sambil menunjukkan tangannya yang luka. “Itu kan karena lu juga” ucap Floella pelan namun masih terdengar oleh Nayyira dan dapat balasan sinis dari Nayyira. “Apa gua perlu buat mohon-mohon supaya dia tetep sama gua?” Nataka Yir pulang sekolah ya


79 Floella memiringkan kepalanya “Buat apa? Emang dia pergi kemana juga?” “Ya gua takut aja dia lebih milih Jasmin daripada gua, apalagi kemaren tiba-tiba dia kaya gak peduli sama gua sedangkan dia bisa ketawa-tawa sama Jasmin” Nayyira tidak berhenti untuk berfikir yang bukan-bukan. “Udah deh ah jangan ngomong yang bukan-bukan, gak usah sampe harus merendah gitu” ucap Floella dengan nada tegasnya. Nayyira menunggu di tempat yang sudah dijanjikan dengan Nataka, ia membawa minuman teh botolan kesukaannya yang sesekali ia minum untuk menghilangkan geroginya. Ini bukan kali pertama Nayyira berbicara berdua dengan Nataka, tapi kenapa rasanya sangat berbeda dari biasanya. “Yira” panggil seseorang yang sudah dipastikan Nataka. Tidak ada orang lain yang memanggil Nayyira selain Nay kecuali Nataka. Merasa dipanggil, Nayyira menoleh ke arah Nataka dengan senyuman tipisnya saat ini ia bahkan tidak bisa menebak apa yang akan dibicarakan oleh Nataka dan ia tidak tau harus bersikap seperti apa. “Maaf ya, kamu nunggu lama?” Nayyira menggeleng, berkat kegelisahannya Nayyira bahkan tidak tau sudah berapa lama ia berdiri menunggu Nataka.


80 “Yir, aku mau ngomong serius” kini suara Nataka tak kalah seriusnya dengan tujuan obrolannya. Nayyira siap tidak siap akan mendengarnya “Apa tuh” “Kamu ngerasa kita gak akan berhasil gak sih?” to the point Nataka tanpa aba-aba membuat Nayyira tersentak. “Maksudnya gimana? Gak berhasil apanya? Kita emang udah nyoba sejauh apa sampe berani ngomong gitu?” Nayyira yang kini sudah merasa tidak sabar, melontarkan beberapa pertanyaan pada Nataka. “Ya aku merasa hubungan kita bakal begini-gini aja” “Begini-gini aja apa?” nada bicara Nayyira tanpa disadari pun menjadi naik. Nataka merasakan itu, ia mencoba memegang tangan Nayyira, menenangkannya “Kita cukup sampe sebatas ini aja ya Yir” ucapnya kini pelan. “Sebatas ini tu apa?” Mencoba untuk merangkai kata agar Nayyira sedikit tenang, kini Nataka terdiam sejenak “Aku merasa gak pantes buat kamu Yir, kamu Adek dari Bang Azri orang yang baik banget ke aku” Nayyira kini tertawa, namun terdengar menyedihkan “Terus? Aku harus suruh Bang Iel buat jadi orang jahat?” “Yir, gak gitu”


81 “Ya terus apa??” tanya Nayyira yang sudah tidak bisa menahan amarahnya, bahkan saat ini ia menangis “Gak usah jadiin orang lain alesan Kakak buat nutupin kesalahan Kakak sendiri” “Kesalahan apa Yir?” kini justru Nataka lah yang bertanya. “Kakak tu kemana aja? Sibuk apa yang sampe tiga hari begitu? Kakak ngehindar kan dari aku?” Nataka menghembuskan nafasnya panjang “Iya memang aku ngehindar dari kamu, tapi aku punya alasan Yir” Nataka kini tidak bisa mengelak apa-apa lagi “Tolong dengerin aku sampe aku selesai ngomong, setelahnya kamu bebas mau marah atau gimana ke aku” “Iya” “Yir, aku menghindar supaya kamu sama aku gak ada yang tersakiti nantinya karena jujur aku merasa gak pantes buat kamu, maaf aku gak bisa apa-apa lagi saat ini selain menghindar dari kamu” Nayyira bingung harus meluruskannya darimana, ia bahkan tidak berfikir sejauh itu. “Aku harap kamu sama aku sama-sama bisa jaga diri masingmasing, kalaupun iya memang kita bakal bareng lagi nanti ada aja caranya kok Yir” Dari awal Nayyira hanya bisa menatap lekat mata Nataka dengan mata yang terus menerus mengalirkan air mata “Terus mau Kakak apa? Kita gak saling kenal lagi?”


82 Nataka semakin mengencangkan pegangannya, sebenarnya saat ini ia berada dipilihan berat. Melepaskan Nayyira atau mempertahankannya. “Kak, sekarang giliran aku yang ngomong. Boleh?” Nayyira mencoba meluruskan apa yang sekiranya menjadi jalan keluar saat ini. “Iya Yir, apa?” “Sebelumnya, aku tekanin ke Kakak kalau aku gak mau sampe sini aja sama Kakak” Mendengar itu Nataka sedikit membelalakan matanya. “Bahkan kita belum mulai apa-apa dan untuk Bang Iel kenapa Kakak sampe sejauh itu mikirnya? Aku aja nikmatin ini semua sekalipun Bang Iel tau kedekatan kita, aku merasa Bang Iel gak akan mempermasalahin itu semua jadi aku minta tolong tetep sam aku dan jangan mikirin apapun cukup aku aja yang Kakak fikirin” jelas Nayyira tegas seakan tak boleh dibantah. Nataka ragu, melihat dalam mata Nayyira yang masih menangis akibat menahan emosinya. “Kalau Kakak fikir dengan cara Kakak menghindar aku bakal lupa sama Kakak, itu salah besar” sambung Nayyira karena melihat keraguan di mata Nataka “Itu malah bikin aku tambah mikirin Kakak” Nataka diam, namun tangannya memainkan jari jemari Nayyira seperti sedang mempertimbangkan sesuatu “Maafin aku ya Yir”


83 “Maaf apa dulu nih?” “Ya aku udah bersikap kaya gini, aku ngambil keputusan ini sendiri yang ngira bakal selesai sampe sini aja kalau aku menghindar dari kamu” Nayyira baru bisa menampakkan senyumnya “Kak Nataka tu punya aku saat ini, apapun yang Kakak rasain apalagi ini menyangkut kita ya Kakak harus omongin ke aku jadi kita bisa cari cara nyelesaiinnya gimana” Sejujurnya Nataka tidak sepenuhnya merasa masalah ini selesai, masih ada yang mengganjal seperti sesuatu yang belum ia ceritakan pada Nayyira namun untuk saat ini semuanya sudah dijelaskan namun Nataka dengan cepat mengabaikan perasaannya. Untuk saat ini Nataka merasa bahwa tidak ada yang harus dipermasalahkan lagi antara dirinya dengan Nayyira. “Janji ya Kak jangan tinggalin aku lagi” ucap Nayyira lirih, seperti memohon. “Iya Yir, aku gak akan kemana-mana kok” Lalu Nayyira menunjukkan telapak tangannya “Sakit yang kemarin” ucapnya dengan manja. “Kamu sih, gak boleh kaya gitu mau sekesel apapun” balas Nataka menyentil telapak tangan Nayyira pelan. “Kan karena Kakak juga keselnya”


84 “Tetep aja Nayyira Grizelle Zanitha” ucap Nataka kini membelai rambut panjang Nayyira “Kesel sama siapapun harus bisa control jangan sampe ngelukain diri sendiri gini” Nayyira hanya mendengus “Kak Nataka sama aja kaya Kak Ezra sama Bang Iel, bawel” “Kan karena sayang”


85 That I Don’t Know from You Tok.. Tokk…. Ketukan itu membuat Nayyira terbangun dari tidur pagi di hari Sabtu yang tenang, dengan mata yang masih setengah tertutup Nayyira mencoba berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang sudah mengganggu weekend nya. “Jalan yuk” ucap Azriel yang sedang berdiri di depan pintu kamar Nayyira. Nayyira terdiam, melirik jam di dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 7 pagi “Masih pagi” “Ya gak apa-apa, kita makan terus nonton abis itu muter-muter deh” “Kenapa Abang gak cari pacar aja, aku kalau kebanyakan jalan sama Abang kapan punya pacarnya” gerut Nayyira yang selalu menjadi teman bosan Abangnya. “Nanti Abang punya pacar ngambek katanya gak punya waktu buat kamu, lagi juga punya Adek cantik tu ya manfaatin buat dijadiin temen jalan lah” balas Azriel “Udah buru mandi, siap-siap” sambungnya meninggalkan Nayyira lalu masuk ke kamarnya sendiri. Dengan langkah berat Nayyira bergegas mandi di pagi hari untuk menuruti keinginan Azriel, namun sebelum itu ia sempat mengecek ponselnya untuk melihat notifikasi yang masuk. Ada pesan dari


86 Nataka disana. Nayyira membalasnya, tanpa menceritakan bahwa ia akan pergi bersama Azriel. Nayyira sudah siap di jam 10, tidak heran jika ia sangat lama bersiap-siap maka dari itu Azriel membangunkannya pagi hari, karena Azriel tau betul Adiknya. “Kak, gak bisa siangan dikit perginya?” rasanya Nayyira ingin menyambung tidurnya yang telah diganggu Azriel. Sudah pasti Azriel menggelengkan kepalanya “Nay tolong lah, tingkat kebosanan Abang tu udah hampir memuncak ni” “Gak ada bioskop buka jam 10 gini” gerutu Nayyira. Azriel memicingkan matanya “Ma, Pa, Nayyira tuh ngebantah aja kalau dibilangin” teriak Azriel agar Mama Papa mendengar aduannya. “Yaudah iya ayo iyaa” Nayyira yang sedang memegang heels langsung pergi ke teras meninggalkan Azriel. “Mau kemana?” tanya Papa yang sedang berada di taman depan rumahnya. Dengan tampang cemberut Nayyira memasang heels yang dia pegang tadi “Tuh nemenin Abang” “Si Nay mah diajak jalan cemberut aja” serobot Azriel yang tiba-tiba muncul.


87 Mama yang melihat tingkat kedua anaknya hanya membuang nafas panjangnya “Yang akur gitu loh, Nay kamu juga ke Abang mu itu jangan galak-galak” “Tuh” Azriel merasa senang mendapatkan pembelaan dari Mama nya. Mendengar itu pun Nayyira tersenyum terpaksa “Mana ada aku galak sih Ma?” “Kita berangkat ya Ma, Pa” ucap Azriel menahan tawa karena menang telak dari Adiknya. Di dalam perjalanan Nayyira hanya bermain ponselnya, sesekali menjawab dan bercerita apa yang ditanyakan oleh Azriel. “Bang, kita jalannya berdua aja?” tanya Nayyira seperti ada keinginan yang tersembunyi. Azriel mengangguk “Emang kamu ngarepnya sama siapa? Ezra?” “Ya gak juga, tumben aja biasanya emang Kak Ezra ikut gitu” Iyaps. Nayyira berharap ada Ezra dan sudah pasti jika Ezra membawa Nataka untuk menemaninya. “Enggak, kita berdua aja” Setelah sampai di tujuan, Nayyira masih sesekali melihat ponselnya namun ia juga tidak mengabaikan Azriel jika sedang


88 berbicara. Namun tiba-tiba Nayyira tidak mendengar suara Azriel di sekitarnya. Ia melihat ke sekeliling mencari keberadaan Azriel. Dapat ia lihat Azriel sedang berbicara dengan dua orang, Nayyira pun menghampiri dan dua orang lainnya. “Abang” panggilnya, membuat dua orang yang memunggungi dia pun menoleh, namun membuat Nayyira terhenti langkahnya. Azriel yang melihat Nayyira berhenti pun memanggilnya “Sini Nay! Ada apa?” Nayyira melanjutkan langkahnya pelan. “Kebetulan banget ya ketemu sama Nataka” ucap Azriel merangkul Nayyira “Seangkatan ya sama Nayyira?” tanya Azriel pada perempuan yang bersama Nataka. “Iya Kak, aku Jasmin” jawabnya “Hai Nayyira, gak nyangka kamu beda banget kalau gak pake seragam sekolah” Nayyira tersenyum, namun matanya menatap mata Nataka, begitupun Nataka yang sudah dua kali kepergok jalan dengan Jasmin. “Niatnya ngapain disini?” tanya Nayyira pada Jasmin, ia rasa lebih baik bertanya ke Jasmin karena jika bertanya ke Nataka sudah pasti hanya diam atau malah kebohongan yang ia dapatkan. “Hmm? Kata Naka sih mau nonton terus makan gitu” Jasmin tidak pernah menghilangkan senyumnya jika menyangkut Nataka.


89 Nayyira kaget, ia tau Jasmin dan Nataka teman dekat dan sudah lama tapi Jasmin memanggil nama Nataka tidak sama seperti dirinya, Naka? Bahkan Ezra saja memanggil Nataka dengan sebutan Nata. Sudah selama apa mereka berteman? “Eh sama dong” tanggap Azriel “Tapi kita nontonnya sore, mau makan dulu ni Tuan Putri cantik” sambungnya memegang tangan Nayyira. “Ih Nayyira beruntung banget sih punya Abang kaya Kak Azriel ini” Jasmin pun tak ingin kalah memegang lengan tangan Nataka yang membuat mata Nayyira tertuju ke arahnya. Nayyira tertawa singkat “Iya, terlalu baik kan gua punya Abang” Nayyira bahkan menekan kata terlalu baiknya. “Nat lu mau nongkrong gak abis dari sini? Sekarang mah kalian berdua aja dulu” ajak Azriel bahkan ada kesan menggoda, karena Azriel rasa mereka sedang berkencan. Nayyira mengernyitkan dahinya lau menatap Nataka yang sedari tadi hanya diam “Enggak mau deh kayanya ya, gak usah diganggu kali Bang” “Jasmin kalau mau ikut, boleh” “Oh kayanya engga bisa Kak, aku malam nanti ada acara” jawab Jasmin yang penuh ekspresi di wajahnya. “Ntar gua ajak Bang Ezra deh Bang, kasih tau aja mau dimana ya tapi gua anterin Jasmin pulang dulu” baru terdengar suaranya, membuat Nayyira membuang muka mengalihkan pandangannya.


90 Azriel mengacungkan jempolnya “Yaudah gua sama Nay pengen keliling lagi nih, manjain dia dulu” Nayyira setelah mendengar itu langsung menarik tangan Azriel, tanpa mengucapkan kata perpisahan apapun. “Abang tu kenapa sih suka banget nongkrong sama Kak Nataka?” tiba-tiba Azriel kena amuk Nayyira. “Dia kan temen Abang, Nay” jawab Azriel santai. “Tapi gak tiap ketemu harus nongkrong juga kali, mana ada aku lagi” “Mana tu orangnya? Lama!” gerutu Nayyira yang meminum pesanannya. Azriel pun mengambil ponselnya menanyakan keberadaan Nataka dan Ezra yang tak kunjung datang, padahal mereka sudah datang 20 menit yang lalu. “Nay, kamu lagi datang bulan ya? Marah marah aja loh dari pagi tadi” Azriel yang memiliki sabar yang tinggi pun malah meledek Adiknya itu. Nayyira hanya sibuk meminum minuman yang di depannya, tidak begitu lama Ezra dan Nataka datang dengan senyum tanpa dosanya. “Lama nih, keburu ngambek ni kesayangan gua” bujuk Azriel mengusap kepala Nayyira.


91 Ezra dan Nataka pun menoleh ke arah Nayyira yang sudah memasang muka marahnya. “Macet Nay, jangan cemberut aja dong gua traktir deh” bujukan Ezra memang jitu, Nayyira pun kesenangan. Nayyira pergi ke tempat pemesanan tanpa aba-aba, Azriel bahkan heran kenapa Nayyira mudah sekali dibujuk seperti itu. “Lu udah anterin cewek tadi?” tanya Azriel pada Nataka sesaat setelah Nayyira pergi. Ezra terlihat bingung “Cewek siapa?” “Tadi pas gua jalan sama Nay ketemu Nata sama cewek seangkatan Nayyira” jelas Azriel secara singkat. Ezra makin bingung, masalahnya ia mencurigai Nataka sedang menyukai Nayyira tapi tiba-tiba ia mendengar bahwa Nataka jalan dengan wanita lain. “Udah Bang” jawab Nataka. “Lu bukannya lagi deketin Nayyira?” bisik Ezra agar Azriel tidak perlu dengar dan tau tentang ini. Nataka hanya menyenggol lengan Ezra, memintanya untuk diam. Nataka tidak ingin Azriel mencurigai gerak-gerik mereka berdua. “Eh Nay udah balik, pesen apa Nay?” tanya Ezra saat Nayyira sudah kembali duduk di depannya.


92 “Pesen makan dong pastinya buat aku, Bang Iel, Kak Ezra, sama Kak Nataka” cengenges Nayyira. “Nay” Ezra kaget “Gua kan traktirnya lu doang, gak gitu maksudnya” “Jadi Kak Ezra gak mau bayarin?” “Iya deh iya, untung Nay cantik” goda Ezra yang sudah Azriel dan Nayyira dengar semenjak pertemuan pertama mereka. Hening. Semua terdiam. Tiba-tiba mereka tidak ada topik pembicaraan. “Kak Ezra tadi dijemput Kak Nataka?” tanya Nayyira, saat ini hanya Ezra yang bisa ia ajak bicara. Ezra mengangguk “Tiba-tiba aja nih diajak main katanya ada Ajri sama Nay” jawabnya “Oh iya Nay boleh nanya gak?” Seperti tertarik, kini Azriel dan Nataka menoleh ke arah Ezra menanti pertanyaannya. “Nanya apa tuh Kak?” “Lu emang gak mau punya pacar gitu?” tanya Ezra yang mendadak membuat Nataka menegang.


93 Enough to Get in Touch with You “Lu emang gak mau punya pacar gitu?” Nayyira yang mendengarnya tertawa “Buat apa?” “Ih Nay kok malah nanya buat apa?” Ezra tak habis-habisnya heran dari awal ia datang. “Ya buat apa? Sekarang tuh susah ketemu sama orang yang bener-bener serius mau ngejalanin hubungan, Kak” jawab Nayyira “Aku gak nuntut apa-apa aja kaya dibebanin berat banget padahal lagi nutupin kesalahannya sendiri” sambungnya yang terkesan menyinggung seseorang. Siapa lagi kalau bukan Nataka. Ezra sangat paham kemana dan untuk siapa arah pembicaraan Nayyira itu “Terus gak mau nih pacaran?” tanya Ezra lagi untuk memastikan. Sebelum menjawabnya, Nayyira melirik Nataka yang sedang menatapnya “Liat kondisi sih kalau nemu yang serius ya boleh lah tapi kalau cuma janji-janji palsu mending gak usah” Mendengar itu, entah kenapa Nataka merasakan kekesalan dan amarah yang menggebu, ia tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Nataka merasa Nayyira sedang bermain-main dengannya. “Enak juga sendiri, gak ada yang boongin” celetuk Nayyira lagi memakan kentang yang baru saja datang.


94 Lagi. Nataka tidak menyangka mendengar ucapan Nayyira. Apakah seburuk itu Nataka di mata Nayyira? Seakan-akan ia hanya memberi kesan yang tidak baik kepada Nayyira. Begitu pula Azriel, ia merasa ada yang disembunyikan Nayyira. Azriel kenal Nayyira dengan baik, Nayyira jarang bahkan tidak pandai menyindir tapi perkataannya sedari tadi seakan menyindir seseorang. “Emang diboongin siapa sih Nay?” Ezra mencoba untuk terus menaikkan suasana. Nayyira sedang menuju puncak emosinya. Nayyira menaikkan alisnya sebelah “Hmm?” Nayyira mencoba berfikir-fikir “Mantan ku lah Kak, kan Kak Ezra tau gimana mantan aku dulu itu” Ezra tersenyum miring “Kirain baru-baru ini diboongin gitu sama seseorang” “Gak diboongin sih ya, lebih ke makin ketauan aja sifat jeleknya” Nayyira menyukai ini, Ezra pandai sekali memancing “Sekali dua kali masih bisa dibilang pembohong, tapi kalau keterusan artinya emang gak bisa dipercaya” Nataka terus menerus tersentak setiap mendengar kata setiap kata yang keluar dari mulut Nayyira yang selama ini ia ketahui selalu mengucapkan kata-kata manis. Nataka saat ini sedang melihat sisi lain dari Nayyira. “Jra, lu mau jadi wartawan?” Azriel mencoba mengalihkan pembicaraan “Lagi juga yang mau deket atau pacaran sama Nay ya gua harus tau”


95 “Nah sayangnya Bang Iel belum tau sih” Nayyira kini kembali memainkan hati Nataka lagi. Azriel heran “Belum tau apa?” “Ya ada” Nayyira tersenyum lebar “Bang, aku ke toilet dulu ya” “Hati-hati Adek cantikku” Ezra memang selalu mengerti timing Nayyira berjalan meninggalkan tiga lelaki itu sambil memegang dadanya. Jantung Nayyira berdetak sangat cepat, memaksakan diri untuk masuk ke dalam situasi yang dibangun Ezra tadi sangat susah untuk Nayyira. Setidaknya ungkapan hatinya hari ini telah terluahkan berkat Ezra. Mencoba untuk tenang, Nayyira bercermin di depan toilet untuk menetralisirkan perasaannya. Disaat bersamaan, ia melihat pantulan Nataka berada di belakangnya. “Aku mau ngomong” Nataka harus menyelesaikannya dengan cepat. Nayyira harus memaksakan diri lagi “Capek Kak ngomong terus dari kemarin tapi gak ada hasilnya” Nayyira mencoba melewati Nataka. Berbeda dengan Nataka, Nayyira ingin masalah ini tidak perlu diselesaikan karena memang tidak akan terselesaikan. Tangan Nataka menahan lengan Nayyira “Kamu marah sama aku?” “Marah kenapa ya Kak?”


96 “Nyindir aku di depan Bang Azri dan Bang Ezra, apa namanya kalau bukan marah?” Nayyira tersenyum sinis “Merasa? Aku udah bilang itu mantan ku loh dan aku juga gak nyebut nama Kakak jadi selama gak kesebut gak usah merasa” “Yir, aku tau kamu” Nayyira mencoba melepaskan pegangan Nataka yang kuat, namun gagal “Gak! Kakak sama sekali gak tau aku gimana” “Kamu bener-bener gak mau ada hubungan sama aku?” tanya Nataka dengan suara beratnya. “Kak” panggil Nayyira “Jangan banyak tanya, pergerakannya mana?” kini Nayyira menguatkan tenaganya untuk melepaskan pegangan Nataka dan meninggalkan Nataka sendiri. Nataka tidak bisa melihat Nayyira yang biasa ia kenal hari ini, bahkan Nayyira tidak luluh dengan pertanyaannya. Kini Nayyira hanya bisa memandang jauh sembarang arah. Membiarkan Azriel, Ezra dan Nataka menikmati makanannya serta berbincang antar lelaki. “Nay, dimakan itu udah gua traktir juga” Ezra menggebrak meja pelan membuat buyar lamunan Nayyira. Nayyira pun menurut, ia makan sesekali melihat ke arah Nataka. Kini ia merasa apakah perlakuannya kepada Nataka sudah melewati batas atau menyakiti hati Nataka?


97 “Nat, lu gak kepengen pacaran?” kini Ezra membuat Nayyira yang menegang menunggu jawaban dari Nataka. Nataka mengangguk “Kepengen lah, buat penyemangat” jawabnya sambil tertawa. Nayyira memutar bola matanya. Alasan klise. “Kalau lu, Jri?” kini Azriel lah yang menjadi korban selanjutnya. Azriel pun mengangguk “Asal gak ganggu Nay aja, gua gak masalah deh” Mereka menghabiskan makan dengan sesekali berbincang tentang apapun yang terlintas dalam fikiran mereka, sesekali ada curi pandang antara Nataka dan Nayyira yang tidak disadari Azriel dan Ezra. “Lu mau kemana?” tanya Azriel yang melihat Ezra berdiri ingin meninggalkan meja. “Bayar, memenuhi janji ku pada Adikmu” jawab Ezra mencubit pipi Nayyira. “Ikut dong, gua pengen ke toilet nih” kini Azriel ikut berdiri dan berjalan meninggalkan Nayyira dan Nataka. Awkward moment “Yir, kita belum selesaiin masalah kita loh” Nataka masih bersikeras untuk menyelesaikan dan mempertanyakan maksud ucapan Nayyira satu hari ini.


98 Nayyira meliriknya tajam “Masalah yang mana? Kita kebanyakan masalah” “Omongan mu itu loh Yir” Nataka bingung harus menggunakan kata seperti apa, salah sedikit mungkin Nayyira akan memperpanjang masalahnya “Aku seburuk itu di mata kamu Yir?” “Kenapa harus Jasmin terus sih?” Nayyira kembali bertanya tanpa menjawab pertanyaan Nataka. “Yir, aku nanya” “Kenapa Jasmin?” Mereka berdua sudah berada dalam situasi kalut, emosi yang sulit mereka tahan namun harus terlihat tidak terjadi apa-apa di depan Azriel dan Ezra. “Kakak yang ajak kan?” Nayyira terus bertanya tentang kejadian tadi. “Iya” Sesingkat itu, hanya satu kata mampu membuat Nayyira menitikkan air mata “Okey, bener kata Kak Nataka kita emang gak akan lanjut lagi udah cukup sampe sini aja” Nataka kini melihat ke arah lain, mengalihkan pandangannya dari Nayyira “Kamu yang mau nyoba loh kemarin dan kamu juga yang yakin kalau semuanya baik-baik aja”


99 “Iya aku, cuma aku! Kakak gak ada usahanya sama sekali! Aku cuma minta jaga jarak sama Jasmin doang kok” Nayyira kini sadar dimana ia berada, ia mencoba untuk tidak menaikkan suaranya. “Aku juga cuma minta kamu sabar dan juga Jasmin tu temen lama aku, Yir” Nataka tidak ingin kalah berdebat “Aku mau jaga hubungan baik-baik sama semuanya gitu loh, aku juga akan jelasin ke dia kok tapi pelan-pelan” Nayyira tidak mengerti sama sekali maksud dan tujuan Nataka menahan bahkan menyuruh Nayyira untuk bersabar “Oh jadi kalau dia tau aku sama Kak Nataka deket, nanti dia bakal ngejauh dari Kak Nataka gitu ya? Makanya aku yang harus sembunyi-sembunyi dan jaga perasaan dia?” Nataka terdiam, ia tau bahwa ini tidak akan selesai dengan mudah jika dilihat Nayyira tidak menerima pembelaan apapun. Sementara Ezra yang bersama Azriel, ragu harus memberitahu Azriel apa yang Ezra rasakan atau tidak. “Jri, gua sebagai temen lu nih ya abis pulang dari sini mending temenin Nay dah” ucap Ezra mendekat pada Azriel. Azriel yang mendengarnya merasa aneh “Paling juga abis ini diem di kamar masing-masing, kenapa sih lu?” “Jadi Abang peka dikir kenapa, udah pokoknya lu tanyain dah ke Nay apa yang dia rasain sekarang, gimana hari-harinya gitu”


Click to View FlipBook Version