http://bukuobat.blogspot.com
tradisional bisa saja bersifat sementara. Selagi pasien merasa sehat,
bisa saja stadium kankernya terus meningkat. Ketika pasien
merasa sakitnya kambuh lagi, mungkin saja kankernya sudah
stadium empat. Artinya, pada saat itu dokter mungkin “hanya bisa
berikhtiar dan selebihnya adalah kehendak Tuhan”.
Hal ini tentu tidak akan terjadi kalau pasien pergi ke dokter
ketika kankernya masih stadium dini. Sambil menjalani terapi
medis itu, pasien tetap boleh mengonsumsi obat tradisional. Justru
dengan cara ini, obat tradisional dan obat modern akan
komplementer, saling melengkapi.
Contoh lain adalah konsumsi obat tradisional yang diklaim
berasal dari ekstrak cacing untuk obat tifus (demam tifoid).
Biasanya dokter tidak mengizinkan pasien minum obat ini. Tapi
banyak pasien yang mengonsumsinya karena merasa obat dari
dokter tidak manjur.
Soal manjur atau tidak manjur barangkali bisa
diperdebatkan. Tapi satu yang jelas, penyakit tifus disebabkan oleh
bakteri. Dalam ilmu kedokteran, sudah ada metode standar terapi
yang jelas aman dan efektif, yaitu pemberian antibiotik, tirah
baring (istirahat total atau bed rest), dan diet yang mudah dicerna
dan rendah serat-kasar. Dalam trilogi terapi ini, pemilihan
antibiotik merupakan tahap yang sangat menentukan.
Kalau obat dokter tidak manjur, mungkin saja itu
disebabkan oleh pemilihan antibiotik yang kurang tepat karena
http://bukuobat.blogspot.com
bakterinya sudah kebal. Asalkan diagnosis dan pemilihan
antibiotiknya tepat, penyakit tifus dijamin akan sembuh apabila
disertai dengan tirah baring dan pola makan yang tepat.
Jadi, dari sudut pandang ini, sebetulnya pasien tidak
memerlukan ekstrak cacing. Akan tetapi, kalaupun pasien
akhirnya memutuskan untuk minum ekstrak cacing (itu memang
hak setiap orang), sebaiknya ia terus memantau efek obat itu
terhadap kesehatannya.
Selama ini ekstrak cacing diduga membantu penyembuhan
karena kandungan asam aminonya. Namun, dugaan ini masih
belum bisa menjawab pertanyaan berikutnya. Kalau sekadar
kandungan asam amino, ekstrak protein hewani seperti daging-
dagingan dan seafood pun kaya asam amino dan harusnya bisa
menggantikan ekstrak cacing.
Sekali lagi, ini tidak berarti bahwa logika asam amino
ekstrak cacing itu hanya strategi jualan tukang obat. Mungkin saja
memang ekstrak cacing mengandung senyawa—entah apa
namanya dan entah bagaimana struktur kimianya—yang jelas bisa
membantu penyembuhan tifus.
Kemungkinan itu bisa jadi ada, tapi kita tak pernah tahu.
Wallahua’lam. Sementara dalam ilmu medis, dokter hanya akan
meresepkan obat yang memang benar-benar diketahui cara
http://bukuobat.blogspot.com
kerjanya. Ilmu kedokteran modern tak mau berurusan dengan hal-
hal yang wallahua’lam.
Contoh lain yang mirip adalah konsumsi obat cina untuk
mempercepat penyembuhan luka operasi, khususnya operasi sesar.
Dalam ilmu medis, sebetulnya luka sesar dijamin akan sembuh
sendiri walaupun tidak diterapi khusus dengan obat-obatan,
asalkan luka itu dijaga tetap bersih dan kering. Kalaupun perlu
obat, biasanya cukup antibiotik, antinyeri, dan vitamin. Bahkan,
jika pasien bisa menjaga betul kebersihan diri dan lingkungan, dia
mungkin malah tidak perlu antibiotik.
Dengan metode terapi ini, di hari keempat atau kelima
pascaoperasi, pasien biasanya sudah bisa pulang. Jadi,
berdasarkan protap ini sebetulnya pasien sesar tak perlu minum
obat cina. Tapi kalau ternyata pasien tetap bersikukuh minum obat
cina (itu memang haknya), sebaiknya ia terus memantau
kesehatannya dan kesehatan bayinya. Sebab, sangat mungkin obat
yang belum diketahui persis senyawa kandungannya itu masuk ke
dalam kelenjar ASI.
http://bukuobat.blogspot.com
Selama ini obat
Pasal ke-2: tradisional diyakini tidak
Pilih yang bahannya punya efek samping yang
buruk. Atau, kalaupun ada,
aman.
efek buruk ini boleh
diabaikan. Pandangan seperti
ini tidak sepenuhnya benar. Bagaimanapun, obat tradisional tetap
berisi bahan kimia yang asing bagi tubuh dan karena itu punya
efek samping atau bahkan efek buruk. Karena itu, penggunaannya
pun tetap harus sangat hati-hati.
Oleh karena masalah keamanan obat tradisional sebagian
besar masih wallahua’alam, kita sebaiknya membatasi
pemakaiannya pada obat-obat yang memang sudah digunakan
secara luas dan terbukti aman secara empiris. Contoh, obat-obat
tradisional berbahan dasar bumbu dapur seperti kunyit, jahe,
bawang putih, jeruk nipis, kencur, kayumanis, dan sejenisnya
biasanya aman dalam dosis wajar karena bahan-bahan ini sudah
biasa kita konsumsi.
Contoh lain, penggunaan daun atau ekstrak daun jambu biji
untuk diare. Secara tradisional, rebusan daun jambu biji sudah
biasa digunakan untuk mengatasi diare. Dalam bentuk yang lebih
modern, ekstrak daun jambu biji juga banyak digunakan di dalam
produk obat-obat diare yang dijual bebas. Di dalam usus, ekstrak
daun jambu biji diduga mengatasi diare dengan dua mekanisme.
http://bukuobat.blogspot.com
Selain punya khasiat antibakteri, ekstrak daun ini juga bisa
membuat feses lebih padat dan mengurangi gerakan usus.
Sekalipun mekanisme kerjanya masih sebatas dugaan, sejauh ini
ekstrak daun jambu biji dalam dosis itu terbukti aman dan ampuh.
Contoh lain, konsumsi jus jambu pada pasien demam
berdarah dengue (DBD). Kebiasaan ini harus kita lihat dalam
konteks yang proporsional. Berdasarkan pasal ke-1, sebetulnya
tanpa konsumsi jus jambu pun demam berdarah akan sembuh
dengan sendirinya asalkan pasien tidak terlambat mendapat
pertolongan medis.
Namun, dalam praktiknya, banyak pasien atau keluarga
pasien yang merasa kurang afdol sebelum minum jus jambu.
Bagaimanapun, minum obat tradisional adalah hak pasien. Dalam
konteks ini, kita bisa menggunakan pasal ke-2 sebagai pedoman.
Meski sudah ada metode terapi yang standar, konsumsi jus
jambu boleh saja dilakukan karena konsumsi jus jambu tidak
berbahaya. Tapi harus dicatat bahwa fungsinya bukan sebagai
terapi substitutif (menggantikan metode standar yang diberikan
oleh dokter), melainkan terapi komplementer (melengkapi). Toh
pasien memang dianjurkan untuk banyak minum. Apalagi buah
jambu juga banyak mengandung vitamin dan mineral yang
penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Secara sederhana, tingkat keamanan obat tradisional bisa
diketahui dari banyak tidaknya bahan tradisional itu dikonsumsi
http://bukuobat.blogspot.com
oleh masyarakat. Buah jambu sudah jelas biasa kita makan. Daun
jambu dalam dosis obat diare juga sudah biasa dikonsumsi. Obat
lain seperti sari kurma, angkak, atau air kelapa juga sudah biasa
kita konsumsi. Artinya, bahan-bahan ini tergolong aman jika
dikonsumsi secara wajar walaupun khasiatnya sebagai obat DBD
masih diragukan atau belum pasti. Yang penting aman dulu,
khasiatnya belakangan.
Dalam pengobatan, ada sebuah fenomena unik yang dikenal
sebagai “efek plasebo”. Pasien mengalami perbaikan klinis
walapun ia hanya diberi plasebo (pil yang isinya cuma tepung).
Secara ilmiah, tepung jelas tak bisa mengobati penyakit. Tapi
kenapa kondisi pasien bisa membaik? Jawabannya masih
wallahua’lam. Tapi, diduga, pasien mengalami perbaikan klinis
lewat efek psikis karena ia merasa yakin telah minum obat. Para
ahli jiwa memang menyatakan bahwa pikiran bisa sangat
berpengaruh terhadap kondisi fisik.
Pedoman ini terutama
Pasal ke-3: penting jika obat tradisional
Pantau terus efek yang yang akan kita minum bukan
termasuk bahan yang biasa kita
terjadi.
konsumsi sehari-hari. Contoh,
sambiloto, buah mahkota dewa, brotowali, buah merah, dan
sebangsanya.
http://bukuobat.blogspot.com
Sekali lagi, obat tradisional mungkin saja punya efek yang
merugikan. Contoh, obat herbal untuk hipertensi atau diabetes.
Dalam dosis besar, obat-obat ini bisa menyebabkan hipotensi
parah (tekanan darah kelewat rendah) atau hipoglikemia berat
(kadar gula darah kelewat rendah).
Overdosis ini sangat mungkin terjadi karena dalam
pengobatan tradisional tidak ada standar dosis yang bisa dijadikan
pedoman semua orang. Berapa gram rimpang atau berapa lembar
daun yang harus dikonsumsi? Karena tak ada standar dosis inilah
sebaiknya kita menggunakan obat tradisional secara bertahap dari
dosis yang kecil dulu, sambil memantau perubahan yang terjadi,
misalnya perubahan tekanan darah atau kadar gula darah.
Kalaupun dosis perlu ditambah, peningkatannya bisa dilakukan
secara bertahap sampai menghasilkan perubahan yang diinginkan.
Karena alasan ini pula, obat-obat herbal antidiabetes atau
antihipertensi sebaiknya tidak digabungkan dengan obat dari
dokter. Atau, kalau mau digabungkan, pasien harus minta dokter
menyesuaikan dosis obat resepnya. Jika keduanya langsung
dipakai begitu saja bersama-sama, sangat mungkin pasien
mengalami hipotensi atau hipoglikemia.
Ini baru soal obat hipertensi dan diabetes, belum obat-obat
herbal lainnya. Mungkin saja di masyarakat sebetulnya ada
banyak pemakai obat tradisional yang mengalami efek buruk tapi
laporan mereka tidak terdokumentasikan dengan baik. Ini
http://bukuobat.blogspot.com
memang kelemahan obat tradisional. Efek buruk ini sulit
diramalkan karena hingga sekarang mekanisme kerja obat
tradisional di dalam tubuh masih wallahua’lam.
Cerita penemuan vinkristin dan vinblastin dari ekstrak tapak
dara mungkin bisa menjadi bukti jelas bahwa obat tradisional pun
bisa berbahaya. Awalnya tanaman ini diduga memiliki efek
antidiabetes. Para peneliti kemudian menguji efek ekstrak tanaman
ini sebagai obat antidiabetes.
Namun, ternyata para peneliti itu menemukan fakta lain
yang mengejutkan. Ekstrak tapak dara ternyata bisa menurunkan
jumlah sel darah putih dan mengganggu fungsi sumsum tulang
belakang.
Efek buruk yang tak disangka-sangka ini kemudian
membuat para ilmuwan berubah pikiran. Mereka tak lagi meneliti
efek antidiabetesnya, tapi efeknya sebagai obat leukemia (kanker
darah putih). Belakangan terbukti bahwa zat-zat fitokimia di
dalam tapak dara memang bisa digunakan untuk kemoterapi
leukemia.
Bagi orang yang menderita leukemia (sel darah putihnya
terlalu ganas), efek penurunan sel darah putih ini justru
menguntungkan. Tapi bagi orang sehat yang tidak menderita
leukemia, efek penurunan sel darah putih dan gangguan sumsum
tulang belakang bisa sangat membahayakan. Ini adalah contoh
http://bukuobat.blogspot.com
bahwa pemakaian obat tradisional bisa saja menimbulkan efek
buruk yang sangat mungkin tidak kita sadari.
Dalam hal obat tradisional, selama ini kita lebih banyak
menerima informasi khasiatnya daripada efek buruknya. Lihat
saja, selama ini kita lebih banyak tahu khasiat buah mahkota dewa
dan buah merah untuk penyakit ini dan itu, dibandingkan dengan
kemungkinan efek sampingnya. Padahal dalam ilmu farmasi,
informasi tentang keamanan mestinya dipastikan lebih dulu
sebelum informasi tentang khasiatnya. First, do no harm.
Keamanan obat tradisional juga sangat ditentukan oleh
kondisi pemakai. Misalnya, jamu cabe puyang secara empiris
terbukti aman dikonsumsi, termasuk oleh ibu hamil di masa awal
kehamilan. Namun jika jamu ini diminum oleh wanita hamil di
bulan-bulan terakhir kehamilan, jamu ini dianggap berbahaya
karena justru bisa menghambat kontraksi rahim dan mempersulit
persalinan.
Untuk mencegah
Pasal ke-4: terjadinya risiko buruk obat
Komunikasikan ke
herbal, sebaiknya pasien selalu
dokter.
berkomunikasi dengan dokter
bila hendak mengonsumsinya,
http://bukuobat.blogspot.com
terutama jika ia juga harus minum obat dokter. Sebab, obat-obat
tradisional tertentu punya efek sinergis dengan obat dokter.
Kehati-hatian terutama sangat diperlukan oleh ibu hamil.
Pasalnya, obat tradisional belum memiliki data penelitian
bahayanya terhadap janin. Begitu pula pada pasien yang hendak
menjalani operasi. Menjelang operasi, sebaiknya semua
pemakaian obat tradisional dihentikan. Banyak obat tradisional
terbukti punya efek samping mempersulit pembekuan darah. Jika
konsumsi tidak disetop, dikhawatirkan akan menyebabkan
perdarahan saat operasi.
Ibu hamil yang hendak melahirkan, baik secara normal
maupun sesar, sebaiknya juga hanya minum obat tradisional kalau
mendapat persetujuan dokter. Di masyarakat kita, sebagian wanita
hamil minum rumput patimah ketika hendak bersalin. Tumbuhan
ini sering dipakai sebagai jamu untuk memperlancar persalinan.
Rumput ini memang diketahui mengandung bahan fitokimia (fito:
tumbuhan) yang mirip obat modern perangsang kontraksi rahim.
Yang menjadi masalah, dosis kandungan fitokimianya tidak
mungkin diukur saat hendak diminum. Tumbuhan ini dipakai
dengan cara akarnya direndam. Air rendaman inilah yang
diminum. Semakin lama perendaman, kadar zat fitokimia yang
terlarut pun semakin pekat. Dosis hari Rabu bisa saja dua kali lipat
dosis hari Senin. Pada obat-obat modern, masalah variasi ini tidak
terjadi. Semua bahan aktifnya jelas. Dosisnya pun terukur.
http://bukuobat.blogspot.com
Minum jamu rendaman akar rumput patimah akan
menimbulkan masalah jika pada proses persalinan itu, dokter juga
memberikan obat modern perangsang kontraksi rahim. Efeknya
bisa berlipat ganda. Jika mulut rahim belum terbuka, efek kuat
kontraksi ini bisa berbahaya. Risikonya bisa berupa robeknya jalan
lahir atau perdarahan setelah melahirkan.
Sejauh ini, obat
Pasal ke-5: tradisional memang belum
Gunakan secara mendapat tempat sepadan
dengan obat modern. Kendala
rasional.
utamanya adalah biaya
penelitian yang sangat tinggi.
Agar bisa setara dengan obat modern, obat tradisional harus
melewati banyak tahap penelitian dalam waktu yang sangat lama.
Kita ambil contoh kumis kucing. Secara empiris, tanaman
bernama ilmiah Orthosiphon stamineus ini sudah biasa dipakai
kakek nenek kita sebagai obat tekanan darah tinggi. Pada tahap
ini, derajat kumis kucing masih sebagai jamu.
Secara empiris, khasiatnya sudah diakui. Tapi belum ada
bukti ilmiah yang mendukungnya. Masyarakat dipersilakan
memakai, tapi dokter belum sudi meresepkannya. Agar bisa
diresepkan, obat tradisional harus punya data penelitian ilmiah
yang komplet lebih dulu.
http://bukuobat.blogspot.com
Supaya punya bukti ilmiah, tanaman ini harus diuji dahulu
efeknya pada binatang coba. Jika terbukti aman dan menunjukkan
efek penurunan tekanan darah, dokter baru akan mengakui
khasiatnya. Tapi pada tahap ini pun dokter masih belum bersedia
meresepkannya.
Kumis kucing baru akan dianggap setara dengan obat
modern jika telah diuji pada manusia, bukan hanya pada binatang
coba. Tahapan inilah yang kita kenal sebagai uji klinis. Setelah
lulus uji klinis, obat ini baru bisa setara dengan obat-obat modern
antihipertensi seperti kaptopril, hidroklorotiazida (HCT), dan
sebangsanya.
Obat tradisional yang sudah melewati uji klinis ini biasa
disebut “fitofarmaka”. Kalau obat tradisional sudah berbaju
fitofarmaka, dokter baru sudi meresepkannya. Obat tradisional
kategori ini sudah layak diresepkan karena memang sudah punya
bukti klinis yang mendukung, bukan sekadar pengakuan Pak
Karto atau Bu Karti.
Di Indonesia sejauh ini baru ada beberapa gelintir produk
fitofarmaka seperti Tensigard® (antihipertensi), X-Gra®
(antidisfungsi seksual pria), Stimuno® (peningkat daya tahan
tubuh), Nodiar® (antidiare), dan Rheumaneer® (antinyeri
rematik). Kita bisa mengetahui status fitofarmaka dari tanda
khusus berupa lingkaran dan logo seperti kristal salju berwarna
hijau di kemasannya.
http://bukuobat.blogspot.com
Hanya berdasarkan pengalaman
Mutu produk bervariasi
Bisa manjur, bisa pula tidak
Belum ada uji klinis
Setingkat di atas jamu
Mutu produk lebih seragam
Khasiat seragam
Belum ada uji klinis
Setingkat di atas obat herbal
terstandar
Mutu produk lebih seragam
Khasiat seragam
Sudah ada uji klinis
Sekalipun sebuah obat tradisional sudah masuk kategori
fitofarmaka, mekanisme kerjanya pun sebetulnya masih belum
diketahui secara detail. Ini memang salah satu kekurangan obat
tradisional. Ini berbeda dengan obat-obat modern yang cara
kerjanya diketahui secara sangat detail dan jelas.
Para peneliti belum bisa memastikannya karena kandungan
obat tradisional jauh lebih kompleks daripada obat modern.
http://bukuobat.blogspot.com
Sebagai gambaran, dalam sehelai daun kumis kucing terdapat
ratusan macam senyawa fitokimia. Begitu pula di dalam buah
pace, pare, mahkota dewa, buah merah, dan sebagainya. Sebagian
besar senyawa fitokimia ini tidak diketahui strukturnya, apatah
lagi mekanisme kerjanya. Semuanya masih sebatas dugaan-
dugaan.
Kebanyakan penelitian obat tradisional masih dalam tahap
menguji ada tidaknya efek tertentu. Misalnya, apakah memang
benar ekstrak buah mahkota dewa mempunyai efek menurunkan
kadar gula darah. Penelitian-penelitian tersebut belum bisa
menjawab pertanyaan lebih lanjut: senyawa apa yang punya efek
menurunkan kadar gula darah; bagaimana strukturnya; dan
bagaimana mekanisme kerjanya. Semua masih samar-samar.
Jika dokter mengatakan “belum ada buktinya”, itu sama
sekali tidak berarti tanaman tersebut “pasti tidak berkhasiat”. Bisa
saja tanaman tersebut memang berkhasiat. Masalahnya, belum
ada penelitian yang mendukung. Dalam ungkapan para cerdik
cendekia, "Ketiadaan bukti (absence of evidence) tidak sama dengan
bukti ketiadaan (evidence of absence)."
Dari fakta di atas, kita bisa melihat bahwa obat tradisional
mestinya tidak boleh dipandang sebelah mata, juga tidak rasional
didewakan secara membabi buta. Jangan meremehkannya, tapi
jangan terlalu mudah percaya dengan klaim kemanjurannya.
http://bukuobat.blogspot.com
Kalaupun sebuah obat herbal berkhasiat, biasanya khasiat
itu baru akan kelihatan setelah pemakaian lama, sebulan atau
bahkan beberapa bulan. Jadi, jangan berharap asam urat langsung
terkendali pada pemakaian dua atau tiga hari. Jangan pula
berharap berat badan turun 5 kg dalam seminggu. Jika efeknya
begitu cespleng, justru kita harus curiga, mungkin saja obat itu
sudah dicampur dengan obat kimia sintetis.
Bagaimanapun, minum obat tradisional adalah hak setiap
pasien. Sekalipun dokter melarang, keputusan akhir tetap berada
di tangan pasien. Jika seseorang sudah memutuskan untuk minum
obat tradisional, sebaiknya ia terus memantau perubahan yang
terjadi pada kesehatannya, baik perubahan yang baik maupun
perubahan yang buruk.
Obat tradisional harus digunakan dengan kritis. Kita tidak
perlu tergesa-gesa menyimpulkan bahwa tanaman anu pasti punya
khasiat anu. Akan tetapi, kita juga tidak boleh terlalu cepat
menghakimi bahwa khasiat tanaman obat hanya mitos belaka.
Semua harus dipandang secara rasional.
Bisa saja suatu saat nanti ilmuwan berhasil mengisolasi obat
antihepatitis dari meniran dan temu lawak; obat antidiabetes dari
ekstrak sambiloto dan brotowali; atau obat kanker dari buah
mahkota dewa.
Kita boleh berharap ‘kan?
http://bukuobat.blogspot.com
30
OBAT AWET SEHAT
Kita sudah membahas masalah obat di buku ini dalam
beberapa ratus halaman. Jika kita terlalu berfokus pada obat, bisa
saja kita melupakan satu hal penting yaitu bahwa kita sebetulnya
bisa sehat tanpa minum obat.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin menjumpai
orang-orang tertentu yang gampang sekali jatuh sakit. Sedikit-
sedikit sakit, minum obat, dan pergi ke dokter sampai-sampai
dokter hapal betul dengan namanya. Sebaliknya, ada pula orang
yang sangat kebal terhadap penyakit dan jarang sekali minum
obat. Seolah-olah dia punya mantra pengusir mala.
http://bukuobat.blogspot.com
Sebetulnya, faktor apakah yang menyebakan perbedaan itu?
Faktor bawaankah? Ataukah sesuatu yang didapat?
Dalam kondisi sehat, badan kita sebetulnya sudah dilengkap
dengan sistem pertahanan yang melindungi tubuh dari penyakit.
Para dokter menyebutnya dengan sistem imun. Jika Anda
membaca istilah-istilah medis semacam leukosit, limfosit,
antibodi, imunoglobulin, makrofag, dan sebangsanya, itu tak lain
adalah para “tentara” yang melindungi tubuh dari serangan
penyakit.
Secara alami, tubuh kita sebetulnya sudah memiliki sistem
pertahanan yang sempurna. Jika sistem ini bekerja dengan baik,
penyakit tidak akan gampang menyerang.
Setiap hari sebetulnya kita terpapar dengan jutaan kuman
sebab memang bakteri dan virus ada di dalam makanan,
minuman, bahkan udara yang kita hirup. Tapi faktanya kita lantas
menjadi sakit. Jika ada kuman mencoba menginvasi tubuh kita,
para tentara itu akan mencaploknya sehingga kuman itu tidak
sampai menimbulkan penyakit.
Sebaliknya, jika sistem ini mengalami gangguan, maka bisa
dipastikan tubuh kita akan rentan terhadap penyakit. Saat musim
flu tiba, kita gampang ketularan. Mulut gampang mengalami
seriawan. Sedikit-sedikit kena infeksi, batuk, radang tenggorokan,
dan sebagainya.
http://bukuobat.blogspot.com
Sistem daya tahan tubuh bekerja dengan cara yang cukup
kompleks. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kinerjanya,
antara lain nutrisi, olahraga, istirahat, stres, dan sebagainya.
Karena itu, untuk menjaga agar imunitas tetap baik, kita harus
mengelola semua faktor itu.
1. Cukup gizi
Dulu kita diajari pedoman 4 Sehat 5 Sempurna. Namun, pedoman
ini sudah secara resmi ditinggalkan dan diganti dengan Pedoman
Gizi Seimbang (PGS)— mungkin banyak dari kita yang belum
mengetahuinya.
Pedoman 4 Sehat 5 Sempurna dulu dibuat oleh Prof.
Poerwo Soedarmo, Bapak Gizi Indonesia, di masa Orde Lama,
ketika sebagian besar orang Indonesia kurang protein. Itu
sebabnya orangtua kita disarankan banyak makan sumber protein
seperti telur, ikan, ayam, sapi, susu, dsb.
Kini kondisi gizi masyarakat Indonesia sudah berubah.
Memang masih banyak lapisan mayarakat kurang gizi. Tapi
lapisan ekonomi menengah ke atas kini menghadapi masalah
sebaliknya. Terlalu banyak gizi dan kurang bergerak. Ini bisa kita
lihat dari makin tingginya angka penyakit diabetes, hipertensi,
tinggi kolesterol, kegemukan, dan sebagainya. Itulah yang menjadi
dasar penyusunan PGS.
http://bukuobat.blogspot.com
Ada beberapa perbedaan penting antara PGS dan 4 Sehat 5
Sempurna. Salah satu pedoman utama yang penting ditegaskan:
kita dianjurkan banyak mengonsumsi buah dan sayur, sekitar 3–5
porsi setiap hari.
Dua jenis makanan ini mengandung banyak serat yang akan
menjauhkan kita dari kemungkinan sembelit (susah BAB)
sehingga kita tak perlu berurusan dengan obat-obat pencahar.
Serat juga mengurangi penyerapan lemak dan kolesterol sehingga
bisa menjauhkan kita dari obat pelangsing, obat penurun
kolesterol, obat penurun lemak, dan sebagainya.
Buah dan sayur juga mengandung banyak vitamin, mineral,
dan antioksidan alami yang akan membuat kita tak perlu minum
suplemen multivitamin, mineral, dan sebangsanya. Masih banyak
lagi manfaat buah dan vitamin yang akan terlalu panjang untuk
diulas. Intinya, kedua jenis bahan pangan nabati ini seratus persen
memenuhi kriteria makanan dalam “fatwa” Hippocrates, Bapak
Kedokteran, “Let food be your medicine." Jadikan makanan
sebagai obat.
2. Olahraga teratur
Daya tahan tubuh mencerminkan kondisi kesehatan secara
menyeluruh. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tahan tubuh
bekerja bahu-membahu satu sama lain. Gizi yang baik saja
tidaklah cukup, harus disertai dengan olahraga yang teratur dan
http://bukuobat.blogspot.com
terukur. Dua orang yang sama-sama cukup gizi bisa saja punya
daya tahan tubuh yang jauh berbeda.
Olahraga dan aktivitas fisik membuat sistem peredaran
darah menjadi lancar. Dengan begitu, pasokan nutrisi buat sel-sel
tubuh penjaga imunitas pun akan lancar.
Olahraga tidak harus selalu berupa kegiatan yang kita kenal
sebagai sport, yang sampai membuat kita terengah-engah dan
mandi keringat. Jalan cepat selama setengah sampai satu jam yang
dilakukan secara rutin pun bisa menjauhkan kita dari obat-obatan.
Kita mungkin tidak bisa bermain badminton, berenang, atau
bersepeda. Tapi hampir semua orang bisa berjalan cepat. Jadi, tak
ada alasan untuk tidak berolahraga.
3. Hindari stres
Secara langsung maupun tak langsung, stres bisa mengganggu
kemampuan tubuh memproduksi sel-sel imun. Itu artinya,
sekalipun gizi kita tercukupi, bisa saja kita mudah sakit-sakitan
jika kita sering menderita stres.
Saat kita mengalami stres, tubuh memproduksi hormon
kortisol. Hormon inilah yang diduga kuat sebagai biang keladi
yang merusak sistem imun. Yang menarik, struktur kimia hormon
ini mirip dengan kortikosteroid, obat yang punya efek menekan
sistem imun.
http://bukuobat.blogspot.com
Tak terhitung banyaknya bukti yang mengaitkan antara stres
psikis dan penyakit fisik. Stres bisa menyebabkan sakit kepala,
mag, sariawan, asma, hipertensi, dan masih banyak lagi. Artinya,
makin pandai kita mengelola stres, makin kecil kemungkinan kita
berurusan dengan obat-obatan.
Bab ini sebetulnya sudah di luar ilmu obat. Stres urusan
psikologi sementara obat-obatan perkara farmakologi. Tapi karena
keduanya tak terpisahkan, maka pengetahuan tentang ilmu
mengelola stres sama pentingnya dengan pengetahuan tentang
obat-obat bebas.
4. Cukup istirahat
Pengaruh kurang istirahat terhadap daya tahan tubuh mirip
dengan pengaruh stres psikis. Saat kita kurang istirahat,
kemampuan tubuh untuk memproduksi sel-sel imun juga akan
terganggu. Itu sebabnya, orang yang kurang tidur biasanya
menjadi mudah sakit, mudah uring-uringan, mudah stres, mudah
sakit kepala, dan sebagainya.
Dalam hal ini, anjuran dokter masih berlaku untuk
kebanyakan orang: tidurlah delapan jam sehari. Sebagian orang
memang bisa tidur kurang dari delapan jam sehari dan tetap sehat.
Tapi ini bukan pembanding untuk orang kebanyakan. Ukuran
tidur yang sehat tidak hanya dihitung berdasarkan kuantitas
(lamanya) tapi juga kualitas (tingkat kenyenyakannya).
http://bukuobat.blogspot.com
Ilmu fisiologi, sekali lagi, tak bisa dipisahkan dari ilmu
psikologi. Jika kita selama ini perlu banyak minum obat karena
terlalu memforsir diri dalam bekerja, sudah waktunya kita
menimbang kembali pandangan kita tentang keseimbangan hidup.
5. Gizi ekstra dalam kondisi khusus
Pada saat-saat tertentu, kita sering tidak bisa menghindari kondisi
yang menurunkan daya tahan tubuh. Contoh gampang ketika kita
harus menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk dan tidak bisa
ditunda. Ini tentu akan memaksa tubuh bekerja lebih keras,
istirahat menjadi kurang, stres psikis juga meningkat. Semua ini
adalah faktor yang jelas-jelas menganggu sistem pertahanan tubuh.
Jika kita tidak bisa menghindari kondisi seperti itu, maka
kita harus memberikan perhatian ekstra kepada faktor lain yang
meningkatkan daya tahan tubuh. Asupan gizi harus benar-benar
tercukupi. Makan jangan sampai telat. Konsumsi buah dan sayur
harus lebih banyak dari biasanya. Usahakan hindari berada dekat
dengan sumber penularan penyakit. Jika diperlukan, kita bisa
minum suplemen multivitamin.
Namun, harus dicatat bahwa fungsi suplemen hanya sebagai
bantuan dalam kondisi yang memang dibutuhkan. Misalnya, pada
orang yang bekerja ekstra keras, kurang gizi, lansia, orang yang
baru sembuh dari sakit, dan golongan rentan sakit lainnya. Ketika
http://bukuobat.blogspot.com
kita sudah kembali ke kondisi normal, kita sebaiknya mendapat
asupan multivitamin dari makanan sehari-hari.
Dengan mengonsumsi makanan kaya vitamin, kita tidak
hanya mendapatkan multivitamin tapi juga zat-zat lain yang tidak
bisa kita dapatkan dari suplemen multivitamin, misalnya serat dan
antioksidan.
6. Hindari faktor-faktor penekan sistem imun lain
Selain kelima faktor di atas, masih ada hal-hal lain yang bisa
menurunkan kemampun tubuh memproduksi sel-sel imun,
misalnya polusi, merokok, terlalu banyak minum obat, dan
sejenisnya. Semua faktor ini harus dihindari.
Sekali lagi, pengetahuan tentang obat memang penting. Tapi
pengetahuan tentang pola hidup sehat jauh lebih penting. Kita
perlu tahu tentang antasida, analgesik-antipiretik, antihipertensi,
dan sejenisnya. Tapi yang jauh lebih penting itu adalah ilmu-ilmu
dasar agar kita bisa hidup tanpa obat. Dua wilayah ini sekilas
kelihatan tidak berhubungan padahal sebetulnya tak bisa
dipisahkan.
http://bukuobat.blogspot.com
31
REFERENSI
KESEHATAN DI INTERNET
Di “perpustakaan WWW” kita bisa menemukan banyak
sekali situs-situs referensi kesehatan yang tepercaya. Sayangnya,
sebagian besar berbahasa Inggris. Kalau kita memasukkan kata
kunci nama penyakit dalam bahasa Inggris di Google, biasanya
sepuluh pertama hasil pencarian didominasi oleh situs-situs
referensi yang kredibel.
Sekalipun begitu, sebagian hasil pencarian mungkin kurang
kredibel. Untuk menghindari ini, kita bisa menggunakan portal
pencarian yang memang didesain khusus untuk mengarahkan kita
ke situs-situs referensi. Salah satu portal yang sangat layak
http://bukuobat.blogspot.com
direkomendasikan adalah MedlinePlus. Portal ini dikelola oleh
National Institute of Health, Pemerintah Amerika Serikat.
Jika kita mengetikkan kata kunci di kotak pencarian, maka
kita akan diarahkan ke situs-situs referensi yang kredibilitasnya tak
perlu diragukan lagi, seperti Food & Drug Administration (FDA),
Mayo Clinic, Centers for Disease Control and Prevention (CDC),
Badan Kesehatan Dunia WHO, asosiasi-asosiasi kedokteran, dan
sebagainya.
Selain MedlinePlus, ada pula portal lain yang juga sangat
layak direkomendasikan, yaitu Health on the Net Foundation.
HON adalah organisasi nonprofit yang membantu kita memilah
situs-situs kesehatan yang tepercaya. Portal yang bermarkas di
Swiss ini memiliki fasilitas pencarian seperti Google yang hasilnya
dibatasi hanya situs-situs yang sudah terakreditasi sesuai standar
HON.
Ringkasnya, kita tak akan kesulitan mencari bahan rujukan
dalam bahasa Inggris. Akan tetapi, lain cerita kalau kita
memasukkan kata kunci dalam bahasa Indonesia. Biasanya
sepuluh teratas hasil pencarian didominasi situs nonreferensi. Ini
masih belum seberapa. Banyak di antaranya adalah situs komersial
berbasis search engine optimization (SEO). Ini sisi buruk mesin
pencari yang sulit kita hindari.
http://bukuobat.blogspot.com
Google bisa sangat membantu. Tapi mesin algoritma SEO
juga bisa menyesatkan kita. Dalam kondisi ini, kemampuan kita
menyaring informasi menjadi hal yang paling menentukan. Untuk
mengecek tingkat kredibilitas sebuah informasi, sebaiknya kita
melakukan cross check di banyak situs referensi.
http://bukuobat.blogspot.com
32
MEDICINE
IS A BIG BUSINESS®
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com
http://bukuobat.blogspot.com