http://bukuobat.blogspot.com
Ospamox®, Pritamox®, Scannoxyl®,
Solpenox®, Supramox®, Topcillin®,
Wiamox®
Amoksisilin Augmentin®, Aclam®, Amocom®,
& klavulanat Auspilic®, Bellamox®, Betaclav®,
Clabat®, Claneksi®, Clavamox®, Claxy®,
Danoclav®, Daxet®, Dexyclav®,
Improvox®, Lansiclav®, Nufaclav®,
Palentin®, Surpas®, Viaclav®, Vulamox®
Pusing melihat banyaknya nama dagang di atas? Ini
baru sebagian kecil. Belum semua. Ini adalah gambaran
betapa pasar farmasi Indonesia hiruk-pikuk gegap-gempita
dengan merek dagang.
Sekalipun hingga saat ini amoksisilin masih cukup
sering diresepkan oleh dokter, obat ini sudah mulai
berkurang keampuhannya. Kini makin banyak bakteri yang
kebal terhadap amoksisilin akibat penggunaannya yang
berlebihan. Bahkan, di rumah-rumah sakit, amoksisilin
sekarang sudah mulai jarang dipakai. Di sini, amoksisilin
sudah tak beda jauh dengan tepung terigu.
Sebagai gantinya, dokter sering terpaksa harus
meresepkan generasi terbaru turunan amoksisilin yang
http://bukuobat.blogspot.com
harganya selangit. Contoh generasi baru amoksisilin yang
harganya “sulit diterima akal” adalah meropenem.
Obat Contoh merek dagang
Meropenem
Meronem®, Merobat®, Merofen®,
Merosan®, Tripenem®, Meropex®,
Caprenem®
Tahu harganya? Benar-benar bikin kantong jebol.
Sebagai perbandingan, amoksisilin satu emplek (satu
setrip) bisa didapat dengan uang beberapa belas ribu rupiah.
Sementara meropenem satu resep bisa mencapai beberapa
juta rupiah. Ini bukti bahwa ongkos mahalnya obat akan
ditanggung oleh konsumen.
3. Tetrasiklin
Ini juga termasuk salah satu antibiotik yang paling banyak
dikonsumsi di Indonesia. Merek dagangnya yang sangat
terkenal: Super Tetra®. Beberapa dekade yang lalu, Super
Tetra® sampai pernah menjadi obat yang paling banyak
dipalsukan karena saking larisnya di pasar. Sampai-sampai
obat ini sering dipakai untuk luka luar yang mestinya cukup
diobati dengan antiseptik. Karena tetrasiklin terlalu banyak
http://bukuobat.blogspot.com
digunakan, saat ini makin banyak bakteri yang kebal
terhadap antibiotik ini.
Salah satu sifat pentingnya, tetrasiklin mudah
berikatan dengan kalsium. Karena itu, tetrasiklin dan semua
turunannya sebaiknya tidak diminum bersama susu dan
semua turunan susu seperti keju, es krim, dan yoghurt.
(Contoh turunan tetrasiklin bisa dilihat di bawah).
Susu banyak mengandung kalsium. Jika diminum
bersama tetrasiklin atau turunannya, maka kalsium ini akan
berikatan dengan inti tetrasiklin dan mengurangi
penyerapannya di usus.
Tidak itu saja, tetrasiklin juga bisa berikatan dengan
kalsium di gigi dan tulang yang sedang dalam masa
pertumbuhan. Itu sebabnya golongan obat ini tidak boleh
dikonsumsi oleh ibu hamil, bayi, atau anak-anak yang
masih mengalami tumbuh gigi.
Bagi si ibu sendiri, tetrasiklin tidak berbahaya.
Bahayanya terjadi pada janin. Begitu berikatan dengan
kalsium gigi atau tulang, tetrasiklin dan turunannya akan
membuat massa kalsium gigi atau tulang itu menjadi cokelat
permanen.
Tetrasiklin juga bisa berikatan dengan aluminium. Itu
sebabnya obat golongan ini sebaiknya tidak diminum
bersama obat mag yang berisi garam aluminium.
http://bukuobat.blogspot.com
Obat Contoh merek dagang
Tetrasiklin
Super Tetra®, Dumocycline®,
Ikacycline®, Soltralin®, Tetrin®,
Tetrasanbe®
Saat ini tetrasiklin sudah jarang diresepkan dokter
karena sudah banyak bakteri yang kebal. Yang biasa
diresepkan adalah turunan tetrasiklin generasi yang lebih
baru.
Ada banyak jenis turunan tetrasiklin. Biasanya nama
generasi baru tetrasiklin ini berakhiran “-siklin” seperti
doksisiklin dan minosiklin.
Obat Contoh merek dagang
Doksisiklin
Vibramycin®, Dohixat®, Dotur®,
Doxacin®, Doxicor®, Dumoxin®,
Interdoxin®, Siclidon®, Viadoxin®
4. Kloramfenikol
Antibiotik ini dulu merupakan obat pilihan pertama untuk
infeksi demam tifoid (sakit tifus). Tapi karena obat ini
http://bukuobat.blogspot.com
terlalu sering diminum secara bebas, makin banyak kuman
yang kebal.
Sekarang pada sebagian pasien, obat ini sudah bukan
pilihan pertama lagi untuk infeksi tifus. Yang sekarang lebih
banyak digunakan untuk obat tifus adalah turunannya,
seperti tiamfenikol, atau antibiotik golongan lain.
Obat Contoh merek dagang
Kloramfenikol
Chloramex®, Cloramidina®, Colme®,
Tiamfenikol Colsancetine®, Combicetin®, Fenicol®,
Grafacetin®, Kalmicetine®,
Kemicetine®, Lanacetine®
Biothicol®, Cetathiacol®, Conucol®,
Corsafen®, Dexycol®, Genicol®,
Kalticol®, Lacophen®, Lanacol®,
Nilacol®, Nufathiam®, Opiphen®,
Promixin®, Solathim®, Thiamet®,
Thiamfilex®, Thiamika®, Thiamycin®,
Urfamycin®
Pada sebagian kecil orang, kloramfenikol (dan
turunannya) bisa menyebabkan efek buruk gangguan sumsum
tulang belakang. Ini alasan lain, kenapa sebaiknya kita tidak
http://bukuobat.blogspot.com
menggunakan obat ini kecuali atas resep dokter. Obat ini juga
bisa mengganggu kesehatan janin, sehingga tidak disarankan
buat ibu hamil.
5. Siprofloksasin
Obat ini dulu termasuk “antibiotik kelas berat”. Kuman-
kuman yang sudah kebal terhadap ampisilin, amoksisilin,
dan tetrasiklin kadang masih bisa dibasmi dengan
siprofloksasin, terutama untuk kasus infeksi saluran kemih.
Namun, kelas antibiotik ini makin lama makin turun.
Karena terlalu sering digunakan secara bebas, sekarang
antibiotik ini turun kelas menjadi kelas menengah atau
bahkan kelas ringan. Kini makin banyak kuman yang kebal
terhadap siprofloksasin.
Jika penggunaan obat ini tidak kita batasi, apa yang
terjadi di Thailand sangat mungkin terjadi pula di
Indonesia. Di negara itu, banyak kejadian infeksi penyakit
menular seksual. Untuk mengobati infeksi ini, orang-orang
menggunakan siprofloksasin secara bebas.
Karena saking seringnya antibiotik ini digunakan,
banyak bakteri yang kebal. Kondisi ini diperparah oleh
penggunaan siprofloksasin yang luas di bidang peternakan.
Akibatnya, obat ini sudah bukan lagi pilihan pertama untuk
infeksi saluran kemih.
http://bukuobat.blogspot.com
Bukan itu saja, kuman penyebab diare pun banyak yang
kemudian kebal dengan obat ini. Ini bukti bahwa kebiasaan
masyarakat dalam konsumsi antibiotik sangat berpengaruh
terhadap keampuhannya.
Selain masalah resistensi, siprofloksasin juga sebaiknya
tidak digunakan secara bebas karena mungkin bisa
menyebabkan gangguan jaringan sendi.
Untuk mengatasi banyaknya kuman yang kebal, juga
untuk memperbaiki sifat antibiotik ini, diciptakanlah turunan-
turun siprofloksasin. Sebagian besar namanya juga berakhiran
“-floksasin”, seperti norfloksasin, ofloksasin, lefofloksasin,
moksifloksasin, dsb.
Termasuk salah satu antibiotik dengan tingkat konsumsi
tertinggi di dunia, siprofloksasin pun memiliki puluhan nama
merek dagang. Tak kurang dari enam puluh buah.
Obat Contoh merek dagang
Siprofloksasin Bactiprox®, Baquinor®, Bernoflox®,
Cetafloxo®, Ciflos®, Ciprec®,
Ciprobiotic®, Ciproxin®, Civell®,
Corsacin®, Etacin®, Floxbio®, Floxigra®,
Hexiquin®, Interflox®, Lapiflox®,
http://bukuobat.blogspot.com
Phaproxin®, Poncoflox®, Proxcip®,
Proxitor®, Qinox®, Quamiprox®,
Quidex®, Quinobiotic®, Renator®,
Scanax®, Zumaflox®
Baru Empat Dekade
Dibandingkan antibiotik-antibiotik lain, siprofloksasin
sebetulnya masih belum lama beredar. Sebagai gambaran,
ampisilin dikembangkan oleh pabrik farmasi Beecham Inggris
tahun 1961.
Amoksisilin juga dikembangkan oleh Beecham, tahun
1972. Tetrasiklin bahkan sudah dipatenkan oleh Pfizer, pabrik
farmasi Amerika, tahun 1952. Kloramfenikol dikembangkan
oleh dua industri farmasi Amerika, Parke-Davis, tahun 1949.
Ampisilin sudah beredar lima dekade, amoksisilin empat
dekade, tetrasiklin dan kloramfenikol sudah enam dekade.
Sementara siprofloksasin baru dipatenkan oleh Bayer,
perusahaan farmasi Jerman, tahun 1986. Artinya, belum tiga
dekade sampai saat ini. Sungguh disayangkan, obat yang
belum berumur tiga dekade harus kehilangan keampuhannya
hanya karena penggunaannya yang berlebihan.
http://bukuobat.blogspot.com
Dari fakta di atas, kita bisa melihat, antibiotik makin
lama makin tidak ampuh. Ini berbeda dengan obat golongan
lain, katakanlah parasetamol. Sejak ditemukan di akhir abad
ke-19, lalu dipasarkan secara luas tahun 1953 oleh perusahaan
farmasi Amerika, Sterling-Winthrop, sampai sekarang pun
keampuhan parasetamol tak berubah. Sekalipun sudah
digunakan secara luas di seluruh dunia selama enam dekade,
sampai sekarang parasetamol masih tetap efektif ebagai obat
sakit kepala.
Selain beberapa antibiotik di atas, masih ada puluhan lagi
antibiotik yang beredar di Indonesia dengan ratusan merek
dagang. Di antaranya: sefadroksil, sefuroksim, sefotiam,
sefotaksim, seftriakson, sefaklor, streptomisin, gentamisin,
tobramisin, klindamisin, mikonazol, ketokonazol, flukonazol,
itrakonazol, metronidazol, vankomisin, eritromisin, spiramisin,
roksitromisin, klaritromisin, azitromisin, amfoterisin, nistatin,
tobramisin, dst.
Bingung membaca nama-nama itu? Ini baru nama generik,
belum nama dagangnya yang jumlah totalnya mencapai ratusan.
Sekali lagi, untuk urusan antibiotik, serahkan sepenuhnya kepada
dokter yang tepercaya.
Jika kita dianjurkan untuk sebisa mungkin menghindari
antibiotik, lalu apa yang bisa kita lakukan apabila sakit? Untuk
http://bukuobat.blogspot.com
sakit-sakit ringan seperti demam, flu, pilek, batuk, dan radang
tenggorok, sariawan, silakan baca di bab-bab yang berkaitan.
Pedoman Umum Minum Antibiotik
Minum sampai habis. Jangan hentikan walaupun kita sudah
merasa sembuh. Saat kita merasa sembuh, sebetulnya mungkin
saja infeksinya belum betul-betul terbasmi. Masih ada kuman
yang bertahan. Kuman-kuman ini harus dibasmi sampai tuntas
supaya tidak menimbulkan resistensi.
Usahakan minum antibiotik dengan jarak waktu yang
sama. Misalnya, kita harus minum antibiotik tiga kali sehari.
Usahakan minum obat ini dengan jarak 7-8 jam, misalnya
pukul 06.00 (sehabis bangun tidur), pukul 13.00 (setelah
makan siang), lalu pukul 20.00 (saat akan tidur). Bukan,
misalnya, pukul 08.00, pukul 12.00, dan pukul 17.00. Aturan
umum ini sebetulnya juga berlaku untuk kebanyakan obat
lainnya. Untuk antibiotik, aturan ini perlu lebih ditekankan.
Jika Anda lupa minum satu dosis, segera minum begitu
ingat. Jika Anda lupa dua kali dosis, jangan minum dosis
ganda ketika ingat. Cukup minum dosis terakhir. Misal, Anda
http://bukuobat.blogspot.com
harus minum antibiotik sehari tiga kali. Karena kesibukan
kerja, Anda lupa minum dosis siang dan malam hari dan baru
ingat saat akan tidur pukul 22.00. Jika itu yang terjadi, segera
minum dosis malam. Cukup dosis malam saja. Dosis siang
tidak usah diminum untuk menghindari kemungkinan
overdosis.
http://bukuobat.blogspot.com
21
OBAT TIFUS
Di negara kita, tifus masih merupakan salah satu penyakit
yang banyak dijumpai. Sebagian dari kita bahkan mungkin pernah
mengalaminya. Hingga sekarang, penyakit lawas ini masih sulit
diberantas. Penyebabnya tak lain adalah kurangnya kebersihan diri
dan kebersihan lingkungan.
Jika Anda membaca situs-situs referensi medis, penyakit ini mungkin tidak disebut
dengan istilah tifus melainkan tifoid atau demam tifoid. Yang benar memang mestinya
demam tifoid karena tifus adalah sebuah penyakit tersendiri yang jarang kita jumpai.
Tifus dalam pengertian para dokter adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman
Rickettsia typhi. Sedangkan tifus yang kita maksud sehari-hari adalah penyakit akibat
infeksi Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi. Meski nama belakangnya sama,
Salmonella dan Rickettsia adalah dua jenis kuman yang berbeda. Karena itu, jika Anda
melakukan browsing dan ingin dirujuk ke situs-situs referensi, gunakan kata kunci nama
medis. Tapi untuk alasan kemudahan, di buku ini kita akan menggunakan istilah tifus
untuk demam tifoid.
http://bukuobat.blogspot.com
Kuman tifus ini masuk ke dalam tubuh melalui makanan
atau minuman yang tercemar. Lalu di dalam tubuh, kuman ini
berkembang biak dan membangun koloni di usus halus. Usus
halus adalah bagian usus paling panjang yang berfungsi sebagai
tempat penyerapan zat makanan. Dari usus halus, kuman-kuman
ini kemudian menerobos masuk ke dalam pembuluh darah.
Gejala Awal Tidak Khas
Saat terjadi agresi kuman, tubuh berusaha melawannya dengan
memproduksi antibodi. Antibodi adalah zat kekebalan untuk
melawan benda asing. Sekalipun agresi kuman sudah terjadi,
penderita mungkin masih sehat-sehat saja. Gejala sakitnya baru
muncul setelah 10–14 hari sejak masa invasi. Jadi, kita mungkin
baru akan merasakan gejala sakit tifus dua minggu setelah kita
menyantap makanan yang tercemar.
Pada minggu pertama, gejala tifus yang muncul sering
mengecoh. Keluhannya mirip dengan infeksi lainnya antara lain
demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, tidak nafsu makan, mual,
muntah, rasa tidak enak di perut, batuk, mimisan, sembelit (susah
buang air besar), atau kadang malah diare.
Oleh karena gejala yang tidak khas ini, bukan hanya
pasien yang sering tertipu. Dokter pun kadang keliru diagnosis dan
tidak menyadari bahwa yang sedang dihadapi adalah kuman tifus.
http://bukuobat.blogspot.com
Tak jarang gejala ini disangka demam berdarah, pneumonia
(radang paru) atau radang tenggorok.
Tes Widal
Biasanya dokter akan meminta pasien melakukan tes yang disebut
tes Widal. Tes ini bisa membantu dokter menegakkan diagnosis
tifus. Meski begitu, hasil tes ini tidak bisa langsung dipakai dasar
tunggal untuk mengambil kesimpulan. Meskipun tes Widal positif,
belum tentu pasien positif tifus.
Sebab, tes Widal tidak memeriksa ada tidaknya kuman
tifus melainkan hanya memeriksa ada tidaknya antibodi terhadap
kuman tersebut. Di sinilah masalahnya. Setiap orang yang pernah
kontak dengan kuman ini pasti memiliki antibodi tifus. Tak peduli,
apakah ia menderita tifus atau tidak.
Di Indonesia, kuman-kuman ini adalah bagian dari
kehidupan sehari-hari. Nyaris semua orang pernah kontak dengan
kuman ini walaupun tidak otomatis menyebabkan sakit tifus.
Mungkin tubuh kita pernah kemasukan kuman ini saat makan
gado-gado atau cendol di warung yang kurang bersih.
Meski demikian, itu tidak berarti bahwa tes Widal sama
sekali tak berguna. Hasil tes ini tetap dapat membantu dokter
menegakkan diagnosis. Dokter bisa mengambil interpretasi dari
tinggi rendahnya antibodi. Semakin tinggi kadar antibodinya,
semakin besar kemungkinan seseorang menderita demam tifoid.
http://bukuobat.blogspot.com
Gejala yang Khas
Dalam membuat diagnosis, dasar utama yang dipakai dokter
adalah gejala yang khas. Umumnya gejala ini muncul pada
minggu kedua, meski kadang muncul juga pada minggu pertama.
Gejala yang khas antara lain demam terjadi terutama pada sore
atau malam hari (temperatur bisa mencapai 39–40 C), lidah
kelihatan kotor seperti berselaput, kesadaran terganggu, hati dan
limpa membesar, serta adanya rasa nyeri saat perut pasien ditekan.
Gejala-gejala khas inilah yang bisa membedakan demam
akibat tifus dengan infeksi lainnya. Sebagai contoh, pada demam
berdarah dengue, demam tidak hanya terjadi di malam hari dan
tidak lebih dari satu minggu.
Karena tingkat kesulitan diagnosis inilah pasien
disarankan agar segera memeriksakan diri ke dokter jika demam
tidak juga sembuh dalam tiga hari. Jangan menunggu sampai
parah. Di luar itu, kejelian dokter dalam membaca gejala dini tifus
merupakan kunci yang sangat penting agar pasien tidak berlama-
lama dalam kondisi sakit tanpa diketahui penyebabnya.
Jika dibiarkan terus-menerus, bukan tak mungkin penyakit
ini akan menimbulkan komplikasi yang lebih serius. Tanpa
perawatan yang benar, agresi kuman bisa menyebabkan usus
mengalami perdarahan. Jika berlangsung terus, kondisi ini bisa
menyebabkan terjadinya kebocoran usus.
http://bukuobat.blogspot.com
Pengobatannya Jelas
Sekalipun kuman tifus bisa mengecoh saat diagnosis, penyakit ini,
untungnya, bisa disembuhkan dengan metode terapi yang jelas.
Ada tiga unsur penting dalam terapi tifus, yaitu pemberian
antibiotik, istirahat total, dan makan makanan yang mudah
dicerna di usus. “Trilogi” pengobatan ini harus diikuti oleh pasien.
Asal ketiganya dilaksanakan dengan baik, tifus tidak begitu sulit
disembuhkan. Namun, jika salah satu saja ditinggalkan,
penyembuhan tifus bisa menjadi lebih sulit.
Ada beberapa jenis antibiotik yang biasa digunakan untuk
menumpas kuman tifus misalnya kloramfenikol, tiamfenikol,
siprofloksasin, atau antibiotik jenis lainnya. Ini seratus persen
urusan dokter. Pasien sebaiknya tidak melakukan pengobatan
sendiri karena pemilihan antibiotik yang salah justru bisa
membuat kuman menjadi semakin ganas dan menyebabkan
penyakit makin sulit dibasmi. Baca juga Bab Antibiotik.
Jika pemilihan antibiotiknya tepat, dalam waktu kira-kira
satu minggu, agresi kuman biasanya sudah bisa ditumpas. Namun,
sekali lagi, supaya terapi ini efektif, pasien harus mengimbanginya
dengan diet yang tepat dan istirahat. Obat, diet tepat, dan istirahat
merupakan trilogi yang saling menunjang dan tidak boleh
dipisahkan.
http://bukuobat.blogspot.com
Boleh Makan Nasi
Dulu pasien tifus hanya diberi bubur saring, lalu ditingkatkan
perlahan-lahan menjadi nasi padat seiring kondisinya. Alasannya,
makanan yang kasar dikhawatirkan dapat mengikis dinding usus
yang sedang bermasalah. Tapi pada pedoman diet tifus sekarang,
pasien boleh saja makan makanan padat seperti nasi asalkan tidak
terlalu keras dan tidak mengandung banyak serat kasar.
Dalam kondisi sehat, kita memang dianjurkan banyak
makan serat dari buah dan sayur. Tapi dalam kondisi sakit tifus,
konsumsi serat harus dilakukan dengan penuh pertimbangan.
Pasalnya, serat tidak bisa dicerna dan akan membuat feses (tinja)
lebih keras dan bervolume sehingga dikhawatirkan menimbulkan
masalah pada saat kontak dengan dinding usus yang masih lemah.
Karena alasan itulah sebaiknya pasien membatasi sayuran
yang banyak mengandung serat kasar seperti sawi, daun singkong,
dan kangkung. Jadi, jika biasanya kita dianjukan banyak makan
serat, khusus untuk kondisi tifus, aturan ini boleh dimasukkan laci.
Nasi padat yes, serat kasar no. Adapun buah dan sayur yang
seratnya tidak begitu kasar seperti apel dan wortel masih boleh
dikonsumsi asal dikunyah sampai lembut.
Aturan baru ini menjadi sangat penting karena nyaris
semua penderita tifus mengalami penurunan nafsu makan. Kalau
setiap hari disuruh makan bubur halus, pasien biasanya mengeluh
http://bukuobat.blogspot.com
tidak doyan dan merasa tidak bertenaga. Padahal untuk
mempercepat penyembuhan, pasien amat memerlukan asupan gizi
yang cukup.
Umumnya pasien
mengeluh, bubur saring tidak “Sakit Gejala Tifus”
menggugah selera makan. Di masyarakat kita, ada satu istilah
Maunya nasi padat, tapi takut yang cukup unik, yaitu “sakit gejala
makan karena sudah terbawa tifus”. Biasanya yang dimaksud dengan
pandangan yang selama ini istilah ini adalah penyakit yang seperti
diyakini. Untuk mempercepat tifus tapi tidak parah. Karena istilah ini
penyembuhan, pasien boleh merupakan istilah awam, tak ada
makan nasi padat dengan lauk pengertian baku tentang penyakit ini.
yang lebih menggugah selera Mungkin yang dimaksud adalah
asalkan tidak mengiritasi saluran penyakit paratifus—tifus yang ringan.
cerna dan tidak tinggi serat. Mungkin juga kondisi di mana dokter
baru mencurigai tifus tapi masih belum
Selain diet yang tepat, yakin betul. Apa pun yang
dimaksudkan, sakit tifus, sakit gejala
tifus, atau sakit paratifus, semua itu
adalah wilayah dokter. Pasien
disarankan untuk mengikuti petunjuk
trilogi: minum obat, diet yang tepat,
dan total beristirahat.
pasien juga harus menjalani
istirahat total (bed rest atau “tirah baring”). Dengan tirah baring,
diharapkan usus tidak banyak bergerak, sehingga mempercepat
proses penyembuhan.
Pencegahan
Sebetulnya penyakit ini bisa dicegah dengan vaksinasi yang harus
diulang setiap beberapa tahun. Tapi vaksinasi penyakit ini tidak
http://bukuobat.blogspot.com
masuk ke dalam program vaksinasi massal pemerintah. Kita bisa
memintanya kepada dokter.
Buat kita yang tak pernah mendapat vaksinasi tifus, cara
terbaik mencegah penyakit ini adalah dengan membiasakan diri
hidup bersih. Kalau memang harus makan di luar rumah,
usahakan untuk memilih warung yang bersih. Apa pun
makanannnya, apa pun minumannya, pastikan bersih warungnya.
Selama ini sebagian dari kita mungkin beranggapan bahwa
tifus adalah penyakit masyarakat kelas menegah ke bawah akibat
sanitasi yang jelek dan pola hidup yang kurang higienis. Mungkin
pandangan ini benar sebagian. Tapi itu tidak berarti tifus memilih-
milih kasta. Akibat keteledoran kecil saja, misalnya makan lalap
yang kurang bersih dicuci, kuman tifus bisa berkunjung ke rumah-
rumah yang jauh dari kesan jorok. Buktinya, rumah-rumah sakit
kelas atas pun selalu kedatangan pasien tifus.
Selain hidup bersih, cara pencegahan yang tak boleh
dilupakan adalah dengan menjaga daya tahan tubuh. Ini faktor
penting yang tak boleh dilupakan. Kuman tifus adalah bagian dari
kehidupan kita yang tinggal di Indonesia. Sebagian besar dari kita
mungkin pernah terpapar kuman ini. Tapi kenapa kita tidak sakit?
Sebab daya tahan tubuh kita cukup kuat untuk melawannya.
Kuman tifus sangat mungkin ada di dalam makanan kita
saat makan di warung. Asalkan daya tahan tubuh kita cukup kuat,
kita bisa tetap sehat. Sebaliknya, begitu daya tahan tubuh kita
http://bukuobat.blogspot.com
lemah, misalnya akibat kecapekan bekerja lembur setiap hari,
kuman-kuman itu tadi bisa menjadi ganas dan menyebabkan kita
sakit tifus.
Antibiotik Harus Dihabiskan
Dalam ilmu kedokteran modern, metode pengobatan tifus
sebetulnya sudah sangat jelas, yaitu trilogi “DI-OBAT-I”: DIet,
OBAT, Istirahat. Ketiga hal ini adalah satu paket yang tidak bisa
dipisahkan. Minum obat saja tidak cukup. Harus disertai istirahat
dan pola makan yang tepat. Asalkan antibiotiknya tepat, dengan
trilogi DI-OBAT-I ini, tifus insya Allah—sebetulnya tak ada istilah
ini dalam ilmu medis—akan sembuh.
Bagaimana kalau tidak sembuh?
Kemungkinannya banyak. Kita tidak bisa dengan serta-
merta membuat kesimpulan tentang penyebab ketidaksembuhan
itu. Pertama-tama harus ditanyakan: apakah memang sakit yang
diderita pasien itu memang benar-benar tifus? Bisa saja seseorang
dikira sakit tifus padahal sebetulnya bukan tifus. Kalau ia diobati
dengan metode pengobatan tifus dan tidak sembuh, tentu yang
salah bukan obatnya tapi diagnosisnya.
Kalaupun pasien memang benar-benar sakit tifus, dan
dokter sudah meresepkan antibiotik, tapi ternyata tidak sembuh
juga, ada kemungkinan antibiotiknya sudah tidak mempan
http://bukuobat.blogspot.com
terhadap kuman tifus itu. Dalam kondisi ini, antibiotik itu harus
diganti dengan jenis antibiotik lain yang lebih kuat yang masih
ampuh membasmi kuman ganas tersebut. Ini sepenuhnya wilayah
dokter.
Kemungkinan lain: ada kalanya obat sudah tepat tapi
pasien tidak patuh. Bentuk ketidakpatuhan itu bisa bermacam-
macam. Misalnya, antibiotik tidak diminum sampai habis.
Resep antibiotik untuk tifus bisa selama seminggu, sepuluh
hari, dua minggu, atau bahkan lebih lama dari itu tergantung jenis
antibiotik yang dipakai dan kondisi pasien. Antibiotik ini harus
diminum sampai habis walaupun pasien sudah merasa sembuh.
Pengobatan tifus harus dilakukan sampai tuntas tas. Setelah
minum antibiotik yang tepat selama beberapa hari, pasien tifus
biasanya akan mengalami proses penyembuhan. Panas badan
mungkin mulai hilang. Tapi ini tidak berarti pasien sudah sembuh
dan boleh menghentikan obatnya. Yang boleh dihentikan
konsumsinya adalah obat penurun demam—jika memang ada.
Baca juga Bab Obat Demam. Adapun antibiotiknya harus
diteruskan sampai habis sesuai resep dokter.
Sekalipun demam mungkin sudah hilang, kuman tifus
sebetulnya masih bertahan dan bersembunyi di dalam tubuh
pasien. Kuman-kuman ini harus dibasmi sampai tuntas. Jika
kuman “gerilyawan” ini tidak dibasmi, sakit tifus akan mudah
http://bukuobat.blogspot.com
kambuh lagi. Dan ketika kambuh, sakitnya menjadi lebih parah.
Kuman menjadi lebih ganas. Pemilihan antibiotik pun menjadi
lebih sulit. Dan lebih dari itu, pasien juga bisa menjadi sumber
penularan tifus bagi orang lain.
Jadi, sekalipun panas sudah hilang, pasien tetap harus
menghabiskan antibiotik dan, jangan lupa, tetap beristirahat.
Sebab, ada kalanya pasien merasa sudah sehat lalu kembali
berangkat bekerja padahal sebetulnya ia masih dalam tahap
penyembuhan. Memaksa fisik bekerja di masa istirahat itu sama
artinya dengan memperlemah kembali daya tahan tubuh. Dalam
kondisi seperti itu, jika kondisi tubuh kembali memburuk, yang
salah tentu bukan obatnya tetapi pasien sendiri.
Ekstrak Cacing untuk Tifus
Sebagian pasien yang tidak kunjung sembuh di tangan dokter
biasanya kemudian berpaling ke obat-obat tradisional. Salah satu
yang terkenal adalah obat berisi serbuk atau ekstrak cacing.
Dokter biasanya tidak mengizinkan pasien minum obat
tradisional semacam ini. Harap maklum, mekanisme kerja obat
tradisional memang belum banyak diketahui. Akan tetapi,
bagaimanapun, minum obat tradisional obat adalah hak setiap
orang.
Selama ini ekstrak cacing diduga membantu penyembuhan
tifus karena kandungan asam aminonya. Sekali lagi, ini masih
http://bukuobat.blogspot.com
dugaan alias tebakan. Mekanisme kerja asam amino ini bukan
sebuah penjelasan yang sepenuhnya ilmiah sebab masih belum
bisa menjawab banyak pertanyaan. Kalau sekadar kandungan
asam amino, ekstrak protein hewani seperti daging-dagingan dan
seafood pun kaya asam amino dan harusnya bisa menggantikan
ekstrak cacing.
Tapi ini tidak berarti bahwa logika asam amino ekstrak
cacing itu hanya strategi jualan tukang obat. Mungkin saja
memang ekstrak cacing mengandung senyawa, entah apa
namanya dan entah bagaimana struktur kimianya, yang mungkin
memang bisa membantu penyembuhan tifus. Kemungkinan itu
ada, tapi kita tak pernah tahu. Wallahua’lam. Sementara dalam
ilmu medis, dokter hanya akan meresepkan obat yang memang
benar-benar diketahui cara kerjanya.
Jadi, kalau pasien minum serbuk cacing, itu memang
haknya. Tapi ini sudah berada di luar wilayah dokter. Risiko
ditanggung penumpang. Baca juga Bab Obat Tradisional.
http://bukuobat.blogspot.com
21
OBAT ASMA
Gangguan kesehatan yang oleh orang Indonesia disebut
mengi, bengek, manggah, mengguk, ampek, alias sesak napas ini
termasuk salah penyakit yang membuat penderita biasanya harus
menggunakan obat jangka panjang. Banyak di antaranya yang
harus menggunakan beberapa jenis obat setiap hari selama
bertahun-tahun.
Hampir semua obat asma memiliki efek samping yang
buruk. Selain itu, batas antara sifat racun dan sifat obatnya sangat
tipis. Kelebihan satu tablet atau satu dosis saja bisa membuat obat
ini berubah menjadi racun. Itu sebabnya, penderita asma sangat
dianjurkan mengetahui seluk-beluk obat yang digunakan sehari-
hari.
http://bukuobat.blogspot.com
Beberapa jenis obat asma seperti fenoterol, salmeterol,
dan tiotropium pernah diduga meningkatkan risiko kematian
meski pendapat ini masih diperdebatkan valid tidaknya. Sebagai
orang awam, sebaiknya kita mengambil sikap waspada saja:
gunakan obat asma atas petunjuk dokter. Saat menggunakan obat
asma dan mengalami efek samping, sekecil apa pun,
komunikasikan ke dokter agar ia bisa memilihkan obat yang paling
tepat.
Penyebab Sakit Asma
Hingga sekarang, para ilmuwan belum bisa mengetahui dengan
pasti penyebab yang membuat seseorang menderita asma
sementara yang lain tidak. Yang diketahui hanya proses terjadinya
serangan asma. Diduga, penyebabnya adalah kombinasi antara
faktor lingkungan dan faktor genetik (keturunan).
Sama seperti hipertensi dan diabetes, asma dalam
pandangan dokter termasuk penyakit yang belum bisa
disembuhkan. Itu sebabnya pasien asma biasanya membutuhkan
persediaan obat sebagai pertolongan pertama dan untuk mencegah
kekambuhannya.
Jika seorang anak menderita asma kronis, biasanya
penyakit ini juga akan dibawa sampai dewasa. Namun, seiring
dengan bertambahnya umur dan meningkatnya kekebalan tubuh,
serangan asma biasanya menjadi lebih jarang. Memang tidak
http://bukuobat.blogspot.com
sembuh seratus persen tapi secara umum kesehatannya jauh lebih
baik.
Pencetus Serangan Asma
Pada serangan asma, penderita mengalami sesak napas karena
saluran napasnya menyempit atau membengkak. Asma akan
semakin parah jika disertai dengan produksi dahak yang
berlebihan di saluran napas.
Serangan asma bisa dicetuskan oleh banyak faktor, di
antaranya:
Alergi, misalnya alergi terhadap debu, bulu hewan, tungau
debu, serbuk sari, atau makanan, seperti kacang, udang, telur,
susu, seafood, dsb. Asma adalah penyakit yang punya kaitan
erat dengan alergi. Biasanya orang yang punya asma juga
memiliki alergi, meski tidak selalu demikian. (Lihat juga Bab
Obat Alergi.)
Iritasi, misalnya iritasi akibat asap rokok, asap knalpot, asap
pembakaran, uap cat, parfum, uap bahan kimia, semprot
rambut, pengharum ruangan, sabun, dsb.
Suhu dingin atau perubahan suhu udara yang mendadak.
Infeksi saluran napas atas, flu, radang tenggorok, dan
sejenisnya.
http://bukuobat.blogspot.com
Kecapekan, misalnya setelah aktivitas yang menguras tenaga
atau setelah olahraga berat.
Stres yang berat. Pada anak-anak, menangis lama pun bisa
mencetuskan asma.
Naiknya cairan lambung ke kerongkong akibat sakit mag
berat.
Perubahan hormonal pada perempuan.
Obat-obatan, misalnya obat demam atau obat darah tinggi
golongan tertentu.
Pengawet makanan atau minuman jenis sulfit.
Dan sebagainya.
Karena banyaknya kemungkinan pencetus asma, penderita
sebaiknya punya catatan harian sehingga memudahkan dokter
menemukan pencetusnya. Catatan harian itu harus meliputi
faktor-faktor di atas, seperti kapan terjadinya serangan asma,
makanan atau minuman apa saja yang dikonsumsi sebelumnya,
apa saja bahan-bahan makanan atau minuman tersebut, aktivitas
apa yang telah dilakukan, dan sejenisnya.
Gangguan kesehatan ini cukup sering terjadi pada anak-
anak, terutama yang lahir prematur atau memiliki orangtua
penderita asma atau alergi. Karena saluran napas mereka masih
sempit, masalah asma pada anak harus lebih diwaspadai.
http://bukuobat.blogspot.com
Biasanya serangan asma menjadi satu paket dengan flu,
pilek, batuk, atau radang tenggorok. Itu sebabnya, pencegahan
asma perlu dilakukan satu paket dengan pencegahan flu, pilek,
batuk, dan radang tenggorok.
Di samping harus menggunakan Satu-satunya
obat, penderita asma harus tetap pencetus asma yang
tidak perlu dihindari
berolahraga tapi dengan cara adalah olahraga. Kita
yang terukur, tidak sampai tahu, olahraga atau
membuat asma kambuh.
aktivitas fisik sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan dan
daya tahan tubuh kita. Daya tahan tubuh yang baik sangat penting
untuk mengurangi kemungkinan asma.
Jika olahraga membuat pasien terserang asma, sebaiknya ia
berkonsultasi ke dokter agar tetap bisa berolahraga tanpa serangan
asma. Penderita asma harus tetap berolahraga tapi dengan cara
yang terukur.
Konsultasikan ke Dokter
Di pasar ada amat banyak merek dagang obat asma. Sebagian
kecil termasuk obat bebas-terbatas, sebagian besar lainnya
termasuk obat keras. Sekalipun sebagian obat asma bisa dibeli
tanpa resep, sebaiknya penderita asma tetap berkonsultasi ke
dokter, apalagi jika serangan asma sering kambuh. Sebab, jenis
http://bukuobat.blogspot.com
terapi akan sangat ditentukan oleh tingkat keparahan dan seberapa
sering kambuhnya.
Sering kali untuk menentukan obat yang tepat, dengan efek
samping minimal, dokter perlu melakukan coba-coba beberapa
jenis obat. Itu sebabnya pasien kadang perlu beberapa kali
kunjungan untuk mendapat resep yang tepat.
Jangan suuzon dan menganggap dokter sedang mengambil
keuntungan dari kunjungan pasien yang berulang-ulang. Memang
sifat pengobatan asma seperti itu. Kita justru perlu bersikap kritis
kalau tiap kali kunjungan ke dokter kita selalu dibekali resep
setumpuk obat-obatan tapi hanya sepatah dua kata.
Sambil menggunakan obat dokter untuk meredakan gejalanya,
penderita harus menghindari pencetusnya. Misalnya, jika
pencetusnya adalah debu, mungkin saja “obat” yang paling
ampuh adalah rumah yang bersih dan bebas debu. Jangan hanya
mengandalkan obat tapi membiarkan pencetusnya. Kadang
mungkin saja tindakan pencegahan harus berupa sesuatu yang
radikal, misalnya mengganti semua perabot rumah yang menjadi
sumber debu dan alergen, atau bahkan sampai pindah rumah atau
pindah kerja yang lingkungannya lebih sehat.
Jika pencetusnya tidak dihindari, dan penderita
menggantungkan diri pada obat, mungkin saja obat itu lama-lama
akan makin kurang ampuh. Ini juga salah satu sifat natural dari
http://bukuobat.blogspot.com
obat asma yang bisa mengalami penurunan keampuhan jika
digunakan jangka panjang.
Terapi Non-medis
Yang disebut “obat asma” bukanlah obat yang menyembuhkan
asma. Obat-obatan ini hanya meredakan atau mencegah gejala
sesak napasnya. Sama seperti obat sakit kepala yang hanya
meringankan rasa sakitnya tapi tidak menyembuhkan sampai ke
akar penyebabnya.
Sambil menjalani terapi dengan obat, pasien asma juga
dianjurkan menjalani terapi non-obat, misalnya latihan
pernapasan, yoga, atau relaksasi. Jika pasien tidak alergi terhadap
seafood, ia dianjurkan banyak makan ikan karena hasil laut
mengandung banyak asam lemak omega-3 yang bisa menurunkan
derajat peradangan pada asma.
Namun, harap diingat bahwa terapi-terapi ini sifatnya tidak
menggantikan terapi obat, melainkan terapi pelengkap. Istilah
medisnya, terapi komplementer. Obat dokter tetap perlu digunakan.
Menurut standar ilmu kedokteran modern, asma memang harus
diterapi dengan obat. Tidak bisa tidak.
Obat P3K dan Pencegahan
Ada dua kelompok besar obat asma. Yang pertama, obat untuk
pertolongan pertama pada serangan asma. Yang kedua, obat
http://bukuobat.blogspot.com
untuk mencegah kekambuhan asma. Dua-duanya dibutuhkan
oleh para penderita asma.
Sebagian obat asma berupa obat minum, sebagian lainnya
berupa obat hirup atau semprot. Secara umum, obat hirup atau
semprot lebih baik daripada obat minum. Pertama, obat hirup
memiliki daya kerja yang cepat karena obat bisa langsung diserap
di paru-paru dan dan menuju target, yaitu otot saluran napas atas.
Tidak seperti obat minum yang harus lewat lambung, usus, dan
peredaran darah lebih dulu sebelum mencapai target.
Keuntungan kedua, obat hirup biasanya juga memiliki efek
samping yang lebih kecil dibandingkan obat minum. Ini juga wajar
mengingat obat minum akan masuk ke dalam darah dan beredar
ke seluruh tubuh, tidak hanya di saluran napas.
Sebagian kecil obat asma yang berupa obat minum termasuk
obat bebas yang bisa dibeli di apotek atau bahkan toko biasa.
Namun, sebagian besar lainnya termasuk obat resep. Kalau kita
atau anak kita menderita asma kronis (menahun), sebaiknya kita
mengetahui kedua kelompok obat ini karena kita akan sering
berurusan dengan keduanya.
Obat Semibebas
Obat kelompok ini boleh dibeli dalam jumlah terbatas tanpa resep
dokter. Di kelompok ini, obat asma yang banyak beredar di
pasaran biasanya mengandung:
http://bukuobat.blogspot.com
1. Dekongestan/pelega saluran napas atas. Misalnya efedrin.
Cara kerja dan informasi efek sampingnya bisa dibaca di Bab
PPA dan Pelega Hidung. Efek samping yang sangat perlu
diketahui adalah jantung berdebar-debar hingga sulit tidur.
2. Antihistamin/antialergi. Contoh obat: CTM/klorfeniramin
maleat. Cara kerja dan informasi efek samping bisa dibaca di
Bab Obat Alergi. Efek samping yang perlu diketahui adalah rasa
kantuk dan mulut kering.
3. Ekspektoran/pengencer dahak. Misalnya guaifenesin alias
gliseril guaiakolat (GG). Cara kerja dan informasi efek
sampingnya bisa dibaca di Bab Obat Batuk. Efek samping yang
penting diketahui adalah iritasi lambung. Karena cara kerjanya
mengencerkan dahak, produk yang berisi obat ini hanya untuk
jenis asma yang disertai produksi banyak dahak.
Makin banyak kombinasi obat asma, makin besar risiko efek
sampingnya. Karena itu, kalaupun kita membeli obat asma non-
resep ini, pilihlah yang kandungannya memang kita butuhkan.
Obat Contoh merek dagang
Efedrin, GG & CTM Asbron®, Asficap®
http://bukuobat.blogspot.com
4. Teofilin. Obat ini bekerja dengan cara melebarkan saluran
napas. Teofilin masih satu keluarga dengan kafein, zat yang
banyak terdapat di dalam biji kopi dan daun teh. Saat minum
obat ini, pasien sebaiknya menghindari kopi atau teh kental
karena mungkin minuman ini akan meningkatkan risiko efek
sampingnya. Beberapa gejala efek samping yang mungkin
timbul antara lain mual, gelisah, jantung berdebar-debar,
sampai sulit tidur.
Obat-obat asma yang banyak diiklankan di media massa
pada umumnya mengandung teofilin. Biasanya obat ini
dikombinasikan dengan efedrin, obat kelompok dekongestan
(pelega saluran napas) yang juga punya efek samping mirip,
antara lain menyebabkan jantung berdebar-debar sampai sulit
tidur.
Karena itulah kita sebaiknya menggunakan obat asma
golongan ini dengan sangat hati-hati. Jangan melebihi dosis
yang dianjurkan. Ibu hamil atau ibu menyusui sebaiknya
menghindari penggunaan obat ini.
5. Aminofilin. Tersedia dalam bentuk obat minum atau
supositoria (torpedo yang dimasukkan ke dalam dubur). Di
kemasan obat, nama obat ini mungkin tertulis sebagai teofilin
etilendiamin. Obat ini memang sebetulnya teofilin yang
digabungkan dengan zat lain yaitu etilendiamin. Bagian
http://bukuobat.blogspot.com
intinya tetap teofilin karena itu cara kerja aminofilin juga sama
dengan teofilin. Efek sampingnya pun sama.
Obat ini sebetulnya bukan tergolong obat bebas tapi boleh
diberikan oleh apoteker tanpa resep, hanya untuk pasien yang
sudah pernah mendapat resep serupa dari dokter.
Obat Contoh merek dagang
Teofilin Quibron T/SR®, Bronchophylin®, Brondilex®,
Bronsolvan®, Bufabron®, Cospamic®, Euphyllin®,
Aminofilin Kalbron®, Nitrasma®, Pulmo-Timelets®, Retaphyl
Teofilin & efedrin SR®, Theobron®, Samcolat®
Phaminov®, Phyllocontin®
Teofilin & GG Asmadex®, Asmano®, Asmasolon®, Asmalex®,
Teofilin, GG & efedrin Asthma Soho®, Bufakris®, Citobron®, Getbron®,
Teofilin, efedrin & Grafasma®, Ifasma®, Kontrasma®, Neo Asma®, Neo
CTM Hufasma®, Neo Napacin®, Neo Suwasthma®, New
Teofilin, GG, Ascaps®, Mediasma®, Omedrine®, Oskadryl Asma®,
difenhidramin Prinasma®, Theochodil®
Bronchophylin®
Brondilat®
Asmasolon®, Asmavar®
Tusapres®
http://bukuobat.blogspot.com
Obat Resep
Kelompok obat di bawah ini bukan obat bebas. Sebagian besar
hanya boleh didapatkan dengan resep dokter. Obat nomor 1–3
boleh diberikan dalam jumlah terbatas oleh apoteker tanpa resep.
Tapi ini hanya berlaku untuk pasien yang sudah pernah mendapat
resep serupa dari dokter dan sudah terbukti efektif serta aman.
Pasien yang belum pernah mendapat resep obat-obat ini
sebaiknya jangan melakukan pengobatan sendiri hanya
berdasarkan cerita orang lain. Obat asma sangat individual. Obat
yang tepat buat seorang pasien belum tentu tepat untuk pasien
lain. Apalagi, sekali lagi, sebagian besar obat asma memiliki efek
buruk dan karena itu harus digunakan dengan sangat hati-hati.
1. Ketotifen. Cara kerja obat ini mirip dengan CTM karena
sama-sama kelompok antihistamin. Sama seperti CTM,
ketotifen juga bisa menyebabkan kantuk dan mulut kering.
Tersedia dalam bentuk obat minum. Biasa digunakan untuk
pencegahan. Tidak cocok untuk pertolongan pertama.
Obat Contoh merek dagang
Ketotifen
Zaditen®, Astifen®, Ditensa®, Intifen®, Profilas®,
Pehatifen®, Nortifen®, Scanditen®
http://bukuobat.blogspot.com
2. Salbutamol/albuterol. Tersedia dalam bentuk obat minum
dan obat hirup. Salah satu kelebihannya, salbutamol bisa
digunakan sebagai pertolongan pertama, bisa juga digunakan
untuk pencegahan.
Salbutamol merupakan obat asma yang paling banyak
digunakan. Efek samping obat ini antara lain tremor (badan
gemetar), sakit kepala, hingga jantung berdebar-debar dan sulit
tidur.
Satu dosis salbutamol bisa bekerja selama sekitar lima jam.
Artinya, dalam waktu lima jam itu, pasien bisa terlindungi dari
asma. Lebih dari lima jam, efeknya sudah hilang. Karena itu,
jika tujuan pemakaian adalah mencegah kekambuhan, pasien
perlu mengulangi penggunaannya setelah lima jam.
Penggunaan tiap lima jam ini agak merepotkan di malam
hari sebab bisa mengganggu tidur. Dalam kasus seperti ini
dokter mungkin akan meresepkan obat asma yang masa
kerjanya lebih panjang.
Pada sebagian produk, salbutamol digabungkan dengan
guaifenesin/gliseril guaiakolat/GG. Ini golongan obat
pengencer dahak (ekspektoran). Karena itu, obat ini hanya
cocok digunakan pada asma yang disertai produksi banyak
dahak. Baca juga Bab Obat Batuk. Jika asma tidak disertai
http://bukuobat.blogspot.com
dahak, penggunaan obat ini hanya akan meningkatkan
kemungkinan efek buruk iritasi lambung.
Obat Contoh merek dagang
Salbutamol
Ventolin®, Astop®, Ascolen®, Asmacare®, Astharol®,
Salbutamol & Azmacon®, Bromosal®, Bronchosal®, Brondisal®,
guaifenesin/GG Butasal®, Buventol®, Cybutol®, Fartolin®, Glisend®,
Salbutamol & Grafalin®, Hivent®, Lasal®, Librentin®, Pritasma®,
teofilin Respolin®, Salbron®, Salbuven®, Saltam®, Salvasma®,
Suprasma®, Varsebron®, Venasma®, Ventab®, Volmax®
Ventolin Ekspektoran®, Fartolin Ekspektoran®, Lasal
Ekspektoran®, Proventol-Ekspektoran®, Salbron
Ekspektoran®, Salbuven Ekspektoran®
Teosal®
3. Terbutalin. Masih satu golongan dengan salbutamol. Cara
kerja, masa kerja, dan efek sampingnya pun serupa dengan
salbutamol.
Obat Contoh merek dagang
Terbutalin
Bricasma®, Asmabet®, Astherin®, Brasmatic®, Forasma®,
Terbutalin Lasmalin®, Lintaz®, Nairet®, Neosma®, Pulmobron®, Relivan®,
& GG Sedakter®, Tabas®, Terasma®, Tismalin®, Yarisma®
Bricasma ekspektoran®, Terasma ekpektoran®
http://bukuobat.blogspot.com
4. Metaproterenol (orsiprenalin). Ini juga masih satu golongan
dengan salbutamol. Cara kerjanya serupa, efek sampingnya
juga mirip. Harus digunakan dengan sangat hati-hati pada
penderita hipertensi, gangguan jantung, atau diabetes karena
pada sebagian orang obat ini mungkin bisa memperparah
penyakit-penyakit itu.
Obat Contoh merek dagang
Metaproterenol
Alupent®
5. Ipratropium. Obat ini bekerja dengan cara melegakan saluran
napas dan mencegah produksi dahak. Untuk meningkatkan
efektivitasnya, obat ini biasanya dikombinasikan dengan
salbutamol. Karena tidak termasuk obat bebas, hanya gunakan
obat ini di bawah pengawasan dokter.
Tersedia dalam bentuk obat hirup. Saat pasien
menggunakannya, uap harus dijauhkan dari mata. Mata harus
dipejamkan. Jangan sampai uapnya terkena mata sebab bisa
menyebabkan iritasi dan gangguan penglihatan.
Selesai menghirup obat ini, berkumurlah dengan air untuk
menghilangkan sisa obat di mulut agar terhindar dari efek
samping mulut dan tenggorok kering.
http://bukuobat.blogspot.com
Obat Contoh merek dagang
Ipratropium Atrovent®
Ipratropium & salbutamol Combivent®, Farbivent®
Ipratropium & fenoterol Berodual®
6. Tiotropium. Obat ini masih termasuk satu kelompok dengan
ipratropium. Efek sampingnya pun sama. Bedanya, obat ini
memiliki masa kerja yang panjang, sekitar 24 jam. Lazim
digunakan untuk pencegahan, bukan untuk pertolongan
pertama. Satu dosis bisa memberi perlindungan selama sehari-
semalam.
Obat Contoh merek dagang
Tiotropium
Spiriva®
7. Salmeterol dan formoterol. Masih satu kelompok dengan
salbutamol. Punya masa kerja yang lebih panjang, sekitar 12
jam. Sehingga, dalam sehari semalam, pasien cukup
menggunakan dua kali. Cocok digunakan untuk pencegahan,
terutama saat tidur di malam hari. Tapi obat ini tidak cocok
digunakan untuk pertolongan pertama. Efek samping yang
bisa timbul antara lain sakit kepala, pusing, jantung berdebar-
debar, atau badan gemetar.
http://bukuobat.blogspot.com
8. Fenoterol. Sama seperti salbutamol, obat ini bisa digunakan
untuk pertolongan pertama, juga bisa untuk pencegahan. Obat
ini sempat diperdebatkan keamanannya karena diduga
meningkatkan risiko fatal pada pasien asma yang parah.
Sekalipun pendapat ini masih diperdebatkan, kita sebagai
konsumen awam sebaiknya mengambil jalan aman saja, yaitu
hanya menggunakannya sesuai dengan petunjuk dokter.
Obat Contoh merek dagang
Fenoterol Berotec®
Fenoterol & ipratropium Berodual®
9. Kortikosteroid, misalnya beklometason, budesonid,
mometason, flunisolid, flutikason, triamsinolon, dsb.
Digunakan untuk pencegahan, bukan untuk pertolongan
pertama.
Kortikosteroid bekerja sebagai obat asma dengan cara
mencegah terjadinya radang pencetus asma. Baca juga Bab
Kortikosteroid.
Obat kelompok ini sebetulnya memiliki banyak efek
samping. Untuk mengurangi efek sampingnya, obat-obat
kortikosteroid ini biasanya diberikan dalam bentuk obat hirup.
Dibandingkan dengan kortikosteroid yang diminum, secara
http://bukuobat.blogspot.com
umum kortikosteroid yang dihirup relatif lebih aman. Bisa
digunakan dalam jangka panjang.
Meski begitu, untuk menghindari efek samping yang
mungkin bisa timbul, sebaiknya jangan membeli dan
menggunakannya secara bebas. Silakan berkonsultasi ke
dokter lebih dulu.
Salah satu efek buruk yang bisa timbul adalah sariawan
akibat infeksi jamur di lidah dan rongga mulut. Risiko
sariawan-jamur bisa dikurangi dengan cara berkumur tiap kali
selesai menghirup obat untuk membersihkan sisa obat di lidah
dan rongga mulut.
Risiko ini juga bisa diperkecil dengan cara menghirup obat
menggunakan alat bantu spacer. Lihat Subbab Bentuk Obat
Asma.
Spacer berupa sebuah tabung yang menghubungkan antara
moncong inhaler dengan mulut kita. Cara penggunaannya,
obat disemprotkan ke dalam spacer, tidak langsung ke dalam
saluran napas kita, lalu pasien bernapas dari dalam spacer
tersebut. Cara ini bisa mengurangi kemungkinan partikel
semprotan kortikosteroid menempel di lidah, rongga mulut
atau pangkal tenggorok.
Selain sariawan, penggunaan kortikosteorid hirup dosis
besar yang menahun, menurut sebagian peneliti, juga bisa
http://bukuobat.blogspot.com
menurunkan laju pertumbuhan tinggi badan anak sekitar 1 cm
per tahun. Itu sebabnya orangtua sebaiknya selalu
mengonsultasikan penggunaan obat ini ke dokter untuk
memperkecil risiko buruk ini. (http://www.acaai.org/allergist/asthma/asthma-
treatment/Pages/default.aspx)
Sekali lagi, dalam dunia kedokteran, penggunaan obat
hanya dianjurkan jika manfaatnya lebih besar dari risikonya.
Penggunaan obat jangka panjang memang mungkin bisa
menyebabkan efek buruk, tapi jika asma tidak diobati maka
risiko buruknya jauh lebih besar.
Obat Contoh merek dagang
Budesonid Pulmicort®, Imflammide®, Cycortide®
Beklometason Beconase®, Becloment®
Flutikason Flixotide®
Flutikason & salmeterol Seretide®
Budesonid & formoterol Symbicort®
Beklometason & salbutamol Ventide®
10. Kromolin/kromoglikat dan nedokromil. Obat ini bekerja
dengan cara mencegah terjadinya radang pencetus asma. Biasa
digunakan untuk pencegahan tapi tidak cocok untuk
pertolongan pertama karena obat ini tidak punya efek
http://bukuobat.blogspot.com
melebarkan saluran napas. Pada umumnya efek maksimum
antiasma obat ini baru terasa setelah pemakaian reguler selama
beberapa hari atau bahkan beberapa minggu.
Efek samping obat ini antara lain mulut dan tengggorok
kering. Karena itu, sehabis menghirup obat ini sebaiknya
pasien berkumur-kumur.
Obat Contoh merek dagang
Kromolin/kromoglikat Tilade®, Intal 5®
Selain yang disebut di atas, masih ada beberapa lagi obat-
obat asma lain seperti trimetokuinol, asefilin piperazin,
prokaterol, dan zafirlukas. Dari sekian banyak obat asma di atas,
yang paling sering diresepkan jangka panjang, dan sebaiknya
diketahui pasien asma, adalah salbutamol dan kortikosteroid.
Teofilin juga sangat perlu diketahui karena obat ini banyak
diiklankan di media massa dan boleh dibeli tanpa resep.
Bentuk Obat Asma
Asma termasuk salah satu penyakit yang cukup rumit
pengobatannya. Obatnya tersedia dalam bermacam-macam
bentuk. Ada yang berupa obat minum seperti tablet atau sirup, ada
pula yang berbentuk supositoria yang dimasukkan ke dalam
dubur, ada pula yang berbentuk obat hirup. Pasien asma sebaiknya
http://bukuobat.blogspot.com
memahami betul cara pakai obatnya bisa memperoleh manfaat
maksimal dan terhindar dari efek buruk yang bisa timbul akibat
salah pakai.
1. Sirup atau tablet biasa. Di sini ada tambahan kata “biasa”
untuk membedakan dengan tablet jenis nomor dua. Begitu
diminum, obat ini biasanya membutuhkan waktu sekitar
setengah sampai satu jam untuk bereaksi. Jadi, kalau kita
terkena serangan asma dan membutuhkan pertolongan cepat,
obat ini tidak bisa diharapkan langsung bereaksi. Kita harus
sabar menunggu reaksinya sekitar satu jam.
2. Tablet “lepas lambat”. Obat jenis ini biasanya ditandai
dengan adanya imbuhan SR atau Retard di nama dagangnya.
SR merupakan singkatan dari Sustained Release. Baik Sustained
Release maupun Retard menunjukkan bahwa zat obat
dilepaskan secara lambat dan pelan-pelan di dalam saluran
cerna.
Karena itu, obat jenis ini harus ditelan apa adanya, tidak
boleh dikunyah atau dihancurkan sebelum diminum. Obat
jenis ini digunakan untuk pencegahan. Pelepasan lambat dan
pelan-pelan dimaksudkan agar efek pencegahannya
berlangsung lebih lama dan agar pasien tidak perlu berkali-kali
minum obat.
http://bukuobat.blogspot.com
3. Supositoria. Obat ini harus dimasukkan ke dalam dubur.
Kenapa kita harus repot-repot menggunakan obat seperti ini?
Dengan langsung dimasukkan ke dalam dubur, obat bisa
masuk ke peredaran lebih cepat sehingga reaksinya juga lebih
cepat. Selain itu, penggunaan obat lewat dubur juga bisa
meminimalkan efek samping obat minum yang harus melewati
lambung dan saluran cerna.
4. Obat hirup. Obat hirup pun bentuknya macam-macam. Ada
yang berupa inhaler (semprot-hirup), ada pula yang harus
digunakan dengan nebulizer (alat penguap).
Obat hirup pada umumnya hanya membutuhkan waktu
sekitar lima sampai beberapa belas menit untuk bereaksi.
Karena itu, bentuk obat hirup cocok digunakan untuk obat
pertolongan pertama maupun pencegahan. Dibandingkan obat
minum, obat hirup secara umum relatif lebih aman digunakan
dalam jangka panjang.
a. Inhaler
Ini bentuk yang obat asma yang paling banyak digunakan.
Inhaler berupa botol kecil yang bisa dikantongi dan dibawa
ke mana-mana. Tiap semprotan mengandung obat dalam
dosis yang sama. Ini bentuk obat hirup yang paling praktis.
http://bukuobat.blogspot.com
Sayangnya, inhaler ini hanya cocok untuk pasien yang
sudah bisa mengoordinasikan gerakan napas sebab
penyemprotan harus dilakukan persis bersamaan dengan
hirupan napas. Tepat ketika jari tangan memencet inhaler,
pasien harus menarik napas. Anak-anak biasanya belum
memiliki keterampilan ini.
Untuk mereka ini, tersedia alat bantu bernama spacer
yang bisa mempermudah pasien menghirup obat. Spacer
berupa sebuah tabung yang menghubungkan antara
moncong inhaler dengan mulut. Cara pakainya: obat
disemprotkan ke dalam spacer, lalu pasien bernapas seperti
biasa dengan menghirup udara dari dalam spacer tersebut.
http://bukuobat.blogspot.com
Cara Pakai Inhaler
Pastikan obat disertai kemasan dengan brosur cara pakai yang detail. Ini
penting untuk memperkecil kemungkinan efek buruknya sebab masing-
masing produk bisa saja memiliki cara pakai yang berbeda-beda.
Sebelum digunakan, kocok dahulu wadahnya agar obat tercampur homogen
dan agar tiap semprotan mengandung dosis yang sama persis.
Untuk pemakaian pertama, buang sekitar dua semprotan ke udara, jauhkan
dari wajah.
Sebelum menyemprotkannya, embuskan napas sebanyak mungkin (tanpa
memaksakan diri); masukkan moncong inhaler ke dalam mulut; tutup rapat-
rapat dengan bibir; lalu secara bersamaan tekan inhaler dan tarik napas
pelan-pelan dan dalam. Tahan napas selama sekitar 10 detik untuk
memberi kesempatan obat merasuk ke dalam paru-paru, setelah itu baru
lepaskan moncong inhaler lalu embuskan napas pelan-pelan dan bernapas
seperti biasa. Jangan terlalu kuat mengembuskan napas.
Jika dosisinya dua semprot, beri jarak sekitar satu menit antarsemprotan.
Interval waktu ini diperlukan untuk memberi kesempatan agar obat merasuk
dulu ke dalam paru-paru.
Selesai menghirup obat, berkumur-kumurlah untuk membersihkan sisa obat
di rongga mulut. Ini perlu dilakukan untuk mengurangi kemungkinan efek
buruk obat itu, misalnya mulut kering atau sariawan.
Jika inhaler tidak memiliki penghitung otomatis, catat berapa semprotan
yang sudah dikeluarkan. Biasanya satu kemasan inhaler bisa digunakan
untuk 200 semprotan. Setelah digunakan sebanyak 200 kali semprotan,
sebaiknya sisanya tidak digunakan lagi walaupun mungkin masih ada
beberapa semprotan lagi. Pasalnya, jika jumlah semprotan sudah
melampaui angka yang ditetapkan, maka semprotan berikutnya mungkin
tidak lagi berisi dosis yang optimal. Untuk memperoleh efek optimal,
pengobatan asma harus dilakukan dengan dosis yang sangat teliti.
http://bukuobat.blogspot.com
Inhaler seperti di atas biasa disebut MDI, singkatan
dari metered-dose inhaler. Disebut metered-dose karena inhaler
jenis ini dilengkapi dengan katup pengatur dosis.
Selain MDI, ada jenis inhaler lain yang
penggunaannya berbeda. Inhaler jenis ini tidak
menyemprotkan larutan obat tapi melepaskan obat dalam
bentuk bubuk padat yang halus.
Inhaler jenis ini disebut DPI, singkatan dari dry powder
inhaler. Disebut dry-powder karena memang yang
dilepaskan adalah obat dalam bentuk bubuk kering. Oleh
karena bentuk obatnya berupa partikel padat, obat ini
hanya bisa merasuk ke dalam paru-paru kalau dihirup
dengan cepat dan kuat.
Tidak seperti MDI, inhaler jenis bubuk kering ini tidak
pelu dikocok sebelum digunakan. Dibandingkan inhaler
jenis MDI (semprot basah), inhaler kering ini relatif jarang
digunakan.
b. Nebulizer
Berupa alat yang cukup besar (dan mahal) serta
membutuhkan listrik saat digunakan. Sesuai namanya,
nebulizer, alat ini mengubah obat dalam bentuk larutan
menjadi nebula (kabut) yang harus dihirup oleh pasien.
http://bukuobat.blogspot.com
Alat ini biasa digunakan untuk pasien anak-anak
karena mereka belum bisa mengatur koordinasi napas,
juga belum bisa menghirup dengan kuat. Setelah obat
diuapkan di nebulizer, si anak cukup bernapas seperti biasa
menghirup udara dari nebulizer menggunakan masker
khusus. Satu kali pemakaian biasanya membutuhkan
waktu beberapa belas menit.
Pencegahan
Ketika kita bicara tentang asma, biasanya kita akan cenderung
lebih banyak bicara tentang apa obatnya dan bagaimana cara
penggunaannya. Sering kali ini melupakan kita bahwa hal
terpenting dari pengendalian asma adalah mencegahnya alias
menghindari pencetusnya. Karena itu, pasien atau orangtua pasien
http://bukuobat.blogspot.com
sebaiknya berusaha sungguh-sungguh untuk mengetahui apa saja
pencetusnya.
Semua faktor yang disebut di awal bab ini harus diteliti
kemungkinannya sebagai pencetus. Jika pencetusnya sudah
ketemu, maka pasien harus berusaha dengan sungguh-sungguh
untuk mengatasinya. Jangan hanya mengandalkan obat sebab,
sekali lagi, obat asma sama sekali tidak menyembuhkan asma.
Obat asma hanya meredakan gejala dan mencegah serangannya.
Yang lebih menentukan kesehatan kita adalah sistem pertahanan
tubuh kita sendiri.