http://bukuobat.blogspot.com
22
OBAT TBC
Sampai sekarang Indonesia masih merupakan salah satu
negara dengan penderita tuberkulosis terbanyak di dunia. Dalam
urusan ini, kita masih masuk lima besar. Sekalipun mungkin kita
sudah mulai jarang menjumpai penderitanya, kita masih perlu
memberi perhatian serius kepada penyakit yang oleh orang awam
biasa disebut flek paru ini.
Dalam kaitannya dengan obat TBC, ada dua masalah
utama yang kita hadapi: Orang yang sakit TBC tidak merasa sakit;
sementara orang yang tidak sakit TBC justru dianggap sakit TBC.
Akibatnya, orang yang mestinya minum obat TBC tidak minum
obat yang ia butuhkan. Sebaliknya, orang yang mestinya tidak
minum obat TBC justru meminumnya.
http://bukuobat.blogspot.com
Masalah pertama biasanya terjadi pada orang dewasa
sementara masalah kedua umumnya menimpa balita. Kenapa bisa
begitu? Mari kita bahas.
TBC (atau TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh
infeksi bakteri yang disebut Mycobacterium tuberculosis. Si “Miko”
ini termasuk salah satu kuman paling bandel di dunia.
Di dalam tubuh manusia, bakteri ini biasanya bersarang di
dalam paru-paru—sekalipun bisa saja berada di organ-organ lain.
Karena paru-paru dijadikan sebagai sarang kuman, tubuh
berusaha melawan dengan memproduksi banyak dahak di dalam
paru-paru. Itu sebabnya penderita TB menujukkan gejala batuk
berdahak yang berlangsung berbulan-bulan dan tidak sembuh-
sembuh walaupun sudah diobati ini itu.
Biasanya gejala batuk ini disertai dengan gejala lain seperti
berkeringat di malam hari (walaupun tidak melakukan aktivitas),
kurang nafsu makan, berat badan menurun, badan lemah dan
selalu terasa tidak enak. Jika parah, batuk bisa disertai dengan
dahak dan bercak darah, dada terasa nyeri, dan napas sesak.
Untuk mendiagnosis apakah seseorang menderita TB atau
tidak, dokter biasanya meminta pasien melakukan tes rontgen dan
pemeriksaan dahak. Pada penderita TB, foto rontgen dadanya
akan menunjukkan gambaran khas adanya flek (bercak) di paru-
parunya. Tapi pemeriksaan rontgen saja tidak bisa dijadikan dasar
untuk memvonis TB. Dokter perlu melakukan pemeriksaan dahak.
http://bukuobat.blogspot.com
Jika pemeriksaan dahak di bawah mikroskop menunjukkan
adanya kuman TB di riak pasien, berarti memang ia menderita
TB.
Pemeriksaan dahak ini merupakan tes yang paling akurat untuk
membuktikan seseorang menderita TB atau tidak. Tes ini
merupakan metode standar yang ditetapkan Kementerian
Kesehatan (Depkes) dan harus diikuti oleh semua dokter. Foto
rontgen saja mugkin masih menipu, tapi pemeriksaan kuman
dahak di mikroskop biasanya tidak akan menipu. Ibarat proses
pengadilan di meja hijau, adanya kuman TB di dahak adalah bukti
nyata kejahatan yang tidak bisa dibantah lagi.
Diagnosis TB Anak Lebih Sulit
Jika lewat pemeriksaan di atas, seseorang (dewasa) divonis oleh
dokter bahwa dia menderita TB, maka “dua kali dua sama dengan
empat”. Suka tak suka, ia harus disiplin minum obat, setiap hari,
berturut-turut, tanpa henti, selama paling tidak enam bulan. Ini
adalah vonis yang sudah tidak bisa ditawar lagi. Tak ada proses
naik banding.
Akan tetapi, berbeda halnya jika yang divonis TB adalah
pasien balita. Jika seorang dokter memvonis seorang anak balita
menderita TBC, sebaiknya orangtua mencari second opinion lebih
dulu sebelum menjalani pengobatan. Orangtua sebaiknya
http://bukuobat.blogspot.com
menggunakan hak untuk naik banding lebih dulu sebelum
menerima vonis, terutama jika vonis itu dijatuhkan padahal si
anak baru dibawa ke dokter satu atau dua kali.
Ini tidak berarti bahwa kita tidak percaya kepada dokter
pertama. Ini semata-mata demi alasan kesehatan si anak.
Kedokteran bukanlah ilmu pasti. Medicine is a science of uncertainty
and an art of probability. Ilmu kedokteran adalah sains
ketidakpastian dan seni kemungkinan. Dokter mungkin saja keliru
tanpa disengaja.
Pada anak-anak,
diagnosis TB tidak begitu Naik banding bisa dilakukan
mudah dilakukan. Jika baru dengan berkonsultasi ke
dokter lain yang lebih ahli,
entah ke dokter spesialis anak
satu dua kali kunjungan, lalu (Sp.A) atau dokter spesialis
dokter sudah langsung bisa paru (Sp.P). Lebih tepat lagi
meyimpulkan bahwa si anak kalau ke dokter Sp.A (K),
menderita TB, orangtua spesialis anak yang
mengkhususkan diri
(subspesialis) di bidang paru
sebaiknya menggunakan anak. Kalau kita tinggal di
haknya untuk mencari kota besar, biasanya kita
pendapat dokter lain. dapat menemukan dokter
Sp.A (K) yang subspesialis
Kenapa begitu?
paru anak ini di rumah-rumah
Sekali lagi, tes yang sakit besar.
paling akurat untuk
memastikan seseorang
http://bukuobat.blogspot.com
menderita TB adalah dengan memeriksa dahaknya di bawah
mikroskop. Jika di dalam dahak itu ada bakteri TB, berarti
memang ia menderita penyakit ini. Di sinilah masalahnya. Orang
dewasa gampang saja disuruh mengeluarkan dahak. Tapi anak
balita? Mereka belum punya kemampuan mengeluarkan riak.
Karena mereka belum bisa berdahak, dokter akan melakukan
pemeriksaan dengan cara lain.
Tes Mantoux Saja Tak Cukup
Untuk memperkuat diagnosis, dokter harus melakukan beberapa
tes, antara lain tes Mantoux di kulit pasien dan foto rontgen dada.
Tes Mantoux bertujuan untuk menguji apakah tubuh si anak
pernah terpapar kuman TB atau tidak. Sedangkan foto rontgen
untuk mengetahui ada tidaknya flek (bercak dahak) di paru-paru.
Meski dua tes ini sudah dilakukan pada pasien anak,
dokter tetap tidak bisa langsung dengan mudah membuat
kesimpulan. Sebab, di tahap ini masih ada banyak hal yang bisa
mengecoh diagnosis.
Tipuan pertama timbul pada saat tes Mantoux. Tes ini
dilakukan dengan menyuntikkan protein dari kuman TB ke dalam
kulit lengan bagian bawah. Hasilnya positif jika timbul bekas
kemerahan dengan diameter lebih dari 10 mm pada bekas tempat
suntikan.
http://bukuobat.blogspot.com
Jika tes Mantoux positif, artinya: si anak pernah
kemasukan kuman TB. Akan tetapi, itu tidak berarti bahwa dia
pasti menderita TB. Bisa saja tubuhnya pernah kemasukan kuman
TB tapi dia tidak sakit. Contohnya, anak yang pernah mendapat
vaksin BCG akan memberikan respons positif terhadap tes
Mantoux.
Seperti yang pernah diajarkan kita di sekolah menengah,
vaksin adalah kuman yang dilemahkan. Vaksin BCG sejatinya
adalah kuman yang dilemahkan lalu dimasukkan ke dalam tubuh
agar tubuh belajar membuat kekebalannya.
Kemungkinan lain, si anak pernah terpapar kuman TB,
tapi daya tahannya cukup kuat untuk melawan. Jadi, meskipun
kemasukan kuman, dia tidak sakit. Jadi, tes Mantoux saja tidak
bisa dijadikan sebagai patokan, kecuali jika kemerahan di kulit
pasien sangat tebal misalnya sampai 20 mm. Kalau bercaknya
sangat tebal, kemungkinan besar memang ia menderita TB.
Foto Rontgen Bisa Menipu
Karena tes Mantoux saja tidak cukup, untuk memperkuat
diagnosis diperlukan tes foto rontgen. Tapi di sini pun tipuan
masih terus berlanjut. Pada orang dewasa, foto rontgen biasanya
menunjukkan gambaran flek paru di bagian atas. Sebab di daerah
inilah kuman TB membangun sarangnya. Tapi pada anak-anak,
http://bukuobat.blogspot.com
kuman TB tidak membangun sarangnya di paru-paru bagian atas,
melainkan di kelenjar getah bening.
Susahnya, lokasi kelenjar ini berdekatan dengan jantung.
Jika hanya difoto dari depan, kadang flek tertutup oleh bayangan
jantung. Apalagi jika hasil foto kurang bagus. Itulah sebabnya,
untuk memperkuat diagnosis, foto rontgen juga harus dilakukan
dari samping. Dengan begitu, gambaran paru tidak diganggu oleh
jantung.
Ruwetnya lagi, kalaupun hasil rontgen menujukkan flek
paru, itu pun masih tidak berarti bahwa si anak positif TB. Flek
paru di foto rontgen tak selalu indikasi TB. Ada kemungkinan
lain. Misalnya pada anak-anak yang sedang batuk grok-grok. Saat
dirontgen, mungkin saja hasil fotonya menunjukkan flek,
meskipun ia tidak menderita TB. Karena itu, foto rontgen
sebaiknya dilakukan pada saat anak dalam kondisi terbaik. Jika
mungkin, setelah batuk grok-grok-nya disembuhkan lebih dulu
atau paling tidak saat batuknya minimal.
Karena sulitnya menegakkan diagnosis TB pada anak,
dokter biasanya memerlukan waktu lebih lama sebelum
menjatuhkan vonis. Dokter akan menegakkan vonis dengan
mempertimbangkan berbagai hasil pemeriksaan, mulai dari gejala
yang dialami si anak, gambaran foto rontgen, hingga hasil tes
Mantoux.
http://bukuobat.blogspot.com
Selidiki Riwayat Kontak
Selain itu, ada ada satu faktor lain yang tak kalah pentingnya,
yaitu riwayat kontak si anak dengan penderita TB. Tentu yang
lebih tahu masalah ini adalah orangtua pasien. Jika misalnya, di
rumah ada penderita TB, maka ini bisa memperkuat dugaan TB
pada si anak.
Biasanya si anak tertular penyakit ini dari orang dewasa,
bukan dari teman-temannya. Soalnya, penderita TB anak belum
bisa menularkan kumannya kepada orang lain.
Bukan “Penyakit Orang Miskin”
Selama ini sebagian dari kita mungkin menganggap TB
identik dengan penyakit orang miskin. Orangtua akan merunduk malu
jika anaknya diketahui mengidap TB. Tapi mengingat bahwa penyakit
ini bisa menular secara tidak langsung di luar rumah, anggapan
“penyakit orang miskin” ini mestinya tidak dijadikan pedoman. Siapa
saja bisa tertular TB.
Sekalipun tidak ada anggota keluarga atau pembantu yang
menderita TB, bisa saja si anak kemasukan kuman saat berada di luar
rumah. Penularannya terjadi secara tidak langsung. Mungkin saat si
anak berada di luar rumah, ia menghirup udara yang tercemar kuman
TB. Saat seorang penderita (yang entah siapa) batuk dan tidak
menutup mulutnya, kuman TB keluar dari paru-parunya bersama
percikan air ludah. Kuman-kuman ini lalu bertahan hidup sambil
beterbangan di udara, dan akhirnya terhirup oleh si anak yang malang
itu.
http://bukuobat.blogspot.com
TB Anak Menyerang Kelenjar Getah Bening
Dalam tubuh anak, kuman ini bersarang di kelenjar getah bening,
yang salah satu lokasinya di bagian leher belakang telinga. Itu
sebabnya, orangtua harus waspada jika si upik atau si buyung
punya benjolan di leher bagian belakang telinga.
Selain itu, orangtua juga bisa mengamati gejala-gejala yang
lain. Di antaranya, batuk yang tak kunjung sembuh, gampang
sakit, nafsu makan hilang, berat badan yang tidak naik-naik atau
bahkan turun, serta demam berulang-ulang tanpa sebab yang jelas.
Namun, gejala-gejala ini bersifat subjektif sehingga tidak
selalu menjamin diagnosis yang tepat. Sebagai contoh, batuk bisa
saja disebabkan oleh alergi, radang tenggorok, asma, atau radang
paru (pneumonia). Demam yang berulang-ulang bisa saja karena
infeksi virus. Pembesaran kelenjar getah bening pun bisa
disebabkan kuman yang lain. Gejala-gejala ini hanya sebagai salah
satu pertimbangan untuk segera berkonsultasi ke dokter ahli anak
atau ahli paru-paru.
Jika setelah melakukan berbagai pemeriksaan di atas,
dokter menyimpulkan bahwa si anak menderita TB, itu berarti
orangtua harus siap-siap untuk meminumkan obat kepada
anaknya secara disiplin setiap hari selama paling tidak enam
bulan. Mungkin lebih lama dari itu, tergantung resep dokter.
http://bukuobat.blogspot.com
Intinya, orangtua perlu memastikan bahwa vonis itu
dijatuhkan setelah dokter melakukan pemeriksaan yang
menyeluruh terhadap si anak. Bukan sekadar pemeriksaan foto
rontgen. Orangtua perlu memastikan hal ini sebab vonis TB pada
anak adalah sebuah vonis berat yang akan membawa konsekuensi
yang juga berat.
Minum Obat 6-8 Bulan
Jika seorang anak dinyatakan menderita TB, ia harus minum
beberapa jenis obat setiap hari selama paling tidak enam bulan. Ini
bukan perkara enteng mengingat organ lever dan ginjal anak
belum berkembang sempurna.
Dalam kondisi normal, anak-anak sebetulnya sangat
dianjurkan untuk sebisa mungkin menghindari minum obat. Tapi
dalam kondisi TB yang sudah pasti, memang tak ada pilihan lain.
Minum obat mungkin akan membawa mudarat bagi si anak. Akan
tetapi jika ia tidak minum obat, mudaratnya akan jauh lebih besar
lagi. TB bisa menjadi semakin parah, semakin sulit disembuhkan,
dan mungkin akan membuat anak lebih menderita lagi. TB parah
bisa membuat paru-paru rusak dan penderita meninggal dunia.
Orangtua harus memastikan bahwa vonis dokter dilakukan
dengan akurat. Jangan sampai si anak, yang sebetulnya tidak
menderita TB, divonis menderita TB. Ini bisa saja terjadi
mengingat batuk grok-grok atau badan kurus dan tidak doyan
http://bukuobat.blogspot.com
makan bisa saja disebabkan oleh penyakit lain. Jika vonis dokter
ternyata salah, maka yang akan menanggung akibatnya adalah si
anak sebab ia harus minum sesuatu yang tidak ia perlukan selama
setengah tahun.
Disiplin, Disiplin, Disiplin
Setelah vonis TB dijatuhkan, hal terpenting berikutnya adalah
kedisiplinan. Minum obat selama minimal enam bulan adalah
kewajiban yang tak boleh dilupakan satu kali pun. Satu kali saja
tidak boleh lupa, apalagi satu hari atau bahkan beberapa hari.
Kuman TB adalah salah satu kuman paling bandel dan
paling kuat di dunia. Untuk membasminya, kita perlu beberapa
macam antibiotik, tidak cukup hanya satu. Pengobatannya pun
tidak cukup beberapa hari tapi setidaknya harus enam bulan.
Selama waktu itu, orangtua harus memastikan si anak
minum obat sesuai aturan dokter. Ini sangat penting karena
biasanya anak-anak susah diajak kompromi untuk minum obat.
Karena itulah, orangtua harus telaten dan disiplin. Telaten dan
disiplin. Telaten dan disiplin.
Hal ini perlu ditegaskan sebab banyak orangtua yang,
karena kasihan pada anaknya atau karena tidak telaten
meninumkan obat, lantas menghentikan konsumsi obat begitu
gejala sakit si anak sudah hilang. Padahal, hilangnya gejala sakit
http://bukuobat.blogspot.com
TB bukan petunjuk bahwa kuman telah terbasmi semuanya. Sekali
lagi, kuman ini dikenal sebagai kuman yang sangat bandel.
Dalam kondisi digempur habis- Jika pengobatan
habisan, kuman TB akan dihentikan di tengah jalan,
maka suatu saat kuman-
berusaha “mengawetkan diri” kuman yang tidur itu akan
bangun lagi dan
dengan membentuk lapisan menggerogoti tubuh si anak
pelindung dan tidur tanpa di kemudian hari. Jika ini
makanan. Ia bisa bertahan dalam sampai terjadi, pengobatan
kondisi itu dalam jangka berbulan-
bulan. Itulah sebabnya,
pengobatan TB membutuhkan
kedisiplinan ekstra.
berikutnya menjadi lebih
sukar. Waktu terapi pun menjadi lebih lama, bisa sampai dua
tahun tanpa henti, obatnya pun dipastikan akan lebih mahal.
Pasalnya, kuman generasi kedua ini dipastikan akan lebih
bandel dan lebih tahan terhadap obat yang terdahulu. Akibatnya,
pemilihan obat menjadi lebih sulit. Orangtua harus menyiapkan
lebih banyak duit. Masalah yang timbul pun menjadi lebih rumit.
Soalnya, semakin banyak si anak minum obat, semakin besar
kemungkinan fungsi hati dan ginjalnya terganggu.
Cegah TB dari Orang Dewasa
Sebagaimana penyakit infeksi lainnya, hal terpenting dalam
pencegahan TB adalah menghindari penularan. Orangtua harus
http://bukuobat.blogspot.com
memastikan tidak ada anggota keluarga atau pembantu yang
menderita TB. Jika ada, itu adalah lampu merah buat seisi rumah.
Kalau ada anggota rumah yang menderita TB, ia harus
segera diobati agar tidak menulari anggota keluarga yang lain,
terutama anak-anak. Mereka adalah kelompok yang paling rentan
tertular karena daya tahan tubuh mereka relatif masih lemah.
Selain vaksin BCG, pencegahan TB pada anak harus
dimulai dengan pemberantasan TB pada orang dewasa. Merekalah
sumber penularan. Anak-anak hanyalah korban.
Di Indonesia, penyakit ini masih merupakan ancaman
serius. Pemberantasan TB adalah tanggung jawab bersama. Semua
orang yang dicurigai mengidapnya, harus segera pergi ke dokter.
Jika positif TB, ia harus menjalani pengobatan sampai tuntas tas!
Semua orang di sekitarnya juga harus ikut mengingatkan agar obat
diminum dengan disiplin! Tak boleh kurang satu kali pun pun. Ini
harga pas, tak bisa ditawar!
Obat Harus Jadi Satu
Ada lima jenis obat TB yang biasa digunakan, yaitu isoniazida
(INH), rifampisin, pirazinamida, streptomisin, dan etambutol.
Seorang pasien biasanya mendapatkan kombinasi beberapa jenis
obat ini.
Satu dekade lalu, masing-masing obat di atas dibuat dalam
tablet atau kapsul yang terpisah-pisah. Sehingga saat pasien pulang
http://bukuobat.blogspot.com
dari klinik, ia biasanya membawa satu kresek obat-obatan yang
berisi beberapa jenis, dalam jumlah belasan strip.
Ini biasanya Banyak Makan Protein
menimbulkan masalah bagi
pasien maupun tenaga Selama minum obat TB, pasien
kesehatan. Tiap hari, pasien dianjurkan banyak mengonsumsi
harus minum banyak sekali
obat. Dosis satu obat makanan dan minuman yang
berbeda dari obat yang lain banyak mengandung protein seperti
sehingga cara pakainya
cukup membingungkan. ikan, telur, daging, ayam, tempe,
Kadang, satu obat sudah tahu, susu, dan sebagainya. Protein
ini diperlukan untuk menjaga daya
tahan tubuhnya terhadap kuman TB
sekaligus terhadap gempuran obat
yang ia minum berbulan-bulan.
habis tapi obat yang lain
masih tersisa banyak. Padahal jika pasien keliru minum atau salah
dosis, pengobatan bisa gagal dan kuman malah menjadi kebal.
Untuk mengatasi ini, Depkes beberapa tahun yang lalu
telah membuat aturan bahwa obat TB harus diberikan dalam
bentuk kombinasi supaya memudahkan pasien dan tenaga
kesehatan. Jadi, satu tablet obat anti-TB (Depkes menyebutnya
OAT) yang sesuai standar Depkes sudah berisi beberapa macam
obat yang digabung jadi satu. Pasien hanya perlu menelan satu
obat saja dalam satu dosis. Ia tidak perlu dipusingkan dengan
empat macam obat.
http://bukuobat.blogspot.com
Jadi, kalau Anda mendapatkan obat TB tapi dalam
sediaan yang terpisah-pisah, itu berarti obat tersebut mungkin
tidak sesuai standar Kementerian Kesehatan. Tapi ini tidak berarti
bahwa obat tersebut tidak efektif. Keduanya sama-sama efektif
asalkan diminum dengan disiplin. Disiplin adalah kata kuncinya.
Meski begitu, obat yang digabung memang lebih memudahkan
pasien dan meminimalkan timbulnya masalah kepatuhan.
Kalau kita menginginkan obat yang digabung, kita bisa
pergi ke layanan kesehatan pemerintah seperti Puskesmas atau
rumah sakit umum daerah (RSUD). Di sini biasanya kita akan
mendapatkan obat standar.
Pemerintah memang sengaja membuat program
penggabungan obat TB karena belajar dari pengalaman. Pada satu
dekade lalu pemberantasan TB kurang berhasil karena pasien tidak
patuh minum obat. Padahal, ketidakpatuhan adalah masalah
utama dalam terapi TB.
Biasanya, setelah minum obat selama dua bulan, pasien
merasa sehat lalu berhenti minum obat. Padahal, kondisi sehat itu
tidak berarti bahwa kuman TB sudah terbasmi secara sempurna.
Pasien memang sudah sehat, tapi kuman masih bersembunyi di
dalam tubuh. Pengobatan hanya dianggap tuntas kalau pasien
minum obat selama 6–8 bulan.
http://bukuobat.blogspot.com
“Malaikat” Ketidakpatuh
Pengawas Minum Obat an minum obat ini
merupakan masalah
Ketidakpatuhan minum obat besar dalam
merupakan masalah sangat serius yang
menghambat pemberantasan TB. Karena penanggulangan TB.
itu, dalam pedoman Kemenkes, semua Jika pasien tidak
penderita TB harus diawasi oleh
seseorang yang melakukan tugas patuh, kuman TB bisa
waskat—pengawasan melekat. Setiap
pasien TB harus punya seorang menjadi kebal dan
pendamping yang disebut sebagai
Pengawas Menelan Obat (PMO). lebih ganas. Jika itu
Persyaratan ini tidak boleh ditawar.
terjadi, pengobatan
Pengawas ini umumnya anggota
selanjutnya akan
keluarga yang tinggal serumah dengan
pasien. Ia dilatih secara khusus, tugasnya menjadi lebih rumit,
memastikan pasien minum obat secara
disiplin dalam waktu yang telah pemilihan obat jadi
ditentukan. Tugas pengawas ini tidak
sekadar seperti jam weker yang lebih sulit, waktu
mengingatkan pasien agar mimun obat. Ia
harus mengawasi dan memastikan pasien pengobatan lebih
benar-benar menelan obatnya. Ia harus
lama, biayanya pun
benar-benar “hakulyakin” dan dengan
matanya sendiri melihat si pasien lebih mahal. Lebih
menelan obatnya.
dari itu, pasien juga
akan menjadi sumber
penularan yang
berbahaya. Ia tidak
sekadar menularkan kuman TB biasa, tapi kuman TB yang kebal
dan ganas.
http://bukuobat.blogspot.com
Lebih Baik ke Puskesmas
Pemberantasan TB menuntut komitmen dari semua pihak. Bukan
hanya pasien yang dituntut disiplin minum obat, pemerintah dan
sarana pelayanan kesehatan pun dituntut disiplin memastikan obat
TB gabungan selalu tersedia. Jangan sampai pasien putus obat
hanya karena ia tidak mendapatkannya di sarana pelayanan
kesehatan.
Sayangnya, sampai saat ini mungkin belum semua
pelayanan kesehatan mengikuti cara standar Pemerintah. Belum
semua apotek atau klinik memiliki obat TB gabungan sesuai
standar.
Jika begitu, apa yang bisa dilakukan pasien TB agar bisa
mendapatkan pelayanan standar? Jawabannya mungkin terdengar
mengherankan bagi sebagian kalangan: daripada ke rumah sakit
swasta, lebih baik datanglah ke Puskesmas! Ya, datanglah ke Pusat
Kesehatan Masyarakat yang selama ini sering dianggap sebagai
sarana pelayanan kesehatan kelas bawah itu.
Dalam urusan penanggulangan TB, Puskesmas secara
umum lebih bisa diandalkan daripada rumah sakit swasta. Hampir
seluruh Puskesmas sudah menerapkan standar yang ditetapkan
Pemerintah. Sementara, mungkin belum semua layanan kesehatan
swasta menerapkannya.
http://bukuobat.blogspot.com
Kalau pasien datang ke layanan swasta, ada kemungkinan
ia mendapatkan obat yang tidak standar. Sebaliknya, kalau ia
datang ke Puskesmas, kemungkinan besar ia akan mendapatkan
pelayanan standar. Dalam urusan penyakit lain, mungkin rumah
sakit swasta lebih unggul. Tapi dalam perkara TB ini, Puskesmas
lebih bisa diandalkan.
Tak perlu khawatir jika, misalnya, ternyata penderita
memerlukan perawatan yang fasilitasnya tidak dimiliki oleh
Puskesmas. Jika itu terjadi, Puskesmas akan merujuk pasien ke
rumah sakit yang memang telah memakai standar Kemenkes.
Keuntungan lain buat pasien, di Puskesmas, obat TB
standar ini sama sekali gratis. Pasien tidak perlu membayar karena
memang tanggung jawab penyediaan obat ini ada di tangan
pemerintah. Dengan datang ke Puskesmas, pasien secara tidak
langsung telah membantu program Pemerintah memberantas TB.
Di Puskesmas, semua data penderita TB tercatat secara nasional.
Ini akan memudahkan pemerintah dalam memantau keberhasilan
program pemberantasan TB.
Dokumentasi ini merupakan salah satu strategi penting
dalam pemberantasan TB. Puskesmas memang mendapat amanat
untuk memantau perkembangan pasien sampai ia sembuh. Jika,
misalnya, pasien tidak kembali ke Puskesmas sebelum dinyatakan
sembuh, maka pihak Puskesmas akan melacaknya untuk
http://bukuobat.blogspot.com
memastikan bahwa pasien tidak putus obat sesuai amanat
Pemerintah.
Sebagian PENCEGAHAN
Puskesmas tertentu
bahkan menerapkan Agar terhindari dari TB, kita bisa
melakukan upaya pencegahan sbb:
strategi yang lebih ketat.
Pastikan anak mendapat vaksinasi
Semua pasien dan BCG.
pengawas minum obat Perkecil kemungkinan kontak dengan
penderita.
harus menandatangani
Atur jendela rumah supaya sinar
semacam surat matahari bisa masuk ke dalam rumah
sebab kuman TB bisa mati jika
perjanjian kontrak yang terkena sinar matahari.
menyatakan bahwa Terapkan pola hidup sehat, jaga daya
tahan tubuh. Sebagian besar kita
pasien akan menjalani mungkin pernah terpapar kuman ini.
Meski terpapar, kita tidak lantas
pengobatan sampai menjadi sakit TB jika daya tahan
tubuh kita baik.
tuntas.
Jika ada yang sakit, ia harus segera
TB memang diobati. Setelah dua bulan
pengobatan, ia tidak lagi menularkan
bukan penyakit yang penyakitnya meskipun penyakitnya
belum sembuh total. Saat batuk, ia
bisa diremehkan. harus menutup mulutnya.
Penyakit ini mudah
menular melalui
percikan batuk
penderita. Di tahun
2012, jumlah
http://bukuobat.blogspot.com
penderitanya di Indonesia diperkirakan masih 450 ribu orang.
Padahal, tiap satu orang penderita TB yang aktif bisa menularkan
kuman ini kepada 10–15 orang lain. Itu sebabnya, penyakit ini
harus diberantas dengan gerakan terpadu secara nasional.
http://bukuobat.blogspot.com
24
OBAT ASAM URAT
Apa beda antara rematik, linu, encok, dan asam urat?
Dalam kamus bahasa awam, keempat istilah ini biasa dianggap
sekupang dua ringgit alias tak ada bedanya. Dan karena dianggap
tak ada bedanya, obat untuk semua keluhan di atas pun dianggap
sama.
Dalam pandangan medis, ini jelas keliru. Menurut ilmu
kedokteran, sebuah penyakit harus disebut dengan nama yang
jelas, khas, spesifik agar obatnya tidak tertukar dengan obat
penyakit lainnya. Karena itu, untuk menyamakan pengertian di
buku ini, mari kita sepakati dulu pengertian istilah-istilah
“perematikan”.
http://bukuobat.blogspot.com
Rematik. Ini bukanlah nama sebuah penyakit, melainkan nama
umum untuk penyakit-penyakit yang ditandai dengan gejala
nyeri/encok/linu di sendi, tulang, dan otot. Total ada sekitar dua
ratusan jenis penyakit rematik. Asam urat hanya salah satunya.
Asam urat. Ini merupakan salah satu jenis penyakit rematik.
Dalam bahasa medis, disebut artritis gout. Penyebabnya adalah
endapan kristal asam urat yang menyerang persendian. Asam urat
ini berasal dari makanan tertentu seperti jeroan, seafood, daging
merah, dsb. Yang diserang adalah persendian (engsel tulang),
misalnya ruas-ruas jari, terutama jari kaki, tumit, lutut, dan
pergelangan tangan.
Cirinya, sakit ini dipicu oleh makanan tertentu dan terjadi
pada persendian, biasanya diawali dari sendi jempol kaki. Kalau
tidak dipicu oleh makanan, atau tidak terjadi di persendian, itu
biasanya bukan penyakit asam urat. Jadi, kalau rasa nyerinya di
paha, belikat, punggung, pinggang, biasanya itu bukan asam urat.
Obat asam urat berbeda dari obat rematik jenis lainnya. Jadi,
jangan sampai keliru. Sebagian obat asam urat bekerja dengan
cara membantu tubuh menurunkan kadar asam urat. Kalau
diminum penderita rematik jenis lain tentu mubazir.
http://bukuobat.blogspot.com
Pengapuran sendi. Penyakit ini sering disalah sangka sebagai
asam urat padahal sama sekali berbeda. Dalam istilah medis,
pengapuran sendi disebut osteoartritis. Osteo- berati tulang, artritis
berarti radang sendi.
Penyakit ini biasanya terjadi pada orang lanjut usia karena
bantalan sendi mengalami kerusakan, biasanya terjadi di lutut,
bukan di sendi jari atau tangan. Kerusakan jaringan sendi
disebabkan oleh pengaruh beban yang terus-menerus.
Kemungkinan timbulnya penyakit ini makin besar pada orang
gemuk atau orang yang sehari-hari bekerja mengangkat beban.
Beban berat ini akan menyebabkan bantalan sendi di lutut aus
sehingga bagian saraf di tulang akan tertekan saat sendi
digerakkan. Kadang sendi itu sampai mengeluarkan suara
gemeretak saat digerakkan.
Yang jelas, penyebab utamanya bukan makanan seperti
jeroan, seafood, daging, atau sejenisnya. Rasa nyeri timbul karena
bantalan sendi yang melindungi saraf sudah aus.
Rheumatoid arthritis. Belum ada istilah awam untuk jenis penyakit
ini. Yang jelas, ini jenis rematik bawaan yang disebabkan oleh
gangguan sistem imun (pertahanan tubuh). Sistem imun yang
mestinya bertugas melindungi tubuh malah menyerang tubuh
sendiri dan menyebabkan nyeri di sendi-sendi.
http://bukuobat.blogspot.com
Gejalanya bisa jadi mirip dengan asam urat karena sama-
sama menyerang persendian. Tapi penyebabnya bukan endapan
kristal asam urat dan karena itu obatnya pun berbeda dari obat
asam urat. Sebagai orang awam, kita sulit membedakannya dari
rematik jenis lain. Ini sepenuhnya wilayah dokter.
Pegel linu. Biasanya sebutan ini digunakan untuk pegal-pegal dan
nyeri di sekujur otot akibat kerja fisik yang keras (bukan karena
makanan). Kalau penyebabnya adalah kerja fisik yang keras, tentu
ini jauh berbeda dari asam urat. Jadi, kalau dilawan dengan obat
asam urat tentu muspra alias sia-sia.
Nyeri pada pegel linu terjadi karena otot kecapekan bekerja,
bisa juga karena otot keseleo. Keluhan pegal linu biasanya terjadi
tidak seketika setelah bekerja keras melainkan sekitar semalam
sesudahnya. Dan biasanya akan pelan-pelan menghilang jika otot
diistirahatkan. Jadi, kalau nyeri bisa hilang dengan pijat, balsem,
atau mandi air hangat, kemungkinan kecil itu gangguan asam urat.
Selain beberapa contoh di atas, nyeri mirip rematik bisa juga
disebabkan oleh masalah saraf. Ini juga tak ada kaitannya dengan
asam urat. Di bab ini kita akan fokus membahas masalah asam
urat.
http://bukuobat.blogspot.com
Biang Asam Urat
Kata urat dalam asam urat tidak berkaitan dengan kata urat dalam
bahasa Indonesia yang berarti otot atau pembuluh. Asam urat adalah
terjemahan dari uric acid. Urat di sini berasal dari kata yang sama
dengan urine (air kemih).
Asam urat memang seharusnya dibuang lewat air kemih.
Tapi karena metabolisme tubuh terganggu, proses pembuangan
tidak berjalan dengan baik. Akibatnya, asam urat akan menumpuk
dan mengkristal. Bentuk kristalnya serupa jarum-jarum kecil.
“Jarum-jarum neraka” ini menyebabkan terjadinya radang
(inflamasi) yang menyebabkan nyeri hebat pada sendi yang
terkena, disertai dengan bengkak, kemerahan, dan rasa panas.
Nyeri akibat asam urat memang juga bisa terjadi di lutut
seperti pada pengapuran sendi, tapi pada umumnya organ yang
pertama diserang adalah ruas jari kaki, utamanya ruas jempol.
Hingga sekarang, para ahli belum bisa memastikan kenapa
seseorang menderita gangguan asam urat. Yang pasti, ada faktor
keturunan. Orang yang lahir dari orangtua penderita asam urat
akan punya kecenderungan menderita penyakit yang sama.
Kemungkinan menderita juga lebih tinggi pada orang gemuk,
punya darah tinggi, dan banyak makan jeroan, seafood, atau
daging.
http://bukuobat.blogspot.com
Kebanyakan penderita asam urat adalah pria berusia
lanjut. Kabar buruknya, para ilmuwan sampai sekarang belum
bisa menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit ini. Tapi
kabar baiknya, penyakit ini bisa dikendalikan dengan baik
sehingga penderitanya bisa sehat tanpa gangguan berarti.
Asam urat terbuat dari satu zat yang disebut purin. Zat
purin ini banyak terdapat di makanan kita sehari-hari. Oleh karena
purin berasal dari makanan, maka pengendalian penyakit asam
urat pun harus dilakukan lewat makanan.
Ada banyak sekali makanan yang mengandung purin. Tapi
tidak semua jenis makanan berpurin akan mencetuskan nyeri.
Masing-masing orang memiliki kepekaan yang berbeda terhadap
makanan-makanan itu.
Secara umum, bahan-bahan di tabel berikut bisa menjadi
pencetus asam urat, tergantung kepekaan masing-masing orang.
Tapi ini hanya pedoman kasar. Sebagai contoh, pada sebagian
orang, melinjo atau kacang bisa mencetuskan asam urat tapi pada
orang lain tidak. Itu sebabnya, setiap penderita harus punya daftar
sendiri jenis makanan yang memicu nyeri pada dirinya.
Kelompok Contoh makanan
Jeroan otak, jantung, ginjal, paru, hati, limpa, usus, dsj
Alkohol minuman beralkohol, tape, durian, bir
http://bukuobat.blogspot.com
Seafood kerang, kepiting, udang, cumi-cumi, ikan teri,
sarden, ikan asin, ikan pindang
Daging/kaldu babi, bebek, entok, sapi, kambing, ayam
Kacang kacang tanah, kedelai, dsj
Sayuran jamur, asparagus, kembang kol, bayam
Lain-lain melinjo, makanan yang mengandung ragi
Dari tabel di atas, yang paling perlu dijauhi adalah
golongan jeroan, alkohol, dan seafood. Sebagian besar ikan (selain
yang disebut di atas), daging ayam, tahu, tempe, kacang-kacangan,
dan sayuran biasanya masih bisa dikonsumsi secara wajar.
Purin Bukan Satu-Satunya Kambing Hitam
Melihat daftar makanan di atas, kita mungkin akan bertanya-
tanya: kalau semua makanan di atas harus dihindari, lantas apa
yang boleh dimakan penderita asam urat?
Sekali lagi, daftar di atas hanya perkiraan kasar makanan
yang harus diwaspadai. Reaksi masing-masing orang terhadap
makanan-makanan tersebut bisa saja berbeda. Jenis dan jumlah
makanan bisa sangat mempengaruhi. Seseorang mungkin bisa
terserang asam urat kalau makan gulai daging tapi tidak apa-apa
saat makan bakso daging.
http://bukuobat.blogspot.com
Purin, biang asam urat itu, sebetulnya merupakan zat yang
secara alami ada di dalam tubuh kita dan terkandung di dalam
hampir semua jenis makanan berprotein, dalam kadar yang
berbeda-beda. Kita tidak mungkin menghindari purin. Yang perlu
dilakukan hanyalah membatasi konsumsinya supaya tidak terlalu
banyak.
Tinggi rendahnya kandungan purin suatu makanan atau
minuman tidak selalu berbanding lurus dengan kemungkinan
serangan asam urat. Kopi, misalnya. Minuman ini banyak
mengandung kafein. Kafein sendiri merupakan salah satu bentuk
purin. Tapi yang unik, sebagian penelitian malah menunjukkan
bahwa kopi bisa bermanfaat bagi penderita asam urat.
Tentu saja kita tidak lantas bisa mengonsumsinya banyak-
banyak karena kopi bisa membuat jantung berdebar-debar dan
mungkin akan membuat kita mengantuk kalau tidak
meminumnya. Satu cangkir sehari mungkin bisa memberi manfaat
untuk mencegah serangan asam urat tanpa banyak menimbulkan
mudarat.
Pencegahan Lain
Selain dianjurkan untuk sebisa mungkin menghindari makanan-
makanan di atas, penderita asam urat juga dianjurkan untuk:
http://bukuobat.blogspot.com
Banyak minum air putih. Penderita asam urat sebaiknya minum
air putih lebih banyak daripada orang kebanyakan. Pada saat
terkena serangan, penderita harus minum air lebih banyak lagi
daripada hari-hari biasa. Air sangat diperlukan untuk membantu
pengeluaran asam urat dari dalam tubuh.
Perbanyak makan buah yang banyak mengandung vitamin C.
Vitamin ini menurut penelitian bisa menurunkan kadar asam urat
dan memperkecil kemungkinan terkena serangannya.
Kurangi makan lemak. Selain mempertinggi kemungkinan
penyakit jantung, lemak tinggi juga akan membuat asam urat lebih
sulit dikeluarkan dari dalam tubuh.
Ganti sumber protein hewani ke protein nabati. Sebetulnya
sumber protein nabati seperti tahu dan tempe pun mengandung
purin. Tapi jika dibandingkan dengan daging hewan,
kemungkiannya menjadi pencetus nyeri jauh lebih kecil. Secara
umum, penderita asam urat dianjurkan lebih banyak
mengonsumsi makanan nabati daripada makanan-makanan
hewani. Bukan berarti penderita asam urat tidak boleh makan
protein hewani sama sekali. Boleh saja tapi jumlahnya dibatasi
sesuai batas amannya.
Lakukan olahraga secara rutin. Olahraga bisa membuat
metabolisme tubuh lebih lancar. Jika metabolisme lancar,
pengeluaran asam urat pun akan lebih lancar.
http://bukuobat.blogspot.com
Hindari stres dan kelelahan fisik. Ketegangan mental maupun
ketegangan fisik harus dihindari karena keduanya bisa
mempertinggi kemungkinan serangan asam urat.
Usahakan langsing. Kegemukan merupakan salah satu faktor
yang bisa meningkatkan kemungkinan menderita gangguan asam
urat. Meski dianjurkan langsing, penderita asam urat sangat tidak
dianjurkan melakukan diet tinggi protein seperti yang kini banyak
dilakukan di pusat-pusat kebugaran. Sebab, diet tinggi protein
justru akan meningkatkan kemungkinan gangguan asam urat.
Obat Asam Urat
Asam urat termasuk penyakit yang berada di wilayah dokter.
Pasien sebaiknya tidak melakukan pengobatan sendiri. Begitu
terkena serangan asam urat, pasien sebaiknya langsung ke dokter.
Jika seseorang sudah pernah terkena serangan asam urat,
sebaiknya ia punya persediaan obatnya di kotak P3K, paling tidak
untuk pertolongan pertama pereda nyeri.
Berdasarkan tujuannya, obat asam urat dibedakan menjadi
dua, yaitu obat pertolongan pertama dan obat untuk pencegahan.
1. Pertolongan pertama
a. Antinyeri (analgesik). Untuk mengatasi rasa nyeri, pasien
memerlukan obat antinyeri yang cukup kuat. Pereda nyeri
http://bukuobat.blogspot.com
sekelas parasetamol biasanya tidak cukup kuat untuk
melawan nyeri akibat asam urat. Karena cara kerjanya
hanya meredakan nyeri dan radang, obat kelompok ini
sama sekali tidak berurusan dengan kristal asam uratnya.
Dan karena khasiatnya meredakan nyeri, obat-obat ini
biasa juga diresepkan untuk rematik jenis lain.
Hampir semua antinyeri kuat adalah obat resep, bukan
obat bebas. Antinyeri agak kuat yang masih bisa dibeli
tanpa resep misalnya ibuprofen. Adapun sebagian besar
lainnya termasuk obat resep, misalnya diklofenak,
piroksikam, meloksikam, ketoprofen, tinoridin.
Obat-obat di atas termasuk pereda nyeri “kelas berat”
dan bisa mengiritasi lambung. Oleh karena itu obat-obat
ini sebaiknya diminum bersama makanan, dan digunakan
dengan sangat hati-hati pada penderita sakit mag.
Selain itu, obat golongan ini juga bisa meningkatkan
kemungkinan masalah jantung dan pembuluh darah.
Karena itu, jangan gunakan obat-obat di atas kecuali atas
petunjuk dokter.
Begitu nyeri sudah hilang, pemakaian obat pereda
nyeri sebaiknya dihentikan untuk menghindari efek
buruknya.
http://bukuobat.blogspot.com
Untuk mengurangi efek iritasi lambung, tablet obat-
obat ini biasanya dilapisi selaput tipis yang menjaga obat
bisa melewati lambung dalam keadaan utuh dan baru
pecah saat di usus. Sebagai konsumen awam, kita
mungkin sulit membedakan tablet yang berselaput dan
yang tidak. Gampangnya, kita harus menelan obat-obat di
atas dalam keadaan utuh, jangan sampai dibelah atau
dikunyah.
Obat Contoh merek dagang
Diklofenak
Cataflam®, Voltaren®, Abdiflam®, Aclonac®, Alflam®,
Piroksikam Anuva®, Araclof®, Atranac®, Catanac®, Deflamat®,
Dicloflam®, Diflam®, Divoltar®, Eflagen®, Elithris 50®,
Exaflam®, Fenavel®, Flamar®, Flamic®, Flamigra®,
Flamsy®, Flazen 50®, Galtaren®, Gratheos®, Inflam®,
Kadiflam®, Kaditic®, Kaflam®, Kamaflam®, Klotaren®,
Laflanac®, Linac SR®, Matsunaflam®, Merflam®,
Mirax®, Nacoflar®, Nadifen®, Neurofenac®,
Nichoflam®, Nilaren®, Proklaf®, Provoltar®, Raost®,
Reclofen®, Renadinac®, Renvol®, Scanaflam®,
Tirmaclo®, Troflam®, Valto®, Volmatik®, Voltadex®,
Voren®, Xepathritis®, X-Flam®, Yariflam®, Zegren®
Feldene®, Campain®, Felcam®, Feldco®, Grazeo®,
Infeld®, Kifadene®, Lanareuma®, Licofel®, Pirocam®,
Pirofel®, Rexicam®, Rexil®, Roxidene®, Scandene®,
Tropidene®, Xicalom®
http://bukuobat.blogspot.com
Meloksikam Movi-Cox®, Arimed®, Artrilox®, Atrocox®, Cameloc®,
Ketoprofen Denilox®, Flamoxi®, Flasicox®, Futamel®, Hexcam®,
Tinoridin Loxil®, Loximei®, Loxinic®, Mecox®, Meflam®,
Melogra®, Meloxin®, Mevilox®, Mexpharm®,
Mobiflex®, Movix®, Moxam®, Moxic®, Nulox®,
Ostelox®, Paxicam®, Relox®, Remacam®, Remelox®,
Rhemacox®, Velcox®, X-Cam®
Profenid®, Altofen®, Anrema®, Fetik®, Gatofen®,
Hextrofen®, Kaltrofen®, Ketros®, Lantiflam®,
Molaflam®, Nasaflam®, Nazovel®, Noflam®, Ovurila
E®, Profecom®, Profika®, Pronalges®, Protofen®,
Remapro®, Rhetoflam®, Rofiden®, Suprafenid®
Nonflamin®
b. Kortikosteroid. Untuk menghilangkan radang, dokter
mungkin akan meresepkan kortikosteroid seperti
prednisolon, deksametason, dsb. Obat ini memiliki
banyak efek samping. Karena itu pastikan Anda
mengonsumsinya sesuai dengan petunjuk dokter. Baca
juga Bab Kortikosteroid.
c. Kolcisin. Obat ini bukan golongan pereda nyeri melainkan
antiradang. Termasuk obat “sangat keras” karena punya
banyak efek buruk misalnya muntah dan diare. Batas
keamanannya juga sangat sempit, kelebihan dosis sedikit
http://bukuobat.blogspot.com
saja bisa berefek fatal. Karena itu, gunakan hanya sesuai
petunjuk dokter. Contoh merek dagang: Recolfar®.
P3K Non-Obat
Sembari menunggu obat-obat di atas bekerja, kita
bisa mengurangi radang dengan menggunakan es batu.
Caranya:
Masukkan es batu ke dalam plastik (atau gunakan
kantong es jika punya).
Lapisi kantong es dengan handuk lalu tempelkan ke
bagian sendi yang meradang.
Tahan sekitar beberapa belas menit setelah itu angkat.
Biarkan bagian yang radang itu kembali ke suhu normal.
Setelah suhunya kembali normal, kita bisa
menempelkan kantong es berlapis handuk itu lagi. Yang
penting, kalau mau mengulangi lagi, pastikan suhu
bagian yang radang itu sudah kembali ke suhu normal.
Jangan menempelkan kantong es langsung ke kulit
tanpa lapisan handuk karena suhu yang terlalu dingin
bisa merusak jaringan yang sakit.
2. Obat untuk pencegahan. Obat kelompok ini bekerja
menurunkan kadar asam urat, tidak menghilangkan nyeri,
sehingga tidak cocok untuk pertolongan pertama. Dan
memang sebaiknya obat kelompok ini tidak diminum saat
http://bukuobat.blogspot.com
terjadi serangan asam urat, melainkan diminum pada saat
serangan sudah mereda.
Akan tetapi jika memang sebelumnya pasien sudah minum
obat ini secara rutin, maka ia tidak perlu menghentikannya
saat terkena serangan asam urat.
Tujuan minum obat ini bukan untuk meredakan radang
melainkan untuk mencegah terjadinya serangan berikutnya.
Semua obat di kelompok ini tergolong obat keras. Di
kelompok ini, obat masih dibagi lagi menjadi dua
subkelompok berdasarkan cara kerjanya.
a. Obat yang menurukan produksi asam urat. Contoh
alopurinol. Ini obat penurun asam urat yang paling
banyak beredar di Indonesia. Biasanya pasien asam urat
akan pulang dari dokter dan apotek membawa obat ini.
Sekali lagi, obat ini sebaiknya tidak diminum pada saat
terjadinya serangan asam urat. Pasalnya, pada saat awal
kita minum alopurinol, kadar asam urat mungkin justru
akan meningkatkan sebentar sebelum kemudian turun.
Jadi, obat ini sebaiknya hanya diminum setelah
serangannya reda. Ini sesuai dengan fungsinya sebagai
obat pencegahan, bukan untuk P3K. Selain itu, minum
alopurinol pada saat serangan justru mungkin membuat
kristal asam urat berpindah ke jaringan lain.
http://bukuobat.blogspot.com
Obat Contoh merek dagang
Alopurinol
Zyloric®, Algut®, Alluric®, Alodan®, Alofar®,
Benoxuric®, Decasurik®, Hycemia®, Isoric®,
Kemorinol®, Licoric®, Linogra®, Mediuric®, Nilapur®,
Omeric®, Ponuric®, Pritanol®, Puricemia®, Purinic,
Reucid®, Rinolic®, Selespurin®, Sinoric®, Tylonic®,
Urica®, Uricnol®, Uroquad®, Xanturic®
b. Obat yang membantu pengeluaran asam urat lewat urine.
Contoh probenesid. Dibandingkan alopurinol, obat ini
lebih jarang digunakan. Contoh merek dagang: Probenid®.
Seperti alopurinol, obat ini hanya untuk diminum pada
saat serangan nyeri sudah mereda. Jika diminum pada saat
serangan asam urat terjadi, dikhawatirkan akan
menyebabkan kristal asam urat justru akan menyebar ke
jaringan tubuh lainnya.
Jamu dan Obat Herbal
Hingga saat ini gangguan asam urat memang masih termasuk
penyakit yang belum bisa disembuhkan. Maka tidak
mengherankan banyak penderita yang kemudian berpaling ke obat
tradisional.
http://bukuobat.blogspot.com
Banyak bahan herbal yang menurut penelitian atau
berdasarkan pengalaman memang bisa menurunkan kemungkinan
serangan asam urat. Tapi, harap dicatat, hingga sekarang tidak ada
satu pun obat tradisional maupun obat modern yang terbukti
benar-benar bisa menyembuhkan asam urat. Jadi, jangan mudah
percaya kepada iklan obat herbal yang mengklaim produk itu bisa
menyembuhkan asam urat.
Di pasar banyak sekali jenis jamu yang diklaim sebagai
obat asam urat. Jika Anda yakin jamu itu seratus persen herbal,
silakan mengonsumsinya sesuai aturan. Beberapa perusahaan
farmasi nasional memang memproduksi jamu/obat herbal seperti
ini. Prouric® dan sejenisnya termasuk kategori ini.
Namun, sebagai konsumen kita harus hati-hati memilih
jamu. Jangan sampai kita mengonsumsi jamu yang sudah
dicampur dengan bahan kimia. Di pasaran masih banyak
produsen jamu rematik yang dicampur dengan kortikosteroid dan
fenilbutazon.
Fenilbutazon adalah salah satu pereda nyeri kuat yang
memiliki banyak efek samping. Termasuk obat “keras sekali”, obat
ini di beberapa negara tidak boleh lagi digunakan pada manusia
karena bisa merusak sumsum tulang belakang. Hanya boleh
digunakan pada hewan yang dagingnya tidak dikonsumsi seperti
http://bukuobat.blogspot.com
kuda atau anjing—ya, kedua hewan ini memang bisa juga terkena
encok!
Di Indonesia, obat ini masih boleh beredar dan digunakan
untuk manusia tapi kini sudah jarang diresepkan, dan justru
banyak dimanfaatkan oleh produsen jamu nakal.
Jamu-jamu seperti ini memang bisa cespleng sekali. Begitu
kita minum, nyeri langsung hilang karena memang isinya obat-
obat kelas berat yang kita tidak tahu apa saja isinya dan berapa
dosisnya.
Jamu/obat herbal asam urat yang baik mestinya berfungsi
untuk pencegahan, bukan pertolongan pertama. Kalau sebuah
produk jamu diklaim bisa menghilangkan rasa nyeri saat serangan
terjadi, hampir bisa dipastikan obat itu berisi obat kimia sintetis.
Bagaimanapun, minum obat herbal adalah hak pasien.
Tapi pasien yang cerdas tak mudah dikibuli pabrik jamu.
Penyakti asam urat memang termasuk salah satu penyakit
yang tak mudah diobati. Jika tidak dikendalikan dengan baik,
gangguan asam urat bisa menjadi kronis. Ini harus dihindari.
Gangguan asam urat sebisa mungkin harus dikendalikan
dengan baik, entah dengan obat modern atau obat tradisional.
Kalau tidak, maka penderita akan sering minum obat pereda nyeri
jangka panjang.
Padahal jika diminum jangka panjang, obat-obat ini bisa
menyebabkan sakit mag. Ini yang repot. Kalau sudah terkena
http://bukuobat.blogspot.com
asam urat ditambah sakit mag, pengobatan kedua penyakit ini
akan lebih sulit. Asam uratnya lebih sulit ditangani. Sakit magnya
akan makin sering kambuh lagi.
http://bukuobat.blogspot.com
25
OBAT GENERIK
Setali pembeli kemenyan, sekupang pembeli ketaya
Sekali lancung keujian, seumur hidup orang tak percaya
------
Pantun Melayu lawas di atas barangkali masih bisa memberi
gambaran yang pas terhadap masalah sosialisasi obat generik di
Indonesia saat ini. Sekalipun sudah lebih dari dua dasawarsa
kebijakan ini diterapkan di Indonesia, masih saja banyak kalangan
yang enggan menggunakannya. Alasannya klasik: harga obat
generik memang murah tapi khasiatnya masih diragukan.
http://bukuobat.blogspot.com
Bukan hanya masyarakat awam yang berpandangan seperti
ini. Sebagian dokter pun berpandangan serupa dan enggan
meresepkan obat generik. Kalau dokter saja menganggap obat
generik tidak efektif, tentu ini sebuah masalah serius karena tenaga
kesehatan adalah ujung tombak sosialisi program ini. Laporan
dokter tentang obat generik yang tidak ampuh bukan satu atau dua
tapi cukup banyak. Kalau mau tahu pendapat langsung para
dokter tentang obat generik, silakan lihat arsip milis Dokter
Indonesia. (Milis ini hanya khusus untuk dokter tapi arsipnya bisa
diakses siapa saja.)
Kita memang tidak bisa membuat sebuah kesimpulan umum
berdasarkan testimoni orang per orang. Akan tetapi, banyaknya
laporan tersebut setidaknya membuat kita layak bertanya: jangan-
jangan memang benar bahwa di pasaran ada banyak produk obat
generik yang tidak ampuh. Bagaimanapun, ketidakpercayaan
sebagian dokter dan masyarakat tentu harus dijadikan bahan
introspeksi oleh Pemerintah dan industri farmasi, bukannya
sekadar dianggap angin lalu atau dicela sebagai alasan yang
mengada-ada.
Mengapa dokter tidak percaya? Pertanyaan ini perlu dijawab
lebih dulu sebelum mencari jawaban dari pertanyaan berikutnya:
Mengapa dokter enggan meresepkannya? Dua pertanyaan ini bisa
saja memberi jawaban yang berbeda. Untuk menjawab pertanyaan
http://bukuobat.blogspot.com
pertama, kita harus melihat dulu sejarah penerapan kebijakan obat
generik di Indonesia.
Kebijakan ini diterapkan Pemerintah tahun 1989 dengan
tujuan mulia, yaitu ingin melindungi masyarakat dari biaya obat
yang dianggap terlalu tinggi. Harga obat paten dan obat bermerek
dianggap terlalu mahal sehingga menyebabkan biaya kesehatan
menjadi tidak terjangkau oleh banyak orang. Motif industri
farmasi untuk mengeruk keuntungan besar telah membuat harga
obat tidak berpihak kepada konsumen.
Untuk menurunkan harga, Pemerintah kemudian
menerapkan kebijakan Obat Generik Berlogo (OGB, yang dalam
bahasa sehari-hari kita sebut “obat generik” saja). Perusahaan-
perusahaan farmasi dalam negeri didorong untuk memproduksi
obat-obatan yang isinya sama dengan obat paten, efektivitasnya
sama, tapi harganya jauh lebih murah. Pada saat yang sama, para
dokter, terutama di rumah sakit pemerintah, pun diinstruksikan
untuk meresepkan obat generik buat pasien.
Tapi usaha ini ternyata tak mudah. Sebagian masyarakat—
pihak yang hendak dilindungi itu—ternyata justru merupakah
pihak yang paling sulit diyakinkan. Begitu juga sebagian kalangan
dokter. Mereka beralasan, obat generik tidak ampuh.
Benarkah klaim itu?
Sebelum bicara tentang perbedaan jenis obatnya, kita
mungkin perlu bersikap kritis lebih dulu terhadap klaim ampuh
http://bukuobat.blogspot.com
atau tidak ampuh. Sebagai contoh, mari kita perhatikan ilustrasi
berikut: Pasien minum obat “G” di hari pertama dan kedua tapi
gejala sakitnya tidak berkurang. Lalu ia minum obat “P” di hari
ketiga dan keempat, dan gejala sakitnya berkurang. Ia merasa
sembuh lalu menyimpulkan bahwa obat “G” tidak ampuh dan
obat “P” ampuh.
Secara metodologis, kesimpulan seperti ini mungkin saja
tidak tepat. Sebab, kita tidak tahu, mungkin saja proses
pengobatan sudah dimulai di hari pertama atau kedua saat ia
minum obat “G”. Lalu progres itu mencapai puncaknya di hari
ketiga dan keempat ketika ia minum obat “P”. Kesimpulan yang
paling tepat adalah bahwa kita tidak bisa membuat kesimpulan
karena kita tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi di dalam tubuh.
Kita hanya bisa menduga-duga.
Akan tetapi, jika banyak sekali orang mengalami hal yang
sama dan membuat dugaan yang sama, apalagi mereka adalah
para dokter yang tahu konsep evidence-based medicine, artinya
kita memang layak bertanya tentang efektivitas obat “G” itu.
Efektivitas obat generik memang masalah klasik yang
banyak diperdebatkan. Bukan hanya di Indonesia tapi juga hampir
di seluruh dunia. Bahkan, negara dengan regulasi farmasi yang
ketat seperti Amerika Serikat pun sempat menghadapi masalah
serupa sampai di tahun 1990-an.
http://bukuobat.blogspot.com
Lalu apa yang dilakukan oleh Pemerintah Amerika? Selain
kampanye gencar kepada pengguna, Pemerintah Amerika juga
meningkatkan pengawasan kepada produsen. Sebagai bentuk
quality assurance, sejak tahun 1999 Food and Drug
Administration (FDA, Badan Pengawas Makanan dan Obat
Amerika) mewajibkan semua produsen obat generik melakukan
uji bioekivalensi. (Baca publikasi FDA “From Test Tube to Patient:
Improving Health Through Human Drugs”.)
Dalam uji ini, obat generik dibandingkan langsung dengan
obat paten. Keduanya sama-sama diperiksa kandungan dan
kualitasnya di laboratorium. Setelah itu, kedua obat tersebut juga
diminumkan kepada sukarelawan, lalu kadar obat di dalam darah
mereka diperiksa. Jika keduanya setara, barulah obat generik itu
dinyatakan layak beredar di pasar.
Audit terhadap industri farmasi juga diperketat. FDA
tercatat beberapa kali memberi peringatan bahkan penarikan
produk obat generik perusahan-perusahaan multinasional seperti
Ranbaxy, Apotex, dan Teva. Di pasar internasional, perusahaan-
perusahaan ini terkenal sebagai pemasok obat generik dengan
harga murah. Pabrik-pabrik farmasi Indonesia pun banyak yang
mengimpor dari mereka.
Kewajiban uji bioekivalensi dan kontrol ketat terhadap
industri farmasi ini terbukti bisa membuat reputasi obat generik
meningkat. Para dokter tak lagi ragu-ragu meresepkannya karena
http://bukuobat.blogspot.com
memang obat ini telah menjalani uji bioekivalensi. Uji ini
memastikan bahwa obat generik memang sama efektifnya
dibandingkan obat paten. Memang, obat generik tetap tidak bisa
100% sama dengan obat paten. Berdasarkan review FDA terhadap
2.070 hasil uji bioekivalensi sampai tahun 2007, obat generik
berbeda sekitar 3,5% dari obat paten. Sekalipun ada perbedaan,
kedua jenis obat ini secara terapetik dianggap sama karena sama-
sama efektif.
Dengan adanya uji bioekivalensi ini, sekarang di negara
"Uak Sam" itu, sekitar 70-80% isi resep dokter adalah obat generik.
Padahal, Amerika adalah negara yang memiliki paling banyak
perusahaan farmasi penemu obat paten seperti Pfizer, Abbott
Labs, Merck & Co, Wyeth, Eli Lilly, Bristol-Myers Squib, dll.
Bagaimana dengan di Indonesia?
Pada masa dasawarsa pertama penerapan kebijakan obat
generik, harus diakui bahwa kualitas sebagian (bukan sebagian
besar) obat generik memang masih diragukan. Pemerintah
sebetulnya sudah mewajibkan semua produsen obat generik untuk
mematuhi aturan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).
Namun, tak bisa diingkari bahwa di pasaran masih dijumpai obat
generik yang kualitasnya di bawah standar.
Di internet, kita masih bisa menemukan arsip penelitian-
penelitian tentang obat generik yang kualitasnya tidak sebanding
dengan obat paten. Dua di antaranya di sini dan di sini. Sebagian
http://bukuobat.blogspot.com
besar produk generik sebetulnya sudah memiliki kualitas yang
setara dengan dengan obat paten. Akan tetapi, dalam hal reputasi,
selalu berlaku peribahasa Minangkabau, “Dek nilo satitiak, rusak
susu sabalango.” Beberapa produk obat generik yang kualitasnya
buruk itu telah merusak citra keseluruhan obat generik.
Bagaimanapun, obat adalah produk dagang, dan industri
farmasi punya orientasi terhadap laba. Sementara, harga eceran
tertinggi obat generik ditentukan oleh Pemerintah sehingga
perusahaan-perusahaan farmasi itu tidak bisa menentukan harga
jual sesuai kalkulator mereka. Untuk menyiasati margin
keuntungan yang lebih tipis ini, pabrik-pabrik farmasi harus
berhemat dalam produksi. Mungkin saja dalam penghematan itu
ada sebagian unsur kualitas obat yang dikorbankan tanpa sengaja,
misalnya membeli bahan baku obat dari pemasok yang kurang
menjamin kualitasnya.
Dalam hal ini, Pemerintah tentu tak bisa mengawasi semua
hal yang terkait produksi obat, mulai dari pembelian bahan baku,
produksi, pengendalian mutu, dan seterusnya. Yang bisa
dilakukan oleh Pemerintah sebatas sertifikasi CPOB dan pengujian
produk jadi.
Apalagi saat itu Pemerintah juga belum mewajibkan uji
bioekivalensi buat produk obat generik karena biayanya yang
cukup mahal. Yang diwajibkan saat itu baru sebatas uji-uji yang
http://bukuobat.blogspot.com
murah dan mudah dilakukan di laboratorium tanpa menggunakan
sukarelawan, seperti uji disolusi terbanding.
Dalam uji disolusi ini, obat generik diperiksa kecepatannya
terlarut di dalam larutan simulasi mirip cairan lambung. Tapi uji
ini hanya dilakukan di dalam tabung kaca di laboratorium, tidak
dengan cara diminumkan kepada sukarelawan. Jadi, tidak bisa
menggambarkan keadaan sesungguhnya ketika obat diminum oleh
pasien.
Karena kontrol kualitas obat generik saat itu masih belum
begitu bagus, mudah dipahami jika dokter masih menemukan obat
generik yang tidak efektif. Inilah yang kemudian membuat mereka
sangsi terhadap slogan iklan OGB, “Kita ‘kan tidak makan
mereknya”.
Sekalipun semua produsen obat generik sudah memperoleh
sertifikat CPOB, kemampuan masing-masing pabrik itu dalam
membuat formula yang bagus tentu saja tidak sama. Walaupun
kandungan dua produk sama-sama amoksisilin 500 mg, bisa saja
keduanya memiliki sifat pelarutan dan penyerapan yang berbeda
jika formulasinya berbeda, jenis kristal zat aktifnya berbeda, atau
proses produksinya berbeda.
Untuk memperbaiki kekurangan ini, Pemerintah kemudian
menerapkan kebijakan seperti yang dilakukan oleh FDA, yakni
kewajiban uji bioekivalensi. Uji disolusi di dalam tabung saja tidak
cukup. Obat generik harus diuji pada manusia. Maka sejak tahun
http://bukuobat.blogspot.com
2005, Pemerintah mewajibkan para produsen obat-obat generik
untuk melakukan uji bioekivalensi pada produk-produk yang
memang harus dibandingkan bioekivalensinya.
Sejak kebijakan uji bioekivalensi ini diterapkan, sebetulnya
keseragaman kualitas obat generik di pasaran menjadi semakin
baik. Pelaksanaan kebijakan ini memang tidak bisa seketika.
Hingga saat ini pun belum semua produk obat generik dilengkapi
uji bioekivalensi. Tapi secara umum keseragaman kualitas obat
generik dalam lima tahun terakhir sudah jauh lebih baik daripada
dasawarsa yang lalu.
Sayangnya, mindset bahwa obat generik adalah obat murah
dan murahan yang sudah telanjur tertanam belasan tahun
memang tidak mudah untuk diubah. Ini bukti bahwa jika
Pemerintah dan industri farmasi “lancung keujian” dan gagal
menjamin efektivitas obat generik, bisa jadi seumur hidup
masyarakat akan sulit percaya.
Perlu usaha keras dan sungguh-sungguh untuk membuat
orang yang tidak percaya menjadi percaya. Maka jika selama ini
kampanye obat generik lebih menekankan logika harga murah,
sudah saatnya kampanye sekarang lebih menekankan pada bukti
uji bioekivalensi.
Para dokter dan tenaga kesehatan adalah orang-orang
terdidik yang terbiasa berpikir rasional dengan landasan bukti
ilmiah. Logika harga murah saja tidak cukup kalau tidak disertai
http://bukuobat.blogspot.com
dengan bukti ilmiah bahwa obat generik memang sungguh-
sungguh sama efektifnya dengan obat paten. Jika bukti ilmiah dari
laboratorium independen yang terakreditasi sudah ada, tapi tenaga
kesehatan masih tetap enggan menggunakannya, barangkali
memang masalahnya bukan kepercayaan.
Sebagian tenaga kesehatan mungkin lebih suka
menggunakan obat bermerek karena alasan keuntungan yang
didapat dari produsennya. Ini tentu bukan bab obat generik tapi
bab kode etik. Yang jadi persoalan adalah ketika tenaga kesehatan
meragukan efektivitas obat generik. Sebab, mereka adalah pihak
yang bersentuhan langsung dengan pasien. Mereka lebih tahu
fakta di lapangan. Sekalipun Pemerintah mengampanyekan obat
generik dijamin efektif, mereka tak akan mudah percaya jika
ternyata di lapangan mereka menjumpai fakta yang sebaliknya.
Ketidakpercayaan adalah masalah persepsi. Dan, seperti
kata para psikolog, persepsi bisa saja berangkat dari fakta,
sekalipun bisa juga hanya berdasarkan syakwasangka. Apa pun
penyebabnya, fakta ataupun prasangka, keduanya bisa dilawan
dengan satu senjata, yaitu bukti ilmiah uji bioekivalensi.
Obat Generik Sejati vs. Semu
Jika kita melihat sejarah perkembangan obat di dunia, sebetulnya
kita akan lebih mudah memahami kenapa kebijakan obat generik
http://bukuobat.blogspot.com
adalah sebuah keharusan, lebih-lebih di Indonesia, negara dengan
penduduk seperempat miliar yang sebagian besar dari mereka
belum dilindungi asuransi kesehatan.
Bagaimanapun juga, produk obat adalah produk dagang.
Medicine is business. Big business. Hukum dagang berlaku di sini.
Perusahaan-perusahaan besar farmasi dunia berinvestasi miliaran
dolar, melakukan riset bertahun-tahun untuk menemukan obat
baru. Begitu obat ini ditemukan, mereka akan memanen investasi
dari penjualan obat tersebut.
Sebagai penghargaan terhadap kekayaan intelektual,
perusahaan penemu obat akan memegang hak paten yang
membuatnya bisa memonopoli penjualan obat tersebut di seluruh
dunia. Selama masa paten itu belum kedaluwarsa, tak ada
perusahaan lain yang boleh memproduksi dan menjual obat itu.
Contoh gampang adalah amoksisilin. Antibiotik ini
ditemukan tahun 1972 oleh Beecham, perusahaan farmasi Inggris
yang sekarang menjadi GlaxoSmithKline. Beecham memberi
nama dagang obat ini Amoxil®. Amoxil® inilah yang dalam ilmu
farmasi disebut sebagai obat paten (kadang disebut inovator,
originator, atau pioner). Selama sepuluh tahun, Beecham
menangguk keuntungan dari monopoli penjualan amoksisilin di
seluruh dunia.