The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Perceraian dan Menikah Lagi

Karya:
Dr. Ir. Jarot Wijanarko M.Pd
Pemerhati dan konselor keluarga

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by BPD GBI DKI Jakarta, 2021-08-01 23:08:07

Perceraian dan Menikah Lagi - Dr. Ir. Jarot Wijanarko M.Pd

Perceraian dan Menikah Lagi

Karya:
Dr. Ir. Jarot Wijanarko M.Pd
Pemerhati dan konselor keluarga

1

Dedikasi

Dengan segala puji syukur,
kami persembahkan buku ini

kepada:
..........................................

dari:
........................................

Mengubah Paradigma
Mengubah Kehidupan
Membangun Keluarga Bahagia
Membangun Pernikahan yang Kuat
2

Perceraian & Menikah Lagi

Aturan dan Solusi

Edisi Revisi 2020

Karya:
Dr. Ir. Jarot Wijanarko M.Pd
Pemerhati dan konselor keluarga

Design Cover: Iswahyudi, Rajawali Kecil
Perpustakaan Nasional, Katalog dalam Terbitan:

ISBN NO. 978-979-1019-26-2

Penerbit:
KELUARGA INDONESIA BAHAGIA

Jl. Melati II, Blok S No.1
Bumi Bintaro Permai, Jakarta. 12320

Dilarang mengcopy, memperbanyak, baik sebagian
atau seluruh buku ini tanpa ijin tertulis penerbit
dan pengarang buku.

Cetakan Pertama 2007 144 halaman
Edisi Revisi 2014 176 halaman
Edisi Revisi 2018 200 halaman
Edisi Revisi 2020 245 halaman

3

Sambutan

Ev. Daniel Alexander

Pesat Nabire ( Pendidik-Pembidik)

Saya sudah banyak membaca buku tentang keluarga,
tapi yang satu ini dahsyat betul, buku 200 halaman tapi
sangat lengkap. Saya anjurkan semua konselor, gembala,
dosen, bahkan semua orang yang mau menikah membaca
buku ini. Semua masalah dalam perceraian dan menikah lagi
dari A-Z dibahas tuntas, dan yang sangat menarik contoh-
contoh kasus itu nyata bukan karangan.

Buku ini, bersama buku lainnya karangan penulis
tentang pernikahan (Kidung Agung, A-Z Marriage,Pernikahan
Bahagia, Pemulihan Suami Istri, Selingkuh & Seks dan Mertua
Vs Menantu) layak disebut Alkitabnya Pernikahan. Waktu
saya membacanya saya kagum luar biasa, orang awam diajak
mengerti tentang perceraian, perzinahan, percabulan dalam
bahasa Ibrani dan Yunani-nya secara sederhana, sehingga
kita bisa mengerti dengan sangat jelas.

Saya menghimbau pada semua gembala, bahwa
sebuah keharusan untuk konseling dengan teliti, serius,
sediakan waktu bagi mereka yang mau nikah, dari semua
kasus yang ada dibuku ini, seharusnya tidak perlu terjadi
seandainya kita menolong mereka sebelum masuk
pernikahan. Mari kita hadirkan Kerajaan Surga ke bumi
dengan jalan membina dan memulihkan pernikahan.

4

Saya mengenal penulis dan istrinya sejak mereka
masih kuliah. Terima kasih Tuhan, di Indonesia ada mereka
sehingga banyak pernikahan tertolong dari kehancuran.
Terima kasih buat penulis yang memasukkan tentang keluarga
kami di dalam buku ini, semoga memberi inspirasi.

Pdt. Dr. Ir. Yonathan Wiryohadi

Gembala GBI WTC Serpong

“Buku ini layak menjadi preferensi bermutu bagi
pasangan suami-istri. Alasan apapun yang secara kasat mata
bisa diterima jastifikasinya untuk memunculkan perceraian,
semua itu harus ditolak demi IMAN dan KETAATAN kita
kepada TUHAN. Kalaupun TUHAN izinkan kehidupan suami-
istri tanpa hadirnya keturunan, ambil hal positifnya, bahwa
TUHAN memiliki rancangan yang terlebih besar dan indah!

Secara pribadi, kupasan buku ini mengingatkan
kepada saya tentang kebaikan TUHAN, tepatnya rancangan
TUHAN dalam kehidupan saya dan Mujizat-NYA yang begitu
nyata. Melalui buku ini, silahkan dipahami sudut pandang
TUHAN yang begitu mulia terhadap kudusnya kehidupan
pernikahan.”

5

Pdt. Ir. Timotius Arifin

Gembala GBI Rock Ministries di Lembah Pujian

Saya pernah mengundang penulis untuk Seminar
Keluarga di Lembah Pujian, GBI Denpasar beberapa tahun
lalu. Waktu itu kami mengadakan evaluasi untuk seluruh
pendeta tamu dalam tahun itu, dan diluar dugaan saya,
penulis mendapat rangking satu.

Bukan karena dia paling top, tetapi rupanya karena
materinya menjawab kebutuhan jemaat. Masalah-masalah
keluarga adalah kebutuhan riil jemaat sehari-hari. Penulis
mampu membawa prinsip pengajaran Alkitabiah dalam kotbah
dan tulisan bukunya yang praktis dan mudah dimengerti.

Buku yang imbang dari sisi idealis seorang pengajar
dengan bobot pengajaran, namun ada pendekatan
penyelesaian masalah yang sangat dibutuhkan oleh para
gembala. Maju terus Jarot... anda jadi berkat dimana-mana!

====

Pernikahan yang KUAT
Bukan TANPA MASALAH
Namun yang keluar mengatasi masalah

Sebagai PEMENANG

6

Persembahan dan Terimakasih

PERBEDAAN antara PRIA dan WANITA telah menjadi
sumber konflik di dalam banyak pernikahan, namun saya
bersyukur dan berterima kasih kepada TUHAN yang telah
memberikan pemahaman, sehingga bagi kami itu anugerah
yang besar yang membuat pernikahan kami adalah dua
pribadi yang saling melengkapi.

Terimakasih untuk istri saya, yang BERDEDA dalam
banyak hal dengan saya, baik berbeda suku, latar belakang
ekononi, kecenderungan perilaku (DISC) dan temperamen
dasar, namun telah bersama-sama saat ini (2018) telah 28
tahun pernikaan serta membangun pemahaman lewat
kebersamaan yang menyenangkan.

Terimakasih untuk anak-anak yang TUHAN
anugerahkan kepada kami, anak-anak yang unik dan
BERBEDA satu sama lain, yang semakin menumbuhkan
kesadaran, bahwa BERBEDA ITU INDAH.

Terimakasih untuk untuk team supporting yang TUHAN
telah berikan di sekitar hidup saya, baik di Happy Holy Kids,
Yayasan, Perusahaan dan Pelayanan yang telah turut ambil
bagian menopang pelayanan dan kehidupan kami sekeluarga.

Buku ini kami persembahkan bagi keluarga-keluarga
Indonesia, untuk bebas ataupun pulih dari luka-luka
perceraian. Semoga menjadi berkat membangun pernikahan
yang kuat.

Dr. Ir. Jarot Wijanarko, M.Pd.
Pemerhati dan konselor keluarga
KELUARGA Indonesia BAHAGIA

7

Daftar Isi 001
002
003
004
Cover Dalam 007
Dedikasi 008
Penerbit 010
Sambutan
Persembahan dan Terimakasih 013
Daftar Isi 013
Pendahuluan 014
015
I. Mau Bercerai 018
A. Aku Sudah Tidak Tahan Lagi 020
B. Kami Tidak Punya Anak 021
C. Perbedaan Kami Terlalu Besar 022
D. Pasanganku Selingkuh 023
E. Aku Dianiaya 024
F. Dia Pergi Begitu Saja 026
G. Dia Monster, Penjudi & Pemabok 028
H. Aku Bisa Hidup Tanpa Dia
I. Dia Tidak Mencintaiku 030
J. Pakai Ayat 030
K. Mencari Solusi 031
061
II. Bolehkah Bercerai? 062
A. Sudah Tidak Tahan Lagi 064
B. Tidak Punya Anak 067
C. Perbedaan Terlalu Banyak 068
D. Pasangan Selingkuh 069
E. Penganiayaan / KDRT 070
F. Gereja Milenials
G. Dia Pergi Begitu Saja
H. Pasangan Penjudi, Pemabok
I. Pasangan Tidak Seiman

8

III. Jangan Bercerai 075
A. Tuhan Membenci Perceraian 076
B. Bercerai disebut Pengkhianat 078
C. Menceraikan Menikah Lagi Zinah 080
D. Diceraikan Menikah Lagi Zinah 081

IV. Perkecualian? 084

V. Perspektif Perkecualian Perceraian 097
A. Pdt. Samuel T. Gunawan M.Th 097
B. Pdt. Dr Suhento Liauw 115
C. Pdt .Yakub Tri Handoko Th.M 125
D. Pdt. Budi Asali M.Div 139

VI. Pulih dan Solusi Perceraian 153

VII. Solusi Dosa Perceraian 173

VIII. Menikah Lagi 174

IX. Tanya Jawab Lanjutan 211

Daftar Pustaka 243
Biografi PenuliS 245

LARI dari MASALAH
adalah hal yang MUDAH
Namun itu tidak membuat hidup lebih INDAH

BERJUANG MENGATASI MASALAH
MENJADI KENANGAN INDAH

9

Pendahuluan

Perceraian di Indonesia telah mencapai 400.000 lebih
kasus pertahun yang diputus cerai. Perceraian orang
mendaftar untuk sidang perceraian, sedangkan orang
berselingkuh atau pisah kamar tentunya tidak mendaftar dan
jumlahnya pasti berlipat kali dari kasus perceraian. Berikut ini
data perceraian di Indonesia dari website Makamah Agung.

2015 tercatat 394.246
2016 tercatat 403.070
2017 tercatat 415.848
2018 tercatat 419.268

Berdasarkan data yang dikutip dari website Mahkamah
Agung (MA), sebanyak sebanyak 419.268 pasangan bercerai
sepanjang 2018 itu, inisiatif perceraian paling banyak dari
pihak perempuan yaitu 307.778 perempuan. Sedangkan dari
pihak laki-laki sebanyak 111.490 orang.

Berikut ini 7 provinsi dengan kasus perceraian tertinggi
di Indonesia per tahun 2016.

1. Provinsi Jawa Timur, 86.491 perceraian
2. Provinsi Jawa Barat, 75.001 perceraian
3. Provinsi Jawa Tengah, 71.373 perceraian
4. Provinsi Sulawesi Selatan, 12.668 perceraian
5. Provinsi DKI Jakarta, 11.321 perceraian
6. Provinsi Sumatera Utara, 10.412 perceraian
7. Provinsi Banten, 10.140 perceraian.

10

Nah, dengan belajar seluk beluk perceraian (dan
poligami) saya yakin akan mempersenjatai pikiran kita,
dengan Logika Firman, pikiran Tuhan dan menjadikan
pernikahan kita pernikahan yang kuat.

Pernikahan yang kuat bukan tanpa masalah, namun
jika pernah hampir bercerai, berpikir mau bercerai dan
bergumul dengan hal ini, lalu karena pengertian Firman
memutuskan untuk terus membangun pernikahan, maka inilah
hubungan yang sudah lewat ujian permasalahan.

Demikian juga yang sudah terlanjur cerai dan menikah
kembali, atau masih sendiri setelah perceraian, mendapat
pandangan untuk mencari solusi terbaik. Bertobat sungguh-
sungguh dan mencoba untuk taat kepada Firman untuk
menjalani kehidupan selanjutnya dengan lebih baik.

Buku ini pernah terbit dengan judul “Mau Menikah
Lagi” “Perceraian dan Menikah Lagi” dan sekarang dengan
beberapa revisi saya terbitkan kembali dengan judul
“Perceraian dan Menikah Lagi, Aturan dan Solusi”.

Generasi milenial melahirkan budaya dan pola pikir
yang praktis, logis dan mementingkan kebahagiaan. Jika
menikah dan bertengkar terus, untuk apa dipertahankan jika
hanya membuat keduanya menderita? Sangat tidak logis.
Kenapa nggak pisah saja baik-baik dan masing-masing belajar
dari kesalahan dan mencari yang baru yang lebih cocok?
Hidup lebih bahagia buat keduanya. Apa salahnya?

Salahnya tidak sesuai Firman Tuhan yang membenci
perceraian. Perceraian yang dengan begitu dimudahkan
membuat orang lari dari kenyataan, tidak mau komitmen, tidak

11

menghadapi dan menyelesaikan masalah, tetapi lari dari
masalah dan masuk dalam masalah yang sama.

Buktinya penelitian yang dilakukan (di USA) oleh Garry
Capman melaporkan bahwa pernikahan kedua memiliki
persentasi perceraian lagi yang lebih tinggi. Jika tingkat
perceraian pernikahan pertama mencapai 40% maka tingkat
perceraian pernikahan kedua bisa mencapai 70%. Cerai
bukan jalan keluar dari ketidakbahagiaan, karena
menghasilkan pernikahan yang tidak berkurang masalahnya.1

Solusi atas permasalahan pernikahan, lebih pada
membawa seseorang mengenal diri sendiri, mengenal
pasangannya dan bertumbuh dalam kedewasaan. Buku ini
saya tulis dengan harapan kita lebih komitmen untuk tetap
bersama-sama di dalam pernikahan, dan TIDAK BERCERAI.



1 Garry Chapman, Loving Solution.

12

I. Mau Bercerai

Bab ini saya sampaikan alasan-alasan orang ingin
bercerai, dari kasus-kasus yang saya jumpai sepanjang
pelayanan saya di bidang keluarga sejak 1998 hingga 2018.

A. Aku Sudah Tidak Tahan lagi

Aku menikah dengannya, karena dia orang yang
energik, antusias dan selalu optimis. Itu membuat saya kalau
bersama dia, tumbuh pengharapan dalam hidupku, karena
aku sendiri tipe pesimistis. Dia percaya diri luar biasa, dan
sangat mandiri. Itu sungguh aku kagumi dan kamipun
menikah.

Setelah aku menikah, hal tersebut tidak semuanya
indah. Dia tidak membutuhkanku, dia pergi kerja dan
pelayanan, di luar kota, luar pulau dalam waktu yang sangat
lama dan sering. Untuk apa dia dulu menikah dengan aku?
Aku hidup seperti orang yang tidak menikah, dia tidak
membutuhkanku.

Bahkan mungkin lebih baik orang yang tidak menikah,
yang belum pernah merasakan seks secara nyata. Aku sudah
merasakannya bahkan memiliki anak, tetapi sering sendirian.
Aku bertahan, karena orang mengenal aku sebagai orang
yang ‘rohani’, aktif di gereja dan dalam masyarakat aku
terhormat.

13

Beberapa tahun lalu, ia pergi ke luar pulau pelayanan,
membawa anakku, dan tidak pulang-pulang (pindah kesana)
dalam waktu yang lama. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku
kesepian, akupun selingkuh. Aku tidak tahan lagi. Setelah
bercerai, aku menemukan pasangan baru yang baik,
pengertian dan penuh kasih sayang. Aku sekarang bahagia
dan aku tahu ini pasti rencana Tuhan. Dia mengijinkan suami
pertamaku pergi keluar pulau demi kebaikkanku.

Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Tuhan turut bekerja
dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi
mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang
terpanggil sesuai dengan rencana Tuhan.





B. Kami Tidak Punya Anak

Aku anak pertama laki-laki, juga cucu pertama yang
laki-laki dalam keluarga besarku. Keluargaku punya
perusahaan nasional, turun temurun sejak jaman penjajahan
Belanda. Kepemimpinan perusahaan selalu diwariskan ke
anak laki-laki dan cucu laki-laki pertama dalam keluarga,
sedangkan anak yang lainnya, juga mewarisi kepemilikan
perusahaan bersama-sama, namun bukan sebagai
pemegang tongkat komando. Itu diyakini keluargaku sebagai
tradisi yang harus dipertahankan turun temurun, yang akan
membawa keberuntungan.

Masalah mulai terjadi, ketika isteriku tidak kunjung
hamil. Aku sangat mencintainya, bahkan jika dia tidak punya
anak sekalipun. Namun orang tuaku dan kakek serta paman-
paman tidak sabar.

14

Mereka seperti ‘koor’ bersatu hati memberi nasehat;
“Kalau tidak bisa melahirkan anak laki-laki, ceraikan saja.
Kalau tidak bisa melahirkan anak, apa gunanya menikah? Itu
bukan jodohmu, itu bawa sial ”.

Aku terus bertahan, namun isteriku mulai goyah dan
tidak lagi bisa hidup sukacita dan damai sejahtera, karena
keluargaku mulai menekan dia, mencari-cari kesalahan dan
menjadikannya bahan pembicaraan ketika keluarga
berkumpul. Beberapa kali dia menangis, karena sudah
sampai pada tahap merendahkan, bahkan melecehkan.

Aku mencoba menghibur, tetapi dia salah mengerti,
seolah-olah aku tidak mengerti perasaannya dan istriku justru
menyerah dengan keadaan, pulang ke rumah orang tuanya
dan minta diceraikan saja. Aku mau menjemputnya kembali,
tetapi orang tuaku melarangku. Aku mencintai istriku, tetapi
aku juga tidak berani melawan orang tuaku.

Apa dia bukan ‘jodohku’ dan sebaiknya bercerai?
Jika tidak punya anak, siapa penerus warisanku?

C. Perbedaan Kami Terlalu Besar

Aku menikah dijodohkan orang tuaku, karena usiaku
yang memang sudah saatnya menikah. Aku bertemu dan
memasuki masa perkenalan dan pacaran yang amat singkat.
Aku melihatnya dan ‘not bad’-lah, lumayan, tidak ada salahnya
aku mengikuti orang tuaku. Pikirku, zaman dahulu orang
dijodohkan dan juga awet pernikahannya.

15

Setelah menikah dan hidup bersama, aku mulai
menemukan perbedaan-perbedaan yang amat besar. Dia
tidak pernah memahami perasaanku, karena dia selalu
menggunakan logika pikirannya dalam segala sesuatu.

Dia tidak memiliki belas kasihan sementara saya
begitu suka menolong dan memberi. Saya orang yang
lembut, perasa, memahami perasaan orang lain, sementara
dia bagi saya sangat egois dan tidak berperasaan.

Aku menyukai kerapian, hidup teratur dan terjadwal,
menaruh barang pada tempatnya, merencanakan kegiatan
sebelum melakukannya. Sementara pasanganku benar-benar
sembrono, asal-asalan, menaruh barang dimana-mana dan
pelupa lagi. Pergi, kegiatan, acara serba mendadak dan
berubah-ubah dari rencana sebelumnya. Saya pusing
mengikutinya.

Aku mencoba menyesuaikan diri dan merubah
hidupku, tetapi saya menjadi frustasi karenanya, karena
bagiku dialah yang harus berubah. Aku mulai mengajarinya
rapi dan teratur dan itu membuat dia ganti yang frustasi dan
tertuntut. Kami mulai saling menuntut perubahan dan hidup
menyalahkan orang lain atau menyalahkan diri sendiri yang
berkepanjangan. Aku mulai berpikir, apakah dia benar-benar
‘jodohku’ dari Tuhan? Apakah aku tidak salah mengambil
keputusan dan terlalu cepat menerima ketika orang tuaku
menawarkannya?

Kalau jodoh dari Tuhan, cocok. Aku dan pasanganku
bagaikan anjing dan kucing, bagaikan Tom & Jerry dalam film
kartun anak, bagaikan bumi dan langit, bagaikan air dan
minyak. Pokoknya aku tidak ada kecocokan sama sekali
dengan pasanganku. Perbedaan kami terlalu besar.

16

Kejadian 2:21 Lalu Tuhan Elohim, membuat manusia itu
tidur nyenyak; ketika ia tidur, Tuhan Elohim mengambil
salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu
dengan daging.
22 Dan dari rusuk yang diambil Tuhan Elohim dari manusia
itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya
kepada manusia itu.
23 Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari
tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai
perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.”

Aku tahu pasti, dia bukan tulang rusukku, bukan
jodohku, aku telah salah menikah. Aku dulu tidak berdoa dulu,
tidak menanyakan kehendak Tuhan. Aku sepenuhnya sadar,
aku telah menikah dengan orang yang salah.

Sebuah kesalahan apakah pantas untuk diteruskan?
Bukannya orang harus memperbaiki dan menata ulang
hidupnya, supaya lebih baik? Aku mulai berpikir, sebenarnya
siapa ‘tulang rusuk’-ku yang Tuhan ciptakan bagi aku?
Apakah ‘dia’ masih sendirian?

Aku belum terlambat, aku masih muda, menarik,
mumpung belum punya anak, lebih baik aku bercerai, dan
menemukan tulang rusuk-ku yang sejati, bukan pilihan orang
tuaku, tetapi pilihan Tuhan bagiku.

Benarkah pendapat ini? Kita akan segera bahas
mengenai cerai dan menikah lagi. Namun saya menyarankan
untuk membaca buku PERNIKAHAN BAHAGIA yang secara
details membahas 18 perbedaan utama pria wanita.2



2 Pernikahan Bahagia, Jarot Wijanarko, Keluarga Indonesia Bahagia, Jakarta. 2018

17

D. Pasanganku Selingkuh

Aku menikah dan bahagia, kami semua berasal dari
keluarga baik-baik. Pasanganku sangat romantis, dia pandai
membangkitkan gairahku, yang pada awalnya aku tipe yang
‘dingin’. Pasanganku lucu, peramah, ‘smiling face’, bahkan
agak ‘imut’, pandai bergaul dan disukai banyak orang. Dia
juga aktif dalam kegiatan sosial. Pendek kata aku bahagia
dan percaya kepadanya.

Bagaikan halilintar di siang bolong, jika akhirnya aku
menjumpai pasanganku selingkuh, aku tidak menyangka
sama sekali, itu melukai hatiku terlalu dalam. Jika dia
memang pria nakal, mungkin aku justru lebih siap, karena
memang sudah menduga. Aku tidak siap sama sekali, karena
aku tidak menyangka sama sekali.

Aku menjadi muak melihatnya. Jika aku berhubungan
badan dengan dia, maka terbayang, bagaimana dia
berhubungan dengan orang lain, maka aku sudah tidak punya
gairah lagi, bahkan kadang saya bisa menjadi pusing bahkan
mual. Mendengar deru mesin mobil memasuki halaman ketika
dia pulang kantor saja, sudah cukup untuk membuat hatiku
gelisah dan perutku mules.

Aku tahu ini menyiksa diriku, maka aku mulai
melibatkan diri dalam berbagai kegiatan gereja, menyibukkan
diri, membuat hidup merasa berarti bagi orang lain dan
dibutuhkan orang lain. Aku mulai belajar mengampuni
pasanganku dan aku merasa hidupku mulai pulih.

Ditengah-tengah luka hatiku dalam proses
kesembuhan, pasanganku selingkuh lagi, luka hatiku semakin

18

parah dan aku tidak punya keyakinan lagi, apakah aku
sanggup menghadapi kehidupan ini bersama dia.

Lebih baik aku bercerai, tidak melihat mukanya, bisa
hidup tenang tanpa bertemu dengannya. Aku masih ragu-
ragu, apakah ini boleh. Sampai suatu ketika aku membaca
Alkitab dan menemukan ayat ini;

Ulangan 24:1 “Apabila seseorang mengambil seorang
perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia
tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya
yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai
dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah
itu menyuruh dia pergi dari rumahnya,

Dari ayat itu aku tahu, bahwa sebenarnya bercerai itu
dimungkinkan, jika pasangan melakukan yang tidak senonoh
(selingkuh), dengan memberikan surat cerai. Ini berarti cerai
secara resmi secara hukum, maka aku mulai mempersiapkan
gugatan cerai terhadap suamiku.

Niatku semakin mantap, waktu aku membaca Matius
5:32, Tuhan Yesus berkata; “Setiap orang yang
menceraikan... KECUALI KARENA ZINAH...”, berarti kalau
pasangannya berzinah, seperti pasanganku yang selingkuh,
bahkan dua kali, itu termasuk dalam ‘perkecualian’ dan
menjadi ‘boleh menceraikan’ dan otomatis juga ‘boleh
menikah lagi’

Matius 5:32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang
yang menceraikan istrinya kecuali karena zinah, ia
menjadikan istrinya berzinah; dan siapa yang kawin
dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.

19

E. Aku Dianiaya

Enak saja pak pendeta kotbah; “Tidak boleh bercerai,
kalau hanya alasan pertengkaran”. Aku tidak tahan, karena
kalau bertengkar, dia marah-marah, main pukul dan main
tendang. Aku dianiaya mosok pasrah. Kalau saya ikuti
Firman; “Jika pipi kirimu ditampar, berikan pipi kananmu, ya
aku hancur, bisa mati pak pendeta”

Belum lagi kata-katanya yang kasar dan kotor. Sambil
memukul dia berkata; “Dasar lonthe (pelacur)”, “Dasar
perempuan goblok! Tak tahu diuntung” Jadi selain menderita
fisik, aku juga menderita batin.

Dalam hubungan seks-pun, aku dianiaya, aku
diperkosa. Maaf kalau saya cerita ini, tetapi itulah kenyataan,
sering dia ‘mempermainkan’ alat kemaluanku, dengan
memasukan wortel, mentimun dan kadang pisang. Kalau
saya merintih kesakitan, malah membuat dia terangsang.
Suamiku laki-laki bejat dan gila, aku dianiaya luar dalam.

1 Korintus 7:11 Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap
hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan
seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya.
1 Korintus 7:26 Aku berpendapat, bahwa, mengingat
waktu darurat sekarang, adalah baik bagi manusia untuk
tetap dalam keadaannya.

Paulus menuliskan surat kepada jemaat Korintus, yang
waktu itu mengalami penganiayaan atau keadaan darurat.
Jika seseorang istri menjadi kristen, maka suaminya bisa
menganiaya dan mengancam supaya kembali menjadi ‘agama
Yahudi’ jika tidak, bisa dianiaya bahkan diusir.

20

Dari ayat itu aku ambil prinsipnya, jika dianiaya, ia bisa
bercerai, asal hidup tanpa suami (selibat) dan berdamai
dengan suaminya. Maksudnya berdamai khan dia
mengampuni suaminya yang menganiaya dirinya.

Jadi aku pikir aku mau bercerai, tidak serumah dengan
suamiku yang menganiaya aku, tetapi aku akan ‘berdamai’
dalam hatiku, aku melepaskan pengampunan, aku tidak
kecewa, aku tidak dendam, aku tetap mengasihi, dalam hati
kecilku aku tetap sayang.

Hanya saya tidak tahan, bisa mati, jika terus bertahan
menjadi isterinya, karena dia menganiaya aku, Jadi aku mau
bercerai saja. Setelah itu selibat, tidak boleh menikah lagi,
tidak apa-apa, aku sanggup kok.

F. Dia Pergi Begitu Saja

Aku ditinggalkan pergi begitu saja, aku juga tidak tahu
dia kemana, apakah masih hidup atau mati, masih selibat atau
sudah menikah lagi. Aku juga bingung apa statusku, janda
atau istri orang.

Aku bertemu teman-teman senasib yang sama, dan
mereka mengajarkan, secara hukum negara, jika pasangan
sudah pergi dalam waktu yang lama, kalau tidak salah 5
tahun, meninggalkan dan tidak menjalankan tugasnya sebagai
suami (atau istri), yang ditinggal berhak minta diceraikan dan
menikah lagi, karena suami tidak memenuhi kewajibannya. (1
Kor 7:3-4)

21

Aku pikir dari pada aku mati tua, sia-sia, menunggu
sesuatu yang tidak jelas, kenapa aku tidak menggunakan
hakku. Aku bangkit mengambil hakku, akupun mengurus
surat cerai.

G. Dia Monster & Penjudi

Dia benar-benar makhluk egois. Laki-laki yang sama
sekali tidak peduli dengan istri dan anak. Sehari-hari hanya
tidur, bangun, makan, mengerjakan hobinya (pelihara burung/
unggas) pergi cari makan burung, pulang merawat burung,
makan dan tidur.

Anak sakit tidak peduli, beras habis tidak peduli,
kerjaannya hanya berteriak minta makan. Marah-marah jika
tidak dilayani. Aku rasa dia bukan manusia, dia monster, aku
sudah tidak tahan dan bangkit melawan penindasannya, aku
menggugat cerai.

Setiap hari yang ada ketakutan, kegelisahan dan
akupun menjadi emosi lalu ikut-ikutan marah. Terkadang
anak-anakku jadi pelampiasan dan setelah itu aku menangis
menyesal. Aku percaya, kalau pernikahan yang diberkati
Tuhan, pastilah mendatangkan kebahagiaan dan damai
sejahtera. Aku mau hidup dalam damai sejahtera. Materi dan
uang aku biasa bekerja sejak kecil, suami tidak memberi, aku
bisa mencari. Aku hanya minta suami jangan egois tetapi dia
tidak berubah.

22

Roma 8:6 Karena keinginan daging adalah maut, tetapi
keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.

Roma 14:19 Sebab itu marilah kita mengejar apa yang
mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk
saling membangun.

Aku mau hidup damai sejahtera, itu saja yang aku
inginkan, tidak lebih tidak kurang. Mempertahankan
pernikahan, tidak membuat aku damai sejahtera, justru
ketakutan dan kegelisahan. Aku benar-benar mau mengejar
apa yang mendatangkan damai sejahtera, dan jika hal itu
berarti harus bercerai dulu, aku akan melakukannya.

H. Aku Bisa Hidup Tanpa Dia

Aku menikah dan kami masing-masing bekerja. Aku
wanita karier yang memiliki penghasilan cukup, bahkan
karierku lebih bagus dari karier suamiku. Penghasilanku
cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan keluarga, bahkan
masih banyak sisa untuk ditabung ataupun liburan keluarga,
selain kebutuhan pribadiku tentunya. Awalnya hal ini baik-baik
saja, namun ketika suamiku mulai cemburuan, memintaku
berhenti bekerja, sedang dia sendiri penghasilannya tidak
banyak, mulai membuat aku kesal. Aku semakin kesal, jika
dia membeli barang-barang yang tidak perlu, hobinya utak-atik
mobil hanya menghabiskan uang, sementara cicilan rumah,
sekolah anak bahkan telephone dan listrik rumah aku yang
membayar.

23

Aku capek-capek kerja sementara dia boros.
Seandainya saja dia itu pasangan yang perhatian dan
romantis itu akan menutupi kekurangannya dalam hal materi.
Tetapi dia pria yang cuek, dingin sepertinya tidak
membutuhkan aku. Belum lagi egoisnya, kalau bertengkar
selalu aku yang salah. Kalau anak nakal atau kebetulan nilai
sekolah turun, aku yang disalahkan, bukan seorang ibu yang
baik, malah kerja di luar rumah tidak mendidik anak, giliran
biaya sekolah aku yang disuruh bayar.

Setiap kali habis bertengkar, aku berpikir, apa yang
aku dapatkan dari dia? Aku bisa hidup tanpa dia! Kalau cerai
aku bisa mandiri secara financial, bebas bergaul, bebas
liburan keluar negeri kapan aku mau. Aku bisa bebas
mengatur waktuku. Soal kasih sayang? Aku bisa
mendapatkan dari anak-anakku, jika aku memberikannya
kepada mereka. Sepertinya hidupku akan lebih baik tanpa
dia. Jadi soal bercerai ... siapa takut!

I. Dia Tidak Mencintaiku

Istriku wanita karier, sangat mandiri, independent,
tegas dan disiplin. Itu bukan masalah bagiku, aku bisa
menyesuaikannya, masalahnya dia juga ‘dingin’ di tempat
tidur, jarang ‘mood’ alasannya capek, tidak ‘mood’ karena tadi
di kantor banyak masalah, nanti saja sabtu, karena senin-
jumat harus bangun pagi-pagi dan kerja, kalau malamnya
seks, apalagi harus menunggu anak-anak tidur, pasti malam,
besok dikantor tidak fit karena kurang tidur.

24

Baginya seks setiap sabtu, seminggu sekali itu cukup.
Kenyataannya banyak sabtu tidak bisa melakukan karena
meeting di luar kota, ada tamu menginap dirumah, atau pas
datang bulan. Aku hitung-hitung jatahku rata-rata 1 atau 2 kali
saja sebulan. Prioritas hidup istriku bukan diriku, bukan
keluarga, tetapi dirinya sendiri dan pekerjaannya. Dia tidak
memenuhi kewajibannya sebagai istri, karenanya saya berhak
menceraikannya.

1 Korintus 7:3 Hendaklah suami memenuhi kewajibannya
terhadap istrinya, demikian pula istri terhadap suaminya.
4 Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi
suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas
tubuhnya sendiri, tetapi istrinya.


Aku mulai berpikir, bahwa dia tidak mencintaiku. Aku
tidak tahan, bertahun-tahun menikah, selalu aku yang
berinisiatif mengajak bercinta (seks), dia tidak pernah sama
sekali mengajak, dia tidak menunjukkan kebutuhan hal itu.
Kalau saya mencoba 2 bulan tidak mengajak, maka 2 bulan
kami tidak bercinta, saya capek hati mengajak terus. Jelas
sudah bagiku, dia tidak mencintaiku. Aku mau bercerai saja.

Zaman berubah, dahulu orang lebih takut bercerai,
terutama wanita, takut diceraikan, karena masalah ekonomi.
Jika bercerai, bagaimana bisa hidup dan menghidupi anak-
anak?

Sekarang banyak wanita jadi sarjana dan bekerja
adalah hal biasa, bahkan banyak terjadi, karier dan gaji istri
lebih dari suami. Para wanita berpikir soal cerai ? Siapa
Takut!

25

Kalau bertengkar dengan lantang mereka berani
menantang; “Ceraikan saja!” Itulah yang terjadi dalam
pernikahanku, aku mau bercerai, istriku nantang bercerai,
gayung bersambut, tunggu apalagi.

J. Pakai Ayat

Semua kemauan untuk bercerai, yang saya temui
dalam konseling dan saya paparkan didepan, semua saya
tulis tanpa memberikan komentar atau penilaian.

Jika dalam bab bab selanjutnya saya memberi
pendapat yang cukup keras menentang perceraian, bukan
karena belum mendengar aneka masalah dan keadaan, justru
sebaliknya menjumpai banyak masalah dan keadaan yang
memprihatinkan. Namun demikian ada juga kasus yang saya
bisa ‘menyetujui’ sebuah perceraian, dengan syarat tertentu
sesuai pelajaran Firman Tuhan yang saya dalami.

Cukup menarik, bahwa hampir semua yang siap-siap
akan berceraipun, hampir semuanya mampu mengemukakan
pendapatnya dengan ayat pendukung. Namun saya mau
memberitahukan, bahwa yang pakai ayat belum tentu benar,
yang pakai ayat, belum tentu kehendak Tuhan, jika ayat
tersebut dicomot begitu saja dari konteksnya atau diartikan
sesuai kepentingannya. Karena itu mari kita pelajari saja
semua ayat yang ada di Alkitab yang berhubungan dengan
perceraian dalam buku ini.

26

Penggunaan ayat yang tidak tepat, bisa dipelajari dari
kisah Daud dan mertuanya Saul:

1 Samuel 24:4 (24-5) Lalu berkatalah orang-orangnya
kepada Daud: “Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN
kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke
dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang
kaupandang baik.”


Nasehat teman Daud, itu diambil dari Firman Tuhan
dari Taurat (Ulangan 23:14). Namun jangan lupa, banyak ayat
lain dalam hubungan anak orang tua, ada tertulis; “Hormatilah
orang tuamu” “Janganlah mengusik orang yang diurapi
Tuhan”.

Ulangan 23:14 Sebab Elohim, Tuhanmu, berjalan dari
tengah-tengah perkemahanmu untuk melepaskan engkau
dan menyerahkan musuhmu kepadamu;


Karena itu, walaupun nasehat teman Daud sepertinya
benar, karena ‘ada ayatnya’, Daud tidak mengikuti teman-
temannya. Daud peka dengan ‘kehendak Tuhan’ dan dia
hanya memotong jubah Saul dan bukan kepalanya. Daud
membalas kejahatan dengan menunjukkan kasih sayang.
Daud memenangkan pertempuran tanpa pedang.

Demikian juga dengan kasus perceraian, menikah lagi
dan jalan keluarnya, akan banyak sekali nasehat-nasehat
yang sepertinya baik dan benar, namun jika itu dengan tujuan
untuk membenarkan dan bukan mencari apa yang benar
tentunya akan salah.

27

K. Mencari Solusi

Saya juga menjumpai fenomena, dimana para NABI,
PENGAJAR dan juga GEMBALA gereja besar, yang tidak
terjun langsung dalam pelayanan konseling, cenderung lebih
idealis dalam memberikan pendapat. Dia tidak berani
memberikan jalan keluar yang akan menimbulkan kesan
‘kompromi’ dan dengan demikian ‘reputasinya’ akan
dipertanyakan.

Sementara para KONSELOR dan GEMBALA yang
terjun langsung mengkonseling jemaat, relatif mau mencarikan
jalan keluar dan bukan menghakimi, namun mereka ragu-ragu
apakah ini benar dihadapan Tuhan? PENGINJIL berkotbah
dan berkata; “Apapun dosamu... minta ampun akan diampuni”

Saya bergumul cukup berat dan membutuhkan waktu
yang lama menulis buku ini, karena saya juga tidak mau salah
dengan jawaban saya, karena buku saya banyak dipakai para
konselor sebagai ‘pedoman’. Di sisi lain saya tidak mau
menjadi orang munafik atau seperti ahli Taurat yang
mengajarkan sesuatu yang ‘idealis’ namun tidak bisa
diterapkan dan hanya menjadi ‘kuk’ bagi jemaat.

Kita hidup di zaman dimana PERCERAIAN adalah
mode, trend, hak asasi dan orang tidak malu untuk bercerai.
Bercerai adalah hal yang biasa, banyak orang juga
melakukannya! Bahkan orang percaya menafsirkan Firman
Tuhan tentang perceraian dengan alasan “Lebih baik cerai
dari pada hidup tidak damai sejahtera”. “Khan Allah
memanggil kita untuk hidup dalam damai sejahtera” Mereka
menambahkan: “Apa artinya pernikahan jika sudah tidak ada
kasih, tidak ada damai sejahtera, setiap hari hidup dalam

28

ketakutan (karena dianiaya) hidup dalam kegelisahan (karena
tidak cocok dan bertengkar setiap hari). Ini sudah menjadi
penyiksaan lahir dan batin.”

Alasan diatas diambil dari ayat dalam 1 Korintus 7,
namun diambil keluar dari konteksnya. Konteks selengkapnya
saya bahas di belakang dalam bab ‘Boleh Bercerai’ di sub bab
‘Pasangan Tidak Seiman’ serta bab ‘Tanya Jawab’

1 Korintus 7: 15 Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu
mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian
saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Tuhan
memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.


Karena itu, jawaban dari semua masalah mau bercerai
atau sudah bercerai didepan tadi, Anda akan temukan dalam
keseluruhan buku ini. Pendapat yang saya berikan setelah
benar-benar membaca keseluruhan Alkitab, melakukan
diskusi dan menyeminarkannya puluhan kali dengan berbagai
denominasi.

Melewati masa-masa diskusi dan tanya jawab dalam
seminar para hamba-hamba Tuhan yang saya pimpin, dengan
motivasi mencari SOLUSI dan bukan menaruk KUK yang
mustahil dihadapi. Semoga memberikan jalan keluar ‘yang
paling mendekati kehendak Tuhan’. Saya tidak berani
mengatakan ini yang paling benar, namun paling tidak buku ini
bisa menjadi acuan sebelum mengambil keputusan.

29

II. Bolehkah Bercerai?

Mari kita bahas pertanyaan-pertanyaan diatas.
Beberapa hal saya bahas terpisah dalam buku saya yang lain
secara khusus mengenai pernikahan, kebahagiaan
pernikahan, tugas dan fungsi suami dan istri, sehingga ada
kerangka berpikir dan lebih details untuk mendekati masalah
yang ada.

A.Sudah Tidak Tahan Lagi

Seberapa beratkan pergumulan anda? Paulus menulis,
bahwa pergumulan kita belum seberapa dibanding dengan
pergumulan Kristus saat dia menjadi manusia dan menjalani
semua sebagai manusia (Filipi 2:5-8)

Pauluspun mengalami aneka penderitan yang menurut
saya sudah di luar perikemanusiaan. Daftar panjang
pergumulan, perjuangan Paulus bisa dibaca di 2 Korintus 11:
23-30. Kenapa Paulus tahan menghadapi penderitaan?
Sebab ia dikuasai kasih Kristus (2 Korintus 5:14); “Sebab
kasih Kristus yang menguasai kami”

Kuasa Cinta, itu luar biasa. Tidak tahan karena
cintanya pudar. Solusi bukan ganti pasangan tetapi
menggembalikan cinta mula-mula, memelihara cinta, sehingga
bukan hanya ‘tahan’ tetapi ‘menikmati’ pernikahan.

30

B.Tidak Punya Anak

Saya sebagai istri tidak bisa melahirkan anak (mandul),
sebagaimana diharapkan oleh suami. Bolehkah saya
diceraikan?
Kami menikah dan tidak punya anak. Kami berdua normal.
Kata orang kami bukan jodoh. Bolehkah bercerai dan
menikah lagi supaya punya anak.

Sebaiknya, periksa dokter dahulu, suami dan istri,
untuk mengetahui secara medis, apa penyebabnya, dan
lakukan terapi sesuai petunjuk dokter. Bisa keduanya normal,
atau hanya ‘sperma kurang banyak’ bukannya mandul, dan
bisa minum vitamin, terapi olah raga tertentu dan istirahat
yang cukup, baik istirahat tubuh maupun pikiran. Pengaturan
jadwal seks, dll. Saya menjumpai banyak kasus serupa
akhirnya punya anak. Jika benar-benar mandul, ada kisah
serupa juga di Alkitab.

1. Kisah Abraham dan Sara


Kejadian 11:30 Sarai itu mandul, tidak mempunyai anak.
Kejadian 16: 1 Adapun Sarai, istri Abram itu, tidak
beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang
Mesir, Hagar namanya.
2 Berkatalah Sarai kepada Abram: “Engkau tahu, TUHAN
tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah
hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat
memperoleh seorang anak.” Dan Abram mendengarkan
perkataan Sarai.

31

Sara istri Abraham juga mandul (Kejadian 11:30),
hanya sayang, Sara dan Abraham, mereka berdua tidak
sabar, Abraham menikah lagi (tidak bercerai) (Kejadian 16:1-
2), mendapat anak dari istri kedua dan akhirnya menuai
masalah pertengkaran yang tidak ada habisnya.

Kejadian 16:4 Abram menghampiri Hagar, lalu
mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu, bahwa
ia mengandung, maka ia memandang rendah akan
nyonyanya itu.
5 Lalu berkatalah Sarai kepada Abram: “Penghinaan yang
kuderita ini adalah tanggung jawabmu; akulah yang
memberikan hambaku ke pangkuanmu, tetapi baru saja ia
tahu, bahwa ia mengandung, ia memandang rendah akan
aku; TUHAN kiranya yang menjadi Hakim antara aku dan
engkau.”
6 Kata Abram kepada Sarai: “Hambamu itu di bawah
kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang
kaupandang baik.” Lalu Sarai menindas Hagar, sehingga ia
lari meninggalkannya.

Sara marah dengan Hagar, karena ia dipandang
rendah (Kejadian 16:4-5), Sara menindas Hagar hingga ia
lari. Hagar akhirnya kembali ke Abraham atas nasihat
Malaikat Tuhan (Kejadian 16:7-12). Ketika akhirnya Sara yang
mandul punya anak, mereka bertengkar lebih hebat lagi, dan
Sara meminta Abraham mengusir Hagar (Kejadian 21:10).
Hingga sekarang ini keturunan Ismael (Bangsa Arab) dan
keturunan Ishak (Bangsa Israel) mereka terus berperang.

Karena itu mari kita berhikmat dari kasus ini, tunggulah
waktunya Tuhan. Berdoa dan terus berdoa. Peganglah janji
Tuhan. Jika kita sungguh-sungguh mencintai dan berbakti
kepada Tuhan, DIA akan membuat semua indah pada waktu-
NYA!

32

2. Kisah Ishak & Ribkah

Saya menjumpai banyak orang mau bercerai, karena
tidak punya anak. Karena itu, saya berikan beberapa kasus
lainnya, serta prinsip-prinsip Alkitab tentang anak dan tentang
‘melahirkan’, supaya saudara makin diteguhkan.


Kejadian 25: 20 Dan Ishak berumur empat puluh tahun,
ketika Ribka, anak Betuel, orang Aram dari Padan-Aram,
saudara perempuan Laban orang Aram itu, diambilnya
menjadi istrinya.
21 Berdoalah Ishak kepada TUHAN untuk istrinya, sebab
istrinya itu mandul; TUHAN mengabulkan doanya,
sehingga Ribka, istrinya itu, mengandung.

Ishak, memiliki istri mandul, tidak punya anak. Ishak
tidak menceraikan istrinya, Ishak tidak menikah lagi seperti
Abraham bapaknya, Ishak memegang janji Tuhan dan
percaya kepada Tuhan, dia berdoa dan mendapat mujizat.

Tuhan tidak berubah, dulu, sekarang dan sampai
selamanya. Dia Elohim, Tuhan pembuat mujizat !

3. Kisah Rahel

Abraham, Ishak dan Yakub, turun temurun memiliki
isteri mandul. Yakub memiliki 2 istri dan 2 gundik. Rahel yang
tadinya paling dikasihi, dia mandul.

33

Karena Lea tidak dicintai Yakub, maka Tuhan
membuka kandungan Lea. Dari ayat ini jelas sekali, bahwa
TUHAN-lah yang sangat berperan, seseorang memiliki anak
atau tidak. Tuhan punya kemampuan ‘membuka kandungan’

Kejadian 29:31 Ketika TUHAN melihat, bahwa Lea tidak
dicintai, dibuka-Nyalah kandungannya, tetapi Rahel
mandul.

Karena Rahel tidak mempunyai anak, maka ia yang
pada mulanya paling dicintai Yakub, menjadi kurang disayang.
Rahel berdoa, dan Tuhan mendengar permohonannya!!

Kejadian 30: 22 Lalu ingatlah Tuhan akan Rahel; Tuhan
mendengarkan permohonannya serta membuka
kandungannya.
23 Maka mengandunglah Rahel dan melahirkan seorang
anak laki-laki. Berkatalah ia: “Tuhan telah menghapuskan
aibku.”
24 Maka ia menamai anak itu Yusuf, sambil berkata:
“Mudah-mudahan TUHAN menambah seorang anak laki-
laki lagi bagiku.”

Karena itu jika tidak punya anak, jangan melakukan
hal-hal yang dibenci Tuhan yaitu bercerai, tetapi justru lakukan
hal-hal yang menyenangkan Tuhan.

Selain konsultasi dan terapi dengan dokter yang
tentunya juga sangat membantu, jangan lupa yang utama;
berdoalah kepada Tuhan, karena Dia-lah yang berkuasa
memberikan anak. Ada saatnya Tuhan INGAT saudara
seperti Dia mengingat Rahel! Perceraian karena tidak punya
anak bukan jalan keluar!

34

Berdoa, memohon dengan tidak putus-putusnya!
Sungguh-sungguhlah berdoa! Kisah Hana berikut ini, saya
harap menginspirasi saudara, bagaimana ia sungguh-sungguh
berdoa dengan HATI-nya, bahkan begitu sungguh-sungguh ia
berdoa sampai-sampai dikira gila!

4. Kisah Hana


1 Samuel 1:1 Ada seorang laki-laki dari Ramataim-Zofim,
dari pegunungan Efraim, namanya Elkana bin Yeroham bin
Elihu bin Tohu bin Zuf, seorang Efraim.
2 Orang ini mempunyai dua istri: yang seorang bernama
Hana dan yang lain bernama Penina; Penina mempunyai
anak, tetapi Hana tidak.
3 Orang itu dari tahun ke tahun pergi meninggalkan
kotanya untuk sujud menyembah dan mempersembahkan
korban kepada Tuhan semesta alam di Silo. Di sana yang
menjadi imam Tuhan ialah kedua anak Eli, Hofni dan
Pinehas.
4 Pada hari Elkana mempersembahkan korban,
diberikannyalah kepada Penina, istrinya, dan kepada
semua anaknya yang laki-laki dan perempuan masing-
masing sebagian.
5 Meskipun ia mengasihi Hana, ia memberikan kepada
Hana hanya satu bagian, sebab Tuhan telah menutup
kandungannya.
6 Tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia
gusar, karena Tuhan telah menutup kandungannya.
7 Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana
pergi ke rumah Tuhan, Penina menyakiti hati Hana,
sehingga ia menangis dan tidak mau makan.

35

8 Lalu Elkana, suaminya, berkata kepadanya: “Hana,
mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak
mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih
berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?”
9 Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum
di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi
dekat tiang pintu bait suci Tuhan,
10 dan dengan hati pedih ia berdoa kepada Tuhan sambil
menangis tersedu-sedu.
11 Kemudian bernazarlah ia, katanya: “Tuhan semesta
alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan
sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan
tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan
kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku
akan memberikan dia kepada Tuhan untuk seumur
hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh
kepalanya.”
12 Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di
hadapan Tuhan, maka Eli mengamat-amati mulut
perempuan itu;
13 dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan
hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak
kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk.
14 Lalu kata Eli kepadanya: “Berapa lama lagi engkau
berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah dirimu dari
pada mabukmu.”
15 Tetapi Hana menjawab: “Bukan, tuanku, aku seorang
perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun
minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan
aku mencurahkan isi hatiku di hadapan Tuhan.
16 Janganlah anggap hambamu ini seorang perempuan
dursila; sebab karena besarnya cemas dan sakit hati aku
berbicara demikian lama.”

36

17 Jawab Eli: “Pergilah dengan selamat, dan Elohim, Tuhan
Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta
dari pada-Nya.”
18 Sesudah itu berkatalah perempuan itu: “Biarlah
hambamu ini mendapat belas kasihan dari padamu.” Lalu
keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya
tidak muram lagi.
19 Keesokan harinya bangunlah mereka itu pagi-pagi, lalu
sujud menyembah di hadapan Tuhan; kemudian pulanglah
mereka ke rumahnya di Rama. Ketika Elkana bersetubuh
dengan Hana, istrinya, Tuhan ingat kepadanya.
20 Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan
melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu
Samuel, sebab katanya: “Aku telah memintanya dari pada
Tuhan.”

5. Kisah Manoah


Hakim-hakim 13:2 Pada waktu itu ada seorang dari Zora,
dari keturunan orang Dan, namanya Manoah; istrinya
mandul, tidak beranak
3 Dan Malaikat Tuhan menampakkan diri kepada
perempuan itu dan berfirman kepadanya, demikian:
“Memang engkau mandul, tidak beranak, tetapi engkau
akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki.
24 Lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki
dan memberi nama Simson kepadanya. Anak itu menjadi
besar dan Tuhan memberkati dia.


37

6. Kisah Elisabeth

Lukas 1: 5 Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah
seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan
Abia. Istrinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya
Elisabet.
6 Keduanya adalah benar di hadapan Tuhan dan hidup
menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan
tidak bercacat.
7 Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet
mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.
13 Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: “Jangan takut,
hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet,
istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu
dan haruslah engkau menamai dia Yohanes.
14 Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan
banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu.
24 Beberapa lama kemudian Elisabet, istrinya,
mengandung dan selama lima bulan ia tidak
menampakkan diri, katanya:
25 “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia
berkenan menghapuskan aibku di depan orang.”
57 Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk
bersalin dan iapun melahirkan seorang anak laki-laki.
80 Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat
rohnya.

Elizabeth mandul, namun ia dan suaminya Zakharia
adalah orang benar dan hidup tidak bercacat, menurut segala
perintah dan ketetapan Tuhan. Mereka berdoa dan
dikabulkan! (Saat mereka sudah tua)

38

Mari kita hidup sungguh-sungguh takut akan Tuhan,
takut berbuat dosa. Melayani dan beribadah dengan tulus dan
murni, maka apapun doa kita, termasuk minta anak, akan
dikabulkan! ‘Kisah Zaman Ini’ berikut ini saya harap bisa
menumbuhkan iman-mu! Selamat bergaul dengan TUHAN!

7. Kisah Zaman Ini !

Alkitab penuh dengan kisah orang mandul punya anak.
Apa artinya? Tuhan senang mengadakan mujizat jenis ini!
Allah sanggup mengadakan mujizat hingga hari ini.

a. Pdt Judy Koesmanto

Pdt. Judi, gembala Mawar Sharon Manado, salah satu
contoh saja. Saya baru saja melayani dan bertemu 2-5 Maret
2007 yang lalu dan mendapatkan kesaksiannya.

Saya, Pdt. Judy Koesmanto, menikah dengan Pdp. Lie
Debby Kartini, 4 April 1998. Kami sangat berharap dalam
pernikahan kami ini segera dianugerahi seorang anak oleh
Tuhan. Tetapi setelah 3.5 tahun usia pernikahan kami, belum
juga anugerah anak dari Tuhan datang. Begitu inginnya kami
memiliki anak, kamipun pergi konseling ke dokter.

Hasilnya mengejutkan, isteri saya normal, usia subur,
siap untuk hamil dan saya MANDUL! Saya belum percaya
dan pergi ke 4 dokter dengan kesimpulan yang sama, saya
MANDUL!
39

Dengan situasi ini, saya belajar untuk bersyukur
kepada Tuhan, asal Tuhan yang menentukan dan bukan iblis
yang merebut berkat ini, saya rela. Suatu hari saya sedang
berdoa untuk persiapan KKR yang akan diadakan oleh gereja
lokal dimana saya pada waktu itu menjadi gembala sidang
cabang tersebut.

Pagi itu pukul 01.00 dini hari, saya sedang ada dalam
hadirat Tuhan sendirian, sedangkan istri saya masih tertidur.
Di tengah-tengah kerinduan saya akan hadirat-Nya, tiba-tiba
Tuhan berbicara dalam hati saya dengan sebuah pertanyaan:
“Judy... apakah engkau mengasihi AKU?” Di tengah-tengah air
mata yang terus berlinang saya mencoba untuk mewakili hati
saya untuk berbicara kepada Tuhan.

“Tuhan, saya sangat mengasihi-MU, saya sudah
menikah 3.5 tahun dan saya sangat ingin punya anak, Tetapi
pagi ini saya mau berkata bahwa kasih-ku kepada Tuhan jauh
lebih besar daripada keinginan saya untuk punya anak”

Lalu Tuhan bertanya lagi; “Kalau tidak diberi anak
bagaimana?”. Saya berkata kepada Tuhan, “Saya rela tidak
diberi anak oleh Tuhan, asal mata saya melihat kebangunan
rohani” Saya benar-benar kelaparan untuk melihat mujizat.
Sisa pagi itu, saya dilawat Tuhan hingga fajar dan saya
ceritakan semua yang saya alami kepada istri dan kamipun
sepakat untuk fokus berdoa bagi kebangunan rohani. Hari-hari
berikutnya, kami lebih banyak berdoa untuk keselamatan jiwa-
jiwa yang akan datang di KKR tersebut, kami tidak lagi fokus
tentang mau punya anak, apalagi dokter memang berkata
saya MANDUL.

40

KKR berlangsung dan banyak jiwa bertobat dan
diselamatkan. Lawatan Allah dan mujizat terjadi. Saya sangat
bersyukur, saya melihat dengan mata saya sendiri
kebangunan rohani terjadi. Roh saya dan istri dipuaskan.

Beberapa waktu kemudian setelah KKR, istri saya
terlambat datang bulan, tetapi itu sudah terjadi beberapa kali,
terlambat haids dan tidak kunjung hamil juga sampai akhirnya
haids lagi juga. Karena bulan Itu istri saya ulang tahun, saya
tergerak untuk memberikan hadiah alat test kehamilan, siapa
tahu ikut mengalami mujizat dan ternyata benar, dia POSITIF
hamil! Tuhan mengadakan mujizat terhadap kami, DIA masih
membuat mujizat dengan membuka kandungan banyak
pasangan mandul seperti kisah di Alkitab! dan juga menjadi
kisahku, akhirnya lahir anak kami laki-laki; Yehuda Kenanya.

Beberapa tahun kemudian, ketika saya akan berangkat
ke Manado untuk membuka pelayanan disana dan
rencananya istri saya akan ikut, tetapi 2 hari sebelum
keberangkatan kami, istri saya tiba-tiba sakit. Saya
membawanya ke dokter umum dan dia berkata; “Istri kamu
tidak sakit, coba dibawa ke dokter kandungan”. Dengan
heran, binggung dan berdebar-debar, saya bawa istri ke
dokter kandungan dan diperiksa, dia HAMIL LAGI! Mujizat
terjadi sekali lagi!

Saya sangat bersyukur telah dianugerahi seorang anak
laki-laki. Mujizat terjadi dan terjadi lagi! TUHAN kita benar-
benar pembuat mujizat! Istri saya ternyata sudah hamil 1
bulan. Saya gembira dan kaget!

41

Dokter memvonis saya MANDUL dan akhirnya anak
saya kedua lahir, wanita dan kami beri nama Sharon Natasha.
Allah memberkati sempurna, lengkap, satu pasang anak yang
manis-manis. Kami bahagia dengan ke dua anak kami yang
kami sebut dengan anak mujizat. Amin. GBU

b. Pdt Ir Y Wiryohadi

Pdt. Ir. Y. Wiryohadi, gembala GBI WTC Serpong,
(‘kakak rohani’ yang memuridkan saya (Jarot Wijanarko)
waktu kuliah di IPB Bogor, menikah dengan Ir. Swisa Flora
(teman sekelas saya di IPB) juga memiliki kisah serupa, dan
inilah kesaksiannya.

Saya, Pdt.Y. Wiryohadi, menikah pertengahan 1988
dan hingga akhir 1989 belum juga dikaruniai seorang anak.
Sepanjang waktu itu keluarga besar kami selalu mengajukan
pertanyaan; “Kapan punya momongan nich?”

Kondisi ini membuat istri saya mengalami tekanan/
stres, dan itu menyebabkan dia mengalami ‘keputihan’. Istri
saya merasa bahwa dirinya sebagai penyebab belum lahirnya
keturunan dalam kehidupan pernikahan kami, yang ditunggu-
tunggu oleh kedua orang tua kami dengan tidak sabar.
Setelah kami suami-istri berdiskusi cukup intens, akhirnya
kami sepakat untuk melakukan pemeriksaan laboratorium.

Kami pergi ke dokter yang juga anak Tuhan, dan
hasilnya mengejutkan, saya yang MANDUL, tanpa atau sedikit
sekali sperma. Ini pukulan berat buat saya. Dalam kekalutan
hati yang terus menggelantungi kehidupan pernikahan kami,
istri saya lebih tabah dan kuat dan mengambil langkah iman
dengan berdoa.

42

Setiap kali kami mau tidur, istri saya menumpangkan
tangan disekitar perut dan berdoa; “roh mandul dihancurkan
dalam nama TUHAN YESUS! Kini saatnya tiba roh subur
terjadi atas kehidupan suamiku! Kami pasti punya anak!”

Di satu sisi, doa yang terus diucapkan membuat iman
istri saya semakin intens, sebaliknya saya justru makin pasrah
dan harap-harap cemas, terkadang doa istri saya menjadi
semacam ‘tuntutan’ dalam hati kecil terdalam saya ,untuk
punya anak. Namun akhirnya iman kami tumbuh bersama,
karena doa istri saya tulus dan bukan ‘tuntutan’ tetapi
‘keinginan yang kuat’ kepada Tuhan, bukan kepada saya.
Iman kami bangkit dan kami sehati berdoa terus menerus
selama berbulan-bulan. Selain berdoa, saya mulai menjaga
kesehatan dengan istirahat cukup.

Beberapa waktu kemudian, saya melakukan
pemeriksaan laboratorium dan sperma saya sekitar 25 juta.
Tetapi dokter mengatakan, secara medis itu masih jauh dari
cukup, karena kategori subur sehingga bisa menghasilkan
pembuahan adalah 50 juta. Secara implisit, dokter mau
mengatakan bahwa kehamilan kami merupakan hal yang
mustahil.

Bagi saya dan istri, ini tanda awal mujizat, karena telah
meningkat pesat dari hampir NOL menjadi 25 juta! Kamipun
makin gencar berdoa. Ditengah pergumulan doa, saya
mendapatkan mimpi, istri saya menggunakan busana putih
sedang menaiki tangga dan sedang hamil. Ketika mimpi saya
ceritakan ke istri, dia merasa bahwa saya hanya sekedar ingin
menyenangkan hatinya atau mimpi akibat pikiran.

43

Saya yakin mimpi saya itu pernyataan dari Tuhan,
maka saya mulai melangkah dengan iman, bercerita kepada
teman-teman; “Istri saya hamil!... Istri saya sudah hamil!”

Februari 1990, istri saya POSITIF HAMIL! Ini bukti,
bahwa TIDAK ADA SATUPUN YANG MUSTAHIL, bagi
TUHAN. November 1990, buah hati pertama dan satu-
satunya anak kami lahir. Saat ini (2018) telah tumbuh menjadi
seorang ibu yang talented dan takut akan TUHAN serta
melayani dan memberikan saya seorang cucu!

Mas Didik (panggilan akrab saya kepada Pdt.Ir. Y.
Wiryohadi, karena dialah ‘kakak rohani’ saya) akhirnya
memiliki anak karena doa dan iman serta ‘memperkatakan’
imannya.

David, kepala sekolah PG&TK di Karawachi 6 th baru
punya anak. Adik saya Pdp. Dra. Tutik (GBI Bogor) juga 4
tahun baru memiliki anak. Sopir saya, Wagino 4 tahun baru
memiliki anak. Partner usaha saya Tanu Sutomo setelah 11
tahun menikah baru memiliki anak, mereka semua bisa
bersaksi.

Masih banyak lagi orang yang saya kenal ataupun
beberapa pasangan yang konseling dan saya layani akhirnya
mereka memiliki anak. Karena itu baca baik-baik Firman ini
buat saudara!

Setelah Tuhan menyampaikan 10 Hukum Taurat, di
Gunung Sinai dan berbagai pesan moral dan peraturan
(Keluaran Pasal 19-23) kepada Musa, maka janji berkat dan
TIDAK MANDUL akan menjadi bagian orang yang sungguh-
sungguh memperhatikan Firman Tuhan tersebut.

44

Keluaran 23:20 “Sesungguhnya Aku mengutus seorang
malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di
jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah
Kusediakan.
21 Jagalah dirimu di hadapannya dan dengarkanlah
perkataannya, janganlah engkau mendurhaka kepadanya,
sebab pelanggaranmu tidak akan diampuninya, sebab
nama-Ku ada di dalam dia.
22 Tetapi jika engkau sungguh-sungguh mendengarkan
perkataannya, dan melakukan segala yang Kufirmankan,
maka Aku akan memusuhi musuhmu, dan melawan
lawanmu.
23 Sebab malaikat-Ku akan berjalan di depanmu ...
24 Janganlah engkau sujud menyembah kepada allah
mereka atau beribadah kepadanya, dan janganlah engkau
meniru perbuatan mereka, tetapi haruslah engkau
memusnahkan sama sekali patung-patung berhala buatan
mereka, dan tugu-tugu berhala mereka haruslah
kauremukkan sama sekali.
25 Tetapi kamu harus beribadah kepada Elohim, Tuhan-
mu; maka Ia akan memberkati roti makananmu dan air
minumanmu dan Aku akan menjauhkan penyakit dari
tengah-tengahmu.
26 Tidak akan ada di negerimu perempuan yang keguguran
atau mandul. Aku akan menggenapkan tahun umurmu.

Ulangan 7:12 “Dan akan terjadi, karena kamu
mendengarkan peraturan-peraturan itu serta
melakukannya dengan setia, maka terhadap engkau
Elohim, Tuhan-mu, akan memegang perjanjian dan kasih
setia-Nya yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada
nenek moyangmu.
13 Ia akan mengasihi engkau, memberkati engkau dan
membuat engkau banyak; Ia akan memberkati buah
kandunganmu dan hasil bumimu, gandum dan anggur

45

serta minyakmu, anak lembu sapimu dan anak kambing
dombamu, di tanah yang dijanjikan-Nya dengan sumpah
kepada nenek moyangmu untuk memberikannya
kepadamu.
14 Engkau akan diberkati lebih dari pada segala bangsa:
tidak akan ada laki-laki atau perempuan yang mandul di
antaramu, ataupun di antara hewanmu.
15 Tuhan akan menjauhkan segala penyakit dari padamu,
dan tidak ada satu dari wabah celaka yang kaukenal di
Mesir itu akan ditimpakan-Nya kepadamu, tetapi Ia akan
mendatangkannya kepada semua orang yang membenci
engkau.

Galatia 4:27 Karena ada tertulis: “Bersukacitalah, hai si
mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembira dan
bersorak-sorailah, hai engkau yang tidak pernah
menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan
suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada
yang bersuami.”

Jika Anda tidak punya anak, pelajari benar-benar
Keluaran 19-23, buang segala bentuk berhala, bereskan
hubungan dengan orang tua, berdoa dan minta didoakan
hamba Tuhan serta bernazar melayani. Saya percaya prinsip-
prinsip Firman ini masih berlaku sampai hari ini dan selamat
memiliki anak.

Kejadian 21:1 Tuhan memperhatikan Sara, seperti yang
difirmankan-Nya, dan Tuhan melakukan kepada Sara
seperti yang dijanjikan-Nya.
2 Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang
anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada
waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Tuhan
kepadanya.

46

c. Kisah-ku berbeda?

“Kisah saya berbeda dengan kisah di Alkitab ataupun
kisah beberapa hamba Tuhan di depan” “Saya sampai
sekarang tetap tidak punya anak” “Saya sebenarnya
bisa menerima, tetapi MERTUA justru yang tidak sabar,
bahkan memprovokasi suami saya untuk menceraikan
saya” “Mertua tidak sabar untuk segera menimang
cucu, karena suami saya anak laki-laki pertama, pewaris
yang diharapkan meneruskan usaha keluarga turun-
temurun”

Perceraian tetap tidak bisa diijinkan hanya karena
alasan tidak memiliki anak. Punya anak atau tidak, itu bukan
‘kehendak pasangan’ tetapi belum atau tidak diberikan Tuhan,
karena ‘keputusan-NYA’.

Bagaimana jika segala doa, puasa, minta didoakan
hamba Tuhan, terapi dokter, pelayanan inner healing dan
pelepasan, pengurapan, dll sudah dilakukan juga dan sudah
10 tahun, bahkan lebih, hasilnya tetap nihil? Kisah di Alkitab
dan kisah-kisah mujizat orang lain bukan menjadi kisah Anda?

Tetap JANGAN BERCERAI Bagi pasangan yang tidak
memiliki anak, bisa mengangkat anak, baik dari adik/kakak,
saudara sepupu, dari rumah sakit atau panti asuhan.

Mazmur 127:3 Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah
milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan
adalah suatu upah.

Adakan retreat pribadi bersama pasangan dan
tentukan tujuan hidupmu. Tujuan utama pernikahan adalah
untuk saling melengkapi sehingga ‘gambar Tuhan’ bisa lebih
lengkap dalam suatu ‘pasangan’ (Kejadian 1:26-28).

47

Tujuan pernikahan untuk hidup bersama, mendapat
kasih dan penerimaan dalam keterbukaan. (Kejadian 2:23-25).
Sedangkan anak adalah ‘upah’ atau lebih tepat ‘kasih karunia’.
Anak adalah ‘berkat’ dan bukan ‘tujuan’.

Pasangan yang tidak memiliki anak, bisa juga mencari
kebahagian tambahan (selain kebahagian sebagai suami istri)
dengan terlibat melayani, misal sekolah minggu, adopsi
program beasiswa anak, anak asuh, anak angkat, walau tidak
tinggal serumah, namun menyalurkan kasih ke mereka.

d. Ev. Daniel Alexander

Kesaksian hidup EV.Daniel Alexander, pemimpin
Yayasan Pesat di Nabire dan Manokwari, yang tidak memiliki
anak, namun mencurahkan hidup dan pelayanannya bagi
banyak sekali anak angkat, anak asuh, yang dikasihi, dilayani,
bahkan dibiayai hingga menjadi sarjana, master dan doktor!

Beliau mem-bapak-i ratusan anak-anak terbuang,
anak-anak yang tidak mengenal kasih ‘bapa’, anak yang tidak
diharapkan orang tuanya dan anak-anak yang ‘terhilang’
karena orang tua bercerai dan berbagai anak-anak ‘tertolak’
lainnya. Ia dipanggil oleh mereka ‘bapak’ dan ia menganggap
mereka seperti anak-anak sendiri. Istrinya melengkapi
pelayanannya dan menjadi ‘ibu’ bagi mereka.

Saya beberapa kali pergi pelayanan bersama beliau
dan ke kota mana saja beliau pergi, selesai pelayanan ‘anak-
anak’ nya berkumpul menemui, sharing, berbagi cerita dan
ada juga yang minta uang untuk biaya sekolah, kuliah dll,
layaknya anak ketemu bapaknya.

48

Persembahan Kasih yang beliau terima dalam
pelayanan, sering hanya ‘numpang lewat’ dalam sekejap,
mengalir ke ‘anak-anak’ yang memerlukan. Ia meninggalkan
kota tersebut kembali dengan ‘tangan hampa’ menuju kota
berikutnya untuk kejadian serupa, kota demi kota.

Beliau begitu bahagia melakukan peran itu dan lebih
bahagia lagi melihat anak-anaknya bertumbuh secara
kejiwaan, pendidikan dan terutama kerohaniannya.

Jika persembahan kasih dan sumbangan berlebih,
maka beliau memasukannya ke Yayasan Pesat di Nabire,
Papua, dimana beliau membangun sekolah berasrama,
sekolah TK, SD, SMP hingga SMA dan menampung ratusan
anak-anak pedalaman Papua. Beberapa kali saya ke Nabire
dan Manokwari, semua asset tidak ada atas nama pribadi.

‘Ko Den’ demikian saya memanggilnya secara akrab,
hidup dengan amat sederhana, baju batik, kadang menenteng
tas rajut buatan papua. Istrinyapun tidak memakai dan tidak
memiliki perhiasan ataupun tuntutan untuk kepemilikan. Itulah
kelebihan beliau yang sepertinya hal-hal seperti itu akan sulit
dilakukan oleh orang atau hamba Tuhan yang memiliki anak,
yang tentunya berpikir, apa yang akan ‘diwariskan’ ke anak-
anaknya.

e. Pdt. Ir. Timotius Arifin

Beliau gembala senior ROCK MINISTRIES, GBI
Lembah Pujian, yang juga tidak memiliki anak, dan dipakai
Tuhan luar biasa dalam membimbing anak-anak rohaninya
yang sukses menjadi pelayan Tuhan.

49

Pak Arifin, banyak orang menyebutnya dengan ‘happy
men’, memang memiliki wajah sukacita, penampilannya
energik, antusias dan optimis. Beliau mudah sekali berbelas
kasihan, melihat kebutuhan penginjilan atau yayasan atau
pihak lain yang memerlukan pertolongan. Istrinya cantik, rapi
dan membuat pasangan ini begitu harmonis dan bahagia. Kita
tidak pernah menjumpai pasangan yang sudah 40 tahun lebih
menikah ini murung atau garis-garis kekecewaan di wajah
‘happy couples’ ini.

Padahal mereka tidak memiliki anak dalam pernikahan
mereka. Pak Arifin adalah anak laki-laki tunggal, yang
diharapkan bisa meneruskan warisan usaha keluarga turun-
temurun. Karena itu saya secara khusus mengirim print out
buku ini sebelum saya cetak dan menemui untuk
mewancarainya. Buku ini tidak sempurna, tanpa kesaksian
beliau, bagaimana bisa pernikahannya yang tanpa memiliki
anak tetap bahagia. Berikut ini kesaksian beliau:

Saya (Arifin) down dan terpukul hebat, saat dokter
memvonis saya MANDUL, tidak bisa punya anak, karena saya
anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga. Saat itu bumi
bagaikan runtuh, saya kehilangan tujuan hidup. Saya merasa
sebagai laki-laki yang tidak memiliki kemampuan. Saya
sempat lari menjadi ‘workoholic’, kerja dan melayani habis-
habisan, untuk mengisi kejenuhan dan sebagai pelarian atas
perasaan tidak mampu dan ingin menunjukkan kemampuan di
bidang lain.

Saya bisa bangkit dari ‘kehancuran’ setelah
pergumulan yang panjang, saya menemukan tujuan hidup
pribadi saya dan tujuan pernikahan saya dari Yesaya 56:3-7.
Bahkan saya sekarang bisa bersyukur dan memberikan
perincian ‘keuntungan’-nya tidak memiliki anak.

50


Click to View FlipBook Version