The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Perceraian dan Menikah Lagi

Karya:
Dr. Ir. Jarot Wijanarko M.Pd
Pemerhati dan konselor keluarga

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by BPD GBI DKI Jakarta, 2021-08-01 23:08:07

Perceraian dan Menikah Lagi - Dr. Ir. Jarot Wijanarko M.Pd

Perceraian dan Menikah Lagi

Karya:
Dr. Ir. Jarot Wijanarko M.Pd
Pemerhati dan konselor keluarga

dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius
19:6).

Jadi Allah dari sejak semula menetapkan bahwa
pernikahan sebagai ikatan yang permanen, yang berakhir
hanya ketika salah satu pasangannya meninggal (bandingkan
Roma 7:1-3; 1 Korintus 7:10-11). Paulus juga menegaskan hal
ini di dalam Roma 7:2-3).

“Sebab seorang istri terikat oleh hukum kepada suaminya
selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya
itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada
suaminya itu. Jadi selama suaminya hidup ia dianggap
berzinah, kalau ia menjadi istri laki-laki lain; tetapi jika
suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia
bukanlah berzinah, kalau ia menjadi istri laki-laki lain”
(Roma 7:2-3).

3. ALASAN DIIJINKANNYA PERCERAIAN

Pertanyaan penting untuk dipertimbangkan adalah
“Apakah alasan diijinkannya perceraian?” Bukankan Kristus
mengatakan bahwa “Apa yang telah disatukan Allah, tidak
boleh diceraikan oleh manusia”? Bagaimanakah pandangan
Alkitab mengenai alasan diijinkannya perceraian?

a. Pertama, kita hidup di dunia yang sudah jatuh dalam dosa
dan kita lahir dengan sifat dasar yang berdosa.
Konsekuensinya, banyak landasan yang tidak Alkitabiah
bagi perceraian, bahkan di gereja. Seandainya tidak ada
dosa di dunia, tentunya tidak akan ada perceraian.
Perceraian adalah hasil dosa.

101

b. Kedua, fakta bahwa Allah “mengijinkan” perceraian dalam
Perjanjian Lama tidaklah membuktikan bahwa Dia
memerintahkannya (Ulangan 24:1-4). Perceraian itu
diijinkan bukan diperintahkan (Matius 19:8). Artinya,
perceraian adalah konsensi ilahi bukan konstitusi ilahi.

Perceraian merupakan kelonggaran bukan norma atau
standar Allah. Kehendak Tuhan untuk pernikahan tidak
pernah diubah ataupun dibatalkan. Karena manusia tidak
menaati kehendak Tuhan, maka hukum diperkenalkan dan
hukum ini tidak membenarkan perceraian atau
mengatakan bahwa perceraian kini sudah menjadi
kehendak Tuhan, tetapi hukum ini mengaturnya.

c. Ketiga, Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa
rekonsiliasi adalah pilihan pertama yang disodorkan Tuhan
dan bukan perceraian (1 Korintus 7:12-14).

Sebaiknya, selama memungkinkan maka perceraian
dihindari dan mengusahakan rekonsiliasi bagi pernikahan.
Dengan mengikuti contoh nabi Hosea, perlu untuk
mengampuni dan menerima kembali pasangan yang telah
berzinah (Hosea 3). Walaupun demikian, ada dua
konsensi dalam Alkitab dimana perceraian diijinkan, tetapi
tidak dianjurkan.

Konsensi pertama adalah ketidaksetiaan dalam
pernikahan (Matius 5:31-32; 19:9). Konsensi kedua
ditemukan dalam kasus dimana orang yang tidak percaya
meninggalkan pasangannya yang percaya kepada Yesus
(1 Korintus 7:15-16).

102

Konsensi pertama, perceraian dapat terjadi karena
alasan “perzinahan” (Matius 19:9). Frasa “kecuali karena
zinah” adalah alasan pertama dalam Alkitab di mana Tuhan
memberikan ijin untuk perceraian. Satu alasan ini perlu
ditegaskan karena orang farisi datang kepada Yesus dengan
pertanyaan “Apakah diperbolehkan orang menceraikan
isterinya dengan alasan apa saja?” (Matius 19:3).

Banyak penafsir Alkitab yang memahami klausa
“pengecualian” ini sebagai merujuk pada “perzinahan” yang
terjadi pada masa “pertunangan”. Dalam tradisi Yahudi, laki-
laki dan perempuan dianggap sudah menikah walaupun
mereka masih “bertunangan”. Percabulan dalam masa
“pertunangan” ini dapat merupakan satu-satunya alasan untuk
bercerai.

Disini, Matius menggunakan kata Yunani “porneia”
atau “percabulan”, yang pada dasarnya berarti ketidaksetiaan
secara seksual atau ketidaksetiaan sebelum pernikahan yang
mencakup segala macam hubungan seksual yang
bertentangan dengan hukum.

Jika perzinahan yang dimaksud terjadi setelah
pernikahan maka kata Yunani yang biasanya digunakan
adalah “moikeia”. Kata “moikeia” adalah perzinahan atau seks
haram yang melibatkan seseorang yang sudah menikah.

Penting diketahui, hukuman bagi perzinahan setelah
pernikahan dalam hukum Taurat Yahudi adalah hukuman
mati, sebagaimana yang disebutkan dalam Imamat 20:10 “Bila
seorang laki-laki berzinah dengan istri orang lain, yakni
berzinah dengan istri sesamanya manusia, pastilah keduanya

103

dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah
itu” (Bandingkan Yohanes 8:5).

Konsensi kedua, perceraian diijinkan dalam kasus
dimana orang yang tidak percaya meninggalkan pasangannya
yang percaya kepada Yesus (1 Korintus 7:15-16). Ketika
perceraian terjadi karena pasangan yang tidak percaya
kepada Kristus meninggalkan pernikahan, pihak yang
ditinggalkan atau yang tidak berdosa bebas untuk menikah
lagi (1 Korintus 7:15). Tentu saja, dalam hal kematian
pasangan, pasangan yang ditinggalkan bebas untuk menikah
lagi. Kebiasan orang Yahudi dalam Perjanjian Lama
menetapkan bahwa jika ada hak untuk bercerai, ada hak untuk
menikah lagi.

Pengajaran Paulus dalam Perjanjian Baru tidak
bertentangan dengan keyakinan ini. Tetapi sekali lagi,
sebagaimana Musa hanya mengijinkan bukan memerintahkan,
Paulus juga menyatakan bahwa “Hal ini kukatakan kepadamu
sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah” (1 Korintus
7:6). Walau demikian Apa yang yang diinstruksi Paulus dalam
1 Korintus 7:11-16 ini disampaikannya dengan penuh wibawa
dan otoritas kerasulannya yang ditetapkannya sebagai
peraturan bagi jemaat (baca 1 Korintus 7:17).

Gambaran perceraian karena perzinahan dapat kita
lihat dalam hubungan Allah dengan Israel. Ketika Israel
mengikuti berhala-berhala, Allah berfirman melalui nabi
Yeremia, “oleh karena zinahnya Aku telah menceraikan Israel,
perempuan murtad itu, dan memberikan kepadanya surat
cerai” (Yeremia 3:8).

104

Yesaya juga menulis tentang Allah yang menceraikan
Israel karena Israel tidak setia, “Beginilah firman TUHAN: "Di
manakah gerangan surat cerai ibumu tanda Aku telah
mengusir dia? Atau kepada siapakah di antara penagih
hutang-Ku Aku pernah menjual engkau? Sesungguhnya, oleh
karena kesalahanmu sendiri kamu terjual dan oleh karena
pelanggaranmu sendiri ibumu diusir” (Yesaya 50:11).

Betapa besar kasih Tuhan kepada Israel, Dia berulang
kali menyodorkan rahmat dan kemurahanNya. Namun,
perzinahan dan ketidaksetiaan Israel telah melewati ambang
batas. Tuhan berfirman kepada Israel,

“Kembalilah, hai Israel, perempuan murtad, demikianlah
firman TUHAN. Muka-Ku tidak akan muram terhadap
kamu, sebab Aku ini murah hati, demikianlah firman
TUHAN, tidak akan murka untuk selama-lamanya. Hanya
akuilah kesalahanmu, bahwa engkau telah mendurhaka
terhadap TUHAN, Allahmu, telah melampiaskan cinta
berahimu kepada orang-orang asing di bawah setiap
pohon yang rimbun, dan tidak mendengarkan suara-Ku,
demikianlah firman TUHAN." Kembalilah, hai anak-anak
yang murtad, demikianlah firman TUHAN, karena Aku
telah menjadi tuan atas kamu! Aku akan mengambil kamu,
seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap
keluarga, dan akan membawa kamu ke Sion” (Yeremia
3:12-14).

Kadang-kadang hal yang dilupakan dalam diskusi
mengenai klausa “pengecualian” adalah kenyataan bahwa
apapun jenis penyelewengan dalam pernikahan, itu hanyalah
merupakan ijin untuk bercerai dan bukan keharusan untuk
bercerai.

105

Bahkan ketika terjadi perzinahan, dengan anugerah
Tuhan, pasangan yang satu dapat mengampuni dan
membangun kembali pernikahan mereka. Dengan mengikuti
contoh nabi Hosea, perlu untuk mengampuni dan menerima
kembali pasangan yang telah berzinah (Hosea 3).

Tuhan telah terlebih dahulu mengampuni banyak dosa-
dosa kita. Kita tentu dapat mengikuti teladanNya dan
mengampuni dosa perzinahan (Efesus 4:32). Namun, dalam
banyak kasus, pasangan yang bersalah tidak bertobat dan
terus hidup dalam percabulan. Di sinilah kemungkinanan
Matius 19:9 dapat diterapkan. Demikian pula banyak yang
terlalu cepat menikah kembali setelah bercerai padahal Tuhan
mungkin menghendaki mereka untuk tetap melajang. Kadang-
kadang Tuhan memanggil orang untuk melajang supaya
perhatian mereka tidak terbagi-bagi (1 Korintus 7:32-35).

4. MEMAHAMI MAKSUD DARI TEKS ULANGAN 24:1-4

Teks dalam Ulangan 24:1-4 penting untuk dipahami,
sebab bagian inilah yang menjelaskan alasan dan prosedur
perceraian. Teks itu berbunyi demikian,

“Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan
menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai
lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh
padanya, lalu ia menulis surat cerai dan menyerahkannya
ke tangan perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi
dari rumahnya,
dan jika perempuan itu keluar dari rumahnya dan pergi
dari sana, lalu menjadi isteri orang lain, dan jika laki-laki

106

yang kemudian ini tidak cinta lagi kepadanya, lalu menulis
surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu
serta menyuruh dia pergi dari rumahnya,
atau jika laki-laki yang kemudian mengambil dia menjadi
istrinya itu mati, maka suaminya yang pertama, yang telah
menyuruh dia pergi itu, tidak boleh mengambil dia
kembali menjadi istrinya, setelah perempuan itu dicemari;
sebab hal itu adalah kekejian di hadapan TUHAN.
Janganlah engkau mendatangkan dosa atas negeri yang
diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik
pusakamu”. Ulangan 24:1-4

Berdasarkan teks ini ada beberapa hal yang perlu
diperjelas, yaitu:

a. Pertama, yang wajib dalam hukum ini bukanlah perceraian
melainkan proses hukumnya jika terpaksa harus bercerai.
Proses hukum itu mencakup empat unsur, yaitu:
i. Adanya alasan yang serius untuk bercerai dan
bukan sembarang alasan;
ii. Sebuah dokumen perceraian harus diberikan
kepada perempuan untuk perlindungannya sesuah
ia diceraikan;
iii. Dokumen itu ditulis dengan melibatkan seorang
pejabat resmi yang memiliki hak untuk menentukan
apakah alasan perceraian itu diterima atau tidak;
iv. Setelah memberikan dokumen cerai itu, pihak laki-
laki secara resmi mengusir sang istri dari
rumahnya.

b. Kedua, peraturan dalam teks ini diberikan bukan untuk
menyetujui perceraian tetapi bertujuan untuk melarang
laki-laki mengawini ulang mantan istrinya, kalau ia sudah

107

pernah menceraikannya, dan mantan istrinya itu sudah
pernah menikah dengan laki-laki lain setelah ia diceraikan.
Perhatikanlah klausa “jika...” dalam ayat 1-3 tidak lebih dari
sekedar anak kalimat yang disebut klausa syarat.
Sedangkan klausa akibatnya baru muncul dalam ayat 4
dengan klausa “maka...”.

c. Ketiga, alasan perceraian ini adalah apabila didapat hal-
hal yang tidak senonoh. Kata Ibrani “tidak senonoh” dalam
Ulangan 24:1, adalah “erwath dabar”, sebuah frase yang
secara harafiah berarti “ketelanjangan suatu benda”. Kata
ini dapat diartikan sebagai “keadaan telanjang atau pamer
aurat yang dikaitkan dengan perilaku yang tidak suci”,
tetapi bukan perzinahan setelah pernikahan. Karena
hukuman bagi perzinahan setelah pernikahan dalam
hukum Taurat adalah hukuman mati, sebagaimana yang
disebutkan dalam Imamat 20:10 (Bandingkan Yohanes
8:5).

“Bila seorang laki-laki berzinah dengan istri orang lain, yakni
berzinah dengan istri sesamanya manusia, pastilah keduanya
dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang
berzinah itu”. Imamat 20:10

d. Keempat surat perceraian ini wajib diberikan untuk
melindungi hak-hak perempuan (istri), agar ia jangan diusir
begitu saja atau diperlakukan seenaknya. Karena itu
setiap penyalahgunaan ijin tersebut dicegah dengan cara
membatasinya dengan berbagai alasan teknis dan
pembatsan lainnya.

Tampaknya ada kesalahpahaman diantara pria Yahudi
dalam menafsirkan tujuan dari ijin perceraian dengan

108

memberikan surat cerai tersebut. Jadi, pengaturan dalam ayat
ini justru digunakan oleh para lelaki untuk mengajukan
perceraian terhadap istri mereka. Suatu interpretasi yang
keliru, sehingga tepat jika Yesus menuding keras dengan
mengatakannya

“Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu
menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian”
Matius 19:8.


Dengan demikian, perceraian sebagaimana diijinkan
Musa dalam ulangan 24:1-4 (bandingkan Imamat 27:7-14;
22:13; Bilangan 30:9) adalah akibat dari kekerasan hati orang
Israel (Matius 19:8; Markus 10:5).

Tetapi, ketidaknormalan situasi ini yang ditolerir
dalam Perjanjian Lama melalui hukum Musa dibatalkan
oleh Tuhan Yesus kita dengan menempatkan kembali
ideal Allah, yaitu ketetapan-Nya semula mengenai
pernikahan.

“Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan
ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga
keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka
bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah
dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”
(Matius 19:5-6; dan Markus 10:6-9; Kejadian 2:23-24).

109

5. MENIKAH LAGI SETELAH PERCERAIAN

Tuhan menciptakan pernikahan! Jadi, ketika dua orang
disatukan, baik orang Kristen atau bukan, penyatuan ini terjadi
dihadapan Tuhan. Ketika orang non Kristen menikah
kemudian bercerai, mereka melanggar firman Tuhan seperti
pelanggaran yang dilakukan orang Kristen. Mengapa? Karena
pernikahan adalah satu-satunya lembaga sosial yang
ditetapkan Allah sebelum kejatuhan manusia dalam dosa
(Kejadian 2:24; Banding Kejadian 1:28).

Ketetapan Tuhan ini tidak pernah berubah dan ini
berlaku “sejak semula” bagi semua orang, bukan hanya bagi
orang-orang Kristen saja. Matius mencatat perkataan Kristus
demikian, “Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia
yang menciptakan manusia sejak semula (ap’arches)
menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?” (Matius 19:4).

Kata Yunani “ap’arches” atau “sejak semula” yang
disebutkan Yesus dalam Matius 19:4, pastilah merujuk pada
Kejadian Pasal 2, karena kalimat selanjutnya “Dan firman-Nya:
Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan
bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu
daging”, yang diucapkan Yesus dalam ayat 5 adalah kutipan
dari Kejadian 2:24.

Allah telah menetapkan pernikahan dari sejak semula,
baik untuk orang-orang Kristen maupun untuk orang-orang
bukan Kristen. Dan Allah adalah saksi dari seluruh
pernikahan, baik diundang maupun tidak. Meskipun bentuk
dan tatacara bervariasi dalam setiap budaya dan setiap
generasi tetapi esensinya tetap sama dari “sejak semula”

110

bahwa pernikahan merupakan satu peristiwa sakral tidak
peduli pasangan tersebut mengakuinya ataupun tidak. Karena
itu pernikahan wajib dihormati oleh semua orang (Ibrani 13:4).

Jika orang non Kristen bercerai kemudian menikah lagi
dalam kondisi sudah menjadi Kristen, ia masih bertanggung
jawab atas segala konsekuensi pernikahan pertamanya.
Menurut 2 Korintus 5:17, Kita tidak boleh lagi hidup dalam
penghukuman atas dosa (hidup) kita terdahulu, tetapi ayat ini,
yang sering dikutip oleh orang yang bercerai, sama sekali
tidak memberikan orang yang bersangkutan izin untuk
menikah lagi. Makna yang dikandung disini adalah bahwa
ketika orang yang sudah melakukan perceraian menjadi
manusia baru melalui iman yang dimilikinya, ia tetap
bertanggung jawa atas kehidupan dosanya “yang terdahulu”
walaupun ia sudah diampuni.

Kapan menikah lagi diijinkan setelah perceraian?

a. Pertama, sederhananya, ketika ada perceraian yang tidak
Alkitabiah, menikah lagi dilarang.

Konsekuensinya, berdasarkan pemahaman terhadap
firman Tuhan jika ada pihak yang melakukan perzinahan
dan pernikahan berakhir dengan perceraian, pelaku
perzinahan, sebagai pihak yang berdosa, harus memilih
untuk tetap melajang (lihat Matius 5:31-32), sebab jika
tidak, ia hidup dalam dosa.

Penting untuk diperhatikan bahwa hanya pasangan yang
tidak bersalah yang diizinkan untuk menikah kembali.
Meskipun tidak disebutkan dalam ayat tersebut, izin untuk

111

menikah kembali setelah perceraian adalah kemurahan
Tuhan kepada pasangan yang tidak bersalah, bukan
kepada pasangan yang berbuat zinah.

Paulus menegaskan hal ini dalam 1 Korintus 7:10-11,
dimana Paulus mengutip ajaran Yesus. Jika orang memilih
untuk meninggalkan pernikahan tanpa landasan Alkitabiah
untuk bercerai, dan hal itu bertentangan dengan keinginan
pasangannya, ia sedang memilih untuk melajang.

b. Kedua, pernikahan kembali juga diijinkan ketika perceraian
terjadi karena pasangan yang tidak percaya kepada
Kristus meninggalkan pernikahan, pihak yang ditinggalkan
atau yang tidak berdosa bebas untuk menikah lagi. Paulus
dalam 1 Korintus 7:15 mengatakan, “Tetapi kalau orang
yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai;
dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak
terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam
damai sejahtera”.

Memang konteks ayat ini tidak menyinggung soal
pernikahan kembali dan hanya mengatakan bahwa orang
percaya tidak terikat dalam pernikahan kalau pasangan
yang belum percaya mau bercerai, tetapi kebiasaan orang
Yahudi dalam Perjanjian Lama menetapkan bahwa jika
ada hak untuk bercerai, ada hak untuk menikah lagi.
Pengajaran Paulus dalam Perjanjian Baru tidak
bertentangan dengan keyakinan ini.

c. Ketiga, tentu saja, dalam hal kematian pasangan,
pasangan yang ditinggalkan bebas untuk menikah lagi.
Paulus mengatakan, “Sebab seorang isteri terikat oleh
hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan

112

tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum
yang mengikatnya kepada suaminya itu. Jadi selama
suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi
isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas
dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia
menjadi isteri laki-laki lain” (Roma 7:2-3).

Hal yang sama disampaikan Paulus kepada jemaat di
Korintus, “Isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau
suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan
siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah
seorang yang percaya” (1 Korintus 7:39)

Menikah kembali setelah bercerai mungkin merupakan
pilihan dalam keadaan-keadaan tertentu, namun tidak selalu
merupakan satu-satunya pilihan. Adalah menyedihkan bahwa
tingkat perceraian di kalangan orang-orang yang mengaku
Kristen hampir sama tingginya dengan orang-orang yang tidak
percaya. Alkitab sangat jelas bahwa Allah membenci
perceraian (Maleakhi 2:16) dan bahwa pengampunan dan
rekonsiliasi seharusnya menjadi tanda-tanda kehidupan orang
percaya (Lukas 11:4; Efesus 4:32).

6. PENUTUP

Perceraian dalam ideal Allah tidak pernah dibenarkan,
bahkan sekalipun oleh karena perzinahan. Perzinahan adalah
dosa dan Allah tidak menyetujui dosa maupun terputusnya
pernikahan. Apa yang disatukan Allah, tidak boleh diceraikan
oleh manusia (matius 19:6). Pengampunan melalui pengakuan
dosa membatalkan status keadaan yang berdosa dari orang
yang diceraikan (Bandingkan Yeremia 1,14). Satu-satunya

113

alasan mereka masih hidup dalam dosa setelah perceraian
adalah bahwa perceraian itu merupakan suatu dosa. Dan
selama mereka tidak mengakui dosa perceraian, mereka
masih hidup dalam dosa. Tetapi jika mereka mengakui dosa
mereka, Allah akan mengampuni seperti dosa yang lainnya (1
Yohenes 1:9).

Sekalipun perceraian tidak pernah dibenarkan,
kadang-kadang hal itu diijinkan dan selalu ada pengampunan
untuk itu. Karena itu, mereka yang mengakui dosa perceraian
dan bertanggung jawab untuk itu, harus diperbolehkan untuk
menikah kembali. Tetapi pernikahan kembali mereka lakukan
haruslah untuk seumur hidup. Jika mereka gagal lagi, tidaklah
bijaksana memperbolehkan mereka untuk terus mengulangi
kesalahan ini. Hanya mereka yang condong untuk memelihara
komitmen seumur hidup yang boleh menikah dan tidak
merencanakan pernikahan kembali.

Pernikahan adalah lembaga yang sakral dan tidak
boleh dicemarkan oleh perceraian, kususnya oleh perceraian
yang terjadi berulang kali (bandingkan Ibrani 13:4). Dan orang
Kristen harus melakukan segala sesuatu dengan sekuat
tenaga untuk mengangungkan standar Allah mengenai
pernikahan monogami seumur hidup, karena ini adalah
idealnya Allah (Matius 19:5-6).

Akhirnya, orang percaya yang bercerai dan atau
menikah kembali jangan merasa kurang dikasihi oleh Tuhan
bahkan sekalipun perceraian dan pernikahan kembali tidak
tercakup dalam kemungkinan klausa pengecualian dari Matius
19:9. Tuhan sering kali menggunakan bahwa ketidaktaatan
orang-orang Kristen untuk mencapai hal-hal yang baik.

114

B. Pdt. Dr Suhento Liauw11

Bab ini dit ulis oleh Dr Suhento Liauw, yang telah
menulis lebih dari 30 judul buku doktrinal, menjadi editor
buletin Pedang Roh selama 16 tahun (72 edisi). Suhento
Liauw masuk sekolah Alkitab di Jakarta pada tahun 1984,
selesai pada tahun 1987 dan diwisuda pada tahun 1989.,
menggembalakan jemaat di Jakarta sejak tahun 1987, dan
mengajar pelajaran Agama di Universitas Indonesia selama 6
tahun.

Menyelesaikan Doctor of Religious Education di
Tabernacle Baptist Theological Seminary, Virginia Beach,
USA pada tahun 1995, dengan provisiansi tes menerjemahkan
Alkitab bahasa asli PL (dengan hasil 99%) dan PB (dengan
hasil 94%). Tahun 2007 untuk mempertahankan thesis di
hadapan para profesor EBTS untuk memenuhi tuntutan akhir
gelar Doctor of Theology dari Emmanuel Baptist Theological
Seminary, Newington, USA.

Belakangan, karena ada kasus perceraian dan
pernikahan orang yang cukup terkenal, banyak orang Kristen
bertanya kepada saya tentang masalah pernikahan dan
perceraian menurut Alkitab.



11 http://drsuhentoliauwblog.graphe-ministry.org/2019/01/25/pernikahan-perceraian-
menurut-alkitab/

115

1. Syarat pernikahan yang sah di mata Tuhan itu apa saja?

Sesungguhnya syarat sebuah pernikahan sah di mata
Tuhan hanya dua: (1) Diumumkan kepada publik. (2)
Bersetubuh, hidup menyatu.

Dengan dua syarat ini pernikahan seorang laki-laki
dengan seorang perempuan sah di hadapan Tuhan. Ketika
dua orang setuju untuk menjadi suami-istri, mereka harus
mengumumkan momen penyatuan mereka kepada publik
bahwa sejak hari ini, tanggal sekian, bulan sekian, tahun
sekitan, mereka berdua adalah suami-istri. Siapapun yang
masih menginginkan salah satu mereka harus _back off,_
menghentikan niatnya, dan menghormati penyatuan ini.

Pengumuman kepada publik itu bisa berupa pesta,
arak-arakan keliling desa, pengumuman di koran, atau
pengiriman surat pemberitahuan ke famili, teman, kenalan dan
lain sebagainya. Intinya, bahwa mereka telah berstatus suami-
istri, telah diketahui oleh kekuarga, sanak famili, teman-teman
dan kenalan.

Mengenai surat nikah dan lain sebagainya hanyalah
administrasi tambahan untuk kebutuhan pencatatan
pemerintah. Pernikahan adalah salah satu Hak Asasi
Manusia, sehingga tidak ada keperluan ijin pemerintah,
melainkan pemerintah hanya melakukan pencatatan saja, oleh
sebab itu disebut CATATAN SIPIL.

Adam menikah dengan Hawa, wanita satu-satunya
yang ada, memang dinikahan Tuhan secara langsung sesaat
selesai diciptakannya Hawa. Tetapi Abraham menikahi Sarah
pada saat mereka masih penyembah berhala. Pernikahan

116

Ishak tidak dilakukan di gereja, dan tidak tercatat ada institusi
apapun yang meneguhkannya. Pernikahan Yakub dengan dua
orang putri Laban pasti dilakukan sesuai kebiasaan orang
Mesopotamia.

Kejadian 29:21 Sesudah itu berkatalah Yakub kepada
Laban: “Berikanlah kepadaku bakal istriku itu, sebab
jangka waktuku telah genap, supaya aku akan kawin
dengan dia.” 22 Lalu Laban mengundang semua orang di
tempat itu, dan mengadakan perjamuan.

2. Makna Sebuah Peneguhan Nikah di Hadapan Jemaat.

Istilah PEMBERKATAN nikah adalah istilah yang salah
dari gereja yang masih memiliki jabatan Imam. Jabatan Imam
adalah jabatan perantara antara Allah dan manusia. Jemaat
PB alkitabiah tidak memiliki jabatan imam lagi karena setiap
orang yang lahir baru adalah anak Allah sehingga tidak
membutuhkan PERANTARA dengan Bapa Sorgawi.

Peneguhan nikah ialah peristiwa dua orang yang saling
mencintai yang ingin hidup sebagai suami-istri datang ke
hadapan jemaat untuk memohon dukungan, dan menjadi
saksi atas peristiwa penyatuan mereka serta janji setia
mereka. Berkat Tuhan untuk mereka berdua telah termasuk
dalam paket keselamatan jiwa mereka sebagai anak-anak
Tuhan dan dalam hidup mereka yang mengasihi Tuhan.

Berkat Tuhan selalu ada untuk anak-anakNya, kecuali
mereka tidak menaatiNya atau membangkangi Bapa mereka.
Apa yang telah dipersatukan Tuhan tidak boleh diceraikan
manusia (Mat. 19:5-6).

117

3. Memberkat Ulang Kakek Nenek adalah kesalahan fatal.

Ada gereja yang mengajarkan bahwa pernikahan yang
dilakukan di luar kekristenan atau tanpa PEMBERKATAN di
gereja itu tidak sah, sehingga sekalipun sudah kakek nenek
mereka lakukan pemberkatan ulang. Tentu ini kesalahan fatal
karena jika pernikahan mereka tidak sah, si kakek boleh cari
yang lebih muda untuk pemberkatan ulang di gereja. Padahal,
semua pernikahan di muka bumi antara seorang lelaki dan
seorang perempuan yang telah diumumkan kepada publik dan
telah hidup bersama sampai sudah punya anak dan cucu itu
adalah pernikahan yang sudah sah di hadapan Tuhan.
Pernikahan demikian tidak boleh lagi diceraikan oleh manusia.

Pernikahan pengulangan di Kana adalah kesalahan
theologis yang fatal. Membawa suami-istri untuk pemberkatan
ulang di kota Kana adalah perbuatan tanpa pengertian, atau
sekedar menyenangkan bahkan membohongi peserta Tour
demi keuntungan materi.

4. Yang Tidak Salah Jika Menikah Lagi.

Tuhan menyatakan bahwa pernikahan yang telah
diakui Tuhan tidak boleh diceraikan manusia. Namun bisa
terjadi hal-hal yang tidak ideal dalam pernikahan. Dalam
Alkitab tercatat tiga alasan seseorang menikah lagi yang tidak
salah di mata Tuhan.

118

a. Terpisah oleh kematian.

Ketika salah satu dari pasangan meninggal maka
pasangan yang tertinggal boleh menikah lagi. Tetapi ketika
salah satu pasangan sakit bahkan cacat bukan alasan bagi
pasangan yang sehat untuk menikah melainkan adalah
kesempatan baginya untuk membuktikan komitmen janji nikah
mereka.

b. Diceraikan oleh salah satu pihak karena imannya.

Prinsip pernikahan adalah kesenangan, kebahagiaan,
dan kesukaan dua belah pihak. Ketika salah satu pihak
menjadi tidak senang dan menceraikan, dan bukan atas
kesalahan pihak yang diceraikan, maka pihak yang diceraikan
menjadi bebas di mata Tuhan.

1 Korintus 7: 10 Kepada orang-orang yang telah kawin
aku–tidak, bukan aku, tetapi Tuhan–perintahkan, supaya
seorang istri tidak boleh menceraikan suaminya. 11 Dan
jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau
berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak
boleh menceraikan isterinya. 12 Kepada orang-orang lain
aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara
beristrikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu
mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara
itu menceraikan dia. 13 Dan kalau ada seorang istri
bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu
mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia
menceraikan laki-laki itu. 14 Karena suami yang tidak
beriman itu dikuduskan oleh istrinya dan istri yang tidak
beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak

119

demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi
sekarang mereka adalah anak-anak kudus. 15 Tetapi kalau
orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia
bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari
tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup
dalam damai sejahtera.

Kalimat “aku–tidak, bukan aku, tetapi Tuhan–
perintahkan,” maksud Paulus ialah ketika Tuhan hadir di dunia
Tuhan ada memerintahkannya. Dan kalimat “Kepada orang-
orang lain aku, bukan Tuhan, katakan:” ini maksud Paulus
SAAT Tuhan hadir di dunia Dia tidak katakan, tetapi
SEKARANG dia yang perintahkan. Ada pengkhotbah bodoh
tanpa pengertian yang mengajarkan bahwa ini adalah perintah
Paulus pribadi yang tidak perlu ditaati. Padahal jelas bahwa
seluruh tulisan Rasul Paulus diinspirasikan oleh Tuhan.
Memang saat Tuhan hadir Dia tidak perintahkan, tetapi
sekarang Tuhan perintahkan MELALUI RasulNya.

Isi perintah Tuhan yang disampaikan melalui Paulus
ialah jika pasangan suami istri ada yang tidak lagi bersedia
hidup dengan pasangannya, dan menceraikannya maka ia
tidak boleh menikah lagi. Tetapi jika dia masih mau hidup
dengan pasangannya, tetapi pasangannya tidak mau hidup
dengannya melainkan MENCERAIKANNYA, maka dia bebas.

15: “Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau
bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian
saudara atau saudari tidak terikat.”

Kata “tidak terikat” dalam bahasa aslinya οὐ
δεδούλωται (ou dedoulutai) mengandung arti tidak diperbudak,
dalam pengertian sebagai orang bebas, ya boleh menikah

120

lagi. Tetapi tentu bukan pembuat masalah (trouble maker)
supaya bisa diceraikan dan kemudian bisa menikah lagi.
Contoh yang Rasul Paulus sebutkan ialah sepasang suami
istri yang tadinya sama-sama orang yang belum diselamatkan,
kemudian salah satunya diselamatkan, dan pasangannya
tidak mau hidup bersamanya lagi. (Kasus diceraikan karena
imannya dan bukan karena kasus lainnya – red)

Ungkapan “suami yang tidak beriman itu dikuduskan
oleh istrinya dan istri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh
suaminya.” Sebenarnya maksud KUDUS di situ jika dilihat
dengan kondisi zaman sekarang maksudnya ialah LEGAL,
bukan Kudus dalam arti tidak berdosa. Maksud firman Tuhan,
seorang wanita maupun pria jika memiliki anak sendirian maka
anaknya akan dilihat sebagai anak hasil hubungan gelap,
anak cemar.

c. Salah satu dari pasangan berbuat zinah.

Banyak orang baca Injil Matius 19, hanya sampai ayat
5 dan 6 saja, padahal Tuhan teruskan perkataan-Nya sampai
ayat 9.

Tetapi Aku berkata kepadamu: “Barangsiapa menceraikan
istrinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan
perempuan lain, ia berbuat zinah.”

Anak kalimat “kecuali karena zinah” εἰ µὴ ἐπὶ πορνείᾳ
(ei me epi porneia) kata porneia ini asal kata porno atau
berhubungan seksual dengan lawan jenis luar nikah. Kata

121

Tuhan, tindakan perceraian tidak direstui Tuhan kecuali atas
dasar pasangannya melakukan hubungan seks dengan pihak
lain. Apa sebab?

Suami istri sesungguhnya telah menjadi satu daging
ketika mereka melakukan persetubuhan, dua tubuh mereka
telah disambungkan (connected) melalui tongkat kecil
sehingga menjadi satu tubuh atau satu daging. Ketika salah
satu dari mereka menyambungkan dirinya pada pihak lain,
atau menjadi satu tubuh dengan pihak lain, maka tindakan itu
di mata Tuhan sama dengan ia memutuskan sambungannya
dengan pasangannya.

Jadi, sesungguhnya betapa besar arti persetubuhan
dua orang manusia, laki dan perempuan di mata Tuhan, yaitu
dua tubuh menjadi satu. Dan inilah alasannya satu laki-laki
hanya boleh disambungkan dengan seorang perempuan,
bukan dua, tiga atau empat wanita.

Dan sekali sudah diumumkan kepada publik bahwa
mereka berdua adalah suami istri kemudian terjadi
persetubuhan, maka mereka berdua telah menjadi satu
daging. Apa yang telah diakui Tuhan sebagai satu daging tak
boleh lagi diceraikan oleh manusia.

Saya tidak pernah menasihati seseorang yang
mendapatkan pasangannya berzinah untuk bercerai. Jika
yang bersalah bertobat dan memohon pengampunan, maka
menasihatinya mengampuninya. Tetapi Tuhan tahu bahwa
manusia tidak bisa hidup dengan pasangan penzinah yang
tidak mau berobat.

Uraian ini bertujuan untuk menjelaskan alasan
pernyataan Tuhan bahwa tidak boleh bercerai KECUALI

122

karena pasangan berzinah. Semua theolog yang benar tidak
berusaha merubah ayat Alkitab atau membuat ayat Alkitab
saling bertentangan melainkan berusaha memahami tiap-tiap
ayat dan menjelaskannya.

Ada pengkhotbah yang tak berpengertian yang
memakai alasan bahwa ketika seorang lelaki memandang
wanita dan menginginkannya itu sudah berzinah dengannya di
dalam hati, untuk dijadikan alasan bahwa tidak boleh bercerai
sekalipun berzinah karena nanti semua istri ceraikan suami
mereka sepulang dari mall.

Pengkhotbah ini salah menafsirkan Alkitab, karena
sesungguhnya KHOTBAH DI BUKIT yang tercatat di Mat.5:27-
28, itu tentang syarat kesucian warga KERAJAAN yang
sedang diumumkan Sang Mesias, Anak Daud, yang sifat
kekudusannya adalah kekudusan hati. Artinya, tidak ada satu
orang laki-laki pun yang tidak berzinah secara hati, atau tidak
ada seorang pun yang tidak berdosa, dan tidak ada seorang
pun sanggup sempurna seperti Bapa. Itulah sebabnya
manusia yang mau ke Sorga memerlukan Juruselamat.

Sedangkan KECUALI ZINAH yang dimaksud Tuhan
dalam konteks suami istri itu bukan yang terjadi di dalam hati,
melainkan yang dengan badan (Mat.5:32,19:9). Perzinahan
yang terjadi di dalam hati tidak bisa dibuktikan selain oleh
Tuhan, sedangkan perzinahan jasmani bisa dibuktikan, dan
tentu harus bisa dibuktikan barulah bisa dijadikan alasan,
bukan yang sekedar dugaan atau kecurigaan.

Tuhan tidak menciptakan binatang dengan
pemahaman seks seperti manusia. Oleh sebab itu binatang
tidak perlu ada pengumuman sebelum mereka berhubungan
seks. Dan binatang bebas berhubungan seks dengan lawan

123

jenisnya sesuka mereka, dan berganti pasangan sesuka
mereka.

Tetapi terhadap manusia Tuhan menginginkan aturan
bahwa sebelum melakukan hubungan seks, diumumkan dulu
bahwa mereka berdua ini adalah pasangan suami istri mulai
saat itu. Dan setelah itu mereka adalah suami istri dan
kemudian mereka menjadi satu daging, yang tak terpisahkan
lagi.

Iblis bekerja dahsyat mengganggu manusia agar
melakukan hal-hal yang menyakiti hati Tuhan. Tuhan tidak
menghendaki perceraian namun iblis berusaha keras
mengganggu agar terjadi kekacauan hubungan suami istri dan
bisa terjadi perceraian. Iblis tahu jika dia berhasil
mengacaukan pasangan suami istri, maka itu berarti ia
berhasil mengacaukan keharmonisan keluarga, dan itu akan
membawa efek yang akan mengganggu hubungan mereka
dengan Tuhan. Bahkan iblis meningkatkan serangannya
dengan maraknya LGBT.

Pelajarilah jangan sekedar membaca. Kiranya uraian
ini bisa memberi pedoman bagi orang-orang Kristen dalam
menilai pernikahan dan perceraian, dan pernikahan setelah
perceraian.

124

C. Pdt. Yakub Tri Handoko Th.M

Bab ini ditulis oleh Pdt. Yakub Tri Handoko Th.M
Gembala sidang REC. Dosen tetap Sekolah Theologi Awam
Reformed (STAR). Menyelesaikan Master of Theology (Th.M)
di International Theological Seminary, USA. Sedang
mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D) di
Evangelische Theologische Faculteit, Lauven-Belgia secara
part time.

1. Jangan Berzinah12

Sama seperti larangan untuk membunuh di 5:21-26,
Tuhan Yesus di sini juga lebih menyoroti esensi dari suatu
tindakan. Bukan apa yang terlihat saja, melainkan apa yang
tidak terlihat. Suatu tindakan adalah suatu produk dari sebuah
kualitas hati (15:19). Itulah yang disoroti dalam bagian ini.

Perintah: Jangan berzinah (ayat 27)

Cara pengutipan di sini sangat mirip dengan ayat 21.
Perbedaannya hanya terletak pada dua hal. Di ayat ini tidak
ada tambahan “kepada nenek moyangmu” (tois archaiois).
Ketidakadaan tambahan ini tidak perlu dibesar-besarkan. Hal
yang sama ditemukan juga di ayat 31, 38, dan 43.



12 http://rec.or.id/article_665_Jangan-Berzinah-(Matius-5:27-30)

125

Ayat ini juga tidak disertai dengan penafsiran menurut
tradisi Yahudi (bdk. 5:21, 43). Tuhan Yesus hanya mengutip:
“Jangan berzinah”. Tidak ada tambahan apapun. Kutipan
dalam ayat ini bahkan sama persis dengan Keluaran 20:14
atau Ulangan 5:17 (LXX ou moicheuseis).

Dalam konteks budaya patriakhal kuno yang poligamis,
diskriminasi gender ada di mana-mana, termasuk dalam
konsep perzinahan. Seorang laki-laki “diberi” kelonggaran
dalam eksplorasi seksual dengan siapa saja, sejauh
perempuan yang terlibat di situ bukanlah istri orang lain. Jika
perempuan itu adalah istri orang lain, maka laki-laki itu
dianggap telah merampas hak orang lain (suami dari
perempuan itu). Jadi, perzinahan lebih dilihat sebagai
pelanggaran terhadap hak orang lain daripada kebejatan
moral.

Contoh yang paling jelas adalah perlakukan laki-laki
terhadap budak perempuan. Apabila seorang laki-laki Yahudi
bersetubuh dengan budak perempuan, hal itu tidak terlalu
dipersoalkan, karena budak dianggap milik dari tuannya,
sehingga tidak ada hak orang lain yang dilanggar. Situasi ini
bahkan tampaknya menjadi fenomena umum di Timur Tengah
Kuno.

Lagipula, perzinahan biasanya (tidak selalu) hanya
dibatasi pada kontak secara fisik (persetubuhan). Selama
tidak ada kontak fisik, hal itu belum dikategorikan sebagai
perzinahan. Perzinahan adalah persetubuhan dengan istri
orang lain.

126

Penafsiran ulang terhadap perintah (ayat 28)

Sama seperti di ayat 21b, di sini Tuhan Yesus juga
mengungkapkan penafsiran-Nya dengan penuh otoritas.
Dalam teks Yunani kata “Aku” muncul dua kali sebagai
penekanan. Kata sambung “tetapi” di awal ayat ini
menyiratkan sebuah kontras. Cara pandang Tuhan Yesus
terhadap larangan untuk berzinah berbeda dengan budaya
pada waktu itu.

Tuhan Yesus tidak memberi hak istimewa bagi laki-
laki. Larangan yang Ia berikan bahkan ditujukan lebih kepada
laki-laki (walaupun maknanya berlaku untuk perempuan juga).
Kata ganti “setiap orang” (pas) berbentuk maskulin.
Pemunculan “perempuan” (gynē) sebagai objek perzinahan
menyiratkan bahwa subjeknya adalah laki-laki.

Batasan perzinahan juga telah diperluas oleh Tuhan
Yesus. Kata gynē (bisa berarti “perempuan” atau “istri”) tidak
disertai dengan tambahan “milik orang lain”. Semua
perempuan diperlakukan sama, baik isteri orang lain, budak
perempuan, maupun siapa saja. Ini menunjukkan bahwa bagi
Allah perzinahan adalah perzinahan, terlepas dari status
pernikahan dari perempuan yang dijadikan pasangan zinah.

Yang lebih penting, perzinahan di mata Tuhan Yesus
bukan hanya masalah tindakan (bersetubuh). Perzinahan
dimulai dari mata yang tidak kudus. Allah menciptakan mata
supaya kita dapat menikmati keindahan ciptaan, tetapi
manusia berdosa seringkali menggunakan kapasitas ini
secara keliru. Begitu pula dengan kita yang memandang orang
lain dan menginginkannya (LAI:TB, pros to epithymesai
autēn). Ungkapan Yunani digunakan mengarah pada hawa
nafsu (epithymeō = bernafsu). Hampir semua versi Inggris

127

memilih terjemahan “melihat dengan dengan hawa nafsu”. Ini
lebih tegas dan sesuai dengan teks Yunani daripada
“menginginkan”.

Perzinahan tidak hanya melibatkan mata, melainkan
juga hati. Melihat perempuan tentu saja tidak berdosa selama
hati seseorang tetap terjaga. Persoalannya, hati manusia
seringkali justru menjadi gudang kejahatan (15:19).
Perpaduan antara mata yang najis dengan hati yang cemar
melahirkan sebuah dosa yang serius: perzinahan di dalam
hati.

Apa yang disampaikan di sini sebetulnya bukan
sesuatu yang benar-benar baru. Ayub dari dahulu sudah
menyadari betapa pentingnya menjaga mata dan hati supaya
tidak jatuh ke dalam perzinahan. Ia sudah menentukan batas
pandangannya (Ayub 30:1 “Aku telah menetapkan syarat bagi
mataku, masakan aku memperhatikan anak dara?”). Dia
menyadari bahwa hati bisa mengikuti pandangan (Ayub 30:7),
sehingga pada akhirnya hati yang tercemar itu akan
menghasilkan perbuatan yang najis pula (Ayub 30:9).

Beberapa tulisan para rabi Yahudi juga
memperingatkan tentang bahaya mata. Apa saja dalam diri
perempuan, bahkan suara atau bagian tubuh yang terkecil
sekalipun, dapat menjadi umpan dosa seksual (Shab.
64b; Ber. 24a). Sebuah kitab kuno Yahudi di luar Alkitab juga
memberikan nasihat untuk menghindari perzinahan dengan
cara menjaga mata dan hati (Yobel 20:3-4).

Matius 5:28 bermanfaat dalam menyikapi persoalan
penampilan. Tampil secara atraktif tidaklah keliru. Kecantikan
adalah ciptaan Tuhan yang perlu dipelihara. Kecantikan dan
pakaian tidak terpisahkan.

128

Namun, kita perlu benar-benar berhati-hati. Ada
perbedaan yang besar antara penampilan yang atraktif dan
yang seduktif (berpotensi memberi rangsangan seksual).
Segala sesuatu yang bisa membuat orang lain tersandung dan
terjatuh harus dihindari. Perzinahan memang masalah hati,
tetapi mata juga turut berperan. Dengan menjaga penampilan
kita, kita turut menjaga orang lain dari dosa perzinahan. Dalam
konteks masyarakat Indonesia yang didominasi oleh orang-
orang Muslim, kesopanan dalam berpakaian sangat dijunjung
tinggi. Jika kekristenan ingin mendapatkan respek dari
mereka, penampilan para wanita Kristen tampaknya perlu
dikaji ulang dan diubah. Hal yang sama berlaku untuk para
pria Kristen.

Aplikasi (ayat 29-30)

Jika perzinahan di dalam hati dimulai dari mata, kita
sebaiknya menjaga mata kita dengan serius. Jika mata dan
hati pada akhirnya menuntun pada tindakan (diwakili oleh
tangan), kita juga harus menjaga tangan kita dengan serius.
Keseriusan ini diungkapkan melalui majas hiperbola dalam
bentuk amputasi fisik.

Ungkapan hiperbolis tentang amputasi fisik ini juga
muncul lagi di 18:8-9. Konteks pemunculan di pasal 18 tidak
secara khusus berhubungan dengan dosa seksual. Dari sini
dapat ditarik kesimpulan bahwa aplikasi dari ungkapan
hiperbolis ini bersifat umum (dapat diterapkan pada kasus
apapun). Pesan yang mau disampaikan tetap sama, yaitu
kerelaan untuk kehilangan bagian fisik yang paling penting
asalkan keselamatan rohani tidak dalam bahaya.

129

Beberapa orang telah mencoba menafsirkan dan
mempraktikkan ayat 29-30 secara hurufiah. Mereka benar-
benar mencungkil mata mereka dan memotong tangan
mereka. Sebuah peninggalan kuno menunjukkan sebuah
gambar yang menarik. Seorang imam sedang membakar
tangannya di atas api sambil memalingkan muka dari seorang
perempuan. Catatan menarik lain adalah sejumlah orang
Kristen pada sekitar abad ke-4 sampai ke-7 yang mengebiri
diri mereka supaya tidak jatuh ke dalam perzinahan.

Semua upaya ini tidak akan berhasil. Mutilasi hanya
akan mencegah tindakan perzinahan, tetapi tidak pernah
mampu memadamkan hawa nafsu. Perzinahan terjadi dalam
hati. Pikiran cabul melampaui batasan indera. Mata hanyalah
salah satu jalan masuk pada perzinahan. Telinga, sentuhan,
dan berbagai tangkapan indera dapat menjerumuskan kita
pada perzinahan dalam hati.

Untuk menambah keseriusan dari nasihat ini, Tuhan
Yesus secara spesifik menyebutkan mata kanan. Dalam
tradisi kuno, mata kanan lebih penting dan dibutuhkan
daripada mata kiri, terutama dalam konteks peperangan.
Josephus, seorang sejarahwan Yahudi di abad ke-1 Masehi,
pernah mengisahkan tentang seorang raja yang mencungkil
mata kanan dari para prajurit musuh yang ia kalahkan. Karena
mata kiri prajurit selalu tertutup perisai wajah, pencungkilan
mata ini membuat para prajurit tersebut tidak lagi berguna
dalam peperangan (Ant. 6.69-70).

Hal yang sama berlaku pada tangan kanan. Dalam
budaya Timur tangan kiri hanya diperuntukkan bagi aktivitas-
aktivitas tertentu yang rendah atau kotor, misalnya mengutuk
atau membersihkan diri sesudah buang air besar. Aktivitas-
aktivitas lain yang lebih terhormat, misalnya berjabat tangan,

130

makan, dsb., sepatutnya dilakukan dengan tangan kanan.
Kehilangan tangan kanan berarti kehilangan kemampuan
untuk melakukan hal-hal penting dan mulia dalam kehidupan.

Pesan yang hendak diungkapkan melalui dua
gambaran hiperbolis ini cukup jelas. Keselamatan rohani lebih
penting daripada keselamatan fisik. Keutuhan hidup di
hadapan Allah lebih penting daripada keutuhan hidup di depan
manusia. Kehidupan dalam kekekalan lebih penting daripada
kehidupan yang sementara di dunia. Kita harus rela
kehilangan apapun dalam kehidupan kita, bahkan yang kita
anggap begitu penting, asalkan kita dapat menang melawan
godaan.

Berangkat dari pesan di atas, sudah sewajarnya
apabila orang-orang Kristen berjuang sedemikian rupa untuk
menolak sumber-sumber pencobaan. Apa saja yang dapat
menyebabkan kita berdosa harus dicegah dengan harga
apapun. Kemenangan melawan dosa tidak diraih dengan
bayaran yang murah maupun upaya yang asal-asalan. Kita
mungkin akan kehilangan sesuatu yang berharga supaya kita
mendapatkan yang lebih bernilai.

Bagi sebagian dari kita, ini mungkin berarti harus
kehilangan pergaulan lama yang buruk (komunitas yang
kompromi terhadap dosa). Bagi yang lain harga yang dibayar
adalah perubahan rutinitas hidup yang selama ini membuat
kita rentan terhadap dosa (misalnya penggunaan internet).
Bagi yang lain lagi ini mungkin berarti pembuangan benda-
benda atau hal-hal tertentu yang sering menjadi sumber
godaan (misalnya DVD porno, kebiasaan ke klub malam,
dsb.).

131

Ingatlah, lebih baik masuk ke dalam surga sambil
meraba-raba dalam kebutaan daripada berlari kencang
dengan mata terbuka menuju neraka. Lebih baik berjalan
sempoyongan tanpa lengan menuju ke surga daripada
berjalan tegap dengan penuh keseimbangan menuju neraka.
Lebih baik masuk ke dalam surga sambil tertatih-tatih karena
timpang daripada melompat tinggi dengan dua kaki menuju
neraka.

2. Jangan Bercerai13

Matius 5:31-32 dapat dikatakan sebagai versi ringkas
dari 19:1-12. Idealnya, dua teks ini seharusnya dikupas secara
bersamaan. Mengingat 19:1-12 sudah pernah diuraikan
secara detil dalam seminar (lihat saluran Grace Alone di
YouTube), khotbah hari ini hanya akan berfokus pada 5:31-32.

Banyak orang telah meletakkan sorotan yang salah
pada dua teks ini. Mereka cenderung mendiskusikan teks-teks
tersebut untuk mengetahui alasan-alasan apakah yang
diperbolehkan sebagai dasar perceraian. Secara khusus,
mereka berkutat pada frase “kecuali karena zinah”.
Kecenderungan ini justru bertentangan dengan maksud Tuhan
Yesus. Dua teks ini justru diberikan untuk menegaskan
kekuatan dari komitmen pernikahan. Sikap yang terlalu lunak
terhadap perceraian justru sedang dikritik melalui dua teks ini.

Isi perintah: menceraikan istri dan memberikan surat cerai
(ayat 31)


13 http://rec.or.id/article_667_Jangan-Bercerai-(Matius-5:31-32)

132

Semua pendengar Tuhan Yesus pasti mengerti bahwa
Dia sedang membicarakan Ulangan 24:1-4. Dalam teks ini
Musa memerintahkan laki-laki Israel untuk memberikan surat
cerai kepada isteri mereka apabila mereka memutuskan untuk
bercerai karena alasan tertentu. Para rabi Yahudi terus-
menerus memperdebatkan alasan apa saja yang boleh
dijadikan landasan bagi perceraian.

Inti persoalan terletak pada arti “yang tidak senonoh”
(ayat 1). Pada zaman Musa, “yang tidak senonoh” tidak
mungkin merujuk pada perzinahan, karena hukuman untuk
perzinahan adalah hukuman mati (Im 20:10), bukan
perceraian. Masalah ini menjadi lebih pelik karena ada alasan
lain lagi untuk perceraian, yaitu “tidak menyukai lagi” (Ul 24:1)
dan “tidak mencintai lagi” (Ul 24:3). Yang pertama memang
secara eksplisit dikaitkan dengan hal yang tidak senonoh,
tetapi yang kedua tidak ada penjelasan sama sekali. Suami
yang baru “tidak cinta lagi,” tanpa disebutkan alasan bagi
sikap tersebut. Seberapa jauh “hal yang tidak senonoh” dan
“tidak menyukai lagi” seharusnya ditafsirkan?

Kepada para suami Yahudi yang ingin menceraikan
isteri mereka, Musa memerintahkan mereka untuk
memberikan surat cerai. Alasan di balik aturan ini adalah
keadilan bagi perempuan yang diceraikan. Surat cerai akan
memperjelas status dari perempuan tersebut, sehingga ia bisa
diperistri oleh laki-laki lain tanpa laki-laki tersebut (suami yang
baru) melanggar hak atau milik laki-laki yang lain (mantan
suami).

Pernikahan ulang ini sendiri juga dimaksudkan untuk
kelangsungan hidup para perempuan yang diceraikan. Dalam
tradisi Yahudi yang patriakhal, sangat sukar bagi seorang
perempuan untuk memperoleh penghasilan dan perlindungan

133

yang layak tanpa kehadiran seorang suami. Tidak jarang para
janda muda memang akhirnya menikah kembali.

Perdebatan tentang alasan perceraian terus
berlangsung sampai pada zaman Tuhan Yesus. Secara umum
terdapat dua penafsiran utama tentang alasan yang sah bagi
perceraian. Rabi Shammai memegang tafsiran yang lebih
ketat. Ia menafsirkan “hal yang tidak senonoh” dalam konteks
perbuatan seksual yang tidak terpuji, misalnya perzinahan
maupun penampilan/perilaku yang tidak senonoh
(membiarkan rambut terurai di depan umum atau
memperlihatkan ketiak).

Rabi Hillel mengambil posisi yang lebih terbuka: apa
saja bisa dijadikan alasan perceraian (bdk. Mat 19:3b “Apakah
diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa
saja?”). Tidak harus berkaitan dengan hal-hal seksual. Bahkan
sekadar perasaan tidak suka lagi sudah cukup dijadikan dasar
bagi sebuah perceraian. Berbagai tulisan Yahudi kuno
menunjukkan bahwa pandangan Hillel merupakan pandangan
mayoritas.

Di tengah situasi yang sangat terbuka dan terbiasa
dengan perceraian seperti ini, bagaimana Tuhan Yesus
menyikapinya? Apakah pandangan-Nya lebih ke arah
Shammai atau Hillel?

Penafsiran ulang (ayat 32)

Apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus berbeda dengan
pandangan umum pada waktu itu, baik yang mengikuti aliran
Shammai maupun Hillel. Yang pertama, Tuhan Yesus lebih
menekankan permanensi pernikahan.

134

Berbeda dengan mayoritas orang Yahudi yang
menganggap ikatan pernikahan berakhir pada saat surat cerai
diberikan, Tuhan Yesus memandang perceraian yang tidak
sah tetap mengikat kedua belah pihak, tidak peduli apakah
surat cerai sudah diberikan atau tidak. Karena dianggap masih
mengikat, pernikahan ulang dipandang sebagai sebuah
perzinahan. Suami yang menceraikan istrinya sama saja
dengan mendorong istrinya maupun laki-laki lain yang
menikahi istri itu untuk melakukan perzinahan.

Penekanan pada permanensi pernikahan ini terlihat
lebih kentara pada saat Tuhan Yesus menjawab jebakan
orang-orang Farisi di 19:3-6. Permanensi tersebut didasarkan
pada konsep penciptaan. Sejak awal Allah hanya
mengesahkan pernikahan heteroseksual monogamis. Ikatan
pernikahan berasal dari Allah sendiri (“apa yang sudah
dipersatukan Allah”).

Kedua, Tuhan Yesus menekankan akibat buruk dari
perceraian. Masih berkenaan dengan poin sebelumnya, 5:31-
32 lebih menyoroti konsekuensi dari sebuah perceraian.
Orang yang menceraikan istrinya secara tidak sah berarti telah
membawa dampak buruk bagi istrinya maupun laki-laki yang
menikahi mantan istri tersebut. Keduanya dianggap
melakukan perzinahan.

Sikap ini sangat kontras dengan mayoritas orang
Yahudi. Mereka memandang pemberian surat cerai bukan
sebagai strategi perizinan untuk menghindari hal yang lebih
buruk, melainkan sebagai sebuah perintah. Perzinahan tidak
hanya dinilai sebagai sebuah alternatif alasan untuk
perceraian tetapi sebagai keharusan. Siapa saja yang
dipandang melakukan tindakan tidak senonoh harus

135

diceraikan. Apa yang terjadi sesudah perceraian itu tidaklah
penting, sehingga perlu dipikirkan.

Tuhan Yesus tidak mau berkutat pada poin ini. Ia lebih
memilih untuk melihat konsekuensi buruk di balik tindakan itu.
Pemberian surat cerai bukan berarti penyelesaian masalah.
Ada dampak buruk yang perlu dipertimbangkan pasca
perceraian itu. Perceraian hanyalah pelarian dari sebuah
masalah, bukan penyelesaian tuntas.

Ketiga, Tuhan Yesus meminimalisasi perceraian.
Banyak orang Kristen menafsirkan frase “kecuali karena
zinah” di 5:32 maupun 19:9 sebagai sebuah kelonggaran
terhadap perceraian. Ini jelas keliru. Dalam konteks budaya
Yahudi yang sangat terbuka terhadap perceraian, frase ini
justru berfungsi sebaliknya. Pandangan Tuhan Yesus
terhadap perceraian lebih ketat daripada Shammai dan Hillel.

Bagaimana kita sebaiknya menafsirkan “zinah” di ayat
ini? Kata Yunani porneia memiliki jangkauan arti yang sangat
luas. Dari persetubuhan dengan pelacuran, perselingkuhan,
sampai pelanggaran seksual lain dapat dikategorikan
sebagai porneia.

Secara tradisional gereja-gereja Reformed
memahami porneia sebagai perzinahan dalam konteks
perkawinan dan dalam bentuk persetubuhan tubuh. Sikap ini
tercermin dalam Pengakuan Iman Westminster XXIV.5 “Dalam
kasus perzinahan sesudah pernikahan, adalah sah bagi pihak
yang tidak bersalah untuk menuntut sebuah perceraian, dan,
sesudah perceraian itu, untuk menikahi yang lainnya, seolah-
olah pihak yang melakukan perzinahan itu sudah meninggal
dunia”.

136

Pemikiran di balik rumusan ini cukup jelas: hukuman
bagi pezinah adalah kematian. Karena pada zaman Tuhan
Yesus hukuman ini tidak boleh dilaksanakan oleh orang-orang
Yahudi, maka secara esensial orang yang berbuat
zinah dianggap sudah mati.

Penafsiran ini masih menyisakan sebuah kesulitan.
Jika itu yang dipikirkan oleh Tuhan Yesus, maka
pandangannya terhadap perceraian hanya sedikit lebih ketat
daripada Shammai. Hal itu juga tampaknya tidak akan
menimbulkan reaksi berlebihan dari murid-murid-Nya yang
berkata: “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan
isteri, lebih baik jangan kawin” (19:10).

Lagipula untuk memahami hal itu tidak diperlukan
kasih karunia Allah (19:11). Di bagian lain Alkitab perceraian
dilarang tanpa tambahan frase “kecuali karena zinah” (Mrk
10:11-12; Luk 16:18). Paulus juga mengajarkan bahwa
perceraian berakhir dengan kematian (1 Kor 7:39; Rm 7:1-3).
Jika perzinahan turut menjadi akhir bagi pernikahan, mengapa
Paulus tidak menyinggung tentang hal itu sama sekali?
Walaupun kita tidak boleh berspekulasi berdasarkan
ketidakadaan data semacam ini, tetapi hal itu bisa saja
menyiratkan pandangan Paulus bahwa hanya kematian yang
bisa menyudahi sebuah pernikahan.

Mengingat frase “kecuali karena zinah” hanya muncul
dalam tulisan Matius, kita sebaiknya lebih memperhatikan
pemunculan kata porneia dalam kitab injil ini. Berdasarkan
penggunaannya dalam Injil Matius, kata ini tampaknya
dibedakan dari moicheia. Keduanya muncul terpisah tetapi
berdekatan dalam daftar dosa di 15:19 (LAI:TB “percabulan”
= moicheia; “perzinahan” = porneia). Di 5:32 maupun 19:9

137

kata benda porneia (sebagai alasan perceraian) juga
dibedakan dari kata kerja “berzinah” (moicheuō).

Bagaimana dua kata tersebut – porneia dan moicheia
– sebaiknya dibedakan? Di antara beragam alternatif yang
ada, saya sepakat dengan beberapa penafsir yang
membatasi porneia pada pelanggaran seksual sebelum ikatan
pernikahan yang resmi, sedangkan moicheia terjadi di
dalam pernikahan. Hal ini didukung oleh pemunculan dua kata
itu di 5:32 dan 19:9. Alasan perceraian memakai porneia,
sedangkan perzinahan sebagai akibat dari perceraian itu
menggunakan moicheia atau moicheuō.

Dukungan lain juga didapat dari kasus Yusuf di 1:18-
19. Tatkala ia mengetahui bahwa Maria sudah hamil sebelum
mereka melakukan persetubuhan, Yusuf bermaksud untuk
menceraikan Maria secara diam-diam. Ia berpikir bahwa Maria
telah melakukan porneia (bandingkan sindiran orang-orang
Yahudi kepada Yesus sebagai anak hasil porneia di Yoh
8:41). Rencana Yusuf untuk bercerai ini ternyata tidak
mendapat celaan sama sekali di dalam teks. Sebaliknya,
tindakan ini bahkan dikaitkan dengan karakternya yang tulus
hati. Dari sini terlihat bahwa porneia merupakan alasan yang
sah bagi perceraian dalam konteks pertunangan. Sesudah
memasuki ikatan pernikahan, tidak ada alasan apapun yang
pantas untuk dijadikan dasar perceraian. Komitmen terhadap
pernikahan merupakan harga mati yang tidak boleh ditawar
(19:6 “Apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh
manusia”).

Bagi kita yang belum menikah, marilah kita secara
serius menggumulkan pasangan kita karena pernikahan
merupakan keputusan terbesar kedua sesudah memilih Yesus
Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

138

Bagi kita yang terikat dengan pernikahan, marilah kita
melakukan apapun yang kita bisa untuk mempertahankan
pernikahan kita. Bagi kita yang sudah terlanjur bercerai,
marilah kita datang kepada Tuhan Yesus untuk memohon
pengampunan dan tuntunan untuk fase kehidupan
selanjutnya. Soli Deo Gloria.

Catatan: Saya membaca tulisan ataupun mendengar
youtube Pdt Gilbert Lumoindong, dr Andik Wijaya dan Pdt Edy
Leo, mereka satu pendapat dengan Pdt Yakub Trihandoko
Th.M, namun hanya tulisan Pdt Yakub yang saya muat,
karena yang paling rinci tulisannya.

D. Pdt. Budi Asali M.Div

Bab ini sebenarnya pendapat Pdt Budi Asali M.Div14
sebagai tanggapan/ sanggahan terhadap kotbah (tulisan) Pdt.
Yakub Tri Handoko Th.M diatas, yang saya sajikan ulang,
bukan dalam format sanggahan atau perdebatan, tetapi
menyajikan dalam format pandangannya. Saya hanya
mengutip hal-hal yang penting dan berhubungan dengan
materi buku ini, sedangkan artikel lengkapnya bisa dibuka
dalam link yang saya sertakan.



14 https://teologiareformed.blogspot.com/2018/04/wawancara-topik-cerai-karena-zinah.html

139

1. John Piper

“Divorce may be permited when a spouse deserts the
relationship, commits adultery, or is dangerously abusive (1
Korintus 7:15, Matius 19:9, 1 Korintus 7:11) We are not
dealing with remarriage. We simply acknowledge that there
are times when the Bible permits separation”.

Perceraian bisa diijinkan pada waktu seorang
pasangan meninggalkan hubungan, melakukan perzinahan,
atau melakukan kekerasan yang membahayakan. Kami tidak
sedang menangani pernikahan lagi, kami hanya mengakui
bawa disana ada saat-saat pada waktu Alkitab mengijinkan
perpisahan.15

2. Gordon Wenham16

Matius menulis satu-satunya injil yang menyebutkan
suatu perkecualian pada pengecaman universal dari Yesus
tentang perceraian dan pernilahan lagi/ kembali/ ulang. Di
dalam Matius 5:32, perceraiantidak dikecam/ disalahkan
sebagai perzinahan dalam kasus-kasus dimana perceraian itu
disebabkan oleh ketidak bermoralan sexual, tetapi alasan-
alasan lain untuk perceraian dan pernikahan ulang/ lagi
ataupun setelah perceraian dikecam/ disalahkan seperti itu;
Gagasan yang sama dikatakan lagi dalam Matius 19.



15https://www.desiringgod.org/articles/a-statement-on-divorce-remarriage-in-the-life-of-
bethlehem-babtist-church
16 https://www.thetimes.co.uk/article/liberal-tolerance-of-gays-in-church-ic-just-paganism-
5lwxdwf5k75

140

Sebagian penafsir menafsirkan Matius 19 mengijinkan
pernikahan lagi setelah perceraian. Saya berargumentasi
bahwa ini membuat Yesus menentang diri-Nya sendiri. Text itu
memberi arti yang lebih baik jika Yesus dimengerti sebagai
melarang pernikahan lagi setelah perceraian dalam setiap
kasus. (Dengan kata lain boleh bercerai asal selibat)
(Remarriage After Divorce in Today’s Church hal 22 –
Libronix.

Sejauh ini apa yang telah saya katakan kebanyakan
diterima. Alhi-ahli sejarah setuju bahwa gereja mula-mula tidak
menyetujui pernikahan lagi setelah perceraian. Kebanyakan
sarjana Alkitab menerima bahwa Perjanjian Baru, terpisah dari
Matius, juga mengecam pernikahan lagi setelah perceraian.

Gagasan bahwa Matius mengijinkan pernikahan lagi
setelah perceraian dalam beberapa kasus didasarkan pada
penafsiran dari dua ucapan kata-kata pendek. Dalam Matius
5:32 Yesus mengatakan bahwa setiap orang yang
menceraikan istrinya, KECUALI berdasarkan ketidak-
bermoralan seks (porneia), membuat ia melakukan
perzinahan. Dalam Matius 19:9 Yesus menunjukkan/
menyebutkan bahwa ‘siapapun menceraikan istrinya,
KECUALI karena ketidak-bermoralan seks (porneia) dan
menikahi orang lain, melakukan perzinahan.

Gereja mula-mula mengerti ucapan/ kata-kata yang
dicetak miring untuk mengijinkan perceraian penuh dengan
hak untuk menikah lagi dalam kasus kasus dimana seorang
pasangan bersalah tentang ketidak-bermoralan seks,
biasanya perzinahan.

141

Saya ingin memeriksa penafsiran mana - pandangan
Erasmus yang bersifat mengijinkan atau pandangan yang
ketat dari gereja mula-mula, yang membuat arti terbaik di
dalam konteks Injil Matius dan aliran pemikirannya.

Dalam konteks ini, anak kalimat perkecualian hanya
menunjukkan bahwa kalau seorang istri telah melakukan
perzinahaan- satu type ketidak-bermoralan seks, suaminya
tidak bisa dikatakan telah membuatnya melakukan
perzinahan. Tidak ada petunjuk di sini bahwa seorang suami
mendapatkan hak untuk menikah lagi. Yang paling banyak
bisa di klaim oleh penafsir-penafsir yang bersifat mengijinkan
itu adalah bahwa text ini membuka kemungkinan bahwa
seorang suami yang tak bersalah boleh menikah lagi. Text ini
pasti tidak memberi otoritas pernikahan lagi dalam keadaan-
keadaan seperti itu.

Jelas bahwa Wenham menyetujui perceraian karena
zinah (sebagai perkecualian aturan dilarang bercerai), yang
tidak ia setujui adalah pernikahan lagi setelah perceraian itu.17

3. Pdt. Budi Asali, M.Div18

Sentral perbedaan berbagai pengajar soal
“perkecualian” terutama pada pengertian Matius 5:32, karena
itu kembali saya angkat ayat ini, dengan memberikan
pendalaman arti dengan mengutip tulisan Pdt Budi Asali.



17https://teologiareformed.blogspot.com/2018/04/wawancara-topik-cerai-karena-zinah.html
18 https://teologiareformed.blogspot.com/2018/04/wawancara-topik-cerai-karena-zinah.html

142

Sub bab ini saya (Jarot) yang menulis, mengambil
cuplikan-cuplikan yang ada dari transkrip beliau yang ada di:
https://teologiareformed.blogspot.com/2018/04/wawancara-
topik-cerai-karena-zinah.html

Saya juga membaca tulisan-tulisan Pdt Dr Ezra Soru,
(pernah mewancarainya) dan saya menilai, bahwa Pdt Dr Ezra
Soru satu pendapat dengan Pdt Budi Asali M.Div berikut ini:

Ada yang bertanya atau memberikan pernyataan, jika
perceraian diijinkan “kecuali karena zinah”, maka akan banyak
orang bercerai karena menurut Matius 5:28 orang yang
memandang perempuan dan menginginkannya disebut
berzinah.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang
memandang perempuan serta menginginkannya, sudah
berzinah dengan dia di dalam hatinya. Matius 5:28 - TB

Tetapi Aku ini berkata kepadamu, bahwa tiap-tiap orang
yang memandang seorang perempuan serta bergerak
syahwatnya, sudahlah ia berzinah dengan dia di dalam
hatinya. – TL

Namun Aku berkata kepadamu, bahwa setiap orang yang
memandangi seorang perempuan dengan bernafsu
terhadapnya, dalam hatinya dia telah menzinainya. – MILT

"But I say to you that whoever looks at a woman to lust
for her has already committed adultery with her in his
heart - NKJV




143

Jawabannya untuk kasus zinah kategori Matius 5:28
tetap tidak boleh bercerai, karena dalam bahasa asilnya tidak
digunakan kata PORNEIA tetapi MOIKHEIA. Sedangkan
PERKECUALIAN untuk bercerai bukan karena moikheia tetapi
jika porneia (Kebejatan seksual).

Kami sampaikan cuplikan pemahaman bedanya
PORNEIA dan MOIKHEIA sehingga Matius 5:32, di dalam
satu ayatpun digunakan dua kata yang berbeda, yang di
dalam bahasa Indonesia, keduanya diterjemahkan zama,
berzinah.

Matius 5:32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang
yang menceraikan istrinya kecuali karena zinah (porneiav),
ia menjadikan istrinya berzinah (moiceuyhnai); dan siapa
yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia
berbuat zinah (moicatai).

Pulpit Commentary (tentang Matius 5:32):
“’Fornication’. … The more general ward (PORNEIA) is used,
because it lays more stress on the physical character of the
sin than MOICHEIA would laid” = Kata yang lebih umum
(PORNEIA) digunakan, karena kata itu lebih menekankan sifat
fisik dari dosa tersebut dari pada kata MOICHEIA) – hal 164.

John Stott: “PORNEIA means physical sexual
immorality; the reason why Jesus made it the sole permissible
ground for divorce must be that it violates the one flesh
principle which is foundational to marriage as divinely ordained
and biblically difined” (PORNEIA berarti ketidak-bermoralan
seksual secara fisik, alasan mengapa Yesus membuatnya
sebagai satu-satunya dasar yang mengijinkan perceraian

144

haruslah karena hal itu melanggar prinsip “satu daging” yang
merupakan dasar dari pernikahan sebagai sesuatu yang
ditetapkan Allah dan didefinisikan oleh Alkitab) – Involvement,
vol II, hal 170.

Selain dua pandangan dari Pulpit Commentary dan
John Stott, terjemahan beberapa versi Matius 5:32 dibawah
ini, saya yakin akan menambah pemahaman Anda, bahwa
mereka juga menggunakan kata yang berbeda, bukan hanya
zinah seperti bahasa Indonesia.

Matius 5:32 Namun Aku berkata kepadamu, bahwa siapa yang
telah menceraikan istrinya kecuali karena masalah percabulan,
dia menjadikan wanita itu berzina; dan siapa yang sekiranya
menikahi wanita yang diceraikan, dia pun berzina. (MILT -2008
dan Shellabear 2000)

Matthew 5:32; "But I say to you that whoever divorces his
wife for any reason except sexual immorality causes her to
commit adultery; and whoever marries a woman who is
divorced commits adultery. (NKJV)

Mattew 5:32; But I say unto you, That whosoever shall put
away his wife, saving for the cause of fornication, causeth her
to commit adultery: and whosoever shall marry her that is
divorced committeth adultery. (KJV)

Nah selanjutnya, kita akan perdalam mengenai arti
kata PORNEIA dan MOIKHEIA, dari berbagai literatur,
sehingga nantinya ada dasar yang kuat untuk menarik sebuah
pengertian dari ayat ini.

145

a. PORNEIA dalam pertunangan, MOIKHEIA pernikahan?

Terhadap pandangan dalam tulisan sebelumnya
(diatas) bawa PORNEIA adalah dalam pertunangan dan
MOIKHEIA dalam pernikahan, Pdt Budi Asali TIDAK setuju
dengan pandangan ini dengan alasan, mengatakan bahwa
Matius 19:9 berarti cerai hanya boleh kalau ada zinah pada
masa pertunangan, merupakan penafsiran yang jelas-jelas
menabrak seluruh konteks Matius 19. Kenapa?

Mari kita simak baik-baik selulurh Matius 19, dan
dibaca dari awal sampai akhir, maka dalam Matius 19, ayat
3,5,6,7,8 lalu ayat 10,11,12, semuanya membicarakan
PERNIKAHAN dan BUKAN pertunangan. Dan dalam Matius
19, text-text Kitab Suci yang dipersoalkan, yaitu Ulangan 24:1-
4 dan Kejadian 2:24, semua berbicara tentang PERNIKAHAN
dan bukan pertunangan.

Jadi bagaimana mungkin ayat 9 berbicara zinah pada
masa pertunangan? Orang-orang Farisi bertanya tentang cerai
pada masa pernikahan (ayat 3) dan Yesus menjawab tentang
cerai karena zinah pada masa pertungangan?? TIDAK
MUNGKIN!

PORNEIA (kebejatan seksual – percabulan – sex
immorallty) digunakan lebih luas mencakup:

i. Incest: 1 Korintus 5:1
ii. Homoseks: Yudas 7
iii. Perzinahan: Yeremia 3:2,6 – versi LXX

146

PORNEIA dan MOIKHEIA memang berbeda arti,
namun bukan yang satu pertunangan dan yang satu di dalam
pernikahan, PORNEIA adalah KEBEJATAN SEKSUAL,
PERCABULAN atau SEX IMMORALITY sedangkan
MOIKHEIA adalah PERZINAHAN, keduanya bisa terjadi di
dalam pernikahan, masa lajang ataupun pertunangan.

Jadi seorang pemuda yang belum menikah, bahkan
belum bertunangan, dia bisa TIDAK TAHIR misalnya dengan
ONANI, atau BERZINAH (MOIKHEIA) dengan pelacur lalu
merasa berdoa dan bertobat, atau dia BEJAT SEKSUAL
(PORNEIA) dengan menjadi HOMO dan tidak merasa
berdosa, dan berpikir tidak perlu bertobat.

Saya berharap melalui tulisan ini Anda mengerti lebih
lengkap dan tidak binggung dengan segala pandangan yang
ada. Saya masih akan menambahkan lagi pengertian
PORNEIA dan MOIKHEIA dan kenapa bisa timbul beberapa
kerancuan.

Jay E. Adams, dalam bukunya “Marriage, Divorce, and
Remarriage in the Bible”, hal 53-54 mengatakan: Bahwa ada
kebingungan tentang kata ‘percabulan’ merupakan sesuatu
yang bisa dimengerti. Dalam hukum Amerika, kata percabulan
berarti dosa seksual yang menyangkut orang-orang yang
sudah menikah. Tetapi pembedaan itu tidak boleh dimasukkan
ke dalam Alkitab seperti yang dilakukan oleh banyak orang
tanpa disadari. Itu bukan merupakan pembedaan yang
Alkitabiah.

147

Bahkan penulis-penulis Kitab Suci menggunakan kata
percabulan (PORNEIA) untuk menggambarkan dosa seksual
secara umum, dan dalam ALkitab kata itu menunjuk pada
kasus-kasus incest (1 Korintus 5:1), homoseks (Yudas 7) dan
perzinahan (Yeremia 3:1,2,6,8) Disini seseorang pezinah yang
telah menikah diceraikan karena percabulannya. (Bandingkan
ayat 2,6 dalam LXX/ Septuaginta)

PORNEIA, percabulan, mencakup incest (perzinahan
dalam keluarga inti) bestiality (seks dengan binatang),
homoseks dan lesbian, kesemuanya bisa disebut
KEBEJATAN SEKSUAL (PORNEIA)19

Ada penafsir mengatakan bahwa kata PORNEIA
digunakan dalam Sirakh 23:23 (salah satu dari Kitab-kitab
Apocrypha/ Deuterokanonika) dan menunjuk pada dosa dari
seorang pezinah perempuan, yang jelas-jelas sudah menikah.
Karena itu tidak benar untuk mengatakan bahwa PORNEIA
hanya menunjuk pada dosa dari orang yang belum menikah
(masa pertunangan). Semua hubungan gelap/haram
digambarkan oleh istilah ini, dan itu tidak bisa dibatasi pada
jenis pelanggaran tertentu. Dalam Sirakh 23:23 kata itu
digunakan secara jelas/ explicit tentang dosa dari pezinah
perempuan.20

John Stott: PORNEIA merupakan kata umum untuk
ketidak-setiaan seksual atau ketidak-setiaan pernikahan (NIV)
dan mencakup setiap jenis hubungan seks yang tidak sah
(Arndt-Gingrich) – Involvement, vol II, halaman 170.



19 Jay E. Adams, “Marriage, Divorce, and Remarriage in the Bible”, hal 53-54
20 Pulpit Commentary, halaman 244-245

148

W. E. Vine: PORNEIA digunakan tentang hubungan
seksual yang tidak sah, … dalam Matius 5:32 dan Matius 19:9
kata itu berarti atau mencakup; perzinahan. Kata itu dibedakan
dari penggunakan kata perzinahan di dalam Matius 15:19 dan
Markus 7:21.21

Knox Chamblin: Arti kata PORNEIA, arti dasar dari
istilah ini adalah ‘pelacuran’, sesuai dengan kata benda
pasangannya yaitu PORNE, pelacur. Tetapi kata itu juga
menunjuk pada percabulan dan bisa digunakan untuk
mencakup “setiap jenis hubungan seks yang tidak sah” Jadi
istilah ini mempunyai arti yang lebih luas dari pada MOICHEIA

John Stott: PORNEIA diturunkan dari PORNE,
“seorang pelacur”, tanpa menyatakan apakah ia (atau
langgannya) menikah atau tidak. Selanjutnya, kata itu
digunakan dalam Septuaginta untuk ketidak-setiaan dari
Israel, mempelai perempuan Yahweh, seperti ditunjukkan dari
R.V.G Tasker bahwa PORNEIA merupakan ‘suatu kata yang
luas/ meliputi banyak hal, termasuk perzinahan, percabulan
dan kejahatan seksual yang tidak alamiah.22

Jadi semakin jelas, bahwa mereka-mereka yang
mengatakan bahwa PORNEIA untuk pertunangan dan
MOICHEIA untuk perkawinan, adalah pengertian yang tidak
sejalan dengan pengertian-pengertian pengajar terdahulu
maupun makna kata tersebut dalam ALkitab pada zaman
dimana Kitab tersebut di tulis.



21 W.E.VINE, An Expository Dictionary of New Testament Words, 455
22 John Stott, The Message of the Sermon on the Mount, hal 97

149

Sekali lagi, pengajaran yang mengatakan PORNEIA
adalah dosa seksual untuk mereka sebelum menikah, adalah
salah, karena ayat-ayat dibawah ini, menggunakan kata
PORNEIA dan jelas-jelas SEMUA ditujukan bukan hanya
kepada bereka yang belum menikah. Bukankah terlalu
tergesa-gesa atau gegagah jika ‘menafsirkan’ atau “menduga”
lalu mengajarkan bahwa PORNEIA adalah dosa seks sebelum
menikah?

Kisah Rasul 15:20, 29, Kisah Rasul 15:29, Kisah Rasul
21:25, Roma 13:13, 1 Korintus 6:13, 15, 18, 1 Korintus 10:8, 2
Korintus 12:21, Galatia 5:19, Efesus 5:3, Kolose 3:5, 1
Tesalonika 4:3, Yudas 1:7 dan Wahyu 9:21.

Silahkan dibaca ayat-ayat tersebut, dan simpulkan
sendiri, apakah PORNEIA adalah untuk dosa perzinahan
sebelum menikah?

b. Kenapa Murid Yesus Heboh?

Pdt Budi menjawab pertanyaan, jika orang boleh
bercerai karena PORNEIA, kenapa murid-murid Yesus
heboh? Murid Yesus meresponi Jawaban Yesus di dalam
Matius 19:10

Tentu saja heboh, karena yang popular pada saat itu
pandangan Hiler. Ini tidak usah mengherankan. Dunia saat itu
dikuasai laki-laki, sudah pasti mayoritas lebih senang
pandangan yang boleh bercerai untuk alasan apa saja (Matius
19:3) Shammai sudah dianggap terlalu keras dan tidak

150


Click to View FlipBook Version