Yesaya 56: 3 ... janganlah orang kebiri berkata:
“Sesungguhnya, aku ini pohon yang kering.”
4 Sebab beginilah firman Tuhan: “Kepada orang-orang
kebiri yang memelihara hari-hari Sabat-Ku dan yang
memilih apa yang Kukehendaki dan yang berpegang
kepada perjanjian-Ku,
5 kepada mereka akan Kuberikan dalam rumah-Ku dan di
lingkungan tembok-tembok kediaman-Ku suatu tanda
peringatan dan nama--itu lebih baik dari pada anak-anak
lelaki dan perempuan--, suatu nama abadi yang tidak akan
lenyap akan Kuberikan kepada mereka.
Mandul itu hampir sama dengan orang yang dikebiri,
sama-sama tidak bisa punya anak. Disebut juga ‘orang asing’
atau ‘orang cacat’, namun Tuhan menjanjikan, jika sungguh-
sungguh ‘memilih apa yang KU kehendaki’, hidup mencari
‘kehendak Tuhan’ dan bukan ‘kehendak sendiri’, menegakkan
‘Kerajaan Sorga’ di bumi dan bukan ‘kerajaan pribadi’ seperti
nama besar, kecongkakan, dinasti keluarga, maka Tuhan
akan memberi ‘sesuatu’ yang lebih berharga dari anak-anak.
i. Pertama: Membangun ‘Kerajaan Sorga’
Tuhan berjanji akan memberikan ‘tanda’ dan ‘nama’
yang abadi, yang lebih berharga daripada anak-anak lelaki
dan perempuan. Apa itu ‘tanda’ dan ‘nama’ yang abadi?
Kerajaan Sorga! Bukan organisasi, bukan perusahaan, bukan
sinode, bukan ‘kerajaan keluarga’ / nepotisme di dalam gereja
dan gereja yang diwariskan turun-temurun walaupun
keturunan tidak dipanggil dan diurapi, seperti Raja Saul yang
memaksakan tahta ke Yonatan, walaupun Tuhan memilih
Daud.
51
Masalah gereja-gereja pantekosta adalah, soal siapa
pewaris tahta gereja? Banyak pendeta membangun ‘imperium’
keluarga. Tidak salah kalau memang diurapi Tuhan. Tidak
salah kalau memang ‘sekeluarga melayani Tuhan’ karena
memang urapan dari ayah turun ke anak. Tetapi masalah, jika
istri, anak atau mantu tidak diurapi, dipaksakan, atau diurapi
tetapi tidak ditempatkan pada tahbisan yang tepat. Tidak
tepat posisinya dan tidak tepat waktunya.
Urapannya guru dipaksa jadi gembala dan gereja
pecah. Urapannya memang gembala, tetapi sesuai umur,
pengalaman dan tahbisannya, seharusnya jadi gembala
cabang dulu, tetapi langsung menjadi gembala rayon bahkan
gembala senior, maka perpecahan terjadi. Saya prihatin
dengan kasus-kasus seperti ini terjadi dimana-mana.
Saya bersyukur, saya tidak punya anak dan saya bisa
melayani dengan amat sangat tulus dalam membangun
‘Kerajaan Sorga’ dan tidak ada masalah soal-soal seperti itu.
Juga semua asset, tanah dan gedung gereja dalam ‘Rock
Ministries’ yang saat ini ada 250an cabang gereja dengan
1000-an pejabat pdp, pdm dan pdt, mewarisi apa yang saya
lakukan di Lembah Pujian, semua asset atas nama gereja,
tidak ada atas nama pribadi atau keluarga, supaya tidak
membangun dinasti keluarga di dalam gereja, tetapi
membangun ‘Kerajaan Sorga’.
ii. Kedua: Mobilitas dalam gerakan kerasulan/ apostolik
Yesaya 56:7 mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang
kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. ...
sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala
bangsa.
52
Saya menjumpai banyak sekali hamba-hamba Tuhan
yang tidak memiliki anak dan mereka sangat efektif dalam
melakukan ‘panggilannya’ sebagai rasul atau penginjil, tanpa
terikat dengan urusan anak-anak. Mereka memiliki ‘mobilitas’
yang tinggi untuk melakukan ‘church planting’. Mereka bisa
tinggal di satu kota 1 atau 3 minggu bahkan 1 tahun,
menanam prinsip-prinsip ‘Kerajaan Sorga’ dan pindah ke kota
lainnya untuk kembali melakukan tugas rasuli ‘menanam
gereja’ baru. Bagi yang memiliki anak, tentu hal ini akan
repot, bagaimana dengan kepindahan sekolah mereka dll.
Itulah yang saya lakukan, juga dengan Frangky Utana,
wakil saya di ‘Rock Ministries’, sampai nubuatan dan
panggilan kami seperti Yesaya 56:7 segala suku bangsa di
Indonesia, bahkan di luar negri, bangsa-bangsa berdiri
‘Kerajaan Sorga’ digenapi.
iii. Ketiga: Multiplikasi ‘Pem-bapa-an’
Kejadian 1:27 Maka Elohim menciptakan manusia itu
menurut gambar-Nya, menurut gambar Elohim diciptakan-
Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
28 Elohim memberkati mereka, lalu Elohim berfirman
kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak;
penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas
ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas
segala binatang yang merayap di bumi.”
Saya menangkap ayat ini, bukan hanya sebagai
‘beranak cucu’ dalam ‘keluarga harafiah’ tetapi dalam hal
‘bertambah banyak’ atau ‘multiplikasi’ yang juga berlaku dalam
53
‘Kerajaan Sorga’, yaitu melahirkan ‘anak-anak rohani’ dalam
rangka ‘berkuasa atas dan memenuhi bumi’.
Kami melakukan pelayanan dengan penekanan pada
‘hubungan’, bapak rohani-anak rohani, pelayanan pem-bapa-
an, bukan penekanan struktural, atasan dan bawahan seperti
pemerintahan negara atau bahkan seperti model raja-raja,
pemimpin yang jauh di atas dan ditakuti. Anak buah saya
dalam pelayanan, saya perlakukan seperti anak-anak saya,
dan mereka melakukan hal yang sama dengan team mereka,
maka terjadilah ‘multiplikasi’ pem-bapa-an.
iv. Keempat: Menjadi Alat Penghibur
2 Korintus 1:3 Terpujilah Elohim, Bapa Tuhan kita Yesus
Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Bapa sumber
segala penghiburan,
4 yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami,
sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada
dalam bermacam-macam penderitaan dengan
penghiburan yang kami terima sendiri dari Elohim.
5 Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-
limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh
Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah.
6 Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan
keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah
untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh
kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan
yang sama seperti yang kami derita juga.
7 Dan pengharapan kami akan kamu adalah teguh,
karena kami tahu, bahwa sama seperti kamu turut
mengambil bagian dalam kesengsaraan kami, kamu juga
turut mengambil bagian dalam penghiburan kami
54
Saya sangat ingat ketika ada seorang cacat kaki, dan
konseling, dengan hati yang hancur dan tanpa pengharapan.
Saya minta dia memandang saya dengan teliti lalu saya tanya,
apa komentar Anda tentang aku? Dia berkata:
“Pak Arifin sempurna, ganteng, melayani, baik,
diberkati, punya rumah, punya istri, dipakai Tuhan dan
bahagia” “Tidak, ... saya juga cacat... saya mandul tidak bisa
punya anak... kamu cacat kaki, tetapi kamu bisa punya anak
dan mengendong anak kandung”
Orang itu terpana dan nasehat saya selanjutnya
menjadi ‘lebih efektif’ karena kesan pertamanya, bahwa saya
juga punya ‘cacat’ dan ‘berhak’ memberi nasehat kepadanya.
Tidak punya anak, hanya kehilangan satu potensi hidup, dan
tidak kehilangan segala-galanya. Masih banyak potensi lain
yang bisa dikembangkan dan digali dan menikmati
kebahagiaan dengan melakukan peran, sesuai panggilan-Nya.
Intinya, menemukan kebahagiaan dengan menjadi
berarti bagi orang lain dan menjadikan orang-orang lain yang
tidak berarti menemukan hidupnya, dan menjadi contoh dan
alat yang lebih efektif, justru karena kita tidak sempurna. Di
dalam kelemahan kita, kuasa Tuhan justru semakin sempurna.
Tuhan memakai ‘kelemahan’ kita justru sebagai ‘kekuatan’
dan ‘modal’ pelayanan yang special. Dia punya rencana untuk
orang-orang mandul, rencana-rencana yang sangat besar !
2 Korintus 12: 9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah
kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam
kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu
terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya
kuasa Kristus turun menaungi aku.
55
10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di
dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam
penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab
jika aku lemah, maka aku kuat.
v. Kelima: Bulan Madu Terus Menerus
Keuntungan orang mandul, jika bisa menemukan
tujuan hidup dan tujuan pernikahan dengan benar, maka akan
menikmati bulan madu terus-menerus. Mandul, tidak punya
anak, bukan berarti impotent dan tidak bisa ereksi dan
ejakulasi (laki-laki) atau tidak bisa orgasme (perempuan).
Tidak punya anak membuat pernikahan dengan bobot
‘rekreasi’ lebih tinggi dari bobot ‘produksi’.
Namun jika orang mandul tidak mengenal Tuhan
dengan sungguh-sungguh, ada juga yang menjadi bejat,
dengan berselingkuh tanpa takut-takut, sebab dia tahu, bahwa
yang diajak selingkuh tidak akan hamil, jadi selingkuh dengan
aman. Saya bersyukur, saya tahu mandul setelah saya
bertobat sungguh-sungguh dan menjadi hamba Tuhan dan
takut akan Tuhan, sehingga saya mengisi hidup saya dengan
NILAI-NILAI KERAJAAN SORGA!
Karena itu, walaupun tidak punya anak, pernikahan
kami adalah pernikahan yang luar biasa, kami bukan
‘bertahan’ tetapi kami bahagia, ‘i am happy men’ juga ‘happy
couples’, kami tertawa, kami pergi bersama-sama dan
melayani bersama-sama, kami saling memuji dan saling
merindukan.
56
f. Pdt Franky Utana
Pdt Franky Utana, tidak memiliki anak. Di rumahnya di
Denpasar, Bali, ada belasan anak-anak mantan narkoba,
mantan napi, anak yatim yang dianggap seperti anak sendiri.
“Kalau Tuhan ‘tega’ tidak memberikan anak, itu pasti
karena Tuhan punya rencana dan pekerjaan besar, yang
harus dilakukan oleh orang itu, sehingga Tuhan tidak
memberinya anak” “Temukan rencana Tuhan, temukan
panggilan Anda”
“Tuhan banyak memakai orang mandul di Alkitab,
untuk menyatakan kalau DIA bisa membuat mujizat sehingga
punya anak, atau untuk melakukan PEKERJAAN SANGAT
BESAR dari Dia, dan jangan terganggu karena ada anak”
g. Pdt. Dr. Ruyandi Hutasoid
Pdt. Dr. Ruyandi Hutasoid, Pendiri Partai Damai
Sejahtera (PDS), partai kristen pertama setelah zaman
reformasi yang berhasil memperoleh perolehan suara di DPR
dan DPRD di beberapa propinsi. Ketua Sinode Gereja Kristen
Bersinar (GKB) dan Mantan pemimpin Doulos, sekolah Alkitab
yang sempat dibakar massa, adalah salah satu tokoh nasional
kristen yang amat sangat berani, baik dalam sikap, pernyataan
maupun tindakkannya, dan telah mewarnai dunia perpolitikan
Indonesia. Beliau punya mimpi besar untuk TRANSFORMASI
INDONESIA menuju INDONESIA BARU yang DAMAI dan
SEJAHTERA.
57
Saya (Jarot) tahun 2003 menjadi Caleg DPR RI no.1
untuk Jateng VI di PDS, pernah mendengar kesaksian; beliau
bersyukur tidak memiliki anak. Jika memiliki anak, mungkin
dia akan berpikir dua atau tiga kali untuk bersikap sedemikian
berani. Karena beberapa kali mengalami ancaman
pembunuhan ataupun penculikan. Jika punya anak, akan
bertambah was-was, bagaimana jika anak pulang sekolah
diculik? Kalau saya mati anak bagaimana?
Masih ada belasan hamba Tuhan yang saya kenal,
menikah dan tidak memiliki anak. Mereka bergumul cukup
berat dalam menemukan tujuan pernikahannya, makna
membangun keluarga, siapa yang akan meneruskan
pelayanan yang mereka rintis, siapa yang akan meneruskan
visi misi dan mimpi-mimpi mereka?
Namun akhirnya mereka bisa menemukan ‘panggilan
hidupnya’, dan TIDAK BERCERAI, bukan hanya BERTAHAN,
tetapi BAHAGIA, walaupun tidak memiliki anak. Mereka
bahkan menjadi ‘lebih idealis’ ‘lebih mulia’ ‘lebih tulus’ ‘lebih
sungguh-sungguh’ di dalam bekerja dan berkarya daripada
mereka yang memiliki anak. Kekurangan dan kelemahan
mereka, telah menjadi kekuatan mereka. Korban mereka
berkenan kepada Tuhan!
Yesaya 56: 7 ... Aku akan berkenan kepada korban-korban
bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang
dipersembahkan di atas mezbah-Ku, ...
58
8. Adopsi Anak?
Ada juga yang mengangkat anak laki-laki dan akhirnya
kepahitan di hari tuanya, karena anak angkatnya
memberontak, kurang ajar dan melawan orang tua angkatnya.
Kasus lain anak angkat perempuan menjadi binal dan
melakukan perzinahan yang membuat malu. Rupanya anak
angkat tersebut, lahir hasil dari perselingkuhan dan ibunya
meninggalkan anak di rumah sakit atau di panti asuhan atau
menyerahkan ke majikannya yang menghamilinya.
Karena itu Anda jangan buru-buru, berdoa sungguh-
sungguh, apa yang akan dilakukan. Adopsi anak dalam arti
tinggal serumah seperti anak sendiri, lengkap dengan surat
adopsi, atau hanya melayani anak-anak dengan semacam
‘program anak asuh’ secara sungguh-sungguh. Semua ada
plus minusnya.
Jika sudah komitmen untuk adopsi anak, maka siapkan
hati Anda, komitmen untuk memelihara, mengasihi dan
mendidik seperti anak sendiri. Jika suatu saat anak bertanya,
karena dia mendapat kabar dari tetangga, bahwa dia anak
angkat, maka jawablah dengan jujur, bahwa dia anak angkat
dan tegaskan bahwa Anda sungguh-sungguh mengasihi
seperti anak sendiri.
Banyak terjadi, setelah mengangkat anak, ternyata
‘memancing’ pasangan menjadi bisa punya anak, lalu
kasihnya terbagi dan tidak adil dalam mendidik. Didiklah anak
angkat/ adopsi sungguh-sungguh dengan prinsip-prinsip
Alkitabiah yang imbang supaya tidak menyesal dikemudian
hari.
59
9. Bayi Tabung?
Bukankah ini sikap tidak beriman? Kalau memang
Tuhan memberi, khan hamil, jika dengan bayi tabung ini
apa bukan memaksa Tuhan?
Bayi tabung, sperma dan sel telur dipertemukan di
‘tabung’ atau ‘cawan petri’ di laboratorium, lalu dikembalikan,
ditanam di dalam rahim (inseminasi buatan). Teknologi dan
ilmu pengetahuan karena kepandaian manusia, juga
merupakan talenta dan karunia dari TUHAN, untuk
membangun kehidupan yang lebih baik, dengan motivasi yang
benar dan tujuan yang benar. Untuk mempertahankan
pernikahan, menambah kebahagiaan dalam keluarga dengan
‘membantu’ mempertemukan sperma dan telur secara ‘buatan’
supaya mendapatkan anak, bukanlah dosa. Aborsi atau
pengguguran janin yang dosa.
Secara theologis sebenarnya tidak ada yang salah,
asal sel telur dan sperma berasal dari suami istri dan bukan
mengambil dari ‘bank sperma’ yang ada di beberapa rumah
sakit.
Tuhan tidak bisa dipaksa oleh manusia, Tuhan yang
menentukan dan mengijinkan sebuah kehidupan. Manusia
berbeda dengan binatang, selain ada nyawa, manusia ada
‘roh’nya. Metode ini juga tidak semuanya berhasil, jika Tuhan
tidak menghendaki, setelah ditanam di rahim banyak juga
yang gugur dan batal hamil, sekalipun di coba beberapa kali,
tidak pernah berhasil. Mencoba beberapa kali metode ini tidak
ada salahnya, dan tidak mengurangi ‘kadar iman’, sekali lagi,
asal sel telur dan sperma dari suami istri. Jika berhasil, maka
berarti ‘direstui’ Tuhan.
60
C. Perbedaan Terlalu Banyak
Tuhanlah yang menciptakan Pria dan Wanita dengan
bahan baku berbeda (Kejadian 2: 7, 21-23). Pria dari tanah
dan wanita dari tulang. Pernikahan Bahagia, bukan kalau tidak
ada perbedaan, tetapi bagaimana mengelola perbedaan
sebagai kelengkapan, keseimbangan dan keindahan.3
Pernikahan tidak membawa dua pribadi menjadi sama,
tetapi menjadi satu (Kejadian 2:24,25). Peran pria adalah
Kepala dan Wanita adalah penolong. Untuk menjalankan
peran yang berbeda, Tuhan menciptakan pria dan wanita
dengan specifikasi yang berbeda, supaya mereka saling
melengkapi dan saling membutuhkan. 4
Ketika pacaran, perbedaan ini sudah ada, namun cinta
mampu memandang perbedaan sebagai hal uang unik dan
menarik. Hati yang pennuh cinta memandang sisi positif
pasangannya. Cinta tidak mempermasalahkan perbedaan.
Karena itu mau bercerai dengan alasan perbedaan
yang terlalu besar, tidak bisa diterima secara prinsip Firman
Tuhan. Masing-masing harus belajar dewasa menerima
pasangan apa adanya dan mengelola perbedaan yang
mereka miliki sebagai kekuatan team yang saling melengkapi.
Solusi mengatasi perbedaan adalah sikap positif terhadap
perbedaan dan menguatkan cinta diantara pasangan.5
3 Pernikahan Bahagia, Jarot Wijanarko, Keluarga Indonesia Bahagia, Jakarta. 2018
4 Pria Sejati Wanita Bijak, Jarot Wijanarko, Andi offset, Jogya. 2015
5 Pernikahan yang Diberkati, Jarot Wijanarko, Keluarga Indonesia, Jakarta. 2018
61
D. Pasangan Selingkuh
Yang paling sering dijadikan alasan untuk bercerai, jika
pasangan selingkuh adalah Matius 5:32, karena itu hal ini
saya bahas lebih luas dalam Bab ‘Perkecualian Bercerai’ saya
akan bahas khusus satu ayat ini saja.
Matius 5:32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang
yang menceraikan istrinya kecuali karena zinah (porneiav),
ia menjadikan istrinya berzinah (moiceuyhnai); dan siapa
yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia
berbuat zinah (moicatai). (Bahasa Indonesia sehari-hari
dengan referensi bahasa gerika – literal, pada kata
tertentu)
Porneia (lafal por-ini-ah), dalam Terjemahan Baru dan
juga MILT digunakan ‘percabulan’ sedangkan versi NKJV
menggunakan terminologi ‘kebejatan seksual’ . Dalam kategori
ini adalah homoseksual, lesbian dan seks dengan binatang.6
Matius 5:32 Namun Aku berkata kepadamu, bahwa siapa
yang telah menceraikan istrinya kecuali karena masalah
percabulan, dia menjadikan wanita itu berzina; dan siapa
yang sekiranya menikahi wanita yang diceraikan, dia pun
berzina. (MILT -2008 dan Shellabear 2000)
Matthew 5:32; "But I say to you that whoever divorces his
wife for any reason except sexual immorality causes her to
commit adultery; and whoever marries a woman who is
divorced commits adultery. (NKJV)
6 http://alkitab.sabda.org/strong.php?id=4202
62
Mattew 5:32; But I say unto you, That whosoever shall put
away his wife, saving for the cause of fornication, causeth
her to commit adultery: and whosoever shall marry her
that is divorced committeth adultery. (KJV)
Sexual immorality digunakan dalam berbagai
terjemahan seperti HCSB, LEB, ESV, yang berarti kebejatan
seksual adalah jika seseorang hidup di dalam perzinahan,
menghidupi perzinahan yang disebut juga dengan percabulan
(KJV). Hidup di dalam dosa tanpa merasa berdosa dengan
alasan itulah dna-nya, itulah pekerjaannya. Hal ini dalam
bentuk praktis misalnya pelacur, gigolo yang perpendapat
bahwa yang ia lakukan sah-sah saja.
Dengan dasar pengertian tersebut, maka penganut
paham yang menghidupi free seks bisa dimasukkan dalam
kategori sudah bejat seksual.
Jadi bukan selingkuh (tidak setiaan). Apalagi setelah
selingkuh dia sadar, bertobat dan minta ampun, berarti dia
tidak bejat seksual tetapi tergelincir dalam dosa. Dalam kasus
ini pasangan harus diampuni dan bukan diceraikan.
Bejat seksual atau amoral (immorality) bisa dilakukan
walaupun pasangannya baik, melayani bahkan mengabdi.
Namun selingkuh biasanya juga bisa dipicu oleh kesalahan
pasangannya yang cuek, kasar, tidak perhatian, masalah yang
tidak terselesaikan dan lain-lain yang merupakan ‘kesalahan
bersama’ sehingga harus ‘saling mengampuni’.
Perselingkuhan, pemulihan harus dari kedua sisi pasangan,
bukan hanya si-pelaku selingkuh. Hal ini saya bahas lebih
details dalam buku SELINGKUH & SEX, yang secara khusus
membahas perselingkuhan dan seks.7
7 Selingkuh & Sex, Jarot Wijanarko, Keluarga Indonesia Bahagia, 2018. Jakarta.
63
E.Penganiayaan/ KDRT
Kasus 01: Suami main pukul, suka menganiaya, kasar, tidak
bisa dinasehati dan pemarah. Isteri tidak tahan dan minta
cerai, karena kalau dipukuli terus ya bisa mati Pak.
Kenapa dipukuli? Jika dipukuli karena suka meledek,
menghina, tidak melayani seks, cerewet, pergi keluar rumah
terlalu sering, melawan atau berdebat dengan suami, maka
istri yang harus bertobat.
Jika aniaya, karena memang suami belum bertobat,
dan aniaya cukup parah dan mengarah kematian, istri bisa
menghindar atau lari ke rumah tetangga. Bisa juga ke rumah
orang tua, untuk sementara, hingga emosi reda.
Doakan, supaya suami bertobat, kalahkan kemarahan
dengan kelemah lembutan cinta. Perceraian tidak bisa karena
alasan pertengkaran.
Kasus 02: Suami merasa minder, karena keluarga istri lebih
kaya. Karena suami tidak bisa memenuhi kebutuhan
ekonomi, keluarga istri membantu memberi modal
membuka usaha yang dijalankan isteri.
Suami malah marah-marah merasa direndahkan dan
menyiksa istri. Anak menjadi brutal dan memberontak ke
suami tersebut karena membela ibunya.
64
Suami bertambah parah dengan malas bekerja, tidak mau
bekerja dan istrinya yang mencukupi semua kebutuhan
ekonomi.
Isteri merasa tersiksa, baik secara fisik di aniaya, lebih lagi
secara batin.
Suami bertahun-tahun tidak berubah dan istri mau minta
cerai saja, karena suami tidak bisa memberi apa-apa. Uang
tidak, kasih sayang tidak. Terakhir yang membuat istri
tidak kuat, suaminya juga bertengkar melawan orang tua
si-istri, hingga pihak orang tua juga memaksa si-istri;
“Ceraikan saja suami seperti itu.”
Perceraian dibenci Tuhan, tidak bisa diijinkan hanya
alasan pertengkaran, aniaya dan ketidak cocokan. Perceraian
hanya bisa ‘diijinkan’ karena pasangan melakukan ‘kebejatan
seksual’ atau kondisi pasangan ‘tidak seiman’ dan melakukan
aniaya karena iman pasangannya yang kristen.
Kedua kasus diatas memang sangat berat, dan bisa
dipahami betapa menderitanya si-istri, karena mendapat
suami pemalas, pemarah dan kurang ajar terhadap mertua.
Jika benar-benar tidak kuat, bisa saja tidak bercerai,
tetapi ‘pisah sementara tanpa perceraian’, untuk hidup damai
sejahtera dan memberi waktu ke masing-masing untuk
instrospeksi. Kepada suami Anda, katakan dengan tegas,
bahwa ‘pisah sementara tanpa perceraian’ tersebut terpaksa
ditempuh, karena engkau tidak kuat dengan perilakunya
selama ini. Janjikan, jika dia berubah sunguh-sungguh
engkau akan menerima kembali dan sebagai orang kristen
engkau ingin pemulihan.
65
Dengan ‘pisah sementara tanpa perceraian’ tersebut,
kita harapkan emosi keluarga wanita juga reda dan tidak terus
menerus menekan si-istri untuk menceraikan suaminya,
karena bercerai bukan kehendak Tuhan.
Kepada orang tua, beri pengertian, bahwa yang lebih
menderita bukan orang tua Anda, tetapi Anda dan biarkan diri
Anda pribadi yang mengambil keputusan.
Dalam masa ‘pisah sementara tanpa perceraian’
tersebut, isi dengan kegiatan yang baik, mencari uang,
menghidupi anak-anak dan terutama, kegiatan rohani, ikuti
ibadah-ibadah doa di gereja dan doakan suamimu dengan
sungguh-sungguh supaya dia bertobat. Jika mau lebih
sungguh-sungguh berpuasa, ajak anak-anak untuk ikut
berdoa.
Dalam masa ‘pisah sementara tanpa perceraian’
tersebut, isi hatimu dengan kasih YESUS, lepaskan
kekecewaan, buang kepahitan, lepaskan pengampunan dan
ucapkan kata-kata berkat buat suami Anda. Teruslah berdoa,
beri kesempatan suami bertobat dan beri kesempatan Tuhan
bekerja dalam hati suami. Percaya, bahwa di dalam Yesus
masih ada mujizat dan pemulihan. Tunggulah dengan sabar
sampai IA menjawab doa Anda.
Markus 10:12 Dan jika si istri menceraikan suaminya dan
kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah.”
1 Korintus 7:10 Kepada orang-orang yang telah kawin aku--
tidak, bukan aku, tetapi Tuhan - perintahkan, supaya seorang
istri tidak boleh menceraikan suaminya.
66
F.Gereja Milenials
Gembala, pengurus, pengerja hampir semua generasi
milenial, keluarga muda, baik di luar negeri, ataupun di
Indonesia, namun mereka alumni gereja di luar negri.
Fenomena gereja ini para pemimpinnya bertobat dari latar
belakang sekuler dan tidak sekolah theologia secara formal
dan waktu yang cukup. Walaupun pertobatannya sungguh-
sungguh, namun tergagap gagap ketika menjumpai masalah-
masalah pelik yang membutuhkan telaah theologis. Sesuai
generasi milenial, mau yang praktis dan logis saja.
Gereja yang membolehkan perceraian yang
disebabkan penganiayaan atau KDRT, karena menurut merea
KDRT juga termasuk immoralitas. Ayat yang digunakan sama
Matius 5:32 dalam versi Alkitab yang mereka anut.
Matthew 5:32 But I say to you that everyone who divorces
his wife, except for immorality, makes her commit
adultery, and whoever marries a divorced woman commits
adultery. (NETBible)
Nah saya menganut Alkitab versi TB (Terjemahan
Baru), KJV, NKJV, MILT, HCSB, LEB, ESV dan yang serupa,
yang lebih dekat ke bahasa asli Porneia yang bukan hanya
‘immorality’ tetapi ‘sex immorality’. Karena jika immoralitas,
nanti mencuri, korupsi dan banyak jenis dosa lainnya akan
masuk kategori ini, dimana pelakunya ‘bisa’ disadarkan dan
dibuat bertobat. 8 Inilah perlunya belajar Alkitab dan membaca
beberapa versi, jika itu menyangkut hal-hal yang cukup
penting untuk mengambil keputusan.
8 Mempelai Ilahi, Jarot Wijanarko, Keluarga Indonesia Bahagia, 2018. Jakarta.
67
G.Dia Pergi Begitu Saja
Sebenarnya tidak ada ‘pergi begitu saja’ ‘tidak ada
yang tiba-tiba’ ‘semua kejadian ada lasannya’ ‘semua perilaku
ada latar belakangnya’. Ada orang yang behagia, mendapat
penerimaan, diterima apa adanya, kelemahannya dilengkapi,
diperhatikan akan pergi?
Jika pasangan pergi, maka tindakan yang paling logis
adalah dicari, entah ke orang tuanya, sahabatnya, keluarga
besarnya, membuat pengumuman, pencarian lewat sosmed
(sosial media) dan segala usaha lainnya. Sambil mencari
titipkan pesan kepada mereka, bahwa Anda kehilangan,
bahwa Anda mencintainya, bahwa Anda minta maaf yang
telah membuatnya pergi.
Pasangan pergi jangan dibiarkan atau malah disyukuri.
Bersyukur dia nggak ada lagi. “Bukan salah saya dong, lha dia
pergi sendiri”. Ya memang Anda tidak salah, tetapi perlu
evaluasi, kenapa dia pergi? Dia pergi, lalu menggugat cerai
(in absensia / tanpa kehadiran tergugat), lalu Anda menikah
lagi, bukanlah jalar keluar terbaik yang fair.
Jika Anda telah mencarinya dan tidak ketemu juga,
maka menunggu sambil selibat (tidak menikah), berdoa dan
berpuasa minta pertolongan Tuhan. Jika usaha sendiri
mencari tidak bertemu, mintalah pertolongan Tuhan. Mintalah
hamba Tuhan atau pendoa syafaat secara khusus sepakat
dengan Anda dalam doa-doa Anda.
68
H. Pasangan Penjudi, Pemabok
Kasus 03: Saya seorang istri, sudah 2 tahun berjauhan
dengan suami dan saya mau bercerai saja pak. Suami suka
judi, berbohong berkali-kali dan kejelekan lainnya. Hati saya
sudah sakit dan pahit. Buat apa mempertahankan
perkawinan yang sakit, lebih baik perceraian yang sehat.
Lebih baik bercerai dan hidup dalam damai sejahtera, dari
pada menikah dan hidup dalam ketakutan, kegelisahan dan
ketidakpastian.
Mengusahakan perceraian tidak bisa diijinkan hanya
alasan tidak cocok, pertengkaran, suami penjudi, pasangan
tidak seiman atau hal lainnya, kecuali karena ‘kebejatan
seksual’ dan ‘diceraikan karena iman’ (bukan minta cerai).
Boleh bercerai untuk 2 hal ini saya bahas dalam Bab 4.
Kalau suami penjudi, suka berbohong dan berbagai
kejelekan lainnya, artinya dia belum bertobat. Justru
seharusnya bukan minta cerai, tetapi jadikan dia ‘obyek’ yang
harus ‘dimenangkan’ atau ‘diselamatkan’.
Mulai doakan pertobatannya, kalau perlu bahkan
dengan berpuasa. Tangisi jiwanya, ratapi nyawanya, minta
Tuhan ‘selamatkan’. Kasihi dia dengan sungguh-sungguh
dengan roh kelemah lembutan. Buang segala kekecewaan
dan sakit hati.
1 Korintus 7:16 Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai
istri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu?
Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah
engkau tidak akan menyelamatkan istrimu?
69
Buang jauh-jauh ide atau pikiran untuk bercerai,
karena itu bukan jalan keluar, itu jalan yang salah, karena itu
dosa dan dibenci Tuhan. Perkawinan yang sakit, perlu dan
bisa dibuat sehat dan bukan dibunuh dengan perceraian.
Perceraian adalah dosa, dan kita tidak bisa menyelesaikan
masalah dengan berbuat dosa.
I. Pasangan tidak seiman
1 Korintus 7:12 Kepada orang-orang lain aku, bukan
Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristrikan
seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup
bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu
menceraikan dia.
7:13 Dan kalau ada seorang istri bersuamikan seorang
yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-
sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu.
7:14 Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh
istrinya dan istri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh
suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-
anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka
adalah anak-anak kudus.
7:15 Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau
bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian
saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil
kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.
7:16 Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai istri,
apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau
bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah
engkau tidak akan menyelamatkan istrimu?
70
Dari ayat diatas, dengan jelas, inisiatif cerai, jika
pasangan bukan seiman, tidak boleh datang dari pihak orang
percaya. Sikap orang percaya, justru kalau dia bertobat
sungguh-sungguh dan memiliki kepastian keselamatan maka
seharusnya dia mengajak orang-orang yang dicintainya ke
sorga. Sikap orang percaya haruslah seperti ayat 16,
menyelamatkan pasangannya.
Di Korintus, juga di gereja mula-mula, konteks perikop
tersebut adalah; dua orang tidak percaya (Agama Yahudi),
sudah menikah dan salah satu kemudian menjadi percaya,
maka kondisi menjadi ‘salah satu tidak percaya’.
Dalam kondisi ini jika karena ‘imannya’ dia diusir,
dianiaya atau mau dibunuh, ditolak oleh pasangan dan
keluarga besarnya, karena dalam kelompok tertentu menjadi
suku tertentu berarti agama tertentu, menjadi ‘kristen’ akan
mengalami pengusiran. Dalam kasus seperti ini, Paulus
berkata ‘engkau boleh bercerai’
1 Korintus 7: 27 Janganlah engkau mengusahakan
perceraian!
Paulus tetap menekankan, kita bukan orang yang
mengupayakan bercerai. Bagi kita, seharusnya yang kita
upayakan adalah pemulihan, pendamaian, rujuk kembali,
menyelamatkan anggota keluarga yang belum ‘memperoleh
keselamatan’. Yang harus dilakukan orang percaya adalah
‘melepaskan pengampunan’ dan bukan mengupayakan
perceraian!
71
1 Korintus 7:26 Aku berpendapat, bahwa, mengingat
waktu darurat sekarang, adalah baik bagi manusia untuk
tetap dalam keadaannya.
1 Korintus 7 ditulis, karena kondisi darurat, dimana
terjadi penganiayaan yang hebat terhadap orang-orang
percaya (Kristen) oleh orang Yahudi. Mereka diusir, dianiaya,
diintimidasi untuk kembali menjadi agama Yahudi, jika tidak
mau mereka diceraikan, bahkan beberapa orang dibunuh.
Paulus memberikan izin atau perkecualian, mereka
boleh bercerai, kalau kasusnya DICERAIKAN dan itu terjadi
KARENA IMANNYA, bukan karena hal-hal lain yang menjadi
faktor utama dan kebetulan memang berbeda iman.
Tidak boleh justru yang ‘percaya’ yang meminta cerai,
apalagi kalau sebenarnya bukan karena soal ‘iman’, tetapi
karena pertengkaran atau ketidak cocokan. Bahkan ada yang
memang ketika berpacaran, menikah sudah beda iman, dulu
mencintai dan sekarang tidak cinta lagi, lalu menggunakan
alasan beda iman untuk minta ijin cerai, hal ini tidak
diperbolehkan.
Beberapa tahun lalu di Indonesia memang masih
memungkinkan menikah beda agama, saat ini, Undang
Undang Pernikahan Indonesia melarang pernikahan beda
agama. Firman Tuhan juga melarang menikah dengan ‘bukan
orang percaya’ = 2 Korintus 6. Ayat ini untuk yang belum
menikah, bukan untuk yang mau bercerai.
72
2 Korintus 6: 14 Janganlah kamu merupakan pasangan
yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak
percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara
kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang
dapat bersatu dengan gelap?
Tidak boleh menceraikan pasangan yang tidak seiman,
justru harus memenangkan dan menyelamatkan
pasangan. Tidak boleh ‘mengusahakan’ perceraian.
Termasuk cari gara-gara supaya diceraikan.
Banyak orang memiliki hati yang licik dan jahat.
Karena ‘kebetulan’ pasangannya tidak seiman, ketika sudah
tidak cinta lagi (karena hal-hal yang lain yang bukan soal
iman) ditambah masalah perbedaan atau pertengkaran, maka
benar-benar mencari gara-gara supaya diceraikan.
Setelah bercerai lalu konseling, minta diberkati
pernikahannya yang baru, dengan seorang anak Tuhan,
dengan alasan pernikahan yang dulu bukan dengan orang
percaya. Hai orang jahat... Anda tidak akan luput dari
hukuman Allah yang menyelidiki hati nurani!
Semestinya jika dahulu menikah tidak seiman, lalu
sekarang sungguh-sungguh ikut Tuhan, maka seharusnya
khan menjadi mansuia yang lebih baik, pasangan yang lebih
baik, mengasihi lebih sungguh-sungguh dan menyelamatkan
pasangan dan anak-anak, membawa mereka pada jalan
kebenaran, kepastian keselamatan di dalam Tuhan Yesus.
1 Korintus 7: 27 Janganlah engkau mengusahakan
perceraian!
73
Wah saya terlambat membaca buku ini Pak, saya
sudah terlanjur bercerai, mantan saya sudah menikah lagi. OK
lanjutkan membaca buku ini, saya membahas kasus-kasus
seperti ini, untuk mencari solusi yang ‘paling mendekati
kehendak Tuhan’.
74
III. Jangan Bercerai
Kita hidup di zaman dimana perceraian dan poligami
adalah hak asasi. Pro dan kontra tentang perceraian, tetap
membuat kasus-kasus perceraian bukan turun, justru tahun
demi tahun meningkat, bahkan di daerah-daerah kantong
kristen sekalipun.
Masyarakat kristen dan katolik, yang dikenal sangat
anti perceraian dan poligami sekalipun, mulai menghadapi
gelombang masalah perselingkuhan dan perceraian dimana-
mana. Tokoh-tokoh kristen bercerai dan menikah lagi dan
alasan mereka dijadikan alasan orang kristen lainnya dan
pengajarannya menyebar seperti virus.
Beberapa orang bahkan dengan berani mengambil
keputusan bercerai atau poligami dan ketika hukum (dan
Gereja) di Indonesia tidak memungkinkan dia menikah lagi,
mereka menikah di luar negeri, dimana hal itu dianggap
sebagai ‘hak asasi’.
Bagaimana keluarga-keluarga kristen bisa bertahan
ditengah badai perceraian dan poligami ini? Tidak ada jalan
lain kecuali mempersenjatai pikiran kita dengan pengajaran
yang benar tentang perceraian sesuai FIRMAN TUHAN!
Puluhan pasangan yang MAU bercerai, akhirnya
mengambil keputusan; “Aku TIDAK bercerai” setelah hadir di
seminar saya, mengenai perceraian. Materi itu saya tulis
dalam buku ini. Inilah pokok-pokok pikiran TUHAN tentang
keluarga, bahkan ISI HATI TUHAN tentang perceraian dan
poligami.
75
A. TUHAN Membenci Perceraian
Maleakhi 2:13 Dan inilah yang kedua yang kamu lakukan:
Kamu menutupi mezbah Tuhan dengan air mata, dengan
tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi berpaling
kepada persembahan dan tidak berkenan menerimanya
dari tanganmu.
2:14 Dan kamu bertanya: “Oleh karena apa?” Oleh sebab
Tuhan telah menjadi saksi antara engkau dan istri masa
mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia,
padahal dialah teman sekutumu dan istri seperjanjianmu.
2:15 Bukankah Tuhan yang Esa menjadikan mereka daging
dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu?
Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang
tidak setia terhadap istri dari masa mudanya.
2:16 Sebab Aku membenci perceraian, firman Elohim,
Tuhan Israel - juga orang yang menutupi pakaiannya
dengan kekerasan, firman Tuhan semesta alam. Maka
jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!
Maleakhi ditulis pada saat bangsa Israel tidak diberkati,
mereka berdoa dan tidak dijawab Tuhan. Nabi Maleakhi
menyampaikan pesan bahwa mereka tidak didengar oleh
Tuhan, sebab mezbah mereka tertutup oleh airmata. Ketika
istri menangis, doa suami tidak didengar Tuhan (dan tentunya
sebaliknya, jika suami meratap karena dominasi istri). Ketika
suami tidak setia dengan istri masa muda (bukan istri muda),
maka Tuhan yang bangkit menentang orang tersebut!
Tuhan menekankan hal yang sama melalui Rasul
Petrus melalui FirmanNya:
76
1 Petrus 3: 7 Demikian juga kamu, hai suami-suami,
hiduplah bijaksana dengan istrimu, sebagai kaum yang
lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris
dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu
jangan terhalang.
Maleakhi menyebut istri sebagai TEMAN SEKUTU dan
ISTRI SEPERJANJIAN, sedangkan Petrus TEMAN PEWARIS
KASIH KARUNIA. Ini mengandung pengertian dalam bahasa
hukum, bahwa pasangan adalah ‘pemegang saham 50%’ *)
dalam berkat-berkat yang Tuhan sediakan.
Kehendak Tuhan, isi hati Tuhan sangat jelas,
TUHAN MEMBENCI PERCERAIAN. Perceraian BUKAN
KEHENDAK TUHAN. Jika salah satu mencederai janji dengan
BERKHIANAT atau BERCERAI, maka berkat-berkat Tuhan
tertutup. Tuhan membenci orang yang bercerai.
*) Catatan 1: Itulah sebabnya dalam undang-undang
pernikahan di Indonesia, bab perceraian, jika orang bercerai,
maka setiap pihak berhak atas 50% dari total nilai aset
keluarga, baik uang cash, mobil, rumah, saham yang
dimilikinya di perusahaan manapun juga.
*) Catatan 2: Dalam buku PEMULIHAN SUAMI ISTRI, saya
ajarkan suami KEPALA dan istri PENOLONG, tetapi istri
bukan bawahan suami. Berbeda jabatan, berbeda fungsi,
tetapi mereka SEPADAN (artinya SE-LEVEL),seperti orang
membuka perusahaan, masing-masing 50% saham, yang 1
direktur yang 1 komisaris.
77
B. Bercerai disebut Pengkhianat
1. Janji nikah, untuk setia ‘sampai maut memisahkan’, untuk
setia ‘baik dalam suka maupun duka’ diucapkan kepada
pasangan dihadapan Tuhan, hamba Tuhan dan jemaat.
Jadi jika bercerai atau selingkuh/ tidak setia disebut
‘pengkhianat’ karena mengkhianati pasangan dan juga
Tuhan serta jemaat dan hamba Tuhan yang menjadi saksi
janji nikah. Pengkhianat atau pengecut karena tidak berani
menyelesaikan masalah dan mencari cara mudah dengan
lari atau bercerai.
2. Darah adalah hal yang sakral secara hukum dan secara
theologis. Dalam perjanjian dagang, perjanjian
persahabatan, perjanjian antar suku yang dimeteraikan
dengan darah, menjadi perjanjian seumur hidup, bahkan
turun temurun. Pihak yang mengingkari janji, bukan hanya
disebut ‘pengkhianat’ tetapi juga dipercayai akan kena
kutuk.
Firman Tuhan banyak menyebutkan penumpahan ‘darah’
binatang sebagai penebus salah. Darah Yesus untuk
menebus dosa dan menjadikan salib perjanjian kekal
karena dimeteraikan dengan darah. Pengampunan
dilepaskan (disalib) sekali dan berlaku turun temurun.
Pernikahan, menurut Firman Tuhan dan juga
kenyataannya ‘menjadi satu daging’, bahkan juga disebut
‘perjanjian darah’. Setelah menikah dan melakukan
hubungan suami isteri, jika wanita masih perawan, ketika
78
selaput perawan robek atau terbuka untuk pertama kali,
akan mengeluarkan darah.
Anak yang lahir, sering disebut ‘darah dan dagingku’.
Karenanya orang yang selingkuh dan bercerai disebut
pengkhianat, karena melanggar janji yang ‘sakral’,
pernikahan adalah ‘perjanjian darah’.
3. Selingkuh, poligami dan bercerai disebut pengkhianat
karena akan ada pihak yang terluka, baik salah satu
pasangan ataupun anak-anak. Selalu ada korban di
dalam perselingkuhan, poligami maupun perceraian.
Karenanya dengan tegas Tuhan menyatakan pendapat
Pribadi-NYA, bahwa DIA membenci perceraian! Tuhan
bukan hanya membenci perceraian, tetapi yang
melakukannya akan dibuang ke dalam maut atau neraka!
Perceraian termasuk dosa yang mendatangkan maut!
Amsal 2:17 yang meninggalkan teman hidup masa
mudanya dan melupakan perjanjian Tuhan-nya;
18 sesungguhnya rumahnya hilang tenggelam ke dalam
maut, jalannya menuju ke arwah-arwah.
19 Segala orang yang datang kepadanya tidak balik
kembali, dan tidak mencapai jalan kehidupan.
20 Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah
jalan-jalan orang benar.
21 Karena orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang
yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ,
22 tetapi orang fasik akan dipunahkan dari tanah itu, dan
pengkhianat akan dibuang dari situ.
Amsal 13:2 Dari buah mulutnya seseorang akan makan
yang baik, tetapi nafsu seorang pengkhianat ialah
melakukan kelaliman.
79
C. Menceraikan, Menikah Lagi, Zinah
Markus 10:2 Maka datanglah orang-orang Farisi, dan
untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya:
“Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan
istrinya?”
10:3 Tetapi jawab-Nya kepada mereka: “Apa perintah
Musa kepada kamu?”
10:4 Jawab mereka: “Musa memberi izin untuk
menceraikannya dengan membuat surat cerai.”
10:5 Lalu kata Yesus kepada mereka: “Justru karena
ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini
untuk kamu.
10:6 Sebab pada awal dunia, Tuhan menjadikan mereka
laki-laki dan perempuan,
10:7 sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan
ibunya dan bersatu dengan istrinya,
10:8 sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.
10:9 Karena itu, apa yang telah dipersatukan Tuhan, tidak
boleh diceraikan manusia.”
10:10 Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu
bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu.
10:11 Lalu kata-Nya kepada mereka: “Barangsiapa
menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia
hidup dalam perzinahan (moichao) terhadap istrinya itu.
10:12 Dan jika si istri menceraikan suaminya dan kawin
dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah (moichao).”
Saya tidak perlu menjelaskan yang sudah sangat jelas,
bahwa Tuhan tidak menghendaki perceraian dan Firman
Tuhan melarang menikah lagi bagi orang yang bercerai.
80
D. Diceraikan, menikah lagi, zinah
Lukas 16:18 Setiap orang yang menceraikan istrinya, lalu
kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan
barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan
suaminya, ia berbuat zinah (moichao).
Firman Tuhan mengajarkan, baik yang menceraikan
dan yang diceraikan, berlaku hukum yang sama, jika menikah
lagi, maka disebut berzinah.
“Wah kalau begitu tidak adil dong pak, kita sudah
diceraikan kok nggak boleh menikah lagi” Kata seorang
peserta seminar yang saya pimpin.
Makanya jangan sampai diceraikan. Saya percaya
tidak ada orang menceraikan tanpa sebab. Kenapa
diceraikan, bertengkar, selingkuh, menghina pasangan,
korupsi uang pasangan daln lain-lain. Prinsip ini membuat
semua orang ‘komitmen’ lebih pada pernikahan.
Menurut saya Tuhan adil dan berhikmat. Karena jika
yang diceraikan boleh menikah, nanti banyak orang mencari
gara-gara supaya diceraikan, supaya bisa menikah lagi.
Mencari gara-gara, misalnya tidak melayani seks
pasangan, tidak memberikan uang ke pasangan, mencari-cari
pertengkaran lalu menantang ‘ceraikan saja’. Terus ber-ulah,
supaya pasangan emosi dan tidak tahan lagi dan akhirnya
‘menceraikan’ sesuai ‘pengharapannya’. Ini orang licik dan
jahat, atau Firman Tuhan sering menyebut sebagai orang
81
yang ‘degil hatinya’, maka Firman Tuhan memasang ‘barikade’
bahwa yang diceraikanpun, jika menikah lagi disebut ‘hidup
dalam perzinahan’ atau ‘kebejatan seksual’.
Jika orang memaksa untuk bercerai karena benar-
benar tidak sanggup untuk melanjutkan pernikahannya, maka
syarat perceraian sangatlah berat, setelah bercerai, mereka
tidak boleh kawin lagi, karena pernikahan kedua setelah
perceraian adalah ‘moichao’ atau ‘kebejatan sexual’ (seks
immorality) yang dalam Alkitab bahasa Indonesia
diterjemahkan terlalu lunak dengan istilah ‘perzinahan’.
Sering dalam konseling, karena emosi, maka orang
berkata; “Nggak boleh kawin lagi ya nggak apa-apa, saya
kuat, saya juga memang tidak mau dan tidak akan kawin lagi”
Kenyataan menunjukkan lain, setelah dua atau tiga tahun
bercerai, maka dia tidak kuat, bagaimanapun manusia
mempunyai kebutuhan akan ‘teman’ (psikologis) untuk
mencintai dan dicintai selain kebutuhan ‘biologis’ atau seks.
Karena itu dalam konseling, seminar ataupun buku ini
saya menekankan, alternatif cerai, bukanlah alternatif terbaik,
walaupun sebenarnya ada ‘celah hukum theologis’ yang masih
bisa dicari dan ‘dimanfaatkan’. Cerai bukan hanya tidak baik
bagi diri sendiri, bagi pasangan, terutama tidak baik bagi anak-
anak.
Sering orang mau bercerai, justru dengan alasan ‘mau
hidup dalam damai sejahtera’. Kalau melanjutkan pernikahan
‘tidak ada damai sejahtera’. Apakah saudara akan hidup
‘damai sejahtera’ jika saudara tahu dan sadar melakukan hal
yang ‘dibenci Tuhan’? disebut pengkianat (Maleakhi2:14-16)
dan akan dibuang ke dunia arwah (Amsal 2:17-22).
82
Hanya orang yang mengeraskan hati nuraninya, hanya
orang yang tidak mau mendengar suara Roh Kudus di hati
kecilnya, hanya orang yang menutup telinganya dari Firman
Tuhan tentang ‘perceraian’ akan bisa hidup ‘damai sejahtera’
dengan memilih alternatif ‘perceraian’.
83
IV. Perkecualian?
Hah boleh? Nggak salah nih pelajaran. Seperti saya
katakan di depan, setelah belasan tahun berkecimpung di
dalam masalah keluarga, belajar dan belajar, jadilah buku ini
menjadi satu paket pelajaran. Sebuah bab sebagai kesatuan.
1 Korintus7:10. Kepada orang-orang yang telah kawin
aku—tidak, bukan aku, tetapi Tuhan—perintahkan,
supaya seorang istri tidak boleh menceraikan suaminya.
11 Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa
suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang
suami tidak boleh menceraikan istrinya.
Kenapa diberikan peluang ‘’dan jika bercerai?” Karena
hampir setiap hukum atau prinsip akan ada ‘perkecualiannya’.
Ada ayat “setiap orang mati satu kali dan akan dihakimi”. Ada
perkecualian Elia dan Henokh tidak mati, tetapi diangkat ke
Sorga, atau Lazarus mati 2 kali (karena setelah kematian
pertama dibangkitkan Tuhan Yesus) (Demikian juga kasus
anak janda Sarfat, anak janda di Nain). Aada ayat “jangan
membunuh” tetapi Tuhan memerintahkan membunuh
penduduk Kanaan atau “kecuali” dalam peperangan?
Namun kita harus sangat hati-hati dengan
‘PERKECUALIAN” ini, karena itu masalah ini saya bahas
sangat panjang dalam buku ini, sebagai upaya mencari
kebenaran seutuhnya, apa yang diajarkan Alkitab. Mari kita
pelajari Matius 5:32 dan Matius 19:9 (sama)
84
Matius 5:32 Tetapi Aku berkata kepadamu: “Setiap orang
yang menceraikan istrinya kecuali karena zinah, ia
menjadikan istrinya berzinah; dan siapa yang kawin
dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah”.
Matius 19:5 Dan firman-Nya: “Sebab itu laki-laki akan
meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan
istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
19:6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.
Karena itu, apa yang telah dipersatukan Tuhan, tidak
boleh diceraikan manusia.”
19:7 Kata mereka kepada-Nya: “Jika demikian, apakah
sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat
cerai jika orang menceraikan istrinya?”
19:8 Kata Yesus kepada mereka: “Karena ketegaran
hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu,
tetapi sejak semula tidaklah demikian.
19:9 Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa
menceraikan istrinya, kecuali karena zinah, lalu kawin
dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.”
Boleh tidaknya orang kristen bercerai, jika boleh alasan
apa yang membolehkan, jika sudah cerai, boleh nggak
menikah lagi, sering menjadi diskusi yang seru, ketika saya
memimpin Seminar Keluarga di berbagai kota.
Karena itu perlu saya tuliskan bagian ini untuk
melengkapi pemahaman pertanyaan banyak orang; “Pak
boleh khan cerai kalau karena pasangan ‘berzinah’, karena
Alkitab mengatakan ‘Tidak boleh bercerai KECUALI karena
zinah’ (Mat 5:32), berarti kalau karena zinah khan boleh”.
85
Kakak saya, Ir. Anto BCU Mth, Magister di Sekolah
Alkitab Tiranus, jurusan konseling dan ketika dia belajar
bahasa Ibrani, membantu saya menulis bab ini. Saat ini dia
menjadi dosen Theologia di sebuah STT di kota Solo. Mari kita
teliti ayat ini berikut studi kata bahasa aslinya.
Matius 5: 32 “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang
yang menceraikan istrinya kecuali karena zinah, ia
menjadikan istrinya berzinah; dan siapa yang kawin
dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah”.
Dalam bahasa Indonesia, karena keterbatasan
perbendaharaan bahasa semua digunakan kata zinah. Untuk
bahasa Inggris ternyata digunakan kata yang berbeda sesuai
bahasa asli Alkitab yang juga berbeda. Alkitab bahasa Inggris
terjemahan yang terbaik (paling mendekati bahasa asli)
adalah NASB, kemudian setelah itu King James dan NIV.
Menurut versi King James, Matius 5:32 adalah:
“But I say unto you, that whosoever shall put away his
wife, saving for the cause of fornication, causeth her to
commit adultery: and whosoever shall marry her that is
divorced committeth adultery”. Mathew 5:32
Kata zinah dalam bahasa Yunani atau Gerika adalah
porneia. Porneia berupa kata benda anarthrous, kata ini
digunakan juga dalam Matius 5:32; 15:19; 19:9; Markus 7:21;
Yohanes 8:41; Kisah Rasul 15:20,29; 21:25; Roma 1:26-27; 1
Korintus 5:1; 6:13,18; 7:2; 2 Korintus 12:21; Galatia 5:19;
Efesus 5:3; Kolose 3:5; 1 Tesalonika 4:3; Wahyu 2:21; 9:21;
14:8; 17:2,4; 18:3,9.
86
Makna kata proneia adalah harlotry. Kata harlotry
meliputi segala macam bentuk KEBEJATAN SEKSUAL,
termasuk ADULTERY (zinah), FORNICATION (percabulan)
dan INCEST (hubungan seks antar anggota keluarga; ibu dan
anak, ayah dan anak, kakak dan adik, SERTA SEKS YG
MENYIMPANG; dengan binatang, boneka atau ‘seks toys’
maupun alat-alat bantu). Secara figuratif, kata porneia dapat
bermakna idolatry (penyembahan berhala, pemujaan,
mengidolakan yang berlebihan terhadap sesuatu / seseorang).
Kata porneia berasal dari kata kerja porneuw / porneuo, to act
the harlot, secara hurufiah berarti ‘indulge unlawful lust (or
sex), secara figuratif bermakna ‘practise idolatry’.
Mempraktekkan kebejatan seksual.
Adultery dalam Yunani/ Gerika juga dijumpai kata
moicaw / moichao (baca: moi-kha-o) berupa kata kerja
‘present indicative middle’. Kata ini dijumpai dalam Mat 5:32;
19:9; dan Mark 10:11,12. Makna kata moikhao adalah ‘to
commit adultery’ = ‘melakukan kemesuman atau percabulan’,
bukan hanya sekedar perjinahan atau jatuh dalam dosa zinah.
Pelakunya disebut moicos / moikhos yaitu adulterer.
Dengan pemahaman diatas, jika versi King James
tersebut saya terjemahkan dalam bahasa yang sederhana,
akan menjadi demikian:
“Tetapi Aku berkata kepadamu, barangsiapa menceraikan
istrinya, maka ia menyimpan sesuatu yang dapat
menyebabkan kebejatan seksual (porneia); menyebabkan
istrinya melakukan percabulan (moichao) dan barang siapa
menikahi wanita tersebut, ia melakukan percabulan
(moichao)”. Matius 5:32
87
Mengapa Tuhan Yesus mengatakan wanita itu akan
(shall) melakukan percabulan (fornication) jika menikah lagi?
Dan mengapa pria itu juga melakukan percabulan (fornication)
jika menikahi wanita yang diceraikan suaminya?
1. Karena pernikahan ditetapkan Tuhan bukan untuk
diceraikan.
2. Karena pasti mereka melakukannya berulangkali
dalam pernikahan kedua itu, tak mungkin sekali
saja, maka tergolong sudah cabul dan bukan zinah.
Yang terpenting untuk diperhatikan adalah bentuk kata
kerjanya. Dalam bahasa Yunani/ Gerika bentuk kata
merupakan hal yang paling bermakna dalam suatu kalimat
atau alinea. Perhatikan bentuk kata kerja moichao, ia
berbentuk ‘present indicative’ artinya suatu berita biasa yang
terjadi dalam ‘tensis present’ namun ia berbentuk ‘middle’.
Suatu kata kerja yang berbentuk ‘middle’ tidak memerlukan
obyek luar selain dirinya, atau tindakan itu sebenarnya
mengarah kepada dirinya sendiri, seperti kata mandi.
Seseorang yang mandi berarti obyeknya adalah diri sendiri
bukan orang lain atau benda lain. Sebenarnya kata mandi
dapat pula dikatakan sebagai memandikan diri sendiri.
Dalam hal ini kata moichao berbentuk middle, artinya:
sesungguhnya tidak memerlukan obyek diluar dirinya, karena
akar percabulan, kemesuman, kebejatan seksual itu ada
dalam lubuk hati seseorang atau ada dalam pikiran / batin
seseorang. Kalau toh ada pria atau wanita lain diluar diri
sendiri, itu hanyalah obyek tambahan saja.
88
Atau bisa juga secara lebih sederhana untuk
memahami arti Matius 5:32 ini jika saya tetap gunakan
terjemahan seperti Alkitab bahasa Indonesia, dengan
memasukkan kata fornication atau porneia dan kata adultery
atau moichao (untuk mendekati arti sesungguhnya) akan
menjadi demikian;
Matius 5: 32 “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang
yang menceraikan istrinya kecuali karena porniea, ia
menjadikan istrinya moichao; dan siapa yang kawin
dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat moichao”.
Artinya suami atau istri tidak dapat begitu saja
menceraikan pasangannya, jika mereka ‘jatuh’ dalam
perzinahan, menyeleweng atau khilaf. Atau jatuh dosa
perzinahan kemudian mengaku, menyesal, minta ampun dan
mau kembali maka suami atau istri harus menerima kembali,
mengampuni dan memulihkan keluarganya.
Bahkan terjadi kasus, pasangan yang mau mendapat
‘hak’, mendapat ‘alasan’ untuk bercerai dengan ‘menjebak’
pasangannya supaya jatuh dalam perzinahan. Jika mereka
jatuh dan minta ampun maka harus diampuni. Bahkan jika
terjadi berulang-ulang sekalipun, selama ia sadar dari
kejatuhannya dan minta ampun, maka harus diampuni. Jika
suami jatuh berzinah dengan pembantu, sekretaris atau
teman, atau jika istri jatuh berzinah dengan atasan, teman
atau sopir, atau jika pasangan kabur dengan orang lain, lalu
sadar dan kembali, maka harus diterima dan tidak boleh
diceraikan, karena mereka jatuh dosa, merasa dosa dan
mengaku dosa, mereka jatuh ‘zinah’ dan bukan melakukan
‘kebejatan sexual’.
89
Kata ‘zinah’ yang dipakai dalam Matius 5:32 adalah
porniea yang berarti telah mempraktekan kebejatan seksual,
tidak mau ditegor, tidak merasa bahwa itu dosa, merasa
bahwa itu kewajaran karena kebutuhan alamiah daging. Yang
termasuk dalam kategori ‘kebejatan seksual’ adalah’ homo,
lesbi, seks dengan binatang dan incest (seks dengan kakak,
adik, ayah, ibu dan anak), serta mereka yang sudah cerai dan
‘menikah lagi’ secara resmi oleh agama atau gereja lain.
Polemik Matius 5:32
Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang
menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan
isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan
perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah. Matius 5:32
Ayat ini memang menjadi perbebatan dengan segala
argumennya. Bahkan ada pengajar (saya tidak mau menyebut
nama) yang mengatakan, ayat itu salah terjemah, seharusnya
bukan “kecuali” tetapi “walaupun”. Bukan tanda dasar, karena
seorang pengajar senior negri ini, dan dasarnya adalah Alkitab
Good News Bible (GNB) dan Today’s English Version, yang di
dalam bahasa Indonesia menjadi Kabar Baik Masa Kini (BIS).
Tetapi sekarang Aku berkata kepadamu: barangsiapa
menceraikan istrinya padahal wanita itu tidak
menyeleweng, menyebabkan istrinya itu berzinah, kalau
istrinya itu kawin lagi. Dan barangsiapa yang kawin dengan
wanita yang diceraikan itu, berzinah juga. – BIS
90
"But I say to you that whoever divorces his wife for any
reason except sexual immorality causes her to commit
adultery; and whoever marries a woman who is divorced
commits adultery. – NKJV
Masalahnya GNB sendiri kemudian meralat
terjemahannya dalam versi selanjutnya. Berikut ini saya
sampaikan ayat GNB versi lama (1978) dan versi yang baru
(yang menjadi lebih sama dengan versi-versi lainnya).
But now I tell you; if a man divorces his wife, even though
she has not been unfaithful, then he is quilty of making her
commit adultery if she marries again; and the man who
marries her commits adultery also. – GNB – 1978 (lama)
But now I tell you; if a man divorces his wife, for any cause
other than her unfaithfulness, then he is quilty of making
her commit adultery if she marries again; and the man
who marries her commits adultery also. – GNB – baru
Nah, Alkitab GNB - lama yang digunakan dasar untuk
menolak “perkecualian” ijin perzinahan, jika ayat GNB ini
dibaca secara utuhpun tidak bermaksud atau berarti
meniadakan perkecualian tersebut, namun lebih menekankan
tidak boleh menceraikan jika si-istri, jika ternyata tidak
menyeleweng / ternyata tidak selingkuh (hanya menuduh).
Saya secara pribadi, setelah saya mengambil kuliah theologia
(doktoral) untuk ayat-ayat yang menjadi polemik, maka
standar King James (KJV/NKJV) atau Bible Works mestinya
yang menjadi acuan, dan menggali bahasa asli adalah
keharusan.
91
Sebagai contoh kata “kecuali” dalam matius 5:32 ini di
dalam bahasa Yunaninya digunakan kata parektov – parektos,
yang merupakan kata depan genetif yang berarti KECUALI.
(Kalau “walaupun” maka bahasa Yunaninya EI KAI)
Membandingkan beberapa versi terjemahan perlu, sehingga
bisa terlihat versi mana yang ‘berbeda sendiri’ dengan
beberapa versi lainnya.9
Latar Belakang Polemik Matius 5:32 (Matius 19:9)
Tuhan Yesus mengajarkan ini, sebenarnya sebagai
jawaban atas ajaran Hillel yang sangat populer saat itu, yang
membolehkan perceraian karena alasan apa saja (Matius
19:3). Ajaran yang lebih keras saat itu (dan tidak populer)
adalah ajaran Shammai yang membolehkan perceraian
karena ketidak setiaan (tidak senonoh), namun Tuhan Yesus
memberi syarat lebih keras lagi “kecuali karena porneia -
“sexual immorality” kebejatan seksual” yang diterjemahkan
zinah.
Nah setelah panjang lebar kita membahas pengertian,
saya akan mulai terapkan dalam kasus. Pengertian dari
pengajar yang lain saya akan masukkan dalam Bab V khusus
PERSPEKTIF PERCERAIAN, termasuk yang berbeda
pendapat dengan saya, Anda bisa menyimak disana.
9 https://teologiareformed.blogspot.com/2018/04/wawancara-topik-cerai-karena-zinah.html
92
1. Kasus 01
Setelah menikah dan pemberkatan, baru tahu, ternyata
pasangan lesbi. Lesbinya cukup parah, sehingga
tidak mau diajak hubungan intim. Saya mendengar
ada istri orang lain yang lesbi, tetapi juga
berhubungan intim dengan suaminya, jadi suaminya
masih bisa dapat jatah. Bahkan suaminya tidak tahu
kalau istrinya lesbi. (Ini Bisex)
Apakah bisa bercerai? Karena belum ‘satu daging’.
Apakah bisa bercerai karena pasangan melakukan
KEBEJATAN SEXUAL?
2. Kasus 02
Bagaimana kalau istri diceraikan karena suaminya
GAY. Suami dulu menikah karena tuntutan orang
tuanya. Setelah menikah baru tahu kalau suami GAY
hetero seks. Dia juga berhubungan intim dengan istri,
tetapi jarang-jarang, lebih sering dengan pasangan
GAY-nya.
Jika pasangan saudara benar-benar sudah melakukan
KEBEJATAN SEKSUAL, dengan menjadi pelacur, gigolo,
homo (gay) dan lesbi dan merasa itu hal biasa saja, tidak
menyesal, tidak merasa dosa, maka dia sudah melakukan
‘percabulan’ atau ‘kebejatan seksual’, perceraian ‘dibolehkan’.
Saya katakan ‘dibolehkan’, namun bukan kehendak
Tuhan yang pertama. Kehendak Tuhan adalah setiap orang
bertobat. Jadi doakan, layani, doa dan puasa, patahkan
kuasa perzinahan, supaya dia bertobat, karena Tuhan
menghendaki tidak seorangpun binasa, tetapi diselamatkan.
Namun jika anda mau bercerai, kasus 1 dan 2 ini termasuk
‘yang dibolehkan’. (Bukan harus bercerai)
93
03. Kasus 03
Pasangan saya kecanduan pornografi, setiap hari melihat
video porno lewat you-tube di gadgetnya. Setelah melihat
ngajak bercinta mengikuti gaya dan posisi yang ada di you-
tube tersebut. Yang menyakitkan, sambil bermain pun
tetap terus memegang gadgetnya melihat adegannya dan
menirukannya. Saya merasa dirinya hanya obyek seksual,
saya diperkosa setiap hari. Jika di you-tube pakai timun
atau wortel, maka itupun dilakukan kepada saya. Saya
sudah tidak sanggup lagi.
Dalam kasus ini, sebenarnya pasangannya sudah
bejat seksual, terikat pornografi dan seks yang menyimpang.
Apalagi melakukan kekerasan seksual, menganiaya
pasangan, dengan timun dan wortel (yang dimasukkan
dengan paksa ke istrinya).
Ini sudah bejat atau porniea. Dalam kasus lain saya
mendengar pasangan mengikat pasangannya dengan tali dan
mencambuki, memukuli dan baru memperkosanya. Semua
ide itu muncul dari adegan pornografi. Dalam kasus ini sama
seperti kasus No. 1 dan 2 diatas, maka perceraian
‘dibolehkan’. (Tidak harus)
Boleh, tetapi tidak harus (bukan kehendak Tuhan)
Secara hukum boleh, namun kalau saya dimintai
pendapat dan saran, saya akan menyarankan, lebih baik
selibat, memberi kesempatan, jika dikemudian hari pasangan
bertobat dan bisa pulih kembali. Itu yang terbaik dan itu yang
paling sesuai dengan hati dan kehendak Tuhan.
94
1 Korintus 10:23 “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar,
tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu
diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu
membangun.
Yang boleh belum tentu berguna dan yang dibolehkan,
bisa bukan kehendak Tuhan. Sebagai perbandingan, Israel
minta raja, itu bukan kehendak Tuhan, Israel ngotot, akhirnya
diijinkan, tetapi itu mendukakan hati Tuhan.
1 Samuel 8:6 Waktu mereka berkata: “Berikanlah kepada
kami seorang raja untuk memerintah kami,” perkataan itu
mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada
Tuhan.
7 Tuhan berfirman kepada Samuel: “Dengarkanlah
perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan
mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka
tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku
menjadi raja atas mereka.
Akhirnya, bangsa Israel tetap meminta Raja dan Tuhan
mengijinkan. Ketika Raja dilantik, Tuhan juga memberkati dan
mengurapi dan bukan mengutuki, tetapi itu tetaplah bukan
kehendak Tuhan yang pertama.
Dalam kondisi tertentu seperti kasus 1,2,3 menikah lagi
bisa di-ijinkan bahkan diteguhkan dan diberkati oleh gereja,
namun, tetap saja itu perbuatan yang bukan kehendak Tuhan.
Contoh lain, Anda punya anak dan anak minta sesuatu yang
tidak Anda sukai, berbahaya, mendatangkan masalah, tetapi
karena dia menangis terus, berulah, ngotot, akhirnya saudara
mengijinkan.
95
Tuhan, dalam beberapa hal, pernah dan bisa bersikap
begitu dan itu dilakukan karena kedegilan hati orang Israel,
dan karena kemurahan hati Tuhan. Namun jika Anda mau
menyenangkan hati Tuhan, lakukanlah yang menjadi isi hati
Tuhan yang menjadi kesenangan-Nya.
Karena itu kehendak Tuhan adalah; dia menunggu,
dengan selibat (atau pisah sementara), berdoa dan berpuasa,
supaya pasangannya bertobat lalu pulih kembali.
Jika mau menikah, ia diperbolehkan saya berani
memberkati dan bukan mengutuki. Raja Israel waktu dilantik,
juga diberkati dan diurapi Tuhan melalui nabi-Nya, walau itu
bukan kehendak Tuhan, tetapi diijinkan karena orang Israel
tegar tengkuk.
Tugas nabi, tugas hamba Tuhan, tugas pendeta,
bukan mengutuki, tetapi memberkati. Tetapi tugas pertama,
seperti Samuel, dia memperingatkan dengan keras, bahwa
meminta raja (sama halnya bercerai dan menikah lagi) itu
bukan kehendak Tuhan.
Karena itu, sebenarnya lebih baik menjaga pernikahan,
memelihara pernikahan dan memulihkan pernikahan.
Perceraian walaupun memenuhi persyaratan theologis, tetap
bukanlah kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan adalah
pemulihan. Tuhan Yesus mengatakan, perceraian itu dijinkan
karena kedegilan hati manusia, itupun dengan persyaratan
yang kita bahas diatas.
96
V. Perspektif Perceraian
Dalam bab ini, secara khusus saya mengambil tulisan
dari berbagai narasumber, mengenai perceraian, saya tidak
meng-editnya, baik saya setuju ataupun tidak dengan
pandangan tersebut. Hal ini saya maksudkan untuk
menyajikan perspektif beberapa pengajar, sehingga Anda bisa
menimbang, menjadikan masukan, membandingkan dan jika
setelah itu Anda memilih bersikap.
A. Pdt. Samuel T. Gunawan M.Th
Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th, penulis Gembala di
GBAP Jemaat El Shaddai; Pengajar di STT IKAT dan STT
Lainnya. Menyandang gelar Sarjana Ekonomi (SE) dari
Universitas Palangka Raya; S.Th in Christian Education; M.Th
in Christian Leadership (2007) dan M.Th in Systematic
Theology (2009) dari STT-ITC Trinity.10
Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang
menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka
laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-
laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu
dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu
daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan
satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak
boleh diceraikan manusia” (Matius 19:4-6)
10 https://artikel.sabda.org/perceraian_dan_pernikahan_kembali
97
1. PEMIKIRAN DASAR
Sebelum lebih jauh membahas perceraian dan
pernikahan kembali menurut persepektif iman Kristen dan
ajaran Alkitab, perlu diperhatikan tiga pemikiran mendasar
mengenai perceraian sebagai berikut:
a. Pertama, perceraian bukanlah idea Tuhan. Jelaslah bahwa
Tuhan tidak merancang perceraian. Apapun pandangan
mengenai perceraian, adalah penting untuk mengingat
kata-kata Alkitab dalam Maleakhi 2:16a: “Sebab Aku
membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel.”
Menurut Alkitab, kehendak Allah adalah pernikahan
sebagai komitmen seumur hidup. “Demikianlah mereka
bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah
dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia"
(Matius 19:6).
Yesus mengatakan bahwa Allah mengizinkan perceraian
tetapi tidak memerintahkan (Matius 19:8). Perceraian itu
diijinkan bukan diperintahkan, hal ini terjadi karena
“sklerokardia” atau “kekerasan hati” manusia (Matius 19:8;
Markus 10:5). Dosa membuat hati manusia menjadi keras.
Kekerasan hati manusia mengakibatkan manusia sulit
mengampuni, menganggap diri benar, meremehkan firman
Tuhan, menutup diri terhadap koreksi, menolak untuk
berubah, menyebabkan hubungan suami istri rusak, dan
keluarga berantakan, bahkan perceraian. Jadi perceraian
adalah konsensi ilahi bukan konstitusi ilahi; merupakan
kelonggaran bukan norma atau standar Allah. Dengan
kata lain, perceraian bukanlah yang ideal atau yang terbaik
bagi pernikahan.
98
b. Kedua, perceraian tidak diperbolehkan karena setiap
alasan. Kristus menegaskan bahwa perceraian dapat
terjadi hanya karena satu alasan yaitu “zinah” (Matius
19:9). Frasa “kecuali karena zinah” adalah satu-satunya
alasan dalam Alkitab di mana Tuhan memberikan izin
untuk perceraian. Satu alasan ini perlu ditegaskan karena
orang farisi datang kepada Yesus dengan pertanyaan
“Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya
dengan alasan apa saja?” Frase Yunani “kata pasan
aitian” sebuah frase yang lebih tepat bila diterjemahkan
“untuk alasan apa saja” (Matius 19:3). Disini Kristus
menegaskan bahwa seseorang tidak boleh bercerai
berdasarkan alasan apa saja.
c. Ketiga, perceraian mengakibatkan masalah-masalah.
Apabila rancangan Tuhan diabaikan oleh manusia,
pastilah timbul masalah-masalah. Bagi orang-orang
tertentu perceraiansepertinya adalah penyelesaian
masalah, tetapi bagi orang lainnya adalah adalah masalah.
Karena akan ada pihak yang terluka, tertekan, tersakiti dan
dirugikan. Pasangan yang bercerai, anak-anak, pihak
keluarga, serta masyarakat yang lebih luas bisa jadi
terkena dampaknya. Lagu “Butiran Debu” yang
dinyanyikan Rumor nampaknya mengekspresikan dengan
tepat kebahagiaan cinta yang dirusak oleh pengkhiataan
dan betapa dalam luka yang diakibatkannya. Ada harga
mahal yang dibayar bagi sebuah pilihan untuk bercerai
karena perceraian mengakibatkan luka yang tidak mudah
untuk disembuhkan. Dan mungkin, bila luka tersebut
disembuhkan tetap akan menyisakan goresan bekas luka
tersebut.
99
2. PERNIKAHAN MENURUT PERSEPEKTIF ALKITAB
Menurut Alkitab, pernikahan merupakan suatu kovenan
dan komitmen yang mengikat, bersifat permanen dan seumur
hidup (Matius 19:5-6). Kovenan pernikahan ini dinyatakan
dengan gamblang oleh nabi Maleakhi ketika ia menulis,
“TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan istri masa
mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal
dialah teman sekutumu dan istri seperjanjianmu” (Maleakhi
2:14).
Kitab Amsal juga berbicara tentang penikahan sebagai
suatu “kovenan” atau “perjanjian” satu sama lain. Kitab ini
mengutuk seorang yang berzinah, “yang meninggalkan teman
hidup masa mudanya dan melupakan perjanjian Allahnya”
(Amsal 2:17).
Sebuah kovenan menurut Alkitab, adalah sebuah
hubungan yang sakral antara dua pihak, disaksikan oleh Allah,
sangat mengikat, dan tidak dapat dibatalkan. Kedua belah
pihak bersedia berjanji untuk menjalani kehidupan sesuai
dengan butir-butir perjanjian itu.
Kata Ibrani yang digunakan untuk “kovenan” adalah
“berit” dan kata Yunaninya adalah “diathêkê”. Istilah kovenan
yang seperti inilah yang digunakan Alkitab untuk melukiskan
sifat hubungan pernikahan.
Allah juga menghendaki bahwa pernikahan sebagai
komitmen seumur hidup. Dengan demikian, pernikahan itu
bersifat permanen. Sifat permanennya suatu pernikahan
dengan jelas dan tegas dikatakan Kristus, “Apa yang telah
100