The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Perceraian dan Menikah Lagi

Karya:
Dr. Ir. Jarot Wijanarko M.Pd
Pemerhati dan konselor keluarga

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by BPD GBI DKI Jakarta, 2021-08-01 23:08:07

Perceraian dan Menikah Lagi - Dr. Ir. Jarot Wijanarko M.Pd

Perceraian dan Menikah Lagi

Karya:
Dr. Ir. Jarot Wijanarko M.Pd
Pemerhati dan konselor keluarga

popular, lalu Yesus menjawab lebih keras dari Shammai. Bagi
mereka yang selama ini punya pandangan bahwa alasan
remehpun (tidak mencintai, tidak menyukai, tidak cocok) boleh
menjadi alasan untuk cerai, maka ajaran Yesus itu luar biasa
ekstrim, apalagi jika PORNEIA diartikan KEBEJATAN
SEKSUAL dan bukan hanya sekedar PERZINAHAN
(MOICHEIA). Jadi bisa dimengertikan, kenapa respos para
murid seperti itu?

c. Merangkum Matius 19

Pdt Budi memberikan tambahan berkenaan konteks
Matius 19 jika di runut secara sederhana sebagai berikut:

i. Matius 19:3 orang-orang itu bertanya; “Apakah
diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan
alasan apa saja?” (Rupanya pengikut Rabi Hillel).
Matius 19:4-6 Yesus tidak langsung menjawab
pertanyaan mereka, tetapi ia lebih dahulu
membicarakan PERATURAN UMUM atau KEADAAN
IDEALnya, bahwa orang TIDAK BOLEH BERCERAI.

ii. Orang mengejar dengan bertanya (ayat 7) “Mengapa
Musa menyuruh memberi surat cerai?” (Mengambil
referensi Ulangan 24 – rupanya pengikut Rabi
Shammai) Dan Yesus menjawab (ayat 8) “Karena
ketegaran hatimu” Jadi cerai karena ketegaran hati itu
bukan menunjuk ayat 9 (karena PORNEIA) tetapi
menunjuk “cerai yang diijinkan Musa” yang mereka
tanyakan (ayat 7)

151

iii. Lalu ayat 9, Ia menekankan lagi bahwa orang tidak
boleh bercerai, kecuali PORNEIA, Percabulan – sex
immorality – kebejatan seksual.

Pdt Budi masih banyak menulis mengenai perceraian
dari Kitab Hosea, Kitab Yeremia, mengapa PERKECUALIAN
hanya ada di Kitab Matius, Janji Pernikahan dan beberapa hal
penting lainnya, yang tidak saya muat di dalam buku ini,
namun saya merekomendasikan Anda membacanya di:
https://teologiareformed.blogspot.com/2018/04/wawancara-
topik-cerai-karena-zinah.html

Pandangan Saya (Jarot Wijanarko)

Nah seluruh Bab V adalah pandangan berbagai
pengajar, baik yang sama ataupun berbeda dengan saya
dalam bab-bab lain, untuk saya sajikan, supaya Anda juga
mengenal aneka pandangan yang ada di dalam komunitas
gereja.Jika saya mengamati, maka dari semua pengajar yang
“menyetujui” perceraian karena perzinahan, semua juga
sepakat bahwa bercerai tetaplah bukan “kehendak Tuhan”
tetapi “diijinkan”, atau saya tambahkan “diijinkan karena
kedigilan hati yang mau bercerai” bukan “harus” bercerai tetapi
“bisa” bercerai sebagai alternatif.

Alternatif terbaik, menurut saya tetaplah “mengampuni”
dan “mempertahankan” pernikahan untuk mengusahakan
pemulihan, memenangkan pasangan, melayani Penginjilan
Pribadi, membuatnya bertobat, lahir baru dan hidup baru
sehingga terjadi pemulihan pernikahan.

152

VI. Pulih dan Solusi Perceraian

1. Kasus 04

Suami meninggalkan istri, menikah lagi dengan wanita lain.
Bolehkah istri yang ditinggalkan menikah lagi, pernikahan
suami yang pergi tersebut sudah diberkati di gereja lain
(agama lain atau sudah catatan Sipil).

Jika pasangan meninggalkan, kabur dan sudah
menikah lagi dan pernikahannya sudah diteguhkan baik oleh
gereja lain atau agama lain, maka ini termasuk dalam kategori
sudah berzinah, sudah melakukan porniea atau percabulan,
karena jika mereka sudah dinikahkan maka pasti akan
melakukan hubungan suami istri berkali-kali tanpa merasa
dosa (padahal itu dosa), sehingga bukan lagi jatuh dosa tetapi
hidup didalam dosa. Berbuat dosa tanpa merasa dosa itulah
bejat (porneia)

Orang disebut bejat seksual atau porniea, jika
melakukan dosa tanpa merasa berdosa. Ia hidup di dalam
dosa, hidup di dalam perzinahannya. Dalam kasus-kasus
seperti diatas, menurut pemahaman saya pribadi, pasangan
yang ditinggalkan boleh menikah lagi. Namun jika mau hidup
selibat itu lebih baik, jika tidak tahan untuk memenuhi
kebutuhan daging dan mau menikah itupun boleh. Secara
hukum, mereka yang mau menikah lagi, karena pasangannya
menikah lagi, harus mengurus surat cerai atau surat ijin
menikah lagi, sebelum pernikahan kembali, bisa diberkati.

153

2. Kasus 05

Perempuan Katolik menikah catatan sipil dengan pria
muslim, tidak diberkati di gereja. Kemudian bercerai
dan si-pria menikah laki dengan wanita muslim.
Wanita katoliknya menunggu dengan selibat. Sekarang
si-pria mantan suami bertobat, mau pulih/ kembali dan
minta diberkati secara kristen. Apa bisa?

3. Kasus 06

Pasangan bercerai, dan masing-masing hidup sendiri-
sendiri. Bolehkah rujuk kembali dan menikah kembali
dengan orang yang sama/ yang bercerai tadi rujuk
lagi?

4. Kasus 07

Orang bercerai sebelum kenal Tuhan. Lalu bertobat
dan akan menikah lagi. Apakah boleh jika mantan
pasangannya ternyata masih hidup dan masih hidup
sendirian. Menikah lagi atau kembali ke mantan
pasangan?

Kasus 6 dan 7, boleh itu namanya PEMULIHAN. Jika
keduanya belum menikah lagi dengan orang lain, justru
PULIH, atau rujuk kembali itu alternatif terbaik. Kasus 05 saya
akan bahas lebih jauh di belakang, dalam kasus jika si-mantan
pernah menikah kembali (Prinsip Ulangan 24)

154

5. Kasus 08

Jika sudah terlanjur bercerai dan mau kembali rujuk
dengan mantan pasangan:

a. Bagimana jika pasangan sudah menikah lagi?

b. Bagaimana jika sudah terlanjur masuk ke
pernikahan ke-dua dan diberkati serta bahagia? Kami
berdua sekarang melayani Tuhan? Bahkan sudah
beranak 3?

6. Kasus 09

Sepasang suami istri menikah karena hamil waktu
pacaran. Saat menikah keduanya belum bertobat.
Suami kemudian bertobat dan istrinya
meninggalkannya. Akhirnya suami ini menikah lagi
dengan anak Tuhan dan hidup bahagia.

Beberapa tahun kemudian, istri pertamanya bertobat.
Apakah suami ini harus memutuskan istri keduanya
dan kembali ke istri pertama?

Istri pertama bingung, mau pulih mantan suami sudah
menikah, selibat tidak kuat, menikah lagi apa boleh?

Perlu konseling lengkap, baik pihak suami maupun
istri, untuk mengetahui latar belakang selengkapnya. Saya
akan buat diagram berikut ini, untuk memudahkan
menganalisa masalah.

155

Selain kasus-kasus diatas, akan banyak lagi kasus
kawin cerai. Terkadang begitu rumitnya, sehingga tidak ada
ayat yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang ada,
sehingga diantara pendeta dan gerejapun, bisa berbeda
pendapat tentang cara terbaik penyelesaiannya.

156

Sering kasus sedemikian spesifik, sehingga tidak ada
ayat yang tepat yang sesuai dengan kasus tersebut, jika
demikian, kita akan menggunakan prinsip-prinsip moral,
kepatutan, atau pendekatan hukum sesuai undang-undang
dimana orang percaya tersebut tinggal.

Masalah terkadang menjadi seperti berbeda,
tergantung siapa yang datang konseling dengan kita. Jika
menggunakan diagram disamping, yang datang A, B1, B2, B3,
C, E atau E? Namun sebenarnya prinsipnya sama, saya akan
coba mengurai beberapa kasus dan solusinya. Diagram
disamping harus dilengkapi lagi data, pernikahan A+B atau
A+C atau E+B atau C+D tersebut sebelum atau sesudah
bertobat, sudah diberkati atau hanya kumpul kebo atau hanya
nikah adat atau hanya nikah catatan sipil?

Saya menyarankan, buku ini hanya sebagai acuan,
keputusan terakhir, saya lebih menghormati gembala, dimana
orang yang ada kasus tersebut berjemaat, karena gembala
lebih memantau, tahu lebih details, dan cerita yang
sebenarnya serta latar belakang selengkapnya. Namun
beberapa gembala juga justru binggung dengan kasusnya dan
banyak diantara mereka menghubungi saya untuk minta
pendapat.

Saya tahu ini tidak mudah, namun saya akan coba
sebijaksana mungkin mengurai dan menganalisa masalah,
serta beberapa opsi penyelesaian serta alasan-alasannya.

Bercerai tidak boleh dan dibenci Allah, menikah lagi
bukan kehendak Allah, sudah jelas saya ajarkan dalam bab

157

sebelumnya, namun jika masalah sudah terlanjur terjadi,
bagaimana solusi penyelesaiannya? Banyak gereja dan
pendeta tidak berani memberikan solusi, akhirnya jemaat
pindah gereja atau pindah agama. Setelah pindah agama,
bertobat lagi dan konseling dengan kondisi sudah cerai atau
sudah menikah lagi.

A. Pasangan sudah menikah lagi (B1-1)

Jika saya taruh dalam diagram, maka yang datang
konseling ini B1. Jika pasangannya (si A) sudah menikah lagi,
dan pernikahan lagi tersebut bukan hanya kumpul kebo, tetapi
sudah disahkan atau diberkati oleh gereja lain atau agama lain
(dan sebenarnya itu ‘moichao’ atau ‘sex imorality’ atau
kebejatan sexual), maka dia (B1) justru menjadi ‘merdeka’,
secara theologis ‘boleh’ menikah lagi (lihat Bab 4 a). Hal itu
jika suaminya (si-A) meninggalkan begitu saja lalu menikah
lagi, bukan kasus diceraikan.

Walaupun ‘boleh’, alternatif terbaik adalah tetap
‘selibat’, tetap menjadi janda atau duda dan mencari
kebahagiaan dengan melayani Tuhan, berbuat baik, merawat
dan membesarkan anak-anak dan berbagai perbuatan baik
lainnya, seperti yang disarankan oleh Paulus.

1 Korintus 7: 8 Tetapi kepada orang-orang yang tidak
kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya
baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.

158

17 Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup
seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam
keadaan seperti waktu ia dipanggil Tuhan. Inilah
ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat.

Jika dulu ia diceraikan, dan pernikahannya sudah
sebagai orang kristen, setelah bertobat dan pernikahannya
sudah diberkati di gereja, maka ia tidak boleh menikah lagi,
sebaiknya ia selibat. Karena barangsiapa diceraikan dan
menikah lagi, ia berbuat zinah (lihat Bab 3 D). Jika
pernikahannya dan perceraiannya sebelum ia bertobat, dan
mantan suaminya sudah menikah lagi, lalu kemudian ia (B1)
bertobat, ia boleh menikah lagi.

B. Pasangan sudah menikah lagi, mau kembali? (B1-2)

Jika saya taruh dalam diagram, maka yang datang
konseling ini B1. Jika pasangannya (si-A) sudah menikah lagi
lalu bercerai dengan si-C atau C meninggal dan mau kembali
ke B1, baik B1 sudah menikah atau masih sendirian, tetap
tidak bisa kembali, jika A dan B dulu bercerai, lalu menikah
lagi.

Jika dulu tidak bercerai, hanya pergi begitu saja, atau
si-A dulu menikah lagi tanpa bercerai dengan B, artinya A
berbuat dosa dengan berzinah dengan si-C atau menikah lagi
(poligami) dan bertobat lalu kembali, maka boleh diterima
karena berarti ini pemulihan. Namun jika dulu sudah bercerai,
lalu menikah lagi, Ulangan 24 melarang untuk kembali lagi.

159

Ulangan 24:1 “Apabila seseorang mengambil seorang
perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia
tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya
yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai
dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah
itu menyuruh dia pergi dari rumahnya,
2 dan jika perempuan itu keluar dari rumahnya dan pergi
dari sana, lalu menjadi istri orang lain,
3 dan jika laki-laki yang kemudian ini tidak cinta lagi
kepadanya, lalu menulis surat cerai dan menyerahkannya
ke tangan perempuan itu serta menyuruh dia pergi dari
rumahnya, atau jika laki-laki yang kemudian mengambil
dia menjadi istrinya itu mati,
4 maka suaminya yang pertama, yang telah menyuruh dia
pergi itu, tidak boleh mengambil dia kembali menjadi
istrinya, setelah perempuan itu dicemari; sebab hal itu
adalah kekejian di hadapan Tuhan. Janganlah engkau
mendatangkan dosa atas negeri yang diberikan Elohim,
Tuhanmu, kepadamu menjadi milik pusakamu.

C. Suami meninggalkan istri, menikah lagi dengan wanita
lain dan pindah agama sama dengan istri keduanya.
Suami kadang kembali ke rumah dan istrinya tetap
menerima dan melayani suaminya (hubungan intim).
Berdosakan hubungan intim dengan pezinah, bahkan
sudah beda agama?

Bodohkah istri ini mau bertahan? Suaminya tidak mau
menceraikannya. Saya seperti B1, pasangan pergi
menikah lagi, saya sebenarnya khan ‘boleh’ menikah
lagi, tetapi suami tidak mau menceraikan, dia maunya
punya istri 2 (poligami?) (B1-3)

160

Secara hukum, jika istri ditinggalkan, diceraikan, maka
istri sebenarnya bisa menikah lagi, karena suaminya telah
melakukan ‘moichao’ ‘kebejatan sexual’. Namun sikap terbaik,
adalah bertahan. jadi jika istri tersebut bertahan, dia tidak
bodoh, tetapi melakukan kehendak Tuhan, itu yang terbaik.

Secara dunia ini bodoh, tetapi sebenarnya secara
rohani sikapnya benar, tidak bercerai, karena dia istri yang
sah. Yang harusnya bercerai dengan suaminya adalah istri
kedua.

Terus bertahan dan berdoa, supaya suami bertobat
dan meninggalkan perzinahannya dengan istri kedua tersebut.

Hubungan seks boleh, bukan dosa, karena statusnya
justru dia istri yang sah. Jika suami tidak dilayani, nanti malah
dia diceraikan, dan jalan menuju pemulihan semakin jauh.
Layani dan layani lebih dan lebih lagi, lebih sering, lebih
bergairah, lebih merindukan, supaya suami merasa dicintai
dan dibutuhkan. Sadari apa kekurangan selama ini, sehingga
suami menikah lagi, bertobat, perbaiki, dan saya berdoa
supaya suaminya menceraikan istri keduanya dan pulih
dengan istri pertamanya. Bersyukur, kalau suami tidak mau
menceraikan, karena peluang pulih justru menjadi ada.
Jangan minta cerai karena itu yang justru salah.

D. Pasangan pergi begitu saja dan sudah menikah lagi,
dalam diagram bapak, saya B-1 dan menjadi ‘boleh’
menikah lagi. Saya mau menikah lagi. Untuk menikah
lagi saya harus mengurus surat cerai. Jika mengurus
surat cerai, status jadi bercerai, lalu menjadi tidak
boleh menikah lagi. Jadi bagaimana ya? Atau

161

langsung menikah lagi saja? Berarti khan poligami?
Bagaimana saya bisa menjalani hidup saya? (B1-4)

Makanya saya selalu menyarankan, walaupun ‘boleh’
sebaiknya tidak menggunakan haknya untuk menikah lagi,
tetapi lebih baik ‘selibat’ hidup sendiri, atau justru ‘bertahan’
seperti kasus C sebelumnya. (B1-3)

Dengan selibat, jika nanti suami bertobat dan kembali,
bisa pulih. Jika menikah lagi dan dan nanti suami bertobat
dan kembali, sudah tidak bisa pulih lagi.

Namun jika benar-benar hal itu sepertinya tidak
mungkin (sebenarnya bagi Tuhan tidak ada yang tidak
mungkin), karena alasan tertentu, misalnya suami sudah tidak
akan kembali, karena pernikahannya ke 2 sudah ada anak-
anak banyak, suami sudah pindah agama atau suami setelah
menikah lagi, pindah pulau atau pindah negara sudah
bertahun-tahun dan tidak tahu ada dimana lagi, yang pasti dia
sudah menikah lagi, maka engkau ‘boleh’ menikah lagi.

Jika untuk hal itu harus mengurus ‘surat cerai’ atau
‘surat ijin menikah lagi’ atau ‘surat pemberitahuan sudah
berpisah di kantor catatan sipil’ tergantung dinegara atau
wilayah mana yang memungkinkan, maka hal itu dilakukan
karena keharusan menurut tata hukum administrasi negara
dimana kita hidup di dunia ini yang ‘terpaksa’ harus diikuti.
Dalam kasus ini, akan banyak gereja dan pendeta yang
‘memahami’ dan mau memberkati.

162

E. Pasangan sudah menikah lagi, saya sendiri istri ke 2.

Jika saya taruh dalam diagram, maka yang datang
konseling ini B2, B3 atau B4. Pernikahan ke 2, bagi orang
percaya istri ke 2 dan selanjutnya adalah perzinahan, tidak
boleh, karena itu jika cerai atau putus, itu sudah benar.
Sekarang menikahlah bukan dengan istri orang lain,
menikahlah dengan bujangan atau duda (Duda karena istrinya
mati)

F. Jika menikah lagi, dalam kasus-kasus yang pada
akhirnya ‘dibolehkan’, apa ini bukan ‘melegalisasi’
perzinahan?

Dalam kasus-kasus khusus yang ‘dibolehkan’ karena
memang memenuhi syarat-syarat Firman Tuhan, walaupun itu
bukan ‘kehendak Tuhan’, bukan merupakan ‘legalisasi’
perzinahan, bukan berzinah, karena memang boleh. Ini jika
dan hanya jika pasangan ‘moichao’ atau ‘diceraikan karena
tidak se-iman’ seperti yang saya bahas dalam bab 4 didepan.

G. Jika pasangan pergi begitu saja dan menikah lagi,
sehingga dia melakukan ‘moichao’ atau ‘kebejatan
sexual’ sehingga yang ditinggal ‘boleh’ menikah lagi.

Bolehkah pasangan yang ditinggal pergi pasangannya
berdoa supaya pasangannya yang pergi itu segera
menikah lagi? Maksudnya supaya dia sendiri menjadi
‘boleh’ menikah lagi?

163

Ini bukan doa, tetapi rancangan jahat. Karena itu,
sungguh-sungguh bertobatlah dan jangan degil hati atau licik.
Kalau berdoa, berdoalah supaya pasangan Anda bertobat dan
kembali sehingga pulih. Berdoalah apa yang menjadi
kehendak Tuhan.

H. Jika pernikahan yang pertama belum bertobat, tidak
diberkati di gereja, lalu bercerai. Setelah perceraian
baru bertobat? Apa yang harus dilakukan?

Alternatif pertama, jika Anda bertobat sungguh-
sungguh, yakin akan keselamatan, maka cari informasi
dimana mantan pasanganmu sekarang (kalau perlu pasang
iklan di koran nasional), masih sendirian atau sudah menikah.
Jika masih sendirian, ‘menangkan’ ‘selamatkan’ atau ‘injili’ dia,
jika dia juga mau bertobat, maka Anda bisa pulih dan diberkati
pernikahannya dengannya.

Jika dia tidak mau percaya, Anda tidak boleh menikah
dengan orang yang tidak percaya, karena itu melanggar
Firman dan Undang Undang Pernikahan RI. Jika dia sudah
menikah lagi, dia sudah terikat dalam ‘pernikahan resmi’
dengan orang lain. Alternatif terbaik adalah selibat. Jika tidak
kuat selibat, maka Anda bisa menikah dengan ‘orang percaya’

Lebih mudah mencegah daripada mengobati.
Mengobati luka fisik masih jauh lebih mudah, tetapi luka hati,
butuh waktu yang lama. Karena itu, bagi yang belum bercerai,
sungguh-sungguh pertahankan pernikahan Anda bahkan
bangunlah kebahagian dengan cara secara konsisten

164

menerapkan prinsip-prinsip pernikahan yang diajarkan Firman
Tuhan dan yang saya sederhanakan dalam bahasa yang
lugas dalam buku-buku saya. Jangan bercerai.

Namun jika sudah terlanjur pernikahan hancur, apa
yang harus dilakukan? Tidak ada pilihan yang lebih baik dari
‘upayakan pemulihan!’

Bagaimana PEMULIHAN SUAMI ISTRI, saya bahas
secara khusus dalam buku setebal 205 halaman berjudul
‘Pernikahan yang diberkati’ (Pemulihan Suami Istri), dalam
buku ini saya bahas secara khusus, pemulihan jika sudah
terlanjur bercerai.

1. Bertobat: Tidak ada jalan lain, untuk mengalami
pemulihan dari perselingkuhan dan perceraian,
pertama mulailah dari diri Anda sendiri, bertobat
sungguh-sungguh. Buang: kekecewaan, kepahitan,
dendam, pembalasan dan panas hati.

Kenapa saya katakan bertobat? karena jika ada dua
orang bermasalah, bertengkar, bercerai atau pasangan
selingkuh maka pasti keduanya salah. Bisa saja
saudara salah 10 point dan pasangan Anda 1000
point, maka bertobat dan minta maaf untuk
kesalahanmu yang 10 point dan engkau tidak usah
ungkit atau singgung kesalahannya yang 1000 point,
karena setiap orang akan bertanggung jawab kepada
Tuhan kesalahan masing-masing.

165

2. Melepaskan Pengampunan. Tidak ada pemulihan
tanpa pengampunan.

3. Terima pasangan apa adanya, kasihi dia dengan
sungguh-sungguh, sekeras dan sebejatnya manusia,
akan berubah jika merasakan kasih.

4. Isi hidup Anda dengan Firman, ucapkan syukur dan
banyak berdoa, karena Tuhanlah yang memberi hikmat
dan kekuatan. Isi hati Anda dengan kasih Yesus.

5. Bangun kembali komunikasi dan bersabarlah, karena
kesembuhan dan pemulihan adalah proses dan
membutuhkan waktu.

6. Suami pulih menjadi PRIA SEJATI, menjadi IMAM dan
KEPALA dalam keluarga, sedangkan isteri menjadi
WANITA BIJAK dan menjadi PENOLONG dalam
rumah tangga.

I. Jika masing-masing sudah menikah lagi, bahkan
masing-masing sudah menikah yang ke 2,3 atau 4.

Mantan pasangan masing-masing juga sudah menikah
lagi dan pergi 10-20 tahun tanpa berita. Saat inipun
sudah ada 3 anak yang besar-besar. Pernikahan
terakhir justru membawa dekat dengan Tuhan, bahagia
dan diberkati.

166

Tetapi sering masih ada roh pendakwa (atau Roh
Kudus yang menegor) bahwa ini perzinahan. Saya
mau benar-benar pulih, apa yang harus dilakukan?

Dalam diagram, mereka ini A+C datang bersama-
sama, A sudah pernah menikah dengan B1, B2, B3 dan C hal
serupa, status janda cerai dan sudah cerai 2 atau 3 kali.

Mereka lalu bertobat sungguh-sungguh dan sekarang
hidup bahagia dan melayani Tuhan, maka bertobatlah dari
‘perbuatan dosa’ masa lalu, minta ampun kepada Tuhan,
namun tidaklah mungkin kembali ke suami / istri yang pertama
yang juga sudah menikah dan memiliki anak-anak dan
saudara sendiri juga sudah menikah dan memiliki anak-anak.
Kembali ke istri pertama akan banyak korban anak-anak yang
terluka di kedua belah pihak.

Jika dahulu mereka ‘meninggalkan begitu saja
pasangan pertama’ untuk pulih kembali ke mereka secara
theologis boleh, tetapi 3 keluarga baru yang terlibat dan
masing-masing harus menceraikan isteri dan anak-anak. Hal
ini tentu tidak akan mudah dan bahkan menimbulkan
persoalan-persoalan baru. Jika dahulu mereka bercerai,
kembali setelah mereka menikah lagi, memang dilarang
Ulangan 24.

Dalam kasus seperti ini saya secara pribadi
berpendapat, ‘tetaplah dalam keadaan seperti ketika dipanggil/
bertobat sungguh-sungguh’. Jadi tetaplah dengan keluargamu
‘saat ini’, yaitu ‘saat engkau dipanggil’ atau ‘saat bertobat’.

167

1 Korintus 7: 8 Tetapi kepada orang-orang yang tidak
kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya
baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.
17 Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup
seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam
keadaan seperti waktu ia dipanggil Tuhan. Inilah
ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat.

Penyelesaian dengan cara diatas, juga sering
menggunakan pendekatan prinsip ‘yang lama sudah berlalu
yang baru sudah datang’. Kebijakan ini sering diambil, karena
jika diarahkan untuk pulih dengan suami dan ist

ri mereka yang pertama, pasangan mereka masing-
masing juga sudah membentuk keluarga baru, mereka sendiri
sudah memiliki anak-anak, bahkan dalam kasus tertentu,
karena sudah bertahun-tahun sudah ada cucu.

2 Korintus 5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia
adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu,
sesungguhnya yang baru sudah datang.

Catatan: Himbauan

1. Jika kasus perceraian dan menikah lagi demikian rumit
dan tidak ada Firman yang cocok, maka gunakan prinsip
moral, kepatutan, prinsip apa yang terbaik bagi semua atau
menggunakan undang-undang negara. Konselinglah
dengan 2 atau 3 pendeta, dan jangan heran jika jawaban
berbeda, gunakan semua itu sebagai referensi dalam doa
Anda, dan biarkan roh kudus berkata -kata dalam hati Anda.

168

2. Jika Anda seorang gembala dan menghadapi kasus

jemaat yang pelik, ada baiknya engkau konsultasi dengan

hamba Tuhan yang menjadi ‘senior’ Anda supaya pendapat

Anda dijagai murni, tidak subyektif. Jangan sampai Anda

membolehkan pernikahannya, hanya karena

persembahannya besar, dan Anda ikut bagian dalam dosa

orang lain.

J. Dengan berbagai kemungkinan penyelesaian dari
perceraian dan menikah lagi ini, apa tidak akan
membuat orang berpikir, ah ... cerai saja, menikah lagi,
lalu nanti minta ampun toh nanti juga akan diampuni.

Apakah saudara akan membunuh juga, jika tahu nanti
setelah membunuh, bahkan orang berdosa seperti yang
bersama-sama Yesus mati di kayu salibpun, minta ampun
diampuni.

Bagaimana jika napas berhenti saat membunuh atau
saat bercerai, saat berzinah, kena serangan jantung dan mati?

Memang dosa apapun, jika bertobat dan minta ampun
pasti diampuni dan akan masuk sorga, karena bagaimanapun
berlaku Firman Tuhan jaminan pengampunan seperti
beberapa ayat berikut ini: (Masih ada ratusan ayat lainnya)

1 Yohanes 1:9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah
setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa
kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

Yesaya 1:18 Marilah, baiklah kita berperkara! --firman
TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan

169

menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah
seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu
domba.

Mazmur 103:12 sejauh timur dari barat, demikian
dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita

Walaupun jaminan pengampunan dosa itu pasti, tetapi

jangan mempermainkan Tuhan dengan sengaja
merencanakan hal itu. Elohim juga Tuhan yang adil dan suatu
saat akan menghakimi semua manusia.

Galatia 6:7 Jangan sesat! Tuhan tidak membiarkan diri-
Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga
yang akan dituainya.

Roma 2: 4 Maukah engkau menganggap sepi kekayaan
kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya?
Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Tuhan
ialah menuntun engkau kepada pertobatan?
5 Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat,
engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari
waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan
dinyatakan.
6 Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya,
7 yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun
berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan
ketidakbinasaan,
8 tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari
kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran,
melainkan taat kepada kelaliman.
9 Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang
yang hidup yang berbuat jahat

170

Tuhan adalah Tuhan yang adil, yang akan memberikan
hadiah, upah, mahkota dan rumah yang disediakan (Yohanes
14) kepada setiap orang berbeda, sesuai dengan perbuatan
dan buah kita masing-masing.

Masuk sorga, pasti bagi orang yang bertobat, namun
selama hidup di bumi dia berbuat baik 2 kali dan 1000 kali
pasti berbeda tempat dan upahnya. Masa kekekalan yang
panjang, yang akan kita dapatkan nanti, tergantung masa
singkat selama kita hidup ini, apakah kita akan gunakan untuk
‘mempermainkan Tuhan’? Galatia 6:7 memberi peringatan
untuk orang yang berpikir; “Mari berdosa dulu nanti minta
ampun!”

Walaupun jaminan pengampunan dosa itu pasti,
jangan lupa, berlaku prinsip keadilan dan didikan selama kita
hidup. Keadilan bukan hanya akan ditegakkan saat kita mati
dan dihakimi, tetapi juga saat kita hidup. Prinsip keadilan,
walaupun berdoa minta ampun dan diampuni, tetapi hukuman
selama hidup dibumi tetap berlangsung.

Yakub menipu bapaknya, walaupun dia mendapat
kata-kata berkat, kenyataan dia ‘menderita’ seperti budak 14
tahun. Karena Yakub menipu Esau, dia juga ditipu oleh
Laban. Daud selingkuh dan minta ampun dan diampuni oleh
Tuhan dan Tuhan tetap menghukum Daud dengan hukuman
yang berat, anaknya mati dan kerajaannya pecah, pedang dan
malapetaka turun-temurun. Musa emosi dan marah dengan
memukul batu, dan Tuhan menghukum Musa dengan tidak
masuk tanah peranjian. Tuhan itu adil! Siapa saja yang salah
dihukum!

171

Karena itu sekali lagi, jika kita diampuni dan
merasakan pengampunan, bukannya kita malah akan berbuat
dosa karena tahu akan diampuni, sebaliknya, kita justru
menjadi ‘hamba Tuhan’ yang mengejar kekudusan dan hidup
‘takut akan Tuhan’, menjauhi kejahatan dan bukannya secara
sengaja berbuat dosa!


Roma 6:15 Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat
dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat,
tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!
22 Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa
dan setelah kamu menjadi hamba Tuhan, kamu beroleh
buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan
sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.

Amsal 16:6 Dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan
diampuni, karena takut akan TUHAN orang menjauhi
kejahatan.

172

VII. Solusi Dosa Perceraian

Seumpama membunuh, tentu tidak sebuah sinode
atau aliranpun yang mengajarkan boleh membunuh. Namun
jika seseorang sudah terlanjur membunuh, tentunya butuh
solusi da nada solusi bagi orang yang bertobat dari dosa
pembunuhan, demikian juga dosa perceraian.

Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa
percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan
dosa oleh karena nama-Nya. Kisah Rasul 10:43

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan
hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat
yang mereka ucapkan. Markus 3:28

Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang
jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali
kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan
kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan
dengan limpahnya. Yesaya 55:7

Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil,
sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan
menyucikan kita dari segala kejahatan. 1 Yohanes 1:9

Masih banyak lagi ayat-ayat Firman Tuhan, yang
menjelaskan bahwa dosa (apapun). Jika seseorang bertobat
(berbalik dari dosa) dan minta ampun kepada Tuhan, maka
Tuhan mengampuni.

173

“Jika tahu bisa diampuni setelah bercerai, Bisa
diampuni setelah menikah lagi, kalau begitu ya bercerai saja,
menikah lagi lalu minta ampun.”

Ini adalah kalimat orang degil, orang yang tidak
bertobat, orang yang tidak mengenal Tuhan. Tuhan memang
baik, tetapi bukam pribadi yang bisa dipermainkan, sebaliknya
kita harus “takut dan gentar” karena Dia juga Tuhan yang adil.
Anda mau membunuh setelah itu mau minta ampun? Tidak
bukan?

Pernah bercerai boleh pelayanan? Pernah bercerai boleh
jadi gembala?

1 Tmotius 3: 2 Karena itu penilik jemaat haruslah seorang
yang tak bercacat, suami dari satu istri, dapat menahan
diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap
mengajar orang, 4: seorang kepala keluarga yang baik,
disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. 5: Jikalau
seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri,
bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah? 12:
Diaken haruslah suami dari satu istri dan mengurus anak-
anaknya dan keluarganya dengan baik

Diatas adalah Firman Tuhan, mengenai syarat penatua
dan diaken, yang mengharuskan seorang dari keluarga yang
baik, tidak bercacat. Untuk melayani Tuhan, pasti semua
orang setelah bertobat bisa melayani, namun untuk menjadi
seorang pendeta atau gembala, setiap sinode memiliki aturan
teknis berbeda. Saya berpendapat, sebaiknya tidak menjadi
pendeta atau gembala, tetapi bisa dalam posisi yang lain.

174

VIII. Menikah Lagi

Setelah belajar seluk-beluk perceraian, rumitnya
perdebatan yang ada, dampaknya bagi semua pihak, ada
yang berpikir kritis lalu bertanya; PAK SAYA TIDAK MAU
BERCERAI, HANYA MAU MENIKAH LAGI!?

Berikut ini saya ajukan lagi beberapa kasus dan
pertanyaan, yang diajukan dengan cukup jeli, menggunakan
ayat-ayat pendukung. Rupanya jemaat telah banyak mencari
ayat-ayat pendukung untuk menikah kembali. Saya tampilkan
semua kasus, baru saya jawab atau bahas bersamaan.

1. Kasus 10

Saya pernah aktif menjadi pelayan di gereja bersama sama
dengan istri saya. Saya dan Istri memulai bisnis dari
bawah dan memiliki banyak anak. Saya sekarang sudah
bercerai dan tidak melayani lagi. Saya bercerai karena
‘tidak ada damai sejahtera’.
Bolehkah saya menikah lagi.

2. Kasus 11: Tuhan mau menambah Istri Daud

2 Sam 11: 27 Setelah lewat waktu berkabung, maka Daud
menyuruh membawa perempuan itu ke rumahnya.
Perempuan itu menjadi istrinya dan melahirkan seorang anak
laki-laki baginya. Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu
adalah jahat di mata TUHAN.

175

Pak Jarot, Tuhan marah, bukan karena Daud menikah
lagi, tetapi karena Daud JAHAT, karena dia mengambil istri
orang, bukan dengan perawan atau Janda. Waktu Daud
menikah dengan Abigail, janda Nabot (1 Samuel 25:29) Tuhan
Tidak marah. Tuhan marah karena Daud JAHAT karena
dengan liciknya membunuh Uria dan mengambil Betsyeba istri
Uria. (2 Samuel 12:9)

Bahkan soal istri, Tuhan berfirman melalui Samuel,
kalau kurang Tuhan akan menambah lagi (2 Samuel 12:8).
Jadi menikah lagi boleh khan Pak?

2 Samuel 12: 1 Tuhan mengutus Natan kpd Daud. Ia
datang kepada Daud dan berkata kepadanya: “Ada dua
orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain
miskin.
2 Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan
lembu sapi;
3 Si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor
anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan
dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya
bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya
dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya,
seperti seorang anak perempuan baginya.
4 Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia
merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya
atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang
datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba
betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi
orang yang datang kepadanya itu.”
5 Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia
berkata kepada Natan: “Demi TUHAN yang hidup: orang
yang melakukan itu harus dihukum mati.

176

6 Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya
empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan
oleh karena ia tidak kenal belas kasihan.”
7 Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: “Engkaulah
orang itu! Beginilah firman Elohim, Tuhan Israel: Akulah
yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan
Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul.
8 Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan istri-
istri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah
memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan
seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan
itu kepadamu.
9 Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan
apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu,
kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil
menjadi istrimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh
oleh pedang bani Amon.
10 Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari
keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah
menghina Aku dan mengambil istri Uria, orang Het itu,
untuk menjadi istrimu.
11 Beginilah firman Tuhan: Bahwasanya malapetaka akan
Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu
sendiri. Aku akan mengambil istri-istrimu di depan
matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu
akan tidur dengan istri-istrimu di siang hari.
12 Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi,
tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel
secara terang-terangan.”

Wah ini pertanyaan poligami yang sangat menarik. Tuhan

berfirman; “Kalau kurang akan kutambah lagi” (2 Sam 12:8)

177

3. Kasus 12: Boleh khan Poligami?

Alkitab tidak ada ayat yang melarang menikah lagi,
yang ada larangan bercerai, itupun masih ada
pengecualiannya, jika pasangan berzinah, maka Musa
mengijinkan perceraian, dengan memberikan surat cerai.

Makanya Abraham, Yakub, Musa, Daud, Salomo dan
tokoh-tokoh di Alkitab mereka juga menikah lagi. Di Alkitab
yang ada ayatnya jangan ‘mengingini istri sesama’ atau
dengan kata lain jangan selingkuh.

Saya tahu bercerai itu dibenci Tuhan, saya tahu
selingkuh itu dosa, karena itu saya tidak mau menceraikan istri
saya, saya tidak mau selingkuh, SAYA HANYA MAU
MENIKAH LAGI, boleh khan?

1 Korintus 7:2 tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah
setiap laki-laki mempunyai istrinya sendiri dan setiap
perempuan mempunyai suaminya sendiri.

Pak Jarot ...., Paulus, juga tidak dengan tegas
‘melarang’ dia hanya berkata ‘baiklah’ yang berarti hanya
sekedar saran, diikuti bagus, tidak diikuti juga bukan hal dosa,
karena tidak melanggar Firman Tuhan manapun. Bahkan
dalam ayat 6 Paulus berkata ini bukan perintah. Jika demikian,
Kenapa sekarang orang Kristen, tidak boleh punya istri lebih
dari satu? Apa dasarnya?

1 Korintus 7:6 Hal ini kukatakan kepadamu sebagai
kelonggaran, bukan sebagai perintah

178

4. Kasus 13: Poligami masuk sorga?

Pak, Abraham masuk sorga nggak Pak? Daud masuk
sorga nggak Pak? Musa masuk sorga nggak Pak? Mereka
semua khan punya istri lebih dari satu? Jadi sebenarnya,
menikah lagi, bukan hal jahat dan bukan dosa bukan?

5. Kasus 14: Poligami, apa tidak boleh?

Pak... Orang-orang bertanya kepada Tuhan Yesus
tentang PERCERAIAN bukan tentang MENIKAH LAGI dan
Yesuspun mengajar tentang PERCERAIAN dan bukan
tentang MENIKAH LAGI.

Yesus berkata; “jika orang bercerai... dan menikah
lagi.. ia berzinah” Bagaimana jika orang “tidak bercerai hanya
menikah lagi” berarti bukan berzinah khan? Dia hanya ber-
POLIGAMI tetapi tidak BERZINAH iya khan Pak? Mohon
tanggapan. Tuhan Yesus berkata; “jika orang bercerai.. dan
menikahi orang yang diceraikan... ia berbuat zinah”

Bagaimana jika saya tidak bercerai, hanya menikah
lagi dan menikahi seorang gadis perawan atau seorang janda
yang suaminya mati ? Saya tetap setia dengan istri pertama.

Intinya saya tidak bercerai karena itu dibenci Tuhan,
saya tidak selingkuh karena itu dosa, saya tidak menikahi
orang yang diceraikan, SAYA HANYA MENIKAH LAGI
SECARA BAIK-BAIK dan saya tetap SETIA dengan istri masa
muda, apa itu dosa?

179

6. Kasus 15: Setia istri masa muda kok?

Maleakhi 2:13 ... Kamu menutupi mezbah Tuhan dengan air
mata, dengan tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi
berpaling kepada persembahan dan tidak berkenan
menerimanya dari tanganmu.
2:14 ... sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan
istri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia
2:15 ... Dan janganlah orang tidak setia terhadap istri dari
masa mudanya.

Pak saya tetap sayang dan setia dengan istri masa
muda, istri pertama. Saya rawat dan pelihara dengan baik.
Hanya karena dia sakit, tidak bisa melayani kebutuhan seks.
Saya menikah lagi, dengan persetujuan istri pertama. Apa ini
dosa? (Daripada saya onani terus menerus atau selingkuh)

Saya tidak menyalahi Maleakhi 2, karena istri pertama
saya tidak menangis, dia tetap bahagia, karena dia menyadari
dirinya yang sakit secara fisik. Saya memperhatikan,
mengasihi dan saya tetap setia kepada istri pertama. Jadi
saya tidak selingkuh, saya hanya menikah lagi.

Ayo kita bahas

Terus terang, pertanyaan-pertanyaan diatas, sangat
tajam, yang bertanya telah meneliti Firman sebelum bertanya.
Ada juga pendeta yang sedang menghadapi masalah jemaat
dan bertanya kepada saya soal jemaatnya. Ayo kita bahas.

180

Jawaban / Bahasan Saya:

Perjanjian Lama: Abraham memang cinta Tuhan
sungguh-sungguh, tetapi dia bukan suami yang baik. Musa
yang ahli dan penulis Taurat, tetapi dia jatuh dengan
mengambil perempuan Kussy. Demikian juga dengan Daud
yang penuh pujian penyembahan serta Salomo yang penuh
hikmat, tetapi selingkuh dan menikah lagi.

Rancangan Tuhan semula adalah ‘monogami’ maka
dia menciptakan ADAM dan HAWA, bukan ADAM dan HAWA
serta MARIA. Maka “KEDUA-nya akan menjadi satu daging”
dan bukan KETIGA-nya.

Kejadian 2: 24 Sebab itu seorang laki-laki akan
meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan
istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

Prinsip monogami sebenarnya dari Perjanjian Lama
hingga Perjanjian Baru tidak berubah, hanya manusia yang
belum menangkap kehendak Tuhan dan hidup dalam
kegelapan hasil poligami.

Perjanjian Baru: Di dalam Kristus, kita adalah ciptaan
baru, yang memiliki kemuliaan Roh, yang jauh lebih mulia
daripada kemuliaan Taurat, sehingga standar hidup kita
bukanlah apa yang dihidupi oleh orang dalam Perjanjian
Lama, yang ‘tidak rohani’ karena tidak memiliki Alkitab. Kita
hidup kudus karena penebusan dosa oleh darah Yesus, di
penuhi Roh Kudus dan memiliki Alkitab, Firman yang lengkap.
Alkitab di tulis supaya kita belajar dari pengalaman mereka

181

dan tentunya menjadi ‘lebih baik’ dari mereka. Karena itu mari
kita pelajari satu persatu.

1. Abraham Menikah Lagi

Abraham menikah lagi dan menimbulkan pertengkaran
antara Sara dan Hagar, sehingga akhirnya Hagar dan Ismael
diusir. Masalah tidak selesai, karena dendam diwariskan
turun temurun dan memunculkan dua bangsa yang terus
berperang hingga saat ini. Poligami, menuai masalah. Saya
sudah tampilkan kisah Abraham ini, dalam Bab ‘Bolehkah
Bercerai’ karena tidak punya anak, di depan.

2. Yakub Menikah Lagi

Yakub sebenarnya hanya cinta Rahel, tetapi mertuanya
memberikan Lea, yang tua, sehingga Yakub memiliki 2 istri.
Lea dan Rahel, kedua istri Yakub, saling berebut perhatian
dan berjuang untuk mendapatkan cintanya. Bahkan istri
Yakub memberikan pembantu mereka masing-masing sebagai
gundik suaminya, supaya ia tambah disayang suami.
(Memberikan budak perempuan, ke suami untuk mendapatkan
anak, yang secara hukum anak tersebut menjadi milik tuan
perempuan, memang merupakan budaya Mesopotamia pada
waktu itu.)

Poligami, menimbulkan pertengkaran antara istri,
bahkan Yakub mencintai Yusuf yang lahir dari istri yang paling
dicintai dan membuat saudara-saudara Yusuf membenci
Yusuf. Yusuf hampir saja dibunuh dan akhirnya dijual sebagai
budak dan diberitahukan ke Yakub, kalau Yusuf dibunuh
binatang buas. Poligami menuai banyak masalah.

182

3. Musa Menikah Lagi

Bilangan 12:1 Miryam serta Harun mengatai Musa
berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya,
sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan
Kush.
2 Kata mereka: “Sungguhkah Tuhan berfirman dengan
perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan
kita juga Ia berfirman?” Dan kedengaranlah hal itu kepada
Tuhan.

Istri Musa pertama Zipora adalah orang Midian. Musa
menikah lagi dengan mengambil perempuan Kussy dan
diberontak oleh para pemimpin. Tidak bercerai, tidak
selingkuh, hanya menikah lagi, sekalipun bukan ‘dosa’ bahkan
tidak salah dihadapan Tuhan, tetapi kita juga hidup di
masyarakat yang memiliki norma dan pengharapan.

Jangankan kita orang kristen, beberapa tahun lalu,
seorang tokoh muslim terkenal, menikah lagi untuk menolong
seorang janda, dengan persetujuan istri pertamanya, yang
walaupun ‘dimungkinkan secara theologi islam’ namun tetap
saja reaksi banyak orang ‘menyayangkan’ hal tersebut. Orang
menganggap itu sebagai ‘tergelincir’ bahkan ada yang
berkata, jika ia tidak menikah lagi, ia ada peluang menjadi
presiden RI. Menikah lagi tidak salah secara Islam, tetapi
orang memiliki pengharapan, bahwa pemimpin seharusnya
menjadi ‘idola’ mereka, hidup dengan standar hati nurani dan
moral yang lebih daripada orang biasa.

Hal yang sama terjadi dengan Musa. Walaupun Tuhan
marah dengan mereka yang memberontak terhadap Musa,

183

namun tetap saja, orang zaman itu, kehilangan hormat bahkan
memberontak kepada Musa. Poligami menuai masalah.

Jika Anda menikah lagi, bisa saja Anda masuk sorga
seperti Musa, namun bisa saja Anda juga mengalami
pemberontakan dan penghakiman orang lain. Mereka tidak
lagi hormat kepada Anda. Jika Anda pendeta, mungkin saja
mereka tidak akan mengundang Anda kotbah lagi.

Anda juga tidak bisa berkata: “Saya tidak peduli
dengan apa kata orang disini, saya akan pindah keluar negeri
dimana orang tidak suka gossip dan tidak membicarakan
orang lain” Kenyataannya banyak orang tidak bisa hidup
dengan kebahagiaan maksimal dengan mengucilkan diri dari
masyarakat, karena kita memang hidup ditengah-tengah
mereka, dimana berlaku norma-norma masyarakat.

4. Daud Menikah Lagi

Daud menikah lagi dan anak-anak dari istri yang
berbeda berebut menjadi raja. Adonia dan Absalom, bahkan
tidak sabar menunggu Daud mati. Sebelum Daud mati dan
mewariskan kerajaan ke Salomo, mereka mencoba
memberontak.

Salomo, akhirnya membunuh Adonia, karena dia
mencurigai, kenapa Adonia meminta mantan istri Daud, untuk
menjadi istrinya. Kalau Adonia menikah dengan istri Daud, dia
berhak juga atas tahta raja.

184

Saya percaya Daud mati dan masuk sorga, tetapi
poligami, menuai banyak masalah ketika masih hidup di dunia.
Pertengkaran, perebutan warisan dan tahta bahkan
pembunuhan.

Ulangan 17:17 Juga janganlah ia mempunyai banyak istri,
supaya hatinya jangan menyimpang; emas dan perakpun
janganlah ia kumpulkan terlalu banyak.
18 Apabila ia duduk di atas takhta kerajaan, maka haruslah
ia menyuruh menulis baginya salinan hukum ini menurut
kitab yang ada pada imam-imam orang Lewi.

Masih ada lagi yang bertanya; ‘Banyak Istri’ khan relatif
pak, banyak itu berapa? Jalau punya 2 atau 3 khan
sedikit?

Tuhan melarang seorang raja (pemimpin) memiliki
banyak isteri. (Ulangan 17:17). Konsep yang sama juga ada di
Perjanjian Baru (lihat point 6 selanjutnya). Hukum pernikahan,
untuk pemimpin, tidak patut punya istri banyak/ menikah lagi.
Karena pemimpin adalah idola, panutan dan mereka harus
memperhatikan ‘tuntutan’ terhadap ‘norma-norma’
masyarakat, walaupun hal itu ‘tidak ada ayatnya’.

Jika dilanggar, tentunya menimbulkan kekecewaan
bahkan pemberontakan, baik dari anak-anak istri pertama
ataupun dari masyarakat. Saudara bisa membayangkan reaksi
masyarakat, jika presiden kita menikah lagi? Dia akan kalah
dalam pilpres berikutnya. Jadi tidak perlu ‘banyak’, karena
memiliki 2 (dua) istri saja, bisa menimbulkan masalah dan
perlawanan dari banyak pihak, maupun internal keluarga itu
sendiri.

185

5. Salomo Menikah Lagi

1 Raja-raja 11:1 Adapun raja Salomo mencintai banyak
perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai
perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan
Het,
2 padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah
berfirman kepada orang Israel: “Janganlah kamu bergaul
dengan mereka dan merekapun janganlah bergaul dengan
kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan
hatimu kepada allah-allah mereka.” Hati Salomo telah
terpaut kepada mereka dengan cinta.
3 Ia mempunyai tujuh ratus istri dari kaum bangsawan dan
tiga ratus gundik; istri-istrinya itu menarik hatinya dari
pada TUHAN.
4 Sebab pada waktu Salomo sudah tua, istri-istrinya itu
mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga
ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada Elohim,
Tuhannya, seperti Daud, ayahnya.
5 Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang
Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan
orang Amon,
6 dan Salomo melakukan apa yang jahat di mata Tuhan,
dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti Tuhan, seperti
Daud, ayahnya.
7 Pada waktu itu Salomo mendirikan bukit pengorbanan
bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di
gunung di sebelah timur Yerusalem dan bagi Molokh,
dewa kejijikan sembahan bani Amon.
8 Demikian juga dilakukannya bagi semua istrinya, orang-
orang asing itu, yang mempersembahkan korban ukupan
dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka.
9 Sebab itu Tuhan menunjukkan murka-Nya kepada
Salomo, sebab hatinya telah menyimpang dari pada

186

Elohim, Tuhan Israel, yang telah dua kali menampakkan
diri kepadanya,
10 dan yang telah memerintahkan kepadanya dalam hal
ini supaya jangan mengikuti allah-allah lain, akan tetapi ia
tidak berpegang pada yang diperintahkan Tuhan.
11 Lalu berfirmanlah Tuhan kepada Salomo: “Oleh karena
begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada
perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah
Kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan
mengoyakkan kerajaan itu dari padamu dan akan
memberikannya kepada hambamu.

Salomo memiliki banyak istri dan gundik, dan Alkitab
melaporkan, bahwa para istrinya itulah yang mencondongkan
hati Salomo dari Tuhan ke istri dan ke berhala-berhala istrinya.
Itulah awal kejatuhan seseorang yang pernah begitu terkenal
karena luar biasa berhikmat, jatuh dalam kebodohan dan
kekejian, penyembahan berhala lalu kena murka Tuhan.

Kita bisa melanjutkan berbagai kisah lainnya di Alkitab,
dan pelajaran yang kita ambil adalah; menikah lagi tidak
membawa damai sejahtera. Poligami menuai banyak
masalah.

1 Korintus 7: 15b Tetapi Tuhan memanggil kamu untuk
hidup dalam damai sejahtera.

Roma 8: 5 Sebab mereka yang hidup menurut daging,
memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup
menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.
6 Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan
Roh adalah hidup dan damai sejahtera.


187

Roma 14:19 Sebab itu marilah kita mengejar apa yang
mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk
saling membangun.

6. Zaman Perjanjian Baru

Saya tidak setuju, tetapi saya ‘memahami’, jika tokoh-
tokoh Perjanjian Lama menikah lagi. Firman Tuhan yang kita
pegang belum ditulis pada zaman mereka. Mereka belum
menangkap kehendak Tuhan dengan baik. Kebudayaan,
norma-norma hidup, terus berkembang sepanjang sejarah,
demikian juga pewahyuan Firman Tuhan terus ditambahkan
dan ditulis dari zaman ke zaman.

Tidak bercerai, tidak selingkuh, hanya menikah lagi.
Menikah lagi dengan seorang perawan atau dengan janda
yang suaminya mati (bukan dengan perempuan yang
diceraikan), menikah lagi baik-baik, bahkan atas persetujuan
istri pertama, memang tidak melanggar Firman manapun juga.

Kalau tidak melanggar Firman, berarti juga tidak dosa,
dan kalau melihat Abraham, Daud dan Musa, yang melakukan
hal yang sama dan mereka masuk sorga, maka sepertinya itu
‘boleh-boleh saja’ dan juga akan masuk sorga.

Namun saya katakan walaupun ‘boleh’ itu ‘bukan
kehendak Tuhan’ dan itu bukan ‘ke-SEMPURNA-an’.
Poligami menimbulkan banyak masalah dan penghakiman
masyarakat.

188

1 Korintus 6:12 Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan
semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku
tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.

Roma 14:19 Sebab itu marilah kita mengejar apa yang
mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk
saling membangun.

Firman tentang Tuhan membenci perceraian, yang
ditulis Nabi Maleakhi, misalnya, belum diwahyukan ke Musa,
karena kapasitas dan pemahaman setiap Nabi untuk
menerima pewahyuan juga terbatas, belum lagi teknologi tulis
menulis dan penyimpanan file yang memang belum
memungkinkan. Tuhan tentunya mengajarkan Firman-Nya
kepada setiap nabi, sesuai kebutuhan untuk zaman tersebut.
Dalam zaman Perjanjian baru, 2000 tahun lalu, Firman berikut
ini diajarkan.

1Timotius 3:2 Karena itu penilik jemaat haruslah seorang
yang tak bercacat, suami dari satu istri, dapat menahan
diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap
mengajar orang,
12 Diaken haruslah suami dari satu istri dan mengurus
anak-anaknya dan keluarganya dengan baik.

Titus 1: 5 Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan
maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu
diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua
di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu,
6 yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai
hanya satu istri, yang anak-anaknya hidup beriman dan
tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau
hidup tidak tertib.

189

Dengan ayat-ayat diatas, masih ada lagi yang bertanya
kepada saya. Pak ayat diatas khan syarat ‘penilik jemaat’,
‘diaken’ dan ‘penatua’, sedangkan saya hanya jemaat biasa
dan saya tidak mau jadi ‘diaken’, tidak akan jadi ‘penilik
jemaat’ apalagi ‘penatua jemaat’, maka saya bisa menikah lagi
khan?

Untuk menjadi ‘penilik jemaat’ dan juga ‘penatua’ maka
syaratnya ‘yang tak bercacat cela’ dan ternyata yang
dimaksud dengan ‘tak bercacat cela’ adalah yang memiliki
satu istri saja. Firman Tuhan juga mengajak kita semua orang
percaya untuk menjadi ‘tak bercacat cela’ bahkan tumbuh
kearah ke-SEMPURNA-an dan menjadi SEMPURNA. Dan
yang dimaksud ‘tak bercacat’ adalah ‘yang memiliki satu istri’
atau monogami. (Titus 1:6)

1Tesalonika 5:23 Semoga Elohim, Tuhan damai sejahtera
menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan
tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada
kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.

Matius 5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama
seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Johanes 17:23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam
Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia
tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa
Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi
Aku.

Roma 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia
ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,

190

sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak
Tuhan: apa yang baik, yang berkenan kepada Tuhan dan
yang sempurna.

2 Korintus 13:9 Sebab kami bersukacita, apabila kami
lemah dan kamu kuat. Dan inilah yang kami doakan, yaitu
supaya kamu menjadi sempurna.
11 Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah,
usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala
nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam
damai sejahtera; maka Tuhan, sumber kasih dan damai
sejahtera akan menyertai kamu!

Perjanjian Baru, adalah dimulainya ZAMAN BARU
yang saya sebut ERA KESEMPURNAAN, jadi bukan apa yang
boleh, tetapi apa yang berguna dan sempurna. Jika itu boleh,
kita masih bergumul, apakah itu berguna bagi pasangan kita,
bagi anak-anak kita, apa itu menjadi berkat bagi orang lain,
atau justru menjadi batu sandungan?

Prinsip-prinsip ke-SEMPURNA-an ini kita bisa lihat dari
seluruh ajaran Yesus yang ‘menyempurnakan’ Taurat. Saya
ambilkan beberapa saja.

Matius 5: 21 Kamu telah mendengar ...firman ...: Jangan
membunuh; siapa yg membunuh harus dihukum. 22
Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yg marah
terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yg berkata
kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke
Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus
diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.

191

28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yg
memandang perempuan serta menginginkannya, sudah
berzinah dengan dia di dalam hatinya.
31 Telah difirmankan juga: Siapa yg menceraikan isterinya
harus memberi surat cerai kepadanya.
32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yg
menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan
isterinya berzinah; dan siapa yg kawin dengan perempuan
yg diceraikan, ia berbuat zinah.
33 Kamu telah mendengar firma: Jangan bersumpah
palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.
34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali
bersumpah, baik demi langit, ... maupun demi bumi,
ataupun demi Yerusalem, ... atau demi kepalamu, ...
37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak,
hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yg lebih dari pada itu
berasal dari si jahat.
38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan
gigi ganti gigi.
39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu
melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan
siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga
kepadanya pipi kirimu.
40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau
karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.
41 Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh
satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu
manusia dan bencilah musuhmu.
44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan
berdoalah bagi mereka yg menganiaya kamu.
48 Karena itu haruslah kamu SEMPURNA, sama seperti
Bapamu yg di sorga adalah SEMPURNA.”

192

Karena itu dengan tegas TUHAN YESUS juga
mengajarkan, bahwa kita harus hidup LEBIH BENAR dari
AHLI TAURAT, apalagi daripada orang ‘Perjanjian Lama’ yang
belum memiliki Taurat. Dengan Ahlli Taurat saja kita harus
lebih baik!

Matius 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup
keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup
keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi,
sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan
Sorga.


Perjanjian baru, mengajarkan prinsip, JANGAN
MENJADI BATU SANDUNGAN, ini prinsip untuk hidup, baik
soal sunat, makan makanan bekas penyembahan berhala dan
juga tentunya untuk ‘menikah lagi’. Makanya para diaken,
penatua diharuskan ‘suami dari satu istri’, supaya tidak
menjadi batu sandungan, karena moral masyarakat pada
zaman Perjanjian Baru, menganggap orang yang menikah lagi
‘hidupnya cacat’, ‘tidak layak’ menjadi pemimpin.

1 Korintus 8:9 Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini
jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.

Kalau saya berbuat baik, mengelola perusahaan
dengan benar, mendidik anak menjadi pandai dan baik,
menyumbang banyak untuk gereja, mendirikan panti asuhan,
menolong sesama dan saya menikah lagi. Apakah saudara
masih mau mendengar kotbah saya dan membaca buku-buku
saya? Kita orang percaya adalah garam dan terang dunia.
Kita harus menjadi teladan dalam kehidupan.

193

Kenyataan lebih banyak poligami (1 suami 2 atau lebih
istri) daripada poliandri (1 wanita dengan 2 atau lebih suami).
Jadi sebenarnya, alasan yang paling utama apa sih, kenapa
mau menikah lagi? Apa yang dibutuhkan? Cinta?
Penerimaan? Kebahagiaan? Bukan... tetapi SEKS.

Kalau mau jujur, sebenarnya itulah masalah utamanya.
Hanya saja banyak orang tidak mau jujur dan merasa kalau
perceraian, selingkuh atau poligami ‘hanya’ alasan tersebut
rasanya kurang ‘berbobot’, maka dicarilah alasan tambahan.

Ada yang mengatakan bukan ‘jodoh’, tidak ada
kecocokan, perbedaan terlalu besar, tidak bisa memahami
dan menerima pasangan, berbeda temperamen dan karakter
yang tidak mungkin disatukan, berbeda budaya asal keluarga
dan beberapa pelayan Tuhan menambahkan, kami berbeda
‘visi’.

Soal visi, bisa dibangun dan disamakan. Selebihnya
jika saya kaji lebih jauh, semua alasan tambahan tersebut
bukankah sudah diketahui sebelum menikah? Bahwa mereka
memang berbeda? Ya ... mereka sudah tahu semuanya. yang
belum diketahui adalah masalah seks, karena sebelum
menikah mereka belum masuk dalam masalah seks.

Bagi mereka yang sudah melakukan hubungan seks
sebelum pernikahan, semua alasan sudah mereka ketahui
dan sebenarnya karakter, temperamen dan kebiasaan tidak
banyak berbuah. Yang berubah seks yang dulu waktu
pacaran dilakukan dengan sembunyi-sembunyi dan terasa

194

‘mendebarkan’ ‘menegangkan’ dan setelah menikah terasa
biasa-biasa saja, bahkan mulai jenuh dan membosankan.

Setelah menikah, kepribadian dan temperamen dasar
sebenarnya tidak banyak berubah, fisik yang banyak berubah,
sekarang pasangan menjadi gembrot dan jika sudah
menopause, seks berubah drastis, dan pasangan tidak siap,
lalu mulai berpikir selingkuh, cerai dan menikah lagi atau
sekedar menikah lagi tanpa bercerai. (ber-poligami) Sebelum
menikah, semua faktor perbedaan suku, budaya, psikologis
sudah dianalisa dan diketahui, yang baru disadari adalah
perbedaan dan masalah seks.

Laki-laki perlu tiap hari atau minimal 2 atau 3 kali
seminggu, sedangkan wanita mungkin hanya 1 minggu sekali
atau bahkan 1 bulan sekali, dia lebih memerlukan ‘hubungan’
seperti dikasihi, disayang, dipeluk, dimengerti dan didengar
daripada kebutuhan seks seperti laki-laki.23

Wanita ada masa menstruasi 7 hari dan selama masa
tersebut, banyak laki-laki tidak tahan dan berpikir, jika memiliki
2 istri khan enak, yang satu lagi mens (datang bulan), (lampu
merah) yang satu siap pakai.

Wanita saat mendekati melahirkan dan 40 hari setelah
melahirkan, tidak bisa berhubungan seks dan banyak laki-laki
tidak tahan dan jika memiliki istri lebih dari satu, masalah ini
tidak terjadi. Atau banyak laki-laki selingkuh di masa-masa
tersebut.



23 Sex dan Selingkuh, Jarot Wijanarko, Keluarga Indonesia Bahagia. 2018

195

Laki-laki menikah lagi, biasanya saat-saat istrinya
masuk masa menopause, mulai ada masalah seks, istri sudah
tidak bergairah lagi melayani seks suami, sedangkan laki-laki
tidak ada menopause, bahkan yang ada peribahasa ‘tua-tua
keladi, makin tua makin menjadi-jadi’.

Tetapi laki-laki tidak berpikir, dari sisi sebaliknya,
dengan menikah lagi, maka sebenarnya melukai hati
pasangan, siapa mau dimadu? Atau..., bagaimana perasaan
Anda jika isteri Anda menikah lagi dan punya suami lagi?
Bagaimana perasaan Anda, jika Anda tahu, saat itu dia
sedang ditiduri dan dicumbui oleh suami keduanya? Itulah
perasaan wanita yang suaminya menikah lagi! Ada perasaan
dikhianati.

Kenapa Tuhan merancang wanita dengan sistem ada
mens (haid) dan menopause segala? Menurut saya justru
dengan kondisi tersebut, Tuhan mau laki-laki belajar
menguasai diri dan menjadi SEMPURNA!

Roma 12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan
Tuhan aku menasihatkan kamu, supaya kamu
mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang
hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Tuhan: itu
adalah ibadahmu yang sejati.
2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi
berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu
dapat membedakan manakah kehendak Tuhan: apa yang
baik, yang berkenan kepada Tuhan dan yang SEMPURNA.

196

Sebaliknya saran saya untuk ibu-ibu, jika alasan utama
untuk menikah lagi bagi laki-laki adalah kebutuhan seks, maka
berikanlah seks kepada suami Anda, dengan porsi, frekwensi
yang cukup, bahkan seks yang menggairahkan. Jika suami
meminta berbagai ‘gaya’ tidak ada salahnya mencoba.

Jika Anda ada keberatan ‘theologis’ untuk hal itu,
bacalah buku saya MEMPELAI ILAHI, PERNIKAHAN YANG
DIBERKATI dan PERNIKAHAN BAHAGIA, maka Anda akan
lebih memahami SEKS LAKI-LAKI. Saya mengajarkan cukup
proporsional, ilmiah dan juga Alkitabiah. Hal itu akan membuat
suami tidak perlu berpikir untuk MENIKAH LAGI. Menikah lagi,
menimbulkan banyak masalah.

Kita hidup di zaman yang berbeda. Pada zaman
Abraham, Daud, orang Israel menikah lagi hal biasa, 2000
tahun kemudian, pada zaman Yesus, kita sudah tidak
menjumpai lagi secara umum pada orang Israel berpoligami.

Kita hidup di zaman anugerah penuh Roh Kudus,
memegang Alkitab, tentunya tidak logis jika mau hidup seperti
zaman Abraham atau Yakub yang tidak memiliki Alkitab. Kita
harus lebih benar dan baik daripada ahli Taurat dan lebih
rohani dari orang-orang dan nabi-nabi Perjanjian Lama!

7. Menyelaraskan Ritmen Kehidupan Seksual

Poligami, akar masalah, salah satunya suami tidak
mendapatkan seks, dalam porsi seperti yang diinginkan
dan itu bisa diselesaikan dengan menyelaraskan.

197

Seks memang unik, karena selain kebutuhan biologis
juga kebutuhan psikologis, karena itu yang mendorong libido
(nafsu, keinginan) seseorang juga dipengaruhi banyak hal,
selain biologis juga psikologis. Jumlah hormon yang
diproduksi (wanita estrogen dan pria testogeron), kerinduan
hati, kebutuhan akan rasa dicintai atau dibutuhkan, hingga
penyaluran hasrat. Karena itu ada yang menginginkan tiap
hari, ada juga yang sebulan sekali, atau malah sudah tidak
kepingin lagi. 24

Masalahnya suami dan istri memiliki ritme yang
berbeda, sehingga menimbulkan konflik, mau tapi malu,
ditahan-tahan tapi tidak tahan dan diam-diam onani di kamar
mandi (ketidak tahiran atau najis) hingga yang mencari
penyaluran diluar, baik dengan berzinah atau selingkuh.

Demikian juga dengan proses kepuasan pria dan
wanita yang berbeda, maka semakin komplekslah masalah
kehidupan seksual ini. Kisah ketidak selarasan kehidupan
seksual ini juga terdapat dalam kehidupan pasangan Salomo
dan Gadis Sulam (Kidung Agung 5:2-6)

Namun sebenarnya ritme ini bisa diseimbangkan,
sehingga pernikahan tidak perlu bubar, atau bertahan tetapi
tidak bahagia, sebaliknya memiliki kehidupan pernikahan yang
memuaskan dengan kehidupan seksual yang selaras dan
menggairahkan. Menyelaraskan ritmen kehidupan seksual
melalui:



24 Selingkuh dan SEX, Jarot Wijanarko, Keluarga Indonesia Bahagia. 2017

198

a. Menyelaraskan Hati

Hati adalah sumber kehidupan (Markus 7:21-23)
Keintiman hati melalui keterbukaan (Kejadian 2:23-25), tidak
ada rahasia (layaknya sahabat yang berbicara banyak rahasia
dan bukan suami istri yang banyak rahasia). Membangun
keintiman psikologis, relasi hati, melalui kebersamaan yang
menyenangkan. Membangun mesra sebagai gaya hidup dan
bukan pendahuluan bercinta.

Seks adalah bercinta, maka harus dilakukan oleh dua
pribadi yang saling mencintai. Keindahan dan kenikmatannya
tergantung berapa besar dan dalam cinta masing-masing.
Hati yang penuh cinta, akan memicu produksi hormon cinta.

b. Menyelaraskan Kerinduan (Desire)

Seks yang nikmat jika perasaan atau gairah terlibat
(Kidung Agung 7:10) dan gairah ini harus dimiliki berdua
suami dan istri. Laki-laki lebih mudah terangsang dan bisa
terangsang walaupun tidak jatuh cinta. Lain dengan wanita
yang perlu terlibat perasaannya, perlu tumbuh cinta untuk
menjadi terangsang.

Jika perasaannya terluka, hormon estrogennya tidak
diproduksi dan ia kehilangan selera seks, frigid (dingin sexual)
sekalipun belum menopouse. Namun jika perasaan wanita
disentuh dengan cinta, ia akan birahi, penuh kerinduan untuk
bercinta, seperti diungkapkan di dalam Kidung Agung 1:2; dan
2:6.25



25 Mempelai Ilahi, Bedah Kitab Kidung Agung, Jarot Wijanarko, Keluarga Indonesia Bahagia.
2018

199

c. Menyelaraskan Hormon

i. Makanan

Hormon juga dipengaruhi oleh apa yang dimakan.
Gadis Sulam menyediakan buah Dudaim di kamarnya (Kidung
Agung 7:13) Buah dudaim dengan “love apple”, sedangkan
Alkitab Contemporary English Version menyebutnya “Love
Flowers” dan orang-orang Arab menyebutnya “Satan’s Apple”.
Tanaman ini baik buahnya maupun akarnya juga diyakini
mengandung zat perangsang nafsu birahi dan merangsang
kesuburan pada wanita.26 Atur menu anda dan pasangan
anda, untuk mencapai keseimbangan hormone.

ii. Kegiatan

Ketika Salomo ditolak Gadis Sulam (Kidung Agung 5:2-
6), maka Salomo menekan hasratnya dengan membawa
domba ke kebun rempah-rempah (Kidung Agung 6:2-3). Hobi
Salomo menjadi penyaluran (Anak Daud – Gembala Domba).
Siapa yang sering ditolak (hormonnya lebih banyak),
perbanyak kegiatan anda dan sebaliknya.

Saran lainnya, mencari aspek kehidupan yang bisa
dilakukan bersama-sama, sehingga suami istri menjadi teman
hidup dan bukan hanya teman tidur. Namun kebersamaan ini
harus dipilih yang menyenangkan dan bukan penuh
pertengkaran atau beban yang merusak hubungan. Jika
kebersamaan dalam membangun usaha atau bekerja yang
penuh tantangan, maka sadari untuk berperan sebagai ‘teman
perjuangan’ yang suportif.



26 Mana Surgawi, no.63, Juni 2003

200


Click to View FlipBook Version