The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Perceraian dan Menikah Lagi

Karya:
Dr. Ir. Jarot Wijanarko M.Pd
Pemerhati dan konselor keluarga

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by BPD GBI DKI Jakarta, 2021-08-01 23:08:07

Perceraian dan Menikah Lagi - Dr. Ir. Jarot Wijanarko M.Pd

Perceraian dan Menikah Lagi

Karya:
Dr. Ir. Jarot Wijanarko M.Pd
Pemerhati dan konselor keluarga

iii. Pikiran (apa yang dilihat, dibaca dan dipikirkan)

Perilaku dan kemampuan, mengikuti apa yang
dipikirkan (mindset) (Markus 7:21-23). Atur apa yang diliat,
dibaca dan yang dipikirkan, untuk mencapai keseimbangan.
Jika suami sering melihat konten dewasa, sementara istri
sibuk pendalaman Alkitab pelajaran akhir zaman, bergumul
ingin sangat kudus supaya masuk pengangkatan (rapture),
bahkan selain rajin ke Menara doa juga minta puasa bertarak
(tidak bercinta). Bukan berarti ini salah, namun jika berpikir
bahwa seks tidak kudus lantas supaya kudus tidak seks, maka
tentu suami istri bagaikan dua species yang berbeda, yang
pasti tidak selaras.

Cara terbaik menyelaraskan pikiran adalah ikut
seminar, camp atau retreat couples dimana disampaikan
pengajaran Firman yang membangun mindset soal seks yang
sama. Membaca buku yang sama, juga menjadi alternatif
yang mudah dan murah. Pikiran akan menjadi semakin
serupa, jika sering berbicara, maka jadilah teman berbicara
yang menyenangkan bagi pasangan anda, sehingga bisa
membicarakan apa saja.

d. Menyelaraskan Ritme

i. Membentuk Ritme Biologis

Kebiasaan onani waktu remaja pemuda yang cepat
bisa turut membentuk ritme biologis.. Banyak pernikahan tidak
bahagia, akhirnya sering nggak mood atau mau kalau
‘terpaksa’ maka setiap kali seperti ‘terburu-buru’ mumpung dia
mau. Kondisi tersebut, bisa membuat ‘pola buru-buru’ menjadi

201

berlangsung dalam jangka waktu yang panjang yang
menjadikan semacam ‘ritme biologis’ pola waktu ejakulasi.*)27
Ritme biologis ini bisa diubah, butuh waktu, keyakinan,
ketekunan dan latihan. Kebutuhan daging atau hasrat, bisa
dikuasai (1 Korintus 9:27)

Kebiasaan menjadi kebutuhan, kebutuhan akan
menjadi kemampuan.

ii. Menguasai Hati dan Pikiran

Hati kita terlalu bernafsu saat berhubungan seks, itu
membuat rangsangan berlangsung sangat cepat, kulit
permukaan penis menjadi sangat peka dan dengan segera 1-2
menit saja, ejakulasi terjadi.

Melatih penguasaan diri, jangan terburu-buru, begitu
ada keinginan belajar menunda, menunda hingga anak tidur
semua, menunda dengan ngobrol terlebih dahulu, memijit-mijit
pasangan. Jika Anda sudah ereksi begitu kuat, lalu saat
memijit pasangan dengan berdua telanjang bulat, Anda bisa
menguasai hati dan pikiran, mengatur nafas, tarik dalam-
dalam, hingga Anda tidak ereksi lagi, artinya Anda bisa
‘mengendalikan’ nafsu dan bukan nafsu yang mengendalikan
Anda.

iii. Menyelaraskan Kreatifitas

Laki-laki berfantasi soal seks yang menggairahkan,
mencoba posisi dan lokasi yang baru, maka selaraskan fantasi
anda. (Kidung Agung 7:11-12)



27 Cinta, Seks dan Pacaran, Jarot Wijanarko, Suara Pemulihan. 2000

202

iv. Latihan

Latihan terbaik adalah dengan pasangan. Ada juga
yang melatih dengan onani, tetapi bagi saya, karena itu
termasuk ‘ketidak-tahiran’ (najis) maka saya tidak bisa
menyarankan, sekalipun saat onani membayangkan istri
sendiri.

Prinsipnya sama seperti kencing yang bisa ditahan,
maka ereksipun bisa ditahan. Karena pusat kendali di pikiran
dan hati, maka latihlah saat berhubungan, hati Anda jangan
terlalu ‘bernafsu’ atau ‘terlalu menikmati’ dan pikiran Anda
bahkan bisa Anda alihkan mengingat hal yang lain seperti
tagihan, pekerjaan atau lainnya.

Memang mengurangi kenikmatan, tetapi sekali di coba
dan Anda akan menyadari bahwa rangsangan menjadi tidak
terlalu cepat dan Anda bisa mengendalikan, maka lama-lama
ritme biologis akan mengikuti. Supaya tidak kecewa, jangan
berharap bahwa ini bisa sembuh dalam waktu 1-2 tahun. Bagi
beberapa orang terkadang butuh waktu yang lebih lama,
khususnya untuk belajar menguasai diri, karena berhubungan
dengan kedewasaan hidup kita. Nah… selamat berlatih.

8. Zaman Milenial

Sekarang sudah 2000 tahun lebih setelah zaman
Yesus, sosial masyarakat berubah, para wanita menjadi
terpelajar, mereka sekolah, pandai, bisa mencari uang,
mendapatkan hak ‘kesetaraan gender’, bukan lagi warga kelas
2 seperti zaman ‘Siti Nurbaya’ dimana wanita menurut saja
apa kemauan laki-laki.

203

Wanita sekarang menjadi presiden, menteri, direktur
perusahaan, gembala sidang dan berbagai jabatan strategis
lainnya menjadi fenomena global di seluruh dunia, yang
ratusan tahun yang lalu masih ‘tabu’ di berbagai negara.
Pemahaman tentang hak-hak pribadi, hubungan pria dan
wanita dalam kesetaraan, wanita lebih dihargai, norma
masyarakat tentang poligami dan poliandri berubah. Zaman
raja-raja atau kepala suku di pedalaman memiliki banyak isteri
sebagai simbol kemakmuran, tidak bisa lagi diterima dalam
masyarakat modern sekarang ini.

Firman TUHAN, Alkitab saya baca berulang-ulang dari
Kejadian sampai Wahyu, menghasilkan pengajaran buku ini,
dan sebenarnya ‘isi hati Tuhan’ tidak berubah. Dari zaman
Perjanjian Lama pun ketika dipelajari, poligami menimbulkan
banyak masalah.

Sekarang ini, jangankan di negara berpenduduk
mayoritas Kristen Katolik, yang dikenal lebih keras menentang
perceraian dan poligami (lebih keras dari Kristen Protestan) di
negara Muslimpun, yang dikenal selama ini ‘secara theologis’
bisa memungkinkan poligami, jika diadakan kampanye dan
pemilihan, dimana setiap individu boleh memilih, setuju atau
tidak poligami, wanita muslim lebih banyak akan memilih tidak
setuju poligami.

Beberapa hari yang lalu saya sengaja masuk ke toko
buku muslim dan cukup mengejutkan, bahwa beberapa buku
dengan keras menentang poligami. Poligami bukan lagi
wilayah theologis, tetapi sudah menjadi ‘norma’ hati nurani;

204

Apakah adil? Apakah fair? Apakah tidak melukai perasaan
pasangan? Jika seseorang melakukan Poligami?

Karena itu tidak heran, jika masyarakat, apapun
agamanya, mempersoalkan, jika seorang pemimpin apalagi
pemimpin agama melakukan poligami. Seorang ‘dai’ terkenal
tiba-tiba ‘tenggelam’ dan tidak muncul lagi di televisi, radio dan
koran-koran karena melakukan poligami. Buku-bukunya
hilang dari peredaran, karena tidak laku dan toko-toko berhenti
menjualnya.

Keberhasilan, kesuksesan, ketenaran, kepemimpinan,
panutan dan keteladan hilang dalam sekejab, yang ada tinggal
‘tiruan’nya menjadi banyolan dan bahan tertawaan dalam
‘republik mimpi’, tragis memang. Saya tidak menyangka
reaksi orang akan sekeras itu. Dunia memang sudah
berubah, dalam beberapa hal ke arah yang lebih baik dalam
hal standar moral dan syarat untuk pemimpin, demokrasi,
pendidikan, teknologi dan lain-lain, walaupun dalam bidang
lain ada kemerosotan akhlak.

Jika ‘dunia’ saja, demikian ‘keras’ menghukum dan
menghakimi mereka yang secara; theologis agama mereka’
sebenarnya masih ada celah berpoligami, bisa dipahami jika
masyarakat gerejani akan menghakimi diaken, penatua dan
pendeta yang melakukan poligami.

Poligami dari dulu, sejak zaman Abraham hingga
sekarang, menimbulkan masalah dan bukan damai
sejahtera.

205

9. Kasus 11; Kehendak Tuhan MONOGAMI

Jika sudah terlanjur menikah lagi, saat ini saya poligami,
apa penyelesaiannya?

Saya akan angkat kembali kasus Abraham menikah lagi
dan penyelesaiannya.

Kejadian 21: 10 Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah
hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak
hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama
dengan anakku Ishak.”
11 Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena
anaknya itu.
12 Tetapi Tuhan berfirman kepada Abraham: “Janganlah
sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam
segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau
mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu
ialah yang berasal dari Ishak.
13 Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat
menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu.”
14 Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti
serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia
meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar,
kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka
pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun
Bersyeba.
15 Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak
itu ke bawah semak-semak,
16 dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya,
sebab katanya: “Tidak tahan aku melihat anak itu mati.”
Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara
nyaring.

206

17 Tuhan mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Tuhan
berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya:
“Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut,
sebab Tuhan telah mendengar suara anak itu dari tempat
ia terbaring.
18 Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia,
sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.”
19 Lalu Tuhan membuka mata Hagar, sehingga ia melihat
sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air,
kemudian diberinya anak itu minum.
20 Tuhan menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar

Atas permintaan Sara, akhirnya Hagar (istri ke-2)
diusir. Pada awalnya Abraham tidak tega, tetapi Tuhan setuju
dengan ide Sara, artinya itu sesuai penyelesaian yang
dikehendaki Tuhan. Tuhan tidak berfirman kepada Abraham;
“Jangan diusir, kamu punya istri 2 saja” bukan, Tuhan justru
meneguhkan rencana pengusiran Hagar.

Hagar akhirnya pergi dengan dibekali oleh Abraham.
Nasib Hagar selanjutnya, adalah tanggung jawab atau ada di
tangan Tuhan, bagian Abraham adalah ‘taat’ tidak lagi
melakukan poligami, karena kehendak Tuhan adalah
‘monogami’.

Kenyataan Tuhan juga memperhatikan dan
memberkati Hagar dan Ismael, hingga turun-temurun sampai
sekarang ini, menjadi beberapa bangsa besar.

Abraham memang menikah lagi, tetapi dari kasus ini
kita tahu, bahwa Tuhan setuju Hagar diusir (Kejadian 21:12-
13), artinya, kehendak Tuhan adalah monogami. Abraham

207

melanjutkan pernikahannya secara monogami, hingga Sara
mati di usia 127 tahun (Kejadian 23:1) dan Abraham menikah
lagi (Kejadian 25) setelah Sara mati. Istri terakhir Abraham,
Ketura, memberikan dia banyak anak-anak.

Jadi, jika saudara juga berpoligami, maka kita bisa
belajar dari cara penyelesaikan yang tegas seperti kasus
Abraham. Penyelesaian seperti usul Sara yang dipertegas
lagi oleh persetujuan Tuhan, yaitu kembali ke monogami,
dengan ‘mengusir’ atau ‘memutuskan hubungan’ dengan istri
ke 2 atau ke 3 dan seterusnya tergantung berapa jumlah istri
poligaminya.

Jika berpoligami setelah bertobat, menikah kristen dan
diberkati pernikahannya, lalu berpoligami, maka
penyelesaiannya ikuti pola Abraham dan Sara, istri kedua ‘di-
usir’ atau saya lebih senang memberi istilah; ‘dimerdekakan’,
diberi hak atau ‘surat ijin menikah kembali’, diminta pergi
dengan damai, setelah saling mengaku dosa dan melepaskan
pengampunan. Hidup berdamai dengan mantan istri poligami
tersebut, dengan memberikan ‘bekal’ yang fair.

Untuk kasus, jika poligami dilakukan sebelum bertobat,
karena memang agama sebelumnya memungkinkan poligami,
maka setelah bertobat, diantara 2 atau 3 atau 4 istri tersebut,
yang mau menjadi se-iman percaya Tuhan Yesus sebagai
Mesias, Juru Selamat dan Tuhan secara pribadi, dengan
urutan prioritas iseri pertama, maka itulah istrinya setelah
pertobatannya tersebut, yang lain ‘dimerdekakan’. Kenapa
yang mau percaya? Karena iman kristen mengajarkan untuk

208

memiliki pasangan dengan orang percaya dan mengajarkan
monogami.

Bagaimana jika semua istrinya, katakan 3 atau 4,
semua juga mau ikut bertobat? Saya pribadi berpendapat, dia
ambil istri pertama (istri pada masa muda) dan yang lain
‘dimerdekakan’ atau hidup bersama dengan damai, seperti
kakak adik, namun dalam hal hubungan suami istri (seks)
hanya dengan istri pertama.

Jika dengan keadaan demikian, para istri muda tidak
tahan, dia ‘dimerdekakan’, boleh menikah lagi dan anak-
anaknya diberi santunan ekonomi, hingga mereka mandiri dan
tetap hidup dalam berdamai dengan mereka.

Pola tunjangan atau bekal, bisa sekali dalam jumlah
besar (seperti harta gono-gini dalam kasus perceraian),
supaya tidak banyak komunikasi dan kambuh selingkuh. Ini
alternatif yang baik, terutama jika anak hasil pernikahan ke 2
masih bayi, sehingga anak tersebut belum ada hubungan
batin dengan ayahnya yang terlalu kuat.

Alternatif lain, pola santunan bulanan, tunjangan anak
untuk sekolah, hingga mereka lulus kuliah dan bekerja,
sehingga bisa mandiri secara ekonomi.

Karena memang tidak ada prinsip ‘mantan anak’.
Anak-anak istri ke 2 atau 3 dan seterusnya tersebut, juga
membutuhkan figur ayah mereka. Anak dengan istri ke 2, 3
atau selingkuhan juga tetap anak. Prinsip ‘anak tetap anak’ ini
juga di-Firman-kan Tuhan kepada Abraham.

209

Kejadian 21: 13 Tetapi keturunan dari hambamu itu juga
akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun
anakmu.”

Jika istri poligami yang dimerdekakan menikah lagi,
membangun keluarga baru dan secara financial kuat, bisa saja
santunan dihentikan, atas persetujuan bersama. Prinsipnya
harus hidup dalam damai, karena pertobatan seharusnya
membawa hidup yang lebih baik dan lebih damai sejahtera.

Jadi, jika Anda mau menikah lagi, urungkanlah niat
hati Anda, karena kehendak Tuhan adalah monogami.
Kehendak Tuhan anda tetap setia dengan istri pada masa
muda dan putuskan hubungan dengan calon pasanga
Anda yang baru dan kembali setia dengan pasangan
pertama (masa muda).

210

IX. Tanya Jawab Lanjutan

01. Kakak saya istri ke dua. Suaminya suka main
perempuan, apa dia bisa bercerai?

Jika istri kedua dan tidak resmi menikah, itu namanya
perzinahan, merebut suami orang, maka putuskan (bercerai),
bahkan jika dia baik sekalipun. Kembalikan suami tersebut
kepada istri pertamanya.

02. Suami saya mempunyai anak dari wanita lain (hasil
selingkuh), lalu putus hubungan, wanita tersebut
tidak dinikahi. Tetapi suami saya tetap membiayai
anak hasil hubungan dengan wanita tersebut.
Bagaimana sikap saya seharusnya? Pura-pura tidak
tahu? Marah? Melarang?

Secara psikologis bisa dipahami, karena memang tidak
ada mantan anak, mereka adalah ‘darah dan dagingnya’. Dia
membiayai anak tersebut sebagai bentuk ‘tanggung jawab’nya
terhadap wanita yang dihamilinya. Santunan seperti itu baik
saja, anggap saja program ‘anak asuh’.

Marah dan melarang tidak efektif, karena dia akan
melakukannya dengan diam-diam dan justru menjadi
berbahaya, karena pasangan Anda akan menganggap Anda
jahat dan dia bisa kambuh selingkuh dengan wanita tersebut.
Yang penting sekarang suami ‘bertobat’ mengaku dosa bahwa
sudah selingkuh hingga hamil dan tidak lagi berhubungan
dengan wanita tersebut.

211

03. Saya punya jemaat, seorang pria, sudah meninggalkan
istri pertamanya 20 tahun yang lalu. Sekarang dia
minta saya memberkati pernikahan keduanya. Karena
sudah 20 tahun dan beda pulau, sudah tidak ada kabar
informasi mengenai istri pertamanya.

04. Ada pasangan kristen, masuk dalam pernikahan,
setelah beberapa lama, suaminya meninggalkan
istrinya. Istrinya tidak tahu, suaminya kemana, masih
hidup atau sudah mati. Sekarang istri tersebut ada
keinginan untuk menikah lagi. Apa ini diperbolehkan?


Roma 7:3 Jadi selama suaminya hidup ia dianggap
berzinah, kalau ia menjadi istri laki-laki lain; tetapi jika
suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia
bukanlah berzinah, kalau ia menjadi istri laki-laki lain.

1 Korintus 7:39 Istri terikat selama suaminya hidup. Kalau
suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan
siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah
seorang yang percaya.

Jika pasangan pergi harusnya dicari dan diajak pulang,
diampuni dan diajak pulih. Jika pasangan pergi karena Anda
yang salah, marah-marah terus, cemburuan, curiga, maka
Anda yang harus minta maaf dan bukannya dibiarkan hingga
bertahun-tahun. Selama pasangannya hidup yang ditinggal
tidak boleh menikah lagi, kecuali pasangannya sudah
meninggal atau sudah menikah lagi. Karena itu baik orang
tersebut ataupun gereja atau pendeta tidak boleh gegabah
memberkati pernikahan tanpa data yang jelas. Harus dicari
dulu kepastian mengenai pasangan yang pergi tersebut
statusnya saat ini bagaimana?

212

05. Seorang hamba Tuhan wanita bercerai, lalu suaminya
pergi kawin lagi, tetapi wanita ini tetap terus melayani
Tuhan. Apa ini pelayan yang berkenan?

06. Dapatkah seorang yang menikah secara kristen,
bercerai, menikah lagi, lalu sekarang menjadi pendeta
atau hamba Tuhan. Saat ini dia masih hidup dalam
pernikahan yang kedua tersebut.

Jika wanita diceraikan, asal dia bertobat dan tetap
selibat, dia tetap bisa terus melayani. Dia perlu bertobat,
kenapa diceraikan, misalnya apa dia tegar tengkuk, cerewet,
keras kepala, tidak mau diatur suami, karena dia seorang
‘hamba Tuhan’ (yang tentunya belajar kebenaran Firman atau
sekolah theologia) dan merasa lebih rohani dari suami. Atau
suami pergi, karena merasa ‘hamba Tuhan’ dan tidak hormat
kepada suami, atau tidak melayani seks suami, karena
baginya seks itu tidak kudus dan itu konsep yang salah.

Jika itu yang terjadi, wanita tadi harus bertobat, karena
dia yang salah. Setelah bertobat, selibat dan teruskan
melayani. Waktu bertobat, bisa saja ‘retreat’ atau mundur
sementara dari pelayanan mimbar, meneruskan pelayanan
doa, kunjungan dan pelayanan lainnya. Ampuni suami, hidup
tanpa kepahitan dan teruskan pelayanan. Pelayanan mimbar
bisa dilanjutkan jika dia pribadi siap dan jemaat bisa
menerimanya.

Untuk bercerai dan menikah lagi, lihat bahasan saya
bab 6. Jika sudah terlanjur menikah lagi, apakah pasangan
yang ditinggal masih sendirian? Jika masih sendirian,
putuskan pernikahan ke dua (karena itu perzinahan) dan
kembali ke istri atau suami pertama. Jika pasangan yang
ditinggal sudah menikah lagi, lihat pertanyaan no.7. atau
bahasan dalam bab sebelumnya di atas.

213

Menikah lagi dan melayani, sebenarnya sudah tidak
layak, karena dia hidup ‘cacat’. (Lihat syarat diaken dan
penatua). Sebaiknya tidak melayani, tidak tumpang tangan
dan tidak memberkati. Dia bisa melayani, tetapi bukan
menjadi pemimpin apalagi pelayanan mimbar.

07. Jemaat, pasangan sudah menikah dan diberkati di
gereja. 10 tahun lalu masing-masing meninggalkan
pasangannya, karena tidak punya anak, pisah tanpa
surat cerai.

Masing-masing menikah lagi dan ternyata bisa punya
anak, bahkan 3 anak. Hidupnya diberkati dan bahkan
kemudian mereka menjadi aktif melayani.

Bagaimana pemulihannya? Menyuruh mereka masing-
masing bercerai dan kembali lagi? Bagaimana dengan
anak-anak mereka?

Banyak orang tidak bercerai, karena tahu bercerai
dibenci Allah. Mereka juga tidak selingkuh, karena selingkuh
itu dosa. Mereka meninggalkan pasangan dan menikah lagi
secara resmi. Waktu menikah yang kedua, ada yang
menggunakan KTP palsu, status bujangan dan memberi
informasi ke gereja lain, kalau bujangan, sehingga diberkati.
Beberapa pasangan jujur, dan ada gereja yang berani
memberkati. Beberapa orang menikah di luar negeri, karena
disana sangat dimungkinkan. Pernikahan kedua tiap-tiap
pasangan tersebut, adalah poligami. Mengenai PEMULIHAN,
ini yang jadi repot, karena tidak bisa kembali lagi, karena
masing-masing sudah terikat dengan pernikahan.

214

Jika pasangan yang ditinggal belum menikah,
pemulihannya jelas, kembali ke pasangan yang ditinggalkan.
Maka saya menyarankan jika pasangan pergi dan menikah
lagi, tunggulah dengan selibat. Dalam kasus diatas, saya
pribadi berpendapat, bertobat sungguh-sungguh minta ampun
untuk dosa perzinahan yang telah dibuat, dan mulai sekarang
jalani kehidupan dengan benar dengan keluarga masing-
masing yang terakhir dan jangan bercerai atau meninggalkan
pasangan lagi. Hiduplah dengan kondisi terakhir ketika
dipanggil/ ketika bertobat. (Kasus I)

08. Seorang wanita kristen menikah dengan pria muslim
yang sudah berkeluarga. Pria tersebut mau diberkati
secara kristen. Apa ini boleh?

TIDAK BOLEH! Ini merebut suami orang dan merusak
rumah tangga orang. Jika sudah melakukan hubungan seks,
ini namanya perselingkuhan dan perzinahan serta merupakan
KEJAHATAN BESAR dihadapan Tuhan. (Baca buku saya
SELINGKUH). Bukan hanya selingkuh, tetapi juga melanggar
Firman, ‘jangan mengingini milik sesama’. Mengingini saja
jangan, apalagi merebut dan mau memiliki.

Keluaran 20:17 Jangan mengingini rumah sesamamu;
jangan mengingini istrinya, atau hambanya laki-laki, atau
hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya,
atau apapun yang dipunyai sesamamu.”

Jika pria muslim tersebut mau dibabtis dan menjadi
orang kristen, dengan kata lain dia bertobat, maka seharusnya
bukannya menikah lagi dengan wanita lain, tetapi kembali dan
memenangkan isteri pertamanya.

215

Ini juga bukan penginjilan. Kita tidak diajarkan
melakukan penginjilan dengan melanggar Firman yang lain.
Kita tidak bisa melakukan dosa dengan alasan untuk
penginjilan, dengan alasan mempersembahkan jiwa buat
Tuhan. Tuhan menghendaki ketaatan lebih dari pada korban.

09. Saya menikah dengan seorang lelaki yang sudah dua
kali bercerai, cerai hidup. Jadi saya istri ke 3 lelaki
tersebut. Saya menikah baru satu kali. Sekarang saya
sudah bercerai juga, dalam keadaan sebagai janda
cerai hidup. Apa yang harus saya perbuat ke depan,
secara pandangan kristiani yang baik?

Jika menggunakan diagram saya, wanita ini ‘C single’
menikah dengan si-A yang sudah pernah menikah dengan B1
dan B2 (kawin cerai 2 kali). Pernikahan anda dengan lelaki
tersebut adalah ‘perzinahan’, sesuatu yang tidak boleh, karena
Firman Tuhan berkata, orang yang menceraikan istrinya lalu
menikah lagi dia berzinah.

Jadi, jika Anda pisah dengan lelaki tersebut, bisa
diterima, karena Anda memutuskan hubungan perzinahan.
Sekarang, jika mau menikah, menikahlah hanya dengan
seorang bujangan atau duda yang istrinya mati, bukan duda
cerai hidup dan harus yang seiman.

Kalau engkau kuat dan terbaik, karena tidak semua
orang, tidak semua gereja dan pendeta setuju dengan
pendapat ini, dan mereka mengatakan, bahwa Anda sudah
menikah dan sekarang bercerai, maka kalau menikah lagi itu
berzinah, maka terbaik engkau selibat.

216

Saya pribadi, dalam kasus seperti ini, berpendapat,
bahwa yang Anda lakukan yang lalu bukan pernikahan, tetapi
perzinahan, jika Anda konseling saat itu masih bersama suami
Anda-pun saya akan sarankan putuskan hubunganmu, karena
itu bagi saya perzinahan. Setelah memutuskan perzinahan,
menikahlah dengan cara yang benar, satu kali saja. Jangan
berzinah lagi (mengulangi kasus serupa) dan kalau sudah
menikah dengan benar jangan bercerai, karena itu dosa!

10. Pasangan muda menikah dan tidak memiliki rumah.
Keduanya aktif melayani. Suami ingin kontrak rumah
saja, sementara istri ingin tinggal di rumah orang tua
saja, diajak kontrak rumah tidak mau.

Kejadian 2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan
meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan
istrinya, ....


Monster in Law ... sebutan untuk mertua
perempuan. Mereka bisa bertengkar seperti sinetron ...
episode demi episode ... Menantu laki-laki bisa catur
dengan mertua laki-2. Menantu laki-laki bisa mengabdi
mertua perempuan. Menantu laki bisa tinggal di rumah
mertua. Menantu perempuan jangan tinggal di mertua

Firman Tuhan yang mengatur tentang keluarga dan
hubungan orang tua dan mertua menantu diantaranya
Kejadian 2:24. Kenapa seorang laki-laki (bukan seorang
perempuan) harus meninggalkan ayah dan ibunya? Supaya
mertua perempuan tidak bertengkar dengan menantu
perempuan!

217

Anda sebagai laki-laki, bisa saja tinggal di rumah
mertua, masalah tidak sehebat, kalau Anda ajak istri tinggal di
rumah orang tua. Coba saja beberapa tahun, sambil
menghemat ongkos sewa rumah, dan tabunglah untuk uang
DP kredit rumah, ketika tabungan cukup, Anda bisa membeli
rumah dan kemungkinan besar istri Anda mau jika rumah
sendiri. Kemungkinan dia hanya sayang uangnya buat kontrak
rumah.

11. Adik saya kristen, menikah dengan wanita islam dan
diberkati di gereja.

Karena suatu hal, ada masalah, mereka sepakat untuk
bertarak, pisah sementara waktu. Dalam masa
bertarak tersebut, diam-diam istrinya menikah secara
islam dengan laki-laki dan punya anak.

Belakangan ketahuan, ternyata laki-laki yang menikahi
istri adik saya tersebut juga sudah punya istri. Maka
istri adik saya tersebut sekarang kembali ke adik saya
dengan membawa ‘oleh-oleh’ anak.

Adik saya binggung dan minta nasehat. Karena
keluarga saya menasehati, usir saja itu perempuan!

Jika waktu itu hanya ‘bertarak’, pisah untuk sementara
dan dia pergi menikah lagi dalam masa tersebut, yang masuk
kategori berzinah, lalu kembali artinya bertobat, maka dia
harus diterima kembali. Mengampuni dan menerima kembali,
itu alternatif terbaik dan termulia, walaupun itu bukan hal yang
mudah, dan banyak harga yang harus dibayar. (Menurut
Ulangan 24:1 sebenarnya wanita tadi ‘bisa diceraikan’)

218

Justru dengan itu, saya yakin, istri yang tadinya islam
tersebut, akan mengerti arti ‘pengampunan’ dan
‘diselamatkan’ mengenal kasih Yesus dalam tindakan nyata.
Dengan diterima kembali, saya yakin dia akan berubah,
bahkan akan ‘mengabdi’ suaminya yang pertama, yang
terbukti mengasihi apa adanya.

Masalah menjadi tidak mudah setelah ada ‘oleh-oleh’
anak ditambah dengan ‘penolakan’ pihak keluarga. Namun
saya percaya, melakukan kehendak Tuhan, adalah alternatif
terbaik.

Jika waktu itu tidak bertarak, tetapi bercerai dan
setelah bercerai, istri menikah lagi, lalu cerai lagi dan minta
kembali, Ulangan pasal 24 justru melarang untuk menerima
kembali.

12. Saya sudah pernah menikah sebelum saya bertobat,
waktu itu keluarga kami selalu ribut, dan akhirnya kami
bercerai. Waktu menikah tersebut, kami tidak memiliki
surat nikah dan tidak ke catatan sipil.

Kemudian saya bertobat dan menikah dengan anak
Tuhan juga dan hidup dengan damai sejahtera dan
memiliki 1 anak.

Masalahnya adalah, saya sering merasa bersalah
dengan 3 anak saya dengan istri yang dulu.

Tidak menikah catatan sipil, tidak diberkati, itu
namanya kumpul kebo, perzinahan yang menghasilkan 3
orang anak.

219

Waktu bertobat, seharusnya mencari ‘mantan istri’
walau dulu belum diberkati/ hidup dalam perzinahan. Untuk
kasus lain, melalui buku ini, saya anjurkan, jika Anda
mengalami serupa, lalu bertobat, maka setelah bertobat,
bukannya mencari isteri baru, tetapi carilah istri yang pertama
dan anak-anak yang Anda tinggalkan. Injli dan ‘selamatkan’
mereka dan bawa mereka ke sorga! Tidak ada ‘mantan anak’.
Anak-anak adalah darah dan dagingmu.

Jika Anda ‘sudah terlanjur menikah’ dan sudah
diberkati, bahkan sudah punya anak, secara hukum Anda
tidak salah, karena pernikahan Anda yang pertama adalah
‘kumpul kebo’, namun secara moral, anak-anak Anda akan
tetap menyalahkan Anda.

Jadi terbaik, temui mereka, minta ampun dengan
mereka, dan adakan ‘pendamaian’ dengan mereka, bisa
dengan cara memberi bekal ‘sekali untuk jangka panjang’ atau
jika secara ekonomi tidak mampu, Anda bisa santuni/
tunjangan anak-anak Anda terdahulu setiap bulan. Anda
harus minta pengertian dari istri Anda yang sekarang.

13. Setelah menikah saya ‘menyadari’ bahwa dia bukan
‘jodoh’ saya, kesadaran ini muncul setelah melihat
banyaknya perbedaan dan seringnya pertengkaran
yang muncul. Bagaimana ini pak? Boleh cerai?

Setiap orang perlu menyadari konsep pernikahan yang
benar, bahwa menikah bukan untuk menjadi sama, tetapi
untuk menjadi satu.

220

Menikah untuk saling melengkapi. Menikah dengan
siapa saja, pasti akan bertengkar. Setiap pribadi perlu
menjadi dewasa dengan menerima pasangannya dan belajar
mengatasi pertengkaran.

Jika sudah menikah, maka sudah menjadi ‘satu
daging’, dan sudah berarti dari Tuhan, karena Tuhan sudah
‘ijinkan’ terjadi. Kesadaran bahwa pasangannya ‘bukan dari
Tuhan’ ini kesadaran yang salah dan berbahaya. Ini suara
setan, suara roh pemecah, roh percideraan. Ada masalah
bukan berarti tidak dari Tuhan. Saya sering menjumpai, bahwa
sebelum orang menikah sangat nyakin bahwa pacarnya dari
Tuhan, sekalipun orang tua melarang atau pendeta
menyarankan jangan. Namun begitu orang telah menikah
banyak sekali yang yakin bahwa suami atau istrinya bukan
jodoh dari Tuhan. Kenyakinannya hanya berdasar kenyataan
bahwa mereka berbeda.

Adam bertengkar dengan Hawa dan saling
menyalahkan. Karena Hawa yang jatuh dosa akhirnya Adam
juga ikut jatuh dosa dan Adam dikutuk ‘dengan keringat akan
mencari nafkah’ (hidup susah). Ada masalah dalam
pernikahan mereka. Apakah Hawa bukan jodoh dari Tuhan?
Jelas Hawa dari Tuhan, Tuhanlah yang membuat Hawa dan
memberikan kepada Adam. Ada masalah, ada pertengkaran,
ada kesusahan dalam usaha, bukan berarti suami atau isteri
yang tidak bawa hoki dan harus diganti karena bukan ‘jodoh’.
Ada masalah dan pertengkaran bisa karena ada dosa, akar
pahit, akar kenajisan dan akar penyembahan berhala. Bisa
juga karena ketidak dewasaan pribadi. Jadi bukan pasangan
yang ‘diselesaikan’ tetapi selesaikan dosanya. Jadi perceraian
bukan jalan keluar mengatasi perbedaan.28



28 Pernikahan Bahagia. Jarot Wijanarko, Keluarga Indonesia Bahagia, Jakarta. 2018

221

14. Seorang wanita kristen pacaran dengan orang beda
agama (muslim), sampai hamil dan punya anak.
Mereka tidak menikah karena beda agama dan
masing-masing pada prinsip agamanya.

Pacarnya pulang ke Makasar dan sudah 3 tahun ini
laki-laki ini cukup baik, dengan tetap berkomunikasi
baik surat atau telephone, bahkan selama 3 tahun ini,
menghidupi biaya anaknya.

Ibu muda ini sekarang bimbang, apakah akan pindah
agama dan menikah dengannya? Karena sudah
terbukti 3 tahun dia laki-laki yang baik.

Pacaran hingga hamil, adalah perzinahan dan dosa,
pertama bertobat dan mengaku dosa. Firman Tuhan dan
undang-undang pernikahan RI terbaru melarang, tidak boleh
menikah dengan yang tidak satu agama. Karena itu jika mau
menikah, menikahlah dengan yang satu iman. Memang
sudah terbukti, dia laki-laki yang baik, tetapi pernikahan beda
iman, tidak bisa diberkati. Jika wanita kristen yang pindah
agama, memang bisa menikah, tetapi berarti dia ‘menjual hak
kesulungan’ ‘menukar kepastian keselamatan’ dengan hal-hal
daging. Lebih baik menikah dengan yang seiman atau tetap
selibat (tidak menikah), bekerja mencari nafkah dan
menghidupi dan mendidik anaknya dengan benar. Jangan
menyelesaikan dosa (hamil di luar nikah) dengan berbuat
dosa berikutnya (menikah dengan tidak seiman).

2 Korintus 6:14 Janganlah kamu merupakan pasangan
yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak
percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara

222

kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang
dapat bersatu dengan gelap?
15 Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan
Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya
dengan orang-orang tak percaya?
16 Apakah hubungan bait Tuhan dengan berhala? Karena
kita adalah bait dari Tuhan yang hidup menurut firman
Tuhan ini: “Aku akan diam bersama-sama dengan mereka
dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan
menjadi Tuhan mereka, dan mereka akan menjadi umat-
Ku.
17 Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan
pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan
janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan
menerima kamu.

15. Seorang anak Tuhan (wanita), menikah dengan
seorang PRIA yang berbeda agama. Setelah
menikah, wanita itu baru tahu, bahwa dia istri ke dua.

Setelah beberapa tahun, bahkan sudah punya anak,
wanita ini minta diceraikan, karena wanita ini tahu dia
salah dihadapan Tuhan. Dia sering merasa berdosa,
telah merebut istri orang. Merasa berdosa ketika
berhubungan intim, bahwa ini perzinahan.

Suami tidak mau menceraikan.

Menikah dengan suami orang adalah dosa, itu
perzinahan. Jadi jika merasa berdosa itu yang benar, yang
tidak benar, kalau mengeraskan hati dan merasa tidak
berdosa, itu namanya orang bebal.

223

Ceritakan ke suamimu imanmu dan keyakinanmu yang
baru setelah pertobatanmu, bahwa engkau hidup dalam
perzinahan, minta ‘dimerdekakan’ atau minta ijin
meninggalkan suami, hidup berpisah, tanpa bercerai, selibat,
hidup membesarkan dan mendidik anak dengan benar.
Meninggalkan suami, namun tidak bertengkar, tetapi hidup
dengan damai.

1 Korintus 7:11 Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap
hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya.

16. Saya seorang suami yang memiliki 2 istri. Istri
pertama menikah secara Islam, lalu bercerai setelah
memiliki 2 anak.

Saya bertobat, kemudian menikah lagi dengan anak
Tuhan, menikah di gereja, diberkati dan juga sudah
punya anak. Baru-baru ini saya terlibat melayani.

11 Tahun kemudian, istri pertama saya kembali ke
saya dan karena ada 2 anak, perlu ayah, perlu biaya,
maka saya terima kembali, saya nafkahi, juga sudah
menikah kembali secara adat.

Sekarang istri pertama juga mau masuk Kristen.
Gembala saya bingung dengan status saya ... lha
saya lebih bingung lagi mau gimana?

Sebelum bertobat, menikah dan cerai hal biasa, itulah
kehidupan di bumi ini. Jika bertobat, harusnya kembali ke
isteri pertama dan bukan mencari istri baru. Jika isteri pertama
yang ditinggalkan ternyata telah menikah lagi, atau belum
menikah lagi, tetapi tidak mau ‘menjadi kristen’, maka menikah

224

dengan anak Tuhan dan melayani, bisa diterima. Karena
menikah memang harus dengan sesama orang beriman.

Kesalahan pertama, saudara bukan mencari istri
pertama, memenangkan jiwanya dan pulih dengan dia, tetapi
justru menikah lagi.

Kesalahan kedua, ketika istri pertama kembali,
harusnya hanya diterima sebagai sahabat, ditunjang/ dibiayai,
diberi nafkah adalah hal yang mulia dan baik, namun tidak
menikah lagi secara adat, tidak lagi hubungan seks.

Jika sudah terlanjur dalam kondisi seperti ini, saudara
hidup dalam status poligami, saya berikan bahasan sebagai
berikut:

Pernikahan keduamu, sudah diberkati digereja,
pernikahan setelah pertobatan, catatan sipil dan punya anak,
jadi statusnya jelas, sah secara hukum dan sah secara
agama. Pernikahan ulang dengan isteri pertamamu, hanya
secara adat, tidak diberkati dan tidak ada cacatan sipil ulang.

Alternatif penyelesaian: ‘memerdekakan’ istri pertama,
mengijinkan dia pergi dan menikah lagi jika dia mau. Jika dia
tidak mau pergi, menyarankan dia ‘selibat’ dan engkau tetap
menunjang semua kebutuhan ekonomi, ‘hidup bersama
dengan damai’, seperti kakak dan adik.

Engkau tetap bisa mengasihinya, memperhatikannya,
memenuhi kebutuhannya akan kasih sayang, tetapi tanpa
hubungan seks. Jika dia seorang wanita yang sudah

225

memasuki masa menopause, toh memang sudah tidak terlalu
memerlukan hubungan seks. Mungkin justru Anda yang
membutuhkan seks nya, jika istri pertama Anda sedang tidak
mood, atau sedang datang bulan.

Bercerai adalah dosa dan sesuatu yang dibenci Tuhan.
Kita tidak menyelesaikan dosa dengan dosa lainnya, karena
itu saya lebih menyarankan, ‘hidup bersama dengan damai’,
seperti kakak dan adik. Hindari hubungan fisik yang intim,
supaya Anda jangan terangsang dan ingin hubungan seks
dengan dia. Benar-benar perlakukan dia seperti adik, tidak
lebih tidak kurang.

Jika isteri pertama Anda mau masuk kristen, itu hal
yang baik, biarkan dia bertobat dan lahir baru sungguh-
sungguh, menemukan tujuan hidup yang baru, mendidik anak-
anak dengan benar, mencari kebahagiaan batin dengan
banyak berbuat baik.

17. Kasus

Seorang wanita pacaran dan hamil, dan mau bunuh
diri, akhirnya dikonselingi dan tidak jadi bunuh diri
setelah orang tuanya berjanji akan memelihara anak
tersebut.

Masalah mulai muncul, bagaimana status anak
nanti? Anak haram? Akte lahir bagaimana? Akhirnya
wanita dan laki-laki tersebut membuat ‘Surat Nikah’
Catatan Sipil, demi status si anak. Surat nikah dipegang

226

si wanita dan si laki-laki pergi meninggalkan si-wanita
entah kemana.

Laki-laki tadi pergi karena memang mereka
sepakat, ‘Akte Nikah’ tadi hanya demi si anak, tetapi
mereka putus hubungan, tidak tinggal serumah dan tidak
lagi melakukan hubungan suami istri setelah penanda
tanganan surat tersebut.

Lima tahun kemudian, wanita tadi punya pacar lagi,
dengan seorang duda yang istrinya mati dan hendak
menikah. Orang tua wanita tadi takut, jika tidak segera
dinikahkan, mereka akan melakukan hubungan seks,
karena keduanya pernah merasakan seks, yang tentu
godaannya lebih besar daripada yang belum pernah.
Jangan sampai hamil lagi dan kasus terulang kembali.

Mereka berdua setuju untuk menikah dan keliling
berbagai gereja dan tidak ada pendeta yang mau
memberkati. Ada gereja yang mau memberkati, tetapi
minta surat perceraian dari wanita dengan ‘suami’
pertama wanita tadi. Si-wanita kebingungan, karena tidak
tahu ‘suami’nya kemana, karena dulu hanya ‘nikah-
nikahan’ untuk mendapat ‘akta nikah’ demi status si-anak,
supaya punya ‘akte lahir’. Bagaimana seharusnya sikap
wanita tersebut, dalam memulihkan hidupnya?
Bagaimana pendapat bapak?

Jika belum mau menikah, dan tidak mendesak mau

menikah karena sedang pacaran dengan duda dan sudah

tidak tahan mau seks, seharusnya jika bertobat sungguh-

sungguh, justru pulih dengan ‘suami’ yang pergi entah

kemana. Walaupun dahulu hanya ‘nikah-nikahan’

sebenarnya, jika sudah ‘satu daging’ bahkan hubungan seks

tersebut sudah menghasilkan anak, maka secara ‘de facto’

sudah suami isteri.

227

Ribuan tahun yang lalu, jaman suku-suku di
pedalaman sekarang, tidak ada catatan sipil, belum ada gereja
atau bahkan tidak ada agama, jika orang sudah hubungan
seks, maka sudah suami istri. Jadi seharusnya, masalah
hamil waktu pacaran dahulu, diselesaikan dengan ‘menikah
beneran’ dan bukan ‘main-main nikah-nikahan’.

‘Nasi sudah menjadi bubur’. Kesalahan sudah
terlanjur. Jika sedemikian mendesak, maka carilah ‘suami-
Anda’ mintakan ‘surat ijin menikah lagi’. Anda bisa memasang
iklan di koran nasional selama beberapa hari, dan tunggu
hingga 3 bulan. Jika ketemu mintakan surat tersebut, jika tidak
ketemu Anda menikah dengan pacar Anda. Jadi Anda
‘menikah lagi’, Anda melakukan ‘poliandri’ (punya suami 2).

Ini tetap perbuatan dosa, bukan kehendak Tuhan.
Kehendak Tuhan, Anda selibat sambil terus mencari ‘suami
pertama Anda’ untuk pulih. Jika ketemu dan diijinkan menikah
lagi, ini juga tetap dosa, karena melakukan ‘poliandri’ atau
‘menikah lagi’, tetapi masih lebih baik daripada bercerai lalu
menikah lagi, itu lebih dosa lagi, dosa dua kali, bercerai itu
dosa dan dibenci Tuhan, menikah lagi setelah bercerai itu
dosa perzinahan.

Namun ijin menikah lagi, secara hukum perdata, akan
berpeluang menimbulkan konflik, mengenai harta, karena jika
belum ‘resmi bercerai secara hukum’ harta istri adalah harta
suami. Untuk itu Anda bisa membuat perjanjian didepan
notaris, ijin menikah dan perjanjian saling tidak menuntut
harta. Memang dosa dan kedegilan hati pasti bermasalah.

228

18. Setelah menikah saya baru tahu, bahwa suami saya
impotent, apakah saya boleh bercerai?

19. Teman saya suaminya kena stroke, tidak mati, tetapi
juga tidak sembuh-sembuh, sudah bertahun-tahun
seperti bangkai hidup, padahal istrinya belum umur
40 tahun, masih cantik dan butuh seks, namanya juga
manusia. Bolehkah menikah lagi dan tetap merawat
suami?

20. Kasus no 12 didepan (saya belum jawab)
kebalikannya isteri yang sakit, bahkan istri
menyetujui kalau suaminya menikah lagi, asal dia
jangan diceraikan, tetapi tetap dirawat dan dikasihi.

Roma 7:2 Sebab seorang istri terikat oleh hukum kepada
suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila
suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang
mengikatnya kepada suaminya itu.
3 Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau
ia menjadi istri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah
mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah,
kalau ia menjadi istri laki-laki lain.

Dari Firman Tuhan diatas, dengan sangat tegas
dinyatakan, jika pasangannya masih hidup, maka tidak boleh
menikah lagi, dan jika menikah lagi DIANGGAP berzinah.

Namun untuk kondisi khusus dimana pasangan
‘impotent’ atau sakit parah dan tidak bisa lagi berhubungan
sex, yang hakekatnya sama juga dengan ‘impotent’ maka
tidak ada ayat yang melarang dan juga tidak ada ayat yang
menyetujui atau membolehkan bercerai.

229

Tentang bagaimana terapi untuk mengatasi impotensi
saya bahas dalam buku SELINGKUH. Dalam buku ini saya
bahas jika pasangan sakit parah atau impotensi sudah tidak
tersembuhkan.

Cerai dibenci Tuhan, berkhianat dan tidak setia dengan
istri/ suami masa muda dan berarti dosa. Cerai lalu menikah
lagi, semakin dosa lagi, dosa dua kali, bercerai dosa dan
menikah lagi setelah bercerai disebut berzinah.

‘Menikah lagi’ atau ber-poligami atau ber-poliandri atas
persetujuan pasangan pertama, dan tetap mencintai, merawat
dengan kasih sayang, ‘masih bisa dipahami’, daripada diam-
diam selingkuh atau melakukan kenajisan dengan onani atau
masturbasi. Jika ini dilakukan, maka harus mengundurkan diri
dari semua pelayanan, karena dia ‘hidup cacat’ dan ‘tidak
layak’ menjadi pemimpin.

Pendapat ini sering diajukan dengan mengajukan
alasan 1 Korintus 7:3, bahwa kondisi pernikahan ‘tidak normal’
karena salah satu tidak bisa memenuhi kewajibannya.

1 Korintus 7:3 Hendaklah suami memenuhi kewajibannya
terhadap istrinya, demikian pula istri terhadap suaminya.

Saya pribadi berpendapat, untuk kasus 33 dan 34, bagi
yang pasangannya sakit parah, sehingga tidak mampu
melakukan aktivitas seks, lebih baik jika ia menunggu sampai
pasangannya meninggal, dan baru menikah lagi.

Untuk kasus 18 ada baiknya dicoba terapi, berobat,
operasi dahulu sebelum alternatif lainnya. Jika impotent dan
usia masih muda, sehingga kalau menunggu dia mati,
mungkin yang normal yang akan mati duluan, maka bisa saja

230

mereka melakukan seks bukan dengan organ seks, tetapi
suami merangsang klitoris istri dengan jari atau lidah hingga
istri orgasme. Sementara itu, penuhi kebutuhan kepuasan
dalam bidang-bidang lainnya, kepuasan berkarya, kepuasan
melayani, kepuasan hadirat Tuhan, kepuasan berorganisasi
dan lain-lain sehingga hati melimpah dengan sukacita dan
tuntutan untuk hal daging tidak setinggi jika dibandingkan hati
yang kosong.

21. ‘Apa yang disatukan Tuhan, jangan dipisahkan
manusia’. Bagaimana jika pada malam pengantin,
selesai acara pemberkatan nikah, istri kabur dengan
‘pacarnya’ sebelum suami istri sempat satu daging.

Dalam kasus lainnya, anak yang dipaksa menikah
oleh orang tuanya, kabur meninggalkan rumah
sebelum hari pernikahan, atau kasus lebih ekstrim
lagi, mereka bunuh diri.

Secara hukum, mereka telah diberkati dalam
pernikahan, disaksikan jemaat, dihadapan Tuhan dan
hamba Tuhan.

Secara hukum, sebenarnya juga ada cacatnya, kenapa
dia lari kabur dengan pacar? Karena dia dipaksa menikah oleh
orang tua dengan pasangan pilihan orang tua. Janji atau
pernyataan bahkan perjanjian yang ditanda tangani, apabila
dilakukan dibawah tekanan, maka tidak sah. Tidak perlu
bercerai, karena pernikahannya ‘batal’ atau ‘tidak sah’. Yang
lari atau yang ditinggal lari, silahkan menikah dengan
pasangan yang ‘saling mencintai’ dan ‘saling setuju’ sehingga
dengan sukacita dan tanpa paksaan ‘mengucapkan janji nikah’
dan menanda tangani ‘perjanjian nikah’.

231

Ini yang salah dan berdosa adalah orang tuanya yang
memaksa anaknya menikah. Orang tua yang harus bertobat,
minta ampun dengan anaknya, minta ampun dengan hamba
Tuhan dan jemaat, bahwa mereka telah ‘membohongi’ dengan
mengatakan bahwa anaknya saling mencintai dan mau
menikah, kenyataannya anaknya tidak mau menikah dengan
suami pilihan orang tua.

Bagaimana pemulihannya? Tidak perlu pemulihan
dalam arti mencari isteri dan minta kembali. Pemulihannya,
orang tua yang harus bertobat dari cara-cara main paksa,
minta ampun dan membatalkan demi hukum pernikahan
‘paksaan’ tersebut. Memberi kebebasan kepada anaknya
untuk memilih pasangannya, asal mereka pasangan yang ‘se-
iman’ sesuai syarat Firman Tuhan.

Kasus diatas, bukan anak yang mempermalukan orang
tuanya, ini orang tua tidak tahu diri, keterlaluan, siapa yang
akan menikah? Dia atau anaknya? Orang tua melanggar hak
asasi dan hak pribadi anak.

Orang tua boleh melarang anaknya, kalau anaknya
melanggar Firman TUHAN dengan memilih pasangan yang
tidak seiman. Namun untuk alasan lain seperti faktor suku
atau ekonomi, cara berpakaian calon menantu atau hal-hal
‘budaya’ lainnya, ini alasan yang tidak benar.

Semua suku buatan Tuhan dan dicintai Tuhan. Yesus
mati untuk menebus semua suku (Wahyu 5:9), dan akan
datang kembali jika semua suku sudah mendengar Injil
(Matius 24:14). Ekonomi? Jika mereka menikah dengan
benar, kudus, dan calon menantu orang yang ‘takut akan
Tuhan’, saya percaya mereka nantinya akan diberkati.

232

Pendeta juga harus hati-hati, sebelum memberkati,
harus melakukan konseling pra-nikah dengan teliti. Itulah
sebabnya dibeberapa gereja, menetapkan 3 bulan waktu
untuk konseling, supaya pendeta bisa bertanya ke masing-
masing pribadi, apakah mereka benar-benar saling mencintai.
Bahkan sebelum doa pemberkatan nikah, pendeta akan
bertanya hal tersebut sekali lagi, sebelum mempelai
mengucapkan janji nikah.

Untuk anak-anak muda, saya menyarankan, selagi
‘tertarik’ dengan lawan jenis, sebelum memutuskan menerima
cinta atau mencintai, sebelum melangkah pacaran,
konsultasikan dengan orang tuamu tentang calon pacarmu.

Anak-anak muda ada baiknya engkau mendengar
saran orang tuamu, karena mereka lebih pengalaman dan
berpikir untuk masa depanmu. Pertimbangkan masukan orang
tuamu, apakah logis, masuk akal dan berhikmat. Jika
alasannya hanya soal suku atau ekonomi, engkau bisa
berdoa, berpuasa dan baru berargumen dengan orang tuamu.

22. ‘Apa yg disatukan oleh Tuhan tidak boleh dipisahkan
manusia’. Bagaimana dengan pernikahan ‘yang tidak
disatukan Tuhan’, misal menikah kecelakaan,
menikah beda agama, kumpul kebo, apakah itu
semua termasuk ‘tidak disatukan Tuhan’ dan ‘boleh
dipisahkan’?

‘Apa yang disatukan Tuhan, jangan dipisahkan
manusia’. Menyambung pertanyaan sebelumnya,
bagaimana jika dahulu saya dipaksa menikah oleh
orang tua, saya tidak mencintainya, tetapi saya tidak
memiliki keberanian untuk ‘kabur’ akhirnya saya
‘terpaksa’ menikah.

233

Saya pikir akan saya coba dulu, seperti nasehat orang
tua; “Coba dahulu, cinta tidak turun dari langit, kalau
kamu sudah menikah nanti kamu akan mencintainya,
dan menyesal, kenapa tidak menikah dari dulu”

Jadi saya akhirnya menikah, sekarang sudah 5 tahun
dan saya menderita, merasa disiksa, dimanfaatkan,
suami saya tidak cinta saya, dia bernafsu terhadap
saya. Bolehkah saya bercerai karena pernikahan
saya dulu ‘paksaan’ dan ‘tidak disatukan Tuhan,
tetapi disatukan orang tua?”

Secara hukum, sudah menikah, sudah menjadi suami
istri yang sah, walaupun awalnya karena kecelakaan atau
dipaksa orang tua. Firman Tuhan mengatakan bahwa jika
sudah menjadi ‘satu daging’ maka ‘sudah menjadi satu’,
karena mereka bukan lagi dua tetapi satu. Secara ‘de facto’,
kenyataan mereka sudah menjadi suami-istri. Jika sudah
memiliki anak, maka kesatuan itu bahkan menghasilkan
keturunan dari darah dan daging, maka kesatuan itu seperti
‘dimeterai’.

Jadi Tuhan juga mengajarkan bahwa ‘disatukan Tuhan’
bukan hanya dari sisi theologis untuk pernikahan yang benar,
yang sepadan, yang seiman dan diberkati, tetapi juga untuk
laki perempuan yang sudah ‘satu daging’. ‘Satu daging’ juga
dimaksudkan untuk yang sudah melakukan hubungan badan.

Semua orang yang sudah menikah, apapun
agamanya, mereka adalah pernikahan yang sah secara
hukum, baik hukum agama (masin-masing), hukum adat atau
hukum negara, walaupun mereka tidak ‘diberkati secara
kristen’. Firman Tuhan juga berkata, ‘tidak ada pemerintahan
yang tidak dari Tuhan’, jadi umat kristen, orang percaya,

234

selama hidup di dunia, juga mengakui hukum undang-undang
yang berlaku di negara masing-masing, termasuk undang-
undang pernikahan.

Di pedalaman, di suku-suku, banyak orang menikah
dan tidak ada surat, tidak ada catatan sipil dan tidak ada
‘upacara digereja’, mereka tetaplah sebuah keluarga sah.
Mereka bukan ‘kumpul kebo’ mereka suami istri.

Karena itu jika ada masalah, penyelesaiannya bukan
dengan bercerai, tetapi justru PEMULIHAN, jika pasangan
belum ‘percaya’ maka menangkan dan selamatkan, mintalah
hamba Tuhan untuk ‘meneguhkan’ atau ‘memberkati’
pernikahan saudara.

Jika dahulu hanya ‘kumpul kebo’, sekarang urus surat
pernikahan, ikuti konseling pernikahan dan minta diberkati/
diteguhkan oleh gereja. Walaupun sudah beranak tiga, tidak
masalah baru dilakukan ‘pemberkatan’ atau ‘peneguhan
pernikahan’. Tidak ada kata terlambat untuk memulai sebuah
kehidupan yang benar. Selesaikan masalah dengan berbuat
yang benar, dengan cara yang benar, bertanggung jawab
dengan pasangan, karena sudah berhubungan seks, sudah
berkumpul, jangan bercerai atau mencampakkan, jangan
mengkhianati, tetapi selamatkan, benarkan dan pulihkan.

Jika dahulu terpaksa atau dipaksa, tetapi sudah
‘mencoba’ namun gagal, maka jangan coba-coba, tetapi
berjuanglah untuk terus membangun pernikahanmu.
Terapkan prinsip-prinsip pernikahan kristen secara konsisten,
saya yakin pasti berhasil. Kenyataan juga mayoritas orang
zaman dahulu dijodohkan orang tua dan cukup banyak yang
berhasil.

235

23. Saya janda, apa yang harus saya lakukan yang terbaik
bagi Tuhan? Saya cinta Tuhan dan mau melakukan
yang terbaik bagi-Nya.

Firman Tuhan berikut ini cukup jelas, dan saya tidak
perlu menambahkan keterangan. Baca baik-baik, Roh Kudus
akan memberikan pengertian secara pribadi.

1 Timotius 5:4 Tetapi jikalau seorang janda mempunyai
anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama
belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan
membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah
yang berkenan kepada Tuhan.
5 Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang
ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada
Tuhan dan bertekun dalam permohonan dan doa siang
malam.
6 Tetapi seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-
lebihan, ia sudah mati selagi hidup.
7 Peringatkanlah hal-hal ini juga kepada janda-janda itu
agar mereka hidup dengan tidak bercela.
8 Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak
saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan
lebih buruk dari orang yang tidak beriman.
9 Yang didaftarkan sebagai janda, hanyalah mereka yang
tidak kurang dari enam puluh tahun, yang hanya satu kali
bersuami
10 dan yang terbukti telah melakukan pekerjaan yang
baik, seperti mengasuh anak, memberi tumpangan,
membasuh kaki saudara-saudara seiman, menolong orang
yang hidup dalam kesesakan--pendeknya mereka yang
telah menggunakan segala kesempatan untuk berbuat
baik.

236

11 Tolaklah pendaftaran janda-janda yang lebih muda.
Karena apabila mereka sekali digairahkan oleh keberahian
yang menceraikan mereka dari Kristus, mereka itu ingin
kawin
12 dan dengan memungkiri kesetiaan mereka yang
semula kepada-Nya, mereka mendatangkan hukuman atas
dirinya.
13 Lagipula dengan keluar masuk rumah orang, mereka
membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya
bermalas-malas saja, tetapi juga meleter dan mencampuri
soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas.
14 Karena itu aku mau supaya janda-janda yang muda
kawin lagi, beroleh anak, memimpin rumah tangganya dan
jangan memberi alasan kepada lawan untuk memburuk-
burukkan nama kita.
15 Karena beberapa janda telah tersesat mengikut Iblis.
16 Jika seorang laki-laki atau perempuan yang percaya
mempunyai anggota keluarga yang janda, hendaklah ia
membantu mereka sehingga mereka jangan menjadi
beban bagi jemaat. Dengan demikian jemaat dapat
membantu mereka yang benar-benar janda.


Ada contoh seorang menjadi janda ketika masih muda
(baru menikah 7 tahun) dan mengabdikan hidupnya sebagai

nabi dan bertekun berdoa dan hidup hingga usia 84 tahun
serta melihat Yesus lahir.

Lukas 2: 36 Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi
perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat
lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun
lamanya bersama suaminya,

237

37 dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh
empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Tuhan
dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.
38 Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan
mengucap syukur kepada Tuhan dan berbicara tentang
Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan
untuk Yerusalem.

24. Saya sudah bercerai, khan lebih baik kawin lagi dong
Pak, Firman Tuhan khan berkata; “lebih baik kawin
daripada hangus karena nafsu”.

Jika mantan suami telah mati, maka engkau bebas, janda
mati, boleh menikah lagi. Firman Tuhan mengenai ‘lebih baik
kawin dari pada hangus oleh nafsu’, ditujukan kepada
janda-janda (ayat 8) diperjelas lagi janda yang suamimya mati
(ayat 39) dan kepada mereka yang tidak atau belum kawin
baik perjaka atau gadis (ayat 27-28).

1 Korintus 7:8 Tetapi kepada orang-orang yang tidak
kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya
baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.
9 Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah
mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus
karena hawa nafsu.
27 Adakah engkau terikat pada seorang perempuan?
Janganlah engkau mengusahakan perceraian! Adakah
engkau tidak terikat pada seorang perempuan? Janganlah
engkau mencari seorang!
28 Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tdk berdosa. Dan
kalau seorang gadis kawin, ia tdk berbuat dosa.

238

39 Istri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya
telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja
yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang
percaya.

Baca kembali bagian depan buku ini, bahwa Tuhan
Yesus mengajarkan, jika seseorang ‘menceraikan’ atau
‘diceraikan’ lalu menikah lagi, itu disebut berzinah. Maka
alternatif terbaik adalah pulih/ kembali/ atau menikah lagi
dengan mantan isteri/ mantan suami yang menceraikan.

25. Suami saya menuntut cerai, sudah 4 bulan belum ada
panggilan dari pengadilan, dan selama ini saya
‘digantung-gantung’ tidak diperhatikan, tidak ada
komunikasi. Saya mau pulih/ menyatu lagi, tetapi
bagaimana caranya?

Tidak ada masalah tanpa sebab atau akar. Dua orang
bertengkar pasti dua-duanya salah, hanya saja mungkin ibu
salah 10 dan suami salah 500, itu bisa saja. Pulihkan
pernikahan, cegah dan batalkan perceraian dengan kuasa
kasih, kuasa kerendahan hati, bukan kuasa hukum. Mintalah
maaf untuk kesalahanmu, tanpa mengungkit kesalahannya,
biarkan Roh Kudus berbicara untuk kesalahannya, tetapi
bagian kita adalah kesalahan kita. Minta maaflah sungguh-
sungguh untuk kesalahan yang bagian kita itu.29

Yang kita tabur kita akan menuainya, jika kita tidak
menjadi lemah, karena itu jangan jemu-jemu berbuat baik
(Galatia 6). Karena itu terus dan terus taburi suamimu dengan
kebaikan, perhatian dan kasih sayang. Jangan menuntut,



29 Pendamaian, Jarot Wijanarko, Suara Pemulihan. 2000

239

tetapi memberi. Lebih bahagia memberi daripada menerima.
Sekeras-keras dan sebenci apapun hati orang akan hancur
juga oleh kasih, karena yang paling besar adalah kasih.

Galatia 6:7 Jangan sesat! Tuhan tidak membiarkan diri-Nya
dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga
yang akan dituainya. 6:9 Janganlah kita jemu-jemu
berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita
akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Di dalam hadirat
Tuhan segala sesuatu menjadi mungkin dan hadirat Tuhan
ada dalam kasih. Tuhan adalah kasih, barangsiapa ada di
dalam kasih, Tuhan di dalam dia dan dia di dalam Tuhan.
Kasih itu sabar, murah hati, kasih itu menutupi segala sesuatu,
menanggung segala sesuatu. Kalau Anda tidak memiliki kasih
itu, mintalah kasih Yesus mengalir di dalam hati Anda, dan
kasihNya akan menguatkan kita untuk mengasihi orang lain.
Saya tahu ini tidak mudah, tetapi kalau kita mengambil
keputusan untuk mengasihi, Tuhan akan memberi
kemampuan.

26. Sebelum saya bertobat, menjadi kristen, saya pernah
menikah. Saya bertobat dan melupakan masa lalu.
Hal ini saya sembunyikan terhadap suami saya yang
sekarang. Apakah masa lalu saya ini mempengaruhi
komunikasi saya dengan suami yang sekarang?
Apakah sebaiknya saya cerita dengan suami?

Masa lalu pasti dan memang mempengaruhi
seseorang. Jika dulu menikah sebelum bertobat, belum jadi
kristen, dan sekarang telah menikah setelah bertobat, apalagi
sudah punya anak, itu bisa diterima. Jika Anda melihat,

240

menyadari bahwa suami benar-benar mencintai pribadi Anda,
Anda bisa saja dan bahkan lebih baik bercerita apa adanya.
Ada kebahagiaan yang berkurang, kebahagiaan yang tidak
sempurna ketika ada kebohongan, ada sesuatu yang
dirahasiakan, yang ditutup-tutupi.

Carilah waktu yang tepat, berdoalah sungguh-sungguh
supaya suami Anda bisa menerima dan mengerti, berdoalah
minta hikmat bagaimana dan kapan menceritakannya dan
utamanya awali bahwa Anda sangat mencintainya dan
akhirnya nyatakan karena sangat mencintainya, maka Anda
tidak mau ada satu rahasiapun yang Anda sembunyikan
terhadapnya.

Nyatakan bahwa Anda bertumbuh di dalam Tuhan,
membuat Anda gelisah dengan menutupi hal semacam ini,
yang utama Anda sekarang bercerita karena Anda
mencintainya, dan membutuhkan cintanya yang tanpa syarat.
Nyatakan bahwa dulu dia tidak bercerita, karena terus terang
karena takut kehilangan dia, dan itu karena Anda begitu
mencintai dia, dan tidak mau kehilangan dia.

Terakhir mintalah dia tetap mencintai Anda karena
Anda mencintainya. Anda bisa berpuasa terlebih dahulu
sebelum berbicara dengan suami, seperti Esther menghadap
raja Ahasiveros, karena dia takut sekali kalau raja marah.
Bisa juga Anda mengajak suami berlibur tanpa anak-anak di
kawasan wisata dalam suasana yang romantis, setelah
beberapa kali bercinta nyatakan pergumulan hati Anda. Jika
suami Anda tidak rohani, Anda tidak harus buru-buru
menceritakan karena akibatnya bisa lain.

241

Check ulang apakag sudah di bahas sebelumnya jika belum
tambahkan
1 Pertanyaan di Youtube ulangan 24
2 Bapak mengijinkan PERKECUALIAN untuk bercerai.
Apakah ini tidak bertentangan dengan ajaran
PENGAMPUNAN?
3 Bapak mengajarkan PERKECUALIAN untuk bercerai, jika
karena KEBEJATAN SEKSUAL? Apakah bapak tidak percaya
bahwa jenis dosa inipun bisa bertobat? Kenapa tidak
MELARANG perceraian dan mengajarkan untuk
MEMENANGKAN PASANGAN?

242

Daftar Pustaka

Garry Chapman, Loving Solution.

http://alkitab.sabda.org/strong.php?id=4202
https://artikel.sabda.org/perceraian_dan_pernikahan_kembali

http://drsuhentoliauwblog.graphe-
ministry.org/2019/01/25/pernikahan-perceraian-menurut-
alkitab/

http://rec.or.id/article_665_Jangan-Berzinah-(Matius-5:27-30)
http://rec.or.id/article_667_Jangan-Bercerai-(Matius-5:31-32)

https://teologiareformed.blogspot.com/2018/04/wawancara-
topik-cerai-karena-zinah.html

https://www.desiringgod.org/articles/a-statement-on-divorce-
remarriage-in-the-life-of-bethlehem-babtist-church

https://www.thetimes.co.uk/article/liberal-tolerance-of-gays-in-
church-ic-just-paganism-5lwxdwf5k75

Jay E. Adams, “Marriage, Divorce, and Remarriage in the
Bible”, hal 53-54

Jarot Wijanarko
2000 Cinta Seks Pacaran, Suara Pemulihan. Jkt
2000 Pendamaian, Suara Pemulihan, Jakarta.
2016 Pemulihan PRIA SEJATI dan WANITA BIJAK,
Andi Offset, Jogya.
2017 Mempelai Ilahi, KIB. Jakarta
2017 SEKS dan SELINGKUH. KIB. Jakarta.
2018 Pernikahan Bahagia, KIB. Jakarta.

243

John Stott, The Message of the Sermon on the Mount, hal 97
Mana Surgawi, no.63, Juni 2003
Pulpit Commentary, halaman 244-245
W.E.VINE, An Expository Dictionary of New Testament Words,
455

244

Biografi Penulis

Lahir di Karanganyar, Solo 12 September 1963 dari
keluarga pegawai negeri yang sederhana. Nomor dua dari
lima bersaudara.

Pernikahan penulis cukup unik, ia seorang pribumi
suku Jawa, menikah dengan keturunan Tionghoa. Penulis
lahir dari keluarga yang sangat sederhana bahkan dibawah
garis kemiskinan, isterinya dari ekonomi menengah. Penulis
seorang ‘sanguinis’ dan isterinya ‘pleqmatik’. Perbedaan suku,
budaya, ekonomi dan temperamen dasar, sempat
membuatnya berpikir ‘telah menikahi orang yang salah’,
sebuah pemikiran yang ternyata juga dialami oleh banyak
orang lainnya.

Rhema Firman Tuhan yang dia pelajari dan hidupi,
kasih Yesus yang dia alami, itulah yang membuat hidupnya
dan juga pernikahannya bukan hanya ‘bertahan’ tetapi
‘bahagia’.

Buku ini bukan hanya berisi ‘pengajaran’ tetapi
sebenarnya didominasi oleh pergumulan, kata-kata hati yang
pernah ada di pikirannya, pengalaman hidupnya yang dia
tuliskan secara jujur seolah-olah sedang berbicara dengan dia
secara pribadi, bahasanya lugas mudah dimengerti, bahasa
sehari-hari dan bukan bahasa ‘theologis’, praktis dan mudah
diaplikasikan. Penulis buku ‘Seri Keluarga’ dan ‘Seri
Pemulihan’ ini menikah tahun 1990, dikaruniai dua orang
puteri dan satu orang putera, telah melewati berbagai
gelombang kehidupan rumah tangga dan berhasil keluar
sebagai pemenang.

245


Click to View FlipBook Version