Anatomi Umurn Orientasi pada Tubuh Anatomi Permukaan Perkembangan 12 Sistem Muskuloskeletal . 14 Pembuluh Darahdan Saraf.... 22 Teknik Pencitraan 32 Sistem lntegumen.. .. 36
AnatomiMenguak yang Tersembunyi Apa itu Anatomi //ovcrropn" (anatome) berarti memotong, "crvotepverv" (anatemnein) bermakna membuka. Sebagai konsekuensi, anatomi adalah diseksi dan ahli anatomi adalah disektor. Diseksi mengungkap konstituenkonstituen non-visibel juga, dan merupakan metode yang disebut ilmiah: mengungkap, menampilkan, membelah, memotong, memilah, dan menamai. Pengenalan akan bagian-bagian adalah kunci untuk memahami subjek ini. "Anatomi [...] melakukan diseksi pada organisme untuk melihat konstituen 1...1 organisme tersebut [.."], memeriksa sifat luar, sifat sensorik perseptifnya, serta struktur dalamnya, Anatomi adalah studi tentang orang mati untuk membuat kesimpulan-kesimpulan tentang orang hidup. Anatomi merusak secara manual ciptaan yang ideal untuk membangunnya kembali secara mental dan secara virtual menciptakan kembali seorang manusia. Tidak ada tugas yang lebih glamor untuk gagasan manusia," Joseph Hyrtl (Ahli anatomi, 181 1-1894) Meskipun anatomi berhadapan dengan jasad, ilmu ini dipersembahkan untuk kehidupan. Anatomi tidak berkenaan dengan benda mati, melainkan mengenai pemahaman tentang tubuh manusia yang berfungsi sebagai satu kesatuan. Mayat donor hanya menjadi model. Ada dua bidang medis lain yang berhadapan dengan badan mati: kedokteran forensik dan patologi. Ahli patologi tertarik pada penyebab penyakit. Kedokteran forensik terutama berhadapan dengan sebab-sebab kematian yang meragukan. Sementara tujuan ahli anatomi sendiri adalah memahami tubuh manusia yang hidup sebagai suatu kelanjutan, mulai dari stadium embrio sampai usia tua. Mata dan tangan adalah alat yang paling penting bagi ahli anatomi. Temuan-temuan yang didapatkan dengan tangan, "tweezer", gunting, skalpel, dan visualisasi struktur-struktur ini dengan mata disebut sebagai anatomi umum atau anatomi makroskopik. Struktur dalam anatomi umum yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang dapat diperlihatkan dengan mikrotom, mikroskop cahaya, atau mikroskop elektron. Bidang ini disebut anatomi mikroskopik. Organisasi dan klasifikasi merupakan aspek dasar dalam anatomi sistematik. Tubuh dengan tepat diklasifikasikan menurut sistem. Sistem tulang, misalnya, bukan hanya mengenai tulang, melainkan juga bagian-bagian tulang dan semua terminologi terkait, Di lain pihak, sistem jaringan disusun menurut tipe dan subtipenya. Anatomi topografik adalah studi tentang regio-regio (wilayah) dan bagianbagian tubuh serta menekankan pada hubungan antar berbagai struktur pada daerah itu. Hubungan antara bentuk dan fungsi disebut anatomi fungsional. Anatomi topografik dan anatomi fungsional adalah disiplin ilmu yang sangat penting bagi dokter dan akan membimbingnya menuju ke anatomi klinis. Anatomi klinis digunakan sebagai aplikasi praktis untuk diagnosis dan terapi. Yang terakhir, anatomi komparatif (perbandinganl bekerja di bidang filogeni evolusi. Bidang ini merupakan bidang menarik bagi ahli biologi dan membandingkan tubuh-tubuh atau bagian tubuh berbagai jenis makhluk hidup. Histologi adalah subdivisi anatomi mikroskopik dan mempelajari komposisi jaringan organ yang berstruktur multiselular. Sitologi, studi tentang sel, memusatkan diri pada struktur dan fungsi masingmasing sel. Embriologi, yang terutama menggunakan mikroskop untuk pemeriksaan embrio kecil, menjelaskan perkembangan suatu organisme (perkembangan individu, ontogenesis). Diseksi dan analisis adalah cara kerja anatomi, tetapi tujuan riilnya adalah secara mental menyusun semua bagian menjadi suatu keutuhan yang berfungsi. Tujuan memahami desain struktural dan bentuk aneka struktur biologis ini serta membuat konsepnya sebagai hubungan struktur-fungsi yang menyatu dapat juga disebut morfologi. Linguae Anatomiae Bahasa disiplin ilmu klasik "Anatomi" ini (Linguae anatomiae) terutama adalah bahasa Latin dan Yunani (yang dilatinkan). Dalam 50 tahun belakangan, ditambahkan beberapa istilah lnggris. Termini technici (terminologi) anatomi biasanya sangat grafis, konkret, dan hidup. Sebuah momok kata sekalipun seperti "Cartilago arytenoidea" hanya berarti (tidak lebih dari) "kartilago yang mirip dengan wadah saus daging". Kartilago ini terletak di atas larynx dan benar-benar tampak mirip dengan "pitcher" seperti perahu yang dipakai untuk menyajikan saus daging. Seringkali, orang memerlukan imaginasi visual dan ahli anatomi tidak pernah kekurangan imaginasi ini, Kita tidak perlu takut terhadap terminologi, melainkan nikmati saja sebagai keanekaragamannya. Hal ini terutama berlaku kalau terminologi ini diterjemahkan ke dalam bahasa atau imaginasi orang itu sendiri. Donasi Jenazah -Warisan Jasad manusia sangat penting untuk melaksanakan pelajaran diseksi. Jasad ini dapat tersedia melalui donasi jenazah. Donor jasad mewariskan jazadnya kepada sebuah lembaga anatomi. Pewarisan ini harus dilaksanakan secara pribadi sebagai pernyataan permintaan terakhir semasa hidup donor tersebut. Anak cucunya tidak diberi hak atas benda hukum ini. Setiap donor jasad menghubungi suatu lembaga anatomi secara pribadi selama ia hidup dan, dalam wasiat terakhirnya, menyumbangkan jasadnya kepada lembaga itu untuk pengajaran dan riset setelah ia meninggal. Donor jasad biasanya menerima kartu donor yang hendaknya selalu dibawa ke mana-mana. Ketika ia meninggal, jasadnya dibawa ke lembaga anatomi dan digunakan untuk pelajaran diseksi, untuk preparat klinis, untuk demonstrasi, atau untuk kursus bedah serta untuk studi-studi ilmiah. Setelah kursus atau pemeriksaan, sisa-sisa jasad biasanya dikremasi dan dikuburkan di kuburan universitas. Upacara penguburan dihadiri oleh anggota keluarga, mahasiswa dan para instruktur fakultas. Tergantung pada institusi dan/atau negara/propinsi, ada perbedaan peraturan mengenai ekshibisi jenazah dan organ. Sebagai contoh, jasad donor atau organ jasad donor dapat diperlihatkan dalam suatu koleksi anatomi untuk presentasi dan tujuan pengajaran, kalau izin ini dinyatakan di dalam wasiat donor.iasad. Alasan donasi jasad beraneka ragam, dan donor jasad berasal dari semua bagian masyarakat. Asumsi yang banyak dipegang bahwa donor menyumbangkan jasadnya karena biaya penguburan yang mahal ternyata salah. Banyak universitas menarik biaya untuk donasi jasad dan hal ini tidak mengakibatkan berkurangnya donasi jasad.
C : i :--::--: :': jz11====' l-a:omi manusia adalah dasar dari pendidikan dokter, dokter j -c dan profesional kesehatan lainnya. Pengetahuan anatomi ::: u dipakai dalam perawatan pasien sehari hari dan harus :: : u disegarkan kembali. Kurikula studi dan pendidikan bio- "-":is terus memasukkan lebih banyak pengetahuan ilmiah. S-:jek-subjek yang sudah ada harus dicakup dalam kuliah ."-3 semakin sedikit, karena berbagai subjek dan teknologi ::'- saling berkompetisi untuk mendapatkan jatah lebih besar ::' jam kurikulum yang terbatas. Pelatihan para klinisi dan :::s alis yang kompeten di bidang profesi medis yang terkait ..::a'ratan dapat dicapai secara efektif dengan menambahkan '=,r:a-fakta anatomi dengan contoh-contoh klinis. Praktik ini -9: menghasilkan pembelajaran berorientasi-aplikasi dan me- - .x<atkan motivasi mahasiswa. Namun, studi anatomi yang -e-ca1am dan menghabiskan waktu hendaknya tidak diting- ;: <an, Pengetahuan anatomi yang kuat dan intrinsik kemudi- :- apat diterapkan demi kepentingan pasien. - !1.:itan friseksi D ::..s dilakukan dengan tangan menggunakan sebuah skalpel rsc::: nondisposablel) dan "tweezer" anatomi. Berbagai struktur ca- :'!an serta hubungan topografiknya diperiksa dengan cara ini. S'a: .aringan berbeda-beda sesuai dengan regionya. Daerah-daerah ya-; lanyak mengandung jaringan adiposa yang dapat diangkat se::'a tumpul dengan tangan berselang-seling dengan jaringan pe-,:.-lbung yang hanya dapat dilepaskan dengan bantuan skalpel. Se:a;ai bagian dari persiapan, rongga yang berbeda dibuka yang c:::: cerisi udara, cairan, atau materi padat. Jaringan pada organ ::":-<im)-bergantung pada fiksasinya-dapat keras, lunak, seF€-: :-sa, lembek, atau elastis. Saraf dan pembuluh darah yang :i' -r-ng berada di lapisan tubuh yang berbeda, dan diseksi organ r :3rat menimbulkan kesulitan yang bervariasi. Di beberapa lokasi, r.?.,31ya mudah diangkat, di daerah lain saraf dan pembuluh darah r€-:Tpe pada jaringan di sekitarnya. Untuk memperlihatkan otot, a:e'ukan mobilisasi dengan melonggarkan selubung-selubung r;'-;an pengikat (fascia otot) sekitarnya yang kencang. L-:..< mencegah kerusakan, diperlukan perhatian khusus pada sa'a'dan pembuluh darah yang masuk dan keluar otot. Untuk -e-l-ka sendi, diperlukan pemotongan parsial ligamen-ligamen di -r: i'rgnya. Sebaliknya, beberapa struktur seperti telinga dalam ca:a: drperlihatkan dengan paha! dan palu atau mesin gergaji dan a:: :enghancur. Fr-:-aran preparat memerlukan banyak kesabaran, keterampilan ta-!ar:. dan imajinasi ruang. Orang akan mendapatkan pengalaman ya^9 cesar dan pemahaman yang bermanfaat yang tidak ditawarkan c'e- ouku ajar atau atlas anatomi mana pun; antara lain adalah pe-ahaman tiga dimensi struktur-struktur dalam tubuh manusia, ko-'rortasi dengan kematian, dan juga kerja dalam tim. CHECK LIST UJIAN r S--nbu sumbu utama. bidang-bidang utama r Arah dan posisi bag an-bagian tubuh. arah gerak o istilah radiologis bidang potong r :.-lcriologi umum . proyeksi permukaan umum organ-organ h,a- o tinjauan rangka r struktur tulang o perkembangan ulang o huc-'rgan antartulang o jenis sendi r pemeriksaan sendi o jenis otot r -e<anika otot . sistem kardiovaskular . sistem sirkulasi darah besa'dan kecil o sistem portal . tinjauan: sistem limfe o saraf sg ^ar . tinjauan: sistem saraf pusat, perifer, dan otonom . kulit da- kuku jari tangan . teknik pencitraan: radiografi, ultrasonografi, LqF CT, dan skintigrafi. ;
Anatomi perrnukaan Crientasi pada tubuh -. ,L 1 Blcjang sagital 2 Bidang midsagital 3 Bidang frontal 4 BicjanE transversai atau bicjanq horlzontal 5 Sumbu sagital 6 Sumil0 transversal 7 Sumbri longituciinal & transversal Garnbar 'l .1a sampai c Bidang dan sumbu. a bidang sagital {planum sagittale),.meiewati sumbu sagital dan sunrbu longitudinal b biciang transversa! :bidang hor!zontal {Planum transversale}, meiew,at! sumbu transversal dan sumbu sagital bidang frontal : bidang koronal (Planum frontale), melewati sum bu longitudinal dan sumbu transversal $umbg, 1rl|,1g1ne..,, .' sumbu sagital sumbu transversal sumbu lo"ngjrld!,tr4 atau vertikalr :i';irr f : r:ll terletak tegai( Iuru6 terhadap sumbu transversal dan longitudinal terlelak tegak lurus terhadap sumbu longitudinal dan sumbu sagital terletak tegak lurus terhadap sumbu sagital dan sumbu tansversal bidang median (sagital) bidang sagital bidang transversal bidang frontal: r:,, lstilah Fadiologis potongan sagital potongan koronal potongan aksial bidang simetri, mernbagi tubuh menjadi dua belahan yang sama berjalan sejajar dengan bidang median (sagital) tridang yang memotong tubuh tegak !.rrus sejajar dengan dahi Arah Gerakan .*raain$d*$; ekstensi peregangan tor$o atau ekstremitas rnembengkokkaft torso atau ekstremitas menggerakkan ekstremitas menjauhi torso menggerakkan ekstremitas mendekati torso mengangl<at lengan di atas bidang horizon Ial memutar oktremitas ke dalam atau keluar mengitari sumbu longitudinal gerakan bergasing lstilah Anatonris bidang sagital bidang frontal bidang transversal f leksi abduksi adduksi elevasi rotasl sirkumduksi Terminologi radiologi dalam orosedur pencitraan lcamputed tomography ICfl dan magnetic resanance imaging lMRl)) mendeJinisikan tiga bidang anatomis utama sebagai potongan dengan nomenklaturnya sendiri.
i:: i+il:':.:.:=l ai:';-:?:; :i+a= :-'tt:i-:t-ii.;4i::=?i-!2,:,;'St-.i7"1;47i;i ! inea mediana anterior Linea mediana postenol Linea paravedebralis Linea sternalis Linea parasternalis kranial (= superior) lateral Linea scapularis Linea axillaris posterior proksimal Linea axillaris antefl or L. nea medioclavicularis proksimal kaudal (= inferior) fibulal b Gambar 1.2a dan b Garis orientasi, inforrnasi arah dan hubunganhubungan a dilihat dari ventral b dilihat dari dorsal t*$tulF*i+*i*t'* kranial atau superior kaudal atau inferior anterior atau ventral posterior atau dorsal Iateral nredial median atau medianus intermedial sentral perifer protundus eks:ernal atau exter*us internal atau internus ke arah kepala ke arah $acrum di dalam bidang median terletak di antara rnenuju ke arah pusat tubuh letaknya dalam letaknya eksternal [etaknya internal apikal basal ulnar radial tibial volar atau palmar plantar dorsal frontal rostral menun.juk ke atau bersifat ujung menunjuk ke basis kanan k iri menuiu ke arah torso menuju ke arah uiung tungkai ke arah ulna ke arah radius ke arah tibia ke arah {ibula ke arah telapak tangan ke arah telapak kaki {ekstremitas) ke arah punggung (dorsum) tangan atau kaki ke arah dahi {secara harafiah diterjemahkan: "ke arah paruh"l ke arah mulut atau ujung hidung (secara eksklusif digunakan untuk informasi arah atau posisi yang ada di kepala) ke arah depan atau abdomen dekster ke arah punggung sinister sarnpingl menjauhi garis tengah proksimal tengah. menuju ke garis tengah distal menuju ke permukaan tubuh fibular superfisial atau superficialis letaknya superfiSial l kranlal I kaudal I I proksimal I
Anatomi permukaan *ri*nt*si pada tr:*** * Anatomi permukaan * f*rk*r::i:;ri:g** * Bagian-bagian t**uh Brachium Membrum superius Antebrachium Membrum inferius Gambar 1.3 dan Gambar 1.4 Permukaan anatomi laki-laki (--> Gambar 1.3) dan perempuan (-+ Gambar 1.4); dilihat dari ventral. Terminologi anatomi umumnya merujuk pada posisi tegak dengan wajah menghadap ke depan, lengan berada di samping, telapak tangan mengarah ke badan atau ke depan, tungkai diletakkan berdampingan dengan kaki menghadap ke depan. Tubuh dibagi menjadi kepala (Caput), leher (Collum), torso (Truncus) dengan dada (Thorax), perut (Abdomen), panggul {Pelvis), punggung (Dorsum), dan ekstremitas atas (Membrum superius) dan bawah (Membrum inferius). Ekstremitas dibagi menjadi lengan atas (Brachium), lengan bawah (Antebrachium), tangan (Manus) dan tungkai atas (Femur), tungkai bawah (Crus), kaki (Pes). 1.3 1.4
*i*q;e::: *:r,:sku!**-k*i*z*N * F*ry:*r;lr.:h *creh *arz *E:rai * T**=i* p*;:*itr*** * *i*l*nti*1*g*r***' *agE*rz-**gi** tr*h*h Caput Brachium Truncus, Dorsum Membrum superius Ante brachium Membrum inferius Gambar 1.5 dan Gambar 1.6 Permukaan anatomi lakiiaki (+ Gambar 1.5) dan perempuan (-+ Gambar 1.6); dilihat dari dorsal. #a€eq*s. #{E;rt{C Riwayat biasanya diambil sebelum dilakukan pemeriksaan fisik, tetapi dalam keadaan darurat diperlukan terapi segera dan pengambilan riwayat medis ditunda belakangan. Tujuan mendapatkan riwayat medis yang akurat adalah mempersempit kemungkinan diagnosis banding, Proses eliminasi diagnosis ini didasarkan pada gejala-gejala penting dan kriteria penyingkiran suatu diagnosis. Dengan mengikuti riwayat medis, sering kali diperlukan penyelidikan lebih lanjut untuk mendiagnosis suatu kondisi medis secara efektif. 1.6 r Pada waktu anamnesis (dari Yunani kuno. ctvctpvnolq andmnesis = ; ingatan)-membliat riwayat medis-riwayat seorang pasien diteliti ; secara cermat yang terkait dengan gejala-geiala sekarang. Riwayat ; medis yang terperinci meliputi aspek biologis, psikologis, dan soj sial. lnformasi yang terkumpul ini sering memberikan kesimpulan I mengenai faktor risiko dan hubungan-hubungan kausal' Anamnesis : tidat mempunyai tujuan terapeutik secara langsung, meskipun I berbincang-bincang dan memperjelas masalah-masalah mungkin i mempunyai efek yang menguntungkan.
Anatomi permukaan *ri*::t*ei p*d*':.*-:br:h * Anatomi permukaan * Ferkemi:aRg*r: * Regi*r:*s **rp*ri* Regio sternocleidomastoidea Begio deltoidea Regio axillaris Regio mammaria Regio brachii anterior Regio cubitalis anterior, Fossa cubitalis Regio antebrachii posterior Regio antebrachii anterior Dorsum manus Trigonum femoris Reqio femoris anterior Regio genus anterior Regio cruris posterior Regio cruris anterior Dorsum pedis Gambar 1.7 Regiones corporis; dilihat dari ventral. Permukaan tubuh dibagi menjadi regio-regio agar deskripsi dan orientasi lebih baik. Regio: daerah; Trigonum: segitiga. Regio cervicalis anterior Regio ceruicalis lateralis Trigonum clavipectorale Regio presternalis negio pectoratis Regio inframammaria Regio epigastrica Regio hypochondriaca Regio umbilicalis Regio abdominalis lateralis Regio inguinalis Regio pubica [Hypogastrium] Reqio uroqenitalis
Regio deltoidea Regio scapularis Regio axillaris Regio brachii posterior Regio cubitalis posterior Regio antebrachii anterior Regio antebrachii posterior Palma [Vola] Regio glutealis Regio femoris posterior Regio genus posterior, Fossa poplitea Regio surae Regio cruris posterior Regio cruris anterior Dorsum pedis ?,+ {}1'= {= + =} + + - {} {} : Z = Regio parietalis Regio occipitalis Regio ceruicalis posterior Regio vertebralis Regio infrascapularis Regio lumbalis Regio sacralis Regio analis Gambar 1.8 Regiones corporis; dilihat dari dorsal. Permukaan tubuh dibagi menjadi regio-regio agar deskripsi dan orientasi lebih baik. Regio: daerah; Trigonum: segitiga. Calx [Regio calcanea]
I Anatomi permukaan *ri*:=t*=i ;a** tts*z-t-:= *u Anatomi permukaan -* **rZ<*r-*=*g+r.: * Crga=-*rg=:: **E*r*, *r*zS***F p*rr*i:k*** Oesophagus Diaphragma Hepar Gaster Splen [Lien] Pancreas Duodenum JeJunum Ren Colon lleum Appendix vermiformis Gambar 1.9a dan b Proyeksi organ-organ dalam pada permukaan tubuh. Proyeksi organ-organ dalam pada dinding ventral abdomen (a) dan pada dinding dorsal batang tubuh (b); esophagus, kelenjar tiroid (Glandula thyroidea), pipa tenggorok (Trachea), paru (Pulmo), jantung (Cor), diaphragma, hati (Hepar), lambung (Gaster), limpa (Splen, [Lienl), pancreas, duodenum, jejunum, ginjal (Ren), colon, ileum, apendiks (Appendix vermiformis), dan rektum (Rectum). * ea€a€em KEeerEs - Sekalipun tanpa alat teknis, seorang pemeriksa masih dapat memperoleh orientasi masing-masing organ dan proyeksinya pada permukaan tubuh pasien melalui latihan. Auskultasi (auskultasi berasal dari kata latin "auscultare" dan berarti mendengarkan) merupakan bagian dari pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan mendengarkan suara-suara organ dengan bantuan stetoskop. Perkusi (perkusi berasal dari kata latin "percutare" dan berarti memukul atau menggoyang) dilakukan untuk tujuan diagnostik, yakni dengan memukul permukaan tubuh pasien. Perkusi menginduksi getaran pada jaringan di bawah permukaan tubuh tersebut. Suara yang dihasilkan memberi informasi tentang keadaan jaringan. Jadi, besar dan posisi suatu organ (misalnya, hati) atau isi udara di dalam jaringan tersebut (mis., paru) dapat dinilai.
!=r=:>:r-= r*,-=;.,:ir:=<*i*i+Z -* **:ztl:*itslz rlat** *** s*raf * T*kn!k pencitraan * Sistem integurnen *rg*n-argan dalarn, proyeksi permukaan Gambar 1.10a dan b Proyeksi organ-organ dalam pada permukaan tubuh. Proyeksi organ-organ dalam pada dinding kanan torso (a) dan pada dinding kiri torso (b): paru (Pulmo), jantung (Cor), diaphragma, hati (Hepar), lambung (Gaster), kantong empedu (Vesica biliaris), limpa (Splen, ILien]), colon. ginjal (Ren), usus halus (lntestinum tenue), apendiks (Appendix vermiformis), dan rektum (Rectum). Elaa;eqas: HBanis Melalui pengetahuan tentang proyeksi organ dalam pada per- sakit yang terlibat dapat diduga. Sebagai contoh, apendisitis mukaan tubuh, gejala-gejala spesifik penyakit sudah dapat di- (peradangan apendiks (Appendix vermiformis) biasanya disertai hubungkan dengan organ sewaktu pemeriksaan fisik dikerjakan. oleh rasa tidak enak di abdomen bagian bawah kanan. Di samping riwayat pasien, petunjuk pertama mengenai organ
Anatomi permukaan l=i:i;:r=Z;=::: ;=:-i+ 7,2-Z:1e=:?t :-' *:22*.,t;ii:i S-471-;:.;i1;;=t: -== Perkembangan --u : = a - = -'r-: ='.'= = a='-j '--:: --::.: :: t:.--4, ,--it-Za -=, Gambar 'l . 1 1a sampai i Minggu pertama embriogenesis: pembuahan dan implantasi. [21] Dalam 24 jam setelah ovulasi (a), normalnya terjadi pembuahan atau fertilisasi (b) di ampula tubae fallopii. Penyatuan pronuklei ovum dan sperma menjadi satu iirti diploid menciptakan zigot (c). Pembelahan a sel selanjutnya (stadium 2-, 4-, a- dan 16 sel; d-h) menghasilkan segerombol sel (Morula) yang dihantarkan ke dalam rongga uterus. Pada sekitar hari ke-5 setelah pembuahan, morula bbrkembang menjadi sebuah kista yang berisi cairan (blastokista; i) yang tertanam ke dalam mukosa uterus pada hari 5-6. o;k' ;3 0,;.+ l i i \-lj -<-\ ffict\ \t]t/ Masa sel dalam (Embrioblast) Trofoblast Rongga blastokista Sinsitiotrofoblast Rongga amnion Lempeng germinal Rongga blastokista an embrional dua lapis {bilaminar), dengan ektoderm (sel silinder pada permukaan dorsal embrioblast) dan entoderm (sel kuboid pada permukaan ventral). Ektoderm membentuk rongga yang terletak di dorsal yang menjadi rongga amnion. Rongga blastokista yang terletak di sebelah ventral menjadi yolk sac primer yang dilapisi oleh entoderm. Pada hari 12, terbentuk yolk sac sekunder (yolk sac sebenarnya). Rongga blastokista asli dilapisi oleh mesoderm ekstraembrionik. Kelenjar endometrius ,!:" . ; , ..)t" rt:,t;' Kapiler endometrium Epitel uterus Lumen uterus Trofoblast Gambar 1 .1 2a sampai e Minggu pertama dan kedua embriogenesis; piringan embrional dua lapis. [21] Di sepanjang diferensiasi morula (a) menjadi blastokista, blastokista membentuk suatu massa sel dalam (embrioblast) dan suatu lapisan sel luar (trofoblast; b) besar yang terisi cairan (rongga blastokista). Melalui interaksi antara jaringan ibu dan sel-sel trofoblast, terbentuk sirkulasi uteroplasenta (c-e). Embrioblast berkembang menjadi piringb
?r.i,=!-+z.z-; {':i'.i===+2=*+}=1';:7=i -t *;::r:i:;:12-:!,:'}=.:=?,4t== +'+f;::. '-'= " ''r-'1t:-'.}::'{:t?'-Z{z "' Vi:=i*f- t=i{:,}ti:+=:" Primitive node Lempen9 prechorda Ekloderm Chorda dorsalis l\,4embran bukofaringeal Amnion Ektoderm Gambar 1.13a dan b Minggu keliga embriogenesis: gastrulasi. [211 Perkembangan piringan embrionik tiga lapis bermula dari munculnya primitive streak pada permukaan dorsal ektoderm. Pada potongan kranial, primitive sfreak dibatasi oleh primitive node (al ' Sel-sel yang bermigrasi keluar dari primitive sfreak membenluk mesoderm intraembrionik yang terletak di antara puncak yolk sac dan ektoderm rongga amnion (gastrulasi). Beberapa di antara sel ini membentuk tonjol notokord (notochordal process) yang meluas ke arah bagian kranial embrio, tempat telah terbentuk lempeng prekordal (adhesi antara ektoderm dan entoderm tanpa diselingi oleh lapisan mesoPrimitive streak Connecting stalk Yolk sac Membran Kloaka derm). Tonjol notokord membentuk suatu lumen (kanal notokord) dan menjadi notokord (Chorda dorsalis; struktur penstabil embrio primitif ) yang kemudian mengalami regresi selama perkembangan (b). Sisa-sisa chorda dorsalis dapat ditemukan di dalam Nuclei pulposi yang terletak di dalam disci vertebrales. Sedikit sel mesoderm bermigrasi ke arah kranial melewati lempeng prekordal untuk membentuk jantung primordial" Tiga lapisan germinal tersebut (ektoderm, mesoderm, dan entoderm) adalah blok-blok pembangun untuk perkembangan semua organ. lnformasi lebih lanjut tentang lapisan germinal yang ikut dalam pembentukan organ-organ spesifik dapat ditemukan di dalam buku teks embriologi. 1?
Anatomi permukaan *ri*ntas! *a** tr:**t- * A-*E*--:i 7:***={a*.- "* **:z<.*l:'b*=g=:': * Rangka Os frontale Os zygomaticum Vertebra ceruicalis Vll Costa I Scapula Ossa carpi Ossa metacarpalia Ossa digitorum [Phalanges] Gambar 1.14 Rangka, Systema skeletale; dilihat dari ventral. [10] Tulang-tulang rangka dikelompokkan menurut bentuk dan strukturnya: . tulang panjang (Ossa longa), mis., tulang-tulang berongga ekstremitas, seperti femur dan humerus ' tulang pendek (Ossa brevia), mis., ossa carpalia dan ossa tarsalia . tulang pipih (Ossa plana), mis., iga (costa), sternum, scapula, pelvis, tulang-tulang tengkorak tulang berisi udara (Ossa pneumatica); mis., os f rontale, os ethmoidale, maxilla, os sphenoidale tulang tak beraturan (Ossa irregularia, tidak dapat digolongkan ke dalam tulang jenis lain), mis., vertebrae, mandibula tulang sesamoid (Ossa sesamoidea, tulang-tulang yang menempel di tendon), mis., patella, Os piriformis tulang-tulang asesori (Ossa accessoria, tulang aksesori tidak sering ditemukan pada semua rangka manusia), mis., tulangtulang sutura pada tengkorak, costa cervicalis.
Linea epiphysialis Metaphysis proximalis Apophysis Substantia spongiosa Apophysis Substantia compacta ' - : :. -::. :: :t- :. .:.=t -a: .- :iI _.,,.; .'.i:1,-,i'4 Gambar 1.15 Tulang panjang (tulang berongga), Os longum. Potongan melalui bagian proksimal tulang femur manusia dewasa. Periosteum pada diaphysis sudah diangkat dan dilipat ke samping. Dilihat dari dorsal. Tulang femur yang telah dipotong memperlihatkan dua jenis tulang yang berbeda tanpa pemisahan yang jelas di antara ked uanya: = Substantia compacta atau corticalis (compacta, tulang padat, sangat tipis di epifisis, tebal sekali di diafisis) dan = Substantia spongiosa (spongiosa, tulang busa atau cancellosa, terutama banyak sekali di epifisis dan metafisis). Pada diafisis, substantia compacta tampak sebagai suatu massa solid; substantia spongiosa di epi- dan metafisis menciptakan suatu jejaring tulang bercabang-cabang rumit tiga dimensi (trabeculae). Tergantung pada gaya fisik yang bekerja, trabeculae dibagi menjadi trabekula traksi atau trabekula kompresi. Ruang di antara trabeculae diisi oleh sumsum tulang yang membentuk darah (orang muda) atau lemak (orang tua). Orientasi masing-masing trabekula sejajar dengan garis stres tegangan dan kompresi yang tercipta di dalam tulang tersebut. {Di femur, gaya-gaya ini proksimal dan eksentrik, sehingga memberikan stres bengkok tambahan terhadap tulang.) Proses evolusi yang panjang telah menghasilkan tulang yang ringan, yang menggabungkan kekuatan mekanis yang maksimal dengan deposit tulang yang minimal. Osteon dengan lamellae konsentris Lamellae instertitial ..r'l I e<1* r '.{,., i; Cavitas medullaris .- Periosteum Selapis lamella pada lamellae Sirkumferensial Kanal HAVERS dengan pembuluh darah Kanal VOLKN/ANN dengan pembuluh darah Osteon dengan lamellae konsentris Trabeculae spongiosa \.L=:::- Foramen nutritium ssdstars :::-,:s:stals .;i: : Can ago articularis Kanal VOLKIMANN dengan pembuluh darah anbar 1 ,16 Struktur tulang berongga panjang, Os longum. t',.i:-' r stologis dasar pada substantia compacta dan substantia r,:-; :sa dewasa adalah sama dan memperlihatkan suatu tulang Estamella. Tulang dewasa tersusun oleh unit-unit konsentrik berr--. a ', ang disebut osteon, paling sering ditemukan di substantia :-::r:a tulang panjang. Pada tulang yang banyak mengandung -cs:e-: a spongiosa, lamellae terutama se.iajar dengan permukaan aa€.:- 3. Pada tulang kompak, lamellae matriks tulang bersama e-;:^ :embuluh darah di bagian tengahnya membentuk osteon, suatu sistem (sistem HAVERS) yang terdiri dari lima sampai 20 lamellae {lamellae spesial) yang berkelompok-kelompok secara konsentris mengelilingi kanal HAVERS dan panjangnya dapat mencapai beberapa sentimeter. Serat-serat kolagen memperlihatkan orientasi tegak lurus terhadap lamellae sebuah osteon yang berdekatan. Sisasisa osteon sebelumnya, yang disebut lamellae interstitial, terletak di antara osteon. Permukaan luar dan dalam substantia compacta disusun oleh lamellae yang mengelilingi seluruh tulang. Lamellae ini disebut lamellae sirkumferensial luar dan dalam. Frakt,Jr sebuah tulang mengakibatkan pembentukan dua f ragmen =::- ebih dengan atau tanpa dislokasi. Di samping nyeri, tanda- :a-:a pasti fraktur adalah mobilitas abnormal, bunyi gemeretek <a a- digerakkan (krepitasi), pergeseran sumbu, stupor otot awal : l:k ada aktivitas otot), dan temuan-temuan radiograf yang --^-r!atkan. ldealnya, penyembuhan sebuah fraktur memerlukan -:: rsasi komplet dan pembatasan beban berat. Penyembuhan fraktur yang baik akan tercapai jika tulang yang pernah cedera -.^caoatkan kembali kapasitasnya sebagai penanggung beban s::a-a penuh dan tulang panjang telah membentuk kembali rongga medullanya. Penyembuhan fraktur primer selalu terjadi pada gap fraktur yang sempit dan tanpa iritasi serta tidak merangsang pembentukan callus, seperti yang diciptakan secara bedah dengan osteosintesis dengan plat dan sekrup agar alignment ujung-ujung fraktur menjadi optimal. Sebagai bagian dari penyembuhan fraktur primer, gap diiembatani oleh kapiler dari kanal-kanal HAVERS yang terbuka yang dikelilingi oleh osteon yang menyatukan gap tersebut. Penyembuhan fraktur sekunder sering membentuk callus yang sedikit lebih tebal, yang secara bertahap diubah menjadi massa tulang fungsional. 1F
I Anatomi permukaan :-ai:+i:1',.'+a*t ==*:.='t-:'::z:i.. '* !+{'.t:ai-:;.1i 133yii1;1:,-1v:.::. -? =t={i:,+::.-=*..{;+.:, -- .-' = a' : =.'- -1 - = a- =.:=. .-a,;a:=a aL,? 7, EW 18.-19. LJ 15.-1L LJ 15.-16. LJ 1, LJ 1 B.-21 . LJ 2.-4.LJ ;ir*--/7{,:,::,. 20.-25. LJ ,/ 1r,:1 13.-15. LJ 3.-4. Etvl 4.-5. Et\4 1 3.-15. L.i 1 8.-20. LJ 10.-12. LJ '18. LJ 18.-1L LJ 13.-15. LJ 7.-8. LJ 5.-8. LtV 3.-5. LJ 17.-20. tJ 10.-13. LJ 6.-7. EM 16. 18. LJ 1 3.-15. LJ 4.-6. LJ 1 5.-.18. LJ 7.-8. EW 1 9.-20. LJ '16.-20. LJ EW = N4inggu Embrional EM = Bulan Embrional LM = Bulan Kehidupan LJ = Tahun kehidupan 8, EW 13.-1 6. LJ 8.-1 3. LJ 1. LJ 5. LJ 12. u 8.-12. LJ 13.-l 7. LJ 20.-24. LJ 7.-8. LJ 5.-7. LJ 16.-24. LJ 1 7.-18. LJ 1 7.-1 8. LJ 9, EM ,10, EM 5.-6. LJ '17.-19. LJ 12.-14. LJ 8, EW 7.-8. EW 3.-4. LJ 5.-7. LJ 14.-18. LJ 10.-12. LJ 21.-25. LJ 1.-2. u '10.-12. LJ 2.-4. LJ 9. EW 1 .-3. LJ 9, EW 2.-3. LJ 11.-12. EW 2.-3. LJ 1.17 7.-8. EW Os scaphoideum 3.-6. Llvl Os lunatum 3--6, LJ Os trapezium 3.-8. LJ Os trapezoideum 3.-7. LJ Os pisiforme 8.-12. LJ Os triquetrum 1.-4. LJ Os hamatum 2.-5. LM Os capitatum 2.-4. Ll\,4 6. LIV 17.-18, LJ 2.-4. LJ 9. EW 2.-3. LJ Gambar 1.17 dan Gambar 1 .18 Osifikasi (penulangan) rangka ekstremitas atas (-+ Gambar. 1.17l. dan bawah (+ Gambar. 1.18); posisi pusat-pusat penulangan epi- dan apofisial dan urut-urutan kronologis pembentukan pusat-pusat penulangan ini. Waktu munculnya tempat-tempat nukleasi tulang ini memegang kunci mengenai tahapan yang telah dicapai pada masa perkembangan rangka, sehingga kita dapat menentukan usia rangka atau tulang individu yang bersangkutan. Kita membedakan pusat-pusat penu1.18 Talus 7. El\,4 Os cuneiforme mediale 2.-3. LJ Calcaneus 5.-6. EM Os cuneiforme intermedium 3.-4. LJ Os naviculare 4. LJ Os cuneiforme laterale .12. LM Os cuboideum 10. ElVl langan yang terbentuk di sekeliling batang (diafisis) model kartilago pada masa janin, yang menghasilkan diafisis-diafisis (penulangan diafisis) dari pusat-pusat penulangan yang sebagian terbentuk selama paruh kedua masa janin dan pada tahun-tahun pertama kehidupan di dalam epi- dan apofisis (penulangan epi- dan apofisis). Tidak akan terjadi penambahan tinggi badan lagi begitu celah epifisis mengalami penulangan dan hilang (sinostosis). Karena itu, tempattempat nukleasi tulang tidak lagi tampak pada gambar sinar-X.. " -"=z *1-#; " .t-:,*: :, Untuk rencana terapi dan prognosis penyakit ortopedik serta kan penetapan usia rangka dan penentuan apakah masih tersisa deformitas pada masa kanak-kanak, sangat penting untuk dilaku- tanda-tanda pertumbuhan.
Si st e m m u s k u I o s ke I eta I :-. - :;.. 1 I 1:;.;:.;11; .=,-i.:.:,-1 ,:.1ai .;ti!a:i, -*' a !.==-!.iaa't '.jia':l::.i.,:iL:'i.l't ''+ '::-:;t:=l.t::11, 1.-::.=::1..it=+-1 Gambar 1.19 Sendi fibrosa, Junctura fibrosa [Syndesmosis]' 3a-: .f rbrosa antartulang ditemukan di sutura tengkorak, syndesmos s - s., sambungan-sambungan fibrosa antara tibia dan fibula atau -:: -s dan ulna), dan gomphosis (mis., tautan fibrosa pada gigi di r 3-:.'rg a veolusnya pada maxilla dan mandibula). t:.11:.s=tl z. Gambar 'l .20 Sendi kartilago, Junctura cartilaginea [Synchondrosisl. Sendi kartilago menghubungkan tulang melalui kartilago hialin (sinkondrosis, mis., sambungan antara iga I dan clavicula) atau fibrokartilago (simfisis, mis., Symphysis pubica). 4-.-*-::-*_.- ffi$r*' :'-i- .,r;***:"E I KanilaEo , .. triatin, 1'. '., .,.::.r f Membrana I fib.o.t Caosula adicularis { I Membrana L synovialis Celah sendi Cavitas adicularis Gambar 1.21 Sendi tulang, Junctura ossea lSynostosis]. Dara sendi tulang, tulang menyatu seperti yang terlihat pada sacrum. Jaringan tulang subkondral Plicae synoviales .t Periosteum Gambar 1.22 Sendi sinovial (sebenarnya), Junctura synovialis lArticulatio synovialis, Diarthrosisl; dilihat pada potongan skematik, (menurut [11) Kartilago hialin pada ujung-ujung tulang membungkus tulang subkondral. Kapsul sendi membungkus rongga sendi dan terdiri dari membran fibrosa di sebelah luar (Membrana fibrosa) dan membran sinovial di bagian dalam (Membrana synovialis). Membran sinovial menyekresi sinovia ke dalam rongga sendi yang bekerja sebagai pelumas untuk sendi tersebut. Jika kebebasan bergerak suatu sendi terbatas karena kapsul sendi yang terlalu kuat, sendi ini disebut amphiarthrosis (mis., sendi-sendi karpal kecil di tangan dan kaki; Articulatio sacroiliaca). Gambar 1.23 Struktur kapsul sendi. [241 Kapsul sendi tersusun dari Membrana f ibrosa dan Membrana synovialis. Membrana fibrosa terdiri dari jaringan fibrosa yang kuat. Membrana synovialis tersusun dari lapisan-lapisan berikut: lapisan longgar superfisial sel A (sinovialosit tipe A atau sel M, makrofag khusus yang memetabolisme senyawa-senyawa metabolik yang dihasilkan oleh sel di dalam kartilago sendi), lapisan sel B (sinovialosit tipe B atau sel F, fibroblast aktif yang menghasilkan dan menyekresi kolagen luar dan agregat-agregat proteoglikan, mis., asam hialuronik sinovia) dan jaringan penyambung subsinovial yang kaya akan kapiler, fibroblast, dan liposit. Serat-serat kolagen di dalam kartilago sendi tersusun bertingkat (BENNINGHOFF'S arcades). Sel A Plica synovialis lR-r"€j-*"dl lvlembrana fibrosa Membrana synovialis Pembuluh darah Liposit : Kartilago hialin _/ --'' TJlang subkondrial -- _ --:>-t:- t::-!!.J Sel B
Anatomi permukaan J==;= **{zr}2 Gambar 1.24a sampai g Sendi, Juncturae synoviales lAriiculationes, Diarthrosesl. Sendi biasanya memperbesar rentang gerakan (range of motion) se' cara signifikan. Sendi digolongkan menurut bentuk permukaan masing-masing sendi dan atau kebebasan gerak yang diperbolehkan. Berdasarkan sumbu utama gerakan, kita membedakan sendi uniaksial, biaksial, dan multiaksial. a sendi engsel, Articulatio cylindrica (Ginglymus): sendi uniaksial, memungkinkan fleksi dan ekstensi b sendi konoid, Articulatio conoidea: sendi uniaksial, memungkinkan pergerakan rotasi c sendi ungkit, Articulatio trochoidea: sendi uniaksial, memungkinkan pergerakan rotasi e f sendi kondilar, Articulatio ovoidea, Articulatio ellipsoidea: sendi biaksial, memungkinkan fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, dan gerakan rotasi terbatas sendi pelana, Articulatio sellaris: sendi biaksial, memungkinkan fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, dan gerakan rotasi terbatas Sendi bulat atau sendi ball and socket, Articulatio spheroidea: sendi multiaksial, memungkinkan fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, dan gerakan rotasi sendi datar, Articulatio plana: sendi yang memungkinkan gerakan menggelincir sederhana dengan arah yang berbeda-beda
Sistem muskuloskeletal * i:'=:t'tts-22:='t :='+r*= #=i: ==l=i *' 7=\:=it {:=;z:::ire=:z -u .*i=l*:;z ii}i*=2,:t-.."., '**r;+,*:=4 #*t ={, =* =; # i Gambar 1.25a dan b Pencatatan rentang gerak sendi: metoda netralnol Metoda netral-nol adalah metoda goniometrik standar untuk menetapkan rentang gerak aktif pada sebuah sendi. Posisi tegak dengan kedua lengan menggantung ke bawah pada kedua sisi dianggap sebagai posisi awal derajat nol pada saat memeriksa persendian (a dilihat dari depan dan b dari samping). Besarnya pergerakan yang dapat dijangkau dari posisi nol ini dinyatakan dalam derajat sudut yang diukur. Pertama, ditentukan rentang gerak aktif menjauhi badan, diikuti dengan rentang gerak aktif menuju ke badan. Gambar 1.26a sampai c Pencatatan rentang gerak sendi; Contohcontoh. a Sendi lutut sehat yang normal mempunyai rentang gerak sebagai berikut: ekstensi 5o dan fleksi 140o (tidak diperlihatkan). Sudut 90o sendi pergelangan kaki terhadap kaki dianggap sebagai posisi nol. Sendi ini memungkinkan ekstensi 20o dan fleksi 40o dalam kondisi normal (tidak diperlihatkan). Rentang gerak normal sendi Iutut adalah 5o-Oo-140o (lutut diekstensikan, posisi nol, lutut difleksikan). sedangkan rentang gerak sendi pergelangan kaki adalah 20o-0o-40o (ekstensi dorsal, posisi nol, {leksi plantar). b ekstensi lutut tidak mungkin dilakukan (lihat kotak Catatan Klinis) c kekakuan total sendi lutut (lihat kotak Catatan Klinis) tidak tercapai, sendi dalam keadaan fleksi 20o, tetapi dapat dii fleksikan Iagi sejauh 140o). Kekakuan total sendi lutut akibat ; osifikasi (ankilosis) menyebabkan lutut terfiksasi pada sudut fleksi , 20o. Formula gerakan adalah 0o-20o-20o (-+ Gambar. 1.26c: : ekstensi lutut tidak dapat dilakukan, posisi nol tidak tercapai, lutut : fleksi pada sudut 20o dan tidak dapat difleksikan lebih jauh). i 5' Ekstensi/Fleksi 0' 5'- 0'-1 40' Ekstensi/Fleksi 0'-20'-1 40' EkstensilFleksi 0'-20"-20" r Gangguan gerakan sendi menyebabkan berkurangnya rentang I gerak. Ada indikasi kontraktur apabila mobilitas sendi tersebut I terbatas atau posisi netral suatu sendi tidak dapat dicapai. Metoda I netral-nol digunakan untuk mencatat dengan tepat mobilitas sendi i yang terganggu. Untuk mobilitas terbatas pada kontraktur fleksi, I formula gerakannya, misalnya, memperlihatkan 0o-20o-140o (+ i Gambar. 1.26b: ekstensi sendi tidak dapat dilakukan, posisi nol e ae*qcn HFEnss :: :
Anatomi permukaan '.-.:i::i,-:'1..'r:':::: -il-l:= :,t;'1;.1-3.;'i '-- iz,','!a-..a.-:;-:t'; !-:::::i'-'...': ,,:.: :+ ?;...:.: aa. :.::.'!..a.: ==,'...::= f i --= : ,=:--: = | ':i' :+-:-+: --sr--.+4,. =..= 1 Garis gaya otot 2 Lengan pengungkit maya otot 3 Sumbu rotasi sendi Tendo (lnsertio) Gambar 1.27 brachialis. Otot rangka menggerakkan tulang-tulang pada sendinya dan mempunyai titik Origo yang tetap dan titik lnsertio yang fleksibel. Otot rangka dibungkus oleh satu fascia. Perut otot (Venter, Gaster) berhubungan dengan tulang melalui suatu tendo. Besarnya gaya yang dapat dihantarkan oleh suatu otot pada suatu sendi tergantung pada panjang pengungkitnya (jarak vertikal vektor gaya otot dan sumbu putar sendi : lengan pengungkit gaya). Panjang pengungkit bervariasi tergantung pada posisi sendi dan dikenal sebagai pengungkit virtual. &ffi Dari sudut pandang fungsional, sistem muskuloskeletal pasif dan aktif dapat dibedakan: = Sistem muskuloskeletal pasif meliputi tulang, sendi, dan ligamen. Rangka menciptakan bentuk tubuh, merupakan tempat perlekatan otot, dan membentuk rongga tubuh yang berisi dan l'*";.""it. 2 Prinsip susunan otot rangka, dicontohkan oleh M. Stratum fibrosum (Cavitas synovialis) lvlesotendineum Tendo Epitendineum Phalanx media Gambar 1.28 Struktur suatu sarung tendo, Vagina tendinis, Vagina synovialis, dicontohkan oleh jari tangan. Sarung tendo mengurangi friksi selama pergerakan dan melindungi tendo yang didefleksikan oleh otot dan tulang. Komposisi suatu tendo mirip dengan komposisi kapsul sendi. Lapisan dalam sarung tendo (Stratum synoviale, pars tendinea) adalah bagian tendo sedangkan lapisan luarnya (Stratum synoviale, pars parietalis) adalah bagian dari Stratum fibrosum sarung tendo. Celah antara kedua lapisan tersebut {Cavitas synovialis) berisi cairan sinovial (Synovia). Pembuluh darah kecil mencapai tendo melalui Vincula brevia dan longa (ligamenta kecil-dari mesotendineum). Gambar 1.29a sampai g Jenis-jenis otot. Secara mikroskopis, serabut-serabut otot rangka memperlihatkan garis-garis melintang yang khas. Berdasarkan bentuknya, otot rangka dapat dibagi menjadi: a satu kepala, serabut-serabut otot sejajar (Musculus fusiformis) b dua kepala, serabut-serabut otot sejajar (Musculus biceps) c dua perut, serabut-serabut otot sejajar (Musculus biventer) d banyak kepala, otot pipih (Musculus planus) e otot berperut banyak dengan perpotongan-perpotongan tendo (Musculus intersectus) f otot unipenatus (Musculus semipennatus) g otot bipenatus (Musculus bipennatus) melindungi organ-organ dalam. Sendi memberikan hubungan antartulang yang fleksibel. = Sistem muskuloskeletal aktif terdiri dari otot-otot rangka yang menggerakkan tulang pada sendinya dan dapat dikendalikan secara volunter.
Sistem muskuloskeletal {i: : :: :;- * 1.. + t = z i: := = !, r: ? M. rhomboideus minor M. rhomboideus major Fr (transversal) Vertebra Fr (lransversal) = FM . sin tI Fr (vertikal) = FM coscr Gambar 1.30 Gaya-gaya otot dan tendo; gaya vektor otot dan tendo yang dicontohkan oleh Mm. levator scapulae dan rhomboidei. (sesuai dengan [11]. Gaya otot berbanding lurus dengan potongan lintang fisiologis otot tersebut (gaya angkat suatu otot relatif terhadap potongan Iintang semua serat otot yang tegak lurus dengan arah serat-serat ini). Ketika arah suatu tendo dan gaya vektor otot segaris, seluruh gaya M. levator scapulae Clavicula Scapula Humerus Fr (vedikal) a otot tersebut dipindahkan ke tendo. Dalam hal ini, gaya otot (Frr,r) dan gaya tendo (Fr) hampir sama. Namun, ketika serat-serat otot membentuk sudut terhadap tarikan tendo (mis., Mm. rhomboidei major dan minor), hanya sebagian gaya kontraksi yang dipindahkan ke tendo. Di sini, gaya tendo vertikal (Fr lvertikal]) dikurangi oleh faktor cos cr dan gaya tendo transversal (Fr ltransversal]) dikurangi oleh faktor sin cr relatif terhadap gaya otot (Fv). a F' Pengungkit berlengan satu PengUngkit berlengan dua /la 1. )l - --' L-) _____-_------.5- M. brachioradialis Gambar 1.31 Pengungkit dan kerja otoU otot-otot besar sendi siku dan pengungkit anatomisnya (garis merah). {sesuai dengan [1]) Lengan pengungkit adalah bagian suatu pengungkit yang bekerja di antara pusat rotasi dan titik tempat kerja gaya. Untuk menggerakkan komponen-komponen rangka sekitar sumbu putar suatu sendi, suatu otot harus menggunakan lengan pengungkit (yang ada) anatomis untuk menciptakan gaya putar. Panjang lengan pengungkit tergantung pada jarak antara origo suatu otot dan pusat putaran sendi. Sebagai contoh, ketika lengan digerakkan menuju ke badan (torso), Humerus Scapula Caput laterale Caput longum Caput mediale M. brachialis M. brachioradialis dan M. brachialis masing-masing mempunyai lengan pengungkit anatomis yang panjang dan pendek. Ketika gaya otot diberikan melalui pengungkit berlengan satu, komponen rangka akan bergerak ke arah gaya tarikan otot ini (mis., Mm. brachioradialis, biceps brachii, brachialis), Untuk pengungkit berlengan dua, titik origo otot digeser ke arah tarikan otot, tetapi bagian utama komponen rangka digerakkan ke arah yang berlawanan (mis., M. triceps brachii; bandingkan -+ Gambar. 1"27).
I Anatomi permukaan {,jr:==,::t'+ii -+*t:1 L:=z;?= *, l;+='.*3:i *+:t-:z-:'*,-++at '- {}=r.;.*=1-}*:1i}tt{1 '- 1 ; !-;..* tt': <== : 4i +'..: +.=i< i. :7 ;= : Denyut nadi temporalis Denyut nadi facialis A. carotis interna A. carotis externa Denyut nadi karotis A. carotis communis A. subclavia Arcus aodae Truncus brachiocephalicus A. axillaris A. brachialis Denyut nadi brachialis A. profunda brachii Denyut nadi kubiti Pars ascendens aortae lAorla ascendens] Cor Pars descendens aortae [Aorta descendens], Pars thoracica aodae [Aorta thoracica] Truncus coeliacus A. mesenterica superior A. renalis Pars descendens aonae lAorta descendens] Pars abdominalis aortae iAoda abdominalisl A. testicularis A. ulnaris A. interossea communis Bifurcatio aortae A. mesenterica inferior A. iliaca communis A. iliaca externa A. radialis Denyut nadi radialis Denyut nadi ulnaris A. femoralis A. profunda femoris A. poplitea Gambar 1.32 Garis besar arteri pada sirkulasi sistemik. Fungsi arteri adalah membawa darah dari jantung ke perifer tubuh atau menuju ke paru. Kita membedakan arteri jenis erastis A tibialis posteriol (mis., aorta, arteri-arteri yang berada di A. iliaca interna Denyut nadi femoralis Denyut nadi poplitea dorsum pedis. Pemeriksaan denyut arteri memberikan banyak petunjuk tentang frekuensi denyut jantung, perbedaan aliran darah di ekstremitas atas dan bawah, dan memberikan kunci umum tentang sirkulasi darah di bagian tubuh tertentu. dekat jantung) dan arteri-arteri jenis muskular (kebanyakan arteri, mis., Aa. brachialis dan femoralis). Darah melintas melalui arteri dengan diameter yang terus menyempit sampai mencapai arteriol dan memasuki suatu jaring kapiler, tempat terjadi pertukaran oksigen antara darah dan jaringan. * pada perempuan: A. ovarica A. tibialis anterior A. fibularis Denyut nadi tibialis posterior A. dorsalis pedis Denyut nadi dorsalis pedis Di banyak bagian tubuh, arteri berukuran besar dan sedang berjalan di dekat permukaan tubuh. Denyutnya dapat diraba dengan menekan arteri tersebut pada struktur di bawahnya yang lebih keras. Denyut paling distal yang dapat diraba dan juga yang paling jauh dari jantung adalah denyut A. dorsalis pedis pada
.*:=u;*;zt r::u=*e-:ir:==*i+F=? * Pembuluh darah dan saraf *- -. si':-..2t .'.;,':-.,';'tt. -+ =:':=1.'=.:,':i,-7.+=..i,{1.:!.= (Sinus valvulae) (Sinus valvulae) V jugularis externa V jugularis anterior V jugularis jnterna V brachiocephalica sinistra V subclavia V brachiocephalica dextra V azygos Valvulae venosae Cor V cava superior . V thoracica interna V axillaris V cephalica V basilica W. hepaticae 1.34 W brachiales V renalis V testicularis sinistra" V mediana cubiti V testicularis dextra* V portae hepatis V. splenica V iliaca communis V iliaca externa V iliaca interna V mesenterica inlerior V mesenterica superior V cava inferior ,t' ':i V femoralis V saphena magna Gambaran vena lengan kiri: profundus lengan kanan: superficialis sisi kiri kepala: profundus sisi kanan kepala: superfisialis V femoralis V profunda femoris V poplitea Gambar 1.33 dan Gambar 1.34 Garis besar vena pada sirkulasi sistemik (-+ Gambar. 1.33) dan katup vena ( + Gambar. 1.34). Vena menghantarkan darah dari perifer tubuh kembali ke jantung. Pembuluh darah ini mudah mengembang dan berf ungsi sebagai rcservoir. Vena-vena dari sirkulasi sistemik membawa darah yang kurang oksigen, vena sirkulasi paru membawa darah yang tinggi oksigen. Kebanyakan vena adalah vena penyerta (konkomitan), yakni vena tersebut berjalan berdampingan dengan arteri sesamanya. Dibanding dengan arteri, perjalanan vena bervariasi dan tekanan darah dalam vena jauh lebih rendah. Vena, kapiler, dan venula adalah bagian dari sistem bertekanan rendah pada sirkulasi darah. Sebagian besar vena mengangkut darah melawan gaya gravitasi. Oleh sebab itu, vena-vena besar di ekstremitas dan daerah leher bawah mempunyai katup (katup vena) untuk mendukung aliran darah vena kembali ke jantung. Selain katup, otot dan denyut arteri (hanya kalau ada katup vena) juga memengaruhi aliran darah vena. Panah yang mengarah ke atas menunjukkan arah aliran darah. Ketika darah menumpuk (panah menunjuk ke bawah), katup menutup " Sebagian besar tubuh mempunyai sistem vena superfisial di bantalan lemak subkutan yang berhubungan dengan sistem vena dalam (profundus) yang berjalan sejajar dengan arteri (kedua sistem dipisahkan oleh katup vena sehingga darah hanya dapat berjalan searah dari vena superfisial ke vena dalam). * pada perempuan: V. ovarica V saphena parua V tibialis anterior V tibialis posterior 1.33
I Anatom i permu kaan ' ?; i=i:!{.=:a=,t_:t:,{.=,.:-a': --+ Fossa ovalis V cava superior Lig. aderiosum* Arcus aortae Ductus aderiosus** Truncus pulmonalis Atrium sinistrum Pulmo sinister Foramen ovale Pulmo dexter VentriclrlrJs dexter Atrium dextrum Ventriculus sinister V cava inferior Gambar 1.35 Sirkulasi prenatal; gambar skematik. (sesuai dengan t1t) Panah menunjukkan arah aliran darah. Sirkulasi prenatal berbeda dari sirkulasi setelah lahir. Darah kaya oksigen dihantarkan dari plasenta melalui vena umbilicalis menuju ke hati. Dari hati, sebagian besar darah dialirkan oleh Ductus venosus (ARANTII) secara langsung menuju ke V. cava inferior. Dari sini, sebagian besar darah mencapai atrium kanan jantung, menyeberang ke atrium kiri melalui Foramen ovale di septum atrii yang terbuka, memasuki ventrikel kiri, dan dipompakan keluar menuju ke aorta dan sirkulasi sistemik. Darah vena setengah badan bagian atas memasuki atrium kanan melalui V. cava superior dan sebagian besar diarahkan ke dalam ventrikel kanan. Ketika jantung berkontraksi, sebagian besar fraksi ejeksi dihantarkan melalui Ductus arteriosus (BOTALLI) langsung menuju ke Aorta descendens. Kedua jalan pintas jantung (Foramen ovale dan Ductus arteriosus tBOTTALLII yang masih terbuka) diperlukan, karena pada janin, paru-paru yang penuh berisi cairan belum dapat mengembang dan merupakan suatu barrier (penghalang). Darah dari sirkulasi sistemik janin terutama dialirkan melalui Aa. iliacae internae menuju ke sepasang Aa. umbilicales yang terletak di dalam tali pusat untuk mencapai plasenta. Urut-urutan peristiwa segera setelah kelahiran yang terjadi karena putusnya sirkulasi plasenta, mengembangnya paru, dan dimulainya pernapasan bayi baru lahir mengakibatkan penutupan pada: V cava inferior Pars abdominalis aodae [Aorta abdominalis] V portae hepatis Lig. teres hepatis Vesica biliaris felleal Aa. umbilicales = Ductus venosus (ARANTII) = Foramen ovale = Ductus arteriosus (BOTALLI) antara Truncus pulmonalis dan Arcus aortae = Aa. umbilicales dan V. umbilicalis Pada tahap ini, sistem kardiovaskular hanya terdiri dari jantung, sirkulasi sistemik (sirkulasi tubuh; suplai ke jaringan-jaringan tubuh, dan sirkulasi paru yang lebih kecil {pertukaran gas) (-+ Gambar. 5.10). Fraksi ejeksi jantung pada orang dewasa istirahat adalah 70 ml. Sekitar 640/o darah berada di sistem vena pada saat tertentu dan jumlah ini dapat meningkat sampai sekitar 80% lresevoir darah). Arteri-arteri kecil dan arteriol otot sangat menentukan tahanan vaskular. Di dalam sistem arteri (sistem bertekanan tinggi), tekanan darah rata-rata adalah sekitar 100 mmHg (: mm kolom merkuri), sedangkan di sistem vena, tekanannya sekitar 20 mmHg. Kedua sistem ini dipisahkan oleh jaringan kapiler yang menjadi tempat terjadinya pertukaran gas dan nutrien. " Ligamentum BOTALLI * * Ductus arteriosus BOTALLI *** Ductus venosus ARANTII **** Ligamentum ARANTII V umbilicalis V cava interior Placenta Funiculus umbilicalis
*,::i::':',::,-==.t;2;.::s2a+:i,::2.=a -- Pembuluh darah dan saraf := -' '.'':::"::' '-''.':'-i :--. : ::: : =:__r=, r1 - a:.,:= t :.:- : i:' !: '':::::, ; =V :: ":' r- € t= l- ;a ;*1 {;'l ?- 1; z,;;,', 4: .4,:. ?:-''., = V azygos V hemiazygos (Plexus venosus submucosus) V phrenica inferior V hepatica V paraumbilicalis V cava inferior V epigastrica supedicialis V iliaca communis V epigastrica inferior Vl iliaca interna W rectales inferiores Gambar 1.36 V. portae hepatis, dan V. cava inferior; gambar semiskematik; daerah aliran vena cava inferior berwarna biru; daerah aliran vena portae hepatis berwana ungu. Anastomosis-anastomosis potensial portal-sistemik dilingkari dengan warna hitam. Sirkulasi vena portae hepatis merupakan suatu bagian spesial dalam sirkulasi sistemik. Di sini, dua iaringan kapiler yang terpisah (hepar, usus halus) dihubungkan berurutan. Sebelum mencapai sirkulasi sistemik, darah vena dari kebanyakan organ abdomen yang tidak (R. oesophaqealis) V gastrica sinistra V splenica lienalisl V renalis sinistra V lumbalis ascendens V mesenterica inferior V colica sinistra V sigmoidea V rectalis superior berpasangan (lambung, bagian-bagian usus halus, pankreas, splen) dialirkan menuju ke vena portae hepatis dan dari sini menuju ke hepar. Melalui jalur ini, kebanyakan nutrien yang diserap melalui saluran usus pertama-tama akan masuk ke hepar dan dirnebolisme di sana" Baru setelah darah melewati hepar, darah ini dialirkan melalui venae hepaticae menuju ke vena cava inferior dan sirkulasi sistemik. V. portae hepatis V mesenterica superior jerF=pq fu!:*;- Pada pasien dengan sirosis hepatis, darah yang mengalir melalui hati sangat kecil karena resistensi hati yang lebih tinggi sehingga meninggikan tekanan di vena portae hepatis. Dengan memintas lbypassl hati, darah yang lain mengalir melalui anastomosisanastomosis portocaval langsung menuju ke sirkulasi sistemik. Namun, di daerah anastomosis, vena-vena ini secara struktural tidak cocok untuk mengakomodasi peningkatan aliran darah dan akan membentuk venae varicosae. Kondisi ini akan menyebabkan varises esofagus di daerah persambungan gastro-esofagus, sampai (jarang) menyebabkan pembentukan Caput medusae (kepala medusa) di daerah vena-vena paraumbiliku.s, atau dapat menyebabkan terjadinya venae varicosae di canalis analis" Terutama varises esofagus mudah sekali mengalami cedera akibat pemasukan makanan dan menyebabkan perdarahan yang mengancam nyawa.
Anatomi permukaan l--,:f :+,=':i:=::: '.!::.=:'J:: ;.t:-.:1-;'a- -..- F.a:,.i1-;.i1: {.::;=-i-:,:t:-:.::. --' .1,.:.'.1...:,:-,.-.':,},.=}4,:: -* .4. a::.,:=: a - .a1:1: i=.-,la:. Truncus jugularis V jugularis interna Ductus lymphaticus dexter (Angulus venosus) V subclavia Nodi lymphoidei cervicales Arcus ductus thoracici Truncus bronchoTnediastinalis Truncus subclavius Pars cervicalis Pars thoracica Nodi lymphoidei axillares Nodi lymphoidei abdominis parietales et viscerales Nodi lymphoidei pelvis parietales et viscerales Nodi lymphoidei inquinaies Vasa lymphatica Drainage viz Ductus lymphaticus dexter Drainage via Ductus thoracius Gambar 1.37 Gambaran umum sistem limfatik. Mulai dari bagian perifer tubuh, kapiler-kapiler limfe mengumpulkan cairan interstitial (limfe) dan membawanya melalui saluran-saluran pengumpul menuju ke pembuluh limfe dan kelenjar limfe. Kelenjar limfe yang bertanggung jawab atas pengumpulan dan filtrasi dari suatu daerah tubuh tertentu disebut kelenjar limfe regional. Kelenjar Iimfe yang menerima cairan limfe dari berbagai kelenjar limfe disebut sebagai kelanjar limfe pengumpul. Akhirnya, cairan limfe mencapai dua saluran limfe besar, Ductus thoracicus dan Ductus lymphaticus dexter, yang mengalirkan limfe menuju ke darah vena dalam sirkulasi sistemik. Sebagian besar Ductus thoracicus Pars abdominalis Cisterna chyli Trunci intestinales Trunci lumbales cairan limfe mengalir ke dalam Angulus venosus sinister (terletak di antara V. jugularis interna sinistra dan V subclavia sinistra) melalui Ductus thoracicus. Ductus lymphaticus dexter mengalirkan cairan limfe yang dikumpulkan dari kuadran atas kanan menuju ke Angulus venosus dexter (terletak di antara V. jugularis interna dextra dan V. subclavia dextra). Di samping pembuluh limfe dan kelenjar limfe, jaringan limfoid juga mencakup organ-organ limfatik (thymus, sumsum tulang, splen, tonsil, mucosa-associated lymphoid tissue (MALT). Sistem limfatik mempunyai fungsi yang penting dalam respon imun dan penyerapan lemak.
=1=',=.,: a":-:.;:..a-:.,-:,,::.=,::-:,.1.;..,.=i -* PgmbUlUh dafah dan Safaf --r 1 -"'-. ;'; : ., - 'j-.'i i- i '- - -' .--: ' ',!,i' Vas lvmohaticum efferens Vena kelenjar limfe Kelenjar limfe Vas lymphaticum afferens Gambar 1.38 Kelenjar limfe dengan pembuluh limfe yang masuk dan keluar; gambaran semiskematik. Kelenjar limfe adalah bagian dari sistem limfatik dan dianggap sebagai organ limfatik sekunder. Bentuknya beraneka macam (kebanyakan berbentuk seperti lensa atau kacang dengan diameter ;a +.,-..;:=..::.. a.,-..:3- + 4",1,;i1:a:, ,;1,:1 ,ia..4 !-; Aderi kelenjar limfe H ilus 5-20 mm). Tubuh mempunyai sekitar 1000 kelenjar lirnfe den 2O0- 300 di antaranya terletak di leher saja. Secara fungsional, kelenjar limfe merupakan bagian dari sistem imun dan mernainkan peranan penting untuk pertahanan terhadap infeksi. Vasa lymphatica afferentia sel dendrit folikular di folikel sekunder Sel-sel dendrit terjalin di zona parakodikal Sinus corlicalis (Marginalsinus) Folikel sekunderl (B-ZellZone) Parakortikal l-ZellZone) Venula endotelial tinggi Vena Arteri Gambar 1.39 Kelenjar limfe; potongan lintang skematik. (sesuai dengan [21) Contoh potongan lintang kelenjar limfe ini memperlihatkan pembuluh limfe yang masuk dan keluar (Vasa afferentia dan Vasa efferentia), pembuluh darah, dan pembagian sekat-sekat (kompartementalisasi) kelenjar limfe menjadi daerah B (folikel sekunder), daerah T (zona Trabeculae Sinus intermedius Jaring kapiler Sinus corticalis* Limfosit Sinus meduilaris Sinus cofticalis Vaslymphaticum Makrofag efferens Sinus codicalis* parakortikal) dengan venula-venula endotelial atau venula postkapiler tinggi, sel-sei dendrit folikular dan ierjalin, sinus medularis, sinus intermedius, dan sinus subkapsular atau kortikai (dengan komposisi selulernya). " Sel retikular yang melapisi dinding sinus juga berada di dalam sinus. Pemeriksaan kelenjar limfe merupakan aspek yang penting dalam pemeriksaan f isik seorang pasien. Pemeriksaannya meliputi kelenjar yang teraba di leher, aksila, dan lipat paha. Pembesaran kelenjar limfe dapat menjadi tanda peradangan (lim{adenitis) atau penyakit ganas (mis., metastasis tumor ganas atau gangguan umum sistem limfe seperti penyakit HODGKIN).
Anatomi permukaan *:i=+z*.=z *a'j* z'":l:=?: :- &.:z;;:;.:;:a=; -+r::,,.:i.t'zt. -- lt;i.=i:,i;..-z++i1 + =t=Z=ry3 ==i*7 Plexus cervicalis Nn. craniales , /,t : /z'. Encephalon Medulla spinalis Plexus brachialis R. ventralis nervi spinalis Plexus lumbosacralis -!4i:,H"" zzL'se ,-/ /i _--./ 2i .---'^ --/Ai -_ -. lffii -d ./ -/t (t :, a a tt); L ;t/& i3 ia 't* .*iFL \{- 'tL '" '-G, - 1. . !-\v r,rt illl rt.1rt! i,jr.l .1:,1 1.40 Gambar 1.40 dan Gambar 1.41 Organisasi sistem saraf ; dilihat dari ventral (-+ Gambar 1.40) dan dorsal (-+ Gambar 1.41). (sesuai dengan [2]) Sistem saraf terdiri dari sistem saraf pusat (SSP; otak, medulla spinalis) dan sistem saraf tepi (SSTI. SST terutama terdiri dari sarafsaraf spinal (dengan persambungan ke medulla spinalis) dan saraf kranial (dengan persambungan ke otak). Sistem saraf terlibat dalam fungsi yang kompleks yang meliputi pengaturan berbagai aktivitas otot dan usus, komunikasi dengan lingkungan dan dirinya sendiri, serta mengingat pengalaman-peng1.41 alaman masa lalu (memori). Sistem saraf juga penting untuk membentuk konsep imaginasi (berpikir), menimbulkan emosi, dan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan yang terjadi di dunia sekitar serta bagian dalam tubuh. Kita membedakan sistem sara{ otonom (viseral, yang mengatur aktivitas usus, terutama involunter) dan sistem saraf somatik (persarafan otot rangka, persepsi kognitif input sensorik). Kedua sistem tersebut berinteraksi dan saling memengaruhi, Selain sistem saraf, fungsi tubuh secara keseluruhan juga diatur oleh sistem endokrin.
Pembuluh darah dan saraf Radix anterior F. posterior 2: ,=.i : .:' 4i i.--:1t Ganglion sensorium nerui sPinalis Truncus nervi spinalis N. intercostalis R. communicans Ganglion trunci sympathici N intercostalis R. cutaneus lateralis R. cutaneus anterior Ganglion trunci sympathici N. splanchnicus major RL meningei R. communicans ---(-\ r '\iS= Gambar 1.42 Gambar skematik sebuah saraf spinal (segmen medulla spinalis) dengan contoh dua nervi thoracici; dilihat dari atas dengan stidut oblik lateral. Tubuh manusia mempunyai 31 pasang saraf spinal (delapan pasang servikal, dua belas thoraks, lima lumbal, lima sakral, dan satu pasang koksigeal) Setiap saraf spinal tersusun dari Radix anterior dan Radix posterior. Badan sel (Perikarya) saraf motorik terletak di substantia grisea di dalam medulla spinalis. Aksonnya meninggalkan medulla spinalis dan membentuk radix anterior. Perikarya saraf sensorik Konsumsi alkohol yang berlebihan, diabetes mellitus, defisiensi vitamin B, intoksikasi obat dan logam berat serta gangguan perfusi darah dapat menyebabkan gangguan pada saraf tepi Nn. spinales: Nn. cervicales Nn. thoracici Nn. lumbales Nn. sacrales N. coccygeus terletak di dalam Ganglia sensoria nervi spinalis. Tonjolan-tonjolannya masuk ke medulla spinalis melalui radix posterior. Rami communicantes menghubungkan medulla spinalis dengan rantai simpatis ganglia trunkus simpatikus (Ganglia trunci sympathici). Semua cabang dorsal saraf spinal dan cabang ventral saraf spinal thorakal T2 sampai T1 1 mempunyai susunan segmental. Cabang-cabang ventral lain menyatu membentuk pleksus (Plexus cervicalis, brachialis, lumbosacralis). (saraf peri{er). Gangguan ini dapat menyebabkan kelumpuhan atau eksitasi sel saraf (neuron) yang berlebihan. Polineuropati menyerupai suatu skenario klinis yang mengenai banyak saraf. Radix posterior 29
Anatonri permukaan N Ganglion ciiiare lacrirnalis 'N-f tvill N. vagus N l*t*@' Ganglion . oticum Glandulae oris Slmpatis:Sistem I1:L3 . Divisi thorakal truncus sVmpathicus Ganglion mesentericum superius ,,pregangljonik" ,,postgangJionik" & Organa genitalia Gambar 1.43 Sistem saraf otonom. [22] Sisiem saraf autonom terdiri dari sistem saraf simpatis, parasimpatis (Parasympathicus), dan sistem saraf enterik. Sel saraf Sympathicus (simpatis) terletak di kornu laterai segmen torakolumbai medulla spinalis. Aksonnya menjulur ke dalam ganglia rantai simpatis dan ganglia traktus gastro-intestinal. Di sini, serabutserabut preganglionik bersinaps pada neuron-neuron postganglionik yang mengirimkan sara{-sarafnya ke organ target. Aktivasi sistem simpatis terjacii pada saat mobilisasi tubuh dan pada situasi emergensi {tiga F: fright lketakutan), flight [lari), fight Ibertarungl). Medulla kelenjar adrenal merupakan bagian dari sistem simpatis dan Gangguan pacla sistem saraf otonom memainkan peranan pada hampir semua disiplin medis. Gangguan ini dapat rnuncul sebagai penyakit tersendiri (mis., neuropati otonom herediter), sebagai konsekuensi penyakit lain {mis., neuropati otonom pada diabetes mellitus atau penyakit PARKINSON), atau sebagai respons terPlexus hypogastricus inferior Vesica urinaria menyekresi adrenalin (epinefrin) dan noradrenalin (norepinefrin) ke dalam sirkulasi darah. Nuklei Parasympathicus (parasimpatis) terletak di batang otak dan medulla spinalis sacralis. Akson parasimpatis preganglionik sampai ke ganglia di dekat organ-organ targetnya. Di sini, saraf parasimpatis bersinaps dengan neuron-neuron postganglionik yang menjulurkan aksonnya yang pendek ke organ target. Sistem parasimpatis mengatur intake makanan dan pencernaan serta rangsangan seksual. Parasympathicus bersifat antagonis dengan Sympathicus. Sistem saraf enterik mengatur aktivitas saluran usus dan dikendalikan oleh Sympathicus dan Parasympathicus. hadap kondisi-kondisi eksternal dan gangguan lain (mis., disregulasi otonom akibat stress, nyeri berat, atau gangguan psikiatri). Gangguan sistem sirkulasi, pencernaan, fungsi seksuaj, atau fungsi-fungsi lain dapat lebih mencolok, bergantung pada daerah sistem saraf otonom yang terkena. Gangllon mesentericum inferius Sistem saraf enterik lntestinum tenue Glandula suprarenalis ,--e-------_- \_ \ J.y rr - - -;;--:.,@ ("", .. 3l
N. oculomotorius llll Gangllon cervicale superius Ganglion cervicale l\,4edulla oblongata A. carotis communts A. subclavia N. laryngeus recurrens dexter Arcus aorlae: Plexus cardiacus Pars ascendens aortae Pars thoracica aonae i .--l.tii 1\ :,'i 1,- t) ?k medium N. cardiacus cervicalis medius N. facialis lvlll N. glossopharyngeus ttx N. vagus [X] Truncus vagalis anterior Truncus vagalis posterior Plexus oesophageus Radix parasympathica [Nn. splanchnici pelvici] Ganglia pelvica Ganglion cervicothoracicum [stellatum] Ansa subclavia Truncus sympathicus; Ganglia sacralia N. cardiacus ceruicalis inferior Truncus sympathicus; Ganglia thoracica N. splanchnicus major Rr. communicantes N. splanchnicus mtnor Truncus sympathicusl Ganglia lumbalia Nn. splanchnici lumbales Truncus coeliacus; Plexus coeliacus Ganglia coeliaca A. renalis; Plexus renalis A. mesenterica superior; Plexus mesentericus suPerior Pars abdominalis aodae; Plexus aodicus abdominalis A. mesenterica inferior Plexus mesentericus inferior Plexus hypogastricus suPerior A. iliaca communis N. hypogastricus Plexus hypogastricus inferior fr \ Ganglion impar Gambar 1.44 Gambaran Sympathycus, Pars sympathica. Seluruh rantai ganglia simpatis dan sambungan-sambungan interganglioniknya yang terletak di kedua sisi columna vertebralis disebut Truncus sympathicus (hijau). Gambar 1.45 Gambaran Parasympathicus, Pars parasympathica Serabut-serabut parasimpatis (ungu) normalnya ber.ialan bersamasama dengan serabut saraf lain. ?1
I Anatomi permukaan _a :'..:.::4.-t-.-.;:4 4..:a.-it,-:41:-::a- ' ;.'-3....-:.4.r-a.,,t--.1;i!- *-'' Clavicuia dextra Scapula, Anguius superior Cosia I V cava superior Bif urcatio tracheae, Carina tracheae Scapula, Margo medialis Bronchus principalis dexter V pulmonalis A. puimonalis dextra Atrium dextrum V pulmonalis V cava inferior Diaphragma, (Cupula dextra) * Recessus costodiaphragmaticus Gambar 1.46 Radiograf konvensional (sinar-X), panorama toraks. t2tl Radiografi adalah salah satu teknik pencitraan yang paling sering digunakan di rumah sakit dan praktik klinis setempat. Pengalaman yang banyak dengan teknik pencitraan penting untuk memahami bagaimana gambar-gambar tersebut dapat terbentuk dan jenis gambar radiograf i sepertl apa yang diperiksa. Gambar-gambar radiografi thoraks polos adalah salah satu teknik pencitraan yang paling banyak dibuat. Pada pasien yang berdiri tegak, sinar-X ditembakkan Arcus aodae A. pulmonalis sinistra Truncus pulmonalis V pulmonalis Scapula, Margo medialis Bronchus principalis sinister Auricula sinistra V pulmonalis Ventriculus sinister Diaphragma, (Cupula sinistra) Fundus gastricus melalui thoraks pada arah posterior-anterior (PA) (pasien menghadap ke film)- Pada posisi berbaring, sinar-X ditembakkan pada pasien dengan arah anterior posterior (AP). Gambar radiografi thoraks yang baik memperlihatkan sebagian besar bronchi dan pembuluh darah paru, kontur kardiomediastinum, diafragma, iga-iga, dan jaringan lunak perifer. * Kontur mamma. Gaster Vertebra lumbalis ll Colon Gambar 1.47 Radiograf konvensional (sinar-X), fluoroskopi kolon setelah tes menelan barium. l8l Dalam sebuah gambar radiograf, organ-organ berongga, seperti arteri, vena, dan saluran usus, mempunyai tingkat kontras- yang buruk dan perlu diisi suatu bahan yang menyerap sinar-X untuk meningkatkan kontras. Substansi ini tidak boleh bersifat toksik bagi pasien. Bahan yang sering digunakan untuk meningkatkan kontras pada saluran gastro-intestinal adalah garam barium sulfat yang berdensitas tinggi, non-toksik, dan tak-terlarutkan. Untuk pembuluh darah, biasanya dipakai molekul-molekul yang mengandung yodium. Bahan-bahan ini aman dan ditoleransi dengan baik oleh kebanyakan pasien dan dapat digunakan untuk memotret ginjal, ureter, dan kandung kencing (intravenous utogram llVUl, intravenous pyelagram ilVPl) karena bahan-bahan ini diekskresi oleh ginjal. .i ./
*:r;2":r:z :r:z:;,;;:zz:1r+=;nr;+1*z:+'z -* *=:r,:zs=:t:it-:= *=r*T; *=,=. 5a{'4€ '* Teknik pencitraan * *i:+?.*z= at=-,.=*2.}{T,.a::. Lobus dexter Gambar 1.48 Scintigraphy, scintigram kelenjar tiroid. 127) Pada scintigraphy, digunakan sinar gamma (suatu bentuk sinar elektromagnetik) untuk menghasilkan suatu citra. Sinar gamma dihasilkan dari peluruhan inti atom yang tidak stabil, sedangkan sinar-X merupakan kelebihan energi yang dilepaskan sewaktu atom dibombardir dengan elektron. Zat penghasil sinar gamma tersebut harus dimasukkan ke tubuh pasien. Yang paling sering digunakan adalah radio isotop technetium-99m {99mrc) dan disuntikkan sebagai koktail bersama dengan molekul-molekul lain. Pada waktu disuntikkan, gambar dihasilkan oleh sebuah kamera gamma, tergantung pada bagaimana radiofarmakon tersebut diabsorpsi, didistribusikan, dimetabolisme, atau diekskresi oleh tubuh. l\4embrum inferius Gambar 1.49 Sonografi, gambar ultrasonografi janin pada minggu 28 kehamilan; dilihat dari lateral. Pemeriksaan badan dengan menggunakan ultrasonografi sering dilakukan dalam berbagai bidang spesialisasi medis. Ultrasonografi merupakan serangkaian gelombang suara berfrekuensi tinggi (bukan gelombang elektromagnetik) yang dihasilkan oleh impuls-impuls listrik dalam kristal piezo-elektrik. Gelombang bunyi ini dipantulkan Caput, Frons NaSUS Labium superius Regio mentalis dari organ dalam dan isi di dalamnya (janin di dalam uterus), yang dicatat oleh elemen piezo-elektrik yang sama, dan dihantarkan kembali dalam bentuk impuls listrik oleh kristal tersebut. lnformasi ini kemudian dianalisis oleh komputer dan ditampilkan di layar. Dengan cara ini, gerakan ekstremitas janin dan membukanya mulul dapat dilihat sebagai gambar yang hidup.
Anatomi permukaan Gambar 1.5O Computed tomography, coronal computed tomognm (CT) sinus. [1 1] Computed tomography ICT) dikembangkan oleh Sir Godf rey Hounsfield pada tahun 1970-an dan terus mengalami perbaikan. Computed tomograph menghasilkan satu seri gambar potongan badan pada bidang melintang atau, yang diperlihatkan di sini, pada Pars descendens aortae [Aoda descendens] Pars abdominalis aortae [Aor1a abdominalis] Truncus coeliacus A. mesenterica superior A. renalis dextra Ren dextrum Ureter dexter Pars abdominalis aortae [Aorta abdominalis] Bifurcatio aodae A. iliaca communis dextra A. iliaca interna dextra Os ilium dextrum Spina iliaca anterior superior dextra A. iliaca externa dextra A. femoralis i A. profunda femoris Os PUbis sinistrum Gambar 1.51 Angiogafi CT 3-D, angiogram CT 3-D berbagai struktur abdomen dan panggul (volume-rendering technique (YRTI yang diturunkan dari potongan-potongan CT multidetektor. [271 Teknologi computed tomography modern (mis., 64-lines volume spiral multilayer CD memberikan dimensi dan indikasi baru untuk alat diagnostik CT dan menjamin pajanan dosis minimal bagi pasien. Angiografi CT didasarkan pada teknologi CT multilayer yang sama. Di dalam sebuah pembuluh darah, daerah yang ingin diperiksa ':::.:7*..j. Z{::i-{==-={:?:; ;* : ; ==z! {.'iz=:a}+:f-=?i i-..:, ,V 7- Orbita Septum nasi Sinus maxillaris Concha nasalis media Concha nasalis inferior bidang koronal. Pasien berbaring pada sebuah meja dan, sambil mengelilingi badan, tabung sinar-X mengambil satu gambar potongan, setelah mengambil potongan sebelumnya. Begitu semua gambar sudah didapatkan, masing-masing gambar potongan dikalkulasi oleh sebuah komputer dengan menggunakan algoritma matematis yang kompleks. A. renalis sinistra Ren sinistrum Ureter sinister Vertebra lumbalis lV A. iliaca communis sinistra Vertebra lumbalis V Os ilium sinistrum A. iliaca interna sinistra Caput femoris sinistra dipindai pada saat penyuntikan intravena dengan cepat bahan yang mengandung yodium untuk mempertinggi kontras struktur tersebut. Gambar potongan pembuluh darah yang bercabang-cabang yang dihasilkannya kemudian disusun oleh komputer untuk menghasilkan gambar 3-D. * istilah klinis: A femoralis superficialis
.-.:!,:.\.;.=:..::-:j: :+ '-:;;7;z;;:';itj,: ==-t-?:, r=::=.:': --=r+.i - Teknik pencitfaan '- =;=?.=iaitT-=iJ'':ii-.-+- 7'.8=:;;::=7i:=:i4,;==:::==.:::-:t;2:';z=t;;i.:z'4|?.=,=Zi Sinus frontalis Corpus callosum, Genu Corpus callosum, Splenium Grnbar 1.52 Magnetic resonance tomography (MRT) atau imaging BRI), gambar MRI aksial (transversal) otak (T2-weightedl. t2ll ?xa magnetic resonance imaging, pasien dipajan terhadap bidang mag-etik yang kuat. Keadaan ini menyebabkan semua proton atom hd'ogen di dalam tubuh segaris dengan bidang magnetik yang seca:a elektif mengubah proton hidrogen ini meniadi magnet miniatur. (a-rdian pasien dipajan singkat dengan gelombang {rekuensi radio Lobus frontalis sinister Ventriculus lateralis Capsula interna, Crus anterius Nucleus lentiformis, Putamen Lobus temporalis Thalamus sinister Ventriculus lateralis sinister Lobus occipitalis untuk secara sistematis mengubah kesegarisan \alignment) protonproton ini. Ketika kembali ke posisi aslinya, proton mengeluarkan gelombang radio lemah yang dideteksi oleh instrumen. Kekuatan, frekuensi, dan waktu yang diperlukan untuk mengembalikan proton ke posisi aslinya adalah informasi penting yang terdapat didalam sinyal yang dikeluarkan dan dianalisis oleh komputer untuk menghasilkan gambar. Femur M. quadriceps fermoris, Tendo Patella Cartilagines articulars Corpus adiposum infrapatellare* Piica infrapatellaris Lig. patellae Tuberositas tibiae Gambar 1.53 Magnetic resonance tomography, sagittal magnetic ,t*onance image (MRll lutul (T2-weightedl. [27] Dengan mengubah urut-urutan impuls yang digunakan untuk mengeksitasi proton, berbagai karakteristik proton yang berbeda ini dapat dianalisis. Ciri-ciri ini disebut "weighting" pada suatu scan MRl. Perubahan-perubahan frekuensi denyutan dan parameter-parameter pemindaian menghasilkan gambar Tl -weighted (cairan: gelap, lemak terang; mis., efusi sendi gelap) dan gambar T2-weighted (cairan: V poplitea V. saphena parua Lig. cruciatum anterius A. poplitea Tibia terang, lemak: abu-abu; mis., bantalan lemak HOFFA yang tampak jelas di antara patela dan tibia). Dengan demikian, gambar-gambar yang secara spesifik T-weighted mempertegas kompartemen-kompartemen jaringan tertentu. MRI dapat juga digunakan untuk menghasilkan angiogram sirkulasi perifer dan sentral. * bantalan lemak HOFFA ?tr
Anatomi permukaan J: : i =; ;: =l:.: l-;.:;..i: lj ! :.: ::.':-:.i': + -: 2' =! -- - a". a. a a:a'i a:ii-: .=-a Vallum unguis Lunula Eponychium N4argo Iiber Corpus unguis Valum unguis Gambar 1.54 Phalanx distalis jari tangan dengan kuku. Kuku (Unguis) adalah lempeng keratin yang berbentuk cemhung dan tembus pandang pada sisi atas phalanx distalis jari tangan dan kaki. Kuku berfungsi melindungi ujung jari tangan dan kaki dan mendukung fungsi jari untuk memegang. Kuku melekat pada lekukan kulit (Vallum unguis) dan tepi lateral kuku ditutupi oleh dinding atau lipatan kuku yang berupa kulit pada kedua sisi kuku tersebut. Lapisan epitel yang yang membentang dari dinding kuku pada basis kuku di lempeng kuku dorsal disebut eponychium. Lempeng kuku tertambat di sini ke dasar kuku, kulit di bawah lempeng kuku. lvlatrix unguis Corpus unguis HyponVchium l\,4argo liber Lectulus Phalanx distalis Epidermis Dermis Hyponychium lvlatrix !nguis Vallum unguis Gambar 1.55 Phalanx distalis jari tangan; kuku diangkat sebagian. Lapisan epitel yang terletak di bawah tepi bebas kuku pada ujung phalanges disebut hyponychium. Di bawah hyponychium epitel terdapat basis bantalan kuku fibrosa yang melekat erat ke periost phalanx distalis. Hyponychium proksimal membentuk matriks kuku {Matrix unguis) yang menghasilkan lempeng kuku. Lunula adalah bagian matriks kuku yang tampak. Eponychium Vallum unguis Aponeurosis dorsalis Articulatio interphalangea distalis Capsula articularis komponen utama lempeng kuku. Banyak penyakit sistemik menyebabkan perubahan pada kuku. Misalnya, psoriasis menyebabkan pembentukan lubang-lubang kecil, bercak-bercak berminyak dan terkadang kuku pecah-pecah sampai distrofi kuku yang parah. Pada cedera kulit dan kuku, kuku dapat ditumbuhi koloni iamur (onychomycosis). Pengobatan infeksi jamur pada kuku jari kaki sering memerlukan waktu lama. .!va-6+*L9l:d!,{'\ Subcutis Gambar 1.56 Phalanx distalis jari tangan; potongan sagital. Bantalan kuku meliputi daerah di antara kuku dan phalanx distalis. Bagian ini terdiri dari lapisan epitel {Hyponychium dan Matrix unguis) dan dermis di bawahnva. -1- i, ::" Bercak putih di bawah kuku disebabkan oleh gangguan penyatuan lempeng kuku dengan bantalan kuku. Perubahan pantulan cahaya pada titik-titik ini menyebabkan lempeng kuku tampak berwarna putih susu (mirip dengan Lunula). Tidak adanya fusi mungkin disebabkan oleh berbagai sebab, misalnya terjadi pada trauma fisik, disebabkan oleh obat-obat tertentu, atau disebabkan oleh berbagai macam penyakit. Kuku rapuh menandakan kekurangan biotin (vitamin H). Biotin diperlukan untuk pembentukan keratin, lV]. flexor digitorum profundus, Tendo ?A
:...-:::-t -" ';.,::r;:'.,:::.;..:.=;'--.'a.,.:--';a!: "-" SiStem integUmen .;'*r** 8e. . !4.{..t : .2 "i . .i'.'= i {"; :=rz,::=: :.--.-,J, r. 4. a ..: 1.': ... t._= a SoDr:. i€i. i -\ { c Gambar 1.58a sampai d Kulit berambut (a dan c, punggung jari tangan) dan kulit tanpa rambut (b dan d, ujung jari tangan); E:epidermis; P: papillae; pD dan rD: dermis papilar dan retikular; RR: rete ridges; ES: kelenjar keringat ekrin; SgD: duktus eferen kelenjar keringat. Garis putus-putus menunjukkan batas antara kedua lapisan dermis (Stratum papillare dan Stratum reticulare). Pewarnaan HE" Pembesaran: 45 kali, inset 100 kali. (c,d t2l) Panel paling atas memperlihatkan gambar mikroskop elektron pindaian pada permukaan Stratum papillare setelah epidermis dirusak dan dibuang. Panel bawah memperlihatkan gambar skematik histologis yang sama, potongan sagital melalui epidermis dan dermis. Sisipan pada gambar kiri memperlihatkan potongan tangensial epidermis (ungu) dan dermis papillaris (merah muda). pembentukan Bullae dan, pada beberapa kasus, menyebabkan pelepasan epidermis yang luas. Pelepasan epidermis juga dapat disebabkan oleh auto-antibodi terhadap komponen-komponen struktur adhesif (pemphigus, pemfigoid bulosa). ,'."'a' -. !;.: ,.rl" 'l$F' . *"ir€t )&:: ,4\,\ *4cF$' : : 19 *i .**:;;::, Gambar 1.57 Lapisan-lapisan kulit, lntegumentum commune; (kulit berambut); C: cutis, tersusun dari epidermis (E) dan dermis (D); SC: subcutis; Fs: fascia superficialis; Fm: fascia otot; M: otou rc: Retinaculum cutis; ES: kelenjar keringat ekrin. Pewarnaan HE, pembesaran 22 kali. L2l Kulit (Cutis) tersusun dari epidermis dan dermis di bawahnya (jaringan penyambung fibro-elastik dengan pleksus kapiler, reseptor khusus, saraf, sel imun, sel penghasil melatonin, kelenjar keringat, folikel rambut, kelenjar sgbasea, sel otot polos; ketebalan bervariasi tergantung pada daerah tubuh mana). Di bawah dermis terdapat subcutis (jaringan lemak subkutan). Kulit adalah organ tubuh yang terbesar (sekitar 2 m2l dan menjalankan banyak fungsi: kulit melindungi terhadap cedera mekanis, menjadi termoregulator dan organ sensorik, dan mencegah kehilangan cairan secara berlebihan. : -: ---.+::.-j4:.j4-..!. =S i;..==:3 Persambungan dermo-epidermis diperkuat oleh berbagai jenis protein dan struktur yang bertanggung jawab atas mekanisme adhesi antara kedua zona ini. Defek genetik pada beberapa protein dan struktur ini menyebabkan cedera akibat gaya geser Yang menyebabkan retakan-retakan yang akhirnya bisa menyebabkan "li{i,1,-.,r1;.
Anatomi permukaan .,_.: i r'.:: - : :, a- =: {: =!} a:= 1t.j..-::.-1il -= , Sistem integumen Batang rambut l\,4. arrector pili Glandula sebacea Glandula sudosifera Glandula sebacea (ductus excretorius) Epidermis Akar rambut dengan papilla rambut Subkutis 'r;i ,:, , 1" I ,' I Papilla rambul Papilla rambut di sarung rambul Gambar 1.59 Rambut, Pili; potongan longitudinal kulit kepala [24i Rambut adalah produk keratinisasi epidermis. Rambut berasal dari invaginasi epidermis yang membentuk folikel yang mengandung selsel yang aktif bermitosis (sel matriks) di bagian pangkalnya. Sel matriks berdiferensiasi menjadi sel-sel berkeratin yang membentuk batang rambut. Setelah lahir, kita membedakan dua jenis rambut: = Rambut vellus (rambut halus) adalah rambut yang halus, pendek, tipis, sebagian besar tak berpigmen, dan tidak mempunyai medula (folikel terletak di dermis); mirip dengan rambut lanugo pada janin, rambut vellus tumbuh di hampir seluruh tubuh anak dan perempuan. Medulla dengan kantong udara Kutikula rambut Kodeks Medulla Epidermis 'l ert"u I aponeurotica Sarung fibrosa, dermis, penyambung " Rambut terminal (rambut panjang) adalah rambut yang kaku, panjang, tebal berpigmen, dan mempunyai medula ({olikel masuk sampai ke subcutis); rambut terminal terdiri dari ramput kepala, alis, rambut pubis, rambut ketiak, dan jenggot (pada laki-laki). distribusi rambut terminal di tubuh berbeda-beda pada setiap kelompok etnik. Rambut melindungi dari sinar UV dan dingin serta menghantarkan sensasi sentuh. Gambar 1.60 Struktur folikel rambut; potongan longitudinal. [2Sl Rambut berasal dari folikel rambut yang merupakan invaginasi sllindris epidermis ke dalam dermis atau subcutis. Batang folikel rambut terdiri dari bulbus rambut dan papilla rambut. Setiap folikel rambut menerima berkas pembuluh darah untuk menopang perturnbuhannya dan folikel rambut berhubungan dengan kelenjar sebasea (unit rambut-kelenjar sebasea) dan otot polos (M. arrector pili). M. arrector pili bekerja menegakkan rambut (aktivasi simpatis) dengan mencekungkan epidermis sehingga terbentuk cekungan kecil. Struktur berikut dapat diidentifikasi pada sehelai rambut: = batang rambut yang berkeratin total dengan selubung epitel akar dalam dan luar = akar rambut yang tidak berkeratin. dipisahkan oleh zona keratogenosa (sel rambut yang memberi keratin) dari batang rambut yang berkeratin. = bulbus rambut dengan basis yang melebar mengandung sel matriks yang aktiJ bermitosis (bagian rambut yang beregenerasi) : papilla rambut di dermis, bagian dermis yang kaya sel dan pembuluh darah yang berinvaginasi ke dalam bulbus rambut dari bawah =. infundibulum rambut merupakan lubang masuk folikel di permukaan dan berisi kanal pilosebasea unit kelenjar sebasea rambut = selubung epitel akar rambut yang dibagi menjadi selubung akar dalam dan luar: lapisan sel selubung akar dalam adalah (dari medulla rambut ke arah luar): cuticula, lapisan HUXLEy dan HENLE; selubung akar luar tersusun dari banyak lapisan sel tak berkeratin yang terang dan mulai berkeratin di daerah infundibulum rambut dan berintegrasi ke dalam epidermis. Predisposisi genetik dan pigmentasi {kandungan melanin) menentukan warna rambut. Begitu produksi melanin berhenti, rambut berubah warna menjadi abu-abu sampai putih. ,.i.,q ),: .',1: . j i '4[/.'":.r-.;r..: :' 6. ",. -. .., .;, : {d:r.a- i-.-.,,j ;;-i.:,'. ;."r.r :rr 'i ;:. .:.... :.::.i- ;1. Batang rambut Celah rambut Dermis Akar rambut Selubung fibrosa atau penyambung Zona keratogenosa Benjolan Melanosit M. arrector pili Kutikula Lapisan HUXLEY Lapisan HENLE Bulbus rambut Matrix Selubung akar dalam Selubung akar luar Papila rambut
Badan Anatomi Permukaan Perkembangan Rangka Pencitraan Otot Pembuluh Darah dan Saraf . . . . . . . 96 Topografi,Punggung.. 1O4 Payudara Wanita 114 Topografi, Abdomen dan Dinding Abdomen 1 18 42 44 46 68 74
Dinding Tubuh Ventral dan Dorsal Telah menjadi kebiasaan dan juga logis bahwa dinding (Paries) badan (Truncus) dipelajari secara terpisah dari isi rongga, yaitu organ internal, karena kedua bagian tersebut mengikuti prinsip-prinsip struktural yang berlainan. Jika dianggap bahwa dinding tubuh adalah suatu struktur yang terdiri dari tulang dan otot yang mengelilingi organ-organ dalam maka dinding tubuh tersebut terdiri dari dada (Thorax), Abdomen, dan Pelvis. Menurut definisi ini, gelang bahu lshoulder girdte\ (- hal. 135) bukan merupakan bagian Thorax, karena hanya menempel di dinding Thorax, sementara gelang panggul (pelvic girdlel (- hal. 264l, merupakan bagian integral dan definitif dari badan, karena menahan dan melindungi organ-organ abdomen bawah. Rangka Badan (dan leher) ditunjang oleh Columna vertebralis. Columna vertebralis terdiri dari vertebra-vertebra tunggal kontinu di seluruh panjang badan. Bagian paling kaudalnya, Os coccygis terdiri dari vertebra rudimenter yang jumlahnya bervariasi (4-7). Ujung ekor koksigis mengarah ke dinding posterior Rectum. Di daerah panggul, lima vertebra besar menyatu oleh sinostosis, menghasilkan segmen Columna vertebralis yang sangat kaku. Sebaliknya, lima Vertebrae lumbales memungkinkan Columna vertebralis untuk fleksi. ekstensi, dan rotasi lateral. Duabelas Vertebrae thoracicae, yang bersendi dengan duabelas pasang iga, relatif kurang dapat bergerak. Sepuluh pasang iga superior (Costae verae et spuriae) berhubungan dengan Sternum, sedangkan dua pasang inferior (Costae fluctuantes) tidak terbentang hingga ke Sternum. lga, Vertebrae thoracicae, dan Sternum membentuk rongga dada bertulang atau sangkar iga (Thorax). lga mudah diraba di kedua sisi Sternum. Dimulai dari puncak sangkar iga, iga pertama (Costa prima) tidak dapat diraba karena tersembunyi di balik Clavicula. Namun, iga kedua {Costa secunda) dapat diraba. Dengan menghitung Costae, bersama dengan penggunaan garis-garis ref erensi tambahan, dapat membantu mengidentifikasi lok6si-lokasi spesifik di Thorax. Misalnya, di suatu garis khayal sagital yang melewati bagian tengah Clavicuia kiri dan ruang anta. iga (Spatium intercostale) kelima yaitu di bawah iga kelima, denyut apeks jantung dapat diraba, Di sinilah tempat apeks jantung "memukul" dinding dada dari sisi dalam. Lengkung tulang rawan iga (Arcus costalis), yang menghubungkan costae Vll-X dengan Sternum dalam brentuk lengkungan, juga dapat diraba dengan mudah. lni adalah tanda untuk Apertura thoracis inferior, yang merupakan suatu lubang besar Thorax menuju Abdomen. Cavitas Thoracis dibatasi oleh Diaphragma yang berbentuk kubah, menonjol ke atas dan curam (lihat bawah). Organorgan abdomen, misalnya lambung, hati, limpa, dan lainnya, terletak di bawah Diaphragma dan "di balik tulang rawan" (Regiones hypochondriacae). Denyut Aorta abdominalis dapat diraba di Regio epigastrica antara lengkung-lengkung tulang rawan iga dan tepat inferior dari prosesus xifoid {Proc. Xiphoideus sterni). Otot Otot-otot dinding abdomen adalah otot volunter, seperti yang terdapat di ekstremitas. Otot-otot ini diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama: otot yang bekerja hanya pada dinding abdomen dan otot ekstremitas (berasal dari dinding abdomen dan bekerja pada gelang bahu dan ekstremitas). Menurut lokasi dan fungsinya, otot dinding badan membentuk empat kelompok utama: otot autokton punggung, otot dinding lateral dan ventral badan, otot Diaphragma, dan otot dasar panggul. Otot autokton punggung, yang terdiri dari banyak otot tunggal, terletak di kedua sisi Columna vertebralis. Otot-otot ini, yang tersusun dalam dua berkas otot kuat, berorientasi terutama ke arah kraniokaudal dari Occiput ke gelang panggul melalui leher, Thorax, dan pinggang. Dengan punggung ekstensi, otot-otot ini terlihat jelas di regio lumbal. Secara keseluruhan, otot-otot ini efektif dalam memfasilitasi postur tegak tulang belakang sehingga disebut M. erector spinae. Kata sifat "autokton" berarti "berakar atau asli"-sewaktu ontogenesis, semua otot volunter tubuh muncul secara bilateral dari Columna vertebralis, tepat di regio otot-otot autokton punggung orang dewasa. Sel-sel progenitor (prekursor) otot (sel progenitor miogenik) untuk semua otot Iain bermigrasi dari regio ini melintasi bagian ventral badan menuju ekstremitas, Karena itu, otot-otot ini dinamai otot "alokton", karena berasal dari sel-sel yang "datang dari luar". Otot dinding lateral dan ventral badan terdapat dalam bentuk otot-otot antar-iga (interkostal) berlapis-lapis (Mm, intercostales) pada Thorax. Otototot ini membantu pernapasan. Bagian samping Abdomen (Regiones laterales) mengandung otot-otot datar dan berlapis-lapis, yang juga dikenal sebagai otot abdomen lateral (Mm. obliqui dan M. transversus). Dinding abdomen anterior dibentuk oleh tendo-tendo kuat (aponeurosis) berbagai otot lateral ini. Otot abdomen yang lurus (M. rectus abdominis) berjalan secara longitudinal dari symphysis ke Thorax terbungkus dalam aponeurosis ini l"six-pack belly"l . Bersama-sama, otot-otot ini memutar dan menekuk badan. Selain itu, otot-otot ini juga mengontrol ketegangan dinding abdomen, membantu ekspirasi dan vokalisasi untuk bicara dan bernyanyi, serta meningkatkan tekanan abdomen. Diaphragma, otot pernapasan terpenting, adalah otot volunter, meskipun kerjanya tidak disadari. Diaphragma terletak di interior badan, muncul dari tepi-tepi Apertura thoracis inferior (lihat atas) dan membentuk suatu kubah lebar berdinding tipis dengan apeks mengarah ke Cavitas thoracis. Sewaktu berkontraksi, kubah mendatar dan hal ini menyebabkan peningkatan volume rongga dada (Cavitas Thoracis) sehingga terjadi inhalasi. Otot dasar panggul (Diaphragma pelvis dan urogenitale) juga merupakan otot volunter (latihan dasar panggul). Otot-otot ini menahan beban organ-organ visera (tulang panggul terbuka ke arah kaudal). Otot-otot ini berpangkal di tepi bawah sebelah dalam tulang panggul untuk membentuk suatu corong yang menyempit ke arah ujung kaudal {+ hal. 196 dan 214]|. Payudara (Mamma) Sepasang payudara (Mammae) terletak di Thorax wanita-lebih tepatnya: struktur ini terletak di atas M. pectoralis major, suatu otot gelang bahu. Komponen utama payudara adalah jaringan lemak subkutis dan hanya sebagian kecil yang berupa jaringan kelenjar (Glandulae mammariae). Masing-masing kelenjar mamaria terdiri dari 10 sampai 20 kelenjar tunggal (Lobi) dan masing-masing kelenjar mengirim sendiri duktus eferennya ke Papilla mammaria. Hanya sewaktu menyusui (masa laktasi)-atau jika terdapat suatu tumor ganas payudara-jaringan kelenjar berproliferasi, yang seharusnya berfungsi hanya untuk menghasilkan susu. Pria juga memiliki kelenjar mamaria rudimenter yang kecil. Pria juga dapat mengalami penumpukan jaringan lemak di daerah dada di atas M. pectoralis (ginekomastia).
:.:_:dldaerahdindingThorax(mis.PectuSeXcaVatUm :':: :orongJ, Pectus carinatum [dada merpati atau dada I 12.......'Sertadeformitasdananomalikongenitalpayudara _:3-nastia,aplasia,atelia,politelia,polimaStia,hipertrofi -:-:' r oapat terjadi. :=_^sasidadapria(ginekomastia}dapatmemilikiberagam S:enosislSthmusaoItaemenyebabkanterbentuknyasirkulasi : -'.zs tbvpass) arteri yang melibatkan arteri-arteri dinding l . =-.': oadan {Aa. Thoracica interna, epigastricae superior dan -'.-:' Hal ini menyebabkan bertambahnya diameter arteri i ::- \?<uatan denyut yang menyebabkan erosi di aspek kaudal ::S:3:yangterletakdekatdenganarteri-arteriinterkostalis .=-; ae ebar tersebut. i{etniamerupakansuatupenyakityangseringdiregiodinding :: r:-en ventral. Di titik lemah dinding abdomen ventral {kanal : ':". dapat terbentuk kantong hernia di mana visera . .: r:-en dapat menonjol dan terperangkap (isi hernia). Pria : : :s3rya mengalami hernia inguinalis kongenital atau didapat. ,, , : -,.:'rksr atau penyumbatan Vena cava bagian atas atau : :.''.:.menyebabkanterbentuknyaanastomosiskavokaval -: : -li vena-vena superfisial dan profunda dinding abdomen ) :::.:aipembesaranVena-Venaepifasiayangmudahterlihat. :*-, npangan posisi testis dari skrotum dapat terjadi pada l . ==-s maldesensus testis. . !':i=.=!-::_-! e:: a- <ulit disisihkan, terlihat Mm. trapezius dan latissimus dorsi i':: =ascia thoracolumbalis. M. trapezius dipisahkan di origonya; | :: ssimus dorsi dipisahkan daiam pola seperti busur dekat r-;.- origonya. Setelah pembuluh darah dan saraf otot disisihkan, l- =. ator scapulae dan rhomboidei terlihat dan Trigonum lumbale :'::-r- diidentifikasi. Setelah origo M. latissimus dorsi diangkat, i- -:: struktur yang melewati celah aksila. Mm.serrati posteriores ;: -:. setelah Mm. rhomboidei diangkat di origonya. Kemudian, 3< ,i:1 pemotongan M. erector spinae dan muncul regio leher ..- internal). Setelah selesai, Mammae di sisi ventral tubuh : ::: -g dan diangkat, jalur-jalur epif asia ditelusuri ke paha dan :-::- atas, dan diseksi aksila serta fossa MOHRENHEIM di- ,-::s<an. Setelah M. pectoralis major diangkat, Claviculae di- ? --'ian dari sendinya, otot-otot abdomen dibuka, Canalis inguie s ran struktur Funiculus spermaticus terlihat, Vagina musculi ::: :cdominis dan skrotum dibuka dan Fasciae testicularis di- :' ^::kan. Pada wanita, Canalis inguinalis diidentifikasi bersama :-;-- Lig, tereS uteri. ) H i' ,- < 1==3' UJIAN I : -.-'na i'eirebralis: Perkembangan dan komponen-kompcnen i- :' : r Vertebra prcminens. struktur vertetrra . Os $acrum I . ,cccygis . kr:neksi vertebra . Otot-iltot autckton pung- -- -- . s3raf dan pernbuluh darah: lokasi ganglian spinal dan saraf : -: 'agio persarafan {inervasi} Rr. Dorsales, hl. occipitalis major, . :-.:craiis, dan Plexus venosi vertebrales r anatomi permukaan ::- : :r tulang yang dapat diraba e rornboid MICHAELIS . susunan r: .:^- aoisan di leh*r * Trigonum subcccipitale . dasar morfologis L-JS :.nbal dan anestesia epidural r perkernbangan dasar pada F --:r c Anqulus sterni. Linea medioclavicularis r Linea axillaris -:=':'dan posterior . Linea scapularis r vena kulit dan drainase -'- . <omponen cian koneksi rangka r Thorax . Mm. interc::: :s . Diaphragma 3 saraf dan pembuluh darah antariga. A. ':':::a lnterna r rute sirkulasi kolateral akibat stenosis : -: : . V\,', Thcracicae internae r Vv. Thoracoepigastricae .-:::ci:rosis kavokaval . lVlamrna r perkembangan dasar pada -: -Js I Otot-oiot abdamen r saraf dan pemtluluh darah *=---.-tai r N. subcostalis. Plexus lumbalis r Nn. lliohypogas- -:. s iioingr!naiis, dan genitofemoralis r Vasa epigasrrica I . -: :s inguinalis r s196r"1 genitalia eksterna. v r'-.€ ^ {, e 41
Badan Anatomi permukaan :* #*il*:*'**:tt;*n -. **-*k* ** F,+=*!it*Br-: **b Lit*r :" Pungg*=g Vertebra prominens Acromion Spina scapulae Scapula, Angulus inferior M. erector spinae Spina iliaca posterior superior Vertebra lumbalis V Proc. spinosus Gambar 2.1 Punggung, Dorsum, relief permukaan punggung Kontur punggung memperlihatkan patokan-patokan yang dapat digunakan untuk menentukan berbagai area Columna vertebralis, otot-otot, perkiraan posisi ujung Medulla spinalis, dan posisi organ M. trapezius M. deltoideus l\,4. trapezius l\,4. teres major l\4. latissimus dorsi Crista iliaca l\,4. gluteus maximus (mis. ginjal). Tonjolan tulang yang menjadi patokan adalah Proc. spinosus vertebrae cervicalis Vll {Vertebra prominens), Acromion, Spina scapulae, Angulus inferior scapulae, dan Proc. Spinosus vertebrae lumbalis V. Regio ceruicalis posterior Regio scapularis Reqio deltoidea Regio vertebralis Regio infrascapularis Regio lumbalis Regio sacralis Regio glutealis Gambar 2.2 Regio dan garis orientasi punggung Regio punggung dan leher memiliki regio-regio topografis tersendiri: Regio cervicalis posterior (Regio nuchalis). Regiones vertebralis, scapularis, inf rascapularis, deltoidea, lumbalis, sacralis, dan gluLinea mediana posterior Linea paravertebralis Linea scapularis ' Linea axillaris posterior tealis. Garis-garis orientasi yang penting di punggung antara lain adalah Linea mediana posterior, paravertebralis, scapularis, dan axillaris posterior. 42
Per--:-,i,,;i^ ciarEh dan sarai * Top*-qr"af i. purrggurrg -* Payudara * Ti:pografi, abrd*nr*n einrr dinding Articulatio sternoclavicularis Arcus costalis Spina iliaca anterior superior I I IGmUar 2.3 Relief permukaan dinding dada frita muda. iDatokan-patokan membantu dalam orientasi *inding Thr:rax dan afid*men lncisura jugularis Clavicula, Corpus Angulus sterni Angulus intrasiernalis Anulus umbilicalis dan abdomen seotang di sisi ventral badan, mis. lengkung iga (Arcus costalis), Anulus iliaca anterior superior. Juga diperlihatkan lainnya. umbilicalis, dan Spina tanda-tanda patokan M. pectoralis major M. serratus anterior M. obliquus externus abdominis Spina iliaca anterior superior M. deltoideus Linea alba M. rectus abdominis M. rectus abdominis, lntersmtio tendinea Gambar 2.4 Reliel permukaan dinding dada dan abdomen pria muda. Tanda-tanda patokan di sisi ventral badan. seorang
Badan ii==",-t:;!it {:+i=-,:|-:'++,: -'Perkembangan --,'?..=.;':i}Zr,;::o ?}+.2:,,=iz.,t==- -=. i):t';7 '* a- -aa a. .-- '. .: ;-a .a:-.5'. F,i Minggu Ke-4 Miotom Dermatom Tabung usus Gambar 2.5 Perkembangan dinding-dinding badan: organisasi somit pada minggu ke-4 l21l Semua elemen sistem otot dan penunjang badan ventral dan dorsal semata-mata berasal dari lapisan germinativum tengah (Mesoderm). Mesoderm memadat di kedua sisi Chorda dorsalis dan tabung saraf (neural tubel untuk membentuk somit dan mesoderm lateral yang tidak bersegmen. Pada minggu ke-4, bagian ventromedial tiap somit Minggu ke-s Miotom Dermatom Gambar 2.6a sampai c Perkembangan dinding-dinding badan: diferensiasi epimer dan hipomer dari miotom. [21] Otot rangka (lurik) badan berasal dari dermato-miotom di bagian lateral somit dan mulai berdiferensiasi pada minggu ke-4. Selama minggu ke-5, kelompok sel-sel mesenkim ventral yang lebih besar, hipomer, memisahkan diri dari populasi sel dorsal yang lebih kecil, epimer. Hipomer adalah asal mula Mm. scaleni, otot leher pravertebra, Mm. infrahyoidei, Mm. intercostales, subcostales, transversus thoracis, otot abdomen oblik, Mm. rectus abdominis, Tidak adanya otot tertentu sering tidak memiliki relevansi klinis. Gangguan gerakan dengan derajat keparahan yang bervariasi berkaitan dengan ketiadaan uni- atau bilateral M. pectoralis atau Mm. trapezius dan serratus anterior. Sklerotom Tabung saraf Chorda dorsalis Aofta Somii berdiferensiasi menjadi sklerotom. Sel-sel sklerotom yang bermigrasi di kedua sisi tabung saraf dan notokord (Chorda dorsalis) bertemu untuk membentuk vertebra primitif . Turunan dari bagian lateral tiap somit adalah miotom dan dermatom yang masing-masing menghasilkan sel-sel untuk membentuk otot dan kulit. Minggu ke-7 Epimer Tabung neural Chorda dorsalis Hipomer N, spinalis, R. dorsalis 4j} @ lvlinggu ke-4 :::;a { Otot-otot autokton punggung N. spinalis, R. ventralis I =""4=^*:*" h .:.="9 quadratus lumborum, otot dasar panggul, serta otot sfingter anus dan uretra. Otot autokton punggung (M. erector spinae) berasal dari epimer. Di regio dinding abdomen, hipomer berdiferensiasi menjadi Mm. rectus abdominis dan otot oblik pada minggu ke-7; epimer membentuk sebagian otot punggung autokton. Epimer dan hipomer menerima inervasi yang berbeda: Rr. ventrales dan Rr. dorsales saraf spinal masing-masing untuk hipomer dan epimer. Prune-belly syndrome, yang sangat jarang dijumpai, adalah ; ketiadaan total otot-otot abdomen dan organ-organ teraba melalui , seluruh permukaan kulit. Defek otot yang lebih besar di dinding ; abdomen berkaitan dengan pembentukan hernia. L1
l.l-' !:: :. ?.- i:: i i -; !-. : !.,12 = ". -:; a=i - : lMinggu ke-6 !-- _,.-.i I ,.-'..] i r,.---l ffi f- - --- -r'""' zGambar 2.7 Pembentukan dinding badan: Nuclei pulposi sebagai sisa Chorda dorsalis pada Columna vertebralis orang dewasa. [211 Dari awal minggu ke-4 perkembangan, sel-sel yang bermigrasi dari sklerotom tersusun mengelilingi tabung saraf. Sebagian sel-sel itu mengelilingi Chorda dorsalis dan berdiferensiasi menjadi Corpus vertebrae. Chorda mengalami regresi menjadi Nucleus pulposus yang kecil dan seperti gel di tengah Disci intervertebrales. Tabung saraf Chorda dorsalis Sklerotom kranial lv4iotom Sklerotom kaudal Pembuluh darah intersegmental N. spinalis Minggu ke-10 Nucleus pulposus Corpus vertebrae Anulus fibrosus Pembuluh darah intersegmental N. spinalis Gambar 2"9a dan b Pembentukan Corpora vertebrarum dari dua sklerotom yang berdekatan. l21l Sklerotom terbagi menjadi bagian kranial dan kaudal. Setiap miotom berhubungan dengan sebuah sklerotom dan menerima persarafan oleh satu saraf spinal. Di antara sklerotom dan miotom berjalan pembruluh darah antarsegmen (minggu ke-6, a). Masing-masing vertebra terbentuk melalui penyatuan satu sklerotom bagian kaudal dengan bagian kranial sklerotom berikutnya. Setiap saraf spinal yang berhubungan dengan satu miotom terselip sewaktu fusi sklerotom bagian kaudal dan kranial dan keluar melalui Foramen intervertebrale. Disci intervertebrales terbentuk diantara vertebra primordial (b). Otot-otot yang berasal dari satu miotom (mis. M. rotator brevis, -+ Gambar 2.-18) dapal menggerakkan dua vertebra berdekatan ke arah yang berlawanan. Unit fungsional semua struktur yang ikut serta dalam pergerakan dua vertebra yang berdekatan disebut segmen gerakan (motion segment) . suatu blok vertebra. Kegagalan fusi pita sternal lateral sering : menyebabkan terbentuknya suatu celah di Corpus sterni atau : Proc. Xiphoideus. Secara klinis, celah atau lubang tersebut tidak signifikan. lga asesori sering dijumpai di regio leher dan lumbalis l (igaservikalisdanlumbalis)'DiRegiolumbalis,igaasesoribiasanya tidak memiliki makna klinis, namun di daerah leher, iga ini dapatmenyebabkanpenekananPleXUSbrachialisataUA.SUbc|aVia ( > hai. 47 dan hal. 54). Nucleus pulposus , I Anulus t'brosus lt. 1- I a N. spinalis, R. ventralis Vena lntersegmental Arieri lntersegmental N. spinalis, R. ventralis Stemal barc menyatu dari kranial ke kaudal Stemal bars Clavicula a, t"t/ t-/ - -z+ LOStdE t::,-/ , t?,:1>--/ -S -'-- b Gambar 2.8a dan b Pembentukan Costae dan Sternurn. l21l Sternum terbentuk dari dua sternal bars yang berasal dari pemadatan paralel sel-sel mesenkim di dinding tubuh ventrolateral (a) dan menyatu secara kranio-kaudal di bidang median (b). Osifikasi Proc. xiphoideus terjadi belakangan pada usia 2O-25 tahun. Costae pada Columna vertebralis daerah Thorax dan Procc. costales vertebra servikal ban lumbal berasal dari sel-sel sklerotom yang telah bermigrasi ke ventrolateral. Di sebelah dorsal sel-sel ini terhubung dengan vertebra dan di ventral berhubungan dengan Sternum (costae l-Vll; iga sejati, Costae verae). Costae Vlll-X menyatu di ventral dan berhubungan dengan sternum di suatu lengkung melalui tulang rawan masing-masing (iga palsu. Costae spuriae). Costae Xl-Xll secara eksklusif terhubung ke vertebra dan berujung bebas (Costae fluctuantes) di dinding dada ventral" Spina bifida adalah suatu celah Columna vertebralis bagian dorsal akibat gagalnya fusi satu atau lebih Arcus vertebrae" Kombinasi penutupan tidak sempurna Arcus vertebrae dan terpajannya lipatan-lipatan saraf di bawahnya disebut rachischisis. ferjadi paralisis jika Medulla spinalis juga terkena. Jika celah di Arcus vertebrae ditutupi oleh kulit maka keadaan ini disebut spina bifida okulta. Vertebra berbentuk baji (hemivertebra) terjadi jika suatu vertebra tidak memiliki satu dari dua pusat osifikasi. Fusi dua vertebra dan degenerasi Discus intervertebralis menciptakan
Badan Ar;atnri-ii ;l*r*ti;ir**n trerk**:i:,i:i'l{Jair .''' Rangka -' i};:-r!}{:irl ;:;s:, l".1iirj. -lr*f, rgrQ ;a 'p- ^s**", ftani;k* i:*ii*r-r Os sacrum Cingulum pelvicum Os coxae Os coccygis Symphysis pubica Os coccygis 2.19 Gambar 2.10 dan Gambar 2.11 Tulang dan tulang rawan rangka badan; dilihat dari ventral (- Gambar 2.10) dan dilihat dari dorsal (* Gambar 2.11). Diperlihatkan tulang-tulang Thorax (Ossa thoracis) dan tulang-tulang Columna vertebralis serta gelang panggul (Cingulum pelvicum). Meskipun semua Costae bersendi dengan Columna vertebralis namun hanya tujuh Costae pertama yang secara langsung berhubungan dengan Sternum melalui tonjolan tulang rawan masingmasing (Cartilago costalis). Ketujuh iga tersebut dinamai iga se.jati (Costae verae). Lima pasang iga sisanya adalah iga palsu (Costae Aflas .i l. r;1 , {rfi!. ,+"1 AX|S ,-_ r, ,: a (qrtici'i Costae verae (Costae l-Vll) Costae spuriae (Costae Vlll-Xll) Articulatio lumbosacralis Os coxae Articulatio sacrococcygea spuriae); Costae Xl-Xll tidak berhubungan dengan lengkung kartilago {Costae fluctuantes). Koneksi berbentuk romboid yang dibentuk oleh Proc. Spinosus vertebrae lumbalis lV dengan Spinae illacae posteriores superiores dan bagian superior Crena ani di sisi belakang wanita dinamai romboid MICHAELIS. Pada pria, dinamai segitiga sakrum (hubungan antara Spinae iliacae posteriores superiores dan bagian superior Crena ani). *lstilah klinis: sudut LUDWIG (LUDOVICUS) * *Costae fluctuantes (Costae Xl-Xll) Apertura thoracis superior Angulus sterni* Articulationes sternocostales -rs{'&g Sternum Cartilago costalis Arcus costalis Spatium intercostale Apertura thoracis inferior Articulationes :a stochondrales Cartilago costalis Articulationes -ierchondrales Promontorium Articulatio sacroiliaca Os sacrum ".,:i *tfi{} E4 !il:ls Dalam pemeriksaan fisik Angulus sterni (Sudut LUDWIG) yang mudah diraba merupakan patokan penting untuk orientasi di Thorax. Bagian ini terletak setinggi iga kedua. Segitiga sakrum pada pria dan romboid MICHAELIS (lumbo-romboid) pada wanita memberi informasi tentang bentuk panggul. Rakiris (defisiensi vitamin D), misalnya, dapat menyebabkan deformitas panggul disertai memanjangnya sumbu transversal, sedangkan pada skoliosis panggul menjadi asimetrik. Proc. spinosus vertebrae lumbalis lV terletak setinggi Crista iliaca. Struktur ini berfungsi sebagai titik referensi untuk pungsi lumbal dan untuk anestesia intratekal atau epidura {peridural). 2.11
.: 'a]. r ! ra l :,4 a+: 4. i ;;;,*'i ".;'* i'I r,= *t = * ; eaput costae Collum costae Tuberculum musculi scalenl anterioris Sulcus venae subclaviae Collum costae, Crista colli costae arleriae subclaviae Corpus costae Tuberculum costae Angulus costae Caput costae Collum costae Facies adicularis tuberculi costae Tuberculum costae Gambar 2.12 lga-iga, Costae; Costae l-lll: dilihat dari kranial; Costa Vlll: dilihat dari kaudal, Costae lll-X memiliki bentuk khas. Bagian kepala iga (Caput costae) berbentuk baji dan memiliki dua permukaan sendi (Facies articulares capitis costae). Tuberculum costae memiliki satu permukaan (Facies articularis tuberculi costae). V., A., dan N. intercostalis berjalan dekat dengan Sulcus costae. Suatu invaginasi di ujung ventral Corpus costae memfasilitasi kontak dengan tulang rawan iga. Crista cap tis costae Collum costae Crista colli cosiae Facies adicularis tuberculi costae Tuberculum costae Sulcus costae Costae I, ll, Xl, dan Xll menyimpang dari struktur tipikal. lga I buntung, lebar, dan memperlihatkan lengkung yang paling kuat; bagian kepala (Caput) memiliki hanya satu permukaan sendi. lga ll memperlilratkan hanya alur Sulcus costae dan Tuberositas musculi serrati anterioris yang menandai origo M. serratus anterior. Bagian kepala (Caput) costae Xl-Xll hanya memiliki satu permukaan sendi. Kedua Costae ini tidak terhubung dengan Arcus costalis, memperlihatkan ujung ventral yang meruncing, dan tidak memiliki Tuberculum costae. **?=*€+st *i!*r:!+ Anomali iga sering terjadi: " lga servikal dijumpai pada sekitar 1 % populasi. Primordial iga di vertebra servikalis ke-7 (C7) membesar. Selain pembesaran terisolasi Proc. transversus, uni- atau bilateral, mungkin terdapat iga-iga tambahan yang dapat berhubungan dengan Sternum. Penekanan iga servikal pada bagian bawah Plexus brachialis dapat menyebabkan gangguan sensorik dan defisit motorik di regio inervasi N. ulnaris. .' iga berkepala dua berasal dari dua iga berbeda yang menyatu. ,' Pada iga bifida, bagian anterior iga terbagi menjadi dua bagian. , Melebarnya arteri-arteri antar-iga {Aa. lntercostaies) di Sulcus costae sewaktu stenosis lsthmus aortae menyebabkan atrofi tekanan pada tulang iga yang disebut erosi (usures) iga.
Badan A*at*!"rli perr::*k*** * F*ri<*c--''t!:*+g;:- * Rangka -" ?*r",:::ir=*i': *" *z+'r * Columna v*rt*L:r*!i* Vertebrae cervicales t-vil Vertebrae thoracicae t-xil Vertebrae lumbales t-v Os sacrum Os coccygis Gambar 2.13 dan Gambar 2.14 Columna vertebralis; dilihat dari ventral (+ Gambar 2.13) dan dorsal {- Gambar 2.14) Columna vertebralis membentuk sekitar 4O% tinggi manusia, yang seperempat di antaranya disebabkan oleh Disci intervertebrales. Columna vertebralis terdiri dari 24 vertebra prasakral (tujuh Vertebrae cervicales, dua belas Vertebrae thoracicae, lima Vertebrae lumbales) serta dua bagian sinostotik, Os sacrum dan Os coccygis. Vertebrae thoracicae berhubungan dengan dua belas pasang Costae, sakrum bersendi dengan Ossa coxae. Pada posisi tegak, gaya fisik meningkat dari kranial ke kaudal sepanjang Columna vertebralis. - eatatar: Klinis Sakralisasi merujuk kepada fusi: Vertebrae lumbalis V dengan Os sacrum (hanya 23 vertebra prasakral yang tersisa). Jika vertebra sakral teratas tetap terpisah dari Os sacrum lainnya (25 vertebra prasakral), maka keadaannya disebut lumbalisasi. Pemeriksaan radiograf memperlihatkan enam vertebra lumbal dan empat vertebra sakral. Jika sakrum tetap memiliki lima vertebra, maka terdapat sakralisasi tambahan vertebra koksigis pertama. Penyatuan vertebra servikal pertama (Atlas) dengan tengkorak disebut asimilasi atlas. €1 s dlF *fl, ;iS ' \ ;". .-"i3' !-.-a '(E
1=;,:lz=*,.:it:?t *:+:;:r::-i=;: =e:.:;i "'- 'j-4;:;;:;:'-:: .:'i'rj',:,. ,., :.':,:+,;,:+ KifosisThorax - Disci interuedebrales Promontorium Kifosis Sakral .................................* Gambar 2.15 Columna vertebralis; dilihat dari sisi kiri. Jika dilihat dalam bidang sagital, Columna vertebralis memiliki lengkung khas: = Lordosis servikal (lengkung konveks ventral) = Kifosis Thorax (lengkung konveks dorsal) " Lordosis lumbal (lengkung konveks ventral) = Kifosis sakral (lengkung konveks dorsal) Lordosis dan kif osis masing-masing adalah istilah medis untuk lengkung-lengkung konveks Columna vertebralis ke arah ventral dan dorsal. Dalam beberapa bulan pertama kehidupan setelah lahir, semua lj t : :t.; -, : t;: =: v *l''-"=! : =ii= Lordosis Servikal ll- Vertebra prominens Foramina intervertebralia Lordosis lumbal bagian Columna vertebralis memperlihatkan lengkung konveks dorsal. Lordosis servikal berkembang seiring dengan kemampuan untuk duduk tegak dan lordosis lumbal terbentuk ketika belajar berjalan. Lengkung-lengkung vertebra hanya terbentuk setelah pelvis condong ke depan akibat kemampuan berjalan dengan dua kaki yang dipelajari pada usia 1-2 tahun. Sebelum adanya kemampuan berjalan tegak ini, semua bagian Columna vertebralis memperlihatkan lengkung konveks dorsa l. Lengkungan tulang belakang yang berlebihan dalam bidang frontal (skoliosis) selalu patologik. Deformitas pertumbuhan tulang belakang ini menyebabkan lengkungan lateral yang menetap, torsi, dan rotasi Columna vertebralis yang tidak dapat diluruskan secara fisiologis oleh pemakaian otot-otot. Skoliosis adalah salah satu penyakit ortopedik paling tua yang diketahui. Meskipun telah dilakukan berbagai upaya ilmiah dan klinis, namun sampai saat ini, masalah yang berkaitan dengan skoliosis belum teratasi secara memuaskan. Karena panjang tungkai yang tidak sama, maka sebagian besar populasi mengalami skoliosis ringan.