The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Mulakhkhas Fiqihi Jilid 2 by Syaikh Shalih bin Fauzan

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by waroengdakwah, 2022-08-14 23:27:55

Mulakhkhas Fiqihi Jilid 2

Mulakhkhas Fiqihi Jilid 2 by Syaikh Shalih bin Fauzan

investasi. Jadi, wali anak yatim diperbolehkan berdagang dengan
harta anak yatim atau menyerahkannya kepada orang lain untuk

diperdagangkan secar a mudharabab.tt Sebab'Aisyah ki}, pernah

memperdagangkan harta Muhammad bin Abi Bakr $5 .r"umar
$-' j"g pernah mengatakan:

.u:,3t\ii<'E i,;iuXr )V\a-\A\

"sungguh-sungguhlah dalam memutarkan harta anak-anak ya-
tim, agar harta mereka tidak terkikis oleh zakat."2"

\7ali anak yatim hendaknya menafkahi anak tersebut dari harta
yang dipegangnya, dengan cara yang baik.

Syaikhul Islam Ib annuaTkayimatiyimya, hmie)nbye^n"annggktaankahna: t"i Disunnahkan
mereka, dan
untuk memuliakan

menolak kehinaan dari mereka. Sebab membesarkan hati mereka

adalah hal yang paling besar maslahatnya bagi mereka."2l

lVali anak yatim boleh membelikan wdblryab (hewan kurban)

untuknya dengan uang anak yatim, bila anak yatim berkecukupan.

Sebab hari raya kurban adalah hari untuk bergembira dan senang-

senang. Ia juga boleh menyekolahkannya dengan biayayangdiambil
dariharta anak yatim tersebut. Sebab hal ini termasuk yang men-

datangkan maslahat baginya.

[Yaitu kerjasama antara pemilik modal dan pengusaha dengan nisbah bagi

hasil tertentu].r"n''

19 D iriwayatkan oleh' Ab dur r azzaq da\am M us h annaf-ny a (no. 69 8 3) [III: 66].

[Muhammad bin Abi Bakr adalah saudara laki-laki'Aisyah yang lahir ketika
haji uada' dan ditinggal wafat ayahnya saat berumur dua tahun, jadi 'Aisyah

bertindak sebagai walinya].ru''

Diriwayatkan oleh ad-Daruquthni (no. 195a) [II:95] kitab az-Zahah, al-Baihaqi

(no. fi a0) [IV: 1 79] kitab az-Zabah, bab 24, dan'Abdurr azzaq (no. 6990) [IV:

681 kitab az-Zakab, dari jalur Sa'id bin Musayyib. [Dan dishahihkan oleh al-

Baihaqi].r-' Ada pula hadits yang hampir sama, yang diriwayatkan oleh at-

Tirmidzi (no. 6a0) [III:32] dan al-Baihaqi (no. 7339)lIY:1791, dari'Amru

bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya secara marfu'. Syaikh al-Albani me-

ngomentari hadits ini sebagai hadim yang dha'if dalam kitab beliau lrua al-

2t Gbalil(no.788). ar-Raudhul Murbi'$/19a).
Lihat Haasyiyab

t62 Kitab Jual Beli

Jika wali yatim tersebut orang yang fakir, maka dia boleh meng-
ambil sebagian dari harta yatim itu dengan carayangbaik, sebagai
upah atas pelayanan yang diberikannya.

Atlah S8 berfirman:

{@ ',}ifr\"ST6srs;s }

"... Barangsiapayangfakir, maka i.a boleh memakan (harta tersebut)
dengan carayangbaik..." (QS. An-Nisaa': 6)

Artinya, siapa yang membutuhkan nafkah karena dia mengurusi
dan menjagahartaanak yatim, maka dia boleh mengambil sebagian
harta tersebut dengan carayangbaik (ma'rufl.

Al-Imam Ibnu Katsir 41)H mengatakan: "Ayat ini turun ber-
kenaan dengan wali anak yatim yang mengurusi dan merawat anak
tersebut. Bila ia orang yang membutuhkan (miskin), maka ia boleh
mengambil sebagian harta si yatim. Dalam sebuah riwayat,'Aisyah

@, mengatakan bahwa ayat berikut diturunkan berkaitan dengan

wali anak yatim:

bt)Z oz 'og t;'t'J'";11:, W$ 6t F

Jrri\t

{@ 'eifr\

'... Siapa yang rnerd.sa kaya, maka bendahlab ia menjaubi ftarta

tersebut); dan siapayangfakir, maha silakan memakannya dengan

cd.ra ydng baik...' (QS. An-Nisaa': 6)

Yakni sesuai dengan perawatan yang dilakukannya atas anak
yatim."

Para fuqaha' mengatakan: "Dalam mengambil hana anak yatim,
seorang wali hendaknya memilih yang paling sedikit dari dua hal:
upah untuk orang sepertinya atau nafkah untuk kebutuhannya. Di-

riwayatkan bahwa seseorang pernah datang kepada Nabi ffi, sembari

mengatakan: 'Di rumahku ada seorang yatim yang memiliki hana

sedangkan aku tidak punya harta; bolehkah saya memikan sebagian

Bab Tentang Huhum Hajr (Larangan Bertansahsq 163

hartanya?'Maka Nabi H, menjawab: 'Makanlah dari harta anak

yatim yang ada padamu dengan tidak berlebihan."'22

Namun, untuk hal-hal yang melebihi batas dari yang diizinkan
Allah, maka ia tidak boleh mengambilnya. Sebab Allah mengancam
pelakunya dengan ancaman yang amat keras.

Allah,98 berfirman:

g }@{ i;s.. it 6t456'?';\iittt

"... Janganlab halian memakannya secd.rd. berlebihan harena ingin
menggunahannyd. sebelum mereka dewtasa.*" (QS. An-Nisaa': 5)

Dan Dia berfirman:

{@ 6v;';'( fr;#:Adl{6r&u15 }

"... Janganlab kalian mengambil barta mereka (dan memaswkkan-
nya) kepada harta kalian, h,arena itu merupakan dosa besar." (QS.
An-Nisaa':2)

.Artinya, perbuatanmu yang mencampur harta mereka dengan
hartamu lalu memakannyaitu merupakan dosa dan kesalahan besar,
maka jauhilah itu.

Allah juga berfirman:

c iirku 6yu,a 6iri 3(A',o jL\. t$i 5 I F

(@W5i.;;i\e6efi

"Sesunggubnya mereka yang rnernakan barta anak, yatim secara
zbalim, mereka tidah lain banya memasuhkan api ke dalam perut

22 Hadits hasan shahih. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (no.67a7) [II:186],
Abu Dawud (no.2872) [III:197] kitab al-lVashaya,bab 8, an-Nasa-i (no. 3670)
[III:567] kitab al-lVasbay4 bab 11, dan Ibnu Majah (no. 2718)llll:3l3)kitab al-
lYasbaya, bab 9, dari 'Amru bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya. Syaikh
al-Albani menilai hadits ini sebagi hadits hasan sbahib dalam Inaa al-Ghalil (oo.

t456).

t64 Kitab Jual Beli

rnereka, dan mereka akan masuk ke Nerahayangmenyala-nyala
apinya." (QS. An-Nisaa': 10)

Al-Imam Ibnu Katsir '+itig mengatakan: "Artinya, jika mereka

memakan harta anak-anak yatim tanpa sebab yang benar, berarti me-
reka memakan api yang akan berkobar dalam perut mereka pada
hari Kiamat."23

Dalam Shabihaindiriwayatkan dari Abu Hurairah $F', bahwa

Rasulullah H- bersabda:

trf YS ,*tt iir['J.: r!/ta.,.p\ .pl \*t\

'ati?C\ *bt PS,y:)\y+! 3r!l :j\i

i; .'$!i,tr#l )Y Eis,u.;rl S\s'6.--l!'il

.g!fli 9)l.;tIJ \ e\i.4At o xt,allt

'Jauhilah tujuh hal yang membinasakan!" Beliau ditanya: "APr-
kah itu ya Rasulullah?" Kata beliau: "Menyekutukan Allah, sihir,
membunuh orang yang haram dibunuh tanPa alasan yang benar,
memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan
perang, dan menuduh wanita mukminah melakukan zina padahal
hal itu tak pernah terlintas di benaknya."2a

Perlu diingat bahwa Allah,€ memerintahkan untuk menyeiah-

kan harta anak yatim kepada pemiliknya, jika ia sudah tidak menjadi
yatim lagi2s dan dianggap mampu menggunakan hartanya dengan
baik, secara utuh dan lengkap.

Allah ,$8 berfirman:

( AEA;tj"6b

2r Lihat Tafsir lbnu Ka*ir S/595).

2a Telah ditabhrijsebelumnya.
2s [Artinya mereka telah baligh. Ssebab definisi yatim adalah orang yang diting-

gal mati ayahnya sebelum baligh].e*''

Bab Tentang: Hukum Hajr (Larangan Bertransabs;1 L65

"Berikanlab barta anak-anahyatim itu kepada mereha..." (QS. An-
Nisaa':2)

Allah juga berfirman:

pr }{ @ W fiyr$":6 (d "e
o,rr...

"... Jika mereka telah cukup umur untuk kauin,lalu menurutmu

mereka telab cerdas (pandai memelihara barta), maka serabkanlah

kepada mereka barta mereka..." (QS. An-Nisaa': 5)

Dan Allah,UE berfirman:

(,;;$&W'b.'f,"(t"45dW;fig)

(@

*... Bila kalian hendak mmyerahkan harta tersebut kepada mereka,
maka angkatlah saksi bagi mereha dalam penyerahan tersebut, dan

cukuphh Alkb sebagaiyangMaha MmgaluAsi." (QS. An-Nisaa': 6)

Artinya, cukuplah Allah yang mengawasi dan menjadi saksi atas
para wali selama mereka mengurus harta tersebut hingga menyerah-
kannya kepada anak yatim; apakah harta tersebut diserahkan secara
utuh dan sempurna ataukah kurang dan tidak utuh?

(r-::.-\)

166 Kitab Jual Beli

KITABJUAL BELI

Bab Tenta

Sbulb

J,fh-s-KX t

BAB TENTANG:

HUKUM SHULH (PERDAMAIAN)

SHULH secara bahasa artinya menghentikan sengketa. Adapun

secara syar'i berarti perjanjian dalam rangka mendamaikan dua pihak

yang bersengketa.

Shulb termasuk perjanjian yang paling besar faedahnya. Oleh
karenanya, dibolehkan untuk sedikit berbohong dalam rangka shulb
jika memang diperlukan. Dalil dianjurkannyashulb adalah al-Qur-an,
as-Sunnah, dan ijma':

Allah,€ berfirman: ( @'+'&u F

"... Perdamaian itu lebib baik.,." (QS. An-Nisaa': 128)

Allah juga berfirman:

WW(,, Wi ;wr3:ii G e(# ub y

"Dan jiha ada d.ua golongd.n d.ari kaum mukminin rr*rr"#,YOf"

damaikanlah k eduany a... " (QS. Al-Hujuraat: 9)

Sampai kepada firman Allah:

;i\w(,*-fi\ dA -;ifiL\-r)5Y ) \,LL!6 y

{@

"... Maka damaikanlab kedwanya dengan adil dan berlaku adillab.
Sesunggubnya Allab menyuk ai ora.ng-ordngyang berlaku adil." (QS.
Al-Hujuraat:9)

Bab Tentang: Hukum Sbulh (Perdamaian) t69

Dalam ayat lain Allah,98 berfirman:

,W4A tii t ;1;,# uq,{?&ot{ir** s}
;;"q$( #
{gS4:;,Ffi_

{

"Kebanyakan bisikan mereka ti.dak mengandung kebaihan, kecuali
Bisiknn) orangyangmenyurub untuk bmedekah, atau fubuat ma ruf,
atau mengddakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa ber-
buat demihinn karena mmcari keri.dhaan Allab, maka helah Kami
berihan untuhnya pabala yang besar." (QS. An-Nisaa': 114)

Allah juga berfirman:

}{@ -"F;{ 3t1\i+5u-;i'1fii1

*... Maha bmahwakh kalian kepadn Allah, dan perbaikilah bubungan
kalian..." (QS. Al-Anfaal: 1)

Sedangkan Nabi H, bersabda:

3iYt;yirzr)\lr tf 4arl,tv,-n. ^:J-

.Ylz )\; ?"

"Sbulub itu boleh dilakukan di antara kaum muslimin, kecuali

s h u lh y angmenghal alk an y angh aram at au men gh aramkan yan g
halal."'

Di samping itu, beliau M, j"g mendamaikan orang-orar,gyar.g

bertikai.'

Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (no. 8770)[II:365], at-Tirmidzi (no.
1.352)lIlI:6341kitab al-Ahham,bab 17, dan Ibnu Majah (no.2353) [III:112]
kitab al-Abham,bab 23, dari 'Amru bin 'Auf. Sedangkan Abu Dawud meri-
wayatkannya dari Abu Hurairah (no. 3594) [IV:16] kitab al-Qadba,bab 12.
Hadits ini dishahihkan oleh at-Tirmidzi. Hadits ini juga dishahihkan oleh
Syaikh al-Albani dalam Sbabih al-Jami'(no. 3862).
Seperti ketika beliau mendamaikan anak-anak'Amru bin 'Auf, sebagaimana

va Kitab Jual Beli

r

Shulb yang dibolehkan ialah sbulbyangadil, yang diperintahkan
oleh Allah dan Rasul-Nya, dengan tujuan mencari keridhaan Allah,
I lalu keridhaan kedua pihak yang bersengketa.

Orang yang melakukan shulb (muslih) mestilah orang yang me-
ngetahui akan kronologi kejadiannya. Dia harus tahu apa kewajiban-
nya, serta berusaha untuk adil. Kedudukan seorang muslib lebih mulia
daripada orang yang rajin shalat dan be{puasa sunnah. Akan tetapi jika
shulb yangterjadi tidak bersifat adil, ia akan berbalik menjadi suatu
kezhaliman dan penindasan terhadap hak orang lain. Contohnya se-
perti orang yang mendamaikan antara orang kuat yang zhalim dan
orang lemah yangterzhalimi, dengan memberi jalan kepada orang
zhalim untuk semakin menindas orang lemah dan tidak memberi
jalan orang lemah untuk mengambil haknya dari orang zhalim.

Sbulbhanyadapat dilakukan atas hak-hak manusia yang dimiliki
sebagiannya atas sebagian yang lain, yangdapat digugurkan atau di-
jual. Adapun hak-hak Allah seperti hukuman hadd danzakar,maka
tidak bisa menerima sD ulh. Sebab sbulh dalamhak Allah caranya ialah

dengan menunaikannya secara sempurna.

Sbulb (perdamaian) yang dilakukan di antara manusia ada lima
macam:

1. Perdamaian antara kaum muslimin dengan kafir harbi.
2. Perdamaian antara pihak yang adil dengan pihak yang berlaku

aniaya di antara kaum muslimin.

3. Perdamaian antara suami-isteri jika dikhawatirkan terjadi per-

pecahan antara keduanya.

4. Perdamaian arLttradua orang yang bersengketa atas selain harta.
5. Perdamaian antara dua orang yang bersengketa atas harta, dan

inilah yang kita maksudkan di sini.

Perdamaian semacam ini bisa terbagi menjadi dua:

t. Perdamaian lewat pengakuan.
2. Perdamaian lewat pengingkaran.

yang diriwayatkan oleh d-Bukhari (no. 584) P:2l7)kitab al-Adzan,bab 48,dan
Muslim (no. 42t (949)) tII:3551 kitab al-Sbulh ,bab 2z,dari Sahal bin Sa'ad.

Bab Tentang Hukum Sbulh (Perdanwian) t7t

1. SHULH karena pengakuan

Shulh karena pengakuan ada dua macam:

Pertama, sbulb yangberkaitan dengan hak-hak yang sejenis, dan
kedua, sbulb yargberkaitan dengan hak-hak yang berlainan jenis.
Contoh sbulb yangberkaitan dengan hak-hak yang sejenis ialah bila
seseorang mengakui hutangnya dalam jumlah tertentu, atau mengaku

bahwa ia memegang suatu barang. Kemudian dia berdamai dengan
pemilik piutang dengan melunasi sebagian hutangnya dan sisanya
gugur. Atau dengan syarat memberikan sebagian barangnya dan
sisanya dia ambil.

Shulh semacam ini sah jika tidak disyaratkan dalam pengakuan.

seperti orang yang berhutang mengatakan: Saya akan mengakui

hakmu dengan syarat engkau memberiku sekian." Atau pemilik

hak mengatakan: "Hutangmu akan saya hapus, kalau engkau mem-

beriku sekian" atau "Ini akan menjadi milikmu dengan syarat kau

memberiku sekian." Namun, jika shulh tersebut disyaratkan dengan

cara seperti itu maka tidak sah. Sebab pemilik hak berhak menuntut
seluruh haknya.
l

Syarat lain yang menentukan sahnya shulb jenis ini adalah bahwa
hak tersebut tidak boleh ditahan dari pemiliknya seandainya sbulb
tersebut tidak terjadi. Sebab yang demikian itu berarti memakan
harta orang dengan cara batil yang diharamkan. Lagi pula orang yang
memegang hak memang harus menyerahk autyakepada pemiliknya
tanpa ikatan dan syarat apa pun.

Syarat sah lainnya ialah pemilik hak tersebut haruslah orang yang

boleh memberikan hartanya. Kalau dia tidak termasuk orang yang
boleh memberikan hartanya, maka shulhnya tidak sah. Sepeni jika
dia seorang wali atas harta anak yatim atau orang gila, ia tidak sah
melakukan shulh atas harta mereka. Karena berarti ia memberikan
sesuatu yang tidak dimilikinya.

Alhasil, berdamai atas apa yang menjadi hak seseorang dengan
imbalan dari sejenisnya dibolehkan dengan syarat orang yang me-
megang hak tidak menolak untuk memberikan hak tersebut tanpa
adanya shulh. Disyaratkan pula bahwa pemilik hak tergolong orang
yang boleh memberikan hartanya. Kalau keduanya telah terpenuhi,
barulah shulhbolehdilakukan. Sebab ketika itu shulb menjadi sejenis

172 Kitab Jual Beli

pemberian dan seseorang tidak dilarang untuk menggugurkan se-
bagian haknya, sebagaimana dia juga tidak dilarang untuk menuntut
seluruh haknya. Dalil lainnya ialah bahwa Nabi #,', pernah meminta
kepada orang-oran g yang menghutangi Jabir agar menggugurkan

piutang mereka.3

Bentuk shulhkarena pengakuan yang kedua adalah shulh yang
berkaitan dengan hak-hak yang berlainan jenis. Contohnya seseorang
mengaku menanggung hutang atau barang,lalu ia berdamai dengan
imbalan yang berbeda jenisnya.

Kalau perdamaian itu teriadi antarasuatu mata uang dengan mata
uang jenis lain, berarti ia tergolo ngsharaf (tukar-menukar mata
uang). Maka aturan-atur an sharaf berlaku.

Kalau perdamaian itu terjadi antarasuatu mata uang dengan selain
uang, berarti ia tergolong jual beli. Maka aturan-aturan jual beli
berlaku.

Kalau perdamaianitu terjadi dengan memberikan suatu manfaat
seperti menempati rumah, berarti ia tergolong sewa-menyewa.
Maka aturan sewa-menyewa berlaku.

Kalau perdamaian itu terjadi anrara yang bukan uang dengan
harta jenis lain, berarti ia tergolong jual-beli.

2. SHULH karena pengingkaran.

Gambarannya ialah bila seseorang mengklaim bahwa barang mi-
liknya ada pada orang lain, atau mengklaim bahwa ia punya piutang
pada oranglersebut, lalu orang yang diklaim itu diam karena dia tidak
tahu tentang klaim tersebut, kemudian dia berdamai dengan yang
mengklaim dengan memberikan sejumlah harta baik tunai maupun
tempo. Maka perdamaian semacam ini dibolehkan menurut pendapat
mayoritas ulama.

Dalilnya adalah sabdaNabi #,: "Shulb itu boleh di antara kaum

muslimin, kecuali shulbyangmengharamkan yang halal, atau meng-
halalkan yang haram." Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud
dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi mengatakan hadits ini basan shahih
sedangkan al-Hakim menshahihkannya.o

I HR. Al-Bukhari (no.2127) [IV:435] kitab al'Buyu', bab ke-51 dari Jabir $5 .
a Telah berlalu tabhrijnya pada halaman 170.

Bab Tentang Huhum Sbulb (Perdamaian) 173

$''LJmar jugapernah menulis hadits ini lalu mengirimkannya

#kepada Abu Musa al-Asy'ari .' Artinya, hadits ini layak dijadikan
dalil karena alasan-alasan tersebut.

Faidah sbulh jenis ini bagi orang yang diklaim (dituntut) adalah
ia bisa menebus harga dirinya dari tuntutan dan sumpah. Sedangkan
faidahnya bagi yang mengklaim (menuntut) adalah ia tidak perlu
repot-repot mendatangkan bukti dan menanggung kerugian akibat
penundaan terhadap hak yang diklaimnya.

Sbulh karena pengingkaran dilihat dari sisi penuntutnya hukum-
nya seperti jual beli. Sebab ia meyakini uang hasil shulh tersebut

sebagai imbalan atas harta yang dituntutnya. Dengan demikian, ia ter-
ikat dengan keyakinannyadanorang yang dituntut seakan membeli
barang tersebut darinya. Dengan begitu, aturan jual beli pun berlaku

dari sisi pembeli (orang yang dituntut), sepeni mengembalikan barang
tersebut jika cacat atau mengambil dengan cara syufah jika syufaho
memang masuk dalam masalah ini.

Aturan yang berlaku atas yang dituntut dalam shulh ini adalah
bahwa ia terbebas dari tuntutan. Sebab ia telah membayar uang
untuk menebus sumpah penuntut, menyingkirkan mudharat dari-
nya, menghentikan perselisihan, dan menjaga nama baiknya dari
persengketaan dan permusuhan. Hal ini karena orang-orangyang
berjiwa mulia biasanya tidak menyukai dan merasa berat. Oleh
karenanya mereka memilih untuk membayar uang agar terbebas

dari tuduhan.

Bila ia mendapati barang yang didapatnya dari sbulb rcrsebut me-

miliki cacat,ia tidak berhak mengembalikannya. Selain itu, barang ini
juga tidak bisa diambil dengan cara syufab. Sebab ia tidak meyakini

bahwa barang tersebut adalah imbalan sesuatu.

Jika salah satu pihak yang melakukansbuluh karena pengingkaran
berdusta, misalnya penuntut berdusta dengan menuntut apayangia

yakini bukan miliknya, atau pengelak berdusta dengan mengelak

dari tuduhan atasnya padahal ia tahu bahwa ia memang bersalah dan

Hadits shahih. Diriwayatkan oleh ad-Daruquthni (no. 4425) lIY :1321 kitab
a l -A q db iy a b, b ab 1, dan al-B aih aqi (no. 20 5 37) lX:252) kiab a sy - Sy a h a da t, b ab
6. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam lruta al-Gbalil (no.2619).
Masalah syufab akan dibahas dalam bab tersendiri di kitab ini.

t74 Kitab Jual Beli

r

F

ia berbohong, maka shulhtyabatal bagi pihak yang berdusta secara
t" batin. Karena ia mengetahui kebenararLnyadan bisa menyampaikan-

nya kepada yang pihak berhak namun tidak meyakini kebenaran Per-
buatannya, maka hartayangdiambilnya lewat shulh ini hukumnya
haram. Sebab ia mengambilnya dengan cara zhalim.

Allah,il8 berfirman:

{@ ,Yi&#g'rBG$Y

"Janganlab kalian memakan harta sesama kalian (orangberiman)
dengan cara batil..." (QS. Al-Baqarah: 18S)

Meskipun perdamaian ini di mata orang nampak benar -karena
mereka tidak tahu apa yang tersembunyi-, akan tetapi hakikatnya tidak
akan berubah di sisi Allah yang tak tersembunyi sesuatu Pun dari-Nya,
baik di langit maupun di bumi. Oleh sebab itu, seorang muslim hen-
daknya menghindari perbuatan ielek dan cara licik sepeni ini.

Di antara aturan dalam shulh karena pengingkaran adalah bila
ada orang luar melakukan shulh untuk orang yang dituntutT tanPa
izinnya,maka hal itu sah. Sebab maksud dari orang luar ini adalah

membebaskan orang tersebut dari tuntutan dan menghentikan seng-
keta.,Maka dia ibarat melunasi hutang orang tersebut. Hanya saja
dia tidak berhak meminta kembali uang yang dibayarnyasebab dia
ibarat penyumbang, dan sumbangan tidak bisa ditarik kembali.

Sbulb sah dilakukan untuk hak yang tidak diketahui, baik itu
milik mereka berdua atau salah satunya, jika memang hak tersebut
tidak mungkin diketahui. Contohnya hitung-hitungan yang pernah
terjadi di antara mereka di masa lampau, hingga masing-masing tidak

tahu pasti berapa hak saudaranya.

Dalil dibolehkannya hal ini adalah sabda Nabi ffi kepada dua

orang yang berselisih tentanghartawarisan yang telah dihabiskan

mereka berdua. Beliau ffi bersabda:

.:^+v6AiMS,fil*jS ,\: ii,\

7 [Aninya orang yang tak dikenal ini membayar tuntutan tersebut secara suka'

rela].e"*'

Bab Tentang Hukum Sbulb (Perdamaian) t75

"Berbagilah, dan dekatilah kebenaran semampunya, lalu hendak-
lah salah satu dari kalian menghalalkan temannya."s

Alasan lainnya ialah shulh ini merupakan pengguguran hak.

Karenanya, ia sah dilakukan atas sesuatu yang tidak diketahui sebab
adanyahajat. Selain itu, hal ini juga agar tidak menyebabkan hilang-
nyahartaatau terus-menerus menanggung beban. Kemudian perintah

Nabi #, agar mereka saling menghalalkan di atas, menunjukkan sikap

kehati-hatian dalam melepas tanggung jawab, sekaligus menunjukkan
betapa besarnya hak seorang manusia.

Shulh sah dilakukan atas qisbaf dengan membayar diyat yar.g
sesuai ketetapan syari'at, baik lebih sedikit atau pun lebih banyak.
Karena harta $rangdibayar dalam akad sbulh) bukan suatu kehanrsan
sehingga ganti rugi tidak berfungsi sebagai penggantinya.r" (Lihat
buku asli hal. 110).

Sbulb tidak sah dilakukan atas badd sebab badd disyari'atkan un-
tuk mencegah tindak kejahatan". Selain itu, badd juga merupakan
hak Allah dan hak masyarakat. Dengan adanyashuluh dalam hadd,
maka hak Allah menjadi batal dan masyarakat tidak mendapat man-
f.aat darinya, di samping memberi keleluasaan para penjahat untuk
melakukan tindak kriminal.

Gz:^J

Hadits hasan. Diriwayatkan oleh Ahmad (no. 26596) [VI:320] dan Abu Da-
wud (no. 358a) [IV:13] kitab al-Qadha,babT,dengan lafazh mirip, dari Ummu
Salamah €F, . Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam lran al-Gbalil (no.

1423).

9 lQkbas adalah hukuman yang setimpal bagi orang yang melukai, memotong,
atau membunuh orang lain].n'n''

l0 Muraji'berkata, sbulh dalam masalah qisbasb, pembunuh diancam hukuman
qisbasb oleh pengadilan, namun dia mencari jalan damai dengan keluarga kor-
ban dengan membayar diyat yang ditetapkan syari'at kepada mereka, atau
kurang dari itu atau lebih dari itu agar mereka menarik tuntutan qisbash,hal
ini dibolehkan karena hak dalam masalah ini adalah milik keluarga korban,
mereka bisa menuntut qisbash ata:u diyat atau berdamai dengan pembunuh
dengan ganti rugi yang mungkin lebih sedikit atau lebih banyak dari diyat.

ll fladi, seseoranB yang telah divonis cambuk 100 kali karena berzina umpama-
nya, tidak bisa mengadakan sbulb agar terbebas dari hukuman tersebut. Ka-
rena hukuman itu adalah hak Allah, beda dengan qisbas yangmerupakan hak
manusia hingga bisa digugurkan lewat shulh].ru''

t76 Kitab Jual Beli

BAB TENTANG:

HUKUM BERTETANGGA
DANATURANJALAN

Para fuqaha'sengaja membahas hukum bertetangga dan aturan
jalan sebab kedua hal ini sangatlah penting. Seseorang kadang ter-
libat masalah yang harus diselesaikan dengan tetangganya. Hal ini

agar iatidak berujung pada percekcokan dan permusuhan.

[HUKUM BERTETANGGA]

Solusi untuk masalah ini bisa dengan beberapa macam:

Salah satunya dengan melakukan perundingan (persetujuan) demi
mewujudkan kemaslahatan dan keadilan. Contohnya:

-Jika seorang tetangga perlu mengalirkan air lewat pekarangan
tetangganya atau atap rumahnya, kemudian keduanya membuat
persetujuan dengan imbalan tertentu untuk itu, maka persetujuan

tersebut sah-sah saj a demi terpenuhin y a hajat.

-Jika imbalan tersebut adalah ganti atas fasilitas yang dimanfaat-
kan dengan kepemilikan yang tetap berada pada pemilik pekarangan
atau atap,maka persetujuan ini dianggap sewa-menyewa. Namun jika
kepemilikannya berpindah, maka dianggap jual beli.

-Jika seorang tetangga membutuhkan jalan untuk lewat di tanah
milik tetangganya, lalu ia membayar sejumlah uang baik secara jual
beli atau shulub, maka ini pun diperbolehkan demi terpenuhinya
ha1at. Hanya saja seyogyanya pemilik tanah tidak memanfaatkan ke-
sempatan ini dengan meminta hargajual atau imbalan yang tinggi. Ia
tidak sepantasnya melarang tetangganya menggunakan jalan tersebut
atau menghalanginya melakukan hal-hal yang bermanfaat.

- Bila ada ranting pohon yang terjuntai ke atas rumah tetang-

ganyl- atau ke atas tanah milik tetangganya, maka pemilik pohon

wajib menghilangkan ranting tersebut. Baik dengan memoto ngnya
atau mengalihkannya ke arah lain agar tidak mengganggu wilayah

JalanBab Tentang Huhurn Bertetanga & Aturan 179

tetangganya. Jika pemilik pohon tidak mau melakukannya, maka
pemilik tanah boleh mengalihkan atau memotong ranting yang meng-
ganggu tersebut. Sebab dalam hal ini dia benindak sebagai orang yang
menolak gangguan terhadap dirinya. Karenanya, ia boleh melaku-
kannya dengan cara paling ringan selama memungkinkan. Namun
bila keduanya setuju membiarkan ranting tersebut maka hal ini juga
diperbolehkan. Menurut pendapat y^ngshahih, persetujuan ini sah
dilakukan baik dengan memberikan ganti tertentu atau dengan ber-

bagi bqah yang dihasilkan.

- Hukum akar pohon yang merambat hingga ke tanah tetangga

sama dengan hukum ranting yang telah dijelaskan di atas.

- Seseorang tidak diperbolehkan mengadakan sesuatu terhadap

tanah atau ban gunan milikn y a y angdapat mengganggu tetangganya.
Seperti membuat kakus, dapur, dan semacamnya yang menimbulkan
bau. Atau membangun bengkel dan pabrik yang suaranya keras lagi
menggetarkan dinding. Termasuk juga membuat lubang di dinding
atau jendel a yan1menyingkap rumah tetangga.

-Jika ia dan tet^ngganya menggunakan tembok secara bersama,
maka ia diharamkan mengutak-atik tembok tersebut dengan mem-
buat jendel a atau menancapkan pasak, kecuali dengan izin tetangg-

anya.Iajuga tidak diperbolehkan memasang kayu di tembok tersebut

atau di tembok yang khusus milik tetangga, kecuali bila terpaksa.
Artinya bila tidak adacaralain untuk membuat atap kecuali dengan
cara itu, dan temboknya pun kuat ketika dipasangi kayu, barulah ia

boleh memasangnya. Dalilnyaadalahhadits Abu Hurairah gb yang

diriwayatkan secara marfu' berikut:

.D\)C^#3i

"Janganlah seorang tetangga melarang tetangganya untuk me-
nancapkan kayu di temboknya."

$Abu Hurai rah lantas berkata: "Mengapa kalian terlihat meng-

hindar dari aturan ini? Demi Allah, aku akan tetap memberlakukan-
nya."t

' HR. Al-Bukhari (no. 2463) [V:136] kirab al-Mazhalirn, bab 20, dar. lafazh ha-

dits ini berdasarkan periwatannya, dan Muslim (no. 1609 (4130)) [VI:48]

180 Kitab Jual Beli

Hadits ini menunjukkan bahwa seorang tetangga tidak boleh
melarang tetangganya memasang kayu di temboknya. Bahkan pe-
merintah boleh memaksa tetangga itu untuk mengizinkannya. Sebab
ini merupakan hak yang telah ditetapkan dalam aturan bertetangga.
Inilah beberapa perkara yang berkaitan dengan aturan bertetangga.

[ATURAN JALAN]

Adapun yang berkaitan dengan aturan ialan:

- Tidak diperbolehkan mempersempit jalan kaum muslimin.

Bahkan sebaliknya, wajib melapangkan jalan mereka. Demikian pula
hal-hal yang mengganggu hendaklah disingkirkan dari jalan. Sebab

hal ini termasuk bagian dari iman, sebagaimanayang disabdakan
Nabi H-.

- Seseorang tidak diperbolehkan mendirikan sesuatu di atas tanah
atau bangunan miliknya yarLg dapat mempersempit jalan. Seperti

membuat atap di atas jalan yang menghalangi lewatnya kendaraan
besar atau membikin tempat duduk yang memakan bahu jalan.

- Seseorang tidak boleh membuat tempat parkir di jalan umum

sebab akan mempersempit jalan dan menyebabkan kecelakaan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah';'M berkata: "Tidak diper-

bolehkan bagi siapa pun untuk menjorokkan bagian apa pun dari
bangunannya ke jalan umum kaum muslimin. Bahkan ia tidak boleh
memplester temboknya dengan tebal, kecuali jika tebal tembok itu
seluruhnya berada dalam batas tanahnya."

- Tidak boleh membuat bangunan, menanam pohon, menggali

lubang, meletakkan tumpukan material, membuang sampah, dan
menaruh barang-barang lain yang mengganggu di jalan umum.

'$7ajib bagi petugas Dinas Tata Kota dan instansi terkait lainnya
untuk melarang dan menghukum siapa saja yang melanggar aturan ini
hingga jera, mengingat makin banyaknya orangyang mengabaikan
masalah penting tersebut. Bahkan makin banyak orang yang seenaknya
menggunakan jalan umum untuk hajatan,tempat parkir mobil, tempat

kitab al-Musaqab,bab 29. [Dalam hadits di atas Abu Hurairah €5 terkesan

memaksa mereka sebab saat itu dia menjabat sebagai gubernur Madinah, jadi
dia memang berhak melakukannya].P"n"

JalanBab Tentang: Hukum Bertetangga & Aturan 181

material, atau membuat galian dan lain sebagunya.Bahkan sebagiannya I
justru membuang sampah dan kotoran seenakny4 di tempat umum,
tanpa peduli bahwa hal itu sangat mengganggu kaum muslimin. Padahal 1

ini semua diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. 1

Allah,98 berfirman: i

( ;b,cl-jiiV <4";5 6;rirj\jy

{@ q6tfq'\}iA)-i-#zi

" Orang-orang yang rnengd.nggu kaum mukminin dan mukminat
td.npa kesalaban yang mereka perbuat, sesungubnya telah memikul
kebohongan dan dosayangnyatd." (QS. Al-Ahzaab: 58)

Nabi #- bersabda:

.e*ea-brA#\'##3i.:Jl

"Muslim sejati ialah bila kaum muslimin selamat dari lisan dan

tangannya."2

Nabi H- juga bersabda:

'il 4il .j jp t;)tif {a#" ;j:'-';)'&,..jq ) l

'# L\eJ\r,e-:EstOr .sti t , JlvLt6liS-"b ,ii]l

eqyl j#

"Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang; yang paling tinggi ada-
lah mengucapkan laa ilaaha illallaab,sedang yang paling rendah
ialah menyingkirkan gangguan dari jalan; dan rasa malu juga
termasuk cabang iman."3

HR. Al-Bukhari (no. L0)ll:7flkitab al-Iman, bab 4, dari 'Abdullah bin 'Amru
bin al-'Ash, dan Muslim (no.41 (162))llt22lkitab al-Iman, bab 14, dariJabir

rirl.-

*f) .

HR. Al-Bukhari (no. 9)ll,7z)kitab al-Iman, bab 3, secara ringkas, dan Muslim
(no. 35 (153)) [I:195] kftab al-Iman,bab 12.

182 Kitab Jual Beli

Selain yang di atas, masih banyak hadits-hadits seruPa lainnya
yang berisi anjuran untuk menghargai hak kaum muslimin dan la-

rangan mengganggu mereka. Salah satu gangguan terbesar atas mereka

ialah mempersempit dan membikin berbagai rint an g an pada ialan

mereka.

(2.?-\)

Bab Tentang Hukum Bmeungga & Aturan lalan 183

BAB TENTANG:

HUKUMSYUF'AH

SY(IF'AH secara bahasa diambil dari kata ary'syafu (iijJt) yang
artinya'genap'. Ini karena p elaku syufah akanmenggabung[-an barang
yang dibeli ke dalam hak miliknyayangsebelumnya menyendiri.

Sywf ab ditetapkan melalui Sunnah Rasulullah M y^ngshahih.

A hI I a m e nsyar i' a tkan sy uf ah s eb agai r,indak p r e rt e n t if (yt e nc egah an)
terhadap dampak tidak baik yang muncul akibat adanyaperserikat-
an (kepemilikan bersama).

Al-'Allaamah Ibnul Qayyim $)5 *rngatakan: "Di antara kei-

ndahan dan keadilan syari'at adalah adanya aturan syufab. Hal ini
selaras dengan kebijakan syari'at yang selalu menghindarkan mu'
dharat atas manusia semaksimal mungkin. Mengingat bahwasyaikat

(kepemilikan bersama) biasanya menjadi sumber masalah, maka so-
lusinya terkadang lewat berbagi dan terkada nglewat syufab. Jika salah
satu pemilik ingin menjual bagiannya dengan imbalan, maka pemilik
I ainnya (p artnernya) lebih berhak untuk membeliny a daripada orang
lain. Dengan begitu sang partner tidak mendapat masalah dan peniual
pun tidak rugi sebab ia tetap memperoleh imbalan atas miliknya. Jadi,
syufab termasuk keadilan terbesar dan aturan terbaik yang sesuai
dengan akal sehat, fitrah, dan kemaslahatan manusia."r

Dari sini, makar apa pun yang bertuiuan menggugurkan syufah
berarti menentang nilai-nilai yang diperjuangkan oleh syari'at terse-
but.

Syufab telah dikenal oleh bangsa Arab di masa Jahiliyah. Bila
seseorang hendak menjual rumah atau kebunnya,ia akan didatangi
tetangga, partner, dan temannya untuk membeli. Ia kemudian meng-
utamakan sang partner dan menjadikannya pembeli pertama. Dari
sinilah istilah syufab muncul, dan orang yang menuntutnya dinama-

kan syafi.'.

' Lihat I'laamul Muwaqqi'iin (t/tt91. t87

Bab Tentang Huhum Syufah

Syufab menurut istilah fuqaha' adalah hak seorang partner untuk
mengambil bagian partnernya dari seseorang yang telah mengambil-
nya dengan imbalan, lalu sang partner tadi mengambil bagian tersebut
sesuai dengan harga yang disepakati secara batin dalam transaksi.?

Vajib bagi pembeli untuk menyerahkan bagian yangdisyufah
(yrrrg ia beli dari patner ryafi) kepada syafi.'-nya, dengan hargayang

telah disepakati secara batin oleh keduanya (yakni penjual dan pem-

beli). Dalilnya adalah hadits riwayat Ahmad dan al-Bukhari dari

Jabir gE :

#\t\i:#:p u $ Cy,Au M'#\ '3i

.i;i, * tJAt *r*SSjAlt +;sS

"Bahwa Nabi ffi memberlaktkan syufab atas setiap (milik ber-

sama) yang belum dibagi. Jika pembatas telah dibuat dan jalan-
jalan telah dialihkan, maka syufab tidak berlaku lagi."3

Hadits ini menunjukkan berlakunya syufah bagi seorangpartner,
dan syufah tersebut hanya berlaku pada tanah dan properti, bukan
pada barang atau harta lainnya.

Nabi #, bersabda:

if.)aze) -o4-.<i ,v<'-.!oJ)t-Le
t6:-z> ezO*lz ei j1- n

(;:-

"Dia (sang pemilik propeni) tidak halal menjual bagiannya hingga
memberitahu partner rly a." u

[Contohnya: A dan B bersekutu kepemilikan kebun seluas 200 m2. Masing-
masing punya hak separuh atas kebun itu. A kemudian menjual bagiannya
dengan harga 100 juta kepada C sebelum menawarkannya kepada B yang tak
lain adalah partnernya. Maka B boleh mengambil bagian A yang telah dijual
kepada C tadi dengan harga yang sama. Nah dalam kasus ini, B telah melaku-
kan syufab dan dia disebut s!dfi1.P"",
HR. Al-Bukhari (no. 22la) llY :5151 kitab al-Buyu', bab 97, dan Muslim (no.
1608 (4128)) [VI:a6] khab al-Musaqab,bab 28, dan lafazh ini berdasarkan
riwayat al-Bukhari.

HR. Muslim (no. 1608 (4127)) [VI:a6] kitab al-Musaqah, bab 28, dariJabir gE .

188 Kitab lual Beli

Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang memiliki propeni

patungan, tidak halal menjual bagiannya sebelum menawarkannya
terlebih dahulu kepada partnernya.

iEIbnul Qayyim "Haram bagi seorang Partner
hingga^"iargmaetamkbaenri:tahu partnernya. Kalau ia men-
menjual bagiannya

jual tanpa memberitahunya, maka partnernya lebih berhak terhadap

bagian tersebut. Namun jika sang partner mengizink^nnya menjual

dan mengatakan: 'Aku tidak membutuhkannya,' maka ia tidak bisa

lagi memintanya setelah ia terjual. Inilah hukumnya menunrt syari'at

tanpa adayangmenyangkal, dan inilah kebenaran yang Pasti."s

Apa yang disebutkan Ibnul Qayyim ini merupakan salah satu
pendapat dalam masalah ini, yaitu bahwa syufab akan gugur bila
digugurkan oleh pemiliknya sebelum jual beli. Sedangkan pendapat
kedua -yaitu pendapat jumhur ulama- mengatakan bahwa syufah
tidak gugur dengan cara itu, yakni tidak gugur dengan sekedar izin

partner untuk menjualny a. lVallaahu a'lam.

Syafah adalah hak yang diakui syari'at dan harus dihargai. Syufah
tidak boleh digugurkan secara licik sebab syufah disyari'atkan untuk

menghinda ri mudbarar terhadap seorang partner. Jik a syufab tersebut
digugurkan secara licik, maka ia akan terkena mudharat. Dan ini me-

rupakan pelanggaran terhadap hak yang syar'i tersebut.

Imam Ahmad 'ariS5 mengatakan: "Tidak boleh menggunakan
makar apa pun untuk membatalkan syufah atau membatalkan hak

seorang muslim lainnya." sedangkan Nabi #., bersabda:

!it\rV ,;tt #)\ Y\.uj1
o
. ,zi-l/u
t:-..-J\

"Janganlah kalian mengikuti kaum Yahudi, dengan melanggar
apa yangdiharamkan Allah dengan cara kotor."t' 7

s Lihat I'laamul Muuaqqi'iin U/l2L-207).
6 Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah. Dalam tafsir surat al-A'raaf ayat l62,lbnu

Katsir mengatakan bahwa riwayat inisanadnyaja1ryrd (baik), dan Syaikhul Islam

7 Ibnu Taimilyah mengatakan bahwa sanadnya basan @atawaXXIX/29).

Lihat I'laamul Muuaqqi'ien (Il/299).

Bab Tentang: Huhum Syufab 189

Di antara cara kotor yang sering dipakai untuk membatalkan

ryufah ialah menampakkan bahwa ia seolah-olah menghibahkan
miliknya kepada orang lain, padahal sebenarnya ia menjualnya ke
orang tersebut.

Cara kotor lainnya ialah dengan berpura-pura menaikkan harga
atas partnernya hingga ia tidak mampu membeli bagian tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah'ai'j6 berkata: "Berbagai macam
tipu daya yang sering dijumpai guna menggugurkan ryufab adalah
batil hukumnya. Hakikat suatu transaksi tidak akan berubah dengan
berubahnya ungkapan yang digunakan."s

Obyek syufab adalah tanah yang belum dikavling (dibagi-bag),
termasuk segala yang berada di atas tanah tersebut baik berup^tana-
man maupun bangunan. Jika sepetak tanah telah dikavling namun
fasilitas yang menyenainyadimiliki secara bersama oleh para tetangga,
seperti jalan,air,dan semisalnya; maka syufah tetap berlaku menurut
pendapat yang paling shahih. Hal ini berdasarkan mafbum hadits Nabi
yang mengatakan: 'Jika batas-batas telah dibikin danjalan-jalan telah
dialihkan,makasyuf ahtidakberlakulagi".Mafbumya,bilabatas-batas
telah dibikin (yaitu kavling tadi) namun jalan-jalan belum dialihkan,
maka ryufahnyatetap berlaku.

Ibnul Qayyim iF-, berkata: "Inilah pendapat yang paling shahih
berkenaan dengan syufab-nyatetangga. Pendapat ini adalah madz-

habnya orang-orang Basrah, salah satu pendapat dalam madzhab
Hambali, sekaligus pendapat yang dipilih oleh Syaikhul lslam."

Syaikhul Islam mengatakan:"Syufah seorang tetangga yang me-
rangkap partner berlaku pada setiap hak milik, baik itu jalan, air, dan
sebagainya. Hal ini dinyatakan oleh Imam Ahmad dan dipilih oleh

Ibnu'Aqil, Abu Muhammad dan yang lainnya. Bahkan al-Haritsy
mengatakan: Inilah pendapat yang harus diambil, dan pendapat ini

telah menggabungkan berbagai hadits yangrda.Sebab sekedar bertet-
angga tidak menyebabkan berlakunya ryufah, kecuali bila jalan dan
fasilitas lainnya dipakai bersama. Hal ini karenasyufah disyari'atkan

untuk menghindari mudharat, dan mudharat biasanya baru timbul
bila fasilitas tersebut dipakai secara bersama."

8 Lihat Fataan Syaikhul klam (XXX/285).

190 Kitab Jual Beli

Syufab hanya berlaku bila dipakai segera setelah sang partner
mengetahui terjadinya penjualan. Jika ia tidak segera meminta syufah
setelah mengetahuinya, maka syufab itu gugur. Namun jika ia tidak
tahu jual beli tersebut, dia tetap memiliki syufah meskipun telah
berlalu sekian tahun.

Ibnu Hubairah mengatakan: "Mereka (para ulama) sepakat bahwa
jika sang partner tidak hadir saat terjadi transaksi, maka ia berhak
meminta syufab setelah datang."

Sywfab atas partner-partner dalam suatu usaha berlaku sesuai
dengan kadar kepemilikan mereka. Sebab syufab adalah hak yang
didapat karena kepemilikan, maka kadarnya pun sesuai dengan kadar
kepemilikan. Jika salah satu partner merelakan hak syufah-nya, hak
ini harus diambil semua oleh yang lainnya. Sebab jika hanya diambil
sebagian saja maka akan merugikan pembeli. Padahal kerugian tidak
bisa ditanggulangi dengan kerugian.

(2.:'-=)

Bab Tentang: Hukum Syufab t9L

BAB TENTANG:

HUKUM DAN MACAM STA RIKAH

Masalah syarikah harus kita ketahui aturan-aturannya, meng-
ingat muamalah seperti ini sering digunakan. Berserikat dalam per-
dagangan dan semisalnya masih terus dilakukan oleh manusia. Hal
ini termasuk bentuk tolong-menolong dalam mencari kemaslahatan,
mengembangkan dan menginvestasikan uangr serta tukar-menukar

pengalaman.

Jadi, berserikat dalam perdagangan dan semisalnya itu boleh

berdasarkan al-Qur-an dan as-Sunnah.

[Dalil dari al-Qur-an]

Allah $8 berfirman:

{ 6{i,\j }

"... Sesunggubnya banyak dari orangyang berpatungd.n berlaku
melampaui batas sd.tu sama lain..." (QS. Shaad: 24)

'Orang yang berpatungan' ialah mereka yang ber-syarikah. Se-
dangkan'berlaku melampaui batas satu sama lain' maknanya berlaku

zhalim satu sama lain. Sehingga ayat ini menunjukkan bolehnya

ber-syarikah.Yangtidak boleh ialah berlaku zhalim atas sesama
rekan patungan.

[Dalil dari as-Sunnah]

Sedangkan dalil diperbolehkanny a ryarikab dari as-Sunnah ialah

sabda Nabi ffi yang meriwayatkan dari Allah, kata-Nya:

\!F, +w VL';-;i ;fip u tr-:Ar e,J\5 \ii

Wbq;,rv

Bab Tmtang Huhum & Macam Syarikab 195

"Aku (Allah) adalah pihak ketiga dari dua orang yang berserikatr
(berpatungan) selama salah satu dari keduanya tidak mengkhia-
nati rekannya. Namun jika ia mengkhianatinya,maka Aku ting-

galkan mereka berdua."2 3

Hadits ini menunjukkan disyari'atkan dan dianjurkan nya syari-
kabyangbersih dari sikap khianat. Sebab syarihabmerupakan bentuk

tolong-menolong. (Nabi ffi bersabda):

.*\a* c.i.;Jl oK\; +l;Jl ef * eirg

"Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut
menolong saudaranya. "a.

Dalam berpatungan, hendaknya dipilih orang yanghartanya
halal dan dihindari orang yang hartanyaharamarau yang rercampur

anta,ra halal dan haram.

Patungan boleh dilakukan antaraseorang muslim dengan kafir,
dengan syarat orang kafir tersebut tidak sendirian dalam bertransaksi,
namun berada di bawah pengawasan temannya yang muslim itu.

Hal ini agar iatidak bermuamalah dengan riba atau dengan hal-hal

yang diharamkan seandainya tidak diawasi.

SYARIKAII (patungan) terbagi menjadi dua: patungan dalam
hak milik dan patungan dalam transaksi.

l. Patungan dalam hak milik ialah patungan dalam kepemilikan,

seperti kepemilikan properti, kepemilikan pabrik, kepemilikan
kendaraan, dan semis alnya.

[Maksudnya, Allah bersama mereka lewat pengawasan, banruan, dan berkah
yang diturunkan,Nya atas perniagaan mereka].n.n"
[Maksudnya, Allah akan mencabur berkah dari perniagaan mereka berdua].r.*.
Hadits dha'if. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3383) [III:a38] khab al-

Brryu',bab26,dariAbu Hurairah €E . Didba'ifl<anoleh Syaikh al-Albani dalam
Irua al-Gbalil (no. 1468). Namun imam Ibnu Katsir di dalam lrryad al-Faqih
UI/ 611 menyatakan bahwa sanadny a j a1ryid. D an Syaikh Muhammad al-Amin

asy-Syinqithi di dalam A dbua' al- Bayan LIY / 691 menyatakan bahwa sanadnya
shalih.
HR. Muslim (no.2699 (5853)) [IX:23] kitab adz-Dzikr,bab 11, dari Abu Hu-

rairah gg .

196 Kitab Syarihah

2. Adapun patungan dalam transaksi ialah patungan dalam meng-

gunakan modal, seperti dalam melakukan pembelian, penjualan,
pengontrakan, penyewaan dan sebagainya. Patungan semacam

ini bentuknya bisa patungan dalam modal dan usaha, atau dalam
usaha saja tanpa modal. Patungan jenis ini terbagi menjadi lima

macam:

Pertama: Patungan dalam modal dan usaha, yang disebut syarikah
'inaan.

Kedua: Patungan dalam modal di satu sisi dan usaha di sisi lain,
yang diseb ut syarikab mudhaarabab.

Ketiga: Patungan dalam memikul tanggungan tanpa modal, yang
disebut syarikah uujub.

Keempat: Patungan dalam ^p^yangdihasilkan lewat badan, yang

disebut syarikab abdaan.

Kelima: Patungan dalam semua bentuk yang telah disebutkan di
atas. Yakni satu sama lain saling memasrahkan untuk bebas berbuat
dengan modal dan badannya. Maka patungan ini mencakup syarikab
'ind,a.n, syarihab mudbaarabab, syarikab uujub dan syarikab abdaan.

Model seperti ini disebut dengan Syarikah Mufawadbab.

Inilah jenis-jenis syarikah (patungan) secara global. Berikut kita
akan membahasnya satu persatu secara mendetail, mengingat hal
ini memang perlu dijelaskan.

Gz?^\)

Bab Tentang: Hubum & Macam Syarihah t97

BAB TENTANG:

HUKUM STARIKAH'INAAN
(KEKANG KUDA)

Dinamakan demikian karena kedua orang yang berpatungan
setara dalam hal modal maupun usaha. Ibarat dua kuda balap yang
dipacu sama cepat hingga kedua tali kekangnya seiajar. Intinya, ma-
sing-masing rekan patungan saling menyamai rekannya dalam mem-
berikan modal dan usahanya dalam berpatungan.

Hakikat sydikdb 'inaan adalah dua orang atau lebih yangber-

patungan lewat modal mereka, dengan cara rnenyatukan modal ter-
sebut lalu mengolahnya dengan tangan (usaha) mereka. Atau bisa
juga salah satunya yang berusaha lalu dia mendapat bagi hasil lebih
banyak dari yanglainnya.

IHUKUM SYARIKAH'INAAI{]

Syarikab'inddndengan bentuk seperti ini hukumnya diboleh-
kan menurut ijma' sebagaimanay^ngdinukil oleh Ibnul Mundzir
'S,B meski ada perbedaan pendapat dalam sebagian syaratnya.

Transaksi yang dilakukan masing-masing rekan patungan (part-
ner) atas modal patungan hukumnya sah. Ia ibarat pemilik bila meng-

gunakan modal pribadinya atau wakil bila menggunakan modal

rekannya. Sebab istilah syarihab (patungan) maknanya satu sama lain
tidak perlu lagi minta izin.

Para ulama juga sepakat bahwa modal patungan mereka bisa

berupa uang tunai -termasuk uang emas dan perak-. Sebab sejak

zamanNabi ff, sampai hari ini orang-orang selalu melakukannya

dengan uang tunai tanpa adayangmengingkari. Hanya saja mereka

berbeda pendapat jika modal syaribab'inaAn itu berupa barang da-

gangan. Sebagian mengatakan tidak boleh karena nilai barang salah

satu patner sebelum dijual mungkin lebih banyak dari yang lain. Hal

Kuda)Bab Tentang Hukum Syarihah 'lnaan (Kehang zOL

ini karena yang lainnya ikut mendapat keuntungan lewat pertambah-
an nilai barang tersebut.

Sedangkan pendapat kedua mengatakan hal itu boleh. Inilah

pendapat yang shahih. Sebab maksud dari patungan ialah bahwa ke-
duanya sama-sama menggunakan kedua modal itu dengan keuntungan
yang dibagi untuk mereka berdua. Hal ini tetap terwujud lewat modal
barang sebagaimana lewat modal uang.

[SYARAT SAHNYA SYARIKAH'INAAI{]

Agar syarikab'inaan dianggap sah, maka masing-masing partner
harus mensyaratkan nisbah keuntungan tertentu, misalnya sepertiga,
seperempat, dan seterusnya. Hal ini karena keuntungan dari patungan

dimiliki secara bersama dan bagian masing-masing tidak dapat di-

bedakan kecuali dengan pensyaratan dan penentuan tersebut.
Kalau nisbah masing-masingnya tidak diketahui atau salah satu-

nya mensyaratkan keuntungan tertentu dalam nominal, waktu ter-
tentu, atau penjualan tertentu, maka patungan dalam semua bentuk
ini tidak sah. Sebab orang tersebut bisa jadi akan mengeruk untung
sendirian atau bahkan tidak untung sama sekali. Atau bisa juga per-
niagaan tersebut hanya untung dalam penjualan yang ditentukan
itu saja. Tentunya, ini semua memicu perselisihan karena salah satu
partner mendapatkan untung sedang yang lain tidak.

Hal-hal seperti ini termasuk yang dilarang oleh syari'at, meng-
ingat misi syari'at ialah menghindarkan spekulasi dan kerugian.

Gz-:.-J

202 Kitab Syarikab

BAB TENTANG:

HUKUM STA RIKAH MUDHAARABAH

Dinamakan syarikab,mudbaarabab karena diambil dari kata
p\)'adb-dharbu fil ardhl'("r;"ir AJ;
yakni berjalan di muka bumi

untuk berdagang.

Allah S& berfirman:

';'i ,F a,i';+-,?3i . /, ,/ r r/,// ...\f
c;U>14
Cbt*-

{@

"... Sedangkan sebagian lainnya hendak bepergian di muka bumi
mencari karunia Allab..." (QS. Al-Muzzammil: 20)

Maksudnya mencari rizki dengan berdagang dan bekerja.

Adapun mudbaaraba& menurut syar'i artinya: Menyerahkan
harta tertentu kepada orang yang mampu mengelolanya, dengan
mendapat sebagian dari keuntungannya.

Muamalah seperti ini hukumnya diperbolehkan menurut iima'
ulama.

Hal ini telah ada sejak zaman Nabi W, danmendapat persetuju-
an beliau. Bahkan diriwayatkan bahwa'IJmar, 'IJtsman, 'Ali, Ibnu
Mas'ud dan yang lainnya melakukan hal tersebut, dan tidak diketahui
adanyasahabat lain yang menyelisihi mereka.

Hikmah dari dibolehkannya madb aarab ab ialah karena hal ini
dibutuhkan oleh manusia. Sebab uang tidak akan bertambah kecuali
bila dikelola lewat usaha dan perniagaan.

Al-'Allaamah Ibnul Qayyim mengatakan: "seorang mudbaaribl
benindak sebagai pemegang amanah, buruh, wakil, sekaligus partner.

t [Yaitu orang yang mengelola modal orang lain dalam mudhaarabab, biasa di-

sebut pengelola].r"n''

BabTenung Huhum Syarihab Mudbaarabah 205

Dia selaku pemegang amanah ketika menerima modal, lalu wakil
saat menggunakannya, kemudian buruh saat menerjuni usaha yang
digelutinya, dan partner ketika mendapat keuntungan dari usaha
itu. Agar mudhaarabab menjadi sah, syaratnya bagian pengelola
harus ditentukan. Karena dia baru berhak mendapat bagiannya bila
disyaratkan sebelumnya. "

Ibnul Mundzir mengatakan: "Para ulama sepakat bahwa pengelola
harus mensyaratkan kepada pemodal bahwa ia mendapat sepertiga,
setengah, atau nisbab tertentu dari keuntungan usahanya sesuai yang
disepakati. Dengan catatan nisbahnyajelas dan umum. Jika ia men-
syaratkan seluruh keuntungan, atau menyebut nominal tertentu, atau
bagian yang tidak jelas; maka rusaklah mudbaarabaE tersebut."2

Penentuan keuntungan bagi pengelola tergantung kesepakat'
an pemodal dan pengelola. Kalau pemodal mengatakan kepada
pengelola: "silakan kelola uang ini dan keuntungannya kita bagi ber-
sama," berarti masing-masing mendapat50o/o dari laba. Sebab pemodal
menyandarkan laba tersebut kepada mereka berdua secara sama tanPa
melebihkan satu pihak atas pihak lainnya. Maka konsekuensinya hak
mereka sama. Hal ini seperti jika ia mengatakan: "Rumah ini kita bagi
berdua," maka masing-masing mendapat separuhnya.

Namun, jika pemodal mengatakan kepada pengelola: "Silakan
kelola uang ini dan bagiku 75o/olabanya," atau "sepertiga labanya."
Atau mengatakan kepadanya: "Silakan kelola uang ini dan kamu
mendapatkan7lo/olabanya" atau "sepertiga labanya." Maka itu semua
sah. Hal ini disebabkan pemodal maupun pengelola sama-sama berhak
mendapat keuntungan. Maka begitu bagian salah satunya diketahui,
ia dapat mengambilnya. Sedangkan sisanya milik yang lain.

Tapi bila mereka berselisih tentang kepemilikan bagian yang di-
syaratkan itu, maka ia adalah milik pengelola. Baik banyak maupun
sedikit. Ini karenapengelola berhak mendapatkan keuntungan karena
kerjanya.sedangkan kerja itu bisa sedikit bisa banyak. Jadi ia mungkin
mensyaratkan sedikit karena kerjanya sedikit dan mensyaratkan ba-
nyak bila kerjanya banyak. Atau penentuan tersebut berbeda karena
perbedaan keahlian antarasatu pengelola dengan pengelola lainnya.
Sebab bagian pengelola diukur dengan kualitas atau kuantitas kerjaan'

2 Lihat kitab al-Ijmaa'hal. 58. Kitab Syarikah

206

nya. Lain halnya dengan pemodal.Ia berhak mendapat keuntungan
karena modalnya, bukan karena syarat tertentu.

Bila suatu mudbaarabah dianggap rusak (batal), maka ke-
untungannya menjadi milik pemodal karena itu merupakan per-

tambahan dari hartanya. Sedangkan pengelola akan mendapatkan
upah standar yangberlaku untuk orang seperti dia sebab dia hanya
berhak mendapat keuntungan bila disyaratkan dan syarat tersebut
rusak karena mudhaarabalnya rusak.

Mudbaarabah sah dilakukan untuk sementara dalam waktu
tertentu, seperti bila pemodal mengatakan: "Engkau saya ajak beker-
ja sama dengan mengelola modal ini selama setahun." Mudhaarabah
juga sah bila dikaitkan dengan syarat tertentu. Seperti jika pemodal
mengatakan: "Kalau tiba bulan anu, maka kelolalah modal ini." Atau
mengatakan: 'Jika engkau telah memegang uangku yang adadiZaid,

maka kita pakai sebagai modal kerjasama." Hal ini dibolehkan karena
mudbaarabah ibarar izin untuk menggunakan modal sehingga boleh
saja dikaitkan dengan sesuatu yang akan datang.

P'engelola tidak boleh mengambil modal dari pihak lain jika hal
itu merugikan pemodal pertama, kecuali dengan izinnya. Misalnya
jika pihak kedua memiliki banyak modal yang menghabiskan waktu
pengelola hingga menyibukkannya dari mengelola modal pihak
pertama. Atau sebaliknya, modal pihak pertama yangbanyak hingga
menyerap seluruh waktunya. Maka begitu ia mengelola modal lain,
terbengkalailah sebagian urusannya dengan modal pihak pertama.
Intinya, pengelola tidak boleh mengelola modal pihak lain, kecuali
bila pemodal pertama mengizinkan, atau hal tersebut tidak merugi-
kan pemod al yangpertama.

Jika pengelola nekat mengelola modal pihak lain tanpa izin pihak
pertama dan ternyata merugikan pihak pertama, maka pengelola ha-
nrs mengembalikan bagian yang diperolehnya dari kerjasama dengan
pemodal kedua kepada pihak pertama. Jadi, pengelola menyerahkan
laba dari mudbaaraba& kedua kepada pemodalnya, lalu pengelola
mengambil laba pribadinya dan menggabungkannya dengan laba dari
mudbaarabah-nyadengan pemodal pertama, kemudian laba tersebut
dibagi sesuai ketentuan yang mereka sepakati. Hal ini karena manfaat
yang diberikan pengelola dalam mudhaarabaD kedua telah menjadi

milik mudbaarabab pertama.

BabTentang Hukum SyarikahMudbaarabab 207

Pengelola tidak boleh menggunakan modal sebagai biayatrans-
portasi atau yang lainnyar kecuali bila hal tersebut disyaratkan atas
pemodal. Sebab fungsi pengelola ialah mengembangkan uang dengan
imb alan seb agian keuntungannya. Karen any a, ia tidak berhak menda-
patkan lebih dari itu kecuali dengan syarat. Namun lain halnya bila
tradisi yang berlaku membolehkan hal-hal seperti ini, maka pengelola
boleh melakukannya.

Pembagian laba sebelum selesainya akadmudbaarabab tidak boleh
dilakukan kecuali dengan kerelaan kedua belah pihak. Ini dikarenakan
laba merupakan pelindung modal. Padahal modal belum aman dari
kerugian dalam beberapa transaksi. Sehingga kerugian yang terjadi itu
akan tertutupi lewat laba yang telah diperoleh tersebut. Sedangkan
bila labanya telah dibagi di tengah terjadinya mudhaarabab, maka
tidak ada lagi sisa laba yang bisa menutupi kerugian. Intinya, laba
adalah pelindung atas modal yang tidak bisa diambil sedikit pun oleh
pengelola, kecuali setelah modalnya kembali utuh.

Pengelola adalah orang yang mendapat amanah. Karena itu, ia
harus bertakwa kepada Allah dalam hal-hal yang dikelolanya. Ucapan-
nya akan diterima bila ia mengklaim adanyakerusakan atau kerugian.
Ia juga dibenarkan bila mengatakan bahwa barang ini dibeli untuk
pribadi, bukan untuk mudbaarabah. Arau dia membelinya untuk
mudbaarabah dan bukan untuk pribadi. Sebab dia memang orang
yang diberi amanah untuk itu.lVallaabu a'lam.

Cr-:--J

I [Seperti uang makan misalnya].r'n' Kitab Syarikah

208

BAB TENTANG:

SYARIKAH'WqUH, ABDAAN,
DAN MUFAA\IVADHAH

1. SYARIKAH',VqUH

Syarikab uujuh ialah patungan yang dilakukan oleh dua orang
atau iebih terhadap apayangdibeli lewat tanggungan mereka' dan

labanya dibagi sesuai kesepakatan masing-masing.

Dinamakansyarikab uujuh (wajah) karena Patungan ini dilaku-
kan tanpa modal. Masing-masing menggunakan nama baik, reputasi,
dan kepirc ayaanyang diberikan para pedagang kepada mereka. Lalu
dengan bekal kepercayaan ini mereka melakukan transaksi jual beli dan

membagi laba yang diperoleh sesuai nisbah yang disyaratkan masing'

masing. Hal ini berrdasarkan pada sabda Nabi ffi: "Kaurn muslimin itu

terikat dengan syarat-syarat mereka."2

Syarikab ini mirip dengan syarikab'inaan. OIeh sebab itu, hu-
kumnya pun sama.

Masing-masing rekan dalam hal ini bertindak sebagai wakil seka-

ligus penjamin harga barang yang dibeli rekannya (k^fi.[).Karena sya'
,ikoi t"
ini tergolong kerjasama dalam perwakilan (wakalab)
dan penj am^cainman (kafalab).

Kadar kepemilikan masing-masing partner dalam syarihah sesuai
dengan yang.disyaratkan, baik itu separuh-separuh,lebih besar, atau
lebih kecil.

Masing-masing akan menanggung kerugian sesuai dengan kadar

kepemilikannya dalam syarikah. Orang yang memiliki separuh sya-
rikab akan menanggung separuh kerugian, begitu seterusnya.

t Aninya bukan dibeli dengan uang tunai tapi secara hutang' karena mereka di-

p"rr y^dan memiliki reputasi yang baik, sehingga orang berani menghutangi

2 barang kepada mereka.

Lihat takbrijnya halaman 21.

Bab Tentang Huhum Syarikab Vujuh, Abdaan €, Mufaautadhah 2ll

Masing-masing partner berhak mendapat keuntungan sesuai
dengan yang mereka syaratkan pula, seperti separuh, seperempat,
atau sepertiga, dan seterusnya. Sebab bisa jadi salah satu dari mereka
lebih dipercaya dan disukai oleh para pedagang atau lebih ahli dalam
berdagang dari yang satunya. Juga karenaepayangmereka lakukan
mungkin berbeda satu sama lainnya. Sehingga wajar bila yang me-
miliki 'nilai lebih' mensyaratkannisbah laba yang lebih pula. Intinya,
itu semua dikembalikan kepada syarat yang mereka sepakati.

Hak yang dimiliki masing-masing partner dalam syarihab wujuh
sama dengan yang dimiliki mereka dalam syarikab'inaan.

2. SYARIKAH ABDAAN

Syarikah abdaan ialah patungan yang dilakukan oleh dua orang
atau lebih atas apa yang mereka hasilkan dengan badan mereka.
Dinamakan demikian, karena mereka yang patungan mengguna-
kan badan mereka untuk bekerja mencari penghasilan dan berbagi
dalam penghasilan yang didapat.

Dalil dibolehkannya ryarikah model ini adalah hadits yang di-
riwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya, dari Ibnu Mas'ud

&!' yangmengatakan:

;\4,b,Jr, !. l?J.-2';?*,3"b5Wu".iZt6)i'.rl.'jt;,S,iU:ibX.\''i;l;"l

"Aku pernah berpatungan dengan 'Ammar dan Sa'ad atas gbani
mabyangakan kami dapatkan dalam perang Badar. Maka Sa'ad
datang membawa dua orang tawanan, sedangkan aku dan 'Am-
mar tidak membawa apa-apa."3

Imam Ahmad '$t)H mengatakan: "Nabi S- lantas membagi ke-
dua tawanan itu untuk mereka bertiga.{ Hal ini menunjukkan bah-

I Hadits dha'if. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3388) [III:a4O] khab al-

Buyu',bab 29, an-Nasa-i (no.3947) [IV:67] kitab al-Aiman,bab 47, dan Ibnu

Majah (no. 2288) [Il79]kitab at-Tijarar, bab 63. Didba'ilkan oleh Syaikh al-

{ Albani dalam lrua al-Ghalil (no. 1474).

[Artinya kedua tawanan tersebut dijadikan milik mereka bertiga oleh Nabi

{['; pent.

212 Kitab Syaikab

wa patungan atas apa yang dihasilkan oleh badan hukumnya sah
(boleh)."

Jika hal itu telah disepakati, maka setiap order kerjaan yang
diterima oleh salah satu rekan harus dikerjakan oleh rekan-rekan

lainnya. Yakni setiap rekan wajib mengerjakan apa yang dikerjakan

rekan lainnya sebagai konsekuensi dari patungan tersebut.

Syarikah abdaan sah dilakukan meslci profesi masing-masing
pelakunya herbeda, seperti kerjasama antara tukang jahit dengan

tukang besi, dan semisalnya. Masing-masing yang bekerja sama ber-
hak meminta upah atas kerjaan yang diterimanya atau yang diterima
rekannya. Orang yang mengupah salah seorang dari mereka boleh

membtyarkannya kepada siapa saja dari mereka. Sebab masing-masing
benindak selaku wakil bagi lainnya. Karenanya,kerjaan atau upah

yang mereka dapatkan juga jadi milik bersama.

Syarihab abdaansah diterapkan dalam kepemilikan atas hal-hal
yang mubah, seperti mencari kayu bakar, mengumpulkan buah-buah-
an dari gunung atau hutan, dan mengeluarkan barang tambang.

Jika salah seorang rekan patungan sakit, maka penghasilan yang
didapat rekan lainnya dibagi dua. Hal ini berdasarkan pada apa yang

dilakukan Sa'ad,'Ammar, dan Ibnu Mas'ud ketika berpatungan. Saat

itu Sa'ad membawa dua tawanan sedangkan dua yang lainnya tidak

membawa begitu, Nabi membagi hasilnya untuk
mereka ber^tpigaa-.apa.Meskipun

Jika rekan yang sehat meminta kepada yang sakit untuk menunjuk
orang lain yang menggantikannya bekerja, maka ia harus melakukan-
nya. Sebab keduanya berjanji untuk sama-sama bekerja. Sehingga jika

salah satunyrr tidak bisa bekerja secara langsung, ia harus mengangkat

orang yang bisa menggantikannya demi memenuhi perjanjian. Kalau
dia men,.rlak mengangkat pengganti setelah diminta untuk itu, maka

rekannya boleh membatalkan akad kerjasama ini.

Kalau pemilik hewan tunggangan atau kendaraan bekerja sama
untuk mengantarkan penumpang dengan catatan apa yangmereka
peroleh menjadi milik bersama; maka hal itu sah (boleh). Sebab ini
merupakan bentuk mencari penghasilan. Selain itu, ia juga diboleh-

kan ia menyerahkan hewan tunggangan atau kendaraainyatersebut

kepada orang yang menggunakannya untuk bekerja, lalu uang yang
dihasilkan menjadi milik berdua.

Bab Tentang: Huburn Syarihab lVujub, Abdaan G Mufaawadbah 213

Bila ada tiga orang melakukan patungan, lalu salah satu menye-
rahkan hewan, yang kedua rnenyerahkan alat, sedangkan yang ketiga
mengelola, kemudian hasilnya mereka bagi tiga, maka hal itu juga

sah.

Patungan yang dilakukan oleh para makelar juga sah; jika mere-
ka sama-sama menawarkan barang dan mencari pelanggan, lalu ke-
untungannya mereka bagi.

3. SYARIKAH MUFAAIVADHAH

Syarikab mufaauadhah ialah bila seluruh orang yang melakukan
kerjasama memasrahkan sernLra tindakan atas modal maupun badan
1,ang ada dalam semua bentuk syarikah tersebut kepada rekannya.
lrdi, syarikab ini adalah gabungan dari syarikah'inaan, mudbaarabab,
wujuh, dan abdaan. Atau c{engan kata lain, mereka berpatungan atas
setiap hak dan kewajiban yang mereka dapatkan.

Syarikah model ini sah dil*ukan karena merupakan gabungan

dari berbagai syarikab yang masing-masing sah dilakukan. Maka jika
digabung hukumnya juga sah (boleh).

Pernbagian keuntungan dalam syarikah ini adalah sesuai dengan

kesepakatan mereka. Sedangkan kerugian yang mereka tanggung se-
suai dengan kadar kepemilikan masing-masing atas usaha patungan
tersebut, dengan hitungan tertentu.

Demikianlah syari'at Islam memberi kelonggaran dalam urusan
mencari penghasilan pada brrtas-batas yang dibolehkan. Ia memboleh-
kan manusia untuk bekerja sendirian maupun bersama orang lain.
Syari'at Islam memperlakukan mereka sesuai dengan syarat yang
mereka sepakati selama tidak bersifat zhalim atau haram. Dengan
demikian, menjadi jelaslah bahwa syari'at Islam senantiasa relevan
kapan saja dan di mana sajrr.

&Kita memohon kepada Allah aga, menjadikan kita tetap

berpegang teguh pada syari'at-Nya dan mengikuti segala petunjuk-
Nya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar dan Mengijabahi
permohonau.

Gz.?-J

214 Kitab Syaribah

BAB TENTANG:

HUKUMMUZAARA'AH
DAN MUSAAQAAH

PENDAHULUAN:

Muzaara'ah dan musaaqaah tergolongusaha yang digeluti manusia
sejak dahulu kala, demi memenuhi hajat mereka. Kadang seseorang

memiliki tanaman yang tidak bisa dia rawat sehingga tidak meng-
hasilkan buah, atau memiliki lahan pertanian namun dia tidalc bisa
menggarapnya. Sedangkan pihak lain mampu menggaraP namun
tidak memiliki tanaman mxupu lahan. Maka dari itu, muzaara'ab
dan musaaqaab dibolehkan demi kemaslahatan kedua belah pihak.
Demikianlah, setiap muamalah dalam syari'at selalu ditegakkan demi
mewujudkan kemaslahatan dan menol ak kemudharatan.

1. TENTANG MUSAAQAAH

MwsaaqaaD menurut definisi para fuqaha' ialah menyerahkan
pohon yang telah ditanam, atau yang belum ditanam beserta lahan-
nya kepada orang yang bisa menanaminya lalu mengelolanya dengan
menyiiami dan merawatnyahingga berbuah. Kemudian ia mendapat
bagian tertentu dari buah yang dihasilkan sedangkan sisanya bagi
pemilik lahan.

Adapun muzaara'ah ialah menyerahkan lahan kepada orangyang

bisa menanaminya, atau menyerahkan lhan dan benih kepada orang
yang menyemarnya dan merawatnya. Lalu ia mendapat bagian ter-
tentu dari hasil tanamannya sedangkan sisanya bagi pemilik lahan.

Bisa juga bagian yang disyaratkan dalam musaaqaah dan muzaa'
ra'alt tersebut adalah bagi pemilik lahan dan tanaman, sedangkan sisa-
nya untuk pengelola.

Dalil dibolehkannya musaaqaab dan muzaara'ah adalah hadits
Ibnu 'LImar ,$F.' yang mengatakan:

MusaaqaabBab Tentang Hukum Muzaara'ah €, 217

bw *'-*Y 'i3lJ' J l1 ic,J'- v,-vfY,:l-i, \1V M ,r"g\'Ji
-
6')3it'

"Bahwasanya Nabi ffi bekerja sama dengan warga Khaibar de-

ngan mendapat separuh bagian dari hasil pertaniannya, baik

berupa buah maupun tanaman."r

Sedangkan Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Nabi M, ^mre--
nyerahkan kepada kaum Yahudi Khaibarpohon-pohon kurma

reka beserta lahannya2 agar digarap dengan biayamereka sendiri lalu

mereka mendapatkan setengah hasilnya.3 Sedangkan Imam Ahmad

meriwayatkan, bahwa Nabi ffi menyerahkan lahan dan pohon kurma

warga Khaibar kepada mereka, dengan bagi hasil separuh-separuh.l

Jadi, hadits ini menunjukkan bolehnya Musaaqaah.

Al-Imam Ibnul Qayyim i;F, berkata: i'Dari kisah Khaibar, ter-

dapat dalil atas dibolehkan nya Musaaqaab dan muzaArd.'Ab dengan

mendapat sebagian dari hasilnya, baik berupa buah maupun tanam-

an. Sebab Nabi H., bermuamalah dengan warga Khaibar (dengan

kedua cara di atas). Hal ini berlangsung hingga Beliau ffi waf.ar,

tanpa pernah menghapus hukumnya sama sekali. Bahkan hal ini juga

terus dilanjutkan oleh Khulafa'ur Rasyidiin. Pun begitu, hal ini tidak

termasuk bentuk sewa-menyewa, tapi semisal kerjasama atau persis

seperti mudbaarabah."s

HR. Al-Bukhari (no.2328) [IV:15] kitab al-Harts, bab 8, dan Muslim (no.
l55t (3962)) [V:453] kitab al-Musaqab,bab 1, dari Ibnu 'Umar q,+ts,.
[Hal ini beliau lakukan setelah beliau dan kaum muslimin mengepung benteng
kaum Yahudi di Khaibar. Akan tetapi mereka benahan dalam benteng karena
mendapat suplai logistik yang cuhup lewat kebun kurma mereka. Maka ketika
Nabi hendak membakar kebun mereka, mereka pun menyerah dan terjadilah
kesepakatan di atasl.r'n''
HR. Muslim (no. 1551 (3966)) [V:456] kitab al-Musaqab,bab 1, dari Ibnu
'Umar q,*!.ir.

HR. Ibnu Ma.iah (no. 2468) [III:174].dari Ibnu.'A_b_bas. q{f' denganlaf.azh

yang mirip seperti ini. Berkata Syaikh al-Albani: "Hadits ini shahih dengan
sebelumnya." (Sunan Ibnu Majah dengan ta'liqbeliau). Adapun riwayat Imam

Ahmad maka Syaikh Syu'aib al-Arna-uth mengatakan: "Hadits ini hasan li

gbairibi," (Musnad Abmad dengan tahqiq dan ta'liqbeliau,IV:118)
Lihat Haasyiyah ar-Raudbul Murbi' N / 27 6).

2t8 Kitab Muzaara'ab, Musaaqaah & Sewa.Menyeana

Sedangkan al-Muwaffaq Ibnu Qudamah berkata: "Hal ini telah
dipraktikkan secara masyhur oleh Khulafa'ur Rasyidiin di masa Pe-

merintahan mereka, tanpa adayangmengingkari. Sehingga ia menjadi
ijma'." Beliau juga berkata: "Tidak boleh menggubris pendapat yang

bertentangan dengan hadits dan ijma'. Sebab kebanyakan pemilik
kebun kurma dan tanaman tidak sanggup merawat kebunnya dan
mengairinya. Selain itu, mereka juga tidak mampu menyewa tukang
kebun untuk hal-hal tersebut. Padahal di sisi lain banyak yang tidak
punya kebun dan membutuhkan hasilnya. Karenanya, diperboleh-
kannya hal ini merupakan solusi untuk menutup hajat kedua belah

pihak dan mewujudkan maslahat mereka berdua."t'

Para fuqaha' -rabimahumullaah- menyebutkan bahwa di antara
syarat sahnya Musaaqaah adalah bahwa pohon yang dirawat harus
menghasilkan buah yang bisa dimakan. Jika pohon tersebut tidak
berbuah, atau buahnya tidak bisa dimakan, maka tidak sah karena
hal itu tidak ada nashnya.

Syarat sahnyaMusaaqaah yang lain ialah bagian pengelola harus

ditentukan secara jelas dan menyeluruh, seperti sepertiga atau sePer-
empat, baik sedikit maupun banyak. Bila pengelola mensyaratkan

agar seluruh hasilnya menjadi milik dia, maka tidak sah. Sebab hasil
tersebut berarti dimiliki secara sepihak. Demikian pula bila ia men-
syaratkan jumlah tertentu, seperti sepuluh sba',duapuluh shaq,dan
semisalnya, maka tidak sah. Sebab bisa jadi panennya hanya segitu.
Sehingga bila ia mengambil seluruhnya maka pihak kedua tidak ke-

bagian apa-apa,. Sama halnya bila ia mensyaratkan uang dalam jumlah
tertentu dari hasil panen, ini juga tidak sah. Sebab bisa jadi keuntung-
an penjualannya tidak sampai segitu. Begitu pula jika salah satunya
mensyaratkan bahwa buah dari pohon tertentu menjadi miliknya,
ini juga tidak sah. Sebab mungkin saja yang berbuah hanya pohon
tersebut sehingga hasilnya menjadi milik sepihak. Atau justru pohon

6 Lihat al-Mugbni (V[/530).
7 lsha'adalah takaran di zaman Nabi yang setara dengan empat mud,sedangkan

satu mud setara dengan banyaknya gandum/kurma yang terambil bila kedua

telapak tangan disatukan. Adapun sekarang, maka takaran yang dipakai adalah

liter, namun yang lebih populer lagi adalah timbangan, seperti kilo, kuintal,

dan ton. Intinya, bagian yang disyaratkan tidak boleh bersifat khusus dengan

nominal tertentu seperti sekian kilo, sekian kuintal dan seterusnya, tapi harus

dalam persentase/ nisbab dari keseluruhan hasil].r"n'

Bab Tentang Hukum Muzaara'ah & Musaaqaab 219

tersebut tidak berbuah sama sekali sehingga ia tidak mendapat apa-ap^
dan mengalami kerugian.

Pendapat shahih yang diamalkan oleh mayoritas ulama ialah bah-
waMusaaqaab merupakan akad mengikat yang tidak bisa dibatalkan
secara sepihak tanpa keridhaan pihak lain.

MusaaqaaD harus ditentukan masanya walaupun lama dan po-
hon/tanamannya harus tetap ada.

Pengelola wajib melakukan setiap hal yang mengarah kepada ha-
sil panen yang baik. Seperti membajak tanah, mengairi, memotong
ranting-ranting yang mengganggu tanaman/buah, mengawinkan

pohon-pohon tertentu seperti kurma, mengeringkan buah/biji-
bijian hasil panen, memperbaiki saluran irigasi, dan semisalnya.

Sedangkan pemilik pohon harus melakukan hal-hal yang sifatnya
memelihara pohon tersebut, seperti menggali sumur, membangun
pagar, menyediakan suplai air, dan semisalnya. Ia juga wajib me-
nyuplai bahan-bahan yang menguatkan tanaman seperti pupuk dan
semisalnya.

Memberikan benih beserta lahannya bukanlah syarat sahnya
muzaara'ab. Bila seseorang memberikan lahan saja agar ditanami oleh
pengelola dan benihnya dari pengelola, maka ini sah sebagaimana
pendapat sejumlah sahabat. Bahkan hal inilah yang dipraktikkan
orang-orang. Sebab dalil yang dipakai dalam aturan muzaara'ab adalah

hadits kerjasama Nabi ffi dengan warga Khaibar, dengan bagi hasil

separuh-separuh. Dalam hadits itu tidak disebutkan bahwa benihnya
ditanggung oleh kaum muslimin (selaku pemilik lahan).

Al-Imam Ibnul Qayyim '{M berkata: "Merek ayangmensyarar-

kan bahwa benihnya harus dari pemilik lahan mengqiyaskannya
dengan mudhaarabiE. Ini meruprLm qiyas yang sangat rusak, sel"irt
juga bertentangan dengan sunnah yang shahih dan perkataan para
Sahabat. Sebab modal dalam mudhaarabah akan kembali kepada
pemiliknya, lalu mereka berdua berbagi keuntungan. Modal ini, da-
lammuzaarA'Ah, ibarat 'lahan'. Sedangkan benih yang tidak kembali
kepada pemiliknya, namun yang hilang seperti hilangnya manfaat
lahan,lebih tepat untuk diqiaskandengan sesuatu yang hilang dari-
pada diqia.skan dengan sesuatu yang ade."r

8 Lihat Haasyiyab ar-Raudhul Murbi'S/289) dengan sedikit perubahan.

220 Kitab Muzaara'ah, Musaaqaah & Sevta-Menyewa

2. TENTANG MUZAARA'AH

MuzaarA'AD berasal dari kata dz-zAr'u (A-itU.Disebut juga de-
ngan mukhaabarab dan muuaakarah. Sedangkan pengelolanya di-
namakan rnuzad.ri', mukhaabir, dan muuaakir,

Dalil dibolehkannya muzAdlA'a.b adalahhadits shahih yang di
atas. Demi terpenuhinyahapt manusia, cara seperti ini harus ditem-
puh. Sebab ada sebagian orang yang memiliki lahan pertanian na-
mun tidak bisa menggarapnya. Sedangkan sebagian yang lain bisa
menggarap lahan pertanian tapi tidak memilikinya. Berangkat dari

sini, kebijakan syari'at menetapkan dibolehkannya muzaara'ab agar
kedua belah pihak mendapat manfaat. Pihak pertama dari tanahnya
sedang pihak kedua dari usahanya. Hal ini juga dalam rangka mewu-
judkan kerjasama demi tercapainya kemaslahatan dan terhindarnya

kemudharatan.

Syaikhul Islam Ibnu Taim iyy ah'SM *"rgatakan: " Muzddrd.'d.h

lebih kuat dasarnya daripada sewa-menyewa dan lebih dekat kepada
keadilan. Karena dalam muzaara'ab, kedua belah pihak bersekutu
dalam keuntungan maupun kerugian."e

Sedangkan al-Imam Ibnul Qayyim kiEem, u^dehnagrattaaknadna: r"iMpaudzaaasreaw'aah-
unsur kezhaliman dan
lebih jauh dari

menyewa. Sebab dalam sewa-menyewa salah satu pihak pasti diun-

tungkan. Sedangkan dalam muzaara'ah, bila tanamarLtya berhasil,

kedua pihak sama-sama diuntungkan. Tapi bila tidak, keduanya

sama-sama menanggung rugi. " I n

Supaya sah, disyaratkan dalam muzaara'ab agar hasil panen yang
menjadi bagian pengelola atau pemilik lahan ditentukan. Hasil panen
tersebut harus bersifat sebagian dari keseluruhannya, seperti sepertiga
hasil bumi, atau seperempat, dan semisalnya.

Dalilnya ialah karena Nabi ffi bekerja sama dengan warga

Khaibar dengan mendapat separuh hasil buminya. Bila bagian milik
salah satunya telah diketahui, maka sisanya menjadi milik yang lain.
Sebab hasil tersebut adalah milik berdua.

e Lihat Fataua Syaikhul Islam (XXVIII/85). 2?t

'0 Lihat Haarytyab ar-Raudbul Murbi' ({ /287).

Bab Tentang Huhum Muzaara'ah & Musaaqaab

Bila salah sgtu pihak mensyaratkan bahwa sekian sha'darihasil-
nya adalah miliknya, misalnya sepuluh atau dua puluh sba', maka
muzaara'ab ini tidak sah. Sebab lahannya bisa jadi hanya menghasil-

kan sejumlah itu sehingga keuntungannya dimiliki secara sepihak.

Selain itu, dalam hadits Rafi' bin Khudaij €5 disebutkan bahwa dia

pernah ditanya tentang menyewakan lahan dengan imbalan emas

dan perak. Maka dia berkata:

lo jz 'i

# ;!)-rs
lF ar-tl, ./EJl 3K \:rl 't

;y;Y-r,\, )rt't";Jt ,Yl.tJ-r-i.;."UU)L1'JI J" ffi )i\\

et$;;rli5 w,1i5 1"J.{i1i5,\#,61\

;) d.)r|rliri ilYt'.,rti-l) Hi,,ri-.,;

q"i-P\ )At ;y *\:J,dl)i -M.,J\'+-*- ii;

?bxvv,*s!,..ruJt d j:i f\s.r-;,f,r;y

.r,tut6[r#?;\1;

"Hal itu tidak mengapa. Dahulu di masa Rasulullah ffi, orang'

orang menyewakan lahannya dengan imbalan hasil tanaman yang

terletak dekat sungai, dekat saluran air, atart dari tanaman ter-

tentu. Maka pemilik lahan diuntungkan sedangkan Penyewanya
bangkrut.rr Atau pemilik lahan yang bangkrut dan Penyewanya
untung.r2 Orang-orang tidak menyewakan lahannya kecuali de-

rrgrn Crr" seperti itu. Sebab itulah Nabi H, melarangnya. Ka-

rerla caraitu mengandung kemudharatan yang mengakibatkan

[Karena bagian yang panen adalah yang mendapat suplai air cukup, yaitu yang
berada dekat sungai atau saluran irigasi. bagian tersebut telah disyaratkan un-
tuk pemilik Iahan].r'n''
[Karena tanaman tertentu yang disyaratkan hasilnya untuk pemilik lahan ter-
ny ata gagal panen].r'nt'

222 Kitab Muzaara'ab, Musaaqaab & Sean'Menyean

perselisihan dan memakan harta orang secara batil. Adapun bila
dilakukan dengan jelas dan terjamin, maka tidak mengapa."''

Jadi, hadits ini menunjukkan diharamka nnya rnuzdara'ab yang
berujung pada kernudbaratan dan ketidakpastian yang mengakibat-
kan timbulnya perselisihan di antara manusia.

Ibnu Mundzir berkata: "Ada sejumlah hadits dari Rafi' bin
Khudaij yang menunjukkan bahwa dilarangnya hal itu ialah karena
alasan tersebut, yaitu karen a caraseperti itu telah biasa mereka laku-
kan. Rafi' mengatakan: "Di masa Rasulullah, kami menyewakan lahan
dengan syarat bahwa yang ini hasilnya untuk kami, sedangkan yang
itu untuk mereka. Maka terkadang yang ini menghasilkan sedangkan
yang itu tidak menghasilkan."r{

(z:?,-J

rr HR. Muslim (no.1547 (3952))lY:449)kitab al-Buyu', bab 19. Asal hadits ini

adalah riwayat muttafaq 'alaib, diriwayatkan secara ringkas oleh al-Bukhari
(no. 2327) [V: 13] kitab al-Harts, bab 7.
14 HR. Al-Bukhari (no.2722) [V:96] kitab asy-Syuruth, bab 7, dengan lafazh mirip.

Bab Tentang Hukum Muzaara'ah & Musaaqaah 223

BAB TENTANG:

HUKUM SE\T/A.MENYE\TA

PENDAHULUAN

Sewa-nrenyewa sering clilrrkukan oleh manusia dalam berbagai
keperluan c{an muamalah, baik sehari-hari, setiap bulan, maupun
setahun sekrrli. Oleh karenanya, perlu sekali mengenali aturan-aturan-
nya mcngingat setiap muamrrlah yang dilakukan manusia di berbagai
tempat dan waktu pasti telrrh diatur oleh syari'at Islam, sesuai dengan
kaidah-kaidah syar'i demi nrerrcapai kemaslahatan dan menolak ke-
mudbaratan,

Sewa-menyewa dalam lr:rhasa Arab disebut ijaarah,yang berasal
dari katr ajr yang artinya 'uprrh'.

Allah,98 berfirman:

{(} #tr*L"i$J4"x.r.)/.&

"... Kalau engkau mau, niscaya mgkau bisa minta upab untuk itu."
(QS. Al-Kabfi;77)

Secara syar'i, sewa-menyewl artinya: Akad untuk mendapatkan
manfaat yang mubah dari lrarang yang sudah ada, atau belum ada
tapi dijamin clengan sifat-sifat tertentu, dalam waktu tertentu atau
akad untuk melakukan pekeriaan tertentu, dengan upah tertentu.

Definisi ini mencakup sebagian besar syarat-syarat sahnya sewa-
menyewa, sekaligus macam-fllacamnya:

-- Makna "akad untuk rnendapatkan manf.aat", berarti bukan
akad untuk mendapatkan b:rrang. Sebab yang kedua ini tidak disebut
sewa-menyewa tapi jual beli.

- Makna "y^ngmubah", berarti bukan manf.aat yang diharam-

kan, seperti z,ina misalnya.

Bab Tentang Hukum Seua-rnenyew,t

- Makna "dalam waktu tertentu", berarti bukan dalam waktu

yang tidak diketahui. Karena akad semacam ini tidak sah hukum-

nya.

- Makna "dari barang yang sudah ada, atau belum ada tapi dijamin
dengan sifat-sifat tertentu... Atau akad untuk melakukan pekerjaan

tertentu...", berarti bahwa sewa-menyewa ada dua jenis:

Pertama: Sewa-menyewa manfaat suatu barang yang sudah ada
maupun yang dijamin dengan sifat tertentu.

Contoh untuk barang yang sudah ada: "Rumah ini saya sewakan
kepadamu." Sedangkan untuk yang dijamin dengan sifat tertentur
"Aku menyewakan seekor unta kepadamu dengan sifat begini dan
begitu untuk mengangkut barang dan tunggangan."

Kedua: Sewa-menyewa diilam melakukan pekerjaan tertentu,
seperti mengantarkan ke tempat tertentu atau membangun sebuah
dinding.

-- Makna "dalam waktu tertentu", berarti sewa-menyevra suatu
manfaat berlaku dalam waktu terbatas, seperti sehari atau sebulan.

.. Makna "dengan upah ter"tentu", berarti ongkos sewanya harus
jelas.

Dengan demikian, menjadi jelaslah bahwa syarat-syarat umum
sah-nya akad sewa-menyewa dengan kedua jenisnya di atas adalah:
akad tersebut untuk mendapatkan manfaat, bukan barang. Lalu
manfaatnya juga harus mubah (dibolehkan) dan jelas. Sedangkan
bila barang yang disewakan belum ada, maka harus bisa ditentukan
sifat-sifatnya. Kemudian w,rktu sewa maupun upahnya harus jelas

,uga.

SE\rA-MENYE\rA YANG SAH (BENAR) DTBOLEH.
KAN MENURUT AL.QUR.AN, SUNNAH DAN IJMA"

Allah Ta'ala berfirman:

(@'"6A'#3'G K',,::r\;f F

*... Iiko mereha (uanita-wanita itu) selaai menyusui anahmu, maka
ba.yarlah upab merehu... " (QS. Ath-Thalaaq: 6)

228 Kitab Muzaara'ah, Musaaqaab & Sewa-Menyeua

Dan berfirman:

(@Gt*L'i$el4i F

".,. Kalau engkau mau, engkau bba mengambil upah untuk itu..."
(QS. Al-Kahfi:77)

Nabi ffi sendiri pernah menyewa seseorang sebagai penunjuk

jalan saat beliau hijrah ke Madinah.

Sedangkan Ibnul Mundzir menukil bahwa para ulama telah

sepakat atas diperbolehkannya sewa-menyewa.'

Di samping itu, hajat manusia mengharusk:rn dilakukannya

sewa-menyewa. Sebab manusia membutuhkan manfaat sebagaimana
membutuhkan barang.

Diperbolehkan menyewa orang untuk melakukan pekerjaan ter-
tentu, seperti menjahit pakaim, membangun tembok, atau menunjuk-
kan jalan. Dalilnya ialah hadits yang terdapat dalam Sbahih al'Bukhari
dari 'Aisyah k?b', tentang kisah hijrahnya Nabi: "Bahwasanya Nabi

W, danAbu Bakar gE menyewa'Abdullah bin Uraiqith al-Laitsi.

Dia konon penunjuk jalan yangahli."2

Tidak diperbolehkan menyewakan tempat, kios, dan toko untuk
bermaksiat seperti menjual khamr, menjual barang-barang haram,
termasuk rokok dan gambar-gambar makhluk bernyawa. Sebab itu
semua termasuk membantu kemaksiatan.

Seorang penyewa boleh menyewakan barang sewaannya kepada
orang lain yang menggantikan posisinya, untuk mengambil manfaat

barang itu. Hal ini karena manfaat barang tersebut telah meniadi
miliknya, maka ia boleh mengambilnya sendiri atau melalui peng-

gantinya, dengan syarat kedua-keduanya sama dalam menggunakan
manfaat barang sevraan, bukan lebih parah. Misalnya jika ia menyewa
rumah tinggal, maka ia boleh meyewakannya ke orang lain untuk
rumah tinggal atauyanglebih ringan dari itu. Ia tidak boleh menyewa'
kannya ke orang yang me4jadikannya sebagai pabrik atau bengkel.

1 Lihat al-Ijmaa'ha\.60.
2 HR. Al-Bukhari (no.2263) [IV:558] kitab al'Ijarah,bab 3, akan tetapi nama

orang ini tidak disebutkan.

Bab Tentang Huhum Seua-menyewa 229

Sewa-menyewa tidak sah dilakukan atas amalan ibadah seperti

haji dan adzan. Sebab amalan-amalan seperti ini fungsinya untuk
mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan mengambil upah akan
mengeluarkannyadari makna ini. Meskipun begitu, mengambil rizki

(santunan) dari baitul mal atas amalan-amalanyangmanfaatnya bisa
dirasakan orang lain, seperti hafi, adzan, iqamah, men gaj ari al-Qur-an,
mengajari fiqih, menjadi hakim, mufti, dan semisalnya tetap diboleh-
kan. Karenayangsemacam ini bukanlah imbalan, akan tetapi seke-
dar santun^ny^ngmendukung seseorang untuk taat kepada A1lah.
Sehingga tidak mengeluarkan dari sesuatu yang dianggap ibadah dan
tidak mempengaruhi keikhlasan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 'r!i5 berkata: "Para fuqaha'

sepakat dengan adanya perbedaan antara menyewa pelaku ibadah
dengan memberi santunan kepadanya. Memberi santunan kepada
seorang mujahid, hakim, muadzin, dan imam mesjid adalah diboleh-
kan tanpa ada perbedaan pendapat. Adapun menyewa mereka maka
tidak boleh menurut mayoritas ulama."3

Beliau juga berkata: "IJang yang diambil dari baitul mal bukanlah
upah atau bayaran,tetapi santunan untuk membantu orang dalam
beribadah. Jika ada dari merekl-yangberamal karena Allah, ia akan
mendapat pahala. Sedangkan apa yangdiambilnya merupakan san-
tunan yanB membantunya berbuat ketaatan."a

HAL.HAL YANG HARUS DILAKUKAN OLEH PEMI.
LIK DAN PENYE\TA

Pemilik harus menyediakan hal-hal yang membuat barang sewaan
bisa dimanfaatkan sepenuhnya oleh penyewa, seperti mereparasi
mobil, menyiapkannya untuk dipakai bepergian dan mengangkut
barang, merenovasi rumah yang akan disewakan dan mereparasi
kerusakan yang terjadi, termasuk menyiapkan sejumlah fasilitas-

rLya.

Sedangkan penyewa harus menghilangkan semu yarLgterjadi
akibat perbuatannya, setelah kontrak selesai. ^

r Lihat Fata@a Syaibbul Islam (X.I'X./206).
a Lihat al-Akhbaarul'llmfiryab minal lkbtiaaraatil Fiqhiryah,hal.223,cet. Daarul

'Aashimah.

230 Kitab Muzaara'ab, Musaaqaah & Sewa-Menyeuta

Sewa-menyewa adalah akad yang mengikat penyewa maupun
pemilik. Sebab ia termasuk bentuk jual beli hingga hukumnya pun
sama. Jadi, masing-masing pihak tidak berhak membatalkannya ke-
cuali atas keridhaan yang lain. Kecuali bila penyewa mendapati aib
yang tidak diketahuinya saat akad, maka ia berhak membatalkan.

Pemilik harus menyerahkan barang sewaan kepada penyewa
dan memb erinya keleluasaan untuk memanfaatkannya. Bila ia
menyewakan sesuatu namun menghalanginya untuk dimanfaat-
kan selama waktu sewa atau sebagiannya, maka ia tidak berhak
mendapatkan sebagian atau seluruh ongkos sewa. Sebab ia tidak
menyerahkan barang sewaan sesuai konsekuensi akad sewa-me-
nyewa. Sehingga ia tidak berhak menarik ongkos kecuali seban-
ding dengan manfaat yang bisa diambil oleh penyewa.

Jika pemilik membebaskan penyewa untuk memanfaatkan ba-
rang sewaan, namun penyewa membiarkannya saja selama waktu
sewa atau sebagiannya, maka penyewa wajib membayar ongkrts
sewa secara penuh. Sebab sewa-menyewa adalah akad yang mengikat
sehingga konsekuensinya harus diterima, yaitu mendapatkan upah
jika ia pemilik dan memanfaatkan jika ia penyewa.

AKAD SE\TA.MENYE\TA MENJADI BATAL DALAM
KONDISI BERIKUT:

Pertama,jika barang yang disewakan rusak. Seperti jika ia me-
nyewa hewan tunggangan lalu hewan tersebut mati, atau menyewa
rumah lalu rubuh, atau menyewa lahan pertanian kemudian irigasi-
nya terPutus.

Kedua,jika maksud yang diinginkan dari akad tersebut tidak ada
Iagi. Sepeni jika seseorang menyewa dokter untuk mengobatinya
namun ia keburu sehat. Dalam contoh ini, penyewa tidak bisa lagi
mengambil manfaat dari dokter yang disewanya.

Bila seseor^ngyang disewa untuk melakukan suatu pekerjaan
jatuh sakit, maka ia harus menunjuk penggantinyayangakan melaku-
kan pekerjaan tersebut, kecuali bila ia diharuskan melakukannya
sendiri. Sebab bisa jadi tujuan sewa-menyewa tidak akan tercapai
jika dikerjakan oleh selainnya. Dengan begitu, penyewa tidak di-
haruskan menerima pekerjaan orang lain. Hanya saja, ketika itu dia

Bab Tentang: Hukum Sewa-menyeua 23t

bebas memilih antara bersabar dan menunggu orang tersebut semhuh
atau membatalkan sewa-menyewa karena tidak bisa mendapatkan
haknya.

ORANG YANG DISE\TA ADA DUA MACAM:

Khusus dan bersama. Orang sewaan khusus adalah orangyang
disewa dalam waktu tertentu oleh satu orang. Pihak penyewa ber-
hak mendapat seluruh manfaat orang tersebut tanpa ada orang lain
yang ikut memanfaatkan.

Sedangkan orang sewaan bersama adalah orang yang manfaatnya
ditentukan lewat pekerjaan dan tidak terikat dengan orang tertentu.
Ia menerima order kerjaan dari sejumlah orang dalam waktu yang
sama.

Orang sewaan khusus tidak akan menjamin apayatgrusak akibat
perbuatannya secara tidak sengaja, seperti jika alat yang dipakainya
rusak. Sebab ia bertindak selaku pengganti dari pemilik sehingga
tidak wajib menjamin seperti layaknyaseorang wakil. Namun jika
ia bersikap teledor atau ngawur maka ia harus menjamin apa yang
dirusakkannya.

Adapun orang sewaan bersama, maka ia menjamin semua yang
rusak akibat perbuatannya. Ia tidak berhak mendapat bayarankecuali
setelah bekerja, karena pekerjaan itu merupakan tanggung jawabnya.
Hal ini karena semua yangterjadi dari suatu tanggung jawab maka
menjadi tanggung jawab pula.

Upah wajib diberikan kepada orang yang disewas setelah terjadi
akad. Hanyasajaiatidak berhak memintanya kecuali setelah menye-
lesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, atau setelah
ia dimanfaatkan secara penuh (sesuai akad), atau ia menyerahkan
barang yang disewakan setelah berlalunya masa sewa jika tidak ada
penghalang.

Hal ini karena orang yang disewahanya berhak mendapatkan
upah apabila ia menyelesaikan pekerjaannya, atau apayanghukum-

5 [Contohnya: Orang-orang yang berprofesi sebagai tukang, buruh, pegawai

negeri, pegawai swasta, dan setiap orang yang mendapatkan gaji karena ke-
ahlian atau tenaganya].r"n''

232 Kitab Muzaara'ab, Musaaqaah G Sewa-Menyewa


Click to View FlipBook Version