The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Mulakhkhas Fiqihi Jilid 2 by Syaikh Shalih bin Fauzan

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by waroengdakwah, 2022-08-14 23:27:55

Mulakhkhas Fiqihi Jilid 2

Mulakhkhas Fiqihi Jilid 2 by Syaikh Shalih bin Fauzan

"Barangsiapa mendapati seekor hewan yang ditinggalkan oleh
pemiliknya karena tidak sanggup lagi membawanya, lalu orang
itu mengambilnya, maka hewan itu menjadi miliknya."'o

Lagi pula hewan itu ditinggalkan oleh pemiliknya karena sudah
tidak diminati lagi, sehingga ia mirip dengan semua barang yang di-
tinggalkan karena tidak diminati lagi.

Siapa yang sandalnya -atau barang lain yang semisalnya- diambil
orang, lalu dia mendapati barang lain di temPat sandalnya tersebut,
maka barang tersebut hukumnya seperti luqatbab.Ia tidak boleh
memilikinyahanya karena mendapatinya di tempat itu, meskipun
barang tersebut mirip dengan barangnya. Ia harus mengumumkan-
nya, dan setelah itu ia boleh mengambil uang hasil penjualan barang
tersebut sebanyak harga barangny a yang diambil orang. Sedangkan
sisa uangnya -jika ada- disedekahkan atas nama pemilik barang itu.

Kedelapan: Jika ada anak kecil atau orang yang lemah akal me-
nemukan luqatbah lalu mengambilnya, maka orang tuanya (atau
yang menjadi walinya) harus menggantikan posisi keduanya dalam
mengumumkan barang tersebut. Ia juga harus mengambil barang itu
dari tangan mereka, karena mereka bukan orang yang Pantas diserahi
amanah. Bila ia membiarkanny;- hingga barang tadi hilang/rusak,
maka ia harus menanggunEnya,sebab ia telah menyia-nyiakannya.
Namun bila ia telah mengumumkannyadantidak menemukan pemi-
liknya, bahkan tidak ada orang pun yang datang juga, maka barang itu

menjadi milik mereka (anak kecil dan orang lemah akal tadi) secara

nisbi, persis seperti bila ditemukan oleh orang dewasa dan berakal.

Kesembilan:Bilaia mengambil luqathab dari suatu tempat lalu

mengembalikannya lagi ke tempat semula, ia harus menanggungnya.
Sebab barang tersebut telah menjadi amanah di tangannya; makaia

wajib menjaganya sebagaimana menjaga amanah-amanah lainnya,
sedang bila ia meninggalkannya berarti telah menyia-nyiakannya.

ro Hadits hasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no.352a) [III:510] khab al'
Buyu',bab75, dari 'Amir asy-Sya'bi secara mursal [Hadits mursal adalahhadhs

yang gugur dari sanadnya rawi setelah tabi'in] . Dihasankan oleh Syaikh al-

Albani dalan lrwa al'Ghalil (no. 1562) [VI:16].

Bab Tentang: Huhum Luqathab (BarangTemuan) 301

Perhatian:
Dari petunjuk yang diajarkan Islam tentang barang yang ditemu-
kan, kita menjadi sadar bahwa Islam begitu memperhatikan masalah
harta dan begitu menjaganya serta menghargai harta seorang mus-

lim. Secara umum, ini menunjukkan bahwa Islam menganjurkan

setiap perbuatan tolong-menolong dalam kebaikan.
Kita berharap kepada Allah agar meneguhkan kita semua dalam

Islam serta mewafatkan kita sebagai kaum muslimin.

Gz,:-J

302 Kitab Menghidupkan Tanab Mati...

BAB TENTANG:

HUKUMLAQITH
(ANAKYANG DITEMUKAN)

Hukum laqith memiliki kaitan yang sangat erat dengan hukum
I uq atb ah. ! ika luqatb ah b erhubun gan den gan harta y anghilang, maka
laqith berhubungan dengan manusia yang hilang. Dari sini, nampak-
lah keuniversalan hukum Islam atas seluruh hajat kehidupan dan
bahwa Islam selalu menjadi pelopor dalam setiap bidang kehidupan

yan g berm anf.aat. Aj aran Islam telah men gun gguli aP a y angsekaran g

dikenal dengan panti asuhan anak yatim dan yayasan sosial untuk
mereka yang tidak punya keluarga, baik anak-anak maupun tua
renta. Salah satunya ialah dengan perhatian Islam atas anak yang

ditemukan.

LAQITH adalah anak yang ditemukan dalam keadaan terbuang
atau terpisah dari keluarganya. Dalam kedua kondisi ini nasabnya

tidak diketahui.

\7ajib bagi yang mendapati laqith dalam kondisi seperti itu untuk
mengambilnya. Ini hukumnya wajib kifuab. Artinya bila telah ada
yang melakukannya dalam jumlah yang cukup, maka dosanya gugur
dari seluruh kaum muslimin. Namun jika tidak ada, maka semuanya
berdosa selama anak itu masih memungkinkan untuk diambil. Hal

ini berdasarkan firman Allah,€:

'tflGlig$G;

{F

"... Salingtolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakua-
d.n... " (QS. Al-M aa-idah 2)

Keumuma n ayat ini menunjukkan diwajibkannya memungut
anak yang ditemukan. Sebab hal ini merupakan tolong-menolong
dalam kebaikan dan ketakwaan. Di samping itu, dengan memungut-

Ditemuhan)Bab Tentang Hukum Laqitb (Anak yang 305

nya berarti telah menyelamatkan jiwanya sehingga hukumnya wajib
seperti memberinya makan saat darurat, menyelamatkannya dari
tenggelam, dan semisalnya.

Anak yang ditemukan statusnya adalah orang merdeka dalam se-
luruh kondisinya. Sebab pada dasarnya setiap orang adalah merdeka,
dan perbudakan adalah sesuatu yang sifatnya datang kemudian.

Maka jika status seseorang tidak diketahui, maka pada dasarnya

dia bukan budak.

Jika anak tersebut dijumpai membawa suatu harta atau di sekitar-

nya ada barang berharga, maka semua itu adalah miliknya. Hal ini
berdasarkan zhahir keadaannya, di samping karena barang-barang

tersebut berada dalam kekuasaannya. Sehingga orang yang harus
memb erinya nafkah secara m a'ruf dari harta y angdij ump ai bersama-
nya itu, karena dia benindak selaku wali atasnya. Namun, bila anak
tersebut tidak kedapatan membawa apa pun, ia berhak mendapat
nafkah dari baitul mal.

Dalilnya adalah ucapan'tlmar $F, kepada orang yang mengam-
bil laqith saat menemukannya:

*.;3113W:,:JJi, ulS,? *sy

"Pergilah (bersamanya)! Dia adalah orang merdeka dan kamu
berhak mendapatkan uala'nya, sedangkan nafkahnya kami
tanggung."l

Makna dari"uala'nya" di sini ialah kamu berhak menjadi wali-
nya. Sedangkan makna bahwa nafkabnya kami tanggung, artinya

dari baitul mal kaum muslimin. Dalam laf.azhyang lain,'Umar €5

mengatakan: "Biaya menyusuinya kami tanggung,"2 yakni di tang-
gung oleh baitul mal.

Hadits shahih. Diriwayatkan oleh al-Baihaqi (no. 12133) IYI:232)kitab al-
Luqathab, bab 14. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam lrwa al-Ghalil
(no. 1573) [VI:23].
HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Musbannaf-nya (no. 31560) [VI:298] kitab al-
Fara-idb, bab ke-107.

306 Kitab Menghidupkan Tanab Mati...

Jadi, orang yang mengasuh anak yang ditemukan tidak wajib
menafkahinya maupun menyusuinya dari uang pribadinya, karena
itu semua adalah kewajiban baitul mal.lika baitul mal pun ridak
bisa, maka setiap orang Islam yang mengetahui keadaannya wajib
menafkahinya. Sebab Allah berfirman yang artinyai

(@ '{raT"}i&'t;'5c6 Y

"... Salingtolong-menolonglab kalinn dalam kebaikan dan ketakua'
dn... " (QS. Al-M aa-idah: 2)

Dan juga dikarenakan bila tidak ada yang menafkahinya maka
ia akan binasa. Di samping itu, menafkahi anak yang ditemukan ter-
masuk suatu penghormatan seperti menjamu tamu.

Secara agama,status anak yang ditemukan di negara Islam atau

di negara yang mayoritas penduduknya muslim adalah muslim.
Dalilnya adalah sabda Nabi #,:

.rN\,Y{,i.,;;3

"setiap bayi dilahirkan di atas fitrah (muslim)."3

Namun, bila ia ditemukan di negara yang kafir seratus Persen
atau sedikit kaum musliminnya maka ia dianggap kafir mengikuti
negeri asalnya. Dalam hal ini, yang berhak mengasuhnya ialah orang
yang menemukannya jika ia seorang yang amanah. Sebab 'IJmar

$b menyetujui pengasuhan seorang anak yang ditemukan oleh

AbuJamilah begitu ia mengetahui bahwa AbuJamilah seorang lelaki
shalih. 'umar mengatakan: "Engkau boleh mengasuhnya."a Hal ini
karena dialah yang lebih dahulu menemukannya,maka dialah yang

lebih berhak atasnya.

I HR. Al-Bukhari (no. 1359) llll.279lkitab al'Jana'iz,bab79,dan Muslim (no.
a 2658 (6755)) NIII:4231 kitab al-Qadar,bab 6, dari Abu Hurairah dF, '

Diriwayatkan oleh Malik dan al-Baihaqi sebagaimana yang telah berlalu tahhrii.

nya, dan asal hadim ini terdapat dalam Sbahib al'Bukhari secara mu'alaqlY:

nn.

Bab Tentang: Hukum Laqitb (Anah yang Ditemukan) 307

Orang yang menemukannya memberinya nafkah dari harta yang
didapat pada anak tersebut, seperti uang dan sebagainya. Ia harus
mena{kahinya dengan baik karena ia selaku walinya.

Namun bila orang yang menemukannya tidak layak menjadi
pengasuhnya, baik karena dia orang yang fasik atau bahkan kafir,
sedangkan anak yang ditemukannya muslim, maka orang ini tidak
boleh dibiarkan membawa anak tersebut. Sebab orang fasik atau
kafir tidak bisa menjadi wali atas seorang muslim, karena ia akan
mempengaruhi agama muslim.

Begitu pula halnya jika yang menemukannya adalah orang badui
yang nomaden, yakni berpindah-pindah tempat, ia juga tidak boleh
mengasuhnya. Sebab hal ini akan melelahkannya. Sehingga ia harus
diambil dari tangan badui dan diserahkan kepada orangyang menetap
di kota. Karena dengan menetap di kota, pengaruhnya akan lebih
baik bagi agama dan dunianya, serta lebih mudah untuk diketahui
keluarganya dan nasabnya.

Harta warisan dari anak yang ditemukan jika ia mati atau diyat
yang diterimanya jika ia dianiaya hingga layak mendapatkannya
menjadi milik baitul mal jika ia tidak memiliki keturunan yang me-
warisinya. Namun, jika ia memiliki seorang istri saja, maka isterinya

mendapat seperempat.

Jika ia dibunuh dengan sengaja dan tanpa alasan yang benar,
maka yang menjadi walinya adalah Imam kaum muslimin. Sebab
seluruh kaum muslimin akan mewarisinya, dan Imam bertindak se-
laku wakil kaum muslimin, yang bebas memilih antara meng-qishash

pembunuh atau meminta diat (tebusan) untuk diberikan ke baitul

mal.ladi,Imam bertindak sebagai wali atas orang yang tidak punya
wali fterabat).

Jika anak yang ditemukan dianiaya dengan sengaja namun tidak
sampai dibunuh, maka hukuman atas penganiayanya harus ditang-
guhkan hingga anak tersebut baligh danrasyid,lalu dia diberi pilihan
antara menuntut qishasb atau memaafkannya.

Jika ada seorang pria atau wanita yang mengakui anak tersebut
sebagai anaknya, maka ia diikutkan kepada orang itu. Sebab hal ini

308 Kitab Mengbiduphan Tanab Mati,.

menrpakan kemaslahatan baginya dalam hal bersambungnya nasab
dan tidak merugikan orang lain, dengan syarat hanya' orang terse-
but yang mengakuinya sebagai anaknya dan anak itu juga mungkin
untuk dianggap sebagai anaknyas. Namun, jika yang mengakuinya
sebagai anak ada sejumlah orang, maka yang didahulukan adalah
yang memiliki bukti. Jika mereka sama-sama tidak memiliki bukti
atau buktinya saling bertentangan, maka mereka dan anak tersebut
dihadapkan ke sejumlah qa-if,dansiapa yang dianggap sebagai orang
tuanyaoleh paraqa-ifmaka ia yang berhak mengambil anak tersebut.

Inilah keputusan yang diambil oleh 'umar yang dihadiri oleh para

sahabat #.6

Qa-if adalah orang yang bisa mengenali nasab lewat kemiripan
anggota badan. Dalam hal ini cukup satu qa'if yang memutuskan,
dengan syararia seorang lelaki yang adil dan pernah teruji kebenaran-
nya (dalam mengenali nasab seseorang).

Gz-:.-J

s [Artinya ada tanda-tanda yang menunjukkan hubungan darah antara orang

6 tersebut dengan anak].r*' ad'
Hadits shahih. Diriwayatkan oleh al-Baihaqi (no.21258) lXtaa2)kitab

Da'toa,bab 12, tentang beberapa orang yang mengklaim seorang anak dan

'Abdurrazzaq (no.13475) [VII:360] kitab al-Qadzaf. Dishahihkan oleh Syaikh
al-Albani dalam lrana al-Gbalil [VI:25] di bawah pembahasan hadits no. 1578.

Bab Tentang Huhum Laqith (Anak yang Ditemuhan) 309

BAB TENTANG:

HUKUM'WAKAF

'WAKAF artinya, menahan benda asal dan memberikan man-
f.aarnya cuma-cuma. Yang dimaksud benda asal di sini ialah setiaP
benda yang bisa dimanfaatkan namun dzatnya tetap eksis, seperti
bangunan, pertokoan, perkebunan, dan semisalnya. Sedangkan yang
dimaksud dengan manfaatnya ialah penghasilan yang didapat dari
benda asal tersebut, seperti ongkos sewa, kontrakan, hasil Panen,
dan semisalnya.

'Wakaf termasuk sarana bertaqdrrub kepada Allah yang hu'
kumnya sunnah dalam Islam, dan dalilnya adalah hadits-hadits

shahih.

Dalam asb-Sbahihalz disebutkan bahwd'IJmar $F, pernah ber-
tany^i "lilZahai Rasulullah, aku mendapat sepetak tanah di Khaibar

yang merupakan harta paling berharga yang Pern h kudapatkan;
lantas apa y atgkau perintahkan kepadaku berkenaan dengan nya?"

Rasul ffi menjawab:

(!:\ q; q. lLl p r.:so-r*-6^-a<r.1 r.i o'? / o.. / J\

"Kalau engkau mau, tahanlah asalnya (tanah tersebut) dan se-
dekahkan (berikan manfaatnya)."

'umar pun lantas menyedekahkan manf a^trlya dengan syarat

tanah tersebut tidak boleh dijual, tidak boleh dibibahkan, dan tidak
bisa diwariskan. 'IJmar menyedekahkan manfaatnya kepada kaum
fuqara, kerabat dekat, budak-budak yang berusaha menebus ke-
merdekaanrrya, p^ra pejuang fi. sabilillaab, ibnu sabil dan tamu-
tamu.l

t HR. Al-Bukhari (no.2737) [V:435] kitab asy-Syuruth,bab 19, dan Muslim (no.

1632 (4224)) [VL88] kitab al-Vashi,yyah,bab 4, dari Ibnu'LImar ,#b ,danlafazh
hadits ini adalah berdasarkan riwayat al-Bukhari.

Bab Tentang Hukum \Vakaf 3t3

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, bahwa Nabi

#- bersabda:
tt;-{as.J..--i.<,oo:?) i Jr, .it
'{,J,\,11-}t ,.i\;li!

.'rlJ"r;:i-eAW ,iS:\ c): '/,i*-\"r)g/ "ti r*sV
-:(-
J

'Jika seseorang meninggal dunia, terputuslah seluruh amalnya
kecuali yang termasuk tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang ber-
manfaat, atau anak shalih yang mendoakannya."2

labir Q$ mengatakan: "Tidak ada seorang pun dari kalangan

sahabat yang memiliki kemampuan (finansial) kecuali meuakafkan

sesuatu."

Sedangkan Imam al-Qurthubi '+SZ mengatakan: "Tidak ada
perbedaan di antara para imam tentang (dianjurkannya) meuakaf-

kan jembatan dan mesjid, namun mereka berbeda pendapat tentang
wabaflainnya."

ISYARAT \X.AKA\

Syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang hendak mewakaf-
kan ialah ia harus baligh, merdeka, dan rasyid. Sehingga uakaf dari
anak kecil, orang lemah akal, dan budak tidak dianggap sah.

\Vakafberlaku dengan salah satu dari dua hal:

Pertama: Dengan ucapan yang mengarah ke uakaf seperti
mengatakan: "Aku meutaka/kan tempat ini", atau "Aku menjadikan-

nya mesjid".

Kedua: Dengan perbuatan yang mengarah ke utakaf mentrut

tradisi masyarakat. Seperti orangyang menjadikan halamannya seba-
gai mesjid dan mengizinkan orang-orang secara umum untuk shalat di
sana. Atau menjadikan tanahnyasebagai kuburan dan mengizinkan
orang-orang untuk dikuburkan di sana.

2 HR. Muslim (no. 1632 (4223)) [VI:87] kitab al-lVasbiyyah,bab 3, Abu Dawud

(no. 2880) [III:201] khab al-lVashaya,bab 12, at-Tirmidzi (no. 1376) IIII:660)
kftab al-Ahkam,bab 36, dan an-Nasa-i (no. 3653) [III:561] khab al-lVasbaya,
bab 8, semuanya dengan laf.azh: "Jika seseorang wafat..."

3t4 Kitab Mengbiduphan Tanab Mati...

Lafazh-lafazh ankaf terbagi menjadi dua:

P er t a m a : Laf.azh-laf azh y ang te gas, s ep ert i men gat ak an : " A ku
meuakalkan...", "Aku memberikannya untuk umum...", dan "Aku
men ah ann y a. . ." . Laf azh-laf azh ini t ergolon g t e gas karena t idak me-
ngandung arti selain uakaf.Maka begitu diucapkan salah satu laf.azh
di atas, jadilah ia uakaf ranpa perlu tambahan apa-apa.

Ke dua : Laf.azh-lafazh kiasan, seperti mengatakan "Aku me-
nyedekahkxfl...", "Aku melarangnya (untuk dijual)", "Aku meng-
abadikannya..." , dan semisalnya. Laf.azh-lafazh ini disebut kiasan
karena bisa mengandung pengertian uakaf namun bisa juga tidak.
Sehingga bila salah satu lafazh di atas diucapkan maka disyaratkan

harus diiringi niat untuk meuakaJkan atau diiringi dengan salah satu
laf.azh yan g te gas arav laf.azh-lafazh kias an I ainnya. C ont o h yan g di-
iringi la{azhtegas misalnya: "Aku menyedekahkan ini sebagai uakaf,
atau untuk ditahan, atau untuk diabadikan...". Sedangkan contoh
laf.azh kiasan yang disertaipeuakafan ialah "Aku menyedekahkan-
nya sebagai sedekah yang tidak boleh dijual dan diwariskan."

Agar meniadi sah, utakaf harus memenuhi syarat'syarat
berikut:

Pertama: Yang rneu)dkafkan adalah orang yangboleh ber'
transaksi, sebagaiman yan1telah dijelaskan.

^
Kedwa: Benda yang diwakafkan harus bisa dimanfaatkan
secara terus-menerus dan wujudnya tetap ada. Artinya, tidak sah
bila seseorangmeuakafkan sesuatu yang habis setelah dimanfaatkan,
seperti makanan misalnya.

Keti g a : Ben da y ang diwakatkan harus ditentukan. Jadi, tidak
sah mewakolk^nsesuatu yang tidak tentu, seperti mengatakan: "Aku
meuakafkan salah seorang budakku... atau salah satu rumahku."

Keempat:'Vakaf tersebut harus dituiukan untuk kebaikan.
Sebab maksud dari uakafadalah bertaqarrubkepada Allah; seperti
meanka/kan mesjid, jembatan, sistem irigasi, kitab-kitab ilmiah,
wakaf vntvk orang-orang miskin, dan uakafuntuk karib kerabat.
Karenanya , uakafyang ditujukan untuk selain kebaikan adalah tidak
sah, seperti uakafvntttk tempat ibadah orang kafir, kitab-kitab sesat,
uakafuntuk kuburan supaya diterangi dan diberi wewangian, atau

Bab Tentang Hukum \Vahaf 315

wakafkepada juru kuncinya. Sebab semua itu termasuk mendukung
kemaksiatan, kemusyrikan, dan kekufuran.

Kelirn a : lika w akafnya untuk pihak tertentu, maka disyarat-
kan bahwa pihak tersebut harus sah untuk memiliki secara
permanen. Sebab mewaba/kan berarti menyerahkan kepemilikan.
Karenanya, ia tidak sah ditujukan kepada yang tidak bisa memiliki,
seperti orang mati dan hewan.

Keenam: Agar menjadi sah, uakaf harus dilakukan secara
tunai dan tidak boleh bersifat sementara atau dikaitkan dengan
suatu hal; kecuali bila dikaitkan dengan kematian orang yang
memberi anhaf, maka hal itu sah. seperti jika ia mengatakan: "Bila
aku mati, maka rumahku kuwakaJkan bagi kaum fakir."

Dalilnya adalah hadits riwayat Abu Dawud bahwa'Umar gF'
pernah berwasiat jika terjadi sesuatu atas dirinya, maka tanah
Tsamghan miliknya menjadi sedekahi. Peristiwa ini masybur di ka-

langan para shahabat dan tidak ada yang mengingkarinya, sehingga
menjadi ijma'. Bilauakafdikaitkan dengan kematian, maka nilainya
adalah sepertiga dari harta si mayit, sebab uakafseperti ini hukumnya
sePerri wasiat.

[ATURAN DALAM WAKAN
Di antara aturan dalam uakafialah, ap^y^ngdisyaratkan oleh

pemberi ankafharr,ts dilaksanakan selama tidak bertentangan de-
ngan al-Qur-an dan Sunnah.

Dasarnya adalah sabda Nabi ffi: "Kaum muslimin terikat de-

ngan syarat-syarat mereka, kecuali syarat yang menghalalkan yang
haram atau mengharamkan yang halal."a Dalil lainnya ialah karena
'IJmar pernah meuakafkan sesuatu dan mensyaratkan syarat ter-
tentu. Seandainya syarat tersebut tidak harus dilaksanakan, maka
tidak ada faidahnya. Jadi, bila pemberi uakaf mensyaratkan kadar
tertentu, atau mensyaratkan agar sebagian orang/ golongan didahulu-

I Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2879) [III:20l]kitab a/-
tVasba.ya, bab 13, dari jalur Yahya bin Sa'id dengan lafazh senada.lTsamghan
adalah nama salah satu tanah milik 'IJmar g5 l. Dishahihkan oleh Syaikh al-

a Albani dalam Sbahib Abi DautudUl:210-2111.

Lihat takbrijnyahalaman2l

316 Kitab Mengbidupkan Tanab Mati...

kan atas yang lainnya, atau mensyaratkan kriteria tertentu bagi yang
berhak atas zoukaftersebut5, atau mensyaratkan adanya pengawas
(nazhir),dan sebagainya; maka syarat tersebut harus dipenuhi selama
tidak bertentangan dengan al-Qur-an atau Sunnah.

Namun, bila ia tidak mensyaratkannya, maka semua orang me-

miliki hak yang sama terhadap barang yang diuakaJkan, baik dia

kaya maupun miskin, laki-laki maupun perempuan.

Jika ia tidak menu njuk nazhir (pengawa s wakafl atau menunjuk
seseorang tapi orang tersebut kemudian wafat, maka yang menjadi
nazbir adalah yang diberi wahafbilapihak tersebut tertentu. Namun
bila uakafnya untuk bidang tertentu seperti mesjid, atau untuk
golongan yang tidak mungkin dibatasi seperti orang-orang miskin,
maka yang menjadi nazhir.adalah pemerintah. Pemerintah boleh
menangani pengawasan wakaf secara langsung atau mewakilkannya
ke pihak lain.

Pihak yang menjadi nazhir harus bertakwa kepada Allah dan
mengurusi uakafrcrsebut dengan baik, sebab itu merupakan amanah
yang diberikan kepad any^.

Jika seseorangmeutako|k^n kepada anak-anaknya, maka hak
memanfaatkanuakafberlaku sama bagi seluruh anaknya baik yang
lakilaki maupun perempuan. Hal ini karena ia membagiuakafter-
sebut untuk mereka, dan konsekuensinya adalah sama-sama berhak
rnendapatkan, persis seperti jika ia mengakui sesuatu sebagai milik
anak-anaknya, makasesuatu yang diakui itu menjadi milik mereka
dengan pembagian yang sama. Jadi, jika ia meuaha/kan sesuatu
untuk anak-anaknya, maka aturannya juga sama. Kemudian setelah
anak-anaknya, wahafberpindah ke cucu dari anak-anak lelakinya,
bukan cucu dari anak-anak perempuannya. Sebab cucu dari anak

perempuan adalah anak orang lain yang dinasabkan ke bapak-bapak

mereka. Selain itu, cucu dari anak perempuan tidak masuk dalam
firman Allah:

{@ "e$5-edi't'fuiy

5 Sepeni mengatakan: "Bangunan ini hanya boleh dipakai oleh orang yang ber-

akidah Ahlus Sunnah ual Jama'al)", atau "Rumah ini tidak boleh ditempati
oleh orang yang merokok".

Bab Tentang Hukum \Vakaf 317

"Allah beruasiat k epadamu (tentang pembagian anrisan) untuk
anak-anakmrz... " (QS. An-Nisaa' : 1 1)

Hanya saja, sebagian ulama berpendapat bahwa cucu dari anak
perempuan juga masuk kategori'anak-anak'. Sebab anak-anak pe-
rempuan adalah 'anak'-nya, maka anak-anak mereka juga menjadi

anaknya secara hakiki. Wallaabu a'lam.

Jika ia mengakan: "Ini adalah wahafbagi putra-putraku" atau

"Putra-putra si Fulan", maka uakaftersebut khusus bagi yang laki-
laki. Sebab kata'putra' khusus dipakai untuk yang laki-laki.

Allah $B berfirman:

(@l{ri#ii;fixt}

"Apakab pantas (Allab) mendapat putri, sedangkan halian men-

dapat pu*ai" (QS. Ath-Thuur: 39)

Namun, jika wtakaf tersebut dituj ukan kep ada kab ilah/suku ter-
tentu, seperti Bani Hasyim, Bani Tamim, [orangJawa, orang Bugis,
dan semisalnya], maka wanita-wanitanya termasuk ke dalamnya.
Sebab istilah 'kabilah' atau'suku' mencakup pria dan wanita.

Bila ia meuakafkan kepada sekelompok orang yang bisa dibatasi,
maka semuanya harus mendapatkan bagian yang sama. Namun, bila
tidak bisa dibatasi dan dijangkau seluruhnya, seperti Bani Hasyim dan
Bani Tamim misalnya6, maka mereka tidak wajib diberi semua karena
tidak mungkin. lVak af tersebut b oleh dituj ukan kep ada seb agiannya
saja dan pembagiannya boleh dilebihkan satu sama lain.

lZAKAFtermasuk akad yang mengikat dan berlaku cukup
dengan ucapan, artinya ia tidak boleh dibatalkan.

Dalilnya adalah sabda Nabi #,:

sr,"lS *inruA.-.i 74 ..j

u [Sebab yang termasuk dalam kedua kabilah ini jumlahnya jutaan jiwa dan

mereka tersebar di seluruh dunia].e'n''

318 Kitab Menghidupkan Tanah Mati...

"Benda asal wakaftidak boleh dijual, tidak boleh dibibabkan,
dan tidak boleh diwariskan."T

Imam at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini menjadi pa-

tokan bagi para ulama dalam mengamalkanankaf. Sehingga sesuatu
yang telah diuaka/kan-walaupun secara lisan- tidak boleh dibatal-
kan, karena ia telah diabadikan.

Benda asal uakaftidak boleh dijual maupun dipindahkan dari
Iokasinya, kecuali jika manfaatnyaterhenti secara total. Seperti ru-

mah yang telah roboh dan tidak bisa direnovasi dari hasil pemasukan
wahafnya,atau lahan pertanian yang rusak dan kembali gersang serta
hasil pemasukan wakafnyatidak cukup untuk menyuburkannya,
maka dalam kondisi seperti ini uakaf boleh dijual dan uang hasil

penjualannya dibelanjakan untuk wakaf yang serupa, mengingat

cara inilah yang paling sesuai dengan maksud pemberi ankaf. Hanya
saja, jika ,.oahaf dalambentuk yang sama tidak bisa didapat dari nilai
jualnya, maka nilai jual tersebut dibelanjakan untuk membeli seba-
giannya, dan bagian tersebut otomatis menjadi uakafbegitu dibeli.

Jika zaakafnya berupa mesjid, lalu mesjid tersebut terbengkalai
dan tidak bisa dimanfaatkan karena lokasinya rusak umpamanya,
maka mesjid tersebut boleh dijual dan uang hasil penjualannya di-

pakai untuk mendirikan mesjid lain. Jika pemasukan uakaf suatu
mesjid lebih besar dari dana yang dibutuhkan untuk mengelola
mesjid itu, maka kelebihan dana tersebut boleh disumbangkan un-
tuk mesjid lainnya. Sebab ini merupakan pemanf.aatan dana sesuai

dengan tujuan uakaf. Kelebihan dana tersebut juga boleh disedekah-
kan kepada fakir miskin.

Jika seseorang meuakafkan kepada pihak tertentu, sepefti de-
ngan mengatakan: "Ini adalah wakafuntukZaid,berilah ia sepuluh
juta tiap tahunnya," kemudian pemasukan wakaftersebut lebih dari
sepuluh juta, maka sisanya harus dikumpulkan.

7 HR. Al-Bukhari (no.2764)lY:479lkitab al-Vasbaya,bab 22, dari Ibnu 'LJmar

8 *.uirl.)' .

fYaitu, pemasukan yang didapatkan dari wakaf itu sendiri. Misalnya jika se-
seorang meuahafkan mesjid dua lantai, lalu lantai dasarnya disewakan untuk

ruang pertemuan, maka pemasukan yang dimaksud ialah dari hasil sewa lantai
dasar tersebut, bukan uang hasil infak jama'ah mesjid].ru'

Bab Tentang Hubum Vakaf 319

Syaikh Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah '{)E k^e"lnegbiahtaanknayna: "Jika
harus
ternyata pemasukan uakaf selalu berlebih, maka

dibelanjakan, sebab jika dibiarkan akan sia-sia."

Jika seseorangmeuakaJkan sesuatu untuk kepentingan masjid lalu
mesjid tersebut rusak, sedangkan pemasukan uakafnya tidak cukup

untuk merenovasinya kembali, maka pemasukan wakafrcrsebut bisa

diberikan ke mesjid lain yang serupa.

Gz.:.-J

320 Kitab Mengbiduphan Tanab Mati...

BAB TENTANG:

HUKUM HIBAHDAN HADIAH

HIBAH adalah pemberian dari orang yang boleh bertransaksi

saat ia masih hidup berupa harta tertentu kepada orang lain.

Nabi #, adalah orang yang sering memberi hadiah sekaligus

menerimanya. Beliau juga sering memberi dan mendapat pemberian.
Hibab dan hadiah termasuk perbuatan sunnah yang dianjurkan, ka-

rena membawa berbagai kemaslahatan. Rasulullah H, bersabda:

.r$v,: D3\ij

"saling menghadiahilah kalian, niscaya kalian saling mencintai."1

Diriwayatkan oleh'Aisyah t#' , beliau bersabda:

t-t'{:16 +:}i -: i-I,t M )i\\ i;:rt Sg

"Rasulullah ffi biasa menerima hadiah dan membalasnya."2

Beliau juga bersabda:

.t:-+A! +6I {+Al 3,u '9it6

"saling menghadiahilah kaliar,, r.UrU hadiah akan menghilang-
kan kedengkian."3

t Hadits hasan. Diriwayatkan oleh Malik dalamal'Muutaththa'(no.16) [I:326]

kitab Husnul Khuluq,bab 4, al-Bukhari dalam al'Adabul Mufrad (no. 594), serta

al-Baihaqi (no. 119a6) [VI:280] kitab al'Hibaat, bab 1, dari Abu Hurairah dE .

Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam lrwa al'Gbalil (no. 1601) [VI:44].

2 lt.HR. Al-Bukhari (no. 2585) lY.21glkitab al'Hibah,bab
3 Hadits dha'if. Diriwayatkan oleh Ahmad (no.9222) [II:405] dengan lafazht

(r:,At jJ{.a-ii), dan at-Tirmidzi (no. 2130) [IV:441] kitab al'Hibab,bab 6, de-
f). Kata' al-waghru' dan' al'anbru' keduanya bermak-
;) bigan lafazh 0i2!\

Bab Tentang Hukurn Hibab & Hadiab 323

Hibab meniadi milik seseorang begitu ia menerimanya atas
izin pemberinya. Sehingga dengan demikian, hibah tersebut tidak

bisa ditarik kembali. Adapun sebelum orang tersebut menerimanya,
pemberinya bisa menariknya kembali.

Dalilnya adalah hadits riwayat 'Aisyah €9, bahwa Abu Bakar

(ayahnya) pernah memberinya2} wasaq dari panen kebunnya yang
terdapat di 'Aaliyaha. Namun ketika Abu Bakar sakit (menjelang
wafat), beliau berkata:

e:K 5,W Gpitg ,!ir; J:K e1,{d U
eb.)\3ju p;t eaYtr,r\ JK t*-ri-\ *\G

.rtu:4,1 t)e \;33\3

"ut"\7ahai putriku, aku dahulu pernah memberimu hasil panen se-

banyak 20 uasaq,andai saja dahulu kamu langsung mengunduh
dan memanennya, niscaya semua menjadi milikmu. Akan tetapi

sekarang harta itu menjadi milik ahli waris, maka berbagilah se-

suai denga n Kitabullaab."s

Jika barang yang dibibahkan sudah berada di tangan calon pe-
nerimanya sebagai barang titipan atau barang pinjaman, kemudian
barang tersebut dihibahkankepadanya, maka serah terimanya cukup
dengan tetap membiarkannya berada di tangannya.

Piutang sah untuk dihibabkankepada orang yang berhutang, dan
hal ini berarti menggugurkan hutangnya.Hibab juga boleh dilaku-
kan atas semua yang boleh dijual.

na sama, yaitu dengki, dendam, dan hasad. Didba'ifkan oleh Syaikh al-Albani

dalam lrwa al-GhalillYl:44-461, di bawah pembahasan hadits no. 1601.

Syaikh Muhammad al-'Utsaimin di dalam Syarh Bulugb al-Maram [IV:320] me-

nagatIaukaasna, q"H:ad60itsshina'i,sdehdaa'inf,gknaanmuI nshma'a:kn4anmyuadb,deannar.I" mud : takaransepenuh

dua telapak tangan ukuran sedang yang digabungkan. Sedangkan'Aaliab ada-

5 lah nama suatu daerah di kota Madinah.
Hadits shahih. HR. Al-Baihaqi (no. 119a8) [VI:280] kitab al-Hibat,bab ke-2,
dari jalur 'lJrwah dengan laf.azh: "dari kebunnyayangada di ghaabah," lyang
juga nama daerah di Madinahl. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-

Iruaa' (no. 1619) [VI:61].

324 Kitab Menghiduphan Tanab Mati...

Hibab tidak sah dikaitkan atas syaratyangteriadi kemudian,
seperti mengatakan: 'Jika terjadi hal anu, maka engkau saya bibahi
anu". Akan tetapi dikecualikan bila hibah tersebut dikaitkan dengan
kematian, seperti mengatakan: "Jika aku mati, maka engkau saya
bibahkan ini dan ial," Hibab semacam ini disebut wasiat dan aturan-
nya seperti wasiat.

Hibah yang sifatnya sementara iuga tidak sah, seperti me-
ngatakan: "Barang ini saya hibahkankepadamu selama sebulan atau

setahun". Sebab bibab berarti memindahkan kepemilikan atas ba-
rang tersebut, maka tidak bisa dibatasi waktunya seperti jual-beli.

Seseorang tidak diperbolehkan memberi bibah kepada se-

bagian anaknya sedangkan yang lainnya tidak diberi, atau melebih-
kan pemberiannyakepada salah satu anaknya. Ia harus berlaku adil
dan menyamakan pemberian kepada setiap anaknya.

Dalilnya adalah hadits Nu'man bin Basyir yang mengatakan
bahwa ayahnyapernah datang kepada Rasulullah H, setelah mem-
berinya suatu pemberian. Sang ayah bermaksud mempersaksikan
pemberian tersebut kepada Rasulullah ffi. Vtaka Nabi #- bertanya:
"Apakah setiap anakmu engkau beri seperti ini?" "Tidak," jawabnya.

Maka Beliau #, berkata: "Kembalikan pemberian itu." Lalu kata

beliau: "Talcutlah kalian kepada Allah dan berbuat adillah di antara
anak-anak kalian." (Munafaq'alaib)6

Hadits ini menunjukkan diwajibkannya berlaku adil terhadap

semua anak dalam memberi sesuatu. Selain itu, hadits ini juga menun-
jukkan diharamkannya bersaksi maupun menyaksikan pemberian
yang tidak merata, jika ia mengetahui hal itu.

Jika seseorang memberikan bibab lalu diterima oleh penerima-
nya, maka haram bagi pemberi untuk ruiuk dari pemberiannya
dan menariknya kembali.

Dalilnya adalah hadits Ibnu'Abbas bahwa Nabi #., bersabda:

.r+3 e j rgoi<ir *e lar
"t;

6 HR. Al-Bukhari (no.2587) [V:260] kitab al-Hibab,bab 13,dan Muslim (no.

1623 (4t77)) [VI:69] kitab al-Hibah,bab 3.

Bab Tentang Hukum Hibab & Hadiab 325

"Orang yang meminta kembali pemberiannya ibarat anjing yang
muntah lalu meminum kembali muntahannya."T

Ini menunjukkan diharamkannya meminta kembali apa yang

sudah diberikan, kecuali bila yang memberi adalah ayah sendiri;

maka ia boleh meminta kembali pemberiannya kepada sang anak.

Dalilnya adalah sabda Nabi ffi: J1"n

'"uAr#ii&ilL'iJrUio4 2

iJ-Jl-Jl 'i!> y,- V-_

.o).-1\]y. U. .,bI, ro-)t tzo.

t^^9

"seseorang tidak halal meminta kembali ap^yangtelah diberi-
kannya, kecuali seorang ayahyangmeminta kembali apayang
telah diberikannya kepada anaknya (HR.Imam yang lima dan
disb ab ibkan oleh at-Tirmidzi) 8

Seorang ayah iuga boleh mengambil dan memiliki sebagian
harta anaknya selama tidak memudharatkan (membahayakan)

sang anak, sedangkan anak itu sendiri iuga tidak membutuh-

kannya.

Dalilnya adalah hadits'Aisyah VtF' y^ngberbunyi:

b?si3i51r' Jr'#iY+#i31

"Se baik-baik yang kalian makan adalah hasil jerih payah kalian,
dan anak kalian adalah bagian dari jerih payahkalian." (FIR. At-

Tirmidzi dan beliau mengbasankannya).

HR. Al-Bukhari (no. 2589) lY:2661 kitab al-Hibah, bab 14, dan Muslim (no.
1622 (4170)) [VI:57] kirab al-Hibab,bab 2.
Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3539) [III:518] khab al-
Buyu',bab 81, an-Nasa-i (no.3692) [III:576] kitab al-Hibab,bab2,Ibnu Majah
(no.2377) [III:126] kitab al-Hibat,bab 2. Hadits ini juga disebutkan tanpa sa-
nad oleh at-Tirmidzi [III:592]. Dbbahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam lraa
al-Gbalil [VI:63], di bawah pembahasan hadits no. 1622.

326 Kitab Menghidupkan Tanab Mati...

Hadits ini juga diriwayatkan oleh yang lainnya.e Ada juga hadits
lain yang mendukung makna hadits ini. Bila digabungkan maka akan
menunjukkan bahwa seorang ayah boleh mengambil, memiliki, dan
memakan sebagian harta anaknya selama hal itu tidak memudharat-
kan sang anak dan tidak terkait dengan haptnya.Bahkan sabda Nabi
!&.

.a;'f 6t^;

"lVS

"Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu."ro

Konsekuensinya, bahwa diri seseorang adalah milik sang ayah

sebagaimanahartanya. Karenanya, seorang anak wajib berbakti ke-
pada ayahnya melalui dirinya atau melaluihartanyajika diperlukan,
dan ia harus memenuhi kebutuhan sang ayah.

Seorang ayah tidak boleh mengambil harta anaknya iika hal
itu berdampak buruk bagi sang anak, atau harta tersebut terkait

langsung dengan hajat anak itu sendiri.

Dasarnya adalah sabda Nabi ffi yangartinya:

;wY3;b1

"Tidak boleh (seseorang) menimbulkan mudhard.t atalr mem-
balas mudbarat dengan mudb arat." 11

Seorang anak iuga tidak boleh menagih utang dan semacam-
nya kepada ayahnya. Sebab pernah ada seseorang yang datang ke-

pada Nabi ffi membawaayahnya dalam rangka menagih utangnya,
maka Nabi #, bersabda: "Engkau dan hartamu adalah milik ayah-

e Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3528) [III:513] kirab al-

Buyu',bab 77, at-Tirmidzi (no. 1358) [III:639] kitab al-Ahham ,bab ke-22, an-
Nasa-i (no. 4a6\llY:276lkitab al-Buyu',bab 1, dan Ibnu Majah (no. 2290)IIII:

801kitab al-Ahkam, bab 64. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam lrwa

al-Gbalil (no. 1626) [VI:65].

'0 Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3530) [III:514] kitab al-

Buyu',bab 77, dan Ibnu Majah (no.2292) [III:80] kitab al-Abham,bab 64, dari
jafur'Amru bin Syu'aib dariayahnyadari kakeknya. Dishahihkan oleh Syaikh

tr al-Albani dalam Inaa al-Gbalil (no. 1625).[VI:55].

Lihat tahbrijnya halaman 149,32.

Bab Tentang Hukum Hibah & Hadiab 327

mu." Jadi, hadits ini menunjukkan bahwa seorang anak tidak berhak
menagih utang kepada ayahnya. Apalagi Allah i$S telah berfirman:

(@ (t*L-ri46ui F

"... (Allab telah memerintahkan) agar kalian berbuat baib kepada
hedua ord.ng tuA..." (QS. Al-Baqarah: 83)

Allah l{6 memerintahkan agar anak berlaku baik kepadaorar,g
tuanya. Perlakuan baik itu di antaranya ialah dengan tidak menun-
tut hak anak kepada orang tuanya, selain nafkah yang merupakan
kewajiban sang ayah. Dalam hal ini, anak boleh menuntut nafkah
tersebut kepada ayahnyademi kelangsungan hidupnya, jika ia me-
mang tidak mampu mencari penghasilan sendiri dan ayahnyaiuga
masih mampu menafkahinya.

Dalilnya adalah sabda Nabi kepada Hindun (isteri Abu Sufyan

"!b), rrja\4$') de;-u +li

"Ambillah harranya-yakni Abu Sufyan- untuk mencukupi ke-
butuhanmu dan anakmu secara waiar."r2

Hadiah dapat menghilangkan kedengkian dan memupuk

cinta kasih, sebagaimana sabda Nabi #,: "saling menghadiahilah,

karena hadiah akan menghilangkan dendam dalam dada."13

Sebaiknya tidak menolak suatu hadiah walaupun sedikit dan

dianiurkan untuk membalas hadiah tersebut, sebab Nabi #- se-

ring menerima hadiah dan membalasnyala. Karena hal ini termasuk
keindahan ag ma dan sikap seseorang yang mulia.

Gz::.-J

t2 HR. Al-Bukhari (no. 536a)[IX:628] kitab an'Nafaqat,bab 9, dan Muslim (no.

17 t4 4477)) lVL234) kitab al-Aqdbiyab, bab 4, dari 'Aisyah u,4F' . Lafazh ha-
dits ini
1r Hadits berdasarkan riwayat al-Bukhari. (no.9222) [II:a05] dan at-Tirmidzi
dha'if. Diriwayatkan oleh Ahmad

(no. 2135) [IV:441] kitab al-Hibab,bab 6,dari Abu Hurairah $$ .Didba'ilkan
al'Jarni'(no.2489).
ta oleh Syaikh al-Albani dalam Dha'if
Lihat tahbrijnyahalaman 323.

328 Kitab Menghidupban Tanab Mati...

BAB TENTANG:

TINDAKAN FINANSIAL
ORANGYANG SAKIT

Kondisi seseorang ketika sehat berbeda dengan kondisinya saat
sakit. Ketika sehat, seseorang bebas melakukan apa saja terhadap
hartanya tanpa pengecualian, selama tidak keluar dari batas-batas
syari'at dan membelanjakannya secara baik. Sedekah dalam kondisi
ini pun lebih afdhal dan lebih besar pahalanya dibanding sedekah
ketika sakit.

Allah T a' ala berfirman:

L;;i {'A 1_ 6 +i d W ( aiii'j}^

iiiG 3 g 3'ifr' ?:,fi dt *3-$ 6

9*frY}\#iq.$\eifr$iJ;@'*;*:i

{@'o$vi

"Dan belanjakanlab sebagian dari apayangtelab Kami berikan

kepadamu sebelum datang kematian kepada salab seorang di antara
kamu; lalu ia berkata: Ya Rabbi, rnengapd. Engkau tidak. menang-
gubkan (kematian)ku sampai uaktu yang dekat, yang rnenyebabkan
aku dapat bersedekah dan aku termasuk, ordng-orangyang sbalih?'
Allah sekali-kali tidak akan menanggubkan (kematian) seseorang
apabila datang ajalnya, dan Allah Maha Mmgetahui apa yang hamu
kerjakan." (QS. Al-Munaafiquun: 10-1 1)

Dalam asb-Shabibain diriwayatkan, bahwa ketika Nabi ffi di-
tanyai tentang sedekah yang paling besar pahalanya, beliau ffi

menjawab:

Bab Tentang Tindahan Finansial Orangyang Sahit 33r

W&56j, I j;torza'&^i c\S 61a 3\

,e^i-i.?;i;Jt er! til,F;# 1r,;-aat

g)rdJ 6K -G')lK )Jd:, tK 9>Q

"Bersedekahlah ketika engkau sehat dan pelit; saat engkau ber-
harap kekayaan dan takut kemiskinan. Janganlah engkau tunda
sedekah itu hingga ketika nyawamu sampai di tenggorokan eng-
kau mengatakan: 'IJntuk si Fulan sekian dan untuk si Fulan
sekian', padahal harta itu akhirnya menjadi milik mereka."1

Kondisi sakit terbagi meniadi dua:

Pertama: Sakit yang tidak mengkhawatirkan, yaitu sakit yang
biasanya tidak berujung pada kematian, seperti sakit gigi, sakit mata,
pusing ringan, dan sebagainya. Orangyangdalam kondisi seperti ini,
apa y angia lakukan terhadap hartany aberlaku normal sebagaimana
layaknyaorang sehat. Ia sah-sah saja memberikan seluruh hartanya,
meskipun di kemudian hari sakitnya menjadi mengkhawatirkan dan
akhirnya ia mati karenanya. Hal ini karena tolok ukurnya adalah
bagaimana kondisinya saat memberikan hartanya, dan ketika itu ia
dihukumi seperti orang sehat.

Kedua: Sakit yang mengkhawatirkan, yakni sakit yang biasanya
berujung pada kematian. Orangy^ng dalam keadaan seperti ini,
seluruh sumbangan dan pemberianyangia berikan hanya berlaku
hingga sepertiga dari total hartanya, tidak keseluruhannya. Kalau
memang nilai seluruh sumbangan dan pemberian tersebut berkisar

pada sepertiga dari kekayaannya atau bahkan kurang, maka ia
berlaku. Namun jika melebihi itu maka tidak berlaku kecuali bila
diizinkan oleh ahli warisnya setelah ia mati.

Dalilnya adalah sabda Nabi #,:

'4Vi r)L "#-sS ;b'4L 6\;3airr 3l

t HR. Al-Bukhari (no. 2748) kitab al-Vashaya,bab 7, dan Muslim (no. 1032

(2382)) kitab az-Zakah,bab 31.

332 Kitab Harta tilarisan

'aci
L',SV:

"Allah bersedekah untuk kalian saat kematian kalian lewat se-
pertiga harta kalian, sebagai tambahan bagi amal kalian." (HR.
Ibnu Majah dan ad-Daruquthni)2

Hadits ini dan hadits lain yang semakna menunjukkan diizin-

kannya melakukan tindakan finansial atas seperti gahartakekayaan
menjelang kematian. Inilah madzhabjumhur ulama. Hal ini karena
orang tersebut sedang sakit parah yang biasanya berujung pada
kematian; bila ia dibebaskan memberikan seluruh hartanya, maka

ahli warisnya yangkasihan. Oleh karen anya,semua pemberian itu
dikembalikan ke sepertiga hartanya seperti wasiat.

Kondisi lain yang hukumnya sama dengan ini ialah kondisi

bahaya. Seperti orang yang daerahnya sedang terjangkit wabah
mematikan, atau orang yang sedang berada di tengah medan perang,
atau orang yang berada di tengah laut saat terjadi badai. Dalam
kondisi seperti ini, pemberian orang tersebut tidak berlaku jika
melebihi sepertiga hartanya, kecuali atas izin ahli warisnya setelah
ia meninggal. Selain itu, ia juga tidak sah memberikan hananya
kepada salah satu ahli warisnya sekecil apa pun, kecuali dengan
izin ahli waris lainnya jika ia memang mati dalam kondisi tersebut.
Namun, jika akhirnya ia sembuh dari sakit yang mengkhawatirkan
itu, maka seluruh pemberiannya berlaku lagi karena penghalangnya
telah sirna.

Orang yang sakitnya menahun namun tidak terbaring di atas

kasur, maka ia sah memberikan seluruh hartanya seperti orang sehat,

karena tidak ada kekhawatiran terhadap dirinya akan segera mati.
Ia layaknya orang yang tua renta. Namun jika ia harus berbaring di
tempat tidur, maka ia seperti orang yang sakitnya mengkhawatir-
kan. \Wasiat-wasiatnyahanya berlaku jika tidak melebihi sepertiga
hartanyadan ditujukan kepada selain ahli warisnya. Sebab kondisi-
nya dikhawatirkan berujung kepada kematian.

2 Hadits hasan. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 2709) [III:308] kitab al-
tX/asbaya, bab 5, al-Baihaqi (no. t2571) [VI:aa1] kitab al-tYashaya,bab 5, dan
{5ad-Daruquthni (no. a2a5) [IV:85] kitab al-lVashaya, dari Abu Hurairah
.

Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam lrwa al-Gbalil (no. 1541) lYl:76-771.

SakitBab Tentang Tindaban Finansial Orangyang 333

Kadar sepertiga mulai diberlakukan setelah orang tersebut mati,
sebab saat itulah wasiatnya mulai berlaku dan berhak diberikan.
Maka semua pemberian dan wasiatnya diambil dari sepertiga har-
tanya ketika itu. Jika jumlah harta tidak mencukupi, maka yang
didahulukan adalah pemberiannya. Sebab pemberian tersebut telah
berlaku saat yang bersangkutan masih sakit. Karenanyaia harus di-
dahulukan atas wasiat sebagaimana pemberian ketika masih sehat.

Ada beberapa perbedaan antara pemberian ('atbiyyab) dan
wasiat. Para fuqaha' menjelaskan bahwa perbedaannya dari empat

srsl:

1. Dalam wasiat, orungyanglebih dahulu maupun yang bclakangan

harus disamakan. Sebab wasiat adalah pemberian setelah mati,
dan diberikan sekaligus. Sedangkan 'athiyyab harvs diberikan
mulai dari orang yang paling dahulu lalu ke orang berikutnya.
Sebab pemberian ini telah menjadi kewajiban pemberi.

2. Pemberi 'atht:1ryab tidak bisa menarik kembali 'atblryab-nya se-

telah diterima. Sedangkan wasiat bisa ditarik kembali oleh yang
berwasiat; karena ia hanya berlaku setelah ia mati.

3. Serah terima 'atblryab dianggap sah selama 'atbiyyab itu ada. Sebab

'athi'1ryah bisa langsung dimiliki saat itu juga. Sedangkan wasiat

' hanya bisa dimiliki setelah kematian, maka serah terimanya

hanyaterjadi setelah adanyakematian. Adapun sebelum mati
serah terimanya tidak sah.

4. Kepemilikan'athi1ryah menjadi kukuh setelah ia diterima. Se-

dangkan wasiat tidak bisa dimiliki sebelum yang berwasiat mati.
Sebab wasiat berarti memindahkan kepemilikan setelah mati,
maka tidak bisa didahulukan atasnya.

(2.:'-J

334 Kitab Harta Vlarisan

BAB TENTANG:

HUKUM \TASIAT

[DEFINISI \TASIAT]

\/ASIAT secara bahasa berasal dari kata uashaitusy syai-a (* ":"zS

;g!Jt) yang berarti menyambung. Dinamakan demikian karena wa-

siit merupakan sambungan dari apa yangada ketika hidup dengan

ap^yangada setelah mati. Hal itu karena orang yang memberi wasiat
menyambung sebagian perbuatan yang boleh dilakukannya ketika
hidup, agar tetap berlangsung setelah dirinya mati.

\Wasiat menurut istilah para fuqaha' berarti perintah untuk meng-
gunakan harta setelah mati. Dengan kata lain, wasiat adalah memberi
sumbangan setelah yang bersangkutan mati.

Dalil disyari'atkannya wasiat adalah al-Qur-an, as-Sunnah, dan
Ijma'.

Allah Ta'ala berfirman:

$ ;;W {i c,L LA\ $y"${e .if y
'6f5iJi?'*.rii\'".;J.ii|i-4q*;i

(@

"Apabila seseorang di antara kamu kedatangan (tanda+anda) rnd.t t t,

jika ia meninggalkan hd.frayangbanyak, diuajibkan atasnya dgar
bentasiat untuk ibu-bapa dan karib herabatnya secara ma'ruf, Itulah
keuaj iban orang-orang yang bertakua. " (QS. Al-Baqarah: 1 80)

Allah &jugaberfirman:

{@ {'ft-ur,riii,-?i +;;u }

Bab Tentang Hubum Vlasiat 337

"... (Pembagian warisan ini ialah) setelah dipenuhinya uasiat yang
ia buat atau setelah pelunasan hutangnya..." (QS. An-Nisaa': 11)

Sedangkan Nabi ff, bersabda

'by:"-=)-\;fgif zo 5 ) o-, . O1;'oxl3r
\ -t ' )\
.J.ig-\ ^5-..I9

#-J,;;f |isv:

"Allah bersedekah untuk kalian saat kematian kalian lewat se-
pertiga harta kalian, sebagai tambahan bagi amal kalian."l

Para ulama' pun telah ber-ijma'tentang diperbolehkannya ber-
wasiat.

IHUKUM \TASTATI

\Wasiat terkadang hukumnya wajib dan terkadang sunnah.

Vasiat meniadi waiib bila ia memiliki hak atau tanggungan
yang tidak tertulis; agar tidak hilang.

Nabi #- bersabda:

eddiS *# ,€;?br^ dil zqA\ #- \;
.to.ory A2.oJl1.jzlr ))i .,I

V-SS

"Tidak dibenarkan seorang muslim melewatkan dua malam se-

dangkan ia hendak mewasiatkan sesuatu, kecuali wasiat tersebut
telah tertulis di sampingnya."2

Jadi, bila ia memegang titipan orang atau menanggung hutang
dan semisalnya, ia harus menuliskan dan menjelaskan semua itu.

\Wasiat hukumnya sunnah, bila seseorang berwasiat agar
sebagian hartanya disumbangkan untuk kepentingan sosial;
supaya pahalanya mengalir kepadanya setelah ia meninggal.

2' Lihat takbrijnya halaman 333.

HR. Al-Bukhari (no.2738) [V:a36] khab al-lVashaya,bab 1, dan Muslim (no.
1627 (4204) lYlJT)kirab al-\Y/ashlryab,bab 1, dari Ibnu 'Umar q{l:i, .
338 Kitab Harta lVarisan

Untuk hal-hal seperti ini, syari'at mengizinkannya untuk me-
nyumbangkan seperti ga hartanya menjelang kematiannya. Hal ini
merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah terhadap hamba-
Nya, agar sang hamba semakin banyak beramal shalih.

'S7asiat tetap sah walau dilakukan oleh anak kecil yang berakal
sehat, sebagaimana ia sah melakukan shalat.

'Wasiat dianggap sah bila ada yang menyaksikan atau ditulis

dengan tulisan tangan pemberi wasiat.

[ATURAN DALAM \TASIAT]

Di antara aturan dalam wasiat ialah bahwa wasiat hanya diper'
bolehkan iika kadarnyahanyamencapai sepertiga dari harta atau
kurang dari sepertiga. Bahkan sebagian ulama lebih menyukai iika
wasiat tersebut tidak sampai sepertiga, berdasarkan pada riwayat
Abu Bakar ash-Shiddiq,'Ali bin Abi Thalib, dan'Abdullah bin

'Abbas u&,;

Abu Bakar $F, mengatakan: "Aku berwasiat dalam batasan yang
Allah ridhai bagi diri-Nya sendiri.3 Maksudnya ialah firman Allah
yang berbunyi:

(@,11 fi.{v r*' i#uSt:ffiS}

"Ketahuilah, bahua gbanimab apa pun yang kalian terima, maka
sEerlimanya untwk Allah..." (QS. Al-Anfaal: 41)

'Ali €5 mengatakan: "Jika aku mewasiatkan seperlima harta-

ku, maka itu lebih aku sukai daripada mewasiatkan seperempat-
nya.,,4'

I Atsar dha'if. Diriwayatkan oleh 'Abdvrrazzaq (no. 16363) [IX:66] kitab al-

lY'asba1'a,dan dirifuayatkan pula oleh al-Baihaqi dari jalur Qatadah (no.12574)
IVI:661kitab al-lVasbaya,bab 6, dan Ibnu Abi Syaibah (no. 30909) [VI:228]
kitab al-lVashaya,bab 46. Didha'i{kan oleh Syaikh al-Albani dalam lrwa al'

a Gbalil (no. 16a9) [VI:85].

Atsar dha'if. Diriwayatkan oleh 'Abdvrrazzaq (no. 16361) [IX:66] kitab al-
lVashaya, dari jalur al-Harits, danlafazh yang senada diriwayatkan oleh al-

Baihaqi (no,12576)lYl:4a2lkitab al-Vasbaya. bab 6. Didha'i{kan oleh Syaikh

al-Albani dalam lrua al-Ghalil (no. 1560) [VI:85].

Bab Tentang Hubum lVasiat 339

Ibnu'Abbas q#., mengatakan: "Andai saja manusia mau me- l
ngurangi wasiatnya dari sepertiga menjadi seperempat! Sebab

Rasulullah ffi mengatakan: 'Ya, sepertiga... dan sepertiga itu

banyak!"'5

Bagi yang memiliki ahli waris, tidak diperbolehkan untuk me-
wasiatkan lebih dari sepertiga hartanya, kecuali dengan persetujuan
ahli warisnya itu. Hal ini karena wasiat yang melebihi sepertiga adalah
menjadi hak mereka; jika mereka mengizinkan maka wasiat itu sah.
Danlzin ini baru dianggap benar (mu'tabar) apabila yang berwasiat

meninggal.

Di antara aturan dalam wasiat adalah, bahwa wasiat tidak sah
ditujukan kepada salah satu ahli waris. Dalilnya adalah sabda Nabi

nli(6

.9zJ,1J- J-U:\

"Tidak boleh ada wasiat bagi ahli waris." (HR. Ahmad, Abu
Dawud, at-Tirmidzi, dan beliau menghasankannya)6

Hadits ini didukung oleh hadits-hadits lain yang semakna.

Syaikh Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah mengatakan, bahwa hal ini
telah disepakati oleh umat Islam. Bahkan Imam Syafi'i menyebutnya
sebagai sesuatu y^ngtnutduarlr. Beliau berkata: "Kami dapati bahwa

semua ahli fatwa dan para ulama yang kami hafal perkataannya dalam
hal magbaziT,baik dari suku Quraisy maupun yang lainnya; mereka

tidak berbeda pendapat bahwa Nabi ffi mengatakan saat Fat-hu

Makkah: "Tidak boleh ada wasiat bagi ahli waris." Mereka menda-
patkan hadits ini dari para ulama yang mereka temui."8 Namun hal
ini tidak berlaku bila ahli waris membolehkan wasiat yang diberikan
kepada salah satu dari mereka; maka wasiat tersebut sah, karena itu

HR. Al-Bukhari (no. 2743)lYA53l kitab al-\Vashaya, bab 3, dan Muslim (no.
1629 (4218)) [VI:85] kitab al-lVasbfiryah,bab 1.
Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3565) Ul[:S27lkitab al-
Buyu',bab 88, at-Tirmidzi (no. 2l2L) IIII:4331 kitab al-tYashaya, bab 5, dan

Ibnu Majah (no.2714) [III:311] kitab al-lVasbaya. bab 6, dari Anas ^i5 . Disha-

hihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Inua al-Gbalil (no. 1655) [VI:89].
lMagbazi artinya sejarah peperangan Rasulullah ffi1.0"".

Lihat Haasyiyah ar-Raudbul Murbi' NI/ 45).

340 Kitab Harta Vlarisan

adalah hak mereka. Persetujuan mereka (ahli waris) atas wasiat yang
lebih dari sepertiga dan wasiat yang diberikan ke salah seorang ahli
waris tersebut baru dianggap mulabar (valid) jika diberikan saat yang
berwasiat sakit menjelang wafat atau setelah wafatnya..."

Di antara aturan dalam wasiat adalah wasiat hanya disunnah'
kan bagi orang yang hartanya banyak sedangkan ahli warisnya

tidak tirlalu membutuhkannya. Dalilnya adalah firman Allah

&,

*;i W tj oL L;Ji {A ;;rir... }

(@

".,, Apabila seseorang di antara leamu kedatangan (tanda+anda)
maut, jika ia meninggalkan hartayangbanyak, diwajibhan dtd'snya
agar beruasiAt..." (QS. Al-Baqarah: 180)

Harta yang banyak di sini maksudnya sesuai dengan kebiasaan.
Sehingga wasiat yang dilakukan oleh orang yanghartanya sedikit
padahit ahli warisnya membutuhkannya maka hukumnya makruh.
Sebab dengan berwasiat berarti ia telah mengabaikan kebutuhan

ffikerabatnya dan justru beralih ke orang luar. Apalagi Rasulullah

pernah bersabda kepada Sa'ad bin Abi ril(aqqash:

'riv'€)is ,:\ n'p;\*\uwiSrit li ,.s:t

.;EJ1

"sesungguhnya lebih baik bagimu jika kau tinggalkan ahli waris-
mu sebagai orang kaya daripada kau tinggalkan sebagai orang
melarat yang meminta-minta manusia."e

Asy-Sya'bi mengatakan: "Tidak ada harta yang lebih besar pa-
halanya daripada harta yangditinggalkan seseorang bagi anaknya,
dengan tujuan agar ia tidak meminta-minta manusia."lo

' HR, Al-Bukhari (no. 1295) [III:210] kitab al'Jana'iz,bab 36, dan Muslim (no.

1628 (4209)) IYl:79lkitab al-lVasbiyyab,bab 1, dari Sa'ad bin Abi \Taqqash
*itj)ll.z ,
10 Lihat Haasyr.yah ar-Raudhul Murbi' $l/a6).

Bab Tentang Hu kum lV'asiat 341

'Ali €5 pernah berkata kepada seorang laki-laki: "Engkau hanya

meninggalkan sedikit harta, maka biarkan saja untuk ahli waris-

mu."11

Bahkan kebanyakan sahabat Nabi justru tidak berwasiat.

Jika pemberi wasiat berniat mernudbaratkan ahli warisnya
dan mempersempit perekonomian mereka, maka hal itu haram
baginya. Bahkan ia berdosa karenanya. Sebab Allah i$|# berfir-

man:

{@'wr y

"... dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris)..." (QS.
An-Nisaa': 12)

Sedangkan dalam hadits disebutkan:

fqiJ'kz-l-'!,:u"vf-/u+r J:1) p.1\'oL

.',\fll XU. )A,a--L-J it,\e-*J ,\25 ,.!;lr

J

"seseorang bisa saja berbuat taat kepada Allah selama 60 tahun,
lalu ketika maut hendak menjemputnya ia berwasiat yang me-
mudbaratkan (ahli warisnya) hingga menyebabkannya masuk

Neraka."12

Dan Ibnu'Abbas juga mengatakan, bahwa berwasiat untuk me-
mudbaratkan ahli waris termasuk dosa besar.l3

11 HR. Ad-Darimi (no. 3072)kitab al-\Y/ashaya, bab 5,Ibnu Abi Syaibah (no. j
30937) [VI:230] kitab al-lY/asbaya, bab 48, dan 'Abdurrazzaq(no.16352) [IX:
631 kitab al-lVasbaya, dengan lafazh senada. jj
H'lVaadshitasyad,hbaa'bif.3,Dairti-wTairymaitdkzain(noole. h2LAt7b)ulIYD:a4w3ut1dki(tnaob.2a8l6-t7Y)as[IbIIa:y1a9,5b]akbit2a,bdaanl- I
Ibnu Majah (no. 2704) [III:305] kitab al-lVashaya,bab 3, dari Abu Hurairah

€5 . Dalam lafazh Ibnu Majah disebutkan: '70 tahun'. Didha'i{kan oleh

Syaikh al-Albani dalam Dba'if Abi Dauud (no. 495).
ll Atsar dha'if. Diriwayatkan oleh ad-Daruquthni (no. 4249)lIY:86lkirab al-

'lVasbaya, dan al-Baihaqi (no.12587) [VI:444] kitab al-\Vasbaya, bab 8, dari jalur
'Ikrimah. Diriwayatkan juga oleh al-Baihaqi secara marfu'dari hadits Ibnu
'Abbas dan dia berkata, "Yang shahih adalah riwayat mauquf, menyatakan-
nya marfu'adalah salah." (no. 12586), 'Abdurrazaq (no. 16456) [IX:88] kitab

342 Kitab Harta W'arisan

Imam asy-syaukant qltSS dalam menafsirkan firman Allah:

$,ir@enf'a;ttaakla'n&: $i'M"adkmsguadnnytaid, adkalmamembbeerwriamsiuadt,biaartaidt a(kkepbaodleahambleimuuadrhia)-"

ratkan ahli warisnya dengan kemudharatan aP^pun. Seperti meng-
aku berhutang padahal tidak demikian, atau berwasiat tanpa tujuan

apa-lpaselain memudbararkan ahli warisnya, atau berwasiat secara
mutlak kepada salah seorang ahli waris atau yang lainnya dengan
kadar yang melebihi sepertig ahartanya,padahal ahli warisnya tidak
menyetujuinya. Jadi, kriteria 'dengan tidak memberi mudharat'ini
berlaku untuk hal-hal yang disebutkan sebelumnya, yaitu wasiat dan
hutang. Sehingga pengakuan-pengakuannya tentang hutang, atau
wasiat terlarang yang dibuatnya, atau wasiat yang tidak bertujuan
selain memudharatkan ahli warisnya adalah batil dan tertolak. Tidak
ada satupun yang dianggap berlaku, baik itu sePertiga maupun yang

kurang darinya."

Demikian penjelasan Imam asy-Syauka ni'+l$5.

Di antara aturan wasiat adalah diperbolehkan mewasiatkan
seluruh kekayaan bagi orang yang tidak punya ahli waris.

Dalilnya adalah sabda Nabi ffi: "sesungguhnya lebih baik bagi-

mu jika kautinggalkan ahli warismu sebagai orang kaya daripada

kautinggalkan sebagai orang melarat yang meminta-minta manusia."la

#'Pendapat ini juga dinukil dari Ibnu Mas'ud ts. Sejumlah ulama

mengatakan, bahwa tidak diperbolehkannya berwasiat lebih dari

sepertiga ialah karena hal itu adalah hak ahli waris. Maka jika mereka

tidak ada, larangan itu pun sirna. Hal ini karena tidak ada lagi hak

ahli waris maupun orang yang berpiutang kepadanya. Perbuatannya

ini seperti menyedekahkan seluruh hartanya saat ia sehat.

al-V'ashaya,Ibnu Abi Syaibah (no. 3A927) IYl:229)kitab al'lY/ashaya ,bab 47,

dan ad-Daraquthni (no. 4249) [IV:S6] kitab al'\Y/ashaya. Didha'i(kan oleh

Syaikh al-Albani dalam Dba'if al-Jami'(no. 3599) dan dalam Dba'if at'Targbib

uat Tarhib (no. 2039) beliau menilai atsar ini mungkar. Namun Ibnu Hajar

al-'Asqalani di dalam Fat-h al-BarilYA23), ash-Shan'ani di dalam al''Uddah

[IV:43], dan asy-Syaukani di dalam Fat-b al'Qadirll:65lldan Nail al'Authar

ta [VI:144] menyatakan bahwa sanadnya shahih.
Lihat takhrijnya halaman 341.
15 Diriwayatkan oleh'Abdurrazzaq (no. 16371) [IX:68] kitab al-lVashaya, dari
jalur'Amru bin Syurahbil.

Bab Tentang Huh.um Wasiat 343

Al-Imam Ibnul Qayyim '#)Hberkata: "Menurut pendapat yang
shahih, hal itu diperbolehkan atasnya. Sebab syari'at melarang wa-
siat yang lebih dari sepertiga jika yang bersangkutan memiliki ahli
waris. Namun jika tidak memiliki ahli waris, maka ia tidak boleh
dihalangi untuk berbuat atas hartanya...""

Termasuk aturan dalam wasiat: bila harta yang diwasiatkan
tidak mencukupi bila diambilkan dari sepertiga kekayaan dan
ahli waris pun tidak menyetuiui iika ia dilebihkan dari seper-
tiganya, maka wasiat tersebut dikurangi atas semua pihak yang

dituiu berdasarkan nisbabnya dengan adil. Hal ini diberlakukan

sama atas orang yang lebih dahulu maupun yang belakangan me-
nerima wasiat, karena semua wasiat itu adalah sumbangan setelah
mati sehingga wajib diberikan sekaligus...

Para penerimanya adalah sama dari sisi hak dasar meskipun
dalam kadar yang diterima mungkin berbeda. Sehingga mereka
b erb agi b erdas arka n n is bah, sep ert i mas al ah aul dalamfara- idb bila
ia melebihi asal masalah.

[Kalimat inilah yang tidak diterjemahkan oleh mutarjim de-
ngan alasan takut membingungkan, padahal kenyataannya tidak,
albamdulillaah ucapanpenulis jelas dan tidak membingungkan. Jadi
catatan mutarjim di samping tidak diperlukan. Muraji'l

Contohnya: Jika seseorang berwasiat Rp. 1 juta untuk si A, Rp.
1 juta untuk si B, Rp. 500 ribu untuk si C, Rp. 300 ribu untuk si D,
dan Rp. 200 ribu untuk si E. Berarti total wasiatnya adalah Rp. 3
juta. Sedangkan sepertiga kekayaeniythanyaRp. 1 juta. Maka jika
jumlah wasiat dibandingkan dengan jumlah sepertiga kekayaan, hasil-
nya adalah sepertiga. Sehingga masing-masing hanya akan mendapat
sepertiga dari nomin al yangdiwasiatkan.

Peraturan lain dalam wasiat adalah bahwa tolok ukur sah dan
tidaknya wasiat ialah keadaan setelah mati. Maksudnya, bila ada
seseorang yang berwasiat kepada orang yang selama hidupnya diang-
gap ahli warisnya, kemudian setelah ia mati menjadi bukan ahli waris

'6 Lihat Haasyiyab ar-Raudhul Murbf SI/a7). Kitab Harta \Varisan

344

lagi, seperti saudara yang terhalang oleh bayi lelaki yang baru lahirtT,
maka wasiat tersebut dianggap sah setelah pemberi wasiat mati. Sebab
kondisi setelah mati ialah kondisi di mana harta akan berpindah ke
tangan ahli waris atau orang yang diwasiati.

Kebalikan dari ini, jika seseorang berwasiat kepada orang lain
yang dianggap bukan ahli warisnya, namun setelah ia mati justru
berubah menjadi ahli waris, maka wasiat tersebut tidak sah. Seperti
bila seseor^ng,y^ng mempunyai anak laki-laki, berwasiat untuk
saudaranya, kemudian anak lelaki itu mati, maka wasiatnya otoma-
tis batal karena saudaranya itu kini menjadi ahli waris yang tidak
berhak menerima wasiat.

Atas dasar aturan inilah, maka wasiat tidak sah diterima se-

belum pemberi wasiat wafat. Begitu juga penerima wasiat tidak akan
memiliki barang yang diwasiatkan sebelum yang memb erinyawafat.
Sebab inilah waktu yang menjadikan haknya tetaplsah.

Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah mengatakan: "Kami tidak me-
ngetahui adanya perselisihan di antara ulama bahwa tolok ukur

keabsahan wasiat adalah setelah matinya pemberi wasiat. Jika wasiat
tersebut ditujukan kepada pihak yang tidak ditentukan seperti fakir
miskin, atau kepada pihak yang tidak mungkin dibatasi seperti Bani
Tamim, atau ditujukan untuk kemaslahatan umum seperti mesjid dan
semisalnya, maka wasiat ini tidak memerlukan aturan penerimaan.
Ia berlaku otomatis begitu pewasiat meninggal dunia. Namun jika
wasiatnya ditujukan kepada oranB tertentu, maka ia berlaku sesuai
aturan penerimaanls setelah pewasiat mati."

t7 [Gambarannya: Si A selama hidup tidak dikaruniai anak, hingga ia mewasi-

atkan sebagian hartanya kepada B, saudaranya. Dalam hal ini, B sebenarnya
adalah ahli waris si A, sehingga tidak boleh menerima wasiat. Namun 9 bulan
men,ielang kematian A, isteri A hamil dan alchirnya melahirkan bayi laki-laki
setelah A wafat. Maka begitu bayi lahir, B otomatis berubah menjadi bukan
ahli waris karena terhalang oleh adanya anak laki-laki].r""

t8 [Aturan penerimaan di sini maksudnya ialah bolehkah orang tersebut mene-

rima wasiat setelah si pewasiat wafat? Sebagaimana yang telah dirinci sebelum-

nYa].rnl

Bab Tentang Huhum W'asiat 345

Peraturan lain dalam wasiat adalah pemberi wasiat boleh
meruiuk kembali wasiatnya dengan mengurangi maupun mem-
batalkannya.

$.'Dasarnya adalah ucapan'I-Imar yangberbunyi: "seseorang

boleh merubah wasiatnya sesukanya."le Hal ini merupakan sesuatu

yang disepakati oleh para ulama. Sehingga bila ia mengatakan: "Aku

rujuk dari wasiatku" atau "Aku membatalkannya" dan semisalnya,

maka batallah wasiat tersebut. Alasannya -sebagaimana telah dijelas-

kan- adalah bahwa tolok ukur sah-tidaknya wasiat ialah keadaan

setelah matinya pemberi wasiat. Ini berarti bahwa ketika pemberi

wasiat masih hidup dia boleh merujuk (membatalkan) wasiatnya.

Jika ia mengatakan: "Bila Zaid datang, maka ia mendapat apa
yang kuwasiatkan untuk Amru." LaluZaid pun datang saat pewa-
siat masih hidup, maka ia berhak mendapatkan wasiat tersebut.
Dalam hal ini, pewasiat telah membatalkan wasiatnya untuk'Amru.
Namun bilaZaid tidak datang kecuali setelah wafatnya pewasiat,
maka wasiatnya tetap untuk'Amru. Sebab dengan ketidakdatangan
Zaidsetelah matinya pewasiat, maka wasiat tersebut kukuh menjadi
milik orang pertama, yaitu'Amru.

Peraturan lain dalam wasiat adalah harta peninggalan ma-

yit harus disisihkan untuk membayarkan hal-hal yang waiib

terlebih dahulu seperti hutang, zakat,haii, nadzar, dan kafarat,
meskipun ia tidak berwasiat untuk semua itu.

Dalilnya ialah firman Allah:

{ {'6-q€ifu;)xg }

"... (Pembagi.an uarisan ini i.alah) setelah dipenubinya uasint yang
ia buat atau setelab pelunasan butangnya..." (QS. An-Nisaa': 11)

Juga berdasarkan pada ucapan'Ali $5 : "Rasulullah memutus-

kan agar hutang dilunasi terlebih dahulu sebelum wasiat dilaksana-

re Atsar shahih. Lafazhini disebutkan oleh al-Baihaqidalamsunan-nyalYl:460f,

dan diriwayatkan dengan lafazh senada oleh ad-Darimi (no. 3094) [II:867] dan
Ibnu Abi Syaibah (no. 30795) IYI:2LTlkitab al-lVasbaya, bab 25. Dishahihkan
oleh Syaikh al-Albani dalam lraa al-Gbalil (no. 1758) [VI:98-99].

346 Kitab Harta lYarisan

kan." ftIR. At-Tirmidzi,Ahmad, dan lainnya).2o Hal ini menunjuk-

kan bahwa hutang harus didahulukan atas wasiat. Sedangkan dalam

hadits shahih disebutkan:

.r\5r! E\eiru,a;,rt $3\

"Lunasilah hak Allah, karena Allah lebih berhak untuk di-

lunasi."21

Karenanya t langpertama kali harus dilunasi adalah hutang-
hutang si mayit. Kemudian wasiatnya baru dilaksanakan. Setelah
itu lantas membagi-bagi warisan. Begitulah yangmenjadi ijma'para

ulama.

Hikmah disebutkannya wasiat sebelum hutang dalam
mulia itu -meski pelaksanaanya diakhirkan- adalah karen^ayawtyaasinagt
mirip dengan warisan yang sama-sama tanpa imbalan, sehingga ahli
waris mungkin akan merasa berat untuk menunaikannya. Maka ia
disebutkan terlebih dahulu sebagai dorongan agar ia ditunaikan dan
diperhatikan. Ayat tersebut juga menggunakan kata pilih 'atau' yang
fungsinya menyetarakan, yang berarti kedua-keduanya sama-sama
harus diperhatikan meskipun hutangny a y^ngdidahulukan.

Dari sini, menjadi jelaslah bahwa masalah wasiat adalah penting
karena Allah sendiri yang mengingatkannya dalam al-Qur-an. Allah
menyebutk anny a terlebih dahulu agar ia diperhatikan dan dil aks ana-
kan selama isinya sesuai dengan syari'at. Bahkan Allah mengancam
orangyang menyepelekan masalah ini atau merubah-rubahnya tanpa
alasan yang benariyaitu dalam firmannya:

:iij:r }{tr i,ylLJ ii,-$f 5,.b;69 il,4 \1 32.

{@'#&

20 Hadits hasan. Diriwayatkan oleh Ahmad (no, 595)[I:80], at-Tirmidzi (no.

2122)lIY:4351 kitab al-Vl'ashaya, bab 6, dan Ibnu Majah (no.2715) [III:311]

kitab al-lVasbaya, bab 7. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam lran al-

2r Gbalil (no. t667) lYl:107). [XI:711] kitab al-Aiman wan Nudzur, bab 30, de-
HR. Al-Bukhari (no. 6699)

ngan lafazh: "Maka lunasilah hak Allah, karena Dia lebih berhak dilunasi."

Bab Tentang Huhum lVasiat 347

*Maka barangsiapa mengubah uasiat itu setelab ia mendengamya,
maka dosanya ditanggung o leb orang- orang y ang Tnengubahrrya.
Sesungubnya Allah Maba Mmdmgar lagi Maha Mmgaahui." (QS.
Al-Baqarah: 181)

Dalam tafsirnya, Imam asy-Syaukani mengatakan: "Ini meruPa-

kan ancaman bagi orang yang mengubah-ubah wasiat setelah wasiat

itu sesuai dengan kebenaran dan tidak mengandung kecurangan

maupun mudbarat. Orang yang mengubah itulah yang kelak menang-
gun g dosanya. Sedan gk an y atgberwasiat tidak menan ggun g apa'apa;
karena ia telah terbebas dari tanggung jawab dengan wasiatnya."

Di antara aturan dalam wasiat adalah wasiat sah dituiukan
kepada setiap orang yang sah untuk memilikinya, baik ia mus-
lim maupun kafir.

Dalilnya adalah firman Allah,€:

}{ @'6;a tvP.5 dL61x it "ty

*... Kecuali jika kalian hendak berbuat baik kepada saudara'sau'
daramu..." (QS. Al-Ahzaab: 5)

Muhammad Ibnul Hanafiyah mengatakan: "Maksudnya seorang
muslim yang berwasiat untuk seorang Yahudi atau Nasrani."

'lJmar €F, pernah memberi saudaranya yang musyrik sebuah

p akaian.22 Kemudian Asma' p ernah menyantuni ibunya yan g belum
masuk Islam.23 Sedangkan Shafiyyah Ummul Mukminin mewasiat-
kan sepertigahartanya untuk salah satu saudaranya yang Yahudi.2a
Selain itu, Allah,98 berfirman:

22 Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 386) [II:480] kirab al'Jumu'ab,bab 7. dan
Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no.2620) [V:286] kitab al'Hibab,bab 29,
2r

Muslim (no. 1003 Q324)) [IV:90] kirab az-Zakah,bab 14, dari Asma't{F, .
2a Atsar hasan. Diriwayatkan oleh ad-Darimi (no. 3180) [II:885] kitab al'\Vasha'

y a, bab 42, al-Baihaqi (no. 1 2 650) [VI:459] kitab al- \Va s b ay a, b ab 27,' Abdur -

r^[email protected]) [X:353] kitab al-lVasbaya, dan Ibnu Abi Syaibah (no. 30754)

[VI:213] kirab al-lVasbaya,bab 12. Dihasankan oleh Syaikh Shalih Ibn'Abdul

'Aziz Alu Syaikh dalam kitab beliau: at-Takmil limaFataTakhrijubu min Imaa

al-Gbalil $ritab al-lVaqf, hal. 98).

348 Kitab Harta Vl'arisan

}6r,+fu5 qli c "{}9. tr i$r v {if K,#.i

( 'ub;5\#-^\LtAyr)=A;S;;,6{;,

*Allab tidak melarangtnu untuk berbuat baik dan berlaku adil ter-
hadap orang-orang yang tidah, memerangimu karena agama dan
tidak (pula) mmgusir kamu dari negerimu. Sesunggubnya Allab me,
nyukai ordng-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Vasiat seorang mukmin bagi orang kafir hanya sah iika
orang kafir tersebut jelas orangnya, sebagaiman a y angdisebutkan

dalam dalil-dalil di atas. Sedangkan bila ia tidak jelas, maka wasiat-
nya tidak sah. Contohnya bila ia berwasiat kepada kaum Yahudi
atau Nasrani, atau kepada kaum fakir mereka. Selain itu, berwasiat
kepada orang kafir tertentu sesuatu yang tidak boleh dimilikinya
dan dikuasainyajuga tidak sah. Contohnya mewasiatkannya Mush-
haf al-Qur-an, budak muslim, atau senjata.

\$/asiat sah diberikan kepada janin yang telah dipastikan ada
sebelum wasiat dikeluarkan. Hal ini bisa diketahui bila sang ibu
melahirkan sebelum genap enam bulan dari dikeluarkannya wasiat
-dengan catatan ibu tersebut memiliki suami atau majikan (bila sta-
tusnya budak), atau ia melahirkan kurang dari empat tahun25 jika
ia tidak lagi bersuami atau bermajikan. Berhubung janin yang se-
perti ini berhak mendapatkan warisan, tentu ia lebih berhak untuk
mendapatkan wasiat. Namun jika ternyata ia lahir dalam keadaan
meninggal, maka batallah wasiat tersebut.

'\Uflasiat tidak sah diberikan kepada ianin yang belum ada saat
dikeluarkannya wasiat. Contohnya jika seseorang mengatakan:
"Aku berwasiat untuk janin yang akan dikandung wanita ini..." Ini
adalah wasiat untuk sesuatu yang tidak ada; maka tidak sah.

Jika seseorang mewasiatkan sejumlah uang yang banyak supaya
dirinya dihajikan, maka uang itu dipergunakan untuk menghajikan-

nya secara berulang kali hingga habis. Namun jika uangnyahanya

25 [Perkiraan ini bertolak dari usia kandungan terpendek dan terpanjang yang
pernah terjadi].n*''

Bab Tmtang Hukum'W'asiat 349

sedikit, maka digunakan untuk menghajikainnya secukupnya saja.
Sedangkan bila ia menegaskan bahwa uang yang banyak itu harus
digunakan untuk sekali haji saja, maka semuanya harus digunakan
untuk sekali haji. Sebab ia bermaksud memberikan manfaat kepada
yang menghajikannya. Dan dalam kondisi ini, tidak sah hukumnya
bila yang menghajikannya adalah ahli warisnya ata:u orarngyang
diwasiatinya. Hal ini karena zhahir pemberi wasiat menghendaki
agar dihajikan oleh selain keduanya.

\flasiat tidak sah dituiukan kepada sesuatu yang tidak sah
untuk memiliki, seperti jin, hewan, dan orang mati.

\flasiat iuga tidak sah dituiukan untuk hal-hal yang bersifat
maksiat, seperti wasiat untuk gereja dan tempat ibadah orang ka-
fir,/musyrik. Demikian pula wasiat untuk pembangunan kuburan,
meneranginya, atau juru kuncinya. Baik yang berwasiat muslim
maupun kafir.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ,+ii5 berkara: "Kalau seorang
kafir dzimmi meuakoJk^, sebagian hartanya untuk rumah ibadah
mereka, maka kaum muslimin tidak diperbolehkan menghukumi-
nya sebagai tindakan yang sah. Sebab mereka tidak diperkenankan
menghukumi dengan selain yang Allah turunkan (al-Qur-an dan
Sunnah). Padahal yang Allah turunkan di antaranya ialah agar tidak
ada tolong-menolong sedikit pun atas sesuatu yang berbau kemusy-
rikan, kefasikan, dan kemaksiatan. Lantas bagaimana mungkin
kaum muslimin diperbolehkan membanuu wakafyang ditujukan
untuk tempat-tempat kekafiran itu?!26

Tidak boleh berwasiat untuk mencetak kitab-kitab suci yangtidak
berlaku lagi seperti Taurat dan Injil, atau kitab-kitab yang menyesar-
kan seperti kitab-kitab yang berisi alaran zindid'/dan atheisme.

Di antara aturan dalam wasiat adalah apayangdiwasiatkan syarat-
nya harus berupa hanaataumanfaat yang mubah meskipun tidak bisa

26 Lihat Haaryiyah ar-Raudbul Murbi' Nl/63). dengan istilah 'sepilis' yaitu se-
27 [Contoh ajaran zindiq ialah yang terkenal

kulerisme, pluralisme, dan liberalisme. Termasuk cabang-cabangnya sepeni

FLA (Fikih Lintas Agama). Masuk juga di dalamnya semua sekre sesat seperri

Syi'ah, Ahmadiyah, dan lainJainl.n"'"

350 Kiab Harta Varisan

diserahkan, seperti burung yang terbang di angkasa, janin yang berada
dalam kandungan, atau susu dalam tetek; atau bahkan yang belum
ada, seperti mewasiatkan apa yang akan dikandung oleh hewannya,
atau apa yang akan dihasilkan kebunnya, baik selamanya atau dalam
tempo tertentu seperti setahun misalnya. Jika ternyata tidak terjadi

maka wasiatnya batal karena tidak adatargetnya.

^pa-apa,

Mewasiatkan sesuatu yang tidak diketahui dzatnya adalah

sah-sah saia. Seperti mewasiatkan seorang budak atau seekor kam-
bing. Sedangkan orang yang diberi wasiat akan mendapat barang
dengan nama tersebut yang sesuai dengan hakikatnya atau tradisi
yang berlaku.

Peraturan lain dalam wasiat ialah bila seseorang mewasiat-
kan sepertiga hartanya, lalu ia mendapatkan tambahan harta sete-
lah keluarnya wasiat tersebut, maka tambahan itu termasuk dalam
wasiatnya. Sebab sepertiga harta akan dihitung dari total hartayang

ada setelah yang bersangkutan mati.

Peraturan lainnya adalah jika seseorang mewasiatkan harta
tertentu miliknya untuk seseorang, lalu harta tersebut hilang/ru-
sak sebelum atau setelah pewasiat mati, maka wasiat itu batal. Sebab
hak untuk menerima wasiat ikut batal akibat hilang/rusaknya harta

yang diwasiatkan.

Peraturan lainnya ialah jika pewasiat tidak menentukan ka-
dar wasiatnya, seperti orang yang mewasiatkan satu saham dari
hartarya, maka satu saham (bagian) tersebut ditafsirkan sebagai sep-
erenam. Sebab istilah saham dalam bahasa Arab adalah seperenam.
Pendapat ini dianut oleh Ali dan Ibnu Mas'ud. Selain itu, seperenam
adalah saham (bagian) terkecil dalam warisan; maka wasiat pun di-
ikutkan ke sana.

Bila ia mewasiatkan suatu harta tanpa menentukan kadarnya,
maka ahli waris bebas memberikan sesuatu yangadanilainya kepada
yang diberi wasiat. Sebab 'suatu harta' tidak memiliki batas tertentu
secara bahasa maupun syar'i. Maka ia bisa berarti apasqayangada
nilainya, sedangkan apa yang tidak bernilai tidak akan mencapai

maksud itt. Wallaahu a'lam.

Bab Tentang H ukum'lVasiat 351

ATURAN.ATURAN BAGI PENGEMBAN \TASIAT

Pengemban wasiat adalah orang yang diperintahkan untuk me-
lakukan tindakan atas harta atau yang lainnya setelah pemberi wasiat
mati. Tindakan tersebut tergolong yang boleh dilakukan oleh pem-
beri wasiat ketika ia masih hidup serta bisa diwakilkan. Ini karena
pengemban wasiat pada hakik^tnya adalah wakil dari pewasiat.

Seorang pengemban wasiat dianjurkan untuk menerima per-
wakilan dan wasiat tersebut, sebab itu merupakan bentuk taqarrub
kepada Allah yang ada pahalanya. Hanya saja anjuran ini berlaku
bagi orangyang memiliki kemampuan untuk melaksanakannya dan
merasa dirinya cukup amanah.

Dalilnya adalah firman Allah,€:

(@ -{,aiili*'t;'iG'5 y

",.. DAn saling tolong-menolonglab kalian dalam kebaikan dan
ketakuaan.." (QS. A1-Maa-idah: 2)

Dan sabda Nabi H-,: "Allah akan senantiasa menolong hamba-
Nya selama si hamba menolong saudaranya."28

Di samping itu, para sahabat juga melakukannya.

Contohnya Zubeir $F, pernah diserahi wasiat oleh sejumlah
sahabat2e, Abu'Ubaidah pernah menyerahkan wasiat kepada'lJmar

#t30, dan'IJmar pernah menyerahkan wasiat kepada Hafshah
putrinya diFs- ",lalu kepada putra-put r^nya yang besar.

28 Lihat t a k h r ij ny a halaman 27 I
2' Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (no. 30899) [Yl:227)kitab al-lVashaya,

bab 44.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Musbannaf (no.30902) [VI:
227)darijalur Isma'il bin Qais. Syaikh Shalih bin'Abdil'Aziz berkata dalam

at-Takmil (hal. 106-107): "Sanadnya hasan."
Diriwayatkan oleh ad-Darimi (no.3179) [II:844] khab al-tilasbaya,bab 41,

dan ad-Daruquthni (no. a379) ll[l:L771dari jalur Ibnu 'Umar €F . Atsar ini

.iuga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (no. 30761) IYI:2l,alkkab al-lVa-
shaya,bab 13, dari jalur'Amru bin Dinar.

352 Kitab Harta W'arisan

Namun bagi yang tidak mampu mengembanrLya, atau tidak
yakin dirinya mampu menjaganya, maka tidak boleh terlibat dalam

mengurusi wasiat.

[SYARAT BAGI PENGEMBAN TUGAS]

Disyaratkan bagi pengemban wasiat bahwa ia haruslah mus-
lim. Maka wasiat tidak sah diserahkan kepada orang kafir.

Syarat lainnya ialah bahwa ia harus mukallaf. Maka menyerah-
kan wasiat kepada anak kecil, orang gila, dan orang dungu tidaklah
sah. Sebab mereka bukanlah orang yang ahli memimpin dan meng-
gunakan harta.Namun bila penyerahan wasiat kepada anak kecil itu
disyaratkan setelah ia baligh, maka hal itu boleh-boleh saja.

Dalilnya ialah sabda Nabi ff, yang berbunyi:

.r,rj# jF ,,;.::L'h\

"Amir (komandan) kalian adalah Zaid.lika ia terbunuh, maka

penggantin y a adalah I a' far ." tz

'Wanita boleh diserahi wasiat selama ia memiliki kecakapan

untuk mengurusinya. Sebab 'Umar $F pernah menyerahkan

wasiat kepada Hafshah €9-, . Lagi pula wanita adalah orang yang
bisa diterima kesaksiaannya, maka ia juga sah untuk mengemban
wasiat sebagaimana lakiJaki.

Boleh iuga menyerahkan wasiat kepada orang yang tidak
mampu mengurusinya secara langsung namun memiliki pemikir'
an yang baik,lalu ia bekerja sama dengan orang lain yang mamPu

mengurusinya sekaligus amanah.

Boleh iuga berwasiat kepada lebih dari satu orang, baik se-
cara serempak sekaligus atau satu demi satu, bila yangpertama tidak
dibatalkan.

12 HR. Al-Bukhari (no. a26\ [VII:539] kitab al-Magbazi,bab 45,dari 'Abdullah
bin 'lJmar dengan lafazh senada.

Bab Tentang Hukum W'asiat 3s3

Jika wasiat diserahkan kepada sekelompok orang, maka me-
reka bersekutu dalam mengurusinya. Salah satu pihak tidak bisa
benindak sendirian tanpa melibatkan pihak lainnya. Jika salah satu
meninggal dunia atau tidak hadir, maka pemerintah yang mengang-
kat penggantinya y ang lay ak.

Orang yang diserahi wasiat boleh menerimanya ketika pem-
beri wasiat masih hidup maupun setelah ia mati. Ia juga bebas
untuk mengundurkan diri kapan saja ia mau, baik saat pemberi wa-
siat masih hidup maupun setelah ia mati. Pemberi wasiat juga bebas
mencopot orang yang ditunjuk untuk melaksanakan wasiatnya kapan
saja. Sebab orang itu adalah wakilnya.

Orang yang diserahi wasiat tidak boleh menyerahkan tugas
tersebut kepada orang lain, kecuali bila ia diberi hak untuk itu, yakni
bila pemberi wasiat mengizinkannya untuk menyerahkan wasiat
kepada orang lain kapan saja ia mau. Contohnya bila ia mengatakan:
"Engkau kuizinkan untuk menyerahkan wasiat ini kepada siapa saja
yang engkau mau."

Agar penyerahan wasiat dianggap sah, tugas yang diwasiat-
kan harus jelas sifatnya. Hal ini agar ia dapat diketahui oleh yang
mengemban wasiat, sehingga ia dapat menunaikannya dan menjaga-
nya dengan baik.

Tugas yang diserahkan kepada pengemban wasiat disyarat-

kan harus boleh dilakukan oleh pemberi wasiat itu sendiri. Se-

perti pelunasan hutang misalnya, atau membagikan sepertiga harta-
nya, mengurusi anak-anaknya yang masih kecil, dan semisalnya. Hal

itu karena pengemban wasiat hanya bertindak berdasarkan izin,
maka ia tidak boleh berbuat sesuatu selain yang boleh dilakukan

oleh pemberi wasiat tersebut, seperti wakalah misalnya. Juga karena
pemberi wasiat merupakan induk, sedangkan pengemban adalah

turunannya. Maka turunan tidak bisa memiliki selain yang dimiliki
oleh induknya. Jadi, mewasiatkan sesuatu yang diluar wewenang
tidaklah sah. Contohnya seperti mewasiatkan wanita untuk menjadi
wali atas anak-anaknyayangmasih kecil. \flasiat ini tidak sah sebab
yang berhak menjadi wali adalah ayah mereka.

354 Kitab Harta lVarisan

\trflasiat bersifat terbatas sesuai dengan yang ditentukan. Bila
seseorang diwasiati untuk melakukan sesuatu, maka ia tidak diwasiati
untuk melakukan hal lainnya. Jadi ketika seseorang diwasiati untuk
melunasi hutang-hutang si mayit, maka ia tidak berhak mengurusi
anak-anak si mayit, karena vreurenangnya terbatas pada apa yang
diizinkan untuknya saja, sebagaimana wakil.

Orang kafir boleh menyerahkan wasiat kepada seorang mus-
lim bila harta yang ditinggalkannya adalah mubah. Namun bila
harta tersebut haram, seperti khamer dan babi, maka wasiatnya tidak
sah. Sebab seorang muslim tidak boleh mengurusi harta seperti itu.

Jika pemberi wasiat berkata kepada orang yang diwasiati:
"Salurlran sepertiga hartaku di mana saja yang engkau mau" atau
"Sedekahkan ia kepada siapa saja yang engkau suka", maka orang
yang diwasiati tidak boleh mengambil harta itu sedikitpun. Sebab
pemberi wasiat tidak mengizinkannya untuk itu. Ia juga tidak boleh
memberikannya kepada anak dan ahli warisnya, sebab ia akan ter-
tuduh pilih kasih terhadap mereka.

Termasuk aturan dalam wasiat: jika ada seseorang yang me-
ninggal di suatu tempat yang tidak ada penguasanya dan tidak
ada yang diwasiati, seperti orang yang mati di tengah gurun [atau
di tengah laut], maka orang Islam yang menyaksikan kematiannya
boleh mengurusi warisannya. Ia boleh melakukan hal yang paling
bermanfaat bagi warisan tersebut, baik dengan menjual atau yang
lainnya. Sebab ini merupakan kondisi darurat yang bila dibiarkan
akan mengakibatkan warisan itu musnah/rusak. Padahal menjaga
warisan merupakan fardhu kifayah. Selain itu, ia juga berkewajiban
mengafani serta mengurusi jenazahnya dengan biaya dari harta
peninggalan itu.

Gz-.:--J

Bdb Tentdng: Hukum lVasiat 355

BAB TENTANG:

HUKUM PEMBAGIAN \TARISAN

PENDAHULUAN

Masalah pembagian warisan adalah masalah penting yang layak

diperhatikan. Nabi ffi menganjurkan umatnya agar mempelajari

dan mengajarkan ilmu pembagian warisan. Hal itu beliau sampaikan
dalam banyak haditsnya.

Salah satunya adalah sabda beliau M, y^ng berbunyi:

E;r Jb;,.ijF e;Erl \6AF) A\?\ \AZ
d,;eb;\';'ezl9t o
,,5*33- tAt
'..,-o1 d.#

"Pelajarilah ilmufaraidh dan ajarkanlah ia kepadaorang-orang. Se-
bab ia adalah setengah dari ilmu pengetahuan dan ia akan dilupa-
kan, serta ilmu yang pertama kali akan dicabut dari umatku."l

Dalam riwayat lain disebutkan:

:sP.l?Sa. r#l,.o*t . f.o'rl 'ior l{Sr- '*t9-.nsu!..9)r2-t'o\1 ," I t-9 ...

' Hadits dha'if. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 2719) Illl:3lllkitab al-Fara-
idh,bab 1, dari Abu Hurairah €5 . Didha'ifkan oleh Syaikh al-Albani dalam

lafazh:Irua al-Ghalil (no. 1665) [VI:105]. Namun dalam hal ini terdapat riwayat lain

dengan

."34r.j4 6!j a@\\iz

"Pelajarilah ilmtfaraidb, karena sesungguhnya ia bagian dari agama kalian."
(HR. Ad-Darimi, no. 2851).
Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Hidayah ar-Ruutah
ila Tahhrij Ahadits al-Mashabib uta al-Miryhah (no. 3005) [III:238].

Bab Tentang Huhum Pembagian lVarisan 359

)\'J:^j-:y ,re;ll d_ 3\3l,:h+e 8;,@t

\:ei Jer+ ef

"... karena aku akan wafat dan ilmu pengetahuan akan diangkat,
lalu muncullah berbagai fitnah hingga ketika dua orang berseli-
sih dalam masalah pembagian warisan (faraidb),keduanya tidak
lagi mendapati seorang pun yang bisa memutuskan perselisihan
tersebut."2

Apa yang beliau ffi,, kabarkan ini memang telah terjadi. Ilmu

faraidb telah diabaikan dan dilupakan. Ia tak lagi dijumpai di masjid-
masjid kecuali jarangsekali. Bahkan di sekolah-sekolah Islam pun
jugajarang, kecuali di beberapa instansi pendidikan dalam porsi yang
sangat sedikit, tidak memenuhi target, serta tidak menjamin eksistensi

ilmu ini di kemudian hari.

Oleh karenatya, kaum muslimin wajib bangkit untuk menjaga
dan menghidupkan kembali ilmu ini di mesjid-mesjid, sekolahan-
sekolahan, dan perguruan tinggi. Sebab mereka akan sangat mem-

butuhkannya dan ditanyai tentangnya. Bahkan Nabi #, pernah

bersabda:

9-tt- M,.l! ey glr'^3"T, V'),:a3>\3
N.-.9 C

6-G 4^b--sJJs-e c 42.it^er<

.+J:\c

"Ilmu (yr.rg pokok) itu ada tiga macam, ,.d.rgkin selainnya

hanyalah tambahan: Ayat (al-Qur-an) yang jelas hukumnya,
Sunnah (Rasul) yang kokoh,danfara-idb (ilmu bagi waris) yang
adil."l

Hadits dha'if. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2095) [IV:413] khab al-
Fara-idh, bab 2, secara ringkas hingga lafazht "... karena aku akan wafat," dan
al-Hakim (no. 8020-8021) [IV:333]. Didha'i{kan oleh Syaikh al-Albani dalam
Imoa al-Ghalil (no. $6a) [VI:106].
Hadits dha'if. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2885) llll:2)7)kitab al-
Fara-idb, bab 1, dan Ibnu Majah (no. 54) [I:41] kitab atb-Thaharah, bab 8, dari

360 Kitab Harta lVarisan

Diriwayatkan dari'IJmar $5 bahwa beliau mengatakan: "Pe-

lajarilahfaraidb sebab ia termasuk agama kalian."a

Sedangkan'Abdullah bin Mas'ud $5 mengatakan: "Siapa yang

membaca al-Qur-an, maka hendaklah belaiar fara'idh."s

Makna dari sabda Rasulullah #., brh*t "ilmufaraidh adalah se-

tengah dari ilmu pengetahuan" ialah karena manusia memiliki dua
keadaan: keadaan hidup dan keadaan mati. Daripada itu,ilmufarai.db

kebanyakan berisi hukum-hukum yang berkaitan dengan keadaan
mati, sedangkan ilmu-ilmu lainnya berkaitan keadaan hidup. Ada juga
yang menafsirkan bahwafaraidh meniadi setengah dari ilmu karena

ia dibutuhkan oleh seluruh manusia, dan ada iugayangmenafsirkan
dengan selain itu.Intinya, hadits ini mengandung isyarat agar ilmu
ini diperhatikan.

Ilmu ini disebw. fara-idb yang merupakan bentuk jamak dari
dari kata'alfardbu' yang
faridbab', diambil ka-
dar'. Hal ini karena bagian ahli waris kadarnya^rtteinlayha'dpietennetunktuaann.Jadi

faridhah'artinya: bagian dengan kadar tertentu secara syar'i, bagi yang
berhak mendapatkannya. Sedan gkan ilmufara- idb maknanya: ilmu
tentang pembagian warisan, dari sisi memahami hukum-hukumnya

dan perhitungannya supaya bisa dibagi.

Ada lima hak yang terkait dengan hartapeninggalan seorang
mayit. Mula-mula harta itu harus disisihkan untuk biayaPengurusan
jenazahnya, seperti biayakain kafan, biaya memandikan, menggali-
kan kuburan, dan sebagainya. Lalu utang-utangnya harus dilunasi,
baik utang kepada Allah seperti zakat, kafarat, nadzar, dan haii yang
wajib, maupun utang kepada manusia. Kemudian wasiat-wasiatnya

hadits'Abdullah bin 'Amru g!6 . Didha'i{kan oleh Syaikh al-Albani dalam
Dha'if Abi Daarud (no.496). Namun Syaikh Ahmad Syakir di dalam Umdab

a at-Tafsir lLa6lberpendapat bahwa hadits ini shahih.

Diriwayatkan oleh ad-Darimi (no.27aa) lll:779lkirab al'Faraidb,bab 1, dan
Ibnu Abi Syaibah (no. 31025) [VI:241] kitab al'Faraidh,bab 1, dari ialur al-

5 A'masy dari Ibrahim an-Nakha'i.

Diriwayatkan oleh ad-Darimi (no. 2751) [II:800] kitab al'Faraidh, bab ke-L,
dari jalur Abu 'Ubeid berkata Syaikh al-Albani dalam lrwa al'GhalillYI:106),

"Para perawi atsar ini adalah terpercaya, hanya saia sanadnya terputus; di-
karenakan Abu 'Ubaidah tidak mendengar langsung dari bapaknya yaiut

'Abdullah bin Mas'ud."

Bab Tentang Huhum Pembagian lVarisan 361

dilaksanakan, dengan syarat ia tidak lebih dari sepertiga total keka-
y^anny^. Setelah itu sisanya diberikan kepada ahli warisnya sesuai

tetap. Bila warisan masih tersisa, maka menjadi milik 'asbabab seba-

gaimana yang akan dijelaskan.

Tidak diperbolehkan mengubah-ubah pembagian warisan
dari apa yang telah ditetapkan syari'at, sebab itu termasuk ke-
kufuran terhadap Allah .*&.

Allah,9& berfirman:

j)'fi+ 3i,{ i,;t6( d4- ;\\, 3-L 6)i:- y
't4. o-ira lra'.;i t#,3 u r,;3 *
iirlSS^i 6"-jr@ i .6ii"rr)\-4y';j

-?\at; fr5 t1+-fiya 6({v"i,lt3L'4;

{@ 3-4

"Itulah batasan-batasan dari Allab. Barangsiapa taat kepada Allah
dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga
yd.ngmengalir di dalamnya sungai-sungai, sedangmereka kehal di
dal amny a ; dan itu lah kemenangan yd.ng besar. Dan barangsiapa
mendurbakai Allah dan Rasul-Nya serta melanggar ketentuan-
ketentuan-Nya, niscaya Allab memasukkannya ke dalam Neraka
sedang ia hekal di dalamnya; dan baginya siksa yang mengbina-
kd.n." (QS. An-Nisaa': 13-14)

Imam asy-Syauka ni ll;Z dalam tafsirnya mengatakan: "Kata

'itulah' mengisyaratkan kepada aturan-atu ran yangtelah ditetapkan
sebelumnya tentang pembagian warisan. Aturan-aturan itu disebut
'batasan' karena ia tidak boleh dilanggar dan tidak halal untuk di-

lewati. $@'il ;'t;6i d{i.r$'Dan baran gsiapa taat kepada A I Iab

dan Rasul-Nya', yakni dalam pi:mbagian warisan dan dalam hukum-

hukum syari'at lainnya -sebagaimana keumumanlafazh ayat ini-,

362 Kitab Harta lVarisan

maka {@f+Vit$ a --s,$ ;e';+il-$ 'Allah memasukkan-

nya ke dalam Surga ydng mengdlir di dalamnya sungai-sungai...' dan
seterusnya."

Kemudian asy-Syaukani mengatakan: "Ibnu Majah meriwayat-
kan sebuah hadits dari Anas SF, , bahwa Rasulullah #-, bersabda:

*"[!r iil4:4\;y's}'^t'e

"Siapa yang memutus warisan milik seseorang, maka Allah akan
memutus warisannya dari Surga hari Kiamat kelak."6 7

Jadi, bila seseorang mengurusi pembagian warisan lalu berpaling
dari ketentuan syari'at dengan memberikan warisan kepada orangyang

bukan ahli waris, atau menyebabkan ahli waris tidak mendapat wari

san baik seluruhnya maupun sebagian, atau menyamakan antara pria
dan wanita dalam warisan -sebagaimanay^rlgterdapat dalam undang-
undang kufur-, dan hal ini dilakukan karena ingin menentang hukum
Allah yang memberikan laki-laki dua kali bagian perempuan, maka
orang semacam ini telah kafir dan kekal di Neraka, na'uudzubillaah!
kecuali bila bertaubat kepada Allah sebelum ia mati.

Orang-orang jahiliyah dahulu tidak memberikan warisan kepada
kaum wanita dan anak-anak. Merek ahanyamemberikannya kepada
laki-laki dewasa yang telah mampu menunggang kuda dan memang-

gul senjata. Maka Islam datang dan membatalkan itu semua.

Allah iK berfirman:

.-'14) kd-s4;i5r;r.]'$SGt,b)<:$r$;."]\lii3t:;gl-X#gr)'r:I,j";tti--c-yo.

ti*;

6 Hadits dha'if. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 2703) [III:304] (dengan
lafazh: *tt: o\k u j ;e) kitab al-lVasbaya, bab ke-3. Hadits ini ,iuga diriwayat-

kan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan lafazh senada dari Sulaiman bin Musa (no.

31032) IY[:242)kitab al-Faraidh, bab 1. Didha'ifkan oleh Syaikh al-Albani da-

7 lam al-Misyhah (no. 307 8).
Fat-bul Qadiir [/700).

Bab Tenang Huhum Pembagian Vlarisan 363

(@6fi,

"Laki-laki berhak mendapat bagian uarisan dari kedua ordngtua
dan kerabatnya, dan wanita berhak mendapat bagian warisan dari
kedua ordngtua dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak, menurut
bagian yang telab ditetapkan." (QS. An-Nisaa': 7)

Ayat ini menolak anggapan masyarakat jahiliyah yang meman-
dang bahwa wanita tidak berhak mendapat warisan.

Dalam ayat lain Allah ,9& berfirman:

";$gi $, 3r 5 :g:";* $6 -oti't,f,* i y

{@

*A llah mensyari'athan bagimu tentang (pembagian warisan untuk)
anak-anahmu. Yaitu: babagian seorang anah lelaki sama dengan
bahagian dua orang anak perempuAn.,," (QS. An-Nisaa': 11)

Dan berfirman:

tl$$, ,y.ttLn '11;{Vr-Gy\-j,fu5 F
{@ "ffii

"... Dan jika mereka (ahli uaris itu terdiri dari) saudara-saudara laki
dan perempuan, maka bahagian seordng saudara laki-laki sebanyak
bagian dua orang saudara perernpuan.." (QS. An-Nisaa': 176)

Kedua ayat ini membatalkan tunturan orang jahiliyah masa kini

yang hendak menyamaratakan bagian warisan dan
perempuan. Mereka melakukan hal ini karena h^nentadraaklamkei-nlaeknirang

dan melanggar batasan Allah dan Rasul-Nya. Jadi, bila kaum jahiliyah
tempo dulu menghalangi wanita dari mendapatkan warisan, maka

kaum jahiliyah masa kini memberi wanita apayangbukan haknya,

sedangkan Islam memperlakukannya dengan adil. Islam menghargai

kaum wanita dan memberikan hak mereka dalam kadar yang sesuai.

Semoga Allah membinasakan orang-orang kafir dan mulhid.

364 Kitab Harta lVarisan


Click to View FlipBook Version